STRATEGI PENANGGULANGAN KORUPSI MELALUI PERUMUSAN UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG Oleh : Retno Kusumaningtyas, SH A.

LATAR BELAKANG MASALAH Masalah korupsi menjadi isu yang sering dibicarakan publik di seluruh dunia. Korupsi telah menjadi suatu budaya, sehingga tidak ada suatu sistem pemerintahan di belahan dunia manapun dapat terbebas dari tindakan korupsi yang dilakukan oleh para penyelenggaranya. Secara harfiah, korupsi dapat diartikan sebagai penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang lain.1 Korupsi, berasal dari bahasa latin, yaitu corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok.2 Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagai tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (missal dengan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.3 Secara umum akibat korupsi adalah merugikan negara dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan pembangunan nasional. Menurut teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne, korupsi dapat terjadi karena :
a. Greedy (keserakahan); b. Opportunity (celah dari sistem yang memberikan peluang korupsi); c. Needs (kebutuhan hidup yang konsumeristis) d. Exposes (bentuk penghukuman yang tidak membuat ampun)

Menurut Pramoedya Ananta Toer, salah satu persoalan yang melatarbelakangi korupsi adalah lemahnya produktifitas dan sebaliknya, nafsu untuk mengkonsumsi sangat

1

Krisna Harahap, Pemberantasan Korupsi di Indonesia Jalan Tiada Ujung, ctk. Kedua, Grafiti, Bandung, 2009, hlm. 1 2 “Korupsi”, Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, terdapat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi#cite_note-0 3 Kartono, dikutip dari Erika Revida, Korupsi di Indonesia : Masalah dan Solusinya, terdapat dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf

kuat. Sehingga korupsi bukan hanya melingkupi lembaga negara tetapi masuk kedalam hampir seluruh struktur sosial masyarakat Indonesia.4 Korupsi di Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Beghawan ekonomi Prof. Dr. Soemitro alm. Pada tahun 1999 telah mengingatkan bahwa angka kebocoran anggaran pembangunan kita setiap tahun tidak kurang dari 30 persen. 5 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melaporkan bahwa pada semester I tahun 2004 penympangan keuangan negara telah mencapai RP. 166,53 trilyun. Angka ini menunjukan bahwa hampir 50 persen dari APBN 2003 melayang ke kocek para koruptor.6 Pada tahun 2004. Indonesia tercatat sebagai negara ke-5 terkorup di dunia dari 146 negara. Peringkat yang baru dikeluarkan oleh Transparansi Internasional tersebut menunjukkan bahwa Indonesia satu tingkat lebih buruk dari peringkat tahun lalu.7 Data-data tersebut menunjukan bahwa persoalan korupsi di Indonesia merupakan suatu persoalan yang sangat rumit, sehingga dapat dikatakan mustahil untuk diberantas sama sekali. Hampir semua aspek kehidupan sudah terjangkit wabah korupsi. Sikap tegas dari aparat penegak hukum dalam upaya pemberantasan korupsi tidaklah cukup untuk menahan laju pertumbuhan korupsi. Korupsi telah manjadi suatu budaya. Hampir setiap hari berita di surat kabar ataupun televisi memuat kasus korupsi. Upaya pemerintah Indonesia dalam melakukan penanggulangan korupsi sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Sejak masa kepemimpinan Presiden Soekarno hingga saat ini, berbagai regulasi telah dibuat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Yang pertama adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Penguasa Militer tanggal 9 April 1957 No. Prt/PM/06/1957 tentang Pemberantasan Korupsi, yang melatarbelakangi dibuatnya peraturan ini adalah karena tidak adanya dalam usaha memberantas perbuatanperbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara pada masa itu. Seiring dengan berjalannya waktu, peraturan mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia terus berubah, masih pada tahun 1957, diterbitkan dua peraturan lain terkait dengan upaya penanggulangan korupsi yang menggantikan peraturan sebelumnya, yaitu Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/08/1957 tentang Penilikan Harta Benda dan Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/011/1957 tentang Penyitaan dan Perampasan Harta Benda yang Asal Mulanya Diperoleh dengan Perbuatan yang Melawan Hukum.
4

Pramoedya Ananta Toer, dikutip dari Rudi Hartono, Korupsi Produk Struktur Sosial Feodalisme, terdapat dalam http://lmnd.wordpress.com/2008/05/12/korupsi-produk-struktur-sosial-feodalisme-2/ 5 Krisna Harahap, op.cit., hlm. 27 6 Ibid 7 http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/10/25/nrs,20041025-01,id.html

31 Tahun 1999 berlaku. Diterbitkannya Peraturan Penguasa Perang Pusat No. Telah disadari bahwa dampak dari korupsi telah meluas. Dalam Undang-undang No. dan kemudian dikenal dengan Undang-undang No. 31 Tahun 1999. yang tujuannya adalah untuk mengantisipasi perkembangan kebutuhan hukum masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi tindak pidana korupsi secara lebih efektif. Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sekaligus mencabut Unddang-undang No. Disahkannya Undang-undang ini bertujuan untuk menjamin kepastian hukum. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. bukan hanya merugikan keuangan neggara tetapi juga dianggap telah melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Kemudian pada tahun 1960 Peraturan Penguasa Perang Pusat tadi diambil-alih oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 24 Tahun 1960 tentang Pengusutan. Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi yang disahkan dengan Undangundang No. Pada tahun 1971 kembali diterbitkan Undang-undang yang mengatur mengenai upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. 24 Tahun 1960 dipandang kurang memadai dan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat pada waktu itu. Prt/Peperpu/013/1958 tanggal 16 April 1958 menggantikan seluruh peraturan pemberantasan korupsi yang dikeluarkan pada tahun 1957. yang mana pemberantasannya juga harus dilakukan secara luar biasa. Hal tersebut mendorong dikeluarkannya Undang-undang No. serta perlakuan adil dalam memberantas tindak pidana korupsi. Disahkannya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tidak terdapat “Ketentuan Peralihan” yang mengatur mengenai tetap berlakunya Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.Pada tahun 1958 peraturan mengenai pemberantasan korupsi kembali diubah. sehingga tindak pidana korupsi patut digolongkan sebagau kejahatan luar biasa. Pemberlakuan Undang-undang No. 3 Tahun 1971 terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan sebelum Undang-undang No. menghindari keragaman penafsiran hukum dan untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. 24 Tahun 1960. Hal ini menimbulkan isu dan kontroversi seputar adanya konspirasi politik yang mewarnai penyusunan Undang-undang tersebut. . 1 Tahun 1961. 24 Tahum 1960. 31 Tahun 1999 sekaligus dimaksudkan untuk menggantikan Undang-undang No. Alasannya dikarenakan Undang-undang No.

Undang-undang No. karakteristik dari white collar crime adalah8 : a. 2 . 31 Tahun 1999 telah merumuskan tindak pidana korupsi sebagai delik formil. 2003. hlm. termasuk juga harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara. Pengaturan ini erat kaitannya dengan upaya pencucian uang hasil tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh tersangka pelaku tindak pidana korupsi. penuntut umum atau hakim diberikan hak untuk memerintahkan pembekuan rekening tersangka / terdakwa (freezing) yang dapat dilanjutkan dengan penyitaan (seizure) untuk kepentingan pemeriksaan (Pasal 29). Menurut Hazel Croall. Kerahasiaan Bank Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang. Aturan hukum yang samar atau tidak jelas (ambiguous criminal law) f. atau yang sering disebut sebagai pencucian uang (money laundering). 8 Hazel Croall. Ketidakjelasan pertanggungjawaban (diffusion of responsibility) d. Dalam Undang-undang ini juga ditentukan bahwa subyek hukum menurut Undang-undang No. Ketidakjelasan korban (diffusion of victims) e. dan bukan lagi delik materiil sehingga pengembalian uang negara oleh pelaku korupsi tidak dapat menghapuskan penuntutan terhadap terdakwa. Masalahnya adalah tindak pidana korupsi yang termasuk dalam kejahatan “kerah putih” atau white collar crime memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Sangat kompleks (complexity) c. dikutip dari Siska. yaitu upaya pelaku kejahatan untuk menyembunyikan asal usul harta kekayaan yang diperolehnya dari hasil kejahatan. Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sulit dideteksi dan dituntut (weak detection and prosecution) Ditambah lagi dengan adanya modus operandi baru dalam dunia kejahatan. Pada kenyataannya disahkannya Undang-undang mengenai pemberantasan korupsi belum mampu mengatasi permasalahan korupsi di negara ini. disamping itu jaksa penuntut umum diwajibkan untuk tetap membuktikan dakwaannya. Jakarta. Yang tidak kalah penting dalam Undang-undang ini juga ditentukan bahwa penyidik. Tidak kasat mata (low visibility) b. Skripsi. Selain itu. beban pembuktian dalam Undangundang ini menggunakan sistem pembuktian terbalik yang bersifat terbatas dan berimbang. melainkan hanya dapat meringankan pidana bagi pelaku. 31 Tahun 1999 bukan hanya perorangan saja. yakni terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah serta wajib untuk memberikan keterangan mengenai seluruh harta bendanya dan harta benda keluarganya. melainkan juga korporasi. White Collar Crime.

keterbatasan akses informasi. Maka dari itu. Di Indonesia sendiri pengaturan mengenai pencucian uang bukan merupakan hal yang baru. sempitnya cakupan pelapor dan jenis laporannya. 15 Tahun 2002 (sebagaimana diubah dengan Undang-undang No. . Dimulai dari dimasukkannya Indonesia ke dalam daftar hitam oleh FATF (Financial Actions Task Force) sebagai NCCT (Non Cooperative Countries and Territories) dalam memberantas pencucian uang pada tahun 2001. Dalam perkembangannya. yaitu Undangundang No.Dimasukkannya uang hasil tindak pidana korupsi ke dalam sistem keuangan (financial system). Masuknya Indonesia dalam daftar tersebut maka Bank Indonesia mengeluarkan suatu peraturan terkait dengan pencucuian yang bersifat sementara. adanya celah hukum. terutama dalam sistem perbankan (banking system) membuat pelacakan terhadap hasil tindak pidana korupsi semakin sulit untuk dilakukan. 3/23/PBI/2001 dan diubah untuk yang kedua kalinya dengan Peraturan Bank Indonesia No. Dalam prakteknya Peraturan Bank Indonesia terkait dengan penerapan prinsip mengenal nasabah tersebut dianggap belum cukup untuk mencegah digunakannya lembaga-lembaga penyedia jasa keuangan sebagai sarana pencucian uang. Kemudian pada tahun 2002 pemerintah Indonesia telah berhasil merumuskan suatu peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang. 25 Tahun 2003). kurang tepatnya pemberian sanksi. guna memenuhi kepentingan nasional dan menyesuaikan standar internasional. 25 Tahun 2003). Ketentuan tersebut menjadi petunjuk teknis bagi bank di Indonesia untuk mencegah praktik pencucian uang. antara lain karena peraturan perundang-undangan yang ada ternyata masih memberikan ruang timbulnya penafsiran yang berbeda-beda. penyususnan Undang-undang yang baru dianggap perlu untuk dilakukan. khususnya uang “haram” yang diperoleh dari hasil tindak pidana korupsi. upaya pemerintah untuk mencegah praktik pencucian uang dengan mengesahkan suatu peraturan terkait dengan pencucian uang dianggap belum membuahkan hasil yang optimal. Karena uang hasil tindak pidana korupsi yang telah masuk kedalam sistem keuangan dan melalui proses-proses tertentu akan membuatnya tampak seperti berasal dari sumber-sumber yang “halal”. belum dimanfaatkannya pergeseran beban pembuktian. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (sebagaimana diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No. 5/21/PBI/2003. serta kurang jelasnya tugas dan kewenangan dari para pelaksana Undangundang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (sebagaimana diubah dengan Undang-undang No. yaitu Peraturan Bank Indonesia No.

Praktik pencucian uang menimbulkan dampak negatif. Praktik penyimpanan dana di bank melalui kuasa atau pelaksana amanah. Ketentuan rahasia bank yang sangat ketat. Globalisasi sistem keuangan. Perusahaan-perusahaan yang diciptakan untuk melakukan pencucian uang. 3. Pertama. diantaranya adalah : 1. yang tidak terlepas dari maraknya electronic commerce (e-commerce) melalui internet. Dengan demikian perusahaan-perusahaan tersebut memiliki competitive advantages 9 John McDowell & Gary Navis. para pencuci uang seringkali menggunakan perusahaan-perusahaan tertentu untuk mencampuradukkan uang haram dengan uang yang sah. 2011. 2. yaitu : Bagaimanakah perumusan tindak pidana korupsi dalam Undang-undang No. PT. ctk. Terdapat beberapa faktor penyebab maraknya praktik pencucian uang di Indonesia. maka penulis merumuskan suatu permasalahan. 15 Tahun 2002 (sebagaimana diubah dengan Undangundang No. 15 Tahun 2003).Dengan alasan tersebut pada akhirnya pemberintah mengesahkan Undang-undang No. 12 . Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 5. Kemajuan bidang teknologi dan informasi. hlm. dikutip dari Muhammad Yusuf. Jakarta. Bahkan. perusahaanperusahaan tersebut dapat menawarkan barang-barang pada harga dibawah biaya produksi. PEMBAHASAN Pada umumnya pelaku tindak pidana akan berusaha untuk menyembunyikan atau meyamarkan asal usul harta kekayaan yang merupakan hasli dari tindak pidana dengan berbagai cara agar harta hasil kejahatan tersebut tidak mudah untuk ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga pelaku dapat dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang guna menggantikan Undang-undang No. yang digunakan untuk mensubsidi barang dan / atau jasa yang akan dijual dibawah harga pasar. Gramedia. 4. mengelola dana dalam jumlah besar. Untuk menyembunyikan dan mengaburkan hasil-hasil kejahatannya. kegiatan pencucian uang dapat merongrong sektor swasta yang sah. The Consequences of Money Laundering and Financial Crime. Menurut John McDowell & Gary Novis (2001)9. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang? B. dkk. Berdasarkan uraian tersebut diatas. Munculnya jenis uang baru yang disebut electronic money (e-money.

yang kemudian disimpan di rekening bank atau ditransfer atau ditarik kembali ke rekening bank lainnya. Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Bunga Rampai Anti Pencucian Uang. Metode ini memungkinkan pelaku kejahatan menjalankan usaha atau bekerjasama dengan mitra bisnisnya dan menggunakan rekening perusahaan yang bersangkutan sebagai tempat penampungan untuk hasil kejahatan yang dilakukan. Sebagai konsekwensinya bisnis yang sah kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan tersebut sehingga dapat megakibatkan perusahaan-perusahaan yang sah menjadi bangkrut atau gulung tikar. Di wilayah atau negara yang merupakan tax heaven terdapat kecenderungan hukum perpajakan lebih longgar. atau instrument pembayaran lainnya. terdapat tiga metode pencucian uang cukup dikenal oleh masyarakat internasional. (2) Dalam offshore conversions dana illegal dialihkan ke wilayah yang merupakan tax heaven money laundering centers dan kemudian disimpan di bank atau lembaga keuangan yang ada di wilayah tersebut. Bukan hanya itu. 2011. ketentuan rahasia bank yang cukup ketat dan prosedur bisnis yang sangat mudah sehingga memungkinkan adanya perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi bisnis. dikutip dari dikutip dari Muhammad Yusuf. dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Apabila harta kekayaan hasil 10 Yunus Husein.terhadap perusahaan-perusahaan sejenis yang bekerja secara sah. yaitu buy and sell conversions. ctk. dan legitimate conversions10. 12 . cek. tetapi tujuan utamanya adalah untuk mengaburkan asal usul harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil kejahatan. mereka hanya ingin menikmati dan menggunakan hasil kejahatannya secara aman. Pada umumnya. sehingga mereka tidak terlalu mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh. hlm. hasil kejahatan dikonversikan melalui transfer. (1) Buy and sell conversions dilakukan dengan melalui jual-beli barang dan jasa. kegiatan pencucian uang dilakukan bukan hanya semata-mata untuk mencari keuntungan dalam bisnis saja. offshore conversions. Jakarta. Pertama. pelaku dan hasil tindak pidananya dapat diketahui dengan melakukan penelusuran. dan selanjutnya harta kekayaan sebagai hasil dari tindak pidana tersebut dapat dikembalikan kepada yang berhak. dkk. Gramedia. pembentukan usaha dan kegiatan usaha trust fund maupun badan usaha lainnya. Dana tersebut kemudian digunakan antara lain untuk membeli aset dan investasi (fund investments). Dalam konsep pencucian uang. PT. (3) metode legitimate conversions dipraktekkan melalui bisnis atau kegiatan usaha yang sah sebagai sarana untuk memindahkan dan memanfaatkan hasil kejahatan.

misalnya dampak negatif terhadap efektivitas penggunaan sumber daya dan dana. kegiatan menyembunyikan atau menyamarkan uang hasil tindak pidana dapat dicegah dan diberantas. dikutip dari Muhammad Yusuf. Dengan berbagai dampak negatif itu diyakini bahwa praktik pencucian uang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Di banyak negara dengan menyatakan praktik pencucian uang sebagai tindak pidana 11 Guy Stessen. Fluktuasi yang tajam pada nilai tukar dan suku bunga mungkin juga merupakan akibat negatif dari praktik pencucian uang. yang di Indonesia dikenal dengan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Pertama. hlm. Gramedia. Orientasi pemberantasan tindak pidana sudah beralih dari “menindak pelakunya” kearah menyita “hasil tindak pidana”. ctk. maka dengan sendirinya tingkat kejahatan atau kriminalitas akan menurun. dkk. Dengan ditetapkannya pencucian uang sebagai tindak pidana akan lebih memudahkan bagi aparat penegak hukum untuk menyita hasil tindak pidana yang kadang sulit untuk disita. Secara umum ada tiga alasan pokok mengapa praktik pencucian uang harus diperangi dan dinyatakan sebagai tindak pidana. Pengaruh pencucian uang terhadap sistem keuangan dan ekonomi diyakini berdampak negatif bagi perekonomian dunia. PT. Jakarta. untuk kemudian dianalisa dan selanjutnya disampaikan kepada penyidik. Penelusuran harta kekayaan yang diduga hasil dari tindak pidana pada umumnya dilakukan oleh lembaga keuangan melalui prosedur yang diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan. 2. Lembaga keuangan diwajibkan untuk mengenali pemgguna jasanya serta melaporkan transaksi tertentu yang menurut Undang-undang dapat dianggap sebagai suatu transaksi yang mencurigakan kepada otoritas yang berwenang (financial intelligence unit). Dengan adanya praktik pencucuian uang maka sumber daya dan dana banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak sah dan dapat merugikan masyarakat.11 ketiga alsan tersebut meliputi : 1. 17 . disamping dana-dana yang sah kurang dipergunakan secara optimal. Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. misalnya aset yang sudah dipindah-tangankan kepada pihak ketiga. Pengaruh negatifnya terhadap pasar finansial menimbulkan dampak kepada berkurangnya kepercayaan publik kepada sistem keuangan intenasional.tindak kejahatan yang dirampas adalah milik suatu organisasi kejahatan. 2011. Money Laundering A New International Law Inforcement Model. praktik pencucian uang dapat mengakibatkan ketidakstabilan terhadap perekonomian nasional. Dengan pendekatan follow the money.

Penyedia Jasa Keuangan. Wali Amanat. Perusahaan Pembiayaan. Pegadaian. Koperasi yang menggunakan kegiatan simpan pinjam. Penyelenggara e-money dan / atau e-walet. Komite Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Presiden. 1. Penegak Hukum. pihak pelapor (Penyedia Jasa Keuangan / PJK dan Pengadaan Barang dan / atau jasa). 8 Tahun 2010). Penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu. atau Penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang. 8 Tahun 2010) : a. Rezim pencucian uang di Indonesia melibabatkan berbagai komponen. Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Pialang Asuransi. Pedagang Valuta Asing. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Lembaga Pengawas dan Pengatur. 8 Tahun 2010 meliputi Bank. Pihak pelapor adalah setiap orang yang menurut Undang-undang No. adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal. 2. 8 Tahun 2010 wajib menyampaikan laporan kepada PPATK (Pasal 1 angka 11 Undang-undang No. Kustodian. Pihak pelapor meliputi (Pasal 17 ayat 1 Undang-undang No. Yang termasuk dalam Penyedia Jasa Keuangan menurut Pasal 17 ayat (1) Undang-undang No. yaitu : Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dengan dinyatakannya praktik pencucian uang sebagai tindak pidana dan dengan adanya kewajiban pelaporan transaksi keuangan yang mencurigakan bagi penyedia jasa keuangan maka hal ini akan lebih memudahkan bagi para penegak hukum untuk menyelidiki kasus pidana pencucian uang sampai kepada tokoh-tokoh yang ada dibelakangnya. 8 Tahun 2010). Manager Investasi. Perusahaan yang bergerak dibidang Berjangka Komoditi. tetapi banyak menikmati hasil-hasil tindak pidana. Tokoh-tokoh ini sulit dilacak dan ditangkap karena pada umumnya mereka tidak tampak pada pelaksanaan suatu tindak pidana. PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang (Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. Masyarakat. . Perusahaan Efek. Perposan sebagai penyedia jasa giro. 3.merupakan dasar bagi penegak hukum untuk mempidanakan pihak ketiga yang dianggap menghambat upaya penegakan hukum.

55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai. . 5.b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pedagang kendaraan bermotor. Kementrian Komunikasi dan Informatika RI. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai14. Aparat penegak hukum. 8 Tahun 2010). Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. yang berisi tentang ketentuan mengenai tindak pidana di bidang perpajakan. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. dan / atau pengenaan sanksi terhadap Pihak Pelapor (Pasal 1 angka 17 Undang-undang No. Tahun 2010). Bapebbti. sebagai regulator / pengawas perdagangan berjangka komoditi (Undang- undang No. Bank Indonesia. adalah lembaga yang memiliki kewenangan pengawasan. Badan Narkotika Nasional (BNN). 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Bank Indonesia memiliki kewenangan mengeluarkan ketentuan mengenai penerapan pengaturan pengguna jasa bagi industri perbankan dan melakukan audit kepatuhan terkait penerapan pengenalan pengguna jasa tersebut. 3. serta balai lelang (Pasal 17 ayat (2) Undang-undang No. sebagai pengawas industri perbankan (Bank Umum dan BPR). a. yang meliputi Kepolisian. Kejaksaan. Penyedia Barang dan / atau Jasa lain. dan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU). yang menyebutkan bahwa penyidikan terhadap tindak pidana di bidang Kepabeanan dan Cukai dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 14 Lihat Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. yang merupakan regulator / pengawas penyelenggaraan pos (Undang-undang No. Pedagang Valuta Asing. Komite TPPU dibentuk guna meningkatkan koordinasi antar lembaga terkait dalm pencegahan dan pemberantasan 12 Lihat Undang-undang No. dimana penyidikan tersebut hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. termasuk didalamnya : perusahaan properti / agen properti. 11/11/PBI2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu 13 Lihat Pasal 44 Undang-undang No. 38 Tahun 2009 tentang Pos) c. Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP). yang merupakan salah satu unit di bawah Departemen Keuangan yang juga bagian dari rezim anti pencucian uang terkait dengan pelaporan Cross Border Cash Carrying (Undang-undang No. pengaturan. pedagang permata dan perhiasan / logam mulia. Direktorat Jenderal Pajak13. Kementrian Keuangan RI e. Pengadilan . 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi) d. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme (Komite TPPU).12 b. 11 Tahun 1995 tentang Kepabeanan) 4. 10 Tahun 1995 tentang Cukai dan Undang-undnag N0. Komisi Pemberantasan Korupsi. 9 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan Peraturan Bank Indonesia No. pedagang barang senidan antik. Direktorat Lelang.

yang melaporkanan dan / atau memeberikan informasi kepada PPATK mengenai adanya dugaan tindak pidana pencucian uang (Pasal 44 ayat (2) Undangundang No. “Tindak Pidana Pencucian Uang segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini”.000. membelanjakan. Pasal 4 “Setiap orang yang menyembunyikan atau menayamarkan asal usul.. 7. membayarkan. 8 Tahun 2010) . Pembentukan Komite TPPU berdasarkan pada Peraturan Presiden No.(sepuluh miliar rupiah). pengalihan hak-hak atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian . 8. lokasi peruntukan. Sedangkan kriminalisasi pencucian uang dalam Undang-undang tersebut dapat dilihat dalam : 1. 1 Tahun 2004 (Pasal 92 ayat (2) Undang-undang No. Presiden RI. mentransfer.tindak pidana pencucian uang (Pasal 92 ayat No. mengubah bentu. membelanjakan. menitipkan. fungsi.000. sumber. 8 Tahun 2010). 8 Tahun 2010). membawa keluar negeri. 8 Tahun 2010) . menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena Tindak Pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp.” 2. Hukum dan Keamanan dengan wakil Menko Perekonomian dan Kepala PPATK sebagai sekertaris (Pasal 94 huruf e Undang-undang No. membayarkan. Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR-RI). dan wewenang PPATK setiap 6 (enam) bulan sekali (Pasal 47 Undang-undang No. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 8 Tahun 2010 disebutkan. 8 Tahun 2010) . 8 Tahun 2010). 6. yang menerima laporan pelaksanaan tugas. mengalihkan. Masyarakat. dan diketuai oleh Menko Politik. Pasal 3 “Setiap orang yang menempatkan. 10.000. menghibahkan. sebagai pihak yang menerima pertanggungjawaban PPATK (Pasal 37 Undang-undang No.

1. Gramedia.(lima miliar rupiah). hibah. 22 September 2005.000. atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. Padang. Sedangkan layering adalah upaya memisahkan hasil tindak pidana dari sumbernya melalui beberapa tahap transaksi keuangan untuk menyembunyikan atau menyamarkan 15 Muhammad Yusuf. 4 . yaitu placement. hlm. membiayai suatu usaha seolah-olah sah atau terkait dengan usaha yang sah berupa kredit / pembiayaan sehingga mengubah kas menjadi kredit / pembiayaan. ctk. Yang dimaksud dengan predicate crime adalah tindak pidana yang memicu (sumber) terjadinya tindak pidana pencucian uang.. “Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Melalui Pelaksanaan Undagundang Tindak Pidana Pencucian Uang” makalah disampaikan dalam Pelatihan Korupsi Untuk Aparat Penegak Hukum dan Auditor. Pasal 5 “Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan. Pertama. Pusat Kajian Hukum Wilayah Barat Universitas Andalas. Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.000.000. PT. pentransferan. pembayaran. dan integration. Penempatan korupsi sebagai salah satu predicate crime dalam Undang-undang No.000. penukaran. membeli barang-barang berharga bernilai tinggi untuk keperluan pribadi. dkk. hlm. 2011.(satu miliar rupiah). sumbangan.” 3. 8 Tahun 2010.16 Pada dasarnya proses pencucian uang dilakukan dalam tiga tahap.” Korupsi merupakan salah satu predicate crime (tindak pidana asal) dari tindak pidana pencucian uang.000.15 Ketentuan yang menunjukan bahwa korupsi merupakan salah satu predicate crime dalam tindak pidana pencucian uang dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a Undangundnag No.. penitipan.uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. Bentuk kegiatan ini antara lain adalah menempatkan dana pada bank. layering. 5. 8 Tahun 2010 merupakan manifestasi dari pembentuk undang-undang yang memandang bahwa korupsi merupakan persoalan bangsa yang paling mendesak dan mendapat prioritas dalam penanganannya. 97 16 Yunus Husein. Jakarta. menyelundupkan uang tunai dari suatu negara ke negara lain. Placement adalah upaya untuk menempatkan uang hasil kejahatan kedalam suatu sistem keuangan (financial system). menyetorkan uang kepada PJK.

asal usul dana. maka proses hukum dapat segera dimulai. ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana. Bentuk kegiatan ini antara lain transfer dana dari satu bank ke bank lain antar wilayah / negara. dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis yang sah. Hal tersebut menjadi dasar mengapa penyedia jasa keuangan dan penyedia barang dan / atau penyedia jasa lain diwajibkan untuk melaporkan adanya transaksi keuangan mencurigakan (Suspicious Transaction Report / STR) dan transaksi keuangan tunai (Cash Transaction Report / CTR). Integration adalah upaya menggunakan harta kekayaan yang telah tampak sah. Ketiga tahapan tersebut pada dasarnya dilakukan untuk menciptakan ketidakterkaitan antara harta hasil kejahatan dengan pelaku kejahatan. dan pada akhirnya akan mempermudah aparat penegak hukum dalam melacak pelaku kejahatan Proses pendeteksian kegiatan pencucian uang pada ketiga tahapan tersebut diatas dapat menjadi dasar untuk merekonstruksi keterkaitan antara harta kekayaan hasil kejahatan dengan pelaku kejahatan. Perumusan Undang-undang pencucian uang dianggap sebagai solusi tepat untuk memecahkan masalah ini. Dalam ketentuan Undang-undang No. sehingga pelaku kejahatan dapat segera dituntut atas tindak pidana pencucian uang . 8 Tahun 2010. sekaligus atas kejahatan asalnya. baik untuk dinikmati langsung. sehingga aparat penegak hukum akan mengalami kesulitan dalam melakukan pelacakan terhadap pelaku kejahatan dengan tindak pidana yang telah dilakukannya. Apabila dalam ketiga tahapan tersebut telah terdeteksi adanya indikasi bahwa harta yang dipergunakan untuk melakukan transaksi keuangan adalah harta kekayaan hasil kejahatan. diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan. penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung transaksi yang sah. Dalam kegiatan ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi yang kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan menghilangkan jejak sumber dana tersebut. Dengan menciptakan kembali keterkaitan antara harta kekayaan hasil kejahatan dengan kejahatan asal. dan memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan usaha yang sah maupun shell company. Pasal 23 ayat (1) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a wajib menyampaikan laporan kepada PPATK yang meliputi: . mengenai kewajiban pelaporan adanya STR dan CTR diatur pada : 1.

b. 3. Realitanya. 6. 2.000. penentuan jumlah kumulatif yang disebutkan dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b menimbulkan kesulitan bagi penyedia jasa keuangan untuk melakukan pendeteksian terhadap transaksi keuangan sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal tersebut.a. Transaksi Keuangan Tunai dalam jumlah paling sedikit Rp. 5. dan/atau c. Pasal 25 ayat (3) Penyampaian laporan Transaksi Keuangan transfer dana dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan. Pasal 27 ayat (1) Penyedia barang dan/atau jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b wajib menyampaikan laporan Transaksi yang dilakukan oleh Pengguna Jasa dengan mata uang rupiah dan/atau mata uang asing yang nilainya paling sedikit atau setara dengan Rp. .00 (lima ratus juta rupiah) atau dengan mata uang asing yang nilainya setara. Pasal 25 ayat (1) Penyampaian laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a dilakukan sesegera mungkin paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah penyedia jasa keuangan mengetahui adanya unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan. 500. yang dilakukan baik dalam satu kali Transaksi maupun beberapa kali Transaksi dalam 1 (satu) hari kerja. Transaksi Keuangan transfer dana dari dan ke luar negeri. Pasal 25 ayat (2) Penyampaian laporan Transaksi Keuangan Tunai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan. 500. Pasal 27 ayat (2) Laporan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan.000. Transaksi Keuangan Mencurigakan.000. 4. tanpa adanya dukungan sistem informasi yang canggih.00 (lima ratus juta rupiah) kepada PPATK.000.

Dalam Pasal 1 angka 5 Undang-undang No. Transaksi Keuangan yang menyimpang dari profil. 8 Tahun 2010 disebutkan. yang tidak memiliki alasan ekonomis yang jelas dan tidak ada tujuan yang sah. Latar belakang dan tujuan Transaksi tersebut harus. penyedia jasa keuangan diminta memberikan perhatian khusus atas semua Transaksi yang kompleks. atau kebiasaan pola Transaksi dari Pengguna Jasa yang bersangkutan. .Penyedia jasa keuangan dan penyedia barang dan / atau jasa lainnya merupakan counterpart utama yang berperan sebagai pendeteksi awal indikasi terjadinya pencucian uang. Aktivitas Transaksi nasabah di luar kebiasaan dan kewajaran. Sedangkan transaksi keuangan tunai menurut Pasal 1 angka 6 adalah Transaksi Keuangan yang dilakukan dengan menggunakan uang kertas dan/atau uang logam. atau d. dan tersedia untuk membantu pihak berwenang dan auditor. temuan-temuan yang didapat dibuat tertulis. Dalam penjelasan Pasal 23 ayat (1) huruf a disebutkan bahwa pada dasarnya transaksi keuangan mencurigakan diawali dari transaksi yang antara lain : 1. tidak biasa dalam jumlah besar. yang dimaksud dengan transaksi keuangan mencurigakan adalah : a. 2. maka transaksi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan yang wajib dilaporkan. Sedangkan terhadap Transaksi atau aktivitas di luar kebiasaan dan kewajaran sebagaimana tersebut di atas. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. Transaksi Keuangan oleh Pengguna Jasa yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan Transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Pihak Pelapor sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini. dan semua pola Transaksi tidak biasa. Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karena melibatkan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. Menggunakan uang tunai dalam jumlah yang relatif besar dan/atau dilakukan secara berulang-ulang di luar kewajaran. karakteristik. sejauh mungkin diperiksa. b. Tidak memiliki tujuan ekonomis dan bisnis yang jelas . c. Apabila Transaksi-Transaksi yang tidak lazim tersebut memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5. atau 3.

dana pensiun. 3. dan lembaga pembiayaan. yaitu : 1. pengelola reksa dana. Kententuan ini berlaku bagi seluruh PJK dan tujuan dikeluarkannya pedoman umum ini adalah untuk memberikan gambaran umum mengenai rezim anti pencucian uang yang dapat digunakan sebagai acuan bagi PJK untuk membantu mendeteksi kegiatan pencucian uang. dana pensiun. perusahaan efek. Keputusan Kepala PPATK No.PPATK/2003 Tentang Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.Pada tanggal 9 Mei 2003 PPATK mengeluarkan Keputusan Kepala PPATK No. bank kustodian. pada tanggal 15 Oktober 2003. dan lembaga pembiayaan. perusahaan perasuransian.PPATK/2003 tentang Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi PVA dan UJPU (Pedoman IIIA) 4. BPR. Keputusan Kepala PPATK No. BPR.PPATK/2004 tentang Pedoman Laporan Transaksi Tunai dan Tata Cara Pelaporannya Bagi PJK (Pedoman IV) .PPATK/2003 tentang Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi PJK (Pedoman III) . 3/1/KEP. 2/6/KEP. perusahaan perasuransian. 2/7/KEP. Selain itu tujuan lain dikeluarkannya pedoman ini adalah untuk memberikan pemahaman yang sama kepada setiap PJK atau pihak lain yang terkait dalam penanganan tindak pidana pencucian uang. 2/1/KEP.PPATK/2003 Tentang Pedoman Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 2.PPATK/2003 Tentang Pedoman Umum Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 2/5/KEP. 2/4/KEP. Di samping itu. Selanjutnya guna memberikan pemahaman dan acuan kepada PJK tentang bagaimana melakukan identifikasi transaksi keuangan mencurigakan dengan tepat.PPATK/2003 tentang Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi PJK (Pedoman III) . Pedoman ini berlaku bagi PJK berbentuk bank umum. pengelola reksa dana. ketentuan-ketentuan pendukung lainnya yang telah dikeluarkan oleh PPATK. bank kustodian. Pedoman ini berlaku bagi PJK bank umum. Untuk memberikan pemahaman dan acuan kepada PJK tentang bagaimana melakukan identifikasi transaksi keuangan mencurigakan dengan tepat PPATK kemudian mengeluarkan Keputusan Kepala PPATK No. 2/5/KEP. Keputusan Kepala PPATK No. Keputusan Kepala PPATK No. pada tanggal 15 Oktober 2003. perusahaan efek. PPATK menerbitkan Keputusan Kepala PPATK No.

mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang . memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya pencegahan tindak pidana Pencucian Uang . c. 8 Tahun 2010. dan berdasarkan Pasal 40 Undangundang No. Sedangkan dalam menjalankan fungsinya tersebut PPATK oleh Pasal 41 Undang-undang No. f. menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang. menetapkan pedoman identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan . mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana Pencucian Uang dengan instansi terkait . analis atau pemeriksa laporan dan informasi transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan atau tindak pidana lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. termasuk dari instansi pemerintah dan / atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu . 8 Tahun 2010 diberi kewenangan sebagai berikut : a. PPATK memiliki tugas untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang (Pasal 39 Undang-undang No. Keputusan Kepala PPATK No. e. d. Dalam kaitannya dengan tindak pidana korupsi sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang.PPATK/2004 tentang Transaksi Keuangan Tunai Yang Dikecualikan Dari Kewajiban Laporan. b. PPATK dapat meminta kepada pihak pelapor untuk menghentikan sebagian atau seluruh . 3/9/KEP. menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan antipencucian uang . pengawas kepatuhan pihak pelapor. memiliki kewajiban untuk menyerahkan hasil transaksi keuangan mencurigakan kepada penyidik dalam hal ditemukan adanya indikasi tindak pidana pencucian uang (Pasal 64 ayat (2) Undang-undang No. meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data dan informasi. 8 Tahun 2010. dan g.5. 8 Tahun 2010). PPATK sebagai badan yang diberi tugas untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. 8 Tahun 2010). dalam menjalankan tugasnya PPATK berfungsi diantaranya sebagai pengelola data dan informasi yang diperoleh sehubungan dengan indikasi terjadinya tindak pidana pencucian uang.

8 Tahun 2010 (dimana termasuk didalamnya adalah tindak pidana korupsi). Selain itu diberikan juga ketentuan mengenai kerja sama nasional dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang dapat dilakukan oleh PPATK dengan pihak yang terkait dengan rezim anti pencucian uang (Pasal 88 ayat Undang-undang No. Dalam hal tindak pidana asal adalah korupsi maka penyidikan tindak pidana pencucian uang yang diduga berasal dari hasil tindak pidana korupsi dilakukan oleh KPK. Dalam Pasal 74 ditentukan bahwa penyidikan terhadap dugaan terjadinya tindak pidana pencucian uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan perundang-undangan (kecuali ditentukan lain oleh Undangundang No. Selanjutnya sebagai tindak lanjut dari penyerahan hasil pemeriksaan tersebut. Dengan adanya ketentuan tersebut maka asal usul harta kekayaan yang diduga merupakan hasil dari kejahatan tersebut dapat lebih mudah untuk ditelusuri. 8 Tahun 2010). Dan apabila penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup mengenai terjadinya tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal maka berdasarkan ketentuan dalam Pasal 75 penyidik dapat menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dengan tindak pidana pencucian uang dan memberitahukannya kepada PPATK. penyidikan serta penuntutan terhadap dugaan terjadinya tindak pidana pencucian uang diantara instansi-intansi yang terkait dengan rezim pencucian uang dapat lebih mudah untuk dilakukan. dalam hal ini korupsi.transaksi yang telah dilaporkan oleh pihak pelapor sebagai transaksi keuangan mencurigakan (Pasal 65 ayat (1)) guna melengkapi hasil analisis yang akan disampaikan kepada penyidik. karena instansi-instansi terkait dpat . 8 Tahun 2010). belum dibuktikan (Pasal 69 Undang-undang No. Meskipun tindak pidana pencucian uang merupakan tindak lanjut dari macammacam tindak pidana yang disebutkan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 8 Tahun 2010) serta adanya pembentukan Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Komite TPPU) agar pertukaran informasi mengenai penyelidikan. penyidik diminta untuk melakukan koordinasi dengan PPATK dalam pelaksanaan penyidikan (Pasal 64 ayat (3) Undang-undang No. Ketentuan tersebut tentunya dapat membuat proses hukum terhadap pelaku tindak pidana pencucian uang sekaligus tindak pidana korupsi sebagai tindak pidana asalnya menjadi lebih efisien. 8 Tahun 2010). penyidikan. penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap dugaan terjadinya pencucian uang hasil korupsi tersebut dapat dimulai meskipun penyidikan atas tindak pidana asalnya.

hlm. setiap Orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik . penuntut umum. maka yang diblokir hanya sebesar dana yang ada dalam rekening dimaksud pada saat pemblokiran.” Pemblokiran yang dimaksud oleh pasal ini hanyalah pemblokiran terhadap “harta kekayaan” dan bukan rekening tersangka pencucian uang. Pasal 71 “Penyidik. atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari : a. Oleh karena yang diblokir bukanlah suatu rekening. Pasal 72 ayat (1) 17 Yunus Husein. 22 September 2005. tersangka. 12 . 8 Tahun 2010. “Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Melalui Pelaksanaan Undagundang Tindak Pidana Pencucian Uang” makalah disampaikan dalam Pelatihan Korupsi Untuk Aparat Penegak Hukum dan Auditor. maka yang diblokir hanya sebesar dana yang diketahui atau patut diduga berasal dari tindak pidana. Ketentuan tersebut sengaja dibuat secara khusus karena tindak pidana pencucian uang memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan tindak pidana pada umumnya. maka aktifitas rekening tidak terganggu. apabila dana yang ada dalam rekening lebih besar dari nilai yang diketahui atau patut diduga berasal dari hasil tindak pidana. Hal dapat dilihat dari adanya ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan. Sebaliknya. Padang.17 2. Dalam hal dana dalam suatu rekening jumlahnya lebih kecil dari jumlah dana yang diketahui atau patut diduga berasal dari tindak pidana. b. yaitu dalam Bab VII tentang Penyidikan.saling bertukar informasi. selain itu instansi-instansi tersebut juga dapat saling memantau perkembangan proses hukum yang dilakukan terhadap dugaan adanya tindak pidana pencucian uang. dengan ketentuan jumlah dana yang diblokir dalam rekening tersebut tidak boleh berkurang. melainkan harta kekayaan senilai atau sebesar yang diketahui atau patut diduga berasal dari hasil tindak pidana. terdakwa. atau c. Ketentuan mengenai hukum acara tindak pidana pencucian uang sekaligus diatur dalam Undang-undang No. Pusat Kajian Hukum Wilayah Barat Universitas Andalas.

penuntut umum. kemudian hasil analisa PPATK dilaporkan kepada penyidik untuk ditindak lanjuti. atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari : a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik . atau c. bagi penyidik. atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundangundanganyang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan Transaksi Keuangan lain. dan/atau b. maka penyidik harus terleih dahulu memberitahukan kepada bank adanya transaksi keuangan mencurigakan yang dilakukan oleh pihak tersebut kepada PPATK untuk dianalisis. Pasal 72 ayat (2) “Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Selain daripada pihak-pihak tersebut. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan Dokumen. 31 Tahun 1999.” Ketentuan mengenai kerahasiaan bank tidak berlaku selama keterangan yang diperlukan dari bank mengenai adanya dugaan tindak pidana pencucian uang.” Keterangan yang dapat diminta hanyalah keterangan mengenai harta kekayaan milik pihak-pihak yang disebutkan diatas. penuntut umum. b. dikirimkan. 3. terdakwa. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana. Apabila ada dugaan pihak lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang sedang diperiksa. tetap harus terlebih dahulu diajukan kepada Gubenur Bank Indonesia sesuai dengan preaturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 73 “Alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana Pencucian Uang ialah : a. penyidik. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. 4. percakapan melalui telepon dan / atau ponsel yang disadap oleh penyidik yang diberi . maka menurut Pasal 29 ayat (2) Undangundang No.” Alat bukti yang dimaksud dalam Pasal 73 huruf b ini adalah termasuk SMS.“Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana Pencucian Uang. diterima. tersangka. meskipun ada kaitannya dengan pihak yang diduga melakukan tindak pidana pencucian yang sedang diperiksa. Akan tetapi dalam hal dugaan tindak pidana pencucian uang tersebut terkait dengan tindak pidana korupsi sebagai predicate crime-nya. keterangan mengenai harta kekayaan pihak tersebut tidak dapat diberikan oleh bank.

Disamping itu dalam kaitannya dengan tindak pidana korupsi. Pasal 79 ayat (1) “Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah dan patut tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah. 7. Pasal 79 ayat (4) “Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana Pencucian Uang.” Pembuktian dalam pemeriksaan di persidangan atas dugaan terjadinya tindak pidana pencucian uang dilakukan dengan menggunakan sistem pembuktian terbalik. 8 Tahun 2010 adalah agar upaya penindakan pencucian uang dalam hal pelaksanaan peradilannya dapat berjalan lancar. ketentuan ini dimaksudkan agar harta kekayaan negara dapat dikembalikan kepada negara.” Maksud dari dicantumkankan ketentuan ini dalam Undang-undang No. Pasal 77 “Untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan. Pasal 81 . Sementara alat-alat bukti tersebut tidak termasuk sebagai alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana Indonesia. dimana terdakwa harus membuktikan bahwa harta kekayaan yang dituduhkan kepadanya sebagai harta yang hendak disamarkan asal usulnya tersebut bukanlah harta yang berasal dari hasil kejahatan.kewenangan oleh Undang-undang untuk melakukan penyadapan. juga rekaman gambar yang diperoleh penyidik. e-mail.” Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah ahli waris dari terdakwa menguasai atau memiliki harta yang diduga berasal dari hasil kejahatan. 8. 5. Selanjutnya Pasal 78 ayat (2) memberikan ketentuan bahwa tersangka / terdakwa pelaku tindak pidana pencucian harus mengajukan alat bukti yang cukup dalam upaya pembuktiannya. 6. terdakwa wajib membuktikan bahwa Harta Kekayaannya bukan merupakan hasil tindak pidana. perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa hadirnya terdakwa. maka perkara tersebut dapat tetap diperiksa dan bahkan diputuskan tanpa kehadiran terdakwa. hakim atas tuntutan penuntut umum memutuskan perampasan Harta Kekayaan yang telah disita. sehingga apabila terdakwa telah dipanggil secara sah dan patut tetapi dirinya tidak menghadiri siding pengadilan dengan alasan yang sah.

hakim memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melakukan penyitaan Harta Kekayaan tersebut. untuk meminimalisir kerugian negara yang disebabkan oleh tindak pidana korupsi yang terjadi. C. KRITISI Penanggulangan tindak pidana korupsi memang memerlukan koordinasi yang baik di antara instansi yang terkait dengan rezim anti pencucian uang dan lembaga pemberantasan korupsi. Sebab koordinasi yang baik dapat mempermudah penelusuran asal usul harta kekayaan yang diduga berasal dari tindak pidana lain. yang kemungkinan akan berujung kepada tindak pidana korupsi sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang yang terjadi. dengan diberi status sebagai barang sitaan atas nama penyidik atau pejabat yang berwenang. KEP/10/XI/1997. KEP-126/JA/11/1997. sehingga aktor utama dari tindak pidana korupsi tersebut dapat ditemukan dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kurangnya sarana yang memadai bagi penyedia jasa keuangan.” Dalam hal penyitaan sebagai tindak lanjut dari adanya dugaan tindak pidana pencucian uang yang melibatkan suatu rekening. No. No. maka dana yang disita harus tetap berada dalam rekening yang bersangkutan. melainkan juga kepada upaya untuk mengembalikan aset yang diduga sebagai hasil tindak pidana korupsi (asset recovery) kepada negara. 30/KEP/GBI tanggal 6 Novenber 1997 tentang Kerjasama Penanganan Kasus Tindak Pidana di Bidang Perbankan.“Dalam hal diperoleh bukti yang cukup bahwa masih ada Harta Kekayaan yang belum disita. Akan tetapi hendaknya kerjasama dan koordinasi dalam upaya pengungkapan kedua kejahatan yang saling berhubungan tersebut dilakukan secara konsisten dan hingga tuntas. khususnya bank yang memiliki skala yang besar dalam melakukan identifikasi terhadap transaksi keuangan yang mencurigakan hingga saat ini masih menjadi faktor penghambat yang utama. Penanggulangan korupsi tidak hanya difokuskan kepada upaya penghukuman pelaku korupsinya saja. Kepala Kepolisian RI dan Gubenur Bank Indonesia No. Ketentuan ini sesuai dengan petunjuk pelaksanaan Keputusan Bersama Jaksa Agung RI. Pasal 23 ayat (1) huruf b memberikan ketentuan mengenai jumlah kumulatif transaksi keuangan .

karena saat ini masih diupayakan adanya nomor identitas tunggal bagi penduduk. Tanpa adanya sistem informasi dengan teknologi yang benar-benar mutakhir sepertinya pendeteksian terhadap transaksi yang demikian akan sulit untuk dilakukan oleh penyedia jasa keuangan khususnya bank dalam skala yang besar dan memiliki banyak cabang. Demikian juga dalam melakukan identifitkasi dan monitoring data nasabah. SARAN-SARAN Keberhasilan pengungkapan tindak pidana pencucian uang yang berujung pada tindak pidana korupsi hingga kepada aktor utamanya hanya dapat terjadi jika para pihak yang bersangkutan melakukan kerjasamanya dengan tidak menerapkan sistem tebang pilih. Sebagai counterpartner terdepan dalam proses identifikasi transaksi keuangan mencurigakan yang berindikasi adanya tindak pidana pencucian uang. dan ironisnya semua kartu identitas tersebut asli dan dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang membuatnya. hendaknya otoritas yang berwenang segera tanggap dan melakukan analisa serta menundaklanjutinya sesuai dengan prosedur yang berlaku meskipun apabila dalam prosesnya kemudian diketahui bahwa pemilik rekening tersebut . D. Hal ini dikarenakan ketakutan mereka akan kehilangan nasabah sebagai sumber dana untuk menjalankan bisnis mereka.yang dapat dianggap mencurigakan. namun hingga saat ini pemberlakuan nomor identitas tunggal tersebut belum merata ke seluruh penduduk Indonesia. Selanjutnya kartu-kartu identitas tersebut dapat dijadikan “tiket” yang meloloskan koruptor dari identifikasi nasabah yang dilakukan oleh bank maupun penyedia jasa lainnya. Apalagi sampai saat ini “jual-beli” kartu identitas penduduk masih begitu mudah dilakukan. kendatipun pihak-pihak tersebut sadar benar akan konsekwensi dari dilalaikannya kewajiban tersebut. penyedia jasa keuangan dan penyedia barang dan / atau penyedia jasa lainnya terkadang enggan untuk melaksanakan kewajibannya dalam hal pelaporan transaksi keuangan mencurigakan. nama dan alamat yang berbeda-beda. sehingga banyak orang memiliki kartu identitas lebih dari satu dengan nomor. Setiap kali terdapat indikasi adanya keterkaitan suatu rekening dengan kasus tindak pidana pencucian uang yang sedang diselidiki. sehingga masih terdapat celah bagi koruptor untuk melakukan pencucian uang.

Penyedia jasa keuangan harus menyadari bahwa dampak negative dari digunakannya perusahaan mereka sebagai sarana pencucian uang oleh koruptor bukan hanya menumbulkan akibat hukum. tetapi juga ketidakpercayaan publik terhadap perusahaan mereka. Aturan-aturan yang terdapat dalam Undang-undang No. . sehingga dapat meminimalisir kerugian negara. Dalam hal ini pemerintah lebih proaktif dalam melakukan kampanye mengenai rezim anti pencucian uang kepada masyarakat dan penyedia jasa keuangan dan penyedia barang dan / atau jasa lain tentang dampak negatif dari pencucian uang bagi sistem perekonomian negara dan dampak langsungnya kepada usaha yang mereka miliki. 8 Tahun 2010 dapat menjadi jembatan bagi upaya pengembalian uang negara yang “dicuri” oleh koruptor. Usaha pengadaan teknologi guna pembuatan kartu identitas dengan nomor identitas tunggal bagi setiap penduduk harus segara direalisasikan dan diterapkan di seluruh wilayah RI agar koruptor tidak dapat membuka banyak rekening pribadi dengan menggunakan kartu identitas penduduk yang berbeda-beda untuk mengelabui penyedia jasa keuangan dalam melakukan identifikasi nasabah.ternyata adalah orang-orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan baik dalam bidang politik maupun bisnis. Pemerintah harus mengupayakan pengadaan sistem informasi yang lebih mutakhir daripada yang dimiliki oleh koruptor yang juga menjadi pelaku tindak pidana pencucian uang. agar mempermudah penyedia jasa keuangan khususnya bank dalam melakukan identifikasi terhadap transaksi keuangan mencurigakan khususnya yang dilakukan bukan dengan transaksi yang sekaligus dalam jumlah besar. upaya recovery asset tersebut sangat mungkin dilakukan jika dalam prakteknya seluruh aturan yang terkait dengan rezim anti pencucian uang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Erika Revida.com/hg/narasi/2004/10/25/ .DAFTAR PUSTAKA Krisna Harahap. 2003. 2005. Korupsi. terdapat dalam http://id. Korupsi di Indonesia : Masalah dan Solusinya. terdapat dalam http://lmnd. Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Jakarta : Skripsi Fakultas Hukum Universitas Indonesia Yunus Husein. Padang.org/wiki/Korupsi http://www. “Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Melalui Pelaksanaan Undag-undang Tindak Pidana Pencucian Uang” makalah disampaikan dalam Pelatihan Korupsi Untuk Aparat Penegak Hukum dan Auditor. Pemberantasan Korupsi di Indonesia Jalan Tiada Ujung. ctk. Kerahasiaan Bank Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang.wordpress.id/ Rudi Hartono. Gramedia Siska.ac. Kedua.com/2008/05/12/korupsi-produk-struktur-sosial-feodalisme-2/ Wikipedia Bahasa Indonesia. 2011. Bandung : Grafiti Muhammad Yusuf. dkk. Pusat Kajian Hukum Wilayah Barat Universitas Andalas. Ensiklopedia Bebas. 2009. Pertama.usu. Korupsi Produk Struktur Sosial Feodalisme. 22 September 2005.tempointeraktif. ctk. terdapat dalam http://repository. Jakarta : PT.wikipedia.