otonomi daerah

1.

Pengertian Otonomi Daerah
Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat; 1985). Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa : 2 teng Syarifuddin, mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. 3.Syarif Saleh, berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Hak mana diperoleh dari pemerintah pusat. Pendapat lain dikemukakan oleh Benyamin Hoesein (1993) bahwa otonomi daerah adalah pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara informal berada di luar pemerintah pusat. Sedangkan Philip Mahwood (1983) mengemukakan bahwa otonomi daerah adalah suatu pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan sendiri yang keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna mengalokasikan sumber sumber material yang substansial tentang fungsifungsi yang berbeda. Dengan otonomi daerah tersebut, menurut Mariun (1979) bahwa dengan kebebasan yang dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatif sendiri, mengelola dan mengoptimalkan sumber daya daerah. Adanya kebebasan untuk berinisiatif merupakan suatu dasar pemberian otonomi daerah, karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan setempat. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian tersebut adalah wujud kesempatan pemberian yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, hak dan kewajiban serta kebebasan bagi daerah untuk menyelenggarakan urusan-urusannya sepanjang sanggup untuk melakukannya dan penekanannya lebih bersifat otonomi yang luas. Pendapat tentang otonomi di atas, juga sejalan dengan yang dikemukakan Vincent Lemius (1986) bahwa otonomi daerah merupakan kebebasan untuk mengambil keputusan politik maupun administrasi, dengan tetap menghormati peraturan perundang-undangan. Meskipun dalam otonomi daerah ada kebebasan untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerah, tetapi dalam kebutuhan daerah senantiasa disesuaikan dengan kepentingan nasional, ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Terlepas dari itu pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan di atas, dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beranjak dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah pada prinsipnya mempunyai tiga aspek, yaitu : 1. Aspek Hak dan Kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. 2. Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya, serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional. 3. Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai perlimpahan kewenangan dan pelaksanaan kewajiban, juga terutama kemampuan menggali sumber pembiayaan sendiri. Yang dimaksud dengan hak dalam pengertian otonomi adalah adanya kebebasan pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga, seperti dalam bidang kebijaksanaan, pembiyaan serta perangkat pelaksanaannnya. Sedangkan kewajban harus mendorong

pelaksanaan pemerintah dan pembangunan nasional. 2. Dengan demikian jenjang daerah otonom ada dua bagian.1. Membuat peraturan sendiri (PERDA) beserta peraturan pelaksanaannya. 2. maka otonomi daerah mempunyai arti bahwa daerah harus mampu : Berinisiatif sendiri yaitu harus mampu menyusun dan melaksanakan kebijaksanaan sendiri. maka memang masih lebih banyak ingin mengatur pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota. maka akan sulit untuk berotonomi secara nyata dan bertanggungjawab di masa mendatang. Prinsip dan Tujuan Otonomi Daerah Otonomi daerah dan daerah otonom. dan kewenangan kabupaten/kota yang belum mampu dilaksanakan maka diambil alih oleh provinsi. agama serta kewenangankewenangan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dikatakan bahwa yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. jelas bahwa untuk menerapkan otonomi daerah harus memiliki wilayah dengan batas administrasi pemerintahan yang jelas. keleluasaan otonomi maupun kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya. 3. Padahal sebagaimana pengertian otonomi daerah di atas. walau titik berat pelaksanaan otonomi daerah dilimpahkan pada pemerintah kabupaten/kota. peradilan. Adapun daerah provinsi. Secara konsepsional. dikatakan bahwa dalam penyelenggaraan otonomi daerah. berotonomi secara terbatas yakni menyangkut koordinasi antar/lintas kabupaten/kota. Menggali sumber-sumber keuangan sendiri. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. peran serta masyarakat. perencanaan sendiri serta mengelola keuangan sendiri. Daerah otonomi adalah wilayah administrasi pemerintahan dan kependudukan yang dikenal dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. bila dikaji lebih jauh isi dan jiwa undang-undang Nomor 23 Tahun 2004. Disisi lain. 4. pengawasan. Dengan demikian. Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. menetapkan kebijaksanaan sendiri. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi daerah dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 adalah otonomi luas yaitu adanya kewenangan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup semua bidang pemerintahan kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. pertahanan keamanan. mulai dari perencanaan. serta kewenangan pusat yang dilimpahkan pada provinsi. moneter dan fiskal. pelaksanaan. biasa rancu dipahami oleh masyarakat. pemerintah kabupaten/kota yang daerah otonomnya terbentuk hanya berdasarkan kesejahteraan pemerintahan. jika dicermati berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Memiliki alat pelaksana baik personil maupun sarana dan prasarananya. Dalam penjelesan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. pengendalian dan evaluasi. hidup dan berkembang di daerah. Selanjutnya wewenang adalah adanya kekuasaan pemerintah daerah untuk berinisiatif sendiri. pemerataan dan keadilan serta mempertimbangkan potensi dan keanekaragaman daerah. Dalam diktum menimbang huruf (b) Undang-undang Nomor 22 tahun 1999. Di samping itu. . dengan tidak adanya perubahan struktur daerah otonom.

sarana dan prasarana. Adapun tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. nyata dan bertanggung jawab. sebelum syariat Islam diformalkan. f. g. c. tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan. dan perguruan tinggi yang beragama Islam untuk mengenakan pakaian seragam sesuai dengan ketentuan menutup aurat". d. b. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintah daerah. Keinginan untuk formalisasi syariat Islam itu disuarakan oleh partai politik yang menggunakan agama sebagai platform mereka yang meskipun jumlah kursi di DPRD minoritas (13 kursi dari dua partai hasil Pemilu 1999). Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan sebagai wakil daerah. Tarik-ulur pengaruh inilah yang menjadi tema seminar "Perempuan dalam Arus Formalisasi Syariat Islam" yang diadakan Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan Rahima di Jakarta. Sejalan dengan pendapat di atas. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. ada yang memandang bahwa syariat Islam lebih bersifat substansial dan kontekstual. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan kontibusi negara sehingga tetap terjalin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. h. Formalisasi itu berdampak pula pada perempuan dengan keluarnya Surat Edaran Bupati Nomor 451/SE/04/SOS/2001 tentang peningkatan kualitas ketakwaan dan keimanan. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskannya. baik fungsi legislatif. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom. segala persoalan yang selama ini disimpan rapat-rapat berlompatan keluar. SLTP. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah Kabupaten dan daerah kota. keadilan. yang isinya antara lain "dianjurkan kepada siswi SD. The Liang Gie dalam Abdurrahman (1987) mengemukakan bahwa tujuan pemberian otonomi daerah adalah : Mengemukakan kesadaran bernegara/berpemerintah yang mendalam kepada rakyat diseluruh tanah air Indonesia. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah yang terbatas. a.a. Salah satunya adalah semangat otonomi daerah yang diwarnai tarik-ulur hubungan agama dan negara. sedang otonomi daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas. Melancarkan penyerahan dana dan daya masyarakat di daerah terutama dalam bidang perekonomian Otonomi daerah garut REFORMASI tahun 1998 seperti membuka kotak Pandora. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas. Atas dasar pemikiran di atas¸ maka prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 adalah sebagai berikut : Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. dan karenanya dalam daerah Kabupaten/daerah kota tidak ada lagi wilayah administrasi. sudah muncul Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2000 tentang . serta ada kelompok yang bersikap tidak peduli. tidak hanya dari pemerintah kepada daerah. Senin (26/4). e. Ada yang mendukung penerapan syariat Islam secara formal. b. sementara partai yang sekuler atau yang beraliran nasionalis meskipun jumlah kursinya mayoritas tidak banyak bersuara. lembaga pendidikan kursus. Ai Sadidah yang mewakili Forum Pangirutan di Garut menjelaskan. SMU/ SMK. dan jumlah yang terakhir ini yang terbesar.

25 tahun 1999 yang mengatur perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. makalah ini menganalisis kinerja keuangan kota Surabaya dan merumuskan strategi kebijakan dalam meningkatkan kinerja keuangan pemerintah kota Surabaya agar tercapai pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan partisipasi aktif dan sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat Kabupaten Garut. termasuk dari perempuan ketika terjadi tekanan terhadap mereka.kesusilaan yang sering diprotes anggota masyarakat yang dirugikan. selayaknya Kabupaten Garut mengembangkan sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan dari pusat. Oleh karena itu. oleh karena itu. Pemerintah kabupaten (Pemkab) dan DPRD Garut mengakomodasi tuntutan itu dengan mengadakan Lembaga Pengkajian Penegakan dan Penerapan Syariat Islam Garut. Bahkan. Pada tahun 1931 di Garut juga berdiri cabang Pasundan Istri yang mendirikan bank serta membuat rapat umum menuntut Indonesia berparlemen. pada tahun 1910 di sana telah berdiri sekolah untuk perempuan. yang bekerja lebih untuk menggali potensi masyarakat Islam di Garut melalui jalur budaya. Begitu juga di Garut. berbagai pengamatan empiris menyatakan bahwa pemberlakuan otonomi daerah menimbulkan distorsi dan high cost ekonomi. Kamala menekankan pentingnya memperkokoh ruang perempuan yang berangkat dari diri perempuan. KETUA Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan Kamala Chandrakirana yang diminta memberi tanggapan atas hasil penelitian kelompok perempuan di keempat wilayah itu mengatakan. yang menurut Ai Sadidah. KKinerja Keuangan dan Strategi Pembangunan Kota di Era Otonomi Daerah Kabupaten Garut ABSTRAKSI Dengan munculnya UU No. fenomena syariat Islam ini lebih banyak bergerak di arena kultural daripada politik sehingga peran peneliti akar rumput menjadi penting untuk memahami apa yang terjadi di masyarakatnya dengan perspektif keadilan. menjadi penting karena di situ cara berbicara perempuan berkembang dan ini menjadi dasar bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. pada tahun 1957 pernah muncul gerakan antipoligami yang dimotori Qibtiyah yang menolak dikawinkan oleh kakeknya yang berutang kepada H Adil Hakim. 22 tahun 1999 yang mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah serta UU No. seperti yang dilakukan keempat kelompok perempuan dengan dampingan Rahima itu. . peneliti jender Yunianti Chuzaifah MA yang diminta memberi catatan penutup melihat bahwa akan selalu terjadi resistensi di masyarakat. Jaringan-jaringan yang mulai tumbuh. Akan tetapi.

atau sebut saja penggunaan anggaran sesuai fungsinya. Dengan adanya pelimpahan wewenang kepada pemerintahan daerah dengan diikuti perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. 25 tahun 1999 tentang ³Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah´. hal ini terjadi karena Dana Alokasi Umum (DAU) yang menjadi sumber utama pendapatan daerah pada umumnya sebagian besar akan digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin. Khusus untuk pinjaman daerah. 22 tahun 1999 tentang ³Pemerintah Daerah´ dan UU No. Oleh karena itu. Siregar (2001:298) mengemukakan bahwa bagi banyak daerah. Secara umum. pengelolaan dan penggunaan anggaran sesuai dengan prinsip ³money follows function´ yang diatur dalam UU Nomor 25 tahun 1999. 107/2000 telah memuat ketentuan-ketentuan yang terkait dengan kapasitas keuangan daerah untuk meminjam. 22/1999. sehingga anggaran untuk pembangunan menjadi kecil.Dipicu dengan adanya krisis moneter dan transisi politik. Tetapi mengingat desentralisasi di bidang administrasi juga berarti transfer personal (Pegawai Negeri Sipil) yang penggajiannya menjadi tanggung jawab daerah. baik itu pinjaman dalam negeri maupun pinjaman luar negeri. Hal ini secara eksplisit diatur pada pasal 79 UU No. Tetapi. meskipun perundang. 22 tahun 1999 pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi dimana kota dan kabupaten bertindak sebagai ³motor´ sedangkan pemerintah propinsi sebagai koodinator. pengeluaran untuk pembangunan tahun anggaran 2001 (setelah otonomi daerah/desentralisasi) lebih rendah dari pos pengeluaran yang sama tahun anggaran 2000 (sebelum desentralisasi). retribusi (user charges) dan pinjaman (Musgrave dan Musgrave. Republik Indonesia menerapkan desentralisasi (otonomi daerah) yang didasarkan pada UU No. Menurut Lewis (2001).undangan memperbolehkan daerah melakukan pinjaman. PP No. Semua pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah harus lewat (dan seijin) pemerintah pusat. sejak 1 Januari 2001. penerimaan pemerintah (termasuk pemerintah daerah) dapat bersumber dari pajak (taxes). prinsip ³money follows function´. UU No. Undang-undang nomor 22 tahun 1999 mengatur desentralisasi (pelimpahan wewenang dan tanggung jawab) di bidang administrasi dan di bidang politik kepada pemerintah daerah. tidak mungkin berlangsung. hingga beberapa tahun ke depan hal ini belum diperkenankan oleh pemerintah pusat (dan IMF). sumber pemerintah daerah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari restribusi daerah dan pajak daerah maupun bagi hasil dari pajak dan bukan pajak . diharapkan. 1991: 225).

. bagian kedua menjelaskan tentang aspek ekonomi dari .1993b:325-343). Selayaknya pemerintah Kabupaten Garut mengembangkan sumber daya sendiri dan mengurangi ketergantungan dari Pusat (Bahl. beberapa studi empiris yang telah dilakukan menunjukkan bahwa upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan panerimaan daerah telah menimbulkan distorsi pasar dan high cost economy (Saad. Muncul suatu permasalahan. 2003 a.Kabupaten Garut sebagai adalah Kabupaten Garut adalah salah satu Kabupaten pemberi kontribusi besar yang mendukung perekonomian propinsi Jawa Barat (Dick. 1999. Ilyas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari BPS serta survey literatur. Untuk menjawab Permasalahan. 2003 b). 2003). Bagian pertama merupakan pendahuluan. Hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan fiskal pemerintah kota Surabaya terhadap Uluran tangan dari Pusat. 2004). Selain itu. Akan tetapi. akan tetapi data tahun 2000-2002 menunjukkan bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Surabaya hanya sekitar 25% dari penerimaan kota Surabaya. bagaimana kinerja keuangan pemerintah Kabupaten Garut? Strategi kebijakan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja keuangan pemerintah kabupaten Garuta? Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan pemerintah Kabupaten Garut dan merumuskan strategi kebijakan dalam meningkatkan kinerja keuangan pemerintah Kabupaten Garut agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Garut. Untuk itu makalah dari penelitian ini disusun menjadi lima bagian. World Bank. data tersebut bisa berupa kalimat maupun angka yang dapat memperkuat analisis secara kualitatif. Selain itu penulis juga menggunakan data yang bersumber dari survey literatur dan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam adalah pendekatan kuantitatif yang diperkuat dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam analisis. Menurut Tampubolon et al (2002) kota besar seperti Surabaya memiliki potensi besar dalam kemandirian finansial. analisis penelitian ini menggunakan metode eksploratif. Metode tersebut sangat fleksibel dan tidak terstruktur sehingga memudahkan pencarian ide serta petunjuk mengenai situasi permasalahan. upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan penerimaan daerah kurang diikuti upaya untuk meningkatkan perlayanan publik (Halim dan Abdullah. . Sedangkan data yang dianalisis secara kuantitatif dalam pengamatan empiris adalah data yang bersumber dari realisasi Anggaran Pendapatan Pemerintah Daerah Kota Surabaya.

meliputi: ‡ . No. Sehingga ada beberapa proyek pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah yang dibiayai oleh pemerintah pusat melalui APBN tetapi dana itu juga masuk di dalam anggaran pemerintah daerah (APBD). Disamping mengatur pemerintahan daerah. bagian keempat merupakan pengamatan empiris dan rumusan strategi kebijakan di Kabupaten Garut sedangkan bagian kelima berisi tentang kesimpulan dan saran. Lain-lain hasil usaha daerah yang sah B. dimana menurut pasal 55. Pembiayaan pemerintah daerah dalam hubungannya dengan pembiayaan dari pemerintah pusat diatur sebagai berikut (Kuncoro. Pendapatan yang berasal dari pusat. pemerintah daerah dilengkapi dengan seperangkat kemampuan pembiayaan. Sumbangan dari pemerintah ‡ . Sumbangan-sumbangan lain yang diatur dengan peraturan perundangundangan C. Hasil pajak daerah ‡ . Kewenangan daerah dalam menjalankan pemerintahannya pada masa orde baru didasarkan pada UU. 5/1974. 2004): ‡ Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi dibiayai atas beban APBN . yang meliputi: ‡ . Pendapatan Asli Daerah. sumber pembiayaan pemerintah daerah terdiri dari 3 komponen besar. komponen kedua yaitu pendapatan yang berasal dari pusat merupakan cerminan atau indikator dari ketergantungan pendanaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Untuk bisa menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Disamping itu besarnya dana dari pusat tersebut juga membawa konsekuensi kepada kebijakan proyek pemerintah pusat yang secara fisik implementasinya itu berada di daerah. yaitu: A. Keuangan Daerah: Sebelum dan Sesudah Otonomi. bagian ketiga menjelaskan tentang derajat desentralisasi dan kemandirian daerah. Hasil perusahaan daerah (BUMD) ‡ .keuangan daerah sebelum dan sesudah otonomi. Hasil restribusi daerah ‡ . Undangundang tersebut juga menjelaskan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Lain-lain pendapatan daerah yang sah Diantara ketiga komponen sumber pendapatan tersebut.

(b) Dana Perimbangan. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.‡ Urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi dibiayai dari dan atas beban APBD ‡ Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat atau pemerintah daerah tingkat atasnya. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU N0. UU tersebut lebih tepat disebut sebagai penyelenggaraan pemerintahan yang sentralistik daripada yang desentralistik. Tanpa adanya otonomi keuangan daerah tidak akan pernah ada otonomi bagi pemerintah daerah. Dengan demikian bagi pemerintah daerah Tingkat II Kabupaten atau Kodya. Jadi kedua Undang-undang tersebut saling melengkapi (Ismail. Meskipun bisa jadi limpahan dana dari propinsi tersebut juga berasal dari pemerintah pusat lewat APBN. Ketergantungan yang sangat tinggi dari keuangan daerah terhadap pusat seperti tersebut diatas tidak lepas dari makna otonomi dalam UU No. Sepanjang potensi sumber keuangan daerah belum mencukupi. Pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang diatur dalam UU No. Dengan semakin kuatnya tuntutan desentralisasi. No 25 Tahun 1999 terdiri dari (Kuncoro. dibiayai oleh pemerintah pusat atas beban APBN atau oleh pemerintah daerah diatasnya atas beban APBD pihak yang menugaskan. Unsur sentralistik ini sangat nyata dalam pelaksanaan dekonsentrasi. peranan dari pendapatan yang berasal dari pusat sangat dominan. yaitu UU No. pemerintah mengeluarkan satu paket Undang-undang otonomi daerah. 2002). 25. 2004): (a) Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sumber-sumber keuangan daerah menurut UU. . 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam implementasinya dekonsentrasi merupakan sarana bagi perangkat birokrasi pusat untuk menjalankan praktek sentralisasi yang terselubung sehingga kemandirian daerah menjadi terhambat. pemerintah pusat memberikan sejumlah sumbangan kepada pemerintah daerah. disamping mendapat bantuan dari pemerintah pusat juga mendapat limpahan dari pemda Tingkat I Propinsi. 22 perlu dibarengi dengan pelimpahan keuangan dari perintah pusat ke pemerintah daerah yang diatur dalam UU No. Berbagai penelitian empiris yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa dari ketiga sumber pendapatan daerah seperti tersebut diatas. yang dilaksanakan dalam rangka tugas perbantuan.

(c) Pinjaman daerah dan (d) Lain-lain pendapatan yang sah (hibah dan dana darurat). Oleh karana itu tanpa ada revisi terhadap Undang-undang . 8 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-undang tahun 1997 tersebut menjadi tidak relevan lagi. Dalam sistem pemerintahan yang sentralistis. Dasar hukum dari sumber-sumber PAD tersebut masih mengacu pada UU NO. tetapi dalam sistem disentralisasi fiskal seperti dalam UU No. Penerimaan asli daerah (PAD) terdiri dari empat komponen besar yaitu: (a). (c) Hasil perusahaaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya (d) Lain-lain pendapatan yang sah. UU itu tidak terlalu menjadi masalah. Pajak Daerah (b) Restribusi Daerah. karena salah satu syarat terselenggaranya desentralisasi fiskal adalah ada kewenangan pemerintah daerah yang cukup longgar dalam memungut pajak lokal. Sebenarnya Undang-undang ini sangat membatasi kreativitas daerah dalam menggali sumber penerimaan aslinya karena hanya menetapkan 6 jenis pajak yang boleh dipungut oleh Kabupaten atau Kodya. 25/1999.

PAD harus menjadi sumber keuangan terbesar yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah. 2002) Derajat Desentralisasi dan Kemandirian Menurut Halim (2001). (2) Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin. antara lain: 1) TPDPAD 2) TPDBHPBP 3) TPDSum . salah satunya dapat diukur melalui kinerja keuangan daerah. pola hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah harus sesuai dengan kemampuan daerah dalam membiayai pelaksanaan pemerintahan. oleh karena itu.ini. untuk melihat kemampuan daerah dalam menjalankan otonomi daerah. Pemerintah Daerah Tingkat II hanya memiliki 6 sumber pendapatan asli daerah dimana sebagian besar dari padanya dari pengalaman di masa lalu sudah terbukti hanya memiliki peranan yang relatif kecil bagi kemandirian daerah (Ismail. Kedua ciri tersebut akan mempengaruhi pola hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Menurut Musgrave dan Musgrave (1991) dalam mengukur kinerja keuangan daerah dapat digunakan derajat desentalisasi fiskal antara pemerintah pusat dan daerah. peranan PAD di masa datang tetap akan menjadi marginal seperti pada masa Orde Baru mengingat pajak-pajak potensial bagi daerah tetap menjadi wewenang pemerintah pusat. ciri utama suatu daerah mampu melaksanakan otonomi adalah (1) kemampuan keuangan daerah. yang berarti daerah tersebut memiliki kemampuan dan kewenangan untuk menggali sumber-sumber keuangan. Oleh karena itu. mengelola dan mengguanakan keuangannya sendiri untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan. Secara konseptual.

Selain itu. antara lain: 4) TKDPAD 5) KRPAD 6) TKDBHPBPPAD+ 7) TKDBHPBPPAD+ Dimana: PAD = Pendapatan Asli Daerah BHPBP = Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak TPD = Total penerimaan Daerah TKD = Total Pengeluaran Daerah KR = Pengeluaran Rutin Sum = Sumbangan dari Pusat Semakin tinggi derajat kemandirian suatu daerah menunjukkan bahwa daerah tersebut semakin mampu membiayai pengeluarannya sendiri tanpa bantuan dari pemerintah pusat. . 2001). Secara umum. Apabila dipadukan dengan derajat desentralisasi fiskal yang digunakan untuk melihat kontribusi pendapatan asli daerah terhadap pendapatan daerah secara keseluruhan. maka akan terlihat kinerja keuangan daerah secara utuh. kinerja keuangan positif dapat diartikan sebagai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai kebutuhan daerah dan mendukung pelaksanaan otonomi daerah pada daerah tersebut. dalam melihat kinerja keuangan daerah dapat menggunakan derajat kemandirian daerah untuk mengukur seberapa jauh penerimaan yang berasal dari daerah dalam memenuhi kebutuhan daerah (Halim. Dalam hal ini. semakin tinggi kontribusi pendapatan asli daerah dan semakin tinggi kemampuan daerah untuk membiayai kemampuannya sendiri akan menunjukkan kinerja keuangan daerah yang positif.

masih belum jelas apakah konstituensi lokal benar-benar telah merefleksikan keinginan publik yang sesungguhnya. perlu ditekankan terhadap upaya peningkatan perlayanan Publik. (c) pengembangan ekonomi lokal akan menguatkan keuangan daerah dan membantu mengentaskan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja. Desentralisasi ³big bang´ mungkin telah meninggalkan parangkat checks and balances yang belum memadai. peraturan dan perilaku. dan (d) posisi fiskal yang lebih kuat akan meningkatkan layanan kota dan membuat siklus pengembangan terus bergerak maju. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia. menyatakan bahwa Di dalam suatu model pertumbuhan kota yang ideal. Pada konteks perencanaan pembangunan ekonomi daerah. yang bisa dianggap sebagai perencanaan untuk untuk mnemperbaiki berbagai sumber daya publik yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan sumber-sumber daya swasta yang bertanggung jawab. yang berupa: (a) Tata pemerintahan yang baik akan mendorong manajemen finansial dan penyediaan pelayanan kota yang bermutu tinggi. terjadi pergeseran wewenang dan tanggung jawab dalam pengalokasian sumber daya berada di tangan pemerintah kota dan kabupaten. . Pada era otonomi.Pengamatan Empiris dan Strategi Kebijakan: Kabupaten Garut Pembangunan ekonomi adalah suatu proses dimana suatu masyarakat menciptakan suatu lingkungan yang mempengaruhi hasil-hasil indikator ekonomi seperti kenaikan kesempatan kerja. sesuatu yang tidak mempertimbangkan kapasitas dalam berbagai hal. Lingkungan yang dimaksud sebagai sumber daya perencanaan meliputi lingkungan fisik. Dalam banyak hal. bukanlah perencanaan dari suatu daerah akan tetapi perencanaan untuk suatu daerah. Pergeseran baru dalam hal pertanggungjawaban masih belum sepenuhnya komplit. (b) investor yang tertarik dengan kemajuan tersebut akan merangsang pengembangan ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas hidup bagi semua orang termasuk masyarakat miskin.

penulis dapat menyusun makalah dari tugas pendidukan kewarga negaraan dengan judul ³ Otonomi Daerah´dapat terselesaikan tepat pada waktunya. 3.Tema n ± teman yang telah banyak memba ntu baik secara langsung maupun tida k langsung dalam penyelesaian makalah ini tepat pada waktunya. berkat rahmat dan karuniaNya.PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. . demi mencapai cita ± cita yang penulis harapkan. untuk itu penulismohon masukan yang sifatnya membangun agar bisa memperbaiki penulisan ± penulisan makalah maupun laporan yang akan datang.Dos en mata kuliah Hukum Perikanan yang t elah banyak memberikan mat eri secarateoritik.Orang tua penulis yang selalu memberika n dukungan baik dala m bentuk moralmaupun moril. 2.Penulis sadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kejanggalan dankekurangan baik dalam segi penulisan maupun penempatan kata-kata.Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1.

prinsip-prinsip otonomi sebagian sudah diterapkandalam penyelenggaraan pemerintahan.PENUTUP Beberapa waktu belakangan semenjak bergulirnya gelombang reformasi. UU 1/1945menganut sistem otonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948 memberikan hak otonomi dan medebewind yang seluas-luasnya kepada Daerah. Sebenarnya ³otonomi daerah´ bukanlah suatu hal yang barukarena semenjak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia . Sepertiyang kita ketahui Negara Indonesia memiliki daeah yang sangat luas yang terbagi dalamprovinsi-provinsi. konsep otonomidaerah sudah digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Sedangkan saat ini di bawah UU22/1999 dianut prinsip otonomi daerah yang luas. nyata dan bertanggungjawab. Bahkan padamasa pemerintahan kolonial Belanda. otonomidaerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan dan diterapkan dikepemerintahan daerah.Semenjak awal kemerdekaan sampai sekarang telah terdapat beberapa peraturanperundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah. Kemudian UU 5/1974 menganutprinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung. Denganadanya desentralisasi melalui penerapan otonomi daerah di harapkan dapatmengoptimalkan pengelolaan daerah dan memeratakan pembangunan di daerah . Selanjutnya UU 1/1957menganut sistem otonomi ril yang seluas-luasnya. kabupaten-kabupaten. kecamatan-kecamatan dan sebagainya.

..................................Prinsip dan tujuan...............................................................................3 A.............1 B.........................Pengertian...............................................6 Pengamatan empiris dan strategi kemandirian......4 BABIII keuangan daerah...........................DAFTAR ISI DAFTAR ISI.......2 BAB II otonomi daerah garut. Penutup.................................i BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................... Kinerja keuangan dan strategi pembangunan kota di era otonomi daerah kabupaten garut..........................................................7 BAB IV....................................................................ii A.........................................9 .............8 Daftar pustaka..........5 Derajat desentralisasi dan kemandirian.................

DAFTAR PUSTAKA UNDANG UNDANG GOEGLE KAFE ILMU .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful