P. 1
cairan infus

cairan infus

|Views: 1,097|Likes:
Published by Widhy Dhya

More info:

Published by: Widhy Dhya on Jan 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

1.

Cara Menghitung Tetesan Infus
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

15 tetes/menit dan 20 tetes/menit). maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT (MIKRO) = 250 / 2 = 125 TETES PERMENIT . Dewasa: (makro dengan 20 tetes/ml) TETESAN PERMENIT = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK/LAMANYA INFUS (JAM) X 3 atau TETESAN PERMENIT = KEBUTUHAN CAIRAN X FAKTOR TETESAN / LAMANYA INFUS (JAM) X 60 MENIT Keterangan: Faktor tetesan infus bermacam-macam. Contoh: Seorang pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT= 1000 ml /1 X 3 = 333/menit atau TETESAN PERMENIT= 1000 ml x 20 / 1 x 60 menit = 333/menit b. Anak: TETESAN PERMENIT (MIKRO) = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK / LAMANYA INFUS (JAM) Contoh: Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 250 mikroL dalam 2 jam.Berikut penjelasan dan contoh bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus: a. hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes/menit.

rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Secara umum. dada. biaya perawatan. atau memang tidak dapat menelan obat . melalui sebuah jarum. keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah: · Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) · Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) · Fraktur (patah tulang). INFUS Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh. dan lamanya perawatan.2. ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). · Pasien tidak dapat minum obat karena muntah. khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) · “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) · Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi) · Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh) · Semua trauma kepala. sama efektifnya dengan antibiotika intravena. sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius. dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain: Pada seseorang dengan penyakit berat. · Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar. pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi. Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.

yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). · Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai. nyeri. pada penderita diabetes mellitus. subkutan (di bawah kulit). juga untuk memudahkan pemberian obat) Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil. · Tromboflebitis. . namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik. · Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah). · Pemberian kantong darah dan produk darah. atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah. dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri. misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa).(ada sumbatan di saluran cerna atas). Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena · Inflamasi (bengkak. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. sehingga tidak dapat dipasang jalur infus. · Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal. sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba). · Infiltrasi. dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok. · Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan). atau kapiler. perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus). sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). sublingual (di bawah lidah). yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena. Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan. · Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan. · Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: · Hematoma. · Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan. dan intramuskular (disuntikkan di otot). terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous Cannulation) · Pemberian cairan intravena (intravenous fluids). atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. Pada keadaan seperti ini. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum.

· Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. Dextrose 5%+NaCl 0. sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. meningkatkan produksi urin. · Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). Contohnya adalah cairan RingerLaktat (RL). Misalnya Dextrose 5%. Contohnya adalah albumin dan steroid. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi). sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. sehingga tekanan darah terus menurun). dan mengurangi edema (bengkak). sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya: · Kristaloid: bersifat isotonik. Mampu menstabilkan tekanan darah. dan albumin. dan menurunkan osmolaritas serum. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.· Emboli udara. misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. tanpa memperhitungkan kebutuhan cairan yang masuk melalui mulut. Pemberian Cairan Infus pada Anak Berapa Banyak Cairan yang Dibutuhkan Anak Sehat? Anak sehat dengan asupan cairan normal. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. NaCl 45% hipertonik. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. membutuhkan sejumlah cairan yang disebut dengan . terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.9%. Dextrose 5%+Ringer-Lactate. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2.5%. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. · Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. produk darah (darah). Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus: · Rasa perih/sakit · Reaksi alergi Jenis Cairan Infus · Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). dan tetap berada dalam pembuluh darah.9%). Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi. sehingga larut dalam serum. maka sifatnya hipertonik.

muntah. Kebutuhan cairan maintenance anak berkurang secara proporsional seiring meningkatnya usia (dan berat badan). Pemberian cairan infus banyak disalahgunakan (overused) di Unit Gawat Darurat (UGD) karena persepsi yang salah bahwa jenis rehidrasi ini lebih cepat menangani diare. ditandai adanya diare dengan atau tanpa mual. demam.6 Penyakit ini umumnya sembuh dengan sendirinya (self-limiting). Perhitungan berikut memperkirakan kebutuhan cairan maintenance anak sehat berdasarkan berat bdan dalam kilogram (kg). Dehidrasi Ringan (< 5%) · Kotoran cair (watery diarrhea) · Produksi urin (air seni) berkurang · Senantiasa merasa haus · Permukaan lapisan lendir (bibir. Prinsip utama penatalaksanaan gastroenteritis akut adalah menyediakan cairan untuk mencegah dan menangani dehidrasi. Gastroenteritis akut disebabkan oleh infeksi pada saluran cerna (gastrointestinal).45% dengan Dekstrosa 5% + 20mmol KCl/liter Penyalahgunaan cairan infus yang banyak terjadi adalah dalam penanganan diare (gastroenteritis) akut pada anak. mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Cairan yang digunakan untuk infus maintenance anak sehat dengan asupan cairan normal adalah: NaCl 0. ditambah ekskresi/pembuangan harian kelebihan zat terlarut (urea. terutama oleh virus. Cairan maintenance adalah volume (jumlah) asupan cairan harian yang menggantikan “insensible loss” (kehilangan cairan tubuh yang tak terlihat. dan “maintenance”. Dehidrasi yang diakibatkan sering membuat anak dirawat di RS.6 Terapi cairan yang diberikan harus mempertimbangkan tiga komponen: rehidrasi (mengembalikan cairan tubuh). namun produksi urin normal. dll) dalam urin/air seni yang osmolaritasnya/kepekatannya sama dengan plasma darah. uap air dari hembusan napas dalam hidung. lidah) agak kering Dehidrasi Sedang (5-10%) · Turgor (kekenyalan) kulit berkurang · Mata cekung · Permukaan lapisan lendir sangat kering . dan mengurangi lama perawatan di RS.3 Terapi cairan ini berdasarkan penilaian derajat dehidrasi yang terjadi. elektrolit. namun jika tidak ditangani dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit yang bisa mengancam nyawa. Penilaian Derajat Dehidrasi (dinyatakan dalam persentase kehilangan berat badan)3 Tanpa Dehidrasi: · diare berlangsung. dan nyeri perut. maka makan/minum dan menyusui diteruskan sesuai permintaan anak (merasa haus).“maintenance”. dan dari feses/tinja). misalnya melalui keringat yang menguap. kreatinin.

5 Penelitian lain menunjukkan keuntungan lain oralit pada diare dengan dehidrasi ringan-sedang adalah mengurangi lamanya diare.· Ubun-ubun depan mencekung Dehidrasi Berat (>10%) Tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah: · Denyut nadi cepat dan isinya kurang (hipotensi/tekanan darah menurun) · Ekstremitas (lengan dan tungkai) teraba dingin · Oligo-anuria (produksi urin sangat sedikit. Penggunaan cairan infus hanya dibatasi pada anak dengan dehidrasi berat. dan kemudian sekali sehari. dan sekali sehari sesudahnya.6 Pengawasan (Monitoring) · Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur berat badannya. Bahkan dalam analisis penatalaksanaan. · Bagi anak yang tampak sakit. 6 –8 jam setelah pemberian cairan. pasien yang diterapi dengan CRO sedikit yang masuk perawatan RS.5 Sebuah penelitian meta analisis internasional yang membandingkan CRO (oralit) dengan cairan intravena/infus pada anak dengan derajat dehidrasi ringan sampai berat menunjukkan bahwa CRO mengurangi lamanya perawatan di RS sampai 29 jam.Macam Cairan Infus ASERING Indikasi: . periksa kadar elektrolit dan glukosa 4 – 6 jam setelah pemasangan. apakah pemberian cairan melalui infus (intravenous fluids) mempercepat pemulihan dibandingkan dengan cairan rehidrasi oral (oral rehydration therapy/solution/CRO/oralit)? Ternyata pemberian cairan infus tidak mempersingkat lamanya penyakit. sampai koma American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian CRO dalam penatalaksanaan diare (gastroenteritis) pada anak dengan dehidrasi derajat ringan-sedang. dan ketidakmampuan minum lewat mulut. Macam.4 Keuntungan tambahan lain adalah waktu yang dibutuhkan untuk memberikan terapi CRO ini lebih cepat dibandingkan dengan harus memasang infus terlebih dahulu di Unit Gawat Darurat (UGD) RS.5 Sebuah studi lain juga menyimpulkan CRO menangani dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan asidosis (keasaman darah meningkat) lebih cepat dan aman dibandingkan cairan infus. kadang tidak ada). syok. Hasil penelitian ini meyarankan cairan rehidrasi oral menjadi terapi pertama pada anak diare di bawah 3 tahun dengan dehidrasi sedang. meningkatkan (mengembalikan) berat badan anak. · Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur kadar elektrolit dan glukosa serum sebelum pemasangan infus. dan 24 jam setelahnya. dan bahkan mampu menimbulkan efek samping dibandingkan pemberian oralit. dan efek samping lebih minimal dibandingkan cairan infus.4 Pada anak dengan muntah dan diare akut.5 Terapi rehidrasi (pemberian cairan) oral (oral rehydration therapy) seperti oralit dan Pedialyte® terbukti sama efektifnya dengan cairan infus pada diare (gastroenteritis) dengan dehidrasi sedang.

dehidrasi berat.Na 130 mEq .Bayi prematur atau bayi baru lahir.Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A . penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA.Pada kasus stroke akut. dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati .Pada kasus bedah. demam .Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui. luka bakar. syok hemoragik. Komposisi: Setiap liter asering mengandung: .Asetat dimetabolisme di otot.Pada pemberian sebelum operasi sesar. RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus . asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran .Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B . misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. pada keadaan asupan oral terbatas .Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. trauma.K 4 mEq .Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. Kecepatan sebaiknya 300500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak .< 24 jam pasca operasi . sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: . dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: .Asetat (garam) 28 mEq Keunggulan: .Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) .Ca 3 mEq .Cl 109 mEq . demam berdarah dengue (DHF).Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian.Mempunyai efek vasodilator .

Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia .Tanpa kandungan kalium.Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: .Laktat 10 mEq/L .Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian.Glukosa 37.Untuk resusitasi .5 gr/L Otsu-NS Indikasi: .Cl 28 mEq/L .Mensuplai kalium 20 mEq/L . pada keadaan asupan oral terbatas . insufisiensi .Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) .Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi: .Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun .K 8 mEq/L . misal diare .Na 30 mEq/L .Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml): .Cl 20 mEq/L .Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L KA-EN 4A Indikasi : .Na 30 mEq/L .Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum. sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal .K 0 mEq/L .Kehilangan Na > Cl.Laktat 10 mEq/L .Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak .KA-EN MG3 Indikasi : .

Nitrisi dini pasca operasi .Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi: .3 gr/kg BB/jam .Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar.adrenokortikal. infeksi berat.Tifoid .Asidosis metabolik MARTOS-10 Indikasi: .Pasca operasi Total Parenteral Nutrition .Suplai ion bikarbonat .Stres metabolik sedang .Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI .Stres metabolik berat .Infeksi berat .Dosis: 0.Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan . trauma dan pasca operasi) .Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) PAN-AMIN G Indikasi: .Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit AMINOVEL-600 Indikasi: .Kwasiokor . luka bakar) Otsu-RL Indikasi: .Luka bakar .Penderita GI yang dipuasakan .Resusitasi .Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor. stres berat dan defisiensi protein .Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik .

. melalui sebuah jarum.Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh. ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->