PENGARUH SISTEM PEMBAYARAN PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP UTILISASI PELAYANAN KESEHATAN PASIEN RAWAT JALAN PT TELKOM YANG MENDERITA

HIPERTENSI Oleh: Dony Hermanto Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan oleh klinik yang melayani karyawan PT. Telkom dan keluarganya yang menderita hipertensi. Penelitian dilakukan dengan metode survei retrospektif terhadap 68 penderita hipertensi (ICD-X: I-10, I-11) yang berobat pada dua periode yaitu bulan Juli 2008 sampai dengan Juni 2009 dan Juli 2009 sampai dengan Juni 2010. Data yang dikumpulkan berupa umur, jenis kelamin, jumlah kunjungan, jenis obat yang diresepkan, harga dan biaya obat yang diperoleh dari rekam medis pasien di klinik mitra PT. Telkom dan database rekam medis Yakes PT. Telkom. Hasil penelitian menunjukkan 181 pasien menderita hipertensi, 68 diantaranya hanya menderita hipertensi saja, terdiri 27 pasien laki-laki dan 41 perempuan, 1 orang berumur antara 30-39 tahun, 19 orang berumur antara 40-49 tahun, dan 48 orang beurmur diatas 50 tahun. Dari 68 pasien hipertensi tersebut berkunjung sebanyak 560 kunjungan pada periode bulan Juli 2008 sampai dengan Juni 2009 dan 759 kunjungan pada periode bulan Juli 2009 sampai dengan Juni 2010, mengalami kenaikan 15,09%. Obat yang diresepkan sebanyak 581 kali bulan Juli 2008 sampai dengan Juni 2009 dan 725 kali pada periode bulan Juli 2009 sampai dengan Juni 2010. Diantara obat yang diresepkan tersebut sebanyak 67 kali obat generik pada bulan Juli 2008 sampai dengan Juni 2009 dan 268 kali obat generik pada periode bulan Juli 2009 sampai dengan Juni 2010, mengalami kenaikan sebesar 60%. Biaya obat yang ditagihkan ke PT. Telkom sebesar Rp. 60.765.499 pada bulan Juli 2008 sampai dengan Juni 2009 dan Rp. 60.807.969 pada periode bulan Juli 2009 sampai dengan Juni 2010, mengalami kenaikan 0,07% Latar Belakang terdiagnosa dari tahun 1999 sampai tahun 2002 adalah 78% perempuan dan 64% laki-laki.(1) Di Indonesia, menurut laporan SP2RS Ditjen Yanmedik Depkes tahun 2005 disebutkan hipertensi menempati urutan pertama penyakit sistem sirkulasi darah pada pasien rawat jalan di rumah sakit dengan jumlah kunjungan sebesar 5701. Sedangkan pada rawat inap di rumah sakit, hipertensi menempati urutan keempat dengan jumlah 19050.(2) Prevalensi hipertensi karyawan dan keluarga PT Telkom dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Menurut laporan Yakes PT. Telkom, prevalensi pada tahun 2008 sebesar 12% dan

Salah satu contoh penyakit yang bersifat
kronik adalah penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang dapat berlanjut menjadi penyakit lain seperti stroke dan jantung koroner. Peningkatan prevalensi penyakit hipertensi setiap tahunnya menjadi masalah utama bagi negara maju dan berkembang. Menurut data statistik Heart Disease and Stroke, pada tahun 2006 prevalensi hipertensi di Amerika Serikat sekitar 74,5 juta dimana penderita laki-laki sebesar 35,7 juta dan penderita perempuan sebesar 38,8 juta. Prevalensi penyakit hipertensi baik yang terdiagnosa atau yang tidak

Data rekam medik pasien karyawan dan keluarga PT. Telkom yang menderita penyakit lain. Telkom dengan kunjungan minimal 3 (tiga) kali dinyatakan menderita hipertensi ditulis dengan kode ICD-X : I-10. I-11 yang berobat pada bulan Juli 2008 sampai bulan Juni 2010 di Klinik Medika Mulya Bekasi. Data rekam medik pasien karyawan dan keluarga PT. Terdapat beberapa pengertian utilisasi pelayanan kesehatan diantaranya sebagai berikut: a. Populasi dalam penelitian ini adalah data rekam medik semua karyawan dan keluarga PT. Salah satu contoh perubahan pelayanan tersebut antara lain peresepan dari obat dengan nama dagang tertentu menjadi obat generik.(4) PT Telkom sebagai penjamin kesehatan tentunya merasakan dampak dari peningkatan prevalensi penyakit hipertensi tersebut yaitu peningkatan utilisasi pelayanan kesehatan khususnya utilisasi obat.mengalami peningkatan menjadi 17% pada tahun 2009. atau ditulis dengan nama penyakit hipertensi yang berobat pada bulan Juli 2008 sampai bulan Juni 2010 2. b. 2. Resep dengan diagnosa hipertensi pada rekam medik secara jelas Kriteria Eksklusi: 1. Telkom yang menderita penyakit hipertensi dengan Kode Diagnosa Internasional (ICD-X) I-10. dan Klinik Selaras Tangerang. Pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan tersebut dapat dilihat dari perubahan utilisasi pelayanan kesehatan. seperti perubahan jumlah rata-rata jumlah kunjungan. Data rekam medik pasien karyawan dan keluarga PT. Perubahan sistem pembayaran pelayanan kesehatan dari sistem pembayaran retrospektif (fee for service) menjadi sistem pembayaran prospektif (kapitasi) juga berpengaruh bagi penyedia pelayanan kesehatan (PPK) seperti klinik. Penderita yang berumur 30 tahun atau lebih 3. Menurut Diehr(6) Utilisasi pelayanan kesehatan dapat diukur dari jumlah layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Menurut Nichols(20) Utilisasi pelayanan kesehatan terdiri dari empat kategori yaitu: 1) Pelayanan rawat jalan (termasuk jumlah kunjungan pasien rawat jalan) 2) Pelayanan rawat inap (jumlah pasien yang ada di rumah sakit) 3) Jumlah kunjungan ke pelayanan UGD 4) Resep obat yang diterima pasien Salah satu upaya yang dilakukan oleh PT Telkom untuk mengendalikan utilisasi obat dalam pelayanan kesehatan khususnya bagi penderita hipertensi tersebut adalah melakukan perubahan sistem pembayaran pelayanan kesehatan dari sistem pembayaran pelayanan retrospektif (fee for service) menjadi sistem pembayaran prospektif (kapitasi) mulai dari bulan juni 2009. Rekam medis yang ditemukan berjumlah 181 orang Kriteria Inklusi: 1. ratarata biaya obat. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 68 orang Hasil Penelitian . dan rata-rata jumlah peresepan obat yang diberikan dokter atau penyedia pelayanan kesehatan (PPK) lain.(8) Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan metode retrospektif potong silang untuk mengetahui pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan pasien rawat jalan PT. Telkom yang menderita hipertensi. Klinik KJP Depok. Telkom yang tidak lengkap. I-11.

terdiri dari 27 orang berjenis kelamin laki-laki dan 41 orang perempuan.95 18.67 11. Pasien yang menderita hipertensi saja berjumlah 68 orang.59 100.39 40 . maka diperoleh pasien berpenyakit kronis seperti hipertensi.77 9.3 .00 Laki-laki Perempuan Jenis Kelamin Pasien yang berumur 30 tahun atau lebih dipisahkan dari seluruh pasien yang ada. Rincian jumlah pasien berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 4. Rincian jumlah pasien berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 4.49 ≥ 50 Jumlah Total Jumlah Pasien Orang 98 384 338 820 416 785 260 1.39 40 . dan 1461 orang berjenis kelamin perempuan. hiperlipidemia. I-11 mulai dari bulan Juli tahun 2008 sampai dengan bulan Juni 2010.281 Persentase (%) 4.24 34.2 Distribusi Jumlah Pasien Berumur 30 tahun atau lebih Kelompok Jenis Kelamin Umur (tahun) 30 . dan penyakit yang diderita pasien disajikan pada Tabel 4.49 ≥ 50 Jumlah 30 .41 11. jenis kelamin. dan 104 orang berjenis kelamin perempuan.00 Tabel 4. Dari hasil pemisahan. Rincian jumlah pasien berdasarkan kelompok umur.1 Distribusi Jumlah Pasien Tahun 2008-2010 Jumlah Pasien Kelompok Kategori Orang < 30 Umur (tahun) 30 . sejumlah 181 orang yang terdiri dari 77 orang berjenis kelamin laki-laki.82 35.30 16.69 67.83 14.05 100.31 100.461 2.1 Tabel 4. dan 3471 orang berjenis kelamin perempuan.2 Pasien yang berumur 30 tahun atau lebih yang menderita hipertensi dipisahkan dengan cara melihat rekam medis yang menunjukkan diagnosa hipertensi atau dengan penomoran Kode Diagnosis Internasional (ICD-X) I-10. diabetes.Berdasarkan data yang diperoleh dari database rekam medik di Yakes Telkom tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 jumlah pasien yang dijamin pembiayaan kesehatannya berjumlah 5157 orang. Pasien tersebut terdiri dari 1686 orang berjenis kelamin laki-laki.00 32.39 40 .97 22. terdiri dari 820 orang berjenis kelamin laki-laki. dan diperoleh sejumlah 2281 orang.40 64.49 ≥ 50 Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah 2876 514 1169 598 5157 1686 3471 5157 Persentase (%) 55.

89 33. Dari 68 orang pasien yang menderita hipertensi saja. Jumlah kunjungan pasien penderita hipertensi yang berumur 30 tahun atau lebih dengan sistem pembayaran retrospektif sejumlah 560 kunjungan.87% dari total peresepan obat non generik antihipertensi. terdiri dari 67 kali obat generik (11. Sedangkan pada periode pembayaran prospektif terdapat 725 kali obat antihipertensi yang diresepkan.49 ≥ 50 Jumlah 30 . Telah terjadi peningkatan peresepan obat generik sebesar 201 kali atau sebesar 60% dari total peresepan obat generik antihipertensi mulai periode pembayaran retrospektif sampai dengan periode pembayaran prospektif. Sedangkan total rata-rata jumlah kunjungan diperoleh dari penjumlahan nilai rata-rata kunjungan per bulan.10 33. Biaya obat pasien hipertensi dihitung dari jumlah obat-obat antihipertensi yang diresepkan dikalikan dengan harga. nilai total rata-rata jumlah kunjungan penderita hipertensi menjadi 63.47%).49 ≥ 50 Jumlah 30 .39 40 . Sebaliknya pada periode pembayaran prospektif.39 40 .3Distribusi Jumlah Pasien Hipertensi Kelompok Penyakit Jenis Kelamin Laki-laki Hipertensi dan Penyakit Kronis lain Umur (tahun) 30 . Jika dihitung. Sedangkan jumlah kunjungan dengan sistem pembayaran prospektif sejumlah 27.414 kunjungan.76 60. terdiri dari 268 kali obat generik (36.39 40 .29 100. Peningkatan angka kunjungan sebesar 14.09% dari total kunjungan penderita hipertensi mulai periode pembayaran retrospektif sampai dengan periode pembayaran prospektif Rata-rata kunjungan per bulan didapat dari penjumlahan jumlah kunjungan pada periode pembayaran dibagi dengan 12 bulan.49 ≥ 50 Jumlah Jumlah Pasien Orang 0 16 61 77 3 40 61 104 181 0 4 23 27 1 15 25 41 68 Persentase (%) 0 8.Tabel 4.53%) dan 514 kali obat non generik (88. 60. sedangkan jumlah kunjungan dengan sistem pembayaran secara prospektif sejumlah 759 kunjungan.39 40 .66 22.70 1. maka nilai total ratarata jumlah kunjungan penderita hipertensi per bulan sebesar 46. Sebaliknya terjadi penurunan peresepan obat non generik sebesar 5.97%) dan 457 kali obat non generik (63.84 33.00 0 5.70 42.06 36.93% dari total angka kunjungan.82 39. Total biaya obat antihipertensi dari 68 penderita hipertensi pada periode pembayaran retrospektif sebesar Rp. yaitu kelompok pasien dengan sistem pembayaran secara retrospektif yang diperoleh dengan melihat database rekam medik dari bulan Juli 2008 sampai dengan bulan Juni 2009 dan kelompok pasien dengan sistem pembayaran secara prospektif dari bulan Juli 2009 sampai dengan bulan Juni 2010.25.499. Terjadi peningkatan angka kunjungan sejumlah 199 kunjungan atau sebesar 15.54 1.00 Perempuan Total Laki-laki Hipertensi saja Perempuan Total Pasien yang berkunjung dan dijamin pembiayaan kesehatannya dipisah menjadi dua kelompok. Sedangkan biaya obat antihipertensi pada periode .47 22. Jumlah obat antihipertensi dikumpulkan dari resep yang tercatat pada rekam medik.580 kunjungan.765. maka diperoleh sejumlah 581 kali obat antihipertensi diresepkan dokter selama periode pembayaran retrospektif.03%).70 57.46 100.67 pada periode pembayaran retrospektif.49 ≥ 50 Jumlah 30 . Dari hasil pengelompokan tersebut diperoleh jumlah kunjungan dengan sistem pembayaran retrospektif sejumlah 20.

maka pasien tidak akan berkunjung kembali ke pihak pemberi pelayanan kesehatan.(11) Sistem pembayaran prospektif (kapitasi) juga menempatkan pihak pemberi pelayanan kesehatan sebagai penanggung resiko atas biaya pengobatan pasien.116. Seperti diketahui. laboratorium. maka pihak pemberi pelayanan kesehatan akan lebih banyak mendapat jasa keuntungan dan dapat menurunkan utilisasi menjadi lebih rendah. Jika dihitung.08%.07% Biaya obat antihipertensi per kunjungan merupakan jumlah rata-rata biaya obat antihipertensi dibagi dengan jumlah rata-rata kunjungan pasien. disebutkan bahwa sistem pembayaran retrospektif mempunyai dampak negatif yaitu peningkatan jumlah kunjungan pasien. Nilai rata-rata (µ = miu) kunjungan pada sistem pembayaran retrospektif adalah 0. Pada periode pada periode pembayaran retrospektif. maka biaya obat antihipertensi per kunjungan untuk 68 pasien selama periode Juli 2008 sampai dengan Juni 2010 adalah Rp. Peningkatan jumlah kunjungan pada sistem pembayaran prospektif sebesar 199 kunjungan atau sebesar 15. Peningkatan ini terjadi karena pihak pemberi pelayanan kesehatan akan dirangsang untuk terus memberikan pelayanan lebih banyak sehingga jasa atau penghasilan yang diterima akan bertambah banyak.(12) Peningkatan rata-rata jumlah kunjungan pasien dengan sistem pembayaran prospektif pada penelitian ini kemungkinan disebabkan pihak pemberi pelayanan kesehatan sebagai penanggung resiko biaya pengobatan pasien sangat .969. serta penunjang kesehatan lain.6863.6863 yang berarti bahwa rata-rata jumlah kunjungan per pasien setiap bulannya adalah 0. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata jumlah kunjungan pasien hipertensi pada sistem pembayaran retrospektif dengan sistem pembayaran prospektif. 108. Hal ini disebabkan pihak pemberi pelayanan kesehatan akan memberikan pelayanan promotif dan preventif untuk mencegah insidens kesakitan.9301. Sedangkan pada sistem pembayaran prospektif terjadi peningkatan jumlah kunjungan pasien menjadi 759 kunjungan terdiri dari 285 kunjungan pasien laki-laki atau sebesar 21. Rata-rata (µ = miu) peningkatan jumlah kunjungan pasien dengan sistem pembayaran prospektif sebesar 0.09% dari total kunjungan penderita hipertensi mulai periode pembayaran retrospektif sampai dengan periode pembayaran prospektif.pembayaran prospektif sebesar Rp.44% Pembahasan Dari 68 pasien hipertensi yang ada. diperoleh jumlah kunjungan pasien pada sistem pembayaran retrospektif sebanyak 560 kunjungan terdiri dari 216 kunjungan pasien berjenis kelamin laki-laki atau sebesar 16. baik biaya obat-obatan. Apabila angka kesakitan baru menurun. Telah terjadi kenaikan sebesar 0. Terjadi penurunan biaya obat per kunjungan sebesar 35. Sedangkan biaya obat per kunjungan pada periode periode pembayaran prospektif sebesar Rp. Nilai rata-rata ini menunjukan bahwa rata-rata jumlah kunjungan per pasien setiap bulannya sebesar 0. Menurut Thabrany (2005). Nilai rata-rata (µ = miu) sebesar 0.171.(9) Dengan tidak kembalinya pasien untuk berobat. 92.2438 yang berarti bahwa rata-rata peningkatan jumlah kunjungan per pasien setiap bulan adalah 0. biaya obat per kunjungan sebesar Rp. bahwa sistem pembayaran prospektif (kapitasi) merupakan pengalokasian sejumlah dana kepada pihak pemberi pelayanan kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap sejumlah peserta.38% dan 344 kunjungan pasien perempuan atau sebesar 26.38%.807.9301.(9) Berbeda dengan sistem pembayaran prospektif. 60. 80.94%.510.61% dan 474 kunjungan pasien perempuan atau 35.2438 atau 24. jumlah kunjungan pada sistem pembayaran ini jauh lebih kecil.

Perubahan pemberian obat-obatan pada sistem pembayaran prospektif ini mengakibatkan pasien akan lebih sering berkunjung Dengan peningkatan rata-rata jumlah kunjungan pasien akibat perubahan pemberian obat-obat tersebut diharapkan tidak menurunkan kualitas pelayanan. Nilai rata-rata (µ = miu) jumlah obat generik yang diresepkan pada sistem pembayaran retrospektif adalah 0. diduga pemberiannya akan berkurang menjadi 10-15 hari pemakaian pada pembayaran prospektif. peresepan obat generik pada sistem pembayaran prospektif mengalami peningkatan. Pada sistem pembayaran secara retrospektif peresepan obat generik sebesar 11. perlu diadakan evaluasi secara berkala agar pengobatan tidak terjadi under treatment yaitu tindakan dokter yang sebenarnya sangat diperlukan bagi pasien tetapi tidak diberikan Total biaya obat-obatan dari 68 pasien dari bulan Juli 2008 sampai dengan bulan Juni 2009 sebesar Rp. Sebaliknya dengan peningkatan rata-rata jumlah kunjungan pada sistem pembayaran prospektif diharapkan pasien mendapatkan perawatan dari pihak pemberi pelayanan kesehatan lebih teliti dan seksama. Sedangkan pada sistem pembayaran prospektif nilai rata-ratanya adalah 0. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata (µ = miu) jumlah obat generik yang diresepkan pada sistem pembayaran retrospektif dengan jumlah obat generik yang diresepkan pada sistem pembayaran prospektif. Sebagai contoh pemberian obat-obatan pada pasien hipertensi yang biasanya untuk 30 hari pemakaian pada waktu diberlakukan sistem pembayaran retrospektif. Rata-rata biaya obat per kunjungannya sebesar 36.171. 108. 60. Menurut penelitian yang dilakukan Wes Joines dkk. Jika dihitung.510.(13) Secara umum. Oleh karena itu.09.0821. perbandingan peresepan generik pada saat sistem pembayaraan fee for service antara 55-63% dan meningkat menjadi 75% ketika diberlakukan sistem pembayaran prospektif (kapitasi).3284.97% pada saat diberlakukan sistem pembayaran prospektif. maka biaya obat antihipertensi per kunjungan untuk 68 pasien selama periode Juli 2008 sampai dengan Juni 2010 adalah Rp.116. . termasuk untuk pasien hipertensi atau penyakit kronik lainnya. Peningkatan rata-rata jumlah obat generik dengan sistem pembayaran prospektif kemungkinan dimaksudkan untuk mengurangi resiko kerugian yang diderita oleh pihak pemberi pelayanan kesehatan akibat penggunaan obat-obatan bermerk yang berbiaya mahal sehingga dapat mengurangi nilai insentif. Sedangkan rata-rata biaya obat per kunjungan pada sistem prospektif lebih besar daripada biaya obat per kunjungan pada sistem retrospektif dialami oleh 28 orang dengan nilai rata-rata 30. Peningkatan peresepan generik ini merupakan kontrol atas biaya obat akibat alokasi dana yang terbatas pada sistem pembayaran prospektif. Peresepan obat generik mengalami peningkatan pada saat diberlakukan sistem pembayaran prospektif.81.berhati-hati dalam menggunakan dan mengatur alokasi dana yang diberikan.807. 92.53%. Namun demikian.0821 yang berarti bahwa rata-rata jumlah obat generik yang diresepkan per pasien setiap bulannya adalah 0.499.969 dengan biaya obat per kunjungannya sebesar Rp.44% menjadi 36.3284 dimana rata-rata jumlah obat generik yang diresepkan per pasien setiap bulannya adalah 0.765. pihak pemberi pelayanan kesehatan memberikan obat-obatan untuk beberapa hari pemakaian saja. Sedangkan biaya obat-obat dari bulan Juli 2009 sampai dengan bulan Juni 2010 sebesar Rp. Dari hasil statistik menunjukkan terdapat 39 orang dengan rata-rata biaya obat per kunjungan pada sistem prospektif lebih kecil daripada biaya obat per kunjungan pada sistem retrospektif. Hal ini berarti terjadi peningkatan sebesar 300%. Biaya obat per kunjungan pada periode ini sebesar Rp. 60. 80. dan meningkat sebesar 24.

Menurut penelitian Michael Chernew dkk. 4.(26) Hasil uji statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna rata-rata biaya obat per kunjungan yang diresepkan pada sistem pembayaran retrospektif dengan sistem pembayaran prospektif. Terdapat pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan terhadap jumlah kunjungan pasien hipertensi rawat jalan.29%).6863. terdapat perbedaan bermakna rata-rata (µ = miu) jumlah kunjungan pasien hipertensi pada sistem pembayaran retrospektif dengan sistem pembayaran prospektif.807. terdapat 39 orang dengan biaya obat per kunjungan lebih kecil daripada biaya obat per kunjungan pada sistem pembayaran retrospektif. peresepan dan biaya obat masing-masing sebesar 27.414 kunjungan pasien. dan Rp.09% dari total kunjungan penderita hipertensi mulai periode pembayaran retrospektif sampai dengan periode pembayaran prospektif.580 kunjungan pasien. sistem pembayaran prospektif tentunya perlu dipertahankan. Utilisasi pelayanan kesehatan penderita hipertensi dalam hal jumlah kunjungan.499 biaya obat yang telah dikeluarkan. Sedangkan rata-rata biaya obat per kunjungan pada sistem prospekif lebih besar daripada biaya obat per kunjungan pada sistem retrospektif dialami oleh 28 orang. Penderita hipertensi terbanyak adalah penderita berjenis kelamin perempuan 2. Sedangkan jumlah penderita laki-laki sebesar 27 orang (39.765. Oleh karena itu. Pada sistem pembayaran prospektif. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor perilaku. utilisasi pelayanan kesehatan menunjukkan angka kunjungan. 3. Secara statistik. sebesar 41 orang (60. 581 kali obat antihipertensi yang diresepkan. Sedangkan pada sistem pembayaran prospektif nilai rataratanya (µ = miu) adalah 0. menyebutkan salah satu alasan meningkatnya pertumbuhan biaya pada sistem pembayaran prospektif diantaranya perilaku. Terdapat pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan terhadap jumlah obat generik antihipertensi yang diresepkan. Rata-rata (µ = miu) jumlah kunjungan pasien hipertensi pada sistem pembayaran retrospektif adalah 0. 60. 725 kali obat antihipertensi yang diresepkan. peresepan dan biaya obat pada sistem pembayaran retrospektif menunjukkan angka sebesar 20.Terdapat 1 orang dengan biaya obat per kunjungan pada sistem pembayaran retrospektif sama dengan pada sistem pembayaran prospektif. Terjadi peningkatan jumlah obat generik antihipertensi yang diresepkan setelah diberlakukan sistem pembayaran prospektif sebesar 201 kali atau sebesar 60% dari total peresepan obat generik antihipertensi .969 biaya obat yang telah dikeluarkan. 60. Perilaku pasien seperti permintaan terhadap pihak pemberi pelayanan kesehatan untuk meresepkan obat-obatan yang sering digunakan dan perilaku pihak pemberi pelayanan kesehatan yang terbiasa meresepkan obatobatan secara bebas memungkinkan peningkatan biaya obat-obatan. Terjadi peningkatan jumlah kunjungan setelah diberlakukan sistem pembayaran prospektif sejumlah 199 kunjungan atau sebesar 15.9301. Sebaliknya pada sistem pembayaran prospektif. Kesimpulan 1. dan Rp. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa terjadi perubahan peresepan oleh pihak pemberi pelayanan kesehatan yaitu penggantian obat-obat bermerk dengan obat generik sehingga biaya obat menjadi lebih kecil. Hal ini membuktikan bahwa penyedia pelayanan kesehatan mampu mengolah dan mengatur alokasi dana yang sudah ditentukan sehingga biaya obat-obatan bagi pasien tidak mengalami perubahan dari sistem pembayaran retrospektif.71%).

hal: 118-134. hal: 2. Laporan Triwulan. Northridge. Yanez D. Yakes Telkom. 3 No. University of North Carolina. Jakarta. hal: 13-17. 2010 2. diakses tanggal 17 Januari 2011 4. The New England Journal of Medicine. Askes On Implementation Of health Care Payment System. Berwick M. InaSH Menyokong Penuh Penanggulangan Hipertensi. 2004 8.3284. Can Financial Influence Medical Practice?.1999 12. tidak terdapat perbedaan bermakna antara biaya obat antihipertensi yang diresepkan per kunjungan pada sistem pembayaran retrospektif dengan biaya obat yang diresepkan per kunjungan pada sistem pembayaran prospektif. hal: 17-19.id/index. edisi baru-oktober. Tantivipanuwong.42.394. 28.470 setelah diberlakukan sistem pembayaran prospektif. mulai periode pembayaran retrospektif sampai dengan periode pembayaran prospektif. Secara statistik. Jakarta. Tracey J. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Namun bila dilihat dari biaya obat per kunjungan terjadi penurunan biaya sebesar Rp. Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah. 1995 9. Lewin Group. Determination of Factors Affecting Medical Expenditures of Diabetic Patients From Electronic Database. hal: 14. hal: 24. terdapat perbedaan bermakna rata-rata jumlah obat generik antihipertensi yang diresepkan pada sistem pembayaran retrospektif dengan sistem pembayaran prospektif.5. Tesis. edisi I-IV periode 20082009. Switzerland. Methods For Analyzing Health Care Utilization And Costs. Chapel Hill. Human Resources for Health Development Journal (HRDJ) Vol. diakses dari: www. Texas. Hornbrook M. Payment by Capitation and The Quality of Care.4 . Askes Indonesia 11. Joines W. Terdapat pengaruh sistem pembayaran pelayanan kesehatan terhadap biaya obat antihipertensi yang diresepkan per kunjungan. Asuransi Kesehatan Nasional. Terjadi peningkatan biaya obat antihipertensi yang diresepkan sebesar Rp. Depkes RI. Ash A. Mahidol University. Thabrany. Dallas. Experience of PT. 1999 7. Daftar Pustaka 1. PAMJAKI. hal: 12281229. Secara statistik. Menges J. PT. hal: 6. Jakarta 5. 2005 10. Thailand.go. hal: 127. American Heart Association. Kingma M. Medicaid Managed Care Cost Savings – A Synthesis of 24 Studies. 2005 6. Depkes RI. Sedangkan pada sistem pembayaran prospektif nilai rata-ratanya (µ = miu) adalah 0. hal :2. Stern C. PT.php/berita /press-release/896-inash menyokong-penuhpenanggulangan-hipertensi. Diehr P. Quality of Health Care. Programmatic Assessment of . Academy of Pharmacists in Managed Care Board and (in the Editorial Review Committee). Heart Disease & Stroke Statistics – 2010 Update. Askes. Geneva. Prepared for: America’s Health Insurance Plans.html.0821. Rata-rata (µ = miu) jumlah obat generik antihipertensi yang diresepkan pada sistem pembayaran retrospektif adalah 0. 1996 13. 2 May August.depkes. Original article hal: 6. 2007 3. Managed Care Capitation Contracts for Pharmacy. International Council of Nurses. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

2010 28. 2008 30. Journal of Human Hypertension hal: 490. Jakarta. Jakarta. Jurnal Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam. Sopiyudin D. Principle of Healthcare Reimbursement. Denpasar.76. National Center for Health Statistic. Introduction to Drug Utilization Research. hal: 3437. JNC 7 Express Prevention. Jakarta. Casto. March 07. K. Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.S. RSUP Sanglah. hal: 215-217. Diabetes. et al.5). Rineka Cipta. Original Article. Medication Adherence And Health Care Service Utilizations In Type 2 Diabetes Medicaid Enrollees. hal: 39. S.T. Jakarta. Rubin MD.S. Health Care in America Trend in Utilization. Perbandingan Peresepan dan Biaya Obat Bagi Pasien Stroke Askes dan Non Askes di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dokter Cipto Mangunkususmo Tahun 1995. U. Kuswardhani. Notoatmodjo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kabo. Wiley Publishing. hal: 21. 2007 26. hal: 5. 2007 20. USA. hal: 135-139. Number: 6. Tesis. Promosi Kesehatan & Ilmu Kesehatan. Project HOPE. Minor Depression and Health Care Utilization and Expenditures: A Retrospective Database Study. 2007 14. 2006 16. Denver. USA. USA. Radi S. Rineka Cipta. Salemba Medika. Evaluation. 2000 27. 2008 29. 2010 15. and Treatment of High Blood Pressure.S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Medicaid Payment Systems: Impact On Quality Of Care. Jakarta. 2003 19.126 The Ohio State University. U. Halloway. 2004 25. hal: 2. hal: 1-4. 1997 23. Vol: 7. Bagaimana Menggunakan Obat-obat Kardiovaskular Secara Rasional. WHO In Collaboration with Management Sciences for Health. Notoatmodjo.. S. Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Modul Pelatihan Teknis Telaah Utilisasi Penyelengaraan Askeskin. 2007 18. edisi pertama. hal: 267. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta.Carve-In and Carve-Out Arrangements for Medicaid Prescription Drugs. Tesis.M. (Ed.M. Drug and Therapeutics Committess: a practical guide. Alan L. USA. dkk. dkk. Chernew M.118. Farmakologi dan Terapi. WHO. AHIMA. Seri Evidence Based Medicine 1. Oslo Norway. Illinois. hal:43. hal 5-7. University of Colorado. Lewin Group for the Association of Community Affiliated Plans. Jakarta. High Blood Pressure for Dummies 2nd Edition. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia. 2004 . 2 Mei Divisi Geriatri. Kasim F. hal: 68-95. Departement of Health And Human Service. Manjiri D. Department of Health And Human Services. hal: 66. Ganiswarna. Pharmaceutical Cost Growth Under Capitation: A Case Study. T. Layman. 2006 31. dan Green. Pawaskar. USA. 2003 24. P. 2007 21. Health Affair Vol:19. Nichols L. Depkes RI. Chicago. G. 2007 22. 2004 17. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan.S. Departemen Farmakologi FKUI. Detection. One-year Hypertension Incidence and Its Predictors in a Working Population.