P. 1
Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

|Views: 433|Likes:
Published by Noviarin Arin-
SMA kelas 12
SMA kelas 12

More info:

Published by: Noviarin Arin- on Jan 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2012

pdf

text

original

BAHASA INDONESIA

BAB 1

PARAGRAF
C. SYARAT PARAGRAF
1. 2. 3. 4. Kesatuan (Unity) Kelengkapan (Completness) Koherensi (Coherence) Urutan Pikiran (Order)

A. PENGERTIAN PARAGRAF
Paragraf adalah bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran. Fungsi utama paragraf adalah menandai awal ide atau gagasan baru. Fungsi yang lain adalah sebagai pengembangan lebih lanjut tentang ide sebelumnya atau sebagai penegasan terhadap gagasan yang diungkapkan sebelumnya. Paragraf sering disebut dengan istilah alinea.

D. CIRI PARAGRAF EFEKTIF
1. 2. 3. 4. Hanya memiliki satu ide utama. Memiliki keterangan atau penjelasan yang relatif lengkap tentang ide utama. Menarik perhatian pembaca. Terorganisasi dengan baik.

B. UNSUR PARAGRAF
1. Gagasan Utama Gagasan utama adalah gagasan yang menjadi dasar pengembangan paragraf. Kalimat topik adalah kalimat yang merangkum gagasan secara menyeluruh dan mewakili kalimat-kalimat lain dalam sebuah paragraf. Gagasan Penjelas Gagasan penjelas adalah gagasan yang berfungsi menjelaskan gagasan utama. Gagasan penjelas terdapat pada kalimat penjelas atau kalimat pengembang, yaitu kalimat yang menjelaskan kalimat utama.

E. POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF
1. Susunan Alami Paragraf yang dikembangkan dengan susunan alami mengenal dua macam urutan. • Urutan Ruang (Spasial) Pembaca dibawa dari satu titik ke titik berikutnya dalam sebuah ruang, misalnya gambaran dari depan ke belakang, luar ke dalam, atas ke bawah, dan sebagainya. • Urutan Waktu (Kronologis) Pengembangan paragraf dengan urutan waktu menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

2.

2. Susunan Logis • Klimaks dan Antiklimaks Jika gagasan disusun dari urutan yang paling sederhana menuju urutan kompleks, paragraf tersebut dikembangkan dengan cara klimaks. Jika gagasan disusun dari urutan paling kompleks menuju urutan yang paling sederhana, pengembangan paragraf tersebut menggunakan cara antiklimaks. • Umum-Khusus atau Khusus-Umum Cara umum-khusus dilakukan dengan meletakkan gagasan utama pada awal paragraf kemudian diikuti perincian-perincian. Menghasilkan paragraf deduktif. Cara khusus-umum dimulai dengan perincianperincian dan diakhiri dengan gagasan utama. Menghasilkan paragraf induktif. • Sebab-Akibat Sebab berfungsi sebagai gagasan utama dan akibat sebagai gagasan penjelas. • Definisi Dilakukan dengan mengungkapkan definisi kemudian dikembangkan dengan pikiran-pikiran penjelas yang mendukungnya. • Perbandingan dan Pertentangan Dilakukan dengan membandingkan atau mempertentangkan dua hal yang tingkatannya sama dan memiliki persamaan serta perbedaan. • Klasifikasi Dimulai dengan pengungkapan gagasan utama kemudian dikembangkan ke dalam kalimat-kalimat penjelas berupa klasifikasi dari gagasan utamanya. • Contoh-contoh Kalimat-kalimat penjelas yang digunakan dalam paragraf berupa contoh-contoh. • Syarat-Hasil Syarat-syarat tentang sesuatu disampaikan terlebih dahulu kemudian diikuti hasilnya jika syarat tersebut dipenuhi atau dilaksanakan.

Paragraf Induktif Paragraf induktif adalah paragraf yang letak gagasan utamanya di akhir paragraf. Macammacam: 1) Analogi, yaitu menarik kesimpulan berdasarkan persamaan isi dengan sesuatu yang sudah dikenal. 2) Generalisasi, yaitu proses pengambilan kesimpulan dengan memberikan pernyataan yang bersifat khusus berupa perihal atau kejadian untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. 3) Kausal, yaitu hubungan ketergantungan antara dua kalimat atau lebih, artinya suatu akibat akan terjadi jika ada sebab. Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif) Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya tersebar pada seluruh kalimat. Jenis paragraf ini terdapat pada karangan deskripsi dan narasi.

F.

JENIS PARAGRAF

1. Berdasarkan Letak Gagasan Utama • Paragraf Deduktif Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf. Kalimat utama pada paragraf ini adalah kalimat topik. Kalimat kedua dan seterusnya merupakan kalimat penjelas.

2. Berdasarkan Tujuannya • Paragraf Deskripsi Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan sesuatu menurut pengalaman pancaindera manusia dengan tujuan agar pembaca seolah-olah melihat dan merasakan sendiri objek yang digambarkan. • Paragraf Narasi Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan. • Paragraf Argumentasi Paragraf argumentasi adalah paragraf yang menyajikan suatu permasalahan dengan mengemukakan bukti-bukti dan alasan yang kuat agar pembaca meyakini kebenaran yang diungkapkan oleh penulis atau menyatakan persetujuannya. • Paragraf Eksposisi Paragraf eksposisi adalah paragraf yang memaparkan pengetahuan atau informasi dengan tujuan pembaca mendapatkan informasi dan pengetahuan sejelas-jelasnya. Untuk memperjelas pemaparan, dikemukakan pula data dan fakta. • Paragraf Persuasi Paragraf persuasi adalah paragraf yang bertujuan mempengaruhi pembaca dengan memberikan data sebagai penunjang, sehingga pembaca mengikuti pendapat yang dikemukakan penulis.

kendi_mas_media@yahoo.com

BAB 2
-

RESENSI
2. Latar Belakang Buku Meliputi bentuk atau format buku, ilustrasi, gambar, cover, kertas yang dipakai, jenis huruf, dan sebagainya.

A. PENGERTIAN RESENSI
Resensi adalah ulasan yang memberikan pertimbangan atau penilaian terhadap buku. Resensi dibuat untuk menyampaikan keunggulan dan kelemahan buku, karya sastra atau karya seni kepada pembaca, sehingga pembaca dapat menentukan perlu tidaknya karya tersebut.

B. PRINSIP-PRINSIP RESENSI
Pembuatan resensi harus memperhatikan beberapa hal, yaitu objektif, singkat, menyeluruh, jelas, langsung pada sasaran, lugas, jujur, dan sesuai dengan keadaan dan kemampuan pembaca.

3. Isi dan Bahasa (Kelemahan dan Keunggulan) Dari segi isi, penulis resensi mengulas unsur intrinsiknya, seperti tema, alur, cerita, perwatakan, sudut pandang, dan sebagainya. Dari segi bahasa, diulas struktur kalimat, gaya bahasa, ungkapan, dan sebagainya. Cara yang digunakan penulis buku dalam mengungkapkan penyelesaian masalah dan cara pengolahan materi juga perlu diperhatikan oleh penulis resensi. 4. Nilai-nilai Buku Nilai buku dapat ditentukan dengan membandingkan dengan karya lain dari pengarang yang sama atau dengan pengarang lain yang isinya kurang lebih sama. Nilai buku meliputi gambaran umum isi buku, kemurnian ide, dan sebagainya.

C. BAGIAN-BAGIAN RESENSI
1. Jenis Buku Jenis buku berarti bahwa penulis resensi harus mengklasifikasikan golongan buku yang diresensi termasuk fiksi atau nonfiksi. Jika buku tersebut termasuk fiksi, penulis harus menyebutkan bentuknya berupa roman, novel, atau yang lain.

5. Kesimpulan Penulis resensi menyimpulkan perlu tidaknya sebuah buku atau karya sastra dibaca.

BAB 3

WAWANCARA
3. Wawancara dengan Petunjuk Umum Dalam wawancara ini, kerangka atau pokok masalah yang akan ditanyakan kepada narasumber sudah disusun sebelumnya. Wawancara dapat dilakukan secara tertutup dan terbuka. Wawancara tertutup merupakan wawancara yang dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang sifatnya rahasia atau pribadi. Wawancara terbuka adalah wawancara yang dilakukan berkaitan dengan kepentingan umum, misalnya debat terbuka di televisi.

A. PENGERTIAN WAWANCARA
Wawancara adalah tanya jawab yang terjadi antara orang yang mencari informasi (pewawancara) dengan orang yang memberikan informasi (narasumber). 1. Wawancara Serta-Merta Wawancara ini merupakan wawancara dalam situasi alami. Dalam wawancara ini, pertanyaan disampaikan seperti komunikasi sehari-hari. Wawancara Menggunakan Seperangkat Pertanyaan yang Telah Dibakukan Pewawancara sudah menyiapkan urutan katakata dan pertanyaannya sehingga dia tinggal membacanya saja ketika wawancara berlangsung.

2.

kendi_mas_media@yahoo.com

B. TAHAP-TAHAP WAWANCARA
1. Pembukaan Pewawancara memperkenalkan diri dan menyatakan maksud serta tujuan wawancara. Pewawancara juga menanyakan identitas pribadi narasumber. Dalam melakukan wawancara, pewawancara harus menggunakan perkataan yang sopan dan menghormati narasumber. Pewawancara terlebih dahulu menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.

2.

Inti Pewawancara mengajukan pertanyaan secara sistematis dan mencatat setiap jawaban penting yang diberikan oleh narasumber. Pertanyaan yang diajukan mengandung unsur apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.

3. Penutup Wawancara diakhiri dengan ucapan terima kasih oleh pewawancara dan memberikan kesan baik serta menyenangkan.

BAB 4
A. BERITA

BERITA, PIDATO, DAN DISKUSI
e. Lengkap Berita harus mampu menjawab pertanyaan 5W+1H (what, who, when, where, why, how), yaitu menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Sistematis Berita ditulis dengan sifat piramida terbalik, yaitu bagian yang berjangkauan luas dan penting diletakkan pada bagian awal, sedangkan bagian yang khusus, sempit, dan kurang penting berada pada bagian akhir. Berita harus dapat dipahami Sebuah berita memiliki kejernihan pengungkapan masalah, ditulis secara ringkas menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tidak menggunakan bahasa yang rancu. Unsur Struktur Berita Judul Judul berita berfungsi memperkenalkan isi berita. Judul berita harus memenuhi beberapa syarat, antara lain mencerminkan isi, singkat, lengkap, mudah dipahami, menarik, tidak memiliki makna ganda, merupakan kata kunci berita, kata kerja aktif, dan mengandung hubungan sebab-akibat. Dateline (tempat dan tanggal penulisan berita) Lead (teras berita) Lead mewakili isi berita sehingga dalam lead diinformasikan unsur-unsur 5W+1H. Body (tubuh berita)

Berita adalah laporan peristiwa atau pendapat yang aktual, menarik, penting, serta cermat dalam fakta. Laporan yang berguna itu disusun dalam suatu jenis penulisan tertentu, sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Dengan kata lain, berita merupakan laporan fakta. Suatu peristiwa atau kejadian atau fakta disebut sebagai berita jika peristiwa tersebut sudah dilaporkan. 1. Syarat Berita Berita harus memenuhi syarat sebagai berikut. a. Berlandaskan fakta b. Aktual Aktual berarti bahwa berita tersebut disiarkan tidak lama setelah terjadi peristiwa. Dengan kata lain, jarak waktu terjadinya peristiwa dan waktu penyiaran berita berdekatan. c. Menarik bagi setiap orang yang menyimak berita tersebut Sebuah berita dikatakan menarik jika memenuhi faktor-faktor seperti: berguna, dekat dengan pembaca, bersifat konflik, merupakan berita lanjutan, berkaitan dengan tokoh-tokoh terkenal, berita sesama manusia, memiliki daya pengaruh yang kuat, berupa berita bencana, humor, seks, aneh (luar biasa), kemajuan (kesuksesan), dan berita yang menimbulkan emosi bagi pembacanya. d. Seimbang Berita harus ditulis dengan objektif dan tidak berat sebelah. Sebuah berita disebut objektif apabila disampaikan tanpa prasangka dan tanpa usaha untuk mempengaruhi pembaca.

f.

g.

2. a.

b. c.

d.

kendi_mas_media@yahoo.com

• • •

Penghubung (bridge) Body (tubuh) Penutup (ending)

d.

3. Menyusun Naskah Berita Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun naskah berita yaitu sebagai berikut. a. Menggunakan struktur tata bahasa yang benar. b. Menggunakan penalaran logika yang benar (logis). c. Tidak mengandung makna ambigu. d. Menggunakan diksi atau pilihan kata yang tepat. 4. Fakta dan Opini Fakta dan opini merupakan dua unsur yang berbeda. Fakta adalah keadaan atau peristiwa yang benarbenar terjadi. Opini merupakan kejadian yang masih berada dalam angan-angan dan belum menjadi kenyataan. Dengan kata lain, opini merupakan informasi berupa gagasan, pendapat, dan harapan. Perbedaan ini menjadi sangat penting dalam menulis berita. Sebuah berita harus benar-benar menyajikan fakta yang didukung oleh data. Jika dalam berita terdapat opini dari narasumber atau dari wartawan, opini tersebut harus dapat dibedakan dari fakta. Dengan demikian, sebuah berita benar-benar menyajikan informasi yang benar dan tidak membohongi publik.

Ekstempore atau ekstemporan Ekstemporan merupakan jenis pidato yang paling baik karena terjadi komunikasi yang baik antara pembicara dengan pendengar. Pembicara menyiapkan pokok-pokok pikiran yang akan disampaikannya dan menyampaikannya dengan bahasa sendiri.

Berdasarkan tujuannya, pidato dibedakan menjadi berikut. 1. Pidato Informatif Pidato informatif merupakan pidato yang bertujuan memberitahukan atau menambah pengetahuan pendengar. 2. Pidato Persuasif Pidato persuasif bertujuan mempengaruhi pendengar. Pidato ini ditujukan agar pendengar mempercayai sesuatu, melakukannya, serta terbakar semangat dan motivasinya. 3. Pidato Rekreatif Pidato rekreatif merupakan pidato yang digunakan untuk menghibur pendengar. 2. Ciri-ciri Pidato yang Baik 1. Materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau objektif. 2. Isi materi dan cara penyampaiannya jelas dan mudah dimengerti oleh pendengar. 3. Berisi hal-hal baru dan mengejutkan. Oleh karena itu, pembicara harus mempunyai pengetahuan yang luas. 4. Menciptakan klimaks atau menutup pidato dengan uraian yang penting. 5. Tujuannya jelas.

B. PIDATO
Pidato adalah bentuk komunikasi lisan yang ditujukan kepada khalayak atau orang banyak. Dalam berpidato terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu penampilan, ekspresi muka, perilaku, dan intonasi. 1. Jenis Pidato Berdasarkan persiapan yang dilakukan sebelum berpidato dan metodenya, pidato dibedakan menjadi empat, yaitu sebagai berikut. a. Impromtu atau serta-merta Impromtu adalah pidato yang dilakukan tanpa ada persiapan yang memadai. Pembicara berpidato berdasarkan pengetahuan dan kemahiran yang dimiliki. b. Manuskrip atau naskah Jenis pidato ini disebut pidato dengan naskah karena pembicara hanya membacakan naskah pidato yang telah dipersiapkan. c. Memoriter atau menghapal Pidato memoriter merupakan jenis pidato yang dilakukan dengan menghapal naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya.

C. DISKUSI
Diskusi adalah pembicaraan antara dua atau beberapa orang dengan tujuan mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, atau keputusan bersama mengenai suatu masalah. Dalam diskusi terdapat pimpinan diskusi, notulis, dan peserta diskusi. Pimpinan diskusi bertugas membuka diskusi, mengatur jalannya diskusi, menyimpulkan dan memutuskan hasil diskusi. Notulis bertugas mencatat pelaksanaan diskusi dari awal sampai akhir serta menulis laporan diskusi.

-

kendi_mas_media@yahoo.com

-

Peserta diskusi bertugas mengemukakan pendapat atau gagasan dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasil diskusi. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan dalam Diskusi Mengemukakan Pendapat • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. • Menyampaikan pendapat dengan kalimat yang singkat dan jelas. • Gagasan dan tanggapan yang disampaikan disertai alasan-alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan. • Bersikap wajar, tidak kaku, tidak angkuh, tidak pemalu, dan tidak pesimis. Menolak Pendapat • Pendapat disampaikan dengan alasan yang logis dan berkaitan dengan hal yang ditolak. • Menunjukkan kekurangan pendapat yang ditolak tanpa menghina dan menyinggung perasaan. Bertanya • Menanyakan hal-hal yang benar-benar belum diketahui. • Bersikap rendah hati. • Menawarkan jawaban sebagai saran. • Menyampaikan pertanyaan dengan singkat dan jelas. Laporan Hasil Diskusi

3. Jenis-jenis Diskusi 1. Konferensi Konferensi adalah pertemuan beberapa perwakilan kelompok atau organisasi untuk merundingkan suatu masalah tertentu. Panel Panel merupakan bentuk diskusi yang terdiri atas beberapa panelis dan moderator. Panelis terdiri atas orang-orang yang berbeda keahliannya yang bersepakat mengutarakan pendapat dan pandangannya mengenai suatu masalah dari kepentingan pengunjung atau majelis. Permasalahan yang didiskusikan akan memberi penerangan atau perluasan pengetahuan kepada umum tentang permasalahan yang sedang hidup di masyarakat. Simposium Simposium merupakan bentuk diskusi yang digunakan untuk mengetahui berbagai aspek suatu masalah dalam waktu yang relatif singkat. Simposium diikuti oleh seorang moderator, beberapa orang pembicara, dan banyak peserta. Seminar Seminar sering disebut sebagai diskusi ilmiah meja bundar. Seminar bertujuan menemukan cara atau jalan pemecahan masalah yang biasanya diadakan oleh seseorang yang sedang melaksanakan tugas. Brainstorming Brainstorming merupakan bentuk diskusi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan. Keterampilan berbicara dan penguasaan teknik pengutaraan pendapat sangat dibutuhkan. Dalam brainstorming, diharapkan akan tercetus kritik serta gagasan sebanyak-banyaknya. Semakin aneh, tegas, dan semakin berani sebuah gagasan, brainstorming dianggap semakin baik. Kolokium Kolokium merupakan bentuk diskusi yang menghadirkan orang-orang yang ahli dalam diskusi sebagai narasumber yang bisa meluruskan suatu pembicaraan yang menyimpang dari persoalan yang menjadi pokok diskusi. Workshop atau lokakarya Workshop atau lokakarya adalah pertemuan yang dihadiri oleh sekelompok orang dengan pekerjaan sejenis. Pembicaraan yang dilakukan berkaitan dengan masalah teknis pekerjaan mereka.

1. a.

2.

b.

3.

c.

4.

2.

5.

Penyusunan laporan hasil diskusi harus sistematis dan meliputi hal-hal berikut. a. Judul laporan b. Kata pengantar c. Daftar isi d. Bab perencanaan diskusi e. Bab pelaksanaan diskusi f. Bab kesimpulan diskusi g. Lampiran Dalam menyusun laporan, harus diperhatikan hal-hal berikut. a. Penyajian laporan objektif dan faktual. b. Laporan disusun secara kronologis dan sistematis. c. Ditulis dengan bahasa yang singkat dan jelas. d. Menghindari unsur subjektif.

6.

7.

kendi_mas_media@yahoo.com

BAB 5

SURAT
3. Surat Pemberitahuan Surat yang isinya memberitahukan sesuatu agar diketahui orang lain. 4. Surat Perjanjian Adalah surat yang berisi kesepakatan dua belah pihak mengenai suatu urusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan surat perjanjian, yaitu judul perjanjian, identitas pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, isi perjanjian, hak dan kewajiban serta ketentuan yang disepakati yang ditulis dalam bentuk pasal-pasal, dan tanda tangan kedua belah pihak di atas materai, serta adanya saksi.

Surat merupakan bentuk komunikasi tertulis antara seseorang atau lembaga dengan orang atau lembaga lainnya.

A. BAGIAN-BAGIAN SURAT
Surat resmi terdiri atas bagian-bagian berikut. 1. 2. Kepala Surat Pembukaan • tanggal surat, • nomor surat, • lampiran surat, • perihal surat, • alamat surat.

3. Isi Surat atau Tubuh Surat • salam pembuka, • isi surat. 4. Penutup • salam penutup, • tanda tangan dan nama terang, • jabatan, • tembusan.

5. Surat Edaran Surat edaran adalah surat yang berisi informasi yang harus diketahui banyak pihak dalam suatu lembaga. 6. Surat Undangan Surat yang berisi permintaan atau undangan kepada penerima surat agar berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh pengirim. 7. Surat Kuasa Surat kuasa merupakan surat yang pemberian wewenang atas sesuatu. berisi

B. JENIS-JENIS SURAT
Secara umum, surat dibedakan menjadi dua jenis. 1. Surat resmi: surat yang digunakan dalam situasi resmi, misalnya dalam kedinasan dan perdagangan. 2. Surat tidak resmi: surat yang digunakan untuk kepentingan yang tidak resmi, misalnya untuk kepentingan keluarga. Berdasarkan isinya, surat dapat dibedakan menjadi berikut. 1. Surat Permohonan Izin Berisi permohonan izin dari pengirim kepada penerima mengenai sesuatu. Dalam surat permohonan izin, harus dituliskan kejelasan alasan pengajuan permohonan tersebut. Surat Permohonan Maaf Surat yang berisi permintaan maaf, disampaikan oleh pihak yang telah melakukan kesalahan atau menyakiti suatu pihak kepada pihak yang disakiti tersebut.

8. Surat Lamaran Pekerjaan Surat lamaran pekerjaan ditulis oleh seseorang kepada instansi atau perusahaan untuk dapat diterima menjadi pegawai pada instansi atau perusahaan tersebut. Isi surat lamaran pekerjaan harus singkat, padat, sopan, dan langsung pada persoalan. Dalam surat tersebut, penulis mengemukakan identitas serta pekerjaan yang dikehendaki. Selain itu, perlu disebutkan pula sumber pengajuan lamaran tersebut, misalnya dari koran, radio, televisi, atau inisiatif sendiri. 9. Memorandum atau Memo Memorandum merupakan surat yang berisi catatan singkat tentang pokok-pokok permasalahan yang ingin dibicarakan. Memo dibuat oleh pihak atasan kepada bawahan atau pejabat setingkat dengan pembuat memo.

2.

kendi_mas_media@yahoo.com

BAB 6
-

KARYA TULIS
4. Menunjukkan kemampuan mengumpulkan berbagai sumber informasi dalam suatu kegiatan secara utuh.

A. PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH
Karya tulis ilmiah adalah karangan ilmiah yang memiliki sifat atau ciri-ciri ilmu pengetahuan, yaitu objektif, tidak berprasangka, tanpa penilaian atau pendapat pribadi, sistematis, dan didasarkan pada suatu penelitian dalam hubungannya dengan sebuah teori. Karya tulis ilmiah juga dapat diartikan sebagai tulisan atau karangan yang mengungkapkan masalah dan pemecahannya secara ilmiah, didukung oleh fakta, bersifat tepat, lengkap, dan benar, pengembangannya secara sistematis dan logis dengan landasan metode ilmiah dan bersifat tidak memihak serta tidak emosional.

C. SISTEMATIKA KARYA TULIS
Sistematika karya tulis adalah sebagai berikut. 1. Pendahuluan Berisi persoalan yang akan dibahas, latar belakang masalah, masalah yang akan dibahas, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian. Isi dan Pembahasan Berisi topik-topik masalah yang akan dibahas atau dibicarakan. Bagian ini menunjukkan kemampuan penulis dalam menjawab permasalahan yang diajukan. Kesimpulan Berisi makna yang diberikan penulis terhadap uraian yang tidak diuraikan dalam bab isi. Kesimpulan bukan berisi ringkasan ini.

-

2.

B. KARAKTERISTIK KARYA TULIS
Sebagai sebuah karangan yang membahas suatu persoalan dan memiliki sifat-sifat pengetahuan, karya tulis mempunyai karakter sebagai berikut. 1. Merupakan hasil kajian literatur dan laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan. 2. Menunjukkan pemahaman penulis tentang masalah yang dikaji secara teoretis dengan kemampuan penulis dalam menerapkan prosedur dan prinsip atau teori. 3. Menunjukkan kemampuan pemahaman terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan. 3.

BAB 7
-

AFIKS
B. JENIS-JENIS AFIKS
1. Prefiks Prefiks atau awalan adalah afiks yang dibubuhkan pada awal sebuah kata. Prefiks meliputi me-, ber-, di-, pe(nasal)-, pe-, ke-, se-, ter-, per-, me(nasal)-. 2. Infiks Infiks atau sisipan adalah afiks yang dibubuhkan pada tengah kata. Infiks meliputi -em-, -el-, -er-, -in-.

A. PENGERTIAN AFIKS
Imbuhan (afiks) adalah sisipan yang dibubuhkan pada sebuah kata. Afiks meliputi beberapa jenis, yaitu prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (imbuhan gabung). Proses pemberian imbuhan atau afiksasi mengakibatkan perubahan bunyi, menghasilkan makna gramatikal, dan mengubah fungsi atau kelas kata.

kendi_mas_media@yahoo.com

3. Sufiks Sufiks atau akhiran adalah afiks yang terletak di akhir kata, meliputi –an, -i, -kan, -nya. 4. Konfiks (Imbuhan Gabung) Konfiks atau imbuhan gabung adalah imbuhan berupa awalan dan akhiran yang digunakan sekaligus. Konfiks meliputi ber-an, pe(nasal)-an, pe-an, ke-an, se-nya.

• •

C. FUNGSI AFIKSASI
1. Fungsi Prefiks atau Awalan • me-, berfungsi membentuk kata kerja transitif dan intransitif; membentuk kata keterangan atau adverbial; membentuk kata sifat; dan membentuk kata benda. • ber-, berfungsi membentuk kata kerja, kecuali yang memiliki arti ‘mempunyai’. • di-, berfungsi membentuk kata kerja pasif. • pe(nasal)-, berfungsi membentuk kata benda. • pe- , berfungsi membentuk kata benda. • ke-, berfungsi membentuk kata bilangan dan kata benda. • se-, berfungsi membentuk kata kerja pasif. 2. Fungsi Sufiks atau Akhiran • -an, berfungsi membentuk kata benda dan kata sifat. • -i, membentuk kata kerja transitif. • -kan, berfungsi membentuk kata kerja transitif. • -nya berfungsi membentuk kata benda, kata keterangan dan kata tugas, serta kata sandang penentu. 3. Fungsi Konfiks atau Imbuhan Gabung • ber-an, berfungsi membentuk kata kerja. • pe(nasal)-an, berfungsi membentuk kata benda. • pe-an, berfungsi membentuk kata beda. • ke-an,berfungsi membentuk kata benda.

• • • • •

‘dalam keadaan’. ber-, menyatakan makna ‘menggunakan’, ‘mempunyai’, ‘menjadi’, ‘kumpulan’, ‘dalam keadaan’, melakukan perbuatan untuk diri sendiri’, ‘resiprok’. di-, menyatakan ‘suatu tindakan pasif’. pe(nasal)-, menyatakan makna ‘alat untuk melakukan tindakan’, ‘orang yang memiliki sifat’, ‘yang menyebabkan jadi’, ‘orang yang (biasa) melakukan’. pe-, menyatakan makna ‘orang yang...’. ke-, menyatakan ‘bilangan tingkat’ dan ‘orang atau sesuatu yang di....’. se-, menyatakan makna ‘satu’, ‘kesatuan’, ‘setelah’, ‘menyerupai’, ‘sebanyak’. ter-, menyatakan ‘tingkat superlatif’, ‘setelah’, ‘sama dengan atau menyerupai’. per-, menyatakan makna ‘membuat jadi’, ‘membuat lebih’, ‘menyatakan intensitas’.

2. Makna Infiks atau Sisipan Infiks atau sisipan pada umumnya menyatakan ‘banyak’, ‘intensitas’, dan ‘mempunyai sifat’. 3. Makna Sufiks atau Akhiran • -an, menyatakan ‘tempat’, ‘alat melakukan sesuatu’, ‘hasil’, ‘hal atau cara’, ‘sesuatu yang biasa di...’, ‘tiap-tiap’, ‘menyerupai’, ‘bersifat’. • -kan, menyatakan ‘kausatif’, ‘benefaktif’, ‘menyebabkan’, ‘membawa ke...’. • -i, menyatakan ‘tindakan dilakukan berulangulang’, ‘objek lokatif’, ‘mengeluarkan’, ‘kausatif’. • -nya sebagai akhiran merupakan bentuk –nya yang tidak bermakna ‘dia’. 4. Makna Konfiks atau Imbuhan Gabung • ber-an, menyatakan ‘resiprok’, ‘perbuatan berulang-ulang’. • per-an, menyatakan ‘hal yang berhubungan dengan’, ‘tempat atau daerah’, ‘hal atau hasil’. • ke-an, menyatakan ‘tempat’, ‘hal’, ‘dapat di’, ‘dalam keadaan’, ‘tidak sengaja’, ‘terlalu’, ‘agak’. • se-nya, menyatakan ‘superlatif’ atau ‘paling’.

D. MAKNA AFIKSASI
1. Makna Prefiks atau Awalan • me-, sebagai kata kerja transitif, me- menyatakan makna ‘menghasilkan’, ‘melakukan perbuatan’, dan ‘mempergunakan’; sebagai kata kerja intransitif, me- menyatakan ‘mengerjakan sesuatu’, ‘menuju’, ‘menjadi’,

kendi_mas_media@yahoo.com

BAB 7
-

NOVEL, CERPEN, DAN PUISI
• Alur Alur merupakan cerita yang berisi urutan kejadian dan setiap kejadian dihubungkan secara sebab akibat. Berdasarkan jumlah pengembangan ceritanya, alur dibedakan menjadi berikut. 1) Alur tunggal, yaitu alur yang hanya mempunyai satu pengembangan cerita. 2) Alur ganda, yaitu alur yang mempunyai beberapa pengembangan cerita. Berdasarkan kepaduannya, alur dibedakan menjadi berikut. 1) Alur erat, yaitu alur yang mempunyai hubungan padu antara peristiwa yang satu dengan yang lain. 2) Alur longgar, yaitu alur yang hubungan antarperistiwa di dalamnya terjalin renggang. Latar atau setting Latar atau setting mengacu pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dalam karya fiksi, seperti novel dan cerpen, tidak terbatas pada penempatan lokasi-lokasi tertentu yang bersifat fisik saja, tetapi juga berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Penokohan Penokohan adalah perlukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tokoh dilukiskan dengan teknik langsung dan tidak langsung. Teknik langsung diungkapkan oleh pengarang dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung, seperti penjelasan tentang sifat, tingkah laku, dan ciri fisik tokoh. Teknik tidak langsung diungkapkan oleh pengarang melalui cakapan yang dilakukan oleh tokoh, tingkah laku tokoh, pikiran dan perasaan tokoh, reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, dan reaksi tokoh lain. Sudut pandang Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam

A. NOVEL DAN CERPEN
Novel adalah karya imajinatif dalam bentuk prosa yang mengisahkan kehidupan seorang atau beberapa tokoh. Cerpen adalah karangan pendek berbentuk prosa yang menyajikan peristiwa yang cermat dan jelas, berfokus pada satu aspek cerita, dan isi ceritanya logis dengan kehidupan nyata.

1. Perbedaan Novel dan Cerpen a. Dilihat dari segi cerita, novel mengemukakan cerita dengan lebih rinci dan detail (alur sederhana), dengan permasalahan yang kompleks sehingga alur menjadi lebih panjang yang ditandai dengan perubahan nasib pada diri tokoh, sedangkan cerpen mengemukakan cerita dengan lebih ringkas. b. Novel memungkinkan munculnya banyak tokoh dalam berbagai karakter, sedangkan dalam cerpen tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang saja. c. Tema dalam novel lebih kompleks, sedangkan pada cerpen tema relatif sederhana. d. Latar dalam novel dilukiskan secara rinci, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkret dan pasti. Sebaliknya, cerpen tidak memerlukan detail-detail khusus tentang keadaan latar. 2. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel dan Cerpen Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dan secara langsung ikut serta membangun cerita. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra dan secara tidak langsung mempengaruhi bangunan karya sastra. a. Unsur Intrinsik Novel dan Cerpen • Tema Tema adalah gagasan atau amanat utama yang menjalin struktur isi cerita. Tema juga dapat diungkapkan sebagai dasar cerita atau gagasan dasar umum novel dan cerpen. Tema biasanya menyangkut masalah kehidupan, seperti cinta, kecemasan, dendam, religius, harga diri, kesetiakawanan, keadilan, kebenaran, dan sebagainya.

kendi_mas_media@yahoo.com

membawakan cerita atau posisi peristiwa dan tindakan. Sudut pandang dapat dibedakan menjadi dua. Sudut pandang orang pertama menempatkan pengarang sebagai seseorang yang terlibat di dalam cerita. Sudut pandang orang ketiga menempatkan pengarang sebagai seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama dan kata gantinya. Gaya Gaya menyangkut cara khas pengarang dalam mengungkapkan ekspresi berceritanya dalam novel atau cerpen yang ia tulis. Gaya tersebut menyangkut bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan, dan menceritakannya dalam sebuah novel atau cerpen. Dengan kata lain, gaya berkaitan dengan nada cerita dan cara pemakaian bahasa yang spesifik oleh pengarang. Amanat Amanat merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya dan disarankan melalui cerita. Unsur Ekstrinsik Novel dan Cerpen Unsur ekstrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra antara lain berupa sikap, keyakinan, dan pan-dangan hidup pengarang yang mempengaruhi karya yang ditulisnya. Selain itu, terdapat pula unsur ekstrinsik berupa keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, politik, dan sosial.

penuh dengan perbandingan, asosiasi, perlambang, kiasan, dan sering bermakna ganda (ambigu), serta memerlukan kemerduan pengungkapan.

1. Unsur Puisi
a. Unsur Bentuk Unsur bentuk meliputi hal-hal berikut. • Bunyi Unsur bunyi dalam puisi berperan agar puisi tersebut merdu ketika dibaca dan didengarkan. Unsur bunyi terdiri atas rima dan irama. 1) Rima Rima disebut juga sajak, yaitu bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam (tengah) maupun di akhir baris atau larik. − Berdasarkan perulangan bunyi dalam puisi tersebut. a) Rima sempurna adalah perulangan bunyi yang timbul sebagai akibat ulangan kata tertentu. b) Rima paruh merupakan perulangan bunyi yang terdapat pada sebagian baris dan kata-kata tertentu. c) Aliterasi adalah perulangan bunyi konsonan. d) Asonansi adalah perulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi. − Berdasarkan posisi kata yang mendukungnya. a) Rima awal merupakan perulangan bunyi yang terdapat pada tiap awal baris. b) Rima tengah mengalami perulangan bunyi pada tengah baris. c) Rima akhir mengalami perulangan bunyi pada akhir baris. − Berdasarkan hubungan antarbaris dalam tiap bait. a) Rima merata (terus) ditandai dengan adanya perulangan bunyi a-a-a-a pada semua akhir baris. b) Rima berselang atau rima silang (a-b-a-b). c) Rima berangkai (a-a-b-b). d) Rima berpeluk (a-b-b-a). 2) Irama Irama adalah paduan yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-

b.

3. Nilai Moral Novel dan Cerpen Moral, akhlak, atau budi pekerti mengandung dua pengertian, yaitu: ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ajaran kesusilaan yang terungkap dari suatu cerita. Karya sastra tidak hanya berisi cerita, tetapi di dalamnya terkandung berbagai ajaran kesusilaan, ajaran tentang bagaimana harus berbuat dan bersikap, baik kepada diri sendiri, sesama manusia, binatang, alam, maupun terhadap Tuhan.

B. PUISI
Puisi merupakan jenis karya sastra (karangan terikat) yang biasa diungkapkan dengan bahasa yang padat, menekankan pemakaian kata konotatif yang

kendi_mas_media@yahoo.com

pendek, dan kuat-lemah, yang mampu menimbulkan kemerduan, kesan suasana dan makna tertentu. Dengan kata lain, irama dalam sebuah puisi berfungsi mendukung makna dan menimbulkan suasana tertentu. Berdasarkan suasana yang ditimbulkan, dibedakan adanya bunyi euphony, cacophony, dan anomatope. Euphony: bunyi yang menimbulkan suasana menyenangkan. Cacophony: bunyi yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan. Anomatope: bunyi berupa peniruan atas bunyi-bunyi yang terdapat di alam, seperti bunyi angin, laut, dan binatang. Diksi Diksi adalah pilihan kata atau frase dalam karya sastra. Bahasa Kias Bahasa kias merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa, yang makna katanya atau rangkaian katanya digunakan dengan tujuan mencapai efek tertentu. Bahasa kias dalam puisi dibedakan menjadi beberapa jenis. 1) Personifikasi: bentuk kiasan yang menyamakan benda dengan manusia. 2) Metafora: bentuk kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. 3) Perumpamaan (simile): kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana, seperti, seumpama, dan lain-lain. 4) Metonimia diartikan sebagai pengertian yang satu digunakan sebagai pengertian lain yang berdekatan. 5) Sinekdok dibedakan menjadi sinekdok pars prototo (sebagian untuk mewakili keseluruhan) dan sinekdok totem proparte (keseluruhan untuk menyebut atau mewakili sebagian). 6) Alegori: cerita kiasan atau lukisan yang mengiaskan hal lain, alegori merupakan perluasan dari metafora. Citraan Citraan merupakan gambaran-gambaran angan dalam puisi yang ditimbulkan melalui

kata-kata. Citraan dibedakan menjadi citraan penglihatan, pendengaran, rabaan, pengecapan, penciuman, dan gerak. Misalnya, citra pengecapan dapat dirasakan pada kutipan puisi: ingin kuhalau hidup yang terasa pahit tembakau, berganti manisnya madu…. Bentuk Visual Bentuk visual meliputi penggunaan tipografi dan susunan baris. Tipografi berfungsi membuat penampilan puisi menjadi artistik dan memberikan nuansa makna dan nuansa tertentu. Baris dalam puisi disebut juga larik. Beberapa contoh bentuk tipografi puisi adalah sebagai berikut. 1) Bentuk seperti prosa Kalau ada daham-daham terdengar di malam hari, aku tahu itu saudara kembarku. Ia menanti aku di pekarangan, karena aku melarang ia masuk. Pernah ia begitu rindu kepadaku dan tiba-tiba hadir di tengah keluargaku dengan tamu-tamu yang sedang berpesta merayakan hari lahirku. Mereka semua ketakutan melihat ia duduk di dalam, karena muka saudara kembarku sangat buruk. Aku malu dan minta ia menunggu di luar kalau mau bertemu dengan aku. (Saudara Kembarku) Subagio Sastrowardoyo 2) Bentuk konvensional hatiku angin mengembara mengalir terhirup nafasmu hatiku angin menyebar kosong tak terlihat mencemari nadi meracun darah hingga kaku bagai patung diriku (Hatiku Angin) Evi Idawati 3) Bentuk zigzag Contoh puisi: (Tragedi Winka & Sihka) Sutardji Calzoum Bachri

kendi_mas_media@yahoo.com

2.

Unsur Makna Berbeda dengan unsur bentuk yang dapat diamati secara visual, makna merupakan unsur puisi yang hanya bisa ditangkap melalui kepekaan batin dan daya kritis pembaca. Secara umum, makna puisi terdiri atas perasaan (sense), pokok persoalan (subject matter), sikap penyair (feeling), dan nada (tone). • Perasaan (sense) Perasaan (sense) merupakan gambaran dunia yang diciptakan oleh penyair. • Pokok Persoalan (subject matter) Pokok persoalan (subject matter) merupakan rincian perasaan dalam bentuk satuan-satuan yang problematik. • Sikap Penyair (feeling) Sikap penyair (feeling) merupakan unsur makna yang terkandung di dalam puisi yang berhubungan dengan pendirian penyair terhadap pokok-pokok persoalan yang dihadapinya. • Nada (tone) Nada (tone) merupakan sikap pengarang terhadap pembaca. Sikap penyair kepada pembaca dapat berupa sikap menasihati, menyindir, masa bodoh, memberikan sebuah solusi, dan sebagainya.

2) 3) 4)

Karmina atau pantun kilat, yaitu pantun yang terdiri atas dua baris (pantun dua seuntai). Talibun, yaitu pantun yang tiap bait terdiri atas 6, 8, atau 10 baris. Pantun berkait atau pantun rantai atau seloka.

2. Jenis Puisi
a. Puisi Lama Puisi lama merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya dan sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Puisi lama terbagi atas pantun, syair, dan gurindam. • Pantun Ciri-ciri pantun: 1) Setiap bait terdiri atas empat baris. 2) Setiap baris atau larik terdiri atas empat kata dan 8-12 suku kata. 3) Baris pertama dan kedua berisi kiasan yang disebut sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi atau maksud yang sesungguhnya. 4) Pola rima pantun adalah a-b-a-b. 5) Isi pantun berupa curahan perasaan. Berdasarkan jumlah larik atau baris, pantun dibedakan menjadi berikut. 1) Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri atas empat baris.

Berdasarkan isinya, pantun dapat dibedakan menjadi pantun nasib, pantun adat, pantun agama, pantun cinta kasih, pantun anak, pantun muda-mudi, pantun nasihat, pantun teka-teki, dan pantun jenaka. Syair Syair merupakan bentuk puisi lama yang berasal dari Arab. Syair tidak hanya berisi cerita atau kisah tetapi berisi nasihat, ajaran ilmu, kemasyarakatan, adat, dan sebagainya. Ciri-ciri syair yaitu sebagai berikut. 1) Setiap bait terdiri atas empat baris. 2) Setiap baris merupakan kalimat lengkap yang terdiri atas 8-12 suku kata dan 3-4 kata. 3) Memiliki pola sajak a-a-a-a. 4) Semua baris merupakan isi. 5) Rangkaian bait satu dengan bait berikutnya merupakan rangkaian cerita. Gurindam Gurindam merupakan puisi lama yang timbul akibat adanya pergaulan dengan orang-orang Hindu. Gurindam memiliki ciri-ciri berikut. 1) Terdiri atas dua baris dengan pola rima a-a-a-a. 2) Kedua baris pada gurindam mempunyai hubung-an sebab-akibat, baris pertama merupakan syarat dan baris kedua adalah jawabannya. 3) Pada umumnya, gurindam berisi nasihat.

b.

Puisi Baru Puisi baru muncul pada tahun 30-an. Puisi baru terbagi menjadi delapan, yaitu sebagai berikut. • Distikon (puisi dengan untaian 2 baris). • Terzina (untaian 3 baris). • Kuatren (untaian 4 baris). • Kuin (untaian 5 baris). • Sekstet (untaian 6 baris). • Septima (untaian 7 baris). • Oktaf (untaian 8 baris). • Soneta (untaian 14 baris).

kendi_mas_media@yahoo.com

c.

d.

Puisi Bebas Puisi bebas adalah puisi yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah puisi, seperti rima, irama, baris, dan bait. Puisi Kontemporer Puisi kontemporer terdiri atas jenis puisi berikut. • Puisi mini kata, yaitu puisi yang menggunakan sedikit kata. • Puisi mantra, yaitu puisi yang mengutamakan kata sebagai unsur bunyi. • Puisi konkret, yaitu puisi yang membuat bunyi dan kata menjadi berwujud. • Puisi tipografi, yaitu puisi yang mengutamakan bentuk atau bangun. • Puisi mbeling, yaitu puisi yang berisi kelakar atau humor dengan permasalahan yang sederhana. • Puisi tanpa kata, yaitu puisi yang mengutamakan titik-titik, garis, dan simbol-simbol lain.

3. Menafsirkan Puisi Sebuah puisi dapat ditafsirkan dalam bentuk tulisan atau prosa. Untuk dapat memahami isi sebuah puisi, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut. a. Memparafrasekan puisi, yaitu dengan memberi penanda makna atau mencari makna setiap kata yag digunakan oleh penyair. b. Merasakan dan menghubungkan kata-kata secara lugas, kias, dan lambang dengan tidak hanya mengandalkan pikiran. c. Memperhatikan pengiasan dan pelambangan penyair, penggunaan kata-kata abstrak, lukisan yang hidup, dan nilai-nilai yang dikandung.

Berdasarkan isi kandungan cerita, drama dibedakan menjadi berikut. a. Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan. b. Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan. c. Drama tragedi komedi adalah drama yang mengandung cerita sedih dan lucu. d. Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian. e. Lelucon/dagelan adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton. f. Operet/operette adalah opera yang ceritanya lebih pendek. g. Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan. h. Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya. i. Passie adalah drama yang mengandung unsur agama/religius. j. Wayang adalah drama yang menggunakan pemain berupa boneka wayang. 2. a. Unsur-unsur Drama Tema (Topik) Tema merupakan pokok pikiran atau sesuatu yang melandasi suatu karya sastra. Tema atau topik adalah ide pokok dari lakon atau drama. Istilah tema dalam drama sering disebut dengan premise, yang berperan sebagai landasan pengembangan pola bangun cerita. Tokoh Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita, sehingga peristiwa tersebut mampu menjalin suatu cerita yang padu. Untuk menganalisis tokoh dalam sebuah drama dapat dilakukan melalui pemahaman dialog dan tingkah laku atau perbuatan tokoh yang hadir dalam drama. Situasi (Latar) Latar adalah lingkungan tempat untuk mengekspresikan diri tokoh dan tempat terjadinya peristiwa. Latar dapat berfungsi sebagai metonimia atau metafora yaitu sebagai ekspresi dari tokoh-tokoh yang ada.

C. DRAMA
Drama adalah cerita tentang konflik manusia yang ditampilkan dalam bentuk dialog atau percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience). 1. Jenis Drama Menurut waktunya, drama dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu drama baru dan drama lama. a. Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. b. Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya. b.

c.

kendi_mas_media@yahoo.com

d.

Fungsi latar dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi fisikal dan fungsi psikologis. Fungsi fisikal memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya, sehingga sebuah cerita menjadi logis. Fungsi psikologis, sebagai keadaan batin para tokoh, menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan macamnya, latar dibagi menjadi latar fisik dan latar sosial. Secara fungsional latar dapat dibedakan menjadi latar fisik dan latar psikologis. Lakuan (Plot) Plot sebuah naskah drama ialah pengembangan peristiwa-peristiwa dramatik melalui munculnya motivasi-motivasi yang mengenai karakter tokoh.

3. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama Di dalam cerita drama, juga terdapat tema, amanat, karakteristik tokoh, alur, Iatar cerita, dan dialog. Unsur yang tidak ditemukan adalah sudut pandang cerita (point of view) karena drama merupakan seni bertutur langsung. Latar divisualisasikan melalui dekorasi panggung dan diperkuat dengan efek-efek tertentu. Karakterisasi drama sepenuhnya dilakukan secara dramatik melalui akting pemain, kostum, make-up, dan visualisasi latar dalam dekorasi panggung.

BAB 8
-

SASTRA MELAYU KLASIK
2. Cerita Binatang (Fabel) Cerita binatang merupakan cerita yang tokohnya berupa binatang. Dalam cerita binatang, digambarkan hewan dapat bertingkah laku seperti manusia. Cerita binatang penuh dengan sindiran dan nasihat.

A. PENGERTIAN SASTRA MELAYU KLASIK
Sastra Melayu Klasik merupakan sastra yang tumbuh dan berkembang pada masa masyarakat Melayu zaman dahulu. Di dalam karya sastra pada zaman Melayu Klasik ini, terdapat beberapa nilai moral, antara lain berisi ajaran untuk bersikap dan berbuat kepada orangtua, orang yang lebih muda, anggota keluarga, lawan, dan kawan. Dalam sastra Melayu Klasik juga disampaikan ajaran tentang ilmu pengetahuan, teknologi, negara, dan lain-lain.

B. JENIS SASTRA MELAYU KLASIK
Jenis sastra pada masa Melayu Klasik dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu puisi dan prosa. Bentuk puisinya adalah pantun dan syair. Bentuk prosa meliputi cerita asal-usul (legenda), cerita binatang, cerita pelipur lara, cerita jenaka, dan cerita sejarah atau hikayat. 1. Cerita Asal-Usul (Legenda) Cerita asal-usul merupakan cerita tentang asal mula terjadinya sesuatu. Cerita asal-usul terbagi atas ceita asal-usul dunia binatang, cerita asal-usul dunia tumbuhan, dan cerita asal-usul terjadinya suatu tempat.

3. Cerita Penglipur Lara Cerita penglipur lara digunakan untuk menghibur hati yang sedih. Oleh karena itu, apa yang dikisahkan dalam cerita ini adalah hal-hal yang indah, penuh angan-angan, dan keajaiban. Contoh cerita penglipur lara adalah Hikayat Malin Dena dan Si Lumbut Mada. 4. Cerita Jenaka Cerita jenaka merupakan cerita yang mengandung unsur humor di dalamnya. Contoh: Pak Belalang dan Lebai Malang.

5. Cerita Sejarah (Hikayat) Hikayat merupakan cerita yang sumbernya berasal dari kisah-kisah kehidupan raja dan dewa. Contoh: Hikayat Banjar dan Hikayat Raja Pasai.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->