P. 1
Tedhak Siten

Tedhak Siten

|Views: 381|Likes:
Published by a.wahyono

More info:

Published by: a.wahyono on Jan 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Tedhak siti - Ahmad Ismail-Outhman

Tedhak Siti
*Ahmad Ismail-Outhman PPs Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang

Prawacana
Banyak acara yang diselenggarakan orang Jawa yang melibatkan ritual makan-bersama. Makan- bersama, baik yang semula dengan satu wadah, maupun yang belakangan dengan wadah masing-masing; baik di ruang yang sama, di tempat acara diselenggarakan, maupun terpisah karena menjadi oleholeh berkat yang dibawa pulang, adalah kebiasaan laku-lampah masyarakat tradisional. Pada mayarakat Jawa tradisi itu sedemikian beragam sedemikian berjumlah, sama ragamnya dengan ragam peristiwa hidup umat manusia. Itulah slametan, yang sering pula disebut kenduri. Sungguhpun demikian, tampaknya tradisi slametan tidak saja ditemukan di Jawa namun juga di tengah masyarakat di semenanjung Malaysia (Wildre, 1982: 122; Scott, 1984: 187-204). Dua model praktek makan-bersama, seperti disebut baru saja, kemudian memunculkan dua model kenduri: slametan dan bancakan. Perbedaan antara keduanya terletak pada praktek makan-bersama: bancakan berarti rebutan, artinya makan bersama-sama dari satu wadah yang sama, biasanya berupa tampah berlapis daun pisang dan dilakukan tanpa menggunakan sendok. Tiap tampah disuguhkan bagi 5-8 orang. Adapun pada slametan, hidangan tidak dimaksudkan dimakan bersama-sama di ruang upacara, melainkan telah ditata sedemian rupa sehingga tiap peserta mendapatkan satu paket hidangan yang disebut berkat. Paket ini boleh dibawa pulang oleh tiap peserta.

hamil: ngupati.Tedhak siti . Sebagai sebentuk praktek tradisi.1 Sementara siklus upacara ini bersisambung dimulai dari upacara perkawinan (penganten. mengingat dan memperingati hari penting dalam riwayat hidup individu. rumah tinggal. Salah satu dari tradisi itu ialah slametan. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa beragam jenisnya. apa makna di balik perlambang dan harapan dari penyelenggaraan tradisi ini. bahkan pembelian sapi. yang berkaitan dengan properti. Tulisan ini membahas tradisi slametan yang disebut tedhak siti. nglolosi. Secara kronologis. Dua ragam motif ini merupakan respon masyarakat terhadap realitas hidup dan upaya memenuhi kebutuhan realistik. seperti kebutuhan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa dan pembebasan diri dari rasa takut atas suatu peristiwa atau kejadian. suatu upacara bagi anak balita berusia setahun kurang lebih menjelang fase berjalan. mitoni (tingkeban). melahirkan: puputan. tedhak siti merupakan satu mata rantai dari rangkaian upacara budaya Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehidupan individual. dan yang berkaitan dengan langkah setapak demi setapak individu menjalani kehidupannya. dan lain-lain. siapa saja yang terlibat. hak milik dan kepemilikan. alam. yang masih belum secara jelas diketahui (misteri) dan yang sudah jelas diduga kemungkinannya. merayakan ungkapan syukur individu. temanten). dibentuk dan dikembangkan oleh generasi sebelumnya. 1 . bepergian jauh. dalam kupasan ini merupakan salah satu tradisi yang bermotif terakhir ini. mudun lemah (tedhak siti). Tedhak siti. antara lain merayakan hari-hari besar kalender Islam. anak naik kelas.Ahmad Ismail-Outhman Oleh masyarakat Jawa slametan diselenggarakan untuk beberapa maksud. secara garis besar slametan diselenggarakan dengan dua motif: syukuran dan harapan-permohonan. keluarga atau kelompok masyarakat atas suatu. Pembahasan diarahkan pada beberapa aspek: bagaimana tradisi ini dilaksanakan. Tedhak siti dalam kerangka tradisi slametan di Masyarakat Jawa Orang Jawa barangkali dapat dikatagorikan sebagai masyarakat yang cukup kuat untuk tidak meninggalkan adat-istiadat yang telah dibangun. mobil. ngarani. akekah dan Rangkaian lainnya ialah yang berkaitan dengan lingkungan.

tujuh irisan dalam setiap piring dan berupa tujuh warna berbeda. Jadah kemudian disajikan dalam piring tanah. properti Tangga dalam upacara ini terbuat dari batang tebu jenis arjuna. tedhak siti berarti turun tanah. dan uang logam diletakkan di dalam kurungan. buku tulis. Tedhak siti dalam potret budaya Secara harfiyan. kurungan. terdiri dari tujuh anak tangga dan seluruh batang dan anak tangganya dibungkus dengan hiasan. sesajen. kembang dan udhik-udhik. beras. serta para tetangga semuanya terlibat dalam upacara ini dengan peran dan fungsi masing-masing. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengupas tiap upacara tradisional tersebut. ada semangkuk uang logam yang dibaurkan dengan bulir beras berwarna kuning dan aneka kembang. mainan. melainkan menjadikannya sebagai semacam peta perayaan upacara tradisional di Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehiodupan pribadional. yakni dibentuk serupa kerucut. kapas. uang logam. sementara properti lain yaitu buku tulis.Tedhak siti . dalam istilah Jawa disebut pitung lapan. Sebagai upacara tradisional. dan dikelilingi urab-uraban. Hiasan tangga bisa berupa bunga. dedaunan. beras. padi. Demikianlah seterusnya siklus tradisi upacara ini berlangsung di tengah masyarakat Jawa. Orang tua. Adapun jadah ialah makanan (jajanan) yang terbuat dari ketan yang ditanak biasa seperti nasi yang ditumbuk dengan campuran parutan kelapa hingga menyerupai adonan yang amat liat. biasanya ibu. maka berikutnya ialah sunatan. nenek-kakek dan segenap keluarga dekat. tumpeng nasi. kapas. Benda-benda budaya yang disebut uba rampe dalam upacara ini terdiri dari: tangga. Tumpengan terdiri dari nasi yang ditumpeng. jajan pasar dan jadah. paket bunga. 1. Jajan pasar terdiri dari aneka panganan jajanan sehari-hari masyarakat setempat yang biasanya dapat diperoleh semuanya di pasar. tedhak siti juga melibatkan langkah prosesi. bayi yang diupacarai. Gentong di sudut tak . perlambangan dan tentu saja partisipan yang secara keseluruhan merupakan satu paket terpadu. Di luar itu. Kurungan biasanya yang digunakan ialah kurungan ayam dihias sama seperti tangga.Ahmad Ismail-Outhman sebagainya. piring tanah. mainan. padi. akar-akaran dan sebagainya. Sesajen terdiri dari tumpeng nasi. Bagi keluarga tertentu ragam properti ini bisa bertambah kian banyak. Biasanya diselenggarakan ketika anak melewati usia delapan bulan. Upacara ini diselenggarakan untuk menyambut perkembangan anak ke fase berjalan. gentong. dan jika anak terlahir itu laki-laki. air.

atau lebih tepatnya diangkat oleh ibunya. Banyak di antara mereka anak-anak. Anak menapaki tahapan-tahapan anak tangga dengan pelan-pelan. Prosesi dimulai dengan lampahan. padi. Ini konsep Jawa mengenai siklus semesta yang diobjektifikasi kedalam sikilus hari. Tangga ditegakkan. maka muncullah Rabu-wage. anak melakukan lampahan. rabu. berjalan melewati piring-piring tanah. Kamis-legi dan seterusnya. Kembang setaman juga menaburi air yang memenuhi gentong yang diletakkan di luar garis bujur tangga-kurungan namun tidak jauh dari situ. pon. Lampahan diteruskan. Setiap kali anak tangga ditapaki. ibu berdoa di dalam batin. dan lain-lain itu diangkat untuk memasukkan anak ke dalamnya. . maka dalam konsep Jawa siklus itu terdiri dari lihari lima hari pasar: legi. ibu berdoa di dalam batin atau dilafalkan. Setapak demi setapak. keluaran) berarti hari ketika anak terlahir. namun pada keluarga tertentu. kapas. selasa. kliwon. Di dalam kurungan anak dibiarkan beberapa saat sampai ia mempertunjukkan gerakan-gerakan yang dapat dipandang sebagai upayanya memilih salah satu dari berbagai pilihan yang disediakan di dalam kurungan. kamis. anak sedapat mungkin menginjakkan kakinya ke atas jadah. senin. pahing. Jadi. berhenti sejenak. Prosesi Menjelang anak melewati usia delapan sampai sembilan bulan. digelar di halaman rumah. seperti hiasan. adalah merupakan gabungan ketepatan antara hari mingguan dan hari pasaran. Dituntun. ibu atau nenek menebarkan udhik-udhik ke para hadirin yang ada di sekitar upacara. Terus demikian sampai ke ujung tangga. Piring-piring tanah ini berisi jadah tujuh warna. Penataan letak piring tanah berisi jadah ini sedemikian rupa sehingga menuju ke tangga. jajan-pasar dan ditutup di sebelah kanan-kiri dengan kembang setaman. weton yang berasal dari kata wetuan. wage. Kurungan yang telah diperlengkapi dengan berbagai benda kelengkapan hidup sehari-hari. Upacara itu sendiri diselenggarakan di ruang tengah rumah. Tak ketinggalan udhik-udhik: sewadah uang logam yang berbaur dengan kembang dan beras kuning 2. Mengakhiri rangkaian upacara. atau dilafalkan. upacara tedhak siti dilaksanakan dengan memilih momentum hari pasaran weton bayi. Jika pada kalender celestial siklus minggu terdiri dari tujuh hari: minggu. Sementara di tengah-tengah antara keduanya digelar piring-piring tanah berjajar. Jum at-kliwon. Sesamapai di depan tangga. jum at dan sabtu. /weton (:keluar. Pertautan antara dua kalender penting inilah yang disebut pasaran. Upacara pun berakhir segera seiring dengan dibacakannya doa. Demikian pula dari ujung tangga turun dan melewati jadah sampai ke kurungan.Tedhak siti . buku tulis. posisinya ujung-berujung dengan kurungan.Ahmad Ismail-Outhman jauh dari sana dipenuhi air bertabur kembang setaman.

memungut pensil. atau gejala yang dapat kita temukan sehari-hari: orang naik tangga. sehingga dapat dilihat: bagaimana orang situ menyapa orang. Apakah semua itu kebudayaan? Kebudayaan bukanlah orang naik tangga. 1. menimang perhiasan. bahwa tradisi tedhak siti terdiri dari dari rangkaian simbol-simbol budaya yang sama.Ahmad Ismail-Outhman Tedhak siti sebagai fenomena kebudayaan Selalu ada dan dan selalu banyak peristiwa. Nilai-nilai ini menjadi jiwa bagi masyarakat dan dengan itu mereka membentuk apa yang disebut oleh Koentjaraningrat suatu sistem budaya. namun secara garis besar perbedaan-perbedaan itu masih berkisar di ranah uba-rampe dan tidak mengakibatkan berbeda perlambangan atau simbolisasi yang signifilkan dan pada gilirannya berbeda pula pesan dan idenya. Kesulitan hidup Hidup yang penuh misteri adalah hidup yang mencemaskan dan menakutkan. memilih baju. memilih baju.Tedhak siti . Peristiwa kebudayaan dengan demikian ialah apabila orang naik tangga dengan tata dan cara tertentu yang ajeg dari masa ke masa. Penulis menekankan ungkapan pada umumnya karena memang ada terdapat perbedaan di sana-sini dalam beberapa detail prosesi acara. maksud dan pengetahuan yang diyakini bersama. yaitu: a. menimang perhiasan. tapi bagaimana orang situ naik tangga. dari individu ke individu. Bukan orang naik tangga. Semua itu merupakan peristiwa atau kejadian yang biasa. katakanlah. Pemakaan realitas simbolik tedhak siti Jika diamati dengan seksama. Dengan demikian. memanjat pohon. beberapa hal tampak jelas dari prosesi upacara tedhak siti. memanjat pohon. yang dilandasi oleh motif. dan karena sifatnya yang sangat biasa itulah biasanya lolos dari pengamatan. Kini mari kita tinjau apa yang terjadi pada tradisi tedhak siti yang berlaku di tengah masyarakat Jawa pada umumnya. demikian pula orang tua senantiasa . Kebudayaankah itu atau bukan ditentukan oleh bagaimana mereka melakukan semua itu. kejadian. dan sebagainya. Itulah kebudayaan. memungut pensil. Tak seorangpun menginginkan hidup dijalani dalam kondisi sulit seperti itu. antara satu masyarakat di daerah tertentu dan yang lainnya. Kebudayaan ialah manakala menyapa orang lewat dilakukan dengan cara yang kurang-lebih sama antara satu individu dan yang lain. dan sebagainya. serta telah membatin (internalized) dan menjadi nilai yang dianut bersama-sama.

Setiap orang harus punya cita-cita dan tak ada cita-cita yang diraih tanpa usaha keras. Pitu direpresentasikan sebagai simbol dari pitulungan (:pertolongan). Arjuna adalah nama jenis tebu . Mendaki dan turun adalah perjalanan kehidupan: adakalanya orang mendapatkan kemudahan adakalanya ia menghadapi kesulitan. Tangga itu sendiri dibuat dari batang tebu arjuna. Jadah tidak disajikan dalam warna seragam. Dalam upacara tedhak siti kresulitan hidup tercermin dari simbolisasi jadah. Adapun simbolisasi tujuh ini berakar dari maksud masyarakat Jawa yang menyebut bilangan tujuh dengan pitu. jumlah irisan jadah pada tiap piring tanah. Properti ini melambangkan cita-cita. hal ini diekspresikan dengan simbolisasi konsep tujuh.Tedhak siti . menyimpulkan suatu pemahaman yang telah membatin sebagai suatu bentuk ekspresi ketakberdayaan manusia menghadapi realitas kehidupan yang misterius dan kebutuhan mendasar manusia terhadap rasa aman dari segala ancaman yang mungkin akan ditemui di dalam kehidupan. Dan oleh karena manusia tak sempurna daya kekuatannya. Upacara ini diselenggarakan dengan maksud menyampaikan permohonan untuk memperoleh pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa agar dalam menjalani kehidupan tidak menghadapi kesulitan. Konsep tujuh Mencoloknya konsep tujuh di setiap langkah: jumlah piring tanah wadah jadah.Ahmad Ismail-Outhman mencemaskan kesulitan yang akan dihadapi anak dalam hidupnya kelak. Konsep tujuh juga muncul dalam warna jadah. dan ragam jajanpasar yang dipilih. jumlah anak tangga yang harus ditapaki anak. maka dari itu. Tangga batang tebu Properti yang tak kalah mencolok dalam gelaran upacara tedhak siti ialah tangga. maka mereka pasti akan mencari dukungan kekuatan yang lebih hebat. Kondisi ini disimbolkan sebagai penanaman jiwa dan watak anak supaya dalam menapaki jalan hidupnya kelak ia senantiasa waspada dan sigap. c. bukanlah jalan yang bijaksana. Menghindar dan lari dari realitas hidup. ragam kembang penghias tangga. b. jikapun bisa. Disinilah upacara ini mendapatkan momentumnya untuk diselenggarakan sebagai medium ekspresi meraih apa yang dibutuhkan. Ini menyiratkan perlambangan bahwa persoalan hidup itu beraneka ragam Ungkapan ketakberdayaan dan harapan memperoleh perlindungan diekspresikan secara simbolik dengan konsep tujuh. menyadari bahwa hidup realistis berarti hidup yang tak akan terhindar dari masalah. namun dalam tujuh warna. Karakter adonannya yang lengket membuatnya mudah menempel di telapak kai ketika terinjak kaki kecil anak. satu-satunya pilihan ialah menghadapinya.

nama arjuna merupakan nama yang tak asing. beraneka ragam. Namun setelah berbagi cerita berbagi tanya dari satu informan ke yang lain. Presis sebagaimana yang dilihat oleh Foss. Menapaki anak tangga sampai ke ujung tinggi mengekspresikan sebuah pendakian cita-cita yang tinggi. Permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kiranya anak mendapatkan limpahan rejeki yang banyak. Ayam sendiri dipilih karena asosiasinya yang amat kental di kalangan masyarakat Jawa. Sebuah pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang tua bagi anaknya. Manusia hidup di dunia bukannya dunia yang tanpa batas.Tedhak siti . Kemuliaan mahluk manusia daripada yang lain ialah karena mereka memiliki kompetensi menentukan batasan-batasan bagi mereka sendiri yang disepakati dan diberlakukan sebagai pedoman. yaitu sebuah ungkapan pengharapan yang sangat atas limpahan kemakmuran yang semoga diterima anak kelak. semuanya serba ada dan serba berkecukupan. akan tetapi dunia tiap orang adalah dunia yang berbatas. didapatlah pula. Kurungan merupakan simbol dari dunia panggung kehidupan. Jikapun di luar sana dunia begitu luas. kelompok para ksatria pembela kebenaran. d. dan pendakian terjal seperti itu tak akan dapat tercapai tanpa keteguhan hati yang penuh dan tekad yang bulat. Adapun jenis tebu yang dipilih ialah tebu jenis arjuna. ia merepresentasikan seorang tokoh dari dunia perwayangan yang sakti mandraguna namun tetap memiliki kelembutan hati di balik kekerasan jiwa dan tekad yang pantang mundur membela kebenaran.Ahmad Ismail-Outhman yang dikenal di masyarakat Jawa. Aneka jajan-pasar Ada simbol pula yang terepresentasi dalam aneka jajan-pasar. Arjuna adalah karakter putih dari keluarga besar Astinapura. Kurungan ayam Semula agak sulit menggali makna di balik simbol kurungan ayam. bahwa thing is a . Tangga yang terbuat dari batang tebu menyimpan makna keteguhan hati. Dalam dunia mitos Jawa. Inilah makna di balik tebu sebagai tangga. orang Jawa memiliki pemahaman konseptual yang lekat terhadap sosok binatang yang satu ini. Penting ditekankan terlebih dahulu disini. Makna ini ditangkap dari simbol tebu tang dalam ungkapan Jawa diarahkan pada ungkapan akronim dari antebing kalbu (mantapnya hati). Hidup juga harus dijalani dengan batasanbatasan justru karena kita adalah manusia. e.

Berbagi adalah suatu cara orang beriman mendapatkan pengakuan dan penghargaan atas ketaatan yang diamalkannya sehingga Tuhan dengan rahmat dan KehendakNya Foss. Dan ayam. kebinalan. bahwa jadilah seperti ayam. ayam goreng. di lingkungan masyarakat Jawa. Apa yang melatarbelakangi simbol ini ialah satu ide bahwa apalah gunanya orang memohon pertolongan kepada Yang Mahkuasa untuk dapat mampu menapaki hidup. Setiap kata. profesi dan cita-cita anak kelak. Udhik-udhik Digunakan menjelang akhir prosesi. kaum kerabat dan lain-lain. maling ayam. ayam ternak. yang berupa campuran uang logam. Ini satu bentuk simbol menebarkan harta benda kepada orang sekitar terdekat.. demikian menurut Foss. Adapun properti lain yang terserak di dalam kurungan ayam yang akan dimasuki oleh anak menyimpan ungkapan simbolik bagi pilihan cara. Psycholinguistics: An Introduction to the Psychology of Langage. Dengan mengambil simbolisasi ayam: kurugan ayam. David T. Feature ini bisa berupa censory properties atau class member. Begitu banyaknya kata /ayam/ digunakan untuk menun jukkan sebuah konsep: ternak ayam. ada ide yang menampak secara tegas. ayam broiler. cepat belajar dan cepat mandiri. kurungan ayam.Tedhak siti . ayam pedaging. padi dan kapas adalah dunia petani dan kesejahteraan. 2 . kebergunaan dan sebagainya. udhik-udhik. f. dan cepat adaptasi. kata ayam hampir selalu merupakan sebuah konsep alih-alih sebuah reference atau sebuah citra. di sebarkan ke seantero halaman rumah. memiliki feature yang khas. mengatasi segala persoalannya dan berlimpah rejeki. yang tangguh dan bandel menghadapi hidup dan persainmgan hidup.. beras. kemandirian. pedagang ayam. jika tidak mau berbagi dengan sesama. dimana upacara tedhak siti digelar. Buku tulis melambangkan intelektualitas dan profesi yang berkaitan dengan itu. ketangguhan kebandelan. sedikitnya menunjukkan referensi pada konsep tentang kebanalan. demikian seterusnya simbol di balik perhiasan. yang banyak gunanya. Demikian kaya asosiasi yang dapat ditampilkan oleh konsep ayam ini. butir-butir beras kuning dan aneka kembang. jalan. 1978 : 48-9. iii Prentice Hall Inc. dan Hakes.Ahmad Ismail-Outhman coscept2. dan tentu saja. Donal J. ayam kampus. Itulah mengapa barangkali ayam dipilih pula menjadi salah satu realitas simbolik bagi ritual tedhak siti. mainan dan sebagainya.

Ancaman ini ada karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dihadapi.Tedhak siti . betapa misteriusnya kehidupan. yaitu tumpeng nasi. upaya menangkap fenomena luar diri. bisa daun pisang. Ketakutan . 1988: 54-7). persepsi. Makan abersama namun dari wadah masing-masing. oleh karena manusia memiliki kemampuan hidup dan kemampuan mengatasi persoalan hidupnya. dalam memandang tindakan budaya masyarakat Jawa dalam kaitan dengan upacara tradisi tedhak siti. Namun pada beberapa kondisi. Dan oleh karena mistirius itulah orang meraba-raba dan akhirnya sampai pada suatu kondisi dimana ia menyadari adanya ancaman yang menghadang. Secara umum. Para pelaku dan peserta lain yang ada di sekitar arena mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dari tumpeng nasi yang menggunung beserta lauk-pauknya. penulis membayangkan teori empat unsur Herbert Mead. Pada masa lalu. bancakan memang dilakukan benarbenar bersama-sama. dan mengambil sejumput nasi serta lauk kelengkapannya. Anak dimandikan oleh ibunya dengan air kembang ini dan diikuti dengan memakaikannya baju baru yang terbaik yang dimiliki. Rangkaian upacara tedhak siti.Ahmad Ismail-Outhman berkenan memelihara. Mata acara terakhir ini diikuti oleh hampir semua orang yang ada di sekitar arena. makan bersama. tempat dimana tumpeng disajikan. apa yang harus kita perbuat. semua orang menjulurkan tangan kanannya dan membuat batas imajiner dari lingkaran tampah. yakni impuls. Orang Jawa menyebut ini bancakan. g. Dan akhirnya. Tumpeng nasi Selepas menyelesaikan rangkaian upacara terakhir. namun anak pengantin upacara itu mengambil tempat di samping arena menuju gentong berisi air dan kembang setaman. dengan kerangka ini menjadi sesuatu yang jelas menampilkan empat unsur tindakan manusia: ada impuls. lalu upaya memilah-memilih situasi dan kondisi yang hidup di sekitarnyam sehingga ia kemudian bisa bertanya pada diri sendiri. acara makan bersama ini mengalami modifikasi: tiap orang mengambil satu wadah. melindungi dan menambah limpahan anugerah rejeki. masih ada perlengkapan upacara yang menunggu gilirannya. Pilihan konsumasi ini pastilah senantiasa bersifat selaras dengan posisi dan peran sosial yang dimainkannya. manipulasi dan kansumasi (Mead. Pascawacana Demikianlah. ia akan mencari makna dan berusaha memahami dunia dengan cara dan dari sudut pandang yang mereka pilih. daun jati. atau (sekarang) piring.

Tedhak siti . bahwa manusia adalah tidak sempurna dan masih berlumur kelemahan untuk menaklukkan hidupnya sendiri. memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan terbaik. lebih kuasa dari misteri itu sendiri.Ahmad Ismail-Outhman muncul secara pasti dan merespon realitas seperti ini pilihannya ialah mencari pertolongan kepada pihak yang diyakini lebih kuat dari ancaman. Bersyukur adalah satu-satunya kawajiban konsekuensial bilamana orang merasa bahwa ia telah mendapatkan apa yang dimintanya dari Yang Mahakuasa. atau ia akan kalah. hidup yang penuh misteri memaksa orang menyiapkan segala bekal yang dibutuhkan. Ketiga. sebagai mahluk sosial. Keyakinan yang telah tertanam dan menjadi kebenaran bersama dari upacara tedhak siti ialah pertama. Kedua. dan menyadari bahwa perjuangan dan kebulatan tekad adalah modal besar yang harus dimiliki tiap individu. tujuan hidup ialah meraih keutamaan (virtue) dan itu berujung kebahagiaan. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->