Tedhak siti - Ahmad Ismail-Outhman

Tedhak Siti
*Ahmad Ismail-Outhman PPs Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang

Prawacana
Banyak acara yang diselenggarakan orang Jawa yang melibatkan ritual makan-bersama. Makan- bersama, baik yang semula dengan satu wadah, maupun yang belakangan dengan wadah masing-masing; baik di ruang yang sama, di tempat acara diselenggarakan, maupun terpisah karena menjadi oleholeh berkat yang dibawa pulang, adalah kebiasaan laku-lampah masyarakat tradisional. Pada mayarakat Jawa tradisi itu sedemikian beragam sedemikian berjumlah, sama ragamnya dengan ragam peristiwa hidup umat manusia. Itulah slametan, yang sering pula disebut kenduri. Sungguhpun demikian, tampaknya tradisi slametan tidak saja ditemukan di Jawa namun juga di tengah masyarakat di semenanjung Malaysia (Wildre, 1982: 122; Scott, 1984: 187-204). Dua model praktek makan-bersama, seperti disebut baru saja, kemudian memunculkan dua model kenduri: slametan dan bancakan. Perbedaan antara keduanya terletak pada praktek makan-bersama: bancakan berarti rebutan, artinya makan bersama-sama dari satu wadah yang sama, biasanya berupa tampah berlapis daun pisang dan dilakukan tanpa menggunakan sendok. Tiap tampah disuguhkan bagi 5-8 orang. Adapun pada slametan, hidangan tidak dimaksudkan dimakan bersama-sama di ruang upacara, melainkan telah ditata sedemian rupa sehingga tiap peserta mendapatkan satu paket hidangan yang disebut berkat. Paket ini boleh dibawa pulang oleh tiap peserta.

tedhak siti merupakan satu mata rantai dari rangkaian upacara budaya Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehidupan individual. rumah tinggal. 1 . bepergian jauh. alam. dalam kupasan ini merupakan salah satu tradisi yang bermotif terakhir ini. hak milik dan kepemilikan. secara garis besar slametan diselenggarakan dengan dua motif: syukuran dan harapan-permohonan. anak naik kelas.1 Sementara siklus upacara ini bersisambung dimulai dari upacara perkawinan (penganten. merayakan ungkapan syukur individu. Tulisan ini membahas tradisi slametan yang disebut tedhak siti. Sebagai sebentuk praktek tradisi. apa makna di balik perlambang dan harapan dari penyelenggaraan tradisi ini. Pembahasan diarahkan pada beberapa aspek: bagaimana tradisi ini dilaksanakan. dan yang berkaitan dengan langkah setapak demi setapak individu menjalani kehidupannya. Salah satu dari tradisi itu ialah slametan. bahkan pembelian sapi. temanten).Ahmad Ismail-Outhman Oleh masyarakat Jawa slametan diselenggarakan untuk beberapa maksud. mengingat dan memperingati hari penting dalam riwayat hidup individu.Tedhak siti . yang berkaitan dengan properti. akekah dan Rangkaian lainnya ialah yang berkaitan dengan lingkungan. siapa saja yang terlibat. melahirkan: puputan. Tedhak siti dalam kerangka tradisi slametan di Masyarakat Jawa Orang Jawa barangkali dapat dikatagorikan sebagai masyarakat yang cukup kuat untuk tidak meninggalkan adat-istiadat yang telah dibangun. ngarani. seperti kebutuhan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa dan pembebasan diri dari rasa takut atas suatu peristiwa atau kejadian. Tedhak siti. suatu upacara bagi anak balita berusia setahun kurang lebih menjelang fase berjalan. yang masih belum secara jelas diketahui (misteri) dan yang sudah jelas diduga kemungkinannya. dibentuk dan dikembangkan oleh generasi sebelumnya. hamil: ngupati. antara lain merayakan hari-hari besar kalender Islam. Secara kronologis. nglolosi. mobil. mudun lemah (tedhak siti). mitoni (tingkeban). dan lain-lain. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa beragam jenisnya. keluarga atau kelompok masyarakat atas suatu. Dua ragam motif ini merupakan respon masyarakat terhadap realitas hidup dan upaya memenuhi kebutuhan realistik.

dan uang logam diletakkan di dalam kurungan. Kurungan biasanya yang digunakan ialah kurungan ayam dihias sama seperti tangga. Di luar itu. dan jika anak terlahir itu laki-laki. yakni dibentuk serupa kerucut. Gentong di sudut tak . Jadah kemudian disajikan dalam piring tanah. Sebagai upacara tradisional. Jajan pasar terdiri dari aneka panganan jajanan sehari-hari masyarakat setempat yang biasanya dapat diperoleh semuanya di pasar. Bagi keluarga tertentu ragam properti ini bisa bertambah kian banyak. kapas. Hiasan tangga bisa berupa bunga. Upacara ini diselenggarakan untuk menyambut perkembangan anak ke fase berjalan. paket bunga. terdiri dari tujuh anak tangga dan seluruh batang dan anak tangganya dibungkus dengan hiasan. mainan. nenek-kakek dan segenap keluarga dekat. sesajen. maka berikutnya ialah sunatan. Demikianlah seterusnya siklus tradisi upacara ini berlangsung di tengah masyarakat Jawa. ada semangkuk uang logam yang dibaurkan dengan bulir beras berwarna kuning dan aneka kembang. beras. perlambangan dan tentu saja partisipan yang secara keseluruhan merupakan satu paket terpadu. air. Benda-benda budaya yang disebut uba rampe dalam upacara ini terdiri dari: tangga.Tedhak siti . bayi yang diupacarai. kapas. melainkan menjadikannya sebagai semacam peta perayaan upacara tradisional di Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehiodupan pribadional. dalam istilah Jawa disebut pitung lapan. buku tulis. Sesajen terdiri dari tumpeng nasi. 1. Biasanya diselenggarakan ketika anak melewati usia delapan bulan. tedhak siti berarti turun tanah. Tedhak siti dalam potret budaya Secara harfiyan. akar-akaran dan sebagainya. padi. gentong. kembang dan udhik-udhik. Orang tua. piring tanah. Adapun jadah ialah makanan (jajanan) yang terbuat dari ketan yang ditanak biasa seperti nasi yang ditumbuk dengan campuran parutan kelapa hingga menyerupai adonan yang amat liat. mainan. biasanya ibu. beras. Tumpengan terdiri dari nasi yang ditumpeng. serta para tetangga semuanya terlibat dalam upacara ini dengan peran dan fungsi masing-masing. padi. jajan pasar dan jadah. dan dikelilingi urab-uraban. uang logam. tedhak siti juga melibatkan langkah prosesi. kurungan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengupas tiap upacara tradisional tersebut. properti Tangga dalam upacara ini terbuat dari batang tebu jenis arjuna. sementara properti lain yaitu buku tulis.Ahmad Ismail-Outhman sebagainya. tumpeng nasi. dedaunan. tujuh irisan dalam setiap piring dan berupa tujuh warna berbeda.

Ahmad Ismail-Outhman jauh dari sana dipenuhi air bertabur kembang setaman. jum at dan sabtu. Lampahan diteruskan. Anak menapaki tahapan-tahapan anak tangga dengan pelan-pelan. padi. weton yang berasal dari kata wetuan. wage. ibu atau nenek menebarkan udhik-udhik ke para hadirin yang ada di sekitar upacara. Upacara pun berakhir segera seiring dengan dibacakannya doa. kapas. namun pada keluarga tertentu. atau lebih tepatnya diangkat oleh ibunya. Upacara itu sendiri diselenggarakan di ruang tengah rumah. Banyak di antara mereka anak-anak. /weton (:keluar. Kamis-legi dan seterusnya. kamis. Jika pada kalender celestial siklus minggu terdiri dari tujuh hari: minggu. senin. berhenti sejenak. maka dalam konsep Jawa siklus itu terdiri dari lihari lima hari pasar: legi. upacara tedhak siti dilaksanakan dengan memilih momentum hari pasaran weton bayi. berjalan melewati piring-piring tanah. Jum at-kliwon. ibu berdoa di dalam batin atau dilafalkan. Prosesi Menjelang anak melewati usia delapan sampai sembilan bulan. Kembang setaman juga menaburi air yang memenuhi gentong yang diletakkan di luar garis bujur tangga-kurungan namun tidak jauh dari situ. Jadi. anak melakukan lampahan. Demikian pula dari ujung tangga turun dan melewati jadah sampai ke kurungan. adalah merupakan gabungan ketepatan antara hari mingguan dan hari pasaran. Piring-piring tanah ini berisi jadah tujuh warna. Prosesi dimulai dengan lampahan. . Sementara di tengah-tengah antara keduanya digelar piring-piring tanah berjajar. rabu. seperti hiasan. dan lain-lain itu diangkat untuk memasukkan anak ke dalamnya. selasa. Sesamapai di depan tangga. Terus demikian sampai ke ujung tangga. Setapak demi setapak. Ini konsep Jawa mengenai siklus semesta yang diobjektifikasi kedalam sikilus hari. posisinya ujung-berujung dengan kurungan. anak sedapat mungkin menginjakkan kakinya ke atas jadah. Mengakhiri rangkaian upacara. jajan-pasar dan ditutup di sebelah kanan-kiri dengan kembang setaman. Di dalam kurungan anak dibiarkan beberapa saat sampai ia mempertunjukkan gerakan-gerakan yang dapat dipandang sebagai upayanya memilih salah satu dari berbagai pilihan yang disediakan di dalam kurungan. Tangga ditegakkan. Penataan letak piring tanah berisi jadah ini sedemikian rupa sehingga menuju ke tangga. Pertautan antara dua kalender penting inilah yang disebut pasaran. pahing. atau dilafalkan. kliwon. pon. buku tulis. maka muncullah Rabu-wage. Tak ketinggalan udhik-udhik: sewadah uang logam yang berbaur dengan kembang dan beras kuning 2. Setiap kali anak tangga ditapaki. ibu berdoa di dalam batin. keluaran) berarti hari ketika anak terlahir. Kurungan yang telah diperlengkapi dengan berbagai benda kelengkapan hidup sehari-hari. digelar di halaman rumah. Dituntun.Tedhak siti .

bahwa tradisi tedhak siti terdiri dari dari rangkaian simbol-simbol budaya yang sama. yaitu: a. tapi bagaimana orang situ naik tangga. atau gejala yang dapat kita temukan sehari-hari: orang naik tangga. Kebudayaan ialah manakala menyapa orang lewat dilakukan dengan cara yang kurang-lebih sama antara satu individu dan yang lain. Itulah kebudayaan. Kini mari kita tinjau apa yang terjadi pada tradisi tedhak siti yang berlaku di tengah masyarakat Jawa pada umumnya. namun secara garis besar perbedaan-perbedaan itu masih berkisar di ranah uba-rampe dan tidak mengakibatkan berbeda perlambangan atau simbolisasi yang signifilkan dan pada gilirannya berbeda pula pesan dan idenya. Nilai-nilai ini menjadi jiwa bagi masyarakat dan dengan itu mereka membentuk apa yang disebut oleh Koentjaraningrat suatu sistem budaya. serta telah membatin (internalized) dan menjadi nilai yang dianut bersama-sama. kejadian. katakanlah. Tak seorangpun menginginkan hidup dijalani dalam kondisi sulit seperti itu. memanjat pohon. memilih baju. memilih baju. Pemakaan realitas simbolik tedhak siti Jika diamati dengan seksama. menimang perhiasan. Peristiwa kebudayaan dengan demikian ialah apabila orang naik tangga dengan tata dan cara tertentu yang ajeg dari masa ke masa. dan sebagainya. memanjat pohon. Dengan demikian. maksud dan pengetahuan yang diyakini bersama. Semua itu merupakan peristiwa atau kejadian yang biasa. Apakah semua itu kebudayaan? Kebudayaan bukanlah orang naik tangga. Kebudayaankah itu atau bukan ditentukan oleh bagaimana mereka melakukan semua itu.Ahmad Ismail-Outhman Tedhak siti sebagai fenomena kebudayaan Selalu ada dan dan selalu banyak peristiwa. dari individu ke individu. 1. Bukan orang naik tangga. antara satu masyarakat di daerah tertentu dan yang lainnya. memungut pensil. sehingga dapat dilihat: bagaimana orang situ menyapa orang. dan karena sifatnya yang sangat biasa itulah biasanya lolos dari pengamatan. Penulis menekankan ungkapan pada umumnya karena memang ada terdapat perbedaan di sana-sini dalam beberapa detail prosesi acara. dan sebagainya. demikian pula orang tua senantiasa . beberapa hal tampak jelas dari prosesi upacara tedhak siti. menimang perhiasan.Tedhak siti . yang dilandasi oleh motif. Kesulitan hidup Hidup yang penuh misteri adalah hidup yang mencemaskan dan menakutkan. memungut pensil.

jumlah irisan jadah pada tiap piring tanah. namun dalam tujuh warna. Upacara ini diselenggarakan dengan maksud menyampaikan permohonan untuk memperoleh pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa agar dalam menjalani kehidupan tidak menghadapi kesulitan. Mendaki dan turun adalah perjalanan kehidupan: adakalanya orang mendapatkan kemudahan adakalanya ia menghadapi kesulitan. menyimpulkan suatu pemahaman yang telah membatin sebagai suatu bentuk ekspresi ketakberdayaan manusia menghadapi realitas kehidupan yang misterius dan kebutuhan mendasar manusia terhadap rasa aman dari segala ancaman yang mungkin akan ditemui di dalam kehidupan. ragam kembang penghias tangga. Karakter adonannya yang lengket membuatnya mudah menempel di telapak kai ketika terinjak kaki kecil anak. Konsep tujuh juga muncul dalam warna jadah. Kondisi ini disimbolkan sebagai penanaman jiwa dan watak anak supaya dalam menapaki jalan hidupnya kelak ia senantiasa waspada dan sigap. Dalam upacara tedhak siti kresulitan hidup tercermin dari simbolisasi jadah. maka dari itu. Disinilah upacara ini mendapatkan momentumnya untuk diselenggarakan sebagai medium ekspresi meraih apa yang dibutuhkan. Jadah tidak disajikan dalam warna seragam. maka mereka pasti akan mencari dukungan kekuatan yang lebih hebat. b. Menghindar dan lari dari realitas hidup. Konsep tujuh Mencoloknya konsep tujuh di setiap langkah: jumlah piring tanah wadah jadah. Ini menyiratkan perlambangan bahwa persoalan hidup itu beraneka ragam Ungkapan ketakberdayaan dan harapan memperoleh perlindungan diekspresikan secara simbolik dengan konsep tujuh. Pitu direpresentasikan sebagai simbol dari pitulungan (:pertolongan). dan ragam jajanpasar yang dipilih. Adapun simbolisasi tujuh ini berakar dari maksud masyarakat Jawa yang menyebut bilangan tujuh dengan pitu.Ahmad Ismail-Outhman mencemaskan kesulitan yang akan dihadapi anak dalam hidupnya kelak. hal ini diekspresikan dengan simbolisasi konsep tujuh. menyadari bahwa hidup realistis berarti hidup yang tak akan terhindar dari masalah. Tangga batang tebu Properti yang tak kalah mencolok dalam gelaran upacara tedhak siti ialah tangga. bukanlah jalan yang bijaksana. c. jumlah anak tangga yang harus ditapaki anak. Arjuna adalah nama jenis tebu . Properti ini melambangkan cita-cita. satu-satunya pilihan ialah menghadapinya. Tangga itu sendiri dibuat dari batang tebu arjuna.Tedhak siti . Dan oleh karena manusia tak sempurna daya kekuatannya. jikapun bisa. Setiap orang harus punya cita-cita dan tak ada cita-cita yang diraih tanpa usaha keras.

yaitu sebuah ungkapan pengharapan yang sangat atas limpahan kemakmuran yang semoga diterima anak kelak. Penting ditekankan terlebih dahulu disini. Arjuna adalah karakter putih dari keluarga besar Astinapura. Makna ini ditangkap dari simbol tebu tang dalam ungkapan Jawa diarahkan pada ungkapan akronim dari antebing kalbu (mantapnya hati). Manusia hidup di dunia bukannya dunia yang tanpa batas.Ahmad Ismail-Outhman yang dikenal di masyarakat Jawa. Hidup juga harus dijalani dengan batasanbatasan justru karena kita adalah manusia. Permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kiranya anak mendapatkan limpahan rejeki yang banyak.Tedhak siti . Menapaki anak tangga sampai ke ujung tinggi mengekspresikan sebuah pendakian cita-cita yang tinggi. d. Dalam dunia mitos Jawa. Kurungan merupakan simbol dari dunia panggung kehidupan. ia merepresentasikan seorang tokoh dari dunia perwayangan yang sakti mandraguna namun tetap memiliki kelembutan hati di balik kekerasan jiwa dan tekad yang pantang mundur membela kebenaran. Presis sebagaimana yang dilihat oleh Foss. dan pendakian terjal seperti itu tak akan dapat tercapai tanpa keteguhan hati yang penuh dan tekad yang bulat. Jikapun di luar sana dunia begitu luas. e. beraneka ragam. Inilah makna di balik tebu sebagai tangga. orang Jawa memiliki pemahaman konseptual yang lekat terhadap sosok binatang yang satu ini. Tangga yang terbuat dari batang tebu menyimpan makna keteguhan hati. Sebuah pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang tua bagi anaknya. Adapun jenis tebu yang dipilih ialah tebu jenis arjuna. Aneka jajan-pasar Ada simbol pula yang terepresentasi dalam aneka jajan-pasar. nama arjuna merupakan nama yang tak asing. Ayam sendiri dipilih karena asosiasinya yang amat kental di kalangan masyarakat Jawa. kelompok para ksatria pembela kebenaran. Kurungan ayam Semula agak sulit menggali makna di balik simbol kurungan ayam. Kemuliaan mahluk manusia daripada yang lain ialah karena mereka memiliki kompetensi menentukan batasan-batasan bagi mereka sendiri yang disepakati dan diberlakukan sebagai pedoman. didapatlah pula. bahwa thing is a . semuanya serba ada dan serba berkecukupan. Namun setelah berbagi cerita berbagi tanya dari satu informan ke yang lain. akan tetapi dunia tiap orang adalah dunia yang berbatas.

ayam kampus. Buku tulis melambangkan intelektualitas dan profesi yang berkaitan dengan itu. ayam goreng. padi dan kapas adalah dunia petani dan kesejahteraan. kebergunaan dan sebagainya. ayam broiler.Tedhak siti . ayam ternak. udhik-udhik. David T. jika tidak mau berbagi dengan sesama. Udhik-udhik Digunakan menjelang akhir prosesi. Begitu banyaknya kata /ayam/ digunakan untuk menun jukkan sebuah konsep: ternak ayam. ayam pedaging. Psycholinguistics: An Introduction to the Psychology of Langage.. memiliki feature yang khas. demikian menurut Foss. demikian seterusnya simbol di balik perhiasan. pedagang ayam. sedikitnya menunjukkan referensi pada konsep tentang kebanalan. Itulah mengapa barangkali ayam dipilih pula menjadi salah satu realitas simbolik bagi ritual tedhak siti. Dengan mengambil simbolisasi ayam: kurugan ayam. dan tentu saja. dan cepat adaptasi. ada ide yang menampak secara tegas. mainan dan sebagainya. f. jalan. kaum kerabat dan lain-lain. profesi dan cita-cita anak kelak. dimana upacara tedhak siti digelar. Donal J. Feature ini bisa berupa censory properties atau class member. Adapun properti lain yang terserak di dalam kurungan ayam yang akan dimasuki oleh anak menyimpan ungkapan simbolik bagi pilihan cara. Demikian kaya asosiasi yang dapat ditampilkan oleh konsep ayam ini. kebinalan. Apa yang melatarbelakangi simbol ini ialah satu ide bahwa apalah gunanya orang memohon pertolongan kepada Yang Mahkuasa untuk dapat mampu menapaki hidup. kemandirian. di sebarkan ke seantero halaman rumah. maling ayam. yang tangguh dan bandel menghadapi hidup dan persainmgan hidup. 1978 : 48-9. yang banyak gunanya. mengatasi segala persoalannya dan berlimpah rejeki. Setiap kata. 2 . butir-butir beras kuning dan aneka kembang. bahwa jadilah seperti ayam. dan Hakes.. beras. di lingkungan masyarakat Jawa. cepat belajar dan cepat mandiri. kurungan ayam. Berbagi adalah suatu cara orang beriman mendapatkan pengakuan dan penghargaan atas ketaatan yang diamalkannya sehingga Tuhan dengan rahmat dan KehendakNya Foss. ketangguhan kebandelan. Dan ayam. yang berupa campuran uang logam.Ahmad Ismail-Outhman coscept2. Ini satu bentuk simbol menebarkan harta benda kepada orang sekitar terdekat. kata ayam hampir selalu merupakan sebuah konsep alih-alih sebuah reference atau sebuah citra. iii Prentice Hall Inc.

Pilihan konsumasi ini pastilah senantiasa bersifat selaras dengan posisi dan peran sosial yang dimainkannya. Pascawacana Demikianlah. g. Dan oleh karena mistirius itulah orang meraba-raba dan akhirnya sampai pada suatu kondisi dimana ia menyadari adanya ancaman yang menghadang. Anak dimandikan oleh ibunya dengan air kembang ini dan diikuti dengan memakaikannya baju baru yang terbaik yang dimiliki. ia akan mencari makna dan berusaha memahami dunia dengan cara dan dari sudut pandang yang mereka pilih. Rangkaian upacara tedhak siti. namun anak pengantin upacara itu mengambil tempat di samping arena menuju gentong berisi air dan kembang setaman. acara makan bersama ini mengalami modifikasi: tiap orang mengambil satu wadah. Ketakutan .Tedhak siti . Tumpeng nasi Selepas menyelesaikan rangkaian upacara terakhir. penulis membayangkan teori empat unsur Herbert Mead. lalu upaya memilah-memilih situasi dan kondisi yang hidup di sekitarnyam sehingga ia kemudian bisa bertanya pada diri sendiri. Pada masa lalu. apa yang harus kita perbuat. bancakan memang dilakukan benarbenar bersama-sama. manipulasi dan kansumasi (Mead. 1988: 54-7). daun jati. Dan akhirnya. tempat dimana tumpeng disajikan. Para pelaku dan peserta lain yang ada di sekitar arena mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dari tumpeng nasi yang menggunung beserta lauk-pauknya.Ahmad Ismail-Outhman berkenan memelihara. oleh karena manusia memiliki kemampuan hidup dan kemampuan mengatasi persoalan hidupnya. Namun pada beberapa kondisi. Mata acara terakhir ini diikuti oleh hampir semua orang yang ada di sekitar arena. makan bersama. persepsi. dengan kerangka ini menjadi sesuatu yang jelas menampilkan empat unsur tindakan manusia: ada impuls. bisa daun pisang. Secara umum. Orang Jawa menyebut ini bancakan. yakni impuls. Ancaman ini ada karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dihadapi. yaitu tumpeng nasi. melindungi dan menambah limpahan anugerah rejeki. dalam memandang tindakan budaya masyarakat Jawa dalam kaitan dengan upacara tradisi tedhak siti. dan mengambil sejumput nasi serta lauk kelengkapannya. semua orang menjulurkan tangan kanannya dan membuat batas imajiner dari lingkaran tampah. betapa misteriusnya kehidupan. masih ada perlengkapan upacara yang menunggu gilirannya. atau (sekarang) piring. upaya menangkap fenomena luar diri. Makan abersama namun dari wadah masing-masing.

hidup yang penuh misteri memaksa orang menyiapkan segala bekal yang dibutuhkan. memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan terbaik. dan menyadari bahwa perjuangan dan kebulatan tekad adalah modal besar yang harus dimiliki tiap individu. sebagai mahluk sosial. Bersyukur adalah satu-satunya kawajiban konsekuensial bilamana orang merasa bahwa ia telah mendapatkan apa yang dimintanya dari Yang Mahakuasa.Tedhak siti . . Kedua.Ahmad Ismail-Outhman muncul secara pasti dan merespon realitas seperti ini pilihannya ialah mencari pertolongan kepada pihak yang diyakini lebih kuat dari ancaman. Keyakinan yang telah tertanam dan menjadi kebenaran bersama dari upacara tedhak siti ialah pertama. lebih kuasa dari misteri itu sendiri. atau ia akan kalah. Ketiga. tujuan hidup ialah meraih keutamaan (virtue) dan itu berujung kebahagiaan. bahwa manusia adalah tidak sempurna dan masih berlumur kelemahan untuk menaklukkan hidupnya sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful