Tedhak siti - Ahmad Ismail-Outhman

Tedhak Siti
*Ahmad Ismail-Outhman PPs Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang

Prawacana
Banyak acara yang diselenggarakan orang Jawa yang melibatkan ritual makan-bersama. Makan- bersama, baik yang semula dengan satu wadah, maupun yang belakangan dengan wadah masing-masing; baik di ruang yang sama, di tempat acara diselenggarakan, maupun terpisah karena menjadi oleholeh berkat yang dibawa pulang, adalah kebiasaan laku-lampah masyarakat tradisional. Pada mayarakat Jawa tradisi itu sedemikian beragam sedemikian berjumlah, sama ragamnya dengan ragam peristiwa hidup umat manusia. Itulah slametan, yang sering pula disebut kenduri. Sungguhpun demikian, tampaknya tradisi slametan tidak saja ditemukan di Jawa namun juga di tengah masyarakat di semenanjung Malaysia (Wildre, 1982: 122; Scott, 1984: 187-204). Dua model praktek makan-bersama, seperti disebut baru saja, kemudian memunculkan dua model kenduri: slametan dan bancakan. Perbedaan antara keduanya terletak pada praktek makan-bersama: bancakan berarti rebutan, artinya makan bersama-sama dari satu wadah yang sama, biasanya berupa tampah berlapis daun pisang dan dilakukan tanpa menggunakan sendok. Tiap tampah disuguhkan bagi 5-8 orang. Adapun pada slametan, hidangan tidak dimaksudkan dimakan bersama-sama di ruang upacara, melainkan telah ditata sedemian rupa sehingga tiap peserta mendapatkan satu paket hidangan yang disebut berkat. Paket ini boleh dibawa pulang oleh tiap peserta.

hamil: ngupati. keluarga atau kelompok masyarakat atas suatu. hak milik dan kepemilikan. rumah tinggal. nglolosi. seperti kebutuhan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa dan pembebasan diri dari rasa takut atas suatu peristiwa atau kejadian. Pembahasan diarahkan pada beberapa aspek: bagaimana tradisi ini dilaksanakan.Ahmad Ismail-Outhman Oleh masyarakat Jawa slametan diselenggarakan untuk beberapa maksud. Tedhak siti. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa beragam jenisnya. ngarani.1 Sementara siklus upacara ini bersisambung dimulai dari upacara perkawinan (penganten. mitoni (tingkeban). antara lain merayakan hari-hari besar kalender Islam. Tedhak siti dalam kerangka tradisi slametan di Masyarakat Jawa Orang Jawa barangkali dapat dikatagorikan sebagai masyarakat yang cukup kuat untuk tidak meninggalkan adat-istiadat yang telah dibangun. mobil. suatu upacara bagi anak balita berusia setahun kurang lebih menjelang fase berjalan. Dua ragam motif ini merupakan respon masyarakat terhadap realitas hidup dan upaya memenuhi kebutuhan realistik. mudun lemah (tedhak siti). dibentuk dan dikembangkan oleh generasi sebelumnya. mengingat dan memperingati hari penting dalam riwayat hidup individu. temanten). melahirkan: puputan. apa makna di balik perlambang dan harapan dari penyelenggaraan tradisi ini. akekah dan Rangkaian lainnya ialah yang berkaitan dengan lingkungan. yang berkaitan dengan properti. siapa saja yang terlibat. Salah satu dari tradisi itu ialah slametan. 1 . dan yang berkaitan dengan langkah setapak demi setapak individu menjalani kehidupannya. yang masih belum secara jelas diketahui (misteri) dan yang sudah jelas diduga kemungkinannya.Tedhak siti . Tulisan ini membahas tradisi slametan yang disebut tedhak siti. anak naik kelas. merayakan ungkapan syukur individu. alam. tedhak siti merupakan satu mata rantai dari rangkaian upacara budaya Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehidupan individual. dalam kupasan ini merupakan salah satu tradisi yang bermotif terakhir ini. dan lain-lain. Sebagai sebentuk praktek tradisi. bepergian jauh. Secara kronologis. secara garis besar slametan diselenggarakan dengan dua motif: syukuran dan harapan-permohonan. bahkan pembelian sapi.

biasanya ibu. piring tanah. Orang tua. Jajan pasar terdiri dari aneka panganan jajanan sehari-hari masyarakat setempat yang biasanya dapat diperoleh semuanya di pasar. Sesajen terdiri dari tumpeng nasi. yakni dibentuk serupa kerucut. tujuh irisan dalam setiap piring dan berupa tujuh warna berbeda. tedhak siti juga melibatkan langkah prosesi. kurungan. nenek-kakek dan segenap keluarga dekat. Hiasan tangga bisa berupa bunga. dalam istilah Jawa disebut pitung lapan. ada semangkuk uang logam yang dibaurkan dengan bulir beras berwarna kuning dan aneka kembang. Biasanya diselenggarakan ketika anak melewati usia delapan bulan. Di luar itu. Sebagai upacara tradisional. padi. kapas. gentong. Adapun jadah ialah makanan (jajanan) yang terbuat dari ketan yang ditanak biasa seperti nasi yang ditumbuk dengan campuran parutan kelapa hingga menyerupai adonan yang amat liat. Gentong di sudut tak . terdiri dari tujuh anak tangga dan seluruh batang dan anak tangganya dibungkus dengan hiasan. Benda-benda budaya yang disebut uba rampe dalam upacara ini terdiri dari: tangga. buku tulis. beras. mainan. mainan. beras. akar-akaran dan sebagainya. tumpeng nasi. padi. jajan pasar dan jadah. melainkan menjadikannya sebagai semacam peta perayaan upacara tradisional di Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehiodupan pribadional. Tumpengan terdiri dari nasi yang ditumpeng. Upacara ini diselenggarakan untuk menyambut perkembangan anak ke fase berjalan. perlambangan dan tentu saja partisipan yang secara keseluruhan merupakan satu paket terpadu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengupas tiap upacara tradisional tersebut. maka berikutnya ialah sunatan. Kurungan biasanya yang digunakan ialah kurungan ayam dihias sama seperti tangga. kapas. tedhak siti berarti turun tanah. 1. dedaunan. Bagi keluarga tertentu ragam properti ini bisa bertambah kian banyak. dan uang logam diletakkan di dalam kurungan.Tedhak siti . serta para tetangga semuanya terlibat dalam upacara ini dengan peran dan fungsi masing-masing. uang logam. Jadah kemudian disajikan dalam piring tanah. Demikianlah seterusnya siklus tradisi upacara ini berlangsung di tengah masyarakat Jawa. dan jika anak terlahir itu laki-laki.Ahmad Ismail-Outhman sebagainya. paket bunga. kembang dan udhik-udhik. sementara properti lain yaitu buku tulis. air. sesajen. properti Tangga dalam upacara ini terbuat dari batang tebu jenis arjuna. bayi yang diupacarai. Tedhak siti dalam potret budaya Secara harfiyan. dan dikelilingi urab-uraban.

Setiap kali anak tangga ditapaki. ibu atau nenek menebarkan udhik-udhik ke para hadirin yang ada di sekitar upacara. Terus demikian sampai ke ujung tangga. Ini konsep Jawa mengenai siklus semesta yang diobjektifikasi kedalam sikilus hari. kamis. maka dalam konsep Jawa siklus itu terdiri dari lihari lima hari pasar: legi. wage. rabu. pon. berjalan melewati piring-piring tanah. Sesamapai di depan tangga. kapas. Di dalam kurungan anak dibiarkan beberapa saat sampai ia mempertunjukkan gerakan-gerakan yang dapat dipandang sebagai upayanya memilih salah satu dari berbagai pilihan yang disediakan di dalam kurungan. buku tulis. jum at dan sabtu. ibu berdoa di dalam batin. jajan-pasar dan ditutup di sebelah kanan-kiri dengan kembang setaman. Prosesi Menjelang anak melewati usia delapan sampai sembilan bulan. Penataan letak piring tanah berisi jadah ini sedemikian rupa sehingga menuju ke tangga. Anak menapaki tahapan-tahapan anak tangga dengan pelan-pelan. selasa. /weton (:keluar. upacara tedhak siti dilaksanakan dengan memilih momentum hari pasaran weton bayi. Dituntun. Setapak demi setapak. Kamis-legi dan seterusnya. Banyak di antara mereka anak-anak. Prosesi dimulai dengan lampahan. Sementara di tengah-tengah antara keduanya digelar piring-piring tanah berjajar. dan lain-lain itu diangkat untuk memasukkan anak ke dalamnya. keluaran) berarti hari ketika anak terlahir. berhenti sejenak. posisinya ujung-berujung dengan kurungan. atau dilafalkan. anak sedapat mungkin menginjakkan kakinya ke atas jadah. Lampahan diteruskan. Kurungan yang telah diperlengkapi dengan berbagai benda kelengkapan hidup sehari-hari. pahing. maka muncullah Rabu-wage. Tangga ditegakkan. seperti hiasan.Ahmad Ismail-Outhman jauh dari sana dipenuhi air bertabur kembang setaman. Pertautan antara dua kalender penting inilah yang disebut pasaran. kliwon. senin. anak melakukan lampahan. . ibu berdoa di dalam batin atau dilafalkan. adalah merupakan gabungan ketepatan antara hari mingguan dan hari pasaran. Kembang setaman juga menaburi air yang memenuhi gentong yang diletakkan di luar garis bujur tangga-kurungan namun tidak jauh dari situ. atau lebih tepatnya diangkat oleh ibunya. namun pada keluarga tertentu. Upacara itu sendiri diselenggarakan di ruang tengah rumah. Jika pada kalender celestial siklus minggu terdiri dari tujuh hari: minggu. Piring-piring tanah ini berisi jadah tujuh warna. Demikian pula dari ujung tangga turun dan melewati jadah sampai ke kurungan. Jadi.Tedhak siti . Jum at-kliwon. weton yang berasal dari kata wetuan. Tak ketinggalan udhik-udhik: sewadah uang logam yang berbaur dengan kembang dan beras kuning 2. Mengakhiri rangkaian upacara. Upacara pun berakhir segera seiring dengan dibacakannya doa. digelar di halaman rumah. padi.

memanjat pohon. Kesulitan hidup Hidup yang penuh misteri adalah hidup yang mencemaskan dan menakutkan. katakanlah. memungut pensil. Peristiwa kebudayaan dengan demikian ialah apabila orang naik tangga dengan tata dan cara tertentu yang ajeg dari masa ke masa. Tak seorangpun menginginkan hidup dijalani dalam kondisi sulit seperti itu. memilih baju. yaitu: a. Itulah kebudayaan. Kebudayaankah itu atau bukan ditentukan oleh bagaimana mereka melakukan semua itu. namun secara garis besar perbedaan-perbedaan itu masih berkisar di ranah uba-rampe dan tidak mengakibatkan berbeda perlambangan atau simbolisasi yang signifilkan dan pada gilirannya berbeda pula pesan dan idenya.Ahmad Ismail-Outhman Tedhak siti sebagai fenomena kebudayaan Selalu ada dan dan selalu banyak peristiwa. kejadian. Kebudayaan ialah manakala menyapa orang lewat dilakukan dengan cara yang kurang-lebih sama antara satu individu dan yang lain. menimang perhiasan. dan karena sifatnya yang sangat biasa itulah biasanya lolos dari pengamatan. yang dilandasi oleh motif. Apakah semua itu kebudayaan? Kebudayaan bukanlah orang naik tangga. dan sebagainya. dari individu ke individu. Dengan demikian. serta telah membatin (internalized) dan menjadi nilai yang dianut bersama-sama. memungut pensil. beberapa hal tampak jelas dari prosesi upacara tedhak siti.Tedhak siti . dan sebagainya. menimang perhiasan. Bukan orang naik tangga. memilih baju. bahwa tradisi tedhak siti terdiri dari dari rangkaian simbol-simbol budaya yang sama. Semua itu merupakan peristiwa atau kejadian yang biasa. 1. Pemakaan realitas simbolik tedhak siti Jika diamati dengan seksama. Kini mari kita tinjau apa yang terjadi pada tradisi tedhak siti yang berlaku di tengah masyarakat Jawa pada umumnya. Nilai-nilai ini menjadi jiwa bagi masyarakat dan dengan itu mereka membentuk apa yang disebut oleh Koentjaraningrat suatu sistem budaya. demikian pula orang tua senantiasa . memanjat pohon. atau gejala yang dapat kita temukan sehari-hari: orang naik tangga. antara satu masyarakat di daerah tertentu dan yang lainnya. Penulis menekankan ungkapan pada umumnya karena memang ada terdapat perbedaan di sana-sini dalam beberapa detail prosesi acara. tapi bagaimana orang situ naik tangga. sehingga dapat dilihat: bagaimana orang situ menyapa orang. maksud dan pengetahuan yang diyakini bersama.

ragam kembang penghias tangga. menyadari bahwa hidup realistis berarti hidup yang tak akan terhindar dari masalah. Setiap orang harus punya cita-cita dan tak ada cita-cita yang diraih tanpa usaha keras. Pitu direpresentasikan sebagai simbol dari pitulungan (:pertolongan). Properti ini melambangkan cita-cita. Tangga itu sendiri dibuat dari batang tebu arjuna. Karakter adonannya yang lengket membuatnya mudah menempel di telapak kai ketika terinjak kaki kecil anak. dan ragam jajanpasar yang dipilih. satu-satunya pilihan ialah menghadapinya. Konsep tujuh Mencoloknya konsep tujuh di setiap langkah: jumlah piring tanah wadah jadah. c. Kondisi ini disimbolkan sebagai penanaman jiwa dan watak anak supaya dalam menapaki jalan hidupnya kelak ia senantiasa waspada dan sigap. maka mereka pasti akan mencari dukungan kekuatan yang lebih hebat. jikapun bisa. hal ini diekspresikan dengan simbolisasi konsep tujuh. Upacara ini diselenggarakan dengan maksud menyampaikan permohonan untuk memperoleh pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa agar dalam menjalani kehidupan tidak menghadapi kesulitan. jumlah irisan jadah pada tiap piring tanah. Tangga batang tebu Properti yang tak kalah mencolok dalam gelaran upacara tedhak siti ialah tangga. jumlah anak tangga yang harus ditapaki anak.Tedhak siti . Disinilah upacara ini mendapatkan momentumnya untuk diselenggarakan sebagai medium ekspresi meraih apa yang dibutuhkan. Dan oleh karena manusia tak sempurna daya kekuatannya. menyimpulkan suatu pemahaman yang telah membatin sebagai suatu bentuk ekspresi ketakberdayaan manusia menghadapi realitas kehidupan yang misterius dan kebutuhan mendasar manusia terhadap rasa aman dari segala ancaman yang mungkin akan ditemui di dalam kehidupan. Konsep tujuh juga muncul dalam warna jadah. Mendaki dan turun adalah perjalanan kehidupan: adakalanya orang mendapatkan kemudahan adakalanya ia menghadapi kesulitan. Menghindar dan lari dari realitas hidup.Ahmad Ismail-Outhman mencemaskan kesulitan yang akan dihadapi anak dalam hidupnya kelak. bukanlah jalan yang bijaksana. Dalam upacara tedhak siti kresulitan hidup tercermin dari simbolisasi jadah. Jadah tidak disajikan dalam warna seragam. b. Adapun simbolisasi tujuh ini berakar dari maksud masyarakat Jawa yang menyebut bilangan tujuh dengan pitu. maka dari itu. namun dalam tujuh warna. Ini menyiratkan perlambangan bahwa persoalan hidup itu beraneka ragam Ungkapan ketakberdayaan dan harapan memperoleh perlindungan diekspresikan secara simbolik dengan konsep tujuh. Arjuna adalah nama jenis tebu .

Inilah makna di balik tebu sebagai tangga. nama arjuna merupakan nama yang tak asing. dan pendakian terjal seperti itu tak akan dapat tercapai tanpa keteguhan hati yang penuh dan tekad yang bulat. Permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kiranya anak mendapatkan limpahan rejeki yang banyak. orang Jawa memiliki pemahaman konseptual yang lekat terhadap sosok binatang yang satu ini. Presis sebagaimana yang dilihat oleh Foss. yaitu sebuah ungkapan pengharapan yang sangat atas limpahan kemakmuran yang semoga diterima anak kelak. Menapaki anak tangga sampai ke ujung tinggi mengekspresikan sebuah pendakian cita-cita yang tinggi. Tangga yang terbuat dari batang tebu menyimpan makna keteguhan hati. Aneka jajan-pasar Ada simbol pula yang terepresentasi dalam aneka jajan-pasar. Sebuah pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang tua bagi anaknya.Tedhak siti . semuanya serba ada dan serba berkecukupan. ia merepresentasikan seorang tokoh dari dunia perwayangan yang sakti mandraguna namun tetap memiliki kelembutan hati di balik kekerasan jiwa dan tekad yang pantang mundur membela kebenaran. Kemuliaan mahluk manusia daripada yang lain ialah karena mereka memiliki kompetensi menentukan batasan-batasan bagi mereka sendiri yang disepakati dan diberlakukan sebagai pedoman. Arjuna adalah karakter putih dari keluarga besar Astinapura. Manusia hidup di dunia bukannya dunia yang tanpa batas. Adapun jenis tebu yang dipilih ialah tebu jenis arjuna. kelompok para ksatria pembela kebenaran. didapatlah pula. Hidup juga harus dijalani dengan batasanbatasan justru karena kita adalah manusia. Penting ditekankan terlebih dahulu disini. akan tetapi dunia tiap orang adalah dunia yang berbatas. Kurungan merupakan simbol dari dunia panggung kehidupan. Jikapun di luar sana dunia begitu luas. d. beraneka ragam. Makna ini ditangkap dari simbol tebu tang dalam ungkapan Jawa diarahkan pada ungkapan akronim dari antebing kalbu (mantapnya hati).Ahmad Ismail-Outhman yang dikenal di masyarakat Jawa. Namun setelah berbagi cerita berbagi tanya dari satu informan ke yang lain. Dalam dunia mitos Jawa. Ayam sendiri dipilih karena asosiasinya yang amat kental di kalangan masyarakat Jawa. bahwa thing is a . e. Kurungan ayam Semula agak sulit menggali makna di balik simbol kurungan ayam.

jika tidak mau berbagi dengan sesama. dimana upacara tedhak siti digelar. f. 2 . demikian menurut Foss. bahwa jadilah seperti ayam. kata ayam hampir selalu merupakan sebuah konsep alih-alih sebuah reference atau sebuah citra. dan cepat adaptasi. yang tangguh dan bandel menghadapi hidup dan persainmgan hidup. Dan ayam. kemandirian. Adapun properti lain yang terserak di dalam kurungan ayam yang akan dimasuki oleh anak menyimpan ungkapan simbolik bagi pilihan cara. cepat belajar dan cepat mandiri.. Udhik-udhik Digunakan menjelang akhir prosesi. dan tentu saja. demikian seterusnya simbol di balik perhiasan. Ini satu bentuk simbol menebarkan harta benda kepada orang sekitar terdekat. kebinalan. iii Prentice Hall Inc. di sebarkan ke seantero halaman rumah. jalan. di lingkungan masyarakat Jawa.. mainan dan sebagainya. sedikitnya menunjukkan referensi pada konsep tentang kebanalan. Demikian kaya asosiasi yang dapat ditampilkan oleh konsep ayam ini. profesi dan cita-cita anak kelak. Itulah mengapa barangkali ayam dipilih pula menjadi salah satu realitas simbolik bagi ritual tedhak siti. Setiap kata. Buku tulis melambangkan intelektualitas dan profesi yang berkaitan dengan itu. kebergunaan dan sebagainya. yang berupa campuran uang logam. kurungan ayam. ayam broiler. Feature ini bisa berupa censory properties atau class member. ayam goreng. mengatasi segala persoalannya dan berlimpah rejeki. beras. ayam ternak. Donal J. ayam pedaging. yang banyak gunanya. ada ide yang menampak secara tegas. David T. ketangguhan kebandelan. maling ayam. Begitu banyaknya kata /ayam/ digunakan untuk menun jukkan sebuah konsep: ternak ayam. Apa yang melatarbelakangi simbol ini ialah satu ide bahwa apalah gunanya orang memohon pertolongan kepada Yang Mahkuasa untuk dapat mampu menapaki hidup. Psycholinguistics: An Introduction to the Psychology of Langage. ayam kampus. dan Hakes. pedagang ayam. butir-butir beras kuning dan aneka kembang. kaum kerabat dan lain-lain. Dengan mengambil simbolisasi ayam: kurugan ayam. padi dan kapas adalah dunia petani dan kesejahteraan.Ahmad Ismail-Outhman coscept2.Tedhak siti . 1978 : 48-9. udhik-udhik. Berbagi adalah suatu cara orang beriman mendapatkan pengakuan dan penghargaan atas ketaatan yang diamalkannya sehingga Tuhan dengan rahmat dan KehendakNya Foss. memiliki feature yang khas.

Anak dimandikan oleh ibunya dengan air kembang ini dan diikuti dengan memakaikannya baju baru yang terbaik yang dimiliki. Secara umum. Mata acara terakhir ini diikuti oleh hampir semua orang yang ada di sekitar arena. Rangkaian upacara tedhak siti. Para pelaku dan peserta lain yang ada di sekitar arena mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dari tumpeng nasi yang menggunung beserta lauk-pauknya. Pascawacana Demikianlah. Namun pada beberapa kondisi. acara makan bersama ini mengalami modifikasi: tiap orang mengambil satu wadah. Orang Jawa menyebut ini bancakan. yakni impuls. tempat dimana tumpeng disajikan. melindungi dan menambah limpahan anugerah rejeki. namun anak pengantin upacara itu mengambil tempat di samping arena menuju gentong berisi air dan kembang setaman. Pada masa lalu. masih ada perlengkapan upacara yang menunggu gilirannya. semua orang menjulurkan tangan kanannya dan membuat batas imajiner dari lingkaran tampah. dan mengambil sejumput nasi serta lauk kelengkapannya. g. Ketakutan . persepsi. dalam memandang tindakan budaya masyarakat Jawa dalam kaitan dengan upacara tradisi tedhak siti.Tedhak siti .Ahmad Ismail-Outhman berkenan memelihara. Tumpeng nasi Selepas menyelesaikan rangkaian upacara terakhir. Dan akhirnya. dengan kerangka ini menjadi sesuatu yang jelas menampilkan empat unsur tindakan manusia: ada impuls. Ancaman ini ada karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dihadapi. betapa misteriusnya kehidupan. bancakan memang dilakukan benarbenar bersama-sama. daun jati. apa yang harus kita perbuat. manipulasi dan kansumasi (Mead. Pilihan konsumasi ini pastilah senantiasa bersifat selaras dengan posisi dan peran sosial yang dimainkannya. lalu upaya memilah-memilih situasi dan kondisi yang hidup di sekitarnyam sehingga ia kemudian bisa bertanya pada diri sendiri. Dan oleh karena mistirius itulah orang meraba-raba dan akhirnya sampai pada suatu kondisi dimana ia menyadari adanya ancaman yang menghadang. atau (sekarang) piring. upaya menangkap fenomena luar diri. makan bersama. oleh karena manusia memiliki kemampuan hidup dan kemampuan mengatasi persoalan hidupnya. yaitu tumpeng nasi. ia akan mencari makna dan berusaha memahami dunia dengan cara dan dari sudut pandang yang mereka pilih. bisa daun pisang. penulis membayangkan teori empat unsur Herbert Mead. 1988: 54-7). Makan abersama namun dari wadah masing-masing.

dan menyadari bahwa perjuangan dan kebulatan tekad adalah modal besar yang harus dimiliki tiap individu.Tedhak siti . tujuan hidup ialah meraih keutamaan (virtue) dan itu berujung kebahagiaan.Ahmad Ismail-Outhman muncul secara pasti dan merespon realitas seperti ini pilihannya ialah mencari pertolongan kepada pihak yang diyakini lebih kuat dari ancaman. bahwa manusia adalah tidak sempurna dan masih berlumur kelemahan untuk menaklukkan hidupnya sendiri. hidup yang penuh misteri memaksa orang menyiapkan segala bekal yang dibutuhkan. . memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan terbaik. lebih kuasa dari misteri itu sendiri. atau ia akan kalah. sebagai mahluk sosial. Keyakinan yang telah tertanam dan menjadi kebenaran bersama dari upacara tedhak siti ialah pertama. Bersyukur adalah satu-satunya kawajiban konsekuensial bilamana orang merasa bahwa ia telah mendapatkan apa yang dimintanya dari Yang Mahakuasa. Ketiga. Kedua.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful