Tedhak siti - Ahmad Ismail-Outhman

Tedhak Siti
*Ahmad Ismail-Outhman PPs Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang

Prawacana
Banyak acara yang diselenggarakan orang Jawa yang melibatkan ritual makan-bersama. Makan- bersama, baik yang semula dengan satu wadah, maupun yang belakangan dengan wadah masing-masing; baik di ruang yang sama, di tempat acara diselenggarakan, maupun terpisah karena menjadi oleholeh berkat yang dibawa pulang, adalah kebiasaan laku-lampah masyarakat tradisional. Pada mayarakat Jawa tradisi itu sedemikian beragam sedemikian berjumlah, sama ragamnya dengan ragam peristiwa hidup umat manusia. Itulah slametan, yang sering pula disebut kenduri. Sungguhpun demikian, tampaknya tradisi slametan tidak saja ditemukan di Jawa namun juga di tengah masyarakat di semenanjung Malaysia (Wildre, 1982: 122; Scott, 1984: 187-204). Dua model praktek makan-bersama, seperti disebut baru saja, kemudian memunculkan dua model kenduri: slametan dan bancakan. Perbedaan antara keduanya terletak pada praktek makan-bersama: bancakan berarti rebutan, artinya makan bersama-sama dari satu wadah yang sama, biasanya berupa tampah berlapis daun pisang dan dilakukan tanpa menggunakan sendok. Tiap tampah disuguhkan bagi 5-8 orang. Adapun pada slametan, hidangan tidak dimaksudkan dimakan bersama-sama di ruang upacara, melainkan telah ditata sedemian rupa sehingga tiap peserta mendapatkan satu paket hidangan yang disebut berkat. Paket ini boleh dibawa pulang oleh tiap peserta.

Tedhak siti dalam kerangka tradisi slametan di Masyarakat Jawa Orang Jawa barangkali dapat dikatagorikan sebagai masyarakat yang cukup kuat untuk tidak meninggalkan adat-istiadat yang telah dibangun. alam. ngarani. rumah tinggal. merayakan ungkapan syukur individu.Ahmad Ismail-Outhman Oleh masyarakat Jawa slametan diselenggarakan untuk beberapa maksud. anak naik kelas. Dua ragam motif ini merupakan respon masyarakat terhadap realitas hidup dan upaya memenuhi kebutuhan realistik. dan yang berkaitan dengan langkah setapak demi setapak individu menjalani kehidupannya. temanten). 1 . akekah dan Rangkaian lainnya ialah yang berkaitan dengan lingkungan. antara lain merayakan hari-hari besar kalender Islam. hamil: ngupati. bahkan pembelian sapi. yang berkaitan dengan properti. Tulisan ini membahas tradisi slametan yang disebut tedhak siti. Pembahasan diarahkan pada beberapa aspek: bagaimana tradisi ini dilaksanakan. yang masih belum secara jelas diketahui (misteri) dan yang sudah jelas diduga kemungkinannya. Sebagai sebentuk praktek tradisi. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa beragam jenisnya. mudun lemah (tedhak siti). mobil. dan lain-lain. mitoni (tingkeban). Secara kronologis. seperti kebutuhan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa dan pembebasan diri dari rasa takut atas suatu peristiwa atau kejadian. apa makna di balik perlambang dan harapan dari penyelenggaraan tradisi ini. secara garis besar slametan diselenggarakan dengan dua motif: syukuran dan harapan-permohonan. bepergian jauh. dibentuk dan dikembangkan oleh generasi sebelumnya. melahirkan: puputan. tedhak siti merupakan satu mata rantai dari rangkaian upacara budaya Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehidupan individual.Tedhak siti . siapa saja yang terlibat. Salah satu dari tradisi itu ialah slametan. keluarga atau kelompok masyarakat atas suatu. dalam kupasan ini merupakan salah satu tradisi yang bermotif terakhir ini. nglolosi. hak milik dan kepemilikan. mengingat dan memperingati hari penting dalam riwayat hidup individu. suatu upacara bagi anak balita berusia setahun kurang lebih menjelang fase berjalan. Tedhak siti.1 Sementara siklus upacara ini bersisambung dimulai dari upacara perkawinan (penganten.

piring tanah. dan jika anak terlahir itu laki-laki. dedaunan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengupas tiap upacara tradisional tersebut. padi. biasanya ibu. uang logam. tedhak siti berarti turun tanah. serta para tetangga semuanya terlibat dalam upacara ini dengan peran dan fungsi masing-masing. paket bunga. Tumpengan terdiri dari nasi yang ditumpeng. air. Jajan pasar terdiri dari aneka panganan jajanan sehari-hari masyarakat setempat yang biasanya dapat diperoleh semuanya di pasar. kurungan. Sesajen terdiri dari tumpeng nasi. dan uang logam diletakkan di dalam kurungan. Gentong di sudut tak . sementara properti lain yaitu buku tulis. Jadah kemudian disajikan dalam piring tanah. properti Tangga dalam upacara ini terbuat dari batang tebu jenis arjuna. tedhak siti juga melibatkan langkah prosesi. Adapun jadah ialah makanan (jajanan) yang terbuat dari ketan yang ditanak biasa seperti nasi yang ditumbuk dengan campuran parutan kelapa hingga menyerupai adonan yang amat liat. kapas. kembang dan udhik-udhik. bayi yang diupacarai. Hiasan tangga bisa berupa bunga. perlambangan dan tentu saja partisipan yang secara keseluruhan merupakan satu paket terpadu. 1. Bagi keluarga tertentu ragam properti ini bisa bertambah kian banyak. Upacara ini diselenggarakan untuk menyambut perkembangan anak ke fase berjalan.Ahmad Ismail-Outhman sebagainya. mainan. jajan pasar dan jadah. sesajen.Tedhak siti . yakni dibentuk serupa kerucut. Benda-benda budaya yang disebut uba rampe dalam upacara ini terdiri dari: tangga. padi. nenek-kakek dan segenap keluarga dekat. buku tulis. Di luar itu. Sebagai upacara tradisional. Demikianlah seterusnya siklus tradisi upacara ini berlangsung di tengah masyarakat Jawa. ada semangkuk uang logam yang dibaurkan dengan bulir beras berwarna kuning dan aneka kembang. akar-akaran dan sebagainya. kapas. tumpeng nasi. Biasanya diselenggarakan ketika anak melewati usia delapan bulan. Orang tua. beras. dan dikelilingi urab-uraban. terdiri dari tujuh anak tangga dan seluruh batang dan anak tangganya dibungkus dengan hiasan. gentong. tujuh irisan dalam setiap piring dan berupa tujuh warna berbeda. dalam istilah Jawa disebut pitung lapan. beras. Kurungan biasanya yang digunakan ialah kurungan ayam dihias sama seperti tangga. maka berikutnya ialah sunatan. melainkan menjadikannya sebagai semacam peta perayaan upacara tradisional di Jawa yang berkaitan dengan diri dan kehiodupan pribadional. mainan. Tedhak siti dalam potret budaya Secara harfiyan.

seperti hiasan. anak melakukan lampahan. dan lain-lain itu diangkat untuk memasukkan anak ke dalamnya. Prosesi dimulai dengan lampahan.Tedhak siti . /weton (:keluar. Dituntun. digelar di halaman rumah.Ahmad Ismail-Outhman jauh dari sana dipenuhi air bertabur kembang setaman. Jum at-kliwon. Terus demikian sampai ke ujung tangga. Sesamapai di depan tangga. Kembang setaman juga menaburi air yang memenuhi gentong yang diletakkan di luar garis bujur tangga-kurungan namun tidak jauh dari situ. Penataan letak piring tanah berisi jadah ini sedemikian rupa sehingga menuju ke tangga. Prosesi Menjelang anak melewati usia delapan sampai sembilan bulan. wage. ibu berdoa di dalam batin. . Piring-piring tanah ini berisi jadah tujuh warna. Tangga ditegakkan. atau lebih tepatnya diangkat oleh ibunya. anak sedapat mungkin menginjakkan kakinya ke atas jadah. Sementara di tengah-tengah antara keduanya digelar piring-piring tanah berjajar. pon. namun pada keluarga tertentu. Banyak di antara mereka anak-anak. Lampahan diteruskan. maka dalam konsep Jawa siklus itu terdiri dari lihari lima hari pasar: legi. jajan-pasar dan ditutup di sebelah kanan-kiri dengan kembang setaman. senin. jum at dan sabtu. keluaran) berarti hari ketika anak terlahir. ibu atau nenek menebarkan udhik-udhik ke para hadirin yang ada di sekitar upacara. Upacara itu sendiri diselenggarakan di ruang tengah rumah. Upacara pun berakhir segera seiring dengan dibacakannya doa. upacara tedhak siti dilaksanakan dengan memilih momentum hari pasaran weton bayi. berhenti sejenak. Ini konsep Jawa mengenai siklus semesta yang diobjektifikasi kedalam sikilus hari. padi. berjalan melewati piring-piring tanah. ibu berdoa di dalam batin atau dilafalkan. Setapak demi setapak. buku tulis. kamis. weton yang berasal dari kata wetuan. Mengakhiri rangkaian upacara. atau dilafalkan. Jika pada kalender celestial siklus minggu terdiri dari tujuh hari: minggu. Jadi. adalah merupakan gabungan ketepatan antara hari mingguan dan hari pasaran. Kurungan yang telah diperlengkapi dengan berbagai benda kelengkapan hidup sehari-hari. rabu. pahing. selasa. Tak ketinggalan udhik-udhik: sewadah uang logam yang berbaur dengan kembang dan beras kuning 2. Pertautan antara dua kalender penting inilah yang disebut pasaran. Di dalam kurungan anak dibiarkan beberapa saat sampai ia mempertunjukkan gerakan-gerakan yang dapat dipandang sebagai upayanya memilih salah satu dari berbagai pilihan yang disediakan di dalam kurungan. Setiap kali anak tangga ditapaki. kliwon. Anak menapaki tahapan-tahapan anak tangga dengan pelan-pelan. maka muncullah Rabu-wage. Kamis-legi dan seterusnya. posisinya ujung-berujung dengan kurungan. kapas. Demikian pula dari ujung tangga turun dan melewati jadah sampai ke kurungan.

Kebudayaan ialah manakala menyapa orang lewat dilakukan dengan cara yang kurang-lebih sama antara satu individu dan yang lain. dan karena sifatnya yang sangat biasa itulah biasanya lolos dari pengamatan. dan sebagainya. antara satu masyarakat di daerah tertentu dan yang lainnya. memanjat pohon. dan sebagainya. serta telah membatin (internalized) dan menjadi nilai yang dianut bersama-sama. namun secara garis besar perbedaan-perbedaan itu masih berkisar di ranah uba-rampe dan tidak mengakibatkan berbeda perlambangan atau simbolisasi yang signifilkan dan pada gilirannya berbeda pula pesan dan idenya. demikian pula orang tua senantiasa . Kesulitan hidup Hidup yang penuh misteri adalah hidup yang mencemaskan dan menakutkan. tapi bagaimana orang situ naik tangga. Dengan demikian. bahwa tradisi tedhak siti terdiri dari dari rangkaian simbol-simbol budaya yang sama. 1. Kebudayaankah itu atau bukan ditentukan oleh bagaimana mereka melakukan semua itu. yang dilandasi oleh motif. Peristiwa kebudayaan dengan demikian ialah apabila orang naik tangga dengan tata dan cara tertentu yang ajeg dari masa ke masa. Itulah kebudayaan. Bukan orang naik tangga. kejadian. memilih baju. Nilai-nilai ini menjadi jiwa bagi masyarakat dan dengan itu mereka membentuk apa yang disebut oleh Koentjaraningrat suatu sistem budaya. Kini mari kita tinjau apa yang terjadi pada tradisi tedhak siti yang berlaku di tengah masyarakat Jawa pada umumnya. dari individu ke individu. yaitu: a. memungut pensil. Pemakaan realitas simbolik tedhak siti Jika diamati dengan seksama. menimang perhiasan. Tak seorangpun menginginkan hidup dijalani dalam kondisi sulit seperti itu. Semua itu merupakan peristiwa atau kejadian yang biasa. menimang perhiasan.Ahmad Ismail-Outhman Tedhak siti sebagai fenomena kebudayaan Selalu ada dan dan selalu banyak peristiwa. sehingga dapat dilihat: bagaimana orang situ menyapa orang. Penulis menekankan ungkapan pada umumnya karena memang ada terdapat perbedaan di sana-sini dalam beberapa detail prosesi acara. beberapa hal tampak jelas dari prosesi upacara tedhak siti. katakanlah. memilih baju. atau gejala yang dapat kita temukan sehari-hari: orang naik tangga. memungut pensil. Apakah semua itu kebudayaan? Kebudayaan bukanlah orang naik tangga.Tedhak siti . memanjat pohon. maksud dan pengetahuan yang diyakini bersama.

jumlah anak tangga yang harus ditapaki anak. satu-satunya pilihan ialah menghadapinya. Dalam upacara tedhak siti kresulitan hidup tercermin dari simbolisasi jadah. ragam kembang penghias tangga. Setiap orang harus punya cita-cita dan tak ada cita-cita yang diraih tanpa usaha keras.Tedhak siti . Adapun simbolisasi tujuh ini berakar dari maksud masyarakat Jawa yang menyebut bilangan tujuh dengan pitu. Menghindar dan lari dari realitas hidup. jumlah irisan jadah pada tiap piring tanah. menyadari bahwa hidup realistis berarti hidup yang tak akan terhindar dari masalah. jikapun bisa. Karakter adonannya yang lengket membuatnya mudah menempel di telapak kai ketika terinjak kaki kecil anak. Dan oleh karena manusia tak sempurna daya kekuatannya. Tangga batang tebu Properti yang tak kalah mencolok dalam gelaran upacara tedhak siti ialah tangga. hal ini diekspresikan dengan simbolisasi konsep tujuh. Jadah tidak disajikan dalam warna seragam. bukanlah jalan yang bijaksana. Mendaki dan turun adalah perjalanan kehidupan: adakalanya orang mendapatkan kemudahan adakalanya ia menghadapi kesulitan. Ini menyiratkan perlambangan bahwa persoalan hidup itu beraneka ragam Ungkapan ketakberdayaan dan harapan memperoleh perlindungan diekspresikan secara simbolik dengan konsep tujuh.Ahmad Ismail-Outhman mencemaskan kesulitan yang akan dihadapi anak dalam hidupnya kelak. Upacara ini diselenggarakan dengan maksud menyampaikan permohonan untuk memperoleh pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa agar dalam menjalani kehidupan tidak menghadapi kesulitan. Pitu direpresentasikan sebagai simbol dari pitulungan (:pertolongan). Properti ini melambangkan cita-cita. Konsep tujuh juga muncul dalam warna jadah. b. Tangga itu sendiri dibuat dari batang tebu arjuna. Arjuna adalah nama jenis tebu . dan ragam jajanpasar yang dipilih. menyimpulkan suatu pemahaman yang telah membatin sebagai suatu bentuk ekspresi ketakberdayaan manusia menghadapi realitas kehidupan yang misterius dan kebutuhan mendasar manusia terhadap rasa aman dari segala ancaman yang mungkin akan ditemui di dalam kehidupan. namun dalam tujuh warna. Kondisi ini disimbolkan sebagai penanaman jiwa dan watak anak supaya dalam menapaki jalan hidupnya kelak ia senantiasa waspada dan sigap. maka dari itu. maka mereka pasti akan mencari dukungan kekuatan yang lebih hebat. Konsep tujuh Mencoloknya konsep tujuh di setiap langkah: jumlah piring tanah wadah jadah. Disinilah upacara ini mendapatkan momentumnya untuk diselenggarakan sebagai medium ekspresi meraih apa yang dibutuhkan. c.

Tedhak siti . Adapun jenis tebu yang dipilih ialah tebu jenis arjuna. Presis sebagaimana yang dilihat oleh Foss. Dalam dunia mitos Jawa. Makna ini ditangkap dari simbol tebu tang dalam ungkapan Jawa diarahkan pada ungkapan akronim dari antebing kalbu (mantapnya hati). d. kelompok para ksatria pembela kebenaran. e. Penting ditekankan terlebih dahulu disini. orang Jawa memiliki pemahaman konseptual yang lekat terhadap sosok binatang yang satu ini.Ahmad Ismail-Outhman yang dikenal di masyarakat Jawa. Hidup juga harus dijalani dengan batasanbatasan justru karena kita adalah manusia. nama arjuna merupakan nama yang tak asing. ia merepresentasikan seorang tokoh dari dunia perwayangan yang sakti mandraguna namun tetap memiliki kelembutan hati di balik kekerasan jiwa dan tekad yang pantang mundur membela kebenaran. Inilah makna di balik tebu sebagai tangga. Arjuna adalah karakter putih dari keluarga besar Astinapura. Namun setelah berbagi cerita berbagi tanya dari satu informan ke yang lain. Kurungan ayam Semula agak sulit menggali makna di balik simbol kurungan ayam. Kurungan merupakan simbol dari dunia panggung kehidupan. Tangga yang terbuat dari batang tebu menyimpan makna keteguhan hati. Ayam sendiri dipilih karena asosiasinya yang amat kental di kalangan masyarakat Jawa. Sebuah pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang tua bagi anaknya. yaitu sebuah ungkapan pengharapan yang sangat atas limpahan kemakmuran yang semoga diterima anak kelak. dan pendakian terjal seperti itu tak akan dapat tercapai tanpa keteguhan hati yang penuh dan tekad yang bulat. Kemuliaan mahluk manusia daripada yang lain ialah karena mereka memiliki kompetensi menentukan batasan-batasan bagi mereka sendiri yang disepakati dan diberlakukan sebagai pedoman. didapatlah pula. Manusia hidup di dunia bukannya dunia yang tanpa batas. Menapaki anak tangga sampai ke ujung tinggi mengekspresikan sebuah pendakian cita-cita yang tinggi. akan tetapi dunia tiap orang adalah dunia yang berbatas. beraneka ragam. bahwa thing is a . Jikapun di luar sana dunia begitu luas. Aneka jajan-pasar Ada simbol pula yang terepresentasi dalam aneka jajan-pasar. Permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kiranya anak mendapatkan limpahan rejeki yang banyak. semuanya serba ada dan serba berkecukupan.

mengatasi segala persoalannya dan berlimpah rejeki. padi dan kapas adalah dunia petani dan kesejahteraan. profesi dan cita-cita anak kelak. 2 . ketangguhan kebandelan. dan cepat adaptasi.Tedhak siti . iii Prentice Hall Inc. kaum kerabat dan lain-lain. David T. ayam goreng. kurungan ayam. dimana upacara tedhak siti digelar. yang banyak gunanya. Apa yang melatarbelakangi simbol ini ialah satu ide bahwa apalah gunanya orang memohon pertolongan kepada Yang Mahkuasa untuk dapat mampu menapaki hidup. f. kemandirian. pedagang ayam.. Psycholinguistics: An Introduction to the Psychology of Langage. Dengan mengambil simbolisasi ayam: kurugan ayam. ayam broiler.. butir-butir beras kuning dan aneka kembang. 1978 : 48-9. ayam kampus. ayam pedaging. bahwa jadilah seperti ayam. memiliki feature yang khas. Itulah mengapa barangkali ayam dipilih pula menjadi salah satu realitas simbolik bagi ritual tedhak siti. Berbagi adalah suatu cara orang beriman mendapatkan pengakuan dan penghargaan atas ketaatan yang diamalkannya sehingga Tuhan dengan rahmat dan KehendakNya Foss. jalan. Feature ini bisa berupa censory properties atau class member. kebinalan. Adapun properti lain yang terserak di dalam kurungan ayam yang akan dimasuki oleh anak menyimpan ungkapan simbolik bagi pilihan cara. jika tidak mau berbagi dengan sesama. maling ayam. sedikitnya menunjukkan referensi pada konsep tentang kebanalan. di sebarkan ke seantero halaman rumah. demikian seterusnya simbol di balik perhiasan. mainan dan sebagainya. beras. ayam ternak. Setiap kata.Ahmad Ismail-Outhman coscept2. cepat belajar dan cepat mandiri. di lingkungan masyarakat Jawa. Demikian kaya asosiasi yang dapat ditampilkan oleh konsep ayam ini. Begitu banyaknya kata /ayam/ digunakan untuk menun jukkan sebuah konsep: ternak ayam. Ini satu bentuk simbol menebarkan harta benda kepada orang sekitar terdekat. dan Hakes. Udhik-udhik Digunakan menjelang akhir prosesi. ada ide yang menampak secara tegas. kebergunaan dan sebagainya. Donal J. udhik-udhik. kata ayam hampir selalu merupakan sebuah konsep alih-alih sebuah reference atau sebuah citra. yang berupa campuran uang logam. Dan ayam. Buku tulis melambangkan intelektualitas dan profesi yang berkaitan dengan itu. demikian menurut Foss. dan tentu saja. yang tangguh dan bandel menghadapi hidup dan persainmgan hidup.

bisa daun pisang. Orang Jawa menyebut ini bancakan.Ahmad Ismail-Outhman berkenan memelihara. bancakan memang dilakukan benarbenar bersama-sama. yakni impuls. Anak dimandikan oleh ibunya dengan air kembang ini dan diikuti dengan memakaikannya baju baru yang terbaik yang dimiliki. atau (sekarang) piring. tempat dimana tumpeng disajikan. apa yang harus kita perbuat. yaitu tumpeng nasi. masih ada perlengkapan upacara yang menunggu gilirannya. melindungi dan menambah limpahan anugerah rejeki. 1988: 54-7). Rangkaian upacara tedhak siti. Mata acara terakhir ini diikuti oleh hampir semua orang yang ada di sekitar arena. Namun pada beberapa kondisi. persepsi. dengan kerangka ini menjadi sesuatu yang jelas menampilkan empat unsur tindakan manusia: ada impuls.Tedhak siti . makan bersama. namun anak pengantin upacara itu mengambil tempat di samping arena menuju gentong berisi air dan kembang setaman. betapa misteriusnya kehidupan. semua orang menjulurkan tangan kanannya dan membuat batas imajiner dari lingkaran tampah. daun jati. Dan akhirnya. Tumpeng nasi Selepas menyelesaikan rangkaian upacara terakhir. acara makan bersama ini mengalami modifikasi: tiap orang mengambil satu wadah. Secara umum. g. manipulasi dan kansumasi (Mead. Makan abersama namun dari wadah masing-masing. ia akan mencari makna dan berusaha memahami dunia dengan cara dan dari sudut pandang yang mereka pilih. oleh karena manusia memiliki kemampuan hidup dan kemampuan mengatasi persoalan hidupnya. upaya menangkap fenomena luar diri. penulis membayangkan teori empat unsur Herbert Mead. dalam memandang tindakan budaya masyarakat Jawa dalam kaitan dengan upacara tradisi tedhak siti. Para pelaku dan peserta lain yang ada di sekitar arena mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dari tumpeng nasi yang menggunung beserta lauk-pauknya. Pascawacana Demikianlah. Pada masa lalu. Pilihan konsumasi ini pastilah senantiasa bersifat selaras dengan posisi dan peran sosial yang dimainkannya. dan mengambil sejumput nasi serta lauk kelengkapannya. Ketakutan . Dan oleh karena mistirius itulah orang meraba-raba dan akhirnya sampai pada suatu kondisi dimana ia menyadari adanya ancaman yang menghadang. lalu upaya memilah-memilih situasi dan kondisi yang hidup di sekitarnyam sehingga ia kemudian bisa bertanya pada diri sendiri. Ancaman ini ada karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dihadapi.

.Ahmad Ismail-Outhman muncul secara pasti dan merespon realitas seperti ini pilihannya ialah mencari pertolongan kepada pihak yang diyakini lebih kuat dari ancaman. memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan terbaik. Kedua. sebagai mahluk sosial. Ketiga. Keyakinan yang telah tertanam dan menjadi kebenaran bersama dari upacara tedhak siti ialah pertama. Bersyukur adalah satu-satunya kawajiban konsekuensial bilamana orang merasa bahwa ia telah mendapatkan apa yang dimintanya dari Yang Mahakuasa. dan menyadari bahwa perjuangan dan kebulatan tekad adalah modal besar yang harus dimiliki tiap individu. tujuan hidup ialah meraih keutamaan (virtue) dan itu berujung kebahagiaan. atau ia akan kalah. lebih kuasa dari misteri itu sendiri.Tedhak siti . hidup yang penuh misteri memaksa orang menyiapkan segala bekal yang dibutuhkan. bahwa manusia adalah tidak sempurna dan masih berlumur kelemahan untuk menaklukkan hidupnya sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful