P. 1
ALIRAN BEHAVIORISME

ALIRAN BEHAVIORISME

|Views: 573|Likes:
Published by kurniawan130590

More info:

Published by: kurniawan130590 on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Latar Belakang Dalam dunia pendidikan teori dan praktik pendidikan dipengaruhi oleh aliran filsafat pendidikan. Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dapat diaplikasikan dalam system pembelajaran adalah teori behavioristik, teori kognitif, dan teori konstruktivisme. Dua aliran filsafat pendidikan yang memengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan kognitifkonstruktivistik. Aliran behavioristik menekankan terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif-konstruktivistik lebih menekankan pembentukan perilaku internal yang sangat memengaruhi perilaku yang tampak itu. Teori behavioristik dengan model hubungan Stimulus-Response (S-R) mendudukkan pembelajar pada posisi pasif. Respon (perilaku) tertentu dapat dibentuk karena dikondisikan dengan cara tertentu, menggunakan metode drill (pembiasaan) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement (dorongan), dan akan menghilang bila dikenakan hukuman. Hubungan S-R, individu pasif, perilaku yang tampak, pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman merupakan unsur-unsur terpenting dalam teori behavioristik. Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Selain itu pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pembelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

1

bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak. oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pembelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik 1. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Pengertian Teori Belajar Behavioristik Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar. 2. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK A. Teori ini mengutamakan pengukuran. harus dihindari. sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. B. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. 2 .

perasaan. Edward Lee Thorndike (1874 . perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga.3. Misalnya. C. Teori Thorndike ini sering disebut teori koneksionisme. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. adalah satusatunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar. maka ia akan cenderung mengerjakannya. gerakan atau tindakan. Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode. meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. 4. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. juga dapat berupa pikiran.1949) Menurut Thorndike. 5. belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan. 6. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. observable behavior. pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah ³trial and error learning atau selecting and connecting 3 . Penganjur utama adalah Watson: overt. Apabila hal ini dilaksanakan. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi. Dalam perkembangannya. Tokoh-Tokoh Aliran Behavioristik 1. Selain itu. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran.

Sebaliknya. Dalam hal ini. kalau ada latihan yang sifatnya lebih memperkuat hubungan itu. 2) The Law of Disuse : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. bila anak mengerjakan PR.learning´ dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. jika sebaliknya. hukum latihan mengandung dua hal: 1) The Law of Use : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat. The Law of Readiness (Hukum Kesiapan) Hukum kesiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Menurut Thorndike terdapat tiga hukum belajar yang utama yaitu : a. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. The Law of Exercise (Hukum Latihan) Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laku diulang/dilatih (digunakan). karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya b. tergantung pada ³buah´ hasil perbuatan yang pernah dilakukan. The Law of Effect (Hukum Akibat) Hukum akibat yaitu hubungan stimulus respon yang cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. c. ia mendapatkan muka manis gurunya. 4 . maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. ia akan dihukum. Namun. Misalnya.

173). Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Menurut Watson. Dalam kerangka mind-body. Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik. yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus. learned dan unlearned b. c. 1991 p. Respon ada yang overt dan covert. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal ini pada Lundin. meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. pandangan Watson sederhana saja. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). juga termasuk pengeluaran kelenjar. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah.1958) Watson adalah seorang behavioris murni. namun stimulus dan respon tersebut harus dapat diamati dan diukur. Penolakan dari consciousness. mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi.2. Yang dimaksud dgn stimulus adalah semua obyek di lingkungan. kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata. Baginya. Jadi perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini. 5 . tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. bukan berdasarkan free will. mind mungkin saja ada. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. John Watson (1878 . tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Jadi bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal. termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Pandangan utama Watson: a.

Proses thinking and speech terkait erat. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. recency dan frequency. juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Sebaliknya. merangkak. Jadi 6 . Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. i. sejauh mana sesuatu dijadikan habits. dan lain-lain. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. f. e. dan verbal reports. testing.Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras. masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya. Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah. g. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang µtidak terlihat¶. Dengan kata lain. Dalam hal ini metode psikologi adalah observation. dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif. hanya milik anakanak yang tergantikan oleh habits. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). d. conditioning. mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned. Secara bertahap Watson menolak konsep insting. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. h. namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer. maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Thinking adalah subvocal talking. konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson.

Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia. semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup.psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Karena pandangan ini Hull dikritik karena bukan behaviorisme sejati. b. Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred). Dalam mempelajari hubungan S-R yang perlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma)). Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran. Prinsip-prinsip utama teorinya : a. walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor. Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output. Menurut Clark Hull.1952) Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. c. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Clark L. 3. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Di sini tampak pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organism. sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis. Hull (1884 . 7 .

tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. 5. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu. yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental 8 .4. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana. Burrhus Frederic Skinner (1904 . Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensikonsekuensi. namun lebih komprehensif. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara. Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. sehingga dalam kegiatan belajar peserta didik perlu diberi stimulus dengan sering agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap.1990) Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya.

media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Artinya. pembelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. tidak berubah. Demikian halnya dalam pembelajaran. apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah karena perlu penjelasan lagi. Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah. pasti. bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. sifat materi pelajaran. sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. Pembelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. tetap. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pembelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pembelajar. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pembelajar. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin 9 . Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pembelajar untuk berkreasi. D. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. Oleh karena itu. karakteristik pembelajar.

Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. atau tes. ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pembelajar. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. ketrampilan secara terpisah. maka pembelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Pembelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan. hal ini menunjukkan bahwa pembelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. kuis. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar. sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.atau robot. sedangkan belajar sebagi aktivitas ³mimetic´. sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Maksudnya bila pembelajar menjawab secara ³benar´ sesuai dengan keinginan guru. dan biasanya dilakukan setelah 10 . yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan. Evaluasi menekankan pada respon pasif. dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Akibatnya pembelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. Demikian juga. Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur.

Teori behavioristik banyak dikritik karena teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. 11 . yaitu membawa pembelajar menuju atau mencapai target tertentu. Analisa Teori Behavioristik Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pembelajar untuk berfikir linier. ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda. proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. tidak kreatif dan tidak produktif. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar. konvergen. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine. Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Namun dari semua teori yang ada. juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. E. modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement). walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pembelajar. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pembelajar secara individual. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.selesai kegiatan pembelajaran. Pembelajaran berprogram.

2. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Namun bedanya adalah penguat positif menambah. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). seorang pembelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. yaitu: 1. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. maka inilah yang disebut penguatan negatif. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada. Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Misalnya. 3. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie. Menurut Edwin Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. 12 . Dengan kata lain. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pembelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pembelajar untuk memperbaiki kesalahannya. maka hukuman harus ditambahkan. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Jika pembelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pembelajar untuk berpikir dan berimajinasi.

Pembelajaran berprogram. walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. 13 .KESIMPULAN Teori behavioristik merupakan teori yang menggunakan hubungan stimulus-responnya dan menganggap orang yang belajar sebagai individu yang pasif. bersikap otoriter. teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Metode behavioristik ini sesuai untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan juga sesuai diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa. modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons. sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Teori ini mengutamakan pengukuran. komunikasi berlangsung satu arah. Programprogram pembelajaran seperti Teaching Machine. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pembelajar. sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Diantara tokoh-tokoh aliran behavioristik. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central. Teori behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks.

Kamis 24 November 2011.blogspot.com.philosohpia-gun. Sabtu 19 November 2011. www.30 WIB. Pukul 11. Gunawan. Pukul 10. Mike Prastiwi.Si. Teori Behavioristik. S..mikeprastiwi.25 WIB.com. 14 . www.DAFTAR PUSTAKA Filsafat Pendidikan.blogspot.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->