P. 1
PDRB Penggunaan BPS 2006-2010

PDRB Penggunaan BPS 2006-2010

|Views: 252|Likes:
PDRB
PDRB

More info:

Published by: Sawung Murdha Anggara on Jan 24, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

KATALOG BPS: 9208.

6110

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO MENURUT PENGGUNAAN KABUPATEN MELAWI 2006-2010

GROSS DOMESTIC REGIONAL BRUTO OF MELAWI REGENCY BY EXPENDITURE 2006-2010
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MELAWI

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN MELAWI MENURUT PENGGUNAAN 2006-2010

GROSS DOMESTIC REGIONAL PRODUCT OF MELAWI REGENCY BY EXPENDITURE 2006-2010

No. Publikasi / Publication Number Katalog BPS / BPS catalogue Ukuran Buku / Book Size Jumlah Halaman / Number of Pages

: 61100.0209 : 9208.6110 : 21cm x 28 cm : 43 halaman / pages

Naskah / Manuscript: Seksi Statistik Neraca dan Analisis Wilayah Section of Region Account and Analysis Statistic

Diterbitkan oleh / Published by: Badan Pusat Statistik Kabupaten Melawi BPS – Statistics of Melawi Regency

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya May be cited with reference to the source

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dimana berkat karunia-Nya, maka Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Melawi bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten Melawi dapat menyelesaikan ”Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Melawi Menurut Penggunaan 2005-2009”. Dengan terbitnya publikasi ini tentunya dapat menambah informasi ekonomi makro di Kabupaten Melawi, khususnya yang menyangkut perilaku ekonomi baik dari sektor rumah tangga, pemerintah, lembaga swasta nirlaba maupun dunia usaha dalam menggunakan pendapatannya. Dengan demikian, kita dapat mengevaluasi sekaligus membuat

perencanaan yang lebih baik dan tepat guna dimasa yang akan datang. Akhirnya kepada tim pengolah dan penyusun beserta semua pihak yang berperan aktif dalam membantu menyelesaikan publikasi ini, saya ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya dan saya harap pada kesempatan mendatang data yang ditampilkan semakin meningkat kualitasnya. Semoga publikasi ini bermanfaat bagi kita semua.

Nanga Pinoh, September 2011 BUPATI MELAWI

H. FIRMAN MUNTACO, SH, MH

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

iii

KATA PENGANTAR

Dalam hampir satu dekade ini telah tersedia data PDRB tahunan, baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Penggunaan di Kabupaten Melawi Tahun 2005-2010 merupakan lanjutan publikasi yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Karena keterbatasan tempat, publikasi ini hanya menyajikan angka total 2005 sampai dengan 2010 menurut jenis penggunaan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan tahun 2000. Publikasi ini memuat informasi mengenai Produk Domestik Regional Bruto dengan beberapa komponennya yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, konsumsi lembaga swasta nirlaba, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan perdagangan domestik yang dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Data-data yang disajikan berbentuk tabel dan grafik sebagai bahan analisisnya. Berbagai kendala masih dihadapi dalam penyusunan PDRB Kabupaten Melawi Menurut Penggunaan tahun 2005-2010 ini terutama menyangkut keterbatasan data dan informasi yang tersedia. Untuk itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi penyempurnaan penghitungan Produk Domestik Regional Bruto Menurut Penggunaan dimasa yang akan datang. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya publikasi ini kami ucapkan terima kasih. Nanga Pinoh, September 2011 BADAN PUSAT STATISTIK KEPALA KABUPATEN MELAWI,

LEILA AYU ZANARIA, SE NIP. 19660905 199303 2 001

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

iv

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ...................................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................................. DAFTAR GRAFIK ......................................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................... 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1.2 Maksud dan Tujuan ................................................................................ 1.3 Ruang Lingkup......................................................................................... BAB II. KONSEP DAN DEFINISI .................................................................................... 2.1 Permintaan Akhir dan Permintaan Antara ............................................. 2.2 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga .................................................. 2.3 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba ................................... 2.4 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah ....................................................... 2.5 Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ............................................. 2.6 Ekspor dan Impor.................................................................................... BAB III. PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI ....................................................... 3.1 Struktur Perekonomian .......................................................................... 3.2 Indikator Turunan PDRB Menurut Penggunaan .....................................

iii iv v vii viii ix 1 1 2 3 4 5 6 8 10 11 12 13 14 19

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

v

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 4.1 Kesimpulan ............................................................................................ 4.2 Saran ....................................................................................................... LAMPIRAN..................................................................................................................

24 24 25 26

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

vi

DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Melawi 2006-2010 ....................................... Grafik 2. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 2010 ........................................ Grafik 3. Perbandingan Konsumsi Makanan dan Non-Makanan Kabupaten Melawi....................................................................................................... Grafik 4. APC dan APS Kabupaten Melawi Tahn 2006-2010 .................................... 14 15

17 21

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Struktur Ekonomi Kabupaten Melawi Menurut Jenis Konsumsi Rumah Tangga .............................................................................................................. 16

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 1. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku................................................................... Tabel 2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 ......................................................... Tabel 3. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku................................ Tabel 4. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 ...................... Tabel 5. Indeks Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku .............................. Tabel 6. Indeks Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 .................... Tabel 7. Indeks Berantai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku......................................... Tabel 8. Indeks Berantai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000............................... Tabel 9. Indeks Harga Implisit Produk Domestik Regional Bruto ..............................

26 27 28 29 30 31 32 33 34

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

ix

[PENDAHULUAN] BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional Indonesia berdasarkan UUD 1945 diarahkan pada terwujudnya suatu masyarakat yang adil dan makmur baik materiil maupun spiritual. Secara umumnya, pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang

berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pembangunan merupakan suatu perbaikan kondisi perekonomian dan sosial dari kelompok masyarakat yang mengacu pada cara-cara pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan manusia. Sumber daya manusia merupakan faktor produksi potensial yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan proses produksi, sedangkan sumber daya alam merupakan faktor dasar kekayaan alam (endowment factor),yang mendorong timbulnya peristiwa dan pelaku ekonomi oleh berbagai pelaku ekonomi. Sementara dalam lingkup yang lebih spesifik lagi, pembagunan daerah adalah bagian dari pelaksanaan otonomi daerah dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan salah satunya kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi bertujuan untuk mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengarah pada peningkatan pendapatan masyarakat dan diikuti oleh pemerataan yang baik. Untuk itu diperlukan serangkaian usaha dan kebijakan yang

bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan cara memperluas lapangan kerja, mengarahkan pembagian pendapatan masyarakat yang semakin merata,

meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan perluasan kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi tersebut yaitu melalui angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yang didalamnya menggambarkan secara makro perilaku ekonomi di

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

1

[PENDAHULUAN] suatu wilayah selama kurun waktu tertentu. Dengan adanya data PDRB, pemerintah maupun pihak lain dapat mengetahui dan mengevaluasi serta mengambil kebijakan kedepan yang terkait dengan pembangunan ekonomi. Secara garis besar, pengukuran PDRB dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: PDRB dari sisi sektoral (supply side), sisi penggunaan (demand side),dan sisi pendapatan (income side). Pertemuan ketiga dimensi perilaku tersebut dikenal sebagai titik keseimbangan umum (general equilbrium) antara sisi penyediaan dan permintaan ditingkat makro / semi. Jika terjadi ketidakseimbangan, maka diartikan daerah tersebut mengalami surplus atau defisit. Dari ketiga pendekatan tersebut PDRB dari sisi sektoral lebih dikenal dibandingkan pendekatan penggunaan yang akan diuraikan lebih lanjut dalam publikasi ini. Pada intinya, PDRB sisi sektoral (penyediaan) menjelaskan mengenai besaran nilai tambah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Dengan demikian dapat diketahui struktur ekonomi (dilihat dari PDRB harga berlaku), pertumbuhan ekonomi (dilihat dari PDRB harga konstan), indeks implisit, dan PDRB pekapita. PDRB yang dihitung dari sisi permintaan atau penggunaan akhir, menurunkan agregat makroekonomi seperti struktur / komposisi permintaan atau penggunaan akhir masing-masing komponen, pertumbuhan “riil”, serta indeks harga implisit. Dimana komponennya meliputi: konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit pelayan rumah tangga (LNPRT), konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan stok, serta permintaan luar negeri (ekspor dan impor). Dengan demikian dapat dilihat perilaku masyarakat dalam mengunakan pendapatannya, untuk tujuan konsumsi akhir atau juga untuk investasi, disamping dapat diketahui ketergantungan ekonomi domestik terhadap wilayah lain dalam bentuk perdagangan barang dan jasa. 1.2 Maksud dan Tujuan Tujuan utama penyusunan publikasi ini adalah untuk mengetahui bagaimana ”pendapatan” di Kabupaten Melawi yang diciptakan melalui proses ekonomi dari berbagai macam sektor produksi yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi akhirnya.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

2

[PENDAHULUAN] Dengan tersedianya data PDRB menurut penggunaan secara baik, lengkap dan berkesinambungan dapat memberikan gambaran atau fenomena ekonomi tentang perilaku konsumsi masyarakat, pemerintah pada umumnya serta investasi (fisik) pada khususnya. Selain itu juga dapat diperoleh informasi tentang surplus atau defisitnya neraca perdagangan barang dan jasa dengan pihak luar melalui jumlah ekspor-impor. Lebih lanjut, melalui PDRB menurut penggunaan ini dapat diketahui beberapa indikator makro secara parsial, seperti tingkat kecenderungan konsumsi marjinal (marginal propensity to consume), ICOR (incremental capital output ratio), rasio pembentukan modal terhadap konsumsi, dan sebagainya. 1.3 Ruang Lingkup Dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan dan masalah penghitungan seperti: kesulitan dalam hal rincian data pada setiap sektor, keterbatasan cakupan sampel data karena seharusnya menggunakan survei yang sangat besar dan lain sebagainya, maka penyusunan PDRB menurut penggunaan untuk beberapa komponen masih mengunakan metode tidak langsung. Sedangkan cakupan wilayah adalah Kabupaten Melawi.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

3

[KONSEP DAN DEFINISI] BAB II KONSEP DAN DEFINISI Penghitungan PDRB dari sisi penggunaan lebih menjelaskan tentang bagaimana pendapatan yang diciptakan melalui proses ekonomi dari berbagai macam sektor produksi digunakan oleh berbagai institusi domestik (rumah tangga, lembaga non profit yang melayani RT, pemerintah serta sektor produksi di wilayah domestik) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi akhirnya baik barang maupun jasa. Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa pemakaian barang dan jasa tersebut, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: penggunaan untuk konsumsi antara (digunakan untuk kebutuhan didalam proses produksi), dan penggunaan untuk konsumsi akhir guna memenuhi konsumsi berbagai golongan dalam masyarakat. Penghitungan PDRB dari sisi penggunaan lebih menjelaskan tentang bagaimana pendapatan yang diciptakan melalui proses ekonomi dari berbagai macam sektor digunakan oleh berbagai institusi domestik (rumah tangga, lembaga nonprofit yang melayani RT, pemerintah serta sektor produksi di wilayah domestik) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi akhirnya baik barang maupun jasa. Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa pemakaian barang dan jasa tersebut, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: penggunaan untuk konsumsi antara (digunakan untuk kebutuhan didalam proses produksi), dan penggunaan untuk konsumsi akhir guna memenuhi konsumsi berbagai golongan dalam masyarakat. Penghitungan PDRB dari sisi penggunaan lebih menjelaskan tentang bagaimana pendapatan yang dihasilkan dari proses ekonomi dari berbagai macam sektor produksi digunakan oleh berbagai institusi domestik (rumah tangga, lembaga non profit yang melayani RT, pemerintah serta sektor produksi di wilayah domestik) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi akhirnya baik barang maupun jasa. Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa pemakaian barang dan jasa tersebut, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: penggunaan untuk konsumsi antara (digunakan

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

4

[KONSEP DAN DEFINISI] untuk kebutuhan didalam proses produksi), dan penggunaan untuk konsumsi akhir guna memenuhi kebutuhan konsumsi dalam berbagai golongan dalam masyarakat. 2.1 Permintaan Akhir dan Permintaan Antara Menurut konsep System of National Account dihasilkan oleh berbagai sektor ekonomi, dikelompokkan menjadi: 2.1.1 Permintaan antara/ Konsumsi antara; Adalah permintaan sektor produksi terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor ekonomi, yang digunakannya sebagai input antara dalam proses produksi. Contoh, kayu gelondongan dihasilkan oleh subsektor oleh sektor industri sebagai bahan baku industri kayu olahan. Contoh lain, Kelapa Sawit Tandan Buah Segar yang dihasilkan oleh subsektor Perkebunan digunakan oleh sektor industri sebagai bahan industri Minyak Sawit, serta masih banyak lain yang sejenis. 2.1.2 Permintaan Akhir / Konsumsi akhir; Adalah permintaan yang dilakukan oleh konsumen akhir terhadap barang dan jasa yang dihasilkan berbagai sektor ekonomi, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, lembaga swasta nirlaba dan konsumsi pemerintah serta komponen permintaan akhir lainnya. Komponen permintaan akhir yang dimaksudkan disini antara lain, mencakup: a. Pengeluaran konsumsi rumahtangga. b. Pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba c. Pengeluaran konsumsi pemerintah. d. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB). e. Perubahan stok dan, f. Ekspor neto. Dalam kenyataan sehari-hari, barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan akhir tersebut, tidak saja berasal dari produk domestik, melainkan sebagian
PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi 5

[KONSEP DAN DEFINISI] berasal dari produk regional lain atau impor. Dengan demikian, secara ringkas Produk Domestik Regional Bruto menurut penggunaan dapat diformulasikan sebagai berikut. Y+M=C+I+S+E ..................(1) dimana: Y =Produk Domestik Regional Bruto M = Impor C =Konsumsi Rumah Tangga, Lembaga Swasta Nirlaba dan Konsumsi Pemerintah. I =Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) E =Ekspor. S =Perubahan Stok. Karena yang dihitung hanya produk domestik atau pendapatan yang ditimbulkan di daerah sendiri, maka formulasi diatas dapat dimodifikasi menjadi: Y = C + I + S + (E - M) ..................(2) dimana: (E-M)=Eksporneto,yaituekspordikurangiimpor. 2.2 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan pengeluaran sekelompok orang yang tinggal bersama dalam suatu bangunan tempat tinggal atas barang atau jasa untuk tujuan konsumsi. Rumah tangga dalam hal ini berfungsi sebagai konsumen akhir (final consumer) dari kelompok makanan dan non-makanan. Dalam penghitungan pengeluaran konsumsi rumah tangga ada dua pendekatan, yaitu; 1. Pengeluaran rumah tangga di wilayah domestik suatu daerah.
PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi 6

[KONSEP DAN DEFINISI] 2. Pengeluaran rumah tangga penduduk suatu daerah. Pengeluaran konsumsi pada cara pertama meliputi seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh anggota rumah tangga, baik penduduk daerah itu sendiri maupun penduduk daerah lain. Penduduk daerah lain, seperti staf kedutaan asing, staf perwakilan daerah, dan turis asing. Sedangkan yang dimaksud pengeluaran konsumsi rumah tangga pada cara kedua adalah pengeluaran yang dilakukan penduduk daerah itu saja, tidak termasuk pengeluaran penduduk daerah lain. Dalam penghitungan pendapatan regional, konsep yang dipakai untuk menghitung pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah cara kedua. Sumber data yang dipergunakan untuk menghitung pengeluaran rumah tangga adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan BPS. Perkiraan besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga didasarkan pada data pokok SUSENAS, data jumlah penduduk pertengahan tahun, data Indeks Harga Konsumen. Modul konsumsi rumah tangga dalam SUSENAS dilakukan setiap tiga tahun sekali, dan pada publikasi ini digunakan hasil SUSENAS tahun 2005. Konsumsi rumah tangga menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional dikelompokkan menjadi: 1. Makanan, minuman dan tembakau, baik yang dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah. 2. Perumahan, bahan bakar, penerangan dan air. 3. Aneka barang dan jasa. 4. Pakaian, alas kaki dan tutup kepala. 5. Barang-barang tahan lama. 6. Pajak dan premi asuransi. 7. Pengeluaran pesta dan upacara. Ada beberapa pengeluaran yang tidak dikategorikan sebagai konsumsi, antara lain: 1. Pengiriman uang / menyumbang.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

7

[KONSEP DAN DEFINISI] 2. Pengeluaran untuk menabung. 3. Membeli surat-surat berharga / bendatak bergerak. 4. Premi asuransi (tidak termasuk asuransi jiwa). 5. Membayar atau meminjam uang. 6. Membangun atau membeli rumah. 7. Pengeluaran untuk usaha rumah tangga. Perlu kiranya dijelaskan bahwa periode rujukan data konsumsi rumah tangga dari hasil SUSENAS adalah selama seminggu yang lalu untuk kelompok makanan dan selama sebulan yang lalu untuk kelompok non makanan. Oleh karena itu, untuk memperkirakan konsumsi setahun digunakan pendekatan sebagai berikut:  Untuk kelompok makanan, nilai konsumsi perkapita selama satu bulan diperkirakan sama dengan 30 dibagi 7, kemudian dikali dengan nilai konsumsi selama seminggu. Sedangkan nilai konsumsi selama setahun sama dengan 12 dikali nilai konsumsi selama sebulan.  Untuk kelompok non makanan, nilai konsumsi perkapita selama satu tahun sama dengan 12 dikali nilai konsumsi selama satu bulan. 2.3 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Lembaga Swasta Nirlaba adalah lembaga atau badan swasta yang memberikan pelayanan atau jasa kepada masyarakat, seperti lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan (kecuali dokter praktek), badan keagamaan dan organisasi kesejahteraan yang tidak mengutamakan keuntungan. Sebagian besar kegiatan lembaga bersumber dari sumbangan atau donasi rumah tangga. Umumnya pekerja yang aktif dalam kegiatan lembaga merupakan tenaga kerja tidak dibayar. Lingkup lembaga swasta nirlaba ini dibagi menjadi 7 (tujuh) bentuk organisasi yaitu: 1. Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Organisasi ini dibentuk oleh anggota masyarakat secara sukarela atas dasar kesamaan fungsi, seperti: Muhammadiyah, ICMI, Nahdatul Ulama, KNPI, HMI, Pemuda Pancasila, Kosgoro dan lainnya.
PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi 8

[KONSEP DAN DEFINISI] 2. Organisasi Sosial (Orsos). Organisasi atau perkumpulan sosial yang dibentuk oleh anggota masyarakat baik berbadan hukum maupun tidak, sebagai sarana partispasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial, misalnya: panti asuhan, panti werdha, Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), panti tuna netra, dan sejenisnya. 3. Organisasi Profesi (Orpref). Organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat dari disiplin ilmu yang sama atau sejenis, sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sebagai wahana pengabdian masyarakat, seperti: Ikatan Akuntansi Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, dan sejenisnya. 4. Perkumpulan Sosial / Kebudayaan / Olahraga / Hobi. Organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat yang berminat mengembangkan kemampuan / apresiasi budaya, olahraga, hobi, kegiatan yang bersifat sosial, seperti: Padepokan Seni dan Budaya, Ikatan Penggemar Aggrek, Ikatan Motor Indonesia, dan lainnya. 5. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat sebagai wujud kesadaran dan partisipasinya dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya atas dasar kemandirian atau swadaya. Bebarapa diantaranya adalah: LP3ES, Yayasan Bina Swadaya, YLKI, PKBI, dan sejenisnya. 6. Lembaga Keagamaan. Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat dengan tujuan membina, mengembangkan, mensyiarkan agama, seperti: Majelis Ta’lim, Remaja Masjid, Lembaga Dakwah. 7. Organisasi Bantuan Kemanusiaan / Beasiswa. Organisasi yang dibentuk oleh masyarakat dengan tujuan memberikan bantuan kepada korban bencana alamat atau penerima beasiswa atas dasar kemanusiaan, cinta sesama, solidaritas, misalnya: GNOTA, Yayasan Supersemar, Yayasan Jantung Sehat, yayasan Kanker Indonesia, dan sejenisnya. Pengeluaran lembaga ini, antara lain meliputi: Pembelian dan penerimaan transfer dalam bentuk natura dari barang dan jasa, pembayaran upah gaji, penyusutan dan pajak tak langsung yang dibayar oleh lembaga yang bersangkutan.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

9

[KONSEP DAN DEFINISI] Sumber data untuk variabel ini diperoleh dari survei khusus, salah satunya adalah SKLNP (Survei Khusus Lembaga Non Profit). Sementara data pendukung lain yang dibutuhkan adalah IHK perkelompok pengeluaran untuk menghitung pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba atas dasar harga konstan. 2.4 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Yang dimaksudkan kegiatan pemerintahan disini adalah berupa kegiatan administrasi pemerintah dan pertahanan. Pengertian pemerintah mencakup pemerintah pusat dan daerah (Propinsi, Kabupaten/Kota dan desa). Pengeluaran konsumsi pemerintah adalah besarnya nilai jasa yang dihasilkan untuk keperluan konsumsi sendiri. Nilai jasa ini adalah sebesar nilai produksi bruto dikurangi dengan jumlah penjualan barang dan jasa yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah. Untuk memperoleh besarnya nilai barang dan jasa yang dikonsumsi sendiri secara langsung tidak mungkin, karena produksi dari sektor pemerintah ini tidak dijual. Oleh sebab itu, besarnya konsumsi pemerintah diperkirakan sama dengan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan produksi. Biaya-biaya yang dimaksud antara lain: a. Pengeluaran pemerintah untuk membayar upah dan gaji pegawai sebagai balas jasa yang telah diberikan, selanjutnya disebut belanja pegawai. Yang terdiri dari belanja pegawai Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah baik sipil maupun militer. b. Pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa yang habis dipakai dalam proses produksi yang selanjutnya disebut belanja barang. c. Pengeluaran untuk penyusutan barang modal pemerintah. Dalam penyusunan pengeluaran konsumsi pemerintah ini digunakan berbagai macam datas seperti: Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) untuk masingmasing tingkat pemerintahan, jumlah pegawai negeri sipil, IHPB (Indeks Harga Perdagangan Besar) umum tanpa ekspor dan IHK (Indeks Harga Konsumen).

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

10

[KONSEP DAN DEFINISI] Untuk menghitung pengeluaran konsumsi pemerintah, terlebih dahulu disusun neraca produksi pemerintah, dimana konsumsi pemerintah merupakan salah satu komponennya. Neraca produksi pemerintah terdiri dari pengeluaran untuk biaya antara (belanja barang dan bantuan sosial), balas jasa pegawai/belanja pegawai dan penyusutan di sisi kiri, serta konsumsi pemerintah (output nonpasar) dan penjualan dari barang dan jasa (output pasar) di sisi kanan. Uraian komponen-komponen neraca produksi pemerintah adalah sebagai berikut: a. Output pemerintah terdiri dari output pasar dan output nonpasar. Output nonpasar adalah output yang dihasilkan oleh pemerintah yang digunakan sendiri oleh pemerintah sebagai konsumsi akhirnya. Sedangkan output pasar pemerintah merupakan penjualan dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh pemerntah yang disuplai secara gratis. b. Biaya antara adalah pemakaian barang yang tidak tahan lama serta jasa dan bantuan sosial yang digunakan sebagai input dalam menghaslkan output pemerintah. c. Nilai tambah bruto pemerintah merupakan penjumlahan dari balas jasa pegawai (belanja pegawai) dan peyusutan. Balas jasa pegawai merupakan pembayaran yang diterima pegawai secara langsung sehubungan dengan pekerjaan, baik dalam bentuk uang maupun barang. Sedangkan penyusutan merupakan nilai yang disisihkan sebagai pengganti susut barang modal pemeirntah karena dipakai dalam proses produksi. 2.5 Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Yang dimaksud dengan PMTB meliputi berbagai macam pengeluaran untuk pengadaan, pembuatan dan pembelian barang modal baru. Pengadaan barang modal tersebut dapat berupa pengadaan dari wilayah itu sendiri ataupun dengan cara membeli dari wilayah lain atau impor. Termasuk pada pengeluaran untuk meningkatkan mutu dan perbaikan barang modal yang nilainya relatif besar sehingga berakibat bertambah panjang umur pemakaian atau menaikan kapasitas produksi dari barang modal tersebut.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

11

[KONSEP DAN DEFINISI] Penilaian PMT Batas dasar harga pembeli, yaitu harga barang modal ditambah dengan biaya-biaya lain yang dikeluarkan, seperti biaya transport, biaya instalasi termasuk biaya bea masuk dan pajak tak langsung. Penghiungan PMTB berupa mesin, alat angkutan dan barang modal lainnya merupakan data aktiva tetap hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE’06) sebagai benchmark, ditambah data hasil survei barang modal atau laporan keuangan perusahaan sebagai ekstrapolator. Apabila angka yang menjadi PMTB benchmark dikalikan dengan ekstrapolator pada tahun t maka akan diperoleh PMTB berupa mesin, alat angkuatan dan barang modal lainnya atas dasar harga berlaku. Sementara untuk memperoleh nilai PMTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara membagi PMTB atas dasar harga berlaku dengan indeks implisit masing-masing jenis barang modal. Data yang dibutuhkan untuk estimasi pembentukan modal adalah: output bangunan dari sektor konstruksi, data UMB (Usaha Menengah Besar) dan UMK (Usaha Mikro Kecil) hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE’06), survei lapangan atau laporan keuangan perusahaaanperusahaan serta indeks implisit PMTB nasional berupa mesin,alat angkutan dan barang modal lainnya. 2.6 Ekspor dan Impor Ekspor merupakan salah satu transaksi ekonomi (transaksi perdagangan) yang dilakukan oleh penduduk suatu negara/region dengan pihak luar negeri/region lain.Transaksi tersebut meliputi transaksi barang, jasa pengangkutan, jasa pariwisata dan jasa lainnya. Transaksi barang dan jasa pada dasarnya dicatat pada saat kepemilikan barang tersebut berpindah dari negara asal ke negara tujuan, atau pada saat jasa tersebut diterima oleh penduduk negara tujuan. Sedangkan konsep impor pada dasarnya sama dengan ekspor, hanya saja konsep impor dilihat dari sisi sebaliknya. Langkah awal untuk mengestimasi nilai ekspor dan impor antar negara dengan mengumpulkan data ekspor/impor dari Statistik Ekspor dan Impor BPS yang nilainya dalam satuan dollar Amerika dalam dua digit HS (sekitar 100 komoditas). Selanjutnya nilai ekspor/impor barang dalam dollar AS tersebut disedehanakan menjadi 33 sektor ekonomi.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

12

[KONSEP DAN DEFINISI] Kemudian dikonversikan ke dalam rupiah dengan cara mengalikan nilai dollar AS tersebut dengan kurs harga ekspor tertimbang. Nilai ekspor/impor yang masih dalam satuan rupiah (hasil konversi nilai ekspor/impor dalam dollar AS menjadi rupiah) tersebut merupakan nilai ekspor/impor atas dasar harga belaku. Untuk menjadikannya ke dalam harga konstan, nilai ekspor/impor atas dasar harga berlaku tersebut harus dideflate dengan menggunakan Indeks Harga Per Unit (IHPU) ekspor/impor sebagai ekstrapolatornya. Sementara untuk mengitung angka ekspor/impor barang antar daerah, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) lebih direkomendasikan. Sedangkan untuk ekspor/impor jasanya bisa digunakan Indeks Harga Konsumen (IHK). Adapun sumber data untuk nilai ekspor/impor barang dan jasa antar negara dapat diperoleh Statistik Ekspor dan Impor BPS, Neraca Pembayaran yang diterbitkan oleh BI (Bank Indonesia) dan IMF (International Monetary Fund) serta data dari Departemen Pertambangan dan Energi. Disisi lain data mengenai ekspor/impor antar daerah bisa dikumpulkan dari pencatatan administrator pelabuhan laut, pelabuhan sungai, pelabuhan udara (bandara) maupun darat/terminal apabila memungkinkan.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

13

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

BAB III PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI Keberhasilan pembangunan di suatu wilayah dapat diukur dari laju/lambatnya pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya. Apabila series data laju pertumbuhan dari tahun ke tahun menunjukkan adanya percepatan, berarti pembangunan perekonomian mengalami peningkatan. Namun percepatan pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan pemerataan kesejahteraan (pengentasan masalah kemiskinan) dan penyediaan lapangan kerja (pengurangan pengangguran), akan menjadi polemik tersendiri bagi pembangunan. Pembangunan bIsa dikatakan berhasil apabila laju pertumbuhan ekonominya tinggi, laju inflasinya rendah, penduduk miskin semakin berkurang dan tingkat pengangguran rendah.

6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 2006 2007 2008 2009 2010

Grafik 1. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Melawi 2006-2010 Kinerja perekonomian Kabupaten Melawi selama lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Pada tahun 2008 dan 2009 pertumbuhan ekonomi kabupaten Melawi mengalami penurunan akibat kondisi ekonomi global yang melambat. Perlambatan kondisi ekonomi Amerika Serikat dipicu oleh krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat tahun 2007 yang tadinya diperkirakan mempunyai dampak terbatas dan dianggap hampir selesai.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

14

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

Kredit macet perumahan tersebut menyebar ke berbagai institusi keuangan terkemuka di AS hingga di Eropa dan Asia. Kegagalan menuntaskan kredit macet perumahan tersebut akhirnya menumbangkan para pelaku keuangan besar di negara-negara tersebut. Resesi perekonomian AS berarti kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak hanya mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat AS, tetapi juga berdampak pada seluruh masyarakat dunia. Dampak krisis keuangan AS menjalar ke Eropa dan Asia Pasifik dalam bentuk bangkrutnya bank/institusi keuangan/korporasi, meningkatnya inflasi, menurunnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pengangguran, dan runtuhnya indeks saham. Namun situasi ini membaik pada tahun 2010 sehingga pertumbuhan ekonomi Kabupaten Melawi juga mengalami peningkatan hingga 1, 04 persen.
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto, 11.05 Perubahan Stok, -1.55 Ekspor - Impor, 4.23

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, 17.78 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba, 0.27

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga, 68.20

Grafik 2. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 2010 3.1. Struktur Perekonomian

Dalam lima tahun terakhir, kontributor terbesar terhadap PDRB Kabupaten Melawi adalah Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto diikuti dengan

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

15

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

konsumsi pemerintah diurutan ketiga. Sedangkan perdagangan internasional secara netto yaitu Ekspor dikurangi Impor selama lima tahun terakhir ini kontribusinya masih kecil. 3.1.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Komposisi pengeluaran yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga adalah sebesar 68,20 persen. Hal ini tidak mengherankan mengingat sebagian besar penduduk tinggal di daerah pedesaan. Dimana pola hidup masyarakat lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga dibandingkan kebutuhan lainnya. Tabel 1. Struktur Ekonomi Kabupaten Melawi Menurut Jenis Konsumsi Rumah Tangga No (1) Jenis Konsumsi Rumah Tangga (2) 2006 (3) 2007 (4) 2008 (5) 2009 (6) 2010 (7)

1. 2.

Makanan Non-Makanan

66,17 33,83

64,90 35,10

56,34 43,66

56,34 43,66

54,50 45,50

Total konsumsi rumah tangga di atas, terdiri atas pengeluaran untuk konsumsi makanan dan pengeluaran non- makanan. Jika dilihat dari persentasenya (lihat tabel 2), total konsumsi makanan lebih besar daripada konsumsi non-makanan. Pada tahun 2010, total konsumsi makanan sebesar 54,50 persen dari total konsumsi rumah tangga. Pola

pengeluaran konsumsi merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan ekonomi suatu penduduk. Menurut penelitian Engel melalui hukum ekonominya, bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring dengan bertambahnya jumlah pendapatan. Dengan kata lain, penurunan persentase pengeluaran untuk makanan mencerminkan membaiknya kehidupan ekonomi penduduk. Hal ini sesuai dengan gambaran konsumsi rumah tangga di Kabupaten Melawi tahun 2006-2010. Persentase konsumsi makanan terus menurun dari tahun ke tahun, perubahan tersebut mencerminkan peningkatan kesejahteraan penduduk.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

16

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00

66.17

64.90 56.34 43.66 56.34 43.66 54.50 45.50 Makanan Non-Makanan

33.83

35.10

2006

2007

2008

2009

2010

Grafik 3. Perbandingan Konsumsi Makanan dan Non-Makanan Kabupaten Melawi 3.1.2 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Jenis pengeluaran untuk konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba (Lembaga Non Profit) masih sedikit yaitu hanya sebesar 0,27 persen dari total PDRB di Kabupaten Melawi. Berdasarkan pengumpulan data, diperoleh informasi bahwa di kabupaten ini masih sangat sulit untuk mengembangkan kegiatan jenis lembaga tersebut. Kurangnya partispasi dari masyarakatnya sendiri maupun dari pemerintah menjadi keterlambatan lembaga untuk mengembangkan aktivitasnya. 3.1.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Bila produk domestik bruto meningkat maka akan berdampak kepada peningkatan kegiatan ekonomi utamanya sektor riil dan dunia usaha pada umumnya. Peningkatan kegiatan ekonomi akan membawa pengaruh peningkatan penerimaan pemerintah melalui perpajakan, karena bergairahnya perekonomian sehingga aktivitas dunia usaha meningkat dan pada akhirnya keuntungan perusahaan meningkat pula. Peningkatan aktivitas dan keuntungan perusahaan ini tentunya akan meningkatkan perpajakan baik dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai maupun cukai. Jika penerimaan pemerintah meningkat

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

17

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

maka akan

membawa konsekuensi peningkatan pengeluaran pemerintah. Peningkatan

pengeluaran pemerintah juga didasari alasan bahwa dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, maka menuntut peningkatan penyediaan public good (barang publik) oleh pemerintah. Demikian juga pelayanan yang tentunya meningkatkan kebutuhan secara kelembagaan seperti kebutuhan jumlah pegawai dan gaji pegawai, sarana dan prasarana pelayanan, belanja barang dan pemeliharaan dan sebagainya. Dengan demikian untuk kasus Indonesia Wagner’s Law berlaku, dimana peningkatan produk domestik bruto akan mengakibatkan peningkatan pengeluaran pemerintah. Menurut Mauritz H.M. Sibarani dalam penelitiannya berjudul “Kontribusi Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Industri (26 Propinsi di Indonesia Tahun 19831997)” menyatakan bahwa infrastruktur (jalan, listrik dan telepon) memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap agregat output yang diwakili oleh variabel pendapatan perkapita. Sementara menurut Munnel (1992) pengeluaran publik (infrastruktur) mempunyai pengaruh timbal balik dengan pertumbuhan ekonomi. Hal yang serupa juga ditunjukkan oleh jenis pengeluaran untuk konsumsi barang modal, terkait dengan dimulainya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) sejak tahun 2009, dimana infrastruktur mulai diperkuat hingga level desa. Belanja barang ditambah dengan belanja pegawai sebagai komponen belanja terbesar mengakibatkan jenis pengeluaran konsumsi pemerintah yang pada tahun 2009 hanya sebesar Rp. 159,3 miliar menjadi sebesar Rp. 170,2 miliar pada tahun 2010. 3.1.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto Pada sektor Pembetukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dimana pada tahun 2010 baik pertumbuhan maupun proporsinya menurun. Dampak dari krisis ekonomi global inilah yang paling nampak pada perekonomian Kabupaten Melawi. Investasi memegang peranan penting dalam pembangunan, sehingga sering disebut sebagai engine of growth. Model-model ekonomi klasik dan neoklasik mengandalkan

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

18

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

investasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, karena dengan investasi yang tinggi akumulasi kapital dapat tercapai yang berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan pula output nasional maupun regional. Pada wilayah yang mengandalkan sektor primer seperti pertanian atau pertambangan dan penggalian seperti di Kabupaten Melawi, kepemilikan tanah seharusnya memiliki konsentrasi khusus karena penguasaan yang berlebihan dapat menyebabkan petani tidak memiliki tanah sebagai aset sendiri dan hanya menjadi petani penggarap. Hal ini berdampak pada tingkat kesejahteraan petani terutama dalam hal meningkatkan kualitas pendidikan anggota keluarganya sehingga investasi ke sektor pendidikan menjadi berkurang. Maka kualitas sumber daya manusianya menjadi rendah. 3.1.5 Ekspor – Impor Barang dan Jasa Nilai ekspor neto barang dan jasa Kabupaten Melawi selama periode 2006-2010 terus mengalami peningkatan, dimana selisih nilai ekspor neto pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp. 39,4 miliar dan meningkat pada tahun 2010 menjadi Rp 40,5 miliar. Nilai ekspor neto yang selalu positif ini berarti jumlah barang dan jasa yang diekspor lebih besar dari barang dan jasa yang diimpor ke Kabupaten Melawi. Hal ini mengindikasikan bahwa PDRB Kabupaten Melawi bertumpu pada kekuatan ekonomi domestik. 3.2. Indikator Turunan PDRB Menurut Penggunaan 3.2.1 Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Salah satu analisis ekonomi yang sering dikaitkan dengan PDRB menurut penggunaan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR). ICOR merupakan besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital yang dibutuhkan untuk menaikkan satu unit output, yang identik dengan ukuran produktivitas. Disamping untuk melihat produktivitas kapital, ICOR juga dapat digunakan untuk menunjukkan efisiensi suatu perekonomian dalam penggunaan berbagai barang modal. Secara matematis ICOR dinyatakan sebagai rasio antara penambahan investasi terhadap penambahan output, atau dinotasikan sebagai:

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

19

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

Dimana,

= penambahan kapasitas (investasi), dan = penambahan output

Dalam praktek, data yang diperoleh bukan penambahan barang modal baru atau penambahan kapasitas terpasang, akan tetapi besarnya investasi (I) yang ditanamkan oleh pemerintah maupun swasta, sehingga dimodifikasi menjadi: = I. Dengan demikian rumus diatas dapat

Berdasarkan formula diatas, diperoleh besaran ICOR Kabupaten Melawi tahun 20052010 sebesar 1,32. Hal ini berarti untuk menaikkan satu unit output dibutuhkan tambahan kapital (investasi) sebesar 1,32 unit. Nilai ICOR tersebut relatif kecil sehingga mengindikasikan bahwa investasi yang ditanamkan di Kabupaten Melawi sejak tahun 20052010 dapat dikatakan kurang effisien karena menurut Suseno Triyanto (1990), koefisien ICOR yang dianggap memiliki produktivitas investasi yang baik berkisar antara 3 hingga 4. Kemungkinan kondisi ini diakibatkan karena investasi di Kabupaten Melawi saat ini, umumnya lebih dipicu oleh investasi pemerintah, sedangkan investasi swasta masih sangat kecil. 3.3.2 Average Propensity to Consume (APC) dan Average Propensity to Saving (APS) Dua indikator berikut ini merupakan indikator yang menunjukkan pola pengeluaran masyarakat terhadap pendapatan yang diterimanya apakah lebih banyak digunakan untuk konsumsi atau tabungan. Kedua indikator tersebut mempunyai hubungan komplementer artinya, jika APC turun maka APS meningkat, atau sebaliknya APC meningkat maka APS akan turun. Adapun persamaan dasar yang digunakan adalah : Yd = C + S

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

20

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

= Menunjukkan porsi total income yang dialokasikan untuk pengeluaran konsumsi (Average Propensity to Consume / APC) = Menunjukkan porsi total income yang dialokasikan untuk pengeluaran tabungan/saving (Average Propensity to Saving / APS) Dari hasil penghitungan di atas APC Kabupaten Melawi mengalami gerakan yang fluktuatif, dimana nilainya cenderung menurun dari tahun 2006 dengan koefisien sebesar 0,67 menjadi 0,61 pada tahun 2007 namun kemudian naik lagi hingga koefisien 0,68 pada tahun 2010. Kendati demikian secara keseluruhan porsi total income yang digunakan untuk konsumsi masih lebih besar dibandingkan porsi total income yang digunakan untuk tabungan (APC > APS). Fenomena ini menggambarkan bahwa masyarakat di Kabupaten Melawi secara umum pada periode 2005 sampai dengan 2010 pola hidupnya masih berbasis konsumtif.

2010

0.318

0.682

2009

0.324 0.676

APS
2008 0.345 0.655

APC

2007

0.392

0.608

2006

0.370

0.630

0.000

0.100

0.200

0.300

0.400

0.500

0.600

0.700

0.800

Grafik 4. APC dan APS Kabupaten Melawi Tahun 2006-2010

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

21

[PEREKONOMIAN KABUPATEN MELAWI]

Pada pengeluaran konsumsi rumah tangga terdapat konsumsi minimum bagi rumah tangga tersebut, yaitu besarnya pengeluaran konsumsi yang harus dilakukan, walaupun tidak ada pendapatan. Pengeluaran konsumsi rumah tangga ini disebut pengeluaran konsumsi otonom (outonomous consumtion). Keputusan rumah tangga mempengaruhi keseluruhan perilaku perekonomian baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Keputusan konsumsi sangat penting untuk analisis jangka panjang karena peranannya dalam pertumbuhan ekonomi. Model pertumbuhan Solow menunjukkan bahwa tingkat tabungan adalah determinan penting dari persediaan modal dalam kondisi-mapan dan tingkat kesejahteraan ekonomi. Tingkat tabungan mengukur seberapa besar dari pendapatan generasi sekarang disisihkan untuk generasinya sendiri dan generasi mendatang. Keputusan konsumsi sangat penting untuk analisis jangka pendek karena peranannya dalam menentukan permintaan agregat. Konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito dan jumlah uang beredar. Seperti yang kita ketahui bahwa pendapatan, konsumsi dan tabungan memiliki hubungan yang erat. Tabungan merupakan pendapatan seseorang yang tidak dibelanjakan. Tabungan sangat dipengaruhi oleh suku bunga. Tingkat bunga dapat dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari melakukan tabungan. Orang akan membuat lebih banyak tabungan apabila tingkat bunga tinggi karena lebih banyak bunga yang akan diperoleh. Pada tingkat bunga yang rendah orang tidak begitu suka membuat tabungan di bank karena mereka merasa lebih baik melakukan pembelanjaan konsumsi dari pada menabung dan sebaliknya apabila suku bunga tinggi orang akan senang menabung/ menyimpan uang di bank dengan kompensasi tingkat bunga.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

22

KESIMPULAN DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN Berdasarkan paparan dari bab-bab sebelumnya dengan menggunakn PDRB Menurut Penggunaan secara langsung dapat ditunjukkan keterkaitan antara nilai tambah yang dihasilkan berbagai sektor ekonomi dengan pendapatan yang diterima, serta bagaimana berbagai institusi (rumah tangga, swasta dan pemerintah) menggunakan pendapatannya untuk membiayai pengeluarannya, serta bagaimana pengaruh luar negeri terhadap pendapatan masyarakat di wilayah tersebut. Berdasarkan analisa tersebut diketahui gambaran perekonomian di Kabupaten Melawi tahun 2006-2010 sebagai berikut: 1. Secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Melawi mengalami tren positif. Pada tahun 2010 ini pertumbuhan ekonomi meningkat 1,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini merupakan dampaak kondisi ekonomi nasional dan nternasional yang mulai stabil. 2. Konsumsi rumah tangga masih menyumbang kontribusi yang besar yaitu sebesar 68,20 persen dari total PDRB. Konsumsi rumah tangga terdiri dari konsumsi makanan dan konsumsi non makanan. Persentase konsumsi makanan terus menurun dari tahun ke tahun, perubahan tersebut mencerminkan peningkatan kesejahteraan penduduk. Sedangkan pengeluaran untuk konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba memberikan peran terkecil dalam sumbangannya terhadap pembangunan ekonomi dengan proporsi sebesar 0,27 persen. 3. ICOR merupakan besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital yang dibutuhkan untuk menaikkan satu unit output, yang identik dengan ukuran produktivitas. koefisien ICOR yang dianggap memiliki produktivitas investasi yang baik berkisar antara 3 hingga 4. Koefisien ICOR menunjukkan bahwa selama tahun 2006-2010 investasi yang ditanamkan di kabupaten Melawi pada umumnya masih kurang effisien, terbukti secara empiris koefisien yang diperoleh yaitu 1,32.
PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi 23

KESIMPULAN DAN SARAN 4. Proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi ternyata lebih besar dibandingkan dengan proporsi pendapatan yang digunakan untuk tabungan (APC>APS). Hal ini dapat diartikan bahwa secara umum masyarakat masih cenderung konsumtif dalam menghabiskan pendapatannya. 4.2 SARAN Tujuan akhir dari penghitungan PDRB Menurut Penggunaan adalah untuk mengetahui besarnya pendapatan masyarakat dan penggunaanya. Pendapatan yang diterima inilah yang akan menjadi ukuran kemakmuran suatu wilayah serta kualitas pembangunannya. Dalam kenyataannya, pendapatan tersebut belum seluruhnya dapat dinikmati atau digunakan. Oleh masyarakat di wilayah tersebut akibatnya kurang optimal atau efisiennya transaksi ekonomi yang terjadi. Untuk itu penting kiranya untuk membuat sasaran ekonomi demi percepatan pertumbuhan ekonomi yang merata dan adil seperti: 1. Mengingat pentingnya investasi untuk pertumbuhan ekonomi pemerintah diharapkan terus melakukan perbaikan terhadap faktor yang menghambat investasi (de-bottlenecking) agar peluang yang sangat besar dari kondisi perekonomian yang cukup kondusif saat ini mampu meraih aliran modal masuk untuk diinvestasikan di sektor riil di kabupaten Melawi. 2. Melakukan safe guard dengan meningkatkan infrastruktur, listrik dan transportasi sehingga dapat meningkatkan investasi yang pada gilirannya dapat membawa dampak positif terhadap peningkatan produk domestik bruto. 3. 4. Memfokuskan produk-produk unggulan Kabupaten Melawi guna meningkatkan ekspor. Mengganti ekspor komoditas/bahan mentah dengan ekspor produk yang telah diolah, sehingga meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Kabupaten Melawi. 5. Memperketat pengawasan melalui badan kontrol atau pengelola khusus kegiatan sektor produksi primer agar tidak didominasi campur tangan asing. Misalnya dengan membentuk BUMN khusus atau Badan Pengelola Produk Tambang seperti yang sudah dibentuk yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas, agar bisa dimanfaatkan kekayaan alamnya secara

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

24

KESIMPULAN DAN SARAN maksimal dan menghindari penggunaan SDA yang tidak bertanggung jawab ataupun tanpa izin.

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

25

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

26

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

27

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

28

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

29

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

30

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

31

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

32

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

33

[LAMPIRAN]

PDRB Menurut Penggunaan Kabupaten Melawi

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->