P. 1
metakognitif

metakognitif

|Views: 1,475|Likes:
Published by Auliya Azmie

More info:

Published by: Auliya Azmie on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu hal yang tidak dapat kita hindarkan dari kehidupan. Pendidikan dapat diperoleh semua orang dalam kehidupannya, baik itu pendidikan formal, maupun non formal. Dijaman sekarang banyak sekali orang yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Pendidikan akan berjalan dengan baik jika semua unsur dalam pendidikan dapat berjalan selaras, serasi dan seimbang. Beberapa faktor-faktor pendidikan yang menjadikan pola interaksi saling mempengaruhi diantaranya adalah guru, tujuan, anak didik, metode dan strategi belajar.1 Adapun tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai melalui proses pembelajaran yang berdasarkan pada kurikulum 2004 adalah melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan aktifitas kreatif, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan. Sedangkan salah satu prinsip pengembangan dalam kurikulum 2004 adalah prinsip berpusat pada anak.2

Fuad Hasan, Dasar-dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 6. Depdiknas 2003, Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Pra-sekolah Dasar dan Menengah, (Jakarta: Depdiknas)
2

1

2

Dipandang dari tujuan pembelajaran secara prinsip pengembangan kurikulum 2004 tersebut, maka model pembelajaran kontruktifis merupakan salah satu model pembelajaran PAI yang sesuai dengan kurikulum 2004. Hal tersebut didukung dengan pendekatan konstruktifis yang berasal dari ide-ide pieget dan vygotsky. Pendekatan konstruktifis menekankan adanya prinsip terpusat pada peserta didik (student centered instruction) dan menyarankan penggunaan kelompok-kelompok belajar dalam proses pembelajaran. Artinya bahwa suatu pembelajaran hendaknya didominasi oleh aktivitas belajar siswa yang mandiri guna mengkonstruksi pengetahuan bagi diri mereka sendiri.3 Kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru dan belajar oleh siswa inilah yang dimaksud dengan pembelajaran. Namun sampai saat ini, pembelajaran secara klasikal dengan berpusat pada guru (teacher centered) masih dominan dilaksanakan di sekolah. Guru merupakan sumber informasi dan sumber belajar utama, perannya sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran dalam kelas.4 Seorang guru dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi dengan sebuah strategi-strategi belajar yang ada yang telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Pemahaman siswa pada materi yang diberikan sangatlah penting bagi seorang guru dan siswa itu sendiri. Bagi seorang guru

M. Nur dan Prima Retno Wikandarei, Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2000), 4 4 Russefensi, Pengajar Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG, (Bandung: trasito, 1979), 231

3

3

keberhasilan siswa pada materi yang diberikan adalah sebuah keberhasilan bagi guru. Hal ini dikarenakan seorang guru memiliki sebuah tanggung jawab terhadap profesinya atas keberhasilan anak didiknya. Guru adalah sebuah profesi yang nantinya harus dipertanggungjawabkan pada lembaga, siswa, wali murid, pribadinya dan lingkungan sekitar. Keprofesionalan guru tidak terlepas dari strategi, metode yang guru pilih atau gunakan dalam proses belajar mengajarnya. Memilih strategi hendaknya tidak dilakukan secara asal-asalan melainkan melalui berbagai macam pertimbangan seperti manfaat dan kegunaan dari strategi yang dipilih. Dijaman sekarang banyak guru yang gampang sekali memilih strategi belajar yang digunakan tanpa memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi. Pemilihan yang cenderung asal-asalan ini dikarenakan guru kurang memiliki rasa tanggung jawab pada proses belajar-mengajar dan hasil belajar. Seorang pendidik profesional bisa dikatakan sebagai guru yang demokratis, yakni suka bekerja sama dengan teman sejawat, siswa, dan sering memberikan peluang akademis kepada para anak didiknya. Guru diharapkan dapat berperan secara profesional di dalam

melaksanakan tugas-tugasnya. Profesional jelas berkaitan dengan kemampuan fungsional seorang guru untuk memahami, bersikap, menilai, memutuskan atau bertindak di dalam kaitan tugasnya. Seorang guru adalah pemimpin bagi siswanya dimana siswa merupakan amanat yang harus dijaga dengan sebaik mungkin oleh

4

guru yang mana anak didik akan mendapatkan informasi dari pendidik dengan harapan informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Kecakapan guru dalam memilih strategi belajar terkait erat dengan fungsi guru/peranan penting guru dalam proses belajar-mengajar yakni sebagai director of learning (direktur belajar). Artinya setiap guru diharapkan sepandai mungkin mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar dalam hal ini seperti menciptakan keberhasilan pemahaman siswa pada materi yang disajikan. Konsekuensinya di era dunia pendidikan modern sekarang tugas dan tanggung jawab guru menjadi lebih kompleks dan berat. Pada hakekatnya, tugas seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan belajar bagaimana belajar. Untuk melaksanakan tugas tersebut dapat dilakukan berbagai model pengajaran. Selain itu sangat penting juga bagi guru untuk mengajarkan para siswanya strategi belajar. Proses-proses strategi belajar ini digunakan untuk membantu siswa “belajar bagaimana belajar”. Sebagaimana pendapat Claire Weinstein dan Richard Meyer5 : “Merupakan hal yang aneh apabila kita mengharapkan siswa belajar namun jarang mengajarkan mereka tentang belajar. Kita mengharapkan siswa untuk memecahkan masalah namun jarang mengajarkan mereka tentang pemecahan masalah. Dan sama halnya kita kadang-kadang meminta siswa mengingat sejumlah besar bahan ajar namun jarang
5

Mohammad Nur, Jilid 2, 5.

5

mengajarkan mereka seni menghafal. Sekarang, tibalah waktunya kita mengembangkan ilmu terapan tentang belajar dan pemecahan masalah dan memori. Kita perlu mengembangkan prinsip-prinsip umum tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana memecahkan masalah dan kemudian mengemasnya dalam bentuk pelajaran yang siap diterapkan dan kemudian memasukkan metode-metode ini dalam kurikulum.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya pemahaman dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih. Hal ini disebabkan pembelajaran fiqih yang dilaksanakan di sekolah masih berjalan konvensional yakni pembelajaran yang menetapkan guru sebagai pemberi informasi dan kurang memberikan kesepakatan kepada siswa untuk berpartisipasi. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan strategi belajar metakognitif. Paradigma konstruktivisme oleh Jean Piaget melandasi timbulnya strategi kognitif, disebut teori meta cognition. Meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikirnya.6 Salah satu keterampilan metakognitif yang diperlukan oleh setiap siswa adalah kemampuan menilai pemahaman mereka sendiri. Keterampilan ini termasuk dalam kategori Metacomprehension. Keterampilan ini sangat penting bagi siswa agar mereka dapat selalu menyadari kesalahanya dan berusaha memperbaiki diri. Oleh karena itu, peneliti akan menfokuskan strategi

Drs. H. Martinis Yamin, Stategi pembelajaran berbasis kompetensi, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2005) hal.9

6

6

metakognitif

pada

latihan

keterampilan

menilai

pemahaman

diri

(Metacomprehension) dengan menggunakan Lembar Penilaian Pemahaman Diri (LPPD). Pada awal pembelajaran siswa akan menuliskan terlebih dahulu pengetahuan awalnya sebagai hasil belajar dari rumah dan menuliskan tingkat keyakinannya. Kemudian siswa dapat mendiskusikan hasil belajarnya dengan teman dalam kelompok. Hasil diskusi tersebut merupakan hasil dari suatu proses perubahan yang harus disadari oleh siswa. Oleh karena itu, siswa akan diminta membandingkan pengetahuan awalnya dengan hasil diskusi. Dan pada akhir pembelajaran siswa diharapkan dapat belajar untuk menilai pemahaman mereka sendiri, menghitung waktu yang diperlukan untuk mempelajari sesuatu dan untuk membuat perbaikan atas kesalahannya. Pada dasarnya strategi metakognitif ini lebih cocok diterapkan pada siswa dengan tingkat berfikir pada tahap operasi formal. Pada tahap ini siswa dapat diberikan pengalaman dengan masalah-masalah kompleks, tuntutan-tuntutan pengajaran formal dan tukar-menukar serta mengalami kontradiksi ide-ide dengan teman sebaya untuk pengembangan penalaran operasi formal.7 Adapun strategi ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, meningkatkan motivasi kepercayaan diri dan life skill yang mana pendekatan tersebut ditujukan untuk memunculkan emosi dan sikap positif pelajar dalam proses belajar mengajar yang berdampak pada peningkatan kecerdasan otak.
7

Prof.Dr. M. Nur, 1999

7

Strategi belajar metakognitif merupakan strategi belajar yang enjoy dengan segala nuansa dan menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan efisien melalui pembelajaran strategi metakognitif ini dalam proses belajar mengajar diharapkan tujuan pendidikan agama Islam tercapai dengan baik dan sesuai dengan harapan. Oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keefektifan dan efisien strategi belajar metakognitif dalam meningkatkan metacomprehension siswa pada materi fiqih kelas X SMA Islam parlaungan. Siswa pada kelas ini sangat bervarisi tingkat berfikirnya dan kemampuan kognitifnya. Siswa pada kelas ini pada dasarnya memiliki kemampuan berfikir yang cukup bagus, namun mereka masih diliputi ketidakpercayaan pada kemampuan mereka sendiri. Dengan strategi metakognitif ini diharap siswa memiliki kepercayaan diri dalam belajar serta memiliki motivasi untuk mempelajari materi sebelum materi disampaikan

B. Alasan Pemilihan Judul
Dalam pemilihan dan penulisan skripsi ini, penulis mempunyai alasan antara lain : 1. Dengan menerapkan strategi belajar metakognitif diharapkan siswa mampu menjadi pebelajar mandiri dan melatih siswa untuk jujur dan mengakui kesalahan serta memotivasi siswa untuk mempelajari materi sebelum disampaikan oleh guru.

8

2. Dengan mengetahui kemampuan siswa dalam menilai pemahaman diri (Metacomprehension), diharapkan siswa dapat berusaha memperbaiki pemahaman dirinya secara terus menerus sehingga hasil belajarnya terus meningkat. Hal ini dikarenakan keterampilan metacomprehension menjadi salah satu faktor ketuntasan hasil belajar siswa.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan yang dapat di rumuskan adalah: 1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan strategi belajar Metakognitif di SMA Islam Parlaungan? 2. Bagaimana kemampuan siswa dalam menilai pemahaman diri

(Metacomprehension) pada materi fiqih setelah diterapkan strategi belajar metakognitif? 3. Apakah pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif efektif dalam meningkatkan metacomprehension siswa pada materi fiqih ?

D. Batasan Masalah
Untuk menghindari melebarnya rumusan masalah, maka peneliti perlu memberitahukan batasan masalah dalam penelitian ini. Adapun batasan masalahnya sebagai berikut : 1. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan strategi belajar Metakognitif di SMA islam perlaungan.

9

2. Kemampuan siswa dalam menilai pemahaman diri (Metacomprehension) pada materi fiqih. 3. Keefektifan pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif dalam meningkatkan Metacomprehension siswa pada materi fiqih.

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mendeskripsikan Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menerapkan strategi belajar Metakognitif di SMA islam perlaungan 2. Mendiskripsikan kemampuan siswa dalam menilai pemahaman mereka sendiri (Metacomprehension) meliputi kemampuan siswa dalam: 1) 2) Menentukan tingkat keyakinan diri. Membandingkan konsep awal dengan konsep yang baru diperoleh

3. Mengetahui dan mendeskripsikan Efektifitas pembelajaran dengan strategi belajar Metakognitif dalam meningkatkan Metacomprehension siswa pada materi fiqih.

F. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian Efektifitas pembelajaran dengan

strategi belajar metakognitif dalam meningkatkan “metacomprehension” siswa pada materi fiqih kelas X di SMA islam parlaungan-waru-sidoarjo adalah : 1. Secara teoritis adalah sebagai upaya menemukan solusi yang baru bagi kekurang mampuan pendidikan agama Islam di sekolah dalam membangun

10

suatu pemahaman ajaran agama Islam yang integral secara kognitif, efektif dan psikomotorik. 2. Secara praktis dan bermanfaat a. Bagi pengembangan para anak didik, merupakan hasil pemikiran yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk melaksanakan usaha belajar dengan efektif menuju tercapainya cita-cita dan merupakan bahan masukan sebagai langkah strategis dan dinamis dalam konsep belajar dimanapun. b. Bagi peneliti sendiri, merupakan bahan informasi guna meningkatkan dan menambah pengetahuan serta keahlian dalam melaksanakan pola belajar yang efektif dan efisien di sekolah. c. Merupakan kontribusi tersendiri bagi pengembangan metode pengajaran PAI di sekolah pada umumnya, khususnya di sekolah SMA Islam perlaungan.

G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis ialah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian yang dikemukakan.8 Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan pendapat Sutrisno Hadi yang mengatakan bahwa hipotesis merupakan dugaan yang mungkin benar atau mungkin juga salah. Dugaan ini ditolak jika salah dan diterima jika benar.9

8

Husaini usman dan purnomo setiady akbar, Metodologi penelitian social (Jakarta : Bumi aksara, 1996), Cet I, 38 Sutrino Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Andi Offset, 1991), 63

9

11

Adapun hipotesis yang penulis ajukan adalah : 1. Hipotesis Alternatif (Ha) Yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara variabel X dan Y atau yang menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok.10 Dalam penelitian ini hipotesis yang diperoleh adalah “strategi belajar metakognitif efektif dalam meningkatkan metacomprehension siswa pada materi fiqih kelas X di SMA islam perlaungan waru sidoarjo. ” 2. Hipotesis Nihil (Ho) Hipotesis Nihil biasanya dipakai dengan penelitian yang bersifat statistik yang diuji dengan perhitungan statistik nihil menyatakan bahwa “strategi belajar metakognitif tidak efektif dalam meningkatkan

metacomprehension siswa pada materi fiqih kelas X di SMA islam parlaungan waru sidoarjo.”

H. Definisi Operasional
Untuk memudahkan maksud yang terkandung dalam judul skripsi ini maka akan memberikan penjelasan tentang bagian-bagian yang ada pada judul skripsi. Adapun penjelasannya sebagai berikut : Efektifitas pembelajaran : Seberapa besar sesuatu yang telah direncanakan dalam pembelajaran dapat tercapai, pencapaian ini ditentukan oleh kemampuan guru dalam
10

Suharsimi arikunto, Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek (Jakarta : Rineka cipta, 1998), edisi revisi IV, 71

12

mengelola pembelajaran strategi metakognitif, aktifitas siswa selama pembelajaran

berlangsung, pencapaian ketuntasan belajar fiqih siswa. Strategi belajar : Proses-proses berfikir siswa yang digunakan pada saat mereka menyelesaikan tugas-tugas belajar.11 Metakognitif : Pengetahuan seseorang berkenaan dengan proses dan produk kognitif orang itu sendiri atau segala sesuatu yang berkaitan dengan proses dan produk tersebut. 12 Metacomprehension siswa : Kemampuan siswa dalam menilai pemahaman mereka sendiri, kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.13 Kemampuan yang dimaksud dalam hal ini adalah tingkat meliputi keyakinan kemampuan diri, dan menentukan kemampuan

membandingkan konsep awal dengan konsep yang baru diperoleh

11 12

Mohamad Nur, strategi-strategi belajar, (Surabaya: UNESA University press, 2005), 6. Ibid., 41. 13 Standiford, S N. 1984, Metacomprehension, dalam (http://www.vtaide.com/png/ERIC/Metacomprehension.htm diakses tanggal 15 desember 2008)

13

Materi fiqih

: Salah satu materi pelajaran dalam pendidikan agama islam yang membahas tentang hukumhukum islam yang bersifat Amali, sebagai materi pokok yang bertujuan memberikan pemahaman pada ajaran agama islam sebagai pandangan hidup. 14

Adapun materi fiqih yang dimaksud dalam penelitian ini adalah materi fiqih kelas X semester I pada pokok bahasan “Qurban Dan Aqiqah” Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dari judul skripsi Efektifitas pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif dalam

meningkatkan “metacomprehension” siswa pada materi fiqih kelas X di SMA Islam Parlaungan Waru Sidoarjo adalah efektif tidaknya pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif dalam meningkatkan “metacomprehension” siswa pada materi fiqih kelas X.

I. Metode Penelitian
1. Identifikasi Variabel Bertolak dari masalah penelitian yang telah dikemukakan diatas maka dengan mudah dapat dikenali variabel-variabel penelitiannya. Bahwa dalam penelitian masalah yang kita bahas ini mempunyai dua variabel, yaitu :

14

Chabib thoha, et.al., metodologi pengajaran agama, (Semarang: IAIN wali songo, 1999), 145

14

a. Independent Variabel atau Variabel Bebas disebut dengan Variabel (X) yaitu strategi belajar metakognitif disebut demikian, karena

kemunculannya atau keberadaannya tidak dipengaruhi variabel lain. Indikator-indikator strategi belajar metakognitif : • • • • • Siswa diberi kebebasan berfikir sesuai pengetahuan yang ia miliki. Mengidentifikasi apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Menganalisa masalah Memecahkan masalah Mengambil keputusan

b. Dependent Variabel atau Variabel Terikat disebut dengan Variabel (Y) yaitu keterampilan metacomprehension disebut demikian karena

kemunculannya disebabkan atau dipengaruhi variabel lain. Indikator-indikator metacomprehension : • • • • • Memonitor tingkat pemahaman diri Menentukan tingkat keyakinan Membandingkan konsep Memperbaiki kesalahan Mengakui kesalahan

15

2. Jenis dan Rancangan Penelitian a. Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan peneliti atau penulis untuk meneliti (mengetahui) efektif atau tidaknya stategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan “metacomprehension” siswa pada materi fiqih kelas X di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo adalah merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif yaitu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka-angka sebagai alat untuk menemukan keterangan mengenai apa yang diketahui.15 Penelitian ini menggunakan bentuk deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini dan melihat kaitan antara variabel-variabel yang ada. Penelitian deskriptif tidak hanya terbatas pada pengumpulan data saja, tapi juga melihat analisis interpretasi data.16 b. Rancangan penelitian Berpijak dari masalah penelitian di atas, dan setelah dapat dikenali variabel-variabel penelitiannya. Variabel yang pertama adalah “strategi belajar metakognitif” yang kemudian diposisikan sebagai variabel bebas

15 16

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 105 Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 26

16

atau independent variabel yang konvensional diberi notasi huruf (x), dan variabel yang kedua adalah “keterampilan metacomprehension” yang kemudian diposisikan sebagai variabel terikat atau dependent variabel yang konvensional diberi notasi huruf (y).17 Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan alasan bahwa dalam melakukan tindakan kepada subyek penelitian, sangat diutamakan pengungkapan makna dalam proses pembelajaran sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui strategi belajar metakognitif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang memerlukan analisis statistik (data berupa angka) untuk memperoleh kebenaran mengenai apa yang ingin diketahui. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu “pre-test and post-test one group design” yaitu suatu kelas dikenakan perlakuan tertentu dan dalam hal ini strategi belajar metakognitif pada materi fiqih. Setelah itu dilakukan pendekripsian terhadap pengelolaan pembelajaran, ketuntasan dan efektifitas strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

17

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 119

17

O1 X O 2 Keterangan : O1 : pres test O2 : post test X : Treatmen atau strategi belajar metakognitif. Di dalam desain ini observasi dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum tratment (O1) dan sesudah tratment (O2). Dari hasil pengukuran (test) yang dilakukan sebelum tratment (pre-test) dan sesudah tratment (post-test) dapat diketahui peningkatan hasil belajar strategi dan belajar

metacomprehension siswa (efek) dari metakognitif.

penerapan

Adapun latar penelitian dilaksanakan pada siswa SMA Islam Perlaungan berbek waru sidoarjo, mengenai Efektifitas Strategi

metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa pada materi fiqih, dengan pandangan peneliti sudah sedikit banyak mengetahui tipologi keadaan lokasi baik didalam maupun diluar lingkungan sekolah tersebut, agar dapat memperoleh data yang valid. Dengan karakteristik variabelnya, yaitu strategi belajar metakognitif sebagai variabel bebas, dan keterampilan metacomprehension siswa pada materi fiqih sebagai variabel yang terikat.

18

3. Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi pada dasarnya suatu elemen atau individu yang ada dalam wilayah penelitian atau keseluruhan subyek penelitian.18 atau dalam bahasanya Drs. Mardalis, populasi adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, kasus-kasus tersebut dapat berupa orang, barang, binatang, hal atau peristiwa.19 Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa: “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian apabila seseorang ingin meneliti semua subyek,maka penelitian tersebut merupakan penelitian populasi. Maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.” Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah beberapa guru dan siswa yang ada di SMA Islam Perlaungan yang berjumlah 245 siswa dari seluruh kelas, mulai dari kelas X, kelas XI, kelas XII, yang dapat dirinci sebagai berikut : Kelas X Kelas XI IPA Kelas XI IPS Kelas XII IPA Kelas XII IPS
18 19

= = = = =

74 siswa 57siswa 37 siswa 40 siswa 37 siswa

Suharsimi, prosedur penelitian, edisi revisi IV, 246 Drs. Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), cet. III, 53

19

b. Sampel Berdasarkan hal tersebut di atas dan sesuai dengan judul penelitian maka sebagai populasi penelitian adalah keseluruhan siswa-siswi kelas X SMA Islam Perlaungan yang terdiri dari 74 siswa karena jumlah populasi kurang dari 100 maka penelitian ini menggunakan populasi sebagai sampel. Maksudnya penelitian menggunakan populasi secara keseluruhan sebagai obyek penelitian. 4. Sumber Data Yang dimaksud dengan sumber data ialah subyek dari mana data itu diperoleh.20 Berlandaskan pada penelitian di atas maka sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah : a. Library Research : yaitu kajian kepustakaaan yang digunakan untuk mencari landasan teori tentang permasalahan yang diteliti dengan menggunakan literatur yang ada, baik dari buku, majalah, surat kabar maupun dari internet yang ada hubungannya dengan topik pembahasan skripsi ini sebagai bahan landasan teori. b. Field Research : yaitu data yang diperoleh dari lapangan penelitian. Adapun dalam penelitian ini ada dua cara untuk memperoleh data di lapangan , yakni : 1. Manusia : meliputi kepala sekolah, dewan guru Fiqih yang ada di tempat penelitian.
20

Suharsimi arikunto, prosedur……., 246

20

2. Non Manusia : untuk memperoleh data dengan mencatat atau melihat dokumen yang ada di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo. 5. Jenis Data Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini digolongkan menjadi dua jenis yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. a) Data Kuantitatif Yaitu data yang dapat diukur dan dihitung secara langsung dengan kata lain data kuantitatif adalah data yang berupa angka-angka, adapun yang termasuk data kuantitatif dalam penelitian ini adalah: 1. Jumlah guru, pegawai, dan siswa. 2. Hasil nilai tes tulis yang diajukan oleh peneliti mengenai keterampilan metacomprehension siswa pada materi Fiqih 3. Pelaksanaan strategi belajar metakognitif yang terdapat di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo b) Data Kualitatif Yaitu data yang dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak menggunakan angka-angka dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif.21 Dalam hal ini yang termasuk data kualitatif adalah :

21

Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik (Bandung :Pn. Tarsito, 1998), 9.

21

1. Sejarah berdirinya SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo 2. Letak Geografis SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo 3. Struktur Organisasi 4. Keadaan guru, pegawai, dan siswa Terhadap data yang bersifat kualitatif, yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan menurut kategori untuk mendapatkan kesimpulan. Sementara untuk data yang bersifat kuantitatif yang berupa angka-angka yang dapat diukur dan dihitung dapat diproses dengan cara prosentase dan mencari nilai rata-rata. Serta dijumlahkan, diklarifikasikan sehingga merupakan suatu susunan urut data, untuk selanjutnya dibuat tabel.22 6. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode.23 Instrumen dalam penelitian ini yaitu : a. Lembar Penilaian Pemahaman Diri (LPPD) sebagai Instrumen Metode Tes. b. Lembar Pengamatan Pengelolaan Kelas sebagai Instrumen Metode observasi. c. Lembar Tes Hasil Belajar sebagai Instrumen Metode Tes. d. Lembar pedoman interview sebagai Instrumen Metode interview.

22 23

Suharsimi arikunto, prosedur……, 246 Ibid., 126

22

7. Teknik Pengumpulan Data Yang dimaksud dengan teknik pengumpulan data adalah cara atau teknik yang digunakan penulis untuk mendapatkan data atau informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sesuai dengan kenyataan. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah: a. Metode observasi Pengertian observasi menurut Sutrisno Hadi adalah sebagai metode ilmiah, metode observasi biasa diartikan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki24 Observasi juga didefinisikan sebagai suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.25 Adapun yang dimaksud observasi dalam penelitian ini adalah suatu metode yang penulis gunakan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang: 1) Pelaksanaan strategi belajar metakognitif. 2) Pengelolaan pembelajaran guru 3) Perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Fiqih. 4) Keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Fiqih

24 25

Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach ( Yokyakarta: Andi Offset, 1991), 136. Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 31.

23

5) Interaksi siswa dan guru, siswa dan siswa dalam proses pembelajaran Fiqih. b. Metode Tes Metode tes adalah : “ Serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.“26 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa dalam menilai pemahaman diri dan hasil belajar siswa. Kemampuan Penilaian Pemahaman Diri siswa diperoleh selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Sedangkan hasil belajar siswa diperoleh pada akhir pembelajaran. c. Metode Interview (wawancara) Interview atau wawancara adalah metode pengumpulan data dengan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan dilaksanakan secara langsung oleh pewawancara kepada responden. Dalam penelitian ini metode interview digunakan untuk menggali data tentang situasi sekolah, kondisi siswa dalam proses belajar mengajar, kondisi guru dan lain sebagainya. Adapun instrumen pengumpulan datanya berupa pedoman interview yang terstruktur sebelumnya, dengan mewawancarai kepada kepala sekolah, karyawan dan guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.
26

Suharsimi arikunto, prosedur, 139.

24

d. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis sehingga metode dokumentasi adalah metode yang digunakan dengan cara menyelidiki benda-benda tertulis seperti bukubuku, dokumen, majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.27 Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang : a. Struktur organisasi sekolah b. Sarana dan Prasarana sekolah c. Sejarah berdirinya sekolah d. Keadaan fisik sekolah e. Program sekolah 8. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam rangka pengujian hipotesis dan sekaligus untuk memperoleh kesimpulan, maka penelitian ini memerlukan adanya teknik analisa data. Setelah data terkumpul baik dari observasi, tes, interview, maupun dokumentasi, maka peneliti mengelola data tersebut. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah :

27

Suharsimi Arikunto, prosedur panelitian suatu pendekatan praktek (Jakarta : Rineka Cipta,2002), edisi revisi V, 135.

25

1) Analisis data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran Data tentang kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dianalisis dengan menghitung rata-rata nilai kategori setiap pertemuan yang dilakukan. Selanjutnya nilai rata-rata tersebut dikonversikan dengan kriteria sebagai berikut : 0,00 – 1,50 : Kurang baik 1,51 – 2,50 : Cukup baik 2,51 – 3,50 : Baik 3,51 – 4,00 : Sangat baik28 Pengelolaan pembelajaran dikatakan efektif dan berjalan dengan baik jika kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar telah tercapai kriteria baik dan sangat baik. 2) Untuk menjawab tentang kemampuan “metacomprehension” siswa, terdiri dari 2 komponen, antara lain : a. Kemampuan menuliskan tingkat keyakinan terhadap kebenaran jawabannya, siswa dianggap memiliki Metacomprehension tinggi “jika siswa tahu atau yakin bahwa jawabannya benar atau salah” dan sebaliknya siswa memiliki tingkat Metacomprehension rendah “jika siswa tidak tahu dan tidak yakin bahwa jawabannya benar atau salah.” Siswa dianggap tuntas jika kesesuaian antara jawaban dan tingkat

Muhammad Habib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 89

28

26

keyakinan >65% dari keseluruan pertanyaan. Dan siswa dianggap tidak tuntas jika kesesuaian antara jawaban dan tingkat keyakinan <65% dari keseluruhan pertanyaan. b. Membandingkan konsep, siswa dianggap memiliki tingkat

metacomprehension tinggi “ jika siswa dapat menentukan dengan tepat apakah konsep awal mereka berbeda atau tidak dengan konsep yang baru diperoleh” dan sebaliknya “jika siswa tidak dapat menentukan dengan tepat,” maka siswa dianggap memiliki tingkat

metacomprehension rendah. Siswa dianggap tuntas jika kesesuaian antara jawaban dan kenyataan >65% dari keseluruan pertanyaan. Dan siswa dianggap tidak tuntas jika kesesuaian antara jawaban dan tingkat keyakinan <65% dari keseluruhan pertanyaan. Untuk mendeskripsikan kemampuan Metacomprehension

secara keseluruhan, peneliti membuat kategori sebagai berikut : 1 = kurang baik (jika tidak ada tuntas dalam 2 komponen tersebut). 2 = cukup baik (jika hanya tuntas dalam 1 komponen) 3 = baik (jika tuntas dalam 2 komponen tersebut) 3) Untuk memperoleh jawaban tentang efektifitas strategi belajar

metakognitif dalam melatih keterampilan metacompehension siswa pada materi fiqih, penulis menggunakan analisis secara statistik dengan uji t.

27

Untuk itu langkah yang perlu dilakukan adalah.29 1) Mencari to dengan menggunakan rumus to = MD / SEMD 2) Untuk mengetahui standar eror dari mean of difference yaitu SEMD dengan menggunakan rumus : SEMD = SDD N −1

3) Untuk mengetahui deviasi standart dari difference (SDD) dengan rumus : SDD = ΣD 2 (ΣD ) N N
2

Pembelajaran dengan Strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa pada materi fiqih dikatakan efektif apabila siswa secara individual dapat menjawab soal-soal post tes yang diberikan dan dapat mencapai metacomprehension ≥ 65% dan secara klasikal jika mencapai daya serap ≥ 85%

J. Sistematika Pembahasan
Agar lebih memudahkan dalam memahami tata urutan pembahasan dan kerangka berfikir, maka penulis uraikan tentang sistematika pembahasan dalam skripsi ini. Sistematika pembahasan dalam skripsi ini tersusun menjadi 4 (empat) bab, yakni :

29

Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 306-307

28

BAB I PENDAHULUAN, bab ini merupakan pendahuluan dari serangkaian pembahasan berikutnya. Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, definisi operasional, metode penelitian yang terdiri dari identifikasi variabel, jenis dan rancangan penelitian, populasi, sampel, sumber data, jenis data, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan pembahasan terakhir dalam bab pendahuluan ini adalah sistematika pembahasan. BAB II LANDASAN TEORI, bab ini merupakan kerangka teori yang diperoleh dari hasil telaah berbagai literatur yang berhubungan dengan strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa. Dalam hal ini akan diuraikan landasan teori tentang strategi belajar metakognitif yang meliputi teori pemrosesan informasi, teori belajar konstruktivis, kerangka berfikir, pengertian metakognitif, proses metakogntif, perilaku metakognitif, kemampuan metakognitif, dan menguraikan landasan teori tentang

Metacomprehension siswa yang meliputi, pengertian Metacomprehension,
penerapan Metacomprehension dalam pembelajaran, dan menguraikan landasan teori tentang pembelajaran Fiqih yang meliputi, pengertian bidang study fiqih, tujuan dan fungsi bidang study fiqih, ruang lingkup bidang study fiqih, dan efektifitas strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan

metacomprehension siswa pada materi fiqih.

29

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN, dalam bab ini berisi tentang laporan hasil penelitian yang meliputi penyajian data tentang gambaran umum objek penelitian, meliputi sejarah berdirinya sekolah, visi dan misi sekolah, letak geografis sekolah, struktur organisasi sekolah, keadaan guru dan non guru serta siswa, sarana dan prasarana sekolah, dan analisis data yang meliputi 3 pokok permasalahan didalam rumusan masalah. BAB IV PENUTUP, bab ini merupakan rangkaian terakhir pembahasan dalam skripsi ini yang berisi tentang kesimpulan, saran-saran berkenaan dengan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.

30

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan tentang Strategi Belajar Metakognitif 1. Teori Pemrosesan Informasi. Salah satu kemampuan metakognitif adalah mengacu pada kesadaran dan pengetahuan pebelajar tentang sistem memori mereka sendiri. Sejumlah ahli psikologi kognitif telah mengembangkan apa yang mereka sebut pandangan pemrosesan informasi atau information processing tentang pembelajaran.1 Teori ini menjelaskan bagaimana otak dan sistem memorinya bekerja. Dalam teori ini ide-ide dan informasi baru awalnya sebagai masukan sensori masuk ke dalam register atau pencatat penglihatan, suara, dan bau. Setelah masukan sensori itu telah kita persepsi dan kita catat , masukan sensori tersebut bergerak masuk ke dalam suatu ruang kerja yang disebut memori jangka – pendek atau short-term memory, di mana masukan sensori tersebut diproses atau dilupakan. Ruang penyimpanan dalam memori jangka pendek ini sangat terbatas. Meskipun demikian, memori jangka pendek mengatur apa yang hendak dilakukan pebelajar, bagaimana informasi baru mula-mula masuk ke dalam sistem memori, dan bagaimana informasi itu akhirnya dipindahkan ke memori
Prof. Dr. M Nur, Strategi-strategi belajar, (Surabaya: UNESA-University Press, 2005), 18
1

31

jangka panjang atau long-term memory, tempat pengetahuan disimpan secara permanen untuk dipanggil lagi dikemudian hari dan digunakan2. Untuk memasukkan informasi baru ke dalam memori jangka pendek diperlukan suatu usaha mendorong siswa untuk mengaktifkan pengetahuan awal dan memfokuskan perhatian mereka pada bahan-bahan pembelajaran tertentu. Karena pengetahuan awal dan cara pengetahuan diproses di dalam otak merupakan dua prasyarat untuk memahami bagaimana individu belajar dan bagaimana mereka menerapkan strategi-strategi belajar tertentu. Namun, informasi di dalam memori jangka pendek itu akan segera dilupakan kecuali ditindaklanjuti oleh pebelajar tersebut untuk dipindahkan ke memori jangka panjang. Pemrosesan informasi untuk memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke dalam memori jangka panjang disebut pengkodean atau encoding. Sementara itu, menyimpan informasi dalam memori jangka panjang tidak ada gunanya kecuali dapat ditemukan cara untuk mengaktifkan dan memanggil kembali informasi tersebut. Dan terakhir inilah yang merupakan tujuan utama pengajaran dan beberapa strategi belajar.3 Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan bagan berikut:

2 3

Ibid., hlm. 20 Ibid., hlm. 22

32

Memori Jangka Panjang

Rangsangan dari luar

Register penginderaan

Pemrosesan Awal

pemanggilan kembali
Pengulangan Dan Pengkodean

Memori kerja/Memori Jangka pendek
pengulangan

Lupa Gambar 2.1 : urutan pemrosesan informasi (Nur dkk, 1999) a. Register Pengindraan Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah register penginderaan. Register penginderaan menerima menerima sejumlah besar informasi dari indera dan penyimpanannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan oleh register penginderaan itu, maka dengan cepat informasi itu akan hilang. Keberadaan register penginderaaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan: 1. Orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat.

33

2. Seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang diindera dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran. b. Memori Jangka Pendek Memori jangka pendek adalah sistem penyimpan yang dapat menyimpan informasi dalam jumlah yang terbatas hanya dalam beberapa detik. Cara untuk menyimpan di dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau

mengucapkannya berkali-kali. Kapasitas memori jangka pendek setiap individu berbeda tergantung latar belakang pengetahuan seseorang. c. Memori Jangka Panjang Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori yang menyimpan informasi untuk periode waktu yang panjang. Cara untuk menyimpan di dalam memori jangka panjang ini adalah dengan pengulangan atau pengkodean. Memori ini memiliki kapasitas yang sangat besar, tempat menyimpan memori dengan jangka yang sangat panjang.4 2. Teori Belajar Konstruktivis Strategi metakognitif memberikan kesempatan pada siswa secara aktif untuk melakukan proses pembelajaran dari menggali pengetahuan awal sampai pada saat menilai pemahaman mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan
4

M. Nur, Prima R W dan Bambang S, Teori Belajar, (Surabaya: UNESA University Press, 1999), 21.

34

Teori Konstruktivisme yang lahir dari gagasan piaget dan vigotsky. Keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses

ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. Piaget dan Vigotsky juga menekankan adanya hakikat sosial dari belajar dengan menggunakan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota kelompok yang berbeda-beda untuk mengupayakan perubahan konseptual.5 Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori vigotsky yang menekankan empat prinsip kunci meliputi : a) Penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran, ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu; b) Zona Perkembangan Terdekat (Zone of Proximal Development) yaitu ide bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka; c) Pemagangan kognitif, proses dimana seseorang yang sedang belajar secara tahap demi tahap memperoleh keahlian dalam interaksinya dengan seorang pakar, pakar itu bisa orang dewasa atau orang yang lebih tua atau kawan sebaya yang telah menguasai permasalahanya;

5

M. Nur dan Prima R. W., Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran, (Surabaya: UNESA University Press, 2000), 4.

35

d) Scaffolding atau Mediated Learning, siswa seharusnya diberikan tugastugas kompleks, sulit dan realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas-tugas ini.6 Teori belajar konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus secara individu menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori konstruktivis memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi. Mengacu pada teori belajar konstruktivis, belajar adalah suatu peristiwa yang dilakukan oleh pebelajar secara terus menerus membangun gagasan baru atau memodifikasi gagasan lama dalam struktur kognitif yang senantiasa disempurnakan. Belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangkakerangka pengertian yang berbeda.7 Menurut pandangan konstruktivisme, otak anak (siswa) pada dasarnya tidak seperti gelas kosong yang siap diisi dengan air informasi yang berasal dari pikiran guru. Otak anak tidak kosong, otak anak berisi pengetahuan-

6 7

Ibid., 5. Mustaji dan sugiarso, Pembelajaran Berbasis Konstruktivis, (Surabaya: UNESA University Press, 2005),11.

36

pengetahuan yang dikonstruksi anak sendiri sewaktu anak berinteraksi dengan lingkungan peristiwa yang dialaminya. Pebelajar sendirilah yang bertangggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka membawa pengertiannya yang lama dalam situasi belajar yang baru. Mereka sendirilah yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkanya dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikan ketidaksesuaian antara apa yang telah diketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman baru.8 3. Kerangka Berfikir Dalam kurikulum 2004, pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Siswa diharapkan membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Selain itu, penekanan teori pembelajaran perilaku yang terkini menekankan pada pengaturan diri atau self regulation membantu siswa mencapai pengendalian atas pembelajarannya sendiri.9 Kemampuan tersebut merupakan hal yang agak lebih sukar dilakukan karena evaluasi diri melibatkan pemberian suatu pertimbangan tentang kualitas. Kemampuan ini juga jarang dilatihkan pada siswa, sehingga siswa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk keterampilan pengaturan diri.

8 9

Ibid., 12. M. Nur, Teori Pembelajaran Sosial, (Surabaya: IKIP Surabaya, 1998),

37

Untuk itu diperlukan suatu strategi untuk melatihkan keterampilan tersebut yaitu dengan strategi belajar metakognitif. Dengan strategi ini siswa diajarkan untuk menilai pemahaman mereka sendiri, menghitung berapa waktu yang mereka perlukan dan memilih rencana yang efektif untuk belajar atau memecahkan masalah. Strategi ini lebih cocok untuk siswa dengan tingkat berfikir pada tahap operasi formal. Pada tahap ini siswa dapat diberikan pengalaman dengan masalah-masalah kompleks. Oleh karena itu materi yang diambil adalah materi fiqih yang memiliki masalah-masalah yang kompleks dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan dipelajari oleh siswa yang telah berada pada tingkat berfikir tahap operasi formal yaitu sekitar usia 15-16 tahun. Pada akhirnya diharapkan siswa memiliki kemampuan menilai pemahaman diri dalam materi fiqih dan dapat melanjutkan keterampilan pada materi-materi yang lain. Siswa yang dilatih dengan strategi belajar metakognitif diharapkan untuk selalu memperbaiki kesalahan, jujur dan mengakui kesalahan. 4. Pengertian Metakognitif. Istilah metakognis berarti pengetahuan tentang belajar diri sendiri atau pengetahuan tentang belajar. Siswa dapat diajarkan stategi menilai pemahaman mereka sendiri, menghitung berapa waktu yang diperlukan untuk mempelajari sesuatu, dan memilih rencana yang efektif untuk belajar memecahkan masalah.

38

Metakognisi adalah proses aktivitas siswa yang menggunakan alur berfikir sendiri, siswa akan mempelajari bagaimana ia berfikir untuk belajar mengoreksi dirinya sendiri pada saat siswa tersebut kurang memahami sesuatu. Sedangkan menurut Hamilton, metakognisi mengacu pada

pengetahuan seseorang tentang proses yang dipikirkan manusia meliputi proses pengaturan diri yang digunakan siswa selama berusaha menyelesaikan masalah termasuk merencanakan, mengecek, memonitor, dan mengevaluasi. 5. Proses Metakognitif (Metacognitive process). Proses metakognitif meningkatkan pengetahuan dengan menggiring pemikiran siswa dan dengan membantu siswa mengikuti suatu tindakan seperti yang dia pikirkan melalui suatu masalah, membuat keputusan atau berusaha untuk memahami suatu kondisi atau bacaan. Pebelajar yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif dengan baik akan melakukan hal – hal berikut:10 a) Percaya bahwa diri mereka dapat belajar; b) Membuat penilaian yang tepat tentang penyebab keberhasilan mereka dalam belajar; c) Memikirkan penyebab ketidaktepatan ketika terjadi kesalahan dalam tugas;
Metacognitive Process (diadaptasi dari Strategic Teaching and Reading Project Guidebook) dalam NCREL online (http://www.ncrel.org./sdrs/areas/issues/students/learning/Ir1metp.htm diakses tanggal 15 desember 2008)
10

39

d) Aktif mencari informasi untuk memperluas daftar strategi belajar mereka; e) Mencocokkan strategi dengan tugas belajar, membuat penyesuaian ketika dibutuhkan; f) Meminta petunjuk kepada teman sebaya atau guru; g) Menggunakan waktu untuk berfikir tentang pemikiran mereka sendiri; h) Memandang diri mereka sendiri sebagai pebelajar dan pemikir terus menerus. 6. Perilaku Metakognitif (MetacognitiveBehavior) Blakey dan Spence (1990) memberikan gambaran teknik-teknik yang memudahkan metakognisi atau berfikir tentang berfikir, mereka memberikan kesan bahwa berfikir tentang perilaku diri sendiri adalah langkah pertama untuk menunjukkan perilaku metakognitif dan mengetahui cara belajar. Strategi yang dapat mengembangkan metakognisi terdiri atas:

“mengidentifikasi apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui”; “membicarakan apa yang dipikirkan”; “membuat suatu jurnal”; “ perencanaan dan pengaturan diri”; “Tanya jawab tentang proses berfikir”; dan “evaluasi diri.”11

11

Blakey, E., Spence, S., Metacognitive Behaviors, (online, 1990) (http://www.ncrel.org./sdrs/areas/issues/students/learning/Ir2behav.htm diakses tanggal 15 desember 2008)

40

7. Kemampuan Metakognitif (Metacognitive Skills). Kemampuan metakognitif mengacu pada kesadaran otomatis yang dimiliki pebelajar tentang pengetahuan dan kemampuan mereka untuk memahami, mengontrol, dan memanipulasi proses kognitif mereka sendiri. Kemampuan metakognitif dapat dikategorikan sebagai berikut (Metacognitive Skill dalam education.calumet.purdue.edu) :12 a. Metamemory Kemampuan ini mengacu pada kesadaran dan pengetahuan pebelajar tentang sistem memori mereka sendiri dan strategi-strategi untuk menggunakan memori mereka dengan efektif. b. Metacomprehension Kemampuan ini mengacu pada kemampuan pebelajar untuk memonitor tingkat pemahaman mereka terhadap suatu informasi yang disampaikan kepada mereka, untuk mengetahui kesalahan, juga untuk memahami dan menggunakan strategi yang telah diperbaiki karena kesalahan telah dapat diketahui. Salah satu cara paling sederhana untuk mengukur tingkat metacomprehension siswa adalah dengan meminta siswa untuk

menuliskan tingkat keyakinan bahwa dia menjawab dengan benar atau

12

Metacognitive Skill dalam (http://education.calumet.perdue.edu/vockell/EdPsyBook/Edpsy7/edpsy7_meta.htm diakses tanggal 15 desember 2008)

41

salah. Siswa dengan metacomprehension yang baik akan merespon dengan yakin bahwa jawabannya yang benar adalah benar atau jawabannya yang salah adalah salah. Siswa dengan metacomprehension yang rendah akan bertentangan antara jawaban dan tingkat keyakinannya (Standiford, Sally N. dalam www.vtaide.com).13 c. Self Regulation Kemampuan ini mengacu pada kemampuan pebelajar untuk membuat penyesuaian dalam proses belajar mereka untuk merespon tentang penilaian mereka terhadap status belajar mereka yang paling akhir. Untuk belajar lebih efektif, siswa seharusnya tidak hanya memahami strategi apa yang ada dan tujuan strategi tersebut, tetapi juga harus mampu mamilih, menggunakan, memonitor, dan mengevaluasi penggunaan strategi tersebut. B. Tinjauan Tentang Metacomprehension Siswa Pada Materi Fiqih. 1. Pengertian Metacomprehension Sebelum kita membahas Metacomprehension terlebih dahulu kita bahas tentang Comprehension (pemahaman). Pemahaman dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran.14 Karena itu maka belajar berarti harus mengerti maksud dan penerapannya sehingga siswa dapat memahami suatu

Standiford, S N. 1984, Metacomprehension, dalam (http://www.vtaide.com/png/ERIC/Metacomprehension.htm diakses tanggal 15 desember 2008) 14 Sardiman A.M, Interaksi dan motivasi belajar dan mengajar,(Jakarta: PT Raja Grafindo, 1996),cet. VI,42.

13

42

situasi. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar karena memahami maksud dari suatu materi, menangkap maknanya adalah tujuan akhir dari setiap belajar. Pemahaman (Comprehension) juga mamiliki arti yang sangat mendasar karena tanpa pemahaman, maka skill pengetahuan dan sikap tidak akan bermakna. Dalam belajar, unsur pemahaman tidak dapat dipisahkan dari unsurunsur psikologis yang lain. Dengan motivasi, konsentrasi dan reaksi, subjek belajar dapat mengembangkan fakta-fakta, ide-ide, sehingga dengan gabungan semuanya siswa dapat mempelajari sejumlah data atau materi baik secara berkala maupun secara langsung. Pemahaman (Comprehension) tidak sekedar tahu tetapi juga menghendaki agar subjek belajar dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipahami melalui perhatian, tanggapan, sikap, perubahan tingkah laku dalam belajar. Semakin dalam Comprehension yang diperoleh siswa pada waktu mempelajari materi untuk petama kali, makin baik pula prestasi mengingat kembali pada waktu mengerjakan ulangan.15 Dengan demikian diharapkan pemahaman (Comprehension) akan bersifat kreatif dan apabila siswa benar-benar memahami suatu materi maka akan siap memberi jawaban yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan dalam proses belajar. Pemahaman (Comprehension) dapat dibedakan menjadi dua macam:16

15 16

WS. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abadi,2004), 74. Abu ahmadi dan M. Umar, Psikologi Umum, (Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset,1992), 40-41.

43

a. Menurut terjadinya, pemahaman (comprehension) dapat dibagi dalam dua macam:
1) Dengan sengaja, ialah dengan sadar dan sungguh-sunguh memahami,

hasilnya akan lebih mendalam.
2) Tidak sengaja, ialah dengan tidak sadar ia memperoleh sesuatu

pengetahuan, hasilnya tidak mendalam dan tidak teratur. b. Menurut cara memahaminya, pemahaman (comprehension) dapat dibagi dua macam: 1) Secara mekanis, ialah menghafal secara mesin dengan tidak menghiraukan apa artinya. Hasil dari pemahaman ini biasanya tidak akan tahan lama dan cepat lupa. 2) Secara logis, ialah menghafal dengan mengenal dan memperhatikan artinya. Hasil dari pemahaman ini akan lebih tahan lama dan tidak cepat lupa. Pemahaman atau Comprehension siswa juga dapat terlihat dari tanggapan yang mereka berikan pada materi pelajaran. Tanggapan dapat diartikan sebagai perilaku baru dari siswa sebagai manifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat ia belajar. Tanggapan juga berarti kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu kejadian dengan cara berpatisipasi dalam berbagai bentuk.17

Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi,(Jakarta:Gaung Persada Press,2006),cet.4,34.

17

44

Dengan

menggabungkan

antara

comprehension

dan

metacomprehension, kategori siswa dapat dibagi menjadi 4 kelompok (Standiford, Sally N. dalam www.vtaide.com): 1) High Comprehension-High Metacomprehension (siswa yang tahu dan sadar bahwa dia tahu) 2) Low Comprehension-High Metacomprehension (siswa yang tidak tahu dan menyatakan bahwa mereka tidak tahu) 3) High Comprehension-Low Metacomprehension (siswa yang tahu tapi berfikir bahwa mereka tidak tahu) 4) Low Comprehension-Low Metacomprehension (siswa yang tidak tahu tapi berfikir bahwa mereka tahu) Arti kata Metacomprehension adalah Keterampilan dan kemampuan siswa dalam menilai pemahaman mereka sendiri. Kemampuan ini mengacu pada kemampuan pebelajar untuk

memonitor tingkat pemahaman mereka terhadap suatu informasi yang disampaikan kepada mereka. Kemampuan ini sangat penting bagi siswa agar mereka dapat selalu menyadari kesalahanya dan berusaha memperbaiki diri. Keterampilan Metacomprehension meliputi kemampuan siswa dalam: 1) 2) Menentukan tingkat keyakinan diri. Membandingkan konsep awal dengan konsep yang baru diperoleh.

45

2. Penerapan Metacomprehension Pada proses pembelajaran strategi metakognitif, siswa dilatih suatu keterampilan untuk menilai kemampuan pemahaman mereka

(Metacomprehension) terhadap suatu materi. Keterampilan metacomprehension ini tidak bisa dilakukan secara asalasalan, akan tetapi memerlukan pemahaman (comprehension) yang tinggi. Dalam penerapannya keterampilan metacomprehension membutuhkan media yang bisa dikatakan sangat sederhana. Media yang digunakan adalah Lembar Penilaian Pemahaman Diri (LPPD), yang terdiri dari dua lembar, yaitu LPPD individu dan LPPD kelompok. Metacomprehension bisa dimulai dengan membagi LPPD menjadi dua bagian dengan masing-masing fungsi, yakni pada bagian LPPD individu yang berfungsi sebagai menentukan tingkat keyakinan diri dan pada LPPD kelompok yang berfungsi untuk

membandingkan konsep awal dengan konsep yang baru diperoleh dari hasil diskusi dengan bantuan buku siswa. Siswa yang memiliki Comprehension tinggi terhadap suatu materi akan bisa langsung mengerjakan soal pada LPPD I, dengan tanpa melihat buku dan bertanya pada teman. Begitu juga pada siswa yang

Metacomprehension tinggi akan menjawab dengan benar dalam menentukan tingkat keyakinan dan membandingkan konsep pengetahuannya. Diakhir pelajaran, beri waktu pada siswa untuk melihat kembali LPPDnya, lalu beri mereka kesempatan dari masing-masing kelompok untuk

46

mengungkapkan hasil jawabannya. Ketika siswa mengulas kembali jawaban dari LPPDnya, maka dari jawaban-jawaban itu akan memicu pikirannya untuk mengingat apa yang dikatakan pembicara dan juga menghidupkan kembali apa yang siswa pikirkan pada saat itu, hal ini akan sangat berarti bagi siswa dalam membantu mereka memahami materi yang disampaikan guru.18 Menulis pikiran yang ada pada anak didik dengan cara seperti ini akan membantu siswa dalam memusatkan konsentrasi dan mengalihkan pikiran kembali pada apa yang sedang dikatakan oleh guru. Indikator-indikator Metacomprehension : a) Mampu menentukan tingkat keyakinan atas jawabannya • • Yakin bahwa jawabannya yang benar adalah benar Yakin bahwa jawabannya yang salah adalah salah

b) Mampu membandingkan konsep • Jika dapat membedakan bahwa pengetahuan yang ia miliki sebelumnya berbeda atau tidak berbeda dengan pengetahuan yang baru diperoleh. C. Tinjauan Tentang Pembelajaran Materi Fiqih di Sekolah 1. Pengertian fiqih Fiqih merupakan salah satu materi pelajaran dalam pendidikan agama Islam yang membahas tentang hukum-hukum Islam yang bersifat amali.
18

Bobbi DePorter, dkk., Terj. Ary Nilandari, Quantum Teaching : Mempraktekkan Quantum Learning Di Ruang-Ruang Kelas, (Bandung: Kaifa, 2001),179.

47

Materi ini diberikan dengan tujuan memberikan pemahaman dan pengalaman pada siswa dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul di sekitarnya yang bersifat amaliyah dengan melalui hukum-hukum Islam. Pengertian fiqih secara etimologis berarti mengetahui sesuatu secara mendalam yang menghendaki pengerahan potensi akal. Pengertian tersebut dapat kita temukan dalam al-qur’an yang berbunyi :19

‫ﻳﻔﻘ ُﻮن ﻟﻘﻮم اﻵ َﺎت ﻓﺼﻠ َﺎ ﻗﺪ وﻣﺴﺘﻮدع ﻓﻤﺴﺘﻘﺮ َاﺣﺪة ﻧﻔﺲ ﻣﻦ أﻧﺸﺄآﻢ اﻟ ِي وهﻮ‬ َ ُ َ ‫َ ْ َﻬ َ ِ َ ْ ٍ ﻳ ِ َ ﱠ ْﻨ َ ْ َ ُ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ َ َ ﱞ و ِ َ ٍ َ ْ ٍ ِ ْ َ ْ ََ ُ ْ ﱠﺬ‬ (٩٨)
Artinya: “Sesungguhnya telah kami jelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang mengetahui”. (QS. Al-An’am : 98) Adapun fiqih secara terminologis adalah hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis (amaliah) yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci.20 Sedangkan menurut Dr. H. Muslim Ibrahim.M.A. mendefinisikan fiqih sebagai suatu ilmu yang mengkaji hukum syara’ yaitu firman allah yang berkaitan dengan aktifitas muallaf berupa tuntutan, seperti wajib, haram, sunnah, dan makruh atau pilihan yaitu mubah, ataupun ketetapan seperti syarat dan mani’ yaitu kesemuannya digali dari dalil-dalilNya yaitu Al-qur’an

19 20

Chabib thoha, et. al., Metodologi Pengajaran Agama, (Semarang : IAIN walisongo,1999), 145. Ahmad rofiq. M.A., Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), 5

48

dan As-sunnah melalui dalil-dalil yang terinci seperti ijma’, qiyas dan lainlain.21 Pembelajaran fiqih dalam kurikulum adalah salah satu bagian dari mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Mata pelajaran fiqih meliputi fiqih ibadah dan fiqih Mu'amalah, yang menggambarkan bahwa ruang lingkup fiqih mencakup perwujudan kesaksian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (hablunminallah wa hablunminnas). 2. Tujuan dan fungsi a. Tujuan Fiqih di Madrasah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat : Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terpenuhi dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.

21

Muhammad azhar, Fiqih Kontemporer Dalam Pandangan Neomodernisme Islam, (yogyakarta : lesiska, 1996), 4

49

Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kekuatan menjalankan hukum Islam, dengan disiplin dan bertanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. b. Fungsi Bidang study fiqih berfungsi untuk : Menanamakaan nilai-nilai dan kesadaran beribadah peserta didik kepada Allah SWT, sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Membiasakan pengamalan terhadap hukum Islam pada peserta didik dengan ikhlas dan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku di Madrasah dan masyarakat. Membuat kedisiplinan dan rasa tanggung jawab sosial di Madrasah dan masyarakat. Meneguhkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta menanamakaan akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin. 3. Ruang lingkup Ruang lingkup fiqih meliputi keserasian keselarasan dan

keseimbangan antara : Hubungan manusia dengan Allah SWT Hubungan manusia dengan sesama manusia Hubungan manusia dengan alam dan lingkungan.

50

D. Efektifitas Pembelajaran dengan Strategi Belajar Metakognitif dalam Meningkatkan Metacomprehension Siswa pada Materi Fiqih. Efektifitas adalah ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan. Dalam upaya meningkatkan efektifitas proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar terbaik sesuai harapan, perencanaan pembelajaran merupakan sesuatu yang mutlak harus dipersiapkan setiap guru, setiap akan melaksanakan proses pembelajaran, walaupun belum tentu semua yang direncanakan akan dapat dilaksanakan, karena bisa terjadi kondisi kelas merefleksikan sebuah permintaan yang berbeda dari rencana yang sudah dipersiapkan, khususnya tentang strategi pembelajaran apa yang diterapkan. Namun demikian, guru tetap diharapkan mampu menyusun perencanaan yang lebih sempurna, sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga semua siswa bisa mengikuti proses kegiatan belajar sesuai harapan, semua siswa bisa memahami bahan-bahan ajar yang ditawarkan, semua siswa bisa memperoleh berbagai pengalaman baru dalam menambah

kompetensinya sesuai hasil belajar mereka. Untuk dapat membuat perencanaan yang baik dan dapat

menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan pembelajaran yang baik, antara lain, kebutuhankebutuhan siswa, tujuan-tujuan yang dapat dicapai, berbagai strategi belajar yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, dan kriteria evaluasi. Bersamaan dengan itu, peran guru dalam mengembangkan strategi belajar metakognitif ini sangat penting, karena aktivitas siswa belajar sangat

51

dipengaruhi oleh sikap dan perilaku guru dalam kelas. Jika mereka antusias, memperhatikan aktivitas dan kebutuhan-kebutuhan siswa, maka siswa-siswa tersebut akan mengembangkan aktivitas belajarnya dengan baik, antusias, giat, dan serius. Efektifitas pengajaran guru dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar metakognitif pada materi fiqih ini, merupakan sejauh mana tujuan pengajaran yang diinginkan telah tercapai melalui kegiatan belajar mengajar dan sejauhmana siswa mengalami perubahan tingkah laku. Dalam meningkatkan metacomprehension siswa, khususnya pada materi fiqih maka seorang guru dituntut untuk dapat menggunakan strategi mengajar yang tepat maka dari itu salah satu usaha guru dalam rangka meningkatkan metacomprehension siswa pada materi fiqih adalah dengan menggunakan strategi belajar metakognitif. Pebelajar yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif dengan baik akan melakukan hal –hal berikut: 1. Percaya bahwa diri mereka dapat belajar; 2. Membuat penilaian yang tepat tentang penyebeb keberhasilan mereka dalam belajar; 3. Memikirkan penyebab ketidaktepatan ketika terjadi kesalahan dalam tugas; 4. Aktif mencari informasi untuk memperluas daftar strategi belajar mereka; 5. Mencocokkan strategi dengan tugas belajar, membuat penyesuaian ketika dibutuhkan; 6. Meminta petunjuk kepada teman sebaya atau guru;

52

7. Menggunakan waktu untuk berfikir tentang pemikiran mereka sendiri; 8. Memandang diri mereka sendiri sebagai pebelajar dan pemikir terus menerus. Maka dari itu, penggunaan strategi belajar metakognitif sangat penting untuk memberikan pemahaman yang baik serta untuk meningkatkan

metacomprehension siswa dalam materi fiqih. Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan strategi belajar metakognitif sangat efektif dalam meningkatkan metacomprehension siswa terutama pada materi fiqih.

53

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian. 1. Sejarah berdirinya SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo Pada bab ini ditegaskan bahwa penelitian ini penulis lakukan di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo yang berlokasi di jalan raya Berbek, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo dibuka pada tahun 1980. Kemudian disusul dengan berdirinya yayasan pada tanggal 1 oktober 1980 dengan nama “Yayasan Madrasah Islamiyah Modern” (YMIM). Yang sekarang diketuai oleh Ir. H. Masyhuda. Selain SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo ini, lembaga pendidikan Al-Muslim yang terletak di desa Wadung Asri Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, juga termasuk satu yayasan dalam naungan YMIM Mulai berdirinya sampai sekarang, SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo telah mengalami tujuh kali pergantian kepala sekolah. Adapun urutan yang menjabat sebagai kepala sekolah adalah sebagai berikut : a. Ir. Erlina Nasution : 1979-1981 b. Ir. H. Masyhuda : 1981-1985 c. Drs. M. Shofi : 1985- 1987

54 d. Drs. Heru Mustari : 1987-1994 e. Drs. Fahrur Rozi : 1994-1998 f. Drs. Ahmad Hermanto : 1998-2005 g. H. Sudjono, S.Si.Apt : 2005-sekarang SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo merupakan wadah pendidikan agama Islam yang menerapkan kurikulum KBK dan KTSP dengan proses pembelajaran integrasi Pendidikan Agama Islam ke dalam setiap mata pelajaran. Sedangkan waktu kegiatan belajar mengajar di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo berlangsung 6 (enam) hari, mulai Senin-Sabtu yakni pagi sampai siang hari, tepatnya pukul 06.30-12.30 WIB. 2. Visi dan Misi Visi dari SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo adalah

Mengembangkan potensi siswa sebagai kholifah Fil-ardli yang berwawasan IMTAQ dan IPTEK. Misi dari SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo adalah : a. Membekali siswa sebagai pemimpin b. Membekali siswa ilmu pengetahuan akademis c. Mengembangkan prestasi siswa di bidang keterampilan, olah raga, dan seni. d. Membekali siswa ilmu pengetahuan agama sehingga dapat melaksanakan perintahnya dan menjahui larangannya.

55 3. Letak Geografis Letak geografis merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi pelaksanaan penalitian untuk memperoleh gambaran yang utuh dan jelas mengenai kualitas. SMA Islam Perlaungan terletak di Kecamatan Waru, tepatnya di jalan raya Berbek I. Letak SMA Islam Perlaungan agak masuk ke dalam sehingga hal ini menjadikan SMA Islam Perlaungan tempat yang nyaman untuk proses belajar mengajar karena jauh dari jalan raya sehingga terhindar dari kebisingan. Walaupun demikian untuk mencapai SMA Islam Perlaungan tidak terlalu sulit karena lokasi tersebut terletak pada posisi yang sangat strategis, dikatakan demikian karena jangkauannya sangat mudah, dapat dilewati berbagai sarana transportasi yang memadai sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk menuju SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo. Berikut kondisi geografis SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo : a. SMA Islam Perlaungan terletak di wilayah kecamatan Waru kabupaten Sidoarjo. Adapun luas dan batas wilayahnya, antara lain : Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat b. Kondisi Geografis Ketinggian tanah dari permukaan laut Banyaknya curah hujan :5M : 2000 Mm/tahun : Rumah Penduduk : Masjid dan Pondok : Rumah Penduduk : Jalan

56 Topografis (dataran rendah, tinggi, pantai) 4. Struktur Organisasi Struktur Organisasi SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo : Dataran Rendah

Dinas Pendidikan

Yayasan

Kepala Sekolah

Komite

TU. Keuangan

Ka. Tata Usaha

Waka Kurikulum

Waka Kesiswaan/BP

W. Kelas X1

W. Kelas XI IPA Guru Siswa

W.Kelas XI IPS

W.Kelas XII IPS

W. kelas X2

W. Kelas XII IPA

Keterangan : : Garis komando : Garis koordinasi Gambar 3.1 Struktur Organisasi SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. 5. Keadaan Guru, Karyawan dan Siswa a. Keadaan guru dan karyawan

57 Jumlah guru yang ada di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo pada tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 32 orang. Dengan perincian sebagai berikut : Tabel 3.1 Daftar Guru SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama H. Sudjono, S.Si.Apt Drs. Syaifullah yazid M. Asmali, S. Kom. Syamsuddin, S. Pd. Drs. Masruchin. M. Amirulloh umam, S.T. Drs. Wahyu Cahyono. Mas Hulatun Nasiah, M. Pd.I Gandung Imaiviarto, S.Si. Nur Faizatul M, S.Pd. Rochimatul Afiyah, S.Pd. Musrifah, S.Pd. Aminullah Hadi, S.H. H. Imam Sulbani, S. HI. M. Agus Salim, S.Pd. Alfan Sasmiko S., S. HI Drs. Asmaul Husna Drs. Hadi Maryono Drs. Puryanto. Nanang Zainul A. S.Pd. Drs. Ahmad Hermanto. Kuliyah, Sra. Sapto Wiyono, SPd. Drs. Supardi. Nur Badriyah,SPd. Jabatan Kepala Sekolah/ Guru kimia Guru B. Inggris WKS. Kurikulum/Guru TIK WKS. Kesiswaan/Guru Penjas Guru Fiqih Guru KTK Guru Kimia Guru Aqidah Akhlak Guru Biologi Guru Sosiologi Guru Ekonomi Guru matematika/Guru Kimia Guru B. Arab Guru Al-qur’an Hadist Guru B. Inggris Guru BP Guru Kewarganegaraan Guru KIR Guru Geografi Guru Fisika/KTK Guru Ekonomi. Guru B. Indonesia Guru Ekonomi Guru Matematika Guru KTK

58 26 27 28 29 30 31 32 Isnaini Rahmawati, SPd. Rimawati, SPd Rosiana Hidayati, S. Si. Achmad Fauzi, SPd Mas Abdul Haris, BA. Ai’ Suarti, SPd H. M. shochib A., SPd Guru KTK Guru Geografi Guru B. Indonesia Guru Sejarah Guru kesenian Guru B. inggris Guru Sejarah

b. Keadaan Siswa Jumlah siswa yang belajar di SMA tahun 2008/2009 secara keseluruhan dari kelas 1 s/d 3 adalah 245 siswa. Tabel 3.2 Keadaan Siswa Kelas X XI IPA XI IPS XII IPA XII IPS LK 32 16 25 13 25 Jumlah Murid PR 42 41 12 27 12 Jumlah 74 siswa 57 siswa 37 siswa 40 siswa 37 siswa

6. Keadaan Sarana dan Prasarana Tabel 3.3 Sarana dan Prasarana No 1 2 3 4 5 Jenis Ruang/Sarana Prasarana Ruang Kepala Sekolah Ruang Guru Ruang Tata Usaha/Administrasi Ruang Teori/Kelas Ruang Laboratorium Fisika Jumlah 1 1 1 7 1 Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik

59 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Ruang Laboratorium Biologi Ruang Laboratorium Kimia Ruang Laboratorium Computer Ruang Keterampilan Ruang Perpustakaan Ruang Ibadah Ruang BP/BK Ruang OSIS Ruang UKS Koperasi/Toko Kamar mandi/WC Guru Kamar Mandi/WC Siswa Bengkel Gudang 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

B. Penyajian Data 1. Penyajian Data Hasil Interview Dari hasil interview antara penulis dengan bapak H. Sudjono, S.Si.Apt sebagai kepala sekolah SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo dan bapak Drs. H. Masruchin sebagai guru mata pelajaran fiqih yang penulis lakukan, maka dapat diketahui bahwasanya penerapan strategi belajar metakognitif pada materi fiqih kelas X di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo bukan tanpa alasan. Strategi ini diterapkan karena dinilai bisa membawa siswa pada pemahaman yang baik pada materi fiqih yang diberikan di sekolah. Strategi

60 metakognitif yang diterapkan adalah dalam melatih keterampilan

metacomprehension siswa. Materi fiqih di kelas X diberikan 1 kali dalam seminggu yaitu diberikan di hari Jum’at pada jam 1-2 di kelas X1 dan pada jam 4-5 di kelas X2, dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran untuk tiap kali pertemuan. Dari hasil interview dengan bapak Drs. H. Masruchin dan juga hasil dari observasi yang penulis lakukan pada kelas X ketika proses belajar mengajar berlangsung, penulis memperoleh gambaran tentang suasana kelas dan strategi yang dipakai dalam pembelajaran fiqih. Adapun pelaksanaan pembelajaran fiqih di kelas X SMA Islam Perlaungan Berbek berjalan dengan lancar dan terlaksana dengan langkahlangkah yang benar menurut ilmu pendidikan/pengajaran. Lebih jelasnya pembelajaran fiqih di kelas X menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:1 Langkah persiapan, langkah ini merupakan kegiatan guru dalam mempersiapkan materi pelajaran sebelum mengajar. Dalam hal ini, guru menyiapkan LPPD dan perangkat pembelajaran Serta menerapkan strategi mengajar yang hendak dipakai dalam pembelajaran nanti. Setelah guru mempersiapkan materi pelajaran serta menetapkan strategi/metode yang akan digunakan pada waktu pembelajaran, maka

Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. H. Masruchin (Guru Fiqih SMA Islam Perlaungan pada hari Jum’at, 2 januari 2009), Pukul 9.30 Wib

1

61 kegiatan berikutnya masuk dalam langkah pembelajaran. Adapun

pembelajaran fiqih di kelas X SMA Islam Perlaungan, melalui langkahlangkah sebagai berikut : Langkah awal (pendahuluan), guru memberikan beberapa pertanyaan tentang materi yang disampaikan pada pertemuan yang lalu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana ingatan anak didik terhadap materi yang telah diberikan dan untuk merangsang anak didik dalam menerima pelajaran berikutnya, guru mengajukan pertanyaan tentang materi baru untuk menggali pengetahuan awal siswa. Kemudian guru juga menyampaikan tujuan pembelajaran serta menetapkan topik yang akan dipelajari. Langkah kedua (kegiatan inti), tiap siswa disuruh untuk mengerjakan LPPD hal I. Selanjutnya, guru membimbing siswa dalam mengerjakan LPPD hal II dengan bantuan buku siswa serta bekerja sama dengan teman sebangkunya. kemudian guru membimbing siswa dalam membandingkan pengetahuan awalnya dengan hasil diskusi. Sebelum mengecek pemahaman siswa, guru terlebih dahulu menjelaskan konsep-konsep penting dari materi dan dilanjutkan dengan mengecek pemahaman siswa dengan memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan. Sebagai langkah akhir pada kegiatan inti, dan guru selalu mengingatkan siswa untuk selalu berlaku jujur dalam membuat penilaian. Langkah ketiga (penutup), guru menyimpulkan materi dan

mengarahkan siswa untuk untuk membuat rangkuman. Sebelum pengajaran

62 fiqih ditutup, guru selalu memotivasi siswa agar membuka kembali buku pelajaran di rumah, agar tidak mudah lupa dan menjadi ilmu yang bermanfaat khususnya bagi perkembangan kepribadian anak didik. Pada setiap pertemuan guru berupaya sebisa mungkin untuk dapat menjalankan strategi ini dalam proses pembelajaran. Penerapan strategi metakognitif ini tidak terlepas dari hambatan dan rintangan yang datanya dari guru atau dari siswa. Keadaan siswa yang kurang memiliki rasa percaya diri atas kemampuan mereka, sehingga cenderung banyak siswa yang masih bertanya pada teman pada saat mengerjakan LPPD individu. Dalam mengatasi hambatan ini guru berusaha selalu mengingatkan siswa untuk berbuat jujur, tidak membuka buku dan bertanya pada teman. Dengan demikian pembelajaran fiqih khususnya di kelas X SMA Islam Perlaungan sangat menekankan pada kebebasan berfikir siswa sesuai pengetahuan yang ia miliki dan memberikan kesempatan pada siswa untuk terampil dan berkreasi dalam menilai pemahaman mereka dalam proses pembelajaran. 2. Penyajian Data Hasil Observasi Data kemampuan guru dalam mengelola strategi belajar metakognitif pada materi Fiqih di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. Data kemampuan guru dalam mengelola strategi belajar

metakognitif pada materi Fiqih disajikan dalam tabel 3.4 berikut :

63 Tabel 3.4 Data kemampuan guru No
I II

Aspek yang di amati
Persiapan Pelaksanaan A. Pendahuluan 1. Memotivasi siswa 2. Mengaitkan materi baru dengan materi sebelumnya 3. Menjelaskan tujuan pembelajaran B. Kegiatan inti 1. Menggali pengetahuan awal siswa dengan menggunakan LPPD. 2. Membimbing siswa untuk mengerjakan LPPD dengan bantuan buku siswa 3. Membimbing siswa dalam membandingkan pengetahuan awalnya dengan hasil diskusi kelompok 4. Menjelaskan konsep-konsep penting 5. Membimbing diskusi kelas/mengecek pemahan siswa C. Penutup 1. Menyimpulkan materi Pengelolaan waktu Suasana Kelas A. Berpusat pada siswa B. Siswa antusias C. Guru antusias

Pt I
4 4 2 4 3 3

Pt II
4 4 3 3 4 3

Ratarata
4 4 2,5 3,5 3,5 3

4 3 2 3 3 4 3 4

4 4 3 3 4 4 4 4

4 3,5 2,5 3 3,5 4 3,5 4

III IV

3. Penyajian Data Hasil Tes a. Data Keterampilan Metacomprehension siswa dengan penerapan strategi belajar metakognitif selengkapnya disajikan pada tabel 3.5 berikut : Tabel 3.5 Keterampilan Metacomprehension LPPD I LPPD II Tes Akhir
No abse n
Ketuntasan komponen metacmprehension (MC) Skor MC Ketuntasan komponen metacmprehension (MC) Skor MC Ketuntasan komponen metacmprehension (MC) Skor MC

a

b

a

b

a

b

64 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. T T T TT T T TT TT T T T T TT TT TT T T T T T TT T TT T TT T TT TT T TT T T T TT T T TT T 3 2 3 1 3 2 2 1 2 3 2 3 2 2 1 3 3 2 3 T T T TT T T T T T T TT T T T T T T T T T 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 T TT TT TT 2 1 T TT T TT TT T T T 2 2 3 2 T T T T TT TT T T T TT T T T T TT T T T T T T T T T T T T T T T T TT 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 T T T T TT T T TT T T T T T T TT T TT TT T T T T T T T T T T T T T TT TT T TT T T T T T T T T TT T T T T T T T T T T 3 3 3 3 1 2 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3

65 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. T TT T TT TT T TT TT T T T T T TT TT TT T T T TT T T T TT T T TT T TT TT TT TT TT T TT TT TT T T T TT T TT TT TT T TT T T T T T T T 3 1 2 1 1 2 2 1 2 2 3 3 3 1 2 1 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 2 T TT T T TT T T TT 2 2 3 2 T T T TT T T T TT T T T T T T T TT T T T T T T T T T TT T TT T T TT T T T T T TT T T T T T T T 3 3 3 1 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 T T T TT T TT T T T T T T T T T TT T T T T T T TT T T T T T T T TT T TT T T T T T T T TT T T T T T T T T TT T T T T 3 3 3 1 3 1 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3

66 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. T TT %T T T T T TT T T TT T T T TT T T T T T T TT TT 47 25 65,3 % TT T T T T TT T T TT T T T T T TT T T T T T 44 28 61,1 % 2 3 3 3 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 2 T T T T T T T TT T T T T T TT T 59 12 83,1 % T T T TT TT T T T T T T T T T T 61 10 85,9 % 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 T T T T T T T T 3 3 3 3 T T T T TT T T T T T T T T T T T T T T T 64 10 86,5 % T T T T TT T T T T T T T T T T T T T T T 65 9 87,8 % 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

Keterangan :
a = kemampuan menentukan keyakinan b = kemampuan membandingkan konsep MC = Metacomprehension T = Tuntas TT = Tidak Tuntas

67 Nilai :
1 = Kurang Baik (Tidak Ada Komponen Yang Tuntas) 2 = Cukup Baik (Hanya Satu Komponen Yang Tuntas) 3 = Baik (Dua Komponen Yang Tuntas)

Berdasarkan data dari kedua komponen tersebut, diperoleh data skor keterampilan metacomprehension diringkas dalam tabel 3.6 berikut : Tabel 3.6 Rekapitulasi Keterampilam Metacomprehension Siswa Skor Metacompehension
1 (kurang baik) 2 (cukup baik) 3 (baik) Total Rata-rata

LPPD I Jumlah % siswa
11 15 31 43 30 42 72 100 2,36 (cukup baik)

LPPD II Jumlah % siswa
3 19 49 71 4 27 69 100

Tes Akhir Jumlah % siswa
7 5 62 74 9 7 84
100

2,65 (baik)

2,74 (baik)

b. Data Hasil Belajar Siswa Tabel 3.7 hasil belajar siswa dengan strategi belajar metakognitif
Skor Hasil Belajar No Nama Sebelum diterapkannya strategi metakognitif Sebelum diterapkannya strategi metakognitif ketuntasan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Agung majid subakti Agung setiawan Arini maziatun nisa’ Ayu agustin ningrum Chorida Coni’atul hidayah Dimas naiyirul huda Eka febriana R

70 70 80 70 58 70 60 43

80 75 95 85 55 70 80 55

T T T T TT T T TT

68 9. Emi musaiyadah 60 50 65 70 80 70 70 70 50 70 60 70 50 70 60 50 80 70 70 86 60 70 40 70 40 80 65 70 70 80 80 90 70 100 80 50 70 80 60 80 90 60 75 85 80 75 90 80 75 55 90 50 80 90 T T T T T T T T TT T T T T T T T T T T T T T TT T TT T T

10. Fitrotin nufus 11. Hidayatun nisa’ 12. Imroatul wahidah 13. Intihaul choiro 14. Irfan Andrian F 15. Khoirotun nisa’ 16. Kholifatul jannah 17. Kurniawan andi P 18. Lia fatma choirun N 19. Linda siti aminah 20. M. Alfin Nuzul 21. M. Farid Abdillah 22. Masduchi zakaria 23. Mirna anisa putri 24. M. debbi Baihaqi 25. Nadhiroh safitri 26. Ni’matus Sa’adah 27. Nur Aifa 28. Nur laila indah 29. Nurul chusnul jannah 30. One firsa fauziah 31. Rian ardana 32. Rifki firmansyah 33. Rizkie arie cahyani 34. Salamah salein bazhe 35. Siti kholifah

69 36. Siti khofsah 37. Siti maimunah 38. Syahidul munfarid 39. Veni erma yulistika 40. Ainur Rosyidah 41. Abdul rahman wahid 42. Agung prasetyo 43. Ahmad hidayatullah 44. Ahmad kardianto 45. Chusnah muhaiyaroh 46. Chusnul ariyanti 47. Doddy eko wijayanto 48. Erwin wincono aji 49. Fatimah romadhoni 50. Heru eko prasetyo 51. Ibnu rusydi 52. Ilma ilfiyah 53. Intan paradita asmara 54. Ismawati 55. Ita novita 56. Lailyah munawaroh 57. Lusyanawati 58. M. muslihuddin 59. M. wahyu arianto 60. Muhammad khozin 61. Moh. Shodiq 62. Nur fitriyah 85 77 68 70 75 70 68 70 85 80 83 66 85 80 45 70 75 60 80 75 65 80 80 55 80 90 70 100 90 70 70 80 80 70 70 80 80 90 70 100 80 58 70 80 60 80 90 60 90 90 50 80 90 100 T T T T T T T T T T T T T T TT T T T T T T T T TT T T T

70 63. Risdiyanti 64. Sendy prayoga 65. Siti mubarokah 66. Verry mega taviardi 67. Wasilatur rohmaniah 68. Yasir Abdurrahman 69. Yuyun azariah 70. Zainul arif 71. M. Amirul mukminin 72. M. rizal 73. Fakhrur rozi 74. M. Yarist Jumlah Rata-rata 70 60 70 78 70 65 70 75 70 85 80 80 5198 70,24 Tuntas Tidak Tuntas % Ketuntasan Klasikal 90 70 70 80 80 70 70 80 80 90 85 80 5723 77,34 67 7 90,54% T T T T T T T T T T T T

C. Analisis Data 1. Analisis data kemampuan guru dalam mengelola strategi belajar metakognitif pada materi Fiqih di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. Berdasarkan data pada tabel 3.4, akan dihitung nilai rata-rata kemampuan guru dalam mengelola strategi belajar metakognitif pada materi fiqih sebagai berikut : • Rata-rata untuk aspek persiapan = 4

71 • • •

Rata-rata untuk kegiatan pendahuluan = 4+2,5+3,5 = 3,33 3 Rata-rata untuk kegiatan inti = 3,5+3+4+3,5+2,5 = 3,3 5 Rata-rata untuk kegiatan penutup = 3 Berdasarkan rata-rata untuk kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan

kegiatan penutup di atas, maka rata-rata untuk kegiatan pembelajaran adalah: rata-rata untuk kegiatan pembelajaran = 3,33+3,3+3 = 3,21 3 Untuk aspek persiapan, rata-ratanya sebasar 4. sedang aspek pengelolaan waktu, rata-ratanya sebesar 3,5. Dan untuk aspek suasana kelas, nilai rata-ratanya adalah : rata-rata untuk suasana kelas =

4 + 4 + 3,5 = 3,83 3

Setelah diketahui nilai rata-rata untuk tiap aspek, maka nilai rata-rata tersebut akan dikonversikan ke dalam kategori-kategori sesuai ketentuan berikut : 0,00 – 1,50 : Kurang baik 1,51 – 2,50 : Cukup baik 2,51 – 3,50 : Baik 3,51 – 4,00 : Sangat baik Berdasarkan kriteria di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk aspek persiapan yang nilai rata-ratanya 4 tergolong dalam kriteria sangat baik. Sedang untuk kegiatan pendahuluan dalam proses pembelajaran yang nilai

72 rata-ratanya 3,33 tergolong dalam kriteria baik. Sedang untuk kegiatan inti mendapatkan nilai 3,3 yang termasuk dalam kriteria baik. Pada tahap penutup mendapat nilai 3,0 sehingga termasuk dalam kriteria baik. Dengan demikian kegiatan pembelajaran secara keseluruhan yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti dan menutup yang nilai rata-ratanya sebesar 3,21 termasuk dalam kriteria baik. Adapun untuk aspek pengelolaan waktu mendapatkan nilai 3,5 dan tergolong dalam kriteria baik. Sedangkan untuk suasana kelas dalam pembelajaran strategi metakognitif mendapatkan nilai 3,83 yang termasuk dalam kriteria sangat baik. Dari uraian di atas, selanjutnya akan dicari rata-rata kemampuan guru secara umum dalam mengelola strategi metakognitif yakni sebagai berikut : rata-rata kemampuan guru = 4+3,21+3,5+3,83 = 3,63 4 Nilai rata-rata sebesar 3,63 tersebut menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam pengelolaan strategi metakognitif pada materi fiqih berdasarkan penilaian pengamat tergolong sangat baik. 2. Analisis metacomprehension siswa Keterampilan (metacomprehension) Keterampilan siswa dalam menilai dirinya meliputi dua komponen, yaitu : a) kemampuan dalam menentukan tingkat keyakinan; b) kemampuan siswa dalam menilai kemampuan dirinya

73 dalam membandingkan konsep. Hasil data tentang kedua komponen tersebut dinyatakan pada tabel 3.5 dan tabel 3.6. Dari kedua komponen tersebut, menunjukkan adanya perubahan positif tiap prtemuan. Pada komponen yang pertama tentang kesesuaian tingkat keyakinan dengan kebenaran jawaban siswa terus meningkat, pada LPPD I, siswa yang tuntas pada komponen ini sebesar 65,3% menjadi 83,1% pada LPPD II. Hal ini terus meningkat dengan 86,5% pada tahap tes akhir. Peningkatan komponen ini disebabkan karena pada awalnya siswa tidak menyadari pentingnya mempertimbangkan tingkat keyakinan dengan

kebenaran jawaban. Siswa memilih tingkat keyakinan tanpa memperhatikan kebenaran jawaban, bahkan banyak yang tidak memilih. Setelah berkali-kali guru mengingatkan siswa untuk memperhatikan kebenaran jawaban sebelum menentukan tingkat keyakinan, siswa mulai merubah sikap. Hal ini menunjukkan bahwa dengan strategi metakognitif, siswa dapat belajar meyakini sesuatu yang memang benar dan mengakui kesalahan atas jawaban yang salah, sehinggan siswa dapat belajar untuk menilai kemampuan dirinya. Dan pada akhirnya siswa dapat menganalisis apa yang telah mereka ketahui dan apa yang belum mereka ketahui (Blakey dan Spence,1990 dam NCREL online). Proses-proses tersebut sangat penting bagi siswa dalam rangka mengecek, memonitor dan mengevaluasi pemahaman diri terhadap suatu informasi, yang kemudian diharapkan agar siswa memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mereka setelah menemukan letak kesalahannya.

74 Untuk komponen yang kedua yaitu kemampuan membandingkan konsep, persentase siswa yang tuntas juga mengalami peningkatan dengan 61,1% pada LPPD I, sedangkan pada LPPD II dengan 85,9% siswa yang tuntas untuk kemampuan ini. Untuk selanjutnya pada tes akhir persentase siswa yang tuntas pada kemampuan ini terus meningkat dengan 87,5%.

Kemampuan ini relatif lebih mudah bagi siswa dibandingkan kemampuan pada komponen yang pertama. Hal ini dapat dilihat dari persentase yang tuntas pada komponen ini labih besar dibandingkan komponen yang lain. Meskipun demikian, masih ada siswa yang tidak tuntas dalam komponen ini. Hal ini disebabkan karena siswa belum mampu melihat kesamaan konsep pada susunan kalimat yang berbeda. Pada komponen ini, siswa dilatih melihat perbedaan dan persamaan konsep dalam susunan kalimat yang berbeda. Kemampuan ini dapat menunjukkan tingkat penguasaan konsep siswa. Hal ini menunjukkan bahwa dengan strategi metakognitif, siswa belajar untuk mengetahui proses berfikirnya melalui kegiatan menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan yang baru diperoleh. Kegiatan ini sesuai dengan salah satu strategi yang dapat mengembangkan metakognisi yaitu Tanya jawab tentang proses berfikir (Blakey dan Spence,1990 dam NCREL online). Secara keseluruhan, keterampilan
metacomprehension

siswa

mengalami peningkatan dari skor rata-rata 2,36 (cukup baik) pada LPPD I menjadi 2,74(baik) pada tes akhir. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah

75 mengalami proses belajar, karena belajar adalah perubahan di dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Jika dilihat dari jumlah siswa yang mendapatkan skor 2 dan 3, keterampilan metacomprehension siswa mengalami peningkatan dari 61 siswa menjadi 67 siswa dari 74 siswa. Jumlah ini sudah bisa dikatakan sesuai dengan harapan. Namun, masih ada 7 siswa yang memiliki keterampilan metacomprehension yang kurang baik. 3. Analisis Hasil Belajar Siswa Standart ketuntasan minimal untuk fiqih di SMA Islam Perlaungan Waru Sidoarjo adalah 65. kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil jika jumlah siswa yang tuntas lebih dari 85%. Berdasarkan tabel 3.7 diperoleh data ketuntasan klasikal sebesar 90,54% yaitu 67 siswa yang tuntas dan 7 siswa yang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dapat dikatakan berhasil. Setelah siswa menerima materi pada bab qurban dan aqiqah, maka peneliti memberikan soal tes untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa/tingkat pemahaman siswa terhadap materi tersebut. Dan ketuntasan belajar siswa dianalisis berdasarkan hasil post test. Berdasarkan tabel 3.7 dapat dihitung rata-rata persentase ketercapaian skor pre test adalah : Persentase ketercapaian = 5198 x 100% = 70,24% 7400 Sedangkan rata-rata persentase ketercapaian skor post test adalah :

76 Persentase ketercapaian = 5723 x 100% = 77,34% 7400 Jika diperhatikan bahwa rata-rata persentase ketercapaian skor post test meningkat dari rata-rata persentase ketercapaian skor pre test sebesar 70,24%. Hanya ada tujuh siswa yang tidak mencapai persentase ketuntasan belajar dikarenakan belum bisa menguasai materi. Walaupun demikian untuk 67 siswa yang lain persentase ketercapaian belajar meningkat. Hal ini menunjukkan perangkat pembelajaran strategi metakognitif yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan rata-rata persentase ketercapaian skor hasil belajar siswa. Adanya peningkatan rata-rata persentase ketercapaian skor siswa menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran ini dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa untuk mencapai ketuntasan belajar. Tabel 3.7 juga menunjukkan bahwa ketuntasan belajar perseorangan sebanyak 67 siswa dari 74 siswa dengan sehingga diperoleh ketuntasan belajar klasikal sebagai berikut : KBK = 67 x 100% = 90,5% 74 Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar klasikal maka pembelajaran metakognitif pada pokok bahasan qurban dan aqiqah termasuk tuntas karena nilai KBK lebih dari 85%. Sedang berdasarkan kriteria ketuntasan belajar perseorangan maka pembelajaran strategi metakognitif pada pokok bahasan qurban dan aqiqah termasuk tuntas karena nilai KBK lebih dari 65%.

77 4. Analisis efektivitas penerapan strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa pada materi fiqih kelas X di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. Dalam rangka uji coba terhadap efektifitas/keampuhan strategi belajar metakognitif, dilaksanakan penelitian dengan mengajukan hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan adanya hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain atau dengan kata lain ada efektivitas penerapan strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa pada materi Fiqih di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. Untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis alternatif (Ha) tentang adanya efektivitas penerapan strategi belajar metakognitif dalam melatih keterampilan metacomprehension siswa pada materi Fiqih di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo, antara pre test dan post test pada strategi belajar metakognitif tersebut, maka digunakan analisis “t –test”. Tabel 3.8 Perhitungan untuk memperoleh “t”
No Nama Siswa Skor Hasil Belajar Sebelum Sesudah diterapkan diterapkan Stategi Stategi metakognitif metakognitif D x–y D2 (x - y)2

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Agung majid subakti Agung setiawan Arini maziatun nisa’ Ayu agustin ningrum Chorida Coni’atul hidayah

70 70 80 70 58 70

80 75 95 85 55 70

-10 -5 -15 -15 3 0

100 25 225 225 9 0

78 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. Dimas naiyirul huda Eka febriana R Emi musaiyadah Fitrotin nufus Hidayatun nisa’ Imroatul wahidah Intihaul choiro Irfan Andrian F Khoirotun nisa’ Kholifatul jannah Kurniawan andi P Lia fatma choirun N Linda siti aminah M. Alfin Nuzul M. Farid Abdillah Masduchi zakaria Mirna anisa putri M. debbi Baihaqi Nadhiroh safitri Ni’matus Sa’adah Nur Aifa Nur laila indah Nurul chusnul jannah One firsa fauziah Rian ardana Rifki firmansyah Rizkie arie cahyani Salamah salein bazhe Siti kholifah 60 43 60 50 65 70 80 70 70 70 50 70 60 70 50 70 60 50 80 70 70 86 60 70 40 70 40 80 65 80 55 70 70 80 80 90 70 100 80 50 70 80 60 80 90 60 75 85 80 75 90 80 75 55 90 50 80 90 -20 -12 -10 -20 -15 -10 -10 0 -30 -10 0 0 -20 10 -30 -20 0 -25 -5 -10 -5 -4 -20 -5 -15 -20 -10 0 -25 400 144 100 400 225 100 100 0 900 100 0 0 400 100 900 400 0 625 25 100 25 16 400 25 225 400 100 0 625

79 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. Siti khofsah Siti maimunah Syahidul munfarid Veni erma yulistika Ainur Rosyidah Abdul rahman wahid Agung prasetyo Ahmad hidayatullah Ahmad kardianto Chusnah muhaiyaroh Chusnul ariyanti Doddy eko wijayanto Erwin wincono aji Fatimah romadhoni Heru eko prasetyo Ibnu rusydi Ilma ilfiyah Intan paradita asmara Ismawati Ita novita Lailyah munawaroh Lusyanawati M. muslihuddin M. wahyu arianto Muhammad khozin Moh. Shodiq Nur fitriyah Risdiyanti Sendy prayoga 85 77 68 70 75 70 68 70 85 80 83 66 85 80 45 70 75 60 80 75 65 80 80 55 80 90 70 70 60 100 90 70 70 80 80 70 70 80 80 90 70 100 80 58 70 80 60 80 90 60 90 90 50 80 90 100 90 70 -15 -13 -2 0 -5 -10 -2 0 -5 0 -7 -4 -15 0 -13 0 -5 0 0 -15 -5 -10 -10 5 0 0 -30 -20 -10 225 169 4 0 25 100 4 0 25 0 49 16 225 0 169 0 25 0 0 225 25 100 100 25 0 0 900 400 100

80 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. Siti mubarokah Verry mega taviardi Wasilatur rohmaniah Yasir Abdurrahman Yuyun azariah Zainul arif M. Amirul mukminin M. rizal Fakhrur rozi M. Yarist Total 70 78 70 65 70 75 70 85 80 80 70 80 80 70 70 80 80 90 85 80 0 -2 -10 -5 0 -5 -10 -5 -5 0 -616 0 4 100 25 0 25 100 25 25 0 10.629

Pada tabel 3.8 telah berhasil peneliti peroleh : ΣD = -616 dan ΣD2 = 10.629. Dengan diperolehnya ΣD dan ΣD2 itu, maka dapat kita ketahui besarnya deviasi standar perbedaan skor antara variabel X dan Y (dlm hal ini SDD). SDD = ΣD 2 ( ΣD ) 2 − N N 10629 (−616) 2 − 74 74

=

= 143,63 − (−8,3) = 143,63 − 68,89 =
74,74

= 8,64

81 Dengan diperolehnya SDD sebesar 8,64, maka dapat dihitung standart error dari perbedaan skor antara variabel X dan variabel Y : SEMD =
SDD N −1 = 8,64 74 − 1 = 8,64 73

=

8,64 =1,01 8,54

Langkah berikutnya adalah mencari harga t0 dengan menggunakan rumus : t0 =
MD SE MD

MD telah diketahui yaitu = -8,3 sedangkan SEMD = 1,01 jadi t0 = − 8,3 = − 8,21 1,01

Langkah berikutnya, kita berikan interpretasi terhadap t0, dengan terlebih dahulu memperhitungkan df atau db-nya, df atau db = N-1 = 74-1 = 73 kita berkonsultasi pada nilai “t” baik pada taraf signifikasi 5% maupun pada taraf signifikasi 1%. Ternyata dengan df sebesar 73 itu diperoleh harga kritik tt atau t tabel pada taraf signifikasi 5% sebesar 1,98. sedangkan pada taraf signifikasi 1% diperoleh tt sebesar 2,61 Dengan membandingkan besarnya “t” yang kita peroleh dalam perhitungan (t0 = 8,21) dan besarnya “t” yang tercantum pada tabel t (tt) pada

82 taraf signifikan 5% = 1,98 dan (tt) pada taraf signifikan 1% = 2,61 maka dapat diketahui t0 lebih besar dari pada tt. Karena t0 lebih besar daripada tt maka hipotesis alternatif (Ha) diterima. Ini berarti perbedaan skor hasil belajar siswa kelas X di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo. Pada materi fiqih pokok bahasan qurban dan aqiqah pada waktu pre test dan post test pembelajaran strategi belajar metakognitif merupakan perbedaan yang berarti/perbedaan yang menyakinkan (signifikan). Kesimpulan yang dapat ditarik adalah dapat dikatakan pembelajaran strategi belajar metakognitif pada materi fiqih telah menunjukkan efektifitas yang nyata dalam arti dapat diandalkan sebagai strategi pembelajaran yang baik dalam mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islam Perlaungan Berbek Waru Sidoarjo.

BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian Bab I sampai Bab III dan berdasarkan pada Basic Questions dalam rumusan masalah, maka jawaban inti atas permasalahan, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif pada materi fiqih secara umum termasuk dalam kriteria sangat baik. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata kemampuan guru secara umum dalam pengelolaan srategi belajar metakognitif yang sebesar 3,64 dan terletak antara 3,50 – 4,00. 2) Keterampilan Metacomprehension siswa secara umum terus meningkat dengan rata-rata tertinggi 2,74 pada tes akhir dalam kategori baik dengan persentase jumlah siswa yang berada dalam katagori baik pada tes akhir adalah 84%. Ketuntasan tiap komponen keterampilan metacomprehension siswa juga terus meningkat. Pada tes akhir diperoleh pada aspek menentukan tingkat keyakinan dengan persentase 86,5% siswa yang tuntas, dan aspek membandingkan konsep dengan persentase 87,8% siswa yang tuntas. 3) Strategi belajar metakognitif efektif dalam melatih keterampilan

metacomprehension siswa pada materi fiqih kelas X. Berdasarkan hasil analisis uji-t yang mana hal ini dapat dibuktikan dengan hasil perhitungan to

sebesar 8,21 lebih besar daripada tt yaitu 1,98 pada taraf signifikansi 5% dan 2,61 pada taraf signifikansi 1% jadi dikatakan semakin efektif penerapan strategi belajar metakognitif pada materi fiqih semakin baik pula hasil belajar siswa.

B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Dalam melatihkan srategi metakognitif, sebaiknya dimulai dari materi yang paling mudah, dari usia sedini mungkin dan berkelanjutan. 2. Guru harus mampu mempertahankan motivasi siswa agar tidak merasa jenuh dan bosan selama mengikuti pembelajaran dengan strategi belajar metakognitif. 3. Penerapan strategi belajar metakognitif yang masih baru ini baiknya frekuensi pertemuan diperbanyak bila tidak memungkinkan untuk memperbanyak frekuensi pertemuan maka guru harus pandai-pandai mengatur waktu dalam KBM. 4. Strategi belajar metakognitif dapat dikembangkan pada pokok bahasan lain sesuai dengan karakteristik. 5. Selama ini strategi belajar metakognitif dapat memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep yang akan dikembangkan karena siswa dapat memeriksa pemahaman mereka terhadap materi tersebut. Untuk itu strategi

belajar metakognitif mungkin dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar materi pelajaran selain mata pelajaran fiqih.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan M. Umar. 1992. Psikologi Umum. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset. Azhar, Muhammad. 1996. Fiqih Kontemporer Dalam Pandangan Neomodernisme Islam. Yogyakarta: lesiska. Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Blakey, E., Spence, S. 1990. Metacognitive Behaviors, (online) (http://www.ncrel.org./sdrs/areas/issues/students/learning/Ir2behav.htm diakses tanggal 15 desember 2008) Depdiknas. 2003. Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Prasekolah Dasar dan Menengah, Jakarta: Depdiknas. DePorter, Bobbi, dkk., Terj. Ary Nilandari. 2001. Quantum Teaching : Mempraktekkan Quantum Learning Di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Kaifa. Hadi, Sutrino. 1991. Metodologi Research I. Yogyakarta: Andi Offset. Hasan, Fuad. 1997. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mardalis, Drs. 1995. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Cet. III. Jakarta: Bumi Aksar Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mustaji dan Sugiarso. 2005. Pembelajaran Berbasis Konstruktivis. Surabaya: UNESA University Press.

Metacognitive Process (diadaptasi dari Strategic Teaching and Reading Project Guidebook) dalam NCREL online (http://www.ncrel.org./sdrs/areas/issues/students/learning/Ir1metp.htm diakses tanggal 15 desember 2008) Metacognitive Skill dalam
(http://education.calumet.perdue.edu/vockell/EdPsyBook/Edpsy7/edpsy7_meta.htm

diakses tanggal 15 desember 2008) Nasution. 1998. Metodologi Penelitian Naturalistik. Bandung: Pn. Tarsito. Nur, Mohammad. 2005. Strategi-strategi belajar, Surabaya: UNESA-University Press. Nur, M., Prima W. dan Bambang S. 1999. Teori Belajar. Surabaya: UNESA University Press Nur, M. dan Wikandarei, Prima Retno. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Nur, Mohammad. 1998. Teori Pembelajaran Sosial. Surabaya: IKIP Surabaya. Rofiq, Ahmad. 1997. Hukum islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Russefensi. 1979. Pengajar Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG, Bandung: Trasito. Sardiman. 1996. Interaksi dan motivasi belajar dan mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo. Standiford, S N. 1984. Metacomprehension, dalam (http://www.vtaide.com/png/ERIC/Metacomprehension.htm diakses tanggal 15 desember 2008) Sudjono, Anas. 2004. Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Thoha, Chabib. 1999. Metodologi Pengajaran Agama. Semarang : IAIN Walisongo. Thoha, Habib Muhammad. 2004. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 1996. Metodologi Penelitian Social Jakarta : Bumi aksara Winkel, WS. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi. Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta:Gaung Persada Press.

.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Zunaidah ulfah dilahirkan di Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 09 desember 1986, anak kedua dari empat bersaudara, pasangan bapak H. M. Anas dan Ibu Hj. Siti Munawarah. Pendidikan dasar yang ditempuh dikampung halamannya di MINU Wedoro Waru Sidoarjo, dan jenjang pendidikan berikutnya, ditempuh di Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri pada tahun 1999-2005 (+6 tahun). Pendidikan Menengah Pertama ditempuh di MTS Al-Hikmah Purwoasri Kediri, dan Pendidikan Menengah Keatas ditempuh di MA. Al-Hikmah Purwoasri Kediri. Pendidikan selanjutnya ia tempuh di jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->