P. 1
KAJIAN ETNOGRAFI

KAJIAN ETNOGRAFI

|Views: 811|Likes:

More info:

Published by: Ikin Salikin Iskandar on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA (Studi Analisis Etnografi Tentang Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi

Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Oleh: RIFAL ASWAR TANJUNG 070904016 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah, dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis

Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki. Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence, dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri. i
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan, kekuatan, keberanian serta semangat dari hari ke hari sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta tak lupa pula shalawat beriring salam, penulis hadiahkan kepada Sang Suri Tauladan, Nabi Muhammad SAW. Penulisan skripsi dengan judul ³Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara´ ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.sos) di Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dalam penyelesaian skripsi ini, tentunya merupakan hasil pelajaran yang penulis terima selama mengikuti proses perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, serta juga dari data yang di dapat melalui riset lapangan, perpustakaan, internet, dan buku-buku literatur lainnya. Secara khusus, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, ayahanda (Alm) Yusuf Effendy Tanjung, dan ibunda Hj. Siti Aisyah Lubis untuk dukungan serta kasih sayang nya selama ini, juga kepada ketiga saudara peneliti, Nina Karmila Tanjung, Fitri Yanthi Tanjung, dan Khairil Anwar Tanjung, serta Abang-abang ipar peneliti, Nashruddin Setiawan dan Ulpin Yaser Lubis, dan tentunya keponakan-keponakan peneliti. Ii Dalam penulisan skripsi ini pula, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas segala bantuannya yang sangat berguna bagi penulis. 3. Bapak Alm. Siswo Suroso, M.A selaku dosen wali penulis dari semester 1-4, Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si selaku dosen wali penulis dari semester 5-7, dan ibu Dra. Dayana, M,Si selaku dosen wali penulis pada semester 8 ini. Terima kasih atas nasehat-nasehat akademiknya selama penulis mengikuti perkuliahan. 4. Ibu Dr. Nurbani, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam penulisan skripsi selama 1 semester terakhir. 5. (Ketua Penguji) yang telah memberikan saran, kritik, serta masukan pada skripsi ini hingga menjadi lebih baik. 6. (Penguji Utama) yang juga memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini hingga akhirnya dapat bisa menjadi lebih baik lagi. 7. Seluruh dosen dan staff pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah mendidik dan membimbing penulis mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di kampus ini. Iii 8. Seluruh staff non-akademik yang udah banyak membantu penulis, khususnya belakangan ini, kak Ros, kak Icut, kak Maya, Bang Mul, dan lain-lainnya. 9. Teman-teman komunikasi 2007, Sitong, Vony, Arief, Dhina, Mambo, Ririn, Wulan, Devia, Hanan, Ara, Said, Kakek, Ubur, Ali, Ayu, Venta, Amel, dan Hera. Terima kasih untuk doa, dukungan dan persahabatan kita selama ini. Mudahmudahan persahabatan ini akan tetap berlanjut sampai kita sukses nanti. Amin 10. Terimakasih juga kepada teman-teman ilmu komunikasi 2007 FISIP USU lainnya yang sudah bersama-sama kurang lebih selama 4 tahun ini. 11. Terimakasih kepada Bob Riandy dan Toni, yang sudah banyak membantu peneliti selama proses penelitian skripsi ini. 12. Serta terima kasih kepada seluruh informan yang dengan senang hati telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, dukungan, dan doa yang telah

diberikan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran tentu sangat dibutuhkan demi penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin«. Yaaa Rabbalalaminnn« Medan, Juni 2011 Penulis RIFAL ASWAR TANJUNG DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAKSI .................................................................................................. i KATA PENGANTAR .................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................. v BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1 I.2. Perumusan Masalah ....................................................................... 9 I.3. Pembatasan Masalah ...................................................................... 9 I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 10 I.4.1. Tujuan Penelitian ................................................................. 10 I.4.2. Manfaat Penelitian .............................................................. 11 I.5. Kerangka Teori ............................................................................... 11 I.5.1. Teori Interaksi Simbolik ...................................................... 11 I.5.2. Komunikasi .......................................................................... 13 I.5.3. Komunikasi Antarbudaya..................................................... 15 I.5.4. Identitas Etnis ....................................................................... 16 I.5.5. Kompetensi Komunikasi ...................................................... 18 I.5.6. Etnis Tionghoa ..................................................................... 19 I.6. Kerangka Konsep ........................................................................... 21 I.7. Operasional Konsep ....................................................................... 22 I.8. Defenisi Operasional ...................................................................... 24 BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Teori Interaksi Simbolik .............................................................. 28 II.1.1. Defenisi Teori Interaksi Simbolik ..................................... 28 II.2. Komunikasi .................................................................................. 32 II.2.1. Latar Belakang Sejarah ..................................................... 32 II.2.2. Defenisi Komunikasi ........................................................ 33 II.2.3. Proses Komunikasi ............................................................ 35 II.3. Komunikasi Antarbudaya ............................................................ 38 II.3.1. Sejarah Komunikasi Antarbudaya .................................... 38 II.3.2. Defenisi Komunikasi Antarbudaya ................................... 41 II.3.3. Dimensi-Dimensi Komunikasi Antarbudaya .................... 44 II.4. Identitas Etnis .............................................................................. 47 II.4.1. Defenisi Identitas Etnis ..................................................... 47 II.4.2. Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis .................. 51 II.5. Kompetensi Komunikasi .............................................................. 54 II.6. Etnis Tionghoa ............................................................................. 60 II.6.1. Sejarah .............................................................................. 60 v

Universitas Sumatera Utara

II.6.1.1 Masa-masa awal ................................................... 60 II.6.1.2 Era Kolonial ......................................................... 61 II.6.1.3 Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI ............. 62 II.6.1.4 Pasca Kemerdekaan ........................................... 63 II.6.2 Daerah asal China .............................................................. 66 II.6.3 Daerah Konsentrasi ............................................................ 67 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian .................................................................... 69 III.1.1. Metode Penelitian Kualitatif ....................................... 69 III.1.2. Studi Analisis Etnografi .............................................. 71 III.1.2.1 Suatu Pemahaman Awal ................................ 71 III.1.2.2 Pijakan Teoritis dalam Model Etnografi ....... 72 III.1.2.3 Bentuk-Bentuk Penelitian Model Etnografi .. 74 III.2. Lokasi Penelitian ...................................................................... 79 III.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ......................................... 79 III.2.1.1 Sejarah Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara 79 III.2.1.2 Visi dan Misi ............................................................. 80 III.2.1.3 Tujuan ........................................................................ 81 III.2.1.4 Kebijakan ................................................................... 82 III.2.1.5 Struktur Kepengurusan .............................................. 88 III.3. Waktu Penelitian ...................................................................... 88 III.4. Subjek atau Informan Penelitian .............................................. 89 III.5. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 91 III.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research) .......................... 91 III.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research) ................. 92 III.6. Teknik Analisis Data ................................................................ 92 BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Latar Belakang Informan Penelitian ........................................ 99 IV.1.1 Tabel Latar Belakang Informan Penelitian ................... 99 IV.1.2 Kesimpulan Latar Belakang Informan Penelitian ........ 109 IV.2. Identitas Etnis ........................................................................... 114 IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian .............. 115 IV.2.2 Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian .......... 152 IV.2.2.1 Mampu Mengenali ......................................... 154 IV.2.2.2 Kurang Mampu Mengenali ............................ 157 IV.2.2.3 Tidak Mampu Mengenali ............................... 158 IV.3. Kompetensi Komunikasi .......................................................... 160 IV.3.1 Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian ..................................................... 160 IV.3.2 Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian ..................................................... 199 vi
Universitas Sumatera Utara

BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan ................................................................................ 209 V.2. Saran........................................................................................... 215

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Vii ««««««««««««««««

Analisis Data Penelitian Etnografi
Primardiana Hermilia Wijayati
Abstract: Data Analysis of the Ethnography Study. Data analysis of the ethnographic study with an anthropological view is different from that of the naturalistic inquiry with a sociological view. Observations in social phenomena are focused on artifaets. What people do and say reÀ ect what they know. Artifacts serve as evidence for describing the cultural values of tlie people implied in what they do, say, and know. In brief, ethnographic analysis is study which investigates cultural anifacts including how society perceives certain object, places, and activities. Kata-kata kunci: etnogra¿, analisisdomain, analisis taksonomi, analisis komponcnsial. Â Secara umum penelitian etnogra¿ bertujuan untuk menemukan dan

menggambarkan budaya suatu masyarakat atau suatu organisasi. Fokus penelitian ini adalah pola-pola yang mengaitkan ide satu dengan yang lain,
dengan masyarakat dan dengan objek benda, orang dengan orang, kelompok

dengan kelompok, dan pekerjaan dengan alat-alat yang terkait. Yang akan dicari dalam penelitian ini bukan hal yang tampak, melainkan apa makna yang terkandung dalam hal yang tampak tersebut. _ Seorang peneliti etnogra¿ (etnograf) harus memiliki latar belakang ilmu pengetahuan yang menunjang penelitiannya, mengetahui dengan jelas objek yang akan dipelajari, mengetahui cara melakukan penelitian agar dapat diperoleh hasil yang sesuai dengan situasi yang sebenamya.
Pn`marÂiana Herinilia Wrjayari dci l ii¿osenjumsali Petzr¿¿fkan Bzhasa ;-ing FPFSYKIP M./HANG 31

Page 2
32 FORLM PENELITIAN KEPENDIDIKAN. Th. 7, No. l, Januari 1995

Untuk memperoleh data yang lengkap, alami, dan mendalam tentang objek penelitian, peneliti harus terjun sebagai partisipan dalam kehidupan objek penelitian dalam jangkawaktu yang panjang. Dengan menjadi partisipan, peneliti akan memperoleh banyak sekali data lapangan, sehingga bagi peneliti pemula akan sulit memilah infomtasi untuk selanjutnya dianalisis dan ditarik
kesimpulan.

Banyakearayangbisa dilakukanuntukmenganalisis data hasil pengamatan
di lapangan antara lain seperti yang akan dikemukakan dalam tulisan ini, yaitu

analisis data penelitian etnogra¿ seperti yang disarankan oleh Spradley (l979; l 980). Spradley mengemukakan bahwadatapenelitian etnogra¿ dapat dianalisis melalui tiga cara yaitu: (a) Analisis domain (Domain anal_ysis); (b) Analisis

taksonomi (T axonomic analysr's); dan (e) Analisis kompone-nsial (Componen-

tial analysis).
ANALISIS DOMAIN

Domain kultural merupakan unit dasar dalam setiap budaya. Yang dimaksud domain kultural dalam hal ini adalah setiap kategori suatu makna lmltnral yang memasukkan kategori-kategori lain yang lebih keeil. Domain atau kategori-kategori konseptual berupa kategori-kategori simbolis yang mencakup atau mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain dengan cara tertentu. Domain sebagai kategori kultural memuat tiga elemen dasar, yakni:
Cover term, Included term, dan Semantic relationship.

Cover term ialah namauntuk domain kultural. Seperti dalam bahasa Jawa dikenal istilah ³kulawarga atau kulawangsa´ yang mencakup hubungan kekerabatan yang cukup luas, tetapi istilah ini akan mempunyai arti yang berbeda dalam konteksnya dengan istilah ³Trah´ ', karena ada kriteria khusus yang dimasukkan. Semua domain akan mempunyai dua atau lebih included terms.

Included terms adalah nama-nama untuk kategori yang lebih kecil dalam
sebuah domain. Seperti istilah ³Trah´, akan mencakup beberapa tingkat turunan, misal mbah canggah, mbah buyut, bapak./ibu, anak, cucu, cicit, dan

seterusnya. S
Semantic relationships adalah hubungan yang mengaitkan included terms dan cover term. Hampir semua definisi yang dibentuk secara sederhana, disusun berdasarkan hubungan antara dua konsep dengan semantic relationPage 3
Wijayart', Analisis Emogra¿ 33

ship. Seperti kata ³kusir", ³sopir´, dan ³pilot´ mempunyai pengenian yang hams dikaitkan dengan jenis kendaraan tertentu, sehingga orang mudah memahaminya. Berikut ini adalah contoh penerapan istilah-istilah tersebut. Kegiatan
seminar merupakan salah satu kegiatan budaya. I ika seminar ini dilaksanakan

di perguruan tinggi, maka kegiatan ini merupakan kegiatan budaya akademik. Dalam kegiatan tersebut dapat diamati siapa yang terlibat dalam seminar dan apa yang dilakukannya dalam berseminar. Orang-orang yang terlibat dalam seminar disebut partisipan seminar. Partisipan seminar terdiri dari penyaji
makalah, moderator, peserta laki-laki dan perempuan, notulen, dan panitia.

Apabila digambarkan model domainnya adalah seperti berikut.
Partisipan Seminar Cover term is a kind of Semantic relationship Pemaknlah Peserta Peserta perempuan
Moderator Included temu Nomlen

Panitia Gambar 1 Domain Budaya

Setiap budaya mempunyai banyak cover terms, yang masing-masing terbagi lagi menjadi banyak included terms. Karena jumlahnya sangat banyak,

maka sangat sulit untuk mengidentifikasi kategori-kategoritersebut dan hasil pengamatan lapangan maupun wawancara dengan informan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, Spradley menyarankan prosedur yang e¿sien dalam mengidentifikasi domain. Caranya adalah dengan menggunakan semrmri c relationship sebagai kegiatan pendahuluan. Oleh karena makna kultural tergantung pada hubungan antarsimbol, maka menemukan semantic relationship merupakan langkah pertama yang harus dilalui. Analisis domain dimulai dengan semantic relationship untuk menemukan cover term. Page 4
34 FORUM PEINELITIAN KEPEMJIDIKAN, T71. 7, No. I, Januari 1995

Langkah-langkah Analisis Domain Langkah Percobaan (Preliminary domain analysis) mencakup: 1. Menyeleksi sampel catatan interview kata demi kata.
2. Mencari nama-nama benda, tennasuk objek, tempat, orang, dan kegemarannya.

3. Mengidentifikasi cover terms yang berkaitan dari contoh (sebagai catatan yang ditulis/¿ela' notes). 4. Meneliti informasi tambahan lain yang terkait. Misalnya, dari hasil wawancara diperoleh informasi yang dapat dikelompokkan menjadi satu kelompok, seperti macam-macam kegemaran masyarakat, macam-macam pengajaran di kelas, macam-macam sikap bertetangga, dan seterusnya. Dari klasifikasi tersebut disusun cover terms
tentang nama-nama benda, seperti berikut: . Jenis gedung pengadilan Jenis anggota juri . lylacam-macam hakim _ Macam-macam orang _ Macam-macam perintah Macam-macam perasaan

Setelah menyusun cover terms tersebut, peneliti harus melakukan pengamatan ulang atau meneliti informasi lainnya yang terkait sebagai tambahan infomasi untuk data-data yang telah disusun tadi. Langkah-langkah analisis: 1. Memilih salah satu semantic relationship untuk menetapkan hubungan. Cakupan semantic relationship secara umum ditunjukkan oleh Tabel 1. Page 5
Wtjayan', Analisis Emograji 35 Tabel 1 Cakupan Semantic Relationship beserta Bentuk dan Contohnya

Semantic Relationship Bentuk Contoh a. Klasi kasi X adalah jenis dari Y Saksi ahli (adalah jenis dari) saksi. b. Tempat X adalah tempat d.i Ruang hakim agung (adalah tempat (bagian dari) Y di) gedung pengadilan. Tempat duduk jun' (adalah bagian dari) mang pengadilan c. Sebab-akibat X adalah hasil dari Y Menjadi hakim agung (adalah hasil) seleksi.

d. Rasional X adalah alasan Banyaknya kasus (adalah alasan ununtuk melakukan Y tuk) menyelenggarakan persidangan dengan cepat. e. Lokasi Kegiatan X adalah tempat Ruang hakim agung (adalah tempat untuk melakukan Y untuk) menggelar kasus f. Fungsi X digunakan untuk Y Para saksi (digunakanuntuk) menampilkan bukti. g. Cara dan Tujimn X merupakan cara Mengangkat sumpah (adalah cara unmelakukan Y tuk) melambangkan kesucian tugas hakim. h. Umtan X adalah langkah/ Mengunjungi penjara (adalah tahap) tahap melakukan Y kegiatan hakim agung. i. Kelengkapan X merupakan Wewenang (adalah karakteristik karakteristik Y pengacara.

Kadang-kadang tidak mudah untuk mengidentifikasi semantic relationship dari apayang dikatakan informan atau dari hasil observasi kita. Dalam hal ini, yang paling baik ialah bekeija dengan apa yang dikatakan atau diekspresikan oleh infonnan. Misalnya ³Siswa SMA sering membuat keributan´,
maka bentuknya: X is something done by Y. Membuat keributan (adalah

sesuatu yang dikerjakan oleh) siswa SMA. Apabila 9 jenis semantic relationship di atas disebut semantic relationship yang universal, maka yang terakhir disebut informan!-expressed semantic relationship. Page 6
36 FORUM PENELITIAN KEPENDIDIKAN. T h. 7, No. 1, Januari' }995

2-..;Menyiapkw lembar kerja untuk analisis domain (lihat format beserta contohnya).
FORMAT ANALISIS DOMAIN

1. Semantic Relationship: Klasifikasi 2. Bentuk: X adalah jenis dari Y 3. Contoh: Overhead Projector (adalah jenis) Media Included Terms Semantic Relationship Cover Term Peserta laki-laki Peserta perempuan Moderator e adalah jenis Partisipan Notulen Seminar Pemakalah Panitia PcrianyaanTersmik1ur: Apa yang ingin anda peroleh dari seminar ini? dan setenisnya 3. Memilih sampel dari pernyataan informan.

Contoh catatan lapangan:
Kesibukan Rumah Sakit Fairview lantai keenam dimulai pada sekitar pukul delapan saat mereka membawakan sarapan pagi untuk para pasien. Setiap satu ruangan diisi dua orang pasien dan pada pukul sembilan pagi dokter berkunjung. Banyak pasien merasa tidak berdaya dan mereka tidak dapat melakukan segala sesuatu untuk mereka sendiri seperti mengukur temperatur di ruangan, memperoleh makanan yang di i nginkan, dan tidur yang n yenyak. Selalu saja ada petugas yang mengambil temperatur, membersihkan ruangan atau membawakan makanan untuk mereka.

Barangkali masalah terbesar yang dihadapi oleh pasien adalah menemukan kebebasan pribadi. Dengan dua orang pasien di dalam satu ruangan, seseorang diperhatikan oleh ta/nu pasien lainnya, membuat gaduh ruangan, duduk di tempat tidurnya, dan bicara keras. Hilang kebebasan tampaknya muncul jika pasien yang satu ingin menelepon, kadang-kadang

Page 7
Wijayari, Analisis Etnogm¿ 37

nonton TV berjam-jam dan bercakap-cakap dengan tamunya. Saya amati banyak cara yang dilakukan pasien untuk memperoleh kebebasan pribadi disebabkan oleh gangguan pasien sekamar atau perawat. Beberapa orang ingin menarik tirai penyekat tempat tidur. Yang lain ingin berjalan-jalan di gang. Untuk memperoleh ruangan sendiri bisa dengan biaya yang lebih tinggi . Ruang TI/terletak di sebelah kiri ruang perawat dan beberapa pasien senang duduk disana untuk menghindari gangguan 'privacy' dari tamu-tamu pasien sekamar.

Dari pemyataan informan yang dicatat selama melakukan pengamatan dan wawancara sebagai entri , dipilih cover terms dan included term yang
tepat yang dapat menggambarkan semantic relationship. Misal:
Tabel 2 Included Terms dan Cover Term

Included Terms Semantic Relationship Cover Term Menemukan kebebasan pribadi adalah jenis-jenis masalah Memeriksa temperatur Tidur nyenyak Perawat adalah jenis-jenis orang Pasien Dokter Tamu

4. Memilih cover terms yang mungkin dan included term yang tepat untuk menggambarkan Semantic relationship. Untuk kegiatan ini, peneliti harus sering membaca catatan lapangan sambil mencari istilah yang tepat untuk semantic relationship. Maksudnya, membaca sambil memikirkan; ³istilah-istilah yang mana yang termasuk jenis sesuatu? atau ³apakah ada perbedaan jenis di antara istilah-istilah itu?´ Etnograj r akan terus membaca dengan sebuah semantic relationship dalam
ingatannya.

5. Membuat formulasi pertanyaan terstruktur untuk masing-masing domain. Pertanyaan terstruktur secara khusus dirancang untuk menguji dugaandugaan yang telah dibuat dari langkah 4 di atas (domain-domain yang berhasil

Page 8
38 FORUiMPENEI.ITL4NKEPEND1DIKAN, Th. 7, No. 1, Januari' 1995

diidentifikasi di atas masih berupa dugaan peneliti). Dugaan-dugaan tersebut secara sederhana dituliskan kembali sebagai pertanyaan. Misalnya: Jenis-jenis
partisipan seminar adalah nama dari sebuah domain. Ini dapat dituliskan

kembali dalam sebuah pertanyaan: Apakah adaperbedaanjenis-jenis partisipan? Jika informan merespons secara positif (ya, ada perbedaan), berarti dugaan dikuatkan. Apabila mendapat penguatan, selanjutnya dirumuskan pertanyaan terstruktur jenis yang kedua: Apa saja jenis partisipan seminar? Dengan demikian, peneliti dapat melengkapi include terms dari apa yang diketahui oleh

informan. Contoh:
Tabel 3 Pertanyaan Terstrulttur Untuk Masing-masing Domain

Domain Semantic Relationship Pertanyaan Terstruktur Jenis-jenis presentasi X adalah jenis dari Y Adakah perbedaan jenis-jenis presentasi? Jenis-jenis latihan kelas X adalah jenis dari Y Perbedaan apa saja yang ada pada latihan-latihan kelas? Bagian suatu area X adalah bagian dari Y Bagian-bagian apa saja yang ada pada suatu area?

6. Membuat da¿ar semua hipotetikal domain dengan tujuan untuk mengidentifikasi kategori asal dan untuk memperoleh pandangan awal tentang wawasan kultural yang sedang diteliti. Etnografer pemula yang melaksanakan 4 atau 5 jam observasi, biasanya menemukan antara 25 sampai 200 domain kultural. Dengan beberapa lusin domain yang menggambarkan sebagian besar semantic relationship, peneliti dapat menguasai dengan baik struktur budaya yang diteliti. Setelah itu, dapat dibuatkan da¿ar domainnya sesuai dengan semantic relationship masingmasing.

Da¿ar domain yang disusun ini sangat bemianfaat untuk kegiatan selanjutnya. Apabila akan meneruskan wawancara dengan informan, daftar domain tersebut dengan pertanyaan terstruktur sangat bermanfaat untuk kegiatan selanjutnya, yakni asking structural questions. Apabila akan meneruskan observasi pelibatan lapangan (setting penelitian), maka daftar domain tersebut (dengan memilih salah satunya untuk fokus) dapat mengarahkan Page 9
Wijayati, Analisis Emogm/i 3 9

kegiatan observasi terfokus. Berikut ini adalah contoh daÀar domain dari penelitianÀanson (1978) (dalam Spradley, 1980) tentang orangtua dan anakanak diMuseum:
1. X adalah jenis dari Y Jenis-jenis kelompok Jenis-jenis keluarga Jenis-jenis sikap Jenis-jenis gayalperawakan Jenis-jenis hubungan Jenis-jenis penjelasan Jenis-jenis pertanyaan anak 2. X adalah cara untuk Y Cara mengajukan pertanyaan Cara membandingkan sesuatu Cara menggambarkan benda-benda museum Cara orangtua mengajari anak-anak Cara anak mencari perhatian orang tua Cara mendengarkan Cara anak-anak mengajari temannya Cara bermain Cara mengajak orangma untuk bergegas

cm beipnmm

Cara bereaksi terhadap pengunjung lain

Cara mengabaikan orangtua Cara menyentuh orang Cara anak bersikap dingin 3. X adalah bagian dari Y Bagian dari pameran Bagian dari Museum 4. X merupakan alasan untuk Y Alasan menjadi marah Alasan berjalan tenis ke pameran berikutnya Alasan menjadi bosan Alasan berada di Museum dan seterusnya.

Page 10
40 FORLM PENELITIAN KEPEADIDIKAM Th. 7, No. I, Januari' 1995

ANALISIS TAKSONOMI

Hasil-hasil dari kegiatan di atas, selanjutnya dianalisis dengan analisis
taksonomi. Sepeti domain kultural, taksonomimempakan seperangkat kategori

yang disusun berdasarkan semantic relationship. Perbedaannya, taksonomi menekankan lebih banyak pada hubungan di antara hal-hal yang muncul di dalam domain kultural. Etnografer yang berpengalaman sering memadukan analisis domain dan analisis taksonomi ke dalam satu proses. Langkah-langkah Analisis Taksonomi l. Memilih suatu domain untuk analisis taksonomi
Spradley memberi contoh yang sederhana diawali dengan informasi yang

dianggap paling penting. Contohnya jika seseorang memasuki sebuah supermarket untuk belanja, maka ada tahap-tahap tertentu yang biasa dilalui, antara lain: Tahap l: memasuki toko Tahap 2: mengambil keranjang atau dorongan untuk tempat barang Tahap 3: memilih route yang akan dilewati Tahap 4: mengambil daging Tahap 5: melihat-lihat produk susu Tahap 6: membeli susu Tahap 7: menentukan/memilih tempat kasir Tahap S: membayar barang belanjaan Tahap 9: mer gantor gi barang belanjaan Tahap 10: nieninggalkan toko

Tahap-tahap tersebut merupakan langkah pendahuluan dalam melakukan
analisis taksonomi untuk selanjutnya bisa diperluas atau dipcrsempit.

2. Mengidcnii¿kasi kerangka substitusi yang tepat untuk analisis Pada langkah kedua ini peneliti dapat mengidentifikasi seperangkat tugas
yang memiliki kesamaan. Misalnya tahap 4, 5, dan 6 memiliki kesamaan, yaitu

memilih barang~barang yang dibutuhkan. Dengan mengelompokkan barangbarang atau permasalahan yang memiliki kesamaan, dapat menolong peneliti untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Selanjutnya peneliti dapat Page 11
Wzjayati, Analisis Emogra¿ 41

mengamati lebih cermat langkah-langkah yang lebih rinci dari ketiga tahap di atas menjadi satu tahap. Spradley memberi contoh sebagai berikut:
Tahap 4: Memilih barang Tahap 4.1: Mengambil daging Tahap 4.2: mengambil produk cair (susu) Tahap 4.3: membeli barang-barang padat Tahap 4.4: memilih makanan kesehatan Tahap 4.5: membeli produk lainnya Untuk memastikan langkah-langkah tersebut, peneliti dapat mengamati

ulang tahap-tÀiap yang dilakukan orang pada umumnya di supermarket, baik itu di pintu masuk, di dalam saat memilih barang, maupun di pintu keluar saat membayar barang belanjaan. Selanjutnya langkah pada setiap tahap dapat ditulis secara lebih rinci. Misalnya pada tahap 5 ada berbagai langkah yang dilakukan orang sampai ia meninggalkan toko, antara lain:
Tahap 8: Membayar barang belanjaan Tahap 8.1: memilih tempat untuk membayar (kasir) Tahap 8.2: menunggu giliran (antri) Tahap 8.3: mengeluarkan barang dari keranjang Tahap 8.4: membayar belanjaan Tahap 8.5: meninggalkan kasir 3. Mencari included terms tambahan

Dengan meneliti kembali kegiatamkegiatan yang dilakukan pada langkah dua, maka akan ditemukan included terms lain dengan menggunakan pertanyaan struktural pada cover term. Contohnya: ' ³ Apa langkah-langkah dalam belanja secara keseluruhan?" Kemudian untuk setiap masing-masing uraiannya, dapat diajukan lagi pertanyaan seperti: ³Apakah ada perbedaan langkah dalam memasuki suatu toko?´ Apakah ada cara lain dalam memilih keranjang belanjaan?, clan seterusnya sehingga setiap keterangan mempunyai penjelasan
yang sangat rinci.

4. Mencari domain yang lebih luas

Untuk mencari domain yang lebih luas, peneliti sebagai partisipan harus
banyak terjun dan bergaul dengan masyarakat yang sedang diteliti, sehingga informasi yag diperoleh dapat lebih lengkap dan alami. Dari data-data yang Page 12
42 F?9RL/ /lPEAE`L1TL4NKEPE1\fD1D1KAN Th 7 No I Januan1995

tclahdip/.:roleh(m1sa1n3 a, data tentang tahap berbelanja pada contoh sebelumnya) peneliti dapat mengajukan paman) aan scpcrtt benkut ³ ³ Apakah domamgenlsjenis pohon merupakan bagtan dan jerus sesuatu yang lebuh besar´ ³Apakah domain (tahap berbelanja) merupakan baglan dan tahap yang lam?´ 5. MÀnyusun taksononn sementara Taksonomt dapat dnamptlkan melaltn bcrbagat cara, antara lam dengan diagram berikut 1n1 a. Diagram kotak Page 13
Wijlayali, Analisis Emogra¿ 43

c. Lines and Nodes Belanja di Supermarket Masuk Toko Memilih Barang Meninggalkan Toko Menitipkan Mengambil memilih barang bawaan Keranjang lokasi Mengambil Mengambil mengambil daging produk cair produk kesehatan e memilih mengeluarkan membayar meninggalkan kasir belanjaan kasir

6. Melakukan observasi terfokus untuk mengecek kebenaran analisa yang
telah dibuat

Setiap analisis taksonomi dapat mengarahkan peneliti untuk melakukan
observasi yang baru di lapangan. Misalnya dan' pertanyaan terstruktur pada langkah 5 di atas, dapat dilakukan kembali pengamatan yang lebih teliti, sehingga dapat diketahui secara lebih tepat bahwa tahap-tahap orang

meninggalkan toko sudah masuk semua dalam catatan 7. Menyusun taksonomi lengkap Setelah data yang dikumpulkan dari hasil pengamatan yang dilakukan berkali-kali, dapat disusun suatu laporan hasil pengamatan secara lengkap.
ANALISIS KOMPON EN SIAL

Analisis komponensial merupakan penelitian yang sistematik untuk komponen-komponen makna yang terkait dengan kategori struktural. Analisis
komponensial digunakan untuk mencari unit makna yang diperlihatkan oleh masyarakat terhadap kategori kultural.

Page 14
44 FORUM PENELITIAN KEPENDIDIK4N, Th. 7, No. I, Januari 1995

Langkah-langkah Analisis Komponensial
Memilih sebuah domain untuk analisis

Contoh sebagian daftar domain dari hasil penelitian pada sebuah pabrik
yang membuat peralatan dari kulit: Daftar Domain: 1. Jenis orang 2. Jenis pekerjaan 3. Jenis mesin 4. Jenis perangkat keras 5. Jenis alat 6. Jenis kayu 7. Jenis kecelakaan 8. Tahap membuat drum 9. Tahap membuat tong 10. Alasan bekerja di lembah 11. Alasan memberikan pekerjaan 12. Bagian dari lembah 13. Bagian dari hari 14. Waktu dalam sehari 15. Waktu dalam seminggu 16. Cara bicara 17. Cara menghindari kecelakaan 18. Cara bekerja dan sebagainya.

Memilah semua kejadian kontras yang ditemui Contoh kejadian kontras dari daftar domain di atas: 1. Jenis-jenis orang
2. Tahap membuat drum

Kedua domain tersebut berbeda; domain yang pertama menunjukkan jenis orang yang terbentuk secara infonnal, sedangkan domain tahap membuat drum merupakan kegiatan rutin yang kompleks dan pada awalnya seseorang perlu mempelajarinya secara khusus. Dengan membandingkan domain-domain ini akan muncul pertentangan antara kegiatan yang dipelajari secara
infomial dan fomial.

Page 15
Wijayati', Analisis Emograji 45

3. Mempersiapkan kertas kerja paradigma.
4. Mengidentifikasi besamya kejadian yang kontras yang mempunyai dua

nilai.
5. Memadukan kontras tersebut ke dalam satu kelompok yang memiliki nilai ganda Berikut ini adalah contoh analisis komponensial pada domain enam macam restoran kesukaan. Domain tersebut diperoleh dari hasil penelitian yanginginmengungkapkan Peran Pisau Dagingdi Golden Nugget Night Club (Spradley& Schroedl, 1972 dalam Spradley, 1980). Analisis komponensial ini dapat mengungkapkan informasi penting tentang situasi penelitian ini.
Tabel 4 Contoh Analisis Komponensial Restoran Dimensi Kontras Kesukaan Tipe Menu Keanggotaan Tipe Hiburan Minuman Keras Night Club umum Ya ³name´ Ya (Golden Nugget) Supps club umum tidak musik Ya Restoran Hidangan khusus tidak musik Ya
Khusus

Dinner Theater umum tidak pertunjukan langsung Ya Steak House khusus tidak musik/tidak ada variasi Restoran Keluarga umum tidak tidak ada tidak

Dari paradigma tersebut peneliti dapat segeramelihat bahwa menu yang

dihidangkan lebih banyak bertipe umum daripada menu yang khusus; Golden Nugget menyajikan banyak salad dan macam-macam daging dan sayuran, tetapi steak atau hidangan Cina tidak ada Fakta seperti ini menolong peneliti untuk melihat peran pisau daging di Golden Nugget dibandingkan dengan tipe restoran lainnya 6. Membandingkanpertanyaan-pertanyaan kontrasuntuk mencari keterangan-

keterangan yang tidak lengkap/ tidak ada Salah satu keuntungan adanya kertas kerja paradigma adalah peneliti
dapat segera mengetahui macam-macam informasi yang diperlukan. Setiap Page 16
46 FURUWI PENELITIAN KEPEM)]DIIC4N, Th. 7, No. 1, Januari 1995

kolom yang masih kosong merupakan petunjuk bagi peneliti bahwamasih ada

datayang belum lengkap. 7. Mengarahkan observasi yang lebih selektif untuk menemukan data yang hilang. 8. Membandingkan paradigma yanglengkap. Paradigmayang telah lengkap ini dapat digunakan sebagai bagan dalam laporan penelitian. Meskipun tidak semuaketeranganyang adadi dalam bagan ini dijelaskan, namun peneliti dapatmenj elaskan bagianyang dianggap penting dan mengarahkan pembacauntuk melihat bagan tersebut.
PENUTUP

Analisis data yang terdiri dari tiga cara tersebut dapat digunakan oleh etnografer dalam menggambarkan situasi kultural yang berlaku pada suatu masyarakat Seorang yang melakukan penelitian etnogra harus memutuskan sendiri analisis mana yang akan digunakan dalam melaporkan hasil
pengamatannya.

Analisis domain digunakan untuk menuliskan pandangan awal terhadap situasi kultural suatu masyarakat berdasarkan penelitian awal. Selanjutnya untuk menggambarkan apa yang telah diamati, data yang telah diperoleh tersebut dikelompokkan ke dalam kelompokyang besar, lebih kecil, dan bagian dari kelompok keciltersebut. Analisis taksonomi digunakan untuk memilih seperangkat istilah yang merupakan satu domain atau bagian lebih besar dari domain dan mendeskiipsikannya Analisis komponensial merupakan analisis untuk memilih domain kultural yang berbeda dan mendeskripsikannya, memperjelas makna istilah dan hubungannya. Selanjutnya memberikan contoh-contoh spesifik untuk menunjukkan beberapa lambang yang menimbulkan perbedaan di antara istilahtersebut.
DAFTAR PUSTAKA Spradley, James, P. 1979. The Etlmogra¿c Interview. New York: Holt, Rinehart, and Winston. Spradley, James, P. 1980. Participant Observazion. New York: Holt, Rinehan and Winston.

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas

Page 1 1 ETNOGRAFI SEBAGAI PENELITIAN KUALITATIF Perkembangan media dalam konteks sosial dan praktik budaya yang kian beragam semakin mengukuhkan eksistensi paradigma kualitatif. Kemampuannya menghasilkan produk analisis yang mendalam selaras dengan settingnya. Beberapa metode penelitian berbasis paradigma kualitatif ini analisis wacana, studi kasus, semiotik dan etnografi kini mulai dilirik para ilmuwan maupun peneliti. Etnografi yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini merupakan salah satu metode penelitian kualitatif. Etnografi digunakan untuk meneliti perilaku-perilaku manusia berkaitan dengan perkembangan teknologi komunikasi dalam setting sosial dan budaya tertentu. Metode penelitian etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan sumber-sumber yang luas. Dengan teknik ³observatory participant´, etnografi menjadi sebuah metode penelitian yang unik karena mengharuskan partisipasi peneliti secara langsung dalam sebuah masyarakat atau komunitas sosial tertentu. Yang lebih menarik sejatinya metode ini merupakan akar dari lahirnya ilmu antropologi yang kental dengan kajian masyarakatnya itu. Tidak seberuntung analisis wacana, studi kasus dan semiotik, selama ini belum banyak buku-buku khusus yang membahas metode penelitian etnografi dalam komunikasi, khususnya di Indonesia. Pun metode ini juga belum terlalu banyak diadaptasi oleh para peneliti dalam kajian komunikasi ± walaupun diakui sumbangsihnya dalam menyediakan refleksi mengenai masyarakat dan Page 2 2 perkembangan teknologi komunikasi terhitung tidak sedikit. Beberapa keunikan dan fenomena yang mengikuti eksistensi metode penelitian etnografi dalam komunikasi ini membuat kita meliriknya sebagai salah satu metode yang laik dikenalkan, dikembangkan dan dirujuk dalam penelitian sosial. Untuk itu, dengan mengacu pada beberapa referensi buku, penulis akan memetakan secara ringkas metode penelitian etnografi. A. Metode Etnografi (James Spradley) Secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian dianggap sebagai asal-usul ilmu antropologi. Margareth Mead (1999) menegaskan, ³Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by individuals within living societies. Dalam buku ³Metode Etnografi´ ini, James Spardley mengungkap perjalanan etnografi dari mula-mula sampai pada bentuk etnografi baru. Kemudian dia sendiri juga memberikan langkah-langkah praktis untuk mengadakan penelitian etnografi yang disebutnya sebagai etnografi baru ini. A. Etnografi mula-mula (akhir abad ke-19) Etnografi mula-mula dilakukan untuk membangun tingkat-tingkat

perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis wacana, mereka ilmuwan antropologi pada waktu itu melakukan kajian etnografi melalui tulisan-

Page 3
3 tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah ada tanpa terjun ke lapangan. Namun pada akhir abad ke-19 legalitas penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang mendukung interpretasi para peneliti. Oleh karena hal tersebut, akhirnya muncul pemikiran baru bahwa seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat yang menjadi obyek kajiannya. B. Etnografi Modern (1915-1925) Etnografi modern dipelopori oleh antropolog sosial Inggris, Radclifffe-Brown dan B. Malinowski. Etnografi modern dibedakan dengan etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yaitu mereka tidak terlalu mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil melakukan observasi. C. Ethnografi Baru Generasi Pertama (1960-an) Berakar dari ranah antropologi kognitif, etnografi baru memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan susunan pikiran dari anggota masyarakat

Page 4
4 yang dikorek keluar oleh peneliti. Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat penting dalam metode penelitian ini. ³Pengumpulan riwayat hidup atau suatu strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian ini. D. Ethnografi Baru Generasi Kedua Inilah metode penelitian hasil sintesis pemikiran Spardley yang dipaparkan dalam buku Metode Etnografi ini, Spardley (1999) mendefinisikan budaya sebagai yang diamati dalam etnografi. Selain itu juga sebagai proses belajar yang mereka gunakan untuk megintepretasikan dunia sekeliling mereka dan menyusun strategi perilaku untuk menghadapinya. Dalam pandangannya ini, Spardley tidak lagi menganggap etnografi sebagai metode untuk meneliti Other culture (masyarakat kecil) yang terisolasi, namun juga masyarakat kita sendiri, masyarakat multicultural di seluruh dunia. Pemikiran ini kemudian dia rangkum dalam ³Alur Penelitian Maju Bertahap´ yang terdiri atas lima prinsip, yaitu: (1)

Peneliti dianjurkan hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data; (2) Mengenali langkah-langkah pokok dalam teknik tersebut, misalnya 12 langkah pokok dalam wawancara etnografi dari Spardley; (3) Setiap langkah pokok dijalankakn secra berurutan; (4) Praktik dan latihan harus selalu dilakukan; (5) Memberikan problem solving sebagai tanggung jawab sosialnya, bukan lagi ilmu untuk ilmu. Inti dari ³Etnografi Baru´ Spardley ini adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami

Page 5 5 melalui kebudayaan mereka. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya manusia dari tiga sumber: (1) dari hal yang dikatakan orang; (2) dari cara orang bertidak; (3) dari berbagai artefak yang digunakan. Namun dalam buku ini Spradley memfokuskan secara khusus pembuatan keksimpulan dari apa yang dikatakan orang. Wawancara etnografi dianggap lebih mampu menjelajah susunan pemikiran masyarakat yang sedang diamati. Sebagai metode penelitian kualitatif, etnografi dilakukan untuk tujuantujuan tertentu. Spradley mengungkapkan beberapa tujuan penelitian etnografi, sbb: (1) Untuk memahami rumpun manusia. Dalam hal ini, etnografi berperan dalam menginformasikan teori-teori ikatan budaya; menawarkan suatu strategi yang baik sekali untuk menemukan teori grounded. Sebagai contoh, etnografi mengenai anak-anak dari lingkungan kebudayaan minoritas di Amerika Serikat yang berhasil di sekolah dapat mengembangkan teori grounded mengenai penyelenggaraan sekolah; etnografi juga berperan untuk membantu memahami masyarakat yang kompleks. (2) Etnografi ditujukan guna melayani manusia. Tujuan ini berkaitan dengan prinsip ke lima yang dikemukakan Spradley di atas, yakni meyuguhkan problem solving bagi permasalahan di masyarakat, bukan hanya sekadar ilmu untuk ilmu. Ada beberapa konsep yang menjadi fondasi bagi metode penelitian etnografi ini. Pertama, Spradley mengungkapkan pentingnya membahas konsep bahasa, baik dalam melakukan proses penelitian maupun saat menuliskan hasilnya dalam bentuk verbal. Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk Page 6 6 mempelajari bahasa setempat, namun, Spredley telah menawarkan sebuah cara, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan etnografis. Konsep kedua adalah informan. Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi; secara harafiah, mereka menjadi guru bagi etnografer (Spradley, 1997: 35). Sisa dari buku yang ditulis Spradley ini mengungkap tentang langkahlangkah melakukan wawancara etnografis sebagai penyari kesimpulan penelitian dengan metode etnografi. Langkah pertama adalah menetapkan seorang informan. Ada lima syarat yang disarankan Spradley untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang

tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis. Langkah kedua adalah melakukan wawancara etnografis. Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus (ibid, hal. 71). Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaannya yang bersifat etnografis. Langkah selanjutnya adalah membuat catatan etnografis. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Langkah ke empat adalah mengajukan pertayaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif mengambil ³keuntungan dari kekuatan bahasa untuk menafsirkan setting´ (frake 1964a: 143 dalam Spradley, 1991: 108). Etnografer perlu untuk mengetahui paling tidak satu setting yang di dalamnya informan melakukan aktivitas rutinnya. Langkah ke lima adalah melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini merupakan penyelidikan

Page 7
7 berbagai bagian sebagaimana yang dikonseptualisasikan oleh informan. Langkah ke enam, yakni membuat analisis domain. Analisis ini dilakukan untuk mencari domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan namanama benda. Langkah ketujuh ditempuh dengan mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain. Langkah selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Langkah ke sembilan yakni mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini daoat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbolsimbol yang lain. Langkah ke sepuluh membuat analisis komponen. Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Langkah ke sebelas menemukan tema-tema budaya. Langkah terakhirnya yakni menulis sebuah etnografi. Pemikiran Spradley ini memberi pemetaan historis yang jelas mengenai metode penelitian etnografi selain mamberi gambaran mengenai langkahlangkahnya. Dengan cerdas, Spradley memaparkan bahwa etnografi baru bukan hanya dapat diadaptasi sebagai metode penelitian dalam antropologi melainkan dapat digunakan secara luas pada ranah ilmu yang lain. Penulis meletakkan pemikiran Spradley ini di bagian awal dengan maksud agar kita memperoleh pemahaman awal mengenai metode etnografi yang masih murni, umum, yang berasal dari akarnya, yakni ilmu antropologi. Berikut penulis akan menyajikan pemikiran-pemikiran lain mengenai metode penelitian etnografi dalam ranah kajian ilmu yang lebih spesifik.

Page 8
8 Metodologi Penelitian Kualitatif (Deddy Mulyana:1999) Istilah Etnografi berasal dari kata ethno (bangsa) dan graphy (menguraikan). Etnografi yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Menurut

pemikiran yang dirangkum oleh Deddy Mulyana ini, etnografi bertujuan menguraikan suatu budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya baik yang bersifat material, seperti artefak budaya dan yang bersifat abstrak, seperti pengalaman, kepercayaan norma, dan sistem nilai kelompok yang diteliti. Sedangkan Frey et al., (1992: 7 dalam Mulyana, 2001: 161) mengatakan bahwa etnografi berguna untuk meneliti perilaku manusia dalam lingkungan spesifik alamiah. Uraian tebal (thick description ) berdasarkan pengamatan yang terlibat (Observatory participant) merupakan ciri utama etnografi (ibid: 161-162). Pengamatan yang terlibat menekankan logika penemuan (logic of discovery), suatu proses yang bertujuan menyarankan konsep-konsep atau membangun teori berdasarkan realitas nyata manusia. Metode ini mematahkan keagungan metode eksprimen dan survei dengan asumsi bahwa mengamati manusia tidak dapat dalam sebuah laboratorium karena akan membiaskan perilaku mereka. Pengamatan hendaknya dilakukan secara langsung dalam habitat hidup mereka yang alami. Denzin menkategorikan jenis pengamat, sbb: participant as observer, complete participant, observer as participant serta complete observer (Ibid: 176). Etnografer harus pandai memainkan peranan dalam berbagai situasi karena

Page 9 9 hubungan baik antara peneliti dengan informaan merupakan kunci penting keberhasilan penelitian. Untuk mewujudkan hubungan baik ini diperlukan ketrampilan, kepekaan dan seni. Selain ketrampilan menulis, beberapa taktik yang disarankan adalah taktik ³mencuri-dengar´ (eavesdropping) dan taktik ³pelacak´ (tracer), yakni mengikuti seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan normalnya selama periode waktu tertentu. Hampir sama dengan pemikiran sebelumnya, tulisan Deddy Mulyana ini mengukuhkan wawancara secara mendalam dan tak terstruktur sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian etnografi ini. Kedua jenis wawancara ini adalah metode yang selaras dengan perspektif interaksionisme simbolik, karena memungkinkan pihak yang diteliti untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan lingkungannya, tidak sekadar manjawab pertanyaan peneliti. Pada tahap ini, wawancara hendaknya dilakukan secara santai dan informal dengan tetap berpengang pada pedoman wawancara yang telah dibuat peneliti. Walaupun pemaparannya tidak jauh berbeda dengan Spradley di atas, namun Deddy Mulyana lebih menekankan pendekatan interaksionisme simbolik untuk membaca sebuah fenomena menggunakan metode etnografi ini. Menurut perspektif interaksionisme simbolik, transformasi identitas menyangkut perubahan psikologis. Pelakunya menjadi individu yang berbeda dari sebelumnya (Ibid: 230). Hal ini menjadi perhatian dalam penggunaan metode penelitian etnografi. Peneliti disarankan untuk mampu merunut riwayat sejarah informan sebelum melakukan penelitian, atau yang sering dikenal dengan analisis dokumen. Page 10 10 ³A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research´ ( Jensen

and Jankowski) Jensen dan Jankowski (2002) menempatkan etnografi sebagai sebuah pendekatan. Etnografi tidak dilihat sebagai alat untuk mengumpulkan data tetapi sebuah cara untuk mendekati data dalam meneliti fenomena komunikasi. Menurut Hammersley dan Atkinson (1983: 2 dalam Jansen and jankowski, 1991: 153), etnografi dapat dipahami sebagai ³Simply one social research method, albeit an unusual one, drawing on a wide range of sources information. The erhnographer participates in people¶s lives for an extended period of time, watching what happens, listeninf to what is said, asking questions, collecting whatever data are available to throw light on issues with which he or she concerned´ Etnografi secara alami dipandang sebagai penyelidikan mengenai aktivitas hidup manusia. Oleh Greetz disebut sebagai ³informal logic of actual life´. Berbasis pandangan ini, seharusnya etnografi mampu menghasilkan deskripsi secara detail dari pengalaman kongkrit dengan latar budaya dan aturan sosial tertentu, pola-pola yang ada di dalamnya bukan berpatokan pada hukum yang universal (ibid: 8). Namun kenyataannya, etnografi menjadi istilah yang totemic. Misalnya, dalam kajian mengenai audiens akhir-akhir ini, tiba-tiba semua orang menjadi seorang etnografer. Hal ini menggugah Lull untuk meneriakkan kembali tanggung jawab sebagai seorang peneliti etnografi, yakni; pengamatan dan pencatatan secara langsung tingkah laku yang rutin dari seluruh karakteristik individu yang dipelajari; pengamatan harus dilakukan secara langsung dalam setting masyarakat

Page 11
11 yang diteliti sebagai laboratorium alaminya. Kesimpulan digambarkan secara hatihati, tidak gegabah, perlu juga memberikan perlakuan spesial terhadap hasil pengamatan dalam konteks yang berbeda-beda. Strategi penelitian kualitatif seperti Etnografi ini dirancang untuk memasuki ceruk-ceruk wilayah kehidupan alami serta aktivitas tertentu yang menjadi karakter masyarakat yang akan diteliti. Kekuatan utama etnografi adalah contextual understanding yang timbul dari hubungan antar aspek yang berbeda dari fenomena yang diamati. Namun yang masih dianggap sebagai kelemahannya ialah interpretasi peneliti dalam menggambarkan hasil pengamatan. Karena peneliti barada bersama dengan para informan, maka peneliti dituntut untuk reflektif dan mampu menjauhkan diri dari kekerdilan interpretasi, ketidaklengkapan observasi dan dan gap- gap yang ada dalam struktur yang diamati. Sebuah Tinjauan Penelitian Etnografi Etnografi, yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Seperti layaknya penelitian kualitatif lainnya, etnografi saat ini sudah mampu mengambil hati para ilmuwan komunikasi terutama berkaitan dengan penelitian yang mengungkap praktik-praktik pengkonsumsian media, perilaku dalam perkembangan teknologi komunikasi, dll. Metode penelitian etnografi menyuguhkan refleksi yang mendalam bagi kajian-kajian semacam itu.

Page 12 12 Metode etnografi memiliki ciri unik yang membedakannya dengan metode penelitian kualitatif lainnya, yakni: observatory participant²sebagai teknik pengumpulan data, jangka waktu penelitian yang relatif lama, berada dalam setting tertentu, wawancara yang mendalam dan tak terstruktur serta mengikutsertakan interpretasi penelitinya. Yang terakhir ini sepertinya masih menjadi perdebatan dengan penganut positivis. Untuk kasus-kasus tertentu, kemampuan interpretasi peneliti diragukan ± tanpa mereka sadari, sejatinya interpretasi ilmuwan-ilmuwan etnografi berperan besar dalam menyajikan kesadaran-kesadaran kritis atas perilaku bermedia masyarakat. Ketidakberuntungan merode etnografi dibanding analisis wacana, semiotik serta studi kasus adalah karena penelitian ini memerlukan waktu yang sangat lama, tenaga yang besar ± karena peneliti harus bergabung dengan informan, ketrampilan berkomunikasi yang terlatih, serta kemampuan menuliskan interpretasi dengan baik. Di sisi lain, metode etnografi telah membuktikan bahwa sebagai metode penelitian kualitatif, ia mampu melaklukan analisis yang lebih mendalam serta menyajikan refleksi kritis secara detil dalam lingkup mikro sebuah kehidupan manusia. Bagaimanapun juga, metode penelitian etnografi hanyalah sebuah cara yang dalam aplikasinya tentu tidak dapat meninggalkan metode penelitian lainnya, bahkan metode penelitian kuantitatif sekalipun. Sebagai calon ilmuwan komunikasi, ada baiknya kita mempelajari metode ini, karena di masa yang akan datang, ketika kultur mikro mulai tereduksi oleh globalisasi makro, tentu refleksiPage 13 13 refleksi kritis sangat diperlukan. Dan etnografi akan hadir sebagai metode penelitian kulaitatif yang akan menyelesaikannya. Metode etnografi memiliki ciri unik yang membedakannya dengan metode penelitian kualitatif lainnya, yakni: observatory participant²sebagai teknik pengumpulan data, jangka waktu penelitian yang relatif lama, berada dalam setting tertentu, wawancara yang mendalam dan tak terstruktur serta mengikutsertakan interpretasi penelitinya. Yang terakhir ini sepertinya masih menjadi perdebatan dengan penganut positivis. Untuk kasus-kasus tertentu, kemampuan interpretasi peneliti diragukan ± tanpa mereka sadari, sejatinya interpretasi ilmuwan-ilmuwan etnografi berperan besar dalam menyajikan kesadaran-kesadaran kritis atas perilaku bermedia masyarakat. Ketidakberuntungan metode etnografi dibanding analisis wacana, semiotik serta studi kasus adalah karena penelitian ini memerlukan waktu yang sangat lama, tenaga yang besar, karena peneliti harus bergabung dengan informan, ketrampilan berkomunikasi yang terlatih, serta kemampuan menuliskan interpretasi dengan baik. Di sisi lain, metode etnografi telah membuktikan bahwa sebagai metode penelitian kualitatif ia mampu melakukan analisis yang lebih mendalam serta menyajikan refleksi kritis secara detil dalam lingkup mikro sebuah kehidupan manusia. Bagaimanapun juga, metode penelitian etnografi hanyalah sebuah cara

yang dalam aplikasinya tentu tidak dapat meninggalkan metode penelitian lainnya, bahkan metode penelitian kuantitatif sekalipun. Sebagai calon ilmuwan

Page 14
14 komunikasi, ada baiknya kita mempelajari metode ini, karena di masa yang akan datang, ketika kultur mikro mulai tereduksi oleh globalisasi makro, tentu refleksirefleksi kritis sangat diperlukan. Dan etnografi akan hadir sebagai metode penelitian kulaitatif yang akan menyelesaikannya. Sejak lima dekade yang lalu, para antropolog telah memanfaatkan etnografi sebagai wahana untuk menuangkan pengalaman dan kajian mereka. Etnografi menjadi sebuah cara yang dianggap paling tepat untuk menggambarkan realitas masyarakat yang diteliti. Dalam tradisi kajian antropologi klasik, etnografi menjadi ³jembatan´ antara pemikiran teoritis dan realitas kehidupan sehari-hari tangkapan sang antropolog. Tradisi semacam ini meletakkan etnografi sebagai ³realitas ketiga´, yakni realitas tulis yang berada di luar realitas subyektif penulis dan realitas obyektif yang dituliskan. Namun saat ini, etnografi, sebagai sebuah metode dan tulisan, mulai sering dimanfaatkan oleh kajian budaya (cultural studies), kritik sastra, sastra bandingan, sejarah, dan berbagai disiplin lainnya. Bahkan, etnografi tak lagi menjadi sebuah metode asing di kalangan para pembuat film, terutama mereka yang bergerak di bidang film dokumenter atau mereka yang sekedar ingin menonjolkan corak realisme dalam karya mereka. Tetapi, pemanfaatan metode dan tulisan etnografi yang semakin meluas itu telah memunculkan kegamangan sangat dalam di kalangan para penganut gaya etnografi klasik, yaitu para antropolog yang berpendapat bahwa etnografi bukan sekedar karya tulisan, tetapi juga yang harus mematuhi kaidah ³ilmiah´. Jika plot

Page 15
15 dan struktur menjadi prinsip baku penulisan sebuah novel, obyektifitas dan pembenaran empiris menjadi tulang punggung yang menentukan apakah sebuah tulisan dapat dikategorikan sebagai ³etnografis.´ Maka ketika etnografi dipakai sebagai alat kajian dan representasi hal-hal yang dianggap bersifat ³tidak obyektif´ dan ³tidak empiris´, misalnya bila metode etnografi dipakai untuk mengkaji dan menulis sebuah fiksi atau novel para etnograf klasik mengatakan bahwa telah terjadi sebuah krisis representasi dalam seluruh bangunan antropologi sebagai ilmu sosial. Antropologi kini telah ³disastrakan´, kata mereka. Etnografi moderen mencapai titik puncaknya kala Bronislaw Malinowski menerbitkan karya besarnya Argonauts of the Western Pacific, sebuah karya etnografi yang dianggap nyaris sempurna. Buku tebal ini merupakan laporan hasil penelitian Malinowski tentang sistem pertukaran di Kepulauan Trobriand. Kekuatannya terletak pada cara penulisannya yang sangat realis sehingga pembaca seolah-olah diajak mengikuti ekspedisi kula, yaitu pelayaran masyarakat setempat dari satu pulau ke pulau lain. Prinsip realisme dalam penulisan dicapai melalui pemisahan antara

penggambaran realitas realitas tokoh maupun realitas alam dan peran penulis yang tugasnya hanya merepresentasikan realitas itu dalam narasi. Pada masa puncak gerakan modernisme, belum ada kesadaran kritis bahwa pemilihan sebuah aspek realitas yang akan ditonjolkan dalam narasi sebenarnya merupakan fungsi atau subjektifitas sang pengarang. Oleh karena itu, pendekatan realisme sangat

Page 16
16 cocok untuk penulisan etnografi klasik karena etnografi realis semacam itu dianggap berhasil ³mematikan´ subjektifitas pengarang. Dalam hal ini sang etnograf atau antropolog dituntut untuk selalu bersikap ³obyektif.´ Di pihak lain, pendekatan kritis menunjukkan bahwa etnografi juga bukan sebuah fiksi karena peristiwa atau konteks lingkungan yang direpresentasikan dalam narasi etnografi adalah situasi yang benar-benar terjadi. Apabila pandangan antropologi pascamodernis mengatakan bahwa semua etnografi adalah karya fiksi karena semata-mata merupakan refleksi si penulis, maka pandangan antropologi kritis mengakui bahwa sebuah etnografi pasti mencerminkan subyektifitas si penulis, yakni subyektifitas yang mempengaruhi pemilihan dan penafsiran realitas yang dijelmakan dalam narasi etnografi. Dengan kata lain, narasi etnografi selalu bersifat kontekstual, dalam arti selalu terkait dengan subyektifitas dan kemungkinan-kemungkinan representasi yang ditawarkan oleh realitas itu sendiri. Beberapa antropolog saat ini sudah mulai mencoba menerapkan perspektif etnografi kritis untuk menghasilkan etnografi yang lebih menonjolkan sisi manusiawi. Kirin Narayan, Paul Stoller, dan Keith Basso, adalah beberapa contoh antropolog yang meminjam teknik penulisan fiksi untuk menyusun etnografi tentang seseorang atau sebuah kelompok sosial. Meskipun meminjam teknik penulisan fiksi, karya mereka tidak sama dengan fiksi. Narasi etnografi mereka diciptakan melalui teknik dasar penulisan fiksi, seperti penggunaan sudut pandang, teknik dialog, deskripsi yang bersifat alegoris atau realis, dan, kadangkadang, pemanfaatan plot cerita.

Page 17
17 Meskipun demikian, tokoh-tokoh, situasi yang digambarkan, maupun kata-kata yang menyusun dialog, semuanya nyata dan bukan diciptakan oleh penulis/antropolog. Dalam pengertian ini, etnografi kritis mirip dengan pendekatan jurnalisme sastra (literary journalism). Etnografi kritis adalah jawaban terhadap kegamangan antropologi yang dituntut untuk mulai dapat bercerita secara memukau tetapi pada saat yang sama mempertahankan unsur-unsur realisme yang menjadi syarat sebuah kajian ilmu sosial. Saat ini, pandangan yang menempatkan narasi fiksi dan narasi tulisan ilmiah sebagai dua hal yang tak bisa disatukan, sudah mulai dipertanyakan. Sudah mulai diragukan pula pandangan yang membedakan fiksi sebagai sebuah karya seni dan etnografi sebagai sebuah karya ilmiah. Sebuah karya ilmiah dapat mencerminkan ketrampilan sang penulisnya dengan penggunaan teknik-teknik narasi yang memukau dan indah. Etnografi kritis menawarkan sebuah bentuk representasi realitas yang menarik tanpa harus

terjebak pada kegenitan pascamodernisme yang menganggap semua realitas telah mati. Metode Kualitatif Etnografi Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif

Page 18 18 berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan Jenis-jenis Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu: 1.Biografi Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan Page 19 19 penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri. 2. Fenomenologi Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian

tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. 3. Grounded theory Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

Page 20
20 4. Etnografi Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok. 5. Studi kasus Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu. Kesimpulan Model etnografi adalah penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Model ini berupaya mempelajari peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subyek sebagai obyek studi. Studi ini akan terkait begaimana subyek berpikir, hidup, dan berperilaku. Tentu saja perlu dipilih peristiwa yang unik yang jarang teramati oleh kebanyakan orang. Penelitian etnografi adalah kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang

Page 21
21 dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian. Model etnografi cenderung mengarah

ke kutub induktif, konstruktif, transferabilitas, dan subyektif. Selain itu, juga lebih menekankan idiografik, dengan cara mendeskripsikan budaya dan tradisi yang ada. Etnografi pada dasarnya lebih memanfaatkan teknik pengumpulan data pengamatan berperan serta (partisipant observation). Hal ini sejalan dengan pengertian istilah etnografi yang berasal dari kata ethno (bangsa) dan graphy (menguraikan atau menggambarkan). Etnografi merupakan ragam pemaparan penelitian budaya untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati dalam kehidupan sehari-hari. Etnografi lazimnya bertujuan untuk menguraikan budaya tertentu secara holistik, yaitu aspek budaya baik spiritual maupun material. Dari sini akan terungkap pandangan hidup dari sudut pandang penduduk setempat. Hal ini cukup bisa dipahami karena melalui etnografi akan mengangkat keberadaan senyatanya dari fenomena budaya. Dengan demikian akan ditemukan makna tindakan budaya suatu komunitas yang diekspresikan melalui apa saja. Ciri-ciri penelitian etnografi adalah analisis data yang dilakukan secara holistik, bukan parsial. Ciri-ciri lain seperti dinyatakan Hutomo (Sudikan,

Page 22 22 2001:85-86) antara lain: (a) sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari; (b) peneliti sendiri merupakan instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data; (c) bersifat pemerian (deskripsi), artinya, mencatat secara teliti fenomena budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi, kemudian mengkombinasikan, mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan; (d) digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau studi kasus; (e) analisis bersifat induktif; (f) di lapangan, peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya; (g) data dan informan harus berasal dari tangan pertama; (h) kebenaran data harus dicek dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis); (i) orang yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan (buku termasuk partisipan juga), konsultan, serta teman sejawat; (j) titik berat perhatian harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari etik, (k) dalam pengumpulan data menggunakan purposive sampling dan bukan probabilitas statistik; (1) dapat menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif, namun sebagian besar menggunakan kualitatif. Dari ciri-ciri tersebut, dapat dipahami bahwa etnografi merupakan model penelitian budaya yang khas. Etnografi memandang budaya bukan semata-mata sebagai produk, melainkan proses. Hal tersebut di atas sejalan dengan konsep Marvin Harris (1992:19) bahwa kebudayaan akan menyangkut nilai, motif, peranan moral etik, dan maknanya sebagai sebuah sistem sosial. Kebudayaan tidak hanya cabang nilai, melainkan Page 23 23 merupakan keseluruhan institusi hidup manusia. Dengan kata lain, kebudayaan

merupakan hasil belajar manusia termasuk di dalamnya tingkah laku. Karena itu, menurut Spradley (1997:5) etnografi harus menyangkut hakikat kebudayaan, yaitu sebagai pengetahuan yang diperoleh, yang digunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial. Itulah sebabnya etnografi akan mengungkap seluruh tingkah laku sosial budaya melalui deskripsi yang holistik. Deskripsi mendalam penentuan sampel pada penelitian kualitatif model etnografik, ada lima jenis yaitu: (1) seleksi sederhana, artinya seleksi hanya menggunakan satu kriteria saja, misalkan kriteria umur atau wilayah subyek; (2) seleksi komprehensif, artinya seleksi bedasarkan kasus, tahap, dan unsur yang relevan; (3) seleksi quota, seleksi apabila populasi besar jumlahnya, untuk itu populasi dijadikan beberapa kelompok misalnya menurut pekerjaan dan jenis kelamin; (4) seleksi menggunakan jaringan, seleksi menggunakan informasi dari salah satu warga pemilik budaya, dan (5) seleksi dengan perbandingan antarkasus, dilakukan dengan membandingkan kasus-kasus yang ada, sehingga diperoleh ciriciri tertentu, misalnya yang teladan, dan memiliki pengalaman khas. Dari lima cara tersebut, peneliti budaya model etnografi dapat memilih salah satu yang paling relevan dengan fenomena yang dihadapi. Namun demikian, menurut pertimbangan penulis, seleksisecara komprehensif dipandang lebih akurat dibanding empat kriteria seleksi yang lain. Melalui seleksi secara komprehensif, peneliti akan mampu menentukan langkah yang tepat sejalan dengan apa yang diteliti. Yang lebih penting lagi, jika harus mengambil sampel, sebaiknya

Page 24
24 dilakukan secara pragmatik dan bukan secara acak. Peneliti perlu tahu konteks masyarakat yang diteliti, tanpa membawa prakonsep atau praduga atau teori yang dimilikinya. Peneliti etnogragi juga perlu mempertimbangkan aspek-aspek lain yang mungkin belum terkover dalam unsur-unsur budaya tersebut. Kecuali itu, peneliti juga perlu menggunakan skala prioritas. Artinya, unsur mana yang menjadi titik perhatian, itulah yang dikemukakan lebih dahulu, sedangkan unsur lain hanya penyerta. Pelukisan etnografi dilakukan secara tick deskription (deskripsi tebal dan mendalam). Namun demikian, tebal di sini lebih merupakan formulasi ke arah deskripsi yang mendalam, sehingga lukisan lebih berarti, bukan sekedar data yang ditumpuk. Memang etnografi bercirikan kelengkapan data, namun pembahasan juga mengandalkan akal sehat. Peneliti berusaha menangkap sepenuh mungkin informasi budaya menurut perspektif orang yang diteliti. Penelitian etnografi sering diasumsikan sebagai penelitian yang relatif lama, peneliti harus tinggal pada salah satu tempa, beradaptasi, dan seterusnya. Hal ini memang ideal dilakukan, namun masalah waktu sebenarnya sangat relatif. Bahan-bahan etnografi berasal dari masyarakat yang disusun secara deskriptif. Deskripsi data diharapkan secara menyeluruh, menyangkut berbagai aspek kehidupan untuk meninjau salah satu aspek yang diteliti. Deskripsi dipandang bersifat etnografis apabila mampu melukiskan fenomena budaya selengkap-lengkapnya. Deskripsi etnografi menurut Koentjaraningrat (1990:333) sudah baku, yaitu meliputi unsur-unsur kebudayaan secara universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian dan sistem religi. Namun demikian, deskripsi

Page 25 25 semacam ini tidak harus dipenuhi semua. Sebab, ini lebih didasarkan pada unsur kebudayaan secara universal, dan kalau peneliti ingin menyederhanakan pun sebenarnya tidak dilarang. Peneliti boleh saja mengungkapkan sub bab tertentu ayng dipandang spesifik dan langsung pada sasaran. Yang penting deskripsi menyeluruh dapat tercapai. Penetapan setting model etnografi memerlukan strategi khusus, yaitu: (a) jadilah praktisi, artinya setting tidak perlu terlalu luas dan terlalu sempit, yang penting mampu mewakili fenomena; (b) upayakan tempat yang asing dari peneliti, hal ini untuk lebih mampu mengambil jarak dalam penelitian, tetapi juga memperhatikan kemudahan masuk tidaknya ke dalam setting; (c) ketiga, jangan terlalu berpegang kaku pada rencana peneliti, rencana bisa berubah setelah di lapangan, (d) pikirkan sejumlah topik yang sulit dijangkau. Dalam kaitan itu, pelukisan etnografi mengenal dua desain penelitian yaitu: (1) studi kasus dan (2) multiple site and subject studies. Penerapan studi kasus akan mencari keunikan budaya pada wilayah tertentu. Penyimpangan-penyimpangan budaya yang merupakan kasus spesial dan menarik, akan menjadi sorotan peneliti. Sedangkan desain multiple site and subject studies cenderung untuk meneliti budaya dalam skup luas. Peneliti dapat melukiskan budaya tertentu pada berbagai tempat. Dari dua desain demikian, dapat dinyatakan bahwa etnografi adalah salah satu model penelitian budaya yang mengangkat hal-hal khusus. Kekhususan penelitian budaya adalah pada kemampuan memanfaatkan model etnografi sedetail mungkin. Page 26 26 Langkah-langkah Etnografer Sebagai sebuah model, tentu saja etnografi memiliki karakteristik dan langkah-langkah tersendiri. Langkah yang dimaksud adalah seperti dikemukakan Spradley (1997) dalam buku Metode Etnografi, sebagai berikut: Pertama, menetapkan informan. Ada lima syarat minimal untuk memilih informan, yaitu: (a) enkulturasi penuh, artinya mengetahui budaya miliknya dengan baik, (b) keterlibatan langsung, artinya (c) suasana budaya yang tidak dikenal, biasanya akan semakin menerima tindak budaya sebagaimana adanya, dia tidak akan basabasi, (d) memiliki waktu yang cukup, (e) non-analitis. Tentu saja, lima syarat ini merupakan idealisme, sehingga kalau peneliti kebetulan hanya mampu memenuhi dua sampai tiga syarat pun juga sah-sah saja. Apalagi, ketika memasuki lapangan, peneliti juga masih mendugaduga siapa yang pantas menjadi informan yang tepat sesuai penelitiannya. Kedua, melakukan wawancara kepada informan. Sebaiknya dilakukan dengan wawancara yang penuh persahabatan. Pada saat awal wawancara perlu menginformasikan tujuan, penjelasan etnografis (meliputi perekaman, model wawancara, waktu dan dalam suasana bahasa asli), penjelasan pertanyaan (meliputi pertanyaan deskriptif, struktural, dan kontras). Wawancara hendaknya jangan sampai menimbulkan kecurigaan yang berarti pada informan.

Ketiga, membuat catatan etnografis. Catatan dapat berupa laporan ringkas, laporan yang diperluas, jurnal lapangan, dan perlu diberikan analisis atau interpretasi. Catatan ini juga sangat fleksibel, tidak harus menggunakan kertas ini

Page 27
27 itu atau buku ini itu, melainkan cukup sederhana saja. Yang penting, peneliti bisa mencatat jelas tentang identitas informan. Keempat, mengajukan pertanyaan deskriptif. Pertanyaan ini digunakan untuk merefleksikan setempat. Pada saat mengajukan pertanyaan, bisa dimulai dari keprihatinan, penjajagan, kerja sama, dan partispasi. Penjajagan bisa dilakukan dengan prinsip: membuat penjelasan berulang, menegaskan kembali yang dikatakan informan, dan jangan mencari makna melainkan kegunaannya. Kelima, melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis dikaitkan dengan simbol dan makna yang disampaikan informan. Tugas peneliti adalah memberi sandi simbol-simbol budaya serta mengidentifikasikan aturan-aturan penyandian dan mendasari. Keenam, membuat analisis domain. Peneliti membuat istilah pencakup dari apa yang dinyatakan informan. Istilah tersebut seharusnya memiliki hubungan semantis yang jelas. Contoh domain, cara-cara untuk melakukan pendekatan yang berasal dari pertanyaan: ³apa saja cara untuk melakukan pendekatan´. Ketujuh, mengajukan pertanyaan struktural. Yakni, pertanyaan untuk melengkapi pertanyaan deskriptif. Misalkan, orang tuli menggunakan beberapa cara berkomunikasi, apa saja itu? Kedelapan, membuat analisis taksonomik. Taksonomi adalah upaya pemfokusan pertanyaan yang telah diajukan. Ada lima langkah penting membuat taksonomi, yaitu: (a) pilih sebuah domain analisis taksonomi, misalkan jenis penghuni penjara (tukang peluru, tukang sapu, pemabuk, petugas elevator dll.), (b)

Page 28
28 identifikasi kerangka substitusi yang tepat untuk analisis, (c) cari subset di antara beberapa istilah tercakup, misalkan kepala tukang kunci: tukang kunci, (d) cari domain yang lebih besar, (f) buatlah taksonomi sementara. Kesembilan, mengajukan pertanyaan kontras. Kita bisa mengajukan pertanyaan yang kontras untuk mencari makna yang berbeda, seperti wanita, gadis, perempuan, orang dewasa, simpanan, dan sebagainya. Kesepuluh, membuat analisis komponen. Analisis komponen sebaiknya dilakukan ketika dan setelah di lapangan. Hal ini untuk menghindari manakala ada hal-hal yang masih perlu ditambah, segera dilakukan wawancara ulang kepada informan. Kesebelas, menemukan tema-tema budaya. Penentuan tema budaya ini boleh dikatakan merupakan puncak analisis etnografi. Keberhasilan seorang peneltii dalam menciptakan tema budaya, berarti keberhasilan dalam penelitian. Tentu saja, akan lebih baik justru peneliti mampu mengungkap tema-tema yang orisinal, dan bukan tema-tema yang telah banyak dikemukakan peneliti sebelum-

nya. Keduabelas, menulis etnografi. Menulis etnografi sebaiknya dilakukan secara deskriftif, dengan bahasa yang cair dan lancar. Jika kemungkinan harus berceritera tentang suatu fenomena, sebailrnya dilukiskan yang enak dan tidak membosankan pembaca. Penentuan informan kunci juga penting dalam penelitian etnografi. Informan kunci dapat ditentukan menurut konsep Benard (1994:166) yaitu orang yang dapat berceritera secara mudah, paham terhadap informasi yang dibutuhkan, dan dengan gembira memberikan informasi kepada peneliti.

Page 29 29 Informan kunci adalah orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan terhormat dan berpengetahuan dalam langkah awal penelitian. Orang semacam ini sangat dibutuhkan bagi peneliti etnografi. Orang tersebut diperlukan untuk membukan jalan (gate keeper) peneliti berhubungan dengan responden, dapat juga berfungsi sebagai pemberi ijin, pemberi data, penyebar ide, dan perantara. Bahkan akan lebih baik apabila informan kunci mau memperkenalkan peneliti kepada responden agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bagi peneliti memang tidak mudah menentukan informan kunci. Karena itu, berbagai hal perlu dipertimbangkan agar jendela dan pintu masuk peneliti semakin terbuka dan peneliti mudah dipercaya oleli responden. Pertimbangan yang harus dilakukan dalam menentukan informan kunci, antara lain: (a) orang yang bersangkutan memiliki pengalaman pribadi tentang masalah yang diteliti; (b) usia telah dewasa; (c) sehat jasmani rohani; (d) bersikap netral, tidak memiliki kepentingan pribadi; dan (e) berpengetahuan luas. Pada saat etnografer ke lapangan, mengambil data, mereka akan mendengarkan dan mengamati langsung maupun berperan serta, lalu mengambil keksimpulan. Setiap langkah pengambilan data akan disertai pengambilan kesimpulan sementara. Pemilihan informan kunci ada strategi khusus, antara lain dapat melalui empat macam cara, sebagai berikut: (a) secara insidental, artinya peneliti menemui seseorang yang sama sekali belum diketahui pada salah satu wilayah penelitian. Tentu cara semacam ini kurang begitu menguntungkan, tetapi tetap strategis dilakukan. Peneliti bisa menyamar sebagai pembeli atau penjual tertentu ke suatu wilayah. Yang penting, sikap dan perilaku peneliti tidak menimbulkan kecurigaan; (b) menggunakan Page 30 30 modal orang-orang yang telah dikenal sebelumnya. Peneliti berusaha menghubungi beberapa orang, mungkin melalui orang terdekat. Cara ini dipandang lebih efektif, karena peneliti bisa mengemukakan maksudnya lebih leluasa. Melalui orang dekat tersebut, peneliti bisa meyakinkan bahwa penelitiannya akan dihargai. (c) sistem quota, artinya innforman kunci telah dirumuskan kriterianya, misalkan ketua organisasi, ketua RT, dukun dan sebagainya. (d) secara snowball, artinya informan kunci dimulai dengan jumlah kecil (satu orang), kemudian atas rekomendasi orang tersebut, informan kunci menjajdi semakin besar sampai jumlah tertentu. Informan akan berkembang terus, sampai memperoleh data jenuh. Dari cara-cara tersebut, peneliti dapat memilih salah satu

yang paling cocok. Pemilihan didasarkan pada aspek kemudahan penelitimemasuki setting dan pengumpulan data. Jika cara yang telah ditempuh gagal, peneliti boleh juga menggunakan cara yang lain sampai diperoleh data yang mantap.

Page 31
31 REFERENSI Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta. Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta. Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California. Jensen, Klaus Bruhn and Nicholas W. Jankowski. 1991. A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research. Mulyana, Deddy. 2001. metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT remaja Rosdakarya Spradley, james P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT tiara Wacana

ANALISIS WAWANCARA ETNOGRAFIS
1. Tahapan tahapan dalam penelitian etnografis :
y

Memilih Masalah

Pada intinya semua etnografi dimulai dengan permasalahan umum yang sama. Tetapi, bentuk permasalahannya masih tetap sama: Apa makna kebudayaan yang digunakan masyarakat dalam mengatur tingkah laku kekerabatan dan menginterpretasikan pengalaman. Permasalahan ini di dasarkan pada teori kebudayaan.
y

Mengumpulkan data kebudayaan

Etnografer mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif dengan melakukan observasi umum dan mencatat semua ini dalam catatan lapangan.

y

Menganalisis data kebudayaan

Analisis ini meliputi pemeriksaan ulang catatan lapangan untuk mencari simbol-simbol budaya serta mencari hubungan antara simbol-simbol itu.
y

Memformulasiakan hipotesis etnografis

Etnografer memformulasikan hipotesis untuk diuji. Hipotesis ini muncul dari budaya yang dipelajari. Hipotesis etnografis harus diformulasikan setelah mengumpulkan data awal. Hipotesis etnografi mengusulkan hubungan yang harus diuji dengan cara mengecek hal-hal yang diketahui oleh informan.
y

Menuliskan Etnonografi

Penulisan deskriptif kebudayaan akan menstimulasi hipotesis baru serta membawa peneliti untuk kembali melakukan lebih banyak penelitiaan lapangan. Menulis merupakan suatu proses perbaikan analisis.

2. Macam-macam Analisis Etnografi
y

Analisis Domain

Penyelidikan terhadap unit-unit pengetahuan budaya yang lebih besar yang disebut Domain. Dalam melakukan jenis analisis ini, kita akan mencari simbolsimbol budaya yang termasuk dalam kegiatan domain.
y

Analisis Taksonomi

Pencarian struktur internal domain serta membentuk identifikasi susunan yang bertentangan.
y

Analisis Komponen

Pencarian atribut atribut yang menandai berbagai perbedaan diantara simbol-simbol dalam sebuah domain.
y

Analisis Tema

Pencarian hubungan diantara domain dan bagaimana domain-domain itu dihubungkan dengan budaya secara keseluruhan. 3. Tujuan Etnografer Melakukan Analisis Suatu Kebudayaan
y

Analisis Etnografis sebagai alat untuk menemukan makna budaya.

y

Analisis merujuk pada pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian bagiannya, hubungan diantara bagian-bagian, serta hubungan bagian-bagian itu dengan keseluruhannya.

Etnografi

Kata Pengantar
Atas limpahan rahmat, taufiq dan hidayah- Nyalah saya mampu menyelesaikan makalah Etnografi sebagai tugas mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia . Untuk itu tiada kata yang patut saya sampaikan kecuali ungkapan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Makalah ini disusun selain untuk melengkapi tugas kuliah Studi Masyarakat Indonesia, juga bertujuan meningkatkan motivasi dalam mempelajari dan menggali materi- materi tentang Etnografi melalui diskusi dan hasil rangkuman dari referensi terkait. Makalah ini disusun berdasarkan hasil analisis dari berbagai referensi terkait.

Dan kami ucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Endang Koswara yang telah memberikan bimbingan dan sarannya pada kami dalam penyelesaian penyusunan tugas Makalah tentang Etnografi ini, semoga menjadi ilmu yang lebih bermanfaat bagi kami

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kini banyak orang yang suka berdiskusi tentang masalah kebudayaan dan pembangunan, masalah hubungan kebudayaan

tradisional dan kebudayaan modern, masalah perubahan nilai ± nilai budaya, masalah mentalitas pembangunan, masalah pembinaan

kebudayaan nasional, masalah hubungan agama dam kebudayaan dan sebagainya. Dalam diskusi ± diskusi di berbagai studi ± klab, dalam konversaisi pada pertemuan ± pertemuan dengan para cendikiawan, dalam kursus ± kursus penataran para karyawan atau dosen, atau dalam pertemuan ± pertemuan Tanya ± jawab dengan para wartawan, saya sering di hadapkan dengan berbagai pertanyaan tentang masalah yang berkisar sekitar pokok ± pokok tadi. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah misalnya : ³Apakah sebenarnya yang tercakup dalam konsep kebudayaan itu?´ Banyak orang mengertikan konsep itu dalam arti yang terbatas, ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan

keindahan. Dengan singkat : Kebudayaan adalah kesenian. Dalam arti seperti itu konsep itu memang terlampau sempit. Sebaliknya, banyak orang terutama para ahli ilmu sosial, mengertikan konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa di cetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Konsep ituadalah amat luas karena meliputi hamper seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Hal ± hal yang tidak termasuk kebudayaan hanyalah beberapa reflex yang berdasarkan naluri, sedangkan suatu perbuatan yang sebenarnya juga merupakan perbuatan naluri, seperti makan misalnya, oleh manusia dilakukan dengan peralatan, dengan tatacara sopan santun dan protocol, sehingga hanya bisa dilakukannya dengan baik sesudah suatu proses belajar tata ± cara sopan makan. Karena demikian luasnya, maka guna kerluan analisa konsep kebudayaan itu perlu di pecah lagi kedalam unsur ± unsurnya. Unsur ± unsur terbesar yang terjadi karena pecahan tahap pertama disebut ³Unsur ± unsure kebudayaan yang Universal´, dan merupakan unsur ± unsure yang pasti bisa ditemukan disemua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil terpencil maupun dalam masyarakat perkotaan yang besar dan komplex. Unsur ± unsure universal itu, yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang adadi dunia ini, adalah :

1. Sistem Religi dan upacara keagamaan, 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan, 3. Sistem pengetahuan, 4. Bahasa, 5. Kesenian, 6. Sistem mata pencaharian hidup, 7. Sistem teknologi dan peralatan.

Ketujuh unsur universal tersebut masing ± masing dapat di pecah lagi kedalam sub unsur ± unsurnya. Demikian ketujuh unsur kebudayaan universal memang mencakup seluruh kebudayaan mahluk manusia di manapun juga di dunia, dan menunjukan ruang lingkup dari kebudayaan serta isi dari konsepnya. Susunan tata ± urut dari unsur ± unsure kebudayaan universal seperti tercantum di atas di buat dengan sengaja untuk sekalian menggambarkan unsur ± unsur mana yang paling sukar berubah atau kena pengaruh kebudayaan lain, dan mana yang paling mudah berubah atau dig anti dengan unsur ± unsur serupa dari kebudayaan ± kebudayaan lain. Dalam tata ± urut itu akan segera terlihat bahwa unsur ± unsur yang berada di bagian atas dari deretan, merupakan unsur ± unsur yang lebih sukar berubah daripada unsur ± unsur yang tersebut kemudian. Sistem Religi dan sebagian besar dari sub unsur ± unsurnya biasanya memang mengalami perubahan yang lebih lambat bila di bandingkan, misalnya suatu teknologi atau suatu peralatan bercocok tanam tertentu, namun toh

harus di perhatikan bahwa ini hanya dalam garis besarnya saja, karena ada kalanya ada sub ± sub ± unsur arsitektur sesuatu tempat pemujaan, hal yang pertama merupakan bagian dari sub ± unsur hukum, yang sebaliknya merupakan bagian bagian dari unsure sistem religi. Namun dalam garis besarnya tata ± urut dari unsur ± unsur universal tercantum di atas, toh menggambarkan continuum dari unsur ± unsur yang sukar berubah ke unsur ± unsur yang mudah berubah. Sudah tentu dalam peraktek kita sering tidak mungkin

mempergunakan konsep kebudayaan dengan ruang lingkup seluas yang terurai di atas, dan yang di pergunakan oleh kebanyakan ahli ilmu social. Kalau demikian, maka misalnya direktorat kebudayaan dari Departemen P dan K Republik Indonesia akan merupakan satu ± satunya badan yang harus melaksanakan semua sector dalam hidup manusia Indonesia, dan dengan demikian semua Departemen dapat di hapuskan saja. Hal itu tentu tidak mungkin. Maka timbul pertanyaan lain : kalau banyak sector lain dalam hidup masyarakat Indonesia itu sudah menjadi tanggung jawab dari berbagai Departemen dan lembaga di pusat pemerintahan Negara Indonesia, maka sector ± sector apakah yang harus tercakup dalam ruang lingkup Direktorat kebudayaan? Dalam kenyataan ruang ± lingkup Direktorat kebudayaan memang hanya mencakup kesenian. Untuk aktivitas pembinaan unsur ± unsur lain, seperti ilmu pengetahuan dan bahasa, di negeri kita ini ada badan ± badan khusus seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan

Lembaga Bahasa Nasional. Walaupun demikian, Direktorat kebudayaan tohharus dapat menghubungkan kesenian dengan unsur ± unsur lain dalam jaringan yang lebih luas, sehingga walaupun fokusnya itu kesenian, soal ± soal seperti masalah ± masalah pemuda remaja, masalah komunitas, masalah pendidikan kesenian, dan sebagainya dapat tercakup. Aspek ekonomi dan komersial dari kesenian yang di kembangkan oleh turisme, dan aspek politis dari kesenian, yang harus di terapkan dalam proses pembinaan kepribadian dan integrasi nasional, seharusnya merupakan masalah masalah yang memerlukan perhatian khusus dari direktorat kebudayaan.

BAB II PEMBAHASAN

A. KAJIAN ETNOGRAFI 1. Ciri-ciri Etnografi Model etnografi adalah penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Model ini berupaya mempelajari peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subyek sebagai obyek studi. Studi ini akan terkait begaimana subyek berpikir, hidup, dan berperilaku. Tentu saja perlu dipilih peristiwa yang unik yang jarang teramati oleh kebanyakan orang. Penelitian etnografi adalah kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu

masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian. Model etnografi cenderung mengarah ke kutub induktif, konstruktif, transferabilitas, dan subyektif. Kecuali itu, juga lebih menekankan idiografik, dengan cara mendeskripsikan budaya dan tradisi yang ada. Etnografi pada dasarnya lebih memanfaatkan teknik pengumpulan data pengamatan berperan serta (partisipant observation). Hal ini sejalan dengan pengertian istilah etnografi yang berasal dari kata ethno (bangsa) dan graphy (menguraikan atau menggambarkan). Etnografi merupakan ragam pemaparan penelitian budaya untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati dalam kehidupan sehari-hari. Etnografi lazimnya bertujuan untuk menguraikan budaya tertentu secara holistik, yaitu aspek budaya baik spiritual maupun material. Dari sini akan terungkap pandangan hidup dari sudut pandang penduduk setempat. Hal ini cukup bisa, dipahami, karena melalui etnografi akan mengangkat keberadaan µ senyatanya dari fenomena budaya. Dengan demikian akan ditemukan makna tindakan budaya suatu komunitas yang diekspresikan melalui apa saja. Ciri-ciri penelitian etnografi adalah analisis data yang dilakukan secara holistik, bukan parsial. Ciri-ciri lain seperti dinyatakan Hutomo (Sudikan, 2001:85-86) antara lain: (a) sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari; (b) peneliti sendiri merupakan instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data; (c) bersifat pemerian (deskripsi), artinya, mencatat secara teliti fenomena budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi, kemudian mengkombinasikan, untuk

mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan; (c) digunakan

memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau studi kasus; (e) analisis bersifat induktif; (f) di lapangan, peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya; (g) data dan informan harus berasal dari tangan pertama; (h) kebenaran data harus dicek dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis); (i) orang yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan (buku termasuk partisipan juga), konsultan, serta teman sejawat; (j) titik berat perhatian harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari etik, (k) dalam pengumpulan data menggunakan purposive sampling dan bukan probabilitas statistik; (1) dapat menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif, namun sebagian besar menggunakan kualitatif. Dari ciri-ciri tersebut, dapat dipahami bahwa etnografi merupakan model penelitian budaya yang khas. Etnografi memandang budaya bukan semata-mata sebagai produk, melainkan proses. Hal ini sejalan dengan konsep Marvin Harris (1992:19) bahwa kebudayaan akan menyangkut nilai, motif, peranan moral etik, dan maknanya sebagai sebuah sistem sosial. Kebudayaan tidak hanya cabang nilai, melainkan merupakan keseluruhan institusi hidup manusia. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan hasil belajar manusia termasuk di dalamnya tingkah laku. Karena itu, menurut Spradley (1997:5) etnografi harus menyangkut hakikat kebudayaan, yaitu sebagai pengetahuan yang diperoleh, yang digunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial. Itulah sebabnya etnografi akan mengungkap seluruh tingkah laku sosial budaya melalui deskripsi yang holistik. 2. Deskripsi Mendalam Penentuan sampel pada penelitian kualitatif model etnografik, ada lima jenis yaitu: (1) seleksi sederhana, artinya seleksi hanya menggunakan satu kriteria saja, misalkan kriteria umur atau wilayah

subyek; (2) seleksi komprehensif, artinya seleksi bedasarkan kasus, tahap, dan unsur yang relevan; (3) seleksi quota, seleksi apabila populasi besar jumlahnya, untuk itu populasi dijadikan beberapa kelompok misalnya menurut pekerjaan dan jenis kelamin; (4) seleksi menggunakan jaringan, seleksi menggunakan informasi dari salah satu warga pemilik budaya, dan (5) seleksi dengan perbandingan antarkasus, dilakukan dengan membandingkan kasus-kasus yang ada, sehingga diperoleh ciriciri tertentu, misalnya yang teladan, dan memiliki pengalaman khas. Dari lima cara tersebut, peneliti budaya model etnografi dapat memilih salah satu yang paling relevan dengan fenomena yang dihadapi. Namun demikian, menurut pertimbangan penulis, seleksi secara komprehensif dipandang lebih akurat dibanding empat kriteria seleksi yang lain. Melalui seleksi secara komprehensif, peneliti akan mampu menentukan langkah yang tepat sejalan dengan apa yang diteliti. Yang lebih penting lagi, jika harus mengambil sampel, sebailrnya dilakukan secara pragmatik dan bukan secara acak. Peneliti perlu tahu konteks masyarakat yang diteliti, tanpa membawa prakonsep atau praduga atau teori yang dimilikinya. Peneliti etnogragi juga perlu mempertimbangkan aspek-aspek lain yang mungkin belum terkover dalam unsur-unsur budaya tersebut. Kecuali itu, peneliti juga perlu menggunakan skala prioritas. Artinya, unsur mana yang menjadi titik perhatian, itulah yang dikemukakan lebih dahulu, sedangkan unsur lain hanya penyerta. Pelukisan etnografi dilakukan secara tick deskription (deskripsi tebal dan mendalam). Namun demikian, tebal di sini lebih merupakan formulasi ke arah deskripsi yang mendalam, sehingga lukisan lebih berarti, bukan sekedar data yang ditumpuk. Memang etnografi bercirikan kelengkapan data, namun pembahasan juga mengandalkan akal sehat. Peneliti berusaha menangkap sepenuh mungkin informasi budaya menurut perspektif orang yang diteliti. Penelitian etnografi sering diasumsikan sebagai penelitian yang relatif lama, peneliti harus tinggal

pada salah satu tempa, beradaptasi, dan seterusnya. Hal ini memang ideal dilakukan, namun masalah waktu sebenarnya sangat relatif. Bahan-bahan etnografi berasal dari masyarakat yang disusun secara deskriptif. Deskripsi data diharapkan secara menyeluruh,

menyangkut berbagai aspek kehidupan untuk meninjau salah satu aspek yang diteliti. Deskripsi dipandang bersifat etnografis apabila mampu melukiskan fenomena budaya selengkap-lengkapnya. Deskripsi etnografi menurut Koentjaraningrat (1990:333) sudah baku, yaitu meliputi unsurunsur kebudayaan secara universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian dan sistem religi. Namun demikian, deskripsi semacam ini tidak harus dipenuhi semua. Sebab, ini lebih didasarkan pada unsur kebudayaan secara universal, dan kalau peneliti ingin menyederhanakan pun sebenarnya tidak dilarang. Peneliti boleh saja mengungkapkan sub bab tertentu ayng dipandang spesifik dan langsung pada sasaran. Yang penting deskripsi menyeluruh dapat tercapai. Penetapan setting model etnografi memerlukan strategi khusus, yaitu: (a) jadilah praktisi, artinya setting tidak perlu terlalu luas dan terlalu sempit, yang penting mampu mewakili fenomena; (b) upayakan tempat yang asing dari peneliti, hal ini untuk lebih mampu mengambil jarak dalam penelitian, tetapi juga memperhatikan kemudahan masuk tidaknya ke dalam setting; (c) ketiga, jangan terlalu berpegang kaku pada rencana peneliti, rencana bisa berubah setelah di lapangan, (d) pikirkan sejumlah topik yang sulit dijangkau. Dalam kaitan itu, pelukisan etnografi mengenal dua desain penelitian yaitu: (1) studi kasus dan (2) multiple site and subject studies. Penerapan studi kasus akan mencari keunikan budaya pada wilayah tertentu. Penyimpangan-penyimpangan budaya yang merupakan kasus spesial dan menarik, akan menjadi sorotan peneliti. Sedangkan desain multiple site and subject studies cenderung untuk meneliti budaya dalam skup luas. Peneliti dapat melukiskan budaya tertentu pada berbagai

tempat. Dari dua desain demikian, dapat dinyatakan bahwa etnografi adalah salah satu model penelitian budaya yang mengangkat hal-hal khusus. Kekhususan penelitian budaya adalah pada kemampuan memanfaatkan model etnografi sedetail mungkin. 3. Langkah-langkah Etnografer Sebagai sebuah model, tentu saja etnografi memiliki karakteristik dan langkah-langkah tersendiri. Langkah yang dimaksud adalah seperti dikemukakan Spradley (1997) dalam buku Metode Etnografi, sebagai berikut: Pertama, menetapkan informan. Ada lima syarat minimal untuk memilih informan, yaitu: (a) enkulturasi penuh, artinya mengetahui budaya miliknya dengan baik, (b) keterlibatan langsung, artinya (c) suasana budaya yang tidak dikenal, biasanya akan semakin menerima tindak budaya sebagaimana adanya, dia tidak akan basabasi, (d) memiliki waktu yang cukup, (e) non-analitis. Tentu saja, lima syarat ini merupakan idealisme, sehingga kalau peneliti kebetulan hanya mampu memenuhi dua sampai tiga syarat pun juga sah-sah saja. Apalagi, ketika memasuki lapangan, peneliti juga masih mendugaduga siapa yang pantas menjadi informan yang tepat sesuai penelitiannya. Kedua, melakukan wawancara kepada informan. Sebailrnya dilakukan dengan wawancara yang penuh persahabatan. Pada saat awal wawancara perlu menginformasikan tujuan, penjelasan etnografis (meliputi perekaman, model wawancara, waktu dan dalam suasana bahasa asli), penjelasan pertanyaan (meliputi pertanyaan deskriptif, struktural, dan kontras). Wawancara hendaknya jangan sampai

menimbulkan kecurigaan yang berarti pada informan. Ketiga, membuat catatan etnografis. Catatan dapat berupa laporan ringkas, laporan yang diperluas, jurnal lapangan, dan perlu diberikan analisis atau interpretasi. Catatan ini juga sangat fleksibel, tidak harus menggunakan kertas ini itu atau buku ini itu, melainkan cukup

sederhana saja. Yang penting, peneliti bisa mencatat jelas tentang identitas informan. Keempat, mengajukan pertanyaan deskriptif. Pertanyaan ini digunakan untuk merefleksikan setempat. Pada saat mengajukan pertanyaan, bisa dimulai dari keprihatinan, penjajagan, kerja sama, dan partispasi. Penjajagan bisa dilakukan dengan prinsip: membuat

penjelasan berulang, menegaskan kembali yang dikatakan informan, dan jangan mencari makna melainkan kegunaannya. Kelima, melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis dikaitkan dengan simbol dan makna yang disampaikan informan. Tugas peneliti adalah memberi sandi simbol-simbol budaya serta mengidentifikasikan aturan-aturan penyandian dan mendasari. Keenam, membuat analisis domain. Peneliti membuat istilah pencakup dari apa yang dinyatakan informan. Istilah tersebut seharusnya memiliki hubungan semantis yang jelas. Contoh domain, caracara untuk melakukan pendekatan yang berasal dari pertanyaan: ³apa saja cara untuk melakukan pendekatan´. Ketujuh, mengajukan pertanyaan struktural. Yakni, pertanyaan untuk melengkapi pertanyaan deskriptif. Misalkan, orang tuli menggunakan beberapa cara berkomunikasi, apa saja itu? Kedelapan, membuat analisis taksonomik. Taksonomi adalah upaya pemfokusan pertanyaan yang telah diajukan. Ada lima langkah penting membuat taksonomi, yaitu: (a) pilih sebuah domain analisis taksonomi, misalkan jenis penghuni penjara (tukang peluru, tukang sapu, pemabuk, petugas elevator dll.), (b) identifikasi kerangka substitusi yang tepat untuk analisis, (c) cari subset di antara beberapa istilah tercakup, misalkan kepala tukang kunci: tukang kunci, (d) cari domain yang lebih besar, (f) buatlah taksonomi sementara. Kesembilan, mengajukan pertanyaan kontras. Kita bisa mengajukan pertanyaan yang kontras untuk mencari makna yang berbeda,

seperti wanita, gadis, perempuan, orang dewasa, simpanan, dan sebagainya. Kesepuluh, membuat analisis komponen. Analisis komponen sebaiknya dilakukan ketika dan setelah di lapangan. Hal ini untuk menghindari manakala ada hal-hal yang masih perlu ditambah, segera dilakukan wawancara ulang kepada informan. Kesebelas, menemukan tema-tema budaya. Penentuan tema budaya ini boleh dikatakan merupakan puncak analisis etnografi. Keberhasilan seorang peneltii dalam menciptakan tema budaya, berarti keberhasilan dalam penelitian. Tentu saja, akan lebih baik justru peneliti mampu mengungkap tema-tema yang orisinal, dan bukan tema-tema yang telah banyak dikemukakan peneliti sebelumnya. Keduabelas, menulis etnografi. Menulis etnografi sebaiknya dilakukan secara deskriftif, dengan bahasa yang cair dan lancar. Jika kemungkinan harus berceritera tentang suatu fenomena, sebailrnya dilukiskan yang enak dan tidak membosankan pembaca. Penentuan informan kunci juga penting dalam penelitian etnografi. Informan kunci dapat ditentukan menurut konsep Benard (1994:166) yaitu orang yang dapat berceritera secara mudah, paham terhadap informasi yang dibutuhkan, dan dengan gembira memberikan informasi kepada peneliti. Informan kunci adalah orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan terhormat dan berpengetahuan dalam langkah awal penelitian. Orang semacam ini sangat dibutuhkan bagi peneliti etnografi. Orang tersebut diperlukan untuk membukan jalan (gate keeper) peneliti berhubungan dengan responden, dapat juga berfungsi sebagai pemberi ijin, pemberi data, penyebar ide, dan perantara. Bahkan, akan lebih baik apabila informan kunci mau memperkenalkan peneliti kepada responden, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bagi peneliti memang tidak mudah menentukan informan kunci. Karena itu, berbagai hal perlu dipertimbangkan agar jendela dan pintu masuk peneliti semakin terbuka dan peneliti mudah dipercaya oleli

responden. Pertimbangan yang harus dilakukan dalam menentukan informan kunci, antara lain: (a) orang yang bersangkutan memiliki pengalaman pribadi tentang masalah yang diteliti, (b) usia telah dewasa, (c) sehat jasmani rohani, (d) bersikap netral, tidak memiliki kepentingan pribadi, dan (e) berpengetahuan luas. Pada saat etnografer ke lapangan, mengambil data, mereka akan mendengarkan dan mengamati langsung maupun berperan serta, lalu mengambil keksimpulan. Setiap langkah pengambilan data akan disertai pengambilan kesimpulan sementara. Pemilihan informan kunci ada strategi khusus, antara lain dapat melalui empat macam cara, sebagai berikut: (a) secara insidental, artinya peneliti menemui seseorang yang sama sekali belum diketahui pada salah satu wilayah penelitian. Tentu cara semacam ini kurang begitu menguntungkan, tetapi tetap strategis dilakukan. Peneliti bisa menyamar sebagai pembeli atau penjual tertentu ke suatu wilayah. Yang penting, sikap dan perilaku peneliti tidak menimbulkan kecurigaan; (b) menggunakan modal orang-orang yang telah dikenal

sebelumnya. Peneliti berusaha menghubungi beberapa orang, mungkin melalui orang terdekat. Cara ini dipandang lebih efektif, karena peneliti bisa mengemukakan maksudnya lebih leluasa. Melalui orang dekat tersebut, peneliti bisa meyakinkan bahwa penelitiannya akan dihargai. (c) sistem quota, artinya innforman kunci telah dirumuskan kriterianya, misalkan ketua organisasi, ketua RT, dukun dan sebagainya. (d) secara snowball, artinya informan kunci dimulai dengan jumlah kecil (satu orang), kemudian atas rekomendasi orang tersebut, informan kunci menjajdi semakin besar sampai jumlah tertentu. Informan akan berkembang terus, sampai memperoleh data jenuh. Dari cara-cara tersebut, peneliti dapat memilih salah satu yang paling cocok. Pemilihan didasarkan pada aspek kemudahan peneliti

memasuki setting dan pengumpulan data. Jika cara yang telah ditempuh gagal, peneliti boleh juga menggunakan cara yang lain sampai diperoleh data yang mantap. B. KAJIAN FOLKLOR 1. Ciri dan Fungsi Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk sama artinya dengan kolektif. Folk dapat berarti rakyat dan lore artinya tradisi. Jadi folklor adalah salah satu bentuk tradisi rakyat. Menurut Dundes (Danandjaja, 1998:53) folk adalah kelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok yang lainnya. Ciri fisik, antara lain berujud warna kulit. Ciri lain yang tidak kalah pentingnya adalah mereka memiliki tradisi tertentu yang telah turuntemurun. Tradisi inilah yang sering dinamakan lore. Tradisi¶ semacam ini yang dikenal dengan budaya lisan atau tradisi lisan. Tradisi tersebut telah turun-temurun, sehingga menjadi sebuah adat yang memiliki legitimitasi tertentu bagi pendukungnya. Folklor adalah milik kolektif kebudayaan. Folklor memiliki ragam yang bermacam-macam. Dalam kaitannya dengan budaya, ragam folklor antara lain seperti yang dikemukan dalam buku Dictionary of Folklore Mythology and Legend oleh Leach (ed.), ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur folklor. Misalkan saja menurut Bascom, folklor terdiri dari: budaya material, organisasi politik, dan religi. Menurut Balys, folklor terdiri dari: kepercayaan rakyat, ilmu rakyat, puisi rakyat, dsb. Menurut Espinosa folklor terdiri dari: kepercayaan, adat, takhayul, teka-teki, mitos, magi, ilmu gaib dan sebagainya. Dari unsur-unsur tersebut sebenarnya banyak menarik peneliti budaya melalui kajian folklor. Bahkan, seringkali ladang penelitian teimaksud sering menjadi perebutan antar ilmu antara antropologi,folklor,

dari sejarah. Namun, kalau semua ini dipahami sebagai wilayah kajian humanistis jelas akan saling melengkapi. Pendek kata, folklor tersebut dapat menjadi obyek penelitian budaya yang spesifik. Karena, di dalamnya merupakan dokumen budaya tradisi yang amat tinggi nilainya. Untuk mengenali apakah yang akan diteliti tersebut folklor atau bukan, ada beberapa ciri tertentu, yaitu: (a) penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut, dan kadang-kadang tanpa disadari; (b) bersifat tradisional, artinya disebarkan dalam waktu relatif lama dan dalam bentuk standar, (c) folklor ada dalam berbagai versi-versi atau varian, (d) bersifat anonim, penciptanya tidak diketahui secara pasti, (e) biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, (f) mempunyai kegunaan dalam kehidupan kolektif, (g) bersifat pralogis, yaitu memiliki logika sendiri yang tidak tentu sesuai dengan logika umum, (h) menjadi milik bersama, (i) biasanya bersifat polos dan lugu (Dananjaya, 1986:3-5). Melalui ciri-ciri tersebut peneliti dapat mengenali tata kelakuan, pandangan hidup, etika pendukungnya. Menurut Bascom (Sudikan, 2001:100) ada beberapa fungsi folklor bagi pendukungnya, yaitu: (a) sebagai sistem pzoyeksi, (b) sebagai alat pengesahan kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan, dan (d) sebagai alat pemaksaan pemberlakuan norma-norma. Selanjutnya Alan Dundes menambahkan fungsi lain, yaitu: (a) untuk mempertebal perasaan solidaritas kolektif, (b) sebagai alat pembenaran suatu masyarakat, (c) memberikan arahan kepada masyarakat agar dapat mencela orang lain, (d) sebagai alat memprotes keadilan, (e) sebagai alat yang menyenangkan dan memberi hiburan. Dari fungsi tersebut berarti folklor dapat memuat aneka ragam fungsi, seperti fungsi kultural, hukum, politik, dan keindahan. Fungsifungsi tersebut tentu saja bisa berubah dan atau berkembang dalam

kehidupan pemilik folklor. Untuk menggali fungsi-fungsi ini, peneliti juga dapat memanfaatkan teori analisis fungsionalisme dan atau

fungsionalisme struktural. 2. Tahap-tahap dan Analisis Data Tahap-tahap penelitian folklor, sebenarnya cukup simpel, yaitu: pengumpulan data, pengklasifikasian, dan penganalisisan. Tahaptahap ini, tentu didahului prapenelitian yang bermacam-macam, antara lain perlu persiapan matang dan mampu menjalin kerjasama yang baik dengan pemiliki folklor. Dengan cara terjun langsung ke kancah folklor, peneliti akan mengambil data asli dan bukan sekunder. Tentu saja, sulit tidaknya data digali dan memakan biaya banyak atau sedikit perlu dipertimbangkan masak-masak. Lebih penting lagi, peneliti folklor perlu membangun jalinan yang akrab dengan subyek penelitian. Jika tidak, kemungkinan besar folklor yang berhubungan dengan kepercayaan rahasia akan sulit terungkap. Padahal, folklor demikian justru ditunggu oleh pembaca. Hal ini berarti hubungan antara peneliti dan subjek penelitian sangat penting untuk menentukan keberhasilan penelitian. Jika hubungan terkesan kaku dan ada unsur kecurigaan, berarti ada tanda-tanda bahwa penelitian kurang berhasil. Metode penelitian folklor yang berhubungan dengan perekaman, Hutomo (1991:77-85) membedakan dua jenis, yaitu pertama,

perekaman dalam konteks asli (natural). Cara ini disebut sebagai pendekatan etnografi. Kedua, perekaman konteks tidak asli, yaitu perekaman yag sengaja diadakan. Perekaman kedua ini tentu saja telah diatur dan ditata, atau bahkan seperti folklor pesanan. Tentu saja, dari dua jenis tersebut akan lebih baik model perekaman yang asli. Oleh karena, peneliti dan yang diteliti tidak berupaya memanipulasi data. Selanjutnya, juga diketengahkan tentang catatan-catatan yang harus dibuat peneliti, meliputi: (a) tanggal perekaman, (b) tempat, (c) rekaman asli atau tidak.

Dalam kaitannya dengan informan, yang perlu disiapkan dalam pencatatan adalah: (a) nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan dan atau semua identitas pribadi yang menunjang, (b) ahli/bukan ahli (active beare atau pasif bearer), (c) pengalaman (pewaris folklor tersebut dari siapa). Berkaitan dengan bahan, disiapkan catatan: (a) genre (sage, mite, tradisi lisan, upacara ritual), (b) ungkapan spesifik ayng digunakan pemilik folklor, seperti nikah batin, tapa brata, semedi dll. (c) asal-usul folklor, (d) penjelasan terhadap simbol, seperti lagu Ilirilir, Jaka Tingkir, Ki Ageng Sela dsb. Pengumpulan data perlu didukung pula dengan pendokumentasian, dengan foto, video, dan VCD. Dokumentasi ini akan berguna untuk mengecek data yang telah terkumpul. Pengumpulan data sebaiknya dilakukan secara bertahap dan sebanyak mungkin peneliti berusaha mengumpulkan. Maksudnya, jika nanti ada yang terbuang atau kurang relevan, peneliti masih bisa memanfaatkan data lain. Dalam fenomena budaya, biasanya ada data yang berupa tatacara dan perilaku budaya serta sastra lisan. Keduanya perlu menjadi fokus peneliti folklor, karena akan saling terkait. Misalkan saja, mengkaji folklor ritual Bekakak di Ambarketawang Gamping Sleman Yogyakarta, tentu ada mitos-mitos yang mengitari. Begitu pula tradisi ritual Bersih Sendang di Ceper Klaten yang berhubungnan dengan tardisi pertanian, tentu ada mitos yang melatarbelakangi. Semua itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti folklor humanistis maupun antropologis. Keduanya tidak akan lepas dari kajian budaya secara holistik. Oleh karena folklor merupakan bagian kebudayaan suatu kolektif, pendekatan holistik dipandang sangat cocok untuk mengungkapnya. Dengan cara ini, peneliti tidak ahanya mengungkap hal-hal yang dangkal, melainkan lebih mendalam, terurai, dan mencakup sekian banyak unsur yang mengitari folklor tersebut. Maksudnya, apabila peneliti akan mengkaji folklor yang berhubungan dengan bersih desa di daerah Purwosari,

Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta perlu mengungkap latar belakang masyarakat yang bersangkutan. Bentuk-bentuk folklor yang perlu mendapat perhatian peneliti budaya, menurut Brunvand (Danandjaja, 1990:98) ada tiga, yaitu mentifact (folklor lisan), sociofact (sebagian lisan), dan non mentifact (folklor bukan lisan). Peneliti perlu membatasi diri pada bentukbentuk folklor ini agar penelitiannya lebih optimal. Mungkin sekali, seorang peneliti hanya tertarik satu, dua, dan ketiganya sekaligus. Dalam kaitannya, dengan kebudayaan, biasanya peneliti lebih tertarik pada bentuk folklor sebagian lisan, seperti kepercayaan rakyat, teater rakyat, tradisi ritual rakyat, adat istiadat, dsb. Sedangkan folklor lisan, biasanya banyak menyedot perhatian pemerhati sastra lisan. Adapun folklor bukan lisan, biasanya akan lebih menarik bidang-bidang kajian lain, seperti arsitektur rakyat, obat-obatan tradisional, dan sebagainya. Penelitian folklor sebagian besar banyak memanfaatkan penelitian kualitatif dengan pendekatan holistik (Danandjaja, 1990:97). Karena, dalam folklor terkandung unsur-unsur budaya yang dimanaatkan oleh pendukungnya. Unsur-unsur budaya lisan tersebut harus berimbang dalam kajiannya. Artinya, peneliti tidak hanya menitikberatkan masalah folk nemun juga unsur lore-nya. Kedua unsur ini saling jalin-menjalin dan membentuk sebuah komunitas budaya yang unik. Penelitian kualitatif tentu banyak ragamnya. Setiap ragam memiliki konsekuensi metodologis yang sedikit berbeda. Begitu pula dalam kajian folklor, jelas ada kebebasan memilih ragam penelitian kualitatif tersebut. Ragam penelitian disesuuaikan dengan tujuan penelitian folklor. Di samping itu juga perlu disesuaikan dengan data yang akan diambil. Dalam penelitian kualitatif folklor, yang diutamakan adalah

penyajian hasil melalui kata-kata atau kalimat dalam suatu struktur logik, sehingga mampu menjelaskan sebuah fenomena budaya. Dalam kaitan ini, penelitian model etnografi memang dipandang lebih cocok untuk

meneliti folklor. Dengan cara ini, andai kata kita akan meneliti folklor Kangjeng Ratu Kidul di Parangtritis, perlu pula mengaitkan pandangan masyarakat sekitar secara menyeluruh. Penelitian yang terpisah-pisah, akan membuat hasil kajian yang kurang bermanfaat. Penelitian folklor model etnografi pada akhirnya akan menggunakan pengamatan dan wawancara. Dua cara pengambilan data folklor ini memiliki implikasi luas. Namun demikian, disarankan bahwa pengamatan berperanserta tetap dipandang paling bagus untuk penelitian folklor. Untuk itu peneliti patut menjalin rapport atau hubungan intim dengan subyek penelitian. Dengan cara ini, wawancara mendalam akan dapat diterapkan bahkan menjadi andalan dalam kajian. Dalam menganilis data folklor, telah disugestikan oleh Foley (1986:6-7) bahwa peneliti harus mampu menghubungkan antara

persoalan yang diteliti dengan konteks. Konteks penelitian akan mendukung pemaknaan hasil. Dalam hal ini, jika berkiblat pada pandangan Vansina (1985:3) peneliti budaya perlu memaknakan kebudayaan sebagai ³proses´ dan ³produk´. Kebudayaan sebagai proses perlu dicermati terjadinya transmisi pesan budaya dari waktu ke waktu. Sedangkan kebudayaan sebagai produk merupakan warisan generasi masa lalu ke generasi sekarang. Baik kebudayaan sebagai ³proses´ maupun ³produk´ sama-sama pentingnya dalam kajian folklor. Karena itu, peneliti folklor perlu mencermati dua makna kebudayaan tersebut.

BAB III Kesimpulan dan Saran

Keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia merupakan suatu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang tak ternilai harganya. Kita wajib bersyukur dan berusaha menjaga kelestariannya agar tidak punah.

Semua kekayaan itu tidak patut dibeda- bedakan dan dipermasalahkan, kita wajib menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar tidak terpecah belah sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus mencintai dan melestarikan kebudayaan daerah dan nasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->