P. 1
Laporan KP Inspeksi pengelasan, manajemen, dan Proses pengolahan Minyak PT.Pertamina RU II Dumai

Laporan KP Inspeksi pengelasan, manajemen, dan Proses pengolahan Minyak PT.Pertamina RU II Dumai

|Views: 7,826|Likes:
Published by Peter Manurung

More info:

Published by: Peter Manurung on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

Minyak bumi memiliki campuran yang sangat kompleks dan mengandung
ribuan senyawa tunggal berselang gas ringan seperti gas metana, sampai dengan
bahan aspal yang berat dan padat. Hampir semua senyawa minyak bumi tersusun
dari hidrogen dan karbon. Selain itu terdapat senyawa – senyawa lain dalam
jumlah yang kecil seperti belerang, oksigen dan nitrogen. Komposisi kimia dan
sifat-sifat fisik minyak bumi sangat bervariasi, namun komposisi elemental pada
umumnya tetap, komposisi minyak bumi tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1.
Komponen
penyusun minyak
bumi.

Kondisi lingkungan seperti temperatur, tekanan, ada tidaknya senyawa
logam dan mineral, serta letak geologis selama proses perubahan alamiah senyawa
penyusun minyak bumi, mengakibatkan komposisi minyak bumi yang terdapat di

Departemen Teknik Mesin

1

Fakultas Teknik – Universitas Sumatera Utara

Komposisi

%-berat

Karbon
Hidrogen

84 – 87

Sulfur

11 – 14

Nitrogen

0 – 3

Oksigen

0 – 1

Laporan Kerja Praktek

setiap daerah berbeda-beda pula. Namun demikian, minyak mentah dapat
digolongkan ke dalam empat kelas utama sebagai berikut (Praptowidodo, 1999):
a.Minyak bumi tipe paraffin, disusun oleh atom karbon dan atom
hidrogen yang jumlahnya selalu dua lebih banyak dari dua kali jumlah
atom karbonnya (parrafinebase crude oil).
b.Minyak bumi tipe asphaltic (naphthenes), disusun oleh atom karbon
dan atom hidrogen yang kuantitasnya dua kali jumlah atom karbonnya
(naphthene-base crude oil).
c.Minyak bumi tipe aromatik, disusun oleh atom karbon dan hidrogen
yang melingkar (aromate-base crude oil).
d.Minyak bumi tipe campuran (mixed crude oil), disusun oleh minyak
bumi tipe paraffin, tipe asphaltic dan aromatik.

Senyawa-senyawa penyusun utama minyak bumi antara lain:
1.Parafin dibangun oleh struktur dengan rumus molekul CnH2n+2
memiliki ikatan jenuh (ikatan tunggal), oleh karena itu parafin
memiliki kestabilan yang cukup tinggi. Parafin yang terdapat di dalam
minyak bumi adalah jenis parafin ringan. Parafin terberat di dalam
minyak bumi adalah parafin dengan atom C70. Contoh senyawa
parafin adalah metana, heksana, dan heksadekan.
2.Olefin memiliki rumus molekul CnH2n, dan secara alami tidak
terdapat dalam minyak bumi namun terbentuk selama pengolahan.
Olefin memiliki sifat yang sangat reaktif dikarenakan oleh terdapatnya
ikatan tak jenuh (ikatan rangkap), oleh karena itu olefin mudah
teroksidasi dan terpolimerisasi. Karena sifatnya itu produk yang
dihasilkan tidak diharapkan mengandung olefin.
3.Naften (sikloparafin) adalah senyawa hidrokarbon siklik dengan ikatan
jenuh dan memiliki rumus molekul CnH2n. Meskipun rumus
molekulnya sama dengan olefin, namun sifatnya berbeda jauh karena
ikatan jenuhnya tersebut. Naften tidak dapat bereaksi secara langsung
karena ikatan antar molekulnya cukup kuat dengan bentuk siklik,
sebagai contoh naften tidak larut dalam asam sulfat yang oksidatif.

Departemen Teknik Mesin

2

Fakultas Teknik – Universitas Sumatera Utara

Laporan Kerja Praktek

Naften ditemukan pada hampir semua minyak mentah. Contoh naften
adalah tetrametilen (siklobutan), pentametilen (siklopentan), dan
heksametilen (sikloheksan).
4.Aromatik memiliki rumus molekul CnH2n-6 dan memiliki cincin
benzen yang sangat stabil. Aromatik dapat dioksidasi dan membentuk
asam organik. Di dalam pengolahan minyak, aromatik dihasilkan dari
reaksi adisi atau substitusi, bergantung pada kondisi reaksi yang
dijalankan. Aromatik banyak ditemukan di dalam reformat yang
dihasilkan secara katalitik oleh reaksi platforming.

Selain hidrokarbon, minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa non

hidrokarbon, antara lain:

1.Senyawa oksigen dalam minyak mentah berbentuk asam karboksilat,
fenol, kresol, amida, keton, dan benzofuran. Senyawa oksigen ini
memiliki sifat asam dan menyebabkan asam mudah terpisah dari
minyak mentah. Meskipun senyawa oksigen bersifat asam namun
masalah yang ditimbulkannya tidak seserius seperti halnya senyawa
sulfur dan senyawa nitrogen.
2.Kandungan nitrogen dalam hampir semua minyak mentah adalah
rendah dengan nilai kurang dari 0.1% berat. Senyawa nitrogen stabil
terhadap panas sehingga kandungan nitrogen dalam fraksi ringan
sangat rendah. Karena nitrogen merupakan racun katalis maka harus
dilakukan proses hydrotreating untuk menurunkan kadar nitrogen
dalam umpan proses katalitik. Contoh senyawa nitrogen dalam minyak
bumi antara lain piridin, isoquinolin, dan acridin.
3.Konsentrasi sulfur bervariasi dari suatu minyak mentah dengan minyak
mentah yang lain. Minyak mentah sour didefinisikan sebagai minyak
mentah yang banyak mengandung hidrogen sulfida atau sulfur. Minyak
mentah diklasifikasikan sebagai minyak yang asam jika kandungan
hidrogen sulfida yang terlarut sebesar 0.05 ft3/100 galon minyak
mentah. Senyawa sulfur dalam minyak mentah umumnya kompleks
dan tidak stabil terhadap panas. Senyawa sulfur yang tidak bersifat

Departemen Teknik Mesin

2

Fakultas Teknik – Universitas Sumatera Utara

Laporan Kerja Praktek

asam dapat dihilangkan melalui proses hydrotreating. Contoh senyawa
sulfur dalam minyak bumi adalah H2S, merkaptan (RSH), dll.
4.Logam yang terdapat dalam minyak mentah berada dalam bentuk
garam terlarut dalam air yang tersuspensi dalam minyak atau dalam
bentuk senyawa organometalik dan sabun logam. Sabun logam
kalsium dan magnesium adalah zat aktif permukaan (surface active
agent
) dan bertindak sebagai penstabil emulsi. Logam vanadium tidak
dikehendaki berada di dalam umpan proses katalitik karena vanadium
dapat meracuni katalis.
5.Minyak mentah seringkali mengandung garam-garam inorganik seperti
natrium klorida, magnesium klorida, dan kalsium klorida dalam bentuk
suspensi atau terlarut dalam air laut. Garam-garam ini harus
dihilangkan atau dinetralisasi sebelum diolah untuk mencegah
peracunan katalis, korosi pada peralatan, dan fouling. Korosi garam
disebabkan oleh hidrolisis beberapa logam klorida dan pembentukan
asam hidroklorik pada saat minyak mentah dipanaskan. HCl juga dapat
bergabung dengan ammonia membentuk amonium klorida (NH4Cl).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->