TINJAUAN YURIDIS DISKRESI KEPOLISIAN DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO 2 TAHUN 2002

MAKALAH INI DI ADOPSI DARI SKRIPSI PENULIS SENDIRI 2007/2008 DARI JUDUL TENTANG TINJAUAN YURISDIS DISKRESI KEPOLISIAN DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA BERDASARKAN UU N0 2 TAHUN 2002 OLEH MUHAMMAD IKBAL BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya bangsa Indonesia dan terlepasnya dari belenggu penjajahan atau kolonial-kolonial yang telah berkuasa selama beberapa dekade di negeri nusantara yang kaya dengan keadaan alamnya. Lahirnya bangsa Indonesia yang jatuh tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, yang di pelopori oleh bapak proklamator yaitu Bapak Ir Soekarno-Hatta. Dari presiden pertama sampai presiden yang sekarang bangsa Indonesia telah bebas dari pengaruh penjajahan atau Kolonial, Sebelum melangkah tentang sejarah perkembangan bangsa Indonesia sampai dekade perkembangan yang global, penulis ingin menjelaskan sedikit tentang sejarah polisi Nasional Indonesia. "………dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI yaitu tanggal 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI ) men;.ambil keputusan bahwa Polisi Indonesia berada dalam lingkungan Dep. emen Dalam Negeri. Pada tanggal 29 September 1945, pemerintah mengangkat Raden Said Soekanto Cokrodiatmojo sebagai kepala Kepolisian Indonesia Pusat. Di Daerah-Daerah, kepala Kepolisiannya cukup beragam. Ada residen yang menguasai kesatuan kepolisian di lingkungan daerahnya dan mengangkat pegawai-pegawai polisi pribumi dengan pangkat yang tinggi. Di daerah lainnya masih ada bupati yang menjabat kepala kepolisian atau bahkan kepala kepolisian didampingi sua dewan yang terdiri atas wakil golongan pegawai. Intinya, tidak ada keseragaman menyangkut kepala kepolisian di daerah-daerah. Di samping itu, karena umumnya peraturan perundangan-undangan Belanda masih di anggap berlaku, tugas, dan wewenang kepolisian terpecah-pecah di beberapa instansi. Untuk melakukan penataan dan pembangunan kepolisian secara menyeluruh, pada tanggal 1 Juli 1946 melalui penetapan pemerintah RI No. 11/ SD, kedudukan kepolisian Indonesia di tetapkan berada langsung di bawah perdana menteri, dan Organisasi Kepolisian Indonesia di keluarkan dari Kementerian Dalam Negeri, dan di jadikan jawatan tersendiri. Dari kilasan sejarah yang di paparkan di atas, ada tambahan sedikit mengenai kilasan sejarah POLRI ( Polisi Republik Indonesia ), empat hari setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 21 Agustus 1945, secara tegas pasukan polisi segera memproklamirkan diri sebagai pasukan polisi Republik Indonesia di pimpin oleh inspektur kelas satu ( Letnan satu ) polisi Mochammad Jassin di surabaya. Dari kilasan sejarah kepolisian Republik Indonesia yang di paparkan secara singkat dan menjelaskan secara rinci. Penulis ingin menyampaikan sedikit tentang pentingnya di dalam penelitian ini yaitu yang menyangkut tentang diskresi pada kepolisian, aturan-aturan atau regulasi yang menyangkut tentang kepolisian, memang lahir sejak jaman kolonial belanda yaitu suatu aturan tentang kinerja kepolisian waktu itu. Lahirnya regulasi tentang kepolisian di awali dengan lahirnya Undang-Undang no 13 tahun 1961 tentang Ketentuan Pokok Kepolisian negara ( lembaran negara tahun 1961 no 245, tambahan lembaran negara nomor 22 ). Setelah undang-

3. Perumusan Masalah Setelah memaparkan sejarah dan latar belakang dari penelitian yang membahas tentang tindakan serta kebijakan kepolisian di dalam menghadapi segala perkara-perkara tindak pidana. penggelapan. Apakah tindakan diskresi yang dilakukan oleh pihak kepolisian hanya mengacu pada aturanaturan pokok kepolisian. Dari hirarki regulasi-regulasi yang menyangkut tentang kepolisian sampai dengan UndangUndang yang baru yaitu Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang Aturan Pokok Kepolisian. B. Penulis ingin memberikan suatu pemahaman kepada para pencari keadilan. Untuk mengetahui segala bentuk penyampingan perkara tindak pidana yang di lakukan oleh pihak kepolisian yang merupakan suatu tindak iskresi yang mengacu pada pasal¬pasal tertentu pada Undang-undang nomor 2 tahun 2002. Seperti halnya kasuskasus yang di diskresikan oleh Pihak kepolisian seperti kasus penganiayaan. penulis mencoba merumuskan masalah dari penelitian yang akan di lakukan: 1.undang tersebut maka lahirlah undang-undang Nomor 28 Tahun 1997 tentang kepolisian Negara Republik Indonesia. yang jelas jelas di dalam KUHP semua perbuatan tersebut adalah merupakan suatu tindak pidana. oleh sebab itu penulis di dalam penelitianya akan mengulas bagaimana sebenamya aturan-aturan atau regulasi yang mendasari tindakan tersebut bisa menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum terutama kepolisian di dalam kebijakannya. Tujuannya a. sering kali kasusnya berhenti di tengah jalan sehingga menimbulkan suatu masalah baru akibat kasus yang tidak di lanjutkan. dimana tindakan tersebut apakah baik dan tidaknya dan apakah bertentangan dengan hak asasi manusia apa tidak. Tujuan Dan Manfaat penelitian Adapun tujuan dan manfaat yang ingin di capai dalam penelitian ini 1. Di dalam penelitian ini penulis mengambil judul tentang diskresi kepolisidn karena selama ini pemahaman tentang kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh pejabat kepolisian di dalam menghadapi berbagai kasus tindak pidana sering kali mendapatkan kontroversi dari berbagai kalangan baik masyarakat maupun di elemen-¬elemen seperti birokrasi. suatu contoh kasus yang sering tidak di lanjutkan adalah kasus korupsi yang di lakukan oleh pejabat daerah. Atas kebijakan dan kewenangan dari kepolisian bahwa kasus tidak di lanjutkan karena ada tindakan diskresi. C. pembunuhan. Apakah tindakan diskresi yang dilakukan oleh pihak-pihak kepolisian merupakan-langkah di dalam mengurangi perkara tindak pidana. maka hal ini penulis ingin meneliti tentang aturan-aturan ataupun regulasiregulasi yang menyangkut tentang diskresi Kepolisian. agar diskresi dari kepolisian dapat menjadi suatu pemahaman. Akan tetapi didalam tahap penyidikanpun yang di lakukan oleh pihak kepolisian perkara tersebut terkadang tidak berlanjut ke pengadilan. korupsi. Apakah segala bentuk penyampingan perkara tindak pidana yang di lakukan oleh pihak kepolisian merupakan suatu tindakan diskresi 2. . Dalam Undang-undang baru kepolisian dan Undang-Undang tentang KUHP di jelaskan tentang diskresi kepolisian yaitu tentang kewenangan penyidik di dalam mengambil kebijakan atas kasus-kasus pidana yang di hadapinya.

D. c. Penelitian yang di lakukan oleh penulis tentang diskresi kepolisian. dimana dari hasil penelitian ini menjadikan suatu bahan perbandingan serta literatur-literatur guna penelitian selanjutnya.p Di dalam Encyclopaedia and social Science di kemukakan bahwa pengertian Polisi meliputi bidang fungsi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. politea".yang berarti seluruh pemerintah negara kota. hanya memberikan ruang lingkup yang khusus mengenai hal-hal menyangkut tentang penanganan perkara-perkara oleh pihak-pihak kepolisian yang hanya mengacu pada penyampingan perkara atau perkara tindak pidana yang tidak di lanjutkan. Ruang Lingkup Penelitian. Politic 3. yang di gunakan untuk menjelaskan berbagai aspek pada pengawasan keseharian umum. yaitu: 1. polisi yang sekarang dengan yang awal di temukan istilah sangat berbeda. Regeling Dengan demikian Politic dalam pengertian ini sudah di pisahkan dari Bestuur dan merupakan bagian pemerintahan tersendiri. Kemudian dalam arti yang sangat khusus di pakai dalam hubunganya dengan penindasan pelanggaran-pelanggaran politik. Untuk mengetahui tindakan diskresi yang dilakukan oleh pihak-pihak kepolisian dan apakah tindakan tersebut merupakan suatu langkah-langkah di dalam mengurangi perkara tindak pidana. Pertama kali polisi di temukan dari perkataan yunani". Di negara Belanda pada jaman dahulu istilah polisi di kenal melalui konsep Catur Praja dan Van VollenHonen yang membagi pemerintahan menjadi 4 (empat ) bagian. Secara Akademik penelitian ini sangat memberikan faedah¬Faedah atau manfaat baik secara individual maupun secara signifikan di dalam lingkungan Akademik. Secara umum penelitian ini bisa menjadi bahan-bahan untuk ilmu pengetahuan bagi Masayrakat yang ingin mengetahui sejauh mana tindakan aparatur hukum khususnya kepolisian di dalam menangani berbagai perkara tindak pidana. . Rechtspraak 4.b. tugas yang luas. Bestur 2. yaitu sebagai tiap-tiap usaha untuk memperbaiki atau menertibkan susunan kehidupan masyarakat. Manfaat penelitian. 2. CHARLES REITH dalam bukunya The Blind Eye of History mengemukakan pengertian Polisi dalam bahasa Inggris: "Police Indonesia The English Language Came to Mean of planning for improving ordering communal exsistence". Untuk mengetahui apakah bentuk tindakan diskresi yang dilakukan oleh pihak-pihak kepolisian hanya mengacu pada regulasi-regulasi atau aturan-aturan pokok kepolisian. b. Pada pengertian ini Polisi termasuk organ-organ pemerintah yang mempunyai wewenang melakukan pengawasan terhadap kewajiban-kewajiban umum. Pengertian Polisi Dalam sepanjang sejarah arti dari polisi mempunyai tafsiran yang berbeda¬beda. c. a. Memberikan pengetahuan yang spesifik serta signifikan mengenai kinerja serta tindakan dari aparat kepolisian serta dapat secara mendalam mengetahui regulasi-regulasi yang menjadi halhal yang paling pokok dalam menguasai ilmu formal di dalam ilmu hukum.

Jadi obyek daripada hukum Kepolisian adalah: 1. POERWODARMITA di kemukakan bahwa istilah Polisi mengandung pengertian: 1. 2. 4) Hukum kepolisian di indonesia. 2) Istilah hukum kepolisian di negara belanda di sebut dengan" Politie Recht" yang isinya sama dengan Poliezei Rechr di jerman. Wewenang kepolisian Di dalam UU Nomor 13 tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan pokok kepolisian negara.S. negara republik indonesia adalah bekas jajahan belanda termasuk peraturan-peraturan khusus yang mengatur tentang masalah polisi yang di ciptakan oleh belanda. dan bentuk sistem pemerintahan di antaranya seperti: 1) Jerman.yang selanjutnya meliputi semua bentuk pengertian dan ketertiban umum. Dalam kamus bahasa Indonesia W. pegawai negeri yang bertugas menjaga ke amanan dan ketertiban umum Dalam pengertian ini istilah polisi mengandung 2 (dua) pengertian makna polisi tugas dan sebagai organnya. yaitu Politie Recht. Tugas Polisi Tugas Polisi sebagai obyek. 4. Hubungan antara organ Polisi dengan tugasnya adalah berupa"pelaksanaan". perbedaanya itu terletak pada bahasa. Hubungan polisi dan tugasnya Bila organ polisi melaksanakan tugasnya maka berarti organ tersebut sudah bergerak. Artinya hukum kepolisian mengatur tentang bagaimana Kepolisian melaksanakan tugas dan wewenangnya. atau pemberian kekuasaan khusus oleh Undang-Undang. Dengan demikian Polisi di berikan pengertian dan ketertiban umum dan perlindungan orang-orang serta harta bendanya dari tindakan-tindakan yang melanggar hukum. yang di maksud negara inggris yang di namakan: England. . sebutan hukum kepolisian di inggris adalah Policie Law.J. 3) Inggris. di atur dan di tentukan oleh hukum kepolisian. terdapat wewenang kepolisian negara dalam penyidikan suatu perkara Pidana. a. Obyek Hukum Kepolisian Hukum Kepolisian. 2. istilah hukum Kepolisian dengan sebutan Polizei Recht yaitu kumpulan-kumpulan hukum yang di khususkan pada kedudukan dan wewenang polisi yang antara lain memuat sejarah perkembangan sejarah polisi. 3. 2. Hukum kepolisian Hukum kepolisian setiap negara berbeda. sehingga timbul hubungan antara organ dan tugasnya. Wewenang Umum Di negeri belanda mengenai wewenang kepolisian di nyatakan dengan tegas oleh pengadilan tertinggi Hooge Raad dalam arresnya pada tanggal 19 maret 1917 bahwa tindakan polisi dapat di anggap rechmatig (sah ) walaupun tanpa "speciale wettelijke machtingin". maupun UU Nomor : 8 tahun 1981 tentang Undang¬Undang Hukum Acara Pidana. Wales dan Scotland. Badan pemerintah ( sekelompok pegawai negeri ) yang bertugas memelihara ke amanan dan ketertiban umum. baik polisi sebagai tugas maupun sebagai organ serta mengatur pula cara-cara bagaimana organ tersebut melaksanakan tugasnya. tidak terlepas dari rumusan pokok pengertian dari hukum Kepolisian yaitu Hukum yang mengatur hal ikhwal mengenai polisi.dan hukum kepolisian di indonesia masih mengikuti paham Belanda.

Dan mengenai UU No 8/1981 tentang KUHAP adalah sama dengan kewenangan yang ada di UU No 13/1961. laut dan udara 10. Mendatangkan ahli 9. dapat saja sikap dan . Dalam Undang-Undang Nomor : 13 Tahun 1961 tersebut bahwa: untuk kepentingan penyidikan maka Kepolisian Negara berwenang: 1. Adalah wewenang pejabat Kepolisian untuk memilih bertindak atau tidak bertindak baik secara legal maupun secara ilegal dalam menjalankan tugasnya Diskresi menurut Taufik Rahman. maka istilah diskresi kepolisian dapat di artikan suatu kebijakan berdasarkan keluasanya untuk melakukan suatu tindakan atas dasar pertimbangan dan keyakinan dirinya. 7. adalah suatu tindakan kepolisian berdasarkan penilaian sendiri seorang petugas polisi dalam rangka kepentingan umum. Menggeledah halaman.T. Kasatlantas Surabaya. Menerima pengaduan 2. Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Dasar hukum tindakan diskresi Dasar hukum kepolisian bagi petugas kepolisian negara republik indonesia (Polri ) dalam melaksanakan tugasnya dapat di lihat pada Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian republik indonesia. sebagai kebebasan mengambil kepantasan dalam setiap situasi yang di hadapi menurut pendapatnya sendiri. Dari uraian di atas bahwa dirinya itu di lakukan bukan lepas dari ketentuan hukum tetapi diskresi itu tetap dilakukan dalam kerangka hukum. 5. Pengertian diskresi menurut kamus Y. Memeriksa tanda pengenal 3. Diskresi Kepolisian Pengertian diskresi menurut H. alat pengangkutan darat.C.Di Indonesia secara tegas belum tercantum dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 1961. Mengambil barang untuk di jadikan bukti 11. gudang. 6. Menggeledah badan 6. Simorangkir Dkk adalah. Kewenangan Diskresi kepolisian dan pertanggung jawabanya secara hukum. Menangkap orang 5. "Integritas propesional yang utuh dan menyeluruh merupakan prasyarat bagi suksesnya pelaksanaan tugas kepolisian. Mengambil tindakan-tindakan lain Semua yang di paparkan di atas adalah wewenang dari penyidik kepolisian yang berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Dengan demikian apabila pengertian diskresi di gabungkan dengan kata kepahitan. rumah. dimana tindakan kepolisian selalu di anggap sah apabila tindakanya tidak melampaui batas-batas dan wewenangnya dan tidak melanggar HAM dan ukuran untuk kepentingan umum. Mengambil sidik jari dan memotret seorang 4. Memanggil orang untuk di dengar dan di periksa 8. b. Wewenang khusus Seperti di kemukakan pada bagian sebelumnya bahwa wewenang khusus ini merupakan weweriang yang di berikan polri dalam rangka melakukan fungsinya sebagai alat negara. Warsito Hadi Utomo adalah Kebijaksanaan. Menahan orang sementara 7. Diskresi kepolisian menurut. keleluasaan atau kemampuan untuk memilih rencana kebijakan atau mempertimbangkan bagi diri sendiri. Khususnya sebagai penyelidikan sebagaimana dalam pasal 13 Undang-undang Nomor : 13 tahun 1961. Sebab tampa integritas propesionalnya. ADE RAHMAT IDNAL.

Alasan Pembenar. Sebagai seorang propesional. Kalau perkaranya tidak di tuntut. sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwa lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar. dan advokat ) selalu mempunyai rambu-rambu pembatas. Mardjono Reksodiputro dengan judul " Ilmu Kepolisian dan . Tetapi juga harus di sediakan mekanisme pengawasan eksternal berupa pertanggung jawaban secara hukum yang accountability). 3. BAB III METODE PENELITIAN A. Pada makalah yang di sampaikan oleh Prof. tetapi pemerintah menganggap bahwa atas dasar utilitas atau kemanfaatanya kepada masyarakat. tetapi tidak di pidana karena tidak ada kesalahan. Penjabaran lebih rinci tentang yang di maksud oleh pasal 16 (2) dan pasal 18 (1) UU kepolisian 2002 merupakan tugas ilmu kepolisian. maka Propesional Polri akan beard di cegah campur tangan kalangan politisi dalam kaitan kepolisian melakukan tugas pokonya secara propesional sesuai pasal 13 UU kepolisian 2002. JENIS PENELITIAN . Contoh: pasal 53. Dalam teori hukum pidana biasanya alasan-alasan yang menghapuskan pidana ini di bedakan menjadi: 1. Propesional Polri (seperti yang di kutip oleh Ade Rahmat Idnal). Penggunaan diskresi secara yang tidak di salah gunakan harus dapat di kendalikan secara internal melalui kode etik dan di siplin profesi. aims and qualities) pekerjaan polisi. bahwa " kewenangan atau kekuasaan profesi malaksanakan diskresi ( terdapat juga profesi penuntut umum profesi hakim. 4. Alasan pembenar: yaitu alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Namun harus di ingat dan di jaga secara terus menerus. Yang menjadi pertimbangan disini ialah kepentingan umum. Diskresi ini juga ada pada setiap anggota kepolisian dalam melakukan propesinya. 2. sebaiknya tidak di adakan penuntutan. netral.tindakan polisi hanya di landasi oleh persepsi dan motivasi kepentingan subyektif pribadi yang memungkinkan pelanggaran kode etik dan standard moralitas polisi sebagai berlaku secara universal. Dalam kaitan dengan kedudukan organisasi kepolisian dalam bidang kekuasaan Eksekutif (yang mencenninkan kekuasaan partai). Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum jadi tetap merupakan perbuatan pidana. Alasan Pemaaf dan alasan Pengahapus penuntutan Dalam KUHP tidak ada di sebutkan istilah-istilah alasan pembenar dan alasan pemaaf. dan independen. maka seorang anggauta polri adalah otonom. Titel ke 3 dari buku pertama KUHP hanya menyebutkan: alasan-alasan yang menghapuskan pidana. terkait dengan propesionalisme ini adalah juga adanya diskresi suatu propesi melakukan suatu pekerjaanya. Alasan penghapusan penuntutan: disini soalnya ukan ada alasan pembenar maupun pemaaf. 8. " bahwa propesional polri mengacu pada adanya sejumlah kemahiran dan pengatahuan khusus yang menjadi ciri pelaku. tujuan dan kualitas (conduct. jadi tidak ada pikiran mengenai sifatnya peruatan maupun sifatnya orang yang melakukan peruatan. kalau terdakwa dengan suka-rela mengurungkan niatnya percobaan untuk melakukan sesuatu kejahatan. tentunya yang melakukan perbuatan tak dapat di jatuhi pidana. Alasan pemaaf: yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa.

walaupun demikian tidak menutup kemungkinan penelitian normatif menggunakan data karena di dalam studi kasus yang di lakukan jelas mengacu pada data-data hukum yang telah terjadi. Data sekunder yaitu data atau bahan hukum setelah bahan hukum primer yang antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi. ANALISIS DATA. Selanjutnya di dalam penelitian hukum ini metode yang di gunakan adalah: a. "Jadi kesimpulan dari penelitian normatif adalah mengkaji regulasi-regulasi atau aturan per undang-undangan yang berlaku terhadap masalah hukum yang di teliti". Wawancara/interview Kegiatan ini di maksud untuk mengetahui berapa kasus yang pernah di kesampingkan oleh pihak kepolisian atau yang di sebut dengan tindakan diskresi kepolisian. E. Bahan hukum sekunder: Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer' terdiri dari dokumen resmi. hasil-hasil penelitian yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. acapkali hukum di konsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan ( law in books ) atau hukum di konsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan perilaku manusia yang di anggap pantas.Jenis penelitian yang di lakukan adalah jenis penelitian normatif. Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut: a. Bahan hukum tersier. b. Data primer merupakan langkah awal dari bahan di dalam penelitian. C. Yang di maksud studi dokumen adalah pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumendokumen secara langsung. B. Yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap hukum primer maupun bahan hukum sekunder seperti kamus dan lain-lain. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Didalam penelitian normatif persoalan data adalah merupakan pantangan bagi penelitian ini hanya penelitian sosiologis saja. Data primer Data primer yaitu data yang di peroleh dari sumber pertama atau yang paling pokok. Pada penelitian hukum jenis ini. penelitian normatif atau juga disebut penelitian doktrinal. D. Studi dokumen. hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan dan sebagainya. SUMBER DAN JENIS DATA 1. Pendekatan Undang-undang ( statue approch ) yaitu pendekatan ini di lakukan dengan menelaah semua undang-undang dan Regulasi yang bersangkut paut dengan masalah akan di teliti. METODE PENDEKATAN Di dalam penelitian yang akan penulis susun. Sumber data 2. c. Dalam wawancara ini responden atau pihak-pihak kepolisian memberikan j awaban sesuai dengan kasus-kasus yang terjadi. dan terfokus pada data yang terjadi pada waktu tidak lampau atau lama. Pendekatan kasus ( case Approach ) yaitu suatu pendekatan yang di gunakan di dalam metode penelitian hukum yang akan di gunakan oleh penulis guna mencari suatu fakta hukum yang telah terjadi yang akan menjadi bahan-bahan hukum di dalam penulisan skripsi. buku-buku. Penulis akan menggunakan suatu pendekatan guna mengetahui suatu penelitian metode¬metode apa yang akan di gunakan. a. Jenis Data. b. b. .

moral dan situasi yang merupakan landasan dari pedoman kehidupan arti dan karya profesi dan professional. Disini dapat dilihat keterkaitan antara hukum dan kepentingan masyarakat dan mekanisme kerja code of conduct dalam rangka penegakan hukum. Dalam hal penegakan hukum (law Enforcement officiao tindakan diskresi yang diterapkan oleh Kepolisian juga berlandaskan norma-norma yang telah ditentukan oleh Kepolisian itu sendiri. Oleh karena itulah munculnya perkara pidana di luar pengadilan sebagaimana terjadinya seperti hilangnya perkara kecelakaan lalu lintas. sekalipun jelas perkara kecelakaan itu pasti adalah perkara pidana paling jelek pasal 359 KUHP di samping itu. Maka di dalam konteks ini terjadinya suatu diskresi dalam menjalankan code of conductnya pula. Kemudian dari segi diskresi ini dapat di pahami bahwa code of conduct tersebut tidak dapat melepaskan diri dati norma. dan terjadinya pernyataan damai dan tidak saling menuntut yang tidak dilanjuti oleh pihak kepolisian dengan membekukan perkara pidana merupakan suatu contoh dari penyampingan perkara. Dan tugas represif tersebut dapat dibagi menjadi represif yustisial (penyidikan ) dan represif non yustisial (pemeliharaan ketertiban). Sedangkan dalam hal di atas terjadi suatu penyelsaian dengan menyampingkan aturan hukum yang berlaku. " jika seorang advokat/penasehat hukum datang ke notaris agar si notaris mau membuatkan perjanjian atau pemyataan penyelsaian tentang suatu kecelakaan lalu lintas yang materinya tentang ganti rugi dan tidak saling menuntut perkara pidana atau perdatanya. Landasan hukum diskresi yang di lakukan oleh Kejaksaan adalah Pasal 8 UndangUndang No. maka melibatkan pula hubungan dan keterkaitan dengan code of conduct (norma tingka laku) dalam arti standard atau prinsip atau aturan tentang perilaku petugas penegak hukum atau dalam praktek penegakan hukum. 15 Tahun 1961 tentang ketentuan pokok-pokok kejaksaan RI: antara lain memuat ketentuan bahwa jaksa Agung dapat menyampingkan suatu perkara berdasarkan kepertingan umum. BAB IV PEMBAHASAN A. maka si professiqnal tersebut.Setelah semua data terkumpul atau dokumen-dokumen. Dari contoh di atas penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa penyelsaian masalah yang di lakukan oleh advokat dan notaris merupakan suatu sisi di dalam penerapan diskresi. terlibat dalam tidak menjalankan atau menyampingkan Pasal 395 KUHP tersebut". baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif. . "Di dalam kontek tentang diskresi ini. Kajian ini adalah pengkajiannya bersifat khusus dimana hal yang umum di dalam penelitian menjadi hal yang khusus. karena tidak sepenuhnya perkara tersebut dikesampingkan. tapi tidak semua bentuk penyampingan perkara dikatakana diskresi kepolisian. maka data maupun dokumen tersebut di olah dan di analisa dengan menggunakan analisis Yuridis Normatif dengan metode kajian deduktif. Tindakan diskresi tidak hanya dilakukan oleh pihak-pihak kepolisian tetapi juga di lakukan oleh Kejaksaan. Bentuk penyampingan penanganan perkara tindak pidana yang di lakukan oleh pihak kepolisian merupakan suatu tindakan diskresi Diskresi kepolisian dapat dilakukan di dalam semua bentuk pelaksanaan tugas kepolisian. Penyampingan penanganan perkara tindak pidana yang dilakukan oleh kepolisian merupakan suatu tindakan diskresi.

oleh karena itu diperlukan kesadaran dan kecakapan teknis yang tinggi. sedangkan terhadap pelanggaran hukum disiplin dan hukum pidana di selsaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dalam pelaksanaannya. Karena kebijakan punpinan merupakan kebijakan Profesional dari atasannya yang berlandaskan kode etik kepolisian. Maka jelaslah diskresi itu adalah keputusan atau tindakan yang tidak dilandasi aturan umum tetapi lebih berlandaskan kepada kebijakasanaan. dalam arti sebagai pejuang pengawal dan pengamanan Negara Republik Indonesia. " Tanda pengenal di maksud ini adalah untuk memberikan jaminan kepastian bagi masyarakat bahwa dirinya memang benar berhadapan dengan petugas resmi. polisi wajib memperlihatkan tanda pengenalnya. karena pada dasarnya setiap anggota polisi dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus dapat mencerminkan kepribadian bayangkara Negara seutuhnya."Jika memperhatikan penjelasan George F Cole di jelaskan bahwa Disereslion adalah the Authority to Make Decisions Without Reference to Specific Rule or facts. Dengan demikian. Di dalam mengambil keputusan atau kebijakan seorang pimpinan Kepolisian memang di landasi dengan adanya pembinaan Profesi. dalam hal seorang polisi yang melaksanakan tugas dan wewenangnya dianggap melanggar etika profesi. yang tugas dan wewenangnya bersangkut paut dengan hak dan kewajiban warga Negara secara langsung. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian telah mengaturnnya melalui Pasal 31-36. beranggotakan sepenuhnya anggota polri yang masih aktif. Mengingat tidak ringanya tugas dan kewenangan polisi. Adanya kata wajib ini merupakan penegasan yang merupakan sikap . UU No." Ayat (2): "kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat menjadi pedoman bagi pengemban Fungsi kepolisian lainnya dalam melaksankan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di lingkungannya. sedangkan mengenai susunanya di sesuaikan dengan fungsi dan kepangkatan anggota yang melanggar Kode Etik. Sedangkan pelanggaran terhadap kode Etik akan di selsaikan oleh Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia ( Pasal 35 ayat 1). Etika kepolisian Negara Republik Indonesia. maka setiap anggota kepolisian harus menghayati dan menjiwai etika profesi kepolisian yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Selain itu. Pertanggungjawaban etika profesi ini adalah bentuk pemulihan profesi kepolisian. using Instead one's own judgement. Aturan ini di tegaskan dalam Pasal 36 ayat (1): "Setiap pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pengemban Fungsi kepolisian Lainya wajib menunjukan tanda pengenal sebagai keabsahan wewenang dan tanggung jawab dalam mengemban Fungsinya. Hal ini pun telah di tegaskan Pasal 34 ayat (1): " Sikap dan perilaku pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada Kode Etik profesi kepolisian Negara republik Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pimpinan ke pada bawahannya merupakan kebijakan sepihak yang memang dilandasi oleh aturan¬aturan atau norma-norma dalam hal penerapan diskresi pada setiap perkara yang dihadapinnya. Aturan mengenai pembinanaan profesi ini memang sangat diperlukan. Mengenai susunan organisasi dan tata kerja komisi kode Etik kepolisian Negara Republik Indonesia seperti yang diisyaratkan Pasal 35 ayat (2). "Penting pula di perhatikan. khususnya bagi warga masyarakat umum. Pembinaan profesi dari kepolisian memang sangat penting karena pejabat kepolisian dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus memiliki kemampuan profesi ( Pasal 31 ). seorang polisi harus mengabdikan diri sebagai alat Negata penegak hukum. maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia. bahwa dalam menjalankan tugasnya. dalam hal pembinaan profesi.

Satijipto Rahardjo mengklaim bahwa: "Situasi konflik disini terutama yang timbul oleh karena pembangunan lebih berorientasi kepada sasaran. Transparansi khususnya peluang bagi pengadu untuk bisa menegetahui proses pengaduan. ia dituntut untuk mengetahui segala hal yang meliputi kehidupan bermasyarakat. dapat disimpulkan bahwa control atas kepolisian harus di percayakan badan kepolisian itu sendiri. Sebagaimana dikemukakan terdahulu. Tapi terlebih dahulu penulis menjelaskan hal-hal yang mempengaruhi penerpan diskresi adalah tindakan polisi yang didasarkan asas kewajiban itu merupakan tindakan polisi yang didasarkan asas kewajiban itu merupakan tindakan dalam setiap bentuk yang dilakukan tanpa ada batasan yang jelas. tanpa harus merugikan hak-hak tersangka. 2. semestinya di interprestasikan sebagai bentuk pelanggaran terhadap Undang-Undang". sehingga hukum yang menekankan pada prosedur akan banyak dirasakan sebagai hambatan. Berdasarkan uraian di atas. peran lembaga eksternal perlu di intensifkan. Dari paparan tentang pelaksanaan tugas anggota kepolisian terutama yang bertugas dilapangan maupun yang di bagian administrasi penulis akan menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan yang didasarkan asas kewajiban. Untuk dapat memilih tindakan yang tepat. Upaya ketidak berpihakan dan efisiensi. Pengambilan keputusan secara tepat biasanya didasarkan pada pertimbangan yuridis. Rekomendasirekomendasi yang dilakukan ditujukan kepada pimpinan sebagai pemberi kebijakan atas semua tindakan apa yang harus dilakukan maupun tidak dilakukan yang berlandaskan akidah-akidah dan kearifan dalam profesonalis kepemimpinan Kepolisian. Keputusan polisi seyogyanya di buat secara secara tepat dan arif. Ketertiban disini di pakai dalam konteks ketertiban pembangunan. Pekerjaan kepolisian adalah pekerjaan yang hampir tidak bisa di control karena sering kali melibatkan pertimbangan moral. Dalam hal ini sekuarang-kurangnya ada tiga hal yang perlu di rekomendasikan dalam pelaksanaan control internal: 1. sehingga jika syarat ini tidak di jalankan. tindakan mana yang perlu di lakukan berdasarkan penilaian petugas polisi sendiri. Kembali disini terlihat munculnya ketegangan antara hukum dan ketertiban. 3. . Namun untuk menjamin efektivitasnya. Penerapan diskresi merupakan proses pengambilan keputusan. Upaya mendorong/membuka peluang bagi pihak yang di rugikan untuk pengaduan. tugas kepolisian seringkali dihadapkan pada situasi konflik antara menegakkan hukum dan menjamin kamtib. Kepentingan untuk mendapatkan pertimbangan moral dalam penerapan diskresi kepolisian semakin berarti mengingat karakter konflik yang melekat dalam pekerjaan penegakan hukum. sedangkan pengambilan keputusan secara arif didasarkan atas pertimbangan moral. tindakan mana yang perlu di lakukan tanpa ada batasan yang jelas. Dari ketiga hal tadi penulis melihat bahwa dalam hal pelaksanaan control internal memang harus diperlukan karena menyangkut masalah keadilan bagi para pencari keadilan. Konflik tersebut semakin besar lagi mengingat Negara kita sebagai negara yang sedang berkembang. yang mempunyai tolak ukurnya sendiri".keharusan atau tidak boleh tidak di lakukan. Dalam penilaian itu petugas memilih jenis tindakan yang perlu dilakukan atas tiap-tiap kasus yang di hadapi.

Sebenarnya tindakan demikian seringkali dilakukan oleh anggota sabhara yang sedang melaksanakan tugas patroli. Semua anggota kepolisian secara menyeluruh baik dari kalangan pangk:d yang paling rendah sampai pangkat yang paling tinggi memiliki hak untuk melakukan tindakan "diskresi". Sedangkan diskresi di dalam pola penegakan hukum yang di terapkan oleh penyidik atau penyidik pembantu adalah penyidik merasa memiliki kewenangan untuk menerapkan diskresi setelah melihat dan mengkaji kasus-kasus yang di tanganinya apakah bisa di terapkan diskresi atau tidak semua. Sehubungan dengan hal ini terdapat anggapan bahwa kejahatan atau pelanggaran akan terjadi jika factor niat bertemu dengan factor kesempatan. Usaha preventif di maksudkan untuk mencegah terjadinya kejahatan atau pelanggaran dengan menghapuskan factor kesempatan. serta kecakapan di dalani bertindak. Diskresi kepolisian hanya dapat dilakukan oleh penyidik dan penyidik pembantu karena di dalam penegakan hukum diperlukan orang-oranp. Tindakan yang di maksud di sini adalah tindakan yang di ambil oleh petugas apabila menemukan tindak pidana yang merupakan gangguan bagi ketertiban dan keamanan umum. Tindakan diskresi yang di lakukan adalah: Diskresi pada bidang tugas Sabhara ini sering kali diterapkan pada saat pelaksanaan tugas patroli. Salah satu contoh tindakan preventif dan represif non yustisial: Petugas patroli menjumpai seorang pengemudi mobil yang akan menyalakan rokok menggunakan korek api di depan pompa bensin ketika sedang mengisi bensin. tetapi petugas polisi sudah menindaknya dengan tujuan untuk menghindari terlaksananya suatu tindak pidana. asas kewajiban sering di gunakan di dalam bidang kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). sabhara. . Apakah tindakan diskresi yang di lakukan oleh pihak kepolisian hanya mengacu pada aturanaturan pokok Kepolisian. Intinya tergantung atasan atau pimpinan. Tujuan utama patroli adalah untuk preventif. Diskresi kepolisian yang dilakukan oleh semua jajaranya berpedoman pada Asas kewajiban kepolisian. 2. ataupun anggota lain yang pangkatnya lebih tinggi dari itu. tetapi tidak berarti apabila di temukan suatu peristiwa yang memerlukan tindakan represif maka polisi tidak bertindak. anggota polisi berwenang untuk memerintahkan orang itu agar tidak menyalahkan korek apinya dan tidak merokok di tempat itu. Polisi di sini bertindak dalam batas kewajaran sesuai dengan syarat¬syarat dengan batas kewajibannya. Tindakan perampasan korek api yang di lakukan oleh polisi berdasarkan wewenang maka tindahanya tersebut di benarkan. Di bidang penegakan hukum. yang memerlukan konpetensi. Diskresi pada kepolisian ada dua pola seperti yang dikatakana oleh Bapak Kasat Operasional 1 NTB Bidang Reskrim yaitu Bapak Suhartu diskresi yang di terapkan adalah: 1. Salah satu contoh anggota kepolisian yang bertugas dilapangan yang pangkatnya paling bawah atau bayangkara dua. intelejensi. hal itu penyidik maupun penyidik pembantu semua kebijakannya harus ada koordinasi terlebih dahulu dengan pimpinannya. Di bidang kamtibmas ( keamanan dan ketertiban masyarakat).B. Sedangkan tujuan represif arlalah untuk menindak suatu kejahatan yang merupakan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban umum. Dalam hal ini polisi telah melakukan tindakan refresif. dari mulai peristiwa yang bersifat ringan sampai berat. Sebagai seorang petugas. maka petugas polisi berwenang untuk merampas korek api dan menyerahkan kembali setelah isi bensin. Peristiwa itu belum merupakan tindak pidana. Apabilah setelah di perintahkan ternyata orang¬orang itu tetap juga berusaha menyalakan korek apinya.

menerima laporan dan/atau pengaduan. Melakukan kerja sama dengan kepolisian Negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan international. UU Nomor 2 / 2002 (2) kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainya berwenang. Pasal 15 ayat 2. Memberikan petunjuk. Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional. d. Pasal 16 ayat 1 huruf a sampai huruf k UU Nomor 2/ 2002 (1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana di maksud dalam pasal 13 dan 14 di bidang proses pidana. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalarn organisasi kepolisian international. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor. Menerima dan menyimpan barang temuan. Mencegah dan menanggulangi penyakit masyarakat. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor. a. c. k. bahan peledak. mendidik. kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang: . (1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana di maksud dalam pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang: a. j. f.Diskresi kepolisian diberikan oleh Negara secara limitative. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan. e. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. b. membantu menyelsaikan perselisihan antar warga masyarakat yang dapat menggaggu ketertiban umum. h. d. f. dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis keposian. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan. j. Mengeluarkan surat izin dan I atau surat keterangan yang di perlukan dalam rangka pelayanan masyarakat. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian urnum dan kegiatan masyarakat lainya. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api. Mengeluarkan peraturan di dalam lingkup kewenangan administrasi kepolisian. Memberikan Izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengarnanan. c. h. serta kegiatan masyarakat. kewenangan secara limitative di atur di dalam UU no 2 / 2002 pasal I S ayat 1 dan ayat 2 adalah: Pasal 15 ayat 1 UU Nomor 2/ 2002. m. i. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian. b. g. e. Mencari keterangan dan barang bukti. Mengambil sitlik jari dan identitas lainya serta memotret seseorang. dan senjata tajam. k. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian. kegiatan instansi lain. 1. i. g. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait.

tahun 1998 tentang perbankan jo pasa155 ayat (1) ke 1. k. Tanggal 28 maret 2009.H. e) Menghormati hak asasi manusia. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut j. LAPORAN POLISI : LP / K / 193 / IX / 2009 / siaga operasional. KUHP. BERKAS PERKARA. BANK NTB. S. M.a. 7 tahun 1992 sebagaimana telah di ubah dengan UU no 10. perkara: dengan sengaja mengumumkan atau mengabarkan atau . Tersangka: sudarso. Pasal yang di langgar: pasal 5 ayat (2) UU RI NO. adalah: Kasusl. 426. Perkara : Tindak Pidana Perbankan. Memanggil orang untuk di dengar dan di periksaa sebagai tersangka atau saksi. d) Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan memaksa. Menyuruh berhenti orang yang di curigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri. Als Datuq. Tersangka : wahyudin Amin. penahanan penggeledahan dan penyitaan. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. TKP : PT. 20 Tahun 2001 dan atau Pasal 223 KUHP Jo. KUHP jo Pasal 64 ayat (1) ke 1 KUHP. Mamiq Lilik Als. POL: BP / 86 / XI / 2009 / DIT. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan. Kasus 3. DKK. TANGGAL 9 AGUSTUS 2009. Tanggal 21 september 2007. c. RESKRIM. c) Tindakan itu harus dan masuk akal dan temiasuk dalam lingkungan jabatannya. i. BERKAS PERKARA. Laporan Polisi : LP/ K/ 65/ III / 2009 / siaga operasional.H. Penerapan diskresi di bidang penegakan hukum pa-al 7 ayat I huruf c KUHAP adalah: menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka Contoh kasus di dalam penerapan diskresi di dalam bidang penegakan hukum: Khusus tahun 2009 pada bagian kasat 1 operasional dalam bidang RESKRIM. g. LAPORAN POLISI: LP 1 K / 157 / VIII / 2009 / SIAGA OPS. POL: BP / 410 / 41 / 2009 / DIT RESKRIM. angka 4 KUHAP adalah: yang di maksud dengan "tindakan lain" adalah tindakan dari penyidikan untuk kepentingan penyelidikan dengan syarat: a) Tidak bertentangan dengan aturan hukum. UU no. TKP ( tempat kejadian perkara ) : kantor lapas Mataram: jalan Hos Cokro aminoto No. Kasus 2. NO. POL: BP / 73 / X / 2009 / DIT RESKRIM. Melarang setiap orang meninggal_ atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan. Penerapan diskresi di dalarn bidang penegakan hukum pasal 5 ayat I huruf a. Pasal yang di langgar : pasal 49 ayat (2) huruf b. BERKAS PERKARA. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang di sangka melakukan tindak pidana. Melakukan penangkapan. 5 Kota Mataram. b. Korban : Ruslan ALs. b) Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskam dilakukan tindakan jabatan. f. Janggrat. e. perkara: dengan sengaja dan melawan hukum penyuapan terhadap dengan pegawai negeri atau pejabat penyelenggara Negara maksud pegawai Negeri atau penyelenggara Negara agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajiban. Mengadakan penghentian penyidikan. Memberi petunjuk dan bantuan penyidik kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidik pegawai negeri sipil untuk di serahkan kepada penuntut umum. NO. Mendatangkan orang ahli yang di perlukan dalam hubunganya dengan pemeriksaan perkara. NO. d. h.

dalam kasus yang telah di terapkannya diskresi di atas. sebagai mana di sebutkan dalam pasal-pasal dan Undang-Undang yang menyangkut tentang tindakan yang telah di terapkan di atas. 2) pertimbangan yang layak berdasarkan berdasarkan keadaan memaksa. Telah di kemukakan oleh Bapak Gusti Ngurah Bagus Suputra pada hari sabtu tanggal I desember 2009 adalah: 1. serta kode t? tik profesi kepolisian Negara Republik Indonesia. Alam Basri. tersangka tidak melarikan diri. TKP ( tempat kejadian Perkara ): Kantor " Lombok Post" An. Tersangka: Ir. 4. tidak akan menghilangkan barang bukti. Di dalam Pasal 18 ayat I dan 2. tersangka tidak akan mengulangi perbuatannya. 2. Faesal No. pihak penyidik kepolisian memerintahkan kepada tersangka yang tidak di tahan untuk wajib lapor karena pihak kepolisian hat tersebut di anggap sah dan berdasarkan hukum. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana di maksud dalam ayat (I) hanya dapat di lakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. 33 Turide Kecamatan Cakranegara Kota Mataram. H. juga menjadi landasan berfikirnya atau bertindak dalam penanganan tindak pidana yaitu: 1. Untuk kepentingan umum pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri. TGH.menyampaikan surat kabar atau keterangan yang harus di rahasiakan untuk kepentingan Negara. Bapak Suharto. tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum. karena semua identititas dan tempat tinggal. dan termasuk dalam lingkungan jabatanya. 3. 2. Penilaian penyidik tentang kasusnya menyimpulkan keterangan yang di perlukan dari tersangka sudah cukup. Pasal yang di langgar: Pasal 112 KUHP. Sebelumnya penulis juga telah menanyakan kepada penyidik pembantu yang menangani perkara di dalam penerapan diskresi tantang langka-langka pihak penyidik pembantu di dalam menerapkan diskresi pada kasus yang di diskresikan. harus patut. 1) harus patut. selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut di lakukan. . pada hari senin tanggal 2 desember 2009 dikantor Polda NTB. pekerjaan tersangka segalanya jelas 3. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh penyidik tentang penerapan diskresi kepolisian pada wawancara penulis dengan pihak kepolisian yaitu penyidik. Panarapan diskresi yang di lakukan oleh pihak penyidik kepolisian terhadap tersangka dengan berlandaskan regulasi-regulasi yang telah di jelaskan di atas bukan tidak ada batasanya akan tetapi di berikan batasan secara limitative di dalam Pasal 16 ayat ( 2 ) UU no. Korban : Negara Republik Indonesia. 3) menghormati hak azasi manusia. Semua tersangka tindak pidana yang di terapkan diskresi di kenakan Wajib Lapor. masuk akal. Atas tindakan tersebut pihak penyidik kepolisian penerapan diskresi pada kasus-kasus pidana seperti yang telah di kemukakan oleh penulis di atas berdasarkan prinsif: Tindakan Lain Menurut Hukum Yang bertanggung Jawab. dan termasuk dalam lingkungan jabatanya. Tujuannya adalah untuk mengontrol keberadaan tersangka yang tidak di tahan guna memastikan proses pidana yang di lakukan penyidik Kepolisian terhadap diri tersangka dapat berjalan hingga di serahkannya tersangka dan barang bukti ke jaksa penuntut Umum. 2.2 tahun 2002 tentang kepolisian yaitu: 1. Perlu di jelaskan bahwa alasan tersangka tidak di tahan dan dikenakan wajib lapor karena pihak penyidik kepolisian mempunyai tujuan. masuk akal.

. Petugas polisi hanya kesalahan dalam memilih tindakan. C. Mereka khawatir masyarakat akan protes bahwa hukum tidak di tegakkan secara adil atau timbulnya tuntutan ganti rugi dalam hal terjudinya kecelakaan sebagai akibat di biarkannya pelanggaran lalu lintas. Penggunaan wewenang diskresi oleh polisi baru ini di akui suatu yang wajar dari kewenangan polisi. Faktor-Faktor yang mempengaruhi seorang petugas polisi dalanr memutuskan pengambilan sesuatu tindakan memungkinkan seorang anggota polisi menghadapi beberapa tindakan yang dapat di lakukan menurut Djoko Prakosos: 1. Alasanya terbatasnya pengetahuan dan pengalaman serta di pengaruhi Faktor psikologis. pasal-pasal ini juga menjelaskan tentang penerapan diskresi Kepolisian yang menjadi (andasan atau acuan di dalam bertindak. Bahwa diskresi pada umumnya di kaitkan kepada dua konsep yaitu penindakan selektif ( selective Enforcement )dan patroli terarah ( directed Patrol ).google. Penindakan selektif adalah suatu bentuk diskresi administrasi di mana pembuat kebijakan atau pemimpin menentukan Prioritas bagi berbagai unit/ satuan bawahnya. di dalam artikelnya di www. seperti yang di kemukakan oleh Bapak Ade rahmat Idnal pada tanggal 13 Agustus 2009 jam 3: 51 WIB. Dengan hal-hal demikian maka pihak-pihak Kepolisian melakukan atau menerapkan diskresi. Dengan dasar pemikiran daripada salah lebih baik tidak bertinduk. Tindakan diskresi adalah merupakan langkah awal dari perbuatan pidana atau sebelum perbuatan pidana itu di lakukan. karena kejahatan yang timbul bukan hanya karena ada niat si pelaku akan tetapi karena kondisi dan situasi yang berpeluang sangat besar untuk melakukan tindak pidana. Apakah Tindakan Diskresi yang di lakukan oleh pihak-pihak kepolisian merupakan Langkah di dalam mengurangi tindak Pidana. Petugas polisi hanya mengandalkan kewenangannya saja tapi tidak memperhitungkan hal-hal yang meliputi kehidupan masyarakat atau norma-norma yang berlaku schinggga tindakan berlebihan hingga mendapat reaksi negative dari masyarakat. Sebelumnya pimpinan polisi dan masyarakat beranggapan bahwa polisi harus bertindak setiap pelanggar ketentuan hukum dan membiarkan atau tidak melaksanakan ketentuan tersebut merupakan pelanggaran hukum oleh polisi. Sedangkan Patroli terarah adalah contoh diskresi supervisor di mana supervisor memerintahkan anggota-anggotanya untuk mengawasi secara ketat suatu wilayah tertentu atau suatu kegiatan tertentu. tindakan diskresi yang di lakukan oleh pihak-pihak kepolisian merupakan langkah di dalam mengurangi tindak Pidana dalam kamtihmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Menurutnya lebih baik mengambil tindakan kalau sudah terjadi tindak pidana yang merupakan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan umum. 2. seorang petugas polisi yang sedang melaksanakan tugasnya di lapangan dapat mengakibatkan kesalahan dalam memilih tindakan. Para pemimpin polisi masih ragu¬ragu untuk mengakui bahwa pejabat polisi selalu menggunakan diskresi dalam menegakkan hukum dan bahwa mereka secara diam-diam menetapkan kebijaksanaan untuk tidak melaksanakan penindakan secara penuh terhadap peraturan daerah.Selain pasal-pasal yang telah di jelaskan di atas. maka seorang anggota polisi dapat menjadi apatis dengan tidak mclakukan sesuatu tindakan dalam menghadapi suatu peristiwa di mana seharusnya dia bertindak. ataupun takut di tuntut atau di hukum oleh atasanya atas kesalahan tersebut. Polisi Bertindak tetapi tindakan tersebut salah. Berdasarkan apa yang sudah dijelaskan oleh penulis tentaug diskresi di atas. Seorang anggota polisi dapat menjadi takut mendapat reaksi dari masyarakat.com: " kewenangan diskresi kepolisian dan pertanggungjawaban secara hukum". misalkan dengan situasi dan kondisi yang besar peluang untuk melakukan kejahatan. Polisi menjadi apatis.

3. . menolong keluarga/kawan dan sebagainya petugas polisi dapat bertindak dengan tidak semestinya atau melakukan tindakan yang melanggar ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan sengaja. Tindakan diskresi yang di terapkan oleh Kepolisian pada kasus-kasus pidana merupakan salah satu cara untuk mengurangi tindak pidana yang akan terjadi. Dari uraian yang penulis paparkan dari hasil penelitian maka penulis dapat menarik konklusi dari penelitian ini: 1. Diskresi membolehkan Polisi untuk memilih berbagai peran seperti: memelihara ketertiban. Seperti yang telah banyak di paparkan di atas bahwa penerpan diskresi ada dua pola yaitu: pola Kamtibmas dan pola penegakan hukum. sengaja menyalahgunakan wewenangnya Penilaian terhadap tindakan yang tepat dan yang perlu di lakukan diserahkan kepada petugas tanpa di berikan pembatasan. Berbicara tentang tugas kemasyarakatan Kepolisian di luar pengadilan penulis memaparkan pentingnya tindakan preventif maupun represif di dalam hal penerapan diskresi ( non yustisial discretion). Undang-undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI dalam pelaksanaannya diharapkan dapat memberi warna baru citra polri ke depan serta dapat mengubah perilaku polri sebagai pelindung. Polisi dengan kewajibanya di dalam tugas kemasyarakatan di luar peradilan. Guna menghindari penyalahgunaan tugas dan meningkatkan kemampuan polisi di perlukan kontinuitas system informasi dan sistim pendidikan polisi sebagai panutan sadar hukum dan perilaku hukum. Kesimpulan. antara lain: ' 1. 2. Melaksanakan upaya penanggulangan terhadap setiap gejolak dan kencendrungan seluruh aspek dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada terjadinya tindak kejahatan. 2.3. Diskresi pada umumnya dikaitkan kepada dua konsep yaitu penindakan selektif atau selective Enforcement dan patroli terarah atau Directed patrol. Mengutamakan pencegahan dan penangkalan sehingga menimbulkan dan meningkatkan kesadaran hukum dalam bentuk bimbingan masyarakat yang preventif. diskresi Polisi dapat diartikan sebagai wewenang pejabat polisi untuk memilih bertindak secara legal atau illegal dalam menjalankan tugasnya. Tugas Kamtibmas dan kemasyarakatan mengandung rambu-rambu dan bersifat limitative agar tidak terperangkap pada penyalahgunaan wewenang sebagaimana telah menjadi himbauan dunia international untuk di waspadai terutama menjaga citra kepolisian di mata masyarakat. BAB V PENUTUP A. Dari ketiga faktor-faktor di atas merupakan alasan-alasan bagi anggota polri apabila menerapkan diskresi. pengayom masyarakat dan tindakan reprsif dalam rangka penegakan hukum merupakan upaya terakhir dalam proses penyelsaian masalah dalam keterkaitannya dengan Criminal Yustice System (CYS). menegakan hukum atau melindungi masyarakat. kedua pola tersebut tujuan sama adalah untuk semata-mata mengurangi tindak pidana. Dengan latar belakang kepentingan pribadi seperti mencari keuntungan. memberi kemungkinan kepada petugas untuk melakukan penyalahgunaan wewenangnya. Penindakan selektif adalah suatu bentuk diskresi administrasi di mana pembuat kebijakan atau pemimpin menentukan prioritas bagi berbagai unit/ satuan bawahanya.

Karena Pola ini sudah merupakan suatu Proses akan di tindak lanjuti suatu kasus-kasus tindak pidana yang akan di hadapi oleh pihak kepolisian. pihak kepolisian harus benar-benar obyektif bukan subyektif atau melihat tersangka atau pelaku tapi melihat bagaimana kasus yang akan diterapkan tindakan diskresi di perkenankan atau tidak di perkenankan di liat dari sisi perkara yang di hadapinya. Penerapan diskresi pada kasus tindak pidana. Pemerintah harus meninjau kembali tentang aturan-aturan serta regulasi-regulasi tentang penerapan diskresi. 6. serta penerapan diskresi yang keliruh harus di berikan sangsi dan pemecatan anggota maupun tindak pidana dan harus di atur di dalam undang-undang yang khusus. 8. 3. Pasal 16 Ayat la. 2. supaya tidak salah di dalam penerapan diskresi. karena diskresi banyak menimbulkan kontradiksi para ahli-ahli dan pakar ilmu kepolisian. Polisi bukan sebagai kekuatan pertama akan tetapi hakekatnya sebagai alat Negara yang sama kedudukanya dengan alat Negara yang lainya. Apabila di dalam penerapan diskresi merugikan korban maka pihak dari kepolisian terutama penyidik harus di berikan sangsi administrasi maupun sangsi jabalan. Akan tetapi walau ada Norma-Norma atau aturan yang melandasi tapi di batasi dengan pasal 16 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 sebagai limitative di dalam mengambil kebijakannya. Sampai lkn sedangkan didalam KUHAP ditentukan di dalam Pasal 5 Ayat I Huruf a angka 4 dan pasal 7 Ayat 1 Huruf C. 7. 1. B. Sehingga tidak pernah ada titik temu. 5.4. Penerapan diskresi pada kepolisian baik bersifat non yustisial maupun yustisial harus benar-benar berlandaskan norma-norma yang berlaku. baik dari pangkat terendah maupun pangkat tertinggi. baik pranata lokal maupun norma-norma yang sudah di undang-undangkan. Pola Kamtibmas Pola ini didalam penerapanya melibatkan semua unsur-unsur kepolisian. b. Penggunaan wewenang diskresi oleh polisi baru-baru ini diakui sebagai suatu yang wajar dari kewenangan Polisi. penerapan diskresi ini terdapat 2 pola yaitu: a. Pasal-pasal sebagai landasan di dalam kebijakan Polisi terutania penyidik dan penyidik pembantu di dalam mengambil keputusai atau kebijaksanaan di dalam penerapan diskresi. DAFTAR PUSTAKA . Dalam hal penegakan hukum penerapan diskresi ini harus!ah transparansi dan aturan yang jelas harus di buat. selalu mengacu pada ketentuan atau normanorma yang menjadi landasan pemberlakuan diskresi yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 pasal 15 Ayat 1 dan 2. Sedangkan patroli terarah adalah contoh diskresi supervisor dimana supervisor memerintahkan anggota-anggotanya untuk mengawasi secara ketat suatu wilayah tertentu atau suatu kegiatan tertentu. 4. Pola Penegakan Hukum Pola ini didalam penerpannya hanya melibatkan anggota kepolisian tertentu saja seperti: penyidik dan penyidik pembantu. Kepolisian terutama pada hal penegakan hukum. Saran. 5. Penerapan diskresi pada pola preventif maupun refresif pada kamtibmas harus juga di buatkan landasan hukum yang kuat.

POLRI Sebagai Penyidik dalam Penegakan Hukum. SH.2004. 1996.M. Ignatus Ridwan Widyadharma. AKP.. M. SH. UNDIP Semarang. Penyidik POLDA Bag. H.2007. Jakarta 2003. SH.H. BINA AKSARAJakarta 1987. Moeljantno. S. Peneletian Hukum. ADE RAHMAT IDNAL. Etika Profesi Hukum. POLDA NTB.D.H. MS. SH.. Suharto.com Artikelnya judul kewenangan diskresi kepolilsian. www. MH. Zainal Asikin. Farouk Muhammad. S. Hukum Kepolisian di Indonesia Prestasi Pustaka Publisher. Memahami Profesi Hukum. Reskrim OP. Wawan Tunggal Alam. POLITEA BOGOR.S. Penyidik Pembantu. Kencana Media Group. LL.1 Nomor 12 tahun 2007 tentang kepolisian. Mhum. MSI. Menuju Reformasi Polri.. Gusti Ngurah Bagus Suputra. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 13 Agustus 2007. Peter Mahmud Marzu Prof. NTB. Undang-undang.Amirudin. Jakarta-Indonesia 2005.2000. . UU Nomor 2 tahun 2002.U. tentang KUHAP. beserta penjelasannya. PT Raja Grafindo Persada Jakarta.S. SIK. SH. Djoko Prakoso. PT. Dr.H. S. SH.. Penerbit Rineke Cipta Mei. 2008. Peter Mahmud Marzu Prof.. 30 Nop. Jakarta 2006. Dr. Kencana Media Group. AKBP. Warsito Hadi Utomo. SH. Peneletian Hukum. SH. Restu Agung.. Jakarta 2006. dan Peraturan Pemerintah R. Ph. Asas-Asas Hukum Pidana.google. 1 Desember 2007.M. Dr. Jakarta. penerbit Citra Umbara Bandung. Mhum dan H... UU No 811981. Melinea Popular. MS. LL.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful