1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. Kultur .000 jiwa. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. Tetapi bahwa korban pasti ada. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. Secara kultural. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. orang lalu berpindah ke kawasan lain. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. masih galau bagiku.11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. parewa ini belum hilang. kita tidak tahu. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban.

sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. santun. rasanya cukup punya alasan. bukan kultur otak. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. setidak-tidaknya secara statistik.12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. dan bertanggungjawab. maha Pencipta. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. suatu on-going process. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. peran organisasi kemasyarakatan. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. . kata teori antropologi. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi.

Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. Yang pokok . Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. Jusuf Amrullah. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. A. Sutan Mansur.R. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. Hamka. Pelopor utamanya adalah Dr. H. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Dr. pada tahun 1925. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah.D. Abdulkarim Amrullah. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali.13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. Maninjau. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Itu hanyalah urusan administrasi. (Perang Dunia) II (19391945).

Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. ya habis. Dari kawasan inilah a. Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas. sedangkan emas jika sudah habis. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi.l. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. amat sulit untuk disimpulkan. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. tidak dapat diperbarui lagi. kemudian ke Eropa. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan .14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang.

Mengapa kukatakan mereka buta huruf. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh .15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus.R. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. semuanya gelap bagiku. berupa sebuah S. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. Tentu mereka semua buta huruf Latin. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya.

antar anak Sumpur dan anak Silantai. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. terjadi pulalah pemekaran . Silantai.16 pemerintah kolonial.). Sumpur Kudus ini. Anak Sumpur banyak yang sombong. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. dan Mangganti. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. tidak dia dan tidak aku. termasuk aku. sewaktu aku masih kecil. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm.R. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Umumnya dengan kaki telanjang. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. antar anak Sumpur dan anak Calau. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Sumpur Kudus. Rasanya tidak ada yang kalah. Sejalan dengan pertambahan penduduk. sekolah ini sudah muncul. teman sekelas di S.

Mangganti. Ibid. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. dan lain-lain. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8.17 pusat-pusat pendidikan dasar. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Unggan. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. Dengan perubahan positif ini.D. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. 298.D. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. Satu nagari saja bisa punya lima S. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Siluka. Kumanis. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. indeks buku Dobbin hlm. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Durian Gadang. aku pun tidak bisa menjelaskan7. Dalam soal pendidikan dasar ini. Dari sisi ini. S. .

2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. dengan Kabun sebagai nagari termuda. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. memisah dengan induknya. hlm. 369 9 . Jakarta: Maarif Institute. dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. 2005.9 Jakarta: Maarif Institute. hlm. mekar pulalah nagari. propinsi. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan.).18 kampung baru. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. kota. kecamatan. Pada berbagai forum dan kesempatan. rakyat meneroka (babat alas. kabupaten. 369). Tidak Lih. 2005. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun.

Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. . tidak pula untuk mencari posisi duniawi. atau propinsi. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. Jika perpecahan ini yang berlaku. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan.19 dibuat-buat. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. kabupaten. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya.

Orangnya berkumis. persis seperti anak-anak kampung yang lain. rasanya masih perih sekali. berdenyut sampai ke otak. juga nama kecamatan di era modern. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. tinggi sedang. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt.20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. ketika upacara khitan itu berlangsung. Bagindo Tanomeh. Jangan main-main dengannya. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. hanya orang kafir yang tidak . Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. (Tanomeh= sutan emas). pakaiannya putih necis. Kata orang kampungku. agak langsing.

Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. Bacaanku nol. Apa yang mau direnungkan. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. tetapi jauh dari suasana renungan. jika bukan tumpul sama sekali. tetapi aku sudah lupa judulnya. Bacaan lain sangat langka. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S.R. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. berjudul Cahaya. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul.21 bersunat. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. karena . belum menggeliat. Bagaimana mau menggeliat. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. Di kala kecil. Ada juga bacaan ArabMelayu. Tranportasi perahu sangat menyenangkan.

tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku.R. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Dari tanah kita berasal.22 aku tokh bisa berenang. Maklumlah masih dalam usia S. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. Pulang ke asalnya. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Dan memang tidak perlu mengelak. ke tanah kita pasti akan kembali. siapa pun dia. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. persis seperti manusia. Prosesnya berjalan lamban sekali. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi.

bersenda gurau. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. tempat burung. tupai. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. Oleh sebab itu para perusak hutan. dan mencari makan. Kemudian di Muaro Sijunjung. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. demi upeti. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. kera. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . kabarnya sudah hampir punah. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. dan bermacam jenis makhluk bermain. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. Masing-masing saling memerlukan. saling mendukung.23 dari pepohonan.

Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. Air sungai ini pun larut menjadi asin. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Tidak hanya berhenti di situ. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. oleh siapa pun. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup.24 jauh lebih perkasa. Tetapi jika . Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun.

Manusia dapat kehilangan segala-galanya. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Jangan main-main dengan air. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Prilakunya mesti dipelajari. bahkan peradaban. gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. sawah dan ladang. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro . khususnya pada musim hujan.

Semakin lama orang berpisah dengannya. Semuanya berlalu begitu saja. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. pertanda usia sudah semakin mendekati . sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. puitis sekali. sewaktu masih di S. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. tidak ada kesan yang mendalam. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Tidak urut. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. Semuanya mengalir begitu saja. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok.R. tidak teratur.26 Sumpu ini. Selama menganggur. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. bertukarnya tahun. bersamaan dengan bergantinya musim. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. ke rumah adik-adik seayahku.

Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. B. belum terlalu lama hilangnya. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim.27 hari-hari terakhir. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. Zulfahmi (Emi). Ke mana-mana seekor ayam . aku pun tidak tahu. sampai saat menulis bagian ini. Fisik pun sudah mulai renta. rampok. dan sabung ayam sebagai profesinya. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. penyebar Islam di kampungku. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh.

28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. Kita kembali ke Tanah Bato. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang . Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. si warna merah penghisap darah. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Aku kenal sekali dengan binatang ini. tidak peduli darah apa pun. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. asalkan tidak pakai taruhan. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. darah siapa pun. Ia menggigit dan terus menggigit. Sekiranya pakai taruhan. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa.

Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Di saat kecilku. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. mana pula yang berbau syirik. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah.29 terletak di seberang Batang Sumpur. aku tidak lagi ke sana. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. seperti kuburan. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Pertanyaannya . Bahkan lebih dari itu. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain.

sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. Tetapi ada segi buruknya. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. tergantung dari sisi mana orang melihatnya.30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. . untuk tujuan baik tentunya. Karena dia memasuki kawasan hitam. Menurut cerita Zulfahmi lagi. serba puritan. Dalam kasus semacam ini. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan.

Sanusi Latief. Ini pun sebenarnya tidak aneh. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. entah yang ke berapa. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh.31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. M. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. dalam mengembangkan Islam. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Bandaro Lubuk Sati. Sjamsu Anwar. yang lain mungkin makam pembantunya. alangkah bagus dan elok nama itu. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. dan Jafri Dt. karena ada .

Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. kemampuan juga terbatas. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. sejarah nagari Tamparungo. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. 12 jilid. Kota Klaten. sejarah terbatas. Kota Banjarmasin. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. sebagaimana A. nagari. jorong. Di antara . kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. nagari Unggan.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. desa.32 sejumlah ribuan nama kota. Kota Semarang.J. Kota Sawahlunto. taratak Talao di Calau. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. Umur manusia terbatas. seperti sejarah Kota Solok.

maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. ketegangan itu tidak . selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. Jika kehendak hati diperturutkan. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Sekali cahaya itu padam.

Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. dan pada perkisaran angin.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. yang menghidupkan bumi setelah mati.34 begitu dirasakan. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. al-Jatsiyah : 13 . Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. setelah itu menghilang tanpa bekas. tanpa pilih kasih.

meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban.35 parah sekali. sempit. dan merasa serba cukup serta bangga diri. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. subjektif. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. bahkan saling berlawanan. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. Dengan kata lain.

Jika kemauan hati tidak dikendalikan.” meninggal dalam usia 27 tahun. juga tidak akan cukup. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya.36 bata untuk bangunan. Allah maha tahu segala-galanya. Maka tidaklah heran kita. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. sekiranya mereka punya minat. oleh otak jenius sekalipun. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. tetapi tidak mungkin kecapaian. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan . bangunan peradaban. setelah itu menghadap Allah. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. Ditambah 1000 tahun lagi. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu.

McGill. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ.). reaksi malaikat dan iblis. Protes malaikat tidak mempan. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. s. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. menteri agama waktu itu. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. Thaha: 115-124. tetapi hanya sekadar itu. sebagai dosen tamu. al-Qur’an s. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. Montreal. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. 1993-1994. al-A’raf: 11-25. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau.37 segala kekuatan dan kelemahannya.12 Kembali kepada cerita kampungku. batu bersurat. Kanada. aku sudah lama diberi tahu. selain sebagai pusat bisnis. lih. al-Baqarah: 30-39 12 . serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu.

dan kuda beban. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. . sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. kuda tunggang. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. perahu. kampungku tetap terpencil. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. pedati.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. yaitu bendi. kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu.

D.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. Sekali terbuka. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Yang aku heran. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Bahkan P. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Tanpa rantau. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar . ranah tidak mungkin berkembang. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. termasuk heran terhadap diri sendiri. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku.A. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. Diperbaiki berulang kali. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang.

40 30%. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Kata orang. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Hasil-hasil alam seperti karet. Sebagai seorang peminat sejarah. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. sama dengan ongkos PadangJakarta. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. apalagi untuk pembangunan. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. 500 per kg. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. gambir. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. dan terakhir soklat. Mengenang ini semua.

Pada usiaku menjelang malam.41 dan global: agama. Bukan untuk apa-apa. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. dan dunia Muslim pada umumnya. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. entah kapan. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. pemikiran. tetapi yang tetap . tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. aku juga seorang kolumnis. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. objektif. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. politik. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Satu saat. kebudayaan.

berkedudukan di Sumpur Kudus. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. sekarang karena pemekaran wilayah.42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. yaitu Rajo Ibadat. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam). tokoh Paderi.

banyak yang melarat. Tidak mustahil memang. sebuah pekerjaan yang berat sekali. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. 136-137 . tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat.cit. atau puti bagi perempuan. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta.. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri. op. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan.43 senjata. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. sedangkan dua puteranya terbunuh. hlm. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. berpusat di Lintau. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki.

apalagi belum terlalu jauh. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Yang jauh pun dikaji orang. pelacakan itu memang diperlukan. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. Sebelum itu tidak . Tugasnya menggali dan menggali. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. itulah profesi kaum arkeolog. jika bukan sebuah penyimpangan. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. jika perlu sampai ke pitala bumi.44 Pagaruyung. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara.

Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. ternyata ada juga segi positifnya. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka.L. gelap (bila malam). miskin.N. tanpa ikatan nasional sama sekali. direktur produksi dan transmisi P. Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang . Ir. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. tertinggal. Herman Darnel Ibrahim. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. Lengang. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. disambut dengan tari gelombang segala.45 ada Indonesia. yang ada Hindia Belanda. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau.

Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari.L. Sejak cahaya itu masuk. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. mungkin malah rugi. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. C.N.N. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal.R..46 bercorak Minang.L. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Semoga rakyatnya patuh dan . aliran api ke kampungku tidak menguntungkan. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan.D. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu. Dari sisi inilah barangkali P.

Sehari sebelum itu. yaitu tanggal 28 Januari. Solok Selatan. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang.D. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus.R. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai.I. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P. Dengan listrik ini. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu.47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. Bagaimana keadaan .

Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa. 31 Mei 1935. hujan. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. di dalam remuk. akan kututurkan pada saatnya. “Bak kayu dimakan bubuk. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. Bagiku hari itu sama saja. tidak ada yang keras atau lembut. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . Asai makhluk kecil dan lembut. Menurut cacatan kakak sulungku. kupanggil kaktuo Hima. “di luar tampak rata dan licin. (Sekolah Rakyat). padahal belum terlalu lama dibangun ayahku.R. almarhumah Rahima.48 kampung ini. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). atau mendung. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. aku lahir pada hari Sabtu.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. panas. tetapi bukan main ganasnya. dan di lokasi mana seseorang berada.” kata peribahasa Melayu. jika ingatanku tidak keliru.

tidak pernah sia-sia. jati. betapa pun terlihat lemah. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. dan seperti tak berguna. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. lambat tetapi pasti. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. kecil. tersembunyi kekuatan dahsyat. kayu dibuatnya tak berkutik. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini.49 merugikan. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 .14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. kecuali kayu besi. Dalam serba kelemahannya itu. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih.

Kalau ada bedanya. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. masalahnya tentu menjadi lain. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. lahir dengan bantuan dukun beranak. tetapi semuanya sudah berlalu. Mana yang benar di antara dua catatan itu. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. termasuk aku. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. tidak bisa dikejar lagi. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Pasti semua anak. . Namun bagi diriku. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya.

karena itu yang lebih dulu kuketahui. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. tetapi aku tidak mengenal wajahnya.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. sebab jika tidak. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. Mungkin saja demikian. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. yaitu 68 tahun 92 hari. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. sementara ibuku Fathiyah. batang usiaku sudah berangkat jauh. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. Dalam catatan ayahku itu. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. aku menggunakan tanggal 31 Mei. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). . mana mungkin ayahku mau mengawininya. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu.

sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. saudagar gambir. aku tidaklah tergolong modern. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. bahkan kuno. seperti yang berlaku pada masa modern. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. tetapi dicarikan pihak keluarga. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. tetapi memang itulah aku.52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. bini saja harus dicarikan. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. Sudah merantau ke mana-mana. Dari sisi ini. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama . Aku tidak mencari jodoh sendiri. terpaut lima tahun usia keduanya. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup.

dan uni. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. onga. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. t. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. Apakah mereka selalu akur saja.v. aku pun tidak tahu. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. sebab berkat kemajuan komunikasi dan . Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. uda.53 ibu. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. aku tidak bisa mengatakannya. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. udo. Jarang yang memanggil suaminya uda. Kata-kata om. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. Memang belakangan ini. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Ada yang memanggilnya kaktuo.. tante. kakoncu.

Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. mak oncu. bertante-tante. kakonga. di mana panggilan kaktuo. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa.54 informasi. ber-omom. dan kakoncu. kakudo. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Jika semuanya sudah beruda-uda. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. Bahkan tidak jarang . Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406).

Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . semua orang kampung mengakui. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. Kembali kepada lingkungan ayahibuku. Untuk ibuku. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. Bahwa ayahku cerdas. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. Orang yang menemui ayahku. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu.55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah.

adik sepupuku. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. bertani dan menyadap karet. sebelum Saiful Wahid. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. lahir tahun 1939. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. Alangkah sedihnya. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. tetapi . Karena ibuku wafat masih muda. Sepengetahuanku. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. alangkah pilunya.

(Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. Seorang lagi. pendidikan. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong.57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. Aku bersyukur di hari tuaku. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan.U. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di . di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya.M.S. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak. tidak saja untuk kampungku. cucu kakakku Nursiah. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. semoga telah mengenai sasarannya.. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. dan kemanusiaan.

Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. Bahwa mereka umumnya miskin. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV .P. dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. bukan kewajiban orang lain. betul. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah. Tetapi sudahlah. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005.

59 Fakultas Hukum pada universitas itu. Tetapi aku tidak pernah patah . hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. sementara aku. seperti sering kututurkan setelah dewasa. Namanya Indra Kurniawan. seperti yang bertahun-tahun kualami. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. Jalannya panjang dan berliku-liku. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. sekalipun modalnya dari S. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita.M. (Sekolah Teknik Menengah). biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. Beranak pinak di situ.T. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. tanpa masa depan yang jelas.

sukuku. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. tanpa . Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. umumnya berhasil menjadi sarjana. Di antara orang kecamatanku. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. Aku bangga dengan mereka. juga dari suku Caniago. bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. demi ilmu. kakak beradik).T. Mereka yang tabah dalam penderitaan. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I.B.60 harapan untuk terus belajar.

Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. Menurut logika biasa. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. bahkan tidak jarang harus . Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. tetapi jumlahnya sangat kecil. 26 tahun sepeninggal ayahku. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. bertukang. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan.61 mobilitas menaik. ayahku jarang sekali mengeluh. dari menyadab karet. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. Betapa pun berat beban yang dipikul.

Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. Riau. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006).62 menggadaikan barang yang ada. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. demi sekolah anak. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. dan Jambi. lahir batin. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. jika bukan mereka yang terdidik. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. adalah contoh yang ditinggalkannya.

A. Unggan.I.A. dan Sisawah. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras. yaitu Mayor dr.N. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A. Imam Bonjol. Tamparungo.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. kemudian beralih karier sebagai dosen.M. (Angkatan Darat). pada I. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan.I. Dakwah I.N.K. Namanama yang kusebut ini. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. Namanya Sabiruddin.D. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. (Universiti Kebangsaan Malaysia). adalah di antara contoh manusia tabah. Semula sebagai Kepala Biro A. . Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. dosen Fak. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur. anak Rahima. demi cita-cita dan mobilitas sosial. Imam Bonjol Padang.U. demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. Dari keluarga isteriku. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. Mangganti.K.A.

Sekiranya Indonesia tidak merdeka. tidak dapat ditawar. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S.64 Ruswandi Aswad. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta.R. Painan. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya . kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Oleh sebab itu. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. dengan ibu Sumpur Kudus. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi.D.. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. seperti layaknya anak kampung yang lain. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. tetapi belum pernah menetap di Sumpur. ayah dari Tarusan. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus.

U. tabah. di samping di tangan Allah. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. Benarlah Pembukaan U. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal.D. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal .” Sungguh padat dan padu kalimat ini. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. Tanpa kemauan keras untuk maju. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. demi lepas dari penjajahan durjana.65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. Nasib seseorang. hidup tanpa inisiatif.

baik di kota mau pun di desa. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. Peluang itu tentu tidak selalu datang. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. Aku tidak tahu mengapa begitu. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Setelah dilepas ke gelanggang. aku sering mengunjunginya. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. sekalipun itu sesuatu yang halal. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. Di hari tuaku. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan.

Malang bagi yang tidak. Penyimpangan tentu selalu ada.67 menjadi asin. Pencarian apa yang . Boleh jadi. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. membangun rumah di tanah suku isterinya. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. lahir di Tepi Balai. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. seperti yang telah kusinggung di muka. setelah ayahku mengawini ibuku. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri.

Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. Sekarang di Minangkabau. . untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. karena memang tidak praktis. sungguh ruwet untuk dipertahankan. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan.68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. bila berlaku perceraian. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. Kembali ke masalah rumah.

Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. Untuk kelangsungan hidupnya. sekalipun pada masa modern ini. dunia ini akan terasa semakin sempit. ladang. atau pekarangan. dan sulit untuk bernapas lega.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. dan memang harus ditinggalkan. beban melulu. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. kolam ikan. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. Bagiku. Bergantung kepada tanah semata. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. Jumlah anggota bertambah terus. Lahan sempit . Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. kebun. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. jelas tidak memadai. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. Tanah adalah milik suku atau keluarga.

jangan percaya kepada kegagalan. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. ranah . Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana.70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. jangan menyerah kepada rintangan. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Syaratnya hanya satu. Tanpa rantau. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. Berpikir terus dan terus berpikir. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. Ranah dan rantau saling melengkapi. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif.

Sebagian besar “merantau Cina”. aku jelas seorang yang berpihak. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. Secara filosofis. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. . sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. Bagiku tidak ada masalah. Setelah proklamasi kemerdekaan. semuanya telah mencair dan berganti. sekalipun bukan tanpa gesekan. Dalam masalah dasar ini. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. tidak kembali ke kampung secara permanen. tidak mungkin netral. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

atau keturunan raja. ulama. Dengan paradigma . syarifah. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. hulubalang. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. menurut pemahamanku. atau bahkan keturunan nabi. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. Untuk merebut posisi taqwa. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. amir. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. terbuka bagi seluruh orang beriman. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. sultan. dan 1001 gelar lain. tidak oleh yang lain.82 metode berpikir kritikal. Mereka yang mendewakan keturunan raja. habib. sejarah. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. kualitas iman dan amalnya. ekonomi. Bagiku gelar-gelar sayid.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. radikal. dan apa pun. wali. kultur. yang mengaku keturunan nabi. dan rasional.

berkumis agak tebal. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. tempat pendidikanku yang terakhir. Wajahnya bersih. dan bila berjalan melenggok. tinggi sedang. bukan hanya karena keturunan. kulit agak hitam. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta.83 semacam ini. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. Kebiasaannya pakai .

Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. beristirahatlah di sana. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. di tempat ibu tiriku mak Maran. anak bungsumu ini . Setelah ibu-ayahku pergi. sekalipun sudah menua. Ayah dan ibuku. di tanah persukuan orang Melayu. dan tidak jarang aku menangis sendirian. khususnya dengan ibuku. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini.84 kopiah sutera hitam. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. ibu tiriku yang lain. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. kemudian etek Lamsiah. dalam umur yang setua ini. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. Makamnya terdapat di Tapi Selo.

sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. Adiknya yang lain A. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. entah di bumi mana. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. Aku memanggilnya ande Ani. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. nagari tetangga Sumpurkudus. pamanku. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. Beberapa tahun yang lalu. yang kata orang rupanya mirip ibuku. di alam yang lain sama sekali. sementara dua adik laki-lakinya yang . Karena tidak bergaul sejak dari kecil. Entah ayah-bundaku. Wahid. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. salah seorang dipanggil Ani. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. Semuanya sudah tiada. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. suku ayahku. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. Sayang aku lupa namanya. aku pun tidak tahu. lain ayah dengan ibuku.

Bainah. dan Ahmad. Baili. baik lakilaki atau pun perempuan. Oncu Naksan amat menyayangiku. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. Nurbahri. Saidina Hasan. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). Mattudin Rauf. Siti Dariyah. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. . tetapi punya dua keturunan perempuan. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Karimah. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. merangkap dukun. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Pada saat wafatnya. Yang masih hidup tinggal satu.

Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Raadin. Lebih dari itu. Matanya tajam menembus. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk.87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. Mangsanya tidak hanya ikan. hubunganku cukup dekat. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). tikus. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. jumlahnya aku tidak tahu. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. ular. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. ayam. .

hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Mungkin karena ibuku wafat muda. M. dari suku Domo. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Orang tua ayahku Abd. sukuku sendiri. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti.D. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. Suami Rahima. yang pandai berbahasa Belanda. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Ayahku sangat menghormati ibunya.88 dan A. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. / S. Wahab. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku.R. seorang guru S. Rauf (dipanggil Badurau). Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. adalah . gelar Manti Besar. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. Oleh sebab itu. di samping membantu adik-adiknya. Aku memanggilnya uwo. Nalam (alumnus Normaal School).

Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. hubungan itu terasa biasa saja. begitu juga dengan abangku Nursahih.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). Sekiranya itu aku lakukan. apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Antara Rahima . seperti telah kusinggung. Dengan kakak-kakak perempuanku. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Yang aku sedikit menyesal. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. kupanggil onga Sahih.

Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta.N. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982.90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. U. dan Malaysia. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. khususnya Sumatera.K.P. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. Dari kampus I.K. Ohio University (Athens). (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta.P. Lombok. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa. dan Surakarta. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah .-I. bertebaran di seluruh nusantara.I.S. dan menetap di kota ini sampai saat tua. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Jawa.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb).Y.I. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun.I.K.

Bahwa aku seorang pekerja keras. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. sumber penghidupan para petani . Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Pun di mana aku akan berkubur. semuanya itu adalah rahasia Allah. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. membaca. aku pun tidak tahu. dan dokumen yang tak sempat kuatur. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. Apa yang direnungkan. Banyak dokumen yang tidak berguna. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. mungkin banyak orang yang sudah tahu. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. dan merenung. tak seorang pun yang dapat menentukan. Semboyanku sederhana saja. Sesaat setelah ibuku wafat. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. kadangkadang juga tidak jelas benar. karena sempitnya ruangan yang tersedia. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. majalah. Sungai ini tak pernah kering. Dalam kamar inilah aku menulis.91 usai. alamiah.

Di kala kecil. Selagi sehat . dan ikannya tidak pernah jinak. dan ikannya jinak. semuanya serba dielokkan. aku masih sering berkunjung ke kampung. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. Sampai setua ini. sekalipun penduduknya serba sederhana. karena memang di situ duniaku. semuanya serba dilebihlebihkan.92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. kecuali yang sakit atau pingsan. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. dan banyak yang miskin. Saat sering pulang. pasirnya putih. aku juga gemar memuja kampungku. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. tebingnya landai.

masyarakat dapat memakluminya. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. tidak lebih dari itu.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. Terasa teramat dalam dan tulus. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. dan tentu mengotori lingkungan. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. ibunda Sanusi Latief. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. kakak sesukuku di kampung. berasap. ande Lia. ande Karang. seorang perempuan kaya di kampungku. kemudian menjadi kakak iparku. adalah mak Sarialam. mak Rasia. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. Mereka menunggang .

terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. mangga. durian. Juga pasar kera dan beruk. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. kembali hari Rabu. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. Payakumbuh. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. petai. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. karet. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. Di Minang. berangkat hari Senen. Mengapa . dan lain-lain. seperti dari Tanah Datar. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. Di sana terdapat pula pasar ternak. dan hasil hutan lainnya. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa.

Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. terutama untuk menarik delman (bendi). dan solar. setelah ada mobil. bensin. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Kembali kepada perempuan dan kuda. seperti telor dan tebu. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. tak seorang pun yang bisa mengatakan. Tetapi iman menyebutkan. . bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika.

kebiasaan perempuan naik kuda.96 Dengan budaya naik kuda. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. dipanggil Patiah. tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . Di sebuah nagari yang tersuruk. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. adik ibuku seibu. adik ayahku. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Sebelum aku pergi merantau. tetapi kebiasaan menunggang kuda. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. Fathiyah. yang kemudian kawin dengan pamanku A. Wahid. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat.

Seingatku. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka.97 pamanku. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. Bersama paman dan bibiku. sapi putih . Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. aku juga membantu bekerja di sawah. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. jika pulang kampung.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

dari Universitas Chicago (1983). Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. Tanpa bimbinganMu ya Allah. ayahku tidak menambah isterinya.P. Ph.M. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. aku lebih daripada bersyukur. sebagian sudah wafat. dibesarkan. dan dididiknya. Kariman. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. atau S.D. sekalipun hanya sampai S. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau .108 Sewaktu ibuku masih hidup.. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. Amerika Serikat. (Syafril). Demi menenggang perasaan ibuku. S. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. Di antara 15 bersaudara. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. Semua anaknya dirawat. dan madrasah Muallimin. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. yaitu aku. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. karena pendidikanku sampai tuntas.R.D. tetapi tidak bertahan lama.

terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Yang tidak masuk akal adalah. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. Tidak berbeda dengan ayahku. Aku heran. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. ni’matMu yang tanpa putus. tanpa batas. lalu beranak pinak di sekitar itu. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. pamanku Mattudin. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. juga ada yang berpoligami.109 kecamatan. Sebuah tabiat yang buruk . Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu.

kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus.P. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. Muhammadiyah Jakarta. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P. Bahkan Bung . Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. kecuali dengan diesel. desa tertinggal. Di usia lanjutku. mantan menteri era reformasi. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. pusat yang paling berjasa adalah Dr.N.110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab.L. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Di antara pejabat P. Aspal sudah. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi. Sumpur Kudus. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. salah seorang direktur. Herman Darnel Ibrahim.

111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. kemudian membengkak menjadi Rp. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S.P. sahabat kakakku Nursahih. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. 3 miyar. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. seperti . Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005. Muhammadiyah (periode 1998-2005).3 milyar. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol. 4. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P.R.

sampaisampai merotasikan letak celananya. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. Pada masa revolusi. Aneh memang. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Guru-guru pun tidak pernah lengkap. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. Seharusnya aku baru tamat pada 1948. maka pendidikan S. semuanya tidak teratur. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . semuanya berantakan.112 orang membawa lampu minyak tanah saja. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947.R. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun.

M. Rajo Malayu. wafat pada 3 Jan.113 anak kampung. Rusjid. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. Rajolelo.R. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. dan Kahar. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. A. Muchtar Gafur.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Maangkat. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. Sutan Bachtiar. wafat pada 2 Mei 2004. pamanku. Alangkah hinanya. Makkah. Nalam (suami Rahima. Wahid. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. Mattudin Rauf (adik ayahku. M. juga berjasa dalam . Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Syamsuar. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Zulkifli Mahmud. Wahid. jam 6. Latief Dt. A. Tari. Rajo M. Rivai Dt. Suki Khatib Rajo.

Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. Dari famili senenek pihak ibu. sebagian besar pendukung Perti. Mengapa demikian. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. sebagian pendukung Muhammadiyah. Kecuali Kahar. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. dan masalah kenduri orang . Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. ushalli. seperti telah disinggung di muka. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. rakaat tarawih. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. aku tidak tahu. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. saling berebut pengaruh. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. permulaan puasa dan hari raya. soal qunut subuh. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah.

Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. tetapi kemudian diam-diam diikuti. dan yang sebangsa itu. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. Ya. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Tamparungo. Dalam perjalanan waktu. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. dan Kumanis. Namun sejak tahun 2000. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. Sudah tentu aku bangga mengikuti . Tanjung Bonai Aur. antipati. Mangganti. Nagari-nagari yang lain: Unggan. telah dilawan dan dimusuhi. Sisawah.115 mati. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu.

penyadaran. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. Melalui metode dan pendekatan model ini. sekalipun bukan tujuan. dan pencerahan.P. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. lambat atau cepat. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. hubungan antar tauhid dan keadilan. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. konsep persaudaraan universal .116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P. penyantunan. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Muhammadiyah.

prilaku hidup yang jujur. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. Betul. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. Bagi sementara orang. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. bersih.R. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. karena itulah aku. dan prinsip egalitarian. khususnya setelah aku belajar di Chicago. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. asal tidak . Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif.

aku sering minta diajari isteriku. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. .118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. tanpa bumbu masak yang anehaneh. Dalam budaya hidup mandiri ini. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. Bahkan lebih jauh dari itu. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. jika isteriku tidak ada di rumah. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. karena memang aku orang desa. tanpa ajinomoto. Jika pulang bersama keluarga. aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. Jika pulang kampung.

orang penting pada era Bung Karno. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. Lintau jauh lebih maju. di samping pusat perdagangan emas. Rajo Alam di Pagarruyung. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. Tetapi dari tuturan sejarah. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. . salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. berasal dari Lubuk Jantan. Seorang tokoh Chairul Saleh. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. Kemudian pusat itu berpindah. maka Sumpur Kudus ditinggalkan.119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. dan lokasinya pun mudah dicapai. kopi. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. memang sudah sepantasnya. dan lain-lain. Rajo Adat di Buo. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. Jadi jika aku belajar ke sana. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus.

Ismael Rusyid. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Sjamsu Kamar. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. keduanya dari Sumpur Kudus. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Nawadir Makkah. Enam teman ini setahun di atasku. yaitu sekitar 48 km. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Damhuri Gafur. Kedua. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. Bila terpaksa. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku.120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. Lintau. berjalan kaki pun mungkin. Jika rata-rata 5 km per jam. Sjafril Tahar. Pertama. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . dan sebaliknya. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. sekalipun tidak selalu.

121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. aku . Ketiga. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. aku diturunkan menjadi nomor enam. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. semula terlupa tidak dimasukkan.-ku sama sekali tidak memadai. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Tidak dapat ranking pun. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. aku terpaksa diterima juga. tetapi harus melalui ujian masuk.R. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. aku semula meraih ranking nomor lima. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu. Namun karena berasal dari desa terpencil. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua.

kecuali ujian terakhir kelas tiga. tentu aku akan merasa malu. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. Pada ujian penghabisan. demi . Mungkin jika tidak naik kelas. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Payakumbuh. orang kampung bisa naik sepeda. tetapi bangganya bukan main. Bayangkan. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri.122 gembira. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. Selain ujian sekolah. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu.A. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. atau yang sederajat. apakah pada 17 Agustus 1945. Pada saat-saat menjelang ujian. Dalam keadaan normal. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. bertempat di Bunian. Indonesia sudah merdeka? Keempat. gara-gara revolusi kemerdekaan. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku.M.

diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Adapun kampungku demikian sunyinya. Akibat menghilangnya harimau ini. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. Perasaanku ketika itu. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. . Rancak (bagus). jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. Dengan cara ini. di dalam hutan yang jauh sekalipun. tempatku belajar selama tiga tahun. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. kadang-kadang di kala malam. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. orang kampung pernah diterkamnya.123 menjaga mutu. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. sekalipun sewaktu mengganas. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau.

Tanpa didikan mereka. Keenam. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. Indomadjo. Kini sebagian besar mereka telah tiada. Pada saat tulisan ini dibuat. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. aku tak mungkin mengembara begini jauh. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. belanja .124 Kelima. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Dt. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari.

Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . Sanusi Latief. berlaku perkisaran secara mendasar. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. Akhirnya dia berjaya. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana.

mungkin karena mengingat biaya. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun.126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. demi ilmu pengetahuan. II. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. M. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. entah .

Tanpa Sanusi Latief. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. tetapi penting bagi pembentukan karakter. aku barangkali akan tetap sibuk dengan . Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa.127 untuk berapa lama. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. Pokoknya melangkah dan terus melangkah. Tanpa Sanusi Latief. pada waktu itu belum dibayangkan. Untuk selanjutnya. apalagi ke tanah Jawa. berkat Sanusi Latief. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. seperti telah kusinggung di atas.

Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. kasur saja harus diangkut dari kampung. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. jika tak salah. milik kakakku. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau.128 senapan angin. sementara aku cukup tidur di atas tikar. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. menjala. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. Aku tidak akan ke manamana. Di antara yang berempat itu. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. Di dek kapal kasur itu dipakainya. tibalah kami di kota tujuan. dan memancing. membawa kasur dari kampung. Kami masak bersama secara bergantian. Coba bayangkan pada waktu itu. Azra’i dan Suwardi. karena di kampung pun .

Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. tentu kisah hidupku akan berbeda . Sekiranya aku ditolak masuk. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. sekalipun tidak kemenakan kandung.129 aku tidur tanpa kasur. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. oleh karena itu perlu disantuni. sisa zaman Belanda. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. kemenakan ayahku dari suku Melayu. Sampai di Jogja. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. jalan ke Mangganti. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno.

dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. Tamansari No. Kedua. Akibatnya aku harus menganggur.130 dengan apa yang aku jalani kemudian. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. Pertama. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. karena memang tidak terjadi. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena . jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. entah bagaimana jadinya. kelas empat sudah penuh. Kita boleh saja berandai-andai. Jadi bangku tidak tersedia untukku. tetapi di sini tak perlu diteruskan. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. karena gedung baru di Jl.

Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan.131 katanya kualitas tidak sama. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. sampai saat tuaku ini. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . Namun aku tetap bersyukur. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Dalam keadaan seperti itu. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. apalagi sesama Muhammadiyah.

P. Muhammadiyah. Setelah sekian bulan belajar montir. Azra’i yang semula masuk S. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. masuk S. ayah kandung Sanusi Latief. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. aku lulus. sekalipun dengan perasaan terhina.M. teori dan praktik. Ahmad Dahlan). Lalu pulang ke kampung. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. Azra’i kini bergelar Dt. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu.132 sekolah montir di Jl. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. gelar yang dulu disandang oleh A.M. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu.P. swasta juga tidak betah lama di sana. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. Muhammadiyah dan terus ke S. Ngabean (sekarang Jl. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang.M.A. Latief. paman kandung Azra’i. tetapi . sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir.

Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. meniti titian nasib masingmasing. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. sekitar 1 km dari Calau. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. kesukaan kepada . karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi.133 jalan hidupnya berbeda. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. Luar biasa aku menyukainya. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. Tak terasa. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. sesuatu yang harus diterima apa adanya. Suka dan duka terekam dalam memori itu. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah.

Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. . perbedaan itu sering mengemuka. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. semuanya ini lumrah belaka. dia mengajakku berdebat dalam soal politik. Tidak jarang. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. ibunya. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. tidak perlu dijadikan gesekan. Nurkhalifah. Bagiku.134 bakmi tetap berlanjut. Bukan saja dalam selera makan. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. juga tidak jarang dalam selera politik. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. cukup bergairah dalam masalah ini. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali.

sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. kalau tak salah. dan kami harus mendengarnya. pada hari pertama aku masuk kelas. dan Ilmu Alam. Aljabar. Melihat panorama ini. dan 6.135 Kembali kepada masalah sekolah. Untunglah di . Tidak sekadar marah. Ilmu Ukur. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. memang tidak pernah sangat tinggi. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. Dengan perasaan yang serba bercampur. aku bisa mengikuti pelajaran. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. Dengan tancapan pisau di meja. 7. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. sekalipun belum tentu menarik. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. aku cukup ngeri. 7. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8.

aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung. tetapi tidak jadi rampung. Tetapi betapa pun jua. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. Tanpa tancapan pisau ini. Djindar Tamimy. juga pernah belajar di Mu’allimin. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak.R. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja.P. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. kemudian malah terpilih menjadi Ketua P. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. Sebab jika dia tetap mengajar. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini.. Sampai tahun 2005.P. Tetapi A. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja.P. Muhammadiyah barulah aku. pernah menjadi wakil ketua.136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. Bila semuanya ini kukenang kemudian. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. .

Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Sudiro .H. Fakih (Bahasa Arab). Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Wiludjeng (Bahasa Inggris). Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Rowijan (Aljabar). setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni.137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Balija Umar (Musthallah Hadits). aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). K. Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris). Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir).H. Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat).

Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. . tak peduli dengan siapa pun. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah.138 (Ilmu Alam). Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. Muhammad Thajib namanya. masih sangat muda. suka berdebat. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung. Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai. tamatan Mekkah. dan masih banyak yang lain. Kadangkadang sangat keras. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. A. Ternyata paham agamanya kuno. tak terekam dengan baik dalam ingatanku.

sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat.W.W. di sisi sifatnya yang penyabar. Pak Djazarie. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. tetapi sopan dalam pembawaan. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. setelah tamat sekolah. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana.139 Sewaktu berdebat. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. Aku amat berutang budi kepadanya. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. tetapi pasti yang harga murah. yang aku banggakan itu. Bengkulu Utara. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di .

apa bukan hebat.K.M. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat.140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P.M.P. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. Kalau tidak khilaf. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).P. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin.I. sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. sekalipun . milik dan suara resmi Partai Masyumi. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. Muhammadiyah (1998-2005). Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis. gembiraku luar biasa. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya.M.

Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. dalam dan luar negeri.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Begitulah perasaanku ketika itu. aku tetap saja menulis dan menulis. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. Pada usia senja menjelang malam ini. Mungkin bukan dari siapa-siapa. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. aku sudah turut kampanye . Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta.

Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. B. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. Tetapi pada tataran moral politik. Sewaktu ayahku wafat. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia.

125. Terimakasih Muallimin. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. Syafril Maarif. Mawardi dan Penulis Moh. Penulis R. Djazarie. 175 per bulan. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. Muhammad. Aku masih ingat betul. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. Faried Ali. jauh dari diriku.143 masing. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. anak sulung dari etek Lamsiah. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. tampaknya . Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. karena tanggungannya yang juga cukup berat. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau.

beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. semuanya mengalir begitu saja. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Bila peristiwa perih ini kukenang. Sekiranya itu aku lakukan. Setiap mengingat sosok ayahku. batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. tanpa payung pelindung. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. air mataku meluncur tak tertahankan. aku tidak paham apa makna kematian itu. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana.144 seperti baju kaos. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. di samping tidak ada biaya untuk itu. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. aku tak ingat lagi. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. Jika sewaktu ibuku wafat. Semuanya berantakan. Mengapa batinku begitu . tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. seperti umumnya orang kampungku. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat.

Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. tetapi aku juga tidak pernah dimanja. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan. Hubungan . anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. kecuali dalam do’a. Ayah. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang.145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. kembali ke nagari asalnya.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

(Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. .I. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P.R. Di kampung aku punya seorang teman.156 lain lagi. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. namanya Bachtasar Tahar. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. dan ia bersedia.R. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. Mungkin tidak sampai setahun. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. alumnus Mu’allimin Lintau. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. B. ia harus pulang kampung.

aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. lalu ujian.I.K. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.T. Pengetahuan . Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.M. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas.157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). adik kelasku di Mu’allimin.A. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Tetapi setelah ditimbang-timbang.L. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S.A. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. jurusan Sejarah Budaya pada 1964.P. Bukan karena apa-apa. Aku lulus dengan baik. Setelah setahun aku belajar. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.

I. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri.I. Jogjakarta. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. sekalipun bertele-tele.K. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I. serta Pengetahuan Sejarah. Bermacam .K. tetapi karena ingin cepat rampung. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. hubungan putus dengan kampung. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. 1957-1964. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu.I. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu. Karena pergolakan daerah. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah.S. sekalipun dengan perasaan mendongkol. Jelas aku dirugikan. ijazah aku terima juga. Bukan karena apa-apa. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu.158 Umum.P. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh.

berasal dari Sulawesi Utara. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Maka pindahlah aku ke F. Jusuf.P. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Jusuf banyak menolongku dalam masalah . tetapi karena kuliahnya teratur.R. bagian pengajaran.K. Hawari. kasir.R. aku tidak mungkin bisa. dan aku. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. mahasiswa Cokroaminoto. jurusan Sejarah-Budaya. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah.I.I. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. M. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini.159 tugasku di toko ini: pelayan. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. Muchktar. Nasai.

Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. asal Baturetno. Namanya Murdijo. Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. kami lalu jualan rokok. Mula-mula dagang kecil-kecilan. ayam dan kambing. Karena merugi. tetapi semuanya merugi. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. pemilik warung di Baturetno. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. Untunglah selain itu. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. dan lainlain bersama Pak Markum. Korban pergolakan daerah. Surakarta. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami.160 presensi ini. tembakau. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965.

Sebagai guru honorer.161 kecamatan itu. Pak Sujadi. kepala sekolah. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. Sampai menjelang usia 70 tahun ini.N. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Sekiranya aku punya ijazah negeri. tidak dapat dikatakan. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. Baturetno. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani.T. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik . sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana.P.

dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Tampil dengan gaya Bung Karno. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Lenin. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka.162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Ekonomi Terpimpin). Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu.R. Sosialisme Indonesia. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Demokrasi Terpimpin. Undang-undang Dasar 1945. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan.B. Pada saat menulis catatan ini. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan .I.

Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. Revolusi. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Abdullah Sjahir. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). Mr. Bagi Hatta. adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. Mendengar kutipan mentereng ini.163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. kata Hatta. dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. aku tidak menyia-nyiakannya. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. kemudian menyusullah masa pembangunan. tetapi kosong itu.

padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. beberapa tahun setelah itu. Amien Rais. Soekarno tokoh nasional dan dunia. Andaikan aku punya ijazah negeri.164 cara yang benar. entah dari sumber mana diambilnya. di atas. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain.T. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). . Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. Pada suatu ketika. aku tinggal mengikutinya saja. Tetapi cara itulah yang kulakukan. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. sehingga dapat “mempesona” orang lain. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. Maka tak lama kemudian.

Sebagai kader Muhammadiyah. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P.P.P..P. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah.. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. setidaknya majelis tingkat P. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri. komentator yang tajam. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno.D. dan aku malah bangga menuturkannya kembali.M. Bung Amien.P. dasar anak desa. Jika itu yang terjadi. aku bakal terpilih jadi Ketua P. dengan terkekeh itu saja. malah menambah abrabnya persahabatan kami.165 Itulah aku.D.M.M. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P.D. alumnus Mu’allimin Jogja lagi. Aku percaya bahwa pengurus tentu .

Wonogiri yang memohon anggota P. Di samping dapat sekadar uang. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. Tetapi sebagai selingan. Demikianlah kalau kita berandai-andai. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu.M. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. untuk berkunjung ke sana. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. sesuatu yang selalu aku banggakan. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya .D.P. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P.166 akan menyetujui saranku. Siapa yang takkan bangga. tidak akan ada ujungnya. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran.

167 itu sekarang ini. Andaikan punya akses. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. bangga juga aku rasanya ketika itu. di samping Sidi Gazalba.. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. Jika kukenang semuanya ini. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai.T. aku juga mengajar . Abdullah Sjahir. tentu kamus harus dibuka. Pada tahun 1960-an itu. Sekalipun hanya dalam posisi G. adalah di antara penulis favoritku.T. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno.T.T. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. untuk memahami satu alinea saja. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun.

(Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. K.A. karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto.M. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu.168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N. dan rakyat umum. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. S. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. pimpinan Pak Suhardi. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu.A.D. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. M. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno.I. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu.S. anak sekolah. demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Samasekali tidak ada .M.

Sanusi Latief dan Prof. Amien Rais. M.169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Prof. Dr. Amien Rais adalah sahabat . dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Dr. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. dan Kanada. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. Sanusi Latief pernah mengajarku. M. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. maka alm. Malaysia. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. M.A. sebagai guru selingan.

Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982.H. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami.A. tentu sebagian besar . Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Tokh. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah.

tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. apalagi masyarakat kampungku. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri. St. teman sekelasku di S.) . karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. IV. seperti telah kusinggung di depan. Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. suami Rahma. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin.171 rakyat Indonesia. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. secara diam-diam telah .R. anak Sarialam-Halifah. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. Dengan demikian. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan.

Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. seorang menteri kesehatan di Simalanggang.P. Bukan sebagai pedagang yang mapan . ini merupakan hiburan yang membanggakan. Lifuarda (namanya sewaktu di S.M. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. dikenalkan kepadaku melalui surat. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. Payakumbuh. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Tidak hanya dikenalkan. Teman ini. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. adik kandung Rahma. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang.172 menghubungi etekku Bainah. tetapi mau dijodohkan. Tanjung Ampalu. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. Bagiku. aku sempat termenung.

Alangkah geli bercampur malunya rasanya. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. kalau mungkin sampai ke Kumanis. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. seperti telah kututurkan. dan besoknya aku menompang truk miliknya. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Seperti biasa. Bersamaku.173 seperti umumnya orang Minang. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. Padang. . tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. jika bukan kurang dari itu. bila kukenang ini semua belakangan. Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. Bulan Maret tahun 1957.

rambutnya panjang terurai. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. matanya tajam. sebentar muncul sebentar menghilang. juga tidak mungkin. Akan dilirik kakakkakaknya. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. sebab aku sadar betul akan posisiku. Rahma (bintang desa) dan Rosma. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. lincah juga gadis ini. sampai di mana aku menompang truknya. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. karena tidak ikut main. ada gadis dengan celana panjang merah. Semuanya berlalu begitu saja. Aku agak lupa. adiknya. apalagi usia terpaut jauh. .

pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. ragu. Tak lama kemudian.R. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. miskin lagi. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. hanya badanku agak kurus.175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. sekalipun sudah . dan malu. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup.R. karena tak punya apa-apa.I. Senang. Enam tahun kemudian. karena akan bertemu dengan si kecil. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk. datanglah surat Ismael di atas. masih belum mendingin betul. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. malu.

semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Dari kejauhan. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. Rumahnya gagah dan kokoh. Padang. jika bukan ke Rimbo Kaluang. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. apalagi di kalangan orang kampungku. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda .176 sakit-sakitan karena asma. Truknya diberi nama Sumpur Kudus.

dalam keadaan apa adanya. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. Jika itu aku lakukan. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). mungkin kurang gizi. ada Rosma (juga sudah punya anak). sekiranya di Padang aku punya teman. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. tetapi tidak autentik. Umpamanya. mencari yang lain. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus.177 rumah. bukanlah caraku. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. Dalam serba . aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. ada si kecil. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. Kalau tak salah. aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. agar kelihatan agak sedikit parlente. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. pandai bertanam tebu di bibir. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. demi gensi. Sebuah risiko harus dihadang. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. Aku memang tidak berbakat jadi aktor.

aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. 2006 di Jakarta). dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir . Herry Komar (wafat 13 Feb. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Teman sekelas si kecil di S.P. bibiku Bainah. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. mantan wartawan senior Indonesia.178 kesederhanaan. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. pengalaman hidup. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja.M. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. juga terbentang jarak psikologis.

Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. berselisih jalan dengannya. kakak sepupuku dari pihak ayah. termasuk Manirun. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. Bagaimana akan siap.A. Ia . demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. pada 1964. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. Sampai tahun 1963 itu. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. Sumpur Kudus. Dalam kondisi semacam itu. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. sekalipun tidak lapar. tidak jauh dari Simpang Balai. aku belum punya pekerjaan tetap. pada suatu pagi aku dan teman-teman. Sebelum berbelok ke rumahnya.179 semakin larut.

agak menjauh ke tepi jalan. Aku ini anak . Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Yang jelas aku menyukainya. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. baju anak sekolah. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. sebagaimana yang akan kututurkan. Tampaknya ia sangat pemalu. yang memburu kekayaan. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. bukan atas inisiatif kami berdua. aku akan pasrah. Kami tidak saling berteguran. Seingatku ia pakai baju putih. dia membuang muka ke arah lain.180 baru datang dari Padang. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. rezki secara berangsur terus mengalir. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. langkahnya bergegas.

tentu batin ini akan terluka juga. Dalam perkara ini. . Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. yang berbau syirik. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. tidak akan berganjak sedikit pun. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada.181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. aku sangat kokoh. Tetapi betapa pun perihnya hati. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. Bagiku pada sisinya yang terdalam. Semuanya biar berjalan secara alamiah. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku.

jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. sebab ada gelar malin dan ungkapan- . Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Akan dirantai Allah-lah engkau. Masuk sekalian tawar. Qul huwallah sungsang. Aku memantrakan obat parang sijundai. Muhammad sungsang. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah.

apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia.183 ungkapan bernafas Islam. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Oleh sebab itu. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. aku paham benar apa makna kemiskinan. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. sebab tak terjangkau oleh kantongku. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. Mudah- . Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun.

Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. lupa lautan. Interaksiku . Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. tetapi dengan segala keterbatasan. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku.P. tidak memperhatikan orang miskin. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh.184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak.

birokrat. sekiranya itu menjadi kenyataan. apakah ada akar sejarah masa lampau. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. tidak jelas bagiku. tidak ada kelanjutannya. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. Entah bagaimana akhirnya. lintas etnis. Muslim dan nonMuslim. Kita kembali kepada alur cerita semula. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama. lintas kultural. Selama beberapa hari di kampung. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Jika muncul . sebab siapa tahu. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. Sudahlah. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. dan pengusaha. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. para jenderal. ini perkara jodoh. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil.

karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. lugu. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan.T. karena aku belum punya peta masa depan. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. . Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. dan famili yang lain.186 masalah. dan mungkin kekanak-kanakan. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. dan sedikit sebatas propinsi. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. juga tidak memberi saran apa-apa. apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. Aku masih gamang. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. abang. yaitu sembilan tahun. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. kabupaten. Bukankah pada masa itu. Mungkin karena jarak usia yang jauh. Paman. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D.

1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia.B. antri minyak. Bung Karno sebagai P. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. Antri beras. lapar. Atapatap rumah. gedung-gedung. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum . antri bensin dan antri apa lagi. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. antri garam. sekolah. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik.R. antri sabun. Dengan kalimat lain. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik.187 (Demokrasi Terpimpin. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa).

argumentatif.188 selesai. paling-paling seumur penciptanya. Selama periode yang panas ini. ikuti mereka). apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Di antara pengeritik yang paling vokal. join them. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman.

Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. .I.K. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. yang mendukung D. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. P. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. Aku pun heran.189 masalah demokrasi di Indonesia.T. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar.I.I. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P. kecuali Hatta dan para pengikutnya. Suasana politik bangsa panas sekali. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik.

di mana akal sehat.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian.R.T. P. diplomat ulung.. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D. .Masyumi-N. Salah seorang tokoh P.I. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. Di mana rasionalitas. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. terpaksa atau sukarela. aku tidak tahu..I.I. aku pun tidak bisa menjelaskannya. mantan duta besar di Washington D.C. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A...I.U.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini.). juga larut dalam kompetisi manipolis ini.N. Ali Sastroamidjojo. (Ali-Roem-Idham.K. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Akhirnya Bung Karno “menyerah. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya.

pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Aku tidak bertanya . dan diharapkan tidak terulang lagi. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. Menengok fenomena ini.191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. karena tidak ada jawabannya. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. sebab Jerman yang maju itu. Tentu akan ada yang bertanya.

M.. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh . sekalipun mulai agak melemah. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. sementara awak tak punya apa-apa. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah.R.I. 1958-1963.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. inilah pertanyaannya. seperti halnya P. seperti dia cemburu kepadaku kemudian.I. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P. itu adalah bagian dari sikap nekatku. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. wartawan kawakan Indonesia. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.D.R. Bagaimana mau menikahi seseorang.R. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya. temannya sewaktu belajar di S. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah.P.

193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini.U.R. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. karena .R.I. Aku yang semula pro-P. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.I. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu.R.D. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin.I. tetapi melihat korban yang begitu banyak.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku.D.R.S.. perlu kajian ulang. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk.R. Bukankah Bung Karno dalam istilah W. tetapi keterlibatannya dalam P.

jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik. Aku yang pada masa itu pro-P..R. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P. Sungguh berlaku yang aneh- .D. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal.S.I. sekalipun mereka lapar.I.I.D. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia. sama sekali tidak menyebut P.D. seperti baru saja kukatakan.R. dan pemimpinnya.R. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata.I. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.R..I. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P.R.

. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A.P. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Di pedesaan P.R. Dia panggilku kakoncu. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban.R. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.M. menjatuhkan bom di desa itu.I. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu.R.I. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu.U. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada .K. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami.I. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. kelas 1). Dia korban sengketa politik daerah-pusat.195 aneh.

khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang. dari suku Caniago. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu.K. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut.I.R.R.196 di atas angin. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti.I.I.K.I. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. Bayangkan ketika itu. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P.K. naluri saudagarnya “berdansa” terus. Dalam keadaan sulit. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam . sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. P. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Jumlah anggota P. Semuanya ini berlaku terutama karena P. dan sekaligus menjadi wali nagari.I.R. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. bukan karena dipilih.R. tetapi karena diangkat. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya. kalah perang. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik.

sekalipun tidak secara langsung. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. di seberang makam. sementara pak . peran mak Sarialam begitu besar. tidak saja di dunia dagang. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Damailah di sana.A.197 mendampingi suaminya. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. mengelola perusahaan. Negeri di sana. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya.M. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing. jika ingatanku tidak salah. B. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini.

Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. aku merasa malu.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. jangankan . Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. Kenyataannya. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. Sampai Desember 1964. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. entah di mana. saling menjajaki. tetapi aku sedang kepepet. tidak punya pilihan lain. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. mungkin aku sudah lama berumah tangga.

Jogja. Rendang ini kubawa . para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau.. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Dia beli sendiri. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. sekalipun harus hidup menderita. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar.199 menghidupkan orang lain. Apalagi pada era D. Sejak di Mu’allimin Lintau. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku.T. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Dengan apa kubelikan. sampai tahun 1960-an itu. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele. karena masih ingin sekolah juga.

adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Si kecil memang berhati . dan lainlain.200 sampai ke Jawa. Perkara kondisi tidak seimbang. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. Dari pihak keluargaku. paman. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. kakak. batinku rasanya sudah agak tenang. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Si kecil tahu betul keadaanku. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi.

Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. Untungnya.Wahid. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. aku banyak belajar padanya. Dalam masalah ini. entah dari mana ia dapat . sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Suami etekku A. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil.201 keras. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. entah apa sebabnya. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi.

seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. Bagaimana tidak akan lancar. Pada tingkat usia 30 tahun itu. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. tokoh spiritual Perti. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana.202 “ilmu”. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. Ternyata itu tidak kumiliki. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. Ini berbeda kabarnya dengan . sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. Potong kambing segala.

Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Pertama. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. Ini dapat dipahami karena dua hal. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana.203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. Masa membujangku berakhirlah sudah. si kecil. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku . Kenekatanku akhirnya memetik hasil. Kedua. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. untuk seterusnya kupanggil Lip. sekalipun cukup membahagiakan.

Sebenarnya pihak keluarganya. sekalipun jauh dari suasana mewah. Beberapa hari sebelum perkawinanku. entah apa penyebabnya. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini.204 Rahima dari suku Caniago. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. termasuk abangku Nursahih. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. Yang hadir ramai sekali. tetapi ia masih tetap dalam agamanya.

205 anaknya ini. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Bukan main pihak keluarga senangnya. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. tetapi yang ketika itu belum . maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. kecuali seorang kakak iparku itu. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Di akar rumput. yaitu Islam.

Sayangnya.K. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus.K. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana.P. Setelah beberapa hari di kampung. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal. tahan bantingan sejarah. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya.P. jurusan . Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F.I.206 membuahkan hasil yang berarti. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa. seperti telah kujelaskan. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. Sekarang dari sisi agama. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F.I. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian. C.

K. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya.207 sejarah Universitas Cokroaminoto. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. tetapi hikmahnya cukup besar. Negeri Yogyakarta. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I.K. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar.I.M. Drs.I. . Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis.I. Lafran Pane. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.P. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur.I. anak pak Burhan. Kabar itu sebenarnya tidak betul. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F.I.K.S. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. pendiri H.P.

I. R. ketua jurusan pendidikan sejarah F. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah . entah apa sebabnya. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm.I.P. Wuryanto. mertuaku. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.R.S.K.I.S. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F.K. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini.208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku.A.K. Melalui berbagai upaya itu. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I. Yogyakarta.P.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.-I. Jika aku tak salah ingat Drs.I.N.K. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri.P. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. M.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima.I.I. Semarang dan anggota D. Maka bantuan Drs.

). salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah.P. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Kahar sebagai imamnya. Kahar dalam berbagai pertemuan. Prof.H. Muhammadiyah. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. K. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Selain memperoleh ilmu dari Prof.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. tempat alm. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof. Aku . aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. abang Bakir Amir.

M. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. Dia sendiri adalah guru P. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi.P. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia. milik seorang pedagang Sunda. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya.I.G.K.210 diajaknya menulis bersama.A.A.P.I. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. masalah ibadah.I. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. (Kesatuan Aksi Mahasiswa . Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P. Negeri Surakarta. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K.A.

tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. sementara aku sedang kuliah. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan.U. Mohammad Diponegoro. usiaku sudah bergerak tua. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar.A. B. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. miskin lagi. Sekalipun masih mahasiswa. Mungkin sebagian kecil hasil . Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Untuk perlengkapan tempat tidur. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. berkeluarga. karena sudah terbiasa sejak kecil. A. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek. Basuni. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. Di samping sebagai korektor. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. dan alm. H. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah.211 Indonesia). Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman.K. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. pimpinan alm.A.

aku lupalupa ingat berapa. Ekonomi morat-marit. T.I. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya. lantai II Kantor P. Jika aku masih sendirian. khusus untuk anak yang baru lahir. (Suara Muhammadiyah).I.K. Jl. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi.. demonstrasi merebak di mana-mana. Muhammadiyah yang lama. Andaikan ada. aku tetap saja kuliah sambil bekerja.V.212 iklan terselip dalam kantongku. Beban . Untung ada beberapa koran di kantor S. masih belum ada ketika itu.Dahlan 99. tokh aku tidak mungkin memilikinya.. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P.K. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P.P. Kasur pun hanya punya separo. tentu tidak ada persoalan. Sebagai seorang yang bukan aktor. K.H.M. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas.

M. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. Kalau aku apa yang mau digadaikan. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana. Selama di Kotagede. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Lip . Bukan main bahagianya perasaan. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. pagi dan kuliah sore hari. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. 20 dari sebuah majalah di Solo. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan.213 mentalku menjadi berat. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. Untung dia punya perhiasan. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Masalah beras cepat teratasi. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai.

dituduh sebagai kekuatan anti Manipol..I. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P. Setelah sekian lama aku jadi korektor. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer.K. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi.I. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Manifes atas desakan P. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan. kini telah . Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan.K.. tetapi jumlahnya tidak seberapa.M.214 tidak pernah gemuk. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972.

K. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. ayahnya “diperas” lagi. sebab jika dibantu pula. Sangat disayangkan. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. Anaknya sudah diberikan. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi.I. V. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. . Ayahnya jauh di rantau. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.215 berubah menjadi penyambung lidah P.

sebuah angka yang sangat mengerikan. Amin. sekalipun masih serba kurang. Jika kukenang sekarang. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. Nasib . Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. untung ia mau membantu. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. Coba kalau tidak. Pada saat-saat sulit itu. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya.216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. seperti telah kusebutkan di depan. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya.

(Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.I.I. sampai . Yogyakarta. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri.I. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U.I. M. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I.P. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana.K.P. I.K. Tanpa pintu itu. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari.I. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.I. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F. baik sekali.K.S.217 pegawai negeri kempas-kempis.K. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala. Jika kinerjaku dinilai baik. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah.P.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

dosen Sejarah Asia Tenggara. dan itu sangat kami utamakan.K. dan Rektor I. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia . bulan-bulan menjelang Iwan lahir.K.). Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954).” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F. Sutrisno Hadi dengan materai Rp.S. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya.228 terlambat. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme. (Bandingkan dengan materai senilai Rp.P.I. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). 1. sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu.I. Dochak Latief. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. khususnya Amerika Serikat.

tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. biarlah berlalu. Kapita Selekta Sejarah Afrika.. Kapita Selekta Sejarah Eropa. Teori Sejarah. sekalipun usia sudah 33 tahun. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian . aku adalah lulusan pertama. Bangga juga rasanya. dosen senior jurusan sejarah. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Drs. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara. Sasjardi. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana.229 Selatan. Bimbingan Tesis.M. Untuk teman-teman seangkatan.G. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Yang berlalu. yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Manipol/Pancasila. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar.

A. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah.N. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat. kemudian menjadi anggota D.S. Saudi Arabia.I. bukan? Dari kampus I. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. Jordan.N.P. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005.I. Thailand.K. India. (Partai Amanat Nasional).R. atau U.K. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis). tercatat Singapura. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. Jerman. Inggris.P. sebuah karier yang cukup panjang. Iraq. sementara aku tak punya. berasal dari Curup.I. tenaga pengajar. Qatar. Malaysia. . dan atau sebagai tamu undangan. Iran. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F. Libia. mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. Malta. Belgia. Pusat dari P. Chad. periode 2004-2009.-I.230 ini. Pakistan.Y.K.P.

231 Belanda. Australia. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Sekalipun masih pinjam baju segala. mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. (Suara Muhammadiyah). Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). Selama menyiapkan tesis. aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Bukan saja warnanya yang telah berubah. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan.M. Roma. sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. dan Hong Kong. Aku memang agak urakan. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. Kanada. Italia.

S.M.M. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing.W. Baru setelah belajar di Chicago. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif. dan politik.. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan.. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- . sejarah. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Sewaktu bekerja pada S. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P. seperti Inggris. Bermacam topik yang kutulis.I. Pusat ketika itu. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah.I.I. tetapi umumnya menyangkut masalah agama. Arab. aku pun pernah menjadi anggota P.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. Kartuku ditandatangani oleh alm. sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. dan Indonesia.M. untuk sejarah Asia Barat.W.K.

Sjafruddin Prawiranegara. Jusuf Wibisono. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang. Mohammad Sardjan. Kasman Singodimedjo. Hafni Abu Hanifah. Burhanuddin Harahap. Soekapti Mangunpuspito. Junan Nasution. Ny. Mohammad Natsir. aku junjung tinggi sampai sekarang. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . Muhammad Isa Anshary. dan Prawoto Mangkusasmito. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Prawoto Mangkusasmito. Abu Hanifah. Mohamad Roem. Amelz. Mohammad Natsir. Ny.233 tokoh yang aku banggakan itu. Zainal Abidin Ahmad. Adapun sikap moralnya. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya.

akan kujelaskan pada ruang yang lain. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. Sjafruddin.. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya.D. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama.U. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960.R. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Adapun kritikku kepada partai ini. sementara Natsir. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P..234 Indonesia: Natsir. Kegemaran . dan Burhanuddin.I.R. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah. Soekiman. C. Junan Nasution.

A. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. sekalipun batin sering goncang. dan aku turut memberi kata pengantar. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak . Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Ini amat disayangkan. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar. Salim di Cornell tahun 1953. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku.

saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago.236 datang dengan tiba-tiba. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu . Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia.

237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut.I. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya.U. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. Periode ini. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit. (Northern Illinois University). Ismangoen (alm. Menginjak dua tahun usia Iwan. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani.). Dr. Dengan segala pertimbangan keluarga. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. DeKalb. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Dr. . sekalipun tidak parah pada mulanya. kalaulah iman tidak kuat. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright.

Terasa banyak kemajuan. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. masih di bawah pengawasan Dr. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Seperti telah kusinggung di atas. .238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. Dr. dalam sejarah. kadang-kadang bergantian. di depan lapangan sepak bola. Ismangoen. Iwan jatuh sakit lagi. Dini hari. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus.A. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Tetapi Allah punya ketetapan lain. sehingga sulit melangkah sendiri. lupakan kuliah. Iwan meninggalkan dunia fana ini. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran.

50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Demi meringankan beban batin. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. usiaku sudah 38 tahun. Tempat ini di . kepala S. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). panggilannya sehari-hari.D. ke rumah pak Sukadijono. Pada saat Iwan wafat. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. Jogja). Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Muhammadiyah Wirobrajan. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu.D.

untuk sebutan Nurkhalifah. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. akan dijawab: Nun Epah. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. anak ini cukup ceria. isteriku. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. air mataku meluncur tak tertahankan). jauh dari stabil. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. wajahnya selalu terbayang. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. di Jogja-Padang-Jogja. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. “Anakku. Mengapa . adalah kelucuannya. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman.

nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. VI. aku pun tidak dapat menjawabnya. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. Pengalamanku di DeKalb. hilang dua. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. aku bertugas seperti biasa. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. bukan anak. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. Kalaulah boleh digantikan. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. memberi kuliah. Hilang satu. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. sekalipun semula . Memang serba dilematis.

Hardjo Djojodarmo (alm). suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974.20 kg. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. Tiap hari kami berulang ke P. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal.U. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. alhamdulillah tidak terbukti. kemudian baru boleh dibawa pulang. Alhamdulillah kami tidak diterima. Gelar doktorandus memang tidak laku jual.S.U. teman dosen jurusan sejarah. kecuali penyandangnya .K.K. demi perbaikan ekonomi. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. P.242 terasa sangat berat.

P. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. Setelah mengikuti tes. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Adapun aku saat itu. apakah tidak akan menggangu asap dapur. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan .P. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia.D. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang.I. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. Sampai awal abad ke-21. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu.P. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku.K. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar.243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. sementara Husain berhasil. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Bandung.

atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. Dr. dari lima mata kuliah. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof. Prof. Semarang diundang ke rumahnya untuk .I. Itulah prestasi akademikku di Bandung. dan Bahasa Inggris (B). Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. aku jelas tidak puas. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+).P. Dr. Prof. agak sedikit memalukan. Achmad Sanusi. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. termasuk milikku tentunya. Prof.P. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). Mereka adalah Prof. Tanpa nilai A. Dr. Kepemimpinan & Manajemen (B). Garnadi Prawirodirdjo. terimalah apa adanya. Dr. Sikun Pribadi.D. Dr. Sikun. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+).P.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. dan masih ada yang lain. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. padahal sewaktu belajar di DeKalb. dengan nilai tanpa A. Supardjo.K. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. nilaiku jauh lebih baik. Pada suatu malam aku dan teman dari I. Nasution. S.

A. tokoh spiritual Prof. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. Sikun. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. Isteri Prof.D. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu.P. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya.N. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. Ternyata seorang guru besar . Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. Prof.P. yang hubungannya denganku cukup baik. Sikun bersikap lebih banyak diam.245 ditemukan dengan Suryadi.P.D.

tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. jenderal. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja. Dalam perkara ini. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu.

pada departemen sejarah. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof.H. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan.D. tetapi mereka rela. Bahkan terlalu baik. (Ohio University..247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat.A. William H. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. sudah di atas 500. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. sekalipun masih di bawah 600. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph. Frederick. Tentu aku senang.A. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. di Universitas Chicago. Aku hanya mengambil . Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O. Univeritas Ohio) di Athens. Hasil tes lumayan.D. Ph. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977.

tanpa nilai A satu pun.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+. seorang seniman dari suku Sunda.untuk tesis. dan A.P. tahun ke-176 dari usia universitas. Cukup lumaian bukan.P. Setelah meraih gelar M..P.H. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. Dorongan semacam ini sangat penting. A-. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta. Alhamdulillah.atau I. A. kampus lamaku. dan dari sana meluncur ke Athens. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O. A-.67. tim penguji yang lain adalah . Frederick. Doddy Soejono. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. (Indeks Prestasi Kumulatif)3.D. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus.A. A.. Rata-rata A. Di sinilah peran penting dari Prof.K. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. Di Athens. Di samping Prof. B+. A-. B. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. bila dibandingkan dengan nilaiku di L.

Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah.A. Masyumi. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. bukan? B. semuanya akan menjadi beres. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. .A. (Muslim Students’ Association). yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara.S. Jadi tidak terlalu buruk. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. tokoh-tokoh Ikhwan. Apalagi aku aktif dalam M. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). belum reflektif dan kontemplatif. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis.S. Gerald Doxie. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. dan gagasan tentang negara Islam. Masih berkutat pada Maududi. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman.249 Prof.dan A. Iqbal. Maryam Jameela. Aku masih terpasung dalam status quo.

Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat.S. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia. sungguh bagus.. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun. Jadi secara moral. Iraq. M. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler.A. sangat berjasa.A. Di lingkaran M. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya.A.S. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. Kuwait. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia.250 yang masih serba belia. Aljazair. Libia. hati-hati. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. Di Athens. Mesir.A. Dari segi moral pergaulan. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab.A.S. Ilmu Barat dipelajari. M. dunia M. Itu belum lagi .S.S. dan saling menjaga.

seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Nasr bukanlah tipe itu. dan teknologi.251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. Pokoknya dengan negara Islam. tokoh syi’ah moderat dari Iran. dunia kita atur. Dengan membaca peta semacam ini. ilmu. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak . pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. ekonomi. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr.

tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami.S.252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat.A. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. Beberapa pemimpin M. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Muslim dan Barat. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. Sebagai penulis prolifik. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab. di samping . Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.

Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir.253 seorang aktivis. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. sementara dimensi intelektual dilupakan. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Dari sisi terobosan intelektual Islam. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.

New York. Qutb. otoritarian. dan ulama yang konservatif. Para pendukung Maududi. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. Setidak- . Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. yang mengeritik Barat in toto. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. Di Athens. dermawan. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. Sebuah paradoks berlaku di sini. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. Kasus Said Qutb sedikit berbeda.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas.

Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat.A. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. Sharough Akhavi.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. kebebasan seks. Esposito (ed. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Bahkan mendapatkan M. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. 1995. “Qutb. New York-Oxford: Oxford University Press. dan pro-Zionisme. Sayyid” dalam John L. hlm.). sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. 401). (Lih. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang .

dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. tidak menyentuh realitas. Dominasi politik begitu terasa. Maududi. jangan ekstrem anti sesuatu. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. Bukan saja bersentuhan. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan. adil. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Pada saat usia yang sudah . Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. dan Masyumi. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. sebab Barat-Timur itu milik Allah.256 dada saja. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Dalam usia 43 tahun. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri.

Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. aku belum pernah berdialog secara langsung. seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. dan teman dekatku. Dengan al-Faruqi. .S.A. Aku hormat kepada al-Ghazali. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago.257 demikian jauh.S. Nor Wan Daud. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Dr. Malaysia. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan.A. Wan Mhd. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. Teman-teman M. Dalam arti intelektual. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. salah seorang murid Rahman di Chicago. memang banyak yang idealis. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M.

Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I.A. kemudian hijrah ke Malaysia. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas. ruhnya menjadi sirna.S. Karena proyek alAttas berupa I.T. Proyek I.T. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.C.S.A. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam.T.T. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana.A.A. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu.C. .S. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam.S.C. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme. Amat disesali. Al-Attas kelahiran Bogor. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati. kehilangan kemandiriannya.C. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.

A. Bantuan sahabatku M.D. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph. Amien Rais. sebagaimana telah kukatakan terdahulu.D.I. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.S. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini.259 C. beasiswa itu kudapatkan. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. melalui perwakilannya di Jakarta. dalam pemikiran Islam. .

Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. disuruh cari nilai A lagi. seperti telah kujelaskan sebelumnya. Gila bukan? Otak sudah tua. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. sekalipun hakekatnya . Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan.

Lip tidak melarangku untuk terus belajar.261 tidak banyak berbeda. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya.” seperti telah kukutip terdahulu. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut. Yang menguntungkanku. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. Aku punya rasa takut dan cemas. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Jika upaya itu kandas. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. sekalipun dia . Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan.

Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. Biaya sendiri mana mungkin. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. tidak mungkin bergerak lebih jauh.262 menderita. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. sekalipun sekarang sudah lupa semua. aku lulus dengan angka P+. Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Selama semester pertama aku harus belajar keras. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. . tentu semua langkah akan terhenti seketika. artinya baik sekali. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan.

pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. Syafii hanya memikirkan diri sendiri. Aku tentu bangga dengan ini semua. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. padahal hasiahnyo alun jaleh. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. Apalagi jika . Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. Sekiranya tidak merantau.263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. padahal hasilnya belum jelas. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. lantaran desakan hidup misalnya. berkat rantau. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”).

Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan.264 menyandang gelar suku. Bukan main rasa syukurku. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. Dalam perjalanan . Di kalangan keluarga dekatku. menulis makalah. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Nilai A= keluarga datang. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. dan menempuh ujian akhir. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. kelakuan semacam ini juga terjadi. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Alhamdulillah. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak.

aku lupa. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Mungkin karena lelah. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara.265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . Tidak langsung ke Chicago. Biaya cukup. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. harus singgah di jalan. nama anak kami. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Perjalanan . Hafiz.

Setelah beberapa minggu di Chicago. Rintangan bahasa dapat diatasi. kadang-kadang menegangkan. demi membantu beasiswaku yang kecil.266 panjang itu kini telah jadi kenangan. Sampai di Chicago masalah lain datang pula.. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. cari informasi ke sana dan ke mari. Lip tidak betah menganggur. Pernah juga kuantar dengan mobil. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. Tokh dalam pergaulan harian. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Cuaca . Karena anak kecil. isteri Kristen). Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih). Sebelum masuk S. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus.D. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. aku hampir tiap hari ke kampus. dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. Hafiz sekolah.

Pinto ini . tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Beasiswaku ya sekitar itu. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. 60. Lip telah jadi “orang kaya” baru.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Kurs ketika itu $1=Rp. 419. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp.000 per bulan.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. gajiku sekitar Rp. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. Di musim panas.419. Dengan kerja delapan jam per hari.267 dingin sekali. bukan? Tahun 1979. demi menambah beasiswaku. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. 419. 868 per bulan. Sebelum pulang ke tanah air. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. Lip punya sifat tabah ini.000. 750. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. 838.000=Rp. dia berangkat dengan sepeda. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp.

Cukup fantastik hasilnya.P. D. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. sungguh jauh nian bedanya. Sebelum pulang ke tanah air. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. Sudah . sebagaimana yang baru saja kujelaskan. yaitu lima dolar per jam. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. Selama bekerja. begitu juga berpuasa. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. puasa dengan membayar fidyah. penghasilan isteriku cukup tinggi. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. Luas tanahnya 230 m2. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. melaksanakan salat menjadi cukup sulit.R. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu.

Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Bandingannya untuk Indonesia adalah H.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam.D. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Keinginan .A. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. Ilmu seorang alim ada di tangannya. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. Salim. termasuk acuan dalam berpolitik. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. Bedanya. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. di Inggris.

Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. ada Kristen. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Malaysia. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. Indonesia. Amerika Serikat. Ada Muslim (sunni dan syi’i). kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. dan dari negara lain. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa . kelasik dan modern. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan. Iraq. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Saudi. Kanada. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Ada dari Eropa. ada Yahudi. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. dan tak kunjung selesai.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman.

Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Fazlur Rahman (Pakistan). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Ada Shah Wali Allah (India). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Ahmad Khan (India). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Abou El Fadl (Kuwait). Bassam Tibi (Suria). Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). Abdulaziz Sachedina (Iran). Hossein Nasr (Iran). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Mungkin baginya. ibarat sumur tanpa dasar. Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Iqbal (India/Pakistan). Nurcholish Madjid (Indonesia). Mohammad Natsir (Indonesia). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). Muhammad Abduh (Mesir). Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Muhammad Arkoun (Aljazair). Hamka (Indonesia). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia).271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Khaled M. Muhammad Asad (Austria/Pakistan).

kritikal. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Pokoknya di Universitas Chicago. mendalam. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. dan masih ada yang lain. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. Rasyid Ridha. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. tasawuf.272 banyak dan bermutu. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. Hamka. dan komprehensif. filsafat Islam. Natsir. al-Faruqi. teori politik Islam. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. Kecuali Shah Wali Allah. AlAttas. tegas. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. hukum. modernisme Islam. please give me one fourth of your knowledge of Islam. obyektif. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang . Banyak persamaan di antara mereka.

Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. Selama kuliah di Chicago. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A.15 A. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan. tiga B. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. yang kuperoleh adalah 3. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. dan itu dari Rahman. Berdasarkan angka-angka itu. satu A-. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi.P. maka I. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. lima B+. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Selama belajar di Chicago. Dengan demikian nilai A menjadi 16.K.67.84.

Nurcholish Madjid dan Salim Said. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dalam menghadapi peristiwa penting ini. Terlalu banyak yang dihafalnya. Yang aku agak heran. pada saat aku sudah berada di tanah air. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. biasa disingkat U. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. . wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983.C. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal. padahal gelar M.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982.A.

Tanpa pembongkaran ini. . Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh.275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Di luar itu. merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Dengan kata lain. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral.

sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. tak tampak tetapi terasa. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. fikiran.” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Oleh sebab itu. pakailah filsafat garam. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda .276 Dari perspektif ini. dan dana. tampak tetapi tak terasa.

tetapi dikhianati dalam laku. bahkan di Asia Tenggara. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Setelah 60 tahun merdeka. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. Dengan cara ini. tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. Selama empat tahun lebih di Chicago. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik.

Dalam ungkapan lain. Ada mereka bangun semacam teori.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Semuanya bermasalah. Jika upaya serba radikal ini gagal. tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. Amat disayangkan. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori.

Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi. tesis. Pasti akan sia-sia. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Masalah toleransi inter dan antar agama. Sementara keyakinanku kepada Islam .P. setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P. Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Muhammadiyah (1998-2005). tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago.279 sunnah nabi secara autentik. dan bahkan kabarnya juga disertasi.

hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. malah semakin kokoh. dan berbeda dalam persaudaraan. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan. surat Yunus: 99. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256. imanku rasanya tidak semakin lemah. Dengan formula ini. dan masih ada beberapa ayat . Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir.280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi.

Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan.281 lagi. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam. Dalam ungkapan lain. itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. tetapi untuk semua. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. apakah mereka beriman atau pun tidak.

masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. dan berkualitas tinggi. sungguhsungguh. toleran. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. jika kita tidak siap menolong diri sendiri. sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan. Kita ambil contoh. dan cerdas.

rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. Dalam sistem politik syura. demi mempertahankan hidup seseorang. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar. hal itu tidak mungkin berlaku. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. memakan daging babi adalah haram mutlak. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. kecuali dalam konteks .283 anggotanya. tidak perlu diperpanjang lagi. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. Dalam kondisi normal. judi dengan demikian menjadi halal. Dalam sistem syura. Dalam sistem demokrasi Barat. sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas.

Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. Tidak saja pada masa kelasik. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. Banyak contoh sudah dalam sejarah. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. bermoral. Jika ini yang berlaku. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan.” Tanpa keadilan. Tentu tidak asal perempuan. gubernur. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan.284 yang sangat memerlukan. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. dan bahkan presiden. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok.

Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. laki-laki mau pun perempuan (lih. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja . Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini.285 terbuka lebar. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. sekiranya ia masih bersuami.

di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah.286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. tidak terkecuali di dunia Islam. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Dalam wacana modern. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. . Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan.

sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di .287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. Dalam masalah ini. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Dengan memadukan kedua ayat ini. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. praktik poligami itu sangat merebak. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. monogami atau poligami.

Sebelum berangkat ke Chicago. sementara bapaknya entah siapa. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Isteri satu. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. . kecuali bagi yang tidak mau. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya.288 atas. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang.

pada masa nabi Muhammad. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. 22 Maret 2005. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. Sepanjang pengetahuan saya. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. umat Islam tunggal. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. Ironisnya lagi. sehingga seks bebas. tidak berkeping-keping. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. . Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. sesuatu yang bila tidak dihentikan. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini.

Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Syai’i. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu.290 Munculnya kelompok Suni. sadar atau tidak sadar. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. padahal kemenangan . Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas.

Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. pembela Ali. yang anti terhadap keduanya. sekalipun isteri Ali. Dengan terbunuhnya Ali. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. isteri nabi. Siapa yang meragukan . yang dimenangkan pihak Ali. Fathimah. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. puteri nabi bersama Khadijah. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. dan Khawarij.291 sudah hampir di tangan. Syi’i. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. sesuatu yang sudah lama diincarnya. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. sepupu dan menantu nabi. dan Ali. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Ali. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. sedangkan dua yang lain selamat.

Dengan kata lain. Afghanistan. Palestina. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. dan di mana . Timbul pertanyaan. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. sesuatu yang tidak selalu mudah. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. Jika tidak demikian. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini.292 kualitas iman mereka ini semua. sekalipun bukan mustahil. Tak seorang pun. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.

syi’isme. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. al-Qur’an s. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. al-Furqan: 30). Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. seperti yang berlaku berabad-abad. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. dan isme apa lagi. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin. .” 15 15 (Lih. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan.293 lagi. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua.

ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. adil. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. Bagiku. Islam lahir pertama kali di Arabia. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). banyak yang bahlul tentang Indonesia. Tetapi setidak-tidaknya. Tentu sebagai manusia yang relatif. sekiranya semua pihak . apalagi saling bertentangan secara tajam.294 Kalau realitasnya memang demikian.

Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. betapa pun belum mendalam. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. Perkisaran Abad. hlm. VII. Amerika Serikat. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Adalah Richard Falk. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. 14 Juni 2005. dan punya ilmu yang memadai. Dua . dada lapang. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini.295 memakai pikiran jernih. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. Harapan.

Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. 1998. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. 8. dan Palestina belum juga merdeka. No. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. Dunia memang belum berakhir. Jan. Just Commentary. . hlm. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras.296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. Afghanistan berantakan. Iraq kacau balau. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya.” (Lih. 1).

Memang .297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. demi manusia. diawali terutama sejak renaisans. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. situasinya terbalik 180 derajat. Indonesia. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. keadaannya setali tiga uang. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. khususnya Amerika Serikat.

tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia.B. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. di mana aku sering juga terlibat.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. P. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. tetapi belum pernah efektif. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya.B. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat.

Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Tetapi. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Untuk berapa lama? . rasanya sudah sangat berat. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. Bumi kehilangan wasit sejati. Dalam ungkapan lain. Tetapi menurut apa yang kurenungkan.299 mengenal Tuhan. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Imajinasi kita dapat menjadi liar. tanpa sapaan Langit. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang.

Alangkah mulianya tujuan missi ini. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. termasuk aku di . Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. “Maka. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. lupa hakekat. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan.300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan.

Yogyakarta (sekarang F. tidak lagi menantang.S. Batin meronta keras. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan.I. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu.S.. F. I.S.P. 2006). syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. Universitas Negeri Yogyakarta). Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.301 dalamnya. B. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan. Jika pikiran itu dinilai sudah usang.I. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.K. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan.P.I. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.I. kemudian berubah menjadi F. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan.S..P.I.P.P. namun realitas tidak beranjak juga. Bila itu terjadi. .

302 Fakultas Ilmu Sosial. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad.P..P. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K. Baru akhir tahun 1985.R.I. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.P.D.G.K. ke universitas.D. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P. itu adalah bak sarang merpati. teman lama sejak dari DeKalb. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu.. mantan rektor U.T. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. Semua pegawai bernasib sama.R. Nitibuana yang berpusat di Kudus. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. Aku yang sudah beroleh Ph. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. Untuk pembayaran uang muka rumah K. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. Solusinya adalah aku harus . tamatan Amerika. Ya.P. Miskin bukan.R.M.

mantan rektor I..P.K. agama. Barnadib. St. selain mengemban tugas pokokku di I.I. adalah tempatku memberikan kuliah. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat. Ada sejarah Islam. U.I. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar.. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah.I. Cara ini harus ditempuh. Maka aku dan Prof. pemikiran ideologi. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta. Mata kuliah yang kupegang bervariasi. dan U. Vembriarto.303 memberi kuliah di perguruan lain.I.N. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. dan berhasil.I.N.K.S. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama .K. Agak aneh bin ajaib.P.A.N. membuka program pasca sarjana.I..P. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA. Tahun 1984 I. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun. dan bahkan Pancasila. negeri atau swasta. Gaji tidak besar. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua.I. kala itu adalah mendiang Drs. Dua perguruan tinggi I. sama-sama berangkat ke universitas yang sama. Rektor I.A.

Dijawab: “Itu antara lain. pickup tua ini diantar ke Nogotirto.M. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia.3. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku.P.304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. aku tidak mau tinggal diam. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan. Terjadi dialog. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun.” . Atas kebaikan awak bus. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. sekalipun S.I. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir.

Rais. A.P. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P. Muhammadiyah ini. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah.K. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. paham kelakuanku ini.I. semua keangkuhan itu menjadi berguguran. Muhammadiyah yang dipimpinnya.P. Jl. Jogjakarta.P.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres.3 saya ditandatangani secepatnya. yang lama.P. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja. “Mohon D.P.I. . Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru.A.K. K. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P.H. Aku adalah di antara sedikit dosen I. Dahlan 99. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Semua orang di I.P.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya.

Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. yang sekaligus pimpinan majalah. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. Basuni.306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini. Muhammadiyah pimpinan H. Seakan-akan majelis ini adalah P. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P.R. penerbitan pun digalakkan. Dr. yaitu 12. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah.A.A. B. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan.P. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. dalam P. Yang lain mengikuti. Fachruddin. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua.P. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta. Posisi 13 diisi oleh A. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. Di samping Rais. A.P. Majelis pimpinan M. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini.A. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. tidak saja secara lisan.

aku sudah masuk ke dalam jajaran P. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. M. sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. Amien Rais (993). Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. posisi bendahara diberikan kepadaku.P. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. yang lain.307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku. . Ismail Suny (890). Sekalipun berada pada angka 12. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P..P.M.P. Teman-teman P. 1990-1992. (Universiti Kebangsaan Malaysia).P. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. Muhammadiyah. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997).P.K. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol.

308 Sutrisno Muhdam (830). belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. Fahmy Chatib (701). . budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Abdurrozak Fachruddin (516). Ali ‘Imran: 159. Sama sekali tidak sehat. Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. Bagiku. Djarnawi Hadikusumo (676). al-Syura: 38). Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. S. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. sebab jika ada perbedaan. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Aku pada waktu itu masih partisan. Rosjad Sholeh (748). Prodjokusumo (638). selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. Ramli Thaha (671).P. s. Rusjdi Hamka (774). Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. itu. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. A. s. seperti tersebut di atas. Dalam daftar di atas. Ahmad Syafii Maarif (557). nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. Ahmad Watik Pratiknya (655).

Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama.P. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini.. Semoga Allah memaafkan. kecuali A.M. Amien Rais.P. Yang lain di samping sebagai anggota P. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P. ikut-ikut teman. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Imaduddin Abdul Rahim. sekalipun dengan persetujuan P. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara.K. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas.P. tujuan utama tercapai juga. Dua tahun aku bertugas di U..K. Rapat anggota P. Wakil Ketua: Ismail Suny. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan. juga merangkap ketua bidang.M. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia . Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. tanpa berfikir panjang dan dalam. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia.P. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. Ir. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. Wakil Ketua: M. Bendahara: S. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir.

disesuaikan dengan kepangkatanku di .K. dalam kajian Islam.K. Karena I. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara.P. Statusku tetap sebagai dosen I.P. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. Pasti berliku-liku. maka gaji yang diterima di U. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. dengan tetap menerima gaji bulanan.K.I.M. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun.D. terlalu berbaik hati.310 dengan kualifikasi Ph. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. Yogya dan proses pelamaran untuk U.I. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara.I. Dengan kata lain. Semua proses ini relatif berjalan lancar.. Ini bagiku menguntungkan. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I.P. belum guru besar.K. tetapi tanpa tunjangan fungsional. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.K. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi.P.. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya.K.M.I.

Tidak masalah bagiku.K. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana. anak kami satusatunya. Lip. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. Semula kami berangkat tiga beranak: aku. Kecuali Ahad. Indonesia. Cukup menguras fisik dan mental.311 tanah air.A.M.A. Islam dan Perubahan Sosial di Asia .P.M.M. Sore kembali ke Sungai Jelok. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. 8 Jogja sampai rampung. Indonesia di Kuala Lumpur. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan.M. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia.K. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Setelah setahun belajar di S. Hafiz kembali ke Jogja. karena berbagai pertimbangan. dan Hafiz. sebab pendapatan di U.A. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. berakhir.. Di U.M. Selama belajar di S.I.K.K.M.

K. Pada tahun 1992. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. harus berada di kampus sehari penuh.M.K. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U.M. Dr. Kebetulan kami .M. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. seorang dosen di U. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. Ini semua kujalani selama dua tahun.312 Tenggara. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. berakhir.. Lip juga akan turut.M. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah.K. Kadang-kadang sewaktu pulang. Berbeda dengan Indonesia.K. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang.

berkat telepon sahabatku Dr. dan Dr. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau . Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U. Agar aku memperkuat barisan P. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. Di lingkungan Muhammadiyah.P. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa.K. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan.K. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. tidak hanya menjadi bendahara tituler. Kajang. Faisal Othman. Watik yang bertujuan mulia itu. Aku sendiri setelah aktif di P. Setelah ditimbang masak-masak.313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. ada ketentuan moral yang harus ditaati. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng.. Muhammadiyah secara langsung. Abdullah Zin. Aku terpilih. padahal pihak U.M.K. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Profesor Dr.M.M. Tidak ringan memang. baru tahu betul apa makna amanah itu.P. dekan Fakulti Pengkajian Islam.

Semuanya disiapkan. terutama oleh ibunya. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami.P. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Rupanya.M. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. apalagi pihak U.314 meneruskan kontrak. adalah bagian dari kerja masa kecilku. bukan? Tetapi sisi . Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. maka imbauan Watik yang menang. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Hafiz terbiasa manja. Semuanya berantakan. Hafiz tinggal menggunakan. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Mencuci pakaian. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani. Enaknya punya ibu. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. masya Allah. Aku cukup terlatih. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto.K. membersihkan kamar tidur. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Alhamdulillah.

Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. Benar. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. Inilah tempat beramal yang tepat . Sederhana. dan entah jadi siapa. dan tidak pernah lupa beribadah. rasanya aku sudah bahagia.315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. aku mulai sibuk. Terhadap ayahnya. terserah sajalah. tidak kikir. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. kecuali dia hidup secara benar. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. entah di mana. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya.

N. apakah itu jadi pejabat eksekutif. tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. atau posisi di B. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri.M. Dosen tamu di Singapura. Kalau dalam partai politik. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. legislatif.W.316 bagiku. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. waktu itu sebagai Ketua P. Bahasa Inggris lancar. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. Jika tidak.M. dan sederetan kiprah yang lain.U. Sangat giat mendatangi . Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. apakah aku ikhlas atau tidak. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. Aku sendiri tidak tahu. (Badan Usaha Milik Negara). pahala jauh itu pun tidak akan diraih. Biarlah Allah yang menilai. diakui atau tidak. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat.

tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Bagiku kejadian ini luar biasa.P.317 daerah. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. Yunahar Ilyas. tetapi untuk Indonesia. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. Apakah . Dijawab. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. memang di luar dugaan. Kepada Dr. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku.M. Dia terpental ke nomor 43. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. Tidak mudah kujawab. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. sebagaimana semua kita perlu berkaca. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. kemudian Yunahar malah balik bertanya. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. salah seorang Ketua P.W. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. tidak saja untuk Sumatera Barat. Sumbar tidak asing baginya.

Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah.318 karena sikap-sikap politiknya. sulit untuk mengatakannya. Tetapi betapa pun juga.” (Belum terkilat sudah terbayang). Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. khususnya untuk Sumatera Barat. bukan tanpa alasan. yang berlalu biarlah berlalu. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Ke depan orang harus lebih hati- . Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Tetapi sudahlah. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. Hubungannya denganku cukup akrab. aku tidak bisa mengatakannya. Shofwan tidak terpilih. Kesimpulan cepat diambil. tetapi belum tentu benar.

Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. kini pergi pula Kanada. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan.A. tidak terasa.319 hati dalam memimpin Muhammadiyah. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini.P. Kanada. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya.A.M.P. Balum begitu lama pulang dari Malaysia. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. Sebenarnya .P. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. Belum sampai setahun aku aktif di P. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu.M. Aku berangkat lagi bersama Lip. Muhammadiyah. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. ini sampai tahun 2005.

Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. suasana telah berubah. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Mesir. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. dan lain-lain. dan Indonesia. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. Jepang. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. salafiyah. syi’ah. sekalipun rezim telah berganti. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa . sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab.320 gagasan ini cukup mulia. biasanya perdebatan menjadi ramai. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. termasuk Islam di Indonesia. Kanada. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik.

surat al-Anbiya: 107). Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. disadari atau tidak disadari. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Dengan kata lain. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. sekalipun masih saja terasa kurang. dan cerdas. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. autentik. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. Pertama. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Kelemahanku terletak pada kenyataan . egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. Kedua. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit.

Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. sistematis.322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Aku ternyata juga manusia lemah. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. aku wajib . Tetapi di atas itu semua. Entahlah. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. aku pun tidak bisa mengatakannya. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. dan Qur’ani.

aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Pelopor pencerahan intelektual . Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. liberal. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. atau sebaliknya. Sebagai anak kampung yang tersuruk. C. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. tidak jauh dari bandara Tabing. sepenuhnya di tangan Allah. M. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Penilaian terakhir. Padang.

Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. musibah kedua terjadi lagi. dua puteri dan satu putera. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing.324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. Ketua P. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah.P. Muhammadiyah berduka dalam. tetapi itulah kenyataan . musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. dari suku Caniago lagi.P. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. Terima kasih ongaku. sukuku. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. tidak ada kepastian. Tetapi bulan Juni 1994. Muhammadiyah. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. menulis. dan mengurus Muhammadiyah. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus.

Paling-paling menjadi . P. (Perang Dunia) II. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Mohammad Amien Rais.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah.P. alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. Kampung Kemasan (Solo).D. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. Muhammadiyah era Azhar.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. “tanah airku. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku.P. intelektual. sedangkan aku adalah generasi kedua.

326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. Tidak ada alasan sama sekali. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. anggota “mafia Chicago. di samping ada perbedaan di sani-sini. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. dan untuk apa pula. berbagai masalah kami bicarakan. Keduanya tidak mungkin mengenalku. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). pasca . Banyak persamaan.P. Keduanya adalah sababatku. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. di masaku dan salah seorang ketua P. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia.P. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. Benarlah Bung Haedar Nashir. Adapun aku dan M. sekretaris P.

Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. akan berlaku dalam gerakan apa pun. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Tanpa kritik diri. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam . Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. terobosan M. Saya rasa M. jika bukan pembusukan. M. Jika aku mengeritik Muhammadiyah.327 Muktamar Malang bahwa M. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Amien Rais. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. proses kemunduran. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. Di bawah nahkoda M. tak menentu. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik.

Cukup panas suasana tanwir waktu itu. M. suasana panas tidak membawa perpecahan. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. setelah itu mendingin kembali. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. . Paling-paling saling menggerutu. M. Ini berbeda denganku. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. tentu bukan karena substansinya. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan.328 itu. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah.

sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan . tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin.329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. M. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. Amien Rais itu. Bukan saja meni’mati. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali.

dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai.330 ke luar. Amien Rais. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. Amien Rais itu. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Nama M. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Amien . bukanlah pertanda buruk. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. merasa kecut dengan gagasan M. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Koran-koran terus saja mengulasnya. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Kadang-kadang bertele-tele juga. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. tetapi mereka segan untuk berterus terang. Namun cinta mereka terhadap M. Kembali ke Surabaya.P. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja.

tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M.J. M. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Amien Rais dicintai. M. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. Habibie sebagai wakil presiden masa . Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Di sinilah dilema itu terletak. Untungnya M. Bagi M. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. Pak Azhar baru saja wafat. B.331 Rais tidak pernah menyusut. Amien Rais dalam mengeritik rezim. tetapi gagasannya menakutkan. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini.

C. pihak istana berusaha keras agar M. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya.M. Amien Rais. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Tetapi M. Keduanya juga sebagai tokoh I. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M.I. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia.I. Muhammadiyah. tetapi aku mendukungnya. ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995).C. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.332 itu punya hubungan yang baik dengan M. Amien Rais. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M.P. .M. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya.

Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. Dalam rapat-rapat . karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Amien Rais. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Warga yang penakut pun akan memilih M. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P. tidak berlebihan. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik.P. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya.333 memang sudah pada tempatnya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada gunanya. Amien Rais. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali. Ketegangan hubungan M. Amien Rais.

334 P. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. dampaknya akan . Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan.P. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. seperti baru saja disinggung di atas. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Amien Rais. sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk.

Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi.N. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah. di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Rais. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. sekalipun tidak bisa dihindari.A. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. khususnya mereka yang sudah agak berumur.P. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar .A. Muhammadiyah.

Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih . sekalipun tidak diakui terus terang.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat.

Ini fakta keras dalam sejarah.M. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Dalam berpolitik. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Ketua P. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Jika dibuang. Menurut tuturan R. keras atau lunak. lambat atau cepat. Khatib Kayo. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Gesekan di lapangan pasti terjadi. Kalau pun ada. pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. beragama atau ateis.W. dan akan tersingkir dari persyarikatan.B. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: . Politik di mana pun di muka bumi ini. tidak peduli siapa pelakunya. Tergantung kemudian. Jika itu yang digunakan. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. jumlahnya tentu sedikit sekali.

338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. seperti kukatakan. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu.P. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P. Amien . bukan masalah besar. Tetapi gesekan politik antara M. Muktamar Aceh semakin mendekat. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Persiapan secara finansial. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar. demi menjaga independensi Muhammadiyah.” Dengan bergulirnya waktu. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi.

Kami anggota P. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau. kemudian diikuti oleh yang lain.339 Rais. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. tetapi juga tidak boleh sombong. M. Amien Rais. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Amien Rais selalu komatkamit. M.P. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu.P. Komandan pertemuan dari . mengaku Muhammadiyah lagi. Aku melihat bibir M. entah apa yang dibacanya. yang lain berupaya bersikap biasa saja. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M.

ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. Dengan iklim semacam ini. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Kendala politik telah teratasi. Amien Rais. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Maka sekarang bereslah segalanya. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. M. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Bukan karena keleledoran Soeharto. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah. bukan aku. M. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P.P. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar.340 pihak Muhammadiyah adalah M. Ilmu . Seperti yang diharapkan dari awal. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan.

maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P. M. muktamar. Amien Rais dengan Soeharto. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. itu. aman-aman saja. sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. adalah persoalan adaptasi belaka. Ada sementara kader . Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Amien Rais. Amien Rais memang terasa sekali.P. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. baik dalam tanwir.

Din Sjamsuddin. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. Hajriyanto Y. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. a. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. Thohari. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Inilah . Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Keduanya bahkan saling memuji. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono.l. di medan muktamar.342 Muhammadiyah. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. tak seorang pun yang meragukan.S. Lukman Harun. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif.P. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman. demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Muljadi sering dipuji Bung Karno.

Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa. tetapi untuk membendung M. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993.M. dicoba diusung juga. Djazman alKindi. terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. persahabatanku dengan pendiri I.343 politik. gesekan ala Muhammadiyah. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. M. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Aku yang mengusung M. Amien Rais.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Lukman. ini tetap utuh. sampai . tak berubah. Untuk itu aku mohon dimaafkan. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah.M. Tetapi bukan terhadap semua orang. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Dalam gesek menggesek ini. Ya. Amien Rais untuk menjadi nahkoda.

Betul.344 dia wafat. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. (ini masih nalar). Dari Parmusi ke P. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. Lukman. katanya. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”. Amien Rais dalam Muhammadiyah. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung.P. Namun di atas itu semua. Amien Rais. Lukman dan M. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk.P. sang politikus. Berbagai pandangannya tentang M. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. kendaraan politik ORBA. tetapi itulah caraku memandang politik. Amien Rais sering disampaikan kepadaku. bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M.

Di luar teks pidato. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga . Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. kirakira a. tetapi intinya begitu. kalau warga menginginkan. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Ada bibit yang menjadi presiden.l.345 puncak. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Itu bukan watak dan tabiatku. presiden berucap. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Muhammadiyah dipuji. Biasa. Semua orang Muhammadiyah paham ini. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia.” Mungkin tidak persis demikian.

Menarik dan menegangkan.346 Muhammadiyah. yang berada pada urutan kedua.P. tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian. tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. M. . Inilah dunia. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. Aku sendiri masuk nomor tiga. akhirnya masuk pula dalam pencalonan. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung. dan kemudian terpilih menjadi anggota P. Bukan karena latah tentunya. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990.

Muhaimin (866). Amien Rais (1245). serumah berlain rasa. Jika pada Muktamar Jogja. Rusjdi Hamka (624). Asjmuni Abdurrahman (802). Ramli Thaha (852). Yahya A. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup. Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang . A. Bagiku. Anhar Burhanuddin (628). betapa pun terdidiknya mereka. A.P. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. aku berada pada nomor bontot kedua. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan.” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P.347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Lukman Harun (660). M. M. komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Watik Pratiknya (886). Ahmad Syafii Maarif (1047). aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Rosjad Sholeh (874). Sukriyanto (589). di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. Sutrisno Muhdam (1048). Muchlas Abror (730).

Amien Rais.M. Rosjad Sholeh. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. sebab pengamanan sangat ketat. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya. Sukriyanto A. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut . muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. aku telah melompati sembilan nama.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Memang selama muktamar berlangsung.A.N. Dari sisi ini. Bendahara: M. Sekretaris: M. Dari 13 nama itu. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. hampir tidak ada gangguan yang berarti. masih saling menyalak. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti.I. dan T. Bendahara: Anhar Burhanuddin. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam. Peluru dari G. Tetapi pada tahun 1995 itu. Sekretaris: A.R. Muchlas Abror. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif.

Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Di atas itu semua. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. Terserah sajalah segala penilaian itu.349 dalam kemasan berani. Amat disesali. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. Banda Aceh. bukan partai. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. T. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. tetapi diakui bahwa Jakarta .

aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. bumimu mengandung kekayaan minyak. laki-laki dan perempuan. engkau adalah bumi pahlawan. beberapa hari pasca tsunami. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. dibuka oleh bibit. dan mungkin yang lain. tembaga. kayu. sebagai wujud dari harga diri . sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. Aceh. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. emas. dari sisi sejarah. Sebagai pencinta Aceh. Sampai hari ini.

Tapi tidak bertahan lama. Aceh. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. Tanahmu lepas dari Belanda. Aceh. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. juga dari sisi sejarah. engkau kembali melawan. Belanda sangat takut kepadamu. untuk kemudian berdamai. Sejak itulah engkau resmi dijajah. Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. di masa revolusi kemerdekaan. karena engkau pantang dijajah. Perang Aceh berakhir pada 1912. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. tapi hanya 30 tahun. Aceh. Engkau bela republik dengan darah. pada tahun 1950-an. dengan meninggalkan korban dan dendam. Sebagian besar rakyatmu .

sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. Aceh. Indonesia meratap tanpa air mata. karena engkau turut mendirikannya. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. Sekitar 200.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. 1 Jan. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. Tanpa dinyana. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. perang saudara belum usai.352 ingin tetap bersama Indonesia. Dunia berduka dan terluka. berserakan di mana-mana. tanpa ada tanda-tanda. alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. karena sudah kering. akibat kemurkaan alam. Akibat gesekan lempeng bumi. 4 . Allahu ‘alam! Jogja. sekalipun telah dianiaya.

2005. dan alhamdulillah berhasil. 131132. biarlah berlalu. Yang berlalu. Tanah Pahlawan.353 Januari 2005. Tanah Rencong.A. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. darah sudah tak tertumpah lagi. Anton Syafriuni. Allah maha tahu segala akibat perkara. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. Itulah Aceh. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. dengan penyunting Hery Sucipto. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah.M. Mari kita saling memaafkan. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. halaman 12. jangan diulang lagi. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. Jakarta: Grafindo. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. Jakarta harus lebih arif . hlm. dan Husni Amriyanto Putra. Selamat Bumi Rencong. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. selamat Indonesia.

M. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Maka adalah sebuah rahmat Allah. Peluru masih mendesing di manamana. damai. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. dan berhasil..A. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. tidak terkecuali di Banda Aceh. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai . seperti tersebut di atas.

badan. Di bawah komandan Rais P. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali.. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun. Segera disusun pengurus lengkap P. disusul oleh majelis. karena masing-masing pihak.M. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta. Untuk ketuanya aku . Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. Jakarta dan G.A.P.. Posisi M. Kembali ke Muhammadiyah. menuntut keadilan.A.P. sementara G.N.A. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. semula samasama keras kepala.M. Nurcholish Madjid. Ali Yafie. Surjadi Sudirdja. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya.355 tahun 2005. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. dan lembaga.

Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya.A. P. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama.356 usulkan Dr. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Di bawah kepemimpinan Abdullah. Majelis Tarjih sekalipun diprotes. Sunankalijaga. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah.N. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang.I. Usul ini disetujui rapat pimpinan. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini.P. Dikhawatirkan berbagai . di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. M.

Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. juga di bumi Muslim. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. Sebab bila hal itu terjadi. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar . Dari sudut pandangan ini mungkin benar. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir.357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga.

sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman.358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. dan siapa saja. Bahkan dia bergaul kaum komunis. Ahmad Dahlan. Kristen. Pendiri Muhammadiyah. atau semakin beriman. liberal. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. tetapi agama tidak . Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual.

di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Sama sekali tidak. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. berkat . Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. D. dan Aku Dengan sub judul ini. Habibie. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. Keruntuhan Rezim. Muhammadiyah. Semua teman tahu. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik.

Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. Apa yang digulirkan M. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu.360 M. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Dengan keterangan ini. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan . dan tetap anak kampung. Amien Rais. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Aku adalah anak kampung. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Dengan keterangan ini. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya. Aku tak peduli lagi. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand.

M. itu. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya.M. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I.F. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- . Akan ke luar.M. itu. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah.F.M. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I..F. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I. Tidak punya dasar. susahnya bukan main. I. Resep terus diberikan. Presiden Soeharto gelagapan. Dalam keadaan bingung. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini.F. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah. tawaran itu diterima.F. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.. tetapi tak satu pun yang mujarab. Dengan ekonomi yang compangcamping.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh.M.F.M. pemerintah harus meminjam dari I.

Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. suatu penegasan yang berani sekali. 122). hlm.F. 15). Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. Subang Jaya: Pelanduk Publications. Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan. Mahathir Mohamad. ibid. hlm.M. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.M. . campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. 2202. Globalisation and the New Realities. (Lih. (Lih.. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. untuk dibantai. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa).F. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu.

Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. Dua tokoh yang semula begitu akrab. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. M. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu.363 Pada tanggal 21 Mei 1998. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan.J. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. . karena faktor M. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Amien Rais bukan main sibuknya.

hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. Amien Rais di P. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik.364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik . sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. sikapnya semakin dingin terhadap M.P. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Saya rasa M. kecuali hubungan baik. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. peran M. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Hubunganku dengan M. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Amien Rais.

Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. termasuk dengan M.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya.R.P. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. hlm.7). Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. 15. Habibie berhasil. terutama dengan Eropa. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: . Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. (Kabinet Reformasi Pembangunan). Amien Rais.365 dengan banyak orang. 6.

Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya. Habibie tampaknya tidak . Ini tantangan terberat bagi Habibie. yang ketiga. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado.J.366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit.I.

Bahwa Habibie seorang jujur. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa. Seharusnya menurut saran saya. tak seorang pun yang meragukan. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. Nasution.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. Ini dilema terbesar baginya.H. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. Di sinilah terletak . posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. lugu. Menurut A.

bijak.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya. dan efektif. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. punya watak negarawan. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. .

yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. Anggota P. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. tetapi diabaikan saja. Untuk menentukan sikap P.P. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan.P. pada bulan Mei itu .P. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah.369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. adakalanya dengan perasaan khawatir. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. Sampai jatuhnya Orba. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku. Lukman masih bagian dari Golkar. kendaraan politik Soeharto selama ini. diadakanlah rapat pleno P. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot.

sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Aku dan Dr. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. Kalau mandi. Dengan kata lain. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. Setelah berdiskusi agak lama. sebagian besar anggota P. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat. Pada waktu itu aku benar- . saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik.P. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. jangan kepalang basah. Watik berpendapat lain. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini.

Dalam rapat di atas P. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada . itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. Jelas di sini aku juga punya naluri politik.M. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. seperti A. Fatwa. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. tetapi tidak sekuat Amien Rais. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P.P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi.W. Ramai sekali yang hadir. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P.P.P. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. itu. karena memang di situ habitat yang tepat baginya.M.

. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. Pucuk dicinta ulam tiba. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. mantan tahanan politik ORBA. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. rumah tangga asli mereka. Entah dipengaruhi siapa. bukan yang lain. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. untuk maksud baik atau sebaliknya.372 peserta. Politik bukan duniaku. Yang lain juga mengikuti. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. Fatwa. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Biasa. jawabanku lugu. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Rais sendiri semula agak ragu-ragu.

(Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil.W.P. maka berdirilah P. Ketua P. Muhammadiyah? P. tetapi kuhargai seperti biasa. Muhammadiyah Jakarta. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya.P. tidak boleh terlambat. kecuali sahabatku K. tanpa merasa tersinggung sedikit pun. bertempat di kantor P. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. Muhammadiyah selain memimpin partai. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Di ujung upaya.N.H. Djamaluddin Amin. Ini luar biasa memang.373 Antara Juni-Agustus 1998. termasuk aku. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut .M. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P. Rais dan pendukungnya.P.P. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu.P.A. bertindak cepat. Sampai hari ini. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.

Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya.N. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. aku semula merasa agak gamang juga.374 bermain di arena politik praktis. Namanya disebut di mana-mana. Ini tidak mengherankan. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. aku akan tenggelam. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P.P. Inilah sosok yang aku gantikan. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Alasannya sederhana saja.A. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Nasehat ini mungkin didengarnya.. tingkat wilayah. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah.

Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. Tetapi harus kuakui.G. Hindu. budayawan. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. pejabat.I.. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama. Bukan aku. K.Tanyalah tokoh-tokoh N. militer.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang. P. Budha. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai . bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang.. Sutan Mansur. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku.W. atau siapa saja. warga Muhammadiyah. biarlah orang banyak yang menjawab. orang Minang kedua sesudah A. politisi. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. cendekiawan.I. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku.U. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu.. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan.R. dunia kampus. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya.

A. Habibie. 1998. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.P. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu.P. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D.A. tanyakan langsung saja nanti. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais.R. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D. Des. Kata orang. Orang kantor Akbar Tanjung. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. bukanlah urusan D.P.A.A.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung. dan Megawati. yang lain. Abdurrahman Wahid. dilikuidasi karena M.J.P. menganggapnya tidak diperlukan . (Dewan Pertimbangan Agung).” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini. Kemudian pada akhir tahun 2003.. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.P. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. D. termasuk Sutrisno Muhdam. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden.A. juga dari Muhammadiyah..P. Bagiku hal ini baik saja. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku.

Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D. Baramuli.. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D.A. baik A. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut. D. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. pada tahun itu juga.A. Itulah sebabnya barangkali .377 lagi. Para mantan menteri. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. politisi.J. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. Dari pengamatanku. kecuali oleh B. aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. mantan anggota parlemen. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan. mantan jenderal. dan mantan-matan petinggi lainnya. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. mantan sekretaris jenderal.P.P. maupun Achmad Tirtosoediro.A.P.A.

kiyai. secara berangsur telah menjadi teman baikku.A. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. Melalui Gafur. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. tokoh masyarakat. Ini juga meringankan P. Sewaktu aku masuk D. baik sipil maupun militer. agak jauh di atasku. marsekal.P. Semua anggota D.P. tanpa kecuali. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. .A. mereka terlalu baik denganku. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota.. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. politisi.378 ada orang yang membaca D. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. sebagai Dewan Pensiunan Agung.P. umurku sudah menginjak 63 tahun.A. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat.P. Apakah itu jenderal. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. Bagiku apa pun kata orang.

banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A.A. dan sedikit menggelikan. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali.P. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D.R. Begitu menyatunya hubungan itu.R. Satu ketika aku bertanya: “Pak A. segar. Muhdam adalah menantu A. mertua Muhdam.R. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. “Tidak.P. dekat istana presiden. cepat. Itulah gaya Pak A.A. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. Muhammadiyah. ketua P.R. aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D.P. Sutrisno Muhdam. Aku tidak tahu. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta. untuk D. yang terlama. karena wafat setelah sakit beberapa lama.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. Fachruddin. Semoga Allah menerima semua . Wakil Ketua P.A.. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. hanya satu-satu. penuh kharisma. di samping A.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta.P. Rasa humornya tinggi.P.

Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D.P. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. Seluruh dunia memujinya. pemerintah tampaknya cukup . Karena upaya beraninya ini. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. cepat selamat.R. Hanya soal waktu. Kepemimpinan Pak A. biarlah publik yang menilai.A. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka. biar lambat asal selamat. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. Tetapi ada catatan lanjutannya.380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. dan semua kita pasti akan menyusul pula..

Inilah yang kurang diapresiasi para elit. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. Dalam menghadapi Habibie.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. Keadaan sukar sekali dikontrol. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. masyarakat menjadi liar. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Habibie memang telah melangkah terlalu . Dalam situasi serba dilematis ini. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. semua orang tahu. termasuk Amien Rais. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh.

. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia. Dengan kata lain. Hanya sekitar 22. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. langkah pemerintah cukup antisipatif. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. Setelah referendum diadakan. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia.

F. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N.M. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya.U. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . Kritik terhadapnya semakin merebak. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. dan Bank Dunia. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini. bahkan sering dipuji oleh I.

sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya.R. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman.P.R.P.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Sidang M. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh.P.R. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. Tidak selang lama setelah sidang. Ringkas kaji. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M. Habibie sangat tahu diri dan . Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie. dan ternyata memang itulah yang terjadi. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi.

R. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat.P. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. tidak peduli siang atau malam. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. Maklumlah. termasuk Amien Rais. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk.. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang. sekalipun telah membidik dirinya sendiri.P. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. politik adalah . persahabatan kami tidaklah rusak. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan.385 menghormati keputusan M.

U. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik. di Indiana. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22.P. dan Golkar. Fuad Bawazir. jawabannya adalah: “Jujur saja.K.D.) merasa sejajar dengan P.R. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.I.P.S. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ)..I. Disiplin ilmunya pun. P. mengalahkan Matori Abdul .P.P..A.A. maka mereka (P.S. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. P.P.D.P. dan P.386 habitat yang sebenarnya baginya.K. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik.D. Intinya dari tokoh-tokoh P.P.I. dalam Sidang M.P. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P.N.N. dan Golkar. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada. P.49/51. Dengan membentuk Poros Tengah... Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr.R.P.

sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Sejak N.U. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu. (Partai Kebangkitan Bangsa). 1984 di Situbondo. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. Inilah dilema N. termasuk Wahid. yang tidak mudah diatasi. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada .U. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis.U. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai.K. Sekalipun N. sebenarnya punya naluri politik yang tinggi.B.387 Djalil dari P.U.

Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Tetapi siapa tahu pula. tetapi tetap ditolaknya. Dawam Rahadjo. Hamzah Haz.R. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju.U.U. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M.P. jika Rais yang maju. setelah babak belur. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. banyak yang lain. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Selain itu.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. Adi Sasono. Ibarat jago silat. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. di akar rumput bisa gaduh.” Situasinya memang rumit sekali. ini aku dengar dari Rais sendiri. Marzuki Darusman. Akbar Tandjung. Seperti . Yusril Ihza Mahendra. di antaranya Jenderal Wiranto. baru teringat silatnya.-Muhammadiyah. Mereka yang akan mengatasi. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari.

Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. atau Gus Dur yang akan menemuinya. diobat oleh para kiyai. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P. Jadi memang serba dilematis. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. dan massa Muhammadiyah. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati.U.P. Dinihari itu A. Tetapi itulah A. Sekitar . Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu. Rahman Wahid ini. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas.

R. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. Aneh bin ajaib kemudian berlaku. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. S. perlu dipimpin oleh preman. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya.R. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya.P.A. Di samping berbicara tentang kabinet.” Padahal Matori bukan preman setahuku. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu.. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi . Muhammadiyah Jakarta. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden.E.P.P. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa.P.R. Azidin. A.P.

sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati.R. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M.I. dan masyarakat tertentu. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A. yang tidak mau kehilangan segala-galanya.P.391 seorang calon presiden. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. kakek Abdurahman Wahid. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.U. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.D.B. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden.P. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya. bapak spiritual N. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi. tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini.R. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden.M. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka.-P. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai . sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab.

Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. sampai sujud syukur di gedung M.U. Akbar puak H. seorang A. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.A.. ini kongsi politik yang . dan Budha.P. Fatwa.N. Kristen. Abdurahman Wahid mewakili puak N. tokoh P. Teman-temanku dari pihak Katolik.R.P. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini.U. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat.392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia. dalam lingkup nasional. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat.M. Hindu.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi.R.P. Mereka semuanya gembira.I. Lebih dari itu. Amien Rais.M. Amien Rais puak Muhammadiyah. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. Hubungan N. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Bukan saja mereka.R.

” Belum sampai dua tahun. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu.393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebelum jatuh sama sekali. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. Tiga figur santri: Amien Rais. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. Sepintas lalu. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. Abdurahman Wahid. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. serumah berlain rasa. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. Iklim politik .

. Tetapi alangkah sukarnya. tidak saja di kalangan elit.R. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo.P. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Aku. Amien Rais. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati.P.R. Dalam situasi serba . karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. Khususnya di Jawa Timur. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. Deddy Julianto. dan Dr. bukan Amien Rais. M. dan memang keduanya adalah petarung sejati.” tetapi sudah bertarung.394 menjadi panas. Akibatnya sangat nyata. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. seorang pengusaha pribumi. dan ketuanya M.

H. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional.M. 1.U. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. dan H. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. N. Nadjib Hamid.Sos. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi. Apt. Karena kejadian itu cukup menegangkan. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah.W. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. Hasjim Muzadi. A. 2. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. tertanggal 5 Februari 2001. DR.H. Drs. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu. maka pernyataan P. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid.. termasuk dengan Ketua Umumnya K.B. S. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N.395 sulit ini. .U. P. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. perlu kukutip di bawah ini.. Fasich.

hlm.M.W. 4.W. yang lain. Jawa Timur. Anak-anak muda N. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. Faaisol Taselan. yang dekat denganku terus dihubungi agar .U. Ainur R. tanpa menyebut golongan mana mereka. Nadjib Hamid. 2002. 89). (Lih. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P.396 3. Sophiaan. Kontak dengan P.M. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. Jawa Timur terus dilakukan.P. Surabaya: P. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini.

hubungan N. hlm.U. K. (Ibid.M.. Kholil Gresik. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. Fatwa: …bajingan negara. 55. A. Bagiku semuanya harus dimaafkan. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N. tetapi pasti. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. aku .397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl.U. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan.H. tetapi isi tidak berubah). Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. Dien Syamsuddin. Kata orang. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. dengan sedikit perbaikan ejaan.

U. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya.. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali.P. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi.R.. N.U.B. 8-11 Juli 2000. Gambaran urutannya adalah sebagai . Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta. P. 94). hlm.” ( Ibid. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas.W.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan.M. Tetapi P.

Amin Abdullah (940). Amin Abdullah. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Din Syamsuddin (1048). Rosjad Sholeh (1034). M. Rosjad Sholeh. Daerah Khusus Jakarta.R. Din Syamsuddin. Haedar Nashir (748).P. Tidak lama sesudah itu. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. M. Ahmad Watik Pratiknya (803). M. Muhaimin (971). Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden . (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Sukriyanto A.399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. M. Bendahara: M. Mohammad Dawam Rahardjo (910). Muchlas Abror (788). Malik Fadjar (1041). Wakil-wakil Ketua: A.M. (706). Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. M. Yahya A. A. A. A. Ismail Suny (921).P. Sukriyanto A. Malik Fadjar. Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir.W. Asjmuni Abdurrahman (769). Rapat Pleno P.R.

l.R. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. M.P. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali.400 Abdurrahman Wahid. Akbar Tandjung. Inilah a. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi.P. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali. dan banyak yang lain. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan . Analog dengan ini pula. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural.R. Ketua M. Ketua D. apalagi memberhalakannya. Amien Rais. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya.

dan untuk jangka panjang.401 jumlahnya. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. Bangsa ini adalah milik kita semua. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Oleh sebab itu. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Oleh sebab itu dalam . masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia.

suku. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. rasulnya. tetapi pers. pada umumnya . agama.402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. seperti biasa. tanpa melihat latar belakang sosial. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. dan sejarah. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. Muktamar Jakarta cukup semarak. maka Allah. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu.Dan katakan: “Beramallah kamu. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-.

apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Biar orang lain yang dipilih. A. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Jawabanku biasa dan datar. ya diterima saja. Malik Fadjar. sesuatu yang memang tidak kusukai. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. sekalipun tanpa tim sukses. apalagi pertarungan antar figur. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. Bilamana sebaliknya yang berlaku. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. . Masyarakat memang demam pertandingan. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. misalnya. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. aku betul-betul terjungkal. seperti main uang. terserah saja kepada para pemilih di muktamar.

wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Semoga begitu seterusnya. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Suasana partai politik jangan ditanya lagi.404 Sepengetahuanku. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi . Dalam perkara yang satu ini.P. Permainan uang seakan telah menjadi norma.

sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda.P. tak seorang pun yang mempengaruhiku. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. Dengan kenyataan ini. Dalam rapat kilat itu. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. mentalku harus benar-benar disiapkan. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P.405 menetapkanku sebagai ketua. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi.P. periode lima tahun cukup berat bagiku. sebab jika usia masih dipanjangkan. Anggota yang lain setuju saja. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam . seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. Muhammadiyah. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. Muhammadiyah untuk periode 20002005.

Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. if you ordered me to pull my support for MAR. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. . Jadi. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun.P. Bravo. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. namun tidak bisa didikte oleh MAR.24. I would have listened gladly. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed.406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. ejaan disesuaikan). saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. aku terlihat “mengalah. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar.

aku kadang-kadang merasa seperti bika. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. Dalam suasana yang tidak normal itu. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. asal . Aku mau berdamai dengan siapa saja. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. Tetapi jika tidak demikian. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. Bagiku sendiri. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. di bawah panas di atas panas. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. ejaan disesuaikan). bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan.407 bantulah dia sebisanya. bika tidak akan masak. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi.30.

Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. Dan bertaqwalah kepada Allah. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku . Muhammadiyah. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan.P.408 dilakukan dengan tulus dan autentik. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.

Apa yang . Bali. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik.409 kepada masalah kepemimpinan. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. 24 Januari 2002. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. menggunting dalam lipatan”. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan.

Kami anggota P.P. P. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir.P. yang mengundang Mega. tetapi sia-sia belaka. Dan undangan itu dikabulkannya. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Yang benar bukan begitu. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini.P. lalu meninggalkan Bali. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang . Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. dan aku mendukung. Rapat Pleno P. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. M.

Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat .” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Dr.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu.15). mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. bukan kemauan seseorang. jam 17. P.P. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais.

Amien Rais setelah M. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental. memang dapat membutakan hati manusia. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. pimpinan M. kata orang. Kekuasaan itu. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. ganas. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. aku pun dari Muhammadiyah. Amien Rais dari Muhammadiyah.R.P.R. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden. Aku melihat permainan politik itu kejam. Kearifan dalam bersikap sering pupus .412 jelas. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid.P. Dalam perseteruan ini.

Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. sekalipun lelah. tidak ada urusan yang tidak beres. Tidak saja dari mereka.P. menteri.413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. mantan menteri. Keduanya cukup profesional. jenderal.P. mobilitasku memang meningkat drastis. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. dan banyak yang . Tamu-tamu berdatangan ke P. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. budayawan/seniman. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. sebab merekalah yang mengatur agendaku. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. pengusaha. Muhammadiyah Jakarta. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. siang dan malam. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. asing atau domestik. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini.

S. Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Franz Magnis Suseno. Romo Benny. Biku Pannyavaro. Sulaiman Abdul Manan. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. M. Ahmad Hasyim .H. Sri-Edi Swasono. Weinata Sairin. Dillon. Tarub. Pdt. Muhammadiyah dan sesudahnya. Taufiq Ismail. Hatta Rajasa. Fuad Bawazir. Adnan Buyung Nasution. Muchlas Abror. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Achmad Tirtosudiro. Habibie. Bambang Sudibyo. Ajib Rosidi. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B.S. M. Hidayat Nur Wahid.414 lain. Jusuf Kalla. A. mungkin karena ada gelombang yang sama. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Din Syamsuddin. M. Dengan kata lain. Gunawan Mohamad.A. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Anas Urbaningrum. Todung Mulia Lubis. Megawati. Denny J. Fuad Amsyari. Taufik Abdullah. Abdurrahman Wahid. Dawam Rahardjo.. Ramadhan K. Gewanggoe.J.P. Amien Rais. Nurcholish Madjid. Sejak aku muncul sebagai Ketua P.. Josef Handojo. Kaban. M. Salim Said.A. H.

Dasron Hamid. Watik Pratiknya. Rizal Sukma. Handojo S. Rosjad Sholeh. Yunahar Ilyas. Hendropriyono. Suyanto. Jeffrie Geovanie. Pertukaran pikiran . Malik Fadjar. Zamroni.M. M. Sofyan Wanandi. Jusuf Wanandi. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide.415 Muzadi. Hamid Basyaib. dan puluhan yang lain. Mas’udi. Achmad Bagdja. Sjafri Sairin. Jacob. Herman Darnel Ibrahim. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Kuntowijoyo. A. M. Sutrisno Bachir. A. Sulasikin Murpratomo. Salahuddin Wahid. Albert Hasibuan. Rosihan Anwar. Haedar Nashir. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. A. Deddy Julianto. Jakob Utama.M. Muljadi. Sudhamek AWS. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Muhammad Muqoddas. Umar Wahid. Mustofa Bisri. Fatwa. Rusdi Latif. Syamsir Siregar. T. Siswono Yudo Husodo. Muhammad Najib. Amin Abdullah. A. Fasli Djalal. Bambang Widjojanto. Matori Abdul Djalil. Gafur Chalik. Masdar F. A.

terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. Edward Lee (Singapura). aku belum punya bukti. Richard Gozney (Inggris). pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. Boyce (Amerika). tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. aku dan dia bersimpang jalan. Lu Shumin (Cina). sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Dengan duta besar Ralph L. untuk menyebut hanya berapa nama. Dengan Boyce malah sering. Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. aku sudah bertemu dan berbincang. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia. aku sungguh banyak belajar. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai .416 dengan berbagai kalangan itu.

417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. seorang Yahudi. Toffler.l. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. Ya. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. a. tetapi . dan ini sangat Qur’ani.

tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Bantul. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab. Allah maha pemurah. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Fachruddin cukup . Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar.418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. Kabarnya konon para Ketua P. termasuk dengan beberapa pengusaha. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan.R. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. tetapi belum cukup. Pak A. Menariknya.P. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Entah apa alasan dan daya pikatnya. itu dipercaya banyak pihak.

pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Pada waktu itu kami belum akrab. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. dana itu telah turun dengan mudah.419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. Ada yang datang langsung ke P. besar-besar lagi.M. Tidak perlu menunggu lama. Menurut keterangan Rektor U. tanpa meminta kuitansi. Donatur yang lain berdatangan satu persatu.Y. Jumlahnya Rp. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. Melihat kenyataan ini. 500. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. kepercayaanku .R. seperti yang kulakukan juga. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. Dasron Hamid (ketika itu). surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara). sekalipun sudah saling mengenal nama.000.000. sebuah angka yang cukup besar kala itu. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto.P. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. Hasilnya memang di luar dugaan.

M. H. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan.S. Semoga aku pandai menjaga amanah. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. Herianto). Ternyata. Jenderal A. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Hatta Rajasa. Dasron Hamid sungguh besar. Abdurrahman Wahid.420 kepada diri sendiri semakin kuat. Dalam upaya pencarian dana ini. tidak saja untuk muktamar. sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. dan masih ada yang lain. Hendropriyono. M. Jenderal Muchdi. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). Kaban. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Fuad Bawazir. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan. Habibie. .J. aku pun bisa. Al Hilal Hamdi.P. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs.

Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah.P.M. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%. Dana datang tanpa diduga. 500. reaksinya sangat biasa.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini.I. 50. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya.K. Tetapi untunglah.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. . Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. Maka tugasku dan temanteman P. Tanpa uluran tangan mereka. ternyata kemudian kempis. Tidak sekali cara ini kualami. tidak menjadi kenyataan. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu.W. D.000. datar. P.000 dengan pecahan Rp. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar.

yang baru di Jl. Jogja. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. kuajak meninjaunya. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. 400. Hampir Rp. Cik Di Tiro No.000.P. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah.P. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. juga dibantu Rajasa. Itu pun dikabulkannya. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Muhammadiyah. tentu sambil “merogoh” kantongnya. dia pusing juga. Masih ada yang lain.000. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. menristek ketika itu.422 tetapi jika tak punya. Coba kalau isteri mata duitan. 23. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. Oleh sebab .

Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. . seperti telah disinggung sebelumnya. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P..000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek.P.423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. Muslim dan nonMuslim.P. di akhir masa jabatanku di P.75.000. Sekiranya aku menjadi politikus. Salah seorang sahabatku Sudhamek. suasana semacam ini belum lagi tercipta.

Sebagai Ketua P. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua.424 E. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. Muhammadiyah.P.P. Di Era Orba. Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P. sebagaimana telah kusinggung .P. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994.

Muhammadiyah periode 1995-2000. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati.N. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir.P. Mujur yang tak dapat diraih. seorang alim yang tidak punya naluri politik. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. Suasana inilah yang kemudian .P.425 sebelumnya. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. tetapi Ahmad Azhar Basjir. Namanya sedang jadi buah bibir publik. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan.A. malang yang tak dapat ditolak. untuk memimpin P. termasuk sejarah Muhammadiyah. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.P. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan.

Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P. Satu dua cabang. Bangka-Belitung. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. apalagi seumurku. dan Sulawesi Barat Daya. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua.D.M. tetapi beberapa P. Sekitar 400 jumlah P. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif.M.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya.P. bahkan ranting pernah pula didatangi. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. maka periodeku menjadi tujuh tahun. tidak saja dengan wilayah. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan.D. Keinginan warga. tetapi tidak mungkin ditandangi. Hampir semua wilayah telah kudatangi. jika mungkin. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005. yaitu Gorontalo. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua.

tidak lebih dan tidak kurang. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. Suasana semacam ini memang memprihatinkan.427 gerakan sosial lain di Indonesia. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. secara kuantitatif. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. . gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan.

Sukidi Mulyadi. Pradana Boy ZTF. di antaranya Ahmad Najib Burhani. Asep Purnama Bahtiar. . Sebagian dekat dengan Dr. Promono U. kesehatan. Abduh Hisyam. A. Sirry. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. Saleh Partaonan Daulay. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Norma Permata.428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. Kuni Khoirun Nisa’. Muslim Abdurrahman. M. M. Rohim Ghazali. Mun’im A. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Menurut Fuad Fanani. Zuly Qodir. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Ahmad Fuad Fanani. baik untuk pendidikan. Thantowi. Andar Nubowo. Hilaly Basya. Hilman Latief. Zakiyuddin Baydhawi. Hery Sucipto. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Abd. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. seorang kiyai-antropolog. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan.

Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. sekuatkuatnya secara kritikal. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. Nur Hidayah.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi.429 Ilham Mundzir. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. kita belum bisa mengatakan. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. Berbagai masalah pasti muncul. kadang-kadang bertubi-tubi. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. Budi Asyhari Arman. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. Fajar Riza Ul Haq. Rahayu Arman. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. bergabung dengan yang lain. Ada contoh . padalah niat semula adalah untuk beramal. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan.

jangan dibiarkan membusuk. itu bukan hal baru. Kekuatan . tetapi dengan cita-cita persyarikatan.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. bukan karena yang lain. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan.P. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan.P. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. hal serupa terjadi. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. di tingkat P. pun. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. tidak saja di tingkat bawah. seperti telah kukatakan.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. karena alasan tertentu. kecuali kembali kepada ruh agama. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. Jawabanku adalah: “Jangan. Keterikatan kita bukan dengan manusia.

Alamat kantor pusat W. Kantor pusat W.U.R. NY 10017. setelah pertemuan Amman. seorang Katolik yang taat. kritikal.P.C. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam.A. adalah: 777 United Nations Plaza.S.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.C. New York. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif.P. berada di New York dengan sekjennya Dr. Yordania.R. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah. tetapi aku . Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. Karena masyarakat terus bergerak. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. Sekalipun tidak sempat aktif benar. hampir satu abad yang lalu. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. U.P. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. Vendley. William F.R.C.

seorang sahabatku Dr. Yang jelas. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. Dalam pergaulan lintas iman. inspiratif. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan.cit. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia.16 Rasanya Dr. op. Uskup Agung Semarang.. 555. Suharyo.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. terbuka. Rupanya 16 Lih. hlm. Abd. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. I. . Suharyo agak berlebihan menilai peranku. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat.

di atas 60 tahun. . wartawan.J. Kusumo. Dini. Toeti Heraty N. Misbach Yusa Biran..433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Slamet Abdul Syukur. cendekiawan. Taufik Abdullah. Anggota A. Pada saat Prof. Ahmad Syafii Maarif. Dr. Firous. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah.M. atas dorongan seniman W.. Rooseno. Gunawan Mohamad.H. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar.S. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. Sardono W. Rata-rata usia anggota A..D. dan para penulis terkenal.J.S. Ramadhan K. Nh. Rendra. Ajib Rosidi. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. aku dimasukkan menjadi anggota A. Endo Suanda. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas. Sardono W. Saini K. Rendra. Kami memilih Prof. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. A. Tatiek Maliyati W.J. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu.

Dengan belajar ini. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. . Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar.J.J. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Rektor Institut Kesenian Jakarta. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A.434 Kusumo. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat.

435 Kenggotaanku dalam A. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. Kaum intelektual. akan menjadi berkah pada umat. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. pena. 22 Nopember 2005 lalu.J. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. tangan. di Gedung Graha Bhakti Budaya. Tapi sebaliknya. ketika kita membaca . ungkapnya. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A.J. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. TIM.J. dan pribadi pengarangnya. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. Anggota A. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii….

Salam”.(SMS tanggal 15 Feb. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. ejaan disesuaikan). melainkan titik-titik yang merentang panjang. sangat menentukan. Kejujuran di situ terasa. 2006. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. [Endo Suanda]. hlm. No. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. aku sering dipanggil buya. memang. “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. pantangannya jangan berdusta. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. 17 . untuk bisa jujur. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. Karena berasal dari ranah Minang. sadar ataupun tidak.436 suatu karya sastra. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. 3. Jadi. 77/VIII/2006.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. Ya. 16:23:58. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu.

Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang. . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. VIII. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. MASA DEPAN INDONESIA A.437 bu dan ya. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. akan terbaca buaya. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku. Adalah Nursam.S. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. S. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini.K. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. wibawanya merosot ke titik nol.R. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. integritasnya sebagai buya sering berantakan.K. setelah para buya masuk politik..R.

op.U. Tetapi dengan deklarasi di atas.U. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit. “Syafii Maarif. Pemberantasan Korupsi.. Dillon. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. Gemanya luar biasa. belum tidur benar. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. H. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan.. 290. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi.U. Menurut catatan Dillon. Muhammadiyah dan N. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. H. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua.cit. hlm.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. aku.S.S. 18 .

U. sebagai orang dalam. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. katanya.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. Saya. Sebaliknya jika gagal. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. Jika berhasil. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. mungkin masih ada masa depan. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. N.

Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN. . Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N.U. bukan gerakan eksekutor. Sebagai gerakan penyadaran. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum.440 langkah kontroversial itu. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. ini. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama.U.

bersama kekuatan lintas agama. Diharapkan dengan gerakan moral di atas. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata.441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa.U.U. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras. masih belum terlalu fokus. tetapi menurut para pengamat. . Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa.

.. ada beberapa syarat yang harus ada. di antaranya Rizaluddin.U. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H.R.M. Anhar Gonggong. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. VI/2000 tentang Persatuan Nasional.K. surat keterangan dari dokter...P. Ad. Dr. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. ini merupakan pelaksanaan TAP M. No. M. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini. 26/2000 pasal 43.442 Tentang pencalonan K. Dikatakan bahwa pelanggaran H.A.Ag. Dr.l.R. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota. Asvi Warman Adam.K. kemudian ditegaskan lagi dalam U. Hoc.R. Natan Setiabudi. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi. S. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005. No. a. Adanya K. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil.M. Namun setelah dua seleksi berjalan. akan ditangani K.A. dapat kujelaskan sebagai berikut. Melihat .Si. Deliar Noer.R. Dr.R.K. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.K. Dr.

Di mata mereka K. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap . Bukankah K.K.K. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan.443 gelagat semacam ini.R. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. aku akan menjadi kecil. kata Rizaluddin. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka.R. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. dan mereka saling memaafkan. Menurut Rizaluddin. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. Karena itu.

atau nenek mereka telah saling membinasakan. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. Agar masalah ini tidak terus . Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. Menurut sahabat ini. Natan Setiabudi. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. orang tua.G.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. jika aku diterima masuk bersama dengannya. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). mantan Ketua Umum P. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. sekalipun dahulunya mereka. sekalipun sekiranya aku masuk. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan.I. Dalam hati kecilku. Dr. seorang sahabatku.

Muhammadiyah.K.. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua. dan punya waktu yang lebih banyak.I.P.K. Muhammadiyah ditinggalkannya. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. dalam Muktamar Malang.R. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. Tidaklah elok bagi semua.R. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P. bersedia sementara P. Nah. pelindung. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P.K. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang.445 mengambang. dan yang sebangsa itu. energetik. Orang seperti aku. cukuplah menjadi penasehat. seandainya aku diterima sebagai anggota K. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju.P.P. jika masih diperlukan.R. .

Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing.R. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin.I dan sisa-sisa pendukungnya. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. tidak ada perbedaan di antara kita.M. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau. Komitmen kebangsaan dinilai sudah . khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L. 2006 pada saat bagian digarap. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya. (sampai tanggal 23 Peb.K. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P.R. komisi ini belum juga diumumkan. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih. (Lembaga Swadaya Masyarakat).S.K. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara.R. entah mengapa). Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini. namanama anggota K. Kita satu.K. aku tentu dengan senang hati akan memberikannya.K.

sebuah bank swasta yang diakusisi.E. selama lebih tiga tahun. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. M.P. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu . di dalam diri sendiri ada masalah B.I.I.P. S.P. Teman-teman Majelis Ekonomi P. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. Muhammadiyah di bawah komandan Prof. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi. maka kasus B.P. Masalah B.I. Dawam Rahardjo.447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri.P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P.P. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P.I. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo.P. Aku yang tidak paham soal bank. B.

. S.448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. M.P. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. itu tidak benar.N. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B.A.I. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. (waktu itu) Saefuddin Hasan. . Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.E. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y.P.I. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus.I. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). Thohari. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.P.I. dan M. termasuk di dalamnya perbankan.

Suatu hari melalui Hajri.P.. Membaca . Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda. Sekiranya kuterima. Dalam sebuah rapat P. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini.. Ketua P. yaitu aku sendiri.P. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Muhammadiyah itu bahlul.P. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal.P. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Jadi ini adalah saham fiktif. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah. orang kepercayaan Lulu. tetapi kutolak dengan sopan.449 Tidak ada motif macam-macam.I.P. kecuali kebaikan.

Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu.P.I. seperti tersebut di atas..P.450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. tetapi alangkah sulitnya. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B.P. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan . semakin memburuk dari hari ke hari. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah.P.I.I. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak.P..P. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. Karena kondisi B.I. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. melepaskan sahamnya di B. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B.

J. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: . benarlah ucapan M. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.I.J.) dalam upaya mencari jalan ke luar. kalau ada masalah B. Kalau aku melakukan refleksi tentang B.K. Semua permintaan Hajri kujalankan. ini. aku kirim SMS kepada M. Setelah terlihat titik-titik terang.P. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula.I. Jawaban langsung dari M.P. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.K.J.J.P.451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M.P.K.I. aku memang tidak bisa lepas tangan. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku.J.K. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B.P.K. sekalipun masih ada ganjalan hukum.I. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. karena seringnya pertemuan itu.

Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. anak Kuantan.M. 2004. maka tunggu sajalah saat kehancurannya. Pada masa yang akan datang. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal).” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. Jakarta: PSAP. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku.R. Toni. B. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. .

atau pulau lain. untuk membubuhi kata pengantar.” Di ujung kata pengantarnya. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio. dan berdarah Minang. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. apakah dari Sumatra. guru besar Universitas Negeri Ohio. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. William Liddle. tentu tidak boleh diremehkan. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif.. Kini. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. sementara Rizal di U. Ph. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. Amerika Serikat. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. Jawa. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat . Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Columbus. (Universitas Indonesia).453 Riau. Namun.I. R.D. Athens.

sahabat. Salahuddin Wahid. Tamu yang hadir cukup banyak. pasti akan menyokong pesan ini (lih. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. Syafii Maarif.S. hlm. XX). baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. Jakarta. Natan Setiabudi. Din Syamsuddin. Rizal Sukma.S. Akbar Tandjung. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. W. H. Jeffrie Geovannie. Taufiq Ismail.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. Douglas Rumage. Dillon. terutama dalam bidang ilmu. Wiranto. Rosihan Anwar. bertempat di Hotel Aryaduta. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . Muhammad Najib. M. Jakob Utama. Deddy Julianto. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. bagiku. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. Rendra.

yaitu Abd. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. termasuk dari penulis asing. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. 2005. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia.455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. Jakarta: Maarif Institute. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. Jakarta: Maarif Institute. . (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). sebagian cukup panjang. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. 2005. melampaui usia nabi.

Dillon. Sudhamek. Akbar Tandjung.. Salahuddin Wahid. Natan Setiabudi. Husni Amriyanto Putra. Suyanto. Rizal Sukma. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. A. Jeffrie Geovanie. Malik Fadjar. Jakarta: Grafindo. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Hajriyanto Y. . Thohari. A. Syamsir Siregar. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Hasyim Muzadi. Sutrisno Bachir. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. M. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. H. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. Deddy Julianto dan temantemannya. Kardinal Julius Darmaatmadja. Muljadi. Jakob Utama.I. Ada dari pengusaha Handojo S. Sjafri Sairin. Hatta Rajasa. Hidayat Nur Wahid. Dasron Hamid.S. M. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Herman Darnel Ibrahim. Fadilah Supari. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. 2005.S. Anton Syafriuni. tebal 317 dengan indeks.456 tebal 267 halaman dengan indeks. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Universitas Negeri Yogyakarta. Bambang Sudibyo. Deddy Julianto.

Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. 700. Masih ada teman-teman P. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005. Karena sudah lama kupertimbangkan. Tidak kurang dari Rp. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali.457 dan banyak dermawan yang lain. Dana yang masuk melaluiku. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin.A. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. semua yang hadir.P. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah.P.000. khususnya M. C. . Muhammadiyah. baru ditetapkan. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute. Sebuah angka yang sangat besar bagiku.P.P. Rais. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P.

Abdurrahim Nur. Prof. Tetapi praktik main . tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat. Asjmuni Abdurrahman. M... termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. Alhamdulillah. terarah. M. M.. demi kemenangan jagonya. harapanku ini menjadi kenyataan. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses.P. Dr. Amien Rais.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui.L. anggun. S.. Ismail Suny. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah.A. sesuatu yang tak mungkin kulakukan. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya.A. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. Maka jadilah P. Dr. L. Prof. dan benar-benar menjadi tenda bangsa. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. dan Ahmad Syafii Maarif. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof.H. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. dan beradab.M.

dalam bingkai moral yang prima. 3-8 Juli 2005. berlangsumg dengan aman. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005).459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. . Anggun. dan Beradab”(Republika. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. produktif. terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. 12). hlm. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. Tetapi. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. 12 Juli 2005.

Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. dan beradab. . Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. agar keutuhan tetap terjaga. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. patut disyukuri. Memang. gesekan terselubung pasti terjadi. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. anggun.460 Tanwir berjalan dengan mulus. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. Din Syamsuddin. Memang.

Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . seperti yang telah disinggung di atas. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. saya tidak punya kosa kata lain. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Kepada para sahabat yang tulus ini. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. penuh warna. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005.

462 yang tidak bisa dinilai dengan benda.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah.P. pejabat-pejabat negara. tahun 2000. “Memimpin adalah untuk melepaskan. Muhammadiyah. para pengusaha. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya. yang masih berharap agar terus. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. saya mohon maaf. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. sekalipun belum tentu seagama. Dalam muktamar Jakarta. . Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi.

tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah.463 Akhirnya. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Beberapa undangan dari luar negeri. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. baru dua yang kukabulkan. Bagiku. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Apa yang kukatakan. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. Pasca Malang. saya juga mohon dimaafkan. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan. baik di dalam mau pun di luar. itulah aku. dan undangan departemen luar . Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. di mana aku memberikan makalah.

warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan.464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. . dinamis. kita tidak dapat memaksa. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Karena aku sudah semakin tua. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. kreatif. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. Filipina pada bulan Maret 2006. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati.

Kami mengangsur perumahan K. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. lebih 20 tahun yang lalu. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air).R. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. .T. artinya banyak air. D. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain.P. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P.N. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985.T.465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya.

pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Ada yang berasal dari Kalimantan. dan dari lain-lain pulau. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. 87. dimulai sejak Desember 1985. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. belum sampai 15 tahun. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini.670. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. . jenis kerja. dan agama yang berbeda. Sumatera. Madura.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. bisa jadi dapur tidak berasap. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo.

Mohtar Masoed. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. dosen negeri dan swasta. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. Marchaban. dinas pubakala. Dr. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. pegawai departemen pendidikan nasional. Tetapi setelah masjid berdiri pada . dokter manusia dan dokter hewan. Tidak pernah putus saban tahun. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. alumnus Perancis. wiraswasta. tergantung keadaan masingmasing. pertamina. keduanya tamatan Amerika. polisi. tentara.D.467 Dari jenis profesi. Prof. ada saja rombongan yang berangkat. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. karyawan RRI. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Dr. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. Ada Prof. di antara mereka ada karyawan bank. jaksa. ada juga Dr. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. Suyanto. Beberapa pemegang Ph.

. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. (Rukun Wilayah). Ada Drs. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun.P. Beberapa tahun menjabat ketua R. H.T. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini.P. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. M. sekalipun untuk tingkat R. H. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah. Sewaktu menulis bagian ini. Djumari. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan.468 tahun 1989.G. Agak sedikit emosional. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. Muhammad Bachtiar. Hubungannya denganku sangat dekat.W. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. dosen fakultas . terbayang olehku wajah Drs. H. pimpinan P.Si.

S. H. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa.H. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan.A. dan karyawan pada sebuah bank.W. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S.. pernah menjabat Ketua R. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat.M. maka nama Kastolani. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta. adalah yang paling menonjol. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. pengurus R. VII.M. Semua urusan di tangannya beres.. Negeri Jogjakarta. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. mantan jaksa.Si. Ada lagi bung Drs. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid.K. Kemudian Ahmad Syamlawi.469 psikologi UII.. Teman ini . Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya.T. tidak ada yang tidak selesai. Berasal dari Prembun (Kebumen). Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. B. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs.E. Heru. S. 16.

.R. Eko Supriyanto.S. Duriat Subekti. Inilah sosok yang punya naluri L. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. Nama Ir. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging. M. Selama bulan puasa. M. H. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. dan ‘isya’.Si. tidak boleh dilupakan.. Tampak pula wajah Dr. (Lembaga .seorang sarjana teknik listrik. mantan kepala R. Kalau ada urusan pengeras suara.470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto. M. Sumenep. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang.T. juga tarawih. dialah ahlinya.M.I. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. Sekalipun baru pertama kali. Tidak saja itu. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh. maghrib. Ada lagi H. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto. S.H..Pd. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. Irawadi Buyung.

M. di samping sebagian sudah kesebut di atas.N. Dadanya lapang. karyawan perusahaan minyak itu. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada... Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. Tak jauh dari rumah Bung Thohar.S.” Ada lagi Drs.A. Jika komputerku sedikit rewel. di samping ketua Y. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). Miska Amin. Namanya Hartoyo. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. M. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. di samping khatib Jum’at. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya.471 Swadaya Masyarakat). seorang ahli komputer. Pd. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di . Thohar Fuaedy. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. Tinggal agak ke utara masjid. aku pernah minta tolong kepadanya. pemaaf. dan humoris. beberapa tahun menjadi ketua takmir. berasal dari Bengkulu. ada Drs. Yang lain adalah Drs.Si.I. H. Mohammad Hatta. M.

di samping H. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. Kadangkadang rajin ke masjid. Yulian Yamit. Hermansyah. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak.. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. tugas pokoknya adalah menimbang daging. Marsono.R. Teringat juga sosok Drs.A. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. Perawakannya tinggi semampai. .472 berbagai media cetak.E. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. Apalagi matanya.Si. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. hilang kala tertawa. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Usmar Salam. S. Berasal dari Lirik. Riau Daratan. Dia teliti sekali. Setiap ‘Idul Qurban. Namanya H.. ada kalanya terlalu sibuk di luar. sudah puluhan jika bukan ratusan. dari Manna. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. M.I. Hermanlah orangnya. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia).. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. dari unit Syari’ah bank B. M. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. juga dari Bengkulu.

Aku tidak tahu apa alasannya. sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga.473 dan H. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. agar citra santrinya lebih kentara. Abdul Aziz dari pertamina. adalah wajah ikhlas. H.. Warsono Muhammad. dan Hawaii. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. Jarang absen. alumnus U. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. Pernah dua periode menjabat dekan. seperti wajah teman-teman lain. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji.A.I. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Aku melihat wajah ketiga teman ini. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. berasal dari Bojonegoro. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya. Berat badannya sekitar 80 kg.I. M. Rasanya pernah dikatakannya. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat . Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing.

berasal dari Kudus. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid.E.M. dosen Universitas Muhammadiyah . Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. M.P. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Siswojo. Dalam rangka mengurus daging korban. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs.P. pemilik apotik di Bantul.Si. H..M. Ada Drs.M. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid.474 ekonomi yang lain. Sudiyono. mantan kepala L. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. H. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. M.. Jama’ah lain adalah H.Sc. Teman lain adalah Bambang Samiyo. S. dari pimpinan Bank Mandiri U. Ada pula drh. Keduanya sama-sama ekonom. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian. H. Hilman Nadjib. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Teman-teman lain masih banyak.G. Kecuali untuk jama’ah subuh. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah.

pindahan dari Kalimantan Tengah. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Tidak semua mahasiswa. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. ‘isya’. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. begitu juga dr. spesialis anak. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. Idam Nawawi. di samping sekolah mereka yang lancar. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. dan subuh. Dalam kegiatan . asal Sumatera Selatan. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang.I.475 Yogyakarta. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Universitas Negeri Yogyakarta.. U. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab.I. khususnya untuk maghrib. Ada lagi Suharwidjono. mengajar dan belajar sesama mereka.

Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan.000 per bulan. Sebelum dihidangkan kepada tamu. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu.000. 200. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku . istilah Minang untuk jutawan.I. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp.S. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan.N. 6.T. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp.S.000.476 kepanitiaan. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya. mereka selalu diikutsertakan.I. VII perumahan Nogotirto. Seperti telah kukatakan. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. 500. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y. rata-rata Rp.N.A. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat.000.A.

Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. Disertasinya telah rampung ditulis. M.P. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. Di antaranya Drs. biasanya setelah salat zuhur. Biaya kuliahnya pada I. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan. (Universiti Kebangsaan Malaysia). M. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami.K.A. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. Berbagai jenis masakan dihidangkan.M.I.. Bung Rusli adalah seorang aktivis . Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. Setiap Hari Raya Qurban. salah satu kelemahanku adalah suka makan.K. seperti yang telah kusebut terdahulu. Rusli Karim. Sebagai manusia kelahiran Minang. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. asal Palembang. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. seorang penulis prolifik. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. tempatku memberi kuliah selama dua tahun. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban.

Dia dimakamkan di pemakaman kampung. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Bukan saja aku. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. Berbeda denganku. mantan jaksa. Perbedaan ini wajar . Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Hafiz. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Muhammadiyah pun kehilangan.I. dan S2 di Rotterdam (Belanda). pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. kajian agama. tidak jauh dari perumahan Nogotirto.I. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. apalagi sejarah. seorang sarjana teknik U. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. dinihari sudah dipanggil Allah. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. politik.

Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. sekalipun sering aku peringatkan. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. jika anak tidak tertarik untuk belajar. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya.479 saja. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu. Tetapi aku akan naik pitam. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin.

Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta. Di perumahan Nogotirto ini. terakhir bertugas di Jayapura.I. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. bicara macammacam. ekonomi. Ringkas kata. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan.. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. suasana lingkungan perumahan Nogotirto . Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan. Sangat praktis. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. seperti sakit atau kematian. Kami biasa bersenda gurau. Angka pengangguran malah semakin bertambah. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya.R.480 yang sangat tajam. politik. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Teman ini adalah pensiunan B. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik.

Di bawah kordinasi M. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. Atas gagasan Prof. Novirman . halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Dr. E. Deddy Julianto. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu.

TK. Jambi. Muaro. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Lintau. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. karo keuangan departemen pendidikan nasional. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. Sijunjung. dua dari departemen perhubungan. Solok. Kopertis Sumatera Barat. Padang. tetapi karena mendadak dipanggil presiden.482 Djamarun. staf khusus menteri pendidikan nasional. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Riau. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. dirut Indofarma dan . Hatta Rajasa akan hadir. Bandung. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. Tamu dari Jakarta a. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. seperti tersebut di atas.l. dibantu oleh Drs.

suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. surau. Tidak ketinggalan Ir. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar.M. salah seorang direktur PLN Pusat. TK dan panti. M. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . panti.483 staf. mantan dirut BNI. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. rektor Universitas Negeri Jakarta. Ir. karo kesra wakil presiden. masjid. dua orang dari Maarif Institute. ketrampilan. baik berupa voucher mau pun uang kontan. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan. Herman Darnel Ibrahim. Seperti perhelatan besar saja. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. mantan dirut BNI. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. direktur IGM (Indofarma Global Medica).. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. Sudirman. dan beberapa anak miskin. Nilai keseluruhan bantuan.

seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. padahal penduduknya hanya 270 juta. jika tidak waspada. Menurut Darnel. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. yaitu 27%. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Kabarnya di atas 50. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. Indofarma. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. Sepintas lalu. jika orang tidak . PLN. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. baik yang disediakan dephub. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. serta kendaraan pribadi. sesudah oksigen.

baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam.485 membaca informasi tentang sumbangan di atas. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. seni khas daerah itu pasti. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. 200. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. . Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. 150.000 per orang. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya.000 s/d Rp. akan punah dimakan musim. lambat atau cepat.

Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. 50. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang.000. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.000.000 dan Rp. seperti telah kusebutkan di atas. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu. 20.000. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu.N.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. .L. 31 Januari 2006 untuk Republika.

Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Dari seorang anak piatu di desa Calau. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah.M. Sumpur Kudus. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di .P. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal.487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. IX. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar.A.

memancing ikan di Batang Sumpur. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Lintau. mengadu sapi. Bahkan lebih dari itu. Topik perdebatan . Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari.R. karena sudah terlatih sejak kecil. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. Aku menjala. Sampai setua ini. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. mengadu ayam bersama mereka. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang.

Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). Bahkan sampai aku . kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. A. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Wahid dan M. Wawasan semakin luas. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. tetapi tidak tetap. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. jika bukan semakin menguat. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam.489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Harun Malik. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta.

paham agamaku belum banyak mengalami perubahan.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Amerika Serikat. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. dengan segala kritikku kepadanya. Peran Fazlur Rahman. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. sungguh sangat besar.

dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. khawarij. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. Untuk Indonesia ke depan.491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. bukan milik kita. diterima atau ditolak. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas . adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. bukan dari Rahman. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. dan kritikal. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. jujur. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. syi’i. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah.

Pandangan Mohammad Hatta dan H.A. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. tidak pernah berhenti. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Dalam ungkapan lain. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. di . Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan.

agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. betapa pun kecilnya. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya.493 samping Bahasa Indonesia. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Apakah . akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini.

Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. Masuk tidak menggenapkan. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. tidaklah penting bagiku. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . keluar tidak mengurangi.

(Inpres Desa Tertinggal) itu. gagal. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik. domestik atau pihak asing. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. Karierku sebagai Ketua P.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban. 1998-2005. apalagi saling meniadakan. setengah berhasil. dan kultural secara nasional. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja.T.P. Muhammadiyah. sosial. Tidak untuk saling menggusur. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian.D. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. atau setengah gagal. .

diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. jika tidak lupa. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. dapat dikontrol sebaik-baiknya. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. Diskusi.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. sekalipun secara selektif. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu. alhamdulillah. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. seminar. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. Sebagai pembawaan dari Minang. Mungkin karena terlalu lelah. dunia terasa berputar . ternyata tidak demikian. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E. selera makanku belum menyusut. simposium..P. Selama hidup. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. aku masih terlihat sehat.

S. S. tidak ada gading yang tak retak. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi.E. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi.. Oleh sebab itu. ditambah. tidak akan ada ujungnya. karyawan P. atau bahkan dibuang. Tetapi sudahlah. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. dan Zainuddin.. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. ada saja yang perlu ditambah. bisa jadi akan berlarut-larut.Ag. S.P. jangan sampai merepotkan orang lain.497 kencang sekali. Muhammadiyah Jakarta. demikian seterusnya tanpa putus. Kepada para sahabat yang . Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. Dibaca ulang. dikurangi. dikurangi lagi. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. diperbaiki. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini.E. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku.

Jl. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. Muhammadiyah dan Bung Nursam. Jawa no. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20. Jl. Halmahera D/76. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman . aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. 19. sejarawan.42 di Perum Nogotirto Elok II. dari Penerbit Ombak Jogjakarta.P.498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan.

I . 92 104 B. Mulai Dijodohkan. II . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Makkah Darat. . . . . . . . . . C. . . . . . . . . .D. . Bertugas di Lombok Timur . . . . . . . . . . . . . 125 B. . . . . . . . . . . . . . . Sumpur Kudus. . ..R. A. . . . 92 1 . . . . . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta .. . . M. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . . . . . . . . . . . 125 A. . B. . . . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . III . MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . . . . . dan SAUDARA-SAUDARAKU . . Lintau . . . . . 156 143 108 113 B. . . . . . . . . . . . . . . . IBU-BAPAK. . . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . IV . . . . . . . . . . D. dan Perdagangan . 108 A. . . . . . . . 20 34 76 C. . . . . . . . . . . . . . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . . . . . . 1 A. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . . . MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. . .499 I BUMI KELAHIRAN. . . .

. . . . . . . . 175 B.K. . . . . . . . . . . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . .P. . . . . . . . . . Harapan. . . . . . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . . dan Lahirnya Ikhwan C. . Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . . . . . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. . . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . VII . . . Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . Perkisaran Abad. . . . Keruntuhan Rezim. . . Sebagai Ketua P. . . 214 A. . . . . . . D. . . . . . Lulus S1. 170 VI B. Habibie. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .500 A. . . Muhammadiyah. . . 175 A. . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . . 181 D. . . . . . . . . . . . . . C. . Kembali ke Jogja. dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . . Muhammadiyah. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 .R. . . . 319 A. . . . . . . . . . E. . . . . . . . . . C. . . . . Kiprahku dalam Memimpin . . . . . dan Kecemasanku. . . . . . . . . . . . .

. . . . . Syukuran Listrik . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . IX . . . AKHIRNYA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . . . E. . . . . . . . . . . . . . 330 333 339 351 355 C. . . D.501 B. . . . .

udo. onga. inyo. panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi . kakoncu.502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo.

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful