1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. kita tidak tahu. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. Tetapi bahwa korban pasti ada. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). masih galau bagiku. atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. Secara kultural. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak.000 jiwa. Kultur . Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. orang lalu berpindah ke kawasan lain. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. parewa ini belum hilang.

dan bertanggungjawab. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. rasanya cukup punya alasan. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. suatu on-going process. peran organisasi kemasyarakatan. santun. bukan kultur otak. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. setidak-tidaknya secara statistik. maha Pencipta. kata teori antropologi. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. . Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern.12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot.

Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Hamka.D. Sutan Mansur. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. Yang pokok . Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. (Perang Dunia) II (19391945). Abdulkarim Amrullah. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. Pelopor utamanya adalah Dr. Itu hanyalah urusan administrasi. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. A. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. Jusuf Amrullah. Dr. pada tahun 1925. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini.13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. H. dan diikuti oleh generasi sesudahnya.R. Maninjau. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya.

Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. tidak dapat diperbarui lagi. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. ya habis. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. kemudian ke Eropa. Dari kawasan inilah a.l. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan . Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. amat sulit untuk disimpulkan.14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. sedangkan emas jika sudah habis.

Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh . atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Tentu mereka semua buta huruf Latin. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja.15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. berupa sebuah S. semuanya gelap bagiku. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku.R. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya.

Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. antar anak Sumpur dan anak Silantai. terjadi pulalah pemekaran .R. Sumpur Kudus ini. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Anak Sumpur banyak yang sombong. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Umumnya dengan kaki telanjang. Silantai. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Rasanya tidak ada yang kalah. tidak dia dan tidak aku. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Sumpur Kudus. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan.). Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Sejalan dengan pertambahan penduduk. sekolah ini sudah muncul.16 pemerintah kolonial. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. termasuk aku. sewaktu aku masih kecil. antar anak Sumpur dan anak Calau. teman sekelas di S. dan Mangganti.

Dengan perubahan positif ini. Siluka. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Kumanis. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. S. 298. Satu nagari saja bisa punya lima S. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. dan lain-lain. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. Unggan. .D. Ibid. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. Durian Gadang. Dari sisi ini.D. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. Mangganti. indeks buku Dobbin hlm. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8.17 pusat-pusat pendidikan dasar. Dalam soal pendidikan dasar ini. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. aku pun tidak bisa menjelaskan7.

). Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. hlm. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. Jakarta: Maarif Institute. rakyat meneroka (babat alas. 2005. dengan Kabun sebagai nagari termuda. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. hlm. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. 2005.9 Jakarta: Maarif Institute. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. kabupaten. dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. Pada berbagai forum dan kesempatan. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. kecamatan. propinsi. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif.18 kampung baru. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. kota. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. Tidak Lih. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. 369). memisah dengan induknya. 369 9 . mekar pulalah nagari.

kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. kabupaten. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. tidak pula untuk mencari posisi duniawi.19 dibuat-buat. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. . Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. Jika perpecahan ini yang berlaku. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. atau propinsi. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan.

persis seperti anak-anak kampung yang lain. rasanya masih perih sekali. Orangnya berkumis. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. tinggi sedang. agak langsing. pakaiannya putih necis. (Tanomeh= sutan emas). Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. ketika upacara khitan itu berlangsung. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. Kata orang kampungku. Bagindo Tanomeh.20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. hanya orang kafir yang tidak . Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. juga nama kecamatan di era modern. berdenyut sampai ke otak. Jangan main-main dengannya. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu.

Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. belum menggeliat. Di kala kecil. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. tetapi jauh dari suasana renungan.R. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. jika bukan tumpul sama sekali. berjudul Cahaya. Ada juga bacaan ArabMelayu. Apa yang mau direnungkan. Bacaan lain sangat langka. karena . Bagaimana mau menggeliat. Bacaanku nol. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). tetapi aku sudah lupa judulnya. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. Tranportasi perahu sangat menyenangkan.21 bersunat.

Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Maklumlah masih dalam usia S. Prosesnya berjalan lamban sekali.R. Dan memang tidak perlu mengelak. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. Pulang ke asalnya.22 aku tokh bisa berenang. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. persis seperti manusia. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. siapa pun dia. Dari tanah kita berasal. ke tanah kita pasti akan kembali. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi.

Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . kabarnya sudah hampir punah. Kemudian di Muaro Sijunjung. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. Oleh sebab itu para perusak hutan. bersenda gurau. demi upeti. tupai. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. dan mencari makan. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. kera. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. saling mendukung. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. Masing-masing saling memerlukan. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. dan bermacam jenis makhluk bermain. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. tempat burung.23 dari pepohonan. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas.

oleh siapa pun. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Tetapi jika . sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan.24 jauh lebih perkasa. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Tidak hanya berhenti di situ. Air sungai ini pun larut menjadi asin. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin.

Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Prilakunya mesti dipelajari. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro . bahkan peradaban. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Jangan main-main dengan air. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. sawah dan ladang. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. khususnya pada musim hujan. gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan.

semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Semakin lama orang berpisah dengannya. Semuanya mengalir begitu saja. tidak ada kesan yang mendalam. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. Selama menganggur. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. ke rumah adik-adik seayahku.26 Sumpu ini. sewaktu masih di S. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. tidak teratur. Semuanya berlalu begitu saja. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. pertanda usia sudah semakin mendekati . puitis sekali. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. bertukarnya tahun. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. bersamaan dengan bergantinya musim. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. Tidak urut.R.

Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. Ke mana-mana seekor ayam . Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. penyebar Islam di kampungku. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. B. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. aku pun tidak tahu. seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. sampai saat menulis bagian ini. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. dan sabung ayam sebagai profesinya. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. belum terlalu lama hilangnya. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. Fisik pun sudah mulai renta. rampok. Zulfahmi (Emi). Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini.27 hari-hari terakhir. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut.

sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. Aku kenal sekali dengan binatang ini. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. darah siapa pun. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato.28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. asalkan tidak pakai taruhan. si warna merah penghisap darah. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang . Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. Ia menggigit dan terus menggigit. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Kita kembali ke Tanah Bato. Sekiranya pakai taruhan. tidak peduli darah apa pun.

sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Di saat kecilku. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. seperti kuburan. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa.29 terletak di seberang Batang Sumpur. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. mana pula yang berbau syirik. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. Bahkan lebih dari itu. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. aku tidak lagi ke sana. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Pertanyaannya .

sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah.30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Menurut cerita Zulfahmi lagi. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. serba puritan. Karena dia memasuki kawasan hitam. untuk tujuan baik tentunya. . Dalam kasus semacam ini. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Tetapi ada segi buruknya. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan.

31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Bandaro Lubuk Sati. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. karena ada . Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. dan Jafri Dt. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. yang lain mungkin makam pembantunya. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. Sjamsu Anwar. M. entah yang ke berapa. dalam mengembangkan Islam. alangkah bagus dan elok nama itu. Ini pun sebenarnya tidak aneh. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Sanusi Latief. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini.

Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. sebagaimana A. taratak Talao di Calau.32 sejumlah ribuan nama kota. desa. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. Umur manusia terbatas. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. nagari. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. nagari Unggan. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. Kota Banjarmasin. Kota Sawahlunto. Kota Semarang. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. sejarah terbatas. kemampuan juga terbatas. seperti sejarah Kota Solok. Kota Klaten. sejarah nagari Tamparungo. Di antara . jorong.J. 12 jilid.

Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Jika kehendak hati diperturutkan. ketegangan itu tidak . Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Sekali cahaya itu padam. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah.

”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. al-Jatsiyah : 13 . Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. setelah itu menghilang tanpa bekas. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. yang menghidupkan bumi setelah mati.34 begitu dirasakan. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. dan pada perkisaran angin. tanpa pilih kasih. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang.

pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. sempit. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. dan merasa serba cukup serta bangga diri.35 parah sekali. subjektif. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. bahkan saling berlawanan. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. Dengan kata lain. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan.

Maka tidaklah heran kita. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. tetapi tidak mungkin kecapaian. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan . Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. bangunan peradaban. oleh otak jenius sekalipun. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. sekiranya mereka punya minat. Ditambah 1000 tahun lagi. juga tidak akan cukup. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. setelah itu menghadap Allah.” meninggal dalam usia 27 tahun. Allah maha tahu segala-galanya. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Jika kemauan hati tidak dikendalikan.36 bata untuk bangunan.

Thaha: 115-124. sebagai dosen tamu. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. lih. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. tetapi hanya sekadar itu. s. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. aku sudah lama diberi tahu. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan.37 segala kekuatan dan kelemahannya. menteri agama waktu itu. batu bersurat. al-A’raf: 11-25. al-Qur’an s. McGill. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. Kanada. selain sebagai pusat bisnis. reaksi malaikat dan iblis. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. Protes malaikat tidak mempan. al-Baqarah: 30-39 12 .12 Kembali kepada cerita kampungku. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. 1993-1994. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm.). Montreal.

pedati. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. kampungku tetap terpencil. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. yaitu bendi. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai. kuda tunggang. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. perahu.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. dan kuda beban. . Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu.

setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar . Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas.D. termasuk heran terhadap diri sendiri. Tanpa rantau. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Sekali terbuka. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Yang aku heran. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. Bahkan P. ranah tidak mungkin berkembang. Diperbaiki berulang kali.A.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan.

Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. apalagi untuk pembangunan. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak.40 30%. Kata orang. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . dan terakhir soklat. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. Sebagai seorang peminat sejarah. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. gambir. Mengenang ini semua. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. sama dengan ongkos PadangJakarta. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. 500 per kg. Hasil-hasil alam seperti karet.

Satu saat. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. Bukan untuk apa-apa.41 dan global: agama. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. objektif. pemikiran. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. tetapi yang tetap . entah kapan. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. politik. Pada usiaku menjelang malam. kebudayaan. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. aku juga seorang kolumnis. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. dan dunia Muslim pada umumnya.

Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. berkedudukan di Sumpur Kudus. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam).42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. tokoh Paderi. sekarang karena pemekaran wilayah. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. yaitu Rajo Ibadat.

sedangkan dua puteranya terbunuh. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. Tidak mustahil memang. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). sebuah pekerjaan yang berat sekali. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. berpusat di Lintau. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta.. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. banyak yang melarat. 136-137 . kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. atau puti bagi perempuan. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. hlm. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. op.cit.43 senjata. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri.

menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. Tugasnya menggali dan menggali. pelacakan itu memang diperlukan. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. itulah profesi kaum arkeolog. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. Sebelum itu tidak . Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. apalagi belum terlalu jauh. Yang jauh pun dikaji orang. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan.44 Pagaruyung. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. jika perlu sampai ke pitala bumi. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. jika bukan sebuah penyimpangan. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau.

Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang . Lengang. yang ada Hindia Belanda. tanpa ikatan nasional sama sekali. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. ternyata ada juga segi positifnya. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah.45 ada Indonesia. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. direktur produksi dan transmisi P.L.N. disambut dengan tari gelombang segala. miskin. Herman Darnel Ibrahim. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. gelap (bila malam). apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. tertinggal. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau. Ir.

Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat.L. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi.R. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi.. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. Sejak cahaya itu masuk. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu.46 bercorak Minang. mungkin malah rugi.L. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. Dari sisi inilah barangkali P. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. Semoga rakyatnya patuh dan . sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari.N.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal.D. C. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P.N.

Dengan listrik ini. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau.D. Solok Selatan. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. Bagaimana keadaan . yaitu tanggal 28 Januari. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu.47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang.R. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Sehari sebelum itu.I.

” kata peribahasa Melayu. akan kututurkan pada saatnya. dan di lokasi mana seseorang berada. hujan. tetapi bukan main ganasnya. “Bak kayu dimakan bubuk. Asai makhluk kecil dan lembut. almarhumah Rahima. (Sekolah Rakyat). “di luar tampak rata dan licin. atau mendung.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S.48 kampung ini. jika ingatanku tidak keliru. Bagiku hari itu sama saja. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . panas. 31 Mei 1935. tidak ada yang keras atau lembut. kupanggil kaktuo Hima. Menurut cacatan kakak sulungku. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya.R. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. aku lahir pada hari Sabtu. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. di dalam remuk. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa.

Dalam serba kelemahannya itu. tidak pernah sia-sia. jati. dan seperti tak berguna. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih.49 merugikan. kecuali kayu besi. tersembunyi kekuatan dahsyat. kecil. betapa pun terlihat lemah. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. lambat tetapi pasti. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. kayu dibuatnya tak berkutik. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya.

karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. tetapi semuanya sudah berlalu. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. Kalau ada bedanya. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. termasuk aku. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. lahir dengan bantuan dukun beranak. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. . masalahnya tentu menjadi lain. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Pasti semua anak. Namun bagi diriku. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. tidak bisa dikejar lagi. Mana yang benar di antara dua catatan itu. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat.

. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Mungkin saja demikian. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. yaitu 68 tahun 92 hari. sebab jika tidak. batang usiaku sudah berangkat jauh. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. aku menggunakan tanggal 31 Mei. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Dalam catatan ayahku itu. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. sementara ibuku Fathiyah.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. karena itu yang lebih dulu kuketahui. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). tetapi aku tidak mengenal wajahnya. mana mungkin ayahku mau mengawininya.

tetapi dicarikan pihak keluarga. Dari sisi ini. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama . Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. saudagar gambir. tetapi memang itulah aku. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. bini saja harus dicarikan. aku tidaklah tergolong modern. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Sudah merantau ke mana-mana. Aku tidak mencari jodoh sendiri. terpaut lima tahun usia keduanya. bahkan kuno. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905.52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. seperti yang berlaku pada masa modern. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900.

Jarang yang memanggil suaminya uda. aku tidak bisa mengatakannya. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. sebab berkat kemajuan komunikasi dan .53 ibu. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. t. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. udo. Apakah mereka selalu akur saja. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. aku pun tidak tahu. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung.. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. uda. Ada yang memanggilnya kaktuo. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. onga. kakoncu. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku.v. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. tante. dan uni. Memang belakangan ini. Kata-kata om. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain.

sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. kakudo. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. kakonga. Jika semuanya sudah beruda-uda. bertante-tante. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. ber-omom. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. mak oncu. di mana panggilan kaktuo. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa.54 informasi. Bahkan tidak jarang . Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. dan kakoncu. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini.

55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. semua orang kampung mengakui. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. Kembali kepada lingkungan ayahibuku. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Orang yang menemui ayahku. Bahwa ayahku cerdas. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. Untuk ibuku.

Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. alangkah pilunya. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. sebelum Saiful Wahid. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. bertani dan menyadap karet. Sepengetahuanku. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. Alangkah sedihnya. tetapi . keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. Karena ibuku wafat masih muda. adik sepupuku. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. lahir tahun 1939. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku.

dan kemanusiaan. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. tidak saja untuk kampungku. pendidikan.S. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. cucu kakakku Nursiah. Aku bersyukur di hari tuaku. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya.57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak.U. semoga telah mengenai sasarannya. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di . di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting. Seorang lagi. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya.. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan.M.

Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). Tetapi sudahlah.P. dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. bukan kewajiban orang lain. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. Bahwa mereka umumnya miskin.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. betul. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV . Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya.

Beranak pinak di situ. seperti sering kututurkan setelah dewasa. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi.59 Fakultas Hukum pada universitas itu. (Sekolah Teknik Menengah). Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. sekalipun modalnya dari S.T. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. Jalannya panjang dan berliku-liku. seperti yang bertahun-tahun kualami. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. Tetapi aku tidak pernah patah . kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. tanpa masa depan yang jelas. Namanya Indra Kurniawan. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. sementara aku.M. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal.

Aku bangga dengan mereka. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. demi ilmu. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul.B. juga dari suku Caniago.T. kakak beradik). Di antara orang kecamatanku. umumnya berhasil menjadi sarjana. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan.60 harapan untuk terus belajar. bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. Mereka yang tabah dalam penderitaan. sukuku. tanpa .

Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan.61 mobilitas menaik. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. dari menyadab karet. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. 26 tahun sepeninggal ayahku. ayahku jarang sekali mengeluh. bertukang. tetapi jumlahnya sangat kecil. bahkan tidak jarang harus . Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. Betapa pun berat beban yang dipikul. Menurut logika biasa.

jika bukan mereka yang terdidik. lahir batin. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu.62 menggadaikan barang yang ada. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. dan Jambi. demi sekolah anak. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). adalah contoh yang ditinggalkannya. Riau. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan.

demi cita-cita dan mobilitas sosial. Tamparungo. Semula sebagai Kepala Biro A. Imam Bonjol Padang.M.A. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang.A.I. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. Dari keluarga isteriku.D. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. kemudian beralih karier sebagai dosen. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. Unggan. dosen Fak. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur.N. (Universiti Kebangsaan Malaysia). yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. yaitu Mayor dr. pada I. (Angkatan Darat).K. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan.I.U. adalah di antara contoh manusia tabah. Namanama yang kusebut ini. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. Mangganti. demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. dan Sisawah. Namanya Sabiruddin. Dakwah I. Imam Bonjol. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi.A. anak Rahima. .N.K.

tetapi belum pernah menetap di Sumpur.D.. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. seperti layaknya anak kampung yang lain. Oleh sebab itu. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. Painan. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. ayah dari Tarusan. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya . tidak dapat ditawar. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini.64 Ruswandi Aswad.R. dengan ibu Sumpur Kudus. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S.

akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Nasib seseorang. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong.” Sungguh padat dan padu kalimat ini. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. hidup tanpa inisiatif. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal . Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. Benarlah Pembukaan U. di samping di tangan Allah. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa.65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. demi lepas dari penjajahan durjana. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus.U.D. tabah. Tanpa kemauan keras untuk maju.

Peluang itu tentu tidak selalu datang. baik di kota mau pun di desa. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. aku sering mengunjunginya.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. Setelah dilepas ke gelanggang. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. Di hari tuaku. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. Aku tidak tahu mengapa begitu. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. sekalipun itu sesuatu yang halal. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku.

67 menjadi asin. Penyimpangan tentu selalu ada. Pencarian apa yang . tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. setelah ayahku mengawini ibuku. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. Boleh jadi. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. Malang bagi yang tidak. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. seperti yang telah kusinggung di muka. lahir di Tepi Balai. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. membangun rumah di tanah suku isterinya. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku.

anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. bila berlaku perceraian. . karena memang tidak praktis. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. Kembali ke masalah rumah. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Sekarang di Minangkabau. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman.68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. sungguh ruwet untuk dipertahankan. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau.

kebun. Bergantung kepada tanah semata. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. jelas tidak memadai. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. dan memang harus ditinggalkan. dunia ini akan terasa semakin sempit. atau pekarangan. dan sulit untuk bernapas lega. Tanah adalah milik suku atau keluarga. ladang. Untuk kelangsungan hidupnya. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. beban melulu.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. Lahan sempit . Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. sekalipun pada masa modern ini. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. Bagiku. kolam ikan. Jumlah anggota bertambah terus. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah.

Tanpa rantau. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Syaratnya hanya satu. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Berpikir terus dan terus berpikir. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. Ranah dan rantau saling melengkapi. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. ranah . jangan percaya kepada kegagalan.70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. jangan menyerah kepada rintangan. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur.

Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. kawin lintas suku itu alamiah belaka. sekalipun bukan tanpa gesekan. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. Setelah proklamasi kemerdekaan. aku jelas seorang yang berpihak. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. Sebagian besar “merantau Cina”. Dalam masalah dasar ini. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. semuanya telah mencair dan berganti. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. tidak kembali ke kampung secara permanen. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. . seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Bagiku tidak ada masalah. tidak mungkin netral. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. Secara filosofis. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

kualitas iman dan amalnya. Mereka yang mendewakan keturunan raja. dan 1001 gelar lain. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. tidak oleh yang lain. syarifah. dan apa pun. radikal. dan rasional. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. Dengan paradigma . Untuk merebut posisi taqwa. sultan. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. yang mengaku keturunan nabi. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. Bagiku gelar-gelar sayid. ekonomi. habib.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. atau keturunan raja. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. wali. ulama. atau bahkan keturunan nabi. menurut pemahamanku. sejarah.82 metode berpikir kritikal. kultur. amir. hulubalang. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. terbuka bagi seluruh orang beriman.

Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia.83 semacam ini. berkumis agak tebal. Wajahnya bersih. bukan hanya karena keturunan. kulit agak hitam. tempat pendidikanku yang terakhir. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. Kebiasaannya pakai . dan bila berjalan melenggok. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. tinggi sedang.

Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. dan tidak jarang aku menangis sendirian.84 kopiah sutera hitam. kemudian etek Lamsiah. Ayah dan ibuku. sekalipun sudah menua. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. di tempat ibu tiriku mak Maran. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. anak bungsumu ini . Makamnya terdapat di Tapi Selo. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. Setelah ibu-ayahku pergi. ibu tiriku yang lain. dalam umur yang setua ini. di tanah persukuan orang Melayu. beristirahatlah di sana. khususnya dengan ibuku. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu.

Karena tidak bergaul sejak dari kecil. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. pamanku. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. nagari tetangga Sumpurkudus. yang kata orang rupanya mirip ibuku. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. lain ayah dengan ibuku. entah di bumi mana. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. aku pun tidak tahu. Adiknya yang lain A. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. Beberapa tahun yang lalu. Sayang aku lupa namanya. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. di alam yang lain sama sekali. Semuanya sudah tiada. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. sementara dua adik laki-lakinya yang . Aku memanggilnya ande Ani. suku ayahku. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. Wahid. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. salah seorang dipanggil Ani. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. Entah ayah-bundaku.

Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Oncu Naksan amat menyayangiku. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. merangkap dukun. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. baik lakilaki atau pun perempuan. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. . Baili. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. Siti Dariyah.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Mattudin Rauf. Pada saat wafatnya. Yang masih hidup tinggal satu. Karimah. tetapi punya dua keturunan perempuan. dan Ahmad. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Bainah. Saidina Hasan. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Nurbahri.

Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. hubunganku cukup dekat. Raadin. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. ular. Mangsanya tidak hanya ikan. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. jumlahnya aku tidak tahu. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). . tikus.87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. ayam. Lebih dari itu. Matanya tajam menembus.

Ayahku sangat menghormati ibunya. Suami Rahima. Pak enek Wahab hampir seumur denganku.D. dari suku Domo. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. yang pandai berbahasa Belanda. di samping membantu adik-adiknya. sukuku sendiri. Orang tua ayahku Abd. gelar Manti Besar. Aku memanggilnya uwo. Mungkin karena ibuku wafat muda. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. / S. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Oleh sebab itu.88 dan A. Rauf (dipanggil Badurau). M.R. Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. adalah . Nalam (alumnus Normaal School). Wahab. seorang guru S. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus.

tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Yang aku sedikit menyesal. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. seperti telah kusinggung. Dengan kakak-kakak perempuanku. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. Sekiranya itu aku lakukan. Antara Rahima . apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. hubungan itu terasa biasa saja. begitu juga dengan abangku Nursahih. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. kupanggil onga Sahih. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku.

-I. Ohio University (Athens). Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. khususnya Sumatera. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.Y. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun.P.I.K.S. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu.K.I. dan menetap di kota ini sampai saat tua. bertebaran di seluruh nusantara.90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. dan Surakarta. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Dari kampus I. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah . dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. dan Malaysia. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa.P.K. Jawa. U.N.I. Lombok.

yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. semuanya itu adalah rahasia Allah. alamiah. Sesaat setelah ibuku wafat. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. Pun di mana aku akan berkubur. karena sempitnya ruangan yang tersedia. kadangkadang juga tidak jelas benar. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). majalah. tak seorang pun yang dapat menentukan. Banyak dokumen yang tidak berguna. membaca. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. mungkin banyak orang yang sudah tahu. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. Semboyanku sederhana saja. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. Apa yang direnungkan. sumber penghidupan para petani . Sungai ini tak pernah kering.91 usai. dan dokumen yang tak sempat kuatur. aku pun tidak tahu. Dalam kamar inilah aku menulis. Bahwa aku seorang pekerja keras. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. dan merenung.

sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. karena memang di situ duniaku. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. sekalipun penduduknya serba sederhana. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. Selagi sehat . kecuali yang sakit atau pingsan. dan ikannya tidak pernah jinak. dan banyak yang miskin. semuanya serba dilebihlebihkan. aku juga gemar memuja kampungku. dan ikannya jinak. tebingnya landai. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. pasirnya putih. Di kala kecil.92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. Saat sering pulang. Sampai setua ini. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. semuanya serba dielokkan. aku masih sering berkunjung ke kampung. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga.

sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. seorang perempuan kaya di kampungku. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. adalah mak Sarialam. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. berasap.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. kemudian menjadi kakak iparku. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. Terasa teramat dalam dan tulus. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). ande Karang. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. dan tentu mengotori lingkungan. tidak lebih dari itu. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. ande Lia. kakak sesukuku di kampung. mak Rasia. ibunda Sanusi Latief. masyarakat dapat memakluminya. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. Mereka menunggang .

dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. dan lain-lain. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. Mengapa . mangga. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. dan hasil hutan lainnya. Payakumbuh. durian. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. seperti dari Tanah Datar. karet. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. Juga pasar kera dan beruk. Di Minang. kembali hari Rabu. berangkat hari Senen. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. petai. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. Di sana terdapat pula pasar ternak.

bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. dan solar. bensin. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. seperti telor dan tebu. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. tak seorang pun yang bisa mengatakan. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Tetapi iman menyebutkan. Kembali kepada perempuan dan kuda. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. terutama untuk menarik delman (bendi). setelah ada mobil. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. dengan syarat disediakan makanan bergizi. . Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban.

Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. Sebelum aku pergi merantau. dipanggil Patiah. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. yang kemudian kawin dengan pamanku A. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. tetapi kebiasaan menunggang kuda. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. adik ibuku seibu. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat.96 Dengan budaya naik kuda. Di sebuah nagari yang tersuruk. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . Fathiyah. Wahid. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. adik ayahku. tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. kebiasaan perempuan naik kuda. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan.

khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. Seingatku. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Bersama paman dan bibiku. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. aku juga membantu bekerja di sawah. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. jika pulang kampung.97 pamanku. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. sapi putih . Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

Di antara 15 bersaudara. aku lebih daripada bersyukur. dibesarkan. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau . Kariman. tetapi tidak bertahan lama. dari Universitas Chicago (1983).P. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. Demi menenggang perasaan ibuku. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya.D. atau S. sekalipun hanya sampai S. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. sebagian sudah wafat. Tanpa bimbinganMu ya Allah. Ph.108 Sewaktu ibuku masih hidup. yaitu aku. ayahku tidak menambah isterinya. karena pendidikanku sampai tuntas. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. Semua anaknya dirawat. dan madrasah Muallimin.D..R. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. (Syafril). Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. S. Amerika Serikat. dan dididiknya.M. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini.

Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. ni’matMu yang tanpa putus. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Yang tidak masuk akal adalah. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. Tidak berbeda dengan ayahku. lalu beranak pinak di sekitar itu. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. Sebuah tabiat yang buruk . terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri.109 kecamatan. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. tanpa batas. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. juga ada yang berpoligami. Aku heran. pamanku Mattudin.

Sumpur Kudus. Di antara pejabat P. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P. Bahkan Bung . Aspal sudah. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik.L. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. pusat yang paling berjasa adalah Dr. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. kecuali dengan diesel. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh.110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. mantan menteri era reformasi.P. Di usia lanjutku. desa tertinggal. Muhammadiyah Jakarta. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus.N. salah seorang direktur. Herman Darnel Ibrahim. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro.

Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung.111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. 4. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. sahabat kakakku Nursahih. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol.3 milyar. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa.P.R. seperti . Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. kemudian membengkak menjadi Rp. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. Muhammadiyah (periode 1998-2005). 3 miyar. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung.

Pada masa revolusi. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. Seharusnya aku baru tamat pada 1948. sampaisampai merotasikan letak celananya. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . Guru-guru pun tidak pernah lengkap. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an.112 orang membawa lampu minyak tanah saja. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan.R. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. semuanya berantakan. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. semuanya tidak teratur. Aneh memang. maka pendidikan S. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya.

bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. Muchtar Gafur. Rajo M. pamanku. Wahid. Latief Dt. Syamsuar.113 anak kampung. Alangkah hinanya. A. Zulkifli Mahmud. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). M. Rajolelo. Tari. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. wafat pada 3 Jan. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Suki Khatib Rajo. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. juga berjasa dalam . Mattudin Rauf (adik ayahku. Sutan Bachtiar. A. Rusjid.R. wafat pada 2 Mei 2004. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Maangkat. jam 6. Makkah. Rajo Malayu. M. Rivai Dt. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. dan Kahar. Wahid. Nalam (suami Rahima.

Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. seperti telah disinggung di muka. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. permulaan puasa dan hari raya. dan masalah kenduri orang . tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. soal qunut subuh. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. rakaat tarawih. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. Kecuali Kahar. sebagian pendukung Muhammadiyah. ushalli. sebagian besar pendukung Perti. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. saling berebut pengaruh. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Dari famili senenek pihak ibu. aku tidak tahu. Mengapa demikian.

Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. dan Kumanis. Nagari-nagari yang lain: Unggan. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. Tamparungo. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. dan yang sebangsa itu. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Namun sejak tahun 2000. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Dalam perjalanan waktu. Tanjung Bonai Aur.115 mati. Mangganti. tetapi kemudian diam-diam diikuti. telah dilawan dan dimusuhi. Ya. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. antipati. Sudah tentu aku bangga mengikuti . Sisawah.

Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. penyantunan. penyadaran. Muhammadiyah. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Melalui metode dan pendekatan model ini. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. hubungan antar tauhid dan keadilan.116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P.P. sekalipun bukan tujuan. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. konsep persaudaraan universal . dan pencerahan. lambat atau cepat. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting.

Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. prilaku hidup yang jujur.R. khususnya setelah aku belajar di Chicago. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. bersih. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. dan prinsip egalitarian. cara hidupku ini terlalu bersifat desa.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. karena itulah aku. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. Bagi sementara orang. asal tidak . sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. Betul. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur.

tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. tanpa bumbu masak yang anehaneh. Jika pulang kampung. . Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. jika isteriku tidak ada di rumah. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. karena memang aku orang desa. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. Bahkan lebih jauh dari itu.118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. Jika pulang bersama keluarga. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. tanpa ajinomoto. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. Dalam budaya hidup mandiri ini. aku sering minta diajari isteriku.

dan lain-lain. Jadi jika aku belajar ke sana. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. di samping pusat perdagangan emas. memang sudah sepantasnya. dan lokasinya pun mudah dicapai. . salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. orang penting pada era Bung Karno. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. Lintau jauh lebih maju. berasal dari Lubuk Jantan. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. Seorang tokoh Chairul Saleh. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. Tetapi dari tuturan sejarah. Rajo Alam di Pagarruyung. Rajo Adat di Buo. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. kopi. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. Kemudian pusat itu berpindah. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus.119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi.

Kedua. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Enam teman ini setahun di atasku. keduanya dari Sumpur Kudus. Nawadir Makkah. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan.120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. Jika rata-rata 5 km per jam. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Lintau. dan sebaliknya. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Damhuri Gafur. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Sjamsu Kamar. berjalan kaki pun mungkin. Ismael Rusyid. Bila terpaksa. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. Pertama. yaitu sekitar 48 km. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. Sjafril Tahar. sekalipun tidak selalu. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana.

setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar.121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. aku . Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. Namun karena berasal dari desa terpencil. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S.-ku sama sekali tidak memadai. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Ketiga. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. Tidak dapat ranking pun. aku terpaksa diterima juga. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua.R. semula terlupa tidak dimasukkan. aku semula meraih ranking nomor lima. tetapi harus melalui ujian masuk. aku diturunkan menjadi nomor enam. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu.

Selain ujian sekolah. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah.A. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. Indonesia sudah merdeka? Keempat. orang kampung bisa naik sepeda. demi . Payakumbuh. tetapi bangganya bukan main. Dalam keadaan normal.M. atau yang sederajat. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. apakah pada 17 Agustus 1945. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. Pada saat-saat menjelang ujian. Bayangkan. bertempat di Bunian. gara-gara revolusi kemerdekaan. tentu aku akan merasa malu. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S.122 gembira. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. Mungkin jika tidak naik kelas. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Pada ujian penghabisan. kecuali ujian terakhir kelas tiga. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu.

diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. . Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. tempatku belajar selama tiga tahun. Rancak (bagus). Perasaanku ketika itu. di dalam hutan yang jauh sekalipun. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. Dengan cara ini. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka.123 menjaga mutu. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. Akibat menghilangnya harimau ini. kadang-kadang di kala malam. orang kampung pernah diterkamnya. sekalipun sewaktu mengganas. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. Adapun kampungku demikian sunyinya. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela.

Pada saat tulisan ini dibuat. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Indomadjo. Dt. Tanpa didikan mereka. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. aku tak mungkin mengembara begini jauh. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Kini sebagian besar mereka telah tiada. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. belanja . Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru.124 Kelima. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. Keenam. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa.

Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. berlaku perkisaran secara mendasar.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. Sanusi Latief. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. Akhirnya dia berjaya.

Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. demi ilmu pengetahuan. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. mungkin karena mengingat biaya. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi.126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. II. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. entah . M.

tetapi penting bagi pembentukan karakter. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. apalagi ke tanah Jawa. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. seperti telah kusinggung di atas. pada waktu itu belum dibayangkan. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. Tanpa Sanusi Latief. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Tanpa Sanusi Latief. berkat Sanusi Latief. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Pokoknya melangkah dan terus melangkah. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Untuk selanjutnya. aku barangkali akan tetap sibuk dengan .127 untuk berapa lama. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa.

Kami masak bersama secara bergantian.128 senapan angin. menjala. dan memancing. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. karena di kampung pun . Aku tidak akan ke manamana. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. membawa kasur dari kampung. sementara aku cukup tidur di atas tikar. Di antara yang berempat itu. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. tibalah kami di kota tujuan. kasur saja harus diangkut dari kampung. Azra’i dan Suwardi. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. milik kakakku. Di dek kapal kasur itu dipakainya. jika tak salah. Coba bayangkan pada waktu itu.

sekalipun tidak kemenakan kandung. oleh karena itu perlu disantuni. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno. jalan ke Mangganti. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. sisa zaman Belanda. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. Sekiranya aku ditolak masuk. tentu kisah hidupku akan berbeda .129 aku tidur tanpa kasur. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. kemenakan ayahku dari suku Melayu. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Sampai di Jogja.

dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. Jadi bangku tidak tersedia untukku. Kita boleh saja berandai-andai. Akibatnya aku harus menganggur. karena memang tidak terjadi. kelas empat sudah penuh. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena . sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . Pertama. jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini.130 dengan apa yang aku jalani kemudian. Kedua. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. Tamansari No. entah bagaimana jadinya. karena gedung baru di Jl. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. tetapi di sini tak perlu diteruskan.

sampai saat tuaku ini. apalagi sesama Muhammadiyah.131 katanya kualitas tidak sama. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Namun aku tetap bersyukur. Dalam keadaan seperti itu. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti.

Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang.M. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. paman kandung Azra’i. teori dan praktik. Lalu pulang ke kampung.M. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. Ahmad Dahlan). Azra’i kini bergelar Dt. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Ngabean (sekarang Jl. Muhammadiyah dan terus ke S. Azra’i yang semula masuk S.P.A. swasta juga tidak betah lama di sana. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. tetapi . kembali mengikuti irama hidup secara kampung. masuk S. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Muhammadiyah. sekalipun dengan perasaan terhina. Setelah sekian bulan belajar montir. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya.M. gelar yang dulu disandang oleh A. aku lulus.P. Latief. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai.132 sekolah montir di Jl. ayah kandung Sanusi Latief. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir.

Luar biasa aku menyukainya. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. kesukaan kepada . Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu.133 jalan hidupnya berbeda. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. meniti titian nasib masingmasing. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. Suka dan duka terekam dalam memori itu. sesuatu yang harus diterima apa adanya. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Tak terasa. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. sekitar 1 km dari Calau. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini.

dia mengajakku berdebat dalam soal politik. cukup bergairah dalam masalah ini. . Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. ibunya. tidak perlu dijadikan gesekan. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Bukan saja dalam selera makan. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. semuanya ini lumrah belaka. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. Nurkhalifah. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Tidak jarang. Bagiku. perbedaan itu sering mengemuka. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus).134 bakmi tetap berlanjut. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali. juga tidak jarang dalam selera politik.

Dengan perasaan yang serba bercampur. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. 7. dan 6. Melihat panorama ini. kalau tak salah. pada hari pertama aku masuk kelas. memang tidak pernah sangat tinggi. Untunglah di . dan Ilmu Alam. Dengan tancapan pisau di meja. 7. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. Tidak sekadar marah. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. sekalipun belum tentu menarik.135 Kembali kepada masalah sekolah. aku cukup ngeri. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. Aljabar. Ilmu Ukur. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. dan kami harus mendengarnya. aku bisa mengikuti pelajaran. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat.

136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan.. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. Tetapi betapa pun jua. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja.P. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. pernah menjadi wakil ketua. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. Bila semuanya ini kukenang kemudian. kemudian malah terpilih menjadi Ketua P. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. Tanpa tancapan pisau ini. Sampai tahun 2005. Tetapi A. Muhammadiyah barulah aku.P. tetapi tidak jadi rampung.P. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. .R. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung. juga pernah belajar di Mu’allimin. Sebab jika dia tetap mengajar. Djindar Tamimy.

Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka.137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Sudiro . setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Wiludjeng (Bahasa Inggris). Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris). Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Fakih (Bahasa Arab). Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh).H. K. Rowijan (Aljabar). Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Balija Umar (Musthallah Hadits). Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan.H. aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni.

masih sangat muda.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. . Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu.138 (Ilmu Alam). Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. suka berdebat. dan masih banyak yang lain. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. tak peduli dengan siapa pun. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. Muhammad Thajib namanya. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. tamatan Mekkah. Kadangkadang sangat keras. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung. A. Ternyata paham agamanya kuno.

Aku amat berutang budi kepadanya.W. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. yang aku banggakan itu. Bengkulu Utara.W. sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. tetapi sopan dalam pembawaan. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman.139 Sewaktu berdebat. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. tetapi pasti yang harga murah. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. di sisi sifatnya yang penyabar. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. Pak Djazarie. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di . Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. setelah tamat sekolah. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas.

M. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I.M. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP. milik dan suara resmi Partai Masyumi. sekalipun .140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Kalau tidak khilaf. apa bukan hebat. gembiraku luar biasa.K.M. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. Muhammadiyah (1998-2005). Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku.I. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang.P. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini.P. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I.

Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. dalam dan luar negeri. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Pada usia senja menjelang malam ini. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. aku tetap saja menulis dan menulis. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. Mungkin bukan dari siapa-siapa. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. aku sudah turut kampanye . rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Begitulah perasaanku ketika itu.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja.

sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. Tetapi pada tataran moral politik. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. B. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. Sewaktu ayahku wafat.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi.

175 per bulan. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. Terimakasih Muallimin. jauh dari diriku. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H.143 masing. Djazarie. anak sulung dari etek Lamsiah. Penulis R. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. Mawardi dan Penulis Moh. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. Faried Ali. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. Syafril Maarif. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. Aku masih ingat betul. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. 125. tampaknya . karena tanggungannya yang juga cukup berat. Muhammad. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp.

di samping tidak ada biaya untuk itu. Mengapa batinku begitu . Setiap mengingat sosok ayahku. Jika sewaktu ibuku wafat. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. semuanya mengalir begitu saja. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. seperti umumnya orang kampungku. tanpa payung pelindung. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Semuanya berantakan. Bila peristiwa perih ini kukenang. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. Sekiranya itu aku lakukan.144 seperti baju kaos. aku tidak paham apa makna kematian itu. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. air mataku meluncur tak tertahankan. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. aku tak ingat lagi. batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu.

Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. tetapi aku juga tidak pernah dimanja. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan. Hubungan . Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. kembali ke nagari asalnya. Ayah. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun.145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. kecuali dalam do’a. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

R. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. namanya Bachtasar Tahar. alumnus Mu’allimin Lintau. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. ia harus pulang kampung. B. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas.I. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. . Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu.R. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. dan ia bersedia. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas.156 lain lagi. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. Mungkin tidak sampai setahun. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. Di kampung aku punya seorang teman.

157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). Pengetahuan . aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun.L. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.K. lalu ujian. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. Tetapi setelah ditimbang-timbang. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin.M. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. adik kelasku di Mu’allimin. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas.T. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S. Aku lulus dengan baik.I. jurusan Sejarah Budaya pada 1964.P.A.A. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. Bukan karena apa-apa. Setelah setahun aku belajar. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.

Jelas aku dirugikan. Bukan karena apa-apa. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. sekalipun dengan perasaan mendongkol.S. Jogjakarta.K. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I.158 Umum.I. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. serta Pengetahuan Sejarah. Karena pergolakan daerah. sekalipun bertele-tele.P. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. ijazah aku terima juga. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana. hubungan putus dengan kampung. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958.I.K. Bermacam .I. 1957-1964. tetapi karena ingin cepat rampung. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu.

Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. yang presensinya dipegang oleh Jusuf.I. bagian pengajaran.159 tugasku di toko ini: pelayan.P. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. berasal dari Sulawesi Utara. Nasai. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini.R. Muchktar.I. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P.K. dan aku. mahasiswa Cokroaminoto. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. Maka pindahlah aku ke F. jurusan Sejarah-Budaya. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. kasir. aku tidak mungkin bisa. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Jusuf banyak menolongku dalam masalah . Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. Hawari.R. tetapi karena kuliahnya teratur. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum. M. Jusuf. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah.

Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. tetapi semuanya merugi. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. ayam dan kambing. Surakarta.160 presensi ini. dan lainlain bersama Pak Markum. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. Untunglah selain itu. Mula-mula dagang kecil-kecilan. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Korban pergolakan daerah. kami lalu jualan rokok. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. tembakau. Namanya Murdijo. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. pemilik warung di Baturetno. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. asal Baturetno. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. Karena merugi. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami.

T. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. Sebagai guru honorer. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap.161 kecamatan itu.N.P. Sekiranya aku punya ijazah negeri. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik . sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. Pak Sujadi. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. tidak dapat dikatakan. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. Baturetno. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. kepala sekolah.

Ekonomi Terpimpin). Demokrasi Terpimpin. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Lenin.I.R.162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan .B. Tampil dengan gaya Bung Karno. Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Sosialisme Indonesia. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. Pada saat menulis catatan ini. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Undang-undang Dasar 1945. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto.

Abdullah Sjahir. tetapi kosong itu. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka.163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Mr. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. kata Hatta. aku tidak menyia-nyiakannya. Revolusi. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Mendengar kutipan mentereng ini. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. kemudian menyusullah masa pembangunan. Bagi Hatta.

Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. Tetapi cara itulah yang kulakukan. Maka tak lama kemudian. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. Soekarno tokoh nasional dan dunia. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). dan ada buahnya untuk tambahan rezki. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. entah dari sumber mana diambilnya.T. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. beberapa tahun setelah itu. Amien Rais. aku tinggal mengikutinya saja. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. sehingga dapat “mempesona” orang lain. Pada suatu ketika. Andaikan aku punya ijazah negeri.164 cara yang benar. padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. di atas. .

aku bakal terpilih jadi Ketua P. komentator yang tajam. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku.P.P. Sebagai kader Muhammadiyah.M.D. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P. dasar anak desa. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri.165 Itulah aku. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku. alumnus Mu’allimin Jogja lagi. dan aku malah bangga menuturkannya kembali.. Aku percaya bahwa pengurus tentu . Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. Jika itu yang terjadi.D. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P.P. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. dengan terkekeh itu saja.D. Bung Amien.M.M. malah menambah abrabnya persahabatan kami. setidaknya majelis tingkat P. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P..P.

Geli juga rasanya aku mengenang semuanya .D. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu.M. tidak akan ada ujungnya.166 akan menyetujui saranku. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama.P. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P. Demikianlah kalau kita berandai-andai. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. Di samping dapat sekadar uang. Wonogiri yang memohon anggota P. untuk berkunjung ke sana. Siapa yang takkan bangga. sesuatu yang selalu aku banggakan. Tetapi sebagai selingan. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat.

Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek.167 itu sekarang ini. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka.T.T. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. Andaikan punya akses. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. adalah di antara penulis favoritku. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun.T. Jika kukenang semuanya ini. untuk memahami satu alinea saja. tentu kamus harus dibuka. bangga juga aku rasanya ketika itu.T. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Sekalipun hanya dalam posisi G. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. Pada tahun 1960-an itu. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan.. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. di samping Sidi Gazalba. aku juga mengajar . sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. Abdullah Sjahir.

karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto.A. S. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. pimpinan Pak Suhardi. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. M. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). dan rakyat umum.A. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. K.M. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus.168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N.M. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. anak sekolah.S.D. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. Samasekali tidak ada . demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara.I. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api.

Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. maka alm. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Amien Rais. Sanusi Latief pernah mengajarku. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun.169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Malaysia. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. Amien Rais adalah sahabat . Dr. sebagai guru selingan. Dr. dan Kanada. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti.A. M. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. Sanusi Latief dan Prof. Prof. M. M.

Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah.A.H. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. tentu sebagian besar . Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Tokh.

St. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. teman sekelasku di S. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. secara diam-diam telah . apalagi masyarakat kampungku. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun.R. IV. terjadi perkembangan baru dalam hidupku.171 rakyat Indonesia. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin. seperti telah kusinggung di depan. suami Rahma. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. Dengan demikian. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri. anak Sarialam-Halifah.) . akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. Sumpur Kudus dan sepupu jauhku.

P. ini merupakan hiburan yang membanggakan. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. aku sempat termenung. Tanjung Ampalu. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. Lifuarda (namanya sewaktu di S. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang. tetapi mau dijodohkan. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. dikenalkan kepadaku melalui surat. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku.M.172 menghubungi etekku Bainah. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. Bukan sebagai pedagang yang mapan . Payakumbuh. Teman ini. Tidak hanya dikenalkan. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). adik kandung Rahma. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Bagiku.

tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. Bersamaku. bila kukenang ini semua belakangan. dan besoknya aku menompang truk miliknya. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. Seperti biasa. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. . Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Bulan Maret tahun 1957. kalau mungkin sampai ke Kumanis. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. jika bukan kurang dari itu. Padang. Alangkah geli bercampur malunya rasanya.173 seperti umumnya orang Minang. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. seperti telah kututurkan.

Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. ada gadis dengan celana panjang merah. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. sebentar muncul sebentar menghilang. Semuanya berlalu begitu saja. sampai di mana aku menompang truknya. sebab aku sadar betul akan posisiku. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. matanya tajam. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. karena tidak ikut main. adiknya. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. . rambutnya panjang terurai. apalagi usia terpaut jauh. Rahma (bintang desa) dan Rosma. Akan dilirik kakakkakaknya. juga tidak mungkin. lincah juga gadis ini. Aku agak lupa.

Enam tahun kemudian. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. masih belum mendingin betul. datanglah surat Ismael di atas.R. ragu. miskin lagi. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan.175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. sekalipun sudah . tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. hanya badanku agak kurus. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. dan malu. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk.R. karena akan bertemu dengan si kecil. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. malu. Senang. karena tak punya apa-apa.I. Tak lama kemudian. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap.

dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. Rumahnya gagah dan kokoh. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. apalagi di kalangan orang kampungku. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. Truknya diberi nama Sumpur Kudus. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. Dari kejauhan. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. Padang. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda . Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. jika bukan ke Rimbo Kaluang. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal.176 sakit-sakitan karena asma.

aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). tetapi tidak autentik. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. bukanlah caraku. ada Rosma (juga sudah punya anak). mencari yang lain. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. Kalau tak salah. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. Dalam serba . sekiranya di Padang aku punya teman. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. Jika itu aku lakukan.177 rumah. Sebuah risiko harus dihadang. dalam keadaan apa adanya. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. ada si kecil. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. demi gensi. agar kelihatan agak sedikit parlente. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. Umpamanya. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. pandai bertanam tebu di bibir. mungkin kurang gizi. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib.

bibiku Bainah.M. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. pengalaman hidup. juga terbentang jarak psikologis. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. 2006 di Jakarta).178 kesederhanaan. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir .P. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. Teman sekelas si kecil di S. mantan wartawan senior Indonesia. Herry Komar (wafat 13 Feb. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia.

Sampai tahun 1963 itu. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Sebelum berbelok ke rumahnya. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. termasuk Manirun. pada 1964. tidak jauh dari Simpang Balai. pada suatu pagi aku dan teman-teman. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. kakak sepupuku dari pihak ayah. Dalam kondisi semacam itu. sekalipun tidak lapar. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta.179 semakin larut. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. aku belum punya pekerjaan tetap.A. Bagaimana akan siap. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. Sumpur Kudus. Ia . berselisih jalan dengannya. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku.

bukan atas inisiatif kami berdua. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. Yang jelas aku menyukainya. agak menjauh ke tepi jalan. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. sebagaimana yang akan kututurkan. langkahnya bergegas. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. Kami tidak saling berteguran. Tampaknya ia sangat pemalu. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Aku ini anak . aku akan pasrah. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. rezki secara berangsur terus mengalir. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. baju anak sekolah. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. yang memburu kekayaan. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut.180 baru datang dari Padang. dia membuang muka ke arah lain. Seingatku ia pakai baju putih. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan.

tidak akan berganjak sedikit pun. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. Dalam perkara ini. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. Bagiku pada sisinya yang terdalam. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Tetapi betapa pun perihnya hati. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. tentu batin ini akan terluka juga. Semuanya biar berjalan secara alamiah. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku.181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. yang berbau syirik. . Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. aku sangat kokoh.

sebab ada gelar malin dan ungkapan- . jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Muhammad sungsang. Akan dirantai Allah-lah engkau. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. Qul huwallah sungsang. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Aku memantrakan obat parang sijundai. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. Masuk sekalian tawar. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang.

semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Mudah- . Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. aku paham benar apa makna kemiskinan. Oleh sebab itu. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. sebab tak terjangkau oleh kantongku. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging.183 ungkapan bernafas Islam. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku.

Interaksiku .P. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. tidak memperhatikan orang miskin. tetapi dengan segala keterbatasan. lupa lautan. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P.184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini.

Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. ini perkara jodoh. tidak jelas bagiku. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. apakah ada akar sejarah masa lampau. tidak ada kelanjutannya. lintas etnis. Selama beberapa hari di kampung. lintas kultural. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. Entah bagaimana akhirnya. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Sudahlah. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. birokrat. Muslim dan nonMuslim.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama. Jika muncul . dan pengusaha. Kita kembali kepada alur cerita semula. sebab siapa tahu. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. sekiranya itu menjadi kenyataan. para jenderal. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku.

karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. dan mungkin kekanak-kanakan.186 masalah. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. abang. Paman. . Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. lugu. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. karena aku belum punya peta masa depan. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. Bukankah pada masa itu. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. kabupaten. dan famili yang lain. yaitu sembilan tahun. apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. Mungkin karena jarak usia yang jauh. juga tidak memberi saran apa-apa. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. dan sedikit sebatas propinsi. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Aku masih gamang. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D.T.

(Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. lapar. Dengan kalimat lain. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu.B. antri minyak. Atapatap rumah. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum . Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. antri sabun.R. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). Antri beras. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. Bung Karno sebagai P. gedung-gedung. sekolah. antri garam. antri bensin dan antri apa lagi.187 (Demokrasi Terpimpin. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu.

demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Di antara pengeritik yang paling vokal. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. join them. Selama periode yang panas ini. argumentatif.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus.188 selesai. ikuti mereka). Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. paling-paling seumur penciptanya.

kecuali Hatta dan para pengikutnya. P. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. Suasana politik bangsa panas sekali. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu.189 masalah demokrasi di Indonesia.I. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. . Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence.T.K. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. Aku pun heran. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta.I. yang mendukung D. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.I. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari.

tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. aku pun tidak bisa menjelaskannya. .U.K.. Di mana rasionalitas.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A. Ali Sastroamidjojo.I.. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. diplomat ulung.N. (Ali-Roem-Idham. mantan duta besar di Washington D.I.R.). Salah seorang tokoh P. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya. Akhirnya Bung Karno “menyerah. aku tidak tahu. P. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. juga larut dalam kompetisi manipolis ini.Masyumi-N.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang.I. terpaksa atau sukarela. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D.. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun..I. di mana akal sehat.T.C.

191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. sebab Jerman yang maju itu. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. dan diharapkan tidak terulang lagi. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. Aku tidak bertanya . pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Menengok fenomena ini. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. Tentu akan ada yang bertanya. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. karena tidak ada jawabannya. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil.

Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya. seperti dia cemburu kepadaku kemudian. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P. inilah pertanyaannya. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh . sekalipun mulai agak melemah. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir.R. wartawan kawakan Indonesia. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar.I.R. 1958-1963.P. Bagaimana mau menikahi seseorang.D. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku.I. temannya sewaktu belajar di S. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat.R. sementara awak tak punya apa-apa.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak..M. itu adalah bagian dari sikap nekatku. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. seperti halnya P.

R.. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. tetapi keterlibatannya dalam P. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.R. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang.I. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk.D.R. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu. Bukankah Bung Karno dalam istilah W.U. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku.I.R.S. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan.I. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. perlu kajian ulang. tetapi melihat korban yang begitu banyak.R. Aku yang semula pro-P.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis. karena .D.193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini.

I. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik..R. dan pemimpinnya. Aku yang pada masa itu pro-P.D. sekalipun mereka lapar. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek.I.R. sama sekali tidak menyebut P. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.D. Sungguh berlaku yang aneh- . Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950.I. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.I.I.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P.S.D.R.R. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P. seperti baru saja kukatakan. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta..R.

adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka.R. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A. Dia korban sengketa politik daerah-pusat. Dia panggilku kakoncu. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati.I.R.U. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul.. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. kelas 1).I. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu.M.R. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada .K.I. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.P. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. menjatuhkan bom di desa itu. Di pedesaan P.195 aneh.

I.K. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P.R. Dalam keadaan sulit. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka.I. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik. Bayangkan ketika itu. naluri saudagarnya “berdansa” terus. dan sekaligus menjadi wali nagari. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam .196 di atas angin.R. dari suku Caniago.K. P.I. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu.K. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang.R. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya.R.I. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. bukan karena dipilih. kalah perang. Jumlah anggota P. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang.I. tetapi karena diangkat. Semuanya ini berlaku terutama karena P.

Negeri di sana.M. jika ingatanku tidak salah. sekalipun tidak secara langsung. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Damailah di sana. B.197 mendampingi suaminya. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. sementara pak . mengelola perusahaan. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa.A. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. di seberang makam. tidak saja di dunia dagang. peran mak Sarialam begitu besar. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya.

Kenyataannya. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. aku merasa malu. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. saling menjajaki. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. mungkin aku sudah lama berumah tangga. Sampai Desember 1964. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. jangankan . tetapi aku sedang kepepet. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. tidak punya pilihan lain. entah di mana. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya.

karena masih ingin sekolah juga.T. Jogja. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. sekalipun harus hidup menderita. Dengan apa kubelikan. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Sejak di Mu’allimin Lintau. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. sampai tahun 1960-an itu. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. Apalagi pada era D. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. Rendang ini kubawa .199 menghidupkan orang lain. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. Dia beli sendiri..

termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. Si kecil memang berhati . Perkara kondisi tidak seimbang. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. kakak. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. batinku rasanya sudah agak tenang. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. paman. sangat kontras dengan perjalanan hidupku.200 sampai ke Jawa. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. Dari pihak keluargaku. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. Si kecil tahu betul keadaanku. dan lainlain.

Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. entah apa sebabnya. entah dari mana ia dapat . yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan.Wahid. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Suami etekku A. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian.201 keras. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. aku banyak belajar padanya. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Untungnya. Dalam masalah ini. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita.

Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. Ini berbeda kabarnya dengan . Potong kambing segala. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. Bagaimana tidak akan lancar. Pada tingkat usia 30 tahun itu. tokoh spiritual Perti.202 “ilmu”. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Ternyata itu tidak kumiliki.

sekalipun cukup membahagiakan. Pertama. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku . Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. Ini dapat dipahami karena dua hal. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana.203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. untuk seterusnya kupanggil Lip. Masa membujangku berakhirlah sudah. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. si kecil. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Kedua.

sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini. Yang hadir ramai sekali. termasuk abangku Nursahih.204 Rahima dari suku Caniago. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. entah apa penyebabnya. Sebenarnya pihak keluarganya. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. sekalipun jauh dari suasana mewah. Beberapa hari sebelum perkawinanku.

kecuali seorang kakak iparku itu. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya.205 anaknya ini. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. tetapi yang ketika itu belum . Di akar rumput. yaitu Islam. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Bukan main pihak keluarga senangnya. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam.

Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F. tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal. C. seperti telah kujelaskan.P. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus.I. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa.P. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian.206 membuahkan hasil yang berarti.I. jurusan . Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana.K. Sekarang dari sisi agama. tahan bantingan sejarah.K. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F. Setelah beberapa hari di kampung. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. Sayangnya. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964.

sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur.P.K. Drs. Terjadilah sedikit gesekan antar kami. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya.P. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar.207 sejarah Universitas Cokroaminoto.K. Lafran Pane. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I. tetapi hikmahnya cukup besar. pendiri H. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis. Negeri Yogyakarta. . Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah.S.I.M.I. anak pak Burhan.I.I. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar.K.I. Kabar itu sebenarnya tidak betul. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan.

Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah.K.I. ketua jurusan pendidikan sejarah F. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah . mertuaku.S.I.N.208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku. Melalui berbagai upaya itu.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto.-I.P.I.K. Wuryanto. R. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini.I. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. Semarang dan anggota D.K.K.P.P. Maka bantuan Drs. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri. M.I.S. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.I.A. Jika aku tak salah ingat Drs. entah apa sebabnya. Yogyakarta. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F.R.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I.

sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. K. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. tempat alm.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. Kahar dalam berbagai pertemuan. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Prof. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.). Kahar sebagai imamnya. Muhammadiyah. abang Bakir Amir. Selain memperoleh ilmu dari Prof. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak.P. Aku .H. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm.

Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari.K.I. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.G. Negeri Surakarta. Dia sendiri adalah guru P. (Kesatuan Aksi Mahasiswa . Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak.I. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya.I.A.A. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami.M. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia. masalah ibadah. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta.P. milik seorang pedagang Sunda. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K.P.210 diajaknya menulis bersama.A. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa.

Basuni. H. dan alm. sementara aku sedang kuliah. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. Di samping sebagai korektor. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. Sekalipun masih mahasiswa. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar. Mungkin sebagian kecil hasil . Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman.K. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. miskin lagi.211 Indonesia). tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya.A. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Untuk perlengkapan tempat tidur. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. usiaku sudah bergerak tua. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. pimpinan alm. B. A. berkeluarga.A. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. karena sudah terbiasa sejak kecil.U. Mohammad Diponegoro. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah.

Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi. Jika aku masih sendirian. Sebagai seorang yang bukan aktor. Andaikan ada. khusus untuk anak yang baru lahir. tokh aku tidak mungkin memilikinya..K.I. lantai II Kantor P. Kasur pun hanya punya separo. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas.P. tentu tidak ada persoalan. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. Ekonomi morat-marit.Dahlan 99. Beban . (Suara Muhammadiyah). Muhammadiyah yang lama. Jl. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P. demonstrasi merebak di mana-mana.I. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya.. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini.212 iklan terselip dalam kantongku. masih belum ada ketika itu. T.H. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku.K. aku tetap saja kuliah sambil bekerja. K. aku lupalupa ingat berapa. Untung ada beberapa koran di kantor S.M.V. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan.

pagi dan kuliah sore hari. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi.M. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. 20 dari sebuah majalah di Solo. Kalau aku apa yang mau digadaikan. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Untung dia punya perhiasan. Selama di Kotagede. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana.213 mentalku menjadi berat. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Lip . tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. Bukan main bahagianya perasaan. Masalah beras cepat teratasi.

Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain. kini telah . Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan. tetapi jumlahnya tidak seberapa.214 tidak pernah gemuk... posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. Manifes atas desakan P. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer.I. Setelah sekian lama aku jadi korektor. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S.I. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi.M.K. dituduh sebagai kekuatan anti Manipol.K.

ayahnya “diperas” lagi.215 berubah menjadi penyambung lidah P. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan.K. sebab jika dibantu pula. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. V. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.I. Ayahnya jauh di rantau. Sangat disayangkan. . Setelah Lip dan Salman berada di Padang. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. Anaknya sudah diberikan.

yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp.216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. untung ia mau membantu. Pada saat-saat sulit itu. Jika kukenang sekarang. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. sekalipun masih serba kurang. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. Coba kalau tidak. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. seperti telah kusebutkan di depan. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. Amin. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. Nasib . sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. sebuah angka yang sangat mengerikan. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji.

I. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri. baik sekali. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri.P. sampai . di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.I.K.S.I. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F.217 pegawai negeri kempas-kempis. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.I. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana.K.P. Tanpa pintu itu. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. I. M.K. Jika kinerjaku dinilai baik.I.P.I. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. Yogyakarta.K. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

1. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia . Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme.K. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. Dochak Latief.” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono.).S.I. sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. bulan-bulan menjelang Iwan lahir. dan itu sangat kami utamakan. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F.228 terlambat. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954).K. dan Rektor I.P. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik. dosen Sejarah Asia Tenggara. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. khususnya Amerika Serikat.I. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur.

Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Kapita Selekta Sejarah Eropa.M. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara. Bangga juga rasanya. Kapita Selekta Sejarah Afrika. aku adalah lulusan pertama. Sasjardi. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm.G. Yang berlalu. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila. dosen senior jurusan sejarah.229 Selatan. biarlah berlalu.. Bimbingan Tesis. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Manipol/Pancasila. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U. Drs. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar. Teori Sejarah. tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. sekalipun usia sudah 33 tahun. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian . Untuk teman-teman seangkatan.

Chad.I. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah. sementara aku tak punya. kemudian menjadi anggota D. berasal dari Curup. Malaysia.Y. Iraq.I. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. (Partai Amanat Nasional).R.K.I. tenaga pengajar. Libia. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat. atau U. India. periode 2004-2009.K. Belgia. Pakistan. . Saudi Arabia.P.P. Malta. Jordan.N. Iran. dan atau sebagai tamu undangan.N.A. bukan? Dari kampus I.230 ini. tercatat Singapura. Pusat dari P.P. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F.-I. Inggris. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965.S. sebuah karier yang cukup panjang. Thailand.K. mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. Jerman. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis). Qatar.

dan Hong Kong. Bukan saja warnanya yang telah berubah. Kanada. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. Roma. Selama menyiapkan tesis. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. Italia. (Suara Muhammadiyah). Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi.231 Belanda. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan.M. mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Aku memang agak urakan. aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Australia. Sekalipun masih pinjam baju segala.

Baru setelah belajar di Chicago. sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif.M. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S.S. Pusat ketika itu. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Kartuku ditandatangani oleh alm. seperti Inggris.K.M. Bermacam topik yang kutulis. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P..W.I. Arab..W. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. sejarah. Sewaktu bekerja pada S. tetapi umumnya menyangkut masalah agama. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. aku pun pernah menjadi anggota P. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- .I.I. dan politik. untuk sejarah Asia Barat. dan Indonesia. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu.M.

Sjafruddin Prawiranegara. Ny. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. Prawoto Mangkusasmito. Burhanuddin Harahap. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. Mohammad Natsir. Soekapti Mangunpuspito. dan Prawoto Mangkusasmito. Mohamad Roem. Abu Hanifah. Ny. Hafni Abu Hanifah. Jusuf Wibisono. Kasman Singodimedjo. Mohammad Sardjan. Muhammad Isa Anshary.233 tokoh yang aku banggakan itu. Mohammad Natsir. Adapun sikap moralnya. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. aku junjung tinggi sampai sekarang. Zainal Abidin Ahmad. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Junan Nasution. Amelz.

tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. Soekiman. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Kegemaran .U. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka.R. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. sementara Natsir. C.. akan kujelaskan pada ruang yang lain.D.234 Indonesia: Natsir. Adapun kritikku kepada partai ini. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P. Sjafruddin. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya.R. dan Burhanuddin. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua.. Junan Nasution. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah.I.

Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar. Ini amat disayangkan.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H.A. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. sekalipun batin sering goncang. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak . Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. Salim di Cornell tahun 1953. dan aku turut memberi kata pengantar.

Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu .236 datang dengan tiba-tiba. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman. saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959.

tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya.237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. kalaulah iman tidak kuat. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. Menginjak dua tahun usia Iwan. DeKalb. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit.I. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N. Dengan segala pertimbangan keluarga. Dr. Periode ini.). Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Ismangoen (alm.U. Dr. . Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. (Northern Illinois University). sekalipun tidak parah pada mulanya. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani.

Terasa banyak kemajuan. kadang-kadang bergantian. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Ismangoen. . sehingga sulit melangkah sendiri. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. masih di bawah pengawasan Dr. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Seperti telah kusinggung di atas. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. di depan lapangan sepak bola. Dr. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. Dini hari. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. lupakan kuliah. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. Iwan jatuh sakit lagi. Iwan meninggalkan dunia fana ini.238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester.A. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. dalam sejarah.

Jogja). Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Tempat ini di . usiaku sudah 38 tahun. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. Demi meringankan beban batin.D. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Pada saat Iwan wafat.D. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. ke rumah pak Sukadijono. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. panggilannya sehari-hari. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. Muhammadiyah Wirobrajan. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. kepala S.

Jika kutanyakan siapa nama ibunya. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. jauh dari stabil. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. anak ini cukup ceria. air mataku meluncur tak tertahankan). “Anakku. Mengapa . Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. di Jogja-Padang-Jogja. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. isteriku. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. untuk sebutan Nurkhalifah. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. adalah kelucuannya.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. akan dijawab: Nun Epah. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. wajahnya selalu terbayang.

Kalaulah boleh digantikan. Hilang satu. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. aku pun tidak dapat menjawabnya. hilang dua. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. aku bertugas seperti biasa. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. bukan anak. Memang serba dilematis. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. Pengalamanku di DeKalb. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. sekalipun semula . Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. VI. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. memberi kuliah.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil.

kecuali penyandangnya . Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. Tiap hari kami berulang ke P.K.U. Gelar doktorandus memang tidak laku jual. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. kemudian baru boleh dibawa pulang.S. demi perbaikan ekonomi. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan.20 kg. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Alhamdulillah kami tidak diterima. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R.K. alhamdulillah tidak terbukti. P.242 terasa sangat berat. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku.U. teman dosen jurusan sejarah. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. Hardjo Djojodarmo (alm).

sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Sampai awal abad ke-21. sementara Husain berhasil. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali.P.D. Setelah mengikuti tes. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu.K. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. apakah tidak akan menggangu asap dapur. Adapun aku saat itu.P.I. Bandung. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan .243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku.P.

Prof. Itulah prestasi akademikku di Bandung. atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. Kepemimpinan & Manajemen (B). nilaiku jauh lebih baik. Supardjo. Semarang diundang ke rumahnya untuk . Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). dan Bahasa Inggris (B). Dr. Pada suatu malam aku dan teman dari I. dan masih ada yang lain. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. S. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. terimalah apa adanya. Dr. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof.P.K. dengan nilai tanpa A. Dr. dari lima mata kuliah. Prof. Prof. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. termasuk milikku tentunya. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). Tanpa nilai A. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+). Dr. Sikun Pribadi.D.P.I. Mereka adalah Prof. Nasution. aku jelas tidak puas. Dr. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. agak sedikit memalukan. Sikun. Achmad Sanusi. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Garnadi Prawirodirdjo.P. padahal sewaktu belajar di DeKalb.

(Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof.N. tokoh spiritual Prof.D. Ternyata seorang guru besar . Sikun. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. Prof. yang hubungannya denganku cukup baik. Sikun bersikap lebih banyak diam. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan.P. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. Isteri Prof.P.245 ditemukan dengan Suryadi.D.P.A. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam.

Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . jenderal. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Dalam perkara ini. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja.

Univeritas Ohio) di Athens. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. di Universitas Chicago. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O.H. Frederick. tetapi mereka rela. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. (Ohio University. William H. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof.D.D. sekalipun masih di bawah 600.A. pada departemen sejarah. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Hasil tes lumayan. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. Tentu aku senang. Aku hanya mengambil . Bahkan terlalu baik.A.247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. sudah di atas 500. Ph. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita..

Di samping Prof. seorang seniman dari suku Sunda. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. Di sinilah peran penting dari Prof. Di Athens. dan dari sana meluncur ke Athens. A. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. A-. Cukup lumaian bukan.P. kampus lamaku.P. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. B+. Rata-rata A. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. tanpa nilai A satu pun. Dorongan semacam ini sangat penting.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. (Indeks Prestasi Kumulatif)3.P.. Setelah meraih gelar M.H. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. tim penguji yang lain adalah . Frederick.atau I.67. bila dibandingkan dengan nilaiku di L. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. Doddy Soejono.D.K. B. dan A.A. A. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. tahun ke-176 dari usia universitas. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O. A-. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. A-.. Alhamdulillah. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta.untuk tesis.

(Muslim Students’ Association). Apalagi aku aktif dalam M.249 Prof.A.S. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M. tokoh-tokoh Ikhwan. Iqbal. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. Gerald Doxie.S. Masyumi. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). Jadi tidak terlalu buruk.A. Masih berkutat pada Maududi. Maryam Jameela. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. dan gagasan tentang negara Islam. belum reflektif dan kontemplatif. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. bukan? B. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman.dan A. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. . semuanya akan menjadi beres. Aku masih terpasung dalam status quo. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis.

M.S.S.250 yang masih serba belia. Libia. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M.A. Di lingkaran M. dan saling menjaga. Dari segi moral pergaulan. Itu belum lagi . di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. Di Athens. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. sungguh bagus. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Aljazair. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari.. Iraq.S.S. Jadi secara moral. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.S. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab.A.A. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. Kuwait. sangat berjasa. Ilmu Barat dipelajari. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya. M. dunia M. hati-hati.A. Mesir. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia.A.

Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. Dengan membaca peta semacam ini. pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. ekonomi. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak . tokoh syi’ah moderat dari Iran. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik.251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. dan teknologi. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. dunia kita atur. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. Nasr bukanlah tipe itu. ilmu. Pokoknya dengan negara Islam. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens.

Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. Beberapa pemimpin M. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Sebagai penulis prolifik.S.252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Muslim dan Barat. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an. tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi.A. di samping . pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab.

Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . Dari sisi terobosan intelektual Islam. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana.253 seorang aktivis. sementara dimensi intelektual dilupakan. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang.

Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. otoritarian. Para pendukung Maududi. Setidak- . umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. Di Athens. dan ulama yang konservatif. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. yang mengeritik Barat in toto. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. dermawan. New York. Qutb. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Sebuah paradoks berlaku di sini. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh.

401). Sayyid” dalam John L. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya.A. Sharough Akhavi. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. Bahkan mendapatkan M.). “Qutb. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan. kebebasan seks. dan pro-Zionisme. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. hlm. New York-Oxford: Oxford University Press. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. 1995. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang . Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. (Lih. Esposito (ed. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya.

Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. sebab Barat-Timur itu milik Allah. Pada saat usia yang sudah . rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Dominasi politik begitu terasa. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. dan Masyumi. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran.256 dada saja. Bukan saja bersentuhan. Maududi. tidak menyentuh realitas. Dalam usia 43 tahun. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. jangan ekstrem anti sesuatu. adil. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun.

aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. . Malaysia. Nor Wan Daud. Dalam arti intelektual. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Wan Mhd. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali.A. dan teman dekatku. salah seorang murid Rahman di Chicago. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. Aku hormat kepada al-Ghazali. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. aku belum pernah berdialog secara langsung. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago.S.A. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. Dr. Teman-teman M. seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. Dengan al-Faruqi. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental.S. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya.257 demikian jauh. memang banyak yang idealis.

T. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. kehilangan kemandiriannya.S.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.S. Al-Attas kelahiran Bogor. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.A.T. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.S. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh.T.C. kemudian hijrah ke Malaysia. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu.S. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana.T. Proyek I.C. ruhnya menjadi sirna. .A.C. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia.A. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme. Amat disesali.C.A. Karena proyek alAttas berupa I.

. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. beasiswa itu kudapatkan.D. dalam pemikiran Islam. Amien Rais. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya.D. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini. Bantuan sahabatku M.I. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu.A.S. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph. melalui perwakilannya di Jakarta.259 C.

Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. seperti telah kujelaskan sebelumnya. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. disuruh cari nilai A lagi. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. sekalipun hakekatnya . Gila bukan? Otak sudah tua.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik.

Jika upaya itu kandas.” seperti telah kukutip terdahulu. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. Lip tidak melarangku untuk terus belajar.261 tidak banyak berbeda. sekalipun dia . apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Yang menguntungkanku. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. Aku punya rasa takut dan cemas. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai.

Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. sekalipun sekarang sudah lupa semua. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. aku lulus dengan angka P+. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Biaya sendiri mana mungkin. tentu semua langkah akan terhenti seketika. Selama semester pertama aku harus belajar keras. artinya baik sekali. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. . sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman.262 menderita. Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. tidak mungkin bergerak lebih jauh. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya.

Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”).263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai. Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. Syafii hanya memikirkan diri sendiri.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. Aku tentu bangga dengan ini semua. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. Sekiranya tidak merantau. Apalagi jika . Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. berkat rantau. padahal hasilnya belum jelas. padahal hasiahnyo alun jaleh. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. lantaran desakan hidup misalnya.

Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. menulis makalah. kelakuan semacam ini juga terjadi. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini.264 menyandang gelar suku. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. Dalam perjalanan . Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. dan menempuh ujian akhir. Alhamdulillah. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Bukan main rasa syukurku. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Di kalangan keluarga dekatku. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. Nilai A= keluarga datang.

265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. Tidak langsung ke Chicago. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. nama anak kami. Biaya cukup. Mungkin karena lelah. Perjalanan . tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. Hafiz. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . harus singgah di jalan. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. aku lupa.

Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. aku hampir tiap hari ke kampus. Rintangan bahasa dapat diatasi. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. Sebelum masuk S.266 panjang itu kini telah jadi kenangan. Pernah juga kuantar dengan mobil. Tokh dalam pergaulan harian.. Lip tidak betah menganggur.D. Karena anak kecil. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. cari informasi ke sana dan ke mari. Cuaca . Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Hafiz sekolah. kadang-kadang menegangkan. demi membantu beasiswaku yang kecil. isteri Kristen). Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih). Setelah beberapa minggu di Chicago. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya.

Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga. bukan? Tahun 1979. 868 per bulan. 419.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. 750. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. Dengan kerja delapan jam per hari.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan.000. Beasiswaku ya sekitar itu. Lip punya sifat tabah ini.000=Rp. Di musim panas. dia berangkat dengan sepeda. gajiku sekitar Rp.000 per bulan. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Lip telah jadi “orang kaya” baru.419. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp. Kurs ketika itu $1=Rp. demi menambah beasiswaku. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. 419. Sebelum pulang ke tanah air. 60.267 dingin sekali. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. 838. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. Pinto ini .

Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. sungguh jauh nian bedanya. Luas tanahnya 230 m2.P. Sebelum pulang ke tanah air. puasa dengan membayar fidyah. Selama bekerja.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. Cukup fantastik hasilnya. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. begitu juga berpuasa. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. penghasilan isteriku cukup tinggi. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah. setelah dikaryakan sekitar empat tahun.R. Sudah . yaitu lima dolar per jam. D. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. sebagaimana yang baru saja kujelaskan.

D. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Keinginan . di Inggris. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. Ilmu seorang alim ada di tangannya. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal.A. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. termasuk acuan dalam berpolitik. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Salim. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Bedanya.

Iraq. Ada dari Eropa. Saudi. ada Kristen. Indonesia. ada Yahudi. dan dari negara lain. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. dan tak kunjung selesai. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Amerika Serikat. Kanada. kelasik dan modern. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa . Malaysia.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang.

Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Abdulaziz Sachedina (Iran). Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). Ada Shah Wali Allah (India). Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi.271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. ibarat sumur tanpa dasar. Khaled M. Nurcholish Madjid (Indonesia). Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Mohammad Natsir (Indonesia). Abou El Fadl (Kuwait). Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Iqbal (India/Pakistan). Hossein Nasr (Iran). Fazlur Rahman (Pakistan). Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Hamka (Indonesia). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Bassam Tibi (Suria). Muhammad Abduh (Mesir). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Mungkin baginya. Ahmad Khan (India). Muhammad Arkoun (Aljazair).

Hamka. al-Faruqi. Kecuali Shah Wali Allah. modernisme Islam. Natsir. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. tegas. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. hukum. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. Banyak persamaan di antara mereka. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang . Rasyid Ridha. filsafat Islam. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. dan komprehensif. kritikal. Pokoknya di Universitas Chicago. obyektif. AlAttas. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. dan masih ada yang lain.272 banyak dan bermutu. teori politik Islam. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. mendalam. tasawuf. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. please give me one fourth of your knowledge of Islam.

Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. dan itu dari Rahman.67. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A.15 A. Berdasarkan angka-angka itu. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . lima B+. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. tiga B. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna.84. Dengan demikian nilai A menjadi 16.K. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. satu A-. Selama kuliah di Chicago. maka I. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Selama belajar di Chicago. yang kuperoleh adalah 3. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan.P.

pada saat aku sudah berada di tanah air. Nurcholish Madjid dan Salim Said. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. Yang aku agak heran. Terlalu banyak yang dihafalnya. . padahal gelar M. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983. Dalam menghadapi peristiwa penting ini.A. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal.C. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. biasa disingkat U. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan.

merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka.275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Di luar itu. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Dengan kata lain. Tanpa pembongkaran ini. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. . sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama.

Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. tak tampak tetapi terasa. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. pakailah filsafat garam. sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. fikiran. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. tampak tetapi tak terasa.276 Dari perspektif ini. sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda .” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu. jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. dan dana.

perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. bahkan di Asia Tenggara. tetapi dikhianati dalam laku. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata. Setelah 60 tahun merdeka.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. Dengan cara ini. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik. Selama empat tahun lebih di Chicago. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis.

Amat disayangkan. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Ada mereka bangun semacam teori. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. Semuanya bermasalah. Jika upaya serba radikal ini gagal. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Dalam ungkapan lain. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil. tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi.

setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Muhammadiyah (1998-2005). Masalah toleransi inter dan antar agama. Sementara keyakinanku kepada Islam . tesis.279 sunnah nabi secara autentik. tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya.P. Pasti akan sia-sia. dan bahkan kabarnya juga disertasi. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu.

” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. dan masih ada beberapa ayat . sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat.280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Dengan formula ini. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. imanku rasanya tidak semakin lemah. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. dan berbeda dalam persaudaraan. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan. hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. malah semakin kokoh. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir. surat Yunus: 99.

itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam. maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. tetapi untuk semua. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan. Dalam ungkapan lain. apakah mereka beriman atau pun tidak. maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa.281 lagi.

sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. dan berkualitas tinggi. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. sungguhsungguh. masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. dan cerdas. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. toleran. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan. sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. Kita ambil contoh.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan. sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi.

Dalam sistem demokrasi Barat. judi dengan demikian menjadi halal. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. Dalam sistem syura. di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. Dalam sistem politik syura. tidak perlu diperpanjang lagi. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. hal itu tidak mungkin berlaku. kecuali dalam konteks . Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas. demi mempertahankan hidup seseorang. Dalam kondisi normal. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya.283 anggotanya. memakan daging babi adalah haram mutlak.

Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang.” Tanpa keadilan. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. dan bahkan presiden. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Jika ini yang berlaku. gubernur. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan. bermoral. Banyak contoh sudah dalam sejarah. Tidak saja pada masa kelasik. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok.284 yang sangat memerlukan. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . Tentu tidak asal perempuan. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima.

asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja . Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. laki-laki mau pun perempuan (lih.285 terbuka lebar. sekiranya ia masih bersuami. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik.

. Dalam wacana modern. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan.286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Sebenarnya dalam sejarah nusantara. tidak terkecuali di dunia Islam.

Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Dengan memadukan kedua ayat ini. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. Dalam masalah ini. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. praktik poligami itu sangat merebak. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri.287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. monogami atau poligami. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di . maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami.

tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. kecuali bagi yang tidak mau. Isteri satu. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Sebelum berangkat ke Chicago. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. sementara bapaknya entah siapa. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. .288 atas. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas.

halaman 12 dengan sedikit modifikasi. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. Sepanjang pengetahuan saya. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. 22 Maret 2005. Ironisnya lagi. umat Islam tunggal. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. pada masa nabi Muhammad. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. sesuatu yang bila tidak dihentikan. . sehingga seks bebas. tidak berkeping-keping.

Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. sadar atau tidak sadar. padahal kemenangan .290 Munculnya kelompok Suni. dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Syai’i. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas.

yang dimenangkan pihak Ali. isteri nabi. sepupu dan menantu nabi.291 sudah hampir di tangan. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. Syi’i. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. dan Khawarij. Fathimah. yang anti terhadap keduanya. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. puteri nabi bersama Khadijah. pembela Ali. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. sekalipun isteri Ali. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Siapa yang meragukan . sesuatu yang sudah lama diincarnya. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. Ali. sedangkan dua yang lain selamat. Dengan terbunuhnya Ali. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. dan Ali.

dan di mana . sekalipun bukan mustahil. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Afghanistan. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. Tak seorang pun. Palestina. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.292 kualitas iman mereka ini semua. sesuatu yang tidak selalu mudah. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. Jika tidak demikian. Dengan kata lain. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. Timbul pertanyaan. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan.

Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. . syi’isme. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. dan isme apa lagi. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. al-Qur’an s. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. al-Furqan: 30). Saya ingin mereka bersedia mendekati al.” 15 15 (Lih. seperti yang berlaku berabad-abad. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu.293 lagi.

jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan.294 Kalau realitasnya memang demikian. sekiranya semua pihak . Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Islam lahir pertama kali di Arabia. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. adil. Tetapi setidak-tidaknya. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. Bagiku. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). tetapi Islam tidak sama dengan Arab. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. Tentu sebagai manusia yang relatif. banyak yang bahlul tentang Indonesia. apalagi saling bertentangan secara tajam. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar.

Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. Dua . betapa pun belum mendalam. hlm. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. VII. dada lapang. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. 14 Juni 2005. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. dan punya ilmu yang memadai. Harapan. Amerika Serikat.295 memakai pikiran jernih. Adalah Richard Falk. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. Perkisaran Abad.

Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya.296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. Jan. Iraq kacau balau. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. No. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. Dunia memang belum berakhir. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. hlm. 1). tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. dan Palestina belum juga merdeka. 1998.” (Lih. Afghanistan berantakan. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. . 8. Just Commentary. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras.

keadaannya setali tiga uang.297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. Memang . Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. situasinya terbalik 180 derajat. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. demi manusia. khususnya Amerika Serikat. Indonesia. diawali terutama sejak renaisans. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik.

Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . P.B. di mana aku sering juga terlibat. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi.B.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. tetapi belum pernah efektif. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia.

Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. tanpa sapaan Langit. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. rasanya sudah sangat berat. Dalam ungkapan lain. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. Tetapi. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Untuk berapa lama? . Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Bumi kehilangan wasit sejati. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Imajinasi kita dapat menjadi liar.299 mengenal Tuhan. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat.

300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. Alangkah mulianya tujuan missi ini. termasuk aku di . Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. lupa hakekat. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. “Maka. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan.

P.. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.P. I.I.S. .P.S. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.S. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut. Jika pikiran itu dinilai sudah usang. kemudian berubah menjadi F. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan.I.P.P.S. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu. namun realitas tidak beranjak juga.I.I. F. Yogyakarta (sekarang F. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. Universitas Negeri Yogyakarta).I. 2006). Batin meronta keras..K. B. tidak lagi menantang.301 dalamnya. Bila itu terjadi.

Solusinya adalah aku harus . mantan rektor U.R. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen.P.K.302 Fakultas Ilmu Sosial.D. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I.M. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu. Baru akhir tahun 1985.. Aku yang sudah beroleh Ph..T. Untuk pembayaran uang muka rumah K. Miskin bukan. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K.D. itu adalah bak sarang merpati.R. ke universitas. teman lama sejak dari DeKalb. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P.G. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana.P.R. Semua pegawai bernasib sama. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. tamatan Amerika. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago.P.I. Nitibuana yang berpusat di Kudus. Ya.P.

A. Barnadib. Maka aku dan Prof. St. dan U.I. adalah tempatku memberikan kuliah. Gaji tidak besar. agama. sama-sama berangkat ke universitas yang sama.I.I. negeri atau swasta. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun.S. U. pemikiran ideologi. selain mengemban tugas pokokku di I. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta.N. kala itu adalah mendiang Drs.P. mantan rektor I. Mata kuliah yang kupegang bervariasi. Ada sejarah Islam. membuka program pasca sarjana. Rektor I.N. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat.K. dan berhasil.I. Agak aneh bin ajaib. Vembriarto.K.P. Dua perguruan tinggi I. Tahun 1984 I. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah..N.I.I.. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua.. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar.303 memberi kuliah di perguruan lain.I. Cara ini harus ditempuh.A. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama . aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas.K. dan bahkan Pancasila.P.

Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. Dijawab: “Itu antara lain.P. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. sekalipun S. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”. Terjadi dialog. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas.M. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan.3. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun.304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. aku tidak mau tinggal diam. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. Atas kebaikan awak bus.” .I.

3 saya ditandatangani secepatnya.P. paham kelakuanku ini. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Jogjakarta. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru.P.H. “Mohon D. K.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin.K. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. semua keangkuhan itu menjadi berguguran. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah.P.P. . Muhammadiyah ini.P. Jl. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P. Semua orang di I.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. Aku adalah di antara sedikit dosen I. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri.P. A.K. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.A.I. Rais. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja. Muhammadiyah yang dipimpinnya.I. yang lama. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P. Dahlan 99. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok.

yaitu 12. B. Di samping Rais. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya.306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat.A. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. Seakan-akan majelis ini adalah P. Muhammadiyah pimpinan H.P. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. tidak saja secara lisan. A. Yang lain mengikuti. Posisi 13 diisi oleh A.A. dalam P.P. Basuni. Majelis pimpinan M. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta. penerbitan pun digalakkan.P. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. Fachruddin. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah.A. Dr. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini.R. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . yang sekaligus pimpinan majalah. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini.

cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P.. 1990-1992. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P.P. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku. . Teman-teman P.P.307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Amien Rais (993). sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan.P.P. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan.P. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja.M. aku sudah masuk ke dalam jajaran P. yang lain. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. posisi bendahara diberikan kepadaku.K. M. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol. Sekalipun berada pada angka 12. Ismail Suny (890). Muhammadiyah.

seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. Ramli Thaha (671). budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. s. sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin.P. S. Ahmad Watik Pratiknya (655). Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. . Prodjokusumo (638). Aku pada waktu itu masih partisan. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. s. Rosjad Sholeh (748). seperti tersebut di atas. al-Syura: 38). A. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini.308 Sutrisno Muhdam (830). Ali ‘Imran: 159. Djarnawi Hadikusumo (676). Abdurrozak Fachruddin (516). Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. itu. Rusjdi Hamka (774). Sama sekali tidak sehat. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. Dalam daftar di atas. Fahmy Chatib (701). selesaikan melalui mekanisme musyawarah. nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. Ahmad Syafii Maarif (557). sebab jika ada perbedaan. Bagiku. Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P.

Rapat anggota P.K.P.. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. tanpa berfikir panjang dan dalam. Semoga Allah memaafkan. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. kecuali A.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan. Amien Rais. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. ikut-ikut teman. Imaduddin Abdul Rahim. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia.M.K. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. Wakil Ketua: M. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P. tujuan utama tercapai juga.. Wakil Ketua: Ismail Suny. Yang lain di samping sebagai anggota P. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim.P.M. Dua tahun aku bertugas di U. Ir. sekalipun dengan persetujuan P. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. juga merangkap ketua bidang. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia . Bendahara: S. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr.P. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas.P.

P. belum guru besar.K.K. disesuaikan dengan kepangkatanku di . Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. dengan tetap menerima gaji bulanan. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. Karena I.K...I.I.I. Dengan kata lain. dalam kajian Islam. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara. Ini bagiku menguntungkan.K. terlalu berbaik hati.M.D.K. Pasti berliku-liku. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I.P. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi.I. Yogya dan proses pelamaran untuk U. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun. Semua proses ini relatif berjalan lancar. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun.P.P. tetapi tanpa tunjangan fungsional.M.K. Statusku tetap sebagai dosen I. maka gaji yang diterima di U.310 dengan kualifikasi Ph.

dan Hafiz. 8 Jogja sampai rampung. Cukup menguras fisik dan mental. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. Islam dan Perubahan Sosial di Asia . Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U.. Indonesia di Kuala Lumpur.P.I. berakhir. anak kami satusatunya.M. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia. Semula kami berangkat tiga beranak: aku.A.311 tanah air. karena berbagai pertimbangan.K. Selama belajar di S.A. Hafiz kembali ke Jogja.A. sebab pendapatan di U. Kecuali Ahad.M. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.K. Di U.M. Tidak masalah bagiku.K.M.K. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. Sore kembali ke Sungai Jelok. Setelah setahun belajar di S. Lip. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya.M.M. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Indonesia.

seorang dosen di U. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi.312 Tenggara.M. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. Kadang-kadang sewaktu pulang..M. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U. Berbeda dengan Indonesia. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Pada tahun 1992. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Ini semua kujalani selama dua tahun. harus berada di kampus sehari penuh. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia.M. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. Kebetulan kami . Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah.M. berakhir. Lip juga akan turut. Dr.K.K.K.K. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus.

(sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau . Kajang.P. Agar aku memperkuat barisan P. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. dekan Fakulti Pengkajian Islam. Profesor Dr. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. dan Dr. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U. Setelah ditimbang masak-masak. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa. padahal pihak U. berkat telepon sahabatku Dr. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. Aku sendiri setelah aktif di P. Abdullah Zin. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. Muhammadiyah secara langsung. Di lingkungan Muhammadiyah. Aku terpilih. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian. baru tahu betul apa makna amanah itu.313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu.M. Tidak ringan memang. Watik yang bertujuan mulia itu. tidak hanya menjadi bendahara tituler.M. Faisal Othman.K.M. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng.K. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan.. ada ketentuan moral yang harus ditaati.K.P.

benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Semuanya berantakan. membersihkan kamar tidur. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan.P. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya.K. masya Allah. Rupanya. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto.M. Mencuci pakaian. apalagi pihak U.314 meneruskan kontrak. Hafiz terbiasa manja. Aku cukup terlatih. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. terutama oleh ibunya. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. Alhamdulillah. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani. maka imbauan Watik yang menang. adalah bagian dari kerja masa kecilku. bukan? Tetapi sisi . inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Semuanya disiapkan. Enaknya punya ibu. Hafiz tinggal menggunakan.

Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. Benar. entah di mana. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. dan tidak pernah lupa beribadah. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. dan entah jadi siapa. kecuali dia hidup secara benar. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini.315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Inilah tempat beramal yang tepat . Sederhana. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. Terhadap ayahnya. rasanya aku sudah bahagia. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. terserah sajalah. tidak kikir. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. aku mulai sibuk. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah.

tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. Aku sendiri tidak tahu. Biarlah Allah yang menilai.W. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. Sangat giat mendatangi .M. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. Bahasa Inggris lancar. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. atau posisi di B. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. dan sederetan kiprah yang lain. legislatif. Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan.N.M. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Dosen tamu di Singapura. waktu itu sebagai Ketua P. Kalau dalam partai politik. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. pahala jauh itu pun tidak akan diraih. (Badan Usaha Milik Negara). apakah aku ikhlas atau tidak.316 bagiku. Jika tidak. diakui atau tidak. apakah itu jadi pejabat eksekutif.U.

Tidak mudah kujawab. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. tidak saja untuk Sumatera Barat. Yunahar Ilyas.W. sebagaimana semua kita perlu berkaca. Bagiku kejadian ini luar biasa. Dijawab. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. memang di luar dugaan. Kepada Dr. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri.M. salah seorang Ketua P. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu.317 daerah. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. kemudian Yunahar malah balik bertanya. tetapi untuk Indonesia. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. Sumbar tidak asing baginya. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. Apakah .P. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. Dia terpental ke nomor 43. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah.

Tetapi sudahlah. yang berlalu biarlah berlalu. aku tidak bisa mengatakannya. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah.318 karena sikap-sikap politiknya. Ke depan orang harus lebih hati- . apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. bukan tanpa alasan. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Shofwan tidak terpilih. Hubungannya denganku cukup akrab. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Kesimpulan cepat diambil. khususnya untuk Sumatera Barat. Tetapi betapa pun juga. Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. sulit untuk mengatakannya. tetapi belum tentu benar. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap.” (Belum terkilat sudah terbayang).

Balum begitu lama pulang dari Malaysia.M. Aku berangkat lagi bersama Lip. Belum sampai setahun aku aktif di P. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto.P. tidak terasa. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y.M. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. kini pergi pula Kanada. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini.P. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. Sebenarnya .319 hati dalam memimpin Muhammadiyah. Kanada. ini sampai tahun 2005. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. Muhammadiyah.P.A. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu.A.

sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. suasana telah berubah. termasuk Islam di Indonesia. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. biasanya perdebatan menjadi ramai.320 gagasan ini cukup mulia. salafiyah. Jepang. Kanada. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. dan Indonesia. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa . tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. syi’ah. sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. sekalipun rezim telah berganti. Mesir. dan lain-lain. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah.

akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. Dengan kata lain.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. Kelemahanku terletak pada kenyataan . Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. autentik. surat al-Anbiya: 107). asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. Pertama. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. dan cerdas. disadari atau tidak disadari. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. sekalipun masih saja terasa kurang. Kedua. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu.

Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. Entahlah. dan Qur’ani. aku pun tidak bisa mengatakannya. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. sistematis. Aku ternyata juga manusia lemah. aku wajib .322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Tetapi di atas itu semua. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi.

Padang. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. Pelopor pencerahan intelektual . tidak jauh dari bandara Tabing. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. liberal. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. Sebagai anak kampung yang tersuruk. M. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. atau sebaliknya. Penilaian terakhir. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. C. sepenuhnya di tangan Allah.

Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. dari suku Caniago lagi. tidak ada kepastian. sukuku. Muhammadiyah. musibah kedua terjadi lagi. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. Muhammadiyah berduka dalam. menulis. Ketua P.P. dua puteri dan satu putera.324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing.P. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. tetapi itulah kenyataan . Tetapi bulan Juni 1994. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Terima kasih ongaku. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. dan mengurus Muhammadiyah. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir.

Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. sedangkan aku adalah generasi kedua. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif.D. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini.P. P. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas.P. (Perang Dunia) II. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Muhammadiyah era Azhar. Mohammad Amien Rais. Paling-paling menjadi . intelektual. alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. Kampung Kemasan (Solo). “tanah airku. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana.

di masaku dan salah seorang ketua P. Keduanya adalah sababatku. Banyak persamaan. anggota “mafia Chicago. sekretaris P. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang.P. pasca . berbagai masalah kami bicarakan. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. Tidak ada alasan sama sekali.326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. dan untuk apa pula. Benarlah Bung Haedar Nashir. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. di samping ada perbedaan di sani-sini. Adapun aku dan M.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Keduanya tidak mungkin mengenalku. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia.P. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M.

Amien Rais. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. Jika aku mengeritik Muhammadiyah. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. akan berlaku dalam gerakan apa pun. jika bukan pembusukan. terobosan M. proses kemunduran. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam . Di bawah nahkoda M. M. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. Tanpa kritik diri. tak menentu. Saya rasa M. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat.327 Muktamar Malang bahwa M. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim.

Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini.328 itu. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. M. suasana panas tidak membawa perpecahan. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. tentu bukan karena substansinya. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. . Ini berbeda denganku. M. Paling-paling saling menggerutu. setelah itu mendingin kembali. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah.

tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan . Amien Rais itu. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. Bukan saja meni’mati. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis.329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. M. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais.

Para peserta tanwir yang pegawai negeri. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Koran-koran terus saja mengulasnya. Kadang-kadang bertele-tele juga. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. Namun cinta mereka terhadap M. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Kembali ke Surabaya. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Amien Rais. Amien .P. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. bukanlah pertanda buruk. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Amien Rais itu. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. merasa kecut dengan gagasan M. tetapi mereka segan untuk berterus terang.330 ke luar. Nama M.

Pak Azhar baru saja wafat. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya.J. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Bagi M. Amien Rais dicintai. Untungnya M. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. tetapi gagasannya menakutkan. Habibie sebagai wakil presiden masa . B. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. Di sinilah dilema itu terletak. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. M.331 Rais tidak pernah menyusut. Amien Rais dalam mengeritik rezim. M.

M. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.I. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M.332 itu punya hubungan yang baik dengan M. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini. Amien Rais.P. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995).M.C. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Tetapi M. Keduanya juga sebagai tokoh I. Amien Rais. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. pihak istana berusaha keras agar M.I. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. tetapi aku mendukungnya.C. Muhammadiyah. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. .

Dalam rapat-rapat . Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan.333 memang sudah pada tempatnya. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya. Amien Rais.P. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik. tidak berlebihan. karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Amien Rais. Warga yang penakut pun akan memilih M. Amien Rais. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa. Tak ada gunanya. Ketegangan hubungan M.

dampaknya akan . sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Amien Rais. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk.P. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar.334 P. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. seperti baru saja disinggung di atas. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi.

Politik itu dirasakan sangat menyakitkan. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. khususnya mereka yang sudah agak berumur. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.A. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah.N. Rais.A. sekalipun tidak bisa dihindari. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air.P. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar . Muhammadiyah. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit.

sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat. Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. sekalipun tidak diakui terus terang. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih . Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini.

lambat atau cepat. Ini fakta keras dalam sejarah. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Jika itu yang digunakan. Tergantung kemudian.M. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. beragama atau ateis. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. jumlahnya tentu sedikit sekali. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: .B. Politik di mana pun di muka bumi ini. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005. Menurut tuturan R. Jika dibuang. tidak peduli siapa pelakunya. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Dalam berpolitik. dan akan tersingkir dari persyarikatan. Gesekan di lapangan pasti terjadi.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Khatib Kayo. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Kalau pun ada. keras atau lunak. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. Ketua P. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik.W.

Persiapan secara finansial. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar. Tetapi gesekan politik antara M.338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik.P. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. seperti kukatakan.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. Amien . Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Muktamar Aceh semakin mendekat. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu. bukan masalah besar. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P.” Dengan bergulirnya waktu. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. demi menjaga independensi Muhammadiyah.

Amien Rais selalu komatkamit. Aku melihat bibir M. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. M. sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden. Komandan pertemuan dari . M. yang lain berupaya bersikap biasa saja. kemudian diikuti oleh yang lain.339 Rais. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. tetapi juga tidak boleh sombong. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. Kami anggota P. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Amien Rais.P. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu.P. entah apa yang dibacanya. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. mengaku Muhammadiyah lagi.

Amien Rais. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini.P. M. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. Seperti yang diharapkan dari awal. Kendala politik telah teratasi. Maka sekarang bereslah segalanya. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Bukan karena keleledoran Soeharto. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P. bukan aku. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. M. Dengan iklim semacam ini. ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Ilmu . Bantuan akan diguyurkan setengah milyar.340 pihak Muhammadiyah adalah M. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi.

sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M.P. Amien Rais memang terasa sekali. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. muktamar. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Amien Rais dengan Soeharto. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. M. Amien Rais. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. baik dalam tanwir. adalah persoalan adaptasi belaka. semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. Ada sementara kader . Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. aman-aman saja. itu.

demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P.l. Lukman Harun. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. Hajriyanto Y.P. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif. dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. di medan muktamar. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya.S. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. tak seorang pun yang meragukan. Muljadi sering dipuji Bung Karno. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. Keduanya bahkan saling memuji. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Thohari. a. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Inilah . Din Sjamsuddin. posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah.342 Muhammadiyah. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus.

betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Aku yang mengusung M. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. ini tetap utuh. Tetapi bukan terhadap semua orang. Lukman. sampai . Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. Ya. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Djazman alKindi. Amien Rais untuk menjadi nahkoda.M.343 politik. terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. Amien Rais. M. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. tetapi untuk membendung M. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Dalam gesek menggesek ini. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa.M. gesekan ala Muhammadiyah. dicoba diusung juga.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. persahabatanku dengan pendiri I. tak berubah.

Lukman dan M. Dari Parmusi ke P. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . Amien Rais sering disampaikan kepadaku.P.P. Namun di atas itu semua. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang. Amien Rais dalam Muhammadiyah. yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. katanya. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak. tetapi itulah caraku memandang politik. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. Berbagai pandangannya tentang M. aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Betul. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). Lukman. (ini masih nalar). bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. kendaraan politik ORBA. Amien Rais.344 dia wafat. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. sang politikus.

kalau warga menginginkan. presiden berucap. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga . Muhammadiyah dipuji. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. tetapi intinya begitu. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu.345 puncak. berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. Itu bukan watak dan tabiatku. Muktamar gaduh dalam kesenangan. kirakira a.l. Di luar teks pidato. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Tetapi ada yang di luar kebiasaan.” Mungkin tidak persis demikian. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Ada bibit yang menjadi presiden. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Biasa.

dan kemudian terpilih menjadi anggota P. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni.346 Muhammadiyah. M. akhirnya masuk pula dalam pencalonan. Inilah dunia. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. Menarik dan menegangkan. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung. tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. Aku sendiri masuk nomor tiga. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar.P. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. Bukan karena latah tentunya. . yang berada pada urutan kedua. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian.

sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang .” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. M. M. Rusjdi Hamka (624). serumah berlain rasa. Anhar Burhanuddin (628). Ramli Thaha (852). Lukman Harun (660). aku berada pada nomor bontot kedua. Sukriyanto (589). di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. Rosjad Sholeh (874). A. Bagiku. aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Muchlas Abror (730). Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Asjmuni Abdurrahman (802). A. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P. Watik Pratiknya (886). Jika pada Muktamar Jogja. komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Amien Rais (1245). Sutrisno Muhdam (1048). Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup.347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan. Muhaimin (866). betapa pun terdidiknya mereka.P. Ahmad Syafii Maarif (1047). Yahya A.

sebab pengamanan sangat ketat. Tetapi pada tahun 1995 itu. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif. hampir tidak ada gangguan yang berarti. Amien Rais. Bendahara: Anhar Burhanuddin. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. dan T. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Rosjad Sholeh. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Sekretaris: M. aku telah melompati sembilan nama. Sukriyanto A. Peluru dari G. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman.A. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya.M. Dari 13 nama itu. Muchlas Abror. Sekretaris: A. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah.R. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut .I.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. masih saling menyalak. Memang selama muktamar berlangsung. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam.N. Bendahara: M. Dari sisi ini.

tetapi diakui bahwa Jakarta . bukan partai. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Terserah sajalah segala penilaian itu. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. T. Di atas itu semua. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Banda Aceh. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat.349 dalam kemasan berani. Amat disesali. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas.

dari sisi sejarah. laki-laki dan perempuan. Sampai hari ini. Sebagai pencinta Aceh. bumimu mengandung kekayaan minyak. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. engkau adalah bumi pahlawan. dibuka oleh bibit. tembaga. beberapa hari pasca tsunami. Aceh. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. dan mungkin yang lain. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. sebagai wujud dari harga diri . emas. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. kayu.

karena engkau pantang dijajah. Tanahmu lepas dari Belanda. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. untuk kemudian berdamai. Belanda sangat takut kepadamu. Sebagian besar rakyatmu . Tapi tidak bertahan lama. Engkau bela republik dengan darah. Aceh. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. Perang Aceh berakhir pada 1912. Aceh. juga dari sisi sejarah. Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. engkau kembali melawan. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. Sejak itulah engkau resmi dijajah. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. di masa revolusi kemerdekaan. pada tahun 1950-an. Aceh. dengan meninggalkan korban dan dendam. tapi hanya 30 tahun. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu.

Akibat gesekan lempeng bumi. 4 . sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. sekalipun telah dianiaya. perang saudara belum usai. akibat kemurkaan alam. Allahu ‘alam! Jogja. Dunia berduka dan terluka. Tanpa dinyana. karena sudah kering. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. Indonesia meratap tanpa air mata. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. berserakan di mana-mana. tanpa ada tanda-tanda. karena engkau turut mendirikannya.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. Sekitar 200. Aceh. 1 Jan. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar.352 ingin tetap bersama Indonesia. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu.

Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. darah sudah tak tertumpah lagi. Selamat Bumi Rencong. 2005. hlm. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. 131132. dengan penyunting Hery Sucipto. dan alhamdulillah berhasil. Tanah Pahlawan. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. Anton Syafriuni. jangan diulang lagi. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. Allah maha tahu segala akibat perkara. dan Husni Amriyanto Putra. selamat Indonesia.A. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. halaman 12. Itulah Aceh. Jakarta harus lebih arif . Mari kita saling memaafkan. Tanah Rencong. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005.M. biarlah berlalu.353 Januari 2005. Jakarta: Grafindo. Yang berlalu.

M. Maka adalah sebuah rahmat Allah. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. dan berhasil.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Peluru masih mendesing di manamana. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. tidak terkecuali di Banda Aceh. damai.. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai . Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. seperti tersebut di atas.A. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan.

sementara G. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. menuntut keadilan. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Nurcholish Madjid. karena masing-masing pihak. Posisi M.M. Surjadi Sudirdja. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta.P. Di bawah komandan Rais P. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali.M.. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya. disusul oleh majelis. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam.355 tahun 2005. Kembali ke Muhammadiyah. semula samasama keras kepala. Untuk ketuanya aku .N.A. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. Jakarta dan G.A.. Ali Yafie. badan. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan. dan lembaga. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. Segera disusun pengurus lengkap P. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun.A. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas.P.

Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah.A. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I.N.I. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Majelis Tarjih sekalipun diprotes.356 usulkan Dr. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. P. Usul ini disetujui rapat pimpinan. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. Dikhawatirkan berbagai .P. Sunankalijaga. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. M. Di bawah kepemimpinan Abdullah.

Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar .357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. juga di bumi Muslim. Sebab bila hal itu terjadi. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985.

Pendiri Muhammadiyah. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. dan siapa saja. Kristen. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. Bahkan dia bergaul kaum komunis.358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. liberal. atau semakin beriman. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual. Ahmad Dahlan. sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. tetapi agama tidak .

Keruntuhan Rezim. Habibie.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. Sama sekali tidak. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. dan Aku Dengan sub judul ini. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. Muhammadiyah. berkat . bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. D. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Semua teman tahu.

Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan .360 M. Aku adalah anak kampung. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Dengan keterangan ini. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Amien Rais. dan tetap anak kampung. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Apa yang digulirkan M. Dengan keterangan ini. Aku tak peduli lagi. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya.

M. I. pemerintah harus meminjam dari I. susahnya bukan main.M. Dalam keadaan bingung. Akan ke luar. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya.F. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- . (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah.M..F. tetapi tak satu pun yang mujarab. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I. itu. Tidak punya dasar.M. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I.M. Resep terus diberikan. itu. Presiden Soeharto gelagapan. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh.F. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. Dengan ekonomi yang compangcamping.. tawaran itu diterima.F.M.F.F. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.

Mahathir Mohamad. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). untuk dibantai. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan. (Lih. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. Subang Jaya: Pelanduk Publications.F. Globalisation and the New Realities. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat.M. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu.F. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.. Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan. ibid. (Lih. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. suatu penegasan yang berani sekali. 2202. . 122). hlm. hlm. 15).M.

M. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam.363 Pada tanggal 21 Mei 1998. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. karena faktor M.J. Dua tokoh yang semula begitu akrab. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. Amien Rais bukan main sibuknya. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. . Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden.

Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Saya rasa M. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. peran M. kecuali hubungan baik. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang.364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Hubunganku dengan M. Amien Rais. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik .P. sikapnya semakin dingin terhadap M. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Amien Rais di P. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia.

Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Amien Rais. (Kabinet Reformasi Pembangunan). secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. terutama dengan Eropa. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. termasuk dengan M.7).365 dengan banyak orang.P. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6.R. Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. Habibie berhasil. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. 15. hlm. 6. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: . Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk.

366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. Habibie tampaknya tidak .I. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Ini tantangan terberat bagi Habibie. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya.J. yang ketiga. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa.

dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. tak seorang pun yang meragukan. Ini dilema terbesar baginya. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. lugu. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. Menurut A.H. Seharusnya menurut saran saya. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Bahwa Habibie seorang jujur. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. Nasution. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. Di sinilah terletak . salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu.

Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. dan efektif. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. bijak. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. punya watak negarawan. . Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175.

Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. adakalanya dengan perasaan khawatir. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan.369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. Lukman masih bagian dari Golkar. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. Anggota P. pada bulan Mei itu . juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku.P.P. Untuk menentukan sikap P. Sampai jatuhnya Orba. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu. kendaraan politik Soeharto selama ini. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. tetapi diabaikan saja.P. diadakanlah rapat pleno P. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti.

yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. Kalau mandi. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Setelah berdiskusi agak lama. Watik berpendapat lain. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal.P. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. Dengan kata lain. Aku dan Dr. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. jangan kepalang basah. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Pada waktu itu aku benar- . sebagian besar anggota P.

dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. itu. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. Ramai sekali yang hadir. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat.M. tetapi tidak sekuat Amien Rais. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. karena memang di situ habitat yang tepat baginya.P. Dalam rapat di atas P.M. Fatwa. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada .P. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. Jelas di sini aku juga punya naluri politik. seperti A. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah.P. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P.W.

Politik bukan duniaku. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. Yang lain juga mengikuti. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. rumah tangga asli mereka. Biasa. untuk maksud baik atau sebaliknya. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia.372 peserta. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. Fatwa. Pucuk dicinta ulam tiba. . sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Entah dipengaruhi siapa. mantan tahanan politik ORBA. jawabanku lugu. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. bukan yang lain. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah.

Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P.P.P. tetapi kuhargai seperti biasa. Ketua P.P. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P. tidak boleh terlambat. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P. bertindak cepat. Di ujung upaya. tanpa merasa tersinggung sedikit pun. maka berdirilah P. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut . persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh.373 Antara Juni-Agustus 1998. Rais dan pendukungnya.A. Muhammadiyah selain memimpin partai. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. kecuali sahabatku K. termasuk aku. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais.P. Sampai hari ini. Muhammadiyah? P.M. bertempat di kantor P. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Djamaluddin Amin.P. Muhammadiyah Jakarta.H. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil.W.N. Ini luar biasa memang.

Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. aku akan tenggelam. Ini tidak mengherankan.P. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. Namanya disebut di mana-mana. Inilah sosok yang aku gantikan. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun.A. Nasehat ini mungkin didengarnya. Alasannya sederhana saja. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya.374 bermain di arena politik praktis. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. aku semula merasa agak gamang juga..N. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. tingkat wilayah. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri.

Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. politisi. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. warga Muhammadiyah. Bukan aku.G.I. dunia kampus. cendekiawan. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. biarlah orang banyak yang menjawab.. Budha. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup.Tanyalah tokoh-tokoh N. orang Minang kedua sesudah A.I. atau siapa saja. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah.R. Sutan Mansur.W.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. K. militer.U.. Hindu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku. Tetapi harus kuakui. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama. P. pejabat. budayawan.. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai . bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang.

Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.A. (Dewan Pertimbangan Agung).P. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. 1998. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. dan Megawati. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D. tanyakan langsung saja nanti. bukanlah urusan D.R. menganggapnya tidak diperlukan .P.P.. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu.P. Kemudian pada akhir tahun 2003.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung. Des. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.A.J.. termasuk Sutrisno Muhdam. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D. juga dari Muhammadiyah. yang lain. Abdurrahman Wahid. Habibie. Orang kantor Akbar Tanjung. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais.A.A. D. Kata orang. dilikuidasi karena M.A. Bagiku hal ini baik saja.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini.P.P.

P.P. kecuali oleh B. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D.P. Itulah sebabnya barangkali . Dari pengamatanku. baik A. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. mantan anggota parlemen. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan.J. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut.A. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. politisi.A. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D. D.A. mantan sekretaris jenderal. Para mantan menteri. pada tahun itu juga.A. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. Baramuli. maupun Achmad Tirtosoediro. aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. mantan jenderal..377 lagi. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. dan mantan-matan petinggi lainnya.

marsekal. Ini juga meringankan P.A. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo.P.A. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. . baik sipil maupun militer.P. politisi. Semua anggota D. sebagai Dewan Pensiunan Agung. tanpa kecuali. mereka terlalu baik denganku. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. tokoh masyarakat. Melalui Gafur. kiyai. agak jauh di atasku. umurku sudah menginjak 63 tahun. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota.P.. Bagiku apa pun kata orang. Apakah itu jenderal. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono.A. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. Sewaktu aku masuk D.P.378 ada orang yang membaca D. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. secara berangsur telah menjadi teman baikku.

A. Fachruddin. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta.P. aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali. Sutrisno Muhdam. segar.P.R. Satu ketika aku bertanya: “Pak A. “Tidak. Aku tidak tahu.. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. hanya satu-satu.P. Rasa humornya tinggi. Muhammadiyah. Muhdam adalah menantu A.P.R. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. yang terlama. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. cepat. ketua P.A. Begitu menyatunya hubungan itu. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur. dekat istana presiden. mertua Muhdam. untuk D.R. Semoga Allah menerima semua . Itulah gaya Pak A. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. di samping A. Wakil Ketua P. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. penuh kharisma. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D.R. dan sedikit menggelikan. karena wafat setelah sakit beberapa lama.P.A.

Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat.P. biar lambat asal selamat. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). cepat selamat. Karena upaya beraninya ini. Hanya soal waktu. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka.380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. biarlah publik yang menilai.R. dan semua kita pasti akan menyusul pula. pemerintah tampaknya cukup .A. Tetapi ada catatan lanjutannya. Kepemimpinan Pak A. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. Seluruh dunia memujinya. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia.. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya.

Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. Dalam menghadapi Habibie. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. Dalam situasi serba dilematis ini. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. semua orang tahu. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. termasuk Amien Rais. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. Keadaan sukar sekali dikontrol. Habibie memang telah melangkah terlalu . masyarakat menjadi liar. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab.

Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Dengan kata lain. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Setelah referendum diadakan. . Hanya sekitar 22. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. langkah pemerintah cukup antisipatif. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis.

Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini.U. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto.F. dan Bank Dunia. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. bahkan sering dipuji oleh I. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya.M. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Kritik terhadapnya semakin merebak. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim.

Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M.R. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya.P.P.R. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. dan ternyata memang itulah yang terjadi.P. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. Tidak selang lama setelah sidang. Sidang M. Ringkas kaji. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh.R. Habibie sangat tahu diri dan .

Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.P. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. termasuk Amien Rais. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk.R. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. sekalipun telah membidik dirinya sendiri.. politik adalah . apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie. tidak peduli siang atau malam. persahabatan kami tidaklah rusak. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. Maklumlah. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya.385 menghormati keputusan M.P.

maka mereka (P. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ). P. dan P.D.P.P.I..A.) merasa sejajar dengan P.. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.P.. dan Golkar. P.S.P.P. Dengan membentuk Poros Tengah. mengalahkan Matori Abdul ..386 habitat yang sebenarnya baginya.A. dalam Sidang M.P. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. di Indiana.P.U.N. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. Intinya dari tokoh-tokoh P.P. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr.R. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie.D. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada. Disiplin ilmunya pun. Fuad Bawazir. P.K.I.K.S.P.N.I.49/51.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22. jawabannya adalah: “Jujur saja. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik.R.D. dan Golkar.

387 Djalil dari P. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. Sekalipun N. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada . Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah.U. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. Inilah dilema N. sebenarnya punya naluri politik yang tinggi. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. Sejak N.U. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. termasuk Wahid.U.K. 1984 di Situbondo. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu.B. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. (Partai Kebangkitan Bangsa).U. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. yang tidak mudah diatasi.

baru teringat silatnya.P. ini aku dengar dari Rais sendiri.U.U. di antaranya Jenderal Wiranto. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Selain itu. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. jika Rais yang maju. di akar rumput bisa gaduh. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Adi Sasono. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie.R.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. Yusril Ihza Mahendra.-Muhammadiyah. Ibarat jago silat. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N. Seperti . banyak yang lain. Dawam Rahadjo. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan.” Situasinya memang rumit sekali. tetapi tetap ditolaknya. Mereka yang akan mengatasi. Tetapi siapa tahu pula. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. setelah babak belur. Akbar Tandjung. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M. Hamzah Haz. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. Marzuki Darusman.

Tetapi itulah A. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. Rahman Wahid ini. diobat oleh para kiyai. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Jadi memang serba dilematis. Dinihari itu A. Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu.P. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. Sekitar .U.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. atau Gus Dur yang akan menemuinya.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. dan massa Muhammadiyah. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A.

P. A. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa.A.R. S. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. Di samping berbicara tentang kabinet. Aneh bin ajaib kemudian berlaku. Azidin..E. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.P.R. perlu dipimpin oleh preman.P.P.R.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi . Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D.” Padahal Matori bukan preman setahuku.P. Muhammadiyah Jakarta.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P.

bapak spiritual N. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka.M. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai . tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari.P. kakek Abdurahman Wahid.-P.U. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P.R. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M.R.I. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. dan masyarakat tertentu. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden.B.D. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya.P.391 seorang calon presiden. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.

U. Hubungan N.392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia.I.M. Hindu. Kristen. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. seorang A.P. Akbar puak H. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Mereka semuanya gembira.R.N.. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. ini kongsi politik yang .P. sampai sujud syukur di gedung M.M. Amien Rais. Lebih dari itu. Amien Rais puak Muhammadiyah. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. Bukan saja mereka. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. Teman-temanku dari pihak Katolik.A. Fatwa. Abdurahman Wahid mewakili puak N.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. dan Budha. tokoh P. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.R.U. dalam lingkup nasional.R.P.

Tiga figur santri: Amien Rais. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu.393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. Abdurahman Wahid. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. Sebelum jatuh sama sekali. serumah berlain rasa. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. Iklim politik .” Belum sampai dua tahun. Sepintas lalu. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal.

Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. dan memang keduanya adalah petarung sejati. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. Amien Rais.P.. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. tidak saja di kalangan elit.R. M. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Dalam situasi serba . seorang pengusaha pribumi. dan Dr. Aku.” tetapi sudah bertarung. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. Deddy Julianto. bukan Amien Rais. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. Akibatnya sangat nyata. Tetapi alangkah sukarnya. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. Khususnya di Jawa Timur. dan ketuanya M.P.394 menjadi panas.R.

tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah.U. termasuk dengan Ketua Umumnya K.395 sulit ini. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.U. N. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. Drs. maka pernyataan P. H. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi. S. P. 1..W. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. tertanggal 5 Februari 2001. A. Hasjim Muzadi. Fasich. perlu kukutip di bawah ini.H. Nadjib Hamid. Karena kejadian itu cukup menegangkan. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. . DR. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu.. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu.M. Apt.Sos. 2.B. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. dan H.

Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. yang dekat denganku terus dihubungi agar .396 3.W. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan.M. 89).U. (Lih. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. tanpa menyebut golongan mana mereka.P. Kontak dengan P. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. Ainur R. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. Surabaya: P. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P. Jawa Timur terus dilakukan. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik.M. yang lain. Nadjib Hamid. Jawa Timur. 4. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. Faaisol Taselan. hlm.W. Sophiaan. Anak-anak muda N. 2002.

Dien Syamsuddin.M. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. K. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. Bagiku semuanya harus dimaafkan. hlm. hubungan N. (Ibid.U.U. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. Kholil Gresik. aku .. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl. tetapi pasti. 55. dengan sedikit perbaikan ejaan. Fatwa: …bajingan negara.397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan. Kata orang. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. A. tetapi isi tidak berubah). benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini.H. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang.

8-11 Juli 2000.R. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan. Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M.U. P.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini.” ( Ibid.. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. hlm..P. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. N. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. 94).U.W. Tetapi P. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku.M. Gambaran urutannya adalah sebagai . Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N.B.

Malik Fadjar. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. Rosjad Sholeh (1034). Bendahara: M. Yahya A.399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Haedar Nashir (748). M. M. Sukriyanto A. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif.P. Ahmad Watik Pratiknya (803). A. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. Rosjad Sholeh. Rapat Pleno P. Sukriyanto A. Amin Abdullah (940). aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden . Din Syamsuddin. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. M. M. A. Wakil-wakil Ketua: A. Asjmuni Abdurrahman (769). (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Malik Fadjar (1041). Amin Abdullah. Muhaimin (971).W. (706). Mohammad Dawam Rahardjo (910). A. Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. M. Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. Ismail Suny (921).P.M.R. Daerah Khusus Jakarta. Muchlas Abror (788). Tidak lama sesudah itu. Din Syamsuddin (1048).R.

Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan .R.l. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali.P. Akbar Tandjung. Amien Rais.P. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. apalagi memberhalakannya. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. Ketua M. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. Ketua D. Inilah a. dan banyak yang lain. M. Analog dengan ini pula. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali.400 Abdurrahman Wahid.R.

Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. Oleh sebab itu. Bangsa ini adalah milik kita semua. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. dan untuk jangka panjang. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan.401 jumlahnya. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Oleh sebab itu dalam .

maka Allah. suku. seperti biasa. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. Muktamar Jakarta cukup semarak. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. tetapi pers. dan sejarah. tanpa melihat latar belakang sosial. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan….Dan katakan: “Beramallah kamu. pada umumnya . agama. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. rasulnya. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini.402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua.

Bilamana sebaliknya yang berlaku.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. . aku betul-betul terjungkal. seperti main uang. misalnya. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. Biar orang lain yang dipilih. sesuatu yang memang tidak kusukai. Malik Fadjar. A. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. Jawabanku biasa dan datar. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. ya diterima saja. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. apalagi pertarungan antar figur. Masyarakat memang demam pertandingan. sekalipun tanpa tim sukses. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah.

wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi .404 Sepengetahuanku. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Semoga begitu seterusnya. Permainan uang seakan telah menjadi norma. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah.P. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Dalam perkara yang satu ini.

Dalam rapat kilat itu. Dengan kenyataan ini.405 menetapkanku sebagai ketua. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P.P. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. mentalku harus benar-benar disiapkan.P. Anggota yang lain setuju saja. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. Muhammadiyah untuk periode 20002005. sebab jika usia masih dipanjangkan. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam . Muhammadiyah. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. periode lima tahun cukup berat bagiku. tak seorang pun yang mempengaruhiku.

I would have listened gladly. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed.P. Jadi. aku terlihat “mengalah. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. namun tidak bisa didikte oleh MAR. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. Bravo. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. ejaan disesuaikan).406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. if you ordered me to pull my support for MAR. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. .” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja.24.

bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. asal . khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Dalam suasana yang tidak normal itu. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.30. aku kadang-kadang merasa seperti bika. di bawah panas di atas panas. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. Aku mau berdamai dengan siapa saja. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi. ejaan disesuaikan). Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. Bagiku sendiri. bika tidak akan masak. Tetapi jika tidak demikian. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah.407 bantulah dia sebisanya.

” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku . sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.P.408 dilakukan dengan tulus dan autentik. Dan bertaqwalah kepada Allah. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya. Muhammadiyah. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman.

Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik.409 kepada masalah kepemimpinan. menggunting dalam lipatan”. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. 24 Januari 2002. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. Bali. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. Apa yang . Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta.

P. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. Rapat Pleno P.P. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. tetapi sia-sia belaka. Kami anggota P. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Dan undangan itu dikabulkannya. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir.P. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. P. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. M. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang . lalu meninggalkan Bali. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. dan aku mendukung. yang mengundang Mega. Yang benar bukan begitu. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din.

jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini.” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini.P. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat . Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. bukan kemauan seseorang. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. P.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu. jam 17.15). Dr.

aku pun dari Muhammadiyah. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden. Dalam perseteruan ini.412 jelas. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. pimpinan M.R. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. ganas. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental. Amien Rais dari Muhammadiyah.R. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. Kekuasaan itu.P. memang dapat membutakan hati manusia. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. Kearifan dalam bersikap sering pupus . Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. Aku melihat permainan politik itu kejam. Amien Rais setelah M. kata orang.P.

jenderal. Tamu-tamu berdatangan ke P. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. pengusaha. asing atau domestik. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. Muhammadiyah Jakarta. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini.P. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. Keduanya cukup profesional. Tidak saja dari mereka.413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. mantan menteri. mobilitasku memang meningkat drastis. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. tidak ada urusan yang tidak beres. siang dan malam. sebab merekalah yang mengatur agendaku. budayawan/seniman. menteri. sekalipun lelah.P. dan banyak yang . Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas.

Susilo Bambang Yudhoyono. Jusuf Kalla. H. Din Syamsuddin. Dawam Rahardjo. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Ahmad Hasyim . Dillon. Gunawan Mohamad.A.J. Weinata Sairin. M. Tarub. M. Amien Rais. Fuad Amsyari. Dengan kata lain. Adnan Buyung Nasution.S. M. Nurcholish Madjid. Sulaiman Abdul Manan. Ajib Rosidi. Taufiq Ismail. Todung Mulia Lubis. Pdt.A. Sri-Edi Swasono. M. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik.414 lain. Ramadhan K.. Achmad Tirtosudiro.P. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Hatta Rajasa. Fuad Bawazir. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. Anas Urbaningrum. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Hidayat Nur Wahid. Megawati. A. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Abdurrahman Wahid. Bambang Sudibyo. Taufik Abdullah. Muchlas Abror. Biku Pannyavaro.S. Franz Magnis Suseno.H. Josef Handojo. Gewanggoe.. Kaban. Habibie. Muhammadiyah dan sesudahnya. Romo Benny. Salim Said. Denny J. mungkin karena ada gelombang yang sama.

dan puluhan yang lain. Mas’udi. Mustofa Bisri. Pertukaran pikiran . A. Masdar F. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. M. Jacob.415 Muzadi. Achmad Bagdja. Salahuddin Wahid. Dasron Hamid. Malik Fadjar. Sulasikin Murpratomo. Muhammad Najib. Umar Wahid. A. Rusdi Latif. Jusuf Wanandi. Bambang Widjojanto.M. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. M. Albert Hasibuan. Rizal Sukma. Hendropriyono. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Siswono Yudo Husodo. Haedar Nashir. Jakob Utama. Muljadi. Sutrisno Bachir. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Hamid Basyaib. Fatwa. Yunahar Ilyas. Amin Abdullah. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Syamsir Siregar. Gafur Chalik. Kuntowijoyo. T. Sjafri Sairin. Matori Abdul Djalil. Suyanto. Zamroni. Watik Pratiknya. A. Fasli Djalal.M. Jeffrie Geovanie. Sudhamek AWS. Rosihan Anwar. Deddy Julianto. Handojo S. Herman Darnel Ibrahim. A. A. Muhammad Muqoddas. Rosjad Sholeh. Sofyan Wanandi.

tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. Lu Shumin (Cina). terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Dengan Boyce malah sering. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai . Dengan duta besar Ralph L. aku sungguh banyak belajar. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. untuk menyebut hanya berapa nama. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris.416 dengan berbagai kalangan itu. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. Richard Gozney (Inggris). Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. aku dan dia bersimpang jalan. aku sudah bertemu dan berbincang. Edward Lee (Singapura). aku belum punya bukti. Boyce (Amerika). tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia.

dan ini sangat Qur’ani. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya. tetapi . a. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. seorang Yahudi.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. Toffler. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. Ya. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya.417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban.l. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua.

Menariknya. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan.418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi.R. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. itu dipercaya banyak pihak. Allah maha pemurah. termasuk dengan beberapa pengusaha. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Bantul. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. tetapi belum cukup. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Fachruddin cukup . Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Kabarnya konon para Ketua P.P. Entah apa alasan dan daya pikatnya. Pak A. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab.

tanpa meminta kuitansi. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. sebuah angka yang cukup besar kala itu. sekalipun sudah saling mengenal nama. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. Jumlahnya Rp. Dasron Hamid (ketika itu). tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A.Y. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. Pada waktu itu kami belum akrab. surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara).419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto.P.000.M. Hasilnya memang di luar dugaan. Tidak perlu menunggu lama. Donatur yang lain berdatangan satu persatu. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu.000. dana itu telah turun dengan mudah. Melihat kenyataan ini. kepercayaanku .R. 500. besar-besar lagi. Menurut keterangan Rektor U. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. seperti yang kulakukan juga. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto. Ada yang datang langsung ke P.

Kaban. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan. Al Hilal Hamdi. aku pun bisa. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. tidak saja untuk muktamar. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. Fuad Bawazir. dan masih ada yang lain. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Jenderal Muchdi.P. Dalam upaya pencarian dana ini. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. M. Jenderal A. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. Dasron Hamid sungguh besar. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. Hatta Rajasa. H. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. . sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Ternyata.M. Herianto).420 kepada diri sendiri semakin kuat.J.S. Hendropriyono. Abdurrahman Wahid. Semoga aku pandai menjaga amanah. Habibie. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs.

Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu. Tidak sekali cara ini kualami. 500. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya.000. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. 50. Tanpa uluran tangan mereka. Dana datang tanpa diduga.P. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar.M.K.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. D. P. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%. . datar.000 dengan pecahan Rp. Maka tugasku dan temanteman P.W. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini. tidak menjadi kenyataan. Tetapi untunglah. Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. ternyata kemudian kempis. reaksinya sangat biasa.I. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus.

kuajak meninjaunya.422 tetapi jika tak punya. yang baru di Jl. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. Cik Di Tiro No.000. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya.P.P. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Hampir Rp. Jogja. 23. Muhammadiyah. Oleh sebab . dia pusing juga. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. juga dibantu Rajasa. Itu pun dikabulkannya. Coba kalau isteri mata duitan. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. menristek ketika itu. Masih ada yang lain. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P.000. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini. 400. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. tentu sambil “merogoh” kantongnya.

P.000.P. Muslim dan nonMuslim. seperti telah disinggung sebelumnya. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P.. Salah seorang sahabatku Sudhamek.423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita.75. di akhir masa jabatanku di P. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan. suasana semacam ini belum lagi tercipta. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Sekiranya aku menjadi politikus.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. . hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp.

424 E. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. Di Era Orba.P. sebagaimana telah kusinggung . Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994.P. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P. Muhammadiyah. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P.P. Sebagai Ketua P.

Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.425 sebelumnya.A. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P.P. Namanya sedang jadi buah bibir publik. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. seorang alim yang tidak punya naluri politik. tetapi Ahmad Azhar Basjir.P.P. termasuk sejarah Muhammadiyah. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. Muhammadiyah periode 1995-2000. untuk memimpin P. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan. malang yang tak dapat ditolak. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Mujur yang tak dapat diraih. Suasana inilah yang kemudian . Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais.N. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati.

Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua. yaitu Gorontalo. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. Hampir semua wilayah telah kudatangi. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.M. Keinginan warga. tetapi tidak mungkin ditandangi. tetapi beberapa P. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. tidak saja dengan wilayah. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005.P. Satu dua cabang.D. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. bahkan ranting pernah pula didatangi. dan Sulawesi Barat Daya. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. jika mungkin.M. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. apalagi seumurku.D. Sekitar 400 jumlah P. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. maka periodeku menjadi tujuh tahun. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. Bangka-Belitung.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya.

. Suasana semacam ini memang memprihatinkan. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali.427 gerakan sosial lain di Indonesia. secara kuantitatif. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. tidak lebih dan tidak kurang. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral.

Promono U. Hilaly Basya. kesehatan. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. Andar Nubowo. Zuly Qodir. M. Abduh Hisyam. Saleh Partaonan Daulay. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Abd. Sebagian dekat dengan Dr. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Pradana Boy ZTF. A. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Rohim Ghazali. M. .428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. seorang kiyai-antropolog. Mun’im A. Kuni Khoirun Nisa’. Muslim Abdurrahman. Sirry. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Hery Sucipto. Menurut Fuad Fanani. Ahmad Fuad Fanani. Thantowi. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Sukidi Mulyadi. Hilman Latief. Asep Purnama Bahtiar. Norma Permata. Zakiyuddin Baydhawi. baik untuk pendidikan. di antaranya Ahmad Najib Burhani.

Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. Nur Hidayah. bergabung dengan yang lain. kita belum bisa mengatakan. Rahayu Arman. Fajar Riza Ul Haq. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. padalah niat semula adalah untuk beramal.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi.429 Ilham Mundzir. Budi Asyhari Arman. kadang-kadang bertubi-tubi. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. Berbagai masalah pasti muncul. Ada contoh . sekuatkuatnya secara kritikal. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional.

di tingkat P. kecuali kembali kepada ruh agama. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. pun. bukan karena yang lain. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. Keterikatan kita bukan dengan manusia. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan.P. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus.P. Jawabanku adalah: “Jangan. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. jangan dibiarkan membusuk. tidak saja di tingkat bawah.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. karena alasan tertentu. hal serupa terjadi. itu bukan hal baru. Kekuatan .” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. seperti telah kukatakan. tetapi dengan cita-cita persyarikatan.

Sekalipun tidak sempat aktif benar. kritikal. tetapi aku . Vendley. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.P.S.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W.U. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif. Yordania. Alamat kantor pusat W.C.R. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah.A. William F.R. berada di New York dengan sekjennya Dr.P. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. setelah pertemuan Amman. NY 10017. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. hampir satu abad yang lalu. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah. Kantor pusat W. New York.P. U. Karena masyarakat terus bergerak. adalah: 777 United Nations Plaza. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. seorang Katolik yang taat. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan.C.R.C.

Rupanya 16 Lih. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. seorang sahabatku Dr. Suharyo. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. terbuka. Dalam pergaulan lintas iman. Yang jelas. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. . I.cit.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley.16 Rasanya Dr. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. op. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. hlm. Uskup Agung Semarang. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. inspiratif. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. 555.. Abd. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay.

wartawan. Ajib Rosidi. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas.433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Rendra. Gunawan Mohamad. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. Endo Suanda. Sardono W. Rendra.. atas dorongan seniman W. Dini.J. Slamet Abdul Syukur.J.S.S.D. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman. Firous. cendekiawan. Kami memilih Prof. dan para penulis terkenal. aku dimasukkan menjadi anggota A. Kusumo. Dr. Rooseno. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu.H.. Taufik Abdullah. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. Sardono W. Nh.M. Toeti Heraty N. Anggota A. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Misbach Yusa Biran. Saini K. Ramadhan K.J. A. Tatiek Maliyati W. di atas 60 tahun. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. .. Ahmad Syafii Maarif. Pada saat Prof. Rata-rata usia anggota A.

Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. Dengan belajar ini.434 Kusumo. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor.J. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh.J.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. .

pena.435 Kenggotaanku dalam A.J. TIM.J. di Gedung Graha Bhakti Budaya. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. dan pribadi pengarangnya. akan menjadi berkah pada umat. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. ketika kita membaca . Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. ungkapnya. Tapi sebaliknya.J. 22 Nopember 2005 lalu. Kaum intelektual. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. tangan. Anggota A.

(SMS tanggal 15 Feb. memang. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. No. 17 . ejaan disesuaikan). “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. 2006. aku sering dipanggil buya. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. 3. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. Salam”. [Endo Suanda].17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. Karena berasal dari ranah Minang. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. 16:23:58. sadar ataupun tidak. Ya. sangat menentukan. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. hlm. 77/VIII/2006. Kejujuran di situ terasa. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato.436 suatu karya sastra. untuk bisa jujur. melainkan titik-titik yang merentang panjang. pantangannya jangan berdusta. Jadi.

Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya.437 bu dan ya. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. VIII. S.K. integritasnya sebagai buya sering berantakan. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang.S.R. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik. Adalah Nursam. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini.. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. MASA DEPAN INDONESIA A.R. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. wibawanya merosot ke titik nol. setelah para buya masuk politik. akan terbaca buaya.K. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku.

“Syafii Maarif. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. Dillon. Pemberantasan Korupsi.U.S. hlm.. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. Menurut catatan Dillon. belum tidur benar. Tetapi dengan deklarasi di atas. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan.cit.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih. op. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.. Gemanya luar biasa. 290. H. 18 . aku. H. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi.U. Muhammadiyah dan N.S.U.

Saya.U.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Jika berhasil. Sebaliknya jika gagal. katanya. mungkin masih ada masa depan. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. sebagai orang dalam. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. N.

Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN. ini. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas.U.U. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. . Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan.440 langkah kontroversial itu. bukan gerakan eksekutor. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. Sebagai gerakan penyadaran. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama.

sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. Diharapkan dengan gerakan moral di atas. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. masih belum terlalu fokus. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini.441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. . bersama kekuatan lintas agama.U. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. tetapi menurut para pengamat. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan.U.

Dr. No.R. S. M.K.M.l.Ag. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof..P. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H.. kemudian ditegaskan lagi dalam U.U. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K. di antaranya Rizaluddin.R. Hoc. Adanya K. dapat kujelaskan sebagai berikut. Deliar Noer.R. Dikatakan bahwa pelanggaran H. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. surat keterangan dari dokter.. Anhar Gonggong. ada beberapa syarat yang harus ada.. VI/2000 tentang Persatuan Nasional.M.A.R. Melihat . 26/2000 pasal 43. akan ditangani K. Natan Setiabudi. ini merupakan pelaksanaan TAP M.A.K. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil.Si. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. No. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini.R.K. Dr. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005.K. a. Ad.442 Tentang pencalonan K. Asvi Warman Adam. Namun setelah dua seleksi berjalan. Dr. Dr.

dan mereka saling memaafkan. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan.R. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Di mata mereka K. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. aku akan menjadi kecil. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan.K.443 gelagat semacam ini. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu.K. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Karena itu. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap . Bukankah K.R. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. kata Rizaluddin. Menurut Rizaluddin. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri.

jika aku diterima masuk bersama dengannya. Menurut sahabat ini. Agar masalah ini tidak terus . Dalam hati kecilku.I. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. Natan Setiabudi. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). seorang sahabatku.G. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. mantan Ketua Umum P.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. sekalipun dahulunya mereka. Dr. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. atau nenek mereka telah saling membinasakan. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. orang tua. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. sekalipun sekiranya aku masuk.

Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis.K.R. energetik.P. Nah. Orang seperti aku. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. K.445 mengambang. dan yang sebangsa itu. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P.. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda. jika masih diperlukan. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua. dan punya waktu yang lebih banyak. .K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. Tidaklah elok bagi semua.I. bersedia sementara P. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. Muhammadiyah ditinggalkannya. seandainya aku diterima sebagai anggota K.P. cukuplah menjadi penasehat.R.K.R.P. dalam Muktamar Malang. pelindung. Muhammadiyah.

entah mengapa). aku tentu dengan senang hati akan memberikannya.M.K. Komitmen kebangsaan dinilai sudah .R. tidak ada perbedaan di antara kita. (sampai tanggal 23 Peb. namanama anggota K. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih.K. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L.446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P. Kita satu. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau.R. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya.K. Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing.I dan sisa-sisa pendukungnya. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara. komisi ini belum juga diumumkan. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini. 2006 pada saat bagian digarap.R.S. (Lembaga Swadaya Masyarakat).K. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K.

sebuah bank swasta yang diakusisi. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo. selama lebih tiga tahun. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P. maka kasus B. di dalam diri sendiri ada masalah B.P. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu . Teman-teman Majelis Ekonomi P. Masalah B.I. M. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku.P. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana.P. S.I. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini.447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. B.P. Dawam Rahardjo.I. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P.E.I.P. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta.P.P. Muhammadiyah di bawah komandan Prof. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi. Aku yang tidak paham soal bank.

tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar.I. dan M. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah.448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan.. Thohari. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah.I. M.P.P. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.A.I.I. termasuk di dalamnya perbankan.E. itu tidak benar. S. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y.P. . Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu.N. (waktu itu) Saefuddin Hasan. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang.

.P. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. Dalam sebuah rapat P.I. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P.P. Muhammadiyah itu bahlul. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. Jadi ini adalah saham fiktif. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya.P. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal.P.. Membaca . aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. tetapi kutolak dengan sopan.P. orang kepercayaan Lulu. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P. Sekiranya kuterima. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda. yaitu aku sendiri. Suatu hari melalui Hajri.449 Tidak ada motif macam-macam. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. kecuali kebaikan. Ketua P. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah.

tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman..450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah.I. melepaskan sahamnya di B. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B.. tetapi alangkah sulitnya. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu.I.P. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak.P. seperti tersebut di atas. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan .I.P. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati.P.P. semakin memburuk dari hari ke hari. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui.I. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku.P. Karena kondisi B.

451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M.K. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank.P.P.P.I. sekalipun masih ada ganjalan hukum. Semua permintaan Hajri kujalankan. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku.P. Kalau aku melakukan refleksi tentang B. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B.J.J.I. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005.K. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya. aku kirim SMS kepada M.K. kalau ada masalah B.K. ini.J. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.J.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B. Jawaban langsung dari M.I. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P.K.J. sampai aku merasa malu sendiri dengan M. karena seringnya pertemuan itu. benarlah ucapan M.P. Setelah terlihat titik-titik terang. aku memang tidak bisa lepas tangan. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: .I.) dalam upaya mencari jalan ke luar.

Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. anak Kuantan. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. 2004. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. . Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan.R.M. Jakarta: PSAP. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. maka tunggu sajalah saat kehancurannya. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. Pada masa yang akan datang. B. Toni. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.

Ph.453 Riau. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat .. atau pulau lain. dan berdarah Minang. guru besar Universitas Negeri Ohio. Namun. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Columbus. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. tentu tidak boleh diremehkan. (Universitas Indonesia).I. William Liddle. untuk membubuhi kata pengantar. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Athens. Jawa. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia.” Di ujung kata pengantarnya. apakah dari Sumatra. Kini. Amerika Serikat. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. sementara Rizal di U. R.D.

Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Taufiq Ismail. Salahuddin Wahid.S. bertempat di Hotel Aryaduta. Dillon. W. Deddy Julianto. Wiranto. hlm. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. Muhammad Najib. Rizal Sukma. Rosihan Anwar.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. XX). Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . sahabat. Natan Setiabudi. Jakarta. Douglas Rumage. Akbar Tandjung.S. H. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. M. Din Syamsuddin. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. terutama dalam bidang ilmu. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. Syafii Maarif. Tamu yang hadir cukup banyak. Jakob Utama. Jeffrie Geovannie. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. pasti akan menyokong pesan ini (lih. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. bagiku. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. Rendra.

Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. Jakarta: Maarif Institute. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. 2005. sebagian cukup panjang. . melampaui usia nabi. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). Jakarta: Maarif Institute. yaitu Abd. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay.455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. termasuk dari penulis asing. 2005. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada.

dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. Hasyim Muzadi. Suyanto. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. Sutrisno Bachir. Thohari. H. Hidayat Nur Wahid.S. tebal 317 dengan indeks. Deddy Julianto. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Sjafri Sairin. Bambang Sudibyo. Herman Darnel Ibrahim.456 tebal 267 halaman dengan indeks. Fadilah Supari. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. 2005. Universitas Negeri Yogyakarta. Jeffrie Geovanie. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. M.. Ada dari pengusaha Handojo S. A. Jakob Utama. M. Kardinal Julius Darmaatmadja. Hajriyanto Y. Rizal Sukma. A. Husni Amriyanto Putra. Akbar Tandjung.S. Natan Setiabudi. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. Hatta Rajasa. Syamsir Siregar. Jakarta: Grafindo. Salahuddin Wahid. Dasron Hamid. Muljadi. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). . Anton Syafriuni. Deddy Julianto dan temantemannya. Sudhamek. Malik Fadjar.I. sumbangan datang dari berbagai penjuru. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Dillon.

P. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. semua yang hadir. Dana yang masuk melaluiku. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. Muhammadiyah. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A.P. khususnya M.000. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan.457 dan banyak dermawan yang lain. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Tidak kurang dari Rp. Karena sudah lama kupertimbangkan. Rais. baru ditetapkan. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat.P. Masih ada teman-teman P. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. 700.A.P. . tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. C.

. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat. demi kemenangan jagonya. dan benar-benar menjadi tenda bangsa..P. Asjmuni Abdurrahman. Abdurrahim Nur. Alhamdulillah. harapanku ini menjadi kenyataan..M. Maka jadilah P. Amien Rais. dan beradab. Dr. M. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof. Dr. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. sesuatu yang tak mungkin kulakukan.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui. terarah. Tetapi praktik main . M. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. L. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. Ismail Suny. dan Ahmad Syafii Maarif. S.H.A. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya.A. Prof.L.. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. anggun. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. M. Prof.

Anggun. dan Beradab”(Republika. .459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. 12 Juli 2005. Tetapi. 12). terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. dalam bingkai moral yang prima. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. produktif. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. hlm. 3-8 Juli 2005. berlangsumg dengan aman. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini.

Din Syamsuddin. . sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar.460 Tanwir berjalan dengan mulus. Memang. agar keutuhan tetap terjaga. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. patut disyukuri. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. gesekan terselubung pasti terjadi. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. Memang. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. anggun. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. dan beradab. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak.

saya tidak punya kosa kata lain. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. penuh warna. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. Kepada para sahabat yang tulus ini. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. seperti yang telah disinggung di atas.

P. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. yang masih berharap agar terus.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. para pengusaha. . Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. Muhammadiyah. saya mohon maaf. sekalipun belum tentu seagama. pejabat-pejabat negara. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. Dalam muktamar Jakarta. “Memimpin adalah untuk melepaskan.462 yang tidak bisa dinilai dengan benda. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. tahun 2000. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural.

baik di dalam mau pun di luar. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Pasca Malang. dan undangan departemen luar . saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. di mana aku memberikan makalah. baru dua yang kukabulkan. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun.463 Akhirnya. itulah aku. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. Bagiku. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. saya juga mohon dimaafkan. Apa yang kukatakan. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. Beberapa undangan dari luar negeri. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan.

Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Karena aku sudah semakin tua. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. kita tidak dapat memaksa. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. . Filipina pada bulan Maret 2006. dinamis.464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. kreatif.

Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. lebih 20 tahun yang lalu. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. .P.R. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain.T. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka.T. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini.465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. Kami mengangsur perumahan K. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. D.N. bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. artinya banyak air.

. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. jenis kerja. bisa jadi dapur tidak berasap. 87. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Madura. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis.670. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. dan agama yang berbeda. belum sampai 15 tahun. Ada yang berasal dari Kalimantan. Sumatera. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. dan dari lain-lain pulau. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. dimulai sejak Desember 1985. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa.

D. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Dr.467 Dari jenis profesi. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. wiraswasta. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. pegawai departemen pendidikan nasional. Suyanto. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. tergantung keadaan masingmasing. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. alumnus Perancis. tentara. karyawan RRI. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. Ada Prof. ada juga Dr. Prof. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. dosen negeri dan swasta. dokter manusia dan dokter hewan. Dr. keduanya tamatan Amerika. Mohtar Masoed. ada saja rombongan yang berangkat. jaksa. Marchaban. Tetapi setelah masjid berdiri pada . pertamina. polisi. Beberapa pemegang Ph. dinas pubakala. di antara mereka ada karyawan bank. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. Tidak pernah putus saban tahun.

entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. dosen fakultas . Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid.G. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan. H. Hubungannya denganku sangat dekat. Ada Drs. H.Si. Sewaktu menulis bagian ini..P.P. Djumari.468 tahun 1989. sekalipun untuk tingkat R. Agak sedikit emosional. M.W. Beberapa tahun menjabat ketua R. pimpinan P. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. terbayang olehku wajah Drs. (Rukun Wilayah). Muhammad Bachtiar. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya.T. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). H.

Negeri Jogjakarta. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih.K. dan karyawan pada sebuah bank. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa.M. pernah menjabat Ketua R. H. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan.W. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta. VII. Berasal dari Prembun (Kebumen).Si.. maka nama Kastolani. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia.M. adalah yang paling menonjol. 16..T. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. mantan jaksa. S. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah.469 psikologi UII. Ada lagi bung Drs. Semua urusan di tangannya beres. tidak ada yang tidak selesai. Kemudian Ahmad Syamlawi. B. pengurus R. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. Heru.H. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S. Teman ini .A..E. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. S. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya.

.seorang sarjana teknik listrik. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. Duriat Subekti. (Lembaga .470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto.M. Selama bulan puasa. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging. H. Kalau ada urusan pengeras suara.Si. dan ‘isya’. mantan kepala R.H. Eko Supriyanto. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. Sekalipun baru pertama kali. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. Nama Ir. M. Sumenep. M. Tampak pula wajah Dr. Tidak saja itu.I.Pd.S. maghrib. M. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing.R. S. dialah ahlinya.. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh.T. juga tarawih. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Ada lagi H. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto.. Irawadi Buyung. Inilah sosok yang punya naluri L. tidak boleh dilupakan.

pemaaf. Jika komputerku sedikit rewel. Thohar Fuaedy. di samping ketua Y. Miska Amin.” Ada lagi Drs.471 Swadaya Masyarakat). berasal dari Bengkulu. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka.Si. M. dan humoris.. Namanya Hartoyo. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. M. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina.A. beberapa tahun menjadi ketua takmir. H. Dadanya lapang.N.I. M.. Pd. Yang lain adalah Drs. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. aku pernah minta tolong kepadanya. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. Tinggal agak ke utara masjid. ada Drs. di samping khatib Jum’at. Mohammad Hatta. karyawan perusahaan minyak itu. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di . seorang ahli komputer.S. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. di samping sebagian sudah kesebut di atas. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”.

S. juga dari Bengkulu. ada kalanya terlalu sibuk di luar. sudah puluhan jika bukan ratusan. dari Manna. Kadangkadang rajin ke masjid. Hermanlah orangnya.E.A. M.472 berbagai media cetak.I. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang.Si. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Usmar Salam.. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Perawakannya tinggi semampai. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Teringat juga sosok Drs. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. dari unit Syari’ah bank B. hilang kala tertawa. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia).R. di samping H. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. tugas pokoknya adalah menimbang daging. Dia teliti sekali. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. Hermansyah. Setiap ‘Idul Qurban. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban... Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. Riau Daratan. Yulian Yamit. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. . Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Namanya H. Berasal dari Lirik. Apalagi matanya. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. M. Marsono.

473 dan H. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. adalah wajah ikhlas. agar citra santrinya lebih kentara. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Jarang absen. Aku tidak tahu apa alasannya. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. berasal dari Bojonegoro. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat . sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Aku melihat wajah ketiga teman ini. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. Pernah dua periode menjabat dekan. alumnus U. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. Berat badannya sekitar 80 kg. seperti wajah teman-teman lain.A. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. dan Hawaii.I. Warsono Muhammad. H. Rasanya pernah dikatakannya. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing.I. Abdul Aziz dari pertamina.. M.

Sc. H. Ada pula drh. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). H. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid.G..Si. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. Teman lain adalah Bambang Samiyo. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian. Jama’ah lain adalah H. berasal dari Kudus. H. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Teman-teman lain masih banyak.E. dosen Universitas Muhammadiyah .. Sudiyono.M. Dalam rangka mengurus daging korban. Ada Drs. M. Hilman Nadjib. Siswojo. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Kecuali untuk jama’ah subuh. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. Keduanya sama-sama ekonom. dari pimpinan Bank Mandiri U. S.P. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto.P.474 ekonomi yang lain. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid.M.M. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. M. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. pemilik apotik di Bantul. mantan kepala L.

Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. pindahan dari Kalimantan Tengah. Tidak semua mahasiswa. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. asal Sumatera Selatan. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. ‘isya’. Dalam kegiatan . Universitas Negeri Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Idam Nawawi. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an. khususnya untuk maghrib. Ada lagi Suharwidjono. spesialis anak. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. begitu juga dr. mengajar dan belajar sesama mereka. dan subuh.I.. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. di samping sekolah mereka yang lancar.I. U.475 Yogyakarta.

000. Sebelum dihidangkan kepada tamu. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan.000.S.I. 500. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. rata-rata Rp.A. Seperti telah kukatakan.N. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”.S. 200. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y.T. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp. istilah Minang untuk jutawan.I. mereka selalu diikutsertakan.N. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif.000. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. 6.000 per bulan.A. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku . VII perumahan Nogotirto.476 kepanitiaan.

beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. Rusli Karim.. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan. asal Palembang.M. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. Disertasinya telah rampung ditulis.K. seperti yang telah kusebut terdahulu. Di antaranya Drs.A. M. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Bung Rusli adalah seorang aktivis . Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. Biaya kuliahnya pada I. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. salah satu kelemahanku adalah suka makan. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. Berbagai jenis masakan dihidangkan. Sebagai manusia kelahiran Minang. Setiap Hari Raya Qurban. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. tempatku memberi kuliah selama dua tahun.I. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. biasanya setelah salat zuhur. seorang penulis prolifik. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. M.P.K. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya.

Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. mantan jaksa. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. kajian agama.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. Perbedaan ini wajar . Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora.I. Berbeda denganku. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. seorang sarjana teknik U. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. dan S2 di Rotterdam (Belanda). Bukan saja aku. Hafiz. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto.I. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Muhammadiyah pun kehilangan. Dia dimakamkan di pemakaman kampung. dinihari sudah dipanggil Allah. apalagi sejarah. politik.

agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. Alhamdulillah. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu.479 saja. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Tetapi aku akan naik pitam. sekalipun sering aku peringatkan. jika anak tidak tertarik untuk belajar. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan.

480 yang sangat tajam. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. seperti sakit atau kematian. politik.R. terakhir bertugas di Jayapura. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Di perumahan Nogotirto ini. suasana lingkungan perumahan Nogotirto . ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. Angka pengangguran malah semakin bertambah. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. Teman ini adalah pensiunan B. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. bicara macammacam. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan.I. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Sangat praktis. Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta. Ringkas kata.. Kami biasa bersenda gurau. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. ekonomi.

Di bawah kordinasi M. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006. Atas gagasan Prof. Deddy Julianto. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Novirman . yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. E. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu. Dr.

Muaro. Solok. Lintau. Tamu dari Jakarta a. dua dari departemen perhubungan. Kopertis Sumatera Barat. seperti tersebut di atas. staf khusus menteri pendidikan nasional. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. Jambi. dibantu oleh Drs. Padang. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. Hatta Rajasa akan hadir. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. karo keuangan departemen pendidikan nasional.l.482 Djamarun. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Bandung. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. dirut Indofarma dan . Sijunjung. Riau. TK. tetapi karena mendadak dipanggil presiden.

saya hitung-hitung lebih dari satu milyar.M. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. surau. ketrampilan. direktur IGM (Indofarma Global Medica). Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. Sudirman. dua orang dari Maarif Institute. rektor Universitas Negeri Jakarta. Nilai keseluruhan bantuan. M. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . karo kesra wakil presiden. baik berupa voucher mau pun uang kontan. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. Tidak ketinggalan Ir. mantan dirut BNI. dan beberapa anak miskin. Seperti perhelatan besar saja. Ir. masjid. TK dan panti.. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. salah seorang direktur PLN Pusat. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan.483 staf. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. panti. Herman Darnel Ibrahim. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. mantan dirut BNI.

Kabarnya di atas 50. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. padahal penduduknya hanya 270 juta. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. yaitu 27%. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. Indofarma. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. baik yang disediakan dephub. Sepintas lalu. serta kendaraan pribadi. jika tidak waspada. jika orang tidak . PLN. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. sesudah oksigen. Menurut Darnel. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan.

tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. seni khas daerah itu pasti. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. 200. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. akan punah dimakan musim. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. 150. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp.000 per orang. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. lambat atau cepat.000 s/d Rp.485 membaca informasi tentang sumbangan di atas. .

L. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. seperti telah kusebutkan di atas. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini.000 dan Rp. 20. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. 50. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga. 31 Januari 2006 untuk Republika.000.N. . Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan.000. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.000.

aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan.A. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak.P. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. IX. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. Sumpur Kudus. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di . Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal.487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Dari seorang anak piatu di desa Calau.M. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah.

memancing ikan di Batang Sumpur.R. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Bahkan lebih dari itu.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. mengadu sapi. mengadu ayam bersama mereka. Aku menjala. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. karena sudah terlatih sejak kecil. Lintau. Topik perdebatan . hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Sampai setua ini.

Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). jika bukan semakin menguat. Wahid dan M. Bahkan sampai aku .489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. Harun Malik. A. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. tetapi tidak tetap. Wawasan semakin luas. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini.

Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya. Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . Peran Fazlur Rahman. sungguh sangat besar. dengan segala kritikku kepadanya. padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. Amerika Serikat. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga.

bukan milik kita. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. dan kritikal. khawarij. jujur. bukan dari Rahman. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. diterima atau ditolak. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas . Untuk Indonesia ke depan. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya.491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. syi’i. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi.

di . Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. tidak pernah berhenti. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik.A. Dalam ungkapan lain. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. Pandangan Mohammad Hatta dan H. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu.

Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. Apakah . khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia.493 samping Bahasa Indonesia. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. betapa pun kecilnya. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu.

Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. Masuk tidak menggenapkan. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. keluar tidak mengurangi. tidaklah penting bagiku.

setengah berhasil.T. Muhammadiyah. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. 1998-2005. sosial. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. Karierku sebagai Ketua P. (Inpres Desa Tertinggal) itu. . Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik.D. dan kultural secara nasional.P. domestik atau pihak asing. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. Tidak untuk saling menggusur. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. apalagi saling meniadakan. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. atau setengah gagal. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. gagal.

Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. aku masih terlihat sehat. ternyata tidak demikian. alhamdulillah. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu. simposium. Selama hidup. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan.P. jika tidak lupa. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Sebagai pembawaan dari Minang. selera makanku belum menyusut. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. Diskusi.. dunia terasa berputar . Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. Mungkin karena terlalu lelah. sekalipun secara selektif. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. seminar. dapat dikontrol sebaik-baiknya. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004.

Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini. S. jangan sampai merepotkan orang lain. demikian seterusnya tanpa putus. Oleh sebab itu. karyawan P. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. S.E. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. tidak ada gading yang tak retak. Tetapi sudahlah. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali.. S. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku. tidak akan ada ujungnya. atau bahkan dibuang.P. Kepada para sahabat yang . Muhammadiyah Jakarta.497 kencang sekali.. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri.E. diperbaiki. ditambah. dikurangi lagi. dan Zainuddin. bisa jadi akan berlarut-larut. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. ada saja yang perlu ditambah. dikurangi. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. Dibaca ulang.Ag.

Jl. 19. Jawa no. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman .42 di Perum Nogotirto Elok II. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10.498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan. Muhammadiyah dan Bung Nursam. dari Penerbit Ombak Jogjakarta. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan.P. Jl. Halmahera D/76. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20. sejarawan.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II.

dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . . . . . . . . . . . . D. . B. . . . . . 20 34 76 C. . . . . . 92 1 . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . . . . . . . . . MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . 108 A. . . . . . . . . . . . . 1 A. . IBU-BAPAK. . . . . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . . . . . . . . . . . . . A. . . . . . . . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . .499 I BUMI KELAHIRAN. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah .I . . . . . . Lintau . . C. . . . Sumpur Kudus. . . Mulai Dijodohkan. . . Bertugas di Lombok Timur . . . . . .. . .. . . . . . IV . . . . . . . Makkah Darat. . . . 125 A. . . . III . . . . . . . . . MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . . . . . . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . M. . . . . . . . 125 B. . . . . . . . . . . . . .R. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .D. . . . . . . . . . . . . 92 104 B. . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II . 156 143 108 113 B. . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. . . dan Perdagangan . . . . .

. . . . . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . . . . . . . . . . . 175 A. . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. Muhammadiyah. . . . Perkisaran Abad. . . . . . . Lulus S1. . . . . . . Habibie. . . . . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . . . dan Lahirnya Ikhwan C. . Chicago II: Setelah Titik Kisar . .R. . . . . . . . . . . . . . . . C. . . . . . . . E. . . . Keruntuhan Rezim. . . . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . . . . . . . . . . . . dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . 319 A.P. 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. Sebagai Ketua P. . . . . . . . . . . 181 D. . . BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN.K. . . 170 VI B. . . . . . . . . . D. . . . . . . . Harapan. . . Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . . . . . dan Kecemasanku. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Muhammadiyah. . . . . . . . . . . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . . . VII . . . . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 . . . C. . . Kembali ke Jogja. .500 A. . . . . . Kiprahku dalam Memimpin . . . 175 B. . 214 A. . .

. . . . . . . . . . . . D. . . . . . . . . . . . Syukuran Listrik . . . . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . . AKHIRNYA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . E. . .501 B. . . . . . . IX . 330 333 339 351 355 C. . . . . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . .

kakoncu. inyo. panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi .502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo. onga. udo.

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful