1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

000 jiwa. parewa ini belum hilang. orang lalu berpindah ke kawasan lain. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. masih galau bagiku. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. Secara kultural. Kultur . Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. kita tidak tahu. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. Tetapi bahwa korban pasti ada. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban.11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20.

maha Pencipta. dan bertanggungjawab. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. .12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. kata teori antropologi. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. bukan kultur otak. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. santun. rasanya cukup punya alasan. setidak-tidaknya secara statistik. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. suatu on-going process. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. peran organisasi kemasyarakatan. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi.

(Perang Dunia) II (19391945). Maninjau. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. pada tahun 1925. Jusuf Amrullah. Itu hanyalah urusan administrasi. Abdulkarim Amrullah. Hamka. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. A. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. H. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. Yang pokok .13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. Sutan Mansur. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah.R.D. Dr. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. Pelopor utamanya adalah Dr.

tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. sedangkan emas jika sudah habis. amat sulit untuk disimpulkan. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. tidak dapat diperbarui lagi. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang.14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. ya habis. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Dari kawasan inilah a. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. kemudian ke Eropa. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus.l. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan . Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya.

itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Tentu mereka semua buta huruf Latin. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. semuanya gelap bagiku. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947.15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. berupa sebuah S. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang.R. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh .

termasuk aku. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Rasanya tidak ada yang kalah. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Umumnya dengan kaki telanjang. Anak Sumpur banyak yang sombong. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. antar anak Sumpur dan anak Silantai. Sumpur Kudus. tidak dia dan tidak aku. teman sekelas di S. dan Mangganti. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. terjadi pulalah pemekaran . Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. antar anak Sumpur dan anak Calau. Silantai. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. sewaktu aku masih kecil. sekolah ini sudah muncul. Sumpur Kudus ini.16 pemerintah kolonial. Sejalan dengan pertambahan penduduk.). Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak.R.

298. indeks buku Dobbin hlm. Dari sisi ini. Kumanis. Mangganti. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Unggan. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. aku pun tidak bisa menjelaskan7. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian.17 pusat-pusat pendidikan dasar. S. Durian Gadang.D. Satu nagari saja bisa punya lima S. Ibid. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. Siluka. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. dan lain-lain.D. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. Dalam soal pendidikan dasar ini. . sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. Dengan perubahan positif ini. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana.

asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif.18 kampung baru. hlm. Tidak Lih. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. Jakarta: Maarif Institute. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. kecamatan. 369 9 . 2005. kota. dengan Kabun sebagai nagari termuda. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak.). dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. Pada berbagai forum dan kesempatan. kabupaten. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati.9 Jakarta: Maarif Institute. propinsi. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. 2005. memisah dengan induknya. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. hlm. mekar pulalah nagari. rakyat meneroka (babat alas. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. 369).

Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. . Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru.19 dibuat-buat. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. kabupaten. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan. Jika perpecahan ini yang berlaku. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. atau propinsi. tidak pula untuk mencari posisi duniawi.

Orangnya berkumis. tinggi sedang. pakaiannya putih necis. hanya orang kafir yang tidak . Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. ketika upacara khitan itu berlangsung.20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. agak langsing. (Tanomeh= sutan emas). Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. berdenyut sampai ke otak. Jangan main-main dengannya. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Kata orang kampungku. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. rasanya masih perih sekali. persis seperti anak-anak kampung yang lain. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. Bagindo Tanomeh. juga nama kecamatan di era modern. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu.

tetapi aku sudah lupa judulnya. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. Di kala kecil. Bagaimana mau menggeliat. Tranportasi perahu sangat menyenangkan. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. karena . aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Ada juga bacaan ArabMelayu. tetapi jauh dari suasana renungan. Bacaan lain sangat langka.21 bersunat. belum menggeliat. Bacaanku nol.R. jika bukan tumpul sama sekali. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. Apa yang mau direnungkan. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. berjudul Cahaya.

Dari tanah kita berasal. persis seperti manusia. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. Maklumlah masih dalam usia S. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda.R.22 aku tokh bisa berenang. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. Prosesnya berjalan lamban sekali. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. Pulang ke asalnya. Dan memang tidak perlu mengelak. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. ke tanah kita pasti akan kembali. siapa pun dia.

tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. saling mendukung.23 dari pepohonan. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . kabarnya sudah hampir punah. Kemudian di Muaro Sijunjung. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. tupai. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. Masing-masing saling memerlukan. dan bermacam jenis makhluk bermain. bersenda gurau. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. Oleh sebab itu para perusak hutan. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. dan mencari makan. kera. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. tempat burung. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. demi upeti.

oleh siapa pun. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa.24 jauh lebih perkasa. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. Tetapi jika . Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. Air sungai ini pun larut menjadi asin. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Tidak hanya berhenti di situ. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang.

Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. Jangan main-main dengan air. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. khususnya pada musim hujan. Prilakunya mesti dipelajari. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. bahkan peradaban. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. sawah dan ladang. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro .

Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. ke rumah adik-adik seayahku. Semuanya mengalir begitu saja. bertukarnya tahun. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. Selama menganggur. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. Tidak urut. Semuanya berlalu begitu saja.26 Sumpu ini. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. tidak ada kesan yang mendalam. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. bersamaan dengan bergantinya musim. sewaktu masih di S. pertanda usia sudah semakin mendekati .R. puitis sekali. tidak teratur. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Semakin lama orang berpisah dengannya.

Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. Ke mana-mana seekor ayam . belum terlalu lama hilangnya. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. sampai saat menulis bagian ini. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16.27 hari-hari terakhir. Zulfahmi (Emi). adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. B. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. dan sabung ayam sebagai profesinya. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. aku pun tidak tahu. Fisik pun sudah mulai renta. rampok. penyebar Islam di kampungku. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut.

Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. darah siapa pun. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. asalkan tidak pakai taruhan. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah.28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Kita kembali ke Tanah Bato. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah. Aku kenal sekali dengan binatang ini. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang . si warna merah penghisap darah. Ia menggigit dan terus menggigit. tidak peduli darah apa pun. Sekiranya pakai taruhan. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian.

sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Pertanyaannya . Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. aku tidak lagi ke sana. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. mana pula yang berbau syirik. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah.29 terletak di seberang Batang Sumpur. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. Bahkan lebih dari itu. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. Di saat kecilku. seperti kuburan.

Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. Menurut cerita Zulfahmi lagi. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. . Dalam kasus semacam ini. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. untuk tujuan baik tentunya. serba puritan. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. Karena dia memasuki kawasan hitam. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. Tetapi ada segi buruknya. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti.30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya.

entah yang ke berapa. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. Ini pun sebenarnya tidak aneh. Sjamsu Anwar. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. M. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. yang lain mungkin makam pembantunya. Sanusi Latief. alangkah bagus dan elok nama itu. Bandaro Lubuk Sati. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. karena ada .31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang. dalam mengembangkan Islam. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. dan Jafri Dt. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya.

Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. kemampuan juga terbatas. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama.J. Umur manusia terbatas. Kota Semarang. sebagaimana A.32 sejumlah ribuan nama kota. Kota Klaten. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. nagari Unggan.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. jorong. Kota Sawahlunto. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. sejarah nagari Tamparungo. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. desa. taratak Talao di Calau. sejarah terbatas. Di antara . Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Kota Banjarmasin. seperti sejarah Kota Solok. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. 12 jilid. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. nagari. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas.

ketegangan itu tidak . sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. Jika kehendak hati diperturutkan. Sekali cahaya itu padam. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu.

merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah.34 begitu dirasakan. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. yang menghidupkan bumi setelah mati. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. setelah itu menghilang tanpa bekas. al-Jatsiyah : 13 . padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. dan pada perkisaran angin. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. tanpa pilih kasih.

Dengan kata lain. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. bahkan saling berlawanan. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. subjektif. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial.35 parah sekali. sempit. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . dan merasa serba cukup serta bangga diri. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan.

bangunan peradaban. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya. oleh otak jenius sekalipun. juga tidak akan cukup.36 bata untuk bangunan. Ditambah 1000 tahun lagi. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Allah maha tahu segala-galanya. tetapi tidak mungkin kecapaian. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan . setelah itu menghadap Allah.” meninggal dalam usia 27 tahun. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. Maka tidaklah heran kita. sekiranya mereka punya minat. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya.

reaksi malaikat dan iblis. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. menteri agama waktu itu. McGill. lih. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. s. sebagai dosen tamu. Montreal. al-A’raf: 11-25.37 segala kekuatan dan kelemahannya. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. al-Baqarah: 30-39 12 . Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. aku sudah lama diberi tahu.). selain sebagai pusat bisnis. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. Kanada. Protes malaikat tidak mempan. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. Thaha: 115-124. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. tetapi hanya sekadar itu. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. al-Qur’an s. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. 1993-1994. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam.12 Kembali kepada cerita kampungku. batu bersurat. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan.

Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. kuda tunggang. perahu. . dan kuda beban. yaitu bendi. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. pedati. kampungku tetap terpencil. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku.

Diperbaiki berulang kali. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Tanpa rantau. termasuk heran terhadap diri sendiri.A. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar . Bahkan P. Yang aku heran. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. ranah tidak mungkin berkembang. Sekali terbuka. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya.D.

Mengenang ini semua. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. sama dengan ongkos PadangJakarta. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. dan terakhir soklat. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. gambir. 500 per kg. Kata orang. Hasil-hasil alam seperti karet. Sebagai seorang peminat sejarah.40 30%. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. apalagi untuk pembangunan. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya.

entah kapan. politik. Satu saat. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. kebudayaan. dan dunia Muslim pada umumnya. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. Pada usiaku menjelang malam. pemikiran.41 dan global: agama. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. aku juga seorang kolumnis. objektif. Bukan untuk apa-apa. tetapi yang tetap . tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus.

sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. tokoh Paderi. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam).42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. berkedudukan di Sumpur Kudus. yaitu Rajo Ibadat. sekarang karena pemekaran wilayah. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya.

sedangkan dua puteranya terbunuh. banyak yang melarat. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. op. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur.cit. hlm. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. Tidak mustahil memang. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. atau puti bagi perempuan. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri.. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak.43 senjata. 136-137 . berpusat di Lintau. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat. sebuah pekerjaan yang berat sekali.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan.

karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. Yang jauh pun dikaji orang. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Tugasnya menggali dan menggali. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. Sebelum itu tidak . menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. itulah profesi kaum arkeolog. apalagi belum terlalu jauh. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. pelacakan itu memang diperlukan. jika bukan sebuah penyimpangan. jika perlu sampai ke pitala bumi.44 Pagaruyung. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara.

Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang . Lengang. ternyata ada juga segi positifnya. yang ada Hindia Belanda. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. gelap (bila malam). apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad.N. direktur produksi dan transmisi P. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. disambut dengan tari gelombang segala. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. Ir. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Herman Darnel Ibrahim. tertinggal. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. miskin. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20.45 ada Indonesia. tanpa ikatan nasional sama sekali.L.

mungkin malah rugi.D. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal.L.N. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. C. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik.N. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat.R. Semoga rakyatnya patuh dan . hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan.. Dari sisi inilah barangkali P. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka.46 bercorak Minang.L.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. Sejak cahaya itu masuk. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan.

seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam.R. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. Dengan listrik ini. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. Sehari sebelum itu. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P.D. Bagaimana keadaan .I. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus.47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. Solok Selatan. yaitu tanggal 28 Januari.

Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. (Sekolah Rakyat). atau mendung. Menurut cacatan kakak sulungku. tetapi bukan main ganasnya. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. di dalam remuk. Bagiku hari itu sama saja. “Bak kayu dimakan bubuk. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. 31 Mei 1935. akan kututurkan pada saatnya. kupanggil kaktuo Hima. almarhumah Rahima. Asai makhluk kecil dan lembut. jika ingatanku tidak keliru. dan di lokasi mana seseorang berada. “di luar tampak rata dan licin. aku lahir pada hari Sabtu.48 kampung ini. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). panas. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. tidak ada yang keras atau lembut.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. hujan.R.” kata peribahasa Melayu.

jati. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. kayu dibuatnya tak berkutik. lambat tetapi pasti. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. tersembunyi kekuatan dahsyat. tidak pernah sia-sia. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. kecil. Dalam serba kelemahannya itu. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. kecuali kayu besi. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. betapa pun terlihat lemah.49 merugikan. dan seperti tak berguna.

masalahnya tentu menjadi lain. lahir dengan bantuan dukun beranak. Kalau ada bedanya. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. tidak bisa dikejar lagi. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Mana yang benar di antara dua catatan itu. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. . Pasti semua anak. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. termasuk aku. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. Namun bagi diriku. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. tetapi semuanya sudah berlalu.

Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. aku menggunakan tanggal 31 Mei. sementara ibuku Fathiyah. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. batang usiaku sudah berangkat jauh. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. yaitu 68 tahun 92 hari. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. tetapi aku tidak mengenal wajahnya. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Dalam catatan ayahku itu.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. karena itu yang lebih dulu kuketahui. Mungkin saja demikian. mana mungkin ayahku mau mengawininya. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. sebab jika tidak. . Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an.

52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. Dari sisi ini. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. tetapi dicarikan pihak keluarga. aku tidaklah tergolong modern. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. bini saja harus dicarikan. Aku tidak mencari jodoh sendiri. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama . Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. tetapi memang itulah aku. Sudah merantau ke mana-mana. terpaut lima tahun usia keduanya. bahkan kuno. seperti yang berlaku pada masa modern. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. saudagar gambir. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905.

karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. kakoncu. Jarang yang memanggil suaminya uda. dan uni. udo. aku pun tidak tahu. tante. t. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga.. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. sebab berkat kemajuan komunikasi dan . dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. Kata-kata om. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. aku tidak bisa mengatakannya. onga. Apakah mereka selalu akur saja. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Memang belakangan ini.53 ibu. Ada yang memanggilnya kaktuo. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik.v. uda. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri.

di mana panggilan kaktuo. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. ber-omom. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif.54 informasi. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. kakudo. mak oncu. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. kakonga. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. bertante-tante. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. Jika semuanya sudah beruda-uda. dan kakoncu. Bahkan tidak jarang . pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga.

Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. semua orang kampung mengakui. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri.55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. Kembali kepada lingkungan ayahibuku. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. Orang yang menemui ayahku. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. Untuk ibuku. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. Bahwa ayahku cerdas. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku.

Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. sebelum Saiful Wahid. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. alangkah pilunya. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Alangkah sedihnya. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. lahir tahun 1939. Karena ibuku wafat masih muda. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. bertani dan menyadap karet. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. tetapi . adik sepupuku. Sepengetahuanku. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat.

tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di .M. cucu kakakku Nursiah. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U.. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. Seorang lagi. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. Aku bersyukur di hari tuaku. semoga telah mengenai sasarannya. tidak saja untuk kampungku.57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak.S. pendidikan. dan kemanusiaan. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting.U. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah.

dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. bukan kewajiban orang lain. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV . Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005. Bahwa mereka umumnya miskin. Tetapi sudahlah.P. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. betul. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama.

Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. seperti sering kututurkan setelah dewasa. sementara aku. Jalannya panjang dan berliku-liku. Beranak pinak di situ. seperti yang bertahun-tahun kualami. (Sekolah Teknik Menengah). kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana.T. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. Tetapi aku tidak pernah patah . hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. sekalipun modalnya dari S. Namanya Indra Kurniawan.59 Fakultas Hukum pada universitas itu.M. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. tanpa masa depan yang jelas.

demi ilmu. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I. sukuku.B. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul.T. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. kakak beradik). Di antara orang kecamatanku. tanpa . bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar.60 harapan untuk terus belajar. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. umumnya berhasil menjadi sarjana. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. Mereka yang tabah dalam penderitaan. Aku bangga dengan mereka. juga dari suku Caniago.

Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang.61 mobilitas menaik. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. Menurut logika biasa. bertukang. 26 tahun sepeninggal ayahku. Betapa pun berat beban yang dipikul. tetapi jumlahnya sangat kecil. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. dari menyadab karet. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. ayahku jarang sekali mengeluh. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. bahkan tidak jarang harus .

jika bukan mereka yang terdidik. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan. adalah contoh yang ditinggalkannya. Riau. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. lahir batin. dan Jambi. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu.62 menggadaikan barang yang ada. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. demi sekolah anak.

M. Namanya Sabiruddin. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. (Angkatan Darat).I. yaitu Mayor dr.D. Tamparungo. Unggan. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A. pada I. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U.I.N. dan Sisawah. demi cita-cita dan mobilitas sosial. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras. kemudian beralih karier sebagai dosen. Mangganti.A.U.A. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. . Dakwah I. Namanama yang kusebut ini.A.K. Imam Bonjol Padang.N. Semula sebagai Kepala Biro A. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. anak Rahima. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan.K. Imam Bonjol. dosen Fak. adalah di antara contoh manusia tabah.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. Dari keluarga isteriku. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur. demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan.

Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. seperti layaknya anak kampung yang lain.D. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. tidak dapat ditawar. ayah dari Tarusan. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya . Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus. Oleh sebab itu. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S. Painan.R. tetapi belum pernah menetap di Sumpur.64 Ruswandi Aswad.. dengan ibu Sumpur Kudus.

D. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Tanpa kemauan keras untuk maju. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. tabah.U. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. demi lepas dari penjajahan durjana. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. di samping di tangan Allah.65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal . sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. hidup tanpa inisiatif. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. Nasib seseorang. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. Benarlah Pembukaan U.” Sungguh padat dan padu kalimat ini.

Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. sekalipun itu sesuatu yang halal. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. aku sering mengunjunginya. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. Setelah dilepas ke gelanggang. baik di kota mau pun di desa. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Aku tidak tahu mengapa begitu. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . Peluang itu tentu tidak selalu datang. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. Di hari tuaku.

Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku.67 menjadi asin. Malang bagi yang tidak. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Boleh jadi. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. Pencarian apa yang . setelah ayahku mengawini ibuku. lahir di Tepi Balai. seperti yang telah kusinggung di muka. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. membangun rumah di tanah suku isterinya. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. Penyimpangan tentu selalu ada. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus.

untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. karena memang tidak praktis. sungguh ruwet untuk dipertahankan. . Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga.68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. bila berlaku perceraian. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Kembali ke masalah rumah. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. Sekarang di Minangkabau. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini.

jelas tidak memadai. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. dunia ini akan terasa semakin sempit. Bergantung kepada tanah semata. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. Tanah adalah milik suku atau keluarga. dan memang harus ditinggalkan. Untuk kelangsungan hidupnya. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. ladang. kebun. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. atau pekarangan. kolam ikan. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. dan sulit untuk bernapas lega. Lahan sempit . Jumlah anggota bertambah terus. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. beban melulu. Bagiku.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. sekalipun pada masa modern ini.

jangan menyerah kepada rintangan. ranah . Tanpa rantau. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. Berpikir terus dan terus berpikir. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. Syaratnya hanya satu. jangan percaya kepada kegagalan. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. Ranah dan rantau saling melengkapi.70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak.

Sebagian besar “merantau Cina”. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. tidak kembali ke kampung secara permanen. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. Secara filosofis.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. Dalam masalah dasar ini. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. aku jelas seorang yang berpihak. tidak mungkin netral. Bagiku tidak ada masalah. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. . seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. Setelah proklamasi kemerdekaan. sekalipun bukan tanpa gesekan. semuanya telah mencair dan berganti. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

Dengan paradigma . kultur. amir. Bagiku gelar-gelar sayid. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. habib. sultan. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. Mereka yang mendewakan keturunan raja. dan 1001 gelar lain.82 metode berpikir kritikal. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. atau bahkan keturunan nabi. Untuk merebut posisi taqwa. tidak oleh yang lain. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. kualitas iman dan amalnya. yang mengaku keturunan nabi. atau keturunan raja. ekonomi. radikal.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. sejarah. dan rasional. terbuka bagi seluruh orang beriman. ulama. dan apa pun. wali. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. hulubalang. syarifah. menurut pemahamanku.

83 semacam ini. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. tinggi sedang. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Kebiasaannya pakai . kulit agak hitam. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. tempat pendidikanku yang terakhir. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. berkumis agak tebal. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. Wajahnya bersih. dan bila berjalan melenggok. bukan hanya karena keturunan.

Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. beristirahatlah di sana. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini.84 kopiah sutera hitam. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. sekalipun sudah menua. anak bungsumu ini . ibu tiriku yang lain. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. Ayah dan ibuku. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. khususnya dengan ibuku. kemudian etek Lamsiah. Makamnya terdapat di Tapi Selo. dan tidak jarang aku menangis sendirian. di tempat ibu tiriku mak Maran. Setelah ibu-ayahku pergi. di tanah persukuan orang Melayu. dalam umur yang setua ini.

Adiknya yang lain A. nagari tetangga Sumpurkudus. lain ayah dengan ibuku. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. aku pun tidak tahu. Wahid. entah di bumi mana. di alam yang lain sama sekali. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. Aku memanggilnya ande Ani. Sayang aku lupa namanya. salah seorang dipanggil Ani. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. Entah ayah-bundaku.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. Beberapa tahun yang lalu. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. Semuanya sudah tiada. Karena tidak bergaul sejak dari kecil. yang kata orang rupanya mirip ibuku. suku ayahku. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. sementara dua adik laki-lakinya yang . pamanku. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama.

Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. tetapi punya dua keturunan perempuan. baik lakilaki atau pun perempuan. Saidina Hasan. Baili. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Yang masih hidup tinggal satu. Oncu Naksan amat menyayangiku. . dan Jiwahur (wafat waktu kecil). Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. Karimah. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. Mattudin Rauf. Pada saat wafatnya. Nurbahri. Siti Dariyah. dan Ahmad. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. merangkap dukun. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Bainah.

87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. ayam. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. . ular. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. Mangsanya tidak hanya ikan. hubunganku cukup dekat. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Lebih dari itu. jumlahnya aku tidak tahu. Raadin. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Matanya tajam menembus. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. tikus.

Mungkin karena ibuku wafat muda. Nalam (alumnus Normaal School). seorang guru S. Rauf (dipanggil Badurau). dari suku Domo. / S. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Wahab. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku.88 dan A. Orang tua ayahku Abd. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. gelar Manti Besar.D. yang pandai berbahasa Belanda. di samping membantu adik-adiknya.R. Aku memanggilnya uwo. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. M. hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Ayahku sangat menghormati ibunya. Suami Rahima. sukuku sendiri. Oleh sebab itu. adalah .

Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. Dengan kakak-kakak perempuanku. kupanggil onga Sahih. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). seperti telah kusinggung. Yang aku sedikit menyesal. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. Antara Rahima . watak dan sifat-sifatnya bagaimana. apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. begitu juga dengan abangku Nursahih. hubungan itu terasa biasa saja. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Sekiranya itu aku lakukan. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku.

dan Surakarta.I.90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun.N. khususnya Sumatera. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa.S. Lombok. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. U.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). Dari kampus I.K.Y. dan Malaysia.I. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah .K. Jawa. bertebaran di seluruh nusantara. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. dan menetap di kota ini sampai saat tua.I. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta.K.P. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.P. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan. Ohio University (Athens).-I. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun.

semuanya itu adalah rahasia Allah. aku pun tidak tahu. tak seorang pun yang dapat menentukan. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Sungai ini tak pernah kering.91 usai. dan merenung. majalah. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. Semboyanku sederhana saja. mungkin banyak orang yang sudah tahu. Sesaat setelah ibuku wafat. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. kadangkadang juga tidak jelas benar. Apa yang direnungkan. membaca. sumber penghidupan para petani . Banyak dokumen yang tidak berguna. dan dokumen yang tak sempat kuatur. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. Dalam kamar inilah aku menulis. karena sempitnya ruangan yang tersedia. alamiah. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. Bahwa aku seorang pekerja keras. Pun di mana aku akan berkubur.

92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. dan banyak yang miskin. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. dan ikannya jinak.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. sekalipun penduduknya serba sederhana. tebingnya landai. kecuali yang sakit atau pingsan. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. semuanya serba dielokkan. Saat sering pulang. karena memang di situ duniaku. Selagi sehat . pasirnya putih. dan ikannya tidak pernah jinak. semuanya serba dilebihlebihkan. aku masih sering berkunjung ke kampung. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. aku juga gemar memuja kampungku. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. Di kala kecil. Sampai setua ini.

ibunda Sanusi Latief. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. kakak sesukuku di kampung. tidak lebih dari itu.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. seorang perempuan kaya di kampungku. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. adalah mak Sarialam. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. dan tentu mengotori lingkungan. ande Lia. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). ande Karang. berasap. mak Rasia. Terasa teramat dalam dan tulus. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. kemudian menjadi kakak iparku. Mereka menunggang . masyarakat dapat memakluminya.

yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. mangga. Payakumbuh. karet. Di sana terdapat pula pasar ternak. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. kembali hari Rabu. Mengapa . dan hasil hutan lainnya. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. durian. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. Di Minang. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. berangkat hari Senen. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. seperti dari Tanah Datar. petai. dan lain-lain. Juga pasar kera dan beruk. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten.

karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. Tetapi iman menyebutkan. . Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. dan solar. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Kembali kepada perempuan dan kuda. setelah ada mobil. tak seorang pun yang bisa mengatakan. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. terutama untuk menarik delman (bendi). seperti telor dan tebu. bensin. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin.

Di sebuah nagari yang tersuruk. tetapi kebiasaan menunggang kuda.96 Dengan budaya naik kuda. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. adik ibuku seibu. Wahid. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. Fathiyah. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. kebiasaan perempuan naik kuda. yang kemudian kawin dengan pamanku A. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. dipanggil Patiah. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. adik ayahku. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. Sebelum aku pergi merantau.

Bersama paman dan bibiku. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. sapi putih . Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. aku juga membantu bekerja di sawah. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. Seingatku. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. jika pulang kampung. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun.97 pamanku. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

Di antara 15 bersaudara. Semua anaknya dirawat. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau . yaitu aku. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. S. dan madrasah Muallimin.108 Sewaktu ibuku masih hidup. dari Universitas Chicago (1983).D. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. Tanpa bimbinganMu ya Allah. ayahku tidak menambah isterinya. sekalipun hanya sampai S. atau S. Demi menenggang perasaan ibuku. tetapi tidak bertahan lama. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. Ph. (Syafril). Kariman.P. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. aku lebih daripada bersyukur.. Amerika Serikat. sebagian sudah wafat.M. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. dan dididiknya. dibesarkan. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. Sampai saat ibuku wafat pada 1937.R. karena pendidikanku sampai tuntas. Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15.D.

tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Yang tidak masuk akal adalah. lalu beranak pinak di sekitar itu. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya.109 kecamatan. Tidak berbeda dengan ayahku. Sebuah tabiat yang buruk . seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. juga ada yang berpoligami. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. ni’matMu yang tanpa putus. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. tanpa batas. Aku heran. pamanku Mattudin. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang.

P. salah seorang direktur. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. Di usia lanjutku. Sumpur Kudus. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. desa tertinggal. Bahkan Bung . Pertemuanku dengan Herman di Kantor P. Di antara pejabat P.N. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. mantan menteri era reformasi. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi. Herman Darnel Ibrahim. Muhammadiyah Jakarta. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. pusat yang paling berjasa adalah Dr. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. kecuali dengan diesel. Aspal sudah. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan.110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab.L.

seperti . sahabat kakakku Nursahih. 3 miyar. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa.P. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005.3 milyar. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. kemudian membengkak menjadi Rp.111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. Muhammadiyah (periode 1998-2005). Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding.R. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol. 4.

semuanya tidak teratur.112 orang membawa lampu minyak tanah saja. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. semuanya berantakan. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. Guru-guru pun tidak pernah lengkap.R. tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. Aneh memang. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. Pada masa revolusi. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). Seharusnya aku baru tamat pada 1948. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. maka pendidikan S. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. sampaisampai merotasikan letak celananya. namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. cukup kutempuh dalam masa lima tahun.

2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). Rajo M. A. Wahid. Suki Khatib Rajo. Rajolelo. Alangkah hinanya.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Rusjid. wafat pada 3 Jan. Tari. Sutan Bachtiar. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. pamanku. A. Maangkat. Wahid. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. jam 6. Mattudin Rauf (adik ayahku. Muchtar Gafur. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Syamsuar. juga berjasa dalam . Rivai Dt. Zulkifli Mahmud. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. M. Rajo Malayu. wafat pada 2 Mei 2004. Latief Dt. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. Makkah.R. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Nalam (suami Rahima. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. M. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. dan Kahar.113 anak kampung.

nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. aku tidak tahu. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. sebagian pendukung Muhammadiyah. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. ushalli. Dari famili senenek pihak ibu. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. dan masalah kenduri orang . Kecuali Kahar. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. saling berebut pengaruh. permulaan puasa dan hari raya. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah. soal qunut subuh. rakaat tarawih. seperti telah disinggung di muka. sebagian besar pendukung Perti. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. Mengapa demikian.

anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Ya. Dalam perjalanan waktu.115 mati. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. dan Kumanis. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. Namun sejak tahun 2000. Nagari-nagari yang lain: Unggan. Sisawah. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. antipati. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. tetapi kemudian diam-diam diikuti. Mangganti. Sudah tentu aku bangga mengikuti . ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. Tanjung Bonai Aur. telah dilawan dan dimusuhi. Tamparungo. dan yang sebangsa itu.

penyantunan. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. konsep persaudaraan universal . sekalipun bukan tujuan. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. hubungan antar tauhid dan keadilan. penyadaran. Muhammadiyah. dan pencerahan.116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. lambat atau cepat. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga.P. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Melalui metode dan pendekatan model ini.

prilaku hidup yang jujur. bersih. asal tidak . Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. Bagi sementara orang. dan prinsip egalitarian. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Betul. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. khususnya setelah aku belajar di Chicago. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur.R.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. karena itulah aku.

aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. . aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. tanpa ajinomoto. Jika pulang kampung.118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. karena memang aku orang desa. Jika pulang bersama keluarga. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. aku sering minta diajari isteriku. jika isteriku tidak ada di rumah. tanpa bumbu masak yang anehaneh. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Dalam budaya hidup mandiri ini. Bahkan lebih jauh dari itu.

orang penting pada era Bung Karno. Rajo Adat di Buo. kopi. Lintau jauh lebih maju. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. dan lain-lain. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. Rajo Alam di Pagarruyung. Kemudian pusat itu berpindah. Jadi jika aku belajar ke sana. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. dan lokasinya pun mudah dicapai. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. berasal dari Lubuk Jantan. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. Tetapi dari tuturan sejarah. . dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. memang sudah sepantasnya. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. di samping pusat perdagangan emas.119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. Seorang tokoh Chairul Saleh. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin.

Sjafril Tahar. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. yaitu sekitar 48 km. Sjamsu Kamar. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Damhuri Gafur. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. Ismael Rusyid. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. sekalipun tidak selalu. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Lintau. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Kedua. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Bila terpaksa.120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. keduanya dari Sumpur Kudus. berjalan kaki pun mungkin. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Jika rata-rata 5 km per jam. Nawadir Makkah. Pertama. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Enam teman ini setahun di atasku. dan sebaliknya.

Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. tetapi harus melalui ujian masuk. aku diturunkan menjadi nomor enam. aku semula meraih ranking nomor lima. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua.121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. aku .-ku sama sekali tidak memadai. semula terlupa tidak dimasukkan. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar. Ketiga. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. Namun karena berasal dari desa terpencil. Tidak dapat ranking pun. aku terpaksa diterima juga.R.

Selain ujian sekolah. Bayangkan. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. orang kampung bisa naik sepeda. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. apakah pada 17 Agustus 1945. gara-gara revolusi kemerdekaan.M. Pada ujian penghabisan. atau yang sederajat. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. demi . Mungkin jika tidak naik kelas. Payakumbuh. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. Indonesia sudah merdeka? Keempat. tentu aku akan merasa malu. bertempat di Bunian. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Pada saat-saat menjelang ujian. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. Dalam keadaan normal. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku.A. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. tetapi bangganya bukan main.122 gembira. kecuali ujian terakhir kelas tiga. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu.

babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. Perasaanku ketika itu. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. Dengan cara ini. . Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. Adapun kampungku demikian sunyinya. tempatku belajar selama tiga tahun. Rancak (bagus). Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. orang kampung pernah diterkamnya. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. sekalipun sewaktu mengganas. di dalam hutan yang jauh sekalipun. Akibat menghilangnya harimau ini.123 menjaga mutu. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. kadang-kadang di kala malam.

Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. Pada saat tulisan ini dibuat. Tanpa didikan mereka. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. Indomadjo. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. belanja . Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. Keenam. Kini sebagian besar mereka telah tiada. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. tiga pelajaran yang sangat kugemari. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus.124 Kelima. aku tak mungkin mengembara begini jauh. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. Dt. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt.

Akhirnya dia berjaya. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. berlaku perkisaran secara mendasar. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . Sanusi Latief. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang).

Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. entah . Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. M. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja.126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. demi ilmu pengetahuan. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. II. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. mungkin karena mengingat biaya. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi.

sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. tetapi penting bagi pembentukan karakter. berkat Sanusi Latief. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban.127 untuk berapa lama. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. aku barangkali akan tetap sibuk dengan . Tanpa Sanusi Latief. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. pada waktu itu belum dibayangkan. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. Untuk selanjutnya. apalagi ke tanah Jawa. Pokoknya melangkah dan terus melangkah. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. Tanpa Sanusi Latief. seperti telah kusinggung di atas.

Aku tidak akan ke manamana. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. Di dek kapal kasur itu dipakainya.128 senapan angin. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. Azra’i dan Suwardi. kasur saja harus diangkut dari kampung. dan memancing. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. menjala. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. karena di kampung pun . Coba bayangkan pada waktu itu. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. milik kakakku. jika tak salah. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. Kami masak bersama secara bergantian. sementara aku cukup tidur di atas tikar. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Di antara yang berempat itu. membawa kasur dari kampung. tibalah kami di kota tujuan.

Sekiranya aku ditolak masuk. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. kemenakan ayahku dari suku Melayu. oleh karena itu perlu disantuni. sisa zaman Belanda. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. sekalipun tidak kemenakan kandung. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. Sampai di Jogja. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. tentu kisah hidupku akan berbeda . Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno. jalan ke Mangganti. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat.129 aku tidur tanpa kasur.

Tamansari No. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena .130 dengan apa yang aku jalani kemudian. Kita boleh saja berandai-andai. Kedua. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . Pertama. Jadi bangku tidak tersedia untukku. kelas empat sudah penuh. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Akibatnya aku harus menganggur. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. karena gedung baru di Jl. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. entah bagaimana jadinya. tetapi di sini tak perlu diteruskan. karena memang tidak terjadi.

131 katanya kualitas tidak sama. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . Namun aku tetap bersyukur. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. sampai saat tuaku ini. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. apalagi sesama Muhammadiyah. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. Dalam keadaan seperti itu. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada.

Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. swasta juga tidak betah lama di sana. Ahmad Dahlan). Azra’i kini bergelar Dt. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya.P. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. gelar yang dulu disandang oleh A. Setelah sekian bulan belajar montir. paman kandung Azra’i. Lalu pulang ke kampung.M.A.M. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. teori dan praktik.M. Azra’i yang semula masuk S. Latief. Ngabean (sekarang Jl. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai.132 sekolah montir di Jl. masuk S. sekalipun dengan perasaan terhina. Muhammadiyah dan terus ke S. Muhammadiyah. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. tetapi . Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. ayah kandung Sanusi Latief.P. aku lulus.

kesukaan kepada . Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Suka dan duka terekam dalam memori itu. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. sesuatu yang harus diterima apa adanya. meniti titian nasib masingmasing. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu.133 jalan hidupnya berbeda. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. Tak terasa. sekitar 1 km dari Calau. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Luar biasa aku menyukainya.

Tidak jarang. dia mengajakku berdebat dalam soal politik. tidak perlu dijadikan gesekan. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. . kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. Bukan saja dalam selera makan. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. semuanya ini lumrah belaka. ibunya. perbedaan itu sering mengemuka. juga tidak jarang dalam selera politik. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali.134 bakmi tetap berlanjut. Nurkhalifah. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. cukup bergairah dalam masalah ini. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. Bagiku. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor.

Melihat panorama ini. aku bisa mengikuti pelajaran. 7. dan 6. Ilmu Ukur. sekalipun belum tentu menarik. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. Untunglah di . Aljabar. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. dan Ilmu Alam. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. Dengan perasaan yang serba bercampur. Tidak sekadar marah. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. pada hari pertama aku masuk kelas. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar.135 Kembali kepada masalah sekolah. dan kami harus mendengarnya. 7. aku cukup ngeri. memang tidak pernah sangat tinggi. Dengan tancapan pisau di meja. kalau tak salah.

juga pernah belajar di Mu’allimin.P. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. Bila semuanya ini kukenang kemudian. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. pernah menjadi wakil ketua. Tetapi A. Sampai tahun 2005. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. Djindar Tamimy. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung. Muhammadiyah barulah aku. Tetapi betapa pun jua. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini.P. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Tanpa tancapan pisau ini.136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. Sebab jika dia tetap mengajar.. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja. tetapi tidak jadi rampung. . kemudian malah terpilih menjadi Ketua P.P.R.

K. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris). Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima.H. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K.H. Balija Umar (Musthallah Hadits). Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Wiludjeng (Bahasa Inggris).137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Sudiro . aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Rowijan (Aljabar). Fakih (Bahasa Arab). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). Mohammad Mawardi (Ilmu Guru).

Ternyata paham agamanya kuno. Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. tamatan Mekkah. Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung. A. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. masih sangat muda. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. . Muhammad Thajib namanya. tak peduli dengan siapa pun. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. Kadangkadang sangat keras.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai.138 (Ilmu Alam). dan masih banyak yang lain. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. suka berdebat. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas.

Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di . sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat.W. tetapi sopan dalam pembawaan. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. Bengkulu Utara.W. yang aku banggakan itu. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar.139 Sewaktu berdebat. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. di sisi sifatnya yang penyabar. Aku amat berutang budi kepadanya. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. Pak Djazarie. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. tetapi pasti yang harga murah. setelah tamat sekolah. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana.

Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader.I. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis.M. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku.M. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I.140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini.K. Tulisan itu baru dimuat pada 1957.P. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. milik dan suara resmi Partai Masyumi. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP. Muhammadiyah (1998-2005). Kalau tidak khilaf.M.P. gembiraku luar biasa. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. sekalipun . apa bukan hebat.

rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Mungkin bukan dari siapa-siapa. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. aku tetap saja menulis dan menulis. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Begitulah perasaanku ketika itu. dalam dan luar negeri. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Pada usia senja menjelang malam ini. aku sudah turut kampanye .

karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. Sewaktu ayahku wafat. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. B. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . Tetapi pada tataran moral politik. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya.

125. Faried Ali. 175 per bulan. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. karena tanggungannya yang juga cukup berat. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Penulis R. Mawardi dan Penulis Moh. Syafril Maarif. Djazarie. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. anak sulung dari etek Lamsiah. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek.143 masing. tampaknya . Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. Muhammad. Aku masih ingat betul. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. Terimakasih Muallimin. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. jauh dari diriku. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi.

padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Semuanya berantakan. aku tak ingat lagi. batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. aku tidak paham apa makna kematian itu. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. semuanya mengalir begitu saja. Jika sewaktu ibuku wafat. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Setiap mengingat sosok ayahku. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. tanpa payung pelindung. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. air mataku meluncur tak tertahankan. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga.144 seperti baju kaos. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. seperti umumnya orang kampungku. di samping tidak ada biaya untuk itu. Sekiranya itu aku lakukan. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. Mengapa batinku begitu . Bila peristiwa perih ini kukenang. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat.

Hubungan . kecuali dalam do’a. Ayah. tetapi aku juga tidak pernah dimanja.145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. kembali ke nagari asalnya. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi.R. namanya Bachtasar Tahar. dan ia bersedia. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih.R. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus.I. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. Di kampung aku punya seorang teman. Mungkin tidak sampai setahun. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. alumnus Mu’allimin Lintau. ia harus pulang kampung. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas.156 lain lagi. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. B. .

adik kelasku di Mu’allimin.M. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Pengetahuan . Bukan karena apa-apa. Setelah setahun aku belajar. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.L.T. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi.I.P.157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S. lalu ujian.A. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas. Aku lulus dengan baik. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. jurusan Sejarah Budaya pada 1964. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.K.A. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S. Tetapi setelah ditimbang-timbang.

Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang.K. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana.158 Umum.K. Bermacam . tetapi karena ingin cepat rampung.I.S. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. Karena pergolakan daerah. ijazah aku terima juga.P. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. Jelas aku dirugikan. serta Pengetahuan Sejarah. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah. Jogjakarta. 1957-1964. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I.I.I. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Bukan karena apa-apa. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. sekalipun dengan perasaan mendongkol. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. hubungan putus dengan kampung. sekalipun bertele-tele.

Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Jusuf. Muchktar. jurusan Sejarah-Budaya. Maka pindahlah aku ke F. tetapi karena kuliahnya teratur. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. M. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. dan aku.R. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. kasir. Jusuf banyak menolongku dalam masalah . berasal dari Sulawesi Utara.I. mahasiswa Cokroaminoto.K. aku tidak mungkin bisa.P. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum.159 tugasku di toko ini: pelayan. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. Nasai. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Hawari. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain.R. bagian pengajaran. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku.I.

Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. dan lainlain bersama Pak Markum. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula.160 presensi ini. Mula-mula dagang kecil-kecilan. Karena merugi. Namanya Murdijo. pemilik warung di Baturetno. asal Baturetno. Untunglah selain itu. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. Korban pergolakan daerah. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. tembakau. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. kami lalu jualan rokok. Surakarta. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. tetapi semuanya merugi. ayam dan kambing.

Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. tidak dapat dikatakan. Sebagai guru honorer. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang.T. Baturetno. Pak Sujadi.N.161 kecamatan itu.P. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. Sekiranya aku punya ijazah negeri. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik . kepala sekolah.

B. Demokrasi Terpimpin. Ekonomi Terpimpin). Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Lenin. Sosialisme Indonesia. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan.I.162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Undang-undang Dasar 1945. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Tampil dengan gaya Bung Karno.R. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik. Pada saat menulis catatan ini. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan .

Abdullah Sjahir. Revolusi. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. Mendengar kutipan mentereng ini. tetapi kosong itu. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Mr. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . Bagi Hatta. kemudian menyusullah masa pembangunan. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas.163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. aku tidak menyia-nyiakannya. adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. kata Hatta.

dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. Tetapi cara itulah yang kulakukan. entah dari sumber mana diambilnya. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. Maka tak lama kemudian. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali).164 cara yang benar. padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. Soekarno tokoh nasional dan dunia. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. beberapa tahun setelah itu. aku tinggal mengikutinya saja. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain. sehingga dapat “mempesona” orang lain. jadilah aku diangkat sebagai guru di S.T. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. . Amien Rais. Pada suatu ketika. di atas. Andaikan aku punya ijazah negeri.

tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. malah menambah abrabnya persahabatan kami. Bung Amien. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah.D. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. komentator yang tajam. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku.P.165 Itulah aku. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P.D.M. Jika itu yang terjadi. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. alumnus Mu’allimin Jogja lagi.P. aku bakal terpilih jadi Ketua P. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. Aku percaya bahwa pengurus tentu . sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P.P. dasar anak desa.P. setidaknya majelis tingkat P.D...M. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri.M. dengan terkekeh itu saja. dan aku malah bangga menuturkannya kembali. Sebagai kader Muhammadiyah.

Wonogiri yang memohon anggota P. tidak akan ada ujungnya. Siapa yang takkan bangga. Tetapi sebagai selingan. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu.166 akan menyetujui saranku. sesuatu yang selalu aku banggakan. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P. untuk berkunjung ke sana.P. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. Di samping dapat sekadar uang. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya . Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat.M.D. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. Demikianlah kalau kita berandai-andai.

Sekalipun hanya dalam posisi G. tentu kamus harus dibuka. adalah di antara penulis favoritku.T. bangga juga aku rasanya ketika itu. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. Jika kukenang semuanya ini. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Pada tahun 1960-an itu..T. aku juga mengajar . Andaikan punya akses. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan.167 itu sekarang ini.T. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. di samping Sidi Gazalba. Abdullah Sjahir. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku.T. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. untuk memahami satu alinea saja.

tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno.M.I.168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N.M. Samasekali tidak ada . demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. K. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu.A. karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. dan rakyat umum. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul).D. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. anak sekolah. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. S. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim.A. pimpinan Pak Suhardi. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api.S. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. M.

Dr. Amien Rais. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. Malaysia. Amien Rais adalah sahabat . Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. dan Kanada.A. Sanusi Latief pernah mengajarku. Dr. sebagai guru selingan. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. Prof.169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. M. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. M. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. M. Sanusi Latief dan Prof. maka alm.

kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya.A. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. tentu sebagian besar .H.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Tokh. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku.

IV. Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. anak Sarialam-Halifah. St. seperti telah kusinggung di depan. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. Dengan demikian. suami Rahma. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. secara diam-diam telah .R. apalagi masyarakat kampungku.171 rakyat Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. teman sekelasku di S.) . Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A.

ini merupakan hiburan yang membanggakan. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap.P. Bagiku. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. Lifuarda (namanya sewaktu di S. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. adik kandung Rahma. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. Teman ini. Tanjung Ampalu. Tidak hanya dikenalkan. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil.172 menghubungi etekku Bainah. Bukan sebagai pedagang yang mapan . Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. tetapi mau dijodohkan. dikenalkan kepadaku melalui surat.M. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Payakumbuh. aku sempat termenung. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang.

aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. bila kukenang ini semua belakangan. dan besoknya aku menompang truk miliknya. Bersamaku. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). jika bukan kurang dari itu. seperti telah kututurkan. Seperti biasa. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959.173 seperti umumnya orang Minang. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. Bulan Maret tahun 1957. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. Alangkah geli bercampur malunya rasanya. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. kalau mungkin sampai ke Kumanis. Padang. . Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini.

adiknya. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. juga tidak mungkin. rambutnya panjang terurai. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. Aku agak lupa. ada gadis dengan celana panjang merah. Rahma (bintang desa) dan Rosma. matanya tajam.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. karena tidak ikut main. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. lincah juga gadis ini. Semuanya berlalu begitu saja. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. sampai di mana aku menompang truknya. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. sebentar muncul sebentar menghilang. apalagi usia terpaut jauh. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. Akan dilirik kakakkakaknya. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. . sebab aku sadar betul akan posisiku. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung.

dan malu.R. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan. datanglah surat Ismael di atas. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. hanya badanku agak kurus. miskin lagi. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. masih belum mendingin betul. Enam tahun kemudian. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. ragu. Tak lama kemudian. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. sekalipun sudah . dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur.R. malu. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk.175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. Senang. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. karena akan bertemu dengan si kecil. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara.I. karena tak punya apa-apa.

Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi.176 sakit-sakitan karena asma. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. apalagi di kalangan orang kampungku. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. Truknya diberi nama Sumpur Kudus. setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. Padang. jika bukan ke Rimbo Kaluang. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. Dari kejauhan. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda . diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Rumahnya gagah dan kokoh.

sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. agar kelihatan agak sedikit parlente. mencari yang lain. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos.177 rumah. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. dalam keadaan apa adanya. tetapi tidak autentik. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. Dalam serba . Kalau tak salah. ada si kecil. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). bukanlah caraku. mungkin kurang gizi. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. Umpamanya. ada Rosma (juga sudah punya anak). pandai bertanam tebu di bibir. Jika itu aku lakukan. Sebuah risiko harus dihadang. sekiranya di Padang aku punya teman. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. demi gensi.

bibiku Bainah. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Herry Komar (wafat 13 Feb. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri.P. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. juga terbentang jarak psikologis. mantan wartawan senior Indonesia.M. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. 2006 di Jakarta). sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. pengalaman hidup. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. Teman sekelas si kecil di S. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja.178 kesederhanaan. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir . Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya.

tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. sekalipun tidak lapar. Sumpur Kudus. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. aku belum punya pekerjaan tetap. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. berselisih jalan dengannya. Bagaimana akan siap. termasuk Manirun. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. Sebelum berbelok ke rumahnya. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. pada 1964. tidak jauh dari Simpang Balai. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.179 semakin larut. Dalam kondisi semacam itu. pada suatu pagi aku dan teman-teman. kakak sepupuku dari pihak ayah. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama.A. Sampai tahun 1963 itu. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. Ia .

langkahnya bergegas. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. baju anak sekolah. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. Seingatku ia pakai baju putih. Kami tidak saling berteguran. aku akan pasrah. dia membuang muka ke arah lain. bukan atas inisiatif kami berdua. Tampaknya ia sangat pemalu. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. sebagaimana yang akan kututurkan. rezki secara berangsur terus mengalir. Yang jelas aku menyukainya. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. agak menjauh ke tepi jalan.180 baru datang dari Padang. Aku ini anak . karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. yang memburu kekayaan. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan.

181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. Semuanya biar berjalan secara alamiah. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. aku sangat kokoh. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. yang berbau syirik. Tetapi betapa pun perihnya hati. tentu batin ini akan terluka juga. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. tidak akan berganjak sedikit pun. . Dalam perkara ini. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Bagiku pada sisinya yang terdalam.

Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. Akan dirantai Allah-lah engkau. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. Qul huwallah sungsang. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. sebab ada gelar malin dan ungkapan- . Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Aku memantrakan obat parang sijundai. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Muhammad sungsang. Masuk sekalian tawar. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang.

sebab tak terjangkau oleh kantongku. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Oleh sebab itu. aku paham benar apa makna kemiskinan. Mudah- . Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.183 ungkapan bernafas Islam. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan.

184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. lupa lautan. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang.P. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. tidak memperhatikan orang miskin. tetapi dengan segala keterbatasan. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Interaksiku . Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka.

Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. birokrat. Selama beberapa hari di kampung.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Muslim dan nonMuslim. ini perkara jodoh. tidak jelas bagiku. sekiranya itu menjadi kenyataan. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. Jika muncul . sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. lintas kultural. Entah bagaimana akhirnya. lintas etnis. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. apakah ada akar sejarah masa lampau. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. dan pengusaha. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. para jenderal. Sudahlah. Kita kembali kepada alur cerita semula. sebab siapa tahu. tidak ada kelanjutannya.

Paman. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. yaitu sembilan tahun.186 masalah. lugu. dan sedikit sebatas propinsi. kabupaten. dan famili yang lain. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. Mungkin karena jarak usia yang jauh. apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. juga tidak memberi saran apa-apa. karena aku belum punya peta masa depan.T. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. Bukankah pada masa itu. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. abang. dan mungkin kekanak-kanakan. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Aku masih gamang. . tetapi itulah aku dalam keadaan polos. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan.

1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. Bung Karno sebagai P.B. Dengan kalimat lain. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum . Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. sekolah. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. antri sabun. gedung-gedung. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu.187 (Demokrasi Terpimpin.R. antri garam. Atapatap rumah. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. Antri beras. antri minyak. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. antri bensin dan antri apa lagi. lapar.

188 selesai. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Sekalipun Hatta tidak ditangkap.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. join them. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. Selama periode yang panas ini. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . Di antara pengeritik yang paling vokal. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. paling-paling seumur penciptanya. ikuti mereka). argumentatif. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus.

T. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta.I. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu.189 masalah demokrasi di Indonesia. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno.K. yang mendukung D. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. P.I. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi.I. Suasana politik bangsa panas sekali. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. . Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Aku pun heran. kecuali Hatta dan para pengikutnya.

). sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya. Ali Sastroamidjojo. terpaksa atau sukarela.I. (Ali-Roem-Idham. juga larut dalam kompetisi manipolis ini. Salah seorang tokoh P. aku pun tidak bisa menjelaskannya.K. P. di mana akal sehat. Akhirnya Bung Karno “menyerah.Masyumi-N.I.T.C.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. ... dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. aku tidak tahu. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang.I.. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini..T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. mantan duta besar di Washington D. diplomat ulung.U.N.I. Di mana rasionalitas.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A.R.

Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. dan diharapkan tidak terulang lagi.191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Menengok fenomena ini. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. Aku tidak bertanya . sebab Jerman yang maju itu. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. Tentu akan ada yang bertanya. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. karena tidak ada jawabannya.

R. sekalipun mulai agak melemah.. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. inilah pertanyaannya. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.M.P.R. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. itu adalah bagian dari sikap nekatku.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah. wartawan kawakan Indonesia.D.I. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. 1958-1963. seperti dia cemburu kepadaku kemudian. temannya sewaktu belajar di S. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P. sementara awak tak punya apa-apa. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh .I. seperti halnya P. Bagaimana mau menikahi seseorang. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat.R. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya.

Bukankah Bung Karno dalam istilah W. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. karena . Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U. Aku yang semula pro-P.D.. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang.R.I. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. perlu kajian ulang. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia.I.R.U.D.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis. tetapi melihat korban yang begitu banyak. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu.R.I.R.S.193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. tetapi keterlibatannya dalam P. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku.R.

Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. sama sekali tidak menyebut P.R. Sungguh berlaku yang aneh- . sekalipun mereka lapar. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu.I. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta.I. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta.I. seperti baru saja kukatakan. dan pemimpinnya. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.R. Aku yang pada masa itu pro-P.D. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.D. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950.I.I.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P.R. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek.. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik.R.D.. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal.R. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.S.

K. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati.R.195 aneh.I. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. kelas 1).R. Dia korban sengketa politik daerah-pusat.M. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P. Dia panggilku kakoncu. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri.I. Di pedesaan P. menjatuhkan bom di desa itu. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada . ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak.P. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu.I.. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka.R.U. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul.

Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P.I. kalah perang.R.I.196 di atas angin. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik.K. Jumlah anggota P.I. naluri saudagarnya “berdansa” terus. P. Dalam keadaan sulit. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964.R.I. Bayangkan ketika itu. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka.R. Semuanya ini berlaku terutama karena P.K. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang. dan sekaligus menjadi wali nagari.K. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut.R. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. dari suku Caniago. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. tetapi karena diangkat. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam .I. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. bukan karena dipilih.

A. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. tidak saja di dunia dagang. sementara pak . tetapi juga di arena kehidupan yang lain. di seberang makam. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing.197 mendampingi suaminya. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya. sekalipun tidak secara langsung. Negeri di sana. B. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. mengelola perusahaan. Damailah di sana.M. jika ingatanku tidak salah. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. peran mak Sarialam begitu besar. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala.

Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. saling menjajaki. entah di mana. tidak punya pilihan lain. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. mungkin aku sudah lama berumah tangga. jangankan . Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. aku merasa malu. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. Kenyataannya.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. Sampai Desember 1964. tetapi aku sedang kepepet. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang.

Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. Sejak di Mu’allimin Lintau. sekalipun harus hidup menderita. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Apalagi pada era D.199 menghidupkan orang lain. Jodoh memang tidak dapat direncanakan.T. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. Jogja. Dengan apa kubelikan. Rendang ini kubawa . karena masih ingin sekolah juga. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele.. sampai tahun 1960-an itu. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. Dia beli sendiri. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan.

Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. dan lainlain. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Si kecil memang berhati . tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. kakak. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. batinku rasanya sudah agak tenang. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. Dari pihak keluargaku.200 sampai ke Jawa. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Perkara kondisi tidak seimbang. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. paman. Si kecil tahu betul keadaanku. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi.

Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Untungnya. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. entah dari mana ia dapat . Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. aku banyak belajar padanya.201 keras. Suami etekku A. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Dalam masalah ini. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. entah apa sebabnya. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun.Wahid. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita.

tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. Potong kambing segala. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. Bagaimana tidak akan lancar. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus.202 “ilmu”. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. tokoh spiritual Perti. Pada tingkat usia 30 tahun itu. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Ternyata itu tidak kumiliki. Ini berbeda kabarnya dengan .

Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. untuk seterusnya kupanggil Lip. si kecil. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku .203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. sekalipun cukup membahagiakan. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. Kedua. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. Ini dapat dipahami karena dua hal. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Pertama. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. Masa membujangku berakhirlah sudah. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya.

Beberapa hari sebelum perkawinanku. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. entah apa penyebabnya. Yang hadir ramai sekali. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. termasuk abangku Nursahih. Sebenarnya pihak keluarganya. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung.204 Rahima dari suku Caniago. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. sekalipun jauh dari suasana mewah. tetapi ia masih tetap dalam agamanya.

Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali.205 anaknya ini. yaitu Islam. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. Di akar rumput. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. tetapi yang ketika itu belum . Bukan main pihak keluarga senangnya. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam. kecuali seorang kakak iparku itu.

seperti telah kujelaskan. Sekarang dari sisi agama.K. tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F.P. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. jurusan . Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. tahan bantingan sejarah.I. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. Sayangnya. C. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa.I. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian.K. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F.206 membuahkan hasil yang berarti. Setelah beberapa hari di kampung.P. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana.

sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947.P.K.P.K.207 sejarah Universitas Cokroaminoto.I. Negeri Yogyakarta.I. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.M. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar.I. anak pak Burhan.I. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis. tetapi hikmahnya cukup besar. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. .S.K. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya. Drs. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F. Kabar itu sebenarnya tidak betul. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I. Lafran Pane. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur. pendiri H.I.

P.I.I.K. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. Yogyakarta. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini.I.K.208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku.N. Melalui berbagai upaya itu. Jika aku tak salah ingat Drs.P.A. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. entah apa sebabnya. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah . mertuaku.S.I. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri.R. Semarang dan anggota D. R. Maka bantuan Drs. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima.I. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah. ketua jurusan pendidikan sejarah F.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.K.I.K. M.P.-I. Wuryanto.S.

Aku . Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. Abdul Kahar Muzakkir. K. Muhammadiyah.). Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian.H. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Kahar sebagai imamnya. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof. abang Bakir Amir. Prof. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P.P. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. Selain memperoleh ilmu dari Prof. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. Kahar dalam berbagai pertemuan. tempat alm.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta.

Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari.A. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. Negeri Surakarta. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu.G.P. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia. (Kesatuan Aksi Mahasiswa . yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa.210 diajaknya menulis bersama.I. milik seorang pedagang Sunda. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam.A. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K.I.I. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah.M. masalah ibadah.P.A. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K.K. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P. Dia sendiri adalah guru P.

Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana.A. karena sudah terbiasa sejak kecil. Untuk perlengkapan tempat tidur. miskin lagi. pimpinan alm.211 Indonesia).K. H. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. A. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah.U. berkeluarga. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Mohammad Diponegoro. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman.A. Basuni. sementara aku sedang kuliah. Di samping sebagai korektor. dan alm. Mungkin sebagian kecil hasil . Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. B. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. usiaku sudah bergerak tua. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. Sekalipun masih mahasiswa. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek.

K.Dahlan 99. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. lantai II Kantor P. Jl. demonstrasi merebak di mana-mana. Beban . Sebagai seorang yang bukan aktor. Untung ada beberapa koran di kantor S. tentu tidak ada persoalan. khusus untuk anak yang baru lahir.M. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P. (Suara Muhammadiyah). sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku.I. Ekonomi morat-marit. T. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas.H. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. aku lupalupa ingat berapa. masih belum ada ketika itu. tokh aku tidak mungkin memilikinya. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya.212 iklan terselip dalam kantongku.K.P. K. Jika aku masih sendirian.I. Muhammadiyah yang lama. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P. aku tetap saja kuliah sambil bekerja. Andaikan ada.. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan.V. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara.. Kasur pun hanya punya separo. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi.

Bukan main bahagianya perasaan. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Masalah beras cepat teratasi. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. 20 dari sebuah majalah di Solo. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Selama di Kotagede.213 mentalku menjadi berat. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu.M. Untung dia punya perhiasan. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Kalau aku apa yang mau digadaikan. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. pagi dan kuliah sore hari. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Lip .

Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan.K. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer. tetapi jumlahnya tidak seberapa. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. Manifes atas desakan P.. kini telah .. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964.214 tidak pernah gemuk.I. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Setelah sekian lama aku jadi korektor. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain. dituduh sebagai kekuatan anti Manipol.I. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.M.K.

ayahnya “diperas” lagi. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. Anaknya sudah diberikan. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.215 berubah menjadi penyambung lidah P. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. .I. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. Ayahnya jauh di rantau. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri.K. Sangat disayangkan. sebab jika dibantu pula. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. V.

868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. Pada saat-saat sulit itu. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. sebuah angka yang sangat mengerikan. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. Jika kukenang sekarang. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. sekalipun masih serba kurang. untung ia mau membantu. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. seperti telah kusebutkan di depan. Nasib .216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. Coba kalau tidak. Amin.

P.P. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala. M.I. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I.217 pegawai negeri kempas-kempis.I. Tanpa pintu itu.I. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah.K. sampai .K. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri.K. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak.I.I. baik sekali. Yogyakarta.P. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.K.I. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F. I.S. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. Jika kinerjaku dinilai baik. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

P. khususnya Amerika Serikat. 1. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia . dosen Sejarah Asia Tenggara.). bulan-bulan menjelang Iwan lahir. Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. Sutrisno Hadi dengan materai Rp.228 terlambat. (Bandingkan dengan materai senilai Rp.K. dan Rektor I. sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur.S. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954).” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik.K.I. Dochak Latief. dan itu sangat kami utamakan. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F.I.

Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila..229 Selatan. Bimbingan Tesis. Yang berlalu. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Drs. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Manipol/Pancasila. biarlah berlalu. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar. Teori Sejarah. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Kapita Selekta Sejarah Eropa.G. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. Kapita Selekta Sejarah Afrika. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Sasjardi. Untuk teman-teman seangkatan. tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. sekalipun usia sudah 33 tahun. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara.M. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian . Bangga juga rasanya. dosen senior jurusan sejarah. aku adalah lulusan pertama.

tenaga pengajar. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah. Qatar. India. Saudi Arabia.I.K.S.P. Iraq. Pakistan. Belgia.R. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. bukan? Dari kampus I.I. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah.230 ini. dan atau sebagai tamu undangan.K. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat.K. atau U. Iran. Malta.-I. Malaysia.P. (Partai Amanat Nasional).N.N. Chad. berasal dari Curup. Pusat dari P. . Libia. kemudian menjadi anggota D. mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis). Jordan. Jerman.A. Inggris.Y.I. tercatat Singapura. sementara aku tak punya.P. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F. sebuah karier yang cukup panjang. periode 2004-2009. Thailand.

mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. Bukan saja warnanya yang telah berubah. Italia. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. dan Hong Kong. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. sebuah tanggungjawab telah terlampaui. (Suara Muhammadiyah). Roma. pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Aku memang agak urakan. Selama menyiapkan tesis. Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Sekalipun masih pinjam baju segala. aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu.M. Australia. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. Kanada.231 Belanda. tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan.

sejarah. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- . seperti Inggris.K.W. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah.I. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun.I. Sewaktu bekerja pada S.I. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Arab. dan Indonesia. untuk sejarah Asia Barat. dan politik. Bermacam topik yang kutulis.M. aku pun pernah menjadi anggota P. tetapi umumnya menyangkut masalah agama. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan.. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini.M.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu.W. Baru setelah belajar di Chicago.M.S. Kartuku ditandatangani oleh alm.. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F. Pusat ketika itu. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Jusuf Wibisono. Junan Nasution. Kasman Singodimedjo. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. Zainal Abidin Ahmad. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Mohammad Natsir. Burhanuddin Harahap. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Mohammad Natsir. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. Adapun sikap moralnya. Mohammad Sardjan. Sjafruddin Prawiranegara. Ny.233 tokoh yang aku banggakan itu. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Amelz. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. aku junjung tinggi sampai sekarang. Mohamad Roem. Hafni Abu Hanifah. dan Prawoto Mangkusasmito. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Soekapti Mangunpuspito. Abu Hanifah. Muhammad Isa Anshary. Prawoto Mangkusasmito. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . Ny.

D. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. C. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P.U. dan Burhanuddin. Kegemaran . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami.R. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. Junan Nasution. akan kujelaskan pada ruang yang lain.234 Indonesia: Natsir. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. Adapun kritikku kepada partai ini. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. Sjafruddin. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah.. sementara Natsir. Soekiman.R. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M..I.

Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. Ini amat disayangkan. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak .A. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar. Salim di Cornell tahun 1953. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. dan aku turut memberi kata pengantar. sekalipun batin sering goncang. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan.

saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu . tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959. Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman.236 datang dengan tiba-tiba. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku.

Dr. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya.237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Ismangoen (alm. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. kalaulah iman tidak kuat. Dr. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit.). . Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. Periode ini.U. Dengan segala pertimbangan keluarga. DeKalb. (Northern Illinois University). Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. sekalipun tidak parah pada mulanya. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof.I. Menginjak dua tahun usia Iwan. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis.

kadang-kadang bergantian. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. Dr. Iwan meninggalkan dunia fana ini. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. sehingga sulit melangkah sendiri. di depan lapangan sepak bola. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. . Terasa banyak kemajuan. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya.238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M.A. dalam sejarah. Ismangoen. masih di bawah pengawasan Dr. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. Seperti telah kusinggung di atas. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. lupakan kuliah. Dini hari. Iwan jatuh sakit lagi. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik.

Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Jogja).D. Pada saat Iwan wafat. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. kepala S. panggilannya sehari-hari. Demi meringankan beban batin. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. Muhammadiyah Wirobrajan. ke rumah pak Sukadijono. usiaku sudah 38 tahun. Tempat ini di .D.

Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. di Jogja-Padang-Jogja. wajahnya selalu terbayang. akan dijawab: Nun Epah. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. anak ini cukup ceria. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. “Anakku. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. adalah kelucuannya. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. isteriku.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. untuk sebutan Nurkhalifah. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. jauh dari stabil. Mengapa . Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. air mataku meluncur tak tertahankan).

Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. sekalipun semula . aku bertugas seperti biasa. memberi kuliah. hilang dua. Pengalamanku di DeKalb. Kalaulah boleh digantikan. aku pun tidak dapat menjawabnya. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. Hilang satu. VI. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. bukan anak. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. Memang serba dilematis.

teman dosen jurusan sejarah. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat.U. Tiap hari kami berulang ke P. Hardjo Djojodarmo (alm). kecuali penyandangnya . Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. alhamdulillah tidak terbukti. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal.K. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. kemudian baru boleh dibawa pulang. demi perbaikan ekonomi. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974.S.K. Alhamdulillah kami tidak diterima. Gelar doktorandus memang tidak laku jual.20 kg. P. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon.U. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif.242 terasa sangat berat. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2.

sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. Sampai awal abad ke-21. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu. Adapun aku saat itu. Setelah mengikuti tes.P.243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan .P.K. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku.D. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai.P. sementara Husain berhasil. apakah tidak akan menggangu asap dapur. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga.I. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Bandung.

Supardjo. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. Garnadi Prawirodirdjo. terimalah apa adanya. Dr. dan Bahasa Inggris (B). Prof.K. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+).P.P. Nasution. Semarang diundang ke rumahnya untuk . padahal sewaktu belajar di DeKalb. Sikun. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Dr. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). Dr. Sikun Pribadi. dengan nilai tanpa A.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. dari lima mata kuliah. Dr. nilaiku jauh lebih baik. termasuk milikku tentunya. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. S. aku jelas tidak puas. dan masih ada yang lain. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. Itulah prestasi akademikku di Bandung.I. Mereka adalah Prof. Pada suatu malam aku dan teman dari I. Tanpa nilai A.D. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof. Kepemimpinan & Manajemen (B). agak sedikit memalukan. Dr. Prof. Prof. atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor.P. Achmad Sanusi.

Prof.P. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu.D.A. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam.P. yang hubungannya denganku cukup baik. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan.D. Isteri Prof. Ternyata seorang guru besar . sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L. tokoh spiritual Prof.N. Sikun bersikap lebih banyak diam.P. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya.245 ditemukan dengan Suryadi. Sikun.

Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. Dalam perkara ini. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. jenderal. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati.

H. Tentu aku senang. di Universitas Chicago. Univeritas Ohio) di Athens. tetapi mereka rela. sekalipun masih di bawah 600. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph.A.. Ph. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. (Ohio University. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku.247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat. pada departemen sejarah. sudah di atas 500.A. Bahkan terlalu baik. Aku hanya mengambil . Frederick.D.D. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. Hasil tes lumayan. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. William H. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O.

Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. A-. Di sinilah peran penting dari Prof.P. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. Di samping Prof.. B.67.. dan A. tim penguji yang lain adalah . dan dari sana meluncur ke Athens. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. tanpa nilai A satu pun. seorang seniman dari suku Sunda.P. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. bila dibandingkan dengan nilaiku di L. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. Dorongan semacam ini sangat penting.H. A-.D.P. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio.A. Rata-rata A. Doddy Soejono.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+.atau I. A. Di Athens. A-.K. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta. (Indeks Prestasi Kumulatif)3. Setelah meraih gelar M.untuk tesis. A. B+. Cukup lumaian bukan. Alhamdulillah. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. tahun ke-176 dari usia universitas. Frederick. kampus lamaku.

.A. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. Aku masih terpasung dalam status quo. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. Jadi tidak terlalu buruk. Masyumi. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis. tokoh-tokoh Ikhwan. bukan? B. belum reflektif dan kontemplatif. Iqbal. semuanya akan menjadi beres.S.A. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. Maryam Jameela.249 Prof. dan gagasan tentang negara Islam.dan A. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M. (Muslim Students’ Association). sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. Masih berkutat pada Maududi. Gerald Doxie. Apalagi aku aktif dalam M. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara.S.

sangat berjasa. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.A. Mesir.S. Iraq. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. hati-hati.S. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. dunia M. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat.A.S.250 yang masih serba belia. M. Dari segi moral pergaulan. Ilmu Barat dipelajari. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus.S.A. Aljazair.A. Libia. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. sungguh bagus. M. Kuwait.A. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya. Jadi secara moral. dan saling menjaga. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. Di lingkaran M. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun.. Di Athens. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara. Itu belum lagi .S.

Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak . pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. ilmu. Dengan membaca peta semacam ini. dan teknologi. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. tokoh syi’ah moderat dari Iran. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. dunia kita atur. Pokoknya dengan negara Islam. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. Nasr bukanlah tipe itu. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim.251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. ekonomi.

yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Beberapa pemimpin M. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Muslim dan Barat.S. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat.252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat.A. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab. Sebagai penulis prolifik. di samping .

Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . Dari sisi terobosan intelektual Islam. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. sementara dimensi intelektual dilupakan. Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir.253 seorang aktivis. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.

lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. New York. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. dan ulama yang konservatif.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. dermawan. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. otoritarian. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. Qutb. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. Para pendukung Maududi. Sebuah paradoks berlaku di sini. Setidak- . yang mengeritik Barat in toto. Di Athens. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri.

Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia.A. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. 401). Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. 1995. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. Sayyid” dalam John L. “Qutb. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. Sharough Akhavi. New York-Oxford: Oxford University Press. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. kebebasan seks. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang . dan pro-Zionisme. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. Esposito (ed. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan. hlm. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. Bahkan mendapatkan M. (Lih. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme.).

Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. jangan ekstrem anti sesuatu. adil. Maududi. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. tidak menyentuh realitas. Pada saat usia yang sudah . Bukan saja bersentuhan. Dalam usia 43 tahun. dan Masyumi. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. sebab Barat-Timur itu milik Allah. Dominasi politik begitu terasa. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan.256 dada saja. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam.

tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. Dr.S.S. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu.257 demikian jauh. aku belum pernah berdialog secara langsung. Wan Mhd. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. dan teman dekatku. Malaysia. Teman-teman M. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah.A. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. salah seorang murid Rahman di Chicago. Dalam arti intelektual. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. memang banyak yang idealis.A. Nor Wan Daud. Aku hormat kepada al-Ghazali. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. Dengan al-Faruqi. .

Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I.T. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia.A.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.A. Amat disesali. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas.A. kemudian hijrah ke Malaysia. Karena proyek alAttas berupa I.S. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati.T.S. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I. .C. Al-Attas kelahiran Bogor. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme.C.S. ruhnya menjadi sirna.C.A.T. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam.T. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.S.C. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu. Proyek I. kehilangan kemandiriannya.

S. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini. dalam pemikiran Islam. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam.D. Bantuan sahabatku M.259 C.D. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya. Amien Rais. beasiswa itu kudapatkan. melalui perwakilannya di Jakarta. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U.I. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan.A. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. .

Gila bukan? Otak sudah tua. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. disuruh cari nilai A lagi. seperti telah kujelaskan sebelumnya. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. sekalipun hakekatnya . sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik.

Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Jika upaya itu kandas. Aku punya rasa takut dan cemas. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. sekalipun dia .” seperti telah kukutip terdahulu. Yang menguntungkanku. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan.261 tidak banyak berbeda. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan.

Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. aku lulus dengan angka P+. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. sekalipun sekarang sudah lupa semua. tidak mungkin bergerak lebih jauh.262 menderita. artinya baik sekali. Biaya sendiri mana mungkin. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Selama semester pertama aku harus belajar keras. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. . Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. tentu semua langkah akan terhenti seketika. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam.

Syafii hanya memikirkan diri sendiri. padahal hasilnya belum jelas.263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”). berkat rantau.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. Aku tentu bangga dengan ini semua. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. lantaran desakan hidup misalnya. Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. Apalagi jika . bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. padahal hasiahnyo alun jaleh. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Sekiranya tidak merantau. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang.

Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. kelakuan semacam ini juga terjadi. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah.264 menyandang gelar suku. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Alhamdulillah. Di kalangan keluarga dekatku. Bukan main rasa syukurku. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. dan menempuh ujian akhir. Dalam perjalanan . Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. menulis makalah. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Nilai A= keluarga datang.

nama anak kami.265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. aku lupa. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Biaya cukup. Tidak langsung ke Chicago. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Perjalanan . Mungkin karena lelah. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. harus singgah di jalan. Hafiz. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti.

Karena anak kecil. demi membantu beasiswaku yang kecil.D. Sebelum masuk S. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. aku hampir tiap hari ke kampus. Hafiz sekolah. isteri Kristen). Lip tidak betah menganggur. Pernah juga kuantar dengan mobil. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. Cuaca . dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih). kadang-kadang menegangkan. Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). cari informasi ke sana dan ke mari. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Rintangan bahasa dapat diatasi. Tokh dalam pergaulan harian. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi..266 panjang itu kini telah jadi kenangan. Setelah beberapa minggu di Chicago. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu.

Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. gajiku sekitar Rp. Lip punya sifat tabah ini. Lip telah jadi “orang kaya” baru. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3.267 dingin sekali. 419. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Kurs ketika itu $1=Rp. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga. Pinto ini .000. 750. 60. bukan? Tahun 1979. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. 868 per bulan.000=Rp. 838. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Dengan kerja delapan jam per hari. Beasiswaku ya sekitar itu. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Sebelum pulang ke tanah air. demi menambah beasiswaku. Di musim panas. dia berangkat dengan sepeda.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan.000 per bulan. 419.419.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas.

apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. Selama bekerja. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. puasa dengan membayar fidyah. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985.R. Sebelum pulang ke tanah air. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. sungguh jauh nian bedanya. yaitu lima dolar per jam.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. begitu juga berpuasa. Luas tanahnya 230 m2. Cukup fantastik hasilnya. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah.P. Sudah . penghasilan isteriku cukup tinggi. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. D.

di Inggris. Keinginan . AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. Bedanya. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. Salim. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. termasuk acuan dalam berpolitik.A.D. Ilmu seorang alim ada di tangannya. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern.

Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Ada dari Eropa. dan dari negara lain. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Indonesia. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa . Kanada. Iraq. Malaysia.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. ada Yahudi. Saudi. ada Kristen. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. dan tak kunjung selesai. Amerika Serikat. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. kelasik dan modern. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan.

Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Hamka (Indonesia). Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). Iqbal (India/Pakistan). Abou El Fadl (Kuwait). Hossein Nasr (Iran). Mohammad Natsir (Indonesia). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Ada Shah Wali Allah (India). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan).271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Nurcholish Madjid (Indonesia). jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Abdulaziz Sachedina (Iran). Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Ahmad Khan (India). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). Mungkin baginya. Muhammad Abduh (Mesir). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Khaled M. Muhammad Arkoun (Aljazair). Fazlur Rahman (Pakistan). Bassam Tibi (Suria). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. ibarat sumur tanpa dasar.

tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. please give me one fourth of your knowledge of Islam. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. Banyak persamaan di antara mereka. dan komprehensif. modernisme Islam. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik.272 banyak dan bermutu. obyektif. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang . tasawuf. kritikal. filsafat Islam. dan masih ada yang lain. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Pokoknya di Universitas Chicago. hukum. tegas. al-Faruqi. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. Rasyid Ridha. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. Hamka. AlAttas. Natsir. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. Kecuali Shah Wali Allah. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. teori politik Islam. mendalam.

dan itu dari Rahman.P. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing.84. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna. yang kuperoleh adalah 3. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. Selama kuliah di Chicago. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan.67. satu A-.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. maka I. lima B+. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. tiga B. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3.K. Berdasarkan angka-angka itu. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. Dengan demikian nilai A menjadi 16.15 A. Selama belajar di Chicago.

Nurcholish Madjid dan Salim Said.A. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. pada saat aku sudah berada di tanah air.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. Terlalu banyak yang dihafalnya. . Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan.C. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Yang aku agak heran. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. biasa disingkat U. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. padahal gelar M. Dalam menghadapi peristiwa penting ini. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal.

275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. . Di luar itu. merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. Dengan kata lain. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Tanpa pembongkaran ini.

Oleh sebab itu. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. tak tampak tetapi terasa. tampak tetapi tak terasa. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda .” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. dan dana.276 Dari perspektif ini. sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. fikiran. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu. pakailah filsafat garam. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering.

sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. Selama empat tahun lebih di Chicago. tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. bahkan di Asia Tenggara. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. tetapi dikhianati dalam laku. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata. Dengan cara ini. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. Setelah 60 tahun merdeka. sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus.

tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Dalam ungkapan lain. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil. Semuanya bermasalah. maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Amat disayangkan. Ada mereka bangun semacam teori. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. Jika upaya serba radikal ini gagal.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi.

Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori.P. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. Pasti akan sia-sia. Muhammadiyah (1998-2005). Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi.279 sunnah nabi secara autentik. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Masalah toleransi inter dan antar agama. tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Sementara keyakinanku kepada Islam . dan bahkan kabarnya juga disertasi. tesis. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P.

surat Yunus: 99.280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. malah semakin kokoh. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Dengan formula ini. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. imanku rasanya tidak semakin lemah. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. dan masih ada beberapa ayat . Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. dan berbeda dalam persaudaraan. hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir.

Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. apakah mereka beriman atau pun tidak. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi. itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Dalam ungkapan lain. tetapi untuk semua.281 lagi. maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang.

Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita. Kita ambil contoh. sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. dan cerdas. sungguhsungguh. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan. toleran. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. dan berkualitas tinggi.

di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. kecuali dalam konteks . Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Dalam sistem politik syura. Dalam sistem demokrasi Barat. sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. memakan daging babi adalah haram mutlak. Dalam sistem syura. judi dengan demikian menjadi halal. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. tidak perlu diperpanjang lagi. hal itu tidak mungkin berlaku.283 anggotanya. rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Dalam kondisi normal. demi mempertahankan hidup seseorang.

Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. Tentu tidak asal perempuan. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat.” Tanpa keadilan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. dan bahkan presiden. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan.284 yang sangat memerlukan. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. Tidak saja pada masa kelasik. gubernur. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. Banyak contoh sudah dalam sejarah. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. bermoral. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . Jika ini yang berlaku.

Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. sekiranya ia masih bersuami. laki-laki mau pun perempuan (lih. asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini.285 terbuka lebar. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja . Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.

Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. Dalam wacana modern. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. tidak terkecuali di dunia Islam. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. .286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan.

Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. Dalam masalah ini. sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di . Dengan memadukan kedua ayat ini. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin.287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. monogami atau poligami. maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. praktik poligami itu sangat merebak. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu.

seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. kecuali bagi yang tidak mau. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. Isteri satu. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang.288 atas. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. sementara bapaknya entah siapa. Sebelum berangkat ke Chicago. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. . Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu.

Ironisnya lagi. pada masa nabi Muhammad. sesuatu yang bila tidak dihentikan. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. tidak berkeping-keping.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. 22 Maret 2005. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Sepanjang pengetahuan saya. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. sehingga seks bebas. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. umat Islam tunggal. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. .

dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. Syai’i.290 Munculnya kelompok Suni. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. padahal kemenangan . sadar atau tidak sadar. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu.

sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. pembela Ali. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. Dengan terbunuhnya Ali. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. Siapa yang meragukan . sedangkan dua yang lain selamat. Syi’i. sepupu dan menantu nabi. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. sekalipun isteri Ali. sesuatu yang sudah lama diincarnya. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. Fathimah. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. yang dimenangkan pihak Ali. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. isteri nabi. puteri nabi bersama Khadijah. dan Khawarij. dan Ali. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. Ali.291 sudah hampir di tangan. yang anti terhadap keduanya.

Dengan kata lain. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. Palestina. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. Tak seorang pun. dan di mana . sesuatu yang tidak selalu mudah. sekalipun bukan mustahil. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. Timbul pertanyaan. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga.292 kualitas iman mereka ini semua. Afghanistan. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Jika tidak demikian.

Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. dan isme apa lagi. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini.293 lagi. syi’isme. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. . al-Qur’an s. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. al-Furqan: 30). seperti yang berlaku berabad-abad. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin.” 15 15 (Lih. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan.

mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. adil. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan.294 Kalau realitasnya memang demikian. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. Tentu sebagai manusia yang relatif. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. Tetapi setidak-tidaknya. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. apalagi saling bertentangan secara tajam. Islam lahir pertama kali di Arabia. banyak yang bahlul tentang Indonesia. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. sekiranya semua pihak . Bagiku. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis.

Perkisaran Abad. Harapan. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. Amerika Serikat. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. betapa pun belum mendalam. dan punya ilmu yang memadai. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. Dua . 14 Juni 2005. hlm. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. Adalah Richard Falk. dada lapang. VII. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu.295 memakai pikiran jernih. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini.

” (Lih. dan Palestina belum juga merdeka. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. 1998. Just Commentary. 1).296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. No. 8. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. Jan. . Afghanistan berantakan. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. hlm. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. Dunia memang belum berakhir. Iraq kacau balau.

Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. keadaannya setali tiga uang. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi.297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. situasinya terbalik 180 derajat. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. diawali terutama sejak renaisans. khususnya Amerika Serikat. Memang . Indonesia. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. demi manusia. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini.

tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . di mana aku sering juga terlibat.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya.B.B. tetapi belum pernah efektif. P. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia.

Bumi kehilangan wasit sejati.299 mengenal Tuhan. tanpa sapaan Langit. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Tetapi. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. Untuk berapa lama? . Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. Dalam ungkapan lain. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. rasanya sudah sangat berat. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. Imajinasi kita dapat menjadi liar. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat.

“Maka. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. termasuk aku di .300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. Alangkah mulianya tujuan missi ini. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. lupa hakekat. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2.

B.S. . Jika pikiran itu dinilai sudah usang.. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. Bila itu terjadi. Batin meronta keras. Universitas Negeri Yogyakarta).P.I.P.S. namun realitas tidak beranjak juga. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan.. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut. F. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu.I. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan.301 dalamnya. Yogyakarta (sekarang F.P. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F. 2006). syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima.I.S. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.P.I.I. tidak lagi menantang. I.K.S. kemudian berubah menjadi F.P. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.

Baru akhir tahun 1985.T.I.R. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K.. Nitibuana yang berpusat di Kudus. Ya.P. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P.. tamatan Amerika. Miskin bukan.302 Fakultas Ilmu Sosial. itu adalah bak sarang merpati. teman lama sejak dari DeKalb. mantan rektor U. Aku yang sudah beroleh Ph. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.D.P.K. Solusinya adalah aku harus . Untuk pembayaran uang muka rumah K. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago.G.R.P.M. Semua pegawai bernasib sama.D. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen.R.P. ke universitas. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph.

dan U.I. Dua perguruan tinggi I.I.I. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. membuka program pasca sarjana.I. negeri atau swasta. Ada sejarah Islam. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama . dan bahkan Pancasila. pemikiran ideologi. kala itu adalah mendiang Drs. Mata kuliah yang kupegang bervariasi.P.K. sama-sama berangkat ke universitas yang sama.I.K. mantan rektor I. Gaji tidak besar. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar. adalah tempatku memberikan kuliah.A. selain mengemban tugas pokokku di I.A. St.I.303 memberi kuliah di perguruan lain. Cara ini harus ditempuh.P.. Vembriarto. Tahun 1984 I.. dan berhasil. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah.I.N.. Maka aku dan Prof. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA.S.P. Agak aneh bin ajaib. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun. U.N. Rektor I. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta.N. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat. agama.K. Barnadib.

“Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Terjadi dialog. Atas kebaikan awak bus.I. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. sekalipun S. Dijawab: “Itu antara lain.P.” .304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan.M. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. aku tidak mau tinggal diam. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D.3. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku.

Muhammadiyah yang dipimpinnya.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja.I.K. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Aku adalah di antara sedikit dosen I.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres. .P.H. Jogjakarta. K. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. paham kelakuanku ini. Dahlan 99.K. A. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah. Jl. yang lama.P.A. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P.P.P.P. Muhammadiyah ini. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.3 saya ditandatangani secepatnya. “Mohon D. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri.P. semua keangkuhan itu menjadi berguguran.I. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Rais. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. Semua orang di I.

306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini.P. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini. A. Basuni. Di samping Rais. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. Yang lain mengikuti.A.R. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. yaitu 12. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Dr. dalam P. Fachruddin. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. Seakan-akan majelis ini adalah P. yang sekaligus pimpinan majalah. B. Muhammadiyah pimpinan H. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. Majelis pimpinan M. Posisi 13 diisi oleh A.A. penerbitan pun digalakkan.P. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini. tidak saja secara lisan. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua.A. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P.P.

P. yang lain.P. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan.P.P. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). Muhammadiyah.307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi.M. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. Sekalipun berada pada angka 12.P. Teman-teman P. posisi bendahara diberikan kepadaku. Amien Rais (993). Ismail Suny (890). Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. 1990-1992. . (Universiti Kebangsaan Malaysia). Rupanya posisi ini diberikan kepadaku.K. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja.. M. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. aku sudah masuk ke dalam jajaran P.

sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. Abdurrozak Fachruddin (516). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. Djarnawi Hadikusumo (676). Aku pada waktu itu masih partisan. seperti tersebut di atas. s. budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. Prodjokusumo (638). Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Ahmad Watik Pratiknya (655).308 Sutrisno Muhdam (830). S.P. sebab jika ada perbedaan. al-Syura: 38). Fahmy Chatib (701). selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Ramli Thaha (671). A. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. Sama sekali tidak sehat. Ali ‘Imran: 159. Bagiku. Dalam daftar di atas. itu. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. . s. Rosjad Sholeh (748). Rusjdi Hamka (774). Ahmad Syafii Maarif (557). nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini.

K. Bendahara: S. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Wakil Ketua: M. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P.P.K. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. kecuali A.M. Wakil Ketua: Ismail Suny.P. juga merangkap ketua bidang. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama.P.M. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia. Yang lain di samping sebagai anggota P. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Rapat anggota P.P. tujuan utama tercapai juga. Ir.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. Imaduddin Abdul Rahim. Semoga Allah memaafkan. Dua tahun aku bertugas di U. ikut-ikut teman. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai.. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas. Amien Rais. sekalipun dengan persetujuan P. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia . Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan.. tanpa berfikir panjang dan dalam.

K. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi.K. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun.K. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia.I. tetapi tanpa tunjangan fungsional.I. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun..K.I. disesuaikan dengan kepangkatanku di . Semua proses ini relatif berjalan lancar.P.P.K. maka gaji yang diterima di U. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.. Statusku tetap sebagai dosen I. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara.P.P.310 dengan kualifikasi Ph.D. Yogya dan proses pelamaran untuk U.M. belum guru besar.M. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. Karena I. Ini bagiku menguntungkan. terlalu berbaik hati. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. dalam kajian Islam. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi.K.I. dengan tetap menerima gaji bulanan. Pasti berliku-liku. Dengan kata lain.

M.M.M.K. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I. karena berbagai pertimbangan.311 tanah air. 8 Jogja sampai rampung. Setelah setahun belajar di S. Islam dan Perubahan Sosial di Asia . Kecuali Ahad. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. Indonesia di Kuala Lumpur.A. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan. Hafiz kembali ke Jogja. Di U. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. dan Hafiz.P. Indonesia. Selama belajar di S. berakhir. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia. Tidak masalah bagiku. anak kami satusatunya. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib.K. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana.K.M.M. Lip. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana.I.A. Cukup menguras fisik dan mental. Sore kembali ke Sungai Jelok.K. Semula kami berangkat tiga beranak: aku. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya.A. sebab pendapatan di U.M.

berakhir. Dr. Berbeda dengan Indonesia.K. harus berada di kampus sehari penuh.K. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang.M. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj.. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan.M. seorang dosen di U. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. Pada tahun 1992. Kadang-kadang sewaktu pulang. Ini semua kujalani selama dua tahun.M. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U.312 Tenggara. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U.K. Lip juga akan turut. Kebetulan kami .K. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah.M.

Watik yang bertujuan mulia itu. Tidak ringan memang. padahal pihak U. baru tahu betul apa makna amanah itu. Muhammadiyah secara langsung. ada ketentuan moral yang harus ditaati.313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Setelah ditimbang masak-masak. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian..P. dan Dr. Di lingkungan Muhammadiyah. Abdullah Zin. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau .M. Kajang.K. Faisal Othman. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan. dekan Fakulti Pengkajian Islam. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan.K. tidak hanya menjadi bendahara tituler. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa. Aku terpilih. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. berkat telepon sahabatku Dr.K. Aku sendiri setelah aktif di P. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. Profesor Dr. Agar aku memperkuat barisan P.M. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U.M.P.

sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. bukan? Tetapi sisi . Rupanya. Mencuci pakaian. apalagi pihak U. masya Allah. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Aku cukup terlatih. Hafiz terbiasa manja.314 meneruskan kontrak. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani.P. Hafiz tinggal menggunakan.K. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto. terutama oleh ibunya. maka imbauan Watik yang menang.M. Semuanya berantakan. Semuanya disiapkan. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. adalah bagian dari kerja masa kecilku. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. Alhamdulillah. membersihkan kamar tidur. Enaknya punya ibu. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil.

aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. dan entah jadi siapa. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini. aku mulai sibuk. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Sederhana. tidak kikir. terserah sajalah. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Inilah tempat beramal yang tepat . harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya.315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Terhadap ayahnya. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. rasanya aku sudah bahagia. kecuali dia hidup secara benar. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. dan tidak pernah lupa beribadah. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. entah di mana. Benar.

Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. Bahasa Inggris lancar. atau posisi di B. Biarlah Allah yang menilai. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. diakui atau tidak. legislatif. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri.U. tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah.N. Aku sendiri tidak tahu. waktu itu sebagai Ketua P. (Badan Usaha Milik Negara). apakah aku ikhlas atau tidak.M. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. dan sederetan kiprah yang lain. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat.316 bagiku. Sangat giat mendatangi . Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. Dosen tamu di Singapura. Kalau dalam partai politik. apakah itu jadi pejabat eksekutif. Jika tidak.M. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. pahala jauh itu pun tidak akan diraih. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia.W. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim.

kejadian dramatis ini telah kusampaikan. sebagaimana semua kita perlu berkaca. Sumbar tidak asing baginya.W. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Dijawab. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. tidak saja untuk Sumatera Barat. Kepada Dr. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. kemudian Yunahar malah balik bertanya. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P.P.M. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Yunahar Ilyas. salah seorang Ketua P. Bagiku kejadian ini luar biasa. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Apakah . ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. Tidak mudah kujawab. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. tetapi untuk Indonesia. Dia terpental ke nomor 43. memang di luar dugaan.317 daerah.

aku tidak bisa mengatakannya. Ke depan orang harus lebih hati- . Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. khususnya untuk Sumatera Barat. sulit untuk mengatakannya. bukan tanpa alasan.” (Belum terkilat sudah terbayang).318 karena sikap-sikap politiknya. Hubungannya denganku cukup akrab. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Tetapi betapa pun juga. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. tetapi belum tentu benar. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Tetapi sudahlah. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Kesimpulan cepat diambil. Shofwan tidak terpilih. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. yang berlalu biarlah berlalu. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat.

Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. Aku berangkat lagi bersama Lip. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. Muhammadiyah. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah.P. tidak terasa. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. kini pergi pula Kanada. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. Balum begitu lama pulang dari Malaysia.A.P. Sebenarnya . Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. Belum sampai setahun aku aktif di P. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta.M. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu.A. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill.319 hati dalam memimpin Muhammadiyah.M. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. ini sampai tahun 2005.P. Kanada.

termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. dan Indonesia. suasana telah berubah. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa . di McGill perpustakaannya hampir lengkap.320 gagasan ini cukup mulia. sekalipun rezim telah berganti. Kanada. syi’ah. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. biasanya perdebatan menjadi ramai. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. termasuk Islam di Indonesia. sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. salafiyah. dan lain-lain. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. Jepang. Mesir.

kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. Kelemahanku terletak pada kenyataan . Pertama. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. Dengan kata lain. Kedua. sekalipun masih saja terasa kurang. surat al-Anbiya: 107). disadari atau tidak disadari. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. autentik. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. dan cerdas. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit.

dan Qur’ani. Aku ternyata juga manusia lemah. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. sistematis. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. Tetapi di atas itu semua.322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. aku wajib . aku pun tidak bisa mengatakannya. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Entahlah. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen.

Penilaian terakhir. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. C.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. atau sebaliknya. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. M. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Pelopor pencerahan intelektual . liberal. Sebagai anak kampung yang tersuruk. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. Padang. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. sepenuhnya di tangan Allah. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. tidak jauh dari bandara Tabing.

tidak ada kepastian. Tetapi bulan Juni 1994. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. dari suku Caniago lagi. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. Muhammadiyah berduka dalam. dan mengurus Muhammadiyah. sukuku. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. tetapi itulah kenyataan .324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. Muhammadiyah. Terima kasih ongaku. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing.P. musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. dua puteri dan satu putera. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. musibah kedua terjadi lagi. menulis. Ketua P.P.

Kampung Kemasan (Solo). Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku.P. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. P. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Paling-paling menjadi . alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang.P. Mohammad Amien Rais. sedangkan aku adalah generasi kedua. “tanah airku. intelektual. (Perang Dunia) II.D. Muhammadiyah era Azhar. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik.

Benarlah Bung Haedar Nashir. dan untuk apa pula.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. anggota “mafia Chicago. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Banyak persamaan. Keduanya adalah sababatku.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku.P.326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan.P. di masaku dan salah seorang ketua P. Adapun aku dan M. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. berbagai masalah kami bicarakan. Tidak ada alasan sama sekali. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina. pasca . Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. sekretaris P. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). Keduanya tidak mungkin mengenalku. di samping ada perbedaan di sani-sini.

tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. proses kemunduran. terobosan M. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam . jika bukan pembusukan. Amien Rais. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. M. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah.327 Muktamar Malang bahwa M. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Jika aku mengeritik Muhammadiyah. akan berlaku dalam gerakan apa pun. tak menentu. Tanpa kritik diri. Saya rasa M. Di bawah nahkoda M. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik.

tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. . suasana panas tidak membawa perpecahan. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. M. Paling-paling saling menggerutu.328 itu. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. tentu bukan karena substansinya. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. M. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. Ini berbeda denganku. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. setelah itu mendingin kembali.

Bukan saja meni’mati. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan .329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. M. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. Amien Rais itu. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku.

Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. tetapi mereka segan untuk berterus terang. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. Nama M. Amien . gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Amien Rais itu. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Kembali ke Surabaya. Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. bukanlah pertanda buruk. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain.P. Namun cinta mereka terhadap M.330 ke luar. Amien Rais. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Kadang-kadang bertele-tele juga. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Koran-koran terus saja mengulasnya. merasa kecut dengan gagasan M.

Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. tetapi gagasannya menakutkan. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Untungnya M. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. Bagi M. B. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Amien Rais dicintai. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. M. Amien Rais dalam mengeritik rezim.J. M. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. Habibie sebagai wakil presiden masa . Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Pak Azhar baru saja wafat.331 Rais tidak pernah menyusut. Di sinilah dilema itu terletak.

Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. Tetapi M. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.332 itu punya hubungan yang baik dengan M.P. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini.M.C. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah.I.I. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995). pihak istana berusaha keras agar M.C. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. tetapi aku mendukungnya. ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Amien Rais. Amien Rais. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu.M. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. . Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. Keduanya juga sebagai tokoh I. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Muhammadiyah.

Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya.P. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Amien Rais. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik. Ketegangan hubungan M. Tak ada gunanya. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Warga yang penakut pun akan memilih M. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar.333 memang sudah pada tempatnya. Amien Rais. tidak berlebihan. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. Amien Rais. Dalam rapat-rapat . Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri.

Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Amien Rais. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. dampaknya akan . seperti baru saja disinggung di atas. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah.P. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk.334 P.

sekalipun tidak bisa dihindari. sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi.P. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. khususnya mereka yang sudah agak berumur. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar .A. Muhammadiyah. di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. Rais.N.A. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit.

Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. sekalipun tidak diakui terus terang. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih . Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan.

pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: . Menurut tuturan R. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. dan akan tersingkir dari persyarikatan. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Kalau pun ada. jumlahnya tentu sedikit sekali. Khatib Kayo. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Gesekan di lapangan pasti terjadi. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik.B. Ketua P. Ini fakta keras dalam sejarah. Dalam berpolitik. tidak peduli siapa pelakunya. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan.M. keras atau lunak. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005. Jika dibuang. beragama atau ateis. Tergantung kemudian. Politik di mana pun di muka bumi ini. lambat atau cepat.W. Jika itu yang digunakan.

Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois.” Dengan bergulirnya waktu. Persiapan secara finansial. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. demi menjaga independensi Muhammadiyah. Muktamar Aceh semakin mendekat. Amien .P. Tetapi gesekan politik antara M. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar.338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik. seperti kukatakan. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. bukan masalah besar. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar.

Komandan pertemuan dari . Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. yang lain berupaya bersikap biasa saja. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. entah apa yang dibacanya.339 Rais. sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. mengaku Muhammadiyah lagi. kemudian diikuti oleh yang lain. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu.P. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. M. Aku melihat bibir M. tetapi juga tidak boleh sombong. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau.P. Amien Rais. M. Amien Rais selalu komatkamit. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. Kami anggota P. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu.

Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. bukan aku. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. M. Dengan iklim semacam ini. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar. Maka sekarang bereslah segalanya. Amien Rais. M.P. ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. Kendala politik telah teratasi.340 pihak Muhammadiyah adalah M. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Ilmu . Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Bukan karena keleledoran Soeharto. Seperti yang diharapkan dari awal. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini. ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun.

sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P. adalah persoalan adaptasi belaka. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya. maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Amien Rais dengan Soeharto. semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. baik dalam tanwir. Ada sementara kader .P. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. Amien Rais. muktamar. itu. aman-aman saja. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. Amien Rais memang terasa sekali. M.

342 Muhammadiyah. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. tak seorang pun yang meragukan.l. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Thohari. di medan muktamar. Lukman Harun. Muljadi sering dipuji Bung Karno. dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P.S. a. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. Din Sjamsuddin. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif. posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus.P. Hajriyanto Y. Keduanya bahkan saling memuji. Inilah .

343 politik. terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. Lukman. Untuk itu aku mohon dimaafkan. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Tetapi bukan terhadap semua orang.M. kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. tetapi untuk membendung M. Dalam gesek menggesek ini. dicoba diusung juga. M. Djazman alKindi. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. gesekan ala Muhammadiyah. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. ini tetap utuh. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Aku yang mengusung M. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. tak berubah.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Amien Rais. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. persahabatanku dengan pendiri I. betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. Ya. Amien Rais untuk menjadi nahkoda.M. sampai .

Amien Rais. kendaraan politik ORBA. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . Lukman dan M. aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Namun di atas itu semua.344 dia wafat.P. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak. Amien Rais dalam Muhammadiyah. Berbagai pandangannya tentang M. tetapi itulah caraku memandang politik. yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. katanya. Lukman. Betul. Amien Rais sering disampaikan kepadaku. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M.P. sang politikus. Dari Parmusi ke P. lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”. (ini masih nalar).

berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Ada bibit yang menjadi presiden. kalau warga menginginkan. Muhammadiyah dipuji. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Biasa.l. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto.345 puncak. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. presiden berucap. Di luar teks pidato. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga . Itu bukan watak dan tabiatku. tetapi intinya begitu. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Muktamar gaduh dalam kesenangan. kirakira a.” Mungkin tidak persis demikian. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan.

Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung. tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. dan kemudian terpilih menjadi anggota P.346 Muhammadiyah. . yang berada pada urutan kedua. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. akhirnya masuk pula dalam pencalonan. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. Menarik dan menegangkan. Inilah dunia. tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. Bukan karena latah tentunya. Aku sendiri masuk nomor tiga. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak.P. M.

Sutrisno Muhdam (1048). Jika pada Muktamar Jogja. komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. M. Rosjad Sholeh (874). M. Asjmuni Abdurrahman (802). serumah berlain rasa. Muhaimin (866). Anhar Burhanuddin (628). Amien Rais (1245). betapa pun terdidiknya mereka. Yahya A. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan. Rusjdi Hamka (624). Bagiku.” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup. Ahmad Syafii Maarif (1047). A. Sukriyanto (589). Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P.P. Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang . Ramli Thaha (852).347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. A. sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. aku berada pada nomor bontot kedua. Lukman Harun (660). di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. Watik Pratiknya (886). Muchlas Abror (730).

A. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman.I.N. aku telah melompati sembilan nama. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. Sekretaris: A. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Bendahara: Anhar Burhanuddin. dan T. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Sekretaris: M. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Amien Rais. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut . Muchlas Abror. Dari 13 nama itu. Rosjad Sholeh. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. hampir tidak ada gangguan yang berarti. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya. Memang selama muktamar berlangsung.R. Peluru dari G. Dari sisi ini.M. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Sukriyanto A. Bendahara: M. sebab pengamanan sangat ketat.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. masih saling menyalak. Tetapi pada tahun 1995 itu.

Banda Aceh. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya.349 dalam kemasan berani. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. Amat disesali. tetapi diakui bahwa Jakarta . Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. T. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. bukan partai. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Di atas itu semua. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Terserah sajalah segala penilaian itu.

aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. dibuka oleh bibit. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. beberapa hari pasca tsunami. Sampai hari ini. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. dan mungkin yang lain.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. bumimu mengandung kekayaan minyak. Sebagai pencinta Aceh. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. sebagai wujud dari harga diri . dari sisi sejarah. laki-laki dan perempuan. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. tembaga. Aceh. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. engkau adalah bumi pahlawan. emas. kayu.

Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. karena engkau pantang dijajah. Perang Aceh berakhir pada 1912. pada tahun 1950-an. Tanahmu lepas dari Belanda. Aceh. dengan meninggalkan korban dan dendam. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. Engkau bela republik dengan darah. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. engkau kembali melawan. Aceh. juga dari sisi sejarah. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. Sebagian besar rakyatmu . Aceh. untuk kemudian berdamai. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. Sejak itulah engkau resmi dijajah. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. Tapi tidak bertahan lama. tapi hanya 30 tahun. Belanda sangat takut kepadamu. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. di masa revolusi kemerdekaan.

alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. Akibat gesekan lempeng bumi.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. Allahu ‘alam! Jogja. tanpa ada tanda-tanda. Aceh. akibat kemurkaan alam. karena engkau turut mendirikannya. 1 Jan.352 ingin tetap bersama Indonesia. Indonesia meratap tanpa air mata. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. 4 . perang saudara belum usai. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. berserakan di mana-mana. Sekitar 200. Tanpa dinyana. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. sekalipun telah dianiaya. Dunia berduka dan terluka. karena sudah kering.

akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. jangan diulang lagi. hlm. darah sudah tak tertumpah lagi. biarlah berlalu. halaman 12. Anton Syafriuni.A. Jakarta: Grafindo. Tanah Pahlawan. dan alhamdulillah berhasil. dengan penyunting Hery Sucipto. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Yang berlalu. Selamat Bumi Rencong. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah.353 Januari 2005. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. Tanah Rencong. selamat Indonesia. dan Husni Amriyanto Putra. 131132. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. Itulah Aceh. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. Jakarta harus lebih arif . Allah maha tahu segala akibat perkara. Mari kita saling memaafkan. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah.M. 2005. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku.

Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai . dan berhasil. Maka adalah sebuah rahmat Allah. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. damai. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. Peluru masih mendesing di manamana.. tidak terkecuali di Banda Aceh.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. seperti tersebut di atas.M. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan.A. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah.

355 tahun 2005. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Jakarta dan G.. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. menuntut keadilan. Untuk ketuanya aku . disusul oleh majelis. Segera disusun pengurus lengkap P.A. Nurcholish Madjid.A. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya.M. sementara G.P. Ali Yafie. Kembali ke Muhammadiyah. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas.A. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam.M. semula samasama keras kepala.. Posisi M. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun.N. karena masing-masing pihak. Di bawah komandan Rais P. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan. dan lembaga. badan. Surjadi Sudirdja.P. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali.

P. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang. Di bawah kepemimpinan Abdullah. Sunankalijaga. P.356 usulkan Dr. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Dikhawatirkan berbagai . Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. Majelis Tarjih sekalipun diprotes. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Usul ini disetujui rapat pimpinan. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. M.A.N. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama.I. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan.

Sebab bila hal itu terjadi. Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. juga di bumi Muslim. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar .357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga.

Bahkan dia bergaul kaum komunis. tetapi agama tidak . dan siapa saja. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Ahmad Dahlan. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. liberal. sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. Pendiri Muhammadiyah. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain.358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. atau semakin beriman. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. Kristen.

Keruntuhan Rezim. Semua teman tahu. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. dan Aku Dengan sub judul ini. berkat . Muhammadiyah. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. Sama sekali tidak. D. Habibie. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya.

360 M. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. dan tetap anak kampung. Apa yang digulirkan M. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Amien Rais. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. Aku adalah anak kampung. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. Dengan keterangan ini. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan . Dengan keterangan ini. Aku tak peduli lagi. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand.

susahnya bukan main. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini. I.F.M.. Dalam keadaan bingung. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- .F. Tidak punya dasar. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I.M. itu. itu. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.M. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah. Presiden Soeharto gelagapan. tawaran itu diterima.F. Dengan ekonomi yang compangcamping.. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. tetapi tak satu pun yang mujarab.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh.M. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I. Akan ke luar. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I.M. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik.F. pemerintah harus meminjam dari I. Resep terus diberikan.M.F.F.

Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. 122). dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan. ibid.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I. hlm. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.M. Subang Jaya: Pelanduk Publications. (Lih. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I. 2202.F. Globalisation and the New Realities.F. Mahathir Mohamad. (Lih. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. 15).. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan. . untuk dibantai.M. suatu penegasan yang berani sekali. hlm.

Amien Rais bukan main sibuknya. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. M. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen.363 Pada tanggal 21 Mei 1998. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. . Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. karena faktor M. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan.J. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Dua tokoh yang semula begitu akrab. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. Muhammadiyah di bawah nahkoda M.

sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Hubunganku dengan M. peran M. kecuali hubungan baik. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. Saya rasa M. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet.364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Amien Rais di P. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik .P. sikapnya semakin dingin terhadap M. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Amien Rais.

secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa.P. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. 6. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. Amien Rais. hlm. terutama dengan Eropa. (Kabinet Reformasi Pembangunan). termasuk dengan M. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. Habibie berhasil. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. 15.R. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya.365 dengan banyak orang.7). di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: .

yang ketiga.366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. Ini tantangan terberat bagi Habibie.I. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. Habibie tampaknya tidak . Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya.J. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B.

Menurut A. Di sinilah terletak . Ini dilema terbesar baginya.H. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Bahwa Habibie seorang jujur. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. Seharusnya menurut saran saya. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. tak seorang pun yang meragukan. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. lugu. Nasution. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia.

Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. dan efektif. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. punya watak negarawan. . Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. bijak.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden.

Anggota P. tetapi diabaikan saja. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. kendaraan politik Soeharto selama ini.P. Lukman masih bagian dari Golkar. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. Untuk menentukan sikap P. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah.P. diadakanlah rapat pleno P. adakalanya dengan perasaan khawatir. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998.369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh.P. Sampai jatuhnya Orba. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. pada bulan Mei itu . sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot.

karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat.P. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. Aku dan Dr. jangan kepalang basah. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Kalau mandi. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. Watik berpendapat lain. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. Pada waktu itu aku benar- . Setelah berdiskusi agak lama. sebagian besar anggota P. Dengan kata lain. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya.

bahkan turut bersuara memberi masukan kepada . karena memang di situ habitat yang tepat baginya. Dalam rapat di atas P. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah. Fatwa. dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat. itu. tetapi tidak sekuat Amien Rais.P.P.P.M. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi.M. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung.W. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. seperti A. Ramai sekali yang hadir. Jelas di sini aku juga punya naluri politik.

372 peserta. . lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Biasa. Politik bukan duniaku. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. Pucuk dicinta ulam tiba. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. jawabanku lugu. mantan tahanan politik ORBA. untuk maksud baik atau sebaliknya. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. rumah tangga asli mereka. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. Fatwa. bukan yang lain. Yang lain juga mengikuti. Entah dipengaruhi siapa.

(Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. Sampai hari ini.H. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P.A. bertempat di kantor P. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P.P.373 Antara Juni-Agustus 1998.P. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998.P. Muhammadiyah selain memimpin partai. Rais dan pendukungnya. tanpa merasa tersinggung sedikit pun.W. tidak boleh terlambat.P. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. maka berdirilah P.N. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut . Muhammadiyah? P. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Ketua P. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.P. Muhammadiyah Jakarta. Djamaluddin Amin. bertindak cepat. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil.M. tetapi kuhargai seperti biasa. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Ini luar biasa memang. Di ujung upaya. kecuali sahabatku K. termasuk aku.

N. Namanya disebut di mana-mana. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang.A. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya.. tingkat wilayah.P. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Ini tidak mengherankan. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. Alasannya sederhana saja. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Nasehat ini mungkin didengarnya. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. Inilah sosok yang aku gantikan. aku akan tenggelam. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. aku semula merasa agak gamang juga.374 bermain di arena politik praktis. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun.

cendekiawan.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang.. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku. K...I. orang Minang kedua sesudah A. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. politisi. militer. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang. dunia kampus. P.W. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. warga Muhammadiyah. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Budha.I. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. Bukan aku. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan.R. Hindu.Tanyalah tokoh-tokoh N. budayawan. pejabat. biarlah orang banyak yang menjawab. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. Tetapi harus kuakui. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai . atau siapa saja.G. Sutan Mansur.U. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah.

Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D.A.P. (Dewan Pertimbangan Agung). bukanlah urusan D.A. D. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.P.P. dan Megawati. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.A. Kata orang. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. Kemudian pada akhir tahun 2003.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung.P. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. menganggapnya tidak diperlukan . 1998.P. Abdurrahman Wahid. Habibie. tanyakan langsung saja nanti.J. tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden.P. yang lain. termasuk Sutrisno Muhdam. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu.A. juga dari Muhammadiyah. Des.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais.. dilikuidasi karena M. Bagiku hal ini baik saja. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.A. Orang kantor Akbar Tanjung.R..

pada tahun itu juga. mantan sekretaris jenderal. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. D. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden.377 lagi. kecuali oleh B.P. maupun Achmad Tirtosoediro. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan. Para mantan menteri. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut. mantan anggota parlemen. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. mantan jenderal. Itulah sebabnya barangkali . aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka.P. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat.A.. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden.J. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D.P.A. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D. politisi. Baramuli. baik A. Dari pengamatanku.A.A. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. dan mantan-matan petinggi lainnya.

tokoh masyarakat.A. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota. umurku sudah menginjak 63 tahun. Bagiku apa pun kata orang. marsekal.P. kiyai. secara berangsur telah menjadi teman baikku. baik sipil maupun militer. tanpa kecuali. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo. Sewaktu aku masuk D.A. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. Apakah itu jenderal. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. . Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik.A.P.378 ada orang yang membaca D. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan. Semua anggota D. agak jauh di atasku. Melalui Gafur. sebagai Dewan Pensiunan Agung. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat.P.. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono.P. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Ini juga meringankan P. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. mereka terlalu baik denganku. politisi.

Aku tidak tahu. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur.P. “Tidak.R. untuk D. Sutrisno Muhdam. aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D.P. Muhdam adalah menantu A.A. Begitu menyatunya hubungan itu. mertua Muhdam. di samping A. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. ketua P. yang terlama. hanya satu-satu. Itulah gaya Pak A.P. Semoga Allah menerima semua . karena pribadinya selalu kalem dan tulus.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali. Muhammadiyah.P.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. cepat. penuh kharisma.A. dan sedikit menggelikan. Rasa humornya tinggi.. Fachruddin.R. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya.A.P. segar.R. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran. karena wafat setelah sakit beberapa lama. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D.R. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. Wakil Ketua P. Satu ketika aku bertanya: “Pak A. dekat istana presiden.

Kepemimpinan Pak A.. pemerintah tampaknya cukup . dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. Seluruh dunia memujinya. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. Hanya soal waktu.380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. dan semua kita pasti akan menyusul pula.R. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. biarlah publik yang menilai.P. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat. Karena upaya beraninya ini. Tetapi ada catatan lanjutannya. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. cepat selamat. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan).A. biar lambat asal selamat.

Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Habibie memang telah melangkah terlalu . Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. termasuk Amien Rais. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. Dalam menghadapi Habibie. Dalam situasi serba dilematis ini. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Keadaan sukar sekali dikontrol. semua orang tahu. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. masyarakat menjadi liar.

pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. . Setelah referendum diadakan. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Hanya sekitar 22. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia. Dengan kata lain.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. langkah pemerintah cukup antisipatif. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis.

bahkan sering dipuji oleh I. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Kritik terhadapnya semakin merebak. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini.U.F. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. dan Bank Dunia.M. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N.

Habibie sangat tahu diri dan . Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya.P. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman.P. Ringkas kaji.R. dan ternyata memang itulah yang terjadi.R. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Tidak selang lama setelah sidang. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. Sidang M. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie.P.R. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya.

Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan.P. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya.. politik adalah . tidak peduli siang atau malam. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang.P. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik.385 menghormati keputusan M. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat.R. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. termasuk Amien Rais. persahabatan kami tidaklah rusak. Maklumlah.

mengalahkan Matori Abdul .R. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr. dalam Sidang M. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. Intinya dari tokoh-tokoh P.U. P. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P.P.K.P.D. Fuad Bawazir. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. P.P.S. maka mereka (P. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ).P.386 habitat yang sebenarnya baginya.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22.R.A. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada.P.D.I. Dengan membentuk Poros Tengah.P.K. P.S.I. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.P.49/51.P.. di Indiana. dan P.) merasa sejajar dengan P...P. jawabannya adalah: “Jujur saja.N. Disiplin ilmunya pun. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik.I.N.. dan Golkar. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami.D.A. dan Golkar.

sebenarnya punya naluri politik yang tinggi. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada .B.U.U. yang tidak mudah diatasi. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. Inilah dilema N. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis.U. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis.U.387 Djalil dari P. (Partai Kebangkitan Bangsa). Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu.K. Sejak N. Sekalipun N. termasuk Wahid. 1984 di Situbondo.

” Situasinya memang rumit sekali. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju.U. Dawam Rahadjo.R. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Yusril Ihza Mahendra.P. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M. Hamzah Haz. Seperti . Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. di antaranya Jenderal Wiranto. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. Ibarat jago silat. Mereka yang akan mengatasi. jika Rais yang maju. Tetapi siapa tahu pula. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Adi Sasono. tetapi tetap ditolaknya. baru teringat silatnya. ini aku dengar dari Rais sendiri. setelah babak belur. Akbar Tandjung. banyak yang lain.-Muhammadiyah.U. Selain itu. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. Marzuki Darusman.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. di akar rumput bisa gaduh.

Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. Sekitar . atau Gus Dur yang akan menemuinya. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie.U. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. Tetapi itulah A. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia.P. dan massa Muhammadiyah. Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati. Rahman Wahid ini.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. Jadi memang serba dilematis. Dinihari itu A.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. diobat oleh para kiyai. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P.

padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. S.P.P. perlu dipimpin oleh preman.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya. Aneh bin ajaib kemudian berlaku.R.. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D.E. Di samping berbicara tentang kabinet. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati.A.P.R. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. A. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu.R.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi .P.” Padahal Matori bukan preman setahuku.P. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. Muhammadiyah Jakarta. Azidin.

-P. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka. bapak spiritual N. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.391 seorang calon presiden. dan masyarakat tertentu.D. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng.R. tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari.I. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik.R.U. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai . Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya.M. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P. kakek Abdurahman Wahid. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi.P.B.P. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.

Kristen. tokoh P. Fatwa. Teman-temanku dari pihak Katolik.P. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid.I.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat.U. Hindu. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. Hubungan N.N. sampai sujud syukur di gedung M.. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. ini kongsi politik yang . Amien Rais.U.R.R.M. Bukan saja mereka. Amien Rais puak Muhammadiyah.P. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. dan Budha. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat. Abdurahman Wahid mewakili puak N. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. dalam lingkup nasional. Lebih dari itu. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini.R.A. seorang A.M.392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia. Akbar puak H.P. Mereka semuanya gembira.

cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. Sepintas lalu. serumah berlain rasa.” Belum sampai dua tahun.393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Iklim politik . sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. Sebelum jatuh sama sekali. Abdurahman Wahid. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. Tiga figur santri: Amien Rais. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal.

karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. dan Dr. Amien Rais. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan.R. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. Dalam situasi serba . dan ketuanya M.P. Akibatnya sangat nyata. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. bukan Amien Rais. Aku. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M.R. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. tidak saja di kalangan elit. Deddy Julianto.P. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Tetapi alangkah sukarnya.. seorang pengusaha pribumi.394 menjadi panas. dan memang keduanya adalah petarung sejati.” tetapi sudah bertarung. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. Khususnya di Jawa Timur. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. M.

Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu. Hasjim Muzadi. Fasich.B. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. 1. DR. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. .395 sulit ini. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional.. tertanggal 5 Februari 2001. Nadjib Hamid.Sos.H.U. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. maka pernyataan P.W. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. Drs.U. N. S. Apt. H. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. termasuk dengan Ketua Umumnya K. A. perlu kukutip di bawah ini. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi.. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. 2. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah. P. Karena kejadian itu cukup menegangkan. dan H. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu.M.

U. Anak-anak muda N. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Surabaya: P.W.M. yang lain.W. (Lih. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. Faaisol Taselan. tanpa menyebut golongan mana mereka. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. Sophiaan. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. Jawa Timur. Jawa Timur terus dilakukan. yang dekat denganku terus dihubungi agar . hlm.396 3. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P.M.P. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. Ainur R. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. 2002. 4. Nadjib Hamid. Kontak dengan P. 89).

55. aku . Fatwa: …bajingan negara. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N. Bagiku semuanya harus dimaafkan. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. Kholil Gresik. Kata orang. dengan sedikit perbaikan ejaan.M. A. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. tetapi isi tidak berubah). (Ibid. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya.U. hlm.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. K. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl.. tetapi pasti. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan.H. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. hubungan N.397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan.U. Dien Syamsuddin. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang.

Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. hlm. N. Gambaran urutannya adalah sebagai . Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M.R. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. 94).U. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan.. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban.U. P.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini.. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas.W.M.P.B. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. 8-11 Juli 2000.” ( Ibid. Tetapi P.

Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan.P.399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Daerah Khusus Jakarta. Bendahara: M. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Rapat Pleno P.P.W. Wakil-wakil Ketua: A. M. Muchlas Abror (788).R. (706). Sukriyanto A. Haedar Nashir (748). aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden . A. M. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Sukriyanto A. Asjmuni Abdurrahman (769). Ahmad Watik Pratiknya (803). Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. Mohammad Dawam Rahardjo (910). Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. Malik Fadjar (1041).M. M. Tidak lama sesudah itu. Malik Fadjar.R. Yahya A. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. Rosjad Sholeh (1034). M. Ismail Suny (921). Din Syamsuddin. A. Amin Abdullah (940). Muhaimin (971). Amin Abdullah. A. Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). M. Rosjad Sholeh. Din Syamsuddin (1048).

R. Ketua D. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan .P. Ketua M. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali. Analog dengan ini pula. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. Amien Rais. M.P. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. Inilah a. Akbar Tandjung.400 Abdurrahman Wahid. apalagi memberhalakannya.R.l. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. dan banyak yang lain. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali.

Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Oleh sebab itu dalam . Bangsa ini adalah milik kita semua. Oleh sebab itu.401 jumlahnya. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. dan untuk jangka panjang. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam.

Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. Muktamar Jakarta cukup semarak. seperti biasa. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu.402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-. tanpa melihat latar belakang sosial. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. suku. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. tetapi pers. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. dan sejarah. rasulnya. agama. maka Allah. pada umumnya .Dan katakan: “Beramallah kamu. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini.

menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Malik Fadjar. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. Jawabanku biasa dan datar. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. Bilamana sebaliknya yang berlaku. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. sesuatu yang memang tidak kusukai. A. apalagi pertarungan antar figur. sekalipun tanpa tim sukses. Biar orang lain yang dipilih. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. Masyarakat memang demam pertandingan. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. ya diterima saja. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. aku betul-betul terjungkal. misalnya. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. . seperti main uang.

Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi . Dalam perkara yang satu ini. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik.404 Sepengetahuanku. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini.P. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Permainan uang seakan telah menjadi norma. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Semoga begitu seterusnya. Suasana partai politik jangan ditanya lagi.

mentalku harus benar-benar disiapkan.P. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka.405 menetapkanku sebagai ketua. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam . Dalam rapat kilat itu. sebab jika usia masih dipanjangkan. Dengan kenyataan ini. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua.P. tak seorang pun yang mempengaruhiku. Muhammadiyah. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. Anggota yang lain setuju saja. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. periode lima tahun cukup berat bagiku. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. Muhammadiyah untuk periode 20002005. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P.

buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. aku terlihat “mengalah. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. Bravo. Jawaban buya sangat jelas: Jangan.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. ejaan disesuaikan).” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir. Jadi.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya.24. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself.P. . namun tidak bisa didikte oleh MAR. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar. I would have listened gladly. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. if you ordered me to pull my support for MAR.

30. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. Tetapi jika tidak demikian. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah. Aku mau berdamai dengan siapa saja. ejaan disesuaikan). asal . demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. Dalam suasana yang tidak normal itu. bika tidak akan masak. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. aku kadang-kadang merasa seperti bika. di bawah panas di atas panas.407 bantulah dia sebisanya. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. Bagiku sendiri.

Muhammadiyah.408 dilakukan dengan tulus dan autentik. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. Dan bertaqwalah kepada Allah.P. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku . Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya.

sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring.409 kepada masalah kepemimpinan. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. Bali. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Apa yang . baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. menggunting dalam lipatan”. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. 24 Januari 2002. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta.

Kami anggota P.P. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini.P. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. dan aku mendukung. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. lalu meninggalkan Bali.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. P. Yang benar bukan begitu. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. tetapi sia-sia belaka. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Rapat Pleno P. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang .P. Dan undangan itu dikabulkannya. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. yang mengundang Mega. M.

P. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat . mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu.” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini.P.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Dr. jam 17. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. bukan kemauan seseorang.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun.15).

Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. aku pun dari Muhammadiyah.R. Kearifan dalam bersikap sering pupus . Amien Rais setelah M. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis.P. pimpinan M. kata orang. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. ganas. memang dapat membutakan hati manusia. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid.412 jelas.R. Aku melihat permainan politik itu kejam. Amien Rais dari Muhammadiyah. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. Dalam perseteruan ini. Kekuasaan itu. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden.P. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental.

Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas.P.P. budayawan/seniman. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. Tidak saja dari mereka. sekalipun lelah. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini. Keduanya cukup profesional. sebab merekalah yang mengatur agendaku. asing atau domestik.413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. pengusaha. jenderal. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. menteri. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. mobilitasku memang meningkat drastis. Tamu-tamu berdatangan ke P. tidak ada urusan yang tidak beres. Muhammadiyah Jakarta. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. dan banyak yang . siang dan malam. mantan menteri.

Amien Rais. Hatta Rajasa. Gewanggoe.. M.414 lain. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. Megawati. Ramadhan K. Salim Said. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. Din Syamsuddin. Hidayat Nur Wahid. Muhammadiyah dan sesudahnya. M. Bambang Sudibyo. Gunawan Mohamad. Ajib Rosidi. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. Denny J. Dawam Rahardjo. Adnan Buyung Nasution.A. mungkin karena ada gelombang yang sama. Taufik Abdullah.S.. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Dillon. Nurcholish Madjid. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Josef Handojo. Habibie. Kaban. Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan kata lain. Sulaiman Abdul Manan. Achmad Tirtosudiro. Tarub. Sri-Edi Swasono. M. A. Pdt.H. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Ahmad Hasyim . Biku Pannyavaro. Todung Mulia Lubis. Taufiq Ismail.P.A. Abdurrahman Wahid. H. Jusuf Kalla. M. Anas Urbaningrum.S. Franz Magnis Suseno. Romo Benny.J. Muchlas Abror. Fuad Amsyari. Fuad Bawazir. Weinata Sairin.

A. Jusuf Wanandi. Jeffrie Geovanie. Matori Abdul Djalil. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. Yunahar Ilyas. Amin Abdullah. Sjafri Sairin. Pertukaran pikiran . Sulasikin Murpratomo. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Rizal Sukma. Umar Wahid. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Hamid Basyaib. Gafur Chalik. Fasli Djalal. A. dan puluhan yang lain. Hendropriyono. Siswono Yudo Husodo.415 Muzadi. A. Herman Darnel Ibrahim. Jakob Utama. Muhammad Muqoddas. Mustofa Bisri. Zamroni. Handojo S. Mas’udi. Achmad Bagdja. A. Rosihan Anwar. M. Sutrisno Bachir. Watik Pratiknya. Rusdi Latif. Salahuddin Wahid. Sofyan Wanandi. Kuntowijoyo. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Haedar Nashir. Fatwa. Muljadi. Bambang Widjojanto. Albert Hasibuan. Jacob. Sudhamek AWS. M. Rosjad Sholeh. A.M. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Malik Fadjar. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Dasron Hamid. T. Deddy Julianto. Masdar F. Suyanto.M. Muhammad Najib. Syamsir Siregar.

aku dan dia bersimpang jalan. aku sungguh banyak belajar. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. Edward Lee (Singapura). tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. Richard Gozney (Inggris). Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. aku sudah bertemu dan berbincang. untuk menyebut hanya berapa nama. Dengan Boyce malah sering. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. Dengan duta besar Ralph L. aku belum punya bukti. Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. Boyce (Amerika). tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror.416 dengan berbagai kalangan itu. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai . Lu Shumin (Cina).

: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya.417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. dan ini sangat Qur’ani. a. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. Toffler. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya.l. tetapi . Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. seorang Yahudi. Ya.

Fachruddin cukup .418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. Menariknya. Kabarnya konon para Ketua P. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Bantul. itu dipercaya banyak pihak. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab.R. Pak A. Entah apa alasan dan daya pikatnya.P. termasuk dengan beberapa pengusaha. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Allah maha pemurah. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. tetapi belum cukup. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan.

Menurut keterangan Rektor U. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. Melihat kenyataan ini. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. besar-besar lagi. Donatur yang lain berdatangan satu persatu. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. tanpa meminta kuitansi. Dasron Hamid (ketika itu). Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. Pada waktu itu kami belum akrab. sebuah angka yang cukup besar kala itu. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. seperti yang kulakukan juga. 500. Ada yang datang langsung ke P. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.000. Jumlahnya Rp. dana itu telah turun dengan mudah. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto.419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto.M.R. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. kepercayaanku . surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara).P. sekalipun sudah saling mengenal nama.000. Hasilnya memang di luar dugaan.Y. Tidak perlu menunggu lama.

. Jenderal Muchdi. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. Abdurrahman Wahid. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. Dalam upaya pencarian dana ini. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. Al Hilal Hamdi.J. M. Semoga aku pandai menjaga amanah. Hendropriyono. Habibie. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan.M. tidak saja untuk muktamar.P. dan masih ada yang lain.S. Hatta Rajasa. Fuad Bawazir. Jenderal A. Kaban. Dasron Hamid sungguh besar. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. aku pun bisa. H.420 kepada diri sendiri semakin kuat. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Herianto). Ternyata. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku.

. Tanpa uluran tangan mereka. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. 500. ternyata kemudian kempis. Tidak sekali cara ini kualami. datar. D. Dana datang tanpa diduga. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah.K.M.000 dengan pecahan Rp.P. reaksinya sangat biasa. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini.W.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. Tetapi untunglah. P. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku. Maka tugasku dan temanteman P.000.I. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. tidak menjadi kenyataan. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%. 50. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat.

dia pusing juga. kuajak meninjaunya. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. 23. 400. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya.000. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. yang baru di Jl. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. Jogja. Masih ada yang lain. tentu sambil “merogoh” kantongnya. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. Muhammadiyah. Oleh sebab . Hampir Rp. Cik Di Tiro No.000. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Itu pun dikabulkannya. juga dibantu Rajasa. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini.P.422 tetapi jika tak punya. Coba kalau isteri mata duitan. menristek ketika itu. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya.P.

Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. Sekiranya aku menjadi politikus. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp.423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. Salah seorang sahabatku Sudhamek. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan. seperti telah disinggung sebelumnya. di akhir masa jabatanku di P. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia.P. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus.000.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. suasana semacam ini belum lagi tercipta. . Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah.P.. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. Muslim dan nonMuslim.75. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia.

Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat.P.P. Di Era Orba. sebagaimana telah kusinggung . Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Sebagai Ketua P. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P.P.424 E. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P. Muhammadiyah. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua.

Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P. untuk memimpin P. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. Suasana inilah yang kemudian . Muhammadiyah periode 1995-2000. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. seorang alim yang tidak punya naluri politik. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.N. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah.A. tetapi Ahmad Azhar Basjir.425 sebelumnya.P. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. malang yang tak dapat ditolak.P. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. Namanya sedang jadi buah bibir publik. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan. Mujur yang tak dapat diraih.P. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan. termasuk sejarah Muhammadiyah.

kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. bahkan ranting pernah pula didatangi. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. Keinginan warga. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. apalagi seumurku.M.D. Bangka-Belitung.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya. Sekitar 400 jumlah P. Hampir semua wilayah telah kudatangi. maka periodeku menjadi tujuh tahun. tetapi tidak mungkin ditandangi.P. yaitu Gorontalo. jika mungkin. tidak saja dengan wilayah. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua.D. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif.M. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. Satu dua cabang. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . dan Sulawesi Barat Daya. tetapi beberapa P.

sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam.427 gerakan sosial lain di Indonesia. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. . Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. tidak lebih dan tidak kurang. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. secara kuantitatif. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. Suasana semacam ini memang memprihatinkan.

Mun’im A. Sebagian dekat dengan Dr. baik untuk pendidikan. Norma Permata. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Sirry. M. Hery Sucipto. Andar Nubowo. Pradana Boy ZTF. Thantowi. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Hilaly Basya. Zuly Qodir. Sukidi Mulyadi. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Abd. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. seorang kiyai-antropolog. Menurut Fuad Fanani. A. Promono U. di antaranya Ahmad Najib Burhani. Hilman Latief. Kuni Khoirun Nisa’. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. . Ahmad Fuad Fanani. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Muslim Abdurrahman. Rohim Ghazali. Asep Purnama Bahtiar.428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. Saleh Partaonan Daulay. kesehatan. Zakiyuddin Baydhawi. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. M. Abduh Hisyam.

Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Berbagai masalah pasti muncul. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. padalah niat semula adalah untuk beramal. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. kadang-kadang bertubi-tubi.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. Ada contoh . bergabung dengan yang lain. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. Rahayu Arman. Fajar Riza Ul Haq. Budi Asyhari Arman. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. kita belum bisa mengatakan. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan. sekuatkuatnya secara kritikal.429 Ilham Mundzir. Nur Hidayah.

pun. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur.P. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. tidak saja di tingkat bawah. karena alasan tertentu. itu bukan hal baru. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. seperti telah kukatakan. Kekuatan . Jawabanku adalah: “Jangan.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. hal serupa terjadi. di tingkat P. jangan dibiarkan membusuk.P. Keterikatan kita bukan dengan manusia.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. kecuali kembali kepada ruh agama. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. bukan karena yang lain. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan.

Yordania. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif.P. adalah: 777 United Nations Plaza. U. setelah pertemuan Amman.R. kritikal. William F. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam.S.C. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.A. tetapi aku . hampir satu abad yang lalu. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah.U. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah.R. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. berada di New York dengan sekjennya Dr. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. Alamat kantor pusat W.C. Sekalipun tidak sempat aktif benar. seorang Katolik yang taat. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. Karena masyarakat terus bergerak. Vendley. New York.R.P.C.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W.P. NY 10017. Kantor pusat W.

aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Uskup Agung Semarang. 555. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. . Dalam pergaulan lintas iman.. op. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. seorang sahabatku Dr. Yang jelas. Suharyo. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. inspiratif. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan.cit. Rupanya 16 Lih. Abd.16 Rasanya Dr. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. hlm.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. I. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. terbuka.

Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. Ahmad Syafii Maarif.M. Ramadhan K.S. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat.J.H. Gunawan Mohamad. Ajib Rosidi. Rendra. Nh. dan para penulis terkenal. Rendra. Tatiek Maliyati W. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman.. Pada saat Prof. Sardono W. Slamet Abdul Syukur. .S. Toeti Heraty N. Rata-rata usia anggota A. Dr. A.. Taufik Abdullah. Kusumo.. Anggota A. cendekiawan. Saini K. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. di atas 60 tahun. aku dimasukkan menjadi anggota A.D. Sardono W. Kami memilih Prof. Firous. Dini. atas dorongan seniman W.433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas. Endo Suanda. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Rooseno. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu. Misbach Yusa Biran. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar.J.J. wartawan.

434 Kusumo.J.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. Dengan belajar ini. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A.J. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Rektor Institut Kesenian Jakarta. .

J. jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. dan pribadi pengarangnya. ketika kita membaca . akan menjadi berkah pada umat. tangan. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. 22 Nopember 2005 lalu. ungkapnya. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Kaum intelektual. di Gedung Graha Bhakti Budaya. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. Anggota A. TIM.J. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. pena. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. Tapi sebaliknya.J.435 Kenggotaanku dalam A.

Salam”. 17 .17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. sadar ataupun tidak. No.436 suatu karya sastra. Karena berasal dari ranah Minang. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. 77/VIII/2006. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. pantangannya jangan berdusta. 16:23:58. Kejujuran di situ terasa. melainkan titik-titik yang merentang panjang. 2006. memang. 3. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. [Endo Suanda]. hlm. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. Ya. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato.(SMS tanggal 15 Feb. Jadi. aku sering dipanggil buya. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. untuk bisa jujur. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. ejaan disesuaikan). sangat menentukan.

Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini.437 bu dan ya. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik.S. wibawanya merosot ke titik nol.R.K. S.R. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K.. MASA DEPAN INDONESIA A.K. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. setelah para buya masuk politik. akan terbaca buaya. integritasnya sebagai buya sering berantakan. . VIII. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. Adalah Nursam.

S. Muhammadiyah dan N. hlm. Menurut catatan Dillon. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit.cit. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N. aku. Dillon.U.U. belum tidur benar.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. 290.. 18 . “Syafii Maarif. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. H. Tetapi dengan deklarasi di atas. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan.U. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. H.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih.S. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. Gemanya luar biasa. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. Pemberantasan Korupsi.. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. op. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya.

tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. katanya. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Jika berhasil. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Saya. mungkin masih ada masa depan. sebagai orang dalam. Saya berada di belakang gerakan sipil ini.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . N. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu.U. Sebaliknya jika gagal.

. bukan gerakan eksekutor. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. ini.U. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar.U. Sebagai gerakan penyadaran.440 langkah kontroversial itu. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya.

dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. tetapi menurut para pengamat. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. bersama kekuatan lintas agama. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa. Diharapkan dengan gerakan moral di atas.U.U. .441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini. masih belum terlalu fokus. Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N.

kemudian ditegaskan lagi dalam U.R.R. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota.K.R.l. Ad.M. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi. Adanya K. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. No.K.A. VI/2000 tentang Persatuan Nasional. S. Dr. Natan Setiabudi.R. Asvi Warman Adam.P. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini. Dikatakan bahwa pelanggaran H. Namun setelah dua seleksi berjalan. 26/2000 pasal 43. a.. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof.K. Melihat .A.Si. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah.M. di antaranya Rizaluddin. M. Deliar Noer.U. No.. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil.K. Dr. dapat kujelaskan sebagai berikut. Hoc. Anhar Gonggong. surat keterangan dari dokter.R. Dr.. akan ditangani K.. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H.Ag.442 Tentang pencalonan K. Dr. ini merupakan pelaksanaan TAP M. ada beberapa syarat yang harus ada.

termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. Menurut Rizaluddin. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak.K. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap . dan mereka saling memaafkan. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. aku akan menjadi kecil.R. Di mata mereka K. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Karena itu. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan.K.443 gelagat semacam ini. kata Rizaluddin.R. Bukankah K. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu.

sekalipun sekiranya aku masuk. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. mantan Ketua Umum P. sekalipun dahulunya mereka.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia).I. Agar masalah ini tidak terus . Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. Dr. seorang sahabatku. Natan Setiabudi. Dalam hati kecilku. orang tua. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. Menurut sahabat ini. atau nenek mereka telah saling membinasakan. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. jika aku diterima masuk bersama dengannya. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini.G.

Orang seperti aku.. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda. pelindung.P. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. dan punya waktu yang lebih banyak.R. Muhammadiyah. seandainya aku diterima sebagai anggota K.K. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas.K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. cukuplah menjadi penasehat.P. .445 mengambang. bersedia sementara P. dalam Muktamar Malang. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua.I. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P. K. Muhammadiyah ditinggalkannya.K. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju.R. Tidaklah elok bagi semua. energetik. dan yang sebangsa itu.R. Nah.P. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. jika masih diperlukan.

Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin.S.R. Kita satu. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau. Komitmen kebangsaan dinilai sudah . Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing. 2006 pada saat bagian digarap. (sampai tanggal 23 Peb. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih.K. (Lembaga Swadaya Masyarakat). tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara.M.K. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini. komisi ini belum juga diumumkan. tidak ada perbedaan di antara kita.K.446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. namanama anggota K.I dan sisa-sisa pendukungnya.R. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K.K. entah mengapa). komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya.R. aku tentu dengan senang hati akan memberikannya.

Teman-teman Majelis Ekonomi P.P. S. Masalah B. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku.I.I. M. B. selama lebih tiga tahun. Aku yang tidak paham soal bank.P. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P.I.P. sebuah bank swasta yang diakusisi.P.I.P.P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. Dawam Rahardjo. maka kasus B. Muhammadiyah di bawah komandan Prof.P.E.447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002. di dalam diri sendiri ada masalah B. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu .

E. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). termasuk di dalamnya perbankan.I. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. . termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P.I. M. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. dan M. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.P. (waktu itu) Saefuddin Hasan. itu tidak benar.A. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan.P.I. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini..P. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P.I.N. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. S. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu. Thohari.

kecuali kebaikan. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini.. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Sekiranya kuterima. Dalam sebuah rapat P. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. Suatu hari melalui Hajri. yaitu aku sendiri.P. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. Ketua P.P. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal.449 Tidak ada motif macam-macam.I.P. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. orang kepercayaan Lulu. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah.P. Jadi ini adalah saham fiktif. Membaca . tetapi kutolak dengan sopan. Muhammadiyah itu bahlul. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda..P.

P. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik..P.P. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. Karena kondisi B. seperti tersebut di atas. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. semakin memburuk dari hari ke hari. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan . Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah.P. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati.I. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P.450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. tetapi alangkah sulitnya.P. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak.I. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman.I. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P..I. melepaskan sahamnya di B.P.

Jawaban langsung dari M.) dalam upaya mencari jalan ke luar.I. karena seringnya pertemuan itu.K. Semua permintaan Hajri kujalankan. ini. Kalau aku melakukan refleksi tentang B. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku.P. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku.K.I. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005.451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. aku kirim SMS kepada M.I. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: . sekalipun masih ada ganjalan hukum.J. benarlah ucapan M.J. sampai aku merasa malu sendiri dengan M. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru.J.P.K.I.P. aku memang tidak bisa lepas tangan. Setelah terlihat titik-titik terang.K. kalau ada masalah B.J.J.P.K.P. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.

Pada masa yang akan datang.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. Toni.R.M. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. anak Kuantan. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. . Jakarta: PSAP.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. 2004. mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). (Ikatan Remaja Muhammadiyah). B. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. maka tunggu sajalah saat kehancurannya.

tentu tidak boleh diremehkan. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Kini. untuk membubuhi kata pengantar. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat . Ph.. Columbus. R. William Liddle. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. apakah dari Sumatra. atau pulau lain.I. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. Athens. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. sementara Rizal di U. (Universitas Indonesia). Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’.” Di ujung kata pengantarnya. Amerika Serikat. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. Namun.453 Riau. Jawa. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. dan berdarah Minang. guru besar Universitas Negeri Ohio.D.

Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. Rendra. terutama dalam bidang ilmu. M. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. Akbar Tandjung. hlm. Taufiq Ismail. baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Rosihan Anwar. bagiku.S. H. Dillon. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. Wiranto. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. Jakob Utama. XX). Tamu yang hadir cukup banyak. W. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. pasti akan menyokong pesan ini (lih. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . Jakarta. Salahuddin Wahid. sahabat. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Muhammad Najib.S. Douglas Rumage. Natan Setiabudi. Deddy Julianto. bertempat di Hotel Aryaduta. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. Rizal Sukma.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. Syafii Maarif. Din Syamsuddin. Jeffrie Geovannie. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama.

berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. melampaui usia nabi. 2005. 2005. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). Jakarta: Maarif Institute. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif.455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. yaitu Abd. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada. sebagian cukup panjang. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. . Jakarta: Maarif Institute. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. termasuk dari penulis asing. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun.

Jeffrie Geovanie. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. A. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. Deddy Julianto. Muljadi. Jakarta: Grafindo. Sjafri Sairin. A. Rizal Sukma. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. Hasyim Muzadi. Hajriyanto Y. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. 2005. Hidayat Nur Wahid. Fadilah Supari. Syamsir Siregar. M.S. Bambang Sudibyo. Herman Darnel Ibrahim. Thohari. Suyanto. Jakob Utama. Anton Syafriuni. Dasron Hamid. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Deddy Julianto dan temantemannya. Akbar Tandjung. Universitas Negeri Yogyakarta. M. Natan Setiabudi.I. Husni Amriyanto Putra. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. . Kardinal Julius Darmaatmadja. Malik Fadjar. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Hatta Rajasa. Dillon. H. Sudhamek..S. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Salahuddin Wahid. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu.456 tebal 267 halaman dengan indeks. tebal 317 dengan indeks. Sutrisno Bachir. Ada dari pengusaha Handojo S.

000. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute.P. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. Masih ada teman-teman P. khususnya M. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Dana yang masuk melaluiku. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005.P. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. baru ditetapkan. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. . lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. C.A. Rais.P. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. 700. Tidak kurang dari Rp.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. Karena sudah lama kupertimbangkan. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P.457 dan banyak dermawan yang lain.P. semua yang hadir. Muhammadiyah.

Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya. anggun. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. Prof.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui.. Prof. Alhamdulillah. harapanku ini menjadi kenyataan. M.A.L. Dr. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof.. terarah.A. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat.. sesuatu yang tak mungkin kulakukan. dan beradab. L. Abdurrahim Nur. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. Maka jadilah P. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. Amien Rais. Ismail Suny. dan Ahmad Syafii Maarif. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk.P. Dr.. Tetapi praktik main . dan benar-benar menjadi tenda bangsa. M. demi kemenangan jagonya. S.M. M.H. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. Asjmuni Abdurrahman.

12). hlm. 3-8 Juli 2005. produktif. 12 Juli 2005. dan Beradab”(Republika. dalam bingkai moral yang prima. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. . melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. Anggun. Tetapi. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. kecemasan di atas sudah jauh berkurang.459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). berlangsumg dengan aman. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita.

Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. Memang. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. agar keutuhan tetap terjaga. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. patut disyukuri. . karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. Memang. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. anggun. dan beradab. gesekan terselubung pasti terjadi. Din Syamsuddin. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu.460 Tanwir berjalan dengan mulus.

Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . penuh warna. seperti yang telah disinggung di atas. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. Kepada para sahabat yang tulus ini. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. saya tidak punya kosa kata lain.

462 yang tidak bisa dinilai dengan benda. para pengusaha. pejabat-pejabat negara. saya mohon maaf. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. “Memimpin adalah untuk melepaskan. sekalipun belum tentu seagama. Muhammadiyah. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya.P. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi. yang masih berharap agar terus. Dalam muktamar Jakarta. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. tahun 2000. . “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya.

baik di dalam mau pun di luar. Apa yang kukatakan. saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. Bagiku. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini.463 Akhirnya. Beberapa undangan dari luar negeri. Pasca Malang. saya juga mohon dimaafkan. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. di mana aku memberikan makalah. baru dua yang kukabulkan. dan undangan departemen luar . Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. itulah aku. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan.

dinamis. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. Filipina pada bulan Maret 2006. . khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. kreatif. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju.464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. kita tidak dapat memaksa. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. Karena aku sudah semakin tua. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati.

(Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain.T. . lebih 20 tahun yang lalu. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka. Kami mengangsur perumahan K.R. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku.N. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. artinya banyak air.T. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. D. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya.P.465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing.

. Ada yang berasal dari Kalimantan. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. 87. dimulai sejak Desember 1985. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Madura. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. Sumatera. dan dari lain-lain pulau. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu.670. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. belum sampai 15 tahun. bisa jadi dapur tidak berasap. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. jenis kerja. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. dan agama yang berbeda.

tergantung keadaan masingmasing. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. polisi. Dr. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. alumnus Perancis. Dr. Tetapi setelah masjid berdiri pada . dokter manusia dan dokter hewan. karyawan RRI. ada saja rombongan yang berangkat. Beberapa pemegang Ph.D. Mohtar Masoed. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. Suyanto. Tidak pernah putus saban tahun. dinas pubakala. pertamina. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. di antara mereka ada karyawan bank. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. keduanya tamatan Amerika. Ada Prof. pegawai departemen pendidikan nasional. jaksa. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. tentara.467 Dari jenis profesi. Prof. dosen negeri dan swasta. Marchaban. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. ada juga Dr. wiraswasta.

H. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo).. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah.P. sekalipun untuk tingkat R. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. Ada Drs. (Rukun Wilayah). yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan.T. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah.G. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. Agak sedikit emosional.W.468 tahun 1989. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. terbayang olehku wajah Drs. Hubungannya denganku sangat dekat. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah.Si. dosen fakultas . pimpinan P. Djumari. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid.P. H. Muhammad Bachtiar. Beberapa tahun menjabat ketua R. Sewaktu menulis bagian ini. M. H. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan.

adalah yang paling menonjol.. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S. Negeri Jogjakarta. Teman ini .469 psikologi UII. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. 16.A.E. Ada lagi bung Drs. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya. pernah menjabat Ketua R. dan karyawan pada sebuah bank. S.W. VII. mantan jaksa. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. Semua urusan di tangannya beres.H. pengurus R.M..M.. maka nama Kastolani. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid.Si. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. Heru. Berasal dari Prembun (Kebumen). B.T.K. H. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. S. Kemudian Ahmad Syamlawi. tidak ada yang tidak selesai.

Ada lagi H. Tidak saja itu. dan ‘isya’. Tampak pula wajah Dr. mantan kepala R. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang. Inilah sosok yang punya naluri L.. dialah ahlinya. juga tarawih. maghrib. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh.S.470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. Irawadi Buyung. (Lembaga .. M. H.I.M. tidak boleh dilupakan. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. S. Sekalipun baru pertama kali. Duriat Subekti. Nama Ir.Si. Selama bulan puasa.T. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging.Pd. Sumenep.. Eko Supriyanto. M.seorang sarjana teknik listrik. sesekali juga bertindak sebagai muazzin.H. M.R. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. Kalau ada urusan pengeras suara.

. dan humoris. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto).I. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di . Dadanya lapang. Thohar Fuaedy. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. berasal dari Bengkulu.N. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. aku pernah minta tolong kepadanya.” Ada lagi Drs. Tinggal agak ke utara masjid. di samping ketua Y.471 Swadaya Masyarakat).Si. pemaaf. Mohammad Hatta. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain.. H. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. Namanya Hartoyo. ada Drs. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. M. Yang lain adalah Drs. Jika komputerku sedikit rewel. M.A. M. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. seorang ahli komputer. karyawan perusahaan minyak itu. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. Pd. di samping sebagian sudah kesebut di atas. Miska Amin. di samping khatib Jum’at. beberapa tahun menjadi ketua takmir.S.

dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). .Si. di samping H. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. hilang kala tertawa. Apalagi matanya. dari Manna. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Teringat juga sosok Drs.A. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. M. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Yulian Yamit. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. Hermansyah.472 berbagai media cetak.. S. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. dari unit Syari’ah bank B. Riau Daratan.I. Hermanlah orangnya. Namanya H. juga dari Bengkulu. Dia teliti sekali.. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban.R.. Perawakannya tinggi semampai. Berasal dari Lirik. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. Marsono. Usmar Salam. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. M.E. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. ada kalanya terlalu sibuk di luar. tugas pokoknya adalah menimbang daging. Setiap ‘Idul Qurban. Kadangkadang rajin ke masjid. sudah puluhan jika bukan ratusan.

Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. seperti wajah teman-teman lain. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat .A. Pernah dua periode menjabat dekan. Warsono Muhammad. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. Aku tidak tahu apa alasannya. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. adalah wajah ikhlas. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya.. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Jarang absen. dan Hawaii.473 dan H. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Rasanya pernah dikatakannya. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya. berasal dari Bojonegoro. sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga. Abdul Aziz dari pertamina. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. H. Berat badannya sekitar 80 kg. Aku melihat wajah ketiga teman ini. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing. agar citra santrinya lebih kentara.I. alumnus U. M.I.

Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Ada pula drh. M. Hilman Nadjib.M.Sc.474 ekonomi yang lain. Sudiyono. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto.E. mantan kepala L.Si. berasal dari Kudus. pemilik apotik di Bantul. H. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging.. Kecuali untuk jama’ah subuh.P.M. M. Teman-teman lain masih banyak. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah.P. Keduanya sama-sama ekonom. H.. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto. Dalam rangka mengurus daging korban. Teman lain adalah Bambang Samiyo.M. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. dosen Universitas Muhammadiyah . S. Siswojo. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. Ada Drs. Jama’ah lain adalah H. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian.G. dari pimpinan Bank Mandiri U. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. H. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid.

Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. khususnya untuk maghrib. dan subuh. U. ‘isya’. mengajar dan belajar sesama mereka.I. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ada lagi Suharwidjono. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. begitu juga dr. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. Tidak semua mahasiswa. Dalam kegiatan .I. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. pindahan dari Kalimantan Tengah. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan.475 Yogyakarta. spesialis anak. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. asal Sumatera Selatan. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Idam Nawawi. di samping sekolah mereka yang lancar. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. Universitas Negeri Yogyakarta. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an.

rata-rata Rp.N. mereka selalu diikutsertakan. Seperti telah kukatakan. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R.A. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto.A.000 per bulan. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan.S. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya.N.I. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku .S.000. istilah Minang untuk jutawan. 500.I. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp.000.000. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan.T. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y. 6. Sebelum dihidangkan kepada tamu. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. VII perumahan Nogotirto. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif.476 kepanitiaan. 200.

Biaya kuliahnya pada I. asal Palembang. tempatku memberi kuliah selama dua tahun.A. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto. Disertasinya telah rampung ditulis. seorang penulis prolifik. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. Di antaranya Drs. Sebagai manusia kelahiran Minang. biasanya setelah salat zuhur.I. M.. Setiap Hari Raya Qurban. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. seperti yang telah kusebut terdahulu. Berbagai jenis masakan dihidangkan.P. salah satu kelemahanku adalah suka makan. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. M.K. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. Rusli Karim.K. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U.M. Bung Rusli adalah seorang aktivis .

Muhammadiyah pun kehilangan.I. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. Berbeda denganku. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. politik. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. apalagi sejarah. Hafiz.I. mantan jaksa. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. seorang sarjana teknik U. Dia dimakamkan di pemakaman kampung. Perbedaan ini wajar . rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. dan S2 di Rotterdam (Belanda). Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. dinihari sudah dipanggil Allah. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. kajian agama. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Bukan saja aku.

agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. jika anak tidak tertarik untuk belajar. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu. Tetapi aku akan naik pitam. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah. sekalipun sering aku peringatkan. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku.479 saja. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Harapanku adalah bahwa pada satu saat. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama.

bicara macammacam. Di perumahan Nogotirto ini. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas.. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Teman ini adalah pensiunan B. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. terakhir bertugas di Jayapura.I. seperti sakit atau kematian. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan. ekonomi. Sangat praktis.480 yang sangat tajam. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. politik. suasana lingkungan perumahan Nogotirto .R. Kami biasa bersenda gurau. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. Angka pengangguran malah semakin bertambah. Ringkas kata. Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta.

Deddy Julianto.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Novirman . Atas gagasan Prof. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Di bawah kordinasi M. Dr. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. E. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan.

tetapi karena mendadak dipanggil presiden. Muaro. dibantu oleh Drs. Tamu dari Jakarta a. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. Kopertis Sumatera Barat. Jambi. dirut Indofarma dan . maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. Padang. Solok. staf khusus menteri pendidikan nasional. dua dari departemen perhubungan. karo keuangan departemen pendidikan nasional. Bandung. Lintau. Sijunjung. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. TK. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. seperti tersebut di atas. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta.l.482 Djamarun. Riau. Hatta Rajasa akan hadir. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. Apalagi semula diperkirakan Menhub M.

M. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar. baik berupa voucher mau pun uang kontan. ketrampilan. karo kesra wakil presiden. surau. dua orang dari Maarif Institute. Ir. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. mantan dirut BNI. mantan dirut BNI. masjid.483 staf. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . rektor Universitas Negeri Jakarta. Nilai keseluruhan bantuan. Sudirman. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang.. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. Tidak ketinggalan Ir. salah seorang direktur PLN Pusat. Herman Darnel Ibrahim. Seperti perhelatan besar saja. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. direktur IGM (Indofarma Global Medica). panti. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. dan beberapa anak miskin. M. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. TK dan panti. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma.

Amerika adalah yang terbanyak memakainya. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. Menurut Darnel. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. Kabarnya di atas 50.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. Sepintas lalu. jika orang tidak . saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. yaitu 27%. padahal penduduknya hanya 270 juta. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. jika tidak waspada. sesudah oksigen. Indofarma. PLN. baik yang disediakan dephub. serta kendaraan pribadi.

000 per orang. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya.000 s/d Rp. . seni khas daerah itu pasti. 150. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. 200. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta.485 membaca informasi tentang sumbangan di atas. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. akan punah dimakan musim. lambat atau cepat. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel.

000. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini.000. 31 Januari 2006 untuk Republika. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata. . 50. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga.N. seperti telah kusebutkan di atas.L. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. 20.000 dan Rp.000. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu.

487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Dari seorang anak piatu di desa Calau. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. IX. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di . Sumpur Kudus. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan.M. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak.P.A.

mengadu sapi.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. Bahkan lebih dari itu. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. memancing ikan di Batang Sumpur. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Lintau. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. karena sudah terlatih sejak kecil. Aku menjala.R. Topik perdebatan . Sampai setua ini. mengadu ayam bersama mereka.

seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Harun Malik. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). Wawasan semakin luas. jika bukan semakin menguat.489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. A. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. tetapi tidak tetap. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. Bahkan sampai aku . Wahid dan M. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi.

Amerika Serikat. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Peran Fazlur Rahman. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. dengan segala kritikku kepadanya. sungguh sangat besar. Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. Biarlah para pengamat yang menjawabnya.

bukan dari Rahman. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. bukan milik kita. diterima atau ditolak. Untuk Indonesia ke depan. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. jujur. dan kritikal. syi’i. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas .491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. khawarij. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah.

Pandangan Mohammad Hatta dan H. Dalam ungkapan lain. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu.A.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. di . Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. tidak pernah berhenti.

aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. betapa pun kecilnya.493 samping Bahasa Indonesia. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Apakah . Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini.

Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. tidaklah penting bagiku. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. keluar tidak mengurangi. Masuk tidak menggenapkan. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata.

atau setengah gagal. Karierku sebagai Ketua P.P. dan kultural secara nasional. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil.D.T. Tidak untuk saling menggusur. domestik atau pihak asing. sosial. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. 1998-2005. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban. (Inpres Desa Tertinggal) itu. apalagi saling meniadakan. Muhammadiyah. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. setengah berhasil. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. gagal. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. .

Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Selama hidup. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena terlalu lelah.P. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. ternyata tidak demikian. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. sekalipun secara selektif. Sebagai pembawaan dari Minang.. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. alhamdulillah. simposium. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. selera makanku belum menyusut. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. jika tidak lupa. aku masih terlihat sehat. seminar. dapat dikontrol sebaik-baiknya. dunia terasa berputar . mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. Diskusi. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam.

S. Tetapi sudahlah. bisa jadi akan berlarut-larut. tidak ada gading yang tak retak.. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. dikurangi. demikian seterusnya tanpa putus. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. Dibaca ulang. dikurangi lagi. diperbaiki. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku. Muhammadiyah Jakarta. tidak akan ada ujungnya. atau bahkan dibuang. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. karyawan P. dan Zainuddin.E. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. S.Ag. ada saja yang perlu ditambah. S. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini.P.E. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. ditambah. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri.. jangan sampai merepotkan orang lain. Oleh sebab itu.497 kencang sekali. Kepada para sahabat yang . Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal.

00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II.498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan.P. Muhammadiyah dan Bung Nursam. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10. 19. dari Penerbit Ombak Jogjakarta. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman . Halmahera D/76. sejarawan. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20.42 di Perum Nogotirto Elok II. Jl. Jl. Jawa no. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P.

. . 92 1 . B. MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . . . . . . . . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . . . . . 1 A. . . . . . .D. .I . . . . . . . . . III . . 20 34 76 C. . . . . IBU-BAPAK. . . MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . dan Perdagangan . . IV . 156 143 108 113 B. . . 125 B. . . . . M. . . . . . . . . . . . . . Bertugas di Lombok Timur . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . . . . .499 I BUMI KELAHIRAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 92 104 B. . . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. D. . . . . . . .R. . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . . . Mulai Dijodohkan. . . . . Lintau . . . II . . . . . . . . . . . . . C. . Makkah Darat. . . . . . . . 108 A. . . . . . dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . A. . 125 A. . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah .. . . . . . . . . . Sumpur Kudus. . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . . . . . C. . . . . . . . Kiprahku dalam Memimpin . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . . . . . . . Muhammadiyah. . . C. . . Perkisaran Abad. . . . . . . . . . . . . . . . VII . . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 175 B. . . . . . .500 A. . . . . . . . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . . . . 181 D. . Sebagai Ketua P. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .R.P. . . . . . . . . .K. . . . . . . . E. . . . . Muhammadiyah. . Habibie. . Kembali ke Jogja. . . . . . . 319 A. 175 A. . . . Keruntuhan Rezim. . . . . . Lulus S1. . dan Lahirnya Ikhwan C. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. . . . . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. . . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . 214 A. Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . . . Harapan. . D. . . . . . dan Kecemasanku. . 170 VI B. . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .501 B. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . D. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . . . . . . IX . AKHIRNYA . . . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . . . . . 330 333 339 351 355 C. . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . . . . . . Syukuran Listrik . . . E. .

inyo. udo.502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo. kakoncu. onga. panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi .

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful