1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. kita tidak tahu. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak. Kultur .000 jiwa. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. masih galau bagiku. atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban. Secara kultural. parewa ini belum hilang. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. Tetapi bahwa korban pasti ada. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. orang lalu berpindah ke kawasan lain. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai).

Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. maha Pencipta. kata teori antropologi. suatu on-going process. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. rasanya cukup punya alasan.12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. setidak-tidaknya secara statistik. dan bertanggungjawab. . Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. peran organisasi kemasyarakatan. santun. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. bukan kultur otak.

pada tahun 1925. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. (Perang Dunia) II (19391945). Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. Yang pokok . Abdulkarim Amrullah. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. H. Itu hanyalah urusan administrasi. A. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. Maninjau. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya.13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang.R. Pelopor utamanya adalah Dr. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. Jusuf Amrullah. Dr. Hamka. Sutan Mansur.D. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani.

dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas. amat sulit untuk disimpulkan. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya.14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. kemudian ke Eropa. sedangkan emas jika sudah habis. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. tidak dapat diperbarui lagi. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan .l. Dari kawasan inilah a. ya habis. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi.

semuanya gelap bagiku. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh .15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. Tentu mereka semua buta huruf Latin. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947.R. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. berupa sebuah S. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu.

R. Sumpur Kudus ini. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km.16 pemerintah kolonial. Umumnya dengan kaki telanjang. antar anak Sumpur dan anak Silantai. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Sumpur Kudus. terjadi pulalah pemekaran . Silantai. tidak dia dan tidak aku.). Anak Sumpur banyak yang sombong. Sejalan dengan pertambahan penduduk. sekolah ini sudah muncul. antar anak Sumpur dan anak Calau. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. dan Mangganti. teman sekelas di S. termasuk aku. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. sewaktu aku masih kecil. Rasanya tidak ada yang kalah. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm.

(Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Durian Gadang. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. . kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. Siluka. Dalam soal pendidikan dasar ini. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus.D. Satu nagari saja bisa punya lima S. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Ibid. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. Dengan perubahan positif ini. Unggan. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. Dari sisi ini.D.17 pusat-pusat pendidikan dasar. indeks buku Dobbin hlm. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. 298. dan lain-lain. S. Kumanis. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. aku pun tidak bisa menjelaskan7. Mangganti.

Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. memisah dengan induknya. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya.). 369 9 . propinsi. dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. dengan Kabun sebagai nagari termuda. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. 369). Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru.9 Jakarta: Maarif Institute. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. 2005. kecamatan.18 kampung baru. hlm. kota. Tidak Lih. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. mekar pulalah nagari. rakyat meneroka (babat alas. kabupaten. 2005. Pada berbagai forum dan kesempatan. hlm. Jakarta: Maarif Institute.

sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. Jika perpecahan ini yang berlaku. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan.19 dibuat-buat. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. . kabupaten. tidak pula untuk mencari posisi duniawi. atau propinsi. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis.

juga nama kecamatan di era modern. Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. hanya orang kafir yang tidak .20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. pakaiannya putih necis. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. persis seperti anak-anak kampung yang lain. Orangnya berkumis. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Kata orang kampungku. rasanya masih perih sekali. (Tanomeh= sutan emas). Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. ketika upacara khitan itu berlangsung. berdenyut sampai ke otak. Bagindo Tanomeh. agak langsing. tinggi sedang. Jangan main-main dengannya. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt.

Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). karena . aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. Di kala kecil. tetapi jauh dari suasana renungan. jika bukan tumpul sama sekali. Tranportasi perahu sangat menyenangkan. tetapi aku sudah lupa judulnya. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. Bagaimana mau menggeliat. Bacaan lain sangat langka. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. Apa yang mau direnungkan. Bacaanku nol. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. belum menggeliat. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul.21 bersunat. Ada juga bacaan ArabMelayu. berjudul Cahaya.R. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan.

Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. ke tanah kita pasti akan kembali. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Prosesnya berjalan lamban sekali.22 aku tokh bisa berenang. siapa pun dia. Dan memang tidak perlu mengelak. tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Dari tanah kita berasal. Pulang ke asalnya. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku.R. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. persis seperti manusia. Maklumlah masih dalam usia S. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur.

23 dari pepohonan. tempat burung. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. bersenda gurau. dan bermacam jenis makhluk bermain. demi upeti. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. kera. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. saling mendukung. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. kabarnya sudah hampir punah. Kemudian di Muaro Sijunjung. Oleh sebab itu para perusak hutan. tupai. dan mencari makan. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Masing-masing saling memerlukan.

Tidak hanya berhenti di situ. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. oleh siapa pun. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini.24 jauh lebih perkasa. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. Air sungai ini pun larut menjadi asin. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Tetapi jika . sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup.

Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro . Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. sawah dan ladang. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. Jangan main-main dengan air. bahkan peradaban. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. khususnya pada musim hujan. Prilakunya mesti dipelajari. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu.

tidak teratur. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. pertanda usia sudah semakin mendekati . Semuanya mengalir begitu saja. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. ke rumah adik-adik seayahku. sewaktu masih di S. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. Semuanya berlalu begitu saja. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. Selama menganggur. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. tidak ada kesan yang mendalam. bersamaan dengan bergantinya musim. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. Tidak urut. Semakin lama orang berpisah dengannya. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku.26 Sumpu ini.R. bertukarnya tahun. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. puitis sekali.

penyebar Islam di kampungku. Fisik pun sudah mulai renta. Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. rampok. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. Ke mana-mana seekor ayam . mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. sampai saat menulis bagian ini. dan sabung ayam sebagai profesinya. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. belum terlalu lama hilangnya. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut.27 hari-hari terakhir. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. Zulfahmi (Emi). B. aku pun tidak tahu. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir.

Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. Kita kembali ke Tanah Bato. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah. darah siapa pun. asalkan tidak pakai taruhan. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. Sekiranya pakai taruhan. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi.28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. tidak peduli darah apa pun. si warna merah penghisap darah. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Ia menggigit dan terus menggigit. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang . Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. Aku kenal sekali dengan binatang ini.

tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Bahkan lebih dari itu. mana pula yang berbau syirik. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Pertanyaannya . Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. Di saat kecilku. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. aku tidak lagi ke sana. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana.29 terletak di seberang Batang Sumpur. seperti kuburan.

Karena dia memasuki kawasan hitam. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. Dalam kasus semacam ini. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. serba puritan. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti.30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Tetapi ada segi buruknya. . Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. Menurut cerita Zulfahmi lagi. untuk tujuan baik tentunya. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan.

Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. Sjamsu Anwar. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. yang lain mungkin makam pembantunya. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Ini pun sebenarnya tidak aneh. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. alangkah bagus dan elok nama itu. karena ada . jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. Sanusi Latief. entah yang ke berapa. dalam mengembangkan Islam. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. M. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil.31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang. Bandaro Lubuk Sati. dan Jafri Dt. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”.

dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. Kota Banjarmasin. Kota Semarang. sejarah nagari Tamparungo. taratak Talao di Calau. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. kemampuan juga terbatas. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. nagari. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. sebagaimana A. nagari Unggan. jorong. Kota Klaten. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas.J. 12 jilid. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. Umur manusia terbatas.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. seperti sejarah Kota Solok. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. Di antara . sejarah terbatas. Kota Sawahlunto. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. desa.32 sejumlah ribuan nama kota.

yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Jika kehendak hati diperturutkan. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. ketegangan itu tidak . Sekali cahaya itu padam. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti.

Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. setelah itu menghilang tanpa bekas. dan pada perkisaran angin. Saraf otaknya terlalu dimanjakan.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. yang menghidupkan bumi setelah mati. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. tanpa pilih kasih. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s.34 begitu dirasakan. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. al-Jatsiyah : 13 .

subjektif. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. dan merasa serba cukup serta bangga diri. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . bahkan saling berlawanan. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. sempit. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Dengan kata lain.35 parah sekali. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar.

juga tidak akan cukup. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. bangunan peradaban. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. Atribut serba maha ini bukan milik manusia.” meninggal dalam usia 27 tahun. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya. sekiranya mereka punya minat. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan . Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya.36 bata untuk bangunan. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. oleh otak jenius sekalipun. Allah maha tahu segala-galanya. setelah itu menghadap Allah. Maka tidaklah heran kita. tetapi tidak mungkin kecapaian. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. Ditambah 1000 tahun lagi. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi.

1993-1994. sebagai dosen tamu.37 segala kekuatan dan kelemahannya. batu bersurat. menteri agama waktu itu. al-Baqarah: 30-39 12 . Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. Thaha: 115-124. Kanada. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. selain sebagai pusat bisnis. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. aku sudah lama diberi tahu. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. al-Qur’an s. al-A’raf: 11-25. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. Protes malaikat tidak mempan. lih.). tetapi hanya sekadar itu. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. reaksi malaikat dan iblis. Montreal.12 Kembali kepada cerita kampungku. McGill. s.

kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. perahu. yaitu bendi.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. pedati. dan kuda beban. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. . Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai. kuda tunggang. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. kampungku tetap terpencil.

Yang aku heran. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas.D. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. Bahkan P. Diperbaiki berulang kali. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula.A.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. termasuk heran terhadap diri sendiri. ranah tidak mungkin berkembang. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Sekali terbuka. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar . Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. Tanpa rantau.

daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. sama dengan ongkos PadangJakarta. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp.40 30%. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. Sebagai seorang peminat sejarah. dan terakhir soklat. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. 500 per kg. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Hasil-hasil alam seperti karet. apalagi untuk pembangunan. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. gambir. Kata orang. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. Mengenang ini semua. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya.

aku juga seorang kolumnis. Satu saat. objektif. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. entah kapan. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. Pada usiaku menjelang malam. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. pemikiran. dan dunia Muslim pada umumnya. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. kebudayaan. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. Bukan untuk apa-apa. politik. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. tetapi yang tetap . Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. sekalipun kondisi alamnya serba sulit.41 dan global: agama.

berkedudukan di Sumpur Kudus. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. tokoh Paderi. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam). dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. yaitu Rajo Ibadat. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro.42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. sekarang karena pemekaran wilayah.

hlm. berpusat di Lintau.cit. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. banyak yang melarat. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. atau puti bagi perempuan. sebuah pekerjaan yang berat sekali. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. Tidak mustahil memang. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung.. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. sedangkan dua puteranya terbunuh. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat. op.43 senjata. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri. 136-137 .13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan.

Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. itulah profesi kaum arkeolog. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. Sebelum itu tidak . Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. Yang jauh pun dikaji orang. Tugasnya menggali dan menggali. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. apalagi belum terlalu jauh. jika bukan sebuah penyimpangan. jika perlu sampai ke pitala bumi. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. pelacakan itu memang diperlukan.44 Pagaruyung. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik.

Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang . Lengang. ternyata ada juga segi positifnya. miskin. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. gelap (bila malam). Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad.L. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah.N. tanpa ikatan nasional sama sekali. disambut dengan tari gelombang segala. Ir. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau.45 ada Indonesia. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. yang ada Hindia Belanda. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. tertinggal. Herman Darnel Ibrahim. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. direktur produksi dan transmisi P. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung.

. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan.46 bercorak Minang.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. Dari sisi inilah barangkali P.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Semoga rakyatnya patuh dan .R. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat.L. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Sejak cahaya itu masuk. C. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu. mungkin malah rugi.N. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka.L.D.N.

47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan.I. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. Sehari sebelum itu. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. yaitu tanggal 28 Januari. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau.D. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. Solok Selatan. Dengan listrik ini. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Bagaimana keadaan . pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus.R. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna.

dan di lokasi mana seseorang berada. “Bak kayu dimakan bubuk. Bagiku hari itu sama saja. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku.” kata peribahasa Melayu. kupanggil kaktuo Hima. 31 Mei 1935. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. Asai makhluk kecil dan lembut. aku lahir pada hari Sabtu. almarhumah Rahima.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar.R. hujan.48 kampung ini. atau mendung. Menurut cacatan kakak sulungku. tetapi bukan main ganasnya. di dalam remuk. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. “di luar tampak rata dan licin. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . akan kututurkan pada saatnya. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. panas. tidak ada yang keras atau lembut. (Sekolah Rakyat). jika ingatanku tidak keliru. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa.

Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. tersembunyi kekuatan dahsyat. lambat tetapi pasti. jati. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. betapa pun terlihat lemah. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. kayu dibuatnya tak berkutik.49 merugikan. Dalam serba kelemahannya itu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. kecil. dan seperti tak berguna. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih. kecuali kayu besi. tidak pernah sia-sia.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 .

karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. tetapi semuanya sudah berlalu. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. lahir dengan bantuan dukun beranak. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. Pasti semua anak. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. . setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. Namun bagi diriku. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. Mana yang benar di antara dua catatan itu. Kalau ada bedanya. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. termasuk aku. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. tidak bisa dikejar lagi. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. masalahnya tentu menjadi lain. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan.

sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. Mungkin saja demikian. mana mungkin ayahku mau mengawininya. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. yaitu 68 tahun 92 hari. aku menggunakan tanggal 31 Mei. karena itu yang lebih dulu kuketahui. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). tetapi aku tidak mengenal wajahnya. sebab jika tidak. sementara ibuku Fathiyah. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Dalam catatan ayahku itu. batang usiaku sudah berangkat jauh. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. . sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku.

52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. Aku tidak mencari jodoh sendiri. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. seperti yang berlaku pada masa modern. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama . Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. tetapi dicarikan pihak keluarga. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. Dari sisi ini. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. terpaut lima tahun usia keduanya. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Sudah merantau ke mana-mana. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. aku tidaklah tergolong modern. bini saja harus dicarikan. bahkan kuno. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. saudagar gambir. tetapi memang itulah aku.

53 ibu. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. dan uni.v. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. udo. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga.. aku pun tidak tahu. tante. aku tidak bisa mengatakannya. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. Memang belakangan ini. sebab berkat kemajuan komunikasi dan . onga. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. uda. t. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. Kata-kata om. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. Ada yang memanggilnya kaktuo. kakoncu. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Jarang yang memanggil suaminya uda. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. Apakah mereka selalu akur saja.

kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. di mana panggilan kaktuo. kakudo. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. bertante-tante. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa. Bahkan tidak jarang . ber-omom. kakonga. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. dan kakoncu. Jika semuanya sudah beruda-uda. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. mak oncu. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga.54 informasi.

tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. Kembali kepada lingkungan ayahibuku.55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. Untuk ibuku. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Bahwa ayahku cerdas. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. semua orang kampung mengakui. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . Orang yang menemui ayahku.

Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. Sepengetahuanku. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. bertani dan menyadap karet. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. alangkah pilunya. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. sebelum Saiful Wahid. tetapi . Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. lahir tahun 1939. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. Karena ibuku wafat masih muda. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. adik sepupuku. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. Alangkah sedihnya. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk.

(Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana.S.57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau. cucu kakakku Nursiah. Aku bersyukur di hari tuaku. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya.. tidak saja untuk kampungku. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari.M. pendidikan. semoga telah mengenai sasarannya. dan kemanusiaan.U. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di . Seorang lagi. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting.

yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV . Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. bukan kewajiban orang lain. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya.P. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. betul. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. Bahwa mereka umumnya miskin. Tetapi sudahlah. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah.

Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. Tetapi aku tidak pernah patah . sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. sementara aku. seperti sering kututurkan setelah dewasa. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. seperti yang bertahun-tahun kualami. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. (Sekolah Teknik Menengah). sekalipun modalnya dari S. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. tanpa masa depan yang jelas. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita.59 Fakultas Hukum pada universitas itu. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. Namanya Indra Kurniawan. Jalannya panjang dan berliku-liku.T.M. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. Beranak pinak di situ.

Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun.T.60 harapan untuk terus belajar. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. tanpa . bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul. Mereka yang tabah dalam penderitaan. umumnya berhasil menjadi sarjana. sukuku. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. juga dari suku Caniago. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung.B. kakak beradik). Di antara orang kecamatanku. Aku bangga dengan mereka. demi ilmu.

Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. bahkan tidak jarang harus . akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. Menurut logika biasa. tetapi jumlahnya sangat kecil. Betapa pun berat beban yang dipikul.61 mobilitas menaik. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. ayahku jarang sekali mengeluh. 26 tahun sepeninggal ayahku. bertukang. dari menyadab karet.

Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). demi sekolah anak. Riau. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. lahir batin. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. adalah contoh yang ditinggalkannya.62 menggadaikan barang yang ada. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. dan Jambi. jika bukan mereka yang terdidik. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia.

anak Rahima. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan.M. .N. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. Semula sebagai Kepala Biro A. pada I. Tamparungo. dosen Fak. Namanama yang kusebut ini. Unggan. Imam Bonjol. Dari keluarga isteriku.D. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur.U. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang.A. Mangganti.N.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. dan Sisawah. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. Imam Bonjol Padang. demi cita-cita dan mobilitas sosial.K.I. (Angkatan Darat). demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. kemudian beralih karier sebagai dosen. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi.K. yaitu Mayor dr.I. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras.A. adalah di antara contoh manusia tabah. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A.A. Namanya Sabiruddin. Dakwah I.

dengan ibu Sumpur Kudus. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak..64 Ruswandi Aswad. Oleh sebab itu. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya . ayah dari Tarusan. Painan. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. seperti layaknya anak kampung yang lain. tetapi belum pernah menetap di Sumpur.D. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus.R. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. tidak dapat ditawar. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta.

65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. Tanpa kemauan keras untuk maju.” Sungguh padat dan padu kalimat ini. tabah. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Benarlah Pembukaan U. demi lepas dari penjajahan durjana.D. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. hidup tanpa inisiatif. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal .U. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. Nasib seseorang. di samping di tangan Allah. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras.

Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. Aku tidak tahu mengapa begitu. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. Di hari tuaku. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. aku sering mengunjunginya. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. sekalipun itu sesuatu yang halal.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. Peluang itu tentu tidak selalu datang. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. Setelah dilepas ke gelanggang. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. baik di kota mau pun di desa.

Malang bagi yang tidak. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Boleh jadi. setelah ayahku mengawini ibuku. Repotnya adalah bila terjadi perceraian.67 menjadi asin. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. seperti yang telah kusinggung di muka. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. lahir di Tepi Balai. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. Pencarian apa yang . Penyimpangan tentu selalu ada. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. membangun rumah di tanah suku isterinya.

Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. . Jika rumah orang tua tidak mencukupi. bila berlaku perceraian. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. sungguh ruwet untuk dipertahankan. karena memang tidak praktis. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya.68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Sekarang di Minangkabau. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. Kembali ke masalah rumah. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental.

Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. atau pekarangan. ladang. Untuk kelangsungan hidupnya. jelas tidak memadai. dan memang harus ditinggalkan. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. dan sulit untuk bernapas lega. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. Bagiku. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. Tanah adalah milik suku atau keluarga. Bergantung kepada tanah semata. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. Lahan sempit . Jumlah anggota bertambah terus. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. sekalipun pada masa modern ini. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. beban melulu. kolam ikan. kebun. dunia ini akan terasa semakin sempit.

baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Syaratnya hanya satu. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. ranah . risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. Tanpa rantau. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. jangan percaya kepada kegagalan. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. Ranah dan rantau saling melengkapi. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana.70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. jangan menyerah kepada rintangan. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Berpikir terus dan terus berpikir.

Sebagian besar “merantau Cina”. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. Setelah proklamasi kemerdekaan. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. sekalipun bukan tanpa gesekan. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. . dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. Dalam masalah dasar ini. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. aku jelas seorang yang berpihak. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. Secara filosofis. tidak kembali ke kampung secara permanen. semuanya telah mencair dan berganti. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. tidak mungkin netral. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. Bagiku tidak ada masalah. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

sejarah.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. Mereka yang mendewakan keturunan raja. dan 1001 gelar lain. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. tidak oleh yang lain. radikal. yang mengaku keturunan nabi. hulubalang. kualitas iman dan amalnya. menurut pemahamanku. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. dan rasional. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. Untuk merebut posisi taqwa. Bagiku gelar-gelar sayid. terbuka bagi seluruh orang beriman. atau bahkan keturunan nabi. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. wali. amir. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. habib. ulama. atau keturunan raja. syarifah. ekonomi. dan apa pun. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. kultur.82 metode berpikir kritikal. Dengan paradigma . sultan.

sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. dan bila berjalan melenggok. tinggi sedang. tempat pendidikanku yang terakhir. kulit agak hitam. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. Kebiasaannya pakai . Wajahnya bersih. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. bukan hanya karena keturunan. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. berkumis agak tebal. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui.83 semacam ini. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta.

kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. sekalipun sudah menua. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. anak bungsumu ini . di tanah persukuan orang Melayu. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. kemudian etek Lamsiah. beristirahatlah di sana. Makamnya terdapat di Tapi Selo. dan tidak jarang aku menangis sendirian. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. Ayah dan ibuku. ibu tiriku yang lain. di tempat ibu tiriku mak Maran. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. khususnya dengan ibuku. Setelah ibu-ayahku pergi. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama.84 kopiah sutera hitam. dalam umur yang setua ini. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana.

Aku memanggilnya ande Ani. Semuanya sudah tiada. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. aku pun tidak tahu. pamanku. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. yang kata orang rupanya mirip ibuku. Entah ayah-bundaku. nagari tetangga Sumpurkudus. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. Karena tidak bergaul sejak dari kecil. suku ayahku. sementara dua adik laki-lakinya yang . lain ayah dengan ibuku. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. Adiknya yang lain A. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. di alam yang lain sama sekali. entah di bumi mana. Beberapa tahun yang lalu. salah seorang dipanggil Ani. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. Sayang aku lupa namanya. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. Wahid.

Pada saat wafatnya. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Oncu Naksan amat menyayangiku. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. Bainah. Baili. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. Mattudin Rauf. dan Ahmad. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Karimah. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Nurbahri. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). tetapi punya dua keturunan perempuan. Yang masih hidup tinggal satu. Saidina Hasan. Siti Dariyah. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. . merangkap dukun. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. baik lakilaki atau pun perempuan. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana.

Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. tikus. Raadin. . dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. Matanya tajam menembus. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. Mangsanya tidak hanya ikan. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. Lebih dari itu.87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. ayam. hubunganku cukup dekat. jumlahnya aku tidak tahu. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. ular. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat).

adalah . di samping membantu adik-adiknya. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. sukuku sendiri. hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Wahab. dari suku Domo. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak.R. Ayahku sangat menghormati ibunya. Suami Rahima.88 dan A. Aku memanggilnya uwo. Mungkin karena ibuku wafat muda. Orang tua ayahku Abd. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. Nalam (alumnus Normaal School). Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. M. Rauf (dipanggil Badurau). ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. yang pandai berbahasa Belanda. / S. seorang guru S.D. Oleh sebab itu. gelar Manti Besar.

dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. hubungan itu terasa biasa saja. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. Yang aku sedikit menyesal. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. seperti telah kusinggung. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Antara Rahima . kupanggil onga Sahih. begitu juga dengan abangku Nursahih. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. Dengan kakak-kakak perempuanku.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Sekiranya itu aku lakukan. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung).

bertebaran di seluruh nusantara. khususnya Sumatera. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Dari kampus I. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah . antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun. Aku sudah sulit mengenal mereka semua.-I.K.K.K.S. Jawa.P. dan Malaysia.P.90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun.I.Y. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). U. Ohio University (Athens).I. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta. dan menetap di kota ini sampai saat tua. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982.N. Lombok. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa. dan Surakarta. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan.I. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.

karena sempitnya ruangan yang tersedia. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. semuanya itu adalah rahasia Allah. tak seorang pun yang dapat menentukan.91 usai. aku pun tidak tahu. kadangkadang juga tidak jelas benar. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. sumber penghidupan para petani . Sungai ini tak pernah kering. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. Bahwa aku seorang pekerja keras. Apa yang direnungkan. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. Banyak dokumen yang tidak berguna. membaca. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Pun di mana aku akan berkubur. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. Semboyanku sederhana saja. Sesaat setelah ibuku wafat. dan merenung. alamiah. mungkin banyak orang yang sudah tahu. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. majalah. dan dokumen yang tak sempat kuatur. Dalam kamar inilah aku menulis.

kecuali yang sakit atau pingsan. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. aku juga gemar memuja kampungku. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga.92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. dan ikannya jinak. dan banyak yang miskin. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. Sampai setua ini. sekalipun penduduknya serba sederhana. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. Selagi sehat . pasirnya putih. aku masih sering berkunjung ke kampung. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. dan ikannya tidak pernah jinak. tebingnya landai. semuanya serba dilebihlebihkan. semuanya serba dielokkan. karena memang di situ duniaku. Saat sering pulang. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. Di kala kecil.

ande Karang. masyarakat dapat memakluminya. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). tidak lebih dari itu. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. adalah mak Sarialam. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. ande Lia. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. kakak sesukuku di kampung. dan tentu mengotori lingkungan. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. kemudian menjadi kakak iparku. Terasa teramat dalam dan tulus. mak Rasia. Mereka menunggang . seorang perempuan kaya di kampungku. ibunda Sanusi Latief. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. berasap. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. Selain ibuku yang sering menunggang kuda.

durian. berangkat hari Senen. Juga pasar kera dan beruk. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. Payakumbuh. Mengapa . Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. kembali hari Rabu. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. seperti dari Tanah Datar. dan hasil hutan lainnya. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. Di Minang. dan lain-lain. Di sana terdapat pula pasar ternak. petai. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. karet. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. mangga. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara.

Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Kembali kepada perempuan dan kuda. dan solar. tak seorang pun yang bisa mengatakan. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. setelah ada mobil. bensin. seperti telor dan tebu. . Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. Tetapi iman menyebutkan.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. terutama untuk menarik delman (bendi). Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin.

tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. Sebelum aku pergi merantau. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. adik ibuku seibu. tetapi kebiasaan menunggang kuda. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. kebiasaan perempuan naik kuda. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . yang kemudian kawin dengan pamanku A. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. Fathiyah. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. adik ayahku.96 Dengan budaya naik kuda. dipanggil Patiah. Wahid. Di sebuah nagari yang tersuruk.

Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. aku juga membantu bekerja di sawah. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya.97 pamanku. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. sapi putih . Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Bersama paman dan bibiku. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. jika pulang kampung. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Seingatku. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

D. Amerika Serikat.M. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. atau S.D. Tanpa bimbinganMu ya Allah. karena pendidikanku sampai tuntas. dibesarkan. sebagian sudah wafat.108 Sewaktu ibuku masih hidup. dan madrasah Muallimin.R. tetapi tidak bertahan lama. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. Ph. ayahku tidak menambah isterinya. S. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. Kariman. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau . dari Universitas Chicago (1983). (Syafril). Di antara 15 bersaudara. yaitu aku.. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana.P. sekalipun hanya sampai S. Demi menenggang perasaan ibuku. dan dididiknya. aku lebih daripada bersyukur. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. Semua anaknya dirawat.

juga ada yang berpoligami. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. Aku heran. Tidak berbeda dengan ayahku. ni’matMu yang tanpa putus. Sebuah tabiat yang buruk . terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya.109 kecamatan. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. pamanku Mattudin. Yang tidak masuk akal adalah. lalu beranak pinak di sekitar itu. tanpa batas. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya.

mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. Sumpur Kudus.L. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P. mantan menteri era reformasi. pusat yang paling berjasa adalah Dr. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Aku senantiasa berharap pada waktu itu.110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. Herman Darnel Ibrahim. Di antara pejabat P. Muhammadiyah Jakarta. salah seorang direktur. Bahkan Bung . desa tertinggal. Di usia lanjutku.N. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi.P. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. kecuali dengan diesel. Aspal sudah. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik.

Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. sahabat kakakku Nursahih.111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. Muhammadiyah (periode 1998-2005). Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. seperti . kemudian membengkak menjadi Rp. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. 4. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005.3 milyar.R. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung.P. 3 miyar. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol.

sampaisampai merotasikan letak celananya. semuanya tidak teratur. tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. Guru-guru pun tidak pernah lengkap.R. maka pendidikan S. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. Aneh memang. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. Seharusnya aku baru tamat pada 1948. namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Pada masa revolusi. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. semuanya berantakan. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan.112 orang membawa lampu minyak tanah saja.

Maangkat. M. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). A. wafat pada 2 Mei 2004. Tari. Rajo M. dan Kahar. Sutan Bachtiar. Latief Dt. Nalam (suami Rahima.113 anak kampung. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Syamsuar. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. M. wafat pada 3 Jan. Rivai Dt. Rajolelo. Wahid. Zulkifli Mahmud. Makkah.R. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Suki Khatib Rajo. Mattudin Rauf (adik ayahku. A. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. jam 6.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Rajo Malayu. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. Alangkah hinanya. juga berjasa dalam . Wahid. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. pamanku. Rusjid. Muchtar Gafur. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik.

dan masalah kenduri orang . seperti telah disinggung di muka. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. sebagian besar pendukung Perti. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. rakaat tarawih. ushalli. saling berebut pengaruh. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. soal qunut subuh. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. sebagian pendukung Muhammadiyah. Mengapa demikian. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. aku tidak tahu. Kecuali Kahar.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Dari famili senenek pihak ibu. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. permulaan puasa dan hari raya. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah.

Mangganti.115 mati. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. Sisawah. antipati. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Tanjung Bonai Aur. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. telah dilawan dan dimusuhi. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. dan Kumanis. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. Dalam perjalanan waktu. tetapi kemudian diam-diam diikuti. Ya. Namun sejak tahun 2000. Tamparungo. Sudah tentu aku bangga mengikuti . ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. dan yang sebangsa itu. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Nagari-nagari yang lain: Unggan.

hubungan antar tauhid dan keadilan. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. lambat atau cepat. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. penyadaran. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Melalui metode dan pendekatan model ini. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. Muhammadiyah. penyantunan.116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P.P. sekalipun bukan tujuan. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. konsep persaudaraan universal . Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. dan pencerahan.

Betul. khususnya setelah aku belajar di Chicago.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. asal tidak . Bagi sementara orang. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. cara hidupku ini terlalu bersifat desa.R. prilaku hidup yang jujur. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. bersih. dan prinsip egalitarian. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. karena itulah aku. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini.

Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. . jika isteriku tidak ada di rumah. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf.118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. Dalam budaya hidup mandiri ini. Jika pulang bersama keluarga. aku sering minta diajari isteriku. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. tanpa ajinomoto. Bahkan lebih jauh dari itu. tanpa bumbu masak yang anehaneh. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. karena memang aku orang desa. Jika pulang kampung. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana.

119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. . Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. Rajo Adat di Buo. Rajo Alam di Pagarruyung. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. Kemudian pusat itu berpindah. Seorang tokoh Chairul Saleh. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. dan lain-lain. memang sudah sepantasnya. berasal dari Lubuk Jantan. Jadi jika aku belajar ke sana. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. dan lokasinya pun mudah dicapai. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. di samping pusat perdagangan emas. orang penting pada era Bung Karno. kopi. Tetapi dari tuturan sejarah. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. Lintau jauh lebih maju.

perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Jika rata-rata 5 km per jam. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km.120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. yaitu sekitar 48 km. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. Sjamsu Kamar. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. berjalan kaki pun mungkin. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Enam teman ini setahun di atasku. dan sebaliknya. sekalipun tidak selalu. Kedua. Bila terpaksa. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Nawadir Makkah. Pertama. Damhuri Gafur. keduanya dari Sumpur Kudus. Ismael Rusyid. Lintau. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Sjafril Tahar.

aku diturunkan menjadi nomor enam. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. semula terlupa tidak dimasukkan. Ketiga. tetapi harus melalui ujian masuk. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar.-ku sama sekali tidak memadai. aku terpaksa diterima juga. aku semula meraih ranking nomor lima. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana.121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Namun karena berasal dari desa terpencil. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. aku . Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk.R. Tidak dapat ranking pun.

A. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. Pada ujian penghabisan. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S.M. Payakumbuh. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. Dalam keadaan normal. Bayangkan. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. demi . tentu aku akan merasa malu. orang kampung bisa naik sepeda. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. atau yang sederajat. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. kecuali ujian terakhir kelas tiga. Indonesia sudah merdeka? Keempat. Selain ujian sekolah. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Pada saat-saat menjelang ujian. Mungkin jika tidak naik kelas. bertempat di Bunian. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi.122 gembira. apakah pada 17 Agustus 1945. tetapi bangganya bukan main. gara-gara revolusi kemerdekaan.

sekalipun sewaktu mengganas.123 menjaga mutu. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. kadang-kadang di kala malam. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. . Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. tempatku belajar selama tiga tahun. Adapun kampungku demikian sunyinya. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. Perasaanku ketika itu. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. Rancak (bagus). tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. Dengan cara ini. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. orang kampung pernah diterkamnya. Akibat menghilangnya harimau ini. di dalam hutan yang jauh sekalipun. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai.

Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. Kini sebagian besar mereka telah tiada. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Pada saat tulisan ini dibuat. Dt. aku tak mungkin mengembara begini jauh. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. Tanpa didikan mereka. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt.124 Kelima. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. Keenam. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. belanja . Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. Indomadjo.

sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. Akhirnya dia berjaya. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Sanusi Latief. berlaku perkisaran secara mendasar. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau.

126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. II. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. demi ilmu pengetahuan. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. mungkin karena mengingat biaya. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. M. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. entah .

seperti telah kusinggung di atas. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban.127 untuk berapa lama. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. apalagi ke tanah Jawa. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. Untuk selanjutnya. Tanpa Sanusi Latief. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. tetapi penting bagi pembentukan karakter. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. berkat Sanusi Latief. Tanpa Sanusi Latief. pada waktu itu belum dibayangkan. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. aku barangkali akan tetap sibuk dengan . Pokoknya melangkah dan terus melangkah.

milik kakakku. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. Azra’i dan Suwardi. dan memancing. sementara aku cukup tidur di atas tikar. Coba bayangkan pada waktu itu. kasur saja harus diangkut dari kampung. karena di kampung pun . Di dek kapal kasur itu dipakainya. Kami masak bersama secara bergantian. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. Di antara yang berempat itu. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. menjala. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Aku tidak akan ke manamana. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. jika tak salah. membawa kasur dari kampung. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. tibalah kami di kota tujuan. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau.128 senapan angin.

129 aku tidur tanpa kasur. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. oleh karena itu perlu disantuni. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Sekiranya aku ditolak masuk. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno. sekalipun tidak kemenakan kandung. tentu kisah hidupku akan berbeda . Sampai di Jogja. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. sisa zaman Belanda. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. jalan ke Mangganti. kemenakan ayahku dari suku Melayu.

entah bagaimana jadinya. Kita boleh saja berandai-andai. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. karena gedung baru di Jl. Kedua. Pertama. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. kelas empat sudah penuh. tetapi di sini tak perlu diteruskan. Jadi bangku tidak tersedia untukku.130 dengan apa yang aku jalani kemudian. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena . tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. Tamansari No. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. Akibatnya aku harus menganggur. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. karena memang tidak terjadi.

dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Namun aku tetap bersyukur. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. apalagi sesama Muhammadiyah. sampai saat tuaku ini. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Dalam keadaan seperti itu.131 katanya kualitas tidak sama. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka.

Ngabean (sekarang Jl. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu.P. gelar yang dulu disandang oleh A. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai.A. sekalipun dengan perasaan terhina. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. swasta juga tidak betah lama di sana. Setelah sekian bulan belajar montir.M. tetapi .P. Azra’i kini bergelar Dt. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir.M. paman kandung Azra’i. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. masuk S. Muhammadiyah. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. Lalu pulang ke kampung. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. Azra’i yang semula masuk S. teori dan praktik. ayah kandung Sanusi Latief. aku lulus.M. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. Ahmad Dahlan). Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Muhammadiyah dan terus ke S. Latief. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai.132 sekolah montir di Jl. kembali mengikuti irama hidup secara kampung.

Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. sekitar 1 km dari Calau. Tak terasa. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi.133 jalan hidupnya berbeda. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. sesuatu yang harus diterima apa adanya. Luar biasa aku menyukainya. meniti titian nasib masingmasing. kesukaan kepada . Suka dan duka terekam dalam memori itu. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian.

Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. Bukan saja dalam selera makan. cukup bergairah dalam masalah ini. Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Tidak jarang.134 bakmi tetap berlanjut. Nurkhalifah. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali. semuanya ini lumrah belaka. perbedaan itu sering mengemuka. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. juga tidak jarang dalam selera politik. tidak perlu dijadikan gesekan. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). dia mengajakku berdebat dalam soal politik. ibunya. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. . Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Bagiku. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman.

Dengan tancapan pisau di meja. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. dan Ilmu Alam. Untunglah di . memang tidak pernah sangat tinggi. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. pada hari pertama aku masuk kelas. Tidak sekadar marah. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. aku cukup ngeri. Aljabar. dan 6.135 Kembali kepada masalah sekolah. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. 7. kalau tak salah. sekalipun belum tentu menarik. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. Dengan perasaan yang serba bercampur. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. Melihat panorama ini. 7. Ilmu Ukur. dan kami harus mendengarnya. aku bisa mengikuti pelajaran. Nilaiku dalam Ilmu Hitung.

Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. Tetapi A.P. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. Tetapi betapa pun jua. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja. . sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Bila semuanya ini kukenang kemudian. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. kemudian malah terpilih menjadi Ketua P. Sebab jika dia tetap mengajar. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. pernah menjadi wakil ketua. Sampai tahun 2005.136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Muhammadiyah barulah aku.P. juga pernah belajar di Mu’allimin. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo.. Tanpa tancapan pisau ini. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini.P. Djindar Tamimy. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung.R. tetapi tidak jadi rampung. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja.

aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Wiludjeng (Bahasa Inggris).H. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Sudiro . Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Fakih (Bahasa Arab).H. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris).137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). K. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Rowijan (Aljabar). Balija Umar (Musthallah Hadits).

Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. tak peduli dengan siapa pun. dan masih banyak yang lain. Ternyata paham agamanya kuno. suka berdebat. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. tamatan Mekkah. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung.138 (Ilmu Alam). tak terekam dengan baik dalam ingatanku. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. . Kadangkadang sangat keras. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. masih sangat muda. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. Muhammad Thajib namanya. A. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai. Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A.

Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di . sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman.139 Sewaktu berdebat. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. di sisi sifatnya yang penyabar. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. Aku amat berutang budi kepadanya. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja.W. setelah tamat sekolah. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. Bengkulu Utara. tetapi sopan dalam pembawaan. sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. tetapi pasti yang harga murah. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala.W. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. Pak Djazarie. yang aku banggakan itu.

sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku.M. Muhammadiyah (1998-2005). Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis.M.140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. apa bukan hebat.M. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I. gembiraku luar biasa. sekalipun .P. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. Kalau tidak khilaf. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. milik dan suara resmi Partai Masyumi.K.P. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I.I.

Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. Begitulah perasaanku ketika itu. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. aku tetap saja menulis dan menulis. Pada usia senja menjelang malam ini. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. dalam dan luar negeri. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. aku sudah turut kampanye . Mungkin bukan dari siapa-siapa. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis.

Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. B. karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. Tetapi pada tataran moral politik. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Sewaktu ayahku wafat. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi.

Faried Ali.143 masing. Aku masih ingat betul. karena tanggungannya yang juga cukup berat. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. Penulis R. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. jauh dari diriku. Mawardi dan Penulis Moh. 125. Terimakasih Muallimin. 175 per bulan. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. Syafril Maarif. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Muhammad. tampaknya . tetapi karena sudah ditinggal orang tua. anak sulung dari etek Lamsiah. Djazarie. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp.

apalagi itu berlaku jauh dari diriku. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. semuanya mengalir begitu saja. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. tanpa payung pelindung. aku tidak paham apa makna kematian itu. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. seperti umumnya orang kampungku. Sekiranya itu aku lakukan. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. Setiap mengingat sosok ayahku. Mengapa batinku begitu . ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. di samping tidak ada biaya untuk itu. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. air mataku meluncur tak tertahankan. Bila peristiwa perih ini kukenang. Semuanya berantakan.144 seperti baju kaos. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. aku tak ingat lagi. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Jika sewaktu ibuku wafat.

sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. kembali ke nagari asalnya. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. tetapi aku juga tidak pernah dimanja.145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. kecuali dalam do’a. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan. Ayah. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Hubungan . Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. Di kampung aku punya seorang teman. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi.R. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana.I. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. alumnus Mu’allimin Lintau. dan ia bersedia. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. . B. ia harus pulang kampung. Mungkin tidak sampai setahun. namanya Bachtasar Tahar.R. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu.156 lain lagi. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung.

Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas. adik kelasku di Mu’allimin. Aku lulus dengan baik. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun.157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). Pengetahuan .P. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. jurusan Sejarah Budaya pada 1964.M. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bukan karena apa-apa.A.T. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F. Tetapi setelah ditimbang-timbang.K. Setelah setahun aku belajar. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. lalu ujian.L. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6.I. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana.A. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi.

ijazah aku terima juga. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. Bermacam . Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo.S.I. Jogjakarta. serta Pengetahuan Sejarah. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu.K. tetapi karena ingin cepat rampung. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh.I. Karena pergolakan daerah.158 Umum. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. hubungan putus dengan kampung. sekalipun bertele-tele.P. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. 1957-1964. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I. Jelas aku dirugikan.I. Bukan karena apa-apa. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana. sekalipun dengan perasaan mendongkol. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah.K. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri.

Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Nasai.R. dan aku. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. Hawari.I. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah.K. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual.P. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. mahasiswa Cokroaminoto. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. berasal dari Sulawesi Utara.I. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. Maka pindahlah aku ke F. tetapi karena kuliahnya teratur. bagian pengajaran. aku tidak mungkin bisa. Muchktar. M. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum.159 tugasku di toko ini: pelayan. Jusuf. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. Jusuf banyak menolongku dalam masalah . jurusan Sejarah-Budaya. kasir.R.

Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. dan lainlain bersama Pak Markum. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. ayam dan kambing. asal Baturetno.160 presensi ini. pemilik warung di Baturetno. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Mula-mula dagang kecil-kecilan. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. Untunglah selain itu. Namanya Murdijo. tembakau. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. Surakarta. Korban pergolakan daerah. tetapi semuanya merugi. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. Karena merugi. kami lalu jualan rokok.

tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap.161 kecamatan itu. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu.N. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap. Sekiranya aku punya ijazah negeri. kepala sekolah. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Sebagai guru honorer. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika.T. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. tidak dapat dikatakan. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku.P. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. Baturetno. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. Pak Sujadi. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik .

Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto.I. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Ekonomi Terpimpin).162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Undang-undang Dasar 1945. Lenin. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya.R. Pada saat menulis catatan ini. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Tampil dengan gaya Bung Karno.B. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan . Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Sosialisme Indonesia. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Demokrasi Terpimpin. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan.

adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. Mr. kata Hatta. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. aku tidak menyia-nyiakannya. kemudian menyusullah masa pembangunan. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. Mendengar kutipan mentereng ini. Revolusi. Abdullah Sjahir. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). tetapi kosong itu.163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. Bagi Hatta.

. beberapa tahun setelah itu. aku tinggal mengikutinya saja. Tetapi cara itulah yang kulakukan. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain. di atas. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. Pada suatu ketika. Andaikan aku punya ijazah negeri. entah dari sumber mana diambilnya. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. Soekarno tokoh nasional dan dunia. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. Amien Rais. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi.T. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. sehingga dapat “mempesona” orang lain. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Maka tak lama kemudian.164 cara yang benar. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri.

Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah.165 Itulah aku. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. aku bakal terpilih jadi Ketua P.M. komentator yang tajam. Sebagai kader Muhammadiyah. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku.D. Jika itu yang terjadi.D.M. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. dasar anak desa. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. Bung Amien.P. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P. untuk menjadi ketua cabang Baturetno.P.M. setidaknya majelis tingkat P. Aku percaya bahwa pengurus tentu . dengan terkekeh itu saja. dan aku malah bangga menuturkannya kembali. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P. malah menambah abrabnya persahabatan kami... tentu tidak akan terlalu sukar bagiku.D. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. alumnus Mu’allimin Jogja lagi.P. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri.P.

P. sesuatu yang selalu aku banggakan.166 akan menyetujui saranku. Tetapi sebagai selingan. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. tidak akan ada ujungnya. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu. Siapa yang takkan bangga. untuk berkunjung ke sana. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Demikianlah kalau kita berandai-andai. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya .M. Wonogiri yang memohon anggota P. Di samping dapat sekadar uang.D. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis.

T. Jika kukenang semuanya ini. tentu kamus harus dibuka. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing.T. Sekalipun hanya dalam posisi G. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. aku juga mengajar . Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. adalah di antara penulis favoritku.T. Abdullah Sjahir. bangga juga aku rasanya ketika itu. Pada tahun 1960-an itu. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. untuk memahami satu alinea saja. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ.167 itu sekarang ini.T.. di samping Sidi Gazalba. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. Andaikan punya akses.

M. anak sekolah. dan rakyat umum. K.M. karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto.I. S. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini.168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N. pimpinan Pak Suhardi.S. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara.D. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu. M. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.A.A. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. Samasekali tidak ada . Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno.

manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi.A. Amien Rais adalah sahabat . adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. maka alm. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. Malaysia. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. sebagai guru selingan. Amien Rais. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. M. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Dr. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. Dr. M.169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Sanusi Latief pernah mengajarku. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. M. dan Kanada. Sanusi Latief dan Prof. Prof. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti.

H. Tokh. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. tentu sebagian besar . Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan.A. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat.

Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku.R.) . seperti telah kusinggung di depan. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. teman sekelasku di S. St. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh.171 rakyat Indonesia. anak Sarialam-Halifah. suami Rahma. secara diam-diam telah . Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. Dengan demikian. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. IV. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. apalagi masyarakat kampungku. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin.

jika aku dan yang bersangkutan bersedia.M. Lifuarda (namanya sewaktu di S.172 menghubungi etekku Bainah. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. dikenalkan kepadaku melalui surat. ini merupakan hiburan yang membanggakan. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. aku sempat termenung. Tanjung Ampalu. tetapi mau dijodohkan. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal.P. Bukan sebagai pedagang yang mapan . adik kandung Rahma. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. Tidak hanya dikenalkan. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. Payakumbuh. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). Teman ini. Bagiku.

Alangkah geli bercampur malunya rasanya. kalau mungkin sampai ke Kumanis. Seperti biasa. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. bila kukenang ini semua belakangan. seperti telah kututurkan. Padang. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. Bersamaku. Bulan Maret tahun 1957. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. jika bukan kurang dari itu.173 seperti umumnya orang Minang. dan besoknya aku menompang truk miliknya. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. . dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok.

juga tidak mungkin. lincah juga gadis ini. rambutnya panjang terurai. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. Aku agak lupa. sebab aku sadar betul akan posisiku. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. apalagi usia terpaut jauh. Rasanya tidak sampai ke Kumanis.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. ada gadis dengan celana panjang merah. sampai di mana aku menompang truknya. sebentar muncul sebentar menghilang. karena tidak ikut main. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Semuanya berlalu begitu saja. Rahma (bintang desa) dan Rosma. adiknya. matanya tajam. Akan dilirik kakakkakaknya. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. .

Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. malu. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk.R. hanya badanku agak kurus. Senang. Enam tahun kemudian. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan.R. miskin lagi. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. dan malu.175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. masih belum mendingin betul. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. karena tak punya apa-apa. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. karena akan bertemu dengan si kecil. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. datanglah surat Ismael di atas. Tak lama kemudian. sekalipun sudah . Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. ragu.

176 sakit-sakitan karena asma. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Rumahnya gagah dan kokoh. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. Dari kejauhan. dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. Padang. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda . jika bukan ke Rimbo Kaluang. Truknya diberi nama Sumpur Kudus. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. apalagi di kalangan orang kampungku. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat.

tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. dalam keadaan apa adanya. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. Umpamanya.177 rumah. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. sekiranya di Padang aku punya teman. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. Kalau tak salah. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. agar kelihatan agak sedikit parlente. Sebuah risiko harus dihadang. Jika itu aku lakukan. mencari yang lain. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. demi gensi. tetapi tidak autentik. pandai bertanam tebu di bibir. ada Rosma (juga sudah punya anak). yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. Dalam serba . ada si kecil. bukanlah caraku. mungkin kurang gizi. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak).

2006 di Jakarta). Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin.M. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan.P. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. mantan wartawan senior Indonesia. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. pengalaman hidup. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. Herry Komar (wafat 13 Feb. Teman sekelas si kecil di S. bibiku Bainah. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. juga terbentang jarak psikologis. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir . Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam.178 kesederhanaan.

Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. tidak jauh dari Simpang Balai. Dalam kondisi semacam itu. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. Ia . sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. termasuk Manirun. berselisih jalan dengannya. pada 1964. pada suatu pagi aku dan teman-teman. Sumpur Kudus.179 semakin larut. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. aku belum punya pekerjaan tetap. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. Sampai tahun 1963 itu. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. sekalipun tidak lapar. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. Sebelum berbelok ke rumahnya. Bagaimana akan siap. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. kakak sepupuku dari pihak ayah. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri.A.

rezki secara berangsur terus mengalir. Aku ini anak . Aku hanya meliriknya sepintas lalu. sebagaimana yang akan kututurkan.180 baru datang dari Padang. yang memburu kekayaan. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Seingatku ia pakai baju putih. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. Tampaknya ia sangat pemalu. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. baju anak sekolah. langkahnya bergegas. bukan atas inisiatif kami berdua. dia membuang muka ke arah lain. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Yang jelas aku menyukainya. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. aku akan pasrah. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Kami tidak saling berteguran. agak menjauh ke tepi jalan. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya.

sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. yang berbau syirik. Tetapi betapa pun perihnya hati. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. tentu batin ini akan terluka juga. . aku sangat kokoh.181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. Dalam perkara ini. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. Semuanya biar berjalan secara alamiah. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. Bagiku pada sisinya yang terdalam. tidak akan berganjak sedikit pun. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada.

sebab ada gelar malin dan ungkapan- . Masuk sekalian tawar. Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. Muhammad sungsang. Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Qul huwallah sungsang. Akan dirantai Allah-lah engkau. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. Aku memantrakan obat parang sijundai. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah.

Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu. sebab tak terjangkau oleh kantongku. Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. aku paham benar apa makna kemiskinan.183 ungkapan bernafas Islam. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. Mudah- . semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan.

dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. tidak memperhatikan orang miskin. lupa lautan. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. Interaksiku . Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. tetapi dengan segala keterbatasan. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang.P.184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku.

Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. tidak jelas bagiku. Muslim dan nonMuslim. lintas etnis. dan pengusaha. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. para jenderal. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. birokrat. Sudahlah. tidak ada kelanjutannya. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. sekiranya itu menjadi kenyataan. Entah bagaimana akhirnya. Jika muncul . sebab siapa tahu. lintas kultural. apakah ada akar sejarah masa lampau. Selama beberapa hari di kampung. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Kita kembali kepada alur cerita semula. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama. ini perkara jodoh.

tetapi itulah aku dalam keadaan polos. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan.186 masalah. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D. Paman. dan sedikit sebatas propinsi. Bukankah pada masa itu. dan mungkin kekanak-kanakan. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. dan famili yang lain. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. Aku masih gamang. Mungkin karena jarak usia yang jauh. lugu. yaitu sembilan tahun. kabupaten.T. abang. juga tidak memberi saran apa-apa. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. . Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. karena aku belum punya peta masa depan.

antri minyak. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. Bung Karno sebagai P. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. antri garam. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. gedung-gedung. Dengan kalimat lain. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. Atapatap rumah.B.R. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. sekolah. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum . antri sabun.187 (Demokrasi Terpimpin. Antri beras. antri bensin dan antri apa lagi. lapar. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik.

join them. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . paling-paling seumur penciptanya. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. ikuti mereka). Sekalipun Hatta tidak ditangkap. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. Di antara pengeritik yang paling vokal. argumentatif.188 selesai. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Selama periode yang panas ini.

Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh.K. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.I.T.189 masalah demokrasi di Indonesia. kecuali Hatta dan para pengikutnya. . Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. Aku pun heran. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu.I. Suasana politik bangsa panas sekali.I. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. P. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. yang mendukung D.

I. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang.R. aku tidak tahu.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. juga larut dalam kompetisi manipolis ini. di mana akal sehat..U. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. P. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini.I.. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P..C.T. Akhirnya Bung Karno “menyerah. ..N.Masyumi-N. (Ali-Roem-Idham. mantan duta besar di Washington D.I. Salah seorang tokoh P.I. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. Di mana rasionalitas. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya. Ali Sastroamidjojo.K. terpaksa atau sukarela.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. aku pun tidak bisa menjelaskannya. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. diplomat ulung.).

sebuah usia yang layak untuk berumah tangga.191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. karena tidak ada jawabannya. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. Tentu akan ada yang bertanya. Aku tidak bertanya . termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. sebab Jerman yang maju itu. pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. Menengok fenomena ini. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. dan diharapkan tidak terulang lagi. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita.

sekalipun mulai agak melemah. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.D. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. Bagaimana mau menikahi seseorang. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. wartawan kawakan Indonesia.P. sementara awak tak punya apa-apa.I. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat.R. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. seperti halnya P. temannya sewaktu belajar di S. inilah pertanyaannya.R. 1958-1963.R. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P. itu adalah bagian dari sikap nekatku.M. seperti dia cemburu kepadaku kemudian.I. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku.. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh . Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil.

aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. Bukankah Bung Karno dalam istilah W..R.R.D.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia. tetapi keterlibatannya dalam P. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P.R. perlu kajian ulang.I. tetapi melihat korban yang begitu banyak. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.I. Aku yang semula pro-P. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku.R. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang.S.R.D.I. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu.193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini.U. karena .

R. Aku yang pada masa itu pro-P..S.I. sekalipun mereka lapar.I.D. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.I. Sungguh berlaku yang aneh- . dan pemimpinnya. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.R. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik.R. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta. sama sekali tidak menyebut P.D. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P.R. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu. seperti baru saja kukatakan.D.I..R.I.

. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku.I. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. kelas 1). seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa.195 aneh.R. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Dia panggilku kakoncu. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada . Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. Dia korban sengketa politik daerah-pusat.M. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati. Di pedesaan P.P. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak.R. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A.I. menjatuhkan bom di desa itu.K.I.U. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu.R.

Bayangkan ketika itu. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa.R. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam . dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu.I. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut. tetapi karena diangkat. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti.I. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya.K.I. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik.K.K. dan sekaligus menjadi wali nagari. P. Dalam keadaan sulit. Jumlah anggota P. bukan karena dipilih. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. dari suku Caniago.I.R. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang.R.R.I. Semuanya ini berlaku terutama karena P.196 di atas angin. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. kalah perang. naluri saudagarnya “berdansa” terus. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang.

Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. jika ingatanku tidak salah. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. Damailah di sana. Negeri di sana.M. sekalipun tidak secara langsung. mengelola perusahaan. di seberang makam.197 mendampingi suaminya. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. tidak saja di dunia dagang. peran mak Sarialam begitu besar. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya. B. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan.A. sementara pak . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing.

saling menjajaki. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. mungkin aku sudah lama berumah tangga. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. Kenyataannya. entah di mana. aku merasa malu.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Sampai Desember 1964. tetapi aku sedang kepepet. jangankan . Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. tidak punya pilihan lain. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil.

Sejak di Mu’allimin Lintau.T.. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. Dengan apa kubelikan. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. Rendang ini kubawa . Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. sekalipun harus hidup menderita. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Jogja. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele.199 menghidupkan orang lain. Apalagi pada era D. Dia beli sendiri. sampai tahun 1960-an itu. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. karena masih ingin sekolah juga. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan.

tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. kakak. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. Perkara kondisi tidak seimbang. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. Si kecil memang berhati . sangat kontras dengan perjalanan hidupku. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. Si kecil tahu betul keadaanku. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil.200 sampai ke Jawa. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. batinku rasanya sudah agak tenang. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. Dari pihak keluargaku. dan lainlain. paman.

Suami etekku A. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam.201 keras. aku banyak belajar padanya. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. Dalam masalah ini. Untungnya. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. entah apa sebabnya. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. entah dari mana ia dapat . Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun.Wahid.

sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. tokoh spiritual Perti. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. Pada tingkat usia 30 tahun itu. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Ini berbeda kabarnya dengan . memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. Ternyata itu tidak kumiliki. Bagaimana tidak akan lancar. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. Potong kambing segala. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama.202 “ilmu”.

si kecil. sekalipun cukup membahagiakan. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. Pertama. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953.203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Kedua. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. untuk seterusnya kupanggil Lip. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. Masa membujangku berakhirlah sudah. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. Ini dapat dipahami karena dua hal. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku . sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan.

entah apa penyebabnya. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. Beberapa hari sebelum perkawinanku. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. Yang hadir ramai sekali. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Sebenarnya pihak keluarganya. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . termasuk abangku Nursahih.204 Rahima dari suku Caniago. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. sekalipun jauh dari suasana mewah. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal.

Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. kecuali seorang kakak iparku itu. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Bukan main pihak keluarga senangnya.205 anaknya ini. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. tetapi yang ketika itu belum . dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. Di akar rumput. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. yaitu Islam.

Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus. C. tahan bantingan sejarah.P. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana.K. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya.206 membuahkan hasil yang berarti. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian.K. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap.P.I. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. Sayangnya. jurusan . tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal.I. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. Setelah beberapa hari di kampung. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F. Sekarang dari sisi agama. seperti telah kujelaskan.

pendiri H.K. . induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo.P.207 sejarah Universitas Cokroaminoto.I.M.I.K.I.K. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya.P. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.S. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. Drs. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis.I. Kabar itu sebenarnya tidak betul.I. tetapi hikmahnya cukup besar. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I. Negeri Yogyakarta. Lafran Pane. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. anak pak Burhan. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar.

208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku.-I.P.I. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.A.P. M. Jika aku tak salah ingat Drs.I. Melalui berbagai upaya itu. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri.K.K. Semarang dan anggota D. Maka bantuan Drs.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. entah apa sebabnya.K.R. Wuryanto. R. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini.I.K. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.S. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Yogyakarta. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. ketua jurusan pendidikan sejarah F.I. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah . mertuaku.I.I.P.N. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima.S.

Aku . Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Selain memperoleh ilmu dari Prof. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah.). K. tempat alm. abang Bakir Amir. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. Prof.P. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. Kahar sebagai imamnya.H. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. Abdul Kahar Muzakkir. Kahar dalam berbagai pertemuan. Muhammadiyah. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir.

dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. Dia sendiri adalah guru P. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu.A. milik seorang pedagang Sunda.P.A.K. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi. (Kesatuan Aksi Mahasiswa .210 diajaknya menulis bersama.A.I. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K.I.I.P. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.M.G. masalah ibadah. Negeri Surakarta. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami.

A. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. B.K. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. A. H.A. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan.U. tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar. Sekalipun masih mahasiswa. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek.211 Indonesia). Basuni. dan alm. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. pimpinan alm. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman. miskin lagi. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Untuk perlengkapan tempat tidur. Di samping sebagai korektor. karena sudah terbiasa sejak kecil. sementara aku sedang kuliah. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. usiaku sudah bergerak tua. Mungkin sebagian kecil hasil . berkeluarga. Mohammad Diponegoro.

bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. Sebagai seorang yang bukan aktor. Jl. tokh aku tidak mungkin memilikinya. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. lantai II Kantor P. Andaikan ada. Kasur pun hanya punya separo.H. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini.. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. K. Beban .V. (Suara Muhammadiyah). karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. masih belum ada ketika itu. aku lupalupa ingat berapa. Ekonomi morat-marit. demonstrasi merebak di mana-mana. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya.212 iklan terselip dalam kantongku. aku tetap saja kuliah sambil bekerja. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku.M. Jika aku masih sendirian. tentu tidak ada persoalan.K. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi..I.Dahlan 99. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P.P.I.K. Muhammadiyah yang lama. T. Untung ada beberapa koran di kantor S. khusus untuk anak yang baru lahir.

Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. Selama di Kotagede. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap.M. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. Kalau aku apa yang mau digadaikan. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. Lip . Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Untung dia punya perhiasan. Bukan main bahagianya perasaan. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. pagi dan kuliah sore hari. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan.213 mentalku menjadi berat. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Masalah beras cepat teratasi. 20 dari sebuah majalah di Solo.

dituduh sebagai kekuatan anti Manipol.M. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan..K. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.214 tidak pernah gemuk. kini telah . Setelah sekian lama aku jadi korektor. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain.K. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. Manifes atas desakan P.I. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan..I. tetapi jumlahnya tidak seberapa. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964.

sebab jika dibantu pula. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. Sangat disayangkan.K. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. Ayahnya jauh di rantau. Anaknya sudah diberikan. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi.I. ayahnya “diperas” lagi. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. . V. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu.215 berubah menjadi penyambung lidah P. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.

Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. Pada saat-saat sulit itu. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. seperti telah kusebutkan di depan. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. sebuah angka yang sangat mengerikan. Jika kukenang sekarang. untung ia mau membantu. Nasib . sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. sekalipun masih serba kurang. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji.216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. Coba kalau tidak. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. Amin.

tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I.K.I. Yogyakarta.P.S. sampai . Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana.I. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.I.I. M. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U.K. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. baik sekali. I.217 pegawai negeri kempas-kempis. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F. Jika kinerjaku dinilai baik.P. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. Tanpa pintu itu. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.I.K.K. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.P. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri.I. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954). dosen Sejarah Asia Tenggara. khususnya Amerika Serikat. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. Dochak Latief. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. dan Rektor I. sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu.” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono.S.K. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia . Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur.I.).K.I. dan itu sangat kami utamakan. 1.228 terlambat. bulan-bulan menjelang Iwan lahir. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. sekalipun mengalahkan keperluan yang lain.P. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian).

yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Drs.M. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila. Manipol/Pancasila. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Yang berlalu. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Kapita Selekta Sejarah Afrika. Bimbingan Tesis. Untuk teman-teman seangkatan. aku adalah lulusan pertama. tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. sekalipun usia sudah 33 tahun. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar.. Sasjardi. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. biarlah berlalu. Kapita Selekta Sejarah Eropa. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Teori Sejarah. dosen senior jurusan sejarah. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Bangga juga rasanya. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U.229 Selatan. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian .G.

Malta. Belgia.P.R. Jerman. atau U.230 ini. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005. sebuah karier yang cukup panjang. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. Libia. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah.Y. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah. Jordan. Pakistan. .N. berasal dari Curup.N.A. Chad.K.I. tenaga pengajar.P.S. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada.-I. kemudian menjadi anggota D.K. Thailand. India. Inggris. Iraq. tercatat Singapura.K. sementara aku tak punya. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat. (Partai Amanat Nasional). mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. periode 2004-2009. Malaysia.P. Saudi Arabia. Pusat dari P. Iran.I. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis). Qatar. bukan? Dari kampus I. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F.I. dan atau sebagai tamu undangan.

Sekalipun masih pinjam baju segala. Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. Aku memang agak urakan. Roma. tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Kanada. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Selama menyiapkan tesis. mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. (Suara Muhammadiyah). dan Hong Kong. aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu.M.231 Belanda. Bukan saja warnanya yang telah berubah. pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Italia. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . Australia.

sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P.M.S. aku pun pernah menjadi anggota P.M. dan Indonesia. Baru setelah belajar di Chicago..W. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. seperti Inggris.M. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S.K. Arab. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- . Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif.. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. tetapi umumnya menyangkut masalah agama.I. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F.I. dan politik. Kartuku ditandatangani oleh alm. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Bermacam topik yang kutulis. Pusat ketika itu.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu.I.W. sejarah. untuk sejarah Asia Barat. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini. Sewaktu bekerja pada S.

Burhanuddin Harahap. Muhammad Isa Anshary. Mohammad Natsir. Kasman Singodimedjo. Mohammad Sardjan. Hafni Abu Hanifah. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Mohamad Roem. Soekapti Mangunpuspito. Abu Hanifah. Ny. Mohammad Natsir. Jusuf Wibisono. dan Prawoto Mangkusasmito. Amelz. Ny. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi.233 tokoh yang aku banggakan itu. Sjafruddin Prawiranegara. Prawoto Mangkusasmito. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . yaitu Soekiman Wirjosandjojo. aku junjung tinggi sampai sekarang. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. Zainal Abidin Ahmad. Junan Nasution. Adapun sikap moralnya.

Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. Sjafruddin. Adapun kritikku kepada partai ini. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. Soekiman.U. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya.D.. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua.234 Indonesia: Natsir. C.. Kegemaran . Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. dan Burhanuddin.R. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P. sementara Natsir.I. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. Junan Nasution. akan kujelaskan pada ruang yang lain.R.

Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. Salim di Cornell tahun 1953. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. sekalipun batin sering goncang. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak . Ini amat disayangkan. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian.A. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. dan aku turut memberi kata pengantar.

Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu . I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam).236 datang dengan tiba-tiba. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber.

(Northern Illinois University). Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. Dr.). tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. kalaulah iman tidak kuat. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya.I. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Dengan segala pertimbangan keluarga. . tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N. Ismangoen (alm. Periode ini.U. sekalipun tidak parah pada mulanya. Menginjak dua tahun usia Iwan. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. DeKalb.237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. Dr. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright.

Tetapi Allah punya ketetapan lain. lupakan kuliah. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. Ismangoen.238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. masih di bawah pengawasan Dr. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. sehingga sulit melangkah sendiri. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Dr. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. . Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. dalam sejarah. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Seperti telah kusinggung di atas. Iwan meninggalkan dunia fana ini. di depan lapangan sepak bola.A. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. kadang-kadang bergantian. Dini hari. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. Iwan jatuh sakit lagi. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Terasa banyak kemajuan.

D. Tempat ini di . Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Pada saat Iwan wafat. kepala S. ke rumah pak Sukadijono. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Demi meringankan beban batin. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. Muhammadiyah Wirobrajan. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. panggilannya sehari-hari. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya.D. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. Jogja). usiaku sudah 38 tahun.

Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. adalah kelucuannya. Mengapa . akan dijawab: Nun Epah. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. untuk sebutan Nurkhalifah. jauh dari stabil. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. air mataku meluncur tak tertahankan). terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. anak ini cukup ceria. wajahnya selalu terbayang.20 pagi tanggal 3 Desember 2005.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. isteriku. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. di Jogja-Padang-Jogja. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. “Anakku.

Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. bukan anak. hilang dua. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. VI. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. sekalipun semula . memberi kuliah. aku pun tidak dapat menjawabnya. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. Hilang satu. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. aku bertugas seperti biasa.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. Memang serba dilematis. Kalaulah boleh digantikan. Pengalamanku di DeKalb. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil.

sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. teman dosen jurusan sejarah. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius.U.U. alhamdulillah tidak terbukti. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar.242 terasa sangat berat. Hardjo Djojodarmo (alm). Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. kecuali penyandangnya .K. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku.S.K. kemudian baru boleh dibawa pulang.20 kg. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. Alhamdulillah kami tidak diterima. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. Gelar doktorandus memang tidak laku jual. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. demi perbaikan ekonomi. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. P. Tiap hari kami berulang ke P.

Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan . Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L.I. Setelah mengikuti tes. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Bandung.243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. Adapun aku saat itu. apakah tidak akan menggangu asap dapur. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. Sampai awal abad ke-21. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah.P.P.P. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai.K.D. sementara Husain berhasil.

terimalah apa adanya. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Achmad Sanusi. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. Dr. Pada suatu malam aku dan teman dari I.D. Prof. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. Nasution. Prof. Supardjo. Sikun. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima.P.P. Dr.K. padahal sewaktu belajar di DeKalb. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). Sikun Pribadi. Semarang diundang ke rumahnya untuk . dan masih ada yang lain. dengan nilai tanpa A.P. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. aku jelas tidak puas. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester.I. Dr. Prof. agak sedikit memalukan. dan Bahasa Inggris (B). Tanpa nilai A. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). Kepemimpinan & Manajemen (B). Mereka adalah Prof. S. Dr. termasuk milikku tentunya. Dr. dari lima mata kuliah. atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. Garnadi Prawirodirdjo. nilaiku jauh lebih baik. Itulah prestasi akademikku di Bandung. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+).

(Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. tokoh spiritual Prof. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof.N.P. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof.D.245 ditemukan dengan Suryadi. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. Sikun bersikap lebih banyak diam. Ternyata seorang guru besar . Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan.D.P. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam.A. Prof.P. Isteri Prof. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. Sikun. yang hubungannya denganku cukup baik.

Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Dalam perkara ini. jenderal. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja.

247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat. (Ohio University. Hasil tes lumayan. William H. tetapi mereka rela.. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita.H.D. di Universitas Chicago. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Frederick. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. sekalipun masih di bawah 600. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M.D. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. Univeritas Ohio) di Athens. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi.A. pada departemen sejarah. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. Tentu aku senang. sudah di atas 500. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O.A. Bahkan terlalu baik. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. Ph. Aku hanya mengambil .

untuk tesis. A. Rata-rata A. tanpa nilai A satu pun. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. tahun ke-176 dari usia universitas. A-. tim penguji yang lain adalah . (Indeks Prestasi Kumulatif)3. Cukup lumaian bukan. A-. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+..atau I. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun.67. dan A. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. A-. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. Dorongan semacam ini sangat penting. Di samping Prof. A. Frederick. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O..A. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. Di sinilah peran penting dari Prof. Doddy Soejono. B+.P. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3.P.H. seorang seniman dari suku Sunda. Setelah meraih gelar M. bila dibandingkan dengan nilaiku di L.D. Di Athens.K.P. kampus lamaku. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. B. Alhamdulillah. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. dan dari sana meluncur ke Athens.

tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu.A. Apalagi aku aktif dalam M. . pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. dan gagasan tentang negara Islam. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. Jadi tidak terlalu buruk.249 Prof. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. Masih berkutat pada Maududi. belum reflektif dan kontemplatif.dan A. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. Gerald Doxie. tokoh-tokoh Ikhwan. Iqbal. Masyumi. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). semuanya akan menjadi beres. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara.S. (Muslim Students’ Association).A. Maryam Jameela. Aku masih terpasung dalam status quo. bukan? B.S.

A. Dari segi moral pergaulan. Jadi secara moral. Itu belum lagi . sementara usiaku sudah di atas 30 tahun. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara.A. dunia M. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. Iraq.S. sangat berjasa. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia. dan saling menjaga. Kuwait. Aljazair.A. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum.A. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus..S. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya.S. M.S. Libia.S.A. Di Athens. hati-hati. M. Ilmu Barat dipelajari. Mesir. sungguh bagus. Di lingkaran M. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.250 yang masih serba belia.

dan teknologi. Dengan membaca peta semacam ini. ilmu. pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. Nasr bukanlah tipe itu. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak .251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. Pokoknya dengan negara Islam. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. tokoh syi’ah moderat dari Iran. dunia kita atur. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. ekonomi.

Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah.S. di samping . pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh.252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Sebagai penulis prolifik. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Beberapa pemimpin M.A. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. Muslim dan Barat. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab.

253 seorang aktivis. sementara dimensi intelektual dilupakan. Dari sisi terobosan intelektual Islam. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.

New York. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Sebuah paradoks berlaku di sini. Para pendukung Maududi. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. karena berhadapan dengan penguasa yang korup.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. otoritarian. Setidak- . dan ulama yang konservatif. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. Qutb. Di Athens. dermawan. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. yang mengeritik Barat in toto. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri.

Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. hlm. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. Bahkan mendapatkan M.A. Sharough Akhavi. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. New York-Oxford: Oxford University Press. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. (Lih. 401). Esposito (ed. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. 1995.). The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang . Sayyid” dalam John L. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. kebebasan seks. “Qutb. dan pro-Zionisme. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. sebab Barat-Timur itu milik Allah. tidak menyentuh realitas. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan.256 dada saja. Dalam usia 43 tahun. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. Pada saat usia yang sudah . dan Masyumi. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. Maududi. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Bukan saja bersentuhan. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. jangan ekstrem anti sesuatu. Dominasi politik begitu terasa. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. adil.

seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. aku belum pernah berdialog secara langsung. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. . Dalam arti intelektual. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago.257 demikian jauh.S. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental.S. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. Aku hormat kepada al-Ghazali.A. salah seorang murid Rahman di Chicago. Malaysia. Dr. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. Dengan al-Faruqi. Teman-teman M. Nor Wan Daud.A. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. memang banyak yang idealis. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. dan teman dekatku. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. Wan Mhd.

Al-Attas kelahiran Bogor.C. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas. Amat disesali.C. Karena proyek alAttas berupa I.C. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme.T. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.S. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.S.A.S.T. kemudian hijrah ke Malaysia. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana.A.C.S. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati. kehilangan kemandiriannya.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya. ruhnya menjadi sirna. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. .T.A.T. Proyek I. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia.A.

periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan.D. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini.A. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. .D. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. Amien Rais. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. beasiswa itu kudapatkan. dalam pemikiran Islam. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. Bantuan sahabatku M.S. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya.I.259 C. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. melalui perwakilannya di Jakarta. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini.

Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. seperti telah kujelaskan sebelumnya.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. sekalipun hakekatnya . disuruh cari nilai A lagi. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Gila bukan? Otak sudah tua. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil.

jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. Yang menguntungkanku. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur.261 tidak banyak berbeda. Aku punya rasa takut dan cemas. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. sekalipun dia . Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. Jika upaya itu kandas. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut.” seperti telah kukutip terdahulu. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu.

Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. sekalipun sekarang sudah lupa semua.262 menderita. artinya baik sekali. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Biaya sendiri mana mungkin. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. tentu semua langkah akan terhenti seketika. . tidak mungkin bergerak lebih jauh. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Selama semester pertama aku harus belajar keras. aku lulus dengan angka P+. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A.

Sekiranya tidak merantau. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”). Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. padahal hasilnya belum jelas. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. padahal hasiahnyo alun jaleh. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. Syafii hanya memikirkan diri sendiri.263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Aku tentu bangga dengan ini semua. Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. lantaran desakan hidup misalnya. berkat rantau. Apalagi jika .” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh.

harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Bukan main rasa syukurku. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Alhamdulillah.264 menyandang gelar suku. menulis makalah. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. Di kalangan keluarga dekatku. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Dalam perjalanan . Nilai A= keluarga datang. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. dan menempuh ujian akhir. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. kelakuan semacam ini juga terjadi. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak.

Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . Perjalanan . yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. aku lupa. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. harus singgah di jalan. nama anak kami. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Mungkin karena lelah. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya.265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. Hafiz. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Biaya cukup. Tidak langsung ke Chicago. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti.

Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu.D. aku hampir tiap hari ke kampus. Sebelum masuk S. Lip tidak betah menganggur. Hafiz sekolah. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih). Pernah juga kuantar dengan mobil. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. Setelah beberapa minggu di Chicago. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. kadang-kadang menegangkan. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). Cuaca .266 panjang itu kini telah jadi kenangan. Rintangan bahasa dapat diatasi. isteri Kristen). demi membantu beasiswaku yang kecil. Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. Tokh dalam pergaulan harian.. Karena anak kecil. cari informasi ke sana dan ke mari.

bukan? Tahun 1979. dia berangkat dengan sepeda. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3.267 dingin sekali. 750.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Lip punya sifat tabah ini. demi menambah beasiswaku. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga.419. Dengan kerja delapan jam per hari. Beasiswaku ya sekitar itu. Kurs ketika itu $1=Rp. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan.000. 868 per bulan. gajiku sekitar Rp. 60. Sebelum pulang ke tanah air. 419. 419. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp. Pinto ini . Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900.000=Rp. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp.000 per bulan. 838. Lip telah jadi “orang kaya” baru.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. Di musim panas. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp.

penghasilan isteriku cukup tinggi.R. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. Selama bekerja. Sudah . Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. Luas tanahnya 230 m2. Cukup fantastik hasilnya. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. begitu juga berpuasa. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. sungguh jauh nian bedanya. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. yaitu lima dolar per jam. D.P. puasa dengan membayar fidyah. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. Sebelum pulang ke tanah air.

Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. di Inggris. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. Bedanya. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. Ilmu seorang alim ada di tangannya. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. Salim. termasuk acuan dalam berpolitik. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Keinginan .D.A.

Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. dan dari negara lain. ada Yahudi. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Iraq. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. kelasik dan modern. Malaysia. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan. dan tak kunjung selesai. ada Kristen. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Amerika Serikat. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. Saudi. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Indonesia. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Ada dari Eropa. Kanada. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa .

Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). Iqbal (India/Pakistan). Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Hossein Nasr (Iran). Hamka (Indonesia). Fazlur Rahman (Pakistan). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Abdulaziz Sachedina (Iran). Bassam Tibi (Suria). Muhammad Arkoun (Aljazair). Abou El Fadl (Kuwait). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Mohammad Natsir (Indonesia). Mungkin baginya. Khaled M. ibarat sumur tanpa dasar. Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Muhammad Abduh (Mesir). Nurcholish Madjid (Indonesia). jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Ada Shah Wali Allah (India). Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Ahmad Khan (India). Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia).271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko).

please give me one fourth of your knowledge of Islam. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. Pokoknya di Universitas Chicago. dan komprehensif. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. Natsir. teori politik Islam. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. obyektif. modernisme Islam. dan masih ada yang lain. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. kritikal. tegas. hukum. mendalam.272 banyak dan bermutu. filsafat Islam. tasawuf. Kecuali Shah Wali Allah. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. Rasyid Ridha. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang . Banyak persamaan di antara mereka. Hamka. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. AlAttas. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. al-Faruqi.

67. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . tiga B. dan itu dari Rahman. Selama belajar di Chicago. maka I. lima B+.15 A. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3.84.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam.K. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. Berdasarkan angka-angka itu. yang kuperoleh adalah 3. Dengan demikian nilai A menjadi 16. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. satu A-. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Selama kuliah di Chicago. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi.P. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi.

Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Terlalu banyak yang dihafalnya.C. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983. padahal gelar M. pada saat aku sudah berada di tanah air.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. . biasa disingkat U. Yang aku agak heran. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka.A. Dalam menghadapi peristiwa penting ini. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. Nurcholish Madjid dan Salim Said.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu.

275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Dengan kata lain. sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Tanpa pembongkaran ini. merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka. Di luar itu. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. . Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama.

Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. tak tampak tetapi terasa. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan. dan dana. pakailah filsafat garam. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu.276 Dari perspektif ini. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. Oleh sebab itu. sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda . jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. fikiran. tampak tetapi tak terasa.” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara.

bahkan di Asia Tenggara. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Selama empat tahun lebih di Chicago. Setelah 60 tahun merdeka. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis. masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. tetapi dikhianati dalam laku. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik. bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. Dengan cara ini. perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali.

Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Amat disayangkan. tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . Semuanya bermasalah. maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. Jika upaya serba radikal ini gagal. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Dalam ungkapan lain. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Ada mereka bangun semacam teori.

dan bahkan kabarnya juga disertasi. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Masalah toleransi inter dan antar agama.P. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Muhammadiyah (1998-2005). tesis. Sementara keyakinanku kepada Islam . Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Pasti akan sia-sia. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya.279 sunnah nabi secara autentik. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan.

Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan. hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. dan masih ada beberapa ayat . Dengan formula ini.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. imanku rasanya tidak semakin lemah. surat Yunus: 99. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. dan berbeda dalam persaudaraan. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256. malah semakin kokoh. sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat.280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar.

Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan.281 lagi. maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. apakah mereka beriman atau pun tidak. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi. itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Dalam ungkapan lain. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. tetapi untuk semua. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa.

sungguhsungguh. sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. toleran. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). jika kita tidak siap menolong diri sendiri. dan cerdas. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi. Kita ambil contoh. masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita. sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . dan berkualitas tinggi.

Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. Dalam sistem syura. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. demi mempertahankan hidup seseorang. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. judi dengan demikian menjadi halal. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas. sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. memakan daging babi adalah haram mutlak. rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. tidak perlu diperpanjang lagi. Dalam sistem politik syura. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Dalam kondisi normal. Dalam sistem demokrasi Barat.283 anggotanya. kecuali dalam konteks . hal itu tidak mungkin berlaku.

gubernur. bermoral. Tentu tidak asal perempuan.” Tanpa keadilan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang.284 yang sangat memerlukan. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. dan bahkan presiden. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan. Banyak contoh sudah dalam sejarah. Tidak saja pada masa kelasik. Jika ini yang berlaku. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik.

Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja . asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. sekiranya ia masih bersuami. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran.285 terbuka lebar. laki-laki mau pun perempuan (lih.

Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Dalam wacana modern. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. tidak terkecuali di dunia Islam. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan.286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. . Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini.

287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Dalam masalah ini. Dengan memadukan kedua ayat ini. sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di . maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. monogami atau poligami. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. praktik poligami itu sangat merebak. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata.

Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang.288 atas. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. sementara bapaknya entah siapa. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. . Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. Sebelum berangkat ke Chicago. kecuali bagi yang tidak mau. Isteri satu.

umat Islam tunggal. sehingga seks bebas. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. Ironisnya lagi. pada masa nabi Muhammad. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. sesuatu yang bila tidak dihentikan. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. . 22 Maret 2005. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. tidak berkeping-keping. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. Sepanjang pengetahuan saya. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

290 Munculnya kelompok Suni. sadar atau tidak sadar. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Syai’i. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. padahal kemenangan .

sedangkan dua yang lain selamat.291 sudah hampir di tangan. Siapa yang meragukan . isteri nabi. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. sepupu dan menantu nabi. sekalipun isteri Ali. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. sesuatu yang sudah lama diincarnya. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. dan Ali. Syi’i. Dengan terbunuhnya Ali. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. yang dimenangkan pihak Ali. yang anti terhadap keduanya. puteri nabi bersama Khadijah. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Ali. dan Khawarij. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). pembela Ali. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. Fathimah.

Afghanistan. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. Tak seorang pun. dan di mana . al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. Dengan kata lain. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan.292 kualitas iman mereka ini semua. Timbul pertanyaan. sekalipun bukan mustahil. Jika tidak demikian. sesuatu yang tidak selalu mudah. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. Palestina.

sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. . syi’isme. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar.” 15 15 (Lih. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. al-Furqan: 30). tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. dan isme apa lagi.293 lagi.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. seperti yang berlaku berabad-abad. al-Qur’an s.

dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. Islam lahir pertama kali di Arabia. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. Bagiku. adil. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. apalagi saling bertentangan secara tajam. banyak yang bahlul tentang Indonesia. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. sekiranya semua pihak . Tentu sebagai manusia yang relatif. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan.294 Kalau realitasnya memang demikian. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. Tetapi setidak-tidaknya. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan.

Harapan.295 memakai pikiran jernih. VII. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. dan punya ilmu yang memadai. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. Amerika Serikat. Dua . aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. Adalah Richard Falk. dada lapang. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. hlm. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. Perkisaran Abad. betapa pun belum mendalam. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. 14 Juni 2005. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat.

padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. 1998. dan Palestina belum juga merdeka. hlm. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya.” (Lih. No. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. Iraq kacau balau. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. . Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. Dunia memang belum berakhir. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi.296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. Just Commentary. 8. Jan. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Afghanistan berantakan. 1).

Memang . di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. keadaannya setali tiga uang. khususnya Amerika Serikat. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. demi manusia. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. situasinya terbalik 180 derajat. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. diawali terutama sejak renaisans.297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. Indonesia.

dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia.B. di mana aku sering juga terlibat.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. tetapi belum pernah efektif. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . P. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan.B. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya.

Tetapi menurut apa yang kurenungkan. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya.299 mengenal Tuhan. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Untuk berapa lama? . tanpa sapaan Langit. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. Dalam ungkapan lain. Bumi kehilangan wasit sejati. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. Tetapi. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. rasanya sudah sangat berat. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Imajinasi kita dapat menjadi liar.

semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. termasuk aku di . Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. Alangkah mulianya tujuan missi ini.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2.300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. “Maka. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya. lupa hakekat. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis.

I. kemudian berubah menjadi F.S.S. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan.301 dalamnya.I.P.S. I.P.P.I.P. Yogyakarta (sekarang F. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F. 2006). Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. Universitas Negeri Yogyakarta).I. B. Batin meronta keras. namun realitas tidak beranjak juga. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu.. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.K. F. . Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan.I. Bila itu terjadi. syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. Jika pikiran itu dinilai sudah usang.P.S. tidak lagi menantang..

kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K. Untuk pembayaran uang muka rumah K.P.R. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad. itu adalah bak sarang merpati.R. teman lama sejak dari DeKalb. Nitibuana yang berpusat di Kudus.D.302 Fakultas Ilmu Sosial. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. Baru akhir tahun 1985. mantan rektor U. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu. tamatan Amerika... ke universitas. Aku yang sudah beroleh Ph. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. Solusinya adalah aku harus . Miskin bukan. Semua pegawai bernasib sama. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago.M. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.K.P. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. Ya.G.R.T.P.D. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana.I.P.

negeri atau swasta. Dua perguruan tinggi I. Gaji tidak besar.N. pemikiran ideologi. Agak aneh bin ajaib. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama .303 memberi kuliah di perguruan lain.S.A. Vembriarto. dan U.N. St.N.I.P. dan bahkan Pancasila.I. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat.P. U. adalah tempatku memberikan kuliah.. Barnadib.P. Maka aku dan Prof. Tahun 1984 I.K. sama-sama berangkat ke universitas yang sama.K. selain mengemban tugas pokokku di I. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA.I. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua.I. agama. membuka program pasca sarjana. Ada sejarah Islam.. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun. Rektor I..I. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. dan berhasil.A.I. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar. Cara ini harus ditempuh. kala itu adalah mendiang Drs. mantan rektor I.K. Mata kuliah yang kupegang bervariasi.I.

Terjadi dialog. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga.” . Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir.I.P. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku. Dijawab: “Itu antara lain.304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. aku tidak mau tinggal diam. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. sekalipun S.3. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan. Atas kebaikan awak bus.M. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”.

Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. K.K. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.I. Semua orang di I. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. paham kelakuanku ini.P. Aku adalah di antara sedikit dosen I. .P. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok.3 saya ditandatangani secepatnya.H. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru.P.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. “Mohon D. yang lama. Dahlan 99. Rais. semua keangkuhan itu menjadi berguguran.K. Muhammadiyah ini. Jl. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P. Jogjakarta. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja. A. Muhammadiyah yang dipimpinnya. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah.I.P.A.P. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres.P.

tidak saja secara lisan. Dr. Posisi 13 diisi oleh A. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. Seakan-akan majelis ini adalah P. Majelis pimpinan M. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Basuni. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini.P. B. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah.A. yaitu 12. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta.A.306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini.P.A.P. A.R. Di samping Rais. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini. Fachruddin. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. Yang lain mengikuti. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. dalam P. penerbitan pun digalakkan. yang sekaligus pimpinan majalah. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. Muhammadiyah pimpinan H.

307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan.P. sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. posisi bendahara diberikan kepadaku. yang lain.P. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku. Teman-teman P. (Universiti Kebangsaan Malaysia).P.K. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. . Ismail Suny (890). 1990-1992. Muhammadiyah.P. Sekalipun berada pada angka 12. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). aku sudah masuk ke dalam jajaran P.P. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol.. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja.M. M. Amien Rais (993). Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P.

Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. Dalam daftar di atas. itu. Sama sekali tidak sehat. . Rusjdi Hamka (774). Ramli Thaha (671). Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. Bagiku. seperti tersebut di atas. Djarnawi Hadikusumo (676). al-Syura: 38). nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. s. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Abdurrozak Fachruddin (516). sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Aku pada waktu itu masih partisan. Ahmad Watik Pratiknya (655). Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. A.308 Sutrisno Muhdam (830). Rosjad Sholeh (748). s. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas.P. sebab jika ada perbedaan. S. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. Ali ‘Imran: 159. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. Fahmy Chatib (701). Ahmad Syafii Maarif (557). Prodjokusumo (638).

Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. Imaduddin Abdul Rahim. tanpa berfikir panjang dan dalam. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan. Wakil Ketua: Ismail Suny. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. Amien Rais.K. Rapat anggota P. Wakil Ketua: M. Dua tahun aku bertugas di U. ikut-ikut teman. sekalipun dengan persetujuan P.M. Ir. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P.P.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini.P. kecuali A. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas. juga merangkap ketua bidang. Bendahara: S.K.. tujuan utama tercapai juga. Yang lain di samping sebagai anggota P.P.. Semoga Allah memaafkan. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim.M.P. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia .

sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara.K.P.P.. disesuaikan dengan kepangkatanku di .P.K.I. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi.M. Yogya dan proses pelamaran untuk U. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. dengan tetap menerima gaji bulanan.. Pasti berliku-liku. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. dalam kajian Islam.K.K.D. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. maka gaji yang diterima di U.I. Semua proses ini relatif berjalan lancar.M. Dengan kata lain. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi. terlalu berbaik hati. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun.P. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya.K. Statusku tetap sebagai dosen I. Karena I. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun.310 dengan kualifikasi Ph.I. tetapi tanpa tunjangan fungsional.I. belum guru besar.K. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku. Ini bagiku menguntungkan.

Selama belajar di S.M.K.I.M. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya.K.M.311 tanah air. Tidak masalah bagiku. berakhir.A.P. karena berbagai pertimbangan. Lip. Indonesia. Hafiz kembali ke Jogja.M. 8 Jogja sampai rampung. Indonesia di Kuala Lumpur. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. Islam dan Perubahan Sosial di Asia . aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. sebab pendapatan di U.A. Kecuali Ahad. Cukup menguras fisik dan mental. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana.K. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan.M. Sore kembali ke Sungai Jelok. anak kami satusatunya. Di U. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.. Setelah setahun belajar di S. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I.K. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U. Semula kami berangkat tiga beranak: aku.A. dan Hafiz.M. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu.

berakhir. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia.K. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain.K. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah. Kadang-kadang sewaktu pulang. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu.K. Ini semua kujalani selama dua tahun.K. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. Berbeda dengan Indonesia.. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang. Dr. Lip juga akan turut. Kebetulan kami .312 Tenggara. seorang dosen di U. harus berada di kampus sehari penuh.M.M.M. Pada tahun 1992.M.

berkat telepon sahabatku Dr. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. Setelah ditimbang masak-masak. dekan Fakulti Pengkajian Islam. Di lingkungan Muhammadiyah.. ada ketentuan moral yang harus ditaati. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U.K. Faisal Othman. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian. Agar aku memperkuat barisan P. dan Dr.M. Watik yang bertujuan mulia itu.P. padahal pihak U. Profesor Dr. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan.P. Aku terpilih. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. Abdullah Zin. Kajang.M. baru tahu betul apa makna amanah itu. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. tidak hanya menjadi bendahara tituler.K.K. Tidak ringan memang. Aku sendiri setelah aktif di P. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau .313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Muhammadiyah secara langsung. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa.M. aku dan Lip memutuskan untuk pulang.

314 meneruskan kontrak. masya Allah. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani. Hafiz tinggal menggunakan.P. maka imbauan Watik yang menang. adalah bagian dari kerja masa kecilku. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. bukan? Tetapi sisi .M. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. apalagi pihak U. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Aku cukup terlatih. Alhamdulillah. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. Hafiz terbiasa manja. Semuanya disiapkan. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Rupanya.K. Enaknya punya ibu. membersihkan kamar tidur. terutama oleh ibunya. Mencuci pakaian. Semuanya berantakan. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil.

Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. Inilah tempat beramal yang tepat . Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. rasanya aku sudah bahagia. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah.315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Terhadap ayahnya. tidak kikir. terserah sajalah. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Sederhana. kecuali dia hidup secara benar. entah di mana. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Benar. aku mulai sibuk. dan entah jadi siapa. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. dan tidak pernah lupa beribadah. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini.

tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. waktu itu sebagai Ketua P. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. Jika tidak. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Dosen tamu di Singapura. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. (Badan Usaha Milik Negara). Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus.316 bagiku. legislatif.U. apakah aku ikhlas atau tidak. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. Biarlah Allah yang menilai. Kalau dalam partai politik. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri. dan sederetan kiprah yang lain.N. diakui atau tidak. Aku sendiri tidak tahu.W. Bahasa Inggris lancar. pahala jauh itu pun tidak akan diraih.M. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. apakah itu jadi pejabat eksekutif.M. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. Sangat giat mendatangi . atau posisi di B. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal.

P. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. memang di luar dugaan. tetapi untuk Indonesia. Yunahar Ilyas. Dia terpental ke nomor 43. tidak saja untuk Sumatera Barat. salah seorang Ketua P. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. terutama bila bersentuhan dengan isu politik.M.W. Apakah . kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Kepada Dr. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. Bagiku kejadian ini luar biasa. Tidak mudah kujawab. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. Dijawab. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. Sumbar tidak asing baginya. sebagaimana semua kita perlu berkaca. kemudian Yunahar malah balik bertanya.317 daerah.

Tetapi sudahlah. tetapi belum tentu benar. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. yang berlalu biarlah berlalu. Shofwan tidak terpilih. Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. aku tidak bisa mengatakannya. khususnya untuk Sumatera Barat. Ke depan orang harus lebih hati- . Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. Kesimpulan cepat diambil. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya.318 karena sikap-sikap politiknya. Tetapi betapa pun juga. sulit untuk mengatakannya. bukan tanpa alasan. Hubungannya denganku cukup akrab. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang.” (Belum terkilat sudah terbayang).

Balum begitu lama pulang dari Malaysia.319 hati dalam memimpin Muhammadiyah.M. ini sampai tahun 2005. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. Kanada.P. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. tidak terasa. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. Aku berangkat lagi bersama Lip. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y.A.A. kini pergi pula Kanada. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. Sebenarnya .M. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994.P.P. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. Muhammadiyah. Belum sampai setahun aku aktif di P.

Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. biasanya perdebatan menjadi ramai. sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. suasana telah berubah. termasuk Islam di Indonesia. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. Mesir. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. dan Indonesia. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. dan lain-lain. Kanada. sekalipun rezim telah berganti. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah.320 gagasan ini cukup mulia. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. salafiyah. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa . Jepang. syi’ah. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah.

Pertama. sekalipun masih saja terasa kurang. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. dan cerdas. autentik. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. Dengan kata lain. Kelemahanku terletak pada kenyataan . Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. Kedua.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. disadari atau tidak disadari. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. surat al-Anbiya: 107).

Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. aku wajib . sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi. aku pun tidak bisa mengatakannya. Tetapi di atas itu semua. dan Qur’ani. sistematis. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. Entahlah.322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. Aku ternyata juga manusia lemah. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. bukan otak-otak besar yang culas dan curang.

aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Pelopor pencerahan intelektual . Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. C. Padang. atau sebaliknya. liberal. Penilaian terakhir. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Sebagai anak kampung yang tersuruk. tidak jauh dari bandara Tabing. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. M. sepenuhnya di tangan Allah.

Terima kasih ongaku. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. dari suku Caniago lagi. musibah kedua terjadi lagi. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Tetapi bulan Juni 1994. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu.P. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing. tetapi itulah kenyataan .P. Muhammadiyah. dan mengurus Muhammadiyah. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. menulis. tidak ada kepastian. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. dua puteri dan satu putera. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. sukuku.324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. Muhammadiyah berduka dalam. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Ketua P. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief.

Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Kampung Kemasan (Solo). Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku. alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. “tanah airku.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana.D. sedangkan aku adalah generasi kedua. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. intelektual. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Muhammadiyah era Azhar.P. P. Paling-paling menjadi . (Perang Dunia) II. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif.P. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. Mohammad Amien Rais.

Benarlah Bung Haedar Nashir. Keduanya adalah sababatku. anggota “mafia Chicago.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. Adapun aku dan M. Tidak ada alasan sama sekali. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago.P. sekretaris P. Keduanya tidak mungkin mengenalku. berbagai masalah kami bicarakan.326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina. pasca . Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Tetapi retak tangan telah menentukan lain.P.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Banyak persamaan. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). di samping ada perbedaan di sani-sini. di masaku dan salah seorang ketua P. dan untuk apa pula. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang.

Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). akan berlaku dalam gerakan apa pun. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. terobosan M. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam .327 Muktamar Malang bahwa M. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. proses kemunduran. Jika aku mengeritik Muhammadiyah. Saya rasa M. Di bawah nahkoda M. Tanpa kritik diri. Amien Rais. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. jika bukan pembusukan. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. tak menentu. M. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993.

M. suasana panas tidak membawa perpecahan. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Paling-paling saling menggerutu.328 itu. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. setelah itu mendingin kembali. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. M. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. tentu bukan karena substansinya. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. Ini berbeda denganku. .

M. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis.329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. Amien Rais itu. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Bukan saja meni’mati. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan . dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu.

Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. tetapi mereka segan untuk berterus terang. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Amien Rais. Kembali ke Surabaya. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. bukanlah pertanda buruk. Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Nama M.P. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Amien Rais itu. Namun cinta mereka terhadap M. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Kadang-kadang bertele-tele juga. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Koran-koran terus saja mengulasnya. merasa kecut dengan gagasan M.330 ke luar. Amien .

Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). M. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Habibie sebagai wakil presiden masa . Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. Amien Rais dalam mengeritik rezim. B. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M.331 Rais tidak pernah menyusut. Bagi M.J. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. tetapi gagasannya menakutkan. M. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Untungnya M. Amien Rais dicintai. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Pak Azhar baru saja wafat. Di sinilah dilema itu terletak.

Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. pihak istana berusaha keras agar M.I. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah. Amien Rais.M. Amien Rais. Muhammadiyah. ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P.P. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. Keduanya juga sebagai tokoh I. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.332 itu punya hubungan yang baik dengan M. tetapi aku mendukungnya.I. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. .C. Tetapi M. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M.C. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995).M.

Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Tak ada gunanya. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P.333 memang sudah pada tempatnya. Warga yang penakut pun akan memilih M.P. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Amien Rais. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Ketegangan hubungan M. Amien Rais. karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Dalam rapat-rapat . Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Amien Rais. tidak berlebihan. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa.

Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa.334 P.P. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. dampaknya akan . Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Amien Rais. seperti baru saja disinggung di atas. sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk.

di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Rais. Muhammadiyah. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah.A. sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi.P. khususnya mereka yang sudah agak berumur.A. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar . sekalipun tidak bisa dihindari. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit.N. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan.

Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat. sekalipun tidak diakui terus terang. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga. sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih .

Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Jika dibuang.B. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005.W. tidak peduli siapa pelakunya. Jika itu yang digunakan. jumlahnya tentu sedikit sekali. Kalau pun ada. lambat atau cepat. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. Dalam berpolitik. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. keras atau lunak. Khatib Kayo. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Gesekan di lapangan pasti terjadi. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. dan akan tersingkir dari persyarikatan. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Politik di mana pun di muka bumi ini.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Tergantung kemudian. Ketua P. beragama atau ateis. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: .M. Menurut tuturan R. Ini fakta keras dalam sejarah. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik.

bukan masalah besar.338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar.” Dengan bergulirnya waktu. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. Amien . Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. Persiapan secara finansial.P. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. demi menjaga independensi Muhammadiyah. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu. seperti kukatakan. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi. Muktamar Aceh semakin mendekat. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Tetapi gesekan politik antara M.

Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan.P. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. entah apa yang dibacanya. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti.P. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden. Kami anggota P. Amien Rais. mengaku Muhammadiyah lagi. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau. Komandan pertemuan dari . yang lain berupaya bersikap biasa saja. Aku melihat bibir M. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. kemudian diikuti oleh yang lain. tetapi juga tidak boleh sombong. sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. Amien Rais selalu komatkamit. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. M.339 Rais. M. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais.

M. Bukan karena keleledoran Soeharto.P. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan.340 pihak Muhammadiyah adalah M. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. M. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini. Seperti yang diharapkan dari awal. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Amien Rais. Kendala politik telah teratasi. ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Maka sekarang bereslah segalanya. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Ilmu . bukan aku. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Dengan iklim semacam ini. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah.

semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. Amien Rais dengan Soeharto.P. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. muktamar. adalah persoalan adaptasi belaka. M. baik dalam tanwir. Amien Rais. Amien Rais memang terasa sekali. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. itu. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. aman-aman saja. Ada sementara kader . Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P.

posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman. Hajriyanto Y. Thohari. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. tak seorang pun yang meragukan.342 Muhammadiyah.l. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif. Inilah . Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan.P. Din Sjamsuddin. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. a. Muljadi sering dipuji Bung Karno.S. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono. di medan muktamar. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus. Lukman Harun. Keduanya bahkan saling memuji. demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak.

” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa. Amien Rais untuk menjadi nahkoda. kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Tetapi bukan terhadap semua orang. Lukman.343 politik. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. dicoba diusung juga. Ya. tak berubah. Aku yang mengusung M. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. ini tetap utuh. sampai . terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Amien Rais. persahabatanku dengan pendiri I. tetapi untuk membendung M. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Dalam gesek menggesek ini. M. gesekan ala Muhammadiyah.M.M. Djazman alKindi. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm.

bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. Dari Parmusi ke P. Betul. Amien Rais dalam Muhammadiyah.P. (ini masih nalar). Berbagai pandangannya tentang M. lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). kendaraan politik ORBA. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. sang politikus. Lukman dan M. aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. Namun di atas itu semua. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”. katanya. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak. Amien Rais sering disampaikan kepadaku. Lukman. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain.P. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang.344 dia wafat. Amien Rais. tetapi itulah caraku memandang politik.

345 puncak. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto.l. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Ada bibit yang menjadi presiden. presiden berucap. Biasa. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Di luar teks pidato. berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. kalau warga menginginkan. tetapi intinya begitu.” Mungkin tidak persis demikian. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Muhammadiyah dipuji. Itu bukan watak dan tabiatku. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. kirakira a. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga .

Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian. Bukan karena latah tentunya. dan kemudian terpilih menjadi anggota P. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990.P. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. akhirnya masuk pula dalam pencalonan. Menarik dan menegangkan. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. M.346 Muhammadiyah. . tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. yang berada pada urutan kedua. Inilah dunia. bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. Aku sendiri masuk nomor tiga.

Yahya A. Amien Rais (1245). Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Muhaimin (866).P. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup. Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang . Bagiku. A. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan. Ramli Thaha (852). A. Jika pada Muktamar Jogja. serumah berlain rasa. Sutrisno Muhdam (1048). komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku.347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. M. aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. betapa pun terdidiknya mereka. Rusjdi Hamka (624). M.” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. Lukman Harun (660). Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P. Muchlas Abror (730). Rosjad Sholeh (874). Anhar Burhanuddin (628). Sukriyanto (589). aku berada pada nomor bontot kedua. Watik Pratiknya (886). di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. Ahmad Syafii Maarif (1047). Asjmuni Abdurrahman (802).

muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Bendahara: Anhar Burhanuddin. Dari 13 nama itu. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Sekretaris: M.N.R. aku telah melompati sembilan nama. Sekretaris: A. Memang selama muktamar berlangsung. Bendahara: M. Sukriyanto A. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Amien Rais.I. Tetapi pada tahun 1995 itu. sebab pengamanan sangat ketat. Dari sisi ini. Peluru dari G. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut . Rosjad Sholeh. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. hampir tidak ada gangguan yang berarti. masih saling menyalak. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam.M. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Muchlas Abror. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. dan T.A.

Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. T. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. bukan partai. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Di atas itu semua. tetapi diakui bahwa Jakarta .349 dalam kemasan berani. Terserah sajalah segala penilaian itu. Banda Aceh. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Amat disesali.

Sebagai pencinta Aceh. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. Sampai hari ini. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. engkau adalah bumi pahlawan. kayu. dibuka oleh bibit. laki-laki dan perempuan. dan mungkin yang lain. Aceh. sebagai wujud dari harga diri . Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. beberapa hari pasca tsunami. bumimu mengandung kekayaan minyak. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. tembaga. dari sisi sejarah. emas. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun.

Perang Aceh berakhir pada 1912. Belanda sangat takut kepadamu. Aceh. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. Aceh. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. Aceh. Tanahmu lepas dari Belanda. Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. pada tahun 1950-an. Sebagian besar rakyatmu . karena engkau pantang dijajah. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. untuk kemudian berdamai. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. Engkau bela republik dengan darah. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. Tapi tidak bertahan lama. tapi hanya 30 tahun. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. di masa revolusi kemerdekaan. Sejak itulah engkau resmi dijajah. dengan meninggalkan korban dan dendam. engkau kembali melawan. juga dari sisi sejarah.

sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. karena engkau turut mendirikannya. tanpa ada tanda-tanda. Dunia berduka dan terluka. Indonesia meratap tanpa air mata. alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. Sekitar 200. karena sudah kering. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua.352 ingin tetap bersama Indonesia. Akibat gesekan lempeng bumi. 1 Jan. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. Tanpa dinyana. akibat kemurkaan alam. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. 4 . perang saudara belum usai. berserakan di mana-mana. Allahu ‘alam! Jogja. sekalipun telah dianiaya. Aceh.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’.

2005. biarlah berlalu. darah sudah tak tertumpah lagi. jangan diulang lagi.M. Yang berlalu. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Jakarta harus lebih arif . Tanah Rencong. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G.353 Januari 2005. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. Selamat Bumi Rencong.A. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. halaman 12. Itulah Aceh. Mari kita saling memaafkan. 131132. hlm. Allah maha tahu segala akibat perkara. Jakarta: Grafindo. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. dan alhamdulillah berhasil. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. Anton Syafriuni. dengan penyunting Hery Sucipto. Tanah Pahlawan. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. selamat Indonesia. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. dan Husni Amriyanto Putra.

seperti tersebut di atas.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Peluru masih mendesing di manamana. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. damai. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Maka adalah sebuah rahmat Allah. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. tidak terkecuali di Banda Aceh.M. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai .A. dan berhasil..

P. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Kembali ke Muhammadiyah. sementara G. Di bawah komandan Rais P. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. Nurcholish Madjid.A.. disusul oleh majelis. badan. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Segera disusun pengurus lengkap P.M. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas.N. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. Jakarta dan G. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta.A. dan lembaga. menuntut keadilan. Surjadi Sudirdja..A. Untuk ketuanya aku . Posisi M. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. Ali Yafie. Tsunami memang merupakan kiamat kecil.355 tahun 2005. karena masing-masing pihak. semula samasama keras kepala.M.P.

karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. Sunankalijaga. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. Majelis Tarjih sekalipun diprotes.P. Usul ini disetujui rapat pimpinan. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. P. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya.356 usulkan Dr. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. Dikhawatirkan berbagai .A.I.N. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. Di bawah kepemimpinan Abdullah. M. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang.

Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga.357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar . Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. juga di bumi Muslim. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. Sebab bila hal itu terjadi. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. Dari sudut pandangan ini mungkin benar.

Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. liberal. dan siapa saja. sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. Kristen. Bahkan dia bergaul kaum komunis. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Ahmad Dahlan. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. tetapi agama tidak .358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. Pendiri Muhammadiyah. atau semakin beriman. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia.

getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. Sama sekali tidak. D. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Habibie. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. Muhammadiyah. Semua teman tahu. dan Aku Dengan sub judul ini. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Keruntuhan Rezim. berkat .

360 M. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Dengan keterangan ini. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. Apa yang digulirkan M. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan . Dengan keterangan ini. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. Amien Rais. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Aku tak peduli lagi. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Aku adalah anak kampung. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. dan tetap anak kampung.

Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah.F. tetapi tak satu pun yang mujarab.F. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I. itu. I. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- .M. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya. Resep terus diberikan.M.M. Dalam keadaan bingung.F. Tidak punya dasar. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I.M. Dengan ekonomi yang compangcamping..M. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah. Presiden Soeharto gelagapan. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I.F. tawaran itu diterima. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini.F.F.M. susahnya bukan main.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh. pemerintah harus meminjam dari I. itu. Akan ke luar. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik..

Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). untuk dibantai. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. (Lih. suatu penegasan yang berani sekali. Mahathir Mohamad. . penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.M. ibid. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I. hlm. Globalisation and the New Realities. Subang Jaya: Pelanduk Publications. hlm. Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. (Lih.. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. 2202.F.M.F. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. 122). Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. 15).

karena faktor M. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Dua tokoh yang semula begitu akrab.363 Pada tanggal 21 Mei 1998. M. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. . Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Yang aku gagal memahami adalah sikap M.J. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Amien Rais bukan main sibuknya. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Dalam situasi yang sangat kritikal itu.

Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Saya rasa M. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Amien Rais. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Hubunganku dengan M.P. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. sikapnya semakin dingin terhadap M. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. peran M. Amien Rais di P. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik . kecuali hubungan baik. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi.364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing.

secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu.P. Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. termasuk dengan M. Amien Rais. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. (Kabinet Reformasi Pembangunan). Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. Habibie berhasil. hlm.7).365 dengan banyak orang. khususnya kaum elit dan para mahasiswa.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6.R. terutama dengan Eropa. 15. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: . 6.

Habibie tampaknya tidak .366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B.J. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Ini tantangan terberat bagi Habibie. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. yang ketiga.I. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi.

Nasution. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa. Seharusnya menurut saran saya. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. tak seorang pun yang meragukan. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. Ini dilema terbesar baginya. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. Menurut A. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Di sinilah terletak . posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. lugu.H. Bahwa Habibie seorang jujur.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi.

Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. dan efektif. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. punya watak negarawan. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. . Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. bijak.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya.

Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. diadakanlah rapat pleno P. pada bulan Mei itu .369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. Lukman masih bagian dari Golkar. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan.P. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. kendaraan politik Soeharto selama ini. tetapi diabaikan saja. adakalanya dengan perasaan khawatir. Untuk menentukan sikap P. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. Anggota P.P. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. Sampai jatuhnya Orba.P. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu.

saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Dengan kata lain. Setelah berdiskusi agak lama. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat.P. Aku dan Dr. sebagian besar anggota P. Watik berpendapat lain. jangan kepalang basah.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. Pada waktu itu aku benar- . Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. Kalau mandi. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini.

W. Fatwa. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P. Ramai sekali yang hadir.P. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. tetapi tidak sekuat Amien Rais.P. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. itu.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. Dalam rapat di atas P. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat.M. seperti A. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi. Jelas di sini aku juga punya naluri politik. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah.M.P. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada . juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. karena memang di situ habitat yang tepat baginya.

Yang lain juga mengikuti. untuk maksud baik atau sebaliknya. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. bukan yang lain. Pucuk dicinta ulam tiba. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. jawabanku lugu. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Entah dipengaruhi siapa. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. Biasa. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. . mantan tahanan politik ORBA. rumah tangga asli mereka. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik.372 peserta. Politik bukan duniaku. Fatwa. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah.

Muhammadiyah selain memimpin partai. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P. tidak boleh terlambat.N. Muhammadiyah? P.P. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Sampai hari ini. Ini luar biasa memang. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Ketua P. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. bertempat di kantor P.H.P.P. Rais dan pendukungnya. tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998.M.P. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil.P. Muhammadiyah Jakarta.373 Antara Juni-Agustus 1998. tetapi kuhargai seperti biasa. maka berdirilah P.W. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P. Di ujung upaya. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut . kecuali sahabatku K. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P. termasuk aku.A. bertindak cepat. Djamaluddin Amin.

tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. Namanya disebut di mana-mana. aku akan tenggelam. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Ini tidak mengherankan.. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. tingkat wilayah. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P.P. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Nasehat ini mungkin didengarnya. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini.N. Alasannya sederhana saja. Inilah sosok yang aku gantikan.374 bermain di arena politik praktis.A. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. aku semula merasa agak gamang juga. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang.

Budha.. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. Hindu. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. politisi. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama.U. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku.I.G. K. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. cendekiawan. Sutan Mansur. bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang.. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai . Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku.. dunia kampus.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang.Tanyalah tokoh-tokoh N. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. orang Minang kedua sesudah A. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah. Bukan aku. P. biarlah orang banyak yang menjawab.I. pejabat. budayawan. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. atau siapa saja.R. Tetapi harus kuakui.W. militer. warga Muhammadiyah.

Habibie.J.A. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku.A. Abdurrahman Wahid. termasuk Sutrisno Muhdam. dilikuidasi karena M.P.P. (Dewan Pertimbangan Agung). Bagiku hal ini baik saja. tanyakan langsung saja nanti.P. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya.. Orang kantor Akbar Tanjung.. 1998. menganggapnya tidak diperlukan . tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden. bukanlah urusan D.A.P.A. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.P. dan Megawati.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D.R. juga dari Muhammadiyah. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. yang lain. Kemudian pada akhir tahun 2003. Kata orang. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.A.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung. Lip menjawab: “Saya tidak tahu.P. Des. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu. D. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais.

aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. mantan anggota parlemen. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. D. politisi. Para mantan menteri.A. mantan jenderal. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. kecuali oleh B. maupun Achmad Tirtosoediro. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Itulah sebabnya barangkali . Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut. baik A.J. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan.A.A. pada tahun itu juga. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. Dari pengamatanku. dan mantan-matan petinggi lainnya. mantan sekretaris jenderal.P. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D.P. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D. Baramuli. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu.A.377 lagi.P..

P.P. umurku sudah menginjak 63 tahun. Apakah itu jenderal. secara berangsur telah menjadi teman baikku. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. sebagai Dewan Pensiunan Agung.P. agak jauh di atasku. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Bagiku apa pun kata orang.P.A.A. Semua anggota D. marsekal. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. Sewaktu aku masuk D.A. baik sipil maupun militer. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. politisi. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan.. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. . mereka terlalu baik denganku.378 ada orang yang membaca D. tokoh masyarakat. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. Ini juga meringankan P. tanpa kecuali. kiyai. Melalui Gafur.

. “Tidak.R. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur. mertua Muhdam. Itulah gaya Pak A.P.P.P. ketua P.A. Begitu menyatunya hubungan itu. Satu ketika aku bertanya: “Pak A.P. karena wafat setelah sakit beberapa lama. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali. Rasa humornya tinggi. dan sedikit menggelikan. Wakil Ketua P.A. yang terlama.R. Fachruddin. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A.R. Semoga Allah menerima semua . hanya satu-satu. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta.P.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta. Sutrisno Muhdam. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. dekat istana presiden. Aku tidak tahu.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. segar. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D. di samping A. cepat. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran.A. untuk D.R. aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D. Muhdam adalah menantu A. Muhammadiyah. penuh kharisma.

Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. cepat selamat.A. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”.380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat. pemerintah tampaknya cukup . Seluruh dunia memujinya. Karena upaya beraninya ini. biarlah publik yang menilai. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. dan semua kita pasti akan menyusul pula. Hanya soal waktu. Kepemimpinan Pak A. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia.R. biar lambat asal selamat.P. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya.. Tetapi ada catatan lanjutannya. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut.

Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Keadaan sukar sekali dikontrol. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. masyarakat menjadi liar. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Habibie memang telah melangkah terlalu . Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. termasuk Amien Rais. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Dalam menghadapi Habibie. Dalam situasi serba dilematis ini. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. semua orang tahu. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh.

Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim. Hanya sekitar 22. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Dengan kata lain. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Setelah referendum diadakan. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. langkah pemerintah cukup antisipatif. . Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia.

dan Bank Dunia.U.F. bahkan sering dipuji oleh I. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Kritik terhadapnya semakin merebak.M. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya.

akan menolak pertanggungjawaban Habibie. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M.R. Sidang M. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M.P. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. dan ternyata memang itulah yang terjadi. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Ringkas kaji. Habibie sangat tahu diri dan .P.R. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan.R. Tidak selang lama setelah sidang.P. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman.

Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. Maklumlah. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang.P. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk.385 menghormati keputusan M.P. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. politik adalah . persahabatan kami tidaklah rusak. termasuk Amien Rais. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat.. tidak peduli siang atau malam.R. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya.

P. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami.I.R. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. Disiplin ilmunya pun. mengalahkan Matori Abdul .P. di Indiana.P.D. P.P.I.P. maka mereka (P. dan Golkar.D.P.386 habitat yang sebenarnya baginya. P. dan P.) merasa sejajar dengan P. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr.I. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik.. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik.A. dan Golkar. P.. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ).A.49/51.P. Dengan membentuk Poros Tengah.. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada.P. Fuad Bawazir. dalam Sidang M. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. Intinya dari tokoh-tokoh P.S. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P. jawabannya adalah: “Jujur saja.N.P.N.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N.D.. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.K.U.K.R.S.

1984 di Situbondo. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik.U.B. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. Sekalipun N.K. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah. Sejak N. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. yang tidak mudah diatasi. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu.U. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. (Partai Kebangkitan Bangsa). sebenarnya punya naluri politik yang tinggi. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. termasuk Wahid.387 Djalil dari P.U.U. Inilah dilema N. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada . tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis.

Yusril Ihza Mahendra. baru teringat silatnya. Seperti . setelah babak belur.U. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. tetapi tetap ditolaknya. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M.U. Adi Sasono. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Dawam Rahadjo. jika Rais yang maju.” Situasinya memang rumit sekali.P. Marzuki Darusman. banyak yang lain. di antaranya Jenderal Wiranto.R. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N.-Muhammadiyah. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. Ibarat jago silat. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. Selain itu. ini aku dengar dari Rais sendiri. di akar rumput bisa gaduh. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. Mereka yang akan mengatasi. Tetapi siapa tahu pula. Hamzah Haz. Akbar Tandjung. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan.

Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. dan massa Muhammadiyah. Sekitar . Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A.U. atau Gus Dur yang akan menemuinya. Rahman Wahid ini. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. Tetapi itulah A.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. diobat oleh para kiyai. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P.P.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. Dinihari itu A. Jadi memang serba dilematis.

Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi . Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu. S. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya.R.A. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu.P.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P.R. A.P.R. Aneh bin ajaib kemudian berlaku.E.P.. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya.” Padahal Matori bukan preman setahuku. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. perlu dipimpin oleh preman.P. Muhammadiyah Jakarta. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. Azidin. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.P. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D. Di samping berbicara tentang kabinet.

Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.I. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik.R.P. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka.P. kakek Abdurahman Wahid.R. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng.391 seorang calon presiden. tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. dan masyarakat tertentu. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi.U. bapak spiritual N.B. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai .M.D. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.-P. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini.

untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia.P. Kristen. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini. Abdurahman Wahid mewakili puak N. Mereka semuanya gembira. dan Budha. Hubungan N.M. Amien Rais puak Muhammadiyah. sampai sujud syukur di gedung M.P. Teman-temanku dari pihak Katolik.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi.R. Bukan saja mereka.P. Hindu.A. Akbar puak H. Fatwa. tokoh P.I. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid.N. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. ini kongsi politik yang . yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid.M. seorang A.. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat.R.U. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat. dalam lingkup nasional. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Amien Rais.R. Lebih dari itu.U.

sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sepintas lalu. Sebelum jatuh sama sekali. Iklim politik . serumah berlain rasa. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. Tiga figur santri: Amien Rais. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. Abdurahman Wahid. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati.393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana.” Belum sampai dua tahun. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara.

dan memang keduanya adalah petarung sejati. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Deddy Julianto.. Akibatnya sangat nyata. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. Khususnya di Jawa Timur. seorang pengusaha pribumi. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan. Dalam situasi serba . masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. Tetapi alangkah sukarnya.” tetapi sudah bertarung.P. dan Dr. dan ketuanya M. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. bukan Amien Rais. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. M.P. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. Aku. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M.R. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. tidak saja di kalangan elit. Amien Rais.R.394 menjadi panas.

M.. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu. H.395 sulit ini.W. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. . dan H. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. Karena kejadian itu cukup menegangkan. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu. P.U. Fasich. 1. tertanggal 5 Februari 2001. Drs. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. 2. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. perlu kukutip di bawah ini. termasuk dengan Ketua Umumnya K. A. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. N.Sos. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan.U. Hasjim Muzadi. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah. DR. Nadjib Hamid.H.B. S.. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi. maka pernyataan P. Apt.

Ainur R.U. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. hlm. Jawa Timur. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas.M. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. yang dekat denganku terus dihubungi agar . Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. Surabaya: P. tanpa menyebut golongan mana mereka.W.396 3. yang lain. Nadjib Hamid.M. Jawa Timur terus dilakukan. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. 4. 89). Sophiaan. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik.W. (Lih. 2002. Anak-anak muda N. Kontak dengan P. Faaisol Taselan.P.

Kholil Gresik. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. Kata orang.397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan. tetapi isi tidak berubah). Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. Fatwa: …bajingan negara.M. A. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. (Ibid. hubungan N.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. Bagiku semuanya harus dimaafkan. aku . Dien Syamsuddin. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. K..U.H.U. 55. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. tetapi pasti. dengan sedikit perbaikan ejaan. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N. hlm.

. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas. 8-11 Juli 2000.. hlm. 94).R.U. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini.B. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan.M. N. Gambaran urutannya adalah sebagai . Tetapi P.” ( Ibid.P. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. P. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali.W. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban.U. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M.

Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Ahmad Watik Pratiknya (803).M. Haedar Nashir (748). aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden .W. Amin Abdullah. Asjmuni Abdurrahman (769). Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Din Syamsuddin (1048). Sukriyanto A.R. Ismail Suny (921). A. Malik Fadjar (1041). Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. M. Din Syamsuddin. A. Wakil-wakil Ketua: A. Malik Fadjar. Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. Yahya A. Bendahara: M. Mohammad Dawam Rahardjo (910). M. Muchlas Abror (788). Rosjad Sholeh. Daerah Khusus Jakarta. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. Tidak lama sesudah itu. Rosjad Sholeh (1034). M. M.R. Amin Abdullah (940). M. (706). Sukriyanto A.P. Rapat Pleno P. A.P. Muhaimin (971). periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif.399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282).

400 Abdurrahman Wahid. Amien Rais. M.P. Ketua D. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern.P. Ketua M. dan banyak yang lain. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. Inilah a. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. apalagi memberhalakannya.R. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. Analog dengan ini pula. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali.l.R. Akbar Tandjung. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan .

Oleh sebab itu dalam . Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Oleh sebab itu. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. Bangsa ini adalah milik kita semua.401 jumlahnya. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. dan untuk jangka panjang. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan.

maka Allah. agama. suku. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. tanpa melihat latar belakang sosial.402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. seperti biasa. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. Muktamar Jakarta cukup semarak. pada umumnya . dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. tetapi pers. rasulnya. dan sejarah. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama.Dan katakan: “Beramallah kamu. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi.

dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. Jawabanku biasa dan datar. A. Biar orang lain yang dipilih. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. misalnya. apalagi pertarungan antar figur. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. aku betul-betul terjungkal. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. Malik Fadjar. . Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. sesuatu yang memang tidak kusukai. ya diterima saja. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Masyarakat memang demam pertandingan. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. sekalipun tanpa tim sukses.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. Bilamana sebaliknya yang berlaku. seperti main uang.

Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi . sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini.404 Sepengetahuanku. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. Semoga begitu seterusnya. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. Dalam perkara yang satu ini. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Permainan uang seakan telah menjadi norma.P. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik.

tak seorang pun yang mempengaruhiku. Muhammadiyah. Muhammadiyah untuk periode 20002005. periode lima tahun cukup berat bagiku. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. sebab jika usia masih dipanjangkan. Dalam rapat kilat itu.P. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. Anggota yang lain setuju saja. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. mentalku harus benar-benar disiapkan.405 menetapkanku sebagai ketua. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. Dengan kenyataan ini.P. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam . Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda.

Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. ejaan disesuaikan).P. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. namun tidak bisa didikte oleh MAR. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. aku terlihat “mengalah. if you ordered me to pull my support for MAR. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. Bravo. I would have listened gladly. Jadi. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap.406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. . Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.24. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun.

bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. ejaan disesuaikan). asal .30. Aku mau berdamai dengan siapa saja. bika tidak akan masak. aku kadang-kadang merasa seperti bika. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah. di bawah panas di atas panas.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Bagiku sendiri.407 bantulah dia sebisanya. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. Dalam suasana yang tidak normal itu. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. Tetapi jika tidak demikian.

Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. Muhammadiyah.408 dilakukan dengan tulus dan autentik. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. Dan bertaqwalah kepada Allah. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku .P. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia.

24 Januari 2002. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. menggunting dalam lipatan”. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah.409 kepada masalah kepemimpinan. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar. Apa yang . Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. Bali. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan.

sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan.P. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. lalu meninggalkan Bali. yang mengundang Mega. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. Rapat Pleno P. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Dan undangan itu dikabulkannya. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. dan aku mendukung. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir.P. Kami anggota P. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang . Yang benar bukan begitu.P. tetapi sia-sia belaka. M. P. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural.

Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006.15). Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. jam 17. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat .” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. P.P. Dr. bukan kemauan seseorang. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului.

P.P. Kearifan dalam bersikap sering pupus . aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi.412 jelas. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. ganas. kata orang. aku pun dari Muhammadiyah. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. pimpinan M. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. Aku melihat permainan politik itu kejam.R. Kekuasaan itu. Amien Rais dari Muhammadiyah.R. Dalam perseteruan ini. Amien Rais setelah M. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden. memang dapat membutakan hati manusia. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis.

413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. asing atau domestik. sekalipun lelah. menteri. Keduanya cukup profesional. dan banyak yang . Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. Tamu-tamu berdatangan ke P. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. sebab merekalah yang mengatur agendaku. jenderal.P. budayawan/seniman. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. pengusaha. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. mantan menteri. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Tidak saja dari mereka. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. siang dan malam. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. mobilitasku memang meningkat drastis. Muhammadiyah Jakarta.P. tidak ada urusan yang tidak beres. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali.

Ajib Rosidi. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Taufiq Ismail. Din Syamsuddin.H. mungkin karena ada gelombang yang sama. Tarub. Abdurrahman Wahid. Todung Mulia Lubis. Nurcholish Madjid. Sri-Edi Swasono. Franz Magnis Suseno. Habibie. Megawati.414 lain. Dengan kata lain.P.S. Sulaiman Abdul Manan. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. Muhammadiyah dan sesudahnya. Achmad Tirtosudiro. M. Romo Benny. Ahmad Hasyim .A. Fuad Bawazir. Denny J. M. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. H. Dillon. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. A. Adnan Buyung Nasution. Biku Pannyavaro. Kaban. Anas Urbaningrum. Ramadhan K.. Taufik Abdullah. Fuad Amsyari. Salim Said. Jusuf Kalla. Pdt.J. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Amien Rais. Josef Handojo. Weinata Sairin. Bambang Sudibyo. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik.. Hidayat Nur Wahid.S. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. M. M.A. Dawam Rahardjo. Hatta Rajasa. Gewanggoe. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Gunawan Mohamad. Muchlas Abror. Susilo Bambang Yudhoyono.

Herman Darnel Ibrahim. Sofyan Wanandi. Rizal Sukma. Zamroni. Yunahar Ilyas. Sulasikin Murpratomo. Albert Hasibuan. Mas’udi. Rusdi Latif. Suyanto.M. Rosjad Sholeh.M. Muhammad Muqoddas. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Salahuddin Wahid. Malik Fadjar. Siswono Yudo Husodo. Muhammad Najib. Jacob. Dasron Hamid. Achmad Bagdja. Bambang Widjojanto. Rosihan Anwar. T. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. A. Umar Wahid. Deddy Julianto. Fatwa. Haedar Nashir. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. A. Jusuf Wanandi. Kuntowijoyo. M. Sudhamek AWS. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Masdar F. Fasli Djalal. A. Handojo S. Sutrisno Bachir. A. Sjafri Sairin. Syamsir Siregar. Matori Abdul Djalil. Hendropriyono. dan puluhan yang lain. Watik Pratiknya. Amin Abdullah. Pertukaran pikiran . Muljadi. Hamid Basyaib. Jeffrie Geovanie. M. Jakob Utama. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Mustofa Bisri. A. Gafur Chalik.415 Muzadi.

untuk menyebut hanya berapa nama. aku sudah bertemu dan berbincang. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. aku dan dia bersimpang jalan.416 dengan berbagai kalangan itu. Boyce (Amerika). Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Edward Lee (Singapura). Lu Shumin (Cina). aku sungguh banyak belajar. Richard Gozney (Inggris). pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. Dengan duta besar Ralph L. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai . Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. aku belum punya bukti. Dengan Boyce malah sering.

maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. seorang Yahudi. a. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. Toffler. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. dan ini sangat Qur’ani.l. tetapi . Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan.417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. Ya. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua.

Fachruddin cukup . Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Allah maha pemurah. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan.R. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. itu dipercaya banyak pihak. Bantul. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu.418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. Entah apa alasan dan daya pikatnya. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua.P. Kabarnya konon para Ketua P. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Menariknya. tetapi belum cukup. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. termasuk dengan beberapa pengusaha. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Pak A.

pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. 500. kepercayaanku . besar-besar lagi. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. Menurut keterangan Rektor U. Hasilnya memang di luar dugaan.000.M. surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara).419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. sekalipun sudah saling mengenal nama.P. dana itu telah turun dengan mudah. seperti yang kulakukan juga. Ada yang datang langsung ke P. Tidak perlu menunggu lama. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. Pada waktu itu kami belum akrab. Donatur yang lain berdatangan satu persatu. Melihat kenyataan ini. tanpa meminta kuitansi. Dasron Hamid (ketika itu). Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. sebuah angka yang cukup besar kala itu.000. Jumlahnya Rp. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto.Y. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu.R. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar.

Fuad Bawazir. aku pun bisa. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. dan masih ada yang lain. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim.J. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). Kaban. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs.M. Hendropriyono. Habibie. H. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Semoga aku pandai menjaga amanah. Jenderal A. Dalam upaya pencarian dana ini. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. M. sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Jenderal Muchdi. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P.P. tidak saja untuk muktamar. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Dasron Hamid sungguh besar. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. Herianto).S.420 kepada diri sendiri semakin kuat. Al Hilal Hamdi. Ternyata. Hatta Rajasa. Abdurrahman Wahid. .

Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. 500. . Tetapi untunglah. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu.P. datar.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. Maka tugasku dan temanteman P. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%. 50. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya.M. reaksinya sangat biasa. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. tidak menjadi kenyataan. Tidak sekali cara ini kualami. Dana datang tanpa diduga.I. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. Tanpa uluran tangan mereka.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. P.K. D. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku.000.W. ternyata kemudian kempis. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus.000 dengan pecahan Rp.

Cik Di Tiro No. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. dia pusing juga. Jogja.P. Hampir Rp. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. 23.000.P. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. menristek ketika itu. Oleh sebab . Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Masih ada yang lain. kuajak meninjaunya. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. juga dibantu Rajasa. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. tentu sambil “merogoh” kantongnya. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P.422 tetapi jika tak punya. Muhammadiyah. 400. Itu pun dikabulkannya.000. yang baru di Jl. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Coba kalau isteri mata duitan.

Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Sekiranya aku menjadi politikus. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia.P. suasana semacam ini belum lagi tercipta.. seperti telah disinggung sebelumnya. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P. Muslim dan nonMuslim. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia.423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan.75. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. di akhir masa jabatanku di P.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. . Salah seorang sahabatku Sudhamek.P.000.

Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua.424 E.P. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. Muhammadiyah. Di Era Orba. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P.P. Sebagai Ketua P. sebagaimana telah kusinggung . Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat.P. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa.

Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. termasuk sejarah Muhammadiyah. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan.P.P. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. malang yang tak dapat ditolak.P.N. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati.A. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Suasana inilah yang kemudian . Muhammadiyah periode 1995-2000.425 sebelumnya. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P. seorang alim yang tidak punya naluri politik. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. untuk memimpin P. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. tetapi Ahmad Azhar Basjir. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Mujur yang tak dapat diraih. Namanya sedang jadi buah bibir publik.

P.M. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.D. Hampir semua wilayah telah kudatangi. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. Keinginan warga. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. tetapi tidak mungkin ditandangi.M. Sekitar 400 jumlah P. maka periodeku menjadi tujuh tahun. yaitu Gorontalo. tetapi beberapa P. bahkan ranting pernah pula didatangi. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. apalagi seumurku. kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. tidak saja dengan wilayah. Satu dua cabang. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . dan Sulawesi Barat Daya. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya. Bangka-Belitung. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. jika mungkin. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005.D.

Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. tidak lebih dan tidak kurang. secara kuantitatif. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. . Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar.427 gerakan sosial lain di Indonesia. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Suasana semacam ini memang memprihatinkan. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif.

Abduh Hisyam. Hilman Latief. baik untuk pendidikan. Kuni Khoirun Nisa’. Zakiyuddin Baydhawi. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Abd. A. Ahmad Fuad Fanani. Saleh Partaonan Daulay. . Andar Nubowo. Zuly Qodir. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Promono U. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Muslim Abdurrahman. Menurut Fuad Fanani. Asep Purnama Bahtiar. Norma Permata. seorang kiyai-antropolog. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Sirry. di antaranya Ahmad Najib Burhani. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. kesehatan. Hery Sucipto. M. Thantowi. M. Rohim Ghazali. Mun’im A. Sebagian dekat dengan Dr. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Sukidi Mulyadi.428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. Pradana Boy ZTF. Hilaly Basya.

kita belum bisa mengatakan. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. Ada contoh . Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. kadang-kadang bertubi-tubi. bergabung dengan yang lain. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan.429 Ilham Mundzir. Fajar Riza Ul Haq. sekuatkuatnya secara kritikal. padalah niat semula adalah untuk beramal. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. Nur Hidayah.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. Budi Asyhari Arman. Rahayu Arman. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Berbagai masalah pasti muncul. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain.

Kekuatan . seperti telah kukatakan. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. jangan dibiarkan membusuk.P. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. hal serupa terjadi. itu bukan hal baru. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. di tingkat P. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. bukan karena yang lain. pun. kecuali kembali kepada ruh agama. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan. Jawabanku adalah: “Jangan.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. tidak saja di tingkat bawah. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. karena alasan tertentu. Keterikatan kita bukan dengan manusia.P.

berada di New York dengan sekjennya Dr. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. Yordania. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. Vendley. Karena masyarakat terus bergerak.S.R. U. NY 10017. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah. Sekalipun tidak sempat aktif benar. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.P. adalah: 777 United Nations Plaza. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. tetapi aku . tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. setelah pertemuan Amman.C.C. Kantor pusat W. seorang Katolik yang taat.R.A. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330.P. Alamat kantor pusat W.U.R. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W.P.C. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. William F. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif. kritikal. New York. hampir satu abad yang lalu.

Uskup Agung Semarang.16 Rasanya Dr. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. op. 555. Abd. terbuka. Dalam pergaulan lintas iman. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. seorang sahabatku Dr. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. Yang jelas. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat.cit. I.. hlm. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. inspiratif. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. Suharyo. Rupanya 16 Lih. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. .

. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. Ramadhan K. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. di atas 60 tahun. wartawan.J. Kusumo.J.. Firous. .. Rooseno. Tatiek Maliyati W. A. Slamet Abdul Syukur.S.S. Ahmad Syafii Maarif. dan para penulis terkenal. aku dimasukkan menjadi anggota A. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman.M. Dr. Gunawan Mohamad. Sardono W. Dini.H. Pada saat Prof. Nh. Rendra. Endo Suanda. Anggota A. Ajib Rosidi.433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. atas dorongan seniman W. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas. Kami memilih Prof. Rata-rata usia anggota A. Rendra. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar.D.J. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. Toeti Heraty N. Misbach Yusa Biran. cendekiawan. Sardono W. Saini K. Taufik Abdullah. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu.

J. Dengan belajar ini. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya. . Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan.J. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar.434 Kusumo. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii.

J. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii….J. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. akan menjadi berkah pada umat. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”.435 Kenggotaanku dalam A. ungkapnya. dan pribadi pengarangnya. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Tapi sebaliknya. tangan. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. ketika kita membaca . jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta.J. Anggota A. di Gedung Graha Bhakti Budaya. pena. 22 Nopember 2005 lalu. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. Kaum intelektual. TIM. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan.

2006. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. aku sering dipanggil buya. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. untuk bisa jujur. pantangannya jangan berdusta. hlm. 3. [Endo Suanda]. Kejujuran di situ terasa. 17 . “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. No. sadar ataupun tidak. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. Ya. 16:23:58. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. ejaan disesuaikan). Jadi.436 suatu karya sastra. Salam”. memang. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. 77/VIII/2006. sangat menentukan. Karena berasal dari ranah Minang. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya.(SMS tanggal 15 Feb. melainkan titik-titik yang merentang panjang.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja.

R. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. wibawanya merosot ke titik nol. Adalah Nursam. setelah para buya masuk politik. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini.K. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik.S. MASA DEPAN INDONESIA A. . menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut.R. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku. integritasnya sebagai buya sering berantakan. VIII.437 bu dan ya. akan terbaca buaya. S.K. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang..

290. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih.U. H. aku. Muhammadiyah dan N. 18 . dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. Pemberantasan Korupsi.. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. op.S. Gemanya luar biasa.S.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. Tetapi dengan deklarasi di atas. Dillon. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. Menurut catatan Dillon. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. H.cit.U. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan. belum tidur benar. “Syafii Maarif.. hlm. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.U.

ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. Sebaliknya jika gagal. sebagai orang dalam. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. katanya. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita.U. Saya.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. mungkin masih ada masa depan. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. N. Jika berhasil.

Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. Sebagai gerakan penyadaran.U. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar.U. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. ini. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. bukan gerakan eksekutor. . telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban.440 langkah kontroversial itu. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN.

Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras. masih belum terlalu fokus. tetapi menurut para pengamat.441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. Diharapkan dengan gerakan moral di atas. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. bersama kekuatan lintas agama. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas.U. .U. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan.

442 Tentang pencalonan K.K. surat keterangan dari dokter.. di antaranya Rizaluddin. M.R. Namun setelah dua seleksi berjalan. Hoc. kemudian ditegaskan lagi dalam U.K. Dikatakan bahwa pelanggaran H. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini.Ag. Ad. ini merupakan pelaksanaan TAP M.K. a. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil.A.R.U...R. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi.P. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H. Dr.M.l. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. Adanya K. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005.A. akan ditangani K. No. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota.R. No.M. 26/2000 pasal 43. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada.Si.K. Anhar Gonggong. ada beberapa syarat yang harus ada. Dr. dapat kujelaskan sebagai berikut. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof.R. Deliar Noer. Melihat . VI/2000 tentang Persatuan Nasional.. Dr. S. Dr. Natan Setiabudi. Asvi Warman Adam.

Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya.443 gelagat semacam ini.K.R. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan.R. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. dan mereka saling memaafkan.K. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. Karena itu. Bukankah K. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Di mata mereka K. aku akan menjadi kecil. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap . kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. Menurut Rizaluddin. kata Rizaluddin.

seorang sahabatku. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. Dr. Dalam hati kecilku. Natan Setiabudi. Menurut sahabat ini. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu.I. Agar masalah ini tidak terus . mantan Ketua Umum P. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. sekalipun sekiranya aku masuk. sekalipun dahulunya mereka. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. Umumnya karena perbedaan ideologi politik.G. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). atau nenek mereka telah saling membinasakan. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. jika aku diterima masuk bersama dengannya. orang tua.

Tidaklah elok bagi semua.K. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju. bersedia sementara P.K.K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. dalam Muktamar Malang. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. cukuplah menjadi penasehat. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P.I.P. dan yang sebangsa itu. . Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda. pelindung.P. Muhammadiyah. Orang seperti aku. seandainya aku diterima sebagai anggota K. dan punya waktu yang lebih banyak.P. K.. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D.R.445 mengambang.R.R. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P. jika masih diperlukan. energetik. Nah. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. Muhammadiyah ditinggalkannya. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua.

Kita satu.I dan sisa-sisa pendukungnya.R. entah mengapa). kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih. aku tentu dengan senang hati akan memberikannya. tidak ada perbedaan di antara kita. komisi ini belum juga diumumkan.S. namanama anggota K. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini.R. (Lembaga Swadaya Masyarakat). Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara.K. 2006 pada saat bagian digarap.K. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.K.K. (sampai tanggal 23 Peb. Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing.M. Komitmen kebangsaan dinilai sudah .446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P.R. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya.

S. Masalah B. M. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002.P.E. sebuah bank swasta yang diakusisi. di dalam diri sendiri ada masalah B.P. Aku yang tidak paham soal bank. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. Muhammadiyah di bawah komandan Prof. maka kasus B.I. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi.I. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini.P.P. Dawam Rahardjo.P. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku.I. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan.P. selama lebih tiga tahun.P.447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P. Teman-teman Majelis Ekonomi P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P. B. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu .I.

Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y..I. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. dan M.I. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). S. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. (waktu itu) Saefuddin Hasan. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. Thohari.A. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu.I. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. termasuk di dalamnya perbankan. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah.P. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini.I.448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan.P. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus.P. M. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.E. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.N. itu tidak benar. . Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P.

I. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda. tetapi kutolak dengan sopan. Muhammadiyah itu bahlul. Jadi ini adalah saham fiktif.P.P. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu..449 Tidak ada motif macam-macam. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. yaitu aku sendiri. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. Suatu hari melalui Hajri. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah. Sekiranya kuterima. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. kecuali kebaikan.P. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. Dalam sebuah rapat P.P.. Membaca . Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal. Ketua P. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. orang kepercayaan Lulu. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan.P. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P.

semakin memburuk dari hari ke hari. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu.450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. Karena kondisi B. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak.. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah. melepaskan sahamnya di B. seperti tersebut di atas.P. tetapi alangkah sulitnya. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B.P.P. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan .P. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman.I..P. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui.I.I.I. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati.P.

aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B.J.K. ini. aku memang tidak bisa lepas tangan. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005.J.) dalam upaya mencari jalan ke luar. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.I. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku.451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. Semua permintaan Hajri kujalankan.I. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula.J. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya.I.J.K.P. Setelah terlihat titik-titik terang. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B.K.P.K. sekalipun masih ada ganjalan hukum. kalau ada masalah B. Kalau aku melakukan refleksi tentang B. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku.P. Jawaban langsung dari M. aku kirim SMS kepada M. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru.P.J.I. benarlah ucapan M. karena seringnya pertemuan itu.P. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank.K. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: .

R. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. anak Kuantan. B.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). Pada masa yang akan datang. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. Toni.M. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. Jakarta: PSAP. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. 2004. maka tunggu sajalah saat kehancurannya.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. . dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing.

guru besar Universitas Negeri Ohio. Athens. dan berdarah Minang. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. atau pulau lain. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. untuk membubuhi kata pengantar. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio. Jawa. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. R. William Liddle. Columbus. sementara Rizal di U.453 Riau. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. (Universitas Indonesia). Namun. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Ph.I. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat . Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’.. Kini. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Amerika Serikat.D.” Di ujung kata pengantarnya. apakah dari Sumatra. tentu tidak boleh diremehkan.

pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. hlm. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. sahabat. baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Muhammad Najib. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. Natan Setiabudi. Dillon. bertempat di Hotel Aryaduta.S. Jakob Utama. Rendra. Taufiq Ismail. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . Salahuddin Wahid. Din Syamsuddin. Akbar Tandjung. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. XX). Rosihan Anwar. M. Douglas Rumage. Rizal Sukma. Syafii Maarif. Jakarta. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. terutama dalam bidang ilmu. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. W. pasti akan menyokong pesan ini (lih.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. Tamu yang hadir cukup banyak. Deddy Julianto. bagiku. Wiranto. H.S. Jeffrie Geovannie.

Jakarta: Maarif Institute. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. melampaui usia nabi. 2005. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. yaitu Abd. Jakarta: Maarif Institute. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). sebagian cukup panjang. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya).455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. 2005. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. . termasuk dari penulis asing. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada.

Jakob Utama. Herman Darnel Ibrahim. Jeffrie Geovanie. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto.S. Sutrisno Bachir.S. Hajriyanto Y. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Akbar Tandjung. Dasron Hamid. 2005. Natan Setiabudi. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini.. Fadilah Supari. Sjafri Sairin. A. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. .456 tebal 267 halaman dengan indeks. Thohari. Husni Amriyanto Putra. Deddy Julianto. Malik Fadjar. Deddy Julianto dan temantemannya. Sudhamek. Ada dari pengusaha Handojo S. Syamsir Siregar.I. Muljadi. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Jakarta: Grafindo. Salahuddin Wahid. Hatta Rajasa. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. M. A. M. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). tebal 317 dengan indeks. Kardinal Julius Darmaatmadja. Suyanto. Dillon. Universitas Negeri Yogyakarta. Hasyim Muzadi. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Hidayat Nur Wahid. H. Anton Syafriuni. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. Bambang Sudibyo. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Rizal Sukma.

tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. 700. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A.P.457 dan banyak dermawan yang lain. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. Muhammadiyah. Tidak kurang dari Rp. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. . Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute. baru ditetapkan. Karena sudah lama kupertimbangkan. Rais. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. Dana yang masuk melaluiku.P.P.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan.P. khususnya M. semua yang hadir. C. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Masih ada teman-teman P. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P.A.000. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005.

Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. dan benar-benar menjadi tenda bangsa. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. M..A. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus..M. Ismail Suny. Abdurrahim Nur.. terarah.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui. Amien Rais. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. harapanku ini menjadi kenyataan. Dr. S. anggun. M. Maka jadilah P. M. dan beradab. Prof. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan.A.H. Prof. Tetapi praktik main . Dr. dan Ahmad Syafii Maarif.P. Asjmuni Abdurrahman.L. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof. Alhamdulillah.. demi kemenangan jagonya. L. sesuatu yang tak mungkin kulakukan. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat.

.459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. 12). 12 Juli 2005. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. dan Beradab”(Republika. Anggun. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. 3-8 Juli 2005. dalam bingkai moral yang prima. Tetapi. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. hlm. berlangsumg dengan aman. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). produktif.

Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. agar keutuhan tetap terjaga. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. patut disyukuri. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. Memang. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. . dan beradab. gesekan terselubung pasti terjadi. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. Din Syamsuddin. Memang.460 Tanwir berjalan dengan mulus. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. anggun. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen.

Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. Kepada para sahabat yang tulus ini. seperti yang telah disinggung di atas. penuh warna.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. saya tidak punya kosa kata lain. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis).

“Memimpin adalah untuk melepaskan. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. para pengusaha.462 yang tidak bisa dinilai dengan benda. sekalipun belum tentu seagama. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. yang masih berharap agar terus. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. pejabat-pejabat negara. Dalam muktamar Jakarta. . Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. tahun 2000. saya mohon maaf. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh.P. Muhammadiyah.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Beberapa undangan dari luar negeri.463 Akhirnya. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. itulah aku. Bagiku. Apa yang kukatakan. dan undangan departemen luar . di mana aku memberikan makalah. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. baik di dalam mau pun di luar. baru dua yang kukabulkan. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Pasca Malang. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. saya juga mohon dimaafkan. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan.

kita tidak dapat memaksa. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. dinamis. Filipina pada bulan Maret 2006. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. kreatif. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. .464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. Karena aku sudah semakin tua.

kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. .465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing. D.T. artinya banyak air. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. Kami mengangsur perumahan K. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya.R. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. lebih 20 tahun yang lalu.T. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun.N. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya.P.

Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. belum sampai 15 tahun. bisa jadi dapur tidak berasap. Madura. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. Sumatera. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. dimulai sejak Desember 1985. 87. dan agama yang berbeda. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. Ada yang berasal dari Kalimantan. dan dari lain-lain pulau. jenis kerja. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo.670. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. . Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia.

tergantung keadaan masingmasing. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. dinas pubakala. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. alumnus Perancis. Sekitar empat tahun kami melakukan itu.D. di antara mereka ada karyawan bank. Prof. dosen negeri dan swasta. pegawai departemen pendidikan nasional. Dr. Suyanto.467 Dari jenis profesi. tentara. pertamina. dokter manusia dan dokter hewan. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. ada juga Dr. karyawan RRI. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. Tetapi setelah masjid berdiri pada . jaksa. wiraswasta. Mohtar Masoed. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. Marchaban. Beberapa pemegang Ph. keduanya tamatan Amerika. Ada Prof. Dr. ada saja rombongan yang berangkat. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Tidak pernah putus saban tahun. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. polisi.

dosen fakultas . tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah.Si. Muhammad Bachtiar. (Rukun Wilayah). Sewaktu menulis bagian ini. Ada Drs. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang.P. terbayang olehku wajah Drs..T. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). Beberapa tahun menjabat ketua R. H. pimpinan P. H. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. H. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya.G. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan.P. M.468 tahun 1989.W. Hubungannya denganku sangat dekat. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. Agak sedikit emosional. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. Djumari. sekalipun untuk tingkat R. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs.

T.. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya. pengurus R. pernah menjabat Ketua R. B.H. S. VII. Heru.K. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. H.Si.W. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid. S. Berasal dari Prembun (Kebumen).A. Kemudian Ahmad Syamlawi. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. adalah yang paling menonjol. tidak ada yang tidak selesai. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat.M. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih.. Teman ini .. maka nama Kastolani. Semua urusan di tangannya beres. Negeri Jogjakarta. mantan jaksa. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S.M. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. dan karyawan pada sebuah bank.E. Ada lagi bung Drs. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta.469 psikologi UII. 16.

Duriat Subekti. Dengan cepat dia akan memperbaikinya.T. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. S. H.Si. M. Sumenep. Ada lagi H. M. maghrib. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin.. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh.M.I.seorang sarjana teknik listrik. mantan kepala R. Kalau ada urusan pengeras suara. Eko Supriyanto.. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto.Pd.H.R. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging. Nama Ir.S. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang. tidak boleh dilupakan. Selama bulan puasa. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir.470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto. (Lembaga .. Tampak pula wajah Dr. Sekalipun baru pertama kali. juga tarawih. Irawadi Buyung. dialah ahlinya. M. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. dan ‘isya’. Tidak saja itu. Inilah sosok yang punya naluri L.

Pd. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. Dadanya lapang.Si. seorang ahli komputer. di samping khatib Jum’at.. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.471 Swadaya Masyarakat). M. karyawan perusahaan minyak itu.I. berasal dari Bengkulu. di samping ketua Y. M. Jika komputerku sedikit rewel. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain.N. Miska Amin. beberapa tahun menjadi ketua takmir. ada Drs. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. pemaaf. Mohammad Hatta. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. Berat badannya mungkin di atas 80 kg.. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Tinggal agak ke utara masjid.” Ada lagi Drs. Yang lain adalah Drs. Thohar Fuaedy.S. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). aku pernah minta tolong kepadanya. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. M. dan humoris. Namanya Hartoyo.A. H. di samping sebagian sudah kesebut di atas. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di .

Berasal dari Lirik. di samping H.472 berbagai media cetak... . hilang kala tertawa. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. tugas pokoknya adalah menimbang daging. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. M. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. sudah puluhan jika bukan ratusan. Riau Daratan.E.A. ada kalanya terlalu sibuk di luar. Dia teliti sekali. Marsono. Kadangkadang rajin ke masjid.I. Hermanlah orangnya. Namanya H. dari Manna. S. Orang tuanya berasal dari Sulit Air.Si. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Setiap ‘Idul Qurban. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. Yulian Yamit..R. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Apalagi matanya. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. Usmar Salam. Hermansyah. dari unit Syari’ah bank B. Teringat juga sosok Drs. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. M. juga dari Bengkulu. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Perawakannya tinggi semampai.

berasal dari Bojonegoro. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat .A. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Aku tidak tahu apa alasannya. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. Warsono Muhammad. Abdul Aziz dari pertamina. Berat badannya sekitar 80 kg. sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga.473 dan H. adalah wajah ikhlas. Jarang absen. M. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. Aku melihat wajah ketiga teman ini. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. Pernah dua periode menjabat dekan.. alumnus U. agar citra santrinya lebih kentara. dan Hawaii. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Rasanya pernah dikatakannya. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong.I. seperti wajah teman-teman lain.I. H.

Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. S. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian.. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto.E.Sc. Ada Drs. Dalam rangka mengurus daging korban.M. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. Teman-teman lain masih banyak. M. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid. H. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Ada pula drh.P. H. Sudiyono. mantan kepala L. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. M. berasal dari Kudus.P. dari pimpinan Bank Mandiri U. Keduanya sama-sama ekonom.G. pemilik apotik di Bantul. dosen Universitas Muhammadiyah . Siswojo. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Kecuali untuk jama’ah subuh.M.. H. Teman lain adalah Bambang Samiyo.M. Hilman Nadjib.474 ekonomi yang lain. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Jama’ah lain adalah H.Si.

adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. Idam Nawawi. khususnya untuk maghrib. asal Sumatera Selatan. begitu juga dr. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an. spesialis anak. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. Dalam kegiatan . mengajar dan belajar sesama mereka. Tidak semua mahasiswa. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. di samping sekolah mereka yang lancar.I. U.475 Yogyakarta. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. Ada lagi Suharwidjono. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab.I. dan subuh. ‘isya’. pindahan dari Kalimantan Tengah. Universitas Negeri Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah.

S. rata-rata Rp. VII perumahan Nogotirto. 6.000 per bulan.A.N.476 kepanitiaan. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan.000.000. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. 200. mereka selalu diikutsertakan. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R.T. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto.S. Sebelum dihidangkan kepada tamu. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku .N. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y.I. istilah Minang untuk jutawan. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat.I. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. 500.A. Seperti telah kukatakan. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu.000.

Biaya kuliahnya pada I. Berbagai jenis masakan dihidangkan. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. Bung Rusli adalah seorang aktivis . salah satu kelemahanku adalah suka makan. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U.K. seperti yang telah kusebut terdahulu. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban..M. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. Disertasinya telah rampung ditulis. Sebagai manusia kelahiran Minang. Setiap Hari Raya Qurban. tempatku memberi kuliah selama dua tahun. Rusli Karim. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. M.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. M. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. seorang penulis prolifik.I. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto.A. asal Palembang. biasanya setelah salat zuhur. Di antaranya Drs. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan.K. Dia wafat dalam usia yang relatif muda.P.

dinihari sudah dipanggil Allah. mantan jaksa. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. apalagi sejarah. kajian agama. karena harus bersaing dengan buku dan kertas.I. Bukan saja aku.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. Hafiz. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora.I. politik. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. seorang sarjana teknik U. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. Berbeda denganku. Muhammadiyah pun kehilangan. dan S2 di Rotterdam (Belanda). Perbedaan ini wajar . Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Dia dimakamkan di pemakaman kampung.

Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Alhamdulillah. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin. jika anak tidak tertarik untuk belajar. Tetapi aku akan naik pitam. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama.479 saja. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. sekalipun sering aku peringatkan. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu.

seperti sakit atau kematian. Sangat praktis. Kami biasa bersenda gurau. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. Di perumahan Nogotirto ini. Teman ini adalah pensiunan B. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik. bicara macammacam. ekonomi.R. Ringkas kata. terakhir bertugas di Jayapura. Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta.I. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. politik. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan.480 yang sangat tajam.. Angka pengangguran malah semakin bertambah. suasana lingkungan perumahan Nogotirto . Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini.

halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. E. Deddy Julianto. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. Di bawah kordinasi M. Novirman . Atas gagasan Prof. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006. Dr. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu.

dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. dua dari departemen perhubungan. Muaro.482 Djamarun. Padang. tetapi karena mendadak dipanggil presiden. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. staf khusus menteri pendidikan nasional. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. Lintau. Riau. Solok. Kopertis Sumatera Barat. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Sijunjung. seperti tersebut di atas. TK. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. Tamu dari Jakarta a. dirut Indofarma dan . Bandung.l. karo keuangan departemen pendidikan nasional. Jambi. dibantu oleh Drs. Hatta Rajasa akan hadir.

bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . Herman Darnel Ibrahim. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. TK dan panti. surau.M. Ir. M. karo kesra wakil presiden. salah seorang direktur PLN Pusat. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. baik berupa voucher mau pun uang kontan.. direktur IGM (Indofarma Global Medica). Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. rektor Universitas Negeri Jakarta. dan beberapa anak miskin. panti. mantan dirut BNI. Sudirman. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. Nilai keseluruhan bantuan. mantan dirut BNI. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. dua orang dari Maarif Institute. ketrampilan.483 staf. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan. masjid. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar. Seperti perhelatan besar saja. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. Tidak ketinggalan Ir.

Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. Menurut Darnel. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. Kabarnya di atas 50. jika orang tidak . Sepintas lalu.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. serta kendaraan pribadi. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. padahal penduduknya hanya 270 juta. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. baik yang disediakan dephub. PLN. yaitu 27%. sesudah oksigen. Indofarma. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. jika tidak waspada.

Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta.000 s/d Rp. seni khas daerah itu pasti. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. 200. .000 per orang. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. lambat atau cepat. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. akan punah dimakan musim. 150. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya.485 membaca informasi tentang sumbangan di atas. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu.

000. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga.000.N. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. 50. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan.L. .000 dan Rp. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. 20.000. 31 Januari 2006 untuk Republika. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. seperti telah kusebutkan di atas. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu.

maka pertemuan kali ini jauh lebih besar. IX. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di .487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. Sumpur Kudus. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. Dari seorang anak piatu di desa Calau. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah.M. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak.P.A.

mengadu ayam bersama mereka. Aku menjala. Topik perdebatan . Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Bahkan lebih dari itu. Lintau. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. memancing ikan di Batang Sumpur. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. mengadu sapi. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S.R. karena sudah terlatih sejak kecil. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Sampai setua ini.

489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. Wawasan semakin luas. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Harun Malik. Bahkan sampai aku . Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. tetapi tidak tetap. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. jika bukan semakin menguat. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. A. Wahid dan M. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta.

sungguh sangat besar. Amerika Serikat. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Peran Fazlur Rahman. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. dengan segala kritikku kepadanya. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya.

Untuk Indonesia ke depan. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas . syi’i. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. bukan milik kita. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. khawarij. bukan dari Rahman. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. dan kritikal. diterima atau ditolak. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya.491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. jujur. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi.

Pandangan Mohammad Hatta dan H. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. di . terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Dalam ungkapan lain. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi.A. tidak pernah berhenti.

Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. betapa pun kecilnya.493 samping Bahasa Indonesia. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Apakah . Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat.

” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. keluar tidak mengurangi.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata. tidaklah penting bagiku. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Masuk tidak menggenapkan. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian.

domestik atau pihak asing.D. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. Karierku sebagai Ketua P. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik. dan kultural secara nasional. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian.T. setengah berhasil. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. apalagi saling meniadakan. .P. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. sosial. Muhammadiyah. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. (Inpres Desa Tertinggal) itu. Tidak untuk saling menggusur. 1998-2005. gagal. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban. atau setengah gagal.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati.

ternyata tidak demikian. Diskusi. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. Mungkin karena terlalu lelah. dapat dikontrol sebaik-baiknya. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. dunia terasa berputar . diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang.. seminar. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu. aku masih terlihat sehat. simposium. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. alhamdulillah. sekalipun secara selektif. selera makanku belum menyusut. Sebagai pembawaan dari Minang.P. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E. jika tidak lupa. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. Selama hidup.

Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. Kepada para sahabat yang . Tetapi sudahlah. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini. demikian seterusnya tanpa putus. jangan sampai merepotkan orang lain. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. diperbaiki.E.E. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku. Muhammadiyah Jakarta. S. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. dan Zainuddin. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. Oleh sebab itu. S.497 kencang sekali.Ag. bisa jadi akan berlarut-larut.P. atau bahkan dibuang. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis.. tidak ada gading yang tak retak. tidak akan ada ujungnya. S. karyawan P. Dibaca ulang. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. dikurangi. dikurangi lagi. ada saja yang perlu ditambah.. ditambah.

498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan. Jawa no.P. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. Halmahera D/76. sejarawan. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20. dari Penerbit Ombak Jogjakarta.42 di Perum Nogotirto Elok II.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. Jl. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. 19. Muhammadiyah dan Bung Nursam. Jl. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman .

Mulai Dijodohkan. D. . . . . . . . . . . . IV . III . 156 143 108 113 B. . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . M. . . . 108 A. . . . . . . . . . . . . . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . Makkah Darat. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 92 104 B. . . . . 20 34 76 C. . . . . . .D. . Sumpur Kudus. . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. . . . . . . dan Perdagangan . . . . Bertugas di Lombok Timur . . . 1 A. . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . . . . . . . . . . . . . Lintau . . . . . . . . . . . . . .. . . . MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . . . . . . dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . . . . . . . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . . . . 92 1 . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . . . . . II . . . . . . . . . . .499 I BUMI KELAHIRAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . C. . . . . . . . . . . . . IBU-BAPAK. . . . 125 A. . . . . . . . . . . 125 B. .R. MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta .I . . . A. . . . . . . . . . . . . . . . . . B..

. . . . Perkisaran Abad. D. .K. 181 D. . . . Sebagai Ketua P. . . . . . . C. . . . .500 A. . E. . . . . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . .P. . . . . . . . . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . . . . Muhammadiyah. . . Keruntuhan Rezim. . . Harapan. . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . . . . . . . . . . . 175 A. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lulus S1. . . . . . BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. . . . .R. Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . C. . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . . . . . . dan Lahirnya Ikhwan C. . . . . . . . . . . . . . . . . . Muhammadiyah. . . . . . . . . Kembali ke Jogja. . . . . . . . . . . . . dan Kecemasanku. Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. . Habibie. . . . . Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . Kiprahku dalam Memimpin . . . . . . . . . . VII . . . . . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. . . . . 214 A. . . . . . . . . 319 A. . . . . . . dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . . . . . . . . . . . 175 B. . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 . . . 170 VI B. .

. . 330 333 339 351 355 C. . . . . . . . D. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IX . . . . . . . AKHIRNYA . . . . . . . . . . . . Syukuran Listrik . . . .501 B. . . . . . E. . . . . . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . .

502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo. udo. kakoncu. panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi . inyo. onga.

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful