1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. kita tidak tahu.11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. Secara kultural. Tetapi bahwa korban pasti ada. parewa ini belum hilang. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. orang lalu berpindah ke kawasan lain. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu.000 jiwa. Kultur . Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak. masih galau bagiku. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban.

sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. suatu on-going process. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan.12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. bukan kultur otak. santun. kata teori antropologi. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. . di sisi meningkatkan kualitas dirinya. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. rasanya cukup punya alasan. peran organisasi kemasyarakatan. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. setidak-tidaknya secara statistik. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. dan bertanggungjawab. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. maha Pencipta.

Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Maninjau. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Hamka. Dr. Pelopor utamanya adalah Dr. H. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. (Perang Dunia) II (19391945). atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani.D. Itu hanyalah urusan administrasi. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. pada tahun 1925. A.13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri.R. Sutan Mansur. Jusuf Amrullah. Yang pokok . Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. Abdulkarim Amrullah.

jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. sedangkan emas jika sudah habis. amat sulit untuk disimpulkan. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang.14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. tidak dapat diperbarui lagi. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. ya habis.l. kemudian ke Eropa. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan . Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Dari kawasan inilah a. Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas.

Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. Mengapa kukatakan mereka buta huruf.15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. Tentu mereka semua buta huruf Latin. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu.R. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh . atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. semuanya gelap bagiku. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. berupa sebuah S.

dan Mangganti. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm. terjadi pulalah pemekaran . Anak Sumpur banyak yang sombong. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Rasanya tidak ada yang kalah.R. sewaktu aku masih kecil. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Sejalan dengan pertambahan penduduk. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Sumpur Kudus ini. Umumnya dengan kaki telanjang. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Sumpur Kudus. termasuk aku.). antar anak Sumpur dan anak Calau. teman sekelas di S. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. tidak dia dan tidak aku. sekolah ini sudah muncul. antar anak Sumpur dan anak Silantai.16 pemerintah kolonial. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. Silantai. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga.

Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. dan lain-lain. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. indeks buku Dobbin hlm. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat.D. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. Ibid. Dalam soal pendidikan dasar ini. 298. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. aku pun tidak bisa menjelaskan7. Siluka. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana.D. Kumanis. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Unggan. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Satu nagari saja bisa punya lima S.17 pusat-pusat pendidikan dasar. Mangganti. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. S. Dengan perubahan positif ini. Dari sisi ini. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. . Durian Gadang.

Pada berbagai forum dan kesempatan. kota.18 kampung baru. 369 9 . asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. dengan Kabun sebagai nagari termuda. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. mekar pulalah nagari. 2005. Jakarta: Maarif Institute. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. rakyat meneroka (babat alas. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed.9 Jakarta: Maarif Institute. hlm. propinsi. memisah dengan induknya. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. Tidak Lih. 2005. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. kecamatan. 369). kabupaten. hlm. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak.). dalam Bahasa Jawa) lebih dulu.

Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. atau propinsi. . tidak pula untuk mencari posisi duniawi. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. Jika perpecahan ini yang berlaku. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan.19 dibuat-buat. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. kabupaten.

20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. persis seperti anak-anak kampung yang lain. rasanya masih perih sekali. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. juga nama kecamatan di era modern. berdenyut sampai ke otak. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. pakaiannya putih necis. Jangan main-main dengannya. tinggi sedang. Kata orang kampungku. (Tanomeh= sutan emas). Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Orangnya berkumis. hanya orang kafir yang tidak . Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Bagindo Tanomeh. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. agak langsing. ketika upacara khitan itu berlangsung. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk.

dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. Bacaanku nol. berjudul Cahaya. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. jika bukan tumpul sama sekali.21 bersunat. Bagaimana mau menggeliat. karena .R. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. Ada juga bacaan ArabMelayu. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. Di kala kecil. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. belum menggeliat. tetapi aku sudah lupa judulnya. Bacaan lain sangat langka. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. tetapi jauh dari suasana renungan. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Tranportasi perahu sangat menyenangkan. Apa yang mau direnungkan. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S.

siapa pun dia. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . persis seperti manusia. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Dari tanah kita berasal. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. Prosesnya berjalan lamban sekali. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. Maklumlah masih dalam usia S. Pulang ke asalnya.R.22 aku tokh bisa berenang. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. Dan memang tidak perlu mengelak. ke tanah kita pasti akan kembali.

kera. Oleh sebab itu para perusak hutan. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab.23 dari pepohonan. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. tupai. demi upeti. bersenda gurau. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. dan bermacam jenis makhluk bermain. Kemudian di Muaro Sijunjung. saling mendukung. tempat burung. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . Masing-masing saling memerlukan. dan mencari makan. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. kabarnya sudah hampir punah.

Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. Air sungai ini pun larut menjadi asin. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Tetapi jika . Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut.24 jauh lebih perkasa. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. oleh siapa pun. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. Tidak hanya berhenti di situ. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan.

Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro . Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Jangan main-main dengan air. Prilakunya mesti dipelajari. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. khususnya pada musim hujan. sawah dan ladang. bahkan peradaban. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban.

Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. Semuanya mengalir begitu saja. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. pertanda usia sudah semakin mendekati . sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. Selama menganggur. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. Semuanya berlalu begitu saja. Semakin lama orang berpisah dengannya. tidak ada kesan yang mendalam. Tidak urut. bertukarnya tahun.R. tidak teratur. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah.26 Sumpu ini. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. bersamaan dengan bergantinya musim. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. sewaktu masih di S. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. puitis sekali. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. ke rumah adik-adik seayahku.

yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. belum terlalu lama hilangnya. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. Zulfahmi (Emi). Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. dan sabung ayam sebagai profesinya.27 hari-hari terakhir. aku pun tidak tahu. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. Ke mana-mana seekor ayam . seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. sampai saat menulis bagian ini. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Fisik pun sudah mulai renta. B. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. penyebar Islam di kampungku. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. rampok.

dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. Sekiranya pakai taruhan. darah siapa pun. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. Kita kembali ke Tanah Bato. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. si warna merah penghisap darah. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. Aku kenal sekali dengan binatang ini. Ia menggigit dan terus menggigit. tidak peduli darah apa pun. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang .28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. asalkan tidak pakai taruhan.

mana pula yang berbau syirik. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. seperti kuburan.29 terletak di seberang Batang Sumpur. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Tidaklah bernama makan tanpa nasi. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. aku tidak lagi ke sana. Pertanyaannya . Di saat kecilku. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Bahkan lebih dari itu. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana.

Menurut cerita Zulfahmi lagi. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. untuk tujuan baik tentunya. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. . Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). serba puritan. Tetapi ada segi buruknya. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Dalam kasus semacam ini.30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. Karena dia memasuki kawasan hitam. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka.

entah yang ke berapa. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. alangkah bagus dan elok nama itu. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan.31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang. Sanusi Latief. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. karena ada . Ini pun sebenarnya tidak aneh. yang lain mungkin makam pembantunya. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. dalam mengembangkan Islam. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. dan Jafri Dt. Sjamsu Anwar. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Bandaro Lubuk Sati. M.

kemampuan juga terbatas. Kota Banjarmasin. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. Kota Sawahlunto. taratak Talao di Calau. Di antara . dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Kota Semarang.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. Umur manusia terbatas. nagari Unggan.32 sejumlah ribuan nama kota. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. jorong. sejarah nagari Tamparungo. Kota Klaten. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. sejarah terbatas. sebagaimana A. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya.J. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. desa. seperti sejarah Kota Solok. 12 jilid. nagari. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas.

ketegangan itu tidak . betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. Sekali cahaya itu padam. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. Jika kehendak hati diperturutkan. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan.

10 11 Makna ayat al-Qur’an s. dan pada perkisaran angin. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. al-Jatsiyah : 13 . al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. tanpa pilih kasih.34 begitu dirasakan. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. yang menghidupkan bumi setelah mati. setelah itu menghilang tanpa bekas. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya.

Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. subjektif. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. dan merasa serba cukup serta bangga diri.35 parah sekali. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. sempit. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. bahkan saling berlawanan. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. Dengan kata lain. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam.

Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. Maka tidaklah heran kita. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. setelah itu menghadap Allah.” meninggal dalam usia 27 tahun. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya. juga tidak akan cukup. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Allah maha tahu segala-galanya.36 bata untuk bangunan. tetapi tidak mungkin kecapaian. sekiranya mereka punya minat. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan . Atribut serba maha ini bukan milik manusia. Ditambah 1000 tahun lagi. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. bangunan peradaban. oleh otak jenius sekalipun.

Montreal. 1993-1994. Protes malaikat tidak mempan. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. al-Baqarah: 30-39 12 . selain sebagai pusat bisnis. tetapi hanya sekadar itu. reaksi malaikat dan iblis. Kanada. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. menteri agama waktu itu.).12 Kembali kepada cerita kampungku.37 segala kekuatan dan kelemahannya. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. aku sudah lama diberi tahu. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. Thaha: 115-124. lih. McGill. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. batu bersurat. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. s. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. al-A’raf: 11-25. sebagai dosen tamu. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. al-Qur’an s. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu.

Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. kampungku tetap terpencil. . sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. yaitu bendi. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. kuda tunggang. pedati. perahu. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai. dan kuda beban. kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. daerah lain kurang lebih sama kondisinya.

ranah tidak mungkin berkembang. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. Yang aku heran. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. Bahkan P. Tanpa rantau. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung.D.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. Diperbaiki berulang kali. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Sekali terbuka.A. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. termasuk heran terhadap diri sendiri. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar .

40 30%. Kata orang. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. dan terakhir soklat. Hasil-hasil alam seperti karet. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. gambir. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Mengenang ini semua. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Sebagai seorang peminat sejarah. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . 500 per kg. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. apalagi untuk pembangunan. sama dengan ongkos PadangJakarta.

menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. kebudayaan. Pada usiaku menjelang malam. politik. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. aku juga seorang kolumnis. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian.41 dan global: agama. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. Satu saat. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. dan dunia Muslim pada umumnya. pemikiran. objektif. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. Bukan untuk apa-apa. entah kapan. tetapi yang tetap . khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti.

sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. berkedudukan di Sumpur Kudus. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya.42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. sekarang karena pemekaran wilayah. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam). bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. tokoh Paderi. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . yaitu Rajo Ibadat.

Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. sedangkan dua puteranya terbunuh. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin.cit.. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. Tidak mustahil memang. sebuah pekerjaan yang berat sekali.43 senjata. banyak yang melarat. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. 136-137 . op. berpusat di Lintau. atau puti bagi perempuan. hlm. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat.

asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. apalagi belum terlalu jauh. jika perlu sampai ke pitala bumi. Tugasnya menggali dan menggali. pelacakan itu memang diperlukan. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. Sebelum itu tidak .44 Pagaruyung. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Yang jauh pun dikaji orang. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. itulah profesi kaum arkeolog. jika bukan sebuah penyimpangan.

tertinggal. gelap (bila malam). miskin. tanpa ikatan nasional sama sekali. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. Ir.L. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah.N. Lengang. Herman Darnel Ibrahim. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. ternyata ada juga segi positifnya. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. yang ada Hindia Belanda. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20.45 ada Indonesia. direktur produksi dan transmisi P. disambut dengan tari gelombang segala. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang .

I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Semoga rakyatnya patuh dan . Dari sisi inilah barangkali P..N. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu.L. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. mungkin malah rugi. Sejak cahaya itu masuk.L.N. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan.R. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. C.46 bercorak Minang.D. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik.

Sehari sebelum itu. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Solok Selatan. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P.I. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan.47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. yaitu tanggal 28 Januari. Bagaimana keadaan .R. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Dengan listrik ini.D. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia.

tidak ada yang keras atau lembut.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. Menurut cacatan kakak sulungku. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. di dalam remuk. tetapi bukan main ganasnya. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. akan kututurkan pada saatnya. aku lahir pada hari Sabtu. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa.48 kampung ini. almarhumah Rahima. atau mendung. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . (Sekolah Rakyat). jika ingatanku tidak keliru. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. “di luar tampak rata dan licin. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. kupanggil kaktuo Hima. panas. Asai makhluk kecil dan lembut. dan di lokasi mana seseorang berada. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. hujan.R.” kata peribahasa Melayu. 31 Mei 1935. “Bak kayu dimakan bubuk. Bagiku hari itu sama saja.

Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. tersembunyi kekuatan dahsyat. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. dan seperti tak berguna. betapa pun terlihat lemah. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. lambat tetapi pasti. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . kayu dibuatnya tak berkutik. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. kecuali kayu besi. kecil. tidak pernah sia-sia. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. Dalam serba kelemahannya itu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. jati. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah.49 merugikan.

perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. Namun bagi diriku. Mana yang benar di antara dua catatan itu. . karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. masalahnya tentu menjadi lain. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. tidak bisa dikejar lagi. lahir dengan bantuan dukun beranak. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. tetapi semuanya sudah berlalu. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. Kalau ada bedanya. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Pasti semua anak. termasuk aku. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung.

Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. sementara ibuku Fathiyah. aku menggunakan tanggal 31 Mei. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. sebab jika tidak. yaitu 68 tahun 92 hari. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. . karena itu yang lebih dulu kuketahui. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. Mungkin saja demikian. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. Dalam catatan ayahku itu. batang usiaku sudah berangkat jauh. mana mungkin ayahku mau mengawininya. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. tetapi aku tidak mengenal wajahnya.

Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. Sudah merantau ke mana-mana. tetapi memang itulah aku. bini saja harus dicarikan. terpaut lima tahun usia keduanya. saudagar gambir. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. Aku tidak mencari jodoh sendiri. seperti yang berlaku pada masa modern. aku tidaklah tergolong modern. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. Dari sisi ini. tetapi dicarikan pihak keluarga. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. bahkan kuno. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama .52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung.

Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. Kata-kata om. onga. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. dan uni. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. uda.. aku pun tidak tahu. Ada yang memanggilnya kaktuo. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. Jarang yang memanggil suaminya uda. Memang belakangan ini. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. udo.53 ibu. aku tidak bisa mengatakannya. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. Apakah mereka selalu akur saja.v. t. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. kakoncu. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. tante. sebab berkat kemajuan komunikasi dan .

kakudo. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. bertante-tante. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406).54 informasi. Jika semuanya sudah beruda-uda. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. kakonga. dan kakoncu. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. mak oncu. Bahkan tidak jarang . Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. ber-omom. di mana panggilan kaktuo. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa.

Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . Bahwa ayahku cerdas. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. Untuk ibuku. semua orang kampung mengakui. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. Kembali kepada lingkungan ayahibuku. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari.55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. Orang yang menemui ayahku. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu.

Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. lahir tahun 1939. tetapi . Alangkah sedihnya. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. Karena ibuku wafat masih muda. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. Sepengetahuanku. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. sebelum Saiful Wahid. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. adik sepupuku. bertani dan menyadap karet. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. alangkah pilunya.

tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di . sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak.57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting.M.S.U. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya. pendidikan.. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. dan kemanusiaan. Seorang lagi. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. Aku bersyukur di hari tuaku. semoga telah mengenai sasarannya. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. cucu kakakku Nursiah. tidak saja untuk kampungku. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial.

seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. bukan kewajiban orang lain. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah.P. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. Tetapi sudahlah. betul. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. Bahwa mereka umumnya miskin. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV . dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya.

Namanya Indra Kurniawan. sementara aku. Jalannya panjang dan berliku-liku. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa.M. seperti yang bertahun-tahun kualami.59 Fakultas Hukum pada universitas itu. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. tanpa masa depan yang jelas. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau.T. sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. seperti sering kututurkan setelah dewasa. (Sekolah Teknik Menengah). Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. sekalipun modalnya dari S. Beranak pinak di situ. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. Tetapi aku tidak pernah patah .

B. tanpa . Mereka yang tabah dalam penderitaan. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I. bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. kakak beradik). demi ilmu.T. Di antara orang kecamatanku. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul. Aku bangga dengan mereka.60 harapan untuk terus belajar. juga dari suku Caniago. sukuku. umumnya berhasil menjadi sarjana. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan.

Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. 26 tahun sepeninggal ayahku. ayahku jarang sekali mengeluh. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus.61 mobilitas menaik. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. dari menyadab karet. bertukang. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. Menurut logika biasa. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. bahkan tidak jarang harus . Betapa pun berat beban yang dipikul. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. tetapi jumlahnya sangat kecil. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan.

adalah contoh yang ditinggalkannya. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. lahir batin. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. jika bukan mereka yang terdidik. demi sekolah anak.62 menggadaikan barang yang ada. dan Jambi. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. Riau. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung.

anak Rahima. Unggan. kemudian beralih karier sebagai dosen. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras.M. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. Dakwah I. Dari keluarga isteriku. . Semula sebagai Kepala Biro A.A. Imam Bonjol. (Angkatan Darat).N. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok.K.U.I. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. pada I. Tamparungo.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar.A. demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan.N.D. demi cita-cita dan mobilitas sosial.I.K. Imam Bonjol Padang. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A.A. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Namanama yang kusebut ini. adalah di antara contoh manusia tabah. Namanya Sabiruddin. dosen Fak. Mangganti. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. yaitu Mayor dr. dan Sisawah.

pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A.. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. ayah dari Tarusan. dengan ibu Sumpur Kudus. Oleh sebab itu. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa.64 Ruswandi Aswad.R. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya . orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus.D. tidak dapat ditawar. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. seperti layaknya anak kampung yang lain. tetapi belum pernah menetap di Sumpur. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Painan. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta.

Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya.65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. Nasib seseorang. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Tanpa kemauan keras untuk maju. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.U. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. tabah. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal.” Sungguh padat dan padu kalimat ini. hidup tanpa inisiatif. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal . Benarlah Pembukaan U. demi lepas dari penjajahan durjana.D. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. di samping di tangan Allah.

sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . Setelah dilepas ke gelanggang. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. baik di kota mau pun di desa. aku sering mengunjunginya. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. Aku tidak tahu mengapa begitu. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. Peluang itu tentu tidak selalu datang. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. sekalipun itu sesuatu yang halal. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. Di hari tuaku.

setelah ayahku mengawini ibuku. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana.67 menjadi asin. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. seperti yang telah kusinggung di muka. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Penyimpangan tentu selalu ada. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. Pencarian apa yang . Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. Boleh jadi. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. membangun rumah di tanah suku isterinya. Malang bagi yang tidak. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. lahir di Tepi Balai.

Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. karena memang tidak praktis. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. . Kembali ke masalah rumah.68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. bila berlaku perceraian. sungguh ruwet untuk dipertahankan. Sekarang di Minangkabau. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman.

Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. Untuk kelangsungan hidupnya. kolam ikan. beban melulu. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. Tanah adalah milik suku atau keluarga. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. Lahan sempit . jelas tidak memadai. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. dan sulit untuk bernapas lega. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. Bagiku. dunia ini akan terasa semakin sempit.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. kebun. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. dan memang harus ditinggalkan. Bergantung kepada tanah semata. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. atau pekarangan. ladang. sekalipun pada masa modern ini. Jumlah anggota bertambah terus.

tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Tanpa rantau. Berpikir terus dan terus berpikir. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. Syaratnya hanya satu. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. Ranah dan rantau saling melengkapi. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. jangan percaya kepada kegagalan. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. ranah .70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. jangan menyerah kepada rintangan.

sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. tidak mungkin netral. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. . aku jelas seorang yang berpihak. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. tidak kembali ke kampung secara permanen. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. sekalipun bukan tanpa gesekan. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Secara filosofis. Sebagian besar “merantau Cina”. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. semuanya telah mencair dan berganti. Bagiku tidak ada masalah. Dalam masalah dasar ini. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. Setelah proklamasi kemerdekaan. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

dan rasional. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. dan apa pun. Untuk merebut posisi taqwa. sultan. Mereka yang mendewakan keturunan raja. radikal. habib. menurut pemahamanku. hulubalang. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja.82 metode berpikir kritikal. Bagiku gelar-gelar sayid. dan 1001 gelar lain. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. yang mengaku keturunan nabi. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. ulama. wali. sejarah. syarifah.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. Dengan paradigma . kultur. amir. terbuka bagi seluruh orang beriman. tidak oleh yang lain. kualitas iman dan amalnya. atau bahkan keturunan nabi. atau keturunan raja. ekonomi.

karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. tempat pendidikanku yang terakhir. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. tinggi sedang. Wajahnya bersih. Kebiasaannya pakai . berkumis agak tebal. kulit agak hitam. dan bila berjalan melenggok. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago.83 semacam ini. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. bukan hanya karena keturunan. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad.

khususnya dengan ibuku. di tanah persukuan orang Melayu. Ayah dan ibuku. dalam umur yang setua ini. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini.84 kopiah sutera hitam. anak bungsumu ini . Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. ibu tiriku yang lain. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. Setelah ibu-ayahku pergi. Makamnya terdapat di Tapi Selo. dan tidak jarang aku menangis sendirian. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. beristirahatlah di sana. di tempat ibu tiriku mak Maran. sekalipun sudah menua. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. kemudian etek Lamsiah.

di alam yang lain sama sekali. Entah ayah-bundaku. Sayang aku lupa namanya. nagari tetangga Sumpurkudus. lain ayah dengan ibuku. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. Wahid. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. Semuanya sudah tiada. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. salah seorang dipanggil Ani. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. suku ayahku. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. sementara dua adik laki-lakinya yang . Beberapa tahun yang lalu. Adiknya yang lain A. Aku memanggilnya ande Ani. pamanku. aku pun tidak tahu. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. yang kata orang rupanya mirip ibuku. entah di bumi mana. Karena tidak bergaul sejak dari kecil. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah.

Mattudin Rauf. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. . Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. Yang masih hidup tinggal satu. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). dan Ahmad. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. merangkap dukun.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Bainah. Karimah. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. baik lakilaki atau pun perempuan. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. Siti Dariyah. Baili. tetapi punya dua keturunan perempuan. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Oncu Naksan amat menyayangiku. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Saidina Hasan. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. Pada saat wafatnya. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Nurbahri.

Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Mangsanya tidak hanya ikan. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk.87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. ular. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. ayam. Lebih dari itu. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Matanya tajam menembus. jumlahnya aku tidak tahu. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. tikus. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. Raadin. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. . Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. hubunganku cukup dekat. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat).

Mungkin karena ibuku wafat muda. seorang guru S. / S. Aku memanggilnya uwo.R. Pak enek Wahab hampir seumur denganku.D. M. yang pandai berbahasa Belanda. gelar Manti Besar. Oleh sebab itu. Rauf (dipanggil Badurau). dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Suami Rahima. Orang tua ayahku Abd. Nalam (alumnus Normaal School). Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. adalah . hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. dari suku Domo. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Wahab. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. sukuku sendiri.88 dan A. di samping membantu adik-adiknya. Ayahku sangat menghormati ibunya.

hubungan itu terasa biasa saja. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. Sekiranya itu aku lakukan. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). watak dan sifat-sifatnya bagaimana. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. Yang aku sedikit menyesal. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. kupanggil onga Sahih. begitu juga dengan abangku Nursahih. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. Dengan kakak-kakak perempuanku. apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. seperti telah kusinggung. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Antara Rahima . adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku.

P.-I. dan Malaysia.I. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Lombok. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta.I. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun.N. Dari kampus I.K. dan Surakarta.Y.P.K.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). Aku sudah sulit mengenal mereka semua. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan.I. Jawa. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. U. Ohio University (Athens). (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa.K.S. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. dan menetap di kota ini sampai saat tua. bertebaran di seluruh nusantara. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah . Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982.90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. khususnya Sumatera.

kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. membaca. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. Pun di mana aku akan berkubur. karena sempitnya ruangan yang tersedia. Sesaat setelah ibuku wafat. dan dokumen yang tak sempat kuatur. Banyak dokumen yang tidak berguna. Apa yang direnungkan. majalah. Bahwa aku seorang pekerja keras. semuanya itu adalah rahasia Allah.91 usai. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. Sungai ini tak pernah kering. tak seorang pun yang dapat menentukan. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. aku pun tidak tahu. mungkin banyak orang yang sudah tahu. alamiah. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. Semboyanku sederhana saja. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. kadangkadang juga tidak jelas benar. dan merenung. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Dalam kamar inilah aku menulis. sumber penghidupan para petani . jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran.

Sampai setua ini. sekalipun penduduknya serba sederhana. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. Selagi sehat . kecuali yang sakit atau pingsan.92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. pasirnya putih. dan ikannya tidak pernah jinak. semuanya serba dilebihlebihkan. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. semuanya serba dielokkan. membantunya dalam batas-batas kemampuanku.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. dan banyak yang miskin. dan ikannya jinak. tebingnya landai. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. aku juga gemar memuja kampungku. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. aku masih sering berkunjung ke kampung. Di kala kecil. Saat sering pulang. karena memang di situ duniaku. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus.

masyarakat dapat memakluminya. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. kemudian menjadi kakak iparku. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). Mereka menunggang . ande Lia. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. adalah mak Sarialam. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. Terasa teramat dalam dan tulus. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. ibunda Sanusi Latief. ande Karang. tidak lebih dari itu. mak Rasia. dan tentu mengotori lingkungan.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. seorang perempuan kaya di kampungku. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. kakak sesukuku di kampung. berasap.

dan lain-lain.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. Di Minang. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. petai. durian. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. mangga. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. Mengapa . seperti dari Tanah Datar. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. Di sana terdapat pula pasar ternak. karet. kembali hari Rabu. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. berangkat hari Senen. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. Payakumbuh. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. dan hasil hutan lainnya. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Juga pasar kera dan beruk.

Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. terutama untuk menarik delman (bendi). . matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Tetapi iman menyebutkan. seperti telor dan tebu. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. setelah ada mobil. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. dan solar. bensin. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. Kembali kepada perempuan dan kuda. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. tak seorang pun yang bisa mengatakan. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika.

Fathiyah. kebiasaan perempuan naik kuda. tetapi kebiasaan menunggang kuda. tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. dipanggil Patiah. adik ayahku. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. adik ibuku seibu. Sebelum aku pergi merantau. Di sebuah nagari yang tersuruk. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. Wahid. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. yang kemudian kawin dengan pamanku A. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan.96 Dengan budaya naik kuda.

Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. Bersama paman dan bibiku. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. aku juga membantu bekerja di sawah. sapi putih .97 pamanku. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Seingatku. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. jika pulang kampung. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. dan dididiknya. dan madrasah Muallimin. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. sekalipun hanya sampai S. Semua anaknya dirawat.. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. Kariman.D. dibesarkan. yaitu aku. karena pendidikanku sampai tuntas. Di antara 15 bersaudara. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. Ph.D. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku.P. S. ayahku tidak menambah isterinya. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. Amerika Serikat. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. (Syafril).R.M. dari Universitas Chicago (1983). Tanpa bimbinganMu ya Allah. sebagian sudah wafat. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. atau S.108 Sewaktu ibuku masih hidup. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. Demi menenggang perasaan ibuku. tetapi tidak bertahan lama. aku lebih daripada bersyukur. Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau .

Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. lalu beranak pinak di sekitar itu. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai. Aku heran. tanpa batas. Tidak berbeda dengan ayahku. terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. ni’matMu yang tanpa putus. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. Yang tidak masuk akal adalah. Sebuah tabiat yang buruk . pamanku Mattudin. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. juga ada yang berpoligami. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri.109 kecamatan.

110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. Sumpur Kudus. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro. salah seorang direktur. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P.N. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Bahkan Bung . Di usia lanjutku. Aspal sudah. mantan menteri era reformasi. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. pusat yang paling berjasa adalah Dr. kecuali dengan diesel. desa tertinggal. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. Muhammadiyah Jakarta. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi.P.L. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. Di antara pejabat P. Herman Darnel Ibrahim.

4. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. Muhammadiyah (periode 1998-2005). 3 miyar.111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. seperti .R. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. sahabat kakakku Nursahih. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005.P. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung. kemudian membengkak menjadi Rp. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol.3 milyar. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding.

tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi).R. Pada masa revolusi. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. semuanya berantakan.112 orang membawa lampu minyak tanah saja. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. semuanya tidak teratur. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. Aneh memang. maka pendidikan S. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. Seharusnya aku baru tamat pada 1948. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. sampaisampai merotasikan letak celananya. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Guru-guru pun tidak pernah lengkap.

bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. dan Kahar. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. M. Maangkat. Alangkah hinanya. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. Mattudin Rauf (adik ayahku. Rivai Dt. Muchtar Gafur. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). jam 6. tokoh Muhammadiyah dari Lintau.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Rusjid.113 anak kampung. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. A. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. wafat pada 2 Mei 2004. Makkah. Zulkifli Mahmud. juga berjasa dalam . Syamsuar.R. A. Wahid. Tari. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Rajo Malayu. Rajolelo. Sutan Bachtiar. M. Nalam (suami Rahima. Latief Dt. Rajo M. Suki Khatib Rajo. Wahid. pamanku. wafat pada 3 Jan. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik.

saling berebut pengaruh. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. permulaan puasa dan hari raya.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Mengapa demikian. ushalli. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. aku tidak tahu. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. Dari famili senenek pihak ibu. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. dan masalah kenduri orang . soal qunut subuh. seperti telah disinggung di muka. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. sebagian besar pendukung Perti. Kecuali Kahar. rakaat tarawih. sebagian pendukung Muhammadiyah.

dan Kumanis. Sudah tentu aku bangga mengikuti . hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. telah dilawan dan dimusuhi. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. Dalam perjalanan waktu. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Ya. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Nagari-nagari yang lain: Unggan. Sisawah. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini.115 mati. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. Tamparungo. Tanjung Bonai Aur. Mangganti. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. dan yang sebangsa itu. Namun sejak tahun 2000. antipati. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. tetapi kemudian diam-diam diikuti.

Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. konsep persaudaraan universal . Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. penyantunan.116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P. Muhammadiyah. dan pencerahan. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. hubungan antar tauhid dan keadilan. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. penyadaran. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. sekalipun bukan tujuan. Melalui metode dan pendekatan model ini. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah.P. lambat atau cepat.

dan prinsip egalitarian. khususnya setelah aku belajar di Chicago. Bagi sementara orang. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. prilaku hidup yang jujur. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. bersih. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. karena itulah aku. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. Betul. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku.R. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. asal tidak . di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S.

aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. tanpa bumbu masak yang anehaneh. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. jika isteriku tidak ada di rumah. karena memang aku orang desa. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali.118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. tanpa ajinomoto. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. Dalam budaya hidup mandiri ini. Jika pulang kampung. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. Bahkan lebih jauh dari itu. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. . sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Jika pulang bersama keluarga. aku sering minta diajari isteriku.

dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. Seorang tokoh Chairul Saleh. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. memang sudah sepantasnya. Kemudian pusat itu berpindah. Lintau jauh lebih maju. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. dan lokasinya pun mudah dicapai. berasal dari Lubuk Jantan. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. . dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. dan lain-lain. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. orang penting pada era Bung Karno. Jadi jika aku belajar ke sana. Rajo Adat di Buo. Rajo Alam di Pagarruyung. Tetapi dari tuturan sejarah. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain.119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. di samping pusat perdagangan emas. kopi. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan.

120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Kedua. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. berjalan kaki pun mungkin. Sjafril Tahar. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. yaitu sekitar 48 km. sekalipun tidak selalu. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. Nawadir Makkah. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Enam teman ini setahun di atasku. keduanya dari Sumpur Kudus. Pertama. dan sebaliknya. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. Jika rata-rata 5 km per jam. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Bila terpaksa. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Lintau. Ismael Rusyid. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . Sjamsu Kamar. Damhuri Gafur.

121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua. semula terlupa tidak dimasukkan. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. aku diturunkan menjadi nomor enam. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. Namun karena berasal dari desa terpencil. aku semula meraih ranking nomor lima.R. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. aku terpaksa diterima juga. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu.-ku sama sekali tidak memadai. aku . Ketiga. tetapi harus melalui ujian masuk. Tidak dapat ranking pun. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar.

demi . Pada saat-saat menjelang ujian. Dalam keadaan normal.122 gembira. tentu aku akan merasa malu. Indonesia sudah merdeka? Keempat. kecuali ujian terakhir kelas tiga. Pada ujian penghabisan. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. orang kampung bisa naik sepeda. tetapi bangganya bukan main. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Mungkin jika tidak naik kelas. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. bertempat di Bunian. apakah pada 17 Agustus 1945. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. gara-gara revolusi kemerdekaan.M. Bayangkan. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. Payakumbuh. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. atau yang sederajat. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku.A. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. Selain ujian sekolah.

123 menjaga mutu. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. di dalam hutan yang jauh sekalipun. orang kampung pernah diterkamnya. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. Adapun kampungku demikian sunyinya. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. Rancak (bagus). Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. tempatku belajar selama tiga tahun. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. . babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. Dengan cara ini. kadang-kadang di kala malam. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. sekalipun sewaktu mengganas. Akibat menghilangnya harimau ini. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. Perasaanku ketika itu.

guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. Indomadjo. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. Keenam. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. belanja . Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. aku tak mungkin mengembara begini jauh. Tanpa didikan mereka. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari.124 Kelima. Pada saat tulisan ini dibuat. Kini sebagian besar mereka telah tiada. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. Dt.

sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. berlaku perkisaran secara mendasar. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. Akhirnya dia berjaya. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. Sanusi Latief. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang).

Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. II. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. entah . demi ilmu pengetahuan. mungkin karena mengingat biaya. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. M.126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt.

berkat Sanusi Latief. Untuk selanjutnya. tetapi penting bagi pembentukan karakter. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Tanpa Sanusi Latief. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. apalagi ke tanah Jawa.127 untuk berapa lama. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. pada waktu itu belum dibayangkan. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. seperti telah kusinggung di atas. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. aku barangkali akan tetap sibuk dengan . Pokoknya melangkah dan terus melangkah. Tanpa Sanusi Latief. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh.

tibalah kami di kota tujuan. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. karena di kampung pun . Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. Coba bayangkan pada waktu itu. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Aku tidak akan ke manamana. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. Azra’i dan Suwardi.128 senapan angin. Di dek kapal kasur itu dipakainya. Di antara yang berempat itu. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. sementara aku cukup tidur di atas tikar. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. jika tak salah. membawa kasur dari kampung. dan memancing. Kami masak bersama secara bergantian. menjala. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. milik kakakku. kasur saja harus diangkut dari kampung.

sisa zaman Belanda. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. jalan ke Mangganti. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku.129 aku tidur tanpa kasur. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. kemenakan ayahku dari suku Melayu. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Sampai di Jogja. Sekiranya aku ditolak masuk. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. oleh karena itu perlu disantuni. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. sekalipun tidak kemenakan kandung. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. tentu kisah hidupku akan berbeda . Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir.

Pertama. Akibatnya aku harus menganggur. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena . karena gedung baru di Jl. Kedua. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. entah bagaimana jadinya. karena memang tidak terjadi. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. Tamansari No. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. tetapi di sini tak perlu diteruskan.130 dengan apa yang aku jalani kemudian. dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. kelas empat sudah penuh. Jadi bangku tidak tersedia untukku. Kita boleh saja berandai-andai.

dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. apalagi sesama Muhammadiyah. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. Namun aku tetap bersyukur. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. sampai saat tuaku ini. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Dalam keadaan seperti itu.131 katanya kualitas tidak sama. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. Tidak peduli berhadapan dengan siapa.

Latief.A.M. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. tetapi . Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. Ngabean (sekarang Jl.P. ayah kandung Sanusi Latief.M. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. paman kandung Azra’i.M.P. gelar yang dulu disandang oleh A. Muhammadiyah dan terus ke S. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. masuk S. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. Azra’i kini bergelar Dt. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. Muhammadiyah. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. Setelah sekian bulan belajar montir. Azra’i yang semula masuk S.132 sekolah montir di Jl. Lalu pulang ke kampung. Ahmad Dahlan). aku lulus. swasta juga tidak betah lama di sana. sekalipun dengan perasaan terhina. teori dan praktik.

133 jalan hidupnya berbeda. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. kesukaan kepada . Suka dan duka terekam dalam memori itu. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. sekitar 1 km dari Calau. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Luar biasa aku menyukainya. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. Tak terasa. meniti titian nasib masingmasing. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. sesuatu yang harus diterima apa adanya. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta.

Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Tidak jarang. dia mengajakku berdebat dalam soal politik. perbedaan itu sering mengemuka. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). juga tidak jarang dalam selera politik. cukup bergairah dalam masalah ini. . Nurkhalifah. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali. semuanya ini lumrah belaka. Bagiku. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. ibunya. Bukan saja dalam selera makan. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu.134 bakmi tetap berlanjut. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. tidak perlu dijadikan gesekan.

aku cukup ngeri. dan kami harus mendengarnya. Dengan perasaan yang serba bercampur. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. sekalipun belum tentu menarik. Melihat panorama ini. kalau tak salah. dan Ilmu Alam. memang tidak pernah sangat tinggi. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. Tidak sekadar marah. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. dan 6. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. Dengan tancapan pisau di meja. pada hari pertama aku masuk kelas. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. Ilmu Ukur. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Untunglah di . 7. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat.135 Kembali kepada masalah sekolah. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. Aljabar. aku bisa mengikuti pelajaran. 7.

tetapi tidak jadi rampung. Sampai tahun 2005. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung.P. pernah menjadi wakil ketua. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Djindar Tamimy.P. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. Tanpa tancapan pisau ini. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo.R. Tetapi A. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. juga pernah belajar di Mu’allimin. Sebab jika dia tetap mengajar. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. . Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja.. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. kemudian malah terpilih menjadi Ketua P. Bila semuanya ini kukenang kemudian. Tetapi betapa pun jua.136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P.P. Muhammadiyah barulah aku.

setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Balija Umar (Musthallah Hadits). Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. K. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Rowijan (Aljabar). Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris).H. Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Wiludjeng (Bahasa Inggris).H. Fakih (Bahasa Arab).137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Sudiro .

masih sangat muda.138 (Ilmu Alam). apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. Muhammad Thajib namanya. suka berdebat. tamatan Mekkah. . Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. Kadangkadang sangat keras. Ternyata paham agamanya kuno. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. A. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung. Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. tak peduli dengan siapa pun. dan masih banyak yang lain. Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai.

bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di . setelah tamat sekolah. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. Pak Djazarie. di sisi sifatnya yang penyabar. tetapi sopan dalam pembawaan. Bengkulu Utara. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. Aku amat berutang budi kepadanya. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. tetapi pasti yang harga murah. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. yang aku banggakan itu.W.W. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H.139 Sewaktu berdebat. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H.

Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis.M. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. sekalipun .I.K.140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. milik dan suara resmi Partai Masyumi.M. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP.M. gembiraku luar biasa. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang.P. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin.P. apa bukan hebat. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. Kalau tidak khilaf. Muhammadiyah (1998-2005).

Pada usia senja menjelang malam ini. aku sudah turut kampanye . Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. aku tetap saja menulis dan menulis. Begitulah perasaanku ketika itu. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. dalam dan luar negeri.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Mungkin bukan dari siapa-siapa. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan.

karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Tetapi pada tataran moral politik. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. B.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. Sewaktu ayahku wafat.

tetapi karena sudah ditinggal orang tua.143 masing. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. 125. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. tampaknya . madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. 175 per bulan. anak sulung dari etek Lamsiah. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. Penulis R. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. Muhammad. karena tanggungannya yang juga cukup berat. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. Djazarie. Faried Ali. Syafril Maarif. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Aku masih ingat betul. jauh dari diriku. Mawardi dan Penulis Moh. Terimakasih Muallimin.

batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. seperti umumnya orang kampungku. Semuanya berantakan. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. semuanya mengalir begitu saja. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. aku tak ingat lagi. di samping tidak ada biaya untuk itu. Mengapa batinku begitu . yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. Jika sewaktu ibuku wafat.144 seperti baju kaos. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Setiap mengingat sosok ayahku. Sekiranya itu aku lakukan. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. air mataku meluncur tak tertahankan. aku tidak paham apa makna kematian itu. tanpa payung pelindung. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. Bila peristiwa perih ini kukenang.

Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. tetapi aku juga tidak pernah dimanja. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus. Hubungan .145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Ayah. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. kecuali dalam do’a. kembali ke nagari asalnya. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. alumnus Mu’allimin Lintau. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. dan ia bersedia. namanya Bachtasar Tahar. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Di kampung aku punya seorang teman.R.R. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. B. ia harus pulang kampung.156 lain lagi. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. . Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. Mungkin tidak sampai setahun. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi.I.

Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. lalu ujian. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. Setelah setahun aku belajar. Pengetahuan .T. Tetapi setelah ditimbang-timbang. Aku lulus dengan baik. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi.A. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum.157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa.P. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.L. Bukan karena apa-apa. jurusan Sejarah Budaya pada 1964. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.I. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun.M. adik kelasku di Mu’allimin.A. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.K.

hubungan putus dengan kampung. tetapi karena ingin cepat rampung. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. ijazah aku terima juga.P. Bermacam .158 Umum.I. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I.K. serta Pengetahuan Sejarah. Bukan karena apa-apa. Jelas aku dirugikan. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. sekalipun dengan perasaan mendongkol. Jogjakarta.I. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana.K. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu.I.S. sekalipun bertele-tele. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah. 1957-1964. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. Karena pergolakan daerah.

M. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. bagian pengajaran.P.R. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. tetapi karena kuliahnya teratur. Nasai. kasir. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum.K. Maka pindahlah aku ke F.I. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. dan aku. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. jurusan Sejarah-Budaya. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. aku tidak mungkin bisa. Muchktar. Hawari.R. berasal dari Sulawesi Utara. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. mahasiswa Cokroaminoto. Jusuf.I. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Jusuf banyak menolongku dalam masalah .159 tugasku di toko ini: pelayan.

baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. Karena merugi. Untunglah selain itu. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . kami lalu jualan rokok. Korban pergolakan daerah. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. tetapi semuanya merugi. Mula-mula dagang kecil-kecilan. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. ayam dan kambing.160 presensi ini. dan lainlain bersama Pak Markum. asal Baturetno. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. pemilik warung di Baturetno. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. Namanya Murdijo. Surakarta. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. tembakau.

Pak Sujadi. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. Sekiranya aku punya ijazah negeri. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap.161 kecamatan itu. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana.T. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika.N. Sebagai guru honorer.P. kepala sekolah. Baturetno. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. tidak dapat dikatakan. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik .

Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan . Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. Tampil dengan gaya Bung Karno. Pada saat menulis catatan ini. Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Sosialisme Indonesia. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P.R. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Lenin. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. Ekonomi Terpimpin). Demokrasi Terpimpin. Undang-undang Dasar 1945.B.I. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik.162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka.

adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. Bagi Hatta. Mendengar kutipan mentereng ini. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. kata Hatta.163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Revolusi. kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. kemudian menyusullah masa pembangunan. Abdullah Sjahir. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. aku tidak menyia-nyiakannya. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . Mr. tetapi kosong itu. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas.

padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. Soekarno tokoh nasional dan dunia. Pada suatu ketika. Maka tak lama kemudian. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. sehingga dapat “mempesona” orang lain.T.164 cara yang benar. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. beberapa tahun setelah itu. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. Tetapi cara itulah yang kulakukan. Andaikan aku punya ijazah negeri. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. aku tinggal mengikutinya saja. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. Amien Rais. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. di atas. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). . dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain. entah dari sumber mana diambilnya.

D. alumnus Mu’allimin Jogja lagi. Sebagai kader Muhammadiyah.P.D. Aku percaya bahwa pengurus tentu . aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P...165 Itulah aku.P. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. Bung Amien.D.M. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku.P. komentator yang tajam. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P.M. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. aku bakal terpilih jadi Ketua P. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri. dan aku malah bangga menuturkannya kembali. dengan terkekeh itu saja.M. setidaknya majelis tingkat P. malah menambah abrabnya persahabatan kami. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P. Jika itu yang terjadi. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P.P. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. dasar anak desa.

Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P.P. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. Siapa yang takkan bangga. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. Demikianlah kalau kita berandai-andai.166 akan menyetujui saranku. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu. untuk berkunjung ke sana. Wonogiri yang memohon anggota P. Di samping dapat sekadar uang. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. sesuatu yang selalu aku banggakan. tidak akan ada ujungnya.M. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya . Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri.D. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. Tetapi sebagai selingan.

Pada tahun 1960-an itu.167 itu sekarang ini. untuk memahami satu alinea saja. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Andaikan punya akses. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. di samping Sidi Gazalba. Jika kukenang semuanya ini. tentu kamus harus dibuka. Sekalipun hanya dalam posisi G. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. Abdullah Sjahir. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka.T.T. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek.. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. aku juga mengajar .T. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif.T. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. adalah di antara penulis favoritku. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. bangga juga aku rasanya ketika itu. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno.

demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. Samasekali tidak ada .A. M.D. dan rakyat umum. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api.I.A.S. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. S. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. K.M. anak sekolah. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. pimpinan Pak Suhardi. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul).168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N.M.

adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. M. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. Sanusi Latief pernah mengajarku. dan Kanada. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. sebagai guru selingan. Dr. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan.A. Amien Rais adalah sahabat .169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Prof. Dr. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. M. Malaysia. M. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. maka alm. Amien Rais. Sanusi Latief dan Prof.

tentu sebagian besar .H. Tokh. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya.A. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku.

Dengan demikian. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. anak Sarialam-Halifah. apalagi masyarakat kampungku. suami Rahma. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. seperti telah kusinggung di depan. St. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept.R. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin.171 rakyat Indonesia. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. secara diam-diam telah . karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. IV. teman sekelasku di S. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali.) . Sumpur Kudus dan sepupu jauhku.

jika aku dan yang bersangkutan bersedia. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang. ini merupakan hiburan yang membanggakan. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. adik kandung Rahma. Tidak hanya dikenalkan.172 menghubungi etekku Bainah. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil.M. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. aku sempat termenung. Teman ini. tetapi mau dijodohkan. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. Payakumbuh. dikenalkan kepadaku melalui surat.P. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). Lifuarda (namanya sewaktu di S. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. Bagiku. Tanjung Ampalu. Bukan sebagai pedagang yang mapan . Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup.

Bulan Maret tahun 1957. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. dan besoknya aku menompang truk miliknya. seperti telah kututurkan. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. Seperti biasa. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. Bersamaku. Padang.173 seperti umumnya orang Minang. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. Alangkah geli bercampur malunya rasanya. . Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. bila kukenang ini semua belakangan. kalau mungkin sampai ke Kumanis. jika bukan kurang dari itu. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya.

Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. . lincah juga gadis ini. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Semuanya berlalu begitu saja. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. sebab aku sadar betul akan posisiku. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. Aku agak lupa. matanya tajam. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. Rahma (bintang desa) dan Rosma. apalagi usia terpaut jauh. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. rambutnya panjang terurai.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. sebentar muncul sebentar menghilang. juga tidak mungkin. Akan dilirik kakakkakaknya. adiknya. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. karena tidak ikut main. ada gadis dengan celana panjang merah. sampai di mana aku menompang truknya. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung.

tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. Senang. ragu. karena akan bertemu dengan si kecil. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. dan malu. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. malu.R. Enam tahun kemudian. datanglah surat Ismael di atas. miskin lagi. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk.R.I. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. sekalipun sudah . masih belum mendingin betul. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. karena tak punya apa-apa.175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. hanya badanku agak kurus. Tak lama kemudian.

setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Dari kejauhan. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda . dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. jika bukan ke Rimbo Kaluang. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. Truknya diberi nama Sumpur Kudus.176 sakit-sakitan karena asma. Rumahnya gagah dan kokoh. apalagi di kalangan orang kampungku. Padang.

Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. sekiranya di Padang aku punya teman. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. Sebuah risiko harus dihadang. Umpamanya. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada.177 rumah. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. agar kelihatan agak sedikit parlente. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. Dalam serba . aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. ada si kecil. mencari yang lain. mungkin kurang gizi. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. dalam keadaan apa adanya. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. pandai bertanam tebu di bibir. Kalau tak salah. tetapi tidak autentik. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. demi gensi. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. ada Rosma (juga sudah punya anak). Jika itu aku lakukan. bukanlah caraku.

pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. mantan wartawan senior Indonesia. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. pengalaman hidup. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga.178 kesederhanaan. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Teman sekelas si kecil di S.M. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. 2006 di Jakarta).P. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir . Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. bibiku Bainah. juga terbentang jarak psikologis. Herry Komar (wafat 13 Feb. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh.

Bagaimana akan siap. Sampai tahun 1963 itu. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu.A. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. tidak jauh dari Simpang Balai. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.179 semakin larut. pada suatu pagi aku dan teman-teman. termasuk Manirun. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Ia . Sumpur Kudus. kakak sepupuku dari pihak ayah. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. sekalipun tidak lapar. Sebelum berbelok ke rumahnya. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. berselisih jalan dengannya. Dalam kondisi semacam itu. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. aku belum punya pekerjaan tetap. pada 1964.

aku akan pasrah. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. agak menjauh ke tepi jalan. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Yang jelas aku menyukainya. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. Tampaknya ia sangat pemalu. rezki secara berangsur terus mengalir. bukan atas inisiatif kami berdua. baju anak sekolah. dia membuang muka ke arah lain. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur.180 baru datang dari Padang. Seingatku ia pakai baju putih. Kami tidak saling berteguran. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. langkahnya bergegas. sebagaimana yang akan kututurkan. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. yang memburu kekayaan. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. Aku ini anak .

Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. . tidak akan berganjak sedikit pun. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. aku sangat kokoh. Bagiku pada sisinya yang terdalam. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. yang berbau syirik. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. Tetapi betapa pun perihnya hati.181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Dalam perkara ini. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. Semuanya biar berjalan secara alamiah. tentu batin ini akan terluka juga.

Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. Muhammad sungsang. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Qul huwallah sungsang. Akan dirantai Allah-lah engkau. Aku memantrakan obat parang sijundai. sebab ada gelar malin dan ungkapan- . Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. Masuk sekalian tawar.

Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil.183 ungkapan bernafas Islam. Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Oleh sebab itu. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. Mudah- . aku paham benar apa makna kemiskinan. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. sebab tak terjangkau oleh kantongku. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu.

tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. tidak memperhatikan orang miskin.184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. Interaksiku . lupa lautan. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh.P. tetapi dengan segala keterbatasan. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan.

Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. Selama beberapa hari di kampung. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. Sudahlah. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. Entah bagaimana akhirnya. apakah ada akar sejarah masa lampau. lintas kultural. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. ini perkara jodoh. dan pengusaha. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. sekiranya itu menjadi kenyataan. tidak ada kelanjutannya. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. tidak jelas bagiku. Jika muncul . Muslim dan nonMuslim. birokrat. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. lintas etnis. sebab siapa tahu. para jenderal. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. Kita kembali kepada alur cerita semula. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama.

apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D. Paman. abang. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala.186 masalah. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. karena aku belum punya peta masa depan.T. juga tidak memberi saran apa-apa. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Bukankah pada masa itu. . dan sedikit sebatas propinsi. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. yaitu sembilan tahun. lugu. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. kabupaten. Aku masih gamang. dan mungkin kekanak-kanakan. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. dan famili yang lain. Mungkin karena jarak usia yang jauh.

Antri beras. antri minyak. lapar. Bung Karno sebagai P. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum .R.187 (Demokrasi Terpimpin. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. Atapatap rumah. antri sabun. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. antri garam. gedung-gedung.B. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. Dengan kalimat lain. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. sekolah. antri bensin dan antri apa lagi.

argumentatif. ikuti mereka). dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Selama periode yang panas ini. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. paling-paling seumur penciptanya. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Di antara pengeritik yang paling vokal. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. join them.188 selesai. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka.

Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. Suasana politik bangsa panas sekali.I. Aku pun heran. .I. yang mendukung D. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.K. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. P. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. kecuali Hatta dan para pengikutnya.I.189 masalah demokrasi di Indonesia.T. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar.

R. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang. juga larut dalam kompetisi manipolis ini..T.N. Di mana rasionalitas. aku tidak tahu. Ali Sastroamidjojo. terpaksa atau sukarela.C. (Ali-Roem-Idham..I. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A.). Akhirnya Bung Karno “menyerah.. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain.. mantan duta besar di Washington D. diplomat ulung.Masyumi-N. di mana akal sehat. Salah seorang tokoh P.I. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. P.I. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D.I.K.U. aku pun tidak bisa menjelaskannya. . Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian.

Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. Aku tidak bertanya . Tentu akan ada yang bertanya. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. karena tidak ada jawabannya. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. dan diharapkan tidak terulang lagi. pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun.191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. sebab Jerman yang maju itu. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. Menengok fenomena ini.

R.P.M. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh . seperti halnya P.D.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak.I. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P.R. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. seperti dia cemburu kepadaku kemudian.R. sementara awak tak punya apa-apa. temannya sewaktu belajar di S. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya.I. sekalipun mulai agak melemah. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. 1958-1963. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. inilah pertanyaannya. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. itu adalah bagian dari sikap nekatku. Bagaimana mau menikahi seseorang. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya.. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. wartawan kawakan Indonesia.

Bukankah Bung Karno dalam istilah W. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U. perlu kajian ulang. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku. Aku yang semula pro-P.R.D.R.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis.R.D.I.I.R. tetapi keterlibatannya dalam P.I.193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini..U. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. karena .S. tetapi melihat korban yang begitu banyak. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk.R. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia.

I. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek.R. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.I. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950.R.R.R.R.I. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P.D. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal.S. sekalipun mereka lapar.D. Aku yang pada masa itu pro-P. seperti baru saja kukatakan. dan pemimpinnya. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. sama sekali tidak menyebut P. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik. Sungguh berlaku yang aneh- .. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.I. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.I.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu..D.

kelas 1).R.195 aneh. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil.I. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. Di pedesaan P. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada .M. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.I.P. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu. Dia panggilku kakoncu. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S.K. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati.U.R.I. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Dia korban sengketa politik daerah-pusat. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak..R. menjatuhkan bom di desa itu.

dari suku Caniago. naluri saudagarnya “berdansa” terus. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam . Jumlah anggota P.R.I. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Dalam keadaan sulit.K. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu.R. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964.R. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut. Semuanya ini berlaku terutama karena P. bukan karena dipilih. P.196 di atas angin. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang.I. tetapi karena diangkat.I.K. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik. dan sekaligus menjadi wali nagari.I. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. kalah perang.R.I. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti.K. Bayangkan ketika itu.

Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala.197 mendampingi suaminya. sementara pak . tetapi juga di arena kehidupan yang lain. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya.A. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. B. di seberang makam. mengelola perusahaan. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. sekalipun tidak secara langsung. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. Negeri di sana. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing. Damailah di sana.M. peran mak Sarialam begitu besar. jika ingatanku tidak salah. tidak saja di dunia dagang. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan.

Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. tetapi aku sedang kepepet. saling menjajaki. Kenyataannya. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. aku merasa malu. Sampai Desember 1964. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. entah di mana. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. jangankan . Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. tidak punya pilihan lain. mungkin aku sudah lama berumah tangga.

T. Apalagi pada era D. karena masih ingin sekolah juga. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. Jodoh memang tidak dapat direncanakan.. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. Rendang ini kubawa . Jogja.199 menghidupkan orang lain. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. Sejak di Mu’allimin Lintau. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. sekalipun harus hidup menderita. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Dia beli sendiri. Dengan apa kubelikan. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. sampai tahun 1960-an itu. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari.

Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. paman. Perkara kondisi tidak seimbang. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. batinku rasanya sudah agak tenang. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. Dari pihak keluargaku. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Si kecil memang berhati . Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini.200 sampai ke Jawa. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. dan lainlain. kakak. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. Si kecil tahu betul keadaanku.

Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Dalam masalah ini. entah dari mana ia dapat . Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan.Wahid. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Untungnya.201 keras. entah apa sebabnya. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Suami etekku A. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. aku banyak belajar padanya.

Ini berbeda kabarnya dengan . memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. Ternyata itu tidak kumiliki. Bagaimana tidak akan lancar. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus.202 “ilmu”. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. Pada tingkat usia 30 tahun itu. tokoh spiritual Perti. Potong kambing segala. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku.

Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku . Kenekatanku akhirnya memetik hasil. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. si kecil. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. Masa membujangku berakhirlah sudah. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Kedua. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. sekalipun cukup membahagiakan. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. untuk seterusnya kupanggil Lip. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. Ini dapat dipahami karena dua hal. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana.203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Pertama.

khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . Beberapa hari sebelum perkawinanku. Yang hadir ramai sekali. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. sekalipun jauh dari suasana mewah. entah apa penyebabnya. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain.204 Rahima dari suku Caniago. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. Sebenarnya pihak keluarganya. termasuk abangku Nursahih.

Di akar rumput. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. tetapi yang ketika itu belum . Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. Bukan main pihak keluarga senangnya. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. yaitu Islam. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam.205 anaknya ini. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. kecuali seorang kakak iparku itu. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting.

Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana.P.P. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus.K. C. Setelah beberapa hari di kampung.K. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. seperti telah kujelaskan. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa.I.I.206 membuahkan hasil yang berarti. Sayangnya. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian. jurusan . Sekarang dari sisi agama. tahan bantingan sejarah. tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya.

K.207 sejarah Universitas Cokroaminoto. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. pendiri H. Kabar itu sebenarnya tidak betul. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar. Negeri Yogyakarta.I. Drs. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. Lafran Pane.K.I. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri.K. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.S.I.P. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis.I.M. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F.P. . yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I. tetapi hikmahnya cukup besar. anak pak Burhan.I. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan.

N. Jika aku tak salah ingat Drs.208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku.S.K.S.I. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri.P.P. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah . ketua jurusan pendidikan sejarah F.I. Yogyakarta.P.I.I. Melalui berbagai upaya itu. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. mertuaku.I.I. Wuryanto.A. Semarang dan anggota D. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini. Maka bantuan Drs.K.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm. R.K. entah apa sebabnya. M. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima.-I.R.K. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.

Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. K. abang Bakir Amir. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. Selain memperoleh ilmu dari Prof. Kahar dalam berbagai pertemuan. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof. Kahar sebagai imamnya.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. tempat alm.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta.P. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Aku . Prof. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P.). Muhammadiyah.H. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Abdul Kahar Muzakkir. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof.

dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu.M. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. Negeri Surakarta.I.P.I.G. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.A. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. Dia sendiri adalah guru P. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia.210 diajaknya menulis bersama. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi. milik seorang pedagang Sunda. masalah ibadah.P. (Kesatuan Aksi Mahasiswa . Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami.K.I.A. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak.A.

aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. usiaku sudah bergerak tua. Untuk perlengkapan tempat tidur. A. pimpinan alm. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. H. B. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana.211 Indonesia). Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar.K. dan alm. karena sudah terbiasa sejak kecil. Basuni. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman.A. Di samping sebagai korektor. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman. sementara aku sedang kuliah. Sekalipun masih mahasiswa.A.U. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Mungkin sebagian kecil hasil . miskin lagi. tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. berkeluarga. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. Mohammad Diponegoro.

sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku.H. Ekonomi morat-marit. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P.P. (Suara Muhammadiyah). bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. tentu tidak ada persoalan. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P. tokh aku tidak mungkin memilikinya. demonstrasi merebak di mana-mana. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi. khusus untuk anak yang baru lahir. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara.212 iklan terselip dalam kantongku.M.V. Beban .I. lantai II Kantor P. Untung ada beberapa koran di kantor S.K. K. masih belum ada ketika itu. Andaikan ada. aku tetap saja kuliah sambil bekerja. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. Muhammadiyah yang lama.K. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini...Dahlan 99. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. Jika aku masih sendirian. aku lupalupa ingat berapa.I. T. Kasur pun hanya punya separo. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya. Jl. Sebagai seorang yang bukan aktor.

M. Untung dia punya perhiasan. Perkembangan fisiknya berjalan lambat.213 mentalku menjadi berat. Selama di Kotagede. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Bukan main bahagianya perasaan. Masalah beras cepat teratasi. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. pagi dan kuliah sore hari. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Kalau aku apa yang mau digadaikan. 20 dari sebuah majalah di Solo. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Lip .

M. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis.. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S.I. tetapi jumlahnya tidak seberapa. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. kini telah . akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. Manifes atas desakan P. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer.K. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi.214 tidak pernah gemuk. Setelah sekian lama aku jadi korektor.K. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.. dituduh sebagai kekuatan anti Manipol. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan.I.

MUSIBAH SILIH BERGANTI A. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. V.K. Ayahnya jauh di rantau.I. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. sebab jika dibantu pula. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai.215 berubah menjadi penyambung lidah P. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah. ayahnya “diperas” lagi. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. Sangat disayangkan. Anaknya sudah diberikan. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. . Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi.

Jika kukenang sekarang. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. Coba kalau tidak. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. Amin. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. seperti telah kusebutkan di depan. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. untung ia mau membantu. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. Pada saat-saat sulit itu. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah.216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. sekalipun masih serba kurang. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. Nasib . sebuah angka yang sangat mengerikan.

I. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari.K.K. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.I. Tanpa pintu itu.I.I. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri.P. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri.S.P.I.K. I. Jika kinerjaku dinilai baik. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Yogyakarta.I. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U.K. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.P. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.217 pegawai negeri kempas-kempis. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana. M. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I. sampai . Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. baik sekali.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. dan itu sangat kami utamakan. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik.).I. dosen Sejarah Asia Tenggara. Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. khususnya Amerika Serikat. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F. sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. dan Rektor I.K. 1.S. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954). Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia . Dochak Latief.K. Sutrisno Hadi dengan materai Rp.I. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme.P.” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono.228 terlambat. bulan-bulan menjelang Iwan lahir.

Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. Drs. Kapita Selekta Sejarah Afrika. Kapita Selekta Sejarah Eropa. Untuk teman-teman seangkatan. sekalipun usia sudah 33 tahun. aku adalah lulusan pertama. Bimbingan Tesis. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar. Sasjardi.. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian .M. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Teori Sejarah. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm.G. Yang berlalu. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. Bangga juga rasanya. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila. biarlah berlalu.229 Selatan. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Manipol/Pancasila. yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara. dosen senior jurusan sejarah. tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala.

A.P. Malta. dan atau sebagai tamu undangan. mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. Pusat dari P. sebuah karier yang cukup panjang.-I. Jordan.I.I. berasal dari Curup. . periode 2004-2009.R. tenaga pengajar. Iran. Chad.N. Thailand. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005.K. (Partai Amanat Nasional). tercatat Singapura. Pakistan.Y. kemudian menjadi anggota D. Saudi Arabia. bukan? Dari kampus I. Qatar. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah. Malaysia. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965.K.K.230 ini. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F. Jerman. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat.P. Iraq. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah. Libia. India. sementara aku tak punya. atau U.N. Inggris. Belgia. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis).S.P. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada.I.

sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Sekalipun masih pinjam baju segala. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. Roma. dan Hong Kong.231 Belanda. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. Bukan saja warnanya yang telah berubah. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Aku memang agak urakan. Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. (Suara Muhammadiyah). Kanada. Selama menyiapkan tesis. Australia.M. Italia. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan.

Baru setelah belajar di Chicago.M.I.I. seperti Inggris. dan politik.I. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P..W. Arab. Pusat ketika itu. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif..M.K. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. sejarah. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S. Kartuku ditandatangani oleh alm. sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- . dan Indonesia. untuk sejarah Asia Barat. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan.S. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. aku pun pernah menjadi anggota P.M. tetapi umumnya menyangkut masalah agama. Sewaktu bekerja pada S. Bermacam topik yang kutulis.W. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah.

Mohammad Sardjan. Junan Nasution. Ny. Abu Hanifah. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. dan Prawoto Mangkusasmito.233 tokoh yang aku banggakan itu. Muhammad Isa Anshary. Prawoto Mangkusasmito. Kasman Singodimedjo. Soekapti Mangunpuspito. Mohammad Natsir. Sjafruddin Prawiranegara. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Ny. Jusuf Wibisono. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Mohammad Natsir. Burhanuddin Harahap. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Mohamad Roem. Zainal Abidin Ahmad. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. aku junjung tinggi sampai sekarang. Adapun sikap moralnya. Hafni Abu Hanifah. Amelz. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang.

akan kujelaskan pada ruang yang lain.. Sjafruddin.234 Indonesia: Natsir. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah. dan Burhanuddin.. sementara Natsir. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. Kegemaran .D. C. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik.R. Soekiman. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama.I.R.U. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. Junan Nasution. Adapun kritikku kepada partai ini.

Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca.A. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. Salim di Cornell tahun 1953. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. sekalipun batin sering goncang. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. dan aku turut memberi kata pengantar. Ini amat disayangkan. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak .

Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu . Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini.236 datang dengan tiba-tiba. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam).

Dr. Dengan segala pertimbangan keluarga. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit. (Northern Illinois University). DeKalb.). kalaulah iman tidak kuat. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. sekalipun tidak parah pada mulanya. Dr. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Menginjak dua tahun usia Iwan. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. . Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. Ismangoen (alm.237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya. Periode ini. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N.U. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof.I. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini.

apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. lupakan kuliah. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan.A. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. . Iwan meninggalkan dunia fana ini. di depan lapangan sepak bola. kadang-kadang bergantian. Dini hari. Terasa banyak kemajuan. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. dalam sejarah. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. masih di bawah pengawasan Dr. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. Iwan jatuh sakit lagi. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. Dr. Ismangoen. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik.238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. sehingga sulit melangkah sendiri. Seperti telah kusinggung di atas. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus.

Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. panggilannya sehari-hari. Demi meringankan beban batin.D. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Pada saat Iwan wafat. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). usiaku sudah 38 tahun. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. Jogja). Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. Tempat ini di . Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. kepala S. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. ke rumah pak Sukadijono.D.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. Muhammadiyah Wirobrajan.

untuk sebutan Nurkhalifah. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. adalah kelucuannya.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. “Anakku.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. Mengapa . anak ini cukup ceria. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. air mataku meluncur tak tertahankan). Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. di Jogja-Padang-Jogja. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. wajahnya selalu terbayang. jauh dari stabil. isteriku. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. akan dijawab: Nun Epah.

Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. aku pun tidak dapat menjawabnya. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. memberi kuliah. aku bertugas seperti biasa. Kalaulah boleh digantikan. Memang serba dilematis. hilang dua. Pengalamanku di DeKalb.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. VI. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. sekalipun semula . Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. Hilang satu. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. bukan anak.

P. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974.K. alhamdulillah tidak terbukti. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R.U. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. Alhamdulillah kami tidak diterima. demi perbaikan ekonomi. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. Hardjo Djojodarmo (alm). suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku.242 terasa sangat berat. kecuali penyandangnya .20 kg. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Gelar doktorandus memang tidak laku jual. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar.K. Tiap hari kami berulang ke P.U. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. kemudian baru boleh dibawa pulang.S. teman dosen jurusan sejarah. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat.

(Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku.I. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai.D. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Adapun aku saat itu. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga.P. sementara Husain berhasil. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan .P.K. Bandung. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Sampai awal abad ke-21. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Setelah mengikuti tes.P. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia.243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. apakah tidak akan menggangu asap dapur.

Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. Dr. Supardjo. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). Kepemimpinan & Manajemen (B). Pada suatu malam aku dan teman dari I. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Itulah prestasi akademikku di Bandung. Semarang diundang ke rumahnya untuk .P. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Prof. dari lima mata kuliah. dan masih ada yang lain. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. Dr. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+). S. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. Sikun.I. padahal sewaktu belajar di DeKalb. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). agak sedikit memalukan. aku jelas tidak puas. terimalah apa adanya. Achmad Sanusi. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. Tanpa nilai A.P. Dr. dan Bahasa Inggris (B). Dr. Mereka adalah Prof. Garnadi Prawirodirdjo. Sikun Pribadi. termasuk milikku tentunya. Prof. nilaiku jauh lebih baik. atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. Prof.K.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester.D. Dr. dengan nilai tanpa A.P. Nasution.

Sikun bersikap lebih banyak diam. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan.P. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda.P. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L. Isteri Prof. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. Prof. yang hubungannya denganku cukup baik. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. Sikun.D. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. tokoh spiritual Prof.245 ditemukan dengan Suryadi.D.P. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu. Ternyata seorang guru besar .N. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U.A.

Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. jenderal. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Dalam perkara ini. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati.

Aku hanya mengambil . Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. Univeritas Ohio) di Athens.H. pada departemen sejarah. (Ohio University. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. William H. sekalipun masih di bawah 600.A.D. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. tetapi mereka rela. di Universitas Chicago. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O.D. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. Ph. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. Bahkan terlalu baik. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. sudah di atas 500. Frederick. Hasil tes lumayan. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Tentu aku senang.247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat.. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph.A.

Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. Doddy Soejono.K. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun.atau I. tim penguji yang lain adalah . A. B. Frederick. B+. Cukup lumaian bukan. A-.67.P. A. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. Rata-rata A. tanpa nilai A satu pun. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago.. seorang seniman dari suku Sunda. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O.. Di samping Prof. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus.H. dan A. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio.A. Dorongan semacam ini sangat penting. Di Athens.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. Setelah meraih gelar M. (Indeks Prestasi Kumulatif)3. dan dari sana meluncur ke Athens.P. tahun ke-176 dari usia universitas.D. kampus lamaku. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta. A-.P. bila dibandingkan dengan nilaiku di L. A-. Di sinilah peran penting dari Prof. Alhamdulillah.untuk tesis.

dan A. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. Apalagi aku aktif dalam M. (Muslim Students’ Association). Iqbal. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini.S. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M. Masih berkutat pada Maududi.249 Prof. Gerald Doxie. dan gagasan tentang negara Islam. Maryam Jameela.S. tokoh-tokoh Ikhwan.A. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. belum reflektif dan kontemplatif. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. semuanya akan menjadi beres. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). Masyumi.A. Aku masih terpasung dalam status quo. . sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. Jadi tidak terlalu buruk. bukan? B. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis.

aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia.S. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. M.S. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya. Aljazair.S. Itu belum lagi .A. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia.S. Jadi secara moral.A. M. dunia M. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Mesir.A. dan saling menjaga. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.S. sungguh bagus. Libia. Iraq. Kuwait.250 yang masih serba belia. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. sangat berjasa. Di Athens. Di lingkaran M.A. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun..A. hati-hati. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara. Dari segi moral pergaulan. Ilmu Barat dipelajari.

pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. tokoh syi’ah moderat dari Iran. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. ekonomi. dunia kita atur. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Dengan membaca peta semacam ini. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. ilmu. Pokoknya dengan negara Islam. dan teknologi.251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. Nasr bukanlah tipe itu. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak .

Beberapa pemimpin M. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Muslim dan Barat. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami.S. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman.252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat.A. di samping . tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. Sebagai penulis prolifik. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.

253 seorang aktivis. Dari sisi terobosan intelektual Islam. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . sementara dimensi intelektual dilupakan. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.

New York. yang mengeritik Barat in toto. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. otoritarian. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. Para pendukung Maududi. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Setidak- . Di Athens. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. dermawan. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. dan ulama yang konservatif. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. Sebuah paradoks berlaku di sini. Qutb. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh.

The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. “Qutb. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. New York-Oxford: Oxford University Press. Sharough Akhavi. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan.). 401). sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. hlm. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. 1995. Sayyid” dalam John L. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. dan pro-Zionisme. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. kebebasan seks. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Esposito (ed. Bahkan mendapatkan M.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih.A. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang . (Lih. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun.

Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. sebab Barat-Timur itu milik Allah. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. Maududi. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Dalam usia 43 tahun. Pada saat usia yang sudah . Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan. Bukan saja bersentuhan. Dominasi politik begitu terasa. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. jangan ekstrem anti sesuatu. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu.256 dada saja. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. dan Masyumi. tidak menyentuh realitas. adil.

A.S. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. dan teman dekatku. Dengan al-Faruqi. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Malaysia. Nor Wan Daud. Wan Mhd. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago.A. aku belum pernah berdialog secara langsung. Aku hormat kepada al-Ghazali. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. Teman-teman M. memang banyak yang idealis.257 demikian jauh.S. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. . salah seorang murid Rahman di Chicago. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. Dr. Dalam arti intelektual. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M.

kemudian hijrah ke Malaysia.T. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I. ruhnya menjadi sirna. Proyek I.S.C. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia. Amat disesali.A.C. Karena proyek alAttas berupa I. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. kehilangan kemandiriannya. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati.A. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu. . Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana.A.A.S. Al-Attas kelahiran Bogor. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.C. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme.S.S.T.C.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.T.T.

259 C. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago.I. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. Bantuan sahabatku M. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. Amien Rais.S. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. . Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya.A. beasiswa itu kudapatkan. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. dalam pemikiran Islam. melalui perwakilannya di Jakarta. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini.D. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak.D. sebagaimana telah kukatakan terdahulu.

sekalipun hakekatnya . Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. Gila bukan? Otak sudah tua.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. disuruh cari nilai A lagi. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. seperti telah kujelaskan sebelumnya. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya.

261 tidak banyak berbeda.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Yang menguntungkanku. Jika upaya itu kandas. sekalipun dia . Aku punya rasa takut dan cemas. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan.” seperti telah kukutip terdahulu. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago.

Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. artinya baik sekali. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. Biaya sendiri mana mungkin. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. Selama semester pertama aku harus belajar keras. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A.262 menderita. tidak mungkin bergerak lebih jauh. sekalipun sekarang sudah lupa semua. Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. . aku lulus dengan angka P+. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. tentu semua langkah akan terhenti seketika.

padahal hasiahnyo alun jaleh. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. berkat rantau. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. padahal hasilnya belum jelas. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. lantaran desakan hidup misalnya. Sekiranya tidak merantau. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. Aku tentu bangga dengan ini semua. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”). Apalagi jika . Syafii hanya memikirkan diri sendiri. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana.263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri.

Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini.264 menyandang gelar suku. Alhamdulillah. dan menempuh ujian akhir. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. kelakuan semacam ini juga terjadi. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Bukan main rasa syukurku. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. Dalam perjalanan . Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Nilai A= keluarga datang. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. menulis makalah. Di kalangan keluarga dekatku.

Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. Mungkin karena lelah. nama anak kami.265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Perjalanan . Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. Hafiz. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . harus singgah di jalan. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. Biaya cukup. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. aku lupa. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Tidak langsung ke Chicago.

Karena anak kecil. Tokh dalam pergaulan harian. Hafiz sekolah. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar.D. Cuaca . isteri Kristen). Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. cari informasi ke sana dan ke mari. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus.. Sebelum masuk S. aku hampir tiap hari ke kampus. Setelah beberapa minggu di Chicago. demi membantu beasiswaku yang kecil. kadang-kadang menegangkan. Lip tidak betah menganggur. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Pernah juga kuantar dengan mobil. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu. Rintangan bahasa dapat diatasi.266 panjang itu kini telah jadi kenangan. Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih).

Dengan kerja delapan jam per hari. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3. gajiku sekitar Rp. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. Kurs ketika itu $1=Rp. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga. bukan? Tahun 1979. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. Pinto ini . Beasiswaku ya sekitar itu. Di musim panas. 419. demi menambah beasiswaku.000. 60. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp.267 dingin sekali. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp.419.000=Rp. 419.000 per bulan.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. 868 per bulan. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. 750. Sebelum pulang ke tanah air. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. dia berangkat dengan sepeda. 838.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. Lip telah jadi “orang kaya” baru. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Lip punya sifat tabah ini.

Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. sungguh jauh nian bedanya. puasa dengan membayar fidyah. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985.P. begitu juga berpuasa. penghasilan isteriku cukup tinggi. Sebelum pulang ke tanah air. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. D. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. Cukup fantastik hasilnya. yaitu lima dolar per jam. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. Luas tanahnya 230 m2. Selama bekerja. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah.R. Sudah . Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. melaksanakan salat menjadi cukup sulit.

Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya.D.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. Bedanya. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal.A. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. Keinginan . Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. termasuk acuan dalam berpolitik. Salim. Ilmu seorang alim ada di tangannya. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. di Inggris. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama.

Saudi. Indonesia. Ada dari Eropa. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. Amerika Serikat. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. Iraq. ada Yahudi. Malaysia. kelasik dan modern. Kanada. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa . dan tak kunjung selesai. dan dari negara lain. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. ada Kristen. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman.

271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Abou El Fadl (Kuwait). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Muhammad Arkoun (Aljazair). Khaled M. jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Ahmad Khan (India). Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Bassam Tibi (Suria). ibarat sumur tanpa dasar. Ada Shah Wali Allah (India). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Mohammad Natsir (Indonesia). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Hossein Nasr (Iran). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Iqbal (India/Pakistan). Nurcholish Madjid (Indonesia). Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Mungkin baginya. Muhammad Abduh (Mesir). Abdulaziz Sachedina (Iran). Fazlur Rahman (Pakistan). Hamka (Indonesia).

Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Hamka. dan masih ada yang lain. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. Natsir. modernisme Islam. hukum.272 banyak dan bermutu. al-Faruqi. kritikal. obyektif. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. please give me one fourth of your knowledge of Islam. Rasyid Ridha. teori politik Islam. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. mendalam. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. Kecuali Shah Wali Allah. tegas. tasawuf. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. Pokoknya di Universitas Chicago. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. dan komprehensif. AlAttas. filsafat Islam. Banyak persamaan di antara mereka. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang .

maka I. Selama belajar di Chicago. Selama kuliah di Chicago. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . yang kuperoleh adalah 3. tiga B.84.15 A. lima B+. dan itu dari Rahman. satu A-.K.67. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3.P.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. Berdasarkan angka-angka itu. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Dengan demikian nilai A menjadi 16. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris.

aku didampingi oleh dua sahabatku alm.C. pada saat aku sudah berada di tanah air. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. biasa disingkat U. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Terlalu banyak yang dihafalnya. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. Yang aku agak heran. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Nurcholish Madjid dan Salim Said. .A. padahal gelar M. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. Dalam menghadapi peristiwa penting ini. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982.

Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral.275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Di luar itu. sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. . sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Tanpa pembongkaran ini. Dengan kata lain.

sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda . jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan. pakailah filsafat garam. tampak tetapi tak terasa. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. fikiran. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani.276 Dari perspektif ini. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. tak tampak tetapi terasa. dan dana. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Oleh sebab itu. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu.” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara.

masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata. Dengan cara ini. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. Setelah 60 tahun merdeka. Selama empat tahun lebih di Chicago. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. tetapi dikhianati dalam laku. bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. bahkan di Asia Tenggara. perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal.

Amat disayangkan. maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi. Jika upaya serba radikal ini gagal. Semuanya bermasalah. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Dalam ungkapan lain. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Ada mereka bangun semacam teori. pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini.

setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi.279 sunnah nabi secara autentik. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Pasti akan sia-sia. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. tesis. Muhammadiyah (1998-2005). tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. Masalah toleransi inter dan antar agama. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan.P. Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P. dan bahkan kabarnya juga disertasi. Sementara keyakinanku kepada Islam .

imanku rasanya tidak semakin lemah. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. dan berbeda dalam persaudaraan. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. Dengan formula ini. malah semakin kokoh.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi.280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. dan masih ada beberapa ayat . Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir. surat Yunus: 99. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan. hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256.

maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . Dalam ungkapan lain. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. apakah mereka beriman atau pun tidak. itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. tetapi untuk semua. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan.281 lagi. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi.

jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita. Kita ambil contoh. sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi. masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. dan cerdas. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. sungguhsungguh. toleran. dan berkualitas tinggi. Demokrasi tidak harus bercorak Barat.

di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Dalam sistem syura. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. memakan daging babi adalah haram mutlak. demi mempertahankan hidup seseorang. judi dengan demikian menjadi halal. Dalam sistem demokrasi Barat. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas. rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. hal itu tidak mungkin berlaku. kecuali dalam konteks . sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. Dalam kondisi normal. Dalam sistem politik syura. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar.283 anggotanya. tidak perlu diperpanjang lagi. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang.

Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik.” Tanpa keadilan. Tentu tidak asal perempuan. Jika ini yang berlaku. dan bahkan presiden. Tidak saja pada masa kelasik. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan.284 yang sangat memerlukan. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. bermoral. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Banyak contoh sudah dalam sejarah. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. gubernur.

Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. laki-laki mau pun perempuan (lih. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja .285 terbuka lebar. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). sekiranya ia masih bersuami. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran.

. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah.286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. tidak terkecuali di dunia Islam. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Dalam wacana modern. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati.

sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di . Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. Dalam masalah ini. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin.287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. praktik poligami itu sangat merebak. monogami atau poligami. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Dengan memadukan kedua ayat ini. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil.

Sebelum berangkat ke Chicago.288 atas. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. sementara bapaknya entah siapa. Isteri satu. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. . Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. kecuali bagi yang tidak mau. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous.

Sepanjang pengetahuan saya. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. . praktik seks bebas ini juga mulai menggejala.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. umat Islam tunggal. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. pada masa nabi Muhammad. sehingga seks bebas. Ironisnya lagi. sesuatu yang bila tidak dihentikan. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. tidak berkeping-keping. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. 22 Maret 2005.

Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. padahal kemenangan . Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Syai’i. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. sadar atau tidak sadar. dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi.290 Munculnya kelompok Suni. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas.

291 sudah hampir di tangan. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. sepupu dan menantu nabi. isteri nabi. sedangkan dua yang lain selamat. sekalipun isteri Ali. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. sesuatu yang sudah lama diincarnya. yang dimenangkan pihak Ali. Ali. puteri nabi bersama Khadijah. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. pembela Ali. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. Syi’i. dan Khawarij. Siapa yang meragukan . dan Ali. Dengan terbunuhnya Ali. Fathimah. yang anti terhadap keduanya. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri).

sekalipun bukan mustahil. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. sesuatu yang tidak selalu mudah. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. Dengan kata lain. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. Tak seorang pun. Afghanistan.292 kualitas iman mereka ini semua. Jika tidak demikian. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. dan di mana . Palestina. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. Timbul pertanyaan. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.

Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. al-Qur’an s. dan isme apa lagi. . al-Furqan: 30).Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini.” 15 15 (Lih. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. seperti yang berlaku berabad-abad. syi’isme.293 lagi. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua.

penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. Tentu sebagai manusia yang relatif. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. sekiranya semua pihak . perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Tetapi setidak-tidaknya. Islam lahir pertama kali di Arabia. adil. Bagiku. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. apalagi saling bertentangan secara tajam. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan.294 Kalau realitasnya memang demikian. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. banyak yang bahlul tentang Indonesia.

tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. betapa pun belum mendalam. Dua . BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A.295 memakai pikiran jernih. Amerika Serikat. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. hlm. Perkisaran Abad. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. VII. Adalah Richard Falk. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. dan punya ilmu yang memadai. 14 Juni 2005. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. dada lapang. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. Harapan.

Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul.296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. 8. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. 1). terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. hlm. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. dan Palestina belum juga merdeka. Iraq kacau balau. 1998.” (Lih. Afghanistan berantakan. Jan. Just Commentary. Dunia memang belum berakhir. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. . No.

di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini.297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Indonesia. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. keadaannya setali tiga uang. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. Memang . Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. situasinya terbalik 180 derajat. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. khususnya Amerika Serikat. demi manusia. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. diawali terutama sejak renaisans. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah.

Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. tetapi belum pernah efektif. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. di mana aku sering juga terlibat. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . P.B. tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat.B.

ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. rasanya sudah sangat berat. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. Dalam ungkapan lain. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. tanpa sapaan Langit. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Tetapi. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang.299 mengenal Tuhan. Untuk berapa lama? . Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Bumi kehilangan wasit sejati. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. Imajinasi kita dapat menjadi liar.

“Maka. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. lupa hakekat. termasuk aku di . Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. Alangkah mulianya tujuan missi ini.300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan.

I. namun realitas tidak beranjak juga.I. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.P. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut..I.. Yogyakarta (sekarang F. tidak lagi menantang. Jika pikiran itu dinilai sudah usang.K.S.S. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan.I. F. kemudian berubah menjadi F. syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. I.P.S. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. 2006).I. Bila itu terjadi. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan. B. . aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.P.301 dalamnya.P.P.S. Batin meronta keras. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan. Universitas Negeri Yogyakarta).

. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K. Baru akhir tahun 1985.R. Nitibuana yang berpusat di Kudus.R. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. itu adalah bak sarang merpati. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P. Miskin bukan. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad.T. Aku yang sudah beroleh Ph.G. Solusinya adalah aku harus . Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen.K. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph.P.. Untuk pembayaran uang muka rumah K.P. Ya. ke universitas. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. Semua pegawai bernasib sama.302 Fakultas Ilmu Sosial. teman lama sejak dari DeKalb.D. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu.I.D. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago.P. tamatan Amerika.P.R. mantan rektor U.M. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.

A. kala itu adalah mendiang Drs. Gaji tidak besar.I. selain mengemban tugas pokokku di I. Tahun 1984 I. dan berhasil.K. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. negeri atau swasta. Barnadib. dan U.N. agama. Mata kuliah yang kupegang bervariasi.P.S. U. Agak aneh bin ajaib. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA.303 memberi kuliah di perguruan lain.I.I. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar.. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun. Dua perguruan tinggi I.K. Cara ini harus ditempuh. adalah tempatku memberikan kuliah. Maka aku dan Prof. sama-sama berangkat ke universitas yang sama. membuka program pasca sarjana.A.I. dan bahkan Pancasila...P. pemikiran ideologi. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua.I.I. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah.I. Rektor I. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama . Vembriarto. Ada sejarah Islam.N. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat.K. St. mantan rektor I.N.P.

aku tidak mau tinggal diam. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan.P. sekalipun S. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir.” . Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. Atas kebaikan awak bus. Terjadi dialog. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D.M. Dijawab: “Itu antara lain. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”.304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas.3.I.

Rais. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P.A.P. Jl. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. yang lama.P. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. .I.H. Muhammadiyah yang dipimpinnya. A. semua keangkuhan itu menjadi berguguran.3 saya ditandatangani secepatnya. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah. Aku adalah di antara sedikit dosen I.P. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri. Semua orang di I. K. paham kelakuanku ini. Jogjakarta.P.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres.I.P.K. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P.P. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru. Muhammadiyah ini.K. “Mohon D. Dahlan 99.

Posisi 13 diisi oleh A. tidak saja secara lisan. Yang lain mengikuti. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput.R.P.A. Basuni. Muhammadiyah pimpinan H. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. penerbitan pun digalakkan. Majelis pimpinan M. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. Di samping Rais. yaitu 12. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. A. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini.P. B. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . Dr. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. Fachruddin. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P.A. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. dalam P.A. yang sekaligus pimpinan majalah. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah. Seakan-akan majelis ini adalah P.P.306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini.

tidak terlalu tergantung pada bendahara P. (Universiti Kebangsaan Malaysia). sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi.. . aku sudah masuk ke dalam jajaran P. Ismail Suny (890).P. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. Amien Rais (993). Pengalamanku dalam soal ini adalah nol.307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U.P.K. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku.P. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997).M. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Muhammadiyah. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan. posisi bendahara diberikan kepadaku. yang lain.P. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. Teman-teman P. M.P. Sekalipun berada pada angka 12. 1990-1992.

. Ali ‘Imran: 159. seperti tersebut di atas. budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. A. Djarnawi Hadikusumo (676). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. Bagiku. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. sebab jika ada perbedaan. Aku pada waktu itu masih partisan. itu. Rusjdi Hamka (774). S. Sama sekali tidak sehat.P. Rosjad Sholeh (748). s. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. dalam organisasi seperti Muhammadiyah.308 Sutrisno Muhdam (830). Fahmy Chatib (701). Ramli Thaha (671). Abdurrozak Fachruddin (516). sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Ahmad Syafii Maarif (557). Ahmad Watik Pratiknya (655). Prodjokusumo (638). selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. al-Syura: 38). Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. s. Dalam daftar di atas.

Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr.K.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia . Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Amien Rais. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan.P. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. Imaduddin Abdul Rahim. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. Dua tahun aku bertugas di U.K. Bendahara: S.P. Yang lain di samping sebagai anggota P.M. sekalipun dengan persetujuan P. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P. ikut-ikut teman. Wakil Ketua: M. tanpa berfikir panjang dan dalam. Wakil Ketua: Ismail Suny.P.P. tujuan utama tercapai juga. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara.. Ir.M. juga merangkap ketua bidang. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. Semoga Allah memaafkan. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama.. Rapat anggota P. kecuali A.

K. terlalu berbaik hati.I. Yogya dan proses pelamaran untuk U..K.I. disesuaikan dengan kepangkatanku di . Pasti berliku-liku. dengan tetap menerima gaji bulanan. dalam kajian Islam.K. belum guru besar.K. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. tetapi tanpa tunjangan fungsional. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia.P.P.P.310 dengan kualifikasi Ph. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.K.P.D. Karena I. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi. Dengan kata lain. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun.I. Ini bagiku menguntungkan. Semua proses ini relatif berjalan lancar. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. maka gaji yang diterima di U. Statusku tetap sebagai dosen I..I.K. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu.M.M. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara.

Cukup menguras fisik dan mental. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I.P.K. Setelah setahun belajar di S. karena berbagai pertimbangan. 8 Jogja sampai rampung. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan..M.A.K.K. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya. berakhir. dan Hafiz. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Di U.M.M. Hafiz kembali ke Jogja. Sore kembali ke Sungai Jelok. Semula kami berangkat tiga beranak: aku. sebab pendapatan di U. Lip. Selama belajar di S. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu.M. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.311 tanah air. Indonesia.M. Islam dan Perubahan Sosial di Asia .A. Indonesia di Kuala Lumpur.A.I.K. Kecuali Ahad. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana. anak kami satusatunya. Tidak masalah bagiku.M.

Kebetulan kami . adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Lip juga akan turut. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. seorang dosen di U. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Pada tahun 1992. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah. Berbeda dengan Indonesia. Kadang-kadang sewaktu pulang. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus.K.. Ini semua kujalani selama dua tahun.M. berakhir.M. Dr. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia.M.K.K. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U.K.312 Tenggara. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U.M. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. harus berada di kampus sehari penuh.

Profesor Dr. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan.M. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian.K. dan Dr. Setelah ditimbang masak-masak. tidak hanya menjadi bendahara tituler. Agar aku memperkuat barisan P. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau . baru tahu betul apa makna amanah itu. padahal pihak U. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Muhammadiyah secara langsung. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U. ada ketentuan moral yang harus ditaati.K. Kajang. Abdullah Zin. berkat telepon sahabatku Dr. Di lingkungan Muhammadiyah.M. Tidak ringan memang.. Faisal Othman. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa. Aku sendiri setelah aktif di P. Watik yang bertujuan mulia itu.P.M. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng. dekan Fakulti Pengkajian Islam.313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan.K.P. Aku terpilih. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U.

Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Mencuci pakaian. adalah bagian dari kerja masa kecilku. Semuanya disiapkan.314 meneruskan kontrak. terutama oleh ibunya. Rupanya. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. apalagi pihak U. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan.M. Semuanya berantakan. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. membersihkan kamar tidur. Aku cukup terlatih. bukan? Tetapi sisi . Enaknya punya ibu. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Hafiz terbiasa manja. masya Allah.K. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. maka imbauan Watik yang menang. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto.P. Hafiz tinggal menggunakan. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Alhamdulillah.

Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. dan tidak pernah lupa beribadah. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. Inilah tempat beramal yang tepat . tidak kikir. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Sederhana. kecuali dia hidup secara benar. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. entah di mana. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. Terhadap ayahnya. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. dan entah jadi siapa. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. rasanya aku sudah bahagia. Tidak ada yang kami harapkan dari anak.315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Benar. aku mulai sibuk. terserah sajalah. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini.

M. Dosen tamu di Singapura. Aku sendiri tidak tahu. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri.N.M. pahala jauh itu pun tidak akan diraih.W. waktu itu sebagai Ketua P. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus.U. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. Kalau dalam partai politik. diakui atau tidak. Jika tidak. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. atau posisi di B. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. apakah aku ikhlas atau tidak. (Badan Usaha Milik Negara). dan sederetan kiprah yang lain. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Biarlah Allah yang menilai. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. legislatif.316 bagiku. Bahasa Inggris lancar. Sangat giat mendatangi . Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. apakah itu jadi pejabat eksekutif.

Yunahar Ilyas. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. Tidak mudah kujawab. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. tetapi untuk Indonesia.W. kemudian Yunahar malah balik bertanya. tidak saja untuk Sumatera Barat. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku.317 daerah. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. memang di luar dugaan. Apakah . Dia terpental ke nomor 43. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Sumbar tidak asing baginya.M. salah seorang Ketua P. sebagaimana semua kita perlu berkaca. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. Dijawab. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Kepada Dr. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu.P. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. Bagiku kejadian ini luar biasa.

” (Belum terkilat sudah terbayang). Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Tetapi sudahlah. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. Shofwan tidak terpilih. sulit untuk mengatakannya. Hubungannya denganku cukup akrab. aku tidak bisa mengatakannya. bukan tanpa alasan. yang berlalu biarlah berlalu. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Tetapi betapa pun juga. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. tetapi belum tentu benar. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. Ke depan orang harus lebih hati- .318 karena sikap-sikap politiknya. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Kesimpulan cepat diambil. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. khususnya untuk Sumatera Barat.

Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan.A.P. ini sampai tahun 2005.M. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. kini pergi pula Kanada. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. Muhammadiyah.A. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta.P. Sebenarnya . Aku berangkat lagi bersama Lip. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. tidak terasa. Balum begitu lama pulang dari Malaysia.M. Belum sampai setahun aku aktif di P.P. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. Kanada.319 hati dalam memimpin Muhammadiyah. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill.

dan Indonesia. termasuk Islam di Indonesia. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa .320 gagasan ini cukup mulia. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. Mesir. sekalipun rezim telah berganti. Jepang. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. suasana telah berubah. salafiyah. biasanya perdebatan menjadi ramai. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. dan lain-lain. Kanada. syi’ah. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran.

Pertama. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. disadari atau tidak disadari. Kedua. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. surat al-Anbiya: 107). Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. autentik. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. sekalipun masih saja terasa kurang. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. Kelemahanku terletak pada kenyataan . dan cerdas. Dengan kata lain. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan.

sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam.322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. Tetapi di atas itu semua. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. dan Qur’ani. aku wajib . Aku ternyata juga manusia lemah. sistematis. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi. aku pun tidak bisa mengatakannya. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. Entahlah.

Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Penilaian terakhir. Sebagai anak kampung yang tersuruk. atau sebaliknya. sepenuhnya di tangan Allah. C. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. M. liberal. Padang. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Pelopor pencerahan intelektual . Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. tidak jauh dari bandara Tabing.

Muhammadiyah. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. tetapi itulah kenyataan . Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing. musibah kedua terjadi lagi. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Terima kasih ongaku.P.324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. Ketua P. tidak ada kepastian. menulis. dari suku Caniago lagi. dan mengurus Muhammadiyah. Tetapi bulan Juni 1994. musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir.P. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. dua puteri dan satu putera. sukuku. Muhammadiyah berduka dalam.

Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. intelektual. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. Mohammad Amien Rais.P. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. Paling-paling menjadi . (Perang Dunia) II. sedangkan aku adalah generasi kedua.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Kampung Kemasan (Solo).D. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. P. “tanah airku. alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr.P. Muhammadiyah era Azhar.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P.

326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina.P.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). di samping ada perbedaan di sani-sini. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Banyak persamaan. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. Keduanya tidak mungkin mengenalku. di masaku dan salah seorang ketua P. Tidak ada alasan sama sekali. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. pasca . Adapun aku dan M. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. berbagai masalah kami bicarakan.P. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. Keduanya adalah sababatku. sekretaris P. anggota “mafia Chicago. dan untuk apa pula. Benarlah Bung Haedar Nashir.

Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. terobosan M. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. jika bukan pembusukan. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). Amien Rais. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. proses kemunduran. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan.327 Muktamar Malang bahwa M. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Saya rasa M. tak menentu. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. M. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam . akan berlaku dalam gerakan apa pun. Di bawah nahkoda M. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. Tanpa kritik diri. Jika aku mengeritik Muhammadiyah.

M. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. M. tentu bukan karena substansinya.328 itu. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. suasana panas tidak membawa perpecahan. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. . Cukup panas suasana tanwir waktu itu. setelah itu mendingin kembali. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. Ini berbeda denganku. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. Paling-paling saling menggerutu. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini.

M.329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Bukan saja meni’mati. tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Amien Rais itu. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan . dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai.

Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng.P. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Kadang-kadang bertele-tele juga. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Nama M. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Namun cinta mereka terhadap M.330 ke luar. Koran-koran terus saja mengulasnya. Kembali ke Surabaya. Amien Rais itu. merasa kecut dengan gagasan M. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. tetapi mereka segan untuk berterus terang. Amien Rais. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. bukanlah pertanda buruk. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Amien .

Di sinilah dilema itu terletak. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. Untungnya M. B. Habibie sebagai wakil presiden masa . Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. Amien Rais dicintai. M. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. tetapi gagasannya menakutkan. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. Amien Rais dalam mengeritik rezim. Pak Azhar baru saja wafat. Bagi M.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang.J. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. M.331 Rais tidak pernah menyusut.

Keduanya juga sebagai tokoh I.I.I.C. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah.M.C. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu.P. Amien Rais. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. tetapi aku mendukungnya. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. Tetapi M. . ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi.M. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. pihak istana berusaha keras agar M. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Muhammadiyah.332 itu punya hubungan yang baik dengan M. Amien Rais. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995).

Amien Rais. Amien Rais. Amien Rais. Ketegangan hubungan M. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik. Tak ada gunanya. Dalam rapat-rapat . Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali.333 memang sudah pada tempatnya. tidak berlebihan. karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Warga yang penakut pun akan memilih M. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M.P. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21.

Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk.334 P. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk. seperti baru saja disinggung di atas.P. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. dampaknya akan . Amien Rais. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden.

Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit.A. Muhammadiyah. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar . di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Rais.A. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah. khususnya mereka yang sudah agak berumur. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. sekalipun tidak bisa dihindari.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit.N. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M. sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.P.

Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih . Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat. sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. sekalipun tidak diakui terus terang. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun.

Khatib Kayo. Ketua P. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. beragama atau ateis. jumlahnya tentu sedikit sekali. pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: . Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Jika itu yang digunakan. Kalau pun ada. keras atau lunak.W. Politik di mana pun di muka bumi ini. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Dalam berpolitik. Tergantung kemudian.B. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Jika dibuang. tidak peduli siapa pelakunya. Ini fakta keras dalam sejarah. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005. dan akan tersingkir dari persyarikatan. lambat atau cepat.M. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. Gesekan di lapangan pasti terjadi. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Menurut tuturan R.

Persiapan secara finansial. seperti kukatakan. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. bukan masalah besar. demi menjaga independensi Muhammadiyah. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi.” Dengan bergulirnya waktu. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. Amien . Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Muktamar Aceh semakin mendekat. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P.338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik. Tetapi gesekan politik antara M.P.

Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden. M. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. entah apa yang dibacanya. Komandan pertemuan dari . Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais.339 Rais. sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. Amien Rais. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Kami anggota P. tetapi juga tidak boleh sombong. M. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu. yang lain berupaya bersikap biasa saja. Amien Rais selalu komatkamit. Aku melihat bibir M.P. kemudian diikuti oleh yang lain. mengaku Muhammadiyah lagi. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu.P.

ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Bukan karena keleledoran Soeharto. Kendala politik telah teratasi.P. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Dengan iklim semacam ini. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. Ilmu . ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun.340 pihak Muhammadiyah adalah M. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P. bukan aku. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. M. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah. Maka sekarang bereslah segalanya. Amien Rais. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Seperti yang diharapkan dari awal. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar. M.

semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. muktamar. adalah persoalan adaptasi belaka. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Amien Rais dengan Soeharto. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Amien Rais memang terasa sekali. aman-aman saja. baik dalam tanwir. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Ada sementara kader . Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya. M. itu.P. Amien Rais. sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana.

Keduanya bahkan saling memuji. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. a. dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Thohari. Din Sjamsuddin.P. di medan muktamar. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu.S. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah. Muljadi sering dipuji Bung Karno. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus. Inilah .l. demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. tak seorang pun yang meragukan. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno.342 Muhammadiyah. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman. Lukman Harun. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Hajriyanto Y. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif.

” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993.343 politik. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa. Ya. Tetapi bukan terhadap semua orang. Aku yang mengusung M. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. M.M. Lukman.M. betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. tak berubah. Dalam gesek menggesek ini. Amien Rais untuk menjadi nahkoda. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. gesekan ala Muhammadiyah. Djazman alKindi. sampai . kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Amien Rais. dicoba diusung juga. persahabatanku dengan pendiri I. tetapi untuk membendung M. ini tetap utuh. terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar.

sang politikus. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. Amien Rais dalam Muhammadiyah. Amien Rais. bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. tetapi itulah caraku memandang politik. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Namun di atas itu semua. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”. aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . Betul.344 dia wafat. yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan.P. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang. Lukman. Dari Parmusi ke P. katanya. (ini masih nalar). lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). Berbagai pandangannya tentang M. Amien Rais sering disampaikan kepadaku. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak.P. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. kendaraan politik ORBA. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Lukman dan M.

kirakira a. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Muhammadiyah dipuji. Semua orang Muhammadiyah paham ini. berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Biasa. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan.345 puncak. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang.l. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga . tetapi intinya begitu.” Mungkin tidak persis demikian. Itu bukan watak dan tabiatku. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Ada bibit yang menjadi presiden. kalau warga menginginkan. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. presiden berucap. Di luar teks pidato.

Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian.P.346 Muhammadiyah. Aku sendiri masuk nomor tiga. tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. yang berada pada urutan kedua. . bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. Menarik dan menegangkan. dan kemudian terpilih menjadi anggota P. Inilah dunia. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. Bukan karena latah tentunya. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. M. tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. akhirnya masuk pula dalam pencalonan. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung.

Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Lukman Harun (660). A. Ramli Thaha (852). Ahmad Syafii Maarif (1047). Muhaimin (866). serumah berlain rasa. aku berada pada nomor bontot kedua. Jika pada Muktamar Jogja. Amien Rais (1245). betapa pun terdidiknya mereka. Yahya A.” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. A. Bagiku. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan. M. aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Watik Pratiknya (886). Muchlas Abror (730). Rusjdi Hamka (624).P. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P. komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup. Sutrisno Muhdam (1048). Asjmuni Abdurrahman (802). Anhar Burhanuddin (628). Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang . Rosjad Sholeh (874). di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang.347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Sukriyanto (589). M.

R.A. aku telah melompati sembilan nama. Sekretaris: M. dan T. hampir tidak ada gangguan yang berarti. masih saling menyalak. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Amien Rais. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Bendahara: Anhar Burhanuddin. Tetapi pada tahun 1995 itu. Sekretaris: A. Bendahara: M. Dari 13 nama itu.M. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam. Rosjad Sholeh. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut . Memang selama muktamar berlangsung.N. sebab pengamanan sangat ketat. Muchlas Abror. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. Dari sisi ini. Peluru dari G. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya.I. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Sukriyanto A.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah.

Terserah sajalah segala penilaian itu. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. Banda Aceh. bukan partai. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. tetapi diakui bahwa Jakarta . beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya.349 dalam kemasan berani. Di atas itu semua. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. T. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Amat disesali.

Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. bumimu mengandung kekayaan minyak. dibuka oleh bibit. sebagai wujud dari harga diri . emas. dan mungkin yang lain. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. kayu. Sebagai pencinta Aceh. Sampai hari ini. Aceh. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. tembaga. engkau adalah bumi pahlawan. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. laki-laki dan perempuan. dari sisi sejarah. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. beberapa hari pasca tsunami.

engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. Aceh. Sebagian besar rakyatmu . engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. Aceh. pada tahun 1950-an. engkau kembali melawan. Perang Aceh berakhir pada 1912. Sejak itulah engkau resmi dijajah. karena engkau pantang dijajah. Belanda sangat takut kepadamu. untuk kemudian berdamai. Tapi tidak bertahan lama. tapi hanya 30 tahun. Tanahmu lepas dari Belanda. dengan meninggalkan korban dan dendam. juga dari sisi sejarah. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. Engkau bela republik dengan darah. di masa revolusi kemerdekaan. Aceh. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang.

sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. karena sudah kering. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. karena engkau turut mendirikannya. Indonesia meratap tanpa air mata. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. Sekitar 200. akibat kemurkaan alam. 1 Jan. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. tanpa ada tanda-tanda.352 ingin tetap bersama Indonesia. Tanpa dinyana. 4 . berserakan di mana-mana. Allahu ‘alam! Jogja. sekalipun telah dianiaya. Akibat gesekan lempeng bumi. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. Aceh. Dunia berduka dan terluka. perang saudara belum usai. alam tiba-tiba mengamuk dengan garang.

Tanah Rencong. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. biarlah berlalu. dan Husni Amriyanto Putra.A. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. Jakarta harus lebih arif . dan alhamdulillah berhasil. Tanah Pahlawan. dengan penyunting Hery Sucipto. Yang berlalu. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. Jakarta: Grafindo. Mari kita saling memaafkan. jangan diulang lagi. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. 2005. Anton Syafriuni. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. Selamat Bumi Rencong.353 Januari 2005. halaman 12. selamat Indonesia.M. darah sudah tak tertumpah lagi. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. hlm. Allah maha tahu segala akibat perkara. 131132. Itulah Aceh.

dan berhasil. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai . damai. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah.A. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. seperti tersebut di atas. Peluru masih mendesing di manamana. tidak terkecuali di Banda Aceh.M.. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. Maka adalah sebuah rahmat Allah.

di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta. disusul oleh majelis..A. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan.A. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Di bawah komandan Rais P. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun.A. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali. Surjadi Sudirdja. sementara G. Nurcholish Madjid. Kembali ke Muhammadiyah. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. Segera disusun pengurus lengkap P. Posisi M. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya.M..P.M.P. Ali Yafie. menuntut keadilan.355 tahun 2005. Jakarta dan G.N. dan lembaga. badan. semula samasama keras kepala. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. karena masing-masing pihak. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. Untuk ketuanya aku . Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas.

Di bawah kepemimpinan Abdullah. Dikhawatirkan berbagai . sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Sunankalijaga. Majelis Tarjih sekalipun diprotes. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali.A. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I.I. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. M.P. Usul ini disetujui rapat pimpinan. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama.N. P.356 usulkan Dr. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah.

Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar . Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. juga di bumi Muslim. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat.357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. Sebab bila hal itu terjadi. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis.

Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. tetapi agama tidak . Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Pendiri Muhammadiyah. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. dan siapa saja. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar.358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. Ahmad Dahlan. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. Kristen. Bahkan dia bergaul kaum komunis. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual. liberal. atau semakin beriman.

dan Aku Dengan sub judul ini. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. berkat . Sama sekali tidak. Semua teman tahu. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. D. Habibie.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Muhammadiyah. Keruntuhan Rezim. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik.

Apa yang digulirkan M. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Aku adalah anak kampung. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat.360 M. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya. dan tetap anak kampung. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Amien Rais. Dengan keterangan ini. Aku tak peduli lagi. Dengan keterangan ini. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan .

Dalam keadaan bingung.M. Tidak punya dasar. susahnya bukan main. pemerintah harus meminjam dari I.F. Akan ke luar.M. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- .M.M.F.M.F.F.F. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. itu. Dengan ekonomi yang compangcamping. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya. tawaran itu diterima. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh. itu. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I..F. Presiden Soeharto gelagapan. tetapi tak satu pun yang mujarab. I.M. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. Resep terus diberikan.

Globalisation and the New Realities. 2202. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. ibid. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. suatu penegasan yang berani sekali. 15). Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan. (Lih. . hlm. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I.F. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. hlm. (Lih.. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa).F. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. Subang Jaya: Pelanduk Publications. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan.M. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.M. 122). campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. untuk dibantai. Mahathir Mohamad.

M. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. . Dua tokoh yang semula begitu akrab. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu.363 Pada tanggal 21 Mei 1998.J. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. karena faktor M. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. Amien Rais bukan main sibuknya. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen.

Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. sikapnya semakin dingin terhadap M. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki.P. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Hubunganku dengan M. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Saya rasa M. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Amien Rais di P.364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. kecuali hubungan baik. Amien Rais. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. peran M. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik . Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet.

R. 15.P.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. Habibie berhasil. (Kabinet Reformasi Pembangunan). Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. termasuk dengan M.365 dengan banyak orang. terutama dengan Eropa. hlm. 6. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: . Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. Amien Rais. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K.7). Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu.

umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya.I. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado.366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal.J. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. yang ketiga. Ini tantangan terberat bagi Habibie. Habibie tampaknya tidak . Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi.

Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. Menurut A. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. tak seorang pun yang meragukan. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Di sinilah terletak . Ini dilema terbesar baginya. Bahwa Habibie seorang jujur. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. lugu.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. Seharusnya menurut saran saya. Nasution.H.

Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. punya watak negarawan. . Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. dan efektif. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. bijak. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175.

diadakanlah rapat pleno P. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. Anggota P. adakalanya dengan perasaan khawatir. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. pada bulan Mei itu . juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. tetapi diabaikan saja. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. Lukman masih bagian dari Golkar. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu.P. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan.369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. Sampai jatuhnya Orba. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku.P.P. Untuk menentukan sikap P. kendaraan politik Soeharto selama ini.

Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Pada waktu itu aku benar- . Setelah berdiskusi agak lama. Kalau mandi. Dengan kata lain. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. sebagian besar anggota P. Aku dan Dr. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini.P. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. jangan kepalang basah. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Watik berpendapat lain. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat.

P. Ramai sekali yang hadir.P.M. Dalam rapat di atas P. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada . tetapi tidak sekuat Amien Rais. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Fatwa.P.W. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu.M. karena memang di situ habitat yang tepat baginya. seperti A. itu. dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. Jelas di sini aku juga punya naluri politik. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P.

Entah dipengaruhi siapa. untuk maksud baik atau sebaliknya. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. . sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. rumah tangga asli mereka. Fatwa. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Pucuk dicinta ulam tiba. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. bukan yang lain.372 peserta. Yang lain juga mengikuti. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. mantan tahanan politik ORBA. Politik bukan duniaku. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. jawabanku lugu. Biasa. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru.

Djamaluddin Amin.N. tidak boleh terlambat. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. tetapi kuhargai seperti biasa.P.W. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P.A. Di ujung upaya. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Muhammadiyah selain memimpin partai. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.M.P. Sampai hari ini. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. Rais dan pendukungnya. Ini luar biasa memang. tanpa merasa tersinggung sedikit pun. kecuali sahabatku K. termasuk aku. bertempat di kantor P.P. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P.373 Antara Juni-Agustus 1998.P.H.P. Muhammadiyah Jakarta. maka berdirilah P. bertindak cepat. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Ketua P. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut . Muhammadiyah? P.

tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Inilah sosok yang aku gantikan. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P.A. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. tingkat wilayah.374 bermain di arena politik praktis. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. aku semula merasa agak gamang juga. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. aku akan tenggelam. Namanya disebut di mana-mana.P. Nasehat ini mungkin didengarnya.N. Ini tidak mengherankan. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya.. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. Alasannya sederhana saja.

bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang.I. P. Bukan aku.W. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang. K. orang Minang kedua sesudah A. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku. biarlah orang banyak yang menjawab.I. cendekiawan.G. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan.. Sutan Mansur. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. budayawan. Hindu. atau siapa saja. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Tetapi harus kuakui.. Budha. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah. politisi.. warga Muhammadiyah. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. pejabat. militer. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai .R. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. dunia kampus.Tanyalah tokoh-tokoh N.U. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama.

” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu. Habibie.P. Bagiku hal ini baik saja. Kata orang. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.A.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung. (Dewan Pertimbangan Agung). D. Des.R.. menganggapnya tidak diperlukan .J. dan Megawati. Abdurrahman Wahid.A. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku.P. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.P. Kemudian pada akhir tahun 2003.A.. bukanlah urusan D. tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden. yang lain. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.P. Orang kantor Akbar Tanjung. juga dari Muhammadiyah.P.A. termasuk Sutrisno Muhdam. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D.A.P. tanyakan langsung saja nanti. 1998. dilikuidasi karena M.

aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. dan mantan-matan petinggi lainnya.A. baik A.A. mantan jenderal. pada tahun itu juga. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan..P.P. Baramuli. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut.377 lagi. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. Itulah sebabnya barangkali . selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Para mantan menteri. kecuali oleh B. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. maupun Achmad Tirtosoediro. aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. D. politisi.P.A. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D. Dari pengamatanku.J. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. mantan anggota parlemen. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D. mantan sekretaris jenderal.A.

Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua.P. . aku banyak dikenal di kalangan korps marinir.P. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. baik sipil maupun militer. kiyai. Sewaktu aku masuk D. mereka terlalu baik denganku. Bagiku apa pun kata orang. sebagai Dewan Pensiunan Agung. Ini juga meringankan P.P. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo.. Semua anggota D. tokoh masyarakat. tanpa kecuali. politisi.P.A. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. agak jauh di atasku. secara berangsur telah menjadi teman baikku. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota.A. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan. Apakah itu jenderal.A. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. marsekal.378 ada orang yang membaca D. umurku sudah menginjak 63 tahun. Melalui Gafur.

P. Aku tidak tahu. segar. Begitu menyatunya hubungan itu. penuh kharisma.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya.R. Sutrisno Muhdam.P. Semoga Allah menerima semua . cepat. di samping A. hanya satu-satu. Fachruddin.A. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali. karena wafat setelah sakit beberapa lama. aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir.A. karena pribadinya selalu kalem dan tulus.. dekat istana presiden. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran.A. Rasa humornya tinggi.P. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya.R. ketua P. dan sedikit menggelikan.P. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta.R. yang terlama.R. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur. Satu ketika aku bertanya: “Pak A.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta. Wakil Ketua P. Muhammadiyah. Muhdam adalah menantu A.P. mertua Muhdam. Itulah gaya Pak A. untuk D. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. “Tidak.

R. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. biarlah publik yang menilai. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan).380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Hanya soal waktu. pemerintah tampaknya cukup .P.. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat. Kepemimpinan Pak A. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. dan semua kita pasti akan menyusul pula. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. cepat selamat. Seluruh dunia memujinya. biar lambat asal selamat. Karena upaya beraninya ini. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda.A. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka. Tetapi ada catatan lanjutannya.

apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Habibie memang telah melangkah terlalu . Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. termasuk Amien Rais. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Dalam situasi serba dilematis ini. masyarakat menjadi liar. Dalam menghadapi Habibie. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Keadaan sukar sekali dikontrol. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. semua orang tahu.

langkah pemerintah cukup antisipatif. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Hanya sekitar 22. Setelah referendum diadakan. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. Dengan kata lain.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. . Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia.

Kritik terhadapnya semakin merebak. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. dan Bank Dunia. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. bahkan sering dipuji oleh I. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab.F.U. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini.M.

P.P.R. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Habibie sangat tahu diri dan . dan ternyata memang itulah yang terjadi. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Sidang M.R. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman. Tidak selang lama setelah sidang. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Ringkas kaji. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya.R.P.

P. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. tidak peduli siang atau malam. termasuk Amien Rais. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang. persahabatan kami tidaklah rusak. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. Maklumlah.385 menghormati keputusan M. politik adalah . apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P.P. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu..R. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie.

mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik. Fuad Bawazir. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ). dan Golkar. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik.49/51..P.I.P. dalam Sidang M. Intinya dari tokoh-tokoh P.R.K.U..K. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada.D. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. Dengan membentuk Poros Tengah.P.N. mengalahkan Matori Abdul .P.D. P.S. P.P.P. di Indiana.386 habitat yang sebenarnya baginya.. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.R.D. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. dan Golkar. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami.P. maka mereka (P.I. jawabannya adalah: “Jujur saja. dan P.) merasa sejajar dengan P.S.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22.P. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr.. Disiplin ilmunya pun.P.A.A. P.N.I.

sebenarnya punya naluri politik yang tinggi.U. yang tidak mudah diatasi.387 Djalil dari P. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. Sejak N. (Partai Kebangkitan Bangsa). Sekalipun N. 1984 di Situbondo. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah.U. Inilah dilema N. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu.U. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis.B.K. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. termasuk Wahid. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada .U.

Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N.U. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. banyak yang lain.R. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N. tetapi tetap ditolaknya. ini aku dengar dari Rais sendiri. Dawam Rahadjo. Adi Sasono. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Akbar Tandjung. Yusril Ihza Mahendra.P.-Muhammadiyah. Tetapi siapa tahu pula. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. setelah babak belur. Ibarat jago silat. di antaranya Jenderal Wiranto. Marzuki Darusman. jika Rais yang maju. Hamzah Haz. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. di akar rumput bisa gaduh.U. Selain itu.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. Mereka yang akan mengatasi. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan.” Situasinya memang rumit sekali. baru teringat silatnya. Seperti . dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M.

Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. Jadi memang serba dilematis.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. Tetapi itulah A.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. dan massa Muhammadiyah. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Rahman Wahid ini. Dinihari itu A. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. atau Gus Dur yang akan menemuinya. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie.U. Sekitar . atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. diobat oleh para kiyai. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka.P.

” Padahal Matori bukan preman setahuku.R. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya. Di samping berbicara tentang kabinet.R.P. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul.P.R.P. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati.P. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Aneh bin ajaib kemudian berlaku.A.P. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu.E. Azidin. Muhammadiyah Jakarta. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. A. S.. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi . Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. perlu dipimpin oleh preman.

P. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.-P. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai .P. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. bapak spiritual N.R. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden.U. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M. kakek Abdurahman Wahid. dan masyarakat tertentu. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.R.M. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari.I.B. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.391 seorang calon presiden.D.

sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi. Amien Rais. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M.M. Kristen.P.R. sampai sujud syukur di gedung M. Lebih dari itu. seorang A. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia.I. dan Budha. tokoh P.U. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.N. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. dalam lingkup nasional. Abdurahman Wahid mewakili puak N.P. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat.U.M. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini. ini kongsi politik yang ..392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid.R.P. Amien Rais puak Muhammadiyah.A. Mereka semuanya gembira. Fatwa. Hubungan N. Teman-temanku dari pihak Katolik. Bukan saja mereka.R. Akbar puak H. Hindu.

Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. Abdurahman Wahid. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu.393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Sebelum jatuh sama sekali. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.” Belum sampai dua tahun. Tiga figur santri: Amien Rais. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. Iklim politik . serumah berlain rasa. Sepintas lalu.

tidak saja di kalangan elit. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. Tetapi alangkah sukarnya.P. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. Khususnya di Jawa Timur.394 menjadi panas. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Aku. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M.R. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. Amien Rais. seorang pengusaha pribumi.R. Dalam situasi serba . Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. dan memang keduanya adalah petarung sejati. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. dan Dr. Akibatnya sangat nyata. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. bukan Amien Rais..” tetapi sudah bertarung. dan ketuanya M.P. M. Deddy Julianto. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai.

1. perlu kukutip di bawah ini.M. H. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. Apt. maka pernyataan P.B. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu. Hasjim Muzadi. dan H. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah.Sos. termasuk dengan Ketua Umumnya K. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. Nadjib Hamid.. P.W. N. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu.. Karena kejadian itu cukup menegangkan. Drs. Fasich. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid.U. 2. tertanggal 5 Februari 2001. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. .U. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. A. DR. S.395 sulit ini.H.

Sophiaan. Ainur R. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. Jawa Timur terus dilakukan. tanpa menyebut golongan mana mereka. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. 89). (Lih. Jawa Timur.396 3. yang dekat denganku terus dihubungi agar .P. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P. Nadjib Hamid. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. Kontak dengan P. hlm.W. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan.U.M. Faaisol Taselan. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. Anak-anak muda N. 2002.M. yang lain.W. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Surabaya: P. 4.

K. A. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N.U. hlm. Fatwa: …bajingan negara.M. Bagiku semuanya harus dimaafkan..H. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan.397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. Kata orang. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. tetapi isi tidak berubah). tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. dengan sedikit perbaikan ejaan. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl. Kholil Gresik.U. aku . 55. hubungan N. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. tetapi pasti. (Ibid. Dien Syamsuddin.

” ( Ibid. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini.R.. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. P. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. N. hlm. 8-11 Juli 2000. Gambaran urutannya adalah sebagai .U. 94). Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku.B. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta..U.M.W. Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M. Tetapi P. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan.P.

R. aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden . Din Syamsuddin. M. Amin Abdullah. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y.P. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. Sukriyanto A. Bendahara: M. M. Tidak lama sesudah itu. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. M. M. Muhaimin (971). Din Syamsuddin (1048). Rosjad Sholeh (1034).399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. Yahya A. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. Haedar Nashir (748). Ismail Suny (921). Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P.M. Muchlas Abror (788). A. Ahmad Watik Pratiknya (803). Mohammad Dawam Rahardjo (910).P. (706). A. A. Daerah Khusus Jakarta.W. M. Asjmuni Abdurrahman (769). Rapat Pleno P. Rosjad Sholeh. Malik Fadjar. Sukriyanto A. Malik Fadjar (1041). Amin Abdullah (940).R. Wakil-wakil Ketua: A.

dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali. Ketua M. dan banyak yang lain. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. M.400 Abdurrahman Wahid. Amien Rais. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya.l. Analog dengan ini pula.P. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana.R.P. apalagi memberhalakannya. Akbar Tandjung.R. Inilah a. Ketua D. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan . UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern.

agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. dan untuk jangka panjang. Oleh sebab itu. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran.401 jumlahnya. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Oleh sebab itu dalam . masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Bangsa ini adalah milik kita semua. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam.

Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. Muktamar Jakarta cukup semarak. seperti biasa.Dan katakan: “Beramallah kamu. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu.402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. tanpa melihat latar belakang sosial. maka Allah. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. pada umumnya . dan sejarah. suku. tetapi pers. rasulnya. agama. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan….

ya diterima saja. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. apalagi pertarungan antar figur. sekalipun tanpa tim sukses. Biar orang lain yang dipilih. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. . karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. Jawabanku biasa dan datar. sesuatu yang memang tidak kusukai. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. aku betul-betul terjungkal. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. A. Bilamana sebaliknya yang berlaku. Malik Fadjar. seperti main uang.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. Masyarakat memang demam pertandingan. misalnya. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif.

Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Semoga begitu seterusnya. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi . sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu.404 Sepengetahuanku. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. Permainan uang seakan telah menjadi norma.P. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Dalam perkara yang satu ini. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik.

P.405 menetapkanku sebagai ketua. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. Dalam rapat kilat itu. Muhammadiyah. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. periode lima tahun cukup berat bagiku. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. Muhammadiyah untuk periode 20002005. Dengan kenyataan ini. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi.P. tak seorang pun yang mempengaruhiku. sebab jika usia masih dipanjangkan. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. Anggota yang lain setuju saja. mentalku harus benar-benar disiapkan. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam .

Bravo. Jadi. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004.P. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. namun tidak bisa didikte oleh MAR. I would have listened gladly. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?].24. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar. if you ordered me to pull my support for MAR. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. . saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. aku terlihat “mengalah. ejaan disesuaikan).406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah.

jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi.30. bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. di bawah panas di atas panas. Bagiku sendiri. aku kadang-kadang merasa seperti bika. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. Aku mau berdamai dengan siapa saja. Dalam suasana yang tidak normal itu. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah. ejaan disesuaikan). asal . bika tidak akan masak. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Tetapi jika tidak demikian.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.407 bantulah dia sebisanya. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah.

Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka.408 dilakukan dengan tulus dan autentik. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku . Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Muhammadiyah. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya.P. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman.

Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta. 24 Januari 2002. Apa yang . Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar.409 kepada masalah kepemimpinan. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. menggunting dalam lipatan”. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. Bali. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama.

Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. dan aku mendukung. Kami anggota P. Rapat Pleno P. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. Dan undangan itu dikabulkannya. Yang benar bukan begitu.P.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang . M. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini.P. tetapi sia-sia belaka. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. lalu meninggalkan Bali. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. yang mengundang Mega. P.P.

maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. jam 17. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa.15). Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006.P. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat . mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. bukan kemauan seseorang. Dr. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. P. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers.

Kearifan dalam bersikap sering pupus . Amien Rais setelah M. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. kata orang. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek.P.P.412 jelas. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. ganas. Amien Rais dari Muhammadiyah. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden.R. memang dapat membutakan hati manusia. Dalam perseteruan ini. Aku melihat permainan politik itu kejam. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. Kekuasaan itu. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental.R. aku pun dari Muhammadiyah. pimpinan M.

jenderal. Keduanya cukup profesional. dan banyak yang . Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. Tamu-tamu berdatangan ke P. asing atau domestik. tidak ada urusan yang tidak beres. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. Muhammadiyah Jakarta.413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. pengusaha. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. mantan menteri. sebab merekalah yang mengatur agendaku. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Tidak saja dari mereka.P. budayawan/seniman. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. menteri.P. siang dan malam. sekalipun lelah. mobilitasku memang meningkat drastis. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta.

Habibie. Amien Rais. M. Muchlas Abror. Todung Mulia Lubis. Muhammadiyah dan sesudahnya. Romo Benny. mungkin karena ada gelombang yang sama. Biku Pannyavaro. Susilo Bambang Yudhoyono. M. Gunawan Mohamad. Fuad Bawazir. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Achmad Tirtosudiro. Salim Said. Dillon.S. Hidayat Nur Wahid. Denny J. Pdt. M. Taufik Abdullah. M.414 lain.A. Bambang Sudibyo. Fuad Amsyari. Hatta Rajasa. Adnan Buyung Nasution. Jusuf Kalla. Kaban. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Josef Handojo. Ajib Rosidi. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. Anas Urbaningrum.J. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. Tarub. Ahmad Hasyim . H. Weinata Sairin.P. Dengan kata lain. Ramadhan K. Sejak aku muncul sebagai Ketua P.. Din Syamsuddin. Sri-Edi Swasono. Franz Magnis Suseno. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Dawam Rahardjo. Sulaiman Abdul Manan. A.H. Megawati. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Taufiq Ismail. Nurcholish Madjid.A.. Abdurrahman Wahid. Gewanggoe.S.

Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Rosihan Anwar. Haedar Nashir. T.M.415 Muzadi. Jusuf Wanandi. Achmad Bagdja. Albert Hasibuan. Hamid Basyaib. Dasron Hamid. Yunahar Ilyas. Hendropriyono. Mustofa Bisri. Gafur Chalik. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Siswono Yudo Husodo. A. Amin Abdullah. A. Watik Pratiknya. Sofyan Wanandi. Jeffrie Geovanie. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Rosjad Sholeh. M. Syamsir Siregar. Masdar F. Sulasikin Murpratomo. Mas’udi. Rusdi Latif. Pertukaran pikiran . M. Muljadi. Jakob Utama. Salahuddin Wahid. Muhammad Muqoddas. Handojo S. Matori Abdul Djalil. Sudhamek AWS. Muhammad Najib. Deddy Julianto. Sjafri Sairin. Suyanto. A. Kuntowijoyo. Malik Fadjar. Fatwa. Herman Darnel Ibrahim. Bambang Widjojanto. Fasli Djalal. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. A. Sutrisno Bachir. dan puluhan yang lain.M. Zamroni. A. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Jacob. Umar Wahid. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Rizal Sukma.

Dengan Boyce malah sering. untuk menyebut hanya berapa nama. aku belum punya bukti. aku dan dia bersimpang jalan. Boyce (Amerika). Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. Dengan duta besar Ralph L.416 dengan berbagai kalangan itu. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai . aku sudah bertemu dan berbincang. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. Lu Shumin (Cina). Edward Lee (Singapura). tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. aku sungguh banyak belajar. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Richard Gozney (Inggris).

kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. dan ini sangat Qur’ani. Ya.417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua. Toffler. a. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya. tetapi . tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. seorang Yahudi.l. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban.

tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Pak A.418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. Menariknya. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta.R. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Bantul. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar.P. Entah apa alasan dan daya pikatnya. Fachruddin cukup . tetapi belum cukup. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Kabarnya konon para Ketua P. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan. termasuk dengan beberapa pengusaha. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab. itu dipercaya banyak pihak. Allah maha pemurah.

Tidak perlu menunggu lama. Donatur yang lain berdatangan satu persatu. 500. tanpa meminta kuitansi. Hasilnya memang di luar dugaan. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. Dasron Hamid (ketika itu). kepercayaanku . sebuah angka yang cukup besar kala itu. Pada waktu itu kami belum akrab. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. Menurut keterangan Rektor U. Ada yang datang langsung ke P. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto. seperti yang kulakukan juga.P.419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto.M. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. besar-besar lagi. surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara).000. Jumlahnya Rp. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.Y. Melihat kenyataan ini. sekalipun sudah saling mengenal nama.000. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. dana itu telah turun dengan mudah.R. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar.

Fuad Bawazir. Habibie. aku pun bisa. Al Hilal Hamdi.M. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. Semoga aku pandai menjaga amanah. Jenderal Muchdi.S. Kaban. H. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Herianto). Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. . Dalam upaya pencarian dana ini. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. dan masih ada yang lain. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. Hendropriyono. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan.J. Abdurrahman Wahid. tidak saja untuk muktamar. Ternyata. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. Dasron Hamid sungguh besar. Jenderal A.P. Hatta Rajasa.420 kepada diri sendiri semakin kuat. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. M.

Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus.P. 50. Tidak sekali cara ini kualami. Dana datang tanpa diduga. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. Tetapi untunglah. 500. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu. Maka tugasku dan temanteman P. datar. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku. . tidak menjadi kenyataan. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. D.000.000 dengan pecahan Rp. Tanpa uluran tangan mereka. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%.M. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya.W. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. P.K. reaksinya sangat biasa.I.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. ternyata kemudian kempis.

23. Coba kalau isteri mata duitan.P. Cik Di Tiro No. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah.P. 400.000. dia pusing juga. kuajak meninjaunya. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. Jogja. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. menristek ketika itu. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. tentu sambil “merogoh” kantongnya. Itu pun dikabulkannya. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. juga dibantu Rajasa. yang baru di Jl. Masih ada yang lain. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa.000. Oleh sebab . aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Hampir Rp. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Muhammadiyah.422 tetapi jika tak punya. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini.

Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia.P.. Sekiranya aku menjadi politikus. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia. suasana semacam ini belum lagi tercipta. Salah seorang sahabatku Sudhamek. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P. seperti telah disinggung sebelumnya. .P. di akhir masa jabatanku di P.423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Muslim dan nonMuslim.75.000.

Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya.424 E. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P.P. Sebagai Ketua P.P. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. Di Era Orba. sebagaimana telah kusinggung . Muhammadiyah. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua.P. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh.

tetapi Ahmad Azhar Basjir. untuk memimpin P. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir.P.N. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P.P.425 sebelumnya. Mujur yang tak dapat diraih. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah.A. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. seorang alim yang tidak punya naluri politik. Suasana inilah yang kemudian . malang yang tak dapat ditolak. termasuk sejarah Muhammadiyah. Muhammadiyah periode 1995-2000.P.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. Namanya sedang jadi buah bibir publik. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif.

aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Satu dua cabang. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.M. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. tetapi tidak mungkin ditandangi. dan Sulawesi Barat Daya.P. yaitu Gorontalo. kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. apalagi seumurku.M.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. Sekitar 400 jumlah P. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua. maka periodeku menjadi tujuh tahun. tetapi beberapa P. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . tidak saja dengan wilayah. Keinginan warga. Bangka-Belitung. bahkan ranting pernah pula didatangi. jika mungkin. Hampir semua wilayah telah kudatangi.D. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998.D.

Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. tidak lebih dan tidak kurang. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral.427 gerakan sosial lain di Indonesia. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. secara kuantitatif. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Suasana semacam ini memang memprihatinkan. . Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan.

di antaranya Ahmad Najib Burhani. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Norma Permata. seorang kiyai-antropolog. Hilaly Basya. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. Kuni Khoirun Nisa’. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja.428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Pradana Boy ZTF. Sebagian dekat dengan Dr. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. baik untuk pendidikan. Ahmad Fuad Fanani. Thantowi. Rohim Ghazali. Hery Sucipto. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. Abduh Hisyam. Sukidi Mulyadi. Promono U. Abd. Menurut Fuad Fanani. Asep Purnama Bahtiar. Andar Nubowo. kesehatan. Muslim Abdurrahman. Zuly Qodir. Saleh Partaonan Daulay. Zakiyuddin Baydhawi. A. M. Mun’im A. Hilman Latief. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. M. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Sirry. .

Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. Berbagai masalah pasti muncul. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. kadang-kadang bertubi-tubi. Nur Hidayah.429 Ilham Mundzir. Rahayu Arman. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Budi Asyhari Arman. sekuatkuatnya secara kritikal. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. Fajar Riza Ul Haq. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. kita belum bisa mengatakan. bergabung dengan yang lain. Ada contoh . Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. padalah niat semula adalah untuk beramal. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah.

” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. jangan dibiarkan membusuk. pun. bukan karena yang lain. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. karena alasan tertentu. tidak saja di tingkat bawah. di tingkat P.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005.P. itu bukan hal baru. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan. Keterikatan kita bukan dengan manusia. Kekuatan . Jawabanku adalah: “Jangan. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. kecuali kembali kepada ruh agama. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. hal serupa terjadi. seperti telah kukatakan. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P.P.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan.

William F. NY 10017. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N.P. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W. seorang Katolik yang taat.R. adalah: 777 United Nations Plaza. hampir satu abad yang lalu.R. Yordania. Alamat kantor pusat W.P. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman.U.C.A. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan.C. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.R.S. setelah pertemuan Amman.C. Sekalipun tidak sempat aktif benar.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. berada di New York dengan sekjennya Dr. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. New York. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif. tetapi aku . U. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. Karena masyarakat terus bergerak. Vendley. Kantor pusat W.P. kritikal.

terbuka. Selama dalam pergaulan lintas iman itu.. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat.16 Rasanya Dr. Dalam pergaulan lintas iman. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan.cit. hlm. Abd. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. Rupanya 16 Lih. Yang jelas. seorang sahabatku Dr. 555. Suharyo agak berlebihan menilai peranku.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. inspiratif. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. I. op. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. . Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. Suharyo. Uskup Agung Semarang.

Endo Suanda. Ahmad Syafii Maarif. Ajib Rosidi. dan para penulis terkenal. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar. Dini. Pada saat Prof. Dr. Rendra. cendekiawan. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. Firous. di atas 60 tahun. Ramadhan K.S. Nh. Kusumo.S.D. Kami memilih Prof.J.. Rendra. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002.H. Rata-rata usia anggota A. Tatiek Maliyati W. Anggota A.M.J. . Saini K. atas dorongan seniman W. Misbach Yusa Biran. A. Taufik Abdullah.J.433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Rooseno. aku dimasukkan menjadi anggota A. wartawan. Sardono W. Gunawan Mohamad. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman. Slamet Abdul Syukur. Toeti Heraty N. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah... Sardono W. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas.

” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya.434 Kusumo.J. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar. . aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan belajar ini. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A.J. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang.

ketika kita membaca . jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. di Gedung Graha Bhakti Budaya. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. akan menjadi berkah pada umat. Tapi sebaliknya. pena. tangan. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. 22 Nopember 2005 lalu. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Kaum intelektual.J. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap.J.J. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. Anggota A. jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. dan pribadi pengarangnya. TIM. ungkapnya.435 Kenggotaanku dalam A.

sangat menentukan. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. Jadi. untuk bisa jujur.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. 16:23:58. melainkan titik-titik yang merentang panjang. ejaan disesuaikan).(SMS tanggal 15 Feb. Salam”. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. No. [Endo Suanda]. 3. sadar ataupun tidak. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. Ya.436 suatu karya sastra. 77/VIII/2006. Karena berasal dari ranah Minang. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. hlm. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. 17 . Kejujuran di situ terasa. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. 2006. aku sering dipanggil buya. memang. pantangannya jangan berdusta. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato.

R. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. akan terbaca buaya. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan.. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini. setelah para buya masuk politik. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik. Adalah Nursam. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang.S. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku.R.K. VIII. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. wibawanya merosot ke titik nol. integritasnya sebagai buya sering berantakan.437 bu dan ya. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. MASA DEPAN INDONESIA A. S. .K.

S. Gemanya luar biasa. H.cit. belum tidur benar. 18 .S. Dillon.U. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. hlm. Muhammadiyah dan N.U. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. “Syafii Maarif. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit.. 290. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. op. Menurut catatan Dillon. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan. H. aku.. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi.U.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih. Tetapi dengan deklarasi di atas. Pemberantasan Korupsi. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban.

Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. sebagai orang dalam.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Jika berhasil.U. Saya. N. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . Sebaliknya jika gagal. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. katanya. mungkin masih ada masa depan. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. Saya berada di belakang gerakan sipil ini.

440 langkah kontroversial itu.U. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. Sebagai gerakan penyadaran. bukan gerakan eksekutor. .U. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. ini. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas.

Diharapkan dengan gerakan moral di atas. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. masih belum terlalu fokus.441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri.U. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. bersama kekuatan lintas agama. tetapi menurut para pengamat. . Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras.U. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N.

No. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil.Ag.P.Si. Dr.M.A.M. a.. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini.R. Adanya K.U. VI/2000 tentang Persatuan Nasional. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi.K.K. di antaranya Rizaluddin. Hoc.R. Dr. Deliar Noer. kemudian ditegaskan lagi dalam U. Dikatakan bahwa pelanggaran H.K. Anhar Gonggong. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah.. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. Asvi Warman Adam.. No. surat keterangan dari dokter.. Ad. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.R. ini merupakan pelaksanaan TAP M. Natan Setiabudi. Namun setelah dua seleksi berjalan. Melihat . (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H. 26/2000 pasal 43. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. S.R.A. akan ditangani K. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota. Dr. ada beberapa syarat yang harus ada.l. dapat kujelaskan sebagai berikut.442 Tentang pencalonan K. Dr.K. M.R. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005.

kata Rizaluddin. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan.K. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya.K. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap . Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak.443 gelagat semacam ini. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Karena itu. Bukankah K. Di mata mereka K.R. Menurut Rizaluddin. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. dan mereka saling memaafkan. aku akan menjadi kecil. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini.R. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing.

Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. atau nenek mereka telah saling membinasakan. orang tua.G. Menurut sahabat ini. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia).I. Dr.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. sekalipun sekiranya aku masuk. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. Agar masalah ini tidak terus . Umumnya karena perbedaan ideologi politik. Natan Setiabudi. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. Dalam hati kecilku. jika aku diterima masuk bersama dengannya. sekalipun dahulunya mereka. seorang sahabatku. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. mantan Ketua Umum P.

jika masih diperlukan.R. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P. Muhammadiyah ditinggalkannya. bersedia sementara P.I.P.K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. energetik. dalam Muktamar Malang. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua. seandainya aku diterima sebagai anggota K. Tidaklah elok bagi semua.445 mengambang. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju.P. . Orang seperti aku. cukuplah menjadi penasehat. Nah. dan punya waktu yang lebih banyak. dan yang sebangsa itu. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis.R.R.. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D.K. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. Muhammadiyah.K. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda.P. pelindung. K. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P.

aku tentu dengan senang hati akan memberikannya. Kita satu. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini.R. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau.K.K. komisi ini belum juga diumumkan. (Lembaga Swadaya Masyarakat). Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih. 2006 pada saat bagian digarap. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L.K. entah mengapa). tidak ada perbedaan di antara kita. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K.446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P.R. Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing. (sampai tanggal 23 Peb.R. namanama anggota K. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin.K.M.S. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.I dan sisa-sisa pendukungnya. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. Komitmen kebangsaan dinilai sudah . tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan.

447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. maka kasus B. Masalah B. sebuah bank swasta yang diakusisi. di dalam diri sendiri ada masalah B. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P.P.I.I.I.P. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu . (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P. S. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku. Aku yang tidak paham soal bank.P. Muhammadiyah di bawah komandan Prof. M.P.P. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo.P. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi.I. Dawam Rahardjo. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. Teman-teman Majelis Ekonomi P. B. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. selama lebih tiga tahun.P. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002.E.

448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan.. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.N. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama).I. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah.P. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar.A. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. M. (waktu itu) Saefuddin Hasan.P. termasuk di dalamnya perbankan. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. S. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P.P.I. . dan M. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu. Thohari. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank.E. itu tidak benar. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B.I. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang.I.

tetapi kutolak dengan sopan.P. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony.. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. Jadi ini adalah saham fiktif. kecuali kebaikan. Muhammadiyah itu bahlul. Sekiranya kuterima. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda.P.449 Tidak ada motif macam-macam. Suatu hari melalui Hajri. Ketua P. yaitu aku sendiri.. Dalam sebuah rapat P.P. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P.P. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P.P.I. orang kepercayaan Lulu. Membaca . lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah.

P.450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman.I. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak..P. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan . dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu. Karena kondisi B.P. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik..P. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. seperti tersebut di atas. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B. melepaskan sahamnya di B. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati.P.I.I. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui. semakin memburuk dari hari ke hari. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah.P. tetapi alangkah sulitnya.I.

Kalau aku melakukan refleksi tentang B.I. karena seringnya pertemuan itu.J.K.I.K. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: . dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru.P. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005.P. ini. Semua permintaan Hajri kujalankan. aku memang tidak bisa lepas tangan. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya.P.K. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P. aku kirim SMS kepada M.) dalam upaya mencari jalan ke luar. Setelah terlihat titik-titik terang.451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. Jawaban langsung dari M.I.P. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B.I.J. benarlah ucapan M. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku.J.J.P.K. kalau ada masalah B.J.K. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan. sekalipun masih ada ganjalan hukum.

M. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Pada masa yang akan datang. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. maka tunggu sajalah saat kehancurannya. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). 2004. Toni. mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. Jakarta: PSAP. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah.R. . B. anak Kuantan.

D. atau pulau lain. Jawa.453 Riau. untuk membubuhi kata pengantar. Amerika Serikat. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia.. Athens. apakah dari Sumatra. Columbus. sementara Rizal di U.” Di ujung kata pengantarnya. R. Ph. Namun. William Liddle. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat . Bahkan mereka sampai menghubungi Prof.I. dan berdarah Minang. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Kini. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. (Universitas Indonesia). Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. guru besar Universitas Negeri Ohio. tentu tidak boleh diremehkan. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio.

hlm. H. M. Salahuddin Wahid. pasti akan menyokong pesan ini (lih. baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Rizal Sukma. Douglas Rumage. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. terutama dalam bidang ilmu. Akbar Tandjung. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. Rosihan Anwar. Dillon. XX). terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Taufiq Ismail. Natan Setiabudi. Din Syamsuddin. Tamu yang hadir cukup banyak. Wiranto. Jakob Utama. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . Rendra. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. Jakarta.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar.S. sahabat. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla.S. W. Syafii Maarif. Deddy Julianto. Muhammad Najib. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. bertempat di Hotel Aryaduta. Jeffrie Geovannie. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. bagiku.

2005. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. Jakarta: Maarif Institute. Jakarta: Maarif Institute. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. melampaui usia nabi. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun.455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. yaitu Abd. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada. . seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. 2005. termasuk dari penulis asing. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). sebagian cukup panjang. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa.

. Kardinal Julius Darmaatmadja. Herman Darnel Ibrahim.456 tebal 267 halaman dengan indeks. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Hatta Rajasa. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. Sutrisno Bachir. M. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. Jakarta: Grafindo. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Salahuddin Wahid. A.I.S. Husni Amriyanto Putra. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Dillon. A. Sudhamek. 2005. Syamsir Siregar. Deddy Julianto.. Hidayat Nur Wahid. Universitas Negeri Yogyakarta. tebal 317 dengan indeks. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Dasron Hamid. Jeffrie Geovanie.S. Rizal Sukma. Ada dari pengusaha Handojo S. Sjafri Sairin. Jakob Utama. Hasyim Muzadi. Natan Setiabudi. Deddy Julianto dan temantemannya. Fadilah Supari. Suyanto. sumbangan datang dari berbagai penjuru. H. Malik Fadjar. Muljadi. Bambang Sudibyo. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Anton Syafriuni. Akbar Tandjung. Thohari. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. M. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). Hajriyanto Y.

P. Karena sudah lama kupertimbangkan.P. 700. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. Rais. C. baru ditetapkan. Dana yang masuk melaluiku. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. . Muhammadiyah. Masih ada teman-teman P.A.P. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Tidak kurang dari Rp. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah.P.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. semua yang hadir. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005.457 dan banyak dermawan yang lain. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. khususnya M.000.

. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses.A. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat.M. Prof. M. L.. S. M. Amien Rais. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. Prof.A. Maka jadilah P. dan benar-benar menjadi tenda bangsa.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui.. Tetapi praktik main .H. harapanku ini menjadi kenyataan. Dr. dan Ahmad Syafii Maarif. anggun.L. Asjmuni Abdurrahman. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. Abdurrahim Nur. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof. Alhamdulillah. sesuatu yang tak mungkin kulakukan. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. terarah.P.. M. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya. demi kemenangan jagonya. dan beradab. Ismail Suny. Dr.

12 Juli 2005.459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. hlm. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. Tetapi. 3-8 Juli 2005. dalam bingkai moral yang prima. produktif. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. Anggun. . berlangsumg dengan aman. 12). Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). dan Beradab”(Republika.

anggun. gesekan terselubung pasti terjadi. dan beradab. Memang. Memang. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik.460 Tanwir berjalan dengan mulus. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. Din Syamsuddin. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. agar keutuhan tetap terjaga. patut disyukuri. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. .

saya tidak punya kosa kata lain. seperti yang telah disinggung di atas. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. penuh warna.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . Kepada para sahabat yang tulus ini. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern.

” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya.P. . “Memimpin adalah untuk melepaskan. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. tahun 2000. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh. sekalipun belum tentu seagama. para pengusaha. pejabat-pejabat negara. Dalam muktamar Jakarta. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi.462 yang tidak bisa dinilai dengan benda. saya mohon maaf. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. yang masih berharap agar terus. Muhammadiyah. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural.

saya juga mohon dimaafkan. baru dua yang kukabulkan. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. Bagiku. baik di dalam mau pun di luar. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. itulah aku. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. Beberapa undangan dari luar negeri. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. dan undangan departemen luar . Apa yang kukatakan.463 Akhirnya. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. di mana aku memberikan makalah. Pasca Malang.

khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. dinamis. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah.464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. . kita tidak dapat memaksa. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. kreatif. Filipina pada bulan Maret 2006. Karena aku sudah semakin tua.

Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. D. tetapi belum mendapatkan porsi khusus.T. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun.465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing. Kami mengangsur perumahan K. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku.N.R. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan.P. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. lebih 20 tahun yang lalu. . bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya. artinya banyak air.T. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya.

dan agama yang berbeda. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. dimulai sejak Desember 1985. jenis kerja.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. Sumatera. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa.670. dan dari lain-lain pulau. bisa jadi dapur tidak berasap. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. belum sampai 15 tahun. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. . Madura. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. Ada yang berasal dari Kalimantan. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. 87. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik.

Tetapi setelah masjid berdiri pada . Dr. ada juga Dr. dinas pubakala. pegawai departemen pendidikan nasional. Prof.467 Dari jenis profesi. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. Mohtar Masoed. Dr. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. Tidak pernah putus saban tahun. keduanya tamatan Amerika. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. polisi. tentara. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. pertamina. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. Marchaban. wiraswasta. Suyanto. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. ada saja rombongan yang berangkat. karyawan RRI. jaksa. dokter manusia dan dokter hewan. tergantung keadaan masingmasing. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. di antara mereka ada karyawan bank. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu.D. Beberapa pemegang Ph. Ada Prof. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. alumnus Perancis. dosen negeri dan swasta.

(Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Beberapa tahun menjabat ketua R. H. Sewaktu menulis bagian ini. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan.P. Muhammad Bachtiar. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. terbayang olehku wajah Drs. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. M. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. Ada Drs. H.. (Rukun Wilayah).468 tahun 1989. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. pimpinan P.Si. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah. Hubungannya denganku sangat dekat.W. Agak sedikit emosional. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. dosen fakultas . Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah.T. Djumari. H.G.P. sekalipun untuk tingkat R. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun.

Semua urusan di tangannya beres. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. mantan jaksa. B.M. tidak ada yang tidak selesai.469 psikologi UII.. Teman ini .. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. dan karyawan pada sebuah bank.E. VII. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid. Negeri Jogjakarta. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. Heru. Berasal dari Prembun (Kebumen). Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih.Si. pengurus R. S.M.. Kemudian Ahmad Syamlawi.W. 16. adalah yang paling menonjol.T. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. pernah menjabat Ketua R.H.K. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa. H. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta. maka nama Kastolani.A. S. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya. Ada lagi bung Drs. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S.

sesekali juga bertindak sebagai muazzin.H. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging.R. Sumenep. tidak boleh dilupakan. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. Sekalipun baru pertama kali. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. M..I. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang.T. Nama Ir. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. Tidak saja itu. S.. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing.Pd. Duriat Subekti. Irawadi Buyung. Kalau ada urusan pengeras suara. Tampak pula wajah Dr. mantan kepala R.Si. M. maghrib. juga tarawih. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto.M. dan ‘isya’.seorang sarjana teknik listrik. Eko Supriyanto. Inilah sosok yang punya naluri L. H.S. M. (Lembaga . Ada lagi H. dialah ahlinya..470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto. Selama bulan puasa.

di samping ketua Y. Thohar Fuaedy.. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. Miska Amin. Tinggal agak ke utara masjid. ada Drs.I. Dadanya lapang. berasal dari Bengkulu. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). di samping khatib Jum’at.471 Swadaya Masyarakat). dan humoris. beberapa tahun menjadi ketua takmir. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Berat badannya mungkin di atas 80 kg.” Ada lagi Drs.N. Jika komputerku sedikit rewel.A. pemaaf. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. M. Yang lain adalah Drs. di samping sebagian sudah kesebut di atas. aku pernah minta tolong kepadanya. seorang ahli komputer. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka.S. M. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di . karyawan perusahaan minyak itu. Namanya Hartoyo. M. Mohammad Hatta. H.Si. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Pd.

Riau Daratan.. Namanya H. Hermanlah orangnya. S. tugas pokoknya adalah menimbang daging. juga dari Bengkulu.I. dari Manna. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Marsono. hilang kala tertawa. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. M. di samping H. Setiap ‘Idul Qurban. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. dari unit Syari’ah bank B. Hermansyah. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak.R.E.. Dia teliti sekali. sudah puluhan jika bukan ratusan.472 berbagai media cetak. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. Apalagi matanya. Berasal dari Lirik. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang.Si. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. ada kalanya terlalu sibuk di luar. Teringat juga sosok Drs. Kadangkadang rajin ke masjid. . Usmar Salam. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Perawakannya tinggi semampai. M.A.. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Yulian Yamit.

Rasanya pernah dikatakannya. Warsono Muhammad. M. Jarang absen. Abdul Aziz dari pertamina. H.473 dan H. Aku melihat wajah ketiga teman ini. berasal dari Bojonegoro. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing. seperti wajah teman-teman lain. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya.I. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Pernah dua periode menjabat dekan. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman.I. alumnus U. sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto.A.. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. agar citra santrinya lebih kentara. adalah wajah ikhlas. Aku tidak tahu apa alasannya. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat . dan Hawaii. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Berat badannya sekitar 80 kg. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs.

pemilik apotik di Bantul. untuk maghrib dan ‘isya sering datang.Si. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto.474 ekonomi yang lain. dari pimpinan Bank Mandiri U. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian.P.M. Teman-teman lain masih banyak.Sc. M. Ada Drs. H. mantan kepala L. Hilman Nadjib.. Teman lain adalah Bambang Samiyo. Jama’ah lain adalah H. dosen Universitas Muhammadiyah . (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Siswojo. Dalam rangka mengurus daging korban.P.M. H. Keduanya sama-sama ekonom. Kecuali untuk jama’ah subuh. Sudiyono. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto. M.M. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid.G. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto.E. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Ada pula drh.. S. H. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. berasal dari Kudus.

Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. ‘isya’. spesialis anak. Ada lagi Suharwidjono. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an.. asal Sumatera Selatan. Dalam kegiatan . U. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. di samping sekolah mereka yang lancar. pindahan dari Kalimantan Tengah. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. Idam Nawawi. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. dan subuh. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. khususnya untuk maghrib. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. mengajar dan belajar sesama mereka. Universitas Negeri Yogyakarta. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah.475 Yogyakarta. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan.I. begitu juga dr.I. Tidak semua mahasiswa.

I. Sebelum dihidangkan kepada tamu. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto.A. istilah Minang untuk jutawan.N. mereka selalu diikutsertakan. 6.I.N. VII perumahan Nogotirto. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto.S. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku . Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya.000 per bulan.476 kepanitiaan.T. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif.000. rata-rata Rp.A. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan. 500. Seperti telah kukatakan. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. 200.S.000.000. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan.

Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik.P. seorang penulis prolifik. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya.K. Bung Rusli adalah seorang aktivis . Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. salah satu kelemahanku adalah suka makan. Berbagai jenis masakan dihidangkan. Disertasinya telah rampung ditulis. Di antaranya Drs. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto. Setiap Hari Raya Qurban.M. Sebagai manusia kelahiran Minang. Biaya kuliahnya pada I. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. asal Palembang. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Rusli Karim. khususnya pada Hari Raya Qurban ini.A. M.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. tempatku memberi kuliah selama dua tahun.I. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. (Universiti Kebangsaan Malaysia). biasanya setelah salat zuhur. seperti yang telah kusebut terdahulu. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. M.. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan.K.

I. Perbedaan ini wajar . Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. dan S2 di Rotterdam (Belanda). mantan jaksa. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. kajian agama. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Muhammadiyah pun kehilangan.I. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Dia dimakamkan di pemakaman kampung. politik. Bukan saja aku. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. seorang sarjana teknik U. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. apalagi sejarah. Hafiz. Berbeda denganku. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. dinihari sudah dipanggil Allah.

Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Tetapi aku akan naik pitam. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. jika anak tidak tertarik untuk belajar. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Alhamdulillah. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. sekalipun sering aku peringatkan. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya.479 saja. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu.

Angka pengangguran malah semakin bertambah.I. terakhir bertugas di Jayapura. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. seperti sakit atau kematian. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya.480 yang sangat tajam. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik.R. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. Di perumahan Nogotirto ini.. Ringkas kata. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. suasana lingkungan perumahan Nogotirto . Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta. Kami biasa bersenda gurau. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. ekonomi. bicara macammacam. Sangat praktis. Teman ini adalah pensiunan B. politik. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan.

seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. Di bawah kordinasi M. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Novirman . Deddy Julianto. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Atas gagasan Prof. Dr. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. E.

dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus.482 Djamarun. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. seperti tersebut di atas. Sijunjung. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Hatta Rajasa akan hadir. Riau. Solok. tetapi karena mendadak dipanggil presiden. Padang. Muaro. Jambi. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. Bandung. dirut Indofarma dan . Lintau. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. TK. karo keuangan departemen pendidikan nasional. dibantu oleh Drs. Kopertis Sumatera Barat. dua dari departemen perhubungan. staf khusus menteri pendidikan nasional.l. Tamu dari Jakarta a. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya.

bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . saya hitung-hitung lebih dari satu milyar. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. Tidak ketinggalan Ir. Nilai keseluruhan bantuan. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan. Sudirman. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. masjid. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. Herman Darnel Ibrahim. direktur IGM (Indofarma Global Medica). mantan dirut BNI. surau. ketrampilan. dan beberapa anak miskin. salah seorang direktur PLN Pusat. Seperti perhelatan besar saja. rektor Universitas Negeri Jakarta.483 staf. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. mantan dirut BNI. panti. karo kesra wakil presiden.. Ir. M. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. baik berupa voucher mau pun uang kontan. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas.M. dua orang dari Maarif Institute. TK dan panti.

Menurut Darnel.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. serta kendaraan pribadi. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Kabarnya di atas 50. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. Indofarma. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. jika tidak waspada. Sepintas lalu. jika orang tidak . yaitu 27%. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. baik yang disediakan dephub. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. sesudah oksigen. PLN. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. padahal penduduknya hanya 270 juta.

tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. 150. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu.000 s/d Rp. .485 membaca informasi tentang sumbangan di atas. akan punah dimakan musim. lambat atau cepat. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. 200. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. seni khas daerah itu pasti.000 per orang.

Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.L.000.N. 31 Januari 2006 untuk Republika. seperti telah kusebutkan di atas. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. . Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini. 20. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan.000.000. 50.000 dan Rp.

IX.487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di . Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal.A. Sumpur Kudus. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak. Dari seorang anak piatu di desa Calau. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku.M.P. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar.

Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. karena sudah terlatih sejak kecil. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. mengadu ayam bersama mereka. memancing ikan di Batang Sumpur. Aku menjala. Topik perdebatan . Sampai setua ini. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi.R. mengadu sapi. Lintau. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Bahkan lebih dari itu. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur.

Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). jika bukan semakin menguat. Harun Malik. tetapi tidak tetap. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. Wahid dan M. Wawasan semakin luas. A. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat.489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Bahkan sampai aku . kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten.

Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Amerika Serikat. sungguh sangat besar. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Peran Fazlur Rahman. dengan segala kritikku kepadanya. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya.

Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. syi’i. khawarij. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. Untuk Indonesia ke depan. bukan dari Rahman. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. jujur. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. Sebagaimana nenek mereka terdahulu.491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. dan kritikal. bukan milik kita. diterima atau ditolak. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas . adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan.

tidak pernah berhenti. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. di . Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. Pandangan Mohammad Hatta dan H. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik.A. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Dalam ungkapan lain. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini.

Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh.493 samping Bahasa Indonesia. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. betapa pun kecilnya. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. Apakah . Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu.

karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. tidaklah penting bagiku. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. keluar tidak mengurangi. Masuk tidak menggenapkan.

sosial. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban. (Inpres Desa Tertinggal) itu. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian.D.P. apalagi saling meniadakan. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. domestik atau pihak asing. Tidak untuk saling menggusur. atau setengah gagal. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. dan kultural secara nasional. setengah berhasil. . Karierku sebagai Ketua P. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. gagal. 1998-2005. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik.T. Muhammadiyah.

dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E.P. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. Diskusi. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. aku masih terlihat sehat.. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Sebagai pembawaan dari Minang. dunia terasa berputar . Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. selera makanku belum menyusut. Selama hidup. simposium. Mungkin karena terlalu lelah. jika tidak lupa. alhamdulillah. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. sekalipun secara selektif. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. dapat dikontrol sebaik-baiknya. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. ternyata tidak demikian. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. seminar. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu.

S.P. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. Kepada para sahabat yang . Dibaca ulang. tidak akan ada ujungnya. Muhammadiyah Jakarta. dan Zainuddin. diperbaiki. atau bahkan dibuang.E. S.. ditambah. dikurangi lagi. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. bisa jadi akan berlarut-larut. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. jangan sampai merepotkan orang lain. demikian seterusnya tanpa putus.Ag. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. karyawan P. S. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. Tetapi sudahlah. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri.E. ada saja yang perlu ditambah.497 kencang sekali.. dikurangi. tidak ada gading yang tak retak. Oleh sebab itu. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku.

19. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman .498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan.P.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. Jl. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10. sejarawan. Jawa no. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. dari Penerbit Ombak Jogjakarta. Halmahera D/76. Jl. Muhammadiyah dan Bung Nursam. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan.42 di Perum Nogotirto Elok II. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20.

. . . . . . . B. . Mulai Dijodohkan. . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . . . . . . . . . . . . . . . 1 A. . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . D. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . dan Perdagangan . . . . . . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . M.R. . . 92 104 B. 125 B. . . . .499 I BUMI KELAHIRAN. . Makkah Darat. . . . . . . . . . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. . . . . III . . 92 1 . . Lintau .. . . . . . . . . . . . . . . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 34 76 C. . . . MUSIBAH SILIH BERGANTI . . Sumpur Kudus. . . . Bertugas di Lombok Timur . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . 156 143 108 113 B. dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . . . . . . II . . . . 125 A. . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . C. IBU-BAPAK. . . . . . .. . . . . . . 108 A.I . . . . . . . . . A. . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . . . . .D. . . . . . . . . . . . . . . . . . . IV . . . . . . . . . . . .

. . dan Kecemasanku. . . . . C. . 175 A. . VII . . . . Kiprahku dalam Memimpin . . . . Perkisaran Abad. . . 181 D. . . . . Kembali ke Jogja. . E. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . . . . Muhammadiyah. . . . . . 170 VI B. . BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . .500 A. . . . dan Lahirnya Ikhwan C. . Muhammadiyah. . . . . . . . . . . . . . . . . . .P. . . . Lulus S1. . . Keruntuhan Rezim. . . . . 214 A. . . . . . . . . . Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . . . . . . . . . . . . . . Sebagai Ketua P. . . .R. . . D. Habibie. . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. . . . . . . . . . . . . . . . . Harapan. . . . .K. . . . . . . . dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 . . . . . . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. . . . . . . . . . . . . . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . . 175 B. . . . . . . . . . C. . . . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . . . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . . 319 A. . . .

. . . D. . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .501 B. . . . . . . . . . IX . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . Syukuran Listrik . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . . . . . . . . 330 333 339 351 355 C. . . . . . . . E. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . AKHIRNYA . . . . . . . . .

onga. panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi . kakoncu. inyo. udo.502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo.

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .