P. 1
Draf_Oto_A[1]._Syafii_M

Draf_Oto_A[1]._Syafii_M

|Views: 169|Likes:
Published by Herly Ummix Qonitah

More info:

Published by: Herly Ummix Qonitah on Jan 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

Sections

  • I.BUMI KELAHIRAN, IBU-BAPAK, dan SAUDARA-SAUDARAKU
  • II.KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF
  • III.UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN
  • IV.MENITI BIDUK KEHIDUPAN
  • V.MUSIBAH SILIH BERGANTI
  • VI.SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN
  • VII.BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN
  • VIII.MASA DEPAN INDONESIA
  • IX.AKHIRNYA

1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU
I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

2

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

3

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

4

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

5

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

6

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

7

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

8

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

9

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

Kultur . Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban. atau bahkan di masa Islam sampai hari ini. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). kita tidak tahu. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. Secara kultural. ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman. orang lalu berpindah ke kawasan lain. parewa ini belum hilang.11 Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. masih galau bagiku. Tetapi bahwa korban pasti ada.000 jiwa. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak.

Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi.12 preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. santun. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. suatu on-going process. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. dan bertanggungjawab. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. maha Pencipta. rasanya cukup punya alasan. peran organisasi kemasyarakatan. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. kata teori antropologi. . bukan kultur otak. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. setidak-tidaknya secara statistik. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka.

dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. Sutan Mansur. Yang pokok . Dr. Jusuf Amrullah. Hamka. Abdulkarim Amrullah. pada tahun 1925.13 Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri.R. Maninjau. Pelopor utamanya adalah Dr. H. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. A. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. (Perang Dunia) II (19391945). atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Itu hanyalah urusan administrasi.D. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P.

amat sulit untuk disimpulkan. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. kemudian ke Eropa. tidak dapat diperbarui lagi. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus.14 bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau.l. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. ya habis. Dari kawasan inilah a. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan . Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas. sedangkan emas jika sudah habis. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya.

berupa sebuah S. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh . perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. Tentu mereka semua buta huruf Latin. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947.15 sejarah masa lampau ini tentang kampungku. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku.R. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. semuanya gelap bagiku. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu.

Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Silantai. Sumpur Kudus. sekolah ini sudah muncul. terjadi pulalah pemekaran .).16 pemerintah kolonial. antar anak Sumpur dan anak Calau. Sumpur Kudus ini. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. teman sekelas di S. termasuk aku. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar. Anak Sumpur banyak yang sombong. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Umumnya dengan kaki telanjang. sewaktu aku masih kecil. Rasanya tidak ada yang kalah. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. dan Mangganti. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. antar anak Sumpur dan anak Silantai. Sejalan dengan pertambahan penduduk. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. tidak dia dan tidak aku.R.

memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. aku pun tidak bisa menjelaskan7. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus.D. Kumanis. Satu nagari saja bisa punya lima S. 298. Dalam soal pendidikan dasar ini.D. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. dan lain-lain. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”.17 pusat-pusat pendidikan dasar. Dari sisi ini. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. S. Unggan. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. Dengan perubahan positif ini. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana. Siluka. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Mangganti. . Ibid. indeks buku Dobbin hlm. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Biasanya jika ada pembukaan sebuah 7 8 Lih. Durian Gadang. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan.

dengan Kabun sebagai nagari termuda. rakyat meneroka (babat alas. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. 2005. Pada berbagai forum dan kesempatan. 369 9 .18 kampung baru. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. Jakarta: Maarif Institute. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. kota. 369). dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. memisah dengan induknya. hlm. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. propinsi. mekar pulalah nagari. 2005. Tidak Lih. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. kecamatan. kabupaten.). hlm. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”.9 Jakarta: Maarif Institute.

untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan.19 dibuat-buat. Jika perpecahan ini yang berlaku. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. tidak pula untuk mencari posisi duniawi. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. kabupaten. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. . Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. atau propinsi. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi.

Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. agak langsing. ketika upacara khitan itu berlangsung. persis seperti anak-anak kampung yang lain. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. juga nama kecamatan di era modern. Bagindo Tanomeh. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Kata orang kampungku. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Jangan main-main dengannya. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. pakaiannya putih necis. rasanya masih perih sekali. tinggi sedang. hanya orang kafir yang tidak . Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. berdenyut sampai ke otak. Orangnya berkumis. (Tanomeh= sutan emas).20 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari.

Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Ada juga bacaan ArabMelayu. jika bukan tumpul sama sekali. tetapi aku sudah lupa judulnya. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. tetapi jauh dari suasana renungan. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. Apa yang mau direnungkan. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. Bagaimana mau menggeliat. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). Tranportasi perahu sangat menyenangkan. Bacaanku nol. karena . paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. belum menggeliat. Bacaan lain sangat langka. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air.21 bersunat. Di kala kecil.R. berjudul Cahaya. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas.

Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang . hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu.R. Dari tanah kita berasal. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. ke tanah kita pasti akan kembali. Prosesnya berjalan lamban sekali. Pulang ke asalnya. persis seperti manusia. tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Dan memang tidak perlu mengelak. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. Maklumlah masih dalam usia S.22 aku tokh bisa berenang. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. siapa pun dia. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam.

tempat burung. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. saling mendukung. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. dan bermacam jenis makhluk bermain. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. dan mencari makan.23 dari pepohonan. bersenda gurau. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. Oleh sebab itu para perusak hutan. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang . tupai. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. kera. demi upeti. Kemudian di Muaro Sijunjung. Masing-masing saling memerlukan. kabarnya sudah hampir punah. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu.

Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. oleh siapa pun. Air sungai ini pun larut menjadi asin. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. Tetapi jika . Tidak hanya berhenti di situ. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin.24 jauh lebih perkasa.

termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. bahkan peradaban. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro . gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Jangan main-main dengan air. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. khususnya pada musim hujan. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Prilakunya mesti dipelajari.25 manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. sawah dan ladang.

Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. bersamaan dengan bergantinya musim. Semakin lama orang berpisah dengannya. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian.R. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. Selama menganggur. Tidak urut. puitis sekali. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. bertukarnya tahun. pertanda usia sudah semakin mendekati . Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok.26 Sumpu ini. tidak ada kesan yang mendalam. Semuanya mengalir begitu saja. ke rumah adik-adik seayahku. sewaktu masih di S. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. tidak teratur. Semuanya berlalu begitu saja.

seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. belum terlalu lama hilangnya. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut. Zulfahmi (Emi). Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. sampai saat menulis bagian ini. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. B. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. Ke mana-mana seekor ayam . Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo.27 hari-hari terakhir. penyebar Islam di kampungku. aku pun tidak tahu. dan sabung ayam sebagai profesinya. Fisik pun sudah mulai renta. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. rampok.

Kita kembali ke Tanah Bato. darah siapa pun. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. asalkan tidak pakai taruhan. Ia menggigit dan terus menggigit. tidak peduli darah apa pun. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. Aku kenal sekali dengan binatang ini. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah.28 jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang . Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. Sekiranya pakai taruhan. si warna merah penghisap darah.

Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku.29 terletak di seberang Batang Sumpur. seperti kuburan. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Di saat kecilku. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. aku tidak lagi ke sana. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. mana pula yang berbau syirik. Pertanyaannya . Bahkan lebih dari itu. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh.

Menurut cerita Zulfahmi lagi. Dalam kasus semacam ini. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. Karena dia memasuki kawasan hitam. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. Tetapi ada segi buruknya. sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. serba puritan. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. untuk tujuan baik tentunya. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato).30 adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. . Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka.

Ini pun sebenarnya tidak aneh. dalam mengembangkan Islam. dan Jafri Dt. alangkah bagus dan elok nama itu. M. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. yang lain mungkin makam pembantunya. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Sjamsu Anwar. Bandaro Lubuk Sati. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. Sanusi Latief. karena ada . tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. entah yang ke berapa.31 Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang.

dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. nagari. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. Kota Sawahlunto. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. sebagaimana A.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History. kemampuan juga terbatas. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan.32 sejumlah ribuan nama kota. sejarah nagari Tamparungo. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. taratak Talao di Calau. Umur manusia terbatas. Kota Klaten. desa. Di antara . sejarah terbatas. Kota Semarang. nagari Unggan. 12 jilid. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya.J. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. seperti sejarah Kota Solok. Kota Banjarmasin. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. jorong.

sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. ketegangan itu tidak . Jika kehendak hati diperturutkan.33 sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Sekali cahaya itu padam. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti.

al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. dan pada perkisaran angin.34 begitu dirasakan. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. tanpa pilih kasih. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. yang menghidupkan bumi setelah mati. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. setelah itu menghilang tanpa bekas.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. al-Jatsiyah : 13 . padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang.

dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah . meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. bahkan saling berlawanan. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam.35 parah sekali. Dengan kata lain. sempit. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. subjektif. dan merasa serba cukup serta bangga diri.

Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. sekiranya mereka punya minat. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. juga tidak akan cukup. tetapi tidak mungkin kecapaian. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Allah maha tahu segala-galanya. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. Ditambah 1000 tahun lagi. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan .36 bata untuk bangunan. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. setelah itu menghadap Allah. bangunan peradaban. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya. Maka tidaklah heran kita. oleh otak jenius sekalipun. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Atribut serba maha ini bukan milik manusia.” meninggal dalam usia 27 tahun.

Kanada. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. reaksi malaikat dan iblis. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. al-Baqarah: 30-39 12 . sebagai dosen tamu. 1993-1994. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. al-Qur’an s. McGill. menteri agama waktu itu. batu bersurat. Protes malaikat tidak mempan. aku sudah lama diberi tahu.). Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. Montreal. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. tetapi hanya sekadar itu. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. selain sebagai pusat bisnis.12 Kembali kepada cerita kampungku. s. lih. Thaha: 115-124. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. Rasa ingin tahuku Tentang penciptaan Adam. al-A’raf: 11-25.37 segala kekuatan dan kelemahannya. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau.

karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. dan kuda beban. . Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. yaitu bendi. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. kampungku tetap terpencil. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. kuda tunggang.38 selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. perahu. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai. pedati.

termasuk heran terhadap diri sendiri.D. Bahkan P. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. Sekali terbuka. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. Diperbaiki berulang kali. Tanpa rantau. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu.A.39 Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. ranah tidak mungkin berkembang. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar . setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Yang aku heran.

40 30%. sama dengan ongkos PadangJakarta. Kata orang. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. dan terakhir soklat. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Mengenang ini semua. apalagi untuk pembangunan. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. 500 per kg. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Sebagai seorang peminat sejarah. Hasil-hasil alam seperti karet. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional . Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. gambir.

politik. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. objektif. tetapi yang tetap . baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Satu saat. Pada usiaku menjelang malam.41 dan global: agama. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. pemikiran. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. kebudayaan. Bukan untuk apa-apa. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. aku juga seorang kolumnis. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. dan dunia Muslim pada umumnya. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. entah kapan.

yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan . maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. sekarang karena pemekaran wilayah. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. yaitu Rajo Ibadat.42 punya ikatan batin dengan kampung halamannya. berkedudukan di Sumpur Kudus. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam). Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. tokoh Paderi. sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu.

dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. 136-137 . Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat. berpusat di Lintau. op. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. sebuah pekerjaan yang berat sekali. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi. hlm. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa..cit. atau puti bagi perempuan.43 senjata. sedangkan dua puteranya terbunuh. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. banyak yang melarat. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari 13 Dobbin. Tidak mustahil memang.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan.

Sebelum itu tidak . seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. jika perlu sampai ke pitala bumi. menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. Tugasnya menggali dan menggali. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. Tetapi sebagai bagian dari sejarah.44 Pagaruyung. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. Yang jauh pun dikaji orang. jika bukan sebuah penyimpangan. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. itulah profesi kaum arkeolog. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. apalagi belum terlalu jauh. pelacakan itu memang diperlukan.

yang ada Hindia Belanda. Lengang.N. tertinggal. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. Herman Darnel Ibrahim. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka.L. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. disambut dengan tari gelombang segala. miskin. Ir. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen.45 ada Indonesia. direktur produksi dan transmisi P. tanpa ikatan nasional sama sekali. gelap (bila malam). ternyata ada juga segi positifnya. Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang . Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau.

sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal.46 bercorak Minang. C. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Semoga rakyatnya patuh dan .L. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P..R. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. Sejak cahaya itu masuk.N. Dari sisi inilah barangkali P. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku.D. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus.L.N. mungkin malah rugi.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku.

Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa.D. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. Sehari sebelum itu. Bagaimana keadaan .47 disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P.I. Dengan listrik ini. Solok Selatan. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai.R. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. yaitu tanggal 28 Januari. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna.

Asai makhluk kecil dan lembut. panas. Menurut cacatan kakak sulungku. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. kupanggil kaktuo Hima. almarhumah Rahima. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa. “di luar tampak rata dan licin. Bagiku hari itu sama saja. hujan.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar.R. tetapi bukan main ganasnya. dan di lokasi mana seseorang berada. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. tidak ada yang keras atau lembut. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku.48 kampung ini. “Bak kayu dimakan bubuk. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. atau mendung. 31 Mei 1935. di dalam remuk. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). (Sekolah Rakyat). sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya.” kata peribahasa Melayu. aku lahir pada hari Sabtu. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup . jika ingatanku tidak keliru. akan kututurkan pada saatnya.

tidak pernah sia-sia. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa 14 lih. tersembunyi kekuatan dahsyat. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. kayu dibuatnya tak berkutik. Dalam serba kelemahannya itu.49 merugikan. betapa pun terlihat lemah. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. kecil. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. dan seperti tak berguna. jati. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. lambat tetapi pasti. kecuali kayu besi. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan.

kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. Namun bagi diriku. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. tidak bisa dikejar lagi. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Kalau ada bedanya. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. termasuk aku. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung. Mana yang benar di antara dua catatan itu. tetapi semuanya sudah berlalu. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. . tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. Pasti semua anak. lahir dengan bantuan dukun beranak.50 aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. masalahnya tentu menjadi lain.

karena itu yang lebih dulu kuketahui. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. sementara ibuku Fathiyah. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun.51 Dalam ijazah dan riwayat hidupku. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. yaitu 68 tahun 92 hari. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. . sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. Mungkin saja demikian. sebab jika tidak. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. tetapi aku tidak mengenal wajahnya. Dalam catatan ayahku itu. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. mana mungkin ayahku mau mengawininya. sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. aku menggunakan tanggal 31 Mei. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). batang usiaku sudah berangkat jauh.

seperti yang berlaku pada masa modern. Aku tidak mencari jodoh sendiri. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama . tetapi dicarikan pihak keluarga. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905. aku tidaklah tergolong modern. Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. bini saja harus dicarikan. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. saudagar gambir. bahkan kuno. Sudah merantau ke mana-mana. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. Dari sisi ini. tetapi memang itulah aku. terpaut lima tahun usia keduanya. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup.52 Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku.

Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya.. onga. aku tidak bisa mengatakannya. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. tante. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain.v. sebab berkat kemajuan komunikasi dan . Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. uda. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. Kata-kata om. aku pun tidak tahu. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. Apakah mereka selalu akur saja. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. Memang belakangan ini. t. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Jarang yang memanggil suaminya uda.53 ibu. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. udo. dan uni. Ada yang memanggilnya kaktuo. kakoncu.

orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota. kakudo. kakonga. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Jika semuanya sudah beruda-uda. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. mak oncu. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. dan kakoncu. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. ber-omom. di mana panggilan kaktuo. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa.54 informasi. Bahkan tidak jarang . bertante-tante. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola.

Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini . Kembali kepada lingkungan ayahibuku. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. Orang yang menemui ayahku.55 berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. semua orang kampung mengakui. Untuk ibuku. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Bahwa ayahku cerdas. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri.

Sepengetahuanku. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf.56 yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. sebelum Saiful Wahid. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. alangkah pilunya. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. tetapi . Karena ibuku wafat masih muda. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. Alangkah sedihnya. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. lahir tahun 1939. adik sepupuku. kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. bertani dan menyadap karet. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung.

57 tidak punya nyali untuk hidup di rantau.M. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di . bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan.. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. semoga telah mengenai sasarannya. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana.S. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting. pendidikan. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah.U. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. tidak saja untuk kampungku. cucu kakakku Nursiah. Seorang lagi. dan kemanusiaan. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. Aku bersyukur di hari tuaku.

P. dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya.58 berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. betul. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah. Tetapi sudahlah. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). bukan kewajiban orang lain. Bahwa mereka umumnya miskin. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV . Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan.

Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. Tetapi aku tidak pernah patah . Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. sementara aku. seperti yang bertahun-tahun kualami. tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari.M. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. sekiranya mereka memang punya cita-cita itu. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. (Sekolah Teknik Menengah). Jalannya panjang dan berliku-liku. Beranak pinak di situ. seperti sering kututurkan setelah dewasa. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat.59 Fakultas Hukum pada universitas itu. tanpa masa depan yang jelas. sekalipun modalnya dari S. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal.T. Namanya Indra Kurniawan.

Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul. Aku bangga dengan mereka. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. sukuku. Mereka yang tabah dalam penderitaan. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I. tanpa . kakak beradik). bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. umumnya berhasil menjadi sarjana. demi ilmu. juga dari suku Caniago.T. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas.60 harapan untuk terus belajar.B. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. Di antara orang kecamatanku.

Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. tetapi jumlahnya sangat kecil. dari menyadab karet. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Betapa pun berat beban yang dipikul. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus.61 mobilitas menaik. 26 tahun sepeninggal ayahku. bahkan tidak jarang harus . Menurut logika biasa. ayahku jarang sekali mengeluh. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. bertukang.

Riau. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan.62 menggadaikan barang yang ada. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses . jika bukan mereka yang terdidik. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. adalah contoh yang ditinggalkannya. demi sekolah anak. lahir batin. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. dan Jambi. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia.

U. Imam Bonjol Padang. Semula sebagai Kepala Biro A.D. dosen Fak. Mangganti. Unggan. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan. Namanama yang kusebut ini.A.I. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. Tamparungo. . tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur.A. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. (Universiti Kebangsaan Malaysia). sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. demi cita-cita dan mobilitas sosial. kemudian beralih karier sebagai dosen.K. anak Rahima.M. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. Dakwah I. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu.63 pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. (Angkatan Darat).N.A. pada I.N. dan Sisawah. Imam Bonjol. demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan.K. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. adalah di antara contoh manusia tabah. Dari keluarga isteriku. yaitu Mayor dr.I. Namanya Sabiruddin.

D. tidak dapat ditawar.64 Ruswandi Aswad. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. tetapi belum pernah menetap di Sumpur. seperti layaknya anak kampung yang lain. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. ayah dari Tarusan.R. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. dengan ibu Sumpur Kudus. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. Oleh sebab itu. Painan. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya.. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya .

dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. di samping di tangan Allah. Tanpa kemauan keras untuk maju. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal .” Sungguh padat dan padu kalimat ini.U. tabah. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Benarlah Pembukaan U. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. hidup tanpa inisiatif. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.65 beban derita yang telah mereka tanggungkan. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. Nasib seseorang. demi lepas dari penjajahan durjana. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan.D.

Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. baik di kota mau pun di desa. Setelah dilepas ke gelanggang.66 mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan . sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. sekalipun itu sesuatu yang halal. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Peluang itu tentu tidak selalu datang. aku sering mengunjunginya. Di hari tuaku. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. Aku tidak tahu mengapa begitu. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana.

apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. lahir di Tepi Balai. Penyimpangan tentu selalu ada. setelah ayahku mengawini ibuku. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Boleh jadi. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. seperti yang telah kusinggung di muka. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Malang bagi yang tidak.67 menjadi asin. Pencarian apa yang . membangun rumah di tanah suku isterinya. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma.

68 disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. . sungguh ruwet untuk dipertahankan. Kembali ke masalah rumah. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. karena memang tidak praktis. Sekarang di Minangkabau. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. bila berlaku perceraian. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya.

jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. dan sulit untuk bernapas lega. kolam ikan.69 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. ladang. atau pekarangan. Lahan sempit . Bergantung kepada tanah semata. Tanah adalah milik suku atau keluarga. Bagiku. Untuk kelangsungan hidupnya. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. dunia ini akan terasa semakin sempit. sekalipun pada masa modern ini. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. beban melulu. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. jelas tidak memadai. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. dan memang harus ditinggalkan. Jumlah anggota bertambah terus. kebun.

baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Ranah dan rantau saling melengkapi. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Syaratnya hanya satu. jangan percaya kepada kegagalan. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Berpikir terus dan terus berpikir. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan. jangan menyerah kepada rintangan.70 sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. ranah . Tanpa rantau.

Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. sekalipun bukan tanpa gesekan. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung.71 Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Bagiku tidak ada masalah. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Sebagian besar “merantau Cina”. tidak mungkin netral. semuanya telah mencair dan berganti. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. Secara filosofis. aku jelas seorang yang berpihak. Setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam masalah dasar ini. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. tidak kembali ke kampung secara permanen. . Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak.

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru.” Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan,” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

dan apa pun. akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. Bagiku gelar-gelar sayid. sultan. ulama. radikal. sejarah. terbuka bagi seluruh orang beriman. amir. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. wali. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. tidak oleh yang lain. syarifah. dan 1001 gelar lain. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. ekonomi. hulubalang. kultur. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. Untuk merebut posisi taqwa. atau bahkan keturunan nabi.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. atau keturunan raja. yang mengaku keturunan nabi.82 metode berpikir kritikal. habib. Mereka yang mendewakan keturunan raja. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. Dengan paradigma . dan rasional. menurut pemahamanku. kualitas iman dan amalnya.

bukan hanya karena keturunan.83 semacam ini. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Wajahnya bersih. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. tinggi sedang. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. dan bila berjalan melenggok. berkumis agak tebal. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. Kebiasaannya pakai . Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. tempat pendidikanku yang terakhir. kulit agak hitam. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya.

Makamnya terdapat di Tapi Selo. dan tidak jarang aku menangis sendirian. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. di tanah persukuan orang Melayu. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. Ayah dan ibuku. ibu tiriku yang lain. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. khususnya dengan ibuku. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. sekalipun sudah menua. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. anak bungsumu ini . beristirahatlah di sana. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. dalam umur yang setua ini. Setelah ibu-ayahku pergi. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an.84 kopiah sutera hitam. kemudian etek Lamsiah. di tempat ibu tiriku mak Maran.

salah seorang dipanggil Ani. Adiknya yang lain A. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. entah di bumi mana. aku pun tidak tahu. Wahid. nagari tetangga Sumpurkudus. Entah ayah-bundaku. lain ayah dengan ibuku. Semuanya sudah tiada. sementara dua adik laki-lakinya yang . Karena tidak bergaul sejak dari kecil. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. Sayang aku lupa namanya. kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. di alam yang lain sama sekali. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. suku ayahku.85 rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. Beberapa tahun yang lalu. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. pamanku. Aku memanggilnya ande Ani. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. yang kata orang rupanya mirip ibuku.

sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. Pada saat wafatnya. Karimah. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. baik lakilaki atau pun perempuan. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. Nurbahri. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. tetapi punya dua keturunan perempuan. merangkap dukun. Siti Dariyah. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. Bainah. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. Baili. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. dan Ahmad. Yang masih hidup tinggal satu. Mattudin Rauf. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. Oncu Naksan amat menyayangiku. Saidina Hasan.86 kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. .

tikus. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. ayam. ular. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah.87 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. Raadin. Lebih dari itu. . hubunganku cukup dekat. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. Matanya tajam menembus. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Mangsanya tidak hanya ikan. jumlahnya aku tidak tahu.

Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Nalam (alumnus Normaal School). Suami Rahima. Aku memanggilnya uwo. / S. Rauf (dipanggil Badurau). yang pandai berbahasa Belanda. seorang guru S. gelar Manti Besar. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. Orang tua ayahku Abd. Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku. Ayahku sangat menghormati ibunya.88 dan A. M. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. adalah . dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Mungkin karena ibuku wafat muda. dari suku Domo. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Oleh sebab itu. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku.D. sukuku sendiri. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. di samping membantu adik-adiknya.R. Wahab.

sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Yang aku sedikit menyesal. Antara Rahima . apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. hubungan itu terasa biasa saja. begitu juga dengan abangku Nursahih. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Dengan kakak-kakak perempuanku. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). seperti telah kusinggung. kupanggil onga Sahih. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Sekiranya itu aku lakukan.89 salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi.

dan Malaysia. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta.Y. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Ohio University (Athens).90 dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan. khususnya Sumatera.N.S.K.I. dan menetap di kota ini sampai saat tua. U.K.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb).K. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982. Dari kampus I. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu.P. Lombok.I. bertebaran di seluruh nusantara. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. Jawa.P. dan Surakarta. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah .-I.I. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa.

sumber penghidupan para petani . Pun di mana aku akan berkubur. majalah. Sesaat setelah ibuku wafat. Banyak dokumen yang tidak berguna. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. semuanya itu adalah rahasia Allah. Sungai ini tak pernah kering. dan dokumen yang tak sempat kuatur. dan merenung. Apa yang direnungkan.91 usai. mungkin banyak orang yang sudah tahu. kadangkadang juga tidak jelas benar. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. tak seorang pun yang dapat menentukan. karena sempitnya ruangan yang tersedia. Semboyanku sederhana saja. Dalam kamar inilah aku menulis. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. alamiah. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. aku pun tidak tahu. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. membaca. Bahwa aku seorang pekerja keras. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran.

semuanya serba dielokkan. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. dan ikannya tidak pernah jinak. kecuali yang sakit atau pingsan. semuanya serba dilebihlebihkan. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. Sampai setua ini.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. aku juga gemar memuja kampungku. Di kala kecil. Saat sering pulang. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. karena memang di situ duniaku. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. dan ikannya jinak. pasirnya putih. dan banyak yang miskin. tebingnya landai. aku masih sering berkunjung ke kampung. sekalipun penduduknya serba sederhana. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. Selagi sehat .92 yang merupakan mayoritas penduduk kampungku.

Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. masyarakat dapat memakluminya. ande Lia. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. kemudian menjadi kakak iparku. mak Rasia. ande Karang. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. Mereka menunggang . Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. ibunda Sanusi Latief. Terasa teramat dalam dan tulus. adalah mak Sarialam. berasap. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. seorang perempuan kaya di kampungku. tidak lebih dari itu. dan tentu mengotori lingkungan. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. kakak sesukuku di kampung. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut.93 kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya.

Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. Di sana terdapat pula pasar ternak. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. Juga pasar kera dan beruk. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. kembali hari Rabu. Payakumbuh. Mengapa . karet. mangga. dan hasil hutan lainnya. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. seperti dari Tanah Datar. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. Di Minang.94 kuda dengan jarak sekitar 60 km. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. dan lain-lain. petai. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. durian. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. berangkat hari Senen.

Entah untuk berapa miliar tahun lagi. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. setelah ada mobil. Kembali kepada perempuan dan kuda. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. bensin. dengan syarat disediakan makanan bergizi. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. terutama untuk menarik delman (bendi). tak seorang pun yang bisa mengatakan. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Tetapi iman menyebutkan. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. dan solar. seperti telor dan tebu. . Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban.95 mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main.

Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. Sebelum aku pergi merantau. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. adik ibuku seibu. tetapi kebiasaan menunggang kuda. yang kemudian kawin dengan pamanku A. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. Di sebuah nagari yang tersuruk. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan . adik ayahku. Fathiyah. dipanggil Patiah. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. Wahid. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan.96 Dengan budaya naik kuda. tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. kebiasaan perempuan naik kuda.

Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. jika pulang kampung. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. sapi putih . Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful.97 pamanku. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. Bersama paman dan bibiku. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. aku juga membantu bekerja di sawah. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. Seingatku. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku.

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga,” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan “ya” terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya.” Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.” Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan “gedebak-

104

gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih “terbenam” di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

Di antara 15 bersaudara. atau S. Ph. sekalipun hanya sampai S. dan madrasah Muallimin.108 Sewaktu ibuku masih hidup. sebagian sudah wafat. Kariman. (Syafril). ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini.P. tetapi tidak bertahan lama. ayahku tidak menambah isterinya.. yaitu aku. Tanpa bimbinganMu ya Allah. Amerika Serikat. dari Universitas Chicago (1983). Semua anaknya dirawat. karena pendidikanku sampai tuntas.R. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. S. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau . Demi menenggang perasaan ibuku. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. aku lebih daripada bersyukur. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. dan dididiknya. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku.D.M.D. dibesarkan. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa.

anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. juga ada yang berpoligami. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. Yang tidak masuk akal adalah. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. ni’matMu yang tanpa putus. terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. Sebuah tabiat yang buruk . tanpa batas. Tidak berbeda dengan ayahku. lalu beranak pinak di sekitar itu.109 kecamatan. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. Aku heran. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. pamanku Mattudin. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai.

akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Bahkan Bung . yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi. pusat yang paling berjasa adalah Dr. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. Aspal sudah. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. mantan menteri era reformasi. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Muhammadiyah Jakarta.P. Di usia lanjutku.110 sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. Herman Darnel Ibrahim. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. salah seorang direktur. desa tertinggal.L. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. kecuali dengan diesel. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P.N. Di antara pejabat P. Sumpur Kudus.

111 Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. kemudian membengkak menjadi Rp. 3 miyar. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung. seperti . sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol.R.P. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. Muhammadiyah (periode 1998-2005). Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. sahabat kakakku Nursahih. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. 4.3 milyar. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005.

Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. Aneh memang. Guru-guru pun tidak pernah lengkap. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. semuanya berantakan. semuanya tidak teratur. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak- . tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. maka pendidikan S. sampaisampai merotasikan letak celananya. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). Pada masa revolusi.R. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. Seharusnya aku baru tamat pada 1948.112 orang membawa lampu minyak tanah saja.

R. Zulkifli Mahmud. Muchtar Gafur. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. Mattudin Rauf (adik ayahku. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. Alangkah hinanya. Latief Dt. Syamsuar. Rajo Malayu. M. jam 6. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Rivai Dt. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. dan Kahar. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. Rajo M. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). Wahid. M. pamanku. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Tari.113 anak kampung. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. Makkah. Nalam (suami Rahima. A. Sutan Bachtiar. Rajolelo.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). wafat pada 2 Mei 2004. juga berjasa dalam . Maangkat. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Suki Khatib Rajo. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. A. wafat pada 3 Jan. Wahid. Rusjid.

tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. Dari famili senenek pihak ibu. rakaat tarawih. aku tidak tahu. seperti telah disinggung di muka. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. soal qunut subuh. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. dan masalah kenduri orang . Mengapa demikian. sebagian besar pendukung Perti. permulaan puasa dan hari raya. Kecuali Kahar. sebagian pendukung Muhammadiyah. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu.114 mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. saling berebut pengaruh. ushalli. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka.

Dalam perjalanan waktu. Tamparungo. Mangganti. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. telah dilawan dan dimusuhi. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. dan yang sebangsa itu. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. Sudah tentu aku bangga mengikuti . Nagari-nagari yang lain: Unggan. Ya. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami.115 mati. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. tetapi kemudian diam-diam diikuti. Sisawah. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. Tanjung Bonai Aur. dan Kumanis. antipati. Namun sejak tahun 2000.

sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. dan pencerahan. konsep persaudaraan universal . Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. sekalipun bukan tujuan. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. penyantunan. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. lambat atau cepat. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. penyadaran. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. hubungan antar tauhid dan keadilan. Muhammadiyah. Melalui metode dan pendekatan model ini.P.116 perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P.

R. Bagi sementara orang. prilaku hidup yang jujur. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. bersih. asal tidak . Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. Betul. karena itulah aku. dan prinsip egalitarian. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri.117 sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. khususnya setelah aku belajar di Chicago. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan.

tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan.118 untuk perjalanan yang terlalu jauh. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Jika pulang bersama keluarga. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. Dalam budaya hidup mandiri ini. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. Bahkan lebih jauh dari itu. karena memang aku orang desa. . tanpa ajinomoto. tanpa bumbu masak yang anehaneh. jika isteriku tidak ada di rumah. aku sering minta diajari isteriku. Jika pulang kampung. aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf.

Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat.119 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. dan lokasinya pun mudah dicapai. kopi. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. . Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. Kemudian pusat itu berpindah. Tetapi dari tuturan sejarah. Jadi jika aku belajar ke sana. di samping pusat perdagangan emas. Seorang tokoh Chairul Saleh. Lintau jauh lebih maju. berasal dari Lubuk Jantan. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. dan lain-lain. Rajo Alam di Pagarruyung. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. Rajo Adat di Buo. memang sudah sepantasnya. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. orang penting pada era Bung Karno.

keduanya dari Sumpur Kudus. Nawadir Makkah. Jika rata-rata 5 km per jam. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. Lintau. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari . sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. berjalan kaki pun mungkin. Damhuri Gafur. dan sebaliknya. Sjafril Tahar. yaitu sekitar 48 km. Ismael Rusyid. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Pertama. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Bila terpaksa. Kedua. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Sjamsu Kamar. Enam teman ini setahun di atasku. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. sekalipun tidak selalu.120 Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah.

tetapi harus melalui ujian masuk. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. semula terlupa tidak dimasukkan. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. aku semula meraih ranking nomor lima. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar.R. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua. aku terpaksa diterima juga. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Ketiga. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. aku diturunkan menjadi nomor enam. aku .121 sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu. Namun karena berasal dari desa terpencil.-ku sama sekali tidak memadai. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Tidak dapat ranking pun.

Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. Indonesia sudah merdeka? Keempat. Payakumbuh.M. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. Pada ujian penghabisan. bertempat di Bunian. atau yang sederajat. Selain ujian sekolah. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. Mungkin jika tidak naik kelas. Bayangkan.A. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. orang kampung bisa naik sepeda. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. gara-gara revolusi kemerdekaan. Pada saat-saat menjelang ujian. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. Dalam keadaan normal. kecuali ujian terakhir kelas tiga. tetapi bangganya bukan main. demi . tentu aku akan merasa malu.122 gembira. apakah pada 17 Agustus 1945.

Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. kadang-kadang di kala malam. orang kampung pernah diterkamnya. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. Dengan cara ini. Rancak (bagus). Perasaanku ketika itu. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. di dalam hutan yang jauh sekalipun.123 menjaga mutu. tempatku belajar selama tiga tahun. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. Adapun kampungku demikian sunyinya. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. Akibat menghilangnya harimau ini. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. . Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. sekalipun sewaktu mengganas. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi.

selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. Tanpa didikan mereka. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru.124 Kelima. aku tak mungkin mengembara begini jauh. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. belanja . Pada saat tulisan ini dibuat. Dt. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. Kini sebagian besar mereka telah tiada. Keenam. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. Indomadjo.

berlaku perkisaran secara mendasar. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan.125 dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. Akhirnya dia berjaya. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Sanusi Latief. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat . pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus.

Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. Di Jogja untuk mempertahankan hidup.126 mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. mungkin karena mengingat biaya. M. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. demi ilmu pengetahuan. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. II. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. entah . KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A.

seperti telah kusinggung di atas. apalagi ke tanah Jawa. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. tetapi penting bagi pembentukan karakter. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami.127 untuk berapa lama. pada waktu itu belum dibayangkan. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. Tanpa Sanusi Latief. Tanpa Sanusi Latief. Untuk selanjutnya. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. aku barangkali akan tetap sibuk dengan . maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. berkat Sanusi Latief. Pokoknya melangkah dan terus melangkah.

Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. Coba bayangkan pada waktu itu. Azra’i dan Suwardi. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. tibalah kami di kota tujuan. milik kakakku. sementara aku cukup tidur di atas tikar. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. Di antara yang berempat itu. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Kami masak bersama secara bergantian. jika tak salah. karena di kampung pun . Aku tidak akan ke manamana. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat.128 senapan angin. kasur saja harus diangkut dari kampung. membawa kasur dari kampung. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. menjala. dan memancing. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat. Di dek kapal kasur itu dipakainya. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung.

Sekiranya aku ditolak masuk. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. kemenakan ayahku dari suku Melayu. oleh karena itu perlu disantuni. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. tentu kisah hidupku akan berbeda . jalan ke Mangganti. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku. sekalipun tidak kemenakan kandung. sisa zaman Belanda. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno.129 aku tidur tanpa kasur. Sampai di Jogja.

jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. Jadi bangku tidak tersedia untukku. tetapi di sini tak perlu diteruskan. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. Akibatnya aku harus menganggur.130 dengan apa yang aku jalani kemudian. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . karena memang tidak terjadi. Tamansari No. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. Kita boleh saja berandai-andai. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. kelas empat sudah penuh. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena . Pertama. Kedua. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. entah bagaimana jadinya. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. karena gedung baru di Jl.

Tidak peduli berhadapan dengan siapa. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti . termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. sampai saat tuaku ini. Namun aku tetap bersyukur. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Dalam keadaan seperti itu. apalagi sesama Muhammadiyah. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada.131 katanya kualitas tidak sama.

M. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. Ahmad Dahlan). Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Muhammadiyah dan terus ke S. sekalipun dengan perasaan terhina. Setelah sekian bulan belajar montir. aku lulus.132 sekolah montir di Jl. teori dan praktik. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. masuk S. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. paman kandung Azra’i. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir.P. ayah kandung Sanusi Latief. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu.A. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. Latief.P. Ngabean (sekarang Jl. tetapi . Lalu pulang ke kampung. swasta juga tidak betah lama di sana. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang.M. Muhammadiyah. gelar yang dulu disandang oleh A. Azra’i kini bergelar Dt. Azra’i yang semula masuk S.M.

tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. sesuatu yang harus diterima apa adanya. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Tak terasa. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. Suka dan duka terekam dalam memori itu. sekitar 1 km dari Calau. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Luar biasa aku menyukainya. kesukaan kepada . jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi.133 jalan hidupnya berbeda. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. meniti titian nasib masingmasing. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi.

Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. Bagiku. ibunya. Tidak jarang. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. cukup bergairah dalam masalah ini. juga tidak jarang dalam selera politik. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Bukan saja dalam selera makan. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali. . semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. semuanya ini lumrah belaka. dia mengajakku berdebat dalam soal politik. perbedaan itu sering mengemuka. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah.134 bakmi tetap berlanjut. tidak perlu dijadikan gesekan. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Nurkhalifah.

Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. dan kami harus mendengarnya. Tidak sekadar marah. Untunglah di . Nilaiku dalam Ilmu Hitung. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat.135 Kembali kepada masalah sekolah. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. Dengan perasaan yang serba bercampur. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. 7. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. kalau tak salah. memang tidak pernah sangat tinggi. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. Dengan tancapan pisau di meja. Melihat panorama ini. Aljabar. guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. pada hari pertama aku masuk kelas. dan 6. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. aku bisa mengikuti pelajaran. dan Ilmu Alam. 7. aku cukup ngeri. sekalipun belum tentu menarik. Ilmu Ukur.

P. Bila semuanya ini kukenang kemudian.R. . yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. Tanpa tancapan pisau ini. Sebab jika dia tetap mengajar. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Djindar Tamimy. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. kemudian malah terpilih menjadi Ketua P. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Sampai tahun 2005. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja.. juga pernah belajar di Mu’allimin. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. Tetapi A. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung. tetapi tidak jadi rampung. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P.P. pernah menjadi wakil ketua.136 kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Tetapi betapa pun jua. Muhammadiyah barulah aku. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P.P.

Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Fakih (Bahasa Arab). Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Sudiro . Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah).137 Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Rowijan (Aljabar). Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Balija Umar (Musthallah Hadits). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima.H. Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris). Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Wiludjeng (Bahasa Inggris). aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. K. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu.H. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir).

Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. Muhammad Thajib namanya. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. tamatan Mekkah. Kadangkadang sangat keras. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. tak peduli dengan siapa pun. Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. dan masih banyak yang lain. suka berdebat. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. Ternyata paham agamanya kuno. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. masih sangat muda. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung.138 (Ilmu Alam). tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. A. .

tetapi pasti yang harga murah. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. di sisi sifatnya yang penyabar. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. Bengkulu Utara.W. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja.139 Sewaktu berdebat. setelah tamat sekolah. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di . Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. yang aku banggakan itu.W. Aku amat berutang budi kepadanya. Pak Djazarie. tetapi sopan dalam pembawaan. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan.

milik dan suara resmi Partai Masyumi. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP. sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. sekalipun . (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). apa bukan hebat. Tulisan itu baru dimuat pada 1957.I. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. Muhammadiyah (1998-2005). pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang.M.K. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis.P. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. gembiraku luar biasa.M. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I.140 kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P.M.P. Kalau tidak khilaf.

Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Mungkin bukan dari siapa-siapa. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. aku sudah turut kampanye . Begitulah perasaanku ketika itu. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Pada usia senja menjelang malam ini. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum.141 pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. aku tetap saja menulis dan menulis. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. dalam dan luar negeri. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat.

Tetapi pada tataran moral politik. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing- . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. Sewaktu ayahku wafat. B. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan.142 Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi.

Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. jauh dari diriku. Mawardi dan Penulis Moh. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. tampaknya . karena tanggungannya yang juga cukup berat. Penulis R.143 masing. Muhammad. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. Faried Ali. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. Djazarie. Syafril Maarif. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. 175 per bulan. 125. Terimakasih Muallimin. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. Aku masih ingat betul. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. anak sulung dari etek Lamsiah. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi.

144 seperti baju kaos. di samping tidak ada biaya untuk itu. aku tidak paham apa makna kematian itu. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. semuanya mengalir begitu saja. batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. aku tak ingat lagi. air mataku meluncur tak tertahankan. seperti umumnya orang kampungku. Sekiranya itu aku lakukan. tanpa payung pelindung. Semuanya berantakan. Setiap mengingat sosok ayahku. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Bila peristiwa perih ini kukenang. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. Mengapa batinku begitu . Jika sewaktu ibuku wafat.

karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah.145 remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. kecuali dalam do’a. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. kembali ke nagari asalnya. setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. Hubungan . Ayah. tetapi aku juga tidak pernah dimanja.

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih,” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya ‘Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Mu’allimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. Mungkin tidak sampai setahun.I. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. . Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana.R. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. B. ia harus pulang kampung. alumnus Mu’allimin Lintau. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. Di kampung aku punya seorang teman. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. namanya Bachtasar Tahar.R. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas.156 lain lagi. dan ia bersedia.

Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.T. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. Bukan karena apa-apa.A. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana.I. lalu ujian. jurusan Sejarah Budaya pada 1964. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.P. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun.157 Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). adik kelasku di Mu’allimin. Aku lulus dengan baik. Pengetahuan . hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas.K. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S.A. Tetapi setelah ditimbang-timbang. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.M. Setelah setahun aku belajar.L.

Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang.K. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. Karena pergolakan daerah. sekalipun bertele-tele. 1957-1964. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. Jogjakarta.I. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu. tetapi karena ingin cepat rampung. serta Pengetahuan Sejarah. sekalipun dengan perasaan mendongkol. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I. Bukan karena apa-apa. Bermacam . Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. hubungan putus dengan kampung. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri.158 Umum.I. ijazah aku terima juga.P.K. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R.I. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana.S. Jelas aku dirugikan.

Muchktar.K. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. jurusan Sejarah-Budaya. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. Nasai.R. dan aku. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P.159 tugasku di toko ini: pelayan. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum. kasir. tetapi karena kuliahnya teratur. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah.R. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. aku tidak mungkin bisa. M. berasal dari Sulawesi Utara. Jusuf banyak menolongku dalam masalah . Maka pindahlah aku ke F. Jusuf. mahasiswa Cokroaminoto.I. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. bagian pengajaran. Hawari. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain.P. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah.I. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya.

kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. pemilik warung di Baturetno. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. tetapi semuanya merugi. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. asal Baturetno. Korban pergolakan daerah. Mula-mula dagang kecil-kecilan. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. Karena merugi. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing.160 presensi ini. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota . dan lainlain bersama Pak Markum. Surakarta. ayam dan kambing. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. kami lalu jualan rokok. Namanya Murdijo. tembakau. Untunglah selain itu. Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami.

Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana.T. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno.P. Pak Sujadi. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik . yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. kepala sekolah.N.161 kecamatan itu. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. Sekiranya aku punya ijazah negeri. Sebagai guru honorer. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. tidak dapat dikatakan. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap. Baturetno. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau.

Sosialisme Indonesia. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya.162 menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Ekonomi Terpimpin).B. Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Undang-undang Dasar 1945. Demokrasi Terpimpin. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan . Lenin. Tampil dengan gaya Bung Karno.R.I. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. Pada saat menulis catatan ini. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. atau suatu permanent revolution dalam istilah V.

Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Abdullah Sjahir. tetapi kosong itu. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan . Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. kata Hatta. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Revolusi. Bagi Hatta. kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. kemudian menyusullah masa pembangunan. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. Mendengar kutipan mentereng ini. Mr. aku tidak menyia-nyiakannya. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia).163 pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini.

Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. Andaikan aku punya ijazah negeri. padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. Pada suatu ketika. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. sehingga dapat “mempesona” orang lain. Maka tak lama kemudian. entah dari sumber mana diambilnya.164 cara yang benar. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri.T. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). Amien Rais. beberapa tahun setelah itu. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. di atas. Tetapi cara itulah yang kulakukan. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. . Soekarno tokoh nasional dan dunia. aku tinggal mengikutinya saja. aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain.

dasar anak desa.165 Itulah aku.D. dengan terkekeh itu saja. dan aku malah bangga menuturkannya kembali.D. malah menambah abrabnya persahabatan kami.D. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah.P. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku. Jika itu yang terjadi. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P.P. Bung Amien.M. setidaknya majelis tingkat P. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P.M. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. Sebagai kader Muhammadiyah. komentator yang tajam. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P.P. alumnus Mu’allimin Jogja lagi... aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. Aku percaya bahwa pengurus tentu .M.P. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri. aku bakal terpilih jadi Ketua P.

Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P. untuk berkunjung ke sana.P. karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. Demikianlah kalau kita berandai-andai. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat.M. Tetapi sebagai selingan. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran.D. Siapa yang takkan bangga. Wonogiri yang memohon anggota P. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya . asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Di samping dapat sekadar uang.166 akan menyetujui saranku. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. sesuatu yang selalu aku banggakan. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. tidak akan ada ujungnya.

alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. bangga juga aku rasanya ketika itu. adalah di antara penulis favoritku. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ.T.T. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. Jika kukenang semuanya ini.167 itu sekarang ini. di samping Sidi Gazalba. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Sekalipun hanya dalam posisi G. Abdullah Sjahir. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. untuk memahami satu alinea saja.T. tentu kamus harus dibuka.T. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun.. aku juga mengajar . Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. Andaikan punya akses. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. Pada tahun 1960-an itu. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini.

Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api. karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno. dan rakyat umum.M.I.168 di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N.D. Samasekali tidak ada .A.M. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. pimpinan Pak Suhardi. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu.S. S. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. anak sekolah. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu.A. K. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. M. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. Dr. sebagai guru selingan. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. maka alm. M. Prof.169 bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Amien Rais.A. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. Malaysia. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. dan Kanada. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Dr. Sanusi Latief pernah mengajarku. Amien Rais adalah sahabat . Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. M. M. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. Sanusi Latief dan Prof.

Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya.170 yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982.H. tentu sebagian besar . Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. Tokh. Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan.A.

perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. anak Sarialam-Halifah. apalagi masyarakat kampungku. Dengan demikian. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. teman sekelasku di S. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. suami Rahma. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept.) . akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. St. secara diam-diam telah .R. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri.171 rakyat Indonesia. Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. IV. seperti telah kusinggung di depan. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin. MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual.

Lifuarda (namanya sewaktu di S. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Bagiku. tetapi mau dijodohkan. dikenalkan kepadaku melalui surat. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. Teman ini. Tanjung Ampalu. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. Bukan sebagai pedagang yang mapan . adik kandung Rahma. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan.M. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah).P.172 menghubungi etekku Bainah. aku sempat termenung. Payakumbuh. Tidak hanya dikenalkan. ini merupakan hiburan yang membanggakan.

Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. Bersamaku. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. . dan besoknya aku menompang truk miliknya. Padang. seperti telah kututurkan. jika bukan kurang dari itu. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Seperti biasa. bila kukenang ini semua belakangan. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. kalau mungkin sampai ke Kumanis. Bulan Maret tahun 1957. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. Alangkah geli bercampur malunya rasanya.173 seperti umumnya orang Minang. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya.

Semuanya berlalu begitu saja. rambutnya panjang terurai. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. Tetapi hanya sekadar sampai di situ.174 Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. sebentar muncul sebentar menghilang. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. sampai di mana aku menompang truknya. matanya tajam. juga tidak mungkin. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. Akan dilirik kakakkakaknya. Rahma (bintang desa) dan Rosma. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. . Nampaknya si celana merah ini manja sekali. karena tidak ikut main. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Mu’allimin Lintau di sana. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. sebab aku sadar betul akan posisiku. ada gadis dengan celana panjang merah. Aku agak lupa. lincah juga gadis ini. adiknya. apalagi usia terpaut jauh.

175 sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara.R. miskin lagi. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. sekalipun sudah . Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. datanglah surat Ismael di atas. ragu. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. hanya badanku agak kurus. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. dan malu. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. Tak lama kemudian. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan. karena tak punya apa-apa.R. masih belum mendingin betul. karena akan bertemu dengan si kecil. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk. malu.I. Enam tahun kemudian. Senang.

jika bukan ke Rimbo Kaluang. setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda . Dari kejauhan. Padang. Rumahnya gagah dan kokoh. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. Di depannya beberapa truk biasa diparkir.176 sakit-sakitan karena asma. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. apalagi di kalangan orang kampungku. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. Truknya diberi nama Sumpur Kudus.

Kalau tak salah. dalam keadaan apa adanya. ada si kecil. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. tetapi tidak autentik. sekiranya di Padang aku punya teman. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. Sebuah risiko harus dihadang. pandai bertanam tebu di bibir. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. agar kelihatan agak sedikit parlente. aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. ada Rosma (juga sudah punya anak). demi gensi. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. Jika itu aku lakukan. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. bukanlah caraku. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. mencari yang lain.177 rumah. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. Umpamanya. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. Dalam serba . mungkin kurang gizi. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok.

pengalaman hidup. 2006 di Jakarta). Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam.178 kesederhanaan. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Herry Komar (wafat 13 Feb. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. bibiku Bainah. juga terbentang jarak psikologis. Teman sekelas si kecil di S. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir . Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja.P. mantan wartawan senior Indonesia.M. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan.

sekalipun tidak lapar. pada suatu pagi aku dan teman-teman. pada 1964. Ia . Sebelum berbelok ke rumahnya. Dalam kondisi semacam itu. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. kakak sepupuku dari pihak ayah. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri.179 semakin larut. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. aku belum punya pekerjaan tetap. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. Sumpur Kudus. tidak jauh dari Simpang Balai. termasuk Manirun. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. Sampai tahun 1963 itu. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. berselisih jalan dengannya. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. Bagaimana akan siap. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama.A.

aku akan pasrah. dia membuang muka ke arah lain. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. baju anak sekolah. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Kami tidak saling berteguran. rezki secara berangsur terus mengalir. agak menjauh ke tepi jalan. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. bukan atas inisiatif kami berdua. sebagaimana yang akan kututurkan. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. langkahnya bergegas. Yang jelas aku menyukainya. yang memburu kekayaan. Seingatku ia pakai baju putih. Tampaknya ia sangat pemalu.180 baru datang dari Padang. Aku ini anak . Aku hanya meliriknya sepintas lalu.

Tetapi betapa pun perihnya hati. Semuanya biar berjalan secara alamiah. Dalam perkara ini. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Bagiku pada sisinya yang terdalam. tentu batin ini akan terluka juga.181 Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. yang berbau syirik. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. aku sangat kokoh. tidak akan berganjak sedikit pun. .

Aku memantrakan obat parang sijundai. Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Qul huwallah sungsang. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Akan dirantai Allah-lah engkau. Muhammad sungsang. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. Masuk sekalian tawar.182 Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. sebab ada gelar malin dan ungkapan- . masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang.

Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu.183 ungkapan bernafas Islam. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. Oleh sebab itu. sebab tak terjangkau oleh kantongku. aku paham benar apa makna kemiskinan. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Mudah- . Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun.

Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. lupa lautan. tidak memperhatikan orang miskin. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian.P. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh.184 mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. Interaksiku . Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. tetapi dengan segala keterbatasan. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung.

Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. Muslim dan nonMuslim.185 dengan tokoh-tokoh lintas agama. ini perkara jodoh. dan pengusaha. birokrat. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Sudahlah. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. apakah ada akar sejarah masa lampau. Jika muncul . Selama beberapa hari di kampung. lintas kultural. Kita kembali kepada alur cerita semula. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. lintas etnis. sekiranya itu menjadi kenyataan. Entah bagaimana akhirnya. sebab siapa tahu. tidak ada kelanjutannya. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. para jenderal. tidak jelas bagiku. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini.

yaitu sembilan tahun. . menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. dan sedikit sebatas propinsi. dan mungkin kekanak-kanakan. Aku masih gamang. karena aku belum punya peta masa depan. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. Paman. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. lugu. kabupaten. abang.186 masalah. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. Bukankah pada masa itu. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D.T. juga tidak memberi saran apa-apa. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. Mungkin karena jarak usia yang jauh. dan famili yang lain.

tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. Atapatap rumah.B. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. Bung Karno sebagai P. gedung-gedung. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. antri sabun. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). antri bensin dan antri apa lagi. Antri beras. antri minyak.R. antri garam. lapar. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum .187 (Demokrasi Terpimpin. sekolah. Dengan kalimat lain.

apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. paling-paling seumur penciptanya. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang . dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Di antara pengeritik yang paling vokal. argumentatif.188 selesai. Selama periode yang panas ini. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. ikuti mereka).” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. join them. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman.

K. yang mendukung D. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh.I. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P.189 masalah demokrasi di Indonesia. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. . Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. P.T. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. Aku pun heran. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence.I. kecuali Hatta dan para pengikutnya. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu.I. Suasana politik bangsa panas sekali.

mantan duta besar di Washington D. terpaksa atau sukarela. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya.K.Masyumi-N.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A.. Salah seorang tokoh P. Di mana rasionalitas. juga larut dalam kompetisi manipolis ini. di mana akal sehat. . tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. aku pun tidak bisa menjelaskannya. Ali Sastroamidjojo.U.I.R.T... aku tidak tahu.C. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini.I. Akhirnya Bung Karno “menyerah. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. (Ali-Roem-Idham.I.. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang.190 Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. P. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D.).N. diplomat ulung.I.

dan diharapkan tidak terulang lagi. sebab Jerman yang maju itu.191 Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Menengok fenomena ini. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. Tentu akan ada yang bertanya. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. karena tidak ada jawabannya. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. Aku tidak bertanya .

pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. seperti dia cemburu kepadaku kemudian. Bagaimana mau menikahi seseorang.P. temannya sewaktu belajar di S. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh . tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya.192 apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. 1958-1963. itu adalah bagian dari sikap nekatku. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah.M. sementara awak tak punya apa-apa.D.R. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. inilah pertanyaannya.. seperti halnya P. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P.I. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku.I. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. wartawan kawakan Indonesia.R. sekalipun mulai agak melemah. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya.R. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah.

D. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. tetapi melihat korban yang begitu banyak.S.. Bukankah Bung Karno dalam istilah W.R. tetapi keterlibatannya dalam P. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan.R.R. karena .I.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis.I. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia.193 kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini. Aku yang semula pro-P.I.D. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu. perlu kajian ulang. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.R. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk.U. di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P.R.

sekalipun mereka lapar. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik. Aku yang pada masa itu pro-P.R. Sungguh berlaku yang aneh- .I..I.S. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P.D. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta.R.D.R. seperti baru saja kukatakan.I.R. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata.194 kami sama-sama sering berbicara tentang P. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.I. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta.D.R. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu.I. dan pemimpinnya. sama sekali tidak menyebut P.

Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu.I. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Dia korban sengketa politik daerah-pusat.R. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak. menjatuhkan bom di desa itu.I.195 aneh. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.I.K. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Di pedesaan P.P.R. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Dia panggilku kakoncu.R. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati.M.U. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. kelas 1). Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada . Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka.. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A.

Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka.R. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu.R.I.K.196 di atas angin. Bayangkan ketika itu. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu.R. tetapi karena diangkat. bukan karena dipilih. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam . adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik.K. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang.R. dari suku Caniago. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut.I. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang. kalah perang.I. naluri saudagarnya “berdansa” terus.K.I.I. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. P. dan sekaligus menjadi wali nagari. Jumlah anggota P. Semuanya ini berlaku terutama karena P. Dalam keadaan sulit.

peran mak Sarialam begitu besar. sekalipun tidak secara langsung. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya.M. di seberang makam. B. mengelola perusahaan. tidak saja di dunia dagang. jika ingatanku tidak salah. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. Damailah di sana. Negeri di sana. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala.197 mendampingi suaminya. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing.A. sementara pak . Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga.

aku merasa malu. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini.198 Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. tidak punya pilihan lain. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. mungkin aku sudah lama berumah tangga. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. Sampai Desember 1964. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. jangankan . Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. entah di mana. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. tetapi aku sedang kepepet. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. Kenyataannya. saling menjajaki. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya.

Jodoh memang tidak dapat direncanakan. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan.199 menghidupkan orang lain. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. Jogja. Rendang ini kubawa .. Dia beli sendiri. Apalagi pada era D. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Dengan apa kubelikan. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. Sejak di Mu’allimin Lintau.T. menghidupi diri sendiri saja bertele-tele. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. karena masih ingin sekolah juga. sekalipun harus hidup menderita. sampai tahun 1960-an itu.

Terima kasih mak! Sejak bertunangan. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. paman. batinku rasanya sudah agak tenang. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. dan lainlain. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Si kecil tahu betul keadaanku. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. Perkara kondisi tidak seimbang. kakak.200 sampai ke Jawa. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Si kecil memang berhati . sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. Dari pihak keluargaku. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu.

baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Suami etekku A. entah dari mana ia dapat . aku banyak belajar padanya. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Dalam masalah ini. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. entah apa sebabnya. Untungnya. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi.201 keras. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain.Wahid. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil.

Ternyata itu tidak kumiliki. Ini berbeda kabarnya dengan . sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Bagaimana tidak akan lancar. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. Potong kambing segala.202 “ilmu”. Pada tingkat usia 30 tahun itu. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. tokoh spiritual Perti. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.

karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. sekalipun cukup membahagiakan. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana.203 upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. Ini dapat dipahami karena dua hal. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. si kecil. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. untuk seterusnya kupanggil Lip. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. Masa membujangku berakhirlah sudah. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. Kedua. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. Pertama. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku . Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya.

aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. Sebenarnya pihak keluarganya. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. sekalipun jauh dari suasana mewah. entah apa penyebabnya. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. termasuk abangku Nursahih. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. Beberapa hari sebelum perkawinanku. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama . kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar.204 Rahima dari suku Caniago. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Yang hadir ramai sekali. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km.

Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu.205 anaknya ini. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. Bukan main pihak keluarga senangnya. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. tetapi yang ketika itu belum . maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Di akar rumput. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu. kecuali seorang kakak iparku itu. yaitu Islam.

Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus. seperti telah kujelaskan. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam.K. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana. Sayangnya. Sekarang dari sisi agama. tahan bantingan sejarah. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal. C. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian.I.K.206 membuahkan hasil yang berarti. jurusan . aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa.I.P. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. Setelah beberapa hari di kampung.P. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F.

M.207 sejarah Universitas Cokroaminoto. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur. Kabar itu sebenarnya tidak betul. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis.P. pendiri H. Negeri Yogyakarta.P. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar.K. . Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. tetapi hikmahnya cukup besar.K. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya.I.I. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F.I. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.K. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I. Lafran Pane. Drs.I.S. anak pak Burhan.I.

K. Yogyakarta. Melalui berbagai upaya itu. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.S.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto.I.K.N. R.K.I.K. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah .P.I. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. Semarang dan anggota D.S.I.P. mertuaku. Wuryanto. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri. M. Jika aku tak salah ingat Drs.208 adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku. ketua jurusan pendidikan sejarah F. Maka bantuan Drs.I. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.I.A.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima.-I. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini. entah apa sebabnya.P.R.

Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Selain memperoleh ilmu dari Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. abang Bakir Amir.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. K. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. Kahar sebagai imamnya.H.). Nyai Amir adalah kakak seibu Prof.P. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Aku . tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. Kahar dalam berbagai pertemuan. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Muhammadiyah.209 ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. Prof. tempat alm. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya.

dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi.210 diajaknya menulis bersama. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu.A. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. (Kesatuan Aksi Mahasiswa . Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia.I.P. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.K. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu.A. Dia sendiri adalah guru P.P.M. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. milik seorang pedagang Sunda. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. masalah ibadah. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami.I. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K.A.I.G. Negeri Surakarta.

Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. karena sudah terbiasa sejak kecil. pimpinan alm.A. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. B. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai.U. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. A. Untuk perlengkapan tempat tidur. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting.211 Indonesia). tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. berkeluarga. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek. miskin lagi. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan.K.A. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Sekalipun masih mahasiswa. usiaku sudah bergerak tua. H. sementara aku sedang kuliah. Basuni. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman. Mungkin sebagian kecil hasil . dan alm. Mohammad Diponegoro. Di samping sebagai korektor.

tentu tidak ada persoalan. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. demonstrasi merebak di mana-mana.I. Sebagai seorang yang bukan aktor. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P. K. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi. tokh aku tidak mungkin memilikinya. Jika aku masih sendirian.212 iklan terselip dalam kantongku. T. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. Jl. Andaikan ada.V. (Suara Muhammadiyah). khusus untuk anak yang baru lahir. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku. aku lupalupa ingat berapa. aku tetap saja kuliah sambil bekerja.K.H.I. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. Kasur pun hanya punya separo. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. Muhammadiyah yang lama. Ekonomi morat-marit.Dahlan 99.M. lantai II Kantor P..P. Untung ada beberapa koran di kantor S. masih belum ada ketika itu. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P.. Beban . seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya.K.

M. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana. Bukan main bahagianya perasaan. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Kalau aku apa yang mau digadaikan. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat.213 mentalku menjadi berat. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. Untung dia punya perhiasan. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. pagi dan kuliah sore hari. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Lip . Masalah beras cepat teratasi. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. Selama di Kotagede. 20 dari sebuah majalah di Solo. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp.

salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer.214 tidak pernah gemuk. kini telah .I. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.. tetapi jumlahnya tidak seberapa.. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Manifes atas desakan P. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis.K. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan.I.M. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Setelah sekian lama aku jadi korektor. dituduh sebagai kekuatan anti Manipol.K. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain.

tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. . Sangat disayangkan. Ayahnya jauh di rantau. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. Anaknya sudah diberikan. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja. ayahnya “diperas” lagi.I. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi.215 berubah menjadi penyambung lidah P. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. sebab jika dibantu pula. V. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga.K. MUSIBAH SILIH BERGANTI A.

padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. Nasib . sekalipun masih serba kurang. Coba kalau tidak. Pada saat-saat sulit itu. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%.216 Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. Amin. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. untung ia mau membantu. Jika kukenang sekarang. seperti telah kusebutkan di depan. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. sebuah angka yang sangat mengerikan. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat.

I.I. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.S. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya.I. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Yogyakarta.I. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I. Tanpa pintu itu.K.K. M. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F.I. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana. I.K.217 pegawai negeri kempas-kempis. baik sekali. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri.P.P. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U. sampai .K. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.I.P. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F. Jika kinerjaku dinilai baik.

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: “Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan “perang dan damai,” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas.” Ungkapan “perang dan damai,” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, “penyakit” yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen,” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu,” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu.” Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. “Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Dochak Latief.P. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954).228 terlambat. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. khususnya Amerika Serikat. dan Rektor I. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme.S.K. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. dosen Sejarah Asia Tenggara.K. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F. Sekretaris Gading Tua Siregar (alm. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia .I. 1. Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya.I. bulan-bulan menjelang Iwan lahir.). Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. dan itu sangat kami utamakan.” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono.

Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar. sekalipun usia sudah 33 tahun. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U. dosen senior jurusan sejarah. aku adalah lulusan pertama. Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara.M. Bangga juga rasanya. tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. Yang berlalu. Kapita Selekta Sejarah Afrika. yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian .. Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru. demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Manipol/Pancasila. Kapita Selekta Sejarah Eropa.G. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Teori Sejarah. Untuk teman-teman seangkatan. Sasjardi. tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi. Bimbingan Tesis. Drs. biarlah berlalu.229 Selatan.

India.N. .I. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965.P. kemudian menjadi anggota D. sementara aku tak punya.-I.I.S. sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. tercatat Singapura. Jerman. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis). Malta. mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi. tenaga pengajar.Y. berasal dari Curup. atau U. dan atau sebagai tamu undangan.P. Chad. Pusat dari P. Inggris. sebuah karier yang cukup panjang. bukan? Dari kampus I. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F. Qatar. Jordan. Saudi Arabia. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005. (Partai Amanat Nasional). periode 2004-2009. Libia.230 ini. Malaysia.I.K. Pakistan.K. Belgia. Thailand.A.R.K. Iran. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah.N.P. Iraq. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat.

Kanada. Italia. keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. Sekalipun masih pinjam baju segala. Australia. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan. tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Aku memang agak urakan. (Suara Muhammadiyah). pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Bukan saja warnanya yang telah berubah. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku.M.231 Belanda. Selama menyiapkan tesis. dan Hong Kong. Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat). Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin . sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Roma.

Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh- .M. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S. mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah.232 yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. Baru setelah belajar di Chicago.I. tetapi umumnya menyangkut masalah agama. Arab. aku pun pernah menjadi anggota P.I.K.M..W. Kartuku ditandatangani oleh alm.W. apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. seperti Inggris.. Sewaktu bekerja pada S. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S. Bermacam topik yang kutulis.S. untuk sejarah Asia Barat. Pusat ketika itu. salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F. dan Indonesia. aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P. sejarah. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif. dan politik.I. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta.M. sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi.

Hafni Abu Hanifah. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Junan Nasution. Mohammad Sardjan. Mohammad Natsir. dan Prawoto Mangkusasmito. Sjafruddin Prawiranegara.233 tokoh yang aku banggakan itu. Ny. Mohamad Roem. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Adapun sikap moralnya. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik . Mohammad Natsir. Prawoto Mangkusasmito. Abu Hanifah. Burhanuddin Harahap. Ny. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Amelz. Kasman Singodimedjo. aku junjung tinggi sampai sekarang. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang. Muhammad Isa Anshary. Soekapti Mangunpuspito. Jusuf Wibisono. apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Zainal Abidin Ahmad.

D. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P. Sjafruddin. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. sementara Natsir.U. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. Soekiman.234 Indonesia: Natsir. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. Adapun kritikku kepada partai ini.. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. dan Burhanuddin. Kegemaran . yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. C. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami.I. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik.R.. Junan Nasution.R. akan kujelaskan pada ruang yang lain.

Ini amat disayangkan. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. sekalipun batin sering goncang. dan aku turut memberi kata pengantar. Salim di Cornell tahun 1953. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak . Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat.235 menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca.A. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar.

saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam).236 datang dengan tiba-tiba. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu . Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman.

sekalipun tidak parah pada mulanya. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik.237 sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Periode ini. (Northern Illinois University). Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak.I. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. Ismangoen (alm. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Dengan segala pertimbangan keluarga. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. DeKalb. tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N.). Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. Dr.U. kalaulah iman tidak kuat. Menginjak dua tahun usia Iwan. . Dr. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut.

Ismangoen. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Dini hari. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan.238 Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. . Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. di depan lapangan sepak bola. kadang-kadang bergantian. masih di bawah pengawasan Dr. Seperti telah kusinggung di atas. Iwan jatuh sakit lagi. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Iwan meninggalkan dunia fana ini. lupakan kuliah. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya.A. sehingga sulit melangkah sendiri. Terasa banyak kemajuan. Dr. dalam sejarah.

Jogja). Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. usiaku sudah 38 tahun. Tempat ini di . aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Demi meringankan beban batin. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat.239 kembali kepada Pemilik yang sebenarnya.D. panggilannya sehari-hari. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Pada saat Iwan wafat. Muhammadiyah Wirobrajan.D. ke rumah pak Sukadijono. kepala S.

Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan.240 daerah pegunungan yang sepi dan dingin. “Anakku.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. adalah kelucuannya. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. jauh dari stabil. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. air mataku meluncur tak tertahankan). Mengapa . Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. akan dijawab: Nun Epah. isteriku. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. anak ini cukup ceria. wajahnya selalu terbayang.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. di Jogja-Padang-Jogja. untuk sebutan Nurkhalifah.

Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. hilang dua. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. VI. Kalaulah boleh digantikan. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. Pengalamanku di DeKalb. bukan anak.241 cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. Memang serba dilematis. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. aku bertugas seperti biasa. Hilang satu. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. memberi kuliah. sekalipun semula . Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. aku pun tidak dapat menjawabnya.

20 kg. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. alhamdulillah tidak terbukti. Gelar doktorandus memang tidak laku jual. kemudian baru boleh dibawa pulang. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku.U.242 terasa sangat berat.K.U. Hardjo Djojodarmo (alm). Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. teman dosen jurusan sejarah. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat.K. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. Alhamdulillah kami tidak diterima.S. Tiap hari kami berulang ke P. P. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. kecuali penyandangnya . demi perbaikan ekonomi. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr.

Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai.243 dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah.K. Adapun aku saat itu. apakah tidak akan menggangu asap dapur. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya.D. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu. Sampai awal abad ke-21. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia.I. Setelah mengikuti tes. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. sementara Husain berhasil.P. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. Bandung.P.P. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan .

Dr.244 diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. aku jelas tidak puas. Prof. nilaiku jauh lebih baik. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+). Semarang diundang ke rumahnya untuk . Sikun Pribadi. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. dan Bahasa Inggris (B). Itulah prestasi akademikku di Bandung. Nasution. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Prof. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. Pada suatu malam aku dan teman dari I.K. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+).P. Prof. Garnadi Prawirodirdjo. padahal sewaktu belajar di DeKalb. Mereka adalah Prof. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa.P. dengan nilai tanpa A. Achmad Sanusi. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. Sikun.I. Kepemimpinan & Manajemen (B). Dr. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. termasuk milikku tentunya. S. dan masih ada yang lain.P. Supardjo. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. terimalah apa adanya. agak sedikit memalukan. Dr. Dr. Dr. Tanpa nilai A. dari lima mata kuliah. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof.D.

Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. Isteri Prof.D. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U.245 ditemukan dengan Suryadi.P. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu. Prof. tokoh spiritual Prof.A. Ternyata seorang guru besar .P. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. Sikun.P. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. yang hubungannya denganku cukup baik. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. Sikun bersikap lebih banyak diam. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya.D. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L.N.

aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang . Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. Dalam perkara ini. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja.246 filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. jenderal.

D. Ph. tetapi mereka rela. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. sekalipun masih di bawah 600. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. William H. Tentu aku senang. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi.A..A. Aku hanya mengambil . Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. Frederick.H. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan.D. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O. Univeritas Ohio) di Athens. di Universitas Chicago. Hasil tes lumayan. (Ohio University. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. Bahkan terlalu baik. pada departemen sejarah. sudah di atas 500. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph.247 terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat.

sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. A. Di Athens. Setelah meraih gelar M.H.K. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. Cukup lumaian bukan. Doddy Soejono. Rata-rata A. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. Dorongan semacam ini sangat penting. Frederick.atau I. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O.. tim penguji yang lain adalah .67. seorang seniman dari suku Sunda. A-. bila dibandingkan dengan nilaiku di L. Alhamdulillah.. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. dan dari sana meluncur ke Athens.A. tanpa nilai A satu pun. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. A-. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari Athens agar aku tetap menggarap tesis.P. B. B+. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago.248 delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+.D. Di sinilah peran penting dari Prof. Di samping Prof. (Indeks Prestasi Kumulatif)3.P. kampus lamaku.P. A-. A.untuk tesis. tahun ke-176 dari usia universitas. dan A.

bukan? B. Aku masih terpasung dalam status quo. tokoh-tokoh Ikhwan.S. . yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. Jadi tidak terlalu buruk. (Muslim Students’ Association). Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. belum reflektif dan kontemplatif. Masyumi. dan gagasan tentang negara Islam. Gerald Doxie. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis. Iqbal. Masih berkutat pada Maududi. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. Apalagi aku aktif dalam M. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M.A.dan A. semuanya akan menjadi beres.S.A. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara. Maryam Jameela. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti.249 Prof. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman.

Kuwait. Mesir. M.A. Iraq. hati-hati.S. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun.S.. Di Athens. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Jadi secara moral. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. Aljazair. dunia M.250 yang masih serba belia. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. Libia. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia.A.S.A. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya. sangat berjasa. Itu belum lagi .S. Di lingkaran M. M. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. Dari segi moral pergaulan. dan saling menjaga.A. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.S. sungguh bagus.A. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. Ilmu Barat dipelajari. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari.

seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Dengan membaca peta semacam ini. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak . Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. ilmu. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. tokoh syi’ah moderat dari Iran. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Nasr bukanlah tipe itu. pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia.251 kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim. ekonomi. dunia kita atur. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. dan teknologi. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. Pokoknya dengan negara Islam.

252 nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Muslim dan Barat. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an.S. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Beberapa pemimpin M. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Sebagai penulis prolifik. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. di samping .A.

Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.253 seorang aktivis. sementara dimensi intelektual dilupakan. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Dari sisi terobosan intelektual Islam. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat . Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim.

Sebuah paradoks berlaku di sini. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. dermawan. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu.254 Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. Para pendukung Maududi. Di Athens. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. Qutb. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. yang mengeritik Barat in toto. New York. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. dan ulama yang konservatif. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. Setidak- . tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. otoritarian.

(Lih. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. Sayyid” dalam John L. Bahkan mendapatkan M. Esposito (ed. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. New York-Oxford: Oxford University Press. Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang . kebebasan seks. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. 1995. hlm. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya.255 tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. Sharough Akhavi.). Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. dan pro-Zionisme.A. 401). “Qutb.

sebab Barat-Timur itu milik Allah. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah.256 dada saja. Maududi. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. Pada saat usia yang sudah . wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. tidak menyentuh realitas. Dalam usia 43 tahun. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. adil. dan Masyumi. Dominasi politik begitu terasa. Bukan saja bersentuhan. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. jangan ekstrem anti sesuatu. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun.

tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. Dalam arti intelektual.257 demikian jauh. Dengan al-Faruqi.S. Malaysia. Wan Mhd. memang banyak yang idealis. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Dr. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental.A.A. dan teman dekatku. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. Teman-teman M.S. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. Aku hormat kepada al-Ghazali. Nor Wan Daud. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago. aku belum pernah berdialog secara langsung. salah seorang murid Rahman di Chicago. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. .

mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam.A. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas.T. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I.A. ruhnya menjadi sirna. Proyek I.C.A. Amat disesali. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.A.C. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme.S.258 Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.T. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas.S. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati.S.C. kemudian hijrah ke Malaysia.S. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia. Karena proyek alAttas berupa I. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu.T. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana. kehilangan kemandiriannya.T. . Al-Attas kelahiran Bogor.C.

Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. Amien Rais. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam.A. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U.I. . tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. Bantuan sahabatku M. beasiswa itu kudapatkan. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph.S.D. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan.259 C.D. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya. dalam pemikiran Islam. melalui perwakilannya di Jakarta.

Gila bukan? Otak sudah tua. seperti telah kujelaskan sebelumnya.260 karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih beradab kedengarannya. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. disuruh cari nilai A lagi. sekalipun hakekatnya . Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan.

maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya.” seperti telah kukutip terdahulu. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut. sekalipun dia . Yang menguntungkanku. Jika upaya itu kandas. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. Aku punya rasa takut dan cemas. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu.261 tidak banyak berbeda.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago.

tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Selama semester pertama aku harus belajar keras. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. tentu semua langkah akan terhenti seketika. artinya baik sekali.262 menderita. . Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. tidak mungkin bergerak lebih jauh. Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Biaya sendiri mana mungkin. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. sekalipun sekarang sudah lupa semua. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. aku lulus dengan angka P+. Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi.

Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”). padahal hasiahnyo alun jaleh. Aku tentu bangga dengan ini semua.263 Andaikan kuusulkan untuk menggadai. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. Apalagi jika . Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. Syafii hanya memikirkan diri sendiri. berkat rantau. Sekiranya tidak merantau.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. lantaran desakan hidup misalnya. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. padahal hasilnya belum jelas. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. Bunyinya kirakira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan.

Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu.264 menyandang gelar suku. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. Nilai A= keluarga datang. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Bukan main rasa syukurku. Dalam perjalanan . menulis makalah. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. kelakuan semacam ini juga terjadi. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. dan menempuh ujian akhir. Alhamdulillah. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Di kalangan keluarga dekatku. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979.

harus singgah di jalan. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. aku lupa. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya.265 sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. Biaya cukup. Mungkin karena lelah. Hafiz. Perjalanan . Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. Tidak langsung ke Chicago. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. nama anak kami. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta.

Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Rintangan bahasa dapat diatasi. Tokh dalam pergaulan harian. demi membantu beasiswaku yang kecil. Hafiz sekolah.. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. cari informasi ke sana dan ke mari.D. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Cuaca . Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih). Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak). Sebelum masuk S. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. aku hampir tiap hari ke kampus. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu. Lip tidak betah menganggur. kadang-kadang menegangkan. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Karena anak kecil. Setelah beberapa minggu di Chicago. Pernah juga kuantar dengan mobil. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. isteri Kristen). dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami.266 panjang itu kini telah jadi kenangan.

419. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. 419. gajiku sekitar Rp. Lip telah jadi “orang kaya” baru. Kurs ketika itu $1=Rp.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. bukan? Tahun 1979. Lip punya sifat tabah ini.419. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. Dengan kerja delapan jam per hari.267 dingin sekali.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. dia berangkat dengan sepeda. 838.000. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Pinto ini .000=Rp. 60. 750. Beasiswaku ya sekitar itu. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3.000 per bulan. 868 per bulan. demi menambah beasiswaku. Sebelum pulang ke tanah air. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. Di musim panas.

Sudah . begitu juga berpuasa. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. Sebelum pulang ke tanah air.R. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. sungguh jauh nian bedanya. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. D. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. yaitu lima dolar per jam. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. Cukup fantastik hasilnya. Selama bekerja. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah.P. penghasilan isteriku cukup tinggi.268 kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. puasa dengan membayar fidyah. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. Luas tanahnya 230 m2.

AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. termasuk acuan dalam berpolitik.269 kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. Ilmu seorang alim ada di tangannya. di Inggris. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi.D. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Keinginan . Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. Salim. Bedanya.A. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran.

dan dari negara lain. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang. ada Yahudi. Saudi. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. kelasik dan modern.270 Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan. Amerika Serikat. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. dan tak kunjung selesai. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa . terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Iraq. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Kanada. Indonesia. Malaysia. Ada dari Eropa. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. ada Kristen.

Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Hamka (Indonesia). Hossein Nasr (Iran).271 kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Abdulaziz Sachedina (Iran). Fazlur Rahman (Pakistan). Ahmad Khan (India). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Muhammad Abduh (Mesir). Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup . Muhammad Arkoun (Aljazair). Khaled M. Ada Shah Wali Allah (India). Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Nurcholish Madjid (Indonesia). ibarat sumur tanpa dasar. Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Mohammad Natsir (Indonesia). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). Abou El Fadl (Kuwait). Bassam Tibi (Suria). Mungkin baginya. Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Iqbal (India/Pakistan). Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan).

please give me one fourth of your knowledge of Islam. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. Hamka. al-Faruqi. tasawuf. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. obyektif. Natsir. Kecuali Shah Wali Allah. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. filsafat Islam. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang .272 banyak dan bermutu. AlAttas. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. teori politik Islam. Pokoknya di Universitas Chicago. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. mendalam. dan komprehensif. Rasyid Ridha. hukum. dan masih ada yang lain. dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. Banyak persamaan di antara mereka. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. tegas. kritikal. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. modernisme Islam.

67. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. satu A-. Selama belajar di Chicago.15 A. Berdasarkan angka-angka itu. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. dan itu dari Rahman. tiga B. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna.273 penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam.84. maka I. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas . yang kuperoleh adalah 3. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Dengan demikian nilai A menjadi 16. Selama kuliah di Chicago. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. lima B+. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi.K.P.

Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. pada saat aku sudah berada di tanah air. padahal gelar M. biasa disingkat U. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982. sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983. Yang aku agak heran. .A.C. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. Nurcholish Madjid dan Salim Said. Terlalu banyak yang dihafalnya.274 Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. Dalam menghadapi peristiwa penting ini.

sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Tanpa pembongkaran ini. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Dengan kata lain. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal.275 Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Di luar itu. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. . merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka.

jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia. Oleh sebab itu. sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. tak tampak tetapi terasa. tampak tetapi tak terasa.” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. dan dana. pakailah filsafat garam.276 Dari perspektif ini. sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda . Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. fikiran. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu. Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga. aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan.

bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik.277 dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. bahkan di Asia Tenggara. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata. tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. tetapi dikhianati dalam laku. Dengan cara ini. Setelah 60 tahun merdeka. Selama empat tahun lebih di Chicago. sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. biarlah tuduhan itu diteriakkan terus. sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan . perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis.

Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Amat disayangkan. pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. Jika upaya serba radikal ini gagal. tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan . Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Dalam ungkapan lain. maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi. Semuanya bermasalah. Ada mereka bangun semacam teori. dan memang tidak punya syarat untuk berhasil.278 kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Qur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar.

Sementara keyakinanku kepada Islam . Muhammadiyah (1998-2005).279 sunnah nabi secara autentik. Masalah toleransi inter dan antar agama. tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. tesis. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P. dan bahkan kabarnya juga disertasi. Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi. setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan.P. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Pasti akan sia-sia.

280 Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh. karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. imanku rasanya tidak semakin lemah. aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dengan formula ini. sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku. malah semakin kokoh. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain. dan masih ada beberapa ayat . Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQur’an dalam surat al-Baqarah: 256. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan. dan berbeda dalam persaudaraan. surat Yunus: 99. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir.

mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan . Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain. tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi. maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan.281 lagi. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Dalam ungkapan lain. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi. apakah mereka beriman atau pun tidak. tetapi untuk semua. itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam.

jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Kita ambil contoh. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik. dan cerdas. sungguhsungguh. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita. masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur. sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% . Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan. sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQur’an sebagai hakim yang tertinggi. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern.282 apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini. toleran. sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation). dan berkualitas tinggi. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan.

di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas. sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa. Dalam sistem syura. demi mempertahankan hidup seseorang. tidak perlu diperpanjang lagi. judi dengan demikian menjadi halal. kecuali dalam konteks . Dalam sistem demokrasi Barat. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar. rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim. memakan daging babi adalah haram mutlak.283 anggotanya. sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. hal itu tidak mungkin berlaku. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Dalam kondisi normal. Dalam sistem politik syura.

Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan. gubernur. Jika ini yang berlaku. Tidak saja pada masa kelasik. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi . dan bahkan presiden. bermoral.284 yang sangat memerlukan. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi. Tentu tidak asal perempuan. Banyak contoh sudah dalam sejarah. maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok.” Tanpa keadilan.

Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja . Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. laki-laki mau pun perempuan (lih. asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.285 terbuka lebar. sekiranya ia masih bersuami. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung).

tidak terkecuali di dunia Islam. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. Dalam wacana modern. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat.286 keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. . Sebenarnya dalam sejarah nusantara. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional.

sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di . Dalam masalah ini. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. monogami atau poligami. Dengan memadukan kedua ayat ini. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. praktik poligami itu sangat merebak. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata.287 Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu.

tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. Isteri satu. . Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. sementara bapaknya entah siapa. Sebelum berangkat ke Chicago. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. kecuali bagi yang tidak mau. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi.288 atas. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan.

Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. sehingga seks bebas. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. tidak berkeping-keping. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. sesuatu yang bila tidak dihentikan. umat Islam tunggal. . terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. Ironisnya lagi. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. Sepanjang pengetahuan saya. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. 22 Maret 2005. pada masa nabi Muhammad.289 Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

padahal kemenangan . Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. sadar atau tidak sadar. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Syai’i.290 Munculnya kelompok Suni. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan.

Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). yang dimenangkan pihak Ali. sesuatu yang sudah lama diincarnya. pembela Ali. Fathimah. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah.291 sudah hampir di tangan. yang anti terhadap keduanya. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. dan Khawarij. puteri nabi bersama Khadijah. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. dan Ali. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. Syi’i. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. sedangkan dua yang lain selamat. Dengan terbunuhnya Ali. isteri nabi. Ali. Siapa yang meragukan . sekalipun isteri Ali. sepupu dan menantu nabi. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat.

mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. dan di mana . sesuatu yang tidak selalu mudah. Afghanistan. Palestina. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. Timbul pertanyaan. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan.292 kualitas iman mereka ini semua. sekalipun bukan mustahil. Jika tidak demikian. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman. Tak seorang pun. Dengan kata lain. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan.

tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. al-Qur’an s. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. al-Furqan: 30).293 lagi. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua.” 15 15 (Lih. kecuali jika kita memang mau membuang al-Qur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. seperti yang berlaku berabad-abad. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. dan isme apa lagi. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. syi’isme. .

Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. Tetapi setidak-tidaknya. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. Bagiku. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. Islam lahir pertama kali di Arabia. adil. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. banyak yang bahlul tentang Indonesia. tetapi Islam tidak sama dengan Arab.294 Kalau realitasnya memang demikian. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan. sekiranya semua pihak . jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. apalagi saling bertentangan secara tajam. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Tentu sebagai manusia yang relatif. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah).

tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. Adalah Richard Falk. betapa pun belum mendalam. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. VII. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika.295 memakai pikiran jernih. Perkisaran Abad. Amerika Serikat. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. Harapan. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. 14 Juni 2005. khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. Dua . hlm. dada lapang. dan punya ilmu yang memadai. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu.

No. 1). Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. Afghanistan berantakan. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. Iraq kacau balau. . Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika.” (Lih. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. hlm. 8. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Jan. Just Commentary. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya.296 tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. dan Palestina belum juga merdeka. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. 1998. Dunia memang belum berakhir.

khususnya Amerika Serikat. demi manusia. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. Memang . masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat.297 Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. keadaannya setali tiga uang. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. diawali terutama sejak renaisans. situasinya terbalik 180 derajat. Indonesia. di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini.

B. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman.298 pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. tetapi belum pernah efektif. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. P. tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan.B. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali . Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia. di mana aku sering juga terlibat. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat.

Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Tetapi. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Bumi kehilangan wasit sejati. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. Dalam ungkapan lain. rasanya sudah sangat berat. Untuk berapa lama? . Imajinasi kita dapat menjadi liar. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang.299 mengenal Tuhan. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. tanpa sapaan Langit. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali.

tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. “Maka.300 Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. termasuk aku di . Alangkah mulianya tujuan missi ini. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. lupa hakekat.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya.

F. B.K. Batin meronta keras.I. kemudian berubah menjadi F.S. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut.P.P.P. 2006). Jika pikiran itu dinilai sudah usang.I.S. syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima.I. I. tidak lagi menantang. . namun realitas tidak beranjak juga.I. Bila itu terjadi.S. karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan.I.301 dalamnya.. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.P. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.S. Yogyakarta (sekarang F. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan.P. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu.. Universitas Negeri Yogyakarta).

(Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P.D. Baru akhir tahun 1985. Nitibuana yang berpusat di Kudus. Semua pegawai bernasib sama. Untuk pembayaran uang muka rumah K..K. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I.G.M. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. tamatan Amerika.T. teman lama sejak dari DeKalb. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.R.I.302 Fakultas Ilmu Sosial.R. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu.P. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K.R. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago.D. ke universitas. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad. mantan rektor U.P..P. itu adalah bak sarang merpati. Aku yang sudah beroleh Ph. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. Ya. Solusinya adalah aku harus .P. Miskin bukan.

I. pemikiran ideologi. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun.K.P.303 memberi kuliah di perguruan lain. sama-sama berangkat ke universitas yang sama. kala itu adalah mendiang Drs.P. Agak aneh bin ajaib. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas.K. membuka program pasca sarjana. Gaji tidak besar. mantan rektor I. U. dan U..N. agama.I. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah. negeri atau swasta. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat. St. Vembriarto.N.A. Maka aku dan Prof.. Mata kuliah yang kupegang bervariasi. adalah tempatku memberikan kuliah. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta. Barnadib.A.S.I.. selain mengemban tugas pokokku di I. Dua perguruan tinggi I.I. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama . Ada sejarah Islam. dan bahkan Pancasila. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar. dan berhasil.I.N. Cara ini harus ditempuh.P. Tahun 1984 I.K.I. Rektor I.I.

“Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. Atas kebaikan awak bus. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan.” .3. Terjadi dialog. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. sekalipun S.P. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun.304 kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku.I. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. aku tidak mau tinggal diam. Dijawab: “Itu antara lain. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka.M.

semua keangkuhan itu menjadi berguguran.I. Aku adalah di antara sedikit dosen I.305 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya.P. Semua orang di I. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah.A.K. A. Dahlan 99. Muhammadiyah yang dipimpinnya. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja.H. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri.I. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.K. K.P. “Mohon D. Rais.P. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P.P. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Jl.P. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru. . paham kelakuanku ini. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres.P. yang lama. Muhammadiyah ini.3 saya ditandatangani secepatnya. Jogjakarta. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. Sejak tahun 1985 atas dorongan M.

P. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput.P. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini.A.R. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. tidak saja secara lisan. Dr. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak . Majelis pimpinan M. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah.A. Fachruddin. Basuni.A. yaitu 12. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah. dalam P. B. Posisi 13 diisi oleh A. Di samping Rais. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. A. yang sekaligus pimpinan majalah. Yang lain mengikuti. penerbitan pun digalakkan.306 tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini.P. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. Muhammadiyah pimpinan H. Seakan-akan majelis ini adalah P. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P.

P.P. Teman-teman P.307 terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. Muhammadiyah. Amien Rais (993). karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan. 1990-1992. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja. (Universiti Kebangsaan Malaysia). aku sudah masuk ke dalam jajaran P. M. yang lain. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan.M. .P. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Ismail Suny (890).P. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. Sekalipun berada pada angka 12. sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). tidak terlalu tergantung pada bendahara P. posisi bendahara diberikan kepadaku..P. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P.K.

itu.308 Sutrisno Muhdam (830). s. A. S. selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Rusjdi Hamka (774). Ahmad Syafii Maarif (557). seperti tersebut di atas. Prodjokusumo (638). s. . al-Syura: 38). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. Ramli Thaha (671). Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. sebab jika ada perbedaan. Fahmy Chatib (701). Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. Djarnawi Hadikusumo (676). Rosjad Sholeh (748).P. Aku pada waktu itu masih partisan. Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Ahmad Watik Pratiknya (655). Ali ‘Imran: 159. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. Sama sekali tidak sehat. nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. Abdurrozak Fachruddin (516). budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. Bagiku. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. Dalam daftar di atas. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total.

Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan.M. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. Bendahara: S. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha.P.309 kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini.. Dua tahun aku bertugas di U.. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. Amien Rais. juga merangkap ketua bidang. Rapat anggota P. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. Ir. tujuan utama tercapai juga. Semoga Allah memaafkan. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Imaduddin Abdul Rahim. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. ikut-ikut teman. tanpa berfikir panjang dan dalam. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas.M. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia . Bang Imad memberi tahukan bahwa U. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr. Wakil Ketua: Ismail Suny. Yang lain di samping sebagai anggota P.P. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia. sekalipun dengan persetujuan P.P. kecuali A.K.K. Wakil Ketua: M.P.

I.. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.M. Yogya dan proses pelamaran untuk U. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. belum guru besar.K. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. disesuaikan dengan kepangkatanku di .K.P. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. Ini bagiku menguntungkan.I. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. Semua proses ini relatif berjalan lancar. maka gaji yang diterima di U. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia.P. tetapi tanpa tunjangan fungsional.I. Pasti berliku-liku. Dengan kata lain. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi.K.M.K.I. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. terlalu berbaik hati.K.310 dengan kualifikasi Ph. dalam kajian Islam. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun. Statusku tetap sebagai dosen I.K. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi..D. dengan tetap menerima gaji bulanan.P.P. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara. Karena I.

Lip. anak kami satusatunya. sebab pendapatan di U. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I. Setelah setahun belajar di S. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia.K. Islam dan Perubahan Sosial di Asia . Di U. Sore kembali ke Sungai Jelok. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S. Indonesia di Kuala Lumpur.M.M.K.M. Cukup menguras fisik dan mental. Hafiz kembali ke Jogja.P. dan Hafiz. Semula kami berangkat tiga beranak: aku. Tidak masalah bagiku. Indonesia. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U.M.K.I. karena berbagai pertimbangan. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Kecuali Ahad. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. Selama belajar di S.A. 8 Jogja sampai rampung.A. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana.K. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.M. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. berakhir..311 tanah air.M.A. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan.

Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj.K. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. harus berada di kampus sehari penuh. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U. Berbeda dengan Indonesia. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. seorang dosen di U.K.M.. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. berakhir.M. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah.K. Ini semua kujalani selama dua tahun. Kebetulan kami . Kadang-kadang sewaktu pulang.K.M. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Pada tahun 1992. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. Dr.312 Tenggara. Lip juga akan turut. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang.M.

K. berkat telepon sahabatku Dr. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau . Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi.K. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U.P. dekan Fakulti Pengkajian Islam. Watik yang bertujuan mulia itu. Tidak ringan memang. Abdullah Zin.P. Setelah ditimbang masak-masak. dan Dr. ada ketentuan moral yang harus ditaati. masih membujukku untuk meneruskan tugasku.M. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. Aku sendiri setelah aktif di P. padahal pihak U.K.M.. Profesor Dr. tidak hanya menjadi bendahara tituler. Di lingkungan Muhammadiyah. baru tahu betul apa makna amanah itu. Aku terpilih. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan. Muhammadiyah secara langsung. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian.M. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng.313 memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Agar aku memperkuat barisan P. Kajang. Faisal Othman. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U.

semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Hafiz tinggal menggunakan. maka imbauan Watik yang menang. adalah bagian dari kerja masa kecilku. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Enaknya punya ibu. Semuanya berantakan.P. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani. terutama oleh ibunya. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya.314 meneruskan kontrak. masya Allah. membersihkan kamar tidur. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto.K. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. Alhamdulillah. Semuanya disiapkan. Aku cukup terlatih.M. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. Mencuci pakaian. bukan? Tetapi sisi . benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. apalagi pihak U. Rupanya. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. Hafiz terbiasa manja.

Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. dan tidak pernah lupa beribadah. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. entah di mana. Terhadap ayahnya. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Inilah tempat beramal yang tepat .315 negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Benar. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. kecuali dia hidup secara benar. rasanya aku sudah bahagia. Sederhana. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. dan entah jadi siapa. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini. terserah sajalah. tidak kikir. aku mulai sibuk. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup.

Kalau dalam partai politik. (Badan Usaha Milik Negara). (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. apakah aku ikhlas atau tidak. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat.M. Jika tidak. diakui atau tidak.N. dan sederetan kiprah yang lain. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. apakah itu jadi pejabat eksekutif. legislatif. Dosen tamu di Singapura. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. waktu itu sebagai Ketua P. Biarlah Allah yang menilai. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu. Aku sendiri tidak tahu. Bahasa Inggris lancar.M. atau posisi di B. Sangat giat mendatangi . tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri. pahala jauh itu pun tidak akan diraih.W.U.316 bagiku. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat.

M. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka.W. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. Kepada Dr. memang di luar dugaan. tidak saja untuk Sumatera Barat. sebagaimana semua kita perlu berkaca. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku.317 daerah.P. Dijawab. Bagiku kejadian ini luar biasa. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. tetapi untuk Indonesia. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Dia terpental ke nomor 43. kemudian Yunahar malah balik bertanya. Sumbar tidak asing baginya. Apakah . salah seorang Ketua P. Yunahar Ilyas. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. Tidak mudah kujawab.

Tetapi sudahlah. khususnya untuk Sumatera Barat. sulit untuk mengatakannya.318 karena sikap-sikap politiknya. Shofwan tidak terpilih. bukan tanpa alasan. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. Ke depan orang harus lebih hati- . Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. aku tidak bisa mengatakannya. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. yang berlalu biarlah berlalu.” (Belum terkilat sudah terbayang). Hubungannya denganku cukup akrab. Kesimpulan cepat diambil. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. tetapi belum tentu benar. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Tetapi betapa pun juga. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah.

Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. Aku berangkat lagi bersama Lip. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. Balum begitu lama pulang dari Malaysia. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai.P.A. kini pergi pula Kanada. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y.M.P. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. ini sampai tahun 2005.A. Sebenarnya . Kanada.M. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. Belum sampai setahun aku aktif di P.319 hati dalam memimpin Muhammadiyah. Muhammadiyah. tidak terasa.P.

Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa . sekalipun rezim telah berganti. Kanada. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. biasanya perdebatan menjadi ramai. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. syi’ah. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. Jepang. suasana telah berubah. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jama’ah. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. salafiyah. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. termasuk Islam di Indonesia. dan lain-lain. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. dan Indonesia. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik.320 gagasan ini cukup mulia. termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Mesir.

sekalipun masih saja terasa kurang. dan cerdas. Dengan kata lain. disadari atau tidak disadari. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. autentik. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. surat al-Anbiya: 107). Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQur’an berbicara tentang dirinya. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Pertama. Kedua. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu.321 dipertanyakan dengan mengambil alQur’an sebagai hakim tertinggi. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. Kelemahanku terletak pada kenyataan . maka ada dua kemungkinan penyebabnya. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan.

aku wajib . Aku ternyata juga manusia lemah. bukan otak-otak besar yang culas dan curang.322 bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi. Tetapi di atas itu semua. dan Qur’ani. aku pun tidak bisa mengatakannya. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. Entahlah. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. sistematis.

Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. atau sebaliknya. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. Sebagai anak kampung yang tersuruk. sepenuhnya di tangan Allah. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Penilaian terakhir. tidak jauh dari bandara Tabing. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Padang.323 bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. M. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. C. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. Pelopor pencerahan intelektual . Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. liberal.

dari suku Caniago lagi. Muhammadiyah berduka dalam. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. Ketua P. Tetapi bulan Juni 1994. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. dua puteri dan satu putera. Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief.P.324 Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. tidak ada kepastian. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. musibah kedua terjadi lagi. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. dan mengurus Muhammadiyah.P. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing. sukuku. aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Terima kasih ongaku. menulis. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. tetapi itulah kenyataan .

Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini.D. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. intelektual.P. Mohammad Amien Rais. Paling-paling menjadi . Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. sedangkan aku adalah generasi kedua. Muhammadiyah era Azhar. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Kampung Kemasan (Solo). P. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku.325 yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. “tanah airku. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang.P. (Perang Dunia) II.

Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). dan untuk apa pula. di samping ada perbedaan di sani-sini. Benarlah Bung Haedar Nashir. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. Banyak persamaan.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur. di masaku dan salah seorang ketua P. pasca . Keduanya tidak mungkin mengenalku. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina. Adapun aku dan M.P. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang.P. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. anggota “mafia Chicago. berbagai masalah kami bicarakan. sekretaris P. Keduanya adalah sababatku. Tidak ada alasan sama sekali.326 saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia.

Jika aku mengeritik Muhammadiyah. proses kemunduran.327 Muktamar Malang bahwa M. terobosan M. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. M. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. Amien Rais. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. tak menentu. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam . akan berlaku dalam gerakan apa pun. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. Di bawah nahkoda M. Saya rasa M. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Tanpa kritik diri. jika bukan pembusukan.

M. Cukup panas suasana tanwir waktu itu.328 itu. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. suasana panas tidak membawa perpecahan. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Paling-paling saling menggerutu. . setelah itu mendingin kembali. tentu bukan karena substansinya. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. M. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. Ini berbeda denganku. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu.

Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan . dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. M. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku.329 Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Bukan saja meni’mati. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. Amien Rais itu. tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu.

Namun cinta mereka terhadap M. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Koran-koran terus saja mengulasnya.P. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Amien . tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Amien Rais itu. tetapi mereka segan untuk berterus terang. Kembali ke Surabaya. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Kadang-kadang bertele-tele juga. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. bukanlah pertanda buruk. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Amien Rais.330 ke luar. Nama M. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. merasa kecut dengan gagasan M.

Duka Muhammadiyah belum lagi hilang.331 Rais tidak pernah menyusut. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M. Pak Azhar baru saja wafat. Di sinilah dilema itu terletak. Habibie sebagai wakil presiden masa . Amien Rais dicintai.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Untungnya M.J. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. M. tetapi gagasannya menakutkan. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Amien Rais dalam mengeritik rezim. B. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. Bagi M. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. M. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu.

Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya.M. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya. Muhammadiyah.C. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya.P. . Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah.332 itu punya hubungan yang baik dengan M. di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995). Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Amien Rais.I. pihak istana berusaha keras agar M.M. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P. Tetapi M.C. ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. Amien Rais. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. tetapi aku mendukungnya. Keduanya juga sebagai tokoh I.I. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.

Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Dalam rapat-rapat . Ketegangan hubungan M. Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Tak ada gunanya. Amien Rais. sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. Warga yang penakut pun akan memilih M.P. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa. Amien Rais. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Amien Rais.333 memang sudah pada tempatnya. tidak berlebihan.

Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah.334 P. apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. seperti baru saja disinggung di atas. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Amien Rais. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. dampaknya akan .P.

sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu. khususnya mereka yang sudah agak berumur. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar . Rais. di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “raja-raja lokal” yang membebek ke Jakarta. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah.A. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. sekalipun tidak bisa dihindari.P. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M.A. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah.N.335 dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air. Muhammadiyah.

Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan.336 Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. sekalipun tidak diakui terus terang. sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih . sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A.

pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu. keras atau lunak.337 dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: . Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005. lambat atau cepat. Jika itu yang digunakan. Khatib Kayo. apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. dan akan tersingkir dari persyarikatan. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti.B. jumlahnya tentu sedikit sekali. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Jika dibuang. Tergantung kemudian. Menurut tuturan R. Ketua P. Politik di mana pun di muka bumi ini. Dalam berpolitik. maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka. Muhammadiyah dikatakan sudah hancur.M. Ini fakta keras dalam sejarah. tidak peduli siapa pelakunya. Kalau pun ada. beragama atau ateis.W. kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Gesekan di lapangan pasti terjadi.

seperti kukatakan. Tetapi gesekan politik antara M. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. bukan masalah besar. Amien . Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan. Persiapan secara finansial.338 “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik.” sebuah penegasan yang patut direnungkan. Muktamar Aceh semakin mendekat. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar.P.” Dengan bergulirnya waktu. risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. demi menjaga independensi Muhammadiyah.

M. sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden.P. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu.339 Rais. kemudian diikuti oleh yang lain. dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais.P. kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. Aku melihat bibir M. Amien Rais. Komandan pertemuan dari . sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. M. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. tetapi juga tidak boleh sombong. mengaku Muhammadiyah lagi. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Amien Rais selalu komatkamit. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara. yang lain berupaya bersikap biasa saja. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu. entah apa yang dibacanya. Kami anggota P.

Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Seperti yang diharapkan dari awal. suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar.P. ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P.340 pihak Muhammadiyah adalah M. tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini. Amien Rais. bukan aku. Bukan karena keleledoran Soeharto. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. M. diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Dengan iklim semacam ini. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Maka sekarang bereslah segalanya. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah. Ilmu . hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. M. Kendala politik telah teratasi.

Amien Rais memang terasa sekali.P. M. semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. muktamar. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan yang segera akan muncul. itu. Ada sementara kader . sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar. aman-aman saja. adalah persoalan adaptasi belaka. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Amien Rais dengan Soeharto. Amien Rais.341 kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. baik dalam tanwir. sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P.

dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H. Keduanya bahkan saling memuji. Thohari. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P. Muljadi sering dipuji Bung Karno.S. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan. posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman.342 Muhammadiyah.l. Hajriyanto Y. Lukman Harun. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan. tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah. di medan muktamar. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono.P. sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif. Inilah . Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. a. tak seorang pun yang meragukan. demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Din Sjamsuddin. tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri.

tak berubah. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Amien Rais. Djazman alKindi.M. tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Amien Rais untuk menjadi nahkoda. sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. Untuk itu aku mohon dimaafkan. betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. Lukman. aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. ini tetap utuh. tetapi untuk membendung M. Dalam gesek menggesek ini. Aku yang mengusung M. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Tetapi bukan terhadap semua orang. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm.M. M.343 politik. persahabatanku dengan pendiri I. gesekan ala Muhammadiyah. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa. terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. dicoba diusung juga. sampai . Ya.

aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung. Amien Rais dalam Muhammadiyah. Amien Rais sering disampaikan kepadaku. Namun di atas itu semua. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. Lukman.P. sang politikus. tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang. bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman. Berbagai pandangannya tentang M.P. katanya. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah. yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya). (ini masih nalar). Amien Rais. Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. tetapi itulah caraku memandang politik.344 dia wafat. padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke . Betul. tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta. kendaraan politik ORBA. Dari Parmusi ke P. Lukman dan M. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”.

Biasa. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang. kalau warga menginginkan. Di luar teks pidato. presiden berucap. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Muhammadiyah dipuji. tetapi intinya begitu. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga . berbunyi: “Tanpa tedeng alingaling. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Itu bukan watak dan tabiatku. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar.345 puncak. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Ada bibit yang menjadi presiden. kirakira a. karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela.l. aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Tetapi ada yang di luar kebiasaan.” Mungkin tidak persis demikian.

urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. M. Menarik dan menegangkan. Aku sendiri masuk nomor tiga. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis. . tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. Inilah dunia. yang berada pada urutan kedua. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung. sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian. dan kemudian terpilih menjadi anggota P. selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam. akhirnya masuk pula dalam pencalonan.P.346 Muhammadiyah. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah. Bukan karena latah tentunya. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak.

A. Jika pada Muktamar Jogja. Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang . Amien Rais (1245). Anhar Burhanuddin (628). Lukman Harun (660). Sutrisno Muhdam (1048). M. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Rosjad Sholeh (874). Watik Pratiknya (886). Yahya A. Asjmuni Abdurrahman (802). Bagiku. Ramli Thaha (852). Muchlas Abror (730). betapa pun terdidiknya mereka. Sukriyanto (589). Rusjdi Hamka (624). A. serumah berlain rasa.” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah. Muhaimin (866). sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. aku berada pada nomor bontot kedua. M.P. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P. di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah. aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Tidak ada gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan. Ahmad Syafii Maarif (1047). komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku.347 sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup.

Sekretaris: A. Sukriyanto A. Muchlas Abror.M. masih saling menyalak. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Amien Rais. Peluru dari G. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. aku telah melompati sembilan nama. Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam. Dari 13 nama itu. sebab pengamanan sangat ketat. Memang selama muktamar berlangsung. Sekretaris: M. Dari sisi ini. hampir tidak ada gangguan yang berarti.I. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya.A.348 satu di bawah Sutrisno Muhdam. ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Bendahara: Anhar Burhanuddin.N. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman.R. dan T. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut . Rosjad Sholeh. Tetapi pada tahun 1995 itu. situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Bendahara: M.

Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. Banda Aceh. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. bukan partai. Terserah sajalah segala penilaian itu. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. T. tetapi diakui bahwa Jakarta .349 dalam kemasan berani. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Amat disesali. Di atas itu semua.

Aceh. dan mungkin yang lain.350 telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. emas. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. sebagai wujud dari harga diri . dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. dari sisi sejarah. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. Sebagai pencinta Aceh. bumimu mengandung kekayaan minyak. engkau adalah bumi pahlawan. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. kayu. tembaga. dibuka oleh bibit. beberapa hari pasca tsunami. Sampai hari ini. laki-laki dan perempuan.

Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. juga dari sisi sejarah. Belanda sangat takut kepadamu. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. Tapi tidak bertahan lama. Engkau bela republik dengan darah. Tanahmu lepas dari Belanda.351 untuk melawan si kafe dan kezaliman. Perang Aceh berakhir pada 1912. Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. Aceh. di masa revolusi kemerdekaan. Aceh. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. engkau kembali melawan. karena engkau pantang dijajah. tapi hanya 30 tahun. pada tahun 1950-an. Aceh. Sejak itulah engkau resmi dijajah. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. dengan meninggalkan korban dan dendam. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. untuk kemudian berdamai. Sebagian besar rakyatmu .

000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. Allahu ‘alam! Jogja. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. Sekitar 200. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. tanpa ada tanda-tanda. 1 Jan. karena sudah kering. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. sekalipun telah dianiaya. Aceh. perang saudara belum usai. karena engkau turut mendirikannya. 4 . Akibat gesekan lempeng bumi.352 ingin tetap bersama Indonesia. alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. berserakan di mana-mana. Indonesia meratap tanpa air mata. akibat kemurkaan alam. Dunia berduka dan terluka. Tanpa dinyana. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar.

131132. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. jangan diulang lagi. Tanah Pahlawan. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. hlm. selamat Indonesia. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. Tanah Rencong. Jakarta harus lebih arif . darah sudah tak tertumpah lagi. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. halaman 12. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. Mari kita saling memaafkan. Jakarta: Grafindo. Yang berlalu. biarlah berlalu. dan alhamdulillah berhasil. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. Anton Syafriuni. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. 2005.M.353 Januari 2005. Allah maha tahu segala akibat perkara. dan Husni Amriyanto Putra. Selamat Bumi Rencong. Itulah Aceh. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. dengan penyunting Hery Sucipto.A.

muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu.354 menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai . dan berhasil. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu.A.M. seperti tersebut di atas. tidak terkecuali di Banda Aceh. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah.. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. Maka adalah sebuah rahmat Allah. damai. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan. Peluru masih mendesing di manamana.

Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam.N. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas.P. Ali Yafie. Segera disusun pengurus lengkap P. Di bawah komandan Rais P.M.A. karena masing-masing pihak. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap. Nurcholish Madjid. Surjadi Sudirdja.. Posisi M. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Kembali ke Muhammadiyah. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. semula samasama keras kepala. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan.A. badan. Jakarta dan G. menuntut keadilan. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali. disusul oleh majelis.P. Untuk ketuanya aku . tetapi di balik itu ada saja segi positifnya. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P.355 tahun 2005.. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun. dan lembaga.A.M. sementara G.

buku ini tetap saja beredar sampai sekarang. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQur’an. M. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. P. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. Di bawah kepemimpinan Abdullah. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. Majelis Tarjih sekalipun diprotes. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama.I. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali.N.A.P. Usul ini disetujui rapat pimpinan. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Dikhawatirkan berbagai . Sunankalijaga.356 usulkan Dr. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I.

sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat.357 aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. Sebab bila hal itu terjadi. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar . aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. juga di bumi Muslim. Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985.

atau semakin beriman. sementara alQur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. tetapi agama tidak . Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. dan siapa saja. Pendiri Muhammadiyah.358 selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. liberal. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. Bahkan dia bergaul kaum komunis. Kristen. Ahmad Dahlan. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual.

berkat . Semua teman tahu. Keruntuhan Rezim. Habibie. Sama sekali tidak. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. dan Aku Dengan sub judul ini. D. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Muhammadiyah.359 disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan.

dan tetap anak kampung. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. Aku adalah anak kampung. Dengan keterangan ini. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. Dengan keterangan ini. Apa yang digulirkan M. Amien Rais. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan . Aku tak peduli lagi. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya.360 M. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini.

F. tetapi tak satu pun yang mujarab. Dalam keadaan bingung. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I.. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. Presiden Soeharto gelagapan. Akan ke luar.M. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya.M. susahnya bukan main. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik.M. Tidak punya dasar. pemerintah harus meminjam dari I.. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I. itu.F.F. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.M. Dengan ekonomi yang compangcamping.361 krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan- .M.F.M. I. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah.F.F. Resep terus diberikan. itu. tawaran itu diterima.

Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis.M. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. 2202. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). Mahathir bahkan mengatakan bahwa I.F. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan. Subang Jaya: Pelanduk Publications. untuk dibantai. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I. ibid. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya.F. . hlm. Mahathir Mohamad.M. hlm. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. suatu penegasan yang berani sekali. (Lih.362 perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. Globalisation and the New Realities. 122). Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan.. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan. 15). (Lih.

Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. M. karena faktor M. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. Dua tokoh yang semula begitu akrab.363 Pada tanggal 21 Mei 1998. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Amien Rais bukan main sibuknya.J. . Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan.

Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. peran M. sikapnya semakin dingin terhadap M. Hubunganku dengan M. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi.P. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik .364 karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Amien Rais di P. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Saya rasa M. Amien Rais. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. kecuali hubungan baik. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki.

Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat.7). Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. terutama dengan Eropa. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: . (Kabinet Reformasi Pembangunan). termasuk dengan M. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K.365 dengan banyak orang. 15. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. hlm.R. Habibie berhasil. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis.P. Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. Amien Rais. 6. khususnya kaum elit dan para mahasiswa.

Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya.366 Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. yang ketiga.J. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi. Habibie tampaknya tidak . Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. Ini tantangan terberat bagi Habibie.I. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa.

tak seorang pun yang meragukan. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Seharusnya menurut saran saya. Bahwa Habibie seorang jujur. Ini dilema terbesar baginya. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. lugu. Di sinilah terletak . Menurut A. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa.H. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan.367 cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Nasution.

. dan efektif. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. punya watak negarawan. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. bijak.368 kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat.

Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. Anggota P. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. tetapi diabaikan saja.P. diadakanlah rapat pleno P. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. Lukman masih bagian dari Golkar. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. Untuk menentukan sikap P. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. adakalanya dengan perasaan khawatir. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan.P. kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu.P. Sampai jatuhnya Orba. kendaraan politik Soeharto selama ini. pada bulan Mei itu .369 Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh.

Pada waktu itu aku benar- . Aku dan Dr. Kalau mandi. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. sebagian besar anggota P. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat. Watik berpendapat lain. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. jangan kepalang basah. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak.370 bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal.P. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Dengan kata lain. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik. Setelah berdiskusi agak lama. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung.

Jelas di sini aku juga punya naluri politik.M. tetapi tidak sekuat Amien Rais.P. Ramai sekali yang hadir. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi.P. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P.M. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada . Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. karena memang di situ habitat yang tepat baginya. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah. Dalam rapat di atas P. dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat.371 benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. seperti A. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. Fatwa. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. itu.P.W. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia.

Pucuk dicinta ulam tiba. untuk maksud baik atau sebaliknya. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Fatwa. Akibatnya wartawan mulai menguntitku.372 peserta. Entah dipengaruhi siapa. rumah tangga asli mereka. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. Yang lain juga mengikuti. bukan yang lain. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. Politik bukan duniaku. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. jawabanku lugu. mantan tahanan politik ORBA. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. . Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Biasa.

Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil. kecuali sahabatku K.M. maka berdirilah P.H. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar.P. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P. Muhammadiyah selain memimpin partai. tetapi kuhargai seperti biasa.P. Djamaluddin Amin. bertindak cepat.P. tidak boleh terlambat. termasuk aku.P. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut .P. tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. Sampai hari ini. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. Muhammadiyah Jakarta. Di ujung upaya.373 Antara Juni-Agustus 1998. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Ketua P.N. Ini luar biasa memang. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. Rais dan pendukungnya. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.A. Muhammadiyah? P.W. bertempat di kantor P. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais.

tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin.P. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun.A. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. Namanya disebut di mana-mana. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. Ini tidak mengherankan. tingkat wilayah. Alasannya sederhana saja. aku semula merasa agak gamang juga.. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. aku akan tenggelam. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun.N. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. Nasehat ini mungkin didengarnya. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. Inilah sosok yang aku gantikan.374 bermain di arena politik praktis. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang . Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah.

pejabat.W.Tanyalah tokoh-tokoh N. Tetapi harus kuakui. Sutan Mansur.375 telah membawa Muhammadiyah bersinar terang. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Bukan aku. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. biarlah orang banyak yang menjawab. budayawan. bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya.G. politisi. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama.U. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai .R. cendekiawan.. atau siapa saja.. K. Hindu.I. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. militer.. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. Budha. orang Minang kedua sesudah A. warga Muhammadiyah.I. dunia kampus. P. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku.

P.A. tanyakan langsung saja nanti. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.A.J. yang lain. termasuk Sutrisno Muhdam.376 muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung.P. Des. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah..P. D.P. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. menganggapnya tidak diperlukan . dilikuidasi karena M.R. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D. Abdurrahman Wahid. dan Megawati. 1998. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D. Kata orang.A. tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden.. juga dari Muhammadiyah.P. (Dewan Pertimbangan Agung). Kemudian pada akhir tahun 2003. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini.P. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya.A. bukanlah urusan D. Orang kantor Akbar Tanjung. Bagiku hal ini baik saja. Habibie. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.A.

aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. dan mantan-matan petinggi lainnya. Dari pengamatanku.A. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D.A.. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. mantan jenderal.J. mantan sekretaris jenderal.A. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. Para mantan menteri. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. mantan anggota parlemen. baik A.P.A. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. pada tahun itu juga. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut.377 lagi. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. D. maupun Achmad Tirtosoediro. kecuali oleh B.P. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. Baramuli.P. Itulah sebabnya barangkali . politisi.

Sewaktu aku masuk D. .A. aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini.P. menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. kiyai. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. Ini juga meringankan P. tokoh masyarakat. agak jauh di atasku.A. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. marsekal. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. secara berangsur telah menjadi teman baikku. baik sipil maupun militer.378 ada orang yang membaca D. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. Apakah itu jenderal.. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan.P. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota.P. sebagai Dewan Pensiunan Agung. umurku sudah menginjak 63 tahun. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. Melalui Gafur. Semua anggota D. Bagiku apa pun kata orang. tanpa kecuali. mereka terlalu baik denganku. politisi.A.P.

P. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. cepat. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. Semoga Allah menerima semua . aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D.R. “Tidak.P. dan sedikit menggelikan.A. segar.P. Muhammadiyah.. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. Satu ketika aku bertanya: “Pak A. Sutrisno Muhdam.A. Rasa humornya tinggi.R. mertua Muhdam. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur.R. untuk D. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran.R. yang terlama. ketua P. Aku tidak tahu. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali. hanya satu-satu. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir.379 Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta. di samping A. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D. penuh kharisma.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. Fachruddin.A. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta. Muhdam adalah menantu A. dekat istana presiden. Wakil Ketua P.P. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. Itulah gaya Pak A.P. Begitu menyatunya hubungan itu. karena wafat setelah sakit beberapa lama.

Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi. Hanya soal waktu. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Karena upaya beraninya ini. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. pemerintah tampaknya cukup . aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta.380 amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D.A. biar lambat asal selamat. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. Seluruh dunia memujinya. cepat selamat. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat. Tetapi ada catatan lanjutannya.P. Kepemimpinan Pak A. biarlah publik yang menilai. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk.R. dan semua kita pasti akan menyusul pula. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka..

Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. semua orang tahu. Dalam menghadapi Habibie. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. Keadaan sukar sekali dikontrol. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. Dalam situasi serba dilematis ini. masyarakat menjadi liar. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Habibie memang telah melangkah terlalu . Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. termasuk Amien Rais. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang.381 khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto.

Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia. Hanya sekitar 22. Dengan kata lain. langkah pemerintah cukup antisipatif. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. Setelah referendum diadakan. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan.382 jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. . hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia.

sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini.F. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto. bahkan sering dipuji oleh I. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. Kritik terhadapnya semakin merebak.U. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan . dan Bank Dunia.M.383 Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain.

Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi. dan ternyata memang itulah yang terjadi. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie.P.384 suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Habibie sangat tahu diri dan . sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Tidak selang lama setelah sidang. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan.P. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan.R. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya. Ringkas kaji.R. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman. Sidang M.P.R. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M.

tidak peduli siang atau malam.385 menghormati keputusan M. politik adalah . Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya.. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat.P. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie.P. termasuk Amien Rais. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu.R. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. Maklumlah. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. persahabatan kami tidaklah rusak.

N. P.49/51. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik.A. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P.) merasa sejajar dengan P.D. maka mereka (P.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22. P.D.P. dan P. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie..I.. Disiplin ilmunya pun. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami.P. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah.A. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.P..P.P.S.S. dan Golkar.D. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ).K.N. Dengan membentuk Poros Tengah..P.I.R.P. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr. dan Golkar. Fuad Bawazir. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P. P. jawabannya adalah: “Jujur saja. di Indiana.U. Intinya dari tokoh-tokoh P.P. mengalahkan Matori Abdul .P.K.386 habitat yang sebenarnya baginya. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada.I.R. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. dalam Sidang M. penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik.

U. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai.K. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada . termasuk Wahid. sebenarnya punya naluri politik yang tinggi. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman.U. (Partai Kebangkitan Bangsa).B. Inilah dilema N. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah.U. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. 1984 di Situbondo. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. Sekalipun N. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. Sejak N. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini.U. yang tidak mudah diatasi.387 Djalil dari P. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu.

baru teringat silatnya. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M. Yusril Ihza Mahendra. Hamzah Haz.-Muhammadiyah. Selain itu. ini aku dengar dari Rais sendiri. Tetapi siapa tahu pula. setelah babak belur. Ibarat jago silat.R.U.P. tetapi tetap ditolaknya. banyak yang lain. jika Rais yang maju. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Adi Sasono.388 tanggal 21 Oktober 1999 subuh. Akbar Tandjung. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N.” Situasinya memang rumit sekali. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Seperti . di akar rumput bisa gaduh. Dawam Rahadjo.U. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. Mereka yang akan mengatasi. Marzuki Darusman. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. di antaranya Jenderal Wiranto. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari.

Rahman Wahid ini. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. diobat oleh para kiyai.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. Tetapi itulah A. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A.P. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu. Sekitar . Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya.U. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. atau Gus Dur yang akan menemuinya. Jadi memang serba dilematis. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P. Dinihari itu A.389 mereka faham saja watak umat di akar rumput. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. dan massa Muhammadiyah.

Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul.390 bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P.R. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D. S.R. perlu dipimpin oleh preman.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi .R. A. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. Di samping berbicara tentang kabinet. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa.P.E. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya.P. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.” Padahal Matori bukan preman setahuku. Azidin. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati.P. Aneh bin ajaib kemudian berlaku..P.A. Muhammadiyah Jakarta. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya.P.

Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. yang tidak mau kehilangan segala-galanya.P.391 seorang calon presiden. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai . Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi.-P. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P. kakek Abdurahman Wahid. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.M.R. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini.U. tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari.I. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. dan masyarakat tertentu.B.P. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.R. bapak spiritual N.D. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik.

Teman-temanku dari pihak Katolik. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat. ini kongsi politik yang . dan Budha.P.R. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini.M. seorang A.A. Amien Rais.392 golongan dalam masyarakat plural Indonesia. Kristen. sampai sujud syukur di gedung M.I. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. Akbar puak H. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.U. Abdurahman Wahid mewakili puak N. Hindu..R. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi. Mereka semuanya gembira.P. Hubungan N. dalam lingkup nasional. Amien Rais puak Muhammadiyah.M. tokoh P.U. Fatwa.N. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. Lebih dari itu. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. Bukan saja mereka. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia.P.R.

Iklim politik .393 sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng.” Belum sampai dua tahun. apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sepintas lalu. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. Sebelum jatuh sama sekali. serumah berlain rasa. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. Abdurahman Wahid. Tiga figur santri: Amien Rais.

P. M. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. dan ketuanya M. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak.R. Dalam situasi serba . Tetapi alangkah sukarnya. seorang pengusaha pribumi. dan Dr. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Akibatnya sangat nyata. Aku. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan.R. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Deddy Julianto. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. bukan Amien Rais.P. dan memang keduanya adalah petarung sejati. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai.” tetapi sudah bertarung..394 menjadi panas. Amien Rais. Khususnya di Jawa Timur. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. tidak saja di kalangan elit.

W. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. N. P. H. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional.U. maka pernyataan P. . Nadjib Hamid. 2.. Apt. tertanggal 5 Februari 2001. termasuk dengan Ketua Umumnya K. Hasjim Muzadi. Drs. dan H. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. Fasich. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu.H.. Karena kejadian itu cukup menegangkan.B.Sos. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi. 1. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah. S. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. DR. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.U. A. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof.M. perlu kukutip di bawah ini. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid.395 sulit ini.

M. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. Kontak dengan P. Jawa Timur terus dilakukan. yang lain. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. Anak-anak muda N. Nadjib Hamid. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. (Lih. hlm. Faaisol Taselan. Jawa Timur.P. 2002. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. Sophiaan.U. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas.W.396 3.M. Surabaya: P. Ainur R. tanpa menyebut golongan mana mereka. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P. yang dekat denganku terus dihubungi agar .W. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. 89). 4. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan.

benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini.U. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. A.. Dien Syamsuddin. 55. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya.M. dengan sedikit perbaikan ejaan. Bagiku semuanya harus dimaafkan. hlm. (Ibid. Kata orang. K. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N.H. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. aku . hubungan N. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang.397 menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. tetapi isi tidak berubah). Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. Kholil Gresik. tetapi pasti. Fatwa: …bajingan negara.U. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl.

bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali.. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. Gambaran urutannya adalah sebagai . Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M. Tetapi P. P. N. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan.U.P.” ( Ibid.W..U.R.B. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. 94). hlm.M. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya.398 cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini. 8-11 Juli 2000. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta.

Asjmuni Abdurrahman (769). Rosjad Sholeh (1034). Muchlas Abror (788). Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. Ismail Suny (921). Bendahara: M. Haedar Nashir (748). M. Sukriyanto A.W. (706). Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. Rosjad Sholeh. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. Ahmad Watik Pratiknya (803).P. Malik Fadjar (1041). Din Syamsuddin (1048). M. M. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. A. Yahya A. Amin Abdullah.R. Sukriyanto A. aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden . Rapat Pleno P. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. M. Daerah Khusus Jakarta. A. Din Syamsuddin. A. Wakil-wakil Ketua: A.R. Mohammad Dawam Rahardjo (910). Malik Fadjar.M. Muhaimin (971). (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Amin Abdullah (940). M.P.399 berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Tidak lama sesudah itu.

P. Inilah a. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan . isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985.l. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. apalagi memberhalakannya. Akbar Tandjung. M. Analog dengan ini pula. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural.P. dan banyak yang lain.R. Ketua D.R. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. Amien Rais. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana.400 Abdurrahman Wahid. Ketua M. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap.

Oleh sebab itu. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Bangsa ini adalah milik kita semua. dan untuk jangka panjang. Oleh sebab itu dalam . masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini.401 jumlahnya.

402 kapasitas dan posisi kita masingmasing. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. seperti biasa. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi.Dan katakan: “Beramallah kamu. tanpa melihat latar belakang sosial. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-. maka Allah. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. dan sejarah. rasulnya. pada umumnya . suku. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. Muktamar Jakarta cukup semarak. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. tetapi pers. agama. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama.

sekalipun tanpa tim sukses. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. misalnya. sesuatu yang memang tidak kusukai. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. Bilamana sebaliknya yang berlaku. aku betul-betul terjungkal.403 lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. Jawabanku biasa dan datar. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. seperti main uang. . Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Masyarakat memang demam pertandingan. Malik Fadjar. A. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. Biar orang lain yang dipilih. ya diterima saja. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. apalagi pertarungan antar figur.

Dalam perkara yang satu ini. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik.404 Sepengetahuanku. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi . Semoga begitu seterusnya. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah.P. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Permainan uang seakan telah menjadi norma. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik.

Anggota yang lain setuju saja. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. Muhammadiyah. sebab jika usia masih dipanjangkan. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. Muhammadiyah untuk periode 20002005.P. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. periode lima tahun cukup berat bagiku. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam .405 menetapkanku sebagai ketua. tak seorang pun yang mempengaruhiku.P. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. Dalam rapat kilat itu. mentalku harus benar-benar disiapkan. Dengan kenyataan ini.

.P. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. ejaan disesuaikan).” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.406 pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. if you ordered me to pull my support for MAR. Jadi. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. namun tidak bisa didikte oleh MAR. I would have listened gladly. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. aku terlihat “mengalah.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir.24. Bravo. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it.

Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah.30.407 bantulah dia sebisanya. bika tidak akan masak. ejaan disesuaikan). bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. Bagiku sendiri. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. di bawah panas di atas panas. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. aku kadang-kadang merasa seperti bika. Tetapi jika tidak demikian. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. Dalam suasana yang tidak normal itu. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi. Aku mau berdamai dengan siapa saja. asal .” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya.

Dan bertaqwalah kepada Allah. Muhammadiyah.P. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku . jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman.408 dilakukan dengan tulus dan autentik.

bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. 24 Januari 2002. aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Apa yang .409 kepada masalah kepemimpinan. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar. Bali. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. menggunting dalam lipatan”. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar.

tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. P.P. tetapi sia-sia belaka. lalu meninggalkan Bali. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis.P. dan aku mendukung. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. Kami anggota P. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir.410 kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. Yang benar bukan begitu. Rapat Pleno P. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. M. yang mengundang Mega. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang . Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. Dan undangan itu dikabulkannya.P.

mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat.” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat . Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku.411 di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. bukan kemauan seseorang. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului.P. jam 17. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu. Dr. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006.15). P. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais.

mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. kata orang. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. memang dapat membutakan hati manusia. ganas. pimpinan M. Amien Rais setelah M. Dalam perseteruan ini.412 jelas.R. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M.P.R. Amien Rais dari Muhammadiyah. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. Kearifan dalam bersikap sering pupus . Kekuasaan itu. aku pun dari Muhammadiyah. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden.P. Aku melihat permainan politik itu kejam. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi.

P. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. budayawan/seniman. sekalipun lelah. Tidak saja dari mereka. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. Muhammadiyah Jakarta. mantan menteri.413 begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini. pengusaha. asing atau domestik. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Tamu-tamu berdatangan ke P. Keduanya cukup profesional. siang dan malam. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. tidak ada urusan yang tidak beres. jenderal. mobilitasku memang meningkat drastis.P. menteri. sebab merekalah yang mengatur agendaku. dan banyak yang .

Biku Pannyavaro. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Sulaiman Abdul Manan. Denny J. Susilo Bambang Yudhoyono. H. Fuad Amsyari. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. Sri-Edi Swasono.H. A. Romo Benny. M. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. Muchlas Abror. Taufiq Ismail. M.S. Josef Handojo. Ahmad Hasyim . Fuad Bawazir. mungkin karena ada gelombang yang sama. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. M. Adnan Buyung Nasution. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Achmad Tirtosudiro. Weinata Sairin. Ajib Rosidi. Pdt. Bambang Sudibyo. Amien Rais. Tarub. Nurcholish Madjid. Din Syamsuddin. Franz Magnis Suseno. Dengan kata lain. Abdurrahman Wahid. M. Muhammadiyah dan sesudahnya. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Hidayat Nur Wahid.. Megawati.A. Gewanggoe..P.S. Kaban. Hatta Rajasa. Anas Urbaningrum. Dawam Rahardjo. Todung Mulia Lubis. Ramadhan K. Salim Said. Jusuf Kalla. Taufik Abdullah.J.A. Gunawan Mohamad. Dillon. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. Habibie. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku.414 lain.

Rizal Sukma. Haedar Nashir. Hendropriyono. Masdar F. Muhammad Muqoddas.M. A. Jakob Utama. Kuntowijoyo. Zamroni. Malik Fadjar. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Mas’udi. Mustofa Bisri. Fatwa. Rosjad Sholeh. T. Achmad Bagdja. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Gafur Chalik. Jeffrie Geovanie.415 Muzadi. Suyanto. Sudhamek AWS. Fasli Djalal. A. Syamsir Siregar. Rusdi Latif. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. Albert Hasibuan. Herman Darnel Ibrahim. M.M. Hamid Basyaib. Yunahar Ilyas. Bambang Widjojanto. Matori Abdul Djalil. A. dan puluhan yang lain. A. Umar Wahid. Deddy Julianto. Dasron Hamid. Amin Abdullah. Jusuf Wanandi. Siswono Yudo Husodo. Watik Pratiknya. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Handojo S. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Pertukaran pikiran . Muljadi. Sjafri Sairin. Rosihan Anwar. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Jacob. Sofyan Wanandi. Muhammad Najib. A. Sulasikin Murpratomo. M. Sutrisno Bachir. Salahuddin Wahid.

Dengan duta besar Ralph L. Richard Gozney (Inggris). Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. Boyce (Amerika). Edward Lee (Singapura). aku belum punya bukti. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. aku sudah bertemu dan berbincang.416 dengan berbagai kalangan itu. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. Dengan Boyce malah sering. aku dan dia bersimpang jalan. tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. aku sungguh banyak belajar. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai . tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia. untuk menyebut hanya berapa nama. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Lu Shumin (Cina). Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler.

: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. Toffler. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. seorang Yahudi. dan ini sangat Qur’ani. tetapi . kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. Ya.l. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya.417 banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. a. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua.

Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Allah maha pemurah. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Fachruddin cukup . Pak A.R.P. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. termasuk dengan beberapa pengusaha. Entah apa alasan dan daya pikatnya. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab.418 katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. Kabarnya konon para Ketua P. Menariknya. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Bantul. tetapi belum cukup. itu dipercaya banyak pihak.

Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. kepercayaanku . Donatur yang lain berdatangan satu persatu.M.000. Pada waktu itu kami belum akrab.000. 500. besar-besar lagi. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. sebuah angka yang cukup besar kala itu. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto.Y. sekalipun sudah saling mengenal nama. tanpa meminta kuitansi. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Melihat kenyataan ini. Menurut keterangan Rektor U. Tidak perlu menunggu lama. seperti yang kulakukan juga. surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara). Jumlahnya Rp. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto.R. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. Dasron Hamid (ketika itu).419 hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. Hasilnya memang di luar dugaan. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. dana itu telah turun dengan mudah.P. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Ada yang datang langsung ke P.

P. Jenderal A. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. Dalam upaya pencarian dana ini. sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Al Hilal Hamdi. Ternyata. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan. M. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). Dasron Hamid sungguh besar. Hendropriyono.420 kepada diri sendiri semakin kuat. Kaban. dan masih ada yang lain. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. tidak saja untuk muktamar. . Hatta Rajasa. Habibie. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Jenderal Muchdi. Abdurrahman Wahid. H. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. aku pun bisa. Fuad Bawazir. Semoga aku pandai menjaga amanah.M. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu.S.J. Herianto).

Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%. reaksinya sangat biasa. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku.421 Ada sekadar catatan kecil lagi. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya. 500. ternyata kemudian kempis. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. Tanpa uluran tangan mereka. Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini.000 dengan pecahan Rp. P. D. 50. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. datar.W.P. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah.K. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. . yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Dana datang tanpa diduga.I.000. Tidak sekali cara ini kualami. tidak menjadi kenyataan. Maka tugasku dan temanteman P. Tetapi untunglah.M.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu.

Oleh sebab . Itu pun dikabulkannya.P. kuajak meninjaunya. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. juga dibantu Rajasa. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. Cik Di Tiro No. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini.000. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah.422 tetapi jika tak punya. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. dia pusing juga. Jogja. tentu sambil “merogoh” kantongnya. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. 23. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. Muhammadiyah. menristek ketika itu. yang baru di Jl. Masih ada yang lain.P. Hampir Rp.000. Coba kalau isteri mata duitan. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. 400. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini.

. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan.P. Muslim dan nonMuslim. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P. Sekiranya aku menjadi politikus. .423 itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita.000. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. di akhir masa jabatanku di P.75.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang.P. seperti telah disinggung sebelumnya. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. suasana semacam ini belum lagi tercipta. Salah seorang sahabatku Sudhamek.

Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Muhammadiyah.P. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. sebagaimana telah kusinggung . Sebagai Ketua P. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P.P. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua.P. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. Di Era Orba.424 E.

A. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. Mujur yang tak dapat diraih. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.P.P. Muhammadiyah periode 1995-2000. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. untuk memimpin P. termasuk sejarah Muhammadiyah. Suasana inilah yang kemudian . Namanya sedang jadi buah bibir publik. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan.425 sebelumnya. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. tetapi Ahmad Azhar Basjir.P. seorang alim yang tidak punya naluri politik.N. malang yang tak dapat ditolak.

kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. dan Sulawesi Barat Daya.M.D. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. Keinginan warga. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. tetapi tidak mungkin ditandangi.D. tetapi beberapa P. maka periodeku menjadi tujuh tahun. tidak saja dengan wilayah. Satu dua cabang. Hampir semua wilayah telah kudatangi. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan . Bangka-Belitung.M.426 mendorongku untuk menggantikan posisinya. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Sekitar 400 jumlah P. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. bahkan ranting pernah pula didatangi. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.P. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. jika mungkin. yaitu Gorontalo. apalagi seumurku. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan.

Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. secara kuantitatif. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan.427 gerakan sosial lain di Indonesia. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. . gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. tidak lebih dan tidak kurang. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Suasana semacam ini memang memprihatinkan.

Thantowi. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. M. Zakiyuddin Baydhawi. . di antaranya Ahmad Najib Burhani. Zuly Qodir. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Andar Nubowo. Promono U. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. Sirry. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Pradana Boy ZTF. Sukidi Mulyadi. A. Muslim Abdurrahman. Menurut Fuad Fanani. Asep Purnama Bahtiar. Ahmad Fuad Fanani. kesehatan. sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Norma Permata. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Kuni Khoirun Nisa’. Abduh Hisyam. Sebagian dekat dengan Dr. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. seorang kiyai-antropolog. Abd. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. Hilaly Basya. Mun’im A.428 Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Saleh Partaonan Daulay. baik untuk pendidikan. Hery Sucipto. Hilman Latief. M. Rohim Ghazali.

Budi Asyhari Arman. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya. padalah niat semula adalah untuk beramal. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. Fajar Riza Ul Haq. Nur Hidayah. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. Berbagai masalah pasti muncul. kadang-kadang bertubi-tubi. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. bergabung dengan yang lain. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. sekuatkuatnya secara kritikal. Rahayu Arman. Ada contoh . Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. kita belum bisa mengatakan.429 Ilham Mundzir. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan.

Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan. tidak saja di tingkat bawah. itu bukan hal baru.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. di tingkat P. jangan dibiarkan membusuk. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. karena alasan tertentu. kecuali kembali kepada ruh agama.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. seperti telah kukatakan. Keterikatan kita bukan dengan manusia.P. pun. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan.P. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. hal serupa terjadi.430 yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. Jawabanku adalah: “Jangan. Kekuatan . bukan karena yang lain. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus.

Selama periodeku memimpin Muhammadiyah.C. U. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W.C.C. adalah: 777 United Nations Plaza. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. Alamat kantor pusat W. Karena masyarakat terus bergerak. berada di New York dengan sekjennya Dr. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan.P.R.R.P. William F.P. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. Vendley. kritikal. New York.S. seorang Katolik yang taat. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. Kantor pusat W. setelah pertemuan Amman.U.R. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. hampir satu abad yang lalu. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002. Yordania.A.431 Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. Sekalipun tidak sempat aktif benar. NY 10017. tetapi aku .

aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak.432 mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas. hlm. dan langkah-langkah moral beliau yang berani—dan kita harapkan akan terus memerankannya. Abd. op. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. menulis: “Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Rupanya 16 Lih.cit. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. 555. Suharyo. I. Uskup Agung Semarang. seorang sahabatku Dr. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. Dalam pergaulan lintas iman. inspiratif. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. . terbuka..16 Rasanya Dr. Yang jelas.

. Rendra. Rooseno. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu. di atas 60 tahun. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas.D. Misbach Yusa Biran. Dini.J. Kami memilih Prof. atas dorongan seniman W.433 sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman.J. wartawan. Anggota A. Kusumo.H.. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar. Rata-rata usia anggota A. dan para penulis terkenal. Ajib Rosidi. Rendra. Firous. Ramadhan K.M. Ahmad Syafii Maarif. aku dimasukkan menjadi anggota A.S. Endo Suanda. . A. Dr. Saini K.S.. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman. Sardono W. Nh. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Taufik Abdullah. Gunawan Mohamad. Slamet Abdul Syukur. cendekiawan. Sardono W. Pada saat Prof. Toeti Heraty N. Tatiek Maliyati W. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat.J.

” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar.J. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat.J. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Dengan belajar ini. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. .434 Kusumo. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A.

435 Kenggotaanku dalam A. Kaum intelektual. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. Anggota A. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat.J. Tapi sebaliknya. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. tangan. di Gedung Graha Bhakti Budaya.J. 22 Nopember 2005 lalu. ungkapnya. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. pena. ketika kita membaca .J. akan menjadi berkah pada umat. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. TIM. dan pribadi pengarangnya.

Jadi. pantangannya jangan berdusta. Ya. untuk bisa jujur. Salam”. Karena berasal dari ranah Minang. No. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara Lih. 17 . Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. memang. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. aku sering dipanggil buya.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya.436 suatu karya sastra. [Endo Suanda]. 16:23:58. sadar ataupun tidak. sangat menentukan. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. ejaan disesuaikan). karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. 3. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. melainkan titik-titik yang merentang panjang.(SMS tanggal 15 Feb. 77/VIII/2006. Kejujuran di situ terasa. 2006. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. hlm. “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu.

K. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. Adalah Nursam. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. VIII. MASA DEPAN INDONESIA A.. S. setelah para buya masuk politik.S. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku. wibawanya merosot ke titik nol. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. . bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut.R.437 bu dan ya. akan terbaca buaya.R. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan.K. integritasnya sebagai buya sering berantakan.

Menurut catatan Dillon. aku. “Syafii Maarif.S. op. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua.cit. Pemberantasan Korupsi.S. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N. Tetapi dengan deklarasi di atas.U.U. Dillon. belum tidur benar.U.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa Lih. H.. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. H. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit. 290. Gemanya luar biasa. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. 18 . hlm.. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. Muhammadiyah dan N.438 Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr.

Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil . mungkin masih ada masa depan. Saya berada di belakang gerakan sipil ini.439 pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. N. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. sebagai orang dalam. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. Jika berhasil.U. katanya. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Saya. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. Sebaliknya jika gagal. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla.

sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. . Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. bukan gerakan eksekutor. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum.U.440 langkah kontroversial itu. Sebagai gerakan penyadaran.U. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN. ini. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini.

dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras. Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. . maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini.441 Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. Diharapkan dengan gerakan moral di atas. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. bersama kekuatan lintas agama. masih belum terlalu fokus. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa.U. tetapi menurut para pengamat.U.

.Si.K. Dr. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi.R.R. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. surat keterangan dari dokter. Anhar Gonggong. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini.K.M. S. M. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005. ada beberapa syarat yang harus ada. No.l. No. Dikatakan bahwa pelanggaran H. VI/2000 tentang Persatuan Nasional. a. Adanya K.K.442 Tentang pencalonan K.K. Namun setelah dua seleksi berjalan.. Natan Setiabudi. Dr. Hoc.A.M. Dr. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. Asvi Warman Adam. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H. kemudian ditegaskan lagi dalam U. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. Dr. di antaranya Rizaluddin. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil. Ad.R. akan ditangani K.. ini merupakan pelaksanaan TAP M. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota.P.R.A.U. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.. Deliar Noer.R. Melihat .Ag. 26/2000 pasal 43. dapat kujelaskan sebagai berikut.

juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan.R.K. Di mata mereka K. aku akan menjadi kecil. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap .443 gelagat semacam ini. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. Bukankah K. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing.K. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Menurut Rizaluddin. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. kata Rizaluddin. Karena itu. dan mereka saling memaafkan.R.

I. orang tua. Agar masalah ini tidak terus . Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. Dalam hati kecilku. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). jika aku diterima masuk bersama dengannya. Natan Setiabudi. atau nenek mereka telah saling membinasakan. sekalipun sekiranya aku masuk.G.444 mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. sekalipun dahulunya mereka. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. Dr. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. mantan Ketua Umum P. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. Menurut sahabat ini. seorang sahabatku.

P. cukuplah menjadi penasehat. Muhammadiyah. . Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda.445 mengambang. Tidaklah elok bagi semua. dalam Muktamar Malang. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. pelindung. K.R. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju.. dan punya waktu yang lebih banyak. jika masih diperlukan. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi.I. Orang seperti aku. bersedia sementara P. energetik.K. Nah. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis.K. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P.R.P.R.K. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. seandainya aku diterima sebagai anggota K. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P. Muhammadiyah ditinggalkannya. dan yang sebangsa itu. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang.P.

2006 pada saat bagian digarap. aku tentu dengan senang hati akan memberikannya. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L. entah mengapa). tidak ada perbedaan di antara kita. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K.K.K. (Lembaga Swadaya Masyarakat).R. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau.K.M. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara. namanama anggota K.I dan sisa-sisa pendukungnya. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K. Komitmen kebangsaan dinilai sudah . Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing.R. (sampai tanggal 23 Peb. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. Kita satu.K. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.S.R. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini. komisi ini belum juga diumumkan. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih.446 (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan.

adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo. B.I. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P. Teman-teman Majelis Ekonomi P.I. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi. S. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta.P. Muhammadiyah di bawah komandan Prof.I. di dalam diri sendiri ada masalah B.P. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku. M. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002.P.E.P. sebuah bank swasta yang diakusisi. Aku yang tidak paham soal bank. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. Masalah B. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. maka kasus B.P. Dawam Rahardjo.P.447 semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri.I. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu .P. selama lebih tiga tahun.

P.I. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. (waktu itu) Saefuddin Hasan.P. dan M. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu. S.448 Muhammadiyah dalam masalah keuangan.I. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. M. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah.N. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang.E. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. . kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar.P. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama).. termasuk di dalamnya perbankan. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.A.I. itu tidak benar.I. Thohari. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y.

kecuali kebaikan. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. tetapi kutolak dengan sopan. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan.P.449 Tidak ada motif macam-macam. Dalam sebuah rapat P.I. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P.P.P. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P. Muhammadiyah itu bahlul. Sekiranya kuterima. Jadi ini adalah saham fiktif. Suatu hari melalui Hajri.P. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda.. yaitu aku sendiri. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. orang kepercayaan Lulu. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B.. Membaca . Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. Ketua P.P.

Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B.I.I.450 gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. melepaskan sahamnya di B..P. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah. Karena kondisi B. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman.P. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati. semakin memburuk dari hari ke hari. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik.I.P. seperti tersebut di atas. tetapi alangkah sulitnya.P..P.P.I. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan . Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui.

tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku.J.I.P.) dalam upaya mencari jalan ke luar.451 menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. benarlah ucapan M. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005. Semua permintaan Hajri kujalankan. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.K. Jawaban langsung dari M. kalau ada masalah B.I. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank.I.J.P. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: .J. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya.J.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B. Setelah terlihat titik-titik terang. ini. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.P.K. aku memang tidak bisa lepas tangan.J.K.K.P. sekalipun masih ada ganjalan hukum. aku kirim SMS kepada M.K. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula.I. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. karena seringnya pertemuan itu.P. Kalau aku melakukan refleksi tentang B.

mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. 2004. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. . Pada masa yang akan datang. Jakarta: PSAP.M.R. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. maka tunggu sajalah saat kehancurannya. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. B. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. Toni.452 “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. anak Kuantan.

sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. dan berdarah Minang. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat . Athens.. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio.453 Riau. untuk membubuhi kata pengantar. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. Kini. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Namun. tentu tidak boleh diremehkan. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. (Universitas Indonesia).D.” Di ujung kata pengantarnya. guru besar Universitas Negeri Ohio.I. Ph. R. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. Jawa. Columbus. William Liddle. Amerika Serikat. sementara Rizal di U. atau pulau lain. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. apakah dari Sumatra. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif.

di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. H. Rendra. Dillon. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004.454 lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. sahabat. Douglas Rumage. Tamu yang hadir cukup banyak.S. W. Jakarta. Akbar Tandjung. XX). bagiku. terutama dalam bidang ilmu. Salahuddin Wahid. Taufiq Ismail. Jakob Utama. hlm. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. pasti akan menyokong pesan ini (lih. Jeffrie Geovannie. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. bertempat di Hotel Aryaduta. M. Syafii Maarif. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka . Natan Setiabudi. Rosihan Anwar. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. Din Syamsuddin. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. Deddy Julianto. Muhammad Najib.S. Wiranto. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. Rizal Sukma.

Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). termasuk dari penulis asing. yaitu Abd. sebagian cukup panjang. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada. 2005. Jakarta: Maarif Institute. 2005. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. Jakarta: Maarif Institute. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku.455 semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. melampaui usia nabi. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. . sebagaimana sudah membudaya di Indonesia.

Hajriyanto Y. 2005. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Fadilah Supari. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Jakarta: Grafindo. Universitas Negeri Yogyakarta. Rizal Sukma. M. Hidayat Nur Wahid. Deddy Julianto. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Salahuddin Wahid. Dasron Hamid. Malik Fadjar.. Syamsir Siregar.S. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Hatta Rajasa.S. Dillon. Suyanto. M. Sudhamek. Ada dari pengusaha Handojo S. Hasyim Muzadi. tebal 317 dengan indeks. . Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim.I. Anton Syafriuni. Bambang Sudibyo. Natan Setiabudi. Herman Darnel Ibrahim. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. H. Deddy Julianto dan temantemannya. Sjafri Sairin. Husni Amriyanto Putra. Muljadi. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. Jeffrie Geovanie. Jakob Utama. A. Kardinal Julius Darmaatmadja. A. Sutrisno Bachir. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain.456 tebal 267 halaman dengan indeks. Thohari. Akbar Tandjung. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F.

khususnya M. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005.P.A. Rais. Masih ada teman-teman P.000.P. semua yang hadir. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Karena sudah lama kupertimbangkan. maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. Tidak kurang dari Rp.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. 700. C.P. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute.P. Muhammadiyah. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. baru ditetapkan. . Dana yang masuk melaluiku. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin.457 dan banyak dermawan yang lain.

A. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof.. dan benar-benar menjadi tenda bangsa. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. dan Ahmad Syafii Maarif. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. harapanku ini menjadi kenyataan. Abdurrahim Nur.A.M. Maka jadilah P. terarah. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. Prof.. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya.458 Akhirnya dengan berat hati aku setujui. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. anggun. S..P. L. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. M. M. demi kemenangan jagonya.. Asjmuni Abdurrahman. Dr. Ismail Suny.H. M. sesuatu yang tak mungkin kulakukan.L. Alhamdulillah. Tetapi praktik main . dan beradab. Amien Rais. Dr. Prof. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan.

apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang. terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. dan Beradab”(Republika. berlangsumg dengan aman. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. . Anggun. produktif. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. 3-8 Juli 2005. 12 Juli 2005. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. dalam bingkai moral yang prima. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. hlm. Tetapi. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). 12).459 uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku.

dan beradab. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. Memang. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. Memang. Din Syamsuddin. anggun. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. . patut disyukuri. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. agar keutuhan tetap terjaga. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu.460 Tanwir berjalan dengan mulus. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. gesekan terselubung pasti terjadi. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar.

sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari.461 Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. seperti yang telah disinggung di atas. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan . Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005. saya tidak punya kosa kata lain. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. penuh warna. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). Kepada para sahabat yang tulus ini.

Muhammadiyah. . sekalipun belum tentu seagama. tahun 2000. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. saya mohon maaf. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh. “Memimpin adalah untuk melepaskan.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. pejabat-pejabat negara. yang masih berharap agar terus. Dalam muktamar Jakarta. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi.462 yang tidak bisa dinilai dengan benda.P. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. para pengusaha.

saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. saya juga mohon dimaafkan. dan undangan departemen luar . baru dua yang kukabulkan. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Beberapa undangan dari luar negeri. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. itulah aku. Pasca Malang. di mana aku memberikan makalah.463 Akhirnya. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Bagiku. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. Apa yang kukatakan. baik di dalam mau pun di luar. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan.

464 negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. kreatif. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. Karena aku sudah semakin tua. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Filipina pada bulan Maret 2006. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. . Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. dinamis. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. kita tidak dapat memaksa. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah.

kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. . Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka.R. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air).P. Kami mengangsur perumahan K. lebih 20 tahun yang lalu. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. D. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B.N. tetapi belum mendapatkan porsi khusus.T. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. artinya banyak air.465 Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing.T. bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya.

Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. dimulai sejak Desember 1985. belum sampai 15 tahun. . Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. Ada yang berasal dari Kalimantan. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali.670. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. bisa jadi dapur tidak berasap. Sumatera.466 tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. 87. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. dan agama yang berbeda. dan dari lain-lain pulau. jenis kerja. Madura. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu.

Sekitar empat tahun kami melakukan itu. alumnus Perancis.D. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. Ada Prof. Dr. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. dokter manusia dan dokter hewan. dosen negeri dan swasta. pegawai departemen pendidikan nasional. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. polisi.467 Dari jenis profesi. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. pertamina. Tetapi setelah masjid berdiri pada . Mohtar Masoed. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. ada juga Dr. Tidak pernah putus saban tahun. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. ada saja rombongan yang berangkat. Beberapa pemegang Ph. dinas pubakala. Marchaban. wiraswasta. jaksa. Suyanto. Prof. Dr. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. tentara. di antara mereka ada karyawan bank. keduanya tamatan Amerika. karyawan RRI. tergantung keadaan masingmasing.

Djumari.P. dosen fakultas . Agak sedikit emosional. (Rukun Wilayah). entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. sekalipun untuk tingkat R. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan. pimpinan P. H. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali.G. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs.. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo).T.Si.W. H. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. Ada Drs. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. terbayang olehku wajah Drs. M. Hubungannya denganku sangat dekat.468 tahun 1989. Beberapa tahun menjabat ketua R. H. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. Sewaktu menulis bagian ini.P. Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. Muhammad Bachtiar. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah.

W.T. Heru. Kemudian Ahmad Syamlawi.E.469 psikologi UII. Semua urusan di tangannya beres. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. Teman ini . Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. H. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta.M. S. S.K. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya. dan karyawan pada sebuah bank.Si. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah.M. adalah yang paling menonjol. VII. B.. maka nama Kastolani. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. Berasal dari Prembun (Kebumen).. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid.A. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S. mantan jaksa.. pernah menjabat Ketua R. Ada lagi bung Drs. Negeri Jogjakarta.H. pengurus R. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. 16. tidak ada yang tidak selesai. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa.

seorang sarjana teknik listrik. Sekalipun baru pertama kali.I. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang. Irawadi Buyung. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. juga tarawih. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto.Si. Nama Ir. Tampak pula wajah Dr.. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh. (Lembaga . Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging.Pd.H. Sumenep. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing.R.S. M. maghrib. Duriat Subekti. dan ‘isya’. Inilah sosok yang punya naluri L. Selama bulan puasa. M. Kalau ada urusan pengeras suara. S.. Tidak saja itu.T. Ada lagi H. dialah ahlinya. mantan kepala R. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. M.M.470 diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto.. H. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. tidak boleh dilupakan. Eko Supriyanto.

H. Tinggal agak ke utara masjid. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. seorang ahli komputer.471 Swadaya Masyarakat). ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Yang lain adalah Drs. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di . Mohammad Hatta. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain.A. Pd. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. M.S.. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. pemaaf. di samping sebagian sudah kesebut di atas.N. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang.” Ada lagi Drs. Jika komputerku sedikit rewel. M.Si. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto).I. Namanya Hartoyo. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. beberapa tahun menjadi ketua takmir. Thohar Fuaedy. aku pernah minta tolong kepadanya. di samping khatib Jum’at. Miska Amin. ada Drs. dan humoris. Dadanya lapang. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. karyawan perusahaan minyak itu. M.. di samping ketua Y. berasal dari Bengkulu.

dari unit Syari’ah bank B. Berasal dari Lirik. tugas pokoknya adalah menimbang daging. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. Perawakannya tinggi semampai. Namanya H. Hermanlah orangnya. sudah puluhan jika bukan ratusan. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. Yulian Yamit. Kadangkadang rajin ke masjid. Riau Daratan. Teringat juga sosok Drs. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. juga dari Bengkulu.. ada kalanya terlalu sibuk di luar. Apalagi matanya. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Dia teliti sekali. S.472 berbagai media cetak. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Marsono.A. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Orang tuanya berasal dari Sulit Air.R. Usmar Salam. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa.. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). Hermansyah.. Setiap ‘Idul Qurban. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. M. dari Manna. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid.Si. . hilang kala tertawa. M. di samping H. Aku pernah berkunjung ke kampungnya.I.E.

sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. Aku melihat wajah ketiga teman ini. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat . Warsono Muhammad. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid.. Pernah dua periode menjabat dekan. M. Rasanya pernah dikatakannya. seperti wajah teman-teman lain. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. berasal dari Bojonegoro. Berat badannya sekitar 80 kg. alumnus U. dan Hawaii. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. apalagi pada hari Juma’at dan harihari raya. H. adalah wajah ikhlas. Aku tidak tahu apa alasannya. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang.A. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. Jarang absen. Abdul Aziz dari pertamina. agar citra santrinya lebih kentara. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing.I.I.473 dan H.

P. H. Dalam rangka mengurus daging korban. Sudiyono.G. Ada Drs. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Hilman Nadjib. Jama’ah lain adalah H. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. Keduanya sama-sama ekonom. mantan kepala L.. pemilik apotik di Bantul. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Ada pula drh. Siswojo. dari pimpinan Bank Mandiri U.M.E.. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid.Si. S. M. H. berasal dari Kudus. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian. Kecuali untuk jama’ah subuh.P. dosen Universitas Muhammadiyah . M.M. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban.M.474 ekonomi yang lain. Teman-teman lain masih banyak.Sc. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. Teman lain adalah Bambang Samiyo. H.

adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. U. Hampir setiap malam mereka membaca alQur’an. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan.I. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. ‘isya’. Dalam kegiatan . dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. di samping sekolah mereka yang lancar. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. pindahan dari Kalimantan Tengah. Ada lagi Suharwidjono. Idam Nawawi. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. dan subuh. khususnya untuk maghrib. Tidak semua mahasiswa. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. mengajar dan belajar sesama mereka. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Universitas Negeri Yogyakarta. asal Sumatera Selatan. spesialis anak.I.475 Yogyakarta. begitu juga dr. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah..

S.476 kepanitiaan. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y. Sebelum dihidangkan kepada tamu. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. 6.000. 200. rata-rata Rp. istilah Minang untuk jutawan. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya.A. VII perumahan Nogotirto. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp.I.N. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan.S. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R. Seperti telah kukatakan.A.N.000 per bulan. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan.T. mereka selalu diikutsertakan.000.000. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku . dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. 500. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif.I. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto.

I. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. Disertasinya telah rampung ditulis.K. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. Setiap Hari Raya Qurban. biasanya setelah salat zuhur. Bung Rusli adalah seorang aktivis . Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. M. Di antaranya Drs. tempatku memberi kuliah selama dua tahun. asal Palembang. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Biaya kuliahnya pada I.A. Rusli Karim. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami.M. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. Sebagai manusia kelahiran Minang.. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. seorang penulis prolifik. salah satu kelemahanku adalah suka makan. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan.477 jawab dengan mengangkat ibu jari. Berbagai jenis masakan dihidangkan.K. (Universiti Kebangsaan Malaysia).P. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. seperti yang telah kusebut terdahulu. M.

mantan jaksa. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak.478 Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. seorang sarjana teknik U. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. Berbeda denganku. politik. Muhammadiyah pun kehilangan.I. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri.I. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Dia dimakamkan di pemakaman kampung. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Bukan saja aku. dinihari sudah dipanggil Allah. dan S2 di Rotterdam (Belanda). Perbedaan ini wajar . Hafiz. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. kajian agama. apalagi sejarah.

Alhamdulillah. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau . sekalipun sering aku peringatkan. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu.479 saja. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Tetapi aku akan naik pitam. jika anak tidak tertarik untuk belajar. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang.

Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan. Kami biasa bersenda gurau. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. Angka pengangguran malah semakin bertambah..I. Sangat praktis.R. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta. bicara macammacam. seperti sakit atau kematian.480 yang sangat tajam. Di perumahan Nogotirto ini. politik. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Ringkas kata. Teman ini adalah pensiunan B. terakhir bertugas di Jayapura. suasana lingkungan perumahan Nogotirto . ekonomi.

Di bawah kordinasi M. didiami oleh Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Novirman . yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. E. Atas gagasan Prof. dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi.481 cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. Deddy Julianto. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. Dr. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006.

Apalagi semula diperkirakan Menhub M. Lintau. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.482 Djamarun. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. Hatta Rajasa akan hadir. Kopertis Sumatera Barat. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. Muaro. Sijunjung. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Padang. staf khusus menteri pendidikan nasional. dua dari departemen perhubungan. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. tetapi karena mendadak dipanggil presiden. Jambi. Tamu dari Jakarta a. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. seperti tersebut di atas. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. dirut Indofarma dan . Riau. TK. Bandung. dibantu oleh Drs. karo keuangan departemen pendidikan nasional. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. Solok.l.

.M. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu . panti. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. Seperti perhelatan besar saja. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. rektor Universitas Negeri Jakarta. dua orang dari Maarif Institute. dan beberapa anak miskin. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. salah seorang direktur PLN Pusat. Tidak ketinggalan Ir. TK dan panti. Nilai keseluruhan bantuan. mantan dirut BNI. surau. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar.483 staf. baik berupa voucher mau pun uang kontan. M. Herman Darnel Ibrahim. ketrampilan. karo kesra wakil presiden. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. mantan dirut BNI. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. direktur IGM (Indofarma Global Medica). masjid. Ir. Sudirman.

baik yang disediakan dephub. Sepintas lalu. Kabarnya di atas 50. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia.484 adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. serta kendaraan pribadi. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. jika tidak waspada. Menurut Darnel. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. PLN. Indofarma. padahal penduduknya hanya 270 juta. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. jika orang tidak . akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. sesudah oksigen. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. yaitu 27%.

lambat atau cepat. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. . Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. akan punah dimakan musim. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. seni khas daerah itu pasti. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa.485 membaca informasi tentang sumbangan di atas.000 s/d Rp. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. 150. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam.000 per orang. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. 200.

000. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini.N. 31 Januari 2006 untuk Republika. . Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.000 dan Rp. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir.486 Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan.L. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. seperti telah kusebutkan di atas. 50.000.000. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu. 20.

Sumpur Kudus. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y. IX.487 Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya.A. Dari seorang anak piatu di desa Calau.P.M. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di . terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku.

Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. Aku menjala. karena sudah terlatih sejak kecil.R. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. Lintau. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Topik perdebatan . memancing ikan di Batang Sumpur.488 lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. mengadu sapi. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. mengadu ayam bersama mereka. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Sampai setua ini. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Bahkan lebih dari itu.

Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Wahid dan M. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. Bahkan sampai aku . Harun Malik. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. tetapi tidak tetap. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. Wawasan semakin luas. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten.489 tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. A. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. jika bukan semakin menguat. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler.

Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. Peran Fazlur Rahman. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. dengan segala kritikku kepadanya. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Citacita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku . Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya.490 belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. sungguh sangat besar. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Amerika Serikat.

bukan milik kita. diterima atau ditolak. syi’i. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. jujur. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni.491 tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. dan kritikal. bukan dari Rahman. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas . Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. Untuk Indonesia ke depan. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. khawarij. Sebagaimana nenek mereka terdahulu.

A. Dalam ungkapan lain. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. di . akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil.492 nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. tidak pernah berhenti. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. Pandangan Mohammad Hatta dan H. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini.

tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. betapa pun kecilnya. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. Apakah . aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu.493 samping Bahasa Indonesia. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya.

Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. keluar tidak mengurangi. Masuk tidak menggenapkan. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang . Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian.494 angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. tidaklah penting bagiku.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini.

P. domestik atau pihak asing.D. sosial. 1998-2005. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian. Tidak untuk saling menggusur. gagal. Karierku sebagai Ketua P. Muhammadiyah. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. (Inpres Desa Tertinggal) itu. apalagi saling meniadakan. setengah berhasil. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban.495 mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja.T. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. dan kultural secara nasional. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. atau setengah gagal. .

dapat dikontrol sebaik-baiknya. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. Mungkin karena terlalu lelah. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. alhamdulillah.. simposium. aku masih terlihat sehat. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi.P. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. Sebagai pembawaan dari Minang. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. dunia terasa berputar . aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. ternyata tidak demikian. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E.496 Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. Selama hidup. seminar. Diskusi. tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. jika tidak lupa. selera makanku belum menyusut. sekalipun secara selektif.

atau bahkan dibuang. tidak ada gading yang tak retak. S. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. Muhammadiyah Jakarta.E. karyawan P.E. diperbaiki. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. Kepada para sahabat yang . termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. S. tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal.Ag. Oleh sebab itu. jangan sampai merepotkan orang lain.497 kencang sekali. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. dikurangi lagi. S. bisa jadi akan berlarut-larut. tidak akan ada ujungnya. dikurangi. demikian seterusnya tanpa putus. Dibaca ulang. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. ditambah. Tetapi sudahlah. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi..P. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. ada saja yang perlu ditambah.. dan Zainuddin. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini.

498 kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan.42 di Perum Nogotirto Elok II. Jl.P. sejarawan. dari Penerbit Ombak Jogjakarta. Jl. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. Jogjakarta 55292) DAFTAR ISI BAB Halaman . Halmahera D/76. Muhammadiyah dan Bung Nursam.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. 19. Jawa no. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10.

. . . 125 B. . . . . II . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . . . . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . . . . Belajar V Sambil Bekerja 150 . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . . . . . . . . . . . . . . . . . . . C. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 92 1 . . . . . . . . . . . 108 A. . . 20 34 76 C. . . . . MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . M. . .R. . . . . . dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . 156 143 108 113 B. . . III . . D. . . . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . 125 A. Mulai Dijodohkan. . . . . Sumpur Kudus. . . . . . . . . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . . . . . . . . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . . . . . . . B. . . A. . . . . . IBU-BAPAK.D. . . . . . . . . . . . . . IV . . . . . . . . . . . . . . 92 104 B. Lintau . . . . . . . . . . . . . . 1 A. . . . Bertugas di Lombok Timur .I .. . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . Makkah Darat. dan Perdagangan . . . . . . . .499 I BUMI KELAHIRAN. . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . VII . . . . . . 170 VI B. . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. . . . . . . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) 156 164 . Muhammadiyah. . . . . . . . 319 A. . . . . 214 A. . . . . . . .K. . Sebagai Ketua P. . . . . . . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . 181 D. .P. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . D. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . dan Lahirnya Ikhwan C. . Muhammadiyah. . . . . . . . Harapan. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. . . . . . . . . . . C. . . . . . . . . . . . . Perkisaran Abad. . Habibie. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kembali ke Jogja. . . . . . . . E. . . . . dan Kecemasanku. . . dan Aku VIII MASA DEPAN INDONESIA . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . Lulus S1. . . Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . . . . . . .R. . . . . . . . 175 A. . . . C. . . . .500 A. . . Keruntuhan Rezim. Kiprahku dalam Memimpin . . . . . . . . 175 B. . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . .501 B. . . . . Syukuran Listrik . . E. . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . . . . . . . . . . . . . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . . . . 330 333 339 351 355 C. . . . . . . . . . . D. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . AKHIRNYA . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . IX . . . .

panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah “mande” = rumah ibu 55 etek = bibi . udo. onga. inyo. kakoncu.502 GLOSSARY Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo.

503 61 62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99 uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->