P. 1
KAidah USHUL Fiqh

KAidah USHUL Fiqh

|Views: 340|Likes:
Published by Rhamsyah Khan

More info:

Published by: Rhamsyah Khan on Jan 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN KAIDAH-KAIDAH USHUL Secara bahasa yang dimaksud dengan al-ashlu adalah sesuatu yang diatasnya

dibangun sesuatu yang lain. Baik apakah bangunan tersebut sifatnya indrawi seperti pembangunan tembok diatas fondasi atau yang sifatnya pemikiran seperti membangun ma’lul (hukum yang terdapat ilat) berdasarkan illat dan (sesuatu) yang ditunjuk oleh suatu dalil. Maka ushul fiqh adalah kaidah-kaidah yang fiqh dibangun diatasnya. pengertian fiqh, secara bahasa, adalah faham. Sedangkan menurut istilah para ahli syariah yang dimaksud dengan fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syariah yang sifatnya oprasional yang diistimbathkan dari dalil-dalil yang sifatnya rinci. Dan yang dimaksud dengan ilmu tentang hukum-hukum, terkait dengan si alim terhadap fiqh tersebut, bukanlah sekedar tahu, tapi pengetahuan yang memungkinkan dia memiliki otoritas atas hukum-hukum syara’ tersebut. Atau dengan kata lain bahwa pengetahuan dan pendalaman tersebut sampai pada level yang dapat mengantarkan si alim terhadap hukum-hukum tersebut memiliki otoritas atas hukum-hukum tersebut

BAB II

1

Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. Secara etimologis. c. d. (al Qiyamah [75]:17-18). Hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an secara garis besar terbagi atas dua. Hukum ini dibagi empat. tiga hal. Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (ibadah). Yang berhubungan dengan hukum pidana (jinayat). 2. Ibadah terbagi atas: a. Dikatakan Al Qur’an karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan. b. c. zakat. qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al jam’u) dan menghimpun (al dlammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur 3. Kitab suci ini mengadung pesan samawi yang diperantai oleh wahyu. yaitu Dalam mengadakan perintah dan larangan. yaitu haji.PEMBAHASAN 1. AL-QUR`AN Al-Qur`an adalah firman Allah SWT. Tidak memberatkan atau menyusahkan. yaitu: 1. Al-Qur’an berpedoman kepada 2 . yaitu: a. yang disebut mu’amalat. Allah berfirman : “ Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Wahyu adalah ilham gaib dari sisi Malakul Al A`la yang turun kealam materi. Yang bersifat semata-mata ibadah. Yang berhubungan dengan rumah tangga. Al Qur’an berasal dari kata “qara’a”. Hukum-hukum yang mengatur pergaulan manusia dengan manusia. yaitu shalat dan puasa. yaqra’u. b. yaitu: 1. Yang berhubungan dengan jihad. Yang bersifat harta benda dan hubungan masyarakat. Yang berhubungan dengan pergaulan hidup manusia. Yang bersifat badaniyah dan berhubungan juga dengan masyarakat.

ialah al-ahadis. maupun berupa taqrir. Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas. Ada yang mendefinisikan hadits. Hasbi Ash Shiddieqy. tidak sekali-kali 3 . seperti yang berkaitan dengan himmah. Menurut T. sifat. perbuatan. yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Di kalangan ulama hadits sendiri ada juga beberapa definisi yang antara satu sama lain agak berbeda. mereka memandang diri Rasul SAW.. baik berupa perkataan. Tidak memperbanyak tuntutan. dan kebiasaan-kebiasaanya. perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum". sejarah kelahiran. HADITS Kata "Hadits" atau al-hadits menurut bahasa berarti al-jadid (sesuatu yang baru). kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits..2. Ulama hadits menerangkan bahwa yang termasuk "hal ihwal". perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW. pengajaran. lawan kata dari al-qadim (sesuatu yang lama). Berangsur-angsur dalam mentasyri’kan hukum. Kata hadits juga berarti alkhabar (berita). kelakuan. ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. adalah : "Segala perkataan Nabi SAW. perbuatan. ialah segala pemberitaan tentang Nabi SAW.. mendefinisikan hadits sebagai berikut : "Segala perkataan Nabi SAW. karakteristik. sebagai berikut : "Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal. Sedangkan. sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna. Ulama Ushul. "Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas. dibangkitkan menjadi Rasul. bukan sebagai sumber hukum Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah adalah "segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara'". Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW.M. makna inilah yang diberikan kepada perkataan Sunnah dalam sabda Nabi. dan hal ihwalnya". 3. baik berupa perkataan. maupun sesudahnya. Kata jamaknya. Secara terminologi. 2..

atau lainnya.” 2. sifat-sifat. HADITS FI’LI Adalah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi yang sampai kepada kita. dan keadaan yang berkaitan dengan aqidah. baik berupa perkataan yang memuat berbagai maksud syara’. yang berbunyi: “Janganlah seseorang pun shalat ‘Ashar.Malik).” 3. disebutkan ‫ أجمع فلن على المر‬berarti berupaya di atasnya.12 3. Sebagaimana firman Allah Swt: 4 . 5. HAMMI Adalah hadits yang menyebutkan keinginan Nabi yang belum terealisasikan. berupaya (tekad) terhadap sesuatu. Contohnya adalah hadits tentang bacaan Al-Fatihah dalam shalat yaitu “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca ummul Quran (Al-Fatihah). yaitu “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. dan kepribadiannya.” 4. HADITS TAQRIRI Adalah hadits yang menyebutkan ketetapan Nabi terhadap apa yang datang dari sahabatnya. IJMA’ Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. HADITS QOULI Adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi. Pertama. Bentuk-bentuk Hadist 1.kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya. kecuali bila tiba di Bani Quraizhah. peristiwa. Contohnya adalah hadits tentang shalat. yakni Kitabullah dan Sunnah RasulNya" (H. Contohnya adalah sikap Rasul yang membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya. HADITS AHWALI Adalah hadits yang menyebutkan hal ihwal Nabi yang menyangkut keadaan fisik. syari’ah. seperti keinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura.R.

Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka 4.   . Mujtahid adalah orang yang berkompeten untuk merumuskan hukum. 3. Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’ sebelumnya. berarti kesepakatan. Syarat ketiga. Contoh ijma’ adalah hak waris seorang kakek dalam hal seseorang meninggal dengan meninggalkan anak dan ayah yang masih hidup. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara’ 3. (Qs. 5 . yang dimaksud dengan ijma’ adalah kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafatnya Rasulullah saw. sedangkan hukum syara’ adalah hukum yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang yang dibebani hukum). Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang mujtahid 2. Memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an. Syarat kedua. 2.“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutusekutumu. ‘Kesepakatan’ itu dapat dikelompokan menjadi empat hal: 1... atas suatu hukum syara’ dalam suatu kasus. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.. Menguasai ilmu bahasa. memiliki pengetahuan tentang ushul fikih. Memiliki pengetahuan tentang Sunnah. Menurut ulama Ushul Fiqh.. memiliki pengetahuan sebagai berikut: 1. Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid Syarat Mujtahid Mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat: Syarat pertama. Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’..  Artinya : .10:71) Kedua..

para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang sudah disepakati) garapan ijtihad. b. QIYAS Qiyas merupakan suatu cara penggunaan ra`yu untuk menggali hukum syara` dalam hal-hal yang nash Al-Qur`an dan sunnah tidak menetapkan hukumnya secara jelas. Lebih lanjut. Secara etimologis. c. kata Qiyas berarti ( ‫ . nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun individu.Kehujjahan Ijma’ Apabila rukun ijma’ yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin walau dengan perbedaan negeri. Kalau seseorang yang berbahasa Arab mengatakan : “saya mengukur pakaian itu dengan hasta”. 4. membanding sesuatu yang semisalnya. jenis dan kelompok mereka yang diketahui hukumnya. Perihal ini. Atsar Shahabi yaitu Surat Umar Ibn Khattab kepada Abu Musa AlAsy`ari sewaktu diutus menjadi Qodhi di Yaman Rukun Qiyas Allah SWT memberi petunjuk bagi penggunaan Qiyas dengan cara menyamakan dua hal sebagaimana terdapat 6 . Dalil-dalil yang dikemukakan jumhur ulama dalam menerima Qiyas sebagai dalil syara` adalah: a. karena hukumnya sudah ditetapkan secara ijma’ dengan hukum syar’i yang qath’i dan tidak dapat dihapus (dinasakh). Selanjutnya mereka menyepakati masalah hukum tersebut. kemudian hukum itu disepakati menjadi aturan syar’i yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya.) قدر‬artinya mengukur. Dalil Al-Qur`an yaitu dalam surat yasin (36) ayat 78-79. Dalil Sunnah yaitu Hadits mengenai percakapan Nabi dengan Muaz Ibn Jabal saat ia diutus ke Yaman untuk menjadi penguasa disana.

Misalnya : minuman keras wisky. Adanya cabang (Far`u). rukun yang satu ini merupakan inti bagi praktik yang qiyas karena berdasarkan illat itulah hukum-hukum kembangkan. yaitu : sesuatu yang tidak ada ketegasan hukumnya dalam Al-Qur`an. sunnah. Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa yang menjadi rukun qiyas ada empat yaitu : 1. yang hendak ditemukan hukumnya melalui qiyas. Syarat-Syarat Qiyas : • Maqis`alaih Tempat meng-Qiyaskan sesuatu kepadanya. Adanya hukum ashal yaitu : hukum syara` yang terdapat pada ashal yang hendak ditetapkannya pada far`u (cabang) dengan jalan Qiyas misalnya : hukum haram khamar yang ditegaskan dalam Al-Qur`an. Misalnya ada yang menamakannya ashal / terdapat dalam Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah dapat di ‫( أصل‬Sesuatu yang dihubungkan kepadanya sesuatu yang lain). Illat. yaitu : dalam sunnah Rasulullah.Qiyas batu dianggap sah bilamana lengkap rukun-rukunnya. Misalnya : khamar yang masalah yang telah ditetapkan hukumnya. baik dalam Al-qur`an ditegaskan haramnya dalam ayat QS. atau ijma`. 3. Al-Maidah : 90). Dalam memberikan nama kepada Maqis`alaih itu terdapat beberapa pendapat. Hukum Ashal Macam-macam Qiyas 7 . • • Maqis / ‫( مقيييس‬Sesuatu yang akan disamakan hukumnya dengan ashal). Ashal (pokok tempat mengqiyaskan sesuatu). atau 2. 4.

8 . (cabang) lebih rendah bobotnya dibandingkan dengan `illat yang terdapat dalam ashal (pokok). bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin. Hal yang diperintahkan ini mesti diamalkan.a. memindahkan sesuatu kepada yang lainnya. c.59:2) Dari ayat di atas bahwasanya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk ‘mengambil pelajaran’. b. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangkasangka. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i. kata I’tibar di sini berarti melewati. melampaui. Karena dua kata tadi ‘i’tibar dan qiyas’ memiliki pengertian melewati dan melampaui. Diantara ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah: “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kehujjahan Qiyas Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. (far`u) sama bobotnya dengan bobot `illat yang terdapat pada asal (pokok). kamu tidak menyangka. Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. bahwa bentengbenteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Qiyas Aula yaitu : bahwa illat yang terdapat pada far`u lebih utama Qiyas musani yaitu : qiyas dimana `illat yang terdapat pada cabang Qiyas Al-Adna yaitu : qiyas dimana `illat yang terdapat pada far`u daripada `illat yang terdapat pada ashal (pokok). Demikian pula arti qiyas yaitu melampaui suatu hukum dari pokok kepada cabang maka menjadi (hukum) yang diperintahkan. mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran. (Qs.

c. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”.Az-Zumar: 18) Macam-macam Istihsan Istihsan dibagi menjadi dua. ISTIHSAN Istihsan adalah menganggap baik terhadap sesuatu. Istihsan dipandang dari segi pemindahan hukumnya dibagi menjadi: • • Istihsan dengan cara pemindahan hukum kulli kepada hukum juz’i. Istihsan yang disandarkan pada adat kebiasaan (“urf d. Menurut istilah usul fiqih ialah pindahnya seorang mujtahid dari tuntutan qiyas jali kepada qiyas khafi. Dasar-dasar Istihsan Dasar Istihsan terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW antara lain: dasarnya dalam Al Qur’an: ِ َ ْ َْ ُْ ُ ْ ُ َ ِ َ ْ َُ ّ ُ ُ َ َ َ ِ ّ َ ِ َ ْ ُ ُ َ َ ْ َ َ ُ ِ ّ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ ِ َ ْ َ َ ِ ّ ‫الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم ال وأولئك هم أولوا اللباب‬ ُ Artinya “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Istihsan dengan cara pemindahan dari qiyas jalli kepada qiyas khafi. ditetapkan hukum peristiwa yang pertama sama dengan peristiwa yang kedua. Istihsan yang disandarkan kepada ijma. Istihsan yang disandarkan kepada urusan yang sangat darurat 9 . dibagi menjadi: a. yaitu istihsan dipandang dari segi pemindahan hukumnya. Istihsan dipandang dari segi sandaran dalilnya. Berdasarkan persamaan illat itu. Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash . dan istihsan dipandang darisandaran dalilnya. b. 1.sedangkan pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian. atau merajihkan ketentuan hukum yang khusus (juz’i) dari ketentuan yang umum ( kulli). 2.5. Istihsan yang disandarkan kepada teks Al-Qur’an atau hadis yang lebih kuat. (QS.

bahwa” barang siapa yng berhujjah dengan istihsan maka ia telah membuat sendiri hukum syara”.Az-Zumar: 18) Dasar istihsan dalam hadis ‫مارﺄﻩ المسلمون ﺤسنا ﻔﻬو عند ال ﺤسن‬ Artinya: sesuatu yang dipandang baik menurut umat islam maka baik pula dihadapan Allah (H. Menururt Imam Syafi’i dengan qaulnya yang mashur. Istihsan yang disandarkan kepada qiyas khafi. istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum syara. surat Az-Zumar ayat 18: ِ َ ْ َْ ُْ ُ ْ ُ َ ِ َْ َُ ّ ُ ُ َ َ َ ِ ّ َ ِ َْ ُ ُ َ َ ْ َ َ ُ ِ ّ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ ِ َ ْ َ َ ِ ّ ‫الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم ال وأولئك هم أولوا اللباب‬ ُ Artinya: Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apayang paling baik diantaranya. alasan yang mereka kemukakan adalah: Dasar dalam Al-Qur’an. Imam ahmad) Hasil penelitian dari berbagai ayat dan hadis terdapat berbagai permasalahan yang apabila diberlakukan hukum sesuai dengan kaidah umum dan qiyas ada kalanya membawa kesulitan bagi umat manusi. Menurut Ulama Hanafiah. sedangkan yang berhak membuat syariat itu hanyalah Allah SWT. Sedangkan syariat islam ditujukan untuk menghasilkan dan mencapai kemaslahatan manusia. Ulama Syafi’iyah memiliki pandangan yang berbeda mengenai istihsan.e. Imam syafi’i berkeyakinan bahwa berhujah dengan istihsan. Kehujjahan Istihsan Terdapat perbedaan pendapat antara ulama ushul fiqh dalam menetapkan istihsan sebagai salah satu metode atau dalil dalam menetapkan hukum syara. 10 . Untuk menghilangkan kesulitan itu maka ia boleh berpaling kepada kaidah lain yang memberikan hukum yang sesuai dengan kemaslahatan umat.mereka itulah orang-orang yang telah diberi oleh Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang uang berakal (QS. Malikiyah dan sebagian Hambaliah.R. berarti telah menentukan syariat baru.dari sinilah terlihat bahwa Imam Syafi’i beserta pengikutnya cukup keras dalam menolak masalah istihsan ini.

merajalelalah kerusakan. Macam-Macam Maslahah Ulama ushul membagi maslahah kepada tiga bagian yaitu : 1.يرسل – أرسل‬ Menjadi yang berarti diutus. Perkara-perkara ini dapat dikembalikan kepada lima perkara. maka rusaklah kehidupan. Maslahah Dharuriyah adalah perkara-perkara yang menjadi tempat tegaknya kehidupan manusia. keturunan dan harta. yaitu : . yaitu meraih atau memperoleh manfaat dan menghindari mudarat.yaitu agama. Maslahah Hajjiyah ُ ّ َ َ َ ْ َ ِ َ ْ َ ِ ْ ُ ُ ْ َ ْ ِ َ ْ ََ ُ َ َ َ َ َ ْ ّ ِ َ ّ َ ّ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ ُ َ َ ِ َ ِ َ ِ ّ ِ َ ْ ُ َ َْ َ ْ ّ َ ‫أما المصلﺤة الﺤاجية فﻬي عبارة عن العمال والتصرفات التي ل تتوقف عليﻬا تلك الصول الخمسة بل تتﺤقق‬ ِ َ َ ْ َ ِ ّ َ َ َ ِ َ َ ِ ْ ِ ََ َ ِ ْ ُ ِ ‫بدونﻬا ولكن صيانة مع الضيق والﺤرج‬ “Maslahah Hajjiyah ialah. semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain (yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetapi juga terwujud. MASLAHAH AL-MURSALAH Maslahah mursalah terdiri dari dua kata yaitu maslahah dan mursalah yang dipadukan sehingga dapat berarti sebagai suatu perbuatan yang mengandung manfaat. Kata maslahah berasal dari kata kerja bahasa arab yaitu : ُ ُْ َ َ ََ ‫مصلﺤة . timbulah fitnah dan kehancuran yang hebat. akal. Sedangkan kata mursalah berasal dari kata kerja yang ditafsirkan sehingga menjadi isim maf’ul.‫مرسل .ارسال . 2. dikirim atau dipakai (dipergunakan). Sedangkan pengertian menurut Ushul Fiqh bermacam-bermacam namun pada intinya memiliki pengertian sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ghazali. yaitu maslahah dan mursalah. Suatu perbuatan yang mengandung nilai baik (bermanfaat).صلﺤا – صلح – يصلح‬ ً ْ ُ ً َ َْ َ Yang berarti sesuatu yang mendatangkan kebaikan.6. Maslahah mursalah menurut lughat terdiri dari dua kata. Perpaduan dua kata menjadi “maslahah mursalah” yang berarti prinsip kemaslahan (kebaikan) yang dipergunakan menetapka suatu hukum islam. yang bila di tinggalkan.jiwa. tetapi dapat menghindarkan kesulitan dan 11 .

Maslahah mursalah dapat menjadi hujah / dalil menutut sebagian ulama maliki dan ulama syafi’i. menyatakan bahwa dalil hukum. b. c.menghilangkan 3. Diantara ulama yang paling banyak melakukan atau menggunakan maslahah 12 . ulama-ulama hanfiyah dan sebagian ulama malikiyah. Maslahah mursalah ialah : a. Dasar Hukum Para ulama yang menjadikan mursalah sebagai salah satu dalil syara. seperti Ibnu hajib dan ahli zahir. Maslahah Tahsiniyah kesempitan”. Sebenarnya para sahabat. karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan antara satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat”. Persoalan yang dihadapi manusia selalu bertumbuh dan berkembang demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya. ِ َ َ ْ ِ ِ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ ِ ِ َ َ َ ‫َ ّ ْ َ َ ِ ُ ّ ْ ِ ْ ِ ّ ُ َ ِ َ ِ َ َ ِ َ ْ ْ ُ ْ ْ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ُ ْ َة‬ ‫أميا المصيالح التﺤسيينية فﻬيي عبييارة عين الميور التيي تﻔتضييﻬا الميروء ِ ومكيارم الخلق ومﺤاسين العيادات‬ “ Maslahah Tahsiniyah ialah mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh bagian mahasinul akhlak”. tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan oleh ulama-ulama ushul. para tabi’in. Maslahah mursalah tidak dapat menjadi hujjah / dalil menurut ulama-ulama syafi’iyyah. terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul diantaranya : a. b. sehingga mereka dapat segera menetapkan hukun sesuai dengan kemashlahatan kaum muslimin pada masa itu. Kehujjahan Maslahah Mursalah Dalam kehujjahan maslahah mursalah. Imam Al-Qarafi berkata tentang maslahah mursalah : ‫إن المصلﺤة المرسلة في جميع المذاهب عند التﺤقيقِلنﻬم يقيسون ويﻔرقون بالمناسبات ول يطلبون شاهدا‬ ً ِ َ َ ْ ُ ِْ َ َ َ َ َ َ ُ ِ َ ْ ُ ّ َ ُ َ َ ْ ُ ْ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ْ ِ ْ ّ َ ْ ِ ِ ِ َ َ ْ ِ ْ ِ َ ْ ِ َ ََ ْ ُ ْ َ َ َْ َ ْ ّ ِ ِ َِْ ِ ِ ‫بالعتبار‬ “Sesungguhnya berhujjah dengn maslahah mursalah dilakukan oleh semua mazhab. tabi’t tabi’iin dan para ulama yang datang sesudahnya telah melaksanakannya.

Urf ini sering disebut juga sebagai adat istiadat. Al-URF Al-urf secara harfiah adalah berarti sebuah keadaan . Baik keumumannya maupun kekhususannya. Sedangkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah menjadikan Urf sebagai dalil hukum yang Mustakil dalam masalah-masalah yang tidak ada Nashnya yang Qathi’ serta tidak ada larangan Syara’ terhadap Mutlak. mengatakan bahwa para ulama’ Syafi’iyah tidak membolehkan berhujjah dengan Al-urf apabila dalam Urf tersebut bertentangan dengan nash. Dibeberapa masyarakat. yaitu : a.” 7. Macam-macam Al-urf Jika dilihat dari baik dan buruknya Urf dapat dibagi menjadi dua. Dan dari ulama’ Syi’ah menrima Urf dan memandangnya sebagai dalil hukum yang tidak mandiri tetapi harus terkait dengan dalil lainnya. Kalau ulama’ Hanabillah menerima Urf ini selama ia tersebut tidak bertentangan dengan dengan nash. b. Maka Urf berbeda dengan ijma’ karena ijma’ merupakan tradisi dari kesepakatan para mujtahidin secara khusus. Urf fasid 13 . ucapan. Urf Sahih yaitu sesuatu yang telah saling dikenal oleh manusia dan tidak bertentangan dengan Syara’. Dengan demikian Urf mencakup sikap saling pengertian diantara manusia atas perbedaan tingkatan diantara mereka. Yang membolehkan dan tidak perihal Al-urf Ibnu Hajar seperti yang disebutkan al-Khayyath.mursalah ialah Imam Malik dengan alasan : Allah mengutus utusan-utusannya untuk membimbing umatnya kepada kemaslahatan. Tidak menghalalkan yang telah diharamkan oleh Syara’ dan tidak mengharamkan yang telah dihalalkan oleh Syara’. perbuatan. yakni Al-qur’an dan Al-hadits. atau ketentuan yang telah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk melaksanakannya atau meninggalkannya. dan Urf ini didahulukan pemakaiannya dari pada Qiyas.

Sedangkan menurut istilah para usuliyah adalah menetapkan hokum sesuatu menurut keadaan yang terjadi sebelumnya sampai ada dalil merubahnya dengan penganggapan lain. ISTISHAB Istishab secara etimologi berarti “meminta ikut serta secara terus menerus”. sekalipun tidak sah menurut Qiyas. 1 . dan juga mengharamkan yang telah dihalalkan oleh Syara’. Ushul Fiqh (Cet. Urf Perbuatan. 8. h. Istishab al-Baraah al-Ashliyah yaitu istishab yang didasarkan atas prinsip bahwa pada dasarnya setiap orang bebas dari tuntutan beban taklif sampai ada dua dalil yang mengubah statusnya itu dan bebas dari utang atau kesalahan 1 Satri Efendi. Istishab al-Ibahah al-Ashliyah yaitu istilah yang didasarkan atas hukum asal dari sesuatu yaitu mubah (boleh). Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Urf terbagi menjadi dua. sah apabila mengadakan kontrak borongan apabila Urf sudah terbiasa dengan hal in. Karena itu pula. sedangkan jika dilihat dari sudut tradisinya. urf ditujukan untuk memelihara kemaslahatan umat serta menunjang pembentukan hukum dan penafsiran beberapa nash. atau menghalalkan yang telah diharamkan oleh Syara’. 2. 2008). karena urf pula terkadang qiyas ditinggalkan. Dengan urf dikhususkan lafal yang umum dan dibatasi yang mutlak. kecuali ada dalil yang mengubah ketentuan hukum itu. tetapi bertentangan dengan Syara’. menurut Abdul Karim Zaidan ahli Usuhul Fiqh berkembangsaan Mesir. Urf perkataan b. Pada umumnya. Macam-macam Istishab 1. 1 Istishab adalah menjadikan hukum satu peristiwa berikutnya. Istishab berarti menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaannya.yaitu sesuatu yang telah saling dikenal manusia. Kehujjahan Al-urf Urf menurut penyelidikan bukan merupakan dalil Syara’ tersendiri. karena kontrak tersebut adalah kontrak atas perkara yang Ma’dum (tiada). yaitu : a. 159 14 .

Istishab al-Wast. dan status bebasnya itu tidak bisa diganggu gugat kecuali dengan bukti yang jelas. misalnya sifat hidup yang dimiliki seseorang yang hilang tetap dianggap masih ada sampai ada bukti bahwa ia telah wafat. Demikian pula air yang diketahui bersih.sampai ada bukti yang mengubah status itu misalnya seseorang yang menuntut bahwa haknya terdapat pada diri seseorang. Secara hukum dia masih hidup berdasarkan keadaan semula yang sudah diketahui..cit. maka harta miliknya itu tetap dianggap ada selama tidak terbukti dengan peristiwa yang mengubah status hukum itu. op. 4. ia harus mampu membuktikannya karena pihak tertuduh pada dasarnya bebas dari segela tuntutan. h. 160-161 15 .2 Kehujjahan Istishab Dari Penjelasan di atas ditetapkan bahwa istishab itu bukan untuk menetapkan suatu hukum yang baru. misalnya seseorang yang mafqud (orang yang bepergian yang tidak diketahui kabar beritanya. Ulama Hanafi menetapkan bahwa istishab itu dapat menjadi hujjah untuk menolak akibat-akibat hukum yang timbul dari penetapan hukum yang berbeda atau kebalikannya dengan penetapan hukum semula. yaitu istishab yang didasarkan atas tetapnya status hokum yang sudah ada selama tidak ada bukti yang mengubahnya misalnya seseorang yang memiliki sebidang tanah atau harta bergerak seperti mobil. yaitu hidup sewaktu bepergian sampai ada suatu bukti yang menunjukkan kematiannya. tatap dianggap bersih selama tidak ada bukti yang mengubah statusnya itu. hidup atau matinya dan dimana domisilinya). Istishab al-hukm. yaitu istishab yang didasarkan atas anggapan masih tetapnya sifat yang diketahui ada sebelumnya sampai ada bukti bahwa yang mengubahnya. 3. bukan untuk menetapkan suatu hukum baru dengan kata lain istishab itu adalah menjadi hujjah untuk menetapkan perkara yang belum tetap hukumnya. Tetapi melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan bukan untuk menetapkan yang belum ada. seperti dijual atau dihibakannya kepada pihak lain. Istishab yang menetapkan hukum bahwa si mafqud masih hidup adalah sebagai hujjah untuk 2 Satri Efendi.

4. 6. h. 113-114 16 . Istihsan adalah menganggap baik terhadap sesuatu.. Maslahah al-mursalah adalah suatu perbuatan yang mengandung manfaat. Al-Qur`an adalah firman Allah SWT Kitab suci ini mengadung pesan samawi yang diperantai oleh wahyu. op. 5. perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum 3. Qiyas adalah suatu cara penggunaan ra`yu untuk menggali hukum syara` dalam hal-hal yang nash Al-Qur`an dan sunnah tidak menetapkan hukumnya secara jelas. Hadits adalah segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW. Kesimpulan Kaidah-kaidah Ushul secara bahasa yang dimaksud dengan al-ashlu adalah sesuatu yang diatasnya dibangun sesuatu yang lain.3 BAB III PENUTUP 1.cit. Ijma’ adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara. Seperti dipusaka harta peninggalannya diputuskan perjanjian sewa menyewa yang telah di adakannya dan diceraikan istrinya buka sebagai hujjah untuk menetapkan hak si mafqud mempusakai harta peninggalan ahli warisnya yang telah meninggal dunia. 3 Mukhtar Yahya. 2. Baik apakah bangunan tersebut sifatnya indrawi seperti pembangunan tembok diatas fondasi atau yang sifatnya pemikiran seperti membangun ma’lul (hukum yang terdapat ilat) berdasarkan illat dan (sesuatu) yang ditunjuk oleh suatu dalil. Kaidah-kaidah Ushul terdiri dari : 1. baik berupa perkataan..menghukum ia sudah mati dan akibat hukum yang timbul sesudah di hukumi mati.

Fathurrahman. Filsafat Hukum Islam. DAFTAR PUSTAKA Bakry Nazar. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Bandung. 17 . Al-urf adalah sebuah keadaan . 1999. 1978 ‘ilmu Ushul Fiqh (Kuwait: Dar al-Qalam). Jakarta : PT. perbuatan.7.. 1997. Abdul Wahhab al-Khallaf. 2003. Fiqh dan Ushul Fiqh. Ilmu Ushul FiqihPustaka Setia. atau ketentuan yang telah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk melaksanakannya atau meninggalkannya. 8. Djamil. Rahmat Syafi’i. ucapan. Istishab adalah menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaannya.Raja Grafindo Persada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->