P. 1
Makalah 1

Makalah 1

|Views: 142|Likes:
Published by Fadli Salwandi

More info:

Published by: Fadli Salwandi on Jan 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2012

pdf

text

original

1.

Pendahuluan

Latar Belakang Permasalahan

Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, orientasi pada kekuasaan yang amat kuat selama ini telah membuat birokrasi menjadi semakin jauh dari misinya untuk memberikan pelayanan publik. Birokrasi dan para pejabatnya lebih menempatkan dirinya sebagai penguasa dari pada sebagai pelayan masyarakat. Akibatnya sikap dan perilaku birokrasi dalam penyelegaraan pelayanan publik cenderung mengabaikan aspirasi dan kepentingan masyarakat. Berkembangnya budaya paternalistik ikut memperburuk sistem pelayanan publik melalui penempatan kepentingan elite politik dan birokrasi sebagai variabel yang dominan dalam penyelengaraan pelayanan publik. Elite politik dan birokrasi, dan atau yang dekat dengan mereka, seringkali memperoleh perlakuan istimewa dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Akses terhadap pelayanan dan kualitas pelayanan publik sering berbeda tergantung pada kedekatannya dengan elite birokrasi dan politik. Hal seperti ini sering mengusik rasa keadilan dalam masayrakat yang nerasa diperlakukan secara tidak wajaroleh birokrasi publik.

Meluasnya praktik-praktik KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme)dalam kehidupan birokrasi publik semakin mencoreng image masyarakat terhadap birokrasi publik. KKN tidak hanya telah membuat pelayanan birokrasi menjadi amat sulit dinikmati secara wajar oleh masyarakatnya, tetapi juga membuat masyarakat harus membayar lebih mahal pelayanan yang diselenggarakan oleh swasta. Masyarakat harus membayar lebih mahal tidak hanya ketika menyelesaikan urusan KTP, Paspor dan berbagai perijinan tetapi juga ketika mereka mengonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor swasta, seperti kendaraan bermotor, jalan tol dan komoditas lainnya. KKN diyakini oleh publik menjadi sumber dari biaya birokrasi dan distorsi dalam mekanisme pasar, seperti praktik monopoli dan ologopoli yang amat merugikan kepentingan publik.

Rendahnya kemampuan birokrasi merespons krisis ekonomi me3mperparah krisis kepercayaan terhadap birokrasi publik. Dinamika ekonomi dan politik yang amat tinggi, sebgai akibat dari krisis tersebut ternyata tidak dapat direspons dengan baik oleh birokrasi publik sehingga membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit dan tidak pasti. Inisiatif dan kreatifitas birokrasi dalam merespons krisis dan dampaknya sama sekali tidak memadai. Masyarakat yang mengharapkanbirokrasi publik dapat memberi respons yang

Kelima sistem DNA ini akan saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam membentuk perilaku birokrasi publik.Osborn dan Plastrik (1998) menjelaskan lima DNA. konsekuensi. Berbagai persoalan yang terjadi dipusat dan didaerah tidak dapat diselesaikan dengan baik. Pemerintah dan birokrasinya telah gagal menyelenggarakan pelayanan publik yang efisien. Berbagai fenomena diatas menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan dan legitimasi pemerintah dan birokrasinya dimata publik.tepat dan cepat terhadap krisis yang terjadi menjadi amat kecewa karena ternyata tindakan birokrasi cenderung reaktif dan tidak efektif. akuntabilitas. Dengan menggunakan metafora biologi. Ini semua terjadi karena pemerintah dan birokrasinya telah gagal menempatkan dirinya menjadi institusi yang bisa melindungi dan memperjuangkan kebutuhan dan kepentingan publik. dalam tubuh birokrasi dan pemerintah yang mempengaruhi kapasitas dan perilakunya. Dalam situasi seperti ini. Praktik-praktik KKN yang terjadi dalam kehidupan birokrasi telah membuat birokrasi menjadi semakin jauh dari masyarakatnya. kekuasaan dan budaya. Birokrasi publik diIndonesia sering kali tidak . Dominasi birokrasi dalam kehidupan politik dan ekonomi selama ini ternyata juga menciptakan berbagai distorsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang cenderung memperburuk krisis ekonomi dan politik yang terjadi. Kemampuan dari suatu sistem pelayanan publik dalam merespons dinamika yang terjadi dalam masyarakatnya secara tepat dan efisien akan sangat ditentukan oleh bagaimana misi dari birokrasi dipahami dan dijadikan sebagai basis dan kriteria dalam pengambilan kebijakan oleh birokrasi itu. Sikap dan perilaku dari suatu birokrasi dan pemerintah dalam menyelengarakan pelayanan publik akan sangat ditentukan oleh bagaimana kelima DNA dari birokrasi itu dikelola. maka amat sulit mengharapkan pemerintah dan birokrasinya mampu mewujudkan kinerja yang baik. responsif dan akuntabel. bahkan cenderung dibiarkan sehingga masyarakat menjadi semakin tidak percaya terhadap kemampuan birokrasi dalam menyelesaikan krisis ini. Pengelolaan dari kelima sistem kehidupan birokrasi ini akan menentukan kualitas sistem pelayanan publik. Orientasi kepada kekuasaan membuat birokrasinya menjadi semakin tidak responsif dan tidak sensitif terhadap kepentingan masyarakatnya. kode genetika. Ada banyak penjelasan yang bisa digunakan untuk memahami mengapa pemerintah dan birokrasinya gagal mengembangkan kinerja pelayanan yang baik. yaitu misi (purpose).

Perluasan misi birokrasi ini sering kali tidak didorong oleh keinginan birokrasi itu agar dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonominya. bahkan mungkin menjadi semakin jauh dari tujuan yang dimiliki ketika membentuk birokrasi itu. Apalagi dalam birokrasi publik diIndonesia yang cenderung menjadikan prosedur dan peraturan sebagai panglima.Tentunya kegagalan birokrasi dalam merespons krisis ekonomi dan politik secara baik juga amat ditentukan oleh bagaimana sistem kekuasaan. Untuk memahami kinerja birokrasi dalam . Uraian diatas menjelaskan bahwa kemempuan pemerintah dan birokrasinya dalam menyelenggarakan pelayanan publik amat dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Krisis ini mengajarkan kepada kita betapa rapuhnya sistem birokrasi publik diIndonesia dalam menghadapi perubahan-perubahan yang cepat dalam lingkungannya. tetapi juga membingungkan masyarakat pengguna jasa birokrasi.memiliki misi yang jelas sehingga fungsi-fungsi dan aktifitas yang dilakukan oleh birokrasi itu cenderung semakin meluas. Rutinitas dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan benar dalam penyelengaraan pelayanan publik. maka ketidakjelasan misi birokrasi publik mendorong para pejabat birokrasi publik menggunakan prosedur dan peraturan sebagai kriteria utama dalam penyelenggaraan pelayanan. akuntabilitas. yang muncul sebagai akibat dari krisis ekonomi dan politik yang sekarang ini terjadi diIndonesia. intensif dan budaya yang berkembang dalam birokrasi selama ini. Ketaatan dan kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan menjadi indikator kinerja yang dominan sehingga keberanian untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan kreatifitas dalam merespons perubahan yang terjadi dalam masyarakat menjadi amat rendah. Para pejabat birokrasi sering mengabaikan perubahan yang terjadidalam lingkungan dan alternatif cara pelayanan yang mungkin bisa mempermudah para pengguna layanan untuk bisa mengakses pelayanan secara lebih mudah dan murah. konflik kebijakan antar departemen dan lembaga non departemen b8kan hanya melahirkan inefisiaensi. Dalam situasi yang fragmentasi birokrasi amat tinggi. maka kecenderungan semacam ini tidak hanya akan membengkakkan birokrasi publik. Ketidakpastian misi juga membuat orientasi birokrasi dan pejabatnya pada prosedur dan peraturan menjadi amat tinggi. Dalam sistem penyelenggaraan pelayanan publik. tetapi didorong oleh keinginan birorasi unr\tuk memperluas aksesnya terhadap kekuasaandan anggaran. tetapi juga menghasilkan duplikasi dan konflik kegiatan dan kebijakn antar departemen dan berbagai non departemen. Birorasi yang seperti ini tentu amat sulit menghadapi dinamika yang amat tinggi.

Pertumbuhan jumlah pegawai negeri sipil apabila diklasifikasikan menurut tingkatan pemerintah terlihat bahwa jumlah pegawai negeri yang adea didaerah hanya mencapai 12. baik yang sifatnya internal maupun yang secara langsung berpengaruh terhadap praktik penyelengaraan pelayanan seperti budaya birokrasi. seperti budaya dan kondisi politik lokal ikut mempengaruhi kinerja birokrasi dalam menyelengarakan pelayanan publik. Dengan melaksanakan kebijakan seperti ini.Permasalahan Kompleksitas masalah pembangunan yang dihadapi pemerintah Orde Baru menghendaki adanya perubahan struktur birokrasi yang membuat tubuh birokrasi menjadi semakin membengkak. Dalam kurun waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Makalah ini sedikit mengupas bagaimana berbagai faktor tersebut berhubungan dengan kinerja penyelengaraan pelayanan publik yaitu Pelayanan Pajak Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) Bermotor di SAMSAT . responsif dan akuntabel. Lebih dari itu makalah ini juga menjelaskan bagaimana lingkungan eksternal birokrasi. Berbagai faktor. pada tahun 1993 jumlah pegawai negeri telah mencapai jumlah 4.5 persen. etika pelayanan. 2. maka diharapkan perbaikan kinerja birokrasi dalam penyelengaraan pelayanan publik akan bisa segera dinikmati oleh masyarakat luas. kewenangan diskresi dan sistem intensif dijelaskan dalam makalah ini.Dengan menggunakan data yang diperoleh baik dari survei maupun media massa dan wawancara dilapangan.penyelengaraan pelayanan publik. tentu tidak cukup hanya dengan menganalisisnya dari satu aspek yang sempit.5 persen (belum termasuk pegawai pusat yang ditempatkan didaerah). tetapi harus bersifat menyeluruh dengan memperhatikan semua dimensi persoalan yang dihadapi oleh birorasi serta keterkaitan sati dengan yang lainnya.009. perkembangan jumlah pegawai negeri terus mengalami peningkatan sangat tinggi. maka informasi tepat dan lengkap mengenai kinerja birokrasi dapat diperoleh dan kebijakan reformasi birokrasi yang holistik dan efektif bisa dirumuskan dengan mudah. Dengan cara pandang seperti ini. Jumlah tersebut termasuk yang paling besar dalam sejarah perkembangan jumlah pegawai negeri diIndonesia. .000 Orang. sedangkan jumlah pegawaia negeri ditingkat pusat mencapai 87. Menurut Rohdewohld (1995). makalah ini menjelaskan berbagai faktor yang menjadi penyebab dari kegagalan birokrasi publik dalam menyelengarakan pelayanan publik secara efisien.

Penciptaan struktur organisasi baru diberbagai instansi pemerintahan. Sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Seorang penduduk yang lajir diharuskan mengurus surat keterangan lahir dan akta lahir di kantor Catatan Sipil.penyediaan lapangan kerja baru dibidang pemerintahan dan pelayanan oleh pemerintah menjadi sebuah keharusan. Realitas tersebut menjadikan birokrasi terasa begitu dominan dalam mengatur kehidupan masyarakat. pemerintah berusaha menciptakan lapangan pekerjaan untuk menampung jumlah pegawai negeri yang melebihi kapasitas. Birokrasi kemudian cenderung lebuh berperan untuk mengurus kehidupan publik. budaya maupun geografis wilayah Indonesia yanga demikian besar memerlukan adanya suatu sistem . Kedua. Hampir segala aspek kehidupan masyarakat tersentuh oleh birokrasi semenjak penduduk lahir hingga meninggal dunia selalu berurusan dengan birokrasi pemerintah. Selain kompleksitasnya masalah pembangunan yang dihadapi. Peran dan posisi birokrasi yang hampir tidak terbatas menjadikan birokrasi sangat sulit dikontrol oleh publik. agama maupun budaya yang harus memerlukan mekanisme perijinan birokrasi yang sangat rumit. akibat dari jumlah pegawai negeri yang terlalu besar menjadikan dominasi peran birokrasi dalam kehidupan publik menjadi sangat tinggi. birokrasi didaerah hanya menjalankan fungsi pelaksanaan regulasi atau kebijakan yang telah ditentukan birokrasi pusat untuk melakukan pengaturan atas segala kehidupan masyarakat. ekonomi. profesionalitas dan kebutuhan organisasi. seni. dalam arti fungsi pelayanan publiknya.Penambahan jumlah pegawai negeri sipil secara besar-besaran semasa pemerintahan Orde Baru membawa dua konsekuensi penting. baik dipusat maupun didaerah tumbuh begitu pesat tanpa memperhatikan analisis kebutuhan organisasi serta penyiapan sumberdaya manusianya. Penambahan jumlah instansi dan pegawai birokrasi pemerintah tersebut pada akhirnya tidak membawa dampak pada terciptanya efisiensi pelayanan publik. korupsi dan nepotisme menjadi sulit terdeteksi. sosial. ekonomi. Selama pemerintah Orde Baru berkuasa. sosial. Perubahan tata pemerintahan dilakukan secara sistematis selama Orde Baru berkuasa.hal tersebut belum termasuk berbagai kegiatan politik. pemerintahan Orde Baru dengan berbagai pertimbangan politik. Pertama. sehingga munculnya patologi birokrasi seperti kolusi. Perekrutan pegawai dijajaran birokrasi pemerintah terus menerus dilakukan tanpa memperhatikan kejelasan kriteria.

Waktu yang dibutuhkan untuk membayar pajak yaitu satu sampai satu setengah jam. Persyaratan pengguna jasa atau pemakai kendaraan dalam mengajukan persyaratannya terdiri dari STNK Asli. Sumbangan Wajib (SW) Jasa Raharja.5000. Pelayanan STNK berawal dari persyaratan pengajuan. Dalam pelayanan selanjutnya pengguna jasa membayar jumlah pajak kepada kasir di loket III sesuai dengan nomor antrian. Biaya Administrasi STNK dan Biaya Administrasi TNKB. Tidak mudah . Dalam penyelengaraan pelayanan pajak Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) bermotor di SAMSAT penuh dengan KKN. Dalam kwitansi pajak STNK meliputi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Pada loket IV yatu penyerahan STNK dan Plat Nomor Polisi untuk melayani pengguna jasa dalam mengambil STNK baik yang membayar pajak maupun perpanjangan Plat Nomor. pemerintah Orde Baru membentuk jaringan organisasi birokrasipemerintahan yang mampu menjangkau sampai ke lapisan terbawah masyarakat.pengendalian birokrasi yang efektif dalam menjangkau sasaran pembangunan. pada Loket II petugas pengesahan menerima slip pendaftaran untuk ditukarkan dengan kwitansi pembayaran pajak STNK sesuai tahun keluarnya kendaraan. Petugas menerima berkas tersebut dengan menggantikan slip pendaftaran yang dikembalikan kepada pengguna jasa yang bertuliskan Rp.sebagai pembayaran pendaftaran. Selama Orde Baru berkuasa jaringan Organisasi pemerintah terbentuk mulai dari pusat sampai Rukun Tetangga secara hierarkis. slip pendaftaran ditanda tangani . Menyadari hal tersebut. pengguna jasa mendaftarkan ke Loket I pendaftaran dengan menyerahkan berkas kelengkapan persyaratan pajak STNK. Selain motor sendiri. proses pembayaran dan pengesahan terlihat banyak yang terlibat didalamnya oknum baik petugas maupun calo. Penulis sudah 5 kali dalam melakukan pembayaran pajak 1 tahun maupun perpanjangan Plat Nomor 5 tahun. Banyak peristiwa menarik dan banyak persoalan yang harus diselesaikan sebagai kepedulian terhadap kebersihan dan efisiensi pelayanan untuk mensejahterakan masyarakat.. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) Asli dan Fotokopi dan KTP Pemilik Asli. Ketika pengguna jasa telah membayar pendaftaran. Maka dengan selesainya membayar berarti pengguna jasa tinggal mengambil STNK yang baru yaitu lembar pajak 1 tahun di gantikan dengan slip pembayaran dan tertera waktu tagihan pajak untuk tahun depan. Setelah memiliki kelengkapan persyaratan. alhamdulillah juga dipercaya oleh teman dan tetangga untuk membayarkannya.

BPKB Asli dan fotokopi serta KTP Pemilik Asli.000. Karena pendidikan dan etika dalam pelayanan tidak dipahami oleh keduanya cenderung terjadi pembodohan dan ketergantungan oleh kekuasaan uang. Dan peristiwa berikutnya dalam pembayaran perpanjangan Plat Nomor 5 tahun yang sarat dengan KKN. Saya hanya dapat membawa sepeda motor dan STNK Asli ke SAMSAT karena teman saya sedang bekerja di Jakarta. Persyaratan perpanjangan Plat Nomor 5 tahun harus membawa sepeda motor untuk cek fisik. Tetapi hal tersebut jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya teguran baik kepada aparat pelayanan SAMSAT maupun pengguna jasa. Selain itu saya menyempatkan diri untuk berkenalan dengan calo tersebut. Dalam pembayaran pajak STNK merasakan keanehan ketika KTP Pemilik kendaraan tidak ada. Maka kita sebagai pengguna jasa harus kritis dan berani untuk membuka persoalan dalam tataran politik. itulah namanya. Padahal seandanya saya melihat didalam kantor SAMSAT tidak terdapat tarif atau aturan mengenai tebusan KTP sebesar Rp. maka akan terjadi kolusi secara terus menerus hingga membudaya dan mendarah daging. saya mengalami dari tahun 2004.untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada birokrasi pemerintah dalam suatu penyelengaraan pelayanan publik. Mereka menanyakan pembayaran pajak atau perpanjangan Plat Nomor. STNK Asli. mulai dari membayar pajak 1 tahun sepeda motor dan kehilanagan STNK. dijawab dengan mudah oleh saya dengan mengatakan mau membayar perpanjangan Plat Nomor. Tujuannya tidak lain untuk transportasi kinerja dan memberikan konsekuensi baik secara hukum maupun konsekuensi sosial. Rencana sepeda motor tersebut akan digunakan untuk transportasi pekerjaannya sebagai kolektor koperasi. Di satu sisi ada persoalan 2 .-. Saya membuka persoalan perpanjangan STNK dengan menceritakan yang sebenarnya. Pada peristiwa ini saya membantu sepeda motor temannya yang hanya adaa STNK dan sepeda motor.25.25000. Melihat kondisi yang seadanya dari sepeda motor langsung didatangi tukang parkir dan calo yang mendekat didepan kantor SAMSAT kepada saya. Dibawah pohon kami membicarakannya dan bagaimana cara membayarnya. Cara pandang saya tidak langsung memvonis hal tersebut sebagai uang suap tetapi sebagai konsekuensi hukum walaupun secara tertulis tidak ada.-. Nanang seorang yang berprofesi sebagai calo pembayaran pajak dan perpanjangan STNK di SAMSAT. petugas menyarankan untuk menebus uang Rp. Mengenai penyelenggaraan pelayanan publik di SAMSAT.

dapat mendorong perbaikan didalam sistem pelayanan publik khususnya bagi aparat pelayanan publik dan pengguna jasa administrasi pemerintahan. SH mengatakan mengenai pengertian pajak yaitu iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang dapat dipaksakan dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjuk digunakan untuk pembiayaan sarana umum. Nanang mengatakan bahwa pembayaran perpanjangan STNK dalam kondisi seperti anda dapat diatasi yang terpenting sepeda motor dapat dicek fisik dan STNK Asli dibawa kekantor SAMSAT.dan BPKB sebesar Rp. BPKB masih dijadikan jaminan pada koperasi serta KTP Pemilik tidak berda ditangan saya.tahun pajak yang lalu belum terbayar. Pembahasan Masalah Berdasarkan penjelasan permasalahan yang telah penulis analisis. Pemungutan iuran tersebut hanya dapat dilakukan oleh negara yaitu aparat penyelenggara pelayanan publik.-. Hal ini saya rasakan sebagai hilangnya kepercayaaan teman dan tetangga kepada aparat pelayanan yang telah dialami langsung oleh pengalaman saya. Kelegaan itu hilang saat saya dikenal sebagai calo atau pengantar dalam pembayaran pajak dan perpanjangan STNK. Dr. Setelah itu kami menghitung 2 tahun pajak yang belum dibayar. Masih beruntung kami masih bisa menyelesaikan persoalan pembayaran. nomor rangka mesin sudah digesek dan mendapatkan Lembaran Ditlantas yang resmi. Maka penulis dapat memahami pentingnya pelayanan publik yang dilihat dari pelaku dan pengguna jasa untuk mengukur bagaimana peayanan publik dalam pembayaran pajak STNK dapat berjalan efektif dan Efisien dengan prioritas peningkatan pendapatan asli daerah sebgai penunjang pembangunan.25000. yang mana pemerintah kabupaten atau pemerintah kota sebagai . Sebagai warga negara yang terlibat langsung dengan penyelenggaraan pemerintahan sudah pasti akan bersinggungan peraturan baik dalam Undang-undang maupun Perda.000. dalam hal ini pembayaran pajak STNK di kantor SAMSAT.25.35000. Rahmat Sumitro. Melihat hal tersebut saya sebagai pengguna jasa merasaa lega setelah ada solusi dan denda yang sudah dilunasi oleh teman saya.. Seperti halnya KTP pemilik ditebus Rp.pertahun. Makakelegaan itu tidak berlangsung lama walaupun maslah suadah terselesaikan tinggal menuggu pembayaran tagihan pajak tahun depan. Ternyata dpat digantikan denda sebesar Rp. MenurutProf. 3.. Pembayaran pajak STNK diselenggarakan oleh pemerintah propinsi dengan sistem Dekonsentrasi. Seperti yang kita lakukan yaitu kewajiban dalam membayar pajak.

Sekarang pemerintah membutuhkan kinerja yang profesional dan orientasi pada kesejahteraan sosial. politik. Melalui seleksi pegawai yang adil dan proposional dapat melihat permasalahan yang sebenarnya terjadi ditengah masyarakat baik dari segi ekonomi.kepanjangan tangan pemerintah propinsi. Pengelolaan pendapatan pajak STNK dilaksanakan oleh UPTD SAMSAT dan UPTD Dipenda kabupaten /kota. pemerintah lebih mengedepankan supremasi hukum sebagai konsekuensi pidana dan ditindak lanjuti dengan konsekuensi sosial. Sedangkan untuk hasil dari pemungutan pajak STNK akan langsung diterima pemerintah propinsi sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan. Birokrasi yang rumit merupakan permasalahan klasik yang diturunkan melalui era orde baru status quo. hukum dan budaya. Setelah terwujud pemerintah dalam perekrutan pegawai langkah selanjutnya mereka yang sudah menjadi pegawai dapat di didik dan dilatih dalam rangka menguji kembali keahlian dari ilmunya serta kepribadiannya. Kejaksaan Agung. Maka pemerintah bersama dengan aparat hukum langsung menindak dengan membuktikan kepada masyarakat luas melalui media masa. Mengenai permasalahan kurang efisiensinya pelayanan oleh aparat sebagai dampak negatif yang disebabkan besarnya jumlah pegawai dan penambahan jumlah instansi. Untuk melengkapi tingkat efisiensi secara empiris mereka harus praktek latihan dan penelitian dilapangan sebagai penyempurnaan profesi. Pengalaman yang terjadi adalah prosedur administrasi mulai dari bawah sampai keatas secara hierarkis tidak mampu menyelesaikan masalah malahan menambah sumber baru yaitu monopoli aparat penyelenggara pelayanan yang hanya dapat tunduk kepada atasannya. Penempatan pegawai dapat melihat prestasi dan hasil dari penelitian mengacu pada kepuasan dan pemecahan problem masyarakat. Tidak terbatasnya kewenangan aparat membuat kontrol masyarakat sulit dilakukan pada akhirnya cenderung menimbulkan patologi birokrasi. Sebagai solusi dan tindak lanjut permasalahan tersebut. Seperti POLRI pada kepemimpinan Jenderal Polisi Sutanto yang telah bekerjasama dengan BIN. Ketika penyelenggaraan pelayanan pajak STNK dikantor SAMSAT terjadi kolusi kepada oknum aparat. KPK dan CIA dalam memberantas oknum yang terlibat pelanggaran kode etik pegawai. Selanjutnya pihak swasta .

memberikan sosialisasi tindak pidana oleh aparat kepada masyarakat luas untuk mendapatkan ketidakpercayaan. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. menjunjung tinggi nilai-nilai hukum terhadap aparat penyelenggara pelayanan dan masyarakat pengguna jasa e. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Dwiyanto. bekerjasama antara SAMSAT. Yogyakarta. adanya konsekuensi hukum dan konsekuensi sosial DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tetang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. KPK dan Masyarakat dalam menindaklanjuti f. Gadjah Mada University Press. . pemahaman tentang pajak oleh aparat penyelenggara pelayanan dan masyarakat b. peran masyarakat disini tidak lain adalah ikut mendukung. surat peringatan maupun dialog secara langsung. 4. melaksanakan dan mengawasi dengan penmerintah.perekrutan pegawai didasarkan pada keahlian (profesionalisme) c. Penutup Kesimpulan Berdasarkan uraian diatas maka penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa dalam menyelenggarakan pelayanan pajak dikantor SAMSAT harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Selain itu. Maka disamping sebagai pengguna jasa diharapkan mampu melakukan pengawasan yang obyektif. POLRI. penempatan pegawai yang adil dan proposional d. Agus. BIN. 2006. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan kontribusi materi dan kontrol perilaku aparat penyelenggara berupa teguran. Pengadilan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->