P. 1
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik

|Views: 444|Likes:

More info:

Published by: Fadel Reza Rafsan Hasmi on Jan 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

Pengkajian fisik keperawatan pada klien dalam kondisi sehat-sakit penting dilakukan oleh perawat untuk menentukan

data subjektif dan data objektif yang akan dipergunakan dalam merumuskan Diagnosa dan Rencana Asuhan Keperawatan. Proses pengkajian fisik keperawatan meliputi tiga tahap : 1. Wawancara (Interview) 2. Pemeriksaan fisik
Dari hasil wawancara maka perawat akan dapat lebih terfokus kepada satu sistem tubuh yang terkait dengan penyakit yang diderita klien. Ada 2 metode pendekatan dalam pemeriksaan fisik yaitu pendekatan sistem tubuh dan pendekatan head to toe (ujung kepala – ke kaki). Sangat direkomendasikan kita mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut Sangat baik jika kita sebagai perawat memulai pemeriksaan fisik dari kepala dan leher, kemudian ke dada, dan abdomen, daerah pelvis, genital area, dan terakhir di ekstremitas (tangan dan kaki). Dalam hal ini dapat saja beberapa sistem tubuh dapat dievaluasi sekaligus, sehingga pendokumentasiannya dapat dilakukan melalui pendekatan sistem tubuh. Tehnik yang dilakukan meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Umumnya semua berurutan, kecuali pengakajian fisik di abdomen yang auskultasi dilakukan setelah inspeksi. Inspeksi dilakukan melalui pengamatan langsung, termasuk dengan pendengaran dan penciuman. Sedangkan palpasi dengan menggunakan tangan kita untuk merasakan tekstur kulit, meraba adanya massa di bawah kulit, suhu tubuh dan vibrasi/getaran juga dapat dipalpasi. Berbeda dengan perkusi yang digunakan untuk mendengar suara yang dipantulkan jaringan tubuh di bawah kulit atau struktur organ. Suara yang dihasilkan dari ketukan tangan kita dapat dinilai dari timpani atau resonan dan dull atau flat . Sedangkan auskultasi dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara organ tubuh, dan penting untuk mengkaji sistem pernapasan, jantung dan sistem pencernaan.

a. b. c. d.

Sedangkan kriteria pemeriksaan fisik yang penting adalah meliputi : Tanda-tanda vital / vital sign (suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah) Observasi keaadaan umum pasien dan perilakunya Kaji adanya perubahan penglihatan dan pendengaran Pengakajian head to toe seluruh sistem tubuh dengan memaksimalkan tehnik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi a. Sistem syaraf pusat 1. Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang 2. Kaji status mental
3. Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan pengobatannya.

4. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal. 5. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur 6. Kaji adanya kejang atau tremor 7. Kaji catatan penggunaan obat dan diagnostik tes yang mempengaruhi SSP. b. Sistem Kardiovaskular 1. Kaji nadi : frekuensi, irama, kualitas (keras dan lemah) serta tanda penurunan kekuatan/pulse deficit 2. Periksa tekanan darah : kesamaan antara tangan kanan dan kiri atau postural hipotensi 3. Inspeksi vena jugular seperti distensi, dengan membuat posisi semi fowlers 4. Cek suhu tubuh dengan metode yang tepat, atau palpasi kulit. 5. Palpasi dada untuk menentukan lokasi titik maksimal denyut jantung

dan kesediaan alat 10. Auskultasi seluruh area paru dan kaji suara paru normal (vesikular. Kaji kembali obat dan pengkajian diagnostik yang pasien miliki terkait sistem GI e. cracles atau ronkhi) 6. serta riwayat infeksi saluran kemih . Inspeksi membran mukosa dan warna kulit 9. Kaji catatan obat terkait dengan sistem pernapasan dan test diagnostik d. Kaji adanya keluhan SOB (shortness of breath)/sesak napas. output/jumlah urine 24 jam. dan kemampuan klien untuk menelan 7. Kaji keadaan umum dan pemenuhan kebutuhan respirasi Kaji respiratory rate. irama dan kualitasnya 3. Inspeksi adanya ileostomy atau kolostomi. atau bronkial) dan kaji juga adanya bunyi paru patologis (wheezing. yang nantinya dikaitkan dengan fungsi (permanen atau temporal). kekeruhan dan ada/tidaknya sedimen 2. konsistensi dan jumlahnya dan apakah disertai darah 7. Kaji adanya perubahan selera makan. warna kulit dan pola pembuluh vena (venous pattern) 2. c. 8. Inspeksi fungsi otot bantu napas. 11. bronkovesikular. 8. Auskultasi bunyi jantung S1. Tentukan posisi yang tepat dan nyaman untuk meningkatkan fungsi pernapasan pasien 10. Kaji adanya perubahan berat badan 8. Palpasi abdomen untuk menentukan : lemah. frekuensi dan adanya sputum/dahak. dyspnea dan orthopnea. Kaji kebiasaan pola BAK. termasuk diameter anterior dan posterior thorax. Sistem Perkemihan 1. adanya dysuria dan hematuria. Kaji tipe diet. kontur. pembatasan diet dan toleransi terhadap diet 6. durasi. keras atau distensi. 9. cek warna. lihat tanda sianosis (pucat) atau kemerahan Palpasi adanya edema di ekstremitas dan wajah Periksa adanya jari-jari tabuh dan pemeriksaan pengisian kapiler di kuku 10. 7. perdarahan saluran cerna. Inspeksi keadaan umum abdomen : ukuran. ukuran rongga dada. Inspeksi membran mukosa dan warna kulit. Kaji adanya tanda-tanda perdarahan (epistaksis. Kaji pola eliminasi : BAB dan adanya flatus 9. Kaji apakah klien memiliki riwayat merokok (jumlah per hari) dan berapa lama telah merokok 11.S2 di titik tersebut. Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK. Kaji adanya keluhan batuk. murmur dan bising. adanya massa atau asites 4. adanya nyeri tekan. jumlah. Sistem Pencernaan 1. Sistem Respirasi (Pernapasan) 1. Auskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus 3.6. Kaji obat-obatan yang mempengaruhi sistem kardiovaskular dan test diagnostik. warna. phlebitis. kondisi stoma dan kulit disekitarnya. kemerahan di mata atau kulit. 2. Palpasi posisi trakea dan adanya subkutan emphysema 5. adanya bunyi jantung tambahan. Kaji adanya nausea dan vomitus 5. dan adanya gangguan spinal 4.

ROM (range of motion). Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih) 4. Kaji adanya kekakuan sendi dan nyeri sendi 3. Kaji adanya luka. Kaji riwayat pengobatan dan test diagnostik terkait sistem integument g. bekas operasi/skar. . mengidentifikasi masalah klien dan mengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan. Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan f. pruritus. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. emosional dan koping mekanisme 6. Kaji pemenuhan support sistem 4. narkoba. seksual abuse. drain. Kaji kebutuhan pembelajaran dan penyuluhan kesehatan 3. Kaji warna kulit. Sistem Integumen 1. silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter 5. klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal. berdiri. Palpasi adanya nyeri. Kaji kemampuan pasien duduk. Kaji tingkat kecemasan. Pendokumentasian : yang meliputi tahapan perumusan diagnosa keperawatan.3. kram atau spasme 2. kering) 2. Kaji resiko terjadinya luka tekan dan ulkus 5. edema. Kaji integritas kulit dan membrane mukosa. maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak. Sistem Physikososial 1. dekubitus. alkohol. Dokumentasi Semua informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik harus didokumentasikan dalam catatan pengkajian keperawatan klien. cek postur tubuh 5. dan penurunan suhu 6.Tujuan dari pemeriksaan fisik dalam keperawatan adalah untuk menentukan status kesehatan klien. Kaji riwayat penyalah gunaan obat. mood klien dan tanda depresi 3. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Kaji pergerakan ekstremitas tangan dan kaki. Kaji adanya tanda-tanda fraktur atau dislokasi 6. Kaji pola dan gaya hidup klien yang mempengaruhi status kesehatan 5. Inspeksi penggunaan condom catheter. Kaji perasaan pasien tentang kondisinya dan penyakitnya 2. berjalan. Misalnya . turgor. dan keadaan umum kulit (jaundice. Sistem muskuloskeletal 1. tujuan dan rencana intervensi keperawatan. odor 3. folleys catheter. kering. kekuatan otot 4. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Kaji adanya nyeri otot. Kaji ulang pengobatan dan test diagnostik yang terkait sistem musculoskeletal i. dsb 4.

misalnya di daerah paru-paru pada pneumonia. krepitasi (patah tulang). • Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii…. Palpasi Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. bentuk dan konsistensi jaringan. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data. misalnya daerah caverna paru. Misalnya pada edema paru. dan lain-lain. Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan warna. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk menghasilkan suara. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun . dan lain-lain. Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung. bentuk. vibrasi. Contoh : mata kuning (ikterus). · Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir. warna. kasar). suara nafas. Misalnya : adanya tumor. terdapat struma di leher. 3. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Inspeksi Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. · Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering · Kuku jari perawat harus dipotong pendek. bentuk. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi : · Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai. Perkusi Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung. Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah : Sonor : suara perkusi jaringan yang normal. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. • Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi. bentuk dan kebersihan tubuh klien. 2. 4. oedema. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh. dan bising usus. kelembaban. Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi. TBC. Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah : • Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus. ukuran. turgor. kulit kebiruan (sianosis). sedang. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya.k”. misalnya tentang : temperatur.Ada 4 teknik dalam pemeriksaan fisik yaitu : 1. Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong. pada klien asthma kronik. simetris. Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. posisi. Misalnya pada klien pneumonia. ukuran. Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat. perkusi daerah hepar.

kepala. tanda. jantung. dan bising usus. wajah. sistem perkemihan. mata. punggung. batas hepar-paru (mengetahui pengembangan paru). asma.bagian tubuh yang mengalami kelainan. diantaranya adalah 1. Head to toe (kepala ke kaki) Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki. abdomen. hidung.ekspirasi. Palpasi Adlaah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui perabaan terhadap bagian. sistem kardiovaskuler. sistem persyarafan. dll. terdapat struma di leher. mulut dan tenggorokan.tanda vital. ROS (Review of System / sistem tubuh) Pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh sistem tubuh. 3. sistem pencernaan. Mulai dari : keadaan umum. rectum. 2. tanda vital. dada. oedema. Misalnya adanya tumor. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Informasi yang didapat membantu perawat untuk menentukan sistem tubuh mana yang perlu mendapat perhatian khusus. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura. Hasilnya seperti : Mata kuning (icteric). paru. krepitasi (patah/retak tulang). batas-batas jantung. telinga. Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan : 1. • Pleura Friction Rub . sistem reproduksi. sistem muskuloskeletal dan integumen. . 4. ektremitas. Perkusi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk mengetahui reflek seseorang (dibicarakan khusus). ginjal. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung. kulit kebiruan (sianosis). Juga dilakukan pemeriksaan lain yang berkaitan dengan kesehatan fisik klien. Inspeksi Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Misalnya : kembung. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemeriksaan fisik adalah melakukan Pemeriksaan fisik klien untuk menentukan masalah kesehatan klien. Misalnya pada bronchitis akut. genetalia. dll. leher. yaitu : keadaan umum. Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui pendengaran. bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu. dll 2. suara nafas. sistem pernafasan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->