Pengertian Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal (fiscal policy) adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah melalui manipulasi instrument

fiskal seperti pengeluran pemerintah dan atau pajak yang dutunjukkan untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat didalam perekonomian (Nanga; 2005) Kebijakan fiskal adalah penyesuaian dalam pendaptan dan pengeluaran-pengeluaran Pemerintah sebagaimana ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara yang disingkat APBN untuk mencapai kestabilan ekonomi yang lebih baik dan laju pembangunan ekonomi yang dikehendaki yang umumnya ditetapkan dalam rencana pembangunan (Sudirman; 2010) Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengendalikan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum. Kebijakan yang mengubah penetapan pajak adalah karena ada keinginan Pemerintah yang besumber dari wajib pajak yang nantinya digunakan untuk mengubah kemampuan Pemeritah dalam mendanai programnya dalam meningkatkan petumbuhan ekonomi atau kesejahteraan masyarakat. Kebijkan Anggaran/Politik Anggaran: 1. Anggaran defisit (defisit budget) / kebijakan fiskal ekspansif adalah suatu kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Pada umumnya sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi sedang resesif. 2. Anggaran surplus (surplus budget) / kebijakan fiskal kontraktif adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Sebaiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan

membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan (Mardiasmo. perlu dilakukan harmonisasi kebijkan fiskal dan moneter antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Anggaran belanja negara terdiri dari: a. Tujuan dari politik anggaran berimbang yaitu terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin. Contoh: pemberian beasiswa kepada mahasiswa. kebijakan pinjaman luar negeri. Transfer pemerintah (government transfer). sehingga dapat dilakukan prediksi-prediksi dan estimasi ekonomi. Penerimaan atas pajak b. Kinerja perekonomian daerah merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan arah kebijakan moneter. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besar pendapatan dan pengeluaran. pemerntah daerah harus melakukan optimalisasi anggaran secara secara efisien dan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan . Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai alat kebijakan fiskal pemerintah digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui APBD dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah. Sektor perbankan sebagai otoritas moneter. 2002: 9). Pengeluaran pemerintah (government expenditure) c. merupakan pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang tidak menghasilkan balas jasa secara langsung. Dampak Kebijakan Fiskal Terhadap Otonomi Daerah Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal memberikan implikasi penting terhadap kinerja perekonomian daerah. APBD merupakan rencana kerja pemerintah daerah dinyatakan dalam satuan moneter (rupiah) dalam satu periode tertentu (satu tahun). bantuan bencana alam dan lain sebagainya. dalam hal ini adalah Bank Indonesia memegang kendali atas arah kebijakan moneter. Manajemen keuangan daerah. Kebijakan fiskal dapat dilakukan pemerintah melalui penetapan kebijakan perpajakan. Kinerja perekonomian daerah dipengaruhi oleh arah dan kebijakan fiskal dan moneter. dan pengaturan surplus dan defisit anggaran dengan memperhatikan kondisi perekonomian daerah. khususnya manjemen anggaran daerah (APBD) dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki posisi yang sangat penting. Salah satu peran perbankan daerah adalah untuk mendorong ekonomi daerah (kebijakan fiskal) dengan perbankan daerah (kebijakan moneter) dalam memajukan perekonomian daerah. Karena adanya tuntutan pertanggungjawaban kepada publik. Selain itu. Oleh karena itu. Anggaran berimbang (balanced budget) anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan.3.

Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa kurva IS bergeser bila terjadi perubahan pengeluaran agregat yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu pengeluaran investasi swasta. Dari semua unsure APBN hanya pembelanjaan Negara atau pengeluaran dan Negara dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal. dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatn nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N). meliputi pengelolaan semua pendapatan/penerimaan dan pengeluaran kas daerah sehingga dapat meminimalkan jumlah kas yang menganggur (idle cashs) serta dapat mencegah terjadinya kekurangan kas (illikuid). Kebijakan fiskal umumnya dijalankan melalui kebijakan anggaran pemerintah atau APBN. maka transaksi keuangan di daerah akan meningkat. Efektivitas kebijakan moneter berupa pengendalian jumlah uang beredar berkaitan erat dengan manajemen kas Bank Indonesia. jumlah transfer pemerntah (Tr). Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi pemerintah (G). Meningkatnya transaksi keuangan daerah merupakan indikasi adanya arus kas masuk (pendapatan/penerimaan) dan arus kas keluar (pengeluaran/belanja). yaitu pengelolaan jumlah aliran uang masuk (Cash inflow) dan aliran kas keluar (cash outflow) sebagai instrumen dalam sistem moneter untuk menentukan jumlah uang beredar dalam jangka waktu tertentu. Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi. Dengan dilaksanakannya otonomi daerah. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran. selanjutnya APBN ini akan mempengaruhi perekonomian makro. Dan keadaan tersebut harus didukung oleh institusi keuangan di daerah yang semakin baik. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah (APBD) pemerintah daerah memerlukan dukungan manajeme kas yang tepat. Bila APBN meningkat maka penerimaan dan pengeluaran pemerintah juga meningkat. pengeluaran pemerintah dan pajak. Keberhasilan perekonomian daerah akan tercapai apabila terdapat harmonisasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.2 Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah mempengruhi keadaan ekonomi makro melalui serangkaian tindakan yang mempengaruhi pasar barang.masyarakat. Peningkatan pengeluaran ini akan mempengaruhi kurva IS.pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi. . Tujuan kebijakan fiscal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Kebijakan fiskal daerah harus didukung oleh kebijakan moneter yang termanifestasikan melalui neraca pembayaran daerah dan perbankan daerah yang sehat. 7.

Pada awalnya keseimbangan berada pada titik E0. Kenaikan tingkat bunga menyebabkan investasi swasta berkurang sehingga mengurangi kenaikan AD. Disinilah keterkaitan antara pasar barang dan pasar uang terjadi. Gambar 7.2. Tetapi karena adanya keterkaitan antara pasar barang dengan pasar uang maka perobahan pada pasar barang (kenaikan income) menyebabkan pasar uang tidak seimbang karena kenaikan income telah menyebabkan naiknya permintaan uang yang selanjutnya mendorong kenaikan tingkat bunga. Peningkatan income menyebabkan keseimbangan pasar uang berobah karena permintaan uang naik sehingga tingkat bunga naik. Pada tingkat bunga yang sama dan melalui proses multiplier income naik ke Y2 dengan titik keseimbangan pada titik E2. Pengurangan dampak investasi akibat kenaikan bunga ini disebut dengan crowding out. Pada titik E2 ini telah tercapai keseimbagan pada pasar barang karena pengeluaran telah sama dengan output (income). Kenaikan income menyebabkan permintaan terhadap uang naik sehingga untuk kembali ke titik keseimbangan maka bunga juga ikut naik ke i1 sehingga tercapai keseimbangan pada titik E1. Hanya . Kenaikan AD menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan. Apabila tingkat bunga tetap pada i0 maka income harusnya naik mencapai Y2 dengan keseimbagan E2 sesuai dengan besarnya multiplier kali ∆G (αG ∆G). Kenaikan bunga menyebabkan investasi menurun sehingga kenaikan income berkurang menjadi Y1. mengakibatkan income atau output naik dari Y0 ke Y1. kemudian pengeluaran pemerintah mengalamai kenaikan sebesar ∆G sehingga AD juga naik.2 Kebijakan Fiskal.Perhatikan Gambar 7. Peningkatan pengeluaran pemerintah ∆G menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan.

Bila b sama dengan nol maka kurva LM vertikal.2. akibatnya . tetapi kenyataan hanya sampai pada titik E1. semakin kecil b maka semakin tidak respon permintaan uang terhadap perubahan bunga. Titik E1 adalah titik dimana pasar barang dan pasar uang dalam keadaan seimbang.2). artinya peningkatan investasi tidak memberikan dampak sedikitpun terhadap output kecuali hanya menaikan tingkat bunga. Hal ini disebabkan karena kenaikan tingkat bunga telah menyebabkan invesatasi swasta turun sehingga kenaikan output tidak sebesar yang seharusnya (bila bunga tidak naik). dengan kenaikan pengeluaran pemerintah seharusnya output naik sebesar αG ∆G sampai mencapai titik E2. Karena income tidak naik saving juga tidak naik. sementara supply uang ketat. kemiringan kurva LM ini tergantung dengan koefisien tingkat bunga (b). dan selanjutnya akan menurunkan pengeluaran agregat sehingga income dan output turun kembali. Pertama. yang terjadi adalah kenaikan tingkat bunga. Perhatikan gambar 7. Ini berarti pengeluaran pemerintah telah menggantikan pengeluaran investasi (crowding out). Seperti terlihat pada persamaan (6. hanya akan mendorong kenaikan harga. Efektifitas Kebijakan Fiskal dan Crowding Out ‘Crowding out’ adalah menurunnya dampak dari pengeluaran autonomous (kebijakan fiskal) karena mengakibatkan tingkat bunga naik sehingga pengeluaran invesasi swasta menurun. artinya kurva LM semakin tegak (vertikal). karena hanya akan menaikan tingkat bunga tetapi tidak berpengaruh terhadap income dan output. Full crowding out akan terjadi bila kurva LM vertikal. Kedua. ekspansi fiskal (menaikan pengeluaran pemerintah) tidak menaikan income tetapi justru mendorong naiknya defisit anggaran pemerintah (budget deficit) karena pemerintah harus meminjam kepada masyarakat untuk membiayai deficit tersebut. Dalam jangka pendek mungkin dapat menaikan income tetapi kenaikan income akan menaikan permintaan uang.3 diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat crowding out tergantung dengan kemiringan kurva LM. Menaikan pengeluaran pemerintah. Terkait dengan tidak responsifnya bunga terhadap permintaan uang ini ada tiga analisis yang dapat dikemukakan sebagai berikut. misalnya.pada titik E1 income sama dengan pengeluaran agregat dan permintaanuang sama dengan ketersediaan supply uang. Dalam keadaan ini maka kebijakan fiskal menjadi tidak efektif sama sekali. semakin tegak kurva LM maka semakin tinggi tingkat crowding out. dan sebaliknya bila semakin miring maka crowding out semakin kecil. bila ekonomi dalam keadaan full employment maka kenaikan pengeluaran (agregat spending) tidak akan menaikan output karena semua faktor produksi sudah berkerja penuh. dalam keadaan ekonomi full employment. Dari Gambar 7.

Tetapi bila bila kenaikan pengeluaran pemerintah tersebut mengakibatkan income naik sehingga saving masyarakat juga naik maka dana yang tersedia untuk investasi swasta meningkat sehingga crowding out tidak akan terjadi secara penuh. artinya terjadi crowding out. Kebijakan ini disebut dengan kebijakan akomodatif (accommodating policy). .dana masyarakat yang tersedia untuk investasi swasta menjadi berkurang sehingga investasi menurun. Kenaikan supply uang akan menurunkan tingkat bunga sehingga crowding out tidak terjadi. Hasilnya adalah output dan income naik tetapi tingkat bunga relatif tetap. Ketiga. ekspansi fiskal dalam keadaan ekonomi full employment yang mengakibatkan tingkat bunga naik sementara income dan output tidak naik dapat dicegah bila ekspansi fiskal tersebut diiringi oleh ekspansi moneter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful