KEWAJIBAN NAFKAH IDDAH SUAMI KEPADA ISTRI YANG TELAH DICERAI

(Studi Terhadap Putusan Pengadilan Agama Salatiga No. 394/pdt.G/2005/PA.SAL)

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Disusun Oleh : KHURUL AINI NIM. 211 02 012

JURUSAN SYARIAH PROGRAM STUDY AHWALUSY SYAKHSIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA 2007

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... DEKLARASI .................................................................................................. NOTA PEMBIMBING .................................................................................... PENGESAHAN .............................................................................................. MOTTO .......................................................................................................... PERSEMBAHAN ........................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ......................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ........................................... D. Tinjauan Pustaka .................................................................... E. Kerangka Teori ....................................................................... F. Metode Penelitian .................................................................. G. Sistematika Pembahasan ........................................................ BAB II TUJUAN UMUM TENTANG KEWAJIBAN NAFKAH

i ii iii iv v vi vii ix

1 4 4 5 9 10 13

IDDAH KEPADA SUAMI ISTRI YANG TELAH DICERAI A. Pengertian Iddah .................................................................... B. Dasar Hukum Iddah ............................................................... 15 18

ii

C. Macam-macam Iddah ............................................................. D. Hikmah Disyariatkannya Iddah .............................................. E. Hak dan Kewajiban Suami Istri pada Masa Iddah ................ F. Hak dan Kewajiban Suami Istri pada Masa Iddah .................. BAB III WEWENANG PENGADILAN KEWAJIBAN AGAMA NAFKAH DALAM IDDAH

21 26 31 31

MENYELESAIKAN

KEPADA SUAMI ISTRI YANG TELAH DICERAI A. Kewenangan Pengadilan Agama dalam Menetapkan Nafkah Iddah........................................................................................ 1. Kewenangan Pengadilan Agama ..................................... 2. Kewenangan Pengadilan Agama dalam Menetapkan Iddah ................................................................................. BAB IV PROSES PENYELESAIAN KEWAJIBAN NAFKAH IDDAH SUAMI KEPADA ISTRI YANG TELAH DICERAI A. Proses Penyelesaian dan Sikap Pengadilan Agama terhadap Bekas Suami yang Tidak Menjalankan Kewajiban ................ B. Suami yang Menjalankan Kewajiban dan yang Tidak Menjalankan Kewajiban pada Masa-Masa Iddah Istri yang Telah Dicerai........................................................................... C. Macam-macam Alasan Suami yang Tidak Melaksanakan Kewajiban pada Masa Iddah ................................................... 52 50 43 39 35 35

iii

...................................................BAB V PENUTUP A........................... C............... Saran-saran .................................. Penutup......................................... B...................... Kesimpulan ............................ 55 56 57 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN iv ........................

Suatu perceraian yang telah terjadi antara suami istri secara yuridis memang mereka itu masih mampunyai hak dan kewajiban antara keduanya. dan daerah khusus kota Salatiga. Walaupun ini hanya terjadi di kota-kota besar khususnya seperti yang terjadi di Bandung. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi seperti sekarang ini banyak sekali permasalahanpermasalahan yang timbul. Sehingga Rasulullah melarang keras terjadinya perceraian antara suami istri. Jakarta. . Dan hukum-hukum yang mengatur hal ini. Dimana norma-norma dan kaidah-kaidah yang ada dan mengatur masalah ini sudah dikesampingkan. baik itu dilakukan atas inisiatif pihak laki-laki (suami) maupun pihak perempuan (istri). Karena semua bentuk perceraian itu akan berdampak buruk bagi masing-masing pihak. umumnya pada permasalahan perkawinan. Di Pengadilan Agama (PA) Salatiga banyak pengajuan kasus perkawinan khususnya dalam kasus penyelesaian nafkah iddah. sepertinya sudah tidak diindahkan (dipedulikan) lagi. Pada prinsipnya perkawinan itu bertujuan untuk selama hidup dan untuk mencapai kebahagiaan yang kekal (abadi) bagi suami istri yang bersangkutan. terutama pada saat si istri sedang menjalani masa iddah.BAB I PENDAHULUAN A.

hlm. Bila suami melalaikan kewajibannya maka akan timbul berbagai permasalahan. Jakarta. I. 199 1 2 . ataupun membolehkan Muhammad Daud Ali. Sedangkan mantan istrinya sendiri tidak menutup kemungkinan akan terjerumus ke lembah hitam. 6. Inilah fenomena-fenomena yang sering timbul dari perceraian yang mana suami tidak melaksanakan kewajibannya terhadap hak istri dan anak pada masa iddah. Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia.Iddah adalah waktu menunggu bagi mantan istri yang telah diceraikan oleh mantan suaminya. cet. misalnya si anak putus sekolahnya. Yogyakarta Press. Berkenaan dengan itu kewajiban suami tersebut. Raja Grafindo. baik itu karena thalak atau diceraikannya.2 Dari bunyi di atas sudah jelas bagi suami yang telah menceraikan istrinya wajib untuk menyediakan tempat tinggal. 125 2 Moh. alam Kompilasi Hukum Islam pasal 18 ayat 1 yang berbunyi “Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau mantan istrinya yang masih dalam masa iddah”. PT. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. hlm. cet. Setelah terjadi perceraian pada hakikatnya si suami harus memberikan minimal perumahan pada mantan istri dan anaknya. 1993. Ataupun karena suaminya meninggal dunia yang pada waktu tunggu itu mantan istri belum boleh melangsungkan pernikahan kembali dengan laki-laki lain. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Mahfud. masing-masing masih mempunyai hak dan kewajiban antara keduanya. sehingga anak tersebut menjadi terlantar atau bahkan menjadi gelandangan.1 Pada saat iddah inilah antara kedua belah pihak yang telah mengadakan perceraian.

Bila suami melalaikan kewajiban ini. Akan tetapi ada pula kewajiban tersebut tidak dapat dibebankan kepada mantan suami. Bila tidak mendapatkan kejelasan dan kepastian hukum sudah barang tentu pengajuan perkara haruslah sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh undang-undang. misalnya pada waktu terjadi perceraian tersebut disebabkan istri murtad atau sebab-sebab lainnya yang menjadi sebab suami tidak wajib menunaikan hak istri dan bila telah ada kemufakatan bersama atas putusan Pengadilan Agama tentang nafkah anak tersebut. maka dapat pula nafkah si anak ditanggung bersama antara keduanya (suami-istri). Pengadilan Agama adalah lembaga yang berwenang dalam menyelesaikan masalah nafkah iddah. Dengan pembahasan tersebut diharapkan akan mendapatkan suatu gambaran. 3 . Bertitik tolak dari realitasyang ada ini penyusun merasa terpanggil untuk membahas lebih mendalam tentang penyelesaian nafkah iddah. Namun untuk menyelesaikan masalahmasalah tersebut di atas para pencari keadilan yang selalu agresif mengajukan permasalahannya ke Pengadilan Agama. maka istri dapat mengajukan gugatannya ke Pengadilan Agama. dan jawaban yang konkrit dalam implikasi Pengadilan Agama dan Undangundang kehidupan masyarakat.istrinya untuk bertempat tinggal di rumahnya sampai batas masa iddah habis (berakhir). Gugatan tersebut dapat diajukan bersamasama sewaktu istri mengajukan berkas gugatan atau dapat pula gugatan tersebut diajukan di kemudian.

Perkara yang diterima Pengadilan Agama Salatiga dalam pengajuan cerai talak dan cerai gugat Pengadilan Agama pada tahun 2004 kurang lebih ada 20% perkara yang diputuskan hanya kurang lebih 19%. Dan pada tahun 2005 Pengadilan Agama Salatiga dalam pengajuan cerai thalak dan cerai gugat Pengadilan Agama kurang lebih ada 20% perkara, yang diputuskan oleh Pengadilan Agama hanya kurang lebih 19%. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang merupakan sentral pembahasan dalam skripsi ini, yaitu : 1. Bagaimana konsep nafkah iddah menurut hukum Islam dan perundangundangan di Indonesia? 2. Bagaimana cara penyelesaian nafkah iddah dan pertimbangan hakim Pengadilan Agama Salatiga dalam mengabulkan permohonan nafkah iddah? 3. Bagaimana kesesuaian putusan hakim Pengadilan Agama Salatiga tentang nafkah iddah dengan hukum Islam? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui konsep nafkah iddah menurut hukum Islam dan perundang-undangan di Indonesia.

4

b. Untuk mengetahui cara penyelesaian nafkah iddah dan pertimbangan hakim Pengadilan Agama Salatiga dalam mengabulkan permohonan nafkah iddah. c. Untuk mengetahui kesesuaian putusan hakim Pengadilan Agama Salatiga tentang nafkah iddah dengan hukum Islam. 2. Kegunaan Penelitian Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah : a. Dengan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan dan kontribusi kepada peneliti khususnya dalam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan nafkah iddah. b. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Strata 1 (S-1) dalam bidang hukum Islam (syari’ah) c. Sebagai wacana bagi para pembaca. D. Tinjauan Pustaka Menurut historis iddah telah dikenal sejak zaman dahulu. Orang-orang Arab tidak pernah meninggalkan iddah bagi istri-istri mereka yang telah diceraikan dan ini telah menjadi kebiasaan. Para ulama telah sepakat iddah itu hukumnya wajib bagi istri yang telah diceraikan. Iddah ialah masa tunggu atau tenggang waktu sesuai dengan jatuhnya thalak dari suami, dimana pada masa iddah ini suami boleh untuk merujuk kepada istrinya. Sehingga pada masa iddah ini si istri belum boleh untuk melangsungkan perkawinan dengan laki-laki lain.

5

Pada masa iddah ini sebenarnya untuk meyakinkan kekosongan rahim si istri agar terhindar dari percampuran atau kekacauan nasab bagi anak yang dikandung. Disamping itu untuk memikir kembali atau jalan yang mereka tempuh, apakah untuk merujuk kembali atau tetap meneruskan perceraian yang telah terjadi. Bagi istri yang telah diceraikan oleh suaminya, baik istri tersebut dicerai hidup dari pihak si sumai ataukah si istri tersebut sedang mengandung atau tidak. Maka si istri tersebut wajib untuk menjalani masa iddah sebagaimana tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 153 ayat (1) yang berbunyi : “Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qobla dukhul dan perkawinan putus bukan karena kematian suami”.3 Dari bunyi pasal tersebut di atas dapat dipahami bahwa setiap istri yang diceraikan suaminya diharuskan untuk menjalani masa iddah, yang lama waktunya ditetapkan menurut keadaan istri yang diceraikan atau suami yang menceraikannya, yakni apakah perceraian itu terjadi karena cerai proses pengadilan atau cerai karena kematian. Setelah terjadinya perceraian berdasarkan hukum perdata maupun hukum syara’ si suami dibebankan untuk memberikan perumahan kepada pihak mantan istri. Dan apabila si suami tidak memberikannya, baik itu perumahan ataupun nafkah kehidupan (uang belanja) maka si istri dapat mengajukan masalah tersebut kepada pengadilan agama. Mengajukan tuntutan perumahan ataupun biaya nafkah dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai dan dapat pula diajukan kemudian.

3

Ibid., hlm. 210

6

hlm. Yogyakarta. III. 1997. 1981. maka si istri tersebut tidak mempunyai hak untuk menuntut perumahan dan biaya nafkah. suatu perceraian yang terjadi karena kematian suaminya baik itu perceraian yang terjadi. Akan tetapi adapun si istri mempunyai hak namun si suami tidak wajib menunaikannya. I. 59 5 Azhari Basyir. bila tidak dijalankan maka Pengadilan Agama dapat menjatuhkan eksekusi kepada pihak tersebut. Hukum Perkawinan di Indonesia. Hukum Perkawinan di Indonesia. Ini berakibat si suami mempunyai kewajiban untuk memberi perumahan ataupun nafkah belanja. Menurut Azhar Basyir. Dalam mengeksekusi pihak yang melalaikan putusan majlis hakim tersebut.Kewajiban suami terhdap istri tersebut diatur dalam Undang-undang No. Pengadilan Agama dapat menarik atau meminta bantuan kepada pihak kepolisian. 77 7 . Perceraian yang terjadi karena si istri murtad atau melanggar syara’ lainnya. Bulan Bintang. yang berbunyi : “Pengadilan Agama dapat mewajibkan kepada mantan suami untuk memberikan biaya kehidupan dan atau untuk menentukan suatu kewajiban bagi mantan suami”.5 4 H. Tetapi nafkah dapat diambil dengan menyisihkan sebagian harta peninggalan si suami yang meninggal tersebut. 1 1974 pasal 41 (c). Ini hanya berlaku pada perceraian yang terjadi karena mati atau setelah bercerai si suami meninggal dunia. 4 Suatu yang telah diputuskan di Pengadilan Agama haruslah dipatuhi dan dijalankan oleh pihak-pihak yang bersangkutan. cet. Inipun apabila pihak dirugikan mengadu kepada Pengadilan Agama yakni tentang putusan yang dilalaikan oleh pihak lain. Arso Armojo. Jakarta. hlm. cet. kemudian si suami meninggal dunia maka bekas istrinya tidaklah dapat menuntut hak kepada orang yang telah meninggal dunia.

maka sesudah dibaginya harta si istri dan mendapatkan dispensasi dalam mendapatkan bagiannya. hlm.D.Jadi istri (perempuan) yang ditinggal mati suaminya itu tidak sepenuhnya dia mendapat nafkah namun bila bekas suami tersebut meninggalkan harta yang cukup. suamipun tidaklah berhak untuk melarang dan mengusir istri tersebut dengan alasan apapun. Hidayat. namun ada juga jumlah tunjangan itu ditetapkan oleh hakim dengan pertimbangan dan keadaan suami. di rumah suaminya habis masa iddahnya. Liku-liku Perkawinan. maka istri tetaplah wajib untuk pulang ke rumah suaminya itu begitu ia mengetahui bahwa telah jatuh talak tersebut. P. karena merupakan salah satu hak istri terhadap suami dimana si suami haruslah menunaikannya. 6 M. dan ia haruslah tetap tinggal. Thalib. I. Tholib dalam masalah hak istri pada masa iddah itu menjelaskan bahwa perempuan beriddah mendapatkan hak kediaman (perumahan).6 Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa istri yang telah ditalak suaminya walaupun waktu tidak ada di rumah kediaman suami tersebut. Yogyakarta. M. Dalam tunjangan ini apabila tidak memuaskan dapat mengajukan kembali permohonan supaya penetapan ini hakim ditinjau kembali. Dan suami tidak berhak menyuruh istrinya keluar rumah tersebut. cet. 1986. maka istri tersebut tetap wajib untuk kembali dan tinggal di rumah tersebut. 168 8 . sekalipun telah jatuh talak atau perpisahan ketika tidak di rumah suami. Ada kalanya jumlah tunjangan itu ditetapkan oleh kedua belah pihak atas dasar mufakat.

E. Namun itu merupakan bukti dari peraturan yang kadang terhenti pada tataran teori dan harapan. Sedangkan kehidupan anak yang akan 9 . Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Kerangka Teori Beberapa teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai landasan pemikiran dan sebagai alat analisisnya.7 2. Surat At Thalak ayat 7 ‫ﻟﻴﻨﻔﻖ ذو ﺳ ﻌﺔ ﻣ ﻦ ﺳ ﻌﺘﻪ وﻣ ﻦ ﻗ ﺪر ﻋﻠﻴ ﻪ رزﻗ ﻪ ﻓﻠﻴﻨﻔ ﻖ ﻣﻤ ﺎ‬ ‫ءاﺗﻪ اﷲ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ اﷲ ﻧﻔﺴﺎ إﻻ ﻣﺎ ءاﺗﻬﺎ ﺳﻴﺠﻌﻞ اﷲ ﺑﻌ ﺪ ﻋ ﺴﺮ‬ ‫ﻳﺴﺮا‬ Artinya : Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. c. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. 1 tahun 1974 tentang Hak dan Kewajiban Suami Istri pasal 34 a. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Suami wajib melindungi istri dan memberi segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai kewajiban. b. Jika suami atau istri melainkan kewajiban masing-masing dapat mengusulkan gugatan ke pengadilan Dari bunyi pasal di atas dapat diketahui bahwa kewajiban seorang ayah dalam memenuhi hak-hak anaknya. Hendaknya diberikan untuk baik semasa perkawinan maupun sesudah perceraian dengan ibu dari anaknya. Undang-undang Perkawinan No. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. 1.

hlm. 7 Departemen Agama RI. Metode Penelitian 1.menekan biaya adalah realitas yang tidak bisa ditawar. Al Qur'an dan Terjemahnya. Pendekatan historis ialah penulis mempelajari sejarah perkembangan dari tahun ke tahun “kewenangan Pengadilan Agama Salatiga dalam menyelesaikan nafkah serta proses penyelesaian iddahnya di Pengadilan Agama” b. Pendekatan Aplikatif Pendekatan aplikatif ialah dengan mengalisa tiap permasalahan yang terjadi dari tahun ke tahun dan menganalisa tentang sikap Pengadilan Agama dalam menyelesaikan permasalahan dengan tidak mengakibatkan faktor-faktor situasi dan ruang lingkup dimana mereka berada. Yayasan Penyelenggara. Metode Pendekatan Beberapa pendekatan yang penyusun pergunakan untuk melaksanakan penelitian ini. sehingga kesadaran hukum untuk melaksanakan peraturan sangatlah dibutuhkan atau dengan kata lain terbentuknya peraturan idenya efektif pelaksanaannya. antara lain : a. F. 1986. Bagaimana nasibnya anak yang lahir dari seorang ibu yang telah disertai oleh suaminya kalau pasal di atas tidak terlaksana. Sehingga yang dibutuhkan adalah penanganan secara riil dan serius. 916 10 .

Yang dimaksud “kewenangan Pengadilan Agama” ialah suatu proses hukum dimana Pengadilan Agama atau majlis hakim berhak untuk memeriksa. selama masalah tersebut dalam ruang lingkup kewenangan Pengadilan Agama. Sehubungan dengan wilayah 11 . terlebih dahulu perlu diketahui tentang jenis data yang diperlukan dalam kaitannya. menetapkan dan memutuskan perkara atau permasalahan yang diajukan oleh pihak-pihak untuk mendapatkan kepastian hukum. 4. Yang dimaksud masa iddah ialah masa tunggu bagi si istri yang telah diceraikan oleh suaminya dimana istri belum boleh kawin lagi dengan laki-laki lain (bukan suaminya) sebelum masa iddah itu habis dan masa iddah ini juga merupakan masa berfikir bagi suami apakah ia untuk meneruskan perceraian tersebut atau kembali bekas istrinya. Hak itu milik seseorang yang menjadi milik orang lain. Jenis Data Sebelum penyusun kemukaan subyek dari penelitian.2. b. menyelesaikan. Subyek penelitian Subyek penelitian dalam istilah lain dapat pula disebut dengan sumber data: sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data itu dapat diperoleh. Yang dimaksud dengan “nafkah iddah akibat perceraian” sesuatu pemberian yang berupa nafkah yang diberikan pada seorang istri. 3. Definisi Operasional a. c.

Populasi. Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang sehubungan dengan penelitian ini. berdasarkan tujuan.8 Dari 723 kasus yang diklasifikasikan. 6. maka dikenal dengan populasi dan sampel. Wawancara (interview) Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab sepihak secara sistematis. b. a. 5. meliputi masyarakat yang telah bercerai berai di Pengadilan Agama Salatiga berjumlah 227 kasus pada tahun 2004 dan pada tahun 2005 berjumlah 231 b. Studi Pustaka Studi pustaka yaitu membaca buku-buku literature dan mengkajinya sesuai dengan pembahasan yang ada hubungan dengan pembahasan yang dibahas. Metode Analisis Data Setelah seluruh data-data terkumpul maka barulah langkah selanjutnya penyusun menentukan bentuk pengolahan terhadap data-data tersebut antara lain : 12 . Sampel diambil berdasarkan penelitian subjektif bahwa sampel benarbenar mencerminkan populasi. maka penyusun menggunakan metode antara lain : a.sumber data yang dijadikan sebagai sumber penelitian. wawancara ini dilakukan dengan hakim pengadilan Agama yang berwenang.

tinjauan pustaka.a. dan kewajiban suami istri pada masa iddah. G. metode pembahasan dan sistematika pembahasan. dan masing-masing bagian disusun secara sistematis sebagai berikut : Pada bab I ini dimuat tentang latar belakang masalah. Bab II berisi tentang tujuan umum tentang masa iddah yang meliputi antara lain: pengertian iddah. Sistematika Pembahasan Skripsi ini terdiri dari tiga bagian. hikmah disyari’atkan iddah. hak dan kewajiban suami dan istri yang telah dicerai. macam-macam iddah. Bab IV berisi tentang proses penyelesaian hak dan kewajiban suami istri pada masa iddah yang meliputi proses penyelesaian dan sikap di 8 Ibid. kewenangan Pengadilan Agama dalam menetapkan iddah mantan istri. dasar hukum iddah. kerangka teori.. Bab III memuat tentang wewenang Pengadilan Agama dalam menyelesaikan masalah yang meliputi. Induktif yaitu cara berfikir yang bertitik tolak dari kenyataankenyataan khusus berupa fakta-fakta menuju kepada suatu kesimpulan yang sifatnya umum. 147 13 . b. perumusan masalah. Komparatif yaitu membangun suatu pendapat atau data dengan pendapat atau data lain barulah kemudian diambil kesimpulan. c. hlm. Deduktif yaitu cara berfikir yang titik tolak dari kebenaran-kebenaran yang sifatnya umum menuju ke arah yang sifatnya khusus. tujuan dan kegunaan penelitian.

Pengadilan Agama terhadap bekas suami yang tidak mampu menjalankan kewajibannya pada masa iddah istri. 14 . sehingga menjadi kesimpulan sebagai bagian penutup bagian ini juga berisi tentang kesimpulan dan saran. Bab V berisi tentang hasil analisa yang menggabungkan antara bab ketiga dan keempat.

354.9 Dalam Kamus Arab Indonesia karangan Mahmud Yunus. 8-9 bagian 2 10 Mahmud Yunus. 1. 42 15 . Untuk memudahkan pembahasan kita mengenai pengertian iddah ini. iddah berasal dari kata ‫ ﻋﺪد‬yang mempunyai arti bilangan atau hitungan. Hida Karya Agung.10 ّ 9 Muhammad Idris Abdurra'uf. iddah berasal dari kata ‫ ﻋﺪ‬yang berarti menghitung. Jakarta. 1997. hlm. Kamus Arab Indonesia. Pengertian Iddah Bagi istri yang putus hubungan perkawinan dengan suaminya baik karena ditalaq atau karena ditinggal mati oleh suaminya. mempunyai akibat hukum yang harus diperhatikan yaitu masalah iddah. hlm.BAB II TUJUAN UMUM TENTANG KEWAJIBAN NAFKAH IDDAH KEPADA SUAMI ISTRI YANG TELAH DICERAI A. Dari Segi Bahasa Sebelum kita mengkaji lebih lanjut tentang nafkah iddah terlebih dahulu penulis kemukakan arti iddah ditinjau dari segi bahasa. Al Marbawy Juz I. Darul Ulum Al Islamiyah. Kamus Idris Melayu. Keharusan beriddah merupakan perintah Allah yang dibebankan kepada bekas istri yang telah dicerai baik dia (istri) orang yang merdeka maupun hamba sahaya untuk melaksanakannya sebagai manifestasi ketaatan kepadanya. maka penulis mencoba mengungkapkan dan menyajikan dari dua segi yaitu segi bahasa dan segi istilah.

Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian bahwa iddah itu mempunyai beberapa unsur yaitu : a. Wajib dijalani si bekas istri c. dapat dikemukakan hasil Tim Departemen Agama RI yang merumuskan bahwa iddah menurut pengertian hukum Islam ialah masa tunggu yang ditetapkan oleh hukum Chuzaiman T. cet. Keharaman untuk melakukan perkawinan selama masa iddah Untuk memperjelas pengertian tersebut di atas. Problematika Hukum Islam Kontemporer. antara lain ‫اﺳﻢ ﻟﻠﻤﺪة اﻟﺘﻰ ﺗﻨﺘﻈﺮ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﻤﺮأة وﺗﻤﺘﺴﻊ ﻋﻦ اﻟﺘﺰ وﻳ ﺞ ﺑﻌ ﺪ‬ ‫وﻓﺎة زوﺟﻬﺎ او ﻓﺮاﺗﻪ ﻟﻬﺎ‬ 12 Dari definisi di atas. Dalam hal iddah ini wanita (istri) tidak boleh kawin dengan lakilaki lain sebelum habis masa iddahnya. I. Jakarta. Pustaka Firdaus. Yanggo dkk. maka kata iddah dipakai untuk menunjukkan pengertian hari-hari haid atau hari suci pada wanita.11 2. dapat dipahami bahwa iddah adalah suatu tenggang waktu tertentu yang harus dijalani seorang perempuan sejak ia berpisah. 1994. d.. PT.Dengan demikian jika ditinjau dari segi bahasa. hlm. Suatu tenggang waktu tertentu b. Dari Segi Istilah Para ulama’ telah merumuskan pengertian iddah dengan rumusan. Baik disebabkan karena talak maupun karena suaminya meninggal dunia. 149 11 16 . Karena ditinggal mati oleh suaminya maupun diceraikan oleh suaminya.

Menurut H.. Merujuk pada Peraturan Pemerintah No.13 Jadi iddah itu adalah kewajiban pihak perempuan untuk menghitung hari-harinya dan masa bersihnya dan ini merupakan nama bagi masa lamanya perempuan (istri) menunggu dan tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah pisah dengan suaminya. Dalam rangka membersihkan diri dari pengaruh dan akibat hubungan dengan suaminya itu.syara’ bagi wanita untuk tidak melakukan akad perkawinan dengan lakilaki lain dalam masa tersebut. t.t.14 Bertolak dari beberapa definisi tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa iddah menurut pengertian dalam hukum Islam adalah masa tunggu yang ditetapkan oleh hukum syara’ bagi wanita (istri) untuk tidak melakukan aqad nikah baru dengan laki-laki lain dalam masa tersebut. hlm. 1 tahun 1974 akan kita ambil pengertian yang sifatnya sudah cukup tegas. Sebagai akibat perceraian atau ditinggal mati suaminya. dengan tujuan untuk membersihkan diri dari pengaruh akibat hubungan antara mantan suaminya itu serta sebagai ta’abudi kepada Allah SWT. Fiqih Sunnah. 277 17 . Darul Fikry. Beirut. 9 tahun 1975 yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-undang Perkawinan No. Hal ini disebabkan karena definisi waktu tunggu iddah itu sendiri sudah diulas secara konkrit dan jelas. Arso Sastroadmojo dalam bukunya Hukum Perkawinan Indonesia dijelaskan bahwa : Iddah adalah tenggang waktu dimaa janda bersangkutan tidak boleh kawin bahkan dilarang pula menerima pinangan atau lamaran dengan tujuan 12 Sayyid Sabiq.

Atas dasar inilah si istri tidak diperbolehkan melangsungkan perkawinan baru dengan laki-laki lain. op. op. Dasar dari Al Qur'an ‫واﻟﻤﻄﻠﻘﺎت ﻳﺘﺮﺑﺼﻦ ﺑﺄﻧﻔﺴﻬﻦ ﺛﻼﺛ ﺔ ﻗ ﺮوء وﻻ ﻳﺤ ﻞ ﻟﻬ ﻦ أن‬ ‫ﻳﻜ ﺘﻤﻦ ﻣ ﺎ ﺧﻠ ﻖ اﷲ ﻓ ﻲ أرﺣ ﺎﻣﻬﻦ إن آ ﻦ ﻳ ﺆﻣﻦ ﺑ ﺎﷲ واﻟﻴ ﻮم‬ ‫اﻵﺧ ﺮ وﺑﻌ ﻮﻟﺘﻬﻦ أﺣ ﻖ ﺑ ﺮدهﻦ ﻓ ﻲ ذﻟ ﻚ إن أرادوا إﺻ ﻼﺣﺎ‬ Chuzaimah T.. 149 Muhammad Idris Abdurra'uf.15 Pemahaman ini diinspirasikan secara implisif oleh pasal-pasal yang berhubungan dengan masalah iddah itu sendiri yaitu pasal 11 Undangundang No. Di dalam waktu iddah itu bekas suami diperbolehkan untuk merujuk kepada bekas istrinya. 120 14 13 18 . Dan juga sebagai masa berkabung bila suami yang meninggal dunia dan untuk menentukan masa rujuk bagi suami bila talak itu berupa talak faj’i. Dasar Hukum Iddah Setelah membahas masalah iddah dari segi pengertian. Jakarta. 1 tahun 1974 dan pasal 39 Peraturan Pemerintah No. hlm. dengan demikian pengertian iddah adalah masa tenggang waktu atau tunggu sesudah jatuhnnya talak. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan. 1981. cet. cit. maka di bawah ini penyusun bahas dasar-dasar hukum iddah yang mengacu pada hukum naqli guna memperjelas tentang iddah itu sendiri. Liberty. cet. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. 1. cit. Bulan Bintang. Yogyakarta.. hlm. Sastroadmojo.untuk menentukan nasab dari kandungan janda itu bila ia hamil. 70 16 Soemiyati. 1982. 9 tahun 1975. III. Yanggo dkk. I.16 B. hlm. 15 H.

(QS. jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Beliau bersabda "Apabila seseorang menafkahkan harta untuk keperluan keluarga. jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dasar Hukum Perdata 17 18 Departemen Agama RI. hanya berharpa dapat memperoleh pahala maka hal itu akan dicatat sebagai sedekah baginya. Jakarta. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 1992. Jakarta. Dasar dari Hadits Hadits dari Bukhari dan Muslim yang berbunyi ‫وﻋﻦ أﺑﻰ ﻣﻌ ﺴﻮد اﻟﺒ ﺪرى رﺿ ﻰ اﷲ ﻋﻨ ﻪ ﻋ ﻦ اﻟﻨﺒ ﻲ ﺻ ﻠﻰ‬ ‫اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻗﺎل أﻧﻔﻖ اﻟﺮﺟ ﻞ ﻋﻠ ﻰ اهﻠ ﻪ ﻳﺤﺘ ﺴﺒﺤﺎ ﻓﻬ ﻮ ﻟ ﻪ‬ ‫ﺻﺪﻗﺔ‬ 18 Dari Abu Mas'ud Al Badry ra. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya. Pustaka Amani. Ayat yang demikian ini dalam istilah ilmu ulumul qur’an disebut dengan baqouttilawah wa hukmi adamul 2. akan tetapi kandungan dari hukum ayat tersebut tetaplah dipakai dan dipergunakan sebagai dalil hukum dalam penetapan hukum Islam syara’ yang berkenaan dengan masalah iddah istri.‫وﻟﻬﻦ ﻣﺜ ﻞ اﻟ ﺬي ﻋﻠ ﻴﻬﻦ ﺑ ﺎﻟﻤﻌﺮوف وﻟﻠﺮﺟ ﺎل ﻋﻠ ﻴﻬﻦ درﺟ ﺔ‬ ‫واﷲ ﻋﺰﻳﺰ ﺣﻜﻴﻢ‬ Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Dari Nabi saw. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. 1991-1992 Imam Nawawi. hlm. Riyadhus Sholihin Jilid I. Al Qur'an Terjemah. Al Baqarah : 228) 17 Ayat di atas walaupun sebenarnya telah dinasakh oleh ayat yang kemudian. 308 19 ." 3. Pelita III. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu.

cet. IV. hlm. Pada pasal 153 Kompilasi Hukum Islam tentang Perkawinan dalam menentukan waktu tunggu sebagai berikut : Ayat (1) Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah kecuali qobla ardhukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami. 1987.20 Demikian pula pada Peraturan Pemerintah No. mengatur waktu iddah. Jakarta. Demikian pula dalam pasal 154 dan pasal 155 Kompilasi Hukum Islam tentang perkawinan. hlm. (2) Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat satu akan diatur dalam peraturan pemerintah lebih lanjut. 1 tahun 1974 tentang perkawinan ditetapkan waktu tunggu sebagai berikut : Ayat (1) Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu. Hukum Perkawinan Indonesia. 9 tahun 1975. cet. 1 tahun 1974 tentang perkawinan menetapkan waktu tunggu bagi seorang wanita yang putus perkawinan. tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang No.19 Selanjutnya atas dasar pasal 11 Undang-undang No. K.Undang-undang No. Pradya Paramita. Wantjik Saleh. 10 19 20 . 1978. 20 20 Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaan. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur waktu tunggu yang dituangkan pada bab VII pasal 39. PT. Ghalia Indonesia. Jakarta.

QS. 21 Departemen Agama RI. Sedangkan istri yang ditinggal suami dan pernah bersetubuh. op.C. cit. hendaklah mereka menahan diri mereka tiga kali quru' (QS. Telah memberikan klasifikasi dengan tidak menyebut suatu istilah tertentu yang dipergunakan. Sebagaimana firman Allah : 21 ‫واﻟﻤﻄﻠﻘﺖ ﻳﺘﺮﺑﺼﻦ ﺑﺎﻧﻔﺴﻬﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﻗﺮوء‬ Dan perempuan-perempuan yang berthalaq. akan tetapi sebagaimana diketahui bahwa materi dari Undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya merupakan cuplikan yang diambil dari norma masing-masing agama di Indonesia yang didominasi oleh aturan-aturan yang digariskan dalam syariat Islam. 9 tahun 1975 dan Kompilasi Hukum Islam. khususnya dalam Undang-undang No. Sedangkan istri tersebut belum pernah disetubuhi oleh suami yang mentalaknya. 1 tahun 1974 tentang perkawinan serta dalam peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah No. Al Ahzab (33) : 49 21 .. maka bagi si istri tersebut tidak mempunyai masa iddah. Sedangkan secara spesifikasi maka macam-macam iddah itu antara lain ialah : 1. Iddah Perempuan yang Haid Jika perempuannya bisa haid maka iddahnya tiga kali quru'. Macam-macam Iddah Mengenai macam-macam iddah atau waktu tunggu menurut perundang-undangan hukum Indonesia. Al Baqarah : 228) Dengan ayat tersebut di atas jelaslah bahwa istri yang diceraikan oleh suaminya.

‫ﺟﻨﺎح ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﻓﻌﻠﻦ ﻓﻰ اﻧﻔﺴﻬﻦ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮوف‬ Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. 142 24 Arso Sastroadmojo.. Al Baqarah (2) : 234 Sayyid Sabiq. 129 22 .. waktu tunggu bagi yang berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari”24 22 23 Ibid. maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. op. (QS. hal ini berdasar firman Allah SWT yang berbunyi sebagai berikut : ‫واﻟ ﺬﻳﻦ ﻳﺘﻮﻓ ﻮن ﻣ ﻨﻜﻢ وﻳ ﺬرون أزواﺟ ﺎ ﻳﺘﺮﺑ ﺼﻦ‬ ‫ﺑﺄﻧﻔ ﺴﻬﻦ أرﺑﻌ ﺔ أﺷ ﻬﺮ وﻋ ﺸﺮا ﻓ ﺎذاﺑﻠﻐﻦ اﺟﻠﻬ ﻦ ﻓ ﻼ‬ . Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Sabiq sebagai berikut : istri yang kematian suaminya wajib iddah sekalipun belum pernah disetubuhi. QS. cit. cit. ayat (1) sub (b) yang berbunyi sebagai berikut : “Apabila perkawinan putus karena perceraian. hal ini untuk menyempurnakan dan juga untuk menghargai hak suami yang meninggal dunia.. op. Hal ini sebagaimana yang disebut dalam pasal 39 peraturan pemerintah No.23 Istri yang telah dicerai dalam keadaan masih haid harus menjalani iddah (waktu tunggu) selama 3 (tiga) kali suci dan bila diharikan minimal 90 (sembilan puluh) hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya. hlm..maka ia harus beriddah seperti iddah orang yang disetubuhi. Al Baqarah : 234) 22 Wajib iddah bagi istri tersebut dimaksudkan untuk menghormati bekas suaminya. hlm. 9 tahun 1975. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Hal ini berdasarkan pada firman Allah yang berbunyi sebagai berikut : ‫واﻟﺊ ﻳﺌﺴﻦ ﻣﻦ اﻟﻤﺤﻴﺾ ﻣﻦ ﻧ ﺴﺎﺋﻜﻢ ان ارﺗﺒ ﺘﻢ ﻓﻌ ﺪﺗﻬﻦ ﺛﻠﺜ ﺔ‬ ‫اﺷ ﻬﺮ واﻟ ﺊ ﻟ ﻢ ﻳﺤ ﻀﻦ واوﻻت اﻻﺣﻤ ﺎل اﺟﻠﻬ ﻦ ان ﻳ ﻀﻌﻦ‬ ‫ﺣﻤﻠﻬﻦ‬ 25 Dan orang-orang yang putus diantara istri-istri kamu. jika kamu ragu maka iddah mereka itu tiga bulan. 9 tahun 1975 ayat (1) sub (b) yang berbunyi sebagai berikut : 25 Depag RI. Dan orang-orang yang tidak berhaid serta perempuan hamil masa iddahnya ialah sesudah mereka melahirkan (QS. cit. Ath Thalaaq (65) : 1 23 . Ketentuan ini berlaku buat perempuan yang belum baligh dan perempuan yang sudah tua tetapi tidak berhaid lagi. baik ia sama sekali tidak berhaid sebelumnya atau kemudian berhaid akan tetapi putus haidnya..2. Ini sejalan dengan pasal 39 Peraturan Pemerintah No. Iddah istri yang tidak berhaid Istri yang tidak berhaid lagi jika dicerai oleh suaminya atau ditinggalmati oleh suaminya maka mereka (istri) beriddah selama 3 bulan. Ath Thalaq : 4) Sedangkan berdasarkan hukum perdata Indonesia maka istri tersebut harus menjalani masa tunggu selama 90 (sembilan puluh) hari. op.

hal ini dikuatkan oleh Ibnul Qoyyim yang diterangkan oleh Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah bahwa kata quru’ hanya digunakan oleh agama yang berarti haid. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya.“Apabila perkawinan putus karena perceraian. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya... Iddah istri yang telah disetubuhi Iddah istri yang telah disetubuhi masih haid dan adakalanya tidak berhaid lagi. jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. cit. cit. Al Baqarah : 228) Arti quru’ (‫ )ﻗ ﺮوء‬dalam ayat di atas adalah (‫ )ﻗ ﺮوء‬jamak dari kata (‫ )ﻗ ﺮء‬yang berarti haid.إذا ﻃﻠﻘﺘﻢ اﻟﻨﺴﺎء ﻓﻄﻠﻘﻮهﻦ ﻟﻌﺪﺗﻬﻦ وأﺣﺼﻮا اﻟﻌﺪة‬ 26 27 Moh Mahfud. op. op. Sesuai dengan firman Allah sebagai berikut : Massa iddah untuk istri yang telah disetubuhi tetapi tidak mengalai haid maka lama iddah 3 (tiga) bulan atau 90 hari.. jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah.. (QS.. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. hlm. Masa iddah yang masih haid adalah selama 3 kali quru’ sebaaimana disebutkan dalam firman Allah sebagai berikut : ‫واﻟﻤﻄﻠﻘ ﺎت ﻳﺘﺮﺑ ﺼﻦ ﺑﺄﻧﻔ ﺴﻬﻦ ﺛﻼﺛ ﺔ ﻗ ﺮوء وﻻ ﻳﺤ ﻞ ﻟﻬ ﻦ أن‬ ‫ﻳﻜﺘﻤﻦ ﻣﺎ ﺧﻠﻖ اﷲ ﻓﻲ أرﺣﺎﻣﻬﻦ إن آﻦ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ‬ ‫وﺑﻌﻮﻟﺘﻬﻦ أﺣﻖ ﺑﺮدهﻦ ﻓ ﻲ ذﻟ ﻚ إن أرادوا إﺻ ﻼﺣﺎ وﻟﻬ ﻦ ﻣﺜ ﻞ‬ ‫اﻟ ﺬي ﻋﻠ ﻴﻬﻦ ﺑ ﺎﻟﻤﻌﺮوف وﻟﻠﺮﺟ ﺎل ﻋﻠ ﻴﻬﻦ درﺟ ﺔ واﷲ ﻋﺰﻳ ﺰ‬ 27 ‫ﺣﻜﻴﻢ‬ Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.26 3. waktu tunggu bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari”. . Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf.‫.. Al Baqarah 228 24 . 210 Depag RI. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu.

ini didasarkan pada firman Allah yang berbunyi ‫واﻟ ﺬﻳﻦ ﻳﺘﻮﻓ ﻮن ﻣ ﻨﻜﻢ وﻳ ﺬرون أزواﺟ ﺎ ﻳﺘﺮﺑ ﺼﻦ ﺑﺄﻧﻔ ﺴﻬﻦ‬ . At Thalaq : 4) Istri tersebut harus menjalani masa tunggu yakni sampai ia melahirkan bayinya. Iddah perempuan hamil Perempuan yang dicerai atau ditinggal mati suami dan sedang hamil iddahnya sampai ia melahirkan. yang berbunyi sebagai berikut : “Apabila perkawinan putus karena perkawinan sedang janda tersebut dalam keadaan hamil waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan”. Hal ini didasarkan pada firman Allah yang berbunyi sebagai berikut : 28 ‫واوﻻت اﻻﺣﻤﺎل اﺟﻠﻬﻦ ان ﻳﻀﻌﻦ ﺣﻤﻠﻬﻦ‬ Dan Perempuan-perempuan hamil masa iddah mereka ialah sesudah melahirkan (QS... Ini sejalan dengan Kompilasi Hukum Islam pasal 135.‫أرﺑﻌﺔ أﺷﻬﺮ وﻋﺸﺮا‬ 29 Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari… (QS.. Al Baqarah : 234) 28 29 Depag RI. sub (c).. cit. Iddah perempuan yang suaminya meninggal dunia Iddah wanita yang ditinggal suaminya dan ia dalam keadaan tidak hamil maka lama iddahnya ialah 4 bulan 10 hari. Al Baqarah : 234 25 . Ath Thalaaq (65) : 1 Depag RI. 5.4. op. op. ayat (2). cit.

Yanggo dkk. hlm. Akan tetapi ajaran Islam sejak diturunkan telah ditetapkan sebagai pegangan dari semua kelompok dan kaum manusia pada berbagai tempat dan waktu sampai akhir masa (zaman). cit.Dan jika si istri seang hamil maka ia harus menjalani iddah atau masa tunggu sampai ia melahirkan bayinya (anaknya).. op. seperti yang berbunyi sebagai berikut : “Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang antara janda tersebut dalam keadaan hamil. Hikmah Disyariatkannya Iddah Suatu keyakinan yang mesti menjadi pegangan umat Islam ialah ajaran Islam yang termuat di dalam Al Qur'an dan as sunnah merupakan petunjuk Allah yang harus menjadi pedoman bagi manusia khususnya kaum muslimin dan muslimat demi keselamatan hidupnya di dunia maupun di akhirat.. hlm. cit. Berbeda hal dengan ajaran-ajaran yang pernah diturunkan Allah sebelumnya dimana ajaran tersebut hanya diperuntukkan untuk kaum tertentu.31 Demikian pula halnya dengan masalah iddah yang merupakan suatu syari’at yang telah ada sejak zaman dahulu yang mana mereka tidak pernah 30 31 Moh Mafud.30 D. waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan”. Ini sejalan dengan pasal 153 ayat (2). sub (c). Ajaran Islam tidak hanya berlaku untuk kelompok atau kaum di dalam masyarakat tertentu serta tidak pula terbatas pada masa tertentu pula.. 210 Chuzaimah T. op. 148 26 .

Memberikan kesempatan kepada suami istri yang berpisah untuk berfikir kembali. sehingga pada 32 Sayyid Sabiq. Untuk mengetahui bersihnya rahim seorang perempuan. atau dengan kata agar tidak terjadi percampuran dan kekacauan nasab. sehingga tidak tercampur antara keturunan seseorang dengan yang lain. kebaikan perkawinan tidak dapat terwujud sebelum kedua suami istri sama-sama hidup lama dalam ikatan aqadnya. op. hlm. 2. Sebagai Pembersih Rahim Ketegasan penisaban keturunan dalam Islam merupakan hal yang amat penting.33 Untuk lebih jelas dan lebih mendetailnya hikmah disyariatkannya iddah tersebut maka dapat dikemukakan seperti di bawah ini.. Oleh karena itu segala ketentuan untuk menghindari terjadinya kekacauan nisab keturunan manusia ditetapkan di dalam Al Qur'an dan As Sunnah dengan tegas.meinggalkan kebiasaan ini dan tatkala Islam datang kebiasaan itu diakui dan dijalankan terus karena banyak terdapat kebaikan dan faedah di dalamnya. cit. 3.34 Dan disamping itu untuk menghilangkan keraguraguan tentang kesucian rahim perempuan tersebut. 1.32 Para ulama’ telah mencoba menganalisa hikmah disyariatkannya iddah secara global dapat disebutkan sebagai berikut : 1. apakah untuk rujuk kembali kepada istrinya ataukah akan meneruskan cerai tersebut jika hal tersebut dianggap lebih baik. Diantara ketentuan tersebut adalah larangan bagi wanita untuk menikah dengan beberapa orang pria dalam waktu yang bersamaan. 140 27 .

. hlm. 166 35 Kamal Muhtar. cit. cit. Yanggo. Dalam masa ini kedua belah pihak dapat mengintropeksi diri masing-masing guna mengambil langkah-langkah yang lebih baik.. 1987.35 2. hlm. hlm... 230 36 37 Chuzaimah T. Jakarta.nantinya tidak ada lagi keragu-raguan tentang anak yang dikandung oleh perempuan itu apabila ia telah kawin lagi dengan laki-laki yang lain. 120 28 . Bulan Bintang. Kalau pikiran mereka telah jernih dan dingin diharapkan pada nantinya suami akan merujuk istri kembali dan begitu pula si istri tidak menolak untuk rujuk dengan suaminya kembali.37 33 34 Ibid.36 Disamping itu memberikan kesempatan berfikir kembali dengan pikiran yang jernih setelah mereka menghadapi keadaan rumah tangga yang panas dan yang demikian keruh sehingga mengakibatkan perkawinan mereka putus. II. hlm. 167 Soemiyati. op. op. hlm. cit.. Asas Hukum Perkawinan.. dkk. Sehingga perkawinan mereka dapat diteruskan kembali. cet. dkk. op. 140 Chuzaimah T. Kesempatan untuk berfikir Iddah khususnya dalam talak ra’ji merupakan suatu tenggang waktu yang memungkinkan tentang hubungan mereka. Yanggo. Terutama bila mereka telah mempunyai putra-putri yang membutuhkan kasih sayang dan pendidikan yang baik dari orang tuanya.

ia harus melepas bekas istrinya secara baik-baik dan 38 39 Chuzaimah T. Yanggo.3. cit. dkk. Cerai karena mati ini merupakan musibah yang berada di luar kekuasaan manusia untuk membendungnya.38 Jadi apabila perceraian tersebut karena salah seorang suami istri meninggal dunia. Sebaliknya apabila suami berpendapat bahwa tidak mungkin melanjutkan kehidupan rumah tangga kembali. hlm. maka masa iddah itu adalah untuk menjaga agar nantinya jangan timbul rasa tidak senang dari pihak keluarga suami yang ditinggal. op. 231 29 ..39 4. hlm. Apabila bekas suami berpendapat bahwa ia sanggup mendayung kehidupan rumah tangganya kembali. 168 Kamal Mukhtar. cit. Justru itu mereka telah berpisah secara lahiriyah akan tetapi dalam hubungan batin mereka begitu akrab. Kesempatan untuk bersuka cita Iddah khususnya dalam kasus cerai mati. op. bila pada waktu ini si istri menerima lamaran ataupun ia melangsungkan perkawinan baru dengan laki-laki lain. Kesempatan untuk rujuk Apabila seorang istri dicerai karena talak yang mana bekas suami tersebut masih berhak untuk rujuk kepada bekas istrinya. adalah masa duka atau bela sungkawa atas kematian suaminya.. Maka masa iddah itu adalah untuk berpikir kembali bagi suami untuk apakah ia akan kembali sebagai suami istri. maka ia boleh untuk merujuk kembali istrinya dalam masa iddah.

40 Dengan demikian tampak dengan jelas bahwa iddah itu memiliki berbagai keutamaan di berbagai aspek. Meskipun terdapat keyakinan bahwa rahim perempuan (istri) bersih dan diantara mereka (suami istri) tidak mungkin rujuk kembali. 168-169 30 . b.. hlm.. cit. sebab hukum antara pria dan wanita dalam kasus ini hanya terkait pada masalah dhuhul yang menggunakan kesucian rahim. Namun hanya dalam kasus wathsyubhat dan zina perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern tidaklah dapat mengubah ketentuan dalam kasus-kasus yang sudah jelas dikemukakan dan ditetapkan oleh Al Qur'an dan as sunnah. Begitu pula sebaliknya iddah bagi tidaklah istri dapat yang dibenarkan untuk memperpanjang dapat mengakibatkan penganiayaan maupun yang mendatangkan keuntungan baik bagi bekas suami ataupun bagi bekas istri. Sehubungan dengan itu maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa : a.jangan menghalang-halangi bekas istrinya itu untuk kawin dengan lakilaki lain.. hlm. op. c. dkk. 230 Chuzaimah T. Yanggo.41 40 41 Ibid. namun tidaklah dapat dibenarkan bagiperem tersebut (bekas istri) melanggar ketentuan iddah yang sudah dibentukan. yang mana masing-masing mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

Sedangkan kewajiban istri merupakan hak suami yang harus dijalankan oleh istri pada masa iddah.42 Hal ini juga dipertegas dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 81 ayat (1 dan 2) yang berbunyi : 42 Arso Sastroatmodjo. Mendapatkan nafkah selama masa iddah b. 1 tahun 1974 pasal 4 (sub c) yang berbunyi : “Pengadilan Agama dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan atau menentukan suatu kewajiban bagi istri”. Suami wajib memberikan nafkah pada istri b.E. Hak dan Kewajiban Suami Istri pada Masa Iddah Hak istri merupakan kewajiban suami untuk melaksanakan atau memenuhi hak-hak istri. Suami berhak untuk merujuk kembali atau tidak F. Mendapatkan perumahan selama masa iddah c. Hak Istri pada Masa Iddah a. Kewajiban suami pada masa iddah istri a. 95 31 . Istri berhak memutuskan untuk rujuk kembali. Berdasarkan Undang-undang No. hlm. sedangkan kewajiban istri adalah masa berkabung bila ia ditinggal mati suaminya. 2. 1981. Hukum Perkawinan Islam. Hak dan Kewajiban Suami Istri pada Masa Iddah 1. Jakarta. Suami wajib memberikan perumahan pada istri c. Bulan Bintang.

Akan tetapi bila istri itu sendiri yang meninggalkan rumah yang telah ditetapkan tanpa alasan yang dipertanggung jawabkan. kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil 44 43 44 Moh. 2. maka istri tersebut telah dianggap nusyuz. op. Memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya. maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah. 199 Ibid.. Tempat kediaman adalah tempat tinggal43 Berdasar pada pasal di atas dan dipertegas dalam Kompilasi Hukum Islam menunjukkan bahwa perumahan masuk ke dalam kategori dari bunyi pasal dan hukum di atas untuk mewajibkan suami menyediakan tmepat kediaman bagi istri selama masa iddah atau tempat kediaman bagi istri dapat dialih artikan suami memberikan rumah yang lain untuk ditempati istri baik selama pada masa iddah ataupun setelahnya. cit. hlm. sebagaimana yang terdapat dalam pasal 149 (sub a dan b) yang berbunyi antara lain : Bila perkawinan putus karena talak. Memberi nafkah. baik berupa uang atau benda. kecuali bekas istri tersebut qobla audukhul b. 210 32 . Adapun kewajiban lainnya bagi suami adalah memberikan biaya nafkah selama masa iddah. Mahfud. Suami wajib menyediakan tempat tinggal bagi istri dan anak-anaknya atau bekas istrinya yang masih dalam iddah. hlm.1. maka bekas suami wajib : a..

S. Hal ini dikarenakan banyak faktor. Akan tetapi bila tidak terjadi kesepakatan dalam penentuan jumlah maka pengadilan agama dapat menentukan jumlahnya yang disesuaikan dengan kemampuan suami dan tidak memberatkannya. 33 .45 Apabila istri berkeinginan menuntut nafkah iddah. op. salah satunya adalah pendidikan. Adapun suami sendiri yang dengan suka rela tnapa dituntut dulu oleh istri di Pengadilan Agama memenuhi kewajiban istri yang pada masa iddah.47 Mengenai jumlah nafkah iddah istri tersebut sangat relatif. 7 tahun 1989 yang berbunyi : “Gugatan soal pengasuhan anak. nafkah istri dan harta bersama suami istri dapat diajukan bersama-sama dalam gugatan perceraian ataupun sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap”46 Nafkah iddah ini merupakan hak istri pada masa iddah dan kewajiban suami pula untuk melaksanakannya. Akan tetapi dari tahun 1993 sampai 1995 masih relatif kecil yang melaksanakannya. cit. Bila terjadi perselisihan mengenai jumlah. Siti Nurjanah Diaz. dapat dianjurkan dan diberikan pengarahan oleh Pengadilan Agama untuk diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan. maka dapat dilaksanakan berdasarkan pada pasal 86 ayat (1) Undang-undang No.Berdasarkan hasil wawancara dengan hakim Dra. nafkah iddah itu tidak tergantung pada pihak istri itu sendiri.H. nafkah anak. dan sebaliknya diberikan pada saat setelah pembacaan sighot thalak di muka majelis hakim Pengadilan Agama. 45 Siti Nurjannah Dias.

cit. Sesuai dengan penghasilan suami menanggung a. Nafkah. Biaya rumah tangga.Suami dapat untuk tidak melaksanakannya disebabkan si istri melalaikan kewajibannya. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf (a) dan (b) di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya. biaya perawatan diri. biaya perawatan. Biaya pendidikan bagi anak 5. 49 Moh. hlm.48 Ini sesuai dengan pasal 80 ayat (4 dan 7) Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi antara lain : 4. atau sebab yang lainnya yaitu istri mengikhlaskan suami untuk tidak melaksanakan kewajibannya. maka akibat hukumnya hak istri pada masa iddah gugur dengan sendirinya baik perkara tersebut dalam proses pengadilan ataupun tidak. hlm. Mahfud. op. 160 Siti Nurjanah Diaz. cit. op.. kiswah. c. 46 47 Moh. 199 34 . 48 Ibid. op. pengobatan bagi istri dan anak b. Kewajiban suami yang dimaksud ayat (5) gugur apabila istri nusyuz49 Dari bunyi pasal tersebut di atas tampak jelas suami dapat tidak melaksanakan kewajiban yaitu : 1. cit. Apabila si istri dalam keadaan nusyuz. 6. Apabila si istri benar-benar telah mengikhlaskannya 2.. Mahfud. biaya pengobatan istri dan anak. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf (a) dan (b) 7.

Setelah Indonesia merdeka. Kewenangan Pengadilan Agama Pengadilan Agama merupakan suatu badan peradilan yang turut melaksanakan kekuasaan hakim dan memegang peranan penting di dalam melaksanakan Undang-undang perkawinan. dimana dengan peraturan perundang-undangan semakin mempertegas ruang lingkup dan eksistensi kekuasaan wewenang pengadilan agama dalam menegakkan lembaga kehakiman. Hal ini ditandai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Undang-undang No. perkembangan tata hukum pengadilan agama sangat pesat. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung 35 . Kewenangan Pengadilan Agama dalam Menetapkan Nafkah Iddah 3. Undang-undang No. Peraturan perundang-undangan tersebut antara lain : 1. 1 tahun 1976 tentang Perkawinan 3. dimana kewenangan dan ruang lingkup Pengadilan Agama mengalami pasang surut. 14 tahun 1976 tentang Ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman 2.BAB III WEWENANG PENGADILAN AGAMA DALAM MENYELESAIKAN KEWAJIBAN NAFKAH IDDAH KEPADA SUAMI ISTRI YANG TELAH DICERAI G. keberadaan lembaga Pengadilan Agama di Indonesia merupakan wadah untuk menyelesaikan perkara ummat Islam. Undang-undang No.

4. 7 tahun 1989 tentang Undang-undang Peradilan Agama 5. Undang-undang No. cit. Ibid. Pengadilan Tata Usaha Negara52 Dari bunyi pasal tersebut.. hlm.51 Dalam pasal 10 ayat (1) Undang-undang No. Mahfud MD. Jakarta. op. 99 52 36 . 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. 100 hlm. Inpres No. Hill Co. Idris Ramulyo. 50 51 Moh. Pengadilan Agama c. vii M. Hukum Perkawinan di Indonesia. nampak jelas telah adanya klasifikasi lembaga peradilan dan ruang lingkup masing-masing yang berarti menunjukkan kemajuan dalam Tata Hukum Indonesia. seperti Undang-undang No.. hl. Pengadilan Militer d. 1 tahun 1991 tentang Pemasyarakatan Kompilasi Hukum Islam. Dimana peraturan yang menjadi dasar hukum Pengadilan Agama merupakan wujud nyata bahwa kedudukan Pengadilan agama sekarang telah dipertegas dengan perundang-undangan. 1991. Pengadilan Umum b. Ind.50 Dengan adanya perundang-undangan di atas maka nampak jelas kemajuan dan perkembangan Peradilan Agama. 14 tahun 1970 berbagai sebagai berikut : Kekuasaan kehakiman dilakukan pengadilan dalam lingkungan : a.

isinya antara lain : Yang dimaksud dengan “perkawinan” adalah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku yang dilakukan menurut syari’ah. hlm. 14 tahun 1970. berdasarkan penjelasan pasal 49 huruf a. dalamhal orang tua wali.Akan tetapi bila ditilik sampai seberapa jauh ruang lingkup kewenangan mengadili dalam lingkungan Pengadilan Agama maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kewenangan Pengadilan Agama hanya meliputi perkara-perkara tertentu saja. atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat (4) (5) (6) 53 Dispensasi kawin Pencegahan perkawinan Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah M. ini berarti klasifikasi ruang lingkup Pengadilan Agama yang ada belumlah sempurna. maka akan dapat berakibat kesalah pahaman dan kesimpang siuran dalam menentukan batasan-batasan kompetensi absolut dari pada lembaga pengadilan. 3 tahun 2006. op. cit.54 Mengenai kewenangan Pengadilan Agama dan ruang lingkup dalam hubungan dengan Undang-undang Perkawinan No. Yahya Harahap.53 Berdasarkan penjelasan dalam pasal 10 ayat (1) Undang-undang No. 136 37 . antara lain : (2) (3) Izin beristri lebih dari seorang Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun..

. 135 38 . hlm.(7) (8) (9) Pembatalan perkawinan Gugatan kelalaian tas kewajiban suami dan istri Perceraian karena talak (10) Gugatan perceraian (11) Penyelesaian harta bersama (12) Penguasaan anak-anak (13) Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak mematuhinya (14) Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri (15) Putusan tentang sah tidaknya seorang anak (16) Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua (17) Pencabutan kekuasaan wali (18) Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut (19) Penunjukan seoragn wali dalam hal seorang anak yang belum cult up umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya (20) Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasaannya (21) Penetapan asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam 54 Ibid.

dimana semua perkara perdata yang masuk dalam ruang lingkup Pengadilan Agama menjadi yurisdiksi Pengadilan Agama.(22) Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran (23) Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain 55 4. Berarti merupakan kewenangan Pengadilan Agama untuk memutuskan serta menetapkannya. 138 39 . 7 tahun 1989.57 Bunyi pasal 2 Undang-undang No. Kewenangan Pengadilan Agama dalam menetapkan dan memutuskan suatu perkara tertentu itu merupakan kewenangan absolut Pengadilan Agama..56 Ini menunjukkan bahwa penetapan masa iddah itu sendiri merupakan dampak dari suatu perkara perceraian yang dituntutkan. menyelesaikan dan memutuskan atas perkara tertentu. hlm. Masa iddah itu sendiri merupakan akibat dari suatu perceraian dimana permasalahan dari perkara ini termasuk pada kewenangan absolut Pengadilan Agama. Berdasarkan pasal 2 Undang-undang No. 7 tahun 1989 yaitu : “Pengadilan 55 Agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan Ibid. Kewenangan Pengadilan Agama dalam Menetapkan Iddah Kewenangan Pengadilan Agama merupakan sistem yang dimiliki oleh badan peradilan untuk menerima.

Setelah suatu perkara perceraian antara suami istri telah diputuskan. cit..kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu yang mengatur dalam undang-undang ini”. 136 58 Ibid. Bila diperhatikan antara Kompilasi Hukum Islam Bab XVII pasal 30 yang berbunyi : “Bekas suami berhak melakukan ruju’ kepada bekas istrinya yang masih dalam masa iddah”. Sehingga ini merupakan kewajiban dan wewenang Pengadilan Agama untuk menetapkan tenggang waktu masa iddah bagi istri. 60 Ibid. hlm. Pihak istri harus mematuhi putusan tersebut dan menjalankan masa iddah yang telah diputuskan oleh pihak Pengadilan Agama karena itu untuk kepentingan suami istri itu sendiri bila akan ruju’ kembali.... maka dengan demikian Pengadilan Agama menetapkan pula masa iddah istri. Akan tetapi setiap perceraian yang terjadi bagi setiap istri akan mengalami masa iddah. 145 59 Ibid.59 56 57 Moh. hlm. Dalam menetapkan perceraian yang berakibat pula penetapan iddah bagi istri.58 Berdasarkan bunyi pasal di atas bahwa setiap warga negara yang beragama Islam dapat mencari keadilan di Pengadilan Agama dan perangkat Pengadilan Agama harus menerima dan dapat menyelesaikan perkara yang diajukan terutama dalam masalah perceraian. op. hlm. 210 40 . hlm. Mahfud.

hlm. Wakaf dan shodaqoh. Ini menunjukkan bahwa Pengadilan Agama benar-benar hanya menangani perkara-perkara khusus yang menjadi kewenangannya dan diajukan ke Pengadilan Agama. wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam c. Perkawinan b. Sebagaimana yang terdapat dalam pasal 49 ayat (1) yang termasuk perkara dibidang perdata. Hal ini bukan merupakan kewenangan Pengadilan Agama untuk menetapkan sanksi ataupun sejenisnya. Kewarisan.Ini berjalan dengan peraturan perundang-undangan yang ada karena penetapan masa iddah itu sendiri bagi hakim Pengadilan Agama merupaka suatu rangkaian perkara perdata yang diputuskan sebagaimana pula dalam Kompilasi Hukum Islam BAB XVIII pasal 163 (sub i) yang berbunyi : “seorang suami dapat merujuk istrinya yang dalam masa iddah”60 Akan tetapi jika seorang istri tidak mematuhi masa iddah yang telah diputuskan sebagaimana mestinya.61 60 Ibid. 7 tahun 1989 antara lain : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang. memeriksa.. Bunyi pasal 49 ayat 1 (sub a) undang-undang No. 210 41 . memutuskan dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara lain : a.

Adapun dalam penetapan masa iddah itu sendiri walaupun itu merupakan suatu rangkaian dari penyelesaian perkara perceraian akan tetapi merupakan traktat atau kebiasaan hakim-hakim terdahulu dalam menetapkan suatu perkara. 154 42 .Dari bunyi pasal di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa penetapan nafkah iddah itu merupakan tugas dan wewenang Pengadilan Agama dalam yuridisnya. 61 Ibid. hlm..

Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. Sebagaimana bunyi pasal 66 ayat (5) Undang-undang No. 1999.62 Dari bunyi pasal tersebut di atas maka dapat ditarik pengertian bahwa perkara dapat diselesikan dan menjadi hak Pengadilan Agama apakah perkara tersebut dituntutkan di Pengadilan Agama. Yogyakarta.. Proses Penyelesaian dan Sikap Pengadilan Agama terhadap Bekas Suami yang Tidak Menjalankan Kewajiban Pengadilan Agama merupakan lembaga kehakiman yang mempunyai hak dan kekuasaan untuk menerima memeriksa dan memutuskan perkara perdata khusus. 7 tahun 1984 antara lain : “Permohonan soal penguasaan anak. Mahfud. Moh.BAB IV PROSES PENYELESAIAN KEWAJIBAN NAFKAH IDDAH SUAMI KEPADA ISTRI YANG TELAH DICERAI H. dkk. Sebenarnya sikap Pengadilan Agama terhadap bekas suami yang tidak menjalankan kewajibannya pada masa iddah isteri tergantung dari bekas isteri itu sendiri apakah ia mengajukan perkaranya kepada Pengadilan Agama atau tidak. UII Press. nafkah isteri dan harta bersama suami istri dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak ataupun ikrar talak diucapkan”. 159 62 43 . nafkah anak. hlm.

7 tahun 1989 yang berbunyi antara lain : “Tiap pemeriksaan perkara di pengadilan dimulai sesudah diajukan suatu permohonan atau gugatan dan pihak-pihak yang berperkara telah dipanggil menurut ketentuan yang berlaku”64 Bunyi pasal di atas memberikan pengertian bahwa setelah diajukannya suatu permohonan atau gugatan perkara bekas suami melalaikan kewajiban. tetapi istri sudah merelakannya maka Pengadilan Agama tidak berhak menuntut kepada suami.Ini sejalan dengan pasal 77 ayat (5) Bab XII Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi : “Jika suami istri melalaikan kewajibannya. masing-masing dapat mengajukan tuntutan di Pengadilan Agama”63 Apabila suami tidak melaksanakan keputusan Pengadilan Agama tentang keharusan membayar nafkah iddah. maka Pengadilan Agama akan memanggil para pihak untuk diminta keterangannya yang berhubungan dengan pokok permasalahan perkara tersebut.. 198 44 . Jadi permasalahan 63 Ibid. 4. Pengadilan agama berusaha untuk mendamaikan Tentang istri yang memintakan atau menuntutkan kembali ke Pengadilan Agama tentang bekas suami tidak menjalankan kewajiban dapat dilihat. Pada pasal 55 Undang-undang No. hlm. Setelah pemanggilan para pihak Pengadilan Agama berusaha meramalkan para pihak.

dan tidak dapat datang menghadap secara pribadi dapat 64 65 Ibid.. 155 45 .65 Lebih lanjut mengenai permasalahan perdamaian di dalam proses penyelesaian suatu perkara diatur dalam pasal 82 ayat (2) yang berbunyi : “Dalam bidang perdamaian tersebut suami istru harus datang secara pribadi kecuali apabila salah satu pihak bertempat tinggal di luar negeri. hlm. Mendamaikan kedua belah pihak di dalam suatu perkara yang ditangani oleh Dewan Hakim pengadilan itu merupakan salah satu asas Pengadilan Agama.tentang suami yang tidak melakukan kewajiban tersebut Pengadilan Agama dapat menganjurkan kepada si suami untuk diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. 155 Ibid. dan itu menunjukkan salah satu dari asas Pengadilan Agama telah tercapai sebagaimana yang terdapat dalam pasal 56 ayat (2) Undang-undang No.. hlm. 7 tahun 1989 yang berbunyi antara lain : (1) Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada atau kurang jelas melainkan wajib memeriksa memutuskannya (2) Ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) tidak menutup kemungkinan usaha penyelesaian perkara damai. dan bila dalam perdamaian tersebut ada kata sepakat antara kedua belah pihak maka Pengadilan Agama dalam ruang lingkupnya hanya mencukupkan perkara tersebut sampai tercapai perdamaian saja.

9 tahun 1975 yang berbunyi antara lain : 66 67 Ibid. Sebab perdamaian itu sendiri memang sangat layak dan penting dimuat dalam menyelesaikan perkara tersebut. Disamping itu memang di dalam acara perdata usaha untuk mendamaikan oleh dewan majlis hakim Pengadilan Agama terhadap yang berperkara juga diatur dan merupakan hal yang sangat penting. Hukum Perkawinan Indonesia. 1986. 42 46 . Jakarta.diwakili oleh kuasa hukumnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu”. Galia Indonesia.. Wantjik Saleh. 159 K. Kalau kemungkinan upaya perdamaian dapat tercapai di dalam menyelesaikan suatu perkara yang dilaksanakan secara damai dan kekeluargaan itu telah menunjukkan bahwa untuk meneruskan perkara tersebut dianggap selesai pada tahap perdamaian oleh pihak dewan majlis hakim pengadilan Agama. hlm. hlm. karena ini sangat sejalan dengan peraturan perundangan-undangan yang ada tentang perdamaian antara kedua belah pihak yang berperkara.67 Apabila benar-benar telah tercapai perdamaian antara kedua bleah pihak dalam suatu perkara maka Dewan Hakim Pengadilan Agama di dalam menunaikan kewajibannya dan interpensi terhadap perkara tersebut sudah dianggap selesai. seperti yang telah diatur pula pada pasal 31 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.66 Dari bunyi kedua pasal tersebut di atas memberikan suatu pengertian dan batasan tentang ketentuan perdamaian bagi pihak-pihak yang berperkara.

“Selama masalah belum diputuskan usaha perdamaian dapat dilakukan pada setiap sidang-sidang”. 43 47 .. hlm. maka Pengadilan Agama berperan aktif di dalam menyelesaikan masalah tersebut.. Pengadilan Agama berdasarkan pada undang-undang No. Pengadilan Agama Menjatuhkan Putusan Pengadilan Agama di dalam operasionalnya bersikap aktif terhadap para pihak terutama kepada para pihak mantan suami yang tidak menjalankan kewajibannya atau dimintakan di Pengadilan Agama. hlm. 1 tahun 1974 menjelaskan bahwa Pengadilan 68 69 Ibid. 1 tahun 1974 pasal 41 bahwa hakim Pengadilan Agama dapat menetapkan kepada mantan suami untuk memberikan hak istri pada masa iddah.69 5. 80 Ibid. Jadi berdasarkan undang-undang Perkawinan dalam pasal 41 ayat (c) Undang-undang No.68 Di dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan tersebut di atas tidak adanya menunjukkan batasan-batasan ketentuan yang menyatakan bahwa apabila telah tercapainya suatu perdamaian maka dari perdamaian tersebut dapat dibuatkan suatu akta perdamaian yang mana akta tersebut dapat memberikan kekuatan yang sama dengan suatu putusan atau penetapan dimana dapat dijalankan seperti halnya suatu putusan atau penetapan itu sendiri yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Agama dapat memutuskan bahwa suami wajib memberikan biaya penghidupan pada masa iddah bekas istri.70 Sedangkan apabila terjadi perselisihan pendapat antara suami dan istri mengenai besar kecil jumlah nafkah ersbut maka Pengadilan Agama dapat menentukan jumlah dan wujud nafkah iddah kepada istri. 1986.71 Sebagaimana ditegaskan padal 41 ayat (c) Undang-undang No. 124 71 Ibid. Yogyakarta.. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Islam. Ny. 2. dimana jumlah dan wujud nafkah tersebut disesuaikan dengan kemampuan suami dengan tanpa memberatkan si suami. hlm. Soemiyati.72 Bunyi pasal tersebut di atas menunjukkan bahwa Pengadilan Agama sesungguhnya bersifat membantu menyikapi terhadap perkara suami yang diajukan istri ke pengadilan dikarenakan tidak menunaikan kewajiban. cepat biayanya. cet. Sikap pengadilan agama terhadap perkara tersebut adalah memberikan putusan atau penetapan perkara tersebut. 124 72 Ibid. hlm. hlm. 125 70 48 . Liberty.. 1 tahun 1974 berbunyi sebagai berikut : Pengadilan Agama membantu para pencari keadilan dan berusaha sekeras-kerasnya mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana. Dimana dengan sendirinya putusan telah memerintahkan kepada mantan suami untuk menjalankan kewajiban terhadap bekas istri.

155 49 . Kemudian selain ketentuan peraturan perundang-undangan pasalpasal tersebut di atas maka bentuk keputusan atapun penetapan Pengadilan Agama ditegaskan lebih lanjut dalam penjelasan pasal 60 Undang-undang No.. Bila tidak tercapai suatu kesepakatan di dalam musyawarah maka Pengadilan Agama dapat pula dengan wewenangnya menentukan 73 Moh Mahfud.Untuk mengetahui bentuk putusan atau penetapan Pengadilan Agama secara spesifik dapat dirujuk dari ketentuan perundang-undangan pasal 57 ayat (2). 7 tahun 1989 yang berbunyi : “Penetapan dan putusan pengadilan hanya syah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum”. cit. 7 tahun 1989. pasal 59 ayat (2) pasal 60-64 Undang-undang No. hlm. Jumlah nafkah itu sendiri dapat dimusyawarahkan antara kedua belah pihak yang berkepentingan yaitu antara suami dan istri secara langsung.73 Suatu putusan atau penetapan Pengadilan Agama dianggap syah dan mempunyai kekuatan hukum tetap apabila diucapkan pada sidang terbuka untuk umum dan apabila setelah putusan perkara tersebut tidak adanya cacat hukum atau pihak lain mengajukan banding. Dengan sendirinya kedua belah pihak harus mematuhi dan menjalankan daripada isi pokok materi keputusan tersebut. op.

besar kecilnya jumlah nafkah tersebut berdasarkan kemampuan suami dan tidak memberatkan kepada pihak mantan suami. cit. 1 tahun 1991 tentang pemasyarakatan Kompilasi Hukum Islam. 50 . memutuskan dan menyelesaikan perkara perdata khusus pada tingkat pertama bagi orang-orang yang beragama Islam. Implikasinya setiap orang yang beragama Islam dapat mengajukan atau menuntut semua perkara perdata khusus ke Pengadilan Agama sesuai dengan daerah yuridis dan kompetensi absolut. 9 tahun 1975 Undang-undang No. Masalah ini telah diatur dalam peraturan perundang-undangan No. Dari peraturan perundang-undangan yang ada tersebut telah menunjukkan dan merupakan suatu keberadaan Pengadilan Agama di Indonesia itu telah sejajar dengan lembaga pengadilan lainnya. 14 tahun 1970. Undang-undang No.74 I. 74 Sukartun. Salah satu tugas dan wewenang Pengadilan Agama adalah menetapkan nafkah iddah bagi si istri yang dicerai oleh suaminya dimana perkara tersebut merupakan suatu rangkaian perkara perdata dari akibat terjadinya suatu perceraian. 14 tahun 1985 Undang-undang No. 1 tahun 1974 peraturan pemerintahan No. Suami yang Menjalankan Kewajiban dan yang Tidak Menjalankan Kewajiban pada Masa-Masa Iddah Istri yang Telah Dicerai Pengadilan Agama memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa. op. 7 tahun 1989 dan inpres No.

Nafkah iddah itu sendiri adakalanya si suami memberikan secara langsung kepada si istri. 51 . dan ada kalanya diberikan setelah si istri menuntut di Pengadilan Agama. 75 Sukartun.Dari data-data yang didapat berdasarkan data primer Pengadilan Agama Kota Salatiga pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 mengenai pertama perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Kota Salatiga antara lain : 1. op. Tahun 2005 perkara yang diterima Pengadilan Agama Kota Salatiga (1) Cerai talak 231 (2) Cerai gugat 412 75 Dari data di atas maka bisa memberikan gambaran secara nyata dan jelas. terutama data mengenai suami yang menjalankan dan tidak menjalankan kewajibannya pada masa iddah istri. Tahun 2004 perkara yang diterima Pengadilan Agama Kota Salatiga (1) carai talak 227 (2) cerai gugat 356 2. tergantung dari kesediaan si suami atau si istri menuntut nafkah tersebut di Pengadilan Agama atau tidak. Suami yang menjalankan dan tidak menjalankan kewajibannya pada masa iddah istri ini relatif. tuntutan itu bisa diajukan bersama-sama dengan tuntutan cerai atau setelah perkara cerai diputuskan. cit.

1. sangatlah berfariatif. biaya perawatan dari biaya pengobatan bagi istri dan anak (b) Biaya rumah tangga. kiswah. J. atau bisa jadi si istri tidak menuntut nafkah tersebut di Pengadilan Agama.Akan tetapi kewajiban si suami atas nafkah iddah menjadi hilang dikarenakan alasan-alasan yang menyebabkan hilangnya kewajiban si suami terhadap si istri yang telah dicerai. Hal ini dikarenakan berdasarkan pada keadaan suami itu sendiri. biaya perawatan dari biaya pengobatan bagi istri dan anak (c) Biaya pendidikan bagi anak 52 . Seperti kesediaan suami itu sendiri. Alasan suami tidak melaksanakan disebabkan istri itu sendiri merelakan nafkah tersebut Sejalan dengan pasal 80 ayat (4-7) Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi sebagai berikut : (4) Sesuai dengan penghasilan suami menanggung (a) Nafkah. Macam-macam Alasan Suami yang Tidak Melaksanakan Kewajiban pada Masa Iddah Alasan si suami untuk tidak menjalankan kewajiban pada masa iddah bagi mantan istrinya. atau alasan ekonomi seperti mempunyai pekerjaan tapi tidak mencukupi atau tidak mempunyai pekerjaan yang mapan.

Akan tetapi bila perkara tersebut tidak dituntutkan maka dengan sendirinya Pengadilan Agama tidak mempunyai kewenangan untuk berinteraksi dalam perkara tersebut. 7 tahun 1989 yang berbunyi sebagai berikut : 53 . (7) Kewajiban suami yang dimaksud ayat (5) gugur apabila istri nusyuz. 2. maka dengan sendirinya baik secara langsung maupunt tidak langsung hak-hak istri terhadap suami pada masa iddah yang harusnya ia mendapatkannya menjadi gugur atau hilang dengan sendirinya. Alasan tidak melaksanakan nafkah disebabkan istri tidak menuntut nafkah iddah di muka Pengadilan Agama Suatu perkara dapat menjadi kekuasaan dan kewenangan Pengadilan Agama dalam ruang lingkup yurisdiksi dan kekuasaannya apabila perkara tersebut dituntutkan di muka Pengadilan Agama oleh pihak yang berkepentingan. Hal ini sejalan dengan pasal 56 ayat (1) Undang-undang No. Jadi para pencari keadilanlah yang harus agresif dalam menuntut hak-haknya dalam perkara perdata di Pengadilan Agama dengan demikian Pengadilan Agama akan memberikan keadilan seadil-adilnya. (6) Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf (a dan b).(5) Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf (a dan b) di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya. Akibat tidak dituntutnya suatu perkara.

Alasan suami tidak mampu dalam ekonomi Masalah mendasar suami yang tidak menjalankan kewajibannya terhadap istri pada masa iddah adalah dikarenakan permasalahan perekonomian. akan tetapi perkara ini sama sekali belum pernah terjadi dalam bentuk suatu perkara perdata tentang suami tidak mampu di dalam menunaikan kewajibannya pada masa iddah isteri. Apabila suami memang benar-benar tidak mampu dalam masalah ekonomi maka Majelis Hakim Pengadilan Agama dapat membebaskan suami dari tuntutan nafkah iddah tersebut. 155 54 . cit. melainkan wajib memeriksa dan memutuskannya”.“Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dikarenakan alasan kurang jelas. hlm.76 76 Moh Mahfud. 3. op.

2) Istri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya 55 . 1 tahun 1974 tentang hak dan kewajiban suami istri pasal 34 1) Suami wajib melindungi istri dan memberi segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai kewajiban. apa yang Allah berikan kepadanya.BAB V PENUTUP A. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikul beban kepada seseorang melainkan (sekedar). Konsep iddah menurut hukum Islam dan hukum perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. b. Menurut Perundang-undangan Undang-undang Perkawinan No. Menurut hukum Islam Al Qur'an surat At Thalak ayat 7. konsep nafkah iddah dijelaskan yang artinya : Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Kesimpulan Rumusan permasalahan yang merupakan central pembahasan skripsi ini dapat disimpulkan 1.

B. Akan tetapi dalam pengambilan putusan atau ketetapan Pengadilan Agama dalam penyelesaian nafkah iddah melalui sebuah proses pertimbanganpertimbangan yang menyangkut kesepakatan antara suami istri yang mengajukan gugatan perceraian. Maka harus diadakannya penyuluhan-penyuluhan kepada para pihak-pihak terkait tentang undang-undang perkawinan dan aturan-aturan lainnya. 2. 56 . Karena banyak suami istri yang mengajukan gugatan perceraian tidak mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. seorang Hakim Pengadilan Agama Kota Salatiga pada tahun 2005 dalam penyelesaian nafkah iddah sudah ada kesesuaian dengan hukum Islam. Hendaknya masalah hak dan kewajiban suami istri pada masa iddah mendapat perhatian dari instansi terkait terutama lembaga Pengadilan Agama. Seorang Hakim Pengadilan Agama dalam mengmabil keputusankeputusan atau penetapan nafkah iddah mempunyai kekuatan hukum tetap apabila diucapkan pada sidang terbuka untuk umum. Saran-saran 1. Akan tetapi ada beberapa kasus yang diputuskan tidak sesuai dengan hukum Islam hal ini dikarenakan berbagai pertimbangan-pertimbangan sehingga tidak merujuk kembali dengan hukum Islam bahwa nafkah iddah dalam Islam itu wajib dilaksanakan bagi suami yang bercerai dengan istrinya. 3. Dalam pengambilan putusan.3) Jika suami atau istri melalaikan kewajiban masing-masing dapat mengusulkan gugatan ke pengadilan.

Serta hakim jangan sampai dipengaruhi oleh keadaan psikologisnya dan senantiasa memperhatikan manfaat serta madhorot dari pada putusan atau penetapan. 57 . Agar pemerintah dan DPR membuat suatu peraturan perundang-undangan yang mewajibkan kepada setiap perceraian suami istri untuk menjalankan kewajiban-kewajiban suami istri pada masa iddah. Oleh sebab itu semua saran-saran yang sifatnya yang kami sajikan bersifat konstruktif dan penulis harap dengan sangat untuk dapat diterima dengan lapang dada. 3. kekurangan dan kekeliruan. Hal ini untuk menghindari adanya rasa ketidakpuasan dari kedua belah pihak yang berperkara. Dasar hukum putusan harus lebih dilengkapi. Penutup Demikian penyusunan skripsi ini. Karena hal tersebut merupakan sifat manusia sebagai makhluk yang penuh keterbatasan. C. walaupun penulis telah berusaha semaksimal mungkin namun penulis sangat menyadari keterbatasan dalam penyusunannya sangatlah jauh dari kata sempurna.2.

Pustaka Pelajar. Kamus Idris Melayu. Muhammad Daud. Jakarta. Hukum Perkawinan di Indonesia. Bandung. 1982. cet. Kelompol Al-Hadis Imam Nawawi. Yogyakarta. 1986. Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaan. 2. Moh. Kelompok Fiqih dan Ushul Fiqih Mahfud. Soemiyati. cet. Jakarta. Ali. B. ______________. UII Press. Al Penyelenggara. Muh. Jakarta. Kelompok Al-Quran dan Tafsir Departemen Agama RI.. PT. Kelompok Umum Abdurra'uf. 1992 C. 1987. Qur'an dan Terjemahnya. Thalib. Liberty. H. 354. PT. I. dkk. 1987. 6. terj. Yogyakarta. cet. Drs. Mahfud. Sabiq. Arso. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Islam. Jakarta. Sayyid. Al Marbawy Juz I.. Raja Grafindo. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Riyadhus Sholihin Jilid I. Darul Ulum Al Islamiyah. 1981. Bulan Bintang. 1986. 1993. Liberty. Moh. Yogyakarta Press. III. Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. Yogyakarta.DAFTAR PUSTAKA A. 58 . cet. Pustaka Amani. Yogyakarta. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan. Armojo. cet. cet. I. PT Al Ma’ruf. Muhammad Idris. Fiqih Sunnah Jilid VIII. Yayasan D.. Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. Pradya Paramita. 1999.

Kamal. Sastroadmojo. Asas Hukum Perkawinan.. Hukum Perkawinan di Indonesia. cet. Jakarta. Bulan Bintang. Jakarta. Yogyakarta. PT. 1981.Basyir. Hidayat. Jakarta. Yunus. dkk. Jakarta. K. cet. Ramulyo. I. cet. 1986. Ghalia Indonesia. 1994. cet. Muhtar. Thalib. 1978. Ind. I. Kamus Arab Indonesia. 1987. Hukum Perkawinan Indonesia. I. M. Wantjik. cet. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Hukum Perkawinan Indonesia. Jakarta. Liku-liku Perkawinan. Hukum Perkawinan di Indonesia. 1997. Jakarta.. Chuzaiman T. Hill Co. Azhari. Idris. Yogyakarta. 1991. 1986.. III. Wantjik. P. Jakarta. cet. M. Yanggo. 59 . Problematika Hukum Islam Kontemporer. Galia Indonesia. Hida Karya Agung. Pustaka Firdaus. Bulan Bintang. Saleh. II. K. Saleh. Mahmud. IV. 1997.D. H.

MAN 2 Salatiga. lulus tahun 1998 .DAFTAR RIWAYAT HIDUP Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Nama Ayah Alamat Pendidikan : Khurul Aini : Kab. lulus tahun 2001 . lulus tahun 1992 .STAIN Salatiga lulus tahun 2007 Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya.MTs N Salatiga.MI Pulutan. Semarang. 60 . 1 Juni 1980 : Islam : Mujarobah. RT 3 RW 4 Salatiga : . A.Ma : Pulutan.