P. 1
Tantangan Pendidikan Agama Pada Perguruan Tinggi Dalam Membangun Karakter Bangsa

Tantangan Pendidikan Agama Pada Perguruan Tinggi Dalam Membangun Karakter Bangsa

|Views: 124|Likes:
Published by khusni Mubarok

More info:

Published by: khusni Mubarok on Jan 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Sebuah Tinjauan Pemikiran Politik Dosen : Junaidi S Ag, S Ag,M.Hum

NAMA NIM KELAS JURUSAN

: : : :

Khusni Mubarok 11.11.4985 11 S1 TI 05 Teknik Informatika

SEKOLAH TINGGI TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA 2012

Kata Pengantar Dengan nama Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmatNya, baik yang dapat terlihat maupun yang tidak, baik yang lampau maupun yang sekarang. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw yang telah diutus oleh Allah swt untuk membawa agama yang hak bagi seluruh umat manusia, juga kepada seluruh keluarganya, para sahabatnya, serta segenap umatnya. Penulis memanjatkan syukur alhamdulillah ke hadapan Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga dapat menyelesaikan Tugas penggani uas yang berjudul ³TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA´ terdapat indikasi kuat mengenai hilangnya nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa kita,seperti kejujuran, kesantunan, dan kebersamaan, cukup menjadikan keprihatinan kita bersama Harus ada usaha untuk menjadikan nilai-nilai itu kembali menjadi karakter yang kita banggakan di hadapan bangsa lain.Salah kita harus satu upaya ke arah itu adalah

memperbaiki sistem karakter..

pendidikan

menitikberatkan

pada pendidikan

Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan

segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada : 1. Bapak Junaidi S Ag, S Ag,M.Hum selaku dosen agama 2. Bapak dan Ibuku tercinta beserta semua keluarga terima kasih atas segala kasih sayang, kepercayaan, dukungan dan do¶a yang tak henti-hentinya mengalir disetiap waktu dalam sujud pada Illahi Rabbi. 3. Teman-teman kelas seangkatan serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materiil dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga amal mereka mendapat pahala dan ridha Allah swt, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, sehingga penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Yogyakarta, 17 Januari 2012 Penulis

Khusni Mubarok

BAB I PEMBAHASAN

1.1 Pendidikan Agama Islam Menurut Sri Esti Wuryani Djiwandono (2002:8) pendidikan adalah usaha sadar, sistematis dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi manusia. Mu¶arif (2005:64) mendefinisikan pendidikan adalah proses untuk mengembalikan manusia pada konsep fitrahnya, adalah proses untuk memanusiakan manusia (humanisasi). Yaitu mengembalikan kondisi manusia yang berada dalam jeratan krisis sosial akibat dominasi peran dari beberapa pelaku sosial yang ada. Rahman Abror (1993:23) menyatakan Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengembangkan potensi rasa agama dan memberikan sifat serta memberikan kecakapan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, agar terbentuk kristal nilai (keyakinan). Sedangkan menurut Zakiah Daradjat (1989:87), Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Muhammad Ismail Yusanto (2004:47) menyatakan Pendidikan Islam dalam pandangan Islam harus merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Upaya seperti ini harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem hidup

Islam. Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam, pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil bagi supra sistem tersebut. Sementara sub-sistem yang membentuk sistem pendidikan Islam antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan. Proses pendidikan dapat terjadi di mana saja, sehingga berdasarkan

pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut, dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan pendidikan formal yang telah ditetapkan. Untuk

maka tujuan pendidikannya ditentukan berdasarkan tingkat

kebutuhan dan tetap bermuara pada tujuan pendidikan Islam. Selanjutnya, hasil pendidikan ini dikembalikan kepada supra sistem atau lingkungan. Dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan menjadi indikator efektifitas dan efisiensi proses pendidikan dalam sistem pendidikan. Dari hasil pendidikan,

sistem pendidikan beroleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan. Melalui gambaran pendidikan secara sistemik di atas diketahui bahwa terdapatnya kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal) adalah semata-mata didasarkan atas kemampuan anak didik sebagai sub sistem masukan dalam menjalani proses pendidikan. Untuk menjaga

kesinambungan proses pendidikan dalam menjabarkan pencapaian tujuan pendidikan,

maka keberadaan kurikulum pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, materi dan metode belajar juga tak kalah pentingnya. 1.2 Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, yang sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum) yaitu kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat. Mata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988 menggariskan bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila ³bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani« dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya

sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa´. Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek fisik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya, aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Pendidikan Tinggi merupakan arasy tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berkepribadian nasional yang kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya, memiliki rasa solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang seperti inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional yakni ³«masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual.

1.3 Hakekat Karakter
Menurut Simon Philips dalam Buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A (2007:80) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ´ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.´ Hal yang selaras disampaikan dalam Buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:233) yang mengartikan karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas bangsa. Sementara Winnie memahami bahwa istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti µto mark¶ (menandai). Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan µpersonality¶. Seseorang baru bisa disebut µorang yang berkarakter¶ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral. Sedangkan Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketikamuncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Dari pendapat di atas difahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi µpositif¶, bukan netral. Jadi, µorang berkarakter¶ adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan

membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman (Gedhe Raka, 2007:5) yang mengaitkan secara langsung ¶character strength¶ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari µcharacter strength¶ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan citacita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya

BAB II PENDEKATAN

1.4 Pendidikan

1.4.1 Pembinaan Karakter Siswa di Sekolah Pembinaan karakter siswa di sekolah berarti berbagai upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam rangka pembentukan karakter siswa. Istilah yang identik dengan pembinaan adalah pembentukan atau pembangunan. sekolah, sekarang lagi digalakkan pembentukan kultur

Terkait dengan

sekolah. Salah satu kultur yang dipilih sekolah

adalah kultur akhlak

mulia. Dari sinilah muncul istilah pembentukan kultur akhlak mulia di sekolah. Pengalaman Nabi Muhammad membangun masyarakat Arab hingga menjadi manusia yang berakhlak mulia (masyarakat madani) memakan waktu yang cukup panjang. Pembentukan ini dimulai dari membangun aqidah mereka selama kurang lebih tiga belas tahun, yakni ketika Nabi masih

berdomisili di Makkah. Selanjutnya selama kurang lebih sepuluh tahun Nabi melanjutkan pembentukan akhlak mereka dengan mengajarkan syariah

(hukum Islam) untuk membekali ibadah dan muamalah mereka sehari-hari. Dengan modal aqidah dan syariah serta didukung dengan keteladanan sikap dan perilaku Nabi, masyarakat madani (yang berakhlak mulia) berhasil dibangun

Nabi yang kemudian terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sepeninggal Nabi. Michele Borba juga menawarkan pola atau model untuk

pembudayaan akhlak mulia. Michele Borba menggunakan istilah membangun kecerdasan moral. Dia menulis sebuah buku dengan judul Building Moral Intelligence: The Seven Essential Vitues That Kids to Do The Right Thing,2001 (Membangun Kecerdasan Moral: Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi, 2008). Kecerdasan moral, menurut Michele Borba (2008: 4), adalah kemampuan seseorang untuk memahami hal yang benar dan yang salah, yakni memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga ia bersikap benar dan terhormat. adalah sifat-sifat utama yang dapat mengantarkan seseorang menjadi baik hati, berkarakter kuat, dan menjadi warga negara yang baik. Bagaimana cara menumbuhkan karakter yang baik dalam diri anakanak disimpulkannya menjadi tujuh cara yang harus dilakukan anak untuk menumbuknan kebajikan utama (karakter yang baik), yaitu empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan. Ketujuh macam kebajikan inilah yang dapat membentuk manusia berkualitas di mana pun dan kapan pun. Meskipun sasaran buku ini adalah anak-anak, namun bukan berarti tidak berlaku untuk orang dewasa, termasuk para siswa di SD hingga SMA. Dengan kata lain tujuh

kebajikan yang ditawarkan oleh Michele Borba ini berlaku untuk siapa pun dalam rangka membangun kecerdasan moralnya. Dalam salah satu bukunya, 100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings (1995), Howard Kirschenbaum menguraikan 100 cara untuk bisa nilai dan moralitas (karakter/akhlak mulia) di 7meningkatkan yang bisa

sekolah

dikelompokkan ke dalam lima metode, yaitu: 1) inculcating values and morality (penanaman nilai-nilai dan moralitas); 2) modeling values and morality (pemodelan nilai-nilai dan moralitas); 3) facilitating values and morality (memfasilitasi nilai-nilai dan moralitas); 4) skills for value development and moral literacy (ketrampilan untuk pengembangan nilai dan literasi moral; dan 5) developing a values education program (mengembangkan program pendidikan nilai). Dari pendapat Kirschenbaum ini maka guru pendidikan agama termasuk para guru yang lain bersama-sama dengan sekolah perlu

meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah pembinaan karakter siswa melalui pemaksimalan peran pendidikan agama. Guru agama bersama-sama guru-guru lain perlu

merancang pembelajaran agama di kelas dan di luar kelas yang dapat memfasilitasi siswa agar dapat membiasakan karakter atau akhlak mulia.

Sementara itu, Darmiyati Zuchdi menekankan pada empat hal dalam rangka penanaman nilai yang bermuara pada terbentuknya karakter (akhlak) mulia, yaitu inkulkasi nilai, keteladanan nilai, fasilitasi, dan

pengembangan keterampilan akademik dan sosial (Zuchdi, 2008: 46-50). Darmiyati menambahkan, untuk ketercapaian program pendidikan nilai atau pembinaan karakter perlu diikuti oleh adanya evaluasi nilai. Evaluasi harus dilakukan secara akurat dengan pengamatan yang relatif lama dan secara terusmenerut (Zuchdi, 2008: 55). Dengan memadukan berbagai metode dan strategi seperti tersebut dalam pembelajaran pendidikan agama di sekolah, maka karakter siswa dapat dibina dan diupayakan sehingga siswa menjadi berkarakter seperti yang diharapkan.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan karakter sangatlah diperlukan bagi siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi mahasiswa yang nota bene adalah calon pemimpin dan generasi penerus bagi kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan karakter ini akan lebih baik apabila ditumbuh kembangkan melalui keteladanan, pembelajaran, dan terutama pembiasaan dalam segi agama.

Saran
Model yang seharusnya dikembangkan untuk pengembangan karakter di sekolah berbasis Pendidikan Agama adalah: (1) Pendidikan Agama hendaknya menjadi basis utama dalam pengembangan karakter bagi siswa di sekolah baik SD maupun SMP. Ajaran dasar agama mulai dari keimanan (aqidah), ritual (ibadah dan muamalah), serta moral (akhlak) harus benar-benar ditanamkan dengan baik dan benar kepada siswa agar tidak ada lagi sikap dan perilaku siswa yang menyimpang dari ketentuan agamanya; (2) Sebenarnya karakter atau akhlak sebagai hasil dari proses seseorang melaksanakan ajaran agamanya.Karena itu, harusnya karakter akan

terbentuk dengan sendirinya, jika seseorang telah menjalankan ajaran agamanya dengan baik.

Jadi, Pendidikan Agama harus benar-benar diajarkan secara efektif kepada siswa, jangan terbatas pada nilai kognitif saja, tetapi juga menyentuh sikap dan perilaku agama; dan (3) Hal penting yang perlu diperhatikan dalam rangka pembinaan karakter yang efektif di sekolah adalah visi, misi, dan tujuan sekolah, kebersamaan, ada program-program yang jelas dan rinci, pelibatan semua mata pelajaran dan semua guru, ada dukungan sarana prasarana, dan perlu ada tim khusus

Daftar Pustaka

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Mellenium Baru Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999 Rumusan tujuan pembangunan nasional bangsa dan negara kita. Lihat rumusan yang lengkap dalam GBHN 1988, hal.11 Abdul Majid & Dian Andayani 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung : Rosdakarya. Simon Philips, Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), Doni Koesoema A (2007:80) Zuchdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan yang Manusiawi. Jakarta: PT. Bumi Aksara Kirschenbaum, Howard. 1995. 100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings. Massachusetts: Allyn & Bacon.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->