P. 1
kode etik

kode etik

|Views: 139|Likes:
Published by Yehuda Purba

More info:

Published by: Yehuda Purba on Jan 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

TUGAS ETIKA BISNIS

KODE ETIK PERUSAHAAN GOOD ETHICS, GOOD BUSINESS

DISUSUN OLEH YEHUDA PRANATA PURBA 11084731

FAKULTAS BISNIS PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA 2011

PENDAHULUAN
Dalam sejarah, sudah lama kita mengenal kode etik profesi dalam berbagai bentuk. Dalam zaman modern, selain profesi medis, ada banyak profesi lagi yang memiliki sebuah kode etik khusus, misalnya para pengacara, wartawan, akuntan, insinyur, dan psikolog. Banyak karyawan yang berkecimpung di bidang bisnis, terikat dengan salah satu kode etik profesi. Namun, kode etik perusahaan sendiri mulai muncul sejak tahun 1970-an, antara lain karena terjadinya beberapa skandal korupsi di kalangan bisnis. Perusahaan memerlukan peraturan-peraturan yang ketat dan jelas guna mencegah terjadinya hal-hal negatif seperti korupsi tersebut. Menurut survei yang dilakukan oleh Center for Business Ethics dari Bentley College, Amerika Serikat, pada 1990, maka 93 persen dari perusahaan pada majalah fortune yang disebut ³Fortune 500 service´ dan ³fortune 500 industrial´ memiliki suatu kode etik perusahaan yang tertulis. Di Indonesia sendiri, tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata. Pada umumnya baru sampai tahap pernyataan-pernyataan atau sekedar ³lips-service´ belaka. Sesungguhnya Indonesia harus lebih awal menggerakan penerapan etika bisnis secara intensif terutama setelah tragedi krisis ekonomi tahun 1998. Sayangnya bangsa ini mudah lupa dan mudah pula memberikan maaf kepada suatu kesalahan yang menyebabkan bencana nasional sehingga penyebab krisis tidak diselesaikan secara tuntas dan tidak berdasarkan suatu pola yang mendasar. Sesungguhnya penyebab utama krisis ini, dari sisi korporasi, adalah tidak berfungsinya praktek etika bisnis secara benar, konsisten dan konsekuen. Kode etik tertulis atau dapat disebut sebagai kode etik perusahaan dapat dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, terdapat values statements atau pernyataan nilai. Dokument seperti itu singkat saja tertulis dan melukiskan apa yang diliha perusahaan sebagai misinya. Sering kali disebut nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh pendiri perusahaan. Kedua, ada corporate credo atau kredo perusahaan yang biasanya merumuskan tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholder, khususnya konsumen, karyawan, pemilik saham, masyarakat umum, dan lingkungan hidup. Ketiga, terdapat lagi kode etik yang kadangkadang disebut juga sebagai code of comduct atau code of ethical conduc. Kode etik ini menyangkut kebijakan etis perusahaan berhubungan dengan kesulitan yang bisa timbul atau mungkin pernah timbul di masa lampau, seperti konflik kepentingan, hubungan dengan pesaing dan pemasok, menerima hadiah, sumbangan kepada partai politik, dan sebagainya.

PEMBAHASAN
Kode Etik Perusahaan Pembuatan kode etik adalah cara ampuh untuk melembagakan etika dalam struktur dan kegiatan perusahaan. Jika perusahaan memiliki kode etik sendiri, ia mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memilikinya. Beberapa manfaat kode etik perusahaan adalah sebagai berikut: 1) Kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suat perusahaan, karena etika telah dijadikan sebagai coroporate culture. Hal itu terutama penting secara intern terhadap semua karyawan karena terikat dengan standar etis yang sama, sehingga akan mengambil keputusan yang sama pula untuk kasus-kasus yang sejenis. Misalnya seperti selalu menolak jika akan dilibatkan dalam tindak korupsi. 2) Kode etik dapat membantu dalam menghilangkan grey area atau kawasan kelabu di bidang etika. Misalnya, dalam hal menerima komisi atau hadiah, kesungguhan perusahaan dalam memberantas pemakaian tenaga kerja anak, dan keterlibatan perusahaan dalam lingkungan hidup 3) Kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya. Melalui kode etiknya, perusahaan dapat menyatakan bagaimana ia memahami tanggung jawab sosial melampaui standar minimal tanggung jawabnya. 4) Kode etik memungkinkan perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya kemungkinan untuk mengatur dirinya sendiri (self regulation). Negara tidak perlu campur tangan kecuali jika perusahaan gagal dalam mengatur dirinya sendiri. Hal ini penting karena sistem ekonomi pasar bebas dengan itu disertai perangkat etika. Kerangka moral dari masyarakat bisnis itu sendiri, jauh lebih efektif ketimbang dipaksakan dari luar. Namun terdapat juga beberap kelemahan dalam upaya melembagakan etika di perusahaan. Harapan yang terlampau besar terhadap pelembagaan etika tersebut dalam kenyataan kerap tidak terpenuhi, sehingga banyak orang bersikap skeptis terhadap manfaat kode etik perusahaan. Beberapa kelemahan dari kritik tentang kode etik perusahaan sebagai berikut. 1) Kode etik sering kali hanya sekedar formalitas belaka tapi kurang berperan dalam kegiatan sehari-hari perusahaan. Dengan demikian kode etik menjadi suatu unsur public relations saja, tanpa substansi real. 2) Banyak kode etik perusahaan dirumuskan secara terlalu umum, sehingga tidak menunjukkan jalan keluar bagi masalah moral konkret yang dihadapi oleh perusahaan.

3) Kritik yang paling berat adalah bahwa jarang sekali tersedia enforcement untuk kode etik perusahaan. Jarang sekali ada sanksi untuk pelanggaran kode etik yang membuat kode etik menjadi tidak efektif. Agar aktif, perlu adanya sanksi dalam menegakkan kode etik dan peraturan apa pun.

Ethical Auditing Suatu inisiatif yang menarik adalah pemeriksaan atas kinerja etis dan sosial perusahaan oleh sebuah institut independen. Keberhasilan pemeriksaan seperti itu tentu untuk sebagian besar tergantung pada kredibilitas institut yang melakukannya. Tetapi, yang disayangkan bahwa untuk menilai kinerja sosial dan etis belum ada standar yang jelas dan berbeda di institut yang berbeda. Jika perusahaan memiliki sebuah kode etik, ethical auditing itu secara khusus terfokuskan pada kode etik tersebut. Sebagaimana langsung dimengerti, dengan demikian tersedia metode yang baik sekali untuk menegakkan kode etik perusahaan dengan ikhlas dan konsekuen. Pemeriksaan atas kinereja etis dan sosial itu tidak saja dilakukan terhadap perusahaan, tapi juga terhadap organisasi nirlaba. Organisasi-organisasi seperi itu pun harus berpegang pada standar-standar etis.

Good Ethics, Good Business Bisnis harus berlaku etis demi kepentingan bisnis itu sendiri. Dalam kode etiknya atau dengan cara lain, kini banyak perusahaan mengakui pentingya etika untuk bisnis mereka. Secara empiris telah ditunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai standar etis tinggi tergolong juga perusahaan yang sukses. Namun, kalaupun dapat dibuktikan adanya perkaitan semacam itu, dengan demikian belum terbukti pula bahwa bisnis itu sukses karena etikanya baik. Tidak begitu sulit untuk diterima bahwa etika perlu untuk mencapai sukses dalam bisnis karena tuntutan etis sejalan dengan sukses dalam bisnis. Hal itu terutama berlaku untuk bisnis jangka panjang. Mungkin menipu dan praktek kurang etis lainnya membuat kita mendapat untung sesaat, tetapi cara bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Dalam bisnis, kepercayaan (trust) adalah unsur yang sangat penting dan kepercayaan tentu mengandalkan bonafiditas pada pihak lain. Disamping itu, tidak berarti bahwa etika yang baik selalu merupakan kunci untuk mencapai sukses dalam bisnis. Tidak mustahil bahwa perusahaan yang lebih etis mendapat keuntungan finansial yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak begitu mempedulikan etika. Kendati tidak ada jaminan mutlak, pada umumnya perusahaan yang etis adalah perusahaan yang mencapai sukes juga. Hal itu tidak berarti bahwa harapan akan sukses bisa menjadi satu-satunya motivasi atau malah motivasi utama untuk berperilaku etis.

KESIMPULAN
Pada akhirnya, kode etik perusahaan tetap berguna untuk merumuskan standar etis yang jelas dan tegas untuk semua keryawan dan jangkauan tanggung jawab sosial perusahaan. Hanya perlu dicari lagi jalan untuk menjamin keefektifan kode etik, terutama faktor-faktor berikut dapat membantu. 1) Kode etik sebaiknya dirumuskan berdasarkan masukan dari semua karyawan, sehingga mencerminkan kesepakatan semua pihak yang terkait olehnya. 2) Harus dipertimbangkan dengan teliti bidang-bidang apa dan topik-topik mana yang sebaiknya tercakup oleh kode etik perusahaan. 3) Kode etik perusahaan sewaktu-waktu harus direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan intern maupun ekstern. 4) Yang paling penting adalah bahwa kode etik perusahaan ditegakkan secara konsekuen dengan menerapkan sanksi. Pada masa lampau pernah terdengar kasus pelanggaran etika yang terjadi di tubuh PT Pertamina yang mengakibatkan perusahaan harus menanggung beban biaya hutang yang sangat besar, dan menjadi dampak yang negatif bagi keuangan negara serta nama Indonesia di kancah internasional. PT Pertamina yang saat itu dipimpin oleh Ibnu Sutowo sedang berjaya dan sangat berpengaruh dalam pembangunan di berbagai aspek yang dijalankan oleh pemerintah pusat. Seluruh kejayaan tersebut bertahan hingga akhirnya pada Maret 1975, dimana mulai bermunculan pihak-pihak bank dan kontraktor yang menagih pembayaran hutang oleh Pertamina hingga terkumpul total hutang sebesar US$ 10,5 milyar. Yang menjadi penyebab terciptanya bom waktu ini adalah berbagai pinjaman yang terus menumpuk untuk memenuhi hasrat Ibnu Sutowo dalam mengerjakan berbagai proyek yang juga cukup banyak tidak berhubungan dengan bidang bisnis PT Pertamina. Selain itu juga ditemukan bahwa di beberapa proyek seperti hotel terdapat nama Ibnu Sutowo sebagai pemiliknya. Pelanggaran lainnya yang dilakukan oleh Ibnu Sutowo adalah penggembungan nilai kontrak kapal milik Rappaport yang jauh dari harga pasar yang wajar, dan sebagai imbalannya Ibnu mendapat dana tunai di rekening pribadinya dari Rapparort. Memang tidak bisa disangkal bahwa perusahaan yang memperhatikan etika mungkin memperoleh keuntungan finansial yang lebih sedikit daripada yang tidak. Namun, yang baik harus dilakukan karena hal itu baik, bukan karena membuka jalan menuju sukses atau pun keuntungan sebesar-besarnya, walaupun motivasi ini tidak senantiasa perlu dihayati secara eksplisit. Sejak Aristoteles, hal itu disebut bertingkah laku ³menurut keutamaan´.

PENUTUP
Di Indonesia, sampai sekarang jarang tampak keyakinan bahwa moralitas yang baik merupakan salah satu kunci untuk berhasil di bidang bisnis. Sebaliknya dalam diskusi tentang etika bisnis sering terdengar keluhan mengenai kelemahan perusahaan yang berpegang pada etika daripada yang tidak. Di atas itu semua kita perlu memperhatikan beberapa hal tentang etika bisnis itu sendiri. y Etika hanya bisa berperan dalam suatu komunitas moral. Moralitas bukan merupakan suatu komitmen individual saja, tapi tercantum dalam suatu kerangka sosial. Di Indonesia, cukup lama etika bisnis mengalami kesulitan karena tidak didukung oleh suatu kerangka sosial-politik yang sehat. Kalangan bisnis secara keseluruhan harus berusaha mengubah haluan moral dan menuntut agar penguasa di atas menjamin suatu kerangka moral yang sehat. y Jangka panjang adalah hal yang hakiki untuk berhasil dalam bisnis. Kecenderungan mengutamakan jangka pendek, membuat orang berpendatap bahwa dengan berpegang pada etika akan membawa kekalahan pada persaingan bisnisnya. y Mereka yang meragukan perlunya etika dalam bisnis, sebaiknya tidak melupakan sejarah industrialisasi dan khususnya perjuangan antara liberalisme dan sosialisme. Apalagi kalau keadilan sosial menjadi salah satu dasar dalam ideologi negara kita. Kesejahteraan kaum buruh dan karyawan harus menjadi trade mark dari industri yang kita bangun. Para pekerja harus diakui sebagai stake holders yang paling penting. y Pada akhirnya, orang yang belum diyakinkan tentang pentingnya etika dalam bisnis, perlu mempertimbangkan persepsi dunia luar tentang kinerja bisnis Indonesia. Dalam forum internasional, Indonesia dinilai termasuk negara yang paling korup. Jika kita telah terbuai karena pengalaman rutin setiap hari akan ketidakhadiran etika di dunia bisnis, terutama dalam hal kinerja yang korup, mungkin kita bisa tergugah dengan sorotan tajam dari luar negeri tentang pandangan mereka pada Indonesia. Setelah kita mengerti keadaan yang sebenarnya, tidak ada yang dapat menyangkal lagi bahwa etika bisnis sangat mendesak untuk situasi kita yang amat memprihatinkan ini. Para ekonom terus menjelaskan bahwa korupsi mengakibatkan ³biaya siluman´ yang membuat suatu ekonomi menjadi tidak efisien. Jika kekurangan moralitas dalam kegiatan bisnis kita berlangsung terus, kita semua sebagai bangsa akan kalah terhadap negara-negara tetangga dan negaranegara lebih jauh yang berhasil menjalankan ekonominya dengan efisien.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->