P. 1
Kompilasi Kajian Pemikiran Islam 2

Kompilasi Kajian Pemikiran Islam 2

|Views: 1,225|Likes:
Published by alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Jan 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

pdf

Sections

Oleh:

Abdul Hayyie al-Kattani, Lc

Definisi, Akar Historis dan Sekte-sekte dalam Syiah

Terma "Syi'ah", secara etimologis berarti pengikut dan pendukung. Di dalam al-Quran, akar kata
Syi'ah: syai' atau syuyu' dan derivasinya (penulis juga memasukkan kata jadian yang dihasilkan oleh proses
Isytiqaq akbar a la Ibn Ginni) terulang sebanyak 13 kali. Namun dari ke-13 penggunaan kata tersebut, hanya
ada satu kata yang digunakan dalam konteks kebaikan, yaitu QS. Ash-Shaffat: 83, yang menceritakan
keluarga Nabi Ibrahim AS. yang datang dengan hati bersih. Sedangkan 12 kata lainnya digunakan antara lain
untuk mengungkapkan kelompok yang durhaka kepada Allah (QS. 19:69), dalam permusuhan dan perkelahian
(QS. 28:15), perpecahan (QS. 6:65), pemecah belah agama (QS. 6:159), kelompok Fir'aun (QS. 28:4),
kelompok yang dihancurkan (QS. 54:51), penyebar keburukan (QS. 24:19) dan seterusnya.

Secara terminologis, Syi'ah adalah kaum muslimin yang menganggap pengganti Nabi Saw. merupakan
hak istimewa keluarga Nabi (dalam hal ini 'Ali KW dan keturunannya), dan mereka yang dalam bidang
pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahlul Bait16
.

Dr. Muhammad 'Imarah menegaskan bahwa sekadar merasa cinta kepada ahli bait saja tidak cukup
untuk menggolongkan seseorang sebagai Syi'ah. Seseorang baru bisa dikatakan Syi'ah, menurutnya lagi, jika
ia telah mengimani bahwa Ali KW (23SH-40H/ 600M-661M) telah ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah Saw.
dengan nash dan washiat17
.

51

Tentang awal kemunculan Syi'ah dalam pentas sejarah dunia Islam, para penulis dan sejarawan

terbagi dalam dua varian:

Varian pertama: Berpendapat bahwa tasyayyu'/ syi'ah adalah mazhab pertama yang tumbuh dalam Islam,
dan telah muncul pada masa Rasulullah Saw., dan nama Syi'ah adalah nama sekte pertama yang timbul
dalam Islam. Sahabat-sahabat yang digolongkan Syi'ah adalah: Abu Dzar al-Ghifari r.a., Salman al-Farisi r.a,
Miqdad bin Aswad, dan 'Ammar bin Yasir ra. Pendapat seperti itu tampak pada M.H. Thabathaba'i19
,

Muhammah Jawwad al-Mughniyah20

, M.H. al-Kasyif al-Ghitha21

dan ulama-ulama Syi'ah lainnya. M.H. Kasyif
al-Ghitha malah mengatakan bahwa adalah Rasulullah Saw. sendiri yang telah menanamkan akar Syi'ah22
.

Varian kedua: Berpendapat bahwa jika yang dimaksud adalah Syi'ah dalam pengertian terminologis, maka ia
baru timbul pasca kepemimpinan 'Ali kw. dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pendapat ini tampak
pada penulis-penulis non-Syi'ah. Terutama Mu'tazilah, mereka mengatakan bahwa Syi'ah yang dikenal
sekarang ini baru timbul pada masa Imam Ja'far Shadiq (80-148H/ 599M-765M)23

. Melihat data-data yang
ada, kedua pendapat di atas dapat digabungkan menjadi satu kesimpulan: Bahwa jika yang dimaksud dengan
terma Syi'ah adalah sekadar fenomena keinginan sebagian orang untuk mengangkat 'Ali kw. sebagai khalifah,
maka betul ia adalah mazhab pertama yang dikenal dalam sejarah Islam dan telah tumbuh pada masa akhir
hidup Rasulullah Saw. dan awal kekhalifahan Abu Bakar ra. Namun, jika yang dimaksud dengan terma Syi'ah
adalah sebuah mazhab besar dengan segala teori, pendapat dan perjalanan historisnya, maka ia baru timbul
pada penghujung masa 'Utsman ra, dan awal masa 'Ali kw24
.

Dalam masa hidup ‘Ali kw, menurut Abu Nasywan al-Himyary25

, Syi'ah yang mendukung 'Ali kw dalam

Perang Jamal dan Shiffin dapat diklasifikasikan dalam tiga varian kecenderungan:

Pertama: Adalah kecenderungan mayoritas Syi'ah saat itu, adalah kelompok yang mengakui kekhalifahan
Abu Bakar ra dan 'Umar ra. Mereka juga mengakui kekhalifahan 'Utsman ra hingga pada masa di mana
'Utsman ra telah melakukan perubahan dan melakukan hal-hal yang mereka anggap telah menyimpang.

Kedua: Kelompok yang lebih kecil dari kelompok pertama. Mereka berpendapat bahwa runtutan
kekhalifahan setelah Rasulullah Saw. adalah Abu Bakar ra, 'Umar ra dan 'Ali kw. Sedangkah Kekhalifahan
'Utsman ra tidak mereka akui. Oleh karena itu, menurut al-Jahidz, pada masa awal Islam, yang dinamakan
Syi'i adalah orang-orang yang mendahulukan 'Ali kw atas 'Utsman ra. Sehingga, menurutnya lagi, saat itu
dikenal ada Syi'i dan 'Utsmani. Yang pertama adalah orang-orang yang mendahulukan 'Ali kw atas 'Utsman ra,
sedangkan yang kedua adalah orang yang mendahulukan 'Utsman atas 'Ali kw.

Ketiga: Kelompok yang paling kecil. Yaitu mereka yang menganggap bahwa orang yang paling utama
memangku kekhalifahan setelah Rasulullah Saw adalah 'Ali kw.

Dari ketiga kecenderungan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa mayoritas pendukung
Syi'ah tidak melebihkan 'Ali atas semua sahabat Rasulullah Saw. Namun mereka hanya melebihkannya atas
'Utsman. Dan, pelebihan mereka atas 'Utsman itupun bukanlah sebuah konsensus pemikiran yang diamini

52

oleh semua pendukung Syi'ah, namun mayoritas mereka melebihkannya atas 'Utsman ra. setelah 'Utsman ra
melakukan tindakan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mereka anggap telah melanggar sunnah
Rasulullah Saw. dan dua khalifah sebelumnya26

. Dan, tentu saja apa yang sedang berlangsung pada masa
tersebut adalah sebuah proses tarik-menarik antar masing-masing kekuatan politik dengan masing-masing
pendukungnya. Sesuatu yang logis terjadi dalam sebuah sistem masyarakat di manapun berada.

Perang Jamal dan Shiffin yang berakhir dengan arbitrase, yang kemudian mendorong timbulnya
Khawarij dan Murji'ah, ditambah dengan pembantaian Karbala, mendorong mereka untuk mencari akar
ideologis mereka sendiri. Sejarah memang telah mencatat betapa perlakuan dan nasib yang menimpa
mereka amat malang. Pasca Perang Shiffin yang merenggut kekuasaan politik mereka, diteruskan dengan
pembantaian Karbala dan terbunuhnya Husein ra, sejarah memang tampak tidak berpihak kepada mereka.
Setelah tragedi-tragedi yang menyedihkan tersebut, mereka masih terus dihantui pengejaran serta
pembantaian secara massal terhadap Ahli Bait Rasulullah Saw. dan pendukungnya.

Dalam buku Khilafah dan Kerajaan yang ditulis oleh Abu al-A'la al-Maududi, kita akan merasakan
kesedihan yang dalam (atau malah menangis) ketika membaca penuturan penulis tentang perlakuan-
perlakuan kejam yang telah menimpa keturunan Rasulullah Saw. Dengan cukup jelas ia menguraikan
kejadian demi kejadian yang menimpa Ahlu Bait Rasulullah Saw.

Dalam masa-masa tersebut, terjadi kristalisasi klasifikasi in group dan out group dalam Syi'ah.
Penentuan siapa kita dan siapa orang luar kita makin mengental, terutama proses pembentukan konsep
ideologis dan metode mempertahankan diri. Contoh menarik bagi yang terakhir adalah dibentuknya konsep
taqiyyah sebagai upaya untuk mempertahankan diri, kepercayaan, harta benda, dan harga diri. Syaikh al-
Anshari mendefinisikan taqiyah sebagai berikut: Menjaga diri dari perlakuan buruk dari orang lain dengan
menyetujui perkataan dan perbuatannya yang bertentangan dengan kebenaran27

. Sehingga terjadi kemudian

transformasi kekuatan politik menjadi sebuah sistem ideologi (teologi) dalam Syi'ah.

Pada masa 'Ali k.w, pendukung (Syi'ah) beliau tidak menggunakan nash-nash al-Quran dan Hadits
untuk menjustifikasikan keberhakan 'Ali k.w. dan keturunannya sebagai pemegang kekhalifahan. Hal itu
ditunjukkan oleh sikap 'Ali kw yang membai'at Abu Bakar r.a., 'Umar r.a, dan 'Utsman r.a. Karena jika benar
ada nash yang jelas-jelas menunjuk 'Ali k.w. sebagai pengganti Rasulullah Saw. tentunya 'Ali kw. tidak akan
membai'at orang lain untuk memangku jabatan itu sebanyak tiga kali, tanpa pernah menyinggung nash-nash
itu.

Namun, dalam proses transformasi Syi'ah dari sebuah kekuatan politik menjadi sebuah ideologi
(teologi), kita dapati kemudian semua kecenderungan politis dan teologis Syi'ah telah mempunyai "mantel"
baik dari al-Quran maupun Hadits.

Tentang al-Quran, penghampiran teologis Syi'ah dalam al-Quran tampak dalam klaim yang sering
didengungkan bahwa Syi'ah mempercayai adanya pengurangan dan penambahan al-Quran28

. Walaupun

pendapat itu, saat ini, ditolak oleh banyak ulama-ulama Syi'ah29

, namun pada dataran realitas, klaim
tersebut dapat menemukan justifikasinya karena ia memang tertulis dalam kitab-kitab yang mu'tamad

53

dalam Syi'ah30

. Salah satu bentuk pengurangan al-Quran, menurut Syi'ah adalah penghapusan nama 'Ali k.w.
dalam al-Quran. Misalnya adalah dalam QS. Al-Ahzab: 71. Menurut riwayat al-Kulayni --dalam kitabnya al-
Kâfi31

-- seharusnya tertulis: Wa man yuthi'i Allah wa rasûlahu (fî wilâyati 'Aly wa al aimmah ba'dahu) faqad
fâza
. Bentuk lain penghampiran teologis Syi'ah pada al-Quran adalah dengan menafsirkan dan mentakwilkan
al-Quran sesuai dengan konsep-konsep mazhab tersebut. Misalnya dalam tafsir al-Mîzân karya M.H.

Thathaba'i, kita dapati ketika sampai pada QS. Ali ‘Imran: 163 firman Allah Swt: Hum darajâtun 'inda
Rabbihim
, ia menafsirkan: Dari ash-Shadiq: Orang -orang yang mengikuti keridlaan Allah Swt. adalah para
imam. Mereka, demi Allah! adalah derajat-derajat di sisi Allah bagi orang mu'minin. Dengan loyalitas dan
kecintaan mereka kepada kami, Allah Swt. akan melipat gandakan ganjaran pahala mereka dan mengangkat
derajat mereka. Sedangkan orang-orang yang mendapatkan kemurkaan Allah Swt. adalah orang yang
mengingkari hak 'Ali dan hak imam-imam Ahli Bait. Oleh karena itu mereka mendapat murka Allah Swt.32
.

Dalam tataran hadits, penghampiran teologis terhadap konsep-konsep Syî'ah makin mengental. Di
sini, kita memang dituntut untuk lebih banyak lagi mencurahkan perhatian dan energi. Karena konsep-
konsep ilmu hadits Syi'ah berlainan atau malah, dalam beberapa segi, berseberangan dengan konsep hadits
dalam wacana keilmuan Ahlu Sunnah. Oleh karena itu, pada sub-judul yang akan datang penulis akan
memberikan stressing-point pada kajian hadits dalam wacana keilmuan Syi'ah. Secara sambil lalu, perlu
ditekankan bahwa sekte Syî'ah bukanlah tunggal, namun ia terdiri dari beberapa sekte kecil di dalamnya33
.

Sekte-sekte dalam Syiah

Secara global, sekte-sekte dalam mazhab Syi'ah tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga

varian34
.

Pertama: Kelompok ekstreem/ ghulat

Menurut Imam Abu al-Hasan al-'Asy'ari, mereka adalah kelompok yang telah menyebal dari

kelaziman konsep Syi'ah35

. Sehingga mereka meyakini hal-hal yang membawa kepada kekafiran. Mereka
antara lain menuhankan 'Ali k.w, menuhankan salah seorang pemimpin mereka, mendakwakan diri sebagai
nabi dan lain sebagainya. Dalam kategori kelompok ekstreem ini, menurut Abu al-Hasan al-Asy'ari terdapat
sebanyak 15 sekte. Yaitu: al-Bayâniyyah, al-Janâhiyyah, al-Harbiyyah, al-Mughîriyyah, al-Manshuriyah, al-
Khithâbiyyah, al-Ma'mâriyyah, al-Buzaighiyyah, al-'Umairiyyah, al-Mufadldlaliyyah, asy-Syarî 'iyyah, an-
Numairiyyah, as-Sabaiyyah, dan tiga sekte lainnya yang menuhankan Nabi, 'Ali dan keturunannya36
.

Kedua: Kelompok Imammiyyah

Mereka juga dinamakan sebagai rafîdlah (penolak), karena menurut Abu Hasan al-Asy'ari mereka
menolak dan mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan 'Umar. Dalam kelompok ini terdapat 24 sekte.
Mereka sepakat bahwa Nabi Saw. telah menggariskan bahwa 'Ali k.w.-lah pemangku kekhalifahan setelah
beliau, dengan menyebut namanya secara jelas dan telah mendeklarasikannya kepada umat. Mereka juga
berpendapat bahwa mayoritas sahabat Rasulullah Saw. telah sesat karena tidak mengikuti 'Ali kw setelah

54

wafatnya Rasulullah Saw. Mereka juga berpendapat bahwa imamah hanya dapat diterima jika telah
digariskan oleh nash dan imamah tersebut merupakan hak khusus keturunan Rasulullah Saw37

. Ke-24 sekte

tersebut adalah: al-Qath'iyyah, al-Kaisaniyyah, al-Karbiyyah, ar-Rawandiyyah, ar-Razâmiyyah, Abu
Muslimiyyah, al-Harbiyyah, al-Bayâniyyah, al-Mughîriyyah, al-Husainiyyah, al-Muhammadiyyah, an-
Nasâwiyyah, al-Qarâmithah, al-Mubârakiyyah, as-Samîthiyyah, al-'Ammâriyyah (al-Futhiyyah), az-Zarâiyyah,
al-Waqîfah, al-Musâiyyah, dan beberapa sekte lainnya yang masing-masing mempunyai doktrin yang
berbeda38
.

Ketiga: Kelompok Zaidiyyah

Dalam kelompok ini terdapat 6 sekte39

, yaitu al-Jarudiyyah, as-Sulaimaniyyah, al-Batriyyah, an-
Nu'aimiyyah, al-Ya'qubiyyah dan satu firqah yang berlepas diri dari Abu Bakar r.a. dan 'Umar r.a.40

. M.H. al-

Kasyif al-Githa, dalam kitab Ahlu 'sy-Syî'ah wa Ushûluha, bahkan mengatakan bahwa jika term Syi'ah
diperluas bagi semua sekte yang mengaku sebagai Syi'ah, maka barangkali akan ada seratus atau lebih sekte
dalam Syi' ah. Namun menurutnya lagi, saat ini, terma Syi'ah hanya khusus bagi Imamiyyah sebagai sekte
terbesar setelah Ahlussunnah wa al Jamâ'ah41

. Tentang sekte-sekte di dalam Syi'ah tersebut, sengaja penulis
singgung di sini, untuk menunjukkan bahwa betapa untuk memformulasikan suatu konsep hubungan Sunnah-
Syi'ah, kita akan mengalami kesulitan. Karena masing-masing sekte dalam Syi'ah tersebut mempunyai
doktrin yang berbeda, maka sikap dan penilaian terhadap masing-masing tersebutpun akan berbeda pula.
Namun, dengan pengkhususan nama Syi'ah bagi Imamiah oleh M.H. al-Kasyif al-Githa, penentuan sikap
terhadap Syi'ah akan lebih mudah dilakukan. Dan penulis artikel inipun akan membatasi kajian hadits pada
sekte Syi'ah Imamiyyah. Namun, patut dicatat pula, bahwa pengkhususan yang dilakukan M.H. al-Kasyif al-
Githa tersebut amat arbitrer, karena secara implisit ia telah mencampakkan semua sekte-sekte lain yang
bernaung di bawah bendera Syi'ah selain Imamiyyah. Seperti Zaidiah dan sebagainya. Sikap monopolis
tersebut tentu akan ditentang oleh tokoh-tokoh Syi'ah non-Imamiah. Ironisnya, klaim Syi'ah sebagai mazhab
Ahlul Bait, saat ini amat patut dipertanyakan. Karena pada kenyataannya -seperti dikatakan oleh Sayyed
Hossein Nasr dalam pengantarnya terhadap buku Shi'te Islam, karya M.H.Thabathaba'i- mayoritas Ahlul Bait
saat ini justru bermazhabkan Sunni. Beberapa ulama dari Ahlul Bait, seperti Sayyid Muhammad bin Alawy al-
Hasany di Mekkah misalnya, menjadi ulama-ulama Sunni yang disegani, dan mereka dengan bersemangat
mengcounter dan mengungkapkan kerancuan mazhab Syi'ah itu.

Konsep Hadits dalam Wacana Keilmuan Syi‟ah

Diskursus hadits dalam wacana keilmuan Syi'ah telah mempunyai akar yang panjang dan dilakukan
dengan cukup intens. Perhatian mereka terhadap hadits/ sunnah, menurut sebagian orang, membuat
mereka berhak pula untuk menyandang gelar Ahlu Sunnah wa Syi'ah --namun bukan wa al Jama'ah.

Dr. Muhammad at-Tîjâni as-Samâwie --seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi'ah42

, ketika

melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi'ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî'ah Hum
Ahlu Sunnah43

. Namun demikian, dalam beberapa hal, metodologi hadits Syi'ah amat berlainan dengan
metodologi Ahlu Sunnah. Kajian tentang metodologi hadits dalam Syi'ah Imamiah telah menjadi objek

55

sebuah risalah doktoral di fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar. Pada penghujung tahun 1996, risalah
tersebut telah diuji dan dinyatkan lulus.

1. Term Hadits

Hadits/ Sunnah, secara terminologis, menurut ulama ilmu hadits Ahlus Sunnah Wa al-Jama'ah
adalah: Seluruh hal yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw, baik perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat
fisik maupun akhlak dan sirah beliau44

. Sedangkan dalam wacana keilmuan Syi'ah, perkataan imam-imam
Syi'ah (yang ma'shum, menurut kaum Syi'ah) juga bersatus seperti hadits dan diterima seperti al-Quran45
.

Hal itu karena, menurut M.H. al-Kâsyif al-Githa, imam atau imamah adalah kedudukan Ilahiah yang
Allah pilihkan bagi hamba-Nya, sesuai dengan ilmu Allah, seperti Allah memilih para nabi. Menurut kaum
Syi'ah pula, Allah telah memerintahkan Nabi Saw. untuk menunjukkan imam kepada umat dan
memerintahkan mereka untuk mengikutinya46
.

Substansi khabar, hadits dan riwayat-riwayat tersebut, menurut kaum Syi'ah terbagi menjadi tiga

macam:

Pertama: Khabar dan riwayat yang mengandung petunjuk pembersihan jiwa, akhlak, nasehat dan cara-cara
pengobatan penyakit hati. Dengan muatan berisi pertakut, ancaman, dan dorongan. Atau yang berkaitan
dengan tubuh, seperti kesehatan, penyakit, sakit dan pengobatan. Juga manfaat buah-buahan, tetumbuhan,
pepohonan, air dan batu mulia. Atau yang mengandung do'a, zikir, jampi dan keutamaan ayat-ayat. Serta
semua hal yang disunnahkan, baik dalam pembicaraan, perbuatan, maupun sikap. Itu semua, menurut kaum
Syi'ah, bisa dijadikan landasan untuk beramal ibadah. Dan tidak perlu mencari tahu apakah sanad dan
matannya shahih atau tidak. Kecuali jika ada tanda-tanda yang menunjukkan kepalsuannya.

Kedua: Yang mengandung hukum syara' parsial, taklifi atau wadl'i. Seperti thaharah, berwudlu, cara shalat,
zakat, khumus, jihad dan semua bagian mu' amalat, transaksi yang diperbolehkan. Juga tentang nikah,
thalaq, warisan, hudud dan diyat. Semua khabar dan riwayat tersebut tidak boleh langsung dijalankan.
Namun diberikan kepada faqih yang mujtahid untuk menterjemahkannya. Sedangkan orang awam harus
mengikuti mujtahid marji'.

Ketiga: Khabar dan riwayat yang mengandung pokok-pokok aqidah, seperti pengitsbatan al-Khaliq Swt., juga
tentang hasyr, barzakh, sirâth, mîzân, hisâb dan lain-lain. Khabar dan riwayat seperti ini, jika berkaitan
dengan aqidah dan pokok agama -seperti tauhid, 'adl, nubuwwah, imâmah dan ma'ad, jika khabar tersebut
sesuai dengan dalil-dalil 'aqli, urgensi, dan tanda-tanda yang qath'i, maka ia dapat dijalankan, dan tidak
perlu menyelidiki sanad, keshahihan dan ketidakshahihannya47
.

2. Metoda Klasifikasi Hadits

Hadits, menurut Syi'ah terbagi menjadi dua bagian, mutawattir dan ahad. Hadits mutawattir adalah
hadits yang diriwayatkan oleh sebuah jama'ah yang mencapai jumlah yang amat besar sehingga tidak

56

mungkin mereka berbohong dan salah. Hadits seperti ini adalah hujjah dan harus dijadikan landasan dalam
beramal. Sedangkan hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat tawatur, rawi yang
diriwayatkannya satu atau lebih48

. Kemudian, hadits ahad diklasifikasikan menjadi empat bagian49
:

a. Shahih: Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang penganut Syi'ah Imamiah yang telah diakui ke-
adalah-annya dan dengan jalan yang shahih.
b. Hasan: Yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah seorang Syi'ah Imamiah yang terpuji, tidak ada
seorangpun yang jelas mengecamnya atau secara jelas mengakui ke-adalah-annya.
c. Muwatstsaq: Yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah bukan Syi'i, namun ia adalah orang yang
tsiqat dan terpercaya dalam periwayatan.
d. Dla'if: Yaitu hadits yang tidak mempunyai kriteria-kriteria tiga kelompok hadits di atas, seperti
misalnya sang rawi tidak menyebutkan seluruh rawi yang meriwayatkan hadits kepadanya.

Hadits shahih adalah hujjah menurut kesepakatan seluruh ulama Syi'ah yang mengatakan bahwa

khabar ahad adalah hujjah50

. Sedangkan hadits muwatstsaq dan hasan, menurut pendapat yang masyhur
keduanya adalah hujjah, sedangkan menurut pendapat kedua mengatakan bahwa keduanya tidak dapat
dijadikan hujjah. Namun pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dapat
dijadikan hujjah51

. Adapun hadits dla'if, menurut kesepakatan seluruh ulama Syi'ah tidak dapat dijadikan

hujjah52
.

3. Kitab-kitab Hadits

Dalam kalangan Syi'ah, kitab-kitab hadits yang dijadikan pedoman utama -dan berfungsi seperti
kutub sittah dalam kalangan sunni- ada sebanyak 4 buah kitab.
a. Kitab al-Kâfi. Di susun oleh Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulayni (w. 328 H.). Kitab tersebut
disusun dalam 20 tahun, menampung sebanyak 16.090 hadits. Di dalamnya sang penyusun
menyebutkan sanadnya hingga al-ma'shum. Dalam kitab hadits tersebut terdapat hadits shahih,
hasan, muwatstsaq
dan dla'if 53
.
b. Kitab Ma La Yahdluruhu al-Faqih. Di susun oleh ash-Shadduq Abi Ja'far Muhammad bin 'Ali bin
Babawaih al-Qummi (w. 381 H.). Kitab ini merangkum 9.044 hadits dalam masalah hukum54
.
c. Kitab at-Tahzib. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi (w. 460 H.).
Penyusun, dalam penulisan kitab ini mengikuti metode al-Kulayni. Penyusun juga menyebutkan
dalam setiap sanad sebuah hakikat atau suatu hukum. Kitab ini merangkum sebanyak 13.095
hadits55
.
d. Kitab al-Istibshar. Kitab ini juga disusun oleh Muhammad bin Hasan al-Thusi. Penyusun kitab at-
Tahzib. Kitab ini merangkum sebanyak 5.511 hadits56
.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami' yang besar. Antara lain57
:

a. Kitab Bihârul Anwâr. Di susun oleh Baqir al-Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
b. Kitab al-Wafie fi 'Ilmi al-Hadits. Di susun oleh Muhsin al-Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan
kumpulan dari empat kitab hadits.

57

c. Kitab Tafshil Wasail Syi'ah Ila Tahsil Ahadits Syari'ah. Di susun oleh al-Hus asy-Syâmi' al-'Amili. Di
susun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami' Kabir yang dinamakan asy-Syifa' fi
Ahadits al-Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.
d. Kitab Jami' al Ahkam. Di susun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al-Kâdzimi (w. 1242 H). Terdiri
dalam 25 jilid.

Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan
di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab 'Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al-'Amali.

Kaum Syi'ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadits. Di antara kitab-kitab
tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal karya Ahmad bin 'Ali an-Najasyi (w. 450 H.), Kitab
Rijal karya Syaikh al-Thusi, kita Ma'alim 'Ulama karya Muhammad bin 'Ali bin Syahr Asyub (w. 588 H.), kitab
Minhâj al-Maqâl karya Mirza Muhammad al-Astrabady (w. 1020 H.), kitab Itqan al-Maqal karya Syaikh
Muhammad Thaha Najaf (w. 1323 H.), kitab Rijal al-Kabir karya Syaikh Abdullah al-Mumaqmiqani, seorang
ulama abad ini, dan kitab lainnya59
.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadits Syi'ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah
Ja'far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas,
telah meriwayatkan hadits dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja' fariyyah60
.

Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa 'Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al-Hasan al-
'Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadits61
.

4. 'Adalah Shahabat

Shahabat Rasulullah Saw. adalah: Orang yang berjumpa dengan Rasulullah Saw. dengan cara biasa
dalam masa hidup beliau dan saat itu orang tersebut telah masuk Islam dan beriman62

. Dalam wacana
keilmuan Ahlu Sunnah, seluruh sahabat adalah 'udul. Oleh karena itu, ketika menjalankan proses jarh wa ta'
dil
dalam ilmu hadits untuk menentukan apakah riwayat seseorang diterima atau tidak, Ahlu Sunnah akan
berhenti sampai pada tabi'in (perawi setelah sahabat). Dan mereka tidak memasuki kawasan sahabat,
karena meyakini bahwa sahabat adalah 'udul dengan pengakuan dari Allah SWT. Sehingga tidak perlu
dilakukan analisa jarh wa ta'dil63
.

Sikap mereka tersebut berdasarkan pernyataan ayat al-Quran yang mendeklarasikan keadalahan
sahabat. Ayat-ayat itu antara lain terdapat pada QS. At-Taubah: 117:

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar".

Juga QS. At-Taubah: 100:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan
merekapun ridla kepada Allah".

58

Dan Rasulullah Saw. dalam banyak kesempatan telah berwanti-wanti agar tidak mengusik
kehormatan dan kedudukan sahabat, mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah Swt. Rasulullah
Saw bersabda: "Jangan kalian kecam sahabat-shabatku" (Hadits Muttafaq 'Alaih). Menurut riwayat yang
sahih, imam-imam Syi'ah juga melarang untuk mengecam, sahabat Rasulullah Saw. 64

. Karena Seperti

dikatakan oleh an-Naubakhti dalam kitab Firaq Syi'ah65

, fenomena pengecaman terhadap sahabat justru
dimulai oleh ‗Abdullah bin Saba'; seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan kemudian
menyebarkan perpecahan dalam Islam. Ia pula yang pertama menuhankan Ali k.w. Sedangkan dalam wacana
keilmuan Syi'ah, tidak semua sahabat, menurut Syi'ah, bersipat 'udul65

. Karena di dalam al-Quran juga
diterangkan tentang keberadaan orang-orang munafiq di Madinah, seperti dalam QS. At-Taubah: 101, dsb.
Maka jalan untuk mengetahui mu'min dan munafiknya seseorang, menurut Syi'ah, adalah dengan melihat
apakah orang-orang tersebut cinta kepada 'Ali k.w atau nmembencinya. Jika ia mencintainya, maka ia
adalah mu'min, dan jika membencinya berarti ia adalah munafiq.

Dari logika seperti itu, maka sahabat-sahabat yang mereka anggap telah merampas hak 'Ali k.w.
atau tidak mendukungnya adalah munafik atau kafir. Dalam kitab-kitab kaum Syi'ah akan didapati banyak
cercaan kepada sahabat yang mereka anggap telah munafik, sesat atau malah kafir.

Dalam buku Syubhat Haula Syi'ah, 'Abbas 'Ali al-Musawie membagi sahabat menjadi dua kelompok.
Pertama kelompok yang setia dan kedua kelompok yang mereka anggap telah sesat67
.

Yang pertama adalah sahabat-sahabat seperti 'Ammar bin Yasir, Miqdad dan Abu Dzar al Ghifari.

Sedangkan kelompok yang kedua, menurutnya lagi adalah seperti Mu'awiyyah bin Abi Sufyan, Abu
Hurairah dan al-Walid bin 'Uqbah bin Abi Mu'ith.

Dalam buku-buku kaum Syi'ah akan banyak didapati cercaan terhadap sahabat. Dan cercaan tersebut
tidak hanya terbatas pada shigar sahabat, namun juga menimpa dua Syaikhain: Abu Bakar dan 'Umar ra.
Yang dapat disebutkan di sini adalah, bahwa dengan sikap Syi'ah terhadap sahabat seperti itu, maka kaum
Syi'ah dalam periwayatan hadits, hanya menerima periwayatan dari sahabat-sahabat yang loyal kepada
mereka.

Namun, jika klaim mereka tersebut diterima, maka secara implisit hal itu akan mempunyai dampak
yang luas. Misalnya: Bahwa Rasulullah Saw telah gagal dalam menyampaikan risalahnya, karena mayoritas
sahabat yang beliau didik dan bina telah menyimpang, bahwa kekhalifahan dan dinast-dinasti Islam, serta
capaian peradaban yang telah mereka wujudkan adalah bukan hasil peradaban Islam, karena dilakukan oleh
orang-orang yang --menurut kaum Syi'ah-- telah menyimpang (munafik atau kafir). Dan konsekuensi-
konseksuensi logis lainnya.

Hubungan Sunnah-Syi‟ah di Indonesia: Tauhid Sebagai Common Platform

59

Kembali ke dataran realitas di Indonesia. Masalah yang ada kemudian adalah bagaimana mencari
formulasi yang tepat untuk dalam satu waktu mengambil apa yang baik dari Syi'ah --seperti tradisi filsafat
dan keilmuan yang cukup subur-- dan pada saat yang sama mampu menghindari bias negatif konsep tersebut
bagi kaum muslimin di Indonesia, dan secara lebih umum bagi umat Islam seluruh dunia. Formulasi itu,
dalam skala dunia Islam, pernah dilakukan oleh Syaikh Muhammad Syaltut, Grand Syaikh al-Azhar. Namun,
dikemudian hari tampaknya, usaha tersebut mengalami kemacetan. Kita, dalam upaya pendekatan mazhab,
bisa saja menggunakan fiqh ikhtilaf. Yakni dalam hal-hal yang sama kita saling bahu-membahu. Dan dalam
hal-hal yang berseberangan kita saling memberikan toleransi. Menurut Prof. Dr. Hamid Algar --seorang
muslim Inggris, dan mengajar studi Islam dan Persia di University of California-- selama ini, umat Islam telah
begitu banyak memberikan toleransi ke luar, terhadap agama di luar mereka. Namun kurang memberikan
toleransi ke dalam antara sesama pemeluk Islam68

. Namun, dalam kasus Syi'ah, kaum Ahlu Sunnah tentu
akan amat-amat keberatan untuk bertoleransi terhadap pengecaman dan pengkafiran para sahabat. Dan
dari pihak Syi'ah sendiri, seperti dikatakan oleh S.H. Hossein Nasr, dalam pengantarnya atas buku
Muhammad Husain ath-Thabathaba'i, Shi'te Islam, bahwa Syi'ah juga sulit untuk bertoleransi jika toleransi
itu berarti harus mengesampingkan apa yang selama ini mereka yakini69

. Namun, toh ada satu kesatuan yang

kita miliki bersama, yaitu tauhid70

. Maka tauhid inilah yang kita harapkan dapat menjadi common platform
antara Sunnah dan Syi'ah. Sedangkan dalam bentuk-bentuk praktikal. kita bisa menerapkan fiqh muwâzanat
dan fiqh awlawiyyat.

Wallahu a'lam.

Kairo, Juli 1997.

Catatan Kaki

1. Seperti dikutip oleh Jalaluddin Rahmat dalam: Islam Alternatif, Bandung, 1991, hal. 242.

2. Affan Gafar, Islam dan Negara, dalam majalah mingguan TEMPO, 10 Oktober 1992.

3. Oleh karena itu, ketika menulis buku yang berisikan kajian tentang Syi'ah, Jalaluddin Rahmat memberikan judul bukunya tersebut Islam Alternatif.

4. Lihat wawancara Jalaluddin Rahmat dengan redaksi jurnal Ulumul Qur'an, no. 4, vol. VI, tahun 1995.

5. Dawam Rahardjo, dalam jurnal Ulumul Qur'an, no. 2, vol. V, th. 194.

6. Sca.

7. Beliau mengarang buku Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, Jakarta 1974.

8. Dengan tulisannya Shi'a Elements in Malay Literature, dalam Sartono Kartodirdjo (ed) Profiles of Malay Culture Historiography Religion and Politics,
Jakarta 1976.

9. Dengan bukunya Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh, Banda Aceh, 1968. Dengan bukunya Syi'ah dan Sunnah Saling Rebut Kekuasaan Sejak Awal Sejarah
islam di Kepulauan Nusantara, Surabaya, 1983.

10. Sca.

11. Dr. Azyumardi Azra, Syi'ah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas, dalam Jurnal Ulumul Qur'an, no. 4, Vol. VI, tahun 1995.

60

12. Dr. Said 'Aqil Siraj, Latar Belakang Kultural dan Politik Kelahiran ASWAJA, makalah disampaikan pada seminar yang diadakan opleh Forum Silaturahmi
Da'i se-Jakarta, Sabtu, 11 Agustus 1995, di Tanjung Priok, hal. 18.

13. Lihat: Jurnal Ulumul Qur'an no.4, Vol.VI, tahun 1995, dalam artikel Lembaga-lembaga Syi'ah di Indonesia.

14. Sca.

15. Lihat: Allamah M.H. Thabathaba'i, Shi'te Islam, edisi bahasa Indonesia Islam Syi'ah Asal Usul dan Perkembangannya, Jakarta, 1989, hal.32. Dr.
Muhammad Tijani as Samawie Asy-Syi'ah Hum Ahlu Sunnah, Beirut, 1993, hal. 17.

16. Asy-Syahrastani, Milal wa Nihal, Beirut, 1992, Vol.I, hal.144. Ibn Khaldun, Muqaddimah, Beirut, 1993, hal.155. Dr. Muhammad 'Imarah, Tayyarat Fikri al
Islami, Kairo, 1991, hal.199.

17. Dr. Muhammad 'Imarah, Tayyarat Fikri al Islami, Sca.

18. Dr. Nasy'at Abdul Jawwad Dlaif, Al Manhaj al Jadid fi Syarh Jauharat Tauhid, Universitas al Azhar, tt, hal.93.

19. Scn. 16, hal. 37.

20. Dalam bukunya Asy-Syi'ah fi al Mizan, Beirut, 1989, hal. 24.

21. Dalam Ashlu Syi'ah wa Ushuluha, Beirut, 199, hal. 116.

22. Sca.

23. Scn. 17, hal. 200

24. Scn. 18, hal.94

25. Lihat catatan yang diberikan Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid pada kitab Maqalat Islamiyyin wa Ikhtilaf al Mushallin, karya Imam Abu al Hasan al
Asy'ari, Beirut, 1990, Vol. I, hal. 65.

26. Sca. hal.66

27. Lihat dalam 'Abbas 'Ali al Musawie, Syubhat Haula Syi'ah, Beirut, 1991, hal.12

28. Tentang ini, dapat dibaca pada Musthafa Syak'ah, Islam Bila Mazahib, Kairo, 1994, hal. 208, dan Abdullah bin Sa'id al Junaid dalam buku Hiwar Hadi
Baina Sunnah wa Syi'ah, Dar al Manarah, tt. hal.12.

29. Antara lain oleh Muhammad Jawad al Mughniyyah, Scn. 20 hal. 314, Assayyid Muhammad 'Ali al Hasany, Dirasat fi 'Aqaid Syi'ah al Imamiyyah, Beirut,
1989, hal.20, Abbas 'Ali al Musawie, Syubhat Haula Syi'ah, scn. 27, hal.35, Imam al Khu'i al Bayan fi Tafisr al Quran, Beirut, 1974, hal. 200-220, dll.

30. Riwayat tentang tahrif al Qur'an, terdapat dalam kitab hadits al Kafie yang disusun oleh Abu Ja'far Muhammad Ibn Ya'qub al Kulayni al Razie
(w.329/941). Kitab ini menurut Abul Husain al Musawie dalam kitab al Muraja'at adalah kitab Syi'ah yang paling bagus, tak meragukan dan paling otentik.
Diriwayatkan bahwa ketika kitab al Kafie tersebut disodorkan kepada al Mahdi, dia berkomentar Haza Kafin li Syi'atina-kitab ini mencukupi bagi syi' ah
kita, maka tentu saja apa yang tertulis di dalamnya dapat dijadikan ukuran untuk menentukan dan menilai apa dan bagaimana sikap Syi'ah terhadap
banyak hal.

31. Lihat: Al Kulayni, al Kafie, kitab al Hujjah, 1:414. M.H. Thabathaba'i, al Mizan fi Tafsir al Qur'an, Beirut, 1991, Vol.4, hal. 72-73.

32. Tentang motivasi dan sejarah timbul sekte-sekte dalam Syi'ah, dapat dibaca dalam al Hasan bin Musa an-Naubakhti, Firaq asy-Syi'ah, Beirut, 1984,
Syahrastani, Milal wa Nihal, Scn. 16, hal. 144-219, Dr, Mushthafa asy-Syak' ah, Islam Bila Mazahib, Scn. 28, hal.175-369.

33. Imam Abi Hasan al Asy'ari, Maqalat Islamiyyin wa Ikhtilaf al Mushallin, Beirut, 1990, Vol.I, hal. 65.

34. Sca. hal.66

35. Sca. hal.66-88.

36. Sca. Hal.88-89

61

37. Sca. hal.88-105.

38. Menurut al Mas'udi dalam kitab Muruj al Dzahab, beberapa pengarang kitab tentang doktrin, ideologi dan agama seperti Muhammad bin harun al
Warraq dan lain-lain mengatakan bahwa pada masa mereka terdapat sebanyak 8 sekte dalam Zaidiyyah.

39. Scn. 34, hal.140-145.

40. M.H. Al Kasyif al Githa, Ashlu Syi'ah wa Ushuluha, Scn. 21, hal. 136.

41. Tentang kisah pembelotannya tersebut dapat dibaca dalam bukunya Tsumma Ihtadaitu, London, 1989.

42. Lihat: Dr. Muhammad Tijani as-Samawie, asy-Syi'ah Hum Ahlu Sunnnah, Beirut, 1993.

43. Lihat: Muhammad Mahfuz bin Abdullah At-Tarmasy, Manhaj Dzawi Nadhar Syarh Mandzumat al 'Ilmi al Atsar, Beirut, 1981, hal.8. Muhammad
Jamaluddin al Qasimi, Qawa'idu al-Hadits min Funun Mushthalah Hadits, Beirut, tt. hal.61.

44. Muhammad Ajjaj al Khatib, as-Sunnah Qabla Tadwin, Beirut, 1981, hal. 16, Manna' al Qatht-than, Mabahits fi Ulum al Hadits, Kairo, 1992, hal. 15.

45. Lihat: Muhammad 'Ali al Hasan, Dirasat fi 'Aqa'id Syi'ah al Imamiah, Beirut, 1989, hal. 360. Juga M. Husein Thabathaba'i, Shi'te Islam, edisi bahasa
Indonesia, Islam Syi'ah, scn. 16, hal. 113.

46. M.H. Husein al Kasyif Githa, Scn. 21, hal.145.

47. Scn. 45, hal. 360-363.

48. M.Husein Thabathaba'i, Scn. 16, hal. 113, Juga Muhammad Jawwad al Mughniyyah, Asy-Syi'ah fi al Mizan, hal. 318.

49. Lihat: Muhyiddin al Musawie al Guhraify, Qawa'id al Hadits, Beirut, 1986, hal. 24 dan Asy-Syi'ah fi al Mizan, hal. 318.

50. Qawa'idul Hadits, Sca., hal. 27, Asyi'ah fi al Mizan, hal. 319

51. Qawa'idul Hadits, sca. hal. 27-30.

52. Lihat: Asy-Syi'ah fi al Mizan, hal. 319.

53. Lihat: As-Sunnah baina Anshariha wa Khushumiha, risalah doktoral fakultas Ushuluddin Universitas al Azhar, Vol II, hal. 488.

54. As-Sunnah Baina Anshariha wa Khushumiha, sca. hal. 389, Asyi'ah fi al Mizan, hal. 317.

55. Sca.

56. Sca.

57. Scn. 53, hal. 489.

58. Sca.

59. Lihat: Asyi'ah fi al Mizan, hal.318.

60. Scn. 57.

61. Sca.

62. Lihat: At-Tarmasy, scn. 44 hal. 214.

63. Dr. Faruq Hammadah, al Manhaj al Islami fi al Jarh wa Ta'dil, Rabat, 1982, hal. 185-186.

64. Untuk studi lebih lanjut tentang ini, silakan baca: Muhammad bin Abdul Wahid Dliauddin al Maqdisi, Kitab An-Nahyu 'An Sabbi Ashhab, Kairo, 1994.

65. Lihat: An-Naubakhti, scn. 33, hal. 22.

62

66. Lihat: Murtadla al 'Askari, Ma'alim Madrasatain, Vol.I, Beirut, 1993, hal. 130-188. Juga Syubhat Haula Syi'ah, Scn. 27 hal. 103 dst..

67. Syubhat Haula Syi'ah, sca. hal. 129-182.

68. Lihat: Majalah Ummat, no. 5 th. I/4

69. Lihat pengantar S.H. Nasr atas buku M.H. Thabathaba'i, Shi'te Islam.

70. Penulis artikel ini menawarkan tauhid, tidak aqidah, sebagai common platform, karena dalam salah satu konsep aqidah Syi'ah terdapat point yang
amat sensitif. Yaitu konsep imamah. Dengan konsep ini, orang-orang yang tidak mengakui dan mengimani ke-imamah-an sebagaimana dipahami kaum
Syi'ah akan secara otomatis tidak lengkap aqidahnya. Konsekuensinya adalah: Sebagian besar umat Islam di dunia ini, yang tidak mempercayai konsep ini,
secara otomatis berada di luar main stream Islam [Syi'ah]. Dengan demikian, konsep yang bisa diterima oleh kedua pihak sebagai common platform yang
sejuk, menurut hemat penulis adalah konsep tauhid tersebut.

63

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->