P. 1
FRAKTUR maksila

FRAKTUR maksila

|Views: 2,871|Likes:
Published by Nike Septembriana

More info:

Published by: Nike Septembriana on Jan 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2014

pdf

text

original

FRAKTUR MAKSILA Fraktur: • adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.

C & Bare B.G, 2001) • setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).

Fraktur maxilla dapat disebabkan oleh trauma atau karena proses patologis. 1) Traumatic fracture Fraktur yangdisebabkan oleh pukulan pada: • perkelahian • kecelakaan • tembakan 2) Pathologic fracture Fraktur yang disebabkan oleh keadaan patologis dimana tulang dalam keadaan sakit, tulang tipis atau lemah, sehingga bila ada trauma ringan seperti berbicara, makan dan mengunyah dapat terjadi fraktur. Terjadi karena : a) Penyakit tulang setempat o Kista o Tumor tulang jinak atau ganas o Keadaan dimana resorpsi tulang sangat besar sekali sehingga dengan atau tanpa trauma dapat terjadi fraktur, misalnya pada osteomielitis b) Penyakit umum yang mengenai tulang sehingga tulang mudah patah. o Osteomalacia o Osteoporosis o Atrofi tulang secara umum Klasifikasi Fraktur Fraktur dapat berupa 1. Single fracture Fraktur dengan satu garis fraktur 2. Multiple fracture Terdapat dua atau lebih garis fraktur yang tidak berhubungan satu sarna lain Unilateral = jika kedua garis fraktur terletak pada satu sisi 3. Bilateral = jika 1 garis fraktur pada 1 sisi dan garis fraktur lain pada sisi lain. Communited fracture
1

Pembagian Area Fraktur Pada rahang • Rahang Atas Maxilla (Killey) . Dalam keadaan seperti ini lakukan dengan bandage dan rahang diistirahatkan 1-3 minggu.Le Fort II . 6. kadang-kadang terdapat patahan gigi dalam bibir yang luka tersebut. Luka laserasi pada bibir sering disertai perdarahan. Fraktur ini meliputi processus alveolaris dan gigigigi. 7. Impacted fracture Dimana fraktur yang 1 didorong masuk ke fragmen tulang lain. Depressed fracture Bagian tulang yang fraktur masuk ke dalam suatu rongga. gigi.4.Dento alveolar fraktur . misalnya symphis mandibularis dan di daerah anterior maxila. Tanda dan Gejala 1) Dento Alveolar Fracture Suatu fraktur di daerah processus maxillaris yang belum mencapai daerah Le Fort I dan dapat terjadi unilateral maupun bilateral. Incomplete fracture Tulang tidak patah sarna sekali. Complicated fracture Terjadi suatu dislokasi/displacement dari tulang sehingga mengakibatkan kerusakan tulang-tulang yang berdekatan. tetapi hanya retak juga penyatuan tulang tidak terganggu. Sering pada tulang zygomaticus. Tulang hancur atau remuk menjadi beberapa fragmen keci 1 atau berkeping-keping. 5.Le Fort I . o Bibir bengkak dan edematus 2 . Sering pada fraktur maxilla yaitu pada permukaan fasial dimana fraktur tulang terdorong masuk ke sinus maxillaris. 8. Gejala klinik Extra oral : o Luka pada bibir atas yang dalam dan luas.Le Fort III FRAKTUR MAXILLA Insidens Klasifikasi. dan jaringan lunak yang berdekatan Complete fracture Tulang patah semua secara lengkap menjadi 2 bagian atau lebih.

Pada Le Fort I ini seluruh processus alveolaris rahang atas. o Adanya alvulatio gigi. muka terlihat asimetris o Hematoma atau echymosis pada daerah yang terkena fraktur. kadang-kadang disertai tulang alveolusnya o Fraktur corona gigi dengan atau tanpa terbukanya kamar pulpa 2. Suatu tambahan fraktur pada palatal dapat terjadi. maka terlihat seperti tulang rahang tersebut mengapung (floating fracture). kadang-kadang berpindah tempat. Fraktur dapat terjadi unilateral atau bilateral. Intra oral o Echymosis pacta mucobucal rahang atas 3 . Le Fort I: Pada fraktur ini. o Adanya subluxatio pada gigi sehingga gigi tersebut bergerak.o Echymosis dan hematoma pada muka Intra oral : o Luka laserasi pada gingiva daerah fraktur dan sering disertai perdarahan. dimana terlihat sebagai suatu garis echymosis. garis fraktur berada di antara dasar dari sinus maxillaris dan dasar dari orbita. kadang-kadang terdapat infraorbital echymosis dan subconjunctival echymosis o Penderita tidak dapat menutup mulut karena gigi posterior rahang atas dan rahang bawah telah kontak lebih dulu. Geiala klinik Extra oral : o Pembengkakan pada muka disertai vulnus laceratum o Deformitas pada muka. septum nasalis terlepas dari dasarnya sehingga seluruh tulang rahang dapat digerakkan ke segala arah. palatum durum. Karena tulang-tulang ini diikat oleh jaringan lunak saja.

luxatio. avultio. o Bilateral circum echymosis. o Perdarahan dari hi dung yang disertai cairan cerebrospinal. lacrimalis. o Open bite maloklusi sehingga penderita sukar mengunyah 3. ethmoid. pada bagian hidung terasa adanya step atau bagian yang tajam dan terasa sakit. subconjunctival echymosis. o Perdarahan yang berasal dari gingiva yang luka atau gigi yang luka. 4 . seluruh bagian rahang atas dapat digerakkan. o Pada palpasi. o Terdapatnya kelainan gigi berupa fraktur. gigi fraktur atau lepas. pada daerah tersebut terasa sakit. nasalis.o Vulnus laceratum. sphenoid dan sering tulang vomer dan septum nasalis terkena juga. Gejala klinik Extra oral : o Pembengkakan hebat pada muka dan hidung. pembengkakan gingiva. Le Fort II : Garis fraktur meliputi tulang maxillaris. kadang-kadang disertai goyangnya gigi dan lepasnya gigi. Intra oral o Mulut sukar dibuka dan rahang bawah sulit digerakkan ke depan o Adanya maloklusi open bite sehingga penderita sukar mengunyah. o Palatum mole sering jatuh ke belakang sehingga dorsum lidah tertekan sehingga timbul kesukaran bernafas. o Dari samping muka terlihat rata karena adanya deformitas hidung.

o Adanya cerebrospinal rhinorrhoea dan umumnya bercampur darah o paralisis N. o Terdapat bilateral circum echymosis dan subconjunctival echymosis. pharinx.Le Fort III Fraktur ini membentuk garis fraktur yang meliputi tulang-tulang nasalis. Geiala klinik Extra oral : o Pembengkakan hebat pada muka dan hidung o Perdarahan pada palatum. kebutaan dan paralisis bola mata yang temporer.opticus dan saraf motoris dari mata yang menyebabkan diplopia. Rahang atas dapat lebih mudah digerakkan 5 Intra oral : o o . Mulut terbuka lebih lebar karena keadaan open bite yang berat. sphenoid dan zygomaticus arch. Displacement ini selalu disebabkan karena tarikan ke arah belakang dari M. o Deformitas hidung sehingga mata terlihat rata. orbita. sinus maxillaris. Sepertiga bagian tengah muka terdesak ke belakang sehingga terlihat muka rata yang disebut "Dish Shape Face". hidung dan telinga.pterygoideus dimana otot ini melekat pda sayap terbesar tulang sphenoid dan tuberositas maxillary. ethmoid.Fasialis yang sifatnya temporer atau permanen yang menyebabkan Bell’s Palsy. o Pergerakan bola mata terbatas dan terdapat kelainan N. maxillaris.

tetapi karena adanya otot zygomatic dan jaringan pelindung yang tebal. 5. perdarahan hidung disebabkan karena cedera. o Palpasi lunak o Rasa nyeri o Epistaksis. merasa ada sesuatu yang menahan. Zygomaticus Complex Fracture Tulang zygoma adalah tulang yang kokoh pada wajah dan jarang mengalami fraktur. echymosis. Trauma/pukulan biasanya mendorong bagianbagian yang patah ke dalam.Fraktur garis sutura rim infra orbital. rasa terbakar dan paraesthesia o Perdarahan di daerah konjungtiva 6 . jarang bersifat compound. Yang paling sering mengalami fraktur adalah temporal sutura dari lengkung rahang. Geiala klinik o Penderita mengeluh sukar membuka rahang. terlihat adanya depresi yang nyata sekeliling lengkung dengan lebar 1 atau 2 jari yang dapat diraba. Fraktur ini biasanya unilateral. Pernafasan tersumbat karena tertekan oleh dorsum lidah. waktu membuka mulut ke depan condyle seperti tertahan. o Pembengkakan periobital. o Rasa baal di bawah mata. Displacement terjadi karena trauma. bukan karena tarikan otot. sering bersifat multiple dan communited. garis sutura zygomatic frontal dan zygomatic maxillaris. o Bila cedera sudah beberapa hari dan pembengkakan hilang. Namun tempat penyambungan dari lengkungnya sering fraktur. tersobeknya selaput lendir antral oleh depresi fraktur zygomatic dengan perdarahan lebih lanjut ke antrum melalui ostium maxilla ke rongga hidung.o o Perdarahan pada palatum dan pharynx.

Cara ini dilakukan pada fraktur yang masih baru dan mudah dikembalikan pada tempat semula. posisi cukup baik dan terjadinya fraktur masih baru a) Reduksi yang dilakukan pada fraktur dengan cara manipulasi. Panoramic 7. Caranya : Kita raba permukaan tulang yang patah melalui intra dan ekstra oral. Occipito Mental Projection 5. Intra oral dental Perawatan Fraktur Perawatan fraktur ditujukan pada penempatan ujung tulang yang fraktur pada hubungan yang benar sehingga ujung tulang tersebut bersentuhan dan dipertahankan pada posisi tersebut sampai penyembuhan terjadi. Untuk menegakkan diagnosa yang tepat sebaiknya digunakan beberapa posisi pengambilan foto. Setelah kawat fiksasi dipasang. baru reduksi dikerjakan yaitu dengan manipulasi bagian-bagian tulang yang patah itu sampai kedudukannya seperti semula. b) Reduksi dengan tarikan 7 . lalu kita perhatikan oklusinya. Occlusal view dari maxilla 8. Pemeriksaan Ro Foto untuk fraktur maxilla antara lain : 1. PA position 2. karena tulang muka kedudukannya sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan kita untuk melihatnya dari satu posisi saja. Pemeriksaaan Radiologi Pemeriksaan radiologi digunakan untuk menunjang diagnosa. Lateral position 4. Zygomaticus 6. Reposisi/reduksi fraktur ada 2 cara 1) Close reduction Banyak terdapat cara reposisi. bila garis fraktur simpe1. Waters position 3. Cara yang mudah adalah reposisi tertutup yaitu manipulasi tulang dengan tarikan yang dilakukan di bawah kulit yang intact sampai fraktur berada pada posisi yang benar. fraktur yang dapat dilakukan reposisi tertutup. kabur.o Gangguan penglihatan diplopia.

Fiksasi dapat dilakukan langsung pada gigi atau otot-otot sekitar rahang. 2) Open reduction (dengan cara operasi) Cara ini dipakai jika reduksi tertutup tidak dapat dikerjakan. Erich.Denture atau gurting splint dengan head bandage . Winter 2) Direct Dental Fixation Immobilisasi dari fragmen-fragmen dengan menggunakan splint bar atau wire di antara dua atau lebih gigi pada daerah fraktur. 3) Indirect Skletal Fixation Yang termasuk cara ini : . Tekniknya : Mengelilingi dua gigi yang berdekatan kemudian menuju garis fraktur dengan sepotong kawat dengan mengikatnya kuat-kuat.Circumferential wiring . c) Macam-macam arch bar : Jelenko. pita elastic atau kawat yang menghubungkan mandibula dan maksila. b) Kombinasi arch bar dengan intermaxillary fixation. Cara ini dilakukan bila displacement sukar dimanipulasi pada tempat-tempat yang diinginkan yang mungkin oleh karena adanya spasmus otot dan fraktur yang sudah lama sehingga terjadi malunion yang sukar dikembalikan ke keadaan semula. Cara ini kurang stabil dan tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga jarang dipakai. maka dapat dipertahankan dengan menggunakan kawat Arch Bar. Ada 2 macam cara : a) Kombinasi wiring dengan intermaxillary fixaton menurut cara Gilmer atau Ivy. lebih sering dikerjakan untuk fiksasi dari pada untuk reduksi fraktur. Wiring merupakan cara yang paling mudah. Pada fiksasi harus diperhatikan oklusi gigi atas dan bawah harus baik. Fiksasi dan Immobilisasi Pada fraktur yang dilakukan reposisi tertutup ketika tulang rahang dan gigi sudah terletak pada posisi yang tepat. sehingga dapat dibagi menjadi : 1) Indirect dental fixation Mengikat rahang atas dan rahang bawah bersama-sama dalam keadaan oklusi dengan mempergunakan pengikat atau elastic band. membebat gigi.External fixation Perawatan Definitif Fraktur Maxilla A) Fraktur Dentoalveolar 8 .Yang paling sering dipakai yaitu intermaxillary traction yaitu penarikan rahang bawah dan rahang atas.

3) Gigi yang dislokasi . B) Fraktur Le Fort I. Fiksasi dengan eyelet. intermaxillary fixation tidak diperlukan keculai pada fraktur tulang alveolar regia molar dan premolar. Biasanya gigi ini dapat bertahan beberapa tahun meskipun akhirnya terjadi ankilosis dan resorpsi. baik jenis Ivy dan Stout's jarang memuaskan. Beberapa kemungkinan dapat terjadi : 1) Korona gigi patah tanpa mengenai pulpa . diadakan pengisian seluruh akar secara retrograd atau konvensional dan diadakan replantasi. Berarti dia harus tinggal di RS selama pemakaian alat tersebut. III Penanganan fraktur langsung pada memposisikan kembali maxilla pada hubungan yang tepat dengan mandibula serta dengan dasar tengkorak dan mengimmobilisasikannya. 2) Patah korona gigi dan mengenai pulpa . 4) Fraktur tulang alveolar • Seringkali diperlukan debridement untuk membersihkan kepingan tulang yang terlepas.Vitalitas pulpa perlu diikuti perkembangannya di kemudian hari Kematian pulpa dapat berakibat dental granuloma atau kista radikularis di kemudian 9 . Patah akar gigi yang kurang dari 1/3 apikal dapat dicoba dipertahankan. alat ini sangat ideal tetapi secara psikologis sering tidak dapat diterima secara baik oleh penderita. • Umumnya fiksasi dengan Arch Bar memberikan hasil yang memuaskan. jaringan nekrotik dan benda asing. sebaiknya diangkat. II.hari. Di Barat teknik ini kurang sesuai dengan situasi di Indonesia. Ini disebabkan bentuk alat yang menakutkan bagi penderita yang harus terus memakainya selama perawatan. • Bila sebagian tulang alveolar terlepas sarna sekali dari muko-periosteum.Bila giginya remuk atau patah akarnya sebaiknya dicabut. Secara garis besar immobilisasi dapat dibagi dalam 2 golongan besar : 1) Immobilisasi extra oral = External fixation Termasuk apa yang disebut sekarang ini sebagai modern concept merupakan suatu cara rutin dalam perawatan fraktur 1/3 tengah tulang muka.Ro foto dan perawatan endodontik . Ditinjau dari segi stabilitas.Ro foto dalam keadaan reposisi dan fiksasi .Bila gigi terlepas.Buat Ro foto dan tes pulpanya . Bila masih melekat dapat direposisi dan fiksasi. karena peralatan yang mahal dan laboratorium yang kurang memadai. Meskipun demikian peralatan itu tetap diperlukan pada perawatan fraktur 1/3 tengah tulang muka yang parah dan rumit.

Supraorbital pins adalah pilihan lain dari head cap. Kedua pin ini dihubungkan dengan sebuah bar yang melengkung. Dengan demikian maksila terj epi t di antara mandibula dan bagian tulang muka yang stabil. dianjurkan pemakaian circumferential wiring pada 3/3. Selain itu dapat diperkuat dengan menambahkan transbucal check wire. Untuk memperkuat arch bar mandibula terhadap tarikan kawat suspensi. Pada teknik ini maksila ditahan dengan kawat pada bagian tulang muka yang tidak mengalami cedera yang berada di a tas garis fraktur. Teknik suspensi dari kawat (internal wire suspension technique) Teknik fiksasi ini tidak memerlukan alat-alat yang mahal atau fasilitas laboratorium yang mutakhir. cap splint. Teknik suspensi dengan kawat ini dapat berupa a) Circumzygomatic Kawat penggantung/penahan melalui atau meliputi arcus zygomaticus b) Zygomatic-mandibula Kawat melalui lubang pada tulang zygoma c) Inferior orbital border-mandibula Kawat melalui lubang pada lower orbital rim d) Fronto-mandibular Kawat melalui lubang pada zygomatic processus pada tulang frontal e) Pyriform fossa mandibular 10 . Fiksasi langsung dengan transosseus wiring pada garis fraktur b. Bar ini kemudian dihubungkan dengan perantaraan suatu connecting bar lurus dengan extension rod dari alat-alat fiksasi pada rahang. Bila cap splint pada gigi ge1igi tidak dapat dibuat dapat diganti dengan Arch Bar pada maxilla dan mandibula dan disatukan dengan IMF. Head cap dapat diganti dengan haloframe yang mempunyai fungsi sarna dengan head cap tetapi jauh lebih stabile Frame ditempatkan di sekitar cranium dengan 4 buah paku.Secara singkat teknik ini sebagai berikut : Maxilla yang mengalami fraktur ditahan Plaster of Paris Head Cap dengan bantuan bar penghubung (connecting bar). Maxilla yang dihubungkan dengan head cap disebut Craniomaxillary fixa tion. dan extention rodnya. Kawa t suspensi ini dihubungkan dengan kawat fiksasi/arch bar pada mandibula. Arch bar mandibula perlu diperkuat dengan circumferential wiring pada 3/3 dan dihubungkan dengan head cap melalui transbuccal check wire. Teknik ini dapat diterima dengan baik oleh penderita karena peralatan fiksasi tidak tampak dari luar sehingga penderita dapat meninggalkan RS lebih cepat. Bi la mandibu1a yang dihubungkan dengan head cap disebut Cranio-mandibula fixation. 2) Immobilisasi dalam jaringan Jenis ini dapat berupa a. Dua buah pin di tempatkan pada supraorbital ridge kanan dan kiri.

Ini hanya untuk perawatan Le Fort I dan sangat kurang stabil. Teknik Gillies lnsisi dibuat di daerah temporal sepanjang 2 cm di antara bifurkasi V. Lamanya fiksasi Yang dimaksud dengan sembuh yaitu tidak terdapatnya mobilitas pada daerah fraktur bila dilakukan manipulasi dengan tangan. diperlukan suatu pengamatan lebih dulu terhadap penyembuhan fraktur tersebut. ketrampilan operator dan berbagai faktor lokal. Fraktur yang tidak stabil diperlukan transusseus wiring langsung pada daerah yang patah tersebut. Fascia temporalis diexposed.f) Kawat me1alui lubang pada fossa pyriformis. 11 . Cara intra oral : Insisi dibuat pada sulcus bucalis. misalnya pada obstruksi nasal yang berat. Fraktur pada daerah arcus zygomaticus biasanya tidak memerlukan fiksasi karena keseimbangan otot-otot antara M.Fracture condyle 2 minggu Mengingat cepatnya penyembuhan fraktur dipengaruhi banyak faktor. 3) Fraktur zygomatic komplex Cara ekstra oral a. maka sebelum dilakukan pembukaan alat-alat fiksasi.maseter di bawah dan fascia temporalis di atasnya. suspensi langsung terhadap maksila dapat dilakukan yaitu apabila artikulasi gigi geligi yang tepat tidak mutlak diperlukan .temporalis superfisialis membentuk sudut kira-kira 45° dengan bidang oklusal. Intermaxillary fixation biasanya tidak diperlukan. keadaan umum penderita. diinsisi dan Bristow's Elevator dimasukkan untuk mengungkit tulang zygoma pada kedudukan yang normal. misalnya hebatnya fraktur. lalu sebuah elevator dimasukkan untuk mengungkit bagian-bagian fraktur ke posisi semula. misalnya pada : a) Salah satu rahang tidak bergigi b) Immobilisasi mandibula tidak diperlukan c) Suatu keadaan dimana immobilisasi mandibula merupakan kontraindikasi. b. Sebuah hook khusus dimasukkan ke bawah tulang dan diungkit ke posisi yang normal. External incision langsung dilakukan di antara fraktur. gizi penderita. Nasal septum-mandibular Fiksasi ini sangat tidak stabil Pada beberapa keadaan. .RA (maksila) 4 minggu .RB (mandibula) 5-9 minggu .

2) Daerah fraktur yang terbuka 12 . Komplikasi Fraktur Rahang Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya komplikasi fraktur: 1) Besarnya trauma yang terjadi Bila trauma yang terjadi begitu besar sehingga selain kerusakan tulang juga terjadi kerusakan jaringan. apalagi setelah dilakukan tindakan reposisi dan fiksasi. Pemberian dalam bentuk kapsul atau tablet adalah sulit karena adanya IMF.Perawatan Pasca bedah A) Perawatan segera setelah operasi Setelah operasi dengan narkose. nasopharingeal tube dapat dipertahankan sampai 24 jam. B compleks. E. bila reflek batuk sudah pulih. Alat penyedot dan alat pemotong kawat harus selalu tersedia bilamana diperlukan. ahli anestesi akan mengangkat endotrakeal tube. D) Kebersihan mulut Pembersihan gigi dan kawat fiksasi adalah sangat penting untuk mengurangi terjadinya infeksi. Seharusnya seorang perawat yang berpengalaman mengawasi di sisi pasien sampai pasien sadar betul. Pemberian vitamin A. fosfat. Obat dalam bentuk cairan lebih baik bagi penderi ta. Bila fiksasi baik analgetik biasanya tidak mutlak diberikan. Pemberian secara parenteralpum dapat dilakukan. Bila keadaan jalan nafas penderita mengkhawatirkan. mineral Ca. C) Pemberian makanan Makanan umumnya dalam bentuk cairan atau setengah cairan. D. ini dapat kita diskusikan dengan ahli anestesi. Makan dapat diberikan melalui celah yang ada antara gigi atau pada fossa retromolar. B) Antibiotika dan analgetik Pemberian antibiotik sangat perlu sekali bagi setiap fraktur rahang.

3) Fraktur tidak dirawat atau perawatan yang tidak sempurna. keadaan yang lebih berat dapat terjadi dengan timbulnya infeksi akibat komplikasi yang terjadi dan ini berpengaruh pada penyembuhan yang diharapkan.Alat fiksasi dan immobilisasi yang tidak baik Perawatan malunion : . dan o lain-lain.Bila union sudah kuat. 4) Keadaan gigi-geligi Keadaan gigi yang kurang baik seperti anatomi gigi. fragmen o tulang yang keci1-kecil atau adanya gigi pada garis fraktur o Adanya fokal infeksi o Reaksi penyembuhan dari tubuh yang rendah o Penyakiy -penyakit sistemik seperti sifilis. perlu tindakan osteotomi melalui garis fraktur semula 4) Non union 13 . delayed union dan keadaan yang lebih berat. Dengan adanya infeksi kemungkinan terjadinya kerusakan jaringan makin lebih besar.Hilangkan semua faktor penyebab Bila perlu lakukan operasi ulang 3) Malunion Sebab : . posisi gigi yang kurang baik dan adanya gigi yang gangren dapat mernpermudah tirnbulnya komplikasi bila terjadi fraktur di regio tersebut. Komplikasi setelah perawatan fraktur 1) Infeksi 2) Delayed union Sebab : o Reduksi kurang baik o Adanya interposisi dari serat-serat otot.Refracturing. immobilisasi dan fiksasi . TBC. o Fiksasi dan imobilisasi yang tidak baik • o o Perawatan terhadap delayed union . yang memudahkan terjadinya infeksi.Pada fraktur kemungkinan terjadi sebagian daerah fraktur yang terbuka.Reduksi yang tidak tepat . kemudian ulangi reduksi. Demikian juga pada perawatan yang tidak sempurna. Pada fraktur yang tidak dirawat dapat terjadi komplikasi seperti malunion.

6) Trismus Penderita sukar membuka mulut. antara lain 1) Umur 2) Keadaan umum 3) Bentuk fraktur 4) Jarak antara kedua fragmen tulang 5) Vaskularisasi dari kedua fragmen 6) Infeksi 7) Perawatan 14 .Menangguhkan perawatan yang terlalu lama .Alat fiksasi terlalu cepat dibuka .Fiksasi dan immobilisasi yang tidak baik . kerusakan n.Sebab : .alveolaris inferior pada RB. n.Reduksi yang buruk .infra orbitalis. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan tersebut.alveolaris superior serta cabang-cabangnya pada RA.Adanya benda asing di garis fraktur 5) Kerusakan saraf Dapat terjadi paraesthesia karena kerusakan n.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->