FRAKTUR MAKSILA Fraktur: • adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.

C & Bare B.G, 2001) • setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).

Fraktur maxilla dapat disebabkan oleh trauma atau karena proses patologis. 1) Traumatic fracture Fraktur yangdisebabkan oleh pukulan pada: • perkelahian • kecelakaan • tembakan 2) Pathologic fracture Fraktur yang disebabkan oleh keadaan patologis dimana tulang dalam keadaan sakit, tulang tipis atau lemah, sehingga bila ada trauma ringan seperti berbicara, makan dan mengunyah dapat terjadi fraktur. Terjadi karena : a) Penyakit tulang setempat o Kista o Tumor tulang jinak atau ganas o Keadaan dimana resorpsi tulang sangat besar sekali sehingga dengan atau tanpa trauma dapat terjadi fraktur, misalnya pada osteomielitis b) Penyakit umum yang mengenai tulang sehingga tulang mudah patah. o Osteomalacia o Osteoporosis o Atrofi tulang secara umum Klasifikasi Fraktur Fraktur dapat berupa 1. Single fracture Fraktur dengan satu garis fraktur 2. Multiple fracture Terdapat dua atau lebih garis fraktur yang tidak berhubungan satu sarna lain Unilateral = jika kedua garis fraktur terletak pada satu sisi 3. Bilateral = jika 1 garis fraktur pada 1 sisi dan garis fraktur lain pada sisi lain. Communited fracture
1

5. 6. tetapi hanya retak juga penyatuan tulang tidak terganggu. Incomplete fracture Tulang tidak patah sarna sekali. Gejala klinik Extra oral : o Luka pada bibir atas yang dalam dan luas. misalnya symphis mandibularis dan di daerah anterior maxila. Impacted fracture Dimana fraktur yang 1 didorong masuk ke fragmen tulang lain. Sering pada tulang zygomaticus. Luka laserasi pada bibir sering disertai perdarahan.4.Le Fort III FRAKTUR MAXILLA Insidens Klasifikasi. Tanda dan Gejala 1) Dento Alveolar Fracture Suatu fraktur di daerah processus maxillaris yang belum mencapai daerah Le Fort I dan dapat terjadi unilateral maupun bilateral. 8. Depressed fracture Bagian tulang yang fraktur masuk ke dalam suatu rongga. o Bibir bengkak dan edematus 2 . Pembagian Area Fraktur Pada rahang • Rahang Atas Maxilla (Killey) . gigi. Complicated fracture Terjadi suatu dislokasi/displacement dari tulang sehingga mengakibatkan kerusakan tulang-tulang yang berdekatan. 7. kadang-kadang terdapat patahan gigi dalam bibir yang luka tersebut. Tulang hancur atau remuk menjadi beberapa fragmen keci 1 atau berkeping-keping.Dento alveolar fraktur .Le Fort I . Dalam keadaan seperti ini lakukan dengan bandage dan rahang diistirahatkan 1-3 minggu. dan jaringan lunak yang berdekatan Complete fracture Tulang patah semua secara lengkap menjadi 2 bagian atau lebih. Sering pada fraktur maxilla yaitu pada permukaan fasial dimana fraktur tulang terdorong masuk ke sinus maxillaris.Le Fort II . Fraktur ini meliputi processus alveolaris dan gigigigi.

palatum durum. garis fraktur berada di antara dasar dari sinus maxillaris dan dasar dari orbita. Suatu tambahan fraktur pada palatal dapat terjadi. kadang-kadang disertai tulang alveolusnya o Fraktur corona gigi dengan atau tanpa terbukanya kamar pulpa 2. o Adanya subluxatio pada gigi sehingga gigi tersebut bergerak. Fraktur dapat terjadi unilateral atau bilateral. Geiala klinik Extra oral : o Pembengkakan pada muka disertai vulnus laceratum o Deformitas pada muka. Karena tulang-tulang ini diikat oleh jaringan lunak saja. muka terlihat asimetris o Hematoma atau echymosis pada daerah yang terkena fraktur. kadang-kadang berpindah tempat. septum nasalis terlepas dari dasarnya sehingga seluruh tulang rahang dapat digerakkan ke segala arah.o Echymosis dan hematoma pada muka Intra oral : o Luka laserasi pada gingiva daerah fraktur dan sering disertai perdarahan. dimana terlihat sebagai suatu garis echymosis. maka terlihat seperti tulang rahang tersebut mengapung (floating fracture). kadang-kadang terdapat infraorbital echymosis dan subconjunctival echymosis o Penderita tidak dapat menutup mulut karena gigi posterior rahang atas dan rahang bawah telah kontak lebih dulu. o Adanya alvulatio gigi. Intra oral o Echymosis pacta mucobucal rahang atas 3 . Pada Le Fort I ini seluruh processus alveolaris rahang atas. Le Fort I: Pada fraktur ini.

o Pada palpasi. lacrimalis. sphenoid dan sering tulang vomer dan septum nasalis terkena juga. 4 . Intra oral o Mulut sukar dibuka dan rahang bawah sulit digerakkan ke depan o Adanya maloklusi open bite sehingga penderita sukar mengunyah. o Palatum mole sering jatuh ke belakang sehingga dorsum lidah tertekan sehingga timbul kesukaran bernafas. Le Fort II : Garis fraktur meliputi tulang maxillaris. pada bagian hidung terasa adanya step atau bagian yang tajam dan terasa sakit. pembengkakan gingiva. o Dari samping muka terlihat rata karena adanya deformitas hidung. o Bilateral circum echymosis. o Open bite maloklusi sehingga penderita sukar mengunyah 3. kadang-kadang disertai goyangnya gigi dan lepasnya gigi. pada daerah tersebut terasa sakit. o Perdarahan yang berasal dari gingiva yang luka atau gigi yang luka.o Vulnus laceratum. nasalis. ethmoid. subconjunctival echymosis. seluruh bagian rahang atas dapat digerakkan. gigi fraktur atau lepas. Gejala klinik Extra oral : o Pembengkakan hebat pada muka dan hidung. avultio. o Perdarahan dari hi dung yang disertai cairan cerebrospinal. o Terdapatnya kelainan gigi berupa fraktur.luxatio.

o Adanya cerebrospinal rhinorrhoea dan umumnya bercampur darah o paralisis N. sphenoid dan zygomaticus arch. Sepertiga bagian tengah muka terdesak ke belakang sehingga terlihat muka rata yang disebut "Dish Shape Face". orbita.pterygoideus dimana otot ini melekat pda sayap terbesar tulang sphenoid dan tuberositas maxillary. Mulut terbuka lebih lebar karena keadaan open bite yang berat.Le Fort III Fraktur ini membentuk garis fraktur yang meliputi tulang-tulang nasalis. o Pergerakan bola mata terbatas dan terdapat kelainan N. hidung dan telinga. sinus maxillaris. o Terdapat bilateral circum echymosis dan subconjunctival echymosis. ethmoid. Rahang atas dapat lebih mudah digerakkan 5 Intra oral : o o . Displacement ini selalu disebabkan karena tarikan ke arah belakang dari M. kebutaan dan paralisis bola mata yang temporer. o Deformitas hidung sehingga mata terlihat rata.Fasialis yang sifatnya temporer atau permanen yang menyebabkan Bell’s Palsy. pharinx.opticus dan saraf motoris dari mata yang menyebabkan diplopia. maxillaris. Geiala klinik Extra oral : o Pembengkakan hebat pada muka dan hidung o Perdarahan pada palatum.

Yang paling sering mengalami fraktur adalah temporal sutura dari lengkung rahang. merasa ada sesuatu yang menahan. 5. tersobeknya selaput lendir antral oleh depresi fraktur zygomatic dengan perdarahan lebih lanjut ke antrum melalui ostium maxilla ke rongga hidung. garis sutura zygomatic frontal dan zygomatic maxillaris.Fraktur garis sutura rim infra orbital. Trauma/pukulan biasanya mendorong bagianbagian yang patah ke dalam. echymosis. Fraktur ini biasanya unilateral. sering bersifat multiple dan communited. Displacement terjadi karena trauma. terlihat adanya depresi yang nyata sekeliling lengkung dengan lebar 1 atau 2 jari yang dapat diraba. o Bila cedera sudah beberapa hari dan pembengkakan hilang.o o Perdarahan pada palatum dan pharynx. o Palpasi lunak o Rasa nyeri o Epistaksis. o Pembengkakan periobital. rasa terbakar dan paraesthesia o Perdarahan di daerah konjungtiva 6 . bukan karena tarikan otot. o Rasa baal di bawah mata. Pernafasan tersumbat karena tertekan oleh dorsum lidah. Zygomaticus Complex Fracture Tulang zygoma adalah tulang yang kokoh pada wajah dan jarang mengalami fraktur. jarang bersifat compound. perdarahan hidung disebabkan karena cedera. waktu membuka mulut ke depan condyle seperti tertahan. tetapi karena adanya otot zygomatic dan jaringan pelindung yang tebal. Geiala klinik o Penderita mengeluh sukar membuka rahang. Namun tempat penyambungan dari lengkungnya sering fraktur.

Pemeriksaan Ro Foto untuk fraktur maxilla antara lain : 1. bila garis fraktur simpe1. b) Reduksi dengan tarikan 7 . Occipito Mental Projection 5. Cara ini dilakukan pada fraktur yang masih baru dan mudah dikembalikan pada tempat semula. Lateral position 4. Zygomaticus 6. Waters position 3. Intra oral dental Perawatan Fraktur Perawatan fraktur ditujukan pada penempatan ujung tulang yang fraktur pada hubungan yang benar sehingga ujung tulang tersebut bersentuhan dan dipertahankan pada posisi tersebut sampai penyembuhan terjadi. Pemeriksaaan Radiologi Pemeriksaan radiologi digunakan untuk menunjang diagnosa. Setelah kawat fiksasi dipasang. Panoramic 7. Occlusal view dari maxilla 8. posisi cukup baik dan terjadinya fraktur masih baru a) Reduksi yang dilakukan pada fraktur dengan cara manipulasi.o Gangguan penglihatan diplopia. fraktur yang dapat dilakukan reposisi tertutup. lalu kita perhatikan oklusinya. Cara yang mudah adalah reposisi tertutup yaitu manipulasi tulang dengan tarikan yang dilakukan di bawah kulit yang intact sampai fraktur berada pada posisi yang benar. Caranya : Kita raba permukaan tulang yang patah melalui intra dan ekstra oral. Reposisi/reduksi fraktur ada 2 cara 1) Close reduction Banyak terdapat cara reposisi. baru reduksi dikerjakan yaitu dengan manipulasi bagian-bagian tulang yang patah itu sampai kedudukannya seperti semula. kabur. karena tulang muka kedudukannya sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan kita untuk melihatnya dari satu posisi saja. PA position 2. Untuk menegakkan diagnosa yang tepat sebaiknya digunakan beberapa posisi pengambilan foto.

External fixation Perawatan Definitif Fraktur Maxilla A) Fraktur Dentoalveolar 8 . c) Macam-macam arch bar : Jelenko. Tekniknya : Mengelilingi dua gigi yang berdekatan kemudian menuju garis fraktur dengan sepotong kawat dengan mengikatnya kuat-kuat. Erich. b) Kombinasi arch bar dengan intermaxillary fixation. Wiring merupakan cara yang paling mudah. pita elastic atau kawat yang menghubungkan mandibula dan maksila. 2) Open reduction (dengan cara operasi) Cara ini dipakai jika reduksi tertutup tidak dapat dikerjakan.Circumferential wiring . maka dapat dipertahankan dengan menggunakan kawat Arch Bar. Fiksasi dapat dilakukan langsung pada gigi atau otot-otot sekitar rahang. Pada fiksasi harus diperhatikan oklusi gigi atas dan bawah harus baik. Winter 2) Direct Dental Fixation Immobilisasi dari fragmen-fragmen dengan menggunakan splint bar atau wire di antara dua atau lebih gigi pada daerah fraktur. 3) Indirect Skletal Fixation Yang termasuk cara ini : .Yang paling sering dipakai yaitu intermaxillary traction yaitu penarikan rahang bawah dan rahang atas. lebih sering dikerjakan untuk fiksasi dari pada untuk reduksi fraktur. Cara ini dilakukan bila displacement sukar dimanipulasi pada tempat-tempat yang diinginkan yang mungkin oleh karena adanya spasmus otot dan fraktur yang sudah lama sehingga terjadi malunion yang sukar dikembalikan ke keadaan semula. Fiksasi dan Immobilisasi Pada fraktur yang dilakukan reposisi tertutup ketika tulang rahang dan gigi sudah terletak pada posisi yang tepat. membebat gigi. sehingga dapat dibagi menjadi : 1) Indirect dental fixation Mengikat rahang atas dan rahang bawah bersama-sama dalam keadaan oklusi dengan mempergunakan pengikat atau elastic band.Denture atau gurting splint dengan head bandage . Ada 2 macam cara : a) Kombinasi wiring dengan intermaxillary fixaton menurut cara Gilmer atau Ivy. Cara ini kurang stabil dan tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga jarang dipakai.

sebaiknya diangkat. Ditinjau dari segi stabilitas. 4) Fraktur tulang alveolar • Seringkali diperlukan debridement untuk membersihkan kepingan tulang yang terlepas. • Bila sebagian tulang alveolar terlepas sarna sekali dari muko-periosteum. Berarti dia harus tinggal di RS selama pemakaian alat tersebut. B) Fraktur Le Fort I. karena peralatan yang mahal dan laboratorium yang kurang memadai. Bila masih melekat dapat direposisi dan fiksasi. Biasanya gigi ini dapat bertahan beberapa tahun meskipun akhirnya terjadi ankilosis dan resorpsi. intermaxillary fixation tidak diperlukan keculai pada fraktur tulang alveolar regia molar dan premolar. diadakan pengisian seluruh akar secara retrograd atau konvensional dan diadakan replantasi. 2) Patah korona gigi dan mengenai pulpa . Fiksasi dengan eyelet. III Penanganan fraktur langsung pada memposisikan kembali maxilla pada hubungan yang tepat dengan mandibula serta dengan dasar tengkorak dan mengimmobilisasikannya. alat ini sangat ideal tetapi secara psikologis sering tidak dapat diterima secara baik oleh penderita. II.Vitalitas pulpa perlu diikuti perkembangannya di kemudian hari Kematian pulpa dapat berakibat dental granuloma atau kista radikularis di kemudian 9 . jaringan nekrotik dan benda asing. Secara garis besar immobilisasi dapat dibagi dalam 2 golongan besar : 1) Immobilisasi extra oral = External fixation Termasuk apa yang disebut sekarang ini sebagai modern concept merupakan suatu cara rutin dalam perawatan fraktur 1/3 tengah tulang muka. Beberapa kemungkinan dapat terjadi : 1) Korona gigi patah tanpa mengenai pulpa . baik jenis Ivy dan Stout's jarang memuaskan.Bila giginya remuk atau patah akarnya sebaiknya dicabut.Buat Ro foto dan tes pulpanya . Patah akar gigi yang kurang dari 1/3 apikal dapat dicoba dipertahankan. Di Barat teknik ini kurang sesuai dengan situasi di Indonesia.Bila gigi terlepas. Meskipun demikian peralatan itu tetap diperlukan pada perawatan fraktur 1/3 tengah tulang muka yang parah dan rumit.Ro foto dan perawatan endodontik .hari.Ro foto dalam keadaan reposisi dan fiksasi . • Umumnya fiksasi dengan Arch Bar memberikan hasil yang memuaskan. 3) Gigi yang dislokasi . Ini disebabkan bentuk alat yang menakutkan bagi penderita yang harus terus memakainya selama perawatan.

Bila cap splint pada gigi ge1igi tidak dapat dibuat dapat diganti dengan Arch Bar pada maxilla dan mandibula dan disatukan dengan IMF. Arch bar mandibula perlu diperkuat dengan circumferential wiring pada 3/3 dan dihubungkan dengan head cap melalui transbuccal check wire. Untuk memperkuat arch bar mandibula terhadap tarikan kawat suspensi. Fiksasi langsung dengan transosseus wiring pada garis fraktur b. Selain itu dapat diperkuat dengan menambahkan transbucal check wire. cap splint. dianjurkan pemakaian circumferential wiring pada 3/3. Teknik ini dapat diterima dengan baik oleh penderita karena peralatan fiksasi tidak tampak dari luar sehingga penderita dapat meninggalkan RS lebih cepat. dan extention rodnya. 2) Immobilisasi dalam jaringan Jenis ini dapat berupa a. Pada teknik ini maksila ditahan dengan kawat pada bagian tulang muka yang tidak mengalami cedera yang berada di a tas garis fraktur. Supraorbital pins adalah pilihan lain dari head cap. Dengan demikian maksila terj epi t di antara mandibula dan bagian tulang muka yang stabil. Teknik suspensi dari kawat (internal wire suspension technique) Teknik fiksasi ini tidak memerlukan alat-alat yang mahal atau fasilitas laboratorium yang mutakhir. Maxilla yang dihubungkan dengan head cap disebut Craniomaxillary fixa tion. Bar ini kemudian dihubungkan dengan perantaraan suatu connecting bar lurus dengan extension rod dari alat-alat fiksasi pada rahang.Secara singkat teknik ini sebagai berikut : Maxilla yang mengalami fraktur ditahan Plaster of Paris Head Cap dengan bantuan bar penghubung (connecting bar). Bi la mandibu1a yang dihubungkan dengan head cap disebut Cranio-mandibula fixation. Kawa t suspensi ini dihubungkan dengan kawat fiksasi/arch bar pada mandibula. Dua buah pin di tempatkan pada supraorbital ridge kanan dan kiri. Kedua pin ini dihubungkan dengan sebuah bar yang melengkung. Teknik suspensi dengan kawat ini dapat berupa a) Circumzygomatic Kawat penggantung/penahan melalui atau meliputi arcus zygomaticus b) Zygomatic-mandibula Kawat melalui lubang pada tulang zygoma c) Inferior orbital border-mandibula Kawat melalui lubang pada lower orbital rim d) Fronto-mandibular Kawat melalui lubang pada zygomatic processus pada tulang frontal e) Pyriform fossa mandibular 10 . Head cap dapat diganti dengan haloframe yang mempunyai fungsi sarna dengan head cap tetapi jauh lebih stabile Frame ditempatkan di sekitar cranium dengan 4 buah paku.

Intermaxillary fixation biasanya tidak diperlukan. Fraktur yang tidak stabil diperlukan transusseus wiring langsung pada daerah yang patah tersebut. lalu sebuah elevator dimasukkan untuk mengungkit bagian-bagian fraktur ke posisi semula.temporalis superfisialis membentuk sudut kira-kira 45° dengan bidang oklusal. . keadaan umum penderita. 11 .RA (maksila) 4 minggu .RB (mandibula) 5-9 minggu . 3) Fraktur zygomatic komplex Cara ekstra oral a. Fraktur pada daerah arcus zygomaticus biasanya tidak memerlukan fiksasi karena keseimbangan otot-otot antara M. diinsisi dan Bristow's Elevator dimasukkan untuk mengungkit tulang zygoma pada kedudukan yang normal. Cara intra oral : Insisi dibuat pada sulcus bucalis.f) Kawat me1alui lubang pada fossa pyriformis.maseter di bawah dan fascia temporalis di atasnya. diperlukan suatu pengamatan lebih dulu terhadap penyembuhan fraktur tersebut. misalnya pada : a) Salah satu rahang tidak bergigi b) Immobilisasi mandibula tidak diperlukan c) Suatu keadaan dimana immobilisasi mandibula merupakan kontraindikasi. maka sebelum dilakukan pembukaan alat-alat fiksasi. misalnya pada obstruksi nasal yang berat. Sebuah hook khusus dimasukkan ke bawah tulang dan diungkit ke posisi yang normal.Fracture condyle 2 minggu Mengingat cepatnya penyembuhan fraktur dipengaruhi banyak faktor. Nasal septum-mandibular Fiksasi ini sangat tidak stabil Pada beberapa keadaan. Teknik Gillies lnsisi dibuat di daerah temporal sepanjang 2 cm di antara bifurkasi V. Fascia temporalis diexposed. misalnya hebatnya fraktur. ketrampilan operator dan berbagai faktor lokal. Ini hanya untuk perawatan Le Fort I dan sangat kurang stabil. gizi penderita. b. suspensi langsung terhadap maksila dapat dilakukan yaitu apabila artikulasi gigi geligi yang tepat tidak mutlak diperlukan . Lamanya fiksasi Yang dimaksud dengan sembuh yaitu tidak terdapatnya mobilitas pada daerah fraktur bila dilakukan manipulasi dengan tangan. External incision langsung dilakukan di antara fraktur.

C) Pemberian makanan Makanan umumnya dalam bentuk cairan atau setengah cairan. Pemberian secara parenteralpum dapat dilakukan. Seharusnya seorang perawat yang berpengalaman mengawasi di sisi pasien sampai pasien sadar betul. E. D. ahli anestesi akan mengangkat endotrakeal tube. D) Kebersihan mulut Pembersihan gigi dan kawat fiksasi adalah sangat penting untuk mengurangi terjadinya infeksi. apalagi setelah dilakukan tindakan reposisi dan fiksasi. Pemberian vitamin A. ini dapat kita diskusikan dengan ahli anestesi. bila reflek batuk sudah pulih. B) Antibiotika dan analgetik Pemberian antibiotik sangat perlu sekali bagi setiap fraktur rahang. Bila fiksasi baik analgetik biasanya tidak mutlak diberikan. Obat dalam bentuk cairan lebih baik bagi penderi ta. Bila keadaan jalan nafas penderita mengkhawatirkan.Perawatan Pasca bedah A) Perawatan segera setelah operasi Setelah operasi dengan narkose. mineral Ca. Pemberian dalam bentuk kapsul atau tablet adalah sulit karena adanya IMF. 2) Daerah fraktur yang terbuka 12 . Makan dapat diberikan melalui celah yang ada antara gigi atau pada fossa retromolar. Alat penyedot dan alat pemotong kawat harus selalu tersedia bilamana diperlukan. Komplikasi Fraktur Rahang Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya komplikasi fraktur: 1) Besarnya trauma yang terjadi Bila trauma yang terjadi begitu besar sehingga selain kerusakan tulang juga terjadi kerusakan jaringan. B compleks. fosfat. nasopharingeal tube dapat dipertahankan sampai 24 jam.

Pada fraktur yang tidak dirawat dapat terjadi komplikasi seperti malunion. delayed union dan keadaan yang lebih berat. Dengan adanya infeksi kemungkinan terjadinya kerusakan jaringan makin lebih besar. yang memudahkan terjadinya infeksi. Demikian juga pada perawatan yang tidak sempurna. TBC. immobilisasi dan fiksasi . kemudian ulangi reduksi.Bila union sudah kuat.Hilangkan semua faktor penyebab Bila perlu lakukan operasi ulang 3) Malunion Sebab : . o Fiksasi dan imobilisasi yang tidak baik • o o Perawatan terhadap delayed union . 3) Fraktur tidak dirawat atau perawatan yang tidak sempurna. fragmen o tulang yang keci1-kecil atau adanya gigi pada garis fraktur o Adanya fokal infeksi o Reaksi penyembuhan dari tubuh yang rendah o Penyakiy -penyakit sistemik seperti sifilis.Alat fiksasi dan immobilisasi yang tidak baik Perawatan malunion : . posisi gigi yang kurang baik dan adanya gigi yang gangren dapat mernpermudah tirnbulnya komplikasi bila terjadi fraktur di regio tersebut. keadaan yang lebih berat dapat terjadi dengan timbulnya infeksi akibat komplikasi yang terjadi dan ini berpengaruh pada penyembuhan yang diharapkan.Reduksi yang tidak tepat . 4) Keadaan gigi-geligi Keadaan gigi yang kurang baik seperti anatomi gigi. Komplikasi setelah perawatan fraktur 1) Infeksi 2) Delayed union Sebab : o Reduksi kurang baik o Adanya interposisi dari serat-serat otot.Pada fraktur kemungkinan terjadi sebagian daerah fraktur yang terbuka.Refracturing. perlu tindakan osteotomi melalui garis fraktur semula 4) Non union 13 . dan o lain-lain.

antara lain 1) Umur 2) Keadaan umum 3) Bentuk fraktur 4) Jarak antara kedua fragmen tulang 5) Vaskularisasi dari kedua fragmen 6) Infeksi 7) Perawatan 14 .Menangguhkan perawatan yang terlalu lama .alveolaris superior serta cabang-cabangnya pada RA. kerusakan n. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan tersebut.Alat fiksasi terlalu cepat dibuka .Fiksasi dan immobilisasi yang tidak baik . 6) Trismus Penderita sukar membuka mulut.Reduksi yang buruk .Sebab : .Adanya benda asing di garis fraktur 5) Kerusakan saraf Dapat terjadi paraesthesia karena kerusakan n.infra orbitalis. n.alveolaris inferior pada RB.