Contoh Puisi

Oleh: Farhana Nariswari X-1

.. menulis. Guruku... Semula aku tidak bisa. Terima kasih untuk semua Miss-ku.. aku senang. engkau tersenyum.... dan berhitung..... Sekarang aku pintar.y Menurut sifat bahasa Puisi diafan Guruku (oleh Bernadine Niticeta) Guruku. Ketika aku datang..jagal tidak dikenal ? tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tenggelam hilang y Menurut tujuan Puisi ekspresif Di Sini (oleh Rahne Putri) Kalau kamu ada di sini. aku harap pintu itu menghilang Agar kau menetap dan tak kembali pulang Kalau kamu ada di sini... engkau mengajariku.... membaca. Puisi prismatis Malam (oleh Chairil Anwar) Mulai kelam belum buntu malam kami masih berjaga --Thermopylae?. aku harap hujan tak akan pernah berhenti .... engkau menyambutku.....

kuharap segala kalau itu menghilang dan terlebur bersama sepi. berceritalah semaumu Setiap pori dinding akan merekam Kini. aku harap waktu berhenti Agar detik bersamamu terasa abadi Kalau kamu ada di sini. samat-samat kehilangan nada Ada beberapa tuts di kepalaku Memainkan melodi yang sama Bertubi-tubi menempa hati Berkali-kali menyayat nadi Sudah saatnya kucari not baru dengan kunci yang tak sama. namun ketukanmu yang menjadikannya sempurna y Menurut isi Balada Gemuruh Cinta Dalam Waktu (oleh Rendra) Bermilyar detik berselubung kerinduan Berjuta menit berselimut keinginan bertemu Beribu jam menanti waktu Beratus putaran bumi mengelilingi matahari menanti pagi lagi Berpuluh minggu bermimpi mendekap asamu Kapan melegakan himpitan cinta Himne (Oleh Saini S.K.) . partitur yang sederhana.Agar senyummu tetap bisa menyelimuti hati Kalau kamu ada di sini. Kamu. Aku. Benar benar ada di sini Puisi impresif Piano (oleh Rahne Putri) Entah bagaimana perasaan beberapa tuts piano yang tak pernah disentuh.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka dunia kehilangan sumber kasih Besarlah mereka yang dalam nestapa mengenal-Mu tersalib di datam hati.Bahkan batu-batu yang keras dan bisu Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri Menggeliat derita pada lekuk dan liku bawah sayatan khianat dan dusta. yang bersajak tentang anggur dan rembulan. Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu menitikkan darah dari tangan dan kaki dari mahkota duri dan membulan paku Yang dikarati oleh dosa manusia. ke tempat berjuang Generasi sekarang di panjang masa Menciptakan kemegahan baru Pantoen keindahan Indonesia Yang jadi kenang-kenangan Pada zaman dalam dunia Satire (Oleh Rendra) Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidad penyair-penyair salon. Ode (Oleh Asmara Hadi) Generasi Sekarang Di atas puncak gunung fantasi Berdiri aku. sementara ketidakadilan terjadi . dan dari sana Mandang ke bawah.

sedu penghabisan bisa terdekap Religi (oleh Rembang) . Aku sendiri. dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Tetapi apa? Aku gagal Elegi Senja di Pelabuhan Kecil (oleh Chairil Anwar) Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang. Berjalan menyisir semenanjung. rumah tua. pada cerita tiang serta temali. termangu-mangu dl kaki dewi kesenian. Romansa (oleh Zarry Hendrik) Tak pernah kulihat indah sehina ini Lututku patut bertelut dengan getar geletar yang paling tulus untuk mengakuinya Aku memohon ampun. masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat. Ada juga kelepak elang menyinggung muram.di sampingnya. desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. aku tahu aku salah Aku amat merasakan kesalahanku Sebab karena mencintaimuaku menakut-nakuti diriku sendiri Pernah aku mencoba dengan susah payah Di hadapan benda-benda mati Untuk sedikit saja memberi senyum kepada hari yang tanpa kau. Tiada lagi. Kapal.

memeriahkan hari-hari mati Islam kausku Islam pentasku Islam seminarku. nomor satu di dunia Islam benderaku.M. membahas semua Islam upacaraku. menampilkan karakter-karakter suci Islam festivalku. menyambut segala Islam puisiku. menyanyikan apa Tuhan. Daeng Myala) Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua .Islam agamaku. berkibar dimana-mana Islam teaterku. Islamkah aku? y Menurut bentuk Distikon (oleh Mandank) Berkali kita gagal Ulangi lagi dan cari akal Berkali-kali kita jatuh Kembali berdiri jangan mengeluh Terzina (oleh Sanusi Pane) Dalam ribaan bahagia datang Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana Dalam bah gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari Mewarna bagaikan sari Quatrain (oleh A.

Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu Quintet (oleh Mandank) Hanya Kepada Tuan Satu-satu perasaan Hanya dapat saya katakan Kepada tuan Yang pernah merasakan Satu-satu kegelisahan Yang saya serahkan Hanya dapat saya kisahkan Kepada tuan Yang pernah diresah gelisahkan Satu-satu kenyataan Yang bisa dirasakan Hanya dapat saya nyatakan Kepada tuan Yang enggan menerima kenyataan Sekstet (oleh Ipih) Merindu Bagia Jika hari lah tengah malam Angin berhenti dari bernafas Sukma jiwaku rasa tenggelam Dalam laut tidak terwatas Menangis hati diiris sedih .

Septima (oleh Muhammad Yamin) Indonesia Tumpah Darahku Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung gemunung bagus rupanya Ditimpah air mulia tampaknya Tumpah darahku Indonesia namanya Stanza (oleh Sanusi Pane) Awan datang melayang perlahan Serasa bermimpi. serasa berangan Bertambah lama. lupa di diri Bertambah halus akhirnya seri Dan bentuk menjadi hilang Dalam langit biru gemilang Demikian jiwaku lenyap sekarang Dalam kehidupan teguh tenang Soneta (oleh Muhammad Yamin) Gembala Perasaan siapa ta kan nyala Melihat anak berelagu dendang Seorang saja di tengah padang Tiada berbaju buka kepala Beginilah nasib anak gembala Berteduh di bawah kayu nan rindang Semenjak pagi meninggalkan kandang .

Pulang ke rumah di senja kala Jauh sedikit sesayup sampai Terdengar olehku bunyi serunai Melagukan alam nan molek permai Wahai gembala di segara hijau Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau Maulah aku menurutkan dikau .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful