P. 1
Revisi Rancangan.doc Prof Rozak

Revisi Rancangan.doc Prof Rozak

|Views: 416|Likes:
Published by thope21

More info:

Published by: thope21 on Jan 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Secara khusus.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. handal. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). ilmu pengetahuan. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. religius dan serta mampu bersikap. spiritual. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). B. sosial. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. dan kinestetik2. Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. dan akan memudahkan pengembangannya. Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. menghormati setiap elemen bangsa. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. mengembangkan dan menghasilkan karya.

karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. dan menjadikan kampus budaya bangsa. Undang-Undang Dasar 1945. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. C. Selain itu. bermoral Pancasila. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. memiliki jiwa kepemimpinan. mengemban misi pendidikan. dan ini akan memudahkan pengembangannya. serta membangun emosional. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. Berangkat dari visi tersebut. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi.bermoral Pancasila. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. . mengaplikasikannya. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. dan mempunyai rasa percaya diri. Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara.

pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’. pengembangan hasil riset. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Upayakan optimalisasi penerimaan. 8. 9. 3. Dengan demikian. dan penuh tanggungjawab. sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas. 4. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang. yang meliputi: 1.dispiln. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. 7. jangan mempersulit. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. 6. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. . 5. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. 2. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi.

terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. baik bagi Dosen dan karyawan. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. 2. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Disiplin . disiplin. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya. Pimpinan Fakultas. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor.Dalam perjalananya. 4. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian. profsionalisme. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. 3.etos kerja. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . Semoga Allah SWT. Lembaga Pengkajian. 5. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran.

3. pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. Melakukan pengkajian. mandiri. Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. 2. 2. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. Dalam kontek ini. beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. Fungsi perbaikan dan penguatan. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila. Fungsi penyaring. satuan pendidian. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis .Dalam kontek ini. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. 3. Satuan Pendidikan. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati. dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1.

Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. berkemanusiaan yang adil dan beradab. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum.dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. berjiwa persatuan Indonesia. Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. . sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya. Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. seminar dan lokakarya. 4.

. Dalam tulisan ini. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. melainkan menyatukan keduanya. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. akhlak mulia. pengendalian diri. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. kepribadian. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya. Pengertian Pendidikan Karakter.masyarakat. Berpedoman pada uraian di atas. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. melainkan banyak. Definisi itu tidak satu. akhlak mulia. bangsa dan negara. dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. pengendalian diri. kepribadian. menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. kecerdasan. Secara normatif.masyarakat. Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal. Hal tersebut. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. Berdasarkan peristilahan. kecerdasan. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’. bangsa dan negara. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.

Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. dan 14. bangsa dan negara. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Manusia yang mandiri.kreatif. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. (Penerbit Indah Surabaya. Memang harus diakui. 9. Manusia yang mampu pengendalian diri. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusiua yang memiliki kecerdasan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. masyarakat. Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya. 5. 7. berilmu. 4. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan. Manusia yang sehat. Dengan demikian. Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at. Berangkat dari pengertian tersebut. 10. 11. Manusia yang memiliki akhlak mulia. 12. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1.20 Tahun2003). Manusua yang cakap. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. berakhlak mulia. Manusia yang kreatif 13. 8. sehat. karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003.mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No. 3. maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. .cakap. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. 6. Manusia yang memiliki kepribadian. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab.

hati. Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia. Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4. B. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. yang mengandung komponen pengetahuan. maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. sifat . personalitas. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil.hlm 19 4 ibid . perilaku. diri sendiri. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan.”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. sesama manusia. harus berangkat dari semangat yang sama. Berangkat dari pembahasan ini. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur. dan nonformal. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian. kesadaran. akan membawa konsekunsi yang berbeda. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. formal. 3 Nurla Isna. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. kejam. jiwa kepribadian. temperamen dan watak. individu. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan. motivasi dan keterampilan. bersifat dan berwatak3. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Laksana Yogayakarta 2011. yaitu cinta tanah air dan bangsa. Dalam bahasa yang sederhana. karena memberikan makna yang lain. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan.berperilaku. perilaku. Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal. budi pekerti. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. tabiat. Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan.

bertoleran. diantaranya adalah : 1. bermoral. berakhlak mulia. regional.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. berbudaya. haluan negara. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Hormat dan santun Dermawan. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepemimpinan dan keadilan 7. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. cakap. Oleh karena itu. kreatif dan bekerja keras 6. Percaya diri. patriotik. berakhlak mulia. dinamis. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. kompetitif. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. konstitusi. berilmu. bergotong royong. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. sehat. kreatif. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. Tanggung jawab. tidak hanya secara wawasan keilmuan. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Untuk itu diperlukan . kedisiplinan dan kemandirian 3.

Olah Pikir (intellectual development). dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. dan penilaiannya. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. C. Dari kematangan karakter inilah. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Bagi Foerster. serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966).sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. pelaksanaan.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Lebih dari itu. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. Ovide Decroly. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5. 5 6 Sutangsa. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). berkualitas. UPI Bandung. mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. 2011 hlm 12 Ibid . Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan. kualitas seorang pribadi diukur. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. dan mandiri.

perbedaan pemikiran. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab. selain meneruskan nilai-nilai. dan 3. mengubah cara berfikir. sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . termasuk Indonesia di New Delhi 1996. Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. pendapat. mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. 2. pengembangan. 2. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. mempersiapkan pribadi. D. dan 3. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama. Dengan demikian. dan penyebaran ilmu pengetahuan. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Senada dengan hal di atas. perilaku kebudayaan. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

maju. 4. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna. kreatif. manusiawi. 3. dan tidak diskriminatif. sejahtera. berilmu. Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. adil dan bebas. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. menghargai perbedaan. berakhlak mulia. . cakap.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. adil. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. 5. kesetaraan. mandiri. serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. VII Tahun 2001. demokratis. sebagai berikut : 1. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. berkeadaban. Menurut Malik Fajar (1999). masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. mandiri.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. 20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. UU No. keragaman pendapat dan pandangan. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. 7. Demokratik. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. memiliki keahlian. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. sehat. yang mengakar pada 6. 2. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). membangun warga negara berkeadaban. bersatu. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu.2. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. berbangsa dan bernegara secara demokratis. berkeadaban dan inklusif. saling menghargai. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. anggun secara moral. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. menghormati kemerdekaan beragama. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Berdasarkan itu semua. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. b.Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati.

Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. dan kewajiban. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. kepentingan. dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. tenggang rasa. dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. kesatuan. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. berani membela kebenaran dan keadilan. oleh rakyat. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. d. saling mencintai. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. c. hak. kelompok. tidak semenamena terhadap orang lain. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. e.

menghargai karya orang lain. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. persepsi yang sempit. mental. mental. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban. sikap adil. termasuk law inforcement yang lemah. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. berbangsa dan bernegara. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Sebagai nilai dasar. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat. tidak bergaya hidup mewah. kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. dangkal dan tertutup. mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. isinya belum dapat dioperasionalkan. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan. suka menolong orang lain. hormat terhadap hakhak orang lain. suka bekerja keras. dan etika kebangsaan. . Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. tidak boros. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. nilai dan kaidah normatif. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. Cerminan watak. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. Karena sifatnya abstrak dan normatif. orang bersorak sorai. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya.

Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial. Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi. 7 Syahrial Syarbaini. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya. b. Wawasan. Terbuka. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Curiosity. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. Open mindedness. dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat.Grahalia Jakarta 2011 .”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak. Di sini. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. seperti sosio-politik. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain. tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika. Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan. budaya dan hankam. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. ekonomi dan politik.hlm 35. c. d. yaitu sebagai berikut 7 : a. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude. ekonomi. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik.

anggun secara moral. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. berbangsa dan bernegara. d. teknologi dan seni. bernegara. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. bernegara. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. e. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. dan persuasif. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi. dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. profesi ekonomi. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. seperti etika profesi hukum. Dengan dasar itu semua. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. f. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. pemerintah ataupun masyarakat. b. Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Jujur. c. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . profesi kedokteran. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara. bernegara. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya.e. dialogis. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan. E. Independent.

sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. krisis sosial budaya. berlanjut ke krisis ekonomi. Bahkan menjadi semakin terpuruk. Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai. dan akhirnya menjalar ke krisis politik. Akibat dari krisis politik yang terjadi.Jum’at 15 Januari 2010 . Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah. dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. Namun. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang. dalam Kompas. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Diawali dari krisis moneter.

Di sisi lain. Komunikasi dan Informasi . Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa.” 11 September 2002. seperti agama. Padahal. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis. Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal. dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. oleh Direktorat Politik. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan. di Bappenas. Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. 10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10. Pada era saat ini. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas. Bahkan. suku dan bahasa. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur.

olah hati. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. beraneka ragam tetapi satu. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. dalam konteks keindonesiaan.Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. konstitusi UUD Negara RI 1945. tetapi juga keindahan. bahkan ideologi. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. bahasa. karsa. Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. adat istiadat. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . agama. olah rasa dan karsa. untuk menjamin keberlangsungannya. serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. Dalam konteks ini. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. pemahaman. selain masalah korupsi dan kemiskinan. Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. Tanpa mengakui fakta itu. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. Sebagian besar masyarakat. rasa. Kita pun. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. Oleh karena itu. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. masih tidak memahami prinsip. dan Bhineka Tunggal Ika)13. NKRI. terutama kelompok-kelompok dominan. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Pluralisme. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”.

melalui pemikiran genius founding fathers kita. Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi. Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. 1987. bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama. adil dan makmur. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. Artinya. sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945. perdamaian abadi dan keadilan sosial. bersatu. Karena dengan keterbukaan. mempunyai peran penting. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals). Konsensus dasar. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi. saling belajar. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. berdemokrasi. berdaulat.Jakarta : LP3ES. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . berdaulat. adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka. masalah persatuan dan kesatuan. bangsa Indonesia. Hasan Basari. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah. Untuk itu. untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. Hanya dengan kesadaran itu. Oleh karena itu. bersatu. yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. kita.masalah HAM. berbangsa dan bernegara.-. diterj.

lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. F. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 . Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. 1. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. hlm 79. Pendidikan Berkarakter. Jika hal ini kurang diantisipasi.2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional. selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja. prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Yogyakarta. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. yaitu Pancasila. Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan.(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. UUD 1945. karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut.murid dan para pengikutnya. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis.

Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. keetisan. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. Ketika Islam datang di Nusantara. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. Dengan pendidikan modern. hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. bagi sesama warga negara. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. Ketika hal ini terjadi. kesadaran. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada. Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah . mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. maupun bagi bangsa. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik. kepribadian. Hanya saja pada era penjajahan ini. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. welas asih dan bijak. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama.diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. kecerdasan. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. terutama dari lingkungan budayanya. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab.pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. Dalam pandangan Notonagoro20. pikiran (intellect) dan tubuh anak. sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. 20 21 Mubyarto. Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. etika). karakter). pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara. merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya. bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). termasuk pendidikan Nonformal dan Informal. Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. moral. Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi.

Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban.www. berakhlak mulia. Thursday. cakap. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. Selain itu. sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23. Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22. mandiri. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.com 23 ibid 24 Ibid . berilmu. kebebasan akademis. di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Wamendiknas pun berpesan. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24. Sebab. Tut Wuri Handayani. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku.” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. kreatif. Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). Mahatma Gandhi menyatakan. adat istiadat dan agama. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. Ing Madyo Mangun Karso. Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. Untuk itu. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu. Dengan demikian. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bahasa.Perihal pengembangannya sendiri. 22 Yoggi Herdani . budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan.dikti. Mengenai sarana-prasarana. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. sehat. 03 June 2010 . pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa.

beragama. Oleh sebab itu. dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat.2010 Fachri Ali.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Oleh karena itu. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. terorisme. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. 2. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. tawuran pelajar dan mahasiswa. seperti melakukan korupsi. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat.hlm 20 . Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003.Komunal:jakarta. pelacuran intelektual dan sebagainya25. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar. tidak hanya secara wawasan keilmuan.UII Yogyakarta.2006. kejahatan perbankan.2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma.intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila. Maka dari itu. malapraktik. seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. Pendidikan Agama. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26. Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud.

apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas. proses maupun hasilnya. (Jakarta: Lentera Dipantara. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik. “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati. Mengapa demikian?. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. Ivan Illich misalnya.pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya. baik akses. Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia. terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. Bebas dari sekolah.2006). Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. Seorang sastrawan besar di Indonesia.1982) Pramoedya Ananta Toer. selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. hlm 291 . (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Jejak Langkah. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama.

Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. Dengan caranya masing – masing. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang. kedisiplinan. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri. Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa.A. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar. Soekarno. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat. seperti R.tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’. Ki Hadjar Dewantara. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air. Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. Tan Malaka. G. melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta. Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya.kartini. bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi. Hatta. banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). Natsir dan lain-lain. Namun. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu . Moh. dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh.

tertib dan sejahtera. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. • Sila Keempat: kebebasan. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati. . yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing. Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. penyangga.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara. berbangsa maupun bernegara. kebersamaan. tercermin dalam sila-silanya. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. manusia sebagai subjek pendukung. kemerdekaan. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya.

Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. Ghalia Indonesia. dan Bermasyarakat. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. saling menghargai. bernegara. bersikap. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. bangsa. yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. menghargai perbedaan. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. dan negara. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. hlm 14 :2009 . VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. Bernegara. dan bernegara. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir. Untuk itu. saling peduli. berbangsa. Ketetapan MPR No. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. saling mencintai. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik. adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. tanggap akan aspirasi rakyat. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. saling memahami. b. efisien. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. dan efektif. Oleh karena itu. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu.Selain itu juga. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. jujur dalam persaingan. 30 Syahrial Syarbaini. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. rasa tanggung jawab.

ketenangan. Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. kritis. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan. membahas. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. . baik oleh pribadi. Perundang-undangan. d. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. belajar. meneliti. logis dan objektif. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. program-program pembangunan. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca.c. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. menulis. keputusan. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi. persaingan sehat. e. berkeadilan. kebijaksanaan pemerintah. dan keadilan. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. ketetapan. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. oligopoli. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi.

penegak hukum tidak profesional. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. berkembang dinamis. Pancasila bersifat universal dan akan . bermoral. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. berjiwa patriotik. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. tapi orang bangga menjadi koruptor. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi. berbudi luhur. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu. maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. toleran. kompetitif. bergotong royong. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa. dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. bahkan terperangkap skenario elite politik. Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi.percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). berakhlak mulia. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya. namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum.

Budha. Keempat nilai humanis tersebut. Oleh karena itu. Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh. sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian. Katolik. kesatuan dan (saling) menghormati.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika). Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI .mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final. Kristen (Protestan). apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila. yaitu Islam. BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN. Hindu. dan Konghucu. cinta.

5. Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008. Tentu. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. SH. dan 11. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010. Hal itu dirasakan perlu. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. Kav. Drs. Jusup Mulia. dan Fakultas Teknik.M. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. H. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. SH. Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. Ili Rohaeli. 7.E.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. SH... Bandung. S. Fakultas Pertanian. yaitu Magister Ilmu Administrasi. 2. Amir Husodo.A.221 sarjana dari 11 (sebelas) program . 3. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon. Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. 4. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.. (1965 – 1969) Letkol. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. dan Magister Ilmu Pertanian. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta. MBA (1998 – 2002) H. Soedjono. MM ( 2002 – 2005) H. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang. UNSWAGATI telah meluluskan 2.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. Sriadi. Djakaria Machmud. (1961 – 1965) Letkol. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti. 6. H. yaitu: 1.

Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen. dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN .studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati. Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. dan Akuntansi. Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis. dan Pendidikan Ekonomi.279 orang.

5. Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Visi. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. 2.B. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. 3. . inovatif dan berorientasi regional. bermoral Pancasila. Mengembangkan ilmu pengetahuan. dan menjadi pebelajar yang tangguh. Tujuan Unswagati yaitu : 1. Misi. 6. 3. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. nasional dan global. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. 2. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam mengemban misi tersebut. Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. mengaplikasikannya. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. 4. teknologi. dan mempunyai rasa percaya diri. 4.

Dalam perjalananya. profsionalisme. bermoral Pancasila. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Dengan demikian. C. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1. harus berangkat dari visi Unswagati. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. pengembangan hasil riset. seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . 2.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. disiplin. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. . Pimpinan Fakultas. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja.

dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. 5. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. 1. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional.3. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. 4. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi.etos kerja. Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Disiplin . Misalnya keadaan atau kondisi tubuh. . Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan.

mencuri. tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. Kemudian Dia Matur kepada Rasul. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. utang-piutang. Dia berfikir. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5. jangan khawatir. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta. Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan.orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. Dalam perjalanan pulang. Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. aku tidak sanggup meninggalkanya. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. dan kalau jujur. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu. ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. sumpah.Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan. dan sebagainya. Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. seperti perkara jual-beli. berzina dan berbohong. Berbicara tentang arti kejujuran. Artinya apa. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. akhlak ataupun muamalah. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang. Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. sungguh. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. Dalam hal ini kita ambil contoh . Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. baik itu akidah. teman temannya menawarkan Khamer . diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ). ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. maka .kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. Islam terbuka pada siapa saja . orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. tidak apa apa lah. bahwa …. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. tidak ada pengakuan. Keesokan harinya.

anti korup dan sebagainya. Keenam.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. adu domba . Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. ridho. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas. Kelima. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). Keempat. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. Kedua. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar.pintu maksiat tertutup bagiku . tawakkal. Ketiga. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. cinta dan sebagainya. Kedua. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya . shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW. maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. Pertama. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu. al juanid berpendapat. as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati.

al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. 3. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Perjanjian tersebut wajib dipenuhi. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. 4. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka. Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. juga ada pada perbuatan. Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. maka dikatakan dusta. Imam Ibnul Qayyim berkata. sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan. padahal sebaliknya. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111). maka dikatakan benar/jujur. 5. mereka itulah orang-orang yang bertakwa.akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. 2. tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Misalnya: 1. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari. Allah berfirman. Bersabda.” (QS. merupakan sifat orang yang munafik.” (QS. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . Kejujuran itu ada pada ucapan. tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. dusta. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah. kecuali kejujurannya (kebenarannya). Yang jelas. tetapi kalau tidak. Jadi. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. sedangkan lawannya. secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam.

2. untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS.' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof. adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya. At-Taubah : 199). Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. 3. keempat. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). pertama. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga. Maka dari sinilah. Otonom dalam penilaian karya 8. . 10. akan terhindar dari hal hal yang dibenci.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL. untuk senang-senang. Mempunyai motivasi yang kuat. Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. 1. bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena. atau untuk mengisi waktu luang. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7.Paling tidak. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5.

Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia.Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya.setiap bulannya. karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah. . Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah. Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan. kami benar-benar kagum. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya. bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai. maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut. suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya. Ucapan itupun masih juga terlontar. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010). Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. Sebuah cerita lain. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan..Ada sebuah cerita. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan.

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral. Dalam manejeman modern. Dengan demikian. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. . Penulis berkeyakinan.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. perlu di budayakan. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi. D. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar.Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. Artinya. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. baik itu pendidikan. Pemahaman yang demikian. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. Secara normatif. mulai dari rektor sampai pemelihara halaman. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika. karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya. Keharusan untuk bekerja sama. penelitian. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

paling tidak dapat memasuki pasar Asean. Jaminan kebermutuan dari aspek proses. hasil dan sumber pendukung. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. serta bagaimana prosedur mencapainya.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. perlu usaha khusus. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. proses. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. 2. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. Teoritik dan Praktik dalam 2. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati . yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. nasionalis dan religius. 3. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders. sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. Rencana jangka panjang harus realistik. Namun. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. 4. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik.

Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. hlm 33). Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru. sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir). Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Justru menjadi aneh. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. merupakan kebutuhan setiap manusia. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika). Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan. Menurut Kaelan (Djunaedi. dengan makud untuk saling mengenal. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif). Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. Membutuhkan manusia lain. raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. di dalamnya terdapat kesamaan.Konsep manusia. yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. rasa dan kehendak. Di balik keunikan manusia. bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. . Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain. Manusia merupakan mahluk yang unik. kesuusilaan. C sebagai manusia yang lain. karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. Tuhan adalah tempat bergantung. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan . apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. Raga bersifat kehendak. sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan.

sudah!!.cara mengalahkan manusuia lain. Manusia dikodratkan akal yang sehat. bohong dan munafik? Sering terjadi. tetapi ia dengan cepat menjawab. pengendalian diri. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan). jika ya katakana ya. nggak sakit ko! Jangan nangis. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/.pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. Selain itu juga. yah! Hemat penulis. Selain itu. menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). Kejujuran prosedural ini. kecerdasan. bangsa dan negara.tidak apa-apa. akhlak mulia. sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi. anak pintar. belum?”. . Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a. hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. jika tidak katakan tidak. meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama. masyarakat. kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. mungkir. orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. kepribadian. Contoh kongkrit misalnya. karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya. Sebaliknya. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.

dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral. Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”. itu bukan keahlian saya’’.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. yang di ucapkan oleh Dosen. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas. Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga. Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif.Karyawan maupun Mahasiswa). . Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya. pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic. Kejujuran subtantif ini .di dalamnya mengajarkan kejujuran. Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen. akan tetapi.Kalimat: ’’Mohon maaf. berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya. tidak akan membawa kemaslakhatan. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon. tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law.Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan.di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini. Bentuk kejujuran mahasiswa ini. lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen.

\ 3.” (QS. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia. dan seorang dermawan. Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. Contohnya seperti ucapan seseorang. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Jujur dalam perbuatan. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). maka akan merusakkan kejujuran niat. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. mereka kikir dengan karunia itu. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta.’” . aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.’ Maka. ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami. ‘Inilah hambaku yang benar/jujur. dan berpaling. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Jujur dalam tekad bekerja. al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain. at-Taubah: 75-76) 4. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Terkadang benar. hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah. seorang qari’. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . yaitu seorang mujahid. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Allah berfirman. bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.” (QS. setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. maka di antara mereka ada yang gugur. 2. Jujur dalam ucapan dan kehendak. Allah menilai ketiganya telah berdusta. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). maka Allah akan berfirman. hal Ini kembali kepada keikhlasan.

. Soempomo Djojowadono (1987). Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Prof. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya.” (QS. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. dalam seminar Akademika . mereka itulah orang-orang yang benar. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya. Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan. Membentuk asosiasi perwakilannya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah). dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Dan yang terakhir Attitude. dalam rasa cinta dan tawakkal. sebagaimana firman Allah. al-Hujurat: 15). seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2. Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7. 6. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi. Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3.Knowledge. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. 4.danAttitude. b. Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5.tapi ia juga menguasai. Wirjanto (1989).Skill. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya. Knowledge.5. tak hanya ahli di bidangnya. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan.

Untuk pengertian yang pertama. tidak boleh ada hubungan hirarki. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya.sebagai yang melayani. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien. Harus ada kebebasan. yang mengutip Roscoe Pond. 3. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan). Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. 4.Sungguhpun demikian. profesional akan selalu berhadapan dengan amatir. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. 1. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’. Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. bervariasi dan efektif. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8. Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab. transparan tentang waktu dan biaya . mengartikan istilah professional sebagai berikut . Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal. . Harus mengabdi kepada kepentingan umum.Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya). 2. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya. selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan). 6. ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. 5. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. 7. Harus ada hubungan Klien.UNDIP 28-29 Nopember 1989.

etos kerja.ketetapan dan memaksimalkan hasil.Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1. Trampil. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a. berperilaku jujur. Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas.menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya. Sikap jujur dan obyektif. b. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi. Penguasaan ilmu dalam praktik. saling mendukung. Cukup kreatif. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan. 4. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan. g. h. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin . d. 2. f. Pengalaman yang cukup bervariasi. e.karena waktu itu sangat terbatas. Menguasai standar pendidikan minimal. c.etos kerja. 3. Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Disipin harus melampaui waktu. obyektif. c.Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat. Disiplin adalah kerja keras. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking. Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik. ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. mengelolah dan mengendalikan dengan baik.Melakukan pekerjaan . Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan). Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas.Disiplin akan tercermin pada kesiapan. kerja cerdas dan kerja tuntas. cukup cakap. saling mengisi. Mampu menata. Makna Disiplin .

Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. ulet. ruh. perasaan. bersemangat. pikiran. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban.merupakan pemborosan waktu. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri. Dengan latihan. atau sosio-kultural. menghargai waktu. Semakin Anda disiplin. sikap. semangat. menghargai pengetahuan. Saat Anda semakin kuat. mengarahkan. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. akuntabel. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. tekun. responsibel. Seiring dengan perkembangan zaman. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. Itu tidak akan menolong. dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. dan manajemen kerja mereka. tekno-industrial. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban. menggerakkan. baik yang bersifat ekono-komersial. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. kreatif. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. berintegritas. sabar. orang lain akan tampak lebih kuat. hemat. dan keyakinan yang mendasari. sistem. Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. teliti. Sebaliknya.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat. orang lain akan tampak lebih lemah. . kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Anda akan menjadi semakin kuat. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan. tekno-industrial. inovatif.

akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. 31 facebook. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. Teori-teori manajemen modern.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Dalam manejeman modern. sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Sebaliknya. A team based environment demands that you make responsible decisions.sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members.etos kerja. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan. akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. it requires you to take charge of your career. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya. Keharusan untuk bekerja sama. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1. . Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. kelihatanya memihak kepada yang kedua.arnold status. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3.

good. sedini mungkin disirnakan. both will escape" Chinese Proverb. KESATUAN. Jika kondisi ini telah terpenuhi. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. then you did it. B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. "Great achievement is usually born of great sacrifice. ringan sama . and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. harus mau membuka diri / transparan. 2. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. "If you chase two rabbits. Jika senang akan sama . Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar .Pepatah yang mengatakan. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. . Ibarat sapu lidi.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi. Setiap permasalahan yang timbul. I did it. Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. 3. If anything goes real good. If anything goes semi . "If anything goes bad. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. Yang namanya rahasia. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya. VISI DAN MISI. hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. we did it. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai. "Coming together is a beginning. we make a life by what we give" Winston Churchill. SALING MENGHORMATI. setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. manfaatnya akan sirna.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. staying together is progress.sama dipikul. yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4. Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan. selain terbuka peluang menuju kegagalan. E atau F. "We make a living by what we get. and working together is success" Henry Ford 5.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya. jika susah akan sama . Selain beban akan semakin ringan. SALING PERCAYA. POSITIVE THINKING. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal.mata hanya oleh penampilan luar.

employ someone. I wouldn't jump with them. Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah."A positive attitude brings strength.niat terselubung. "If all my friends were to jump off a bridge. but teams beat the odds" SEAL Team saying. RELA BERKORBAN. adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. Keberhasilan Amerika. TANTANGAN DAN RINTANGAN. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat . KERJASAMA. "Individuals play the game. I'd be at the bottom to catch them. Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian. Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan. ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. or forbid your children to do it" Monta Crane e. Friends listen to what you say. "A successful team beats with one heart" Unknown 7. "There are three ways to get something done: do it yourself.sama.Keberhasilan Unswagati di masa datang. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . Identitas Unswagati. Menjaga nama baik Unswagati. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. apapun tantangan dan rintangan yang timbul. Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. 8. semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. . karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Kegagalan Indonesia. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. Everyone hears what you say. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini. energy and initiative" Remez Sasson 6. Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. Kembali. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati.

c. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat. dosen wali dan kode etik mahasiswa. Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. melakukan apel dan lain sebagainya. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik.3. Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. Meskipun tidak secara struktur. sebagaimana berikut ini : a. 4. norma. b. Kode etik dosen. Dalam buku pedoman akademik. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Untuk itu. d. sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. dicantumkan tentang kode etik dosen. Konsep dan Operasional . harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. a. lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. Untuk membentuk karakter agamis. suasana dan kualitas. karakter. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. Kultur. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian.

Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN . Agama PPKN B.Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen. Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran.

Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan. membimbing.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik.INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik. Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. b. Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya.Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. . Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya. Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut.

Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut. maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan. . peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler. nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan.

Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. 3. Pengembangan sumber daya manusia. keterlibatan aktif. yaitu : 1. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. 4. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. 2. Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Induk . pilihan. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. Peningkatan pengelolaan program. 5. social. etos kerja dan kemanfaatan sosial.Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler. menyenangkan. Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. potensi. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 5.

6.Tingkat pendidikan . 7.Sertifikasi .Jabatan akademik . Pengembangan kerja sama dan kemitraan. Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci . Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan.

Entry Grade .IPK lulusan .Insentif .Penguasaan bahasa Inggris .Jaminan sosial .Gaji .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .Indeks Prestasi Semester .Evaluasi kinerja .Pelatihan dosen .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .Rasio Dosen : MahaSiswa .Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .Hasil seleksi/testing .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .Umpan balik .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Tunjangan .Hasil kerja .2005 tentang Guru dan Dosen) .

.kualitas lulusan .Nilai penelitian kat dengan berbagai insti.Penyerapan oleh pasar kerja .Lama studi .Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum .Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Penguasaan bahasa Inggris .Kepuasan lulusan .Frekuensi peninjauan .Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program .Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .Nilai pengabdian tusi.Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja . baik negeri masyarakat maupun swasta .

program studi.Evalusi internal .Pembukaan fakultas.Akreditasi Institusi .Akreditasi Program Studi .Citra Unswagati .Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .EPSBED . dan konsentrasi baru .Akreditasi Jurnal Ilmiah .Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum .Audit akademik .

Layanan perpustakaan .Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Kepuasan orang tua .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni .Web based learning .Layanan administrasi ..Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .Pemeliharaan saranaprasarana .Layanan informasi/ internet .Kelengkapan saranaprasarana .

Pembangunan Kampus III .Pembangunan aula yang representatif .Defisit anggaran .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Deviasi anggaran .Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Pendapatan .Pertumbuhan pendapatan .Pembangunan Rusunawa ..Kerjasama penelitian institusi .Pelatihan .Diversivikasi sumber penerimaan .Bantuan sosial .Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi .

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

yang setia kepada janji.Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. bijaksana. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur. afektif dan psikomotor. yang dievaluasi dengan cara berbeda. Tujuan meliputi aspek kognitif. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. sopan dan sebagaimana. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. taqwa kepada Allah swt. Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. Bahan ta'lim/madah (3). Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya. Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. 1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. bertanggung jawab. sehinggga harus diadakan pilihan. Untuk majlis ta'lim. Proses ta'lim/amaliyah (4). apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. terutama dalam bidang afektif. selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. 23). 3. Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. cermat. . bersih. Tujuan/gayah (2). kemudian dikembangkan oleh penulis. Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum.

Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan . Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. sehinggga jelas. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. proses belajar mengajar. Jadi. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. dan alat penilaian. Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. bagaimana cara melakukkannya. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari.

Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. target realistis. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. maka POAC (Planning. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. Bekerjalah kamu. misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. 4) Controling . niat memang berasal dari hati. tapi ketualah yang menjadi figur. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun. memimpin. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib. Organizing. Ketua memang penting. bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. visi. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. mengarahkan. jadwal kegiatan. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan. dan anggaran. tetapi bukan orangnya. struktur dan kelembagaan. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. 5. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat.

tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal. Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah. Bukan karena tidak ingin dilaksanakan.a.) . bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik. (Ali bin Abi Thalib r.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan. c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. membuat target. Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. 14). Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

cara pendekatan.1997. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya. Penilaian proses bertujuan untuk. pembinaan dan pengembangan program. seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex. Becher.A. penyempurnaan. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. prosedur. Inggris menyatakan bahwa. dan output/hasil. Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya. modal kerja . adanya deskripsi program sebagai objek penilaian. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program. R. pelaksanaan. seperti program.. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. mencari. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi. Menetapkan suatu nilai atau judgment. Halaman 127 . 1989. dan pengembangan program. dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. B) adanya suatu kriteria dan c). (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. proses. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. masukan/input. hasil program dan laiblain. yakni menentukan. agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. Juga terjadi sebaliknya. a). dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi.

Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7. Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. kondisional sifatnya. tidak cuek/menyapa. 3. les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8. suka berjabat tangan dsb.maupun pada saat program berjalan. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. c) Pada mentor: ramah. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah.A. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya. Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu. menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. dst. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90. Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5. Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+. Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2. .B+. dsb.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul. hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah.tidak berkata kasar. mendahulukan kepentingan yang lain dst. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku. 4. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin.: 1. Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program.

Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1). Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. . Muamalah. Syariah. kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat. 6). 4). Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin. dan sepercikannya diberikan kepada manusia. Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. 2). Ibadah. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. 3). Munakahat. ceramah. dan membangun karakter building.dan 10). 3). Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1). munakahat. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon. bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari.7) tarikh Islam. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. berupa kepeduliaan. Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati.Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif.Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a. membangun kecintaan dalam beribadah. 3). 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. akan tetapi lebih ditekankan pada. Sejahat-jahat manusia. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. baik yang diminta maupun yang tidak diminta. f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah. 5). akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. 2.7. Dialah yang maha pemurah. 2). Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. pengokohkan aqidah. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. kapan saja dan dimana saja. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. saling membantu. saling menguntungkan. Aqidah. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak. atau sekejam-kejamnya orang.

bangsa dan negara. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa. namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. teknologi. artinya hamba yanga maha pemberi. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain. sehat. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. kecerdasan. pasar murah. dan metafisika. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab. Dalam serba kekuarangan . akhlak mulia. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Zakaria Mahmud SH. Bagi mahasiswa program santunan. Sosok rektor sang birikrat.SE. berilmu. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. tetapi juga pengusaha yang religius. cakap. 1998 : 11) . ekonomi. menyaksikan kelaparan misalnya. Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. tetapi paling tidak dia sudah memulai. Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. berakhlak mulia.Msi. H. sosial. kreatif. bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan. B. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua. dan lain-lain. pengendalian diri. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. hukum. dan lama-lama akan hilang rianya.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. studi kajian Al Qur’an. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. kepribadian.

memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. elektronik. yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban.masyarakat yang Pancasilais. Sebagai pendidikan politik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A. 1985). Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. memiliki sikap kritik dan inovatif. Sebagai Pendidikan Politik. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. antropologi. sosiologi. Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. Di samping itu. yaitu: ilmu politik. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. Kedua. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. terekam. tersiar. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila.Wahab. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. menghayati dan mengamalkannya. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. hukum. 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat . Ketiga. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. sebagai Pendidikan Politik.

maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. dan moral Pancasila. Melalui PKn. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. yakni (1) Linguistic Intellegence. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences. partisipatif. Ketiga. Dampaknya dalam proses pembelajaran . konsep. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. 2007 : 19). berbangsa.(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. Kedua. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia. afektif. Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy).wordpress. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. nilai. kewarganegaraan yang demokratis. 2. (2) Logical-Mathematical Intellegence. dan moral Pancasila. Pertama. PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif.com/peneltian tindakan kelas). nilai. dan (7) Intrapersonal Intellegence. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. (3) Spatial Intellegence. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. konsep. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini. (4) Musical Intellegence. Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. dan bela negara. kewarganegaraan yang demokratis. cerdas. dan bertanggung jawab. (6) Interpersonal Intellegence.sebagai pengalaman langsung (hand of experience). Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”.

Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. dan sebagainya. dan sebagainya. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah. Oleh karena itu. misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. berdiskusi. . bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton. Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini. Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. the confilcts that may occur among two or more values. Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. 1975/1984 dan 1994). Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. Pupils try to understand the consequences of particular values. and the reasons for particular values choices. tidak disertai data kuantitatif. bernalar dan juga membandingkan. mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. 2. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. berdebat.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

dan bahkan mencari informasi dari internet. 2. 4. 3. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral . menyaksikan siaran radio. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana.1. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. televisi. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan. Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi. melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok.

kreatif. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. penghayatan. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. yakni ”.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai. berakhlak mulia. berilmu. Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi. penghayatan. e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman. mandiri. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. fasilitatifdialogis. dan . cakap. transformator nilai. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu. e. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah. pengembang nilai.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut. sehat. teladan. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. d. f. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum. b. c. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. a. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman.. penopang kajian. terkait aspek sosiokultural. penguat. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial.. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. penggali nilai.

5. wawancara. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian. dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini. Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya. . Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. 3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan.

Hak Azasi Manusia (HAM) . sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan. dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut.Sistem Konstitusi . 6.Proses berbangsa dan bernegara 3. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan.Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW .Pancasila sebagai sistem filsafat .Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5. POLITIK DAN STRATEGI .Karakteristik identitas nasional . Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut. TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA . IDENTITAS NASIONAL . kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah.Warga Negara Indonesia . . adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1.5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini. Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Konsep dan prinsip demokrasi .Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6. Setelah selesai proses pembelajaran ini. DEMOKRASI INDONESIA .Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2.Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA .

Pemajuan. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1. 8. Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan.Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok.7.Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat. Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2. Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4. Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3. GEOPOLITIK INDONESIA .Konsep Asta Gatra . o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum . Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5.Wilayah sebagai ruang hidup .

observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian. 8. Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian.Law 6. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . Tahap melaksanakan Investigasi ini juga. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan. Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok. 7. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa.

Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif. Pada pertemuan ini secara berkelompok. dan kurang sekali.wawancara. cukup. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran. mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. kurang. tes perbuatan. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. 7. . temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. baik. Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. studi pustaka. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. observasi. seperti baik sekali. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas. kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Langkah-langkah dalam pembelajaran ini. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan.

4. 4 = di atas rata-rata. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh. 5 = istimewa NO KRITERIA 1. C. 5. 3 = rata-rata. SKOR CATATAN 3. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah.Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2. 2 = cukup. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut.

menghargai orang lain. sistematis. proposal. sopan. akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. perasaan. Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. jelas. Hal ini berarti.1. baik lisan maupun tulisan. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. gagasan. tindakan. sistematis. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. baik dalam situasi formal maupun nonformal. seperti artikel. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. Karakter. karakter. Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. teratur. halus. perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun. Sebaliknya. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. dan kepribadian. Sikap positif ini. melalui penggunaan bahasa . yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. melalui mata kuliah ini. Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. dan logis. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran. emosi. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. yaitu bahasa yang sopan. Mahasiswa. dan tidak menyinggung. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. laporan. dan pengalaman baru yang diperolehnya. santun. ditegaskan Widjono (2007: 3). Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. stimulus. Dampaknya. watak.

dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. teknologi. menghujat. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. Oleh karena itu. pemecahan masalah. memilih pemeran. berbicara. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. menerapkan. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. memaki. dan mengevaluasi pembelajaran. menggunakan/menerapkan. dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. membaca. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. menarik. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. dan pola tindak peserta didik. Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. memerankan hingga mengevaluasi. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. mencela atau melecehkan. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. Pembelajaran yang efektif. Dalam kaitannya dengan pembelajaran.yang kasar. 1. seperti memahami. pola sikap. seperti melalui presentasi. dan diskusi. merumuskan masalah. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. memfitnah. dan menulis. seperti memilih topik. 2009: 5). pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. 2. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut. yaitu menyimak.

Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang.belajar tumbuh. sopan. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. dan perilaku mahasiswa. 41. berbicara. 2.. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. sikap. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. dkk. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. dan ikhlas (Kesuma. 2011: 16). Melalui berbagai pengalaman belajar. bahasa. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. tanggung jawab dalam mengemban tugas. 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip. kerja keras. tanggung jawab. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. 4. tetapi juga membantu mereka memahami. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. dalam berbagai situasi dan konteks. dan 65) . Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah.. dan menulis. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. etos kerja yang tinggi. Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. menginternalisasi. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut. 3. dkk. yaitu menyimak. membaca. dan kerja sama. Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya. seperti kedisiplinan. Lickona (Kesuma. kejujuran. keadilan. Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi. 13. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut. baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. Noer (2007: 9. santun. Sekait dengan ini.

ajaran dan pemikiran. dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 .go. Di samping itu. dengan kearifan lokal juga. bertutur. Sebagai contoh. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). nilai-nilai. tulus ikhlas. Selain bahasa. dan teratur. Sekait dengan kesantunan berbahasa. babad. Selain itu. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. tembang. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. melainkan melalui proses yang panjang. Bahkan. Mereka hidup dengan aman. dan religius. jujur. Misalnya. tanggap.” Berdasarkan suluk itu.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah. suka bersilaturahmi. permainan. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. mengatur dalam cara bertani yang baik. Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. berbudi luhur. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. Sebagai suatu budaya yang mentradisi. Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. serat. ialah sabar penuh pengertian. suluk dan kidung.kemdiknas. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain. perilaku. tidak iri maupun dengki. cara beternak. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. terutama dalam bahasa. toleransi. berperilaku. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap. terus terang/jujur. dan sebagainya. sikap. syair. dan berbagai bentuk lain39. terbuka terhadap siapapun. tertib. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer. berkehidupan. Oleh karena itu. rendah hati. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. tidak angkuh maupun congkak. kata bijak. cara bergaul. Lebih dari itu. walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. “…. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka.

kerjasama. dan jangan pula angkuh). meredup. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. termasuk perguruan tinggi. sopan. lembut. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. tetapi tidak dihayati. profesionalisme. nyingkir ana jubriya kibire. profesionalisme. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. sikap. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. yaitu kejujuran. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. Melalui lima pilar ini. dan kedisiplinan. bersikap. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. mencela. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. semoga terlaksana. menjunjung tinggi lembaga. dan damai. 2011: 11). Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. harus jujur. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. Namun. disiplin. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. dan bahasa. masyarakat saling menghujat. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. dan berkompeten. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. berperilaku. bertutur lebih baik. Dalam hal ini. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur. singkirkan watak congkak dan takabur. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar. dosen. pegawai. berdaya saing tinggi. Dengan kata lain. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . berkepribadian. Akibatnya. yayi den kalakon. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. dan ramah. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. berkata dengan sebenarnya. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. Artinya. menuding. mengritik dengan tidak santun. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. bersikap. kerja sama. kehilangan maknanya. lima pilar ini menjadi pedoman. tenteram. Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. yaitu Mituhua pitutur kang becik. Dengan demikian. tulus ikhlas. dalam berbahasa. dan pengarah dalam bertindak. sopan. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. dan tidak congkak. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. dimaknai. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. mencemooh. dan santun. pijakan. menumbuhkembangkan. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya.tidak boleh mencela. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik.

tidak menyinggung. 5. 2. kearifan lokal Cirebon. dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar. Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. logis. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. Hal ini . 1. nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. 3. runtut. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. menurut Asmani (2011: 39). nilai karakter masyarakat Cirebon. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. tenteram. dan tempat pertuturan berlangsung. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. serta etika berbahasa yang baik. dan bekerja sama dengan orang lain. memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama. tidak mencela. dan konteks waktu. Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut. dan mendiskusikan hasil pemeranan. Santun. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. situasi. 4. dan damai. Bahkan. tidak menghina. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. 6. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. bergaul.sejahtera. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. Berdasarkan uraian di atas. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. topik pertuturan. lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain.

yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. . Misalnya.Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. seperti berikut. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati. serta mengucapkan salam. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. Artinya. dan melakukan pemeranan. dosen. penyadaran akan pentingnya nilai. 10. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. memilih pemeran. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. pekerjaan. perasaan. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah. Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. dan luapan emosi dengan sesungguhnya. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini. pemilihan pemain. 1) Mahasiswa.diwujudkan dalam hal perkataan. 9. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. baik lisan maupun tulisan. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. 7. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. 8. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. membuat dialog. tindakan. Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F.

kita harus memerhatikan beberapa hal. bukan saja siapa lawan tutur kita. yaitu tindak lokusi. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. dan profesionalisme dalam bekerja. tertulis. menghormati. P : Partisipan. yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. A : Act. secara lisan. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama. situasi perkenalan. Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. seperti penutur. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). Dell Hymes (Lubis. selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. santun. Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene. 3. I : Instrument. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. lewat telepon. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. yaitu pembicara. Heatherington (Tarigan. dan pendengar. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. yaitu tujuan akhir pembicaraan. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. situasi upacara keagamaan. G : Genre. tidak menyinggung. dan tindak perlokusi. Misalnya. mencela. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. tindak ilokusi. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. tempat pembicaraan. menghargai. N : Norma. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. Landasan Teoretis 1. K : Key. pokok pembicaraan. misalnya situasi perkuliahan. dan presuposisi (presuppositions). baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. E : End atau tujuan. jujur. lawan bicara. yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. tetapi juga lebih dari itu. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles). Schmidt dan Richards (Nadar. 6) . situasi pembicaraan.Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. dan menyakiti. lawan bicara. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat.

kesopanan berbahasa. dan Pranowo. tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi. a) Maksim Kebijaksanaan. penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). menurut para pakar itu. antara lain Brown dan Levinson. kedermawanan/penerimaan (generosity). nyata. jelas. kemurahan/penghargaan (approbation). kesetujuan/permufakatan (agreement). Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya. Secara singkat dan umum. maksim kualitas (maxim of quality). perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. menurut Chaer (2010: vii). b) Maksim kualitas. Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab. Leech. Dengan maksim kualitas. Di dalam maksim ini. dan kesimpatian (sympathy). Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. yaitu maksim kebijaksanaan (tact). Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Contohnya pada tuturan berikut. kesederhanaan/kerendahan (modesty). 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa. dan tidak berlebihan. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. c) Maksim relevansi.Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. maksim relevansi (maxim of relevance). tidak ambigu. a. kata-kata. a) Maksim kuantitas. d) Maksim pelaksanaan. tidak kabur. sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. yaitu formalitas (formality). dan sesuai dengan data dan fakta. Kesantunan. dan etika berbahasa. 2010: 10). Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. ketidaktegasan (hesitancy). atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). yaitu kesantunan berbahasa.

atau saling merendahkan. B : Ya. jangan suara saya lagi serak. Dengan maksim ini. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. Dari contoh tersebut. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. b) Maksim kedermawanan. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. memang sangat panas udaranya. isinya besar lagi! B : Wah. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. (10) A : De. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala. dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. ya. Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. ya! B : Wah. e) Maksim Permufakatan. menurut Brown dan Levinson (Nadar. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. d) Maksim Kesederhanaan. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. loh. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). Di dalam maksim ini. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang. Contoh dalam pertuturan berikut. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan. Kak.Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. c) Maksim Penghargaan. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. Hal . Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. Sebagai contoh. Muka (face) ini. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. Berikut contoh pertuturannya. tidak juga. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. Contoh pertuturan sebagai berikut. saling mengejek. Rasanya panas sekali! B : Ya. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. f) Maksim Simpati. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung.

d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. 2010: 62). Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu. Lalu. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. Menurut Pranowo (Chaer. 3) sengaja menuduh lawan tutur. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami. Pranowo (Chaer. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. b. yang berkenaan dengan bahasa. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati. Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. 2) dorongan emosi penutur. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. Contoh terdapat pada tuturan berikut. dan menggunakan bahasa secara santun. menguasai. Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. Berikut contoh tuturannya. e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi. 2010). (12) Tidak apa-apa. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun.

atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. dan santun. dan suasana psikologis. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . dalam berbahasa pun harus sopan. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain. Dengan solar Rp 4500. (2) topik petuturan. rakyat semakin tercekik. Berikut contoh tuturannya. tergantung pada tiga hal pokok. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. misalnya usia penutur dan lawan tutur. hal-hal yang berbau porno.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. menurut Chaer (2010: 76). seperti ruang kuliah. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. Misalnya. pekerjaan. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur. jabatan. Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. anak. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu. kamar praktik dokter.per liter dan tarif Rp 2. pendidikan. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. situasi. 4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. Tempat dapat di mana saja.. malam. kesehatan. c. Waktu kapan saja. Namun selain santun. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. (14) Pemerintah ngawur. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur. Sebagai contoh topik seks. Berikut contoh tuturannya. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. Ketiga hal itu. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. misalnya.. seperti pagi. dan tempat pertuturan berlangsung.000. siang. (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. Kita nggak masalah. ruang rapat. waktu. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. sopan. Akibatnya. dan (3) konteks waktu. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. Adapun suasana psikologis. kekerabatan. tentang pendidikan. (13) Silakan kalau mau banding. Berikut contoh tuturannya. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur.

(3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. Dengan demikian. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain.tersebut wajar dan sopan. ajakan. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. menurut Clifford Geertz (Chaer. 2. (4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. pelan. mendengar tuturan orang. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. untuk dapat berbahasa dengan santun. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. Pendekatan Komunikatif . (8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. Etika berbahasa. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun. Sebaliknya. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur. Oleh karena itu. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. meninggi. atau permintaan. (5) memberi simpati pada lawan tutur. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (4) kapan kita harus diam. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu. 2010: 6). Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. (4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. (3) jangan menghina orang lain. d. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. (2) jangan menyombongkan diri. sopan. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu.

Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah. Dengan sendirinya. Dengan kata lain. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. d. dan peranan materi. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. b. yaitu teori bahasa. teori belajar. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. Teori Bahasa . 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. peranan peserta didik. Selanjutnya. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. g. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. permainanperan. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. menurut Syafi’ie (Solehamin. tipe kegiatan. tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. Dengan kata lain. silabus. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. a. e. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. a. peranan pendidik. c. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir. tujuan. Dalam pendekatan komunikatif. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. f. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. Berdasarkan teori tersebut. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa.

seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi. Akan tetapi. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. d. materi realita. Di samping itu. percaya. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. e. Dengan demikian. koran. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. sebagai negosiator dan interaktor. dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. Misalnya. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi).Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. Oleh karena itu. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. dan manajer proses pembelajaran. iklan. konselor. Oleh karena itu. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. g. Sebagai individu. f. otentik. yaitu materi yang berdasarkan teks. bukan pengetahuan tentang bahasa. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. 4. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. c. b. atau kegiatan berinteraksi. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. curiga. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. . h. dan lain-lain terhadap manusia lain. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. dari kehidupan nyata. Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. Dalam kehidupan sehari-hari. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Menurut tarigan (2009: 240). Ia menaruh rasa senang. negosiasi makna. materi yang berdasarkan tugas.

Untuk dapat berperan dengan baik. Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. dan solusi permasalahan. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. memerhatikan beberapa peran yang berbeda. perasaaan-perasaan. dan persepsi siswa. Dalam dimensi sosial. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. persepsi dan perilaku setiap orang. berdiskusi dan mengevaluasi.” (Dahlan. menyiapkan peneliti. juga diperlukan. pemahaman terhadap penentuan peran. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. persepsi. situasi permasalahan. dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. dan nilainilai yang mendasarinya. Shaftels (Joyce dan Weil.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. ucapan. mengatur setting tempat kejadian. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. respons menjauh. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. memilih partisipan. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran. peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. kata-kata. konsep peran harus dikukuhkan. yakni perasaan. memerankan kembali. dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. diskusi dan evaluasi. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . Dalam pembelajaran. dan sikap. pemeranan. dan tindakan. Selain dalam tindakan. bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. Dengan demikian. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. nilai. bila tak senang dan curiga. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. dan tindakan. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap. yaitu memanaskan suasana kelompok. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. Untuk itu. nilai-nilai. analisis yang dilakukan melalui diskusi. Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. Model bermain peran. sikap. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa.

Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. Secara bersama-sama. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. nilai. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. ide. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. Untuk itu. peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. etnis. latar belakang budaya para peserta didik. Selain itu. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. Melalui bermain peran. b) Relasi dalam kelompok. Misalnya. Setelah itu. peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. d) Masalah historis atau kontemporer. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. Melalui bermain peran. Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. Efek langsung bermain peran. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. serbaguna. diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. kompleksitas situasi masalah. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. sopan. a) Konflik antarpribadi. Dalam memilih masalah-masalah tersebut. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. terutama masalah hubungan antarindividu. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. dan strategi pemecahan masalah. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. pembuat kebijakan.situasi sosial. c) Dilema individu. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. hakim. tingkah laku. Mahasiswa bekerja sama . Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. baik di masa kini maupun masa lalu.

Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto. . Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. sikap. Skinner (Syah. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. dan sebagainya. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. tersenyum. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. dan perilaku mahasiswa lain. 2009: 2). Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan. Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. dan menarik. Deskripsi Model Bermain Peran 1. “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. Menurut Gagne (Suprijono. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. terutama hubungan antarindividu. pendekatan komunikatif. menumpahkan rasa senang. simpati.pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya. pendidikan karakter dan nilai. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. 2011: 22). Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. ramah. benci. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. 5. dan santun. 2011: 95). efisien. Selama interaksi berlangsung. Dengan demikian. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. Teori-teori ini meliputi teori belajar. sopan. Dalam pandangan belajar sosial. marah. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. Namun. konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik. filsafat pendidikan.

dkk. menarik. Dalam konsep pendidikan karakter.fajar. kepedulian. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa . Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. membentuk hubungan yang penuh perhatian. Dengan demikian.. Fakry Gaffar (Kesuma. dkk. Sekait dengan ini Bandura (Syah. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif.id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. bukan suatu yang instan dan kebetulan. Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952). dan melibatkan mahasiswa. dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. muncul mahzab atau aliran progresivisme. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya. dan sebagainya. Nilai pada dasarnya standar perilaku. dan perilaku dari kehidupan moral.” (Kesuma.. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. mengamati perilaku model. serta meliputi aspek kognitif. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu. membantu menciptakan komunitas bermoral. Dalam proses pembelajaran. dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. emosional. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. Dalam filsafat pendidikan. Dengan kata lain. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. layak dan tak layak. pendekatan. mendiskusikan.Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral. 2011: 5). 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. dan merefleksikan pengalaman hidup. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi. adil dan tak adil.co. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. Pemahaman tentang teori-teori belajar. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk.

rasa simpati. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. Pendidik bertindak sebagai pengamat. Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. dan mendiskusikan masalah tersebut. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. (5) melakukan pemeranan. Kendatipun begitu. melaksanakan diskusi. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. Model Pembelajaran Bermain Peran a. memeragakan. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. Semua luapan emosi. (4) mempersiapkan tahap-tahap peran. (2) memilih pemeran. sopan. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. yaitu menguraikan sebuah masalah. c. khususnya pendapat dan perasaan mereka. Selanjutnya. memperhitungkan. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. Pendidik bertanggung jawab. apa sumber pertengkaran. untuk memulai tahap-tahap permainan. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . kemarahan. membantu pengaturan pemeranan. (7) memerankan ulang. baik. yakni (1) merangsang semangat kelompok. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. seperti apa solusi setiap permasalahan. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik. b. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. 2. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. paling tidak pada awal permainan. dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. Dalam kedua kegiatan ini. Dengan demikian. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. (3) mempersiapkan pengamat. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur. Ketika peragaan selesai. empati.

Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan. Adanya proses refleksi. Selain itu. 6. baik lisan maupun tulisan. Dalam lembaran tersebut. Selain itu. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. Adapun dampak pengiring yang diharapkan. aksi. d.berbeda. tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. f) dapat mengekspresikan pendapat. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. tetapi sangat penting. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah. Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. Masalah dapat disampaikan secara lisan. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. parafrase. dan dialog dalam situasi tersebut. kesopanan. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok . Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. dan etika berbahasa. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. keadaan. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. novel. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. Film. dan rangkuman respons. yaitu sebagai berikut. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. 3. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik.

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

kuingat dalam hati baik-baik. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. a. kapundhi ing jro kalbune. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. Gue bawa ke kantor polisi lu. Dalam pepatah Cirebon.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. dan kulakukan”. Contoh berikutnya. Sekait dengan kesantunan berbahasa. Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. adiwicara. Dalam Suluk tersebut. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. yaitu adigang. Latar di suatu masjid . adigung. 2011: 8). diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. 2011: 18). Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. saru. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. Bukan tukang minta-minta. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara. Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. dados panancang emut.” b. misalnya. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun. diem-diem duitnya lu ambil. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti. Enak aja nyomot dompet orang. terdapat kesantunan berbahasa. latar sosial budaya. juga tersirat kesantunan berbahasa. Nyinggung perasaan gue tahu. orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. kan pencopet Bang. adiguna. tetapi disesuaikan dengan usia. Muluk : “Diem-diem. Berdasarkan analisis tersebut. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok. Dalam pepatah ini. Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. Selain itu. Lu gak bisa minta baik-baik. Orang-orang susah cari kerja. langkung nuwun pangandika tuwan. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). “sangat berterimakasih atas penjelasanmu. dan isi cerita. yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. Selanjutnya. buruk. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. tidak enak didengar. Artinya. 2009: 2) sebagai berikut. karumatan sajroning budi.

Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya. . H. Mahasiswa juga.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok. melalui kegiatan ini. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. 2. lagi berusaha. Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. bekerja sama. Pak Bul. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. bagaimana karakter Muluk. Sebagai contoh.” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. sopan. dan mencari alternatif pemecahan masalah. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress.” H. Beda. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis. toleransi. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan. rendah hati. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak. si Muluk bukan nganggur. pengidentifikasian masalah. Beda nganggur dengan berusaha. dia lagi berusaha. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur. Haji Sabini. dan ikhlas. anak pencopet.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. H. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini. dan H. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi.” Pak Bul :”Heh. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul. Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. seperti berpikir kritis. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter.

sistematika kalimat efektif. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. jika sulit. sistematis. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. dan kaidah penulisan dialog. Dalam memilih pemeran. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis. Dengan demikian. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. Dengan demikian.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. bagaimana tempat ditata. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. 3. menghayati. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. 4. Melalui kegiatan ini pula. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. novel. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. Pada saat itu. pemecahan masalah yang berbeda. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. serta aktif mendiskusikannya. rendah hati. mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. Misalnya. dan ikhlas. Melalui kegiatan ini. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. menajamkan kemampuan analisis. cerpen. dialog boleh saja dipersiapkan. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. seperti di mana pemeranan dilakukan. Namun. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. serta etika berbahasa yang baik. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain.

Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya. pemecahan masalah. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan. Selain itu. Tidak ada kata-kata yang mencela. menuduh. atau konsekuensi perilaku yang muncul. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. logis. menghidupkan situasi secara spontan. Selama pemeranan berlangsung. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. dan saling merespons secara realistis. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. runtut. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. dalam proses pemeranan ini. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. dan pelaku-pelakunya. muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. penggunaan bahasa. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. 6. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. perasaan. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan. bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. Mahasiswa memulai permainan peran. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. dan jujur. . Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. 5. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. Kemudian. sikap-sikap. bekerja sama. Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan. Keterampilan mengekspresikan pikiran. 7. Namun. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. menghina. bagaimana jalannya pemeranan.

Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan. bakat. displin. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. analisis. pemahaman. Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. 8. minat. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. aplikasi. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. dan sintesis. 9. bahasa. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun. dengan model bermain peran. Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika. seperti pengetahuan. sopan dan santun. Melalui bermain peran. bersahabat. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. . Selain itu. (2) mengetahui kecakapan. Melalui kegiatan penilaian. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. seperti jujur. Namun. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. Melalui kegiatan ini juga. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. karakter. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. Namun.

Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. yaitu tes dan nontes. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur. . Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. tidak menghina. dilaksanakan dua teknik penilaian. Gerak-gerik. 2 = cukup. c. 3 Sikap atau Perilaku a. Penempatan tekanan dan nada sesuai. c. 1 = rendah. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. 4 = di atas rata-rata. tidak menyombongkan diri. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. b. Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). 3 = rata-rata. 1. dan konteks waktu.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. d. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut. topik pertuturan. 5 = istimewa. dan tidak terbata-bata. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. b. situasi. Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. b. Untuk setiap kriteria. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi. b. lancar. dan Mimik a. Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. motivasi. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. minat. dan tempat pertuturan berlangsung. c. Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. seperti sikap. 4 Penggunaan Bahasa a. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. c. 2 Penggunaan Suara a. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan.

pemberian tanda baca. tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan. . Untuk setiap kriteria. terutama dalam penggunaan kaidah bahasa. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. Oleh karena itu. 1 = rendah. (skor 2) e. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan. pemberian tanda baca. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa.Jumlah 2. Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. menjelaskan masalah. (skor 4) c. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. Jumlah 3. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut. dan memilih pemeran. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. 3 = rata-rata. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. pemberian tanda baca. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. pemberian tanda baca. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). Pembaca menyadari. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. 5 = istimewa. 4 = di atas rata-rata. (skor 3) d. mengidentifikasi masalah. 2 = cukup. tulisan mustahil dapat dipahami. a. dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan.

e. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. 1 = rendah. c. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. 4 = di atas rata-rata. 3 = rata-rata. h. 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. dan memilih pemeran. Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. d. f. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. 2 = cukup. i. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan. mengidentifikasi masalah. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan.Untuk setiap kriteria. d. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. menjelaskan masalah. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. 5 = istimewa. . b. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. kelogisan. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. b. c. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. g. Kemampuan mengidentifikasi masalah. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan.

pemeliharaan lingkungan. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya. diteladani. distribusi. dan pengawasan. • Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. personalia. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri. wirausaha merupakan potensi pembangunan. sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. Oleh sebab itu. dan konsumsi. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. sehingga dapat mengurangi pengangguran. • Sebagai generator pembangunan lingkungan. meningkatkan ketahanan nasional. • Memelihara keserasian lingkungan. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan. distribusi. tekun dalam menghadapi pekerjaan. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali. • Hidup secara efisien. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. kesejahteraan dan sebagainya. dekat kepada Allah SWT. 1.Jumlah D. yaitu : a) Sebagai pengusaha. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. bidang produksi. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. dan banyak pula orang menganggur. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. disiplin.. baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. jujur. jujur. tidak berfoya-foya dan tidak boros. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja. berani. hidup tidak merugikan orang lain. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. meningkatkan pendapatan masyarakat. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji.

terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak. b. bekerja sama. dan berkompetensi dengan baik. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha. Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro. 3. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). Bukan tipe menunda. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a. memiliki kemampuan berusaha. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional. Prinsip yang dianut adalah see and do. berkomunikasi. Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. 2. Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. Indonesia masih tertinggal. tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha). wait and see. Bagi . Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. pengusaha yang jujur dan bermartabat. pemimpin yang adil. dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. terpercaya.1.

mereka. desain.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. Secara spesifik. atau peluang dari usaha yang sama. seek first to understand-then to be understood. Namun . and help others find theirs. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut.Mereka juga adaptif terhadap situasi. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. Seorang wirausaha bukan hanya awas. memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. sharpen the saw. seperti model. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. baik dari dalam maupun luar perusahaannya.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. energi. melainkan diciptakan. 2) Berpikir simpel. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. merenung atau menguji hipotesis. Untuk itu. bahan baku. think win/win. Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. . they find their voice. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. begin with the end in mind. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. mereka selalu belajar menyederhanakannya. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir. melainkan juga dari cara-cara baru. Sedangkan dalam usaha yang sama. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. 6) Fokus pada eksekusi. membangun jaringan . tetapi mereka bergerak ke arah itu. mereka selalu mau belajar yang baru. put first things first. dibuka dan diperjelas. risiko bukanlah untuk dihindari. memimpin. Dengan kata lain. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. menyatukan gerak. Untuk usaha-usaha yang baru. 1) Proaktif. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif. Oleh karena itu. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). memotivasi dan berkomunikasi. kemasan dan struktur biaya produksi. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. Peluang bukan hanya dicari. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. 3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. synergize.

Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. Dengan demikian . selalu mencari peluang-peluang baru. fleksibilitas. 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya. berpikir simpel. fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. berdisiplin tinggi. Oleh karena itu. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. hanya mengambil peluang yang terbaik. 7) Menajamkan ketahanan. Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . .ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. yang tersebar pada empat elemen utama. hati dan jiwa. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. fleksibilitas dan kekuatannya. Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang. tubuh. dikalahkan. yaitu pikiran (mind). 4) Berpikir dan bertindak win/win. Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. pelaksanaan usaha.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win. seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. Dalam hal ini. maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. baru memahami. Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama. Untuk itulah. memotivasi dan membangun jaringan. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. 5) Cari tahu dulu untuk memahami. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. diperlakukan kurang/tidak adil. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. seperti merasa dirugikan.3) Mendahulukan hal yang utama. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. Urgent adalah situasi yang mendesak. 6) Sinergi. dan kekuatan. yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan. selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi.

Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional. Selain itu. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. d.2. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. psikologi dan sosial yang menyertainya. 3. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.1. 3. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro. inovasi dan caracara baru. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan. LANDASAN TEORITIK 3. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. memikul resiko finansial. (2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah. skala usaha dan permodalan. tenaga kerja. 2007: 18). seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. (Kasmir. . serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan. tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya.b. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani. Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. c.

investasi di berbagai bidang usaha. pemasok. mencintai kegiatan usahanya. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. cara kerja yang efektif dan efisien. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g. dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. 3. Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. b. masyarakat.(memiliki salesmanship yang kuat) d. Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi. f. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. terencana. b. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. bangsa dan negara c. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. semangat kerja tinggi. Mau dan mampu berkomunukasi. Mau dan mampu bekerja keras. c. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul. negosiasi.3.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. karyawan. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . e. Berani mengambil risiko. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. Mengenal lingkungan bisnis dan h. a. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. d. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. hemat dan disiplin. pemilik modal. a. Menyenangi.

energik. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. beorientasi laba. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. mempunyai dorongan kuat.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. tabah. e. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G. Kreativitas. tekad bekerja keras.• • • • • • • • • • • • • • • • • b. teknologi. tidak tergantung pada orang lain. dll). akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. prestasi kemudian. dan optimis. produk. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi. tekun. ulet. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. Akan tetapi. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu. jasa. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri. tekun Banyak inisiatif c.4. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. Berorientasi ke Masa Depan. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. dan tabah. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras. dan inisiatif. ia senang pada prestasi . adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. 1994) 3. Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. individualistis. proses.

pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati . Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. bergaul denga orang lain.Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri.Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu. serta fleksibel. Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan.Seorang wirausaha haruslah perspektif. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. ketelitian. Kepemimpinan. Keorisinilan. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap. Entah itu untung ataupun rugi. tetapi untuk selamanya. tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. Pengambila resiko dan suka tantangan. kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha. Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu. apa yang hendak ia lakukan. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . Wirausahawan berpandanang ke depan. Oleh sebab itu.DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar.Kecermatan. Kita akan mampu bekerja keras.Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional. Berorientasi ke masa depan. enerjik tanpa malu dilihat teman.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang. 4. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis.Namun sekarang ini. maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan. membuat pertimbangan dari segala macam segi. Jika perhitungan sudah matang. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan. Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara.Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin. prespektif. menggampangkan apalagi menyepelekannya. menanggapi saran dan kritik. mempunyai visi ke depan. apa yang ingin di capai.

Sekretaris dan Bendahara). d. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. Penasehat (3 orang). mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Selain itu. dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. dalam rangka membina jiwa wirausaha. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). terdiri dari pelindung (1 orang). d. dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Pengarah (4 orang). Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi. c. Tugas Pokok PK adalah : a. Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. e. Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif. c. serta seksi-seksi (9 orang). para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. Selain tatap muka. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. . Sebagai motivator. dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. terkoordinasi dan sinergis.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. Selain itu. b. maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. b.

baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif. Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. 3. 6. Pimpinan Fakultas. seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. 5. dan sebagainya. 3. 2. Pengusaha sukses. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi. Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. Dinas Koperasi dan UMKM. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. 4. 2. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 4. Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. 1. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS .

sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). rapat. Selain sistem informasi. Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi.Wujudnya adalah pemberian laporan. terprogram dan terencana. 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati. bagi Unswagati merupakan perwujudan . briefing. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi. Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas. Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. saran/masukan. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator. konsultasi. dan sebagainya mengenai pelaksanaan program. 5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha. dan sebagainya.

5. sampai saat buku ini disusun. warung. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah.nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3. 35. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak. 1. 2. . Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1. Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. kemudian dilakukan survei oleh AMEL. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4.000. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. 4. 4. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. para pengrajin. Penagihan oleh AMEL. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman.000. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. 2. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam.600. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. Berkas permohonan dari peminjam masuk. 3. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya. 6.

Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha . Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development).Kepedulian dan kesetiakawanan sosial .Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa .Manajemen logistik dan finansial . Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator . dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha. yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa .Status kelayakan dan perencanaan bisnis . sikap. Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik.Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha .Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini. bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya.Manajemen produksi dan operasi .Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa .Pengembangan kapasitas keprofesionalan . INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa. Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa . tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu.Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis . keterampilan.Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal .Pengelolaan SDM dan pengembangan karir .5. tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan.

Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. . Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. memberikan motivasi. b. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. h. b. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. yaitu : a. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. c. Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. c. f. 6. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). dengan mendorong. Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a. Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. Titik-tolaknya adalah. serta berupaya untuk mengembangkannya. Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. d.

Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan. Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor. Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah. Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b. Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c. Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. BAB IV . Selain itu. Tahap pelaksanaan. proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan.2.

Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini. Pendidikan Kewarganegaraan.REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya. Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan. . Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama.

Dahar. (2002). Cermat Berbahasa Indonesia. Amran Tasai. Retno.http. . Bandung: Laboratorium PKn UPI. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. 2003.Dahlan. . Bandung: Rosdakarya. Waruwu. Yogyakarta :Kanisius . Alwasilah.(2007). E Fidelis. 1988.Asmani.Arifin.Birch. Paul brian Hersey.Basics of Marketing. Ciba Geigy Ltd. 2010.Dewanti. . Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan. 2004. Paul brian Hersey. Bandung.” 11 September 2002. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Model-Model Mengajar. Inc. (ed).Mitra Wacana Media. . Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. “ Kewirausahaan”. . Bandung: PT Genesindo. “ Kewirausahaan”. 2011.Budimansyah.google. Jakarta: Rineka Cipta. Management Organizational Behavior prentice hall. .Chaedar. (Ed. Zaenal. D. 2008.(1997). Ratna Wilis. 1984.google. 2010.Yogyakarta. 2009. Kesantunan Berbahasa. . Inc. Komunikasi dan Informasi . M. 2010.Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas.Buchari Alma . Jogjakarta: Diva Press. . Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. D. 2011. Jakarta: Erlangga. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio.Basics of Marketing.(1997). Evaluasi Pembelajaran.). Ciba Geigy Ltd.Dewanti. . Retno.Budimansyah.com . Jamal Ma’mur. .DAFTAR PUSTAKA - .com . oleh Direktorat Politik. (2006).Buchari Alma . .Chaer. . Bandung: Widya Aksara Press. Bandung: Diponegoro. A. Bandung : Remaja Rosdakarya. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. D. A. di Bappenas. Zaenal dan S. .Arifin.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Bandung. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. .Mitra Wacana Media. Management Organizational Behavior prentice hall.Birch.(2007). D. .http.Budimansyah. 1988.Yogyakarta. 2003. Jakarta: Akademika Pressindo.

dan Pengendalian.Erni Sule dan Asep Mulyana. Perencanaan. . Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah.com Muhammad Thohir.Jakarta : LP3ES. (1995). .Kotler. http.com. Cepi Triatna. Penerbit Andi. Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar. DR. Kewirausahaan.Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . Yogyakarta. Drs.wikipedia. Jakarta : Dikti .Mustakim. Entrepreneurship.com .Fachri Ali. Ahmad dan Mirza.Muslich.yahoo.http://www. Fawaid. Bogor : Ghalia Indonesia . 2001. L.. 2001.Musa Hubeis. 1994. Professional Salesmanship. [online]. Chicago . Surabaya : PT JePe Press Media Utama .“Manjaemen Strategis”.Erni Sule dan Asep Mulyana. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Wheelen.X.. Melalui http://google.2009. dan Pengendalian. Nurla. J. Jogjakarta : Laksana .P. Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. . [31 Oktober 2011]. Pen. Hand Out Kewirausahaan. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.David. Jogjakarta : Arruzz Media . Thomas.Hasan Basari. 2011.P. Kewirausahaan.1995. Penerbit Andi. . Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009.MarkPlus & Co Education Division 2004.com. Irwin. 2008.Manajemen Pemasaran Analisis.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603. Philip.Hisrich. . .David.com .2009. Tersedia: http://pusatbahasa.Karakteristik Kewiraswastaan. Ateilla. L.Joice.. Hamid Hasan. .http://www. Bandung: Rosdakarya. Bandung: Rosdakarya.Salemba Empat:Jakarta .Kotler.Karakteristik Kewiraswastaan.-. Yogyakarta.Malta. Analisis Wacana Pragmatik. 1996.Hunger.com . Kementrian Pendidikan Nasional. Chicago . Masnur.- - - - - .Hunger.Salemba Empat:Jakarta . Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.2010.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. Impletasi. 1996. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. Perencanaan.Nadar.Malta. Impletasi. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.com . Philip. 2011. dan Johar Permana. Bruce dkk. Peters M. Peters M. Professional Salesmanship. Bogor : Ghalia Indonesia .2010. Dharma. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa.wikipedia.Lubis.1995. 2011. http. Robert.com .Komunal:jakarta.Iskandarwassid dan Dadang Sunendar.Naniek Ratni Jar. Irwin. Isna Aunillah. http://google. (1995). 2011.http. Thomas.MarkPlus & Co Education Division 2004.Masykur Wiratmo dkk. F.Manajemen Pemasaran Analisis. Melalui http://google. Model-model Pengajaran. Pengantar Kewiraswastaan.wikipedia. J. Pengantar Kewiraswastaan. Najib Sulhan.2006 Fatchul Mu’in.Masykur Wiratmo dkk. 2011. 2009. Bandung: Angkasa.go. Jakarta : Lentera Hati . Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa.Kesuma. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.“Manjaemen Strategis”.Hisrich. Jakarta: Bumi Aksara.kemdiknas. 1987. MA. 2011.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA.com . Wheelen. ApKj.http.yahoo. Entrepreneurship. D.wikipedia. diterj. D. Robert.Musa Hubeis. .

Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. Jaakarta . Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa. Puslatkop dan PK.Noer. . 20 tahun 2003. Jakarta : Rajagrafindo Persada.Kewirausahaan. “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”. http:goegle.Salim Siagian. Jakarta: Erlangga. 2010. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.http://www. 1996.Robin.com .blog.1987.Noer. .Rahardi. Kunjana. .Kewirausahaan.Suharna. Muhibbin. 2009. Edisi revisi.Perseroan Terbatas. Nurdin M. Tersedia: http://solehamin.wordpress. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.Naniek Ratni Jar.shvoong. 2011. Prayitno. Bandung: Angkasa.- - . 2011.Ed. Modul Kewirausahaan. tentang Sistem Pendidikan Nasional .Tarigan. (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan. Kewirausahaan Indonesia. Jakarta: Grassindo.1938.com/tentang-kami/artikel-7/. 2005. Sonny. A. http://wordpress. Hand Out Kewirausahaan. Widjono. 2010. Cooperative Learning.art. Minto. Jakarta: Grasindo. H. PT.Com 2011 . .Graha Ilmu:Yogyakarta . A. Menusa Cerbon. Dr. . http://dedesuharna’s. 2007.Robin.Sanusi. .Sofjan. 2007.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. [online]. Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung. G. Prof. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.2008.Sumarsono.Undang-Undang Dasar 1945. H. Kewirausahaan Indonesia. 2009. Modul Kewirausahaan. . .Raja Grafindo Presada:Jakarta . 2008.2009. Bandung: CICED .art. Yogyakarta : Sabda Media . http:goegle. Prof. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Metodologi Pengajaran Bahasa.1938.Noer. G. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka.Graha Ilmu:Yogyakarta . http://wordpress. Pengajaran Pragmatik. Nurdin M. Melalui http://google. . Dr.Sumarsono. Edisi revisi. Jakarta : PT Grasindo . Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan. Assauri. Bandung: angkasa . Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar. . 2011. Hand Out Kewirausahaan. Melalui http://google.Suara. . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Assauri.Syafi’i.Dede. .Perseroan Terbatas.shvoong. Psikologi Belajar. .Sofjan. 1996. Pepatah Jawa. Nurdin M. . com.2010.Suharna. PT.http://www.Dede. .Syah. com.Noer.2010. Jaakarta . MSc.Facebook.Wahab.Undang-undang No. .Suara. Jakarta: FIP UNJ .Trianto.com Nazili Shaleh Ahmad. Agus. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.Naniek Ratni Jar. Penerbit Hikmah. .com . http://dedesuharna’s.2008.Raja Grafindo Presada:Jakarta .Rahayu.blog. 2009. Puslatkop dan PK. Dr dan Belferik Manullang.com.Tarigan. 2009.Rhenald Kasali dkk.Manajemen Pemasaran.UUD 1945 . . Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Sonny. Nurdin M.Rhenald Kasali dkk.2010.1987.com. Penerbit Hikmah.UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional . Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’.com . www. 2010.Salim Siagian.S.2010.Roy Erickson Mamengk.Suprijono.Manajemen Pemasaran. 2011. 2011.

Jakarta . U. J. 03 June 2010 . .Wahab.UII Yogyakarta.Winataputra. J.www.2006.A.dikti.com . 2008.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.Winardi. “Entrepeneur & Entrepeneurship”.Jakarta .S. Thursday. Bandung: IKIP Bandung . 2008. UII Pers Yogyakarta: 2007. (2001). Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani . “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”. Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan.A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global.Wijaya Kusuma.Kencana. (Disertasi).Kencana. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. .Winardi.- .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->