BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

B.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. menghormati setiap elemen bangsa. dan akan memudahkan pengembangannya. Secara khusus. mengembangkan dan menghasilkan karya. Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. sosial. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. handal. ilmu pengetahuan. spiritual. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. dan kinestetik2. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). religius dan serta mampu bersikap. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. memiliki jiwa kepemimpinan. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. Undang-Undang Dasar 1945. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Selain itu. mengaplikasikannya. karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa. dan mempunyai rasa percaya diri. C. dan ini akan memudahkan pengembangannya. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. dan menjadikan kampus budaya bangsa. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. serta membangun emosional. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi.bermoral Pancasila. Berangkat dari visi tersebut. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. mengemban misi pendidikan. Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. . Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. bermoral Pancasila.

2. jangan mempersulit. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. 4. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. Dengan demikian. Upayakan optimalisasi penerimaan. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. 3. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. 6. yang meliputi: 1. 7. 9. pengembangan hasil riset.dispiln. sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas. dan penuh tanggungjawab. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. 8. 5. pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. . Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian.

profsionalisme. terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian.Dalam perjalananya. Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. 3. baik bagi Dosen dan karyawan. Lembaga Pengkajian. seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran.etos kerja. 5. Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. 4. Semoga Allah SWT. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor. Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. disiplin. Pimpinan Fakultas. senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. 2. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Disiplin .

dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila. 2.Dalam kontek ini. beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. Fungsi penyaring. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis . Fungsi perbaikan dan penguatan. Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1. 3. mandiri. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. Satuan Pendidikan. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila. Dalam kontek ini. 2. 3. Melakukan pengkajian. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. satuan pendidian. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara.

sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya. Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. berkemanusiaan yang adil dan beradab. berjiwa persatuan Indonesia. .dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum. Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. seminar dan lokakarya. 4. serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

melainkan menyatukan keduanya. bangsa dan negara. kecerdasan. pengendalian diri. kecerdasan. Hal tersebut. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Definisi itu tidak satu. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter. kepribadian.masyarakat. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya. pengendalian diri. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.masyarakat. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’. melainkan banyak. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. Berpedoman pada uraian di atas. akhlak mulia. . dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. Pengertian Pendidikan Karakter. menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. kepribadian. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam tulisan ini. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. Secara normatif. akhlak mulia. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan. bangsa dan negara. Berdasarkan peristilahan.

10. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. Manusia yang sehat.kreatif. Manusia yang kreatif 13. berakhlak mulia. Manusia yang mampu pengendalian diri. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab. 12. Berangkat dari pengertian tersebut. 9. dan 14. berilmu. masyarakat. 8.20 Tahun2003). Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. 6. karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memang harus diakui. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. 5.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at. Manusua yang cakap. Manusia yang memiliki kepribadian. (Penerbit Indah Surabaya. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan. bangsa dan negara.cakap. Manusia yang mandiri. Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003. 4. sehat. 7. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. .mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No. 11. Manusiua yang memiliki kecerdasan. 2. Manusia yang memiliki akhlak mulia. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1. 3. Dengan demikian.

”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. yang mengandung komponen pengetahuan.hlm 19 4 ibid . Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. yaitu cinta tanah air dan bangsa. dan nonformal. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil. temperamen dan watak. Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa.berperilaku. diri sendiri. Dalam bahasa yang sederhana. kejam. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4. harus berangkat dari semangat yang sama. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan. hati. akan membawa konsekunsi yang berbeda. Laksana Yogayakarta 2011. perilaku. 3 Nurla Isna. individu. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan. kesadaran. sifat . karena memberikan makna yang lain.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan. perilaku. sesama manusia. bersifat dan berwatak3. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap. motivasi dan keterampilan. Berangkat dari pembahasan ini. budi pekerti. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia. Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. formal. B. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. jiwa kepribadian. personalitas. tabiat.

Kepemimpinan dan keadilan 7. berakhlak mulia. mandiri. cakap. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. konstitusi. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. berakhlak mulia. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. Hormat dan santun Dermawan. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. tidak hanya secara wawasan keilmuan. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. kreatif. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. bergotong royong. patriotik. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan. bermoral. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. kedisiplinan dan kemandirian 3. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu. diantaranya adalah : 1. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. Tanggung jawab. dinamis. berbudaya. Untuk itu diperlukan . bertoleran. haluan negara. berilmu. Percaya diri. kreatif dan bekerja keras 6. regional. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). kompetitif.

dan mandiri. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa. pelaksanaan. mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. 2011 hlm 12 Ibid . Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Bagi Foerster. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). UPI Bandung. Lebih dari itu. Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966). serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. 5 6 Sutangsa. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5. C. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. Olah Pikir (intellectual development). berkualitas.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. dan penilaiannya. Dari kematangan karakter inilah. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. Ovide Decroly. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. kualitas seorang pribadi diukur. Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan.sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).

2. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. dan penyebaran ilmu pengetahuan. Dengan demikian. mengubah cara berfikir. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. selain meneruskan nilai-nilai. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. D. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. pendapat. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. termasuk Indonesia di New Delhi 1996. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. perilaku kebudayaan. dan 3. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. pengembangan. perbedaan pemikiran. Senada dengan hal di atas. Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998. mempersiapkan pribadi. sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . dan 3. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. 2. mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas. maju. 2. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. adil. masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. 20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bersatu. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. mandiri. memiliki keahlian. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. VII Tahun 2001. sebagai berikut : 1.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. sehat. manusiawi. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. menghargai perbedaan. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. sejahtera. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. membangun warga negara berkeadaban. 7. serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. 3. demokratis. 5. . Menurut Malik Fajar (1999). kesetaraan. 4. mandiri. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. berkeadaban. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. keragaman pendapat dan pandangan. Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna. cakap. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. yang mengakar pada 6. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. kreatif. UU No. dan tidak diskriminatif. berakhlak mulia. adil dan bebas.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. Demokratik. berilmu.

Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. berbangsa dan bernegara secara demokratis. Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem. berkeadaban dan inklusif. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara. anggun secara moral. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. b. saling menghargai. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. Berdasarkan itu semua. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual.2. menghormati kemerdekaan beragama.Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta.

berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. dan kewajiban. dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. kelompok. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. kepentingan. e. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. c. saling mencintai. Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. oleh rakyat. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . berani membela kebenaran dan keadilan. hak. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. d. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. tenggang rasa. dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. kesatuan. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. tidak semenamena terhadap orang lain.

isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit. berbangsa dan bernegara. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. Karena sifatnya abstrak dan normatif. persepsi yang sempit. Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. dan etika kebangsaan. termasuk law inforcement yang lemah. suka menolong orang lain. mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. orang bersorak sorai. mental. mental. kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. tidak bergaya hidup mewah. nilai dan kaidah normatif. Cerminan watak. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. hormat terhadap hakhak orang lain. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban. terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. sikap adil. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. menghargai karya orang lain. Artinya. tidak boros. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. suka bekerja keras. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. . dangkal dan tertutup. Sebagai nilai dasar. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat.

Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi. Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. yaitu sebagai berikut 7 : a. Terbuka.hlm 35. d.Grahalia Jakarta 2011 . Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat. ekonomi dan politik. Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik. seperti sosio-politik. Di sini. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya. c. dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude. Wawasan. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. ekonomi. b. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat. budaya dan hankam. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat.”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. Open mindedness. Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial. Curiosity.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain. 7 Syahrial Syarbaini.

seperti etika profesi hukum. berbangsa dan bernegara. teknologi dan seni. d. Independent. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. e. Jujur. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . E. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. profesi kedokteran. bernegara. dan persuasif. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. pemerintah ataupun masyarakat. dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. bernegara. bernegara. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. profesi ekonomi. Dengan dasar itu semua. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya.e. c. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya. b. anggun secara moral. dialogis. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. f. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi.

Akibat dari krisis politik yang terjadi. 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. krisis sosial budaya. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Namun. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. dalam Kompas. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan. dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif. Diawali dari krisis moneter. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang. Bahkan menjadi semakin terpuruk. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. berlanjut ke krisis ekonomi. pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah. Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab.Jum’at 15 Januari 2010 . dan akhirnya menjalar ke krisis politik. Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal.

10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. di Bappenas. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas.” 11 September 2002. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal. Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru. Pada era saat ini. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. suku dan bahasa. oleh Direktorat Politik. Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Padahal. Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Di sisi lain. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. seperti agama. Bahkan. Komunikasi dan Informasi . Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia.

NKRI. olah hati. Kita pun. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas.Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir. Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. dalam konteks keindonesiaan. selain masalah korupsi dan kemiskinan. rasa. untuk menjamin keberlangsungannya. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku. Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. Tanpa mengakui fakta itu. serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. Dalam konteks ini. Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . adat istiadat. Oleh karena itu. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. olah rasa dan karsa. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. terutama kelompok-kelompok dominan. tetapi juga keindahan. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana. Sebagian besar masyarakat. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. dan Bhineka Tunggal Ika)13. pemahaman. agama. karsa. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. masih tidak memahami prinsip. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. bahasa. beraneka ragam tetapi satu. konstitusi UUD Negara RI 1945. bahkan ideologi. Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. Pluralisme.

untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. Artinya. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945.-. Hasan Basari.masalah HAM.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi. berdaulat. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu. mempunyai peran penting. sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. Konsensus dasar. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. bangsa Indonesia. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit.Jakarta : LP3ES. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . berdemokrasi. 1987. Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. berdaulat. bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama. adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. Oleh karena itu. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. bersatu. Untuk itu. diterj. kita. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals). Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme. bersatu. Karena dengan keterbukaan. berbangsa dan bernegara. adil dan makmur. melalui pemikiran genius founding fathers kita. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16. Hanya dengan kesadaran itu. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. saling belajar. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. masalah persatuan dan kesatuan.

hlm 79. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. UUD 1945. Yogyakarta. selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan.2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika hal ini kurang diantisipasi. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda. 1.murid dan para pengikutnya. artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis. yaitu Pancasila. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 .(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan. F. lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut. Pendidikan Berkarakter. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan.

hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. Hanya saja pada era penjajahan ini. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. welas asih dan bijak. bagi sesama warga negara. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik. Ketika Islam datang di Nusantara. keetisan.diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah . terutama dari lingkungan budayanya. maupun bagi bangsa. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. Dengan pendidikan modern. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. kesadaran. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. Ketika hal ini terjadi. kepribadian. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada. kecerdasan. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri.

Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia.pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. pikiran (intellect) dan tubuh anak. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara. Dalam pandangan Notonagoro20. Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. karakter). bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya. moral. selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. etika). 20 21 Mubyarto. upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . termasuk pendidikan Nonformal dan Informal.

budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan. bahasa.dikti. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu. di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character. Thursday. 22 Yoggi Herdani . 03 June 2010 .” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. adat istiadat dan agama. kebebasan akademis. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban.www. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Ing Madyo Mangun Karso. Selain itu. cakap. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22. Wamendiknas pun berpesan. Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. kreatif. Dengan demikian. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. mandiri. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Mengenai sarana-prasarana. sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. Untuk itu. pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. Sebab.bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. sehat. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Tut Wuri Handayani. berakhlak mulia. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. Mahatma Gandhi menyatakan. berilmu.Perihal pengembangannya sendiri.com 23 ibid 24 Ibid . mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24.

UII Yogyakarta.intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA.Komunal:jakarta.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.2006. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. Oleh karena itu.2010 Fachri Ali.hlm 20 .2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma. pelacuran intelektual dan sebagainya25. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat. 2. terorisme. tidak hanya secara wawasan keilmuan. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). kejahatan perbankan. Maka dari itu. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. beragama. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26. Pendidikan Agama. malapraktik. Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tawuran pelajar dan mahasiswa. kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat. Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional. seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis. Oleh sebab itu. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. seperti melakukan korupsi.

termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya. selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas. Jejak Langkah. Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. baik akses. bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik. (Jakarta: Lentera Dipantara. Ivan Illich misalnya. proses maupun hasilnya. Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya. “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati.1982) Pramoedya Ananta Toer.pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya. apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. hlm 291 . Seorang sastrawan besar di Indonesia. Mengapa demikian?. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia. “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. Bebas dari sekolah.2006).

banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya. seperti R. Ki Hadjar Dewantara. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. Soekarno. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air. Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya. Dengan caranya masing – masing. sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. G. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. Natsir dan lain-lain. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. Tan Malaka. Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa. Hatta.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras. Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. Namun. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat. dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh.A. kedisiplinan. melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta.kartini. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar. Moh. Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu .tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’.

Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. • Sila Keempat: kebebasan. Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain. yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman. . manusia sebagai subjek pendukung. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat.tertib dan sejahtera. penyangga. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. berbangsa maupun bernegara. kebersamaan. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati. tercermin dalam sila-silanya. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. kemerdekaan. dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan.

dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu. dan Bermasyarakat. berbangsa. bernegara. saling peduli. adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. b. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. menghargai perbedaan. saling mencintai. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. efisien. bangsa. saling memahami. bersikap. Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. Ghalia Indonesia. saling menghargai. hlm 14 :2009 . Bernegara. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. dan efektif. Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. dan negara. jujur dalam persaingan.Selain itu juga. tanggap akan aspirasi rakyat. Untuk itu. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. 30 Syahrial Syarbaini. dan bernegara. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. Oleh karena itu. rasa tanggung jawab.

e. persaingan sehat. d.c. dan keadilan. oligopoli. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. keputusan. institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. berkeadilan. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. kritis. menulis. kebijaksanaan pemerintah. program-program pembangunan. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. logis dan objektif. meneliti. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi. belajar. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. ketenangan. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. . baik oleh pribadi. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. ketetapan. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. Perundang-undangan. membahas. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi.

maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda. namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi. tapi orang bangga menjadi koruptor.percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). bergotong royong. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. bahkan terperangkap skenario elite politik. Pancasila bersifat universal dan akan . Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. kompetitif. berjiwa patriotik. bermoral. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. penegak hukum tidak profesional. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. berbudi luhur. berkembang dinamis. berakhlak mulia. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. toleran. Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa.

BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN. Keempat nilai humanis tersebut. Katolik. Budha. kesatuan dan (saling) menghormati.mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika). cinta. Kristen (Protestan). dan Konghucu. sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian. Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI . yaitu Islam. Hindu. Oleh karena itu. Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh. sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final.

Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. 6.M. 4. Fakultas Pertanian. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. dan Fakultas Teknik.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. S. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. Ili Rohaeli. H.221 sarjana dari 11 (sebelas) program . UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti. dan Magister Ilmu Pertanian. 2. 7. Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. yaitu Magister Ilmu Administrasi. (1961 – 1965) Letkol.. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. yaitu: 1. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta. UNSWAGATI telah meluluskan 2. Hal itu dirasakan perlu. SH. Jusup Mulia.. MM ( 2002 – 2005) H. MBA (1998 – 2002) H. SH. Drs. Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Soedjono. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. H. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. Kav. Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). Bandung.E. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. Tentu.. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. Sriadi. Djakaria Machmud. dan 11. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon.A. SH. Amir Husodo. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010. 3. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang. 5. (1965 – 1969) Letkol.

yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum. dan Pendidikan Ekonomi. Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pendidikan Bahasa Inggris. Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen. Pendidikan Matematika.studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati. dan Akuntansi. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN . dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon.279 orang.

Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. inovatif dan berorientasi regional. nasional dan global. 3. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. 2. 3. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. Mengembangkan ilmu pengetahuan. teknologi. Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. 2. Visi. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. dan menjadi pebelajar yang tangguh. 6.B. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Misi. 4. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. 4. dan mempunyai rasa percaya diri. 5. . Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. bermoral Pancasila. Tujuan Unswagati yaitu : 1. mengaplikasikannya. Dalam mengemban misi tersebut.

pengembangan hasil riset. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. harus berangkat dari visi Unswagati. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. 2. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja. disiplin. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Dalam perjalananya. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Dengan demikian. profsionalisme. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . C. bermoral Pancasila. Pimpinan Fakultas. . Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1.

Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. 5. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. . Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. 1. Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh.etos kerja. Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. 4. ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. Disiplin . Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami.3. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri.

dan kalau jujur. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ). mencuri. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. Artinya apa.Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. sungguh. Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan. diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina. sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. maka . dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. teman temannya menawarkan Khamer . Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. Dalam perjalanan pulang. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab.orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5. tidak ada pengakuan. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. Dia berfikir. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. Keesokan harinya. Berbicara tentang arti kejujuran. Dalam hal ini kita ambil contoh . Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. utang-piutang. seperti perkara jual-beli. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. sumpah. aku tidak sanggup meninggalkanya. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. dan sebagainya. Islam terbuka pada siapa saja . akhlak ataupun muamalah. bahwa …. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan. berzina dan berbohong.kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu. jangan khawatir. baik itu akidah. tidak apa apa lah. tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. Kemudian Dia Matur kepada Rasul.

as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. Kelima. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. Kedua. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. tawakkal. ridho.pintu maksiat tertutup bagiku . shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. adu domba . shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. Keempat. as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. Pertama. cinta dan sebagainya. Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. Ketiga. menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. Keenam. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas. hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya . Kedua. anti korup dan sebagainya. maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. al juanid berpendapat. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu.

Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). maka dikatakan dusta. Maka. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam. Jadi. Yang jelas. kecuali kejujurannya (kebenarannya). sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan. “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111). Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. Allah berfirman. maka dikatakan benar/jujur. mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. 2. 3. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. tetapi kalau tidak. dusta.akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. merupakan sifat orang yang munafik. tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Bersabda. Misalnya: 1. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. 4. Kejujuran itu ada pada ucapan. Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. sedangkan lawannya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. padahal sebaliknya. juga ada pada perbuatan.” (QS. 5. al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. Imam Ibnul Qayyim berkata. secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . Perjanjian tersebut wajib dipenuhi.

3. Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. 10. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. keempat. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. pertama. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. 1.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. Otonom dalam penilaian karya 8. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. atau untuk mengisi waktu luang. bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena.Paling tidak. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga.' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof. Maka dari sinilah. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. Mempunyai motivasi yang kuat. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7. untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. akan terhindar dari hal hal yang dibenci. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. 2. At-Taubah : 199). sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. . berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . untuk senang-senang. Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya.

bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010). maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia.Ada sebuah cerita. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. kami benar-benar kagum. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya.. Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. Sebuah cerita lain. mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan.setiap bulannya. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan.Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan. Ucapan itupun masih juga terlontar. .

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

Keharusan untuk bekerja sama.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. mulai dari rektor sampai pemelihara halaman. Pemahaman yang demikian. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika. . Secara normatif. Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan. Dalam manejeman modern. D. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia. perlu di budayakan. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Artinya. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. Penulis berkeyakinan. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. baik itu pendidikan. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. penelitian. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah. Dengan demikian. karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi.Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme.

Rencana jangka panjang harus realistik. 2. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. 3. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. perlu usaha khusus. paling tidak dapat memasuki pasar Asean. Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. proses. dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. 4. serta bagaimana prosedur mencapainya.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. nasionalis dan religius. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders. hasil dan sumber pendukung. Teoritik dan Praktik dalam 2. Namun. Jaminan kebermutuan dari aspek proses. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati .

dengan makud untuk saling mengenal. rasa dan kehendak. Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku.Konsep manusia. bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika). Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. Manusia merupakan mahluk yang unik. . Menurut Kaelan (Djunaedi. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. di dalamnya terdapat kesamaan. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. hlm 33). Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya. apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. Tuhan adalah tempat bergantung. merupakan kebutuhan setiap manusia. sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. Di balik keunikan manusia. Membutuhkan manusia lain. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. C sebagai manusia yang lain. kesuusilaan. Justru menjadi aneh. Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru. ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan. Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir). maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan .Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal. Raga bersifat kehendak. sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif).

Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya. nggak sakit ko! Jangan nangis. anak pintar. sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi.cara mengalahkan manusuia lain. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. kecerdasan. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.tidak apa-apa. Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. Selain itu. hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). akhlak mulia. kepribadian. tetapi ia dengan cepat menjawab. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Contoh kongkrit misalnya. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan). jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama. hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta. pengendalian diri. belum?”. kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. mungkir. Sebaliknya. yah! Hemat penulis. jika ya katakana ya. masyarakat. karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya.pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan. jika tidak katakan tidak. Kejujuran prosedural ini. bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a. bohong dan munafik? Sering terjadi. orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. sudah!!. . meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. Selain itu juga. Manusia dikodratkan akal yang sehat. bangsa dan negara.

Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif. yang di ucapkan oleh Dosen. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya.Karyawan maupun Mahasiswa). pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral. Kejujuran subtantif ini . berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik.Kalimat: ’’Mohon maaf. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic. Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut. Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen. lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon. Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga.di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran. itu bukan keahlian saya’’. Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya. tidak akan membawa kemaslakhatan.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. . Bentuk kejujuran mahasiswa ini.Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan. akan tetapi. tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”.di dalamnya mengajarkan kejujuran. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini. Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi.

‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami. at-Taubah: 75-76) 4. maka di antara mereka ada yang gugur. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. maka akan merusakkan kejujuran niat. hal Ini kembali kepada keikhlasan. Terkadang benar. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1.’” . Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. mereka kikir dengan karunia itu. Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan. seorang qari’. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. dan berpaling.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Allah berfirman. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain.” (QS.\ 3. aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah. 2. Contohnya seperti ucapan seseorang. tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Jujur dalam perbuatan. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin.” (QS.’ Maka. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. dan seorang dermawan. sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. yaitu seorang mujahid. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. maka Allah akan berfirman. ‘Inilah hambaku yang benar/jujur. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Jujur dalam ucapan dan kehendak. Jujur dalam tekad bekerja. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta. Allah menilai ketiganya telah berdusta.

Knowledge. dalam seminar Akademika . Soempomo Djojowadono (1987). Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7. Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Dan yang terakhir Attitude. seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1.tapi ia juga menguasai. Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3. Membentuk asosiasi perwakilannya. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. 4. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2.” (QS. sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan. Prof. Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan.Skill. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya. b. mereka itulah orang-orang yang benar. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. sebagaimana firman Allah. 6. Knowledge. dalam rasa cinta dan tawakkal. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya. Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5. al-Hujurat: 15)..danAttitude. Wirjanto (1989). tak hanya ahli di bidangnya.5.

6. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8. Harus ada kebebasan. 3. Harus mengabdi kepada kepentingan umum. 4. mengartikan istilah professional sebagai berikut . 5.Untuk pengertian yang pertama. 2. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. . Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal. bervariasi dan efektif.UNDIP 28-29 Nopember 1989. Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya. transparan tentang waktu dan biaya . yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. Harus ada hubungan Klien. Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab. 1.Sungguhpun demikian. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien. yang mengutip Roscoe Pond. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan). tidak boleh ada hubungan hirarki. Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. profesional akan selalu berhadapan dengan amatir. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. 7. ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran.Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya).sebagai yang melayani. Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya. selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan).

dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional.Melakukan pekerjaan .ketetapan dan memaksimalkan hasil. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas. Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. f.menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya.etos kerja. Makna Disiplin . g. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis. 2. h. e. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a. Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas. obyektif. Penguasaan ilmu dalam praktik. c. 4.Disiplin akan tercermin pada kesiapan. saling mendukung. Menguasai standar pendidikan minimal. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking.Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat. kerja cerdas dan kerja tuntas. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin . Sikap jujur dan obyektif.karena waktu itu sangat terbatas. saling mengisi. Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. Trampil. 3. Cukup kreatif. Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik.etos kerja. Pengalaman yang cukup bervariasi. cukup cakap. mengelolah dan mengendalikan dengan baik. b. Disipin harus melampaui waktu. c. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1. Mampu menata. Disiplin adalah kerja keras. Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan).Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan. berperilaku jujur. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi. d. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan.

dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. . dan keyakinan yang mendasari. mengarahkan. orang lain akan tampak lebih kuat. Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. Saat Anda semakin kuat. tekno-industrial. bersemangat. Dengan latihan. kreatif. Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin. semangat. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. pikiran. sabar. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. menghargai pengetahuan. Anda akan menjadi semakin kuat. baik yang bersifat ekono-komersial. Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. ruh. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban. perasaan. berintegritas. dan manajemen kerja mereka. atau sosio-kultural. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. inovatif. responsibel. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. menggerakkan.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. sikap. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri.merupakan pemborosan waktu. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat. orang lain akan tampak lebih lemah. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. Seiring dengan perkembangan zaman. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. tekun. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. hemat. kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan. akuntabel. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. tekno-industrial. menghargai waktu. Semakin Anda disiplin. teliti. Sebaliknya. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. sistem. Itu tidak akan menolong. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. ulet. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah.

Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama).sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan.etos kerja. Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1. Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Teori-teori manajemen modern.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . . bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Keharusan untuk bekerja sama. it requires you to take charge of your career. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3. Sebaliknya. A team based environment demands that you make responsible decisions. kelihatanya memihak kepada yang kedua.arnold status. Sikap seseorang terhadap orang lain. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members. 31 facebook. Dalam manejeman modern.

hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. E atau F. If anything goes semi . sedini mungkin disirnakan. we did it.sama dipikul. POSITIVE THINKING. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. selain terbuka peluang menuju kegagalan. both will escape" Chinese Proverb. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. manfaatnya akan sirna. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya. and working together is success" Henry Ford 5. "If you chase two rabbits. harus mau membuka diri / transparan. Selain beban akan semakin ringan. Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. Ibarat sapu lidi. and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. we make a life by what we give" Winston Churchill. Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan.good. I did it.mata hanya oleh penampilan luar. If anything goes real good. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar . SALING PERCAYA. . KESATUAN. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. staying together is progress. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. VISI DAN MISI. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. then you did it. "We make a living by what we get. "If anything goes bad.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi. Yang namanya rahasia. B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. 3. "Great achievement is usually born of great sacrifice. "Coming together is a beginning. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. SALING MENGHORMATI. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai. yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . jika susah akan sama . Setiap permasalahan yang timbul. ringan sama . Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1. 2. Jika kondisi ini telah terpenuhi.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya.Pepatah yang mengatakan. Jika senang akan sama .

Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah.sama. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini. 8. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. or forbid your children to do it" Monta Crane e. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. . Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian.niat terselubung. KERJASAMA. Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. TANTANGAN DAN RINTANGAN. I wouldn't jump with them. but teams beat the odds" SEAL Team saying. Everyone hears what you say. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat . Menjaga nama baik Unswagati. employ someone. "Individuals play the game. I'd be at the bottom to catch them."A positive attitude brings strength. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. "If all my friends were to jump off a bridge. ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. energy and initiative" Remez Sasson 6. RELA BERKORBAN. Kegagalan Indonesia. Kembali.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. apapun tantangan dan rintangan yang timbul. Friends listen to what you say. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia.Keberhasilan Unswagati di masa datang. "A successful team beats with one heart" Unknown 7. Keberhasilan Amerika. Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. "There are three ways to get something done: do it yourself. Identitas Unswagati.

Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Meskipun tidak secara struktur. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. d. Konsep dan Operasional . Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. suasana dan kualitas. dosen wali dan kode etik mahasiswa.3. 4. Kultur. a. karakter. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. Dalam buku pedoman akademik. Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. b. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. melakukan apel dan lain sebagainya. c. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik. kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. sebagaimana berikut ini : a. Kode etik dosen. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dicantumkan tentang kode etik dosen. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. norma. Untuk itu. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian. Untuk membentuk karakter agamis. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum.

Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN . Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran.Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen. Agama PPKN B.

Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema.INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik.Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud. Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. . b. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya. membimbing. Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya. Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan.

nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut. sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan. .Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan. peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler.

3. bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. menyenangkan. 5. 4. Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. 5. yaitu : 1. 2. social. Peningkatan pengelolaan program. keterlibatan aktif. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Induk . Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. etos kerja dan kemanfaatan sosial. pilihan. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. potensi. Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. Pengembangan sumber daya manusia.Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler.

Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan. Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci . Pengembangan kerja sama dan kemitraan.Jabatan akademik .Tingkat pendidikan .6.Sertifikasi . 7.

Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .Gaji .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .Hasil seleksi/testing .Pelatihan dosen .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Umpan balik .Indeks Prestasi Semester .Entry Grade .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Evaluasi kinerja .Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .2005 tentang Guru dan Dosen) .Penguasaan bahasa Inggris .Hasil kerja .Tunjangan .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .Rasio Dosen : MahaSiswa .Jaminan sosial .Insentif .IPK lulusan .

Frekuensi peninjauan .Penyerapan oleh pasar kerja .Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program .Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .Kepuasan lulusan .Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja .Nilai penelitian kat dengan berbagai insti..Penguasaan bahasa Inggris .kualitas lulusan .Nilai pengabdian tusi.Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Lama studi .Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum . baik negeri masyarakat maupun swasta .

Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .Evalusi internal .Citra Unswagati .program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum . program studi.EPSBED .Akreditasi Program Studi .Akreditasi Institusi .Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .Akreditasi Jurnal Ilmiah . dan konsentrasi baru .Pembukaan fakultas.Audit akademik .

Layanan administrasi .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni .Kelengkapan saranaprasarana ..Pemeliharaan saranaprasarana .Layanan perpustakaan .Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Layanan informasi/ internet .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .Web based learning .Kepuasan orang tua .Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .

Bantuan sosial .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Pendapatan .Kerjasama penelitian institusi .Diversivikasi sumber penerimaan .Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi ..Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Pertumbuhan pendapatan .Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Deviasi anggaran .Pembangunan Kampus III .Defisit anggaran .Pembangunan Rusunawa .Pembangunan aula yang representatif .Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Pelatihan .

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. afektif dan psikomotor. Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. kemudian dikembangkan oleh penulis. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur. sehinggga harus diadakan pilihan. bertanggung jawab. bijaksana. . Tujuan meliputi aspek kognitif. Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). 1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. 3. terutama dalam bidang afektif. apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. cermat. sopan dan sebagaimana. Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya.Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. taqwa kepada Allah swt. bersih. selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. yang dievaluasi dengan cara berbeda. Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. Proses ta'lim/amaliyah (4). Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. Tujuan/gayah (2). 23). Bahan ta'lim/madah (3). yang setia kepada janji. Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. Untuk majlis ta'lim.

sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. sehinggga jelas.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. proses belajar mengajar. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. bagaimana cara melakukkannya. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan . Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. Jadi. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. dan alat penilaian. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan.

memimpin. dan anggaran. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. 5. mengarahkan. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber. Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. target realistis. 4) Controling . misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. Organizing. struktur dan kelembagaan. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. tapi ketualah yang menjadi figur. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu. jadwal kegiatan. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. maka POAC (Planning. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. Ketua memang penting. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. visi. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. tetapi bukan orangnya. Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib. Bekerjalah kamu. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. niat memang berasal dari hati. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan.

c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. membuat target. bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan. Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007. Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah. (Ali bin Abi Thalib r.a. tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal. Bukan karena tidak ingin dilaksanakan. 14). Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.) .

Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. dan output/hasil. adanya deskripsi program sebagai objek penilaian. 1989. Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program. penyempurnaan.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi.1997. Menetapkan suatu nilai atau judgment. prosedur. hasil program dan laiblain. B) adanya suatu kriteria dan c). cara pendekatan. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. Halaman 127 . agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan. modal kerja .. pembinaan dan pengembangan program. Penilaian proses bertujuan untuk. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya. seperti program. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. masukan/input. Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. a). Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37. pelaksanaan. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya. Inggris menyatakan bahwa. Becher. seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex. dan pengembangan program. yakni menentukan. dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. proses. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi.A. tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. mencari. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. Juga terjadi sebaliknya. baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. R.

tidak cuek/menyapa.tidak berkata kasar. 4. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee.B+. Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah. konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5. Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. mendahulukan kepentingan yang lain dst. hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. dst. Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2.Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7.: 1.A. c) Pada mentor: ramah. suka berjabat tangan dsb. dsb. . Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+. kondisional sifatnya. 3.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin. les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8.maupun pada saat program berjalan.

7. akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. membangun kecintaan dalam beribadah. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. 5). baik yang diminta maupun yang tidak diminta. f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan. Syariah. 2).Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1). khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati. Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. kapan saja dan dimana saja. 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak. berupa kepeduliaan. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif. 3). 6). sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi. dan sepercikannya diberikan kepada manusia. akan tetapi lebih ditekankan pada. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. pengokohkan aqidah. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. dan membangun karakter building. Aqidah. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. 4). Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. 2. atau sekejam-kejamnya orang. Ibadah. bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1).Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a.dan 10). kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. 2). Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat. Sejahat-jahat manusia. Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. 3). Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. Muamalah. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. saling menguntungkan. saling membantu. munakahat. 3). Munakahat. Dialah yang maha pemurah. .7) tarikh Islam. ceramah. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah.

ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. pengendalian diri. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab. akhlak mulia. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. tetapi juga pengusaha yang religius. B. teknologi. mandiri. dan lama-lama akan hilang rianya. hukum.SE. menyaksikan kelaparan misalnya. masyarakat. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus. tetapi paling tidak dia sudah memulai. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa. ekonomi. 1998 : 11) . Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. kepribadian. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua. sosial. Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. Bagi mahasiswa program santunan. namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. H.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. berilmu.Msi. Dalam serba kekuarangan . bangsa dan negara. studi kajian Al Qur’an. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. dan lain-lain. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. berakhlak mulia. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. sehat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kecerdasan. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. pasar murah. cakap. Zakaria Mahmud SH. artinya hamba yanga maha pemberi. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. kreatif. Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. Sosok rektor sang birikrat. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. dan metafisika. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan.

sebagai Pendidikan Politik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. Sebagai Pendidikan Politik. yaitu: ilmu politik. sosiologi. Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik.masyarakat yang Pancasilais. Di samping itu. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. menghayati dan mengamalkannya. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. hukum. Sebagai pendidikan politik. beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Ketiga. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. memiliki sikap kritik dan inovatif. tersiar. di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. 1985). Kedua. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat . psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran.Wahab. terekam. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. antropologi. elektronik. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A.

wordpress.(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. Ketiga. (4) Musical Intellegence. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Pertama. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. 2. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. dan (7) Intrapersonal Intellegence. afektif. maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. Kedua. (3) Spatial Intellegence. dan bela negara. konsep. partisipatif. kewarganegaraan yang demokratis. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini. berbangsa. dan moral Pancasila. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences. (6) Interpersonal Intellegence. konsep. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. kewarganegaraan yang demokratis. dan moral Pancasila. Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. Dampaknya dalam proses pembelajaran . nilai. nilai. yakni (1) Linguistic Intellegence. Melalui PKn.sebagai pengalaman langsung (hand of experience). dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. (2) Logical-Mathematical Intellegence. pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy).com/peneltian tindakan kelas). 2007 : 19). cerdas. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia. dan bertanggung jawab.

Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. . Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. tidak disertai data kuantitatif. Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. bernalar dan juga membandingkan. bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton. Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. dan sebagainya. mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial. 2. Oleh karena itu. the confilcts that may occur among two or more values.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. berdebat. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah. berdiskusi. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara. 1975/1984 dan 1994). and the reasons for particular values choices. Pupils try to understand the consequences of particular values. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. dan sebagainya. Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini. Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral . Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. 4. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok. melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. menyaksikan siaran radio. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah.1. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. 3. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. televisi. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. 2. dan bahkan mencari informasi dari internet. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan.

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. pengembang nilai. transformator nilai. c. b. a. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. penggali nilai. cakap. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman. teladan. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. penghayatan. dan . e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. kreatif. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial. fasilitatifdialogis. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum.. terkait aspek sosiokultural. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. d. e. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu.. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. yakni ”.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. penopang kajian. penguat. f. berakhlak mulia.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut. Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi. sehat. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. penghayatan. mandiri. berilmu. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah.

5. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis. 3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. wawancara. dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya. Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian. . 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini.

HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW . Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut. DEMOKRASI INDONESIA .Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4.Sistem Konstitusi .Warga Negara Indonesia . IDENTITAS NASIONAL . kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah. Setelah selesai proses pembelajaran ini. . sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan.5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini.Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA .Hak Azasi Manusia (HAM) . TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA . Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut.Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6. adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1.Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2.Proses berbangsa dan bernegara 3.Karakteristik identitas nasional . POLITIK DAN STRATEGI . 6.Pancasila sebagai sistem filsafat .Konsep dan prinsip demokrasi .Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5.

GEOPOLITIK INDONESIA .Konsep Asta Gatra . Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan. Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2. Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3. 8.7.Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat.Wilayah sebagai ruang hidup .Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Pemajuan. Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok. o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum . Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4.

Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Tahap melaksanakan Investigasi ini juga. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian.Law 6. hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. 8. observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok. 7. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai.

Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. . Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah. kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. dan kurang sekali. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran. studi pustaka. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan. baik. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan. Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. cukup. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. seperti baik sekali. 7. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. Pada pertemuan ini secara berkelompok. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. observasi. tes perbuatan.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif.wawancara. temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. kurang.Langkah-langkah dalam pembelajaran ini.

MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah. C. 2 = cukup. 5. 3 = rata-rata. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . 5 = istimewa NO KRITERIA 1.Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut. 4 = di atas rata-rata.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh. 4. SKOR CATATAN 3.

akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. yaitu bahasa yang sopan. melalui penggunaan bahasa . Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. dan logis. menghargai orang lain. watak. halus. dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Dampaknya. dan pengalaman baru yang diperolehnya. Sikap positif ini. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. ditegaskan Widjono (2007: 3). emosi. teratur. sistematis. sopan. atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. baik dalam situasi formal maupun nonformal. jelas. Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. baik lisan maupun tulisan. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. tindakan. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. santun. melalui mata kuliah ini. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. karakter. yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut. Hal ini berarti. Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. laporan. Karakter. seperti artikel. perasaan. dan tidak menyinggung. dan kepribadian. Mahasiswa. sistematis. Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. gagasan. Sebaliknya. proposal. Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. stimulus. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun.1. perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran.

yang kasar. memilih pemeran. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. memfitnah. dan pola tindak peserta didik. berbicara. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. Pembelajaran yang efektif. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. mencela atau melecehkan. yaitu menyimak. seperti melalui presentasi. 1. Dalam kaitannya dengan pembelajaran. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. menerapkan. menarik. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. Oleh karena itu. pemecahan masalah. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. memerankan hingga mengevaluasi. membaca. dan menulis. merumuskan masalah. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. dan mengevaluasi pembelajaran. menggunakan/menerapkan. Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. menghujat. memaki. dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. 2. seperti memilih topik. pola sikap. seperti memahami. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. dan diskusi. 2009: 5). Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. teknologi.

dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. tanggung jawab dalam mengemban tugas. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. dan kerja sama. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip.. dkk. 41. membaca. dan menulis. baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. tetapi juga membantu mereka memahami. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi. sopan. menginternalisasi. 2. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. 13. dalam berbagai situasi dan konteks. dan 65) . etos kerja yang tinggi. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. 2011: 16). Melalui berbagai pengalaman belajar. 3. Noer (2007: 9. keadilan. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. sikap. Sekait dengan ini.belajar tumbuh. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. tanggung jawab. dkk. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan. berbicara. bahasa. kerja keras. Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. 4. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut.. yaitu menyimak. seperti kedisiplinan. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. dan perilaku mahasiswa. Lickona (Kesuma. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. santun. kejujuran. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya. Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik. Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. dan ikhlas (Kesuma. Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri.

babad. ialah sabar penuh pengertian. tidak iri maupun dengki. “…. bertutur. dan religius. cara bergaul. Lebih dari itu.” Berdasarkan suluk itu. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. Sebagai suatu budaya yang mentradisi. Bahkan. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. dan berbagai bentuk lain39. dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah. berbudi luhur. Misalnya. toleransi. dan teratur. Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. cara beternak. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. tanggap. Selain itu. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain. Oleh karena itu. syair. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. kata bijak. dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer. Selain bahasa. terbuka terhadap siapapun. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). tertib. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. berperilaku. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap. nilai-nilai. tulus ikhlas. sikap. Sebagai contoh. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya. Sekait dengan kesantunan berbahasa. dan sebagainya. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. rendah hati. dengan kearifan lokal juga. terus terang/jujur. tembang. jujur. ajaran dan pemikiran. ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. permainan. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. tidak angkuh maupun congkak.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 . suluk dan kidung. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. mengatur dalam cara bertani yang baik. melainkan melalui proses yang panjang. berkehidupan.kemdiknas. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. Di samping itu. perilaku. terutama dalam bahasa.go. Mereka hidup dengan aman. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. serat. suka bersilaturahmi.

dan kedisiplinan. Namun. kehilangan maknanya. semoga terlaksana. harus jujur. dan santun. meredup. nyingkir ana jubriya kibire. pegawai. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya. yaitu Mituhua pitutur kang becik. dosen. 2011: 11). lembut. mengritik dengan tidak santun. Melalui lima pilar ini. Artinya. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik. dan pengarah dalam bertindak. dimaknai. tetapi tidak dihayati. singkirkan watak congkak dan takabur. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. termasuk perguruan tinggi. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. kerjasama. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. dan berkompeten. mencela. berdaya saing tinggi. Dengan kata lain. Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. berkata dengan sebenarnya. Akibatnya. profesionalisme. menumbuhkembangkan. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. sikap. dalam berbahasa. sopan. tulus ikhlas. sopan. dan ramah. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. yaitu kejujuran. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. pijakan. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur.tidak boleh mencela. dan jangan pula angkuh). disiplin. kerja sama. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. profesionalisme. dan bahasa. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. dan damai. menuding. tenteram. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. Dalam hal ini. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. yayi den kalakon. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. bertutur lebih baik. berkepribadian. dan tidak congkak. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. menjunjung tinggi lembaga. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. bersikap. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . lima pilar ini menjadi pedoman. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. mencemooh. masyarakat saling menghujat. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. bersikap. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. Dengan demikian. berperilaku. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar.

tenteram. bergaul. kearifan lokal Cirebon. 4. Hal ini . dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. topik pertuturan. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut. Bahkan. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. dan mendiskusikan hasil pemeranan. tidak mencela. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. 6. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. runtut. dan konteks waktu. Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. tidak menyinggung. 5. situasi. dan tempat pertuturan berlangsung. 2. nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional. nilai karakter masyarakat Cirebon. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. tidak menghina. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). serta etika berbahasa yang baik. 3. Santun. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. dan bekerja sama dengan orang lain. logis. memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama. dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar.sejahtera. menurut Asmani (2011: 39). 1. dan damai. Berdasarkan uraian di atas. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun.

menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. 7. Misalnya. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. memilih pemeran. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. 10.diwujudkan dalam hal perkataan. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F. pemilihan pemain. 1) Mahasiswa. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. Artinya. Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. dan melakukan pemeranan. . serta mengucapkan salam. penyadaran akan pentingnya nilai. tindakan.Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. membuat dialog. 9. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. dosen. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini. yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan. seperti berikut. tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. pekerjaan. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. baik lisan maupun tulisan. perasaan. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. 8. dan luapan emosi dengan sesungguhnya.

yaitu pembicara. misalnya situasi perkuliahan. tetapi juga lebih dari itu. Landasan Teoretis 1. menghormati. tidak menyinggung. dan tindak perlokusi. I : Instrument. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. yaitu tujuan akhir pembicaraan. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). santun. P : Partisipan. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat. Dell Hymes (Lubis. G : Genre. kita harus memerhatikan beberapa hal. menghargai. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles). Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. 3. lawan bicara. bukan saja siapa lawan tutur kita. jujur. E : End atau tujuan. situasi pembicaraan. N : Norma. Schmidt dan Richards (Nadar. lewat telepon. selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. yaitu tindak lokusi. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. mencela. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. situasi perkenalan. Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. pokok pembicaraan. A : Act. 6) . Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama.Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. situasi upacara keagamaan. dan menyakiti. tempat pembicaraan. secara lisan. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). lawan bicara. Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. Heatherington (Tarigan. dan pendengar. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. dan profesionalisme dalam bekerja. Misalnya. yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene. tertulis. baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. tindak ilokusi. Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. dan presuposisi (presuppositions). seperti penutur. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. K : Key. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya.

ketidaktegasan (hesitancy). 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. menurut Chaer (2010: vii). d) Maksim pelaksanaan. yaitu maksim kebijaksanaan (tact). mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. yaitu kesantunan berbahasa. yaitu formalitas (formality). kesetujuan/permufakatan (agreement). Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab. maksim relevansi (maxim of relevance). dan kesimpatian (sympathy). Dengan maksim kualitas. perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. tidak ambigu. sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. dan Pranowo. dan sesuai dengan data dan fakta. dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Contohnya pada tuturan berikut. a) Maksim kuantitas. kemurahan/penghargaan (approbation). Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim. ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. Leech. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. a. b) Maksim kualitas. tidak kabur. dan tidak berlebihan. Kesantunan. atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). jelas. kedermawanan/penerimaan (generosity). Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. antara lain Brown dan Levinson. c) Maksim relevansi. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa. tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi. dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. maksim kualitas (maxim of quality). penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin. nyata. 2010: 10). (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. dan etika berbahasa. a) Maksim Kebijaksanaan. Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. kata-kata. Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. menurut para pakar itu. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. kesederhanaan/kerendahan (modesty).Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. Di dalam maksim ini. Secara singkat dan umum. Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. kesopanan berbahasa. Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya.

yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. Dengan maksim ini. isinya besar lagi! B : Wah. e) Maksim Permufakatan. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. d) Maksim Kesederhanaan. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. loh. ya. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. Contoh dalam pertuturan berikut. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. Sebagai contoh. Rasanya panas sekali! B : Ya. menurut Brown dan Levinson (Nadar. b) Maksim kedermawanan. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. c) Maksim Penghargaan.Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. ya! B : Wah. Hal . Muka (face) ini. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai. Berikut contoh pertuturannya. Kak. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. Di dalam maksim ini. Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. Dari contoh tersebut. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. (10) A : De. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). f) Maksim Simpati. tidak juga. Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. B : Ya. atau saling merendahkan. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan. Contoh pertuturan sebagai berikut. saling mengejek. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. memang sangat panas udaranya. jangan suara saya lagi serak.

2010). e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur. Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. Menurut Pranowo (Chaer. Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. menguasai. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. dan menggunakan bahasa secara santun. antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. yang berkenaan dengan bahasa. d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu. 2) dorongan emosi penutur. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati. Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. Lalu. d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. Pranowo (Chaer. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. 2010: 62). Contoh terdapat pada tuturan berikut. 3) sengaja menuduh lawan tutur. (12) Tidak apa-apa. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . Berikut contoh tuturannya. b. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur.

dan suasana psikologis. sopan. Dengan solar Rp 4500. Berikut contoh tuturannya. Namun selain santun. misalnya usia penutur dan lawan tutur. malam.. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. pekerjaan. Adapun suasana psikologis. Ketiga hal itu. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. Akibatnya. situasi. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. tentang pendidikan. dan santun. misalnya. hal-hal yang berbau porno. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. (13) Silakan kalau mau banding. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat.. kesehatan. Misalnya. anak. c. dan (3) konteks waktu. Kita nggak masalah. Berikut contoh tuturannya. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur.per liter dan tarif Rp 2. Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. pendidikan. dalam berbahasa pun harus sopan. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun. kekerabatan.000. kamar praktik dokter. Berikut contoh tuturannya. dan tempat pertuturan berlangsung. jabatan.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia. siang. ruang rapat. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. seperti pagi. Waktu kapan saja. seperti ruang kuliah. rakyat semakin tercekik. (2) topik petuturan. Sebagai contoh topik seks. (14) Pemerintah ngawur. menurut Chaer (2010: 76). tergantung pada tiga hal pokok. (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . waktu. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. Tempat dapat di mana saja. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. 4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur.

(8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. (5) memberi simpati pada lawan tutur. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. 2010: 6). (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. (4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain. meninggi. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. Sebaliknya. (4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. (3) jangan menghina orang lain. sopan. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. ajakan. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. (2) jangan menyombongkan diri. Pendekatan Komunikatif . (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. Etika berbahasa. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. Oleh karena itu. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu. Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. untuk dapat berbahasa dengan santun. atau permintaan.tersebut wajar dan sopan. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. pelan. d. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu. menurut Clifford Geertz (Chaer. Dengan demikian. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. mendengar tuturan orang. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. (4) kapan kita harus diam. 2. Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun.

Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. g. peranan peserta didik. tujuan. Teori Bahasa . silabus. Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah. Berdasarkan teori tersebut. Dalam pendekatan komunikatif. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. a. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. permainanperan. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. menurut Syafi’ie (Solehamin. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. b. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. Dengan sendirinya. peranan pendidik. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. Selanjutnya. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. f. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa. Dengan kata lain. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. c. d. 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. Dengan kata lain. tipe kegiatan. dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. yaitu teori bahasa.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. a. e. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir. teori belajar. simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. dan peranan materi.

seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Menurut tarigan (2009: 240). d. Misalnya. percaya. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. Sebagai individu. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi. g. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. b. dan manajer proses pembelajaran. iklan. dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. atau kegiatan berinteraksi. yaitu materi yang berdasarkan teks. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. curiga. e. dari kehidupan nyata. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. Akan tetapi. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. dan lain-lain terhadap manusia lain. Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. materi yang berdasarkan tugas. Oleh karena itu. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. Di samping itu. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. Oleh karena itu. c. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. Dengan demikian. negosiasi makna. konselor. Ia menaruh rasa senang. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. sebagai negosiator dan interaktor. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. Dalam kehidupan sehari-hari. h.Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. koran. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. . f. 4. materi realita. otentik. bukan pengetahuan tentang bahasa.

b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa. Dengan demikian. sikap. dan tindakan. yaitu memanaskan suasana kelompok. situasi permasalahan. Selain dalam tindakan.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. dan tindakan. respons menjauh. Dalam dimensi sosial. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. dan sikap. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. Shaftels (Joyce dan Weil. Untuk itu. yakni perasaan. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. kata-kata. perasaaan-perasaan. mengatur setting tempat kejadian. pemeranan. pemahaman terhadap penentuan peran. dan persepsi siswa. menyiapkan peneliti. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. nilai-nilai.” (Dahlan. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. konsep peran harus dikukuhkan. memilih partisipan. Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. memerankan kembali. dan nilainilai yang mendasarinya. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. juga diperlukan. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. berdiskusi dan mengevaluasi. analisis yang dilakukan melalui diskusi. Model bermain peran. nilai. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . Untuk dapat berperan dengan baik. diskusi dan evaluasi. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. bila tak senang dan curiga. persepsi. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. dan solusi permasalahan. memerhatikan beberapa peran yang berbeda. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan. ucapan. persepsi dan perilaku setiap orang. Dalam pembelajaran.

kompleksitas situasi masalah. Mahasiswa bekerja sama . Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis. c) Dilema individu. b) Relasi dalam kelompok. dan strategi pemecahan masalah. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. etnis. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. Selain itu. peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. sopan. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. Misalnya. Melalui bermain peran. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). ide. baik di masa kini maupun masa lalu. Dalam memilih masalah-masalah tersebut. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. Untuk itu. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. tingkah laku. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. terutama masalah hubungan antarindividu. Secara bersama-sama. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. Melalui bermain peran. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. Setelah itu. serbaguna. Efek langsung bermain peran. a) Konflik antarpribadi. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. latar belakang budaya para peserta didik.situasi sosial. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. d) Masalah historis atau kontemporer. Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. hakim. Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. pembuat kebijakan. nilai.

Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. Menurut Gagne (Suprijono. Selama interaksi berlangsung. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. sopan. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. pendidikan karakter dan nilai. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. 2011: 22). Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. dan santun. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. efisien. “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. dan perilaku mahasiswa lain. Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Namun. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya. Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. Dengan demikian. dan menarik.pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. pendekatan komunikatif. benci. Teori-teori ini meliputi teori belajar. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. Deskripsi Model Bermain Peran 1. Dalam pandangan belajar sosial. 2009: 2). tersenyum. filsafat pendidikan. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. 2011: 95). konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik. terutama hubungan antarindividu. dan sebagainya. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial. ramah. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. marah. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. 5. Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto. Skinner (Syah. simpati. menumpahkan rasa senang. sikap. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. .

dan merefleksikan pengalaman hidup. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Dalam konsep pendidikan karakter. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya. Pemahaman tentang teori-teori belajar. Dengan demikian. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. membentuk hubungan yang penuh perhatian. Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952). dkk. muncul mahzab atau aliran progresivisme. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. Nilai pada dasarnya standar perilaku. dan melibatkan mahasiswa. kepedulian.Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral.id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. pendekatan. 2011: 5). Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk. dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain. adil dan tak adil. membantu menciptakan komunitas bermoral. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif. 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik.fajar. emosional. seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. mendiskusikan. dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. Sekait dengan ini Bandura (Syah.. layak dan tak layak. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.. Fakry Gaffar (Kesuma. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa . Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. serta meliputi aspek kognitif. dan perilaku dari kehidupan moral.” (Kesuma. menarik. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. dkk.co. Dalam filsafat pendidikan. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. mengamati perilaku model. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. bukan suatu yang instan dan kebetulan. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi.

memperhitungkan. Selanjutnya. dan mendiskusikan masalah tersebut. khususnya pendapat dan perasaan mereka. Model Pembelajaran Bermain Peran a. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. (4) mempersiapkan tahap-tahap peran. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. (2) memilih pemeran. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . Semua luapan emosi. Pendidik bertanggung jawab. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan. 2. Kendatipun begitu. c. dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. (3) mempersiapkan pengamat. empati. (5) melakukan pemeranan. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. b. Pendidik bertindak sebagai pengamat. Dalam kedua kegiatan ini. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. yaitu menguraikan sebuah masalah. untuk memulai tahap-tahap permainan. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik. Dengan demikian. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. paling tidak pada awal permainan. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. baik. rasa simpati. Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. melaksanakan diskusi.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun. seperti apa solusi setiap permasalahan. memeragakan. kemarahan. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. sopan. Ketika peragaan selesai. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. membantu pengaturan pemeranan. apa sumber pertengkaran. yakni (1) merangsang semangat kelompok. (7) memerankan ulang.

berbeda. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. tetapi sangat penting. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. Film. Adanya proses refleksi. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah. d. Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan. aksi. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. dan etika berbahasa. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. Selain itu. kesopanan. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok . 6. dan dialog dalam situasi tersebut. yaitu sebagai berikut. Selain itu. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. Masalah dapat disampaikan secara lisan. baik lisan maupun tulisan. parafrase. Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter. f) dapat mengekspresikan pendapat. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain. Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. dan rangkuman respons. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. Dalam lembaran tersebut. keadaan. tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. novel. 3. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan. Adapun dampak pengiring yang diharapkan.

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

Dalam pepatah ini.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. tidak enak didengar. dados panancang emut. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. dan kulakukan”. 2011: 8). Nyinggung perasaan gue tahu. Enak aja nyomot dompet orang. Muluk : “Diem-diem. yaitu adigang. orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. langkung nuwun pangandika tuwan. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut. tetapi disesuaikan dengan usia. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara. Gue bawa ke kantor polisi lu. buruk. a. terdapat kesantunan berbahasa. Selanjutnya. Contoh berikutnya. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar. Orang-orang susah cari kerja. Selain itu. dan isi cerita. kan pencopet Bang. kapundhi ing jro kalbune. Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. Berdasarkan analisis tersebut. Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. latar sosial budaya. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. kuingat dalam hati baik-baik. Artinya. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. diem-diem duitnya lu ambil. karumatan sajroning budi. 2009: 2) sebagai berikut. Sekait dengan kesantunan berbahasa.” b. saru. 2011: 18). misalnya. Lu gak bisa minta baik-baik. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. juga tersirat kesantunan berbahasa. Bukan tukang minta-minta. adiguna. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun. Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). adigung. “sangat berterimakasih atas penjelasanmu.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. Dalam pepatah Cirebon. yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. adiwicara. Dalam Suluk tersebut. Latar di suatu masjid .

H. si Muluk bukan nganggur. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. pengidentifikasian masalah. rendah hati. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump. Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar. Beda. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas. dia lagi berusaha. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul. Beda nganggur dengan berusaha. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. dan mencari alternatif pemecahan masalah. Mahasiswa juga. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa. Pak Bul.” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. . Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. lagi berusaha. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress. Sebagai contoh. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh.” H. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur. bekerja sama. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan. Haji Sabini. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. seperti berpikir kritis. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis. toleransi. Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. bagaimana karakter Muluk. dan H. melalui kegiatan ini. sopan. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter. dan ikhlas. H. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan. anak pencopet. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka.” Pak Bul :”Heh. 2.

Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. 3. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Dalam memilih pemeran. serta etika berbahasa yang baik. dan kaidah penulisan dialog. pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. menajamkan kemampuan analisis. jika sulit. Misalnya. seperti di mana pemeranan dilakukan. Pada saat itu. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. menghayati. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. Namun. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. pemecahan masalah yang berbeda. rendah hati. 4. dan ikhlas. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan. sistematika kalimat efektif. Melalui kegiatan ini.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. Dengan demikian. novel. dialog boleh saja dipersiapkan. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. cerpen. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. serta aktif mendiskusikannya. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. sistematis. bagaimana tempat ditata. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. Melalui kegiatan ini pula.

7. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. runtut. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. Namun. bahasa yang digunakan.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. dan pelaku-pelakunya. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. Keterampilan mengekspresikan pikiran. perasaan. 6. muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. 5. Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. Mahasiswa memulai permainan peran. Selama pemeranan berlangsung. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. dan saling merespons secara realistis. pemecahan masalah. penggunaan bahasa. menghina. logis. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. bekerja sama. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. Selain itu. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. . sikap-sikap. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya. dan jujur. dalam proses pemeranan ini. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan. Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. Tidak ada kata-kata yang mencela. Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. Kemudian. atau konsekuensi perilaku yang muncul. Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. menghidupkan situasi secara spontan. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. menuduh. bagaimana jalannya pemeranan.

Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. 9. bersahabat. seperti jujur. . Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. minat. Melalui kegiatan penilaian. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. seperti pengetahuan. analisis. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. Namun. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum. karakter. (2) mengetahui kecakapan. bahasa. Melalui bermain peran. dengan model bermain peran. bakat. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya. Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran. aplikasi. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. sopan dan santun. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. displin. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. 8. Selain itu. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. pemahaman. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. Melalui kegiatan ini juga. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. dan sintesis. Namun. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika.

menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. lancar. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. dilaksanakan dua teknik penilaian. Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. minat. Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). Gerak-gerik. 5 = istimewa. Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog. Penempatan tekanan dan nada sesuai. c. d. 4 Penggunaan Bahasa a.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. dan Mimik a. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi. 1 = rendah. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. 2 Penggunaan Suara a. motivasi. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan. yaitu tes dan nontes. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun. 4 = di atas rata-rata. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. b. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. b. seperti sikap. c. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur. tidak menghina. Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi. 3 = rata-rata. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. dan tidak terbata-bata. c. situasi. . b. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. dan konteks waktu. Untuk setiap kriteria. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks. 1. topik pertuturan. Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. 2 = cukup. dan tempat pertuturan berlangsung.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan. tidak menyombongkan diri. b. Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. 3 Sikap atau Perilaku a. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut. c.

dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. 4 = di atas rata-rata. pemberian tanda baca. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. mengidentifikasi masalah. 3 = rata-rata. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut. (skor 3) d. pemberian tanda baca. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. dan memilih pemeran. a. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. pemberian tanda baca. Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. terutama dalam penggunaan kaidah bahasa. tulisan mustahil dapat dipahami. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. Jumlah 3. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. Oleh karena itu. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. (skor 2) e. pemberian tanda baca. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan. . 2 = cukup. Pembaca menyadari. menjelaskan masalah. Untuk setiap kriteria. 5 = istimewa. (skor 4) c. 1 = rendah. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat.Jumlah 2.

tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. g. d. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. menjelaskan masalah. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. mengidentifikasi masalah. h. 5 = istimewa. b. c. Kemampuan mengidentifikasi masalah. dan memilih pemeran. . Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. 3 = rata-rata. kelogisan. 1 = rendah. c. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. d. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. e. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. i. 2 = cukup. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. f. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. b. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. 4 = di atas rata-rata.Untuk setiap kriteria. Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan.

• Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. distribusi. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji. sehingga dapat mengurangi pengangguran. disiplin. baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. distribusi. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. • Memelihara keserasian lingkungan. kesejahteraan dan sebagainya. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali. pemeliharaan lingkungan. bidang produksi. baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja. Oleh sebab itu. dan pengawasan. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas.Jumlah D. tekun dalam menghadapi pekerjaan. hidup tidak merugikan orang lain. sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. tidak berfoya-foya dan tidak boros. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya. jujur. • Hidup secara efisien. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . dekat kepada Allah SWT. meningkatkan ketahanan nasional. • Sebagai generator pembangunan lingkungan.. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. wirausaha merupakan potensi pembangunan. berani. dan banyak pula orang menganggur. meningkatkan pendapatan masyarakat. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. dan konsumsi. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. jujur. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. 1. diteladani. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. yaitu : a) Sebagai pengusaha. personalia.

Bagi . Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. Indonesia masih tertinggal. pengusaha yang jujur dan bermartabat. wait and see. b. tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha). Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak. Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. terpercaya. berkomunikasi. Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. dan berkompetensi dengan baik. terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini. NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro. 3. 2. Bukan tipe menunda. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional.1. terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. pemimpin yang adil. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. bekerja sama. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. memiliki kemampuan berusaha. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. Prinsip yang dianut adalah see and do. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas.

merenung atau menguji hipotesis. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. 2) Berpikir simpel. put first things first. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. they find their voice. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. melainkan diciptakan. seek first to understand-then to be understood. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. atau peluang dari usaha yang sama. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. think win/win. memimpin. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. mereka selalu mau belajar yang baru. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. Untuk usaha-usaha yang baru. Sedangkan dalam usaha yang sama. menyatukan gerak. Peluang bukan hanya dicari.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. melainkan juga dari cara-cara baru. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. seperti model. desain. Seorang wirausaha bukan hanya awas. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. Secara spesifik. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi.mereka. kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif.Mereka juga adaptif terhadap situasi. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. membangun jaringan . Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. mereka selalu belajar menyederhanakannya. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. synergize. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. Dengan kata lain. Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir. bahan baku. Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. baik dari dalam maupun luar perusahaannya. memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. dibuka dan diperjelas. Untuk itu. . memotivasi dan berkomunikasi. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. Namun . yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. 6) Fokus pada eksekusi. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). sharpen the saw. and help others find theirs. kemasan dan struktur biaya produksi. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. energi. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. 3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. 1) Proaktif.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. Oleh karena itu. risiko bukanlah untuk dihindari. begin with the end in mind. tetapi mereka bergerak ke arah itu.

Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya. Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang. 5) Cari tahu dulu untuk memahami. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. dan kekuatan. Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama. . Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). Dalam hal ini. 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya. pelaksanaan usaha. yang tersebar pada empat elemen utama. yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan. diperlakukan kurang/tidak adil. berpikir simpel. hanya mengambil peluang yang terbaik. Oleh karena itu. Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. berdisiplin tinggi. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . 4) Berpikir dan bertindak win/win. 7) Menajamkan ketahanan. memotivasi dan membangun jaringan. fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi. fleksibilitas dan kekuatannya. selalu mencari peluang-peluang baru. Untuk itulah. fleksibilitas. seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. yaitu pikiran (mind). dikalahkan.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win. hati dan jiwa. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. seperti merasa dirugikan. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. baru memahami. Dengan demikian . bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. Urgent adalah situasi yang mendesak. mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. 6) Sinergi.ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. tubuh.3) Mendahulukan hal yang utama. seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk.

(2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah. skala usaha dan permodalan.b. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan. 3.1. memikul resiko finansial. seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro. Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus. 2007: 18). serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. d. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi. Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan. . Selain itu. c. (Kasmir. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.2. (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. 3. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. psikologi dan sosial yang menyertainya. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. inovasi dan caracara baru. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. tenaga kerja. LANDASAN TEORITIK 3.

pemasok. cara kerja yang efektif dan efisien. a. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. Mengenal lingkungan bisnis dan h. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. bangsa dan negara c. dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. Mau dan mampu bekerja keras. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. investasi di berbagai bidang usaha. Mau dan mampu berkomunukasi. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. negosiasi. b.3. a. semangat kerja tinggi. Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. masyarakat. mencintai kegiatan usahanya. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. e. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g. d. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur. Berani mengambil risiko. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. terencana. 3. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b. f. hemat dan disiplin. Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . pemilik modal.(memiliki salesmanship yang kuat) d. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. Menyenangi. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul. b. karyawan. c. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha.

dan inisiatif.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G. ulet. energik. e. ia senang pada prestasi . dan optimis. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi. teknologi. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. proses. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. tekun Banyak inisiatif c. individualistis. prestasi kemudian. tekun. Berorientasi ke Masa Depan. produk. beorientasi laba.4. tidak tergantung pada orang lain.• • • • • • • • • • • • • • • • • b.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. dll). Kreativitas. adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. dan tabah. jasa. tabah. mempunyai dorongan kuat. tekad bekerja keras. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. Akan tetapi. Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. 1994) 3. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi.

enerjik tanpa malu dilihat teman. serta fleksibel.Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri. Jika perhitungan sudah matang. Keorisinilan. ketelitian. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar. Oleh sebab itu.Kecermatan. Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan. Kepemimpinan. apa yang hendak ia lakukan. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif. Kita akan mampu bekerja keras. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin. kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha.Namun sekarang ini.Seorang wirausaha haruslah perspektif. bergaul denga orang lain. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan. maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara. mempunyai visi ke depan. pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati .Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin. membuat pertimbangan dari segala macam segi. tetapi untuk selamanya. 4. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. prespektif. Pengambila resiko dan suka tantangan.DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap. Berorientasi ke masa depan. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang. Wirausahawan berpandanang ke depan.Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu. menanggapi saran dan kritik. apa yang ingin di capai.Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional. Entah itu untung ataupun rugi. menggampangkan apalagi menyepelekannya.

Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif. mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. serta seksi-seksi (9 orang). dalam rangka membina jiwa wirausaha. terdiri dari pelindung (1 orang). maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. Selain itu. Pengarah (4 orang). Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. e. b. d. Sebagai motivator. Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi. b. c. c. d. . para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. Penasehat (3 orang). Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. Tugas Pokok PK adalah : a. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. Sekretaris dan Bendahara). terkoordinasi dan sinergis. Selain tatap muka. dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. Selain itu.

Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. 2. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi. 2.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. 3. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS . dan sebagainya. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. 3. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai. Pimpinan Fakultas. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. Dinas Koperasi dan UMKM. 1. 4. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. 5. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Pengusaha sukses. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 6. seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 4. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif.

Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati. sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. rapat. 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi. Selain sistem informasi. bagi Unswagati merupakan perwujudan . dan sebagainya. dan sebagainya mengenai pelaksanaan program. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. 5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha.Wujudnya adalah pemberian laporan. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas. briefing. konsultasi. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi. terprogram dan terencana. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator. saran/masukan. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha.

Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3. 4. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. 5. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. 6. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2.000. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah. 1. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. 4.nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam. Penagihan oleh AMEL. berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011. warung. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4. . industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp.600.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. 35. 2. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. Berkas permohonan dari peminjam masuk. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah. 2. para pengrajin. 3. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya.000. sampai saat buku ini disusun. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam. kemudian dilakukan survei oleh AMEL. Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak. Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi.

dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha. INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa. tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan.Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa . bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya.Kepedulian dan kesetiakawanan sosial .Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis . Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik.Pengembangan kapasitas keprofesionalan . sikap.5.Pengelolaan SDM dan pengembangan karir .Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa . tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu. keterampilan.Manajemen logistik dan finansial .Manajemen produksi dan operasi . Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator . yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan.Status kelayakan dan perencanaan bisnis .Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa .Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development).Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha .Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha .

d. Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. 6. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. Titik-tolaknya adalah. f. Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. serta berupaya untuk mengembangkannya. h. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. yaitu : a.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. c. . Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa. dengan mendorong. b. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a. Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. c. b. Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. memberikan motivasi. Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan.

Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a. Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c. Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan. Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah. Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b. proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan. BAB IV . Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. Tahap pelaksanaan. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor.2. Selain itu.

REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya. Pendidikan Kewarganegaraan. . Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan. Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini.

D.” 11 September 2002.Dewanti. 1988. 2010.Budimansyah. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. . Bandung: PT Genesindo. Ciba Geigy Ltd. (2006).Budimansyah. D. .(2007). Retno. Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan.Buchari Alma . . D.Yogyakarta. Jakarta: Erlangga. 2011. . Zaenal.Buchari Alma .google. . Management Organizational Behavior prentice hall. Inc. .(2007).http. E Fidelis.Basics of Marketing.com . Alwasilah.Mitra Wacana Media. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Bandung: Rosdakarya. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. “ Kewirausahaan”.Arifin. Bandung: Laboratorium PKn UPI. 2004. 2003. Kesantunan Berbahasa. 1984. Amran Tasai.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.Dewanti. Retno.Chaedar. Bandung. Yogyakarta :Kanisius . 2003. . Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Ratna Wilis. . Paul brian Hersey. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio.com . Inc.Arifin. . (2002).Birch.Dahar. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. A. . Zaenal dan S. A. Jamal Ma’mur. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Paul brian Hersey.Asmani. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. M. Model-Model Mengajar. 1988. Komunikasi dan Informasi .Budimansyah. . 2009. Waruwu. 2010. D. (Ed.Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas.Birch. . Bandung: Diponegoro. “ Kewirausahaan”. Management Organizational Behavior prentice hall. di Bappenas. .http. Cermat Berbahasa Indonesia.Mitra Wacana Media. . 2011. .(1997).Yogyakarta. Jogjakarta: Diva Press.). Evaluasi Pembelajaran.google. Bandung. Ciba Geigy Ltd. 2010. Jakarta: Akademika Pressindo.(1997).Basics of Marketing.Dahlan.DAFTAR PUSTAKA - .Chaer. (ed). Bandung: Widya Aksara Press. 2008. Bandung : Remaja Rosdakarya. oleh Direktorat Politik.

Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah. Peters M. Professional Salesmanship. 1996. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Cepi Triatna. http. Perencanaan.Hunger. Kewirausahaan.Kotler.MarkPlus & Co Education Division 2004.2009.“Manjaemen Strategis”. Drs.X. Penerbit Andi. Jogjakarta : Laksana . Entrepreneurship. dan Pengendalian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1987. dan Johar Permana.wikipedia.Hisrich.Naniek Ratni Jar.2010. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah.wikipedia. D. Analisis Wacana Pragmatik. Nurla. Chicago . Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa.com Muhammad Thohir. Perencanaan. Isna Aunillah. Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa.MarkPlus & Co Education Division 2004. Ateilla.David. Penerbit Andi.Manajemen Pemasaran Analisis. Hand Out Kewirausahaan.Kesuma. http. Dharma. Ahmad dan Mirza.“Manjaemen Strategis”. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . Kementrian Pendidikan Nasional.com .yahoo. [online]. Irwin. Bruce dkk.com. Thomas. .http://www. 2011. 2011.Hunger.http://www.Fachri Ali. Bandung: Angkasa. 2009.Salemba Empat:Jakarta . J. Jakarta : Dikti . Jakarta : Lentera Hati . Masnur. Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Bandung: Rosdakarya.http.Erni Sule dan Asep Mulyana. Pengantar Kewiraswastaan. Peters M. diterj. Impletasi. (1995).oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. ApKj.P. 2011.com . Bandung: Rosdakarya. . Chicago .com . Melalui http://google.Joice.http. DR. Jogjakarta : Arruzz Media . Bogor : Ghalia Indonesia . D. Professional Salesmanship. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. MA. L.wikipedia. Impletasi.Karakteristik Kewiraswastaan.com. Pengantar Kewiraswastaan.. Hamid Hasan. L. Pen.Iskandarwassid dan Dadang Sunendar.yahoo. .Mustakim.Musa Hubeis. Tersedia: http://pusatbahasa.2009. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2011.Malta. 2001. Model-model Pengajaran.wikipedia.com .Masykur Wiratmo dkk.com . Surabaya : PT JePe Press Media Utama . F.Masykur Wiratmo dkk. Melalui http://google.Salemba Empat:Jakarta . 1996. Thomas. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik.Muslich. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.go.Hasan Basari. . Fawaid. . Philip.Jakarta : LP3ES.Kotler.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603.Nadar. 2011.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA.Erni Sule dan Asep Mulyana. Philip. Kewirausahaan. Irwin. . 2011.1995.Malta. 1994. Yogyakarta.2006 Fatchul Mu’in.2010. [31 Oktober 2011]. Robert. . Entrepreneurship. Jakarta: Bumi Aksara. Najib Sulhan.kemdiknas. 2009. 2001.Manajemen Pemasaran Analisis.P. Wheelen.Hisrich. (1995).1995. http://google. . Robert. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.Lubis. dan Pengendalian.Karakteristik Kewiraswastaan..Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar.-.Musa Hubeis.. Bogor : Ghalia Indonesia . Yogyakarta.com .Komunal:jakarta. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis. Wheelen.- - - - - .David. J.

1938.2008. H. Jakarta : Rajagrafindo Persada.Rhenald Kasali dkk. Tersedia: http://solehamin.- - .Sumarsono.Suharna. Cooperative Learning. Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’.Facebook. .Dede.blog. Nurdin M. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa.Sofjan. . Muhibbin.com. Modul Kewirausahaan. 2008. . Prayitno.shvoong. Dr dan Belferik Manullang. . .http://www. Yogyakarta : Sabda Media . 2011.Undang-Undang Dasar 1945.http://www. Minto. Nurdin M. Puslatkop dan PK.Graha Ilmu:Yogyakarta .Dede. Sonny. http://wordpress.Rahayu. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jaakarta .Roy Erickson Mamengk.Noer. Jakarta: Erlangga. Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa. Penerbit Hikmah. Nurdin M. 2007.art.art. . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.Rahardi.Raja Grafindo Presada:Jakarta . “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”.com . Jakarta: Grassindo.Com 2011 . http://dedesuharna’s. www. 2009. .Naniek Ratni Jar. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Menusa Cerbon.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. MSc. Edisi revisi.UUD 1945 .Syah.Robin. Jakarta : PT Grasindo . 2011. http:goegle. [online].Kewirausahaan.Perseroan Terbatas.2010. Pepatah Jawa.com Nazili Shaleh Ahmad. Hand Out Kewirausahaan. .blog.Wahab.Suara. A.wordpress.Rhenald Kasali dkk. Nurdin M. Jakarta: Grasindo. Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan.Noer. Melalui http://google. Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar.Sofjan.Trianto.2009.Perseroan Terbatas. . 2011.S. 2010. .Ed. Modul Kewirausahaan.Manajemen Pemasaran. .Naniek Ratni Jar. 1996.Noer.UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional .Raja Grafindo Presada:Jakarta . Hand Out Kewirausahaan. Melalui http://google.2010. 2011.2010. 2005. Kunjana. G. Agus.Syafi’i.Sanusi. Penerbit Hikmah. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Jakarta: FIP UNJ . 2010.Graha Ilmu:Yogyakarta . com. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.com . http://dedesuharna’s. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2010.Sumarsono. tentang Sistem Pendidikan Nasional . H. . . com. 2010. . Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. Kewirausahaan Indonesia.Suharna.com/tentang-kami/artikel-7/.Suprijono. Bandung: Angkasa. Assauri.Robin. 1996. Assauri. A. .2008. Widjono. Kewirausahaan Indonesia.1987.Tarigan. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dr. PT.shvoong. PT.Salim Siagian. (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: CICED . Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. 2011. G. . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. http:goegle. 2007. Sonny.Suara. Jaakarta .Undang-undang No. 20 tahun 2003.Salim Siagian. Bandung: angkasa . Pengajaran Pragmatik. Dr.Manajemen Pemasaran.1987. Prof. Psikologi Belajar.Tarigan. Edisi revisi.com.com . Puslatkop dan PK. . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. http://wordpress. Prof.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. 2009.Noer. . Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir.1938.Kewirausahaan.

”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani . Bandung: IKIP Bandung .Winataputra. J. Thursday. (2001). J.dikti. UII Pers Yogyakarta: 2007. 2008.Kencana. (Disertasi). 03 June 2010 . .Jakarta .2006. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. .Wahab. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.Wijaya Kusuma.- .Winardi.Jakarta .A. 2008.www. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.UII Yogyakarta.Winardi. U.Kencana.S.A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global. “Entrepeneur & Entrepeneurship”.Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”. Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan.com .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful