BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. spiritual. B. religius dan serta mampu bersikap. Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. menghormati setiap elemen bangsa. Secara khusus. ilmu pengetahuan.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. handal. mengembangkan dan menghasilkan karya. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sosial. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. dan kinestetik2. dan akan memudahkan pengembangannya. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan.

untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. . Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. bermoral Pancasila. dan menjadikan kampus budaya bangsa. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius.bermoral Pancasila. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. serta membangun emosional. mengaplikasikannya. karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa. memiliki jiwa kepemimpinan. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Selain itu. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Berangkat dari visi tersebut.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. dan mempunyai rasa percaya diri. dan ini akan memudahkan pengembangannya. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara. Undang-Undang Dasar 1945. C. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. mengemban misi pendidikan. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar.

Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. 4. 3. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. 5. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. 6. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. jangan mempersulit. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. . Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Upayakan optimalisasi penerimaan. pengembangan hasil riset. 8. dan penuh tanggungjawab.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. yang meliputi: 1. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang.dispiln. Dengan demikian. pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. 7. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. 9. 2. sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas.

5. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga.Dalam perjalananya. profsionalisme. Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). disiplin. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor. Disiplin . Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. Pimpinan Fakultas. Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. 3. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . Lembaga Pengkajian. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. Semoga Allah SWT. baik bagi Dosen dan karyawan. seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. 4. 2. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya.etos kerja. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian.

3. Melakukan pengkajian. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis .Dalam kontek ini. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1. satuan pendidian. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. 3. Satuan Pendidikan. Dalam kontek ini. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. mandiri. Fungsi perbaikan dan penguatan. beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. 2. dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila. Fungsi penyaring. 2. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila.

berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum. sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya. berkemanusiaan yang adil dan beradab. serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. seminar dan lokakarya. berjiwa persatuan Indonesia.dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. 4. . Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

bangsa dan negara. Berdasarkan peristilahan.masyarakat. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. melainkan menyatukan keduanya. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. pengendalian diri.masyarakat. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya. kepribadian. melainkan banyak. Secara normatif. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pengertian Pendidikan Karakter. kecerdasan.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. Definisi itu tidak satu. Hal tersebut. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. pengendalian diri. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kecerdasan. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter. akhlak mulia. akhlak mulia. bangsa dan negara. Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. kepribadian. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. . menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. Berpedoman pada uraian di atas. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’. Dalam tulisan ini.

masyarakat. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1. 8. 12. Manusia yang memiliki kepribadian. Manusia yang sehat. Manusua yang cakap.cakap. 10. Manusia yang mandiri. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan. Manusia yang mampu pengendalian diri. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab. 2. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. (Penerbit Indah Surabaya. Manusia yang memiliki akhlak mulia. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. Dengan demikian. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. Manusia yang kreatif 13. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak. sehat. berilmu. Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. Memang harus diakui. 6. dan 14. Berangkat dari pengertian tersebut. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusiua yang memiliki kecerdasan. 7. . 9. berakhlak mulia. bangsa dan negara. 4. maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. 3.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.kreatif. 11. Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya.mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No.20 Tahun2003). Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003. Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at.

Laksana Yogayakarta 2011. B. harus berangkat dari semangat yang sama. bersifat dan berwatak3. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap. perilaku. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. yaitu cinta tanah air dan bangsa. sifat . Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. akan membawa konsekunsi yang berbeda. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. tabiat. Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. dan nonformal. Berangkat dari pembahasan ini. Dalam bahasa yang sederhana. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. kejam. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil. diri sendiri. personalitas. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. perilaku. karena memberikan makna yang lain. jiwa kepribadian.hlm 19 4 ibid . Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan.”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan. 3 Nurla Isna. maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan. formal. budi pekerti. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. motivasi dan keterampilan. hati. yang mengandung komponen pengetahuan. Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia.berperilaku. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. individu. temperamen dan watak. kesadaran. sesama manusia.

Percaya diri. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. diantaranya adalah : 1. mandiri. bermoral. kreatif dan bekerja keras 6. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. konstitusi. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. regional. Oleh karena itu. patriotik. cakap. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. berilmu. dinamis. Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan. kompetitif. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. bergotong royong. sehat. tidak hanya secara wawasan keilmuan. berbudaya. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. haluan negara. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. kedisiplinan dan kemandirian 3. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. bertoleran. Untuk itu diperlukan . berakhlak mulia. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Hormat dan santun Dermawan. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. Tanggung jawab. kreatif.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Kepemimpinan dan keadilan 7.

pelaksanaan. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966).sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. Olah Pikir (intellectual development). UPI Bandung. Ovide Decroly. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). dan penilaiannya. kualitas seorang pribadi diukur. sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). berkualitas. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa. 5 6 Sutangsa. C. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5. mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. Dari kematangan karakter inilah. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. Bagi Foerster. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Lebih dari itu. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. 2011 hlm 12 Ibid . dan mandiri. serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development).

Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab. D. 2. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . 2. mengubah cara berfikir. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. perilaku kebudayaan. pengembangan. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. dan penyebaran ilmu pengetahuan. Senada dengan hal di atas. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. termasuk Indonesia di New Delhi 1996. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. dan 3. pendapat. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. Dengan demikian. dan 3. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. mempersiapkan pribadi. perbedaan pemikiran. selain meneruskan nilai-nilai. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama.

20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. VII Tahun 2001. keragaman pendapat dan pandangan. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. UU No. Menurut Malik Fajar (1999). serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. adil dan bebas. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. yang mengakar pada 6. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. mandiri. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). berilmu. maju. bersatu. 2. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. 5. adil. demokratis. . membangun warga negara berkeadaban.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. sehat. cakap. berakhlak mulia. 4. berkeadaban. 3. dan tidak diskriminatif. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. Demokratik. manusiawi. masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. kreatif. menghargai perbedaan. 7. memiliki keahlian. sejahtera. mandiri. kesetaraan. sebagai berikut : 1. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas.

serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut.Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa. anggun secara moral. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain.2. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. b. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . menghormati kemerdekaan beragama. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. saling menghargai. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. berbangsa dan bernegara secara demokratis. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara. Berdasarkan itu semua. berkeadaban dan inklusif. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a.

berani membela kebenaran dan keadilan. kesatuan. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. dan kewajiban. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. e. c. dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. kepentingan. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan. tidak semenamena terhadap orang lain. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. hak. tenggang rasa. dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . d. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. oleh rakyat. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. kelompok. saling mencintai.

kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. termasuk law inforcement yang lemah. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. Cerminan watak. Sebagai nilai dasar. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. sikap adil. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat. mental. dan etika kebangsaan. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. isinya belum dapat dioperasionalkan. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. hormat terhadap hakhak orang lain. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. suka bekerja keras. dangkal dan tertutup. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Artinya. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. tidak bergaya hidup mewah. Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik. orang bersorak sorai. mental. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. berbangsa dan bernegara. Karena sifatnya abstrak dan normatif. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. persepsi yang sempit. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. menghargai karya orang lain. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya. tidak boros. . nilai dan kaidah normatif. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit. suka menolong orang lain.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan.

tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika.”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat. seperti sosio-politik. 7 Syahrial Syarbaini. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat. Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. b. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya. Di sini. Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan.Grahalia Jakarta 2011 . Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek. Curiosity. Terbuka. d. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain. yaitu sebagai berikut 7 : a. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. Open mindedness. dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi. Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik. ekonomi dan politik. ekonomi. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak. budaya dan hankam. Wawasan.hlm 35. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. c.

Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. dialogis. Independent. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. dan persuasif. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. d. E. bernegara. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. e. dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. Dengan dasar itu semua. Jujur. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan.e. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. c. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. b. pemerintah ataupun masyarakat. f. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. berbangsa dan bernegara. bernegara. profesi ekonomi. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . bernegara. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi. teknologi dan seni. profesi kedokteran. anggun secara moral. seperti etika profesi hukum. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif.

pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang.Jum’at 15 Januari 2010 . sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif. krisis sosial budaya. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. dan akhirnya menjalar ke krisis politik.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. Namun. Diawali dari krisis moneter. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. Akibat dari krisis politik yang terjadi. dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif. Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Bahkan menjadi semakin terpuruk. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya. 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. dalam Kompas. Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. berlanjut ke krisis ekonomi. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan.

Bahkan. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. di Bappenas. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial. Di sisi lain.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. Pada era saat ini.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).” 11 September 2002. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. Komunikasi dan Informasi . Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. Padahal. Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10. Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar. oleh Direktorat Politik. Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal. seperti agama. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. 10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur. Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. suku dan bahasa. Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru.

Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. rasa. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir. terutama kelompok-kelompok dominan. tetapi juga keindahan. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa mengakui fakta itu. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. karsa.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sebagian besar masyarakat. Kita pun. Dalam konteks ini. Pluralisme. Oleh karena itu. beraneka ragam tetapi satu. dan Bhineka Tunggal Ika)13. bahasa. bahkan ideologi. selain masalah korupsi dan kemiskinan. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”. dalam konteks keindonesiaan. agama. konstitusi UUD Negara RI 1945. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. pemahaman. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. NKRI. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12.Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. adat istiadat. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. untuk menjamin keberlangsungannya. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. olah rasa dan karsa. masih tidak memahami prinsip. olah hati. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku.

mempunyai peran penting. Hasan Basari. Oleh karena itu. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945. adil dan makmur.masalah HAM. melalui pemikiran genius founding fathers kita. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. saling belajar. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik. adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah. bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. berdaulat. sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional. perdamaian abadi dan keadilan sosial.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . 1987. bersatu. masalah persatuan dan kesatuan. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah. Untuk itu. Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme. Artinya. berbangsa dan bernegara. kita. yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka. Karena dengan keterbukaan. bersatu. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals).oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. diterj.Jakarta : LP3ES.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. berdaulat. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi.-. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu. Hanya dengan kesadaran itu. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16. berdemokrasi. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Konsensus dasar. bangsa Indonesia.

Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan. lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. yaitu Pancasila. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan. F. hlm 79. karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju. Jika hal ini kurang diantisipasi. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 . prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. UUD 1945. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja. Yogyakarta. artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. 1. Pendidikan Berkarakter. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia.murid dan para pengikutnya. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda.2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta.(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis.

Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. Dengan pendidikan modern. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri. terutama dari lingkungan budayanya. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. welas asih dan bijak. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. kesadaran. Ketika hal ini terjadi. Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah .diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. Hanya saja pada era penjajahan ini. bagi sesama warga negara. kecerdasan. maupun bagi bangsa. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. Ketika Islam datang di Nusantara. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. kepribadian. mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. keetisan.

upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab. Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan. 20 21 Mubyarto. etika). Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. karakter). bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. termasuk pendidikan Nonformal dan Informal. Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. pikiran (intellect) dan tubuh anak. pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21. sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. Dalam pandangan Notonagoro20. dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya.pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. moral.

Mengenai sarana-prasarana. Dengan demikian. cakap. Wamendiknas pun berpesan. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu.www. Sebab. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. bahasa.dikti.bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24. adat istiadat dan agama. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.com 23 ibid 24 Ibid . sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Mahatma Gandhi menyatakan. Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. mandiri. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. berilmu. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. kebebasan akademis. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character.Perihal pengembangannya sendiri. 22 Yoggi Herdani . Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture .” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. Thursday. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan. Tut Wuri Handayani. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. Selain itu. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Untuk itu. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. Ing Madyo Mangun Karso. berakhlak mulia. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban. kreatif. Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. 03 June 2010 . sehat.

2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.2010 Fachri Ali. terorisme. beragama. malapraktik. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter.hlm 20 .intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. tidak hanya secara wawasan keilmuan. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila.2006. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis. pelacuran intelektual dan sebagainya25. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. Oleh sebab itu. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah).Komunal:jakarta. seperti melakukan korupsi.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26. Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Maka dari itu. Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud. kejahatan perbankan. Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003. 2. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat. Pendidikan Agama.UII Yogyakarta. dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat. tawuran pelajar dan mahasiswa. Oleh karena itu. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas.

(Jakarta: Lentera Dipantara. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. baik akses. Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama.2006). “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. Jejak Langkah. termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya. “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. hlm 291 . Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia. apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas. menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato. bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. Ivan Illich misalnya. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik. terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya. Seorang sastrawan besar di Indonesia. Mengapa demikian?.1982) Pramoedya Ananta Toer. proses maupun hasilnya. Bebas dari sekolah.pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya.

A. kedisiplinan. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat. bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. Hatta. Namun. banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu . Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya. melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya.tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’. sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. Moh. Ki Hadjar Dewantara. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. G. Natsir dan lain-lain. Dengan caranya masing – masing. Tan Malaka. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar. seperti R. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa. Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. Soekarno. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang.kartini.

• Sila Keempat: kebebasan. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. kebersamaan. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman. . Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain.tertib dan sejahtera. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan. penyangga. berbangsa maupun bernegara. manusia sebagai subjek pendukung. Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. tercermin dalam sila-silanya. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati. kemerdekaan. yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing.

dan negara. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik. bangsa. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. bersikap. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.Selain itu juga. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. tanggap akan aspirasi rakyat. efisien. saling peduli. saling menghargai. dan Bermasyarakat. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. hlm 14 :2009 . Untuk itu. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. dan bernegara. berbangsa. dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir. 30 Syahrial Syarbaini. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Ghalia Indonesia. menghargai perbedaan. dan efektif. b. yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Bernegara. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. saling mencintai. bernegara. Oleh karena itu. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. rasa tanggung jawab. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. jujur dalam persaingan. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. Ketetapan MPR No. saling memahami. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang.

ketenangan. meneliti. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. membahas. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. keputusan. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. belajar. berkeadilan. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi. dan keadilan. institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. program-program pembangunan. Perundang-undangan. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. e. ketetapan. logis dan objektif. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. baik oleh pribadi. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. kebijaksanaan pemerintah. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca. . oligopoli. d.c. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. menulis. kritis. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. persaingan sehat. Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi.

Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. bahkan terperangkap skenario elite politik. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi. berjiwa patriotik. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. bermoral. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. toleran. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. Pancasila bersifat universal dan akan .percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya. Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda. berakhlak mulia. dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. bergotong royong. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa. berkembang dinamis. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar. kompetitif. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. penegak hukum tidak profesional. berbudi luhur. tapi orang bangga menjadi koruptor.

RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI . Kristen (Protestan).mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. Hindu. sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian. Oleh karena itu. dan Konghucu. kesatuan dan (saling) menghormati. Keempat nilai humanis tersebut. Katolik. cinta. Budha. apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila. Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika). sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final. yaitu Islam. BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN.

Soedjono. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. Amir Husodo. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). Drs. UNSWAGATI telah meluluskan 2. Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. 4.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008. Hal itu dirasakan perlu. Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. dan Fakultas Teknik. Bandung. SH. 6. Sriadi. dan Magister Ilmu Pertanian.. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. 5. S. 2.E.. 7. UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti. Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. yaitu: 1. MBA (1998 – 2002) H.M. Fakultas Pertanian. Tentu. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon. H. Jusup Mulia. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta.A. dan 11. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang.. H. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. SH. Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. (1961 – 1965) Letkol. yaitu Magister Ilmu Administrasi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. MM ( 2002 – 2005) H. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. SH.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. Kav. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. (1965 – 1969) Letkol. 3. Djakaria Machmud. Ili Rohaeli. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010.221 sarjana dari 11 (sebelas) program .

Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis. Pendidikan Matematika. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. dan Pendidikan Ekonomi. Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN . Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan. dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi.279 orang. yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum. Pendidikan Bahasa Inggris.studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil. dan Akuntansi.

Visi. Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. 5. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. bermoral Pancasila. 6. 4. 4. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder. 3. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mengaplikasikannya. dan mempunyai rasa percaya diri. nasional dan global. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. dan menjadi pebelajar yang tangguh. Mengembangkan ilmu pengetahuan. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. teknologi. 2. Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.B. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Misi. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. inovatif dan berorientasi regional. 3. Tujuan Unswagati yaitu : 1. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. Dalam mengemban misi tersebut. . 2.

dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati. disiplin. C. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. pengembangan hasil riset. profsionalisme. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja. bermoral Pancasila. Dalam perjalananya. 2. Pimpinan Fakultas.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian. . Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. harus berangkat dari visi Unswagati. seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja.

tata hubungan sesuatu dengan lainnya. 5. Disiplin .3. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. 1. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. . Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. 4. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar.etos kerja.

orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang. Dalam perjalanan pulang. sumpah. sungguh. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab. Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. tidak apa apa lah. akhlak ataupun muamalah. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. jangan khawatir. Dalam hal ini kita ambil contoh . tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. Berbicara tentang arti kejujuran. dan kalau jujur. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ).Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). teman temannya menawarkan Khamer . Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. bahwa …. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan. Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5. maka . diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu. ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. utang-piutang. dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. Islam terbuka pada siapa saja . Kemudian Dia Matur kepada Rasul.kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. Dia berfikir. aku tidak sanggup meninggalkanya. dan sebagainya. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang. seperti perkara jual-beli. Keesokan harinya. baik itu akidah. berzina dan berbohong. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. mencuri. Artinya apa. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. tidak ada pengakuan. ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta.

al juanid berpendapat. Kelima. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya .pintu maksiat tertutup bagiku . Keempat.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. Keenam. Ketiga. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). cinta dan sebagainya. as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. ridho. maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu. Kedua. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. tawakkal. anti korup dan sebagainya. adu domba . hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas. Kedua. kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. Pertama.

Bersabda. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). 5. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam.” (QS. Imam Ibnul Qayyim berkata. Jadi. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Misalnya: 1. Maka. maka dikatakan benar/jujur. “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. sedangkan lawannya. al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. tetapi kalau tidak. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. Kejujuran itu ada pada ucapan. maka dikatakan dusta. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111).akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. merupakan sifat orang yang munafik. dusta. tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. 2. 3. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah. tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. mereka itulah orang-orang yang bertakwa. secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. kecuali kejujurannya (kebenarannya). Perjanjian tersebut wajib dipenuhi. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. Yang jelas. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. 4. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari.” (QS. Allah berfirman. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan. juga ada pada perbuatan. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. padahal sebaliknya.

sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. Otonom dalam penilaian karya 8. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . akan terhindar dari hal hal yang dibenci. . Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. 1. 10. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. Mempunyai motivasi yang kuat.Paling tidak. untuk senang-senang. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. Maka dari sinilah. pertama.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL. atau untuk mengisi waktu luang. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. keempat. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. 3. sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia.' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5. Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya. 2. berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. At-Taubah : 199). untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga.

berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. .. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010). bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai. kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan.Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. kami benar-benar kagum. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja. Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut. Sebuah cerita lain.Ada sebuah cerita.setiap bulannya. suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan. Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah. Ucapan itupun masih juga terlontar. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah.

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. Secara normatif. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya.Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Artinya. mulai dari rektor sampai pemelihara halaman. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral. D. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik. karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. perlu di budayakan. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran. penelitian. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia. Dengan demikian. Pemahaman yang demikian. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. . Keharusan untuk bekerja sama. Dalam manejeman modern. Penulis berkeyakinan. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1. Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. baik itu pendidikan. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama).

2. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. hasil dan sumber pendukung. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. perlu usaha khusus. 3. yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. 4. paling tidak dapat memasuki pasar Asean. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. Teoritik dan Praktik dalam 2. dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. Namun. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders. sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati . Jaminan kebermutuan dari aspek proses.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. serta bagaimana prosedur mencapainya. Rencana jangka panjang harus realistik. nasionalis dan religius. proses. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik.

Manusia merupakan mahluk yang unik. Membutuhkan manusia lain. merupakan kebutuhan setiap manusia. Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku. Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. hlm 33). Raga bersifat kehendak. kesuusilaan. karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. di dalamnya terdapat kesamaan. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif). rasa dan kehendak.Konsep manusia. sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru. . sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. Justru menjadi aneh. bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika).Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan. apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan. Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya. sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. Di balik keunikan manusia. C sebagai manusia yang lain. sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong. Tuhan adalah tempat bergantung. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan . Menurut Kaelan (Djunaedi. sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. dengan makud untuk saling mengenal. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir).

Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. mungkir. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. anak pintar. nggak sakit ko! Jangan nangis. baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan. Sebaliknya. belum?”. sudah!!.pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. Kejujuran prosedural ini. meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). Contoh kongkrit misalnya. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. Selain itu juga. sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi. hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta. jika tidak katakan tidak. yah! Hemat penulis. Selain itu. kecerdasan. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. bangsa dan negara. . bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a. masyarakat. kepribadian. hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama.cara mengalahkan manusuia lain. Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan).tidak apa-apa. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/. akhlak mulia. bohong dan munafik? Sering terjadi. jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya. tetapi ia dengan cepat menjawab. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya. pengendalian diri. jika ya katakana ya. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. Manusia dikodratkan akal yang sehat.

di dalamnya mengajarkan kejujuran. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas.Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan. Bentuk kejujuran mahasiswa ini. Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. itu bukan keahlian saya’’.di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran. Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif. yang di ucapkan oleh Dosen. pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. akan tetapi. Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen. lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon. tidak akan membawa kemaslakhatan. dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”. berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik. Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga.Karyawan maupun Mahasiswa).Kalimat: ’’Mohon maaf. Kejujuran subtantif ini . tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen. . Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya. sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya.

hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. ‘Inilah hambaku yang benar/jujur. dan berpaling. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur.” (QS. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). seorang qari’.\ 3. Allah menilai ketiganya telah berdusta.’ Maka. dan seorang dermawan. setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . 2. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. at-Taubah: 75-76) 4. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). maka Allah akan berfirman. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Jujur dalam perbuatan.” Maka yang seperti ini adalah tekad. yaitu seorang mujahid. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. hal Ini kembali kepada keikhlasan. maka akan merusakkan kejujuran niat. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1.” (QS. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami. bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka. mereka kikir dengan karunia itu. Jujur dalam ucapan dan kehendak. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta.’” . Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta. Allah berfirman. Contohnya seperti ucapan seseorang. Terkadang benar. maka di antara mereka ada yang gugur. al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain. aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah. Jujur dalam tekad bekerja. tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta.

danAttitude.. Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya.tapi ia juga menguasai. b. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya. sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah).” (QS. dalam rasa cinta dan tawakkal.Skill. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya. Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi. Membentuk asosiasi perwakilannya. sebagaimana firman Allah. Soempomo Djojowadono (1987). tak hanya ahli di bidangnya. 4. Wirjanto (1989). Dan yang terakhir Attitude. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. Knowledge. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. dalam seminar Akademika . Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5. seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Prof. Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3.Knowledge. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. 6. mereka itulah orang-orang yang benar. dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2. al-Hujurat: 15). Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan.5. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya.

yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. Harus mengabdi kepada kepentingan umum. 2.Sungguhpun demikian. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya.sebagai yang melayani. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8. yang mengutip Roscoe Pond. 3. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan). serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya. Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal. Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum. Harus ada hubungan Klien. transparan tentang waktu dan biaya . 4. profesional akan selalu berhadapan dengan amatir. Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. 1. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien. ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’. bervariasi dan efektif. Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. 6. . 5.Untuk pengertian yang pertama. selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan).UNDIP 28-29 Nopember 1989. Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. 7. Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. Harus ada kebebasan. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran. mengartikan istilah professional sebagai berikut .Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya). tidak boleh ada hubungan hirarki.

Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik. Sikap jujur dan obyektif. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a. Makna Disiplin .menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya.Melakukan pekerjaan . e. cukup cakap. kerja cerdas dan kerja tuntas. 2.karena waktu itu sangat terbatas.etos kerja. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis. g.Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat.Disiplin akan tercermin pada kesiapan. Mampu menata.ketetapan dan memaksimalkan hasil.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan.Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. 3. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan. Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. Cukup kreatif. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi. Penguasaan ilmu dalam praktik.etos kerja. 4. c. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas. obyektif. Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan). d. f. mengelolah dan mengendalikan dengan baik. Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking. saling mengisi. Menguasai standar pendidikan minimal. ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. saling mendukung. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin . Disiplin adalah kerja keras. berperilaku jujur. Pengalaman yang cukup bervariasi. Trampil. h. Disipin harus melampaui waktu. b. c. Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional.

sistem. teliti. bersemangat. ulet. dan keyakinan yang mendasari. Anda akan menjadi semakin kuat. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. semangat. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saat Anda semakin kuat. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. Dengan latihan. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. menghargai pengetahuan. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah. ruh. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat.merupakan pemborosan waktu. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. mengarahkan. hemat. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban. inovatif. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. baik yang bersifat ekono-komersial. responsibel. sikap. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. dan manajemen kerja mereka. orang lain akan tampak lebih kuat. atau sosio-kultural. orang lain akan tampak lebih lemah. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan. Sebaliknya. berintegritas. akuntabel. Semakin Anda disiplin. kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Itu tidak akan menolong. pikiran. dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. sabar. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. menghargai waktu. kreatif. Seiring dengan perkembangan zaman. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. tekno-industrial. tekun. perasaan. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. . Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin. menggerakkan. tekno-industrial. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri.

arnold status. Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. A team based environment demands that you make responsible decisions. 31 facebook. Keharusan untuk bekerja sama. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Sebaliknya. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya. it requires you to take charge of your career. akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain.sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. kelihatanya memihak kepada yang kedua. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. . Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. Dalam manejeman modern. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . Teori-teori manajemen modern. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1.etos kerja. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Sikap seseorang terhadap orang lain.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3.

B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. jika susah akan sama . "We make a living by what we get. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. E atau F. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar . setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. staying together is progress. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. POSITIVE THINKING.mata hanya oleh penampilan luar. Ibarat sapu lidi. KESATUAN. VISI DAN MISI.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya.good. SALING MENGHORMATI. selain terbuka peluang menuju kegagalan.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. I did it. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. we make a life by what we give" Winston Churchill. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya. "If anything goes bad.sama dipikul. "If you chase two rabbits. harus mau membuka diri / transparan. then you did it. "Coming together is a beginning. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. ringan sama . "Great achievement is usually born of great sacrifice. Yang namanya rahasia. Jika senang akan sama . Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan. yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4. both will escape" Chinese Proverb. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. 3. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. Selain beban akan semakin ringan.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika kondisi ini telah terpenuhi. and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. we did it. and working together is success" Henry Ford 5. manfaatnya akan sirna. If anything goes real good. 2. SALING PERCAYA. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai.Pepatah yang mengatakan. If anything goes semi . . Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. Setiap permasalahan yang timbul. sedini mungkin disirnakan.

Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. "There are three ways to get something done: do it yourself.niat terselubung. or forbid your children to do it" Monta Crane e. Friends listen to what you say. but teams beat the odds" SEAL Team saying. energy and initiative" Remez Sasson 6. Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah. Kegagalan Indonesia. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan. employ someone. Keberhasilan Amerika.Keberhasilan Unswagati di masa datang. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat ."A positive attitude brings strength. . Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati. I wouldn't jump with them. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. "If all my friends were to jump off a bridge. Menjaga nama baik Unswagati. "Individuals play the game. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Everyone hears what you say.sama. semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia. "A successful team beats with one heart" Unknown 7. 8. I'd be at the bottom to catch them. Kembali. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. KERJASAMA. apapun tantangan dan rintangan yang timbul. RELA BERKORBAN. Identitas Unswagati. TANTANGAN DAN RINTANGAN.

Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. Kultur. karakter. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian. 4. Untuk itu. penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. Meskipun tidak secara struktur.3. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. Konsep dan Operasional . kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa. sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat. Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. a. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. norma. harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. Kode etik dosen. lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. c. dicantumkan tentang kode etik dosen. Dalam buku pedoman akademik. d. melakukan apel dan lain sebagainya. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). dosen wali dan kode etik mahasiswa. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. b. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. suasana dan kualitas. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. Untuk membentuk karakter agamis. sebagaimana berikut ini : a.

Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen. Agama PPKN B.Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran. Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN .

. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya. Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut.INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik. membimbing. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik.Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan. Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud. b.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan. Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema.

maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan. peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler.Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut. sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. .

pilihan. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Pengembangan sumber daya manusia. keterlibatan aktif. 5. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. etos kerja dan kemanfaatan sosial. potensi.Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler. bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. 3. Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. 5. yaitu : 1. 4. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. Induk . 2. menyenangkan. Peningkatan pengelolaan program. social. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran.

Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci . Pengembangan kerja sama dan kemitraan. 7.6.Tingkat pendidikan .Sertifikasi . Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan.Jabatan akademik .

Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .2005 tentang Guru dan Dosen) .Insentif .Tunjangan .Entry Grade .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Rasio Dosen : MahaSiswa .Jaminan sosial .Indeks Prestasi Semester .Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .Evaluasi kinerja .Umpan balik .Gaji .IPK lulusan .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .Hasil kerja .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Penguasaan bahasa Inggris .Hasil seleksi/testing .Pelatihan dosen .

. baik negeri masyarakat maupun swasta .Penguasaan bahasa Inggris .Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum .Lama studi .Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja .Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program .Penyerapan oleh pasar kerja .Nilai penelitian kat dengan berbagai insti.kualitas lulusan .Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .Frekuensi peninjauan .Kepuasan lulusan .Nilai pengabdian tusi.

Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum . dan konsentrasi baru .EPSBED .Akreditasi Program Studi .Audit akademik .Akreditasi Jurnal Ilmiah . program studi.Akreditasi Institusi .Pembukaan fakultas.Citra Unswagati .Evalusi internal .

.Layanan perpustakaan .Web based learning .Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Layanan administrasi .Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .Kelengkapan saranaprasarana .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .Pemeliharaan saranaprasarana .Layanan informasi/ internet .Kepuasan orang tua .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni .

Diversivikasi sumber penerimaan .Bantuan sosial ..Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi .Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Pertumbuhan pendapatan .Pembangunan Rusunawa .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Pembangunan aula yang representatif .Defisit anggaran .Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Deviasi anggaran .Pendapatan .Pembangunan Kampus III .Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Pelatihan .Kerjasama penelitian institusi .

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). terutama dalam bidang afektif. taqwa kepada Allah swt. Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. bersih. Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. Tujuan meliputi aspek kognitif.Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya. Untuk majlis ta'lim. bijaksana. selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. 3. Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum. Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. yang dievaluasi dengan cara berbeda. apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. Bahan ta'lim/madah (3). kemudian dikembangkan oleh penulis. . afektif dan psikomotor. Tujuan/gayah (2). Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. sopan dan sebagaimana. sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. sehinggga harus diadakan pilihan. Proses ta'lim/amaliyah (4). cermat. bertanggung jawab. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. 23). yang setia kepada janji. Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur.

Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. dan alat penilaian. Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. proses belajar mengajar. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. Jadi. bagaimana cara melakukkannya. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. sehinggga jelas. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan .

tetapi bukan orangnya. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. memimpin. mengarahkan. niat memang berasal dari hati. 4) Controling . target realistis. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini. struktur dan kelembagaan. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. maka POAC (Planning. Ketua memang penting. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. Bekerjalah kamu. Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. tapi ketualah yang menjadi figur. bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. Organizing. dan anggaran. misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan. jadwal kegiatan.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. visi. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun. 5. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib.

tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bukan karena tidak ingin dilaksanakan.a. 14). Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan.) . (Ali bin Abi Thalib r. membuat target. Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah. Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007.

seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex. Menetapkan suatu nilai atau judgment. Halaman 127 . Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. a).1997. cara pendekatan. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. 1989.A. Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. R. pelaksanaan. seperti program. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Inggris menyatakan bahwa. penyempurnaan. (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. hasil program dan laiblain. dan pengembangan program. Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan. masukan/input.. pembinaan dan pengembangan program. mencari. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya. Becher. prosedur. B) adanya suatu kriteria dan c). Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program. yakni menentukan. Juga terjadi sebaliknya. proses. modal kerja . Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. Penilaian proses bertujuan untuk. dan output/hasil. adanya deskripsi program sebagai objek penilaian.

hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah. c) Pada mentor: ramah.A. Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. tidak cuek/menyapa.B+.Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7.maupun pada saat program berjalan. suka berjabat tangan dsb. kondisional sifatnya. 3. dst. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya. dsb. konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5. Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit. 4. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek. . Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku. Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90.tidak berkata kasar.: 1. les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin. Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. mendahulukan kepentingan yang lain dst. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul.

. atau sekejam-kejamnya orang. Muamalah. mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam. dan membangun karakter building. Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin.dan 10). Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat. berupa kepeduliaan. 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. 2). f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. Dialah yang maha pemurah. sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi.Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1). akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. dan sepercikannya diberikan kepada manusia. 3). saling membantu. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. saling menguntungkan. Sejahat-jahat manusia. akan tetapi lebih ditekankan pada. 2). Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. Munakahat. 2. kapan saja dan dimana saja. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. Aqidah. Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1). munakahat. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. baik yang diminta maupun yang tidak diminta. Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. ceramah.7) tarikh Islam. 3). 5).7. Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. pengokohkan aqidah. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon. Ibadah. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. 6). bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. 3). Syariah. membangun kecintaan dalam beribadah. 4). kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah.Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a.

Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. pasar murah. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua. kecerdasan. 1998 : 11) . karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. akhlak mulia. bangsa dan negara. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab.SE. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa.Msi. artinya hamba yanga maha pemberi. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. sosial.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. dan metafisika. Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. pengendalian diri. Zakaria Mahmud SH. ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. studi kajian Al Qur’an. sehat. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Sosok rektor sang birikrat. Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. berakhlak mulia. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. berilmu. mandiri. masyarakat. ekonomi. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. H. B. kreatif. menyaksikan kelaparan misalnya. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. kepribadian. dan lain-lain. Dalam serba kekuarangan . hukum. namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. Bagi mahasiswa program santunan. tetapi juga pengusaha yang religius. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain. tetapi paling tidak dia sudah memulai. dan lama-lama akan hilang rianya. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. teknologi. cakap.

beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A. memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik. yaitu: ilmu politik. yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. terekam. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik. psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. tersiar.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. hukum. Ketiga. Sebagai Pendidikan Politik. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila. Kedua. memiliki sikap kritik dan inovatif.Wahab. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat .masyarakat yang Pancasilais. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. menghayati dan mengamalkannya. Sebagai pendidikan politik. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. sebagai Pendidikan Politik. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. 1985). 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. antropologi. elektronik. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. Di samping itu. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. sosiologi.

(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. afektif. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences. 2007 : 19).com/peneltian tindakan kelas). (3) Spatial Intellegence. (4) Musical Intellegence. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. Ketiga. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). (6) Interpersonal Intellegence. nilai. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini.sebagai pengalaman langsung (hand of experience). dan bertanggung jawab. Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. Kedua. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia. cerdas. maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. Dampaknya dalam proses pembelajaran . dan (7) Intrapersonal Intellegence. PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif. dan moral Pancasila. dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Pertama. berbangsa. dan bela negara. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. 2. Melalui PKn. pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy). yakni (1) Linguistic Intellegence. partisipatif. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. (2) Logical-Mathematical Intellegence. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. kewarganegaraan yang demokratis. kewarganegaraan yang demokratis.wordpress. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. konsep. Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. dan moral Pancasila. konsep. nilai.

misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah. Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. the confilcts that may occur among two or more values. Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. Oleh karena itu. Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. berdiskusi. dan sebagainya. 1975/1984 dan 1994). and the reasons for particular values choices. mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial. Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal. . tidak disertai data kuantitatif. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini. berdebat. Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara. dan sebagainya. bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton. 2. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Pupils try to understand the consequences of particular values. bernalar dan juga membandingkan.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

4. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. menyaksikan siaran radio. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. dan bahkan mencari informasi dari internet.1. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. 2. Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral . Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi. 3. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah. melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. televisi.

g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial. transformator nilai. e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. dan . Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman.. a. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan. f. penggali nilai. e. penguat. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas. d. kreatif. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. pengembang nilai. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman. yakni ”.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut. berakhlak mulia. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. penghayatan. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. berilmu. terkait aspek sosiokultural. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. b. fasilitatifdialogis. penghayatan. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai.. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. mandiri. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu. penopang kajian. sehat. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. teladan. c. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. cakap. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok. Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat. 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini. . Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut. 5. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. wawancara. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya.

Karakteristik identitas nasional . sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan.Konsep dan prinsip demokrasi .Warga Negara Indonesia . dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut. HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW .Sistem Konstitusi . DEMOKRASI INDONESIA . Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. Setelah selesai proses pembelajaran ini. POLITIK DAN STRATEGI . IDENTITAS NASIONAL .Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA .Proses berbangsa dan bernegara 3.Hak Azasi Manusia (HAM) . Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut. Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1. 6. kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah. TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA .Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6.Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2. .Pancasila sebagai sistem filsafat .Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5.5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini.

8.Wilayah sebagai ruang hidup . Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan. Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2. o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum . Pemajuan. Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok. Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3.Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4. GEOPOLITIK INDONESIA .Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat. Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5.7. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1.Konsep Asta Gatra .

Law 6. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok. Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan. hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. 8. Tahap melaksanakan Investigasi ini juga. 7. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian.

Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. seperti baik sekali.wawancara. temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. tes perbuatan. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. observasi. Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. Pada pertemuan ini secara berkelompok. cukup. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. baik.Langkah-langkah dalam pembelajaran ini. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran. . Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. studi pustaka. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. kurang. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan. dan kurang sekali. 7. dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

5 = istimewa NO KRITERIA 1. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . 4 = di atas rata-rata. 3 = rata-rata. MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah.Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai. 2 = cukup. 4. C. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2. SKOR CATATAN 3. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh. 5.

dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. dan tidak menyinggung. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. melalui mata kuliah ini. santun. Sikap positif ini. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. stimulus. ditegaskan Widjono (2007: 3). sopan. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran. Karakter. jelas. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. baik dalam situasi formal maupun nonformal. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun. sistematis. akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. emosi. Sebaliknya. penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. perasaan. gagasan. teratur. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. Hal ini berarti. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. halus. watak. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. tindakan. Dampaknya. proposal. Mahasiswa. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. dan kepribadian. diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia.1. Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. laporan. karakter. dan logis. dan pengalaman baru yang diperolehnya. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. menghargai orang lain. seperti artikel. yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. baik lisan maupun tulisan. yaitu bahasa yang sopan. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut. sistematis. melalui penggunaan bahasa .

berbicara. merumuskan masalah.yang kasar. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. menggunakan/menerapkan. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. menghujat. mencela atau melecehkan. memilih pemeran. pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. pola sikap. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. menarik. Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. membaca. seperti melalui presentasi. memfitnah. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. pemecahan masalah. seperti memilih topik. dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. 1. dan menulis. Pembelajaran yang efektif. dan pola tindak peserta didik. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. 2. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . Oleh karena itu. memaki. teknologi. 2009: 5). Dalam kaitannya dengan pembelajaran. memerankan hingga mengevaluasi. menerapkan. dan mengevaluasi pembelajaran. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. seperti memahami. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. yaitu menyimak. dan diskusi. dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar.

bahasa. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. dalam berbagai situasi dan konteks. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. keadilan. kerja keras. dan 65) . 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip. Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut. tanggung jawab dalam mengemban tugas. Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. tetapi juga membantu mereka memahami. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. dkk.. baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. etos kerja yang tinggi. 3. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. kejujuran. menginternalisasi. dkk. sikap. dan kerja sama. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. dan menulis. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. membaca. berbicara. 13. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik.. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. seperti kedisiplinan. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. sopan. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut. 2. dan ikhlas (Kesuma. tanggung jawab. dan perilaku mahasiswa.belajar tumbuh. Noer (2007: 9. yaitu menyimak. Sekait dengan ini. Melalui berbagai pengalaman belajar. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. 41. 2011: 16). Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. santun. Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri. 4. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. Lickona (Kesuma. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan.

“…. bertutur.” Berdasarkan suluk itu.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. suka bersilaturahmi. Mereka hidup dengan aman. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. dengan kearifan lokal juga. tulus ikhlas. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. syair. Sebagai suatu budaya yang mentradisi. rendah hati. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. perilaku. dan berbagai bentuk lain39. terbuka terhadap siapapun. tanggap. permainan. tidak iri maupun dengki. Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. jujur. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka. kata bijak. dan teratur. Lebih dari itu. dan religius. berkehidupan. babad. tembang. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. suluk dan kidung. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. terutama dalam bahasa. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya. Bahkan. Di samping itu. cara bergaul. serat. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain.kemdiknas. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. nilai-nilai. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. sikap.go. cara beternak. Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Selain bahasa. dan sebagainya. ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. Oleh karena itu. walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. berperilaku. mengatur dalam cara bertani yang baik. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah. tertib. melainkan melalui proses yang panjang. Misalnya. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan. Sebagai contoh. ajaran dan pemikiran. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 . tidak angkuh maupun congkak.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai. Sekait dengan kesantunan berbahasa. ialah sabar penuh pengertian. terus terang/jujur. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. berbudi luhur. dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer. toleransi. Selain itu. Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari.

meredup. dan berkompeten. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur. menuding. nyingkir ana jubriya kibire. dan bahasa. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. dan kedisiplinan. pijakan. dan jangan pula angkuh). yaitu kejujuran. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. lima pilar ini menjadi pedoman. bertutur lebih baik. tulus ikhlas. mengritik dengan tidak santun. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. semoga terlaksana. Artinya. sikap. Namun. dimaknai. tenteram.tidak boleh mencela. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. menjunjung tinggi lembaga. termasuk perguruan tinggi. profesionalisme. dalam berbahasa. berkepribadian. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Dengan demikian. Dalam hal ini. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. kerja sama. disiplin. dan tidak congkak. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. dan damai. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. berdaya saing tinggi. dan santun. Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. Akibatnya. pegawai. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. dosen. menumbuhkembangkan. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. profesionalisme. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. berperilaku. berkata dengan sebenarnya. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. mencela. 2011: 11). kerjasama. harus jujur. sopan. Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. singkirkan watak congkak dan takabur. masyarakat saling menghujat. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. sopan. dan pengarah dalam bertindak. mencemooh. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik. yayi den kalakon. yaitu Mituhua pitutur kang becik. lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. bersikap. Dengan kata lain. bersikap. kehilangan maknanya. dan ramah. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. lembut. tetapi tidak dihayati. Melalui lima pilar ini. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya.

nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. nilai karakter masyarakat Cirebon. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. 2. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. 5. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar. menurut Asmani (2011: 39).sejahtera. lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional. 1. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. 3. dan konteks waktu. bergaul. tidak menyinggung. logis. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. dan tempat pertuturan berlangsung. dan damai. dan mendiskusikan hasil pemeranan. situasi. tidak mencela. dan bekerja sama dengan orang lain. Berdasarkan uraian di atas. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. tenteram. Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut. Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. 6. topik pertuturan. tidak menghina. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. serta etika berbahasa yang baik. runtut. Bahkan. Hal ini . Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. Santun. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. 4. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama. kearifan lokal Cirebon.

perasaan. tindakan. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. 10. yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat. yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. penyadaran akan pentingnya nilai. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. memilih pemeran. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. serta mengucapkan salam. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. 8. membuat dialog. dosen. 7. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. Misalnya. dan luapan emosi dengan sesungguhnya. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. . Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F. 1) Mahasiswa. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. Artinya. baik lisan maupun tulisan. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini.diwujudkan dalam hal perkataan. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. dan melakukan pemeranan. seperti berikut. menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. 9. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. pekerjaan. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah.Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati. pemilihan pemain.

Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. tetapi juga lebih dari itu. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. Schmidt dan Richards (Nadar. santun. dan tindak perlokusi. 3. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. I : Instrument. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. Dell Hymes (Lubis. menghormati. baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat. yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya. 6) . dan pendengar. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. yaitu pembicara. seperti penutur. yaitu tindak lokusi. situasi upacara keagamaan. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. jujur. pokok pembicaraan. Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. P : Partisipan. K : Key. tertulis. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. mencela. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. yaitu tujuan akhir pembicaraan. tindak ilokusi. bukan saja siapa lawan tutur kita. dan presuposisi (presuppositions). dan menyakiti. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. lawan bicara. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. tidak menyinggung. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama. dan profesionalisme dalam bekerja. Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. situasi pembicaraan. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). Heatherington (Tarigan. tempat pembicaraan. misalnya situasi perkuliahan. N : Norma. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. lewat telepon. selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. Misalnya. yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. secara lisan. menghargai. Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. Landasan Teoretis 1. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. A : Act. E : End atau tujuan. kita harus memerhatikan beberapa hal. G : Genre. situasi perkenalan. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles). lawan bicara. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene.

tidak ambigu. Kesantunan. kemurahan/penghargaan (approbation). kedermawanan/penerimaan (generosity). kesetujuan/permufakatan (agreement). menurut Chaer (2010: vii). 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. dan sesuai dengan data dan fakta. yaitu maksim kebijaksanaan (tact). nyata. dan etika berbahasa. d) Maksim pelaksanaan. b) Maksim kualitas. Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya. kesopanan berbahasa. perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. jelas. Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. maksim relevansi (maxim of relevance). Contohnya pada tuturan berikut. Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Leech. kata-kata. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). Dengan maksim kualitas. Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim. yaitu formalitas (formality). menurut para pakar itu. yaitu kesantunan berbahasa. sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). a. Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. kesederhanaan/kerendahan (modesty). Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. Secara singkat dan umum. tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi. a) Maksim Kebijaksanaan. ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . antara lain Brown dan Levinson. Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. 2010: 10). Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin.Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. c) Maksim relevansi. dan tidak berlebihan. Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab. dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). dan Pranowo. atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). Di dalam maksim ini. a) Maksim kuantitas. tidak kabur. dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa. ketidaktegasan (hesitancy). dan kesimpatian (sympathy). maksim kualitas (maxim of quality).

B : Ya. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. loh. isinya besar lagi! B : Wah. atau saling merendahkan. Di dalam maksim ini. ya. Sebagai contoh. Berikut contoh pertuturannya. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. f) Maksim Simpati. Contoh pertuturan sebagai berikut. Dari contoh tersebut. dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. c) Maksim Penghargaan. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). (10) A : De. Contoh dalam pertuturan berikut. Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. Kak. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. menurut Brown dan Levinson (Nadar. e) Maksim Permufakatan. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan. tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. memang sangat panas udaranya. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. Rasanya panas sekali! B : Ya. jangan suara saya lagi serak. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai. Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. b) Maksim kedermawanan. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala. d) Maksim Kesederhanaan. Dengan maksim ini. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang. Muka (face) ini. tidak juga.Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. saling mengejek. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. ya! B : Wah. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. Hal .

Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. 3) sengaja menuduh lawan tutur. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati. Lalu. 2010). d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur. Pranowo (Chaer. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. b. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . (12) Tidak apa-apa. dan menggunakan bahasa secara santun. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. 2010: 62). Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. menguasai. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. Contoh terdapat pada tuturan berikut. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. 2) dorongan emosi penutur. yang berkenaan dengan bahasa. Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. Menurut Pranowo (Chaer. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. Berikut contoh tuturannya. d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun.

seperti pagi. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. waktu. seperti ruang kuliah. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat. Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun. (13) Silakan kalau mau banding. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. tentang pendidikan. (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. hal-hal yang berbau porno. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. Sebagai contoh topik seks. Berikut contoh tuturannya. Adapun suasana psikologis. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia. kekerabatan. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). pekerjaan. Kita nggak masalah.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain. sopan. anak. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur. dan tempat pertuturan berlangsung. Akibatnya. atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. malam.. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur. dalam berbahasa pun harus sopan. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. Namun selain santun.per liter dan tarif Rp 2. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. dan suasana psikologis. pendidikan. kesehatan. kamar praktik dokter. Berikut contoh tuturannya. Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . Waktu kapan saja. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. menurut Chaer (2010: 76). (2) topik petuturan. Ketiga hal itu. c. Tempat dapat di mana saja.000. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu. 4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. Dengan solar Rp 4500. siang. situasi.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. (14) Pemerintah ngawur. misalnya usia penutur dan lawan tutur. rakyat semakin tercekik. tergantung pada tiga hal pokok. Berikut contoh tuturannya. dan (3) konteks waktu.. ruang rapat. misalnya. Misalnya. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. jabatan. dan santun.

2010: 6). Etika berbahasa. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur.tersebut wajar dan sopan. meninggi. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. pelan. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. (2) jangan menyombongkan diri. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. (4) kapan kita harus diam. atau permintaan. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. (8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. sopan. Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. ajakan. Dengan demikian. (5) memberi simpati pada lawan tutur. (4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. 2. menurut Clifford Geertz (Chaer. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. Oleh karena itu. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. Pendekatan Komunikatif . (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. d. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. mendengar tuturan orang. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. Sebaliknya. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu. (3) jangan menghina orang lain. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu. (4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. untuk dapat berbahasa dengan santun. Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu.

g. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. dan peranan materi. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. a. Dalam pendekatan komunikatif. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa. permainanperan. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). peranan pendidik. b. a. silabus. Dengan sendirinya. menurut Syafi’ie (Solehamin. tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Berdasarkan teori tersebut. yaitu teori bahasa. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. e. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. tipe kegiatan. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. c. Dengan kata lain. Teori Bahasa . simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. Selanjutnya. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa. Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah. peranan peserta didik. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. d. tujuan. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. f. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. teori belajar. Dengan kata lain. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa.

pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. h. Akan tetapi. konselor. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. Ia menaruh rasa senang. dan manajer proses pembelajaran. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. curiga. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. Menurut tarigan (2009: 240). atau kegiatan berinteraksi. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. materi yang berdasarkan tugas. Dalam kehidupan sehari-hari. percaya. yaitu materi yang berdasarkan teks. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi.Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. b. Dengan demikian. Oleh karena itu. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. f. . 4. iklan. g. d. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. otentik. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). materi realita. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. e. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. Misalnya. Sebagai individu. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. koran. dan lain-lain terhadap manusia lain. sebagai negosiator dan interaktor. negosiasi makna. bukan pengetahuan tentang bahasa. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. c. Di samping itu. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. dari kehidupan nyata. Oleh karena itu. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif.

bila tak senang dan curiga. perasaaan-perasaan. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. dan persepsi siswa. persepsi. dan tindakan. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. Selain dalam tindakan. b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa. dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. dan nilainilai yang mendasarinya. dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. sikap. yaitu memanaskan suasana kelompok. Model bermain peran. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. konsep peran harus dikukuhkan. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. juga diperlukan. nilai-nilai. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. respons menjauh. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. Shaftels (Joyce dan Weil. ucapan. yakni perasaan. Untuk dapat berperan dengan baik. memerankan kembali. analisis yang dilakukan melalui diskusi.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. nilai. dan sikap. Untuk itu. dan tindakan. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. berdiskusi dan mengevaluasi. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. dan solusi permasalahan. peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. kata-kata. Dengan demikian. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran. memerhatikan beberapa peran yang berbeda. situasi permasalahan. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan. memilih partisipan. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). pemahaman terhadap penentuan peran. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. persepsi dan perilaku setiap orang. Dalam dimensi sosial. Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. diskusi dan evaluasi. pemeranan. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman.” (Dahlan. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap. mengatur setting tempat kejadian. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. Dalam pembelajaran. menyiapkan peneliti.

peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. tingkah laku. Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. hakim. terutama masalah hubungan antarindividu. serbaguna. peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. Mahasiswa bekerja sama . nilai. c) Dilema individu. Untuk itu. dan strategi pemecahan masalah. Misalnya. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. pembuat kebijakan. latar belakang budaya para peserta didik. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. Setelah itu. Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis. Dalam memilih masalah-masalah tersebut. Secara bersama-sama. baik di masa kini maupun masa lalu. b) Relasi dalam kelompok. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. a) Konflik antarpribadi. ide. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. Efek langsung bermain peran.situasi sosial. Selain itu. kompleksitas situasi masalah. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. etnis. Melalui bermain peran. Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. sopan. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. Melalui bermain peran. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. d) Masalah historis atau kontemporer.

pendekatan komunikatif. Dalam pandangan belajar sosial. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya. dan sebagainya. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. menumpahkan rasa senang. pendidikan karakter dan nilai. 2011: 95). konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik. benci. Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. Selama interaksi berlangsung. terutama hubungan antarindividu. 2009: 2). dan menarik. Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Menurut Gagne (Suprijono. simpati. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. Namun. ramah. Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. Teori-teori ini meliputi teori belajar. tersenyum. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. Deskripsi Model Bermain Peran 1. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. dan perilaku mahasiswa lain.pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. efisien. marah. filsafat pendidikan. “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. dan santun. Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. Skinner (Syah. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. Dengan demikian. 2011: 22). 5. Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. sopan. . sikap. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan.

menarik. 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Dalam proses pembelajaran. 2011: 5). Dalam konsep pendidikan karakter. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa . kepedulian. Pemahaman tentang teori-teori belajar. dan sebagainya. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif. dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati. emosional. diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. membentuk hubungan yang penuh perhatian. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Dengan kata lain. Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. dan melibatkan mahasiswa. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu.co. dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai.” (Kesuma. Dengan demikian.. mengamati perilaku model.fajar. mendiskusikan. dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. adil dan tak adil.Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya. serta meliputi aspek kognitif. Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952). Nilai pada dasarnya standar perilaku. dkk. muncul mahzab atau aliran progresivisme. pendekatan. bukan suatu yang instan dan kebetulan. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. Dalam filsafat pendidikan.id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. dan merefleksikan pengalaman hidup. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). Sekait dengan ini Bandura (Syah. dkk.. membantu menciptakan komunitas bermoral. Fakry Gaffar (Kesuma. layak dan tak layak.

(4) mempersiapkan tahap-tahap peran. khususnya pendapat dan perasaan mereka. Model Pembelajaran Bermain Peran a. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. melaksanakan diskusi. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik. (5) melakukan pemeranan. (3) mempersiapkan pengamat. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. kemarahan. paling tidak pada awal permainan. empati. Kendatipun begitu. Dalam kedua kegiatan ini. Dengan demikian. Pendidik bertindak sebagai pengamat. c. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur. (2) memilih pemeran. Ketika peragaan selesai. seperti apa solusi setiap permasalahan. sopan. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. (7) memerankan ulang. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. dan mendiskusikan masalah tersebut. apa sumber pertengkaran. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. rasa simpati. yaitu menguraikan sebuah masalah. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. Pendidik bertanggung jawab. membantu pengaturan pemeranan. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. baik. memeragakan. 2. Selanjutnya. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. untuk memulai tahap-tahap permainan. memperhitungkan. Semua luapan emosi. b. Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik. yakni (1) merangsang semangat kelompok.

tetapi sangat penting. Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. 6. baik lisan maupun tulisan. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. aksi. Adapun dampak pengiring yang diharapkan. novel. Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. Masalah dapat disampaikan secara lisan. parafrase. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. Selain itu. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. kesopanan. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. Film. Dalam lembaran tersebut. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. yaitu sebagai berikut. dan dialog dalam situasi tersebut. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok . Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran.berbeda. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan. f) dapat mengekspresikan pendapat. dan rangkuman respons. 3. tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan. Adanya proses refleksi. Selain itu. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. keadaan. dan etika berbahasa. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik. d. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain.

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

Enak aja nyomot dompet orang. terdapat kesantunan berbahasa. kapundhi ing jro kalbune. Dalam pepatah ini. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. dan isi cerita. Lu gak bisa minta baik-baik. a. Muluk : “Diem-diem. diem-diem duitnya lu ambil. Nyinggung perasaan gue tahu.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. Selanjutnya. yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. langkung nuwun pangandika tuwan. tidak enak didengar. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti. Gue bawa ke kantor polisi lu. 2011: 8). Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. adiwicara. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. adiguna. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun. kuingat dalam hati baik-baik. Selain itu. saru. Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. Sekait dengan kesantunan berbahasa. buruk. Bukan tukang minta-minta. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Berdasarkan analisis tersebut. Latar di suatu masjid . dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. 2011: 18). Contoh berikutnya. yaitu adigang.” b. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. 2009: 2) sebagai berikut. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok. juga tersirat kesantunan berbahasa. kan pencopet Bang. adigung. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. tetapi disesuaikan dengan usia. latar sosial budaya. Artinya. Orang-orang susah cari kerja.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. “sangat berterimakasih atas penjelasanmu. Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. Dalam pepatah Cirebon. misalnya. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. dados panancang emut. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. dan kulakukan”. Dalam Suluk tersebut. karumatan sajroning budi. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara.

Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar.” Pak Bul :”Heh. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump. H. dan mencari alternatif pemecahan masalah. Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya. Sebagai contoh. bagaimana karakter Muluk. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. rendah hati. dan ikhlas. Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. sopan. melalui kegiatan ini. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan. . Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka. Haji Sabini. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter.” H. si Muluk bukan nganggur. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini. Mahasiswa juga. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. dia lagi berusaha. H. toleransi. Pak Bul. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa. 2. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. bekerja sama.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa.” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur. Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok. pengidentifikasian masalah. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh. anak pencopet.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. Beda nganggur dengan berusaha. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. seperti berpikir kritis. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik. lagi berusaha. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress. Beda. dan H.

mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. Melalui kegiatan ini pula. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. rendah hati. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . sistematis. cerpen. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. Dengan demikian. dan kaidah penulisan dialog. dan ikhlas.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. novel. serta aktif mendiskusikannya. Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. Dalam memilih pemeran. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. Misalnya. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. bagaimana tempat ditata. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. Pada saat itu. 4. 3. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. Dengan demikian. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. menghayati. Namun. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. menajamkan kemampuan analisis. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. seperti di mana pemeranan dilakukan. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. dialog boleh saja dipersiapkan. Melalui kegiatan ini. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. pemecahan masalah yang berbeda. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan. Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis. sistematika kalimat efektif. serta etika berbahasa yang baik. jika sulit.

muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. Keterampilan mengekspresikan pikiran. Kemudian. Tidak ada kata-kata yang mencela. emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. atau konsekuensi perilaku yang muncul. Selain itu. penggunaan bahasa. bahasa yang digunakan. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. 7. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. 5. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. perasaan. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan. dan jujur. . dan pelaku-pelakunya. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. dan saling merespons secara realistis. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. bekerja sama. menghina. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. sikap-sikap. Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. menuduh. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. Mahasiswa memulai permainan peran. Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. bagaimana jalannya pemeranan. Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. Selama pemeranan berlangsung. Namun. menghidupkan situasi secara spontan. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. dalam proses pemeranan ini. 6. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. pemecahan masalah. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. runtut. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. logis. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan.

bakat. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran. dengan model bermain peran. Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. Selain itu. seperti jujur. 8. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. analisis. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. minat. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. seperti pengetahuan. Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. bahasa. pemahaman. karakter. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. Melalui bermain peran. Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. 9. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. Namun. Namun. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. dan sintesis. (2) mengetahui kecakapan. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. Melalui kegiatan penilaian. displin. Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. . mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Melalui kegiatan ini juga. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. aplikasi. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. bersahabat. sopan dan santun.

b. dan tempat pertuturan berlangsung. Penempatan tekanan dan nada sesuai. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks. Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). b. dan konteks waktu. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. c. dilaksanakan dua teknik penilaian. c. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun. 4 Penggunaan Bahasa a. dan tidak terbata-bata. c. seperti sikap. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut. Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. yaitu tes dan nontes. tidak menghina. b. 1. topik pertuturan. 5 = istimewa.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif. . Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog. Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. motivasi. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. c. situasi. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur. 3 Sikap atau Perilaku a. d. lancar. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. 3 = rata-rata. 2 = cukup. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. Gerak-gerik. 1 = rendah. Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. 4 = di atas rata-rata. dan Mimik a. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. b. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan. tidak menyombongkan diri.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. 2 Penggunaan Suara a. Untuk setiap kriteria. minat. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan.

terutama dalam penggunaan kaidah bahasa. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). 1 = rendah. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. tulisan mustahil dapat dipahami. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan. 2 = cukup. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. 4 = di atas rata-rata. pemberian tanda baca. Jumlah 3. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. Untuk setiap kriteria. (skor 3) d. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan.Jumlah 2. pemberian tanda baca. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. Oleh karena itu. 5 = istimewa. Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. 3 = rata-rata. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. menjelaskan masalah. pemberian tanda baca. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. . pemberian tanda baca. (skor 2) e. Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan. mengidentifikasi masalah. Pembaca menyadari. a. dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. dan memilih pemeran. (skor 4) c. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut.

Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. b. mengidentifikasi masalah. kelogisan. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. c. f. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. c. h. d. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. 2 = cukup. tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. 4 = di atas rata-rata. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. Kemampuan mengidentifikasi masalah. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. b. e. . i. d. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. 1 = rendah. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a.Untuk setiap kriteria. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. 5 = istimewa. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. menjelaskan masalah. 3 = rata-rata. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. g. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. dan memilih pemeran.

meningkatkan pendapatan masyarakat. disiplin. meningkatkan ketahanan nasional. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. tidak berfoya-foya dan tidak boros. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali. hidup tidak merugikan orang lain. tekun dalam menghadapi pekerjaan. diteladani. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. • Sebagai generator pembangunan lingkungan. yaitu : a) Sebagai pengusaha. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan.. sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. bidang produksi. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. wirausaha merupakan potensi pembangunan. dan pengawasan. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. • Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. 1. kesejahteraan dan sebagainya. jujur. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. distribusi. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. pemeliharaan lingkungan. dekat kepada Allah SWT. • Hidup secara efisien. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. Oleh sebab itu. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas.Jumlah D. baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. dan banyak pula orang menganggur. berani. • Memelihara keserasian lingkungan. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. personalia. jujur. sehingga dapat mengurangi pengangguran. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja. distribusi. dan konsumsi. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya.

terpercaya. tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional. Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. 2. Indonesia masih tertinggal. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak. dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). dan berkompetensi dengan baik. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a. Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. memiliki kemampuan berusaha. Prinsip yang dianut adalah see and do. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. bekerja sama.1. Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. Bagi . Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha). Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. pengusaha yang jujur dan bermartabat. Bukan tipe menunda. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. pemimpin yang adil. wait and see. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini. 3. b. berkomunikasi.

3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. 6) Fokus pada eksekusi. kemasan dan struktur biaya produksi. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir. synergize. Untuk itu. membangun jaringan . they find their voice. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. mereka selalu mau belajar yang baru. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. Peluang bukan hanya dicari. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. risiko bukanlah untuk dihindari. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif. 1) Proaktif. ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. menyatukan gerak. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. melainkan juga dari cara-cara baru. 2) Berpikir simpel. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. and help others find theirs. seek first to understand-then to be understood. tetapi mereka bergerak ke arah itu. mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. Dengan kata lain. akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. merenung atau menguji hipotesis. desain.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. Untuk usaha-usaha yang baru. Seorang wirausaha bukan hanya awas. begin with the end in mind. melainkan diciptakan. Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. baik dari dalam maupun luar perusahaannya. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. . bahan baku. Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. put first things first. Namun . Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). Oleh karena itu. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. Sedangkan dalam usaha yang sama. energi. dibuka dan diperjelas. seperti model.Mereka juga adaptif terhadap situasi. memotivasi dan berkomunikasi.mereka. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. sharpen the saw.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. Secara spesifik. think win/win. atau peluang dari usaha yang sama. mereka selalu belajar menyederhanakannya. memimpin.

3) Mendahulukan hal yang utama. yaitu pikiran (mind). berdisiplin tinggi. Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya. pelaksanaan usaha. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. Oleh karena itu. diperlakukan kurang/tidak adil. Dengan demikian . 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya. seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. hati dan jiwa. fleksibilitas. berpikir simpel. baru memahami. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. fleksibilitas dan kekuatannya. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita.ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. Untuk itulah. Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). 4) Berpikir dan bertindak win/win. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan. maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. yang tersebar pada empat elemen utama. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. Urgent adalah situasi yang mendesak. dan kekuatan. seperti merasa dirugikan. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. 6) Sinergi. bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut. dikalahkan. memotivasi dan membangun jaringan. hanya mengambil peluang yang terbaik. selalu mencari peluang-peluang baru. tubuh. Dalam hal ini. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. 7) Menajamkan ketahanan. . selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi. 5) Cari tahu dulu untuk memahami.

1.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi. antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan.b. LANDASAN TEORITIK 3. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro. 3. inovasi dan caracara baru. memikul resiko finansial. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. d. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. (Kasmir. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi. 3. serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. 2007: 18). . Selain itu. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah. Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti.2. c. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. tenaga kerja. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. psikologi dan sosial yang menyertainya. Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. skala usaha dan permodalan. tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. (2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah. (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.

Mengenal lingkungan bisnis dan h. 3. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. Berani mengambil risiko. Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. cara kerja yang efektif dan efisien. Menyenangi. c. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. pemilik modal. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. bangsa dan negara c. masyarakat. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. d. Mau dan mampu bekerja keras. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. hemat dan disiplin. karyawan. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. terencana. a. a. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. f. Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. b. Mau dan mampu berkomunukasi. e. semangat kerja tinggi.3.(memiliki salesmanship yang kuat) d. b. negosiasi. Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . mencintai kegiatan usahanya. investasi di berbagai bidang usaha. pemasok. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b.

dan tabah. tabah.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. Berorientasi ke Masa Depan. teknologi. Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. ulet. tekun Banyak inisiatif c. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. Akan tetapi. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu. prestasi kemudian. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. proses.4. individualistis.• • • • • • • • • • • • • • • • • b. ia senang pada prestasi . Kreativitas. dan optimis. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. produk. tekad bekerja keras. beorientasi laba. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi. tidak tergantung pada orang lain. 1994) 3. jasa. Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri. mempunyai dorongan kuat. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. dll). e. dan inisiatif. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. tekun. energik.

Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif.Namun sekarang ini. Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian. Entah itu untung ataupun rugi. Oleh sebab itu.Kecermatan. Wirausahawan berpandanang ke depan.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih. tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin.Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri. Berorientasi ke masa depan. apa yang ingin di capai.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . membuat pertimbangan dari segala macam segi. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin. Kepemimpinan. Pengambila resiko dan suka tantangan. pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati . maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. apa yang hendak ia lakukan. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. 4. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan. menggampangkan apalagi menyepelekannya. prespektif. serta fleksibel. tetapi untuk selamanya.Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu. menanggapi saran dan kritik. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap. Keorisinilan.DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). bergaul denga orang lain.Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin. Kita akan mampu bekerja keras. enerjik tanpa malu dilihat teman. kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. ketelitian. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang.Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu. mempunyai visi ke depan.Seorang wirausaha haruslah perspektif. Jika perhitungan sudah matang. Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan.

d. c. . b. Pengarah (4 orang). dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati. Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. Penasehat (3 orang). maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. Sekretaris dan Bendahara). maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. Selain itu. Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. Sebagai motivator. b. Selain itu. terdiri dari pelindung (1 orang). d. serta seksi-seksi (9 orang). Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. e. Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif. terkoordinasi dan sinergis. dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). dalam rangka membina jiwa wirausaha. Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. Selain tatap muka. c. Tugas Pokok PK adalah : a. para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa.

3. 4. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 2. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. Dinas Koperasi dan UMKM.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. 3. baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS . Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. Pengusaha sukses. dan sebagainya. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi. seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Pimpinan Fakultas. 5. Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. 2. 1. Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. 6. 4.

5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha. rapat. 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon.Wujudnya adalah pemberian laporan. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. briefing. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas. saran/masukan. juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator. Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. dan sebagainya. sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). terprogram dan terencana. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi. bagi Unswagati merupakan perwujudan . dan sebagainya mengenai pelaksanaan program. konsultasi. Selain sistem informasi. Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi.

nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. 2. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi. Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. 5.000. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. 3. 6. 4. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2. sampai saat buku ini disusun. 1. berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1. Berkas permohonan dari peminjam masuk. 35. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak. 4. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya.000. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman. Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. kemudian dilakukan survei oleh AMEL.600. Penagihan oleh AMEL. . Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. 2. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah. warung. Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. para pengrajin. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah.

Pengelolaan SDM dan pengembangan karir .Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal .Status kelayakan dan perencanaan bisnis .Manajemen produksi dan operasi .Kepedulian dan kesetiakawanan sosial . tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu.Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis . tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan.Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha . dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha.Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa . yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan. INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa. bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya. keterampilan.Pengembangan kapasitas keprofesionalan .5.Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa .Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini. Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa . sikap.Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha . Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator . Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development).Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Manajemen logistik dan finansial .Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa .

yaitu : a. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. c. d. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a. Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. dengan mendorong. Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. serta berupaya untuk mengembangkannya. . Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. Titik-tolaknya adalah. b. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. h. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. c. memberikan motivasi. Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. f. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. b. 6. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan.

Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b.2. Selain itu. Tahap pelaksanaan. proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan. Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah. Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan. Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor. BAB IV . Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c. Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a.

Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini. Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan. Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama.REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya. . Pendidikan Kewarganegaraan.

. (Ed.Basics of Marketing. Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan.” 11 September 2002. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. M. Amran Tasai. Jakarta: Rineka Cipta.Dahlan. D. E Fidelis. Bandung: Laboratorium PKn UPI. 2003.(2007). .Budimansyah. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia. 1988. . 1984. Jamal Ma’mur. Inc. 2010.).Mitra Wacana Media. Inc. Bandung. 2004. Yogyakarta :Kanisius . Bandung: Rosdakarya. 1988. D. . Management Organizational Behavior prentice hall.Mitra Wacana Media. 2008. Paul brian Hersey.google. Ciba Geigy Ltd.Dewanti. Bandung. Komunikasi dan Informasi . Zaenal. 2009.Asmani. di Bappenas. .Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.(2007). Bandung : Remaja Rosdakarya.Basics of Marketing.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. 2010. . 2011. Bandung: Diponegoro.Birch. Waruwu. (2002).Chaer. Bandung: PT Genesindo.http.Yogyakarta. (ed).http. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran.Budimansyah.Dahar. D.google.Birch. Management Organizational Behavior prentice hall. Jakarta: Akademika Pressindo. A. Zaenal dan S.Yogyakarta. . Paul brian Hersey.Buchari Alma .(1997). A. .Dewanti. Ciba Geigy Ltd. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Jakarta: Erlangga. . Kesantunan Berbahasa. “ Kewirausahaan”.Budimansyah. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Model-Model Mengajar.DAFTAR PUSTAKA - .(1997). oleh Direktorat Politik. Jogjakarta: Diva Press. Retno. . Alwasilah. (2006).com .Buchari Alma . 2011.com . . 2003. Bandung: Widya Aksara Press. “ Kewirausahaan”. Retno. . Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Ratna Wilis. D.Arifin. .Arifin. . Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Evaluasi Pembelajaran. .Chaedar.

Impletasi.“Manjaemen Strategis”.http://www.X.2009. http. Irwin.com .”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Kewirausahaan.http://www. Tersedia: http://pusatbahasa. .P. 2009.com . . Drs.Joice. Bogor : Ghalia Indonesia . 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.com . Yogyakarta. 2011. Model-model Pengajaran.Karakteristik Kewiraswastaan. Isna Aunillah. 2011. 1994. Ahmad dan Mirza. Bruce dkk.Hunger. Professional Salesmanship. J. Hand Out Kewirausahaan.com . Entrepreneurship. (1995). Hamid Hasan.kemdiknas. Irwin.Kesuma.Kotler. Nurla. Professional Salesmanship.Lubis.Fachri Ali. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik. MA.P. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan.yahoo. 2011. 2001. dan Pengendalian. [online]. Jogjakarta : Arruzz Media . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2010. Entrepreneurship. 2011. Kementrian Pendidikan Nasional.yahoo.Hisrich.wikipedia. Chicago . dan Pengendalian.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Rosdakarya. Wheelen.MarkPlus & Co Education Division 2004. Surabaya : PT JePe Press Media Utama .Manajemen Pemasaran Analisis. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.com.-. 2001.Erni Sule dan Asep Mulyana.http. Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa. http://google. Najib Sulhan.Komunal:jakarta.Jakarta : LP3ES. Penerbit Andi. Philip. Kewirausahaan.go.2010. Philip. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.com.2006 Fatchul Mu’in.Masykur Wiratmo dkk. Perencanaan. 2008.David. Dharma.“Manjaemen Strategis”. Bandung: Angkasa.Musa Hubeis.com Muhammad Thohir.- - - - - . . F. dan Johar Permana. Melalui http://google.Hunger.Nadar. Yogyakarta: Graha Ilmu. Jakarta : Lentera Hati . [31 Oktober 2011]. Analisis Wacana Pragmatik.Hasan Basari. . . Melalui http://google. J. 1996. Strategi Pembelajaran Bahasa. Jakarta : Dikti . Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Bandung: Rosdakarya.1995. D. 2011.http. D. . 1996.wikipedia.Malta.2009. Wheelen. Pengantar Kewiraswastaan. Masnur.com . Perencanaan.Karakteristik Kewiraswastaan.wikipedia.Naniek Ratni Jar.David. diterj.Musa Hubeis. Thomas. Pengantar Kewiraswastaan.Masykur Wiratmo dkk. Impletasi. Fawaid.MarkPlus & Co Education Division 2004. Bogor : Ghalia Indonesia . Robert..oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. Penerbit Andi.. L. Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar. (1995). 1987.1995. Robert. 2009.Hisrich. ApKj.Mustakim. . . Pen. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.Malta. Yogyakarta. Cepi Triatna.Muslich.com . http. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah.Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . L..Manajemen Pemasaran Analisis. Peters M. Jogjakarta : Laksana . Thomas.Salemba Empat:Jakarta . Peters M. Chicago . Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa. DR.wikipedia. Jakarta: Bumi Aksara.Erni Sule dan Asep Mulyana.Salemba Empat:Jakarta .Iskandarwassid dan Dadang Sunendar.Kotler. Ateilla.

shvoong.Suharna.http://www.Graha Ilmu:Yogyakarta .Salim Siagian. Assauri. . Yogyakarta : Sabda Media .Roy Erickson Mamengk.blog. PT.Noer. . Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan. 2011.Com 2011 .2010.Rahardi.Suara. Dr. Edisi revisi. Bandung: CICED . Jakarta: Grassindo. http://dedesuharna’s. Nurdin M. “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”. A. Metodologi Pengajaran Bahasa.com.wordpress. Bandung: Angkasa. Widjono. Pengajaran Pragmatik. 1996. Penerbit Hikmah. http://dedesuharna’s. Kewirausahaan Indonesia.2010. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Assauri. Jakarta : PT Grasindo . G. Edisi revisi.Manajemen Pemasaran. Psikologi Belajar. Nurdin M. Prof.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. 20 tahun 2003. Pepatah Jawa.Trianto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Puslatkop dan PK.com Nazili Shaleh Ahmad. Sonny. Tersedia: http://solehamin.Syafi’i. Kunjana. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. 1996.Kewirausahaan.Wahab. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. . Jakarta: FIP UNJ .Rhenald Kasali dkk.Sofjan. Prof. 2011. Penerbit Hikmah.Salim Siagian. Jakarta : Rajagrafindo Persada. com. Melalui http://google. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Muhibbin. 2010. [online]. PT.Noer. (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan. Modul Kewirausahaan.1938. Cooperative Learning. . 2011.blog. Jaakarta .Tarigan.Manajemen Pemasaran.Sumarsono. Sonny.com . Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa.Suprijono. Nurdin M.art. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.1987. .Raja Grafindo Presada:Jakarta . Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa.Sofjan. 2008. . Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. tentang Sistem Pendidikan Nasional .Naniek Ratni Jar. http://wordpress.2008.Perseroan Terbatas.Robin. Agus.art.Raja Grafindo Presada:Jakarta .Graha Ilmu:Yogyakarta .Suharna. 2009. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir.Ed.Kewirausahaan.shvoong. H. . 2007. 2009. http:goegle. A.Perseroan Terbatas.com. 2011. Menusa Cerbon.Rhenald Kasali dkk.com/tentang-kami/artikel-7/. H. 2005. Jakarta: Erlangga. Melalui http://google. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka.Noer. . Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar. . MSc.Dede.Sumarsono. 2010. .http://www.Undang-undang No.Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’. Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung. Kewirausahaan Indonesia.UUD 1945 . Bandung: angkasa . Prayitno. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Nurdin M.Suara. http://wordpress.com .UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional .Robin.Dede.Naniek Ratni Jar. http:goegle. 2011.Rahayu.- - .Syah.1987. www. . 2007. G. . . Jaakarta . . com.Noer. .2010. Hand Out Kewirausahaan.Sanusi. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Modul Kewirausahaan. Hand Out Kewirausahaan. . . Puslatkop dan PK. Dr. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.Tarigan.2008.2009.2010.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan.1938.S. 2010. Dr dan Belferik Manullang. Jakarta: Grasindo. . 2009. Minto.Facebook.com . 2009.

A. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. Bandung: IKIP Bandung .dikti. J.Kencana. Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.- . J. (Disertasi). “Entrepeneur & Entrepeneurship”.Wijaya Kusuma.UII Yogyakarta. 2008.Winataputra.com .A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global. Thursday. Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani . . “Entrepeneur & Entrepeneurship”. 03 June 2010 .Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”. U.Wahab. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.www. .Jakarta . 2008.Winardi.Winardi.2006.Jakarta .Kencana. UII Pers Yogyakarta: 2007.S. (2001).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful