BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

spiritual. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. mengembangkan dan menghasilkan karya. Secara khusus. Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. ilmu pengetahuan. religius dan serta mampu bersikap. sosial.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. handal. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. dan akan memudahkan pengembangannya. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. menghormati setiap elemen bangsa. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). B. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. dan kinestetik2. Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu).

mengaplikasikannya. Berangkat dari visi tersebut. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. . memiliki jiwa kepemimpinan. mengemban misi pendidikan.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa. dan ini akan memudahkan pengembangannya. dan mempunyai rasa percaya diri. Undang-Undang Dasar 1945. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. serta membangun emosional. Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional.bermoral Pancasila. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. bermoral Pancasila. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. dan menjadikan kampus budaya bangsa. Selain itu. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. C. karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan.

sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. pengembangan hasil riset. jangan mempersulit. yang meliputi: 1. 4. Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. 6. 8. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. Upayakan optimalisasi penerimaan.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset.dispiln. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. 2. 3. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. 7. dan penuh tanggungjawab. sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’. 5. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. . 9. Dengan demikian. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila.

Disiplin . Semoga Allah SWT. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan.Dalam perjalananya. Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan. terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . disiplin. Pimpinan Fakultas. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian. Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor. baik bagi Dosen dan karyawan. Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. 4. Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. profsionalisme. Lembaga Pengkajian.etos kerja. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati. 2. senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. 3. 5.

Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila. 2. Dalam kontek ini. Fungsi penyaring. Satuan Pendidikan. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis . beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. satuan pendidian. dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila. pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1. Fungsi perbaikan dan penguatan. mandiri. 2. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. 3. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. Melakukan pengkajian. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon.Dalam kontek ini. 3. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati.

berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. 4.dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. . berkemanusiaan yang adil dan beradab. Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya. Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. berjiwa persatuan Indonesia. serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. seminar dan lokakarya. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum.

kecerdasan. pengendalian diri. kepribadian. bangsa dan negara. dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. Hal tersebut. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Dalam tulisan ini. akhlak mulia. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. Berdasarkan peristilahan. pengendalian diri. melainkan menyatukan keduanya. Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan. . akhlak mulia. melainkan banyak. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. bangsa dan negara. Pengertian Pendidikan Karakter. Definisi itu tidak satu. Secara normatif. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’.masyarakat. Berpedoman pada uraian di atas. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya. kepribadian. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter. kecerdasan.masyarakat.

12. Dengan demikian. Manusia yang sehat. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. 8. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 5. Manusua yang cakap. Manusia yang kreatif 13.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (Penerbit Indah Surabaya. bangsa dan negara. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang memiliki kepribadian. 11.20 Tahun2003). karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak. berilmu.mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No. 3. 9. Manusia yang mampu pengendalian diri. Memang harus diakui. Manusia yang memiliki akhlak mulia. 6. 2. Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at. berakhlak mulia. Manusiua yang memiliki kecerdasan. 10. 4. Manusia yang mandiri. sehat.kreatif. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab. Berangkat dari pengertian tersebut. . maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. dan 14. Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003. Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan. masyarakat.cakap. 7. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya.

hati. formal. perilaku. tabiat.”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan. Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. Laksana Yogayakarta 2011. Dalam bahasa yang sederhana. karena memberikan makna yang lain. personalitas. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. akan membawa konsekunsi yang berbeda. kesadaran. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan. kejam. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal.hlm 19 4 ibid . maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan.berperilaku. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan. budi pekerti. motivasi dan keterampilan. Berangkat dari pembahasan ini. 3 Nurla Isna. individu. Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap. B. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. sifat . harus berangkat dari semangat yang sama. perilaku. diri sendiri. yang mengandung komponen pengetahuan. dan nonformal. Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. jiwa kepribadian. yaitu cinta tanah air dan bangsa. temperamen dan watak. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia. bersifat dan berwatak3. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan. sesama manusia. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik.

regional. dinamis. kedisiplinan dan kemandirian 3. mandiri. diantaranya adalah : 1. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. konstitusi. bermoral. bergotong royong. kreatif dan bekerja keras 6. berakhlak mulia. berakhlak mulia. Kepemimpinan dan keadilan 7. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. Percaya diri. kompetitif. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. haluan negara. Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan. cakap. patriotik. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). kreatif.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. sehat. Untuk itu diperlukan . Tanggung jawab. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. berbudaya. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. tidak hanya secara wawasan keilmuan. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. berilmu. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. Hormat dan santun Dermawan. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. bertoleran. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik.

pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. dan mandiri. Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966). sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. berkualitas. serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Ovide Decroly. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). C. Lebih dari itu. 2011 hlm 12 Ibid . bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Olah Pikir (intellectual development). dan penilaiannya.sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. 5 6 Sutangsa. pelaksanaan. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Bagi Foerster. Dari kematangan karakter inilah. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. UPI Bandung. kualitas seorang pribadi diukur. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi.

pendapat. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1. Dengan demikian. mengubah cara berfikir. selain meneruskan nilai-nilai. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. D. termasuk Indonesia di New Delhi 1996. perilaku kebudayaan. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. dan penyebaran ilmu pengetahuan. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. mempersiapkan pribadi. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. dan 3. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. 2.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. 2. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . Senada dengan hal di atas. mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. perbedaan pemikiran. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab. Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998. dan 3. pengembangan.

Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna. mandiri. yang mengakar pada 6. Menurut Malik Fajar (1999). demokratis. 3.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. Demokratik. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. sejahtera. Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas. keragaman pendapat dan pandangan. 5. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. maju. mandiri. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). . VII Tahun 2001. berkeadaban. sehat. adil dan bebas. UU No. membangun warga negara berkeadaban. bersatu. menghargai perbedaan. 7. cakap. kreatif. manusiawi. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. kesetaraan. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. 20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. memiliki keahlian. masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. berilmu. serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. adil. 4.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. dan tidak diskriminatif. berakhlak mulia. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. 2. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. sebagai berikut : 1.

saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem.Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati. Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara. b. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. anggun secara moral. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain. menghormati kemerdekaan beragama. Berdasarkan itu semua. saling menghargai. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . berkeadaban dan inklusif. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. berbangsa dan bernegara secara demokratis.2. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut. Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa.

dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. d. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. oleh rakyat. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. tidak semenamena terhadap orang lain. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. kepentingan. saling mencintai. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . tenggang rasa. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. kelompok. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. c. Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. kesatuan. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. e. dan kewajiban. hak. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. berani membela kebenaran dan keadilan.

mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. nilai dan kaidah normatif. Karena sifatnya abstrak dan normatif. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. . terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. Cerminan watak. menghargai karya orang lain. persepsi yang sempit. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. dan etika kebangsaan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit. isinya belum dapat dioperasionalkan. Sebagai nilai dasar. mental. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. termasuk law inforcement yang lemah. dangkal dan tertutup. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. hormat terhadap hakhak orang lain. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. tidak boros. suka bekerja keras. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. berbangsa dan bernegara. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. sikap adil. Artinya. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat. orang bersorak sorai. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. suka menolong orang lain. mental. tidak bergaya hidup mewah. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya.

Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan. Open mindedness. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat. Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek.Grahalia Jakarta 2011 . dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain. d. c.hlm 35. Curiosity. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude.”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. b. budaya dan hankam. 7 Syahrial Syarbaini. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial. Terbuka. Di sini. Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik. ekonomi dan politik. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat. tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika. seperti sosio-politik. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. yaitu sebagai berikut 7 : a. Wawasan. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat. ekonomi.

Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. teknologi dan seni. pemerintah ataupun masyarakat. berbangsa dan bernegara. b. bernegara. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. seperti etika profesi hukum. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara.e. anggun secara moral. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. dan persuasif. c. e. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. bernegara. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. Jujur. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. Dengan dasar itu semua. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. dialogis. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. profesi ekonomi. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. bernegara. profesi kedokteran. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi. Independent. f. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. d. E. dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya.

Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Bahkan menjadi semakin terpuruk. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. Diawali dari krisis moneter. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. dalam Kompas. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab. sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif. 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. Namun. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah. krisis sosial budaya. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini.Jum’at 15 Januari 2010 . dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif. berlanjut ke krisis ekonomi. dan akhirnya menjalar ke krisis politik. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat. Akibat dari krisis politik yang terjadi. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang.

Padahal. dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. 10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10. Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa. Pada era saat ini. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. suku dan bahasa. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. di Bappenas.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. seperti agama. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas. Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Bahkan. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial. Komunikasi dan Informasi . Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru.” 11 September 2002. Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. oleh Direktorat Politik. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru. Di sisi lain. Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal.

Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. dalam konteks keindonesiaan. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. Dalam konteks ini. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. adat istiadat. terutama kelompok-kelompok dominan. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. bahasa. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana. Tanpa mengakui fakta itu. untuk menjamin keberlangsungannya. tetapi juga keindahan. Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. NKRI. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. konstitusi UUD Negara RI 1945. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. Pluralisme. Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12. karsa. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. selain masalah korupsi dan kemiskinan. beraneka ragam tetapi satu. Oleh karena itu. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. olah hati. Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. masih tidak memahami prinsip. Kita pun.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. Sebagian besar masyarakat. Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. bahkan ideologi. dan Bhineka Tunggal Ika)13. agama. rasa. pemahaman. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir. olah rasa dan karsa. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku.

Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. perdamaian abadi dan keadilan sosial. berdemokrasi. mempunyai peran penting. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah. bersatu. saling belajar. Artinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi. Konsensus dasar. bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama. untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi.masalah HAM. berdaulat. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945. adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. 1987. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals). adil dan makmur.Jakarta : LP3ES.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. Karena dengan keterbukaan. diterj. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. bangsa Indonesia.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat.-. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu. kita. berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu. Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme. bersatu. melalui pemikiran genius founding fathers kita. berdaulat. masalah persatuan dan kesatuan. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit. sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional. Untuk itu. Hanya dengan kesadaran itu. Hasan Basari. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16.

prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 . karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. Pendidikan Berkarakter. F.2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan.(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. yaitu Pancasila. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan. artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. Yogyakarta. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional. 1. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda. lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. Jika hal ini kurang diantisipasi. UUD 1945.murid dan para pengikutnya. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis. hlm 79.

Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah . Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. terutama dari lingkungan budayanya. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. welas asih dan bijak. bagi sesama warga negara. Ketika hal ini terjadi. kecerdasan. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. Ketika Islam datang di Nusantara. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. maupun bagi bangsa. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran.diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. keetisan. mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. Dengan pendidikan modern. kesadaran. Hanya saja pada era penjajahan ini. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. kepribadian.

Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya. pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. karakter). Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. moral. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). 20 21 Mubyarto. etika). selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. termasuk pendidikan Nonformal dan Informal. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21. upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab.pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam pandangan Notonagoro20. bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. pikiran (intellect) dan tubuh anak. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila.

com 23 ibid 24 Ibid . berakhlak mulia. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23. berilmu. Mahatma Gandhi menyatakan.dikti. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Thursday. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . Mengenai sarana-prasarana. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. adat istiadat dan agama. Selain itu. bahasa. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character. di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Ing Madyo Mangun Karso. kreatif.www. cakap. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. 22 Yoggi Herdani . budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.Perihal pengembangannya sendiri. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22.bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu. pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa. Tut Wuri Handayani. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24. Sebab. sehat.” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. kebebasan akademis. Dengan demikian. mandiri. sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. Wamendiknas pun berpesan. 03 June 2010 . Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban.

Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003. pelacuran intelektual dan sebagainya25.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan.UII Yogyakarta. tidak hanya secara wawasan keilmuan. tawuran pelajar dan mahasiswa.hlm 20 . kejahatan perbankan.intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. malapraktik. Oleh sebab itu. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional.2010 Fachri Ali. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. terorisme. beragama. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat.Komunal:jakarta. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar.2006. Pendidikan Agama. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis. Maka dari itu. seperti melakukan korupsi. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik. 2. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26.2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat. Oleh karena itu. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat. Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud.

Ivan Illich misalnya. proses maupun hasilnya. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia.2006). maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato. Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya.pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik. Jejak Langkah. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. hlm 291 . baik akses. Bebas dari sekolah. Mengapa demikian?. Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama.1982) Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas. bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. (Jakarta: Lentera Dipantara. Seorang sastrawan besar di Indonesia. bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya.

Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat. Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu . dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh. Natsir dan lain-lain.tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’. Soekarno. Tan Malaka.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air. Hatta. Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar.A. Ki Hadjar Dewantara. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang. banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta. seperti R. Moh. sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. Dengan caranya masing – masing. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya. Namun. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya.kartini.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. G. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. kedisiplinan. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas.

Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. kebersamaan. .tertib dan sejahtera. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. • Sila Keempat: kebebasan. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. penyangga. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa maupun bernegara. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain. manusia sebagai subjek pendukung.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman. kemerdekaan. tercermin dalam sila-silanya. yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing.

bernegara. rasa tanggung jawab. b. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. dan bernegara. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. Untuk itu. saling peduli. dan efektif. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. Ketetapan MPR No. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik.Selain itu juga. Ghalia Indonesia. 30 Syahrial Syarbaini. bersikap. Bernegara. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. efisien. bangsa. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang. dan Bermasyarakat. berbangsa. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. saling mencintai. adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. tanggap akan aspirasi rakyat. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu. saling menghargai. dan negara. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). hlm 14 :2009 . yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. menghargai perbedaan. jujur dalam persaingan. saling memahami. dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir.

berkeadilan.c. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. dan keadilan. . keputusan. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. kebijaksanaan pemerintah. membahas. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. baik oleh pribadi. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. meneliti. e. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. oligopoli. ketenangan. persaingan sehat. belajar. logis dan objektif. kritis. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. Perundang-undangan. program-program pembangunan. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. d. ketetapan. institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila. menulis. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi.

toleran. bahkan terperangkap skenario elite politik. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. kompetitif. tapi orang bangga menjadi koruptor. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. berbudi luhur. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita.percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). bergotong royong. berkembang dinamis. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi. Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. berjiwa patriotik. berakhlak mulia. Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. penegak hukum tidak profesional. namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945. Pancasila bersifat universal dan akan . dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. bermoral. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar.

sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final. Hindu. Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. Kristen (Protestan). Budha. Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika). yaitu Islam. Keempat nilai humanis tersebut. RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI . kesatuan dan (saling) menghormati. Katolik.mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. dan Konghucu. Oleh karena itu. cinta. BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN. apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila. sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian.

Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. dan 11. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. H. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.. Jusup Mulia. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. UNSWAGATI telah meluluskan 2. 7. Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. MM ( 2002 – 2005) H. dan Fakultas Teknik. Soedjono. 2. 5. (1961 – 1965) Letkol. Amir Husodo. 6. (1965 – 1969) Letkol. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti.221 sarjana dari 11 (sebelas) program .M.. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon. Fakultas Pertanian. MBA (1998 – 2002) H.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. H. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. SH.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.A. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). 3. Sriadi. SH. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. SH. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. Drs. Tentu. Bandung. 4. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. Hal itu dirasakan perlu.E. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010.. yaitu Magister Ilmu Administrasi. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. Djakaria Machmud. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. S. Ili Rohaeli. dan Magister Ilmu Pertanian. yaitu: 1. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta. Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008. Kav.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum.279 orang. dan Akuntansi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. Pendidikan Bahasa Inggris. dan Pendidikan Ekonomi. Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Pendidikan Matematika. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN . Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis.studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati.

untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. dan menjadi pebelajar yang tangguh. 2. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan Unswagati yaitu : 1. teknologi. 4. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder. inovatif dan berorientasi regional. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 3.B. 4. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam mengemban misi tersebut. nasional dan global. Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. . bermoral Pancasila. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan ilmu pengetahuan. 5. dan mempunyai rasa percaya diri. Visi. Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. mengaplikasikannya. 6. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Misi. 3. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. 2.

Dalam perjalananya. Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. bermoral Pancasila. Pimpinan Fakultas. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. disiplin. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. C. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. profsionalisme. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. pengembangan hasil riset. harus berangkat dari visi Unswagati. Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. Dengan demikian. 2. . dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian.

ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. 5. Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. Disiplin . 1. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh. 4. Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi. . Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional.etos kerja. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. tata hubungan sesuatu dengan lainnya.3.

Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. akhlak ataupun muamalah. tidak apa apa lah. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. Kemudian Dia Matur kepada Rasul. Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan. mencuri. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. jangan khawatir. laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. utang-piutang. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab. Artinya apa. Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. sumpah. seperti perkara jual-beli. berzina dan berbohong. Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. baik itu akidah. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan.kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. Dalam hal ini kita ambil contoh . Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. dan kalau jujur. dan sebagainya. bahwa …. ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ). ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. Dalam perjalanan pulang. orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina. Islam terbuka pada siapa saja . Keesokan harinya. sungguh. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. Dia berfikir. teman temannya menawarkan Khamer . Berbicara tentang arti kejujuran. Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu. aku tidak sanggup meninggalkanya. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. maka . tidak ada pengakuan.Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena.orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang.

adu domba . Ketiga. Kedua. memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya . Kedua. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. cinta dan sebagainya. Kelima. ridho. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. tawakkal. Keenam. maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. al juanid berpendapat. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu. Pertama. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. Keempat. anti korup dan sebagainya. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW.pintu maksiat tertutup bagiku . Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati.

Imam Ibnul Qayyim berkata. Misalnya: 1. Maka. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.” (QS. tetapi kalau tidak. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Jadi. 5. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. kecuali kejujurannya (kebenarannya). merupakan sifat orang yang munafik. Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). 4. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari. Allah berfirman. sedangkan lawannya. al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . 3. Bersabda. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam. juga ada pada perbuatan. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. Kejujuran itu ada pada ucapan. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111). 2.akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW.” (QS. maka dikatakan benar/jujur. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. padahal sebaliknya. Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. maka dikatakan dusta. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. Yang jelas. tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. dusta. sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan. secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Perjanjian tersebut wajib dipenuhi. mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah.

' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof. sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. Mempunyai motivasi yang kuat. mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. Maka dari sinilah. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan.Paling tidak. sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7. Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . keempat. 2. Otonom dalam penilaian karya 8. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. At-Taubah : 199). atau untuk mengisi waktu luang. untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. akan terhindar dari hal hal yang dibenci. adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga. untuk senang-senang.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. pertama. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. . 10. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. 1. 3. Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya.

suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar.Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah. mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya. maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut. Ucapan itupun masih juga terlontar. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja. kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. kami benar-benar kagum. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia. bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai. Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'.setiap bulannya. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). . berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010).. kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan. Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah.Ada sebuah cerita. Sebuah cerita lain. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

mulai dari rektor sampai pemelihara halaman. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah. baik itu pendidikan. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. Secara normatif. Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya. . Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. Penulis berkeyakinan. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik. D.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. Pemahaman yang demikian. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Artinya. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. Keharusan untuk bekerja sama. perlu di budayakan. Dalam manejeman modern. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral. penelitian. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika.

Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. hasil dan sumber pendukung. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati . Namun. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. paling tidak dapat memasuki pasar Asean. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. 4. proses. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1. serta bagaimana prosedur mencapainya. Rencana jangka panjang harus realistik. dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. Jaminan kebermutuan dari aspek proses. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. 3. Teoritik dan Praktik dalam 2. 2. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. nasionalis dan religius. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. perlu usaha khusus.

sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain. Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir). bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. kesuusilaan. yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. . sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. dengan makud untuk saling mengenal. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan . sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru.Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. Tuhan adalah tempat bergantung. ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan. Di balik keunikan manusia. apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif). Raga bersifat kehendak. raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. Menurut Kaelan (Djunaedi. di dalamnya terdapat kesamaan. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. Manusia merupakan mahluk yang unik. hlm 33). Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku. C sebagai manusia yang lain. merupakan kebutuhan setiap manusia. sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. Membutuhkan manusia lain. Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong.Konsep manusia. Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika). Justru menjadi aneh. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. rasa dan kehendak. Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya.

hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. bangsa dan negara. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya.cara mengalahkan manusuia lain. akhlak mulia. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. kecerdasan. tetapi ia dengan cepat menjawab. jika ya katakana ya. Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. yah! Hemat penulis. sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi. sudah!!. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan.tidak apa-apa. Kejujuran prosedural ini. Selain itu juga. meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. Manusia dikodratkan akal yang sehat. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan). Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. pengendalian diri. jika tidak katakan tidak. nggak sakit ko! Jangan nangis. belum?”. . menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). kepribadian. anak pintar. Selain itu. jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/. orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. Sebaliknya. masyarakat. karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya. hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta. bohong dan munafik? Sering terjadi. kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a. mungkir. maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Contoh kongkrit misalnya.

Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya. Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen.Karyawan maupun Mahasiswa).Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan. akan tetapi.Kalimat: ’’Mohon maaf. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas. Kejujuran subtantif ini .di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran. Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi. itu bukan keahlian saya’’. Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic. Bentuk kejujuran mahasiswa ini. . sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini.di dalamnya mengajarkan kejujuran. dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral. pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”. tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. yang di ucapkan oleh Dosen. tidak akan membawa kemaslakhatan. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law. berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik.

at-Taubah: 75-76) 4. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1.” (QS. Jujur dalam tekad bekerja. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. Jujur dalam ucapan dan kehendak. bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka. tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah.’” .” Maka yang seperti ini adalah tekad. 2. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka.” (QS. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin. Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . Jujur dalam perbuatan. maka Allah akan berfirman. Terkadang benar. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). yaitu seorang mujahid. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. dan seorang dermawan. seorang qari’. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. hal Ini kembali kepada keikhlasan. mereka kikir dengan karunia itu. maka akan merusakkan kejujuran niat. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia. ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami. ‘Inilah hambaku yang benar/jujur. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. dan berpaling. hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. maka di antara mereka ada yang gugur. Contohnya seperti ucapan seseorang. Allah berfirman. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.\ 3. aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah. Allah menilai ketiganya telah berdusta. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja.

Skill. Prof. 4. Membentuk asosiasi perwakilannya. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2. b. Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. tak hanya ahli di bidangnya.. dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya.” (QS.tapi ia juga menguasai. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya.5. dalam rasa cinta dan tawakkal. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya. Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah). Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya. seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1.Knowledge. mereka itulah orang-orang yang benar. Wirjanto (1989). Dan yang terakhir Attitude. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. dalam seminar Akademika . 6. Knowledge. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi. Soempomo Djojowadono (1987). Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3. al-Hujurat: 15).danAttitude. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. sebagaimana firman Allah. Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7.

selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan). yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. 1. Harus mengabdi kepada kepentingan umum.Sungguhpun demikian. Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. 2. . Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. 7. tidak boleh ada hubungan hirarki. 3. Harus ada kebebasan. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. profesional akan selalu berhadapan dengan amatir. serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’. 6. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien. Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. Harus ada hubungan Klien. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8.Untuk pengertian yang pertama. bervariasi dan efektif. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya. yang mengutip Roscoe Pond. transparan tentang waktu dan biaya .UNDIP 28-29 Nopember 1989. 5.sebagai yang melayani. 4. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan). ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’. Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum. mengartikan istilah professional sebagai berikut . Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab.Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya).

Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik.menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya. c. b. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas. Sikap jujur dan obyektif. Pengalaman yang cukup bervariasi.etos kerja.etos kerja. mengelolah dan mengendalikan dengan baik. Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan).Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat. Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. d. Cukup kreatif. Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas. saling mendukung. Disipin harus melampaui waktu. kerja cerdas dan kerja tuntas. cukup cakap. ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. g. 4. c.Melakukan pekerjaan . Makna Disiplin . h. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi.ketetapan dan memaksimalkan hasil. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking. Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin .Disiplin akan tercermin pada kesiapan. Menguasai standar pendidikan minimal. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a.karena waktu itu sangat terbatas. Disiplin adalah kerja keras. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mampu menata.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan. 3. saling mengisi. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan. Penguasaan ilmu dalam praktik. obyektif. berperilaku jujur. 2. f.Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis. e. Trampil.

teliti. sabar. dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin. tekno-industrial. sikap. bersemangat. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri. orang lain akan tampak lebih kuat. Saat Anda semakin kuat. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. Sebaliknya. orang lain akan tampak lebih lemah. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah. Anda akan menjadi semakin kuat. tekun. Itu tidak akan menolong. Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. semangat. berintegritas. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. kreatif. Semakin Anda disiplin. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. menggerakkan. . Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. ruh. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. sistem. perasaan. Seiring dengan perkembangan zaman.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan.merupakan pemborosan waktu. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. baik yang bersifat ekono-komersial. kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. atau sosio-kultural. dan manajemen kerja mereka. inovatif. pikiran. dan keyakinan yang mendasari. Dengan latihan. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. ulet. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. hemat. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan. menghargai waktu. menghargai pengetahuan. responsibel. akuntabel. tekno-industrial. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. mengarahkan. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban.

kelihatanya memihak kepada yang kedua. No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Keharusan untuk bekerja sama.arnold status. it requires you to take charge of your career. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya.etos kerja. Sebaliknya.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. Sikap seseorang terhadap orang lain. akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1. Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. . 31 facebook.sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. A team based environment demands that you make responsible decisions. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Dalam manejeman modern. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . Teori-teori manajemen modern.

ringan sama . "Great achievement is usually born of great sacrifice. If anything goes real good. KESATUAN.Pepatah yang mengatakan. staying together is progress.good. If anything goes semi . That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4. VISI DAN MISI. E atau F. manfaatnya akan sirna. 3.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai. we did it.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. harus mau membuka diri / transparan. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya.mata hanya oleh penampilan luar. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. Selain beban akan semakin ringan. B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. Setiap permasalahan yang timbul. SALING MENGHORMATI. selain terbuka peluang menuju kegagalan. Jika senang akan sama . yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . SALING PERCAYA. we make a life by what we give" Winston Churchill. I did it. "If anything goes bad. 2. sedini mungkin disirnakan. Yang namanya rahasia. then you did it.sama dipikul. Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1. Ibarat sapu lidi. both will escape" Chinese Proverb. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar . jika susah akan sama . Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan. "We make a living by what we get. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. . and working together is success" Henry Ford 5. POSITIVE THINKING. Jika kondisi ini telah terpenuhi. "If you chase two rabbits. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. "Coming together is a beginning.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi.

Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat . ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. employ someone. energy and initiative" Remez Sasson 6. Menjaga nama baik Unswagati. Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. Everyone hears what you say. Kegagalan Indonesia. "A successful team beats with one heart" Unknown 7. 8. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. "Individuals play the game. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini.Keberhasilan Unswagati di masa datang. Identitas Unswagati. Friends listen to what you say. or forbid your children to do it" Monta Crane e. I wouldn't jump with them.niat terselubung. RELA BERKORBAN. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. but teams beat the odds" SEAL Team saying.sama. Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati. Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian. Kembali. Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. . apapun tantangan dan rintangan yang timbul. Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. KERJASAMA."A positive attitude brings strength.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. "If all my friends were to jump off a bridge. TANTANGAN DAN RINTANGAN. semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. I'd be at the bottom to catch them. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . "There are three ways to get something done: do it yourself. Keberhasilan Amerika.

b. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dosen wali dan kode etik mahasiswa. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Meskipun tidak secara struktur. dicantumkan tentang kode etik dosen. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. norma. suasana dan kualitas. Untuk membentuk karakter agamis. Dalam buku pedoman akademik. kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. 4. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. melakukan apel dan lain sebagainya. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat. Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). Konsep dan Operasional . penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik. sebagaimana berikut ini : a. Kultur. c. Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. d. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Untuk itu. Kode etik dosen. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. karakter. harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. a.3. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian.

Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran. Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen. Agama PPKN B. Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN .

Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik. membimbing. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. .INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik. b.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud.Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan. Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya. Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema.

maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan. . Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut.Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler. nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan.

Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. 2. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Induk . social. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. potensi. Peningkatan pengelolaan program. Pengembangan sumber daya manusia. 5. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. etos kerja dan kemanfaatan sosial.Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler. Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. menyenangkan. pilihan. 3. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. 4. 5. keterlibatan aktif. bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. yaitu : 1. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni.

Pengembangan kerja sama dan kemitraan. 7.6.Sertifikasi . Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci .Tingkat pendidikan .Jabatan akademik . Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan.

2005 tentang Guru dan Dosen) .Rasio Dosen : MahaSiswa .Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .Gaji .Penguasaan bahasa Inggris .Umpan balik .Pelatihan dosen .Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .Indeks Prestasi Semester .Hasil kerja .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .IPK lulusan .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .Hasil seleksi/testing .Insentif .Evaluasi kinerja .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Tunjangan .Jaminan sosial .Entry Grade .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .

Kepuasan lulusan . baik negeri masyarakat maupun swasta .Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja .Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Penguasaan bahasa Inggris .Frekuensi peninjauan .Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum .kualitas lulusan .Penyerapan oleh pasar kerja .Nilai pengabdian tusi.Lama studi .Nilai penelitian kat dengan berbagai insti.Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program ..Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .

Audit akademik . program studi.program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum .Evalusi internal . dan konsentrasi baru .Pembukaan fakultas.Akreditasi Jurnal Ilmiah .EPSBED .Akreditasi Program Studi .Akreditasi Institusi .Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .Citra Unswagati .Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .

Layanan perpustakaan ..Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Web based learning .Layanan administrasi .Kelengkapan saranaprasarana .Pemeliharaan saranaprasarana .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .Layanan informasi/ internet .Kepuasan orang tua .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni .

Bantuan sosial .Pembangunan aula yang representatif .Defisit anggaran .Pelatihan .Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi .Pendapatan .Kerjasama penelitian institusi .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Pertumbuhan pendapatan .Pembangunan Rusunawa .Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Diversivikasi sumber penerimaan .Pembangunan Kampus III .Deviasi anggaran ..

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

cermat. Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. 1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya. Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). 23). bertanggung jawab. sehinggga harus diadakan pilihan. yang setia kepada janji. terutama dalam bidang afektif. afektif dan psikomotor.Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. kemudian dikembangkan oleh penulis. Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. bijaksana. Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. Bahan ta'lim/madah (3). sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. Tujuan meliputi aspek kognitif. apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. . 3. Tujuan/gayah (2). Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. sopan dan sebagaimana. Proses ta'lim/amaliyah (4). Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. yang dievaluasi dengan cara berbeda. Untuk majlis ta'lim. bersih. Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum. taqwa kepada Allah swt.

dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. sehinggga jelas. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu. Jadi. proses belajar mengajar. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan . Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. dan alat penilaian.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. bagaimana cara melakukkannya. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4.

visi. misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat. struktur dan kelembagaan. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. memimpin. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini. Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. tetapi bukan orangnya. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. mengarahkan. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. Bekerjalah kamu. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. tapi ketualah yang menjadi figur. Ketua memang penting. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. jadwal kegiatan. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. target realistis. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber. Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan. Organizing. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. niat memang berasal dari hati. 5. bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. maka POAC (Planning. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. dan anggaran. 4) Controling .

a. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan. Bukan karena tidak ingin dilaksanakan. Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007. membuat target. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana. Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan.) . (Ali bin Abi Thalib r. 14). bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik. c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan.

penyempurnaan. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. proses.. seperti program. baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. pelaksanaan. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya. seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. hasil program dan laiblain. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi. dan pengembangan program. R. Becher.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan. prosedur. Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. masukan/input. dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. B) adanya suatu kriteria dan c). modal kerja . Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. cara pendekatan. Juga terjadi sebaliknya. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. 1989. adanya deskripsi program sebagai objek penilaian. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. pembinaan dan pengembangan program. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. Penilaian proses bertujuan untuk. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Menetapkan suatu nilai atau judgment. mencari. yakni menentukan. Inggris menyatakan bahwa. a). Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program.A. Halaman 127 . tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37.1997. (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya. dan output/hasil. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian.

konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5.Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul. Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. . dst.: 1. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee. Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. c) Pada mentor: ramah.maupun pada saat program berjalan. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu. Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek.A. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya. les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8. Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. 3. tidak cuek/menyapa. Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah. 4.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90. dsb. menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin.B+. suka berjabat tangan dsb. mendahulukan kepentingan yang lain dst. kondisional sifatnya.tidak berkata kasar. Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit.

dan membangun karakter building. membangun kecintaan dalam beribadah. 6). 2). Munakahat. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. saling membantu. Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin. kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. 3). Sejahat-jahat manusia. kapan saja dan dimana saja. Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak. khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati. atau sekejam-kejamnya orang. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. 5). Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. Ibadah. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1). Syariah.7. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. dan sepercikannya diberikan kepada manusia. akan tetapi lebih ditekankan pada. 4). Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. munakahat. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan.dan 10). akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat. . berupa kepeduliaan. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi. ceramah. mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam.Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. 3).7) tarikh Islam. 3). Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1). 2. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah. Aqidah.Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. 2). Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. saling menguntungkan. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon. Muamalah. pengokohkan aqidah. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif. baik yang diminta maupun yang tidak diminta. Dialah yang maha pemurah.

cakap. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . ekonomi. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. artinya hamba yanga maha pemberi. kepribadian. pengendalian diri. berilmu. kecerdasan. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan. menyaksikan kelaparan misalnya. Dalam serba kekuarangan . dan lama-lama akan hilang rianya. bangsa dan negara. sehat. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. tetapi juga pengusaha yang religius. Zakaria Mahmud SH. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain. Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. studi kajian Al Qur’an. pasar murah. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. sosial. dan lain-lain. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.Msi. Sosok rektor sang birikrat. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. teknologi. tetapi paling tidak dia sudah memulai. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. mandiri. hukum. berakhlak mulia. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. akhlak mulia. Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. kreatif. masyarakat. Bagi mahasiswa program santunan. Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. H. 1998 : 11) . namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. B.SE. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus. dan metafisika.

Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. yaitu: ilmu politik. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral. yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Sebagai pendidikan politik. Kedua. memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A. sebagai Pendidikan Politik. menghayati dan mengamalkannya. beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. 1985).Wahab. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat . psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. antropologi. memiliki sikap kritik dan inovatif. elektronik. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. hukum. Ketiga. tersiar. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila.masyarakat yang Pancasilais. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila. terekam. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. sosiologi. Di samping itu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. Sebagai Pendidikan Politik.

(3) Spatial Intellegence. dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia.(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Dampaknya dalam proses pembelajaran . dan moral Pancasila. Pertama. (2) Logical-Mathematical Intellegence. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. (6) Interpersonal Intellegence. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini. yakni (1) Linguistic Intellegence. cerdas. 2007 : 19). maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. konsep. Kedua. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. Ketiga. nilai. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. nilai.sebagai pengalaman langsung (hand of experience). (4) Musical Intellegence. dan moral Pancasila.com/peneltian tindakan kelas). partisipatif. pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy). dan bertanggung jawab. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. dan (7) Intrapersonal Intellegence. berbangsa. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences. Melalui PKn. Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. kewarganegaraan yang demokratis. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat.wordpress. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. kewarganegaraan yang demokratis. afektif. dan bela negara. PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. 2. konsep.

mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. and the reasons for particular values choices. Pupils try to understand the consequences of particular values. bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. 2. misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. berdebat. Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. 1975/1984 dan 1994). Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. tidak disertai data kuantitatif. dan sebagainya. Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. bernalar dan juga membandingkan. dan sebagainya. Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah. Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. the confilcts that may occur among two or more values. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara. berdiskusi. . Oleh karena itu. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral . dan bahkan mencari informasi dari internet. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah. menyaksikan siaran radio.1. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan. televisi. 4. Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok. 3. Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. 2.

yakni ”. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog. g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum. penguat. penggali nilai. berakhlak mulia. d. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. sehat. cakap. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. terkait aspek sosiokultural.. dan . Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. fasilitatifdialogis. penghayatan. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. f. berilmu. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas. transformator nilai. e. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. c. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan. e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. penghayatan. a. Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu.. teladan. mandiri. b. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. penopang kajian. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. kreatif. pengembang nilai.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut. wawancara. 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. 5. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. 3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya. dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok. . Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat.

5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini. IDENTITAS NASIONAL .Pancasila sebagai sistem filsafat . Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Warga Negara Indonesia .Proses berbangsa dan bernegara 3.Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5.Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA . adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1. Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut.Sistem Konstitusi . 6. kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut.Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6. Setelah selesai proses pembelajaran ini.Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4.Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2.Karakteristik identitas nasional .Hak Azasi Manusia (HAM) .Konsep dan prinsip demokrasi . TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA . sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan. POLITIK DAN STRATEGI . HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW . DEMOKRASI INDONESIA . .

o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum . 8.Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat.Wilayah sebagai ruang hidup .Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3. Pemajuan. Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1.Konsep Asta Gatra . Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2.7. GEOPOLITIK INDONESIA . Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok. Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan. Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4.

8. hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa. observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan. Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. 7. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok.Law 6. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. Tahap melaksanakan Investigasi ini juga.

7. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan. Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. Pada pertemuan ini secara berkelompok. studi pustaka. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. tes perbuatan. . Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran.wawancara. observasi.Langkah-langkah dalam pembelajaran ini. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. cukup. seperti baik sekali. dan kurang sekali. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa. kurang. mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. baik. dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas.

Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai. 4 = di atas rata-rata. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut. SKOR CATATAN 3. 2 = cukup. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah. 5 = istimewa NO KRITERIA 1. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah. 5. 4. C.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2. 3 = rata-rata. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh.

Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. halus. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. ditegaskan Widjono (2007: 3). dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran. sistematis. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. jelas. dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. stimulus. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. tindakan. perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. proposal. teratur. Hal ini berarti. santun. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. dan logis. menghargai orang lain. sopan. Sikap positif ini. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. gagasan. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. watak. Mahasiswa. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. dan tidak menyinggung. diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. yaitu bahasa yang sopan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. baik dalam situasi formal maupun nonformal. emosi. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut.1. sistematis. Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun. penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. baik lisan maupun tulisan. seperti artikel. melalui penggunaan bahasa . perasaan. Dampaknya. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. dan kepribadian. laporan. melalui mata kuliah ini. yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. dan pengalaman baru yang diperolehnya. karakter. Sebaliknya. Karakter.

Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. 1. memilih pemeran. dan pola tindak peserta didik. Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran. seperti memilih topik. Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . memaki. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. mencela atau melecehkan. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. merumuskan masalah. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. memerankan hingga mengevaluasi. berbicara. seperti memahami. dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. teknologi. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut.yang kasar. pola sikap. dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. dan mengevaluasi pembelajaran. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. memfitnah. seperti melalui presentasi. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. menghujat. Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. Oleh karena itu. pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. menggunakan/menerapkan. 2. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. yaitu menyimak. dan diskusi. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). Pembelajaran yang efektif. membaca. 2009: 5). menarik. pemecahan masalah. dan menulis. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. menerapkan.

Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. 2011: 16).. kerja keras. etos kerja yang tinggi. bahasa. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan.. membaca. berbicara. Melalui berbagai pengalaman belajar. Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. dan 65) . dan ikhlas (Kesuma. Sekait dengan ini. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut.belajar tumbuh. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. dkk. tanggung jawab dalam mengemban tugas. 2. Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. tetapi juga membantu mereka memahami. kejujuran. menginternalisasi. yaitu menyimak. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya. 4. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut. dan menulis. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. dkk. sikap. Lickona (Kesuma. dalam berbagai situasi dan konteks. tanggung jawab. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. 41. seperti kedisiplinan. 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip. dan perilaku mahasiswa. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. sopan. Noer (2007: 9. 13. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. keadilan. Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. 3. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. dan kerja sama. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi. santun.

dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan.go. suluk dan kidung. perilaku. tidak iri maupun dengki. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap. Sebagai contoh. toleransi. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. syair. sikap. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka. permainan. tanggap. ialah sabar penuh pengertian. berbudi luhur. ajaran dan pemikiran. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah. melainkan melalui proses yang panjang. ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. Sekait dengan kesantunan berbahasa. Di samping itu. Misalnya. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. tertib. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu. Mereka hidup dengan aman. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. dan sebagainya. walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). Bahkan. babad. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. Selain bahasa. jujur. dan berbagai bentuk lain39. tulus ikhlas. terus terang/jujur.” Berdasarkan suluk itu. mengatur dalam cara bertani yang baik. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. Sebagai suatu budaya yang mentradisi. kata bijak. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. tembang. terbuka terhadap siapapun. dengan kearifan lokal juga. suka bersilaturahmi.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 . Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. berperilaku. serat. “….kemdiknas.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. cara bergaul. cara beternak. dan teratur. Lebih dari itu. Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. rendah hati. Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. berkehidupan. bertutur.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai. nilai-nilai. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. tidak angkuh maupun congkak. dan religius. terutama dalam bahasa. Selain itu.

Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. sopan. yaitu Mituhua pitutur kang becik. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. termasuk perguruan tinggi. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. dan jangan pula angkuh). tenteram. Melalui lima pilar ini. mencemooh.tidak boleh mencela. Artinya. sopan. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. bertutur lebih baik. disiplin. berkata dengan sebenarnya. dan berkompeten. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. dosen. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. dan tidak congkak. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. masyarakat saling menghujat. Dengan demikian. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. tulus ikhlas. dan ramah. bersikap. bersikap. semoga terlaksana. yaitu kejujuran. pijakan. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. dan kedisiplinan. berdaya saing tinggi. sikap. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. Dalam hal ini. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. Dengan kata lain. meredup. singkirkan watak congkak dan takabur. 2011: 11). kehilangan maknanya. profesionalisme. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik. Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. pegawai. yayi den kalakon. lima pilar ini menjadi pedoman. profesionalisme. dimaknai. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. dalam berbahasa. menumbuhkembangkan. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. berkepribadian. dan pengarah dalam bertindak. kerja sama. berperilaku. tetapi tidak dihayati. Akibatnya. mencela. kerjasama. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. lembut. dan damai. Namun. menjunjung tinggi lembaga. menuding. nyingkir ana jubriya kibire. harus jujur. dan santun. mengritik dengan tidak santun. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar. dan bahasa.

situasi. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun. kearifan lokal Cirebon. nilai karakter masyarakat Cirebon. Hal ini . Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. 5. 2. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. 3. Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. 4. Berdasarkan uraian di atas. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar. bergaul. 6. topik pertuturan. dan bekerja sama dengan orang lain. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. tidak menghina. memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama. runtut.sejahtera. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. Bahkan. Santun. dan damai. dan tempat pertuturan berlangsung. 1. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. tidak mencela. nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). penggunaan bahasa yang sopan dan santun. tidak menyinggung. dan konteks waktu. Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut. serta etika berbahasa yang baik. logis. tenteram. menurut Asmani (2011: 39). baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. dan mendiskusikan hasil pemeranan. lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional.

Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F. Misalnya. . 7. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. 8. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. dosen. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. dan melakukan pemeranan. pekerjaan. penyadaran akan pentingnya nilai. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah. 1) Mahasiswa. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. 10. menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. dan luapan emosi dengan sesungguhnya. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat.diwujudkan dalam hal perkataan. Artinya. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. memilih pemeran. membuat dialog. tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan.Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. perasaan. serta mengucapkan salam. tindakan. seperti berikut. pemilihan pemain. 9. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. baik lisan maupun tulisan.

K : Key. Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Landasan Teoretis 1. misalnya situasi perkuliahan. Dell Hymes (Lubis. menghargai. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. E : End atau tujuan. seperti penutur. yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya. pokok pembicaraan. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. lewat telepon. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. dan profesionalisme dalam bekerja. P : Partisipan. Schmidt dan Richards (Nadar. N : Norma. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). lawan bicara. tempat pembicaraan. Misalnya. secara lisan. situasi perkenalan. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. situasi upacara keagamaan. yaitu tindak lokusi. yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. menghormati. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. I : Instrument. yaitu pembicara. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. situasi pembicaraan. dan presuposisi (presuppositions). A : Act. 3. yaitu tujuan akhir pembicaraan. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. Heatherington (Tarigan. santun. tidak menyinggung. yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. 6) . Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles). tetapi juga lebih dari itu. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. kita harus memerhatikan beberapa hal. dan menyakiti. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat. mencela. tindak ilokusi. tertulis. dan tindak perlokusi. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama.Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene. jujur. selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. dan pendengar. bukan saja siapa lawan tutur kita. Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. lawan bicara. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. G : Genre.

dan sesuai dengan data dan fakta. Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. Kesantunan. antara lain Brown dan Levinson. dan Pranowo. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). kedermawanan/penerimaan (generosity). dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. kata-kata. penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. menurut para pakar itu. yaitu kesantunan berbahasa. Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. maksim relevansi (maxim of relevance). mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. tidak ambigu. Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya. ketidaktegasan (hesitancy). Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. Secara singkat dan umum. a) Maksim Kebijaksanaan. d) Maksim pelaksanaan. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa. kesopanan berbahasa. kesederhanaan/kerendahan (modesty). dan tidak berlebihan. atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). menurut Chaer (2010: vii). Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. yaitu maksim kebijaksanaan (tact). Leech. (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . kemurahan/penghargaan (approbation). penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin. Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab. nyata. Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. dan etika berbahasa. dan kesimpatian (sympathy). yaitu formalitas (formality). Contohnya pada tuturan berikut. tidak kabur. Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. a) Maksim kuantitas. a. b) Maksim kualitas. jelas. kesetujuan/permufakatan (agreement). ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. Di dalam maksim ini. 2010: 10). Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. c) Maksim relevansi. Dengan maksim kualitas. 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim. Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. maksim kualitas (maxim of quality). Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi.Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun.

dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. Di dalam maksim ini. atau saling merendahkan. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). isinya besar lagi! B : Wah. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. e) Maksim Permufakatan. b) Maksim kedermawanan. Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. Rasanya panas sekali! B : Ya. Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. Sebagai contoh. saling mengejek. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. Kak. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang. d) Maksim Kesederhanaan. Hal . Dengan maksim ini. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala.Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. Muka (face) ini. (10) A : De. yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. c) Maksim Penghargaan. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. tidak juga. f) Maksim Simpati. jangan suara saya lagi serak. Dari contoh tersebut. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. Contoh pertuturan sebagai berikut. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Contoh dalam pertuturan berikut. tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. Berikut contoh pertuturannya. ya. menurut Brown dan Levinson (Nadar. loh. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. memang sangat panas udaranya. ya! B : Wah. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan. B : Ya. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai.

2010). Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. 2010: 62). antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur. Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun. Menurut Pranowo (Chaer. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. Pranowo (Chaer.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami. menguasai. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. dan menggunakan bahasa secara santun. Berikut contoh tuturannya. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. 3) sengaja menuduh lawan tutur. b. yang berkenaan dengan bahasa. (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. Contoh terdapat pada tuturan berikut. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. (12) Tidak apa-apa. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. 2) dorongan emosi penutur. Lalu. d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu.

(14) Pemerintah ngawur. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). dan suasana psikologis. Kita nggak masalah. dan tempat pertuturan berlangsung. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. jabatan. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. dalam berbahasa pun harus sopan.000. kamar praktik dokter. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu. c.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain.. atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat. siang. seperti pagi. menurut Chaer (2010: 76). Ketiga hal itu. Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . pendidikan. dan santun. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. Sebagai contoh topik seks. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. dan (3) konteks waktu. Akibatnya. Tempat dapat di mana saja. sopan. anak. situasi. Berikut contoh tuturannya.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun. (13) Silakan kalau mau banding. rakyat semakin tercekik. waktu. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. Adapun suasana psikologis. Namun selain santun. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. Berikut contoh tuturannya. tergantung pada tiga hal pokok. (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. (2) topik petuturan. hal-hal yang berbau porno.per liter dan tarif Rp 2. Misalnya. malam. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur. kekerabatan. seperti ruang kuliah. Berikut contoh tuturannya. 4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. ruang rapat. Dengan solar Rp 4500. Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. pekerjaan. misalnya. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur. tentang pendidikan. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur. misalnya usia penutur dan lawan tutur. Waktu kapan saja.. kesehatan. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia.

(4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. (2) jangan menyombongkan diri. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. pelan. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. d. Sebaliknya.tersebut wajar dan sopan. 2. Dengan demikian. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. (4) kapan kita harus diam. Pendekatan Komunikatif . Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. mendengar tuturan orang. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. (3) jangan menghina orang lain. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. 2010: 6). ajakan. Etika berbahasa. (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. (4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. menurut Clifford Geertz (Chaer. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. (8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. (5) memberi simpati pada lawan tutur. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. untuk dapat berbahasa dengan santun. (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu. Oleh karena itu. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. atau permintaan. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. sopan. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. meninggi. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu.

peranan pendidik. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. Selanjutnya. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. b. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. teori belajar. silabus. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. Berdasarkan teori tersebut. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah. Dalam pendekatan komunikatif. e. a. d. menurut Syafi’ie (Solehamin. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. Dengan kata lain. tujuan. permainanperan. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. dan peranan materi. 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. tipe kegiatan. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. yaitu teori bahasa. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. a. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa. Dengan kata lain. peranan peserta didik. f.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. g. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir. Teori Bahasa . simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. Dengan sendirinya. tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. c.

yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Misalnya. Dengan demikian. negosiasi makna. Oleh karena itu. percaya. dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. bukan pengetahuan tentang bahasa. . Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. Menurut tarigan (2009: 240). Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. materi yang berdasarkan tugas. e. Akan tetapi. iklan. dari kehidupan nyata. sebagai negosiator dan interaktor. otentik. curiga. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. h. d. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). 4. g. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. b. yaitu materi yang berdasarkan teks. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. Sebagai individu. seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. konselor. materi realita. dan manajer proses pembelajaran. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. f. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. Di samping itu. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. Ia menaruh rasa senang. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. c. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. Oleh karena itu. dan lain-lain terhadap manusia lain. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata.Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. atau kegiatan berinteraksi. Dalam kehidupan sehari-hari. koran. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

nilai-nilai. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan.” (Dahlan. dan tindakan. memilih partisipan. yaitu memanaskan suasana kelompok. Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa. dan tindakan. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. Dalam dimensi sosial. menyiapkan peneliti. pemahaman terhadap penentuan peran. situasi permasalahan. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. persepsi dan perilaku setiap orang. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. berdiskusi dan mengevaluasi. yakni perasaan. persepsi. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. memerhatikan beberapa peran yang berbeda. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran. perasaaan-perasaan. konsep peran harus dikukuhkan. dan persepsi siswa. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. Untuk dapat berperan dengan baik. Untuk itu. kata-kata. Selain dalam tindakan.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. mengatur setting tempat kejadian. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap. dan solusi permasalahan. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. Model bermain peran. juga diperlukan. pemeranan. memerankan kembali. bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. Shaftels (Joyce dan Weil. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. dan nilainilai yang mendasarinya. dan sikap. peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. nilai. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . Dalam pembelajaran. Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. bila tak senang dan curiga. respons menjauh. diskusi dan evaluasi. sikap. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Dengan demikian. ucapan. analisis yang dilakukan melalui diskusi.

diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. baik di masa kini maupun masa lalu. Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain.situasi sosial. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). etnis. Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. pembuat kebijakan. terutama masalah hubungan antarindividu. sopan. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. kompleksitas situasi masalah. Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. nilai. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. Misalnya. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. hakim. latar belakang budaya para peserta didik. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. dan strategi pemecahan masalah. peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. Melalui bermain peran. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. tingkah laku. Efek langsung bermain peran. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. serbaguna. Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. a) Konflik antarpribadi. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. d) Masalah historis atau kontemporer. Mahasiswa bekerja sama . Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. Melalui bermain peran. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. ide. Selain itu. Untuk itu. c) Dilema individu. b) Relasi dalam kelompok. Secara bersama-sama. Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. Setelah itu. Dalam memilih masalah-masalah tersebut.

sikap. menumpahkan rasa senang. benci. Selama interaksi berlangsung. dan perilaku mahasiswa lain. Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. simpati. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya.pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. 2009: 2). “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. marah. filsafat pendidikan. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. pendekatan komunikatif. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. Deskripsi Model Bermain Peran 1. dan menarik. sopan. efisien. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. Dengan demikian. konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. 5.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. Menurut Gagne (Suprijono. tersenyum. 2011: 95). Skinner (Syah. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. ramah. pendidikan karakter dan nilai. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial. Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan. Teori-teori ini meliputi teori belajar. Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam pandangan belajar sosial. 2011: 22). dan santun. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. dan sebagainya. terutama hubungan antarindividu. . Namun. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan. Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto.

muncul mahzab atau aliran progresivisme. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif.. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu. emosional. membentuk hubungan yang penuh perhatian. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Sekait dengan ini Bandura (Syah. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati..Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa . dan merefleksikan pengalaman hidup. pendekatan. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. membantu menciptakan komunitas bermoral. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. Dengan demikian. Dalam filsafat pendidikan. bukan suatu yang instan dan kebetulan. kepedulian. dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. dan sebagainya.” (Kesuma. dkk. 2011: 5). menarik. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk. layak dan tak layak. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. mengamati perilaku model.id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. serta meliputi aspek kognitif. adil dan tak adil. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi.co. mendiskusikan. dkk. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. Dalam konsep pendidikan karakter. dan perilaku dari kehidupan moral. Pemahaman tentang teori-teori belajar. peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. Dengan kata lain. dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. dan melibatkan mahasiswa. Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952). 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik.fajar. Dalam proses pembelajaran. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya. Nilai pada dasarnya standar perilaku. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Fakry Gaffar (Kesuma.

Pendidik bertindak sebagai pengamat. baik. Ketika peragaan selesai. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. Model Pembelajaran Bermain Peran a. Dalam kedua kegiatan ini. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. Dengan demikian. (7) memerankan ulang. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. yaitu menguraikan sebuah masalah. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. Kendatipun begitu. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. (3) mempersiapkan pengamat. melaksanakan diskusi. (5) melakukan pemeranan. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik. Pendidik bertanggung jawab. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. (2) memilih pemeran. dan mendiskusikan masalah tersebut. memeragakan. sopan. memperhitungkan. Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. untuk memulai tahap-tahap permainan. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . khususnya pendapat dan perasaan mereka. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. Selanjutnya. 2. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. yakni (1) merangsang semangat kelompok. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. apa sumber pertengkaran. seperti apa solusi setiap permasalahan. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik. (4) mempersiapkan tahap-tahap peran. membantu pengaturan pemeranan. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. Semua luapan emosi. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. empati. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan. b. kemarahan. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. c. rasa simpati. paling tidak pada awal permainan.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun.

Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan.berbeda. yaitu sebagai berikut. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik. Selain itu. Adapun dampak pengiring yang diharapkan. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. dan etika berbahasa. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. Selain itu. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah. 6. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. baik lisan maupun tulisan. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. dan dialog dalam situasi tersebut. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran. Adanya proses refleksi. Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. tetapi sangat penting. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. parafrase. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. f) dapat mengekspresikan pendapat. dan rangkuman respons. Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter. Masalah dapat disampaikan secara lisan. keadaan. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. 3. Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. d. novel. aksi. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. Film. Dalam lembaran tersebut. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. kesopanan. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok .

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar. diem-diem duitnya lu ambil. Sekait dengan kesantunan berbahasa. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. kapundhi ing jro kalbune. Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. terdapat kesantunan berbahasa. Muluk : “Diem-diem. saru. dan kulakukan”. “sangat berterimakasih atas penjelasanmu. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. Dalam pepatah ini. kan pencopet Bang. a. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. 2011: 18). Latar di suatu masjid . yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. Gue bawa ke kantor polisi lu. Dalam Suluk tersebut. dan isi cerita. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. Berdasarkan analisis tersebut. kuingat dalam hati baik-baik. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. adigung. Contoh berikutnya. 2009: 2) sebagai berikut. Bukan tukang minta-minta. Selain itu. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. misalnya. adiwicara. karumatan sajroning budi. orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. tetapi disesuaikan dengan usia. juga tersirat kesantunan berbahasa. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. latar sosial budaya. Enak aja nyomot dompet orang. dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). dados panancang emut.” b. langkung nuwun pangandika tuwan. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut. Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. Dalam pepatah Cirebon. tidak enak didengar. Nyinggung perasaan gue tahu. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. yaitu adigang. 2011: 8). Artinya. Lu gak bisa minta baik-baik. Selanjutnya.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. adiguna. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut. Orang-orang susah cari kerja. buruk.

” H. Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar. Haji Sabini. Pak Bul.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. H. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak. Mahasiswa juga. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. anak pencopet. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya. rendah hati. dan H. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas. Beda. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. 2. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. dia lagi berusaha. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi. pengidentifikasian masalah. Beda nganggur dengan berusaha. seperti berpikir kritis. toleransi. Sebagai contoh. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. bekerja sama. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. dan mencari alternatif pemecahan masalah. si Muluk bukan nganggur. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan. melalui kegiatan ini. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. . Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh. lagi berusaha. Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. bagaimana karakter Muluk. H.” Pak Bul :”Heh. Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. dan ikhlas. sopan.” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya.

Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. dan ikhlas. Melalui kegiatan ini. Dalam memilih pemeran. cerpen. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Namun. Pada saat itu. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. Dengan demikian. rendah hati. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan. 4. menajamkan kemampuan analisis. jika sulit. novel. serta etika berbahasa yang baik. No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. seperti di mana pemeranan dilakukan. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Dengan demikian. Melalui kegiatan ini pula. Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. pemecahan masalah yang berbeda. pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. menghayati. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. dialog boleh saja dipersiapkan. sistematis. Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. sistematika kalimat efektif. bagaimana tempat ditata. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . dan kaidah penulisan dialog. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. Misalnya. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. 3. serta aktif mendiskusikannya. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan.

Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. Selain itu. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. 7. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan. perasaan. logis. Namun. penggunaan bahasa. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. 5. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. atau konsekuensi perilaku yang muncul. menghina. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. bekerja sama. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. bagaimana jalannya pemeranan. dan jujur. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya. dan saling merespons secara realistis. bahasa yang digunakan. Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. Keterampilan mengekspresikan pikiran. . Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. runtut. sikap-sikap.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. pemecahan masalah. 6. Tidak ada kata-kata yang mencela. menuduh. menghidupkan situasi secara spontan. emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. Kemudian. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. dalam proses pemeranan ini. Selama pemeranan berlangsung. Mahasiswa memulai permainan peran. Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. dan pelaku-pelakunya. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan.

seperti pengetahuan. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. minat. bahasa. (2) mengetahui kecakapan. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. bersahabat. mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika. pemahaman. displin. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. karakter. 8. Namun. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. seperti jujur. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. Selain itu. sopan dan santun. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. Melalui kegiatan ini juga. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. Melalui bermain peran. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. aplikasi. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. . Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran. dan sintesis. 9. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. Melalui kegiatan penilaian. Namun. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks. analisis. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. bakat. dengan model bermain peran.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya.

Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. b. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi. Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog. yaitu tes dan nontes. c. b. 1. topik pertuturan. dan konteks waktu. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. c. seperti sikap. 4 = di atas rata-rata. dan Mimik a. dilaksanakan dua teknik penilaian. tidak menyombongkan diri. d. 1 = rendah. 3 = rata-rata. dan tempat pertuturan berlangsung. 2 Penggunaan Suara a. dan tidak terbata-bata. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. 3 Sikap atau Perilaku a. motivasi. Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. 2 = cukup. tidak menghina. minat. lancar. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur. 4 Penggunaan Bahasa a. situasi. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. Penempatan tekanan dan nada sesuai. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. 5 = istimewa. b. c. Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. Gerak-gerik. . b. Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. Untuk setiap kriteria. c.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan.

Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan. 4 = di atas rata-rata. (skor 3) d. menjelaskan masalah. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. 3 = rata-rata. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. pemberian tanda baca. dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. pemberian tanda baca. Oleh karena itu. tulisan mustahil dapat dipahami. tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan. 1 = rendah. (skor 2) e. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut.Jumlah 2. 2 = cukup. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan. dan memilih pemeran. terutama dalam penggunaan kaidah bahasa. . Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. 5 = istimewa. a. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat. pemberian tanda baca. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari. Jumlah 3. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. pemberian tanda baca. (skor 4) c. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. Untuk setiap kriteria. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. mengidentifikasi masalah.

5 = istimewa. . 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan. tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. c. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. mengidentifikasi masalah. c. i. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. dan memilih pemeran. d. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. d. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. b. f. 2 = cukup. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. g. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. e. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a. h. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. Kemampuan mengidentifikasi masalah. Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. 3 = rata-rata. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. kelogisan. 1 = rendah. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan. menjelaskan masalah. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. 4 = di atas rata-rata.Untuk setiap kriteria. b.

disiplin. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji. sehingga dapat mengurangi pengangguran. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. distribusi. meningkatkan pendapatan masyarakat. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas. yaitu : a) Sebagai pengusaha. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi. dan konsumsi. Oleh sebab itu. • Hidup secara efisien. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. kesejahteraan dan sebagainya. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. wirausaha merupakan potensi pembangunan. pemeliharaan lingkungan. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. jujur. baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. tidak berfoya-foya dan tidak boros. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. dan banyak pula orang menganggur. bidang produksi. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. • Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali. dekat kepada Allah SWT. hidup tidak merugikan orang lain. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. tekun dalam menghadapi pekerjaan. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas.. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan. diteladani. distribusi. • Sebagai generator pembangunan lingkungan. meningkatkan ketahanan nasional. 1. personalia.Jumlah D. jujur. • Memelihara keserasian lingkungan. berani. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. dan pengawasan. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja.

Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro.1. terpercaya. Prinsip yang dianut adalah see and do. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. 3. Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a. Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. Bukan tipe menunda. terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. pemimpin yang adil. tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha). terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini. b. berkomunikasi.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak. 2. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. dan berkompetensi dengan baik. Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. Bagi . NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). wait and see. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti. Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. Indonesia masih tertinggal. memiliki kemampuan berusaha. pengusaha yang jujur dan bermartabat. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). bekerja sama. ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha.

desain. melainkan diciptakan. they find their voice. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. Oleh karena itu. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. 3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. memotivasi dan berkomunikasi. sharpen the saw. menyatukan gerak. merenung atau menguji hipotesis. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. Seorang wirausaha bukan hanya awas. kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif. kemasan dan struktur biaya produksi. Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. Secara spesifik. ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. melainkan juga dari cara-cara baru. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. Peluang bukan hanya dicari. Untuk usaha-usaha yang baru. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir.mereka. bahan baku. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. mereka selalu mau belajar yang baru. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). Dengan kata lain. seek first to understand-then to be understood. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. energi. . mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. risiko bukanlah untuk dihindari. atau peluang dari usaha yang sama.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. 1) Proaktif. membangun jaringan . Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. 2) Berpikir simpel. tetapi mereka bergerak ke arah itu. think win/win. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. synergize. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. memimpin. put first things first. Untuk itu.Mereka juga adaptif terhadap situasi. Sedangkan dalam usaha yang sama. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. baik dari dalam maupun luar perusahaannya. Namun . and help others find theirs. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. begin with the end in mind. 6) Fokus pada eksekusi. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. dibuka dan diperjelas. mereka selalu belajar menyederhanakannya. seperti model.

seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. baru memahami. yaitu pikiran (mind). 4) Berpikir dan bertindak win/win. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. . Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama. Dengan demikian . Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. dikalahkan. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. Urgent adalah situasi yang mendesak. Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. fleksibilitas. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. seperti merasa dirugikan. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. 7) Menajamkan ketahanan. Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. memotivasi dan membangun jaringan. Dalam hal ini. tubuh.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win. fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. hati dan jiwa. berdisiplin tinggi.3) Mendahulukan hal yang utama. seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi. fleksibilitas dan kekuatannya. Oleh karena itu. hanya mengambil peluang yang terbaik. selalu mencari peluang-peluang baru. 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya. pelaksanaan usaha. Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. Untuk itulah. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita. diperlakukan kurang/tidak adil. 6) Sinergi. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. berpikir simpel. maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. dan kekuatan. yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan.ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. yang tersebar pada empat elemen utama. 5) Cari tahu dulu untuk memahami. bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut.

tenaga kerja. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. psikologi dan sosial yang menyertainya. 2007: 18). Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. memikul resiko finansial. Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. inovasi dan caracara baru. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi. LANDASAN TEORITIK 3.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan. tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah. serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. 3. antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan.1. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. c. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro. (2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah.2. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. . d.b. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. Selain itu. skala usaha dan permodalan. (Kasmir. 3.

Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. masyarakat. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. Mengenal lingkungan bisnis dan h. bangsa dan negara c. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul.3. c. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g. investasi di berbagai bidang usaha.(memiliki salesmanship yang kuat) d. Berani mengambil risiko. Menyenangi. dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. hemat dan disiplin. cara kerja yang efektif dan efisien.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha. terencana. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. negosiasi. a. d. f. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. b. Mau dan mampu berkomunukasi. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. mencintai kegiatan usahanya. pemasok. semangat kerja tinggi. pemilik modal. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. e. Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . Mau dan mampu bekerja keras. 3. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b. karyawan. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. a. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. b. Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur.

1994) 3. dll). Kreativitas. dan tabah. Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. ia senang pada prestasi . Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. energik. Akan tetapi. dan optimis. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri.• • • • • • • • • • • • • • • • • b.4. akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. beorientasi laba. tabah. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi. individualistis. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras. jasa. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. tekad bekerja keras. Berorientasi ke Masa Depan. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. e. produk. tidak tergantung pada orang lain.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. proses. dan inisiatif. ulet. adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G. tekun Banyak inisiatif c. teknologi. tekun. mempunyai dorongan kuat. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. prestasi kemudian.

Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional.Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin. kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati .Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. membuat pertimbangan dari segala macam segi. Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara. maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. 4. serta fleksibel. apa yang hendak ia lakukan. bergaul denga orang lain.DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati).Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan. Entah itu untung ataupun rugi. enerjik tanpa malu dilihat teman. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan.Seorang wirausaha haruslah perspektif.Kecermatan.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis. menanggapi saran dan kritik. Wirausahawan berpandanang ke depan. Jika perhitungan sudah matang.Namun sekarang ini. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap. tetapi untuk selamanya. Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan. ketelitian. apa yang ingin di capai. prespektif. Pengambila resiko dan suka tantangan. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin. Kita akan mampu bekerja keras. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. Oleh sebab itu. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang. tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin. menggampangkan apalagi menyepelekannya. Keorisinilan. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar. Berorientasi ke masa depan. Kepemimpinan. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. mempunyai visi ke depan.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu.

terkoordinasi dan sinergis. Pengarah (4 orang). maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. b. Selain itu. maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). d. Sebagai motivator. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . dalam rangka membina jiwa wirausaha. mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. e. Penasehat (3 orang). terdiri dari pelindung (1 orang). Selain tatap muka. Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi. dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). Selain itu. dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. d. Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif. b. dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. serta seksi-seksi (9 orang). Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. Tugas Pokok PK adalah : a. c. Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Sekretaris dan Bendahara). Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. . Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. c.

seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 2. Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. 5.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. Dinas Koperasi dan UMKM. baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif. Pimpinan Fakultas. Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 3. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. 6. dan sebagainya. 4. 4. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. Pengusaha sukses. 2. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai. 3. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS . Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. 1. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi.

Selain sistem informasi. briefing. saran/masukan. 5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha. bagi Unswagati merupakan perwujudan . konsultasi. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi. juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). dan sebagainya. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha. rapat.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. terprogram dan terencana. Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi. Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon. Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator.Wujudnya adalah pemberian laporan. 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. dan sebagainya mengenai pelaksanaan program.

kemudian dilakukan survei oleh AMEL. berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. 3. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak. 5. 4. para pengrajin. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam. Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1. Penagihan oleh AMEL. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman. 2. . Berkas permohonan dari peminjam masuk.000.nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. 4. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam. 6. Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp. warung.000. 35. 1. Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. sampai saat buku ini disusun. Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3. 2.600.

Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha . Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development). yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan.Pengembangan kapasitas keprofesionalan .5.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha . tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan. tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu. sikap.Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa .Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha . Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal .Manajemen logistik dan finansial . dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha.Pengelolaan SDM dan pengembangan karir .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa. Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator .Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa .Status kelayakan dan perencanaan bisnis .Kepedulian dan kesetiakawanan sosial .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa . Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik. keterampilan.Manajemen produksi dan operasi .Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa . bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya.Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis .

b. yaitu : a. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa. d. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan. c. . Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan. b. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. h. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. f. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. serta berupaya untuk mengembangkannya. dengan mendorong. 6. Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. c.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. Titik-tolaknya adalah. memberikan motivasi. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a.

Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b. Tahap pelaksanaan. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor. Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. BAB IV . Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah. proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan. Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a. Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c.2. Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. Selain itu. Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan.

. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini. Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama. Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan.REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya. Pendidikan Kewarganegaraan.

http.(1997).Arifin. E Fidelis.Dahlan.Budimansyah. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. 2010. D. 2009. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Komunikasi dan Informasi . (ed). Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Waruwu. . 1988.Asmani. Retno. . D. (Ed.(2007).google. Jakarta: Erlangga. .Dahar. 2003.http. (2006). oleh Direktorat Politik.Buchari Alma . .Birch. Bandung: PT Genesindo.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Ciba Geigy Ltd.google. Retno. .Chaedar. 1988.(2007). 2011. 2010. .Yogyakarta. Alwasilah. M.Budimansyah.Mitra Wacana Media. Inc. .Buchari Alma .Arifin. 2011.” 11 September 2002.Chaer. A.Dewanti. D. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Jakarta: Rineka Cipta. Management Organizational Behavior prentice hall. . Bandung. 2003. Yogyakarta :Kanisius .Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. . Zaenal dan S. Bandung: Diponegoro. “ Kewirausahaan”. Jamal Ma’mur.Birch. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. (2002).Budimansyah. Management Organizational Behavior prentice hall. Bandung: Laboratorium PKn UPI. Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan. Zaenal.com . . 2004. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Ratna Wilis. Kesantunan Berbahasa. . Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta. . Bandung: Rosdakarya.(1997). di Bappenas.com . . 1984. Inc. . .Dewanti. Bandung. Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Widya Aksara Press.Basics of Marketing. Ciba Geigy Ltd. “ Kewirausahaan”. Jakarta: Akademika Pressindo. Bandung : Remaja Rosdakarya. Jogjakarta: Diva Press.Mitra Wacana Media. D.Basics of Marketing. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.DAFTAR PUSTAKA - . 2010. 2008. A.). Paul brian Hersey. Amran Tasai. Paul brian Hersey. Model-Model Mengajar.

Robert.Malta.. Jakarta : Lentera Hati .Hunger. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah. Irwin.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Fawaid. 2011.wikipedia.- - - - - . 2009.“Manjaemen Strategis”.Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik. Impletasi.Musa Hubeis. Analisis Wacana Pragmatik.MarkPlus & Co Education Division 2004.Naniek Ratni Jar.http. Masnur. . Kewirausahaan.Hasan Basari.go. Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar. Bruce dkk.Salemba Empat:Jakarta .com . Thomas.Masykur Wiratmo dkk. ApKj. F.Erni Sule dan Asep Mulyana. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. (1995).wikipedia. . Irwin.Mustakim.com Muhammad Thohir. 1996. http://google. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.wikipedia. Entrepreneurship.2010. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis. Yogyakarta.wikipedia. 2011.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm.MarkPlus & Co Education Division 2004. http.Nadar. http.X. Robert. Chicago .com . Pengantar Kewiraswastaan.http. Jakarta: Bumi Aksara.2010. Yogyakarta: Graha Ilmu. Jogjakarta : Arruzz Media . Melalui http://google. Najib Sulhan.Hisrich.http://www. Chicago .Fachri Ali. Peters M.Muslich. Bogor : Ghalia Indonesia .2009.com . Wheelen. (1995).Salemba Empat:Jakarta .com . Tersedia: http://pusatbahasa.Manajemen Pemasaran Analisis. Ateilla. Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi.kemdiknas. diterj. Pen. Pengantar Kewiraswastaan. Wheelen.P. DR. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Professional Salesmanship. Penerbit Andi. Entrepreneurship.David. .yahoo.Kotler. Philip.com . [31 Oktober 2011].http://www.Malta. 2011. dan Johar Permana. Penerbit Andi.P. Jogjakarta : Laksana . . Nurla.2006 Fatchul Mu’in.com . 2008.Jakarta : LP3ES. Bandung: Rosdakarya. Bogor : Ghalia Indonesia .David. . Yogyakarta.. 2011.com. Cepi Triatna. . Peters M.Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . 2011. Professional Salesmanship. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.Komunal:jakarta. 2011. Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis. 1996. Melalui http://google. D.Hunger. L.Kotler. D. Kewirausahaan. Kementrian Pendidikan Nasional.Musa Hubeis.1995.“Manjaemen Strategis”.yahoo.Lubis.Karakteristik Kewiraswastaan.-. 2001. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. Hand Out Kewirausahaan. Perencanaan. J.2009.com. Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa.. 1987. Ahmad dan Mirza. MA.Manajemen Pemasaran Analisis. . [online]. dan Pengendalian. Model-model Pengajaran. Dharma. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . Surabaya : PT JePe Press Media Utama . J. Drs. dan Pengendalian.Kesuma. Perencanaan. . 2009.Erni Sule dan Asep Mulyana. L. Bandung: Angkasa.Masykur Wiratmo dkk. Strategi Pembelajaran Bahasa.Hisrich. Bandung: Rosdakarya. Impletasi. Hamid Hasan. 1994.1995. Isna Aunillah.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603.Joice. Philip. Jakarta : Dikti . Thomas.Karakteristik Kewiraswastaan. 2001.

com. Modul Kewirausahaan.Syah. 2007. Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan. 2010. “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”.Facebook. 2009.Rhenald Kasali dkk.- - . Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. .shvoong. Tersedia: http://solehamin. . . Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Penerbit Hikmah. Jakarta: Grasindo. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa.Sanusi.Robin.Suara. 2007. 20 tahun 2003.Suara.Noer.Manajemen Pemasaran. .Suharna. Kewirausahaan Indonesia.Naniek Ratni Jar.2009.Noer.Rahayu. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. 2005. . G. Jakarta: Grassindo. 2010.Com 2011 . Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’. Melalui http://google.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. Pengajaran Pragmatik. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa. Prayitno. Hand Out Kewirausahaan.com .Robin. Yogyakarta : Sabda Media . Psikologi Belajar. . . . Muhibbin.Kewirausahaan. MSc. .http://www. 2009.wordpress.Tarigan. 2009. http:goegle. Agus. 2011.Sumarsono. 1996. Penerbit Hikmah.Raja Grafindo Presada:Jakarta . 2008. Bandung: Angkasa.art.Graha Ilmu:Yogyakarta . Widjono. Sonny. A. Hand Out Kewirausahaan. Jaakarta . Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. com.Suharna. (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan.UUD 1945 .Noer. Nurdin M. www. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka. Kewirausahaan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011. com. [online].Sumarsono.Sofjan.Noer.Roy Erickson Mamengk. Nurdin M. http://wordpress.Tarigan.UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional . Modul Kewirausahaan.Rahardi.2010.com. Prof.Salim Siagian. H. .Perseroan Terbatas.com . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.2010. Jakarta: Erlangga. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. PT. Edisi revisi.1938. . Melalui http://google. http:goegle. 2010.Wahab.1987. . http://dedesuharna’s.Undang-undang No. Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung. Cooperative Learning. Jakarta : Rajagrafindo Persada. . Bandung: angkasa .Graha Ilmu:Yogyakarta . Nurdin M.Sofjan.Dede.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan.Undang-Undang Dasar 1945. . Edisi revisi.2008.Rhenald Kasali dkk. Prof. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.Syafi’i.Raja Grafindo Presada:Jakarta . PT. tentang Sistem Pendidikan Nasional . Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir.http://www. 2009. Nurdin M. Assauri. Dr.Perseroan Terbatas.2008.com Nazili Shaleh Ahmad. A.blog.S. Jaakarta . . Jakarta : PT Grasindo . Dr. Minto. . Kunjana.1938. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Assauri.art.blog. Sonny.Trianto.Kewirausahaan. Puslatkop dan PK. Jakarta: FIP UNJ . http://dedesuharna’s. .Salim Siagian. Dr dan Belferik Manullang. http://wordpress. .Manajemen Pemasaran.Ed. 1996.Naniek Ratni Jar. H.com/tentang-kami/artikel-7/. Metodologi Pengajaran Bahasa.Suprijono. Bandung: CICED .2010. Pepatah Jawa. 2011. Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar.com .shvoong.2010. Menusa Cerbon.1987. Puslatkop dan PK. G. 2011.Dede. 2011.

Wijaya Kusuma. 03 June 2010 . J.Jakarta .Jakarta .Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”.2006.Winardi.Winataputra.Wahab. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.UII Yogyakarta.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.com . 2008.Winardi. U. (2001). Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan.dikti. (Disertasi).Kencana. . Bandung: IKIP Bandung .S.- . J.A. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global. Thursday. UII Pers Yogyakarta: 2007. .Kencana. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. 2008.www. Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful