BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. spiritual. sosial. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. dan kinestetik2. mengembangkan dan menghasilkan karya. Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. religius dan serta mampu bersikap. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . Secara khusus. B. menghormati setiap elemen bangsa. ilmu pengetahuan. handal. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. dan akan memudahkan pengembangannya. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual.

agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. . Undang-Undang Dasar 1945. bermoral Pancasila. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa. Selain itu.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. mengemban misi pendidikan. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. memiliki jiwa kepemimpinan. Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. C.bermoral Pancasila. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. dan ini akan memudahkan pengembangannya. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan mempunyai rasa percaya diri. karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. serta membangun emosional. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. mengaplikasikannya. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. dan menjadikan kampus budaya bangsa. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. Berangkat dari visi tersebut. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan.

sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. 7. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Upayakan optimalisasi penerimaan. 4. sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. 9. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. 8. 2. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. yang meliputi: 1. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. pengembangan hasil riset. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Dengan demikian. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. . 3. jangan mempersulit.dispiln. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila. dan penuh tanggungjawab. 5. 6.

Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. baik bagi Dosen dan karyawan. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Lembaga Pengkajian.etos kerja. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. 4. senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya. Disiplin . 3. disiplin. 2. profsionalisme. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor.Dalam perjalananya. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian. Pimpinan Fakultas. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. 5. Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Semoga Allah SWT. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati.

pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. 3. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati.Dalam kontek ini. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis . 3. Dalam kontek ini. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. Fungsi penyaring. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1. Melakukan pengkajian. 2. beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. 2. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. Satuan Pendidikan. mandiri. Fungsi perbaikan dan penguatan. satuan pendidian. dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila.

serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. berkemanusiaan yang adil dan beradab.dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. . berjiwa persatuan Indonesia. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum. Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya. seminar dan lokakarya.

Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal.masyarakat. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan.masyarakat. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter. kecerdasan. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. pengendalian diri. pengendalian diri. melainkan banyak. . kepribadian. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Berdasarkan peristilahan. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. akhlak mulia. Secara normatif. melainkan menyatukan keduanya. Definisi itu tidak satu. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter. Berpedoman pada uraian di atas. kecerdasan. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’. menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. kepribadian. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal tersebut. akhlak mulia. Dalam tulisan ini. bangsa dan negara. Pengertian Pendidikan Karakter. bangsa dan negara. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.

Manusua yang cakap. 4. Manusia yang mampu pengendalian diri. 12. Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. 10. Manusia yang memiliki akhlak mulia. 11. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 7.mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 9. berakhlak mulia. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab. bangsa dan negara. Memang harus diakui. dan 14. masyarakat. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1.cakap. 8. . 2. Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at. Manusia yang kreatif 13. Manusia yang memiliki kepribadian. Dengan demikian. Berangkat dari pengertian tersebut. berilmu. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan. maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003. Manusiua yang memiliki kecerdasan. (Penerbit Indah Surabaya. Manusia yang mandiri. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. sehat. karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan.kreatif. 6. Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya. 3.20 Tahun2003). Manusia yang sehat.

hati.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. diri sendiri. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil. temperamen dan watak. motivasi dan keterampilan. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan. formal. harus berangkat dari semangat yang sama. personalitas. perilaku. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan.”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. kesadaran.hlm 19 4 ibid . Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4.berperilaku. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur. yang mengandung komponen pengetahuan. akan membawa konsekunsi yang berbeda. bersifat dan berwatak3. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan. jiwa kepribadian. Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. kejam. yaitu cinta tanah air dan bangsa. perilaku. Laksana Yogayakarta 2011. sifat . Berangkat dari pembahasan ini. budi pekerti. Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal. tabiat. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. dan nonformal. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap. karena memberikan makna yang lain. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam bahasa yang sederhana. sesama manusia. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. individu. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. 3 Nurla Isna. B. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia.

Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. cakap. haluan negara. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kreatif dan bekerja keras 6. Percaya diri. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. bergotong royong. diantaranya adalah : 1. bertoleran. mandiri. kreatif. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. Untuk itu diperlukan . berakhlak mulia. berilmu. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter. dinamis. sehat.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. patriotik. berbudaya. berakhlak mulia. Hormat dan santun Dermawan. Kepemimpinan dan keadilan 7. konstitusi. regional. kompetitif. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). Tanggung jawab. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. kedisiplinan dan kemandirian 3. tidak hanya secara wawasan keilmuan. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. bermoral. Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan.

dan penilaiannya. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). kualitas seorang pribadi diukur. C. serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Bagi Foerster. Lebih dari itu. berkualitas. Ovide Decroly. dan mandiri. Dari kematangan karakter inilah. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966). bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan. 2011 hlm 12 Ibid . pelaksanaan. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. UPI Bandung. 5 6 Sutangsa. Olah Pikir (intellectual development).

mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. perilaku kebudayaan. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. perbedaan pemikiran. D. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. termasuk Indonesia di New Delhi 1996. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. mempersiapkan pribadi. dan penyebaran ilmu pengetahuan. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. dan 3. 2. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1. 2. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. selain meneruskan nilai-nilai. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. Senada dengan hal di atas.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. dan 3. Dengan demikian. pengembangan. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. mengubah cara berfikir. pendapat. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab.

manusiawi.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. . 7. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. yang mengakar pada 6. sejahtera. dan tidak diskriminatif. keragaman pendapat dan pandangan. serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. sebagai berikut : 1. demokratis. berkeadaban. Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas. 2. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. maju. UU No. 3. mandiri. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. kreatif. menghargai perbedaan. bersatu. kesetaraan. mandiri. Menurut Malik Fajar (1999). adil dan bebas. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). cakap. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. membangun warga negara berkeadaban. masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. berakhlak mulia.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. berilmu. 20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. VII Tahun 2001. adil. 5. Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna. sehat. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. Demokratik. 4. memiliki keahlian.

Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. b. berkeadaban dan inklusif. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. menghormati kemerdekaan beragama. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. saling menghargai.2. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Berdasarkan itu semua. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. anggun secara moral. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara.Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati. berbangsa dan bernegara secara demokratis. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa.

Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. tidak semenamena terhadap orang lain. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. kepentingan. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. c. kesatuan. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. saling mencintai. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. oleh rakyat. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. e. d. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. kelompok. berani membela kebenaran dan keadilan. dan kewajiban. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. hak. tenggang rasa.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan.

Sebagai nilai dasar. suka menolong orang lain.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat. kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. isinya belum dapat dioperasionalkan. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. orang bersorak sorai. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit. dangkal dan tertutup. menghargai karya orang lain. mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik. termasuk law inforcement yang lemah. Artinya. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. tidak bergaya hidup mewah. Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. Karena sifatnya abstrak dan normatif. berbangsa dan bernegara. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. nilai dan kaidah normatif. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. hormat terhadap hakhak orang lain. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban. suka bekerja keras. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya. persepsi yang sempit. tidak boros. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. mental. sikap adil. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. Cerminan watak. dan etika kebangsaan. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. mental. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. .

Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain. Wawasan. yaitu sebagai berikut 7 : a. Di sini. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat. ekonomi dan politik.”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. c. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak.Grahalia Jakarta 2011 . Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial. Open mindedness. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat. Terbuka. Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik. tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. 7 Syahrial Syarbaini. seperti sosio-politik. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan.hlm 35. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. budaya dan hankam. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek. dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. d. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya. Curiosity. b. ekonomi.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi.

bernegara. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. bernegara. teknologi dan seni. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi. berbangsa dan bernegara. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara. dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya. Jujur. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. bernegara. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. Independent. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. d. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. dialogis. E. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. profesi kedokteran. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. b. c. e. Dengan dasar itu semua. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. anggun secara moral. profesi ekonomi. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif. Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat. f. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . seperti etika profesi hukum. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten.e. pemerintah ataupun masyarakat. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. dan persuasif.

Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan. dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah.Jum’at 15 Januari 2010 . sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif. Namun. Akibat dari krisis politik yang terjadi. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. krisis sosial budaya.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. Bahkan menjadi semakin terpuruk. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai. dalam Kompas. Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. dan akhirnya menjalar ke krisis politik. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Diawali dari krisis moneter. pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. berlanjut ke krisis ekonomi.

Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur. Di sisi lain. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas. di Bappenas.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru. oleh Direktorat Politik.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur. Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Padahal. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial. Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. Komunikasi dan Informasi . Pada era saat ini. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). seperti agama. Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. Bahkan. 10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal.” 11 September 2002. suku dan bahasa. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal. Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan.

Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”. adat istiadat. bahasa. tetapi juga keindahan. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. Sebagian besar masyarakat. masih tidak memahami prinsip. beraneka ragam tetapi satu. NKRI. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas. Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia. dalam konteks keindonesiaan. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. Oleh karena itu. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. pemahaman.Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. olah hati. Pluralisme. Dalam konteks ini. dan Bhineka Tunggal Ika)13. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. selain masalah korupsi dan kemiskinan. Kita pun. karsa. Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. olah rasa dan karsa. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir. untuk menjamin keberlangsungannya. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. agama. terutama kelompok-kelompok dominan. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana. konstitusi UUD Negara RI 1945. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Tanpa mengakui fakta itu. bahkan ideologi.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. rasa.

adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi. perdamaian abadi dan keadilan sosial. adil dan makmur. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu. Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit. mempunyai peran penting. Hasan Basari. 1987. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. Karena dengan keterbukaan. Artinya. berdaulat. berdaulat. secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945. berdemokrasi. Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik.-. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. Untuk itu. diterj. untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. kita. berbangsa dan bernegara. melalui pemikiran genius founding fathers kita. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. bangsa Indonesia. bersatu. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16.masalah HAM. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. saling belajar. Oleh karena itu. Hanya dengan kesadaran itu.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi. masalah persatuan dan kesatuan. Konsensus dasar.Jakarta : LP3ES. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. bersatu. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals). bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama.

selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. Pendidikan Berkarakter. Yogyakarta. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia.2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta. prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. yaitu Pancasila. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda. 1. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 . artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju. Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan. UUD 1945. karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut.murid dan para pengikutnya. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional.(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. hlm 79. Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. F. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. Jika hal ini kurang diantisipasi. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis.

Ketika Islam datang di Nusantara. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. welas asih dan bijak. maupun bagi bangsa. keetisan. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. kepribadian. hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. Hanya saja pada era penjajahan ini. membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. Dengan pendidikan modern. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. Ketika hal ini terjadi. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik.diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. kesadaran. kecerdasan. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah . terutama dari lingkungan budayanya. bagi sesama warga negara. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada.

etika). yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. Dalam pandangan Notonagoro20. selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila. Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan. pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). moral. merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21. karakter).pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 20 21 Mubyarto. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya. Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. termasuk pendidikan Nonformal dan Informal. bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pikiran (intellect) dan tubuh anak.

mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban. Ing Madyo Mangun Karso. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. cakap. Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Dengan demikian. Selain itu. Mengenai sarana-prasarana. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23.Perihal pengembangannya sendiri.com 23 ibid 24 Ibid . Thursday. Sebab. kreatif. 03 June 2010 . sehat. budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu. berakhlak mulia. sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. berilmu. pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. mandiri. di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Untuk itu. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture .bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.www.dikti. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character. 22 Yoggi Herdani . kebebasan akademis. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. Tut Wuri Handayani. Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. Wamendiknas pun berpesan. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Mahatma Gandhi menyatakan. bahasa. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). adat istiadat dan agama.

Oleh sebab itu. seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud.hlm 20 .”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas.2010 Fachri Ali. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. tawuran pelajar dan mahasiswa. seperti melakukan korupsi. tidak hanya secara wawasan keilmuan. beragama. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar. malapraktik.UII Yogyakarta. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat.2006. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila. pelacuran intelektual dan sebagainya25.intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. 2. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26. kejahatan perbankan.Komunal:jakarta.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. Pendidikan Agama. Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional. terorisme. Maka dari itu. Oleh karena itu.2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma. Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan.

bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. hlm 291 . bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. Mengapa demikian?. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia. “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang sastrawan besar di Indonesia. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas. “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia. selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. baik akses. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya. Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama.1982) Pramoedya Ananta Toer. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. proses maupun hasilnya. Bebas dari sekolah. bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik. (Jakarta: Lentera Dipantara. Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati. Jejak Langkah. Ivan Illich misalnya. termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya.2006).pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya. apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato.

Moh.A. Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu . sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. G. Dengan caranya masing – masing. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh. kedisiplinan.tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’. Hatta. Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya. Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras. seperti R. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya. bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang. melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. Soekarno. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. Natsir dan lain-lain. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas. Ki Hadjar Dewantara. banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa. Tan Malaka.kartini. Namun. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar.

kebersamaan. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat. . dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. kemerdekaan. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati.tertib dan sejahtera. Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. • Sila Keempat: kebebasan. tercermin dalam sila-silanya. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. penyangga. manusia sebagai subjek pendukung. berbangsa maupun bernegara. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman.

Selain itu juga. bernegara. efisien. Bernegara. Ghalia Indonesia. saling memahami. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. menghargai perbedaan. adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik. rasa tanggung jawab. dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir. saling peduli. yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu. 30 Syahrial Syarbaini. Oleh karena itu. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. dan bernegara. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. saling menghargai. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. saling mencintai. hlm 14 :2009 . berbangsa. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang. dan efektif. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. bersikap. Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. dan Bermasyarakat. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. dan negara. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Ketetapan MPR No. b. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. tanggap akan aspirasi rakyat. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. jujur dalam persaingan. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. bangsa.

Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. keputusan. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca. ketenangan. kebijaksanaan pemerintah. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi. Perundang-undangan. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila. membahas. baik oleh pribadi. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan.c. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. d. ketetapan. kritis. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. . institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. dan keadilan. logis dan objektif. berkeadilan. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. belajar. oligopoli. persaingan sehat. program-program pembangunan. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. meneliti. menulis. e.

bermoral. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu. berakhlak mulia. Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa.percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. penegak hukum tidak profesional. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. kompetitif. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. Pancasila bersifat universal dan akan . bergotong royong. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. berkembang dinamis. maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. berjiwa patriotik. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. berbudi luhur. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita. tapi orang bangga menjadi koruptor. bahkan terperangkap skenario elite politik. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. toleran. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950.

kesatuan dan (saling) menghormati.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika).mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. Budha. cinta. yaitu Islam. sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final. apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila. Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. Kristen (Protestan). Hindu. Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh. BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN. Keempat nilai humanis tersebut. dan Konghucu. Katolik. RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI . sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian. Oleh karena itu.

.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). Sriadi. UNSWAGATI telah meluluskan 2. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta. S. SH. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. SH. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. Ili Rohaeli.221 sarjana dari 11 (sebelas) program . Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran.A. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon. yaitu Magister Ilmu Administrasi. H. dan Fakultas Teknik.M. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jusup Mulia. (1965 – 1969) Letkol. Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008. 4. Djakaria Machmud. Kav. MBA (1998 – 2002) H. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. Bandung. Fakultas Pertanian. yaitu: 1. dan 11. MM ( 2002 – 2005) H. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti. 7. 6. dan Magister Ilmu Pertanian. Tentu. (1961 – 1965) Letkol. 5. 3. 2. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. Amir Husodo. SH.E. Soedjono. Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. Drs. H.. Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. Hal itu dirasakan perlu. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Pendidikan Bahasa Inggris. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon. Pendidikan Matematika. yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum. dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN . Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis.studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen.279 orang. dan Akuntansi. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. dan Pendidikan Ekonomi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil.

inovatif dan berorientasi regional. 2. Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. nasional dan global. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. 3. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder.B. dan menjadi pebelajar yang tangguh. 4. 5. Tujuan Unswagati yaitu : 1. Mengembangkan ilmu pengetahuan. Misi. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. . Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Visi. teknologi. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 2. 3. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. 4. Dalam mengemban misi tersebut. bermoral Pancasila. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. mengaplikasikannya. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. dan mempunyai rasa percaya diri.

seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. harus berangkat dari visi Unswagati. profsionalisme. bermoral Pancasila. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. disiplin. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. C. pengembangan hasil riset. Dalam perjalananya. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Dengan demikian.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. 2. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja. Pimpinan Fakultas. .

ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi. Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. . sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. 1.etos kerja.3. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Disiplin . 4. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. 5. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang.

Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5.orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang. Dia berfikir.Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena. tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta. Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. teman temannya menawarkan Khamer . Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. utang-piutang. tidak ada pengakuan. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. sungguh. laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. berzina dan berbohong. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab. ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. Dalam perjalanan pulang. aku tidak sanggup meninggalkanya. Berbicara tentang arti kejujuran. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ). Islam terbuka pada siapa saja . Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. baik itu akidah. Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. Kemudian Dia Matur kepada Rasul. bahwa …. dan kalau jujur. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. tidak apa apa lah. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. jangan khawatir. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. dan sebagainya. Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina.kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. Dalam hal ini kita ambil contoh . Keesokan harinya. Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan. akhlak ataupun muamalah. Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. maka . ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. mencuri. sumpah. dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. Artinya apa. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. seperti perkara jual-beli. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu.

memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya . Ketiga. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. Kelima. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas. Keenam. anti korup dan sebagainya. al juanid berpendapat. shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. Kedua. hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. adu domba . as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. Kedua. tawakkal. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW. ridho. shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. cinta dan sebagainya.pintu maksiat tertutup bagiku . Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. Pertama. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Keempat.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran.

” (QS. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . 2. tetapi kalau tidak. Bersabda. Allah berfirman. “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). kecuali kejujurannya (kebenarannya). secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. padahal sebaliknya. Perjanjian tersebut wajib dipenuhi. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. maka dikatakan benar/jujur. Yang jelas. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari.akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. 5. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam. Jadi. Misalnya: 1. mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. juga ada pada perbuatan. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. dusta. 4. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. 3. sedangkan lawannya. Kejujuran itu ada pada ucapan. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Maka. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. merupakan sifat orang yang munafik. maka dikatakan dusta. Imam Ibnul Qayyim berkata. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan.” (QS. al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111). Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah.

Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. 3. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. untuk senang-senang. Maka dari sinilah. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. Mempunyai motivasi yang kuat. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5. bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena. akan terhindar dari hal hal yang dibenci.' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof. adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7. sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya. 10. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. atau untuk mengisi waktu luang. mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . keempat.Paling tidak. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. . Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. 2. pertama. 1. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. At-Taubah : 199). Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. Otonom dalam penilaian karya 8.

Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. Sebuah cerita lain. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. kami benar-benar kagum.setiap bulannya. Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah. . kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja.Ada sebuah cerita. bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai. suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar.Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan. karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'. Ucapan itupun masih juga terlontar. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010). Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan.. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah. berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut.

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. baik itu pendidikan. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah. Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. Dengan demikian. Artinya. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar. Secara normatif. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1.Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi. karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. penelitian.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. Penulis berkeyakinan. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). Keharusan untuk bekerja sama. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik. Dalam manejeman modern.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. . perlu di budayakan. Pemahaman yang demikian. Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika. D. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. mulai dari rektor sampai pemelihara halaman.

yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. 3. Teoritik dan Praktik dalam 2. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati . proses. 4. perlu usaha khusus. Namun. Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. hasil dan sumber pendukung. 2. Jaminan kebermutuan dari aspek proses. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. Rencana jangka panjang harus realistik. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. nasionalis dan religius. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. serta bagaimana prosedur mencapainya. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. paling tidak dapat memasuki pasar Asean. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat.

. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. di dalamnya terdapat kesamaan. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). Di balik keunikan manusia. Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika). raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Manusia merupakan mahluk yang unik. karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Menurut Kaelan (Djunaedi. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. dengan makud untuk saling mengenal. bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. Justru menjadi aneh. Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan.Konsep manusia. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. kesuusilaan. Raga bersifat kehendak. rasa dan kehendak. Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. hlm 33). sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Membutuhkan manusia lain. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan . ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif). C sebagai manusia yang lain. sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru. Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir). apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain. merupakan kebutuhan setiap manusia. Tuhan adalah tempat bergantung. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal.Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya.

kecerdasan. jika tidak katakan tidak. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta.tidak apa-apa. Sebaliknya. jika ya katakana ya. meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. bohong dan munafik? Sering terjadi. masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. anak pintar. baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan. kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. . Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. tetapi ia dengan cepat menjawab. Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/. mungkir. hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. Manusia dikodratkan akal yang sehat. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya. Selain itu juga. maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama.pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya. bangsa dan negara. Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a. Contoh kongkrit misalnya. yah! Hemat penulis. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. kepribadian.cara mengalahkan manusuia lain. jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. Kejujuran prosedural ini. akhlak mulia. orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. Selain itu. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan). sudah!!. pengendalian diri. belum?”. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi. nggak sakit ko! Jangan nangis.

. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas.Kalimat: ’’Mohon maaf. tidak akan membawa kemaslakhatan. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut.Karyawan maupun Mahasiswa). lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral.di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran.Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan. yang di ucapkan oleh Dosen.di dalamnya mengajarkan kejujuran. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law. Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini. akan tetapi. Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik. sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. Kejujuran subtantif ini . pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga. Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen. Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi. Bentuk kejujuran mahasiswa ini. tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif. itu bukan keahlian saya’’. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon.

yaitu seorang mujahid. Terkadang benar.\ 3. at-Taubah: 75-76) 4. Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan. aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. Jujur dalam tekad bekerja. dan berpaling. ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami.’” .’ Maka. 2. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta. hal Ini kembali kepada keikhlasan. maka akan merusakkan kejujuran niat. seorang qari’. tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain.” (QS.” (QS. Jujur dalam perbuatan. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1. mereka kikir dengan karunia itu. Allah berfirman. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. Jujur dalam ucapan dan kehendak. Contohnya seperti ucapan seseorang. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . maka Allah akan berfirman. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.” Maka yang seperti ini adalah tekad. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah. bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. Allah menilai ketiganya telah berdusta. dan seorang dermawan. maka di antara mereka ada yang gugur. hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi. Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya. tak hanya ahli di bidangnya. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah). Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5. mereka itulah orang-orang yang benar. Soempomo Djojowadono (1987). Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan.Knowledge. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1.Skill. Wirjanto (1989). 6. dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. Prof. Membentuk asosiasi perwakilannya. 4. b.” (QS. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2. sebagaimana firman Allah..tapi ia juga menguasai.5. Dan yang terakhir Attitude. Knowledge. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. al-Hujurat: 15). sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan. dalam rasa cinta dan tawakkal. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya.danAttitude. dalam seminar Akademika .

Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. 5. Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. bervariasi dan efektif. 4. serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya.sebagai yang melayani. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya. tidak boleh ada hubungan hirarki. transparan tentang waktu dan biaya . 2. Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal. ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’. mengartikan istilah professional sebagai berikut .Untuk pengertian yang pertama. Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab.Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya). 3. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien.UNDIP 28-29 Nopember 1989. 7. . Harus mengabdi kepada kepentingan umum. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’. 6. 1. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran.Sungguhpun demikian. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan). Harus ada kebebasan. Harus ada hubungan Klien. yang mengutip Roscoe Pond. selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan). profesional akan selalu berhadapan dengan amatir.

Sikap jujur dan obyektif. Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking. h. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin .ketetapan dan memaksimalkan hasil. Menguasai standar pendidikan minimal.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan. kerja cerdas dan kerja tuntas. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis. 2. Cukup kreatif. Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan). c.Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat. Pengalaman yang cukup bervariasi. e.Disiplin akan tercermin pada kesiapan. Disipin harus melampaui waktu.etos kerja.karena waktu itu sangat terbatas. mengelolah dan mengendalikan dengan baik. 3. 4. Mampu menata. berperilaku jujur. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi. Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. saling mengisi. Disiplin adalah kerja keras.Melakukan pekerjaan . ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. cukup cakap. Trampil.Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a. f. saling mendukung. Penguasaan ilmu dalam praktik. b. obyektif. d.etos kerja. g. c. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Makna Disiplin . Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik.menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya.

Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin. dan keyakinan yang mendasari. mengarahkan. pikiran. Anda akan menjadi semakin kuat. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan. sabar. menggerakkan. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Sebaliknya. atau sosio-kultural. tekno-industrial. Itu tidak akan menolong. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. ulet. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. inovatif. Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. tekun. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. menghargai waktu. orang lain akan tampak lebih kuat. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. menghargai pengetahuan. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. Seiring dengan perkembangan zaman. dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. semangat.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. teliti. akuntabel. . Saat Anda semakin kuat. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat. sikap. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban. berintegritas. responsibel. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. baik yang bersifat ekono-komersial. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah. ruh. dan manajemen kerja mereka. kreatif. Dengan latihan. tekno-industrial. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan. bersemangat. hemat. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja.merupakan pemborosan waktu. orang lain akan tampak lebih lemah. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. sistem. perasaan. Semakin Anda disiplin. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri.

sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1. 31 facebook. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya. Sebaliknya.sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. it requires you to take charge of your career. Sikap seseorang terhadap orang lain. akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Teori-teori manajemen modern. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. kelihatanya memihak kepada yang kedua. Dalam manejeman modern. No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Keharusan untuk bekerja sama. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan. .akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme.etos kerja. A team based environment demands that you make responsible decisions. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama).arnold status. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3.

SALING PERCAYA. SALING MENGHORMATI.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi. Jika kondisi ini telah terpenuhi. jika susah akan sama .Pepatah yang mengatakan. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. harus mau membuka diri / transparan. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. "If you chase two rabbits. "If anything goes bad. VISI DAN MISI. If anything goes semi . 3. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai. setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. "Great achievement is usually born of great sacrifice. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. we did it. staying together is progress. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar . 2. Setiap permasalahan yang timbul. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1. then you did it. Selain beban akan semakin ringan. hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. I did it. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.good. manfaatnya akan sirna. POSITIVE THINKING. Yang namanya rahasia. yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . KESATUAN. ringan sama . selain terbuka peluang menuju kegagalan. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. . If anything goes real good. B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan. both will escape" Chinese Proverb.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya.sama dipikul. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4.mata hanya oleh penampilan luar. and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. Jika senang akan sama . Ibarat sapu lidi. E atau F. we make a life by what we give" Winston Churchill. "Coming together is a beginning. sedini mungkin disirnakan.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. "We make a living by what we get. and working together is success" Henry Ford 5.

Identitas Unswagati. I wouldn't jump with them. KERJASAMA. "There are three ways to get something done: do it yourself. "A successful team beats with one heart" Unknown 7. Kegagalan Indonesia.niat terselubung. or forbid your children to do it" Monta Crane e. TANTANGAN DAN RINTANGAN. Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. Menjaga nama baik Unswagati. Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian."A positive attitude brings strength. apapun tantangan dan rintangan yang timbul. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . 8. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat .sama. "Individuals play the game. Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah. Kembali.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia. "If all my friends were to jump off a bridge.Keberhasilan Unswagati di masa datang. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. employ someone. energy and initiative" Remez Sasson 6. . but teams beat the odds" SEAL Team saying. Keberhasilan Amerika. Friends listen to what you say. Everyone hears what you say. RELA BERKORBAN. Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. I'd be at the bottom to catch them. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan.

lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian. d. melakukan apel dan lain sebagainya. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. c. Kode etik dosen. penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). Untuk itu. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. karakter. kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Dalam buku pedoman akademik. a.3. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. Konsep dan Operasional . Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. Kultur. dicantumkan tentang kode etik dosen. sebagaimana berikut ini : a. Untuk membentuk karakter agamis. sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. suasana dan kualitas. harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. norma. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. b. dosen wali dan kode etik mahasiswa. Meskipun tidak secara struktur. 4. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat.

Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN . Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran. Agama PPKN B. Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen.

Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan. membimbing. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik.INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya. Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. . Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan. b. Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema. Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut.

Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut. maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan.Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. . sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan. peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler.

Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler. etos kerja dan kemanfaatan sosial. bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. social. pilihan. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. Peningkatan pengelolaan program. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan sumber daya manusia. 4. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. 5. 5. potensi. Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Induk . Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. menyenangkan. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 3. yaitu : 1. 2. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. keterlibatan aktif.

Pengembangan kerja sama dan kemitraan. Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan.6.Tingkat pendidikan .Jabatan akademik . Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci . 7.Sertifikasi .

Pelatihan dosen .Indeks Prestasi Semester .Evaluasi kinerja .2005 tentang Guru dan Dosen) .Hasil kerja .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .Jaminan sosial .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .Umpan balik .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Entry Grade .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Penguasaan bahasa Inggris .Hasil seleksi/testing .Gaji .IPK lulusan .Rasio Dosen : MahaSiswa .Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .Tunjangan .Insentif .

Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja .Frekuensi peninjauan .Lama studi . baik negeri masyarakat maupun swasta .Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .Nilai penelitian kat dengan berbagai insti.Nilai pengabdian tusi.Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Penguasaan bahasa Inggris .kualitas lulusan .Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum ..Penyerapan oleh pasar kerja .Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program .Kepuasan lulusan .

Akreditasi Institusi .Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .Evalusi internal .Akreditasi Jurnal Ilmiah .Pembukaan fakultas.Audit akademik . dan konsentrasi baru .Akreditasi Program Studi . program studi.Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum .EPSBED .Citra Unswagati .

Kelengkapan saranaprasarana .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni ..Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .Web based learning .Layanan administrasi .Layanan perpustakaan .Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Kepuasan orang tua .Layanan informasi/ internet .Pemeliharaan saranaprasarana .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .

Pembangunan Kampus III .Pendapatan .Pembangunan aula yang representatif .Bantuan sosial ..Pembangunan Rusunawa .Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi .Kerjasama penelitian institusi .Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Defisit anggaran .Diversivikasi sumber penerimaan .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Pertumbuhan pendapatan .Deviasi anggaran .Pelatihan .

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

yang setia kepada janji. . cermat. sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. sehinggga harus diadakan pilihan. Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum. Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. bijaksana. Proses ta'lim/amaliyah (4). sopan dan sebagaimana. apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. Untuk majlis ta'lim. yang dievaluasi dengan cara berbeda. Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. Tujuan/gayah (2).Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. 23). Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. terutama dalam bidang afektif. afektif dan psikomotor. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. bertanggung jawab. Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya. Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. bersih. Tujuan meliputi aspek kognitif. 1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. taqwa kepada Allah swt. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur. kemudian dikembangkan oleh penulis. 3. Bahan ta'lim/madah (3).

dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. sehinggga jelas. Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. Jadi. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. bagaimana cara melakukkannya. dan alat penilaian. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. proses belajar mengajar. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan . Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim.

Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. visi. memimpin. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. Ketua memang penting. Organizing. misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib. niat memang berasal dari hati. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun. target realistis. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. tetapi bukan orangnya. jadwal kegiatan. 4) Controling . struktur dan kelembagaan. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. dan anggaran. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. mengarahkan. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. tapi ketualah yang menjadi figur. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. 5. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. maka POAC (Planning. Bekerjalah kamu. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat.

Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah. (Ali bin Abi Thalib r. 14). Bukan karena tidak ingin dilaksanakan.) . c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. membuat target.a. Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan. tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana. Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007. bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

pelaksanaan. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. seperti program. modal kerja . agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan. R. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. Inggris menyatakan bahwa. Becher. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex.1997. dan output/hasil. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. cara pendekatan. masukan/input.. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. Penilaian proses bertujuan untuk. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi. proses. Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian. dan pengembangan program.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. penyempurnaan. tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. mencari. yakni menentukan. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. prosedur. a). dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37. adanya deskripsi program sebagai objek penilaian. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi.A. hasil program dan laiblain. Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. Halaman 127 . baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. pembinaan dan pengembangan program. Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. 1989. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Menetapkan suatu nilai atau judgment. (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. B) adanya suatu kriteria dan c). Juga terjadi sebaliknya. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya.

les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8.tidak berkata kasar. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. . Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90. c) Pada mentor: ramah. suka berjabat tangan dsb. tidak cuek/menyapa.maupun pada saat program berjalan. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek. Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku. 4. hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. dsb. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu. Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. 3. menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. kondisional sifatnya.Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program. Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+.B+. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin.: 1. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee. Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5. dst. mendahulukan kepentingan yang lain dst.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya.A.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah.

kapan saja dan dimana saja. 3). pengokohkan aqidah. kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. Muamalah. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. atau sekejam-kejamnya orang. Sejahat-jahat manusia. 2). Dialah yang maha pemurah. Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. munakahat. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1). Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak.Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati. akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. membangun kecintaan dalam beribadah. mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam. Syariah. bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. Aqidah. f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. Ibadah. 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. 4). 3). dan sepercikannya diberikan kepada manusia. dan membangun karakter building. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif. berupa kepeduliaan. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. 6). Munakahat. sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi. 3). saling menguntungkan. baik yang diminta maupun yang tidak diminta. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. .dan 10). ceramah. Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. 2. Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1).7. Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. akan tetapi lebih ditekankan pada. Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat.Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a. 2). 5). saling membantu. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon.7) tarikh Islam.

masyarakat. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. kreatif. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. artinya hamba yanga maha pemberi. Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. dan lama-lama akan hilang rianya. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. mandiri. berilmu.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. Dalam serba kekuarangan . Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . berakhlak mulia. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa. ekonomi. ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. dan lain-lain. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1. Sosok rektor sang birikrat. akhlak mulia. studi kajian Al Qur’an. sehat. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. menyaksikan kelaparan misalnya. tetapi juga pengusaha yang religius. pasar murah. Bagi mahasiswa program santunan. kepribadian. hukum.Msi. cakap. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. sosial. B. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. pengendalian diri. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus. kecerdasan. tetapi paling tidak dia sudah memulai. Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain. dan metafisika. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua.SE. teknologi. H. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. 1998 : 11) . namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. Zakaria Mahmud SH. bangsa dan negara.

memiliki sikap kritik dan inovatif. beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. tersiar. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. menghayati dan mengamalkannya. 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. antropologi. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik. 1985). yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. hukum. Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat . Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. Kedua. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. sosiologi. sebagai Pendidikan Politik. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. elektronik.masyarakat yang Pancasilais. Di samping itu. Sebagai pendidikan politik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati.Wahab. yaitu: ilmu politik. terekam. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik. Ketiga. Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban. Sebagai Pendidikan Politik. psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep.

(2) Logical-Mathematical Intellegence. kewarganegaraan yang demokratis. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. dan moral Pancasila. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. dan bela negara. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences. partisipatif. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. dan (7) Intrapersonal Intellegence. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. afektif. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. Pertama. Ketiga. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy). berbangsa. Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini. konsep. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). nilai. 2. (4) Musical Intellegence. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia. kewarganegaraan yang demokratis. dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. dan moral Pancasila.com/peneltian tindakan kelas).sebagai pengalaman langsung (hand of experience). konsep.wordpress. dan bertanggung jawab. (3) Spatial Intellegence. (6) Interpersonal Intellegence.(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. nilai. cerdas. yakni (1) Linguistic Intellegence. 2007 : 19). Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. Dampaknya dalam proses pembelajaran . Kedua. PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. Melalui PKn.

Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. berdebat. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. 1975/1984 dan 1994). Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. the confilcts that may occur among two or more values. dan sebagainya. and the reasons for particular values choices. Pupils try to understand the consequences of particular values. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara. . bernalar dan juga membandingkan. Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif. bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton. dan sebagainya. mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial. Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. berdiskusi. 2. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini. Oleh karena itu. tidak disertai data kuantitatif. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. 4. dan bahkan mencari informasi dari internet. 2. televisi. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. 3. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok.1. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. menyaksikan siaran radio. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral . Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi.

penghayatan. yakni ”. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. f. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. e. penghayatan. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. transformator nilai. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum. Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman. Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi. terkait aspek sosiokultural. e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. pengembang nilai. penggali nilai. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu. g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial. kreatif. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. d. fasilitatifdialogis. a. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. c. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut.. penopang kajian. mandiri. penguat. berakhlak mulia. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas. sehat. teladan. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman. berilmu.. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. dan . cakap. b. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut.

dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok. wawancara. 5. Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat. 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. . 3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut.

HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW . Setelah selesai proses pembelajaran ini.Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5. 6. DEMOKRASI INDONESIA .Karakteristik identitas nasional . Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut. IDENTITAS NASIONAL .Pancasila sebagai sistem filsafat . Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Warga Negara Indonesia .5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini. .Proses berbangsa dan bernegara 3. kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah.Konsep dan prinsip demokrasi . TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA .Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA .Sistem Konstitusi .Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4.Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2. Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut.Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6. sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan. POLITIK DAN STRATEGI . adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1.Hak Azasi Manusia (HAM) .

Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3. Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4.Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok.Wilayah sebagai ruang hidup .Konsep Asta Gatra . Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1. Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2. Pemajuan.7. Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan. o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum . GEOPOLITIK INDONESIA . 8.Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat.

Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai. observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan. Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa. Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan.Law 6. 8. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. Tahap melaksanakan Investigasi ini juga. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok. 7.

mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan. seperti baik sekali. Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. dan kurang sekali. baik. temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas. observasi. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. cukup. Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. tes perbuatan. Pada pertemuan ini secara berkelompok. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. . kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. studi pustaka. Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah. 7.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. kurang.Langkah-langkah dalam pembelajaran ini.wawancara.

SKOR CATATAN 3. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah. 3 = rata-rata. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh. 2 = cukup. 4 = di atas rata-rata. 4. 5.Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah. C. 5 = istimewa NO KRITERIA 1.

Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut. sistematis. dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. Dampaknya. jelas. ditegaskan Widjono (2007: 3). Mahasiswa. Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. Sebaliknya. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. seperti artikel. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. laporan. sopan. Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. Karakter. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. baik dalam situasi formal maupun nonformal. sistematis. perasaan. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. karakter. emosi. stimulus. santun. Hal ini berarti. dan logis. teratur. perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. yaitu bahasa yang sopan. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif ini. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. halus. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun. watak. dan kepribadian. melalui penggunaan bahasa . Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. proposal. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. gagasan. dan tidak menyinggung. diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. melalui mata kuliah ini. yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. baik lisan maupun tulisan. tindakan.1. menghargai orang lain. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. dan pengalaman baru yang diperolehnya.

dan pola tindak peserta didik. 2009: 5). Dalam kaitannya dengan pembelajaran. menerapkan. membaca. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. memaki. Pembelajaran yang efektif. seperti memahami. pemecahan masalah. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. seperti melalui presentasi. merumuskan masalah.yang kasar. seperti memilih topik. Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. memerankan hingga mengevaluasi. menggunakan/menerapkan. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. memilih pemeran. menarik. dan menulis. menghujat. dan diskusi. Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. memfitnah. Oleh karena itu. teknologi. berbicara. Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. pola sikap. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . dan mengevaluasi pembelajaran. yaitu menyimak. dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. mencela atau melecehkan. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. 2. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. 1. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut.

baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. berbicara. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. seperti kedisiplinan. tanggung jawab dalam mengemban tugas. yaitu menyimak.. 4. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan. 13. tetapi juga membantu mereka memahami. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut. 41. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. dkk. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. sikap. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. Lickona (Kesuma. Sekait dengan ini. dan perilaku mahasiswa.. kejujuran. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya.belajar tumbuh. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. dalam berbagai situasi dan konteks. 2. dan menulis. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. 3. menginternalisasi. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. dkk. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut. sopan. tanggung jawab. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. 2011: 16). Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik. Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. dan ikhlas (Kesuma. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. keadilan. dan 65) . Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri. kerja keras. bahasa. Noer (2007: 9. Melalui berbagai pengalaman belajar. 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip. membaca. etos kerja yang tinggi. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. santun. dan kerja sama. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi.

Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. jujur.kemdiknas. Selain bahasa. nilai-nilai. Oleh karena itu. Di samping itu.go. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. berkehidupan. suluk dan kidung.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai. melainkan melalui proses yang panjang. Lebih dari itu. Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. dan berbagai bentuk lain39. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. babad. suka bersilaturahmi. mengatur dalam cara bertani yang baik. serat. ajaran dan pemikiran. cara bergaul. terutama dalam bahasa. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah. terus terang/jujur. dan religius. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. terbuka terhadap siapapun. cara beternak. dan teratur. dengan kearifan lokal juga.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. berbudi luhur. berperilaku. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah. “…. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. permainan. diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. tidak iri maupun dengki. Mereka hidup dengan aman. dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 . tulus ikhlas. tanggap. tertib. sikap. bertutur. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. Sekait dengan kesantunan berbahasa. tembang. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya. dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan. rendah hati. Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh. dan sebagainya. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap.” Berdasarkan suluk itu. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya. Bahkan. syair. tidak angkuh maupun congkak. Selain itu. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain. ialah sabar penuh pengertian. toleransi. walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. perilaku. kata bijak. Sebagai suatu budaya yang mentradisi.

Dengan kata lain. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. dan tidak congkak. lembut. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. nyingkir ana jubriya kibire. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. mencemooh. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. dan jangan pula angkuh). dosen.tidak boleh mencela. yayi den kalakon. pegawai. dan kedisiplinan. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. dan bahasa. dan santun. dan pengarah dalam bertindak. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. bersikap. tetapi tidak dihayati. kerjasama. Dalam hal ini. Dengan demikian. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. berkata dengan sebenarnya. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. bersikap. menjunjung tinggi lembaga. Melalui lima pilar ini. yaitu Mituhua pitutur kang becik. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. sopan. menumbuhkembangkan. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . lima pilar ini menjadi pedoman. lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. harus jujur. sopan. Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. semoga terlaksana. tenteram. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. disiplin. 2011: 11). pijakan. profesionalisme. tulus ikhlas. yaitu kejujuran. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. kehilangan maknanya. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar. singkirkan watak congkak dan takabur. profesionalisme. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. bertutur lebih baik. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya. mencela. berkepribadian. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur. dalam berbahasa. berdaya saing tinggi. Artinya. kerja sama. sikap. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. dan berkompeten. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. menuding. berperilaku. dimaknai. dan damai. dan ramah. Akibatnya. meredup. Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. termasuk perguruan tinggi. masyarakat saling menghujat. mengritik dengan tidak santun. Namun.

logis. topik pertuturan. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. dan damai. Bahkan. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. Berdasarkan uraian di atas. tidak menyinggung. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. situasi. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar. Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. bergaul. dan mendiskusikan hasil pemeranan. tidak mencela. Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. Hal ini . lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. dan bekerja sama dengan orang lain. 1. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama. 3. dan tempat pertuturan berlangsung. nilai karakter masyarakat Cirebon. runtut. 6. Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut.sejahtera. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. tenteram. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. menurut Asmani (2011: 39). 2. dan konteks waktu. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. tidak menghina. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. 4. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. 5. kearifan lokal Cirebon. Santun. serta etika berbahasa yang baik.

diwujudkan dalam hal perkataan. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. dosen. tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. dan melakukan pemeranan. pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. baik lisan maupun tulisan. . dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan. memilih pemeran. tindakan. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. 8.Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. membuat dialog. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini. menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. dan luapan emosi dengan sesungguhnya. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. 1) Mahasiswa. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat. 10. serta mengucapkan salam. pemilihan pemain. penyadaran akan pentingnya nilai. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. seperti berikut. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. pekerjaan. 7. perasaan. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. 9. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. Misalnya. yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). Artinya.

Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. K : Key. situasi pembicaraan. N : Norma. menghormati. santun. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). bukan saja siapa lawan tutur kita. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles). yaitu tujuan akhir pembicaraan. kita harus memerhatikan beberapa hal. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. situasi upacara keagamaan. yaitu pembicara.Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. I : Instrument. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Misalnya. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat. selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. 6) . yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. dan tindak perlokusi. yaitu tindak lokusi. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. dan pendengar. Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. pokok pembicaraan. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. dan presuposisi (presuppositions). tidak menyinggung. tempat pembicaraan. situasi perkenalan. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. dan profesionalisme dalam bekerja. yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan. Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. lawan bicara. secara lisan. A : Act. G : Genre. lawan bicara. E : End atau tujuan. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. tetapi juga lebih dari itu. Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. dan menyakiti. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya. baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. Landasan Teoretis 1. Dell Hymes (Lubis. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. Schmidt dan Richards (Nadar. tindak ilokusi. menghargai. tertulis. P : Partisipan. jujur. Heatherington (Tarigan. lewat telepon. misalnya situasi perkuliahan. seperti penutur. 3. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. mencela.

a) Maksim kuantitas. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa.Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. Contohnya pada tuturan berikut. Di dalam maksim ini. sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). 2010: 10). kata-kata. Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. b) Maksim kualitas. 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab. yaitu formalitas (formality). dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. nyata. Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. kesederhanaan/kerendahan (modesty). maksim kualitas (maxim of quality). Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. kesetujuan/permufakatan (agreement). Secara singkat dan umum. kesopanan berbahasa. a) Maksim Kebijaksanaan. d) Maksim pelaksanaan. dan tidak berlebihan. a. Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. dan etika berbahasa. Kesantunan. penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin. dan kesimpatian (sympathy). menurut Chaer (2010: vii). menurut para pakar itu. c) Maksim relevansi. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. Leech. Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya. (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). jelas. dan sesuai dengan data dan fakta. tidak ambigu. Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. ketidaktegasan (hesitancy). Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. tidak kabur. kemurahan/penghargaan (approbation). Dengan maksim kualitas. maksim relevansi (maxim of relevance). Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. yaitu kesantunan berbahasa. antara lain Brown dan Levinson. tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi. dan Pranowo. kedermawanan/penerimaan (generosity). penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). yaitu maksim kebijaksanaan (tact). Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim.

dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. d) Maksim Kesederhanaan. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. menurut Brown dan Levinson (Nadar. Kak. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. ya. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. Dengan maksim ini. saling mengejek. Di dalam maksim ini. isinya besar lagi! B : Wah. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. ya! B : Wah. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Sebagai contoh. yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. jangan suara saya lagi serak. memang sangat panas udaranya. (10) A : De. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. Hal . Dari contoh tersebut. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan.Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. tidak juga. Rasanya panas sekali! B : Ya. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. loh. b) Maksim kedermawanan. c) Maksim Penghargaan. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. e) Maksim Permufakatan. B : Ya. Muka (face) ini. f) Maksim Simpati. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang. Berikut contoh pertuturannya. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. Contoh dalam pertuturan berikut. Contoh pertuturan sebagai berikut. atau saling merendahkan.

d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. dan menggunakan bahasa secara santun. kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. 2) dorongan emosi penutur. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. Lalu. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur. antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. yang berkenaan dengan bahasa. e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. b. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. 3) sengaja menuduh lawan tutur. (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. (12) Tidak apa-apa. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain. f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. Menurut Pranowo (Chaer. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati. 2010). menguasai. Contoh terdapat pada tuturan berikut.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. 2010: 62). Berikut contoh tuturannya. Pranowo (Chaer. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur.

4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. dalam berbahasa pun harus sopan.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. jabatan. Berikut contoh tuturannya. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. Tempat dapat di mana saja. siang. misalnya usia penutur dan lawan tutur. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur. hal-hal yang berbau porno. kamar praktik dokter. dan (3) konteks waktu.per liter dan tarif Rp 2. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat. seperti ruang kuliah. Misalnya. c. ruang rapat. waktu. Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun. misalnya. Akibatnya. dan suasana psikologis. Waktu kapan saja.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. tentang pendidikan. atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. rakyat semakin tercekik. tergantung pada tiga hal pokok. pendidikan. kesehatan.. malam. dan santun. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice. menurut Chaer (2010: 76). Kita nggak masalah. situasi. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu.000. pekerjaan. Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . Adapun suasana psikologis. Dengan solar Rp 4500. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia. Berikut contoh tuturannya. (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. kekerabatan. Namun selain santun. (13) Silakan kalau mau banding. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. Berikut contoh tuturannya. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur. seperti pagi. sopan. (2) topik petuturan.. Ketiga hal itu. dan tempat pertuturan berlangsung. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. (14) Pemerintah ngawur. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. anak. Sebagai contoh topik seks.

Pendekatan Komunikatif . (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. d. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. (2) jangan menyombongkan diri. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. 2. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan. sopan. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. ajakan. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. Oleh karena itu. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. Dengan demikian. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun. menurut Clifford Geertz (Chaer. atau permintaan. mendengar tuturan orang. Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. (4) kapan kita harus diam.tersebut wajar dan sopan. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. (8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. untuk dapat berbahasa dengan santun. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Etika berbahasa. (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. meninggi. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. (5) memberi simpati pada lawan tutur. 2010: 6). Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. Sebaliknya. (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. (3) jangan menghina orang lain. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. (4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu. (4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. pelan.

simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. f. Selanjutnya. e. teori belajar. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. yaitu teori bahasa. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. a. g. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. c. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. Dengan kata lain. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa. permainanperan. Dalam pendekatan komunikatif. Dengan sendirinya. dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. peranan peserta didik. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. tipe kegiatan. Berdasarkan teori tersebut. b. Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. dan peranan materi. tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. peranan pendidik. Teori Bahasa . Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. tujuan. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. menurut Syafi’ie (Solehamin.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. d. a. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. Dengan kata lain. silabus. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa.

e. Sebagai individu. Oleh karena itu. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. d. h. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. koran. Ia menaruh rasa senang. Dalam kehidupan sehari-hari.Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. Menurut tarigan (2009: 240). dan manajer proses pembelajaran. materi realita. atau kegiatan berinteraksi. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. 4. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. sebagai negosiator dan interaktor. Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. materi yang berdasarkan tugas. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. Di samping itu. Dengan demikian. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. f. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. otentik. yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. percaya. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. . dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. g. bukan pengetahuan tentang bahasa. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. negosiasi makna. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). dari kehidupan nyata. Oleh karena itu. Misalnya. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi. curiga. Akan tetapi. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. b. dan lain-lain terhadap manusia lain. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. konselor. c. iklan. yaitu materi yang berdasarkan teks.

memerhatikan beberapa peran yang berbeda. berdiskusi dan mengevaluasi. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. Selain dalam tindakan. dan persepsi siswa. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). Dalam pembelajaran. ucapan. nilai-nilai. kata-kata. b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. bila tak senang dan curiga. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan. Shaftels (Joyce dan Weil. Dengan demikian. perasaaan-perasaan. peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. Model bermain peran. dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. respons menjauh. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran.” (Dahlan. persepsi dan perilaku setiap orang. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . dan tindakan. memilih partisipan. dan tindakan. menyiapkan peneliti. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. yaitu memanaskan suasana kelompok. nilai. memerankan kembali. pemeranan. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. Dalam dimensi sosial. dan nilainilai yang mendasarinya. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. situasi permasalahan. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. mengatur setting tempat kejadian. Untuk itu. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. konsep peran harus dikukuhkan. analisis yang dilakukan melalui diskusi. juga diperlukan. Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. Untuk dapat berperan dengan baik. yakni perasaan. persepsi. diskusi dan evaluasi. dan sikap. pemahaman terhadap penentuan peran. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman. sikap. dan solusi permasalahan.

peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. baik di masa kini maupun masa lalu. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam memilih masalah-masalah tersebut. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis. Selain itu. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. Melalui bermain peran. pembuat kebijakan. d) Masalah historis atau kontemporer. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. sopan. dan strategi pemecahan masalah. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. b) Relasi dalam kelompok. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. Efek langsung bermain peran. Misalnya. c) Dilema individu.situasi sosial. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. tingkah laku. kompleksitas situasi masalah. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. nilai. latar belakang budaya para peserta didik. Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. Untuk itu. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. serbaguna. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). ide. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. a) Konflik antarpribadi. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. etnis. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. Secara bersama-sama. hakim. Melalui bermain peran. terutama masalah hubungan antarindividu. Mahasiswa bekerja sama . Setelah itu.

tersenyum. Menurut Gagne (Suprijono. . dan santun. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. 2011: 95). 2011: 22). Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. 5. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto. sikap. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. pendekatan komunikatif. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. dan perilaku mahasiswa lain. Skinner (Syah. benci. ramah. terutama hubungan antarindividu. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. dan sebagainya. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. efisien.pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. sopan. filsafat pendidikan. marah. Namun. dan menarik. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. simpati. 2009: 2). Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Deskripsi Model Bermain Peran 1. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. Selama interaksi berlangsung. menumpahkan rasa senang. Teori-teori ini meliputi teori belajar. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. Dengan demikian. pendidikan karakter dan nilai. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial. Dalam pandangan belajar sosial.

Sekait dengan ini Bandura (Syah. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa . dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. mengamati perilaku model. dan merefleksikan pengalaman hidup. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk. Fakry Gaffar (Kesuma. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai.. kepedulian. Dengan demikian. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Dalam konsep pendidikan karakter. dan melibatkan mahasiswa. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. dkk. pendekatan.” (Kesuma. serta meliputi aspek kognitif. Nilai pada dasarnya standar perilaku. Dalam proses pembelajaran. membentuk hubungan yang penuh perhatian. diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. adil dan tak adil. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. Dalam filsafat pendidikan. seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu.. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. layak dan tak layak. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati. emosional. 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. dan sebagainya. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. 2011: 5). Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952).id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. dkk.co. muncul mahzab atau aliran progresivisme. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi. membantu menciptakan komunitas bermoral. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya.fajar. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. Pemahaman tentang teori-teori belajar. dan perilaku dari kehidupan moral. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. mendiskusikan.Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Dengan kata lain. bukan suatu yang instan dan kebetulan. menarik.

Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. memperhitungkan. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. rasa simpati. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. yakni (1) merangsang semangat kelompok. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. 2. kemarahan. untuk memulai tahap-tahap permainan. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. (7) memerankan ulang. membantu pengaturan pemeranan. Dalam kedua kegiatan ini. Pendidik bertanggung jawab. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik. baik. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. Ketika peragaan selesai. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. (4) mempersiapkan tahap-tahap peran. Model Pembelajaran Bermain Peran a. empati. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. Kendatipun begitu. Semua luapan emosi. (5) melakukan pemeranan. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. b. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. Selanjutnya. Dengan demikian. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. khususnya pendapat dan perasaan mereka. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik. Pendidik bertindak sebagai pengamat. (2) memilih pemeran. dan mendiskusikan masalah tersebut. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun. dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. sopan. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. yaitu menguraikan sebuah masalah. (3) mempersiapkan pengamat. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . melaksanakan diskusi. c. seperti apa solusi setiap permasalahan. apa sumber pertengkaran. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan. memeragakan. paling tidak pada awal permainan. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur.

kesopanan. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah.berbeda. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran. novel. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. Selain itu. baik lisan maupun tulisan. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. f) dapat mengekspresikan pendapat. dan rangkuman respons. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan. Adanya proses refleksi. tetapi sangat penting. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain. yaitu sebagai berikut. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. 3. dan etika berbahasa. d. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter. Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. Adapun dampak pengiring yang diharapkan. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. Film. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. parafrase. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. 6. dan dialog dalam situasi tersebut. keadaan. Masalah dapat disampaikan secara lisan. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok . tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. Selain itu. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. Dalam lembaran tersebut. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. aksi.

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

dados panancang emut. Dalam Suluk tersebut. Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. Latar di suatu masjid . adigung. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. kuingat dalam hati baik-baik. Lu gak bisa minta baik-baik. 2009: 2) sebagai berikut. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun. buruk. diem-diem duitnya lu ambil. dan kulakukan”. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. karumatan sajroning budi. adiguna. terdapat kesantunan berbahasa. a. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. Orang-orang susah cari kerja. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. Sekait dengan kesantunan berbahasa. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut.” b. kapundhi ing jro kalbune. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok. Bukan tukang minta-minta. Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. juga tersirat kesantunan berbahasa. yaitu adigang. orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. “sangat berterimakasih atas penjelasanmu. diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. 2011: 18). Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. Muluk : “Diem-diem. saru. Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. tidak enak didengar. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. tetapi disesuaikan dengan usia. kan pencopet Bang. yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. adiwicara. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. 2011: 8). dan isi cerita. misalnya. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. Selanjutnya. dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). Gue bawa ke kantor polisi lu. Enak aja nyomot dompet orang. latar sosial budaya. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara. Nyinggung perasaan gue tahu. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Artinya. Dalam pepatah ini. Dalam pepatah Cirebon. Contoh berikutnya. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut. langkung nuwun pangandika tuwan. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. Berdasarkan analisis tersebut. Selain itu.

” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. lagi berusaha. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. Pak Bul. . dia lagi berusaha. pengidentifikasian masalah. dan mencari alternatif pemecahan masalah. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. seperti berpikir kritis. Sebagai contoh. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya.” H. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan. Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar. rendah hati. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa. melalui kegiatan ini. anak pencopet. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. 2. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. dan H. Beda nganggur dengan berusaha. Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya.” Pak Bul :”Heh.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. H. Beda. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh. bagaimana karakter Muluk. Mahasiswa juga. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur. toleransi. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi. si Muluk bukan nganggur. bekerja sama. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. H. Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok. dan ikhlas. Haji Sabini. Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. sopan.

mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Melalui kegiatan ini. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. Misalnya. pemecahan masalah yang berbeda. serta aktif mendiskusikannya. Melalui kegiatan ini pula. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. sistematis. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. Dalam memilih pemeran. cerpen. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. sistematika kalimat efektif. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. seperti di mana pemeranan dilakukan. dan kaidah penulisan dialog. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. menajamkan kemampuan analisis. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. rendah hati. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. dan ikhlas. Pada saat itu. Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. dialog boleh saja dipersiapkan. 4. menghayati. Dengan demikian. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . Namun. bagaimana tempat ditata. jika sulit. pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. Dengan demikian. 3. Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. serta etika berbahasa yang baik. No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. novel. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan.

Mahasiswa memulai permainan peran. . emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. Selain itu. dalam proses pemeranan ini. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. Selama pemeranan berlangsung. Namun. Tidak ada kata-kata yang mencela. menghina. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka. Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya. 6. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. dan jujur. atau konsekuensi perilaku yang muncul. 7. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. Kemudian. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. menuduh. perasaan. dan pelaku-pelakunya. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. bahasa yang digunakan. pemecahan masalah. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. 5. bagaimana jalannya pemeranan. penggunaan bahasa. Keterampilan mengekspresikan pikiran. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan. muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. logis. bekerja sama. Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. runtut. sikap-sikap. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. menghidupkan situasi secara spontan. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. dan saling merespons secara realistis.

bahasa. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. bersahabat. Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. Melalui kegiatan ini juga. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun. Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. karakter. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. Selain itu. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. seperti pengetahuan. 9. aplikasi. mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. minat. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran. seperti jujur. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. dan sintesis. 8. Melalui bermain peran. Namun. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. dengan model bermain peran. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. bakat. Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. pemahaman. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. (2) mengetahui kecakapan. Melalui kegiatan penilaian. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. analisis. displin. sopan dan santun. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. Namun. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. . Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan.

Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). tidak menghina. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. tidak menyombongkan diri. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. b. Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog. dan konteks waktu. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. 2 = cukup. Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. c. lancar. Gerak-gerik. dan tidak terbata-bata. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun. Untuk setiap kriteria. b. Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. c. minat. . 2 Penggunaan Suara a. 4 = di atas rata-rata. 5 = istimewa. Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. motivasi.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. 4 Penggunaan Bahasa a. dan Mimik a. topik pertuturan.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. b. 1. c. b. dilaksanakan dua teknik penilaian. dan tempat pertuturan berlangsung. 3 = rata-rata. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. yaitu tes dan nontes. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut. d. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. 3 Sikap atau Perilaku a.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi. situasi. c. seperti sikap. Penempatan tekanan dan nada sesuai. Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. 1 = rendah.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur.

No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut. Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat. (skor 3) d. pemberian tanda baca. pemberian tanda baca. pemberian tanda baca. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. (skor 4) c. 4 = di atas rata-rata. Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan. menjelaskan masalah. dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. pemberian tanda baca. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut. (skor 2) e. 5 = istimewa. Pembaca menyadari. dan memilih pemeran. . Jumlah 3. a. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. tulisan mustahil dapat dipahami. mengidentifikasi masalah. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun.Jumlah 2. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. terutama dalam penggunaan kaidah bahasa. Oleh karena itu. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. 2 = cukup. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan. Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. 3 = rata-rata. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. 1 = rendah. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). Untuk setiap kriteria.

c. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. menjelaskan masalah. Kemampuan mengidentifikasi masalah. mengidentifikasi masalah. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. e. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. i. kelogisan. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. 5 = istimewa. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. 3 = rata-rata. . b. h. 4 = di atas rata-rata. f. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. d. 2 = cukup. g. tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. dan memilih pemeran. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. c.Untuk setiap kriteria. Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. d. Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. 1 = rendah. b.

baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. dan konsumsi. meningkatkan ketahanan nasional. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja. sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. berani. jujur. personalia. dan pengawasan. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. diteladani. • Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. 1. wirausaha merupakan potensi pembangunan. bidang produksi. kesejahteraan dan sebagainya. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri.. meningkatkan pendapatan masyarakat.Jumlah D. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. distribusi. disiplin. dekat kepada Allah SWT. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. • Hidup secara efisien. • Sebagai generator pembangunan lingkungan. tekun dalam menghadapi pekerjaan. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. Oleh sebab itu. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji. distribusi. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . yaitu : a) Sebagai pengusaha. sehingga dapat mengurangi pengangguran. hidup tidak merugikan orang lain. dan banyak pula orang menganggur. pemeliharaan lingkungan. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. jujur. tidak berfoya-foya dan tidak boros. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. • Memelihara keserasian lingkungan.

Indonesia masih tertinggal. Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional. berkomunikasi. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. Bukan tipe menunda. Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. Prinsip yang dianut adalah see and do. ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro. terpercaya. bekerja sama. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. Bagi . dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti. dan berkompetensi dengan baik. 3. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini. 2. memiliki kemampuan berusaha. wait and see. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha).1. b. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a. pengusaha yang jujur dan bermartabat. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak. pemimpin yang adil. Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain).

merenung atau menguji hipotesis. they find their voice. ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. Dengan kata lain. . energi. melainkan diciptakan. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. Sedangkan dalam usaha yang sama. Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. 1) Proaktif. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. membangun jaringan . memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. seperti model.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). Untuk itu. desain. and help others find theirs. 6) Fokus pada eksekusi. put first things first. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. think win/win. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. risiko bukanlah untuk dihindari. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif. 3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. Oleh karena itu. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. begin with the end in mind. memotivasi dan berkomunikasi. menyatukan gerak. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. seek first to understand-then to be understood. kemasan dan struktur biaya produksi. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. dibuka dan diperjelas. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. synergize. sharpen the saw. bahan baku. melainkan juga dari cara-cara baru. Peluang bukan hanya dicari. Namun . Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. memimpin. Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. 2) Berpikir simpel. tetapi mereka bergerak ke arah itu. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. Secara spesifik. Seorang wirausaha bukan hanya awas. mereka selalu mau belajar yang baru.mereka. baik dari dalam maupun luar perusahaannya. mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. atau peluang dari usaha yang sama. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir. Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. mereka selalu belajar menyederhanakannya. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut.Mereka juga adaptif terhadap situasi. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. Untuk usaha-usaha yang baru. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi.

pelaksanaan usaha. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). 7) Menajamkan ketahanan. maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. fleksibilitas. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win.ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. yaitu pikiran (mind). Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win.3) Mendahulukan hal yang utama. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. Dengan demikian . . yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan. 6) Sinergi. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. Dalam hal ini. bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut. 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita. mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. selalu mencari peluang-peluang baru. Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. fleksibilitas dan kekuatannya. hati dan jiwa. hanya mengambil peluang yang terbaik. memotivasi dan membangun jaringan. seperti merasa dirugikan. dan kekuatan. Urgent adalah situasi yang mendesak. Untuk itulah. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. tubuh. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi. 5) Cari tahu dulu untuk memahami. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. yang tersebar pada empat elemen utama. Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. berdisiplin tinggi. diperlakukan kurang/tidak adil. berpikir simpel. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. Oleh karena itu. dikalahkan. Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). 4) Berpikir dan bertindak win/win. Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama. baru memahami.

(2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah. inovasi dan caracara baru. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. psikologi dan sosial yang menyertainya.1. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan. c. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus. (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. 3. 2007: 18). antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan. tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. (Kasmir. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah. memikul resiko finansial.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi. Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi. tenaga kerja.2.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. .b. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Selain itu. 3. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul. LANDASAN TEORITIK 3. serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. skala usaha dan permodalan.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. d. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani.

Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. bangsa dan negara c. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. f. terencana.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha. hemat dan disiplin.(memiliki salesmanship yang kuat) d. a. Menyenangi. Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur. d. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. e. 3. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. mencintai kegiatan usahanya. Mau dan mampu bekerja keras.3. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. Mau dan mampu berkomunukasi. pemasok. semangat kerja tinggi. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul. c. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g. b. negosiasi. masyarakat. Mengenal lingkungan bisnis dan h. cara kerja yang efektif dan efisien. Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. pemilik modal. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. investasi di berbagai bidang usaha. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi. a. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. b. karyawan. Berani mengambil risiko.

individualistis. ulet. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. ia senang pada prestasi . dll). 1994) 3. tidak tergantung pada orang lain. akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. tekun Banyak inisiatif c. Kreativitas. Berorientasi ke Masa Depan. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. e. tekun.4. dan tabah. prestasi kemudian. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras. adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri. Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. produk. tabah.• • • • • • • • • • • • • • • • • b. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi. proses. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu. jasa. teknologi. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. beorientasi laba. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. dan optimis. Akan tetapi.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. energik. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi. dan inisiatif. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. tekad bekerja keras. mempunyai dorongan kuat.

DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Keorisinilan.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu. Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara. Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . Kita akan mampu bekerja keras.Seorang wirausaha haruslah perspektif. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan. tetapi untuk selamanya. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan. apa yang hendak ia lakukan. menanggapi saran dan kritik. Oleh sebab itu. tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin.Namun sekarang ini. Entah itu untung ataupun rugi. Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian. Pengambila resiko dan suka tantangan. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih. bergaul denga orang lain. maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati . 4. Wirausahawan berpandanang ke depan. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. Kepemimpinan.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan. apa yang ingin di capai. serta fleksibel. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar. enerjik tanpa malu dilihat teman. Jika perhitungan sudah matang.Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif.Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional. membuat pertimbangan dari segala macam segi.Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri.Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu. prespektif. menggampangkan apalagi menyepelekannya. mempunyai visi ke depan. ketelitian. Berorientasi ke masa depan. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang.Kecermatan. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin.

terkoordinasi dan sinergis.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. c. dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. b. Selain itu. Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. Sebagai motivator. Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. . Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi. para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . Penasehat (3 orang). Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). Selain itu. Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. Selain tatap muka. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif. d. b. Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati. Tugas Pokok PK adalah : a. maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. serta seksi-seksi (9 orang). terdiri dari pelindung (1 orang). Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. Sekretaris dan Bendahara). dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. Pengarah (4 orang). dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). e. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. c. d. Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. dalam rangka membina jiwa wirausaha. maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan.

6. Dinas Koperasi dan UMKM. 3. 4. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS . Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. 5. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 3. seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 2. Pimpinan Fakultas. Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif. Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. 4. dan sebagainya. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. 2. Pengusaha sukses. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. 1. Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas.

Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. konsultasi. 5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha. Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas. terprogram dan terencana. rapat. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon. briefing. Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator. dan sebagainya. bagi Unswagati merupakan perwujudan . juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. Selain sistem informasi.Wujudnya adalah pemberian laporan. saran/masukan. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha. sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. dan sebagainya mengenai pelaksanaan program. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi.

Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman. 4. sampai saat buku ini disusun. 3. Penagihan oleh AMEL. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1. 5.000. berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. 2. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. 1. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah. Berkas permohonan dari peminjam masuk. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah.nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.000. kemudian dilakukan survei oleh AMEL. 4. 6. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. 2.600. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2. warung.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. 35. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011. Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi. industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. . Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya. para pengrajin.

INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa. yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan. bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya.Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha .Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis .Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.Kepedulian dan kesetiakawanan sosial . Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator .Manajemen logistik dan finansial . tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan. dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha.Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha .Status kelayakan dan perencanaan bisnis .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa .Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa .Pengelolaan SDM dan pengembangan karir . keterampilan.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . sikap.Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa .Manajemen produksi dan operasi .5. Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik.Pengembangan kapasitas keprofesionalan .Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha . Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development). tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa . Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa .

h. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Titik-tolaknya adalah. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. serta berupaya untuk mengembangkannya. f. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. c. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a. b. memberikan motivasi. dengan mendorong. d. c. Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan. 6. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa. b. yaitu : a.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. . Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan.

Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor. Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah.2. Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c. BAB IV . proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan. Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a. Tahap pelaksanaan. Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan. Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. Selain itu.

Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan. Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama. Pendidikan Kewarganegaraan. . Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini.REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya.

Chaedar. Jakarta: Rineka Cipta.Budimansyah.(1997).Buchari Alma . .com . di Bappenas. Jamal Ma’mur. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Model-Model Mengajar. 2003. . 2009.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia.Basics of Marketing. Paul brian Hersey. 1988. Ciba Geigy Ltd. .Dewanti. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.(1997). Alwasilah. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Bandung.Dahar.(2007).Budimansyah.Arifin. . A.http. 2010. .google.(2007). Ciba Geigy Ltd. (Ed. 1988. Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan.” 11 September 2002. . “ Kewirausahaan”. Kesantunan Berbahasa. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. .http. Retno. 2004. (ed).Yogyakarta. 2011. M.Mitra Wacana Media. 1984. Bandung: PT Genesindo.). Evaluasi Pembelajaran. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Komunikasi dan Informasi .Chaer. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Erlangga. . “ Kewirausahaan”. Management Organizational Behavior prentice hall. Bandung: Laboratorium PKn UPI.Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas.DAFTAR PUSTAKA - . Bandung : Remaja Rosdakarya. A.Dewanti.Dahlan. D. . . Waruwu. Jogjakarta: Diva Press. 2010.Mitra Wacana Media. D.Basics of Marketing.Buchari Alma .Yogyakarta. .Birch. Zaenal. Paul brian Hersey.Asmani. Ratna Wilis. Inc. Bandung.Arifin. D. Bandung: Widya Aksara Press.com . Bandung: Diponegoro. E Fidelis. . Yogyakarta :Kanisius . 2011. Cermat Berbahasa Indonesia. Amran Tasai. Retno. oleh Direktorat Politik.Birch. Management Organizational Behavior prentice hall. Jakarta: Akademika Pressindo. Bandung: Rosdakarya. 2003. . . Zaenal dan S. 2008. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. . Inc.Budimansyah. (2006). D.google. 2010. (2002).

“Manjaemen Strategis”. Ahmad dan Mirza.Kotler. Bruce dkk. 1996. Bogor : Ghalia Indonesia . 1987. Professional Salesmanship. Thomas. Jogjakarta : Laksana .”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA.go. 2001.Lubis.Malta. ApKj. Philip.2009. Surabaya : PT JePe Press Media Utama .. Dharma. Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa. Masnur.2006 Fatchul Mu’in. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Naniek Ratni Jar. Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa.com. 2009.MarkPlus & Co Education Division 2004. Kewirausahaan. Robert. 2009.1995.1995. Philip.yahoo.“Manjaemen Strategis”. Penerbit Andi. Cepi Triatna. Perencanaan. Yogyakarta. Perencanaan. Hand Out Kewirausahaan.com . Tersedia: http://pusatbahasa. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. [31 Oktober 2011]. Strategi Pembelajaran Bahasa. Professional Salesmanship.Salemba Empat:Jakarta . Thomas. . Fawaid. Chicago . Drs. DR. [online]. Jakarta : Dikti .2010.David. Bogor : Ghalia Indonesia .P. Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Irwin. Penerbit Andi. F. Pengantar Kewiraswastaan.com . Ateilla.Hisrich. http. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah. Impletasi. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan.Hunger. .Erni Sule dan Asep Mulyana. dan Pengendalian.Joice.-. dan Pengendalian. Impletasi. 2008. Pen. Irwin. L. . 2001. Yogyakarta: Graha Ilmu. Peters M. MA. Entrepreneurship. . 2011.yahoo.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603.Nadar.David. http. D.kemdiknas. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.Hunger. Melalui http://google.Komunal:jakarta.Mustakim. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik. Pengantar Kewiraswastaan. Jakarta : Lentera Hati . J.wikipedia. http://google. Melalui http://google. Yogyakarta.Kotler.Jakarta : LP3ES.com. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.P. 2011. . Jakarta: Bumi Aksara. 2011.wikipedia. 2011.Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Analisis Wacana Pragmatik.Kesuma.com .Malta. D. Model-model Pengajaran. 1994. Bandung: Rosdakarya. Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar.Musa Hubeis.com .2009.- - - - - .. (1995). J. Entrepreneurship.wikipedia.http://www.Manajemen Pemasaran Analisis. Peters M.Karakteristik Kewiraswastaan. Bandung: Rosdakarya.Hisrich. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Hamid Hasan.Masykur Wiratmo dkk.Erni Sule dan Asep Mulyana.wikipedia. Bandung: Angkasa. Isna Aunillah.Masykur Wiratmo dkk. Robert.com Muhammad Thohir.X. 1996. dan Johar Permana.com . Jogjakarta : Arruzz Media . Wheelen.com .http. Kementrian Pendidikan Nasional. diterj.Manajemen Pemasaran Analisis.http://www. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis..Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . Nurla.Fachri Ali.Musa Hubeis. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian .Hasan Basari. (1995). . 2011. 2011. . Kewirausahaan.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. .Karakteristik Kewiraswastaan.MarkPlus & Co Education Division 2004.Muslich.Salemba Empat:Jakarta . Wheelen. Chicago .http. L.2010. Najib Sulhan.

Pepatah Jawa.Suharna.Rhenald Kasali dkk. Melalui http://google. Puslatkop dan PK. Jakarta: Grassindo.1938. Hand Out Kewirausahaan. Dr dan Belferik Manullang.Syah. Kewirausahaan Indonesia. http://wordpress. Nurdin M. Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar. 2009. 2008. Hand Out Kewirausahaan. Minto.1938.2008.Salim Siagian.Robin.Raja Grafindo Presada:Jakarta .Facebook.com Nazili Shaleh Ahmad.2009. G. Bandung: CICED . A.Naniek Ratni Jar.2010.blog.Wahab.Roy Erickson Mamengk.Noer. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. 2011. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. .blog.shvoong.shvoong.Sanusi.Kewirausahaan. com. [online]. 2007. Psikologi Belajar. .Suara. Edisi revisi.Suprijono.UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional . 1996. www. http://dedesuharna’s. . Bandung: angkasa .Rahayu.wordpress.1987. Widjono. 2010. Modul Kewirausahaan.Perseroan Terbatas. 2009. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.com .Rhenald Kasali dkk. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Tersedia: http://solehamin.- - . Cooperative Learning. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa. Jakarta : PT Grasindo . (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan.Sumarsono.art. Sonny. Nurdin M.Suara. Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung.Noer.Dede. Penerbit Hikmah.Graha Ilmu:Yogyakarta .Dede.Ed. 2005. Menusa Cerbon. H. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa. Sonny.Sumarsono. Muhibbin. . . Dr.com. .Sofjan. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. .1987. 20 tahun 2003.Noer.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. Jakarta: FIP UNJ . Agus.Tarigan. .com . 2010. 2011. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. 1996. A. PT. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. . http://wordpress. G.com/tentang-kami/artikel-7/.Undang-undang No. Jaakarta .Naniek Ratni Jar.com . 2011. Yogyakarta : Sabda Media .Tarigan. http://dedesuharna’s. Bandung: Angkasa.2010. Dr.http://www. Kunjana. .Undang-Undang Dasar 1945.UUD 1945 .2010.Manajemen Pemasaran. Modul Kewirausahaan. 2007.Manajemen Pemasaran.Noer. Assauri. http:goegle.http://www.Sofjan. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir.Raja Grafindo Presada:Jakarta . Penerbit Hikmah. PT. Jakarta : Rajagrafindo Persada.Com 2011 . 2009. Jakarta: Grasindo.com.Trianto.Kewirausahaan. Metodologi Pengajaran Bahasa. 2011. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka. Pengajaran Pragmatik. . Prof.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan.Suharna.2010. H. tentang Sistem Pendidikan Nasional .Robin. Melalui http://google. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. com. Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan. “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”. Puslatkop dan PK. . 2009. . Jakarta: Erlangga. Jaakarta . Nurdin M. . Prof.Salim Siagian. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.2008. .Perseroan Terbatas. Kewirausahaan Indonesia. 2010. 2011. http:goegle.Syafi’i. MSc. Edisi revisi.Rahardi. Prayitno. Nurdin M. . .S. Assauri. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.art. Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’. .Graha Ilmu:Yogyakarta .

Wahab. 2008. 2008.Jakarta .Winardi.”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.Wijaya Kusuma.2006.S. . UII Pers Yogyakarta: 2007. U. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.dikti.Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”.UII Yogyakarta.Winardi. “Entrepeneur & Entrepeneurship”.Kencana. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan. J. J. .Kencana. Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani . (2001).Winataputra. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. 03 June 2010 .A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global. Bandung: IKIP Bandung .www. (Disertasi).- .A.com . Thursday.Jakarta .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful