BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berangkat dari fungsi Pancasila sebagai padangan hidup bangsa Indonesia, sesunguhnya mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter mulia. Karakter tersebut adalah berketuhanan, berperikemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, serta berjiwa sosial yang bersendikan keadilan. Dalam perjalananya, karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dan di kehendaki oleh Pancasila, tidak menunjukan eksistensinya, bahkan boleh di katakan telah pudar. Kerukunan antara umat beragama dan seagama telah berubah menjadi konflik yang mengatasnamakan agama. Nilai-nilai kemanusiaan dan kegotongroyongan telah berganti menjadi sifat individualistis. Nilai persatuan telah berubah menjadi kerusuhan kelompok. Musyawarah telah berganti pemaksaan kehendak. Nilai-niai keadilan sosial telah tergantikan oleh kepastian untuk memperoleh keuntungan materi bagi kelompok tertentu. Disadari bahwa nilai keberagaman adalah satu (Bhineka Tungal Ika) yang menjadi cikal bakal eratnya nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia, kelihatanya tidak sepenuhnya menjiwai bangsa Indonesia, bahkan sudah terjadi pengkikisan. Terjadinya budaya saling curiga satu sama lain, kerusuhan yang bernuansa sara dan hilangnya sikap saling menghormati sesama elemen bangsa, setidaknya menjadi salah satu bukti, telah terjadinya pengikisan jiwa Bhineka tunggal Ika. Di satu sisi, perilaku elit bangsa (mereka yang seharusnya menjadi tuntunan) justru mempertontonkan perilaku-perilaku yang tidak layak untuk ditiru. Semua yang dilakukan, dialamatkan untuk memperoleh dan melanggengkan kekuasaan dan kemenangan, meskipun harus mengingkari hati nuraninya. Rakyat dan negara merupakan dua unsur relasi yang memposisikan sebagai kesatuan integral. Negara merupakan wadah di mana bernaung suatu komunitas kehidupan yang disebut bangsa. Penting kiranya untuk menyebutkan karakteristik suatu masyarakat yang mendukung demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakteristik ini menunjukan bahwa di dalam masyarakat yang demokratis terdapat nilai-nilai universal yang menjadi sebuah fondasi dasar. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan basis segala konsep tentang karakter bangsa, baik yang bersifat nasional maupun pemerintahan, telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, melalui pemikiran genius founding fathers kita. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif citacita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Juga, digariskan tujuan nasional (national goals),

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menjadi negara besar kuat disegani dan dihormati keberadaannya ditengah-tengah bangsa di dunia. Setelah 65 tahun merdeka pencapaian cita-cita ini belum menunjukan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus menerus di hadapkan pada berbagai macam tantangan. Era globalisasi dengan ikon teknologi disatu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. namun demikian seiring dengan hal ini dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan dalam kehidupan berdemokrasi, dalam hal ini mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijungjung tinggi oleh sebuah bangsa1. Filter atau ambang batas (threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, prinsip NKRI dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di samping itu, karakter pemerintahan (governmental character) berupa nilainilai dasar demokrasi. Potret perilaku yang demikian bukan hanya terjadi dilini birokrasi dan lembaga politik, tetapi terjadi pula di dunia pendidikan. Semua berlomba untuk eksis dan mendapat pengakuan dari manusia lain, tidak perduli, apakah eksistensinya di akui oleh DIKTI. Perilaku–perilaku bangsa yang mencerminkan budaya manusia yang berkarakter Pancasila dan hanya menjadi jargon yang kemudian di tulis dalam bentuk visi dan misi. Namun sayang, semua tidak mempu membekas dalam hati, karena semua berbasis struktural legalistik bukan nurani. Orang tidak lagi perduli kepada tetangganya, tidak perduli atas kondisi masyarakat yang ada disekelilingnya, bahkan tidak lagi perduli atas nasib bangsanya. Mereka hanya mau berbicara tentang tetangga, tentang masyarakat dan tentang bangsa apabila menguntungkan atau apabila ada kesalahan yang dilakukannya, dengan cara mencaci maki tanpa memberikan solusi. Apabila diamati, perilaku-perilaku negatif yang tidak mencerminkan karakter manusia (warga negara) yang ber- Pancasila, dilakukan juga oleh alumni-alumni Perguruan Tinggi (Para Sarjana). Tanpa harus mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang demikian, tentunya Perguruan Tinggi harus bersikap dan memberikan kontribusi agar perilakuperilaku tersebut diminimalisasi atau apabila mungkin dihentikan.

1

Prayitno, Dkk, “Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa”, Gramedia Jakarta, 2011, hlm 1

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan adat-istiadat dan budaya yang bermacam-macam. Kenyataan itu sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam membangun pola interaksi satu sama lain. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan bermutu guna mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. Penulis tetap berkeyakinan, bahwa pendidikan mampu merubah pola sikap dan tingkah laku peserta didik. Berawal dari keyainan tersebut, upaya meminimalisasi atau apabila mungkin terjadinya perilaku yang tidak mencerminkan manusia yang berkarakter Pancasila dapat di mulai dari Perguruan Tinggi, dengan cara menyelenggarakan pendidikan karakter. Diharapkan setelah mahasiswa menerima pendidikan karakter, mereka dapat melakukan perubahan perilaku sesuai dengan karakter manusia yang berPancasila kepada dirinya sendiri dan menjadi pionir dan monifator bagi yang lain. Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi mendapat respon positif dari setiap kalangan baik dari pemerintah maupun kalangan akademisi yang ada di Kota Cirebon. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Rencana Induk Pendidikan Unswagati tahun 2011-2019. Harapan kedepan Unswagati menjadi sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan terwujudnya Universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan beberapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. Dua diantaranya menyangkut pemberdayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014, hal. 3). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk

Unswagati menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. Dan dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. Keuntungan lain adalah sebagai Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. Oleh karena itu lulusan Unswagati dapat mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat dan mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. B. sosial. teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat dan memiliki kepribadian yang tangguh dan mandiri dan serta memiliki moral dan akhlak yang karimah Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan bagi lulusan Unswagati merupakan langkah yang strategis dalam upaya membentuk dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki 2 Pendidikan Karakater Sanata Darma . handal.mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). religius dan serta mampu bersikap. mengembangkan dan menghasilkan karya. Secara khusus. ilmu pengetahuan. Sumber Daya Manusia tidak akan mampu bersaing jika lulusannya tidak berkualitas. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap Quality control dan Qualiti assurance. menyelesaiakan persoalan-persoalan di tengah perbedaan dengan baik. Implementasi kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. Menjadi sebuah pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius. dan akan memudahkan pengembangannya. Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan. dan kinestetik2. Di samping untuk kepentingan intern Unswagati. Tujuan Penyusunan Buku Pendidikan Karakter Unswagati Usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. spiritual. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). menghormati setiap elemen bangsa.

dan mempunyai rasa percaya diri.kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. yaitu kehidupan masyarakat sekitarnya melalui sebagai agen perubahan dan pelestarian kecerdasan spiritual dan kecerdasan Dalam melaksnakan cita-cita tersebut. C. Potret Kondisi Unswagati (dalam bentuk evaluasi diri) Cita-cita Unswagati adalah mencerdaskan dan mengembangkan pendidikan. Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar. dan menjadikan kampus budaya bangsa. usaha penyusunan buku kecil ini untuk didapatkan dokumen tentang penyelenggaraan pembinaan karakter yang selama ini memang belum pernah terdokumen dengan baik. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Unswagati senantiasa berpegang teguh pada falsafah Pancasila sebagai Dasar Negara. Dengan adanya dokumen diharapkan dapat diikuti perjalanan panjang usaha yang telah dilakukan. memiliki semangat untuk berjuang dan semangat membangun bangsa.bermoral Pancasila. dan ini akan memudahkan pengembangannya. Unswagati senantiasa menjunjung tinggi asas demokrasi dan transparansi dalam pengelolaan pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik. dan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam melaksanakan cita-cita tersebut. agama dan kebudayaan sehingga tercapainya pengembangan nilai dan kompetensi keilmuan yang menghasilkan alumni Unswagati yang memiliki kepribadian dan pola pandang sebagai generasi bangsa yang nasionalis dan religius. bermoral Pancasila. Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Oleh karena itu mahasiswa dan dosen memiliki sebuah Pedoman Umum dalam mengimplementasi dari Ilmu Pengetahuan yang berbasis pada kebangsaan. . memiliki jiwa kepemimpinan. serta membangun emosional. Selain itu. Berangkat dari visi tersebut. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Undang-Undang Dasar 1945. mengemban misi pendidikan. mengaplikasikannya. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. karakter alumni Unswagati adalah beriman dan bertakwa.

sehingga dapat lebih menigkatkan kinerja Universitas. Upayakan optimalisasi penerimaan. pengembangan hasil riset. Untuk mewujudkan lulusan Unswagati yang berkarakter Pancasila. semoga tujuan Unswagati dapat tercapai. Penguraian tentang karakter alumni yang di harapkan yang bersumber visi tersebut menjadi sangat lengkap dan sangat rinci dan semua terangkup dalam kalimat:’’ Alumni Unswagati bermoral Pancasila’’. Dalam menyelesaikan setiap urusan agar lebih dipermudah dengan tetap berpedoman pada peraturan/ketentuan yang berlaku. dan penuh tanggungjawab. Dengan demikian. 4. Kepada segenap civitas akadimika agar tetap menjaga kondisi kampus yang kondusif. Dengan senantiasa mengharap rakhmat Tuhan Yang Maha Besar. sehingga dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya. 2. . 7. memilki daya saing tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan datang. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian.dispiln. Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. Lebih meningkatkan komitmen dalam rangka mendukung terciptanya universitas unggulan dan dapat melahirkan lulusan yang lebih profesional. 6. 3. pimpinan Unswagati telah menggariskan rambu-rambu bagi Dosen dan karyawan dalam bekerja yang dikenal dengan istilah ’’Nawa Karya’’. Setiap pengeluaran agar lebih efesien dengan mengacu pada prinsip-prinsip transparasi dan akuntabilitas. 9. 5. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional disegala bidang. yang meliputi: 1.Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuh kembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset. Lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalisme seluruh pengajar dengan dukungan tenaga administrasi yang optimal. 8. Pelayanan kepada mahasiswa agar lebih di tingkatkan. Dengan lebih ditingkatkannya kesehteraan agar diimbangi dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. jangan mempersulit.

Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan : 1. Penghayatan dan Pengalaman Ideologi Kebangsaan (LP3IK). 2. Pimpinan Fakultas. Komitmen tersebut diformal dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh Para wakil Rektor. senantiasa membimbing kami dalam meraih keridhaan-Nya. karena itu kami akan mempertahankan dengan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Penghayatan dan Pengamalan Kebangsaan (LP3 Idologi Kebangsan) berfungsi sebagai berikut ini : 1. Fungsi pembentukan dan Pembangunan Potensi Ideologi . dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. 3. Semoga Allah SWT. seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran.Dalam perjalananya. kerjasama dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Pembentukan (LP3 Ideologi Kebangsaan) salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi Indonesia yang sedang mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan. baik bagi Dosen dan karyawan. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang diemban sesuai dengan jabatannya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami. profsionalisme. Disiplin . 5. Lima prinsip tersebut selalu menjadi landasan kami dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Lembaga Pengkajian. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . disiplin. terutama yang menonjol dalam bidang hukum dan politik dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Isi pernyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: Kami pimpinan Universitas. Kelima prinsip kerja tersebut berlaku bagi seluruh keluarga besar Unswagati. 4.etos kerja. di Unswagati sedang dibentuk Lembaga Pengkajian. Untuk membentuk sivitas akademika yang berkarakter kebangsaan.

2. Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dari tingkat pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi (khususnya dikota Cirebon) tidak hanya secara wawasan keilmuan. khususnya kota Cirebon menjadi manusia dan warga negara Indonesia yang memiliki dan dan menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai dan falsafah kebangsaan yang terkandung pada Pancasila. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat umum. Pemerintah Pusat maupun daerah dan masyarakat (khususnya kota Cirebon) meningkatkan profesionalisme seluruh pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbasis berbangsa.Dalam kontek ini. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah) dan memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh sebagai pribadi yang nasionalis . Menjadikan kampus kebangsaan melalui Tridharma Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia khususnya kota Cirebon. penghayatan dan pengamalan ideologi dalam pembinan karakter kebangsanpada civitas akademika Unswagati. Pembangunan karakter bangsa memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat sehingga mencerminkan sikap dan pola pandang sebagaimana yang terkandung pada nlai-nilai Pancasila. satuan pendidian. 3. Pembentukan LP3 Ideologi Kebangsaan berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi civitas akademika Unswagati. Maksud dibentuknya LP3 Ideologi Kebangsaan adalah menjadikan peserta didik yang memiliki kepribadian dan memiliki jiwa nasionalisme dan religi dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. pembentukan LP3 Idologi Kebangsaan berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga. LP3I Ideologi Kebangsaan bertujuan: 1. mandiri. beragama dan berbudaya akan sebuah nilai-nilai yang terkandung pada ideologi kebangsan agar dapat membentuk mahasiswa yang berjiwa nasionalis dan religius. Melakukan pengkajian. Dalam kontek ini. masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertangungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa yang maju. dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan dan terkandung pada Pancasila. 2. Fungsi perbaikan dan penguatan. 3. Fungsi penyaring. Satuan Pendidikan.

Sehingga dalam hal ini diharapkan Perguruan Tinggi Unswagati akan memiliki dan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pendidikan yang berkarakter nasionalis dan religius. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusayawaratan perwakilan. . Bersama-sama pemerintah Pusat maupun daerah (khususnya kota Cirebon) memberikan peyuluhan dan pembinaan tentang karaktristik ideologi kebangsaan kepada masyarakat umum sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. berkemanusiaan yang adil dan beradab.dan relijius sehingga mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada masyarakat. berjiwa persatuan Indonesia. Dengan demikian untuk mengatasi krisis multi dimensional termasuk krisis moral yang sedang melanda bangsa dan negara harus diawali dengan pembangunan moral dan karakter bangsa. 4. seminar dan lokakarya. yaitu mendorong penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai 4 (empat) Pilar Kebangsaan oleh kalangan Civitas Akademik Unswagati dari mahasiswa hingga dosennya dengan memberikan kuliah umum. serta berkedudukan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sehingga peserta didik dapat mengamalkan dalam kesehariannya.

Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. pendidikan karakrer berakar dari kata pendidikan dan karakter yang dalam pemaknaanya dapat disatukan yaitu ’’pendidikan karakter’’ dan ’’pendidikan’’ dan ’’karakter’. yaitu belajar mengajar untuk menghasilan manusia yang berkarakter. kepribadian. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pengertian Pendidikan Karakter. sehingga menghasilkan sebuah definisi yang komprehenship. Hal tersebut. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendefinisian atau mengartikan atau mengetahui sebuah definisi sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah peristilahan. melainkan banyak. pengendalian diri. Dalam tulisan ini.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. pengendalian diri. Secara normatif. Berdasarkan peristilahan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. bangsa dan negara. menyiratkan adanya proses yang harus dilalui. kecerdasan. yaitu manusia aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Definisi itu tidak satu. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ternyata tidak menyuratkan peristilahan pendidikan karakter. akhlak mulia. . akhlak mulia. bangsa dan negara. kepribadian. Karakter manusia yang merupakan luaran dari proses belajar secara formal. penulis tidak membuat dikotomi antara keduanya.masyarakat. Berpedoman pada uraian di atas. kecerdasan. Demikian juga pendefinisian tentang pendidikan karakter.masyarakat. karena pendefinisian sebuah ilmu pengetahuan atau sebuah istilah sangat tergantung pada yang membuat definisi dengan segala sudut pandangnya. dimaksudkan untuk mengetahui esensi dari ilmu pengetahuan atau istilah yang hendak di ketahui atau di pelajari sekaligus membatasi ruang lingkupnya. melainkan menyatukan keduanya.

8. . Halaman 99) bahwa yang dimaksud karakter adalah watak atau tabi’at. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berangkat dari pengertian tersebut. Manusia yang mampu pengendalian diri. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. karakter manusia yang hendak dibangun melalui proses pendidikan sangat bias dan sangat banyak. Manusia yang kreatif 13. Manusia yang mandiri. 6.mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No.kreatif. 10. Manusa yang memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya. masyarakat. 2. Memang harus diakui.Dalam bagian yang lain juga menyebutkan : ’’Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (Penerbit Indah Surabaya. Manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Manusia yang memiliki akhlak mulia. Menurut Kamus Bahasa Indoesia karangan Suharto dan Tata Iryanto. 11. Manusua yang cakap. Karakter manusia yang merupakan produk pendidikan yang dikehendaki menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah: 1. 9. 4.20 Tahun2003). Dengan demikian. Baik Pasal 1 angka 1 maupun Pasal 3 Undang-Undang Tahun 2003. maka fokus dari pendidikan karakter adalah mengubah sikap dan pola tingkah laku. Manusia yang aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. Manusia yang demokratis serta bertanggungjawab. berakhlak mulia. pengertiana karakter adalah pendidikan yang titik fokusnya adalah mengubah tingkah laku. 5. Manusia yang memiliki kepribadian. 12. bangsa dan negara. sehat. Manusia yang sehat. keduanya menegaskan bahwa pendidikan merpakan sebuah proses untuk mehasilkan manusia atau peserta didik yang berkarakter. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan.cakap. berilmu. dan 14. 3. Manusiua yang memiliki kecerdasan. 7.

perilaku. Dalam bahasa yang sederhana. bersifat dan berwatak3. harus berangkat dari semangat yang sama. motivasi dan keterampilan. keduanya merupakan sebuah proses yang terencana. sifat . hati. perilaku. personalitas. Laksana Yogayakarta 2011. karena memberikan makna yang lain. B. Pemerintahlah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan. tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Memaknai akar makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. akan membawa konsekunsi yang berbeda. Berangkat dari pembahasan ini. jiwa kepribadian. Lain halnya dengan pendapat Tadzikiroatun Musfiroh (2008)4. Unsur pemerintahan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur negara sebagai penyelenggara pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasilnya pembangunan karakter kebangsaan pada tataran informal. lingkungan maupun bangsa sehingga terwujudnya Insan Kamil. budi pekerti. Kebijakan pemerintah dalam berbagai seginya (termasuk kebijakan dalam bidang penyiaran atau media massa) harus mengacu pada pembangunan yang berbasis pada karakter kebangsaan. Sebaliknya orang yang berkarakter sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia. Untuk sebuah pembangunan maupun pendidikan. rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. diri sendiri. formal. 3 Nurla Isna. individu. Makna Pembangunan Pendidikan Karakter Wawasan Kebangsaan. pembangunan merupakan upaya sadar seseorang/sekelompok orang/suatu bangsa yang di lakukan secara terencana melalui untuk menuju pada kondisi yang lebih baik. Penanaman sebuah karakteristik kebangsaan tidaklah lepas dari dukungan dan peran penting pemerintah pusat maupun daerah. tabiat. maka makna pembangunan pendidikan berkarakter wawasan kebangsaan. dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan manusia yang berwasaan kebangsaan.Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa Pendidikan Karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Makna karakter itu sendiri dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang tidak jujur.berperilaku. Komitmen yang demikian menjadi sebuah keharusan. yaitu cinta tanah air dan bangsa. kesadaran.hlm 19 4 ibid . kejam. temperamen dan watak. dan nonformal. yang mengandung komponen pengetahuan.”Panduan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah”. menurutnya karakter mengacu pada serangkaian sikap. sesama manusia. sementara itu yang disebut dengan berkarakter adalah berkepribadian.

Oleh karena itu. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kedisiplinan dan kemandirian 3. konstitusi. yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.Menurut UU no 20 tahun 2003 Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. Dalam hal ini Pendidikan karakter kebangsaan merupakan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diamanatkan pada UUD 1945 yang diharpakan hasilnya adalah dapat mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. Percaya diri. Tanggung jawab. cakap. Sehingga menjadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan pada satuan pendidikan adalah keberhasilan dalam menumbuhkan sikap keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. suka menolong dan gotong royong/ kerja sama 5. melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. berilmu. dinamis. dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik. mandiri. haluan negara. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi. Ada 9 (sembilan) pilar pendidikan berkarakter. Oleh karena itu melalaui pembangunan karakter kebangsaan pada dunia pendidikan diharapkan menghasilkan sebuah pendidikan berkarater kebangsaan. kompetitif. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya 2. bertoleran. kreatif dan bekerja keras 6. sehat. bermoral. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). bergotong royong. patriotik. tidak hanya secara wawasan keilmuan. kreatif. regional. berakhlak mulia. Untuk itu diperlukan . Kepemimpinan dan keadilan 7. Hormat dan santun Dermawan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. diantaranya adalah : 1. Baik dan rendah hati toleransi kedamaian dan kesatuan Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Kejujuran/amanah dan kearifan 4. berbudaya.

Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. C. dan penilaiannya.”Peran Guru dalam Pendidikan Karakter”. Unswagati mengacu kepada kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di dalam mengembangkan grand design pendidikan karakternya. Lebih dari itu. Bagi Foerster. Pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. berkualitas. dan mandiri. Dari kematangan karakter inilah. sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. UPI Bandung. 5 6 Sutangsa. kualitas seorang pribadi diukur. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ovide Decroly. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. 2011 hlm 12 Ibid . Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Tujuan Pendidikan Karakter Kebangsaan Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (18691966). karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.sebuah pengembangkan Satuan pendidikan sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter kebangsaan. serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). pelaksanaan. bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. bahwa pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan. diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte6. Olah Pikir (intellectual development). Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi5.

sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai . mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari atas berbagai golongan agama. selain meneruskan nilai-nilai. Dengan demikian. Senada dengan hal di atas. D. dan 3. menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan. yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 140 negara termasuk Indonesia. dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan. diharapkan dapat berperan secara efektif dalam hal : 1. 2. perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab. perilaku kebudayaan. mempersiapkan pribadi.Pendidikan Karakter kebangsaan mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Karakter Kebangsaan di Perguruan Tinggi Umum: Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan abad 21 yang disepakati oleh 9 menteri pendidikan dari Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia. menyepakati perubahan pendidikan tinggi ke masa depan yang bertumpu pada pandangan. sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. perbedaan pemikiran. pengembangan. termasuk Indonesia di New Delhi 1996. dan penyebaran ilmu pengetahuan. bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah : 1. transfer ilmu pengetahuan teknologi dan seni. atau kepentingan diatas melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. juga melahirkan warga negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. pendapat. menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. dan 3. 2. mengubah cara berfikir. teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. Konferensi Dunia tentang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris pada tahun 1998.

2. dan tidak diskriminatif. adil. 5. Mengembangkan kemapuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa mencapai kehidupan yang bermakna. bersatu. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakat beradab dan demokratis. yaitu suatu masyarakat yang memiliki “keadaban demokratis” atau masyarakat yang berkarakter sebagai berikut : 1. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. manusiawi. 4. berakhlak mulia. pendidikan nasional Indonesia melakukan penyesuaian yang dituangkan dalam Ketetapan MPR No. bahwa visi Indonesia 2020 adalah bertujuan terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius. Beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais. VII Tahun 2001. . Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik. maju. menghargai perbedaan.” Untuk mencapai visi Indonesia 2020. sehat. Mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). kesetaraan. UU No. membangun warga negara berkeadaban. 7. cakap. mandiri. serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. berilmu. Belajar yang berlangsung sepanjang hayat. keragaman pendapat dan pandangan. 20 Tahun 2003 memberikan rumusan tentang Visi Indonesia 2020 berupa masyarakat warga yang berkeadaban (civil siciaty / masyarakat madani) yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional sebagai berikut: “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pendidikan tinggi nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut “Visi Pendidikan Tinggi Nasional 2010”. masyarakat Indonesia yang memanifestasikan wujud visi Indonesia 2020 disebut sebagai “masyarakat madani”. mandiri. 3. keterampilan kompetitif dengan solideritas universal. Sadar serta tunduk pada hukum dan ketertiban. sebagai berikut : 1. berkeadaban. Menurut Malik Fajar (1999). yang mengakar pada 6.perubahan sosial yang berkaitan dengan perubahan ke arah kemajuan. sejahtera. demokratis. memiliki keahlian. adil dan bebas. kreatif. Demokratik. Sejalan dengan kesepakatan dunia telah disebutkan diatas.

Karakter Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa tercermin antara lain dalam sikap saling menghormati. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. saling menghargai. Pancasila harus menjadi core phylosophy bagi kehidupan bermasyarakat. b. berbangsa dan bernegara secara demokratis. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat sosial tersebut. Membangun suatu sisten pendidikan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratik. Oleh karena itu sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku . Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. sehingga karakter dapat dilembagakan sebagai norma ideologi atau paling tidak implementasi dari ideologi negara. berke-Tuhan-an Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. menghormati kemerdekaan beragama.2. tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama sehingga terciptanya tatanan dalam kehidupan antar umat beragama Selain itu juga. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. serta menjaga kesatuan dan persatuan nasional. berkeadaban dan inklusif. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama. perguruan tinggi umum harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. Bangsa yang Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa. tidak memaksakan agama dan kepercayaanya itu kepada orang lain. dalam rangka mewujudkan masyarakat warga yang berkeadaban. anggun secara moral. Berdasarkan itu semua. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Adapun karakter bangsa Indonesia yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Prinsip long life education yang sudah menjadi kesepakatan para ahli merupakan kebutuhan dan prasyarat pembentukan karakter manusia. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. dan saling bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan. Pelembagaan atau sebut saja internalisasi karakter suatu bangsa hanya akan berhasil bila menerapkan model pendidikan yang relevan dan bersungguh sungguh sebagai suatu sistem.

rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. oleh rakyat. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. kelompok. dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. c. Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat. d. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap menempatkan persatuan. hak. dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam melakukan musyawarah. Untuk itu komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi. serta mengembangkan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat. e. mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. dan kewajiban. Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. berani mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai keadilan. tenggang rasa. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Dengan demikian sikap dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. saling mencintai. tidak semenamena terhadap orang lain.saling menghormati antarwarga negara sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. dan golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. kesatuan. Karakter kerakyatan seseorang tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan . kepentingan. berani membela kebenaran dan keadilan.

sikap adil. . dan etika kebangsaan. tepuk tangan ketika berhasil membunuh manusia. dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. kebenarannya mulai diragukan dan praktis tidak berdaya menghadapi fenomena gejolak sosial di masyarakat. menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. suka bekerja keras. dan sikap demikian berpengaruh terhadap upaya penciptaan identitas dan karakter bangsa. berbangsa dan bernegara. yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya. Keraguan tersebut muncul akibat tidak berfungsinya norma. Jika Pancasila tetap dipersepsikan sebagai bagian dari paradigma lama dan tidak dijadikan pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan bermasyarakat. isinya belum dapat dioperasionalkan. Artinya. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang dipengaruhi globalisasi sosial budaya melalui media komunikasi. partisipasii politik rendah dibanding dengan mobilitas politik yang dijalankan elite politik. mentalitas berorientasi pada kekuatan dan kekerasan. mental. hormat terhadap hakhak orang lain. tidak bergaya hidup mewah. maka upaya ke arah berkembangnya karakter bangsa dipastikan bakal terkendala. kritik dan perbedaan pendapat diposisiskan sebagai pertentangan dan mendorong kekuatan radikalisme bersinergi dengan faham fundamentalisme. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit.Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan. Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. orang bersorak sorai. Karena sifatnya abstrak dan normatif. menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban. Karakter keadilan sosial seseorang tercermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. lihat kekerasan di Pandegelang Banten kasus Akhmadyah. bahkan nilai keagamaan pun nyaris tidak berdaya dan terkalahkan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Cerminan watak. menghargai karya orang lain. terutama berkaitan dengan proses demokratisasi. tidak boros. perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Sebagai nilai dasar. nilai dan kaidah normatif. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional sedang mendapat ujian yang cukup berat dan berarti. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. termasuk law inforcement yang lemah. Kondisi tersebut memicu timbulnya cara berfikir yang merefleksikan kemerosotan watak. dangkal dan tertutup. suka menolong orang lain. mental. telekomukasi dan informasi rentan munculnya konflik sosial. Karakter bangsa masih diwarnai karakter patron. persepsi yang sempit.

c. yaitu sebagai berikut 7 : a. Open mindedness. Wawasan.Karakter suatu bangsa ditanamkan kepada warga negara sebagai suatu norma yang melekat dengan ideologi nasional bangsa itu. bahwa kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya sekali ditentukan dan bukan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Di sini. tidak mengenal titik henti yang dampak dan pengaruhnya dengan sendirinya juga terhadap pengembangan etika. budaya dan hankam. 7 Syahrial Syarbaini. b. Ideologi sebagai keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang meliputi berbagai aspek. dalam arti luas bahwa kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tentative. Ideologi merupakan prinsip dan norma yang dipegang dan berlaku dalam masyarakat dan merupakan motivasi untuk menentukan tindakan. dalam arti terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Curiosity. Ideologi adalah merupakan keseluruhan prinsip dan norma atau motivasi dalam bertindak. ideologi berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. Terbuka. Pancasila sebagai dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat. d. berbangsa dan bernegara diberdayakan melalui kebebasan akademik untuk mendasari suatu sikap mental atau attitude. luas dan mendalam dalam arti bahwa nilai-nilai etika sebagai norma dasar bagi kehidupan suatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang hidup dan berkembang dengan ciri-ciri khas yang membedakan bangsa itu dari bangsa lain.Grahalia Jakarta 2011 . Hak dan tanggung jawab itu terkait pada susila akademik. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab seseorang akademisi. dalam arti rela dan dengan rendah hati (modest) bersedia menerima kritik dari pihak lain terhadap pendirian atau sikap intelektualnya. seperti sosio-politik.”Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa’. ekonomi dan politik.hlm 35. ekonomi. Ideologi sebagai karakter bangsa merupakan suatu konsensus atau kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu negara sehingga menjadi nilai dasar bagi masyarakat. Selain itu ideologi dapat dikaitkan sebagai sistem paham mengenai dunia yang mengandung teori perjuangan dan dianut kuat oleh para pengikutnya menuju cita-cita sosial tertentu dalam kehidupan. Di dalam ideologi terdapat gagasan-gagasan yang tersusun secara sistematis dan menyeluruh dan dapat membangkitkan motivasi bagi masyarakat untuk membangun negaranya. yang implikasinya ialah bahwa pemahaman suatu norma etika tidak hanya tekstual melainkan juga kontekstual untuk diberi makna baru sesuai dengan kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat. Ideologi menentukan tingkah laku kehidupan sosial.

dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa. ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut ini8 : a. d. bebas dari tekanan atau “kehendak yang dipesankan” oleh siapapun dan dari manapun. dalam arti menyebutkan setiap sumber atau informasi yang diperoleh dari pihak lain dalam mendukung sikap atau pendapatnya. maka yang kita tangkap hanyalah segi-segi fenomenalnya saja tanpa menyentuh inti hakikinya. jika tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa. f. Dengan dasar itu semua. dan persuasif. Perlu dikembangkan etika-etika profesi. yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa. Urgensi Pembangunan Karakter Kebangsaan 8 Ibid . bernegara. langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. juga memahami etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati. dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman. pemerintah ataupun masyarakat. Independent. maka perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual. profesi kedokteran. serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai kegiatan pemenuhan amanat nasional. bernegara. bernegara. seperti etika profesi hukum. dalam arti bertanggung jawab atas sikap dan pendapatnya. Jujur.e. dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa. b. profesi ekonomi. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara. dialogis. dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. e. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif. c. berbangsa dan bernegara. tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi. kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan. E. teknologi dan seni. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. anggun secara moral. Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat.

dan akhirnya menjalar ke krisis politik. Perjuangan kelompok/golongan dengan label “demi kebebasan” telah melahirkan aneka konflik kepentingan. Pada dasarnya sebuah proses reformasi merupakan sebuah proses reinventing and rebuilding (menciptakan kembali dan membangun kembali) akan sebuah terciptanya konsolidasi bangsa Indonesia menuju masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran korektif guna kembali menata kehidupannya kembali. Sekitar 10 tahun terakhir rakyat Indonesia merasakan semakin lunturnya rasa kebangsaan. Identitas dan karakter ciri khas nasional perlu dipertanyakan kredibilitasnya. krisis sosial budaya. Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat. Tujuan akhiri proses ini adalah menjadikan masyarakat menjadi lebih baik demi pencapaian tujuan dan cita‐cita nasional bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Sementara tatanan yang baru belum terbentuk. sehingga situasi dan kondisi semakin tidak kondusif. mengapa demikian? Mudah saja bagi kita menguraikan dengan cara kesadaran pada diri dan sekitar kita tanpa adanya sebuah hipnotis dari seorang Romy Rafael. dengan memanfaatkan berbagai macam media masa yang cenderung provokatif dan agitatif.“Kita bisa Kehilangan seorang pemimpin dan kehilangan perekonomian. pada tataran empirik dapat diindikasikan bahwa reformasi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. Bahkan menjadi semakin terpuruk. berlanjut ke krisis ekonomi. Perang Ideologi dari berbagai macam pergulatan politik semakin memberikan warna indah dan warna pelangi sehingga menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang tidak berkeperimanusian dan tidak beradab. Hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. Akibat dari krisis politik yang terjadi. baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. yang berarti hanya kehilangan seorang dan sesuatu saja dan semuanya dapat di bangun kembali akan tetapi ketika kita kehilangan karakter bangsa berarti kehilangan segala-galanya sebagai suatu bangsa (Yudi Latief)9” Perlu kiranya kita pahami kalimat di atas. Diawali dari krisis moneter. nilai-nilai luhur dalam budaya kita hilang. Patut kiranya kita sadari bahwa reformasi yang semestinya berjalan di atas norma dan etika demokrasi pada kenyataannya lebih mirip arena adu pembenaran diri. Namun. Sudah seharusnya reformasi merupakan sebuah perubahan yang sistematis dan terukur. dalam Kompas. banyak pelanggaran etika politik dan berakibat meningkatnya tindakan kriminal di dalam kehidupan bermasyarakat. Sederhana saja kita melihat keadaan bangsa ini pascaperguliran reformasi tidak semakin membaik.Jum’at 15 Januari 2010 . 9 Menyamai Karakter Bangsa Perlukah Keteladanan Pejabat”. sehingga seluruh tatanan yang ada di dunia ikut berubah. Masyarakat Indonesia kehilangan orientasi tata nilai.

Sirnanya rasa kebangsaan akan kebangsaan menjadi luntur. Komunikasi dan Informasi . di Bappenas. Primodialisme atas dasar kesukuan maupun keagamaan tumbuh untuk saling menunjukkan eksistensinya. Padahal. Di sisi lain. suku dan bahasa. justru kecurigaan dan kekhawatiran inilah yang telah menimbulkan konflik dan aksi-aksi kekerasan yang cukup marak di Indonesia akhir-akhir ini. Bangsa yang dahulu dikenal “yang paling sopan di dunia“ mengalami krisis identitas. menjadikan salah satu tujuannya membentuk masyarakat Indonesia yang multikultural tanpa membeda-bedakan darimana dia berasal. 10 11 Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. mulai muncul pengkaplingan tempat tinggal (perumahan) berdasarkan agama. Gerakan-gerakan itu menjalar hampir tanpa hambatan karena sepanjang era Reformasi rakyat Indonesia mengabaikan untuk tidak mengatakan melupakan Pancasila sebagai dampak reformasi yang dinilai kebanyakan orang kebablasan. Kita pun dengan bangga menyebut diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu juga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika terus-menerus dikumandangkan. Sedangkan adanya kebijakan transmigrasi pada era Orde Baru. dalam praktiknya telah berkembang semakin luas dan semakin sulit dikendalikan. Dalam hal sepanjang pemerintahan Orde Baru.Rasa memiliki terhadap Indonesia makin kendur. Mosaik Indonesia retak dan membelah masyarakat dan bangsa. seperti agama. Semboyan Bhineka Tungggal Ika hanyalah sebuah slogan politik bagi segelintir atau sekelompok orang dengan dalih “menuju Indonesia baru”. Berbagai unsur perekat yang mempersatukan kebinekaan bangsa ini kian longgar. oleh Direktorat Politik. Hal tersebut dapat dijadikan bukti bahwa reformasi yang mengusung ide pembaharuan ternyata telah membawa bangsa ini ke dalam cara berpikir yang semakin mengecil dan sempit10.” 11 September 2002. sebagaian rakyat Indonesia menjadikan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai semboyan atau jargon tanpa makna. Selain itu juga wawasan tentang kebangsaan dan NKRIpun mengalami nasib serupa dan lambat laun hilang dari kesadaran anak-anak bangsa sendiri11. Mereka bahkan curiga dan merasa menghadapi ancaman. Bahkan. Hampir dari sebagian rakyat Indonesia melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Pengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan sentimen primordial. dalam diri anak-anak negeri ini ditanamkan nilai-nilai luhur ideologi Pancasila dan UUD 1945. tuntutan pemekaran wilayah yang dianggap sebagai wujud kebebasan ekspresi lokal.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. Bahkan semakin hari semakin tidak mendapat tempat di hati anak bangsanya sendiri. Akibat dari itu semua secara langsung telah mengubah perilaku (behavior) masyarakat menjadi sangat kurang menghormati kaidah‐kaidah kehidupan yang pluralis. Pada era saat ini. merupakan suatu isu yang mudah sekali dibakar.

agama. Dalam konteks ini.Perlu disadari bahwa pluralitas adalah suatu keniscayaan. Founding Fathers menerima dan mengakuinya sebagai kekayaan bangsa Indonesia. olah hati. Tanpa mengakui fakta itu. punya kewajiban untuk menghidupi semboyan itu. Oleh karena itu. untuk menjamin keberlangsungannya. dalam konteks keindonesiaan. pemahaman. selain masalah korupsi dan kemiskinan. adalah upaya pengingkaran terhadap pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (ideologi Pancasila. dan perilaku berbangsa serta bernegara dari hasil olah pikir. Sinar Harapan 2010 ibid ibid . Sebagian besar masyarakat. mustahil negara bernama Indonesia ini bisa bertahan hingga kini12. beraneka ragam tetapi satu. tetapi juga keindahan. Jika saja keadaan bangsa ini dibiarkan terus larut ke dalam situasi sebagaimana gambaran di atas. dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi semakin rapuh. Pandangan multikulturalisme lebih menyukai kebebasan. Di sinilah pluralisme bersambung dengan Pancasila. Pluralisme. bahkan ideologi. NKRI. olah rasa dan karsa. adat istiadat. rasa. mereka menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Fakta sejarah membuktikan bahwa Indonesia dibangun di atas keserberagaman suku. mudah dipahami sebagai Bhineka Tunggal Ika. Dalam hal ini sangatlah bertentangan dengan Konsensus Nasional sebagai manifestasi kehendak untuk bersatu maupun sebagai satu kesatuan karakter atau jati diri bangsa Indonesia14 Kondisi saat ini menuntut perlunya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan itu dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.prinsip pluralisme dan multikulturalisme. serta tanpa upaya nyata untuk segera mengatasinya. dan Bhineka Tunggal Ika)13. konstitusi UUD Negara RI 1945. karsa. sehingga mampu mempertahankan keragaman budaya. upaya sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan 12 13 14 Komisi VIII anggot DPR RI. bahasa. serta olah raga seseorang atau sekelompok orang bangsa Indonesia. “Menemukan Kembali Indonesia Yang Hilang”. Salah satu ancaman serius terhadap keutuhan NKRI dewasa ini. Kita pun. terutama kelompok-kelompok dominan. sebagai ahli waris bangsa Indonesia. masih tidak memahami prinsip. Kebinekaan adalah salah satu ciri utama bangsa Indonesia. Krisis jati diri bangsa yang paling mencekam muncul dalam sikap antipluralisme di kalangan sekelompok anak bangsa. Hal ini karena keragaman budaya ini tidak saja lebih menjamin kemajuan. Bagaimanakah caranya memunculkan kembali karakter bangsa kita sebagai ide dasar yang tercantum dalam 4 (empat) pilar? Karakter bangsa Indonesia akan muncul pada saat seluruh komponen bangsa menyatakan perlunya memiliki perilaku kolektif kebangsaan yang unik dan baik yang tercermin dalam kesadaran. sehingga ini harus direspons dengan arif dan bijaksana.

bangsa Indonesia. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . sebagai measurement guide lines (pengukuran garis panduan) dalam mengelola ketahanan nasional. berbangsa dan bernegara. perlu kiranya dikelola dengan sungguh‐sungguh16.-. dan saling memanfaatkan dalam kerja sama maupun persaingan yang sehat. untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum. bahwa persoalan-persoalan seperti masalah keragaman beragama.masalah HAM. masalah persatuan dan kesatuan.dan tercabik‐cabik oleh semangat disintegrasi. perdamaian abadi dan keadilan sosial. kita.Jakarta : LP3ES. berdaulat. Selain itu juga telah digariskan tujuan nasional (national goals). melalui pemikiran genius founding fathers kita. Hanya dengan kesadaran itu. yang merupakan aspek partikularistik dalam kehidupan bermasyarakat. Founding fathers telah merumuskan secara antisipatif cita-cita nasional (national ideas) berupa negara Indonesia yang merdeka. mempunyai peran penting.bernegara oleh 670 anggota MPR patut mendapat dukungan. Konsensus dasar. berdemokrasi. elemen prediktibilitas dalam hubungan antar bangsa (predictability elements) dan sarana menegakkan kedaulatan (sovereignty) yang di samping mengandung privilege atau hak istimewa untuk mengatur hak penegakan hukum di wilayah negara juga harus ada tanggung jawab pada dunia serta sebagai peringatan dini (early warning) kepada pemerintah. adil dan makmur. Oleh karena itu. berdaulat. Filter atau ambang batas 15 16 Opcit. Artinya.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. bersatu. adil dan makmur serta berkehidupan kebangsaan yang bebas hanya akan menjadi kenangan sejarah. yakni antara lain merupakan fungsi perekat (adhesive function) persatuan. 1987. Sejarah perjalanan bangsa dalam menerapkan konsep tentang karakter bangsa. membutuhkan dan harus terus merawat pilar-pilar kebangsaan itu. Apabila kesadaran kebangsaan tidak pernah terpaterikan di dalam sanubari setiap warga negara Indonesia yang merdeka. bersatu. Sasarannya utamanya adalah supaya pada saatnya nanti pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik. Pemahaman yang lebih baik atas empat pilar tersebut akan menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan yang lebih baik. diterj. Karena dengan keterbukaan. mencerdaskan kehidupan bangsa dan serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Untuk itu. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dengan konsep 4 (empat) pilar kebangsaan akan hilang dari muka bumi. berbagai unsur masyarakat bisa saling memahami. masalah keadilan sosial merupakan permanent constraint (kendala yang permanen) Indonesia. saling belajar. Hasan Basari. Indonesia dapat membangun suatu masyarakat terbuka yang menjadi basis bagi pengembangan paham multikulturalisme.Sinar Harapan 2011 Sukarno dan perjuangan kemerdekaan. Hanya dengan cara itu kita menemukan kembali Indonesia yang hilang dari sanubari anak-anak negeri ini15. secara nasional telah tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945.

Yogyakarta. bangunan tersebut pastilah dibangun dengan seorang arsistek atau konseptor yang handal serta dibantu dengan para tenaga ahli yang profesional dalam bidangnya. Selain itu juga sebagai tempat penggodokan calon-calon pemimpin dan elite kerajaan (pemerintah) ( Fath’ul Muim. prinsip NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. lambat laun akan mengancam kekuatan harkat. artinya pada era tersebut pendidikan non formal menjadikan masyarakat yang memiliki karakter kebudayaan yang kuat dalam membangun kehidupannya. Di sinilah pentingnya kita melakukan revitalisasi terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan dalam dunia pendidikan. hlm 79. Seperti halnya jika kita melihat candi Borobudur atau Prambanan tidaklah mungkin bangunan semacam itu dibangun oleh orang-orang yang bukan berpendidikan. 1. karena bagaimanapun karakter dan identitas bangsa Indonesia harus mengacu kepada konsesus dasar tersebut. Pada masa Hindu-Budha pendidikan mulai dilihat dikenal dengan sistem karyan merupakan sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi19. Akan tetapi perlu kita akui masyarakat pada era tersebut memiliki sebuah peradaban yang cukup maju.(threshold) atau batas pembenaran (margin of appreciation) yang harus digunakan untuk menyeleksi nilai-nilai globalisasi adalah nilai lokal atau nilai partikularistik bangsa Indonesia yang ekstrapluralistik telah mengalami seleksi internal sebelum dan sesudah kemerdekaan dan mengkristal menjadi karakter nasional (national character) berupa 4 (empat) konsensus dasar bangsa. Konsepesi Pembangunan Karakter Bangsa Perlu kita ketahui bahwa sejarah pendidikan formal di Indonesia dimulai semenjak zaman Belanda. Pendidikan Berkarakter. Konsepsi Pembangunan Karakter bangsa dan Dinamika Pendidikan Nasional.murid dan para pengikutnya. Dalam hal ini jika kita tarik benang merahnya bahwa sistem pendidikan Hindu-Budha pada era tersebut lebih 18 17 18 Muladi Artikel National Charaktter. Sulit jika kita mencari sebuah refensi tentang bagaimanakah proses pendidikan pada era tersebut. Untuk itu kita perlu mengimbangi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam atas nilainilai luhur yang terdapat pada 4 (empat) pilar kebangsaan. yaitu Pancasila. F. Untuk itu perlu kiranya dihayati baik secara konseptual tentang studi strategis yang selalu memasukkan karakter nasional dan karakter pemerintahan sebagai salah satu determinan utama kekuatan nasional (national power) atau ketahanan nasional (national resilience) yang sangat strategis. UUD 1945. selain itu juga pada era sekarang diperlukan sebuah karakter pemerintahan (governmental character) sebagai nilai-nilai dasar demokrasi17. martabat dan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. kita tentu akan bertanya bagaimanakah pendidikan kita sebelumnya? sebelum pendidikan ala barat dikenalkan di Indonesia. Arus Media 2011) 19 Ibid hlm 77 .2010 Karyan dibagi menjadi sebuah tempat untuk segala kegiatan keagamaan yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta. Jika hal ini kurang diantisipasi. pada saat nusantara masih dikendalikan oleh raja-raja.

mengapa demikian? sebab pada era tersebut masih terasa kental budaya kerajaan yang masih kuat dengan ketertundukan rakyat pada kaum bangsawan. hal ini bertujuan untuk mempermudah antara pribumi dan Belanda dapat berkomunikasi dengan baik. Pendidikan Islam juga mengenal istilah mengasingkan diri dengan sebutan istilahnya Uzlah atau yang saat ini dikenal dengan model pendidikan pondok pesantren. karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi kebangsaan yang ada. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada. seperti pepetah RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing. Untuk itu bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. sekolah modern lebih diwajibakan untuk mempelajari bahasa Belanda. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Bagi penduduk pribumi bahwa pendidikan modern dirasakan sebuah berkah karena telah mampu melepaskan diri dari kegelapan zaman lama. bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan dengan cara lisan seperti halnya sebuah dongeng dan cerita legenda. sehinggga model pendidikan membawa pengaruh dan mengalami akulturasi dengan pendidikan yang sudah ada sebelumnya. welas asih dan bijak. melalui penggemblengan diri agar terlatih menjadi manusia yang memiliki moral. keetisan. sehingga ia menjadi orang “asing” dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran ideologi yang menyesatkan. aksara dan buku-buku sebagai sumber bacaan yang menambah wawasan dan wacana sehingga dapat membantu rakyat mengembangkan imajinasi terhadap kehidupannya secara lebih maju lagi. Sehingga dampak akses bagi kaum muda yang tidak mengenal akan sebuah . membawa sebuah pengaruh peradaban di era tersebut. Hanya saja pada era penjajahan ini. kesadaran. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik yang tidak memahami dan mengerti akan sebuah ideologi bangsanya sendiri. maupun bagi bangsa. Pada masa inilah pendidikan karakter di desaian untukmenciptakan ketertundukan dan kepatuhan anak-anak pribumi. maka mereka tidak akan mengenal jati diri bangsanya dengan baik. kepribadian. kecerdasan. Ketika Islam datang di Nusantara. Ketika hal ini terjadi. akan tetapi perlunya sebuah pengenalan huruf. khususnya para priyayi-priyayi terhadap penjajah Belanda.diarahkan pada pembentukan karakter yang disandarkan pada penyerahan diri kepada dewa untuk kebijaksanaan. Dengan pendidikan modern. terutama dari lingkungan budayanya. sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian. Pada era penjajahan Belanda memunculkan sebuah sekolah modern. dengan tetap tanpa meninggalkan atau mengubah sturktur sosial agar sesuai dengan kebutuhan dari bangsa penjajah tersebut. bagi sesama warga negara.

20 21 Mubyarto. pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. Dalam hal ini merupakan sebuah bentuk landasan ideologis yang dapat diterapkan pada kegiatan pendidikan.pragmatis serta antipati akan sebuah persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. sebagaimana dikutip dalam pidato Mohammad Nuh (2010). sehingga penting kiranya untuk direalisasikan sebagai salah satu tahapan membentuk kepribadian peserta didik yang benar-benar berjiwa nasionalis dan religius. Mengenai pandangan Notonagoro tersebut. termasuk pendidikan Nonformal dan Informal. Lebih lanjut Muhammad NUH mengemukakan. upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perwujudan dari asas perikemanusiaan yang adil dan beradab. Perlunya Pendidikan Karakter di2004:45 ibid . Ini pertanda bahwa antara budi pekerti (akhlak. 22 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pengajaran dan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis Karakter. mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. selaras dengan ketentuan Pasal 2 UU No. sekaligus menyiapkan generasi Indonesia 2045 dan dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD dan nantinya. Untuk memenuhi cita-cita tersebut. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.ideologi bangsanya sendiri akan cenderung menjadi acuh. Pandangan lain yang diutarakan Wamendiknas dalam rembug nasional Pendidikan Karakter di UPI dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Wawasan Kebangsaan” sebagai berikut : “Bahwa Arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan Negara. Pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. pikiran (intellect) dan tubuh anak. Sedangkan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959). Mendiknas menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 ingin mewujudkan dalam kegiatan nyata. moral. pikiran (wawasan pengetahuan) dan tubuh peserta didik harus berjalan seiring-seirama dalam proses pendidikan sebagai modal mencerdaskan dan memajukan peradaban bangsa. merekalah yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia21. Dalam pandangan Notonagoro20. karakter). bahwa pendidikan berbasis karakter bisa dijadikan gerakan nasional. pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan dibangun atas prinsip dan semangat nilai-nilai dari 4 (empat) pilar kebangsaan tersebut. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan bersama semua asas yang terkandung dalam Pancasila. etika).

Thursday.dikti. Mahatma Gandhi menyatakan. cakap. Mengenai sarana-prasarana.com 23 ibid 24 Ibid . kebebasan akademis. 03 June 2010 . Dengan demikian. mandiri. di mana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”. Bahkan di tingkat pendidikan tinggi. kreatif. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri sangatlah luas24.Perihal pengembangannya sendiri. berakhlak mulia.www. bahasa. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. adat istiadat dan agama. berilmu. yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran23. salah satu fungsi pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah membentuk watak serta peradaban.bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu. sehat. sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku. salah satu dosa sosial yang mematikan adalah education without character. Ing Madyo Mangun Karso. Pendidikan harus mampu mengembangkan budaya dan karakter bangsa. 22 Yoggi Herdani . Selain itu. bisa langsung dikaitkan dengan disiplin ilmu. apalagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. yang terkenal dengan istilah multikulturalisme (Pidato Mohamad Nuh: 2010). Pendidikan nasional harus melihat persoalan di atas sebagai sesuatu yang sangat strategis. Tut Wuri Handayani. Sebab. Wamendiknas pun berpesan. budaya akademis dan kejujuran intelektual serta etika profesi masing-masing bidang keilmuan. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantara yang mengemas pemikirannya tentang pendidikan dalam sebuah konsep sederhana yang mengandung dasar filosofi pendidikan : Ing Ngarso Sung Tulodo. Dalam prosesnya sendiri fitrah ilahi ini dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Bahwasanya sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting22. pendidikan karakter ini tidak memiliki saranaprasaran yang istimewa. hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. Dokter Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu yakin bahwa pendidikan merupakan solusi utama guna mengentaskan bangsa dari keterbelakangan dan kemelaratan. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.” Pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan ilahi. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter.

kejahatan perbankan. pendidikan karakter ini harus disinergikan dengan pendidikan Pancasila. Dengan demikian upaya untuk menjadikan karakter bangsa sebagai norma bagi kehidupan masyarakat harus diawali oleh adanya kemauan politik (political will) pemerintah terlebih dahulu26. setidaknya mempunyai tugas untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. seperti melakukan korupsi. di sisi yang lain kemiskinan dan kebodohan masih terhampar luas di negeri ini dan menjadi tontonan menarik di televisi 27. Perlu kiranya kita ketahui bagaimana mendapat pendidikan secara formal dan non formal yang diperoleh masyarakat.Komunal:jakarta. terorisme. tidak hanya secara wawasan keilmuan. dan berbudaya telah masuk ke semua lapisan masyarakat. Pendidikan berbasis kebangsaan yang dimaksud.UII Yogyakarta.2010 Fachri Ali. Dinamika Pendidikan Nasional Dalam dinamika proses pendidikan tidaklah lepas dari aspek sejarah akan sebuah proses pendidikan yang diperoleh masyarakat. akan tetapi kader bangsa yang juga berkualitas secara moral (al-akhlak al-karimah). seperti halnya unjuk rasa yang menimbulkan aksi anarkis. Dalam hal perjalanan waktunya bahwa sejarah membuktikan 25 26 27 Muladi Artikel National Charaktter. Pendidikan Agama. pelacuran intelektual dan sebagainya25. setiap lembaga pendidikan diharapkan untuk membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki ideologi Kebangsaan yang kuat. melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. malapraktik. tawuran pelajar dan mahasiswa.hlm 20 .”Pergulatan Perjalanan Reformasi”.2006. Pada dasarnya pendidikan berkarakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003. beragama. Kewarganegaraan dan serta Ilmu Budaya Dasar. Secara substansial rusaknya karakter berkebangsaan. 2.intelektual Indonesia tidak justru menjadi predator bagi bangsa dan negaranya. pendidikan yang memiliki karakter Ideologi Kebangsaan perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan walaupun demikian pendidikan karakter pada implementasinya tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku. yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu. Maka dari itu. kriminalitas setiap hari menjadi ditayangankan. Pendidikan yang berkarakter Ideologi Kebangsaan sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. Pasal tersebut mengatur mengenai sistem pendidikan nasional.2006 Hlm 1 Wijaya Kusuma. Oleh karena itu.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA.

bisa dibayangkan akan sebuah pendidikan di negeri ini”29. maka jawabannya sederhana : Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku mulia” (Plato. hlm 291 . Bebas dari sekolah. selain itu juga sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anakanak dan kaum muda. bahwa seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya manusia. Ivan Illich misalnya. bijak dan pendidikan menghasilakan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal. terutama sejarah tentang perkembangan sosio-ekonominya. menurutnya bahwa sekolah yang terlembagakan hanya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. proses maupun hasilnya. Kalimat pernyataan dari seorang Pramoedya merupakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi kalangan akademisi sekaligus menjadikan sebuah kajian pelajaran buat dunia pendidikan di negeri ini. apalagi kalau guru itu sendiri seorang bandit. Mengapa demikian?.2006). Tujuan pendidikan memang bercita-cita mulia yang harus dihormati. Mungkin saja bagi orang yang tak mau berpikiran realistis dan menerima 28 29 Ivan Illich. Dalam setiap kehidupan masyarakat memiliki sebuah kekuatan sosio ekonomi yang sama. bahwa pendidikan merupakan bentuk awal dari manusia dalam menghasilkan ide dan meraih cita-cita di dunia ini. baik akses. begitu juga sebaliknya dalam menerima pendidikan bagi masyarakat yang dikatagorikan ekonomi lemah hanya mengandalakan dari sebuah bentuk pengalaman ataupun pengetahuan yang di dapat pada kesehariannya. “Janganlah Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Dalam hal ini pendidikan masih di pandangan sebagai cara untuk membuat manusia menjadi baik. Kita tak perlu menutup-nutupi realitas kenyataan yang ada tak perlu lagi bermain pada wilayah citra (imalogi). bahkan cenderung orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan formal28. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan secara tegas.pendidikan tak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat didalamnya. adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). “ Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan. termasuk menghormati lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya. Tidak dipungkiri bahwa adanya sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan. Jejak Langkah. (jakarta: Sinar Harapan-Yayasan Obor Indonesia. (Jakarta: Lentera Dipantara. Sudah barang tentu kiranya perkembangan pendidikan suatu masyarakat ditentukan oleh sejauh mana kekuatan produktif dapat di tata dengan baik.1982) Pramoedya Ananta Toer. Seorang sastrawan besar di Indonesia. 428-347 SM) Kalimat filosofi di atas merupakan pandangan yang sangat idealis akan sebuah pembentukan karakter manusia.

Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Tidak ada sebuah perubahan jika tidak adanya sebuah kritikan yang di dasari ketidakpuasan atas kondisi yang ada. Jika kita tilik dari pengalaman sejarah bangsa. kita akan menemukan bahwa bangsa ini terbentuk bukan terutama karena praksis pejuangan melawan penjajah yang tersebar secara sporadic di seluruh tanah air. bahkan fenomena ini hampir disetiap daerah ada. Ide dan gagasan ini dimulai dari hasil “perantauan mental” para pemikir dan candekiawan kita pejuangkan dengan kerja keras. Namun. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal. seperti R. Fenomena yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang. perjuangan dan perlawanan tidak akan ada. Pancasila Sebagai Dasar dan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pada dasarnya manusia dapat hidup sempurna dalam hubungan dan pergaulan dengan sesamanya.Kemerdekan kita berawal dari sebuah ide dan gagasan. kedisiplinan. Tan Malaka. Penghinaan dan penindasan mental oleh kalangan akademisi yang tak mau pedulu bahkan cenderung mementingkan diri sendiri akan membawa sebuah kehancuran bagi benak kaum muda. bahwa pernyataan Pramoedya terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kehormatan seorang akademisi. kecerdasaan dan menjadi manusia yang produktif pada saat terjun ke dunia masyarakat.kenyataan secara terbuka dan lapang dada. banyak sekali kejahatan terhadap anak didik yang dilakukan di dalam kalangan akademisi (dosen/guru). Hatta. G. Seorang akademisi yang baik adalah seorang yang mampu memberikan sebuah inpirasi muridmuridnya. dan menganggap peserta didiknya sebagai musuh. mereka mencoba membayangkan dan menggas sebuah bangsa yang memiliki identitas. Moh. Kalo kita mau menegok sedikit ke belakang dan melihat bagimana awal munculnya kebankitan nasional.kartini.tanpa ada pemikiran tentang ‘siapa diri kita ini’. melalui perjuangan sengit yang megorbankan banyak nyawa dan harta. kata-kata tersebut seharusnya dijadikan sebuah evaluasi diri bersama khususnya bagi kalangan akademisi. Apa jadinya dunia pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah tempat guna mencetak anak bangsa menjadi tidak mutu dan tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun sebuah bangsa.A. Natsir dan lain-lain. Soekarno. Hal ini berarti bahwa ada beberapa yang perlu . Dengan caranya masing – masing. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. sehingga mereka benar-benar bisa tumbuh menjadi manusia yang mengarah pada kebaikan karakter seperti halnya memiliki kejujuran. Ki Hadjar Dewantara. seperti halnya akademisi yang terkenal malas mengajar. pendidikan karakter sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. kalau kita mau menempatkan pernyataan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap dunia pendidikan. ada juga perlakuan yang kasar bahkan memperkosa anak didiknya sendiri.

manusia sebagai subjek pendukung. Ketika terbentuknya sebuah komunitas terbesar dalam bentuk negara. yaitu sebagai berikut : • Sila Pertama: menghormati setiap orang atau warga Negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masingmasing. • Sila Kedua: menghormati setiap orang dan warga Negara sebagi pribadi (persona) “utuh sebagi manusia”. komprehensif serta sekaligus evaluative bagi pengembangan etika dalam kehidupan bermasyarakat. • Sila Kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan social yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga Negara. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan silasila lain.tertib dan sejahtera. serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. • Sila Keempat: kebebasan. kebersamaan. . Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai referensi kritik social kritis. Adapun aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika. kemerdekaan. tercermin dalam sila-silanya. maka masyarakat membentuk hukum dasar dalam bermasyarakat yang berasal dari kebiasaan dan atau perjanjian antara kelompok yang ada di dalamnya telah disepakati. • Sila Ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasisegmentasi atau primodialisme sempit dengan jiwa dan semangat “Bhineka Tunggal Ika”. yaitu bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai mufakat secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan. merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat.dikembangkan pada proses hubungan dan pergaulan antar sesesama sehingga kehidupan yang aman. pengemban serta pengelola hak-hak dasar kodrati. penyangga. berbangsa maupun bernegara.

efisien. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. “Pendidikan Pancasila sebagai Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat. bangsa. Untuk itu. ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang. saling peduli. bernegara. Etika Pemerintahan dan Politik Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. hlm 14 :2009 . adapun Etika yang ada di dalam nilai-nilai Pancasila adalah sebagaimana berikut ini 30: a. dan negara. saling mencintai.Selain itu juga. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. b. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. 30 Syahrial Syarbaini. Ketetapan MPR No. menghargai perbedaan. Senafas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu. bersikap. dan efektif. dan bernegara. Ghalia Indonesia. Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. tanggap akan aspirasi rakyat. siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. Etika Sosial dan Budaya Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur. Oleh karena itu. rasa tanggung jawab. dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan. berbangsa. dan tolong menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. jujur dalam persaingan. dan Bermasyarakat. nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir. saling memahami. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa. saling menghargai. serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Bernegara.

. Etika ini etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca. serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usahausaha bersama secara berkesinambungan. e. logis dan objektif. institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi. baik oleh pribadi. dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan. daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing. persaingan sehat. menulis. dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur. dan keadilan. keputusan. Etika Ekonomi dan Bisnis Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran bahwa tertib sosial. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Dengan demikian ketika sebuah norma dasar yang berasal dari sebuah kebiasaan dan atau perjanjian oleh masyarakat telah dipatuhi dan dilaksanakan maka secara tidak langsung membentuk sebuah karakteristik dari komunitas itu sendiri yang akan menjadi pegangan atau pedoman hidup dalam bermayarakat dan berbangsa. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli. serta secara bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perundang-undangan. dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru. meneliti. ketenangan. kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi. oligopoli. program-program pembangunan. mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi. d. Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional. kritis. kebijaksanaan pemerintah. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang ada. dan peraturanperaturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila.c. berkeadilan. membahas. belajar. ketetapan.

Tampak bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang berlandaskan Pancasila yang memuat elemen kepribadian yang sama-sama diharapkan sama sebagai jadi diri bangsa. bahkan terperangkap skenario elite politik. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. melainkan muncul karena perilaku sosial kalangan elite yang tidak mencerminkan pranata hukum. tapi orang bangga menjadi koruptor. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. justru sebaliknya mendekam diteralis besi karena korupsi. bahkan berbagai kalangan bersuara lantang anti korupsi. berorientasi iptek yang semuanya dijiwai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar. Ironis di lembaga pendidikan diajarkan anti korupsi.percayaan rakyat terhadap pemerintah (distrus). maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa. bergotong royong. dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. Keberingasan sosial dapat dijadikan indikasi fenomena kemanusiaan yang tidak tercipta begitu saja. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya. Rendahnya penghormatan terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidak. dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. berjiwa patriotik. anggota DPR yang seharusnya melindungi rakyat dari praktik tidak terpuji. berakhlak mulia. Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu. berkembang dinamis. tetapi juga dapat diterima oleh bangsabangsa lain sebagai dasar hidupnya. Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945. Pancasila bersifat universal dan akan . Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda.Untuk itu proses pembentukan karakter bangsa dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan sama berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi karakter bangsa. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara. penegak hukum tidak profesional. kompetitif. Untuk kemajuan negara Republik Indonesia diperlukan karakter bangsa yang tangguh. bermoral. Pancasila berkedudukan sebagai grund norm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. berbudi luhur. toleran. Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita.

Kristen (Protestan). Oleh karena itu. sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang sudah final. kesatuan dan (saling) menghormati. Katolik. Keempat nilai humanis tersebut.Pancasila sebagai perekat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia (Ke Bhineka Tunggal Ika). sebagaimana bentuk dari penjawantahan dari filosofi Ideologi Pancasila yakni perdamaian. apabila dihayati secara seksama sebenarnya merupakan sebuah pesan dari butir-butir Pancasila. Hindu. yaitu Islam. dan Konghucu.mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. cinta. Budha. Juga realisasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap ajaran enam agama besar di Indonesia. BAB III UNSWAGATI DALAM PERKEMBANGANGAN. RENSTRA DAN KEBIJAKAN PIMPINAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN KEBANGSAAN DI UNSWAGATI . Hasil daripada semua itu diharapkan akan dapat mencetak sebuah mutu dan kualitas generasi bangsa yang tangguh.

221 sarjana dari 11 (sebelas) program . Drs (Pejabat Rektor Juni 2005 – Agustus 2005) Dr. Djakaria Machmud.. Sriadi.. Pada tahun 2001 Unswagati membuka dua program pascasarjana (S2). Di bawah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. 4.M. dan Yogyakarta untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi. MBA (1998 – 2002) H. Fakultas Pertanian. baik sipil maupun militer serta masyarakat pendidik yang ada di Cirebon. Amir Husodo. Jusup Mulia.. dalam pelaksanaannya menyedot biaya besar. H.E. Kav. Departemen Pendidikan Nasional dan membuka konsentrasi Magister Hukum Kesehatan pada tahun akademik 2009/2010. yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. dan Fakultas Teknik. H. Soedjono. Pada tahun 2004 Unswagati mendapat izin untuk penyelenggaraan Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang sarjana (S1) dan pada tahun 2005 Unswagati mendapat izin untuk menyelenggarakan program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. UNSWAGATI terus mengalami perkembangan yang cukup berarti. 7. Sejarah Berdirinya Unswagati Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) didirikan pada tanggal 16 Januari 1961 dengan tujuan membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. 2. S. (1965 – 1969) Letkol. Tentu. MM ( 2002 – 2005) H. 3. dan 11. karena pada saat itu banyak lulusan Sekolah Menengah Atas Cirebon yang pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta. UNSWAGATI telah meluluskan 2. Hal itu dirasakan perlu. Bandung.794 Program Diploma III/Sarjana Muda. Sampai dengan wisuda periode Oktober tahun akademik 2007/2008. (1961 – 1965) Letkol. Kemudian pada tahun 1979 IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung dengan Unswagati menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.A. Maka didirikanlah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati dengan Akta Notaris Mr. SH. Ili Rohaeli. 5. Pada tahun 1983 didirikan tiga fakultas baru. Drs. SH. Saleh Sachjana (1969 – 1998) Letkol. SH. 6. Prakarsa masyarakat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi mendapat respons positif dari kalangan institusi resmi pemerintah. yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 300 orang. yaitu Magister Ilmu Administrasi. Djoko Mardedjo nomor 29 tanggal 16 Januari 1961. Sejak berdirinya UNSWAGATI telah dipimpin oleh tujuh orang Rektor. Pada tahun 2008 Unswagati memperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. khususnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. dan Magister Ilmu Pertanian.Si (2005 – sekarang) Pada saat baru berdiri Unswagati hanya mempunyai dua fakultas. yaitu: 1.

Program Studi Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Publik dan Program Studi Ilmu Hukum dengan Konsentrasi Hukum Bisnis dan Otonomi Daerah serta mulai tahun akademik 2009/2010 dibuka BKU Magister Kesehatan.studi sarjana (S1) dan 3 (tiga) program Pascasarjana yang ada di lingkungan Unswagati. dan Pendidikan Ekonomi. Pendidikan Matematika. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. Fakultas Ekonomi: Program Studi Manajemen. dan Akuntansi. Dengan demikian jumlah lulusan/alumni yang telah dihasilkan Unswagati sampai dengan wisuda periode September tahun akademik 2008/2009 sebanyak 15. Tabel 4 PROGRAM STUDI/KONSENTRASI HUKUM ILMU HUKUM EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI KEGURUAN DAN PENDIDIKAN BAHASA & ILMU PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA PENDIDIKAN EKONOMI ILMU SOSIAL DAN ILMU ADMINSITRASI POLITIK NEGARA ILMU KOMUNIKASI PERTANIAN TEKNIK KEDOKTERAN PASCASARJANA AGROTEKNOLOGI AGRONOMI TEKNIK SIPIL PENDIDIKAN DOKTER AGRONOMI ILMU ADMINISTRASI FAKULTAS JENJANG S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 AKREDITASI BAN-PT TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C TERAKREDITASI B TERAKREDITASI B TERAKREDITASI C IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN IZIN PENYELENGGARAAN TERAKREDITASI B ILMU HUKUM/HUKUM S-2 BISNIS DAN OTONOMI DAERAH/HUKUM KESEHATAN . dan Fakultas Kedokteran dengan Program Studi Ilmu Kedokteran. Untuk Program Pascasarjana sampai dengan wisuda periode Oktober Tahun Akademik 2008/2009 telah meluluskan 217 Magister yaitu Program Studi Ilmu Tanaman dengan Konsentrasi Teknologi Pascapanen Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian: Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis. yaitu Fakultas Hukum: Program Studi Ilmu Hukum. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Teknik: Program Studi Teknik Sipil. Di bawah ini disajikan jumlah fakultas dan Prodi yang diselenggarakan oleh UNSWAGATI Cirebon.279 orang.

Visi. berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mengaplikasikannya. dan seni guna mendorong pengembangan budaya bangsa. inovatif dan berorientasi regional. Dan Tujuan Unswagati Visi Unswagati yaitu terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. 3. tetapi lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. 3. 2. serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. 4. Misi 2010-2019 yaitu memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi yang bermartabat. 5. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa. . dan mempunyai rasa percaya diri.B. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam mengemban misi tersebut. Tujuan Unswagati yaitu : 1. dan menjadi pebelajar yang tangguh. serta berdedikasi terhadap tugas yang diembannya. Mempunyai kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Misi. Menghasilkan output yang berkualitas dan mampu berubah menjadi outcomes yang siap diserap oleh stakeholder. 6. teknologi. bermoral Pancasila. Unswagati mengacu kepada prinsip LRAISE yaitu : 1. 2. nasional dan global. Mengembangkan ilmu pengetahuan. Leadership Relevance Atmosphere Internal organization Sustainable Efficiency Unswagati bertanggung jawab terhadap masyarakat tidak sekedar menghasilkan lulusan yang mempunyai daya nalar.

seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. 2. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Pimpinan Fakultas. Usaha Unswagati dalam mewujudkan visinya tersebut yaitu memberdayakan potensi Unswagati dalam menumbuhkembangkan kualitas akademik dan menjadikan Unswagati sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat yang berlandaskan riset.Unswagati berkewajiban mewujudkan visi sebagai universitas unggulan melalui kerja sama yang dibangun antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan lembaga agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam perjalananya. harus berangkat dari visi Unswagati. Unswagati sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dapat meningkatkan perannya dalam menunjang pembangunan nasional di segala bidang. Dengan demikian. Dosen dan karyawan Universitas Swadaya Gunung Jati dengan ini menyatakan: 1. C. dan penerapannya dalam kehidupan nyata setiap bidang kajian. disiplin. Visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. bermoral Pancasila. seiringa dengan memudarnya prinsip-dan nilai kejujuran. serta memiliki kepemipinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama . Lulusan Unswagati dituntut dapat mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang. untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. profsionalisme. Komitmen tersebut di formal dalam bentuk pernyataan tertulis yang di tandatangani oleh Para wakil Rektor. kerjasama dan penhormatan terhadap lembaga tempat bekerja. . pengembangan hasil riset. Isi prnyataan sikap tersebut secara rinci sebagai berikut: LIMA PILAR UNSWAGATI Kami pimpinan Universitas . berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi. Lima Pilar Unswagati sebagai Pijakan dalam Pelaksanaan TRI DARMA Perguruan Tinggi Bagi Sivitas Akademik Pembicaraan tentang kebijakan pimpinan Unswagati dalam melaksanakan pendidikan karakter berwawasan kebangsaan di Unswagati.

Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. 1. maka mati lah semua panca indra untuk empati dalam hidup ini BERBOHONG PADA DIRI SENDIRI ADALAH PERBUATAN YANG AKAN MEMBUAT HATI ANDA MATI Istilah Kejujuran ini sering mendengar bahkan menjadi sebuah langkah awal ketika seseorang saling mengenal dan memahami satu sama lain. Fenomena yang teramati boleh saja yang berupa suatu peristiwa. tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Bila seseorang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. 4. Berikut ini kami akan mencoba memberikan pemahaman sebatas mampu kami tentang makna dari kata jujur ini. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka seseorang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. pekerjaan yang telah atau sedang serta yang akan dilakukan. Disiplin . Pengertian Kejujuran Hati ibarat raja. 5. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi.etos kerja. ketika mati seorang raja maka matilah semua rakyatnya. . Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami.3. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Sesuatu yang teramati juga dapat mengenai benda. jika hati sering didustai maka raja itu akan cepat mati. Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. sifat dari benda tersebut atau bentuk maupun model. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut.

Dengan kata lain jujur juga berkaitan dengan janji. maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. Kalau memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. baik itu akidah. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman. Dalam kasus ini sang Tukang tidak berusaha menyesuaikan informasi yang ada dengan fenomena (tindakan yang dilaksanakan ). Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu. mencuri. Cuma aku masih senang mabuk-mabukan. ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu. sungguh. sebelum Colombus mendarat di Benua Amerika telah sampai kesana armada Laksmana Cheng ho. aku tidak sanggup meninggalkanya. Peristiwa ini jelas memperlihatkan si Tukang tidak mengikuti ketentuan yang ada dalam pedoman kerja. tidak ada pengakuan. bahwa …. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad. ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku. di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang.orang pertama sekali yang sampai ke Benua Amerika adalah Cristofer Colombus… Padahal menurut sejarah yang berkembang. kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya. Dalam perjalanan pulang. Disini jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan ungkapan (informasi) yang disampaikan dengan realisasi (fenomena). Dalam hal ini kita ambil contoh . Dalam hal ini kita juga melihat persoalan kesesuaian antara fenomena (realitas) dengan informasi yang disampaikan. Misalnya sesorang mengatakan dia akan hadir dalam pertemuan di sebuah gedung bulan depan. akhlak ataupun muamalah. Mungkin kita pernah melihat atau memperhatikan Tukang bekerja. Dia berfikir. maka . Islam terbuka pada siapa saja . laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. Artinya apa. Dengan demikian berarti si Tukang tidak bersikap jujur. syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati. sumpah. seperti perkara jual-beli. Dalam pedoman kerja (tertulis atau tidak) ada ketentuan sebuah perbandingan yakni 3 : 5. diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina. tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta!. orang Eropa membuat pernyataan atau menyampaikan informasi. Tapi dalam pelaksanaan kerja Tukang tersebut tidak mengikuti angka perbandingan itu. tidak apa apa lah. Kejujuran juga bersangkutan dengan pengakuan. berzina dan berbohong. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. dia membuat perbandingan yang lain yakni 3 : 6. utang-piutang. dan sebagainya. Dia bekerja berdasarkan sebuah pedoman kerja. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu. Berbicara tentang arti kejujuran. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. jangan khawatir. dan kalau jujur. apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab. Setelah keluar dari baitnya (dalem) Nabi. teman temannya menawarkan Khamer . Keesokan harinya. ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta.Perlu juga diketahui bahwa ada juga seseorang memberikan berita atau informasi sebelum terjadinya peristiwa atau fenomena.kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu. Kemudian Dia Matur kepada Rasul.

Kedua. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah assidqu. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama. Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. Keempat. Ketiga. Kedua. cinta dan sebagainya. tawakkal. adu domba . Kelima. as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas.pintu maksiat tertutup bagiku . Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut. Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti menyebarkan aib seseorang. (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116) Lebih lanjut. menghindari dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana. ridho. menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. al juanid berpendapat. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Keenam. shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motivator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. as-shidqu fia’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebagainya . Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. anti korup dan sebagainya. kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW.Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT. Pertama.

maka dikatakan dusta. tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Jalan Tirani (melanggar Nilai Pembebasan) Jalan Seks Bebas (melanggar Nilai Keluarga) Jalan Kekerasan (melanggar Nilai Kemanusiaan) Jalan Korupsi (melanggar Nilai Keadilan) Jalan Munafik (melanggar Nilai Kejujuran) Dari urain diatas. Jadi. Perjanjian tersebut wajib dipenuhi. maka dikatakan benar/jujur. merupakan sifat orang yang munafik. padahal sebaliknya. Kejujuran itu ada pada ucapan. tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. juga ada pada perbuatan. tetapi kalau tidak. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. 5. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Namun manusia dapat membuat perjanjian tambahan yaitu berjuang di jalan Allah (QS At-Taubah 9:111).” (QS.” (QS. az-Zumar: 33) Nilai Kejujuran atau Amanah adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam. Allah berfirman. Setiap manusia setidaknya terikat satu perjanjian dengan Penciptanya untuk tidak menyembah Iblis (QS Yaasiin 36:60). Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab. 4. Maka. sedangkan lawannya. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga. sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan. al-Maidah: 119) “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman. kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada. Bersabda. Imam Ibnul Qayyim berkata. kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesama manusia dalam kehidupan sehari hari.akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid. Yang jelas. dusta. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. 3. Manusia juga tidak selayaknya mengambil jalan-jalan lain selain Jalan yang Lurus. Misalnya: 1. secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi. 2. sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq” . “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. kecuali kejujurannya (kebenarannya). Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Paling tidak. Berasosiasi professional dan menetapkan standar pendidikan 9. Berorientasi pada pelayanan ( service orientation ) 6. Maka dari sinilah. At-Taubah : 199). sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. Mempunyai motivasi yang kuat. 2. 1. 3. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian. merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut . Sikap Anda akan menentukan bagaimana hasilnya. bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara Informasi dengan fenomena. untuk itu kami mencoba menarik defini tersebut kedalam sebuah cerita-cerita dibawah ini. akan terhindar dari hal hal yang dibenci. berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman . sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. atau untuk mengisi waktu luang. Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga. 10. keempat. Jadi dari uraian di atas dapat diambil semacam rumusan. Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill) 4. Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan 2. pertama. Pengertian Profesional ‘Keahlian adalah apa yang Anda kerjakan. adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas) 5. untuk senang-senang. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993). mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. Definisi diatas merupakan sebagian kecil dari sebuah pengertian Profesional jika kita pahami akan sulit dalam penerapannya. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 7. mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang. . Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. Otonom dalam penilaian karya 8. sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi. bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya.Tidak dibenarkan mengiklankan diri PROFESIONAL.' Pengertian Professional Menurut Para Ahli berikut ini : Menurut Prof.

Ucapan itupun masih juga terlontar. Baginya fisik hanyalah alat yang digerakkan oleh sumber kekuatan terdalam: hati. Sehingga keterbatasan fisik bukan merupakan alasan. kami sedang berpikir keras kira-kira faktor apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang didalam kuliah. . karena cukup bagi saya untuk membeli Ensiklopedia kalau hanya untuk mendapatkan seperti itu'. apa kita diharapkan menjadi manusia super yang kampiun di Teknik juga jago di Ekonomi? Tidakkah sebaiknya kita bersinergi saja. kebutuhan akan bahasa tersebut sangat diperlukan. mengidolakan dan benar-benar menaruh rasa hormat kepada Mimi Rasinah (80). mendapatkan pekerjaan dan sukses dalam pekerjaannya. kala kita sudah memasuki dunia kerja dan biasanya diucapkan oleh pekerja lapangan yang telah tahunan bekerja yang merasa di'perintah' atau di'arahkan' oleh lulusan Teknik yang masih ingusan. berarti ia belum menemukan jati dirinya karena ia sendiri tidak memahami peruntukan untuk pengabdian ilmunya..Dalam kondisi separuh badan mati karena stroke. suatu hari pebisnis ulung perangkat lunak Bill Gates (55) sedang menonton acara yang mempertunjukkan kehebatan seseorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan dapat menjawab setiap pertanyaan penguji dengan benar. Pikiran sendiri pulalah yang membantahnya ‘Apa benar begitu?. Beliau adalah seorang maestro tari topeng Indramayu yang mungkin tidak akan tergantikan dalam beberapa puluh tahun kedepan. kami benar-benar kagum.Ada sebuah cerita. Sebuah cerita lain. atau pelajaran apa yang semestinya harus diajarkan tetapi kita tidak mendapatkannya. Bagi lulusan Teknik yang mengamini pendapat seperti itu. Selintas terpikir untuk melihat faktor kesuksesan mencari kerja dan dalam pekerjaan dengan mencari jenis pelajaran (atau knowledge) apa pada waktu kuliah yang paling bermanfaat dalam dunia kerja. Jawaban Bill Gates benar-benar mencengangkan ‘Saya akan membayar dia USD 100. dan usia yang renta ia masih mampu mengalirkan aura magis dan menyihir penonton Bentara Budaya Jakarta (4/8/2010) yang ternyata merupakan dedikasi terakhirnya sebelum ia meninggal (7/8/2010). Kemudian terpikir pula kalau ‘Ekonomi' adalah pelajaran yang perlu dijejalkan diotak mahasiswa Teknik. Dalam bayangan ‘Bahasa Inggris' adalah pelajaran yang sangat perlu diperkaya di bangku kuliah karena ternyata didalam dunia globalisasi kerja. Kemudian bertanya seseorang yang waktu itu nonton bersama kepada Bill Gates ‘Berapa anda akan bayar orang tersebut jka bekerja pada Microsoft?'. Yang kami kagumi dari mendiang adalah: sikap totalitasnya! Sejatinya. maksud kami menampilkan cerita-cerita tersebut. sehingga ia tidak cukup tangkas bekerja di bidangnya dan tidak mengetahui permasalahan di lapangan. Ataupun kira-kira hal apa yang menimbulkan kesenjangan di dunia kerja karena kita tidak mendapatkannya di bangku kuliah. bahwa ternyata lulusan sarjana Teknik tidak memiliki keahlian yang memadai.setiap bulannya. Terbantah oleh pikiran sendiri dan fakta yang menunjukkan bahwa bangsa Jepang dan China termasuk yang gagu dalam berbahasa Inggris tetapi perekonomiannya menjajah disetiap penjuru dunia. sambil penanya membayangkan angka yang besar yang akan keluar dari jawaban Bill Gates. daripada membuang usaha yang percuma dan juga jadinya setengah-setengah?' Dicari alasan yang lain. mengingat ternyata menguasai ilmu Teknik tanpa tahu tentang Ekonomi hanya akan menjadi kacung dan tukang jahit dari kapitalis dunia.

Lalu apakah yang membuat seseorang sukses didalam belajar, mendapatkan pekerjaan dan juga dalam bekerja? Pernyataan Bill Gates diatas menggambarkan bahwa ada suatu nilai yang lebih ia agungkan daripada sekedar pengetahuan belaka, tetapi sesuatu dibalik pengetahuan itu sendiri. Mimi Rasinah juga jelas menunjukkan bahwa, mungkin keahlian dan pengetahuannya tentang tari topeng Indramayu sama dengan ratusan penari lainnya. Tapi yang lebih utama dari itu, yang dinilai perlu oleh Bill Gates dan telah ditunjukkan oleh Mimi Rasinah adalah SIKAP. Kenyataan yang ada bahwa di dunia kerja tidak membutuhkan seorang yang superman, yang mampu mengerjakan segala-galanya, karena semua sudah ada bagiannya masing-masing, yang dibutuhkan adalah orang yang dapat bekerja dalam suatu super-team. Dibutuhkan seorang yang tidak hanya bermodalkan pandai, tetapi lebih pada orang yang pandai-pandai didalam menempatkan dirinya. Dan itu adalah SIKAP. Ada tiga hal yang diajarkan sewaktu kita menempuh suatu pendidikan, termasuk pendidikan sarjana, yaitu: Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian) dan Attitude (sikap). Mata pelajaran yang bermuatan Pengetahuan dan Keahlian bisa dinormatifkan kedalam SKS. Ada juga pelajaran yang bermuatan Sikap didalam SKS tetapi biasanya sangat bersifat normatif dan jumlahnya sangatlah kecil. Pelajaran yang bermuatan Sikap pada dasarnya ‘SKS'-nya bersifat Cek Kosong (blank cheque). Artinya selama dalam kurun waktu kita kuliah, kita sendirilah yang mengisi banyaknya ‘SKS' untuk pelajaran yang bersifat ‘attitude'. Semakin banyak kita isi Cek Kosong tersebut, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan kelak. Dimanakah kita mendapatkan ‘SKS' bermuatan ‘sikap' selama kuliah? Banyak, setiap tempat dan penjuru sudut kampus menyediakan pembelajaran itu, bahkan bukan hanya sebatas itu, diluar kampus dan di dunia mayapun menyediakan pembelajaran tentang ‘sikap' apabila kita mau mendapatkannya. Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Hal yang pertama yang harus kita lakukan agar mendapatkan sikap yang baik adalah pikiran yang terbuka. The minds are like parachutes, they only function when open - Thomas Dewar -Dengan pikiran yang terbuka tidak akan menganggap diri kita yang paling benar. Pikiran terbuka memungkinkan hal-hal baru masuk dan memperkaya wawasan kita. Dengan wawasan yang kaya, kata dan sikap akan lebih berisi dan lingkar pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar akan lebih besar, sehingga manfaat yang didapatpun juga akan mengalir. Akan timbul banyak pilihan dan peluang dalam hidup, sehingga akan membawa kesuksesan apabila kita pandai memanfaatkannya. Waktu kita kuliah, pikiran terbuka akan mengantarkan kita ke ‘nilai' yang lebih baik. Janganlah hanya terpaku pada referensi yang diberikan oleh dosen kita. Gali referensi lain, dunia maya memberikan banyak pilihan untuk mencari referensi lain. Jangan menganggap ilmu, formula, postulat, atau apapun yang disampaikan dalam sebuah referensi adalah suatu yang rigid, perluas wawasan dan bikin sesuatu yang baru, berpikirlah out of the box. Demikian juga dalam kegiatan ekstrakurikuler kampus. Pun pada waktu mencari kerja, biarkan pikiran kita terbuka dan mengawang-awang sebebas-bebasnya. Cari peluang kerja sebanyak-banyaknya (lihat: Memburu Informasi Lowongan Pekerjaan di situs 123teknik.com). Apabila telah mendapatkan panggilan untuk wawancara, inilah kesempatan yang baik untuk menunjukkan siapa kita. Orang yang berpikiran terbuka akan membentuk kepribadian yang memperkuat kerjasama tim, akan tergambar dalam cara pengungkapan kata dan sikap pada

waktu wawancara. Dan kami yakin, itulah gambaran orang yang dicari oleh si pewawancara! Bagi yang sudah berada dalam dunia kerja mungkin merasakan, bahwa didalam dunia kerja tidak serumit yang kita bayangkan pada waktu di kuliah. Pengetahuan yang dipakai adalah ilmu terapan yang telah ada referensinya dan kita hanya melaksanakannya saja. Yang lebih rumit dan membuat stress adalah beban kerja, hubungan kerja, dan target kerja. Pikiran yang terbuka akan menuntun sikap kita untuk tidak menyalahkan keadaan, tetapi selalu memandang peluang didalam setiap kesulitan. Beban kerja, hubungan kerja dan target kerja akan teratasi apabila kita mempunyai sikap yang baik, dan itulah yang akan menentukan hasil kerja kita, kesuksesan kita. 3. Pengertian Disiplin Mulailah untuk melakukan sesuatu apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak peduli perasaan kita sedang mendukungnya atau tidak Saat mendengar kata disiplin, sebagian besar dari kita tentulah berpikir bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketahanan fisik, hukuman, dan teguran. Padahal, disiplin tidak selalu berhubungan dengan semuanya itu. Terkadang kekuatan fisik, hukuman, dan teguran memang diperlukan. Namun lebih daripada itu, niat dan semangat juga merupakan faktor-faktor penunjang yang diperlukan agar seseorang dapat berdisiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Kedisiplinan memang menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu menaklukkan dan memimpin dirinya sendiri. Harus diakui pula kalau berdisiplin bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan niat dan usaha super keras untuk berdisiplin. Penghalang untuk seseorang menjadi pelaku kerja adalah karena orang tersebut belum menaklukan perasaannya. Seringkali kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, sayangnya terbentur pada perasaan yang tidak mendukung. Mood seringkali harus kita waspadai. Betapa berbahayanya jika kita bergantung pada "mood" untuk melakukan sesuatu. Jika mood kita sedang mendukung, maka kita akan bekerja dengan maksimal, akan tetapi sebaliknya jika sang mood sedang tidak mendukung, maka kita enggan untuk melakukan totalitas dalam bekerja. Belajarlah untuk menaklukan perasaan kita bagaimana sebuah Ketaatan selalu diawali dengan KEPUTUSAN. Putuskan untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal, meskipun perasaan kita tidak ingin melakukannya. Esensi dari Disiplin adalah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak melatihnya, semakin lemah Anda.

Cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat. Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat. Hampir sama, metode dasar untuk membangun disiplin diri adalah menjalani tantangan yang mampu Anda selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya Anda harus bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaga/kekuatan. Ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah Anda lakukan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu Anda angkat dan Anda juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan. Anda harus memulai dengan beban/tantangan yang dapat Anda angkat/jalani, tapi untuk melakukan hal itu, Anda harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan Anda. Latihan progresif berarti sekali Anda sukses, Anda menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi. Jika Anda tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, Anda tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika Anda gagal menantang diri Anda sendiri dalam kehidupan, Anda tidak akan mampu untuk berdisiplin diri. Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda hanya akan terlihat bodoh. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. 4. Pengertian Kerjasama Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain. Sikap seseorang terhadap orang lain, akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. Sebaliknya, seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan, maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya, sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. Teori-teori manajemen modern, kelihatanya memihak kepada yang kedua,sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang

Pemahaman yang demikian. pada kondisi tertentu dalam pelaksnaanya bisa di mulai dari urutan kedua dan sebagainya.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. Dosen sebagai Tulang Punggung Pendidikan dan Mahasiswa sebagai Produk luaran Perguruan Tinggi. maupun pengabdian pada masyarakat bagi dosen dan mahasiswanya. .Inilah sesungguhnya karakter seorang Dosen. Tujuan ilmu pengetahuan adalah adalah untuk menyesaikan masalah. Artinya. seyogyanya seorang dosen harus melakukan penelitin Dari hasil penelitan kemudian diajarkan dan kemudian di amalkan siagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dalam manejeman modern. Dosen seyogyanya mengajarkan apa yang telah dilakukan. dan internalisasi nilai mutu yang terwujud dalam kinerja berorientasi mutu yang merata pada semua unsur universitas. perlu di budayakan. mulai dari rektor sampai pemelihara halaman. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penulis berkeyakinan. Berangkat dari Tridharma Perguruan Tinggi tersebut. penelitian. Keterwujudan visi leading and outstanding terletak pada kecermelangan pemikiran para dosen sebagai producing machine akademik-keilmuan. bahwa pencantuman pendidikan dan pengajaran menduduki urutan kesatu. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Seperti telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa pendidikan karakter di Unswagati pada akhirnya terletak pada manusia pelaku penyelenggara akademik.lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. baik itu pendidikan. Rancangan dan Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Unswagati 1.Dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi harus dalam koridor Etika. Keharusan untuk bekerja sama. secara umum harus berkarakter sebagai seorang pendidik dan pengajar. sebagai seorang peneliti dan berkarakter sebagai seorang pengabdi kepada masyarakat. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). karena imu bukan hanya untuk ilmu seagaimana di pahami para filusuf Yunani. kewajiban dosen meliputi pendidikan dan pengajaran. Secara normatif. Dengan demikian. D. penelitian menduduki urutan ketiga dan pengabdian kepada masyarakat bukan sesuatu yang sakral. mengembangkan ilmu pengetahuan dan untuk kemaslakhatan manusia.

dalam rangka jaminan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten sebagai pendidik/dosen profesional. berdasarkan kondisi diri dan lingkungan. oleh karena itu dalam hal penjagaan mutu dan kualitas dosen. proses. paling tidak dapat memasuki pasar Asean.Penetapan standar mutu dosen dalam pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi sangat penting untuk dijadikan panduan dan patokan tentang apa yang harus dilakukan dan dicapai. Unswagati memiliki Lembaga Penjamin Mutu (LPM) guna tercapainya visi misi dan tujuan Unswagati untuk menjadikan Universitas yang berkarakter. Karakter Manusia Dalam Konstruksi pemaknaan Lima Pilar Unswagati . sehingga terciptanya kualitas dosen dan luaran mahasiswa yang berkarakter maka perlu diingat batasan-batasan sebagaimana berikut ini : Mutu tidak akan datang dengan sendirinya. Budaya kerja yang baik adalah hasil pembinaan jangka panjang. serta bagaimana prosedur mencapainya. Esensi penjaminan mutu akademik terjadi pada transaksi dosen-mahasiswa yang memerlukan penyesuaian respons atas diversifikasi kebutuhan mahasiswa sepanjang episode transaksi itu berlangsung. Penyelenggaraan pembelajaran berbasis riset (research based teaching and learning) secara berkelanjutan yang mampu mewujudkan keterpaduan pendidikan dan riset yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat. Teoritik dan Praktik dalam 2. Rencana jangka panjang memerlukan tujuan-tujuan yang jelas. 2. Landasan filosofis-akademik dan kerangka utuh pendidikan tenaga kependidikan. nasionalis dan religius. perlu usaha khusus. Penetapan standar dan keberlangsungan mutu dan kualitas dosen di Unswagati diharapkan menjadi sebuah nilai yang utama guna menghasilkan mahasiswa yang tanggung. hasil dan sumber pendukung. yang berfokus pada kepentingan dan kebutuhan stakeholders. Visi Lembaga Penjamin Mutu dalam hasil. Pengokohan jati diri keilmuan yang berorientasi daya saing global dan menyiapkan para lulusan yang menguasai kompetensi transnasional/internasional. 4. Jaminan kebermutuan dari aspek proses. Peningkatan mutu yang terus-menerus adalah hasil dari budaya kerja. dan tindakan kinerja yang teraudit dalam bentuk : 1. Namun. Selain itu juga dalam mewujudkan mutu pendidikan dengan berpijak pada lima pilar Unswagati. keterlaksanaan semua standar itu terwujud dalam perilaku manusia penyelenggara layanan akademik maupun nonakademik. Agar budaya kerja yang baik tercapai perlu perencanaan jangka panjang yang bersifat strategik. yang terwujud dalam internalisasi dan kesadaran mutu yang merata di seluruh unsur universitas. 3. Rencana jangka panjang harus realistik.

Seseorang yang melihat manusia lain sebagai saingan. karena memang Tuhan telah memberikan predikat suci/fitrah pada saat kelahiranya. Kehendak yaitu unsur kejiwaan manusia yang berhubungan dengan hasrat tingkah laku manusia untuk merealisasikan dan memperoleh kebaikan. Seseorang hanya mampu memahami manusia lain berdasarkan gejalanya (apa yang tampak secara lahir). yaitu berkecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik (Hanif). sedangkan jiwa yang terdiri atas unsur akal. Raga bersifat kehendak. . sesunggunya berakar pada pemahaman tentang konsep manusia yang keliru. Keunikan A sebagai manusia hanya dapat di pahami oleh A dan tidak dapat di pahami oleh B. ia tidak dapat lepas dari Tuhan. raga yang di dalamnya meliputi unsur benda mati. hlm 33). Tiga unsur jiwa yaitu akal yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Manusia merupakan mahluk yang unik. sedangkan jiwa bersifat kerohanian. unsur binatang (anmal) dan unsur tumuhan (fegetatif). sehingga yang muncul adalah ’’akunya’’. maka yang terjadi adalah ia akan selalu berusaha menjadi pemenang dengan . kesuusilaan. sesunguhnya mengisyaratkan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial. sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia dalam hal-hal tertentu harus di perlakukan sebagai perseorangan. Tuhan adalah tempat bergantung. dengan makud untuk saling mengenal. Manusia merupakan mahluk Tuhan dan berkedudukan sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial.Konsep manusia. Kewajiban setiap manusia untuk saling mengenal dan kemudian harus tolong menolong. Jadi unsur kehendak berkaitan dengan etika yang realisasinya pada tingkah laku manusia. Membutuhkan manusia lain. merupakan kebutuhan setiap manusia. di dalamnya terdapat kesamaan. Pemahaman seperti ini sesungguhya berangkat dari informasi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia di ciptakan bebangsa-berbangsa dan bersuku-suku. rasa dan kehendak. C sebagai manusia yang lain. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani serta berkedudukan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. membawa konsekuensi bahwa dalam kehiduanya. ia telah menolak kodrat yang di berikan oleh Tuhan. Rasa yaitu unsur kejiwaan manusia yang berkaitan dengan hasrat dan kemampuan manusia di bidang keindahan (estetika). Menurut Kaelan (Djunaedi. Keakuanya itu akan terus melekat dan itu sebagai sesuat yang alami. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial.Pembicaraan tentang manusia dengan segala karaktristiknya sampai kapan pun tidak pernah akan selesai. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Di balik keunikan manusia. Ia terikat dengan kodrat dan irodat-Nya. Justru menjadi aneh. apabila terdapat manusia yang merasa tidak butuh manusia lain dan kalau ini terjadi berarti. Jiwa dan raga adalah satu kesatuan (modualis). bahwa susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga. Munculnya sifat-sifat negatif manusia yang tercermin pada perbuatan yang merugkan orang lain.

pada saat harus melayani orang lain maka perlu keterbukaan/transparansi tentang prosedur. bahwa sivitas akademik Unswagati menerapkan model pengembangan dari lima pilar Unswagati yakni : a.tidak apa-apa. belum?”. anak pintar. apabila seseorang melihat manusia lain sebagai sesama mahluk Tuhan sebagaimana dirinya. jangka waktu penyelesaian dan biaya yang di perlukan. Dalam pelaksanaannya pendidikan di Unswagati harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang terpuji. Padahal sejak awal manusia itu sudah dibekali Tuhan kompetensi dasar dan kebajikan utama untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu juga. bangsa dan negara. Mana yang mesti ia lakukan dan mana yang tidak. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. nggak sakit ko! Jangan nangis. bohong dan munafik? Sering terjadi.cara mengalahkan manusuia lain. dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat berbohong. maka orang lain (sesama manusia) di anggap sebagai patner untuk kebahagiaan bersama. kecerdasan. sesungguhnya di dalamnya telah tercermin keterbukaan /tranparansi. jika ya katakana ya. kita juga sering melihat dan mendengar saat seseorang bertamu ke rumah orang lain lalu bertanya :” sudah makan. kepribadian. Seorang intelektual/Cendekiawan/Ulil Albab/. masyarakat. Contoh kongkrit misalnya. Makna Kejujuran pada Lima Pilar Unswagati Mengapa orang lebih mudah melakukan kecurangan. baru saja kita makan ko! Sesungguhnya ia belum makan. pengendalian diri. Sebaliknya. Manusia dikodratkan akal yang sehat. akhlak mulia. yah! Hemat penulis. menutupnutupi perasaannya (sakit) hanya karena kepentingan (supaya tidak menangis). meski tuan rumah bertanya serius dan orang itu sangat sadar bahwa dia belum makan. hati yang jernih dan kebebasan sebagai anak-anak Allah oleh Sang Pencipta. Kejujuran akan mencakup sesuatu yang bersifat prosedural/administrasi dan subtantif (yang berkaitan dengan keilmuan). sudah!!. tetapi ia dengan cepat menjawab. Dalam undangundang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Sikap jujur (mengatakan yang dilakukan dan melakukan yang dikatakan). orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata:”oh. hanya akan mengatakan apa yang ia lakukan dan melakukan apa yang ia katakan. jika tidak katakan tidak. lebih fokus dialamatkan kepada tenaga kependidikan (administrasi). Kejujuran prosedural ini. Selain itu. mungkir. karena orang lain akan menyaksikan yang ia katakan dan yang ia lakukan dan kesesuaian antara keduanya. .

akan tetapi. baik yang berhubungan dengan nilai nominal ataupun dalam pembelajaran di kelas. Bentuk kejujuran mahasiswa ini. itu bukan keahlian saya’’. . berawal dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang di miliki sangat terbatas dan bersifat sangat spesifik. Munculnya sebuah kebanggan hati akan tercermin dari sebuah perilaku kerja dalam kesehariannya. Dengan menumbuhkan rasa bangga akan bekerja di Unswagati maka akan timbulnya rasa cinta terhadap lembaga.di dalamnya mengajarjan sebuah kejujuran. dalam pelaksanaanya harus di iringi dengan nilai etik dan moral. Dalam perkembangannya Unswagati menjadikan sebuah Kejujuran sebagai nilai dasar dan utama untuk menjalankan roda organisasi Perguruan Tinggi di Kota Cirebon. Kalimat diatas menggambarkan akan sebuah kejujuran sebagai dasar dalam mecanangkan sebuah program di setiap kegiatan sivitas akademik Unswagati (baik Dosen. Hal ini dikarenakan memudarnya prinsip-prinsip dan nilai kejujuran pada bangsa ini. Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang untuk menjadi yang ’’Profesional’’. the rule of law yang tidak sejalan dengan the rule of moral dan the rule of etic.Karyawan maupun Mahasiswa). tidak akan membawa kemaslakhatan.Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sebuah tuntutan untuk menguasai yang sedikit tetapi banyak dan bukan yang banyak tetapi sedikit. tentunya baru akan berawal/dapat diwujudkan. Bohong kiranya jika kita tidak bangga atas sebuah pekerjaan yang kita jalani dan kita peroleh hasilnya berupa gaji disetiap bulannya. Semua pembelajaran di Perguruan Tinggi. sehingga secara tidak langsung dan tanpa ada sebuah paksaaan timbulnya sikap pengabdian pada lembaga tersebut. sehingga krisis akan sebuah kejujuran menjadikan masyarakat saling tidak percaya dan apatis pada sekitarnya. Kejujuran baik yang bersifat prosedural/admnistrasi dan subtantif. Kejujuran subtantif ini .di dalamnya mengajarkan kejujuran.Kalimat: ’’Mohon maaf. lebih di fokuskan pada tenaga pendidik (dosen). Mahasiswa yang menggunaan footnote/catatan kaki dalam lembaran tugas yang diberikan oleh Dosen. yang di ucapkan oleh Dosen. “Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama”.Kejujuran yang berkaitan dengan keilmuan. Selain itu juga Kejujuran dalam bekerja merupakan sebuah kejujuran yang berisikan kebanggaan atas pekerjaan yang kita jalani selama ini. pada saat Dosen memiliki waktu dan keikhlasan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. di dalamnya sudah mengajarkan tentang kejujuran. Kita memang harus melaksanakjan the rule of law.

Contohnya seperti ucapan seseorang. seorang qari’. ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami. aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah. Jujur dalam ucapan dan kehendak. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia. dan seorang dermawan. setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Di antara orangorang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta. mereka kikir dengan karunia itu. seluruh civitas akademika tetap berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah. Allah berfirman. maka Allah akan berfirman. yaitu seimbang antara lahiriah dan batin. sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif. dan berpaling. sehingga dapat kita tarik kesimpulan sebagai indikator dalam Kejujuran di Lima Pilar Unswagati : 1.” (QS.’ Maka.Cinta dan pengabdian secara penuh pada lembaga ini merupakan bagian esensi dari Kejujuran yang ada pada lima pilar dan menjadikan sebuah landasan berpijak . Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah. Jujur dalam niat dan Cinta pada pekerjaan. 2. dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). maka akan merusakkan kejujuran niat. bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka. dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. ‘Inilah hambaku yang benar/jujur. tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Jujur dalam tekad bekerja. al-Ahzab: 23) Dalam ayat yang lain. hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. at-Taubah: 75-76) 4.” (QS. Jujur dalam perbuatan.’” . tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. maka di antara mereka ada yang gugur. Terkadang benar. hal Ini kembali kepada keikhlasan. Allah menilai ketiganya telah berdusta.” Maka yang seperti ini adalah tekad. “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya. yaitu seorang mujahid.\ 3.

Makna Profesional pada Lima Pilar Unswagati Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan.Skill. dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. sebagaimana firman Allah. Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang) 2. Membentuk asosiasi perwakilannya.” (QS. Jujur dalam kedudukan Pekerjaan (Amanah).5. seorang guru besar dari Universitas Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut : 1. Rujukan berikutnya dapat diambil dari pendapat Soemarno P. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat. Otonomi yang cukup dalam mempraktekkannya 7. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur. b. mereka itulah orang-orang yang benar. Skill disini berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya. dalam seminar Akademika . tak hanya ahli di bidangnya. minimal tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya. bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya. Pelayanan masyarakat/kemanusian dijadikan motif yang dominan. Dan yang terakhir Attitude. Wirjanto (1989). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Penetapan kriteria dan syarat-syarat bagi yang akan memasuki profesi.. 4. Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta. Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya 5. dalam rasa cinta dan tawakkal. 6. Knowledge. sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan. al-Hujurat: 15).tapi ia juga menguasai. PROFESIONAL itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya.Knowledge. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Prof.danAttitude. Soempomo Djojowadono (1987). Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat 3.

mengartikan istilah professional sebagai berikut . bervariasi dan efektif. ia tidak boleh menganggap bahwa yang di layani adalah ’’Raja’’.Sungguhpun demikian. Akibatnya hrus ada perlindungan hukum.sebagai yang melayani. Harus ada hubungan Klien. 6. Timbul pertanyaan bagaimana cara yang dapat memungkinkan seseorang bisa mempersiapkan dirinya menjadi seorang profesional dalam waktu yang relatif singkat ? Jawabannya adalah pemagangan yang tepat. 3. Harus ada kewajiban merahasiakan informasi yang diterima dari klien. Harus mengabdi kepada kepentingan umum. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. Keduanya memiliki hak dan tanggungjawab. . 7. tidak dapat dilepaskan dari’’Transparansi’’ dan ’’Akuntabilitas’’. Boleh menerima honorarium yang tidak perlu seimbang dengan hasil pekerjaannya dalam kasus-kasus tertentu (misalnya membantu orang yang tidak mampu ) Kalau dilihat inti dari batasan diatas maka dapat dilihat bahwa pengertian profesional tidak dapat dibebaskan dari pengalaman praktik. Untuk mempersingkat masa pemagangan maka studi berbagai kasus baik yang terkait dengan evaluasi masalah serta cara penanggulangan termasuk studi perbandingan dalam berbagai aspek pembangunan akan sangat membantu mempercepat sesorang ahli untuk mencapai tingkat profesional. Antara yang di layani dengan yang melayani berkedudukan. dalam memberikan pelayanan pendidikan (oleh tenaga pendidikan) dan pelayanan administrasi (oleh tenaga kependidikan).Untuk pengertian yang pertama. 4. transparan tentang waktu dan biaya . tidak boleh ada hubungan hirarki. Kata profesional dalam kontek pendidikan karakter adalah mencakup sebuah keahlian dan pemanfaatanya secara maksimal.UNDIP 28-29 Nopember 1989. Transparan mengenai keahlian yang di miliki. yang mengutip Roscoe Pond. Berbicara tentang ’’Profesionalisme’’.Seorang yang profesional (ahli dalam bidangnya). Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya. profesional akan selalu berhadapan dengan amatir. Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam menjalankan profesinya. 2. yaitu hubungan kepercayaan antara ahli dan klien. selalu akan memberikan yang terbaik bagi orang lain (yang memerlukan pelayanan). Harus ada kebebasan. 1. serta bertanggungjawab atas semua akibat yang di timbulkanya. Dalam perspektif kegiatan yang berorientasi pada penghasilan/capital. Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik 8. 5. akan berbicara tentang apa yang di lakukan dan berapa yang akan di terima/pemain bayaran.

Melakukan pekerjaan . Kreatif dan berpandangan luas yang sudah dibuktikan dalam praktik. h. Cukup kreatif. d. Untuk ini dipandang perlu untuk memberikan catatan kecenderungan pada waktu ini dalam memberikan pengertian profesional sebagai prinsip dasar yang kedua pada Lima Pilar Unswagati sebagaimana berikut ini : a. Disiplin tidak selalu identik pembiaran waktu tanpa aktivitas. Disipin harus melampaui waktu. Berpengalaman dengan pengalaman yang cukup bervariasi. Makna Disiplin . g. Memiliki kecakapan dan keahlian yang cukup tinggi dan bekemampuan memecahkan problem teknis. 2. b. obyektif. Untuk melakukan disiplin perlu kecerdasan dalam memilih dan memilah tentang semua hal/pekerjaan yang perlu di lakukan. Menguasai standar pendidikan minimal. berperilaku jujur. e. ahli dan cukup berkemampuan memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. 4. mengelolah dan mengendalikan dengan baik.ketetapan dan memaksimalkan hasil. Disiplin adalah pemanfaatan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal (kemaslakhatan). dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Berkompeten memecahkan problem teknis yang sudah dibuktikan dalam praktik. c. Sikap jujur dan obyektif. Penguasaan ilmu dalam praktik. 3. saling mengisi.Untuk itu kesimpulan pada Lima Pilar Unswagati bahwa PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Beberapa unsur yang sangat penting mengenai professional pada Lima Pilar Unswagati adalah: 1.etos kerja. Trampil. saling mendukung. dan budaya kerja pada Lima Pilar Unswagati Disiplin . Pengalaman yang cukup bervariasi. kerja cerdas dan kerja tuntas. Disiplin adalah kesediaan seseorang yang bukan hanya taat terhadap asas. Disiplin adalah kerja keras.etos kerja.menerima tugas baru setelah selesai mengerjakan tugas sebelumnya.akan tetapi mampu mencari asas baru untuk sebuah kecepatan.Disiplin adalah sebuah sikap dan bukan akibat. saling berbagai pengalaman atas dasar itikad baik dan positive thinking. cukup cakap.karena waktu itu sangat terbatas. Menguasai standar penerapan ilmu dan praktik.Disiplin akan tercermin pada kesiapan. f. Mampu menata. c.

perasaan. atau sosio-kultural) dengan melibatkan seluruh etos kerja kaum pekerja itu bersama dengan perkakas. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi Anda untuk dijalani. atau sosio-kultural. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri. hidup Anda semakin mudah untuk dijalani. Etos Kerja dirumuskan sebagai spirit. Anda hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. kreatif. Sama halnya jika sekarang Anda sangat tidak disiplin. tekno-industrial. sabar. jika Anda berpikir bahwa Anda kuat. berintegritas. kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. ruh. Tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. serta memberi arti pada seluruh perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi. Bukan sesuatu yang memalukan jika Anda memulai dari apa yang bisa Anda lakukan. akhirnya akan tampak seperti mainan anak-anak. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. menghargai pengetahuan. Seiring dengan perkembangan zaman. . Anda akan menjadi semakin kuat. Saat Anda semakin kuat. Jika Anda hanya mampu mengangkat sepuluh kilogram beban. ulet. semangat. Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah. Sedangkan BUDAYA produktif di rumuskan sebagai totalitas kesadaran. sistem. menghargai waktu. pikiran. Semakin Anda disiplin. akuntabel. dan keyakinan yang mendasari. berat beban yang sama akan terasa semakin ringan.tanpa mengetahui esesinya dan nilai kemanfaatan dari pekerjaan itu. responsibel. baik yang bersifat ekono-komersial. Budaya Produktif selalu berlangsung dalam konteks kerja. mengarahkan. tekun. dan sebagainya Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti telah ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi ekonomi. Itu tidak akan menolong. hemat. Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. orang lain akan tampak lebih lemah. artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekonokomersial. yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. orang lain akan tampak lebih kuat. Sebaliknya. teliti. Dengan latihan. dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin. dan manajemen kerja mereka.merupakan pemborosan waktu. bersemangat. inovatif. menggerakkan. tekno-industrial. sikap. Anda masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang Anda miliki untuk dilatih sehingga Anda dapat menjadi semakin disiplin.

A team based environment demands that you make responsible decisions.etos kerja.akan tetapi sebagai konsekuensi dari sikap profesionalisme. kelihatanya memihak kepada yang kedua. memiliki arah indikator pada bebarapa point sebagai berikut : 1. Teori-teori manajemen modern. Sebaliknya. Dalam manejeman modern. Disiplin Diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab 2. seseorang yang melihat orang lain sebagai saingan. Disiplin Akademik bagi dosen dalam menjalankan Tri darma Perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas akademik ke dunia nasional dan internasional 3. Memiliki Etos kerja yang kuat dalam pelaksanaan tugas sehingga terciptanya budaya kerja yang produktif di Unswagati d. it requires you to take charge of your career. bekerjasama berawal dari niat individu untuk mencapai kesuksesan yang dalam pencapainya memerlukan bantuan orang lain. Makna Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga. sehingga perlu kerjasama (bekerjasama untuk sukses bersama). akan menentukan perlakuan seseorang itu kepada orang lain.arnold status.Dengan Demikian dalam dunia Perguruan Tinggi di Unswagati bahwa Disiplin . No longer is it just you and your job!" Catherine Pulsifer31 Mau atau tidak/bersedia atau tidak untuk bekerjasama dengan orang lain berawal dari pemahaman seseorang terhadap orang lain.sehingga orang akan berusaha semaksimal mungkin menggerakan orang lain untuk menjadi kontributor pencapai kesuksesan diri dan korporetnya. 31 facebook. Seseorang yang memandang orang lain sebagai pihak yang sama-sama harus sukses akan melahirkan skap bekerja sama. bukan hanya karena manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Penerapan teori ini tidak akan berbicara cara melainkan hasil. Sikap seseorang terhadap orang lain. Keharusan untuk bekerja sama. maka orang lain tersebut akan menjadi kendala bagi keerhasilan dirinya. dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. sehingga antara ia dengan yang lainya tidak mungkin bekerjasama. It requires you to develop excellent interpersonal skills because you have to interact at a much different level with your team members. .

.sama dinikmati dan begitu juga sebaliknya. and working together is success" Henry Ford 5. SALING MENGHORMATI. If anything goes real good. Selain beban akan semakin ringan.sama dipikul. Jika bersatu akan memberikan manfaat tetapi jika dipisahkan. Jika kondisi ini telah terpenuhi.mata hanya oleh penampilan luar. POSITIVE THINKING. Jika senang akan sama . both will escape" Chinese Proverb. Dikarenakan Team Work adalah satu kesatuan yang tidak terpisah maka setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital dan penting. E atau F. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar .good. Setiap permasalahan yang timbul. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. sedini mungkin disirnakan. selain terbuka peluang menuju kegagalan. Yang namanya rahasia. yang menilai / menvonis baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan oleh apa yang dia kontribusikan dan bukan semata . "If anything goes bad. jika susah akan sama . That's all it takes to get people to win football games for you" Paul "Bear" Bryant 4. then you did it.sama dijinjing dan berat sama sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. KESATUAN. VISI DAN MISI. "Coming together is a beginning. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work. "We make a living by what we get. ringan sama . 2. setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. I did it. we did it. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka : 1.Pepatah yang mengatakan. hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. 3. staying together is progress.benar memahami dan mengerti dengan baik Visi dan Misi organisasi. Ibarat sapu lidi. we make a life by what we give" Winston Churchill. hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. "If you chase two rabbits. If anything goes semi . manfaatnya akan sirna. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai. "Great achievement is usually born of great sacrifice. selain akan menghilangkan sikap curiga / tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakain mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan / terkonsentrasikan dengan baik pada target / goal yang ingin dicapai. Tidak ada satu hal pun yang logis dikatakan bahwa si A. B atau C lebih penting / vital peranannya jika dibandingkan dengan si D. Ketika ada yang sakit maka spontanitas semua yang terlibat dalam Team Work juga akan merasakannya dan berusaha menyembuhkannya. harus mau membuka diri / transparan. Dalam suatu organisasi tanpa adanya Team Work yang tangguh. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam Team Work. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target / goal dari suatu organisasi. SALING PERCAYA.

I wouldn't jump with them.Kebanggaan itu harus tercermin dari sikap dan tindakan yang mendukung keberlangsungan Unswagati untuk jangka waktu yang tidak terbatas. berawal dari sikap yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Sikap yang demikian dapat mengantarkan pada opotimisme dan tidak menempatkan diri pada posisi yang rendah. apapun tantangan dan rintangan yang timbul. Semuanya akan selalu dirasakan bersama . Makna Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati dalah kewajiban kami. "There are three ways to get something done: do it yourself. Jepang dan negara lain diawali oleh kebanggaan warga negara atas negaranya. KERJASAMA."A positive attitude brings strength. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah seyogianya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah kerjasama yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat . adalah sikap mental yang harus terus di gelorakan. "If all my friends were to jump off a bridge. employ someone. Everyone hears what you say. but teams beat the odds" SEAL Team saying. Identitas Unswagati.sama. Best friends listen to what you don't say" Tim McGraw Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh di unswagati maka apapun yang telah direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. or forbid your children to do it" Monta Crane e. Tidak seorangpun akan dibiarkan menderita / bahagia sendirian. Menjaga nama baik Unswagati. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work. Makna dari rela berkorban adalah selain korban dalam bentuk materi tetapi juga waktu dan perasaan. semuanya akans selalu bersatu padu dalam menanganinya. karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. 8. energy and initiative" Remez Sasson 6. Bangga menjadi diri sendiri bukan membanggakan diri adalah sikap yang wajib di miliki oleh setiap diri manusia. "Individuals play the game.Keberhasilan Unswagati di masa datang. wajib di miliki setiap orang yang berada di Unswagati. bukan hanya terdapat dalam busana tetapi dalam hati dan jiwa. Wujud nyata dari rela berkorban ini juga harus tulus dan ikhlas serta tanpa pamrih adanya. I'd be at the bottom to catch them. Friends listen to what you say. TANTANGAN DAN RINTANGAN. Keberhasilan Amerika. Kegagalan Indonesia. ’’Saya bangga sebagai orang Unswagati’’. . RELA BERKORBAN. "A successful team beats with one heart" Unknown 7.niat terselubung. di awali oleh sikap bangga sebagai orang Unswagati pada hari ini. Kembali.

Penekanan pentingnya pedidikan berkarakter bagi masyarakat. konsepsi pendidikan merupakan bagian integral dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Untuk membentuk karakter agamis. b. Konsep dan Operasional . harus memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membentuk karakter. Penerapan Pendidikan Karakter di Unswagati melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. kesadaran dan pemahaman mengenai diri maupun lingkungan di sekitarnya. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan Secara legalistik. Penerapan Lima Pilar Unswagati kedalam Mata Kuliah Pendidikan Agama. di lakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmuan maupun praktik keagaamaan. Meskipun tidak secara struktur. suasana dan kualitas. karakter. Kultur. melakukan apel dan lain sebagainya. Misalnya untuk memberikan karakter peduli. d. Berpengaruh kuat dalam menumbuhkembangkan kepribadian. Penyelenggaraan terencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia serta dapat membuka pengetahuan. 4. sebagaimana berikut ini : a. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dicantumkan tentang kode etik dosen. Dalam buku pedoman akademik. tata kehidupan serta tradisi akademik yang universal. dosen wali dan kode etik mahasiswa. Unswagati berpengaruh kuat dalam melakukan serta membangun prestasi pada kontribusi perguruan tinggi dan kepada lingkungannya (pengabdian masyarakat). kode etik dosen wali dan kode etik mahasiswa.3. lembaga mengadakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhu’afa. penekanan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen juga disiratkan dalam Buku Pedoman Akademik. dalam perkembangannya Unswagati diharapkan memiliki hakikat dan budaya yang melekat. c. Kode etik dosen. Hakikat dan budaya Unswagati Keberadaan Perguran Tinggi (termasuk Unswagati) sebagai bagian integral dari masyarakat secara umum. potensi dan kualitas lulusan merupakan nilai jual bagi stakeholder. dalam pelaksanaanya diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Rektor. setiap malam jum’at dilaksanakan Kajian Studi Al-Qur’an civitas akademik dan juga masyarakat. a. Untuk itu. sehingga bermanfaat dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. norma. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan.

Agama PPKN B. Nilai lima pilar unswagati perlu dijabarkan kedalam kompentensi dan deskripsi pembelajaran agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pihak terkait dalam upaya penerapan dalam pembelajaran.Penerapan Lima Pilar menyiratkan bahwa nilai-nilai yang terkandungan di dalamnya perlu disebarluaskan dan ditanamkan melalui jalur pendidikan. Bagan 1 : Penjabaran Konsep dan Operasional Konsesus Nasional Komponen MKDU Pen. Indonesia Kewirausaha an Karakteristik Budaya Lima Pilar Unswagati DESKRIPSI PEMBELAJARAN LIMA PILAR UNSWAGATI STRATEGI PEMBELAJARAN .

Untuk itu di kabupaten/kota dapat di bentuk tim pengembang yang bertugas mensosialisasikan. membimbing. b. Upaya yang semestinya dijalankan adalah bagaimana agar nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Pilar Unswagati dapat menyelimuti dan menjadi acuan penerapan dalam segenap kegiatan intra-kurikuler dan ekstrakurikuler tersebut. kompentensi dan deskripsi pembelajaran sampai dengan Strategi dan Indikatornya. dan membantu guru dalam mengintegrasikan nilai dan tujuan lima pilar Unswagati ke dalam mata pelajaran. Selanjutnya dosen menggunakannya sebagai bahan ajar dalam menjalankan proses pembelajaran kepada peserta didiknya.perlu kiranya dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Rangkaian diatas melingkupi konsep pengembangan lima pilar Unswagati ke dalam komponen tema. sehingga pendalaman dan penerapan konsep lima pilar sangatlah diperlukan kerjasama dari unsur pimpinan serta unsur pelaksana di mata kuliah yang dimaksud. penerapan konsep Lima Pialr Unswagati melalui ekstrakurikuler pun di lakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam kegiatan tersebut. Sama halnya dengan intrakurikuler yang di bicarakan di atas. Penerapan melalui Intrakurikuler Selain elemen kegiatan Pendidikan yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pendalaman Lima Pilar Unswagati kepada peserta didik. . Di bawah ini di tampilkan kerangka berfikir penerapan konsep dapat Lima Pilar dalam kegiatan intrakurikuler. Upaya membina dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru perlu di jalankan secara intensif dan berkesinambungan agar dapat memeainkan peran dan fungsi sebagaimana di harapkan.INDIKATOR Penanaman karakteristik Lima Pilar Unswagati kedalam pendidikan karakter di Unswagati tidaklah lepas dari dukungan seluruh sivitas akademik.

Bagian 3: Penerapan Nilai Lima Pilar melalui intrakurikuler. peradaban Lima Pilar Komponen Tema Kompetensi Deskripsi Umpan Balik Fakultas Tim Pengamp u Mata Kuliah Pelibatan Pihak terkait/ Narasumber Integrasi ke dalam intrakulikul er Satuan Pendidikan (Dosen) Pelaksanaa n Pembelajar an Hasil Dalam Intrakurikuler. Lingkungan Instansi (Unswagati) Kebijakan Rektor Karakteristik Budaya. nilai-nilai Lima Pilar Unswagati di integrasikan dan menjadi bagian dalam mata kuliah dasar umum. Namun apabila dalam intrakurikuler melibatkan pendekatannya terhadap peran tenaga pendidik mata kuliah tersebut. sedangkan dalam ekstrakurikuler di integrasikan ke dalam jenis kegiatan yang relevan. maka penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui kegiatan ekstrakurikuler lebih mengarahkan perhatian ketingkat satuan pendidikan. .

bakat dan minat mereka melalui kegiatan yanmg secara khusus di selenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di satuan pendidikan. Induk . Artinya kegiatan tersebut di rencanakan secara khusus dan di ikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. 5. 2. Kegiatan ekstrakuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram.Selanjutnya di kemukakan suatu alternative pengembangan model penerapan konsep Lima Pilar Unswagati melalui ekstrakurukuler. social. 4. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. rekreatif dan persiapan karir siswa melalui prinsip: individual. keterlibatan aktif. 5. menyenangkan. 3. etos kerja dan kemanfaatan sosial. yaitu : 1. potensi. Pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan Strategi Lima Pilar berdasarkan Rencana Pengembangan Unswagati 2011-2019 beserta Indikatornya Unswagati menerapkan tujuh sasaran strategik. pilihan. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan diri. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Peningkatan pengelolaan program.

Pengembangan kerja sama dan kemitraan.6. Peningkatan sarana-prasarana dan keuangan. Sasaran Strategik tersebut dijabarkan dalam sasaran kunci yaitu : Sasaran Strategik Pengembangan sumber daya manusia Sasaran kunci • Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun 2005) • Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai • Meningkatkan kinerja pegawai Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Peningkatan pengelolaan program Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Meningkatkan kualitas lulusan • Meningkatkan peran LPPM • Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat • Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara berkelanjutan • Pengembangan fakultas dan program studi • Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Peningkatan saranaprasarana dan pembiayaan Pengembangan kerjasama dan kemitraan • Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa • Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni • Meningkatkan sarana-prasarana • Meningkatkan kinerja keuangan • Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi • Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyarakat Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran strategis dalam kurun waktu 20112019 adalah : Sasaran Strategik Pengembangan Sumber Daya Manusia Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi staf pengajar (UU Nomor 14 Tahun Program peningkatan kompetensi dan kualifikasi dosen Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci .Sertifikasi . 7.Tingkat pendidikan .Jabatan akademik .

Insentif .Penguasaan Bahasa Asing Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar Program peningkatan kualitas proses pembelajaran .Evaluasi kinerja .Tunjangan .Jaminan sosial .Entry Grade .Hasil seleksi/testing .Aktivitas dosen dalam seminar Meningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai Program peningkatan motivasi dan kesejahteraan pegawai .Kepuasan pegawai Meningkatkan kinerja pegawai Program peningkatan kinerja pegawai .Umpan balik .Pelatihan dosen .Rasio Mahasiswa Diterima : Pendaftar .Tindak lanjut Peningkatan kualitas pendidikan dan penga-jaran Meningkatkan kualitas calon mahasiswa Program peningkatan kualitas calon mahasiswa .Jumlah pertemuaan (tatap muka) .Gaji .Rasio Dosen : MahaSiswa .Indeks Prestasi Semester .Hasil kerja .2005 tentang Guru dan Dosen) .Penguasaan bahasa Inggris .Evaluasi dosen Meningkatkan kualitas lulusan Program peningkatan .IPK lulusan .

Nilai pengabdian tusi.Nilai penelitian kat dengan berbagai insti. baik negeri masyarakat maupun swasta .Kerja sama dengan sama penelitian berbagai institusi dan pengabdian pada masyara.Penguasaan bahasa Inggris .Nilai hibah Meningkatkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Program ..kualitas lulusan .Frekuensi peninjauan .Hasil penelitian dan peningkatan pengabdian pada kuantitas dan kualitas kegimasyarakat atan penelitian dan pengabdian .Penyerapan oleh pasar kerja .Lama studi .Umpan balik dari stakeholders Sasaran Strategik Pengembangan penelitian dan pengabdian pada masyarakat Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan peran LPPM Program kerja .Kepuasan lulusan .Jumlah penelitian dan pada pengabdian pada masyarakat masyarakat Peningkatan pengelolaan Meningkatkan pengelolaan kurikulum secara Program pengembanga n kurikulum .

Audit akademik .Citra Unswagati .Akreditasi Program Studi . program studi.Evalusi internal .Relevansi kurikulum dengan tujuan program serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat Mengembangkan fakultas dan program studi Program pengembanga n fakultas dan program studi .Pembukaan fakultas.EPSBED . dan konsentrasi baru .Akreditasi Institusi .Pembentukan Unit Penjaminan Mutu di tingkat fakultas dan Gugus Penjaminan Mutu di tingkat program studi Meningkatkan akuntabilitas Unswagati Program peningkatan akuntabilitas Unswagati .Akreditasi Jurnal Ilmiah .program berkelanjutan berkelanjutan kurikulum .

.Layanan perpustakaan .Partisipasi alumni (Ikal Unswagati) Peningkatan saranaprasarana dan keuangan Meningkatkan sarana-prasarana Program peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana .Kepuasan stakeholder Sasaran Strategik Peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Sasaran Kunci Program Indikator Kinerja Kunci Meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa Program peningkatan pelayanan terhadap maha-siswa .Kepuasan mahasiswa Meningkatkan kegiatan kemahasiswaan dan alumni Program peningkatan kegiatan kemahasiswaan dan alumni .Web based learning .Layanan administrasi .Kelengkapan saranaprasarana .Pemeliharaan saranaprasarana .Layanan informasi/ internet .Kegiatan organisasi kemahasiswaan dan UKM .Kepuasan orang tua .

Defisit anggaran .Kerjasama penelitian institusi .Pembangunan Kampus III .kan dan pengajaran ruan tinggi dan .Kerjasama pendidisama dengan berbagai pergu.Pelatihan .Hasil audit keuangan Pengembangan kerjasama dan kemitraan Meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi Program kerja .Pendapatan .Pertumbuhan pendapatan .Kerjasama pengabdian masyarakat Meningkatkan peran dan kontribusi Unswagati terhadap masyaProgram peningkatan peran dan kontribusi ..Pembangunan perumahan dosen Meningkatkan kinerja keuangan Program peningkatan kinerja keuangan .Pembangunan Rusunawa .Bantuan sosial .Pembangunan aula yang representatif .Diversivikasi sumber penerimaan .Deviasi anggaran .

rakat

Unswagati

- Bantuan bea siswa pendidikan

BAB IV PELAKSANAAN DESKRIPSI MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER DI UNSWAGATI MELALUI MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN, BAHASA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN. A. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama 1. Metode Pemeliharaan Karakter.

Mengapa dikatakan pemeliharaan bukan pembentukan, karena istilah pembentukan memiliki arti dan konotasi tentang sesuatu yang belum ada dan baru diciptakan kemudian. Adapun penggunaan kata pemeliharaan, mengacu pada “menjaga sesuatu yang memang telah ada sebelumnya”. Sebuah perjanjian sakral saat ditiupkan ruh, pada usia 4 bulan kehamilan. Pertanyaan dari Allah sang pencipta. “Apakah aku ini adalah Tuhanmu? Benar kami bersaksi engkau adalah tuhan kami. Pengakuan makhluk kepada Khaliknya, adalah sinyal kejujuran dan aqidah. Kemanapun manusia pergi dan dimanapun ia berada, manusia selalu mencari sang pencipta. Ia cenderung mendekati bayang-bayang sifat penciptanya. Mungkin inilah yang diduga sebagai super-ego oleh Freud atau self-actualization menurut Maslow. Mungkin itulah sebenarnya yang mereka cari, walaupun masih belum mecapai titik sumber yang sesungguhnya. Anggaplah hal itu sebagai sebuah dorongan atau upaya pencarian “Sang Pemilik Hakikat” yang sebenarnya. Untuk membentuk sebuah karakter manusia unggul, dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitive Magic Power) atau pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energy potensial yang maha dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia (dalam God Spotnya) diubah menjadi energy kinetic (energy gerak) secara berulang-ulang. Sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang handal. Ini telah terbukti seperti kisah Matsushita dll. Namun, masalahnya, adalah metode pengulangan seperti itu memiliki nuansa spiritualitas dan tetap bisa dilakukan secara pribadi dengan privacy yang penuh. Josephson Institute menyampaikan 6 pilar yang perlu dibangun dalam dunia pendidikan: 1. Trusworthinnes (Dapat dipercaya) adalah karakter jujur, tidak curang, licik (cheat =nyontek), mencuri, reliable (lakukan apa yang dikatakan). Mempunyai keberanian (keteguhan) untuk melakukan hal yang benar dalam kondisi apapun (integritas), membangun reputasi, loyal (siap membantu keluarga/teman dan membela Negara). 2. Respect (menghormati orang lain) adalah karakter anak didik dalam menghargai terhadap sesama. Toleran terhadap perbedaan. Perilaku baik dan bertuturkata yang sopan. Peka terhadap persaaan orang lain. Tidak menyakiti orang lain. Serta menahan amarah (perbedaan atau cacian) 3. Responsibility (tanggung jawab). Adalah karakter untuk melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Gigih; coba terus terang dan pasti bisa. Melakukan yang

terbaik. Memiliki kendali diri, motivasi diri, disiplin. Memperhitungkan semua konsekuensi sebelum bertindak. Bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan. 4. Fairness (adil) adalah karakter yang membangun perilaku taat sesuai dengan aturan main, mau berbagi, berpikiran terbuka, mau mendengar orang lain, tidak memanfaatkan orang lain dan tidak selalu menyalahkan orang lain. 5. Caring (Perhatian terhdap orang lain) adalah karakter baik hati, peduli pada penderitaan orang lain, pandai berterimakasih, pemaaf, dan penolong. 6. Citizenship (warga masyarakat, warga Negara). Adalah karakter mau berbagi dengan komunitas tempat tinggal, kampus, sekolah, tempat kerja, masyarakat (to livetogether), mau kerjasama, terlibat partisipasi dalak kegiatan masyarakat/Negara, kerja bakti, sukarelawan, pajak, pemilu, menjadi tetangga yang baik, mentaati hokum, menghormati petugas hokum, birokrasi dan melestarikan lingkungan. Abraham Lincoln mengatakan:”reputasi adalah bayangan, dan karakter adalah pohon”. Maka karakter bangsa adalah sifat mental atau etika yang kompleks, yang menjadi ciri suatu bangsa. Karakter ini merupakan “bawaan” yang melekat pada suatu bangsa; cara berfikir, berkata, dan bertindak. Karakter bangsa ini akan menjadi “cara respon” bangsa terhadap lingkungannya, bagaimanapun kondisi lingkungan yang dihadapinya. Karakter bukan sesuatu untuk diperlihatkan kepada orang atau bangsa lain tetapi adalah sesuatu yang ditunjukan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. 2. Asas-asas kurikulum dalam Membentuk Karakter. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu32, yaitu : 1. Asas filosofis, yang menjadi pegangan ideal; pada hakekatnya menentukan tujuan umum (majlis ta'lim). 2. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan ha-hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam bentuk cara bahan pelajaran (ta'lim) itu disusun termasuk luas dan urutannnya. 4. Asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang kondisi individu mustami' secara umum dan khusus dalam berbagai aspek serta ta'lim itu disampaikan agar bahan ajar yang disediakan dapat dicerna dan dipahami oleh jama'ah sesuai dengan kadar berfikirnya. Sebagaimana firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah33dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
32

Diadaptasi penulis. Lihat yang selengkapnya pada Nana Sudjana (1989) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
33

sehinggga harus diadakan pilihan. Komponen-komponen kurikulum34 yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah : (1). Tujuan meliputi aspek kognitif. bersih. taqwa kepada Allah swt. . Pengorganisasian kurikulum bersifat subject centered dan terpadu. terutama dalam bidang afektif. 1) Urutan Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Mentoring di Unswagati Cirebon. Evaluasi/muhasabah/muzakarah Tiap komponen saling bertalian erat dengan semua komponen lainnnya. 3. 23). Kesalingterkaitan komponen-komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut : Tujuan Penilaian Bahan/materi ta'lim Proses ta'lim Tanda panah dua arah melambangkan inter-relasi antara komponen-komponen kurikulum. misalnya bahan pengetahuan tentang tauhid akan berbeda dengan ibadah. Jenis pertama disusun menurut mata kajian yang terpisah-pisah. bijaksana. 34 Sebagaimana yang dikemukakan Nana Sujana (1989. Tujuan/gayah (2). sedangkan yang terpadu mengintegrasikan bahan kajian tanpa menghiraukan batas-batas disiplin ilmu. Asas-asas tersebut cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan. Bahan apa yang paling serasi untuk membentuk manusia yang jujur. Untuk majlis ta'lim. afektif dan psikomotor. selayaknya menggunakan jenis kurikulum terpadu. cermat. yang dievaluasi dengan cara berbeda. yang setia kepada janji. bertanggung jawab. kemudian dikembangkan oleh penulis. sopan dan sebagaimana. apalagi dalam mebcapai tujuan-tujuan yang bersifat umum. Bahan ta'lim/madah (3). Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. Proses ta'lim/amaliyah (4). Apa yang tampak gampang pada bagan sebenarnya tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum. Setiap pilihan akan menghasilkan kurikulum yang berbeda-beda walaupun mengenai salah satu asas saja. Kita lihat tiap komponen yang manapun ada hubungannya dengan semua komponen lainnya.Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu. Jadi. Tiap-tiap rencana mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapa. Akhirnya dipikirkan proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. Dalam praktik biasanya semua unsur itu dipertimbangkan tanpa urutan yang pasti. jadi dalam proses pengembangannya tampak proses interaksi menuju perpaduan dan penyempurnaaan. diikuti oleh penentuan atau pemilihan bahan pelajaran. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. dapat digambarkan sebagai evaluasinya sebagai berikut: 1 Merumuska n tujuan MT Memilih bahan materi 4 Membuat alat penilaian MT 2 3 Menentuka n proses ta'lim Namun. 1) Sumber-Sumber Tujuan a) Al-Quran b) Hadits c) Ijma d) Qiyas 2) Perumusan Tujuan . Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) memberi pengaruh yang besar sekali. Sekalipun telah dimulai dengan perumusan tujuan. sering berpedoman pada materi pelajaran yang dianggap serasi. 2) Macam-Macam Model Konsep Kurikulum Mentoring a) Kurikulum Subjek Akademik contoh kajian ta'limul muta'alim b) Kurikulum humanistik contoh kitab Hasan al-Bana c) Kurikulum rekontruksi sosial contoh kitab karya ibnu kholdun d) Kurikulum berbasis teknoligi contoh ta'lim ESQ 4.Biasanya dalam pengembangan kurikulum secara teoritis mulai dengan merumuskan tujuan kurikulum. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui sampai mana tujuan itu telah dicapai. ada yang menganjurkan agar segera setelah dirumuskan tujuan disusun alat evaluasinya kemudian bahan dan proses belajar mengajarnya. proses belajar mengajar. dan alat penilaian. Sesudah itu baru ditentukan tujuan yang akan dicapai berdasarkan bahan itu. Tujuan Kurikulum Dalam Membentuk Karakter. bagaimana cara melakukkannya. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan. Tetapi ada pula yang mulai dengan melihat bahan yang akan dipelajari. masih ada kemungkinan perubahan atau tambahan setelah mempelajari bahan yang dianggap perlu diberikan. sehinggga jelas.

bagaimana membuat acara untuk memperbaiki niat? Misalnya dengan mengadakan pelatihan (daurah) yang menghadirkan pembicara yang kompeten. Pengelolaan akan berjalan baik bila tahapan sebelumnya telah disesuaikan dengan baik Tahapan pertama dimulai dengan pencarian data-data yang diperlukan dan mengumpulkan materi yang berserakan di berbagai sumber. Bekerjalah kamu.Agar suatu tujuan dapat diwujudkan maka perumusannya harus spesifik. visi. Kurikulum Mentoring Berbasis POAC di Unswagati Cirebon. tapi ketualah yang menjadi figur. termasuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan kerja. Minimalnya perencanaan dibuat dalam satu tahun. Tahapan pengelolaan akan lebih bermakna jika sudah ditentukan model majlis ta’lim yang akan diformat. Kita akan bergerak dengan baik bila telah : a) Memiliki niat yang benar. dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata. Sayang sekali jika disain kurikulum yang diususun tidak dikelola dan direncanakan secara profesional. jadwal kegiatan. dan memotivasi termasuk dalam arah kegiatan ini. niat memang berasal dari hati. d) Memiliki ketua yang dapat menggerakan para anggotanya. Actuating dan Controling) menjadi proses penting dalam perencanaan kurikulum. diberikannNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Maka dalam management diperlukan sistem pergantian pengurus yang baik. Maka begitupun para pengelola mentoring/da'i/zaim. 3) Actuating Penggerakan majlis ta'lim apalagi sebagai pengelola memerlukan keterampilan tersendiri. Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Maksudnya jangan sampai kita membentuk figur dari seorang ketua. memimpin. Tindakan POAC tersebut telah dinyatakan secara eksplisit oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib. maka POAC (Planning. Ketua memang penting. target realistis. b) Memiliki dan memahami tujuan beresama yang uingin dicapai c) Memiliki sistem yang efektif dan sesuai dengan kondisi medan. Bergeraknya suatu organisasi berarti bergeraknya manusia-manusia di dalamnya. 5. maka perlu diorganisir dalam materi subjek materi. maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannmu itu. 2) Organizing Setelah rencana dibuat. dan anggaran. Organizing. Tahap perencanaaan merupakan tahapan yang amat penting. 1) Planning Dimulai dengan pembuatan tujuan. Tujuan adalah apa yang ingin kita capai dari suatu kegiatan dan yang menjadi pegangan filosofis ideal. mengarahkan. misi dan program kerja yang dimplementasikan dalam bentuk sasaran. tetapi bukan orangnya. struktur dan kelembagaan. Manusia dapat bergerak dengan benar bila telah memiliki motivasi dengan benar. Ayat di atas menggambarkan betapa pentingnya perencanaan ke arah tujuan dan target. 4) Controling .

Terdapat tiga unsur penting dalam pengendalian yaitu: a) Menetapkan standar ketercapaian target/tujuan b) Mengukur tingkat keketercapaian sekarang dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. (Ali bin Abi Thalib r. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. bahkan menunjuk penanggung jawab suatu amata acara namun tidak berjalan dengan baik.Ketika kegiatan majlis taklim sudah berjalan. 14). Perhatikan bagan di bawah ini Mind mapping35 Kebaikan terorganisir 36 rencana 1-3 tahun rapat kerja Planning analisis masa lalu analisis masa sekarang prediksi masa depan  Rencana Organizing distribusi kerja SDM POAC Actuating memimpin mengarahkan memotivasi Faktor penting niat ikhlas Tujuan bersama Sistem kerja efektif Figur teladan/da'i Controling 35 36 penugasan yang mampu standar prestasi  Lihat Ruswandi dan Adeyasa (2007. tetapi lebih karena faktor tidak ada saling menngingatkan sehingga proses kerja tidak berjalan optimal. Kontrol merupakan hal yang seringkali terlewatkan. membuat target. Bukan karena tidak ingin dilaksanakan. Kita sudah sering membuat berbagai rencana melalui musyawarah.a.) . c) Mengambil tindakan untuk mengoreksi prestasi yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Bila ada perubahan situasi harus segera dibuat rencana baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. para pengelola majlis ta'lim perlu memastikan bahwa semua kegiatan itu berjalan sesuai dengan rencana.

Penilaian dalam mentoring dilaksanakan untuk memeperjelas informasi dan keputusan tentanag konteks. Oleh sebab itu penilaian masukan umumnya mengidentifikasi berbagai kemmpuan yang dimiliki oleh lembaga penanggung jawab program.. Juga terjadi sebaliknya. agar lebih feasible dengan kondisi dan situasi dimana program itu aan dilaksanakan. mencari. masukan/input. tiap program pengembangan krurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu. Menetapkan suatu nilai atau judgment. baik seteah program berakhr 37 38 lihat Nana Saodih Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. yang memusatkan perhatian kepada program-program pengembangan karakter mahasiswa. Ada tiga hal penting yang harus mncakup dalam proses evaluasi yakni. Lingkup evaluasi program mentoring mulai dari tahap perencanaan. 1989. Halaman 127 . hasil program dan laiblain. Penilaian konteks ditujukan untuk menyajikan alasan-alasan sebagai dasar dalam menentukan tujuan program. prosedur. halaman 173 Lihat Nana Sujana Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. dan menyajikan informasi yang diperlukan untuk menentukan alternatif keputusan. Penilaian proses bertujuan untuk. yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi. strategi yang digunakan dalam melkasanakan program termasuk rencana untuk melaksanakan strategi tersebut. seperti program.1997. yakni menentukan. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi sesuai dengan style dan karakteristik model yang dikembangkannya. (b) memperoleh informasi berbagai kegiatan program sebagai bahan dalam mengambil keputusan seperti perbaikan. dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula37. pembinaan dan pengembangan program. adanya deskripsi program sebagai objek penilaian. yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan cara-cara memanfaatkan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. proses. Oleh karena itu Stufflebeam38 memandang evaluasi sebagai suatu proses. seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex. a). Ketiga aspek tersebut merupakan aspek keharusan adanya dalam suatu tindakan penilaian.Kerja sesuai rencana Awas`Masalah !! Koordinasi Komunikasi 6. dan pengembangan program.A.Penilaian Mentoring pengukuran prestasi  koreksi tindakan  Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari proeses mentoring. EVALUASI pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan tertentu. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data/informasi. Inggris menyatakan bahwa. cara pendekatan. (a) mengetahui dan meramalkan kelemahankelemahan rencana dan pelaksanaannya. pelaksanaan. B) adanya suatu kriteria dan c). modal kerja . R. Penilaian hasil/keluaran/out put bertujuan untuk menentukan keberhasilan program dalam bentuk hasil yang dicapainya. Penilaian maasukan / input ditujukan untuk memperoleh informasi dan menyajikan keterangan. dan output/hasil. penyempurnaan. Becher. Hasil program evaluasi akan mempengaruhi pelaksanaan dalam impelementasinya.

Kerjasama a) Menciptakan suasana kondusif b) Memperhatikan kegiatan mentoring c) Tolong menolong dalam games / outbound d) Mengerjakan tugas bersama-sama 2. Dalam penilaian hasil termasuk juga dampak dari program/impact terhadap berbagai dimensi sesuai dengan tujuan program. tidak terlambat d) Tdak malas untuk mengikuti kegiatan mentoring 6. Berikut adalah contoh devinisi penialain dan kriteria nilai mutu yang dapat digunakan. Ada pula D bagi mentee yang tidak pernah hadir dalam mentoring. kondisional sifatnya. Kepatuhan a) Menaati semua aturan bersama b) Taat perintah mentor c) Disiplin.A. dsb. tidak cuek/menyapa. Sopan santun dan Keramahan a) Pada semua: ramah. les dan atau kegiatan lainnya diluar kegiatan sekolah 8.: 1.Tanggung Jawab a) Menepati janji b) Komitmen c) Amanah (mengerjakan tugas) 7. suka berjabat tangan dsb. Daya tangkap a) Percepatan perubhan (hijrah) dari tidak tahu menjadi tahu. dst.maupun pada saat program berjalan. Sistem nilai ABC digunakan dengan alasan simpel dan tidak berbelit-belit. 3. konsistensi perubahan b) Cepaqt mengerti maksud dari materi /games yang disampaikan c) Respon yang baik (dilihat dari pernyataan/pertanyaan) 5.Inisiatif a) Mengajak teman untuk mengikuti mentoring (tanpa diminta oleh mentor). c) Pada mentor: ramah. sedangkan nilai A untuk 90 > X > 70 dan seterusnya.B+. menyiapkan Alquran dst ) c) Membuka dan menutup majlis d) Mencatat e) Kreatif. b) Menyiapkan sarana dan prasarana mentoring (Membereskan bangku. 4. contoh nilai A+ diberikan untuk 110> X> 90. Definsi penilaian sikap mentee digunakan untuk memeperjelas kriteria penialaian dari setiap sikap mentee dalam daftar penilaian perkembangan mentee. mengucapkan salam dan tersenyum b) Pada temen: tidak mengejek. Kriteria nilai mutu nilai final yang diberikan sebagai laporan untuk memberi gambaran umum perkembangan mentee.Aktivitas (di luar mentoring) Mengikuti ekskul.tidak berkata kasar. . hanya kisaran nilai mutu yang diberikan itu yang berubah. mendahulukan kepentingan yang lain dst. Setia kawan: Peduli terhadap teman (tali ukhuwah kuat ) a) Tahu kabar teman yng tidak hadir b) Menjenguk yang sakit c) Tidak mengganggu teman d) Itsar. Di lapangan ada tim pengelola yang memberi nilai A+. namun pada prinsipnya perhitungan nilai tidak berubah.

f) Santunan dan Pasar Murah Jiwa sosial/ dermawan bagi civitas Unswagati menjadi program rutin tahunan pada bulan Romadhan. ceramah. Matari SII difokuskan pada peguatan etika/akhlak. 2).dan 10). Ibadah. pengokohkan aqidah. Materi pembelajaran dalam studi Islam intensif merupakan materi umum. dan sepercikannya diberikan kepada manusia. Tidak ada yang bisa menolak ketika Allah memberi. saling menguntungkan. saling membantu.Tarawih Keliling di bulan Romadhan Tarling ( tarawih keliling) adalah ibadah mahdhoh yang dikemas untuk membentuk kesolehan pribadi dan kesalehan sosial. Kedekatan dengan masysrakat menjadi bidikan lembaga Unswagati untuk saling menitipkan. Karena dalam kegiatan tarling juga diikuti dengan pembagian sembako kepada kaum dhuafa masyarakat lemah dan masyarakat tidak mampu/miskin. akan tetapi lebih ditekankan pada. 5). mengenal kiprah perjuangann ya dan kebersamaannya dalam mensosialisaasikan ajaran Islam. Sehingga harapan ideal program-program kampus diarahkan juga kepada kepentingan masyarakat luas. Aqidah. kapan saja dan dimana saja. baik yang diminta maupun yang tidak diminta. 3). akhlak Narasumber terdiri dari internal dan eksternal. Al-Whab artinya zat yang dermawan dengan pemberian yang banyak. Tarling bagi civitas Unswagati merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat setalah pengabdian kepada Allah Swt. 2) Untuk memantapan aqidah dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam yang tercermin dalam akhlak dan perilaku bermasyarakat. Metode pembelajran menggunakn metode : 1) klasikal. 2. Muamalah. 4).7) tarikh Islam.7. sesuggunya merupakan pengewejawantahan dari sifat-sifat asmaul husna AlWahab artinya maha pemberi. tidak perlu persetujuan dan persyaratan. tidak terikat oleh situasi dan kondisi. Al-Wahab juga berarti zat yang banyak nikmat-Nya dan terus menerus memberi nikmatnya. Menambah wawasan pengetahuan terhadap institusi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat. Di dalam Al-Wahab ada kekuasaan Allah. munakahat. 3). Tujuan Studi Islam Intensif ( SII ) adalah : 1). membangun kecintaan dalam beribadah. Sejahat-jahat manusia. Dengan kasih sayangnya siapapun akan diberi. Allah memberikan segala sesuatu dengan kehendaknya. 3). kreatif efektif dan menyenangkan serta dikuatkan dengan audit diri (muhasabah) model ESQ dan HI. dan membangun karakter building. Bersdasarkan pengelompokan materi atas : 1). 6). Dialah yang maha pemurah. Proses mendengarkan keluhan masyarakat menjadi bagian penting untuk dikomunikasikan dengan program-program kampus. Diskusi ( untuk meningkatkan pemahaman peersoalan Islam dalam konstek kehidupan sosial. khususnya mahasiswa tingkat IV yang akan dan segera mengakhiri masa pendidikan sarjana di Unswagati. Munakahat. Program ini merupakan program wajib untuk pengembangan karakter bagi mahasiswa Unswagati yang dilaksanakan satu kali selama kuliah di Unswagati Cirebon. Memberikan pengetahuan agam Islam bagi mahasiswa. Syariah. memberikan apasaja yang menjadi keperluan makhluknya. . atau sekejam-kejamnya orang.Kegiatan Pelaksanaan POAC KeAgamaan di Unswagati a. Selain untuk tujuan silturrahmi tetapi juga berbagi dengan sesama. 2). Kegiatan Study Islam Intensif ( SII) SII adalah program kajian keislaman untuk membentuk karakter pribadi insan kamil sebagai pra persiapan PPL dan KKN bersama. berupa kepeduliaan. Model pembelajaran dilaksanakan dengan model interaktif active learning dengan pembelajaran aktif inovaatif. bagaimana mengimplementaskan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari.

hukum. Orang yang mengamakan akhlak Al Wahab disebut Abdul Wahab. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. tetapi paling tidak dia sudah memulai. cakap. Sosok rektor sang birikrat. Berdasarkan konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya bangsa menjadi pijakan utama. dan metafisika. Kekuatan Al Wahab akan benar-benar menjadi kenyataan bila dilakuakan tanpa pamrih. H. Hanya orang-orang yang melebihi kewenangan Tuhan yang tidak punya kepedulian. kepribadian. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wahab mengemukakan. pengendalian diri. Meskipun tafsir bebas manusia selalu mungkin mengandung kesalahan. berilmu. dengan contoh yang kuat menjadi dermawan bagi kaum lemah dan duafa. Menurut pandangan Sanusi menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah upaya mencari keberartian dan nilai-nilai dalam berbagai ilmu. akhlak mulia. 1998 : 11) . artinya hamba yanga maha pemberi. selanjutnya pada pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. bangsa dan negara. juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan budaya bangsa. mentoring/ tutorial PAI terasa nuansa kampus nasionalis yang religius. namun dengan pendekatan keimanan maka akan terinternalisasi nilai-nilai yang utuh dan terintegrasi dalam prilakunya” (Mimbar Pendidikan. Zakaria Mahmud SH. dan lama-lama akan hilang rianya. mandiri. bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap arah pembangunan jangka panjang kedua.Msi. Dalam serba kekuarangan . Mereka itulah orang-orang yang pelit dan rakus. insya Allah akan menjadi kebiasaan yang baik. sehat. ekonomi. memberikan warna tersendiri yang sangat berpengaruh bagi seluruh civitaas akademika untuk menjadi pemberi santunan. dapat dikemukakan bahwa arah pembangunan yang akan datang adalah menuntut lahirnya warga negara dan warga . tetapi juga pengusaha yang religius.hatinya akan tersentuh amanakala melihat sesuatu yang menyayat hati. ia masih menyisihkan rezeki untuk diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan. menyaksikan kelaparan misalnya. Bagi mahasiswa program santunan. pasar murah. kecerdasan. bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Impelementasi model pendidikan karakter melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan 1. Civitas Unswagati yang dipelopori rektornya DR. Boleh jadi dibalik kepeduliannya itu ada maksud tersembunyi. melalui tafsir manusia atas berbagai gejala alam. masyarakat. berakhlak mulia. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. B. sosial. Yaitu orang yang peduli dan suka memberi kepada orang lain.SE. kreatif. teknologi. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara. dan lain-lain. yang tidak mau tahu keadaan yang terjadi di sekitarnya. studi kajian Al Qur’an. Dan jika itu dilakukan secara terus menerus.

Sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan. Bagaimana seharusnya mahasiswa berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap hasil-hasil pembangunan nasional. Sebagai Pendidikan Politik. dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (AA. psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”. Kedua. serta memiliki rasa tanggung jawab dan serta menghormati dan menghargai aparat pemerintah. 1996 : 4) Pendidikan nilai yang merupakan bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu berkaitan dengan perkembangan moral. terekam. beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven. hukum.Wahab. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. yang mengetahui dan memahami dengan baik hak dan kewajiban.masyarakat yang Pancasilais. yaitu pendidikan untuk membina mahasiswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Azis Wahab : 1996 : 6) Pertama. yaitu: ilmu politik. Sebagai pendidikan politik. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. 1985). di samping itu PKn sebagai pendidikan politik juga diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melek hukum. PKn diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa tentang nilai dan moral Pancasila. diharapkan mahasiswa dapat menumbuhkan pengertian dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dalam hubungannya dengan negara maupun antar warga negara serta hubungan dan peranannya. moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Soenarjati. Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. sebagai Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan (A. PKn dapat membina mahasiswa untuk melek politik. elektronik. menghayati dan mengamalkannya. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. Sebagai Pendidikan Nilai dan Moral. menyadari betapa pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Di samping itu. memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan politik.) PKn memiliki peran sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. memiliki sikap kritik dan inovatif. sebagai Pendidikan Politik. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. antropologi. sosiologi. tersiar. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat . Ketiga.

dan (7) Intrapersonal Intellegence. Pertama. Nilai Yang Dikembangkan Nilai-nilai yang dikembangkan dapat menumbuhkan karakter mahasiswa melalui pembelajaran pendidikan menggunakan berbasis minat pada situasi yang dihadapi saat ini. berbangsa. maka tampak bahwa PKn merupakan program pendidikan yang sangat penting untuk upaya pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. (6) Interpersonal Intellegence.sebagai pengalaman langsung (hand of experience). Sering kali seseorang mempersepsikan dapat memiliki kecerdasan dalam bidang intelegensia yang satu mungkin tidak di yang lain dan seterusnya. yakni (1) Linguistic Intellegence.wordpress. sehingga pada tahap pertama pembelajaran mahasiswa dapat menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan Inquiry. Melalui tahap pertama mahasiswa mampu untuk menjelajahi dunia nyata secara kelompok dan individual. konsep. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide. dan bela negara (Winataputra dan Budimansyah. PKn secara teoretik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif. 2.(5) Bodily-Kinesthetic Intellegence. Kedua. Melalui PKn. Konfigurasi atau kerangka sistemik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dibangun atas dasar paradigma sebagai berikut. 2007 : 19). Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. (2) Logical-Mathematical Intellegence. partisipatif. dan bela negara.com/peneltian tindakan kelas). cerdas. PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. konsep. dan bertanggung jawab. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). dan moral Pancasila. Hal ini dapat dikatakan bahwa melihat dan memperhatikan uraian tersebut. nilai. Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi Mahasiswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan (http/ dedidwitagama. (3) Spatial Intellegence. (4) Musical Intellegence. nilai. kewarganegaraan yang demokratis. dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide. kewarganegaraan yang demokratis. PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia. dan moral Pancasila. afektif. Dampaknya dalam proses pembelajaran . pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy). Ketiga. Berdasarkan kajian mengenai kecerdasan manusia tentang teori Multiple Intelligences (Howard Gardner) dikenal adanya Seven Intellegences.

1975/1984 dan 1994). Pupils try to understand the consequences of particular values. berdebat. 2. Sebaliknya seorang mahasiswa yang menonjol dalam bidang linguistic intellegence baru dapat menyerap pelajaran jika diberi kesempatan untuk berbicara. Roberta (1987 : 395) mengatakan bahwa : “Value analysis is a term given to a number of techniques to help pupils apply logical thinking to the valuing proces. Profesional adalah menjadi dasar melaksanakan tugas dan kewajiban kami sehari-hari di Unswagati sehingga kualitas proses dan asil terus di tingkatkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu. Selanjutnya mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan dasar dalam pengambilan masalah penelitian berkelompok. and the reasons for particular values choices. Nilai yang muncul dari kegiatan tersebut adalah mahasiswa diharapkan mampu bekerja dan mencari sumber masalah dan mampu memecahkan masalah melalui penelitian secara berkelompok secara profesional dengan menggunakan metode dan cara-cara ilmiah dan sistematis sehingga dapat menjadikan solusi alternatif terhadap pemecahan masalah. dan sebagainya. berdiskusi. dan sebagainya.adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam logical mathematical intellegence akan sulit menyerap pelajaran apabila pelajaran tidak disampaikan secara logis. Teknik ini mungkin lebih tepat digunakan untuk kelas-kelas tinggi dimana Mahasiswa telah mampu membaca. Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam menumbuhkan karakter pada mahasiswa melalui pembelajaran PKn selaras dengan pilar pendidikan karakter di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon adalah sebagai berikut : 1. Kejujuran merupakan dasar bertindak dalam menentukan berbagai kebijakan dan keputusan kepentingan lembaga selama ini telah meyakinkan kami bahwa prinsip ini akan terus menjadi rujukan utama Melaui pilar ini. Teknik ini erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan nilai umumnya dan khususnya PMP/PPKN yang sejak semula telah ditekankan pada aspek pembinaan sikap/nilai moral Pancasila (GBPP. mahasiswa mampu membiasakan diri baik secara individu maupun kelompok untuk mendeksripsikan masalah-masalah dalam masyarakat secara objektif dalam menentukan tema dan masalah yang akan dijadikan penelitian sosial. the confilcts that may occur among two or more values. bernalar dan juga membandingkan. misalnya diskusi saja yang mungkin hanya dapat melayani mahaMahasiswa yang berkemampuan dalam linguistic intellegence. Pendekatan Analisis Nilai adalah satu teknik belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai-moral atau pendidikan afektif. Profesional dilakukan dengan baik dengan menggunakan instumen yang sudah didiskusikan bersama dosen dan kelompoknya. tidak disertai data kuantitatif. . Mahasiswa juga diharapkan bersikap jujur dan objektif dalam setiap kajian dan tema yang diusulkan dan berlaku secara universal. bisa jadi minat belajar rendah diakibatkan oleh pola pembelajaran yang monoton.

3.

Disiplin, etos kerja, dan budaya kerja menjadi landasan utama menjadi Universitas Unggulan secara nasional menuju Inernasional. Mahasiswa memiliki nilai disiplin, etos kerja dan budaya kerja didalam menganalisis permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian dan akhirnya, mahasiswa secara berkelompok membiasakan mencari sumber informasi yang akurat. Melalui pilar ini juga mahasiswa dapat bekerja dan memiliki budaya akademik yang menjadi motivasi didalam langkah pengambilan data yang ada dimasyrakat. Ketepatan waktu juga yang menjadi dasar sikap disiplin mahasiswa didalam mengerjakan sampai menyajikan hasil temuan penelitianya melalui kelompok di kelasnya.

4.

Kerja sama merupakan perwujudan dari tugas yang di emban sesuai dengan jabatanya masing-masing sehingga tujuan Unswagati tercapai atas kontribusi dan sinergi semua pihak peduli terhadap lembaga; Melalui pilar ini, mahasiswa dapat berkerjasama dengan teman-temannya didalam menentukan dan mencari informasi masalah. Selanjutnya mahasiswa juga memiliki kerjasama dengan kelompok didalam kelasnya, sehingga mereka dapat menyampaikan hasil temuan penelitiannya secara komprehensif.

5.

Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik lembaga Unswagati adalah kewajiban kami, karena itu kami akan mempertahankan degan segala upaya dan daya agar tetap menjadi lembaga terhormat dimata masyarakat nasional dan interasional. Melalui nilai ini, mahasiswa bersikap santun dan ramah sehingga didalam pelaksasanaannya bisa menunjukan dan menjaga harga diri dan almamater perguruan tinggi, terutama didalam mencari data dan informasi baik melalui observasi maupun wawancara. Oleh karenanya, mahasiswa bisa melakukan kegiatan penelitian sosial secara sederhana dengan memperhatikan etika dan estetika dimasyrakat.

3.

Landasan Teoretik

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Pada konteks pendidikan nasional Indonesia telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 butir 1). Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3). Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menyatakan bahwa “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”. Dalam konteks itu pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 3), berfungsi “ … mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai, norma, dan moral dalam diri individu melalui proses pelibatan peserta didik dalam proses pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara khusus mempunyai tujuan secara eksplisit yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan dan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air (Penjelasan Pasal 37). Secara sosialpsikologis yang dimaksud dengan cerdas itu bukanlah hanya secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, emosional, sosial, dan cerdas kinestetik. Dengan kata lain, warga negara Indonesia yang seyogyanya dikembangkan itu adalah individu yang cerdas pikirannya, cerdas perasaannya, dan cerdas perilakunya. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses kebudayaan yang pada akhirnya akan mengantarkan manusia menjadi insan yang berbudaya dan berkeadaban. Pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional, 2010 dalam makalah kebijakan pendidikan karakter 2011). Di Indonesia wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa, dan pendidikan seni. Kohlberg (2002 : 20) merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.

Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan (Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk). Tahap 2 : Orientasi instrumental nisbi (Berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama). Tingkat II: Konvensional (Conventional) Tahap 3 : Orientasi kesepakatan timbal balik (Sesuatu dipandang baik untusk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati). Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban (Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut). Tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik (Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual). Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal (Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan). Dengan teorinya itu, Kohlberg (SMDE-Website, 2002 : 20) menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues), seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu, ditegaskannya bahwa tugas guru adalah membelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung, keyakinan, serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. 4. Deskripsi Model Deskripsi model karakter yang akan digunakan dalam pengembangan nilainilai karakter mahasiswa adalah melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inqury Model) menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk selalu dalam usaha pemecahan masalah dan dapat menmukan hasil penelitan yang akan dijadikan bahan diskusi. Pada tahap ini mahasiswa melakukan diskusi, penelitian, wawancara, mencari sumber dan fakta sehingga dapat dijadikan pengumpulan data sesuai dengan tema dan kompleks permasalahan yang didiskusikan. Selanjutnya pengembangan kemampuan mahasiswa melalui penerapan model ini akan mampu menyusun permasalahan yang akan diadikan sebagai bahan penelitian untuk mencari informasi dan data sehinga dapat dijadikan temuan penelitian. Adapun secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan pada setiap langkah pembelajaran PKn melalui pendekatan kelompok inquiri (Group Inquiry model) adalah sebagai berikut :

3. dan bahkan mencari informasi dari internet. Pada saat para mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan bahan pelajaran akan menyadarkan mereka bahwa belajar sesungguhnya harus sampai pada adanya upaya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Menumbuhkan kebiasaan keterampilan dalam penelitian mahasiswa untuk membuat Pengalaman belajar demikian diperoleh setelah para mahasiswa untuk menyajikan situasi problematik yang dijadikan dasar dalam penyusunan format penelitan. 4. Proses inilah yang mengasah rasa ingin tahu mereka untuk menegaskan bahwa masalah yang mereka ajukan itu penting berdasarkan fakta dan data lapangan. Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkannya segala aktivitas didalam penelitian yang dilakukan secara kelompok untuk mencari sumber informasi yang akurat didalam lingkungan masyarakat. Kebiasaan yang tumbuh memlalui pembelajaran ini adalah mengajakn mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan didalam proses penelitian. 2. Pengalaman belajar ini diperoleh ketika para mahasiswa secara sungguhsungguh melaksanakan proses penelusuran dengan menginvestigasi permasalahan kompleks didalam usaha penyelesaian masalah.1. melakukan wawancara terhadap sejumlah nara sumber. Mahasiswa akan dengan terbiasa dengan mudah melakukan penelitian dan merumuskan penelitian dalam usaha pemecahan permasalahan baik secara individual maupun kelompok. yang memperkenalkan permasalahan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Meningkatkan Keterampilan-keterampilan penelitian Pengalaman yang dapat diperoleh pada saat pembelajaran adalah para mahasiswa dapat mencari data dan informasi yang mendukung pentingnya masalah untuk dijadikan bahan sehingga mampu memunculkan keterampilanketerampilan penelitian yang diperoleh dengan melakukan identifikasi masalah. Merumuskan dan menyajikan situasi yang problematik. televisi. Mahasiswa diharapkan mampu merumuskan situasi dan dapat menyajikan situasi yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penelitian sehingga dapat menemukan sesuatu temuan penelitian secara sederhana. mencari informasi dari berita dan artikel surat kabar. bukan menghafalkan seonggok fakta dan data. Hal tersebut tumbuh berkat belajar berbasis pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan model kelompok inquiri dengan kelompok investigasi. menyaksikan siaran radio. Menyajikan temuan-temuan secara bertanggung jawab. tidak atas dasar akal sehat (common sense) belaka. Mereka membuat desain format pengumpulan data yang dapat digunakan dalam menjaringan data seperti halnya mampu melakukan observasi. Kerangka operasional metodologik pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter berpijak pada kerangka teori perkembangan nilai-moral .

terkait aspek sosiokultural. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan proses fasilitasi-dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan isi dan metodologi kurikulum. penghayatan. sehat.moral yang berpijak dan merujuk pada semua nilai sentral tersebut. a. teladan. cakap. dan . e. Model generik pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya mengembangkan karakter bersifat holistik. dan pengamalan) individu terhadap suatu nilai sebagai bagian yang melekat dari karakteristik pribadinya. pengembang nilai. penopang kajian. e) Cakap sebagai bentuk nilai kecerdasan operasional. g) Mandiri sebagai bentuk nilai personal-sosial. c) Sehat sebagai bentuk nilai fisikal dan rohaniah. mandiri. d. d) Berilmu sebagai bentuk nilai kecerdasan substantif. dan pengelola pembelajara nilai yang efektif. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada rumusan tersebut terdapat delapan konsep nilai yang merupakan bagian integral dari sejumlah central values. f. b) Berakhlak mulia sebagai bentuk nilai sosio-kultural keberagamaan. Proses fasilitasi dialogis ini dimaksudkan untuk menghasilkan lingkungan dan iklim belajar yang kondusif bagi pemahaman. c.dan merujuk pada upaya pencapaian semua aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. penghayatan. fasilitatifdialogis. b. penggali nilai. f) Kreatif sebagai bentuk nilai kecerdasan inovatif. dan berorientasi pada peningkatan tahap perkembanmgan nilai-moral individu. dan pengamalan nilai oleh individu dalam konteks sosial-kultural lingkungannya. penguat. dalam pengertian merangsang individu untuk meningkatkan kualitas penguasaan nilainya sangat diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan perkembangan nilai dalam diri masing-masing individu. Ukuran kualitas penguasaan nilai adalah tingkat perkembangan nilai heteronomis menuju nilai autonomis melalui proses internalisasi dan personalisasi. berilmu. yakni ”. berakhlak mulia. Misi utama pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah meningkatkan kualitas penguasaan (pemahaman. Guru dapat berperan secara dinamis sebagai mitra dialog. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003) perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran afektifnilai. transformator nilai. Merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat sarat dengan nilai.. kreatif. yakni: a) Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sebagai bentuk nilai aqidah keberagamaan.. Lingkungan sosial-kultural yang berkualitas.

. Selanjutnya untuk dapat menyajikan dan menemukan permasalahan untuk dilakukan proses penelitian. wawancara. Problematik tersebut disesuaikan dengan topik yang ada diperkuliahan pendidikan Kewarganegaraan. dan buktibukti dokumentasi yang yang terjadi permasalahan dilingkungan masyarakat secara kelompok. Prosedur / Metode Pelaksanaan Beberapa prosedur/ metode yang digunakan adalah dengan melalukan model kelompok inquiri melalui investigasi kelompok dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengumpulan situasi yang problematis sesuai yang terjadi di masyarakat. kelas difasilitasi untuk melaksanakan proses investigasi berdasarkan topik permasalahan yang dipilih oleh kelompok sehingga mampu menemukan jawaban investigasi. 2) Merencanakan Investigasi (penelitian) Pada langkah ini. Pendekatan kelompok inquiri menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk mengembankan diri dan mampu melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelas dan mampu untuk mencari berita dan informasi yang akurat sesuai dengan topik permasalahan kelompoknya. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) untuk mengembangkan karakter yang perlu dikuasai oleh mahasiswa adalah yang terkait pada central values yang terkandung dalam atau menopang konsep nilai yang menjadi elemen dari tujuan pendidikan nasional tersebut. kelas difasilitasi untuk mengkaji permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi (penelitian) untuk dapat dilakukan pemecahan masalahan secara ilmiah dan sistematis.h) Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab i) sebagai nilai personal sosial-politik. Secara prosedur pelaksanaan model kelompok inquiri dengan menggunakan model investigasi kelompok memlailiki enam tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pada tahap ini kelas difasilitasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul yang akan dijadikan topik melalui pengamatan. kelas difasilitasi untuk menyajikan hasil temuan-temuan yang diperoleh untuk dapat disajikan didepan kelas berdasarkan kerja kelompoknya. 3) Melaksanakan Investigasi Pada langkah ini. 4) Menyajikan Temuan-temuan Pada langkah ini. 5.

Karakteristik identitas nasional . kelas difasilitasi untuk melakukan evaluasi terhadap hasil investigasi sehingga dapat dijadikan bahan tindak lanjut untuk menyusun program pemecahan masalah lainnya secara sistematis dan ilmiah.Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara 2. Dosen mengajukan sejauh mana pemahaman yang dapat diperoleh melalui penggunaan model pembelajaran kelompok inquiri tersebut. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Langkah 1 : Menyajikan situasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan inquiry Pertama-tama mahasiswa diberikan arahan mengenai informasi awal bahan materi perkuliahan yang akan dipelajari dalam satu semester kedepan sesuai dengan topik dan tema yang ditentukan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. Setelah selesai proses pembelajaran ini. POLITIK DAN STRATEGI .Demokrasi dan pendidikan demokrasi 5.Sistem Konstitusi .Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia 6. sehingga dari hasil temuan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lain yang relevan. HAK AZASI MANUSIA DAN RULE OF LAW . Berdasarkan Keputusan Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-rambu pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Proses berbangsa dan bernegara 3. dosen selanjutnya dapat melakukan refleksi untuk mencari dan menganalisis kekurangan apa yang ada pada hasil temuan penelitian tersebut.Rule of law HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA . IDENTITAS NASIONAL . .Konsep dan prinsip demokrasi . DEMOKRASI INDONESIA .Warga Negara Indonesia .Hak Azasi Manusia (HAM) .5) Mengevaluasi Investigasi Pada langkah ini.Pancasila sebagai sistem filsafat . 6. adapun topik perkuliahan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah : NO 1.Sistem Politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. TOPIK PERKULIAHAN FILSAFAT PANCASILA .

Tahapan dan langkah selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengajukan dan menyajikan situasi-situasi yang akan dijadikan sebagai bahan investigasi dengan mengungkapkan bahan problematis sehingga mahasiswa dengan menarik dan minat untuk melakukan investigasi secara kelompok. Pemajuan.Otonomi Daerah GEOSTRATEGI INDONESIA . Melemahnya sistem o Banyaknya aksi suap Politik o Pelanggaran calon Kepala Daerah dalam Pemilukada o Rendahnya SDM masyarakat terhadap partisipasi politik 4.Wilayah sebagai ruang hidup .7. GEOPOLITIK INDONESIA . 8. Pengamalan o Melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pancasila sebagai pancasila ideologi bangsa dan o Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap negara yang belum ideologi pancasila maksimal o Terjadinya perilaku yang tidak sesuai dengan pancasila bahkan tertentangan dengan nilai-nilai pancasila 2. o Banyaknya tindakan pelanggaran HAM penghormatan o Aksi pembunuhan terhadap Hak Asasi o Memudarnya penghormatan terhadap orang lain Manusia Melemahnya Rule Of o Maraknya aksi mafia hukum .Konsep Asta Gatra . Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dengan masing-masing dari mereka menyajikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan topik perkuliahan.Indonesia dan perdamaian dunia Selanjutnya mahasiswa diberikan topik dan mengemukan masalah yang dihadapi terhadap situasi lingkungan masyarakat. Berikut ini permasalahannya sebagai berikut : No Lingkup Masalah Contoh Masalah 1. Persoalan Demokrasi o Munculnya pelaksanaan pemilu yang tidak luber di Indonesia dan jurdil o Memudarnya semangat demokrasi di Indonesia o Munculnya Sikap apatis masyarakat terhadap proses demokrasi 5. Melemahnya identitas o Memudarnya rasa identitas kebangsaan nasional Indonesia o Munculnya disintegrasi bangsa o Melemahnya pemahaman terhadap lagu dan simbol-simbol negara o Sikap tidak menghormati terhadap nilai dan simbol kenegaraan 3.

Mahasiswa secara berkelompok mengajukan rencana penelitan yang akan dilakukan dengan melihat masalah dan peristiwa yang diajukan oleh kelompok. mahasiswa secara berkelompok membagi topik permasalahan dengan melihat indikator yang akan dicapai. Melalui tahap melaksanakan investigasi ini mahasiswa mampu secara langsung terjun ke masyrakat mengenai konsep permasalahan bela negara dan masalahmasalah kewarganegaraan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. 8. Tahapan ini menekankan pada mahasiswa untuk mampu menyusun daftar masalah yang nanti akan dijadikan sebagai bahan penelitian. sehingga informasi itu membantu dalam proses perencanaan penelitian. Langkah 3 : Melaksanakan Investigasi Tahap dan langkah selanjutnya. o Praktik jual beli jabatan o Memudarnya rasa persatuan o Banyaknya korupsi Persoalan Bela o Munculnya kerusahan Massal Negara o Tawuran antar Pelajar o Terorisme o Anarkisme berbasis SARA o Separatisme Politik Geopolitik Indonesia o Pudarnya semangat Kebangsaan o Batas wilayah suatu negara o Letak geografis masih belum menguntukngkan bagi Indonesia Geostrategi o Strategi belum terarah dalam Indonesia o Munculnya Sikap arogansi militer Langkah 2 : Merencanakan Investigasi (Penelitian/penemuan) Tahapan selanjutnya adalah dengan cara mahasiswa merencanakan investigasi (penelitian) untuk dapat menemukan hasil permasalahan yang akan dijadikan bahan diskusi kelas. observasi langsung terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang ada dilingkungan masyarakat. Langkah 4 : Menyajikan temuan-temuan . hal ini didasarkan pada pengembangan karakter yang diharapkan yaitu dengan mencari data melalui wawancara dengan sumber langsung. Tahap melaksanakan Investigasi ini juga. Penyusunan rencana penelitan ini membuat mahasiswa mengumpulkan informasi yang akurat. mahasiswa melaksanakan investigasi diberbagai lokasi dan tempat penelitan.Law 6. Mahasiswa secara berkelompok mencari informasi dana dapat mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai yang relevan dengan topik yang jadi bahan permasalahan. Perencanaan ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan format yang disediakan oleh dosen dan didiskusikan bersama mahasiswa. 7. Penelitian yang akan digunakan mengacu terhadap topik permasalahan yang dipilih oleh kelas dalam kelompok yang akan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun rencana penelitian.

dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian Penilaian dalam pendidikan merupakan bagian dalam proses pengumpulan. sebagai bahan evaluasi didalam menentukan bahan pembelajaran yang didasarkan pada hasil belajar peserta didik. observasi. studi pustaka. Hasil penelitian yang berupa bahan investigasi mengevakuasi terhadap berjalannya pembelajaran menggunakan pendekatan kelompok inquiri. Penilaian kelompok juga merupakan bagian penting didalam pembelajaran investigasi untuk dapat diketahui sejauhmana ketercapaian terhadap indikator yang diperoleh dari mahasiswa. Dosen diharapkan mampu mengetahui secara detail mengenai kompotensi yang dimiliki oleh mahasiswa didalam melakukan tindakan pembelajaran sesuai dengan tema dan topik yang dijadikan bahan diskusi dikelas. baik. 7. dinyatakan dalam bentuk yang bersifat kualitatif. Mahasiswa menemukan dan dapat memecahkan masalah secara ilmiah dan sistematis. Kegiatan mengumpulkan informasi tersebut sebagai bukti untuk dijadikan dasar menetapkan terjadinya perubahan dan derajat perubahan yang telah dicapai sebagai hasil belajar peserta didik. Langkah 5 : Mengevaluasi investigasi Langkah-langkah selanjutnya adalah mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap hasik kerja yang dicapainya untuk dapat dijadikan bahan ukuran dalam membuat keputusan yang relevan. Konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui pendekatan berbasis analisis nilai adalah dengan menggunakan beberapa teknik penilaian baik dengan tes maupun non. tes produk dan keterampilan/unjuk kerja. telah mencapai standar penguasaan minimal kompetensi atau belum. Instrumen yang digunakan pun bervariasi mulai dari observasi. mahasiswa diminta menguraikan isi dari penyelesaian masalah. tes perbuatan.melalui penilaian (assesment) peserta didik dan pendidik dapat mengetahui perkembangan didalam proses pembelajaran. kemudian dijadikan dalam mengalisis nilai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. cukup. kurang. Sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui wawancar. dan kurang sekali. dan gambar-gambar sesuai dengan hasil yang relevan dengan topik yang menjadi bahan permasalahan. Sebagai keputusan (judgement) dalam penilaian harus didukung oleh bukti-bukti sebagai data yang cukup yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tahap pengukuran. seperti baik sekali. mahasiswa dapat menyajikan temuan-temuan berdasarkan hasil identifikasi masalah yang diungkapkan.wawancara. .Langkah-langkah dalam pembelajaran ini. Pada pertemuan ini secara berkelompok. Pada tahap ini dilakukan refleksi atas penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa untuk disajikan bahan tindak lanjut sesuai dengan topik yang akan dibahas selanjutnya. Keputusan penilaian seperti lulus atau tidak lulus. Penilaian berfungsi dalam mengidentifikasi gejala yang ada pada peserta didik didalam proses kegiatan pembelajaran. temuan-temuan dalam investigasi kelompok ini melibatkan seluruh mahasiswa dalam kelompoknya. Penyajian dalam kelompok dapat dilakukan dengan pembuatan makalah.

SKOR CATATAN 3. MERENCANAKAN INVESTIGASI  Menjelaskan rencana investigasi (penelitian)  Menyusun format secara sistematis terhadap pedoman investigasi MELAKSANAKAN INVESTIGASI  Mencari sumber informasi dan data  Mengumpulkan informasi yang sudah diperoleh  Relevansi dengan bahan topik permasalahan MENYAJIKAN TEMUAN-TEMUAN  Menyajikan hasil temuan dalam proses penelitian  Menginventarisir hasil-hasil temuan untuk dapat dijadikan tindak lanjut. MENGEVALUASI INVESTIGASI  Melaksanakan evalasui terhadap hasil penelitian secara berkelompok  Mendeskripsikan bahan investigasi  Melakukan penilain terhadap pencapaian hasil yang diperoleh.Tes tertulis digunakan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa didalam setiap topik pembahasan dengan menggunakan pendekatan berbasis analisis nilai. C. 4 = di atas rata-rata. 5. 4. Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia berbasis pada Penguatan Local Wisdom di Unswagati . 5 = istimewa NO KRITERIA 1. Berikut ini instrumen yang digunakan sebagai bahan didalam penilaian: Petunjuk Penilaian : 1 = rendah. MENYAJIKAN SITUASI DAN MERUMUSKAN PERTANYAAN  Menampilkan topik yang dijadikan situasi masalah. 2 = cukup. 3 = rata-rata.  Merumuskan dan mengidentifikasi pertanyaan  Mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan inquiri 2.

Kemampuan ini didukung penggunaan bahasa yang santun. Kemampuan ini akan dapat mengembangkan karakter dan kepribadiannya melalui proses berpikir sinergis. tindakan. dan kepribadian. Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembang kepribadian juga diarahkan pada kemampuan berbahasa yang baik. Hal ini dapat mengorganisasi karakter dirinya yang terkait dengan potensi daya pikir. bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan terpelajar yang mahir menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran. menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2004:1). perbuatan) baik dan dapat diterima orang lain. Sikap positif ini. Adapun kesadaran akan norma bahasa ditunjukkan dengan penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa perilakunya (ucapan. santun. melalui mata kuliah ini. Kemampuan ini didukung pula dengan penggunaan bahasa yang benar yaitu bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang berlaku. halus. yaitu kemampuan menghasilkan konsep baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikinya bersamaan dengan pengalaman baru yang diperolehnya. emosi. dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. sopan. dan logis. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik akan dapat mengekspresikan pemahaman dan kemampuan dirinya secara runtut. perasaan. baik lisan maupun tulisan. atau kepribadian seseorang salah satunya teridentifikasi dari bahasa yang ia ucapkan. gagasan. Bahasa Indonesia dipelajari dengan tujuan agar mahasiswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. orang yang berkarakter demikian akan menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan situasi. dan pengalaman baru yang diperolehnya. dan tidak menyinggung. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa memelihara dan melestarikan bahasa Indonesia dan mencegah adanya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. dan 3) kesadaran akan adanya norma bahasa. proposal. karakter. Penggunaan bahasa yang lemah lembut. yaitu bahasa yang sopan. sistematis. Dampaknya. melalui penggunaan bahasa . penguasaan bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan berbagai kecerdasan. baik dalam situasi formal maupun nonformal. menghargai orang lain. seperti artikel. Bahasa Indonesia juga termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bersama-sama dengan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. diharapkan mampu menggunakan kemahiran berbahasa Indonesia untuk mengembangkan diri sepanjang hayat. Hal ini berarti. ditegaskan Widjono (2007: 3). dan keinginannya yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk. jelas.1. sistematis. watak. akan mampu memahami pemikiran dan pendapat orang lain. Mahasiswa. diwujudkan dalam bentuk: 1) kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. Sebaliknya. Tujuan Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa di setiap perguruan tinggi. Karakter. Kebanggaan terhadap bahasa Indonesia akan mendorong mahasiswa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. teratur. 2) kebanggaan berbahasa Indonesia. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik. laporan. stimulus.

dan menyenangkan akan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. pembelajaran harus diarahkan pada keaktifan mahasiswa untuk berbahasa. seperti memahami. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana pendidikan karakter akan diterapkan model bermain peran (role playing). pola sikap. pemecahan masalah. Model bermain peran dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan menarik sehingga motivasi . menerapkan. Pendekatan yang tepat yang mengaktifkan mahasiswa harus digunakan dalam pembelajaran. dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga dianggap enteng karena mahasiswa mengganggap sudah bisa dan sudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas bangsa. Mahasiswa dilibatkan sejak awal hingga akhir dalam pembelajaran. Bahasa Indonesia digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa sudah terbiasa dalam penggunaannya. 1. mencela atau melecehkan.yang kasar. dan seni sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia (Rahayu. memilih pemeran. 2009: 5). Oleh karena itu. Pembelajaran Berbasis pada Pendekatan Belajar Aktif Bahasa merupakan keterampilan. Tujuan penggunaan model bermain peran (role playing) dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah sebagai berikut. teknologi. Pembelajaran yang efektif. dan mengevaluasi pembelajaran. memerankan hingga mengevaluasi. dan diskusi. 2. seperti memilih topik. Pembelajaran menjadi Lebih Menyenangkan dan Bermakna Perkuliahan Bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan karena selama ini pembelajaran lebih difokuskan pada penguasaan materi dan konsep. Dalam pendekatan komunikatif ada beberapa model yang dapat diterapkan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran. berbicara. menggunakan/menerapkan. merumuskan masalah. Situasi tersebut dapat tercipta apabila pelaksanaan proses belajar mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar peserta didik yang terlibat langsung secara internal dan emosional dalam proses belajar mengajar. memaki. Sebagai salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam upaya pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia sebagai pendukung kecakapan profesional individu dalam melaksanakan tugas profesi atau keahliannya. menarik. membaca. memfitnah. yaitu menyimak. bahan kajian bahasa Indonesia dipadukan ke dalam kegiatan penggunaan bahasa Indonesia melalui empat keterampilan berbahasa. dan pola tindak peserta didik. akan mencerminkan pribadi yang tidak berbudi. Rahayu (2009: xii) menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia seyogyanya diberikan dalam sistem yang utuh menyeluruh meliputi pola pikir. pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif yang dapat menumbuhkembangkan potensi kreatif peserta didik. menghujat. Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional secara baik dan benar untuk menguasai. dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran tepat digunakan untuk melibatkan peserta didik secara penuh dalam pembelajaran. seperti melalui presentasi.

2. tanggung jawab. dkk. dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Model ini menyajikan situasi masalah yang nyata dan aktual dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. 41.. etos kerja yang tinggi. dan ikhlas (Kesuma. yaitu terdapat nilai-nilai yang secara objektif. dan sekolah hendaknya tidak hanya memapari para peserta didik dengan nilai-nilai tersebut. 3. dan kerja sama. Adapun dalam kajian Pusat Pengkajian Pedagogik Universitas Pendidikan Indonesia (P3 UPI) nilai yang perlu diperkuat untuk pembangunan bangsa saat ini adalah jujur. Pendekatan komunikatif dengan model ini menekankan kemampuan dan kemahiran peserta didik dalam berkomunikasi. dan perilaku mahasiswa.belajar tumbuh. keadilan. disepakati secara universal yang harus diajarkan sekolah-sekolah di tengah masyarakat yang plural. membaca. Lickona (Kesuma. Melalui berbagai pengalaman belajar. seperti kedisiplinan. Pembelajaran Berbasis pada Nilai-Nilai Model bermain peran ini efektif dalam menyajikan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. yaitu menyimak. Pendekatan komunikatif melalui bermain peran ini dapat menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri peserta didik. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memadukan empat keterampilan ini dalam pembelajaran. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah/perguruan tinggi harus berpijak pada nilai-nilai yang diacu dan dikembangkan oleh sekolah/ perguruan tinggi tersebut. 13. bahasa. Bahasa menunjukkan identitas masyarakat itu sendiri. Bahasa adalah produk budaya masyarakat pemakai bahasa. 2011: 63) menyatakan bahwa pendidikan karakter di sekolah memiliki dua prinsip. mahasiswa diharapkan mampu menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik.. Melalui model ini diharapkan tercipta proses pembelajaran yang utuh menyeluruh melibatkan pikiran. baik lisan maupun tulisan dengan memerhatikan etika berbahasa. kerja keras. Muslich (2011: 129) menyatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian. dan karakter tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat Cirebon. Pembelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. Nilai yang Dikembangkan Pendidikan karakter memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. tetapi juga membantu mereka memahami. berbicara. sopan. Pendekatan ini mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. Pembelajaran Menjadi Lebih Terintegrasi Perkuliahan Bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. sikap. santun. Noer (2007: 9. Mahasiswa juga dapat memetik butir-butir hikmah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan sendiri. 2011: 16). dalam berbagai situasi dan konteks. dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilainilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan. dan 65) . dkk. tanggung jawab dalam mengemban tugas. 4. dan menulis. kejujuran. Sekait dengan ini. Unswagati yang berada di tengah-tengah masyarakat Cirebon yang plural memiliki nilai-nilai budaya. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut. menginternalisasi.

cara beternak. dengan kearifan lokal juga. jujur.go. Masyarakat Cirebon hidup berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh yang juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. Sebagai contoh. dapat kita baca dalam suluk itu bahwa dalam pergaulan hidup 39 http://pusatbahasa. tulus ikhlas. kearifan lokal menjadi budaya yang melekat kuat pada masyarakat pendukungnya. suluk dan kidung. dan berbagai bentuk lain39. ialah sabar penuh pengertian. syair.” Berdasarkan suluk itu. terbuka terhadap siapapun. tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan lain. dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. Kearifan lokal ini bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. Kearifan lokal Cirebon juga menjadi pengarah dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. rendah hati. Lebih dari itu. dikutip nilai-nilai luhur dalam Suluk Sujinah (Noer. diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya. Mustakim dalam menyebutkan bahwa kearifan lokal dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah. berkehidupan. melainkan melalui proses yang panjang. toleransi. 2009: 2) yang terjemahannya seperti berikut. dan kreatif dalam melakukan pembaruan-pembaruan. kearifan lokal menjadi pengarah dalam bersikap. Misalnya. mengatur dalam cara bertani yang baik. dan religius. dan teratur. berbudi luhur. masyarakat bereksistensi dan berdampingan secara damai. hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah. “…. berperilaku. babad. Mereka hidup dengan aman. tidak iri maupun dengki. tidak angkuh maupun congkak. tembang. perilaku. Masyarakat Cirebon juga memiliki karakter lugas. Di samping itu. Selain itu. ajaran dan pemikiran. Selain bahasa. nilai-nilai. Nilai-nilai ini mengikat dan mengatur kehidupan mereka. cara bergaul. serat. Bahkan. Sekait dengan kesantunan berbahasa. Cirebon sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai kearifan lokal sendiri yang menjadi ciri khas dan jati diri yang membedakan dengan daerah lainnya. sikap. sistem pengetahuan yang mengakar kuat dan menjadi pedoman hidup masyarakat yang bersangkutan. hal lain yang menjadi simbol identitas diri suatu bangsa adalah kearifan lokal (local wisdom). ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang. dan sebagainya. terutama dalam bahasa. terus terang/jujur. walaupun dialek bahasa Cirebon terdengar kasar sebagai ciri khas orang pesisir (pelabuhan). bertutur. Kearifan lokal masyarakat Cirebon dapat dilihat dalam bentuk pepatah. Kearifan lokal ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sepantasnya dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai suatu budaya yang mentradisi. kata bijak. Oleh karena itu. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri yang merupakan pencerminan cara pandang. tidak menjamin pribadi yang kasar dan mudah tersinggung. masyarakat Cirebon mempunyai nilai-nilai yang baik dan luhur yang dapat menumbuhkan kehidupan tenteram dan damai apabila masyarakat mau mematuhi dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari.kemdiknas.Dalam tata cara pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi hidup dan mempunyai watak terpuji. tanggap.mengidentifikasi karakter masyarakat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon yang bersikap santai.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603 . tertib. Kearifan lokal mengatur kehidupan masyarakat. permainan. suka bersilaturahmi. sampai pada cara mengelola lingkungan alam sekitar mereka.

masyarakat saling menghujat. Namun. singkirkan watak congkak dan takabur. Hal ini berarti lulusan Unswagati tidak menyengsarakan kehidupan masyarakat dan tidak merugikan masyarakat dan negara seperti halnya yang dilakukan para pejabat kita saat ini. Kearifan lokal hanya sekadar wacana yang didengung-dengungkan. kerja sama. Masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati dirinya. dan pengarah dalam bertindak. seluruh civitas akademika Unswagati berkomitmen bahwa sikap dan nilai tersebut harus menjadi nafas dalam bekerja. Pendidikan karakter melalui perkuliahan bahasa Indonesia bermaksud mengembalikan. termasuk perguruan tinggi. profesionalisme. berdaya saing tinggi. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh kalangan tidak terpelajar. seperti yang kita saksikan sehari-hari di dalam pergaulan dan juga di layar kaca. lan sumungah aja anglakoni (Patuhilah nasihat utama dinda. tulus ikhlas. tetapi tidak dihayati. sayang nilai-nilai kearifan lokal ini kini seiring waktu telah memudar. dan jangan pula angkuh). menuding. Dengan kata lain. Unswagati mengembangkan nilai-nilai karakter tersendiri yang disebut dengan istilah lima pilar. menumbuhkembangkan. bahkan seluruh civitas akademika Unswagati. dan kedisiplinan. yayi den kalakon. sopan. kerjasama. pegawai. lembut. dan bahasa. Akibatnya. mengritik dengan tidak santun. dan penghormatan terhadap lembaga tempat bekerja. bertutur lebih baik. yaitu kejujuran. Lulusan Unswagati diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat dan negara dalam segala bidang kehidupan. tidak berkata dengan maksud menyombongkan diri. harus jujur. Masyarakat tidak lagi berpegang pada nilai-nilai ini. meredup. berkepribadian. Dalam hal ini. dan santun. dan tidak congkak. tenteram. menjunjung tinggi lembaga. dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat dapat berperilaku. bahkan dilakukan juga oleh kalangan terpelajar dan terdidik. dan berkompeten. dan damai. Masyarakat juga dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. kehilangan maknanya. serta beraktivitas di dalam dan di luar perkuliahan setiap mahasiswa. mencemooh. berperilaku. berkata dengan sebenarnya.tidak boleh mencela. dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. bersikap. 2011: 11). dimaknai. Lulusan Unswagati diharapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dalam segala bidang kehidupan sehingga tercipta kehidupan masyarakat dan bangsa yang . sopan. yaitu Mituhua pitutur kang becik. bersikap. Artinya. dalam berbahasa. serta perilaku lain yang tidak mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal akan sifat santun. Contoh lain yang berbeda dibahas pada bagian materi pembelajaran. akan tercipta kehidupan masyarakat yang makmur. dosen. Unswagati berharap menjadi universitas yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter. Unswagati sebagai salah satu universitas yang tumbuh dan besar dalam lingkungan masyarakat Cirebon berkontribusi positif membangun mahasiswa dan masyarakat Cirebon yang berkarakter. profesionalisme. Melalui lima pilar ini. Krisis identitas menjangkiti masyarakat kita. Dengan demikian. Seiring dengan memudarnya prinsip dan nilai kejujuran. kita tidak boleh mencela orang lain yang dapat menyakiti hati. nyingkir ana jubriya kibire. lima pilar ini menjadi pedoman. Contoh lain dalam Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung (Noer. semoga terlaksana. Lima pilar tersebut merupakan karakter atau identitas diri Unswagati yang membedakan dengan universitas lain di Cirebon. sikap. Setiap jenjang pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter masyarakat. pijakan. mencela. dan ramah. disiplin.

dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dijadikan sumber pembelajaran. Jujur Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. Kegiatan berkelompok membuat dialog-dialog yang sesuai dengan topik dan ilustrasi serta memerankan peranan dalam dialog tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama. tidak menghina. Keterampilan mengemukakan pendapat yang sistematis. 3. 2. Bersahabat/ Komunikatif Sikap ini tumbuh dari tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. Berdasarkan uraian di atas. dan lugas sangat diperlukan pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar. logis. Sopan dan Santun Sikap santun dapat tumbuh pada saat para mahasiswa memilih dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang santun. dan konteks waktu. Santun. dan damai. serta etika berbahasa yang baik. 5. memainkan peranan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan topik yang dipilih berdasarkan keputusan bersama.sejahtera. Toleransi Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa mau menghargai dan menerima pendapat orang lain saat berdiskusi untuk memilih topik. kearifan lokal Cirebon. bergaul. dan tempat pertuturan berlangsung. Adapun hal kesopanan dapat terjadi apabila mahasiswa mampu memilih dan menggunakan tuturan yang memerhatikan identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). Secara rinci nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendekatan komunikatif melalui model belajar bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut. Sikap ini juga diperoleh ketika mahasiswa harus mengomunikasikan gagasan kepada temannya pada saat kegiatan berdiskusi. serta terutama lima pilar nilai Unswagati. Bertanggung jawab Sikap ini diperoleh pada saat para mahasiswa melaksanakan tugas membuat dialog. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. menurut Asmani (2011: 39). tidak menyinggung. merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kepada semua orang. 6. nilai-nilai yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia memadukan nilai karakter dasar. tidak mencela. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. lebih dari itu lulusan diharapkan mampu mengharumkan nama Unswagati di Indonesia dan di kancah internasional. dan mendiskusikan hasil pemeranan. Hal ini . Disiplin Sikap ini tercermin dari kemauan dan kesadaran akan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. tidak merendahkan dalam dialog yang dibuat. dan bekerja sama dengan orang lain. nilai karakter masyarakat Cirebon. tenteram. Bahkan. 4. topik pertuturan. runtut. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. 1. situasi.

Bekerja Sama Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berkelompok untuk mendiskusikan topik. Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dibahas pada bagian F. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilainilai. 1) Mahasiswa. 5) Sikap disiplin diterapkan melalui datang tepat waktu dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks dan situasi. Kemampuan bekerja sama dikembangkan dalam tahap ini. dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. memilih pemeran. 7. Artinya. 10. 9. 3) Mahasiswa bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. 2) Mahasiswa meminta izin saat hendak keluar kelas dengan bahasa yang santun. mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul. baik lisan maupun tulisan. pemilihan pemain. dan melakukan pemeranan. pekerjaan. Mahasiswa dapat memahami dan menghayati peran yang dimainkan dengan sepenuh hati. yaitu pada bagian langkah-langkah pelaksanaan model. penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas. staf pegawai menyapa dengan santun dan ramah saat bertemu. dapat dilakukan melalui kegiatan nonformal di luar kelas. menegur peserta didik yang tidak disiplin dengan bahasa yang tidak menyinggung dan menyakitkan hati. dan pemilihan aternatif penyelesaian masalah. serta mengucapkan salam. Adapun pembiasaan pendidikan karakter berbahasa Indonesia di atas. Misalnya. Sikap jujur diperoleh saat mahasiswa mengungkapkan ekspresi. baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. penyadaran akan pentingnya nilai. Sikap ini tercermin ketika mahasiswa tidak merasa paling benar dan tidak merasa idenya yang paling baik ketika berpendapat. 8. . Pendidikan karakter diimplementasikan melalui intervensi dan habitual action. perasaan. Rendah Hati Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berpendapat dalam merumuskan topik dan memilih pemeran. Berpikir Kritis Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa berdiskusi memilih topik masalah. Sikap dan pola berpikir kritis dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi dan pemecahan masalah. tindakan. dan luapan emosi dengan sesungguhnya. pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas dan dalam pembiasan sehari-hari di lingkungan civitas akademika Unswagati.diwujudkan dalam hal perkataan. 4) Keteladanan juga dilakukan oleh dosen dalam berbahasa Indonesia yang santun. seperti berikut. baik lisan maupun tulisan (sebagai contoh dalam bahasa sms). dosen. membuat dialog. Tulus Ikhlas Sikap ini diperoleh ketika mahasiswa mau menerima segala putusan bersama dengan ikhlas. tidak bernada memerintah kepada dosen dan yang lain. yaitu saat perumusan topik yang dipilih untuk bahan pemeranan.

yaitu aturan permainan yang mesti ditaati oleh setiap partisipan.Lomba pidato dan debat antarmahasiswa di Unswagati agar mahasiswa terbiasa berbahasa dengan sopan. yaitu alat untuk menyampaikan pendapat. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan ragam bahasa yang kita gunakan. E : End atau tujuan. menghargai. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas menjadi acuan dalam pembicaraan tentang kesantunan berbahasa karena faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar kita dapat berbahasa dengan santun. situasi pembicaraan. G : Genre. pokok pembicaraan. 2009: 30) menyatakan bahwa ada tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. dan presuposisi (presuppositions). selalu terdapat faktor-faktor yang mengambil peranan. dan menyakiti. dan pendengar. 8) Diadakan UKM jurnalistik untuk mahasiswa yang menyukai bidang ini. tindak ilokusi. dan tindak perlokusi. kita harus memerhatikan beberapa hal. secara lisan. yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force). yaitu nada dan ragam bahasa yang dipergunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya. 2009: 14) menegaskan bahwa tindakantindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua pihak. seperti penutur. tempat pembicaraan. A : Act. yaitu suatu peristiwa ketika pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicaranya. Misalnya. 1994: 84) menyebut faktor-faktor peristiwa tutur itu dengan istilah SPEAKING yang merupakan kependekkan dari: S : Setting atau scene. menghormati. situasi perkenalan. 7) Lomba demonstrasi yang santun agar mahasiswa terbiasa berdemonstrasi dengan etika dan bahasa yang santun. 3. yaitu tindak lokusi. Adapun tindak perlokusi adalah melakukan tindakan dengan menyatakan sesuatu. yaitu pembicara. Schmidt dan Richards (Nadar. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. santun. Tindak tutur ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. misalnya situasi perkuliahan. Dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. I : Instrument. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap bekerja sama. Heatherington (Tarigan. Tindakan lokusi adalah melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu. yaitu tempat pembicaraan dan suasana pembicaraan. tertulis. P : Partisipan. Landasan Teoretis 1. N : Norma. lewat telepon. 6) . Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam berbahasa. baik dan benar dengan memerhatikan kaidah berbahasa dan etika berbahasa. bukan saja siapa lawan tutur kita. Ketiga prinsip ini akan dibicarakan karena berkaitan dengan masalah kesantunan berbahasa. mencela. Kesantunan Berbahasa Dalam berkomunikasi. yaitu tujuan akhir pembicaraan. situasi upacara keagamaan. Lubis (1994: 58) menyatakan bahwa dalam tiaptiap peristiwa tutur (percakapan). tidak menyinggung. jujur. Dell Hymes (Lubis. lawan bicara. Austin membedakan tindak ujar menjadi tiga. tetapi juga lebih dari itu. yaitu jenis kegiatan pembicaraan yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan lain. K : Key. lawan bicara. dan profesionalisme dalam bekerja. prinsip-prinsip percakapan (conversational principles).

Teori Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan substansi bahasanya. tidak ambigu. d) Maksim pelaksanaan. ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. Secara singkat dan umum. yaitu formalitas (formality). Berikut prinsip kerja sama Grice selengkapnya. nyata. dan etika berbahasa. yaitu kesantunan berbahasa. dan tidak berlebihan. Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan berbicara secara langsung. kemurahan/penghargaan (approbation). sedangkan prinsip sopan santun akan dibicarakan pada uraian selanjutnya (masalah kesantunan berbahasa). Dengan maksim kualitas. kata-kata. maksim kualitas (maxim of quality). kesetujuan/permufakatan (agreement). ketidaktegasan (hesitancy). kesederhanaan/kerendahan (modesty). (1) Bawakan daftar hadir mahasiswa! (2) Bawakanlah daftar hadir mahasiswa! (3) Sudilah kiranya membawakan daftar hadir mahasiswa! (4) Kalau tidak keberatan sudilah membawakan daftar hadir mahasiswa! . Leech. a) Maksim Kebijaksanaan. dan Pranowo. Maksim ini menghendaki peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik yang dipertuturkan. Chaer (2010: 32) mengemukakan bahwa presuposisi (praanggapan. a) Maksim kuantitas. Grice dalam Rahardi (2005: 53) membagi prinsip kerja sama menjadi empat maksim. perkiraan) adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur. c) Maksim relevansi. tetapi merupakan satu kesatuan yang harus ada ketika berkomunikasi. Berikut uraian tiap maksim beserta dengan contoh-contohnya. yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity). dan sesuai dengan data dan fakta. Faktor lain yang turut menentukan kelancaran percakapan selain dua faktor yang telah dibicarakan di atas adalah presuposisi. maksim relevansi (maxim of relevance).Prinsip-prinsip konversasi terdiri atas prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. Di dalam maksim ini. Beberapa pakar yang membahas masalah kesantunan berbahasa. menurut para pakar itu. menurut Chaer (2010: vii). 2010: 10). Contohnya pada tuturan berikut. dan kesimpatian (sympathy). mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat-kalimat. kedermawanan/penerimaan (generosity). Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip-prinsip ini. atau ungkapan-ungkapan yang digunakan). dan kesamaan atau kesekawanan (equality for camaraderie) (Chaer. yaitu maksim kebijaksanaan (tact). Teori-teori kesantunan tersebut akan menjadi acuan kesantunan berbahasa dalam pembahasan ini. penutur dan lawan tutur diharapkan dapat menyampaikan suatu hal yang sebenarnya. jelas. penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan seinforrmatif mungkin. Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. kesopanan berbahasa. dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Informasi tersebut harus sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dan tidak berlebihan. a. Maksim ini menghendaki agar para peserta pertuturan harus mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Prinsip kerja sama akan dibicarakan pada bagian ini. 1) Teori Kesantunan Leech Leech mengajukan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principle) yang dijabarkan menjadi enam maksim. Kesantunan. antara lain Brown dan Levinson. b) Maksim kualitas. tidak kabur. Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar kita disebut sebagai manusia yang beradab.

Tuturan-tuturan tersebut makin ke bawah makin santun. Muka (face) ini. (9) A : AC di ruangan kelas ini tidak menyala. Berikut contoh pertuturannya. Contoh dalam pertuturan berikut. 2) Teori Kesantunan Brown dan Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa berkisar atas muka (face). tidak juga. kalimat yang berupa perintah atau permintaan akan mengancam muka negatif. ya. atau saling merendahkan. Hal . Contoh dapat dilihat pada pertuturan (9) berikut. dan memerintah dengan kalimat berita atau kalimat Tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah. Dari contoh tersebut. loh. (5) Pinjami saya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! (6) Saya akan meminjami Anda buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia! Tuturan (5) terasa kurang santun karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan untuk dirinya. Adapun muka positif adalah keinginan setiap orang agar dirinya dapat diterima pihak lain. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang. e) Maksim Permufakatan. (7) A : Tas yang dipakai Ibu bagus. dikehendaki agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan. Di dalam maksim ini. minggu depan Kakak ujian proposal tesis. Dengan maksim ini. Muka negatif adalah keinginan setiap orang agar tindakannya tidak dihalanghalangi pihak lain. jangan suara saya lagi serak. yaitu dengan memaksimalkan kesetujuan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan. b) Maksim kedermawanan. Chaer (2010: 56-57) menyimpulkan semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya. Contoh pertuturan sebagai berikut. ya! B : Wah. Dengan maksim ini diharapkan agar para peserta tutur tidak saling mencaci. Maksim ini menghendaki setiap peserta tutur bersikap rendah hati dan hormat dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri. Rasanya panas sekali! B : Ya. Sebagai contoh. c) Maksim Penghargaan. Kak. tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. d) Maksim Kesederhanaan. kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan. Contoh dalam pertuturan (5) dan (6) berikut. f) Maksim Simpati. isinya besar lagi! B : Wah. B : Ya. Maksim ini menghendaki agar peserta tutur saling menghormati. Informasi pertuturan: dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang bersama-sama menjadi juri lomba puisi pada kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa. saling mengejek. (8) A : Nanti mbak yang menyampaikan sambutan untuk perwakilan juri. (10) A : De. menurut Brown dan Levinson (Nadar. Menurut saya hampir sama ukurannya dengan tas yang Ibu pakai. Maksim kesimpatian mengharuskan para peserta tutur agar memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada orang lain. 2009: 161) dapat dibedakan menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif. peserta tutur harus memaksimalkan kerugian diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Rahardi (2005: 64) menyatakan bahwa dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia. Mudah-mudahan lancar dan sukses menempuh ujiannya. sedangkan tuturan (6) terasa lebih santun karena penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri. memang sangat panas udaranya. Muka ini harus dijaga dan tidak boleh direndahkan orang.

Contoh-contoh dalam pertuturan diangkat dari Pranowo (Chaer. a) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain. b. 2010). kita telah menghalangi kebebasannya melakukan sesuatu. Tuturan yang langsung di atas menjadi lebih tidak santun. Guru Besar Universitas Sanata Dharma. Akan sedikit lebih santun kalau kata payah diganti belum bekerja maksimal. Hal ini akan melanggar muka negatif lawan tutur yang seharusnya dijaga. Penyebab Ketidaksantunan Untuk dapat memahami. f) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga. c) Gunakan kata “terima kasih” sebagai penghormatan atas kebaikan orang lain. 3) sengaja menuduh lawan tutur. Pranowo (Chaer. (12) Tidak apa-apa. Pranowo dalam Chaer (2010: 69) menyebutkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan menjadi tidak santun. suatu tuturan akan terasa santun apabila memerhatikan hal-hal berikut. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar akan menyebabkan pertuturan menjadi tidak santun. Menurut Pranowo (Chaer. d) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu. KPK kan tukang geledah 3) Protektif terhadap pendapat . 2010: 62). (11) Pidato-pidato pimpinan Dewan selama ini jelas menunjukkan bahwa kaliber pimpinan memang payah. e) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisin lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi.ini terjadi karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu. 2) Dorongan rasa emosi penutur Dorongan emosi penutur terkadang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan penutur marah kepada lawan tutur. Lalu. b) Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain. f) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur. Kata payah pada kalimat di atas akan menyinggung perasaan lawan tutur. Contoh terdapat pada tuturan berikut. b) Mempertemukan perasaan penutur dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan. dan menggunakan bahasa secara santun. 2) dorongan emosi penutur. Berikut contoh tuturannya. a) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita. antara lain 1) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar. 3) Teori Kesantunan Pranowo Pranowo. dan 5) sengaja memojokkan lawan tutur. tidak memberikan teori kesantunan berbahasa. 2010: 62) menyarankan diksi yang sebaiknya digunakan agar tuturan terasa santun sebagai berikut. yang berkenaan dengan bahasa. 4) protektif terhadap pendapat sendiri. tetapi memberikan pedoman berbicara secara santun. d) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan lawan tutur. e) Gunakan “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. menguasai. c) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia sedang berkenan di hati.

kesehatan.Seringkali ketika bertutur seorang penutur protektif terhadap pendapatnya sehingga lawan tutur tidak dipercaya pihak lain. Kesopanan mengacu pada pantas tidaknya suatu tuturan disampaikan kepada lawan tutur. sopan. atau kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan. Mbok ya tahu kondisi orang-orang seperti saya. hal-hal yang berbau porno. 4) Sengaja menuduh lawan tutur Seringkali penutur menuduh lawan tutur dalam tuturannya sehingga tuturan menjadi tidak santun. misalnya.per liter dan tarif Rp 2. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik. Berikut contoh tuturannya. dalam berbahasa pun harus sopan. Konteks situasi berkenaan dengan masalah tempat. Identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur di dalam satu pertuturan harus dilihat dari pihak penutur terhadap lawan tutur. 5) Sengaja memojokkan mira tutur Pertuturan dapat menjadi tidak santun karena dengan sengaja penutur ingin memojokkan lawan tutur. Meskipun kalimat-kalimat yang digunakan santun. (14) Pemerintah ngawur. Sebagai contoh topik seks. seperti pagi.. sangatlah tidak sopan kalau di tempat kematian kita berbicara dengan suara keras dan gembira dan membicarakan masalah ulang tahun meskipun tuturannya memenuhi persyaratan kesantunan. siang. Faktor lain yang menentukan sopan tidaknya sebuah pertuturan adalah tujuan pertuturan. Kita nggak masalah. Tempat dapat di mana saja. Kesopanan Sebuah pertuturan dianggap benar kalau tuturan itu mematuhi keempat maksim kerja sama Grice.penumpang sudah sepi karena memilih naik motor. Dengan solar Rp 4500. dan suasana psikologis. Waktu kapan saja. harga barang-barang lainnya bakal membumbung. yaitu (1) identitas sosial budaya para partisipan (penutur dan lawan tutur). (13) Silakan kalau mau banding. Ketiga hal itu. Sebab dari awal Tomy tidak melakukan perbuatan melawan hukum. seperti ruang kuliah. pekerjaan. Misalnya. anak. dan (3) konteks waktu. tentang pendidikan. kamar praktik dokter. Layak tidaknya topik ini dituturkan bergantung pada faktor-faktor tertentu. Topik tuturan sebagai materi yang dipertuturkan dapat mengenai masalah apa saja yang terjadi di masyarakat. Kalau yang terlibat dalam pertuturan itu adalah pasien dengan dokter di ruang praktik dengan tujuan pengobatan tentu saja pertuturan . misalnya usia penutur dan lawan tutur. (2) topik petuturan. menurut Chaer (2010: 76). (15) Mereka sudah buta mata hati nuraninya. masalah sopan tidaknya sebuah pertuturan. rakyat semakin tercekik. Berikut contoh tuturannya. Namun selain santun. selain menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu juga menentukan “ukuran” peringkat kesantunan yang berbeda. tergantung pada tiga hal pokok.. c. Akibatnya. Adapun suasana psikologis. Identitas sosial budaya juga dapat dilihat dari tingkat perekonomian. dan tempat pertuturan berlangsung. jabatan. dan santun. Tuturan juga akan dianggap santun kalau mematuhi keenam maksim kesopanan Leech. Berikut contoh tuturannya. pendidikan. waktu.000. malam. Identitas sosial budaya ini dapat dilihat dari segi usia. Faktor usia penutur dan lawan tutur akan menyebabkan dipilihnya kata sapaan tertentu yang dianggap tepat. kekerabatan. ruang rapat. situasi.

(4) jangan menyatakan ketidaksetujuan dengan lawan tutur. (4) menunjukkan sikap rendah hati terhadap lawan tutur. (8) menggunakan kata maaf bila harus menyebut kata-kata yang dianggap tabu. kita harus memenuhi persyaratan bahwa kita telah dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin berbicara santun. (2) memberi pujian kepada lawan tutur. Dengan demikian. dan (6) jangan memaksa lawan tutur melakukan sesuatu. Sebaliknya. 2. Oleh karena itu. tetapi kita tidak menyimak tuturan mereka. (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran kita berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. (5) jangan meninggalkan tempat pertuturan kalau tidak diizinkan.tersebut wajar dan sopan. untuk dapat berbahasa dengan santun. (3) menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. dan (12) menggunakan kata mohon untuk meminta bantuan. menurut Clifford Geertz (Chaer. Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar. (5) jangan menggunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan lawan tutur. Etika berbahasa berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. (4) kapan kita harus diam. meninggi. d. pelan. dan dengan perilaku yang sesuai dengan etika berbahasa. (6) jangan menyuruh lawan tutur mendengarkan tuturan. (5) memberi simpati pada lawan tutur. jika topik itu dilakukan untuk bertutur saja. Chaer (2010:109) menyimpulkan jika kita ingin bertutur dengan santun. yaitu (1) jangan mempermalukan lawan tutur. (5) bagaimana kualitas suara kita keras. (7) menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. yaitu (1) membuat lawan tutur merasa senang. atau permintaan. Etika Berbahasa Perilaku verbal berbahasa akan selalu diikuti oleh perilaku nonverbalnya. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa kalau dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. sopan. Tuturan yang santun tidak akan berarti jika tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang santun sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku. (2) berikan senyuman yang disertai anggukan kepala. akan mengatur kita dalam hal (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu. Etika berbahasa. (4) jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. ada sejumlah larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan ada sejumlah keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. mendengar tuturan orang. pertuturan tentang seks itu akan menjadi sesuatu yang tidak sopan dan tidak wajar. (11) menggunakan kata maaf disertai dengan penjelasan ketika meminta maaf dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata mohon. Pendekatan Komunikatif . (2) jangan menyombongkan diri. (6) menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu. (10) menggunakan kalimat berputar dalam menolak suatu suruhan. seperti (1) berikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. 2010: 6). ajakan. (9) menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. (3) simaklah baik-baik tuturan lawan tutur. (3) jangan menghina orang lain. etika berbahasa pun harus selalu diperhatikan karena berkenaan dengan sikap fisik dan perilaku dalam bertutur. dan bagaimana sikap fisik kita dalam berbicara itu. (4) jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan orang lain.

Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui. tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. Dalam pendekatan komunikatif. tipe kegiatan. g. Dengan kata lain. simulasi dan kegiatan-kegiatan komunikasi yang berdasarkan tugas telah dipersiapkan untuk menunjang/menyokong kegiatan-kegiatan dalam kelas. peranan peserta didik. a. Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. b. peranan pendidik. yaitu teori bahasa. c. Prinsip dasar pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi. tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes disebut kompetensi komunikatif. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri. Selanjutnya. dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar. menurut Syafi’ie (Solehamin. Peserta didik distimulasi dengan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat mereka aktif dan terlibat penuh sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna. dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. permainanperan. dan peranan materi. acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Dengan sendirinya. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar peserta didik/mahasiswa. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa. Tujuan utama komunikasi yang bertujuan. a. f. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan. d. Tarigan (2009: 241) juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan melalui berbagai ragam permainan. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 55) menyebutkan ciri pendekatan komunikatif sebagai berikut. yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. Tarigan (2009: 224) menyatakan bahwa pendekatan komunikatif menggunakan prosedur-prosedur sebagai wadah para pembelajar bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok-kelompok memanfaatkan sarana-sarana/sumber-sumber bahasa yang tersedia dalam tugas-tugas pemecahan/penyelesaian masalah.Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. e. Dengan kata lain. Uraian kedelapan hal itu sebagai berikut. tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. silabus. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa. teori belajar. Teori Bahasa . Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas. 2010) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. Berdasarkan teori tersebut. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). tujuan.

b. yang harus diperhatikan ialah kebutuhan para pembelajar. konselor. c. dari kehidupan nyata. dan majalah yang berkaitan dengan kegiatan komunikatif. dan lain-lain terhadap manusia lain. bukan pengetahuan tentang bahasa. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Di samping itu. f. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan diri sendiri itu memengaruhi pola respons individu terhadap individu lain atau situasi-situasi di luar dirinya. yaitu materi yang berdasarkan teks. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Yang lebih diutamakan adalah keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Ia menaruh rasa senang. otentik. Sebagai individu. . Akan tetapi. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan melalui komunikasi langsung. percaya. negosiasi makna. manusia memiliki suatu pola yang unik saat berinteraksi dengan manusia lain. materi yang berdasarkan tugas. sebagai negosiator dan interaktor. seorang manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. 4. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini salah satunya ialah teori belajar bermakna Ausubel. d. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. ada tiga jenis materi yang dewasa ini dipakai dalam pendekatan komunikatif. h. Menurut tarigan (2009: 240). Oleh karena itu. iklan. tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan peserta didik yaitu kebutuhan berkomunikasi. atau kegiatan berinteraksi. koran. materi realita. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. perasaan dan sikap itu diarahkan pula kepada dirinya. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Misalnya. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. Dengan demikian. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. e. Dalam kehidupan sehari-hari.Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. dan manajer proses pembelajaran. Peranan Peserta didik Peranan peserta didik sebagai pemberi dan penerima. curiga. Tipe Kegiatan Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. Peranan Pendidik Pendidik berperan sebagai fasilitator. Oleh karena itu. peserta didik tidak hanya menguasai struktur bahasa. Respons seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi berbeda-beda. g. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya.

Konsep peran juga menjadi tujuan utama model ini. Bermain peran dapat bermanfaat bagi pemeran dan pengamat bergantung pada kualitas pemeranan. Peran merupakan sebuah alat yang unik dan lumrah dalam berhubungan dengan orang lain. berdiskusi dan mengevaluasi. b) Bermain peran memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin pada orang lain. model ini memudahkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi- . Model ini membantu masing-masing peserta didik untuk menemukan makna dari dunia sosial yang bermanfaat bagi mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi melalui proses kelompok sosial. respons menjauh. Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model bermain peran. tetapi tetap harus dijaga sepanjang proses aktivitas bermain peran. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman. c) Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran orang lain dan mengerti perasaan. situasi permasalahan. Selain dalam tindakan. kata-kata. memerankan kembali. ucapan. 2009: 332) mengidentifikasi sembilan langkah bermain peran. konsep peran harus dikukuhkan. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu itu terhadap dirinya dan individu lain. dan sikap. dan d) mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda. nilai-nilai. menurut Joyce dan Weil (2009: 321). dan persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. juga diperlukan. berperan untuk: a) mengeksplorasi perasaan siswa. Adapun asumsi yang mendasari model bermain peran adalah sebagai berikut. pemahaman terhadap penentuan peran.Beberapa orang merespons baik dan mendekat bila senang. dan tindakan. Peran dapat didefinisikan sebagai “Suatu rangkaian perasaan. persepsi. mengatur setting tempat kejadian. analisis yang dilakukan melalui diskusi. Shaftels (Joyce dan Weil. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah model pembelajaran yang berakar pada dimensi pendidikan individu maupun sosial. diperlukan pemahaman terhadap peran yang “aku” dan “engkau” mainkan. peserta didik dibimbing bagaimana menggunakan konsep ini. dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Untuk itu. bila tak senang dan curiga. a) Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan dimensi “di sini” dan kini” sebagai isi pengajaran. memerhatikan beberapa peran yang berbeda. d) Model ini juga mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap. perasaaan-perasaan. c) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan tingkah laku. diskusi dan evaluasi. dan persepsi siswa. 1984: 124) Chester dan Fox dalam Joyce dan Weil (2009: 330) menyatakan bahwa peran adalah rangkaian perasaan. Manifestasi-manifestasi perilaku itulah yang disebut peran. pemeranan. persepsi dan perilaku setiap orang.” (Dahlan. yakni perasaan. memilih partisipan. dalam menciptakan bagian inti dalam pengalaman bermain peran. dan nilainilai yang mendasarinya. b) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku. Dalam dimensi sosial. Dalam pembelajaran. Model bermain peran. menyiapkan peneliti. Dengan demikian. Untuk dapat berperan dengan baik. sikap. Peran merupakan suatu pola hubungan unik dan membiasa yang ditunjukkan seorang kepada individu lain. yaitu memanaskan suasana kelompok. nilai. dan solusi permasalahan. dan tindakan.

peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. terutama masalah hubungan antarindividu. Masalah antarpribadi yang menyangkut status sosial. Bermain peran diawali dengan suatu situasi permasalahan dalam kehidupan peserta didik. dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. peserta didik mendiskusikan hasil pemeranan dan peraturan-peraturan dalam pemeranan. kompleksitas situasi masalah. Melalui bermain peran juga dapat dijelaskan bagaimana nilai-nilai yang ada dalam diri para peserta didik dapat menentukan perilaku dan menumbuhkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai moral. Alasan kedua adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. tingkah laku. a) Konflik antarpribadi. dan etika yang baik dengan mahasiswa lain. Dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia. d) Masalah historis atau kontemporer. baik di masa kini maupun masa lalu. Ada dua alasan dasar mengapa seorang pendidik memutuskan untuk menerapkan model bermain peran. kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah. Mahasiswa bekerja sama . etnis. adalah pemahaman mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. ide. Melalui bermain peran. c) Dilema individu. b) Relasi dalam kelompok. Melalui bermain peran. dapat memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi. Alasan pertama adalah memulai program pendidikan sosial yang sistematis karena bermain peran menyediakan banyak materi untuk didiskusikan dan dianalisis.situasi sosial. sebuah masalah dalam situasi tertentu mungkin akan dipilih. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. pembuat kebijakan. pemerintah yang menghadapi suatu masalah dan harus membuat keputusan. dan sebagainya dapat muncul dalam proses pembelajaran. Jenis-jenis masalah yang dikemukakan di atas harus dipilih berdasarkan relevansinya dengan dunia peserta didik dan kebermaknaannya bagi mereka. Selain itu. diperolehnya strategi untuk memecahkan masalah dengan tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan adanya nilai-nilai kemanusiaan universal. peserta didik bisa mengungkapkan perasaan. model bermain peran diarahkan agar mahasiswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang santun. dan strategi pemecahan masalah. Dalam memilih masalah-masalah tersebut. Bermain peran membantu peserta didik keluar dari dilema. menurut Joyce dan Weil (2009: 326). Hal ini mencakup situasi yang bermasalah. pendidik harus memerhatikan usia peserta didik. Masalah sosial yang layak diangkat dan dieksplorasi melalui model ini adalah sebagai berikut. Fungsi utama bermain peran adalah memunculkan konflik antara beberapa orang sehingga peserta didik dapat menemukan teknik untuk mengatasinya. Dilema muncul tatkala individu dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain atau antara dua nilai yang bertentangan. hakim. Model bermain peran adalah model yang fleksibel. dan dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang penting. sopan. nilai. Efek langsung bermain peran. latar belakang budaya para peserta didik. dan pengalaman para peserta didik dalam memainkan peran. serbaguna. Setelah itu. Misalnya. Secara bersama-sama. peserta didik mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antarmanusia dengan cara memeragakannya dalam suatu situasi permasalahan. Untuk itu.

terutama hubungan antarindividu. benci. Mahasiswa juga dapat belajar memahami perasaan. Pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang teoriteori belajar perlu dikuasai oleh setiap pendidik dalam merancang suatu model pembelajaran. ramah. konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik. 5. pendekatan komunikatif. 2011: 22). Inti bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat ke dalam suatu situasi masalah yang dihadapi. Menurut Gagne (Suprijono. mahasiswa diharapkan dapat berbahasa dengan baik. . Perilaku berbahasa ditunjukkan dengan etika berbahasa yang baik. Dalam menumpahkan segala perasaan dan emosinya. tetapi dapat terjadi sebagai hasil pengalaman dan proses adaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat membantu dalam memilih dan menerapkan prinsip– prinsip dan pendekatan. setiap mahasiswa dapat melatih sikap empati. dan menarik. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik. filsafat pendidikan. sikap. 2009: 2).pendekatan spesifik yang sangat diperlukan untuk mendesain sebuah program pembelajaran yang efektif. dan santun. seorang individu dikatakan telah mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. marah. dan sebagainya. 2011: 95). Belajar yang bermakna akan lebih membekas dalam diri para peserta didik. Teori belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel (Trianto. sopan. perlu dipahami terlebih dahulu mengenai istilah belajar dalam konteks pendidikan karakter. Deskripsi Model Bermain Peran 1. “manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. Dengan demikian agar terjadi belajar bermakna. Peserta didik belajar menemukan makna dirinya dari dunia sosial. Orientasi Model Bermain Peran Sebelum sampai pada pembahasan bagaimana desain pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Selama interaksi berlangsung. efisien. Model bermain peran menekankan proses pemecahan masalah. Dalam pandangan belajar sosial. Perubahan perilaku tersebut tidak diperoleh secara alami. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. menumpahkan rasa senang. seperti menunjukkan sikap hormat ketika bertemu dengan orang lain. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Semua teori mengacu pada orientasi model pembelajaran bermain peran (role playing) sebagai model pendidikan karakter dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Dengan demikian. pendidikan karakter dan nilai. Namun. Skinner (Syah. belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. simpati. 2002:64) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Syah (2002:68) menyimpulkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.memainkan peran untuk memecahkan masalah yang telah mereka tentukan. fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan pribadi dan determinan lingkungan” (Bandura dalam Dahar. Teori-teori ini meliputi teori belajar. tersenyum. dan perilaku mahasiswa lain.

Fakry Gaffar (Kesuma. Pendekatan komunikatif menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Dengan demikian. Teori filsafat pendidikan Dewey (Alwasilah. 2011: 5) menyatakan bahwa sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dewey pun menyatakan bahwa sekolah harus membuat peserta didik cerdas dan pendidik harus merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Dengan kata lain. dan merefleksikan pengalaman hidup. serta meliputi aspek kognitif. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan peserta didik. dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. 2008: 105) menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Dengan model ini pada akhirnya diharapkan mahasiswa .Prinsip dasar belajar Bandura termasuk belajar sosial dan moral. membentuk hubungan yang penuh perhatian. mendengar cerita ilustratif dan inspiratif. Muslich (2011: 130) mengemukakan bahwa siswa memahami nilai-nilai inti dengan memelajari dan mendiskusikannya. bukan suatu yang instan dan kebetulan. dkk. 2002: 107) menyatakan bahwa pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan) dan imitation (peniruan). Aliran ini identik dengan nama besar Jhon Dewey (1859-1952). menarik. Mahasiswa memahami nilai-nilai dengan mengamati perilaku model. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia.. membantu menciptakan komunitas bermoral.co. dan nilai di atas menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan karakter karena sikap dan perilaku yang berkarakter itu terbangun melalui proses belajar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran memokuskan pembelajaran yang menyenangkan. pendekatan.. Dalam filsafat pendidikan. pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi. diharapkan siswa menguasai ragam bahasa dalam berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. mengamati perilaku model.fajar. Pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia menekankan kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang sopan dan santun dengan memerhatikan etika berbahasa. dan melibatkan mahasiswa. 2011: 5). seorang peserta didik belajar mengubah perilakunya melalui pengamatan terhadap cara orang atau sekelompok orang merespons stimulus tertentu. Dalam konsep pendidikan karakter. Dalam proses pembelajaran. muncul mahzab atau aliran progresivisme. ukuran yang menentukan atau kriteria tentang baik dan buruk dan sebagainya sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. kepedulian. dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika. dan perilaku dari kehidupan moral. Nilai pada dasarnya standar perilaku. Pemahaman tentang teori-teori belajar. mendiskusikan. Pendidikan karakter dalam setting sekolah didefinisikan sebagai “Pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. emosional. Asmani (2011: 27) mengutip dari metronews. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk. peserta didik diarahkan terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati. dkk. dan sebagainya.id bahwa karakter yang baik mencakup pengertian. layak dan tak layak.” (Kesuma. adil dan tak adil. dan mempraktikkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Sekait dengan ini Bandura (Syah.

khususnya pendapat dan perasaan mereka. (3) mempersiapkan pengamat. Dalam kedua kegiatan ini. Kendatipun begitu. para peserta didiklah yang lebih banyak aktif. baik antara dirinya dan para peserta didik maupun di antara para peserta didik. Prinsip Reaksi Prinsip-prinsip reaksi model bermain peran lebih banyak menyangkut pendidik. materi khusus dalam diskusi dan pemeranan sangat ditentukan oleh peserta didik. membantu pengaturan pemeranan. Dengan demikian. Intervensi pendidik perlu dikurangi manakala bermain peran memasuki tahap pemeranan dan diskusi. Pertanyaan dan komentar yang diajukan pendidik seyogianya dapat mendorong para peserta didik untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas dan jujur. (4) mempersiapkan tahap-tahap peran. Dengan cara ini semua hal yang diungkapkan hanya mencerminkan perasaan atau sikap peserta didik. dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. fungsi pendidik yang utama dalam konteks ini adalah mendorong para peserta didik untuk aktif dan merefleksikan usul dan gagasan para peserta didik. Pendidik bertanggung jawab. rasa simpati. Peserta didik terkadang memilih masalah yang akan ditelusuri. (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya. Semua luapan emosi. tetapi sekalisekali dapat saja melibatkan diri jika dipandang perlu. kemarahan. sedangkan yang lainnya sebagai pengamat. empati. Model Pembelajaran Bermain Peran a. apa sumber pertengkaran. memperhitungkan. dan mendiskusikan masalah tersebut. dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. Pendidik bertindak sebagai pengamat. Ketika peragaan selesai. Sintaks Model bermain peran dimainkan dalam beberapa rangkaian tindakan. (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang. melaksanakan diskusi. pengamat kemudian terlibat dalam upaya mengetahui beberapa hal. Seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan orang lain yang juga mendapatkan tugas sebagai pemeran. 2. paling tidak pada awal permainan. Beberapa peserta didik bertugas sebagai pemeran. sopan. Pendidik harus dapat menumbuhkan rasa saling percaya. dan dapatkah model bermain peran dijadikan sebuah pendekatan dalam situasi tersebut. Pendidik harus menerima semua respons dan saran peserta didik. seperti apa solusi setiap permasalahan. Peran pendidik yang cukup penting adalah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para peserta didik.dapat berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks dengan menggunakan bahasa yang santun. (7) memerankan ulang. Sistem Sosial Sistem sosial model bermain peran ini cukup terstruktur. c. dan benar sesuai dengan kaidah dan etika berbahasa. baik. Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran. b. Selanjutnya. (2) memilih pemeran. yaitu menguraikan sebuah masalah. memeragakan. Hal ini dapat terwujud jika pendidik bersikap terbuka terhadap setiap saran yang dikemukakan para peserta didik dan bersikap tidak menghakimi. dan kasih sayang yang merupakan bagian kehidupan juga dilibatkan dalam praktik pemeranan ini. dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang . yakni (1) merangsang semangat kelompok. (5) melakukan pemeranan. untuk memulai tahap-tahap permainan. Pendidik membantu para peserta didik untuk mengeksplorasi situasi permasalahan tertentu dalam berbagai segi. pendidik membimbing para peserta didik melalui aktivitas dalam setiap tahap permainan.

tetapi sangat penting. yaitu sebagai berikut. 3. Sistem Penunjang Materi yang diperlukan dalam bermain peran cukup sederhana. Ada banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. Pengarahan ini menggambarkan peran atau perasaan masing-masing karakter.berbeda. Masalah sosial yang terjadi di sekitar kehidupan para peserta didik dan masalah pribadi mereka juga dapat dijadikan sumber. Masalah dapat disampaikan secara lisan. Format itu berisi butir-butir peran yang perlu diberi perhatian secara khusus. tetapi dapat pula melalui lembaranlembaran yang dibagikan kepada para peserta didik. aksi. b) dapat mengembangkan berbagai strategi pemecahan masalah interpersonal dan personal. dan dialog dalam situasi tersebut. Selain itu. Adanya proses refleksi. pendidik harus membantu peserta didik mempertimbangkan dan melihat konsekuensi untuk mengevaluasi solusi dan membandingkannya dengan alternatif lain. Film. d. Dampak Instruksional dan Penyerta Dampak instruksional yang diharapkan bagi peserta didik. Cerita-cerita problematik adalah narasi-narasi pendek untuk menggambarkan setting. Kadang-kadang digunakan juga format pengamatan sebagai pedoman bagi para pengamat. baik lisan maupun tulisan. tidak ada satu cara pun yang mutlak benar dan tepat. Tahap Pertama: Memanaskan Suasana Tahap Kedua: Memilih Partisipan Kelompok . dan rangkuman respons. 6. Satu atau beberapa karakter menghadapi dilema dalam menentukan pilihan atau tindakan. c) dapat berbahasa dengan memerhatikan kesantunan. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk pengarahan pada setiap peran. Cerita pun berakhir namun tak terselesaikan. Situasi permasalahan dapat diangkat dari berbagai sumber. yaitu: a) dapat menganalisis nilai dan perilaku masing-masing individu. e) dapat belajar bekerja sama dengan orang lain. d) dapat melatih kemampuan berbicara dan bernegosiasi. Prosedur/ Tahap-Tahap Pelaksanaan Shaftel mengidentifikasi tahap-tahap bermain peran terdiri dari sembilan langkah. novel. dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. yaitu: a) dapat menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteksnya. keadaan. cerita problematik atau rangkuman situasi permasalahan juga penting. f) dapat mengekspresikan pendapat. Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. kesopanan. parafrase. Pendidik harus menekankan bahwa ada berbagai cara untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan mereka temui. Dalam lembaran tersebut. g) dan dapat menghargai pendapat orang lain. b) dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan ejaan dan kaidah yang berlaku. Selain itu. dan etika berbahasa. tertera perincian tahap-tahap pemeranan lengkap dengan karakter yang dituntut. c) dapat mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. Adapun dampak pengiring yang diharapkan. dan cerpen merupakan sumber yang istimewa untuk dijadikan situasi permasalahan.

Mengidentifikasi dan memaparkan masalah Menjelaskan masalah Menafsirkan masalah Menjelaskan bermain peran Tahap Ketiga: Mengatur Setting Memerinci urutan peran Menjelaskan kembali peran yang akan dimainkan Memasuki situasi masalah Tahap Kelima: Pemeranan Memulai bermain peran Meneruskan bermain peran Menyudahi bermain peran

Menganalisis peran Memilih dan menetapkan pemeran

Tahap Keempat: Mempersiapkan Pengamat Memutuskan apa yang akan dan perlu diamati Memberikan dan menjelaskan tugas pengamatan Tahap Keenam: Berdiskusi dan Mengevaluasi Mereview pemeranan Mendiskusikan fokus-fokus utama Mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Tahap Kedelapan: Diskusi dan Evaluasi Memainkan peran yang diubah, Sebagaimana dalam tahap enam memberikan masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya Tahap Kesembilan: Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalahmasalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku Seluruh langkah di atas berorientasi pada pemberian pengalaman belajar kepada para peserta didik sebagai fokus utama. Secara bersamaan langkah-langkah di atas juga memastikan bahwa selama aktivitas pembelajaran semua peserta didik telah siap dengan peran mereka masing-masing, memahami tujuan dari peran mereka, dan mengadakan diskusi. Berikut uraian setiap langkah model bermain peran. 1. Tahap Pertama: Memotivasi Kelompok Pada tahap ini pendidik memancing sensitivitas kelompok dengan mengemukakan sebuah masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari peserta didik atau yang berkaitan dengan dunia mereka. Masalah mungkin juga dapat muncul dari keadaan yang dipilih pendidik dan diilustrasikan dalam sebuah film, televisi, pertunjukkan, dan contoh kasus. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan agar siswa tertarik pada masalah. Peserta didik tidak akan menaruh minat pada masalah yang diajukan jika masalah itu tidak menarik. Oleh karena itu, keberhasilan pemeranan banyak ditentukan oleh tahap ini. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih masalah yang akan diperankan, yakni: a) aktual, hangat; b) langsung menyangkut kehidupan peserta didik; c) menarik dan merangsang rasa ingin tahu; d) problematik dan memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik menyimak penjelasan pendidik masalah itu secara terperinci melalui beberapa contoh. Kemudian dikemukakan peran-peran apa yang akan dimainkan. Masalah yang akan diperankan mungkin berbeda atau sama dengan cerita yang dimaksudkan untuk memotivasi kelompok. 2. Tahap Kedua: Memilih Peran Pada tahap ini peserta didik dan pendidik menggambarkan karakter yang berbedabeda, seperti apa peran-peran itu, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin dilakukan. Penggambaran karakter itu berdasarkan tuntutan cerita menurut persepsi peserta didik sendiri. Peserta didik kemudian diminta menjadi sukarelawan untuk bermain peran. Bahkan,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mereka akan diminta untuk memainkan peran tertentu. Terdapat beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk memilih pemeran, misalnya, peserta didik yang terlihat sangat antusias dan terlibat dalam masalah yang sedang mereka identifikasi atau peserta didik yang memberikan usul. Tahap Ketiga: Mengatur Setting Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Peserta didik dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti di mana pemeranan dilakukan, bagaimana tempat ditata. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami, menghayati, serta aktif mendiskusikannya. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap efektivitas dan urutan pemeranan, serta dapat mendefinisikan perasaan dan pola pikir orang yang digambarkan. Jika pengamat dapat terlibat, diharapkan mereka dapat mengajukan alternatif pemeranan. Tahap Kelima: Melakukan Pemeranan Pemain memainkan peran dan menghidupkan situasi secara spontan, dan saling merespons secara realistis. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama pemeranan dilakukan. Hal ini bergantung pada kompleksitas situasi masalah, jumlah pemeran yang aktif, dan kelancaran pemeranan. Tahap Keenam: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Diskusi dapat dimulai dengan spontan jika ada keterlibatan partisipan dan pengamat secara intelektual dan emosional dalam pemeranan. Spontanitas ini akan terjadi apabila para peserta didik mengerti, merasakan, dan menghayati apa yang baru saja diperankan. Pertama-tama, diskusi mungkin akan fokus pada penafsiran yang berbeda mengenai pemeranan dan ketidaksetujuan terhadap cara-cara memainkan peran. Hal yang lebih penting adalah konsekuensi akting/tindakan dan motivator para pemain. Tahap Ketujuh: Melakukan Pemeranan Ulang Dari diskusi dan evaluasi muncul gagasan mengenai alternatif-alternatif pemeranan. Oleh karena itu pemeranan ulang dilakukan. Peserta didik dan pendidik dapat saling berbagi penafsiran baru tentang peran dan pemerannya. Karena perubahan itu, sangat mungkin terjadi perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan menimbulkan perubahan pada peran-peran yang lainnya. Tahap Kedelapan: Melakukan Diskusi dan Evaluasi Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang. Diskusi dan evaluasi berlangsung seperti tahap keenam, tetapi mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Peserta didik mungkin berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah. Namun, kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang paling mutlak dan tepat dalam menghadapi masalah kehidupan. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menarik Generalisasi Tujuan pokok bermain peran adalah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui aktivitas interaksional dengan orang lain. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Oleh karena itu, pada tahap ini seharusnya tidak diharapkan akan mendatangkan hasil secara langsung dalam pengembangan aspek hubungan antarmanusia dalam sebuah situasi. Pengembangan semacam ini membutuhkan banyak pengalaman dan proses.

Tujuan ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling menukar pengalaman. Proses ini mewarnai segenap aktivitas bermain peran. Bermain peran dianggap berhasil jika mampu mengungkap lebih banyak pengalaman individual peserta didik. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ditarik generalisasi. Generalisasi tidak perlu pasti. Apa yang dikehendaki dari bermain peran adalah peserta didik memperoleh pengalaman mengenai prinsip-prinsip umum cara menghadapi suatu masalah. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Dalam model bermain peran (role playing) ini digunakan juga strategi instruksional pemecahan masalah dan inkuiri. Sebagai contoh latihan, kompetensi dasar yang akan dipelajari adalah menguasai dan menggunakan berbagai ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks dengan memerhatikan syarat kesantunan, kesopanan, etika berbahasa, dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Pendekatan komunikatif melalui model bermain peran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Tahap Pertama: Menghangatkan Situasi Kelas Pada tahap awal, para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah. Para mahasiswa dilatih untuk bekerja sama melalui kegiatan ini. Untuk memberikan motivasi pada kelompok, dosen menyiapkan sebuah masalah berupa dialog yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kemudian mahasiswa ditugasi menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa tersebut. Topik dialog yang dipilih dosen sebagai contoh harus menarik, aktual, berkaitan dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan juga mengandung pemecahan masalah. Dosen dapat menggunakan film, novel, cerpen, berita di surat kabar sebagai contoh pemodelan dan sumber situasi masalah. Sebagai contoh, dialog dan ilustrasi berikut diangkat dari Nadar (2009: 168). SHB IX : “Saya memiliki pertimbangan kalau dicalonkan dari partai lain. Tapi belum tentu, belum tentu. Nanti malah dikira saya hanya mencari jabatan, kalau mau dicalonkan partai lain. Kan mengurangi aspek moralitas saya.” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari, halaman 24) Konteks tuturan: SHB menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan oleh partai lain. Pertanyaan ini diajukan setelah SHB menyatakan pengunduran dirinya dari konvensi pencalonan calon presiden yang diselenggarakan partai Golkar. SHB mengeluarkan keputusan ini setelah Mahkamah Agung menerima kasasi AT terkait dengan suatu perkara korupsi sebesar 40 milyar rupiah. Interpretasi : Pada tuturan di atas tidak secara frontal menolak dicalonkan, melainkan secara halus dengan mengatakan kalau dirinya bersedia nanti dikira sangat memerlukan jabatan. Tuturan di atas termasuk tuturan yang santun dan sopan karena menggunakan maksim kesederhanaan, yaitu tuturan tidak menyombongkan diri, bersikap rendah, dan menggunakan kalimat berputar yang tidak secara langsung menolak suatu permintaan. Topik di atas dapat menjadi suatu masalah yang menarik karena berkaitan dengan masalah sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Topik yang berkaitan dengan masalah politik pada saat ini dapat dipertimbangkan untuk dijadikan masalah sebagai bahan pemeranan. Agar mempermudah proses pemeranan, dosen memberikan contoh pemodelan melalui topik ini. Pemodelan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Fokus masalah pemeranan, misalnya, bagaimana sikap mahasiswa sebagai seorang politisi apabila ia berada pada posisi sebagai SHB yang dicalonkan oleh partai lain. Dari pemeranan yang mahasiswa 7.

buruk. Enak aja nyomot dompet orang. langkung nuwun pangandika tuwan. kuingat dalam hati baik-baik. tidak enak didengar. diem-diem duitnya lu ambil. Nyinggung perasaan gue tahu. dengan menjelaskan interpretasi terhadap kesantunan tuturan tersebut. Contoh lain yang lebih menarik selain contoh di atas dengan pemodelan secara langsung dapat digunakan tayangan film. adigung. Contoh berikutnya. Lu gak bisa minta baik-baik. adiwicara. Orang-orang susah cari kerja. kan pencopet Bang. yaitu adigang.” b. Artinya. latar sosial budaya. mahasiswa mengidentifikasi ciri penggunaan bahasa yang santun dan sopan. yaitu berkata dengan hormat kepada orang lain. Dalam pepatah ini. dan kulakukan”. dan isi cerita. Lu tahu nggak gue cape-cape cari kerja biar dapet duit. mahasiswa juga mendiskusikan kesantunan berbahasa dalam tuturan tersebut. Film-film lain dapat digunakan selain yang disebutkan di sini. Terjemahan : Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat. Mahasiswa diminta pula menjelaskan alasan mengapa tuturan tersebut dikatakan santun atau tidak santun.lakukan akan terlihat bahasa yang digunakan ketika menolak/menerima pencalonan tersebut. Ada dua buah tayangan film yang akan dijadikan bahan pemeranan yaitu film Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Forrest Gump. adiguna. Selain itu. Muluk mengikuti anak tersebut dan menangkapnya. mahasiswa secara bersama-sama mendiskusikan ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut. diambil dari kearifan lokal Suluk Sujinah (Noer. a. dan menyakiti orang lain (ajaran ke-114). orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara (Mas Kumitir dalam Noer. Sekait dengan kesantunan berbahasa. 2011: 8). karumatan sajroning budi. Sebagai contoh penggunaan bahasa santun yang lain akan digunakan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. juga tersirat kesantunan berbahasa. Berikut penggalan dialog pembuka film ini. Latar di suatu masjid . Gue bawa ke kantor polisi lu. misalnya. nilai kearifan lokal terdapat pada ajaran dan pemikiran Syekh Siti Jenar (Mas Kumitir dalam Noer. Selanjutnya. Dalam Suluk tersebut. Muluk : “Diem-diem. Berdasarkan analisis tersebut. Latar film adalah keramaian pasar Ilustrasi: Ketika berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan dan melewati keramaian pasar. 2011: 18). kapundhi ing jro kalbune. terdapat kesantunan berbahasa.” (Muluk mencengkeram anak itu dan berkata dengan nada marah) Anak : “Saya. dados panancang emut. Dalam pepatah Cirebon. Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti. Dosen memberikan umpan balik terhadap analisis siswa. 2009: 2) sebagai berikut. Bukan tukang minta-minta. saru. tetapi disesuaikan dengan usia. Muluk melihat seorang anak mencopet sebuah dompet. Di situ juga terdapat nilai tanggung jawab dalam melaksanakan segala sesuatu. manusia tidak boleh menyombongkan keahliannya dalam berbicara. “sangat berterimakasih atas penjelasanmu. yaitu manusia tidak boleh bohong (ajaran ke-113) dan manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok.

Haji Sabini. Beda. Dalam tahap ini dikembangkan nilai-nilai karakter. Jika peran dan karakternya sudah cukup jelas. sopan. dan mencari alternatif pemecahan masalah. dan etika berbahasa melalui tayangan film ini. dan H. Melalui contoh tayangan yang mengandung permasalahan-permasalahan. Mahasiswa juga. Penggambaran karakter itu didasarkan tuntutan cerita menurut persepsi mahasiswa.” Pak Bul :”Dia bukan nganggur. bagaimana karakter Muluk. Mahasiswa yang mendapat tugas memerankan karakter tersebut harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan penuh penghayatan. Sabini :”Anak lu si Muluk dan jutaan anak lain stress gara-gara nganggur. 2. melalui kegiatan ini. Setelah memilih berdasarkan kesepakatan kelompok. Dengan penghargaan dan semangat dari teman wanita masa kecilnya dia bisa berlari dan akhirnya kakinya menjadi sembuh. dan penjelasan masalah kepada dosen dan anggota kelompok lainnya. Mahasiswa dengan ikhlas mau menerima putusan hasil diskusi kelompok mengenai topik yang akan dijadikan sumber situasi permasalahan dalam pemeranan. Pak Bul. toleransi. Sebagai contoh. H. . Keterampilan menyimak diperlukan saat menyimak tayangan film untuk menganalisis dan mengidentifikasi penggunaan bahasa model. Sabini dalam cerita Alangkah lucunya Negeri Ini. Tahap Kedua: Memilih Partisipan Pada tahap ini mahasiswa menggambarkan berbagai karakter yang akan diperankan melalui diskusi kelompok. Sabini : “Kenyataannya memang begitu Pak Bul.” H. H. Sabini :”Orang berpendidikan selalu bisa memecahkan masalahnya. dosen memilih mahasiswa yang akan memerankan karakter tersebut. Kegiatan ini akan merangsang sikap rasa ingin tahu mahasiswa dan membangkitkan pola berpikir kritis. Seorang pemuda bernama Forrest Gump dengan kakinya yang memakai penyangga sering diejek dan dilempari batu oleh teman-temannya. Adapun keterampilan berbicara diperlukan saat mengomunikasikan ide dalam pemilihan topik. memilih topik permasalahan aktual yang sedang terjadi. mereka mengidentifikasi dan menafsirkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul dari situasi masalah yang dipilih dan kemungkinan pemecahannya. pengidentifikasian masalah.” Pak Bul :”Heh. Pemeranan karakter tersebut pun dapat dipilih oleh mahasiswa itu sendiri berdasarkan hasil diskusi kelompok. anak pencopet. rendah hati.” Mahasiswa mendiskusikan penggunaan bahasa yang santun. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari dua topik tersebut mana yang paling menarik bagi mereka. dikembangkan sikap bersedia menerima dan menghargai pendapat setiap anggota kelompoknya. Tahap berikutnya mengidentifikasi masalah. dan ikhlas. Beda nganggur dengan berusaha. lagi berusaha. Tahap ini melibatkan dua keterampilan berbahasa mahasiswa. Mahasiswa tidak merasa idenya yang paling baik dan paling benar. Film lain yang digunakan sebagai media pembelajaran yaitu Forrest Gump. Sabini :”Kelamaan nganggur dia bisa stress.” Pak Bul :”Kita lihat saja nanti. dia lagi berusaha.” Pak Bul : “Kenyataan yang mana?” H. Film ini menceritakan keajaiban penghargaan.Ilustrasi: dua orang bapak yang sedang berzikir usai sholat bercakap-cakap mengenai Muluk anak Pak Bul. seperti berpikir kritis. mahasiswa dituntut menganalisis penggunaan kesantunan berbahasa. si Muluk bukan nganggur. bekerja sama. yaitu keterampilan berbicara dan menyimak.

pada tahap ini dikembangkan sikap disiplin. sistematis. rendah hati. Namun. Melalui kegiatan ini. Dalam memilih pemeran. logis dengan memerhatikan kaidah ejaan. dialog boleh saja dipersiapkan. penggunaan bahasa yang berbeda pula. Pengamat bertugas untuk memberikan komentar terhadap proses pemeranan. novel. Dengan demikian. sistematika kalimat efektif. Melalui kegiatan ini pula. Mahasiswa diperkenankan membaca surat kabar. 4. Pada tahap ini keterampilan berbahasa dilibatkan. Mereka hanya membuat sketsa adegan dan perkiraan-perkiraan tindakan seorang pemain. Tahap Ketiga: Mengatur tempat Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Keterampilan berbahasa yang diaktifkan adalah keterampilan menulis. seperti di mana pemeranan dilakukan. Dengan demikian.Pada tahap ini pun dikembangkan sikap toleransi. Lembar observasi berikut dapat dijadikan acuan pengamatan. mahasiswa diperbolehkan mencari sebanyak mungkin sumber. Kemampuan menyimak yang baik diperlukan agar bisa mengamati jalannya pemeranan. 3. Kemampuan mengekspresikan perasaan dan emosi ditumpahkan melalui rangkaian dialog sesuai dengan isi cerita menurut persepsi kelompok. jika sulit. penggunaan bahasa yang sopan dan santun. serta etika berbahasa yang baik. berita atau menyimak tayangan televisi sebagai sumber inspirasi sesuai dengan topik cerita yang dipilih. Mahasiswa dengan ikhlas menerima putusan mengenai siapa saja yang akan melakukan pemeranan. Pengamat haruslah terlibat dan sama-sama berperan dalam cerita sehingga seluruh kelompok turut mengalami. Pada saat itu. terutama disiplin dalam penyusunan dialog yang harus memerhatikan penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. pemecahan masalah yang berbeda. dan ikhlas. dan menajamkan kemampuan berpikir kritis. mereka juga dituntut untuk bersikap toleransi dan rendah hati. Hal ini diperbolehkan agar saat pemeranan mahasiswa tidak mengalami kebingungan dan terhambat karena masalah dialog. serta aktif mendiskusikannya. Tahap Keempat: Menyiapkan Pengamat Kelompok yang belum tampil bertugas sebagai pengamat. mahasiswa yang menjadi pengamat menunjukkan bagaimana suatu . Dialog khusus tidak perlu dipersiapkan karena dalam bermain peran dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Misalnya. keterampilan membaca mahasiswa diharapkan dapat meningkat. Untuk memperkaya bahan penulisan dialog. Mahasiswa dapat dibantu dalam proses ini dengan mengajukan pertanyaan. tidak menutup kemungkinan mereka berminat menjadi pemeran ulang. No Pengamatan Ya Tidak 1 Efektivitas dan urutan permainan 2 Peran yang dimainkan cocok dengan keadaan masalah sesungguhnya 3 Pemeran menghayati peran yang dimainkan 4 Ekspresi dan mimik sesuai dengan pertuturan 5 Penggunaan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks 6 Penggunaan bahasa santun atau tidak 7 Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa Jika pengamat cukup melibatkan diri dan mendalami satu peran khusus. menajamkan kemampuan analisis. bagaimana tempat ditata. cerpen. karakter yang berbeda menurut persepsi mereka. menghayati. dan kaidah penulisan dialog. Keterampilan menulis diperlukan agar mahasiswa mampu menulis rangkaian dialog yang baik. mereka akan dapat mengajukan alternatif pemeranan. diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa.

7. fokus permainan tetap ditekankan pada penggunaan bahasa dan perilaku berbahasa mahasiswa. Kemudian. atau konsekuensi perilaku yang muncul. menghina. Diskusi ini berguna untuk mengevaluasi pemeranan yang telah dilakukan. Mahasiswa dengan bimbingan dosen berbagi penafsiran baru kemudian pemain peran memainkan peran yang telah diubah. dan perilaku/tindakan dalam pemeranan. Tidak ada kata-kata yang mencela. 6. Tahap Keenam:Mendiskusikan dan Mengevaluasi Pada tahap ini dilakukan diskusi awal. Para pengamat mengemukakan bagaimana seharusnya karakter para pemeran. penggunaan bahasa. 5. pemecahan masalah. bagaimana jalannya pemeranan. menuduh. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh pemeran melalui kata-kata dan tindakan-tindakan mereka. Kemampuan mengomunikasikan gagasan dituntut pada tahap ini. Kemungkinan terjadi perubahan karakter peran yang dituntut. . Mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat harus terampil mengemukakan pendapat yang sistematis. Selain itu. Selama pemeranan berlangsung. perasaan. dan saling merespons secara realistis. dan lugas pada kegiatan ini agar mahasiswa lain (anggota forum diskusi) dapat memahami pendapat yang dikemukakan sehingga diskusi dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar. dan pelaku-pelakunya. runtut. Pengamat pada tahap ini menyampaikan apa yang telah ia observasi dan analisis berdasarkan lembar observasi. memojokkan dan menyinggung walaupun terjadi perbedaan pendapat. Namun. Tahap Ketujuh: Memerankan Kembali Langkah selanjutnya. emosi melalui rangkaian lisan dibutuhkan pada tahap ini. Mahasiswa juga harus mampu mengekspresikan perasaan dan luapan emosi dengan sesungguhnya. Mahasiswa pengamat dengan sesungguhnya mengungkapkan segala hal yang terjadi dalam pemeranan. dan kesesuaian proses pemeranan dengan naskah. Pada tahap pemeranan dikembangkan sikap bertanggung jawab. dan jujur. bahasa yang digunakan. Mahasiswa memulai permainan peran. para mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan yang diekspresikan. Sikap jujur juga dikembangkan pada kegiatan ini. mahasiswa menyelidiki sebanyak mungkin kemungkinan baru tentang penyebab dan pengaruh dari alternatif perilaku di dalam cerita. Para pengamat dan pemain peran mendiskusikan penafsiran mengenai pemecahan masalah yang dimainkan oleh pemain peran berdasarkan pendapat pengamat. Dari diskusi dan evaluasi pemeranan sebelumnya. dalam proses pemeranan ini. Mahasiswa harus menghayati karakter yang dimainkan sesuai dengan tuntutan naskah. bekerja sama. menghidupkan situasi secara spontan. kemampuan bekerja sama mengatur segala hal yang berkaitan dengan pemeranan dan prosesnya diperlukan agar pemeranan berjalan dengan lancar. Setiap anggota kelompok diharapkan kompak dan ikut terlibat aktif dalam proses ini. Mahasiswa diharapkan berbicara sopan dan santun dalam tahap ini. Keterampilan mengekspresikan pikiran. muncul gagasan-gagasan mengenai alternatif pemeranan. sikap-sikap.peran sebaiknya dilakukan dan bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan menurut persepsi mereka. logis. Mahasiswa bertanggung jawab melaksanakan pemeranan dengan sebaik-baiknya. Tahap Kelima : Memerankan Pada tahap ini mahasiswa diberi kesempatan untuk memainkan peran hingga tindakan dan karakter yang mereka mainkan tampak jelas. Bahasa yang digunakan harus sopan dan santun ketika mengemukakan pendapat dan mengomentari. pada tahap ini dikembangkan pemeranan selanjutnya. Mereka secara apa adanya mengungkapkan setiap karakter yang dimainkan.

Mahasiswa juga dapat berperilaku yang sopan dan santun sesuai dengan etika. pemahaman. Kegiatan penilaian secara umum bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diberikan. bahasa. displin. Namun. (2) mengetahui kecakapan. bisa jadi pemeranan ulang hampir sama dengan pemeranan sebelumnya. Mahasiswa dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Mahasiswa juga mendiskusikan apakah bahasa yang digunakan pada tahap ini sudah atau lebih santun dibandingkan dengan pemeranan awal atau bahkan lebih tidak santun.Tahap pemeranan ulang ini dapat dilakukan pengamat yang menyampaikan hasil pengamatannya. seperti jujur. Teknik penilaian dapat dilakukan melalui tes dan nontes. (5) meningkatkan kemampuan mengajar pendidik. dan sintesis. (6) meningkatkan efektivitas kurikulum dan pembelajaran. menggunakan ragam bahasa sesuai dengan situasi dan konteks. dengan model bermain peran. Namun. (3) mengetahui kemajuan belajar peserta didik. Mahasiswa dapat bercermin pada orang lain untuk memahami dirinya melalui bermain peran. sopan dan santun. minat. bersahabat. peserta didik dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara optimal. Tahap Kesembilan: Membagi Pengalaman dan Menggeneralisasi Pada tahap ini dilakukan refleksi. bakat. mungkin pemecahan masalah pada tahap ini sudah lebih jelas. Adapun nontes digunakan untuk mengetahui kualitas proses dan 8. Sejumlah teknik penilaian dapat dilakukan untuk melaksanakan penilaian. . Pengamat memerankan kembali cerita berdasarkan penafsiran mereka. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif. 8. (4) mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. mahasiswa dapat mengembangkan nilai-nilai pada dirinya. Melalui kegiatan penilaian. apakah etika berbahasa mahasiswa sudah meningkat atau belum. aplikasi. Melalui kegiatan ini juga. seperti pengetahuan. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana penggunaan ragam bahasa pada tahap ini. keterampilan berbahasa mahasiswa dapat dikembangkan. Tidak menutup kemungkinan cerita yang diperankan. Penilaian menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar. Pemeranan ulang ini sangat bergantung pada penafsiran para pengamat. Melalui bermain peran. Kegiatan penilaian dapat memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. 9. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti tahap keenam. analisis. Mahasiswa menghubungkan situasi permasalahan yang terdapat di dalam cerita-cerita tersebut dengan pengalaman yang sebenarnya terjadi dan masalah-masalah mutakhir. pendidik dapat mengetahui informasi mengenai proses dan hasil kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. etika berbahasa pada pemeranan ulang pun didiskusikan. menggunakan bahasa yang sopan dan santun dengan lawan bicara. Berkaitan dengan pendidikan karakter melalui perkuliahan Bahasa Indonesia. Selain itu. karakter. Mahasiswa dapat belajar bagaimana memilih diksi yang tepat. Penilaian Proses penilaian sangat penting dilakukan dalam sebuah kegiatan. dan tindak-tanduk dalam pemeranan sangat berbeda dengan pemeranan awal. Dengan penilaian dapat diketahui proses dan hasil kegiatan yang telah dilakukan apakah berjalan dengan baik atau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. Tahap Kedelapan: Mendiskusikan dan Mengevaluasi Diskusi pada tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pemeranan ulang. dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran.

Perilaku berbahasa sesuai dengan etika berbahasa (etika berbahasa yang diungkapkan Pranowo). seperti sikap. . minat. Tes Perbuatan Tes ini dilakukan pada saat mahasiswa melakukan pemeranan dengan menggunakan instrumen penilaian berikut. c. 1 = rendah. 3 Sikap atau Perilaku a. Dalam perkuliahan Bahasa Indonesia dengan model bermain peran. dan tidak terbata-bata. 3 = rata-rata.produk suatu kegiatan dan hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif.Gerak-gerik sesuai dengan karakter yang diperankan. seperti tidak mempermalukan lawan tutur. yaitu tes dan nontes. 4 Penggunaan Bahasa a. tidak menyombongkan diri. seperti sesuai dengan identitas sosial budaya penutur dan lawan tutur.Ekspresi dan mimik sesuai dengan isi dialog yang diucapkan. b. tidak menghina. 4 = di atas rata-rata. Isi dialog sesuai dengan syarat kesopanan. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. c. Keberanian dan semangat terlihat ketika memerankan suatu karakter. situasi. c. dan konteks waktu. 5 = istimewa. b. Sikap percaya diri dan tidak ragu-ragu tampak pada proses pemeranan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. dilaksanakan dua teknik penilaian. Untuk setiap kriteria. Volume suara nyaring dan terdengar secara jelas. 2 = cukup. seperti memberi perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. menyimak baik-baik tuturan lawan tutur. 2 Penggunaan Suara a. b. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Ekspresi. Pengucapan vokal dan konsonan terdengar jelas. Penempatan tekanan dan nada sesuai. c. Gerak-gerik. topik pertuturan. lancar. Intonasi sesuai dengan ekspresi dan isi dialog. Adapun teknik nontes yang digunakan adalah observasi.Pemeran dengan sungguh-sungguh menghayati peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks. dan tempat pertuturan berlangsung. 1. Teknik tes yang digunakan adalah tes perbuatan dan tes tertulis. motivasi. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. Dialog (kalimat-kalimat) yang digunakan santun. b. dan Mimik a. d.

tetapi tidak disusahkan oleh kesalahan penulisan ejaan.Jumlah 2. mengidentifikasi masalah. dan struktur kalimat efektif dalam keseluruhan tulisan (skor 5) b. Untuk setiap kriteria. seperti ketika merumuskan pemilihan topik. . tulisan mustahil dapat dipahami. Dari tes produk ini akan terlihat sikap disiplin. dan struktur kalimat dalam keseluruhan tulisan sehingga makna kabur/ membingungkan. pemberian tanda baca. Tes Produk Tes ini dilakukan untuk menilai hasil penulisan dialog yang ditulis mahasiswa. Pembaca tidak melihat banyak kesalahan dari penulisan ejaan (huruf dan kata). (skor 4) c. (skor 2) e. Pembaca menyadari. Oleh karena itu. 2 = cukup. Jumlah 3. 4 = di atas rata-rata. a. menjelaskan masalah. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Penggunaan kaidah EYD dan kalimat efektif dengan indikator kemampuan sebagai berikut. Instrumen penilaian adalah sebagai berikut. 3 = rata-rata. pemberian tanda baca. pemberian tanda baca. Pembaca menyadari kesalahan penulisan ejaan. berilah skor pada hasil penulisan dialog setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. dan memilih pemeran. 1 = rendah. Instrumen penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut. 5 = istimewa. pemberian tanda baca. dan struktur kalimat sehingga sering mengganggu. Pembaca terutama menyadari akan besarnya kekurangtepatan penulisan ejaan. (skor 3) d. Observasi dilakukan juga pada saat diskusi dan evaluasi hasil pemeranan yang melibatkan pemeran dan pengamat. atau struktur kalimat yang sekali-sekali ditunjukkan penulisnya. pemberian tanda baca. dan struktur kalimat yang cukup mengganggu. seperti menggunakan kosakata yang secara sosial budaya lebih sopan dan santun. Observasi Teknik nontes observasi dilakukan pada saat kegiatan berdiskusi dalam kelompok. Pembaca menyadari adanya kesalahan dalam penulisan ejaan. (skor 1) 2 Pilihan Kata (Diksi) Diksi yang digunakan memenuhi syarat kesopanan dan kesantunan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. terutama dalam penggunaan kaidah bahasa.

4 = di atas rata-rata. 5 Kemampuan komunikatif ditandai dengan keruntutan. menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. c. Keterbukaan terhadap setiap kemungkinan pemecahan masalah. d. dan memilih pemeran. No Kriteria Skor Catatan 1 2 3 4 5 1 Kemampuan bekerja sama ditandai dengan ikut terlibat aktif memberikan pendapat dalam memilih topik. g. f. memberikan perhatian penuh ketika lawan tutur berbicara. 2 Kekompakan terlihat pada waktu memilih topik dan memainkan peranan. menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas penutur dan lawan tutur. jangan menggunakan kalimat langsung untuk menolak pendapat lawan tutur. tidak memaksakan pendapat kita terhadap lawan tutur. 4 Sikap dan Keterampilan Memecahkan Masalah (berpikir kritis) a. h. dan kesistematisan pendapat serta dialog yang dikemukakan. 3 = rata-rata. d. 5 = istimewa. c. Kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi setiap alternatif pemecahan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. menunjukkan persetujuan terhadap lawan tutur. mengidentifikasi masalah. 3 Kesediaan menghormati dan menghargai pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa dan perilaku yang santun ditandai dengan: a. berilah skor pada pemeranan setiap kelompok dengan memberikan tanda centang (√) dengan 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. i. menyimak baik-baik pendapat lawan tutur. menggunakan kata maaf dan mohon ketika meminta maaf dan meminta penjelasan. e.Untuk setiap kriteria. Kemampuan ini juga terlihat dari seberapa besar lawan bicara memahami pendapat yang dikemukakan. . 2 = cukup. 1 = rendah. kelogisan. b. b. jangan cepat-cepat dan selalu menyela ketika lawan tutur berbicara. Kemampuan mengidentifikasi masalah. menjelaskan masalah. Kemampuan menjabarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. 6 Kemampuan bertanggung jawab dan sikap ikhlas ditandai dengan penghayatan terhadap karakter yang dimainkan dan kesungguhan melakukan pemeranan.

dekat kepada Allah SWT. tekun dalam menghadapi pekerjaan. sehingga dapat mengurangi pengangguran. jujur. maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. • Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain. distribusi. Lebih rinci manfaatnya antara lain : • Menambah daya tampung tenaga kerja. meningkatkan ketahanan nasional. • Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri. yaitu : a) Sebagai pengusaha. dan pengawasan. • Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku. 1. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja. berani. • Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras. wirausaha merupakan potensi pembangunan. karena seorang wirausaha itu adalah orang yang terpuji. meningkatkan pendapatan masyarakat. • Sebagai generator pembangunan lingkungan. pemeliharaan lingkungan. sehingga persoalan pembangunan wirausaha Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan. baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri.Jumlah D. tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama. personalia. disiplin. bidang produksi. TUJUAN Perguruan Tinggi/Universitas senantiasa mengembangkan Academic excellence unutuk pendidikan yang intinya adalah : . dan banyak pula orang menganggur. kesejahteraan dan sebagainya. hidup tidak merugikan orang lain. mengurangi ketergantungan pada bangsa asing. • Hidup secara efisien. Wirausaha mengatasi kesulitan lapangan kerja. • Memelihara keserasian lingkungan. dan konsumsi. MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA (STUDENT ENTREPRENEURSHIP) Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik. diteladani. Oleh sebab itu. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. memberikan darma baktinya melancarkan proses produksi. tidak berfoya-foya dan tidak boros. berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. • Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya. Melihat banyaknya manfaat wirausaha di atas. maka ada dua darma bakti wirausaha terhadap pembangunan bangsa. sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh. distribusi. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat. b) Sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi.. baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. jujur. Jika kita perhatikan manfaat adanya wirausaha banyak sekali.

Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut : 1) Action oriented. Pendidikan kewirausahaan diharapkan memberikan wawasan pada mahasiswa dan memberikan motivasi yang cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan memiliki jiwa kewirausahaan. Salah satu akibatnya adalah kekuatan dan daya tahan perekonomian Indonesia lemah dan pemerataan pendapatan negara sulit dicapai. sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). Indonesia masih tertinggal. Pemberian kesempatan kepada mahasiswa sebagai bagian dari civitas academica untuk dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan praktik kewirausahaan. terutama dengan pengusaha industri kecil dan menengah. Prinsip yang dianut adalah see and do. berkomunikasi. 3. memiliki kemampuan berusaha. Menyediakan kesempatan seluas-luasnya pada civitas academica untuk menjadi individu yang berintegritas. Mengupayakan lulusan yang dapat menjadi pengusaha yang jujur dan bermartabat melalui pembentukan karakter dan mental wirausaha yang beretika. atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. Dari pengembangan kebijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang lulusan dalam karirnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam bidang akademik selama masa studi. pengusaha yang jujur dan bermartabat tersebut maka dapat dilakukan student enterpreneurship (kewirausahaan mahasiswa) dengan tujuan sebagai berikut : a. Bagi . terpercaya. dan berkompetensi dengan baik. pengusaha yang jujur dan bermartabat. Kewirausahaan mahasiswa tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga bermanfaat untuk dapat membantu lulusan baru bekerja dan juga pengembangan ekonomi negara secara makro. pemimpin yang adil. 2. Sehingga diharapkan setelah lulus nanti menjadi job creator daripada sekedar job seeker dengan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru baik yang berbasis teknologi maupun kemampuan berwirausaha yang bersifat umum. bekerja sama. tetapi juga sangat ditunjang oleh kemampuan non akademiknya. NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN Menurut McGraith & Mac Millan (2000) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 18-19). tahap pembekalan dan tahap pelaksanaan (berwirausaha). b. ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki oleh sertiap calon wirausaha. Tahapan pelaksanaan (berwirausaha) diharapkan agar menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu terjun ke masyarakat. Pembekalan bertujuan memberikan struktur pengetahuan dan pengalaman yang akan dapat digunakan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan yang luas. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan professional. dan bahkan lebih jauh mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk berwirausaha setelah lulus nanti. dan juga menggalang kerja sama dengan pemerintah khususnya Dinas perindustrian dan UMKM dan pengusaha. Bukan tipe menunda. terutama melalui kegiatan usaha kecil dan menengah yang justru pada saat ini.1. Menghasilkan para lulusan yang dapat menjadi professional yang handal dan dipercaya. Kewirausahaan untuk mahasiswa memiliki 3 tahapan yaitu tahap penyadaran. atau pendidik yang cendekia dan mumpuni dalam ilmunya. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai subjek kegiatan. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak.Penyadaran diperlukan karena sebagian besar mahasiswa belum tahu apa pentingnya kewirausahaan. wait and see.

risiko bukanlah untuk dihindari. dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang. Untuk usaha-usaha yang baru. Stephen Covey (2004) dalam Rhenald Kasali dkk (2010 : 55-66) mengemukakan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan (habit). ketika dapat mencapai tujuan rayakan bersama karyawan dan keluarga dan tahap terakhir adalah memikirkan tujuan-tujuan baru yang lebih menantang. put first things first.Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. Manusia dengan enterpreneurial mindset mengeksekusi. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang. Secara spesifik. menentukan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. Peluang bukan hanya dicari. baik dari dalam maupun luar perusahaannya. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran. Untuk dapat menjadi seseorang yang berorientasi pada tujuan. seek first to understand-then to be understood. mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru. Wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. memotivasi dan berkomunikasi. Untuk itu.elainkan seorang yang fokus pada eksekusi. dibuka dan diperjelas. Oleh karena itu. kedelapan kebiasaan tersebut adalah be proactive. 2) Berpikir simpel. and help others find theirs. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. think win/win. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. 5) Hanya mengambil peluang yang terbaik. memperhatikan setiap kemajuan yang telah dicapai. Sedangkan dalam usaha yang sama. membangun jaringan .Mereka juga adaptif terhadap situasi. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko. kemasan dan struktur biaya produksi. merenung atau menguji hipotesis. wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. melainkan diciptakan. sharpen the saw. mereka selalu mau belajar yang baru. synergize. desain. 1) Proaktif. yaitu melakukan tindakan dan merealisasikab apa yang dipikirkan. orang-orang yang proaktif selalu mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan cepat mengambil tindakan penyelamatan 2) Bermula dari ujung pemikiran (Goal Oriented). bahan baku. memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu. akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. Seorang wirausaha bukan hanya awas. mereka selalu belajar menyederhanakannya. atau peluang dari usaha yang sama. 4) Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru. memimpin. harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut : menetapkan tujuan akhir. yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan. maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. begin with the end in mind. 3) Mereka selalu mencari peluang-peluang baru.mereka. membentuk jaringan dari bawah dan menambah lanscape atau scope usahanya. melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan keahlian. 7) Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan. 6) Fokus pada eksekusi. . Namun . Dengan kata lain. menyatukan gerak. Apakah itu peluang usaha yang benarbenar baru. tetapi mereka bergerak ke arah itu. seperti model. Bertindak proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul. they find their voice. kebiasaan yang harus dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat produktif. melainkan juga dari cara-cara baru. energi.

seseorang harus dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak lain dan apa makna “menang” bagi mereka. diperlakukan kurang/tidak adil. hanya mengambil peluang yang terbaik. fokus pada eksekusi dan memfokuskan energi tiap orang pada bisnis yang digeluti dalam arti memiliki kemampuan dalam memimpin. dan menyadari bahwa tidak semua hal dikategorikan urgent. Pola berpikir win-win akan membantu kita menciptakan kerja sama.3) Mendahulukan hal yang utama. Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk melatih ketahanan. Dalam berwirausaha harus mencari sinergi. Jika pikiran terus dikembangkan dan visi yang hebat dapat dirumuskan. seperti merasa dirugikan. sedangkan penting membutuhkan perhatian yang besar. berpikir simpel. tubuh. Kebiasaan kedelapan berhubungan dengan perubahan dari perilaku efektif menjadi luar biasa. berdisiplin tinggi. baru memahami. Untuk itulah. Upaya yang harus dilakukan adalah memberi makanan pada jiwa melalui kegiatan-kegiatan spiritual dan hidup yang seimbang. . Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. Dalam hal ini. fleksibilitas dan kekuatannya. selalu mencari peluang-peluang baru. Dari uraian di atas nilai karakter yang dikembangkan dalam bidang kewirausahaan mahasiswa di Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) mencakup ketujuh karakter dasar yang harus dimiliki seorang entrepreneur yaitu : berorientasi pada aksi. Oleh karena itu. 5) Cari tahu dulu untuk memahami. selalu carilah rekan usaha yang saling melengkapi. yang berorientasi pada sinergi agar dapat berorientasi pada tindakan. dimana mahasiswa terjun langsung didalam mengelola usaha operasi dari mulai perencanaan usaha. seseorang harus memulai dengan menemukan atau mengenali keunikan dirinya. Kebiasaan ini berkaitan dengan sikap yang mengedepankan prioritas. dan kekuatan. Urgent adalah situasi yang mendesak. Dengan demikian . Mereka menyadari bahwa dengan menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya. Manusia seperti ini kurang memahami perbedaan makna antara urgent (mendesak) dengan important (penting). pelaksanaan usaha. 4) Berpikir dan bertindak win/win. seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain. yang tersebar pada empat elemen utama. kita harus dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan orang lain sebelum mengutarakan tujuan pribadi kita. Intinya adalah seseorang harus fokus pada hal-hal yang urgent dengan membuat prioritas. memotivasi dan membangun jaringan. fleksibilitas. mengorganisasikan usaha dan mengevaluasi usaha koperasi. 6) Sinergi. Keseimbangan mental dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. hati dan jiwa. Pelaksanaan secara nyata di lapangan . maka hal tersebut dapat memampukan seseorang untuk mengembangkan potensi terbesar seseorang. Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. Menemukan keunikan berarti mengenal potensi yang dimiliki. 8) Menemukan keunikan pribadi dan membantu orang lain menemukannya.Agar dapat mengembangkan hubungan yang win-win.ketujuh karakter yang dikembangkan adalah sebagai berikut : a. dikalahkan. 7) Menajamkan ketahanan. Seringkali manusia menghabiskan waktu untuk bereaksi pada situasi darurat. yaitu pikiran (mind). Pengembangan usaha dan managerial koperasi mahasiswa (KOPMA). bukan menginvestasikan waktu untuk mengembangkan kemampuan dan mencegah situasi darurat tersebut.

inovasi dan caracara baru.b.1. serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Fungsi Kewirausahaan Fungsi wirausaha meliputi dua fungsi.2. bidang usaha dan pasar yang akan dilayani. c. seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul. 2007: 18). tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. antara lai : (1) wirausaha adalah membuat keputusan-keputusan yang penting dan mengambil risiko tentang tujuan sasaran perusahaan. tenaga kerja. (2) Menumbuhkan kemandiriannya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergolong kalangan ekonomi lemah. psikologi dan sosial yang menyertainya. Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan.Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya. . (2) mengenali lingkungan dalam mencari dan menciptakan peluang bisnis sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. Tujuan progam dana bergulir antara lain : (1) Pengentasan Kemiskinan di Kota Cirebon dan Wilayah Ciayumajakuning. 3. melakukan terobosan-terobosan dalam mencari input dan mengolahnya menjadi barang dan jasa baru yang mempunyai kualitas dan daya saing tinggi. dimana mahasiswa diberi peranan sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) dalam pengelolaan program tersebut. LANDASAN TEORITIK 3. Fungsi pokok wirausaha adalah mencari dan menciptakan inovasi baru. jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan serta standar operasional presudur sebagai pijakan operasional. (Kasmir. memikul resiko finansial. 3. bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan. Selain itu. serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Mahasiswa melakukan kegiatan wirausaha melalui kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Pengertian Kewirausahaan Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha. d. tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan BEM diberi kesempatan untuk mengelola kantin di lingkungan kampus.Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional. seperti yang dilakukan mahasiswa Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unswagati memproduksi dan memasarkan Rosella dan berbagai produk makanan/kue berbasis produk hasil pertanian. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program bantuan dana bergulir bagi usaha ekonomi mikro.Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi. skala usaha dan permodalan. (3) Tujuan jangka panjang untuk mewujudkan sustainability development dengan metode atau proses pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan kelembagaan ekonomi lemah.

Berani mengambil risiko. investasi di berbagai bidang usaha.menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan jenis usaha. Mempunyai kemauan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri serta menguasai gaya kepemimpinan (leadership dan managerialship) untuk menggerakan dan memotivasi orang lain dalam upaya mencapai tujuan perusahaan g.3. cara kerja yang efektif dan efisien. b. terencana. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan dengan memelihara motivasi. d. 3. Selalu meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi. Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan b. Mau dan mampu melihat dan menangkap peluang usaha yang menguntungkan. Mampu mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan d. a. mampu menganalisa dan merusahaa menghindarinya. c. 3) Kualifikasi Wirausaha Unggul. b. Mengenal lingkungan bisnis dan h. mencintai kegiatan usahanya. Mau dan mampu bekerja keras. semangat kerja tinggi. Menyenangi. Persyaratan Utama Bagi Seorang Wirausaha 1) Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi dalam bisnis. masyarakat. tekun untuk mengembangkan serta menghasilkan barang dan jasa. f. Percaya diri Mempunyai kepribadian yang matang dan mantap Matang secara jasmani dan rohani Mandiri Emosi dan rationya stabil Ketidak tergantungan Optimisme • • • • • • . Dalam menjalankan usaha pempunyai sikap dan gaya hidup yang jujur. 2) Kualifikasi Wirausaha Tangguh ( Innovative Etrepreneurs) a. 4) Sifat – Sifat yang Perlu Dimiliki oleh Seorang Wirausaha. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. Untuk bisa berhasil dalam dunia usaha seseorang harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. e. dan lobi dengan berbagai pihak dalam rangka untuk kemajuan dan pertumbuhan perusahaan. Selalu berusaha menghasilkan karya yang lebih baik untuk pelanggan. tujuan perusahaan dan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. negosiasi.(memiliki salesmanship yang kuat) d. pemasok. hemat dan disiplin. Mengenal dan dapat mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan dan mau meningkatkan kemampuan dengan melakukan sistem pengendalian internal. a. pemilik modal. selalu berusaha meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi e. Mau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan perusahaan. karyawan. Mencari keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan c. Mau dan mampu berkomunukasi. bangsa dan negara c.

Tapi perlu digarisbawahi ‘percaya diri’ disini bukan berarti kita menyombongkan diri kita sendiri. dll). ulet. Dengan berorientasikan pada tugas dan hasil seorang wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu.4. tekun. prestasi kemudian. tabah. mempunyai dorongan kuat. ia senang pada prestasi . proses. dan tabah. adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk menciptakan sesuatu yang baru (gagasan. Kreativitas. Berani mengambil resiko Berani menghadapi resiko dan tantangan Dalam menjalankan bisnis berani untung dan rugi d. beorientasi laba. mempunyai visi ke depan (perspektif) g. dan optimis.Wirausahawan berwatak butuh berprestasi. Karakteristik Kewirausahaan Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sesuatu yang baru dengan mengambil resiko dan ketidakkpastiaan demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. produk dan press/kualitas barang dan jasa (Dedi Supriadi. 2) Berorientasi pada tugas dan hasil. dan inisiatif. karena dengan percaya diri wirausaha menjadi bisa atau sanggup dalam menjalani setiap usaha-usaha Dengan demikian dapat maju kearah selanjutnya utnuk mencapai kesuksesan. 1994) 3. Keorisinilan Inovatif (selalu mencari cara dan teknologi baru) Kreatif Flexible Banyak sumber dan relasi Luas wawasan dan pengetahuannya serta terampil f. tidak tergantung pada orang lain. Untuk menjadi pemilik bisnis juga diperlukan kemauaan yang kuat untuk bekerja sendiri. Meredith antara lain adalah : 1) Percaya diri wirausahawan memiliki watak berkeyakinan tinggi. produk. tekun Banyak inisiatif c. Akan tetapi. energik. akan tetapi menjadi tolak ukur kemampuan dan diri kita pribadi. Bisa menempatkan karyawan sesuai dengan bakat dan keahliannya. teknologi.• • • • • • • • • • • • • • • • • b. Mempunyai jiwa dan gaya kepemimpinan Mampu memimpin (manajerial) Bisa bergaul dengan orang lain Mau menerima dan menanggapi saran dan kritik Bisa memberikan reward dan funishment kepada staff dan karyawannya. Berorientasi pada tugas dan hasil Lebih mendahulukan prestasi dibandingkan prestise Berorientasi pada hasil (profit) Energik Kerja keras.Sifat ini adalah langkah awal untuk menjadi wirausaha. e. Ciri watak wirausahawan menurut Geoffrey G. tekad bekerja keras. individualistis. Kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi individu. jasa. Berorientasi ke Masa Depan.

DESKRIPSI MODEL Di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). kehati-hatian merupakan sikap yang harus dimiliki juga oleh seorang wirausaha. menanggapi saran dan kritik. Jika perhitungan sudah matang. Jangan ceroboh dalam mengambil sikap. asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal. karena ini akan membuat kesalahan yang fatal bagi kemajuan bisnis.Serta bagaimana menanggulanginya secara profesional. Berorientasi ke masa depan. baru 4 Fakultas yang menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. apa yang ingin di capai.Seorang wirausaha haruslah perspektif. maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya. Kita akan mampu bekerja keras. bergaul denga orang lain. pengenalan kewirausahaan dilakukan melalui mata kuliah kewirausahaan dengan bobot 2 sks dan di program studi tertentu diberikan dengan bobot 3 sks dengan rincian sebagai berikut : Program Studi Manajemen Akuntansi Pendidikan Ekonomi Komunikasi Agrobisnis Agroteknologi Bobot SKS 3 2 2 2 3 3 Semester 3 3 3 3 5 5 Dari 7 Fakultas yang ada di lingkungan Unswagati . Penggabungan dari kesemuanya itu adalah memfokuskan kepada dampak yang akan terjadi setelah bisnis dijalankan.Seorang wirausaha harus mampu dan bisa mengkalkulasi kesemuanya itu. Kepemimpinan. tanpa mengabaikan hal-hal yang sekecil mungkin. tidak akan mengalami perkembangan dan kemajuan. 4. agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan. ketelitian. apa yang hendak ia lakukan.Kecermatan. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. Jiwa pemimpin merupakan hal yang vital sekali bagi wirausaha untuk dikembangkan. Sebab sebuah bisnis bukan didirikan untuk sementara. mempunyai visi ke depan. serta fleksibel.Wirausahawan berwatak inovatif dan kreatif. Dengan adanya kurikulum yang baru di tahun akademik 2011/2012 menjadikan matakuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dan . Oleh sebab itu. Entah itu untung ataupun rugi.Sifat kepemimpinan memang ada dan selalu terpancar dalam diri masing-masing individu. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi yang ia pimpin. membuat pertimbangan dari segala macam segi. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang. Seorang wirausaha yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian. enerjik tanpa malu dilihat teman. prespektif. Wirausahawan berpandanang ke depan. Pengambila resiko dan suka tantangan.Wirausahawan berprilaku sebagai pemimpin. sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih. Keorisinilan.Namun sekarang ini.Wirausahawan memiliki watak mampu mengambil resiko yang wajar. tetapi untuk selamanya.3) 4) 5) 6) baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. menggampangkan apalagi menyepelekannya. faktor kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan.Karena setiap manusia dituntut untuk dapat memimpin dirinya sendiri.

dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. Meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di Unswagati. Fasilitator untuk kegiatan workshop adalah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. Setiap semester dilakukan workshop kewirausahaan dasar bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Unswagati dengan tujuan utama untuk merubah pola pikir mahasiswa tentang paradigma be a job creator not a job seeker. c. Kelompok mahasiswa wirausaha sebanyak 5 orang di tiap-tiap Program Studi. Pengelola inti (3 orang terdiri dari Ketua. terkoordinasi dan sinergis. terdiri dari pelindung (1 orang). Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. dengan Penanggung Jawab Ketua program Studi (ex officio). maka dibentuk suatu lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Tugas Pokok PK adalah : a. d. dilakukan juga workshop penyusunan business plan yang tujuannya agar mahasiswa dapat membuat rencana usaha atau rencana pengembangan usaha. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. Meningkatkan dinamika pengelolaan kegiatan kewirausahaan di Unsawgati secara profesional. Penasehat (3 orang). Pengarah (4 orang). Sebagai motivator. Sekretaris dan Bendahara). maka telah dibentuk unit-unit sebagai berikut : a. e. Lembaga khusus sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dimaksud adalah Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) Unswagati yang dibentuk pada Bulan Oktober 2011. c. Selain itu. Selain tatap muka. dinamisator dan fasilitator dalam kegiatan kewirausahaan di Unswagati. b. b. d.pilihan di seluruh Program Studi di lingkungan Unswagati. maupun praktisi kewirausahaan yang diutamakan berasal dari alumni. dengan penanggung jawab wakil Dekan III (ex officio). Meningkatkan jumlah usaha yang ada di Unswagati. Selain itu. Untuk mencapai target maksimal dan kelancaran PK. . Pusat kewirausahaan di tingkat Program Studi. Dosen-dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program studi sebagai pendamping atau pembimbing. serta seksi-seksi (9 orang). dalam rangka membina jiwa wirausaha. para mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan juga diharuskan membuat suatu rencana bisnis sebagai suatu tugas . mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola koperasi mahasiswa (KOPMA) dan kantin. Pusat Kewirausahaan ( Entrepreneurship Center) Unswagati Agar program kewirausahaan di Unswagati dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana secara sistematis dan progresif.

Pusat Kewirausahaan di tingkat Program Studi. Pimpinan Fakultas. Para Stakeholders diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara sinergis dan terkoordinasi guna mendudkung penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Dinas Koperasi dan UMKM. Para stakeholders tersebut merupakan jejaring kerja dalam Program Penguatan Pusat Kewirausahaan Unswagati. Dosen mata kuliah Kewirausahaan di tiap-tiap Program Studi. 3. 4. Untuk mewujudkan pelaksanaan Program penguatan Pusat kewirausahaan Unsawgati secara efisien dan efektif.Program penguatan Pusat Kewirausahaan di Unswagati melibatkan pihak-pihak terkait sebagai stakeholdernya. Pusat Kewirausahaan di tingkat Universitas. Pusat Kewirausahaan di tingkat Fakultas. 4. seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. dan sebagainya. Sistem informasi kewirausahaan di Unswagati dibangun dengan mengikuti alur struktur sebagai berikut : PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT UNIVERSITAS PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT FAKULTAS . Adapun stakeholders internal terdiri dari :Pimpinan Universitas. 2. Kelompok mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap Program Studi. 6. Alumni yang sukses sebagai pengusaha atau job creator. Stakeholders eksternal terdiri dari : 1. 1. 3. Pengusaha sukses. 5. Direktorat pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. baik eksternal maupun internal agar pelaksanaan program berjalan secara efisien dan efektif. 2. Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang terkait di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. diperlukan dukungan sistem informasi yang memadai.

Selain sistem informasi. dan sebagainya. Sedangkan diseminasi informasi secara bottom up dilakukan dari bawah ke atas yaitu dari Mahasiswa Wirausaha dan seterusnya sampai kepada PK tingkat Universitas.PUSAT KEWIRAUSAHAAN TINGKAT PROGRAM STUDI MAHASISWA WIRAUSAHA Diseminasi informasi mengenai Program Kewirausahaan di Unswagati dilakukan secara top down dan bottom up sekaligus. 4) Lulusaan yang menjadi wirausaha dan job creator. Program yang melibatkan mahasiswa sebagai AMEL (Agen Masyarakat Ekonomi Lemah) ini. bagi Unswagati merupakan perwujudan . briefing. PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR BAGI MASYARAKAT EKONOMI LEMAH Program ini diharapkan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan dan kemandirian usaha ekonomi masyarakat di wilayah Cirebon. Dengan adanya database tersebut maka outputnya dapat digunakan oleh pimpinan Unsawgati untuk membuat keputusan program pengembangan kewirausahaan mahasiswa setiap tahun secara sistematis. Diseminasi informasi secara top down dilakukan dari atas ke bawah yaitu dari Pusat Kewirausahaan Universitas sampai ke Mahasiswa Wirausaha di tiap-tiap program Studi. saran/masukan. terprogram dan terencana. konsultasi. rapat. 2) Kelompok mahasiswa wirausaha di tiap-tiap Program Studi. Database lengkap kewirausahaan mahasiswa ini meliputi : 1) Minat mahasiswa terhadap wirausaha. 5) Profil mahasiswa dan alumni yang sukse dalam wirausaha.Wujudnya adalah pemberian laporan. juga diperlukan database lengkap mengenai kewirausahaan di Unswagati. sehingga program tersebut dapat berkelanjutan (sustainable). Wujudnya adalah pemberian informasi melalui sosialisasi. 3) Kegiatan wirausaha mahasiswa di tiap-tiap Program Studi. dan sebagainya mengenai pelaksanaan program.

Beberapa aspek yang perlu dianalisis adalah : aspek administrasi. 6. Amel melakukan penelitian atas calon peminjam berkaitan dengan permohonannya. Berkas permohonan dari peminjam masuk. Melaporkan hasil survei kepada pengelola program bantuan dana bergulir (LPPM) 4. Sedangkan jumlah masyarakat ekonomi lemah yang sudah mendapat bantuan dana bergulir sebanyak 71 orang dengan total pinjaman Rp. Meningkatkan kemandirian dalam berusaha bagi masyarakat ekonomi lemah. 2. 2. para pengrajin. 4. Melakukan wawancara kepada calon peminjam 3. 1.600. kemudian dilakukan survei oleh AMEL. khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan merupakan kajian dalam program pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah. Sejak diperkenalkan program ini kepada masyarakat pada tanggal 7 Oktober 2011. Adapun besarnya pinjaman yang diberikan adalah maksimal Rp. Peran mahasiswa sebagai AMEL dalam program ini adalah : 1. Prosedur pinjaman dilaksanakan sebagai berikut : 1. industri kecil rumah tangga dan usaha produktif lainnya yang membutuhkan pinjaman termasuk untuk membuka usaha baru. Melakukan survei kepada obyek/calon penerima pinjaman. . berjiwa wirausaha dan memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha dan aspek kemampuan mengembalikan pinjamana. sampai saat buku ini disusun. warung. Melakukan penagihan kepada para peminjam setiap minggu. Pinjaman diberikan kepada anggota masyarakat yang menjalankan usaha ekonomi produktif seperti pedagang kecil. Amel melakukan analisis pinjaman sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan calon peminjam layak atau tidak layak untuk dipinjami. aplikasi permohonan yang masuk telah 304 peminjam. Mengembangkan usaha masyarakat ekonomi lemah 3. kios-kios di pinggir jalan atau di pasar tradisional. Amel mengajukan calon peminjam kepada pengelola (LPPM) dan selanjutnya akan diputuskan oleh pimpinan apakah permohonan pinjaman ditetima atau ditolak.000 dengan periode pengembalian 10 minggu atau maksimal 3 bulan tanpa beban bunga pinjaman dan tanpa adanya agunan. 35. 4. Tumbuhnya jiwa wirausaha pada masyarakat ekonomi lemah 2. Penagihan oleh AMEL. Pencairan pemberian pinjaman kepada calon peminjam. 3.nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.000. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya program ini antara lain : 1.000. 5.

Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa . Adapun indikator kegiatan Pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.Pembentukan badan usaha/koperasi mahasiswa .Pengelolaan SDM dan pengembangan karir .Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa Bina Lingkungan Mahasiswa Bina Kelembagaan Mahasiswa . Lingkup pemberdayaan mahasiswa tidak cukup dilakukan terbatas pada upaya “bina manusia/ mahasiswa” tetapi harus diikuti oleh upaya “bina usaha” guna memberikan penghasilan atau pendapatan yang lebih baik. Tabel Indikator Kegiatan Pemberdayaan Mahasiswa Lingkup Kegiatan Bina Manusia/ mahasiswa Bina Usaha mahasiswa Indikator .5. Pemberdayaan mahasiswa dalam kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai “penguatan mahasiswa” (community strengthening) atau pengembangan mahasiswa (capacity development).Pengembangan sarana dan prasarana pendukung bidang usaha . tanpa itu bina manusia akan membuat mahasiswa jemu. bahkan menumbuhkan kekecewaan yang berakibat pada skeptisme (ketidak percayaan) terhadap program/kegiatan pemberdayaan mahasiswa berikutnya.Manajemen logistik dan finansial .Akulturasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal .Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi bisnis .Status kelayakan dan perencanaan bisnis .Pengembangan kapasitas keprofesionalan .Pengembangan jejaring dan kemitraan bidang usaha .Pengembangan kapasitas kepribadian mahasiswa . INDIKATOR KEBERHASILAN Pendidikan karakter mahasiswa bidang kewirausahaan dalam pengertian sehari-hari sering diartikan sebagai upaya pemberian atau optimalisasi daya yang telah dimiliki oleh seseorang atau mahasiswa.Pengembangan dan optimasi efektifitas kelembagaan Koperasi mahasiswa .Perencanaan investasi dan penetapan sumber-sumber pembiayaan bidang usaha . sikap. tetapi juga kapasitas entitas (organisasi) serta kapasitas sistem atau jejaring kelembagaan kemahasiswaan. dan aksesbilitas terhadap kemampuan berwirausaha.Penelitian dan pengembangan bidang usaha mahasiswa . keterampilan. Penguatan atau pengembangan kapasitas di sisni tidak terbatas pada kapasitas pribadi atau individual.Manajemen produksi dan operasi . yang dalam hal ini “daya usaha” diartikan sebagai kemampuan yang mencakup pengetahuan.Kepedulian dan kesetiakawanan sosial .

Frekuensi kehadiran mahasiswa pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan kewirausahaan. Titik-tolaknya adalah. maupun praktik wirausaha di berbagai bidang yang relevan. baik hal-hal mendasar yang seharusnya dimiliki seorang entrepreneur. yaitu : a. Jumlah dana yang dapat digali dari mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program kewirausahaan e. 6. Topik bahasan meliputi pemberian motivasi dengan contoh-contoh pengalaman. Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah. Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan mahasiswa bidang kewirausahaan mencakup : a. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki mahasiswa (empowering). Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk berkembang. memberikan motivasi. dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Pemberdayaan mahasiswa adalah upaya untuk membangun daya itu. b. Upaya pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada mahasiswa. f. Meningkat kapasitas skala partisipasi mahasiswa g. Meningkatnya kemandirian mahasiswa dalam kewirausahaan. dengan mendorong. Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh mahasiswa yang ditujukan untuk kelancaran pelaksanaan program kewirausahaan. b. . Meningkatnya kepedulian dan respon dari mahasiswa terhadap perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan. h. Jumlah mahasiswa yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan. c.Syarat untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan mahasiswa terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan. Pada pelaksanaan Mata Kuliah Kewirausahaan maupun pelaksanaan workshop semesteran (tahap penyadaran) diharapkan 10-20% dari seluruh mahasiswa dapat turut berpartisipasi secara aktif sampai pelaksanaan kegiatan selesai. c. Bentuk kegiatan adalah kuliah umum yang diberikan oleh wirausahawan-wirausahawan yang sukses. PENILAIAN DAN EVALUASI Penilaian dan evaluasi kewirausahaan mahasiswa di Unswagati adalah sebagai berikut : 1. pengenalan bahwa setiap manusia atau mahasiswa memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. d. serta berupaya untuk mengembangkannya.

Diharapkan dapat diperoleh 10 bentuk usaha sebagai target tahun pertama pelaksanaan kewirausahaan mahasiswa. Selain itu.2. Analisis kegiatan bisnis perusahaan 3. Saat ini yang telah berjalan dlakukan oeh mahasiswa wirausaha adalah usaha ternak ayam dan mengelola Koperasi mahasiswa (KOPMA) serta kantin di lingkungan kampus Unswagati dan keterlibatan mahasiswa sebagai AMEL dalam program bantuan dana bergulir bagi masyarakat ekonomi lemah. Pembuatan proposal Studi kelayakan Usaha (SKU) c. pada tahap ini adalah kompetisi atau proses seleksi pada mahasiswa yang sudah memahami bekal tentang organisasi kewirausahaan dan telah membuat proposal Studi Kelayakan Usaha (SKU) Penilaian layak tidaknya suatu SKU dilakukan dengan melibatkan investor-investor. proposal SKU juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti khususnya PKM Kewirausahaan. BAB IV . Tahap pembekalan diberikan kepada mahasiswa yang telah sadar dan termotivasi akan pentingnya kewirausahaan. Tahap pelaksanaan. Mengembangkan rencana bisnis dan pengetahuan aspek hukum b. Diharapkan mereka secara serius akan mengikuti pembekalan kewirausahaan dengan garis besar terdiri atas : a.

. Penunjangnya adalah bagaimana kita bersama berniat mengembangkan dari apa yang kita punyai dan berkehendak dikembangkan dengan kesungguhan.REKOMENDASI Bahwa dalam kesempatan ini kami menyampaikan usulan bahwa untuk melembagakan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia haruslah dimulai dengan penataan dan pembentukan karakter tersebut ke dalam kurikulum nasional yang berkesinambungan dan dananya sharing program dari Dikti guna keberlangsungan pematangan materi selanjutnya. Pendidikan Kewarganegaraan. Perlunya peran Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan Sebagai Penguatan Kebijakan Lokal pada mata kuliah Agama. Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan sehingga menghasilkan alumnus-alumnus yang emiliki jiwa dan raga untuk membangun bangsa ini.

(2002).DAFTAR PUSTAKA - . Filsafat Bahasa dan Pendidikan.Budimansyah. Pendidikan Nilai-Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta.Yogyakarta. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Management Organizational Behavior prentice hall. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa.Budimansyah. . .google. Evaluasi Pembelajaran.Asmani. . “ Kewirausahaan”. Inc. 2003. Zaenal. (2006).http.” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi Indonesia. 2010. Kesantunan Berbahasa. .Birch.google. M. (Ed. D. . Ciba Geigy Ltd. Membangun Budaya Berbasis Nilai Panduan Pelatuhan Bagi Trainer . Ciba Geigy Ltd.com . Jamal Ma’mur. Model-Model Mengajar. Yogyakarta :Kanisius .(2007). di Bappenas.Dewanti.Mitra Wacana Media. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Inc. 1988. Retno.).Dahar. Amran Tasai.” 11 September 2002.com .Buchari Alma .(1997). Bandung. Bandung: Diponegoro. E Fidelis. A. . Bandung: PT Genesindo.Arifin.http. .Basics of Marketing. (ed). 2011.Arifin.(1997).Chaedar. 2011. D. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2010. D. 1984. 1988.Buchari Alma . Komunikasi dan Informasi . Waruwu.(2007). Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Widya Aksara Press. Jogjakarta: Diva Press. . 2003. Paul brian Hersey.Chaer. Bandung.Budimansyah. . Alwasilah.Dewanti. “ Kewirausahaan”. 2009. Jakarta: Erlangga. Retno. .Dahlan. 2010. 2008. Bandung: Laboratorium PKn UPI. . 2004. . oleh Direktorat Politik.Anhar Gonggong dalam “Diskusi Terbatas. Ratna Wilis. Pengantar Bisnis Penerbit CV Alfabeta. Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Rosdakarya.Birch. Management Organizational Behavior prentice hall. Paul brian Hersey. . . Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio.Basics of Marketing. Zaenal dan S. . Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. D. Jakarta: Akademika Pressindo. A.Mitra Wacana Media.

2008. http. 2011. Melalui http://google. 1996. Professional Salesmanship.Hisrich. Kementrian Pendidikan Nasional.2009. . Thomas.Nadar.1995. Bogor : Ghalia Indonesia .Fachri Ali. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah. . Najib Sulhan. 2001.-.http.http://www. .“Manjaemen Strategis”.com .wikipedia. 1994. Dharma.MarkPlus & Co Education Division 2004. Jakarta : Dikti .yahoo.Erni Sule dan Asep Mulyana.David.go. Penerbit Andi. Yogyakarta: Graha Ilmu.wikipedia. Model-model Pengajaran.oleh: Hasan Basari / Bernhard Dahm. Wheelen. 2001.”Aspek Politik Kebijakan Publik dan Demokrasi Pengalaman ORBA. http. Tersedia: http://pusatbahasa.P.Muslich. http://google. .. Chicago . Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis.com . Hand Out Kewirausahaan.Hisrich. diterj. dan Pengendalian. 2011.Salemba Empat:Jakarta . MA.kemdiknas. Peters M. Jogjakarta : Laksana .id/lamanv42/?q=detail_artikel/2603.com.yahoo. 1987. 2011. Surabaya : PT JePe Press Media Utama .Kotler. D. Kewirausahaan.David. Jogjakarta : Arruzz Media .Masykur Wiratmo dkk. Impletasi.Kotler. Nurla. Hamid Hasan. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik & Praktik. Impletasi.Kesuma. Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa.2010.Karakteristik Kewiraswastaan.1995. Robert. Entrepreneurship. Jakarta : Lentera Hati .Musa Hubeis. J.Karakteristik Kewiraswastaan. Sukarno dan perjuangan kemerdekaan.com .- - - - - . Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah.com . Jakarta: Bumi Aksara. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.Hunger.Lubis. Bogor : Ghalia Indonesia . Robert. Yogyakarta.com .Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Chicago .2010. Naskah Akademik Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi.Mustakim.P. dan Johar Permana. Penerbit Andi.“Manjaemen Strategis”.X.Erni Sule dan Asep Mulyana. ApKj.. . Perencanaan. Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar.com .wikipedia.2006 Fatchul Mu’in. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosdakarya. Pengantar Kewiraswastaan. [online]. F. Pengantar Kewiraswastaan. L. Analisis Wacana Pragmatik. Perencanaan. Thomas. Philip. 1996. Pen.Hunger. (1995). Bruce dkk.Naniek Ratni Jar.Musa Hubeis. . L. DR.Malta. . Kewirausahaan.Jakarta : LP3ES. Peters M.Salemba Empat:Jakarta . Ateilla. Isna Aunillah. dan Pengendalian.2009.Kompas 2007”Serba serbi Otonomi Daerah dan Permasalahannya” . [31 Oktober 2011].Manajemen Pemasaran Analisis.wikipedia. Professional Salesmanship. Masnur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Judul asli : Sukarno and the struggle for Indonesian . Bandung: Angkasa. D.Komunal:jakarta.Manajemen Pemasaran Analisis. 2011.http. Irwin. Yogyakarta.Masykur Wiratmo dkk. (1995). Wheelen. 2011.. 2009. 2009.com. J.Hasan Basari.Joice.MarkPlus & Co Education Division 2004.Malta. Melalui http://google. Prospek Usaha kecil Dalam wadah Inkubator Bisnis. . Cepi Triatna. Irwin. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.http://www. Fawaid. Bandung: Rosdakarya.com Muhammad Thohir. 2011. Entrepreneurship. Drs. Ahmad dan Mirza. Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa. Philip.

Rhenald Kasali dkk. Assauri.http://www. Modul Kewirausahaan. (1999) Paradigma Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan. com. 2011.1938.Manajemen Pemasaran.Facebook.com . Minto. Sonny. Metodologi Pengajaran Bahasa.Sumarsono.Graha Ilmu:Yogyakarta .Sumarsono.Perseroan Terbatas.Naniek Ratni Jar.Suara.Suprijono.1938. Bandung: CICED . 2010. 2009. Prof.1987. Kewirausahaan Indonesia. Bandung: Angkasa. Hand Out Kewirausahaan. tentang Sistem Pendidikan Nasional . http://dedesuharna’s. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Kewirausahaan Indonesia. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. “Ideologi Kebangsaan vs Politik Segmentasi”. 1996. Nurdin M.2009.com/tentang-kami/artikel-7/. 2010.Noer.Raja Grafindo Presada:Jakarta .Salim Siagian. http://dedesuharna’s. 2005.Robin.Manajemen Pemasaran. Kewiraswastaan Motivasi Perubahan Berpikir. Jakarta: Grasindo.Sanusi. Sonny.Rhenald Kasali dkk. http:goegle.com Nazili Shaleh Ahmad. 2010.Dede. Psikologi Belajar.S. Jakarta : PT Grasindo .Graha Ilmu:Yogyakarta .Perseroan Terbatas.Syah. Pepatah Jawa.Trianto. 2011. Prof. 2009. .Rahayu.wordpress. Edisi revisi.Salim Siagian. A. Tersedia: http://solehamin. Cooperative Learning. Widjono.Robin. Puslatkop dan PK. Melalui http://google. http://wordpress. Bandung: angkasa . .Raja Grafindo Presada:Jakarta .Tarigan. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta : Sabda Media . G.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. 2008. .com . Kunjana.blog. Jakarta: FIP UNJ . . 20 tahun 2003. PT. 2011.UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional .2010. PT.1987. 1996. Jaakarta . Dr dan Belferik Manullang. H.com.2008. Muhibbin.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Perusahaan. Melalui http://google.Dede. Prayitno.Naniek Ratni Jar.- - . Menusa Cerbon.UUD 1945 . . Ajaran dan Pemikiran Syekh Siti Jenar.shvoong. . Pendidikan Dan Masyarakat Terjemah “Al-tarbiyyah wal Mujtama’. http:goegle. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.2008. Jakarta: Erlangga. Hand Out Kewirausahaan.Noer. . Jaakarta . Ajaran Budi Pekerti Suluk dan Kidung.Suara.com. MSc.Undang-undang No. com. 2009. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dr. Dr. . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.Kewirausahaan. 2011. Agus.Rahardi.Noer. Penerbit Hikmah. Edisi revisi.2010. G. .Sofjan. Nurdin M.blog.Com 2011 . 2007. [online]. www. Nurdin M.Suharna. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka.Suharna. Pengajaran Pragmatik. .Tarigan.Wahab. . 2007. Modul Kewirausahaan. . . Jakarta: Grassindo. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. A.art. http://wordpress. . 2009.2010. Assauri. .Noer. .com .Roy Erickson Mamengk. Nurdin M.Ed. . 2011. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.Syafi’i.Sofjan. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Bangsa. . H.http://www. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa.Kewirausahaan.art.Undang-Undang Dasar 1945. Penerbit Hikmah. Achmad (1998) Jurnal Mimbar Pendidikan. Puslatkop dan PK.shvoong.2010.

.Winardi. “Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa”.UII Yogyakarta.- .A (1996) Politik Pendidikan Dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warga Negara Global. J. Bandung: IKIP Bandung . Pidato Pengukuhan Jabatan Dosen Besar Tetap Dalam Ilmu Pendidikan.Kencana. “Entrepeneur & Entrepeneurship”. 2008. U.Jakarta .S. “Entrepeneur & Entrepeneurship”.www. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi.dikti.Kencana.2006.Wijaya kusuma”Pradigma Negara Hukum dan Permaslahannya”. 2008. UII Pers Yogyakarta: 2007. J. Bandung: Program Pascasarjana UPI Yoggi Herdani .com . 03 June 2010 .Wijaya Kusuma. .A.Jakarta .Winardi. (Disertasi).”Pergulatan Perjalanan Reformasi”. Thursday. (2001).Winataputra.Wahab.