P. 1
JIHAD DAKWAH

JIHAD DAKWAH

|Views: 934|Likes:
Published by Nuratifah Nabilah

More info:

Published by: Nuratifah Nabilah on Jan 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

Adab-adab atau kewajiban-kewajiban yang kami maksudkan di sini
adalah sifat-sifat permanen yang harus tetap dimiliki oleh seseorang
yang bergabung ke dalam usrah dan menjadi salah seorang anggotanya.
Kewajiban-kewajiban ini kami paparkan berdasarkan lailatul usar (pro-
gram usrah) yang ditetapkan pada bulan Rabi ul Awwal 1362 H./Maret
1943 M.

Program ini memiliki sejarah unik yang akan kita bahas di sini. Program
ini kadang-kadang dinamakan lailatul usar, kadang-kadang disebut
lailatul nidhamit ta'awuni (program sistem kerja sama) dan kadang-
kadang disebut lailatul usarit ta'amuniyah (program kerja sama usrah).

Pada saat itu setiap syu'bah. (cabang) terdiri dari sepuluh usrah yang
diatur sesuai dengan nomor urut, misalkan; usrah pertama, kedua,
ketiga, dan seterusnya. Setiap usrah terdiri dari sepuluh orang anggota,
dan dari mereka ini diangkat salah seorang untuk menjadi ketua usrah.
Setiap empat usrah membentuk satu wadah yang dinamakan asyirah
yang terdiri dari empat puluh orang anggota dan dikepalai oleh ketua
usrah pertama, kemudian setelah itu kepemimpinan digilir secara
berantai di antara para anggota dan pemimpin. Dalam sistem ini sudah
selayaknya bila lajnah markaziyah (pengurus pusat) bersekretariat di
markas umum Kairo yang dipimpin oleh Ustadz Mursyid yang n1eng_
awasi asyirah-asyirah ini dan membentuk dari setiap lima asyirah satu
wadah yang dinamakan rath, membentuk satu wadah yang dinarakan
katibah yang jumlah anggotanya seribu orang. (Nidhamul Usar
Nasy'atuhu wa Ahdafuh)

Program ini telah menetapkan kewajiban-kewajiban usrah atau adab-
adabnya dalarn tiga klasifikasi:

a. Kewajiban-kewajiban atau adab-adab individual,
b. Kewajiban-kewajiban atau adab-adab kolektif, dan
c. Kewajiban-kewajiban atau adab-adab finansial. Adapun
rinciannya adalah sebagai berikut:
a. Kewajiban-kewajiban atau adab-adab individual:
1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dan senantiasa
memperbarui taubat diiringi dengan permintaan maaf dan
pengembalian hak-hak kepada para pemiliknya sebisa
mungkin.
2. Senantiasa membaca wirid Al-Qur'an dan doa-doa yang
ma'tsur seoptimal mungkin.
3. Memperbarui janji setia (bai at untuk selalu tunduk, taat,
sabar dan komitmen dalam memperjuangkan fikrah dan
ideologi).
4. Menghormati hak saudara-sauda.ranya dan mendahulukan
mereka dalam setiap muamalah (hubungan keduniaan) serta
tidak absen atau terlambat dari pertemuan-pertemuan
mereka kecuali karena udzur syar'i yang tidak bisa
dielakkan.
5. Memelihara shalat lima waktu tepat pada waktunya.
6. Menunaikan zakat mal apabila seorang akh telah memiliki
satu nishab dan meminta pendapat usrah dalam
pendistribusian zakatnya.
7. Menunaikan ibadah haji bagi yang telah mampu dan belurn
pernah menunaikan kewajiban ini.
8. Berpuasa secara benar pada bulan Ramadhan.
9. Menyncikan diri dari riba, perjudian, dan pekerjaan
haramdalam setiap muamalah.

10. Menjauhkan diri dari zina dan hal-hal yang menjadi
pengantarnya, arak dan minuman-minuman sejenisnya,
serta tempattempat hiburan yang tidak bermanfaat.
11. Seorang akh hendaknya meyakini bahwa dirinya adalah
prajurit dakwah dan menyadari bahwa dakwah mempunyai
hak atas diri, waktu, dan hartanya. Hendaknya ia j uga
memenuhi kewajiban finansial apapun kondisinya selama
dia sudah berjanji dan usrah belurn membebaskannya dari
tanggung jawab ini.
12. Menyadarkan keluarganya akan perkembangan baru
dalam kehidupannya dan berusaha sekuat tenaga mencetak
keluarganya dengan pola hidup islami. Selalu menggunakan
kesempatan yang baik untuk mengajak istrinya berperan
serta dalam dakwah serta menaaamkan adab-adab Islam
pada diri anak-anak dan para pembantunya.
Apabila para ikhwan telah memahami kewajiban-kewajiban
ini, menerima, dan berjanji untuk senantiasa menjaga dan
melaksanakannya dengan benar, maka naqib (ketua usrah)
mewakili mursyid 'am (ketua umum) akan membai atkan
mereka.
b. Kewajiban-kewajiban kolektif:
1. Mengukuhkan ikatan persaudaraan sesama anggota usrah.
2. Usrah memilih satu tempat selain daru syu'bah (kantor cabang)
untuk mengadakan pertemuan semalam dalam sepekan.
Sebaiknya hal itu diadakan di rumah para anggota secara
bergiliran.
3. Sebaiknya sekali dalam sebulan para anggota mengadakan
mabit (menginap) bersama dalam satu tempat dan menyantap
rnakan malam dan pagi secara bersama seperti dalam acara
kemping dan kepanduan.
4. Sebaiknya semua anggota usrah mengadakan shalat Jurn'at di
satu masjid.
5. Diharapkan semua anggota usrah mengadakan shalat shubuh
dan isya' secara berj amaah di kantor cabang, masjid, atau
tempat lain yang disepakati.
c. Kewajiban-kewajiban finansial:
1. Semua anggota usrah harus bahu-membahu dalam memikul
beban-beban kehidupan. Apabila ada salah seorang di antara
mereka yang terkena musibah, seperti pemutusan hubungan
kerja (PHK) atau meninggal dunia, maka semua ikhwan dalam
usrah tersebut wajib memenuhi kebutuhan diri dan anak-
anaknya, mernelihara dan mernbantu mereka sampai mereka
bisa mandiri dan merasa cukup berkat karunia Allah.
2. Setiap usrah membuka kas khusus solidaritas, di mana setiap
anggota

memberikan

kontribusi

sesuai

dengan

penghasilannya.

3. Uang yang telah terkumpul ini didistribusikan untuk bantuan
bagi anggota-anggota (yang ikut serta dalam kas khusus
solidaritas) apabila mereka memerlukannya.
4. Dari semua kas usrah ini diambil seperlimanya untuk
disetorkan ke kas solidaritas di markas umum.
5. Untuk selanjutnya uang ini ditransfer ke Syirkah Takmifi
Ijtirna'i Islami (serikat asuransi sosial islami).
Kewajiban-kewajiban usrah dalam ketiga klasifikasinya ini
mencerminkan norma-norma umum yang menata setiap
anggota usrah, baik dalarn masalah-masalah yang berkaitan
dengan dirinya, rumah tangganya, masyarakatnya, harta
maupun keluarganya.

Masih ada adab-adab lain yang dari sisi bobotnya masih di
bawah kewajiban-kewajiban di atas, tetapi ia sangat penting
karena mengandung norma-norma usrah, mernelihara etika-
etika, aturan, dan target-targetnya. Adab-adab itu adalah
sebagai berikut:
1. Menyiapkan ruhani, jiwa, dan pikiran sebelum mengadakan
pertemuan usrah. Dengan membersihkan ruhani dari segala
noda yang mengotorinya, menjadikan jiwa kita senantiasa
rindu dan antusias untuk menghadiri pertemuan ini dan
mengonsentrasikan pikiran agar bisa mengikuti dengan
seksama setiap ide dan gagasan yang dilontarkan, turut
memikirkan, memberikan perhatian, serta mengalokasikan
waktu secara proporsional. Anggota yang ruhaninya kosong
dari unsur-unsur keimanan, jiwanya disibukkan oleh berba-
gai urusan dan akal pikirannya belum siap untuk mengikuti
pertemuan atau belum menyiapkan bahan pemikiran yang
dibutuhkan, maka ia tidak akan bisa mengikuti pertemuan
usrah ini dengan baik dan tidak bisa memberikan kontribusi
yang positif dan berguna.
2. Memberikan bagian yang asasi dari waktu dan tenaganya
untuk menghadiri pertemuan usrah ini, bukannya
memberikan, Waktu dan tenaga sisa.
3. Melaksanakan tugas-tugas usrah dan menunaikan kewajiban
-kewajiban yang dibebankan kepadanya dimana seorang akh
akan melewati hari-harinya selama sepekan dengan sibuk
menunaikan kewajiban-kewajiban intelektual, finansial,
spnitual dan lain-lain. Sama sekali tidak terpuji apabila ia
menyia-nyiakan tugas dan kewajiban lalu ia datang untuk
meminta maaf
4. Disiplin dalam segala hal yang terkaitnngar perternuaan
usrah, seperti:
- Disiplin dalam kehadiran dan kepiananma, tidak terlambat
datang atau terburu-buru pulang.

- Disiplin dalam forum pertemuan, memelihara
adab,adabnya, serta menyadari bahwa forum ini adalah
media untuk menncari dan mengkaji ilmu.
- Disiplin dalam berbicara dan berkkeenta; sehingga ia tidak
berbicara kecuali setelah diizinkan dan tidak
mengomentari satu pembicaraan kecuali setelah diizin,
juga.

- Disiplin dalam nada bicara, di mana ia harus berbicara
sebatas pendengaran para hadirin dan tidak perlu
berteriak atau berseloroh meskipun gagasan yang
dikemukakannya itu penuh semangat.
5. Mendengar dengan baik dan konsentrasi penuh terhadap
segala yang dibicarakan dalam forum itu, serta mencatat hal
yang penting dalam buku catatan atau cukup diingat saja
sesuai dengan kondisi dan situasinya. Hendaknya ia tidak
memotong pembicaraan orang lain bagaimana pun
kondisinya, tetapi hendaknya tetap mendengarkan hingga
selesai, kemudian meminta izin untuk mengomentari hal-hal
yang perlu dikomentari Ia juga harus bisa menguasai secara
cermat gagasan-gagasan yang dilontarkan, memusatkan
pandangan dan pikiran kepada orang yang sedang
berbicara, serta tidak menyibukkan diri degan obalan bersa
a teman duduk dalam pertemuan itu.
6. Dialog dengan baik, yakni bagi siapa saja yang ingin ikut
serta berbicara maka ia harus memenuhi kewajiban-
kewajiban dialog yang baik sebagai berikut:
- Memohon izin ketika hendak memulai pembicaraan.
- Merendahkan suara secara wajar.
- Semangat obyektivitas harus ada pada diri orang yang
berbicara.
- Tidak mengarahkan klaim-klaim yang arogan terhadap
pendapat pihak lain.
- Tidak menuding-menudingkan telunjuk ke arah pembicara
sebelumnya atau membodoh-bodohkan pendapatnya.
- Membatasi pembicaraan dengan menggunakan bahasa
Arab fusha (fasih) yang merupakan bahasa Al-Qur'an
dan agama. Pembatasan ini dengan tujuan melatih dan
membiasakan diri, bukan sebagai cerminan sikap
berlebih-lebihan atau memperlihatkan kefasihan dalam
berbicara.
- Menerima dan menghormati pendapat dan orang yang
mengemukakannya serta mendiskusikannya secara
obyektif sehingga tampak jelas kebenarannya untuk kita
ambil dan tampak jelas kesalahannya untuk kita
tinggalkan tanpa harus mencela orang yang
mengemukakannya. Pada dasarnya ia telah berijtihad,

walaupun salah, dan Allah telah menyajikan pahala
untuknya, maka mengapa kita harus mencelanya?
7. Ketika menghadiri pertemuan usrah atau pertemuan yang
lain, seorang akh harus bisa memberikan gagasan baru yang
bisa mengembangkan usaha dakwah, memperbaikinya atau
menghilangkan kesalahan-kesalahan yang mewarnainya.
Hal itu berarti selama sepekan yang dilewatinya, ia selalu
berpikir tentang pertemuan usrah dan hal-hal positif atau
negatif yang terjadi selama perternuan itu, sehingga ia bisa
mendukung hal-hal positif itu dan mengusulkan gagasan
apa saja untuk menghilangkan hal-hal yang negatif. Tidak
bisa dibenarkan apabila seorang akh hadir ke tempat per-
ternuan usrah tanpa memberikan kontribusi pemikiran
demi perkembangan forum dan perbaikannya. Apabila dia
melakukan hal yang demikian, berarti lambat laun dia akan
menjadi orang yang pasif, yang merasa cukup hanya
menjadi pendengar setia dalam pertemuan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->