P. 1
Jihad

Jihad

|Views: 73|Likes:
Published by Nuratifah Nabilah

More info:

Published by: Nuratifah Nabilah on Jan 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

HAL-HAL PENTING DALAM PELAKSANAAN JIHAD MASA KINI

Setelah kita memahami ruang lingkup jihad yang telah dijelaskan dalam syari‟at yang kemudian akan menjadikan kita lebih teguh dalam menempuh perjalanan jihad kita pada masa kita sekarang ini, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan yang mengganjal pada benak sebagian kita, bagaimana mungkin jihad sebagaimana ditetapkan dalam syari‟at tersebut bisa terlaksana dengan baik sementara kekuatan umat Islam persis sebagaimana yang diramalkan oleh Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, yaitu seperti buih yang dibawa banjir, tidak mempunyai bobot sama sekali.Di sisi lain umat Islam sendiri sudah terlalu jauh meninggalkan pemahaman-pemahaman syari‟at mereka sendiri, sehingga kebodohan merata di berbagai pemasalahan, sampai-sampai sesuatu yang sudah jelas sejelas matahari disiang bolongpun masih banyak yang tidak menyadarinya. Pemahaman Islam yang benar menjadi sebuah pemikiran yang sangat asing di sebagian besar masyarakat Islam itu sendiri. Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam bersabda:

ِ ِ ِ َ ‫يَا رسول اللَّو :قُْلنَا »يُوشك أَن تَداعى علَْيكم األُمم من كل أُفُق كما تَداعى األَكلَةُ علَى قَصعتِها‬ َ َ َ َ َ َ ٍ ِّ ُ ْ ُ َ ُ ُ َ َ َ ْ ُ َ َْ َُ ِ َ ‫ٍ َ ري ِ ُ غ‬ ِ ِ ‫أَنْتُم يَومئِذ كثِ ٌ ولَكنَّكم ُثَاءٌ كغُثَاء السْيل تُ عُ الْمهابَة من قُلُوب عد ِّكم «:أَمن قِلَّة بِنَا يَومئِذ قَال‬ َ ٍ َْ ٍ ْ ِ ْ َ َ َ ‫َّ ِ نز‬ َْ ْ ْ ُ‫َ ُ و‬ ْ َ ِ َ‫ُّ ْ و‬ ِ ‫حب اْلَيَاةِ َكراىيَةُ الْموت« :قَالُوا وما الْوىن؟ قَال »وُيعل ِِف قُلُوبِكم الْوىن‬ َ ُْ َ َ ُ َ َ َ َ ُ َْ َ َْ ُ ُ َ
“Hampir-hampir

َ َ َ َ ِْ ُ ْ‫َ ْ ْ ِ ِ َ َ ْ ُْ ْ َ َ ِ َ َ ِ ْ َّرِ َ ر‬ ُِ ُ‫إِذا تَبَايَعتُم بِالْعينَة وأَخذُت أَذنَاب الْبَ قر ورضيتُم بِالزْع وتَكتُم اْلهاد سلَّط اللَّوُ علَْيكم ذُ ًِّّ ًّ يَْنزعو‬ ُْ َ َ ِ ‫حَّت تَرجعوا إَِل‬ ِ َّ ‫َ ْ ُ َ دينِكم‬ ُ
“Apabila

datang waktunya kalian dikeroyok oleh semua bangsa dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka mengeroyok hidangan mereka.” Kami (sahabat) bertanya:”Wahai Rosululloh, apakah karena waktu itu jumlah kami sedikit?” Beliau menjawab:”Kalian ketika itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih banjir. Dicabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan dijadikan dalam hati kalian kelemahan.” Mereka (sahabat) bertanya:”Apakah kelemahan itu ?” Beliau menjawab:”Cinta hidup dan benci mati.”1 Dan Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam juga bersabda:

kalian berjual beli dengan cara „iinah, mengikuti ekor-ekor sapi, rela dengan bercocok tanam dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Alloh akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak diangkatnya kembali sampai kalian kembali kepada diin kalian.” 2 Begitulah kehinaanpun melanda umat Islam hari ini. Alloh menimpakan kehinaan kepada mereka lantaran jihad ditinggalkan. Kehinaan yang berupa berkuasanya orang-orang kafir terhadap mereka, berkuasanya orang-orang yang tidak mempunyai kasih sayang kepada umat Islam

hanya lantaran mereka beriman kepada Alloh. Dan kehinaan ini termasuk adzab pedih yang Alloh sebutkan dalam firman-Nya

ِ ِ ِ ِ ‫يَا أَيُّها الَّذين آمنُوا ما لَكم إِذا قِيل لَكم انفروا ِِف سبِيل اللَّو اثَّاقَ ْلتُم إَِل األَرض أَرضيتُم بِاْلَيَاةِ ُّنْيَا‬ ‫ْ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ ْ الد‬ َ َ ُ ُْ َ َ ُْ َ َ َ ِ ‫من اْلخرةِ فَما متَاعُ اْلَيَاةِ ُّنْيَا ِِف اْلخرةِ إِ ًّ قَلِيل إِ ًّ تَنفروا يُعذبْكم عذابًا أَلِيما ويَستَْبدل قَوما‬ ‫ِ ْ ْ ِ َ َ َ ْ الد‬ َ َ ْ ُ ِّ َ ُ ِ َّ ٌ َّ َ ِ ْ ًْ ْ ْ َ ً ِ ٍ ‫غْي كم و ًّ تَضروهُ شْيئًا واللَّوُ علَى كل شيء قَدير‬ ٌ ْ َ ِّ ُ َ َ َ ُّ ُ ََ ْ ُ‫َ ر‬ َ
“Hai

orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu :”Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu meresa berat dan ingin tinggal ditempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (AtTaubah:38-39) Berangkat dari kenyataan tersebut (lemahnya umat Islam dan berkuasanya orang-orang kafir dimuka bumi) mungkin sebagian akan menilai bahwa hukum-hukum syar‟i seputar jihad ini tidaklah relevan pada zaman sekarang ini atau sebagian mencoba mentakwil-takwilkan dengan pemahaman yang lain atau mencoba mencari program lain yang menurut mereka lebih relevan dan realistis untuk masa sekarang ini. Maka tidak jarang kita dapati sebagiam mereka bergabung kedalam permainan demokrasi, sebagian lagi menutup diri dalam dunia dakwah dan tarbiyah saja sedangkan kemenangan umat mereka pasrahkan sepenuhnya kepada Alloh tanpa mempersiapkan diri untuk berjihad. Lalu sebenarnya bagaimana syari‟at menjawab persoalan ini. Pada pembahasan ini kami akan mencoba menguraikan permasalahpermasalahan tersebut, sehingga kita bisa lebih memahami bahwa hukum jihad tersebut tetap relefan dan aplikatif untuk sepanjang masa. Dalam hal ini akan kami bagi menjadi dua pembahasan yaitu pembahasan seputar kondisi lemah yang menimpa umat Islam, bagaimana menurut pandangan Islam khususnya dalam kaitannya dengan jihad, dan pembahasan i‟dad serta hal-hal yang kaitannya dengan apa yang harus kerjakan ketika jihad tidak mampu kita kerjakan dikarenakan tidak adanya kemampuan untuk melaksanakannya. KONDISI LEMAHNYA DENGAN HUKUM JIHAD
1.

UMAT

ISLAM

DALAM

KAITANNYA

Telah kami paparkan di atas bahwasanya kemampuan adalah syarat wajib jihad dan bukan syarat syahnya. Sehingga ketika secara perhitungan kaum muslimin tidak mempunyai kemampuan untuk menumbangkan musuh tidak berarti secara otomatis jihad menjadi punah

atau jihad menjadi haram dan kaum mmuslimin harus kembali kepada syari‟at wajibnya bersabar dalam menghadapi kedloliman orang-orang kafir. Oleh karena itu perlu kiranya kita kaji bagaimana sebenarnya menilai kondisi lemahnya umat Islam sesuai dengan kaca mata syari‟at.

1. 1.

Kajian Terhadap Tahapan-Tahapan Disyariatkannya Jihad

1.

ِ ِ ِ ُّ ُ َ ِ ِ ِ َّ َ ُ ‫أََلْ تر إَل الَّذين قيل َلُم كفوا أَيْديَكم وأَقيموا الصالَة وءَاتُوا كاة فَلَما كتب علَْيهم الْقتَال إِذا فَريق‬ ُ ِ َ ُ ُ ِ َ َ ُ َّ َ َ‫ُ ْ َ ُ َّ َ َ الز‬ ْ َ َ ٍَ َ ‫مْن هم َيْشون النَّاس كخشيَة اهللِ أَو أَشد خشيَةً وقَالُوا ربَّنَا َلَ كتَْبت علَْي نَا الْقتَال لو ًّ أخرتنا إَِل أَجل‬ َ ِ َ َ َ ِ َ َ ْ َ َّ َ ْ ِ ْ َ َ َ َ ْ َ َ ْ ُ ِّ ‫ِ ٍ ْ َ الد‬ ً‫قَريب قُل متَاعُ ُّنْيَا قَلِيل ُ واْلخرة خْي ر ُ لِّمن اتَّقى و ًَّ تُظْلَمون فَتِيال‬ َ ُ َ َ َِ ُ َ ُ
“Tidakkah

Para ulama‟ menyebutkan bahwasanya jihad itu disyari‟atkan melalui empat tahapan sebagai berikut: Tahapan larangan untuk berperang dan diperintahkan untuk bersabar menghadapi gangguan dan cercaan dari orang-orang musyrik dengan terus menebarkan dakwah. Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam melang para sahabat beliau untuk memerangi penduduk Mekah pada masa ini. Maka ketika ada sahabat yang berkata kepada beliau:”Dulu ketika kami dalam keadaan musyrik kami adalah orang-orang yang mulia, namun ketika kami beriman kami menjadi orang-orang yang hina.” Beliau bersabda kepadanya:”Aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian memerangi………..” (HR. Nasa‟I VI/3, Baihaqi IX/11, dalam Mustadrok II/307 dan beliau berkata sesuai dengan Syarthul Bukhori namun Bukhori dan Muslim tidak meriwayatkannya, dan hal ini disepakati oleh AdzDzahabi.) Dan larangan berperang ini disebutkan dalam firman Alloh:

1.

kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tibatiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari takutnya. Mereka berkata:”Ya Rabb kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami Mengapa tidak engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi” Katakanlah:”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”.(An-Nisa‟: 77) Dipebolehkannya untuk berperang dan tidak diwajibkan Hal ini desebutkan dala firman Alloh yang berbunyi:

ِ ِ ِ ِ ‫أُذن لِلَّذين يُقاتَلُون بِأَنَّهم ظُلِموا وإِن اهللَ علَى نَصرىم لَقدير‬ ٌ َ ْ ِ ْ َ َّ َ ُ ْ ُ َ َ َ َ
“Telah

diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnaya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benarbenar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (Al-Hajj: 39)

1.

Ayat ini adalah ayat yang pertama kali turun yang berkaitan dengan peperangan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. (Diriwayatkan oleh An-Nasa‟I VI/2) Diwajibkan berperang hanya jika kaum muslimin diserang.

ِ ِ َ ْ َ ‫و قَاتِلُوا ِِف سبِْيل اهللِ الذيْن يُقاتَلُونَكم‬ ُْ ْ َ َ
“Dan

1.

berperanglah di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian.”(Al-Baqoroh: 190) Diwajibkan memerangi seluruh orang musyrik meskipun mereka tidak memerangi kaum muslimin, sampai mereka mau masuk Islam atau membayar jizyah bagi beberapa golongan yang diperselisihkan para ulama’ Alloh berfirman:

ِ ‫فَِإذَا انْسلَخ اْألَشهر اْلُرم فَاقْ تُلُوا الْمشكِْي حْيث وجد ُُوىم وخذوىم واحصروىم واقْ عدوا َلُم كل‬ َّ ُ ْ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ ْ ُ ُ ْ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ ْ ُ ْ ‫ُ ْ ر ْ َ َ ُ َ َ ْ ُت‬ ُُ ْ ُ ُ ْ َ َ ٍ ‫م ْرصد‬ َ َ
“Apabila

sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (At-Taubah: 5)

ِ ِ ِ ِ ‫قَاتِلُوا الَّذين ًَّيُؤمنُون بِاهللِ و ًَّ بِالْيَ وِم اْألَخر و ًَُّيَرمون ماحرم اهللُ ورسولُوُ و ًَّيَدينُون دين اْلَق من‬ َ ِْ َ ِ ْ َ ِّ ْ َ َ َ ُ َ َ َ َّ َ َ َ ُ ِّ ُ َ ِ َ ِ ِ ‫الَّذين أُوتُوا الْكتَاب حَّت يُعطُوا اْلِْزيَةَ عن يَد وىم صاغرون‬ َ ُِ َ ْ ُ َ ٍ َ ْ ْ َّ َ َ َ
“Perangilah

orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29) Secara ringkas tahapan-tahapan ini terangkum dalam perkataan Ibnu Qoyyim, ketika beliau mengatakan:”

‫… كان حمرماً ّت مأذوناً بو ّت مأموراً بو ملن بدأىم بالقتال ّت مأموراً بو ْلميع كْي‬ ‫املشر‬ ‫و‬
“Dan

jihad itu diharamkan lalu diijinkan lalu diperintahkan melawan orang yang menyerang duluan lalu diperintahkan untuk memerangi seluruh orang-orang musyrik” (Zaadul Ma‟ad II/58)3 Ibnu Qoyyim berkata: “…..maka keadaan orang kafir setelah turun surat At-Taubah diteapkan menjadi tiga kelompok, yaitu Muharibin, Ahlu „Ahdin dan Ahlu Dzimmah. Lalu Ahlul „Ahdi wash Shulhi tergabung kedalam negara Islam, maka orang kafir tinggal dua macam saja yaitu Muharibin dan Ahludz Dzimmah. (Zaadul Ma‟ad III/160) Ibnul ‘Arobi berkata: “Firman Alloh yang berbunyi:

‫.…… فَِإذا انْسلَخ اْألَشهر اْلُرم‬ ُُ ْ ُ ُ ْ َ َ َ
“Apabila

sudah habis bulan-bulan Haram itu……”(At-Taubah: 5) Ayat ini menasakh seratus empat belas ayat. (Ahkamul Qur‟an karangan Ibnul „Arobi I/201). Dan mereka yang mengatakan bahwa ayat ini sebagai

nasakh adalah: Adl-Dlohak bin Muzahim (Ibnu Katsir IV/55), Ar-Robi’ bin Anas (Al-Baghowi I/168), Mujahid, Abul ‘Aliyah (Fathul Qodir karangan Asy-Syaukani I/191), Al-Hasan ibnul Fadl(Al-Qurthubi XIII/73), Ibnu Zaid (Al-Qurthubi II/339), Musa bin ‘Uqbah, Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, ‘Ikrimah, Qotadah (Fathul Qodir I/497), Ibnul Jauzi dan ‘Atho’ (Al-Baghowi III/122). Hal itu juga dikatakan oleh Ibnu Taimiyah (al-Ihtijaj bil Qodar karangan Ibnu Taimyah hal. 36), Asy-Syaukani(Fathul Qodir karangan AsySyaukani I/275), Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi II/331) dan sekumpulan ulama‟ pada berbagai masa.4 Bahkan beberapa ulama‟ telah menyatakan bahwa mansukhnya hukumhukum jihad sebelum hukum yang terakhir adalah merupakan ijma‟ para ulama‟. Shodiq Hasan Al-Bukhori mengatakan: “Adapun riwayat tentang berdamai dan meninggalkan orang-orang kafir apabila mereka tidak memerangi, hal itu telah mansukh atas kesepakatan seluruh kaum muslimin.”5 Ibnu Jarir ketika menafsirkan ayat

ِ ِْ ِ ِ ‫قُل لِّلَّذين ءَامنُوا يَغفروا لِلَّذين ًَّيَ ْرجون أّيَّام اهلل‬ َ َ ُ َ َ َ ُ
“Katakanlah

kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah……” (AlJatsiyah: 14) Beliau berkata:”Ayat ini telah mansukh dengan perintah Alloh untuk memerangi orang-orang musyrik sesuai dengan ijma‟ ahlut takwil atas hal itu.”6 Abdul Akhir Hammad menukil perkataan Asy-Syaukani dalam kitab As-Sailul Jarror V/519: ” Menyerang orang-orang kafir dan ahli kitab serta membawa mereka masuk kepada agama Islam atau membayar jizyah atau bunuh, hal ini merupakan perkara yang sangat jelas dalam agama … Adapun tentang meniggalkan dan membiarkan mereka jika mereka tidak memerangi, hal ini adalah sudah mansukh secara ijma‟” 7 Namun demikian ada sebagian mu‟ashirin yang menyatakan bahwa huukum-hulum jihad dan tahapan-tahapan penetapan syari‟atnya tersebut tidaklah mansukh, namun semua hukumnya adalah muhkamah yang wajib untuk kita laksanakan dalam jika keadaan dan kondisinya sama dengan kodisi dan keadaan hukum-hukum jihad yang telah dinyatakan beberapa ulama‟ telah mansukh secara ijma‟. Di antara mereka adalah Muhammad Rosyid Ridlo dalam kitabnya Tafsir AlManar X/166 dan Az-Zarqoni dalam Manahilul „Irfan II/150 sebagai mana yang dikatakan oleh pengarang kitab Marohili Tasyri‟il Jihad. Kemudian dari pemahaman ini sebagian mu‟ashirin berpendapat bahwa kenyataan kita pada hari ini adalah seperti keadaan kaum muslimin di masa Mekah, sehingga kita harus bersabar dengan ulah orang-orang kafir dan tidak boleh melakukan peperangan. Dalam hal ini tidak ada yang mereka ikuti kecuali pendapat Az-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Burhan fii „Uluumil Qur‟an II/41-42 dan As-Suyuthi dalam kitabnyaAl-Itqon fii „uluumil Qur‟an III/66.8

Berikut inilah pernyataan Az-Zarkasyi yang menyatakan bahwasanya tahapan-tahapan jihad tidaklah mansukh, akan tetapi tahapan-tahapan tersebut tetap dilaksanakan sesuai dengan keadaan pada waktu tahapan tersebut disyareatkan. Dan beliau mencela terhadap orang yang menyatakan bahwa tahapan-tahapan tersebut telah mansukh ketika beliau mengatakan:” Dan sebagian ulama‟ membagi nasakh itu menjadi tiga macam:…… ketiga: sesuatu diperintahkan dikarenakan oleh suatu sebab, lalu sebab itu hilang. Seperti ketika dalam keadaan lemah dan berjumlah sedikit diperintahkan untuk bersabar dan memaafkan orangorang yang tidak beriman dengan hari akhir dengan tidak melakukan amar ma‟ruf, nahi munkar, jihad fii sabiilillah dan yang lain kemudian dinasakh dengan perintah untuk melaksanakan amar ma‟ruf, nahi munkar, jihad dan yang lainnya. Sebenarnya ini bukanlah nasakh, akan tetapi nasii‟(perintah untuk meninggalkan) sebagaimana yang difirmankan Alloh: ( ‫ ) أو ننسها‬sedangkan mansa‟nya (yang diperintahkan untuk ditinggalkan) adalah perintah perang sampai kaum muslimin menjadi kuat. Dan ketika dalam keadaan lemah, hukum yang berlaku adalah wajib sabar menanggung gangguan. Denngan demikian maka jelaslah kelemahan pendapat sebagian dari para mufassirin pada ayat yang memberikan keringanan bahwasanya ayat tersebut telah termansukh oleh ayatus saif, padahal sebenarnya tidaklah mansukh akan tetapi mansa‟, yang berarti suatu perintah yang dikarenakan suatu sebab tertentu pada suatu masa yang mengharuskan untuk memberlakukan hukum tersebut kemudian berganti kepada hukum yang lain kerena penyebabnya telah berubah. Ini bukanlah nasakh, karena nasakh adalah mengahapuskan sebuah hukum sehingga hukum tersebut tidak boleh dilaksanakan selamanya.” 9 As-Suyuthi membawakan perkataan persis perkataan AzZarkasyi tersebut di dalam kitab Al-Itqon, tanpa mengatakan bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Az-Zarkasyi. Namun demikian beliau mengatakan di dalam kitabnya Al-Iklil fis Timbatit Tanziil dan AtTahbir Fii „ilmit Tafsiir:138, bahwa ayatus saif telah menasakh ayat-ayat yang memerintahkan untuk memaafkan, berlapang dada dan berdamai. Ketika mengomentari ayat

ِ ‫فَاقْ تُلُوا الْمشكِْي حْيث وجد ُُوىم‬ ْ ُ ْ ‫ُ ْ ر ْ َ َ ُ َ َ ْ ُت‬
“…maka

bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian jumpai mereka….” (At-Taubah: 5) Beliau berkata:”Ini adalah ayatus saif yan gmenasakh ayat-ayat yang berkenaan dedngan memberikan maaf, berlapang dada, berpaling dan berdamai. Dan keumuman ayat ini merupakan dalil untuk memerangi AtTurk dan Habasyah menurut jumhur ulama‟.”10 Begitu pula Az-Zarkasyi dalam halaman lain dalam kitabnya Al-Burhan; II/31 menyatakan atas mansukhnya ayat

ِ ِ َ َ ُْ ِ ُْ ‫لَكم دينُكم وِِل دين‬
“Untukmulah

agamamu, dan untukkulah agamaku.” Ayat ini telah mansukh dengan ayat

ٍ ‫حَّت يُعطُوا اْلِْزيَةَ عن يَد‬ َ ْ ْ َّ َ
“…………..

sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29) Dan ayat

ِِ ْ ‫فَاعفوا واصفحوا حَّت يَأِِْتَ اللَّوُ بِأَمره‬ َّ َ ُ َ ْ َ ُ ْ
“Maka

ma‟afkanlah mereka dan biarkanlah mereka mendatangkan perintah-Nya.” (Al-Baqoroh: 109) Ayat ini mansukh dengan ayat

sampai

Alloh

ِ ‫فَاقْ تُلُوا الْمشكِْي‬ َْ ‫ُ ْر‬
“…maka

bunuhlah orang-orang musyrik….” (At-Taubah: 5) Kemudian mansukh lagi dengan ayat

ٍ ‫حَّت يُعطُوا اْلِْزيَةَ عن يَد‬ َ ْ ْ َّ َ
“…………..

sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29) Namun para mu‟ashirin yang bersandar dengan perkataan AZZarkasyi dan As-Suyuti untuk pendapat tidak mansukhnya ayat-ayat yang menerangkan tentang tahapan-tahapan syari‟at jihad ini tidaklah memperhatikan pendapat mereka berdua atas mansukhnya ayat-ayat tersebut. Namun demikian bagaimanapun kalau dikatakan bahwa ketika dalam keadaan lemah kita harus kembali pada hukum larangan untuk berperang dan wajib bersabar terhadap ulah orang-orang kafir ini jelas tidak bisa dibenarkan berdasarkan kajian yang telah lalu pada masalah kemampuan dalam berperang dan iqtiham. Begitu pula hal ini bertentangan dengan ijma‟ jika ijma‟ tersebut benar adanya sebagaimana yang telah dinyatakan oleh beberapa ulama‟ di atas. Yang intinya bahwa kemampuan itu adalah syarat wajib jihad adan bukan syarat syah jihad, sehingga kalau dikatakan bahwa orang yang lemah atau tidak mempunyai kemampuan untuk melawan musuh itu ia harus bersabar dan tidak boleh mengadakan peperangan dalam rangka melawan musuh, sebagaimana halnya ketika Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam hidup di Mekah dalam keadaan lemah dan tertindas, mereka dilarang untuk melakukan peperang. Meskipun juga bukan berarti dalam kondisi seperti ini kaum muslimin tidak diperkenankan untuk melaksanakan kembali ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan berlapang dada terhadap ulah orang-orang kafir. Kaum muslimin mendapatkan rukhshoh untuk mengamalkan sabar dan berlapang dada terhadap ulah orang-orang kafir tesebut sebagai mana mereka juga boleh mengamalkan ayat-ayat jihad dengan ketentuan-ketentuan yang telah kita bahas di atas.

1. 1.

„Illah

Syar’iyyah (Sebab Disyari’atkannya) Jihad

„Illah

syar‟iyyah jihad ini perlu untuk difahami dengan baik, sebab dengan itu kita akan lebih dapat memahami kapan jihad itu dilaksanakan dan kapan jihad itu akan terhenti. Sebagaimana disebutkan dalam kaidah ushul

‫اْلكم يدور مع العلة وجودا و عدما‬
“Ada

atau tidaknya hukum itu selaras ada atau tidaknya‟illah hukum tersebut.” Firman Alloh:

ِ ‫ُ َ الد‬ ‫وقَاتِلُوىم حَّت ًَّ تَكون فِْت نَةٌ ويَكون ِّينِ للَّو‬ َّ َ ْ ُ َ َ ُ ُ َ
“Dan

perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh.” (QS. Al-Baqoroh:193) Jumhur ahli tafsir menafsirkan “fitnah” dengan kekafiran, artinya perangilah mereka sampai tidak ada kekafiran. (lihat: tafsir Ath-Thobari, II/113, Ibnul ‘Arobi, hal. 109 dan Ibnu Katsir, I/227) Al-Qurthubi ketika membicarakan ayat diatas berkata:”Ayat ini adalah perintah untuk memerangi orang-orang kafir semua orang musyrik di setiap tempat …….dan ini adalah perintah perang secara mutlak, tidak mesti mereka memulai berperang, dalilnya adalah firman Alloh :

ِ ‫ُ َ الد‬ ‫ويَكون ِّينِ للَّو‬ ُ َ
“….

dan agama itu hanyalah untuk Alloh.” Dan sabda Rosullloh shallallahu „alaihi wasallam:

‫أمرت أن أقاتل الناس حَّت يقولوا ًّ إلو إ ًّ اهلل‬
Saya diperintahkan untuk mememrangi manusia sampai mengucapkan Lailaha Illallah.” Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwasanya sebab peperangan itu adalah kekafiran, karena Alloh berfirman:
“ “Sampai

َّ َ ٌ‫حَّت ًَّ تَكون فِْت نَة‬ َ ُ

tidak ada fitnah.” Maksudnya adalah sampai tidak ada kekafiran. Demikianlah Alloh menjadikan tujuan disyari‟atkannya perang adalah sampai tidak ada kekafiran dan ini adalah jelas.”(Tafsir Al-Qurthubi II/353) Ibnul ‘Arobi ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata:”Masalah kedua adalah bahwasanya sebab disyari‟atkannya pembunuhan itu adalah kekafiran sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ini, karena Alloh berfirman sampai tidak ada fitnah. Dengan demikian Alloh menjadikan tujuannya adalah hilangnya kekafiran secara nas dan Alloh menerangkan dalam ayat ini bahwasanya sebab pembunuhan yang menjadikan diperbolehkannya berperang adalah kekafiran.” (Ahkamul Qur’an I/109) Al-Qurofi berkata:”Nash-nash Al-Qur‟an secara dhohir menyebutkan bahwasanya kekafiran dan kesyirikan adalah yang menjadi alasan peperangan, sebagaimana firman Alloh:

‫جاىد الكفار واملنافقْي واغلظ عليهم‬
“Berjihadlah

ِ َ َْ ‫ُ ْر‬ ً‫وقَاتِلُوا الْمشكِْي كآفَّة‬ َ
“Dan

melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq serta bersikap keraslah terhadap mereka.” perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan.” (At-Taubah:36) Dan juga sabda Rosulullh saw.;

‫قاتلوا من كفر باهلل‬
“Perangilah

siapa saja yang kafir kepada Alloh…” Dan sifat yang menjadi alasan terhadap sebuah hukum itu menunjukkan bahwa sifat tersebut menjadi penyebab („illah) dan bukan yang lain.” (Adz-Dzakhiroh: III/387) Demikianlah Alloh memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir dan musyrik dengan memberikan alasan bahwa mereka itu orang-orang syirik dan kafir, tanpa memberikan alasan yang lain selain syirik dan kafir. Al-Qurofi ketika menyebutkan sebab-sebab dilakukannya jihad beliau berkata:”Sebab pertama yang dianggap pokok dari diwajibkannya jihad adalah menghilangkan mungkarnya kekafiran sebab sesungguhnya kekafiran adalan kemungkaran yang paling besar, dan barangsiapa melihat kemungkaran dan ia mampu untuk menyingkirkannya, maka wajib baginya untuk menyingkirkan kemungkaran tersebut. Hal ini disebutkan dalam firman Alloh

ِ ‫ُ َ الد‬ ‫وقَاتِلُوىم حَّت ًَّ تَكون فِْت نَةٌ ويَكون ِّينِ للَّو‬ َّ َ ْ ُ َ َ ُ ُ َ
“Dan

perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh.” (QS. Al-Baqoroh:193) Sedangkan yang dimaksud fitnah adalah kekafiran.” (Adz-Dzakhiroh: III/387) Setelah kita fahami bahwasanya „illah syar‟iyyah jihad adalah kekafiran, maka dari situ kita akan bisa mendudukkan sebenarnya kelemahan kaum muslimin pada fase Mekah itu adalah hikmatun naskh dan bukan „illatulhukmi. Dengan demikian pelaksanaan hukum jihad tidaklah mesti tergantung pada kondisi lemah atau kuatnya umat Islam, akan tetapi pintu jihad akan senantiasa terbuka lebar selama masih ada kekafiran di muka bumi ini. Karena sesungguhnya kelemahan itu hikmah tidak disyari‟atkan jihad sehingga bisa saja bisa saja orang menambahkan dari hikmah tidak disyari‟atkannya jihad ketika di Mekah tersebut dengan hikmah-hikmah yang lain sesuai dengan pemahaman dia terhadap masalah tersebut. Sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir: “Orang-orang yang beriman ketika awal permulaan Islamketika masih di Mekah, mereka diperintahkan untuk sholat dan zakatmeskipun belum sampai nishobnya, dan mereka diperintahkan untuk menolong orangorang fakir di antara mereka, dan mereka juga diperintahkan untuk mema‟afkan serta berlapang dada terhadap orang-orang musyrik dan juga bersabar sampai waktu tertentu. Sedangkan mereka semangatnya terbakar dan selalu berharap agar diperintahkan untuk berperang supaya

luka mereka terhadap musuh-musuh mereka terobati. Namun keadaan ketika itu tidaklah tepat karena banyak hal; di antaranya adalah sedikitnya jumlah mereka kalau dibanding dengan jumlah musuh mereka, dan di antaranya adalah karena mereka tinggal di daerah mereka yang setatusnya adalah tanah haram dan tanah yang paling mulia di muka bumi ini. Oleh karena itu tidak ada perintah untuk berperang sebagaimana dikatakan. Oleh karena itu mereka tidak diperintahkan untuk berjihad kecuali setelah di Madinah, karena Madinah telah menjadi daerah kekuatan dan pembela.”11 Begitu pula sebab-sebab lain yang beliau sebutkan ketika menafsirkan ayat:

ِ ِْ ِ ِ ‫قُل لِّلَّذين ءَامنُوا يَغفروا لِلَّذين ًَّيَ ْرجون أّيَّام اهلل‬ َ َ ُ َ َ َ ُ
“Katakanlah

kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaumterhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Jatsiyah: 14) Beliau mengatakan:”Artinya hendaknya mereka (kaum muslimin) memaafkan dan menanggung gangguan orang-orang musyrik. Dan hal ini terjadi ketika pada masa awal Islam, mereka diperintahkan untuk bersabar dalam menanggung gangguan dari orang-orang musyrik dan ahli kitab supaya hal itu bisa melunakkan hati mereka. Kemudian ketika mereka terus membangkang maka Alloh mensyari‟atkan untuk mengusir dan berjihad melawan mereka. Begitulah riwayat dai Ibnu Abbas ra, dan Qotadah.” 12 Jadi sebenarnya kalau ditelti lebih lanjut masih banyak lagi hikmahhikmah yang lain yang bisa diambil dari dilarangnya berperang ketika masa kehidupan para sahabat di Mekah. Sebagaimana Sayyid Quthub beliau menambahkan enam sebab yang lain dalam kiabnya Fii Dlilalil Qur‟an II/714-715 sebagaimana disebutkan dalm kitab marohilu tayri‟il jihad. Sehingga kalau dikatakan bahwa kelemahan umat itu mengharuskan umat Islam untuk kembali bersabar dan berlapang dada terhadap ulah orang-rang kafir, maka hal itu tidak bisa dibenarkan. Hal inipun telah sesuai dengan apa yang telah rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits-haditstho‟ifah manshuroh, bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat Islam ini yang terus berperang sampai hari kiyamat, sehingga kalau dikatakan bahwa pada masa sekarang ini jihad dilarang dengan alasan hukum jihad kembali kepada hukum jihad ketika pada masa kehidupan Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam di Mekah, hal ini akan bertentangan dengan haditshadits tersebut karena dengan demikian jihad sempat terhenti sebelum datangnya hari kiyamat. Hadits-hadits itu di antaranya adalah sebagai berikut:

‫ ًّ تزال طائفة من أميت يقاتلون على اْلق ظاىرين إَل يوم القيامة‬
“Akan

senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka dhohir sampai hari kiyamat.” 13

Dan dalam hadits dari Jabir bin Samuroh:

‫لن يربح ىذا الدين قائماً يقاتل عليو عصابة من املسلمْي حَّت تقوم الساعة‬
“Akan

senantiasa agama ini tegak yang sekelompok kaum muslimin berperang di atasnya samapi hari kiyamat.”14 Dan dalam hadits dari ‘Uqbah bin Amir:

‫ ًّ تزال عصابة من أميت يقاتلون على أمر اهلل قاىرين لعدوىم ًّ يضرىم من خالفهم حَّت تأتيهم‬ ‫الساعة وىم على ذلك‬
“Akan

senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas perintah Alloh, mereka mengasai musuh-musuh mereka, tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiyamat dan mereka dalam keadaan seperti itu.” 15 Dan dalam hadits dari ‘Imron bin Hushoin:

‫ ًّ تزال طائفة من أميت يقاتلون على اْلق ظاىرين على من ناوأىم حَّت يقاتل آخرىم املسيح الدجال‬ َ ُ
“Akan

senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran mereka menang atas orang yang memusuhi mereka samapi yang terakhir dari mereka adalah Dajjal.”16 Dan dalam hadits dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan:

…‫و ًّ تزال عصابة من املسلمْي يقاتلون على اْلق ظاىرين على من ناوأىم إَل يوم القيامة‬
“Akan

senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang atas orang yang memusuhi mereka sampai hari kiyamat.” 17 Dan dari Salamah bin Nufail Al-Kindi beliau berkata:

‫يا رسول اهلل؛ أذال الناس اخليل، :كنت جالسا عند رسول اهلل صلى اهلل عليو وسلم فقال رجل‬ ‫ ًّجهاد، قد وضعت اْلرب أوزارىا، فأقبل رسول اهلل صلى اهلل عليو وسلم :ووضعوا السالح، وقالوا‬

‫كذبوا، اْلن جاء دور القتال، و ًّيزال من أميت أمةٌ يقاتلون على اْلق، ويزيغ اهلل َلم :بوجهو وقال‬ َّ ‫قلوب أقوام، ويرزقهم منهم حَّت تقوم الساعة، وحَّت يأِت وعد اهلل، واخليل معقود ِف نواصيها اخلري‬ ‫إَل يوم القيامة، وىو يوحى إِل أين مقبوض غري ملََّث، وأنتم تتبعونين أفناداً، يضرب بعضكم رقاب‬ ‫ب‬ ّ ‫بعض، وعقر دار املؤمنْي بالشام‬
“Wahai

Rosululloh, orang-orang mulai tidak memelihara kuda, meletakkan senjata dan mereka mengatakan:”Tidak ada jihad.” Perang telah usai.” Maka menghadapinya dengan wajahnya dan berkata:”Mereka dusta, sekarang telah datang masanya untuk bereperang, dan akan senantiasa ada sebuah kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran. Alloh membengkokkan hati beberapa kaum (orang-orang kafir) dan Alloh memberi rizki umatku yang berperang tersebut dari orang-orang yang dibengkokkan hatinya tersebut sampai terjadi hari kiyamat dan sampai datang janji Alloh. Dan kuda itu terikat kebaikan pada jambul-jambulnya sampai hari kiyamat. Dan telah diwahyukan kepadaku bahwa nyawaku

akan dicabut sebentar lagi, sedangkan kalian mengikutiku dengan berkelompok-kelompok, yang sebagian memenggal leher sebagian yang lain, dan pusat wilayah orang-orang yang beriman itu di Syam.”18 Imam Al-Khithobi berkata:

‫فيو بيان أن اْلهاد ًّ ينقطع أبداً ،وإذا كان معقو ًًّ أن األئمة كلهم ًّ يتفق أن يكونوا عد ًًّ ،فقد‬ ‫دل ىذا على أن جهاد الكفار مع أئمة اْلور واجب كهو مع أىل العدل‬
“Hadits

ini menerangkan bahwasanya jihad itu tidak akan pernah terputus sampai hari kiyamat. Jika menurut akal itu para pemimpin itu tidak akan mungkin semuanya „adil (tidak fasik) maka hal ini menunjukkan bahwa jihad melawan orang kafir itu wajib meskipun bersama dengan para pemimpin yang jahat sebagaimana wajibnya bersama denganahlul „adli.” 19 Imam An-Nawawi berkata:

‫وِف ىذا اْلديث معجزة ظاىرة ؛فإن ىذا الوصف مازال حبمد اهلل تعاَل من زمن النيب صلى اهلل عليو‬ ‫وسلم إَل اْلن ،و ًّ يزال حَّت يأِت أمر اهلل املذكور ِف اْلديث‬
“Apa

yang terdapat dalam hadis ini adalh merupakan mu‟jizat yang jelas, karena sesungguhnya apa yang Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam katakan itu terjadi sejak zaman Nabi shollallohu „alaihi wa sallam sampai hari ini, dan akan senan tiasa terjadi sampai datang keputusan Alloh sebagaimana yang tersebut dalam hadits.” [Syarh Shohih Muslim (VII/77)] Al-Hafidz dalam menjelaskan hadits tersebut berkata:

‫وفيو أيضاً بشرى ببقاء اإلسالم وأىلو إَل يوم القيامة ألن من ًّزم بقاء اْلهاد بقاء اجملاىدين وىم‬ ‫))… ) ال تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ( :املسلمون وىو مثل اْلديث اْلخر‬
“Hadits

ini juga merupakan kabar gembira akan eksisnya Islam dan penganutnya sampai hari kiyamat, karena kalau jihad itu akan selalu eksis berarti para mujahidinpun akan selalu eksis sedangkan mereka itu adalah orang-orang Islam. Hal itu sebagaimana hadits yan terakhir: “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran…….” 20 Jadi tidak mungkin jika ada pada suatu masa sebelum hari kiyamat seluruh umat Islam keadaannya kembali kepada masa ketika Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam berada di Mekah, harus bersabar dan berlapang dada semuanya. Hal itu tidak mungkin sebagaiman yang telah Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits-hadits di atas. 21 KETIKA TIDAK MAMPU MELAKSANAKAN JIHAD

1.

Jelaslah sudah bahwa jihad adalah kewajiban yang tidak bisa dibantah lagi. Jihad menjadi sebuah kewajiban aini‟ dibanyak keadaan sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli ilmu. Kewajiban jihad tidak dapat dirubah dan diganti dengan dipolitisir oleh pemikiran, hawa nafsu ataulah dengan alasan Istihsan, karena andaikan saja ada metode yang lebih mulia dan lebih baik dari jihad, pembuat syar‟I pasti akan mengajarkannya kepada kita yang hal itu akan lebih dahulu dikerjakan oleh para sahabat ra. Dan begitulah hukum Islam telah menetapkan bahwa jihad fisabilillah dan memerangi orang-orang musyrik merupakan kewajiban aini‟ di beberapa kondisi dan menjadi kewajiban kifa‟i di kondisi lain. Dan kewajiban jihad ini adalah merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Alloh yang terbesar sehingga tidaklah layak seorang hamba yang serba terbatas mencari-cari pilihan lain dengan alasan kemaslahatan, istihsan atau yang lainnya. Memang benar bahwa jihad merupakan sebuah hukum syar‟I sebagaimana hukum-hukum syar‟I yang lainnya, yang dalam pelaksanannya disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan. Maka oleh sebab itulah Sang Pembuat syari‟atpun juga memerintahkan agar membangun sebuah kekuatan dan kemampun untuk pelaksanaan jihad, yaituI‟dad. Maka jelas fardhiyah jihad tidak dapat dibantah. Adapun bila tidak mampu melaksanakannya dikarenakan keadaan lemah, maka wajib melaksanakan I‟dad. Dan bila I‟dadpun tidak bisa melaksanakannya, maka wajib baginyaI‟tizal (mengasingkan diri) sebagaimana hadits “ ‫فاعتزل‬ 22 ‫- ” تلك الفرق كلها‬jauhilah semua firqoh-firqoh-. Dengan demikian tidak ada jawaban lain kalau ada orang yang bertanyatanya, apa yang akan kita lakukan agar sampai kepada kemulyaan Islam dan kekuasaan diatas muka bumi dalam kondisi seperti apa yang kita hadapi sekarang ini??? Tidak ada jawaban yang lain yang datang dari AlKitab dan As-Sunnah selain: I‟dad kemudian Jihad.23 Sebagaimana yang terangkum dalam perkataan Ibnu Taimiyyah:

‫بإعداد القوة والرباط اخليل ِف وقت سقوطو للعجز فإن ما ًّيتم كما ُيب ا ًّستعداد للجهاد‬ ‫,و‬ ‫.الواجب إ ًّ بو فهو واجب‬
“Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala jihad tidak dikerjakan karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib.” 24 Syaikh Abdullah Azzam mengatakan:”Adapun I‟dad itu adalah rantai kedua dari rantai-rantai jihad, dan dia merupakan perkara penting dari perkara-perkara yang penting, dan ia diibaratkan wudhu dalam ibadah sholat, kalau sholat itu tidak dianggap sah tanpa wudhu maka demikian juga halnya tidak ada jihad tanpa I‟dad 25 Dan inilah yang menjadikan pembeda antara orang beriman dan orang munafiq sebagaimana yang dikatakan olehAbdul Qodir bin Abdul Aziz dalam muqoddimah kitabnya Al-„Umdah fii I‟dadil „Uddah bersarkan firman Alloh:

ِِ َ ِ ُّ َ َ ُ ْ ُ َ ْ َ ‫ولَو أَرادوا اخلُروج ألَعدوا لَوُ عدة ولَكن كره اللَّوُ انْبِعاثَهم فَثَبَّطَهم وقِيل اقْ عدوا مع الْقاعدين‬ َِ َ ْ َ ً َّ ُ َ َ ُُ َ َ ْ ُ ْ ُ َ
“Dan

jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:”Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”. (At-Taubah:46) Sesungguhnya ketika kita katakan bahwa jihad itu adalah satu-satunya jalan meraih kemenangan dan kemuliaan, hal itu bukan berarti meremehkan wasilah-wasilah lainnya seperti dakwah, tarbiyah dan tazkiyatunnafs serta mendidiknya supaya berakhlaq dengan akhlaq Islam, perhatian terhadap belajar dan mengajar „ilmu syar‟I serta berusaha untuk mewujudkan sebuah kelompok yang mempunyai nilai yang cukup tinggi baik akhlaq maupun keyakinan dan juga hal-hal syar‟I lainnya yang membantu terwujudnya perkumpulan Islami yang bersih .………… ini adalah masalah-masalah penting bagi setiap umat yang menginginkan kebangkitan. Dan ini termasuk dari pengertian I‟dad secara luas. 26Sebagaimana yang akan kami uraikan di bawah insya‟alloh. Dan begitu pula ketika kami katakan bahwa jihad itu afdlolul a‟mal, maksudnya adalah secara umum sebagai mana yang disebutkan dalam nas-nas yang jelas. Artinya mungkin dalam keadaan tertentu, bagi sebagian orang jihad bukanlah sesuatu yang terbaik baginya. Diantaranya adalah ketika jihad fardlu kifayah, atau jihad tidak wajib baginnya karena tidak tepenuhi pada dirinya syarat wajibnya, dalam keadaan seperti ini mungkin I‟dad lebih utama baginya. Begitu pula jika dalam waktu yang sama dakwah fardlu „ain baginya. Maka dalam keadaan seperti ini dakwah baginya adalah lebih utama. Begitu pula halnya dengan amar ma‟ruf, amalan ini bisa menjadi lebih utama dari pada jihad dalam keadaankeadaan tertentu. Oleh karena itu Imam Ibnu Hajar berkata,

‫كأن املراد باملؤمن من قام مبا تعْي عليو ّت حصل ىذه الفضيلة وليس املراد من اقتصر على اْلهاد‬ ‫و‬ َّ ‫وأمهل الواجبات العينية وحينئذ يظهر فضل اجملاىد ملا فيو من بذل نفسو ومالو هلل تعاَل وملا فيو من‬ ‫النفع املتعدي‬
“Dan seakan-akan maknanya adalah bahwa seorang mukmin yang melaksanakan hal yang fardhu „ain atasnya lalu ia mendapatkan keutamaan ini (jihad), bukan atas orang yang melaksanakan jihad saja dan melalaikan kewajiban-kewajiban „ain lainnya. Ketika itulah terlihat keutamaan mujahid karena ia telah mencurahkan nyawa dan hartanya untuk Allah semata, juga karena jihadnya merupakan manfaat yang mengenai orang lain.”27 Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

‫وتارة تكون املصلحة اإلمساك ,وتارة تكون املصلحة املهادنة ,فتارة تكون املصلحة الشرعية القتال‬ ‫.واإلستعداد بال مهادنة‬

“Kadang-kadang maslahat syar‟i dapat dicapai dengan qital (perang), kadang-kadang dengan perdamaian, dilain waktu maslahat dapat dicapai dengan menahan diri tanpa qital (perang) dan I‟dad tanpa perdamaian”. 28
1. Hukum I’dad Hari Ini

1.

Abdul Mun’im mengatakan:” Dan I‟dad – dengan pengertiannya yang luas – secara hukum syar‟I hukumnya adalah wajib „aini kepada seluruh umat Islam baik indifidu maupun secara jama‟ah, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, karena Alloh tidaklah membebani seseorang kecuali yang ia mampu kerjakan walaupun sedikit kadar dan bentuknya. Sesungguhnya sedikit itu kalau digabungkan antara satu dan lainnya akan menjadi banyak dan kuat dan berarti. 29 Syaikh Abu Qotadah pernah ditanya tentang hukum I‟dad askari apakah hukumnya fardlu „ain bagi orang yang mampu. Beliau menjawab:”Saudaraku yang baik, ketahuilah bahwa jihad hari ini hukumnya adalah fardlu „ain bagi setiap muslim yang mampu. Maka jihad melawan orang-orang Yahudi hukumnya adalah fardlu „ain begitu pula jihad melawan para thoghut Arab maupun Ajam yang telah mengganti hukum syari‟at, menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan, membantu musuh-musuh Alloh dan membunuh orang-orang Islam lantaran mereka berpegang dengan agamanya. Harus diketahui bahwa jihad melawan mereka hukumnya adalah fardlu „ain. Maka jika sesuatu hukumnnya fardlu „ain, maka pembukaan dan wasilah-wasilahnyapun menjadi fardlu „ain pula, sebab wasilah hukumnya sama dengan tujuannya. Sedangkan I‟dad adalah wasilah jihad yang tidak mungkin terlaksana kecuali dengannya. Dengan demikian maka I‟dad hari ini hukum I‟dad adalah fardlu „ain bagi setiap muslim yang mampu. Sedangkan I‟dad askari adalah termasuk bagian dari I‟dad. Akan tetapi pembagian macam-macam I‟dad antara umat Islam harus dengan terorganisir dan tertib sehingga setiap orang berada dalam posisi yang sesuai dengan keperluan para mujahidin. Dengan demikian maka posisinya dalam I‟dad memenuhi kebutuhan umat Islam di negerinya.” 30 Cakupan I’dad I‟dad tidaklah hanyalah sekedar mempersiapkan kekuatan fisik saja, meskipun persiapan fisik sama sekali tidak boleh diremehkan karena rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam telah menyatakannya dengan jelas yang tidak mungkin lagi ditakwilkan kepada arti yang lain dan tidak ada yang meremehkannya kecuali orang yang sombong dan ngeyel. Namun I‟dad untuk jihad ini mencakup berbagai bentuk kesiapan yang diperlukan dalam jihad yang terbagi menjadiI‟dad maddi dan I‟dad ma‟nawi menurut istilah Abdul Mun’im Mushthofa Halimah atau dalam istilah lain I‟dad maddidan I‟dad imani sesuai dengan istilah Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Abdul Mun’in Mushthofa Halimah berkata:”Adapun yang dimaksud dengan kekuatan yang harus dipersiapkan adalah segala kekuatan dengan segala macam, bentuk dan sebab-sebabnya, sebagaimana yang dikatakan Sayyid Quthub. (Yang beliau maksud adalah perkataan Sayyid Quthub dalam Fii Dlilalil Qur‟an III/1543 yang berbunyi:”Maka

mempersiapkan kekuatan adalah faridloh yang menyertai faridloh jihad, dan nas memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan dengan segala macam, bentuk dan sebab-sebabnya.”) Segala kekuatan dalam berbagai bentuknya yang semuanya itu terangkum dalam kekuatan maddi (materi) dan kekuatan ma‟nawi (moral). Adapun mempersiapkan kekuatan yang berupa kekuatan maddi semuanya sudah maklum yaitu dimulai dari membentuk fisik manusia sehingga mampu untuk beradaptasi dan menanggung semua tahapan perang sampai terakhir mampu menguasai senjata yang paling mutakhir serta mampu menggunakannya dengan baik. Akan tetapi ada sesuatau yang masuk dalam pengertian I‟dad maddi yang perlu untuk kami singgung sebab banyak para penggembos-penggembos jihad yang memperdebatkannya dan menebarkan keragu-raguan pada umat atas keabsahan dan pensyariatannya. Yaitu I‟dad yang berarti beramal jama‟I, bertandzim dan imaroh.”31 Lalu beliau menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kekuatan moral adalah beramal dengan sungguh-sungguh dan serius untuk merealisasikan tauhid dengan berbagai macamnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ahlus sunnah wal jama‟ah. 32 Sedangkan Abdul Qodir bin Abdul Aziz berkata:”Dan I‟dad untuk persiapan jihad itu ada dua macam, yaitu; maddidan imani: Adapun I‟dad maddi adalah I‟dad yang berkaitan dengan Al-Mihwar AlUfuqi (kaitannya dengan kwantitas). Dalam hal ini ada dua sisi. Yaitu sisi syar‟I yang berkaitan dengan pembentukan jama‟ah, siyasah syar‟iyyah yang diikuti dengan pengorganisasian dan perhubungannya antar personalnya. Sedangkan sisi yang lain adalah sisi (kemampuan) personal yang berkaitan dengan seni (tak tik) pertempuran. Adapun I‟dad imani adalah I‟dad yang berkaitan dengan Al-Mihwar ArRo‟si (kaitannya dengan kwalitas). Hal ini berkaitan dengan pembinaan jama‟ah tersebut sesuai dengan dasar-dasar syar‟I dan lurus. Dan kwalitas I‟dad personalia mujahid dari segi keimanan.” 33 Abdul Baqi Romdhun juga membagi aspek penopang jihad menjadi dua: a. Aspek ma‟nawi (spiritual) yang mencakup: - Kekuatan iman Ini dapat di capai dengan memakmurkan hati dengan iman, akal yang dibekali dengan ilmu, dan ruh yang selalu berhubungann dengan Allah. - Kesamaan shof dengan menguatkan ikatan, saling mempercayai serta beriltizam untuk taat. - Kebersamaan /kejasama yaitu dengan saling mengemukakan pendapat, plaining serta pelaksanaan. - Sabar yaitu sabar dalam ketaatan, sabar terhadap kemaksiatan dan sabar atas cobaan b. Aspek material yang mencakup: - Kelayakan jasmani yaitu dengan melatih kekuatan otot, gulat dan kemauan yang kuat.

- Pengalaman perang dalam bidang seni berperang, macam-macam senjata berbagai macam persiapan. - Plaining tempur dengan pembatasan target dan perincian dalam pelaksanaan. - Persenjataan mencakup persenjataan darat, laut dan udara.34 Sedang menurut Kholid Ahmad Santut aspek yang harus dipersiapkan dalam rangka jihad ada beberapa aspek diantaranya: a. Aspek ruhi b. Persiapan fikri c. Persiapan jiwa (mental) d. Persiapan jasadi e. Persiapan harta. f. Menyiapkan masyarakat. Demikianlah cakupan-cakupan I‟dad yang telah dipaparkan oleh para ulama‟ yang masing-masing membaginya sesuai dengan methodenya sendiri-sendiri, namun apapun ungkapan dan istilah yang mereka gunakan, mereka semuanya menjelaskan bahwa I‟dad itu mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan dalam peperangan tersebut. Namun dalam hal ini untuk mempermudah pembahasan kami mengikuti istilah pembagian I‟dad maddi dan I‟dad ma‟nawi atau I‟dad imani dengan tanpa menolak atau meremehkan yang lain karena kami melihat bahwa pembagian-pembagian tersebut tidaklah salinng bertentangan. Berikut ini kami sampaikan dalil-dalil atas di syari‟atkannya masingmasing dari bentuk I‟dad sekaligus cakupan-cakupannya.

1.

I’dad Maddi Pertama kali dalil atas wajibnya I‟dad adalah dalil-dalil atas wajibnya jihad itu sendiri. Karena jihad itu tidak tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan kemampuan yang memadai, oleh karena itu ketika kita tidak mampu melaksanakan jihad lantaran tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk melawan musuh, maka I‟dad menjadi kewajiban pula sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

‫بإعداد القوة والرباط اخليل ِف وقت سقوطو للعجز فإن ما ًّيتم كما ُيب ا ًّستعداد للجهاد‬ ‫,و‬ ‫.الواجب إ ًّ بو فهو واجب‬
“Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala kondisi kalah karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib.” 35 Bahkan I‟dad inilah yang menjadikan pembeda antara orang yang beriman dan orang munafiq sebagaimana yang telah kami sampaikan di atas. Alloh berfirman:

َّ ُ ُّ َ َ ُ ْ ُ َ ْ َ ً‫ولَو أَرادوا اخلُروج ألَعدوا لَوُ عدة‬

“Dan seandainya mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. At Taubah : 46) Selain itu I‟dad itu sendiri memang sebuah kewajiban tersendiri, sehingga ia mesti selalu dilaksanakan meskipun jihad telah mampu dilaksakan. Alloh berfirman:

ِ ْ ِ ِّ ِ َ َّ ِّ ْ ْ َّ َ ُّ ِ َ ‫وأَعدوا َلُم مااستَطَعتُم من قُوةٍ ومن ربَاط اخلَْيل‬
“Dan

persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang……” (QS. Al Anfal : 60) Imam Al Qurtubi menafsirkan ayat 60 surat Al Anfal sebagai berikut: “Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh setelah menekankan masalah taqwa, karena seandainya Allah menginginkan tentulah orangorang kafir itu akan dihancurkan dengan kata-kata atau dengan lemparan kerikil di wajah mereka atau bahkan taburan pasir sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi shollallohu „alaihi wa sallam akan tetapi Allah hendak menguji sebagian manusia dengan yang lainya dengan taqdir dan qodho‟Nya. Dan setiap apa yang engkau persiapkan untuk temanmu berupa kebaikan atau bagi musuhmu berupa kejelekan maka itu termasuk dari I‟dadmu.”36 Abu Bashir berkata:”…I‟dad dan jihad (dilakukan bersamaan) ketika jihad telah tegak di atas penopangnya, para tentaranya telah bejalan dan bedera pertempuran telah dimulai. Karena perjalanan I‟dad tidaklah berhenti pada suatu batasan. Ia menyertai semua tahapan jihad dan perkembangannya…”37 Abdul Qodir bin Abdul Aziz berkata:”Telah disebutkan sebuah hadits marfu‟ yang menafsirkan ayat ini (Al-Anfal: 60) sehingga tidak ada tempat lagi untuk mentakwilkan atau membawa pengertian ayat ini kepada pengertian yang lain.” lalu beliau menyebutkan sebuah riwayat dari ‘Uqbah bin Amir yang akan kami tulis di bawah. Lalu beliau melanjutkan:”Oleh karena itu tidak boleh membawa pengertian ayat ini kepada pengertian I‟dad imani dan tarbiyah.”38 Sebagaimana yang telah lalu, I‟dad maddi adalah I‟dad yang mencakup segala persiapan jihad yang berkaitan dengan segala hal yang mendukung terwujudnya kekuatan untuk melawan musuh dan melumpuhkannya ketika pelasanaan jihad itu sendiri. Tentu saja unsurunsur ini adalah yang masih masuk dalam jangkauan kemampuan pertimbangan manusia. Oleh karena itu ketidak mampuan dalam sisi ini (secara pertimbangan materi) akan menggugurkan kewajiban jihad sebagiamana yang telah kita bahas dalam syarat-syarat jihad. Lain halnya dengan I‟dad ma‟nawi. Karena I‟dad ma‟nawi ini berkaitan dengan usaha mewujudkan unsur-unsur penyebab kemenangan yang hanya Alloh saja yang bisa menentukan, maka orang tidak bisa begitu saja meninggalkan jihad dengan alasan masih banyak dosa, masih sering

berbuat maksiyat, imannya belum sempurna atau alasan-alasan lain yang semacam itu. Hal ini akan kami bahas di bawah insya‟Alloh. Sedangkan I‟dad maddi adalah mencakup pembinaan personal yang tangguh dalam pertempuran sekaligus mempersiapkan peralatan dan sarana-sarana yang lain yang dibutuhkan dalam pertempuran. Dalam hal ini banyak di sebutkan dalam hadits maupun oleh para ulama‟ dalam menafsirkan surat Al-Anfal:60.

‫وأعدوا َلم :مسعت رسول اهلل صلى اهلل عليو و سلم يقول وىو على املنرب : عن عقبة بن عامر قال‬ ‫ما استطعتم من قوة، أ ًّ إن القوة الرمي،أ ًّ إن القوة الرمي،أ ًّ إن القوة الرمي‬
Dari Uqbah bin Amir Dia berkata aku mendengar Rosulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda di atas mimbar setelah membaca ‫وأعدوا لهم ما‬ ‫“ استطعتم من قىة‬ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.

‫ستفتح عليكم أرضون ويكفيكهم اهلل فال تعجز أحدكم أن يلهو بسهمو‬
“Kelak akan ditaklukkan untuk kalian negeri-negeri, dan Allah mencukupkan atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas uantuk mempermainkan panahnya.” 39 Dari Abdulloh bin Abdur Rohman bin Abi Husain bahwasanya Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, bersabda:

‫ارموا و : وقال .صانعو ُيتسب ِف صنعتو اخلري و الرامي بو و املمد بو : إن اهلل ليدخل بالسهم الواحد ثالثة اْلنة‬ ‫كبوا وأن ترموا أحب إِل من أن كبوا كل ما يلهو بو الرجل املسلم باطل إ ًّ رميو بقوسو وتأديبو فرسو ومالعبتو أىلو‬ ‫تر‬ ‫ار‬ ‫فإنو من اْلق‬
“Sesungguhnya Alloh memasukkan tiga orang lantaran satu anak panah: pembuatnya yang ikhlas dalam membuatnya menginginkan kebaikan, yang memanahkannya dan orang yang mengambilkannya.” Beliau bersabda:”Melemparlah (memanahlah) dan mengendarailah, dan melemparnya kalian itu lebih aku sukai dari pada mengendarai kendaraan. Segala sesuatu yang dijadikan pemainan seorang muslim adalah batil (sia-sia) kecuali seorang yang memanah dengan busurnya, seorang yang melatih kudanya dan seorang yang bersendau gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq.” 40

‫ختتلف بْي ىذين الغرضْي و : عن عبد الرمحن بن مشاسة أن فقيما اللخمي قال لعقبة بن عامر‬ ‫لو ًّ كالم مسعتو من رسول اهلل صلى اهلل عليو و سلم َل : قال عقبة . أنت كبري يشق عليك‬

‫من علم الرمي ّت كو : إنو قال : وما ذاك ؟ قال :فقلت أليب مشاسة :قال اْلارث .أعانيو‬ ‫تر‬ ‫فليس منا أو قد عصى‬
“Dari

Abdur Rohman bin Syumasah, bahwasanya Fuqoima Al-Lahmi berkata kepada „Uqbah bin Amir:” Engkau bertanding antara dua target

padahal engkau sudah tua yang hal itu berat bagimu?” Uqbah berkata:”Kalaulah bukan karena sebuah perkataan yang aku dengar dari Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, aku tidak akan susah-susah seperti ini. Al-Harits berkata: ”Aku bertanya kepada Abu Syumasah : ”Perkataan apa itu? ”Ia berkata : ”Sesungguhnya beliau bersabda : ”Barangsiapa yang bisa memanah lalu ia meninggalkannya (melupakannya) maka ia bukanlah dari golonganku atau ia telah bermaksiyat.” 41 Telah berkata Amirul Mukminin Umar bin Khotob radhiyallahu „anhu.

‫علموا أو ًّدكم الرماية والسباحة و كوب اخليل‬ ‫ر‬
“Ajarilah anak-anakmu melempar, berenang dan mengendarai kuda.” Abu Syaikh dan Ibnu Mardawih mentakhrij dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhuma tentang firman Allah Ta‟ala:

ٍ َّ ِ ِ ‫وأَعدوا َلُم مااستَطَعتُم من قُوة‬ ْ ْ ْ ْ َ ْ َ ُّ َ
“Dan

persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kalian mampu dari kekuatan “ ( Al Anfal 8: 60 ) . Yakni: Melempar, pedang dan senjata. Ibnu Ishaq dan Ibnu Hatim mentahrij dari Abdullah bin Az Zubair radhiyallahu „anhu menjelaskan ayat di atas, beliau berkata: “Allah memerintahkan mereka mempersiapkan kuda perang”. Sedang menurut Ikrimah R.A: “Kekuatan dari kuda-kuda jantan dan kuda betina”. Pendapat ini sama dengan pendapat Mujahid. Menurut Sa’id bin Musayyib, kekuatan kuda sampai anak panah dan yang lainya. Dari kesemua pendapat di atas sangat mencerminkan kondisi kehidupan mereka dimana waktu itu kuda, pedang, panah adalah alat-alat yang efektif untuk berperang. Sehingga mereka menekankan untuk mepersiapkan hal-hal tersebut.42 Maka kewajiban atas ummat Islam pada hari ini berdasarkan nash Al Qur an (8:60) “Dan persiapkanlah olehmu kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang tertambat …”, adalah membuat meriam dengan segala macam bentuknya dan senapan-senapan serta tank-tank, jet-jet tempur, dan membuat kapal perang dengan segala fariasi bentuknya, seperti kapal selam. Dan diwajibkan bagi mereka untuk mempelajari ilmu dan ketrampilan yang sesuai dengannya. Sehinnga mampu membuat segala macam kekuatan dari kekuatan-kekuatan peperangan, dengan dalil “Apa-apa yang tidak bisa sempurna dari suatu kewajiban yang mutlak kecuali dengannya maka ia menjadi wajib.” 43 Syaikh Abdur Rohman bin Nashir Aali Sa’di berkata:”Pesiapkanlah untuk menghadapi musuh-musuhmu orang-orang kafir yang berusaha untuk menghancurkan kalian dan memusnahkan agama kalian kekuatan yang kalian sanggupi artinya segala kekuatan yang kalian mampu kalian siapkan baik kekuatan akal, kekuatan badan, berbagaimacam persenjataan dan kekuatan yang semacam itu yang membantu mereka dalam pertempuran melawan mereka. Maka masuk ke dalam pengertian ini berbagai macam pabrik yang memproduksi berbagai persenjataan dan alat-alat peperangan seperti meriam, senapan, pesawat terbang,

    

kendaraan darat dan laut, perbentengan dan parit-paritderta alat-alat pertahanan, tak tik dan setrategi yang digunakan kaum muslimin untuk mempertahankan diri dari kejahatan musuh-musuh mereka, belajar arromyu (melempar), keberanian dan pengorganisasia..” 44 Sedang menurut Jamaluddin Al Qosimi: “Yaitu segala sesuatu yang dapat memperkuat peperangan dari segi jumlah namun secara umum kekuatan yang memadai.”45 Kholid Ahmad Santut memandang bahwa bahwa I‟dad untuk jihad itu mencakup dua aspek: pertama, mempersiakan personal dan yang kedua mempersiapkan peralatan. Persiapan personal lebih didahulukan daripada peralatan 46 Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam menjelaskan tentang I‟dad sebagai berikut: I‟dad adalah mempersiapkan kekuatan I‟dad adalah melempar I‟dad adalah melatih kuda dan memeliharanya I‟dad adalah mempersiapkan fisik I‟dad adalah mempersiapkan mental spiritual 47 Menurut Sa’id Hawa ayat ini (Al-Anfal: 60) :” sesungguhnya banyak orang yang salah dalam memahami ayat ini. sesungguhnya ayat ini menncakup segala macam melempar dan segala macam alat, karena (‫)من‬ dalam ayat ini adalahlibayaanil jinsi (menujukkan jenis). Dengan demikian maksud ayat ini adalah persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala macam melempar dan segala macam kuda yang tertambat yaitu segala macam kendaraan untuk berperang yang kalian sanggupi.” 48 Dijelaskan dalam tafsir Al-Manar bahwa: dan ini seperti perkataan ahli tafsir dan dari Hadits (‫ )عرفة الحج‬yang mempunyai makna bahwa kedua hal tersebut adalah rukun yang paling besar dalam babnya itu dikarenakan melempar musuh dari jauh yang dengannya mampu membunuh musuh itu lebih selamat dari pada berhadapan jarak dekat dengan menggunakan pedang, tombak, lembing dan dimutlakkannya Ar Romyu dalam hadits meliputi setiap yang dengannya dilemparkan kepada musuh dari tanah, manjanik, rudal, senapan, meriam dan lain sebagainya sekalipun hal ini belum dikenal pada masa Rosulullah shalallahu alaihi wasallam. Disana ada dalil-dalil lain yang mendorong untuk melempar dengan panah karena dia seperti melempar peluru pada saat ini, lafadz dari ayat (8 Al Anfal:60) adalah lebih menunjukkan pada keumumannya karena ia adalah perintah dengan segenap kemampuannya yang dibebankan pada ummat pada setiap tempat dan zaman. 49 I‟dad tidaklah sebatas latihan-latihan pembinaan personal yang tangguh dan mahir dalam menggunakan persenjataan dan peralatan-peralatan perang yang canggih saja, namun selain itu harus dipersiapkan juga personal-personal yang mahir dalam seni pertempuran dan tak tik-tak tiknya. Selain itu I‟dad ini juga mencakup pembentukan sebuah pasukan yang tertanzim dan teratur dalam sebuah jama‟ah yang akan mengatur semua kebutuhan dan pelaksanaan jihad sesuai dengan proporsinya sehingga perjuangan itu berkerja secara efektif dan efisien. Hal itu sebagaimana

yang dikatakan oleh Abu Bashir dan Abdul Qodir bin Abdul Aziz di atas. I’dad Ma’nawi I‟dad ma‟nawi atau I‟dad imani sebagaimana yang telah lalu adalah persiapan yang berkaitan dengan pembinaan mujahid supaya memiliki derajat keimanan yang setinggi mungkin. Hal ini karena Alloh telah menjajikan untuk memberikan pertolongan kepada hamba-hambanya yang beriman. I‟dad ini juga tidak bisa dilalaikan begitu saja karena penting dan urgennya dalam pelaksanaan jihad itu sendiri.I‟dad dalam sisi ini juga sangat penting dalam rangka persiapan untuk jihad fii sabilillah. Dengan pertimbangan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1. Iman dan amal sholih mempunyai peran yang penting dalam meraih kemenangan. Amal sholih mempunyai peran yang penting dalam memberikan keteguhan ketika bertemu dengan musuh. Sebagaimana yang Alloh katakan:

1.

ِ َّ َّ ِ َ ْ ْ َ َ ْ ْ ُ ِ ْ ‫.إِن الَّذين تَولَّوا مْنكم يَوم الْتَ قى اْلَمعان إَِّنَا استَ زَلُم َّيطَان بِبَ عض ما كسبُوا‬ َ َ َ ِ ْ ُ ْ‫ْ َ ْ الش‬ َ َ َّ

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).”(Ali Imron: 155) Imam Al-Bukhori dalam hadits shohihnya menyebutkab dalam kitabul jihad sebuah bab yang berjudul „amal sholih qoblal qital (amal sholih sebelum perang). Lalu beliau meriwayatkan dari Abu Darda‟, beliau berkata:

‫إَّنا تقتلون بأعمالكم‬
“Sesungguhnya

kalian berperang hanyalah dengan amal-amal kalian.” Ibnu Hajar dalam Syarhnya berkata:”Dalam sebuah atsar dari Abu Darda‟ dengan sanad munqoto‟ secara penuh, berbunyi:

‫أيها الناس عمل صاحل قبل الغزو فإَّنا تقاتِلون بأعمالكم‬
“Wahai

manusia, beramal sholihlah sebelum perperang, karena sesungguhnya kalian berrperang hanyalah dengan amal-amal kalian.”50 Dr. Abdulloh Azzam menulis dalam kitabnya Ittihaful „Ibad sebagai berikut: Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam bersabda

‫إَّنا ينصر اهلل ىذه األمة بضعيفها بدعوهتم و صالهتم و إ خالصهم‬
“Sesungguhnya

Alloh memenangkan umat ini dengan orang-orang lemah mereka melalui do‟a, sholat dan keikhlasan mereka.” (Hadits Shohih diriwayatkan An-Nasa‟I dari Sa‟ad, terdapat dalam Shohihul Jami‟ no. 2384) Ibnul ‘Arobi: “Bagian dari hikmah Alloh yang agung bahwasanya Ia memerintahkan untuk mengadakan persiapan dan kekuatan menghadapi

lawan lalu Alloh memberitahukan bahwa kemenangan itu disebabkan oleh orang-orang lemah, supaya mereka tahu terhadap perintah untuk mengadakan persiapan dan ukuran ibadah yang melihat kepada kebiasaan supaya mereka kembali kepada hakekat masalah, dan bahwasanya kemenangan itu hanyalah dari sisi Alloh yang diberikan melalui orang-orang lemah. Maka pelaksanaan I‟dad adalah karena ibadah sedangkan memahami bahwasanya kemenangan ada pada orang lemah adalah karena tauhid dan segala urusan itu bagi Alloh secara kebiasaan dan kenyataan yang diatur sebagaimana yang Ia kabarkan.” („Aridlotul Ahwadzi At-Tirmidzi VII/194)

ًّ ‫عن سعد بن أيب وقاص رضي اهلل عنو قال قال رسول اهلل صلى اهلل عليو و سلم ىل تنصرون إ‬ ‫] رواه البخاري [ بضعفائكم‬
“Dari

Sa‟ad Bin Abi Waqosh ra. Beliau berkata;”Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam bersabda:” bukankah kalian itu diberi kemenangan hanya karena orang-orang lemah diantara kalian.”51 Ibnun Nuhas berkata:”Ketahuilah bahwasanya ma‟iyyatulloh (keberamaan Alloh) itu ada dua macam. Pertama adalahma’iyyah ‘ammah, yaitu ma‟iyyah yang berarti mengetahui dan meliputi. Sebagaimana firman Alloh:

‫وىو معكم أَيْن ماكنتُم‬ ْ ُ َ َ ْ ُ َ َ َُ َ
“Dan

ِ ِ ْ ٍ ٍ َّ ِ ُ ُ ‫مايَكون من َّنوى ثَالَثَة إِ ًَّّ ىو رابِعهم و ًَّ َْسة إِ ًَّّىو سادسهم وْلأَدَن من ذلِك وْل أَكثَر إِ ًَّّ ىو‬ َ َ ْ ُ ُ َ َ ُ َ ‫ُ َ َ ُ ُ ْ َ َخ‬ َ َُ َ ْ َ َ َ َْ ‫معهم‬ ْ ََُ
“Tiada

Dia bersama kalian dimana saja kalian berada.” (Al-Hadid: 4)

pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya.Dan tiadak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada.”(Al-Mujadalah: 7) Kedua adalah ma’iyyah khoshoh, yaitu ma‟iyah yang berarti pertolongan dan bantuan. Sebagaimana firman Alloh:

ِ ِ ُ ُْ ‫إِذيَقول لِصاحبِو ًََّتزن إِن اهللَ معنَا‬ َ َ َّ ْ ََْ َ
“…

ketika dia berkata pada temannya: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.” (At-Taubah: 40)

‫وأَنتُم اْألُعلَون واهللُ معكم‬ ْ ُ ََ َ َ ْ ْ ُ َ
“……

sedangkan kalai adalah mulia dan Alloh bersama kalian.” (Muhammad: 35) Ma‟iyyah yang kedua ini bersyarat dengan ibadah yang bersih dari nodanoda maksiyat. Maka barangsiapa beribadah kepada Alloh dengan

sebenarnya, maka ia tidak akan terkalahkan, karena Alloh sebagai penolongnya.

‫ذلك بأن اهلل موَل الذين ءامنوا و أن الكافرين ًّ موَل َلم‬
hal itu disebabkan karena Alloh adalah pelindung orang-orang beriman sedangkan orang-orang kafir tidak mempunyai pelindung.”52 Ibnu Qoyyim berkata:”Dan sesungguhnya Alloh hanyalah menjamin untuk menolong agama-Nya, kelompok-Nya dan para wali-Nya yang melaksanakan agama-Nya baik secara ilmu maupun secara amal. Dan Alloh tidak menjamin kepada kebatilan meskipun pelakunya merasa berhak untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Dan begitu pula kemulyaan dan ketinggian hanyalah bagi orang-orang yang beriman sebagaimana ajaran yang dibawa oleh para Rosul dan tertera dalam kitab-kitab-Nya, dan itu semua mencakup ilmu, amal dan keadaan. Alloh berfirman:
“…

ِ ‫وأَنْتُم األَعلَون إِن كْنتُم مؤمنِْي‬ َ ُْ ْ ُ ْ َ ْ ْ ْ َ
“Dan

kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imron: 139) Maka seorang hamba itu mendapatkan kedudukan yang tinggi sesuai dengan iman yang ada padanya. Dan Alloh berfirman:

ِْ ِ ِ ‫ولِلَّو الْعِزةُ ولِرسولِو ولِْلمؤمنِْي‬ ُ َ ُ َ َ َّ َ
“Dan

kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orangorang mu‟min,” (Al-Munafiqun: 8) Maka ia mendapatkan kemuliaan sesuai dengan kadar iman dan hakekathakekatnya yang ada padanya, maka kalau ia kehilangan ketinggian dan kemuliaan maka hal itu adalah sebaliknya karena ia telah kehilangan hakekat keimanan dari dirinya baik secara ilmu maupun amal baik yang lahir maupun batin. Dan begitu pula halnya dengan pembelaan terhadap hamba, hal itu sesuai dengan kadar keimanan yang ada padanya. Alloh berfirman:

ِ َّ ‫إِن اللَّوَ يُدافِع عن الَّذين آمنُوا‬ َ َ َْ ُ َ
“Sesungguhnya

Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (AlHajj: 38) Maka kalau pembelaan kepadanya melemah, maka hal itu adalah karena kekurangannya pada keimanannya. Dan begitu pula dengan pemberian kecukupan dan jaminan, hal itu sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. Alloh berfirman:

ِ ِ ‫يَاأَيُّها النَّيب حسبُك اللَّوُ ومن اتَّبَ عك من الْمؤمنِْي‬ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ُّ ِ َ
“Hai

Nabi, cukuplah Allah menjadi Pelindung bagimu dan bagi orang-orang mu‟min yang mengikutimu.” (Al-Anfal: 64) Maksudnya adalah yang menjaminmu dan yang menjamin para pengikutmu. Dengan demikian jaminan Alloh untuk mereka adalah sesuai dengan ittiba‟ mereka terhadap Rosul-Nya, ketudukan dan ketaatan mereka kepadanya, maka berkurangnya keimanan berkurang pula itu semua.

Dan madzhab ahlus sunnah wal jama‟ah bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Begitu pula perwalian Alloh kepada hamba-Nya sesuai dengan keimanan yang ada padanya. Alloh berfirman:

ِ ‫واللَّوُ وِِل الْمؤمنِْي‬ َ ْ ُ ُّ َ َ
“Dan

Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imron: 68) Dan Alloh berfirman:

ِ ‫اللَّوُ وِِل الَّذين آمنُوا‬ َ َ ُّ َ
“Allah

adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (AlBaqoroh:257) Begitu pula ma‟iyyatuhu al-khoshoh (kebersamaan-Nya yang khusus) diberikan kepada orang yang beriman, sebagaiman firman Alloh:

ِ ‫وأَن اللَّوَ مع الْمؤمنِْي‬ َ ْ ُ َ َ َّ َ
“Dan

sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (AlAnfal:19) Jika iman itu berkurang maka kebersamaan Alloh pun melemah. Maka hak hamba terhadap perwalian Alloh dan ma‟iyyahnya yang khusus sesuai dengan kadar keimanannya. Begitu pula pertolongan dan bantuan-Nya yang sempurna hanyalah untuk orang yang sempurna imannya. Alloh berfirman:

ِ ‫إِنَّا لَنَنصر رسلَنَا والَّذين آمنُوا ِِف اْلَيَاةِ ُّنْيَا ويَوم يَقوم األَشهاد‬ ُ َ ْ ُ ُ َ ْ َ ‫ْ الد‬ َ َ َ ُ ُ ُُ
“Sesungguhnya

Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Ghofir:51) Dan Alloh berfirman:

ِ ِ ِ ْ ‫فَأَيَّدنَا الَّذين آَمنُوا علَى عدوىم فَأَصبَحوا ظَاىرين‬ ُ ْ ْ ِّ ُ َ َ َ َ َِ
“Maka

Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Ash-Shoff: 14) Maka barang siapa berkurang imannya, berkurang pula pertolongan dan bantuannya. Oleh karena itu apabila seorang hamba itu mendapatkan musibah pada diri atau hartanya atau berkuasanya musuh terhadap dirinya, itu semua hanyalah karena dosa-dosanya, baik karena ia meninggalkan kewajiban atau mengerjakan yang haram dengan demikian hal itu di sebabkan karena imannya berkurang. Dengan demikian hilanglah kekacauan yang disebarkan oleh banyak orang terhadap firman Alloh:

ِ ‫ولَن ُيعل اللَّوُ لِْلكافِرين علَى الْمؤمنِْي سبِيال‬ َ َ ُْ َ َ ِ َ َ َ َْ ْ َ
“Dan

Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (An-Nisa‟:141)

Lalu banyak di antara mereka yang menjawab Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan beriman dalam hal hujjah. Setelah diteliti maka yang benar adalah bahwa ayat ini sama dengan ayat-ayat sebelumnnya, yaitu orang kafir itu tidak akan dapat mengalahkan orang yang sempurna imannya, dan jika iman mereka melemah maka musuh-musuh mereka akan dapat menguasai mereka sesuai dengan kekurangan iman mereka. Dengan demikian maka mereka telah memberikan jalan orang kafir untuk menguasai mereka dengan ketaatan yang mereka tinggalkan tersebut. Karena orang mukmin itu adalah mulia, menang, diberi bantuan, diberi pertolongan, di jamin dan dibela di mana saja ia berada. Meskipu ia dikepung dari berbagai penjuru jika ia melaksanakan hakekat keimanan dan kewajiban-kewajibannya baik lahir maupun batin. Dan sungguh Alloh telah mengatakan kepada orang-orang yang beriman:

ِ ‫و ًّ هتِنُوا و ًّ َتزنُوا وأَنْتُم األَعلَون إِن كْنتُم مؤمنِْي‬ َ ْ ُ ْ ُ ْ َ ْ ْ ْ َ َ َْ ََ َ َ
“Janganlah

kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imron 139) Juga Alloh berfirman:

‫فَال هتِنُوا وتَدعوا إَِل السْلم وأَنْتُم األَعلَون واللَّوُ معكم ولَن يَِ كم أَعمالَكم‬ َ ْ ُ َ ْ ْ ُ‫َ َ ْ ُ َ َّ ِ َ ْ ْ ْ َ َ َ َ ُ ْ َ ْ ت‬
“Janganlah

kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 35) Oleh karena itu sesungguhnya jaminan keimanan itu adalah sesuai dengan iman dan amal perbuatan mereka, yang hal itu merupakan tentara-tentara Alloh yang akan menjaga mereka yang tidak akan meninggalkan mereka dan tidak akan berpisah dengan mereka sehingga Alloh tidak akan mencabutnya dari mereka sebagai mana menyia-nyiakan perbuatan orang-orang kafir dan munafiq karena mereka berbuat bukan untuk Alloh dan juga tidak sesuai dengan perintah-Nya.”53 2. Kelalaian dalam pembinaan iman dan tauhid ini bisa menyebabkan seorang mujahid tidak mendapatkan pahala dari sisi Alloh atau bahkan bisa jadi peperangan yang ia lakukan bukan lagi bernama jihad. Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan bahwasanya seorang badui datang kepada Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, dan bertanya:

‫يا رسول اهلل الرجل يقاتل للمغنم، والرجل يقتل ليُذكر، والرجل يقاتل لريى مكانو؟ وِف رواية يقاتل‬ َْ ُ ‫من قاتل « : شجاعة، ويقاتل محية فمن ِف سبيل اهلل؟ فقال رسول اهلل صلى اهلل عليو وسلم‬ ‫.»لتكون كلمة اهلل ىي العليا فهو ِف سبيل اهلل‬
“Wahai

Rosululloh, seseorang berperang untuk mencari ghonimah, seseorang lagi berperang berperang supaya ia disebut-sebut dan seseorang lagi berperang supaya dilihat kedudukannya – dalam riwayat

lain “berparang karena pemberani dan berperang karena kesombongan – . Siapakah di antara mereka yang berperang di jalan Alloh?” Maka beliau menjawab:”Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimatulloh, dialah yang berada di jalan Alloh.”54 Oleh karena itu seorang yang berperang tidak boleh berperang kecuali atas niat ikhlas untuk Alloh semata, bukan untuk kesombongan, bukan untuk kebanggaan dan bukan pula untuk riya‟. Karena itu semua bisa mengahalangi seorang mujahid untuk meraih pala jihadnya. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, bersabda:

ِ ِ َِْ ِ ِ ِ ِ ‫إِن أَول النَّاس يُقضى يَوم الْقيَامة علَْيو رجل استُشهد فَأُِتَ بِو فَعرفَوُ نِعموُ فَعرفَها قَال فَما عمْلت فِيها‬ ْ ٌ ُ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ َ َّ َّ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ِ ُ ِ ِ ‫قَال قَاتَ ْلت فِيك حَّت استُشهدت قَال كذبْت ولَكنَّك قَاتَ ْلت ألَن يُقال جر ٌ فَقد قِيل ّتَّ أُمر بِو‬ َ َ ِ َ َ َ َ َ ُ ْ ِ ْ ْ َّ َ َ ُ َ َ ْ َ ‫َ ْ َ َ َ يء‬ ِ ِِ ِ ِ ‫فَسحب علَى وجهو حَّت أُلْقي ِِف النَّار‬ َ َّ َ ْ َ َ َ ُ
“Sesungguhnya

manusia yang pertama kali putuskan perkaranya pada hari kiyamat kelak adalah seorang yang mati syahid. Maka didatangkanlah ia lalu ia ditunjukkan semua nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu iapun mengetahuinya. Alloh bertanya kepadanya:”Kau pergunakan untuk apa kenikmata-kenikmatan tersebut?” Ia menjawab:”Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Alloh mengatakan:”Kau bohong, kau berperang agar kau dikatakan pemberani, dan kau telah dikatakan sebagai pemberani.” Maka ia diperintahkan untuk diseret diatas mukanya sampai ia dilemparkan kedalam neraka.” 55 Begitu pula orang yang berperang karena ashobiyah ia bisa kehilangan pahala jihadnya. Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa

‫َ ْ َ َْ َ َ ٍ ِ ِّ ٍ ْ ُ َ َ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ِ ة‬ ٌ َّ‫من قُتِل َتت رايَة عميَّة يَدعو عصبِيَّةً أَو يَْنصر عصبِيَّةً فَقْت لَةٌ جاىلِي‬

terbunuh karena berperang di bawah bendera fanatisme golongan, ia menyeru kepada fanatisma atau ia membela karena fanatik maka matinya adalah mati jahiliyyah.”56 Atau orang yang mati dalam medan pertempuran namun ia mencuri harta ghonimah atau yang disebut dengan ghulul, ia juga bisa akan masuk neraka lantaran perbuatannya tersebut, meskipun ia mati dalam pertempuran. Ketika terjadi perang Khoibar Umar bin Khothob menemui para sahabat nabi shollallohu „alai wa sallam, lalu mereka mengatakan:”Si Fulan syahid, si fulan syahid dan si fulan syahid.” Sampai mereka melewati seseorang lalu mereka mengatakan:”Si Fulan syahid.” Maka nabi shollallohu „alai wa sallam, mengatakan:

« ‫»كال إين رأيتو ِف النار ِف بُردة غلَّها أو عباءة‬ َ
“Tidak,

sungguh aku melihat dia di dalam neraka karena ia telah mencuri harta ghonimah berupa burdah(selimut) atau „aba‟ah(sejenis mantel).” 57 Dan dari Abdulloh bin Amr, beliau berkata:

ِ ُ ََ ‫كان علَى ثَقل النَّيب صلى اهلل عليو وسلم رجل يُقال لَوُ كِْكِرةُ فَمات فَقال رسول اللَّو صلى اهلل عليو‬ ِّ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ‫َُ ٌ َ ُ ر‬ َُ ِ َ ِ ‫فَذىبُوا يَْنظُرون إِلَْيو فَوجدوا عبَاءَة قَد غلَّها )ىو ِِف النَّار( وسلم‬ ََ َُ َ َ ْ ً َ ُ َ َ ُ

“Dalam

bawaan Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, ada seseorang yang bernama Kirkiroh yang mati terbunuh. Lalu Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam bersabda:”Dia masuk neraka.” Maka para sahabat pergi melihatnya ternyata mereka mendapatkan ia telah mencuru „aba‟ah dari harta ghonimah.”58 Dengan demikian jelaslah bahwa I‟dad (pembinaan) iman tidak bisa diremehkan. Oleh karena itu segala bentuk pembinaan yang mendukung pada pembinaan iman haruslah diupayakan disamping I‟dad maddi. Pembinaan ini mencakup segala bentuk pembinaan iman, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Ia mencakup ilmu dan amal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qoyyim. Beliau mengatakan:”Dan sesungguhnya Alloh hanyalah menjamin untuk menolong agama-Nya, kelompok-Nya dan para wali-Nya yang melaksanakan agama-Nya baik secara ilmu maupun secara amal.” Ia mencakup dakwah, tarbiyah dan tazkiyatunnafs serta mendidik jiwa sepaya berakhlaq dengan akhlaq yang Islami, memberikan perhatian terhadap kegiatan belajar dan mengajar „ilmu syar‟I serta berusaha untuk mewujudkan sebuah kelompok yang mempunyai nilai yang cukup tinggi baik akhlaq maupun keyakinan dan juga hal-hal syar‟I lainnya yang membantu terwujudnya perkumpulan Islami yang bersih, sebagaimana yang dikataan oleh Abu Bashir yang kami sebutkan diatas. Dalam kesempatan yang lain beliau juga mengatakan bahwa kekuatan moral adalah beramal dengan sungguh-sungguh dan serius untuk merealisasikan tauhid dengan berbagai macamnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ahlus sunnah wal jama‟ah. Ibnu Qoyyimsendiri menyebutkan lagi lebih rinci tertang ilamu dan amal itu sebagai berikut:” ‟Ubudiyyah itu bertingkat-tingkat sesuai dengan ilmu dan amal. Adapun ilmu itu mempunyai dua tingkatan: pertama; al-„ilmu billah (ilmu tentang Alloh), yang kedua: al-„ilmu bidiinihi (ilmu tentang agamanya). Adapun Ilmu tentang Alloh itu ada lima tingkatan: ilmu tentang dzat Alloh, ilmu tentang sifat-sifat-Nya, tentang perbuatan-Nya, tentang nama-nama-Nya dan tentang apa-apa tentang hal-hal yang tidak layak bagi-Nya. Dan ilmu tentang diin-Nya ada dua tingkatan; yang pertama; diin-Nya yang berarti perintah syar‟I dan ini adalah jalan lurus yang menyampaikan kepada-Nya. Yang kedua; diin-Nya yang berarti pembalasan-Nya, yang mencakup ganjaran dan siksa-Nya, yang masuk kedalam pengertian ini juga adalah ilmu tentang Malaikat-malaikat, kitabkitab dan para Rosul-Nya. Adapun tingkatan-tingkatan amal ada dua tingkatan, yaitu; tingkatan ashhabul yamin dan tingkatan as-sabiqin al-muqorrobin. Adapun tingkatan ashabul yamin adalah melaksanakan kewajibankewajiban, meninggalkan hal-hal yang haram dengan masih melaksanakan hal-hal yang mubah, sebagian yang makruh dan meninggalkan sebagian hal-hal yangmustahab. Dan adapun tingkatan al-muqorrobin adalah melaksanakan hal-hal yang wajib, meninggalkan hal-hal yang haram dan makruh, zuhud terhadap

apa saja yang tidak yang tidak bermanfaat bagi akherat mereka dan waro‟ terhadap apa saja yang mereka takutkan merugikan akhirat mereka.”59 Semua hal yang tercakup dalam perkata Ibnu Qoyyim di atas haruslah diusahakan semaksimal mungkin. Bagimana membangun ilmu dalam berbagai cakupannya bisa terwujud dengan baik, sehingga menumbuhkan sebuah keyakinan dan pola pikir yang benar, sekaligus mewujudkan pembinaan yang mencakup amalan-amalan keimanan semaksimal mungkin. Dari pembinaan ini diharapkan pasukanyang disiapkan untuk bertempur melawan musuh ini mempunyai keyakinan dan tashowwur yang lurus tentang Islam sekaligus berada dalam tingkatan amal yang sesuai dengan tuntutan syar‟i. Catatan : Namun demikian di sini ada hal yang perlu untuk diperhatikan yaitu bahwasanya Al-„Adalah (bukan orang fasiq) bukan termasuk syarat wajibnya jihad. Sehingga orang tidak bisa meninggalkan jihad begitu saja dengan alasan belum mempunyai keimanan yang kuat atau melarang orang lain untuk berperang dengan alasan yang sama. Atau orang merasa tiodak mempunyai kewajiban jihad karena ia masih merasa menjadi orang fasiq lantaran dosa-dosanya. Hal itu karena memang „adalah bukanlah syarat wajibnya jihad, sebagaimana pada bab IV telah kami sebutkan syarat-syarat jihad dan tidak ada di sana disebutkan bahwa al„adalah itu termasuk syarat wajibnya jihad. Namun jihad itu tetap harus dilaksanakan meskipun bersama orang-orang fasik. Sebagaimana yang dikatakan Al-Jashshosh:

‫اْلهاد واجب مع الفساق كوجوبو مع العدول، وسائر اْلية املوجبة لفرض اْلهاد َل يفرق بْي فعلو‬ ‫فإن الفساق إذا جاهدوا فَ ُهم مطيعون في ذلك مع الفساق ومع العدول الصاْلْي، وأيضا‬
”Jihad

itu hukumnya wajib meskipun bersama orang-orang fasik sebagaimana wajib pula terhadap orang-orang „adil (bukan orang fasiq). Dan seluruh ayat yang menerangkan wajibnya jihad tidaklah membedakan antara dilaksanakan dengan orang-orang fasiq maupun dilaksanakan bersama orang-orang „dil dan sholih. Juga karena orangorang fasik itu jika mereka berjihad maka mereka ketika itu mereka adalah orang-orang yang taat.” Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab (XIX/279)60 Bahkan para ulama‟ secara jelas-jelas membolehkan untuk meminta tolonng kepada orang-orang fasik dan munafik dalam peperangan. Hal itu sebagaimana dikatakan Asy-Syaukani:

‫وجتوز ا ًّستعانة باملنافق إمجاعا ًّستعانتو صلى اهلل عليو وسلم بابن أُيب وأصحابو، :قال ِف البحر‬ َّ ‫وجتوز ا ًّستعانة بالفساق على الكفار إمجاعا، وعلى البغاة عندنا ًّستعانة علِي باألشعث‬ ُ ّ َ
“Disebutkan

dalan kitab Al-Bahr;”Dan diperbolehkan meminta tolong kepada orang munafiq secara ijma‟ karena Rosululloh shollallohu „alai wa sallam, telah meminta tolong kepada Abdulloh bin Ubay dan sahabatsahabatnya. Dan boleh pula meminta tolong kepada orang-orang fasiq dalam rangka melawan orang kafir secara ijma‟, dan begitu puladalam

rangka melawan bughot menurutkami karena Ali ra, telah meminta tolong kepada Al-Asy‟ats.” (Nailul Author (VIII/44)61 Bahkan meskipun yang fajir itu pimpinan perang sekalipun. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-„Aqidah Ath-Thohawiyyah

‫واْلج واْلهاد ماضيان مع أوِل األمر من املسلمْي برىم وفاجرىم إَل قيام الساعة ًّ يُبطلهما شيء‬ ‫.و ًّ ينقضهما‬
“Dan

haji serta jihad terus dilaksanakan bersama ulil amri kaum muslimin baik yang baik maupun yang jahat, sampai hari kiyamat, tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu apapun.” [Syarhul „Aqidah Ath-Thohawiyah terbitan Al-Maktab Al-Islami Th. 1403 hal. 437]62 Bahkan mungkin malah orang-orang semacam mereka bisa jadi mempunyai peran yang baik dalam kancah peperangan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu „alai wa sallam,

‫إِن اهلل عز وجل سيُؤيد ىذا ِّين بَأقْوام ًَّ خالَق َلُم‬ ‫َّ َ َّ َ َ َ َ ُ َ َ الد‬ َ َ َ ٍ
“sesungguhnya

Alloh akan mengokohkan agama ini dengan kaum yang tidak mempunyai bagian apapun (di akherat).” [HR. Ahmad dan Thobroni dari Abi Bakroh dan rijalnya tsiqot (terpercaya) (Majmu‟uz Zawa‟id V/305)]63 Dan di antara mereka ada yang berperang dengan peperangan sangat dahsyat, namun ia tidak sabar menahan lukanya sehingga ia bunuh diri, lalu Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam mengatakan:

ِ ِ َ ِ ُ َّ َ ‫َ ُ َ َ الد‬ َّ َ ‫وإِن اللَّوَ لَيُؤيِّد ىذا ِّين بِالرجل الْفاجر‬
“Dan

‫فهذا يبيح ا ًّستعانة على أىل اْلرب بأمثاَلم وعلى أىل البغي بأمثاَلم من املسلمْي الفجار الذين‬ ‫ ًّ خالق َلم، وأيضا فإن الفاسق مفتض عليو من اْلهاد ومن دفع أىل البغي كالذي افتض على‬ ‫املؤمن الفاضل فال ُيل منعهم من ذلك، بل الغرض أن يُدعوا إَل ذلك‬ َْ
“Hadits

sesungguhnya Alloh benar-benar mengokohkan agama ini dengan orang fajir.” (HR. Al-Bukhori dari Abu Huroiroh) 64 Ibnu Hazm setelah menyebutkan kedua hadits di atas mengatakan:

ini membolehkan meminta bantuan kaum muslimin yang banyak melakukan dosa dan tidak memiliki bagian (di akherat) yang sejenis mereka untuk melawan ahlul harbi dan sejenisnya serta ahlul baghyi dan sejenisnya. Selain itu sesungguhnya orang fasik itu juga mempunyai kewajiban berjihad dan memerangi ahlul baghyi sebagaimana kewajiban orang beriman yang mulia. Oleh karena itu tidaklah halal melarang mereka untuk berjihad, bahkan seharusnya mengajak mereka untuk melakukannya.” (Al-Muhalla (XI/113-114) 65 Selain dari pada itu sesungguhnya orang yang banyak melakukan maksiyat itu sendiri mempunyai harapan yang baik kalau ia ikut berjihad. Karena dengan berjihad itu Alloh akan mengampuni dosa-dosanya, sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah ketika menyitir surat Ash-Shof ayat: 10, beliau berkata:

‫ومن كان كثري الذنوب فأعظم دوائو اْلهاد، فإن اهلل يغفر ذنوبو، كما أخرب اهلل ِف كتابو بقولو‬ ِ ‫، ومن أراد التخلص من اْلرام والتوبة و ًّ ميكن رده إَل }يَغف ْر لَكم ذُنُوبَكم{ سبحانو وتعاَل‬ ُْ ُْ ْ ‫أصحابو فلينفقو ِف سبيل اهلل عن أصحابو، فإن ذلك طريق حسنة إَل خالصو مع ما ُيصل لو من‬ ‫أجر اْلهاد‬
“Dan

barang siapa yang mempunyai banyak dosa, maka obat yang paling besar baginya adalah jihad. Karena sesungguhnya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya sebagaimana yang Alloh kabarkan dalam ِ firman-Nya {‫”}يَغفر لَكم ذُنُوبَكم‬Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian.” . Dan ُْ ُْ ْ ْ barang siapa yang ingin terbebas dari barang haramdan ingin bertaubat, namun tidak memungkinkan baginya untuk mengembalikan barangbarang haram tersebut kepada pemiliknya, maka hendaknya infaqkan barang-barang tersebut untuk kepentingan jihad fii sabilillah, karena hal itu adalah jalan yang baik untuk membebaskan dirinya dari barangbarang tersebut selain ia juga mendapatkan pahala jihad.” 66 Dengan demikian jelaslah bahwa untuk melaksanakan jihad itu tidaklah disyaratkan bebas dari kefasikan dan „adalah bukanlah syarat wajibnya jihad. Namun meskipun para ulama‟ telah berijma‟ atas bolehnya meminta bantuan kepada orang fasiq dan munafiq sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaukani di atas, hal itu bukanlah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh imam atau pimpinan perang. Akan tetapi hal itu dikembalikan kepada pertimbangan bahaya dan manfaatnya serta untung dan ruginya. Jika hal itu merugikan maka imam tidak boleh melakukannya. Oleh karena itu imam tidak boleh mengikutsertakan mukhodzil dan murjif dalam pertempuran karena bahaya yang dibawa lebih besar dari pada manfaatnya, sebagaimana yang telah dibahas di atas. Dalam hal ini Abdul Qodir bin Abdul Azizberkata:”Dan sebab dibebankannya kewajiban jihad kepada orang yang tidak „adil dan fasik adalah karena padanya masih terdapat mutlaqul iman yang mewajibkannya untuk menerima ketentuan-ketentuan syari‟at meskipun padanya tidak terdapat al-iman al-mutlaq (iman yang sempurna). Oleh sebab itu orang fasik itu dengan keimanan yang kurang padanya masuk kedalam keumuman firman Alloh: (At-Taubah: 38) dan ayat-ayat yang lain. Namun demikian, amir peperangan berhak melarang orang yang fajir dan fasik untuk u\ikut berperang apabila bahaya yang ia bawa lebih besar dari pada manfaatnya.”67 Dan bolehnya imam mengikutkan orang-orang fasiq dalam barisan perang itu bukan berarti ia kemudian membiarkannya terus berbuat maksiat, namun kewajiban amar ma‟ruf dan nahi munkarpun tetap harus ia laksanakan sesuai dengan tuntutan syar‟ai dan rambu-rambunya.

Dengan demikian maka dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.

I‟dad imani atau ma‟nawi adalah unsur yang penting dalam I‟dad yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

2.

3.

namun demikian pelaksanaan jihad tidak boleh diundur dengan alasan I‟dad iamani yang belum mencukupi. Adapun jika I‟dad maddi, maka jihad boleh diundurkan pelaksanaannnya jika kemampuannya belum mencukupi. Sehingga jika I‟dad maddi telah sampai kepada batasan tertentu yang menurut perkiraan sudah cukup untuk melawan musuh maka jihad harus dilaksanakan meskipun secara kwalitas keimanan masih banyak yang berbuat maksiat sebab kefasikan tidaklah menggugurkan kewajiban jihad. Pembinaan iman haruslah dilakukan terus menerus baik sebelum jihad, ketika jihad maupun setelah jihad. Hal itu dengan senantiasa mebiasakan diri dalam melaksanakan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan syari‟at itu sendiri dan bukan berarti sibuk dengan hal-hal yang sunnah kemudian melailaikan hal-hal yanng wajib. Bahkan jihad itu sendiri merupakan salah satu bentuk pembinaan iman yang paling besar.

1. Tindakan Alternatif Ketika Tidak Mempunyai Kemampuan Untuk Melawan Musuh
Sebelum memulai peperangan, kita dihadapkan dengan kewajiban dakwah menyeru orang-orang kafir tersebut mengajak kembali kepada ajaran yang benar sebelum memerangi mereka sebagaimana yang telah lalu. sedangkan orang kafir itu ada orang kafir asli dan orang murtad yang masing-masing dalam hal mengajak mereka untuk kembali kepada Islam itu mempunyai hukum yang diperselisihkan oleh para ulama‟. Adapun dakwah terhadap orang kafir asli, maka menurut pendapat yang rojih adalah siapa saja yang kita ketahui belum sampai dakwah kepadanya, maka kita tidak boleh memeranginya kecuali setelah kita terangkan tentang Islam kepadanya –walaupun sebagian mereka mengaku menerima dakwah tersebut- Adapun jika telah sampai dakwah kepada mereka, kaum muslimin boleh mendakwahi mereka sebagai peringatan atau langsung memerangi mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu karena mereka sudah tahu apa yang dikehendaki oleh kaum muslimin. Bahkan bisa jadi kalau diawali dengan dakwah dulu akan membahayakan kaum muslimin, maka tidak apa-apa untuk diperangi tanpa dakwah terlebih dahulu. Adapun terhadap orang murtad maka wajib hukumnya memerangi orangorang murtad setelah berdiskusi dengan mereka tentang Islam untuk mengajak kembali kepada Islam. Mengajak kembali kepada Islam ini wajib hukumnya menurut jumhur ulama‟ sebagimana yang telah kita bahas di atas. Jika mereka tetap tidak mau kembali kepada Islam, mereka diperangi sebagaimana orang kafir harbi dalam hal bolehnya menyergap mereka dan menyerang pada waktu malam hari. Setelah kewajiban dakwah, menyeru mereka kepada Islam telah dilaksanakan, namun mereka tetap saja menolak untuk menganut ajaran Islam, maka wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban jihad melawan mereka sampai tidak ada yang diibadahi di dunia ini

kecuali Alloh saja. Yang demikian ini ketika kaum muslimin dalam kondisi perkasa dan minimal mempunyai kemampun yang memadai untuk melawan mereka. Adapun ketika tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya, maka berdasarkan kajian yang telah lalu, ada dua alternatif yang memungkinkan untuk dilakukan oleh kaum muslimin; Pertama; melakuakan I’dad untuk jihad fii sabilillah dengan berpegang kepada ayat-ayat sabar dan berlapang dada tehadap orang-orang kafir serta menahan diri untuk tidak melawan orangorang kafir tersebut sampai terwujudnya kekuatan yang memadai sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syar’i. Imam Al Qurtubi menafsirkan ayat 60 surat Al Anfal sebagai berikut: “Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh setelah menekankan masalah taqwa, karena seandainya Allah menginginkan tentulah orangorang kafir itu akan dihancurkan dengan kata-kata atau dengan lemparan kerikil di wajah mereka atau bahkan taburan pasir sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi shollallohu „alaihi wa sallam akan tetapi Allah hendak menguji sebagian manusia dengan yang lainya dengan taqdir dan qodho‟Nya. Dan setiap apa yang engkau persiapkan untuk temanmu berupa kebaikan atau bagi musuhmu berupa kejelekan maka itu termasuk dari I‟dadmu.”68 Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, meskipun beliau telah menyatakan bahwa ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan berlapang dada terhadap orang-orang kafir itu telah mansukh, namun beliau juga memberikan rukhshoh bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh untuk beramal dan berpegang dengan ayat-ayat tersebut. Beliau berkata:

‫فمن كان من املؤمنْي بأرض ىو فيها مستضعف أو ِف وقت ىو فيو مستضعف فليعمل بآية الصرب‬ ‫والصفح والعفو عمن يؤذي اهلل ورسولو من الذين أوتوا الكتاب و كْي ،وأما أىل القوة فإَّنا‬ ‫املشر‬ ‫يعملون بآية قتال أئمة ا لكفر الذين يطعنون ِف الدين وبآية قتال الذين أوتوا الكتاب حَّت يعطوا‬ ‫اْلزية عن يد وىم صاغرون‬
“Orang-orang

berriman yang berada di suatu daerah dalam keadaan lemah atau berada pada suatau masa kelemahan, maka hendaknya ia beramal dengan ayat-ayat kesabaran, berlapang dada dan memaafkan terhadap orang yang mencela Alloh dan Rosul-Nya, baik mereka itu ahlul kitab maupun orang-orang musyrik. Adapun orang-orang yang mempunyai kekuatan,
mereka mesti beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi para pemimpim orang-orang kafir yang menghina agama dan beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi ahli kitab sampai mereka mau membayar jizyah dalam keadaan hina.”
69

Dalam tempat yang sama beliau juga mengatakan:

‫ِف حق كل مؤمن قوي )املعاندين: كذا باملطبوعة ولعلها )وصارت آية الصغار على املعاىدين‬ ‫يقدر على نصر اهلل ورسولو بيده أو بلسانو ،وهبذه اْلية وحنوىا كان املسلمون يعملون ِف آخر عمر‬

‫رسول اهلل وعلى عهد خلفائو الراشدين كذلك ىو إَل قيام الساعة ، ًّ تزال طائفة من ىذه األمة‬ ‫،و‬ ‫قائمْي على اْلق ، ينصرون اهلل ورسولو النصر التام‬
“Dan

ayat kehinaan terhadap orang-orang yang menolak adalah berlaku bagi setiapp orang mukmin yang kuat yang mampu untuk membela Alloh dan Rosul-Nya baik dengan tangannya atau lisannya. Dan ayat semacam inilah yang diberlakukan kaum muslimin pada masa akhir umur Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam dan pada masa Khulafa‟ Rosyidin. Dan begitulah sampai
hari qiyamat akan senantiasa ada satu kelompok dari umat ini yang tegak di atas kebenaran yang membela Alloh dan Rosul-Nya dengan pertolongan yang sempurna.”
70

Dalam hal inipun juga berarti malas atau pengecut takut mati, namun memperhitungkan untuk meraih kemenangan dalam peperanganpun juga merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan sama sekali. Memang kemenangan atau kekalahan itu semuanya di tangan Alloh, dan hal itu merupakan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Namun kalua keyakinan itu menjadikan kita melalaikan kita untuk berusaha keras dalam rangka mewujudkan tujuan-tujuan disyari’atkannya jihad, sehingga semuanya hanya berfikir untuk hanya sekedar malakukan bunuh membunuhsaja yang akhirnya tidak ada sekelompokpun dari umat Islam yang berusaha untuk meraih kemenangan itu, maka hal itupun juga tidak bisa dibenarkan, karena meraih kemenanganpun merupakan sebuah target dalam jihad itu sendiri selain di sisi lain memang jihad adalah sebuah ibadah yang ketentuannya sudah ditetapkan oleh syar’i.

1.

2.

Di antara yang menunjukkan bahwa kaum muslimin secara umum harus memikirkan dan mempertimbangkan bagaimana bisa meraih kemenangan dalam melaksanakan jihad adalah point-point sebagai berikut: Kewajiban jihad sendiri menjari gugur ketika kemampuan untuk melawan musuh itu tidak ada. Hal ini telah kami paparkan dalam syarat-syarat jihad sehingga tidak perlu lagi kami paparkan di sini. Di sana telah kami sebutkan pendapat para ulama‟ tentang patokan yang dijadikan pertimbangan dalam masalah kemampuan itu sendiri baik kwalitas maupun kwantitas. Seaindanya kita tidak diperintahkan untuk mempertimbangkan dan berusaha menyusun strategi bagaimana supaya kita dapat meraih kemenangan dalam melaksanakan jihad itu, tentu tidaklah disyaratkan lagi kemampuan melwan musuh dalam pelaksanaan jihad itu sendiri. Ulama‟ telah bersepakat atas wajibnya menegakkan khilafah dan mengangkat kholifah untuk mengatur urusan kaum muslimin dan menegakkan syari‟at Alloh di muka bumi. Dan kalau kewajiban untuk menegakkan khilafah ini tidak dilaksanakan maka berdosalah setiap orang yang mengabaikannya. An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim XII/205 :”Para ulama‟ berijma‟ atas wajibnya kaum muslimin untuk menganngkat seorang kholifah.” Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya I/264 ketika menafsirkan ayat

‫إين جاعل ِف األرض خليفة‬
“Ayat

ini merupakan dasar pengangkatan imam atau kholifah yang didengar perkataannya dan ditaati, untuk supaya menyatukan kata dan dilaksanakan hokum-huukkum kholifah. Dan kewajiban ini tidak ada perselisihan di kalangan umat Islam maupun di kalangan para imam, kecuali sebuah pendapat yang diriwayatkan dari Al-Ashom – seorang mu‟tazilah – karena ia buta tentang syari‟at.” Secara lebih jalas dalildalilnya dipaparkan secara panjang lebar dalam kitab-kitab nidzomul

1.

1. 2. 3. 4.

hukmi seperti Al-Ahkam As-Sulthoniyyah dan Imamamtul „Udzma „Inda Ahlis Sunnah Wal Jama‟ah. Semua tujun-tujuan disyari‟atkannya jihad itu tidak akan tercapai sehingga kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam berjihad. Sedangkan tujuannya yang paling utama adalah sirnanya kekafiran itu sendiri sebagai mana yang telah kita bahas sebelumnya. Di antara sebab-sebab lain disyari‟atkannya jihad adalah membebaskan tawanan, membebaskan orang-orang yang tertindas dan membela diri dari serangan lawan. Dan jelas bahwa perintah-perintah tersebut tidak mungkin terlaksana dengan baik kecuali jika para mujahidin berusaha keras untuk melumpuhkan kekuatan dalam medan jihad. Kedua; tetap melakukan jihad karena dorongannya yang kuat untuk mati syahid, namun tetap dengan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuannya yang telah kita bahas pada masalah istitho’ah pada babistitho’ah dan inghimas, karena istitho’ah itu adalah syartu wujub dan bukan syartu shihhah. Model jihad semacam inipun bukan berarti hannya sekedar ngawur dalam pelaksanaannya. Artinya meskipun ia tidak mempunyai tujuan dalam jihadnya itu untuk meraih kemenangan bagi dirinya atau kelompoknya, namun ia atau kelompok tersebut mesti mempertimbangkan bagaimana jihadnya mempunyai peran dalam memenangkan perjuangan umat Islam secara umum, untuk mewujudkan tujuan-tujuan disyari‟atkannya jihad sebagaimana yang telah kami singgung baru saja di atas. Jadi yang dimaksud tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan di sini adalah kemenangan bagi dirinya atau kelompoknya, namun tetap mempertimbangkan kemenangan Islam dan kaum muslimin secara umum atau minimal tidak merugikan kaum muslimin secara umum atau kelompok mujahidin yang lain. Oleh karena itu jumhur ulama‟ mensyaratkan dalam melakukan iqtiham (menceburkan diri ke barisan musuh) dengan beberapa syarat sebagaimana yang dikatakan Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif setelah beliau memaparkan perkataan para ulama‟, yaitu: Ikhlas Nikayah (membunuh, melukai musuh) Menggentarkan mereka Memperkuat keberanian kaum muslimin Dan beliau menyebutkan bahwasanya Ibnu Qudamah dan AlQurthubi membolehkannya meskipun hanya bermodalkan niat ikhlas mencari mati syahid. Oleh karena itu hendaknya menurut beliau janganlah orang yang berjihad itu hanya sekedar berdasarkan mencari mati syahid saja tanpa ada tujuan lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan mujahidin, meskipun demikian beliau juga menerangkan bahwa kalau kita katakan orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut berbuatanya tercela dan tidak benar, ini adalah sebuah kedholiman, dan iqtiham itu boleh meskipun tidak memenuhi syaratsyarat tersebut, meskipun tidak afdlol. Artinya syarat-syarat tersebut

bukanlah syarat syahnya jihad. (secara lebih lengkap lihat: Bab V tentang inghimas/iqtiham) Ibnu Hajar berkata : ”Adapun masalah seseorang yang menyerang musuh yang banyak, maka jumhur menegaskan jika disebabkan oleh keberanian yang luar biasa dan perkiraan bahwa hal itu bisa menggentarkan musuh atau menambah keberanian kaum muslimin atau niat-niat baik lain yang semacam itu, maka hal itu adalah baik. Dan jika melakukannya tanpa dengan pertimbangan sama sekali maka tidak boleh, apalagi kalau hal itu melemahkan semangat kaum muslimin. Wallohu a‟lam. (Fathul Bari Kitabut Tafsir VIII/33 penjelasan hadits no. 4516) Al-Qurthubi berkata : ”Para ulama‟ berselisih pendapat pada masalah seseorang yang menceburkan diri dalam peperangan dan menyerang kedalam barisan musuh sendirian. Adapun Al-Qosim bin Mukhoimiroh, AlQosim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama‟ kita berpendapat; tidak apa-apa seseorang menyerang musuh yang berjumlah sangat banyak jika ia mempunyai kekuatan dan mempunyai niat ikhlas untuk Alloh, namun jika tidak mempunyai kekuatan, hal itu termasuk dalam katagori kebinasaan. Dan ada yang berpendapat jika ia mencari mati syahid dan mempunyai niat ikhlas, maka boleh ia menyerang karena ia mempunyai satu tujuan dan hal itu jelas terdapat dalam firman Alloh:
1. 1. i. i. i. i.

“Dan

di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridlon Alloh dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Baqoroh: 207) Imam Ghozali berkata : “dalam kitab Al-Ihya‟ Bab Amar ma‟ruf Nahi Munkar:”Tidak diperselisihkan lagi bahwasanya seorang muslim boleh menyerang ke barisan musuh sendirian, walaupun ia tahu ia akan terbunuh. Hal yang demikian itupun juga diperbolehkan dalam amar ma‟ruf nahi munkar sebagaimana dalam peperangan. Akan tetapi jika dia tahu bahwa perbuatannya tersebut tidak memberikan kerugian pada musuh, seperti orang buta atau orang lemah yang melemparkan diri ke dalam barisan musuh, hal tersebut adalah haram.dan masuk kedalam pengertian umum dari ayat yang melarang menjerumuskan diri ke dalam kehancuran. Dan hal tersebut diperbolehkan hanyalah jika dia tahu tidak akan terbunuh kecuali setelah ia membunuh, atau ia tahu akan menghancurkan keberanian orang-orang kafir setelah melihat keberaniannya, dan mereka (orang-orang kafir) akan berkeyakinan bahwa seluruh kaum muslimin tidak banyak memberikan perhitungan terhadap orang kafir, dan mereka cinta akan mati syahid fi sabilillah, lalu kekuatan merekapun menjadi hancur.” (Ittihafus Saadatil Muttaqin fii Syarhi Ihya’I ‘ulumiddin VII/26). Ibnun Nuhas dalam mengomentari perkataan Imam Ghozali

ِ ِ ِ ‫ومن النَّاس من يَشرى نَفسوُ ابْتِغَآءَ م ْرضات اهلل واهللُ رءُوف بِالْعِبَاد‬ ٌ َ َِ ِ َ َ َْ ْ َ ِ َ َ

tersebut berkata:” Dan saya tidak melihat seorangpun yang berselisih pendapat dalam kasus seperti ini. Akan tetapi pada kasus seperti ini, jika bertahannya itu dikarenakan keberanian dengan niat ikhlas untuk mencari mati syahid, dan memungkinkan untuk menyerang musuh dengan panah atau api atau batu atau yang lain yang bisa menyakiti atau membunuh mereka, maka hal semacam inilah yang perlu dikaji. Apakah lebih baik ia bertahan atau lari, dan dalil-dalil yang tercantum pada bab sebelumnya secara jelas menyatakan lebih baik bertahan. Wallohu a‟lam.” (lihat dalam bab IV Syarat-syarat jihad tentang istitho‟ah) Dan banyak lagi keterangan para ulama‟ dalam hal ini yang sebagiannya telah kami sebutkan ketika mengkajiistitho‟ah dan iqtiham. Wallahu ‘alam bish showab
1 HR. Ahmad II/359, V/278 dan Abu Dawud kitab Malahim V/no. 4297 dan dishohihkan oleh AlAlBani dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah: II/647 no. 958 2 HR. Abu Dawud kitabul buyu‟: 45 no. 3462 dan Ahmad II/42, 84 dan Al-Baihaqi dalan As-sunan Al-Kubro V/316 dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah I/42 no. 11 3 Dinukil dari kitab Marohilu Tasyri‟il Jihad, hal. 2 4 Lihat Ahammiyatul Jihad hal. 147-149 5 Ibid 6 Tafsir Ah-Thobari XXV/144 cet. Darul Fikr, Bairut sebagaimana dinukil dalam kitab Marohilu tasyri‟il jihad 7 Tahdzib Syarhul „Aqidah Ath-Thohawiyah hal. 360-361 8 Lihat kitab Marohilu Tasyri‟il Jihad 9Al-Burhan karangan Az-Zarkasyi II/37 10 Perkataan beliau ini dinukil dalam kitab Marohilu Tasyri‟il Jihad 11 Tafsir Al-Qur‟anul „Adzim I/526 12 Tafsir Al-Qur‟anul „Adzim IV/150 13 HR. Muslim dengan menggunakan lafadz tersebut (156, 1923), Ahmad (III/345, 384), Ibnu Hibban (Ihsan- 6780), dan Ibnul Jarud dalam kitab Al-Muntaqo (1031) dari hadits Jabir bin Abdulloh 14 HR. Muslim (1922) 15 HR. Muslim (1924) 16 HR. Ahmad (IV/437) dan Abu Dawud (2484) 17 HR. Muslim (1037, kitabul imaroh no. 175) 18 Dinukil dalam kitab Marohilu tayri‟il jihad dari An-Nasa‟I dalam kitab sunannya (VI/214-215) dan dalam sunan kubro (4401, 8712), Ahmad (IV/104), Ath-Thobroni dalam Al-Kabir (6357, 6358), Ibnu Sa‟ad dalam Thobaqotnya (VII/427), dan Al-Bukhori dalam At-Tarikh Al-Kabir (II/2/17). Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1935 19 Dinukil oleh pengaran kitab Marohilu tayri‟il jihad dari Ma‟alimus Sunan yang dicetak pada catatan kaki Sunan Abi Dawud (III/11)

20 Dinukil dalam kitab Marohilu Tasyri‟il Jihad dari Fathul Bari (VI/56)
21 Lihat kajian ini dalam kitab Marohilu Tasyri‟il Jihad hal. 11

22 lihat Al-jihad wal ijtihad, hal. 206
23 Lihat perkataan Abdul Mun‟im Mushthofa Halimah “Abu Bashir” dalam kitab Hukmul Islam Fid Diimuqrothiyah Wat Ta‟addudiyatil Hizbiyyah, hal. 416 dan Ath-Thoriq Ilaa isti‟naafi Hayah Islamiyya Waqiyami Khilafah Rosyidah, hal.13. 24 Majmu‟ Fatawa (XXVIII / 259) 25 Pemahaman hijroh I‟dad, hal. 156

26 Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 434 27 Fathu al Bari (VI/7) 28 Majmu‟ Fatawa (XV / 174)

29Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 416 30 www.tawhed.com/abuqatada, publikasi tgl. 13 shafar 1422H 31 Lihat Ath-Thoriq ilaa Isti‟nafi Hayah Islamiyah, hal. 15 32 Ibid, hal. 20
33 Al-Umdah fii I‟dadil „Uddah 34 Al jihad Sabiluna 87 35 Majmu‟ Fatawa (XXVIII / 259) 36 Al Jami‟ lilahkamil Qur‟an VIII /35 37 Hukmul Islam fid Dimuqrothiyyah, hal. 416 38 Al-Umdah Fii I‟dadil „Uddah 39 HR.Muslim Babul Imaro (4940, ( 168 ) dan 1918 hal. 857)

40Dikeluarkan oleh At Turmudzi dan beliau mengatakan hadits hasan shohih, di dalam
Shohih At-Tirmidzi 395, no 1637 bab maa jaa‟a fi fadlir romyi fii sabiilillh
41 Hadits hasan shohih diriwayatkan Muslim dalam Babul Imaroh (3939) hal. 169 (1919) hal. 857 42 Durul Mansur Fi Tafsiri Ma‟tsur, As-Suyuthi, (IV /84) 43 Tafsir Al Manar (X / 69) 44 Tafsir As-Sa‟di Taisiirul Karimir Rohman Fii Tafsiiri Kalamil Mannaan, Beirut Libanon, cet. I Th. 1420 H. – 1999 M. Hal. 368 45 Mahasiniu Ta‟wil (VII / 84) 46 Al Muslimun Wa Tarbiyah Asykariyah, hal. 57 47 Pemahaman Hijroh Dan I‟dad. Syaikh Abdullah Azzam: 162 48 Al Asas Fi Tafsir (IV / 2194) 49 Tafsir Al Manar (X / 69) 50 Fathul Bari (VI/30) 51 Ittihaful „Ibad fii Fadlo‟ili jihad, Dr. Abdulloh Azzam tebitan Daaru Ibni Hazm, Yaman thn. 1412 H/1992 M. hal.103 52 Masyari‟il Asywaq ila Mashori‟ul „Usyaq (I/573-574) 53 Ighotsul Lahfan (II/193-195) 54 Muttafaq „Alaih 55 Potongan hadits yang panjang dari Abu Huroiroh riwayat Muslim 56 HR. muslim dari Jundab bin Abdulloh 57 HR. Muslim 58 HR. Al-Bukhori 59 Tahdzb Madarijis Salikin, Abdul Mun‟im Sholih Al-„Ali Al-„Izz terbitan Muassasah Ar-Risalah, Berut, cet. III Th. 1409 H. – 1989 M.

60 Dinukuil dari kitab Al-Umdah Fii I‟dadil „Uddah hal. 71 61 Ibid 62Ibid
63 Dinukuil dari kitab Al-Umdah Fii I‟dadil „Uddah Hal. 9 64 Ibid 65 Dinukil dari kitab Al-Umdah Fii I‟dadil „Uddah Hal. 373 66 Majmu‟ul Fatawa (XXVIII/421-422) 67 Faidlul Karimil Mannaan Ahammu Furudlil A‟yaan, Abdul Qodir bin Abdul Aziz, terbitan Daarul Akhila‟ tanpa tahun, hal. 17 68 Al Jami‟ lilahkamil Qur‟an (VIII /35)

69 Ash-Shorimul Maslul, Tahqiq Kholid bin Abdul Lathif As-Sab‟ ha. 244 70 Ibid

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->