P. 1
Low Frequency Current 1

Low Frequency Current 1

|Views: 407|Likes:
Published by Estu Mahendra

More info:

Published by: Estu Mahendra on Jan 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2014

pdf

text

original

SUMBER FISIS

LOW FRQUENCY CURRENT LFC I
Oleh SUKADI,SST,MMKes

METODOLOGI FISIOTERAPI DENGAN MENGGUNAKAN LISTRIK
A.
1.

Rangsang Elektris dg Arus Searah

2.

Pengertian Arus searah adl suatu arus listrik yg alirannya searah, dg durasi 1 detik atau lebih, menurut terminologi klasik arus searah ini dikenal dg nama arus galvanik. Arus searah berdasarkan modulasinya dikenal ada 2 jenis, yaitu Constan Dirrect Current ( CDC ) dan Interrupted Dirrect Current ( IDC ). Fisika Dasar arus searah konstan / CDC Arus searah konstan /CDC mempunyai frekuensi nol, namun intensitasnya dpt diatur sesuai dg kebutuhan dlm satuan miliamper.

Arus searah konstan pertama kali dikenalkan oleh Leduk sebagai iontoporesis. Jika arus searah digambarkan dlm bentuk grafik maka akan terlihat spt gambar di bawah ini :

Apabila arus searah konstan diterapkan untuk terapi dg intensitas yg tinggi maka menimbulkan perubahan ketegangan membran syaraf ataupun membran otot, tanpa menimbulkan aksi potensial, sehingga tidak menimbulkan kontraksi melainkan adanya perubahan sensasi. Penggunaan arus searah konstan ini sering disebut dg galvanisasi atau iontoporesis. Pada penggunaan arus searah, maka dapat dimodifikasi shg tjd variasi pulsa yg dipakai untuk stimulasi. Variasi tsb bisa berbentuk reversed dirrect current dan interupted dirrect current (IDC).

3. Tujuan
a. Diagnostik 1). Strength Duration Curve (SDC) a). Pengertian SDC mrp gambar kurva grafik hubungan antara intensitas dan durasi arus searah terputus-putus thd suatu terputusotot, dimana diperoleh kontraksi minimal yang dapat dilihat oleh mata. Jenis arus listrik yg digunakan adalah arus searah terputusterputus-putus dg bentuk segiempat (rectangular) dan bentuk segitiga (triangular).

b). Komponen SDC (1). Rheobase adl intensitas minimal pada kurva rectangular yg masih mampu menimbulkan kontrksi minimal pada durasi 1000 ms. (2). Temps utile adl durasi minimal kurva rectangular dimana intensitas masih minimal. Nilai otot normal 10 ms. (3). Chronaxie adl besarnya durasi = intensitas 2 x Rheobase pada kurva rectangular dg durasi 1000 ms, kontraksi minimal.yg dpt dilihat oleh mata. Nilai otot normal 0,1 1 ms. (4). Optimal durasi adl durasi minimal pada kurva triangular dg intensitas minimal dpt diperoleh kontrksi minimal yg dpt dilihat oleh mata. Nilai otot normal 20 ms.

(5). Ambang akomodasi adl intensitas pada kurva triangular dg durasi 1000 ms, dimana masih diperoleh kontraksi minimal yang dapat dilihat oleh mata. (6). Accomodation Quotient (AQ) / Lamda Akomodasi adl nilai besarnya AQ yg diperoleh dari nilai Ambang akomodasi dibagi nilai Rheobase. Besarnya AQ normal 2 ± 6. pada kasus degenerasi syaraf AQ < 1, pada kasus gangguan vegetatif AQ > 6.

c). Syarat yg harus diperhatikan dlm penatalaksanaan SDC. (1). Pemilihan alat yg tepat,ukuran intensitas dan durasi dpt dihitung dg pasti. (2). Otot yg diperiksa tidak boleh lelah. (3). Agar kontraksi minimal dpt dilihat maka ruangan harus terang. (4). Pemasangan kedua elektrode dg ukuran yg sama besar dan diletakkan pada origo dan insertio,dmn katode yg distal. (5). Untuk membuat SDC periodik pada satu otot, maka harus dilakukan dg alat yg sama dan pemeriksa yg sama pula.

d). Penatalaksanaan SDC. (1). Persiapan Penderita (2). Persiapan alat -> pemilihan arus rectangular, triangular. (3). Metode penempatan elektroda : ~ motor point ~ stimulasi secara group ~ nerve conduction (4).dosis intensitas

GRAFIK SDC

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->