Kapitan Pattimura (1783 -1817) PAHLAWAN NASIONAL DARI MALUKU Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy

, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya. Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim ibu yang melahirkannya. Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh Belanda. Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir berpangkat Sersan. Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816, Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku. Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg. Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur. Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya. Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan. Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa dan negara ini.

Malin Basa. Diujung penyesalan muncul kesadaran. Dalam hal ini Kompeni melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat. Oleh sebab itu Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tahun 1824. sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Padri. Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Pasaman. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan . dan sampai akhirnya Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815. yang lahir di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Pada awalnya timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalan syariat Islam sesuai dengan Mazhab Wahabi yang waktu itu berkembang di tanah Arab (Arab Saudi sekarang). ia memperoleh beberapa gelar. Seiring itu dibeberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak. Sumatra Barat 1772 . kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda. kaum Adat resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman Minangkabau) kepada Belanda dalam perjanjian yang diteken di Padang. Namun. dan Tuanku Imam. 6 November 1864). Bersatunya kaum Adat dan kaum Paderi ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak. Riwayat perjuangan Perang Padri Tak dapat dimungkiri. Minahasa. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat. yaitu Peto Syarif. Kemudian pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Muning Alamsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam. Sultan Muning Alamsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan. dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan paderi cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973. Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837. Nama dan gelar Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab. Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Sumatra Barat pada tahun 1772. Pineleng.Biografi Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol. adalah salah seorang ulama. Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga Dinasti Kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Padri. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri [3]. sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda. Tuanku nan Renceh dari Kamang sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya. Pada 21 Februari 1821. Pasaman. tanggal 6 November 1973. Tetapi kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Nagari Pandai Sikek.wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak.

Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)). Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Prawiro Sentiko. dekat Manado.130 tentara pribumi. serta rincian laporan G. Letnan Satu Van der Tak. Madura). 36 perwira pribumi. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. seperti Jawa. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu. Jawa Barat. Mereka juga disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda. Terdapat 148 perwira Eropa. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Bonjol dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung. Pembantu Letnan Satu Steinmetz. Dalam bulan Oktober 1837. Minahasa. Sulawesi Selatan. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. 11 November 1785 ± meninggal di Makassar. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak. 4 korporaals dan 112 flankeurs. Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep. 1. Barulah pada tanggal 16 Agustus 1837. 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. dan Merto Poero. Mandailing dan Batak. tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang terdiri dari berbagai suku. dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang.Agama. maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungan. kini negara Ghana dan Mali. Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang. Sehingga sampai untuk ketiga kali Belanda mengganti komandan perangnya untuk merebut Bonjol. namun ia masih tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. dan pada masa-masa selanjutnya. yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Mayor Sous. 4. Teitler yang berjudul Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837. dan Ambon. Kapitein Sinninghe. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.103 tentara Eropa. seorang raja Mataram di Yogyakarta. Mangkarawati. Makamnya berada di Makassar. sejumlah orang Eropa dan Afrika. Kapten MacLean. terefleksi dalam ucapannya "Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit. Biografi Pangeran Diponegoro Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta. yaitu sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit. 1 sergeant. Madura. Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai orang-orang Bugis yang berada di bagian depan dalam penyerangan pertahanan Padri. . Letnan Kolonel Bauer. Prawiro Brotto. Penangkapan dan Pengasingan Setelah datang bantuan dari Batavia. Baa dek kalian?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Inlandsche Luitenant Prawiro di Logo. dan seterusnya. Karto Wongso Wiro Redjo. terdapat Mayor Jendral Cochius. Penyerangan benteng kaum Paderi di Bonjol oleh Belanda dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III.A. tetapi juga terda[at nama-nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. Bugis. Bagaimana pikiran kalian?) Penyesalan dan perjuangan heroik Tuanku Imam Bonjol bersama pengikutnya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) juga dapat menjadi apresiasinya akan kepahlawanannya menentang penjajahan.

Permintaan itu ditolak Diponegoro. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo snediri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta. Raden Ayu Citrowati adalah saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Diponegoro mempunyai 3 orang istri. Saat itu. Kyai Maja. pamannya. perlawanan menghadapi kaum kafir. untuk mengangkatnya menjadi raja. dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April. Bahkan sayembara pun dipergunakan.000 tentara dan 20 juta gulden. Raden Ayu Retnaningsih. Hadiah 50. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830. beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Sulawesi Selatan. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir. Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka. 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil. . Tumenggung Diposono dan istri. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Banteng Wereng. 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sultan Hamengkubuwana III. Salah seorang tokoh agama di Surakarta. 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. Pangeran Diponegoro. yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar. serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono. Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun. Dalam perjuangannya. dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya. Raden Ayu Ratnaningsih. ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Penangkapan dan pengasingan 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal. Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo. Diponegoro menolak keinginan ayahnya. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia. Atas saran Pangeran Mangkubumi. kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran. Riwayat perjuangan Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu. mendapat simpati dan dukungan rakyat. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro. & Raden Ayu Ratnaningrum.

pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan. Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa. Sulawesi & Maluku. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton. mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa. antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah.000 jiwa rakyat yang terenggut. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita. Akan tetapi pada prakteknya. Rupanya di salah satu sektor. bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran. Beliau kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo. Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo. Pada pertengahan bulan Mei 1825. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak. disebutkan bahwa sekitar 200. Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Latar Belakang Perang Diponegoro Perang Diponegoro (Inggris:The Java War. kemenakannya. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. termasuk di Hindia Belanda. dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu. pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo. Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat. Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Baik korban harta maupun jiwa. termasuk Jawa. . seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. diangkat menjadi penguasa. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan. salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro membakar habis kediaman Pangeran. Terdesak. Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun. pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia. Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya. pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Sementara itu di pihak serdadu Belanda. Selain itu. Belanda: De Java Oorlog). korban tewas berjumlah 8.000. maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan.

sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. sebagai basisnya. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor. Selama perang. Di bawah kepemimpinan Diponegoro. rakyat pribumi bersatu dalam semangat Sadumuk bathuk. yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung. dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya.Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong. . sanyari bumi ditohi tekan pati . Guwosari Pajangan Bantul. sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Setelah penyerangan itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful