BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapi sudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganan kasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat para korban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak dari kemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringan yang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalam bentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah . Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulangan
1

bencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan

1

Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011

1

sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran dan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi dan rehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para

2

pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana . Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulangan bencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasional mencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahui sejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana di daerah. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b) pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dari BPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)
2

2

Sulis Setyawan, Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011

3

pada tanggal 20 Januari 2011. b) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pertama. rehabilitasi. terencana dan menyeluruh. Kabupaten Majalengka merupakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam yang ditetapkan dalam tiga wilayah pengembangan bencana Selatan. Bantarujeg. e) Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya. f) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. Pasal 21 dijelaskan tentang tugas dari BPBD antara lain: a) Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan badan nasional penanggulangan bencana terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana. g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Maja.Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan bencana secara terpadu. 4 . Tengah. serta i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Talaga. penanganan darurat. c) Menyusun. serta rekonstruksi secara adil dan merata. menetapkan. d) Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. dan menginformasikan peta rawan bencana. Berbicara tentang wilayah rawan bencana di Indonesia. dan Utara . Cikijing dan sekitarnya secara geografis merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan lokasi yang terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian 3 3 Hasil wawancara dengan Bapak Iyus Kepala Bagian Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka.

Sukahaji. banjir 3 kali. banjir 2 kali. banjir 1 kali dengan korban luka 1 orang. angin puting beliung 15 kali. banjir 10 kali. sambaran petir 1 kali. kebakaran 1 kali. Ketiga. Kedua. dengan korban luka 1 orang). Bulan Januari terjadi 20 kali kejadian (longsor 9 kali. Sedangkan untuk korban jiwa (luka ringan 7 orang. sambaran petir 4 kali. kekeringan dan banjir karena secara struktur tanah. tanggul jebol 1 kali. dan 82 KK rusak berat). kebakaran 18 kali. Cigasong. Bulan Maret terjadi 16 kali kejadian (longsor 5 kali. terutama pada waktu musim penghujan.400-1000 meter dpl. kebakaran 1 kali. Angka kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 per Agustus telah terjadi 104 kejadian (longsor 44 kali. puting beliung 2 kali. setiap tahunnya daerah ini sering mengalami bencana tanah longsor. luka berat 4 orang. wilayah pengembangan bencana daerah utara dengan ketinggian 20-100 meter dpl yang meliputi Kecamatan Kadipaten. Rajagaluh dan sekitarnya merupakan daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-400 meter dpl yang merupakan daerah rawan angin puting beliung. wilayah Tengah yang meliputi Kecamatan Majalengka Wetan. Jatiwangi. dengan korban tewas 1 orang dan luka ringan 5 . Bulan Februari terjadi 19 kali kejadian (longsor 14 kali. dan meninggal 1 orang) dengan resistensi kerusakan rumah (63 KK rusak ringan. luka berat 1 orang dan korban tewas 1 orang). Majalengka Kulon. dan tanggul jebol 1 kali). sambaran petir 3 kali. kebakaran 4 kali. Ligung dan sekitarnya merupakan wilayah yang rawan bencana tanah longsor. Jatitujuh. wilayah ini berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai-sungai besar sehingga memungkinkan terjadi luapan air sungai dan erosi tanah di daerah sekitarnya. puting beliung 8 kali. 51 KK rusak sedang.

Si. Bulan Juni dan Juli stabil hanya terjadi kebakaran 2 kali. dengan variasi wilayah dataran tinggi yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai. puting beliung 4 kali. kebakaran 2 kali). MM. dan koraban berat 3 orang). Tingginya angka kejadian bencana alam di Majalengka menguatkan Kabupaten Majalengka membentuk dan mendirikan Badan Penanggulangan 4 Bencana Daerah (BPBD) selain empat kabupaten di Jawa Barat (Tasikmalaya. Di satu sisi Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang luas wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan kabupatenkabupaten di daerah Jawa Barat lainnya. dengan korban ringan 3 orang. M. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang berada dalam sebuah patahan lempeng IndoAustralia. sekaligus dilansir dalam Surat Kabar Lokal Radar Majalengka pada tanggal 6 November 2010. Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah. dan dataran rendah mengakibatkan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. sementara Agustus terjadi 4 kali kejadian (2 kali kebakaran dan 2 kali longsor) . pohon tumbang 1 kali. Sukabumi. pada tanggal 21 Januari 2011. dataran sedang.2 orang). kebakaran 5 kali. pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. Kuningan. Mei terjadi 18 kali kejadian (longsor 8 kali. namun kerentanan terhadap bencana alam yang terjadi menjadi perhatian yang tidak bisa di hindarkan. April terjadi 12 kali kejadian (longsor 6 kali. dan Ciamis). BPBD di Kabupaten Majalengka didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4 4 Hasil wawancara dengan Kepala Pelaksana BPBD Ibu Suratih Puspa. 1 kali angin puting beliung. SH. banjir 4 kali. 6 .

Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik. Didirikannya BPBD setidaknya menjadi bukti bahwa Kabupaten Majalengka serius dalam penanganan bencana alam dan menjadi daerah yang sadar akan bencana. Sosialisasi penanggulangan bencana harus di upayakan secara integral kepada seluruh elemen pemerintah daerah. Kebijakan dan strategi dalam penanggulangan bencana. status bencana dan efektifitas kegiatan penanggulangan bencana di daerah menjadi issue yang menarik untuk dikaji dalam mengukur peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka serius atau dalam penanggulangan bencana alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana . 7 . Keseriusan tersebut tidak bisa di definisikan dengan didirikannya BPBD. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh menjadi perhatian khusus dalam pola dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. non pemerintah dan masyarakat karena sangat dibutuhkan dalam mereduksi manajemen penanggulangan bencana yang efektif. pasal 20. kerentanan dampak bencana. efisien. Peraturan perundang- 5 Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah BAB I Ketentuan Umum. dan berkelanjutan.Januari 2009. terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. Perlu dicermati adalah bagaimana peran pemerintah daerah bersama stakeholder serius dan konsekuen untuk bersinergis dalam 5 penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

8 . dinas setingkat yang berbenturan dalam penanggulangan bencana. sinergitas dan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. Ego sektoral dan lembaga dalam penanggulangan bencana. baik di tataran pusat maupun daerah masih di upayakan untuk membentuk sebuah pola sinergitas dan keterpaduan sehingga tidak ada fungsi lembaga.undangan maupun kebijakan penanggulangan bencana yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat seharusnya bisa diaplikasikan dan dijalankan oleh pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana di daerahnya sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Sinergi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini. Latar belakang tersebut menjadi daya tarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam peran pemerintah daerah dan stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. baik bersifat sektoral maupun terpusat masih menjadi dilema yang menjadi perhatian khusus terhadap fungsi-fungsi lembaga yang saling berbenturan. Pada akhirnya penelitian ini diharapkan menjadi landasan dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas. Fungsi koordinasi dan komando dalam strategi dan teknis penanggulangan bencana.

Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif. penentuan fokus didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan). Bagaimanakah peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010? 2. peneliti kualitatif menetapkan fokus. Penelitian ini di fokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Bagaimanakah sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 9 . tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2010:208-209).1.2. Spradley menyatakan bahwa “ A focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Sehingga unit analisis yang akan ditelit lebih fokus pada aktor-aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Rumusan Masalah Dalam mempertajam penelitian. Aspek yang akan diteliti adalah peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

kontribusi.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.1.2.2. tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 dan mengkonstruksi model sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 1.1. Manfaat Teoritis Memberikan kontribusi bagi perkembangan Ilmu Politik khususnya mengenai kajian birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana daerah.2. pemerintah daerah serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan bencana. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut. Selain itu. Manfaat Praktis Memberikan informasi.3. Manfaat Penelitian 1. praktisi.3. 10 . birokrasi.1. lembaga daerah. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan serta tambahan alternatif untuk penelitian selanjutnya yang sejenis. 1.3.3.2. dan masukan kepada para pengamat politik.

Dipaparkan pula mengenai solusi penyelesaian terkait dengan birokratisasi yang sentralistis dirubah menjadi desentralistis. 11 . Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Penelitian ini ditulis oleh Bagas Megantoro pada tahun 2006. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisiensian dalam penanganan bencana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. agar penyaluran dana rekontruksi tidak harus berkelumit pada tahapan-tahapan birokrasi tanpa adanya realisasi kepada korban bencana. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan berbagai sub aspek dan fokus penelitian yang berbeda diantaranya adalah: 2.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan tidak menjadikan adanya egosentris dan saling menyalahkan antar lembaga dalam penyaluran dana tersebut.1. Dalam penelitiannya dijelaskan tentang sistem birokrasi penyaluran dana rekonstruksi yang berkelumit dan tersentralisasi.1.

Disamping itu.3. Dikarenakan BNPB punya 12 . sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali.2. 2. dan kabupaten/kota) serta penyorotan terhadap kelembagaan setingkat menteri yaitu badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dalam alur komando ketika terjadi bencana belum terlaksana secara efektif. terdapat pula kecenderungan terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. Penelitian ini membahas penetapan status bencana (nasional. Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Penelitian ini ditulis oleh Agus Suryono pada tahun 2005. tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur.2. birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efisien. dan Operasi) Penelitian yang ditulis oleh Adi Suhendi pada tahun 2009 dalam ringkasan evaluasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Akibatnya.1. Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. Strategi. Pada kondisi yang demikian. sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal.1. Agus Suryono berbicara tentang birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang ke arah “parkinsonian”. provinsi. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi.

Penelitian-penelitian terdahulu ini menginspirasi untuk melakukan sebuah penelitian yang berkesinambungan. Tentunya ini berbeda dengan penelitian terdahulu. Untuk melihat pembanding dan komparasi dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Mekanisme koordinasi antara BNPB dengan BPBD cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. Pada kesimpulannya sistem penanggulangan dan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah tidak berjalan dengan efektif karena sebuah benturan pelaksanaan teknis yang sama. salah satunya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan menyoroti peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana.kecenderungan untuk berbenturan dengan fungsi-fungsi kementerian-kementerian teknis lainnya yang terkait dengan penanggulangan bencana. 13 . karena BPBD sebagai perangkat daerah akan lebih patuh terhadap kepala daerah.

sementara penelitian Adi Suhendi lebih memfokuskan pada sinergitas di tataran pusat dan implikasi nya terhadap sinergi dengan daerah dan berbicara tentang aturan dalam pasal-pasal UU No. Agus Suryono Memahami pentingnya manajemen birokrasi profesional Studi Pustaka Mencari keefektifan dan sinergitas dalam tubuh birokrasi 3. salah satu sumber permasalahan tersebut adalah lamanya dan rumitnya pencairan dana rekonstruksi korban bencana dan diperlukan perbaikan dan pembetulan dalam sistem birokrasi Indonesia Merubah persepsi dan paradigma tentang birokrasi Unsur pemerintah. sedangkan penelitian Bagas Megantoro lebih membahas mengenai sinergi penyaluran dana rekonstruksi antar lembaga pusat-daerah dalam penanggulangan bencana. Peneliti Bagas Megantoro Judul Penelitian Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Tahun 2006 Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Tahun 2005 Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan.Tabel 1. 2. Adi Suhendi Melakukan review tentang sistem penanggulangan bencana nasional dan menellaah efektifitas PB di tingkst daerah-pusat Mengetahui sejauh mana peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Studi Pustaka Kelembagaan penanggulangan bencana harus dapat bertindak lintas sektor dan lintas wilayah serta memiliki rantai komando yang jelas dan efektif Fokus pada aspek sinergitas lembaga dalam penanggulangan bencana 4. Peneliti lebih menekankan pada aspek birokrasi (institusi atau lembaga daerah) dalam konteks penanganan dan pelayanan penangulangan bencana sedangkan penelitian Agus Suryono memfokuskan pada aspek dan pengkrirtisan terhadap birokrasi yang mengarah ke arah parkinsonian dan orwelian sehingga birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya secara profesional. privat dan masyarakat harus all together yang sinergi dengan adanya standar minimal pelayanan publik dan adanya mekanisme pengawasan sosial terhadap birokrat Persamaan dan Perbedaan Penelitian Persamaan Menyoroti sinergisitas lembaga dalam penanggulangan bencana Perbedaan Peneliti lebih menyoroti pada peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. 24 tahun 2007. Matriks Analisis Penelitian Terdahulu No 1. dan Operasi Tahun 2009 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Tujuan Penelitian Mengetahui sejauh mana manajemen penyaluran dana rekonstruksi dalam peanggulangan bencana Metode Kualitatif Studi Kasus Hasil Manajemen pemerintah dalam penanganan [pasca] bencana perlu diperbaiki. Strategi. Peneliti lebih memfokuskan pada peran dan sinergitas stakeholder . Asep Deni Jatnika Kualitatif Studi Kasus - 14 .

2.2. Pemerintah daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD 15 .1. Sesuai dengan fokus penelitian.2. Seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajibannya dari statusnya (Sunarto 2000: 54). Berikut penjelasan mengenai teori dan konsep yang menjadi landasan teori dan kerangka berfikir dalam penelitian ini. Seseorang harus belajar mengetahui peran yang dijalankannya serta peran yang dijalankan orang lain melalui sebuah interaksi dan sosialisasi. Peran-peran diajarkan melalui sosialisasi dan interaksi. maka diperlukan beberapa teori pendukung untuk mempermudah dalam proses penelitian. Peran Pemerintah Daerah Peran memiliki arti serangkaian perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang. Beberapa landasan teori yang mendukung dalam penelitian yang akan peneliti lakukan adalah teori dan konsep tentang peran pemerintah daerah dan manajemen kebencanaa (Disaster Management). Konsep peran sangat diperlukan untuk mengetahui dan memahami keselarasan atau integrasi antar tujuan dan misi yang ingin dicapai (Nogi 2005: 266). 2. Kerangka Teori Penelitian ini memfokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Adanya interaksi dalam masyarakat akan menciptakan hubungan antar peran-peran individu dalam masyarakat. Pengharapan yang terdapat dalam peran merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu peran.

stakeholder primer (utama) yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan.com.com. dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issue. lintas pelaku. proyek.bloger. Pertama. stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah . Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka merupakan 6 rangkaian permasalahan yang perlu dicarikan solusi dan alternatif untuk menyelesaikannya. stakeholder dapat diketegorikan kedalam tiga kelompok. atau walikota. http//www. bupati. Pemerintah daerah adalah gubernur. Pengertian Tentang Pemerintah Daerah. Pemangku Kepentingan.menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dengan demikian peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara bertindak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu hak. wewenang. tentunya hal tersebut membutuhkan peran-peran dari pemerintah daerah dan stakeholder di dalamnya. dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.wikipedia. 16 . dan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan 6 7 (masyarakat dan pihak manajer publik: 7 Abdi Projo. diakses pada tanggal 10 Februari 2010 http//www. program. posisi penting. Secara sederhana. Berdasarkan kekuatan. diakses pada tanggal 10 Februari 2010. atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issue atau suatu rencana .

organisasi birokrasi. Ketiga. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya. tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah (LSM. Badan Usaha. Tentunya keberlangsungan operasi dari pemerintah sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu aparatur pemerintah. bersama stakeholder lainnya mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dan proyek. Pemerintah daerah sebagai stakeholder kunci. program. dan lembaga pemerintah yang terkait dengan issue tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan). stakeholder kunci yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan. Partisipasi aktif dari berbagai elemen untuk menciptakan sebuah manajemen penanggulangan bencana merupakan aspek integral yang sangat penting sehingga dampak resiko bencana bisa ditanggulangi secara terpadu dan menyeluruh. Perguruan Tinggi. strategi. stakeholder sekunder (pendukung) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan. dan 8 8 Ibid 17 . legislatif. Kedua. operasi penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab lembaga dan dinas-dinas terkait sebagai stakeholder pemerintah daerah yang berperan sebagai agen utama dalam melaksanakan penaggulangan bencana.lembaga/badan yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan). Keberlangsungan pelayanan. dan instansi .

pada dasarnya birokrasi lebih mengutamakan kepentingan sendiri (selfserving). tidak lagi menjadi alat rakyat 9 9 Op Cit 18 . menjadi alergi ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik. Birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik. Namun sejarah dan realita yang sekarang menggejala dalam tubuh birokrasi memiliki beberapa kecenderungan. Dalam mengoperasionalkan kebijakan manajemen aset di kabupaten/kota diperlukan peran pemerintah daerah kabupaten/kota. tidak obyektif. tidak efesien. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa birokrasi cenderung lebih mementingkan prosedur daripada substansi. tujuan. tidak efektif (over consuming and under producing).prosedur tata laksananya. Agen administrasi pemerintah daerah yang ditujukan menjalankan fungsifungsi dan tujuan lembaga adalah birokrasi. apabila operasionalisasi suatu kebijakan ingin dapat berjalan secara optimal dan sebagaimana mestinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan terhadap aparatur pemerintahan agar prosedur ketatalaksanaan dan bentuk organisasi birokrasinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari misi yang akan dicapai . seperti yang dijelaskan Kartasasmita dalam Suryono (2002: 3). dan sasaran dari kebijakan tersebut. lamban dan menghambat kemajuan. mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta memusatkan kekuasaan. Persepsi atau pemahaman dari pelaksana haruslah sesuai dengan maksud. tidak mengabdi kepada kepentingan umum. Oleh karena itu. dengan demikian setiap pelaksanan harus mengerti benar tentang konsep persepsi sebagai langkah awal dari motivasi yang akan mewarnai cara bertindak.

tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. Begitu halnya dengan peran birokrasi pemerintah daerah 19 . Sebagaimana perkembangan dari segi perilaku birokrasi maka ada sebuah perkembangan peran antara politisi dan birokrasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut. Perkembangan Peran Politisi-Birokrat IMAGE Kebijakan/ Administrasi Fakta/ Kepentingan Energi/ Equilibrium POLITISI Membuat kebijakan Kepentingan/Nilai Kepekaan politik Pertanggungjawaban pada konstituen Artikulasi secara luas Ideologis. Dalam berbagai macam pola hubungan antara birokrasi dan politik. Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. partisan. institusi politik terdiri atas orang-orang yang berperilaku politik yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan. terpusat. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. pragmatis Memberi keseimbangan Sama (karakteristik berbaur) EKSPRESI Hirarki otoritas Supremasi politik Partisipan Rasionalitas vs Rasionalitas Administrasi Partisipan Birokrat cenderung politis Hibrida Murni (Perkawinan Murni) Mempolitisaasi birokrasi dan membirokrasikan politik Sumber: Solahuddin Kusumannegara. Gava Media (2010:58) Secara mendasar birokrasi sangat erat kaitannya dalam pembuatan sebuah kebijakan dan sebagai agen administrasi yang paling bertanggungjawab dalam implementasi kebijakan. Tabel 2. idealistik Energik Sama (karakteristik berbaur) BIROKRAT Melaksanakan kebijakan Fakta/pengetahuan Keahlian Kemanjuran Artikulasi kepada klien Hati-hati.

Peran penting dari street-level bureaucrats sebagai pembuat kebijakan. street-level bureaucrats (birokrasi tingkat pelaksana) merupakan pegawai pemerintah yang memberikan layanan masyarakat secara langsung kepada warga. dan memiliki kebijaksanaan substansial dalam pelaksanaan pekerjaan mereka. demi terpenuhinya layanan publik yang efektif dan efisien. karena mereka harus setuju dengan setiap perubahan kebijakan. yang mendirikan kerangka kerja untuk mendukung pesan fundamental.dan stakeholder di dalamnya mempunyai peran dalam urusan pemerintahan guna menunjang kemakmuran. pegawai kesehatan. Street-level bureaucrats menyebabkan kontroversi. keamanan. dan kesejahteraan masyarakatnya di Kabupaten Majalengka. Street-level bureaucrats adalah lembaga layanan publik yang mempekerjakan sejumlah besar tingkat birokrat pelaksana (Lipsky 1980: 3). Berbicara tentang birokrasi. Birokrasi harus menjalankan peran dan tugasnya sebagaimana yang telah diamanahkan dalam sebuah peraturan formal. Alasan street-level bureaucrats sebagai fokus dari kontroversi umum adalah pada aspek interaksi dengan warga negara yang sering menyebabkan 20 . penegak hukum. polisi. Guru. sebenarnya mereka adalah orangorang yang secara langsung berinteraksi dengan dan menyediakan layanan publik kepada warga negara dalam proses pekerjaan. pegawai kantor jaminan sosial adalah beberapa contoh dari tingkat birokrat pelaksana. Sehingga tidak ada sebuah hirarki antara birokrat dengan masyarakat dan tidak adanya politisasi dalam sebuah birokrasi. Meskipun dianggap sebagai tingkat karyawan rendah.

Tentunya perubahan pelayanan publik harus di dukung dengan kebijakan yang lebih relevan dan memungkinkan segala pekerjaan dan layanan publik bisa dilaksanakan dengan baik. sinergitas dengan arus kebijakan menjadi perhatian utama sebagai landasan untuk memperbaiki situasi tersebut dengan klien dan membantu streetlevel bureaucrats menjadi lebih efektif sebagai pendukung perubahan. 21 . Wong dalam Lipsky (2005: 27-28) kondisi kerja. dalam artikel keduanya menyatakan bahwa street level bureaucrats menghadapi dilema antara mendapatkan pada fokus kerja dan memenuhi tujuan organisasi. pola praktek dan masa depan tingkat birokrasi jalan. Penulis menjelaskan apa yang terjadi pada titik dimana kebijakan diterjemahkan dalam praktek. (Lipsky 1980: 8-10). 3) Tujuan harapan bagi lembaga di mana mereka bekerja cenderung ambigu. kabur atau bertentangan.benturan diantara keduanya. 2) Permintaan untuk layanan cenderung meningkat untuk memenuhi pasokan. akuntabilitas. 4) Kinerja berorientasi pada pencapaian tujuan cenderung sulit dan mustahil untuk di ukur. Dalam rangka reformasi dan merekonstruksi street-level bureaucrats. Kondisi kerja street-level bureaucrats telah dikategorikan sebagai berikut: 1) Sumber daya tidak memadai relatif kronis dengan tugas pekerja yang dilakukan. Kebijaksanaan mengantarkan street-level bureaucrats paling sering menjadi dilema pribadi. dan bagaimana para pegawai pelayanan publik berperilaku di bawah kondisi dan konteks pekerjaan mereka.

Akibatnya. Pelayanan publik ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan khalayak masyarakat ramai yang memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan. dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.2. birokrasi selalu mendapatkan citra negatif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan birokrasi itu sendiri khususnya dalam hal pelayanan publik. Manajemen birokrasi profesional ini sangat relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Birokrasi dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tentunya diharapkan cepat tanggap. 2.Dalam merealisasikan kriteria ini pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi profesional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented).2. khususnya lebih menyoroti pada aspek peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Manajemen Kebencanaan (Disaster Management) Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Apalagi ketika ada sebuah institusi yang profesional dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Kesan pelayanan aparatur pemerintahan selalu lamban dan tidak cepat tanggap. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu 22 .

kekeringan. gunung meletus. banjir. kegiatan pencegahan bencana. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. kerusakan lingkungan. dan dampak psikologis. angin topan. dan rehabilitasi. tanggap darurat. dan tanah longsor. 3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. gagal modernisasi. Bencana dibagi ke dalam tiga kategori diantaranya: 1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi.kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia. 2) Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi. Penanggulangan bencana merupakan proses integral yang satu sama lain sangat bergantung dalam 23 . dan wabah penyakit. tsunami. kerugian harta benda. epidemi.

tepat. harta benda. BAB I pasal 2 24 . koordinasi dan keterpaduan. tegaknya hukum dan ketertiban. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. sosial dan budaya. pemenuhan kebutuhan dasar. pengurusan pengungsi. serta pemulihan prasarana dan sarana. perlindungan.sebuah manajemen penanggulangan bencana yang terpadu dan menyeluruh meliputi : 1) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. 3) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. non 10 10 Lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. prioritas. pemberdayaan. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Prinsipnya penanggulangan bencana merupakan proses cepat. penyelamatan. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. 4) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. kemitraan. 2) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan.

diskriminatif dan berdaya guna. Ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat . Tidak semua bencana alam menimbulkan resiko bencana. Apabila suatu peristiwa yang memiliki potensi bahaya terjadi di suatu daerah dengan kondisi yang rentan, maka daerah tersebut beresiko terjadi bencana. Jadi resiko dipengaruhi oleh faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability). Dalam hal ini faktor kapasitas dapat dianggap sebagai bagaian dari faktor kerentanan, yang dapat mengurangi kerentanan bila kapasitas daerah tersebut tinggi. Sebaliknya apabila kapasitas daerah rendah maka akan meningkatkan faktor kerentanannya .
12 11

Gambar 1. Model Hubungan Antara Resiko Bencana, Kerentanan dan Bahaya

Sumber: Tinjauan umum manajemen bencana. UNDP program pelatihan manajemen bencana edisi ke-2 tahun 1992

11 12

Ibid Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Peanganan Bencana di Jawa Barat”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

25

Pendekatan proaktif dalam pengurangan resiko bencana merupakan salah satu bagian terpenting dalam mitigasi bencana, yang pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana. Kegiatan mitigasi bencana hendaknya menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kejadian bencana, yang seringkali datang tidak terduga dari waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar dari perkiraan semula. Pemerintah hendaknya proaktif untuk memberikan berbagai arahan yang tepat dan berkesinambungan dalam menghadapi peristiwa atau bencana atau dengan kata lain bisa beradaptasi dengan resiko potensi bencana. Perlu diperhatikan bahwa untuk setiap arahan yang ada hendaknya menjaga kesederhanaan sistem dan prosedur. Kletz mengemukakan bahwa ”organizations have no memory: only people have memories and they move on” . Dengan kesederhanaan sistem dan prosedur, diharapkan masyarakat bisa memahami dengan baik, terutama bagi masyarakat yang terkena bencana, sehingga pada saat kejadian bencana dan dalam kondisi darurat, diharapkan mereka mampu menaggapinya serta mereka mampu melakukan proses pemulihan darurat secara mandiri. Inilah yang sebenarnya merupakan salah satu pengembangan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan bencana, yang berbasis pada kemampuan pada masyarakat itu sendiri dan bertumpu kepada kemampuan sumberdaya setempat (community ased disaster management).
13

13

Kletz (1993) Lesson from disaster: how organiations have no memory and accident recur. Institution of Chemical Engineers: Rugby, England

26

Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan dan harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus membuat perencanaan untuk persiapan dalam menghadapi bencana. Selama ini, tindakan dalam penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasiorganisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama pada saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Selain untuk keperluan mitigasi, kajian resiko untuk bahaya dari berbagai jenis potensi bahaya alam lebih lanjut dapat juga digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan rencana operasi darurat atau emergency operation plan (EOP), atau dalam bentuk SOP yang terjangkau (achievable/workable), sederhana dan tepat (appropriate). Pada dasarnya EOP dan SOP merupakan kerangka dasar dalam rencana tanggap darurat yang terkoordinasi dan efektif, karena didalamnya telah mendefinisikan peranan dan tanggungjawab seluruh stakeholder seperti pemerintah, organisasi swasta, sukarelawan, dan badan-badan lain yang terdapat di dalam sustu negara . Dalam hal ini termasuk perencanaan kegiatan sebelum kejadian bencana dan kesiapsiagaan, perencanaan organisasi, dan kehumasan untuk mengatur aliran informasi, atau dengan kata lain bahwa dalam SOP
14

14

Ibid

27

Koordinasi sangat penting dilakukan dimana berbagai pihak umumnya akan terlibat dalam penanganan bencana. Measurable. dan pendekatan kesiapsiagaan terkait potensi bencana yang ada. SOP yang efektif akan mencakup berbagai bentuk variasi koordinasi dan cara pengambilan keputusan. 2) Menetapkan tolak ukur untuk menilai suatu pencapaian aktivitas. 3) Menyusun antisipasi faktor-faktor yang paling beresiko dan usaha-usaha menguranginya apabila mungkin. Peran Berbagai Stakeholder Dalam Penanggulangan Bencana Sumber: Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun. Relevant and Time Bound) dengan ketentuan dasar antara lain meliputi : 1) Mendefinisikan berbagai aktifitas apa saja yang ahrus dilakukan dalam kondisi darurat. Gambar 2. Bandung 2-3 Desember 2004. manajemen. “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jawa Barat” Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Selain itu SOP haruslah SMART (Spesific. Key note speaker pada lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan. 15 15 Sadisun. Manajemen bencana: Strategi hidup di wilayah potensi bencana.. Achievable. 28 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung 2-3 Desember 2004.diperlukan perencanaan terintegrasi.

Permasalahan rendahnya kualitas pelayanan sistem dan penanganan bencana di daerah merupakan potret buram sistem dan sinergitas antar lembaga yang menaunginya. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain banjir. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana. Kerangka Berpikir Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah Barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah Timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. 5) Membuat jadwal dengan cermat dan sistematis keseluruhan kegiatan yang diperlukan selama kondisi darurat. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. gunung berapi dan tanah longsor serta angin puting beliung. kemarau panjang.4) Membangun jaringan dalam melakukan pertolongan darurat. gempa bumi. Salah satunya adalah dalam usaha penanganan bencana. 29 .3. Dengan adanya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan pemerintahan atau rumah tangganya sendiri dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Akan tetapi daerah kurang dapat menyelenggarakan hal tersebut dengan baik karena kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah sangat terbatas. tsunami. 2. termasuk di antaranya jaringan informasi.

Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah di Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. Majalengka 30 . Majalengka (OPD) Organisasi Perangkat Daerah Studi Kasus Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Perda Kabupaten MajalengkaNo 10/2009 “Organisai Perangkat Daerah” (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah: Gambar 3. Dengan demikian mau tidak mau pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengembangkan pola sinergisitas penanggulangan bencana guna menunjang peningkatan kualitas dan akuntabilitas lembaga. Lembaga pemerintah yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana harus bisa memposisikan sebagai fasilitator dalam upaya sinergitas dengan lembaga lain. sehingga terjadi sebuah efektifitas mekanisme kerja.Sorotan khusus adalah bagaimana birokrasi pemerintah bisa mengupayakan sebuah kontruksi dan sinergitas di tataran birokrasi dalam penanggulangan bencana alam. agar tidak terjadi sebuah ego lembaga dalam penanganan bencana. Kerangka Berfikir UU No 24/2007 “Penanggulangan Bencana” dan Perka BNPB No 3/2008 “Pedoman Pembentukan BPBD” Bencana alam di Kabupaten Majalengka Pemerintah Daerah Kab.

Kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. motivasi.BAB III METODE PENELITIAN 3. Paradigma nion positivist pada intinya merupakan paradigma yang mementingkan pencarian makna dari setiap tindakan sosial aktor. dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Kecamatan Jatitujuh. Dinas Kesehatan. Misalnya perilaku informan. Dinas Sosial. maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-positivist. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). dan masyarakat sekitar dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. persepsi. Paradigma ini menekankan bahwa apa yang disebut laws atau generalisasi (yang . Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). khususnya critical theory. Karena menggunakan metode penelitian kualitatif. tindakan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2005:4) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). dan lain-lain secara holistik di Sekretaris Daerah. Hal yang sangat penting menurut paradigma ini adalah interpretasi.

memfokuskan pada peran pemerintah daerah dan mengkontruksi sinergi stakeholder dalam proses penanggulangan bencana. dan dokumentasi. Dengan demikian. Dalam penelitian kualitatif metode pengumpulan data yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara. peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Majalengka khususnya dalam pola penanggulangan bencana alam. dan pemanfaatan dokumen. pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu yang utuh. pengamatan.bersifat kausal) tidak selamanya diperlukan untuk memahami gejala sosial. karena metode tersebut dibutuhkan sesuai dengan tema yang akan dibahas untuk memilih informan maka membutuhkan metode tersebut dalam pengumpulan data agar lebih valid. Menurut mereka. . hal 22-23. Dalam penelitan ini. 16 16 Solahuddin Kusumanegara dan Sofa Marwah. Bogdan dan Taylor (1975: 5) dalam Moleong (2005: 4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Jadi. dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis. peneliti akan menggunakan metode wawancara. observasi. Hand Out Mata Kuliah Metodologi Ilmu Politik (Purwokerto: Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedriman. Begitu juga dengan metode dalam pengumpulan data. setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi dan harus dipahami dengan sebaik-baiknya . 2006).

hubungan-hubungan internasional. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabelvariabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya (Suryabrata.2. bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang unutk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki. perubahan lingkungan sosial. dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin 2002: 1-4). Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. . Oleh karena itu. 2003: 80-81). pendekatan studi kasus sangat tepat digunakan dalam penelitian ini. dan kematangan industri-industri. Aspek yang akan menjadi fokus penelitian adalah mengenai peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencan alam di Kabupaten Majalengka.3. Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why. seperti siklus kehidupan seseorang. sehingga membutuhkan metode studi kasus untuk menganalisisnya karena hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir. baik mencakup keseluruahn siklus kasusnya atau pun segmen-segmen tertentu saja. proses-proses organisasional dan manajerial.

Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah Sekretaris Daerah. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Provinsi Jawa Barat. Dinas Sosial. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).4. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Pertimbangan tertentu ini. dan masyarakat di lokasi bencana. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. misalnya . Dinas Kesehatan. 3. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Lokasi selanjutnya adalah di instansi-instansi pemerintah daerah Kabupaten Majalengka yaitu Sekretaris Daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dan Kantor Kecamatan Jatitujuh. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). 3. Kepala Kecamatan Jatitujuh.3. Teknik Pemilihan Informan Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Lokasi Penelitian Penelitian dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka” mengambil lokasi di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka.3. Dinas Sosial.5. Dinas Kesehatan. Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi C yang membidangi tentang kebencanaan.

bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008:57). Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report. pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti di dalam memperoleh data. atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu .1. dan dapat dilakuakn melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono 2010: 137-138).orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas. 3. Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data. dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.6. Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Teknik Pengumpulan Data 3. Wawancara dapat dilakuakan secara terstruktur maupun tidak terstruktur. atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008: 50). Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada.6.

yaitu wawancara dan kuesioner. dimana peneliti dapat bertanya kepada informan kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai suatu peristiwa.mengeksplorasi data dari informan yang bersifat nilai. 2002: 108-110). wawancara studi kasus bertipe open-ended. Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang terfokus. yang paling umum. Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur.6. maka observasi . Pada beberapa situasi peneliti bahkan bisa meminta informan untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. wawancara tersebut bisa tetap open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tidak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya. dimana informan diwawancarai dalam waktu yang pendek. makna. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang. Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2010: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Dalam kasus ini. dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik survai. 3. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.2. sejalan dengan survai (Yin. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain.

Rekamanrekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi lain dalam pelaksanaan studi kasus. kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus lainnnya. proses kerja.6. Pada penelitian-penelitian lainnya . tidak seperti bukti dokumenter. daftar nama dan komoditi lain yang relevan. rekaman keorganisasin seperti bagan dan anggaran organisasi periode tertentu. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. Pada beberapa penelitian. data survai. Namun demikian.tidak terbatas pada orang. data rekaman atau data sensus yang terkumpul. Rekaman Arsip Rekaman arsip seringkali dalam bentuk komputerisasi seperti peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat. selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur (Sugiyono 2010: 145). rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa mejadi obyek perolehan kembali dan data analisis yang luas. gejala-gejala alam dan bila responden yang diamatai terlalu besar. Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data. 3. tetapi juga objek-objek alam yang lain.3. peneliti menggunakan metode non participant observation. observasi dapat dibedakan menajdi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation. kemudian untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti memilih instrumen observasi secara terstruktur agar mempermudah dalam penyusunan sub-sub penelitian guna menunjang laporan hasil penelitian. Teknik pengunpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia.

Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan dan merupakan sumber data yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah yang dibahas. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya (Yin. Bilamana bukti arsip relevan.7. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka.rekaman arsip mungkin hanya sepintas relevansinya. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD Kabupaten Majalengka. Rekaman arsip yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Sumber Data 3. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Teknik pengumpulan data dengan rekaman arsip ini akan dilakukan oleh peneliti karena pada dasarnya rekaman arsip merupakan sumber data yang memiliki peran sebagi sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan intensif.1. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. Untuk .7. 2002: 106-107). Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. 3.

Hardi. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD . media massa. Informan dalam penelitian ini adalah Yati Sumiati dan R. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. Dedi Supriyadi dan Asikin dari Dinas Sosial. Indrayono dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Ida Heriyani dari Dinas Kesehatan. serta berbagai sumber lainnya yang mendukung penelitian. Idit Ruhadi.mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. 3.2. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Yuarlina dari Sekretaris Daerah. Kardia dari Kantor Kecamatan Jatitujuh. arsip. dokumentasi. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Heri Purbadhi. dan Karsa selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Syihabuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Syarifudin Rahmat dari Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC).7. Agus Slamet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). M. maka peneliti menggunakan purposive sampling. A. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011. Data Sekunder Data yang diperoleh dari buku-buku.

data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan). dan bahanbahan lain. 3. 40 . dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis Data Dalam hal analisis data kualitatif. Bogdan menyatakan bahwa “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts. menyusun ke dalam pola. and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others” Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara.Kabupaten Majalengka.8. yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh. Aktifitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi data). dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Sugiyono 2008: 88). hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data. Analisis data kualitatif bersifat induktif. sehingga datanya sudah jenuh. menjabarkannya ke dalam unit-unit. Miles and Huberman (1984). melakukan sintesa. catatan lapangan. mengemukakan bahwa katifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. sehingga dapat mudah dipahami. fieldnotes. selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.

bagan. Penarikan Kesimpulan Proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus. hubungan antar kategori. keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi (Sugiyono 2010: 247-249).1 Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak. dicari tema dan polanya.3. 3.8. dan sejenisnya serta penyajian data dalam penelitian adalah dengan sistematis melalui gambaran atau skema.3. 3. Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.8. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. dan mencarinya bila diperlukan. Berikut gambaran model analisis interaktif Miles dan Huberman. dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. 41 . Mereduksi data berarti merangkum. untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. memfokuskan pada hal-hal yang penting. Sehingga reduksi data memerlukan proses berfikir sensitif dan kecerdasan. Penyajian data dapat diartikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat. memilih hal-hal yang pokok.8.

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.9 Validitas Data Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Untuk penelitian ini akan menggunakan validitas data internal karena lebih menekankan pada akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai bukan menggeneralisasikan pada sebuah sampel. sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut di ambil (Sugiyono 2010: 267). Validitas data ini akan mengeksplor objektifitas dan kesesuaian desain penelitian yaitu peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam di 42 . Dengan demikian data yang valid adalah “data yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.Gambar 4. Validitas data dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman Data collection Data Display Data reduction Conclusions: drawing/verfying Sumber: Diadaptasi dari Miles dan Huberman (1992: 20) 3.

. It assesses the suffiency of the data accoding to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures” (Wiliam Wiersma. triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu (Sugiyono 2010: 273). Patton (1987: 331) dalam Moelong (2005: 33) triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. 5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber.Kabupaten Majalengka yang nantinya akan tercipta sebuah laporan hasil penelitian yang tepat dan obyektif. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai waktu. Hal itu dapat dicapai dengan jalan: 1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. 4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berlainan. 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 1986). “Triangulation is qualitative cross-validation.

Pengumpulan data primer dan sekunder Pengolahan dan analisis data Membuat laporan 7. Jadwal Penelitian Tabel 3. 3. 3. anlisis domain 4. KEGIATAN Penyusunan Proposal Menyusun Memasuki instrument lapangan. dan dokumentasi. dan grand 1 X 2 X X X 3 4 5 revisi proposal tour dan minitour question. Dengan triangulasi sumber data-data yang diperoleh benar-benar dapat teruji keabsahannya. Penyempurnaan Laporan dan Seminar Hasil X X draft laporan X X X X X penelitian dan diskusi draft . 5. Jadwal Penelitian BULAN KE NO 1. 6. 2.10.Triangulasi data digunakan oleh peneliti karena berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam. observasi.

sehingga dapat diketahui pola geografis dan sosial suatu masyarakat. 4.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Deskripsi Lokasi Penelitian Deskripsi lokasi penelitian merupakan hal yang penting untuk dituangkan dalam sebuah laporan penelitian. Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur. Sebelah Utara antara 60 36’ – 60 58’ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 60 43’ – 70 03’ Lintang Selatan. Sebelah Timur. berbatasan dengan Kabupaten Sumedang.1.1. Sebelah Utara. berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Letak dan Keadaan Geografis Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur. dengan batas-batas wilayahnya : Sebelah Selatan. berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Gambaran umum Kabupaten Majalengka akan dijelaskan dalam hasil penelitian. berbatasan dengan Kabupaten Indramayu. . Sebelah Barat.1. Pembahasan mengenai deskripsi lokasi penelitian bertujuan untuk memahami kondisi wilayah yang ditempati oleh suatu masyarakat.

71 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44. Peta Kabupaten Majalengka Sumber: Majalengka Dalam Angka 2009 Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.00 Km2) dengan ketinggian tempat antara 19 857 m diatas permukaan laut.24 Km2.Gambar 5.204.357. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah. yaitu : . berarti Kabupaten Majalengka hanya sekitar 2.

73 1.54 37.21 24.66 62. 7.03 55.98 60. 3.76 32. 23.69 40. 9. 8.24 NO 1. 17. 10. Tabel 4.36 73.03 43. 2.03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 4.00 56. KECAMATAN Sindangwangi Leuwimunding Palasah Jatiwangi Dawuan Panyingkiran Kadipaten Kertajati Jatitujuh Ligung Sumberjaya Kabupaten Majalengka Sumber: Registrasi BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2005 .204.17 57. 3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345. 11.02 Km2 atau 40.86 138.49 34.25 32.37 LUAS DAERAH (KM) 31. 18. 21. 22. 20. KECAMATAN Lemahsugih Bantarujeg Cikijing Cingambul Talaga Banjaran Argapura Maja Cigasong Majalengka Sukahaji Rajagaluh NO 13. 15. Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Majalengka LUAS DAERAH (KM) 78.98 21.70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 6.53 Km2 atau 31.56 65.1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482. 2) Daerah Bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas permukaan laut dengan luas 376.27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.41 22.46 38. 19. 14. 5. 12.56 43.64 111. 16.50 41.69 Km2 atau 28.

Tabel 5.3 derajat C.9 derajat C. Letak Geografis Kabupaten Majalengka Dirinci Per Kecamatan Sumber: Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dalam Buku Pedoman Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 4.1. Suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober yaitu 35.2 derajat C. Suhu dan Kelembaban Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka 4.2.1. .9 derajat C sampai 29.2. sedangkan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu sebesar 22.1. Pada tahun 2009 suhu udara di Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 25.

Tabel 6. sedangkan kemarau terjadi pada bulan Agustus & September. geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara. Faktor lain yang mempengaruhi hujan dan arah/kecepatan angin . Curah hujan tertinggi di Kabupaten Majalengka terjadi pada bulan Pebruari 2009 yang mencapai 419 mm dengan jumlah hari hujan 26. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4.2. Curah hujan dan Keadaan Angin Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim.1. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi. Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 3 knot sampai 5 knot dan kecepatan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 28 knot.2.

206. Permasalahan tersebut diantaranya besarnya jumlah penduduk dan tidak meratanya penyebaran penduduk. Kependudukan Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan. Sedangkan jarak dari Ibukota Kabupaten Majalengka ke Kabupaten-kabupaten di Seluruh Jawa Barat berkisar antara 46 – 239 Km. Tabel 7. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0-37 Km. Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan permasalahannya. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4.3.adalah perbedaan tekanan udara.1.702 50 . Arah dan Kecepatan Angin di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi. Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 berdasarkan hasil Susenas 2009 adalah 1.

kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.096 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 333 Jiwa/Km2.82 % bila dibandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya.396 jiwa laki-laki dan 606. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 51 . Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah 1.002 Jiwa/Km2.306 jiwa perempuan atau meningkat 0. Grafik 1. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan masih lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan sex ratio 99.02 %.jiwa terdiri dari 600. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kecamatan Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 Grafik 2.

1.Tabel 8. 52 . Peningkatan jumlah penduduk umumnya diikuti pula dengan penambahan jumlah angkatan kerja yang tentunya menuntut peningkatan penyediaan lapangan kerja. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Sumber: Susenas 2009 4.897 orang perempuan dan 6. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Pencari kerja terdaftar selama tahun 2009 di Kabupaten Majalengka sebanyak 13.4. yang terdiri dari 6. Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan.417 Orang.520 orang laki-laki.

1. Di Kabupaten Majalengka sarana pendidikan yang tersedia meliputi sekolah yang kurang dari 5 (lima) tahun/MD.6. SD. SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan dengan program transmigrasi. Transmigrasi Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk.5. maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program. 53 . 4. Kecamatan Lemahsugih merupakan kecamatan terbanyak dalam hal jumlah pemberangkatan transmigran.4.1. Kutai Timur. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka yang diberangkatkan transmigrasi pada tahun 2009 berjumlah 15 Kepala Keluarga atau 60 jiwa. Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan disuatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Bila dilihat dari daerah tujuan transmigran dari Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah Propinsi Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Maloy. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf artinya dengan rendahnya tingkat buta huruf menunjukan keberhasilan program pengentasan buta huruf dan untuk mencapai program tersebut harus didukung oleh sarana pendidikan yang memadai. SLTP.

Jumlah Pemerintahan terendah di Kabupaten Majalengka berdasarkan satuan lingkungan setempat terdiri dari 2. Bila dilihat dari klasifikasi desanya terdapat 3 desa swadaya mula. Dari 334 desa tersebut 321 berstatus desa dan 13 berstatus kelurahan. 73 desa swakarya madya dan 1 desa swasembada madya.1.441 Rukun Tetangga. dengan rasio RT terhadap RW sebesar 3. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik.7.4.072 Rukun Warga/Rukun Keluarga dan 6.11%. Kesejahteraan merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka peningkatan SDM penduduk Kabupaten Majalengka. Pemerintahan Secara Administratif pada akhir tahun 2009 Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan dan 334 Desa. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. 4.1. yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Kesehatan dan Keluarga Berencana Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. karena itu program-program kesehatan telah dimulai atau diprioritaskan pada calon generasi penerus. 256 desa swadaya madya. Dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain dilakukan dengan penambahan tenaga para medis. 1 desa swakarya mula. Adapun Komposisi Keanggotaan DPRD Kabupaten Majalengka berdasarkan Hasil Pemilu 2009 sebanyak 50 anggota yang merupakan perwakilan dari Partai Persatuan 54 .8.

Partai Amanat Nasional (PAN) 5 orang. PKNU 1 orang dan Partai Patriot Pancasila 3 orang.5.Pembangunan (PPP) 4 orang. Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Berdasarkan Partai Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 Grafik 4.4 dan tabel 2. PKPB 1 orang . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2. Partai Golongan Karya (Golkar) 6 orang. Bila dilihat dari tingkat pendidikan anggota Dewan tercatat bahwa 100 % anggota Dewan berpendidikan SLTA keatas. Hanura 2 orang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10 orang. Jumlah Anggota DPRD Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 55 . Partai Bulan Bintang (PBB) 1 orang. Partai Demokrat 4 orang. Grafik 3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5 orang. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6 orang. Gerindra 1 orang. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1 orang.

Kabupaten (BPBD) Majalengka merupakan tempat tinggal atau domisili asli peneliti. Pembukaan Akses Terhadap Informan Perjalanan penelitian mengenai peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka bermula ketika peneliti tertarik dengan beberapa fenomena dan kejadian bencana alam di Indonesia.4. dan akhirnya dengan beberapa proses. Usulan penelitian ini kemudian peneliti ajukan kepada jurusan untuk menjadi bahan tugas akhir. melalui beberapa tahap diskusi dan dialog dengan beberapa dosen. peneliti memfokuskan di Kabupaten Majalengka. ataupun televisi. internet. Majalengka dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara geografis Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam yang kemudian ada sebuah organisasi perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana dan baru didirikan pada tahun 2009 yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. tahapan penyempurnaan dan perbaikan. sehinga peneliti lebih mudah dalam mengakses sumber informasi dan data dalam mejalankan penelitian. Pada mengenai kebencanaan sepertinya cukup waktu itu. baik dari sumber media cetak.2. penelitimencoba menarik untuk untuk mendiskusikan dengan teman dan dosen untuk melihat sejauh mana spesifikasi penelitian yang akan peneliti lakukan. Sehingga terlintas dalam benak pikiran peneliti bahwa permasalahan dikaji. usulan skripsi dengan judul peran pemerintah 56 . Selain itu. Pemilihan lokasi penelitian. kajian yang akan peneliti lakukan disarankan lebih spesifikasi pada lingkup birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. Ternyata.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). karena penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada tataran birokrasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Setelah itu peneliti dengan semangat dan tekad yang kuat pada hari Minggu tanggal 02 Januari 2010 memutuskan untuk melakukan pra survai agar lebih mengetahui sejauh mana spesifikasi permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka khususnya menyoroti pada aspek birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana alam.daerah dalam penangglangan bencana alam di Kabupaten Majalengka di acc. dan Kantor Kecamatan Bantarujeg. Dalam proses perizinan tersebut membutuhkan disposisi dari setiap lembaga maka hari itu peneliti fokus untuk memberikan surat izin pra survai kepada lembaga pemerintah yang akan 57 . Berbekal surat izin pra survai yang dibawa dari kampus pada hari Senin tanggal 03 Januari 2011 peneliti langsung mengunjungi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Kabupaten Majalengka untuk melakukan perizinan dalam pra survai yang akan peneliti lakukan. Dinas Sosial. Lembaga pemerintah menjadi tujuan pokok kunjungan peneliti untuk mendapatka informasi. Dinas Kesehatan. Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda). sehingga pada waktu itu untuk mencari informasi tersebut peneliti berkunjung ke beberapa instansi pemerintah yaitu. Pada waktu itu pula dengan berbekal surat izin pra survai dari Kesbang peneliti langsung mengunjungi beberapa informan awal untuk mengetahui sejauh mana permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pada hari Kamis tanggal 06 Januari 2011 surat pra survai mendapat disposisi dari Kantor Kesbang.

Senin tanggal 10 sampai dengan Jum’at tanggal 15 Januari 2011 peneliti langsung bergerak untuk mengunjungi lembaga pemerintah yang menjadi fokus penelitian. untuk mengetahui gambaran bencana alam yang sedang terjadi di 17 17 Dosen Pembimbing peneliti adalah Adhi Iman Sulaiman. Kamis.IP. dan teman-teman. MA selaku pembimbng II. kemudian dilanjutkan ke Dinas Sosial. Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2011 peneliti kembali ke kampus untuk melanjutkan proses bimbingan usul penelitian untuk melalui tahap seminar usul penelitian.Si selaku pembimbing I dan Khairuroojiqien Sobandi. S. S. Setelah melakukan beberapa proses awal untuk mendapatkan informasi akhirnya peneliti memutuskan untuk kembali ke kampus untuk memperiapkan bimbingan usul penelitian kepada dosen pembimbing . M. dan Bappeda. Setelah itu dilakukan revisi proposal tersebut untuk memantapkan fokus penelitian yang akan peneliti lakukan. kemudian Rabu. kerabat. Selasa peneliti berkunjunjung ke Dinas Kesehatan. Kunjungan pertama untuk dimulai di BPBD. Kantor Kecamatan Bantarujeg. Melalui proses bimbingan akhirnya pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 peneliti melaksanakan seminar proposal usul penelitian. 58 . Setibanya di Majalengka peneliti tidak langsung bergerak untuk melakukan penelitian.IP. Setelah proposal usul penelitian selesai dengan membawa surat izin penelitian dari Bapendik FISIP Unsoed peneliti kembali ke Majalengka pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2011 dan siap untuk menjalani penelitian. kakak. namun waktu luang dari hari Jum’at sampai dengan Minggu (25-27 Maret 2011) peneliti gunakan untuk berdiskusi dan share terkait penelitian yang akan peneliti lakukan kepada orang tua.peneliti kunjungi. dan Jum’at masing-masing mengunjungi DPRD.

satu hari penuh peneliti menggali informasi tersebut dengan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk merepresentasikan pembahasan penelitian.Majalengka dan membuka jaringan di lembaga pemerintahan yang akan dijadikan sumber informasi dalam melakukan penelitian. Informasi dan data-data bisa terkumpul yang kemudian akan mendukung dalam penyususnan penelitian khususnya konteks peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka berakhir pada hari Sabtu. dan itupun peneliti tidak kemudian langsung terjun untuk melakukan penelitian karena pada hari Jum’at kantor pemerintahan hanya beroperasi setengah hari dan kemudian pada hari Sabtu libur. peneliti langsung mengurus surat izin penelitian ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). tanggal 23 April 2011. sekaligus mengunjungi Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). DPRD. Berbekal pengetahuan dan jaringan informan maka pada hari Senin tanggal 28 Maret 2011. dan Kecamatan. dimulai dari Dinas Sosial dan kemudia Dinas lainnya. Senin tanggal 11 April 2011 peneliti mulai melakukan penelitian di instasi atau lembaga pemerintahan. Lamanya prosedur penelitian atau disposisi dari Kesbangpol membuat peneliti menjadi jenuh. Sambi menunggu kembali hari aktif kerja kantoran maka pada hari Minggu tanggal 10 April 2011 peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian ke masyarakat selaku korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. karena surat izin penelitian baru di keluarkan seminggu kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 08 Maret 2011. Bappeda. BPBD. Blok Klewih RT/RW 09/12. 59 .

ancaman gempa bumi. angin puting beliung. Banjaran. Argapura. Analisis Potensi Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Secara administratif Kabupaten Majalengka yang terletak pada meridian 01 derajat 14’20”BT dan 06 derajat 33’40” – 07 derajat 04’19” LS dengan luas 1. Daerah-daerah yang termasuk ke dalam zona resiko tinggi letusan Gunung Ciremai adalah Kecamatan Argapura dan sebagian wilayah Sukahaji dan Rajagaluh. Maja.204. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka 4. Ancaman-ancaman bahaya bencana alam tersebut dapat dikelompokan menjadi bahaya beraspek geologi (ancaman gempa bumi.1.3.3.Daerah yang rawan gempa di wilayah Kabupaten Majalengka diantaranya Kecamatan Rajagaluh. Maja. dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cikijing dan Cingambul.3. Sindangwangi. angin putting beliung. dan bahaya beraspek hidrometeorologi seperti ancaman banjir. Bantarujeg. Malausma. tanah longsor.24 km persegi atau 2. 18 18 Laporan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka 60 . Hasil Penelitian 4.4. Talaga. dan kekeringan . serta kekeringan.1. Potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari ancaman bencana letusan Gunung Ciremai.71% luas total Provinsi Jawa Barat dan terbagi kedalam 27 wilayah kecamatan dan 334 desa/kelurahan memiliki potensi bencana alam (potential hazard) yang cukup tinggi. Sukahaji. tanah longsor dan letusan Gunung Ciremai). Lemahsugih.1. banjir. Daerah resiko tinggi ancaman longsor berada di wilayah bagian selatan diantaranya Kecamatan Argapura.

Rajagaluh. Pada tahun 2009 terjadi 67 kejadian sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 114 kejadian. dan Sukhaji. Argapura. Jatiwangi. Kadipaten. Wilayah yang rawan atau berpotensi mengalami kekeringan atau kesulitan air di wilayah selatan diantaranya meliputi Kecamatan Sukahaji. Lemahsugih. sedangkan Desa Dawuan yang berada di wilayah Kecamatan Dawuan merupakan desa yang sulit mendapatkan air bersih sepanjang tahun . serta wilayah Cikijing. Untuk wilayah utara meliputi Kecamatan Ligung. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Sementara untuk ancaman angin puting beliung berdasarkan sejarah kejadian umumnya berada di wilayah utara yang mencakup Kecamatan Kertajati. Sumberjaya. Maja. Panyingkiran. Cigasong.Banjaran. sebagian Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Banjaran. Ligung. 19 19 Ibid 61 . dengan kerentanan dan variasi bencana dengan daerah yang berbeda. Palasah. Berdasarkan laporan dari BPBD dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Majalengka angka kejadian bencana alam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. dan Cingambul. Sindangwangi. Jatitujuh. Berikut tabel kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 dan 2010. dan sebagian wilayah Kecamatan Cikijing. Bantarujeg.

Tabel 9. Sabtu 6 November 2010 62 . Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2009 Sumber: Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Majalengka Tabel 10. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2010 BULAN Januari BENCANA YANG TERJADI Tanah Longsor Putting Beliung Kebakaran Banjir Tanah Longsor Tanggul jebol Kebakaran Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Sambaran petir Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Longsor Banjir Pohon tumbang Kebakaran Kebakaran Tanah longsor Kebakaran TOTAL VOLUME LUKA RINGAN 9 kali 8 kali 1 kali 1 kali 14 kali 1 kali 1 kali 3 kali 5 kali 2 kali 4 kali 3 kali 2 kali 6 kali 2 kali 2 kali 8 kali 4 kali 1 kali 5 kali 2 kali 2 kali 2 kali 114 kali JUMLAH KORBAN LUKA TEWAS BERAT 1 1 1 Februari 1 Maret 2 1 April Mei 3 3 Juni-Juli Agustus 7 4 2 Sumber: BPBD Majalengka dari Radar Majalengka.

Hal mendasar adalah berbicara prospek pemerintah daerah dalam menganalisis potensi bencana alam di Kabupaten Majalengka. yang diwakili oleh Ibu Yati Sumiati . nah mangkanya daerah kita termasuk daerah rawan 21 bencana . dataran sedang. peneliti ajukan kepada Sekretaris Daerah. seperti yang dipaparkan oleh Yuarliana . 63 . sehingga atas dasar tersebut bisa dikatakan Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. Senada dengan infroman lainnya. 22 Yuarlina adalah Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. 21 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati yang dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08. kemudian daerahnya merupakan patahan lempeng bumi.Angka kejadian bencana alam yang terus meningkat menjadi dasar pertanyaan yang akan peneliti tanyakan kepada pemerintah daerah sebagai akses pembuka dalam penelitian ini. Informan pun menjawab pertanyaan dengan sebuah argumentasi utama bahwa hal yang mendasar pemerintah daerah dalam menganalisis bencana alam di Kabupaten Majalengka adalah secara geografis berada dalam satu lipatan patahan bumi terdiri dari wilayah dataran tinggi. 22 20 Yati Sumiati adalah Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka yang bertugas sebagai basis konseptual perumusan kebijakan evaluasi dan monitoring Satuan Kerja Perangkat Daerah. Berikut pemaparan informan dalam sebuah wawancara: 20 Wilayah Majalengka digolong sebagai wilayah bencana. yang merupakan rekannya di Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Pertanyaan ini.05 WIB di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. dan rendah mengakibatkan bencana yang terjadi lebih bervariasi pula. Bagian Organisasi. terbukti dengan runtutan kejadian-kejadian bencana alam yang sekarang terjadi.

baik itu di daerah selatan yang merupakan daerah atas rawan dengan 23 Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 09. 24 A. Syihabuddin adalah Ketua Komisi C (Bidang Pembangunan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka Periode 2009-2013. Begitu juga disampaikan oleh A. Kita melihat potensi Majalengka cukup besar. 64 . Syihabuddin 24 yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana dan tentunya memerlukan sebuah perhatian khusus baik itu bagi pemerintah sebagai agen kebijakan dan masyarakat sebagai penerima kebijakan. maka dari itu pemerintah pun konsen terhadap 25 penanggulangan bencana . kita kan gak bisa menghindar.25 . longsor). Dipertegas oleh Heri Pambudhi 26 bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. 26 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. Walaupun bencana itu hanya bencana kecil namun ketika dibiarkan akan sangat fatal. banjir erosi dan lainnya.Secara geografis Majalengka rawan bencana alam. angin puting beliung.10. sehingga satu sama lainnya bisa saling menguntungkan. 25 Hasil wawancara peneliti dengan A Syihabuddin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09. tetapi tidak kemudian menganggap remeh hal tersebut. tanah longsor. Itu faktor alam. maka harus dibutuhkan kesiapsiagaan 23 dalam panggulangannya . walaupun skala bencana yang terjadi adalah kecil.40 WIB dikantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Bagian Kesejahteraan Masyarakat.10-30 WIB di kantor Komisi D DPRD Kabupaten Majalengka. karena bisa saja dampak yang ditimbulkan berfek besar. Majalengka merupakan rawan bencana (ada bencana banjir.45 . dan bencana sangat bervariasi mulai dari gempa bumi karena daerah kita termasuk wilayah patahan bumi.

perdamaian abadi dan keadilan sosial. menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Pembentukan undang-undang ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam alenia ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.2. sehingga potensi gempa.00 . Secara geografis Kabupaten Majalengka berada dalam jalur patahan bumi dengan konstruk wilayah labil yang menyebabkan bencana alam sering terjadi. 4.1. memajukan kesejahteraan umum.3.15 WIB di kantor Bagian Kedaruratan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. abrasi.longsor dan jalur patahan bumi. Sehingga bisa dinyatakan Kabupaten Majalengka adalah kawasan rawan bencana alam. dengan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. sampai puting beliung. Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak 27 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 11. banjir.12. 65 . 27 Kemudian dataran rendah sangat berpotensi kekeringan . mulai dari longsor. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 merupakan landasan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana. gempa. Kesimpulan dari berbagai argumentasi hasil wawanacara.

geologis. dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi. saat tanggap darurat dan pasca bencana. Materi muatan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 berisikan ketentuan-ketentuan pokok sebagai berikut : a) Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah. terkoordinasi. sehingga memerlukan penanganan yang sistematis. terpadu. Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari unsur pengarah dan unsur 29 28 29 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV Lihat Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penangggulangan bencana 66 . b) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). disusunlah undang-undang tentang penanggulangan bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra bencana. dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana. 28 hidrologis. Mencermati hal tersebut. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan kondisi alam yang memiliki berbagai keunggulan. namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang memiliki kondisi geografis. terpadu. dan terkoordinasi.atas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia . yang dilaksanakan secara terencana. dan menyeluruh.

dan masyarakat pada setiap tahapan bencana. e) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana. pemerintah daerah. saat tanggap darurat. f) Pada saat tanggap darurat. juga disediakan dana siap pakai dengan pertanggungjawaban melalui mekanisme khusus. d) Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana. mendapatkan perlindungan sosial. c) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. 67 .pelaksana. g) Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah. mendapatkan pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. kegiatan penanggulangan bencana selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan terpadu sesuai dengan kewenangannya. dan pasca bencana.

diwadahi dalam sekretariat. Akhirnya pemerintah pun memutuskan dan mengesahkan Perka BNPB Nomor 03 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan BPBD. baik pidana penjara maupun pidana denda.h) Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus memberikan efek jera terhadap para pihak. Pemerintah daerah dalam hal ini adalah kepala daerah Kabupaten Majalengka dalam penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. unsur 68 . unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat. perlu menetapkan tentang pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum. baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang menimbulkan kerugian. pemerintah daerah perlu membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). menghambat kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana. dan penyalahgunaan pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi pidana. baik terhadap harta benda maupun matinya orang. Dalam rangka memenuhi amanat dari undang-undang tersebut pemerintah daerah Kabupaten Majalengka menyusun sebuah mekanisme untuk merealisasikan berdirinya BPBD sebagai organisasi perangkat daerah. Dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sesuai ketentuan Pasal 12 huruf h. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 18 dan pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Yati Sumiati informan dari Sekretaris Daerah (Sekda) yang menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan 69 . karena dengan alasan tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskanhal tersebut. namun informan hanya memberikan gambaran secara umum.perencana yang diwadahi dalam bentuk badan. diwadahi dalam lembaga teknis daerah. Informan hanya menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam menjadi hal yang menarik dalam melihat sejauh mana kebijakan tersebut diimplementasikan. Pertanyaan tersebut peneliti ajukan kepada Ibu Yuarlina Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. yang di dalamnya mengatur tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. kemudian di follow up dengan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

32 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. dan pasal 7 bagian satu . dan g. 31 (1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. c. penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah. f. Bukti keseriusan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah dengan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. pemulihan kondisi dari dampak bencana. b.Bencana. pembuatan perencanaan pembangunan yangmemasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. d. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. b. e. dan g. badan-badan. atau pihakpihak internasional lain. f. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana. penentuan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain. Secara mendasar kebijakan tersebut di amanahkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). c. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan pembangunan nasional. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada pada UU 30 31 24/2007 pasal 6 . d. Pentingnya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengka karena secara mendasar Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana 30 Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. e. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan alam untuk melakukan pemulihan. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional. mungkin 32 seperti itu dasarnya . penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Cit 70 . berikut pemaparan beliau: Bahwa NKRI dan dalam hal ini adalah pemerintah daerah Majalengka bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana.

(2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Bisa dilihat alasan kita membentuk BPBD di dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 BAB IV di kelembagaannya 33 khususnya di pasal 18 . yang dipimpin Kesbangpol. Kalo sbelum didirikan BPBD kita mempunyai Satkorlak PB. Oleh karena itu. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. namun setelah didirikan BPBD maka Satkorlak PB dibubarkan. Namun kondisinya di semua kabupaten belum membentuk badan 34 penanggulangan bencana . Sehingga Pemda membentuk kembali lembaga yang lebih khusus dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. kalo disini kita namakan BPBD.alam. dengan melanjutkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Nomor 03 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).tapi sekarang lebih bersifat koordinasi.dan b. Dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya mengatur tentang pendirian BPBD atas landasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penangggulangan Bencana. 34 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. jadi bisa dikatakan sebagai rohnya. yang disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Majalengka maka dibentuklah BPBD. Cit 71 . Sehingga sekarang penanggulangan bencana ditanganai tidak secara vertikal lagi. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib. 33 (1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Jadi tingkat nasional juga harus dibentuk badan peanggulangan bencana.

dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadikan landasan dikeluarkannya kebijakan penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dengan dibentuknya Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertujuan sebagai landasan lembaga atau organisasi perangkat daerah yang fokus dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Bagan Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka Sumber: Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perngkat Daerah 72 . Gambar 6.

g.Adapun kedudukan. penanganan darurat. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan h. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. tugas pokok dan fungsi dari BPBD sesuai dengan amanah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dalam pasal 53 adalah: (1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah unsur pendukung tugas Bupati yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Bupati. e. f. d. (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas pokok: a. Menyusun. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan yang mencakup pencegahan bencana. rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Bupati setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan peraturan perundangundangan. c. 73 . b.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Unsur Pengarah. b. Unsur Pelaksana. 74 . efektif dan efisien. b. (3) Susunan Organisasi Unsur Pelaksana Badan Penanggulangn Bencana Daerah. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh.(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kepala Pelaksana. Sementara itu. (2) Pengaturan Unsur Pengarah Badan Penanggulagan Bencana Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terdiri dari : a. terdiri dari: a. membawahkan : 1. c. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. untuk penjelasan terkait struktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) termaktub dalam pasal 54 sebagai berikut: (1) Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah. menyelenggarakan fungsi : a. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. Sub Bagian Umum. b. Kepala Badan. Sekretariat. c.

e. Seksi Pencegahan Bencana. Bidang Kedaruratan dan Logistik. Seksi Rekonstruksi Bencana. bagaimana manajemen dalam penanggulamgan bencana yang dilakukan.2. Evaluasi dan Pelaporan. (4) Bagan Struktur Organisasi Badan Penangulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran XXVII Peraturan Daerah ini.1. 3.3. 2. Pemikiran tersebut mendasari peneliti untuk menanyakan kepada informan. c. Seksi Kesiapsiagaan Bencana. Seksi Logistik Bencana. membawahkan : 1.3. membawahkan : 1. membawahkan : 1. d. 4. 2. Seksi Kedaruratan Bencana. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan. Sub Bagian Keuangan. f. Pertanyaan ini lebih di fokuskan pada Badan Penanggulangan Bencana 75 . Manajemen Majalengka Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Penanggulangan bencana alam tentunya membutuhkan upaya-upaya yang terorganisir dan sistematis agar tercipta sebuah penanganan yang efektif dan efisien. Sub Bagian Perencanaan. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. 2. Seksi Rehabilitasi Bencana. Kelompok Jabatan Fungsional.

Dalam melaksanakan penanggulangan bencana di daerah akan memerlukan koordinasi dengan sektor. b) Sektor kesehatan. e) Sektor keuangan. f) TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan mengungsi. termasuk obat-obatan dan para medis. merencanakan tata ruang daerah. sandang dan kebutuhan dasar lainnya untuk korban atau pengungsi. penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Pada hari Senin tanggal 18 April 2011 peneliti mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai manajemen penanggulangan bencana yang dilakuakn oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. merencanakan kebutuhan pangan. merencanakan pelayanan kesehatan dan medis. d) Sektor pekerjaan umum. c) Sektor sosial. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana prasarana. karena badan ini merupakan satuan kerja perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana.Daerah (BPBD). secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut : a) Sektor pemerintahan. salah satunya adalah lokasi yang ditinggal karena penghuninya 35 35 Buku panduan penaggulangan bencana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka 76 . sedangkan SKPD lainnya merupakan elemen pembantu dan koordinasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana. mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah.

dengan mengunjungi kantor BPBD. Heri Pambudhi

36

pun menjelaskan bahwa

dalam manajemen penanggulangan bencana sebenarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Karena informan membidangi kesiapsiagaan dan darurat maka jawabannya lebih menjelaskan pada konteks penanggulangan bencana sebelum bencana terjadi. Berikut pemaparan informan mengenai hal tersebut.

Kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Atas dasar geografis Majalengka yang rawan akan bencana maka munculah Perda No 10 tahun 2009. Untuk fungsi komando BPBD ini memegang pucuk pimpinan pada saat terjadi bencana, kalo tidak terjadi bencana kita tidak berhak untuk itu. Fungsi Pelaksana misalkan kita mendapatkan alokai dana dari propinsi atau pun APBD kita langsung melaksanakan saja secara administrasi, tetapi pada saat pelakasanaan di lapangan yang secara teknis melaksanakan adalah dinas teknis 37 seperti DBMCK, Dinkes dan lainnya . Setelah itu peneliti direkomendasikan untuk mewawancarai kepada bidang tanggap darurat. Pada waktu itu pula peneliti langsung bertemu dengan Hardi. Informan menjelaskan mengenai manajemen penaggulangan bencana pada saat tanggap darurat. Karena secara makronya ada bencana alam, non alam dan sosial, khusunya yang dilakukan tindakan kedaruratan bencana yang terjadi di Kabupaten kita, kita melakuakn kegiatan-kegiatan ketanggap daruratan seperti memberikan sembako dan fammilly kit, hanya selama ini untuk bantuannya sendiri terbatas. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu
36

Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Keaduratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. 37 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi Loc. Cit

77

sudah terakumulasi, karena pada saat terajdi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain. Kesehtan bisa meberdayakan Dinkes dan Puskesmas, kemudian dibantu dengan TNI dan dinas lainnya, seperti itulah tapi 38 tetep dengna komando dari BPBD . Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kemudian peneliti mencoba untuk menggali informasi di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD. Peneliti pun langsung to the point menanyakan tentang fungsi dari rehabilitasi dan rekonstruksi kepada Moch Agus Slamet , dan beliau pun langsung mengulas dan menjelasakan inti dari rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti pemaparannya berikut ini.
39

Rehabilitasi itu ya intinya tugasnya pasca bencana yaitu merehabilitasi akibat bencana nya, kalo rekonstruskinya yaitu memperbaiki dari keadaan rusak menjadi keadaan semula, setelah bencana kita tingkatkan menjadi lebih baik, kalo merehab intinya begitu. Tapi untuk sampai saat ini bantuan fisik kontruksi belum bisa dilaksanakan. Kalo untuk yang sekarang penanganan-penanganan yang terjadi akibat longsor itu belum terealisasi namum tetep kita usulkan. Untuk sampai saat ini belum ada yang kita bantu. Untuk masalah pendanaan kalo berat yang nanganinya pusat 15 juta propoinsi 5 juta, kabupaten 1 juta, karena itu sudah peraturan. Kita cuma dana siap doang, tapi untuk 40 dana anggaran belum dianggarkan . Manajemen penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Majalengka meliputi pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana. Manajemen ini di dasarkan pada amanah Undang-Undang

38 39 40

Hasil wawancara peneliti dengan Hardi Loc. Cit Agus Slamet adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka Hasil wawancara peneliti dengan Agus Selamet yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2001 pukul 12.20 - 13.10 WIB di kantor Bagaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

78

Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Tentunya langkahlangkah ini harus dilaksaksanakan dengan se-efekitf mungkin dan melihat kapasitas dan orientasi yang dilakukan pada penanganan bencana. Peran dari setiap bidang atau lini yang berada di BPBD sangat diperlukan sebagai langkah dan upaya penanganan bencana yang terintegrasi. Peran dalam penanggulagan bencana tentunya tidak melihat pada satu instamnsi atau aktor saja, namun tentunya berada di stakeholder lainnya, salah satunya adalah Dinas Kesehatan. Pola manajemen penanggulangan bencana pun mereka lakukan, walaupun secara tidak langusng Dinas Kesehatan berada dibawah garis koordinasi dan komando BPBD, secara mendasar Dinas Kesehatan memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan bencana. Berikut penjelasan hasil wawancara dengan Dinas Kesehatan mengenai manajemen penangggulangan bencana alam.

Pada kejadian bencana khususnya pra bencana kita jelas di semua tahapan salah satunya memberdayakan forum masyarakat, kemudian kita memanfaatkan bidan desa, mereka juga kita bekali dengan pengetahuan bagaimana untuk mengenali peluang dan potensi bencana di desa 41 masing-masing. Kemudian untuk survelian dan MATRA sudah jelas akan mengamati terkait potensi bencana di setiap desa, itu di tahap bencana, disamping juga kita menguatkan puskesmas sebagai pos terdepan dalam penanggulangan bencana. Pas bencana kita segera menurukan tim gerak cepat untuk intervensi langsung terjun lapangan. Kemudian pasca benca, itu banyak sekali kan kerusakan akibat bencana, jelas salah satunya adalah

41

MATRA (kondisi normal berubah menjadi tidak normal kemudianm enjadi normal lagi)

79

Dari kutipan wawancara tersebut. Setelah bencana kita itu ada perencanaan untuk relokasi dan rekonstruksi.30 – 09.35 WIB di kantor inas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) Kabupaten Majalengka. dan setelah bencana. saat bencana. tapi jika kemudian lahan tersebut tidak aman 43 untuk dihuni maka kita akan relokasi . Sebelum bencana kita sosialisasi juga ke masayarakat. Pada saat bencana kita turunkan tim untuk menanggulangi bencana dengan kemampuan yang kita miliki. Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa peran Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dengan manajemen yang dijalankannya lebih pada 42 Hasil wawancara peneliti dengan Ida Heriyani selaku Kepala Seksi Bagaian Survelian dan Matra Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. Tentunya Dinas Kesehatan menjadi mitra kerja bagi BPBD dalam penanggulangan bencana. itu tergantung dari hasil pas survey pada saaat bencana. Kalau misalkan masih memungkinkan berdiri bangunan. 43 Hasil wawancara peneliti dengan Indriyanto selaku Kepala Seksi Perumahan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 pukul 08. Manajemen yang dilakukan setidaknya memberikan sebuah gambaran bahwa Dinas Kesehatan memang sangat fokus dan konsen dalam usaha penanggulangan bencana pra bencana. Dinas Kesehatan mempunyai tupoksi sendiri untuk menjalankan penanganan bencana. 80 . khususnya dalam bidang kesehatan itu sendiri Bagaimana dengan peran yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK)? Dipaparkan mealalui petikan hasil wawancara peneliti bersama informan dari DBMCK mengenai manajemen penanggulangan bencana alam yang dilakukan oleh dinas tersebut.kondisi kesehatan masyarakat. maka kita mempunyai 42 tanggung jawab dalam memulihkan kondis korban .

dalam penanggulangan bencana peran dan pola manajemen penanggulangan bencana dilakukan Dinas Sosial seperti disampaikan Asikin sebagai berikut: Sebelum bencana kita melaksanakan penyuluhan ke daerahdaerah reawan bencana yaitu mengingatkan kepada masyarakat biar waspada. 81 . dan kementerian jika memang itu harus memungkinakan harus di relokasi. Kita 44 melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan BPBD .35 WIB di kantor Bagian Sosial. melalui kepanjangan tangannya yaitu lembaga daerah yang konsen dan mempunyai tanggungjawab dalam bidang kebencanaan tentunya tidak bisa terelakan lagi untuk memberikan sebuah jawaban itu semua. Setelah kita memulihkan kembali kepada korban agar tidak trauma. Kita juga melakukan relokasi dengan cara pengajuan proposal ke propinsi dulu.25 – 10. Kita kerjasama dengan BPBD. Sebelum dibentuk dan didirikannya BPBD. Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka. Komitmen pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana begitu sangat dinantikan oleh masyarakat. memberikan pelayanan relokasi ke daerah yang lebih aman. Pada saat bencana kita terjun langsung dengan bantuan-bantuan logistik seperti pasang tenda. makanan danevakuasi korban. Dinas Sosial menjadi koordinator dalam Satkorlak PB (Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana). Dinas sosial merupakan dinas yang mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana. 44 Hasil wawancara peneliti dengan Asikin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09. Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa setiap sektor mempunyai tugas dan perannya masing-masing dalam upaya penanggulangan bencana alam. Dinas Sosial. dan sekarang yang lebih konsen adalah BPBD.penanganan relokasi bagi korban bencana dan penurunan alat-alat berat pada saat bencana alam terjadi.

mulai dari beras itu sudah dipersiapkan. Upaya-upaya yang telah. Informan mengatakan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah Pra Bencana.45 WIB di kantor Kecamatan Jatitujuh. Posisi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sangat sentral dan penting. Kecamatan mempunyai posisi strategis dalam penanggulangan bencana. sedang. Manajemen penanggulangan bencana yang sistematis tentunya akan memudahkan dan memepercepat penanggulangan bencana alam yang efektif dan efisien.Dalam penanggulangan bencana. Hasil wawancara peneliti dengan Kardia yang dilaksanakan pada tanggal Rabu 20 April 2011 pukul 09. Tanggap darurat kecamatan sudah membuat langkah tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban. 82 . Kabupaten Majalengka. ada kerjasama dengan UPTD dan masyarakat sekitar. yang merupakan institusi terendah dalam sebuah pemerintahan daerah. seperti hasil wawancara peneliti dengan informan dari kecamatan yaitu Bapak Kardia . Dinas Sosial bersinergi dan berbagi peran dengan BPBD dan dinas lainnya. Pasca bencana kita mengusahakan untuk membuat pelaporan 46 bencana alam kepada pemerintah daerah .20 – 10. Tupoksi yang telah dimiliki masingmasing stakeholder dalam penaggulangan bencana alam setidaknya bisa di aplikasikan secara nyata dalam konteks standarisasi peanggulangan bencana alam 45 45 46 Kardia adalah Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Koordinasi menjadi hal yang mutlak diperlukan agar setiap lini bersinergis dan bahu-membahu dalam melaksanakan perannya masing-masing. Selain itu tentunya kita melihat pada peran kecamatan. dan akan dilakukan menuntut pada sebuah pembagian peran masing-masing stakeholder dalam penanggulangan bencana.

yang tepat.1. Mekanisme penanganan 47 bencana kalo sifatnya emergency sekali maka akan 47 Emergency adalah keadaan darurat 83 . tidak ada sekat atau garis pemisah agar setiap warga negara memiliki kepedulian sosial terhadap warga lainnya.3. Peneliti pun tertarik untuk menanyakan sejauh mana distribusi peran-peran dari satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dan kelurahan merupakan unsur vital yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.2. Distribusi Peran Satuan Kerja Perangkat Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majelengka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama pemerintah daerah terdiri dari unsur satuan kerja perangkat daerah yang di dalamnya terdiri dari dinas. kecamatan. karena secara operasional yang menanggulanginya adalah BPBD dan dinas-dinas teknis lainnya. 4.3. inspektorat. sebagaimana telah di amanahakan dalam konstitusi dan hukum negara kita.2. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka. Penanggulangan bencana alam adalah tanggungjawab semua elemen. lembaga. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan terkait distribusi peran stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka dengan Ibu Yuarlina dari Sekretaris Daerah bagian Kesejahteraan Masyarakat: Kami di bagian Kesra sifatnya hanya memfasilitasi dan mengkoordinasikan jika ada kejadian-kejaidain. 4.

Iya kita secara aspek politis DPRD konsen terhadap evaluasi dan monitoring terhadap bencana-bencana yang terjadi di Majalengka. Jadi sifatnya kami hanya mengkoordinasikan saja.diarahkan kepada OPD untuk terjun langsung. Begitu halnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga controling eksekutif pemerintah daerah dalam mekanismenya 48 mempunyai peranan penting untuk menjaga dinamika dalam menyuarakan dan mengaspirasikan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. dan sifatnya 49 berkelanjutan . ekonomi dan lainnya . berikut hasil wawancara peneliti dengan komisi C DPRD Kabupaten Majalengka. Cit 84 . Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa fungsi dari Sekretrais Daerah selaku jabatan eselonisasi sekaligus menjabat sebagai ketua dari BPBD hanya melaksanakan fungsi koordinasi dan memfasilitasi kejadian bencana yang ada. Cit 50 Hasil wawancara peneliti dengan A. 48 49 OPD adalah kependekan dari Organisasi Perangkat Daerah Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina Loc. Baik itu seperti usulan 50 pembangunan infrastruktur. Jadi kami disini menginventarisir kejadian-kejadian juga kami kordinasikan dinas-dinas dalam penanggulangan bencana. salah satu komisi yang konsen terhadap penanganan bencana yaitu komisi C membidangi pembangunan. Syihabuddin Loc. koordinasi dengan dinas-dinas lainnya melalui BPBD. Sementara untuk mekanisme teknis dalam penanggulangan bencana dilimpahkan kepada dinas-dinas teknis atau organisasi perangkat daerah yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana secara koordinatif dan berkelanjutan.

45 WIB di kantor bagian Kedaruratan dan Logistik. Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan dari BPBD. Hal yang lebih spesifik melihat peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.Dari petikan wawancara di atas DPRD mempunyai andil besar dalam monitoring dan evaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul 13.Si selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitik BPBD Kabupaten Majalengka. dan fasilitasi dengan membagi tugas dan tupoksi 51 Petikan wawancara dengan Drs. peneliti mewawancarai informan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). koordinasi dan fasilitasi itu sudah terakumulasi. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando. baik pra bencana. Dengan melakukan koordinasi dengan dinas lain yaitu dengan adanya tim kaji cepat. ekonomi dan bidang lainnya. Hardi.00-13. koordinasi. termasuk untuk menggali dan melihat potensi kebencanaan. saat bencana dan pasca bencana. untuk spesifik tugas berada di 51 dinas-dinas lain atau lintas bidang . dengan melakukan koordinasi dengan dinas lainnya. Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 85 . agar kerentanan bencana bisa teratasi dan memberikan perlindungan bagi masyarakat dan korban bencana alam. Seperti hasil wawancara tersebut. DPRD memberikan sebuah usulan atas pembangunan infrastruktur. M. Petikan wawancara di atas memberikan penjelasan bahwa dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka BPBD mempunyai siklus dalam penanganannya. Di BPBD ada semacam siklus. Termasuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana. memberikan treatment slogan-slogan bencana dengan penyuluhan atau lainya. karena pada saat terjadi bencana. informasi daerah rawan bencana. juga dalam bentuk sosialisasi kebencanaan. Fungsi BPBD dalam emergency respons mempunyai tiga fungsi dalam penanggulangan bencana yaitu fungsi komando.

karena kita bukan dinas teknis .25 WIB di kantor bagian Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Berbicara tentang fungsi koordinasi lintas bidang peneliti kembali bertanya. BE selaku Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka. Jadi kiprah kami selama satu 53 tahun. 52 Secara umum jalur komando itu berada di BPBD. Cit 86 .masing-masing dinas. Loc. sebenarnya seperti apa fungsi koordinasi yang dijalankan tersebut. menjadi normal. Setelah mengetahui sejauh mana peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Moch Agus Slamet. Nanti kita ada penanganan sebelum bencana. kita berkoordinasi di bawah BPBD kita bekerjasama dengan TNI kita langsung tanggulangi. kaena penanggulangan bencanan ini merupakan tanggungjawab bersama dan dilakukan lintas sektor maka untuk mengetahui sejauh mana peran dari lembaga lain dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peneliti memutuskan untuk mewawancarai informan dari Dinas Kesehatan. baik psikis ataupun psikologis. pada saat bencana dan pasca bencana. 53 Hasil wawancara dengan Heri Pambudhi. Dalam prakteknya BPBD mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan oleh korban. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. karena kita di kecamatan 52 Hasil wawancara dengan R. dan masih umum sudah bisa berjalan . Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul13. Jadi peran Dinas Kesehatan adalah memulihkan kondisi tidak normal karena bencana alam menjadi situasi tidak normal. Contoh kemarin ada bencana banjir di Kertajatai.45 – 14. karena secara langsung Dinas Kesehatan sangat berhubungan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam. Penjelasan tersebut kemudian diperjelas dengan siklus manajemen yang dilakukan BPBD dalam peanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

87 .ada puskesmas. kalaupun misalkan diminta bantuan kalau misalkan dinas DBMCK jadwalnya kan rutin sewaktuwaktu ada laporan diminta bantuan ada bencana alam kita siap. Dinas Kesehatan mempunyai peran dalam pemulihaan kesehatan korban bencana alam karena dampak bencana tidak hanya pada hancurnya bangunan ataupun rusaknya lingkungan sekitar. Kalau misalkan alat berat kita langsung menghubungi bidang alat berat. jadi kita perankan puskesmas. Pertanyaan yang diajukan masih seputar peran DBMCK dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. salah satunya adalah melihat peran dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. dimana hal ini menjadi perhatian khusus agar korban yang lolos dari bencana alam bisa tertangani dan terselamatkan. yaitu 54 55 Hasil wawancara dengan Ida Heriyani. Hasil wawancara dengan Indrayono Loc. Stakeholder lain pun tentunya memiliki peranan khusus dalam penanggulangan bencana alam. secara tidak langsung peranannya lebih spesifik pada penanganan setelah bencana. Hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dari DBMCK. berikut pemaparannya. yang biasanya menjadi pelopor dalam rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana yang ditimbulkan. Disini kita fokus pada pendataan 55 bangunan. Cit. Jadi yang 54 jelas kita bergerak di dalam bidang kesehatan . kemudian kepada rencana relokasinya . Memberikan sosialisai dan membangun rumah tinggal korban bencana. Tetapi berdampak pula pada subjek atau korban bencana alam tersebut. Loc. sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. Peran Dinas Kesehatan melalui perangkatnya mempunyai efek positif dalam pemulihan atau normalisasi korban bencana alam. Cit.

88 . Seperti petikan wawancara sebagai berikut: Peran dari Dinsos merancanakan pendataan dan pelaksanaan dalam penanggulangan bencana. dan pelaporan kejadian bencana ke tingkat propinsi maupun pemerintah daerah yang nanti ditidaklanjuti oleh kementerian. terus memfasilitasi para korban diantaranya memberikan makan. Salah satu faktor lain yang memiliki peran penting adalah satuan kerja perangkat daerah lainnya yaitu pihak kecamatan. Seiring dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 yang didalamnya mengatur pembentukan BPBD maka pada waktu itu pula Satlak PB di bubarkan. karena mengkordinatori Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana).pada tataran rehabilitasi dan rekonstruksi. Cit. Sudah sangat jelas bahwa fungsi dan peran dari stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam agar tercipta sebuah penanggulangan yang efektif. yang tentunya berperan dalam pengendalian bencana alam di 56 Hasil wawancara dengan Asikin. pakaian dan lainnya. Loc. pembuatan dapur umum. Sebelum dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) peran dari Dinas Sosial memang menjadi sangat vital. Memberikan 56 pelayanan kepada masyarakat korban bencana . Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peranan dari Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. efisien dan terkendali. dan untuk saat ini Dinas Sosial merupakan mitra dari BPBD dalam penanggulangan bencana dalam garis koordinasi. Sehingga peran Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana berkurang. Fungsi dan tugas dinasnya adalah langsung melaksanakan kesiapksiasagaan diantaranya melaksanakan keselamatan manusia seperti evakuasi.

daerahnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peran kecamatan dalam penanggulangan bencana alam. Berikut petikan wawancara dengan pihak kecamatan.

Kesiapan dalam menangani terutama dalam aliran sungai, dan sekarang terjadi longsor merobohkan sekitar 17 rumah. Pihak Kecamatan sudah menyikapi hal tersebut dengan cara melaporkan ke tingkat kabupaten, dan BPBD. Ada penawaran dari tingkat kabupaten untuk direlokasikan. Pas tanggap darurat kecamatan sudah membuat tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras dan sebagainya itu sudah dipersiapkan. Kita juga mengusahakan untuk membuat pelaporan 57 bencana alam kepada pemerintah daerah . Melihat gambaran distribusi peran yang dilakukan oleh stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana perencanaan dan pembangunan akibat bencana alam. Peneliti memutuskan untuk menggali informasi tersebut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lembaga ini dipilih karena secara langsung mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan strategi terpadu dalam pembangunan khususnya melihat pada proses penanggulangan bencana alam. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Bappeda.

57

Hasil wawancara dengan Kardia, Loc. Cit.

89

Karakteristik daerah dan melihat pengalaman-pengalaman ke belakang bencana apa saja sih bencana yang terjadi di Majalengka. Terus kita siapkan penyusunan dan perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, kita akomodir usulan-usulan tersebut. Kita pilih melalui penyelesaian sesuai RPJMD daerah kemudian dituangkan dalam RKPB. Atas keputusan tim TAPD, dengan lintas sektor, Bappeda bagian keuangan, pembangunan, asisten dinas, BPKAD, Inspektorat. Tim angggaran siapkan rencana RAPBD yang diserahkan ke DPRD untuk dibahas dan disahkan bersama Bupati. Usluan dari tiap dinas termasuk BPBD kita bahas, kemudian melakukan Musrembang tingkat kecamatan, OPD dan setelah itu 58 menjadi dokumen untuk menjadi usulan RKPD . Distribusi peran yang telah direncanakan dalam rencana strategis pemerintah daerah Kabupaten Majalengka merupakan mekanisme sinergitas peran dari stakeholder yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Tentunya distribusi peran tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan koridor kerja dari stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

4.3.2.2. Alur Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa

penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. secara

Penyelenggaraan

penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat
58

Hasil wawancara dengan Iwan Tundjiawan selaku Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Wawancara dilakuakn pada tanggal 13 April 2011 pukul 12.35 13.25 WIB.

90

seperti bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan penanggulangan pendidikan bencana, dan keterampilan dalam dalam penyelenggaraan keputusan.

berpartisipasi

pengambilan

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana secara tidak langsung

membutuhkan sebuah keseriusan dari pemerintah daerah, khususnya dalam koordinasi stakeholder, agar tercipta sebuah penanggulangan bencana yang terkoordinatif. Dasar kerangka berfikir dari penelitian ini yang kemudian mencoba untuk mengetahui sejauh mana alur sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana. Pertanyaan pertama peneliti ajukan kepada Ibu Yati Sumiati sebagai staff dari sekretaris daerah. Berikut pemaparan informan mengenai mekanisme sinergi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka.

Kalau di Pemda dalam setiap minggu itu ada rapat koordinasi terbatas (Rakortas), di situ akan menanggapi dan membahas trekait dengan pelaporan-pelaporan dan langkah startegi yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya tidak hanya masalah penanggulangan bencana saja namun juga ada pembahasan operasioanl dinas. Setiap hari Senin bersama kepala SKPD Bupati memimpin rapat 59 SKPD .

59

Wawancara dengan Yati Sumiatai, Loc. Cit

91

kalau Satkorlak dibawah pemda itu langsung cepet penanganannya. begitu juga halnya dalam penanggulangan bencana. setiap pekan pihak pemerintah daerah mengadakan rapat koordinasi rutin dengan OPD untuk melakukan pelaporan dan evaluasi atas kinerja yang akan dan telah dijalankan. Sinerginya bagus. agar setiap kinerja yang akan dilaksanakan bisa terinvertarisis dan terkontrol. Cit 92 . itu sudah bisa dibuktikan.Pernyataan tersebut diperkuat oleh Yuarlina selaku rekan kerjanya di sekretaris daerah bagian kesejahteraan masyarakat. untuk kemudian mendapatkan fasilitasi dan pelaporan untuk menginstruksikan dinas daerah terjun dalam penanggulangannya yang dikomandoi oleh BPBD . 61 kembali lagi kepada batasan kewenangan . Loc. Kita bersinergi dengan dinas dalam mekanisme penanggulangan bencana. Cit Wawancara dengan A. Kondisi real sekarang Pemda sinergi amat sangat sinergis. Syihabuddin. Loc. Hal ini ditujukan untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana pandangan atau perspektif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga yang mengawal dan mengontrol pelaksanaan 60 penyelenggaraan pemerintah mengenai sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka? Berikut petikan wawancara dengan pihak DPRD Kabuapten Majalengka. ketika air sungai di desa saya meluap langsung terjun. Mencermati hasil wawancara dengan sekretaris daerah dalam menjaga alur sinergi penanggulangan bencana. 60 61 Wawancara dengan Yuarlina.

kalau kita menyediakan tahap darurat 62 menyediakan natira (sandang pangan) . Cit 93 . PU.: Kita melakukan penataan dan berkoordinasi dengan dinasdinas terkait dengan BPBD. kita memberikan laporan dan komando dari BPBD.Kesimpulan sementara mengindikasikan bahwa sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam memang cukup efektif dan berjalan lancar. BPBD dan pihak Kecamatan Jatitujuh. Berikut petikan hasil wawancaranya. misalkan dalam keadaaan darurat kita langusng koordinasi dengan dinas lain maka langsung 63 ditanganai . mendata berapa korban baik rumah yang hancur. dinas kompak terjun ke lokasi bencana. Cit Wawancara dengan Yati. Kita tetap ada rapat koordinasi. PMI. tapi itu hanya dilaksanakan oleh dinas-dinas tertentu. dan segala macemnya. melihat kondisi lapangan. Ya bagus. karena dengan pertimbangan sudah terkoordinasi. Loc. sesuai denga tupoksinya masing-masing. Cit Wawancara dengan A. Melihat sejauh ini hasil dari informan menyatakan bahwa koordinasi antar leading sector sangat berjalan baik. Secara formalitas apa yang diungkapkan oleh informan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Majalengka sejauh ini penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka berlangsung lancar tanpa hambatan. Alhamdulillah sangat kompak sekali sampai survey kesini. terintergrasinya lintas sektor atau stakeholder 62 63 64 Wawancara dengan Asikin. Loc. hal ini dipertegas hasil wawancara peneliti dengan pihak Dinas Sosial. PMI untuk kesehatan. Alhamdulillah perannya sudah positif dari Kabupaten untuk 64 penanggulangan bencana disini . Loc. baik di tingkat kabupaten atau propinsi. Syihabudin.

3. Ternyata setelah peneliti mencoba menyelidiki dan mencari informasi terkait bencana di Jatitujuh banyak permasalahan yang terjadi dalam penanganannya. 94 . 4. Peneliti mencoba mengkomparasikan atau membandingkan dengan salah satu kasus kejadian bencana alam di Blok Klewih. Peneliti pun kemudian memutuskan untuk menggali informasi dari korban bencana dan LSM atau semacam paguyuban yang konsen untuk mengaspirasikan dalam kebencanaan.3. Untuk mencari lebih lanjut berkenaan peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam belum cukup rasanya kalau peneliti hanya melihat sudut pandang dari pihak birokrat saja. Lokasi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang porak poranda akibat terjangan aliran Sungai Cimanuk. Sehingga bisa dikatakan alur sinergi peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana tidak ada kendala dan berjalan lancar. Aktor Dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Majalengka Sejauh ini kita melihat peran pemerintah daerah dengan institusi di bawahnya yaitu satuan kerja perangkat daerah bisa membuktikan akan kepeduliannya terhadap penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kecamatan Jatitujuh yang terkena abrasi aliran Sungai Cimanuk yang mengakibatkan ambruknya 12 rumah warga dan satu Mushola.yang ada. Namun peneliti menemukan hal yang sangat kontradiktif atas semua pernyataanpernyataan dari stakeholder pemerintah daerah dalam mengatasi kebencanaan di Kabupaten Majalengka.

Bilangna waktu itu pas gubernur datang ka lokasi bencana. dan beras. kalau pun tidak jadi di relokasi. dari kebijakan gubernur sareng bupati saurnamah bade ngarealisasikan bantuan kanggo korban 5 juta/kk. Tidak ada.Wawancara dilaksanakan pada10 April 2011 66 Ibid 95 . Melihat petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum berperan penuh dalam usaha penanggulangan bencana alam yang terjadi di lokasi tersebut. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Acha selaku korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. Berikut petikan hasil wawancaranya. Abi mah pengena aya kapasitian ti pamarintah. upami teu janten relokasi nya teu nanaon sok realisasikeun dana bantuan anu tos di janjikeun.000. berbicara mengenai peran pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. sementara untuk proses relokasi sampai saat ini belum terealisasi. Bantuan pertama hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok saja. tetapi sampai saat ini 66 belum ada realisasi sedikit pun .00/KK. siga anu lepas tangan wae. bantuan yang sudah direalisasikan baru bantuan sembako seperti minyak goreng. ya tidak apa-apa tapi realisasikan saja dana bantuan yang sudah dijanjikan kepada korban. aya relokasi. Bilangnya pada waktu itu gubernur bersama bupati katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. jeung beas. mie. 5.sementara korban pun belum di relokasi. dan lantas hanya di biarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah daerah setempat. 65 Hasil wawancara dengan Aca selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. mie instant.000. tapi sampai ayeuna teu acan aya realisasi 65 sakedik pun . blok Klewih Jatutujuh Majalengka. bantuan entos tapi eta ge wungkul bantuan sembako bae aya minyak. Saya ingin ada kepastian dari pemerintah tentang relokasi. Ti kecamatan pun teu aya pisan responna. Teu aya.

Bahkan sampai saat ini pergerakan kita dari Januari sampai April ini gak ada sama sekali. Sungguh sangat ironi. kemana saja ini? Hasil wawancara dengan korban dan Syarifudin Rahmat selaku koordinator dari Forum Peduli Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) ternyata hasil wawancara dengan pihak pemerintah daerah bertolak belakang dengan bukti-bukti di lapangan.padahal korban sangat membutuhkan hunian atau tempat tinggal setelah rumahnya porak poranda akibat terjangan arus Sungai Cimanuk. Bahkan melihat dari stakeholder pemerintah daerah yang terjun langsung dalam penanganan bencana di daerahnya sangat minim. dengan alasan tidak ada perhatian terhadap mereka. ketika pemerintah daerah menjawab bahwa sejauh ini mereka memperhatikan dan bahkan bertanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam di daerahnya. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Syarifudin Rahmat selaku koordinator Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) . Berikut petikan wawancara dengan informan. artinya tidak semua 96 . Tetapi hasil temuan peneliti di lapangan justeru banyak ketidakpuasan dari masyarakat khususnya yang menjadi korban terhadap pemerintah daerah. Katakan saja untuk penanganan bencana ini gak ada sama sekali. Informan bersama teman-temannya di FPBAC sebagai penyambung lidah antara masyarakat dengan pemerintah daerah berusaha untuk mengaspirasikan dan merealisasikan yang menjadi tuntutan-tuntuan dan hak-hak dari korban bencana. 67 Respon dari Pemda ada. cuma pembuktian dan realitasnya gak ada.

pinjaman lunak untuk usaha produktif. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana sebagai penjabaran dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah memberikan rambu-rambu bahwa bantuan bagi korban bencana antara lain mencakup santunan duka cita pada pasal 24 . maksudnya bahwa santunan yang diberikan bertujuan untuk melindungi dan menghormati hakhak azasi manusia. c. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. diberikan setelah dilakukan dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya. (2) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bantuan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah bagi korban bencana yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memulihkan fungsi sosial dan ekonomi. dan/atau b. harkat dan martabat setiap warga negara. dan bahkan seperti ada sebuah keacuhan terhadap korban. dan d. 68 Santunan duka cita diberikan dalam bentuk biaya pemakaman dan/atau uang duka pasal 25 . Prinsip dari bantuan tersebut adalah : 1) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. santunan duka cita.elemen terjun langsung dalam penanganannya. 70 Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor 08 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Duka Cita 97 . b. santunan kecacatan. walaupun ada hanya sebatas mengontrol lokasi saja tanpa ada realisasi secara menyeluruh untuk membantu korban. Bisa dikatakan perhatian dari pemerintah daerah sangat minim. uang duka. 70 69 68 69 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dan memberikan bantuan bencana kepada korban bencana. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan besaran bantuan santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. (3) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada ahli waris korban. (1) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) huruf a diberikan kepada korban meninggal dalam bentuk: a. biaya pemakaman. (2) Bantuan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a.

4) Transparansi dan Akuntabilitas. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan tidak membedakan jenis kelamin. 3) Cepat dan tepat. dan tidak mendiskriminasi. suku. baik pra bencana. terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. saat bencana. dan pasca bencana. Jatitujuh sebagaimana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Pemerintah daerah seharusnya mempunyai tanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di Blok Klewih. adalah bahwa santunan yang diberikan kepada korban bencana semata-mata atas dasar kebutuhan mereka dalam prinsip ini terkandung kerangka kerja yang berlandaskan HAM. teliti. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan harus cermat. dan aliran politik apa pun. agama. aman. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum. 7) Kehati-hatian. 98 . 6) Nonproletisi. dan tertib sehingga sampai kepada sasaran. proporsionalitas. serasi. maksudnya adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana. Perlindungan dan rasa keamanan merupakan hak dari setiap warga dan masyarakat yang menjadi korban bencana agar tercipta sebuah tatanan masayarakat yang selaras. ras. dan seimbang.2) Perlakuan adil. 5) Nondiskriminatif. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan.

Bupati juga menginterupsikan kepada BPBD dengan menjanjikan ganti rugi kepada korban Rp. Pertama adalah dengan adanya mandat dari Bupati untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan bencana alam tersebut. Segala upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut menjadi hal yang sangat menarik dalam proses penanganan bencana di Jatitujuh ini. Dalam lawatannya. Bu Ratih selaku ketua BPBD berjanji merealisasikan 1 juta/kk dia menyatakan itu di media. sampai saat ini masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dan segera diselesaikan oleh pemerintah daerah selaku stakeholder kunci yang bertanggungjawab penuh dalam proses penanggulangan bencana.000.1.Perkembangan penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk ini.000. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku informan dari FPBAC yang menjelaskan tentang bukti dari janji-janji Bupati kepada para korban. salah satunya adalah dengan adanya kunjungan langsung dari Bupati ke lokasi kejadian dengan menjanjikan adanya proses ganti rugi dan jaminan kepada para korban. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana aktoraktor yang terlibat di dalam penanggulangan ini mulai bermain dalam proses pencitraan untuk meraih simpati dari korban. 99 . Padahal dalam kebijakan tersebut rumah yang rusak berat 15 juta.00/kepala keluarga. begitu juga stakeholder lainnya utuk bersama-sama mencari solusi terhadap bencana alam yang tyerjadi di daerah tersebut. Pak Bupati menginterupsikan kepada Pak Kuwu dan warga segera mencari tanah untuk relokasi dengan harga di bawah standar.

00/KK.000.00/kepala keluarga. bahkan untuk relokasi korban pun masih mengalami masalah dan ini menjadi permasalahan baru yang muncul. Permasalahan yang timbul adalah adanya pro-kontra antara warga dengan pemerintah daerah mengenai tempat relokasi yang akan ditetapkan.000. Kalo ngukur-ngukur masalah tanah relokasi pemerintah teh gak bilang heula ka masyarakat anu jadi korban. entah apa yang terjadi gak ada realisasinya juga. gak enak gak nyaman. Nya warga teh seuuer nu nolak.Masyarakat pun semakin gembira ketika Bapak Karna Sobahi (Wakil Bupati) dan Bapak Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat) berbondongbondong datang ke lokasi kejadian dengan menjanjikan ganti rugi dan jaminan kepada korban sebesar Rp. lokasina di Ronggeng Bokong tempat garong ato rampok jauh dari keramaian. Seperti yang diungkapkan korban kepada peneliti. masyarakat selaku korban bencana merasa tempat relokasi yang dijanjikan kurang representatif.000. tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. pas gubernur datang ke lokasi bencana. 100 .000.5. Berikut pemaparan hasil wawancara dengan Karsa sebagi korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. berikut pemaparannya. Gak maul lah kalo di pencilkeun kitu mah. 5. Anu di relokasi baru 10 rumah teh tempatna kurang alus. Terus Bapak Karna (wakil Bupati) mau merealissikan bantuan dana kepada korban tapi gak tau. Sampai saat ini bantuan yang dijanjikan belum terealisasi dan belum sampai kepada tangan para korban. Ngomongnya waktu itu. dari kebijakan gubernur katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp.

saat bencana.Yang di relokasi baru 10 rumah. Bahkan ketika kita menelpon beliau untuk melaporkan kejadian bencana. Tapi realitanya gak ada sama sekali. Hal ini menimbulkan penolakan dari korban. kemudian dia respon dan bilang terima kasih. dan fasilitas atau pun akses akomodasi dan transportasi pun sangat sulit. Tidak mau kalau di pencilkan seperti itu. gak enak dan gak nyaman. Ya akhirnya warga banyak yang nolak. maupun setelah bencana. Kalau rencana pengukuran tanah relokasi kadang pemerintah tidak membicarakan terlebih dahulu kepada masyarakat yang jadi korban. Seperti hasil petikan wawancara berikut ini. nanti akan saya tinjau dan terima kasih atas informasinya. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa untuk permasalahan relokasi sejatinya pemerintah daerah belum mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat selaku korban. Realisasi penangangan pada saat bencana pun sangat minim dan bahkan sampai sekarang penanganan pasca bencana salah satunya adalah relokasi bagi korban masih dalam masalah yang serius. Seharusnya instansi atau dinas terkait yang bertanggungjawab dalam masalah kebencanaan bisa mengatasi permasalahan ini. 71 71 Ibu Ratih Suratih selaki ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupeten Majalengka 101 . karena merasa tempat relokasi tidak representatif dan jauh dari keramaian. Bisa dikatakan tidak ada pergerakan dari instansi pemerintah daerah khususnya BPBD dalam penuntasan dan penanggulangan bencana tersebut baik pra bencana. lokasinya di Ronggeng Bokong tempat perampok dan jauh dari keramaian. itu pun tempatnya kurang bagus. tapi usaha dari mereka belum memberikan solusi bagi korban.

berikut petikan wawancaraya. padahal dia sudah datang berkunjung ke lokasi.pukul 11. Pokonya semuanya yang terkait tidak ada tanggungjawab sama sekali.15-12. Bahkan permasalahannya tidak hanya sebatas pada BPBD saja. 102 . dari Dewan aja yg terkait dengan konsen bencana aja tidak ada sama sekali untuk memperjuangkan masalah ini. namun korban pun merasakan bahwa dari instansi pemerintah daerah lainnya pun kurang begitu respon. sebenarnya masyarakat sudah begitu mengharap dan menantikan agar mereka bisa mendapatkan jaminan dan kepastian dari pemerintah daerah terhadap nasib mereka. Petikan wawancara tersebut bisa dijelaskan. Dan Bupati pun belum mengeluarkan SK bahwa Jatitujuh itu termasuk siaga bencana atau daerah bencana.Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 April 2011. padahal status bencana yang terjadi sangat memperihatinkan dan menjadi siaga bencana di lokasi tersbut. sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.Hasil kutipan wawancara di atas sangat jelas. mengindikasikan kurang adanya respon dari BPBD dalam penanggulangan bencana. Padahal ini kan sangat mengerikan. 73 kenapa kok di diamkan .25 WIB. dan semuanya ada kunci di Bupati. hal ini dinyatakan oleh Syarifudi Rahmat. mereka cuman 72 berwisata. Permasalahan yang terjadi mengindikasikan adanya tarik ulur dan kekurang sinergi antara bupati dengan insatansi daerah dalam penanggulangan bencana alam tersebut. Jangankan dinas yang ada. bahkan surat keputusan (SK) bupati pun belum dikeluarkan. Dari dinas-dinas pun gak ada sama sekali. Hal tersebut bisa 72 terlihat bagaimana instansi pemerintah yang seharusnya Dewan merupakan ungkapan anggota legislative untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka 73 Hasil wawancara dengan Karsa (Aca) selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Seharusnya BPBD bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. blok Klewih Jatutujuh Majalengka.

dan pengekangan terhadap desanya. Kita selalu menahan dan tetap menghargai Pak Lurah. 74 SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah 103 . Padahal mereka mempunyai wewenang untuk sesegera mungkin dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi.bertanggungjawab dalam penanganan bencana ini seperti kaku dan menunggu komando dari bupati. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa bupati selaku pemimpin daerah merupakan aktor yang sangat berpengaruh bahkan bisa mengintervensi jajaran di bawahnya. Takutnya bonus atau kebijakan-kebijakan Bupati itu di potong. Padahal sesuai konstitusi untuk permasalahan penanggulangan bencana itu menjadi tanggungjawab penuh pemerintah daerah bukan atas nama bupati. Bahkan intervensi-intervensi selanjutnya tidak sebatas kepada jajarannya di pemerintah daerah namun juga langsung kepada masyarakat selaku korban bencana. sesuai dengan peraturan yang telah diamanahkan. Seperti petikan wawancara berikut ini dengan Syarifudin Rahmat. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemecatan. karena yang namanya Pak lurah itu sangat takut sekali sama Bupati. Tapi kalo Pak camat itu jelas bisa diberhentikan oleh Bupati karena 74 termasuk SKPD . Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku koordinator FPBAC yang berargumen bahwa ada sebuah ketidakharmonisan antara bupati dengan instansi di bawahnya.

Intervensi-intervensi yang dilakukan oleh bupati kepada jajaran begitu juga kepada elemen-elemen masyarakat dan korban sebenarnya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Seperti petikan wawancara berikut ini. Pak kuwu itu sudah mensetting akan ada audiensi. Besoknya ada cibiran ”suaramu jangan kenceng-kencang kalo misalkan Bapakmu gak mau dimutasi atau diberhentikan”. Padahal mereka hanya menuntut haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak perlindugan dan hidup atau jaminan sosial.Terus malah ada intervensi-itervensi. Jatitujuh. Saya cerita lagi. Pak Bupati berdiri dan langsung dipersingkat untuk segera menyelesaikan acara. Bahkan pergerakan FPBAC dalam mengaspirasikan suara korban kepada pemerintah daerah selalu ditanggapi dengan respon yang kurang baik dan sering menemui jalan buntu. 104 . tapi ternyata baru selesai makan-makan. temen kita bapaknya PNS. Hasil petikan wawancara tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa bupati sangat memegang penuh otoritas dalam permasalahan penaggulangan bencana alam di Blok Klewih. Ketika kita membikin sebuah opini baru pemerintah respon. kurang tau ini karena ada politisasi dan birokrasi memang susah. namun ketika kejar hal tersebut berubah lagi. Sudah sewajarnya mereka mengaspirasikan apa yang menjadi keluhan dan pemenuhan hak-haknya. suaranya paling lantang dalam audiensi suaranya paling lantang dan pedas. dulu ketika ada kunjungan Gubernur. Ketika kita berbicara begini dalam media maka wacana pemerintah pun berubah juga. karena mereka menginginkan adanya sebuah jaminan dan kepastian terhadap permasalahan yang terjadi. Tapi ketika kita diam buktinya gak mulus juga.

padahal seharusnya yang mengaspirasikan adalah pemerintahan desa. Ya harusnya minimal ada dari DPRD. permasalahan selanjutnya yang timbul adalah adanaya ketidakharmonisan antara warga dengan pemerintah desa dan kecamatan. Soalnya antara pemerintahan desa dan warga tersebut sudah tidak harmonis. Bahkan permasalahannya tidak cukup sampai di situ saja. DPRD yang seharusnya bisa mengontrol permasalahan ini pun belum mempunyai andil besar dalam memberikan solusi-solusi nyata. Seperti kutipan wawancara berikut ini yang dipaparkan oleh Syarifudin Rahmat. padahal secara tidak langsung DPRD merupakan mitra kerja bupati dan satuan kerja perangkat daerahnya. Kita sebagai penyambung lidah antara korban dengan pemda. Seperti kutipan wawancara berikut ini dengan Kardia selaku Sekretaris Camat Jatitujuh. karena korban menganggap pemerintah desa dan kecamatan tidak respon dalam penanggulangan bencana di daerahnya. 105 . Pendapat berbeda ditanggapi oleh pihak Kecamatan Jatitujuh. karena berimbas pada pertentangan masyarakat dan FPBAC dengan bupatinya. yang menytakan bahwa masyarakat selaku korban kadang salah menafsirkan terhadap itikad baik yang akan dilakukan oleh pihak kecamatan dan pemerintah daerah. Tentunya hal ini akan menimbulkan efek negatif terhadap resistensi kepercayaan terhadap bupati dan pemerintahan daerah.Tarik ulur pewacanaan dalam penanggulangan bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh ini menjadi sangat rumit.

Pak Bupati akan menerima atau memberikan bantuan harus ada musyawarah antara masyarakat dengan kuwu dan membikin surat persetujuan. sehingga timbul penolakan dari korban terhadap tempat relokasi tersebut. berikut hasil wawancara dengan Kardia selaku sekretaris camat Jatitujuh. kuwu dan pemerintah daerah. karena tidak representatif. Kearifan kebijaksanaan dari individu dan kelompok. Solusi yang telah ditawarakan pihak kecamatan dan pemerintah daerah dalam petikan wawancara tersebut setidaknya menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana dan permasalahan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. Ketika memang prosesnya sudah dipersiapkan maka akan lebih mudah. demngan catatan harus ada komitmen antara warga. Menganalisis hasil petikan wawancara di atas terjadi sebuah pengalihan masalah antara warga dengan pemerintah. nanti di ajukan kepada BPBD.Itu masyarakat kadangkala salah menafsirkan. padalah dari pemerintah daerah sudah siap utuk menanggulangi. baik pemerintah daerah dan 106 . Relokasi pun tidak di sosialisasikan terlebih dahulu kepada korban. Permasalahan ini menjadi sebuah efek antar domino dikarenakan adanya dan kesalahfahaman dan ketidaksinergian stakeholder. namun karena isue-isue yang tidak bertanggungjawab maka bantuan pun tersendat. namuin di sisi lain masyarakat menganggap pemerintah daerah kurang tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya. Pihak Kecamatan Jatitujuh menyatakan bahwa semua permasalahan tersebut akan segera ditangani dan dislelesaikan dengan segera. di satu sisi bahwa masyarakatlah yang rewel terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah.

4. kerugian harta benda. banjir. angin topan.5. Solusi nyata dan keberpihakan terhadap korban sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh ini. dan dampak psikologis. 4. baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. 107 . kekeringan. tidak ada politisasi dan kepentingan individu atau kelempok tertentu dalam mengambil keuntungan permaslahan yang terjadi. Pembahasan 4. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. dan tanah longsor.5.masyarakat untuk bersama-sama memberikan andil terhadap penyelesaian masalah yang terjadi dengan pelurusan kembali terhadap apa yang menjadi tanggungjawab semua pihak terutama dalam penanggulangan bencana alam di Blok Klewih Jatitujuh ini. Matriks Wawancara Terlampir 4. tsunami. gunung meletus.1. Dasar Hukum Pendirian BPBD Kabupaten Majalengka Bencana sebagaima yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. kerusakan lingkungan. Aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah ini setidaknya membutuhkan sebuah komitmen baru dalam memberikan pelayanan terbaik bagi korban.

perlindungan. menjadi sebuah tuntutan dan hak setiap masyarakat agar tercipta sebuah kerangka hukum dan perlindungan dari bencana. Kebijakan tersebut dilalui dengan tahapan dan pertimbangan kondisi Kabupaten Majalengka yang secara geologis memiliki kerentanan terhadap bencana alam dan adanya peningkatan bencana dari tahun ke tahun. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008 yang mengatur tentang mekanisme pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Organisai Perangkat 108 . Penanggulangan bencana merupakan kewajiban bagi setiap pemerintah pusat ataupun daerah untuk menciptaka perlindungan dan keamaan bagi warganya sehingga membentuk sebuah masyarakat sadar bencana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membentuk Badan Pnanggulangan Becana Daerah (BPBD).Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum. kelestarian lingkungan hidup. Maka dengan melaksanakan amanah undang-undang tersebut Kabupaten Majalengka membuat kebijakan untuk mendirikan BPBD. dengan dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dibawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Berdasarkan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala Badan Nasioal Penangulanan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. Hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 khususunya pada batang tubuh alinea ke-IV yang berprinsip pada keadilan. pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. dan kemanusiaan. Selain itu.

yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. efektif. integrasi.Daerah maka dikelurakanlah kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya termaktub tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD). sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 memberikan arah dan pedoman yang jelas dalam menata organisasi yang efisien. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masingmasing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan 109 . diselenggarakan oleh seluruh provinsi. dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kabupaten Majalengka serta adanya koordinasi. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib. kabupaten. dan kota.

Bahwa dengan ditetapkannya beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang organisasi perangkat daerah serta berdasarkan hasil evaluasi kelembagaan sehingga dipandang perlu melakukan penyesuaian organisasi perangkat daerah di Kabupaten Majalengka. pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas. Implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menerapkan prinsip-prinsip organisasi. cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. efisiensi. sarana dan prasarana penunjang tugas. rentang kendali serta tata kerja yang jelas. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam. efisiensi dan tata kerja dalam penanggulangan bencana mengindikaskan lembaga 110 . Atas kesepakatan. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan. maka perlu membentuk peraturan daerah tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Majalengka. Melihat pada implementasi pendirian BPBD Kabupaten Majalengka. antara lain visi dan misi yang jelas. luas wilayah kerja dan kondisi geografis. baik dari segi efektifitas. dan efektifitas. berdasar pengamatan dan realitas yang ada. jenis dan banyaknya tugas. potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani. pertimbangan.antara pusat dan daerah. kebutuhan daerah. jumlah dan kepadatan penduduk. dan evaluasi stakeholder pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) maka dibentuk dan diresmikanlah BPBD Kabupaten Majalengka.

terutama pada aspek perlindugan masyarakat dari bencana dan pemenuhan kebutuhan pokok korban sangat memperihatinkan. 03 Maret 2011.tersebut kurang berjalan dengan optimal. seperti disampaikan oleh Karsa sebagai korban bencana abrasi Sungai 75 75 Berita dari Harian Radar Majalengka pada hari Kamis. Pada saat bencana terjadi hal yang sama. Bantuan justru baru datang dua hari setelah bencana tejadi. tapi berdasarkan fakta yang ada kegiatan tersbut belum terjadwal dan tersistematis dengan baik. Penyadaran kepada masyarakat terhadap bencana dalam bentuk sosialisai ataupun kegiatan pencegahan lainnya seharusnya menjadi agenda rutin yang harus dilakukan. 111 . manajemen pencegahan bencana dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. tidak harus menunggu bencana itu datang. penyadaran dan sosialisasi akan bencana seharusnya diterapkan dan dilakukan jauh-jauh sebelum bencana melanda atau dalam keadaan normal sekalipun. dan akhirnya akan menimbulkan efek pada banyaknya korban jiwa dan kerugian baik materil ataupun non materil. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana belum maksimal dilakukan. upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat. Bisa dikatakan untuk pra bencana. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penanggulangan bencana yang belum terealisasi secara terkoordinasi dan terpadu baik pra bencana. maupun pasca bencana. hal tersebut bisa dilihat dalam kejadian puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Bantarujeg pada tanggal 24 Februari 2011 . Sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. saat bencana.

Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh. Pada dasarnya. sebelum kebijakan tersebut di formulasikan dan kemudian diimplemetasikan seharusnya ada sebuah akomodir dan rangkuman dari setiap pola kepentigan dari aktor dan masyarkat 112 . Kerangka hukum pendirian BPBD secara tidak langsung menjadi sebuah landasan utama dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. para korban beranggapan bahwa lokasi yang direncanakan terlalu terpencil dan tidak layak. setiap agenda kebijakan pemerintah pada tahap agenda setting. hal yang menarik adalah adanya sebuah permasalahan yang menyebabkan konflik antar warga dengan pemerintah desa begitu juga dengan pemerintah daerah. Relokasi yang direncanakan sampai saat ini belum terealisasi akibat adanya ketidaksepakatan dari korban akan lokasi yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah. Kebijakan relokasi dan rehabilitasi di Blok Klewih Jatitujuh akibat terjangan Sungai Cimanuk menyebabkan 13 rumah roboh mejadi sumber utama konflik tersebut. Pasca bencana. Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sepertinya belum merepresentasikan kepentingan semua elemen dan golongan. yang akhirnya sampai saat ini belum bisa terselesaikan. Hal tersebut jelas mengindikasikan adanya sebuah ketidaksiapan dan ketidaktegasan dari pemerintah akan kebijakan yang harus ditetapkan dalam penannggulangan bencana alam di daerah tersebut. Hal tersebut mengindikasikan adanya kurang kesiapsiagaan dan kordinasi dari pemerintah daerah khususya BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut. atau bisa dikatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mengakomodir semua kepentingan yang ada.

kelompok. dan menyeluruh belum bisa diwujudkan secara maksimal akibat sektor satu dengan lainnya belum terkordinasi dengan jelas. atau sebagaian orang saja. terpadu. dan pasca bencana bisa terakomodasi dan tertanggulangi dengan baik. Kebijakan yang telah dikeluarkan seharusnya bisa dipahami dan di optimalkan agar kerangka penanggulangan pra bencana. sehingga menjadi issue bersama yang nantinya akan menjadi agenda yang harus direalisasikan menjadi kebijakan yang populis. 113 . Kebijakan penanggulangan bencana menjadi sebuah momentum penting yang harus merepresentasikan akan hak masyarakat dalam perlindugan hukum dan keamanan dari bencana. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus penanggulangan bencana yang belum terselesaikan yang berujung pada berbagai konflik yang berkepanjangan. Kebijakan pemerintah daerah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dengan adanya pendirian BPBD sampai saat ini belum bisa menjamin kestabilan dan keterpaduan terhadap penanggulangan bencana. sehingga kebijakan yang ada harus benar-benar menjamin akan kebutuhan masyarkat dan berjalan sesuai dengan peraturan dan fungsi yang telah ditetapkan.yang terlibat dalam menyepakati kebijakan yang akan dikeluarkan. Tuntutan akan penanggulangan bencana yang terkordinasi. Kebijakan yang dikeluarkan tidak parsial atau hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak. saat bencana (emergency respons).

pernyataan tujuan bernegara sudah dinyatakan dengan tegas oleh para pendiri negara dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). kewenangan dan peran pemerintah sebagai badan eksekutif dirasakan amat penting dalam rangka upaya perlindungan dan kesejahteraan rakyat. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada. namun secara mendasar pun gagasan awal lahirnya konsep negara.5. pemerintah wajib menjamin hak asasi warga negaranya. Salah satunya adalah pelayanan kepada masyarakat maka akan muncul pula stabilitas yang akan berdampak pada sektor publik.4.2. di antaranya melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Pemerintah pun mempunyai kepentingan langsung untuk menciptakan situasi kondusif dalam menjalankan pemerintahannya. Pemerintah daerah bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. Bagi Indonesia sendiri. Salah satu bukti keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana adalah dengan dibentuknya Badan Penanggulangan 114 . Ada beberapa alasan mengapa diperlukan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana. Pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengelola wilayah dan rakyatnya untuk mencapai tujuan dalam bernegara. Bukan hanya pernyataan tujuan bernegara Indonesia. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

serta masih rendahnya pemahaman terhadap bencana khusunya bencana alam.Bencana Daerah (BPBD) melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009. dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007. hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah patahan bumi dan konstruk tanah yang labil dengan pembagian tiga wilayah yang bervariasi. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008. Permasalahan kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya harus mendapatkan perhatian serius dengan adanya peran dari pemerintah daerahnya. Tingkat kemampuan untuk menghadapi bencana di Kabupaten Majalengka masih rendah. rusaknya tutupan vegetasi di daerah kawasan rawan bencana. kepadatan penduduk di daerah rawan bencana. dan dataran rendah. cepat. Sehingga bencana yang terjadi pun bervariasi dan tentunya dampak yang di akibatkan bencana alam harus segera ditangani secara khusus. tepat. Analisis potensi bencana alam seperti diungkapkan oleh Yuarlina dan Yati selaku anggota Sekretaris Daerah bahwa Kabupaten Majalengka sangat berpotensi terhadap bencana alam. dan efisien agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. perbukitan. mulai dari dataran tinggi. yang merupakan realisasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diikuti dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. hal ini terkait minimnya pengetahuan. Kerentatanan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kabupaten Majalengka meliputi terbangunya kawasan rawan bencana menjadi pemukiman. 115 .

kelembagaan. tentunya tidak lepas dari penilaian publik. mekanisme kerja. Seperti yang di ungkapkan Yati Sumiati dari Sekretaris Daerah bahwa sejauh ini pemerintah daerah sangat memperhatikan dan konsen dalam peanggulangan bencana alam di daerahnya. serta sumberdaya dalam penanggulangan bencana. Salah satu implikasinya adalah dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan. Sejauh ini berdasarkan data lapangan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Tentunya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengaka tidak lepas dari analisis kebencanaan yang menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan bencana. khususnya pada tahun 2010 bisa dikatakan baik. Melihat sejauh mana peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. hal tersebut mengindikasikan adanya sebuah peningkatan kejadian bencana alam dari tahun 2009 ke tahun 2010. Selain itu menyangkut kebutuhan dan keamanan masyarakatnya agar bisa terlindungi dari ancaman dan kerentanan bencana alam. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Majalengka selama tahun 2009 terjadi 67 kejadian bencana alam sedangkan tahun 2010 sampai dengan akhir Agustus di Kabupaten Majalengka telah terjadi 114 kali bencana. 116 .

Praktek dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sudah dapat terlihat jelas.Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 menjadi landasan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Bahkan janjijanji yang disampaian pemerintah daerah kepada korban untuk menjanjikan akan segera datang bantuan baik melalui bantuan materi ataupun relokasi belum 117 . Secara teknis peneliti masih menyangsikan terhadap eksistensi peran pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Memang secara formal pemerintah daerah melalui satuan kerja perangkat daerahnya mereka mengungkapkan telah melakukan kerja maksimal. Secara legalitas peraturan daerah secara resmi sudah dijalankan dan direalisasikan. seperti dalam penanganan kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi. Tapi pernyataan tersebut berbanding terbalik ketika peneliti bertemu dengan salah seorang korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. yang diakibatkan oleh abrasi Sungai Cimanuk dengan memporakporandakan 13 bangunan di sekitarnya. dan sangat berperan dalam penanggulangan bencana alam. bahkan bisa dikatakan seperti membiarkan saja tanpa ada perlakuan atau tindakan khusus. tentunya dengan harapan bahwa peraturan ini benar-benar memberikan jaminan mutu bagi efektifitas penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Korban menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bencana ini. terutama fokus pada penanggulangan bencana alam di daerahnya. Pemerintah daerah bersama satuan kerja perangkat daerah mempunyai tanggungjawab dalam mengemban amanah peraturan daerah ini dengan sebaik-baiknya.

Partisipasi aktif masyarakat dan swasta sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. rehabilitasi dan rekonstruksi (pasca bencana) sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi. Aspek yang perlu dicermati bahwa. tanggap darurat. seperti yang termaktub dalam UUD 1945 maupun UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. padahal kejadian bencana ini sudah cukup lama. tepatnya sekitar bulan Oktober 2010. Walaupun sudah dibentuk lembaga teknis daerah dalam penanggulangan bencana. Pemerintah daerah bertanggungjawab penuh terhadap apa yang terjadi pada masyarakatnya. Hal tersebut mengindikasikan dengan dibentuknya BPBD belum mampu mengefektifkan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. 118 . padahal lembaga ini mempunyai andil besar dalam proses penanggulangan bencana.terwujud sampai saat ini. penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana (pra bencana). tetapi dalam pelaksanaannya jenis dan tingkat bencana masih ditangani oleh mekanisme yang lama (ketanggap daruratan saja). Program-program yang telah di amanhkan dalam konstitusi ataupun undangundang dan peraturan tentang kebencanaan belum dijalankan dan dilaksanakan secara maksimal.

Kecamatan Jatitujuh dalam perkembangannya terjadi sebuah permasalahan. bupati bersama DPRD dan atas kesepakatan SKPD memutuskan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang di dalamnya ada klausal usulan pembentukan BPBD. “Begitu besar kepedulian bupati terhadap masyarakatnya dalam penanggulangan bencana yaitu dengan bukti membentuk BPBD”. khususnya dalam penanggulangan bencana alam. Konteks kejadian bencana alam yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh yaitu dengan adanya abrasi Sungai Cimanuk yang merobohkan 13 bangunan di daerah sekitarnya memberikan alternatif dan prospek keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana alam tersebut. di 119 . Penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih. karena secara tidak langsung Kabupaten Majalengka mendapat citra positif sebagai kabupaten sadar bencana. Keberhasilan bupati untuk menelurkan kebijakan tersebut setidaknya di iringi dengan kerangka kerja dan efektifitas bagi berjalannya SKPD dalam pembantuan kinerja pemerintah daerah dan bupati selaku pimpinan daerah. Atas dasar banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Majalengka dan untuk melindungi seta mensejahterakan masyarakat begitu juga dalam menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.Bupati sebagai pemegang kepemimpinan daerah dalam hal ini memimpin Kabupaten Majalengka mempunyai andil besar dalam segala tindakan dan keputusan yang menyangkut kesejahteraan masyarakatnya. Kepedulian bupati terhadap penanggulangan bencana perlu di apresiasi. Sebagimana penuturan yang diungkapkan oleh Sumiati selaku staf sekretaris daerah mengungkapkan.

paparkan oleh salah satu korban yang bernama Karsa menyatakan, “Respon pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerahnya kurang dan lamban, bahkan untuk bantuan-bantuan yang di janjikan pun belum ada realisasinya”. Hal ini tentunya berimplikasi pada sebuah kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah yang di dalamnya adalah SKPD bersama bupati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bupati selaku orang yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana turut andil dalam proses penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh. Bahkan dalam lawatannya bupati menjanjikan dan menginterupsikan kepada Kuwu Jatitujuh untuk segera mencarikan tanah relokasi bagi korban. Namun hal yang menarik, tanah yang akan dibelikan tersebut justeru di bawah standar dan kurang memenuhi permintaan dan aspirasi dari masyarakat selaku korban. Akhirnya timbul sebuah permasalahan baru yaitu adanya ke engganan korban untuk di relokasi, karena mereka merasa tempat relokasi kurang representatif. Keputusan bupati selanjutnya adalah dengan adanya janji bahwa bupati akan memberikan bantuan kepada korban dengan nominal Rp.1.000.000,00/kepala keluarga, hal ini disampaikan melalui BPBD, namun sampai saat ini belum terealisasi. Korban berpendapat bahwa pemerintah daerah kurang serius dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya, bahkan BPBD yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justeru tidak kelihatan perannya, dan seperti lepas tangan begitu saja. Hal tersebut dibuktikan dalam petikan wawancara dengan korban yang menyatkan bahwa tidak ada sama sekali

120

proses dan upaya bantuan dari BPBD, justeru yang banyak berperan adalah bupati. Indikasinya, bupati menjadi aktor tunggal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, dengan berbagai intruksi dan keputusannya yang satu arah memberikan efek kepada dinas atau SKPD yang bergerak dalam penanggulangan bencana tidak mempunyai posisi tawar. Padahal BPBD bersama dinas teknis lainnnya mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan permasalahan bencana di daerah tersebut. Kasus lain terkait lokasi relokasi korban yang seharusnya ada komunikasi dengan pihak Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dalam penentuan lokasi bersama korban justeru dilakukan satu komando dari bupati. Padahal DBMCK mempunyai wewenang untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan terhadap lokasi yang akan dijadikan pembangunan rumah korban. Implikasinya DBMCK pun tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah terhadap putusan bupati. Konsekuensi dari hal tersebut adalah tumbuhnya bibit konflik antar pemerintah daerah dengan korban. Di satu sisi, peran sekretaris daerah selaku kepala BPBD kurang memberikan daya dukung terhadap penanggulangan bencana yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh. Terbukti adanya sebuah asumsi bahwa sekretaris daerah hanya mempunyai wewenang dalam koordinasi dan fasilitasi dalam penanggulangan bencana kepada organisasi perangkat daerah sebagai lembaga teknis untuk terjun langsung dalam penanganannya. Hal tersebut dipaparkan oleh Yuarlina selaku staf sekretaris daerah, dan secara kontekstual sekretaris daerah bisa dikatakan hanya menerima laporan dan kemudian laporan tersebut dipertanggungjawabkan kepada

121

bupati sebagai laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Sementara untuk wewenang sekretaris daerah belum merepresentasikan tindakan nyata dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. DPRD yang diharapkan memberikan fasilitasi dan kontrol dalam proses penanggulangan bencana merasakan hal yang sama, karena dibatasi oleh kewenangan dalam teknis penanggulangan bencana, maka DPRD pun tidak

mempunyai andil dalam penyelesaian permasalahan ini. DPRD seperti tidak mempunyai bargaining power dalam mengontrol pemerintah daerah, padahal dalam tata aturan yang berlaku DPRD mempunyai hak secara legal formal dalam penyelesaian kasus ini. Bupati seperti penguasa tunggal yang mampu mengendalikan kontrol pemerintahan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan wewenangnya, setiap proses kebijakan yang dikeluarkan oleh bupati kadang tidak memberikan sebuah koordinasi dengan staf dibawahnya. Inilah yang kemudian bisa kita katakan adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sebenarnya tindakan yang dilakukan bupati yang begitu menghegemoni dalam sebuah keputusan dan dan intruksi dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Berdasarkan teori Parsons tentang voluntaristic, tindakan yang dilakukan oleh bupati merupakan perilaku yang disertai oleh adanya upaya subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi (situasional) atau isi kenyataan pada keadaan yang ideal atau yang ditetapkan secara normatif. Terutama yang

berkaitan dengan para pelaku (actor) yang berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari

122

norms.berbagai alat cara (means) yang tersedia. Konsep voluntaristic sebagai sebuah proses pengambilan keputusan subyektif dari para pelaku individual (actor). tentunya tujuan yang akan diraih adalah dengan adanya sebuah pencitraan positif bagi aktor dan penanganan bencana secara cepat dan tepat. Intruksi dan wewenang bupati menjadi sebuah mekanisme yang mau tidak mau harus dijalankan dan dipatuhi tanpa ada pertimbangan dan kesepakatan dari stakeholder lainnya. Hal tersebut kemungkina adaya indikasi bahwa bupati dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan situasional yang dengan segera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Diasumsikan sebagai orang yang sedang mengejar tujuan (goal). Pencitraan seorang aktor dalam 123 . Tindakan atau keputusan subyektif yang digunakan oleh bupati untuk meraih tujuan dalam penanggulangan bencana atupun tujuan lainnya dalam memperkuat bargaining powernya sebagai kepala daerah. Tindakan voluntaristik menurut konsep Parsons mencakup elemen-elemen dasar dengan adanya pelaku yang merupakan pelaku individual (pelaku perorangan) hal ini aktornya adalah bupati. sehingga bupati juga dianggap memiliki beberapa alternatif cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut. other idea . dan keputusan seperti itu sebagai hasil akhir dari pertimbangan parsial terhadap jenis hambatan tertentu. salah satunya adalah dengan membuat komando satu atap. baik hambatan normatif maupun hambatan situasional. kondisi dan situasional tertentu. Bupati sebagai aktor utama dan kunci mempunyai mekanisme tindakan sosial dengan berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari berbagai cara. semuanya itu dipengaruhi oleh value.

penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab setiap stakeholder di dalamnya. Pola sinergi antar elemen dalam Undang-Undang Nmor 24 Tahun 2007 sebagai sebuah konsep good goverance seharusnya bisa di aplikasikan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. begitu juga pada pasal 27 point b yang menyatakan bahwa “Setiap orang berkewajiban melakukan kegiatan penanggulangan bencana”. Tindakan sosial yang dilakukan bupati yang bersifat empatik bisa jadi orientasinya berubah menjadi politik pencitraan bagi dirinya. sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 28 menyatakan bahwa “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Bupati yang dominan dan berupaya untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya menjadi indikasi adanya proses transformasi nilai kekuasaan yang memberikan efek kurang baik terhadap jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Majalengka. baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain”. salah satunya adalah sektor swasta dan masyarakat.meraup kepercayaan dari masyarakat tentunya menjadi titik point permasalahan tersebut. Sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. tentunya dalam kasus penanggulangan bencana di Blok Klewih Jatitujuh yang sampai saat ini belum tuntas. Sebagai indikasi konsep good governance seharusnya penanggulangan bencana bisa melibatkan seluruh stakeholder tidak terkecuali sektor swasta dan masyarakat. Peran dan potensi masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu 124 .

5. politik. organisasi masyarakat sipil dan masyarakat politik seolah-olah tergerak hatinya membantu para korban. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. 4. Relasi Kekuasaan Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Rentetan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka menuntut banyak pihak berpikir tentang cara penanggulangannya.1.2. Kenyataan ini juga menggugurkan tesis bahwa moral kolektif bangsa ini telah hancur akibat berbagai fakta suram di ranah sosial. 125 . Potensi-potensi dari sektor swasta dan masyarakat seharusnya bisa memberikan sistem penanggulangan bencana yang lebih efketif dan bekelanjutan agar tercipta ketahanan dan kepedulian seluruh elemen dalam penanggulangan bencana. Begitu juga dengan peran swasta belum secara optimal diberdayakan. Semua pihak bahu membahu meringankan beban para korban.menangani bencana. reaksi spontan para relawan paling tidak menunjukkan bahwa masyarakat Majalengka masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. perorangan. ekonomi. Pemerintah. sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar. dan budaya yang semuanya melemahkan semangat bertahan hidup kita sebagai bangsa. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat justeru tidak kelihatan dalam peran sertanya. swasta. Lepas dari berbagai kepentingan yang muncul.

Permasalahan yang muncul.Birokrasi sebagai agen administrasi dan implementator dalam sebuah kebijakan menjadi sangat penting dalam menyelesaikan dan melayani segala kebutuhan masyarakatnya. namun perannya sama-sama Politisi berbeda. Politisi maupun birokrat selalu ada dalam pembuatankebijakan. kadang terjadi benturan antara birokrasi dengan pengguna jasa layanannya. birokrat didasarkan pada fakta dan pengetahuan. sedangkan birokrat hanya mengartikulasikan kepentingan para klien yang terorganisir. namun dengan kontribusi yang berbeda. Politisi maupun birokrat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan. yang kemudian kita sebut adanya nilai politis dalam tubuh birokrasi dalam penanggulangan bencana. maka politisi berdasarkan kepentingan nilai. mengartikulasikan kepentingansecara luas dan para individunya tidak terorganisisir dengan kepentingan yang menyebar. Perpaduan politisi 126 . kadang birokrasi pun bisa jadi mempunyai kepentingan dan tidak bebas nilai. dirasa birokrasi itu sulit. Namun dalam perkembangannya. Hal tersebut setidaknya sudah menjadi permasalahan klasik dalam tubuh birokrasi Indonesia. yaitu pemerintah daerah dan jajarannya bertindak cepat dan terintegrasi dalam melakukan penyelesaian penanggulangan bencana tersebut. Konsep perkembangan politisi-birokrat sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusumanegara dapat dijelaskan pada hirarki otoritas supremasi hukum yang berlandaskan politisi sebagai pembuat kebijakan sedangkan birokrat sebagai pelaksana kebijakan. keduanya memperhatikan aspek-aspek politik. lama dan kurang profesional. kaku. Penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya membutuhkan akses birokrasi.

akibat dominasinya bupati dalam masalah tersebut justru mempersulit gerak dan kinerja organisasi perangkat daerah karena kewenangan mereka dibatasi oleh bupati. 127 . Efek positifnya adalah bupati dengan segera bisa menginventarisir kejadian dan mengintruksikan jajarannya namun di satu pihak juga menimbulkan efek negatif. Secara singkat dapat dikatakan telah terjadi “birokratisasi politik dan politisasi birokrasi”. pada akhirnya menimbulakn efek posistif dan negatif. padahal secara mendasar organisai perangkat daerah mempunyai kewenangan sesuai dengan tupoksinya. pemangku kepentingan yang menjadi aktor dalam penanggulangan bencana ini menjadi sulit di elakan. Tetapi yang terjadi adalah kelahiran fenomena “hibrida murni” antara politisi-birokrat. karena sisi politis dan birokrat tidak bisa bedakan lagi. dengan adanya ekskalasi politis aktor. Tentunya hal ini menjadi sangat ironi di satu sisi korban memerlukan penanganan segera.dan birokrat dalam perumusan kebijakansehingga tidak nampak pembedaan peran politisi dan birokrat dalam kebijakan. birokrasi sendiri mengalami namun dilema di yang sisi lain mengakibatkan proses penanggulangan bencana menjadi terhambat. Hal ini bisa dikatakan hibrida murni. karena jajaran birokrasi yang ada semuanya mengandung unsur politis. Birokrat menjadi tidak memiliki independensi. dimana bupati yang memiliki jabatan struktur pemerintah daerah mempunyai otoritas dalam urusan penanggulangan bencana alam tersebut. Birokratisasi-politik maupun politisasi-birokrasi menjadi fenomena yang terjadi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

bencana dan pasca bencana merupakan dua momen yang bisa melahirkan pahlawan dan pecundang sekaligus. pendirian tenda setidaknya menggambarkan kerja pemerintah daerah dalam setiap bencana. Demikian pun. Dalam mencapai kekuasaan itu. setiap bencana paling tidak melahirkan berbagai bentuk kebijakan baru dalam hal penanganan bencana. partai politik. Kedua. Pertarungan kepentingan antar elemen bisa saja terjadi akibat perbedaan visi. tugas penanganan bencana bisa berjalan beriringan mulai dari pemerintah pusat. atau atas nama pribadi tertentu di bungkusan luar setiap bantuan merupakan gambaran bekerjanya asosiasi sosial dalam setiap bencana. Tarik menarik kepentingan para aktor ini terjadi dalam tegangan relasi kekuasaan. setiap aktor membentuk dan membangun relasi. Dalam pelaksanaannya. 128 . Oleh karena itu. kepentingan. dan agenda aksi mereka. Merujuk pada pandangan di atas. misi dan agenda setting yang dimiliki setiap aktor. Kesibukan para relawan dan penyuplai bantuan dalam membawa. memeriksa para aktor yang terlibat menjadi sangat urgen di sini untuk mengetahui motif. maka bisa dimengerti mengapa dalam setiap bencana aktor-aktor melakukan tindakan penanganan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kebijakan tanggap darurat. Kekuasaan merupakan obyek akhir dalam setiap bentuk kebijakan dan aksi bantuan yang diberikan manakala terjadi bencana. relokasi. mengatur dan mendistribusi bantuan menunjukkan kerja sosial. berbagai bentuk bantuan yang diberi label tulisan lembaga sosial. kabupaten/kota maupun pemerintah lokal (kecamatan/desa). Pertama.Soal relasi kekuasaan dalam proses penanggulangan bencana penting untuk diperiksa karena dua sebab pokok. propinsi.

yakni memberikan bantuan sosial bagi korban. Problem dasar kemudian adalah aktor tersebut memiliki agenda setting yang eksplisit memiliki visi. tetapi juga sebagai peristiwa politik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.Sebagaimana diterangkan di atas. politik. Pertimbangannya jelas. sebagai peristiwa yang 129 . 1) Bagi aktor politik. Dalam perspektif komunikasi politik. Inilah yang disebut bahaya relasi kekuasaan dalam penanganan bencana. Memang. tentu dapat dijelaskan. Setiap aktor yang terlibat mesti diperiksa. termasuk bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka. tidak untuk mencurigai tetapi sekadar mengingatkan semua pihak bahwa pada setiap momen duka seperti itu setiap aktor sebetulnya sedang membangun relasi kekuasaan. tetapi mirip arena kampaye dan promosi. bisa saja akan membentuk jaringan kekuasaan baru yang justru memancing di air keruh-mencari keuntungan sosial. peristiwa bencana alam tidak saja dimaknai sebagai peristiwa bencana. sering diikuti oleh beragam gejala ikutan termasuk politisasi bencana. jika tidak dikontrol. secara kasat mata dapat dilihat maraknya simbol-simbol politik telah menjadikan lokasi bencana bukan lagi ajang berbakti menolong sesama. aktor-aktor tersebut membentuk semacam pola relasi dalam setiap penanggulangan bencana. dan ekonomi sesaat. maraknya simbol-simbol politik dan hadirnya para aktor politik ke lokasi bencana. hal ini sangat jelas telah terjadinya perilaku politisasi dan komersialisasi bencana. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa setiap kali bencana terjadi di negeri ini. Fenomena yang berkembang dalam setiap penanganan bencana. Setiap relasi kekuasaan.

Pencitraan yang dilakukan bupati dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka merupakan bentuk akselerasi politik yang mengindikasikan adanya kepedulian bupati terhadap korban. Pemberitaan yang dilansir di media cetak seolah-olah yang berperan besar dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti adalah bupati. Relokasi tersebut sebenarnya atas dasar usulan Dinsosnakertrans kepada Kementerian Sosial yang akhirnya terealisasi dengan membangun 258 rumah korban. Hal tersebut menjadi kabar berita baik dengan adanya pemberitaan dari media cetak. Padahal sebenarnya yang berperan dalam penanganan bencana tersebut tidak hanya satu aktor. Pemberitaan tersebut pada akhirnya menutupi akselerasi atau kontribusi aktor lainnya. tapi banyak aktor lain yang berperan dalam penanganan bencana alam di Desa Sidamukti. Di sinilah. keberadaan dan liputan media berlatar bencana alam dapat menjadi front stage aktor politik menampakkan eksistensi diri. tentunya mengindikasikan adanya sebuah kepekaan sosial dari pemerintah daerah atas nama bupati terhadap korban. Namun berbeda halnya dengan kasus penanganan bencana di Blok 130 . seperti dilansir dalam sebuah harian Radar Majalengka yang menyatakan dalam sebuah petian berita bahwa bupati dengan pemerintah daerahnya sadar akan bencana di Kabupaten Majalengka. Seperti yang di ungkapan oleh Mayor Edi Supriadi dari Koramil Siliwangi menyatakan. “Relokasi korban di Desa Sidamukti ini sedang membangun kembali rumah korban sebanyak 258 unit”.menarik perhatian masyarakat dan memiliki nilai berita sangat tinggi dapat menjadi media komunikasi politik yang efektif untuk pembentukan citra politik.

Akibat ketidakjelasan penurunan bantuan dan relokasi berdampak pada pertentangan antara korban dengan pemerintah lokal (desa dan kecamatan). Kunjungan bupati untuk meninjau langsung ke lokasi bencana yang berjanji akan segera merealisasikan bantuan dan relokasi untuk korban menjadikan korban merasa gembira atas perhatian lebih dari buaptinya. Dalam perkembangannya. Tetapi di sisi lain. yang menganggap bahwa semua permasalahan ini yang berperan aktif seharusnya pemerintah desa dan kecamatan. Sementara FPBAC lambat laun mulai mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan janji-janjinya terhadap hak-hak korban. dimana FPBAC ini dianggap sebagai provokator dan hanya menghalangi proses jalannya penanganan bencana di daerah tersebut. dan janji-janji bantuan lainnya.Klewih Jatutujuh yang terkena dampak abrasi Sungai Cimanuk. pemberitaan media massa justeru mengindikasikan adanya sebuah pemutar balikan fakta. Mulai dari adanya janji-janji akan menurunkan bantuan. Di sisi lain. keberadaan korban bisa dikatakan terlantar akibat tidak adanya kepastian dari pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuannya. 131 . relokasi rumah korban. segala janji-janji yang telah disampaikan sampai saat ini belum ada kejelasan. aktor yang berperan dalam penaggulangan bencana di daerah tersbut lagi-lagi mempunyai berbagai kepentingan dan maksud tersendiri. Seperti halnya dengan eksistensi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut tidak luput dari sebuah ekskalasi politis. Padahal sesuai dengan pemberitaan dari media massa mencuplikan terkait kepekaan bupati dan pemerintah daerah dalam penangggulangan bencana di daerah tersebut.

maka nilai publikasi politik yang menyertai pemberitaan bencana akan sangat tinggi. aktor politik pun tidak luput untuk memanfaatkan ruang tersebut menjadi medium legitimasi kekuasaan dengan mekanisme baru pada ranah politik. Kasus ini menjadikan efek buruk bagi pencitraan aktor yang terlibat ketika fakta-fakta tersbut terungkap.Pemberitaan tersebut dibantah oleh Syarifudin selaku kordinator FPBAC. Dalam era globalisasi teknologi sekarang ini. yang memungkinkan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi begitu deras masuk di setiap bidang kehidupan. yang menganggap bahwa FPBAC adalah korban sebagai “kambing hitam” oleh media. Lokasi bencana dengan cepat menjadi perhatian masyarakat dan sorotan media baik lokal. secara fakta FPBAC justeru sangat membantu korban dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah lokal ataupun daerah. pola kerjanya mengedepankan peranan media dan kecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagi praktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol. sehingga apa pun yang terjadi akan menjadi perhatian publik. Bahkan FPBAC memberikan bantuan dan donasi atas inisiatifnya dengan mencari dana di luar pemerintahan. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terbukti turut berpengaruh dalam membuka relasi kekuasaan dan kekerasan tersebut menjadi ruang yang seolah-olah tidak sebuah mengandung kepentingan. Kedua unsur tersebut dikonstruksi sebagai arena yang terpisah 132 . Pencitraan positif seorang aktor akan terus berjalan sebagai strategi yang ampuh dalam meraup dukungan publik secara luas. Dalam perspektif ini. nasional maupun internasional.

memberikan bantuan. menyampaikan rasa empati. mondar mandir mengibarkan bendera. di mana simbol sebagai kekuatan abstrak memiliki sumber daya yang ampuh dalam mencipta kebenaran. Perang lambang merupakan cermin kemanusiaan yang lekat. Saat ini hubungan antara kekuasaan dan kekerasan tidak lagi dalam bentuk gerak fisikal melainkan bekerja dalam arena representasi. tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran para pihak termasuk aktor politik di lokasi bencana adalah suatu tindakan sosial yang tentu memiliki beragam motif. sebenarnya telah terjebak pada perang eksistensi dan dominisasi politik yang pada ujungnya adalah tidak lepas dari soal kepemimpinan. Ia memiliki wewenang untuk menjadikan simbol itu nyata dan mendapatkan pengakuan bahwa aktor politik tersebut memiliki 133 . Mengacu pandangan yang dikemukakan Hayakawa (1974) bahwa. aktor politik bisa menjalankan praktik kekuasaannya atas nama simbol yang ia ciptakan sendiri.dan tidak bersinggungan. 2) Mengacu teori tindakan sosial. Mulai dari hanya untuk melihat. sedangkan manusia memperebutkan lambang dan simbol sebagai wakil dari makanan dan kepemimpinan”. Jika demikian halnya. sampai dengan motif sebagai bentuk tanggung jawab atas sebuah musibah yang terjadi pada masyarakatnya. Maraknya simbol-simbol politik di lokasi bencana secara sadar atau tidak. Bagi yang mampu memegang simbol maka ia dapat mengejewantahkan dirinya seperti apa yang disimbolkan. “Salah satu perbedaan antara manusia dan binatang adalah kalau binatang bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan makanan dan kepemimpinan.

Dalam wacananya. dan pemaksaan ide-ide tertentu kepada obyek yang menafsirkan simbol. Dalam dunia politik. ada sebuah alasan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam penaganan bencana dan hanya berorientasi pada sebuah politk empatik dengan janji-janjinya. Sementara FPBAC menyatakan hal itu hanyalah sebatas komitmen mereka terhadap korban untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi korban terhadap janji-janji pemerintah daerah dalam penuntasan penanganan bencana di daerah Blok Klewih Jatitujuh tersebut. Kekuatan itu tersimpan dalam proses kategorisasi.mandat untuk bertindak sesuai dengan karakter yang disimbolkan. Bencana yang terjadi dijadikan ladang politik empatik yang akhirnya akan berubah pada politik kulit. Sikap empatik 134 . Hal tersebut di dasarkan pada hasil penelitian yang menunjukan pemerintah daerah merasa tertekan dengan adanya gugatan-gugatan ataupun aspirasi yang disampaikan FPBAC yang dirasa hanya memperburuk keadaan dalam proses penanggulangan bencana di daerah tersebut. Selain itu. Wacana penuntasan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. penilaian. operasi kerja kekuatan simbol tak bisa dilepaskan dari struktur atau aktor politik yang berkepentingan mengkonstruksi realitas. digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelompok mana yang disebut sebagai provokator dan bukan provokator. pemerintah daerah menganggap ada sebagian warga yang dipelopori oleh Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) sebagai profokator dalam penuntasan bencana di daerahnya. namun janji-janji tersbut tidak terbukti di realisasikan kepada korban. Simbol mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas.

4. yaitu Badan Nasional Penanggulangan 135 . penanggulangan bencana dilaksanakan oleh satuan kerja yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) penanggulangan bencana.5. UndangUndang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB).2. Sebelumnya. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Sistem penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka didasarkan pada kelembagaan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Rangkaian bencana yang terus terjadi mendorong berbagai pihak termasuk DPRD Kabupaten Majalengka bersama pemerintah daerah untuk lebih jauh mengembangkan kelembagaan penanggulangan bencana dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD). dan Peraturan Kepala (Perka) BNPB tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam kondisi tertentu. Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diamanatkan untuk dibentuk badan baru.pemerintah daerah terhadap korban setidaknya menjadi sebuah pencitraan posistif bagi pemerintah daerah dan aktor tertentu dalam meraih empati dari masyarakat dalam menjaga kestabilan kepemimpinan dan kekuasaannya yang legitimate. seperti bencana dalam skala besar pada umumnya pimpinan pemerintah daerah mengambil inisiatif dan kepemimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai satuan kerja yang terkait.2.

antara lain. pemerintah daerah mengemukakan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat. b) Beberapa pengambil kebijakan di daerah tidak merasakan adanya kebutuhan pengembangan kelembagaan penanggulangan bencana baik. 136 . Matrik Perbandingan Kelembagaan Satkorlak-Satlak & BPBD Sumber: Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia Dalam kaitan dengan pembentukan BPBD seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana. pemerintah daerah telah mengambil inisiatif untuk mengajukan usulan pembentukan BPBD namun dalam proses pengambilan putusan bersama dengan DPRD. Hal ini menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan seperti yang dijelaskan di bawah ini: Tabel 11. usulan tersebut tidak menjadi prioritas. yaitu: a) Pada beberapa daerah. karena dianggap bencana besar belum terjadi maupun bila bencana besar sudah terjadi tidak akan terjadi lagi dalam jangka waktu dekat.Bencana (BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas-PB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggantikan Satkorlak dan Satlak di daerah.

dan kewenangan dalam mengintervensi kebijakan Unsur Pelaksana (dan kaitan lembaga teknis lain) yang belum terdeskripsi. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. d) Tidak semua daerah bersedia membentuk BPBD dimana “Sekdanya” merangkap jabatan (benturan eselonisasi).c) Dengan status lembaga setingkat dinas di daerah (BPBD). Peraturan ini setidaknya mampu memberi keamanan bagi masyarakat dengan cara penanggulangan bencana dalam hal karakeristik. karena kualitas SDM yang sangat terbatas. maka terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia khususnya di Kabupaten Majalengka. frekuensi dan pemahaman terhadap kerawanan dan risiko bencana. g) Fungsi koordinasi antara BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota akan cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. banyak dinas yang meragukan pelaksanaan tata komando ketika terjadi bencana dapat terlaksana secara efektif di lapangan. serta sistem penggajian yang belum jelas. e) Proses seleksi anggota Unsur Pengarah untuk BPBD kabupaten/kota juga memakan waktu lebih lama. f) Fungsi “Pelaksana” dari BPBD punya kecendrungan untuk berbenturan dengan fungsi dinas-dinas teknis lainnya yang terkait dengan bencana. 137 . karena BPBD sebagai perangkat Daerah akan tunduk kepada Kepala Daerah dan Anggaran Daerahnya masingmasing. apalagi jabatan “kepala BPBD” dirangkap oleh Sekda yang beban kerjanya sendiri sudah cukup banyak.

tanggap. pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas. dan profesional sesuai dengan standar internasional. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan.Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman. tanggap darurat. Grand desain diperlukan dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan standar penanganan bencana yang cepat. Peningkatan kapasitas SDM (capacity building) guna penguatan kapasitas kelembagaan dan penyiapan daya dukung penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terukur dan terencana sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih parah. mitigasi. Program kegiatan yang tercantum dalam RAD PRB merupakan rencana tindak yang akan dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu dan komponen pelaksana yang telah ditetapkan dalam rangka pengelolaan kebencanaan. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Majalengka yang secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan dan program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan. Pemerintah daerah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Kabupaten Majalengka bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana. akan tetapi meliputi proses yang 138 . saat bencana maupun pasca bencana. pemulihan dan rekonstruksi.

pentingnya pemetaan daerah rawan bencana. khususnya kemampuan pengelolaan bencana. efisien dan menyeluruh. yaitu mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi. Perlu dicermati bahwa lembaga yang menangani bencana dapat menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan menyangkut domain tugas dan 139 . pelatihan penanganan bencana yang berbasis komunitas dan pemulihan sosial pasca bencana. khususnya pada tahap mitigasi. penerbitan modul dan sistem informasi dalam penanganan bencana. Berkaitan dengan proses mitigasi. Dengan strategi yang tepat. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam.lebih luas. Berbagai stakeholder dan pemerintah daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana harus memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut. pemerintah harus mengoptimalkan peran partisipatif dari seluruh stakeholder bencana. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara efektif. Pemerintah daerah dapat lebih berperan pada tahap prabencana dan mampu mengembangkan kesiagaan bencana di daerahnya. Dengan pola kerjasama yang sinergis. Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. dan rehabilitasi masih sering tersendat bahkan tidak jelas penanganannya. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain. rekonstruksi. diharapkan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam menanggulangi bencana secara efektif.

tanggung jawab dalam penanggulangan bencana. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya dari akibat bencana. yaitu fungsi komando. tindakan-tindakan kesiap-siagaan. baik itu prabencana. tindakan tanggap darurat. Jelas terlihat di lapangan bahwa perlunya sinergi antar dinas berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan di berbagai bidang. pada saat bencana. dan pelaksana. koordinasi. Koordinasi juga perlu ditingkatkan dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang juga melaksanakan tugas kebencanaan dengan menghimpun dan menyalurkan sumber daya dan bantuan bagi penanggulangan bencana. Peneliti melihat dalam aspek penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka belum ada mekanisme integrasi Rencana Aksi Daerah & Pengurangan Resiko Bencana (RAD-PRB) ke dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka. dan rehabilitasi & rekonstruksi. dan pasca bencana. BPBD harus menggariskan secara jelas tetang tugas dan wewenangnya. Hal ini harus dikelola dengan baik dan perlu dibangun format komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga tidak menjadi masalah baru dalam proses penanggulangan bencana. seperti yang diungkapkan oleh Hardi bahwa sesuai dengan tupoksi BPBD mempunyai tiga fungsi. Fungsi-fungsi yang dimiliki ini tentunya menjadi landasan dalam operasional dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka lebih terkoordinatif. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. sehingga belum 140 .

“Untuk sampai saat ini pengalokasian dan perencanaan penanggulangan bencana di dasarkan atas keputusan musrembang. dan menyeluruh dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. tentunya dalam penanggulangan bencana alam. Data di lapangan. Sehingga mengakibatkan adanya penafsiran yang berbeda dalam standarisasi penanggulangan bencana. Dengan memperkuat basis kontrol untuk menjaga alur sinergitas stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana bisa memberikan dampak positif terciptanya alur sinergi yang lebih efektif. lembaga legislatif yaitu DPRD Kabupaten Majalengka yang mempunyai wewenang terhadap kontrol penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam penanggulangan bencana seharusnya lebih peka untuk menjalankan fungsinya. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan. 141 . lembaga legislatif Kabupaten Majalengka masih lemah dalam hal kontrol kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. yang artinya masih menggunakan pedoman lama. Aspek penting lainnya adalah. hal ini di mengindikasikan belum masifnya sosialisasi tentang standarisasi penanggulangan bencana di dinas-dinas terkait dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. dan belum ada keputusan dalam dokumen RPJMD mengenai perencanaan penanggulangan bencana”. ketika proses penanggulangan bencana masih dipimpin oleh Satlak PB. efisien. Masih banyaknya pedoman teknis tersebar di berbagai dinas dan sektor yang belum memiliki kesamaan standarisasi.dijadikan acuan dalam menyusun program dan kegiatan terkait dengan kebencanaan.

Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. tanpa kemudian memberdayakan masyarakatnya. dan secara otomatis hanya mengandalkan komando dari pemerintah.Permasalahan selanjutnya adalah pemerintah dalam pelaksanaan penaganan bencana masih mengedepakan konsep pelayanan. memelihara keseimbangan. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa berpadu dalam usaha penaggulangan bencana. saat tanggap darurat serta periode pasca bencana. b) melakukan kegiatan penanggulangan bencana. dari sisi pemerintah dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan kerangka hukum (legal framework) untuk tindakan penanggulangan yang mencakup masa sebelum bencana. tindakan-tindakan kesiap142 . sehingga tidak ada gerakan nyata kesinergisan antar elemen stakeholder dalam penanggulangan bencana. dan c) memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana”. dasarnya prinsip pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pada pasal 27 menyatakan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: a) menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis. keselarasan. Secara sederhana. Indikasi tersebut bisa dijelaskan dengan pasifnya dan kurangya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Prinsip penanggulangan bencana yang dilakukan di Kabupaten Majalengka masih menjalankan prinsip Pada pelayanan. dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. keserasian. Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana setidaknya akan merubah paradigma tentang pelayanan publik (public service) oleh birokrasi ke arah pemberdayaan masyarkat (empowerment).

Politik Anggaran Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Majalengka merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas kejadian bencana alam cukup tinggi.siagaan. Dari sisi masyarakat. tindakan tanggap darurat. pengungsian. Bencana alam telah menimbulkan korban jiwa. ketidaknormalan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pelaksanaan pembangunan. ekonomi.5. Hal demikian tentunya pantas untuk dipedulikan. baik secara sosial. kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak sarana dan prasarana publik yang ada. 4. Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). bahkan politik. Ketika bencana muncul. masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya akibat bencana. Hal ini sejalan dengan pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari perlindungan masyarakat sebagai perwujudan kekuasaan pemerintah kepada perlindungan sebagai hak azasi. psikis. dan lain-lain. sisi pentingnya adalah memberikan pelindungan dan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman bencana. mengingat akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana alam memiliki dampak yang luas.3. Terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dapat menimbulkan 143 .

juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. untuk 144 . Tidak sedikit yang memandang bahwa bantuan memiliki sisi-sisi negatif yang dapat mengganggu keleluasaan (privacy) dan harga diri masyarakat bersangkutan. “Alokasi anggaran untuk kebencanaan tidak dimasukan dalam APBD dan Rencana Aksi Daerah (RAK)”. Persoalan lainnya yang sering terjadi yaitu ketika suatu bencana terjadi. banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan tidak terkoordinir dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan di lapangan. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terkena bencana sangat bernilai tinggi dan bermanfaat. Berbagai persoalan dan permasalahan di atas disamping membutuhkan organisasi yang mampu mengkoordinasikan dan mengelola bantuan sehingga bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkannya. sesuai dengan pernyataan Iwan Tundjiawan dari Bappeda Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa. secara sederhana bahwa pemerintah daerah harus menjalankan politik anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor policy) khususnya dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Beliau berasumsi.masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil. Semua ini secara mendasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan tegas. sistem penganggaran kebencanaan di Kabupaten Majalengka tidak masuk dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). Dalam konteks ini. Sekelumit paparan di atas adalah indikator pemerintah daerah dalam fungsi anggaran kebencanaan.

Padahal pemerintah daerah sudah menjanjikan kepada korban akan memberikan bantuan Rp. Alokasi dana yang harus segera turun ke tangan korban dalam bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh sampai saat ini belum terealisasi. Pemda. Jika mampu diwujudkan. dan alternatifnya adalah alokasi untuk kebencanaan dimasukan dalam alokasi dana tak terduga atau dana taktis pemerintah daerah. anggaran tersebut harus dijaga dan dijauhkan dari praktik pengelolaan anggaran yang salah urus dan korupsi. Kompetensi. integrasi. transparansi. begitu juga dengan 145 . koordinasi. Demi menjamin kepastian bahwa anggaran untuk kebencanaan dapat diimplementasikan secara nyata dan baik. dan akuntabilitas pengelolaan anggaran yang dilakukan segenap aparatur pemerintahan daerah di uji.kejadian bencana alam. dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah beserta instansi di bawahnya dalam pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU). Komitmen yang tinggi dari Dinas Keuangan. Selanjutnya. korupsi akan dapat dihilangkan dan pelayanan publik kian meningkat. apresiasi yang tinggi tetap harus kita sampaikan kepada pemerintah daerah karena sudah berani untuk mendirikan sebuah lembaga kebencanaan di daerahnya.00/kepala keluarga. dan DPRD sangat diperlukan dalam pengalokasian dan pendistribusian anggaran bagi kebencanaan agar tepat guna dan berdaya guna serta tepat sasaran. karena sifatnya situasional dan bisa terjadi kapan saja maka kurang etis ketika ada sebuah penganggaran untuk kebencanaan. Terlepas dari penilaian sejumlah pihak bahwa RAPBD tersebut bersifat defensif dan kurang ekspansif. dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mutlak diwujudkan.1000.000.

Porsi belanja aparatur dalam APBD lebih banyak daripada belanja publik sehingga alokasi anggran untuk kebencanaan masih jauh dari harapan rakyat.584.584. Politik anggaran Kabupaten Majalengka belum berada dalam arah yang benar.985. 146 . Sisa dari belanja langsung adalah Rp. khususnya untuk pendanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Joyo selaku sekretaris BPBD bahwa untuk anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 mencapai Rp.129. 1.000. pemerintah daerah dihadapkan pada polemik yang terjadi antara pemerintah kecamatan dan desa yang bersitegang dengan masyarakat. 72.479.00.087 dan belanja tidak langsung Rp.400. 2.27.349.Rp.00.627. karena pada dasarnya korban membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk segera menanggulangi segala permasalahannya.627.00 dengan rincian untuk belanja langsung Rp.571.584. Seharusnya sisa anggaran dari belanja langsung dan tidak langsung Rp.00 dan sisa dari beanja tidak langsung adalah Rp.000.284.349. 1. Realisasi dari belanja langsung adalah Rp. 1. 1.309.menjanjikan adanya relokasi bagi para korban.057. 1.00 dan belanja tidak langsung Rp.00 .716. yang dilatar belakngi kelambanan dan kurang pedulian dalam penanganan bencana di daerahnya. 72.000. 40. Selain itu.013.309.000.00 = Rp. Tentunya merupakan masalah yang serius untuk segera dicarikan solusinya. Alokasi belanja daerah ternyata lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat.00 + Rp. 1. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka tahun 2010.013.571.00.057.327.985.284.129. 1.00 -1.087 = Rp.357.

112. 5. masih ada sisa anggaran yaitu Rp. 65.00 = Rp. dengan menggunakan sumber dana APBD.00.929. Fata yang ada sebenarnya sisa anggaran penanggulangan bencana tahun 2010 mencapai angka ratusan juta yaitu Rp.000.929. hal tersebut menjadi ironi ketika dibandingkan dalam penuntasan kasus bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blo Klewih.00 dan Rp 24.000.000.00.00 secara tertulis sisa anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 dimasukan dalam klausal anggaran tahun 2011. sangat timpang dengan pengeluaran barang dan jasa hanya 147 .043.850. 112.00 – Rp. Bahkan jaminan ganti rugi tersebut direalisasikan.000.000.000. 106. Rp. 47.425.043. Transparansi sisa anggaran tersebut. 5.716. Kecamatan Jatitujuh yang menyatakan bahwa BPBD dan pemerintah daerah terbatas anggaran dana.043. 44. namun rincian perhitungan pengeluaran justeru lebih banyak pada belanja pegawai dan honorarium PNS dengan anggaran Rp.000.000.000.357.40. Seharusnya dengan sisa anggaran tersebut setidaknya bisa merealisaikan tuntutan dari korban untuk meberikan jaminan yang telah dijanjikan oleh pemerintah daerah melalui BPBD yaitu. 65.00. Kesiapsiagaan dalam Penangguangan Bencana” yang dilaksanakan pada triwuan I sampai dengan triwulan III.00.929.00 = Rp.000. 112.450.000. Jumlah total anggaran belanja langsung sebesar Rp.929. belum tahu keberadaannya yang hingga samapi saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar.00. dan ini merupakan sisa anggaran dalam jumlah yang masih besar. dengan asumsi 13 KK x Rp. Kasus lain adalah dalam mekanisme aggaran kegiatan “Peningkatan Keterampilan. sehingga untuk penanganan relokasi dan batuan darurat belum bisa direalisasikan dan dimaksimalkan.00/Kepala Keluarga.00 adalah Rp.043.

575. dalam hal ini adalah intruksi membentuk BPBD. tahun anggaran 2010. Tentunya proses anggaran tersebut menjadi tanda tanya besar. apalagi ketika melihat anggaran yang sudah direalisasikan cukup besar.2.000. saat bencana. bisa dikatakan komitmen pemerintah daerah masih kurang dalam penanggulangan bencana dan belum terarah dengan jelas terhadap urgensitas atau pentingnya manajemen dan pola penangulangan bencana alam di daerahnya.mencapai Rp. 76 Padahal anggaran untuk kebutuhan penanggulangan bencana memerlukan alokasi dana besar. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai kapasitas dalam peningkatan keterampilan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana.1 148 . seharusnya kegiatan tersebut bisa di optimalkan dengan anggaran yang begitu besar. Anggaran kebencanaan yang habis untuk kegiatan penanggulangan pra bencan dengan indikasi-indikasi adanya sebuah belanja kebencanaan yang kurang representatif yaitu habis untuk belanja dan honorarium pegawai. maupun setelah bencana bisa terakomodasi dengan baik. 76 Lihat dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka. Pemerintah daerah seakan hanya menjalankan kebijakan pemerintah pusat. namun realita berkata lain justeru anggaran tersebut lebih banyak tersedot pada ha-hal yang kurang penting. formulir DPA SKPD 2. Proses tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi kerentanan bencana alam baik pra bencana. karena lebih banyak pengeluaran pada belanja pegawai dan honorarium PNS.00 . padahal sistem penanggulangan bencana penganggaran untuk penanggulangan bencana mempunyai anggaran dengan nominal yang cukup besar. 61. Sementara akomodasi-akomodasi terhadap implementasi belum berjalan dengan baik.

terutama DAU untuk daerah miskin dan DBH untuk daerah yang kaya dengan sumber daya 149 . dan provinsi. Politik anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai. kota. Pola belanja APBD juga tidak jauh berbeda. Politik anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. ternyata belanja aparatur lebih dominan daripada belanja publik. APBD Provinsi. Dengan relatif kecilnya pendapatan asli daerah (PAD). Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RAD. Hak-hak masyarakat menjadi skala prioritas akan perlindungan dari bencana dan keberpihakan terhadap kesejahteraan terhadap korban. atau pun bisa jadi adanya sebuah kongkalikong antar aktor yang terlibat. Transparansi pengelolaan anggaran seharusnya dipertanggungjawabkan kepada publik terhadap apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata. Anggaran yang dikeluarkan oleh BNPB. Seluruh lembaga dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlu didorong untuk mengingkatkan penerimaan dan melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Konsekuensi dari politik anggaran ini adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar terhadap birokrasi.Sistem anggaran penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka mempunyai indikasi-indikasi adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaannya. Di hampir semua kabupaten. maupun daerah justeru disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. mayoritas pemda amat bergantung pada dana transfer pusat ke daerah. Ketidakjelasan dan kurangnya transparansi dari pemakaian annggaran dana penanggulangan bencana pada tahun 2010 mengindikasikan adanya korupsi di tubuh lembaga.

Adapun sistem peradilan menjamin penegakan hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. file:///F:/elitis/t666- 150 .alam. dan pengawasan terhadap implementasi kebijakan anggaran yang dilakukan pemerintah daerah. Indonesia kini memiliki 33 provinsi. Politik Anggaran Pro Rakyat atau Birokrat. dan 34 kota baru. dengan demikian. Daerah otonom baru ini dinilai menimbulkan banyak masalah. Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka adalah bagaimana alokasi anggaran bencana yang dilaksanakan dapat berproses secara partisipatif yang melibatkan partisipasi rakyat dan bersifat responsif serta berpihak kepada hak dan kepentingan korban. anggaran. 164 kabupaten baru. 77 Mudjarad Kuncoro. membangun gedung Pemda dan DPRD. akan memberikan jaminan bagi korban dan keberlangsungan penanggulangan bencana. Alokasi anggaran daerah diarahkan untuk pengembangan penanggulangan bencana. Akibatnya. Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan 205 daerah otonom baru meliputi 7 provinsi baru. dan semua yang berkaitan dengan menghidupkan mesin birokrasi baru di daerah . Pemerintah menyiapkan skenario berkewajiban kebijakan anggaran yang 77 bersifat ideologis. Dari sisi APBD dapat dipastikan bahwa alokasi belanja akan banyak dialokasikan untuk belanja aparatur. 399 kabupaten dan 98 kota. Porsi terbesar penggunaan DAU lagi-lagi dihabiskan lebih dari 60-90% untuk belanja pegawai. seperti gaji pegawai. DPRD konsisten melaksanakan fungsi legislasi. yaitu keberpihakan atas korban. Di sisi lain.

htm diakses pada tanggal 26 Juni 2011.politik.anggaran-prorakyat-atau-birokrat. 151 .

Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini.1. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan daerah dalam penanggulangan bencana (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009). 2) Peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka belum menunjukan sebuah kontribusi yang maksimal. arah dan komitmen politik legislatif dan eksekutif daerah dalam pembuatan kebijakan publik dan kebijakan-kebijakan sektoral belum dapat dioperasionalkan secara efektif dengan melibatkan semua aktor. politik.BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5. 3) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi beban poltitk karena terjadi proses hibrida murni “politisasi-birokrasi dan birokratisasi-politik”. 152 . hal ini erat kaitannya dengan dukungan. karena belum adanya kejelasan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. sehingga sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana belum terwujud. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. dan ekonomi justru menimbulkan sebuah konflik secara vertikal maupun horizontal. Relasi kekuasaan dan adanya politisai anggaran dalam penanggulangan bencana dengan mencari keuntungan sosial.

Dengan strategi yang tepat. menjadi kebutuhan saat ini untuk melakukan pengaturan wadah yang mencerminkan tatanan otoritas. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. Partisipasi aktif masyarakat sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan.5. maka pemerintah daerah yang mempunyai peran vital dalam hal tersebut bersama stakeholder lain. fungsi dan tanggung jawab perangkat-perangkat pemerintahan untuk secara komprehensif menangani bencana. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara 153 . Aspek kelembagaan ini sepatutnya juga didukung dengan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah.2. Implikasi Menanggapi berbagai permasalahan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Mencermati hal tersebut maka peneliti merangkum beberapa implikasi dalam penelitian ini. 2) Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. yaitu: 1) Revitalisasi kelembagaan. dan masyarakat perlu duduk bersama dan merumuskan langkah-langkah konkrit.

4) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana hendaknya tidak menjadi beban politik. humanis dan ikhlas. semua aspek penanggulangan bencana. kelembagaan serta mekanisme harus membuka akses untuk peran serta masyarakat luas. 3) Penanggulangan bencana tidak hanya sebagai tanggung jawab pemerintah semata tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). 154 . Dalam kaitan ini. 5) Perlunya regulasi yang mengatur keterlibatan para pihak khususnya partai politik dalam penanganan bencana. Dalam konteks demikian keberadaan lambang dan simbol-simbol politik menjadi sangat tidak relevan. serta dunia usaha. akan tetapi dilakukan secara alami. mulai dari kebijakan. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam.efektif. Hal ini dimaksudkan agar setiap kali terjadi bencana tidak dijadikan sebagai peristiwa dan obyek politik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful