BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapi sudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganan kasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat para korban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak dari kemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringan yang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalam bentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah . Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulangan
1

bencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan

1

Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011

1

sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran dan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi dan rehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para

2

pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana . Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulangan bencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasional mencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahui sejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana di daerah. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b) pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dari BPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)
2

2

Sulis Setyawan, Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011

3

Pasal 21 dijelaskan tentang tugas dari BPBD antara lain: a) Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan badan nasional penanggulangan bencana terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana. wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Maja. e) Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya. Bantarujeg. serta rekonstruksi secara adil dan merata. dan menginformasikan peta rawan bencana. Tengah. pada tanggal 20 Januari 2011. c) Menyusun. terencana dan menyeluruh.Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan bencana secara terpadu. 4 . Pertama. Berbicara tentang wilayah rawan bencana di Indonesia. g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. f) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. penanganan darurat. rehabilitasi. h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. dan Utara . Talaga. d) Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. Cikijing dan sekitarnya secara geografis merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan lokasi yang terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian 3 3 Hasil wawancara dengan Bapak Iyus Kepala Bagian Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. menetapkan. serta i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kabupaten Majalengka merupakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam yang ditetapkan dalam tiga wilayah pengembangan bencana Selatan.

kebakaran 1 kali. puting beliung 2 kali. dan meninggal 1 orang) dengan resistensi kerusakan rumah (63 KK rusak ringan. setiap tahunnya daerah ini sering mengalami bencana tanah longsor. dan 82 KK rusak berat). Bulan Februari terjadi 19 kali kejadian (longsor 14 kali. kebakaran 1 kali. Bulan Maret terjadi 16 kali kejadian (longsor 5 kali. dan tanggul jebol 1 kali). Ketiga. kebakaran 4 kali. puting beliung 8 kali. luka berat 4 orang. kebakaran 18 kali. Sedangkan untuk korban jiwa (luka ringan 7 orang. dengan korban luka 1 orang). Jatitujuh. tanggul jebol 1 kali. banjir 1 kali dengan korban luka 1 orang. kekeringan dan banjir karena secara struktur tanah. luka berat 1 orang dan korban tewas 1 orang). sambaran petir 3 kali. angin puting beliung 15 kali. banjir 10 kali. banjir 3 kali. 51 KK rusak sedang.400-1000 meter dpl. Angka kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 per Agustus telah terjadi 104 kejadian (longsor 44 kali. terutama pada waktu musim penghujan. wilayah ini berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai-sungai besar sehingga memungkinkan terjadi luapan air sungai dan erosi tanah di daerah sekitarnya. Kedua. Rajagaluh dan sekitarnya merupakan daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-400 meter dpl yang merupakan daerah rawan angin puting beliung. Majalengka Kulon. sambaran petir 1 kali. wilayah Tengah yang meliputi Kecamatan Majalengka Wetan. dengan korban tewas 1 orang dan luka ringan 5 . Ligung dan sekitarnya merupakan wilayah yang rawan bencana tanah longsor. Cigasong. banjir 2 kali. Jatiwangi. Sukahaji. Bulan Januari terjadi 20 kali kejadian (longsor 9 kali. sambaran petir 4 kali. wilayah pengembangan bencana daerah utara dengan ketinggian 20-100 meter dpl yang meliputi Kecamatan Kadipaten.

kebakaran 2 kali). puting beliung 4 kali. SH.2 orang). M. sementara Agustus terjadi 4 kali kejadian (2 kali kebakaran dan 2 kali longsor) . dan Ciamis). dengan korban ringan 3 orang. April terjadi 12 kali kejadian (longsor 6 kali. Tingginya angka kejadian bencana alam di Majalengka menguatkan Kabupaten Majalengka membentuk dan mendirikan Badan Penanggulangan 4 Bencana Daerah (BPBD) selain empat kabupaten di Jawa Barat (Tasikmalaya. Di satu sisi Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang luas wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan kabupatenkabupaten di daerah Jawa Barat lainnya. pada tanggal 21 Januari 2011. dataran sedang. sekaligus dilansir dalam Surat Kabar Lokal Radar Majalengka pada tanggal 6 November 2010. pohon tumbang 1 kali. Mei terjadi 18 kali kejadian (longsor 8 kali.Si. Kuningan. BPBD di Kabupaten Majalengka didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4 4 Hasil wawancara dengan Kepala Pelaksana BPBD Ibu Suratih Puspa. dan koraban berat 3 orang). kebakaran 5 kali. dengan variasi wilayah dataran tinggi yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang berada dalam sebuah patahan lempeng IndoAustralia. namun kerentanan terhadap bencana alam yang terjadi menjadi perhatian yang tidak bisa di hindarkan. banjir 4 kali. Bulan Juni dan Juli stabil hanya terjadi kebakaran 2 kali. Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah. 1 kali angin puting beliung. dan dataran rendah mengakibatkan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. Sukabumi. 6 . pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. MM.

efisien. Kebijakan dan strategi dalam penanggulangan bencana. Perlu dicermati adalah bagaimana peran pemerintah daerah bersama stakeholder serius dan konsekuen untuk bersinergis dalam 5 penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Didirikannya BPBD setidaknya menjadi bukti bahwa Kabupaten Majalengka serius dalam penanganan bencana alam dan menjadi daerah yang sadar akan bencana. Peraturan perundang- 5 Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah BAB I Ketentuan Umum. kerentanan dampak bencana.Januari 2009. Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik. Sosialisasi penanggulangan bencana harus di upayakan secara integral kepada seluruh elemen pemerintah daerah. 7 . pasal 20. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana . terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. dan berkelanjutan. Keseriusan tersebut tidak bisa di definisikan dengan didirikannya BPBD. non pemerintah dan masyarakat karena sangat dibutuhkan dalam mereduksi manajemen penanggulangan bencana yang efektif. status bencana dan efektifitas kegiatan penanggulangan bencana di daerah menjadi issue yang menarik untuk dikaji dalam mengukur peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka serius atau dalam penanggulangan bencana alam. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh menjadi perhatian khusus dalam pola dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

undangan maupun kebijakan penanggulangan bencana yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat seharusnya bisa diaplikasikan dan dijalankan oleh pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana di daerahnya sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. dinas setingkat yang berbenturan dalam penanggulangan bencana. sinergitas dan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. 8 . Fungsi koordinasi dan komando dalam strategi dan teknis penanggulangan bencana. baik di tataran pusat maupun daerah masih di upayakan untuk membentuk sebuah pola sinergitas dan keterpaduan sehingga tidak ada fungsi lembaga. Ego sektoral dan lembaga dalam penanggulangan bencana. Latar belakang tersebut menjadi daya tarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam peran pemerintah daerah dan stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. baik bersifat sektoral maupun terpusat masih menjadi dilema yang menjadi perhatian khusus terhadap fungsi-fungsi lembaga yang saling berbenturan. Sinergi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini. Pada akhirnya penelitian ini diharapkan menjadi landasan dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas.

Sehingga unit analisis yang akan ditelit lebih fokus pada aktor-aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.1. Bagaimanakah sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 9 . tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2010:208-209). Rumusan Masalah Dalam mempertajam penelitian. Spradley menyatakan bahwa “ A focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. peneliti kualitatif menetapkan fokus. Penelitian ini di fokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. penentuan fokus didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan). Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial. Bagaimanakah peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010? 2. Dalam penelitian kualitatif. Aspek yang akan diteliti adalah peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.2. Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1.

tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 dan mengkonstruksi model sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 1. 10 .3.1. Manfaat Penelitian 1. praktisi. lembaga daerah.3. Manfaat Teoritis Memberikan kontribusi bagi perkembangan Ilmu Politik khususnya mengenai kajian birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana daerah. kontribusi.3.3.2. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut.2. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan serta tambahan alternatif untuk penelitian selanjutnya yang sejenis.1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.2.2. Selain itu. dan masukan kepada para pengamat politik. 1. pemerintah daerah serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan bencana.1. Manfaat Praktis Memberikan informasi. birokrasi.

sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan berbagai sub aspek dan fokus penelitian yang berbeda diantaranya adalah: 2. 11 .1. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisiensian dalam penanganan bencana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Penelitian ini ditulis oleh Bagas Megantoro pada tahun 2006. dan tidak menjadikan adanya egosentris dan saling menyalahkan antar lembaga dalam penyaluran dana tersebut. agar penyaluran dana rekontruksi tidak harus berkelumit pada tahapan-tahapan birokrasi tanpa adanya realisasi kepada korban bencana.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Dalam penelitiannya dijelaskan tentang sistem birokrasi penyaluran dana rekonstruksi yang berkelumit dan tersentralisasi.1. Dipaparkan pula mengenai solusi penyelesaian terkait dengan birokratisasi yang sentralistis dirubah menjadi desentralistis.

Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Penelitian ini ditulis oleh Agus Suryono pada tahun 2005. terdapat pula kecenderungan terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal. Strategi. sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. Akibatnya.1. provinsi. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi. dan Operasi) Penelitian yang ditulis oleh Adi Suhendi pada tahun 2009 dalam ringkasan evaluasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 2. Penelitian ini membahas penetapan status bencana (nasional.1. birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efisien. Disamping itu. Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. Agus Suryono berbicara tentang birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang ke arah “parkinsonian”.3. Pada kondisi yang demikian. tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur. dan kabupaten/kota) serta penyorotan terhadap kelembagaan setingkat menteri yaitu badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dalam alur komando ketika terjadi bencana belum terlaksana secara efektif. Dikarenakan BNPB punya 12 .2.2.

Pada kesimpulannya sistem penanggulangan dan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah tidak berjalan dengan efektif karena sebuah benturan pelaksanaan teknis yang sama. Tentunya ini berbeda dengan penelitian terdahulu.kecenderungan untuk berbenturan dengan fungsi-fungsi kementerian-kementerian teknis lainnya yang terkait dengan penanggulangan bencana. Penelitian-penelitian terdahulu ini menginspirasi untuk melakukan sebuah penelitian yang berkesinambungan. karena BPBD sebagai perangkat daerah akan lebih patuh terhadap kepala daerah. Untuk melihat pembanding dan komparasi dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. salah satunya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan menyoroti peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana. 13 . Mekanisme koordinasi antara BNPB dengan BPBD cenderung sulit dilaksanakan secara efektif.

salah satu sumber permasalahan tersebut adalah lamanya dan rumitnya pencairan dana rekonstruksi korban bencana dan diperlukan perbaikan dan pembetulan dalam sistem birokrasi Indonesia Merubah persepsi dan paradigma tentang birokrasi Unsur pemerintah. Peneliti Bagas Megantoro Judul Penelitian Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Tahun 2006 Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Tahun 2005 Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. Strategi. sementara penelitian Adi Suhendi lebih memfokuskan pada sinergitas di tataran pusat dan implikasi nya terhadap sinergi dengan daerah dan berbicara tentang aturan dalam pasal-pasal UU No. Peneliti lebih memfokuskan pada peran dan sinergitas stakeholder . Agus Suryono Memahami pentingnya manajemen birokrasi profesional Studi Pustaka Mencari keefektifan dan sinergitas dalam tubuh birokrasi 3. 24 tahun 2007. Asep Deni Jatnika Kualitatif Studi Kasus - 14 . Peneliti lebih menekankan pada aspek birokrasi (institusi atau lembaga daerah) dalam konteks penanganan dan pelayanan penangulangan bencana sedangkan penelitian Agus Suryono memfokuskan pada aspek dan pengkrirtisan terhadap birokrasi yang mengarah ke arah parkinsonian dan orwelian sehingga birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya secara profesional. privat dan masyarakat harus all together yang sinergi dengan adanya standar minimal pelayanan publik dan adanya mekanisme pengawasan sosial terhadap birokrat Persamaan dan Perbedaan Penelitian Persamaan Menyoroti sinergisitas lembaga dalam penanggulangan bencana Perbedaan Peneliti lebih menyoroti pada peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. sedangkan penelitian Bagas Megantoro lebih membahas mengenai sinergi penyaluran dana rekonstruksi antar lembaga pusat-daerah dalam penanggulangan bencana. Matriks Analisis Penelitian Terdahulu No 1.Tabel 1. Adi Suhendi Melakukan review tentang sistem penanggulangan bencana nasional dan menellaah efektifitas PB di tingkst daerah-pusat Mengetahui sejauh mana peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Studi Pustaka Kelembagaan penanggulangan bencana harus dapat bertindak lintas sektor dan lintas wilayah serta memiliki rantai komando yang jelas dan efektif Fokus pada aspek sinergitas lembaga dalam penanggulangan bencana 4. 2. dan Operasi Tahun 2009 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Tujuan Penelitian Mengetahui sejauh mana manajemen penyaluran dana rekonstruksi dalam peanggulangan bencana Metode Kualitatif Studi Kasus Hasil Manajemen pemerintah dalam penanganan [pasca] bencana perlu diperbaiki.

2. Berikut penjelasan mengenai teori dan konsep yang menjadi landasan teori dan kerangka berfikir dalam penelitian ini. Adanya interaksi dalam masyarakat akan menciptakan hubungan antar peran-peran individu dalam masyarakat. Sesuai dengan fokus penelitian.2.1. Seseorang harus belajar mengetahui peran yang dijalankannya serta peran yang dijalankan orang lain melalui sebuah interaksi dan sosialisasi. Pemerintah daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD 15 .2. Beberapa landasan teori yang mendukung dalam penelitian yang akan peneliti lakukan adalah teori dan konsep tentang peran pemerintah daerah dan manajemen kebencanaa (Disaster Management). 2. Seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajibannya dari statusnya (Sunarto 2000: 54). maka diperlukan beberapa teori pendukung untuk mempermudah dalam proses penelitian. Kerangka Teori Penelitian ini memfokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peran Pemerintah Daerah Peran memiliki arti serangkaian perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang. Konsep peran sangat diperlukan untuk mengetahui dan memahami keselarasan atau integrasi antar tujuan dan misi yang ingin dicapai (Nogi 2005: 266). Peran-peran diajarkan melalui sosialisasi dan interaksi. Pengharapan yang terdapat dalam peran merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu peran.

Pemerintah daerah adalah gubernur. Dengan demikian peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara bertindak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu hak. stakeholder primer (utama) yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan. wewenang. diakses pada tanggal 10 Februari 2010. stakeholder dapat diketegorikan kedalam tiga kelompok. posisi penting. dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.wikipedia. proyek.com. Pemangku Kepentingan.com. Secara sederhana. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah . Berdasarkan kekuatan. dan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan 6 7 (masyarakat dan pihak manajer publik: 7 Abdi Projo. atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issue atau suatu rencana . bupati. http//www. dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issue. stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak. program.menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. lintas pelaku. Pertama. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka merupakan 6 rangkaian permasalahan yang perlu dicarikan solusi dan alternatif untuk menyelesaikannya. tentunya hal tersebut membutuhkan peran-peran dari pemerintah daerah dan stakeholder di dalamnya. 16 .bloger. atau walikota. Pengertian Tentang Pemerintah Daerah. diakses pada tanggal 10 Februari 2010 http//www.

dan proyek.lembaga/badan yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan). strategi. bersama stakeholder lainnya mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Perguruan Tinggi. program. operasi penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab lembaga dan dinas-dinas terkait sebagai stakeholder pemerintah daerah yang berperan sebagai agen utama dalam melaksanakan penaggulangan bencana. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya. stakeholder sekunder (pendukung) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan. stakeholder kunci yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan. Kedua. Badan Usaha. Ketiga. dan lembaga pemerintah yang terkait dengan issue tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan). Keberlangsungan pelayanan. Partisipasi aktif dari berbagai elemen untuk menciptakan sebuah manajemen penanggulangan bencana merupakan aspek integral yang sangat penting sehingga dampak resiko bencana bisa ditanggulangi secara terpadu dan menyeluruh. dan 8 8 Ibid 17 . Pemerintah daerah sebagai stakeholder kunci. legislatif. tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah (LSM. organisasi birokrasi. Tentunya keberlangsungan operasi dari pemerintah sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu aparatur pemerintah. dan instansi .

prosedur tata laksananya. seperti yang dijelaskan Kartasasmita dalam Suryono (2002: 3). dengan demikian setiap pelaksanan harus mengerti benar tentang konsep persepsi sebagai langkah awal dari motivasi yang akan mewarnai cara bertindak. Namun sejarah dan realita yang sekarang menggejala dalam tubuh birokrasi memiliki beberapa kecenderungan. mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta memusatkan kekuasaan. apabila operasionalisasi suatu kebijakan ingin dapat berjalan secara optimal dan sebagaimana mestinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan terhadap aparatur pemerintahan agar prosedur ketatalaksanaan dan bentuk organisasi birokrasinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari misi yang akan dicapai . menjadi alergi ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik. Agen administrasi pemerintah daerah yang ditujukan menjalankan fungsifungsi dan tujuan lembaga adalah birokrasi. Dalam mengoperasionalkan kebijakan manajemen aset di kabupaten/kota diperlukan peran pemerintah daerah kabupaten/kota. tidak mengabdi kepada kepentingan umum. Persepsi atau pemahaman dari pelaksana haruslah sesuai dengan maksud. tidak efektif (over consuming and under producing). Birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik. Oleh karena itu. tidak lagi menjadi alat rakyat 9 9 Op Cit 18 . pada dasarnya birokrasi lebih mengutamakan kepentingan sendiri (selfserving). tidak obyektif. tujuan. lamban dan menghambat kemajuan. tidak efesien. dan sasaran dari kebijakan tersebut. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa birokrasi cenderung lebih mementingkan prosedur daripada substansi.

Gava Media (2010:58) Secara mendasar birokrasi sangat erat kaitannya dalam pembuatan sebuah kebijakan dan sebagai agen administrasi yang paling bertanggungjawab dalam implementasi kebijakan. Perkembangan Peran Politisi-Birokrat IMAGE Kebijakan/ Administrasi Fakta/ Kepentingan Energi/ Equilibrium POLITISI Membuat kebijakan Kepentingan/Nilai Kepekaan politik Pertanggungjawaban pada konstituen Artikulasi secara luas Ideologis. Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. Begitu halnya dengan peran birokrasi pemerintah daerah 19 . Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. Dalam berbagai macam pola hubungan antara birokrasi dan politik.tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. partisan. Sebagaimana perkembangan dari segi perilaku birokrasi maka ada sebuah perkembangan peran antara politisi dan birokrasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut. terpusat. pragmatis Memberi keseimbangan Sama (karakteristik berbaur) EKSPRESI Hirarki otoritas Supremasi politik Partisipan Rasionalitas vs Rasionalitas Administrasi Partisipan Birokrat cenderung politis Hibrida Murni (Perkawinan Murni) Mempolitisaasi birokrasi dan membirokrasikan politik Sumber: Solahuddin Kusumannegara. Tabel 2. idealistik Energik Sama (karakteristik berbaur) BIROKRAT Melaksanakan kebijakan Fakta/pengetahuan Keahlian Kemanjuran Artikulasi kepada klien Hati-hati. institusi politik terdiri atas orang-orang yang berperilaku politik yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan.

Peran penting dari street-level bureaucrats sebagai pembuat kebijakan. pegawai kantor jaminan sosial adalah beberapa contoh dari tingkat birokrat pelaksana. pegawai kesehatan. Berbicara tentang birokrasi. karena mereka harus setuju dengan setiap perubahan kebijakan. demi terpenuhinya layanan publik yang efektif dan efisien. dan kesejahteraan masyarakatnya di Kabupaten Majalengka. Birokrasi harus menjalankan peran dan tugasnya sebagaimana yang telah diamanahkan dalam sebuah peraturan formal.dan stakeholder di dalamnya mempunyai peran dalam urusan pemerintahan guna menunjang kemakmuran. Sehingga tidak ada sebuah hirarki antara birokrat dengan masyarakat dan tidak adanya politisasi dalam sebuah birokrasi. keamanan. sebenarnya mereka adalah orangorang yang secara langsung berinteraksi dengan dan menyediakan layanan publik kepada warga negara dalam proses pekerjaan. Street-level bureaucrats adalah lembaga layanan publik yang mempekerjakan sejumlah besar tingkat birokrat pelaksana (Lipsky 1980: 3). dan memiliki kebijaksanaan substansial dalam pelaksanaan pekerjaan mereka. Alasan street-level bureaucrats sebagai fokus dari kontroversi umum adalah pada aspek interaksi dengan warga negara yang sering menyebabkan 20 . Street-level bureaucrats menyebabkan kontroversi. polisi. penegak hukum. street-level bureaucrats (birokrasi tingkat pelaksana) merupakan pegawai pemerintah yang memberikan layanan masyarakat secara langsung kepada warga. yang mendirikan kerangka kerja untuk mendukung pesan fundamental. Guru. Meskipun dianggap sebagai tingkat karyawan rendah.

dalam artikel keduanya menyatakan bahwa street level bureaucrats menghadapi dilema antara mendapatkan pada fokus kerja dan memenuhi tujuan organisasi. kabur atau bertentangan. 2) Permintaan untuk layanan cenderung meningkat untuk memenuhi pasokan. Kebijaksanaan mengantarkan street-level bureaucrats paling sering menjadi dilema pribadi. 4) Kinerja berorientasi pada pencapaian tujuan cenderung sulit dan mustahil untuk di ukur. pola praktek dan masa depan tingkat birokrasi jalan. (Lipsky 1980: 8-10). Dalam rangka reformasi dan merekonstruksi street-level bureaucrats. Wong dalam Lipsky (2005: 27-28) kondisi kerja.benturan diantara keduanya. sinergitas dengan arus kebijakan menjadi perhatian utama sebagai landasan untuk memperbaiki situasi tersebut dengan klien dan membantu streetlevel bureaucrats menjadi lebih efektif sebagai pendukung perubahan. 21 . dan bagaimana para pegawai pelayanan publik berperilaku di bawah kondisi dan konteks pekerjaan mereka. Kondisi kerja street-level bureaucrats telah dikategorikan sebagai berikut: 1) Sumber daya tidak memadai relatif kronis dengan tugas pekerja yang dilakukan. Penulis menjelaskan apa yang terjadi pada titik dimana kebijakan diterjemahkan dalam praktek. akuntabilitas. 3) Tujuan harapan bagi lembaga di mana mereka bekerja cenderung ambigu. Tentunya perubahan pelayanan publik harus di dukung dengan kebijakan yang lebih relevan dan memungkinkan segala pekerjaan dan layanan publik bisa dilaksanakan dengan baik.

Dalam merealisasikan kriteria ini pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi profesional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented). 2.2. Birokrasi dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tentunya diharapkan cepat tanggap.2. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu 22 . Kesan pelayanan aparatur pemerintahan selalu lamban dan tidak cepat tanggap. Manajemen Kebencanaan (Disaster Management) Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Apalagi ketika ada sebuah institusi yang profesional dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Manajemen birokrasi profesional ini sangat relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. birokrasi selalu mendapatkan citra negatif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan birokrasi itu sendiri khususnya dalam hal pelayanan publik. khususnya lebih menyoroti pada aspek peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Akibatnya. dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Pelayanan publik ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan khalayak masyarakat ramai yang memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan.

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. kekeringan. kerusakan lingkungan. gagal modernisasi. dan dampak psikologis. 3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. dan tanah longsor. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. gunung meletus. dan rehabilitasi. epidemi. kerugian harta benda.kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia. angin topan. 2) Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi. tanggap darurat. Penanggulangan bencana merupakan proses integral yang satu sama lain sangat bergantung dalam 23 . kegiatan pencegahan bencana. banjir. dan wabah penyakit. tsunami. Bencana dibagi ke dalam tiga kategori diantaranya: 1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi.

pemenuhan kebutuhan dasar. prioritas.sebuah manajemen penanggulangan bencana yang terpadu dan menyeluruh meliputi : 1) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. perlindungan. penyelamatan. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana. 4) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. pemberdayaan. tegaknya hukum dan ketertiban. harta benda. non 10 10 Lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 3) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. kemitraan. BAB I pasal 2 24 . yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. Prinsipnya penanggulangan bencana merupakan proses cepat. pengurusan pengungsi. 2) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. sosial dan budaya. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. tepat. koordinasi dan keterpaduan.

diskriminatif dan berdaya guna. Ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat . Tidak semua bencana alam menimbulkan resiko bencana. Apabila suatu peristiwa yang memiliki potensi bahaya terjadi di suatu daerah dengan kondisi yang rentan, maka daerah tersebut beresiko terjadi bencana. Jadi resiko dipengaruhi oleh faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability). Dalam hal ini faktor kapasitas dapat dianggap sebagai bagaian dari faktor kerentanan, yang dapat mengurangi kerentanan bila kapasitas daerah tersebut tinggi. Sebaliknya apabila kapasitas daerah rendah maka akan meningkatkan faktor kerentanannya .
12 11

Gambar 1. Model Hubungan Antara Resiko Bencana, Kerentanan dan Bahaya

Sumber: Tinjauan umum manajemen bencana. UNDP program pelatihan manajemen bencana edisi ke-2 tahun 1992

11 12

Ibid Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Peanganan Bencana di Jawa Barat”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

25

Pendekatan proaktif dalam pengurangan resiko bencana merupakan salah satu bagian terpenting dalam mitigasi bencana, yang pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana. Kegiatan mitigasi bencana hendaknya menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kejadian bencana, yang seringkali datang tidak terduga dari waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar dari perkiraan semula. Pemerintah hendaknya proaktif untuk memberikan berbagai arahan yang tepat dan berkesinambungan dalam menghadapi peristiwa atau bencana atau dengan kata lain bisa beradaptasi dengan resiko potensi bencana. Perlu diperhatikan bahwa untuk setiap arahan yang ada hendaknya menjaga kesederhanaan sistem dan prosedur. Kletz mengemukakan bahwa ”organizations have no memory: only people have memories and they move on” . Dengan kesederhanaan sistem dan prosedur, diharapkan masyarakat bisa memahami dengan baik, terutama bagi masyarakat yang terkena bencana, sehingga pada saat kejadian bencana dan dalam kondisi darurat, diharapkan mereka mampu menaggapinya serta mereka mampu melakukan proses pemulihan darurat secara mandiri. Inilah yang sebenarnya merupakan salah satu pengembangan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan bencana, yang berbasis pada kemampuan pada masyarakat itu sendiri dan bertumpu kepada kemampuan sumberdaya setempat (community ased disaster management).
13

13

Kletz (1993) Lesson from disaster: how organiations have no memory and accident recur. Institution of Chemical Engineers: Rugby, England

26

Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan dan harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus membuat perencanaan untuk persiapan dalam menghadapi bencana. Selama ini, tindakan dalam penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasiorganisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama pada saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Selain untuk keperluan mitigasi, kajian resiko untuk bahaya dari berbagai jenis potensi bahaya alam lebih lanjut dapat juga digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan rencana operasi darurat atau emergency operation plan (EOP), atau dalam bentuk SOP yang terjangkau (achievable/workable), sederhana dan tepat (appropriate). Pada dasarnya EOP dan SOP merupakan kerangka dasar dalam rencana tanggap darurat yang terkoordinasi dan efektif, karena didalamnya telah mendefinisikan peranan dan tanggungjawab seluruh stakeholder seperti pemerintah, organisasi swasta, sukarelawan, dan badan-badan lain yang terdapat di dalam sustu negara . Dalam hal ini termasuk perencanaan kegiatan sebelum kejadian bencana dan kesiapsiagaan, perencanaan organisasi, dan kehumasan untuk mengatur aliran informasi, atau dengan kata lain bahwa dalam SOP
14

14

Ibid

27

Achievable. Koordinasi sangat penting dilakukan dimana berbagai pihak umumnya akan terlibat dalam penanganan bencana. Gambar 2. Measurable. Peran Berbagai Stakeholder Dalam Penanggulangan Bencana Sumber: Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun. manajemen.diperlukan perencanaan terintegrasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung 2-3 Desember 2004. Manajemen bencana: Strategi hidup di wilayah potensi bencana. Relevant and Time Bound) dengan ketentuan dasar antara lain meliputi : 1) Mendefinisikan berbagai aktifitas apa saja yang ahrus dilakukan dalam kondisi darurat. 15 15 Sadisun. Bandung 2-3 Desember 2004. dan pendekatan kesiapsiagaan terkait potensi bencana yang ada. “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jawa Barat” Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. 28 . Key note speaker pada lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan. 3) Menyusun antisipasi faktor-faktor yang paling beresiko dan usaha-usaha menguranginya apabila mungkin. SOP yang efektif akan mencakup berbagai bentuk variasi koordinasi dan cara pengambilan keputusan. 2) Menetapkan tolak ukur untuk menilai suatu pencapaian aktivitas.. Selain itu SOP haruslah SMART (Spesific.

5) Membuat jadwal dengan cermat dan sistematis keseluruhan kegiatan yang diperlukan selama kondisi darurat. 2. Kerangka Berpikir Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah Barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah Timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain banjir. kemarau panjang. tsunami. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana. 29 . Akan tetapi daerah kurang dapat menyelenggarakan hal tersebut dengan baik karena kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah sangat terbatas.3. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam.4) Membangun jaringan dalam melakukan pertolongan darurat. termasuk di antaranya jaringan informasi. Salah satunya adalah dalam usaha penanganan bencana. Dengan adanya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan pemerintahan atau rumah tangganya sendiri dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. gunung berapi dan tanah longsor serta angin puting beliung. Permasalahan rendahnya kualitas pelayanan sistem dan penanganan bencana di daerah merupakan potret buram sistem dan sinergitas antar lembaga yang menaunginya. gempa bumi.

sehingga terjadi sebuah efektifitas mekanisme kerja. Kerangka Berfikir UU No 24/2007 “Penanggulangan Bencana” dan Perka BNPB No 3/2008 “Pedoman Pembentukan BPBD” Bencana alam di Kabupaten Majalengka Pemerintah Daerah Kab. Majalengka (OPD) Organisasi Perangkat Daerah Studi Kasus Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Perda Kabupaten MajalengkaNo 10/2009 “Organisai Perangkat Daerah” (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab.Sorotan khusus adalah bagaimana birokrasi pemerintah bisa mengupayakan sebuah kontruksi dan sinergitas di tataran birokrasi dalam penanggulangan bencana alam. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah di Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. Lembaga pemerintah yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana harus bisa memposisikan sebagai fasilitator dalam upaya sinergitas dengan lembaga lain. agar tidak terjadi sebuah ego lembaga dalam penanganan bencana. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah: Gambar 3. Dengan demikian mau tidak mau pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengembangkan pola sinergisitas penanggulangan bencana guna menunjang peningkatan kualitas dan akuntabilitas lembaga. Majalengka 30 .

Paradigma nion positivist pada intinya merupakan paradigma yang mementingkan pencarian makna dari setiap tindakan sosial aktor. khususnya critical theory.1. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). motivasi. Kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. Misalnya perilaku informan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. dan masyarakat sekitar dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Hal yang sangat penting menurut paradigma ini adalah interpretasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Sosial. dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-positivist. Kecamatan Jatitujuh. Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2005:4) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah. dan lain-lain secara holistik di Sekretaris Daerah. persepsi. Karena menggunakan metode penelitian kualitatif.BAB III METODE PENELITIAN 3. tindakan. Paradigma ini menekankan bahwa apa yang disebut laws atau generalisasi (yang . Dinas Kesehatan.

Jadi. tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu yang utuh. Dalam penelitian kualitatif metode pengumpulan data yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara. Begitu juga dengan metode dalam pengumpulan data. dan dokumentasi. Hand Out Mata Kuliah Metodologi Ilmu Politik (Purwokerto: Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedriman. Dengan demikian. observasi.bersifat kausal) tidak selamanya diperlukan untuk memahami gejala sosial. pengamatan. 16 16 Solahuddin Kusumanegara dan Sofa Marwah. Menurut mereka. peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Majalengka khususnya dalam pola penanggulangan bencana alam. Dalam penelitan ini. setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi dan harus dipahami dengan sebaik-baiknya . 2006). peneliti akan menggunakan metode wawancara. hal 22-23. Bogdan dan Taylor (1975: 5) dalam Moleong (2005: 4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis. . pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). dan pemanfaatan dokumen. karena metode tersebut dibutuhkan sesuai dengan tema yang akan dibahas untuk memilih informan maka membutuhkan metode tersebut dalam pengumpulan data agar lebih valid. memfokuskan pada peran pemerintah daerah dan mengkontruksi sinergi stakeholder dalam proses penanggulangan bencana.

Aspek yang akan menjadi fokus penelitian adalah mengenai peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencan alam di Kabupaten Majalengka. bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang unutk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki. . Studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabelvariabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya (Suryabrata. seperti siklus kehidupan seseorang. Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why. baik mencakup keseluruahn siklus kasusnya atau pun segmen-segmen tertentu saja. Oleh karena itu. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. perubahan lingkungan sosial. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. hubungan-hubungan internasional. 2003: 80-81).3. sehingga membutuhkan metode studi kasus untuk menganalisisnya karena hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir. pendekatan studi kasus sangat tepat digunakan dalam penelitian ini. proses-proses organisasional dan manajerial. dan kematangan industri-industri.2. dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin 2002: 1-4).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Sosial. Dinas Sosial. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi C yang membidangi tentang kebencanaan. 3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. Lokasi selanjutnya adalah di instansi-instansi pemerintah daerah Kabupaten Majalengka yaitu Sekretaris Daerah. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). misalnya . Dinas Kesehatan. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).4. Kepala Kecamatan Jatitujuh. Pertimbangan tertentu ini. Lokasi Penelitian Penelitian dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka” mengambil lokasi di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka.3. dan masyarakat di lokasi bencana. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah Sekretaris Daerah. Teknik Pemilihan Informan Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.3. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dan Kantor Kecamatan Jatitujuh. Dinas Kesehatan.5. 3. Provinsi Jawa Barat.

Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data.1. 3. Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu . tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. Teknik Pengumpulan Data 3. pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti di dalam memperoleh data. Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Wawancara dapat dilakuakan secara terstruktur maupun tidak terstruktur.6. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada.orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas. dan dapat dilakuakn melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono 2010: 137-138).6. atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008:57). atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008: 50).

yang paling umum. Pada beberapa situasi peneliti bahkan bisa meminta informan untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain.6. sejalan dengan survai (Yin. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. dimana informan diwawancarai dalam waktu yang pendek. Dalam kasus ini. Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2010: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang. 3. dimana peneliti dapat bertanya kepada informan kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai suatu peristiwa. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik survai. Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur.2. yaitu wawancara dan kuesioner. wawancara studi kasus bertipe open-ended. maka observasi . makna. 2002: 108-110). wawancara tersebut bisa tetap open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tidak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya. Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang terfokus.mengeksplorasi data dari informan yang bersifat nilai.

rekaman keorganisasin seperti bagan dan anggaran organisasi periode tertentu. data survai. Pada penelitian-penelitian lainnya . daftar nama dan komoditi lain yang relevan.6. data rekaman atau data sensus yang terkumpul. gejala-gejala alam dan bila responden yang diamatai terlalu besar. Pada beberapa penelitian. Teknik pengunpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia.3. peneliti menggunakan metode non participant observation. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa mejadi obyek perolehan kembali dan data analisis yang luas.tidak terbatas pada orang. Rekaman Arsip Rekaman arsip seringkali dalam bentuk komputerisasi seperti peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat. 3. Rekamanrekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi lain dalam pelaksanaan studi kasus. selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur (Sugiyono 2010: 145). Namun demikian. tetapi juga objek-objek alam yang lain. Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data. tidak seperti bukti dokumenter. observasi dapat dibedakan menajdi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation. proses kerja. kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus lainnnya. kemudian untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti memilih instrumen observasi secara terstruktur agar mempermudah dalam penyusunan sub-sub penelitian guna menunjang laporan hasil penelitian.

Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka).rekaman arsip mungkin hanya sepintas relevansinya. Sumber Data 3. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD Kabupaten Majalengka. 3. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. 2002: 106-107). Bilamana bukti arsip relevan. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan intensif. peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya (Yin. Teknik pengumpulan data dengan rekaman arsip ini akan dilakukan oleh peneliti karena pada dasarnya rekaman arsip merupakan sumber data yang memiliki peran sebagi sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa.1.7. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Untuk . Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan dan merupakan sumber data yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah yang dibahas. Rekaman arsip yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011.7. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian.

2. serta berbagai sumber lainnya yang mendukung penelitian. media massa. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Ida Heriyani dari Dinas Kesehatan. 3. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD . Informan dalam penelitian ini adalah Yati Sumiati dan R.mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. A. Hardi.7. Data Sekunder Data yang diperoleh dari buku-buku. Heri Purbadhi. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. Agus Slamet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dan Karsa selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. dokumentasi. Indrayono dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). maka peneliti menggunakan purposive sampling. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Syarifudin Rahmat dari Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Yuarlina dari Sekretaris Daerah. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Idit Ruhadi. Dedi Supriyadi dan Asikin dari Dinas Sosial. M. Syihabuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). arsip. Kardia dari Kantor Kecamatan Jatitujuh. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011.

sehingga datanya sudah jenuh. catatan lapangan.8. dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. sehingga dapat mudah dipahami. Aktifitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi data).Kabupaten Majalengka. mengemukakan bahwa katifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. Bogdan menyatakan bahwa “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts. and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others” Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara. 40 . melakukan sintesa. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan). Analisis Data Dalam hal analisis data kualitatif. yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data. Analisis data kualitatif bersifat induktif. dan bahanbahan lain. menyusun ke dalam pola. selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Sugiyono 2008: 88). Miles and Huberman (1984). menjabarkannya ke dalam unit-unit. fieldnotes. 3.

Penarikan Kesimpulan Proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus. dan sejenisnya serta penyajian data dalam penelitian adalah dengan sistematis melalui gambaran atau skema. 3. untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum. memfokuskan pada hal-hal yang penting.8.3. Penyajian data dapat diartikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. hubungan antar kategori. dan mencarinya bila diperlukan. bagan.3.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat. dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Sehingga reduksi data memerlukan proses berfikir sensitif dan kecerdasan. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas.8. Berikut gambaran model analisis interaktif Miles dan Huberman. dicari tema dan polanya.8. memilih hal-hal yang pokok. 3. keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi (Sugiyono 2010: 247-249). 41 .1 Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak.

Gambar 4. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Dengan demikian data yang valid adalah “data yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.9 Validitas Data Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman Data collection Data Display Data reduction Conclusions: drawing/verfying Sumber: Diadaptasi dari Miles dan Huberman (1992: 20) 3. Validitas data ini akan mengeksplor objektifitas dan kesesuaian desain penelitian yaitu peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam di 42 . Untuk penelitian ini akan menggunakan validitas data internal karena lebih menekankan pada akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai bukan menggeneralisasikan pada sebuah sampel. Validitas data dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut di ambil (Sugiyono 2010: 267).

Dengan demikian terdapat triangulasi sumber. “Triangulation is qualitative cross-validation.Kabupaten Majalengka yang nantinya akan tercipta sebuah laporan hasil penelitian yang tepat dan obyektif. It assesses the suffiency of the data accoding to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures” (Wiliam Wiersma. 5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. 1986). . triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu (Sugiyono 2010: 273). 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berlainan. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. Patton (1987: 331) dalam Moelong (2005: 33) triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal itu dapat dicapai dengan jalan: 1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai waktu.

3. 2.10. 3. 6. observasi. dan grand 1 X 2 X X X 3 4 5 revisi proposal tour dan minitour question. Jadwal Penelitian BULAN KE NO 1. KEGIATAN Penyusunan Proposal Menyusun Memasuki instrument lapangan. Jadwal Penelitian Tabel 3.Triangulasi data digunakan oleh peneliti karena berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Penyempurnaan Laporan dan Seminar Hasil X X draft laporan X X X X X penelitian dan diskusi draft . 5. Pengumpulan data primer dan sekunder Pengolahan dan analisis data Membuat laporan 7. dan dokumentasi. anlisis domain 4. Dengan triangulasi sumber data-data yang diperoleh benar-benar dapat teruji keabsahannya.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Sebelah Timur. berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. berbatasan dengan Kabupaten Indramayu. Pembahasan mengenai deskripsi lokasi penelitian bertujuan untuk memahami kondisi wilayah yang ditempati oleh suatu masyarakat. Sebelah Utara.1. Sebelah Utara antara 60 36’ – 60 58’ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 60 43’ – 70 03’ Lintang Selatan. berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. sehingga dapat diketahui pola geografis dan sosial suatu masyarakat. 4. Gambaran umum Kabupaten Majalengka akan dijelaskan dalam hasil penelitian. dengan batas-batas wilayahnya : Sebelah Selatan. . berbatasan dengan Kabupaten Sumedang. Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur. Deskripsi Lokasi Penelitian Deskripsi lokasi penelitian merupakan hal yang penting untuk dituangkan dalam sebuah laporan penelitian. Letak dan Keadaan Geografis Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur. Sebelah Barat.1.1.

Gambar 5. berarti Kabupaten Majalengka hanya sekitar 2.357.71 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44. Peta Kabupaten Majalengka Sumber: Majalengka Dalam Angka 2009 Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.24 Km2. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah.00 Km2) dengan ketinggian tempat antara 19 857 m diatas permukaan laut. yaitu : .204.

03 43. Tabel 4.27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.98 60. 19.37 LUAS DAERAH (KM) 31. 14. 11.17 57.54 37. 17.21 24. 12. 7. 10. 16.70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.46 38.02 Km2 atau 40.03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.64 111.69 40. 15. 23. 2.03 55. 3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345. 4.98 21.69 Km2 atau 28.41 22. 5.49 34. KECAMATAN Lemahsugih Bantarujeg Cikijing Cingambul Talaga Banjaran Argapura Maja Cigasong Majalengka Sukahaji Rajagaluh NO 13.00 56. 18.56 43. 20.36 73.76 32.24 NO 1. 8.56 65.25 32.1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482.53 Km2 atau 31. 21. 2) Daerah Bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas permukaan laut dengan luas 376. 9. KECAMATAN Sindangwangi Leuwimunding Palasah Jatiwangi Dawuan Panyingkiran Kadipaten Kertajati Jatitujuh Ligung Sumberjaya Kabupaten Majalengka Sumber: Registrasi BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2005 . Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Majalengka LUAS DAERAH (KM) 78.66 62.86 138.204. 22. 6.73 1. 3.50 41.

2. .Tabel 5.1. sedangkan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu sebesar 22. Letak Geografis Kabupaten Majalengka Dirinci Per Kecamatan Sumber: Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dalam Buku Pedoman Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 4.1.1. Suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober yaitu 35.9 derajat C sampai 29.2 derajat C.3 derajat C.2. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka 4. Suhu dan Kelembaban Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai. Pada tahun 2009 suhu udara di Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 25.9 derajat C.

Curah hujan dan Keadaan Angin Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim. Faktor lain yang mempengaruhi hujan dan arah/kecepatan angin . Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 3 knot sampai 5 knot dan kecepatan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 28 knot. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi. sedangkan kemarau terjadi pada bulan Agustus & September.2.2.Tabel 6. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Majalengka terjadi pada bulan Pebruari 2009 yang mencapai 419 mm dengan jumlah hari hujan 26.1. geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara.

206. Tabel 7.702 50 . Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan permasalahannya.1. Sedangkan jarak dari Ibukota Kabupaten Majalengka ke Kabupaten-kabupaten di Seluruh Jawa Barat berkisar antara 46 – 239 Km. Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Kependudukan Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.adalah perbedaan tekanan udara. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0-37 Km. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 berdasarkan hasil Susenas 2009 adalah 1. Permasalahan tersebut diantaranya besarnya jumlah penduduk dan tidak meratanya penyebaran penduduk. Arah dan Kecepatan Angin di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi.3.

Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kecamatan Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 Grafik 2. Grafik 1. kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.396 jiwa laki-laki dan 606.jiwa terdiri dari 600.096 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 333 Jiwa/Km2.82 % bila dibandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya.306 jiwa perempuan atau meningkat 0. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 51 .02 %.002 Jiwa/Km2. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah 1. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan masih lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan sex ratio 99.

897 orang perempuan dan 6. Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Sumber: Susenas 2009 4.417 Orang.520 orang laki-laki. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Pencari kerja terdaftar selama tahun 2009 di Kabupaten Majalengka sebanyak 13.1. Peningkatan jumlah penduduk umumnya diikuti pula dengan penambahan jumlah angkatan kerja yang tentunya menuntut peningkatan penyediaan lapangan kerja.4. yang terdiri dari 6.Tabel 8. 52 .

SD. SLTP. 4. Di Kabupaten Majalengka sarana pendidikan yang tersedia meliputi sekolah yang kurang dari 5 (lima) tahun/MD. maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program.4. SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.5. Transmigrasi Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf artinya dengan rendahnya tingkat buta huruf menunjukan keberhasilan program pengentasan buta huruf dan untuk mencapai program tersebut harus didukung oleh sarana pendidikan yang memadai. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka yang diberangkatkan transmigrasi pada tahun 2009 berjumlah 15 Kepala Keluarga atau 60 jiwa. Kecamatan Lemahsugih merupakan kecamatan terbanyak dalam hal jumlah pemberangkatan transmigran.1. upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan dengan program transmigrasi. Kutai Timur. Bila dilihat dari daerah tujuan transmigran dari Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah Propinsi Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Maloy.1.6. 53 . Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan disuatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain dilakukan dengan penambahan tenaga para medis. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat.1. 1 desa swakarya mula.11%.7. 4.441 Rukun Tetangga. Adapun Komposisi Keanggotaan DPRD Kabupaten Majalengka berdasarkan Hasil Pemilu 2009 sebanyak 50 anggota yang merupakan perwakilan dari Partai Persatuan 54 . yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Dari 334 desa tersebut 321 berstatus desa dan 13 berstatus kelurahan. Kesejahteraan merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka peningkatan SDM penduduk Kabupaten Majalengka.8. Pemerintahan Secara Administratif pada akhir tahun 2009 Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan dan 334 Desa. Kesehatan dan Keluarga Berencana Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia.4. dengan rasio RT terhadap RW sebesar 3. 256 desa swadaya madya.1. karena itu program-program kesehatan telah dimulai atau diprioritaskan pada calon generasi penerus. 73 desa swakarya madya dan 1 desa swasembada madya. Bila dilihat dari klasifikasi desanya terdapat 3 desa swadaya mula. Jumlah Pemerintahan terendah di Kabupaten Majalengka berdasarkan satuan lingkungan setempat terdiri dari 2.072 Rukun Warga/Rukun Keluarga dan 6.

Partai Amanat Nasional (PAN) 5 orang. PKNU 1 orang dan Partai Patriot Pancasila 3 orang. Partai Golongan Karya (Golkar) 6 orang.5. Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Berdasarkan Partai Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 Grafik 4. Gerindra 1 orang. Partai Demokrat 4 orang. Grafik 3.4 dan tabel 2.Pembangunan (PPP) 4 orang. PKPB 1 orang . Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5 orang. Partai Bulan Bintang (PBB) 1 orang. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1 orang. Jumlah Anggota DPRD Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 55 . Bila dilihat dari tingkat pendidikan anggota Dewan tercatat bahwa 100 % anggota Dewan berpendidikan SLTA keatas. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10 orang. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6 orang. Hanura 2 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.

dan akhirnya dengan beberapa proses. peneliti memfokuskan di Kabupaten Majalengka. baik dari sumber media cetak. ataupun televisi. kajian yang akan peneliti lakukan disarankan lebih spesifikasi pada lingkup birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. Pada mengenai kebencanaan sepertinya cukup waktu itu. Majalengka dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara geografis Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam yang kemudian ada sebuah organisasi perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana dan baru didirikan pada tahun 2009 yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. tahapan penyempurnaan dan perbaikan. usulan skripsi dengan judul peran pemerintah 56 . internet. Kabupaten (BPBD) Majalengka merupakan tempat tinggal atau domisili asli peneliti. sehinga peneliti lebih mudah dalam mengakses sumber informasi dan data dalam mejalankan penelitian. penelitimencoba menarik untuk untuk mendiskusikan dengan teman dan dosen untuk melihat sejauh mana spesifikasi penelitian yang akan peneliti lakukan. Selain itu. melalui beberapa tahap diskusi dan dialog dengan beberapa dosen. Ternyata. Sehingga terlintas dalam benak pikiran peneliti bahwa permasalahan dikaji. Usulan penelitian ini kemudian peneliti ajukan kepada jurusan untuk menjadi bahan tugas akhir.4.2. Pemilihan lokasi penelitian. Pembukaan Akses Terhadap Informan Perjalanan penelitian mengenai peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka bermula ketika peneliti tertarik dengan beberapa fenomena dan kejadian bencana alam di Indonesia.

Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda). Berbekal surat izin pra survai yang dibawa dari kampus pada hari Senin tanggal 03 Januari 2011 peneliti langsung mengunjungi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Kabupaten Majalengka untuk melakukan perizinan dalam pra survai yang akan peneliti lakukan. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pada hari Kamis tanggal 06 Januari 2011 surat pra survai mendapat disposisi dari Kantor Kesbang. Pada waktu itu pula dengan berbekal surat izin pra survai dari Kesbang peneliti langsung mengunjungi beberapa informan awal untuk mengetahui sejauh mana permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Dinas Sosial. Dinas Kesehatan. Lembaga pemerintah menjadi tujuan pokok kunjungan peneliti untuk mendapatka informasi. karena penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada tataran birokrasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam proses perizinan tersebut membutuhkan disposisi dari setiap lembaga maka hari itu peneliti fokus untuk memberikan surat izin pra survai kepada lembaga pemerintah yang akan 57 .daerah dalam penangglangan bencana alam di Kabupaten Majalengka di acc. dan Kantor Kecamatan Bantarujeg. Setelah itu peneliti dengan semangat dan tekad yang kuat pada hari Minggu tanggal 02 Januari 2010 memutuskan untuk melakukan pra survai agar lebih mengetahui sejauh mana spesifikasi permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka khususnya menyoroti pada aspek birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana alam. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). sehingga pada waktu itu untuk mencari informasi tersebut peneliti berkunjung ke beberapa instansi pemerintah yaitu.

Setelah itu dilakukan revisi proposal tersebut untuk memantapkan fokus penelitian yang akan peneliti lakukan. kemudian dilanjutkan ke Dinas Sosial. namun waktu luang dari hari Jum’at sampai dengan Minggu (25-27 Maret 2011) peneliti gunakan untuk berdiskusi dan share terkait penelitian yang akan peneliti lakukan kepada orang tua. kerabat.peneliti kunjungi. MA selaku pembimbng II. Setelah proposal usul penelitian selesai dengan membawa surat izin penelitian dari Bapendik FISIP Unsoed peneliti kembali ke Majalengka pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2011 dan siap untuk menjalani penelitian. kemudian Rabu. untuk mengetahui gambaran bencana alam yang sedang terjadi di 17 17 Dosen Pembimbing peneliti adalah Adhi Iman Sulaiman. S. dan Jum’at masing-masing mengunjungi DPRD. Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2011 peneliti kembali ke kampus untuk melanjutkan proses bimbingan usul penelitian untuk melalui tahap seminar usul penelitian. dan teman-teman. 58 .IP. Setelah melakukan beberapa proses awal untuk mendapatkan informasi akhirnya peneliti memutuskan untuk kembali ke kampus untuk memperiapkan bimbingan usul penelitian kepada dosen pembimbing . Kunjungan pertama untuk dimulai di BPBD. kakak. dan Bappeda. Kantor Kecamatan Bantarujeg.Si selaku pembimbing I dan Khairuroojiqien Sobandi. Setibanya di Majalengka peneliti tidak langsung bergerak untuk melakukan penelitian. Selasa peneliti berkunjunjung ke Dinas Kesehatan. Melalui proses bimbingan akhirnya pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 peneliti melaksanakan seminar proposal usul penelitian. Senin tanggal 10 sampai dengan Jum’at tanggal 15 Januari 2011 peneliti langsung bergerak untuk mengunjungi lembaga pemerintah yang menjadi fokus penelitian. S.IP. Kamis. M.

Majalengka dan membuka jaringan di lembaga pemerintahan yang akan dijadikan sumber informasi dalam melakukan penelitian. 59 . satu hari penuh peneliti menggali informasi tersebut dengan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk merepresentasikan pembahasan penelitian. peneliti langsung mengurus surat izin penelitian ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). dan Kecamatan. DPRD. Blok Klewih RT/RW 09/12. Sambi menunggu kembali hari aktif kerja kantoran maka pada hari Minggu tanggal 10 April 2011 peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian ke masyarakat selaku korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. Berbekal pengetahuan dan jaringan informan maka pada hari Senin tanggal 28 Maret 2011. Informasi dan data-data bisa terkumpul yang kemudian akan mendukung dalam penyususnan penelitian khususnya konteks peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka berakhir pada hari Sabtu. tanggal 23 April 2011. karena surat izin penelitian baru di keluarkan seminggu kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 08 Maret 2011. dimulai dari Dinas Sosial dan kemudia Dinas lainnya. sekaligus mengunjungi Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Senin tanggal 11 April 2011 peneliti mulai melakukan penelitian di instasi atau lembaga pemerintahan. BPBD. dan itupun peneliti tidak kemudian langsung terjun untuk melakukan penelitian karena pada hari Jum’at kantor pemerintahan hanya beroperasi setengah hari dan kemudian pada hari Sabtu libur. Lamanya prosedur penelitian atau disposisi dari Kesbangpol membuat peneliti menjadi jenuh. Bappeda.

dan kekeringan . Lemahsugih. Argapura.3. serta kekeringan. angin putting beliung. Malausma.Daerah yang rawan gempa di wilayah Kabupaten Majalengka diantaranya Kecamatan Rajagaluh.4. Maja.24 km persegi atau 2. Hasil Penelitian 4. dan bahaya beraspek hidrometeorologi seperti ancaman banjir. Talaga. tanah longsor dan letusan Gunung Ciremai). Analisis Potensi Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Secara administratif Kabupaten Majalengka yang terletak pada meridian 01 derajat 14’20”BT dan 06 derajat 33’40” – 07 derajat 04’19” LS dengan luas 1. angin puting beliung. Potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari ancaman bencana letusan Gunung Ciremai.204. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka 4. Ancaman-ancaman bahaya bencana alam tersebut dapat dikelompokan menjadi bahaya beraspek geologi (ancaman gempa bumi.1.3. Bantarujeg.71% luas total Provinsi Jawa Barat dan terbagi kedalam 27 wilayah kecamatan dan 334 desa/kelurahan memiliki potensi bencana alam (potential hazard) yang cukup tinggi. dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cikijing dan Cingambul.3. banjir. ancaman gempa bumi. 18 18 Laporan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka 60 .1.1. tanah longsor. Daerah-daerah yang termasuk ke dalam zona resiko tinggi letusan Gunung Ciremai adalah Kecamatan Argapura dan sebagian wilayah Sukahaji dan Rajagaluh. Sindangwangi. Daerah resiko tinggi ancaman longsor berada di wilayah bagian selatan diantaranya Kecamatan Argapura. Sukahaji. Maja. Banjaran.

Banjaran. Untuk wilayah utara meliputi Kecamatan Ligung. sebagian Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Lemahsugih. dan sebagian wilayah Kecamatan Cikijing. serta wilayah Cikijing. dan Sukhaji. Bantarujeg. Cigasong. Maja. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Jatitujuh. Panyingkiran. Rajagaluh. Sementara untuk ancaman angin puting beliung berdasarkan sejarah kejadian umumnya berada di wilayah utara yang mencakup Kecamatan Kertajati. Wilayah yang rawan atau berpotensi mengalami kekeringan atau kesulitan air di wilayah selatan diantaranya meliputi Kecamatan Sukahaji. Pada tahun 2009 terjadi 67 kejadian sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 114 kejadian. Ligung. dan Cingambul. Sumberjaya. Berikut tabel kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 dan 2010. dengan kerentanan dan variasi bencana dengan daerah yang berbeda. Jatiwangi. Kadipaten. 19 19 Ibid 61 . Sindangwangi. sedangkan Desa Dawuan yang berada di wilayah Kecamatan Dawuan merupakan desa yang sulit mendapatkan air bersih sepanjang tahun .Banjaran. Berdasarkan laporan dari BPBD dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Majalengka angka kejadian bencana alam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Argapura. Palasah.

Tabel 9. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2009 Sumber: Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Majalengka Tabel 10. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2010 BULAN Januari BENCANA YANG TERJADI Tanah Longsor Putting Beliung Kebakaran Banjir Tanah Longsor Tanggul jebol Kebakaran Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Sambaran petir Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Longsor Banjir Pohon tumbang Kebakaran Kebakaran Tanah longsor Kebakaran TOTAL VOLUME LUKA RINGAN 9 kali 8 kali 1 kali 1 kali 14 kali 1 kali 1 kali 3 kali 5 kali 2 kali 4 kali 3 kali 2 kali 6 kali 2 kali 2 kali 8 kali 4 kali 1 kali 5 kali 2 kali 2 kali 2 kali 114 kali JUMLAH KORBAN LUKA TEWAS BERAT 1 1 1 Februari 1 Maret 2 1 April Mei 3 3 Juni-Juli Agustus 7 4 2 Sumber: BPBD Majalengka dari Radar Majalengka. Sabtu 6 November 2010 62 .

21 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati yang dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08. seperti yang dipaparkan oleh Yuarliana . Bagian Organisasi.05 WIB di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. sehingga atas dasar tersebut bisa dikatakan Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. 22 Yuarlina adalah Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Pertanyaan ini. dan rendah mengakibatkan bencana yang terjadi lebih bervariasi pula. Berikut pemaparan informan dalam sebuah wawancara: 20 Wilayah Majalengka digolong sebagai wilayah bencana. Hal mendasar adalah berbicara prospek pemerintah daerah dalam menganalisis potensi bencana alam di Kabupaten Majalengka. Informan pun menjawab pertanyaan dengan sebuah argumentasi utama bahwa hal yang mendasar pemerintah daerah dalam menganalisis bencana alam di Kabupaten Majalengka adalah secara geografis berada dalam satu lipatan patahan bumi terdiri dari wilayah dataran tinggi.Angka kejadian bencana alam yang terus meningkat menjadi dasar pertanyaan yang akan peneliti tanyakan kepada pemerintah daerah sebagai akses pembuka dalam penelitian ini. yang diwakili oleh Ibu Yati Sumiati . kemudian daerahnya merupakan patahan lempeng bumi. peneliti ajukan kepada Sekretaris Daerah. 63 . terbukti dengan runtutan kejadian-kejadian bencana alam yang sekarang terjadi. 22 20 Yati Sumiati adalah Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka yang bertugas sebagai basis konseptual perumusan kebijakan evaluasi dan monitoring Satuan Kerja Perangkat Daerah. Senada dengan infroman lainnya. yang merupakan rekannya di Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. nah mangkanya daerah kita termasuk daerah rawan 21 bencana . dataran sedang.

Begitu juga disampaikan oleh A.25 . 25 Hasil wawancara peneliti dengan A Syihabuddin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09. karena bisa saja dampak yang ditimbulkan berfek besar. longsor). 26 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 24 A. sehingga satu sama lainnya bisa saling menguntungkan.Secara geografis Majalengka rawan bencana alam. Dipertegas oleh Heri Pambudhi 26 bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam.10. walaupun skala bencana yang terjadi adalah kecil. dan bencana sangat bervariasi mulai dari gempa bumi karena daerah kita termasuk wilayah patahan bumi. baik itu di daerah selatan yang merupakan daerah atas rawan dengan 23 Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 09. Walaupun bencana itu hanya bencana kecil namun ketika dibiarkan akan sangat fatal. 64 . Majalengka merupakan rawan bencana (ada bencana banjir. Syihabuddin 24 yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana dan tentunya memerlukan sebuah perhatian khusus baik itu bagi pemerintah sebagai agen kebijakan dan masyarakat sebagai penerima kebijakan. maka harus dibutuhkan kesiapsiagaan 23 dalam panggulangannya .40 WIB dikantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Bagian Kesejahteraan Masyarakat. Itu faktor alam. tetapi tidak kemudian menganggap remeh hal tersebut. Kita melihat potensi Majalengka cukup besar.45 . tanah longsor. Syihabuddin adalah Ketua Komisi C (Bidang Pembangunan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka Periode 2009-2013.10-30 WIB di kantor Komisi D DPRD Kabupaten Majalengka. kita kan gak bisa menghindar. maka dari itu pemerintah pun konsen terhadap 25 penanggulangan bencana . angin puting beliung. banjir erosi dan lainnya.

menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam. abrasi. gempa. perdamaian abadi dan keadilan sosial. mulai dari longsor. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 merupakan landasan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana. sampai puting beliung. Sehingga bisa dinyatakan Kabupaten Majalengka adalah kawasan rawan bencana alam. Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak 27 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 11. dengan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. sehingga potensi gempa. memajukan kesejahteraan umum. Pembentukan undang-undang ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam alenia ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kesimpulan dari berbagai argumentasi hasil wawanacara.longsor dan jalur patahan bumi.1.2. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.3. 27 Kemudian dataran rendah sangat berpotensi kekeringan . 4. 65 . banjir.15 WIB di kantor Bagian Kedaruratan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.00 . Secara geografis Kabupaten Majalengka berada dalam jalur patahan bumi dengan konstruk wilayah labil yang menyebabkan bencana alam sering terjadi.12.

Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari unsur pengarah dan unsur 29 28 29 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV Lihat Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penangggulangan bencana 66 . disusunlah undang-undang tentang penanggulangan bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra bencana. Mencermati hal tersebut. dan menyeluruh. sehingga memerlukan penanganan yang sistematis. 28 hidrologis. yang dilaksanakan secara terencana.atas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia . terpadu. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan kondisi alam yang memiliki berbagai keunggulan. dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana. geologis. terkoordinasi. namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang memiliki kondisi geografis. Materi muatan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 berisikan ketentuan-ketentuan pokok sebagai berikut : a) Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah. b) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). saat tanggap darurat dan pasca bencana. terpadu. dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi. dan terkoordinasi.

mendapatkan perlindungan sosial. dan pasca bencana. saat tanggap darurat. juga disediakan dana siap pakai dengan pertanggungjawaban melalui mekanisme khusus. mendapatkan pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. e) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana. agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan terpadu sesuai dengan kewenangannya. kegiatan penanggulangan bencana selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). d) Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. c) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. 67 . dan masyarakat pada setiap tahapan bencana. g) Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah. karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda.pelaksana. f) Pada saat tanggap darurat. pemerintah daerah. berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

dan penyalahgunaan pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi pidana. Dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sesuai ketentuan Pasal 12 huruf h. unsur 68 . baik terhadap harta benda maupun matinya orang. Akhirnya pemerintah pun memutuskan dan mengesahkan Perka BNPB Nomor 03 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan BPBD. perlu menetapkan tentang pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum. baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang menimbulkan kerugian. menghambat kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana. unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat. Dalam rangka memenuhi amanat dari undang-undang tersebut pemerintah daerah Kabupaten Majalengka menyusun sebuah mekanisme untuk merealisasikan berdirinya BPBD sebagai organisasi perangkat daerah. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 18 dan pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. baik pidana penjara maupun pidana denda. Pemerintah daerah dalam hal ini adalah kepala daerah Kabupaten Majalengka dalam penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi.h) Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus memberikan efek jera terhadap para pihak. diwadahi dalam sekretariat. pemerintah daerah perlu membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

diwadahi dalam lembaga teknis daerah. Informan hanya menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam menjadi hal yang menarik dalam melihat sejauh mana kebijakan tersebut diimplementasikan. karena dengan alasan tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskanhal tersebut. serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah.perencana yang diwadahi dalam bentuk badan. kemudian di follow up dengan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah. yang di dalamnya mengatur tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pertanyaan tersebut peneliti ajukan kepada Ibu Yuarlina Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Yati Sumiati informan dari Sekretaris Daerah (Sekda) yang menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan 69 . namun informan hanya memberikan gambaran secara umum.

Pentingnya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengka karena secara mendasar Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana 30 Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. c. Cit 70 . pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. f. pembuatan perencanaan pembangunan yangmemasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana. d. d.Bencana. penentuan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada pada UU 30 31 24/2007 pasal 6 . Bukti keseriusan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah dengan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). pemulihan kondisi dari dampak bencana. atau pihakpihak internasional lain. e. 31 (1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. berikut pemaparan beliau: Bahwa NKRI dan dalam hal ini adalah pemerintah daerah Majalengka bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. dan g. b. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan pembangunan nasional. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan alam untuk melakukan pemulihan. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana. Secara mendasar kebijakan tersebut di amanahkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). badan-badan. e. penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah. 32 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. f. dan g. b. dan pasal 7 bagian satu . mungkin 32 seperti itu dasarnya . pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. c. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum.

tapi sekarang lebih bersifat koordinasi. Jadi tingkat nasional juga harus dibentuk badan peanggulangan bencana. Dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya mengatur tentang pendirian BPBD atas landasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penangggulangan Bencana. Sehingga sekarang penanggulangan bencana ditanganai tidak secara vertikal lagi. Bisa dilihat alasan kita membentuk BPBD di dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 BAB IV di kelembagaannya 33 khususnya di pasal 18 . badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib. Sehingga Pemda membentuk kembali lembaga yang lebih khusus dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. yang disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Majalengka maka dibentuklah BPBD. namun setelah didirikan BPBD maka Satkorlak PB dibubarkan. kalo disini kita namakan BPBD. Namun kondisinya di semua kabupaten belum membentuk badan 34 penanggulangan bencana . (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. 33 (1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. jadi bisa dikatakan sebagai rohnya. Oleh karena itu. Kalo sbelum didirikan BPBD kita mempunyai Satkorlak PB. yang dipimpin Kesbangpol. Cit 71 .alam. 34 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. dengan melanjutkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Nomor 03 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).dan b. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa.

Gambar 6. dengan dibentuknya Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertujuan sebagai landasan lembaga atau organisasi perangkat daerah yang fokus dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Bagan Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka Sumber: Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perngkat Daerah 72 .dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadikan landasan dikeluarkannya kebijakan penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

e. Menyusun.Adapun kedudukan. 73 . (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas pokok: a. tugas pokok dan fungsi dari BPBD sesuai dengan amanah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dalam pasal 53 adalah: (1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah unsur pendukung tugas Bupati yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Bupati. dan h. rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara. penanganan darurat. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan peraturan perundangundangan. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Bupati setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. g. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan yang mencakup pencegahan bencana. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. f. d. c. b.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kepala Badan.(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Sementara itu. Kepala Pelaksana. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh. Unsur Pelaksana. Sekretariat. (2) Pengaturan Unsur Pengarah Badan Penanggulagan Bencana Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 74 . Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. (3) Susunan Organisasi Unsur Pelaksana Badan Penanggulangn Bencana Daerah. c. Unsur Pengarah. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. b. terdiri dari: a. efektif dan efisien. untuk penjelasan terkait struktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) termaktub dalam pasal 54 sebagai berikut: (1) Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah. b. Sub Bagian Umum. menyelenggarakan fungsi : a. membawahkan : 1. b. terdiri dari : a. c.

2. Evaluasi dan Pelaporan. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. (4) Bagan Struktur Organisasi Badan Penangulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran XXVII Peraturan Daerah ini. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Pemikiran tersebut mendasari peneliti untuk menanyakan kepada informan. Seksi Logistik Bencana. membawahkan : 1. e. Seksi Pencegahan Bencana. d. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan. bagaimana manajemen dalam penanggulamgan bencana yang dilakukan. Sub Bagian Perencanaan. Seksi Kesiapsiagaan Bencana. membawahkan : 1. 2. Sub Bagian Keuangan. c. Pertanyaan ini lebih di fokuskan pada Badan Penanggulangan Bencana 75 . membawahkan : 1.3. Seksi Rehabilitasi Bencana.1. 3. Manajemen Majalengka Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Penanggulangan bencana alam tentunya membutuhkan upaya-upaya yang terorganisir dan sistematis agar tercipta sebuah penanganan yang efektif dan efisien.2.3. Seksi Kedaruratan Bencana. Bidang Kedaruratan dan Logistik. Seksi Rekonstruksi Bencana. 2. 4.

merencanakan pelayanan kesehatan dan medis. termasuk obat-obatan dan para medis. mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah. karena badan ini merupakan satuan kerja perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana. Dalam melaksanakan penanggulangan bencana di daerah akan memerlukan koordinasi dengan sektor.Daerah (BPBD). penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana. f) TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan mengungsi. secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut : a) Sektor pemerintahan. b) Sektor kesehatan. sedangkan SKPD lainnya merupakan elemen pembantu dan koordinasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana. salah satunya adalah lokasi yang ditinggal karena penghuninya 35 35 Buku panduan penaggulangan bencana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka 76 . Pada hari Senin tanggal 18 April 2011 peneliti mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai manajemen penanggulangan bencana yang dilakuakn oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. c) Sektor sosial. sandang dan kebutuhan dasar lainnya untuk korban atau pengungsi. merencanakan tata ruang daerah. e) Sektor keuangan. merencanakan kebutuhan pangan. d) Sektor pekerjaan umum. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana prasarana.

dengan mengunjungi kantor BPBD. Heri Pambudhi

36

pun menjelaskan bahwa

dalam manajemen penanggulangan bencana sebenarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Karena informan membidangi kesiapsiagaan dan darurat maka jawabannya lebih menjelaskan pada konteks penanggulangan bencana sebelum bencana terjadi. Berikut pemaparan informan mengenai hal tersebut.

Kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Atas dasar geografis Majalengka yang rawan akan bencana maka munculah Perda No 10 tahun 2009. Untuk fungsi komando BPBD ini memegang pucuk pimpinan pada saat terjadi bencana, kalo tidak terjadi bencana kita tidak berhak untuk itu. Fungsi Pelaksana misalkan kita mendapatkan alokai dana dari propinsi atau pun APBD kita langsung melaksanakan saja secara administrasi, tetapi pada saat pelakasanaan di lapangan yang secara teknis melaksanakan adalah dinas teknis 37 seperti DBMCK, Dinkes dan lainnya . Setelah itu peneliti direkomendasikan untuk mewawancarai kepada bidang tanggap darurat. Pada waktu itu pula peneliti langsung bertemu dengan Hardi. Informan menjelaskan mengenai manajemen penaggulangan bencana pada saat tanggap darurat. Karena secara makronya ada bencana alam, non alam dan sosial, khusunya yang dilakukan tindakan kedaruratan bencana yang terjadi di Kabupaten kita, kita melakuakn kegiatan-kegiatan ketanggap daruratan seperti memberikan sembako dan fammilly kit, hanya selama ini untuk bantuannya sendiri terbatas. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu
36

Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Keaduratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. 37 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi Loc. Cit

77

sudah terakumulasi, karena pada saat terajdi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain. Kesehtan bisa meberdayakan Dinkes dan Puskesmas, kemudian dibantu dengan TNI dan dinas lainnya, seperti itulah tapi 38 tetep dengna komando dari BPBD . Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kemudian peneliti mencoba untuk menggali informasi di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD. Peneliti pun langsung to the point menanyakan tentang fungsi dari rehabilitasi dan rekonstruksi kepada Moch Agus Slamet , dan beliau pun langsung mengulas dan menjelasakan inti dari rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti pemaparannya berikut ini.
39

Rehabilitasi itu ya intinya tugasnya pasca bencana yaitu merehabilitasi akibat bencana nya, kalo rekonstruskinya yaitu memperbaiki dari keadaan rusak menjadi keadaan semula, setelah bencana kita tingkatkan menjadi lebih baik, kalo merehab intinya begitu. Tapi untuk sampai saat ini bantuan fisik kontruksi belum bisa dilaksanakan. Kalo untuk yang sekarang penanganan-penanganan yang terjadi akibat longsor itu belum terealisasi namum tetep kita usulkan. Untuk sampai saat ini belum ada yang kita bantu. Untuk masalah pendanaan kalo berat yang nanganinya pusat 15 juta propoinsi 5 juta, kabupaten 1 juta, karena itu sudah peraturan. Kita cuma dana siap doang, tapi untuk 40 dana anggaran belum dianggarkan . Manajemen penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Majalengka meliputi pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana. Manajemen ini di dasarkan pada amanah Undang-Undang

38 39 40

Hasil wawancara peneliti dengan Hardi Loc. Cit Agus Slamet adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka Hasil wawancara peneliti dengan Agus Selamet yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2001 pukul 12.20 - 13.10 WIB di kantor Bagaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

78

Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Tentunya langkahlangkah ini harus dilaksaksanakan dengan se-efekitf mungkin dan melihat kapasitas dan orientasi yang dilakukan pada penanganan bencana. Peran dari setiap bidang atau lini yang berada di BPBD sangat diperlukan sebagai langkah dan upaya penanganan bencana yang terintegrasi. Peran dalam penanggulagan bencana tentunya tidak melihat pada satu instamnsi atau aktor saja, namun tentunya berada di stakeholder lainnya, salah satunya adalah Dinas Kesehatan. Pola manajemen penanggulangan bencana pun mereka lakukan, walaupun secara tidak langusng Dinas Kesehatan berada dibawah garis koordinasi dan komando BPBD, secara mendasar Dinas Kesehatan memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan bencana. Berikut penjelasan hasil wawancara dengan Dinas Kesehatan mengenai manajemen penangggulangan bencana alam.

Pada kejadian bencana khususnya pra bencana kita jelas di semua tahapan salah satunya memberdayakan forum masyarakat, kemudian kita memanfaatkan bidan desa, mereka juga kita bekali dengan pengetahuan bagaimana untuk mengenali peluang dan potensi bencana di desa 41 masing-masing. Kemudian untuk survelian dan MATRA sudah jelas akan mengamati terkait potensi bencana di setiap desa, itu di tahap bencana, disamping juga kita menguatkan puskesmas sebagai pos terdepan dalam penanggulangan bencana. Pas bencana kita segera menurukan tim gerak cepat untuk intervensi langsung terjun lapangan. Kemudian pasca benca, itu banyak sekali kan kerusakan akibat bencana, jelas salah satunya adalah

41

MATRA (kondisi normal berubah menjadi tidak normal kemudianm enjadi normal lagi)

79

Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa peran Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dengan manajemen yang dijalankannya lebih pada 42 Hasil wawancara peneliti dengan Ida Heriyani selaku Kepala Seksi Bagaian Survelian dan Matra Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka.35 WIB di kantor inas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) Kabupaten Majalengka. tapi jika kemudian lahan tersebut tidak aman 43 untuk dihuni maka kita akan relokasi .30 – 09. dan setelah bencana. 43 Hasil wawancara peneliti dengan Indriyanto selaku Kepala Seksi Perumahan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 pukul 08. Dinas Kesehatan mempunyai tupoksi sendiri untuk menjalankan penanganan bencana. Kalau misalkan masih memungkinkan berdiri bangunan. 80 . Manajemen yang dilakukan setidaknya memberikan sebuah gambaran bahwa Dinas Kesehatan memang sangat fokus dan konsen dalam usaha penanggulangan bencana pra bencana. saat bencana.kondisi kesehatan masyarakat. Tentunya Dinas Kesehatan menjadi mitra kerja bagi BPBD dalam penanggulangan bencana. maka kita mempunyai 42 tanggung jawab dalam memulihkan kondis korban . itu tergantung dari hasil pas survey pada saaat bencana. Pada saat bencana kita turunkan tim untuk menanggulangi bencana dengan kemampuan yang kita miliki. khususnya dalam bidang kesehatan itu sendiri Bagaimana dengan peran yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK)? Dipaparkan mealalui petikan hasil wawancara peneliti bersama informan dari DBMCK mengenai manajemen penanggulangan bencana alam yang dilakukan oleh dinas tersebut. Sebelum bencana kita sosialisasi juga ke masayarakat. Setelah bencana kita itu ada perencanaan untuk relokasi dan rekonstruksi. Dari kutipan wawancara tersebut.

35 WIB di kantor Bagian Sosial. Kita 44 melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan BPBD . Kita juga melakukan relokasi dengan cara pengajuan proposal ke propinsi dulu. Setelah kita memulihkan kembali kepada korban agar tidak trauma.25 – 10. dan kementerian jika memang itu harus memungkinakan harus di relokasi. melalui kepanjangan tangannya yaitu lembaga daerah yang konsen dan mempunyai tanggungjawab dalam bidang kebencanaan tentunya tidak bisa terelakan lagi untuk memberikan sebuah jawaban itu semua. Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka. makanan danevakuasi korban. dalam penanggulangan bencana peran dan pola manajemen penanggulangan bencana dilakukan Dinas Sosial seperti disampaikan Asikin sebagai berikut: Sebelum bencana kita melaksanakan penyuluhan ke daerahdaerah reawan bencana yaitu mengingatkan kepada masyarakat biar waspada. Dinas sosial merupakan dinas yang mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana. Sebelum dibentuk dan didirikannya BPBD. 44 Hasil wawancara peneliti dengan Asikin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09.penanganan relokasi bagi korban bencana dan penurunan alat-alat berat pada saat bencana alam terjadi. Pada saat bencana kita terjun langsung dengan bantuan-bantuan logistik seperti pasang tenda. 81 . Dinas Sosial. Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa setiap sektor mempunyai tugas dan perannya masing-masing dalam upaya penanggulangan bencana alam. Kita kerjasama dengan BPBD. Komitmen pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana begitu sangat dinantikan oleh masyarakat. memberikan pelayanan relokasi ke daerah yang lebih aman. dan sekarang yang lebih konsen adalah BPBD. Dinas Sosial menjadi koordinator dalam Satkorlak PB (Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana).

20 – 10. Manajemen penanggulangan bencana yang sistematis tentunya akan memudahkan dan memepercepat penanggulangan bencana alam yang efektif dan efisien. Hasil wawancara peneliti dengan Kardia yang dilaksanakan pada tanggal Rabu 20 April 2011 pukul 09. Upaya-upaya yang telah. Posisi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sangat sentral dan penting. ada kerjasama dengan UPTD dan masyarakat sekitar. seperti hasil wawancara peneliti dengan informan dari kecamatan yaitu Bapak Kardia . Tanggap darurat kecamatan sudah membuat langkah tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban.45 WIB di kantor Kecamatan Jatitujuh. Kecamatan mempunyai posisi strategis dalam penanggulangan bencana.Dalam penanggulangan bencana. Selain itu tentunya kita melihat pada peran kecamatan. dan akan dilakukan menuntut pada sebuah pembagian peran masing-masing stakeholder dalam penanggulangan bencana. mulai dari beras itu sudah dipersiapkan. Kabupaten Majalengka. 82 . yang merupakan institusi terendah dalam sebuah pemerintahan daerah. Informan mengatakan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah Pra Bencana. Pasca bencana kita mengusahakan untuk membuat pelaporan 46 bencana alam kepada pemerintah daerah . sedang. Koordinasi menjadi hal yang mutlak diperlukan agar setiap lini bersinergis dan bahu-membahu dalam melaksanakan perannya masing-masing. Tupoksi yang telah dimiliki masingmasing stakeholder dalam penaggulangan bencana alam setidaknya bisa di aplikasikan secara nyata dalam konteks standarisasi peanggulangan bencana alam 45 45 46 Kardia adalah Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Dinas Sosial bersinergi dan berbagi peran dengan BPBD dan dinas lainnya.

Penanggulangan bencana alam adalah tanggungjawab semua elemen. kecamatan. Peneliti pun tertarik untuk menanyakan sejauh mana distribusi peran-peran dari satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. tidak ada sekat atau garis pemisah agar setiap warga negara memiliki kepedulian sosial terhadap warga lainnya. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka.yang tepat. karena secara operasional yang menanggulanginya adalah BPBD dan dinas-dinas teknis lainnya.2. lembaga. Distribusi Peran Satuan Kerja Perangkat Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majelengka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama pemerintah daerah terdiri dari unsur satuan kerja perangkat daerah yang di dalamnya terdiri dari dinas. sebagaimana telah di amanahakan dalam konstitusi dan hukum negara kita.2.1. 4.3. Mekanisme penanganan 47 bencana kalo sifatnya emergency sekali maka akan 47 Emergency adalah keadaan darurat 83 . dan kelurahan merupakan unsur vital yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.3. inspektorat. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan terkait distribusi peran stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka dengan Ibu Yuarlina dari Sekretaris Daerah bagian Kesejahteraan Masyarakat: Kami di bagian Kesra sifatnya hanya memfasilitasi dan mengkoordinasikan jika ada kejadian-kejaidain. 4.

48 49 OPD adalah kependekan dari Organisasi Perangkat Daerah Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina Loc. salah satu komisi yang konsen terhadap penanganan bencana yaitu komisi C membidangi pembangunan. Begitu halnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga controling eksekutif pemerintah daerah dalam mekanismenya 48 mempunyai peranan penting untuk menjaga dinamika dalam menyuarakan dan mengaspirasikan kebencanaan di Kabupaten Majalengka.diarahkan kepada OPD untuk terjun langsung. dan sifatnya 49 berkelanjutan . Sementara untuk mekanisme teknis dalam penanggulangan bencana dilimpahkan kepada dinas-dinas teknis atau organisasi perangkat daerah yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana secara koordinatif dan berkelanjutan. Cit 50 Hasil wawancara peneliti dengan A. Baik itu seperti usulan 50 pembangunan infrastruktur. berikut hasil wawancara peneliti dengan komisi C DPRD Kabupaten Majalengka. Jadi kami disini menginventarisir kejadian-kejadian juga kami kordinasikan dinas-dinas dalam penanggulangan bencana. koordinasi dengan dinas-dinas lainnya melalui BPBD. Iya kita secara aspek politis DPRD konsen terhadap evaluasi dan monitoring terhadap bencana-bencana yang terjadi di Majalengka. Syihabuddin Loc. ekonomi dan lainnya . Jadi sifatnya kami hanya mengkoordinasikan saja. Cit 84 . Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa fungsi dari Sekretrais Daerah selaku jabatan eselonisasi sekaligus menjabat sebagai ketua dari BPBD hanya melaksanakan fungsi koordinasi dan memfasilitasi kejadian bencana yang ada.

85 . ekonomi dan bidang lainnya. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul 13. koordinasi. baik pra bencana. Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. dan fasilitasi dengan membagi tugas dan tupoksi 51 Petikan wawancara dengan Drs. karena pada saat terjadi bencana.Si selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitik BPBD Kabupaten Majalengka. memberikan treatment slogan-slogan bencana dengan penyuluhan atau lainya. untuk spesifik tugas berada di 51 dinas-dinas lain atau lintas bidang .Dari petikan wawancara di atas DPRD mempunyai andil besar dalam monitoring dan evaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.00-13. dengan melakukan koordinasi dengan dinas lainnya. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando. M. informasi daerah rawan bencana. Petikan wawancara di atas memberikan penjelasan bahwa dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka BPBD mempunyai siklus dalam penanganannya. Fungsi BPBD dalam emergency respons mempunyai tiga fungsi dalam penanggulangan bencana yaitu fungsi komando. juga dalam bentuk sosialisasi kebencanaan. koordinasi dan fasilitasi itu sudah terakumulasi. Di BPBD ada semacam siklus. Seperti hasil wawancara tersebut. agar kerentanan bencana bisa teratasi dan memberikan perlindungan bagi masyarakat dan korban bencana alam. DPRD memberikan sebuah usulan atas pembangunan infrastruktur. Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan dari BPBD. Termasuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana. saat bencana dan pasca bencana. peneliti mewawancarai informan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hal yang lebih spesifik melihat peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Hardi. Dengan melakukan koordinasi dengan dinas lain yaitu dengan adanya tim kaji cepat.45 WIB di kantor bagian Kedaruratan dan Logistik. termasuk untuk menggali dan melihat potensi kebencanaan.

25 WIB di kantor bagian Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Nanti kita ada penanganan sebelum bencana. Jadi peran Dinas Kesehatan adalah memulihkan kondisi tidak normal karena bencana alam menjadi situasi tidak normal. sebenarnya seperti apa fungsi koordinasi yang dijalankan tersebut. Loc. Moch Agus Slamet. Peneliti memutuskan untuk mewawancarai informan dari Dinas Kesehatan. baik psikis ataupun psikologis. Contoh kemarin ada bencana banjir di Kertajatai. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul13. BE selaku Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka.45 – 14. Dalam prakteknya BPBD mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan oleh korban. Jadi kiprah kami selama satu 53 tahun. kaena penanggulangan bencanan ini merupakan tanggungjawab bersama dan dilakukan lintas sektor maka untuk mengetahui sejauh mana peran dari lembaga lain dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 53 Hasil wawancara dengan Heri Pambudhi. karena kita bukan dinas teknis . Penjelasan tersebut kemudian diperjelas dengan siklus manajemen yang dilakukan BPBD dalam peanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Setelah mengetahui sejauh mana peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Berbicara tentang fungsi koordinasi lintas bidang peneliti kembali bertanya. karena kita di kecamatan 52 Hasil wawancara dengan R. dan masih umum sudah bisa berjalan .masing-masing dinas. menjadi normal. pada saat bencana dan pasca bencana. karena secara langsung Dinas Kesehatan sangat berhubungan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam. 52 Secara umum jalur komando itu berada di BPBD. Cit 86 . kita berkoordinasi di bawah BPBD kita bekerjasama dengan TNI kita langsung tanggulangi.

yaitu 54 55 Hasil wawancara dengan Ida Heriyani. Memberikan sosialisai dan membangun rumah tinggal korban bencana. Tetapi berdampak pula pada subjek atau korban bencana alam tersebut. yang biasanya menjadi pelopor dalam rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana yang ditimbulkan. sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. Kalau misalkan alat berat kita langsung menghubungi bidang alat berat. Jadi yang 54 jelas kita bergerak di dalam bidang kesehatan .ada puskesmas. kalaupun misalkan diminta bantuan kalau misalkan dinas DBMCK jadwalnya kan rutin sewaktuwaktu ada laporan diminta bantuan ada bencana alam kita siap. Cit. Peran Dinas Kesehatan melalui perangkatnya mempunyai efek positif dalam pemulihan atau normalisasi korban bencana alam. Cit. Hasil wawancara dengan Indrayono Loc. Pertanyaan yang diajukan masih seputar peran DBMCK dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. salah satunya adalah melihat peran dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. Dinas Kesehatan mempunyai peran dalam pemulihaan kesehatan korban bencana alam karena dampak bencana tidak hanya pada hancurnya bangunan ataupun rusaknya lingkungan sekitar. kemudian kepada rencana relokasinya . Hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dari DBMCK. Disini kita fokus pada pendataan 55 bangunan. jadi kita perankan puskesmas. Loc. secara tidak langsung peranannya lebih spesifik pada penanganan setelah bencana. berikut pemaparannya. Stakeholder lain pun tentunya memiliki peranan khusus dalam penanggulangan bencana alam. dimana hal ini menjadi perhatian khusus agar korban yang lolos dari bencana alam bisa tertangani dan terselamatkan. 87 .

Sebelum dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) peran dari Dinas Sosial memang menjadi sangat vital. Sudah sangat jelas bahwa fungsi dan peran dari stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam agar tercipta sebuah penanggulangan yang efektif. Fungsi dan tugas dinasnya adalah langsung melaksanakan kesiapksiasagaan diantaranya melaksanakan keselamatan manusia seperti evakuasi. karena mengkordinatori Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana). dan untuk saat ini Dinas Sosial merupakan mitra dari BPBD dalam penanggulangan bencana dalam garis koordinasi. 88 . Cit. Seiring dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 yang didalamnya mengatur pembentukan BPBD maka pada waktu itu pula Satlak PB di bubarkan. Salah satu faktor lain yang memiliki peran penting adalah satuan kerja perangkat daerah lainnya yaitu pihak kecamatan.pada tataran rehabilitasi dan rekonstruksi. Seperti petikan wawancara sebagai berikut: Peran dari Dinsos merancanakan pendataan dan pelaksanaan dalam penanggulangan bencana. Loc. terus memfasilitasi para korban diantaranya memberikan makan. Memberikan 56 pelayanan kepada masyarakat korban bencana . Sehingga peran Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana berkurang. pakaian dan lainnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peranan dari Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. yang tentunya berperan dalam pengendalian bencana alam di 56 Hasil wawancara dengan Asikin. efisien dan terkendali. dan pelaporan kejadian bencana ke tingkat propinsi maupun pemerintah daerah yang nanti ditidaklanjuti oleh kementerian. pembuatan dapur umum.

daerahnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peran kecamatan dalam penanggulangan bencana alam. Berikut petikan wawancara dengan pihak kecamatan.

Kesiapan dalam menangani terutama dalam aliran sungai, dan sekarang terjadi longsor merobohkan sekitar 17 rumah. Pihak Kecamatan sudah menyikapi hal tersebut dengan cara melaporkan ke tingkat kabupaten, dan BPBD. Ada penawaran dari tingkat kabupaten untuk direlokasikan. Pas tanggap darurat kecamatan sudah membuat tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras dan sebagainya itu sudah dipersiapkan. Kita juga mengusahakan untuk membuat pelaporan 57 bencana alam kepada pemerintah daerah . Melihat gambaran distribusi peran yang dilakukan oleh stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana perencanaan dan pembangunan akibat bencana alam. Peneliti memutuskan untuk menggali informasi tersebut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lembaga ini dipilih karena secara langsung mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan strategi terpadu dalam pembangunan khususnya melihat pada proses penanggulangan bencana alam. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Bappeda.

57

Hasil wawancara dengan Kardia, Loc. Cit.

89

Karakteristik daerah dan melihat pengalaman-pengalaman ke belakang bencana apa saja sih bencana yang terjadi di Majalengka. Terus kita siapkan penyusunan dan perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, kita akomodir usulan-usulan tersebut. Kita pilih melalui penyelesaian sesuai RPJMD daerah kemudian dituangkan dalam RKPB. Atas keputusan tim TAPD, dengan lintas sektor, Bappeda bagian keuangan, pembangunan, asisten dinas, BPKAD, Inspektorat. Tim angggaran siapkan rencana RAPBD yang diserahkan ke DPRD untuk dibahas dan disahkan bersama Bupati. Usluan dari tiap dinas termasuk BPBD kita bahas, kemudian melakukan Musrembang tingkat kecamatan, OPD dan setelah itu 58 menjadi dokumen untuk menjadi usulan RKPD . Distribusi peran yang telah direncanakan dalam rencana strategis pemerintah daerah Kabupaten Majalengka merupakan mekanisme sinergitas peran dari stakeholder yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Tentunya distribusi peran tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan koridor kerja dari stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

4.3.2.2. Alur Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa

penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. secara

Penyelenggaraan

penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat
58

Hasil wawancara dengan Iwan Tundjiawan selaku Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Wawancara dilakuakn pada tanggal 13 April 2011 pukul 12.35 13.25 WIB.

90

seperti bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan penanggulangan pendidikan bencana, dan keterampilan dalam dalam penyelenggaraan keputusan.

berpartisipasi

pengambilan

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana secara tidak langsung

membutuhkan sebuah keseriusan dari pemerintah daerah, khususnya dalam koordinasi stakeholder, agar tercipta sebuah penanggulangan bencana yang terkoordinatif. Dasar kerangka berfikir dari penelitian ini yang kemudian mencoba untuk mengetahui sejauh mana alur sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana. Pertanyaan pertama peneliti ajukan kepada Ibu Yati Sumiati sebagai staff dari sekretaris daerah. Berikut pemaparan informan mengenai mekanisme sinergi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka.

Kalau di Pemda dalam setiap minggu itu ada rapat koordinasi terbatas (Rakortas), di situ akan menanggapi dan membahas trekait dengan pelaporan-pelaporan dan langkah startegi yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya tidak hanya masalah penanggulangan bencana saja namun juga ada pembahasan operasioanl dinas. Setiap hari Senin bersama kepala SKPD Bupati memimpin rapat 59 SKPD .

59

Wawancara dengan Yati Sumiatai, Loc. Cit

91

itu sudah bisa dibuktikan. ketika air sungai di desa saya meluap langsung terjun. begitu juga halnya dalam penanggulangan bencana. kalau Satkorlak dibawah pemda itu langsung cepet penanganannya. Syihabuddin. Kita bersinergi dengan dinas dalam mekanisme penanggulangan bencana. Kondisi real sekarang Pemda sinergi amat sangat sinergis. agar setiap kinerja yang akan dilaksanakan bisa terinvertarisis dan terkontrol.Pernyataan tersebut diperkuat oleh Yuarlina selaku rekan kerjanya di sekretaris daerah bagian kesejahteraan masyarakat. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana pandangan atau perspektif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga yang mengawal dan mengontrol pelaksanaan 60 penyelenggaraan pemerintah mengenai sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka? Berikut petikan wawancara dengan pihak DPRD Kabuapten Majalengka. Loc. untuk kemudian mendapatkan fasilitasi dan pelaporan untuk menginstruksikan dinas daerah terjun dalam penanggulangannya yang dikomandoi oleh BPBD . 61 kembali lagi kepada batasan kewenangan . Cit Wawancara dengan A. 60 61 Wawancara dengan Yuarlina. setiap pekan pihak pemerintah daerah mengadakan rapat koordinasi rutin dengan OPD untuk melakukan pelaporan dan evaluasi atas kinerja yang akan dan telah dijalankan. Hal ini ditujukan untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Cit 92 . Sinerginya bagus. Loc. Mencermati hasil wawancara dengan sekretaris daerah dalam menjaga alur sinergi penanggulangan bencana.

BPBD dan pihak Kecamatan Jatitujuh. tapi itu hanya dilaksanakan oleh dinas-dinas tertentu. Berikut petikan hasil wawancaranya.: Kita melakukan penataan dan berkoordinasi dengan dinasdinas terkait dengan BPBD. Loc. Syihabudin.Kesimpulan sementara mengindikasikan bahwa sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam memang cukup efektif dan berjalan lancar. Loc. PMI untuk kesehatan. Cit 93 . Alhamdulillah perannya sudah positif dari Kabupaten untuk 64 penanggulangan bencana disini . PU. hal ini dipertegas hasil wawancara peneliti dengan pihak Dinas Sosial. PMI. sesuai denga tupoksinya masing-masing. baik di tingkat kabupaten atau propinsi. dinas kompak terjun ke lokasi bencana. melihat kondisi lapangan. kalau kita menyediakan tahap darurat 62 menyediakan natira (sandang pangan) . Secara formalitas apa yang diungkapkan oleh informan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Majalengka sejauh ini penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka berlangsung lancar tanpa hambatan. karena dengan pertimbangan sudah terkoordinasi. dan segala macemnya. Ya bagus. Melihat sejauh ini hasil dari informan menyatakan bahwa koordinasi antar leading sector sangat berjalan baik. Cit Wawancara dengan A. misalkan dalam keadaaan darurat kita langusng koordinasi dengan dinas lain maka langsung 63 ditanganai . kita memberikan laporan dan komando dari BPBD. terintergrasinya lintas sektor atau stakeholder 62 63 64 Wawancara dengan Asikin. Alhamdulillah sangat kompak sekali sampai survey kesini. Kita tetap ada rapat koordinasi. mendata berapa korban baik rumah yang hancur. Cit Wawancara dengan Yati. Loc.

Untuk mencari lebih lanjut berkenaan peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam belum cukup rasanya kalau peneliti hanya melihat sudut pandang dari pihak birokrat saja. Namun peneliti menemukan hal yang sangat kontradiktif atas semua pernyataanpernyataan dari stakeholder pemerintah daerah dalam mengatasi kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Aktor Dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Majalengka Sejauh ini kita melihat peran pemerintah daerah dengan institusi di bawahnya yaitu satuan kerja perangkat daerah bisa membuktikan akan kepeduliannya terhadap penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Lokasi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang porak poranda akibat terjangan aliran Sungai Cimanuk. 94 . Peneliti pun kemudian memutuskan untuk menggali informasi dari korban bencana dan LSM atau semacam paguyuban yang konsen untuk mengaspirasikan dalam kebencanaan. 4.yang ada.3. Sehingga bisa dikatakan alur sinergi peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana tidak ada kendala dan berjalan lancar. Ternyata setelah peneliti mencoba menyelidiki dan mencari informasi terkait bencana di Jatitujuh banyak permasalahan yang terjadi dalam penanganannya. Kecamatan Jatitujuh yang terkena abrasi aliran Sungai Cimanuk yang mengakibatkan ambruknya 12 rumah warga dan satu Mushola.3. Peneliti mencoba mengkomparasikan atau membandingkan dengan salah satu kasus kejadian bencana alam di Blok Klewih.

berbicara mengenai peran pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. dan lantas hanya di biarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah daerah setempat. siga anu lepas tangan wae. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Acha selaku korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. sementara untuk proses relokasi sampai saat ini belum terealisasi.000. bantuan entos tapi eta ge wungkul bantuan sembako bae aya minyak. Tidak ada. Bilangna waktu itu pas gubernur datang ka lokasi bencana.Wawancara dilaksanakan pada10 April 2011 66 Ibid 95 . 65 Hasil wawancara dengan Aca selaku korban abrasi Sungai Cimanuk.sementara korban pun belum di relokasi. Bilangnya pada waktu itu gubernur bersama bupati katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. aya relokasi. Bantuan pertama hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok saja.000. Melihat petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum berperan penuh dalam usaha penanggulangan bencana alam yang terjadi di lokasi tersebut. mie. jeung beas. bantuan yang sudah direalisasikan baru bantuan sembako seperti minyak goreng. Saya ingin ada kepastian dari pemerintah tentang relokasi. Ti kecamatan pun teu aya pisan responna. tapi sampai ayeuna teu acan aya realisasi 65 sakedik pun . Abi mah pengena aya kapasitian ti pamarintah. dan beras. 5. ya tidak apa-apa tapi realisasikan saja dana bantuan yang sudah dijanjikan kepada korban. Teu aya. dari kebijakan gubernur sareng bupati saurnamah bade ngarealisasikan bantuan kanggo korban 5 juta/kk. kalau pun tidak jadi di relokasi. upami teu janten relokasi nya teu nanaon sok realisasikeun dana bantuan anu tos di janjikeun. blok Klewih Jatutujuh Majalengka. Berikut petikan hasil wawancaranya. mie instant. tetapi sampai saat ini 66 belum ada realisasi sedikit pun .00/KK.

Bahkan melihat dari stakeholder pemerintah daerah yang terjun langsung dalam penanganan bencana di daerahnya sangat minim. cuma pembuktian dan realitasnya gak ada. Berikut petikan wawancara dengan informan. dengan alasan tidak ada perhatian terhadap mereka. Informan bersama teman-temannya di FPBAC sebagai penyambung lidah antara masyarakat dengan pemerintah daerah berusaha untuk mengaspirasikan dan merealisasikan yang menjadi tuntutan-tuntuan dan hak-hak dari korban bencana. 67 Respon dari Pemda ada.padahal korban sangat membutuhkan hunian atau tempat tinggal setelah rumahnya porak poranda akibat terjangan arus Sungai Cimanuk. Tetapi hasil temuan peneliti di lapangan justeru banyak ketidakpuasan dari masyarakat khususnya yang menjadi korban terhadap pemerintah daerah. Sungguh sangat ironi. artinya tidak semua 96 . kemana saja ini? Hasil wawancara dengan korban dan Syarifudin Rahmat selaku koordinator dari Forum Peduli Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) ternyata hasil wawancara dengan pihak pemerintah daerah bertolak belakang dengan bukti-bukti di lapangan. Bahkan sampai saat ini pergerakan kita dari Januari sampai April ini gak ada sama sekali. ketika pemerintah daerah menjawab bahwa sejauh ini mereka memperhatikan dan bahkan bertanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam di daerahnya. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Syarifudin Rahmat selaku koordinator Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) . Katakan saja untuk penanganan bencana ini gak ada sama sekali.

pinjaman lunak untuk usaha produktif. dan/atau b. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. 70 69 68 69 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dan memberikan bantuan bencana kepada korban bencana. santunan duka cita. 68 Santunan duka cita diberikan dalam bentuk biaya pemakaman dan/atau uang duka pasal 25 . (2) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (1). walaupun ada hanya sebatas mengontrol lokasi saja tanpa ada realisasi secara menyeluruh untuk membantu korban. harkat dan martabat setiap warga negara. Bisa dikatakan perhatian dari pemerintah daerah sangat minim. (3) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada ahli waris korban. diberikan setelah dilakukan dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya.elemen terjun langsung dalam penanganannya. dan d. Prinsip dari bantuan tersebut adalah : 1) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. c. dan bahkan seperti ada sebuah keacuhan terhadap korban. (1) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) huruf a diberikan kepada korban meninggal dalam bentuk: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan besaran bantuan santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. 70 Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor 08 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Duka Cita 97 . maksudnya bahwa santunan yang diberikan bertujuan untuk melindungi dan menghormati hakhak azasi manusia. Bantuan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah bagi korban bencana yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memulihkan fungsi sosial dan ekonomi. santunan kecacatan. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana sebagai penjabaran dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah memberikan rambu-rambu bahwa bantuan bagi korban bencana antara lain mencakup santunan duka cita pada pasal 24 . (2) Bantuan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. uang duka. biaya pemakaman. b.

terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. proporsionalitas. adalah bahwa santunan yang diberikan kepada korban bencana semata-mata atas dasar kebutuhan mereka dalam prinsip ini terkandung kerangka kerja yang berlandaskan HAM.2) Perlakuan adil. dan aliran politik apa pun. 5) Nondiskriminatif. dan tidak mendiskriminasi. ras. dan tertib sehingga sampai kepada sasaran. 7) Kehati-hatian. suku. Jatitujuh sebagaimana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan harus cermat. saat bencana. dan seimbang. agama. maksudnya adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum. dan pasca bencana. baik pra bencana. Perlindungan dan rasa keamanan merupakan hak dari setiap warga dan masyarakat yang menjadi korban bencana agar tercipta sebuah tatanan masayarakat yang selaras. teliti. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan tidak membedakan jenis kelamin. Pemerintah daerah seharusnya mempunyai tanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di Blok Klewih. 6) Nonproletisi. 4) Transparansi dan Akuntabilitas. aman. 98 . 3) Cepat dan tepat. serasi.

Pertama adalah dengan adanya mandat dari Bupati untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan bencana alam tersebut. sampai saat ini masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dan segera diselesaikan oleh pemerintah daerah selaku stakeholder kunci yang bertanggungjawab penuh dalam proses penanggulangan bencana.000. Padahal dalam kebijakan tersebut rumah yang rusak berat 15 juta.Perkembangan penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk ini. Pak Bupati menginterupsikan kepada Pak Kuwu dan warga segera mencari tanah untuk relokasi dengan harga di bawah standar.00/kepala keluarga.1. Bu Ratih selaku ketua BPBD berjanji merealisasikan 1 juta/kk dia menyatakan itu di media. Dalam lawatannya. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku informan dari FPBAC yang menjelaskan tentang bukti dari janji-janji Bupati kepada para korban.000. 99 . begitu juga stakeholder lainnya utuk bersama-sama mencari solusi terhadap bencana alam yang tyerjadi di daerah tersebut. Bupati juga menginterupsikan kepada BPBD dengan menjanjikan ganti rugi kepada korban Rp. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana aktoraktor yang terlibat di dalam penanggulangan ini mulai bermain dalam proses pencitraan untuk meraih simpati dari korban. Segala upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut menjadi hal yang sangat menarik dalam proses penanganan bencana di Jatitujuh ini. salah satunya adalah dengan adanya kunjungan langsung dari Bupati ke lokasi kejadian dengan menjanjikan adanya proses ganti rugi dan jaminan kepada para korban.

100 . Anu di relokasi baru 10 rumah teh tempatna kurang alus. Terus Bapak Karna (wakil Bupati) mau merealissikan bantuan dana kepada korban tapi gak tau. tapi sampai sekarang belum ada realisasinya.000. Kalo ngukur-ngukur masalah tanah relokasi pemerintah teh gak bilang heula ka masyarakat anu jadi korban.00/KK. Gak maul lah kalo di pencilkeun kitu mah. masyarakat selaku korban bencana merasa tempat relokasi yang dijanjikan kurang representatif. Seperti yang diungkapkan korban kepada peneliti.000.000.Masyarakat pun semakin gembira ketika Bapak Karna Sobahi (Wakil Bupati) dan Bapak Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat) berbondongbondong datang ke lokasi kejadian dengan menjanjikan ganti rugi dan jaminan kepada korban sebesar Rp. Berikut pemaparan hasil wawancara dengan Karsa sebagi korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. Sampai saat ini bantuan yang dijanjikan belum terealisasi dan belum sampai kepada tangan para korban. pas gubernur datang ke lokasi bencana. gak enak gak nyaman. bahkan untuk relokasi korban pun masih mengalami masalah dan ini menjadi permasalahan baru yang muncul. Nya warga teh seuuer nu nolak. entah apa yang terjadi gak ada realisasinya juga. berikut pemaparannya.00/kepala keluarga. 5. Permasalahan yang timbul adalah adanya pro-kontra antara warga dengan pemerintah daerah mengenai tempat relokasi yang akan ditetapkan. lokasina di Ronggeng Bokong tempat garong ato rampok jauh dari keramaian. dari kebijakan gubernur katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp.5. Ngomongnya waktu itu.000.

karena merasa tempat relokasi tidak representatif dan jauh dari keramaian. itu pun tempatnya kurang bagus. Realisasi penangangan pada saat bencana pun sangat minim dan bahkan sampai sekarang penanganan pasca bencana salah satunya adalah relokasi bagi korban masih dalam masalah yang serius. nanti akan saya tinjau dan terima kasih atas informasinya. gak enak dan gak nyaman. Bisa dikatakan tidak ada pergerakan dari instansi pemerintah daerah khususnya BPBD dalam penuntasan dan penanggulangan bencana tersebut baik pra bencana. Hal ini menimbulkan penolakan dari korban. dan fasilitas atau pun akses akomodasi dan transportasi pun sangat sulit. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa untuk permasalahan relokasi sejatinya pemerintah daerah belum mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat selaku korban. Kalau rencana pengukuran tanah relokasi kadang pemerintah tidak membicarakan terlebih dahulu kepada masyarakat yang jadi korban. Ya akhirnya warga banyak yang nolak. kemudian dia respon dan bilang terima kasih.Yang di relokasi baru 10 rumah. 71 71 Ibu Ratih Suratih selaki ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupeten Majalengka 101 . lokasinya di Ronggeng Bokong tempat perampok dan jauh dari keramaian. Tidak mau kalau di pencilkan seperti itu. tapi usaha dari mereka belum memberikan solusi bagi korban. saat bencana. Tapi realitanya gak ada sama sekali. Seharusnya instansi atau dinas terkait yang bertanggungjawab dalam masalah kebencanaan bisa mengatasi permasalahan ini. Bahkan ketika kita menelpon beliau untuk melaporkan kejadian bencana. Seperti hasil petikan wawancara berikut ini. maupun setelah bencana.

Hal tersebut bisa 72 terlihat bagaimana instansi pemerintah yang seharusnya Dewan merupakan ungkapan anggota legislative untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka 73 Hasil wawancara dengan Karsa (Aca) selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Pokonya semuanya yang terkait tidak ada tanggungjawab sama sekali. Dari dinas-dinas pun gak ada sama sekali. mereka cuman 72 berwisata. sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. dan semuanya ada kunci di Bupati. hal ini dinyatakan oleh Syarifudi Rahmat. 73 kenapa kok di diamkan . Petikan wawancara tersebut bisa dijelaskan. Bahkan permasalahannya tidak hanya sebatas pada BPBD saja. padahal dia sudah datang berkunjung ke lokasi. blok Klewih Jatutujuh Majalengka. dari Dewan aja yg terkait dengan konsen bencana aja tidak ada sama sekali untuk memperjuangkan masalah ini. padahal status bencana yang terjadi sangat memperihatinkan dan menjadi siaga bencana di lokasi tersbut. mengindikasikan kurang adanya respon dari BPBD dalam penanggulangan bencana. Seharusnya BPBD bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal ini kan sangat mengerikan.25 WIB. sebenarnya masyarakat sudah begitu mengharap dan menantikan agar mereka bisa mendapatkan jaminan dan kepastian dari pemerintah daerah terhadap nasib mereka.pukul 11.Hasil kutipan wawancara di atas sangat jelas. Dan Bupati pun belum mengeluarkan SK bahwa Jatitujuh itu termasuk siaga bencana atau daerah bencana. berikut petikan wawancaraya.15-12. namun korban pun merasakan bahwa dari instansi pemerintah daerah lainnya pun kurang begitu respon. 102 .Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 April 2011. Permasalahan yang terjadi mengindikasikan adanya tarik ulur dan kekurang sinergi antara bupati dengan insatansi daerah dalam penanggulangan bencana alam tersebut. Jangankan dinas yang ada. bahkan surat keputusan (SK) bupati pun belum dikeluarkan.

74 SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah 103 . Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa bupati selaku pemimpin daerah merupakan aktor yang sangat berpengaruh bahkan bisa mengintervensi jajaran di bawahnya. karena yang namanya Pak lurah itu sangat takut sekali sama Bupati. Padahal sesuai konstitusi untuk permasalahan penanggulangan bencana itu menjadi tanggungjawab penuh pemerintah daerah bukan atas nama bupati. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku koordinator FPBAC yang berargumen bahwa ada sebuah ketidakharmonisan antara bupati dengan instansi di bawahnya. Kita selalu menahan dan tetap menghargai Pak Lurah. Tapi kalo Pak camat itu jelas bisa diberhentikan oleh Bupati karena 74 termasuk SKPD . Takutnya bonus atau kebijakan-kebijakan Bupati itu di potong. Seperti petikan wawancara berikut ini dengan Syarifudin Rahmat.bertanggungjawab dalam penanganan bencana ini seperti kaku dan menunggu komando dari bupati. sesuai dengan peraturan yang telah diamanahkan. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemecatan. dan pengekangan terhadap desanya. Padahal mereka mempunyai wewenang untuk sesegera mungkin dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi. Bahkan intervensi-intervensi selanjutnya tidak sebatas kepada jajarannya di pemerintah daerah namun juga langsung kepada masyarakat selaku korban bencana.

Bahkan pergerakan FPBAC dalam mengaspirasikan suara korban kepada pemerintah daerah selalu ditanggapi dengan respon yang kurang baik dan sering menemui jalan buntu. 104 . Tapi ketika kita diam buktinya gak mulus juga. Seperti petikan wawancara berikut ini. Jatitujuh. Hasil petikan wawancara tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa bupati sangat memegang penuh otoritas dalam permasalahan penaggulangan bencana alam di Blok Klewih.Terus malah ada intervensi-itervensi. namun ketika kejar hal tersebut berubah lagi. dulu ketika ada kunjungan Gubernur. Besoknya ada cibiran ”suaramu jangan kenceng-kencang kalo misalkan Bapakmu gak mau dimutasi atau diberhentikan”. Saya cerita lagi. Ketika kita membikin sebuah opini baru pemerintah respon. Sudah sewajarnya mereka mengaspirasikan apa yang menjadi keluhan dan pemenuhan hak-haknya. Ketika kita berbicara begini dalam media maka wacana pemerintah pun berubah juga. Padahal mereka hanya menuntut haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak perlindugan dan hidup atau jaminan sosial. Pak Bupati berdiri dan langsung dipersingkat untuk segera menyelesaikan acara. Intervensi-intervensi yang dilakukan oleh bupati kepada jajaran begitu juga kepada elemen-elemen masyarakat dan korban sebenarnya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Pak kuwu itu sudah mensetting akan ada audiensi. suaranya paling lantang dalam audiensi suaranya paling lantang dan pedas. tapi ternyata baru selesai makan-makan. karena mereka menginginkan adanya sebuah jaminan dan kepastian terhadap permasalahan yang terjadi. temen kita bapaknya PNS. kurang tau ini karena ada politisasi dan birokrasi memang susah.

DPRD yang seharusnya bisa mengontrol permasalahan ini pun belum mempunyai andil besar dalam memberikan solusi-solusi nyata. padahal secara tidak langsung DPRD merupakan mitra kerja bupati dan satuan kerja perangkat daerahnya. permasalahan selanjutnya yang timbul adalah adanaya ketidakharmonisan antara warga dengan pemerintah desa dan kecamatan. yang menytakan bahwa masyarakat selaku korban kadang salah menafsirkan terhadap itikad baik yang akan dilakukan oleh pihak kecamatan dan pemerintah daerah. 105 . Seperti kutipan wawancara berikut ini dengan Kardia selaku Sekretaris Camat Jatitujuh. Bahkan permasalahannya tidak cukup sampai di situ saja. padahal seharusnya yang mengaspirasikan adalah pemerintahan desa. Ya harusnya minimal ada dari DPRD. Seperti kutipan wawancara berikut ini yang dipaparkan oleh Syarifudin Rahmat.Tarik ulur pewacanaan dalam penanggulangan bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh ini menjadi sangat rumit. Kita sebagai penyambung lidah antara korban dengan pemda. Pendapat berbeda ditanggapi oleh pihak Kecamatan Jatitujuh. Tentunya hal ini akan menimbulkan efek negatif terhadap resistensi kepercayaan terhadap bupati dan pemerintahan daerah. karena korban menganggap pemerintah desa dan kecamatan tidak respon dalam penanggulangan bencana di daerahnya. Soalnya antara pemerintahan desa dan warga tersebut sudah tidak harmonis. karena berimbas pada pertentangan masyarakat dan FPBAC dengan bupatinya.

nanti di ajukan kepada BPBD. Permasalahan ini menjadi sebuah efek antar domino dikarenakan adanya dan kesalahfahaman dan ketidaksinergian stakeholder. Pak Bupati akan menerima atau memberikan bantuan harus ada musyawarah antara masyarakat dengan kuwu dan membikin surat persetujuan. di satu sisi bahwa masyarakatlah yang rewel terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah. Pihak Kecamatan Jatitujuh menyatakan bahwa semua permasalahan tersebut akan segera ditangani dan dislelesaikan dengan segera. namun karena isue-isue yang tidak bertanggungjawab maka bantuan pun tersendat. kuwu dan pemerintah daerah. namuin di sisi lain masyarakat menganggap pemerintah daerah kurang tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya. sehingga timbul penolakan dari korban terhadap tempat relokasi tersebut. demngan catatan harus ada komitmen antara warga. Relokasi pun tidak di sosialisasikan terlebih dahulu kepada korban. baik pemerintah daerah dan 106 .Itu masyarakat kadangkala salah menafsirkan. Solusi yang telah ditawarakan pihak kecamatan dan pemerintah daerah dalam petikan wawancara tersebut setidaknya menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana dan permasalahan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. berikut hasil wawancara dengan Kardia selaku sekretaris camat Jatitujuh. Ketika memang prosesnya sudah dipersiapkan maka akan lebih mudah. padalah dari pemerintah daerah sudah siap utuk menanggulangi. karena tidak representatif. Kearifan kebijaksanaan dari individu dan kelompok. Menganalisis hasil petikan wawancara di atas terjadi sebuah pengalihan masalah antara warga dengan pemerintah.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. dan dampak psikologis. 107 . gunung meletus. angin topan. kerugian harta benda. tsunami.1. banjir. Matriks Wawancara Terlampir 4.5.masyarakat untuk bersama-sama memberikan andil terhadap penyelesaian masalah yang terjadi dengan pelurusan kembali terhadap apa yang menjadi tanggungjawab semua pihak terutama dalam penanggulangan bencana alam di Blok Klewih Jatitujuh ini. Aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah ini setidaknya membutuhkan sebuah komitmen baru dalam memberikan pelayanan terbaik bagi korban. dan tanah longsor. tidak ada politisasi dan kepentingan individu atau kelempok tertentu dalam mengambil keuntungan permaslahan yang terjadi. baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. Pembahasan 4. Solusi nyata dan keberpihakan terhadap korban sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh ini. kerusakan lingkungan. kekeringan. 4.4. Dasar Hukum Pendirian BPBD Kabupaten Majalengka Bencana sebagaima yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan.5.

Kebijakan tersebut dilalui dengan tahapan dan pertimbangan kondisi Kabupaten Majalengka yang secara geologis memiliki kerentanan terhadap bencana alam dan adanya peningkatan bencana dari tahun ke tahun. Maka dengan melaksanakan amanah undang-undang tersebut Kabupaten Majalengka membuat kebijakan untuk mendirikan BPBD. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008 yang mengatur tentang mekanisme pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Organisai Perangkat 108 . dan kemanusiaan. dengan dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dibawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Selain itu. perlindungan.Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum. pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. menjadi sebuah tuntutan dan hak setiap masyarakat agar tercipta sebuah kerangka hukum dan perlindungan dari bencana. Berdasarkan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala Badan Nasioal Penangulanan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. Hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 khususunya pada batang tubuh alinea ke-IV yang berprinsip pada keadilan. kelestarian lingkungan hidup. Penanggulangan bencana merupakan kewajiban bagi setiap pemerintah pusat ataupun daerah untuk menciptaka perlindungan dan keamaan bagi warganya sehingga membentuk sebuah masyarakat sadar bencana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membentuk Badan Pnanggulangan Becana Daerah (BPBD).

integrasi. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD). yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. diselenggarakan oleh seluruh provinsi. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masingmasing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. dan kota. kabupaten. namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 memberikan arah dan pedoman yang jelas dalam menata organisasi yang efisien. sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah.Daerah maka dikelurakanlah kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya termaktub tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kabupaten Majalengka serta adanya koordinasi. efektif. sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan 109 . yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

pertimbangan. Melihat pada implementasi pendirian BPBD Kabupaten Majalengka. kebutuhan daerah. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan. cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam. potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani. berdasar pengamatan dan realitas yang ada. efisiensi. luas wilayah kerja dan kondisi geografis. maka perlu membentuk peraturan daerah tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Majalengka. Atas kesepakatan. pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas. sarana dan prasarana penunjang tugas. jenis dan banyaknya tugas. dan evaluasi stakeholder pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) maka dibentuk dan diresmikanlah BPBD Kabupaten Majalengka. jumlah dan kepadatan penduduk. efisiensi dan tata kerja dalam penanggulangan bencana mengindikaskan lembaga 110 . antara lain visi dan misi yang jelas. Bahwa dengan ditetapkannya beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang organisasi perangkat daerah serta berdasarkan hasil evaluasi kelembagaan sehingga dipandang perlu melakukan penyesuaian organisasi perangkat daerah di Kabupaten Majalengka. dan efektifitas. Implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menerapkan prinsip-prinsip organisasi. rentang kendali serta tata kerja yang jelas. baik dari segi efektifitas.antara pusat dan daerah.

hal tersebut bisa dilihat dalam kejadian puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Bantarujeg pada tanggal 24 Februari 2011 . Pada saat bencana terjadi hal yang sama. upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat. Bantuan justru baru datang dua hari setelah bencana tejadi. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penanggulangan bencana yang belum terealisasi secara terkoordinasi dan terpadu baik pra bencana. Bisa dikatakan untuk pra bencana. dan akhirnya akan menimbulkan efek pada banyaknya korban jiwa dan kerugian baik materil ataupun non materil. manajemen pencegahan bencana dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. penyadaran dan sosialisasi akan bencana seharusnya diterapkan dan dilakukan jauh-jauh sebelum bencana melanda atau dalam keadaan normal sekalipun. Penyadaran kepada masyarakat terhadap bencana dalam bentuk sosialisai ataupun kegiatan pencegahan lainnya seharusnya menjadi agenda rutin yang harus dilakukan. maupun pasca bencana. Sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. seperti disampaikan oleh Karsa sebagai korban bencana abrasi Sungai 75 75 Berita dari Harian Radar Majalengka pada hari Kamis. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana belum maksimal dilakukan. terutama pada aspek perlindugan masyarakat dari bencana dan pemenuhan kebutuhan pokok korban sangat memperihatinkan. tapi berdasarkan fakta yang ada kegiatan tersbut belum terjadwal dan tersistematis dengan baik. 111 . saat bencana. tidak harus menunggu bencana itu datang. 03 Maret 2011.tersebut kurang berjalan dengan optimal.

Kerangka hukum pendirian BPBD secara tidak langsung menjadi sebuah landasan utama dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Pada dasarnya. setiap agenda kebijakan pemerintah pada tahap agenda setting. yang akhirnya sampai saat ini belum bisa terselesaikan. Relokasi yang direncanakan sampai saat ini belum terealisasi akibat adanya ketidaksepakatan dari korban akan lokasi yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah. para korban beranggapan bahwa lokasi yang direncanakan terlalu terpencil dan tidak layak. Kebijakan relokasi dan rehabilitasi di Blok Klewih Jatitujuh akibat terjangan Sungai Cimanuk menyebabkan 13 rumah roboh mejadi sumber utama konflik tersebut. Hal tersebut mengindikasikan adanya kurang kesiapsiagaan dan kordinasi dari pemerintah daerah khususya BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut. Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sepertinya belum merepresentasikan kepentingan semua elemen dan golongan. atau bisa dikatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mengakomodir semua kepentingan yang ada. Hal tersebut jelas mengindikasikan adanya sebuah ketidaksiapan dan ketidaktegasan dari pemerintah akan kebijakan yang harus ditetapkan dalam penannggulangan bencana alam di daerah tersebut.Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh. Pasca bencana. hal yang menarik adalah adanya sebuah permasalahan yang menyebabkan konflik antar warga dengan pemerintah desa begitu juga dengan pemerintah daerah. sebelum kebijakan tersebut di formulasikan dan kemudian diimplemetasikan seharusnya ada sebuah akomodir dan rangkuman dari setiap pola kepentigan dari aktor dan masyarkat 112 .

Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus penanggulangan bencana yang belum terselesaikan yang berujung pada berbagai konflik yang berkepanjangan. dan menyeluruh belum bisa diwujudkan secara maksimal akibat sektor satu dengan lainnya belum terkordinasi dengan jelas. terpadu. sehingga menjadi issue bersama yang nantinya akan menjadi agenda yang harus direalisasikan menjadi kebijakan yang populis. Kebijakan penanggulangan bencana menjadi sebuah momentum penting yang harus merepresentasikan akan hak masyarakat dalam perlindugan hukum dan keamanan dari bencana.yang terlibat dalam menyepakati kebijakan yang akan dikeluarkan. Tuntutan akan penanggulangan bencana yang terkordinasi. dan pasca bencana bisa terakomodasi dan tertanggulangi dengan baik. 113 . Kebijakan yang dikeluarkan tidak parsial atau hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak. kelompok. atau sebagaian orang saja. Kebijakan pemerintah daerah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dengan adanya pendirian BPBD sampai saat ini belum bisa menjamin kestabilan dan keterpaduan terhadap penanggulangan bencana. Kebijakan yang telah dikeluarkan seharusnya bisa dipahami dan di optimalkan agar kerangka penanggulangan pra bencana. sehingga kebijakan yang ada harus benar-benar menjamin akan kebutuhan masyarkat dan berjalan sesuai dengan peraturan dan fungsi yang telah ditetapkan. saat bencana (emergency respons).

di antaranya melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Salah satunya adalah pelayanan kepada masyarakat maka akan muncul pula stabilitas yang akan berdampak pada sektor publik. Salah satu bukti keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana adalah dengan dibentuknya Badan Penanggulangan 114 . pemerintah wajib menjamin hak asasi warga negaranya.2. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada. Pemerintah pun mempunyai kepentingan langsung untuk menciptakan situasi kondusif dalam menjalankan pemerintahannya. pernyataan tujuan bernegara sudah dinyatakan dengan tegas oleh para pendiri negara dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Bagi Indonesia sendiri.5. kewenangan dan peran pemerintah sebagai badan eksekutif dirasakan amat penting dalam rangka upaya perlindungan dan kesejahteraan rakyat. Pemerintah daerah bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.4. namun secara mendasar pun gagasan awal lahirnya konsep negara. Pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengelola wilayah dan rakyatnya untuk mencapai tujuan dalam bernegara. Ada beberapa alasan mengapa diperlukan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana. Bukan hanya pernyataan tujuan bernegara Indonesia.

dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007. serta masih rendahnya pemahaman terhadap bencana khusunya bencana alam. Kerentatanan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kabupaten Majalengka meliputi terbangunya kawasan rawan bencana menjadi pemukiman. perbukitan. Permasalahan kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya harus mendapatkan perhatian serius dengan adanya peran dari pemerintah daerahnya. Sehingga bencana yang terjadi pun bervariasi dan tentunya dampak yang di akibatkan bencana alam harus segera ditangani secara khusus. yang merupakan realisasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diikuti dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. kepadatan penduduk di daerah rawan bencana. tepat. 115 . cepat. Analisis potensi bencana alam seperti diungkapkan oleh Yuarlina dan Yati selaku anggota Sekretaris Daerah bahwa Kabupaten Majalengka sangat berpotensi terhadap bencana alam. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008. rusaknya tutupan vegetasi di daerah kawasan rawan bencana. hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah patahan bumi dan konstruk tanah yang labil dengan pembagian tiga wilayah yang bervariasi. mulai dari dataran tinggi. Tingkat kemampuan untuk menghadapi bencana di Kabupaten Majalengka masih rendah. hal ini terkait minimnya pengetahuan. dan efisien agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. dan dataran rendah.Bencana Daerah (BPBD) melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009.

tentunya tidak lepas dari penilaian publik.kelembagaan. Tentunya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengaka tidak lepas dari analisis kebencanaan yang menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan bencana. Sejauh ini berdasarkan data lapangan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. 116 . khususnya pada tahun 2010 bisa dikatakan baik. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Majalengka selama tahun 2009 terjadi 67 kejadian bencana alam sedangkan tahun 2010 sampai dengan akhir Agustus di Kabupaten Majalengka telah terjadi 114 kali bencana. Seperti yang di ungkapkan Yati Sumiati dari Sekretaris Daerah bahwa sejauh ini pemerintah daerah sangat memperhatikan dan konsen dalam peanggulangan bencana alam di daerahnya. Melihat sejauh mana peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. Salah satu implikasinya adalah dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). serta sumberdaya dalam penanggulangan bencana. Selain itu menyangkut kebutuhan dan keamanan masyarakatnya agar bisa terlindungi dari ancaman dan kerentanan bencana alam. hal tersebut mengindikasikan adanya sebuah peningkatan kejadian bencana alam dari tahun 2009 ke tahun 2010. seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan. mekanisme kerja.

Korban menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bencana ini.Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 menjadi landasan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Secara legalitas peraturan daerah secara resmi sudah dijalankan dan direalisasikan. yang diakibatkan oleh abrasi Sungai Cimanuk dengan memporakporandakan 13 bangunan di sekitarnya. bahkan bisa dikatakan seperti membiarkan saja tanpa ada perlakuan atau tindakan khusus. Praktek dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sudah dapat terlihat jelas. Pemerintah daerah bersama satuan kerja perangkat daerah mempunyai tanggungjawab dalam mengemban amanah peraturan daerah ini dengan sebaik-baiknya. Secara teknis peneliti masih menyangsikan terhadap eksistensi peran pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. dan sangat berperan dalam penanggulangan bencana alam. seperti dalam penanganan kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi. tentunya dengan harapan bahwa peraturan ini benar-benar memberikan jaminan mutu bagi efektifitas penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Bahkan janjijanji yang disampaian pemerintah daerah kepada korban untuk menjanjikan akan segera datang bantuan baik melalui bantuan materi ataupun relokasi belum 117 . terutama fokus pada penanggulangan bencana alam di daerahnya. Memang secara formal pemerintah daerah melalui satuan kerja perangkat daerahnya mereka mengungkapkan telah melakukan kerja maksimal. Tapi pernyataan tersebut berbanding terbalik ketika peneliti bertemu dengan salah seorang korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh.

Partisipasi aktif masyarakat dan swasta sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. seperti yang termaktub dalam UUD 1945 maupun UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007. tanggap darurat. padahal lembaga ini mempunyai andil besar dalam proses penanggulangan bencana. rehabilitasi dan rekonstruksi (pasca bencana) sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi. tepatnya sekitar bulan Oktober 2010. Walaupun sudah dibentuk lembaga teknis daerah dalam penanggulangan bencana. Hal tersebut mengindikasikan dengan dibentuknya BPBD belum mampu mengefektifkan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. padahal kejadian bencana ini sudah cukup lama. Pemerintah daerah bertanggungjawab penuh terhadap apa yang terjadi pada masyarakatnya.terwujud sampai saat ini. Program-program yang telah di amanhkan dalam konstitusi ataupun undangundang dan peraturan tentang kebencanaan belum dijalankan dan dilaksanakan secara maksimal. tetapi dalam pelaksanaannya jenis dan tingkat bencana masih ditangani oleh mekanisme yang lama (ketanggap daruratan saja). 118 . penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana (pra bencana). Aspek yang perlu dicermati bahwa.

Keberhasilan bupati untuk menelurkan kebijakan tersebut setidaknya di iringi dengan kerangka kerja dan efektifitas bagi berjalannya SKPD dalam pembantuan kinerja pemerintah daerah dan bupati selaku pimpinan daerah. di 119 . “Begitu besar kepedulian bupati terhadap masyarakatnya dalam penanggulangan bencana yaitu dengan bukti membentuk BPBD”.Bupati sebagai pemegang kepemimpinan daerah dalam hal ini memimpin Kabupaten Majalengka mempunyai andil besar dalam segala tindakan dan keputusan yang menyangkut kesejahteraan masyarakatnya. bupati bersama DPRD dan atas kesepakatan SKPD memutuskan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang di dalamnya ada klausal usulan pembentukan BPBD. Penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih. Atas dasar banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Majalengka dan untuk melindungi seta mensejahterakan masyarakat begitu juga dalam menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. karena secara tidak langsung Kabupaten Majalengka mendapat citra positif sebagai kabupaten sadar bencana. Kepedulian bupati terhadap penanggulangan bencana perlu di apresiasi. Kecamatan Jatitujuh dalam perkembangannya terjadi sebuah permasalahan. Sebagimana penuturan yang diungkapkan oleh Sumiati selaku staf sekretaris daerah mengungkapkan. Konteks kejadian bencana alam yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh yaitu dengan adanya abrasi Sungai Cimanuk yang merobohkan 13 bangunan di daerah sekitarnya memberikan alternatif dan prospek keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana alam tersebut. khususnya dalam penanggulangan bencana alam.

paparkan oleh salah satu korban yang bernama Karsa menyatakan, “Respon pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerahnya kurang dan lamban, bahkan untuk bantuan-bantuan yang di janjikan pun belum ada realisasinya”. Hal ini tentunya berimplikasi pada sebuah kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah yang di dalamnya adalah SKPD bersama bupati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bupati selaku orang yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana turut andil dalam proses penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh. Bahkan dalam lawatannya bupati menjanjikan dan menginterupsikan kepada Kuwu Jatitujuh untuk segera mencarikan tanah relokasi bagi korban. Namun hal yang menarik, tanah yang akan dibelikan tersebut justeru di bawah standar dan kurang memenuhi permintaan dan aspirasi dari masyarakat selaku korban. Akhirnya timbul sebuah permasalahan baru yaitu adanya ke engganan korban untuk di relokasi, karena mereka merasa tempat relokasi kurang representatif. Keputusan bupati selanjutnya adalah dengan adanya janji bahwa bupati akan memberikan bantuan kepada korban dengan nominal Rp.1.000.000,00/kepala keluarga, hal ini disampaikan melalui BPBD, namun sampai saat ini belum terealisasi. Korban berpendapat bahwa pemerintah daerah kurang serius dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya, bahkan BPBD yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justeru tidak kelihatan perannya, dan seperti lepas tangan begitu saja. Hal tersebut dibuktikan dalam petikan wawancara dengan korban yang menyatkan bahwa tidak ada sama sekali

120

proses dan upaya bantuan dari BPBD, justeru yang banyak berperan adalah bupati. Indikasinya, bupati menjadi aktor tunggal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, dengan berbagai intruksi dan keputusannya yang satu arah memberikan efek kepada dinas atau SKPD yang bergerak dalam penanggulangan bencana tidak mempunyai posisi tawar. Padahal BPBD bersama dinas teknis lainnnya mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan permasalahan bencana di daerah tersebut. Kasus lain terkait lokasi relokasi korban yang seharusnya ada komunikasi dengan pihak Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dalam penentuan lokasi bersama korban justeru dilakukan satu komando dari bupati. Padahal DBMCK mempunyai wewenang untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan terhadap lokasi yang akan dijadikan pembangunan rumah korban. Implikasinya DBMCK pun tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah terhadap putusan bupati. Konsekuensi dari hal tersebut adalah tumbuhnya bibit konflik antar pemerintah daerah dengan korban. Di satu sisi, peran sekretaris daerah selaku kepala BPBD kurang memberikan daya dukung terhadap penanggulangan bencana yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh. Terbukti adanya sebuah asumsi bahwa sekretaris daerah hanya mempunyai wewenang dalam koordinasi dan fasilitasi dalam penanggulangan bencana kepada organisasi perangkat daerah sebagai lembaga teknis untuk terjun langsung dalam penanganannya. Hal tersebut dipaparkan oleh Yuarlina selaku staf sekretaris daerah, dan secara kontekstual sekretaris daerah bisa dikatakan hanya menerima laporan dan kemudian laporan tersebut dipertanggungjawabkan kepada

121

bupati sebagai laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Sementara untuk wewenang sekretaris daerah belum merepresentasikan tindakan nyata dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. DPRD yang diharapkan memberikan fasilitasi dan kontrol dalam proses penanggulangan bencana merasakan hal yang sama, karena dibatasi oleh kewenangan dalam teknis penanggulangan bencana, maka DPRD pun tidak

mempunyai andil dalam penyelesaian permasalahan ini. DPRD seperti tidak mempunyai bargaining power dalam mengontrol pemerintah daerah, padahal dalam tata aturan yang berlaku DPRD mempunyai hak secara legal formal dalam penyelesaian kasus ini. Bupati seperti penguasa tunggal yang mampu mengendalikan kontrol pemerintahan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan wewenangnya, setiap proses kebijakan yang dikeluarkan oleh bupati kadang tidak memberikan sebuah koordinasi dengan staf dibawahnya. Inilah yang kemudian bisa kita katakan adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sebenarnya tindakan yang dilakukan bupati yang begitu menghegemoni dalam sebuah keputusan dan dan intruksi dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Berdasarkan teori Parsons tentang voluntaristic, tindakan yang dilakukan oleh bupati merupakan perilaku yang disertai oleh adanya upaya subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi (situasional) atau isi kenyataan pada keadaan yang ideal atau yang ditetapkan secara normatif. Terutama yang

berkaitan dengan para pelaku (actor) yang berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari

122

dan keputusan seperti itu sebagai hasil akhir dari pertimbangan parsial terhadap jenis hambatan tertentu. Bupati sebagai aktor utama dan kunci mempunyai mekanisme tindakan sosial dengan berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari berbagai cara. other idea . Tindakan atau keputusan subyektif yang digunakan oleh bupati untuk meraih tujuan dalam penanggulangan bencana atupun tujuan lainnya dalam memperkuat bargaining powernya sebagai kepala daerah. Konsep voluntaristic sebagai sebuah proses pengambilan keputusan subyektif dari para pelaku individual (actor). baik hambatan normatif maupun hambatan situasional. norms. sehingga bupati juga dianggap memiliki beberapa alternatif cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut.berbagai alat cara (means) yang tersedia. Tindakan voluntaristik menurut konsep Parsons mencakup elemen-elemen dasar dengan adanya pelaku yang merupakan pelaku individual (pelaku perorangan) hal ini aktornya adalah bupati. tentunya tujuan yang akan diraih adalah dengan adanya sebuah pencitraan positif bagi aktor dan penanganan bencana secara cepat dan tepat. kondisi dan situasional tertentu. semuanya itu dipengaruhi oleh value. Diasumsikan sebagai orang yang sedang mengejar tujuan (goal). Pencitraan seorang aktor dalam 123 . Intruksi dan wewenang bupati menjadi sebuah mekanisme yang mau tidak mau harus dijalankan dan dipatuhi tanpa ada pertimbangan dan kesepakatan dari stakeholder lainnya. Hal tersebut kemungkina adaya indikasi bahwa bupati dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan situasional yang dengan segera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. salah satunya adalah dengan membuat komando satu atap.

Tindakan sosial yang dilakukan bupati yang bersifat empatik bisa jadi orientasinya berubah menjadi politik pencitraan bagi dirinya. salah satunya adalah sektor swasta dan masyarakat. sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 28 menyatakan bahwa “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagai indikasi konsep good governance seharusnya penanggulangan bencana bisa melibatkan seluruh stakeholder tidak terkecuali sektor swasta dan masyarakat. Bupati yang dominan dan berupaya untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya menjadi indikasi adanya proses transformasi nilai kekuasaan yang memberikan efek kurang baik terhadap jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Majalengka. baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain”. Pola sinergi antar elemen dalam Undang-Undang Nmor 24 Tahun 2007 sebagai sebuah konsep good goverance seharusnya bisa di aplikasikan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab setiap stakeholder di dalamnya. Peran dan potensi masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu 124 . Sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. begitu juga pada pasal 27 point b yang menyatakan bahwa “Setiap orang berkewajiban melakukan kegiatan penanggulangan bencana”. tentunya dalam kasus penanggulangan bencana di Blok Klewih Jatitujuh yang sampai saat ini belum tuntas.meraup kepercayaan dari masyarakat tentunya menjadi titik point permasalahan tersebut.

Lepas dari berbagai kepentingan yang muncul. sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar. ekonomi. 4. 125 .2. reaksi spontan para relawan paling tidak menunjukkan bahwa masyarakat Majalengka masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Potensi-potensi dari sektor swasta dan masyarakat seharusnya bisa memberikan sistem penanggulangan bencana yang lebih efketif dan bekelanjutan agar tercipta ketahanan dan kepedulian seluruh elemen dalam penanggulangan bencana. Pemerintah.1. swasta.menangani bencana.5. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Kenyataan ini juga menggugurkan tesis bahwa moral kolektif bangsa ini telah hancur akibat berbagai fakta suram di ranah sosial. perorangan. dan budaya yang semuanya melemahkan semangat bertahan hidup kita sebagai bangsa. politik. organisasi masyarakat sipil dan masyarakat politik seolah-olah tergerak hatinya membantu para korban. Relasi Kekuasaan Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Rentetan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka menuntut banyak pihak berpikir tentang cara penanggulangannya. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat justeru tidak kelihatan dalam peran sertanya. Begitu juga dengan peran swasta belum secara optimal diberdayakan. Semua pihak bahu membahu meringankan beban para korban.

Permasalahan yang muncul. Konsep perkembangan politisi-birokrat sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusumanegara dapat dijelaskan pada hirarki otoritas supremasi hukum yang berlandaskan politisi sebagai pembuat kebijakan sedangkan birokrat sebagai pelaksana kebijakan. dirasa birokrasi itu sulit. Hal tersebut setidaknya sudah menjadi permasalahan klasik dalam tubuh birokrasi Indonesia. maka politisi berdasarkan kepentingan nilai. Penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya membutuhkan akses birokrasi. yang kemudian kita sebut adanya nilai politis dalam tubuh birokrasi dalam penanggulangan bencana. lama dan kurang profesional. Politisi maupun birokrat selalu ada dalam pembuatankebijakan. yaitu pemerintah daerah dan jajarannya bertindak cepat dan terintegrasi dalam melakukan penyelesaian penanggulangan bencana tersebut. keduanya memperhatikan aspek-aspek politik. namun dengan kontribusi yang berbeda. sedangkan birokrat hanya mengartikulasikan kepentingan para klien yang terorganisir. mengartikulasikan kepentingansecara luas dan para individunya tidak terorganisisir dengan kepentingan yang menyebar. birokrat didasarkan pada fakta dan pengetahuan. kadang birokrasi pun bisa jadi mempunyai kepentingan dan tidak bebas nilai. Politisi maupun birokrat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan. namun perannya sama-sama Politisi berbeda.Birokrasi sebagai agen administrasi dan implementator dalam sebuah kebijakan menjadi sangat penting dalam menyelesaikan dan melayani segala kebutuhan masyarakatnya. Perpaduan politisi 126 . Namun dalam perkembangannya. kadang terjadi benturan antara birokrasi dengan pengguna jasa layanannya. kaku.

Hal ini bisa dikatakan hibrida murni. Tetapi yang terjadi adalah kelahiran fenomena “hibrida murni” antara politisi-birokrat. karena sisi politis dan birokrat tidak bisa bedakan lagi. dengan adanya ekskalasi politis aktor. birokrasi sendiri mengalami namun dilema di yang sisi lain mengakibatkan proses penanggulangan bencana menjadi terhambat. Efek positifnya adalah bupati dengan segera bisa menginventarisir kejadian dan mengintruksikan jajarannya namun di satu pihak juga menimbulkan efek negatif. Secara singkat dapat dikatakan telah terjadi “birokratisasi politik dan politisasi birokrasi”. pada akhirnya menimbulakn efek posistif dan negatif. pemangku kepentingan yang menjadi aktor dalam penanggulangan bencana ini menjadi sulit di elakan. Birokratisasi-politik maupun politisasi-birokrasi menjadi fenomena yang terjadi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. akibat dominasinya bupati dalam masalah tersebut justru mempersulit gerak dan kinerja organisasi perangkat daerah karena kewenangan mereka dibatasi oleh bupati.dan birokrat dalam perumusan kebijakansehingga tidak nampak pembedaan peran politisi dan birokrat dalam kebijakan. karena jajaran birokrasi yang ada semuanya mengandung unsur politis. 127 . Birokrat menjadi tidak memiliki independensi. Tentunya hal ini menjadi sangat ironi di satu sisi korban memerlukan penanganan segera. padahal secara mendasar organisai perangkat daerah mempunyai kewenangan sesuai dengan tupoksinya. dimana bupati yang memiliki jabatan struktur pemerintah daerah mempunyai otoritas dalam urusan penanggulangan bencana alam tersebut.

Soal relasi kekuasaan dalam proses penanggulangan bencana penting untuk diperiksa karena dua sebab pokok. Kesibukan para relawan dan penyuplai bantuan dalam membawa. setiap aktor membentuk dan membangun relasi. partai politik. bencana dan pasca bencana merupakan dua momen yang bisa melahirkan pahlawan dan pecundang sekaligus. kabupaten/kota maupun pemerintah lokal (kecamatan/desa). Merujuk pada pandangan di atas. Dalam mencapai kekuasaan itu. Pertama. Dalam pelaksanaannya. memeriksa para aktor yang terlibat menjadi sangat urgen di sini untuk mengetahui motif. dan agenda aksi mereka. relokasi. 128 . misi dan agenda setting yang dimiliki setiap aktor. Oleh karena itu. Tarik menarik kepentingan para aktor ini terjadi dalam tegangan relasi kekuasaan. Demikian pun. atau atas nama pribadi tertentu di bungkusan luar setiap bantuan merupakan gambaran bekerjanya asosiasi sosial dalam setiap bencana. propinsi. setiap bencana paling tidak melahirkan berbagai bentuk kebijakan baru dalam hal penanganan bencana. Pertarungan kepentingan antar elemen bisa saja terjadi akibat perbedaan visi. maka bisa dimengerti mengapa dalam setiap bencana aktor-aktor melakukan tindakan penanganan bencana alam di Kabupaten Majalengka. tugas penanganan bencana bisa berjalan beriringan mulai dari pemerintah pusat. Kekuasaan merupakan obyek akhir dalam setiap bentuk kebijakan dan aksi bantuan yang diberikan manakala terjadi bencana. kepentingan. berbagai bentuk bantuan yang diberi label tulisan lembaga sosial. mengatur dan mendistribusi bantuan menunjukkan kerja sosial. Kedua. Kebijakan tanggap darurat. pendirian tenda setidaknya menggambarkan kerja pemerintah daerah dalam setiap bencana.

Inilah yang disebut bahaya relasi kekuasaan dalam penanganan bencana. aktor-aktor tersebut membentuk semacam pola relasi dalam setiap penanggulangan bencana. bisa saja akan membentuk jaringan kekuasaan baru yang justru memancing di air keruh-mencari keuntungan sosial.Sebagaimana diterangkan di atas. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa setiap kali bencana terjadi di negeri ini. Setiap relasi kekuasaan. Dalam perspektif komunikasi politik. tetapi mirip arena kampaye dan promosi. tetapi juga sebagai peristiwa politik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Problem dasar kemudian adalah aktor tersebut memiliki agenda setting yang eksplisit memiliki visi. Fenomena yang berkembang dalam setiap penanganan bencana. tentu dapat dijelaskan. secara kasat mata dapat dilihat maraknya simbol-simbol politik telah menjadikan lokasi bencana bukan lagi ajang berbakti menolong sesama. dan ekonomi sesaat. Pertimbangannya jelas. Setiap aktor yang terlibat mesti diperiksa. peristiwa bencana alam tidak saja dimaknai sebagai peristiwa bencana. sering diikuti oleh beragam gejala ikutan termasuk politisasi bencana. Memang. tidak untuk mencurigai tetapi sekadar mengingatkan semua pihak bahwa pada setiap momen duka seperti itu setiap aktor sebetulnya sedang membangun relasi kekuasaan. termasuk bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka. jika tidak dikontrol. politik. hal ini sangat jelas telah terjadinya perilaku politisasi dan komersialisasi bencana. maraknya simbol-simbol politik dan hadirnya para aktor politik ke lokasi bencana. 1) Bagi aktor politik. sebagai peristiwa yang 129 . yakni memberikan bantuan sosial bagi korban.

menarik perhatian masyarakat dan memiliki nilai berita sangat tinggi dapat menjadi media komunikasi politik yang efektif untuk pembentukan citra politik. Relokasi tersebut sebenarnya atas dasar usulan Dinsosnakertrans kepada Kementerian Sosial yang akhirnya terealisasi dengan membangun 258 rumah korban. Pemberitaan yang dilansir di media cetak seolah-olah yang berperan besar dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti adalah bupati. Di sinilah. Pencitraan yang dilakukan bupati dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka merupakan bentuk akselerasi politik yang mengindikasikan adanya kepedulian bupati terhadap korban. Seperti yang di ungkapan oleh Mayor Edi Supriadi dari Koramil Siliwangi menyatakan. “Relokasi korban di Desa Sidamukti ini sedang membangun kembali rumah korban sebanyak 258 unit”. seperti dilansir dalam sebuah harian Radar Majalengka yang menyatakan dalam sebuah petian berita bahwa bupati dengan pemerintah daerahnya sadar akan bencana di Kabupaten Majalengka. Hal tersebut menjadi kabar berita baik dengan adanya pemberitaan dari media cetak. tapi banyak aktor lain yang berperan dalam penanganan bencana alam di Desa Sidamukti. keberadaan dan liputan media berlatar bencana alam dapat menjadi front stage aktor politik menampakkan eksistensi diri. tentunya mengindikasikan adanya sebuah kepekaan sosial dari pemerintah daerah atas nama bupati terhadap korban. Pemberitaan tersebut pada akhirnya menutupi akselerasi atau kontribusi aktor lainnya. Namun berbeda halnya dengan kasus penanganan bencana di Blok 130 . Padahal sebenarnya yang berperan dalam penanganan bencana tersebut tidak hanya satu aktor.

pemberitaan media massa justeru mengindikasikan adanya sebuah pemutar balikan fakta. 131 . dan janji-janji bantuan lainnya. Di sisi lain.Klewih Jatutujuh yang terkena dampak abrasi Sungai Cimanuk. Akibat ketidakjelasan penurunan bantuan dan relokasi berdampak pada pertentangan antara korban dengan pemerintah lokal (desa dan kecamatan). Sementara FPBAC lambat laun mulai mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan janji-janjinya terhadap hak-hak korban. aktor yang berperan dalam penaggulangan bencana di daerah tersbut lagi-lagi mempunyai berbagai kepentingan dan maksud tersendiri. yang menganggap bahwa semua permasalahan ini yang berperan aktif seharusnya pemerintah desa dan kecamatan. Dalam perkembangannya. relokasi rumah korban. Kunjungan bupati untuk meninjau langsung ke lokasi bencana yang berjanji akan segera merealisasikan bantuan dan relokasi untuk korban menjadikan korban merasa gembira atas perhatian lebih dari buaptinya. Tetapi di sisi lain. keberadaan korban bisa dikatakan terlantar akibat tidak adanya kepastian dari pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuannya. segala janji-janji yang telah disampaikan sampai saat ini belum ada kejelasan. Seperti halnya dengan eksistensi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut tidak luput dari sebuah ekskalasi politis. Mulai dari adanya janji-janji akan menurunkan bantuan. Padahal sesuai dengan pemberitaan dari media massa mencuplikan terkait kepekaan bupati dan pemerintah daerah dalam penangggulangan bencana di daerah tersebut. dimana FPBAC ini dianggap sebagai provokator dan hanya menghalangi proses jalannya penanganan bencana di daerah tersebut.

pola kerjanya mengedepankan peranan media dan kecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagi praktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol. aktor politik pun tidak luput untuk memanfaatkan ruang tersebut menjadi medium legitimasi kekuasaan dengan mekanisme baru pada ranah politik. Kasus ini menjadikan efek buruk bagi pencitraan aktor yang terlibat ketika fakta-fakta tersbut terungkap. sehingga apa pun yang terjadi akan menjadi perhatian publik.Pemberitaan tersebut dibantah oleh Syarifudin selaku kordinator FPBAC. maka nilai publikasi politik yang menyertai pemberitaan bencana akan sangat tinggi. Kedua unsur tersebut dikonstruksi sebagai arena yang terpisah 132 . Dalam perspektif ini. Lokasi bencana dengan cepat menjadi perhatian masyarakat dan sorotan media baik lokal. secara fakta FPBAC justeru sangat membantu korban dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah lokal ataupun daerah. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terbukti turut berpengaruh dalam membuka relasi kekuasaan dan kekerasan tersebut menjadi ruang yang seolah-olah tidak sebuah mengandung kepentingan. Dalam era globalisasi teknologi sekarang ini. Bahkan FPBAC memberikan bantuan dan donasi atas inisiatifnya dengan mencari dana di luar pemerintahan. nasional maupun internasional. yang menganggap bahwa FPBAC adalah korban sebagai “kambing hitam” oleh media. Pencitraan positif seorang aktor akan terus berjalan sebagai strategi yang ampuh dalam meraup dukungan publik secara luas. yang memungkinkan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi begitu deras masuk di setiap bidang kehidupan.

Maraknya simbol-simbol politik di lokasi bencana secara sadar atau tidak. sedangkan manusia memperebutkan lambang dan simbol sebagai wakil dari makanan dan kepemimpinan”. Bagi yang mampu memegang simbol maka ia dapat mengejewantahkan dirinya seperti apa yang disimbolkan. di mana simbol sebagai kekuatan abstrak memiliki sumber daya yang ampuh dalam mencipta kebenaran. memberikan bantuan. Saat ini hubungan antara kekuasaan dan kekerasan tidak lagi dalam bentuk gerak fisikal melainkan bekerja dalam arena representasi. Mulai dari hanya untuk melihat.dan tidak bersinggungan. sebenarnya telah terjebak pada perang eksistensi dan dominisasi politik yang pada ujungnya adalah tidak lepas dari soal kepemimpinan. menyampaikan rasa empati. Jika demikian halnya. “Salah satu perbedaan antara manusia dan binatang adalah kalau binatang bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan makanan dan kepemimpinan. mondar mandir mengibarkan bendera. tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran para pihak termasuk aktor politik di lokasi bencana adalah suatu tindakan sosial yang tentu memiliki beragam motif. Ia memiliki wewenang untuk menjadikan simbol itu nyata dan mendapatkan pengakuan bahwa aktor politik tersebut memiliki 133 . 2) Mengacu teori tindakan sosial. Mengacu pandangan yang dikemukakan Hayakawa (1974) bahwa. Perang lambang merupakan cermin kemanusiaan yang lekat. aktor politik bisa menjalankan praktik kekuasaannya atas nama simbol yang ia ciptakan sendiri. sampai dengan motif sebagai bentuk tanggung jawab atas sebuah musibah yang terjadi pada masyarakatnya.

Sementara FPBAC menyatakan hal itu hanyalah sebatas komitmen mereka terhadap korban untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi korban terhadap janji-janji pemerintah daerah dalam penuntasan penanganan bencana di daerah Blok Klewih Jatitujuh tersebut. pemerintah daerah menganggap ada sebagian warga yang dipelopori oleh Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) sebagai profokator dalam penuntasan bencana di daerahnya. Dalam dunia politik. operasi kerja kekuatan simbol tak bisa dilepaskan dari struktur atau aktor politik yang berkepentingan mengkonstruksi realitas.mandat untuk bertindak sesuai dengan karakter yang disimbolkan. Simbol mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas. Bencana yang terjadi dijadikan ladang politik empatik yang akhirnya akan berubah pada politik kulit. digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelompok mana yang disebut sebagai provokator dan bukan provokator. Dalam wacananya. ada sebuah alasan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam penaganan bencana dan hanya berorientasi pada sebuah politk empatik dengan janji-janjinya. Sikap empatik 134 . penilaian. Hal tersebut di dasarkan pada hasil penelitian yang menunjukan pemerintah daerah merasa tertekan dengan adanya gugatan-gugatan ataupun aspirasi yang disampaikan FPBAC yang dirasa hanya memperburuk keadaan dalam proses penanggulangan bencana di daerah tersebut. Wacana penuntasan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. Kekuatan itu tersimpan dalam proses kategorisasi. Selain itu. dan pemaksaan ide-ide tertentu kepada obyek yang menafsirkan simbol. namun janji-janji tersbut tidak terbukti di realisasikan kepada korban.

yaitu Badan Nasional Penanggulangan 135 .2. Sebelumnya.2. seperti bencana dalam skala besar pada umumnya pimpinan pemerintah daerah mengambil inisiatif dan kepemimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai satuan kerja yang terkait. Dalam kondisi tertentu.5. UndangUndang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB). Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diamanatkan untuk dibentuk badan baru. Rangkaian bencana yang terus terjadi mendorong berbagai pihak termasuk DPRD Kabupaten Majalengka bersama pemerintah daerah untuk lebih jauh mengembangkan kelembagaan penanggulangan bencana dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD). dan Peraturan Kepala (Perka) BNPB tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Sistem penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka didasarkan pada kelembagaan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. 4.pemerintah daerah terhadap korban setidaknya menjadi sebuah pencitraan posistif bagi pemerintah daerah dan aktor tertentu dalam meraih empati dari masyarakat dalam menjaga kestabilan kepemimpinan dan kekuasaannya yang legitimate. penanggulangan bencana dilaksanakan oleh satuan kerja yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) penanggulangan bencana.

yaitu: a) Pada beberapa daerah. karena dianggap bencana besar belum terjadi maupun bila bencana besar sudah terjadi tidak akan terjadi lagi dalam jangka waktu dekat. Hal ini menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan seperti yang dijelaskan di bawah ini: Tabel 11. usulan tersebut tidak menjadi prioritas. Matrik Perbandingan Kelembagaan Satkorlak-Satlak & BPBD Sumber: Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia Dalam kaitan dengan pembentukan BPBD seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana. 136 . pemerintah daerah mengemukakan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat. pemerintah daerah telah mengambil inisiatif untuk mengajukan usulan pembentukan BPBD namun dalam proses pengambilan putusan bersama dengan DPRD. antara lain.Bencana (BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas-PB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggantikan Satkorlak dan Satlak di daerah. b) Beberapa pengambil kebijakan di daerah tidak merasakan adanya kebutuhan pengembangan kelembagaan penanggulangan bencana baik.

maka terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia khususnya di Kabupaten Majalengka. karena BPBD sebagai perangkat Daerah akan tunduk kepada Kepala Daerah dan Anggaran Daerahnya masingmasing. e) Proses seleksi anggota Unsur Pengarah untuk BPBD kabupaten/kota juga memakan waktu lebih lama. Peraturan ini setidaknya mampu memberi keamanan bagi masyarakat dengan cara penanggulangan bencana dalam hal karakeristik. g) Fungsi koordinasi antara BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota akan cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. karena kualitas SDM yang sangat terbatas. f) Fungsi “Pelaksana” dari BPBD punya kecendrungan untuk berbenturan dengan fungsi dinas-dinas teknis lainnya yang terkait dengan bencana. apalagi jabatan “kepala BPBD” dirangkap oleh Sekda yang beban kerjanya sendiri sudah cukup banyak. d) Tidak semua daerah bersedia membentuk BPBD dimana “Sekdanya” merangkap jabatan (benturan eselonisasi). dan kewenangan dalam mengintervensi kebijakan Unsur Pelaksana (dan kaitan lembaga teknis lain) yang belum terdeskripsi.c) Dengan status lembaga setingkat dinas di daerah (BPBD). banyak dinas yang meragukan pelaksanaan tata komando ketika terjadi bencana dapat terlaksana secara efektif di lapangan. 137 . Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. serta sistem penggajian yang belum jelas. frekuensi dan pemahaman terhadap kerawanan dan risiko bencana.

pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas.Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman. akan tetapi meliputi proses yang 138 . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Majalengka yang secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan dan program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan. saat bencana maupun pasca bencana. pemulihan dan rekonstruksi. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat. tanggap. Peningkatan kapasitas SDM (capacity building) guna penguatan kapasitas kelembagaan dan penyiapan daya dukung penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terukur dan terencana sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih parah. dan profesional sesuai dengan standar internasional. mitigasi. Pemerintah daerah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Kabupaten Majalengka bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana. Grand desain diperlukan dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan standar penanganan bencana yang cepat. Program kegiatan yang tercantum dalam RAD PRB merupakan rencana tindak yang akan dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu dan komponen pelaksana yang telah ditetapkan dalam rangka pengelolaan kebencanaan. tanggap darurat.

efisien dan menyeluruh. pentingnya pemetaan daerah rawan bencana. khususnya kemampuan pengelolaan bencana. yaitu mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi. Berbagai stakeholder dan pemerintah daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana harus memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut. dan rehabilitasi masih sering tersendat bahkan tidak jelas penanganannya. pelatihan penanganan bencana yang berbasis komunitas dan pemulihan sosial pasca bencana. pemerintah harus mengoptimalkan peran partisipatif dari seluruh stakeholder bencana. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain. Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. Dengan strategi yang tepat. Berkaitan dengan proses mitigasi.lebih luas. penerbitan modul dan sistem informasi dalam penanganan bencana. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara efektif. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. diharapkan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam menanggulangi bencana secara efektif. Pemerintah daerah dapat lebih berperan pada tahap prabencana dan mampu mengembangkan kesiagaan bencana di daerahnya. Perlu dicermati bahwa lembaga yang menangani bencana dapat menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan menyangkut domain tugas dan 139 . Dengan pola kerjasama yang sinergis. khususnya pada tahap mitigasi. rekonstruksi.

BPBD harus menggariskan secara jelas tetang tugas dan wewenangnya. Jelas terlihat di lapangan bahwa perlunya sinergi antar dinas berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan di berbagai bidang. pada saat bencana. sehingga belum 140 . baik itu prabencana. Peneliti melihat dalam aspek penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka belum ada mekanisme integrasi Rencana Aksi Daerah & Pengurangan Resiko Bencana (RAD-PRB) ke dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka. dan rehabilitasi & rekonstruksi.tanggung jawab dalam penanggulangan bencana. dan pelaksana. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. seperti yang diungkapkan oleh Hardi bahwa sesuai dengan tupoksi BPBD mempunyai tiga fungsi. koordinasi. Hal ini harus dikelola dengan baik dan perlu dibangun format komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga tidak menjadi masalah baru dalam proses penanggulangan bencana. Koordinasi juga perlu ditingkatkan dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang juga melaksanakan tugas kebencanaan dengan menghimpun dan menyalurkan sumber daya dan bantuan bagi penanggulangan bencana. tindakan tanggap darurat. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya dari akibat bencana. tindakan-tindakan kesiap-siagaan. yaitu fungsi komando. Fungsi-fungsi yang dimiliki ini tentunya menjadi landasan dalam operasional dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka lebih terkoordinatif. dan pasca bencana.

dan menyeluruh dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. tentunya dalam penanggulangan bencana alam. “Untuk sampai saat ini pengalokasian dan perencanaan penanggulangan bencana di dasarkan atas keputusan musrembang. Dengan memperkuat basis kontrol untuk menjaga alur sinergitas stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana bisa memberikan dampak positif terciptanya alur sinergi yang lebih efektif. Data di lapangan. Sehingga mengakibatkan adanya penafsiran yang berbeda dalam standarisasi penanggulangan bencana. Aspek penting lainnya adalah.dijadikan acuan dalam menyusun program dan kegiatan terkait dengan kebencanaan. hal ini di mengindikasikan belum masifnya sosialisasi tentang standarisasi penanggulangan bencana di dinas-dinas terkait dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. yang artinya masih menggunakan pedoman lama. lembaga legislatif yaitu DPRD Kabupaten Majalengka yang mempunyai wewenang terhadap kontrol penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam penanggulangan bencana seharusnya lebih peka untuk menjalankan fungsinya. ketika proses penanggulangan bencana masih dipimpin oleh Satlak PB. Masih banyaknya pedoman teknis tersebar di berbagai dinas dan sektor yang belum memiliki kesamaan standarisasi. dan belum ada keputusan dalam dokumen RPJMD mengenai perencanaan penanggulangan bencana”. efisien. 141 . lembaga legislatif Kabupaten Majalengka masih lemah dalam hal kontrol kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan.

tanpa kemudian memberdayakan masyarakatnya. dasarnya prinsip pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pada pasal 27 menyatakan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: a) menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis. keserasian. sehingga tidak ada gerakan nyata kesinergisan antar elemen stakeholder dalam penanggulangan bencana. saat tanggap darurat serta periode pasca bencana. dari sisi pemerintah dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan kerangka hukum (legal framework) untuk tindakan penanggulangan yang mencakup masa sebelum bencana. tindakan-tindakan kesiap142 . Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana setidaknya akan merubah paradigma tentang pelayanan publik (public service) oleh birokrasi ke arah pemberdayaan masyarkat (empowerment). dan c) memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana”. dan secara otomatis hanya mengandalkan komando dari pemerintah. keselarasan. Prinsip penanggulangan bencana yang dilakukan di Kabupaten Majalengka masih menjalankan prinsip Pada pelayanan. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa berpadu dalam usaha penaggulangan bencana. memelihara keseimbangan. Indikasi tersebut bisa dijelaskan dengan pasifnya dan kurangya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana.Permasalahan selanjutnya adalah pemerintah dalam pelaksanaan penaganan bencana masih mengedepakan konsep pelayanan. b) melakukan kegiatan penanggulangan bencana. dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. Secara sederhana.

Dari sisi masyarakat. ekonomi. kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak sarana dan prasarana publik yang ada.3. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya akibat bencana.5. Ketika bencana muncul. masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar. Hal ini sejalan dengan pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari perlindungan masyarakat sebagai perwujudan kekuasaan pemerintah kepada perlindungan sebagai hak azasi. Terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dapat menimbulkan 143 . baik secara sosial. Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). 4. pengungsian. Hal demikian tentunya pantas untuk dipedulikan. bahkan politik. psikis. dan lain-lain. sisi pentingnya adalah memberikan pelindungan dan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman bencana. Bencana alam telah menimbulkan korban jiwa. tindakan tanggap darurat.siagaan. ketidaknormalan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pelaksanaan pembangunan. Politik Anggaran Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Majalengka merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas kejadian bencana alam cukup tinggi. mengingat akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana alam memiliki dampak yang luas.

sistem penganggaran kebencanaan di Kabupaten Majalengka tidak masuk dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). untuk 144 . juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan tidak terkoordinir dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan di lapangan. “Alokasi anggaran untuk kebencanaan tidak dimasukan dalam APBD dan Rencana Aksi Daerah (RAK)”. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terkena bencana sangat bernilai tinggi dan bermanfaat. Sekelumit paparan di atas adalah indikator pemerintah daerah dalam fungsi anggaran kebencanaan. Dalam konteks ini. Beliau berasumsi. Persoalan lainnya yang sering terjadi yaitu ketika suatu bencana terjadi. Berbagai persoalan dan permasalahan di atas disamping membutuhkan organisasi yang mampu mengkoordinasikan dan mengelola bantuan sehingga bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkannya. Semua ini secara mendasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan tegas.masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil. Tidak sedikit yang memandang bahwa bantuan memiliki sisi-sisi negatif yang dapat mengganggu keleluasaan (privacy) dan harga diri masyarakat bersangkutan. sesuai dengan pernyataan Iwan Tundjiawan dari Bappeda Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa. secara sederhana bahwa pemerintah daerah harus menjalankan politik anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor policy) khususnya dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya.

Terlepas dari penilaian sejumlah pihak bahwa RAPBD tersebut bersifat defensif dan kurang ekspansif. anggaran tersebut harus dijaga dan dijauhkan dari praktik pengelolaan anggaran yang salah urus dan korupsi. Pemda. dan alternatifnya adalah alokasi untuk kebencanaan dimasukan dalam alokasi dana tak terduga atau dana taktis pemerintah daerah. transparansi.00/kepala keluarga. Alokasi dana yang harus segera turun ke tangan korban dalam bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh sampai saat ini belum terealisasi. dan DPRD sangat diperlukan dalam pengalokasian dan pendistribusian anggaran bagi kebencanaan agar tepat guna dan berdaya guna serta tepat sasaran. begitu juga dengan 145 .1000. Kompetensi.000.kejadian bencana alam. integrasi. Komitmen yang tinggi dari Dinas Keuangan. korupsi akan dapat dihilangkan dan pelayanan publik kian meningkat. karena sifatnya situasional dan bisa terjadi kapan saja maka kurang etis ketika ada sebuah penganggaran untuk kebencanaan. Selanjutnya. Jika mampu diwujudkan. koordinasi. dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mutlak diwujudkan. Padahal pemerintah daerah sudah menjanjikan kepada korban akan memberikan bantuan Rp. dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah beserta instansi di bawahnya dalam pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU). Demi menjamin kepastian bahwa anggaran untuk kebencanaan dapat diimplementasikan secara nyata dan baik. apresiasi yang tinggi tetap harus kita sampaikan kepada pemerintah daerah karena sudah berani untuk mendirikan sebuah lembaga kebencanaan di daerahnya. dan akuntabilitas pengelolaan anggaran yang dilakukan segenap aparatur pemerintahan daerah di uji.

1.284. 1.00 dan belanja tidak langsung Rp.716.357. Realisasi dari belanja langsung adalah Rp.627.000. Porsi belanja aparatur dalam APBD lebih banyak daripada belanja publik sehingga alokasi anggran untuk kebencanaan masih jauh dari harapan rakyat.985. 72.284.057. Politik anggaran Kabupaten Majalengka belum berada dalam arah yang benar.985. pemerintah daerah dihadapkan pada polemik yang terjadi antara pemerintah kecamatan dan desa yang bersitegang dengan masyarakat.000.00.000.00 = Rp.Rp.309. khususnya untuk pendanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Joyo selaku sekretaris BPBD bahwa untuk anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 mencapai Rp.013.00 + Rp. Alokasi belanja daerah ternyata lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat.327. 72.584.27.627.349.00.584.129.571.087 dan belanja tidak langsung Rp.057.000.00.129.00 . 1. yang dilatar belakngi kelambanan dan kurang pedulian dalam penanganan bencana di daerahnya. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka tahun 2010. Selain itu.349. karena pada dasarnya korban membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk segera menanggulangi segala permasalahannya.00 -1. Seharusnya sisa anggaran dari belanja langsung dan tidak langsung Rp. 1.309.00 dan sisa dari beanja tidak langsung adalah Rp.584. 2.087 = Rp. 146 . 1.00 dengan rincian untuk belanja langsung Rp. Sisa dari belanja langsung adalah Rp.479. 1. 1. Tentunya merupakan masalah yang serius untuk segera dicarikan solusinya.menjanjikan adanya relokasi bagi para korban. 40.013.571.400.

5. Fata yang ada sebenarnya sisa anggaran penanggulangan bencana tahun 2010 mencapai angka ratusan juta yaitu Rp.000.000.000. 44.000. Kasus lain adalah dalam mekanisme aggaran kegiatan “Peningkatan Keterampilan.425.000. dengan menggunakan sumber dana APBD. 112. 65.00/Kepala Keluarga.929.929. Kesiapsiagaan dalam Penangguangan Bencana” yang dilaksanakan pada triwuan I sampai dengan triwulan III.40. Seharusnya dengan sisa anggaran tersebut setidaknya bisa merealisaikan tuntutan dari korban untuk meberikan jaminan yang telah dijanjikan oleh pemerintah daerah melalui BPBD yaitu.450.000. masih ada sisa anggaran yaitu Rp.043.00 = Rp.00.716. namun rincian perhitungan pengeluaran justeru lebih banyak pada belanja pegawai dan honorarium PNS dengan anggaran Rp.043.00 = Rp. Transparansi sisa anggaran tersebut.00 – Rp. 112.00.929. Bahkan jaminan ganti rugi tersebut direalisasikan. Jumlah total anggaran belanja langsung sebesar Rp.000.357.00. Rp. belum tahu keberadaannya yang hingga samapi saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar.000.043. 112. sangat timpang dengan pengeluaran barang dan jasa hanya 147 . dan ini merupakan sisa anggaran dalam jumlah yang masih besar. 5. dengan asumsi 13 KK x Rp.000.00. sehingga untuk penanganan relokasi dan batuan darurat belum bisa direalisasikan dan dimaksimalkan.043. 47.000.929.00.000. 65. 106. hal tersebut menjadi ironi ketika dibandingkan dalam penuntasan kasus bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blo Klewih.00 dan Rp 24.00 secara tertulis sisa anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 dimasukan dalam klausal anggaran tahun 2011. Kecamatan Jatitujuh yang menyatakan bahwa BPBD dan pemerintah daerah terbatas anggaran dana.00 adalah Rp.850.

seharusnya kegiatan tersebut bisa di optimalkan dengan anggaran yang begitu besar. formulir DPA SKPD 2. Anggaran kebencanaan yang habis untuk kegiatan penanggulangan pra bencan dengan indikasi-indikasi adanya sebuah belanja kebencanaan yang kurang representatif yaitu habis untuk belanja dan honorarium pegawai.575. tahun anggaran 2010. karena lebih banyak pengeluaran pada belanja pegawai dan honorarium PNS. maupun setelah bencana bisa terakomodasi dengan baik. Tentunya proses anggaran tersebut menjadi tanda tanya besar. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai kapasitas dalam peningkatan keterampilan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana.000. saat bencana. bisa dikatakan komitmen pemerintah daerah masih kurang dalam penanggulangan bencana dan belum terarah dengan jelas terhadap urgensitas atau pentingnya manajemen dan pola penangulangan bencana alam di daerahnya. 76 Padahal anggaran untuk kebutuhan penanggulangan bencana memerlukan alokasi dana besar. 61. dalam hal ini adalah intruksi membentuk BPBD.mencapai Rp. 76 Lihat dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka. Pemerintah daerah seakan hanya menjalankan kebijakan pemerintah pusat.1 148 . padahal sistem penanggulangan bencana penganggaran untuk penanggulangan bencana mempunyai anggaran dengan nominal yang cukup besar. Sementara akomodasi-akomodasi terhadap implementasi belum berjalan dengan baik. namun realita berkata lain justeru anggaran tersebut lebih banyak tersedot pada ha-hal yang kurang penting. Proses tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi kerentanan bencana alam baik pra bencana. apalagi ketika melihat anggaran yang sudah direalisasikan cukup besar.2.00 .

Anggaran yang dikeluarkan oleh BNPB.Sistem anggaran penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka mempunyai indikasi-indikasi adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaannya. maupun daerah justeru disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Politik anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. Dengan relatif kecilnya pendapatan asli daerah (PAD). Hak-hak masyarakat menjadi skala prioritas akan perlindungan dari bencana dan keberpihakan terhadap kesejahteraan terhadap korban. dan provinsi. kota. ternyata belanja aparatur lebih dominan daripada belanja publik. Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RAD. terutama DAU untuk daerah miskin dan DBH untuk daerah yang kaya dengan sumber daya 149 . Transparansi pengelolaan anggaran seharusnya dipertanggungjawabkan kepada publik terhadap apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata. Konsekuensi dari politik anggaran ini adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar terhadap birokrasi. Di hampir semua kabupaten. mayoritas pemda amat bergantung pada dana transfer pusat ke daerah. APBD Provinsi. Ketidakjelasan dan kurangnya transparansi dari pemakaian annggaran dana penanggulangan bencana pada tahun 2010 mengindikasikan adanya korupsi di tubuh lembaga. Politik anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai. Seluruh lembaga dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlu didorong untuk mengingkatkan penerimaan dan melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Pola belanja APBD juga tidak jauh berbeda. atau pun bisa jadi adanya sebuah kongkalikong antar aktor yang terlibat.

Daerah otonom baru ini dinilai menimbulkan banyak masalah. Di sisi lain. 77 Mudjarad Kuncoro. membangun gedung Pemda dan DPRD. akan memberikan jaminan bagi korban dan keberlangsungan penanggulangan bencana. 164 kabupaten baru. Akibatnya. DPRD konsisten melaksanakan fungsi legislasi. anggaran. yaitu keberpihakan atas korban. Adapun sistem peradilan menjamin penegakan hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Alokasi anggaran daerah diarahkan untuk pengembangan penanggulangan bencana. Dari sisi APBD dapat dipastikan bahwa alokasi belanja akan banyak dialokasikan untuk belanja aparatur. Pemerintah menyiapkan skenario berkewajiban kebijakan anggaran yang 77 bersifat ideologis. 399 kabupaten dan 98 kota. dan semua yang berkaitan dengan menghidupkan mesin birokrasi baru di daerah . dan 34 kota baru. Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka adalah bagaimana alokasi anggaran bencana yang dilaksanakan dapat berproses secara partisipatif yang melibatkan partisipasi rakyat dan bersifat responsif serta berpihak kepada hak dan kepentingan korban. dengan demikian. Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan 205 daerah otonom baru meliputi 7 provinsi baru. Porsi terbesar penggunaan DAU lagi-lagi dihabiskan lebih dari 60-90% untuk belanja pegawai. dan pengawasan terhadap implementasi kebijakan anggaran yang dilakukan pemerintah daerah. Indonesia kini memiliki 33 provinsi.alam. seperti gaji pegawai. file:///F:/elitis/t666- 150 . Politik Anggaran Pro Rakyat atau Birokrat.

151 .htm diakses pada tanggal 26 Juni 2011.politik.anggaran-prorakyat-atau-birokrat.

Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini. arah dan komitmen politik legislatif dan eksekutif daerah dalam pembuatan kebijakan publik dan kebijakan-kebijakan sektoral belum dapat dioperasionalkan secara efektif dengan melibatkan semua aktor. dan ekonomi justru menimbulkan sebuah konflik secara vertikal maupun horizontal. hal ini erat kaitannya dengan dukungan. 2) Peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka belum menunjukan sebuah kontribusi yang maksimal.BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5. sehingga sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana belum terwujud. 152 . juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. karena belum adanya kejelasan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. politik.1. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan daerah dalam penanggulangan bencana (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009). Relasi kekuasaan dan adanya politisai anggaran dalam penanggulangan bencana dengan mencari keuntungan sosial. 3) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi beban poltitk karena terjadi proses hibrida murni “politisasi-birokrasi dan birokratisasi-politik”.

Mencermati hal tersebut maka peneliti merangkum beberapa implikasi dalam penelitian ini. Partisipasi aktif masyarakat sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. dan masyarakat perlu duduk bersama dan merumuskan langkah-langkah konkrit. Implikasi Menanggapi berbagai permasalahan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah.5.2. menjadi kebutuhan saat ini untuk melakukan pengaturan wadah yang mencerminkan tatanan otoritas. Dengan strategi yang tepat. maka pemerintah daerah yang mempunyai peran vital dalam hal tersebut bersama stakeholder lain. 2) Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. fungsi dan tanggung jawab perangkat-perangkat pemerintahan untuk secara komprehensif menangani bencana. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. yaitu: 1) Revitalisasi kelembagaan. Aspek kelembagaan ini sepatutnya juga didukung dengan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara 153 .

154 . akan tetapi dilakukan secara alami. humanis dan ikhlas. 4) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana hendaknya tidak menjadi beban politik. 5) Perlunya regulasi yang mengatur keterlibatan para pihak khususnya partai politik dalam penanganan bencana. kelembagaan serta mekanisme harus membuka akses untuk peran serta masyarakat luas. semua aspek penanggulangan bencana. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. mulai dari kebijakan. Dalam kaitan ini. serta dunia usaha.efektif. 3) Penanggulangan bencana tidak hanya sebagai tanggung jawab pemerintah semata tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). Hal ini dimaksudkan agar setiap kali terjadi bencana tidak dijadikan sebagai peristiwa dan obyek politik. Dalam konteks demikian keberadaan lambang dan simbol-simbol politik menjadi sangat tidak relevan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful