BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapi sudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganan kasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat para korban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak dari kemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringan yang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalam bentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah . Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulangan
1

bencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan

1

Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011

1

sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran dan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi dan rehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para

2

pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana . Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulangan bencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasional mencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahui sejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana di daerah. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b) pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dari BPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)
2

2

Sulis Setyawan, Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011

3

serta rekonstruksi secara adil dan merata. g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. Cikijing dan sekitarnya secara geografis merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan lokasi yang terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian 3 3 Hasil wawancara dengan Bapak Iyus Kepala Bagian Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Talaga. Berbicara tentang wilayah rawan bencana di Indonesia. e) Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya. wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Maja. rehabilitasi. f) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. penanganan darurat. Tengah. terencana dan menyeluruh. pada tanggal 20 Januari 2011. dan Utara . h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. dan menginformasikan peta rawan bencana. c) Menyusun. d) Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. menetapkan. 4 . Bantarujeg. Kabupaten Majalengka merupakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam yang ditetapkan dalam tiga wilayah pengembangan bencana Selatan. b) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan. serta i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan bencana secara terpadu. Pasal 21 dijelaskan tentang tugas dari BPBD antara lain: a) Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan badan nasional penanggulangan bencana terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana. Pertama.

Rajagaluh dan sekitarnya merupakan daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-400 meter dpl yang merupakan daerah rawan angin puting beliung. kebakaran 4 kali. setiap tahunnya daerah ini sering mengalami bencana tanah longsor. Kedua. Sedangkan untuk korban jiwa (luka ringan 7 orang. Sukahaji. Ketiga. Bulan Januari terjadi 20 kali kejadian (longsor 9 kali. Ligung dan sekitarnya merupakan wilayah yang rawan bencana tanah longsor. banjir 2 kali. wilayah Tengah yang meliputi Kecamatan Majalengka Wetan. kebakaran 18 kali. banjir 1 kali dengan korban luka 1 orang. Angka kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 per Agustus telah terjadi 104 kejadian (longsor 44 kali. wilayah pengembangan bencana daerah utara dengan ketinggian 20-100 meter dpl yang meliputi Kecamatan Kadipaten. luka berat 1 orang dan korban tewas 1 orang). kekeringan dan banjir karena secara struktur tanah. luka berat 4 orang. dan 82 KK rusak berat). puting beliung 2 kali. sambaran petir 3 kali. sambaran petir 4 kali. sambaran petir 1 kali. Jatiwangi. kebakaran 1 kali. tanggul jebol 1 kali. Jatitujuh. banjir 3 kali. dan tanggul jebol 1 kali). wilayah ini berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai-sungai besar sehingga memungkinkan terjadi luapan air sungai dan erosi tanah di daerah sekitarnya. terutama pada waktu musim penghujan. Majalengka Kulon. Cigasong. puting beliung 8 kali. dan meninggal 1 orang) dengan resistensi kerusakan rumah (63 KK rusak ringan. kebakaran 1 kali. dengan korban tewas 1 orang dan luka ringan 5 . banjir 10 kali. 51 KK rusak sedang. Bulan Maret terjadi 16 kali kejadian (longsor 5 kali.400-1000 meter dpl. Bulan Februari terjadi 19 kali kejadian (longsor 14 kali. angin puting beliung 15 kali. dengan korban luka 1 orang).

Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah. Bulan Juni dan Juli stabil hanya terjadi kebakaran 2 kali. Kuningan. BPBD di Kabupaten Majalengka didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4 4 Hasil wawancara dengan Kepala Pelaksana BPBD Ibu Suratih Puspa. M. dengan korban ringan 3 orang. April terjadi 12 kali kejadian (longsor 6 kali. dataran sedang. Mei terjadi 18 kali kejadian (longsor 8 kali. banjir 4 kali. namun kerentanan terhadap bencana alam yang terjadi menjadi perhatian yang tidak bisa di hindarkan. puting beliung 4 kali. Tingginya angka kejadian bencana alam di Majalengka menguatkan Kabupaten Majalengka membentuk dan mendirikan Badan Penanggulangan 4 Bencana Daerah (BPBD) selain empat kabupaten di Jawa Barat (Tasikmalaya. kebakaran 5 kali.Si. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang berada dalam sebuah patahan lempeng IndoAustralia. dan koraban berat 3 orang). MM. dan Ciamis). pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. sekaligus dilansir dalam Surat Kabar Lokal Radar Majalengka pada tanggal 6 November 2010. pada tanggal 21 Januari 2011. sementara Agustus terjadi 4 kali kejadian (2 kali kebakaran dan 2 kali longsor) . pohon tumbang 1 kali.2 orang). dan dataran rendah mengakibatkan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. 1 kali angin puting beliung. dengan variasi wilayah dataran tinggi yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai. kebakaran 2 kali). 6 . Di satu sisi Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang luas wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan kabupatenkabupaten di daerah Jawa Barat lainnya. SH. Sukabumi.

Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh menjadi perhatian khusus dalam pola dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. status bencana dan efektifitas kegiatan penanggulangan bencana di daerah menjadi issue yang menarik untuk dikaji dalam mengukur peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka serius atau dalam penanggulangan bencana alam. terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. efisien. Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik. 7 . kerentanan dampak bencana. Peraturan perundang- 5 Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah BAB I Ketentuan Umum. pasal 20. Perlu dicermati adalah bagaimana peran pemerintah daerah bersama stakeholder serius dan konsekuen untuk bersinergis dalam 5 penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana . dan berkelanjutan. non pemerintah dan masyarakat karena sangat dibutuhkan dalam mereduksi manajemen penanggulangan bencana yang efektif. Kebijakan dan strategi dalam penanggulangan bencana. Keseriusan tersebut tidak bisa di definisikan dengan didirikannya BPBD. Didirikannya BPBD setidaknya menjadi bukti bahwa Kabupaten Majalengka serius dalam penanganan bencana alam dan menjadi daerah yang sadar akan bencana. Sosialisasi penanggulangan bencana harus di upayakan secara integral kepada seluruh elemen pemerintah daerah.Januari 2009.

Fungsi koordinasi dan komando dalam strategi dan teknis penanggulangan bencana. dinas setingkat yang berbenturan dalam penanggulangan bencana. baik di tataran pusat maupun daerah masih di upayakan untuk membentuk sebuah pola sinergitas dan keterpaduan sehingga tidak ada fungsi lembaga. Ego sektoral dan lembaga dalam penanggulangan bencana.undangan maupun kebijakan penanggulangan bencana yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat seharusnya bisa diaplikasikan dan dijalankan oleh pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana di daerahnya sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Sinergi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini. 8 . baik bersifat sektoral maupun terpusat masih menjadi dilema yang menjadi perhatian khusus terhadap fungsi-fungsi lembaga yang saling berbenturan. Latar belakang tersebut menjadi daya tarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam peran pemerintah daerah dan stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Pada akhirnya penelitian ini diharapkan menjadi landasan dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas. sinergitas dan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam.

Bagaimanakah sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 9 . Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. peneliti kualitatif menetapkan fokus. penentuan fokus didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan). Penelitian ini di fokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial. Rumusan Masalah Dalam mempertajam penelitian. tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2010:208-209).1. Dalam penelitian kualitatif.2. Sehingga unit analisis yang akan ditelit lebih fokus pada aktor-aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Bagaimanakah peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010? 2. Spradley menyatakan bahwa “ A focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Aspek yang akan diteliti adalah peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

Selain itu.3. tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 dan mengkonstruksi model sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 1.3. Manfaat Teoritis Memberikan kontribusi bagi perkembangan Ilmu Politik khususnya mengenai kajian birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana daerah. 1. dan masukan kepada para pengamat politik.3. 10 . Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut. lembaga daerah.2.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Memberikan informasi.2. pemerintah daerah serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan bencana.1.1.3.2.2. birokrasi. praktisi. Manfaat Penelitian 1.1. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan serta tambahan alternatif untuk penelitian selanjutnya yang sejenis. kontribusi.

1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 11 .1. sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan berbagai sub aspek dan fokus penelitian yang berbeda diantaranya adalah: 2. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisiensian dalam penanganan bencana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Dipaparkan pula mengenai solusi penyelesaian terkait dengan birokratisasi yang sentralistis dirubah menjadi desentralistis. Dalam penelitiannya dijelaskan tentang sistem birokrasi penyaluran dana rekonstruksi yang berkelumit dan tersentralisasi. agar penyaluran dana rekontruksi tidak harus berkelumit pada tahapan-tahapan birokrasi tanpa adanya realisasi kepada korban bencana. Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Penelitian ini ditulis oleh Bagas Megantoro pada tahun 2006. dan tidak menjadikan adanya egosentris dan saling menyalahkan antar lembaga dalam penyaluran dana tersebut.1.

Strategi. terdapat pula kecenderungan terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. Disamping itu. provinsi. Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Penelitian ini ditulis oleh Agus Suryono pada tahun 2005. Pada kondisi yang demikian. dan kabupaten/kota) serta penyorotan terhadap kelembagaan setingkat menteri yaitu badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dalam alur komando ketika terjadi bencana belum terlaksana secara efektif. birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efisien. Akibatnya. Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal.1. Dikarenakan BNPB punya 12 . sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. Penelitian ini membahas penetapan status bencana (nasional. dan Operasi) Penelitian yang ditulis oleh Adi Suhendi pada tahun 2009 dalam ringkasan evaluasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali.2.2. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi. 2. Agus Suryono berbicara tentang birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang ke arah “parkinsonian”. tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur.1.3.

karena BPBD sebagai perangkat daerah akan lebih patuh terhadap kepala daerah. Pada kesimpulannya sistem penanggulangan dan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah tidak berjalan dengan efektif karena sebuah benturan pelaksanaan teknis yang sama. Untuk melihat pembanding dan komparasi dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Penelitian-penelitian terdahulu ini menginspirasi untuk melakukan sebuah penelitian yang berkesinambungan. salah satunya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan menyoroti peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana. Mekanisme koordinasi antara BNPB dengan BPBD cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. Tentunya ini berbeda dengan penelitian terdahulu.kecenderungan untuk berbenturan dengan fungsi-fungsi kementerian-kementerian teknis lainnya yang terkait dengan penanggulangan bencana. 13 .

sedangkan penelitian Bagas Megantoro lebih membahas mengenai sinergi penyaluran dana rekonstruksi antar lembaga pusat-daerah dalam penanggulangan bencana. Peneliti lebih memfokuskan pada peran dan sinergitas stakeholder . Peneliti lebih menekankan pada aspek birokrasi (institusi atau lembaga daerah) dalam konteks penanganan dan pelayanan penangulangan bencana sedangkan penelitian Agus Suryono memfokuskan pada aspek dan pengkrirtisan terhadap birokrasi yang mengarah ke arah parkinsonian dan orwelian sehingga birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya secara profesional. 24 tahun 2007. Adi Suhendi Melakukan review tentang sistem penanggulangan bencana nasional dan menellaah efektifitas PB di tingkst daerah-pusat Mengetahui sejauh mana peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Studi Pustaka Kelembagaan penanggulangan bencana harus dapat bertindak lintas sektor dan lintas wilayah serta memiliki rantai komando yang jelas dan efektif Fokus pada aspek sinergitas lembaga dalam penanggulangan bencana 4.Tabel 1. 2. Strategi. Agus Suryono Memahami pentingnya manajemen birokrasi profesional Studi Pustaka Mencari keefektifan dan sinergitas dalam tubuh birokrasi 3. Matriks Analisis Penelitian Terdahulu No 1. Peneliti Bagas Megantoro Judul Penelitian Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Tahun 2006 Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Tahun 2005 Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. privat dan masyarakat harus all together yang sinergi dengan adanya standar minimal pelayanan publik dan adanya mekanisme pengawasan sosial terhadap birokrat Persamaan dan Perbedaan Penelitian Persamaan Menyoroti sinergisitas lembaga dalam penanggulangan bencana Perbedaan Peneliti lebih menyoroti pada peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. salah satu sumber permasalahan tersebut adalah lamanya dan rumitnya pencairan dana rekonstruksi korban bencana dan diperlukan perbaikan dan pembetulan dalam sistem birokrasi Indonesia Merubah persepsi dan paradigma tentang birokrasi Unsur pemerintah. dan Operasi Tahun 2009 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Tujuan Penelitian Mengetahui sejauh mana manajemen penyaluran dana rekonstruksi dalam peanggulangan bencana Metode Kualitatif Studi Kasus Hasil Manajemen pemerintah dalam penanganan [pasca] bencana perlu diperbaiki. sementara penelitian Adi Suhendi lebih memfokuskan pada sinergitas di tataran pusat dan implikasi nya terhadap sinergi dengan daerah dan berbicara tentang aturan dalam pasal-pasal UU No. Asep Deni Jatnika Kualitatif Studi Kasus - 14 .

Berikut penjelasan mengenai teori dan konsep yang menjadi landasan teori dan kerangka berfikir dalam penelitian ini. Kerangka Teori Penelitian ini memfokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.2. Peran-peran diajarkan melalui sosialisasi dan interaksi. maka diperlukan beberapa teori pendukung untuk mempermudah dalam proses penelitian. Adanya interaksi dalam masyarakat akan menciptakan hubungan antar peran-peran individu dalam masyarakat. Beberapa landasan teori yang mendukung dalam penelitian yang akan peneliti lakukan adalah teori dan konsep tentang peran pemerintah daerah dan manajemen kebencanaa (Disaster Management). Peran Pemerintah Daerah Peran memiliki arti serangkaian perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang. 2. Pemerintah daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD 15 .1. Pengharapan yang terdapat dalam peran merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu peran. Sesuai dengan fokus penelitian.2.2. Seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajibannya dari statusnya (Sunarto 2000: 54). Konsep peran sangat diperlukan untuk mengetahui dan memahami keselarasan atau integrasi antar tujuan dan misi yang ingin dicapai (Nogi 2005: 266). Seseorang harus belajar mengetahui peran yang dijalankannya serta peran yang dijalankan orang lain melalui sebuah interaksi dan sosialisasi.

com. program. Pengertian Tentang Pemerintah Daerah. diakses pada tanggal 10 Februari 2010 http//www. Pemangku Kepentingan. proyek. diakses pada tanggal 10 Februari 2010. posisi penting. stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak. wewenang. tentunya hal tersebut membutuhkan peran-peran dari pemerintah daerah dan stakeholder di dalamnya. bupati. Berdasarkan kekuatan.bloger. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah .com. http//www. atau walikota. dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issue.menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. stakeholder dapat diketegorikan kedalam tiga kelompok.wikipedia. 16 . Pemerintah daerah adalah gubernur. atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issue atau suatu rencana . dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pertama. dan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan 6 7 (masyarakat dan pihak manajer publik: 7 Abdi Projo. lintas pelaku. Dengan demikian peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara bertindak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu hak. Secara sederhana. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka merupakan 6 rangkaian permasalahan yang perlu dicarikan solusi dan alternatif untuk menyelesaikannya. stakeholder primer (utama) yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan.

program. Kedua. legislatif. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya. Pemerintah daerah sebagai stakeholder kunci. dan proyek. strategi. Perguruan Tinggi. stakeholder kunci yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan. tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah (LSM.lembaga/badan yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan). Tentunya keberlangsungan operasi dari pemerintah sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu aparatur pemerintah. Keberlangsungan pelayanan. bersama stakeholder lainnya mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Ketiga. operasi penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab lembaga dan dinas-dinas terkait sebagai stakeholder pemerintah daerah yang berperan sebagai agen utama dalam melaksanakan penaggulangan bencana. Badan Usaha. dan instansi . stakeholder sekunder (pendukung) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan. dan 8 8 Ibid 17 . organisasi birokrasi. Partisipasi aktif dari berbagai elemen untuk menciptakan sebuah manajemen penanggulangan bencana merupakan aspek integral yang sangat penting sehingga dampak resiko bencana bisa ditanggulangi secara terpadu dan menyeluruh. dan lembaga pemerintah yang terkait dengan issue tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan).

tidak lagi menjadi alat rakyat 9 9 Op Cit 18 . lamban dan menghambat kemajuan. tujuan. dengan demikian setiap pelaksanan harus mengerti benar tentang konsep persepsi sebagai langkah awal dari motivasi yang akan mewarnai cara bertindak. dan sasaran dari kebijakan tersebut. apabila operasionalisasi suatu kebijakan ingin dapat berjalan secara optimal dan sebagaimana mestinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan terhadap aparatur pemerintahan agar prosedur ketatalaksanaan dan bentuk organisasi birokrasinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari misi yang akan dicapai . Birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik. tidak obyektif.prosedur tata laksananya. Persepsi atau pemahaman dari pelaksana haruslah sesuai dengan maksud. menjadi alergi ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa birokrasi cenderung lebih mementingkan prosedur daripada substansi. Oleh karena itu. tidak mengabdi kepada kepentingan umum. Dalam mengoperasionalkan kebijakan manajemen aset di kabupaten/kota diperlukan peran pemerintah daerah kabupaten/kota. tidak efektif (over consuming and under producing). mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta memusatkan kekuasaan. Agen administrasi pemerintah daerah yang ditujukan menjalankan fungsifungsi dan tujuan lembaga adalah birokrasi. pada dasarnya birokrasi lebih mengutamakan kepentingan sendiri (selfserving). Namun sejarah dan realita yang sekarang menggejala dalam tubuh birokrasi memiliki beberapa kecenderungan. seperti yang dijelaskan Kartasasmita dalam Suryono (2002: 3). tidak efesien.

Perkembangan Peran Politisi-Birokrat IMAGE Kebijakan/ Administrasi Fakta/ Kepentingan Energi/ Equilibrium POLITISI Membuat kebijakan Kepentingan/Nilai Kepekaan politik Pertanggungjawaban pada konstituen Artikulasi secara luas Ideologis. pragmatis Memberi keseimbangan Sama (karakteristik berbaur) EKSPRESI Hirarki otoritas Supremasi politik Partisipan Rasionalitas vs Rasionalitas Administrasi Partisipan Birokrat cenderung politis Hibrida Murni (Perkawinan Murni) Mempolitisaasi birokrasi dan membirokrasikan politik Sumber: Solahuddin Kusumannegara. Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. terpusat. partisan. Begitu halnya dengan peran birokrasi pemerintah daerah 19 . idealistik Energik Sama (karakteristik berbaur) BIROKRAT Melaksanakan kebijakan Fakta/pengetahuan Keahlian Kemanjuran Artikulasi kepada klien Hati-hati.tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. Tabel 2. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. Dalam berbagai macam pola hubungan antara birokrasi dan politik. institusi politik terdiri atas orang-orang yang berperilaku politik yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan. Sebagaimana perkembangan dari segi perilaku birokrasi maka ada sebuah perkembangan peran antara politisi dan birokrasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut. Gava Media (2010:58) Secara mendasar birokrasi sangat erat kaitannya dalam pembuatan sebuah kebijakan dan sebagai agen administrasi yang paling bertanggungjawab dalam implementasi kebijakan.

pegawai kantor jaminan sosial adalah beberapa contoh dari tingkat birokrat pelaksana. Meskipun dianggap sebagai tingkat karyawan rendah. pegawai kesehatan. Alasan street-level bureaucrats sebagai fokus dari kontroversi umum adalah pada aspek interaksi dengan warga negara yang sering menyebabkan 20 . Street-level bureaucrats menyebabkan kontroversi. karena mereka harus setuju dengan setiap perubahan kebijakan. Sehingga tidak ada sebuah hirarki antara birokrat dengan masyarakat dan tidak adanya politisasi dalam sebuah birokrasi. Peran penting dari street-level bureaucrats sebagai pembuat kebijakan. Birokrasi harus menjalankan peran dan tugasnya sebagaimana yang telah diamanahkan dalam sebuah peraturan formal. penegak hukum. polisi. street-level bureaucrats (birokrasi tingkat pelaksana) merupakan pegawai pemerintah yang memberikan layanan masyarakat secara langsung kepada warga. dan kesejahteraan masyarakatnya di Kabupaten Majalengka. sebenarnya mereka adalah orangorang yang secara langsung berinteraksi dengan dan menyediakan layanan publik kepada warga negara dalam proses pekerjaan. keamanan. Guru. demi terpenuhinya layanan publik yang efektif dan efisien. yang mendirikan kerangka kerja untuk mendukung pesan fundamental.dan stakeholder di dalamnya mempunyai peran dalam urusan pemerintahan guna menunjang kemakmuran. Street-level bureaucrats adalah lembaga layanan publik yang mempekerjakan sejumlah besar tingkat birokrat pelaksana (Lipsky 1980: 3). dan memiliki kebijaksanaan substansial dalam pelaksanaan pekerjaan mereka. Berbicara tentang birokrasi.

dalam artikel keduanya menyatakan bahwa street level bureaucrats menghadapi dilema antara mendapatkan pada fokus kerja dan memenuhi tujuan organisasi. Wong dalam Lipsky (2005: 27-28) kondisi kerja. (Lipsky 1980: 8-10).benturan diantara keduanya. Kondisi kerja street-level bureaucrats telah dikategorikan sebagai berikut: 1) Sumber daya tidak memadai relatif kronis dengan tugas pekerja yang dilakukan. 21 . sinergitas dengan arus kebijakan menjadi perhatian utama sebagai landasan untuk memperbaiki situasi tersebut dengan klien dan membantu streetlevel bureaucrats menjadi lebih efektif sebagai pendukung perubahan. pola praktek dan masa depan tingkat birokrasi jalan. akuntabilitas. 3) Tujuan harapan bagi lembaga di mana mereka bekerja cenderung ambigu. 2) Permintaan untuk layanan cenderung meningkat untuk memenuhi pasokan. Penulis menjelaskan apa yang terjadi pada titik dimana kebijakan diterjemahkan dalam praktek. dan bagaimana para pegawai pelayanan publik berperilaku di bawah kondisi dan konteks pekerjaan mereka. Tentunya perubahan pelayanan publik harus di dukung dengan kebijakan yang lebih relevan dan memungkinkan segala pekerjaan dan layanan publik bisa dilaksanakan dengan baik. Kebijaksanaan mengantarkan street-level bureaucrats paling sering menjadi dilema pribadi. Dalam rangka reformasi dan merekonstruksi street-level bureaucrats. 4) Kinerja berorientasi pada pencapaian tujuan cenderung sulit dan mustahil untuk di ukur. kabur atau bertentangan.

Manajemen birokrasi profesional ini sangat relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Apalagi ketika ada sebuah institusi yang profesional dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Manajemen Kebencanaan (Disaster Management) Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu 22 . Kesan pelayanan aparatur pemerintahan selalu lamban dan tidak cepat tanggap.2.2.Dalam merealisasikan kriteria ini pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi profesional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented). Birokrasi dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tentunya diharapkan cepat tanggap. khususnya lebih menyoroti pada aspek peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Akibatnya. Pelayanan publik ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan khalayak masyarakat ramai yang memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan. 2. birokrasi selalu mendapatkan citra negatif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan birokrasi itu sendiri khususnya dalam hal pelayanan publik.

tanggap darurat. gunung meletus. gagal modernisasi. 3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. kerusakan lingkungan. dan wabah penyakit. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. dan rehabilitasi. angin topan. kerugian harta benda. 2) Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi. kekeringan.kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia. dan tanah longsor. dan dampak psikologis. tsunami. banjir. kegiatan pencegahan bencana. Penanggulangan bencana merupakan proses integral yang satu sama lain sangat bergantung dalam 23 . epidemi. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Bencana dibagi ke dalam tiga kategori diantaranya: 1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi.

prioritas. pengurusan pengungsi. 2) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. pemenuhan kebutuhan dasar. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. tegaknya hukum dan ketertiban.sebuah manajemen penanggulangan bencana yang terpadu dan menyeluruh meliputi : 1) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. penyelamatan. tepat. koordinasi dan keterpaduan. sosial dan budaya. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. perlindungan. 3) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. pemberdayaan. BAB I pasal 2 24 . harta benda. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. Prinsipnya penanggulangan bencana merupakan proses cepat. kemitraan. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. non 10 10 Lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana. 4) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana.

diskriminatif dan berdaya guna. Ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat . Tidak semua bencana alam menimbulkan resiko bencana. Apabila suatu peristiwa yang memiliki potensi bahaya terjadi di suatu daerah dengan kondisi yang rentan, maka daerah tersebut beresiko terjadi bencana. Jadi resiko dipengaruhi oleh faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability). Dalam hal ini faktor kapasitas dapat dianggap sebagai bagaian dari faktor kerentanan, yang dapat mengurangi kerentanan bila kapasitas daerah tersebut tinggi. Sebaliknya apabila kapasitas daerah rendah maka akan meningkatkan faktor kerentanannya .
12 11

Gambar 1. Model Hubungan Antara Resiko Bencana, Kerentanan dan Bahaya

Sumber: Tinjauan umum manajemen bencana. UNDP program pelatihan manajemen bencana edisi ke-2 tahun 1992

11 12

Ibid Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Peanganan Bencana di Jawa Barat”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

25

Pendekatan proaktif dalam pengurangan resiko bencana merupakan salah satu bagian terpenting dalam mitigasi bencana, yang pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana. Kegiatan mitigasi bencana hendaknya menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kejadian bencana, yang seringkali datang tidak terduga dari waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar dari perkiraan semula. Pemerintah hendaknya proaktif untuk memberikan berbagai arahan yang tepat dan berkesinambungan dalam menghadapi peristiwa atau bencana atau dengan kata lain bisa beradaptasi dengan resiko potensi bencana. Perlu diperhatikan bahwa untuk setiap arahan yang ada hendaknya menjaga kesederhanaan sistem dan prosedur. Kletz mengemukakan bahwa ”organizations have no memory: only people have memories and they move on” . Dengan kesederhanaan sistem dan prosedur, diharapkan masyarakat bisa memahami dengan baik, terutama bagi masyarakat yang terkena bencana, sehingga pada saat kejadian bencana dan dalam kondisi darurat, diharapkan mereka mampu menaggapinya serta mereka mampu melakukan proses pemulihan darurat secara mandiri. Inilah yang sebenarnya merupakan salah satu pengembangan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan bencana, yang berbasis pada kemampuan pada masyarakat itu sendiri dan bertumpu kepada kemampuan sumberdaya setempat (community ased disaster management).
13

13

Kletz (1993) Lesson from disaster: how organiations have no memory and accident recur. Institution of Chemical Engineers: Rugby, England

26

Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan dan harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus membuat perencanaan untuk persiapan dalam menghadapi bencana. Selama ini, tindakan dalam penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasiorganisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama pada saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Selain untuk keperluan mitigasi, kajian resiko untuk bahaya dari berbagai jenis potensi bahaya alam lebih lanjut dapat juga digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan rencana operasi darurat atau emergency operation plan (EOP), atau dalam bentuk SOP yang terjangkau (achievable/workable), sederhana dan tepat (appropriate). Pada dasarnya EOP dan SOP merupakan kerangka dasar dalam rencana tanggap darurat yang terkoordinasi dan efektif, karena didalamnya telah mendefinisikan peranan dan tanggungjawab seluruh stakeholder seperti pemerintah, organisasi swasta, sukarelawan, dan badan-badan lain yang terdapat di dalam sustu negara . Dalam hal ini termasuk perencanaan kegiatan sebelum kejadian bencana dan kesiapsiagaan, perencanaan organisasi, dan kehumasan untuk mengatur aliran informasi, atau dengan kata lain bahwa dalam SOP
14

14

Ibid

27

dan pendekatan kesiapsiagaan terkait potensi bencana yang ada.diperlukan perencanaan terintegrasi. Achievable. Relevant and Time Bound) dengan ketentuan dasar antara lain meliputi : 1) Mendefinisikan berbagai aktifitas apa saja yang ahrus dilakukan dalam kondisi darurat. Bandung 2-3 Desember 2004. Peran Berbagai Stakeholder Dalam Penanggulangan Bencana Sumber: Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun. SOP yang efektif akan mencakup berbagai bentuk variasi koordinasi dan cara pengambilan keputusan. Manajemen bencana: Strategi hidup di wilayah potensi bencana. Key note speaker pada lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan. 3) Menyusun antisipasi faktor-faktor yang paling beresiko dan usaha-usaha menguranginya apabila mungkin. Koordinasi sangat penting dilakukan dimana berbagai pihak umumnya akan terlibat dalam penanganan bencana. Gambar 2. manajemen. 15 15 Sadisun. Measurable. 28 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung 2-3 Desember 2004. “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jawa Barat” Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. 2) Menetapkan tolak ukur untuk menilai suatu pencapaian aktivitas. Selain itu SOP haruslah SMART (Spesific..

gempa bumi.4) Membangun jaringan dalam melakukan pertolongan darurat. Kerangka Berpikir Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah Barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah Timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. 2. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana. Dengan adanya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan pemerintahan atau rumah tangganya sendiri dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. 29 . Salah satunya adalah dalam usaha penanganan bencana.3. termasuk di antaranya jaringan informasi. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain banjir. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. gunung berapi dan tanah longsor serta angin puting beliung. Akan tetapi daerah kurang dapat menyelenggarakan hal tersebut dengan baik karena kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah sangat terbatas. Permasalahan rendahnya kualitas pelayanan sistem dan penanganan bencana di daerah merupakan potret buram sistem dan sinergitas antar lembaga yang menaunginya. kemarau panjang. tsunami. 5) Membuat jadwal dengan cermat dan sistematis keseluruhan kegiatan yang diperlukan selama kondisi darurat.

Kerangka Berfikir UU No 24/2007 “Penanggulangan Bencana” dan Perka BNPB No 3/2008 “Pedoman Pembentukan BPBD” Bencana alam di Kabupaten Majalengka Pemerintah Daerah Kab.Sorotan khusus adalah bagaimana birokrasi pemerintah bisa mengupayakan sebuah kontruksi dan sinergitas di tataran birokrasi dalam penanggulangan bencana alam. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah: Gambar 3. agar tidak terjadi sebuah ego lembaga dalam penanganan bencana. Majalengka 30 . Lembaga pemerintah yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana harus bisa memposisikan sebagai fasilitator dalam upaya sinergitas dengan lembaga lain. Dengan demikian mau tidak mau pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengembangkan pola sinergisitas penanggulangan bencana guna menunjang peningkatan kualitas dan akuntabilitas lembaga. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah di Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. sehingga terjadi sebuah efektifitas mekanisme kerja. Majalengka (OPD) Organisasi Perangkat Daerah Studi Kasus Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Perda Kabupaten MajalengkaNo 10/2009 “Organisai Perangkat Daerah” (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab.

Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2005:4) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah. Karena menggunakan metode penelitian kualitatif. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).BAB III METODE PENELITIAN 3. khususnya critical theory. dan masyarakat sekitar dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.1. Hal yang sangat penting menurut paradigma ini adalah interpretasi. Paradigma ini menekankan bahwa apa yang disebut laws atau generalisasi (yang . Paradigma nion positivist pada intinya merupakan paradigma yang mementingkan pencarian makna dari setiap tindakan sosial aktor. Kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). Dinas Sosial. dan lain-lain secara holistik di Sekretaris Daerah. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dinas Kesehatan. Misalnya perilaku informan. maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-positivist. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. motivasi. persepsi. Kecamatan Jatitujuh. tindakan. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC).

Hand Out Mata Kuliah Metodologi Ilmu Politik (Purwokerto: Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedriman. tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu yang utuh. Bogdan dan Taylor (1975: 5) dalam Moleong (2005: 4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka. Dalam penelitan ini. 16 16 Solahuddin Kusumanegara dan Sofa Marwah. karena metode tersebut dibutuhkan sesuai dengan tema yang akan dibahas untuk memilih informan maka membutuhkan metode tersebut dalam pengumpulan data agar lebih valid.bersifat kausal) tidak selamanya diperlukan untuk memahami gejala sosial. . peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Majalengka khususnya dalam pola penanggulangan bencana alam. Jadi. Dalam penelitian kualitatif metode pengumpulan data yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara. pengamatan. Dengan demikian. observasi. 2006). dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis. dan dokumentasi. pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Begitu juga dengan metode dalam pengumpulan data. memfokuskan pada peran pemerintah daerah dan mengkontruksi sinergi stakeholder dalam proses penanggulangan bencana. peneliti akan menggunakan metode wawancara. hal 22-23. dan pemanfaatan dokumen. setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi dan harus dipahami dengan sebaik-baiknya .

Oleh karena itu. seperti siklus kehidupan seseorang. proses-proses organisasional dan manajerial. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus.3. pendekatan studi kasus sangat tepat digunakan dalam penelitian ini. hubungan-hubungan internasional. sehingga membutuhkan metode studi kasus untuk menganalisisnya karena hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir. bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang unutk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki. Aspek yang akan menjadi fokus penelitian adalah mengenai peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencan alam di Kabupaten Majalengka. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabelvariabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya (Suryabrata. dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin 2002: 1-4).2. baik mencakup keseluruahn siklus kasusnya atau pun segmen-segmen tertentu saja. perubahan lingkungan sosial. 2003: 80-81). dan kematangan industri-industri. . Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why.

Lokasi selanjutnya adalah di instansi-instansi pemerintah daerah Kabupaten Majalengka yaitu Sekretaris Daerah. 3. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Provinsi Jawa Barat. Pertimbangan tertentu ini. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah Sekretaris Daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Dinas Kesehatan. Teknik Pemilihan Informan Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. dan masyarakat di lokasi bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Lokasi Penelitian Penelitian dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka” mengambil lokasi di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka.5. Dinas Sosial. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dan Kantor Kecamatan Jatitujuh. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C.3. Dinas Kesehatan. misalnya .4. Dinas Sosial. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC).3. Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi C yang membidangi tentang kebencanaan. Kepala Kecamatan Jatitujuh. 3.

1. atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu .6. atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008: 50). Wawancara dapat dilakuakan secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data. Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas. Teknik Pengumpulan Data 3. pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti di dalam memperoleh data. dan dapat dilakuakn melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono 2010: 137-138). bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008:57). Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report.orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. 3. dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada.6.

mengeksplorasi data dari informan yang bersifat nilai. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. yaitu wawancara dan kuesioner. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang.6. Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2010: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks. maka observasi . suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang terfokus. Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur. yang paling umum. wawancara studi kasus bertipe open-ended. dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik survai. dimana informan diwawancarai dalam waktu yang pendek. Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Dalam kasus ini.2. 3. dimana peneliti dapat bertanya kepada informan kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai suatu peristiwa. 2002: 108-110). Pada beberapa situasi peneliti bahkan bisa meminta informan untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. makna. wawancara tersebut bisa tetap open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tidak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya. sejalan dengan survai (Yin.

selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur (Sugiyono 2010: 145). Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. 3. observasi dapat dibedakan menajdi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation. gejala-gejala alam dan bila responden yang diamatai terlalu besar.3. peneliti menggunakan metode non participant observation. data rekaman atau data sensus yang terkumpul. rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa mejadi obyek perolehan kembali dan data analisis yang luas. Teknik pengunpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia.tidak terbatas pada orang. Rekaman Arsip Rekaman arsip seringkali dalam bentuk komputerisasi seperti peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat. tidak seperti bukti dokumenter. Namun demikian. proses kerja. kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus lainnnya. Rekamanrekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi lain dalam pelaksanaan studi kasus.6. rekaman keorganisasin seperti bagan dan anggaran organisasi periode tertentu. Pada beberapa penelitian. data survai. tetapi juga objek-objek alam yang lain. Pada penelitian-penelitian lainnya . kemudian untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti memilih instrumen observasi secara terstruktur agar mempermudah dalam penyusunan sub-sub penelitian guna menunjang laporan hasil penelitian. Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data. daftar nama dan komoditi lain yang relevan.

Untuk . Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. 2002: 106-107).7.7. Sumber Data 3. Teknik pengumpulan data dengan rekaman arsip ini akan dilakukan oleh peneliti karena pada dasarnya rekaman arsip merupakan sumber data yang memiliki peran sebagi sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa.rekaman arsip mungkin hanya sepintas relevansinya. 3. peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya (Yin. Bilamana bukti arsip relevan. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD Kabupaten Majalengka. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan intensif. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Rekaman arsip yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan dan merupakan sumber data yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah yang dibahas.1.

M. arsip. media massa. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka.7. Kardia dari Kantor Kecamatan Jatitujuh. 3. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. maka peneliti menggunakan purposive sampling. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Idit Ruhadi. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Heri Purbadhi. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD . Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011.2.mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. dokumentasi. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Ida Heriyani dari Dinas Kesehatan. Syarifudin Rahmat dari Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Data Sekunder Data yang diperoleh dari buku-buku. serta berbagai sumber lainnya yang mendukung penelitian. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Dedi Supriyadi dan Asikin dari Dinas Sosial. A. Informan dalam penelitian ini adalah Yati Sumiati dan R. Yuarlina dari Sekretaris Daerah. Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Hardi. dan Karsa selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Indrayono dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Syihabuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. Agus Slamet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh. melakukan sintesa. Analisis Data Dalam hal analisis data kualitatif. dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. Miles and Huberman (1984). selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Bogdan menyatakan bahwa “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts. dan bahanbahan lain. menjabarkannya ke dalam unit-unit.Kabupaten Majalengka. mengemukakan bahwa katifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Sugiyono 2008: 88). catatan lapangan. menyusun ke dalam pola. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data. sehingga dapat mudah dipahami. and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others” Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara. 3. data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan).8. Analisis data kualitatif bersifat induktif. fieldnotes. 40 . hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. Aktifitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi data). sehingga datanya sudah jenuh.

Sehingga reduksi data memerlukan proses berfikir sensitif dan kecerdasan.8. 3.8. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. dan mencarinya bila diperlukan. hubungan antar kategori. bagan. Penyajian data dapat diartikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. memfokuskan pada hal-hal yang penting. dan sejenisnya serta penyajian data dalam penelitian adalah dengan sistematis melalui gambaran atau skema.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat. 3. keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi (Sugiyono 2010: 247-249). dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.1 Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. 41 . Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung. memilih hal-hal yang pokok.3. Penarikan Kesimpulan Proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Mereduksi data berarti merangkum. dicari tema dan polanya.3.8. Berikut gambaran model analisis interaktif Miles dan Huberman. untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci.

sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut di ambil (Sugiyono 2010: 267).Gambar 4. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman Data collection Data Display Data reduction Conclusions: drawing/verfying Sumber: Diadaptasi dari Miles dan Huberman (1992: 20) 3. Dengan demikian data yang valid adalah “data yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Untuk penelitian ini akan menggunakan validitas data internal karena lebih menekankan pada akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai bukan menggeneralisasikan pada sebuah sampel. Validitas data dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Validitas data ini akan mengeksplor objektifitas dan kesesuaian desain penelitian yaitu peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam di 42 .9 Validitas Data Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi.

5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. It assesses the suffiency of the data accoding to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures” (Wiliam Wiersma. 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. Hal itu dapat dicapai dengan jalan: 1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. 1986). triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu (Sugiyono 2010: 273). Dengan demikian terdapat triangulasi sumber. 4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berlainan.Kabupaten Majalengka yang nantinya akan tercipta sebuah laporan hasil penelitian yang tepat dan obyektif. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai waktu. “Triangulation is qualitative cross-validation. . Patton (1987: 331) dalam Moelong (2005: 33) triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

Penyempurnaan Laporan dan Seminar Hasil X X draft laporan X X X X X penelitian dan diskusi draft . 6. 3. Jadwal Penelitian BULAN KE NO 1. dan dokumentasi. 5. Pengumpulan data primer dan sekunder Pengolahan dan analisis data Membuat laporan 7. Dengan triangulasi sumber data-data yang diperoleh benar-benar dapat teruji keabsahannya. KEGIATAN Penyusunan Proposal Menyusun Memasuki instrument lapangan.10. 3.Triangulasi data digunakan oleh peneliti karena berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Jadwal Penelitian Tabel 3. dan grand 1 X 2 X X X 3 4 5 revisi proposal tour dan minitour question. anlisis domain 4. 2. observasi.

. Sebelah Barat.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. berbatasan dengan Kabupaten Indramayu. Pembahasan mengenai deskripsi lokasi penelitian bertujuan untuk memahami kondisi wilayah yang ditempati oleh suatu masyarakat.1. Sebelah Timur. Sebelah Utara. Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur. berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Sebelah Utara antara 60 36’ – 60 58’ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 60 43’ – 70 03’ Lintang Selatan. berbatasan dengan Kabupaten Sumedang. 4. Deskripsi Lokasi Penelitian Deskripsi lokasi penelitian merupakan hal yang penting untuk dituangkan dalam sebuah laporan penelitian. dengan batas-batas wilayahnya : Sebelah Selatan. Letak dan Keadaan Geografis Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur. berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Gambaran umum Kabupaten Majalengka akan dijelaskan dalam hasil penelitian.1.1. sehingga dapat diketahui pola geografis dan sosial suatu masyarakat.

yaitu : .Gambar 5. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah.00 Km2) dengan ketinggian tempat antara 19 857 m diatas permukaan laut. Peta Kabupaten Majalengka Sumber: Majalengka Dalam Angka 2009 Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1. berarti Kabupaten Majalengka hanya sekitar 2.71 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44.24 Km2.357.204.

3. 20. 2) Daerah Bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas permukaan laut dengan luas 376.70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 12. 15.56 43. 7.02 Km2 atau 40.98 60.50 41. 23.03 43.69 40.25 32.00 56.27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.204.54 37. 5.37 LUAS DAERAH (KM) 31.41 22. 2.46 38. 10. Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Majalengka LUAS DAERAH (KM) 78. 3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345. KECAMATAN Sindangwangi Leuwimunding Palasah Jatiwangi Dawuan Panyingkiran Kadipaten Kertajati Jatitujuh Ligung Sumberjaya Kabupaten Majalengka Sumber: Registrasi BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2005 . 14.66 62.86 138.73 1. 9.21 24.64 111.1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482.98 21.76 32. 8.56 65.03 55. 16. 4. 6. 18.49 34. 17.36 73.69 Km2 atau 28. KECAMATAN Lemahsugih Bantarujeg Cikijing Cingambul Talaga Banjaran Argapura Maja Cigasong Majalengka Sukahaji Rajagaluh NO 13. 22. 19. 11.53 Km2 atau 31.03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.17 57.24 NO 1. 21. Tabel 4.

Suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober yaitu 35. Pada tahun 2009 suhu udara di Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 25.1.1.3 derajat C.Tabel 5. sedangkan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu sebesar 22. Suhu dan Kelembaban Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai. Letak Geografis Kabupaten Majalengka Dirinci Per Kecamatan Sumber: Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dalam Buku Pedoman Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 4.2 derajat C.1.9 derajat C. .2. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka 4.2.9 derajat C sampai 29.

2. sedangkan kemarau terjadi pada bulan Agustus & September. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Majalengka terjadi pada bulan Pebruari 2009 yang mencapai 419 mm dengan jumlah hari hujan 26.Tabel 6. geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara.1. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4. Faktor lain yang mempengaruhi hujan dan arah/kecepatan angin . Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 3 knot sampai 5 knot dan kecepatan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 28 knot. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi.2. Curah hujan dan Keadaan Angin Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim.

Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 berdasarkan hasil Susenas 2009 adalah 1. Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4. Arah dan Kecepatan Angin di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi.702 50 . Sedangkan jarak dari Ibukota Kabupaten Majalengka ke Kabupaten-kabupaten di Seluruh Jawa Barat berkisar antara 46 – 239 Km.206.3. Tabel 7. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0-37 Km. Permasalahan tersebut diantaranya besarnya jumlah penduduk dan tidak meratanya penyebaran penduduk.1.adalah perbedaan tekanan udara. Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan permasalahannya. Kependudukan Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.

82 % bila dibandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya.396 jiwa laki-laki dan 606. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kecamatan Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 Grafik 2.096 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 333 Jiwa/Km2.jiwa terdiri dari 600. Grafik 1.002 Jiwa/Km2. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah 1.306 jiwa perempuan atau meningkat 0.02 %. kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 51 . Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan masih lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan sex ratio 99.

Pencari kerja terdaftar selama tahun 2009 di Kabupaten Majalengka sebanyak 13. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Sumber: Susenas 2009 4. Peningkatan jumlah penduduk umumnya diikuti pula dengan penambahan jumlah angkatan kerja yang tentunya menuntut peningkatan penyediaan lapangan kerja.Tabel 8. Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan.4.1.417 Orang.520 orang laki-laki. 52 . Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. yang terdiri dari 6.897 orang perempuan dan 6.

maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program. 4.4. Kecamatan Lemahsugih merupakan kecamatan terbanyak dalam hal jumlah pemberangkatan transmigran. Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan disuatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Bila dilihat dari daerah tujuan transmigran dari Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah Propinsi Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Maloy. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf artinya dengan rendahnya tingkat buta huruf menunjukan keberhasilan program pengentasan buta huruf dan untuk mencapai program tersebut harus didukung oleh sarana pendidikan yang memadai.1. SD.5. upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan dengan program transmigrasi. SLTP. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka yang diberangkatkan transmigrasi pada tahun 2009 berjumlah 15 Kepala Keluarga atau 60 jiwa.6. 53 . Di Kabupaten Majalengka sarana pendidikan yang tersedia meliputi sekolah yang kurang dari 5 (lima) tahun/MD. SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Kutai Timur.1. Transmigrasi Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk.

karena itu program-program kesehatan telah dimulai atau diprioritaskan pada calon generasi penerus. Pemerintahan Secara Administratif pada akhir tahun 2009 Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan dan 334 Desa. yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain dilakukan dengan penambahan tenaga para medis.072 Rukun Warga/Rukun Keluarga dan 6. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik.11%. Kesehatan dan Keluarga Berencana Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. 4. Kesejahteraan merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka peningkatan SDM penduduk Kabupaten Majalengka. Bila dilihat dari klasifikasi desanya terdapat 3 desa swadaya mula. Dari 334 desa tersebut 321 berstatus desa dan 13 berstatus kelurahan. 256 desa swadaya madya. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat.1.7.8.441 Rukun Tetangga. dengan rasio RT terhadap RW sebesar 3.1.4. Adapun Komposisi Keanggotaan DPRD Kabupaten Majalengka berdasarkan Hasil Pemilu 2009 sebanyak 50 anggota yang merupakan perwakilan dari Partai Persatuan 54 . 73 desa swakarya madya dan 1 desa swasembada madya. Jumlah Pemerintahan terendah di Kabupaten Majalengka berdasarkan satuan lingkungan setempat terdiri dari 2. 1 desa swakarya mula.

Grafik 3.4 dan tabel 2. PKPB 1 orang .5. Partai Demokrat 4 orang. Partai Golongan Karya (Golkar) 6 orang. Hanura 2 orang. Partai Amanat Nasional (PAN) 5 orang. Gerindra 1 orang. Jumlah Anggota DPRD Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 55 .Pembangunan (PPP) 4 orang. Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Berdasarkan Partai Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 Grafik 4. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2. Partai Bulan Bintang (PBB) 1 orang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10 orang. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1 orang. PKNU 1 orang dan Partai Patriot Pancasila 3 orang. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5 orang. Bila dilihat dari tingkat pendidikan anggota Dewan tercatat bahwa 100 % anggota Dewan berpendidikan SLTA keatas.

peneliti memfokuskan di Kabupaten Majalengka. Kabupaten (BPBD) Majalengka merupakan tempat tinggal atau domisili asli peneliti. baik dari sumber media cetak. melalui beberapa tahap diskusi dan dialog dengan beberapa dosen. ataupun televisi. usulan skripsi dengan judul peran pemerintah 56 .4.2. tahapan penyempurnaan dan perbaikan. Pemilihan lokasi penelitian. Usulan penelitian ini kemudian peneliti ajukan kepada jurusan untuk menjadi bahan tugas akhir. dan akhirnya dengan beberapa proses. penelitimencoba menarik untuk untuk mendiskusikan dengan teman dan dosen untuk melihat sejauh mana spesifikasi penelitian yang akan peneliti lakukan. Ternyata. Pembukaan Akses Terhadap Informan Perjalanan penelitian mengenai peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka bermula ketika peneliti tertarik dengan beberapa fenomena dan kejadian bencana alam di Indonesia. Majalengka dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara geografis Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam yang kemudian ada sebuah organisasi perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana dan baru didirikan pada tahun 2009 yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. kajian yang akan peneliti lakukan disarankan lebih spesifikasi pada lingkup birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. Selain itu. sehinga peneliti lebih mudah dalam mengakses sumber informasi dan data dalam mejalankan penelitian. Pada mengenai kebencanaan sepertinya cukup waktu itu. Sehingga terlintas dalam benak pikiran peneliti bahwa permasalahan dikaji. internet.

karena penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada tataran birokrasi. Dinas Sosial. Setelah itu peneliti dengan semangat dan tekad yang kuat pada hari Minggu tanggal 02 Januari 2010 memutuskan untuk melakukan pra survai agar lebih mengetahui sejauh mana spesifikasi permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka khususnya menyoroti pada aspek birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana alam. Pada waktu itu pula dengan berbekal surat izin pra survai dari Kesbang peneliti langsung mengunjungi beberapa informan awal untuk mengetahui sejauh mana permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pada hari Kamis tanggal 06 Januari 2011 surat pra survai mendapat disposisi dari Kantor Kesbang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Kesehatan. sehingga pada waktu itu untuk mencari informasi tersebut peneliti berkunjung ke beberapa instansi pemerintah yaitu. Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda). Dalam proses perizinan tersebut membutuhkan disposisi dari setiap lembaga maka hari itu peneliti fokus untuk memberikan surat izin pra survai kepada lembaga pemerintah yang akan 57 . dan Kantor Kecamatan Bantarujeg. Lembaga pemerintah menjadi tujuan pokok kunjungan peneliti untuk mendapatka informasi. Berbekal surat izin pra survai yang dibawa dari kampus pada hari Senin tanggal 03 Januari 2011 peneliti langsung mengunjungi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Kabupaten Majalengka untuk melakukan perizinan dalam pra survai yang akan peneliti lakukan.daerah dalam penangglangan bencana alam di Kabupaten Majalengka di acc. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Setelah melakukan beberapa proses awal untuk mendapatkan informasi akhirnya peneliti memutuskan untuk kembali ke kampus untuk memperiapkan bimbingan usul penelitian kepada dosen pembimbing .peneliti kunjungi. 58 . S. Setibanya di Majalengka peneliti tidak langsung bergerak untuk melakukan penelitian.IP.IP. kemudian Rabu. Setelah itu dilakukan revisi proposal tersebut untuk memantapkan fokus penelitian yang akan peneliti lakukan. Kantor Kecamatan Bantarujeg. S. dan Bappeda. kerabat. M. Senin tanggal 10 sampai dengan Jum’at tanggal 15 Januari 2011 peneliti langsung bergerak untuk mengunjungi lembaga pemerintah yang menjadi fokus penelitian. dan Jum’at masing-masing mengunjungi DPRD. Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2011 peneliti kembali ke kampus untuk melanjutkan proses bimbingan usul penelitian untuk melalui tahap seminar usul penelitian. Melalui proses bimbingan akhirnya pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 peneliti melaksanakan seminar proposal usul penelitian. untuk mengetahui gambaran bencana alam yang sedang terjadi di 17 17 Dosen Pembimbing peneliti adalah Adhi Iman Sulaiman. MA selaku pembimbng II. kakak. Kunjungan pertama untuk dimulai di BPBD. namun waktu luang dari hari Jum’at sampai dengan Minggu (25-27 Maret 2011) peneliti gunakan untuk berdiskusi dan share terkait penelitian yang akan peneliti lakukan kepada orang tua. kemudian dilanjutkan ke Dinas Sosial. dan teman-teman. Kamis. Setelah proposal usul penelitian selesai dengan membawa surat izin penelitian dari Bapendik FISIP Unsoed peneliti kembali ke Majalengka pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2011 dan siap untuk menjalani penelitian. Selasa peneliti berkunjunjung ke Dinas Kesehatan.Si selaku pembimbing I dan Khairuroojiqien Sobandi.

Blok Klewih RT/RW 09/12. 59 . karena surat izin penelitian baru di keluarkan seminggu kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 08 Maret 2011. BPBD. Berbekal pengetahuan dan jaringan informan maka pada hari Senin tanggal 28 Maret 2011. peneliti langsung mengurus surat izin penelitian ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Bappeda. Senin tanggal 11 April 2011 peneliti mulai melakukan penelitian di instasi atau lembaga pemerintahan. Informasi dan data-data bisa terkumpul yang kemudian akan mendukung dalam penyususnan penelitian khususnya konteks peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka berakhir pada hari Sabtu. DPRD. sekaligus mengunjungi Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). dimulai dari Dinas Sosial dan kemudia Dinas lainnya. satu hari penuh peneliti menggali informasi tersebut dengan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk merepresentasikan pembahasan penelitian. dan Kecamatan.Majalengka dan membuka jaringan di lembaga pemerintahan yang akan dijadikan sumber informasi dalam melakukan penelitian. Sambi menunggu kembali hari aktif kerja kantoran maka pada hari Minggu tanggal 10 April 2011 peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian ke masyarakat selaku korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. dan itupun peneliti tidak kemudian langsung terjun untuk melakukan penelitian karena pada hari Jum’at kantor pemerintahan hanya beroperasi setengah hari dan kemudian pada hari Sabtu libur. Lamanya prosedur penelitian atau disposisi dari Kesbangpol membuat peneliti menjadi jenuh. tanggal 23 April 2011.

tanah longsor. Analisis Potensi Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Secara administratif Kabupaten Majalengka yang terletak pada meridian 01 derajat 14’20”BT dan 06 derajat 33’40” – 07 derajat 04’19” LS dengan luas 1. serta kekeringan.24 km persegi atau 2. dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cikijing dan Cingambul. banjir. 18 18 Laporan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka 60 . Maja. dan kekeringan .1. Hasil Penelitian 4. Daerah-daerah yang termasuk ke dalam zona resiko tinggi letusan Gunung Ciremai adalah Kecamatan Argapura dan sebagian wilayah Sukahaji dan Rajagaluh. angin putting beliung.3.4. Banjaran. angin puting beliung.1. Maja. ancaman gempa bumi.71% luas total Provinsi Jawa Barat dan terbagi kedalam 27 wilayah kecamatan dan 334 desa/kelurahan memiliki potensi bencana alam (potential hazard) yang cukup tinggi.204. Daerah resiko tinggi ancaman longsor berada di wilayah bagian selatan diantaranya Kecamatan Argapura. tanah longsor dan letusan Gunung Ciremai).3.Daerah yang rawan gempa di wilayah Kabupaten Majalengka diantaranya Kecamatan Rajagaluh. Sindangwangi. Ancaman-ancaman bahaya bencana alam tersebut dapat dikelompokan menjadi bahaya beraspek geologi (ancaman gempa bumi. Sukahaji. Argapura. Bantarujeg. Malausma. Potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari ancaman bencana letusan Gunung Ciremai.3. Lemahsugih. dan bahaya beraspek hidrometeorologi seperti ancaman banjir.1. Talaga. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka 4.

Jatiwangi. Kadipaten. Pada tahun 2009 terjadi 67 kejadian sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 114 kejadian. Berikut tabel kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 dan 2010. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Rajagaluh. Wilayah yang rawan atau berpotensi mengalami kekeringan atau kesulitan air di wilayah selatan diantaranya meliputi Kecamatan Sukahaji. Berdasarkan laporan dari BPBD dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Majalengka angka kejadian bencana alam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Cigasong. dengan kerentanan dan variasi bencana dengan daerah yang berbeda. Sumberjaya. Argapura. dan sebagian wilayah Kecamatan Cikijing. Jatitujuh. Sindangwangi. dan Cingambul. Lemahsugih. dan Sukhaji. sedangkan Desa Dawuan yang berada di wilayah Kecamatan Dawuan merupakan desa yang sulit mendapatkan air bersih sepanjang tahun . Untuk wilayah utara meliputi Kecamatan Ligung. Ligung. 19 19 Ibid 61 . Panyingkiran. Palasah. Maja. Bantarujeg. Sementara untuk ancaman angin puting beliung berdasarkan sejarah kejadian umumnya berada di wilayah utara yang mencakup Kecamatan Kertajati.Banjaran. Banjaran. serta wilayah Cikijing. sebagian Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati.

Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2009 Sumber: Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Majalengka Tabel 10. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2010 BULAN Januari BENCANA YANG TERJADI Tanah Longsor Putting Beliung Kebakaran Banjir Tanah Longsor Tanggul jebol Kebakaran Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Sambaran petir Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Longsor Banjir Pohon tumbang Kebakaran Kebakaran Tanah longsor Kebakaran TOTAL VOLUME LUKA RINGAN 9 kali 8 kali 1 kali 1 kali 14 kali 1 kali 1 kali 3 kali 5 kali 2 kali 4 kali 3 kali 2 kali 6 kali 2 kali 2 kali 8 kali 4 kali 1 kali 5 kali 2 kali 2 kali 2 kali 114 kali JUMLAH KORBAN LUKA TEWAS BERAT 1 1 1 Februari 1 Maret 2 1 April Mei 3 3 Juni-Juli Agustus 7 4 2 Sumber: BPBD Majalengka dari Radar Majalengka. Sabtu 6 November 2010 62 .Tabel 9.

seperti yang dipaparkan oleh Yuarliana . 21 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati yang dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08. terbukti dengan runtutan kejadian-kejadian bencana alam yang sekarang terjadi. peneliti ajukan kepada Sekretaris Daerah.Angka kejadian bencana alam yang terus meningkat menjadi dasar pertanyaan yang akan peneliti tanyakan kepada pemerintah daerah sebagai akses pembuka dalam penelitian ini. Hal mendasar adalah berbicara prospek pemerintah daerah dalam menganalisis potensi bencana alam di Kabupaten Majalengka. kemudian daerahnya merupakan patahan lempeng bumi. dataran sedang.05 WIB di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. yang diwakili oleh Ibu Yati Sumiati . Informan pun menjawab pertanyaan dengan sebuah argumentasi utama bahwa hal yang mendasar pemerintah daerah dalam menganalisis bencana alam di Kabupaten Majalengka adalah secara geografis berada dalam satu lipatan patahan bumi terdiri dari wilayah dataran tinggi. sehingga atas dasar tersebut bisa dikatakan Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. Bagian Organisasi. dan rendah mengakibatkan bencana yang terjadi lebih bervariasi pula. Senada dengan infroman lainnya. yang merupakan rekannya di Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. 63 . 22 Yuarlina adalah Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Pertanyaan ini. nah mangkanya daerah kita termasuk daerah rawan 21 bencana . 22 20 Yati Sumiati adalah Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka yang bertugas sebagai basis konseptual perumusan kebijakan evaluasi dan monitoring Satuan Kerja Perangkat Daerah. Berikut pemaparan informan dalam sebuah wawancara: 20 Wilayah Majalengka digolong sebagai wilayah bencana.

Begitu juga disampaikan oleh A.10. banjir erosi dan lainnya. 25 Hasil wawancara peneliti dengan A Syihabuddin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09.45 . sehingga satu sama lainnya bisa saling menguntungkan. angin puting beliung. kita kan gak bisa menghindar. maka dari itu pemerintah pun konsen terhadap 25 penanggulangan bencana . tetapi tidak kemudian menganggap remeh hal tersebut. walaupun skala bencana yang terjadi adalah kecil.10-30 WIB di kantor Komisi D DPRD Kabupaten Majalengka. maka harus dibutuhkan kesiapsiagaan 23 dalam panggulangannya . karena bisa saja dampak yang ditimbulkan berfek besar. dan bencana sangat bervariasi mulai dari gempa bumi karena daerah kita termasuk wilayah patahan bumi. baik itu di daerah selatan yang merupakan daerah atas rawan dengan 23 Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 09. Kita melihat potensi Majalengka cukup besar. 26 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 24 A. longsor). Itu faktor alam.25 .40 WIB dikantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Bagian Kesejahteraan Masyarakat. Syihabuddin adalah Ketua Komisi C (Bidang Pembangunan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka Periode 2009-2013. Majalengka merupakan rawan bencana (ada bencana banjir. Dipertegas oleh Heri Pambudhi 26 bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. Syihabuddin 24 yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana dan tentunya memerlukan sebuah perhatian khusus baik itu bagi pemerintah sebagai agen kebijakan dan masyarakat sebagai penerima kebijakan. tanah longsor. 64 . Walaupun bencana itu hanya bencana kecil namun ketika dibiarkan akan sangat fatal.Secara geografis Majalengka rawan bencana alam.

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. memajukan kesejahteraan umum.longsor dan jalur patahan bumi. mulai dari longsor. sehingga potensi gempa. 4. Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak 27 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 11. Secara geografis Kabupaten Majalengka berada dalam jalur patahan bumi dengan konstruk wilayah labil yang menyebabkan bencana alam sering terjadi. abrasi. sampai puting beliung.2. dengan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. 27 Kemudian dataran rendah sangat berpotensi kekeringan .12. Sehingga bisa dinyatakan Kabupaten Majalengka adalah kawasan rawan bencana alam. menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam. banjir. Kesimpulan dari berbagai argumentasi hasil wawanacara.3. Pembentukan undang-undang ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam alenia ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 merupakan landasan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana.1. gempa.00 .15 WIB di kantor Bagian Kedaruratan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 65 . perdamaian abadi dan keadilan sosial.

28 hidrologis. geologis. yang dilaksanakan secara terencana. terpadu.atas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia . saat tanggap darurat dan pasca bencana. Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari unsur pengarah dan unsur 29 28 29 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV Lihat Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penangggulangan bencana 66 . Mencermati hal tersebut. dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi. b) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dan menyeluruh. Materi muatan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 berisikan ketentuan-ketentuan pokok sebagai berikut : a) Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah. dan terkoordinasi. terkoordinasi. sehingga memerlukan penanganan yang sistematis. terpadu. namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang memiliki kondisi geografis. dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan kondisi alam yang memiliki berbagai keunggulan. disusunlah undang-undang tentang penanggulangan bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra bencana.

juga disediakan dana siap pakai dengan pertanggungjawaban melalui mekanisme khusus. d) Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. mendapatkan perlindungan sosial. g) Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah. saat tanggap darurat.pelaksana. 67 . pemerintah daerah. dan pasca bencana. agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana. e) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana. c) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. kegiatan penanggulangan bencana selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). dan masyarakat pada setiap tahapan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan terpadu sesuai dengan kewenangannya. mendapatkan pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. f) Pada saat tanggap darurat.

diwadahi dalam sekretariat. baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang menimbulkan kerugian. Pemerintah daerah dalam hal ini adalah kepala daerah Kabupaten Majalengka dalam penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. pemerintah daerah perlu membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). menghambat kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 18 dan pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.h) Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus memberikan efek jera terhadap para pihak. perlu menetapkan tentang pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sesuai ketentuan Pasal 12 huruf h. unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat. Akhirnya pemerintah pun memutuskan dan mengesahkan Perka BNPB Nomor 03 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan BPBD. dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum. Dalam rangka memenuhi amanat dari undang-undang tersebut pemerintah daerah Kabupaten Majalengka menyusun sebuah mekanisme untuk merealisasikan berdirinya BPBD sebagai organisasi perangkat daerah. baik pidana penjara maupun pidana denda. unsur 68 . dan penyalahgunaan pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi pidana. baik terhadap harta benda maupun matinya orang.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam menjadi hal yang menarik dalam melihat sejauh mana kebijakan tersebut diimplementasikan. yang di dalamnya mengatur tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). diwadahi dalam lembaga teknis daerah.perencana yang diwadahi dalam bentuk badan. kemudian di follow up dengan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah. namun informan hanya memberikan gambaran secara umum. Pertanyaan tersebut peneliti ajukan kepada Ibu Yuarlina Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. karena dengan alasan tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskanhal tersebut. serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. Yati Sumiati informan dari Sekretaris Daerah (Sekda) yang menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan 69 . Informan hanya menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.

Bukti keseriusan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah dengan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. dan pasal 7 bagian satu . b. penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah. mungkin 32 seperti itu dasarnya . 31 (1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a.Bencana. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada pada UU 30 31 24/2007 pasal 6 . atau pihakpihak internasional lain. e. pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. pembuatan perencanaan pembangunan yangmemasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana. b. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional. Secara mendasar kebijakan tersebut di amanahkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Cit 70 . 32 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan pembangunan nasional. e. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. dan g. c. berikut pemaparan beliau: Bahwa NKRI dan dalam hal ini adalah pemerintah daerah Majalengka bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. Pentingnya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengka karena secara mendasar Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana 30 Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. d. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana. pemulihan kondisi dari dampak bencana. d. badan-badan. c. dan g. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. f. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan alam untuk melakukan pemulihan. penentuan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain. f.

Oleh karena itu.alam. Cit 71 . Kalo sbelum didirikan BPBD kita mempunyai Satkorlak PB. Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Nomor 03 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). jadi bisa dikatakan sebagai rohnya. 34 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. kalo disini kita namakan BPBD.dan b. Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sehingga sekarang penanggulangan bencana ditanganai tidak secara vertikal lagi.tapi sekarang lebih bersifat koordinasi. yang disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Majalengka maka dibentuklah BPBD. Bisa dilihat alasan kita membentuk BPBD di dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 BAB IV di kelembagaannya 33 khususnya di pasal 18 . Dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya mengatur tentang pendirian BPBD atas landasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penangggulangan Bencana. yang dipimpin Kesbangpol. Namun kondisinya di semua kabupaten belum membentuk badan 34 penanggulangan bencana . dengan melanjutkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Jadi tingkat nasional juga harus dibentuk badan peanggulangan bencana. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. 33 (1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Sehingga Pemda membentuk kembali lembaga yang lebih khusus dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib. namun setelah didirikan BPBD maka Satkorlak PB dibubarkan.

dengan dibentuknya Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertujuan sebagai landasan lembaga atau organisasi perangkat daerah yang fokus dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka.dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadikan landasan dikeluarkannya kebijakan penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Gambar 6. Bagan Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka Sumber: Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perngkat Daerah 72 .

rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. tugas pokok dan fungsi dari BPBD sesuai dengan amanah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dalam pasal 53 adalah: (1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah unsur pendukung tugas Bupati yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Bupati. dan h. f. penanganan darurat.Adapun kedudukan. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Bupati setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan yang mencakup pencegahan bencana. e. c. d. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Menyusun. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan peraturan perundangundangan. b. 73 . (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas pokok: a. g. menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana.

menyelenggarakan fungsi : a. Unsur Pengarah. Kepala Pelaksana. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh. membawahkan : 1. (3) Susunan Organisasi Unsur Pelaksana Badan Penanggulangn Bencana Daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. terdiri dari : a. efektif dan efisien. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. Unsur Pelaksana. Sekretariat. b. b. Sementara itu.(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. untuk penjelasan terkait struktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) termaktub dalam pasal 54 sebagai berikut: (1) Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kepala Badan. Sub Bagian Umum. 74 . terdiri dari: a. c. (2) Pengaturan Unsur Pengarah Badan Penanggulagan Bencana Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c.

2. 2. membawahkan : 1. Seksi Kesiapsiagaan Bencana. d. membawahkan : 1. Sub Bagian Keuangan.1.3. Seksi Pencegahan Bencana. Bidang Kedaruratan dan Logistik. Seksi Kedaruratan Bencana. 2. Evaluasi dan Pelaporan. membawahkan : 1. 3. 4.3. bagaimana manajemen dalam penanggulamgan bencana yang dilakukan. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Kelompok Jabatan Fungsional.2. Manajemen Majalengka Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Penanggulangan bencana alam tentunya membutuhkan upaya-upaya yang terorganisir dan sistematis agar tercipta sebuah penanganan yang efektif dan efisien. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan. Seksi Logistik Bencana. Sub Bagian Perencanaan. f. c. Seksi Rekonstruksi Bencana. (4) Bagan Struktur Organisasi Badan Penangulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran XXVII Peraturan Daerah ini. Pertanyaan ini lebih di fokuskan pada Badan Penanggulangan Bencana 75 . Seksi Rehabilitasi Bencana. e. Pemikiran tersebut mendasari peneliti untuk menanyakan kepada informan.

salah satunya adalah lokasi yang ditinggal karena penghuninya 35 35 Buku panduan penaggulangan bencana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka 76 . merencanakan tata ruang daerah. karena badan ini merupakan satuan kerja perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana. secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut : a) Sektor pemerintahan. Pada hari Senin tanggal 18 April 2011 peneliti mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai manajemen penanggulangan bencana yang dilakuakn oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana prasarana.Daerah (BPBD). c) Sektor sosial. termasuk obat-obatan dan para medis. penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana. merencanakan pelayanan kesehatan dan medis. merencanakan kebutuhan pangan. sandang dan kebutuhan dasar lainnya untuk korban atau pengungsi. b) Sektor kesehatan. mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah. sedangkan SKPD lainnya merupakan elemen pembantu dan koordinasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana. f) TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan mengungsi. d) Sektor pekerjaan umum. Dalam melaksanakan penanggulangan bencana di daerah akan memerlukan koordinasi dengan sektor. e) Sektor keuangan.

dengan mengunjungi kantor BPBD. Heri Pambudhi

36

pun menjelaskan bahwa

dalam manajemen penanggulangan bencana sebenarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Karena informan membidangi kesiapsiagaan dan darurat maka jawabannya lebih menjelaskan pada konteks penanggulangan bencana sebelum bencana terjadi. Berikut pemaparan informan mengenai hal tersebut.

Kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Atas dasar geografis Majalengka yang rawan akan bencana maka munculah Perda No 10 tahun 2009. Untuk fungsi komando BPBD ini memegang pucuk pimpinan pada saat terjadi bencana, kalo tidak terjadi bencana kita tidak berhak untuk itu. Fungsi Pelaksana misalkan kita mendapatkan alokai dana dari propinsi atau pun APBD kita langsung melaksanakan saja secara administrasi, tetapi pada saat pelakasanaan di lapangan yang secara teknis melaksanakan adalah dinas teknis 37 seperti DBMCK, Dinkes dan lainnya . Setelah itu peneliti direkomendasikan untuk mewawancarai kepada bidang tanggap darurat. Pada waktu itu pula peneliti langsung bertemu dengan Hardi. Informan menjelaskan mengenai manajemen penaggulangan bencana pada saat tanggap darurat. Karena secara makronya ada bencana alam, non alam dan sosial, khusunya yang dilakukan tindakan kedaruratan bencana yang terjadi di Kabupaten kita, kita melakuakn kegiatan-kegiatan ketanggap daruratan seperti memberikan sembako dan fammilly kit, hanya selama ini untuk bantuannya sendiri terbatas. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu
36

Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Keaduratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. 37 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi Loc. Cit

77

sudah terakumulasi, karena pada saat terajdi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain. Kesehtan bisa meberdayakan Dinkes dan Puskesmas, kemudian dibantu dengan TNI dan dinas lainnya, seperti itulah tapi 38 tetep dengna komando dari BPBD . Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kemudian peneliti mencoba untuk menggali informasi di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD. Peneliti pun langsung to the point menanyakan tentang fungsi dari rehabilitasi dan rekonstruksi kepada Moch Agus Slamet , dan beliau pun langsung mengulas dan menjelasakan inti dari rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti pemaparannya berikut ini.
39

Rehabilitasi itu ya intinya tugasnya pasca bencana yaitu merehabilitasi akibat bencana nya, kalo rekonstruskinya yaitu memperbaiki dari keadaan rusak menjadi keadaan semula, setelah bencana kita tingkatkan menjadi lebih baik, kalo merehab intinya begitu. Tapi untuk sampai saat ini bantuan fisik kontruksi belum bisa dilaksanakan. Kalo untuk yang sekarang penanganan-penanganan yang terjadi akibat longsor itu belum terealisasi namum tetep kita usulkan. Untuk sampai saat ini belum ada yang kita bantu. Untuk masalah pendanaan kalo berat yang nanganinya pusat 15 juta propoinsi 5 juta, kabupaten 1 juta, karena itu sudah peraturan. Kita cuma dana siap doang, tapi untuk 40 dana anggaran belum dianggarkan . Manajemen penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Majalengka meliputi pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana. Manajemen ini di dasarkan pada amanah Undang-Undang

38 39 40

Hasil wawancara peneliti dengan Hardi Loc. Cit Agus Slamet adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka Hasil wawancara peneliti dengan Agus Selamet yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2001 pukul 12.20 - 13.10 WIB di kantor Bagaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

78

Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Tentunya langkahlangkah ini harus dilaksaksanakan dengan se-efekitf mungkin dan melihat kapasitas dan orientasi yang dilakukan pada penanganan bencana. Peran dari setiap bidang atau lini yang berada di BPBD sangat diperlukan sebagai langkah dan upaya penanganan bencana yang terintegrasi. Peran dalam penanggulagan bencana tentunya tidak melihat pada satu instamnsi atau aktor saja, namun tentunya berada di stakeholder lainnya, salah satunya adalah Dinas Kesehatan. Pola manajemen penanggulangan bencana pun mereka lakukan, walaupun secara tidak langusng Dinas Kesehatan berada dibawah garis koordinasi dan komando BPBD, secara mendasar Dinas Kesehatan memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan bencana. Berikut penjelasan hasil wawancara dengan Dinas Kesehatan mengenai manajemen penangggulangan bencana alam.

Pada kejadian bencana khususnya pra bencana kita jelas di semua tahapan salah satunya memberdayakan forum masyarakat, kemudian kita memanfaatkan bidan desa, mereka juga kita bekali dengan pengetahuan bagaimana untuk mengenali peluang dan potensi bencana di desa 41 masing-masing. Kemudian untuk survelian dan MATRA sudah jelas akan mengamati terkait potensi bencana di setiap desa, itu di tahap bencana, disamping juga kita menguatkan puskesmas sebagai pos terdepan dalam penanggulangan bencana. Pas bencana kita segera menurukan tim gerak cepat untuk intervensi langsung terjun lapangan. Kemudian pasca benca, itu banyak sekali kan kerusakan akibat bencana, jelas salah satunya adalah

41

MATRA (kondisi normal berubah menjadi tidak normal kemudianm enjadi normal lagi)

79

tapi jika kemudian lahan tersebut tidak aman 43 untuk dihuni maka kita akan relokasi . Kalau misalkan masih memungkinkan berdiri bangunan. khususnya dalam bidang kesehatan itu sendiri Bagaimana dengan peran yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK)? Dipaparkan mealalui petikan hasil wawancara peneliti bersama informan dari DBMCK mengenai manajemen penanggulangan bencana alam yang dilakukan oleh dinas tersebut. Dari kutipan wawancara tersebut. 43 Hasil wawancara peneliti dengan Indriyanto selaku Kepala Seksi Perumahan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 pukul 08. Sebelum bencana kita sosialisasi juga ke masayarakat. Tentunya Dinas Kesehatan menjadi mitra kerja bagi BPBD dalam penanggulangan bencana.kondisi kesehatan masyarakat. maka kita mempunyai 42 tanggung jawab dalam memulihkan kondis korban . saat bencana. dan setelah bencana. itu tergantung dari hasil pas survey pada saaat bencana. Manajemen yang dilakukan setidaknya memberikan sebuah gambaran bahwa Dinas Kesehatan memang sangat fokus dan konsen dalam usaha penanggulangan bencana pra bencana. Setelah bencana kita itu ada perencanaan untuk relokasi dan rekonstruksi. Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa peran Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dengan manajemen yang dijalankannya lebih pada 42 Hasil wawancara peneliti dengan Ida Heriyani selaku Kepala Seksi Bagaian Survelian dan Matra Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. Pada saat bencana kita turunkan tim untuk menanggulangi bencana dengan kemampuan yang kita miliki.35 WIB di kantor inas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) Kabupaten Majalengka. 80 .30 – 09. Dinas Kesehatan mempunyai tupoksi sendiri untuk menjalankan penanganan bencana.

Setelah kita memulihkan kembali kepada korban agar tidak trauma. Sebelum dibentuk dan didirikannya BPBD. Dinas Sosial menjadi koordinator dalam Satkorlak PB (Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana). Pada saat bencana kita terjun langsung dengan bantuan-bantuan logistik seperti pasang tenda. Kita juga melakukan relokasi dengan cara pengajuan proposal ke propinsi dulu. 81 .35 WIB di kantor Bagian Sosial. dan sekarang yang lebih konsen adalah BPBD. Dinas Sosial. Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka.25 – 10.penanganan relokasi bagi korban bencana dan penurunan alat-alat berat pada saat bencana alam terjadi. Komitmen pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana begitu sangat dinantikan oleh masyarakat. Dinas sosial merupakan dinas yang mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana. Kita 44 melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan BPBD . Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa setiap sektor mempunyai tugas dan perannya masing-masing dalam upaya penanggulangan bencana alam. 44 Hasil wawancara peneliti dengan Asikin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09. memberikan pelayanan relokasi ke daerah yang lebih aman. Kita kerjasama dengan BPBD. melalui kepanjangan tangannya yaitu lembaga daerah yang konsen dan mempunyai tanggungjawab dalam bidang kebencanaan tentunya tidak bisa terelakan lagi untuk memberikan sebuah jawaban itu semua. dalam penanggulangan bencana peran dan pola manajemen penanggulangan bencana dilakukan Dinas Sosial seperti disampaikan Asikin sebagai berikut: Sebelum bencana kita melaksanakan penyuluhan ke daerahdaerah reawan bencana yaitu mengingatkan kepada masyarakat biar waspada. makanan danevakuasi korban. dan kementerian jika memang itu harus memungkinakan harus di relokasi.

dan akan dilakukan menuntut pada sebuah pembagian peran masing-masing stakeholder dalam penanggulangan bencana. yang merupakan institusi terendah dalam sebuah pemerintahan daerah. Manajemen penanggulangan bencana yang sistematis tentunya akan memudahkan dan memepercepat penanggulangan bencana alam yang efektif dan efisien.45 WIB di kantor Kecamatan Jatitujuh. Koordinasi menjadi hal yang mutlak diperlukan agar setiap lini bersinergis dan bahu-membahu dalam melaksanakan perannya masing-masing. 82 . sedang. ada kerjasama dengan UPTD dan masyarakat sekitar. Posisi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sangat sentral dan penting. Tanggap darurat kecamatan sudah membuat langkah tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban. Informan mengatakan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah Pra Bencana. Upaya-upaya yang telah. seperti hasil wawancara peneliti dengan informan dari kecamatan yaitu Bapak Kardia .Dalam penanggulangan bencana. Dinas Sosial bersinergi dan berbagi peran dengan BPBD dan dinas lainnya. Hasil wawancara peneliti dengan Kardia yang dilaksanakan pada tanggal Rabu 20 April 2011 pukul 09. Selain itu tentunya kita melihat pada peran kecamatan. Tupoksi yang telah dimiliki masingmasing stakeholder dalam penaggulangan bencana alam setidaknya bisa di aplikasikan secara nyata dalam konteks standarisasi peanggulangan bencana alam 45 45 46 Kardia adalah Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Kecamatan mempunyai posisi strategis dalam penanggulangan bencana. Kabupaten Majalengka.20 – 10. mulai dari beras itu sudah dipersiapkan. Pasca bencana kita mengusahakan untuk membuat pelaporan 46 bencana alam kepada pemerintah daerah .

sebagaimana telah di amanahakan dalam konstitusi dan hukum negara kita.yang tepat. Penanggulangan bencana alam adalah tanggungjawab semua elemen. Mekanisme penanganan 47 bencana kalo sifatnya emergency sekali maka akan 47 Emergency adalah keadaan darurat 83 . dan kelurahan merupakan unsur vital yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. lembaga.3.2. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka.1. Distribusi Peran Satuan Kerja Perangkat Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majelengka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama pemerintah daerah terdiri dari unsur satuan kerja perangkat daerah yang di dalamnya terdiri dari dinas. karena secara operasional yang menanggulanginya adalah BPBD dan dinas-dinas teknis lainnya. 4. inspektorat. Peneliti pun tertarik untuk menanyakan sejauh mana distribusi peran-peran dari satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.3. kecamatan. tidak ada sekat atau garis pemisah agar setiap warga negara memiliki kepedulian sosial terhadap warga lainnya.2. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan terkait distribusi peran stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka dengan Ibu Yuarlina dari Sekretaris Daerah bagian Kesejahteraan Masyarakat: Kami di bagian Kesra sifatnya hanya memfasilitasi dan mengkoordinasikan jika ada kejadian-kejaidain. 4.

Sementara untuk mekanisme teknis dalam penanggulangan bencana dilimpahkan kepada dinas-dinas teknis atau organisasi perangkat daerah yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana secara koordinatif dan berkelanjutan. Cit 50 Hasil wawancara peneliti dengan A. berikut hasil wawancara peneliti dengan komisi C DPRD Kabupaten Majalengka. Begitu halnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga controling eksekutif pemerintah daerah dalam mekanismenya 48 mempunyai peranan penting untuk menjaga dinamika dalam menyuarakan dan mengaspirasikan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Baik itu seperti usulan 50 pembangunan infrastruktur. Jadi sifatnya kami hanya mengkoordinasikan saja. dan sifatnya 49 berkelanjutan . salah satu komisi yang konsen terhadap penanganan bencana yaitu komisi C membidangi pembangunan. ekonomi dan lainnya . koordinasi dengan dinas-dinas lainnya melalui BPBD. 48 49 OPD adalah kependekan dari Organisasi Perangkat Daerah Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina Loc. Iya kita secara aspek politis DPRD konsen terhadap evaluasi dan monitoring terhadap bencana-bencana yang terjadi di Majalengka. Syihabuddin Loc.diarahkan kepada OPD untuk terjun langsung. Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa fungsi dari Sekretrais Daerah selaku jabatan eselonisasi sekaligus menjabat sebagai ketua dari BPBD hanya melaksanakan fungsi koordinasi dan memfasilitasi kejadian bencana yang ada. Cit 84 . Jadi kami disini menginventarisir kejadian-kejadian juga kami kordinasikan dinas-dinas dalam penanggulangan bencana.

memberikan treatment slogan-slogan bencana dengan penyuluhan atau lainya. Termasuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana. saat bencana dan pasca bencana. karena pada saat terjadi bencana. 85 . Hardi. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul 13. Dengan melakukan koordinasi dengan dinas lain yaitu dengan adanya tim kaji cepat. Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. dan fasilitasi dengan membagi tugas dan tupoksi 51 Petikan wawancara dengan Drs. dengan melakukan koordinasi dengan dinas lainnya. ekonomi dan bidang lainnya. Hal yang lebih spesifik melihat peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. juga dalam bentuk sosialisasi kebencanaan.Dari petikan wawancara di atas DPRD mempunyai andil besar dalam monitoring dan evaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Seperti hasil wawancara tersebut. koordinasi dan fasilitasi itu sudah terakumulasi.Si selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitik BPBD Kabupaten Majalengka.45 WIB di kantor bagian Kedaruratan dan Logistik. termasuk untuk menggali dan melihat potensi kebencanaan. Fungsi BPBD dalam emergency respons mempunyai tiga fungsi dalam penanggulangan bencana yaitu fungsi komando. Petikan wawancara di atas memberikan penjelasan bahwa dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka BPBD mempunyai siklus dalam penanganannya.00-13. untuk spesifik tugas berada di 51 dinas-dinas lain atau lintas bidang . koordinasi. M. Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan dari BPBD. Di BPBD ada semacam siklus. baik pra bencana. agar kerentanan bencana bisa teratasi dan memberikan perlindungan bagi masyarakat dan korban bencana alam. DPRD memberikan sebuah usulan atas pembangunan infrastruktur. informasi daerah rawan bencana. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando. peneliti mewawancarai informan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

25 WIB di kantor bagian Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Dalam prakteknya BPBD mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan oleh korban. karena secara langsung Dinas Kesehatan sangat berhubungan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam. 52 Secara umum jalur komando itu berada di BPBD. BE selaku Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka. Jadi kiprah kami selama satu 53 tahun. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul13. Contoh kemarin ada bencana banjir di Kertajatai. karena kita di kecamatan 52 Hasil wawancara dengan R. Loc. Cit 86 . Peneliti memutuskan untuk mewawancarai informan dari Dinas Kesehatan. karena kita bukan dinas teknis . kita berkoordinasi di bawah BPBD kita bekerjasama dengan TNI kita langsung tanggulangi. Moch Agus Slamet. baik psikis ataupun psikologis. Penjelasan tersebut kemudian diperjelas dengan siklus manajemen yang dilakukan BPBD dalam peanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dan masih umum sudah bisa berjalan . menjadi normal. pada saat bencana dan pasca bencana. Nanti kita ada penanganan sebelum bencana. sebenarnya seperti apa fungsi koordinasi yang dijalankan tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. kaena penanggulangan bencanan ini merupakan tanggungjawab bersama dan dilakukan lintas sektor maka untuk mengetahui sejauh mana peran dari lembaga lain dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Berbicara tentang fungsi koordinasi lintas bidang peneliti kembali bertanya. Jadi peran Dinas Kesehatan adalah memulihkan kondisi tidak normal karena bencana alam menjadi situasi tidak normal. 53 Hasil wawancara dengan Heri Pambudhi.45 – 14. Setelah mengetahui sejauh mana peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).masing-masing dinas.

jadi kita perankan puskesmas. Stakeholder lain pun tentunya memiliki peranan khusus dalam penanggulangan bencana alam. yang biasanya menjadi pelopor dalam rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana yang ditimbulkan. Cit. Peran Dinas Kesehatan melalui perangkatnya mempunyai efek positif dalam pemulihan atau normalisasi korban bencana alam. Kalau misalkan alat berat kita langsung menghubungi bidang alat berat. 87 . sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. Dinas Kesehatan mempunyai peran dalam pemulihaan kesehatan korban bencana alam karena dampak bencana tidak hanya pada hancurnya bangunan ataupun rusaknya lingkungan sekitar. Memberikan sosialisai dan membangun rumah tinggal korban bencana. salah satunya adalah melihat peran dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. Hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dari DBMCK. Pertanyaan yang diajukan masih seputar peran DBMCK dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. kalaupun misalkan diminta bantuan kalau misalkan dinas DBMCK jadwalnya kan rutin sewaktuwaktu ada laporan diminta bantuan ada bencana alam kita siap. Jadi yang 54 jelas kita bergerak di dalam bidang kesehatan . Hasil wawancara dengan Indrayono Loc. Loc. Cit. secara tidak langsung peranannya lebih spesifik pada penanganan setelah bencana. Disini kita fokus pada pendataan 55 bangunan. yaitu 54 55 Hasil wawancara dengan Ida Heriyani. kemudian kepada rencana relokasinya . Tetapi berdampak pula pada subjek atau korban bencana alam tersebut. berikut pemaparannya. dimana hal ini menjadi perhatian khusus agar korban yang lolos dari bencana alam bisa tertangani dan terselamatkan.ada puskesmas.

Seiring dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 yang didalamnya mengatur pembentukan BPBD maka pada waktu itu pula Satlak PB di bubarkan. terus memfasilitasi para korban diantaranya memberikan makan. Memberikan 56 pelayanan kepada masyarakat korban bencana . Sebelum dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) peran dari Dinas Sosial memang menjadi sangat vital. karena mengkordinatori Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana). Sehingga peran Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana berkurang. Salah satu faktor lain yang memiliki peran penting adalah satuan kerja perangkat daerah lainnya yaitu pihak kecamatan. Sudah sangat jelas bahwa fungsi dan peran dari stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam agar tercipta sebuah penanggulangan yang efektif. 88 . Cit. efisien dan terkendali. yang tentunya berperan dalam pengendalian bencana alam di 56 Hasil wawancara dengan Asikin. Loc. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peranan dari Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. pembuatan dapur umum.pada tataran rehabilitasi dan rekonstruksi. Fungsi dan tugas dinasnya adalah langsung melaksanakan kesiapksiasagaan diantaranya melaksanakan keselamatan manusia seperti evakuasi. pakaian dan lainnya. dan untuk saat ini Dinas Sosial merupakan mitra dari BPBD dalam penanggulangan bencana dalam garis koordinasi. dan pelaporan kejadian bencana ke tingkat propinsi maupun pemerintah daerah yang nanti ditidaklanjuti oleh kementerian. Seperti petikan wawancara sebagai berikut: Peran dari Dinsos merancanakan pendataan dan pelaksanaan dalam penanggulangan bencana.

daerahnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peran kecamatan dalam penanggulangan bencana alam. Berikut petikan wawancara dengan pihak kecamatan.

Kesiapan dalam menangani terutama dalam aliran sungai, dan sekarang terjadi longsor merobohkan sekitar 17 rumah. Pihak Kecamatan sudah menyikapi hal tersebut dengan cara melaporkan ke tingkat kabupaten, dan BPBD. Ada penawaran dari tingkat kabupaten untuk direlokasikan. Pas tanggap darurat kecamatan sudah membuat tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras dan sebagainya itu sudah dipersiapkan. Kita juga mengusahakan untuk membuat pelaporan 57 bencana alam kepada pemerintah daerah . Melihat gambaran distribusi peran yang dilakukan oleh stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana perencanaan dan pembangunan akibat bencana alam. Peneliti memutuskan untuk menggali informasi tersebut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lembaga ini dipilih karena secara langsung mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan strategi terpadu dalam pembangunan khususnya melihat pada proses penanggulangan bencana alam. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Bappeda.

57

Hasil wawancara dengan Kardia, Loc. Cit.

89

Karakteristik daerah dan melihat pengalaman-pengalaman ke belakang bencana apa saja sih bencana yang terjadi di Majalengka. Terus kita siapkan penyusunan dan perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, kita akomodir usulan-usulan tersebut. Kita pilih melalui penyelesaian sesuai RPJMD daerah kemudian dituangkan dalam RKPB. Atas keputusan tim TAPD, dengan lintas sektor, Bappeda bagian keuangan, pembangunan, asisten dinas, BPKAD, Inspektorat. Tim angggaran siapkan rencana RAPBD yang diserahkan ke DPRD untuk dibahas dan disahkan bersama Bupati. Usluan dari tiap dinas termasuk BPBD kita bahas, kemudian melakukan Musrembang tingkat kecamatan, OPD dan setelah itu 58 menjadi dokumen untuk menjadi usulan RKPD . Distribusi peran yang telah direncanakan dalam rencana strategis pemerintah daerah Kabupaten Majalengka merupakan mekanisme sinergitas peran dari stakeholder yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Tentunya distribusi peran tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan koridor kerja dari stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

4.3.2.2. Alur Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa

penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. secara

Penyelenggaraan

penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat
58

Hasil wawancara dengan Iwan Tundjiawan selaku Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Wawancara dilakuakn pada tanggal 13 April 2011 pukul 12.35 13.25 WIB.

90

seperti bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan penanggulangan pendidikan bencana, dan keterampilan dalam dalam penyelenggaraan keputusan.

berpartisipasi

pengambilan

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana secara tidak langsung

membutuhkan sebuah keseriusan dari pemerintah daerah, khususnya dalam koordinasi stakeholder, agar tercipta sebuah penanggulangan bencana yang terkoordinatif. Dasar kerangka berfikir dari penelitian ini yang kemudian mencoba untuk mengetahui sejauh mana alur sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana. Pertanyaan pertama peneliti ajukan kepada Ibu Yati Sumiati sebagai staff dari sekretaris daerah. Berikut pemaparan informan mengenai mekanisme sinergi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka.

Kalau di Pemda dalam setiap minggu itu ada rapat koordinasi terbatas (Rakortas), di situ akan menanggapi dan membahas trekait dengan pelaporan-pelaporan dan langkah startegi yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya tidak hanya masalah penanggulangan bencana saja namun juga ada pembahasan operasioanl dinas. Setiap hari Senin bersama kepala SKPD Bupati memimpin rapat 59 SKPD .

59

Wawancara dengan Yati Sumiatai, Loc. Cit

91

61 kembali lagi kepada batasan kewenangan .Pernyataan tersebut diperkuat oleh Yuarlina selaku rekan kerjanya di sekretaris daerah bagian kesejahteraan masyarakat. Cit 92 . Kondisi real sekarang Pemda sinergi amat sangat sinergis. agar setiap kinerja yang akan dilaksanakan bisa terinvertarisis dan terkontrol. Cit Wawancara dengan A. Mencermati hasil wawancara dengan sekretaris daerah dalam menjaga alur sinergi penanggulangan bencana. itu sudah bisa dibuktikan. 60 61 Wawancara dengan Yuarlina. Syihabuddin. Sinerginya bagus. Loc. ketika air sungai di desa saya meluap langsung terjun. Loc. untuk kemudian mendapatkan fasilitasi dan pelaporan untuk menginstruksikan dinas daerah terjun dalam penanggulangannya yang dikomandoi oleh BPBD . begitu juga halnya dalam penanggulangan bencana. Kita bersinergi dengan dinas dalam mekanisme penanggulangan bencana. kalau Satkorlak dibawah pemda itu langsung cepet penanganannya. setiap pekan pihak pemerintah daerah mengadakan rapat koordinasi rutin dengan OPD untuk melakukan pelaporan dan evaluasi atas kinerja yang akan dan telah dijalankan. Hal ini ditujukan untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana pandangan atau perspektif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga yang mengawal dan mengontrol pelaksanaan 60 penyelenggaraan pemerintah mengenai sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka? Berikut petikan wawancara dengan pihak DPRD Kabuapten Majalengka.

Loc. baik di tingkat kabupaten atau propinsi. tapi itu hanya dilaksanakan oleh dinas-dinas tertentu. mendata berapa korban baik rumah yang hancur. PMI. Cit Wawancara dengan Yati. Alhamdulillah perannya sudah positif dari Kabupaten untuk 64 penanggulangan bencana disini . Melihat sejauh ini hasil dari informan menyatakan bahwa koordinasi antar leading sector sangat berjalan baik. Secara formalitas apa yang diungkapkan oleh informan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Majalengka sejauh ini penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka berlangsung lancar tanpa hambatan.: Kita melakukan penataan dan berkoordinasi dengan dinasdinas terkait dengan BPBD. Loc. Kita tetap ada rapat koordinasi. Cit Wawancara dengan A. Alhamdulillah sangat kompak sekali sampai survey kesini. PMI untuk kesehatan. PU. karena dengan pertimbangan sudah terkoordinasi. Syihabudin. kita memberikan laporan dan komando dari BPBD. dinas kompak terjun ke lokasi bencana. terintergrasinya lintas sektor atau stakeholder 62 63 64 Wawancara dengan Asikin. misalkan dalam keadaaan darurat kita langusng koordinasi dengan dinas lain maka langsung 63 ditanganai . Cit 93 . kalau kita menyediakan tahap darurat 62 menyediakan natira (sandang pangan) . Ya bagus. hal ini dipertegas hasil wawancara peneliti dengan pihak Dinas Sosial. Loc. sesuai denga tupoksinya masing-masing.Kesimpulan sementara mengindikasikan bahwa sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam memang cukup efektif dan berjalan lancar. BPBD dan pihak Kecamatan Jatitujuh. melihat kondisi lapangan. Berikut petikan hasil wawancaranya. dan segala macemnya.

Lokasi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang porak poranda akibat terjangan aliran Sungai Cimanuk.3. 94 . Untuk mencari lebih lanjut berkenaan peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam belum cukup rasanya kalau peneliti hanya melihat sudut pandang dari pihak birokrat saja. Ternyata setelah peneliti mencoba menyelidiki dan mencari informasi terkait bencana di Jatitujuh banyak permasalahan yang terjadi dalam penanganannya.3. Namun peneliti menemukan hal yang sangat kontradiktif atas semua pernyataanpernyataan dari stakeholder pemerintah daerah dalam mengatasi kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Peneliti mencoba mengkomparasikan atau membandingkan dengan salah satu kasus kejadian bencana alam di Blok Klewih. Aktor Dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Majalengka Sejauh ini kita melihat peran pemerintah daerah dengan institusi di bawahnya yaitu satuan kerja perangkat daerah bisa membuktikan akan kepeduliannya terhadap penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. 4. Peneliti pun kemudian memutuskan untuk menggali informasi dari korban bencana dan LSM atau semacam paguyuban yang konsen untuk mengaspirasikan dalam kebencanaan.yang ada. Sehingga bisa dikatakan alur sinergi peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana tidak ada kendala dan berjalan lancar. Kecamatan Jatitujuh yang terkena abrasi aliran Sungai Cimanuk yang mengakibatkan ambruknya 12 rumah warga dan satu Mushola.

tapi sampai ayeuna teu acan aya realisasi 65 sakedik pun . Abi mah pengena aya kapasitian ti pamarintah. kalau pun tidak jadi di relokasi. Melihat petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum berperan penuh dalam usaha penanggulangan bencana alam yang terjadi di lokasi tersebut. 65 Hasil wawancara dengan Aca selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Ti kecamatan pun teu aya pisan responna. Tidak ada. Teu aya. dari kebijakan gubernur sareng bupati saurnamah bade ngarealisasikan bantuan kanggo korban 5 juta/kk. 5. blok Klewih Jatutujuh Majalengka. aya relokasi.Wawancara dilaksanakan pada10 April 2011 66 Ibid 95 .000. jeung beas. Saya ingin ada kepastian dari pemerintah tentang relokasi.000. berbicara mengenai peran pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Bilangna waktu itu pas gubernur datang ka lokasi bencana. mie instant. ya tidak apa-apa tapi realisasikan saja dana bantuan yang sudah dijanjikan kepada korban. siga anu lepas tangan wae. upami teu janten relokasi nya teu nanaon sok realisasikeun dana bantuan anu tos di janjikeun.sementara korban pun belum di relokasi. bantuan yang sudah direalisasikan baru bantuan sembako seperti minyak goreng. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Acha selaku korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. Berikut petikan hasil wawancaranya. sementara untuk proses relokasi sampai saat ini belum terealisasi. Bilangnya pada waktu itu gubernur bersama bupati katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. bantuan entos tapi eta ge wungkul bantuan sembako bae aya minyak. dan beras.00/KK. Bantuan pertama hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok saja. mie. dan lantas hanya di biarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah daerah setempat. tetapi sampai saat ini 66 belum ada realisasi sedikit pun .

cuma pembuktian dan realitasnya gak ada. 67 Respon dari Pemda ada. kemana saja ini? Hasil wawancara dengan korban dan Syarifudin Rahmat selaku koordinator dari Forum Peduli Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) ternyata hasil wawancara dengan pihak pemerintah daerah bertolak belakang dengan bukti-bukti di lapangan.padahal korban sangat membutuhkan hunian atau tempat tinggal setelah rumahnya porak poranda akibat terjangan arus Sungai Cimanuk. Berikut petikan wawancara dengan informan. Sungguh sangat ironi. ketika pemerintah daerah menjawab bahwa sejauh ini mereka memperhatikan dan bahkan bertanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam di daerahnya. Informan bersama teman-temannya di FPBAC sebagai penyambung lidah antara masyarakat dengan pemerintah daerah berusaha untuk mengaspirasikan dan merealisasikan yang menjadi tuntutan-tuntuan dan hak-hak dari korban bencana. Tetapi hasil temuan peneliti di lapangan justeru banyak ketidakpuasan dari masyarakat khususnya yang menjadi korban terhadap pemerintah daerah. dengan alasan tidak ada perhatian terhadap mereka. Bahkan sampai saat ini pergerakan kita dari Januari sampai April ini gak ada sama sekali. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Syarifudin Rahmat selaku koordinator Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) . artinya tidak semua 96 . Katakan saja untuk penanganan bencana ini gak ada sama sekali. Bahkan melihat dari stakeholder pemerintah daerah yang terjun langsung dalam penanganan bencana di daerahnya sangat minim.

dan/atau b. 70 69 68 69 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dan memberikan bantuan bencana kepada korban bencana. b. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan besaran bantuan santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. diberikan setelah dilakukan dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya. walaupun ada hanya sebatas mengontrol lokasi saja tanpa ada realisasi secara menyeluruh untuk membantu korban. dan bahkan seperti ada sebuah keacuhan terhadap korban. Prinsip dari bantuan tersebut adalah : 1) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. c. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana sebagai penjabaran dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah memberikan rambu-rambu bahwa bantuan bagi korban bencana antara lain mencakup santunan duka cita pada pasal 24 . Bisa dikatakan perhatian dari pemerintah daerah sangat minim.elemen terjun langsung dalam penanganannya. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. santunan kecacatan. maksudnya bahwa santunan yang diberikan bertujuan untuk melindungi dan menghormati hakhak azasi manusia. harkat dan martabat setiap warga negara. (1) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) huruf a diberikan kepada korban meninggal dalam bentuk: a. (2) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pinjaman lunak untuk usaha produktif. uang duka. santunan duka cita. 70 Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor 08 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Duka Cita 97 . 68 Santunan duka cita diberikan dalam bentuk biaya pemakaman dan/atau uang duka pasal 25 . dan d. biaya pemakaman. (3) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada ahli waris korban. (2) Bantuan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Bantuan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah bagi korban bencana yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memulihkan fungsi sosial dan ekonomi.

saat bencana. proporsionalitas. terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. Pemerintah daerah seharusnya mempunyai tanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di Blok Klewih. 6) Nonproletisi. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum.2) Perlakuan adil. 3) Cepat dan tepat. suku. Jatitujuh sebagaimana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. dan pasca bencana. ras. 7) Kehati-hatian. maksudnya adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana. aman. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan harus cermat. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan tidak membedakan jenis kelamin. 5) Nondiskriminatif. dan aliran politik apa pun. 98 . dan tertib sehingga sampai kepada sasaran. agama. Perlindungan dan rasa keamanan merupakan hak dari setiap warga dan masyarakat yang menjadi korban bencana agar tercipta sebuah tatanan masayarakat yang selaras. adalah bahwa santunan yang diberikan kepada korban bencana semata-mata atas dasar kebutuhan mereka dalam prinsip ini terkandung kerangka kerja yang berlandaskan HAM. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan. teliti. baik pra bencana. serasi. dan seimbang. 4) Transparansi dan Akuntabilitas. dan tidak mendiskriminasi.

Dalam lawatannya. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana aktoraktor yang terlibat di dalam penanggulangan ini mulai bermain dalam proses pencitraan untuk meraih simpati dari korban. sampai saat ini masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dan segera diselesaikan oleh pemerintah daerah selaku stakeholder kunci yang bertanggungjawab penuh dalam proses penanggulangan bencana. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku informan dari FPBAC yang menjelaskan tentang bukti dari janji-janji Bupati kepada para korban. Padahal dalam kebijakan tersebut rumah yang rusak berat 15 juta. Pertama adalah dengan adanya mandat dari Bupati untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan bencana alam tersebut. Segala upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut menjadi hal yang sangat menarik dalam proses penanganan bencana di Jatitujuh ini.000. salah satunya adalah dengan adanya kunjungan langsung dari Bupati ke lokasi kejadian dengan menjanjikan adanya proses ganti rugi dan jaminan kepada para korban.Perkembangan penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk ini. begitu juga stakeholder lainnya utuk bersama-sama mencari solusi terhadap bencana alam yang tyerjadi di daerah tersebut. Bu Ratih selaku ketua BPBD berjanji merealisasikan 1 juta/kk dia menyatakan itu di media.000. Pak Bupati menginterupsikan kepada Pak Kuwu dan warga segera mencari tanah untuk relokasi dengan harga di bawah standar.00/kepala keluarga. 99 .1. Bupati juga menginterupsikan kepada BPBD dengan menjanjikan ganti rugi kepada korban Rp.

pas gubernur datang ke lokasi bencana. gak enak gak nyaman. entah apa yang terjadi gak ada realisasinya juga. Ngomongnya waktu itu. Berikut pemaparan hasil wawancara dengan Karsa sebagi korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. 5. bahkan untuk relokasi korban pun masih mengalami masalah dan ini menjadi permasalahan baru yang muncul. dari kebijakan gubernur katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. Kalo ngukur-ngukur masalah tanah relokasi pemerintah teh gak bilang heula ka masyarakat anu jadi korban. 100 . lokasina di Ronggeng Bokong tempat garong ato rampok jauh dari keramaian. Permasalahan yang timbul adalah adanya pro-kontra antara warga dengan pemerintah daerah mengenai tempat relokasi yang akan ditetapkan.000. Sampai saat ini bantuan yang dijanjikan belum terealisasi dan belum sampai kepada tangan para korban.000.Masyarakat pun semakin gembira ketika Bapak Karna Sobahi (Wakil Bupati) dan Bapak Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat) berbondongbondong datang ke lokasi kejadian dengan menjanjikan ganti rugi dan jaminan kepada korban sebesar Rp.000.5.00/KK. tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Anu di relokasi baru 10 rumah teh tempatna kurang alus. Nya warga teh seuuer nu nolak. Terus Bapak Karna (wakil Bupati) mau merealissikan bantuan dana kepada korban tapi gak tau.000. Seperti yang diungkapkan korban kepada peneliti.00/kepala keluarga. masyarakat selaku korban bencana merasa tempat relokasi yang dijanjikan kurang representatif. Gak maul lah kalo di pencilkeun kitu mah. berikut pemaparannya.

kemudian dia respon dan bilang terima kasih. dan fasilitas atau pun akses akomodasi dan transportasi pun sangat sulit. Seharusnya instansi atau dinas terkait yang bertanggungjawab dalam masalah kebencanaan bisa mengatasi permasalahan ini. Kalau rencana pengukuran tanah relokasi kadang pemerintah tidak membicarakan terlebih dahulu kepada masyarakat yang jadi korban. itu pun tempatnya kurang bagus. Seperti hasil petikan wawancara berikut ini. maupun setelah bencana. Bahkan ketika kita menelpon beliau untuk melaporkan kejadian bencana.Yang di relokasi baru 10 rumah. karena merasa tempat relokasi tidak representatif dan jauh dari keramaian. Realisasi penangangan pada saat bencana pun sangat minim dan bahkan sampai sekarang penanganan pasca bencana salah satunya adalah relokasi bagi korban masih dalam masalah yang serius. Bisa dikatakan tidak ada pergerakan dari instansi pemerintah daerah khususnya BPBD dalam penuntasan dan penanggulangan bencana tersebut baik pra bencana. lokasinya di Ronggeng Bokong tempat perampok dan jauh dari keramaian. 71 71 Ibu Ratih Suratih selaki ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupeten Majalengka 101 . Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa untuk permasalahan relokasi sejatinya pemerintah daerah belum mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat selaku korban. Tapi realitanya gak ada sama sekali. Hal ini menimbulkan penolakan dari korban. Ya akhirnya warga banyak yang nolak. gak enak dan gak nyaman. nanti akan saya tinjau dan terima kasih atas informasinya. tapi usaha dari mereka belum memberikan solusi bagi korban. Tidak mau kalau di pencilkan seperti itu. saat bencana.

Hal tersebut bisa 72 terlihat bagaimana instansi pemerintah yang seharusnya Dewan merupakan ungkapan anggota legislative untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka 73 Hasil wawancara dengan Karsa (Aca) selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.25 WIB. Padahal ini kan sangat mengerikan. namun korban pun merasakan bahwa dari instansi pemerintah daerah lainnya pun kurang begitu respon. 73 kenapa kok di diamkan . dan semuanya ada kunci di Bupati. Permasalahan yang terjadi mengindikasikan adanya tarik ulur dan kekurang sinergi antara bupati dengan insatansi daerah dalam penanggulangan bencana alam tersebut. dari Dewan aja yg terkait dengan konsen bencana aja tidak ada sama sekali untuk memperjuangkan masalah ini. blok Klewih Jatutujuh Majalengka. Pokonya semuanya yang terkait tidak ada tanggungjawab sama sekali. Dan Bupati pun belum mengeluarkan SK bahwa Jatitujuh itu termasuk siaga bencana atau daerah bencana. sebenarnya masyarakat sudah begitu mengharap dan menantikan agar mereka bisa mendapatkan jaminan dan kepastian dari pemerintah daerah terhadap nasib mereka. hal ini dinyatakan oleh Syarifudi Rahmat. mengindikasikan kurang adanya respon dari BPBD dalam penanggulangan bencana.15-12.Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 April 2011. Seharusnya BPBD bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. bahkan surat keputusan (SK) bupati pun belum dikeluarkan. Dari dinas-dinas pun gak ada sama sekali. 102 . berikut petikan wawancaraya. padahal status bencana yang terjadi sangat memperihatinkan dan menjadi siaga bencana di lokasi tersbut. Jangankan dinas yang ada. mereka cuman 72 berwisata.Hasil kutipan wawancara di atas sangat jelas. Petikan wawancara tersebut bisa dijelaskan.pukul 11. padahal dia sudah datang berkunjung ke lokasi. Bahkan permasalahannya tidak hanya sebatas pada BPBD saja.

Padahal sesuai konstitusi untuk permasalahan penanggulangan bencana itu menjadi tanggungjawab penuh pemerintah daerah bukan atas nama bupati. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku koordinator FPBAC yang berargumen bahwa ada sebuah ketidakharmonisan antara bupati dengan instansi di bawahnya.bertanggungjawab dalam penanganan bencana ini seperti kaku dan menunggu komando dari bupati. Takutnya bonus atau kebijakan-kebijakan Bupati itu di potong. 74 SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah 103 . dan pengekangan terhadap desanya. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemecatan. Seperti petikan wawancara berikut ini dengan Syarifudin Rahmat. Bahkan intervensi-intervensi selanjutnya tidak sebatas kepada jajarannya di pemerintah daerah namun juga langsung kepada masyarakat selaku korban bencana. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa bupati selaku pemimpin daerah merupakan aktor yang sangat berpengaruh bahkan bisa mengintervensi jajaran di bawahnya. Tapi kalo Pak camat itu jelas bisa diberhentikan oleh Bupati karena 74 termasuk SKPD . Padahal mereka mempunyai wewenang untuk sesegera mungkin dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi. karena yang namanya Pak lurah itu sangat takut sekali sama Bupati. Kita selalu menahan dan tetap menghargai Pak Lurah. sesuai dengan peraturan yang telah diamanahkan.

kurang tau ini karena ada politisasi dan birokrasi memang susah. Saya cerita lagi. tapi ternyata baru selesai makan-makan. Seperti petikan wawancara berikut ini. 104 . Besoknya ada cibiran ”suaramu jangan kenceng-kencang kalo misalkan Bapakmu gak mau dimutasi atau diberhentikan”. Pak Bupati berdiri dan langsung dipersingkat untuk segera menyelesaikan acara. Ketika kita membikin sebuah opini baru pemerintah respon. Jatitujuh. Padahal mereka hanya menuntut haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak perlindugan dan hidup atau jaminan sosial.Terus malah ada intervensi-itervensi. Ketika kita berbicara begini dalam media maka wacana pemerintah pun berubah juga. Intervensi-intervensi yang dilakukan oleh bupati kepada jajaran begitu juga kepada elemen-elemen masyarakat dan korban sebenarnya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Sudah sewajarnya mereka mengaspirasikan apa yang menjadi keluhan dan pemenuhan hak-haknya. karena mereka menginginkan adanya sebuah jaminan dan kepastian terhadap permasalahan yang terjadi. temen kita bapaknya PNS. namun ketika kejar hal tersebut berubah lagi. Hasil petikan wawancara tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa bupati sangat memegang penuh otoritas dalam permasalahan penaggulangan bencana alam di Blok Klewih. Pak kuwu itu sudah mensetting akan ada audiensi. Tapi ketika kita diam buktinya gak mulus juga. suaranya paling lantang dalam audiensi suaranya paling lantang dan pedas. dulu ketika ada kunjungan Gubernur. Bahkan pergerakan FPBAC dalam mengaspirasikan suara korban kepada pemerintah daerah selalu ditanggapi dengan respon yang kurang baik dan sering menemui jalan buntu.

karena korban menganggap pemerintah desa dan kecamatan tidak respon dalam penanggulangan bencana di daerahnya. Bahkan permasalahannya tidak cukup sampai di situ saja. Tentunya hal ini akan menimbulkan efek negatif terhadap resistensi kepercayaan terhadap bupati dan pemerintahan daerah. Pendapat berbeda ditanggapi oleh pihak Kecamatan Jatitujuh. Seperti kutipan wawancara berikut ini yang dipaparkan oleh Syarifudin Rahmat.Tarik ulur pewacanaan dalam penanggulangan bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh ini menjadi sangat rumit. permasalahan selanjutnya yang timbul adalah adanaya ketidakharmonisan antara warga dengan pemerintah desa dan kecamatan. Seperti kutipan wawancara berikut ini dengan Kardia selaku Sekretaris Camat Jatitujuh. padahal secara tidak langsung DPRD merupakan mitra kerja bupati dan satuan kerja perangkat daerahnya. padahal seharusnya yang mengaspirasikan adalah pemerintahan desa. 105 . Kita sebagai penyambung lidah antara korban dengan pemda. DPRD yang seharusnya bisa mengontrol permasalahan ini pun belum mempunyai andil besar dalam memberikan solusi-solusi nyata. karena berimbas pada pertentangan masyarakat dan FPBAC dengan bupatinya. yang menytakan bahwa masyarakat selaku korban kadang salah menafsirkan terhadap itikad baik yang akan dilakukan oleh pihak kecamatan dan pemerintah daerah. Soalnya antara pemerintahan desa dan warga tersebut sudah tidak harmonis. Ya harusnya minimal ada dari DPRD.

Ketika memang prosesnya sudah dipersiapkan maka akan lebih mudah. karena tidak representatif. kuwu dan pemerintah daerah. nanti di ajukan kepada BPBD. namun karena isue-isue yang tidak bertanggungjawab maka bantuan pun tersendat. baik pemerintah daerah dan 106 . berikut hasil wawancara dengan Kardia selaku sekretaris camat Jatitujuh. namuin di sisi lain masyarakat menganggap pemerintah daerah kurang tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya. Pihak Kecamatan Jatitujuh menyatakan bahwa semua permasalahan tersebut akan segera ditangani dan dislelesaikan dengan segera. Kearifan kebijaksanaan dari individu dan kelompok. Solusi yang telah ditawarakan pihak kecamatan dan pemerintah daerah dalam petikan wawancara tersebut setidaknya menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana dan permasalahan bencana di Blok Klewih Jatitujuh.Itu masyarakat kadangkala salah menafsirkan. demngan catatan harus ada komitmen antara warga. Permasalahan ini menjadi sebuah efek antar domino dikarenakan adanya dan kesalahfahaman dan ketidaksinergian stakeholder. Menganalisis hasil petikan wawancara di atas terjadi sebuah pengalihan masalah antara warga dengan pemerintah. padalah dari pemerintah daerah sudah siap utuk menanggulangi. sehingga timbul penolakan dari korban terhadap tempat relokasi tersebut. di satu sisi bahwa masyarakatlah yang rewel terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah. Pak Bupati akan menerima atau memberikan bantuan harus ada musyawarah antara masyarakat dengan kuwu dan membikin surat persetujuan. Relokasi pun tidak di sosialisasikan terlebih dahulu kepada korban.

5. Dasar Hukum Pendirian BPBD Kabupaten Majalengka Bencana sebagaima yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan.masyarakat untuk bersama-sama memberikan andil terhadap penyelesaian masalah yang terjadi dengan pelurusan kembali terhadap apa yang menjadi tanggungjawab semua pihak terutama dalam penanggulangan bencana alam di Blok Klewih Jatitujuh ini. kekeringan.4. Solusi nyata dan keberpihakan terhadap korban sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh ini. 107 . Pembahasan 4. dan tanah longsor. baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. 4.1. banjir.5. tsunami. Aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah ini setidaknya membutuhkan sebuah komitmen baru dalam memberikan pelayanan terbaik bagi korban. gunung meletus. angin topan. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. Matriks Wawancara Terlampir 4. dan dampak psikologis. kerusakan lingkungan. tidak ada politisasi dan kepentingan individu atau kelempok tertentu dalam mengambil keuntungan permaslahan yang terjadi. kerugian harta benda.

pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. dan kemanusiaan.Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum. Penanggulangan bencana merupakan kewajiban bagi setiap pemerintah pusat ataupun daerah untuk menciptaka perlindungan dan keamaan bagi warganya sehingga membentuk sebuah masyarakat sadar bencana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membentuk Badan Pnanggulangan Becana Daerah (BPBD). Maka dengan melaksanakan amanah undang-undang tersebut Kabupaten Majalengka membuat kebijakan untuk mendirikan BPBD. kelestarian lingkungan hidup. perlindungan. Berdasarkan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala Badan Nasioal Penangulanan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008 yang mengatur tentang mekanisme pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Organisai Perangkat 108 . menjadi sebuah tuntutan dan hak setiap masyarakat agar tercipta sebuah kerangka hukum dan perlindungan dari bencana. Selain itu. dengan dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dibawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 khususunya pada batang tubuh alinea ke-IV yang berprinsip pada keadilan. Kebijakan tersebut dilalui dengan tahapan dan pertimbangan kondisi Kabupaten Majalengka yang secara geologis memiliki kerentanan terhadap bencana alam dan adanya peningkatan bencana dari tahun ke tahun.

Daerah maka dikelurakanlah kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya termaktub tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib. kabupaten. yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masingmasing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. dan kota. sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan 109 . diselenggarakan oleh seluruh provinsi. integrasi. dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. efektif. dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kabupaten Majalengka serta adanya koordinasi. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 memberikan arah dan pedoman yang jelas dalam menata organisasi yang efisien. sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Bahwa dengan ditetapkannya beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang organisasi perangkat daerah serta berdasarkan hasil evaluasi kelembagaan sehingga dipandang perlu melakukan penyesuaian organisasi perangkat daerah di Kabupaten Majalengka. Melihat pada implementasi pendirian BPBD Kabupaten Majalengka. dan efektifitas. rentang kendali serta tata kerja yang jelas. luas wilayah kerja dan kondisi geografis. cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. jenis dan banyaknya tugas. maka perlu membentuk peraturan daerah tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Majalengka. jumlah dan kepadatan penduduk. berdasar pengamatan dan realitas yang ada. kebutuhan daerah.antara pusat dan daerah. antara lain visi dan misi yang jelas. sarana dan prasarana penunjang tugas. pertimbangan. baik dari segi efektifitas. Atas kesepakatan. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan. Implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menerapkan prinsip-prinsip organisasi. pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas. potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani. dan evaluasi stakeholder pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) maka dibentuk dan diresmikanlah BPBD Kabupaten Majalengka. efisiensi. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam. efisiensi dan tata kerja dalam penanggulangan bencana mengindikaskan lembaga 110 .

Sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana belum maksimal dilakukan. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penanggulangan bencana yang belum terealisasi secara terkoordinasi dan terpadu baik pra bencana. Penyadaran kepada masyarakat terhadap bencana dalam bentuk sosialisai ataupun kegiatan pencegahan lainnya seharusnya menjadi agenda rutin yang harus dilakukan. tapi berdasarkan fakta yang ada kegiatan tersbut belum terjadwal dan tersistematis dengan baik.tersebut kurang berjalan dengan optimal. terutama pada aspek perlindugan masyarakat dari bencana dan pemenuhan kebutuhan pokok korban sangat memperihatinkan. 03 Maret 2011. Pada saat bencana terjadi hal yang sama. manajemen pencegahan bencana dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. maupun pasca bencana. penyadaran dan sosialisasi akan bencana seharusnya diterapkan dan dilakukan jauh-jauh sebelum bencana melanda atau dalam keadaan normal sekalipun. hal tersebut bisa dilihat dalam kejadian puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Bantarujeg pada tanggal 24 Februari 2011 . 111 . seperti disampaikan oleh Karsa sebagai korban bencana abrasi Sungai 75 75 Berita dari Harian Radar Majalengka pada hari Kamis. dan akhirnya akan menimbulkan efek pada banyaknya korban jiwa dan kerugian baik materil ataupun non materil. tidak harus menunggu bencana itu datang. Bantuan justru baru datang dua hari setelah bencana tejadi. saat bencana. Bisa dikatakan untuk pra bencana. upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.

atau bisa dikatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mengakomodir semua kepentingan yang ada. Relokasi yang direncanakan sampai saat ini belum terealisasi akibat adanya ketidaksepakatan dari korban akan lokasi yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah. Kebijakan relokasi dan rehabilitasi di Blok Klewih Jatitujuh akibat terjangan Sungai Cimanuk menyebabkan 13 rumah roboh mejadi sumber utama konflik tersebut. hal yang menarik adalah adanya sebuah permasalahan yang menyebabkan konflik antar warga dengan pemerintah desa begitu juga dengan pemerintah daerah. sebelum kebijakan tersebut di formulasikan dan kemudian diimplemetasikan seharusnya ada sebuah akomodir dan rangkuman dari setiap pola kepentigan dari aktor dan masyarkat 112 . Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sepertinya belum merepresentasikan kepentingan semua elemen dan golongan. setiap agenda kebijakan pemerintah pada tahap agenda setting. Pasca bencana.Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh. yang akhirnya sampai saat ini belum bisa terselesaikan. Pada dasarnya. Kerangka hukum pendirian BPBD secara tidak langsung menjadi sebuah landasan utama dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. para korban beranggapan bahwa lokasi yang direncanakan terlalu terpencil dan tidak layak. Hal tersebut mengindikasikan adanya kurang kesiapsiagaan dan kordinasi dari pemerintah daerah khususya BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut. Hal tersebut jelas mengindikasikan adanya sebuah ketidaksiapan dan ketidaktegasan dari pemerintah akan kebijakan yang harus ditetapkan dalam penannggulangan bencana alam di daerah tersebut.

dan pasca bencana bisa terakomodasi dan tertanggulangi dengan baik. Kebijakan yang dikeluarkan tidak parsial atau hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak. sehingga kebijakan yang ada harus benar-benar menjamin akan kebutuhan masyarkat dan berjalan sesuai dengan peraturan dan fungsi yang telah ditetapkan. atau sebagaian orang saja. Tuntutan akan penanggulangan bencana yang terkordinasi. kelompok. sehingga menjadi issue bersama yang nantinya akan menjadi agenda yang harus direalisasikan menjadi kebijakan yang populis. terpadu. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus penanggulangan bencana yang belum terselesaikan yang berujung pada berbagai konflik yang berkepanjangan. Kebijakan penanggulangan bencana menjadi sebuah momentum penting yang harus merepresentasikan akan hak masyarakat dalam perlindugan hukum dan keamanan dari bencana. Kebijakan yang telah dikeluarkan seharusnya bisa dipahami dan di optimalkan agar kerangka penanggulangan pra bencana. saat bencana (emergency respons). dan menyeluruh belum bisa diwujudkan secara maksimal akibat sektor satu dengan lainnya belum terkordinasi dengan jelas. Kebijakan pemerintah daerah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dengan adanya pendirian BPBD sampai saat ini belum bisa menjamin kestabilan dan keterpaduan terhadap penanggulangan bencana.yang terlibat dalam menyepakati kebijakan yang akan dikeluarkan. 113 .

kewenangan dan peran pemerintah sebagai badan eksekutif dirasakan amat penting dalam rangka upaya perlindungan dan kesejahteraan rakyat.5. Bukan hanya pernyataan tujuan bernegara Indonesia.4. Pemerintah pun mempunyai kepentingan langsung untuk menciptakan situasi kondusif dalam menjalankan pemerintahannya. pernyataan tujuan bernegara sudah dinyatakan dengan tegas oleh para pendiri negara dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa diperlukan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada. namun secara mendasar pun gagasan awal lahirnya konsep negara. Bagi Indonesia sendiri. Pemerintah daerah bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. di antaranya melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengelola wilayah dan rakyatnya untuk mencapai tujuan dalam bernegara. Salah satu bukti keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana adalah dengan dibentuknya Badan Penanggulangan 114 .2. pemerintah wajib menjamin hak asasi warga negaranya. Salah satunya adalah pelayanan kepada masyarakat maka akan muncul pula stabilitas yang akan berdampak pada sektor publik.

Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008. tepat.Bencana Daerah (BPBD) melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009. dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007. Sehingga bencana yang terjadi pun bervariasi dan tentunya dampak yang di akibatkan bencana alam harus segera ditangani secara khusus. hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah patahan bumi dan konstruk tanah yang labil dengan pembagian tiga wilayah yang bervariasi. hal ini terkait minimnya pengetahuan. yang merupakan realisasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diikuti dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. 115 . Tingkat kemampuan untuk menghadapi bencana di Kabupaten Majalengka masih rendah. Permasalahan kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya harus mendapatkan perhatian serius dengan adanya peran dari pemerintah daerahnya. Kerentatanan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kabupaten Majalengka meliputi terbangunya kawasan rawan bencana menjadi pemukiman. dan efisien agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. rusaknya tutupan vegetasi di daerah kawasan rawan bencana. mulai dari dataran tinggi. Analisis potensi bencana alam seperti diungkapkan oleh Yuarlina dan Yati selaku anggota Sekretaris Daerah bahwa Kabupaten Majalengka sangat berpotensi terhadap bencana alam. dan dataran rendah. cepat. kepadatan penduduk di daerah rawan bencana. perbukitan. serta masih rendahnya pemahaman terhadap bencana khusunya bencana alam.

Melihat sejauh mana peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. Sejauh ini berdasarkan data lapangan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Seperti yang di ungkapkan Yati Sumiati dari Sekretaris Daerah bahwa sejauh ini pemerintah daerah sangat memperhatikan dan konsen dalam peanggulangan bencana alam di daerahnya. Salah satu implikasinya adalah dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tentunya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengaka tidak lepas dari analisis kebencanaan yang menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan bencana. seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Majalengka selama tahun 2009 terjadi 67 kejadian bencana alam sedangkan tahun 2010 sampai dengan akhir Agustus di Kabupaten Majalengka telah terjadi 114 kali bencana.kelembagaan. hal tersebut mengindikasikan adanya sebuah peningkatan kejadian bencana alam dari tahun 2009 ke tahun 2010. mekanisme kerja. serta sumberdaya dalam penanggulangan bencana. 116 . khususnya pada tahun 2010 bisa dikatakan baik. tentunya tidak lepas dari penilaian publik. Selain itu menyangkut kebutuhan dan keamanan masyarakatnya agar bisa terlindungi dari ancaman dan kerentanan bencana alam.

bahkan bisa dikatakan seperti membiarkan saja tanpa ada perlakuan atau tindakan khusus. tentunya dengan harapan bahwa peraturan ini benar-benar memberikan jaminan mutu bagi efektifitas penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Bahkan janjijanji yang disampaian pemerintah daerah kepada korban untuk menjanjikan akan segera datang bantuan baik melalui bantuan materi ataupun relokasi belum 117 . Secara teknis peneliti masih menyangsikan terhadap eksistensi peran pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Secara legalitas peraturan daerah secara resmi sudah dijalankan dan direalisasikan. yang diakibatkan oleh abrasi Sungai Cimanuk dengan memporakporandakan 13 bangunan di sekitarnya.Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 menjadi landasan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Tapi pernyataan tersebut berbanding terbalik ketika peneliti bertemu dengan salah seorang korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. seperti dalam penanganan kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi. dan sangat berperan dalam penanggulangan bencana alam. Pemerintah daerah bersama satuan kerja perangkat daerah mempunyai tanggungjawab dalam mengemban amanah peraturan daerah ini dengan sebaik-baiknya. terutama fokus pada penanggulangan bencana alam di daerahnya. Praktek dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sudah dapat terlihat jelas. Korban menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bencana ini. Memang secara formal pemerintah daerah melalui satuan kerja perangkat daerahnya mereka mengungkapkan telah melakukan kerja maksimal.

tetapi dalam pelaksanaannya jenis dan tingkat bencana masih ditangani oleh mekanisme yang lama (ketanggap daruratan saja). Pemerintah daerah bertanggungjawab penuh terhadap apa yang terjadi pada masyarakatnya. Partisipasi aktif masyarakat dan swasta sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. seperti yang termaktub dalam UUD 1945 maupun UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007. penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana (pra bencana).terwujud sampai saat ini. rehabilitasi dan rekonstruksi (pasca bencana) sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi. tepatnya sekitar bulan Oktober 2010. Walaupun sudah dibentuk lembaga teknis daerah dalam penanggulangan bencana. Aspek yang perlu dicermati bahwa. padahal lembaga ini mempunyai andil besar dalam proses penanggulangan bencana. tanggap darurat. Program-program yang telah di amanhkan dalam konstitusi ataupun undangundang dan peraturan tentang kebencanaan belum dijalankan dan dilaksanakan secara maksimal. Hal tersebut mengindikasikan dengan dibentuknya BPBD belum mampu mengefektifkan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. padahal kejadian bencana ini sudah cukup lama. 118 . Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut.

di 119 . Konteks kejadian bencana alam yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh yaitu dengan adanya abrasi Sungai Cimanuk yang merobohkan 13 bangunan di daerah sekitarnya memberikan alternatif dan prospek keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana alam tersebut.Bupati sebagai pemegang kepemimpinan daerah dalam hal ini memimpin Kabupaten Majalengka mempunyai andil besar dalam segala tindakan dan keputusan yang menyangkut kesejahteraan masyarakatnya. Sebagimana penuturan yang diungkapkan oleh Sumiati selaku staf sekretaris daerah mengungkapkan. bupati bersama DPRD dan atas kesepakatan SKPD memutuskan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang di dalamnya ada klausal usulan pembentukan BPBD. Kecamatan Jatitujuh dalam perkembangannya terjadi sebuah permasalahan. Atas dasar banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Majalengka dan untuk melindungi seta mensejahterakan masyarakat begitu juga dalam menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. khususnya dalam penanggulangan bencana alam. Penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih. Keberhasilan bupati untuk menelurkan kebijakan tersebut setidaknya di iringi dengan kerangka kerja dan efektifitas bagi berjalannya SKPD dalam pembantuan kinerja pemerintah daerah dan bupati selaku pimpinan daerah. karena secara tidak langsung Kabupaten Majalengka mendapat citra positif sebagai kabupaten sadar bencana. Kepedulian bupati terhadap penanggulangan bencana perlu di apresiasi. “Begitu besar kepedulian bupati terhadap masyarakatnya dalam penanggulangan bencana yaitu dengan bukti membentuk BPBD”.

paparkan oleh salah satu korban yang bernama Karsa menyatakan, “Respon pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerahnya kurang dan lamban, bahkan untuk bantuan-bantuan yang di janjikan pun belum ada realisasinya”. Hal ini tentunya berimplikasi pada sebuah kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah yang di dalamnya adalah SKPD bersama bupati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bupati selaku orang yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana turut andil dalam proses penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh. Bahkan dalam lawatannya bupati menjanjikan dan menginterupsikan kepada Kuwu Jatitujuh untuk segera mencarikan tanah relokasi bagi korban. Namun hal yang menarik, tanah yang akan dibelikan tersebut justeru di bawah standar dan kurang memenuhi permintaan dan aspirasi dari masyarakat selaku korban. Akhirnya timbul sebuah permasalahan baru yaitu adanya ke engganan korban untuk di relokasi, karena mereka merasa tempat relokasi kurang representatif. Keputusan bupati selanjutnya adalah dengan adanya janji bahwa bupati akan memberikan bantuan kepada korban dengan nominal Rp.1.000.000,00/kepala keluarga, hal ini disampaikan melalui BPBD, namun sampai saat ini belum terealisasi. Korban berpendapat bahwa pemerintah daerah kurang serius dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya, bahkan BPBD yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justeru tidak kelihatan perannya, dan seperti lepas tangan begitu saja. Hal tersebut dibuktikan dalam petikan wawancara dengan korban yang menyatkan bahwa tidak ada sama sekali

120

proses dan upaya bantuan dari BPBD, justeru yang banyak berperan adalah bupati. Indikasinya, bupati menjadi aktor tunggal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, dengan berbagai intruksi dan keputusannya yang satu arah memberikan efek kepada dinas atau SKPD yang bergerak dalam penanggulangan bencana tidak mempunyai posisi tawar. Padahal BPBD bersama dinas teknis lainnnya mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan permasalahan bencana di daerah tersebut. Kasus lain terkait lokasi relokasi korban yang seharusnya ada komunikasi dengan pihak Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dalam penentuan lokasi bersama korban justeru dilakukan satu komando dari bupati. Padahal DBMCK mempunyai wewenang untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan terhadap lokasi yang akan dijadikan pembangunan rumah korban. Implikasinya DBMCK pun tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah terhadap putusan bupati. Konsekuensi dari hal tersebut adalah tumbuhnya bibit konflik antar pemerintah daerah dengan korban. Di satu sisi, peran sekretaris daerah selaku kepala BPBD kurang memberikan daya dukung terhadap penanggulangan bencana yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh. Terbukti adanya sebuah asumsi bahwa sekretaris daerah hanya mempunyai wewenang dalam koordinasi dan fasilitasi dalam penanggulangan bencana kepada organisasi perangkat daerah sebagai lembaga teknis untuk terjun langsung dalam penanganannya. Hal tersebut dipaparkan oleh Yuarlina selaku staf sekretaris daerah, dan secara kontekstual sekretaris daerah bisa dikatakan hanya menerima laporan dan kemudian laporan tersebut dipertanggungjawabkan kepada

121

bupati sebagai laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Sementara untuk wewenang sekretaris daerah belum merepresentasikan tindakan nyata dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. DPRD yang diharapkan memberikan fasilitasi dan kontrol dalam proses penanggulangan bencana merasakan hal yang sama, karena dibatasi oleh kewenangan dalam teknis penanggulangan bencana, maka DPRD pun tidak

mempunyai andil dalam penyelesaian permasalahan ini. DPRD seperti tidak mempunyai bargaining power dalam mengontrol pemerintah daerah, padahal dalam tata aturan yang berlaku DPRD mempunyai hak secara legal formal dalam penyelesaian kasus ini. Bupati seperti penguasa tunggal yang mampu mengendalikan kontrol pemerintahan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan wewenangnya, setiap proses kebijakan yang dikeluarkan oleh bupati kadang tidak memberikan sebuah koordinasi dengan staf dibawahnya. Inilah yang kemudian bisa kita katakan adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sebenarnya tindakan yang dilakukan bupati yang begitu menghegemoni dalam sebuah keputusan dan dan intruksi dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Berdasarkan teori Parsons tentang voluntaristic, tindakan yang dilakukan oleh bupati merupakan perilaku yang disertai oleh adanya upaya subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi (situasional) atau isi kenyataan pada keadaan yang ideal atau yang ditetapkan secara normatif. Terutama yang

berkaitan dengan para pelaku (actor) yang berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari

122

other idea . Konsep voluntaristic sebagai sebuah proses pengambilan keputusan subyektif dari para pelaku individual (actor). baik hambatan normatif maupun hambatan situasional. norms. semuanya itu dipengaruhi oleh value. kondisi dan situasional tertentu. Tindakan voluntaristik menurut konsep Parsons mencakup elemen-elemen dasar dengan adanya pelaku yang merupakan pelaku individual (pelaku perorangan) hal ini aktornya adalah bupati. sehingga bupati juga dianggap memiliki beberapa alternatif cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut. Bupati sebagai aktor utama dan kunci mempunyai mekanisme tindakan sosial dengan berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari berbagai cara. dan keputusan seperti itu sebagai hasil akhir dari pertimbangan parsial terhadap jenis hambatan tertentu. Pencitraan seorang aktor dalam 123 . Diasumsikan sebagai orang yang sedang mengejar tujuan (goal). tentunya tujuan yang akan diraih adalah dengan adanya sebuah pencitraan positif bagi aktor dan penanganan bencana secara cepat dan tepat.berbagai alat cara (means) yang tersedia. Hal tersebut kemungkina adaya indikasi bahwa bupati dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan situasional yang dengan segera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Intruksi dan wewenang bupati menjadi sebuah mekanisme yang mau tidak mau harus dijalankan dan dipatuhi tanpa ada pertimbangan dan kesepakatan dari stakeholder lainnya. Tindakan atau keputusan subyektif yang digunakan oleh bupati untuk meraih tujuan dalam penanggulangan bencana atupun tujuan lainnya dalam memperkuat bargaining powernya sebagai kepala daerah. salah satunya adalah dengan membuat komando satu atap.

begitu juga pada pasal 27 point b yang menyatakan bahwa “Setiap orang berkewajiban melakukan kegiatan penanggulangan bencana”. Bupati yang dominan dan berupaya untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya menjadi indikasi adanya proses transformasi nilai kekuasaan yang memberikan efek kurang baik terhadap jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Majalengka. Sebagai indikasi konsep good governance seharusnya penanggulangan bencana bisa melibatkan seluruh stakeholder tidak terkecuali sektor swasta dan masyarakat. Sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. tentunya dalam kasus penanggulangan bencana di Blok Klewih Jatitujuh yang sampai saat ini belum tuntas. Peran dan potensi masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu 124 . Tindakan sosial yang dilakukan bupati yang bersifat empatik bisa jadi orientasinya berubah menjadi politik pencitraan bagi dirinya. Pola sinergi antar elemen dalam Undang-Undang Nmor 24 Tahun 2007 sebagai sebuah konsep good goverance seharusnya bisa di aplikasikan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain”. sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 28 menyatakan bahwa “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. salah satunya adalah sektor swasta dan masyarakat.meraup kepercayaan dari masyarakat tentunya menjadi titik point permasalahan tersebut. penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab setiap stakeholder di dalamnya.

organisasi masyarakat sipil dan masyarakat politik seolah-olah tergerak hatinya membantu para korban. Begitu juga dengan peran swasta belum secara optimal diberdayakan. reaksi spontan para relawan paling tidak menunjukkan bahwa masyarakat Majalengka masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Pemerintah.5. 125 .2. perorangan. dan budaya yang semuanya melemahkan semangat bertahan hidup kita sebagai bangsa. swasta. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. ekonomi. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat justeru tidak kelihatan dalam peran sertanya. 4. Relasi Kekuasaan Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Rentetan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka menuntut banyak pihak berpikir tentang cara penanggulangannya. Kenyataan ini juga menggugurkan tesis bahwa moral kolektif bangsa ini telah hancur akibat berbagai fakta suram di ranah sosial.menangani bencana. Potensi-potensi dari sektor swasta dan masyarakat seharusnya bisa memberikan sistem penanggulangan bencana yang lebih efketif dan bekelanjutan agar tercipta ketahanan dan kepedulian seluruh elemen dalam penanggulangan bencana.1. Semua pihak bahu membahu meringankan beban para korban. politik. Lepas dari berbagai kepentingan yang muncul. sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar.

Birokrasi sebagai agen administrasi dan implementator dalam sebuah kebijakan menjadi sangat penting dalam menyelesaikan dan melayani segala kebutuhan masyarakatnya. Politisi maupun birokrat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan. yaitu pemerintah daerah dan jajarannya bertindak cepat dan terintegrasi dalam melakukan penyelesaian penanggulangan bencana tersebut. Penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya membutuhkan akses birokrasi. sedangkan birokrat hanya mengartikulasikan kepentingan para klien yang terorganisir. kadang birokrasi pun bisa jadi mempunyai kepentingan dan tidak bebas nilai. keduanya memperhatikan aspek-aspek politik. dirasa birokrasi itu sulit. birokrat didasarkan pada fakta dan pengetahuan. namun dengan kontribusi yang berbeda. Namun dalam perkembangannya. kadang terjadi benturan antara birokrasi dengan pengguna jasa layanannya. namun perannya sama-sama Politisi berbeda. Hal tersebut setidaknya sudah menjadi permasalahan klasik dalam tubuh birokrasi Indonesia. maka politisi berdasarkan kepentingan nilai. lama dan kurang profesional. yang kemudian kita sebut adanya nilai politis dalam tubuh birokrasi dalam penanggulangan bencana. Perpaduan politisi 126 . mengartikulasikan kepentingansecara luas dan para individunya tidak terorganisisir dengan kepentingan yang menyebar. Politisi maupun birokrat selalu ada dalam pembuatankebijakan. kaku. Permasalahan yang muncul. Konsep perkembangan politisi-birokrat sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusumanegara dapat dijelaskan pada hirarki otoritas supremasi hukum yang berlandaskan politisi sebagai pembuat kebijakan sedangkan birokrat sebagai pelaksana kebijakan.

Efek positifnya adalah bupati dengan segera bisa menginventarisir kejadian dan mengintruksikan jajarannya namun di satu pihak juga menimbulkan efek negatif. akibat dominasinya bupati dalam masalah tersebut justru mempersulit gerak dan kinerja organisasi perangkat daerah karena kewenangan mereka dibatasi oleh bupati. dimana bupati yang memiliki jabatan struktur pemerintah daerah mempunyai otoritas dalam urusan penanggulangan bencana alam tersebut. pada akhirnya menimbulakn efek posistif dan negatif. Secara singkat dapat dikatakan telah terjadi “birokratisasi politik dan politisasi birokrasi”. Birokratisasi-politik maupun politisasi-birokrasi menjadi fenomena yang terjadi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Birokrat menjadi tidak memiliki independensi. pemangku kepentingan yang menjadi aktor dalam penanggulangan bencana ini menjadi sulit di elakan. padahal secara mendasar organisai perangkat daerah mempunyai kewenangan sesuai dengan tupoksinya.dan birokrat dalam perumusan kebijakansehingga tidak nampak pembedaan peran politisi dan birokrat dalam kebijakan. karena sisi politis dan birokrat tidak bisa bedakan lagi. dengan adanya ekskalasi politis aktor. Tetapi yang terjadi adalah kelahiran fenomena “hibrida murni” antara politisi-birokrat. birokrasi sendiri mengalami namun dilema di yang sisi lain mengakibatkan proses penanggulangan bencana menjadi terhambat. Tentunya hal ini menjadi sangat ironi di satu sisi korban memerlukan penanganan segera. Hal ini bisa dikatakan hibrida murni. karena jajaran birokrasi yang ada semuanya mengandung unsur politis. 127 .

partai politik. misi dan agenda setting yang dimiliki setiap aktor. tugas penanganan bencana bisa berjalan beriringan mulai dari pemerintah pusat. kabupaten/kota maupun pemerintah lokal (kecamatan/desa). mengatur dan mendistribusi bantuan menunjukkan kerja sosial. Kedua. berbagai bentuk bantuan yang diberi label tulisan lembaga sosial. setiap aktor membentuk dan membangun relasi. Tarik menarik kepentingan para aktor ini terjadi dalam tegangan relasi kekuasaan. Dalam mencapai kekuasaan itu. Kesibukan para relawan dan penyuplai bantuan dalam membawa. Dalam pelaksanaannya. pendirian tenda setidaknya menggambarkan kerja pemerintah daerah dalam setiap bencana. bencana dan pasca bencana merupakan dua momen yang bisa melahirkan pahlawan dan pecundang sekaligus.Soal relasi kekuasaan dalam proses penanggulangan bencana penting untuk diperiksa karena dua sebab pokok. dan agenda aksi mereka. memeriksa para aktor yang terlibat menjadi sangat urgen di sini untuk mengetahui motif. relokasi. Pertarungan kepentingan antar elemen bisa saja terjadi akibat perbedaan visi. setiap bencana paling tidak melahirkan berbagai bentuk kebijakan baru dalam hal penanganan bencana. atau atas nama pribadi tertentu di bungkusan luar setiap bantuan merupakan gambaran bekerjanya asosiasi sosial dalam setiap bencana. 128 . Demikian pun. Merujuk pada pandangan di atas. propinsi. Oleh karena itu. Pertama. Kebijakan tanggap darurat. kepentingan. Kekuasaan merupakan obyek akhir dalam setiap bentuk kebijakan dan aksi bantuan yang diberikan manakala terjadi bencana. maka bisa dimengerti mengapa dalam setiap bencana aktor-aktor melakukan tindakan penanganan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

Memang. 1) Bagi aktor politik.Sebagaimana diterangkan di atas. Dalam perspektif komunikasi politik. secara kasat mata dapat dilihat maraknya simbol-simbol politik telah menjadikan lokasi bencana bukan lagi ajang berbakti menolong sesama. Problem dasar kemudian adalah aktor tersebut memiliki agenda setting yang eksplisit memiliki visi. yakni memberikan bantuan sosial bagi korban. sebagai peristiwa yang 129 . politik. sering diikuti oleh beragam gejala ikutan termasuk politisasi bencana. termasuk bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Inilah yang disebut bahaya relasi kekuasaan dalam penanganan bencana. tetapi juga sebagai peristiwa politik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. tentu dapat dijelaskan. peristiwa bencana alam tidak saja dimaknai sebagai peristiwa bencana. aktor-aktor tersebut membentuk semacam pola relasi dalam setiap penanggulangan bencana. jika tidak dikontrol. maraknya simbol-simbol politik dan hadirnya para aktor politik ke lokasi bencana. Setiap relasi kekuasaan. Pertimbangannya jelas. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa setiap kali bencana terjadi di negeri ini. bisa saja akan membentuk jaringan kekuasaan baru yang justru memancing di air keruh-mencari keuntungan sosial. tidak untuk mencurigai tetapi sekadar mengingatkan semua pihak bahwa pada setiap momen duka seperti itu setiap aktor sebetulnya sedang membangun relasi kekuasaan. dan ekonomi sesaat. Fenomena yang berkembang dalam setiap penanganan bencana. Setiap aktor yang terlibat mesti diperiksa. hal ini sangat jelas telah terjadinya perilaku politisasi dan komersialisasi bencana. tetapi mirip arena kampaye dan promosi.

seperti dilansir dalam sebuah harian Radar Majalengka yang menyatakan dalam sebuah petian berita bahwa bupati dengan pemerintah daerahnya sadar akan bencana di Kabupaten Majalengka. keberadaan dan liputan media berlatar bencana alam dapat menjadi front stage aktor politik menampakkan eksistensi diri. Di sinilah. Relokasi tersebut sebenarnya atas dasar usulan Dinsosnakertrans kepada Kementerian Sosial yang akhirnya terealisasi dengan membangun 258 rumah korban. Padahal sebenarnya yang berperan dalam penanganan bencana tersebut tidak hanya satu aktor. Pemberitaan yang dilansir di media cetak seolah-olah yang berperan besar dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti adalah bupati. Namun berbeda halnya dengan kasus penanganan bencana di Blok 130 . Seperti yang di ungkapan oleh Mayor Edi Supriadi dari Koramil Siliwangi menyatakan. tapi banyak aktor lain yang berperan dalam penanganan bencana alam di Desa Sidamukti. Pemberitaan tersebut pada akhirnya menutupi akselerasi atau kontribusi aktor lainnya. Hal tersebut menjadi kabar berita baik dengan adanya pemberitaan dari media cetak. Pencitraan yang dilakukan bupati dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka merupakan bentuk akselerasi politik yang mengindikasikan adanya kepedulian bupati terhadap korban.menarik perhatian masyarakat dan memiliki nilai berita sangat tinggi dapat menjadi media komunikasi politik yang efektif untuk pembentukan citra politik. tentunya mengindikasikan adanya sebuah kepekaan sosial dari pemerintah daerah atas nama bupati terhadap korban. “Relokasi korban di Desa Sidamukti ini sedang membangun kembali rumah korban sebanyak 258 unit”.

aktor yang berperan dalam penaggulangan bencana di daerah tersbut lagi-lagi mempunyai berbagai kepentingan dan maksud tersendiri. segala janji-janji yang telah disampaikan sampai saat ini belum ada kejelasan. Dalam perkembangannya. dan janji-janji bantuan lainnya. Mulai dari adanya janji-janji akan menurunkan bantuan. Akibat ketidakjelasan penurunan bantuan dan relokasi berdampak pada pertentangan antara korban dengan pemerintah lokal (desa dan kecamatan).Klewih Jatutujuh yang terkena dampak abrasi Sungai Cimanuk. Kunjungan bupati untuk meninjau langsung ke lokasi bencana yang berjanji akan segera merealisasikan bantuan dan relokasi untuk korban menjadikan korban merasa gembira atas perhatian lebih dari buaptinya. Padahal sesuai dengan pemberitaan dari media massa mencuplikan terkait kepekaan bupati dan pemerintah daerah dalam penangggulangan bencana di daerah tersebut. keberadaan korban bisa dikatakan terlantar akibat tidak adanya kepastian dari pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuannya. Seperti halnya dengan eksistensi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut tidak luput dari sebuah ekskalasi politis. 131 . dimana FPBAC ini dianggap sebagai provokator dan hanya menghalangi proses jalannya penanganan bencana di daerah tersebut. Sementara FPBAC lambat laun mulai mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan janji-janjinya terhadap hak-hak korban. pemberitaan media massa justeru mengindikasikan adanya sebuah pemutar balikan fakta. relokasi rumah korban. Tetapi di sisi lain. Di sisi lain. yang menganggap bahwa semua permasalahan ini yang berperan aktif seharusnya pemerintah desa dan kecamatan.

Kasus ini menjadikan efek buruk bagi pencitraan aktor yang terlibat ketika fakta-fakta tersbut terungkap. Pencitraan positif seorang aktor akan terus berjalan sebagai strategi yang ampuh dalam meraup dukungan publik secara luas. Bahkan FPBAC memberikan bantuan dan donasi atas inisiatifnya dengan mencari dana di luar pemerintahan. secara fakta FPBAC justeru sangat membantu korban dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah lokal ataupun daerah. aktor politik pun tidak luput untuk memanfaatkan ruang tersebut menjadi medium legitimasi kekuasaan dengan mekanisme baru pada ranah politik. Lokasi bencana dengan cepat menjadi perhatian masyarakat dan sorotan media baik lokal. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terbukti turut berpengaruh dalam membuka relasi kekuasaan dan kekerasan tersebut menjadi ruang yang seolah-olah tidak sebuah mengandung kepentingan. Kedua unsur tersebut dikonstruksi sebagai arena yang terpisah 132 . yang menganggap bahwa FPBAC adalah korban sebagai “kambing hitam” oleh media.Pemberitaan tersebut dibantah oleh Syarifudin selaku kordinator FPBAC. maka nilai publikasi politik yang menyertai pemberitaan bencana akan sangat tinggi. Dalam era globalisasi teknologi sekarang ini. sehingga apa pun yang terjadi akan menjadi perhatian publik. pola kerjanya mengedepankan peranan media dan kecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagi praktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol. nasional maupun internasional. Dalam perspektif ini. yang memungkinkan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi begitu deras masuk di setiap bidang kehidupan.

di mana simbol sebagai kekuatan abstrak memiliki sumber daya yang ampuh dalam mencipta kebenaran. Mulai dari hanya untuk melihat. menyampaikan rasa empati. Jika demikian halnya. Saat ini hubungan antara kekuasaan dan kekerasan tidak lagi dalam bentuk gerak fisikal melainkan bekerja dalam arena representasi. Ia memiliki wewenang untuk menjadikan simbol itu nyata dan mendapatkan pengakuan bahwa aktor politik tersebut memiliki 133 . Perang lambang merupakan cermin kemanusiaan yang lekat. aktor politik bisa menjalankan praktik kekuasaannya atas nama simbol yang ia ciptakan sendiri. Mengacu pandangan yang dikemukakan Hayakawa (1974) bahwa. “Salah satu perbedaan antara manusia dan binatang adalah kalau binatang bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan makanan dan kepemimpinan. Bagi yang mampu memegang simbol maka ia dapat mengejewantahkan dirinya seperti apa yang disimbolkan. sampai dengan motif sebagai bentuk tanggung jawab atas sebuah musibah yang terjadi pada masyarakatnya. tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran para pihak termasuk aktor politik di lokasi bencana adalah suatu tindakan sosial yang tentu memiliki beragam motif. sebenarnya telah terjebak pada perang eksistensi dan dominisasi politik yang pada ujungnya adalah tidak lepas dari soal kepemimpinan. memberikan bantuan.dan tidak bersinggungan. Maraknya simbol-simbol politik di lokasi bencana secara sadar atau tidak. 2) Mengacu teori tindakan sosial. mondar mandir mengibarkan bendera. sedangkan manusia memperebutkan lambang dan simbol sebagai wakil dari makanan dan kepemimpinan”.

Dalam dunia politik. Simbol mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas. dan pemaksaan ide-ide tertentu kepada obyek yang menafsirkan simbol. ada sebuah alasan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam penaganan bencana dan hanya berorientasi pada sebuah politk empatik dengan janji-janjinya. Dalam wacananya. operasi kerja kekuatan simbol tak bisa dilepaskan dari struktur atau aktor politik yang berkepentingan mengkonstruksi realitas.mandat untuk bertindak sesuai dengan karakter yang disimbolkan. Bencana yang terjadi dijadikan ladang politik empatik yang akhirnya akan berubah pada politik kulit. digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelompok mana yang disebut sebagai provokator dan bukan provokator. penilaian. Hal tersebut di dasarkan pada hasil penelitian yang menunjukan pemerintah daerah merasa tertekan dengan adanya gugatan-gugatan ataupun aspirasi yang disampaikan FPBAC yang dirasa hanya memperburuk keadaan dalam proses penanggulangan bencana di daerah tersebut. namun janji-janji tersbut tidak terbukti di realisasikan kepada korban. Sikap empatik 134 . Wacana penuntasan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. Sementara FPBAC menyatakan hal itu hanyalah sebatas komitmen mereka terhadap korban untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi korban terhadap janji-janji pemerintah daerah dalam penuntasan penanganan bencana di daerah Blok Klewih Jatitujuh tersebut. Selain itu. pemerintah daerah menganggap ada sebagian warga yang dipelopori oleh Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) sebagai profokator dalam penuntasan bencana di daerahnya. Kekuatan itu tersimpan dalam proses kategorisasi.

pemerintah daerah terhadap korban setidaknya menjadi sebuah pencitraan posistif bagi pemerintah daerah dan aktor tertentu dalam meraih empati dari masyarakat dalam menjaga kestabilan kepemimpinan dan kekuasaannya yang legitimate. Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diamanatkan untuk dibentuk badan baru.5.2. Sebelumnya. dan Peraturan Kepala (Perka) BNPB tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Sistem penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka didasarkan pada kelembagaan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. seperti bencana dalam skala besar pada umumnya pimpinan pemerintah daerah mengambil inisiatif dan kepemimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai satuan kerja yang terkait. penanggulangan bencana dilaksanakan oleh satuan kerja yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) penanggulangan bencana. Rangkaian bencana yang terus terjadi mendorong berbagai pihak termasuk DPRD Kabupaten Majalengka bersama pemerintah daerah untuk lebih jauh mengembangkan kelembagaan penanggulangan bencana dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD). 4.2. UndangUndang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB). yaitu Badan Nasional Penanggulangan 135 . Dalam kondisi tertentu.

b) Beberapa pengambil kebijakan di daerah tidak merasakan adanya kebutuhan pengembangan kelembagaan penanggulangan bencana baik. Matrik Perbandingan Kelembagaan Satkorlak-Satlak & BPBD Sumber: Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia Dalam kaitan dengan pembentukan BPBD seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana. 136 . yaitu: a) Pada beberapa daerah. karena dianggap bencana besar belum terjadi maupun bila bencana besar sudah terjadi tidak akan terjadi lagi dalam jangka waktu dekat. pemerintah daerah telah mengambil inisiatif untuk mengajukan usulan pembentukan BPBD namun dalam proses pengambilan putusan bersama dengan DPRD. usulan tersebut tidak menjadi prioritas.Bencana (BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas-PB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggantikan Satkorlak dan Satlak di daerah. Hal ini menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan seperti yang dijelaskan di bawah ini: Tabel 11. antara lain. pemerintah daerah mengemukakan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat.

d) Tidak semua daerah bersedia membentuk BPBD dimana “Sekdanya” merangkap jabatan (benturan eselonisasi). Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. maka terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia khususnya di Kabupaten Majalengka. f) Fungsi “Pelaksana” dari BPBD punya kecendrungan untuk berbenturan dengan fungsi dinas-dinas teknis lainnya yang terkait dengan bencana. apalagi jabatan “kepala BPBD” dirangkap oleh Sekda yang beban kerjanya sendiri sudah cukup banyak. 137 . dan kewenangan dalam mengintervensi kebijakan Unsur Pelaksana (dan kaitan lembaga teknis lain) yang belum terdeskripsi. banyak dinas yang meragukan pelaksanaan tata komando ketika terjadi bencana dapat terlaksana secara efektif di lapangan. Peraturan ini setidaknya mampu memberi keamanan bagi masyarakat dengan cara penanggulangan bencana dalam hal karakeristik. e) Proses seleksi anggota Unsur Pengarah untuk BPBD kabupaten/kota juga memakan waktu lebih lama. g) Fungsi koordinasi antara BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota akan cenderung sulit dilaksanakan secara efektif.c) Dengan status lembaga setingkat dinas di daerah (BPBD). serta sistem penggajian yang belum jelas. karena BPBD sebagai perangkat Daerah akan tunduk kepada Kepala Daerah dan Anggaran Daerahnya masingmasing. frekuensi dan pemahaman terhadap kerawanan dan risiko bencana. karena kualitas SDM yang sangat terbatas.

akan tetapi meliputi proses yang 138 . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Majalengka yang secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan dan program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan. dan profesional sesuai dengan standar internasional.Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman. tanggap darurat. mitigasi. pemulihan dan rekonstruksi. Peningkatan kapasitas SDM (capacity building) guna penguatan kapasitas kelembagaan dan penyiapan daya dukung penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terukur dan terencana sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih parah. pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas. Grand desain diperlukan dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan standar penanganan bencana yang cepat. Program kegiatan yang tercantum dalam RAD PRB merupakan rencana tindak yang akan dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu dan komponen pelaksana yang telah ditetapkan dalam rangka pengelolaan kebencanaan. saat bencana maupun pasca bencana. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat. Pemerintah daerah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Kabupaten Majalengka bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana. tanggap.

Dengan pola kerjasama yang sinergis. Pemerintah daerah dapat lebih berperan pada tahap prabencana dan mampu mengembangkan kesiagaan bencana di daerahnya. dan rehabilitasi masih sering tersendat bahkan tidak jelas penanganannya. Berkaitan dengan proses mitigasi. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain. pelatihan penanganan bencana yang berbasis komunitas dan pemulihan sosial pasca bencana. khususnya pada tahap mitigasi. diharapkan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam menanggulangi bencana secara efektif. khususnya kemampuan pengelolaan bencana. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. rekonstruksi.lebih luas. Perlu dicermati bahwa lembaga yang menangani bencana dapat menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan menyangkut domain tugas dan 139 . Dengan strategi yang tepat. efisien dan menyeluruh. yaitu mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi. Berbagai stakeholder dan pemerintah daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana harus memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut. penerbitan modul dan sistem informasi dalam penanganan bencana. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara efektif. pemerintah harus mengoptimalkan peran partisipatif dari seluruh stakeholder bencana. Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. pentingnya pemetaan daerah rawan bencana.

Peneliti melihat dalam aspek penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka belum ada mekanisme integrasi Rencana Aksi Daerah & Pengurangan Resiko Bencana (RAD-PRB) ke dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka. Koordinasi juga perlu ditingkatkan dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang juga melaksanakan tugas kebencanaan dengan menghimpun dan menyalurkan sumber daya dan bantuan bagi penanggulangan bencana. Jelas terlihat di lapangan bahwa perlunya sinergi antar dinas berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan di berbagai bidang. tindakan-tindakan kesiap-siagaan. Fungsi-fungsi yang dimiliki ini tentunya menjadi landasan dalam operasional dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka lebih terkoordinatif. koordinasi. dan rehabilitasi & rekonstruksi. sehingga belum 140 . yaitu fungsi komando. Hal ini harus dikelola dengan baik dan perlu dibangun format komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga tidak menjadi masalah baru dalam proses penanggulangan bencana. tindakan tanggap darurat. dan pelaksana. pada saat bencana. BPBD harus menggariskan secara jelas tetang tugas dan wewenangnya. baik itu prabencana.tanggung jawab dalam penanggulangan bencana. dan pasca bencana. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya dari akibat bencana. seperti yang diungkapkan oleh Hardi bahwa sesuai dengan tupoksi BPBD mempunyai tiga fungsi.

dijadikan acuan dalam menyusun program dan kegiatan terkait dengan kebencanaan. dan belum ada keputusan dalam dokumen RPJMD mengenai perencanaan penanggulangan bencana”. Masih banyaknya pedoman teknis tersebar di berbagai dinas dan sektor yang belum memiliki kesamaan standarisasi. Data di lapangan. ketika proses penanggulangan bencana masih dipimpin oleh Satlak PB. 141 . Sehingga mengakibatkan adanya penafsiran yang berbeda dalam standarisasi penanggulangan bencana. yang artinya masih menggunakan pedoman lama. lembaga legislatif yaitu DPRD Kabupaten Majalengka yang mempunyai wewenang terhadap kontrol penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam penanggulangan bencana seharusnya lebih peka untuk menjalankan fungsinya. dan menyeluruh dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. hal ini di mengindikasikan belum masifnya sosialisasi tentang standarisasi penanggulangan bencana di dinas-dinas terkait dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. “Untuk sampai saat ini pengalokasian dan perencanaan penanggulangan bencana di dasarkan atas keputusan musrembang. Aspek penting lainnya adalah. lembaga legislatif Kabupaten Majalengka masih lemah dalam hal kontrol kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. Dengan memperkuat basis kontrol untuk menjaga alur sinergitas stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana bisa memberikan dampak positif terciptanya alur sinergi yang lebih efektif. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan. efisien. tentunya dalam penanggulangan bencana alam.

Indikasi tersebut bisa dijelaskan dengan pasifnya dan kurangya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana. memelihara keseimbangan. b) melakukan kegiatan penanggulangan bencana. Prinsip penanggulangan bencana yang dilakukan di Kabupaten Majalengka masih menjalankan prinsip Pada pelayanan. tindakan-tindakan kesiap142 . dasarnya prinsip pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pada pasal 27 menyatakan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: a) menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. keselarasan. dan c) memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana”. dan secara otomatis hanya mengandalkan komando dari pemerintah. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa berpadu dalam usaha penaggulangan bencana. dari sisi pemerintah dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan kerangka hukum (legal framework) untuk tindakan penanggulangan yang mencakup masa sebelum bencana. saat tanggap darurat serta periode pasca bencana. sehingga tidak ada gerakan nyata kesinergisan antar elemen stakeholder dalam penanggulangan bencana. Secara sederhana. tanpa kemudian memberdayakan masyarakatnya. Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana setidaknya akan merubah paradigma tentang pelayanan publik (public service) oleh birokrasi ke arah pemberdayaan masyarkat (empowerment). dan kelestarian fungsi lingkungan hidup.Permasalahan selanjutnya adalah pemerintah dalam pelaksanaan penaganan bencana masih mengedepakan konsep pelayanan. keserasian.

bahkan politik. Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar. 4. dan lain-lain.3. sisi pentingnya adalah memberikan pelindungan dan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman bencana. Ketika bencana muncul. baik secara sosial.siagaan.5. ketidaknormalan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pelaksanaan pembangunan. Politik Anggaran Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Majalengka merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas kejadian bencana alam cukup tinggi. Hal demikian tentunya pantas untuk dipedulikan. pengungsian. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya akibat bencana. Hal ini sejalan dengan pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari perlindungan masyarakat sebagai perwujudan kekuasaan pemerintah kepada perlindungan sebagai hak azasi. Bencana alam telah menimbulkan korban jiwa. Dari sisi masyarakat. mengingat akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana alam memiliki dampak yang luas. psikis. Terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dapat menimbulkan 143 . tindakan tanggap darurat. ekonomi. kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak sarana dan prasarana publik yang ada.

Beliau berasumsi. sistem penganggaran kebencanaan di Kabupaten Majalengka tidak masuk dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). secara sederhana bahwa pemerintah daerah harus menjalankan politik anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor policy) khususnya dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Dalam konteks ini. sesuai dengan pernyataan Iwan Tundjiawan dari Bappeda Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa. untuk 144 .masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil. “Alokasi anggaran untuk kebencanaan tidak dimasukan dalam APBD dan Rencana Aksi Daerah (RAK)”. Tidak sedikit yang memandang bahwa bantuan memiliki sisi-sisi negatif yang dapat mengganggu keleluasaan (privacy) dan harga diri masyarakat bersangkutan. Persoalan lainnya yang sering terjadi yaitu ketika suatu bencana terjadi. Berbagai persoalan dan permasalahan di atas disamping membutuhkan organisasi yang mampu mengkoordinasikan dan mengelola bantuan sehingga bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkannya. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terkena bencana sangat bernilai tinggi dan bermanfaat. Sekelumit paparan di atas adalah indikator pemerintah daerah dalam fungsi anggaran kebencanaan. banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan tidak terkoordinir dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan di lapangan. Semua ini secara mendasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan tegas.

00/kepala keluarga. karena sifatnya situasional dan bisa terjadi kapan saja maka kurang etis ketika ada sebuah penganggaran untuk kebencanaan. begitu juga dengan 145 . transparansi. Selanjutnya.kejadian bencana alam. Kompetensi. dan alternatifnya adalah alokasi untuk kebencanaan dimasukan dalam alokasi dana tak terduga atau dana taktis pemerintah daerah. Komitmen yang tinggi dari Dinas Keuangan. Padahal pemerintah daerah sudah menjanjikan kepada korban akan memberikan bantuan Rp. Pemda. Terlepas dari penilaian sejumlah pihak bahwa RAPBD tersebut bersifat defensif dan kurang ekspansif. integrasi. Alokasi dana yang harus segera turun ke tangan korban dalam bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh sampai saat ini belum terealisasi. koordinasi. dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah beserta instansi di bawahnya dalam pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU). korupsi akan dapat dihilangkan dan pelayanan publik kian meningkat. dan DPRD sangat diperlukan dalam pengalokasian dan pendistribusian anggaran bagi kebencanaan agar tepat guna dan berdaya guna serta tepat sasaran. dan akuntabilitas pengelolaan anggaran yang dilakukan segenap aparatur pemerintahan daerah di uji. apresiasi yang tinggi tetap harus kita sampaikan kepada pemerintah daerah karena sudah berani untuk mendirikan sebuah lembaga kebencanaan di daerahnya. anggaran tersebut harus dijaga dan dijauhkan dari praktik pengelolaan anggaran yang salah urus dan korupsi.1000. Demi menjamin kepastian bahwa anggaran untuk kebencanaan dapat diimplementasikan secara nyata dan baik. Jika mampu diwujudkan.000. dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mutlak diwujudkan.

Porsi belanja aparatur dalam APBD lebih banyak daripada belanja publik sehingga alokasi anggran untuk kebencanaan masih jauh dari harapan rakyat.013. Politik anggaran Kabupaten Majalengka belum berada dalam arah yang benar.00 .571. Realisasi dari belanja langsung adalah Rp. 1.400.584.584. Seharusnya sisa anggaran dari belanja langsung dan tidak langsung Rp. 2.349. Sisa dari belanja langsung adalah Rp. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka tahun 2010.Rp.00.000.284.087 dan belanja tidak langsung Rp. 1.27.087 = Rp.000.584.00 dan belanja tidak langsung Rp.627.00 -1. pemerintah daerah dihadapkan pada polemik yang terjadi antara pemerintah kecamatan dan desa yang bersitegang dengan masyarakat. 1.309.357. Alokasi belanja daerah ternyata lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat.00 dan sisa dari beanja tidak langsung adalah Rp.985. 1.349. 1. khususnya untuk pendanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Joyo selaku sekretaris BPBD bahwa untuk anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 mencapai Rp.309.057.985.479. 146 .627. Tentunya merupakan masalah yang serius untuk segera dicarikan solusinya. yang dilatar belakngi kelambanan dan kurang pedulian dalam penanganan bencana di daerahnya.00 = Rp.00 dengan rincian untuk belanja langsung Rp.129. 72. Selain itu.00 + Rp. 72.571.013. 1.716.00. karena pada dasarnya korban membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk segera menanggulangi segala permasalahannya. 1.327.000.menjanjikan adanya relokasi bagi para korban. 40.00.057.284.000.129.

Rp. Kecamatan Jatitujuh yang menyatakan bahwa BPBD dan pemerintah daerah terbatas anggaran dana.850.00 = Rp. Fata yang ada sebenarnya sisa anggaran penanggulangan bencana tahun 2010 mencapai angka ratusan juta yaitu Rp. 47. 5.000.716.450. hal tersebut menjadi ironi ketika dibandingkan dalam penuntasan kasus bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blo Klewih.043.043.000.929. 44. 106.00/Kepala Keluarga.00 secara tertulis sisa anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 dimasukan dalam klausal anggaran tahun 2011. 5.00 = Rp.357. 112. Kasus lain adalah dalam mekanisme aggaran kegiatan “Peningkatan Keterampilan.000. Jumlah total anggaran belanja langsung sebesar Rp.00 dan Rp 24.00.425. sangat timpang dengan pengeluaran barang dan jasa hanya 147 .000. belum tahu keberadaannya yang hingga samapi saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar. sehingga untuk penanganan relokasi dan batuan darurat belum bisa direalisasikan dan dimaksimalkan. Bahkan jaminan ganti rugi tersebut direalisasikan.929.000.929. 112.043.00.000.00 adalah Rp. Seharusnya dengan sisa anggaran tersebut setidaknya bisa merealisaikan tuntutan dari korban untuk meberikan jaminan yang telah dijanjikan oleh pemerintah daerah melalui BPBD yaitu. Kesiapsiagaan dalam Penangguangan Bencana” yang dilaksanakan pada triwuan I sampai dengan triwulan III.929.00. masih ada sisa anggaran yaitu Rp.000. dengan asumsi 13 KK x Rp. dan ini merupakan sisa anggaran dalam jumlah yang masih besar.00.043. dengan menggunakan sumber dana APBD.000.00 – Rp. 65. 65.000.40. Transparansi sisa anggaran tersebut.00. 112.000.000. namun rincian perhitungan pengeluaran justeru lebih banyak pada belanja pegawai dan honorarium PNS dengan anggaran Rp.

seharusnya kegiatan tersebut bisa di optimalkan dengan anggaran yang begitu besar. formulir DPA SKPD 2. 61.575. maupun setelah bencana bisa terakomodasi dengan baik.mencapai Rp. Anggaran kebencanaan yang habis untuk kegiatan penanggulangan pra bencan dengan indikasi-indikasi adanya sebuah belanja kebencanaan yang kurang representatif yaitu habis untuk belanja dan honorarium pegawai. bisa dikatakan komitmen pemerintah daerah masih kurang dalam penanggulangan bencana dan belum terarah dengan jelas terhadap urgensitas atau pentingnya manajemen dan pola penangulangan bencana alam di daerahnya.000. Proses tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi kerentanan bencana alam baik pra bencana. apalagi ketika melihat anggaran yang sudah direalisasikan cukup besar. karena lebih banyak pengeluaran pada belanja pegawai dan honorarium PNS.2. Sementara akomodasi-akomodasi terhadap implementasi belum berjalan dengan baik. saat bencana. Tentunya proses anggaran tersebut menjadi tanda tanya besar.00 . padahal sistem penanggulangan bencana penganggaran untuk penanggulangan bencana mempunyai anggaran dengan nominal yang cukup besar.1 148 . tahun anggaran 2010. Pemerintah daerah seakan hanya menjalankan kebijakan pemerintah pusat. 76 Padahal anggaran untuk kebutuhan penanggulangan bencana memerlukan alokasi dana besar. 76 Lihat dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka. namun realita berkata lain justeru anggaran tersebut lebih banyak tersedot pada ha-hal yang kurang penting. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai kapasitas dalam peningkatan keterampilan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana. dalam hal ini adalah intruksi membentuk BPBD.

Hak-hak masyarakat menjadi skala prioritas akan perlindungan dari bencana dan keberpihakan terhadap kesejahteraan terhadap korban. Pola belanja APBD juga tidak jauh berbeda. maupun daerah justeru disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. terutama DAU untuk daerah miskin dan DBH untuk daerah yang kaya dengan sumber daya 149 . ternyata belanja aparatur lebih dominan daripada belanja publik. Politik anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai. Anggaran yang dikeluarkan oleh BNPB. mayoritas pemda amat bergantung pada dana transfer pusat ke daerah. APBD Provinsi. Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RAD. kota. Seluruh lembaga dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlu didorong untuk mengingkatkan penerimaan dan melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Dengan relatif kecilnya pendapatan asli daerah (PAD). Konsekuensi dari politik anggaran ini adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar terhadap birokrasi. atau pun bisa jadi adanya sebuah kongkalikong antar aktor yang terlibat. Ketidakjelasan dan kurangnya transparansi dari pemakaian annggaran dana penanggulangan bencana pada tahun 2010 mengindikasikan adanya korupsi di tubuh lembaga.Sistem anggaran penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka mempunyai indikasi-indikasi adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaannya. dan provinsi. Politik anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. Di hampir semua kabupaten. Transparansi pengelolaan anggaran seharusnya dipertanggungjawabkan kepada publik terhadap apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata.

164 kabupaten baru. Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan 205 daerah otonom baru meliputi 7 provinsi baru. seperti gaji pegawai. akan memberikan jaminan bagi korban dan keberlangsungan penanggulangan bencana. DPRD konsisten melaksanakan fungsi legislasi. anggaran. Di sisi lain. Akibatnya. 399 kabupaten dan 98 kota. Porsi terbesar penggunaan DAU lagi-lagi dihabiskan lebih dari 60-90% untuk belanja pegawai. Alokasi anggaran daerah diarahkan untuk pengembangan penanggulangan bencana. Adapun sistem peradilan menjamin penegakan hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. dan semua yang berkaitan dengan menghidupkan mesin birokrasi baru di daerah . 77 Mudjarad Kuncoro. membangun gedung Pemda dan DPRD.alam. Dari sisi APBD dapat dipastikan bahwa alokasi belanja akan banyak dialokasikan untuk belanja aparatur. file:///F:/elitis/t666- 150 . Pemerintah menyiapkan skenario berkewajiban kebijakan anggaran yang 77 bersifat ideologis. Politik Anggaran Pro Rakyat atau Birokrat. dengan demikian. yaitu keberpihakan atas korban. Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka adalah bagaimana alokasi anggaran bencana yang dilaksanakan dapat berproses secara partisipatif yang melibatkan partisipasi rakyat dan bersifat responsif serta berpihak kepada hak dan kepentingan korban. dan 34 kota baru. dan pengawasan terhadap implementasi kebijakan anggaran yang dilakukan pemerintah daerah. Indonesia kini memiliki 33 provinsi. Daerah otonom baru ini dinilai menimbulkan banyak masalah.

151 .htm diakses pada tanggal 26 Juni 2011.anggaran-prorakyat-atau-birokrat.politik.

dan ekonomi justru menimbulkan sebuah konflik secara vertikal maupun horizontal. arah dan komitmen politik legislatif dan eksekutif daerah dalam pembuatan kebijakan publik dan kebijakan-kebijakan sektoral belum dapat dioperasionalkan secara efektif dengan melibatkan semua aktor. 152 . 3) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi beban poltitk karena terjadi proses hibrida murni “politisasi-birokrasi dan birokratisasi-politik”. karena belum adanya kejelasan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. Relasi kekuasaan dan adanya politisai anggaran dalam penanggulangan bencana dengan mencari keuntungan sosial. Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini.1. hal ini erat kaitannya dengan dukungan. politik.BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. 2) Peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka belum menunjukan sebuah kontribusi yang maksimal. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan daerah dalam penanggulangan bencana (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009). sehingga sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana belum terwujud.

Aspek kelembagaan ini sepatutnya juga didukung dengan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. Dengan strategi yang tepat. 2) Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. maka pemerintah daerah yang mempunyai peran vital dalam hal tersebut bersama stakeholder lain. yaitu: 1) Revitalisasi kelembagaan. Mencermati hal tersebut maka peneliti merangkum beberapa implikasi dalam penelitian ini. Implikasi Menanggapi berbagai permasalahan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. fungsi dan tanggung jawab perangkat-perangkat pemerintahan untuk secara komprehensif menangani bencana.5. dan masyarakat perlu duduk bersama dan merumuskan langkah-langkah konkrit.2. Partisipasi aktif masyarakat sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. menjadi kebutuhan saat ini untuk melakukan pengaturan wadah yang mencerminkan tatanan otoritas. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara 153 .

kelembagaan serta mekanisme harus membuka akses untuk peran serta masyarakat luas. 3) Penanggulangan bencana tidak hanya sebagai tanggung jawab pemerintah semata tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). akan tetapi dilakukan secara alami. 4) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana hendaknya tidak menjadi beban politik. Dalam kaitan ini. mulai dari kebijakan. 154 . humanis dan ikhlas. 5) Perlunya regulasi yang mengatur keterlibatan para pihak khususnya partai politik dalam penanganan bencana. Dalam konteks demikian keberadaan lambang dan simbol-simbol politik menjadi sangat tidak relevan. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam.efektif. serta dunia usaha. Hal ini dimaksudkan agar setiap kali terjadi bencana tidak dijadikan sebagai peristiwa dan obyek politik. semua aspek penanggulangan bencana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful