BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapi sudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganan kasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat para korban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak dari kemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringan yang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalam bentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah . Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulangan
1

bencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan

1

Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011

1

sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran dan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi dan rehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para

2

pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana . Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulangan bencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasional mencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahui sejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana di daerah. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b) pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dari BPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)
2

2

Sulis Setyawan, Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011

3

penanganan darurat. b) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan. rehabilitasi. serta i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berbicara tentang wilayah rawan bencana di Indonesia. wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Maja. Bantarujeg. pada tanggal 20 Januari 2011. menetapkan. terencana dan menyeluruh. f) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. Cikijing dan sekitarnya secara geografis merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan lokasi yang terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian 3 3 Hasil wawancara dengan Bapak Iyus Kepala Bagian Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Pertama. Pasal 21 dijelaskan tentang tugas dari BPBD antara lain: a) Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan badan nasional penanggulangan bencana terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana. Kabupaten Majalengka merupakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam yang ditetapkan dalam tiga wilayah pengembangan bencana Selatan. d) Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. dan menginformasikan peta rawan bencana. serta rekonstruksi secara adil dan merata. 4 . g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang.Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan bencana secara terpadu. c) Menyusun. dan Utara . Talaga. e) Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya. Tengah. h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah.

sambaran petir 4 kali. kebakaran 1 kali. dengan korban tewas 1 orang dan luka ringan 5 . wilayah pengembangan bencana daerah utara dengan ketinggian 20-100 meter dpl yang meliputi Kecamatan Kadipaten. dengan korban luka 1 orang). Sedangkan untuk korban jiwa (luka ringan 7 orang. dan 82 KK rusak berat). Rajagaluh dan sekitarnya merupakan daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-400 meter dpl yang merupakan daerah rawan angin puting beliung. dan tanggul jebol 1 kali). Bulan Februari terjadi 19 kali kejadian (longsor 14 kali. banjir 1 kali dengan korban luka 1 orang. Angka kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 per Agustus telah terjadi 104 kejadian (longsor 44 kali. terutama pada waktu musim penghujan. Ligung dan sekitarnya merupakan wilayah yang rawan bencana tanah longsor. sambaran petir 3 kali. luka berat 1 orang dan korban tewas 1 orang). Kedua. Ketiga. Jatitujuh. Jatiwangi. Sukahaji. kebakaran 18 kali. wilayah ini berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai-sungai besar sehingga memungkinkan terjadi luapan air sungai dan erosi tanah di daerah sekitarnya. angin puting beliung 15 kali. Bulan Januari terjadi 20 kali kejadian (longsor 9 kali. kekeringan dan banjir karena secara struktur tanah. dan meninggal 1 orang) dengan resistensi kerusakan rumah (63 KK rusak ringan. sambaran petir 1 kali. tanggul jebol 1 kali. kebakaran 4 kali. wilayah Tengah yang meliputi Kecamatan Majalengka Wetan. banjir 3 kali.400-1000 meter dpl. kebakaran 1 kali. luka berat 4 orang. puting beliung 2 kali. banjir 10 kali. Cigasong. Majalengka Kulon. 51 KK rusak sedang. puting beliung 8 kali. Bulan Maret terjadi 16 kali kejadian (longsor 5 kali. banjir 2 kali. setiap tahunnya daerah ini sering mengalami bencana tanah longsor.

pohon tumbang 1 kali. April terjadi 12 kali kejadian (longsor 6 kali. dengan korban ringan 3 orang. M. Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah. dan Ciamis). pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. namun kerentanan terhadap bencana alam yang terjadi menjadi perhatian yang tidak bisa di hindarkan. MM. BPBD di Kabupaten Majalengka didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4 4 Hasil wawancara dengan Kepala Pelaksana BPBD Ibu Suratih Puspa. pada tanggal 21 Januari 2011.2 orang). sekaligus dilansir dalam Surat Kabar Lokal Radar Majalengka pada tanggal 6 November 2010. puting beliung 4 kali. sementara Agustus terjadi 4 kali kejadian (2 kali kebakaran dan 2 kali longsor) . banjir 4 kali. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang berada dalam sebuah patahan lempeng IndoAustralia. Sukabumi. dataran sedang. Di satu sisi Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang luas wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan kabupatenkabupaten di daerah Jawa Barat lainnya. Tingginya angka kejadian bencana alam di Majalengka menguatkan Kabupaten Majalengka membentuk dan mendirikan Badan Penanggulangan 4 Bencana Daerah (BPBD) selain empat kabupaten di Jawa Barat (Tasikmalaya. dan dataran rendah mengakibatkan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. Bulan Juni dan Juli stabil hanya terjadi kebakaran 2 kali. 1 kali angin puting beliung. dengan variasi wilayah dataran tinggi yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai. SH. kebakaran 2 kali). 6 . dan koraban berat 3 orang). Kuningan. kebakaran 5 kali.Si. Mei terjadi 18 kali kejadian (longsor 8 kali.

Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh menjadi perhatian khusus dalam pola dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Perlu dicermati adalah bagaimana peran pemerintah daerah bersama stakeholder serius dan konsekuen untuk bersinergis dalam 5 penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. pasal 20. Didirikannya BPBD setidaknya menjadi bukti bahwa Kabupaten Majalengka serius dalam penanganan bencana alam dan menjadi daerah yang sadar akan bencana. dan berkelanjutan. kerentanan dampak bencana. 7 . terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. Keseriusan tersebut tidak bisa di definisikan dengan didirikannya BPBD. efisien. Peraturan perundang- 5 Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah BAB I Ketentuan Umum. Sosialisasi penanggulangan bencana harus di upayakan secara integral kepada seluruh elemen pemerintah daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana . status bencana dan efektifitas kegiatan penanggulangan bencana di daerah menjadi issue yang menarik untuk dikaji dalam mengukur peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka serius atau dalam penanggulangan bencana alam. non pemerintah dan masyarakat karena sangat dibutuhkan dalam mereduksi manajemen penanggulangan bencana yang efektif. Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik. Kebijakan dan strategi dalam penanggulangan bencana.Januari 2009.

8 . Fungsi koordinasi dan komando dalam strategi dan teknis penanggulangan bencana. dinas setingkat yang berbenturan dalam penanggulangan bencana. Pada akhirnya penelitian ini diharapkan menjadi landasan dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas. sinergitas dan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. baik bersifat sektoral maupun terpusat masih menjadi dilema yang menjadi perhatian khusus terhadap fungsi-fungsi lembaga yang saling berbenturan. Sinergi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini.undangan maupun kebijakan penanggulangan bencana yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat seharusnya bisa diaplikasikan dan dijalankan oleh pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana di daerahnya sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Latar belakang tersebut menjadi daya tarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam peran pemerintah daerah dan stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. baik di tataran pusat maupun daerah masih di upayakan untuk membentuk sebuah pola sinergitas dan keterpaduan sehingga tidak ada fungsi lembaga. Ego sektoral dan lembaga dalam penanggulangan bencana.

Dalam penelitian kualitatif. Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. peneliti kualitatif menetapkan fokus.1. Bagaimanakah peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010? 2. Rumusan Masalah Dalam mempertajam penelitian. Spradley menyatakan bahwa “ A focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Aspek yang akan diteliti adalah peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.2. Penelitian ini di fokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Bagaimanakah sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 9 . Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial. tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2010:208-209). Sehingga unit analisis yang akan ditelit lebih fokus pada aktor-aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. penentuan fokus didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan).

Selain itu. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.2.3. Manfaat Teoritis Memberikan kontribusi bagi perkembangan Ilmu Politik khususnya mengenai kajian birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana daerah.3. birokrasi. dan masukan kepada para pengamat politik. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut.3. Manfaat Praktis Memberikan informasi. pemerintah daerah serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan bencana.2. Manfaat Penelitian 1. tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 dan mengkonstruksi model sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka? 1. lembaga daerah. kontribusi. 10 . praktisi.1.2.3. 1.1.2. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan serta tambahan alternatif untuk penelitian selanjutnya yang sejenis.3.1.

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisiensian dalam penanganan bencana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan berbagai sub aspek dan fokus penelitian yang berbeda diantaranya adalah: 2. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. 11 .1.1. Dipaparkan pula mengenai solusi penyelesaian terkait dengan birokratisasi yang sentralistis dirubah menjadi desentralistis. dan tidak menjadikan adanya egosentris dan saling menyalahkan antar lembaga dalam penyaluran dana tersebut.1. Dalam penelitiannya dijelaskan tentang sistem birokrasi penyaluran dana rekonstruksi yang berkelumit dan tersentralisasi. Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Penelitian ini ditulis oleh Bagas Megantoro pada tahun 2006. agar penyaluran dana rekontruksi tidak harus berkelumit pada tahapan-tahapan birokrasi tanpa adanya realisasi kepada korban bencana.

terdapat pula kecenderungan terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. Dikarenakan BNPB punya 12 . Disamping itu. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi. Penelitian ini membahas penetapan status bencana (nasional. Pada kondisi yang demikian. 2.3. Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Penelitian ini ditulis oleh Agus Suryono pada tahun 2005. Akibatnya.1. birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efisien.2. sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal. Agus Suryono berbicara tentang birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang ke arah “parkinsonian”. Strategi. dan kabupaten/kota) serta penyorotan terhadap kelembagaan setingkat menteri yaitu badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dalam alur komando ketika terjadi bencana belum terlaksana secara efektif. provinsi. tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur. dan Operasi) Penelitian yang ditulis oleh Adi Suhendi pada tahun 2009 dalam ringkasan evaluasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan.2.1.

salah satunya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan menyoroti peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana. Penelitian-penelitian terdahulu ini menginspirasi untuk melakukan sebuah penelitian yang berkesinambungan. Untuk melihat pembanding dan komparasi dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel berikut ini.kecenderungan untuk berbenturan dengan fungsi-fungsi kementerian-kementerian teknis lainnya yang terkait dengan penanggulangan bencana. 13 . Tentunya ini berbeda dengan penelitian terdahulu. Mekanisme koordinasi antara BNPB dengan BPBD cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. karena BPBD sebagai perangkat daerah akan lebih patuh terhadap kepala daerah. Pada kesimpulannya sistem penanggulangan dan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah tidak berjalan dengan efektif karena sebuah benturan pelaksanaan teknis yang sama.

Peneliti lebih memfokuskan pada peran dan sinergitas stakeholder . 24 tahun 2007. 2. dan Operasi Tahun 2009 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Tujuan Penelitian Mengetahui sejauh mana manajemen penyaluran dana rekonstruksi dalam peanggulangan bencana Metode Kualitatif Studi Kasus Hasil Manajemen pemerintah dalam penanganan [pasca] bencana perlu diperbaiki. privat dan masyarakat harus all together yang sinergi dengan adanya standar minimal pelayanan publik dan adanya mekanisme pengawasan sosial terhadap birokrat Persamaan dan Perbedaan Penelitian Persamaan Menyoroti sinergisitas lembaga dalam penanggulangan bencana Perbedaan Peneliti lebih menyoroti pada peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. sedangkan penelitian Bagas Megantoro lebih membahas mengenai sinergi penyaluran dana rekonstruksi antar lembaga pusat-daerah dalam penanggulangan bencana. Strategi. Peneliti Bagas Megantoro Judul Penelitian Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Tahun 2006 Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Tahun 2005 Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan. Asep Deni Jatnika Kualitatif Studi Kasus - 14 .Tabel 1. sementara penelitian Adi Suhendi lebih memfokuskan pada sinergitas di tataran pusat dan implikasi nya terhadap sinergi dengan daerah dan berbicara tentang aturan dalam pasal-pasal UU No. Adi Suhendi Melakukan review tentang sistem penanggulangan bencana nasional dan menellaah efektifitas PB di tingkst daerah-pusat Mengetahui sejauh mana peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Studi Pustaka Kelembagaan penanggulangan bencana harus dapat bertindak lintas sektor dan lintas wilayah serta memiliki rantai komando yang jelas dan efektif Fokus pada aspek sinergitas lembaga dalam penanggulangan bencana 4. Matriks Analisis Penelitian Terdahulu No 1. salah satu sumber permasalahan tersebut adalah lamanya dan rumitnya pencairan dana rekonstruksi korban bencana dan diperlukan perbaikan dan pembetulan dalam sistem birokrasi Indonesia Merubah persepsi dan paradigma tentang birokrasi Unsur pemerintah. Agus Suryono Memahami pentingnya manajemen birokrasi profesional Studi Pustaka Mencari keefektifan dan sinergitas dalam tubuh birokrasi 3. Peneliti lebih menekankan pada aspek birokrasi (institusi atau lembaga daerah) dalam konteks penanganan dan pelayanan penangulangan bencana sedangkan penelitian Agus Suryono memfokuskan pada aspek dan pengkrirtisan terhadap birokrasi yang mengarah ke arah parkinsonian dan orwelian sehingga birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya secara profesional.

Beberapa landasan teori yang mendukung dalam penelitian yang akan peneliti lakukan adalah teori dan konsep tentang peran pemerintah daerah dan manajemen kebencanaa (Disaster Management). Kerangka Teori Penelitian ini memfokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Konsep peran sangat diperlukan untuk mengetahui dan memahami keselarasan atau integrasi antar tujuan dan misi yang ingin dicapai (Nogi 2005: 266). Peran-peran diajarkan melalui sosialisasi dan interaksi.1. Adanya interaksi dalam masyarakat akan menciptakan hubungan antar peran-peran individu dalam masyarakat. 2.2.2. Peran Pemerintah Daerah Peran memiliki arti serangkaian perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang. Pemerintah daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD 15 . Pengharapan yang terdapat dalam peran merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu peran.2. Sesuai dengan fokus penelitian. maka diperlukan beberapa teori pendukung untuk mempermudah dalam proses penelitian. Seseorang harus belajar mengetahui peran yang dijalankannya serta peran yang dijalankan orang lain melalui sebuah interaksi dan sosialisasi. Berikut penjelasan mengenai teori dan konsep yang menjadi landasan teori dan kerangka berfikir dalam penelitian ini. Seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajibannya dari statusnya (Sunarto 2000: 54).

atau walikota. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah . dan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan 6 7 (masyarakat dan pihak manajer publik: 7 Abdi Projo.com. dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issue.menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. tentunya hal tersebut membutuhkan peran-peran dari pemerintah daerah dan stakeholder di dalamnya. atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issue atau suatu rencana . http//www. Berdasarkan kekuatan. proyek. Pemerintah daerah adalah gubernur. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka merupakan 6 rangkaian permasalahan yang perlu dicarikan solusi dan alternatif untuk menyelesaikannya. program. 16 .wikipedia. posisi penting. Pemangku Kepentingan. wewenang. Secara sederhana. stakeholder dapat diketegorikan kedalam tiga kelompok. diakses pada tanggal 10 Februari 2010 http//www. dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengertian Tentang Pemerintah Daerah. stakeholder primer (utama) yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan. bupati. Pertama.bloger. diakses pada tanggal 10 Februari 2010.com. stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak. lintas pelaku. Dengan demikian peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara bertindak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu hak.

Perguruan Tinggi. legislatif. bersama stakeholder lainnya mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. operasi penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab lembaga dan dinas-dinas terkait sebagai stakeholder pemerintah daerah yang berperan sebagai agen utama dalam melaksanakan penaggulangan bencana. dan 8 8 Ibid 17 . strategi. tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah (LSM. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya. Keberlangsungan pelayanan. dan lembaga pemerintah yang terkait dengan issue tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan). Pemerintah daerah sebagai stakeholder kunci. Tentunya keberlangsungan operasi dari pemerintah sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu aparatur pemerintah. Kedua.lembaga/badan yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan). program. stakeholder kunci yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan. Ketiga. Badan Usaha. dan proyek. stakeholder sekunder (pendukung) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan. dan instansi . Partisipasi aktif dari berbagai elemen untuk menciptakan sebuah manajemen penanggulangan bencana merupakan aspek integral yang sangat penting sehingga dampak resiko bencana bisa ditanggulangi secara terpadu dan menyeluruh. organisasi birokrasi.

mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta memusatkan kekuasaan. tidak lagi menjadi alat rakyat 9 9 Op Cit 18 . tidak obyektif. tujuan. seperti yang dijelaskan Kartasasmita dalam Suryono (2002: 3). lamban dan menghambat kemajuan. tidak efesien. Namun sejarah dan realita yang sekarang menggejala dalam tubuh birokrasi memiliki beberapa kecenderungan.prosedur tata laksananya. menjadi alergi ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik. Persepsi atau pemahaman dari pelaksana haruslah sesuai dengan maksud. apabila operasionalisasi suatu kebijakan ingin dapat berjalan secara optimal dan sebagaimana mestinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan terhadap aparatur pemerintahan agar prosedur ketatalaksanaan dan bentuk organisasi birokrasinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari misi yang akan dicapai . tidak mengabdi kepada kepentingan umum. dengan demikian setiap pelaksanan harus mengerti benar tentang konsep persepsi sebagai langkah awal dari motivasi yang akan mewarnai cara bertindak. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa birokrasi cenderung lebih mementingkan prosedur daripada substansi. tidak efektif (over consuming and under producing). Birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik. Dalam mengoperasionalkan kebijakan manajemen aset di kabupaten/kota diperlukan peran pemerintah daerah kabupaten/kota. dan sasaran dari kebijakan tersebut. pada dasarnya birokrasi lebih mengutamakan kepentingan sendiri (selfserving). Oleh karena itu. Agen administrasi pemerintah daerah yang ditujukan menjalankan fungsifungsi dan tujuan lembaga adalah birokrasi.

Begitu halnya dengan peran birokrasi pemerintah daerah 19 . Sebagaimana perkembangan dari segi perilaku birokrasi maka ada sebuah perkembangan peran antara politisi dan birokrasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut.tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. pragmatis Memberi keseimbangan Sama (karakteristik berbaur) EKSPRESI Hirarki otoritas Supremasi politik Partisipan Rasionalitas vs Rasionalitas Administrasi Partisipan Birokrat cenderung politis Hibrida Murni (Perkawinan Murni) Mempolitisaasi birokrasi dan membirokrasikan politik Sumber: Solahuddin Kusumannegara. Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. terpusat. idealistik Energik Sama (karakteristik berbaur) BIROKRAT Melaksanakan kebijakan Fakta/pengetahuan Keahlian Kemanjuran Artikulasi kepada klien Hati-hati. partisan. Gava Media (2010:58) Secara mendasar birokrasi sangat erat kaitannya dalam pembuatan sebuah kebijakan dan sebagai agen administrasi yang paling bertanggungjawab dalam implementasi kebijakan. Dalam berbagai macam pola hubungan antara birokrasi dan politik. Perkembangan Peran Politisi-Birokrat IMAGE Kebijakan/ Administrasi Fakta/ Kepentingan Energi/ Equilibrium POLITISI Membuat kebijakan Kepentingan/Nilai Kepekaan politik Pertanggungjawaban pada konstituen Artikulasi secara luas Ideologis. Tabel 2. institusi politik terdiri atas orang-orang yang berperilaku politik yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya.

Guru. demi terpenuhinya layanan publik yang efektif dan efisien. Street-level bureaucrats adalah lembaga layanan publik yang mempekerjakan sejumlah besar tingkat birokrat pelaksana (Lipsky 1980: 3). Alasan street-level bureaucrats sebagai fokus dari kontroversi umum adalah pada aspek interaksi dengan warga negara yang sering menyebabkan 20 . dan kesejahteraan masyarakatnya di Kabupaten Majalengka. polisi. Birokrasi harus menjalankan peran dan tugasnya sebagaimana yang telah diamanahkan dalam sebuah peraturan formal. pegawai kantor jaminan sosial adalah beberapa contoh dari tingkat birokrat pelaksana. Sehingga tidak ada sebuah hirarki antara birokrat dengan masyarakat dan tidak adanya politisasi dalam sebuah birokrasi. penegak hukum. yang mendirikan kerangka kerja untuk mendukung pesan fundamental. Meskipun dianggap sebagai tingkat karyawan rendah. Street-level bureaucrats menyebabkan kontroversi. keamanan.dan stakeholder di dalamnya mempunyai peran dalam urusan pemerintahan guna menunjang kemakmuran. sebenarnya mereka adalah orangorang yang secara langsung berinteraksi dengan dan menyediakan layanan publik kepada warga negara dalam proses pekerjaan. street-level bureaucrats (birokrasi tingkat pelaksana) merupakan pegawai pemerintah yang memberikan layanan masyarakat secara langsung kepada warga. pegawai kesehatan. karena mereka harus setuju dengan setiap perubahan kebijakan. Peran penting dari street-level bureaucrats sebagai pembuat kebijakan. dan memiliki kebijaksanaan substansial dalam pelaksanaan pekerjaan mereka. Berbicara tentang birokrasi.

4) Kinerja berorientasi pada pencapaian tujuan cenderung sulit dan mustahil untuk di ukur. 21 . 2) Permintaan untuk layanan cenderung meningkat untuk memenuhi pasokan. akuntabilitas. Tentunya perubahan pelayanan publik harus di dukung dengan kebijakan yang lebih relevan dan memungkinkan segala pekerjaan dan layanan publik bisa dilaksanakan dengan baik. pola praktek dan masa depan tingkat birokrasi jalan. Kondisi kerja street-level bureaucrats telah dikategorikan sebagai berikut: 1) Sumber daya tidak memadai relatif kronis dengan tugas pekerja yang dilakukan. dalam artikel keduanya menyatakan bahwa street level bureaucrats menghadapi dilema antara mendapatkan pada fokus kerja dan memenuhi tujuan organisasi. kabur atau bertentangan. Dalam rangka reformasi dan merekonstruksi street-level bureaucrats. sinergitas dengan arus kebijakan menjadi perhatian utama sebagai landasan untuk memperbaiki situasi tersebut dengan klien dan membantu streetlevel bureaucrats menjadi lebih efektif sebagai pendukung perubahan. dan bagaimana para pegawai pelayanan publik berperilaku di bawah kondisi dan konteks pekerjaan mereka.benturan diantara keduanya. Kebijaksanaan mengantarkan street-level bureaucrats paling sering menjadi dilema pribadi. 3) Tujuan harapan bagi lembaga di mana mereka bekerja cenderung ambigu. (Lipsky 1980: 8-10). Penulis menjelaskan apa yang terjadi pada titik dimana kebijakan diterjemahkan dalam praktek. Wong dalam Lipsky (2005: 27-28) kondisi kerja.

Akibatnya. dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Apalagi ketika ada sebuah institusi yang profesional dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. birokrasi selalu mendapatkan citra negatif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan birokrasi itu sendiri khususnya dalam hal pelayanan publik.2. khususnya lebih menyoroti pada aspek peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.Dalam merealisasikan kriteria ini pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi profesional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented). 2. Manajemen birokrasi profesional ini sangat relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Birokrasi dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tentunya diharapkan cepat tanggap.2. Kesan pelayanan aparatur pemerintahan selalu lamban dan tidak cepat tanggap. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu 22 . Manajemen Kebencanaan (Disaster Management) Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pelayanan publik ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan khalayak masyarakat ramai yang memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan.

kegiatan pencegahan bencana. dan tanah longsor. gunung meletus. dan wabah penyakit. angin topan. 3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. kerusakan lingkungan. Penanggulangan bencana merupakan proses integral yang satu sama lain sangat bergantung dalam 23 . dan rehabilitasi. tanggap darurat. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. kekeringan. gagal modernisasi. Bencana dibagi ke dalam tiga kategori diantaranya: 1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. 2) Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi. epidemi. dan dampak psikologis. tsunami. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana.kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia. banjir. kerugian harta benda.

BAB I pasal 2 24 . pemenuhan kebutuhan dasar. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. perlindungan. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. tegaknya hukum dan ketertiban. kemitraan. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. 3) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. pemberdayaan.sebuah manajemen penanggulangan bencana yang terpadu dan menyeluruh meliputi : 1) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. koordinasi dan keterpaduan. tepat. Prinsipnya penanggulangan bencana merupakan proses cepat. pengurusan pengungsi. prioritas. non 10 10 Lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. sosial dan budaya. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. 2) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. penyelamatan. 4) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. harta benda.

diskriminatif dan berdaya guna. Ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat . Tidak semua bencana alam menimbulkan resiko bencana. Apabila suatu peristiwa yang memiliki potensi bahaya terjadi di suatu daerah dengan kondisi yang rentan, maka daerah tersebut beresiko terjadi bencana. Jadi resiko dipengaruhi oleh faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability). Dalam hal ini faktor kapasitas dapat dianggap sebagai bagaian dari faktor kerentanan, yang dapat mengurangi kerentanan bila kapasitas daerah tersebut tinggi. Sebaliknya apabila kapasitas daerah rendah maka akan meningkatkan faktor kerentanannya .
12 11

Gambar 1. Model Hubungan Antara Resiko Bencana, Kerentanan dan Bahaya

Sumber: Tinjauan umum manajemen bencana. UNDP program pelatihan manajemen bencana edisi ke-2 tahun 1992

11 12

Ibid Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Peanganan Bencana di Jawa Barat”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

25

Pendekatan proaktif dalam pengurangan resiko bencana merupakan salah satu bagian terpenting dalam mitigasi bencana, yang pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana. Kegiatan mitigasi bencana hendaknya menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kejadian bencana, yang seringkali datang tidak terduga dari waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar dari perkiraan semula. Pemerintah hendaknya proaktif untuk memberikan berbagai arahan yang tepat dan berkesinambungan dalam menghadapi peristiwa atau bencana atau dengan kata lain bisa beradaptasi dengan resiko potensi bencana. Perlu diperhatikan bahwa untuk setiap arahan yang ada hendaknya menjaga kesederhanaan sistem dan prosedur. Kletz mengemukakan bahwa ”organizations have no memory: only people have memories and they move on” . Dengan kesederhanaan sistem dan prosedur, diharapkan masyarakat bisa memahami dengan baik, terutama bagi masyarakat yang terkena bencana, sehingga pada saat kejadian bencana dan dalam kondisi darurat, diharapkan mereka mampu menaggapinya serta mereka mampu melakukan proses pemulihan darurat secara mandiri. Inilah yang sebenarnya merupakan salah satu pengembangan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan bencana, yang berbasis pada kemampuan pada masyarakat itu sendiri dan bertumpu kepada kemampuan sumberdaya setempat (community ased disaster management).
13

13

Kletz (1993) Lesson from disaster: how organiations have no memory and accident recur. Institution of Chemical Engineers: Rugby, England

26

Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan dan harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus membuat perencanaan untuk persiapan dalam menghadapi bencana. Selama ini, tindakan dalam penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasiorganisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama pada saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Selain untuk keperluan mitigasi, kajian resiko untuk bahaya dari berbagai jenis potensi bahaya alam lebih lanjut dapat juga digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan rencana operasi darurat atau emergency operation plan (EOP), atau dalam bentuk SOP yang terjangkau (achievable/workable), sederhana dan tepat (appropriate). Pada dasarnya EOP dan SOP merupakan kerangka dasar dalam rencana tanggap darurat yang terkoordinasi dan efektif, karena didalamnya telah mendefinisikan peranan dan tanggungjawab seluruh stakeholder seperti pemerintah, organisasi swasta, sukarelawan, dan badan-badan lain yang terdapat di dalam sustu negara . Dalam hal ini termasuk perencanaan kegiatan sebelum kejadian bencana dan kesiapsiagaan, perencanaan organisasi, dan kehumasan untuk mengatur aliran informasi, atau dengan kata lain bahwa dalam SOP
14

14

Ibid

27

Gambar 2. Koordinasi sangat penting dilakukan dimana berbagai pihak umumnya akan terlibat dalam penanganan bencana. Peran Berbagai Stakeholder Dalam Penanggulangan Bencana Sumber: Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun. Manajemen bencana: Strategi hidup di wilayah potensi bencana. 2) Menetapkan tolak ukur untuk menilai suatu pencapaian aktivitas. Selain itu SOP haruslah SMART (Spesific.. “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jawa Barat” Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. SOP yang efektif akan mencakup berbagai bentuk variasi koordinasi dan cara pengambilan keputusan.diperlukan perencanaan terintegrasi. Key note speaker pada lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan. Bandung 2-3 Desember 2004. 3) Menyusun antisipasi faktor-faktor yang paling beresiko dan usaha-usaha menguranginya apabila mungkin. 28 . Achievable. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Measurable. Relevant and Time Bound) dengan ketentuan dasar antara lain meliputi : 1) Mendefinisikan berbagai aktifitas apa saja yang ahrus dilakukan dalam kondisi darurat. 15 15 Sadisun. manajemen. Bandung 2-3 Desember 2004. dan pendekatan kesiapsiagaan terkait potensi bencana yang ada.

tsunami. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam.3. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain banjir. Permasalahan rendahnya kualitas pelayanan sistem dan penanganan bencana di daerah merupakan potret buram sistem dan sinergitas antar lembaga yang menaunginya. gempa bumi. Kerangka Berpikir Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah Barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah Timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana.4) Membangun jaringan dalam melakukan pertolongan darurat. Salah satunya adalah dalam usaha penanganan bencana. 29 . gunung berapi dan tanah longsor serta angin puting beliung. Dengan adanya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan pemerintahan atau rumah tangganya sendiri dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. termasuk di antaranya jaringan informasi. 5) Membuat jadwal dengan cermat dan sistematis keseluruhan kegiatan yang diperlukan selama kondisi darurat. Akan tetapi daerah kurang dapat menyelenggarakan hal tersebut dengan baik karena kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah sangat terbatas. kemarau panjang. 2.

Majalengka 30 . Lembaga pemerintah yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana harus bisa memposisikan sebagai fasilitator dalam upaya sinergitas dengan lembaga lain. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah: Gambar 3. sehingga terjadi sebuah efektifitas mekanisme kerja. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah di Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam.Sorotan khusus adalah bagaimana birokrasi pemerintah bisa mengupayakan sebuah kontruksi dan sinergitas di tataran birokrasi dalam penanggulangan bencana alam. Majalengka (OPD) Organisasi Perangkat Daerah Studi Kasus Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka Perda Kabupaten MajalengkaNo 10/2009 “Organisai Perangkat Daerah” (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Kerangka Berfikir UU No 24/2007 “Penanggulangan Bencana” dan Perka BNPB No 3/2008 “Pedoman Pembentukan BPBD” Bencana alam di Kabupaten Majalengka Pemerintah Daerah Kab. agar tidak terjadi sebuah ego lembaga dalam penanganan bencana. Dengan demikian mau tidak mau pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengembangkan pola sinergisitas penanggulangan bencana guna menunjang peningkatan kualitas dan akuntabilitas lembaga.

Hal yang sangat penting menurut paradigma ini adalah interpretasi. Karena menggunakan metode penelitian kualitatif. dan lain-lain secara holistik di Sekretaris Daerah. Kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dinas Sosial. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).1. tindakan. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. khususnya critical theory. Paradigma ini menekankan bahwa apa yang disebut laws atau generalisasi (yang . maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-positivist. Misalnya perilaku informan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.BAB III METODE PENELITIAN 3. Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). Paradigma nion positivist pada intinya merupakan paradigma yang mementingkan pencarian makna dari setiap tindakan sosial aktor. Dinas Kesehatan. persepsi. motivasi. Kecamatan Jatitujuh. Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2005:4) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). dan masyarakat sekitar dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

peneliti akan menggunakan metode wawancara. Jadi. pengamatan. tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu yang utuh. Dalam penelitian kualitatif metode pengumpulan data yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara. hal 22-23. Dalam penelitan ini. peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Majalengka khususnya dalam pola penanggulangan bencana alam.bersifat kausal) tidak selamanya diperlukan untuk memahami gejala sosial. Hand Out Mata Kuliah Metodologi Ilmu Politik (Purwokerto: Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedriman. dan dokumentasi. Bogdan dan Taylor (1975: 5) dalam Moleong (2005: 4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. . observasi. dan pemanfaatan dokumen. Begitu juga dengan metode dalam pengumpulan data. Dengan demikian. 16 16 Solahuddin Kusumanegara dan Sofa Marwah. 2006). setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi dan harus dipahami dengan sebaik-baiknya . pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). memfokuskan pada peran pemerintah daerah dan mengkontruksi sinergi stakeholder dalam proses penanggulangan bencana. Menurut mereka. dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis. karena metode tersebut dibutuhkan sesuai dengan tema yang akan dibahas untuk memilih informan maka membutuhkan metode tersebut dalam pengumpulan data agar lebih valid.

2. 2003: 80-81). perubahan lingkungan sosial. Oleh karena itu. baik mencakup keseluruahn siklus kasusnya atau pun segmen-segmen tertentu saja. Aspek yang akan menjadi fokus penelitian adalah mengenai peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencan alam di Kabupaten Majalengka. Studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabelvariabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya (Suryabrata. hubungan-hubungan internasional.3. dan kematangan industri-industri. pendekatan studi kasus sangat tepat digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin 2002: 1-4). . seperti siklus kehidupan seseorang. proses-proses organisasional dan manajerial. Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why. sehingga membutuhkan metode studi kasus untuk menganalisisnya karena hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir. bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang unutk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki.

Dinas Sosial. Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah Sekretaris Daerah. Teknik Pemilihan Informan Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dan Kantor Kecamatan Jatitujuh. 3.3.3.5. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Lokasi Penelitian Penelitian dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka” mengambil lokasi di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kepala Kecamatan Jatitujuh. Provinsi Jawa Barat.4. Dinas Kesehatan. Lokasi selanjutnya adalah di instansi-instansi pemerintah daerah Kabupaten Majalengka yaitu Sekretaris Daerah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Pertimbangan tertentu ini. Dinas Kesehatan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. 3. Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi C yang membidangi tentang kebencanaan. misalnya . Dinas Sosial. dan masyarakat di lokasi bencana. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Teknik Pengumpulan Data 3. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report.1. tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. Wawancara dapat dilakuakan secara terstruktur maupun tidak terstruktur. bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008:57). Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu . Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008: 50).6.6. Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada. pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti di dalam memperoleh data. atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. dan dapat dilakuakn melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono 2010: 137-138).orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. 3. dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data.

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2010: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur. 3. Dalam kasus ini.2. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. sejalan dengan survai (Yin.mengeksplorasi data dari informan yang bersifat nilai.6. dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik survai. Pada beberapa situasi peneliti bahkan bisa meminta informan untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. dimana informan diwawancarai dalam waktu yang pendek. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. wawancara studi kasus bertipe open-ended. makna. 2002: 108-110). yang paling umum. dimana peneliti dapat bertanya kepada informan kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai suatu peristiwa. Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang terfokus. yaitu wawancara dan kuesioner. maka observasi . Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang. wawancara tersebut bisa tetap open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tidak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya.

Pada penelitian-penelitian lainnya .3.tidak terbatas pada orang. Rekamanrekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi lain dalam pelaksanaan studi kasus. tetapi juga objek-objek alam yang lain. 3. Namun demikian. rekaman keorganisasin seperti bagan dan anggaran organisasi periode tertentu. Pada beberapa penelitian. peneliti menggunakan metode non participant observation. kemudian untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti memilih instrumen observasi secara terstruktur agar mempermudah dalam penyusunan sub-sub penelitian guna menunjang laporan hasil penelitian. Rekaman Arsip Rekaman arsip seringkali dalam bentuk komputerisasi seperti peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat. tidak seperti bukti dokumenter. rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa mejadi obyek perolehan kembali dan data analisis yang luas.6. kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus lainnnya. Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data. selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur (Sugiyono 2010: 145). Teknik pengunpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia. data survai. daftar nama dan komoditi lain yang relevan. gejala-gejala alam dan bila responden yang diamatai terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. proses kerja. data rekaman atau data sensus yang terkumpul. observasi dapat dibedakan menajdi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation.

rekaman arsip mungkin hanya sepintas relevansinya.7. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Teknik pengumpulan data dengan rekaman arsip ini akan dilakukan oleh peneliti karena pada dasarnya rekaman arsip merupakan sumber data yang memiliki peran sebagi sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa.1.7. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Rekaman arsip yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Untuk . Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan intensif. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011. 3. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan dan merupakan sumber data yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah yang dibahas. 2002: 106-107). Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD Kabupaten Majalengka. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. Sumber Data 3. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. Bilamana bukti arsip relevan. peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya (Yin.

Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). A. Kardia dari Kantor Kecamatan Jatitujuh. 3. Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD . Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). M. Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka). Indrayono dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK). Ida Heriyani dari Dinas Kesehatan. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009. serta berbagai sumber lainnya yang mendukung penelitian.7. Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka. Syarifudin Rahmat dari Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Dedi Supriyadi dan Asikin dari Dinas Sosial.2. Data Sekunder Data yang diperoleh dari buku-buku. Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011. media massa. Hardi.mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Idit Ruhadi. Agus Slamet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). dokumentasi. Yuarlina dari Sekretaris Daerah. Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK. Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008. Informan dalam penelitian ini adalah Yati Sumiati dan R. Heri Purbadhi. dan Karsa selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. arsip. Syihabuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C. maka peneliti menggunakan purposive sampling.

dan bahanbahan lain. Bogdan menyatakan bahwa “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts. dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Sugiyono 2008: 88). sehingga dapat mudah dipahami. dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data. yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh.Kabupaten Majalengka. 40 . Analisis Data Dalam hal analisis data kualitatif. Aktifitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi data). selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. catatan lapangan. Analisis data kualitatif bersifat induktif. 3. and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others” Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara. hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. sehingga datanya sudah jenuh. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. fieldnotes. menyusun ke dalam pola. melakukan sintesa. data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan). Miles and Huberman (1984). mengemukakan bahwa katifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. menjabarkannya ke dalam unit-unit.8.

Sehingga reduksi data memerlukan proses berfikir sensitif dan kecerdasan. untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. memilih hal-hal yang pokok. 3. dicari tema dan polanya. memfokuskan pada hal-hal yang penting. keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi (Sugiyono 2010: 247-249). Penyajian data dapat diartikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat. 3.3. Berikut gambaran model analisis interaktif Miles dan Huberman. dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. 41 . Penarikan Kesimpulan Proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus.1 Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak.8. Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung. hubungan antar kategori.8. bagan. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Mereduksi data berarti merangkum.8.3. dan mencarinya bila diperlukan. dan sejenisnya serta penyajian data dalam penelitian adalah dengan sistematis melalui gambaran atau skema.

9 Validitas Data Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman Data collection Data Display Data reduction Conclusions: drawing/verfying Sumber: Diadaptasi dari Miles dan Huberman (1992: 20) 3. Dengan demikian data yang valid adalah “data yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Validitas data ini akan mengeksplor objektifitas dan kesesuaian desain penelitian yaitu peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam di 42 . sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut di ambil (Sugiyono 2010: 267). Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Untuk penelitian ini akan menggunakan validitas data internal karena lebih menekankan pada akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai bukan menggeneralisasikan pada sebuah sampel. Validitas data dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal.Gambar 4.

1986). “Triangulation is qualitative cross-validation. 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu (Sugiyono 2010: 273). It assesses the suffiency of the data accoding to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures” (Wiliam Wiersma. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber. Patton (1987: 331) dalam Moelong (2005: 33) triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai waktu. 5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. 4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berlainan.Kabupaten Majalengka yang nantinya akan tercipta sebuah laporan hasil penelitian yang tepat dan obyektif. Hal itu dapat dicapai dengan jalan: 1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. .

3. Jadwal Penelitian Tabel 3. 5. dan dokumentasi. KEGIATAN Penyusunan Proposal Menyusun Memasuki instrument lapangan. 2. anlisis domain 4.Triangulasi data digunakan oleh peneliti karena berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Dengan triangulasi sumber data-data yang diperoleh benar-benar dapat teruji keabsahannya.10. 6. dan grand 1 X 2 X X X 3 4 5 revisi proposal tour dan minitour question. observasi. Pengumpulan data primer dan sekunder Pengolahan dan analisis data Membuat laporan 7. 3. Jadwal Penelitian BULAN KE NO 1. Penyempurnaan Laporan dan Seminar Hasil X X draft laporan X X X X X penelitian dan diskusi draft .

1. berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Pembahasan mengenai deskripsi lokasi penelitian bertujuan untuk memahami kondisi wilayah yang ditempati oleh suatu masyarakat. berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. berbatasan dengan Kabupaten Indramayu. Sebelah Timur. Sebelah Barat.1. Sebelah Utara antara 60 36’ – 60 58’ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 60 43’ – 70 03’ Lintang Selatan. dengan batas-batas wilayahnya : Sebelah Selatan.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Letak dan Keadaan Geografis Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur. sehingga dapat diketahui pola geografis dan sosial suatu masyarakat. . Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur. 4. Deskripsi Lokasi Penelitian Deskripsi lokasi penelitian merupakan hal yang penting untuk dituangkan dalam sebuah laporan penelitian. Gambaran umum Kabupaten Majalengka akan dijelaskan dalam hasil penelitian. Sebelah Utara. berbatasan dengan Kabupaten Sumedang.1.

204.Gambar 5.00 Km2) dengan ketinggian tempat antara 19 857 m diatas permukaan laut. yaitu : .24 Km2. Peta Kabupaten Majalengka Sumber: Majalengka Dalam Angka 2009 Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah.71 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44. berarti Kabupaten Majalengka hanya sekitar 2.357.

69 Km2 atau 28. 17. 7.41 22.50 41.25 32. 15. 3.49 34. 18.17 57.204. 23. 8.02 Km2 atau 40.37 LUAS DAERAH (KM) 31.24 NO 1. KECAMATAN Lemahsugih Bantarujeg Cikijing Cingambul Talaga Banjaran Argapura Maja Cigasong Majalengka Sukahaji Rajagaluh NO 13. 22.03 43.46 38.36 73.1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482. 14.56 65. 6.03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.54 37. 5. 3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345. Tabel 4.64 111.98 21.27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 2) Daerah Bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas permukaan laut dengan luas 376. 10.98 60.00 56. 2. 16.56 43.73 1. 4.21 24. 20.86 138. 11. Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Majalengka LUAS DAERAH (KM) 78.69 40.70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. KECAMATAN Sindangwangi Leuwimunding Palasah Jatiwangi Dawuan Panyingkiran Kadipaten Kertajati Jatitujuh Ligung Sumberjaya Kabupaten Majalengka Sumber: Registrasi BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2005 .76 32. 21. 12.53 Km2 atau 31.03 55. 9. 19.66 62.

2.2 derajat C.1. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka 4. Pada tahun 2009 suhu udara di Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 25.1. Suhu dan Kelembaban Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai.9 derajat C.1.Tabel 5.9 derajat C sampai 29. . Suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober yaitu 35.3 derajat C. Letak Geografis Kabupaten Majalengka Dirinci Per Kecamatan Sumber: Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dalam Buku Pedoman Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 4. sedangkan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu sebesar 22.2.

2. Curah hujan dan Keadaan Angin Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim. Faktor lain yang mempengaruhi hujan dan arah/kecepatan angin . sedangkan kemarau terjadi pada bulan Agustus & September. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi.2. Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 3 knot sampai 5 knot dan kecepatan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 28 knot.1. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Majalengka terjadi pada bulan Pebruari 2009 yang mencapai 419 mm dengan jumlah hari hujan 26. geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara.Tabel 6. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4.

Sedangkan jarak dari Ibukota Kabupaten Majalengka ke Kabupaten-kabupaten di Seluruh Jawa Barat berkisar antara 46 – 239 Km. Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0-37 Km. Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan permasalahannya.1.adalah perbedaan tekanan udara. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 berdasarkan hasil Susenas 2009 adalah 1.206. Arah dan Kecepatan Angin di Kabupaten Majalengka Sumber : Badan Meteorologi. Permasalahan tersebut diantaranya besarnya jumlah penduduk dan tidak meratanya penyebaran penduduk.702 50 . Kependudukan Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan. Tabel 7. Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009 4.3.

82 % bila dibandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya. kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.002 Jiwa/Km2.jiwa terdiri dari 600. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan masih lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan sex ratio 99.096 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 333 Jiwa/Km2. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah 1.02 %. Grafik 1.306 jiwa perempuan atau meningkat 0. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 51 . Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kecamatan Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010 Grafik 2.396 jiwa laki-laki dan 606.

Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Sumber: Susenas 2009 4. Peningkatan jumlah penduduk umumnya diikuti pula dengan penambahan jumlah angkatan kerja yang tentunya menuntut peningkatan penyediaan lapangan kerja.897 orang perempuan dan 6.417 Orang. Pencari kerja terdaftar selama tahun 2009 di Kabupaten Majalengka sebanyak 13.1.Tabel 8. Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. 52 . Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi.520 orang laki-laki.4. yang terdiri dari 6.

5. SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Bila dilihat dari daerah tujuan transmigran dari Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah Propinsi Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Maloy. Kutai Timur. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf artinya dengan rendahnya tingkat buta huruf menunjukan keberhasilan program pengentasan buta huruf dan untuk mencapai program tersebut harus didukung oleh sarana pendidikan yang memadai.1. Di Kabupaten Majalengka sarana pendidikan yang tersedia meliputi sekolah yang kurang dari 5 (lima) tahun/MD.1. Kecamatan Lemahsugih merupakan kecamatan terbanyak dalam hal jumlah pemberangkatan transmigran. SLTP. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka yang diberangkatkan transmigrasi pada tahun 2009 berjumlah 15 Kepala Keluarga atau 60 jiwa.6. 4. maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program.4. Transmigrasi Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk. SD. Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan disuatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan dengan program transmigrasi. 53 .

Adapun Komposisi Keanggotaan DPRD Kabupaten Majalengka berdasarkan Hasil Pemilu 2009 sebanyak 50 anggota yang merupakan perwakilan dari Partai Persatuan 54 . Jumlah Pemerintahan terendah di Kabupaten Majalengka berdasarkan satuan lingkungan setempat terdiri dari 2. Bila dilihat dari klasifikasi desanya terdapat 3 desa swadaya mula. dengan rasio RT terhadap RW sebesar 3.4.441 Rukun Tetangga. karena itu program-program kesehatan telah dimulai atau diprioritaskan pada calon generasi penerus. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain dilakukan dengan penambahan tenaga para medis. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas. 256 desa swadaya madya. 73 desa swakarya madya dan 1 desa swasembada madya.072 Rukun Warga/Rukun Keluarga dan 6. 4. Pemerintahan Secara Administratif pada akhir tahun 2009 Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan dan 334 Desa.1.11%.8. Kesejahteraan merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka peningkatan SDM penduduk Kabupaten Majalengka. Kesehatan dan Keluarga Berencana Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. 1 desa swakarya mula.7. Dari 334 desa tersebut 321 berstatus desa dan 13 berstatus kelurahan.1.

Partai Golongan Karya (Golkar) 6 orang. Partai Amanat Nasional (PAN) 5 orang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10 orang. Jumlah Anggota DPRD Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 55 . Partai Bulan Bintang (PBB) 1 orang. PKNU 1 orang dan Partai Patriot Pancasila 3 orang. Grafik 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2. Partai Demokrat 4 orang. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5 orang. Gerindra 1 orang. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1 orang. Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Berdasarkan Partai Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010 Grafik 4.Pembangunan (PPP) 4 orang. PKPB 1 orang .5. Hanura 2 orang.4 dan tabel 2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6 orang. Bila dilihat dari tingkat pendidikan anggota Dewan tercatat bahwa 100 % anggota Dewan berpendidikan SLTA keatas.

2. peneliti memfokuskan di Kabupaten Majalengka. Pemilihan lokasi penelitian. dan akhirnya dengan beberapa proses. usulan skripsi dengan judul peran pemerintah 56 . penelitimencoba menarik untuk untuk mendiskusikan dengan teman dan dosen untuk melihat sejauh mana spesifikasi penelitian yang akan peneliti lakukan. Majalengka dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara geografis Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam yang kemudian ada sebuah organisasi perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana dan baru didirikan pada tahun 2009 yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. Sehingga terlintas dalam benak pikiran peneliti bahwa permasalahan dikaji. Pembukaan Akses Terhadap Informan Perjalanan penelitian mengenai peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka bermula ketika peneliti tertarik dengan beberapa fenomena dan kejadian bencana alam di Indonesia. internet. Pada mengenai kebencanaan sepertinya cukup waktu itu. Usulan penelitian ini kemudian peneliti ajukan kepada jurusan untuk menjadi bahan tugas akhir. Selain itu.4. Ternyata. baik dari sumber media cetak. Kabupaten (BPBD) Majalengka merupakan tempat tinggal atau domisili asli peneliti. tahapan penyempurnaan dan perbaikan. kajian yang akan peneliti lakukan disarankan lebih spesifikasi pada lingkup birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. sehinga peneliti lebih mudah dalam mengakses sumber informasi dan data dalam mejalankan penelitian. melalui beberapa tahap diskusi dan dialog dengan beberapa dosen. ataupun televisi.

Dinas Kesehatan. Dinas Sosial.daerah dalam penangglangan bencana alam di Kabupaten Majalengka di acc. dan Kantor Kecamatan Bantarujeg. Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda). Pada waktu itu pula dengan berbekal surat izin pra survai dari Kesbang peneliti langsung mengunjungi beberapa informan awal untuk mengetahui sejauh mana permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Setelah itu peneliti dengan semangat dan tekad yang kuat pada hari Minggu tanggal 02 Januari 2010 memutuskan untuk melakukan pra survai agar lebih mengetahui sejauh mana spesifikasi permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka khususnya menyoroti pada aspek birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana alam. Berbekal surat izin pra survai yang dibawa dari kampus pada hari Senin tanggal 03 Januari 2011 peneliti langsung mengunjungi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Kabupaten Majalengka untuk melakukan perizinan dalam pra survai yang akan peneliti lakukan. Lembaga pemerintah menjadi tujuan pokok kunjungan peneliti untuk mendapatka informasi. sehingga pada waktu itu untuk mencari informasi tersebut peneliti berkunjung ke beberapa instansi pemerintah yaitu. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pada hari Kamis tanggal 06 Januari 2011 surat pra survai mendapat disposisi dari Kantor Kesbang. karena penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada tataran birokrasi. Dalam proses perizinan tersebut membutuhkan disposisi dari setiap lembaga maka hari itu peneliti fokus untuk memberikan surat izin pra survai kepada lembaga pemerintah yang akan 57 .

M. dan teman-teman. Kantor Kecamatan Bantarujeg. kakak. kemudian dilanjutkan ke Dinas Sosial.IP. Setibanya di Majalengka peneliti tidak langsung bergerak untuk melakukan penelitian. Selasa peneliti berkunjunjung ke Dinas Kesehatan. kemudian Rabu. Setelah proposal usul penelitian selesai dengan membawa surat izin penelitian dari Bapendik FISIP Unsoed peneliti kembali ke Majalengka pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2011 dan siap untuk menjalani penelitian.IP. untuk mengetahui gambaran bencana alam yang sedang terjadi di 17 17 Dosen Pembimbing peneliti adalah Adhi Iman Sulaiman. S. Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2011 peneliti kembali ke kampus untuk melanjutkan proses bimbingan usul penelitian untuk melalui tahap seminar usul penelitian. 58 . dan Jum’at masing-masing mengunjungi DPRD. Senin tanggal 10 sampai dengan Jum’at tanggal 15 Januari 2011 peneliti langsung bergerak untuk mengunjungi lembaga pemerintah yang menjadi fokus penelitian. kerabat.Si selaku pembimbing I dan Khairuroojiqien Sobandi. Setelah melakukan beberapa proses awal untuk mendapatkan informasi akhirnya peneliti memutuskan untuk kembali ke kampus untuk memperiapkan bimbingan usul penelitian kepada dosen pembimbing . MA selaku pembimbng II. Kamis. Setelah itu dilakukan revisi proposal tersebut untuk memantapkan fokus penelitian yang akan peneliti lakukan. namun waktu luang dari hari Jum’at sampai dengan Minggu (25-27 Maret 2011) peneliti gunakan untuk berdiskusi dan share terkait penelitian yang akan peneliti lakukan kepada orang tua. Kunjungan pertama untuk dimulai di BPBD. Melalui proses bimbingan akhirnya pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 peneliti melaksanakan seminar proposal usul penelitian. S. dan Bappeda.peneliti kunjungi.

Berbekal pengetahuan dan jaringan informan maka pada hari Senin tanggal 28 Maret 2011. dan itupun peneliti tidak kemudian langsung terjun untuk melakukan penelitian karena pada hari Jum’at kantor pemerintahan hanya beroperasi setengah hari dan kemudian pada hari Sabtu libur. dimulai dari Dinas Sosial dan kemudia Dinas lainnya. BPBD. karena surat izin penelitian baru di keluarkan seminggu kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 08 Maret 2011. Bappeda. peneliti langsung mengurus surat izin penelitian ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Lamanya prosedur penelitian atau disposisi dari Kesbangpol membuat peneliti menjadi jenuh. satu hari penuh peneliti menggali informasi tersebut dengan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk merepresentasikan pembahasan penelitian. tanggal 23 April 2011. Senin tanggal 11 April 2011 peneliti mulai melakukan penelitian di instasi atau lembaga pemerintahan. DPRD. 59 . Informasi dan data-data bisa terkumpul yang kemudian akan mendukung dalam penyususnan penelitian khususnya konteks peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka berakhir pada hari Sabtu. dan Kecamatan. sekaligus mengunjungi Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC). Sambi menunggu kembali hari aktif kerja kantoran maka pada hari Minggu tanggal 10 April 2011 peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian ke masyarakat selaku korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh.Majalengka dan membuka jaringan di lembaga pemerintahan yang akan dijadikan sumber informasi dalam melakukan penelitian. Blok Klewih RT/RW 09/12.

Argapura. angin putting beliung.1. Daerah resiko tinggi ancaman longsor berada di wilayah bagian selatan diantaranya Kecamatan Argapura. Banjaran. dan bahaya beraspek hidrometeorologi seperti ancaman banjir.4.1.3.1.71% luas total Provinsi Jawa Barat dan terbagi kedalam 27 wilayah kecamatan dan 334 desa/kelurahan memiliki potensi bencana alam (potential hazard) yang cukup tinggi. Maja. 18 18 Laporan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka 60 . serta kekeringan. banjir. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka 4. Malausma. Sindangwangi.204. ancaman gempa bumi. Talaga. tanah longsor. Ancaman-ancaman bahaya bencana alam tersebut dapat dikelompokan menjadi bahaya beraspek geologi (ancaman gempa bumi.Daerah yang rawan gempa di wilayah Kabupaten Majalengka diantaranya Kecamatan Rajagaluh. dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cikijing dan Cingambul. Daerah-daerah yang termasuk ke dalam zona resiko tinggi letusan Gunung Ciremai adalah Kecamatan Argapura dan sebagian wilayah Sukahaji dan Rajagaluh. Bantarujeg. Hasil Penelitian 4. Lemahsugih. dan kekeringan . angin puting beliung.3. Potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari ancaman bencana letusan Gunung Ciremai.3. Sukahaji.24 km persegi atau 2. Analisis Potensi Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Secara administratif Kabupaten Majalengka yang terletak pada meridian 01 derajat 14’20”BT dan 06 derajat 33’40” – 07 derajat 04’19” LS dengan luas 1. Maja. tanah longsor dan letusan Gunung Ciremai).

Bantarujeg. Banjaran. Palasah. dengan kerentanan dan variasi bencana dengan daerah yang berbeda. Kadipaten. 19 19 Ibid 61 . Lemahsugih. Cigasong. Pada tahun 2009 terjadi 67 kejadian sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 114 kejadian. Sementara untuk ancaman angin puting beliung berdasarkan sejarah kejadian umumnya berada di wilayah utara yang mencakup Kecamatan Kertajati. dan sebagian wilayah Kecamatan Cikijing. Berdasarkan laporan dari BPBD dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Majalengka angka kejadian bencana alam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berikut tabel kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 dan 2010. dan Cingambul. serta wilayah Cikijing. dan Sukhaji. Argapura. Wilayah yang rawan atau berpotensi mengalami kekeringan atau kesulitan air di wilayah selatan diantaranya meliputi Kecamatan Sukahaji. Untuk wilayah utara meliputi Kecamatan Ligung. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Sindangwangi.Banjaran. sedangkan Desa Dawuan yang berada di wilayah Kecamatan Dawuan merupakan desa yang sulit mendapatkan air bersih sepanjang tahun . Ligung. Panyingkiran. Jatitujuh. sebagian Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Rajagaluh. Maja. Jatiwangi. Sumberjaya.

Tabel 9. Sabtu 6 November 2010 62 . Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2010 BULAN Januari BENCANA YANG TERJADI Tanah Longsor Putting Beliung Kebakaran Banjir Tanah Longsor Tanggul jebol Kebakaran Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Sambaran petir Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Longsor Banjir Pohon tumbang Kebakaran Kebakaran Tanah longsor Kebakaran TOTAL VOLUME LUKA RINGAN 9 kali 8 kali 1 kali 1 kali 14 kali 1 kali 1 kali 3 kali 5 kali 2 kali 4 kali 3 kali 2 kali 6 kali 2 kali 2 kali 8 kali 4 kali 1 kali 5 kali 2 kali 2 kali 2 kali 114 kali JUMLAH KORBAN LUKA TEWAS BERAT 1 1 1 Februari 1 Maret 2 1 April Mei 3 3 Juni-Juli Agustus 7 4 2 Sumber: BPBD Majalengka dari Radar Majalengka. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2009 Sumber: Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Majalengka Tabel 10.

sehingga atas dasar tersebut bisa dikatakan Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. 22 Yuarlina adalah Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Berikut pemaparan informan dalam sebuah wawancara: 20 Wilayah Majalengka digolong sebagai wilayah bencana. Informan pun menjawab pertanyaan dengan sebuah argumentasi utama bahwa hal yang mendasar pemerintah daerah dalam menganalisis bencana alam di Kabupaten Majalengka adalah secara geografis berada dalam satu lipatan patahan bumi terdiri dari wilayah dataran tinggi. terbukti dengan runtutan kejadian-kejadian bencana alam yang sekarang terjadi. Senada dengan infroman lainnya. 21 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati yang dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08.Angka kejadian bencana alam yang terus meningkat menjadi dasar pertanyaan yang akan peneliti tanyakan kepada pemerintah daerah sebagai akses pembuka dalam penelitian ini. dan rendah mengakibatkan bencana yang terjadi lebih bervariasi pula. seperti yang dipaparkan oleh Yuarliana . nah mangkanya daerah kita termasuk daerah rawan 21 bencana . Pertanyaan ini. peneliti ajukan kepada Sekretaris Daerah. 22 20 Yati Sumiati adalah Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka yang bertugas sebagai basis konseptual perumusan kebijakan evaluasi dan monitoring Satuan Kerja Perangkat Daerah. 63 . Hal mendasar adalah berbicara prospek pemerintah daerah dalam menganalisis potensi bencana alam di Kabupaten Majalengka.05 WIB di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. kemudian daerahnya merupakan patahan lempeng bumi. Bagian Organisasi. yang merupakan rekannya di Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. dataran sedang. yang diwakili oleh Ibu Yati Sumiati .

maka harus dibutuhkan kesiapsiagaan 23 dalam panggulangannya . Syihabuddin adalah Ketua Komisi C (Bidang Pembangunan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka Periode 2009-2013. 24 A.40 WIB dikantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Bagian Kesejahteraan Masyarakat. Majalengka merupakan rawan bencana (ada bencana banjir.45 . angin puting beliung. sehingga satu sama lainnya bisa saling menguntungkan. 26 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. kita kan gak bisa menghindar.10. Walaupun bencana itu hanya bencana kecil namun ketika dibiarkan akan sangat fatal. tetapi tidak kemudian menganggap remeh hal tersebut. maka dari itu pemerintah pun konsen terhadap 25 penanggulangan bencana . 25 Hasil wawancara peneliti dengan A Syihabuddin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09.Secara geografis Majalengka rawan bencana alam. Begitu juga disampaikan oleh A. walaupun skala bencana yang terjadi adalah kecil. tanah longsor. Dipertegas oleh Heri Pambudhi 26 bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam. Syihabuddin 24 yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana dan tentunya memerlukan sebuah perhatian khusus baik itu bagi pemerintah sebagai agen kebijakan dan masyarakat sebagai penerima kebijakan. dan bencana sangat bervariasi mulai dari gempa bumi karena daerah kita termasuk wilayah patahan bumi. banjir erosi dan lainnya.10-30 WIB di kantor Komisi D DPRD Kabupaten Majalengka. karena bisa saja dampak yang ditimbulkan berfek besar. longsor). 64 . Kita melihat potensi Majalengka cukup besar.25 . Itu faktor alam. baik itu di daerah selatan yang merupakan daerah atas rawan dengan 23 Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 09.

12. sampai puting beliung.2.1. Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak 27 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 11. 4. menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 merupakan landasan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana. Secara geografis Kabupaten Majalengka berada dalam jalur patahan bumi dengan konstruk wilayah labil yang menyebabkan bencana alam sering terjadi.15 WIB di kantor Bagian Kedaruratan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 65 .00 .3. gempa. sehingga potensi gempa. Kesimpulan dari berbagai argumentasi hasil wawanacara. memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. dengan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. mulai dari longsor.longsor dan jalur patahan bumi. banjir. Pembentukan undang-undang ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam alenia ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. perdamaian abadi dan keadilan sosial. abrasi. Sehingga bisa dinyatakan Kabupaten Majalengka adalah kawasan rawan bencana alam. 27 Kemudian dataran rendah sangat berpotensi kekeringan .

yang dilaksanakan secara terencana. 28 hidrologis. terkoordinasi. dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi. dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana. Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari unsur pengarah dan unsur 29 28 29 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV Lihat Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penangggulangan bencana 66 . dan menyeluruh. sehingga memerlukan penanganan yang sistematis. Mencermati hal tersebut. dan terkoordinasi. saat tanggap darurat dan pasca bencana. namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang memiliki kondisi geografis. geologis. terpadu. disusunlah undang-undang tentang penanggulangan bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra bencana. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan kondisi alam yang memiliki berbagai keunggulan. Materi muatan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 berisikan ketentuan-ketentuan pokok sebagai berikut : a) Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah. terpadu. b) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).atas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia .

g) Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah. juga disediakan dana siap pakai dengan pertanggungjawaban melalui mekanisme khusus. 67 . saat tanggap darurat. mendapatkan perlindungan sosial. karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. d) Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. pemerintah daerah.pelaksana. mendapatkan pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan terpadu sesuai dengan kewenangannya. kegiatan penanggulangan bencana selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana. f) Pada saat tanggap darurat. dan masyarakat pada setiap tahapan bencana. berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. c) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. dan pasca bencana. e) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana.

h) Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus memberikan efek jera terhadap para pihak. menghambat kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana. unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat. dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum. baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang menimbulkan kerugian. perlu menetapkan tentang pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). unsur 68 . diwadahi dalam sekretariat. baik terhadap harta benda maupun matinya orang. dan penyalahgunaan pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi pidana. baik pidana penjara maupun pidana denda. pemerintah daerah perlu membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pemerintah daerah dalam hal ini adalah kepala daerah Kabupaten Majalengka dalam penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sesuai ketentuan Pasal 12 huruf h. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 18 dan pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam rangka memenuhi amanat dari undang-undang tersebut pemerintah daerah Kabupaten Majalengka menyusun sebuah mekanisme untuk merealisasikan berdirinya BPBD sebagai organisasi perangkat daerah. Akhirnya pemerintah pun memutuskan dan mengesahkan Perka BNPB Nomor 03 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan BPBD.

perencana yang diwadahi dalam bentuk badan. karena dengan alasan tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskanhal tersebut. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam menjadi hal yang menarik dalam melihat sejauh mana kebijakan tersebut diimplementasikan. kemudian di follow up dengan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah. diwadahi dalam lembaga teknis daerah. Pertanyaan tersebut peneliti ajukan kepada Ibu Yuarlina Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka. Yati Sumiati informan dari Sekretaris Daerah (Sekda) yang menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan 69 . yang di dalamnya mengatur tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. namun informan hanya memberikan gambaran secara umum. Informan hanya menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.

Cit 70 . d. dan pasal 7 bagian satu . Secara mendasar kebijakan tersebut di amanahkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). perlindungan masyarakat dari dampak bencana. penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah. f. pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. e. e. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. 31 (1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. dan g. atau pihakpihak internasional lain. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan alam untuk melakukan pemulihan. b. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada pada UU 30 31 24/2007 pasal 6 . berikut pemaparan beliau: Bahwa NKRI dan dalam hal ini adalah pemerintah daerah Majalengka bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. Bukti keseriusan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah dengan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). penentuan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain. b. d. pemulihan kondisi dari dampak bencana. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana. dan g. badan-badan. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan pembangunan nasional. mungkin 32 seperti itu dasarnya . c. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. pembuatan perencanaan pembangunan yangmemasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana. Pentingnya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengka karena secara mendasar Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana 30 Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. 32 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. f.Bencana. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional. c.

yang dipimpin Kesbangpol. Dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya mengatur tentang pendirian BPBD atas landasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penangggulangan Bencana.tapi sekarang lebih bersifat koordinasi. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib. 33 (1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. yang disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Majalengka maka dibentuklah BPBD. Sehingga sekarang penanggulangan bencana ditanganai tidak secara vertikal lagi. Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Nomor 03 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kalo sbelum didirikan BPBD kita mempunyai Satkorlak PB. Oleh karena itu. dengan melanjutkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a.dan b. kalo disini kita namakan BPBD. 34 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc.alam. jadi bisa dikatakan sebagai rohnya. namun setelah didirikan BPBD maka Satkorlak PB dibubarkan. Sehingga Pemda membentuk kembali lembaga yang lebih khusus dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Namun kondisinya di semua kabupaten belum membentuk badan 34 penanggulangan bencana . Jadi tingkat nasional juga harus dibentuk badan peanggulangan bencana. Bisa dilihat alasan kita membentuk BPBD di dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 BAB IV di kelembagaannya 33 khususnya di pasal 18 . Cit 71 . Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Bagan Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka Sumber: Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perngkat Daerah 72 .dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadikan landasan dikeluarkannya kebijakan penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dengan dibentuknya Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertujuan sebagai landasan lembaga atau organisasi perangkat daerah yang fokus dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Gambar 6.

menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang. b. d. tugas pokok dan fungsi dari BPBD sesuai dengan amanah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dalam pasal 53 adalah: (1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah unsur pendukung tugas Bupati yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Bupati. Menyusun. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. f.Adapun kedudukan. (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas pokok: a. penanganan darurat. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana. g. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. c. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan yang mencakup pencegahan bencana. e. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Bupati setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. dan h. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan peraturan perundangundangan. 73 . rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara.

Sub Bagian Umum. Unsur Pelaksana. (2) Pengaturan Unsur Pengarah Badan Penanggulagan Bencana Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. efektif dan efisien. terdiri dari : a. menyelenggarakan fungsi : a. 74 . c. c. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh. b. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. Sekretariat. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat.(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kepala Badan. terdiri dari: a. b. membawahkan : 1. Kepala Pelaksana. Unsur Pengarah. (3) Susunan Organisasi Unsur Pelaksana Badan Penanggulangn Bencana Daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Sementara itu. b. untuk penjelasan terkait struktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) termaktub dalam pasal 54 sebagai berikut: (1) Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Seksi Kesiapsiagaan Bencana. membawahkan : 1. d. Sub Bagian Perencanaan. membawahkan : 1. 2. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan.3. Seksi Kedaruratan Bencana. c. Kelompok Jabatan Fungsional. 2.3. Evaluasi dan Pelaporan. membawahkan : 1. e.2. Pertanyaan ini lebih di fokuskan pada Badan Penanggulangan Bencana 75 . Sub Bagian Keuangan. bagaimana manajemen dalam penanggulamgan bencana yang dilakukan. Seksi Pencegahan Bencana.1. Seksi Rekonstruksi Bencana. Seksi Rehabilitasi Bencana. Bidang Kedaruratan dan Logistik. Manajemen Majalengka Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Penanggulangan bencana alam tentunya membutuhkan upaya-upaya yang terorganisir dan sistematis agar tercipta sebuah penanganan yang efektif dan efisien. 2. (4) Bagan Struktur Organisasi Badan Penangulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran XXVII Peraturan Daerah ini. Seksi Logistik Bencana. 4. f. Pemikiran tersebut mendasari peneliti untuk menanyakan kepada informan. 3.

f) TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan mengungsi. penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Dalam melaksanakan penanggulangan bencana di daerah akan memerlukan koordinasi dengan sektor. salah satunya adalah lokasi yang ditinggal karena penghuninya 35 35 Buku panduan penaggulangan bencana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka 76 . mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah. merencanakan tata ruang daerah. c) Sektor sosial. d) Sektor pekerjaan umum. sedangkan SKPD lainnya merupakan elemen pembantu dan koordinasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana. secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut : a) Sektor pemerintahan.Daerah (BPBD). karena badan ini merupakan satuan kerja perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana. merencanakan kebutuhan pangan. e) Sektor keuangan. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana prasarana. sandang dan kebutuhan dasar lainnya untuk korban atau pengungsi. termasuk obat-obatan dan para medis. Pada hari Senin tanggal 18 April 2011 peneliti mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai manajemen penanggulangan bencana yang dilakuakn oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. b) Sektor kesehatan. merencanakan pelayanan kesehatan dan medis.

dengan mengunjungi kantor BPBD. Heri Pambudhi

36

pun menjelaskan bahwa

dalam manajemen penanggulangan bencana sebenarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Karena informan membidangi kesiapsiagaan dan darurat maka jawabannya lebih menjelaskan pada konteks penanggulangan bencana sebelum bencana terjadi. Berikut pemaparan informan mengenai hal tersebut.

Kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Atas dasar geografis Majalengka yang rawan akan bencana maka munculah Perda No 10 tahun 2009. Untuk fungsi komando BPBD ini memegang pucuk pimpinan pada saat terjadi bencana, kalo tidak terjadi bencana kita tidak berhak untuk itu. Fungsi Pelaksana misalkan kita mendapatkan alokai dana dari propinsi atau pun APBD kita langsung melaksanakan saja secara administrasi, tetapi pada saat pelakasanaan di lapangan yang secara teknis melaksanakan adalah dinas teknis 37 seperti DBMCK, Dinkes dan lainnya . Setelah itu peneliti direkomendasikan untuk mewawancarai kepada bidang tanggap darurat. Pada waktu itu pula peneliti langsung bertemu dengan Hardi. Informan menjelaskan mengenai manajemen penaggulangan bencana pada saat tanggap darurat. Karena secara makronya ada bencana alam, non alam dan sosial, khusunya yang dilakukan tindakan kedaruratan bencana yang terjadi di Kabupaten kita, kita melakuakn kegiatan-kegiatan ketanggap daruratan seperti memberikan sembako dan fammilly kit, hanya selama ini untuk bantuannya sendiri terbatas. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu
36

Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Keaduratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. 37 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi Loc. Cit

77

sudah terakumulasi, karena pada saat terajdi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain. Kesehtan bisa meberdayakan Dinkes dan Puskesmas, kemudian dibantu dengan TNI dan dinas lainnya, seperti itulah tapi 38 tetep dengna komando dari BPBD . Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kemudian peneliti mencoba untuk menggali informasi di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD. Peneliti pun langsung to the point menanyakan tentang fungsi dari rehabilitasi dan rekonstruksi kepada Moch Agus Slamet , dan beliau pun langsung mengulas dan menjelasakan inti dari rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti pemaparannya berikut ini.
39

Rehabilitasi itu ya intinya tugasnya pasca bencana yaitu merehabilitasi akibat bencana nya, kalo rekonstruskinya yaitu memperbaiki dari keadaan rusak menjadi keadaan semula, setelah bencana kita tingkatkan menjadi lebih baik, kalo merehab intinya begitu. Tapi untuk sampai saat ini bantuan fisik kontruksi belum bisa dilaksanakan. Kalo untuk yang sekarang penanganan-penanganan yang terjadi akibat longsor itu belum terealisasi namum tetep kita usulkan. Untuk sampai saat ini belum ada yang kita bantu. Untuk masalah pendanaan kalo berat yang nanganinya pusat 15 juta propoinsi 5 juta, kabupaten 1 juta, karena itu sudah peraturan. Kita cuma dana siap doang, tapi untuk 40 dana anggaran belum dianggarkan . Manajemen penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Majalengka meliputi pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana. Manajemen ini di dasarkan pada amanah Undang-Undang

38 39 40

Hasil wawancara peneliti dengan Hardi Loc. Cit Agus Slamet adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka Hasil wawancara peneliti dengan Agus Selamet yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2001 pukul 12.20 - 13.10 WIB di kantor Bagaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

78

Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Tentunya langkahlangkah ini harus dilaksaksanakan dengan se-efekitf mungkin dan melihat kapasitas dan orientasi yang dilakukan pada penanganan bencana. Peran dari setiap bidang atau lini yang berada di BPBD sangat diperlukan sebagai langkah dan upaya penanganan bencana yang terintegrasi. Peran dalam penanggulagan bencana tentunya tidak melihat pada satu instamnsi atau aktor saja, namun tentunya berada di stakeholder lainnya, salah satunya adalah Dinas Kesehatan. Pola manajemen penanggulangan bencana pun mereka lakukan, walaupun secara tidak langusng Dinas Kesehatan berada dibawah garis koordinasi dan komando BPBD, secara mendasar Dinas Kesehatan memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan bencana. Berikut penjelasan hasil wawancara dengan Dinas Kesehatan mengenai manajemen penangggulangan bencana alam.

Pada kejadian bencana khususnya pra bencana kita jelas di semua tahapan salah satunya memberdayakan forum masyarakat, kemudian kita memanfaatkan bidan desa, mereka juga kita bekali dengan pengetahuan bagaimana untuk mengenali peluang dan potensi bencana di desa 41 masing-masing. Kemudian untuk survelian dan MATRA sudah jelas akan mengamati terkait potensi bencana di setiap desa, itu di tahap bencana, disamping juga kita menguatkan puskesmas sebagai pos terdepan dalam penanggulangan bencana. Pas bencana kita segera menurukan tim gerak cepat untuk intervensi langsung terjun lapangan. Kemudian pasca benca, itu banyak sekali kan kerusakan akibat bencana, jelas salah satunya adalah

41

MATRA (kondisi normal berubah menjadi tidak normal kemudianm enjadi normal lagi)

79

Setelah bencana kita itu ada perencanaan untuk relokasi dan rekonstruksi. Pada saat bencana kita turunkan tim untuk menanggulangi bencana dengan kemampuan yang kita miliki. maka kita mempunyai 42 tanggung jawab dalam memulihkan kondis korban . Manajemen yang dilakukan setidaknya memberikan sebuah gambaran bahwa Dinas Kesehatan memang sangat fokus dan konsen dalam usaha penanggulangan bencana pra bencana. dan setelah bencana. 80 . tapi jika kemudian lahan tersebut tidak aman 43 untuk dihuni maka kita akan relokasi . khususnya dalam bidang kesehatan itu sendiri Bagaimana dengan peran yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK)? Dipaparkan mealalui petikan hasil wawancara peneliti bersama informan dari DBMCK mengenai manajemen penanggulangan bencana alam yang dilakukan oleh dinas tersebut. Dinas Kesehatan mempunyai tupoksi sendiri untuk menjalankan penanganan bencana. itu tergantung dari hasil pas survey pada saaat bencana. Tentunya Dinas Kesehatan menjadi mitra kerja bagi BPBD dalam penanggulangan bencana. 43 Hasil wawancara peneliti dengan Indriyanto selaku Kepala Seksi Perumahan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 pukul 08.30 – 09. Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa peran Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dengan manajemen yang dijalankannya lebih pada 42 Hasil wawancara peneliti dengan Ida Heriyani selaku Kepala Seksi Bagaian Survelian dan Matra Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka.35 WIB di kantor inas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) Kabupaten Majalengka. Dari kutipan wawancara tersebut. Sebelum bencana kita sosialisasi juga ke masayarakat.kondisi kesehatan masyarakat. Kalau misalkan masih memungkinkan berdiri bangunan. saat bencana.

memberikan pelayanan relokasi ke daerah yang lebih aman. 81 . Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa setiap sektor mempunyai tugas dan perannya masing-masing dalam upaya penanggulangan bencana alam. Kita 44 melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan BPBD . Kita juga melakukan relokasi dengan cara pengajuan proposal ke propinsi dulu. Dinas Sosial. Sebelum dibentuk dan didirikannya BPBD. Dinas sosial merupakan dinas yang mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana. dan kementerian jika memang itu harus memungkinakan harus di relokasi. Setelah kita memulihkan kembali kepada korban agar tidak trauma. makanan danevakuasi korban. Kita kerjasama dengan BPBD.penanganan relokasi bagi korban bencana dan penurunan alat-alat berat pada saat bencana alam terjadi. dan sekarang yang lebih konsen adalah BPBD.35 WIB di kantor Bagian Sosial. melalui kepanjangan tangannya yaitu lembaga daerah yang konsen dan mempunyai tanggungjawab dalam bidang kebencanaan tentunya tidak bisa terelakan lagi untuk memberikan sebuah jawaban itu semua. Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka. 44 Hasil wawancara peneliti dengan Asikin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09. dalam penanggulangan bencana peran dan pola manajemen penanggulangan bencana dilakukan Dinas Sosial seperti disampaikan Asikin sebagai berikut: Sebelum bencana kita melaksanakan penyuluhan ke daerahdaerah reawan bencana yaitu mengingatkan kepada masyarakat biar waspada. Dinas Sosial menjadi koordinator dalam Satkorlak PB (Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana).25 – 10. Pada saat bencana kita terjun langsung dengan bantuan-bantuan logistik seperti pasang tenda. Komitmen pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana begitu sangat dinantikan oleh masyarakat.

yang merupakan institusi terendah dalam sebuah pemerintahan daerah.Dalam penanggulangan bencana. Dinas Sosial bersinergi dan berbagi peran dengan BPBD dan dinas lainnya. Kecamatan mempunyai posisi strategis dalam penanggulangan bencana. Upaya-upaya yang telah. mulai dari beras itu sudah dipersiapkan. dan akan dilakukan menuntut pada sebuah pembagian peran masing-masing stakeholder dalam penanggulangan bencana. Kabupaten Majalengka. Tupoksi yang telah dimiliki masingmasing stakeholder dalam penaggulangan bencana alam setidaknya bisa di aplikasikan secara nyata dalam konteks standarisasi peanggulangan bencana alam 45 45 46 Kardia adalah Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. ada kerjasama dengan UPTD dan masyarakat sekitar. Posisi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sangat sentral dan penting.20 – 10. Pasca bencana kita mengusahakan untuk membuat pelaporan 46 bencana alam kepada pemerintah daerah . 82 . seperti hasil wawancara peneliti dengan informan dari kecamatan yaitu Bapak Kardia . Selain itu tentunya kita melihat pada peran kecamatan. Hasil wawancara peneliti dengan Kardia yang dilaksanakan pada tanggal Rabu 20 April 2011 pukul 09. sedang. Tanggap darurat kecamatan sudah membuat langkah tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban. Manajemen penanggulangan bencana yang sistematis tentunya akan memudahkan dan memepercepat penanggulangan bencana alam yang efektif dan efisien. Koordinasi menjadi hal yang mutlak diperlukan agar setiap lini bersinergis dan bahu-membahu dalam melaksanakan perannya masing-masing.45 WIB di kantor Kecamatan Jatitujuh. Informan mengatakan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah Pra Bencana.

lembaga. tidak ada sekat atau garis pemisah agar setiap warga negara memiliki kepedulian sosial terhadap warga lainnya. dan kelurahan merupakan unsur vital yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka. inspektorat.2.3.2. kecamatan. 4. Mekanisme penanganan 47 bencana kalo sifatnya emergency sekali maka akan 47 Emergency adalah keadaan darurat 83 . sebagaimana telah di amanahakan dalam konstitusi dan hukum negara kita.1.yang tepat. 4. karena secara operasional yang menanggulanginya adalah BPBD dan dinas-dinas teknis lainnya. Peneliti pun tertarik untuk menanyakan sejauh mana distribusi peran-peran dari satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.3. Distribusi Peran Satuan Kerja Perangkat Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majelengka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama pemerintah daerah terdiri dari unsur satuan kerja perangkat daerah yang di dalamnya terdiri dari dinas. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan terkait distribusi peran stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka dengan Ibu Yuarlina dari Sekretaris Daerah bagian Kesejahteraan Masyarakat: Kami di bagian Kesra sifatnya hanya memfasilitasi dan mengkoordinasikan jika ada kejadian-kejaidain. Penanggulangan bencana alam adalah tanggungjawab semua elemen.

ekonomi dan lainnya . salah satu komisi yang konsen terhadap penanganan bencana yaitu komisi C membidangi pembangunan. Jadi kami disini menginventarisir kejadian-kejadian juga kami kordinasikan dinas-dinas dalam penanggulangan bencana. Jadi sifatnya kami hanya mengkoordinasikan saja. dan sifatnya 49 berkelanjutan . Begitu halnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga controling eksekutif pemerintah daerah dalam mekanismenya 48 mempunyai peranan penting untuk menjaga dinamika dalam menyuarakan dan mengaspirasikan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa fungsi dari Sekretrais Daerah selaku jabatan eselonisasi sekaligus menjabat sebagai ketua dari BPBD hanya melaksanakan fungsi koordinasi dan memfasilitasi kejadian bencana yang ada. 48 49 OPD adalah kependekan dari Organisasi Perangkat Daerah Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina Loc. Baik itu seperti usulan 50 pembangunan infrastruktur. Iya kita secara aspek politis DPRD konsen terhadap evaluasi dan monitoring terhadap bencana-bencana yang terjadi di Majalengka. Syihabuddin Loc. Sementara untuk mekanisme teknis dalam penanggulangan bencana dilimpahkan kepada dinas-dinas teknis atau organisasi perangkat daerah yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana secara koordinatif dan berkelanjutan. berikut hasil wawancara peneliti dengan komisi C DPRD Kabupaten Majalengka. Cit 50 Hasil wawancara peneliti dengan A. Cit 84 .diarahkan kepada OPD untuk terjun langsung. koordinasi dengan dinas-dinas lainnya melalui BPBD.

85 . Di BPBD ada semacam siklus. Petikan wawancara di atas memberikan penjelasan bahwa dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka BPBD mempunyai siklus dalam penanganannya. Hal yang lebih spesifik melihat peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. DPRD memberikan sebuah usulan atas pembangunan infrastruktur. Fungsi BPBD dalam emergency respons mempunyai tiga fungsi dalam penanggulangan bencana yaitu fungsi komando. karena pada saat terjadi bencana. untuk spesifik tugas berada di 51 dinas-dinas lain atau lintas bidang . Termasuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana. Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan dari BPBD. Dengan melakukan koordinasi dengan dinas lain yaitu dengan adanya tim kaji cepat. termasuk untuk menggali dan melihat potensi kebencanaan. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando. Seperti hasil wawancara tersebut. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul 13.00-13. dengan melakukan koordinasi dengan dinas lainnya. agar kerentanan bencana bisa teratasi dan memberikan perlindungan bagi masyarakat dan korban bencana alam. saat bencana dan pasca bencana. memberikan treatment slogan-slogan bencana dengan penyuluhan atau lainya. ekonomi dan bidang lainnya. juga dalam bentuk sosialisasi kebencanaan.45 WIB di kantor bagian Kedaruratan dan Logistik.Si selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitik BPBD Kabupaten Majalengka. Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. koordinasi dan fasilitasi itu sudah terakumulasi. peneliti mewawancarai informan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). koordinasi. Hardi. M.Dari petikan wawancara di atas DPRD mempunyai andil besar dalam monitoring dan evaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. dan fasilitasi dengan membagi tugas dan tupoksi 51 Petikan wawancara dengan Drs. informasi daerah rawan bencana. baik pra bencana.

Cit 86 . Penjelasan tersebut kemudian diperjelas dengan siklus manajemen yang dilakukan BPBD dalam peanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. 53 Hasil wawancara dengan Heri Pambudhi. Dalam prakteknya BPBD mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan oleh korban.masing-masing dinas. kita berkoordinasi di bawah BPBD kita bekerjasama dengan TNI kita langsung tanggulangi. karena kita di kecamatan 52 Hasil wawancara dengan R. baik psikis ataupun psikologis. Nanti kita ada penanganan sebelum bencana. Berbicara tentang fungsi koordinasi lintas bidang peneliti kembali bertanya. Jadi peran Dinas Kesehatan adalah memulihkan kondisi tidak normal karena bencana alam menjadi situasi tidak normal. Contoh kemarin ada bencana banjir di Kertajatai. Moch Agus Slamet. 52 Secara umum jalur komando itu berada di BPBD. karena secara langsung Dinas Kesehatan sangat berhubungan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam.25 WIB di kantor bagian Rehabilitasi dan Rekonstruksi. sebenarnya seperti apa fungsi koordinasi yang dijalankan tersebut. BE selaku Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka. Jadi kiprah kami selama satu 53 tahun. Peneliti memutuskan untuk mewawancarai informan dari Dinas Kesehatan. dan masih umum sudah bisa berjalan .45 – 14. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul13. Setelah mengetahui sejauh mana peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). menjadi normal. Loc. karena kita bukan dinas teknis . kaena penanggulangan bencanan ini merupakan tanggungjawab bersama dan dilakukan lintas sektor maka untuk mengetahui sejauh mana peran dari lembaga lain dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. pada saat bencana dan pasca bencana.

salah satunya adalah melihat peran dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. Memberikan sosialisai dan membangun rumah tinggal korban bencana. 87 . Cit. Hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dari DBMCK. Disini kita fokus pada pendataan 55 bangunan. yaitu 54 55 Hasil wawancara dengan Ida Heriyani. kalaupun misalkan diminta bantuan kalau misalkan dinas DBMCK jadwalnya kan rutin sewaktuwaktu ada laporan diminta bantuan ada bencana alam kita siap. Kalau misalkan alat berat kita langsung menghubungi bidang alat berat. Tetapi berdampak pula pada subjek atau korban bencana alam tersebut. yang biasanya menjadi pelopor dalam rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana yang ditimbulkan. Peran Dinas Kesehatan melalui perangkatnya mempunyai efek positif dalam pemulihan atau normalisasi korban bencana alam.ada puskesmas. Dinas Kesehatan mempunyai peran dalam pemulihaan kesehatan korban bencana alam karena dampak bencana tidak hanya pada hancurnya bangunan ataupun rusaknya lingkungan sekitar. Loc. kemudian kepada rencana relokasinya . jadi kita perankan puskesmas. Stakeholder lain pun tentunya memiliki peranan khusus dalam penanggulangan bencana alam. sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. secara tidak langsung peranannya lebih spesifik pada penanganan setelah bencana. Hasil wawancara dengan Indrayono Loc. Cit. dimana hal ini menjadi perhatian khusus agar korban yang lolos dari bencana alam bisa tertangani dan terselamatkan. Pertanyaan yang diajukan masih seputar peran DBMCK dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. berikut pemaparannya. Jadi yang 54 jelas kita bergerak di dalam bidang kesehatan .

karena mengkordinatori Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana). 88 . yang tentunya berperan dalam pengendalian bencana alam di 56 Hasil wawancara dengan Asikin. Memberikan 56 pelayanan kepada masyarakat korban bencana . Fungsi dan tugas dinasnya adalah langsung melaksanakan kesiapksiasagaan diantaranya melaksanakan keselamatan manusia seperti evakuasi. efisien dan terkendali. terus memfasilitasi para korban diantaranya memberikan makan. pembuatan dapur umum. pakaian dan lainnya. Sehingga peran Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana berkurang. Sudah sangat jelas bahwa fungsi dan peran dari stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam agar tercipta sebuah penanggulangan yang efektif. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peranan dari Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. dan pelaporan kejadian bencana ke tingkat propinsi maupun pemerintah daerah yang nanti ditidaklanjuti oleh kementerian. Loc. Sebelum dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) peran dari Dinas Sosial memang menjadi sangat vital. Seiring dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 yang didalamnya mengatur pembentukan BPBD maka pada waktu itu pula Satlak PB di bubarkan.pada tataran rehabilitasi dan rekonstruksi. Salah satu faktor lain yang memiliki peran penting adalah satuan kerja perangkat daerah lainnya yaitu pihak kecamatan. dan untuk saat ini Dinas Sosial merupakan mitra dari BPBD dalam penanggulangan bencana dalam garis koordinasi. Seperti petikan wawancara sebagai berikut: Peran dari Dinsos merancanakan pendataan dan pelaksanaan dalam penanggulangan bencana. Cit.

daerahnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peran kecamatan dalam penanggulangan bencana alam. Berikut petikan wawancara dengan pihak kecamatan.

Kesiapan dalam menangani terutama dalam aliran sungai, dan sekarang terjadi longsor merobohkan sekitar 17 rumah. Pihak Kecamatan sudah menyikapi hal tersebut dengan cara melaporkan ke tingkat kabupaten, dan BPBD. Ada penawaran dari tingkat kabupaten untuk direlokasikan. Pas tanggap darurat kecamatan sudah membuat tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras dan sebagainya itu sudah dipersiapkan. Kita juga mengusahakan untuk membuat pelaporan 57 bencana alam kepada pemerintah daerah . Melihat gambaran distribusi peran yang dilakukan oleh stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana perencanaan dan pembangunan akibat bencana alam. Peneliti memutuskan untuk menggali informasi tersebut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lembaga ini dipilih karena secara langsung mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan strategi terpadu dalam pembangunan khususnya melihat pada proses penanggulangan bencana alam. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Bappeda.

57

Hasil wawancara dengan Kardia, Loc. Cit.

89

Karakteristik daerah dan melihat pengalaman-pengalaman ke belakang bencana apa saja sih bencana yang terjadi di Majalengka. Terus kita siapkan penyusunan dan perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, kita akomodir usulan-usulan tersebut. Kita pilih melalui penyelesaian sesuai RPJMD daerah kemudian dituangkan dalam RKPB. Atas keputusan tim TAPD, dengan lintas sektor, Bappeda bagian keuangan, pembangunan, asisten dinas, BPKAD, Inspektorat. Tim angggaran siapkan rencana RAPBD yang diserahkan ke DPRD untuk dibahas dan disahkan bersama Bupati. Usluan dari tiap dinas termasuk BPBD kita bahas, kemudian melakukan Musrembang tingkat kecamatan, OPD dan setelah itu 58 menjadi dokumen untuk menjadi usulan RKPD . Distribusi peran yang telah direncanakan dalam rencana strategis pemerintah daerah Kabupaten Majalengka merupakan mekanisme sinergitas peran dari stakeholder yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Tentunya distribusi peran tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan koridor kerja dari stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

4.3.2.2. Alur Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa

penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. secara

Penyelenggaraan

penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat
58

Hasil wawancara dengan Iwan Tundjiawan selaku Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Wawancara dilakuakn pada tanggal 13 April 2011 pukul 12.35 13.25 WIB.

90

seperti bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan penanggulangan pendidikan bencana, dan keterampilan dalam dalam penyelenggaraan keputusan.

berpartisipasi

pengambilan

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana secara tidak langsung

membutuhkan sebuah keseriusan dari pemerintah daerah, khususnya dalam koordinasi stakeholder, agar tercipta sebuah penanggulangan bencana yang terkoordinatif. Dasar kerangka berfikir dari penelitian ini yang kemudian mencoba untuk mengetahui sejauh mana alur sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana. Pertanyaan pertama peneliti ajukan kepada Ibu Yati Sumiati sebagai staff dari sekretaris daerah. Berikut pemaparan informan mengenai mekanisme sinergi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka.

Kalau di Pemda dalam setiap minggu itu ada rapat koordinasi terbatas (Rakortas), di situ akan menanggapi dan membahas trekait dengan pelaporan-pelaporan dan langkah startegi yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya tidak hanya masalah penanggulangan bencana saja namun juga ada pembahasan operasioanl dinas. Setiap hari Senin bersama kepala SKPD Bupati memimpin rapat 59 SKPD .

59

Wawancara dengan Yati Sumiatai, Loc. Cit

91

untuk kemudian mendapatkan fasilitasi dan pelaporan untuk menginstruksikan dinas daerah terjun dalam penanggulangannya yang dikomandoi oleh BPBD . Syihabuddin. begitu juga halnya dalam penanggulangan bencana. Kita bersinergi dengan dinas dalam mekanisme penanggulangan bencana. Loc. Sinerginya bagus. kalau Satkorlak dibawah pemda itu langsung cepet penanganannya. setiap pekan pihak pemerintah daerah mengadakan rapat koordinasi rutin dengan OPD untuk melakukan pelaporan dan evaluasi atas kinerja yang akan dan telah dijalankan. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana pandangan atau perspektif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga yang mengawal dan mengontrol pelaksanaan 60 penyelenggaraan pemerintah mengenai sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka? Berikut petikan wawancara dengan pihak DPRD Kabuapten Majalengka. Cit Wawancara dengan A. 61 kembali lagi kepada batasan kewenangan . Mencermati hasil wawancara dengan sekretaris daerah dalam menjaga alur sinergi penanggulangan bencana.Pernyataan tersebut diperkuat oleh Yuarlina selaku rekan kerjanya di sekretaris daerah bagian kesejahteraan masyarakat. Hal ini ditujukan untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan. itu sudah bisa dibuktikan. Kondisi real sekarang Pemda sinergi amat sangat sinergis. agar setiap kinerja yang akan dilaksanakan bisa terinvertarisis dan terkontrol. Cit 92 . 60 61 Wawancara dengan Yuarlina. Loc. ketika air sungai di desa saya meluap langsung terjun.

Cit 93 . Syihabudin. PMI untuk kesehatan. misalkan dalam keadaaan darurat kita langusng koordinasi dengan dinas lain maka langsung 63 ditanganai . hal ini dipertegas hasil wawancara peneliti dengan pihak Dinas Sosial. kita memberikan laporan dan komando dari BPBD. Cit Wawancara dengan A. melihat kondisi lapangan. Berikut petikan hasil wawancaranya. terintergrasinya lintas sektor atau stakeholder 62 63 64 Wawancara dengan Asikin. kalau kita menyediakan tahap darurat 62 menyediakan natira (sandang pangan) . PU. mendata berapa korban baik rumah yang hancur. Alhamdulillah perannya sudah positif dari Kabupaten untuk 64 penanggulangan bencana disini . Loc.: Kita melakukan penataan dan berkoordinasi dengan dinasdinas terkait dengan BPBD. Secara formalitas apa yang diungkapkan oleh informan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Majalengka sejauh ini penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka berlangsung lancar tanpa hambatan. tapi itu hanya dilaksanakan oleh dinas-dinas tertentu. baik di tingkat kabupaten atau propinsi. Ya bagus. PMI. sesuai denga tupoksinya masing-masing. Melihat sejauh ini hasil dari informan menyatakan bahwa koordinasi antar leading sector sangat berjalan baik. dinas kompak terjun ke lokasi bencana. Kita tetap ada rapat koordinasi. Alhamdulillah sangat kompak sekali sampai survey kesini. Loc. karena dengan pertimbangan sudah terkoordinasi. Loc. BPBD dan pihak Kecamatan Jatitujuh.Kesimpulan sementara mengindikasikan bahwa sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam memang cukup efektif dan berjalan lancar. dan segala macemnya. Cit Wawancara dengan Yati.

Namun peneliti menemukan hal yang sangat kontradiktif atas semua pernyataanpernyataan dari stakeholder pemerintah daerah dalam mengatasi kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Untuk mencari lebih lanjut berkenaan peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam belum cukup rasanya kalau peneliti hanya melihat sudut pandang dari pihak birokrat saja. Ternyata setelah peneliti mencoba menyelidiki dan mencari informasi terkait bencana di Jatitujuh banyak permasalahan yang terjadi dalam penanganannya.yang ada. 94 . Peneliti mencoba mengkomparasikan atau membandingkan dengan salah satu kasus kejadian bencana alam di Blok Klewih. Kecamatan Jatitujuh yang terkena abrasi aliran Sungai Cimanuk yang mengakibatkan ambruknya 12 rumah warga dan satu Mushola.3. 4. Lokasi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang porak poranda akibat terjangan aliran Sungai Cimanuk. Sehingga bisa dikatakan alur sinergi peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana tidak ada kendala dan berjalan lancar.3. Peneliti pun kemudian memutuskan untuk menggali informasi dari korban bencana dan LSM atau semacam paguyuban yang konsen untuk mengaspirasikan dalam kebencanaan. Aktor Dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Majalengka Sejauh ini kita melihat peran pemerintah daerah dengan institusi di bawahnya yaitu satuan kerja perangkat daerah bisa membuktikan akan kepeduliannya terhadap penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

sementara untuk proses relokasi sampai saat ini belum terealisasi. mie instant.Wawancara dilaksanakan pada10 April 2011 66 Ibid 95 . upami teu janten relokasi nya teu nanaon sok realisasikeun dana bantuan anu tos di janjikeun. tetapi sampai saat ini 66 belum ada realisasi sedikit pun . mie. aya relokasi.00/KK. Bantuan pertama hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok saja. dan lantas hanya di biarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah daerah setempat. bantuan yang sudah direalisasikan baru bantuan sembako seperti minyak goreng. kalau pun tidak jadi di relokasi. Ti kecamatan pun teu aya pisan responna. blok Klewih Jatutujuh Majalengka. berbicara mengenai peran pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. tapi sampai ayeuna teu acan aya realisasi 65 sakedik pun . Saya ingin ada kepastian dari pemerintah tentang relokasi. bantuan entos tapi eta ge wungkul bantuan sembako bae aya minyak. 5. ya tidak apa-apa tapi realisasikan saja dana bantuan yang sudah dijanjikan kepada korban. Tidak ada. jeung beas. dan beras. Abi mah pengena aya kapasitian ti pamarintah. 65 Hasil wawancara dengan Aca selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. Melihat petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum berperan penuh dalam usaha penanggulangan bencana alam yang terjadi di lokasi tersebut. siga anu lepas tangan wae. Bilangnya pada waktu itu gubernur bersama bupati katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. dari kebijakan gubernur sareng bupati saurnamah bade ngarealisasikan bantuan kanggo korban 5 juta/kk. Teu aya. Bilangna waktu itu pas gubernur datang ka lokasi bencana. Berikut petikan hasil wawancaranya. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Acha selaku korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh.000.sementara korban pun belum di relokasi.000.

dengan alasan tidak ada perhatian terhadap mereka. Katakan saja untuk penanganan bencana ini gak ada sama sekali. 67 Respon dari Pemda ada. kemana saja ini? Hasil wawancara dengan korban dan Syarifudin Rahmat selaku koordinator dari Forum Peduli Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) ternyata hasil wawancara dengan pihak pemerintah daerah bertolak belakang dengan bukti-bukti di lapangan. Berikut petikan wawancara dengan informan. Informan bersama teman-temannya di FPBAC sebagai penyambung lidah antara masyarakat dengan pemerintah daerah berusaha untuk mengaspirasikan dan merealisasikan yang menjadi tuntutan-tuntuan dan hak-hak dari korban bencana. Tetapi hasil temuan peneliti di lapangan justeru banyak ketidakpuasan dari masyarakat khususnya yang menjadi korban terhadap pemerintah daerah. Sungguh sangat ironi. Bahkan sampai saat ini pergerakan kita dari Januari sampai April ini gak ada sama sekali. ketika pemerintah daerah menjawab bahwa sejauh ini mereka memperhatikan dan bahkan bertanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam di daerahnya. artinya tidak semua 96 . Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Syarifudin Rahmat selaku koordinator Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) . cuma pembuktian dan realitasnya gak ada. Bahkan melihat dari stakeholder pemerintah daerah yang terjun langsung dalam penanganan bencana di daerahnya sangat minim.padahal korban sangat membutuhkan hunian atau tempat tinggal setelah rumahnya porak poranda akibat terjangan arus Sungai Cimanuk.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan besaran bantuan santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. c. 70 Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor 08 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Duka Cita 97 . uang duka.elemen terjun langsung dalam penanganannya. dan bahkan seperti ada sebuah keacuhan terhadap korban. walaupun ada hanya sebatas mengontrol lokasi saja tanpa ada realisasi secara menyeluruh untuk membantu korban. (2) Bantuan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (1) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) huruf a diberikan kepada korban meninggal dalam bentuk: a. dan d. (3) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada ahli waris korban. Bisa dikatakan perhatian dari pemerintah daerah sangat minim. Bantuan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah bagi korban bencana yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memulihkan fungsi sosial dan ekonomi. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana sebagai penjabaran dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah memberikan rambu-rambu bahwa bantuan bagi korban bencana antara lain mencakup santunan duka cita pada pasal 24 . harkat dan martabat setiap warga negara. Prinsip dari bantuan tersebut adalah : 1) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. dan/atau b. biaya pemakaman. pinjaman lunak untuk usaha produktif. (2) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (1). santunan kecacatan. santunan duka cita. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. 68 Santunan duka cita diberikan dalam bentuk biaya pemakaman dan/atau uang duka pasal 25 . maksudnya bahwa santunan yang diberikan bertujuan untuk melindungi dan menghormati hakhak azasi manusia. 70 69 68 69 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dan memberikan bantuan bencana kepada korban bencana. diberikan setelah dilakukan dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya. b.

maksudnya adalah bahwa pemberian santunan harus cermat. maksudnya adalah bahwa pemberian santunan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum. dan tertib sehingga sampai kepada sasaran. 98 .2) Perlakuan adil. teliti. agama. serasi. dan aliran politik apa pun. proporsionalitas. dan tidak mendiskriminasi. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan. 7) Kehati-hatian. Jatitujuh sebagaimana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. aman. Pemerintah daerah seharusnya mempunyai tanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di Blok Klewih. dan pasca bencana. saat bencana. 3) Cepat dan tepat. maksudnya adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana. ras. dan seimbang. 5) Nondiskriminatif. 6) Nonproletisi. adalah bahwa santunan yang diberikan kepada korban bencana semata-mata atas dasar kebutuhan mereka dalam prinsip ini terkandung kerangka kerja yang berlandaskan HAM. terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan tidak membedakan jenis kelamin. 4) Transparansi dan Akuntabilitas. Perlindungan dan rasa keamanan merupakan hak dari setiap warga dan masyarakat yang menjadi korban bencana agar tercipta sebuah tatanan masayarakat yang selaras. baik pra bencana. suku.

99 .1. Segala upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut menjadi hal yang sangat menarik dalam proses penanganan bencana di Jatitujuh ini.Perkembangan penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk ini.000. Bu Ratih selaku ketua BPBD berjanji merealisasikan 1 juta/kk dia menyatakan itu di media. Pertama adalah dengan adanya mandat dari Bupati untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan bencana alam tersebut. salah satunya adalah dengan adanya kunjungan langsung dari Bupati ke lokasi kejadian dengan menjanjikan adanya proses ganti rugi dan jaminan kepada para korban. sampai saat ini masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dan segera diselesaikan oleh pemerintah daerah selaku stakeholder kunci yang bertanggungjawab penuh dalam proses penanggulangan bencana. Bupati juga menginterupsikan kepada BPBD dengan menjanjikan ganti rugi kepada korban Rp. Padahal dalam kebijakan tersebut rumah yang rusak berat 15 juta. Dalam lawatannya.000. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana aktoraktor yang terlibat di dalam penanggulangan ini mulai bermain dalam proses pencitraan untuk meraih simpati dari korban. begitu juga stakeholder lainnya utuk bersama-sama mencari solusi terhadap bencana alam yang tyerjadi di daerah tersebut. Pak Bupati menginterupsikan kepada Pak Kuwu dan warga segera mencari tanah untuk relokasi dengan harga di bawah standar.00/kepala keluarga. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku informan dari FPBAC yang menjelaskan tentang bukti dari janji-janji Bupati kepada para korban.

entah apa yang terjadi gak ada realisasinya juga. Permasalahan yang timbul adalah adanya pro-kontra antara warga dengan pemerintah daerah mengenai tempat relokasi yang akan ditetapkan.00/KK. 5.5.00/kepala keluarga.000. Kalo ngukur-ngukur masalah tanah relokasi pemerintah teh gak bilang heula ka masyarakat anu jadi korban. 100 . Ngomongnya waktu itu.000. Anu di relokasi baru 10 rumah teh tempatna kurang alus. berikut pemaparannya. tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. bahkan untuk relokasi korban pun masih mengalami masalah dan ini menjadi permasalahan baru yang muncul. pas gubernur datang ke lokasi bencana. lokasina di Ronggeng Bokong tempat garong ato rampok jauh dari keramaian. Gak maul lah kalo di pencilkeun kitu mah.Masyarakat pun semakin gembira ketika Bapak Karna Sobahi (Wakil Bupati) dan Bapak Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat) berbondongbondong datang ke lokasi kejadian dengan menjanjikan ganti rugi dan jaminan kepada korban sebesar Rp. dari kebijakan gubernur katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. masyarakat selaku korban bencana merasa tempat relokasi yang dijanjikan kurang representatif. gak enak gak nyaman. Seperti yang diungkapkan korban kepada peneliti. Sampai saat ini bantuan yang dijanjikan belum terealisasi dan belum sampai kepada tangan para korban.000.000. Berikut pemaparan hasil wawancara dengan Karsa sebagi korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh. Terus Bapak Karna (wakil Bupati) mau merealissikan bantuan dana kepada korban tapi gak tau. Nya warga teh seuuer nu nolak.

Realisasi penangangan pada saat bencana pun sangat minim dan bahkan sampai sekarang penanganan pasca bencana salah satunya adalah relokasi bagi korban masih dalam masalah yang serius. Hal ini menimbulkan penolakan dari korban. Tidak mau kalau di pencilkan seperti itu. karena merasa tempat relokasi tidak representatif dan jauh dari keramaian. Seharusnya instansi atau dinas terkait yang bertanggungjawab dalam masalah kebencanaan bisa mengatasi permasalahan ini. Tapi realitanya gak ada sama sekali. Bahkan ketika kita menelpon beliau untuk melaporkan kejadian bencana. Bisa dikatakan tidak ada pergerakan dari instansi pemerintah daerah khususnya BPBD dalam penuntasan dan penanggulangan bencana tersebut baik pra bencana. Seperti hasil petikan wawancara berikut ini. maupun setelah bencana. gak enak dan gak nyaman. Kalau rencana pengukuran tanah relokasi kadang pemerintah tidak membicarakan terlebih dahulu kepada masyarakat yang jadi korban. 71 71 Ibu Ratih Suratih selaki ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupeten Majalengka 101 . dan fasilitas atau pun akses akomodasi dan transportasi pun sangat sulit. Ya akhirnya warga banyak yang nolak. saat bencana. lokasinya di Ronggeng Bokong tempat perampok dan jauh dari keramaian. kemudian dia respon dan bilang terima kasih.Yang di relokasi baru 10 rumah. nanti akan saya tinjau dan terima kasih atas informasinya. tapi usaha dari mereka belum memberikan solusi bagi korban. itu pun tempatnya kurang bagus. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa untuk permasalahan relokasi sejatinya pemerintah daerah belum mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat selaku korban.

Jangankan dinas yang ada. padahal status bencana yang terjadi sangat memperihatinkan dan menjadi siaga bencana di lokasi tersbut. dari Dewan aja yg terkait dengan konsen bencana aja tidak ada sama sekali untuk memperjuangkan masalah ini. Bahkan permasalahannya tidak hanya sebatas pada BPBD saja. Dan Bupati pun belum mengeluarkan SK bahwa Jatitujuh itu termasuk siaga bencana atau daerah bencana. mereka cuman 72 berwisata. Dari dinas-dinas pun gak ada sama sekali.Hasil kutipan wawancara di atas sangat jelas. Seharusnya BPBD bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Petikan wawancara tersebut bisa dijelaskan. namun korban pun merasakan bahwa dari instansi pemerintah daerah lainnya pun kurang begitu respon. dan semuanya ada kunci di Bupati. berikut petikan wawancaraya. hal ini dinyatakan oleh Syarifudi Rahmat.Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 April 2011. 102 . blok Klewih Jatutujuh Majalengka. Permasalahan yang terjadi mengindikasikan adanya tarik ulur dan kekurang sinergi antara bupati dengan insatansi daerah dalam penanggulangan bencana alam tersebut. sebenarnya masyarakat sudah begitu mengharap dan menantikan agar mereka bisa mendapatkan jaminan dan kepastian dari pemerintah daerah terhadap nasib mereka. padahal dia sudah datang berkunjung ke lokasi. Padahal ini kan sangat mengerikan. sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.25 WIB.pukul 11. bahkan surat keputusan (SK) bupati pun belum dikeluarkan. Pokonya semuanya yang terkait tidak ada tanggungjawab sama sekali.15-12. Hal tersebut bisa 72 terlihat bagaimana instansi pemerintah yang seharusnya Dewan merupakan ungkapan anggota legislative untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka 73 Hasil wawancara dengan Karsa (Aca) selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. mengindikasikan kurang adanya respon dari BPBD dalam penanggulangan bencana. 73 kenapa kok di diamkan .

bertanggungjawab dalam penanganan bencana ini seperti kaku dan menunggu komando dari bupati. Bahkan intervensi-intervensi selanjutnya tidak sebatas kepada jajarannya di pemerintah daerah namun juga langsung kepada masyarakat selaku korban bencana. Takutnya bonus atau kebijakan-kebijakan Bupati itu di potong. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemecatan. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku koordinator FPBAC yang berargumen bahwa ada sebuah ketidakharmonisan antara bupati dengan instansi di bawahnya. Tapi kalo Pak camat itu jelas bisa diberhentikan oleh Bupati karena 74 termasuk SKPD . 74 SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah 103 . Padahal mereka mempunyai wewenang untuk sesegera mungkin dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi. Seperti petikan wawancara berikut ini dengan Syarifudin Rahmat. dan pengekangan terhadap desanya. karena yang namanya Pak lurah itu sangat takut sekali sama Bupati. Kita selalu menahan dan tetap menghargai Pak Lurah. Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa bupati selaku pemimpin daerah merupakan aktor yang sangat berpengaruh bahkan bisa mengintervensi jajaran di bawahnya. sesuai dengan peraturan yang telah diamanahkan. Padahal sesuai konstitusi untuk permasalahan penanggulangan bencana itu menjadi tanggungjawab penuh pemerintah daerah bukan atas nama bupati.

Jatitujuh. Intervensi-intervensi yang dilakukan oleh bupati kepada jajaran begitu juga kepada elemen-elemen masyarakat dan korban sebenarnya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. karena mereka menginginkan adanya sebuah jaminan dan kepastian terhadap permasalahan yang terjadi. suaranya paling lantang dalam audiensi suaranya paling lantang dan pedas. dulu ketika ada kunjungan Gubernur. Ketika kita membikin sebuah opini baru pemerintah respon. Besoknya ada cibiran ”suaramu jangan kenceng-kencang kalo misalkan Bapakmu gak mau dimutasi atau diberhentikan”. Padahal mereka hanya menuntut haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak perlindugan dan hidup atau jaminan sosial. Seperti petikan wawancara berikut ini. tapi ternyata baru selesai makan-makan. namun ketika kejar hal tersebut berubah lagi. Sudah sewajarnya mereka mengaspirasikan apa yang menjadi keluhan dan pemenuhan hak-haknya.Terus malah ada intervensi-itervensi. Saya cerita lagi. Ketika kita berbicara begini dalam media maka wacana pemerintah pun berubah juga. Bahkan pergerakan FPBAC dalam mengaspirasikan suara korban kepada pemerintah daerah selalu ditanggapi dengan respon yang kurang baik dan sering menemui jalan buntu. Pak Bupati berdiri dan langsung dipersingkat untuk segera menyelesaikan acara. 104 . Tapi ketika kita diam buktinya gak mulus juga. temen kita bapaknya PNS. Pak kuwu itu sudah mensetting akan ada audiensi. Hasil petikan wawancara tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa bupati sangat memegang penuh otoritas dalam permasalahan penaggulangan bencana alam di Blok Klewih. kurang tau ini karena ada politisasi dan birokrasi memang susah.

Kita sebagai penyambung lidah antara korban dengan pemda. padahal secara tidak langsung DPRD merupakan mitra kerja bupati dan satuan kerja perangkat daerahnya. Seperti kutipan wawancara berikut ini yang dipaparkan oleh Syarifudin Rahmat. Tentunya hal ini akan menimbulkan efek negatif terhadap resistensi kepercayaan terhadap bupati dan pemerintahan daerah. permasalahan selanjutnya yang timbul adalah adanaya ketidakharmonisan antara warga dengan pemerintah desa dan kecamatan. Pendapat berbeda ditanggapi oleh pihak Kecamatan Jatitujuh. Soalnya antara pemerintahan desa dan warga tersebut sudah tidak harmonis. 105 . Bahkan permasalahannya tidak cukup sampai di situ saja. DPRD yang seharusnya bisa mengontrol permasalahan ini pun belum mempunyai andil besar dalam memberikan solusi-solusi nyata. karena berimbas pada pertentangan masyarakat dan FPBAC dengan bupatinya. padahal seharusnya yang mengaspirasikan adalah pemerintahan desa. Seperti kutipan wawancara berikut ini dengan Kardia selaku Sekretaris Camat Jatitujuh. karena korban menganggap pemerintah desa dan kecamatan tidak respon dalam penanggulangan bencana di daerahnya. Ya harusnya minimal ada dari DPRD. yang menytakan bahwa masyarakat selaku korban kadang salah menafsirkan terhadap itikad baik yang akan dilakukan oleh pihak kecamatan dan pemerintah daerah.Tarik ulur pewacanaan dalam penanggulangan bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh ini menjadi sangat rumit.

namuin di sisi lain masyarakat menganggap pemerintah daerah kurang tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya. Menganalisis hasil petikan wawancara di atas terjadi sebuah pengalihan masalah antara warga dengan pemerintah. demngan catatan harus ada komitmen antara warga. Permasalahan ini menjadi sebuah efek antar domino dikarenakan adanya dan kesalahfahaman dan ketidaksinergian stakeholder. Ketika memang prosesnya sudah dipersiapkan maka akan lebih mudah. sehingga timbul penolakan dari korban terhadap tempat relokasi tersebut. nanti di ajukan kepada BPBD. berikut hasil wawancara dengan Kardia selaku sekretaris camat Jatitujuh. Solusi yang telah ditawarakan pihak kecamatan dan pemerintah daerah dalam petikan wawancara tersebut setidaknya menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana dan permasalahan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. kuwu dan pemerintah daerah. baik pemerintah daerah dan 106 .Itu masyarakat kadangkala salah menafsirkan. namun karena isue-isue yang tidak bertanggungjawab maka bantuan pun tersendat. Pihak Kecamatan Jatitujuh menyatakan bahwa semua permasalahan tersebut akan segera ditangani dan dislelesaikan dengan segera. padalah dari pemerintah daerah sudah siap utuk menanggulangi. karena tidak representatif. Kearifan kebijaksanaan dari individu dan kelompok. di satu sisi bahwa masyarakatlah yang rewel terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah. Relokasi pun tidak di sosialisasikan terlebih dahulu kepada korban. Pak Bupati akan menerima atau memberikan bantuan harus ada musyawarah antara masyarakat dengan kuwu dan membikin surat persetujuan.

107 . kerugian harta benda. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. dan dampak psikologis.masyarakat untuk bersama-sama memberikan andil terhadap penyelesaian masalah yang terjadi dengan pelurusan kembali terhadap apa yang menjadi tanggungjawab semua pihak terutama dalam penanggulangan bencana alam di Blok Klewih Jatitujuh ini. kerusakan lingkungan. dan tanah longsor. angin topan. 4. tsunami. Solusi nyata dan keberpihakan terhadap korban sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh ini.4.5. Matriks Wawancara Terlampir 4. Dasar Hukum Pendirian BPBD Kabupaten Majalengka Bencana sebagaima yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. gunung meletus. tidak ada politisasi dan kepentingan individu atau kelempok tertentu dalam mengambil keuntungan permaslahan yang terjadi.5. banjir. kekeringan. Pembahasan 4. baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia.1. Aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah ini setidaknya membutuhkan sebuah komitmen baru dalam memberikan pelayanan terbaik bagi korban.

dan kemanusiaan. Maka dengan melaksanakan amanah undang-undang tersebut Kabupaten Majalengka membuat kebijakan untuk mendirikan BPBD. Selain itu. pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008 yang mengatur tentang mekanisme pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Organisai Perangkat 108 . Hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 khususunya pada batang tubuh alinea ke-IV yang berprinsip pada keadilan.Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum. Penanggulangan bencana merupakan kewajiban bagi setiap pemerintah pusat ataupun daerah untuk menciptaka perlindungan dan keamaan bagi warganya sehingga membentuk sebuah masyarakat sadar bencana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membentuk Badan Pnanggulangan Becana Daerah (BPBD). Kebijakan tersebut dilalui dengan tahapan dan pertimbangan kondisi Kabupaten Majalengka yang secara geologis memiliki kerentanan terhadap bencana alam dan adanya peningkatan bencana dari tahun ke tahun. perlindungan. dengan dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dibawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. kelestarian lingkungan hidup. menjadi sebuah tuntutan dan hak setiap masyarakat agar tercipta sebuah kerangka hukum dan perlindungan dari bencana. Berdasarkan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala Badan Nasioal Penangulanan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008.

integrasi. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 memberikan arah dan pedoman yang jelas dalam menata organisasi yang efisien. yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masingmasing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. diselenggarakan oleh seluruh provinsi. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib. namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.Daerah maka dikelurakanlah kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya termaktub tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan 109 . sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah. efektif. kabupaten. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD). dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kabupaten Majalengka serta adanya koordinasi. yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. dan kota.

efisiensi. jumlah dan kepadatan penduduk. maka perlu membentuk peraturan daerah tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Majalengka. baik dari segi efektifitas. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam. jenis dan banyaknya tugas. dan efektifitas. dan evaluasi stakeholder pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) maka dibentuk dan diresmikanlah BPBD Kabupaten Majalengka. luas wilayah kerja dan kondisi geografis.antara pusat dan daerah. pertimbangan. rentang kendali serta tata kerja yang jelas. kebutuhan daerah. pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas. sarana dan prasarana penunjang tugas. Bahwa dengan ditetapkannya beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang organisasi perangkat daerah serta berdasarkan hasil evaluasi kelembagaan sehingga dipandang perlu melakukan penyesuaian organisasi perangkat daerah di Kabupaten Majalengka. efisiensi dan tata kerja dalam penanggulangan bencana mengindikaskan lembaga 110 . cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. antara lain visi dan misi yang jelas. berdasar pengamatan dan realitas yang ada. Atas kesepakatan. Melihat pada implementasi pendirian BPBD Kabupaten Majalengka. Implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menerapkan prinsip-prinsip organisasi. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan. potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani.

Sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. penyadaran dan sosialisasi akan bencana seharusnya diterapkan dan dilakukan jauh-jauh sebelum bencana melanda atau dalam keadaan normal sekalipun. seperti disampaikan oleh Karsa sebagai korban bencana abrasi Sungai 75 75 Berita dari Harian Radar Majalengka pada hari Kamis. maupun pasca bencana. manajemen pencegahan bencana dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana.tersebut kurang berjalan dengan optimal. Penyadaran kepada masyarakat terhadap bencana dalam bentuk sosialisai ataupun kegiatan pencegahan lainnya seharusnya menjadi agenda rutin yang harus dilakukan. hal tersebut bisa dilihat dalam kejadian puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Bantarujeg pada tanggal 24 Februari 2011 . Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penanggulangan bencana yang belum terealisasi secara terkoordinasi dan terpadu baik pra bencana. 111 . Bantuan justru baru datang dua hari setelah bencana tejadi. terutama pada aspek perlindugan masyarakat dari bencana dan pemenuhan kebutuhan pokok korban sangat memperihatinkan. 03 Maret 2011. upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat. saat bencana. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana belum maksimal dilakukan. tapi berdasarkan fakta yang ada kegiatan tersbut belum terjadwal dan tersistematis dengan baik. tidak harus menunggu bencana itu datang. Pada saat bencana terjadi hal yang sama. dan akhirnya akan menimbulkan efek pada banyaknya korban jiwa dan kerugian baik materil ataupun non materil. Bisa dikatakan untuk pra bencana.

yang akhirnya sampai saat ini belum bisa terselesaikan. Kerangka hukum pendirian BPBD secara tidak langsung menjadi sebuah landasan utama dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Pasca bencana. para korban beranggapan bahwa lokasi yang direncanakan terlalu terpencil dan tidak layak. hal yang menarik adalah adanya sebuah permasalahan yang menyebabkan konflik antar warga dengan pemerintah desa begitu juga dengan pemerintah daerah. atau bisa dikatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mengakomodir semua kepentingan yang ada. Hal tersebut mengindikasikan adanya kurang kesiapsiagaan dan kordinasi dari pemerintah daerah khususya BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut. sebelum kebijakan tersebut di formulasikan dan kemudian diimplemetasikan seharusnya ada sebuah akomodir dan rangkuman dari setiap pola kepentigan dari aktor dan masyarkat 112 . Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sepertinya belum merepresentasikan kepentingan semua elemen dan golongan. Hal tersebut jelas mengindikasikan adanya sebuah ketidaksiapan dan ketidaktegasan dari pemerintah akan kebijakan yang harus ditetapkan dalam penannggulangan bencana alam di daerah tersebut.Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh. Kebijakan relokasi dan rehabilitasi di Blok Klewih Jatitujuh akibat terjangan Sungai Cimanuk menyebabkan 13 rumah roboh mejadi sumber utama konflik tersebut. Pada dasarnya. setiap agenda kebijakan pemerintah pada tahap agenda setting. Relokasi yang direncanakan sampai saat ini belum terealisasi akibat adanya ketidaksepakatan dari korban akan lokasi yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah.

sehingga menjadi issue bersama yang nantinya akan menjadi agenda yang harus direalisasikan menjadi kebijakan yang populis. dan pasca bencana bisa terakomodasi dan tertanggulangi dengan baik. Kebijakan penanggulangan bencana menjadi sebuah momentum penting yang harus merepresentasikan akan hak masyarakat dalam perlindugan hukum dan keamanan dari bencana. Tuntutan akan penanggulangan bencana yang terkordinasi. sehingga kebijakan yang ada harus benar-benar menjamin akan kebutuhan masyarkat dan berjalan sesuai dengan peraturan dan fungsi yang telah ditetapkan. terpadu. 113 . atau sebagaian orang saja.yang terlibat dalam menyepakati kebijakan yang akan dikeluarkan. dan menyeluruh belum bisa diwujudkan secara maksimal akibat sektor satu dengan lainnya belum terkordinasi dengan jelas. Kebijakan yang dikeluarkan tidak parsial atau hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak. Kebijakan yang telah dikeluarkan seharusnya bisa dipahami dan di optimalkan agar kerangka penanggulangan pra bencana. kelompok. Kebijakan pemerintah daerah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dengan adanya pendirian BPBD sampai saat ini belum bisa menjamin kestabilan dan keterpaduan terhadap penanggulangan bencana. saat bencana (emergency respons). Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus penanggulangan bencana yang belum terselesaikan yang berujung pada berbagai konflik yang berkepanjangan.

di antaranya melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. kewenangan dan peran pemerintah sebagai badan eksekutif dirasakan amat penting dalam rangka upaya perlindungan dan kesejahteraan rakyat. namun secara mendasar pun gagasan awal lahirnya konsep negara. Pemerintah pun mempunyai kepentingan langsung untuk menciptakan situasi kondusif dalam menjalankan pemerintahannya. Bagi Indonesia sendiri. pernyataan tujuan bernegara sudah dinyatakan dengan tegas oleh para pendiri negara dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Bukan hanya pernyataan tujuan bernegara Indonesia. Pemerintah daerah bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana. dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada. Ada beberapa alasan mengapa diperlukan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana. pemerintah wajib menjamin hak asasi warga negaranya. Pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengelola wilayah dan rakyatnya untuk mencapai tujuan dalam bernegara. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.4.5. Salah satu bukti keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana adalah dengan dibentuknya Badan Penanggulangan 114 .2. Salah satunya adalah pelayanan kepada masyarakat maka akan muncul pula stabilitas yang akan berdampak pada sektor publik.

serta masih rendahnya pemahaman terhadap bencana khusunya bencana alam. Analisis potensi bencana alam seperti diungkapkan oleh Yuarlina dan Yati selaku anggota Sekretaris Daerah bahwa Kabupaten Majalengka sangat berpotensi terhadap bencana alam. perbukitan. hal ini terkait minimnya pengetahuan. Kerentatanan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kabupaten Majalengka meliputi terbangunya kawasan rawan bencana menjadi pemukiman. kepadatan penduduk di daerah rawan bencana. hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah patahan bumi dan konstruk tanah yang labil dengan pembagian tiga wilayah yang bervariasi. 115 . yang merupakan realisasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diikuti dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008. Permasalahan kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya harus mendapatkan perhatian serius dengan adanya peran dari pemerintah daerahnya.Bencana Daerah (BPBD) melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008. dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007. cepat. mulai dari dataran tinggi. dan efisien agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. Tingkat kemampuan untuk menghadapi bencana di Kabupaten Majalengka masih rendah. Sehingga bencana yang terjadi pun bervariasi dan tentunya dampak yang di akibatkan bencana alam harus segera ditangani secara khusus. tepat. rusaknya tutupan vegetasi di daerah kawasan rawan bencana. dan dataran rendah.

tentunya tidak lepas dari penilaian publik. 116 . Melihat sejauh mana peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. Tentunya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengaka tidak lepas dari analisis kebencanaan yang menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan bencana. Selain itu menyangkut kebutuhan dan keamanan masyarakatnya agar bisa terlindungi dari ancaman dan kerentanan bencana alam. serta sumberdaya dalam penanggulangan bencana.kelembagaan. khususnya pada tahun 2010 bisa dikatakan baik. Salah satu implikasinya adalah dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). mekanisme kerja. hal tersebut mengindikasikan adanya sebuah peningkatan kejadian bencana alam dari tahun 2009 ke tahun 2010. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Majalengka selama tahun 2009 terjadi 67 kejadian bencana alam sedangkan tahun 2010 sampai dengan akhir Agustus di Kabupaten Majalengka telah terjadi 114 kali bencana. Sejauh ini berdasarkan data lapangan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan. Seperti yang di ungkapkan Yati Sumiati dari Sekretaris Daerah bahwa sejauh ini pemerintah daerah sangat memperhatikan dan konsen dalam peanggulangan bencana alam di daerahnya.

Secara teknis peneliti masih menyangsikan terhadap eksistensi peran pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Korban menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bencana ini. Bahkan janjijanji yang disampaian pemerintah daerah kepada korban untuk menjanjikan akan segera datang bantuan baik melalui bantuan materi ataupun relokasi belum 117 . Tapi pernyataan tersebut berbanding terbalik ketika peneliti bertemu dengan salah seorang korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh. terutama fokus pada penanggulangan bencana alam di daerahnya. Pemerintah daerah bersama satuan kerja perangkat daerah mempunyai tanggungjawab dalam mengemban amanah peraturan daerah ini dengan sebaik-baiknya. yang diakibatkan oleh abrasi Sungai Cimanuk dengan memporakporandakan 13 bangunan di sekitarnya. Praktek dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sudah dapat terlihat jelas. tentunya dengan harapan bahwa peraturan ini benar-benar memberikan jaminan mutu bagi efektifitas penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. seperti dalam penanganan kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi. bahkan bisa dikatakan seperti membiarkan saja tanpa ada perlakuan atau tindakan khusus. dan sangat berperan dalam penanggulangan bencana alam.Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 menjadi landasan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Memang secara formal pemerintah daerah melalui satuan kerja perangkat daerahnya mereka mengungkapkan telah melakukan kerja maksimal. Secara legalitas peraturan daerah secara resmi sudah dijalankan dan direalisasikan.

Pemerintah daerah bertanggungjawab penuh terhadap apa yang terjadi pada masyarakatnya. tepatnya sekitar bulan Oktober 2010. tetapi dalam pelaksanaannya jenis dan tingkat bencana masih ditangani oleh mekanisme yang lama (ketanggap daruratan saja). padahal kejadian bencana ini sudah cukup lama. Hal tersebut mengindikasikan dengan dibentuknya BPBD belum mampu mengefektifkan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana (pra bencana). seperti yang termaktub dalam UUD 1945 maupun UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007. Walaupun sudah dibentuk lembaga teknis daerah dalam penanggulangan bencana.terwujud sampai saat ini. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. tanggap darurat. Program-program yang telah di amanhkan dalam konstitusi ataupun undangundang dan peraturan tentang kebencanaan belum dijalankan dan dilaksanakan secara maksimal. Aspek yang perlu dicermati bahwa. rehabilitasi dan rekonstruksi (pasca bencana) sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi. padahal lembaga ini mempunyai andil besar dalam proses penanggulangan bencana. 118 . Partisipasi aktif masyarakat dan swasta sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan.

Sebagimana penuturan yang diungkapkan oleh Sumiati selaku staf sekretaris daerah mengungkapkan. Kepedulian bupati terhadap penanggulangan bencana perlu di apresiasi. Konteks kejadian bencana alam yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh yaitu dengan adanya abrasi Sungai Cimanuk yang merobohkan 13 bangunan di daerah sekitarnya memberikan alternatif dan prospek keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana alam tersebut. di 119 . khususnya dalam penanggulangan bencana alam. bupati bersama DPRD dan atas kesepakatan SKPD memutuskan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang di dalamnya ada klausal usulan pembentukan BPBD. Kecamatan Jatitujuh dalam perkembangannya terjadi sebuah permasalahan.Bupati sebagai pemegang kepemimpinan daerah dalam hal ini memimpin Kabupaten Majalengka mempunyai andil besar dalam segala tindakan dan keputusan yang menyangkut kesejahteraan masyarakatnya. Penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih. Atas dasar banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Majalengka dan untuk melindungi seta mensejahterakan masyarakat begitu juga dalam menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Keberhasilan bupati untuk menelurkan kebijakan tersebut setidaknya di iringi dengan kerangka kerja dan efektifitas bagi berjalannya SKPD dalam pembantuan kinerja pemerintah daerah dan bupati selaku pimpinan daerah. “Begitu besar kepedulian bupati terhadap masyarakatnya dalam penanggulangan bencana yaitu dengan bukti membentuk BPBD”. karena secara tidak langsung Kabupaten Majalengka mendapat citra positif sebagai kabupaten sadar bencana.

paparkan oleh salah satu korban yang bernama Karsa menyatakan, “Respon pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerahnya kurang dan lamban, bahkan untuk bantuan-bantuan yang di janjikan pun belum ada realisasinya”. Hal ini tentunya berimplikasi pada sebuah kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah yang di dalamnya adalah SKPD bersama bupati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bupati selaku orang yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana turut andil dalam proses penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh. Bahkan dalam lawatannya bupati menjanjikan dan menginterupsikan kepada Kuwu Jatitujuh untuk segera mencarikan tanah relokasi bagi korban. Namun hal yang menarik, tanah yang akan dibelikan tersebut justeru di bawah standar dan kurang memenuhi permintaan dan aspirasi dari masyarakat selaku korban. Akhirnya timbul sebuah permasalahan baru yaitu adanya ke engganan korban untuk di relokasi, karena mereka merasa tempat relokasi kurang representatif. Keputusan bupati selanjutnya adalah dengan adanya janji bahwa bupati akan memberikan bantuan kepada korban dengan nominal Rp.1.000.000,00/kepala keluarga, hal ini disampaikan melalui BPBD, namun sampai saat ini belum terealisasi. Korban berpendapat bahwa pemerintah daerah kurang serius dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya, bahkan BPBD yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justeru tidak kelihatan perannya, dan seperti lepas tangan begitu saja. Hal tersebut dibuktikan dalam petikan wawancara dengan korban yang menyatkan bahwa tidak ada sama sekali

120

proses dan upaya bantuan dari BPBD, justeru yang banyak berperan adalah bupati. Indikasinya, bupati menjadi aktor tunggal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, dengan berbagai intruksi dan keputusannya yang satu arah memberikan efek kepada dinas atau SKPD yang bergerak dalam penanggulangan bencana tidak mempunyai posisi tawar. Padahal BPBD bersama dinas teknis lainnnya mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan permasalahan bencana di daerah tersebut. Kasus lain terkait lokasi relokasi korban yang seharusnya ada komunikasi dengan pihak Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dalam penentuan lokasi bersama korban justeru dilakukan satu komando dari bupati. Padahal DBMCK mempunyai wewenang untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan terhadap lokasi yang akan dijadikan pembangunan rumah korban. Implikasinya DBMCK pun tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah terhadap putusan bupati. Konsekuensi dari hal tersebut adalah tumbuhnya bibit konflik antar pemerintah daerah dengan korban. Di satu sisi, peran sekretaris daerah selaku kepala BPBD kurang memberikan daya dukung terhadap penanggulangan bencana yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh. Terbukti adanya sebuah asumsi bahwa sekretaris daerah hanya mempunyai wewenang dalam koordinasi dan fasilitasi dalam penanggulangan bencana kepada organisasi perangkat daerah sebagai lembaga teknis untuk terjun langsung dalam penanganannya. Hal tersebut dipaparkan oleh Yuarlina selaku staf sekretaris daerah, dan secara kontekstual sekretaris daerah bisa dikatakan hanya menerima laporan dan kemudian laporan tersebut dipertanggungjawabkan kepada

121

bupati sebagai laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Sementara untuk wewenang sekretaris daerah belum merepresentasikan tindakan nyata dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. DPRD yang diharapkan memberikan fasilitasi dan kontrol dalam proses penanggulangan bencana merasakan hal yang sama, karena dibatasi oleh kewenangan dalam teknis penanggulangan bencana, maka DPRD pun tidak

mempunyai andil dalam penyelesaian permasalahan ini. DPRD seperti tidak mempunyai bargaining power dalam mengontrol pemerintah daerah, padahal dalam tata aturan yang berlaku DPRD mempunyai hak secara legal formal dalam penyelesaian kasus ini. Bupati seperti penguasa tunggal yang mampu mengendalikan kontrol pemerintahan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan wewenangnya, setiap proses kebijakan yang dikeluarkan oleh bupati kadang tidak memberikan sebuah koordinasi dengan staf dibawahnya. Inilah yang kemudian bisa kita katakan adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sebenarnya tindakan yang dilakukan bupati yang begitu menghegemoni dalam sebuah keputusan dan dan intruksi dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Berdasarkan teori Parsons tentang voluntaristic, tindakan yang dilakukan oleh bupati merupakan perilaku yang disertai oleh adanya upaya subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi (situasional) atau isi kenyataan pada keadaan yang ideal atau yang ditetapkan secara normatif. Terutama yang

berkaitan dengan para pelaku (actor) yang berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari

122

baik hambatan normatif maupun hambatan situasional. salah satunya adalah dengan membuat komando satu atap. Intruksi dan wewenang bupati menjadi sebuah mekanisme yang mau tidak mau harus dijalankan dan dipatuhi tanpa ada pertimbangan dan kesepakatan dari stakeholder lainnya. Diasumsikan sebagai orang yang sedang mengejar tujuan (goal). Hal tersebut kemungkina adaya indikasi bahwa bupati dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan situasional yang dengan segera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. semuanya itu dipengaruhi oleh value. Pencitraan seorang aktor dalam 123 .berbagai alat cara (means) yang tersedia. Tindakan atau keputusan subyektif yang digunakan oleh bupati untuk meraih tujuan dalam penanggulangan bencana atupun tujuan lainnya dalam memperkuat bargaining powernya sebagai kepala daerah. tentunya tujuan yang akan diraih adalah dengan adanya sebuah pencitraan positif bagi aktor dan penanganan bencana secara cepat dan tepat. kondisi dan situasional tertentu. sehingga bupati juga dianggap memiliki beberapa alternatif cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut. Tindakan voluntaristik menurut konsep Parsons mencakup elemen-elemen dasar dengan adanya pelaku yang merupakan pelaku individual (pelaku perorangan) hal ini aktornya adalah bupati. Bupati sebagai aktor utama dan kunci mempunyai mekanisme tindakan sosial dengan berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari berbagai cara. other idea . norms. dan keputusan seperti itu sebagai hasil akhir dari pertimbangan parsial terhadap jenis hambatan tertentu. Konsep voluntaristic sebagai sebuah proses pengambilan keputusan subyektif dari para pelaku individual (actor).

Sebagai indikasi konsep good governance seharusnya penanggulangan bencana bisa melibatkan seluruh stakeholder tidak terkecuali sektor swasta dan masyarakat.meraup kepercayaan dari masyarakat tentunya menjadi titik point permasalahan tersebut. tentunya dalam kasus penanggulangan bencana di Blok Klewih Jatitujuh yang sampai saat ini belum tuntas. Pola sinergi antar elemen dalam Undang-Undang Nmor 24 Tahun 2007 sebagai sebuah konsep good goverance seharusnya bisa di aplikasikan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peran dan potensi masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu 124 . sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 28 menyatakan bahwa “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. begitu juga pada pasal 27 point b yang menyatakan bahwa “Setiap orang berkewajiban melakukan kegiatan penanggulangan bencana”. baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain”. Sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. salah satunya adalah sektor swasta dan masyarakat. Bupati yang dominan dan berupaya untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya menjadi indikasi adanya proses transformasi nilai kekuasaan yang memberikan efek kurang baik terhadap jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Majalengka. penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab setiap stakeholder di dalamnya. Tindakan sosial yang dilakukan bupati yang bersifat empatik bisa jadi orientasinya berubah menjadi politik pencitraan bagi dirinya.

Pemerintah.1. Begitu juga dengan peran swasta belum secara optimal diberdayakan. 125 . Potensi-potensi dari sektor swasta dan masyarakat seharusnya bisa memberikan sistem penanggulangan bencana yang lebih efketif dan bekelanjutan agar tercipta ketahanan dan kepedulian seluruh elemen dalam penanggulangan bencana.2. Kenyataan ini juga menggugurkan tesis bahwa moral kolektif bangsa ini telah hancur akibat berbagai fakta suram di ranah sosial. dan budaya yang semuanya melemahkan semangat bertahan hidup kita sebagai bangsa.menangani bencana. organisasi masyarakat sipil dan masyarakat politik seolah-olah tergerak hatinya membantu para korban. Relasi Kekuasaan Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Rentetan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka menuntut banyak pihak berpikir tentang cara penanggulangannya.5. perorangan. Semua pihak bahu membahu meringankan beban para korban. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat justeru tidak kelihatan dalam peran sertanya. ekonomi. Lepas dari berbagai kepentingan yang muncul. politik. swasta. sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar. reaksi spontan para relawan paling tidak menunjukkan bahwa masyarakat Majalengka masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. 4.

kadang terjadi benturan antara birokrasi dengan pengguna jasa layanannya. lama dan kurang profesional. sedangkan birokrat hanya mengartikulasikan kepentingan para klien yang terorganisir. Perpaduan politisi 126 . namun dengan kontribusi yang berbeda. mengartikulasikan kepentingansecara luas dan para individunya tidak terorganisisir dengan kepentingan yang menyebar. maka politisi berdasarkan kepentingan nilai. yaitu pemerintah daerah dan jajarannya bertindak cepat dan terintegrasi dalam melakukan penyelesaian penanggulangan bencana tersebut. Penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya membutuhkan akses birokrasi. dirasa birokrasi itu sulit. Konsep perkembangan politisi-birokrat sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusumanegara dapat dijelaskan pada hirarki otoritas supremasi hukum yang berlandaskan politisi sebagai pembuat kebijakan sedangkan birokrat sebagai pelaksana kebijakan. Permasalahan yang muncul. birokrat didasarkan pada fakta dan pengetahuan.Birokrasi sebagai agen administrasi dan implementator dalam sebuah kebijakan menjadi sangat penting dalam menyelesaikan dan melayani segala kebutuhan masyarakatnya. namun perannya sama-sama Politisi berbeda. kaku. Namun dalam perkembangannya. Politisi maupun birokrat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan. yang kemudian kita sebut adanya nilai politis dalam tubuh birokrasi dalam penanggulangan bencana. keduanya memperhatikan aspek-aspek politik. Politisi maupun birokrat selalu ada dalam pembuatankebijakan. Hal tersebut setidaknya sudah menjadi permasalahan klasik dalam tubuh birokrasi Indonesia. kadang birokrasi pun bisa jadi mempunyai kepentingan dan tidak bebas nilai.

Birokratisasi-politik maupun politisasi-birokrasi menjadi fenomena yang terjadi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. birokrasi sendiri mengalami namun dilema di yang sisi lain mengakibatkan proses penanggulangan bencana menjadi terhambat. Efek positifnya adalah bupati dengan segera bisa menginventarisir kejadian dan mengintruksikan jajarannya namun di satu pihak juga menimbulkan efek negatif. dimana bupati yang memiliki jabatan struktur pemerintah daerah mempunyai otoritas dalam urusan penanggulangan bencana alam tersebut. 127 . Birokrat menjadi tidak memiliki independensi. Secara singkat dapat dikatakan telah terjadi “birokratisasi politik dan politisasi birokrasi”. Tetapi yang terjadi adalah kelahiran fenomena “hibrida murni” antara politisi-birokrat. akibat dominasinya bupati dalam masalah tersebut justru mempersulit gerak dan kinerja organisasi perangkat daerah karena kewenangan mereka dibatasi oleh bupati. karena jajaran birokrasi yang ada semuanya mengandung unsur politis. karena sisi politis dan birokrat tidak bisa bedakan lagi.dan birokrat dalam perumusan kebijakansehingga tidak nampak pembedaan peran politisi dan birokrat dalam kebijakan. Hal ini bisa dikatakan hibrida murni. dengan adanya ekskalasi politis aktor. pemangku kepentingan yang menjadi aktor dalam penanggulangan bencana ini menjadi sulit di elakan. pada akhirnya menimbulakn efek posistif dan negatif. Tentunya hal ini menjadi sangat ironi di satu sisi korban memerlukan penanganan segera. padahal secara mendasar organisai perangkat daerah mempunyai kewenangan sesuai dengan tupoksinya.

pendirian tenda setidaknya menggambarkan kerja pemerintah daerah dalam setiap bencana. Kesibukan para relawan dan penyuplai bantuan dalam membawa. relokasi. atau atas nama pribadi tertentu di bungkusan luar setiap bantuan merupakan gambaran bekerjanya asosiasi sosial dalam setiap bencana. misi dan agenda setting yang dimiliki setiap aktor. tugas penanganan bencana bisa berjalan beriringan mulai dari pemerintah pusat. Merujuk pada pandangan di atas. Pertama. Pertarungan kepentingan antar elemen bisa saja terjadi akibat perbedaan visi. Tarik menarik kepentingan para aktor ini terjadi dalam tegangan relasi kekuasaan. memeriksa para aktor yang terlibat menjadi sangat urgen di sini untuk mengetahui motif.Soal relasi kekuasaan dalam proses penanggulangan bencana penting untuk diperiksa karena dua sebab pokok. maka bisa dimengerti mengapa dalam setiap bencana aktor-aktor melakukan tindakan penanganan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kekuasaan merupakan obyek akhir dalam setiap bentuk kebijakan dan aksi bantuan yang diberikan manakala terjadi bencana. kabupaten/kota maupun pemerintah lokal (kecamatan/desa). Dalam mencapai kekuasaan itu. Dalam pelaksanaannya. mengatur dan mendistribusi bantuan menunjukkan kerja sosial. partai politik. setiap aktor membentuk dan membangun relasi. propinsi. setiap bencana paling tidak melahirkan berbagai bentuk kebijakan baru dalam hal penanganan bencana. kepentingan. berbagai bentuk bantuan yang diberi label tulisan lembaga sosial. dan agenda aksi mereka. Oleh karena itu. Demikian pun. Kedua. bencana dan pasca bencana merupakan dua momen yang bisa melahirkan pahlawan dan pecundang sekaligus. Kebijakan tanggap darurat. 128 .

Setiap relasi kekuasaan. Problem dasar kemudian adalah aktor tersebut memiliki agenda setting yang eksplisit memiliki visi. termasuk bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Fenomena yang berkembang dalam setiap penanganan bencana. Setiap aktor yang terlibat mesti diperiksa. peristiwa bencana alam tidak saja dimaknai sebagai peristiwa bencana. Pertimbangannya jelas. sebagai peristiwa yang 129 . Inilah yang disebut bahaya relasi kekuasaan dalam penanganan bencana. maraknya simbol-simbol politik dan hadirnya para aktor politik ke lokasi bencana. dan ekonomi sesaat. Memang.Sebagaimana diterangkan di atas. hal ini sangat jelas telah terjadinya perilaku politisasi dan komersialisasi bencana. aktor-aktor tersebut membentuk semacam pola relasi dalam setiap penanggulangan bencana. tentu dapat dijelaskan. bisa saja akan membentuk jaringan kekuasaan baru yang justru memancing di air keruh-mencari keuntungan sosial. politik. Dalam perspektif komunikasi politik. jika tidak dikontrol. tetapi mirip arena kampaye dan promosi. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa setiap kali bencana terjadi di negeri ini. 1) Bagi aktor politik. secara kasat mata dapat dilihat maraknya simbol-simbol politik telah menjadikan lokasi bencana bukan lagi ajang berbakti menolong sesama. yakni memberikan bantuan sosial bagi korban. tetapi juga sebagai peristiwa politik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. sering diikuti oleh beragam gejala ikutan termasuk politisasi bencana. tidak untuk mencurigai tetapi sekadar mengingatkan semua pihak bahwa pada setiap momen duka seperti itu setiap aktor sebetulnya sedang membangun relasi kekuasaan.

Di sinilah. Pemberitaan tersebut pada akhirnya menutupi akselerasi atau kontribusi aktor lainnya. Namun berbeda halnya dengan kasus penanganan bencana di Blok 130 . keberadaan dan liputan media berlatar bencana alam dapat menjadi front stage aktor politik menampakkan eksistensi diri. “Relokasi korban di Desa Sidamukti ini sedang membangun kembali rumah korban sebanyak 258 unit”. Pencitraan yang dilakukan bupati dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka merupakan bentuk akselerasi politik yang mengindikasikan adanya kepedulian bupati terhadap korban. Relokasi tersebut sebenarnya atas dasar usulan Dinsosnakertrans kepada Kementerian Sosial yang akhirnya terealisasi dengan membangun 258 rumah korban. Pemberitaan yang dilansir di media cetak seolah-olah yang berperan besar dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti adalah bupati. tapi banyak aktor lain yang berperan dalam penanganan bencana alam di Desa Sidamukti.menarik perhatian masyarakat dan memiliki nilai berita sangat tinggi dapat menjadi media komunikasi politik yang efektif untuk pembentukan citra politik. Hal tersebut menjadi kabar berita baik dengan adanya pemberitaan dari media cetak. tentunya mengindikasikan adanya sebuah kepekaan sosial dari pemerintah daerah atas nama bupati terhadap korban. Seperti yang di ungkapan oleh Mayor Edi Supriadi dari Koramil Siliwangi menyatakan. Padahal sebenarnya yang berperan dalam penanganan bencana tersebut tidak hanya satu aktor. seperti dilansir dalam sebuah harian Radar Majalengka yang menyatakan dalam sebuah petian berita bahwa bupati dengan pemerintah daerahnya sadar akan bencana di Kabupaten Majalengka.

segala janji-janji yang telah disampaikan sampai saat ini belum ada kejelasan. Padahal sesuai dengan pemberitaan dari media massa mencuplikan terkait kepekaan bupati dan pemerintah daerah dalam penangggulangan bencana di daerah tersebut. Dalam perkembangannya. keberadaan korban bisa dikatakan terlantar akibat tidak adanya kepastian dari pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuannya. aktor yang berperan dalam penaggulangan bencana di daerah tersbut lagi-lagi mempunyai berbagai kepentingan dan maksud tersendiri.Klewih Jatutujuh yang terkena dampak abrasi Sungai Cimanuk. Mulai dari adanya janji-janji akan menurunkan bantuan. relokasi rumah korban. Akibat ketidakjelasan penurunan bantuan dan relokasi berdampak pada pertentangan antara korban dengan pemerintah lokal (desa dan kecamatan). dan janji-janji bantuan lainnya. dimana FPBAC ini dianggap sebagai provokator dan hanya menghalangi proses jalannya penanganan bencana di daerah tersebut. Tetapi di sisi lain. Kunjungan bupati untuk meninjau langsung ke lokasi bencana yang berjanji akan segera merealisasikan bantuan dan relokasi untuk korban menjadikan korban merasa gembira atas perhatian lebih dari buaptinya. 131 . yang menganggap bahwa semua permasalahan ini yang berperan aktif seharusnya pemerintah desa dan kecamatan. pemberitaan media massa justeru mengindikasikan adanya sebuah pemutar balikan fakta. Sementara FPBAC lambat laun mulai mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan janji-janjinya terhadap hak-hak korban. Seperti halnya dengan eksistensi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut tidak luput dari sebuah ekskalasi politis. Di sisi lain.

Dalam perspektif ini. maka nilai publikasi politik yang menyertai pemberitaan bencana akan sangat tinggi. aktor politik pun tidak luput untuk memanfaatkan ruang tersebut menjadi medium legitimasi kekuasaan dengan mekanisme baru pada ranah politik. secara fakta FPBAC justeru sangat membantu korban dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah lokal ataupun daerah. Dalam era globalisasi teknologi sekarang ini. Lokasi bencana dengan cepat menjadi perhatian masyarakat dan sorotan media baik lokal. yang memungkinkan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi begitu deras masuk di setiap bidang kehidupan. Bahkan FPBAC memberikan bantuan dan donasi atas inisiatifnya dengan mencari dana di luar pemerintahan. Kedua unsur tersebut dikonstruksi sebagai arena yang terpisah 132 . Kasus ini menjadikan efek buruk bagi pencitraan aktor yang terlibat ketika fakta-fakta tersbut terungkap. yang menganggap bahwa FPBAC adalah korban sebagai “kambing hitam” oleh media. Pencitraan positif seorang aktor akan terus berjalan sebagai strategi yang ampuh dalam meraup dukungan publik secara luas. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terbukti turut berpengaruh dalam membuka relasi kekuasaan dan kekerasan tersebut menjadi ruang yang seolah-olah tidak sebuah mengandung kepentingan. nasional maupun internasional.Pemberitaan tersebut dibantah oleh Syarifudin selaku kordinator FPBAC. pola kerjanya mengedepankan peranan media dan kecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagi praktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol. sehingga apa pun yang terjadi akan menjadi perhatian publik.

Jika demikian halnya. Mulai dari hanya untuk melihat. sampai dengan motif sebagai bentuk tanggung jawab atas sebuah musibah yang terjadi pada masyarakatnya. mondar mandir mengibarkan bendera. menyampaikan rasa empati.dan tidak bersinggungan. sedangkan manusia memperebutkan lambang dan simbol sebagai wakil dari makanan dan kepemimpinan”. Perang lambang merupakan cermin kemanusiaan yang lekat. Maraknya simbol-simbol politik di lokasi bencana secara sadar atau tidak. tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran para pihak termasuk aktor politik di lokasi bencana adalah suatu tindakan sosial yang tentu memiliki beragam motif. Saat ini hubungan antara kekuasaan dan kekerasan tidak lagi dalam bentuk gerak fisikal melainkan bekerja dalam arena representasi. aktor politik bisa menjalankan praktik kekuasaannya atas nama simbol yang ia ciptakan sendiri. Bagi yang mampu memegang simbol maka ia dapat mengejewantahkan dirinya seperti apa yang disimbolkan. “Salah satu perbedaan antara manusia dan binatang adalah kalau binatang bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan makanan dan kepemimpinan. Mengacu pandangan yang dikemukakan Hayakawa (1974) bahwa. Ia memiliki wewenang untuk menjadikan simbol itu nyata dan mendapatkan pengakuan bahwa aktor politik tersebut memiliki 133 . memberikan bantuan. 2) Mengacu teori tindakan sosial. sebenarnya telah terjebak pada perang eksistensi dan dominisasi politik yang pada ujungnya adalah tidak lepas dari soal kepemimpinan. di mana simbol sebagai kekuatan abstrak memiliki sumber daya yang ampuh dalam mencipta kebenaran.

Hal tersebut di dasarkan pada hasil penelitian yang menunjukan pemerintah daerah merasa tertekan dengan adanya gugatan-gugatan ataupun aspirasi yang disampaikan FPBAC yang dirasa hanya memperburuk keadaan dalam proses penanggulangan bencana di daerah tersebut. Bencana yang terjadi dijadikan ladang politik empatik yang akhirnya akan berubah pada politik kulit. Dalam dunia politik. ada sebuah alasan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam penaganan bencana dan hanya berorientasi pada sebuah politk empatik dengan janji-janjinya. operasi kerja kekuatan simbol tak bisa dilepaskan dari struktur atau aktor politik yang berkepentingan mengkonstruksi realitas. Simbol mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas. pemerintah daerah menganggap ada sebagian warga yang dipelopori oleh Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) sebagai profokator dalam penuntasan bencana di daerahnya. Kekuatan itu tersimpan dalam proses kategorisasi. Wacana penuntasan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. Dalam wacananya. digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelompok mana yang disebut sebagai provokator dan bukan provokator. dan pemaksaan ide-ide tertentu kepada obyek yang menafsirkan simbol. penilaian. Sementara FPBAC menyatakan hal itu hanyalah sebatas komitmen mereka terhadap korban untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi korban terhadap janji-janji pemerintah daerah dalam penuntasan penanganan bencana di daerah Blok Klewih Jatitujuh tersebut. Sikap empatik 134 .mandat untuk bertindak sesuai dengan karakter yang disimbolkan. namun janji-janji tersbut tidak terbukti di realisasikan kepada korban. Selain itu.

Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Sistem penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka didasarkan pada kelembagaan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sebelumnya.pemerintah daerah terhadap korban setidaknya menjadi sebuah pencitraan posistif bagi pemerintah daerah dan aktor tertentu dalam meraih empati dari masyarakat dalam menjaga kestabilan kepemimpinan dan kekuasaannya yang legitimate. seperti bencana dalam skala besar pada umumnya pimpinan pemerintah daerah mengambil inisiatif dan kepemimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai satuan kerja yang terkait.5. Rangkaian bencana yang terus terjadi mendorong berbagai pihak termasuk DPRD Kabupaten Majalengka bersama pemerintah daerah untuk lebih jauh mengembangkan kelembagaan penanggulangan bencana dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD). UndangUndang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB). Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diamanatkan untuk dibentuk badan baru.2. 4. dan Peraturan Kepala (Perka) BNPB tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam kondisi tertentu.2. penanggulangan bencana dilaksanakan oleh satuan kerja yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) penanggulangan bencana. yaitu Badan Nasional Penanggulangan 135 .

antara lain. karena dianggap bencana besar belum terjadi maupun bila bencana besar sudah terjadi tidak akan terjadi lagi dalam jangka waktu dekat. b) Beberapa pengambil kebijakan di daerah tidak merasakan adanya kebutuhan pengembangan kelembagaan penanggulangan bencana baik. 136 . Matrik Perbandingan Kelembagaan Satkorlak-Satlak & BPBD Sumber: Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia Dalam kaitan dengan pembentukan BPBD seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana.Bencana (BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas-PB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggantikan Satkorlak dan Satlak di daerah. pemerintah daerah telah mengambil inisiatif untuk mengajukan usulan pembentukan BPBD namun dalam proses pengambilan putusan bersama dengan DPRD. pemerintah daerah mengemukakan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat. usulan tersebut tidak menjadi prioritas. Hal ini menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan seperti yang dijelaskan di bawah ini: Tabel 11. yaitu: a) Pada beberapa daerah.

Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. banyak dinas yang meragukan pelaksanaan tata komando ketika terjadi bencana dapat terlaksana secara efektif di lapangan. Peraturan ini setidaknya mampu memberi keamanan bagi masyarakat dengan cara penanggulangan bencana dalam hal karakeristik. dan kewenangan dalam mengintervensi kebijakan Unsur Pelaksana (dan kaitan lembaga teknis lain) yang belum terdeskripsi. serta sistem penggajian yang belum jelas. f) Fungsi “Pelaksana” dari BPBD punya kecendrungan untuk berbenturan dengan fungsi dinas-dinas teknis lainnya yang terkait dengan bencana. karena kualitas SDM yang sangat terbatas. frekuensi dan pemahaman terhadap kerawanan dan risiko bencana. d) Tidak semua daerah bersedia membentuk BPBD dimana “Sekdanya” merangkap jabatan (benturan eselonisasi). g) Fungsi koordinasi antara BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota akan cenderung sulit dilaksanakan secara efektif. e) Proses seleksi anggota Unsur Pengarah untuk BPBD kabupaten/kota juga memakan waktu lebih lama. apalagi jabatan “kepala BPBD” dirangkap oleh Sekda yang beban kerjanya sendiri sudah cukup banyak. karena BPBD sebagai perangkat Daerah akan tunduk kepada Kepala Daerah dan Anggaran Daerahnya masingmasing. 137 .c) Dengan status lembaga setingkat dinas di daerah (BPBD). maka terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia khususnya di Kabupaten Majalengka.

saat bencana maupun pasca bencana. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat. mitigasi.Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman. Pemerintah daerah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Kabupaten Majalengka bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana. tanggap. akan tetapi meliputi proses yang 138 . Peningkatan kapasitas SDM (capacity building) guna penguatan kapasitas kelembagaan dan penyiapan daya dukung penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terukur dan terencana sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih parah. pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan. pemulihan dan rekonstruksi. dan profesional sesuai dengan standar internasional. Program kegiatan yang tercantum dalam RAD PRB merupakan rencana tindak yang akan dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu dan komponen pelaksana yang telah ditetapkan dalam rangka pengelolaan kebencanaan. Grand desain diperlukan dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan standar penanganan bencana yang cepat. tanggap darurat. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Majalengka yang secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan dan program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan.

diharapkan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam menanggulangi bencana secara efektif. efisien dan menyeluruh. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain. Dengan strategi yang tepat. Berbagai stakeholder dan pemerintah daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana harus memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut. pelatihan penanganan bencana yang berbasis komunitas dan pemulihan sosial pasca bencana. Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. Berkaitan dengan proses mitigasi. yaitu mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi. khususnya pada tahap mitigasi. dan rehabilitasi masih sering tersendat bahkan tidak jelas penanganannya. Perlu dicermati bahwa lembaga yang menangani bencana dapat menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan menyangkut domain tugas dan 139 .lebih luas. nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. rekonstruksi. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara efektif. pentingnya pemetaan daerah rawan bencana. Dengan pola kerjasama yang sinergis. pemerintah harus mengoptimalkan peran partisipatif dari seluruh stakeholder bencana. penerbitan modul dan sistem informasi dalam penanganan bencana. Pemerintah daerah dapat lebih berperan pada tahap prabencana dan mampu mengembangkan kesiagaan bencana di daerahnya. khususnya kemampuan pengelolaan bencana.

Fungsi-fungsi yang dimiliki ini tentunya menjadi landasan dalam operasional dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka lebih terkoordinatif. baik itu prabencana. pada saat bencana. tindakan-tindakan kesiap-siagaan. koordinasi. dan pelaksana. Koordinasi juga perlu ditingkatkan dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang juga melaksanakan tugas kebencanaan dengan menghimpun dan menyalurkan sumber daya dan bantuan bagi penanggulangan bencana. dan rehabilitasi & rekonstruksi. yaitu fungsi komando. Peneliti melihat dalam aspek penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka belum ada mekanisme integrasi Rencana Aksi Daerah & Pengurangan Resiko Bencana (RAD-PRB) ke dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. seperti yang diungkapkan oleh Hardi bahwa sesuai dengan tupoksi BPBD mempunyai tiga fungsi. BPBD harus menggariskan secara jelas tetang tugas dan wewenangnya. tindakan tanggap darurat. Hal ini harus dikelola dengan baik dan perlu dibangun format komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga tidak menjadi masalah baru dalam proses penanggulangan bencana. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya dari akibat bencana. sehingga belum 140 . Jelas terlihat di lapangan bahwa perlunya sinergi antar dinas berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan di berbagai bidang.tanggung jawab dalam penanggulangan bencana. dan pasca bencana.

Data di lapangan. lembaga legislatif Kabupaten Majalengka masih lemah dalam hal kontrol kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. 141 . Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan. Aspek penting lainnya adalah. hal ini di mengindikasikan belum masifnya sosialisasi tentang standarisasi penanggulangan bencana di dinas-dinas terkait dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. Masih banyaknya pedoman teknis tersebar di berbagai dinas dan sektor yang belum memiliki kesamaan standarisasi. yang artinya masih menggunakan pedoman lama. Sehingga mengakibatkan adanya penafsiran yang berbeda dalam standarisasi penanggulangan bencana. dan menyeluruh dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. tentunya dalam penanggulangan bencana alam. Dengan memperkuat basis kontrol untuk menjaga alur sinergitas stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana bisa memberikan dampak positif terciptanya alur sinergi yang lebih efektif. “Untuk sampai saat ini pengalokasian dan perencanaan penanggulangan bencana di dasarkan atas keputusan musrembang. lembaga legislatif yaitu DPRD Kabupaten Majalengka yang mempunyai wewenang terhadap kontrol penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam penanggulangan bencana seharusnya lebih peka untuk menjalankan fungsinya. ketika proses penanggulangan bencana masih dipimpin oleh Satlak PB. dan belum ada keputusan dalam dokumen RPJMD mengenai perencanaan penanggulangan bencana”.dijadikan acuan dalam menyusun program dan kegiatan terkait dengan kebencanaan. efisien.

dari sisi pemerintah dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan kerangka hukum (legal framework) untuk tindakan penanggulangan yang mencakup masa sebelum bencana. dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa berpadu dalam usaha penaggulangan bencana. memelihara keseimbangan. tindakan-tindakan kesiap142 . b) melakukan kegiatan penanggulangan bencana. saat tanggap darurat serta periode pasca bencana. dan c) memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana”. dan secara otomatis hanya mengandalkan komando dari pemerintah. tanpa kemudian memberdayakan masyarakatnya. keselarasan. Prinsip penanggulangan bencana yang dilakukan di Kabupaten Majalengka masih menjalankan prinsip Pada pelayanan. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana. Secara sederhana. dasarnya prinsip pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pada pasal 27 menyatakan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: a) menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis. Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana setidaknya akan merubah paradigma tentang pelayanan publik (public service) oleh birokrasi ke arah pemberdayaan masyarkat (empowerment). sehingga tidak ada gerakan nyata kesinergisan antar elemen stakeholder dalam penanggulangan bencana. Indikasi tersebut bisa dijelaskan dengan pasifnya dan kurangya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana. keserasian.Permasalahan selanjutnya adalah pemerintah dalam pelaksanaan penaganan bencana masih mengedepakan konsep pelayanan.

Ketika bencana muncul. pengungsian. Hal ini sejalan dengan pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari perlindungan masyarakat sebagai perwujudan kekuasaan pemerintah kepada perlindungan sebagai hak azasi.siagaan.5. baik secara sosial. masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar. psikis. Politik Anggaran Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Majalengka merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas kejadian bencana alam cukup tinggi. Hal demikian tentunya pantas untuk dipedulikan. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya akibat bencana.3. kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak sarana dan prasarana publik yang ada. ketidaknormalan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pelaksanaan pembangunan. Terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dapat menimbulkan 143 . tindakan tanggap darurat. sisi pentingnya adalah memberikan pelindungan dan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman bencana. dan lain-lain. bahkan politik. Dari sisi masyarakat. 4. mengingat akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana alam memiliki dampak yang luas. Bencana alam telah menimbulkan korban jiwa. ekonomi. Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management).

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terkena bencana sangat bernilai tinggi dan bermanfaat. sesuai dengan pernyataan Iwan Tundjiawan dari Bappeda Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa.masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil. “Alokasi anggaran untuk kebencanaan tidak dimasukan dalam APBD dan Rencana Aksi Daerah (RAK)”. Semua ini secara mendasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan tegas. Tidak sedikit yang memandang bahwa bantuan memiliki sisi-sisi negatif yang dapat mengganggu keleluasaan (privacy) dan harga diri masyarakat bersangkutan. juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Persoalan lainnya yang sering terjadi yaitu ketika suatu bencana terjadi. Dalam konteks ini. secara sederhana bahwa pemerintah daerah harus menjalankan politik anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor policy) khususnya dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Beliau berasumsi. sistem penganggaran kebencanaan di Kabupaten Majalengka tidak masuk dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). untuk 144 . Sekelumit paparan di atas adalah indikator pemerintah daerah dalam fungsi anggaran kebencanaan. Berbagai persoalan dan permasalahan di atas disamping membutuhkan organisasi yang mampu mengkoordinasikan dan mengelola bantuan sehingga bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkannya. banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan tidak terkoordinir dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan di lapangan.

dan DPRD sangat diperlukan dalam pengalokasian dan pendistribusian anggaran bagi kebencanaan agar tepat guna dan berdaya guna serta tepat sasaran. Alokasi dana yang harus segera turun ke tangan korban dalam bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh sampai saat ini belum terealisasi. apresiasi yang tinggi tetap harus kita sampaikan kepada pemerintah daerah karena sudah berani untuk mendirikan sebuah lembaga kebencanaan di daerahnya. Kompetensi. integrasi.1000. Terlepas dari penilaian sejumlah pihak bahwa RAPBD tersebut bersifat defensif dan kurang ekspansif.00/kepala keluarga. begitu juga dengan 145 . Pemda. dan alternatifnya adalah alokasi untuk kebencanaan dimasukan dalam alokasi dana tak terduga atau dana taktis pemerintah daerah. Selanjutnya. Jika mampu diwujudkan. karena sifatnya situasional dan bisa terjadi kapan saja maka kurang etis ketika ada sebuah penganggaran untuk kebencanaan. Komitmen yang tinggi dari Dinas Keuangan. anggaran tersebut harus dijaga dan dijauhkan dari praktik pengelolaan anggaran yang salah urus dan korupsi. transparansi. Demi menjamin kepastian bahwa anggaran untuk kebencanaan dapat diimplementasikan secara nyata dan baik. dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mutlak diwujudkan. korupsi akan dapat dihilangkan dan pelayanan publik kian meningkat.000. Padahal pemerintah daerah sudah menjanjikan kepada korban akan memberikan bantuan Rp. koordinasi.kejadian bencana alam. dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah beserta instansi di bawahnya dalam pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU). dan akuntabilitas pengelolaan anggaran yang dilakukan segenap aparatur pemerintahan daerah di uji.

349.309. 1. Porsi belanja aparatur dalam APBD lebih banyak daripada belanja publik sehingga alokasi anggran untuk kebencanaan masih jauh dari harapan rakyat.129.284. 1.menjanjikan adanya relokasi bagi para korban.349.400.584.013.584. Politik anggaran Kabupaten Majalengka belum berada dalam arah yang benar. Selain itu.479.00 = Rp.000. pemerintah daerah dihadapkan pada polemik yang terjadi antara pemerintah kecamatan dan desa yang bersitegang dengan masyarakat. karena pada dasarnya korban membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk segera menanggulangi segala permasalahannya. Realisasi dari belanja langsung adalah Rp. 2. 72. Tentunya merupakan masalah yang serius untuk segera dicarikan solusinya. Sisa dari belanja langsung adalah Rp. Alokasi belanja daerah ternyata lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat.00 dan belanja tidak langsung Rp. 1.00.057.584.087 dan belanja tidak langsung Rp.716. 72. 146 .00 dengan rincian untuk belanja langsung Rp.309. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka tahun 2010.00.327.00.000.087 = Rp. Seharusnya sisa anggaran dari belanja langsung dan tidak langsung Rp. 1.985. 40.00 + Rp.284. 1.Rp.013.057.985.00 dan sisa dari beanja tidak langsung adalah Rp.000.00 .129.27.571. 1.00 -1. 1. khususnya untuk pendanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Joyo selaku sekretaris BPBD bahwa untuk anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 mencapai Rp.357. yang dilatar belakngi kelambanan dan kurang pedulian dalam penanganan bencana di daerahnya.627.571.627.000.

hal tersebut menjadi ironi ketika dibandingkan dalam penuntasan kasus bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blo Klewih.00/Kepala Keluarga. dan ini merupakan sisa anggaran dalam jumlah yang masih besar.000. 65.00. 5. Kecamatan Jatitujuh yang menyatakan bahwa BPBD dan pemerintah daerah terbatas anggaran dana.00 dan Rp 24.850.00 secara tertulis sisa anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 dimasukan dalam klausal anggaran tahun 2011.043.043. masih ada sisa anggaran yaitu Rp. namun rincian perhitungan pengeluaran justeru lebih banyak pada belanja pegawai dan honorarium PNS dengan anggaran Rp. 65.000.00 = Rp.929.00 = Rp.00.00 adalah Rp. Kesiapsiagaan dalam Penangguangan Bencana” yang dilaksanakan pada triwuan I sampai dengan triwulan III. Bahkan jaminan ganti rugi tersebut direalisasikan.043. 106.00.000.000.000.357.000. 44. Jumlah total anggaran belanja langsung sebesar Rp.929. Seharusnya dengan sisa anggaran tersebut setidaknya bisa merealisaikan tuntutan dari korban untuk meberikan jaminan yang telah dijanjikan oleh pemerintah daerah melalui BPBD yaitu. Rp.929. sangat timpang dengan pengeluaran barang dan jasa hanya 147 .425. dengan asumsi 13 KK x Rp.000. 112. belum tahu keberadaannya yang hingga samapi saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar. 112.000.929. dengan menggunakan sumber dana APBD.450. 5. Transparansi sisa anggaran tersebut. Fata yang ada sebenarnya sisa anggaran penanggulangan bencana tahun 2010 mencapai angka ratusan juta yaitu Rp. 112.00.00 – Rp.40.00.000. Kasus lain adalah dalam mekanisme aggaran kegiatan “Peningkatan Keterampilan.000.000.043. 47. sehingga untuk penanganan relokasi dan batuan darurat belum bisa direalisasikan dan dimaksimalkan.716.

apalagi ketika melihat anggaran yang sudah direalisasikan cukup besar. dalam hal ini adalah intruksi membentuk BPBD.1 148 .mencapai Rp. Sementara akomodasi-akomodasi terhadap implementasi belum berjalan dengan baik. maupun setelah bencana bisa terakomodasi dengan baik. bisa dikatakan komitmen pemerintah daerah masih kurang dalam penanggulangan bencana dan belum terarah dengan jelas terhadap urgensitas atau pentingnya manajemen dan pola penangulangan bencana alam di daerahnya. 76 Padahal anggaran untuk kebutuhan penanggulangan bencana memerlukan alokasi dana besar.00 . Proses tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi kerentanan bencana alam baik pra bencana. Anggaran kebencanaan yang habis untuk kegiatan penanggulangan pra bencan dengan indikasi-indikasi adanya sebuah belanja kebencanaan yang kurang representatif yaitu habis untuk belanja dan honorarium pegawai. 76 Lihat dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka. karena lebih banyak pengeluaran pada belanja pegawai dan honorarium PNS.000. Tentunya proses anggaran tersebut menjadi tanda tanya besar. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai kapasitas dalam peningkatan keterampilan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana. padahal sistem penanggulangan bencana penganggaran untuk penanggulangan bencana mempunyai anggaran dengan nominal yang cukup besar. namun realita berkata lain justeru anggaran tersebut lebih banyak tersedot pada ha-hal yang kurang penting.575. saat bencana.2. seharusnya kegiatan tersebut bisa di optimalkan dengan anggaran yang begitu besar. 61. tahun anggaran 2010. Pemerintah daerah seakan hanya menjalankan kebijakan pemerintah pusat. formulir DPA SKPD 2.

Dengan relatif kecilnya pendapatan asli daerah (PAD). Politik anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai. Di hampir semua kabupaten. terutama DAU untuk daerah miskin dan DBH untuk daerah yang kaya dengan sumber daya 149 .Sistem anggaran penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka mempunyai indikasi-indikasi adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaannya. dan provinsi. Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RAD. Anggaran yang dikeluarkan oleh BNPB. ternyata belanja aparatur lebih dominan daripada belanja publik. Konsekuensi dari politik anggaran ini adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar terhadap birokrasi. kota. maupun daerah justeru disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pola belanja APBD juga tidak jauh berbeda. Ketidakjelasan dan kurangnya transparansi dari pemakaian annggaran dana penanggulangan bencana pada tahun 2010 mengindikasikan adanya korupsi di tubuh lembaga. Transparansi pengelolaan anggaran seharusnya dipertanggungjawabkan kepada publik terhadap apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata. APBD Provinsi. mayoritas pemda amat bergantung pada dana transfer pusat ke daerah. Politik anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. atau pun bisa jadi adanya sebuah kongkalikong antar aktor yang terlibat. Seluruh lembaga dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlu didorong untuk mengingkatkan penerimaan dan melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Hak-hak masyarakat menjadi skala prioritas akan perlindungan dari bencana dan keberpihakan terhadap kesejahteraan terhadap korban.

alam. seperti gaji pegawai. Daerah otonom baru ini dinilai menimbulkan banyak masalah. yaitu keberpihakan atas korban. akan memberikan jaminan bagi korban dan keberlangsungan penanggulangan bencana. Di sisi lain. Akibatnya. 164 kabupaten baru. file:///F:/elitis/t666- 150 . Dari sisi APBD dapat dipastikan bahwa alokasi belanja akan banyak dialokasikan untuk belanja aparatur. dan pengawasan terhadap implementasi kebijakan anggaran yang dilakukan pemerintah daerah. dan semua yang berkaitan dengan menghidupkan mesin birokrasi baru di daerah . Pemerintah menyiapkan skenario berkewajiban kebijakan anggaran yang 77 bersifat ideologis. 77 Mudjarad Kuncoro. Politik Anggaran Pro Rakyat atau Birokrat. dan 34 kota baru. Alokasi anggaran daerah diarahkan untuk pengembangan penanggulangan bencana. Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan 205 daerah otonom baru meliputi 7 provinsi baru. Indonesia kini memiliki 33 provinsi. Adapun sistem peradilan menjamin penegakan hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka adalah bagaimana alokasi anggaran bencana yang dilaksanakan dapat berproses secara partisipatif yang melibatkan partisipasi rakyat dan bersifat responsif serta berpihak kepada hak dan kepentingan korban. 399 kabupaten dan 98 kota. Porsi terbesar penggunaan DAU lagi-lagi dihabiskan lebih dari 60-90% untuk belanja pegawai. DPRD konsisten melaksanakan fungsi legislasi. dengan demikian. anggaran. membangun gedung Pemda dan DPRD.

151 .politik.htm diakses pada tanggal 26 Juni 2011.anggaran-prorakyat-atau-birokrat.

Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. 3) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi beban poltitk karena terjadi proses hibrida murni “politisasi-birokrasi dan birokratisasi-politik”. Relasi kekuasaan dan adanya politisai anggaran dalam penanggulangan bencana dengan mencari keuntungan sosial. arah dan komitmen politik legislatif dan eksekutif daerah dalam pembuatan kebijakan publik dan kebijakan-kebijakan sektoral belum dapat dioperasionalkan secara efektif dengan melibatkan semua aktor. hal ini erat kaitannya dengan dukungan. sehingga sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana belum terwujud. 2) Peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka belum menunjukan sebuah kontribusi yang maksimal. karena belum adanya kejelasan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. dan ekonomi justru menimbulkan sebuah konflik secara vertikal maupun horizontal.1. 152 .BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5. politik. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan daerah dalam penanggulangan bencana (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009).

2. maka pemerintah daerah yang mempunyai peran vital dalam hal tersebut bersama stakeholder lain. diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara 153 . Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. Aspek kelembagaan ini sepatutnya juga didukung dengan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut. fungsi dan tanggung jawab perangkat-perangkat pemerintahan untuk secara komprehensif menangani bencana. menjadi kebutuhan saat ini untuk melakukan pengaturan wadah yang mencerminkan tatanan otoritas. Implikasi Menanggapi berbagai permasalahan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. yaitu: 1) Revitalisasi kelembagaan. juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah.5. dan masyarakat perlu duduk bersama dan merumuskan langkah-langkah konkrit. Mencermati hal tersebut maka peneliti merangkum beberapa implikasi dalam penelitian ini. Partisipasi aktif masyarakat sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. Dengan strategi yang tepat. 2) Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan.

nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. Dalam konteks demikian keberadaan lambang dan simbol-simbol politik menjadi sangat tidak relevan. mulai dari kebijakan.efektif. akan tetapi dilakukan secara alami. serta dunia usaha. Dalam kaitan ini. Hal ini dimaksudkan agar setiap kali terjadi bencana tidak dijadikan sebagai peristiwa dan obyek politik. humanis dan ikhlas. semua aspek penanggulangan bencana. 154 . 5) Perlunya regulasi yang mengatur keterlibatan para pihak khususnya partai politik dalam penanganan bencana. 4) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana hendaknya tidak menjadi beban politik. 3) Penanggulangan bencana tidak hanya sebagai tanggung jawab pemerintah semata tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). kelembagaan serta mekanisme harus membuka akses untuk peran serta masyarakat luas.