Artikel tentang Penyakit Malaria

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan. Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan. Dengan munculnya program pengendalian yang didasarkan pada penggunaan residu insektisida, penyebaran penyakit malaria telah dapat diatasi dengan cepat. Sejak tahun 1950, malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100 juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen diantaranya fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat, migrasi, sanitasi yang buruk, serta daerah yang terlalu padat, membantu memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim didaerah tersebut. Penyakit Malaria yang terjadi pada manusia Penyakit malaria memiliki 4 jenis, dan masing-masing disebabkan oleh spesies parasit yang berbeda. Gejala tiap-tiap jenis biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Jenis malaria paling ringan adalah malaria tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever ), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau, serta kematian. Malaria kuartana yang disebabkan oleh Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari. Jenis ke empat dan merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan, disebabkan oleh Plasmodium ovale yang mirip dengan malaria tertiana. Pada masa inkubasi malaria, protozoa tumbuh didalam sel hati; beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sejalan dengan perkembangan mereka, sehingga menyebabkan demam. Penanganan Sejak tahun 1638 malaria telah diatasi dengan getah dari batang pohon cinchona, yang lebih dikenal dengan nama kina, yang sebenarnya beracun dan menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah. Pada tahun 1930, ahli obat-obatan Jerman berhasil menemukan Atabrine ( quinacrine hydrocloride ) yang pada saat itu lebih efektif daripada quinine dan kadar racunnya lebih rendah. Sejak akhir perang dunia kedua, klorokuin dianggap lebih mampu menangkal dan menyembuhkan demam rimba secara total, juga lebih efektif dalam menekan jenis-jenis malaria dibandingkan dengan Atabrine atau quinine. Obat tersebut juga mengandung kadar racun paling rendah daripada obat-obatan lain yang terdahulu dan terbukti

Afrika dan Amerika Selatan. Mefloquine telah dibuktikan efektif terhadap strain malaria yang kebal terhadap klorokuin. plasmodium ovale dan plasmodium malariae. Beberapa vaksin yang dinilai memenuhi syarat kini tengah diuji coba klinis guna keamanan dan keefektifan dengan menggunakan sukarelawan. Parasit malaria pada siklus hidupnya. Para turis yang datang ke tempat yang dijangkiti oleh penyakit malaria yang tengah menyebar. Pada lambung nyamuk terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) . Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya. sementara ahli lainnya tengah berupaya untuk menemukan vaksin untuk penggunaan umum. muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia. kasus penyakit malaria juga mengalami peningkatan pada para turis dari Amerika dan Eropa Barat yang datang ke Asia dan Amerika Tengah dan juga diantara pengungsi-pengungsi dari daerah tersebut. Strain jenis ini ditemukan terutama di Vietnam. menggigit manusia sampai pecahnya sizon darah atau timbulnya gejala demam. fakta bahwa beberapa jenis nyamuk pembawa (anopheles) telah memiliki daya tahan terhadap insektisida seperti DDT telah mengakibatkan peningkatan jumlah kasus penyakit malaria di beberapa negara tropis. Saat ini para ahli masih tengah berusaha untuk menemukan vaksin untuk malaria. Proses penyebarannya adalah dimulai nyamuk malaria yang mengandung parasit malaria. mulai bentuk tropozoit muda sampai sison tua / matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merosoit. plasmodium vivax. dapat diberikan obat anti malaria seperti profilaksis (obat pencegah). malaria disebabkan oleh parasit malaria / Protozoa genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria ( anopeles ) betina ( WHO 1981 ) ditandai dengan deman.efektif tanpa perlu digunakan secara terus menerus. Namun obat tersebut saat ini tengah diselidiki apakah dapat menimbulkan efek samping yang merugikan. Obat-obat pencegah malaria seringkali tetap digunakan hingga beberapa minggu setelah kembali dari bepergian. Merosoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk (stadium sporogoni). Sebagai akibatnya. dan juga di semenanjung Malaysia. Namun baru-baru ini strain Plasmodium falciparum. membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati ( ekso-eritrositer ). Seiring dengan munculnya strain parasit yang kebal terhadap obat-obatan tersebut. Parasit malaria pada manusia yang menyebabkan Malaria adalah Plasmodium falciparum. Penyelidikan tengah dilakukan untuk menemukan sejumlah obat dengan bahan dasar artemisin. yang digunakan oleh ahli obatobatan Cina untuk menyembuhkan demam. sedangkan palsmodium ovale dan malariae pernah ditemukan di Sulawesi. Kina juga semakin kurang efektif terhadap strain plasmodium falciparum. baik sebagai pengobatan ataupun sebagai pencegahan. maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk kedalam darah dan jaringan hati. Bahan tersebut terbukti efektif terhadap Plasmodium falciparum namun masih sangat sulit untuk diperbanyak jumlahnya. Suatu kombinasi dari sulfadoxine dan pyrimethamine digunakan untuk pencegahan di daerahdaerah yang terjangkit malaria yang telah kebal terhadap klorokuin. Irian Jaya dan negara Timor Leste. Proses penyebaran ini akan berbeda dari setiap jenis parasit malaria yaitu antara 9 ? 40 hari ( WHO 1997 ) Siklus parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit malaria menggigit manusia.Parasit malaria yang terbanyak di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan plasmodium vivax atau campuran keduanya. Sementara Proguanil digunakan hanya sebagai pencegahan. organisme yang menyebabkan malaria tropika memperlihatkan adanya daya tahan terhadap klorokuin serta obat anti malaria sintetik lain. Setelah sel hati pecah akan keluar merozoit / kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit ( stadium eritrositer ).

dia mengalami kelelahan/stres. bentuk hipnosoit inilah yang menyebabkan malaria relapse. foto thoraks. Meskipun angka kematian malaria serebral mencapai 20 ? 50 %. Penatalaksanaan malaria berat secara garis besar mempunyai 3 komponen penting yaitu : Terapi spesifik dengan kemoterapi anti malaria. Malaria pada anak sebagian kecil dapat terjadi sekuele. uji fungsi ginjal dan lain-lain untuk mendukung/menyingkirkan diagnosis/komplikasi lain. Tindakan umum B.yang disebut zigot. Setelah ookista matang kemudian pecah. Falciparum dapat menyerang ke organ tubuh dan menimbulkan kerusakan seperti pada otak. apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah/sibuk/stres atau perobahan iklim (musim hujan). Pada penderita malaria berat. Malariae tidak merusak organ tersebut. Pada daerah hiperendemis atau immunitas tinggi apabila dilakukan pemeriksaan SD sering dijumpai SD positif tanpa gejala klinis pada lebih dari 60 % jumlah penduduk. Pada penderita yang mengandung hipnosoit. PENATALAKSANAAN MALARIA BERAT Selalu lakukan pemeriksaan secara legaartis. ginjal. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali. yang tdd : Anamnesis secara lengkap (allo dan/ auto anamnesis bila memungkinkan) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan laboratorium : parasitologi. Vivax/Ovale dan sembuh setelah diobati. paru. P. P. sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati disebut Hipnosoit (lihat bagan siklus). Ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati (sizon jaringan). hampir semua penderita yang tertolong tidak menunjukkan gejala sisa neurologis (sekuele) pada orang dewasa. Pemberian anti malaria pra rujukan : dosis I Kinin antipirin 10 mg/KgBB IM (dosis tunggal) A. Pada P. maka gejala malaria muncul kembali dan bila diperiksa SD-nya akan positif P. kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. peristiwa ini yang disebut sekuestrasi. darah tepi lengkap. yang mengakibatkan terjadinya malaria berat/komplikasi. Vivax/Ovale. Vivax dan P. maka tindakan yang dilakukan di puskesmas sebelum dirujuk adalah : A. uji fungsi hati. suatu saat dia pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk malaria. sedangkan P. dan lain-lain. Tindakan umum ( di tingkat Puskesmas ) : Persiapkan penderita malaria berat untuk dirujuk ke rumah sakit/fasilitas pelayanan yang lebih tinggi. Misalnya 1 ? 2 tahun yang sebelumnya pernah menderita P. maka hipnosoit akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel hati ke eritrosit. misal :: punksi lumbal. hati dan jantung. dengan cara : . maka keluar sporozoit dan masuk ke kelenjar liur nyamuk yang siap untuk ditularkan ke dalam tubuh manusia. Terapi supportif (termasuk perawatan umum dan pengobatan simptomatik) Pengobatan terhadap komplikasi Pada setiap penderita malaria berat. Zigot akan berubah menjadi ookinet. Khusus P. Vivax. Pengobatan simptomatik C. Ovale dan P. falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua di dalam otak. sering tidak ditemukan plasmodium dalam darah tepi karena telah mengalami sekuestrasi.

karena dapat menyebabkan kadar dalam plasma sangat tinggi dengan akibat toksisitas pada jantung dan kematian. diulang dengan cairan yang sama setiap 8 jam sampai penderita dapat minum obat. Pemberian obat anti malaria spesifik : Kina intra vena (injeksi) masih merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk malaria berat. Bila penderita sudah dapat minum. dan lain-lain yang dianggap perlu (misal : bila keluarga penderita menolak untuk dirujuk maka harus menandatangani surat pernyataan yang disediakan untuk itu). tindakan & pengobatan yang telah diberikan. Penilaian sesuai kriteria diagnostik mikroskopik. bila diperlukan beri oksigen (O2) Perbaiki keadaan umum penderita (beri cairan dan perawatan umum) Monitoring tanda-tanda vital antara lain : keadaan umum. Bila hipotensi. Catatan vital sign disatukan kedalam status penderita. kesadaran. beri antikonvulsan : Dewasa : Diazepam 5-10 mg IV (secara perlahan jangan lebih dari 5 mg/menit) ulang 15 menit kemudian bila masih kejang.Jaga jalan nafas dan mulut untuk menghindari terjadinya asfiksia. diagnosis banding. Bila karena berbagai alasan Kina tidak dapat diberikan melalui infus. warna kulit dan suhu. Jangan diberikan lebih dari 100 mg/24 jam. Bila kejang. tidurkan dalam posisi Trendenlenburg dan diawasi terus tensi. rencana tindakan/pengobatan. beri setiap 4 jam dan lakukan juga kompres hangat. Cara pemberian : Kina HCL 25 % (perdrip). dan nadi setiap 30 menit (selalu dicatat untuk mengetahui perkembangannya) Untuk konfirmasi diagnosis. Bila tidak tersedia Diazepam. pemeriksaan laboratorium (bila tersedia). laporkan ke dokter segera. Bila memungkinkan untuk pemakaian IM. sebagai alternatif dapat dipakai Phenobarbital 100 mg IM/x (dewasa) diberikan 2 x sehari. Kasus dirujuk ke rumah sakit bila kondisi memburuk Buat / isi status penderita yang berisi catatan mengenai : identitas penderita. tekanan darah. Pemberian anti malaria pra rujukan (di puskesmas) : apabila tidak memungkinkan pemberian kina perdrip maka dapat diberikan dosis I Kinin antipirin 10 mg/KgBB IM (dosis tunggal). suhu. riwayat perjalanan penyakit. lakukan pemeriksaan SD tebal. C. dosis 10mg/Kg BB atau 1 ampul (isi 2 ml = 500 mg) dilarutkan dalam 500 ml dextrose 5 % atau dextrose in saline diberikan selama 8 jam dengan kecepatan konstan 2 ml/menit. pemeriksaan fisik. kina . B. diagnosis kerja. pemberian 3 x sehari (dengan total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian infus perdrip yang pertama). Pengobatan simptomatik : Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermia : parasetamol 15 mg/KgBB/x. 1 ampul berisi 500 mg / 2 ml. Kina IV diganti dengan Kina tablet / per oral dengan dosis 10 mg/Kg BB/ x dosis. Kemasan garam Kina HCL 25 % injeksi. pernafasan. Catatan : Kina tidak boleh diberikan secara bolus intra vena. riwayat penyakit dahulu. maka dapat diberikan IM dengan dosis yang sama pada paha bagian depan masing-masing 1/2 dosis pada setiap paha (jangan diberikan pada bokong).

Tanda-tanda neurologis fokal kadang-kadang ada. Manifestasi neurologis ( 1 atau beberapa manifestasi ) berikut ini bisa ada : Ensefalopathy difus simetris. Cairan serebrospinal (LCS) jernih. suatu perubahan sensorium yaitu manifestasi abnormal behaviour/kelakuan abnormal pada seorang penderita dari mulai yang paling ringan sampai koma yang dalam. protein sering naik ringan. Di derah endemik malaria. Bila penyebab ketidaksadaran masih ragu-ragu. Refleks tendon bervariasi. Total dosis kina yang diperlukan : Hari 0 : 30 mg/Kg BB Hari I : 30 mg/Kg BB Hari II dan berikutnya : 15-20 mg/Kg BB. maka penanganannya : lanjutkan penatalaksanaan sesuai protap umum Rumah Sakit (seperti telah diuraikan diatas). maka penyebab ensefalopahty lain yang lazim ditempat itu.1/2 nya dan lakukan pemeriksaan parasitologi serta evaluasi klinik harus dilakukan. mengantuk. Kekakuan leher ringan kadang ada. Manifestasi okular : pandangan divergen (dysconjugate gaze) dan konvergensi spasme sering terjadi. seperti meningoensefalitis viral atau bakterial harus disingkirkan. Perdarahan sub konjunctive dan retina serta papil udem kadang terlihat.000 mg/hari. Rahang mengatup rapat dan gigi kretekan (seperti mengasah). Bila tidak memungkinkan dirujuk. Hindari sikap badan tegak pada pasien akut selama terapi kina untuk menghindari hipotensi postural berat.diencerkan dengan normal saline untuk mendapatkan konsentrasi 60-100 mg/ml Apabila tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian 48 jam kina parenteral. Kernigs (+) dan photofobia jarang ada. stupor. Tetapi tanda Frank (Frank sign) meningitis. Terdapat plantar fleksi atau plantar ekstensi. Pengobatan supportif/penunjang (termasuk perawatan umum dan pengobatan simptomatik) Ditambah pengobatan terhadap komplikasi. sementara menyingkirkan meningoensefalitis yang biasa terjadi di . Untuk itu adanya meningitis harus disingkirkan dengan pemeriksaan punksi lumbal (LP). Malaria cerebral Didefinisikan sebagai unrousable coma pada malaria falsiparum. Mulut mencebil (pouting) atau timbul refleks mencebil bila sisi mulut dipukul. yaitu : Pengobatan spesifik dengan obat anti malaria. Dosis maksimum dewasa : 2. Tetapi ketidak sadaran post iktal jarang menetap setelah lebih dari 30-60 menit. PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI 1. Terbanyak bentuk yang berat. Onset koma dapat bertahap setelah stadium inisial konfusi atau mendadak setelah serangan pertama. Diantaranya berbagai tingkatan penurunan kesadaran berupa delirium. Tonus otot dapat meningkat atau turun. dan ketidak sadaran dengan respon motorik terhadap rangsang sakit yang dapat diobservasi/dinilai. dengan < 10 lekosit/ml. Kejang umum atau fokal. Motorik abnormal seperti deserebrasi rigidity dan dekortikasi rigidity. maka dosis maintenans kina diturunkan 1/3 . semua kasus demam dengan perubahan sensorium harus diobati sebagai serebral malaria.

Gula darah setiap 4 jam. Cara pemberian anti piretik dan antikonvulsan seperti sudah dijelaskan diatas. Hati-hati terhadap kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia. Deteksi dini & pengobatan komplikasi berat lainnya. Pasang IVFD. Untuk mencegah terjadinya trombophlebitis dan infeksi yang sering terjadi melalui IV-line maka IV-line sebaiknya diganti setiap 2-3 hari. C=Circulation) + D=Drug [defibrilasi]. Pasang nasogastric tube (maag slang) dan sedot isi lambung untuk mencegah aspirasi pneumonia. beberapa hal penting perlu diperhatikan : Perawatan pasien tidak sadar. Parameter lain sesuai indikasi ( misal : ureum. Disamping pemberian obat anti malaria spesifik. Airway ( jalan nafas ) : Jaga jalan nafas agar selalu bersih/tanpa hambatan. Ubah/balik posisi lateral secara teratur untuk mencegah luka dekubitus dan hypostatic pneumonia. nadi dan pernafasan secara akurat. Menjaga kebersihan mulut untuk mencegah infeksi kelenjar parotis karena kebersihan rongga mulut yang rendah pada pasien tidak sadar. nadi. dengan cara : . Perawatan pasien tidak sadar meliputi : Buat grafik suhu. creatinin & kalium darah pada komplikasi gagal ginjal ). Prinsip penatalaksanaan : Penatalaksanaan malaria serebral pada umumnya sama seperti pada malaria berat. suhu dan pernafasan setiap 30 menit. manitol) ? Dextran berat molekul rendah ? Epinephrine (adrenalin) ? Heparin. B=Breathing. Hitung parasit setiap 12-24 jam. Hal-hal yang perlu dimonitor : Tensi. yaitu : ? Dexamethason dan Kotikosteroid lainnya ? Obat anti inflamasi yang lain ? Anti udem serebral (urea. Pengobatan simptomatik : pengobatan hiperpireksia dan pengobatan yang cepat bila ada kejang. Pasang kateter urethra dengan drainase/ kantong tertutup. Mata dilindungi dengan pelindung mata untuk menghindari ulkus kornea yang dapat terjadi karena tidak adanya refleks mengedip pada pasien tidak sadar. Pemasangan kateter dengan memperhatikan kaidah a/antisepsis. Penatalaksanaan pasien koma Selalu memakai prinsip ABC ( A=Airway.tempat itu. Hb & Ht setiap hari. Pemeriksaan derajat kesadaran dengan modifikasi Glasgow coma scale (GCS) setiap 6 jam. Hati-hati terhadap terjadinya infeksi bakteri terutama pada pasien-pasien dengan pemasangan IV-line. intubasi endotracheal atau kateter saluran kemih. Pemeriksaan derajat kesadaran (modifikasi Glasgow coma score) Obat-obat berikut dahulu pernah dipakai untuk pengobatan malaria serebral tetapi menurut WHO sekarang tidak boleh dipakai karena berbahaya.

JVP. Breathing (pernafasan) : Bila takipnoe. hipotensi. Penyebab lain diduga karena terjadi peningkatan uptake glukosa oleh parasit malaria. Bila volume urin <> 90 ml/jam. nyeri ulu hati. Anemia berat ( Hb < 5 gr % ) Bila Ht < 15 % atau Hb < 5 g %. Kolaps sirkulasi. Berikan 10 ? 100 ml Glukosa 40 % IV secara injeksi bolus (anak-anak : 1 ml/Kg BB) b. Pasien dengan gagal ginjal hanya diberikan PRC. 4. suhu 38-40 oC. dengan memonitor kemungkinan terjadinya overload karena pemberian transfusi darah dapat memperberat kerja jantung. . ibu hamil sebelum atau sesudah pemberian terapi kina (kina menyebabkan hiperinsulinemia). 2.Bersihkan jalan nafas dari saliva. c. Infus glukosa 5 % atau 10 % perlahan-lahan untuk mencegah hipoglikemia berulang. ?Algid malaria? dan septikaemia Sering terlihat pada pasien-pasien dengan : Dehidrasi dengan hipovolemia (akibat muntah-muntah dan intake cairan kurang) Pasien dengan diare dan peripheral circulatory failure (algid malaria) Perdarahan masif GI tract Mengikuti ruptur limpa Dengan komplikasi septikaemia gram negative Kolaps sirkulasi lebih lanjut berakibat komplikasi asidosis metabolik. maupun penderita malaria berat lain dengan terapi kina. Bila sarana pemeriksaan gula darah tidak tersedia. mata cekung. Bila fungsi ginjal baik. dll. konstriksi vena perifer. muntahan. dan rujuk ke ICU. Hypoglikemia (Gula darah < 40 mg %) Sering terjadi pada penderita malaria berat terutama anak usia < 3 tahun. Circulation (kardiovaskular) : Periksa dan catat : Nadi. nafas cepat. Untuk mencegah overload. Pemasangan kateter urethra dengan drainage/bag tertutup untuk mengukur volume urin. dengan jalan : posisi lateral dan pemasangan NGT untuk menyedot isi lambung. dll Pasien posisi lateral Tempat tidur datar/tanpa bantal. tindakan : Berikan transfusi darah 10 ? 20 ml/kgBB [rumus: tiap 4 ml/kg BB darah akan menaikkan Hb 1 g%] paling baik darah segar atau PRC. Jaga keseimbangan cairan : lakukan monitoring balans cairan dengan mencatat intake dan output cairan secara akurat. Normal volume urin : 1 ml/menit [1 ml/kg BB/jam]. Volume transfusi dimasukkan sebagai input dalam catatan balans cairan. 3. dapat disertai mual/muntah. Monitoring teratur kadar gula darah setiap 4-6 jam. Gejala : hipotensi dengan tekanan sistolik < 70 mm Hg pada orang dewasa dan < 50 mm Hg pada anak-anak. CVP (bila memungkinkan). dapat diberikan furosemide 20 mg IV. pengobatan sebaiknya diberikan berdasarkan kecurigaan klinis adanya hipoglikemia. kurangi intake cairan untuk mencegah overload yang mengakibatkan udem paru. respiratory distress dan gangguan fungsi / kerusakan jaringan. cianosis pada bibir dan kuku. Gejala khas : kulit dingin. Tindakan : a. misal : O2. tensi. diare berat. turgor kulit. nadi cepat dan dangkal. syok hipovolume. pernafasan asidosis : berikan penunjang ventilasi . Mencegah aspirasi cairan lambung masuk ke saluran pernafasan. adanya dehidrasi atau overhidrasi dapat juga diketahui dari volume urin.

kemungkinan kontraktilitas miokard yang jelek ? diperbaiki dengan pemberian Dobutamin. haemacell atau bila tidak tersedia dengan dextran 70) dalam waktu 1/2 . ringer laktat. plasma expander (darah segar. monitor dengan CVP ( tekanan dipelihara antara 0 s/d +5 cm) Bila terjadi hipovolemia menetap.Tindakan : Koreksi hipovolemia dengan pemberian cairan yang tepat (NaCL 0. dextrose 5 % in saline). Bila hipovolemia sudah teratasi tapi TD belum naik. Buat kultur darah dan resistensi test. dengan dosis sampai 20 µg/kg BB/m] dosis dinaikkan secara hati-hati sampai tekanan sistolik mencapai 80-90 mm Hg. monitoring dan pencatatan balas cairan secara akurat sangat membantu agar tidak terjadi overhidrasi. [pada hipovolemia kontra indikasi untuk pemberian inotropik karena tidak akan menaikkan TD malah menimbulkan takikardi yang justru akan merugikan.1 jam pertama 500 ml. misal : generasi ketiga sefalosporin bila tersedia. Bila memungkinkan. Periksa kadar gula darah untuk menyingkirkan kemungkinan hipoglokemia. . diberikan Dopamin dengan dosis inisial 2 ug/Kg/menit yang dilarutkan dalam dextrose 5 %. Mulai segera pemberian antibiotik broad spektrum. beri 1000 ml. plasma. yang dapat dikombinasi dengan aminoglikosida bila fungsi renal sudah dipastikan baik (periksa juga ureum & kreatinin darah) Apabila CVP tidak mungkin dilakukan.9 %. bukan Dopamin. tetes diperlambat dan diulang bila dianggap perlu. bila tidak ada perbaikan tensi dan tidak ada overhidrasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful