P. 1
Silsilah 25 Nabi

Silsilah 25 Nabi

|Views: 1,921|Likes:
Published by bariahfitriani483

More info:

Published by: bariahfitriani483 on Jan 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

text

original

Sections

Kisah Para Nabi dan Rasul dalam Al-Quran

DAFTAR ISI

» Pendahuluan

» Ibrahim, Bapak Para Nabi

» Adzab menimpa Penduduk Babylon

» Pembangunan Ka'bah

» Pembangunan Masjidil Aqsha

» Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur'an

» Referensi

» Kisah Nabi Ibrahim

¤ Nabi Ibrahim mencari Tuhan

¤ Melihat tanda Kekuasaan Allah

¤ Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayahnya

¤ Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala

¤ Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Pendahuluan

Nama

Ibrahim bin Azar

Garis Keturunan

Adam as Syits Anusy Qainan Mahlail Yarid Idris as

Mutawasylah Lamak Nuh as Sam Arfakhsyadz Syalih Abir

Falij Ra'u Saruj Nahur Azar Ibrahim as

Usia

175 tahun

Periode sejarah

1997 - 1822 SM

Tempat diutus (lokasi) Ur di daerah selatan Babylon (Irak)

Jumlah keturunannya

(anak)

13 anak

Tempat wafat

Al-Khalid (Hebron, Palestina/Israel)

Sebutan kaumnya

Bangsa Kaldan

di Al-Quran namanya

disebutkan sebanyak 69 kali

Ibrahim (tahun 1997 SM s/d 1822 SM) merupakan nabi dalam agama Samawi, dan sering

disebut sebagai "bapak para nabi". Ia mendapat gelar Khalil Allah atau Sahabat Allah. Selain itu

beliau bersama anaknya, Nabi Ismail terkenal sebagai pengasas Kaabah.

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Nabi Ibrahim al-Khalil dilahirkan di Ur, daerah bagian selatan Irak. Beliau lahir di kalangan

masyarakat penyembah berhala. Mereka membuat patung pada zaman Raja Namrud bin Kan'an.

Ayahnya, Azar adalah seorang yang cukup pandai dalam membuat berhala yang menyesatkan

ini. Dia lalu memerintahkan Ibrahim untuk menjualnya ke pasar. Ibrahim pun membawanya dan

berteriak di pasar, "Siapa yang mau membeli benda berbahaya dan tidak bermanfaat ini?!"

Ketika Ibrahim beranjak dewasa, beliau mengingkari perlakuan kaumnya yang menyembah

berhala-berhala itu. Hal ini terekam dalan firman Allah, "Sungguh, sebelum dia (Musa dan

Harun) telah kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia," (QS. Al-

Anbiya' [21]: 51).

Dalam benaknya, terlintas beragam pertanyaan dan penalaran tentang kaumnya. Mereka hidup

dalam kelalaian dan kesesatan karena keyakinan yang rusak terhadap berhala, patung, dan

bintang. Allah berfirman, "(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, 'Pantaskah

engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan

kaummu dalam kesesatan yang nyata," (QS. Al-An'am [6]: 74).

Setelah Ibrahim bersenjatakan kebenaran dan logika ketika Allah menjadikan beberapa sebab itu

untuknya, pertengkaran pun terjadi antara Ibrahim dan orang-orang kafir serta orang-orang yang

sesat.

Beliau pun mengingatkan ayahnya dengan sangat bijaksana dan penuh nasihat. Akan tetapi, sang

ayah bersikeras berada dalam kesesatan dan kebodohannya. Nabi Ibrahim tetap mengajal

kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan menghancurkan berhala.

Berita tentang beliau lalu tersebar ke seluruh penduduk Babylon hingga Raja Namrud

mengajaknya berdebat. Mereka berdua pun bertemu. Nabi Ibrahim melancarkan berbagai

argumen dan dalil-dalil sehingga dapat mematahkan semangat lawannya. Ini tercatat dalam

firman Allah, "Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada

orang-orang zhalim," (QS. Al-Baqarah [2]: 258).

Pada suatu hari, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang ada dan meninggalkan salah

satunya (yang paling besar) karena ada tujuan tertentu. Ketika orang-orang berdatangan ke

tempat tersebut, mereka menemukan semuanya hancur berantakan, mereka pun marah, dendam,

dan berjanji akan memberikan hukuman yang sangat berat kepada orang yang telah

melakukannya. Setelah berusaha mencari pelakunya, mereka mengetahui bahwa Ibrahim bin

Azar yang melakukannya. Setelah itu, mereka pun menyidangnya. Di dalam firman Allah

disebutkan, "Mereka bertanya, 'Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-

tuhan kami, wahai Ibrahim?' Dia (Ibrahim) menjawab, 'Sebenarnya (patung) besar itu yang

melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara. 'Maka mereka

kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, 'Sesungguhnya kalianlah yang menzalimi (diri

sendiri)," (QS. Al-Anbiya' [21]: 62-64).

Semuanya terdiam setelah mendapat tamparan keras dari hujjah Nabi Ibrahim tersebut. Bagi

mereka, tidak ada cara lain kecuali membakarnya setelah beliau membuat mereka berada dalam

kebuntuan yang paling buruk.

"Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar

hendak berbuat. 'Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api, jadilah kami dingin, dan penyelamat bagi

Ibrahim. 'Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka

itu orang-orang yang paling rugi," (QS. Al-Anbiya' [21]: 68-70).

Disinilah, Ibrahim dengan kecemerlangan pikirannya memandang perlu untuk berhijrah

membawa kemurnian agamanya. Beliaupun berhijrah bersama istrinya (Sarah) dan

keponakannya (Luth) ke tempat yang sangat diberkahi Allah untuk seluruh alam. Allah

berfirman, "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata,

'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah

Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana," (QS. Al-Ankabut [29]:26).

Adzab yang menimpa Penduduk Babylon setelah Nabi Ibrahim berhijrah

Dr. Jamal Abdul Hadi menyebutkan dalam kitabnya, Jazirah al-'Arab bahwa naskah-naskah

Sumeria kuno telah diungkap melalui gubahan seorang penyair Sumeria. Naskah tersebut

menceritakan tentang berakhirnya kota Ur (Babylon) yang diperintah Raja Namrud pada

pertengahan abad ke-20 SM, yaitu saat kepergian Nabi Ibrahim beserta keponakannya Luth. Ur,

kota tempat kelahiran Nabi Ibrahim itu mengalami dua kekalahan telak dari bangsa Ailam dan

Amorite. Allah berfirman, "Demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang zhalim

berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan," (QS. Al-An'am [6]:

129).

Penyair itu mengungkapkan, "Kuda jantan terpisah dari habitatnya. Kawanannya pun tercerai

berai bersama angin." Dia juga menyebutkan sejumlah nama-nama kota besar Sumeria, lalu

mengisahkan akhir kematian kota tersebut. Kemudian, dia menjelaskan ketetapan langit tentang

kehancuran kota itu, pertumpahan darah penduduknya, isak yang berkepanjangan, bangkai

manusia yang berserakan karena tertembus tombak atau hantaman peluru batu. Demikianlah

yang terjadi, hingga sengatan matahari melunturkan lemak-lemak mereka. Mereka yang selamat

menjadi hina dan kelaparan. Sang ibu kehilangan anaknya. Sang ayah meninggalkan darah

dagingnya. Para istri berpisah dari suaminya. Mahabenar Allah yang berfirman, "Betapa banyak

(penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Rabb mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami

buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami adzab

mereka dengan adzab yang mengerikan (di akhirat). Sehingga mereka merasakan akibat yang

buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar. Allah

menyediakan adzab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-

orang yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah

menurunkan peringatan kepada kalian," (QS.Ath-Thalaq [65]: 8-10).

Pembangunan Ka'bah

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa Nabi Adam adalah orang pertama yang

membangun Baitul Atiq. Sementara itu, Nabi Ibrahim yang membangun kembali Baitul Atiq

dengan mengangkat fondasinya bersama Ismail setelah peristiwa banjir besar.

Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka yang masih menyusu, Ismail, berjalan ke suatu

tempat yang diperintahkan Allah. Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang

tandus. Hal itu dilakukan setelah beliau menunaikan kewajiban dan mensyukuri semua nikmat

Allah. Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) di Palestina dengan meninggalkan

Hajar dan anaknya di lembah tersebut. Dengan bertawakal, berharap Allah melindungi anak dan

istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang tertuang dalam firman Allah, "Ya Rabb, sesungguhnya aku

telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di

dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, (yang demikian itu) agar mereka

mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan

berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur," (QS. Ibrahim

[14]: 37).

Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya berada hingga mereka sangat kehausan.

Hajar segera mencari air dari sumber yang ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwa

sebanyak tujuh kali, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saat dia kembali menemui Ismail, dia

melihat percikan air dari bawah tungkai kaki anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara

Jibril.

Abu Syuhbah berkata dalam bukunya, "Jibril turun menyerupai seekor burung. Dia lalu

mengepakkan sayapnya ke bumi, ada juga yang berpendapat dengan tungkainya, maka

keluarlah air Zamzam. Karena sangat senangnya, Hajar lalu mengumpulkan tanah untuk

membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami zami ('Berkumpullah, berkumpullah').' Dia dan

bayinya pun lantas minum hingga dahaga mereka hilang dan tidak merasakan haus lagi setelah

itu. Pada saat demikian, Hajar mendengar suara yang berkata, 'Janganlah kamu takut terlantar.

Sebab, di sini akan ada Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh,

Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya.'"

Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Jurhum yang merantau dari Yaman. Mereka tinggal di

dekat tempat yang kemudian menjadi kota Mekah dan minta izin kepada Hajar agar

diperbolehkan tinggal di sana. Hajar senang dan tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang

itu. Mereka bermukim di sana dan membangun tempat tinggal. Ketika Ismail beranjak dewasa,

dia mampu berbahasa Arab sehingga menjadi leluhur orang-orang Arab Musta'rabah

(pendatang). Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Syuhbah di dalam kitabnya.

Al-Azraqi berkata dalam Tarikh Makkah, "Setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka'bah dulu

telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau oleh

aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada tempat yang amat bernilai, tanpa

mengetahui pasti lokasinya. Dari seluruh penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan

butuh perlindungan datang ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan.

Manusia pun selalu mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun

Ka'bah kembali. Sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang

dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi ke generasi

lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi."

Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi keluarganya. Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih

putranya, Ismail. Ismail pun memenuhi perintah itu, Namun, Allah menggantikannya dengan

seekor sembelihan yang besar seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tatkala anak itu sampai

(pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya

aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! ' Dia

(Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya

Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. 'Maka ketika keduanya telah

berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan

perintah Allah), lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau membenarkan mimpi

itu. 'Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor

sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang

yang datang kemudian, 'Selamat sejahtera bagi Ibrahim. 'Demikianlah Kami memberi balasan

kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang

beriman," (QS. As-Shaffat [37]: 102-111).

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat

itu, Ibrahim melihat Ismail tengah meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka

pun saling bersalaman dan berpelukan. Nabi Ibrahim berkata, "Allah memerintahlan aku agar

membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan

membantu ayah dalam urusan agung ini."

Nabi Ibrahim pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan Ismail menyodorkan batu untuknya.

Ibrahim berkata pada Ismail, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan meletakkannya di

salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia."Jibril lalu memberi tahu Ismail tentang

Hajar Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari surga. Ismail pun menyodorkannya dan Ibrahim

meletakan pada tempatnya. Selama membangun, mereka berdua senantias berdoa, "Ya Rabb

kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha

Mengetahui,"(QS. Al-Baqarah [2]: 127).

Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim tidak mampu lagi mengangkat bebatuan.

Dia lantas berdiri di atas sebuah batu, yang kemudian disebut maqam Ibrahim, hingga

sempurnanya pembangunan Baitullah. Allah kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat

manusia agar melaksanakan ibadah haji. Allah berfirman, "Serulah manusia untuk mengerjakan

haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap

unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan

berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari

yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak.

Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang

yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di

badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di sekeliling

rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj [22]: 27-29).

Pembangunan Masjidil Aqsha

Palestina merupakan daerah Arab sejak lebih dari 5000 tahun lalu ketika bangsa-bangsa Semit

bermigrasi ke wilayah tersebut. Bangsa Kan'an bermukim di sana dan kemudian menjadi dua

kelompok besar. Kelompok pertama mendiami daerah Syam selat (Palestina dan Yordania

Timur) dan mereka disebuty bangsa Kan'an). Sementara itu, kelompok kedua tinggal di daerah

pantai Syam di antara Gunung Amanos dan Gunung Karmel. Mereka lalu disebut sebagai bangsa

Kan'an Laut atau bangsa Fenisia.

Bangsa Kan'an memiliki kerajaan-kerajaan yang unggul dalam bidang pertanian dan

perdagangan. Pada saat mereka yang berdomisili di wilayah Palestina ini mulai membangun

peradaban sejarah mereka di sana, Nabi Ibrahim dan keponakannya, Nabi Luth berhijrah ke sana,

seperti yang telah kami sebutkan tentang dakwah beliau pada bab sebelumnya. Hal ini juga

sesuai dengan firman Allah, "Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang

telah Kami berkahi untuk seluruh alam," (QS. Al-Anbiya' [21]: 71).

Masjidil Adsha yang diklaim Zionis Yahudi sebagai tanah dan sejarah mereka secara dusta

adalah nama tempat suci umat Islam di bumi Palestina. Masjidil Aqsha adalah masjid kuno yang

telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim hingga masa Nabi Muhammad. Di dalam as-Shahihain

disebutkan satu hadits riwayat Abu Dzar al-Ghifari yang pernah bertanya, "wahai Rasulullah,

masjid manakah yang pertama dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, "Masjidil Haram."

Dia bertanya lagi, "Lalu?" Beliau menjawab, "Masjidil Aqsha." "Berapa lama jarak

(pembangunan) keduanya?" tanya Abu Dzar lagi. Beliau menjawab, "Empat puluh tahun."

Menurut para cendekiawan, Masjidi Aqsha lebih luas cakupannya daripada sekadar bangunan

yang memiliki nama tersebut. Menurut syariat, semua bangunan yang berada di dalam pagar

besar yang memiliki beberapa pintu itu termasuk masjid. Ke lokasi masjid inilah disunahkan

bepergian dan di sanalah digandakan pahala shalat. Masjid ash-Shakhrah (Masjid Kubah Batu

[Dome of The Rock]) juga termasuk di dalamnya. Batu tersebut memiliki sejarah leluhur. Orang

pertama yang shalat di sana adalah Nabi Adam. Nabi Ibrahim menjadikan tempat itu sebagai

tempat ibadah dan tempat sembelihan. Allah menyifati Nabi Ibrahim ini di dalam firman-Nya,

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah

seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik," (QS. Ali 'Iran

[3]: 67).

Di tempat itu pula, Nabi Ya'qub membangun masjidnya setelah melihat tiang dari cahaya di

atasnya. Di sanalah Nabi Yusya' mendirikan kubah zaman atau kemah tempat berkumpul yang

dibuat oleh Nabi Musa di bumi Tih (Sinai) sebagai tempat menerima wahyu. Di sana pula Nabi

Dawud membangun mihrabnya dan Nabi Sulaiman membangun masjid besar yang dinisbahkan

pada namanya sebagai tempat beribadah dan mengesakan Allah.

Batu itulah yang menjadi tempat berpijak Nabi Muhammad ketika beliau diperjalankan pada

malam mi'raj. Orang pertama yang membangun masjid di atasnya pada periode keislaman adalah

Khalifah Abdul Malik bin Marwan al-Umawi, Ibnu Taimiyah berkata, "Masjidil Aqsha telah

dibangun pada zaman Nabi Ibrahim dan direnovasi megah oleh Nabi Sulaiman."

Kisah Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim adalah putera Aazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin

Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam

A'ram" dalam kerajaan Babilonia yang saat itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama

Namrudz bin Kan'aan. Sebelum itu tempat kelahirannya berada dalam keadaan kucar-kacir. Ini

adalah karena Raja Namrud mendapat petanda bahwa seorang bayi akan dilahirkan disana dan

bayi ini akan tumbuh dan merampas takhtanya. Antara sifat insan yang akan menentangnya ini

ialah dia akan membawa agama yang mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu

berhala. Insan ini juga akan menjadi penyebab Raja Namrud mati dengan cara yang dahsyat.

Oleh itu Raja Namrud telah mengarahkan semua bayi yang dilahirkan di tempat ini dibunuh,

manakala golongan lelaki dan wanita pula telah dipisahkan selama setahun.

Walaupun berada dalam keadaan cemas, kehendak Allah tetap terjadi. Isteri Aazar telah

mengandung namun tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti

telah tiba waktunya untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Raja Namrud yang

zalim pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu nabi Ibrahim telah

bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah gua yang berhampiran. Selepas itu, dia

memasuki batu-batu kecil dalam mulut bayinya itu dan meninggalkannya keseorangan.

Seminggu kemudian, dia bersama suaminya telah pulang ke gua tersebut dan terkejut melihat

nabi Ibrahim a.s masih hidup. Selama seminggu, bayi itu menghisap celah jarinya yang

mengandungi susu dan makanan lain yang berkhasiat. Semasa berusia 15 bulan tubuh Nabi

Ibrahim telah membesar dengan cepatnya seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua

ibubapanya berani membawanya pulang kerumah mereka.

Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang sebenarnya

Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme yaitu

menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan

salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama

penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil

nabi Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia berusaha

mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.

Dalam al-Quran Surah al-Anaam (ayat 76-78) menceritakan tentang pencariannya dengan

kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia

berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak

suka kepada yang terbenam hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan

cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia:

"Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku

dari kaum yang sesat". Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan

cahayanya), berkatalah dia: "Inikah Tuhanku? Ini lebih besar". Setelah matahari terbenam, dia

berkata pula: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu

sekutukan (Allah dengannya)". Inilah daya logika yang dianugerahi kepada beliau dalam

menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang

sebenarnya.

Melihat tanda Kekuasaan Allah

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung

buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak

bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan

patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli

patung-patung yang tidak berguna ini? "

Nabi Ibrahim yang sudah bertekad ingin memerangi kesyirikan dan penyembahan berhala yang

berlaku di dalam kaumnya ingin mempertebal iman dan keyakinannya lebih dulu, untuk

menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin mangganggu

pikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia

menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Ia memohon kepada Allah: "Ya

Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang

sudah mati." Allah menjawab permohonannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan

percaya kepada kekuasaan-Ku?." Nabi Ibrahim menjawab:"Betul, wahai Tuhanku, aku telah

beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu

dengan mata kepala-ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan hati dan agar

semakin tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor

burung, lalu setelah memperhatikan dan meneliti bagian-bagian tubuh burung itu, ia

memotongnya menjadi berkeping-keping, mencampur-baurkannya, dan kemudian tubuh burung

yang sudah hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di empat puncak bukit yang berbeda

dan berjauhan. Setelah dikerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah itu, diperintahkan-

Nya Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak tubuhnya dan terpisah jauh

setiap bagian tubuhnya itu.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan

utuh dan bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim

kepadanya. Lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan

mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali

makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada.

Dan dengan demikian tercapailah keinginan Nabi Ibrahim untuk menenteramkan hatinya dan

menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan

dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau

menentangnya, dan hanya kata "Kun Fayakun", maka terjadilah apa yang Dikehendaki-Nya.

Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya

Aazar, ayah Nabi Ibrahim sama sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah

berhala, ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan dariya

orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa

kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah

menyadarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan

persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau

merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya

agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang

Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang

tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia

diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan

dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut

gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya

padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat

mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah.

Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah

semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan

ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan

ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang

menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan

kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya

Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah

berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk

meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak

menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan

dalam maki namun seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi

Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan

persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan

agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.

Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan

usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari

rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap.

Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan

sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkata: "Wahai ayahku! Semoga engkau

selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu

dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka

dan malang dengan doaku untukmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya

dalam keadaan sedih karena gagal mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kafir.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyadarkan ayahnya yang tersesat itu sangat

menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam

jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu

adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt

hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan

ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun

mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi

penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan

kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-

Nya.

Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan

bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anuti dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata

bahwa apabila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-

dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan

kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa

mereka hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan nenek moyang mereka lakukan sejak turun-

temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka

warisi.

Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk berdebat dan bermujadalah

dengan kaumnya yang keras kepala dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti

nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa

mereka tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun

telah Nabi Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahwa mereka dan bapa-bapa mereka keliru

dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan

membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan

mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak

berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babilonia bahwa setiap tahun

mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat.

Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa

bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil

meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua

penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci

itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah

ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-

buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan." kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah

kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang

berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa

sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan

tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat

peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di

setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa kamu tidak makan makanan yang

lezat yang disajikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu." Kemudian

disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak

yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada

lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan

melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-

potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan

takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini

terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:"Ada

kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang

bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain

menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-

satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan

keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa

Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai

membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni

terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari

segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan

terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara

terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara

demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil

dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau

diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang

ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok

berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrudz yang akan mengadili ia disambut oleh

para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah

berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk. Ditanyalah Nabi

Ibrahim oleh Raja Namrud:"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan

tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung besar

yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada

patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Raja Namrudpun terdiam sejenak.

Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan

berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang

dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau

berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-

matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim

kepada Raja Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang

tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa

manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan

kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu!

Tidakkah dapat kamu berpikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah

perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah

Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di

atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan

kamu itu."

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Raja Namrud mencetuskan keputusan

bahwa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina

dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir

menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar

setia kepadanya."

Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-

hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara

pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi

tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya

dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar

sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah

dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai

sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan

orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi

barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang

hamil di kala ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk

upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah

orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu

dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya

berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu.

Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi

lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman

Allah:"Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang

menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan

keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api

dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang

terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan

seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya

yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak

sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah

kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang

ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan kepercayaan kepada

Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud sendiri iaitu Puteri Razia mula mempercayai

agama yang dibawa oleh beliau. Lalu Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahwa

tuhan nabi Ibrahim a.s. adalah tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan beliau

yang mengarahkan tenteranya untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun meluru ke arah api

yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku". Puteri Razia pun turut

terselamat dari terbakar dan dalam api yang membara itu kedengaran dia mengucap kalimah

syahadah. Tindakan derhaka puterinya menjadikan hati Raja Namrud semakin membara. Sebaik

sahaja puteri Razia keluar dari api tersebut beliau serta tenteranya telah mengejarnya kedalam

hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta adik tirinya Sarah, bapanya Azaar serta

anak saudaranya Nabi Luth untuk melarikan diri. Raja Namrud dan tenteranya puas mencari

Puteri Razia tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati

bahwa Nabi Ibrahim turut terlepas. Setelah peristiwa ini, Raja Namrud kian gelisah karena

rakyatnya mula hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk

membunuh Tuhan nabi Ibrahim.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan

kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian

penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak

daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak

kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir

akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para

pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa

pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.

Kisah Nabi Ibrahim di dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, nama Ibrahin as, disebutkan 69 kali yang tersebar di 25 surat, yaitu

pada QS. 2:124, 2:125, 2:126, 2:130, 2:131, 2:132, 2:135, 2:136, 2:140, 2:258, 2:260, 3:65, 3:67,

3:68, 3:84, 3:95, 3:97, 4:54, 4:125, 4:163, 6:74, 6:75, 6:76, 6:77, 6:78, 6:79, 6:80, 6:83, 6:161,

9:70, 9:114, 11:69, 11:70, 11:74, 11:75, 11:76, 12:6, 12:38, 14:35, 15:51, 16:120, 16:123, 19:41,

19:46, 19:58, 21:51, 21:60, 21:62, 21:69, 22:26, 22:43, 22:78, 26:69, 29:16, 29:31, 33:7, 37:83,

37:104, 37:109, 43:26, 51:24, 53:37, 57:26, 60:4, 78:19.

Pada Surat Al-Anbiyaa' [21] : ayat 51-56, Firman Allah SWT :

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa

dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata

kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat

kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim

berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".

Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu

termasuk orang-orang yang bermain-main?" Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah

Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat

memberikan bukti atas yang demikian itu". (QS. Al-Anbiyaa' [21] : ayat 51-56)

Pada Surat Al-Anbiyaa' [21] : ayat 57-64, Firman Allah SWT :

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah

kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-

potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali

(untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini

terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim." Mereka

berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama

Ibrahim ". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat

orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan

perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya

patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika

mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata:

"Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", (QS. Al-

Anbiyaa' [21] : ayat 57-64)

Pada Surat Al-Anbiyaa' [21] : ayat 65-72, Firman Allah SWT :

kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah

mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata: Maka

mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat

sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa

yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata:

"Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami

berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka

hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang

paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah

memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim)

lshak dan Yakub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami

jadikan orang-orang yang saleh. (QS. Al-Anbiyaa' [21] : ayat 65-72)

Pada Surat Al-An'aam [6] : ayat 74-78, Firman Allah SWT :

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu

menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan

kaummu dalam kesesatan yang nyata." Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim

tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami

memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat

sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia

berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit

dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya

jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih

besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku

berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi,

dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang

mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak

membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan

aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan

Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan

Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran

(daripadanya)?" Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan

(dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang

Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah

di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika

kamu mengetahui?. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka

dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah

orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'aam [6] : ayat 74-82)

Pada Surat Asy-Syu'araa' [26] : ayat 69-82, Firman Allah SWT :

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan

kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-

berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala

itu mendengar (do'a)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi

manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka menjawab: "(Bukan karena itu)

sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka

apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang

kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali

Tuhan Semesta Alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki

aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit,

Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan

aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".

(QS. Asy-Syu'araa' [26] : ayat 69-82)

Pada Surat Asy-Syu'araa' [26] : ayat 83-89, Firman Allah SWT :

(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam

golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang

(yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga

yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk

golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka

dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang

yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'araa' [26] : ayat 83-89)

Pada Surat Ibraahiim [14] : ayat 35-41, Firman Allah SWT :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri

yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya

Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia,

maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan

barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha

Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di

lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang

dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah

hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan,

mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa

yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang

tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi

Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya

Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do'a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku

dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah

do'aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang

mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibraahiim [14] : ayat 35-41)

Pada Surat Huud [11] : ayat 69-76, Firman Allah SWT :

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim

dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab:

"Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang

dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang

aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu

takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Dan

isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita

gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Yakub. Isterinya

berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah

seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata: "Apakah

kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya,

dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun

bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu

benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. Hai

Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan

sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. (QS. Huud [11] : ayat

69-76)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->