TEORI DEKONSTRUKSI DERRIDA

http://kuliahsosiologi.blogspot.com/2011/05/teori-dekonstruksi-derrida.html Membaca Derrida tentunya tidak bisa lepas dari konteks sejarah yang melatar belakanginya. Kita juga tidak bisa gegabah dalam memetakan konsep pemikiran Derrida. Sebelum saya memaparkan konsep-konsep Derrida tentang dekontruksi, intertekstualitas, trace dan logocentrisme tentunya saya harus memberikan penjelasan tentang para pemikir yang mempengaruhi Derrida. Dalam pergulatan pemikiran Derrida banyak dipengaruhi oleh fenomenologinya Hussrel dan Heidegger, psikoanalisisnya Freud dan genealogi moralnya Nietzstche. Derrida menggunakan bahasa yang seringkali memang susah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan ambigu. Tulisan seperti ini sepertinya sengaja digunakan Derrida supaya tidak terjebak pada logosentrisme. Hal ini banyak diakui oleh para reader Derrida. Barangkali saya juga salah dalam memberikan interpretasi tentang pemikiran Derrida. Tapi saya masih meyakini perkataan Derrida tentang author is dead. Dengan demikian ulisan-tulisan Derrida masih membuka peluang yang besar untuk dikoreksi kembali. Derrida tidak pernah menganggap tulisanya sebagai karya yang fixs. Dia masih memberikan ruang yang luas dalam meninjau ulang tulisanya. Untuk menjelaskan Derrida, saya berkepentingan untuk memberikan sedikit paparan tentang strukturalisme. Dengan membahas aliran ini, kiranya untuk membahas pemikiran Derrida bisa mudah untuk difahami. Lahirnya Strukturalisme Wacana esensialisme dirasa tidak mencukupi lagi untuk memahami suatu keutuhan masyarakat, khususnya ketika ia dihadapkan pada pengetahuan. Strukturalisme lahir dari pergeseran wacana tentang masyarakat dan pengetahuan. Ada yang dilupakan dalam wacana sebelumnya, terutama mengenai fenomena struktural yang pada hakikatnya terdapat dalam relasi perbedaan suatu masyarakat. Oleh karena itu sejarah ilmu bukan merupakan ungkapan pikiran, melainkan suatu konfigurasi epistemologis. Jadi, pada awalnya strukturalisme adalah sebuah gerakan intelektual yang mendasarkan diri pada usaha untuk memahami masyarakat sebagai sistem realitas yang menyeluruh yang ditekankan pada bangunan intelektualnya (Lechte, 2001: 15). Kelahiran strukturalisme mulai menemukan bentuknya sekitar era 50-an. F.M. de George dalam esainya “Charles Baudelaire’s ‘Les Chats’” (1972), sebagaimana yang dikutip Spivak, mengatakan bahwa kebangkitan strukturalisme berawal dari pertemuan Roman Jakobson, ahli linguistik dan salah seorang anggota Mazhab Formalisme Praha, dengan seorang antropolog Claude Lévi-Strauss di Amerika Serikat. Salah satu peristiwa yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan strukturalisme dengan mainstream metode interpretasinya (Spivak, 1976: 111). Secara umum strukturalisme adalah gerakan intelektual yang mengisolasikan struktur umum aktivitas manusia. Struktur adalah kesatuan beberapa unsur atau elemen yang terdapat dalam relasi yang sama pada “aktivitas” manusia. Kesatuan struktur tersebut

Lebih luas oposisi biner ini menjangkiti semua pengertian yang terkait. antropologi. antara dua terma yang diperlawankan. Para ahli linguistik sebelumnya melakukan pendekatan historis pada bahasa agar didapati nilai intrinsik dalam bahasa tersebut. Kemudian Saussure melanjutkan proyek strukturalisme pada penyelidikan linguistik. di antaranya: sinkroni/diakroni. karena struktur adalah subtansi dari hubungan antar elemen. melainkan pada konfigurasi bahasa yang mentolerir kekinian. tuturan (speech)/tulisan (writing). yang kemudian disebut oposisi biner. Saussure mencanangkan terma-terma yang berkaitan dengan struktur yang bertautan dengan masa kini. aktivitas/pasivitas. Saussure menentang anggapan sebelumnya yang menyatakan bahasa bersifat rasional ketika dihadapkan pada sejarah. Apa yang dilupakan para strukturalis adalah mereka lupa meletakkan “tanda silang” (sous rature) dan tidak mempersoalkan oposisi biner tersebut. Demikian halnya ketika pemaknaan bahasa hendak dicapai. linguistik. sistem bahasa (langue)/tindak bahasa (parole). bahwa bahasa harus ditinjau ulang agar linguistik memiliki landasan yang mantap. Para strukturalis mengasumsikan salah satu terma dianggap lebih superior dibanding terma lainnya. sejarah. Untuk mendapatkan totalitas tersebut harus dilakukan pendekatan bahasa dengan perspektif sinkronis. Karena dalam terma super tersebut dipercaya sebagai tempat persembunyian metafisika. . Derrida membaca gelagat struktur yang bermuatan paradigma metodologis strukturalisme Saussurean semacam ini terdapat pengoposisian. individu yang notabene bentukan dari sistem budaya tertentu mampu mengartikulasikan bahasa sekaligus menyuguhkan maknanya secara langsung dalam kekiniannya. Yang terjadi kemudian adalah hubungan unsur atau elemen yang tertata dengan cara tertentu melalui sistem atau struktur. dan sebagainya. Lebih lanjut oposisi biner ini akan dipermasalahkan grammatologi dan différance. penanda (signifier)/petanda (signified). di mana sistem sendiri adalah produk perbedaan tersebut. Sebab dalam tuturan. waktu/ruang. Saussure menitikberatkan praktek-praktek material adalah cara ditemukannya makna “struktur” yang sebenarnya. tuturan (speech) lebih diprioritaskan dari pada tulisan (writing). Bahasa adalah proses nomenklatur (penamaan) keterkaitan antara nama dan objek yang ditentukan secara historis. Di mana suatu fenomena tekstual hanya bisa ditemukan melalui pendekatan kekiniannya (sinkroni) ketimbang perkembangan historisnya (diakroni). termasuk sastra. tempat di mana makna selalu hadir di dalamnya yang disebut Derrida dengan “metafisika kehadiran” (metaphysics of presence). Strukturalisme Saussurean mengenalkan sebuah pengertian tentang “struktur”. Dan bahasa hanya bisa bermakna ketika dipahami melalui sistem-sistem bahasa dalam suatu konfigurasi linguistik atau totalitas perubahan sistem-sistemnya. Terutama melalui tuturan. Ia menjelaskan bahwa bahasa (langue) adalah perbedaan.tidak bisa dipilah secara terpisah menjadi elemen. Strukturalisme berkembang meliputi berbagai bidang. Apa yang ditekankan Saussure adalah bukan pada penataan bahasa secara historis yang menemukan nilai intrinsik dalam bahasa. Di mana individu tidak akan bermakna ketika melepaskan diri dari struktur. sosio-ekonomi dan psikologi.

Saussure menyediakan pengganti hubungan alami tersebut dengan bahasa yang merefleksikan jejaring pertandaan dalam sistem kode dan konvensi. yang berupaya mencari keontentikan makna bahasa melalui hubungan pertandaan. Ia mengenalkan dengan istilah “fonologi”. 1976: l12). Untuk mengikat pikiran seseorang kepada tulisan berarti untuk menyerahnya kepada wilayah publik.Menurut pembacaan Derrida. Sebaliknya tanda indikatif adalah tanpa ekspresi yang “tak bernyawa” dan sistem rasa yang abritrer. semiologi Saussure bisa ditunjukkan melalui tuturan. pembalikan terma. Derrida membaca oposisi serupa juga berlaku pada Lévi-Strauss. Keterjebakan Barthes Secara umum semiologi adalah ilmu atau teori tentang tanda. Tulisan adalah “suplemen” berbahaya yang menjebak bahasa jauh dari keotentikan aslinya dalam tuturan dan kehadiran-diri. Sehingga memberi ruang pada “konsep” baru yang tidak dipahami dengan cara pandang oposisi. tuturan sebagai kehidupan dan vitalitas. yakni adanya keterkaitan antara bunyi dan makna. Derrida meruntuhkan oposisi ini dengan menghancurkan “hierarki”-nya. Tulisan adalah “kematian” yang menghadang pikiran. melawan kekerasan dengan kekerasan. Berbeda dengan tulisan sebagai ekspresi derivatif yang lemah. dan tulisan sebagai kegelapan yang berkonotasi pada kekerasan dan kematian. antara tanda indikatif dan tanda ekspresi. Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang realitas telah ditentukan secara acak karena ragam perbedaan oleh bahasa yang representatif dari pengetahuan tersebut. Makna atau petanda selalu bisa dihadirkan dalam sebuah tuturan. dan melalui tuturan pula roh metafisis bisa dihadirkan. Tuturan tempat persembunyian makna-makna ini bisa ditelusuri pada sang empu linguistik strukturalis Roman Jakobson.peran dan fungsi objek yang terbahasakan mampu diperlihatkan oleh subjek yang merekonstruksi objek tersebut. Tanda ekspresi telah diberi makna yang merepresentasikan tujuan makna atau kekuatan intensional yang “memberi nyawa” bahasa. Bahasa yang arbitrer menyebabkan Saussure menghapus hubungan alami antara kata (word) dengan benda (thing). Lain halnya dengan tulisan yang menutup diri pada roh tersebut. sehingga maknanya menjadi kabur karena berbagai interpretasi. yang secara aktual struktur berperan sebagai simulakrum objek (Spivak. Oposisi yang menempatkan terma pertama pada kedudukan superior yang diasumsikan melalui strukturnya memiliki makna yang hadir yang bersembunyi di balik teks. agen licik pembusukan yang kerjanya menjangkiti seluruh sumber kebenaran. Semiologi telah di mulai oleh Saussure. yang beresiko salah dimengerti oleh semua tipu muslihat akibat campur-aduknya penafsiran. Husserl juga membedakan dua macam tanda yang memiliki perbedaan pokok. Gagasan fonologi pertama kali muncul dari studinya . yang senantiasa menutup diri dari artikulasi yang langsung tersebut. dan terma pemenang harus diletakkan di bawah tanda silang. Dengan palu différance Derrida meruntuhkan sistem oposisi tersebut.

dalam artian bahwa Barthes belum sepenuhnya meninggalkan otonomi subjek. Pembacaan yang tepat terhadap Barthes menunjukkan tingkat di mana konsep-konsep kritis terus menerus diubah atau dilepaskan oleh aktivitas penulisan oleh kesadaran-diri. pelupaan) yang mendekatkannya pada teks-teks sastrawi dan mulai tercebur dalam kritik sastra ketimbang analisa-analisa formal. Salah satu para Kritikus Baru itu adalah Roland Barthes. Geoffrey Hartman. yang . fonosentrisme dan phalosentrisme Lacan yang dianggap sebagai struktur fundamental strukturalisme kemudian juga akan di bongkar satu per satu oleh Derrida. Wimsatt adalah di antara nama-nama para Kritikus Baru tersebut. serta mengubah total gaya tulisannya. seperti ketika ia menulis autobiografinya sendiri. bukan oleh author. Spesies-spesies “metafisika kehadiran” logosentrisme. metode pendeskripsiannya tetap menjaga kesakralan sastra. W. namun dengan pendekatan metodis yang disadari cara kerjanya tidaklah sama dengan objek yang diupayakannya. Barthes mengenalkan istilah teks jouissance (kesenangan. Secara umum Kritik Baru mengupayakan sastra tidak dengan jalan rasional. Jonathan Culler. Norris menambahkan para kritikus ini. keduanya terdapat perbedaan dalam iramanya (Lechte. kenikmatan. ia tidak sepenuhnya meninggalkan sikap yang berlawanan dengan otonomi subjek author. Memang Barthes mulai mempertanyakan keotonoman subjek dengan gaya narasi orang ketiga tunggal. Barthes mulai meninggalkan pendekatan semiologi strukturalisme yang sistematis dan ilmiah.Pemikiran Barthes lanjut mulai melepaskan diri dari strukturalisme. Paul de Mann. Maka dalam karya-karya Barthes selanjutnya membiarkan teks berbicara sendiri dari pada harus menunjuk pada sang author. adalah strukturalisme yang merubah gayanya dengan menggunakan “metode”. Hillis Miller. Sehingga makna bisa diderivasikan dari perbedaan bunyinya. Kemudian ia menyimpulkan bahwa strukturalisme merupakan aktivitas. ia menyatakan bahasa bisa dikenali apabila adanya makna dalam proses pertandaannya. 2002: 233-234). praktek pembacaan teks yang open-ended dan bukan dengan pengetatan “metode”.K. Singkatnya. Kritik Baru adalah turunan strukturalisme yang muncul atas pembacaan sastra secara kritis dengan wajah retorika metodis. Walaupun Barthes mulai melepaskan diri dari pengaruh Saussure. Tapi Barthes tidak sepenuhnya melepaskan teks dari author. Maurice Merleau-Ponty. seperti yang tergambarkan melalui The Pleasure of the Text (1973) (Sunardi. J. 2001: 110). Dengan gaya fenomenologi. seorang Husserlian.atas puisi Ceko dan Rusia. namun kesan positivistik ala strukturalistik Barthes masih terasa. Kesadaran diri adalah nisbat subjek. Baginya teks harus dibiarkan dimiliki bahasa. juga mengamini adanya makna di balik yang pra-eksis. termasuk Barthes. Barthes pun mulai menginsyafi semiologi yang selalu dibayangi strukturalisme dan menemukan kelemahan proses pertandaan yang diterapkan melalui analisa yang terlalu rigorous.

Kesadaran kritis seperti ini dalam pandangan Heidegger didak lebih sebagai dominasi. Ada Sebagai Metafisika Yang Di(hadir)kan Ada sebagai proposisi yang selalu dihadirkan dalam dunia tanda. Dengan membuka diri terhadap ada dan mencandra realitas dalam kerangka fenomenologi sebagai pewahyuan diri ada. Heidegger mengawali kerangka teorinya dengan memikirkan ada yang terlupakan dan dikesampingkan oleh metafisika serta dikesampingkan sebagai struktur keberadan (das Sein). Heidegger sebenarnya ingin kembali merevitalisasi dan merehabilitasi fungsi ontologis yang ada di dalam metafisika klasik sekaligus dia ingin memberikan kritik terhadap kehadiran metafisika klasik. bahkan mereka tak lebih dari jelmaan strukturalisme yang bergaya aneh.klaim-klaimnya terkesan aneh. Dalam pandangan cartesian memahami bahwa ada sebagai sentral keberadaan yang lain. Dalam memulihkan metafisika klasik ini. Dan dalam keadaan seperti ini akan menimbulkan kesadaran kritis kaum proretar. Sebenarnya Heidegger ingin memfalsifikasi tentang paradigma Cartesian yang memberikan determinasi tentang being berada di bawah cogito. Sebenarnya Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran.dimana borjuis akan senantiasa mengeksploitasi proletar. Dalam etika paradigma modern yang dipengaruhi oleh filsafat cartesian ini. Heidegger beranggapan bahwa ada dimaknai sebagai kesadaran atau subyektivitas akan tetapi tidak berlaku dalam segala zaman. (Budi Hardiman 2003 : 31) Dalam paradigma marxian misalnya memberikan oposisi antara proletar dan borjuis. Ia menambahkan bahwa Barthes dan para Kritikus Baru bukanlah dekonstruksionis. Kesadaran tidak bisa dilihat dengan hubungan subyek dan obyek. Dengan demikian akan semakin terlihat bahwa Cartes lebih memprioritaskan pada Cogito diatas Sum dan menjadikan berfikir sebagai poros utama keberadaan (Fayadl 2003 : 132 dan Budi Hardiman 2003 : 30). Dengan membiarkan ada sebagai kehadiran yang terlupakan menurut Heidegger metafisika klasik senganja menghilangkanya dari keberadaanya. Sehingga dalam paradigma metafisika klasik being sengaja tidak dihadirkan. . Heidegger mempertanyakan tentang ada yang dikonsepsikan oleh Cartes. Ada seringkali hadir dengan melampaui sistem penanda dan petanda. “Cogito Ego Sum” itulah yang menjadi landasan epistemis kerangka Des Cartes. Maka dari itu kesadaran dapat diraih lebih dengan cara membuka diri dan membuka kontak dengan ada daripada dengan menguasai sesuatu yang lain sebagai obyek. Dalam pandangan Heidegger misalnya meng ada di fahami sebagai reduksi fenomenologis dari sebuah realitas. Petanda yang sifatnya arbriter ini membuat meng ada sebagai struktur yang seharusnya ada. Kaum proletar dalam hal ini tidak membuka diri terhadap ada melainkan cenderung mereduksi ada pada kesadaran belaka. Kesadaran merupakan sesuatu suatu peristiwa ada atau dalam hemat saya kesadaran merupakan salah satu cara ada membuka dirinya.

Dalam Of Grammatology Derrida menjelaskan tanda melalui “jejak” (trace). Nietzsche adalah orang pertama yang memulai proyek dekonstruksi. 1976: 19). Ruang dan waktu ini dimaksudkan oleh Heidegger sebagai struktur yang membentuk keberadaan itu. di mana sebelumnya kesadaran dan rasionalitas selalu menjadi superior dalam urusan kesadaran. di mana segala kebenaran lahir dari sana. Dekonstruksi secara umum dilakukan dengan meletakkan sous rature oleh Nietzsche pada “pengetahuan”. Sebuah kata diberi tanda silang apabila maknanya dianggap tidak memadai namun masih berguna. sehingga kata yang tertulis menjadi “Mengada”. Orang akan senantiasa memberikan gambaran bahwa ada sebagai bentuk yang alamiah. Tanda tidak memiliki kehadiran. Freud. bahwa kebenaran makna adalah relatif. terutama mengenai tafsir mimpi yang diungkap melalui bahasa simbolik. Filsafat dari Plato sampai sekarang. Dengan demikian orang akan selalu memberikan interpretasi mengenai ada sebagai bentuk verbalnya. Kritik-kritik tajam yang diarahkan pada filsafat Barat dan seluruh praktek perabadan Barat adalah suatu pekerjaan dekonstruktif. Heidegger sering menyilang kata “Mengada” (Being). Husserl dan Heidegger adalah orang-orang yang mengilhami dekonstruksi Derrida. Freud juga mempengaruhi “tulisan” (writing) Derrida. dengan menggunakan tirani rasio selalu menyingkirkan segala hal yang berkaitan dengan bahasa figuratif. kemudian mengalihkannya pada metafor dan bahasa figuratif. Nietzsche bersikap skeptis terhadap metode dan konsep. bermetafora dan bergeser terus. Ada sebagai bentuk verbal bukanlah keberadaan yang benar-benar ada akan tetapi ada yang di”ada”kan. Metafora dan segenap bahasa figuratif adalah kegairahan hidup yang menyuguhkan keragaman akan pemahaman. inilah cara satu-satunya menyelamatkan filsafat yang terinstitusional (Derrida. Dekonstruksi juga dilakukan Freud dengan mengusung tema pikiran tidak sadar. Dengan kalimat terkenalnya Derrida menyatakan. ia akan selalu . Sehingga kata dibiarkan saja tercoret di bawah tanda silang. Dan membebaskan pikiran dari batas-batas konseptual yang mengurungnya. Reduksi fenomenologis ini akan membawa seseorang senantiasa terjebak dalam keadaan ada sebagai sesuatu yang tidak sama sekali dibentuk oleh paradigma. Nietzsche berusaha menghidupkan kembali tradisi yang dikubur oleh rezim rasio. Metafor-metafor bahasa inilah yang menjadi titik tolak tulisan-tulisan Derrida. Husserl mengenalkan metode menempatkan kata dalam tanda kurung (einklamerung). dengan memberi “tanda silang” (Überqueren).Dengan demikian Heidegger semakin mengukuhkan bahwa ada itu terstruktur dalam ruang dan waktu. Heidegger juga mengenal metode ini. Freud pada “psikhe”-nya dan Heidegger pada “Mengada” (Being)-nya. Dekonstruktor dibalik Derrida Nietzsche. “tanda adalah sebutan-jelek terhadap sesuatu” (sign is that ill-named thing). Tujuan dari einklamerung semacam ini adalah menangguhkan sementara kata atau objek yang tidak memadai. Terutama sekali yang mempengaruhi Derrida adalah gaya penulisan filosofisnya yang bersikukuh dengan sikap skeptis terhadap klaim-klaim pengetahuan dan kebenaran.

Tuhan. Dekonstruksi ala Derrida Lahirnya peradaban Barat adalah bentuk pemujaan terhadap logos setidaknya demikianlah yang dibaca Derrida ketika dikaitkannya dengan logosentrisme. sebab maknanya bisa bergeser ke Nietzsche. energeia. Kumpulan logos tersebut antara lain: Idea. Di mana semua bentuk luar kebenaran harus bertolak pada kebenaran esensial yang transendental. Kehendak. eksistensi. Watak logosentrisme ini kemudian melibatkan diri dalam oposisi biner. Empiri. ousia (esensi. Maka makna menjadi tertunda sampai batas yang tak berhingga. transendentalitas. yang memberikan hak istimewa pada terma-terma super. Freud. bahkan berkebalikan dari itu. selama ini hanya mampu menggantungkan diri pada logosentrisme (bersinonim dengan metafisika).ditentukan jejaknya yang tidak hadir. dan seterusnya (Derrida. Dekonstruksi adalah metode membaca teks secara sangat cermat hingga menemukan ketidakkonsistenan dan paradoks dalam konsep-konsep teks secara keseluruhan. Dekonstruksi tidak pernah membangun sebuah sistem filsafat. Struktur. namun sebuah penanda yang menggantikan seluruh penanda yang menandakan setiap hasrat terhadap segala ketidakhadiran. manusia. Materi. Filsafat Barat mengasumsikan ada kebenaran esensial yang melatarbelakangi bentuk luar kebenaran (penanda) yang langsung berkaitan dengan sesuatu yang transendental yang stabil dan kokoh (logos). archè. Sebanding dengan logosentrisme adalah fonosentrisme dan phalosentrisme phallus bukan semata organ aktual. Filsafat yang notabene sebagai pelaku utama peradaban Barat. telos. Heidegger atau tokoh dekonstruksi yang datang belakangan. subjek). sebagaimana yang ia sering nyatakan. Jadi dekonstruksi itu pembacaan filsafat secara sastrawi. Dengan demikian dekonstruksi tidaklah identik dengan nama Derrida. maka demikianlah maksud Derrida atas ketidakidentikan dekonstruksi dengan namanya. karena dekonstruksi selalu bekerja dalam teks-teks filsafat yang terinstitusional. di sana lah différance mulai sedikit terjelaskan. Memusatkan dan mengembalikan semua pencarian kebenaran pada logosentrisme. Pengoposisian yang berkaitan dengan semiologi adalah oposisi penanda/petanda. kesadaran atau kata hati. subtansi. Jadi apa yang ditafsirkan Nietzsche dengan “Tuhan” sama arti dengan logosentrismenya Derrida. Dekonstruksi pada awalnya adalah pembacaan teks pada sastra. dan sebagainya. menyebar dan menjangkiti sistem paradigma filsafat Barat yang telah . Ia menyusup. Namun pada akhirnya dekonstruksi masuk ke dalam seluruh wacana filsafat. Pusat selalu menandai kesatuan konstan suatu kehadiran eidos. Derrida melihat ketidakmungkinan mencapai kebenaran atau makna tunggal melalui asumsi-asumsi logosentrisme. 2001: 25 lihat dalam Spivak 1976 : 37). Atau bahkan ia pun sesungguhnya mendekonstruksi namanya sendiri. Sebab bila trace menempatkan kata pada ruang makna yang berjejak. Rasio. aletheia. Tanda adalah sesuatu yang tidak utuh dan terus dipertukarkan dengan makna lain serta terus-menerus bergeser. Tuhan. Roh Absolut. ia bergerak di wilayah sastra.

dan membuktikan tuturan lebih dekat dengan psikis dari pada tulisan yang cenderung berjarak. baik pada “kata hati” atau “struktur” akan dihadapkan pada “situasi kebuntuan penafsiran” (aporia). Hal ini berkebalikan dengan apa yang dilihat Derrida. tapi juga menginskripsikannya kembali dengan cara lain. Saya bicara sekaligus mendengar dan memahami”. Demikian juga Saussure membuktikan bahwa tuturan adalah sumber kebenaran. merusak kemurnian kehadiran. Semua usaha pemusatan. Sekali virus dekonstruksi masuk ke dalam program tersebut. bayangan seram yang jatuh di antara maksud dan makna. adalah dua institusi filsafat yang ingin membuktikan bahwa tuturan adalah tempat aktualisasi kebenaran dan makna. Bukan dengan menunggalkan makna melalui pengoposisian. bukannya untuk menolak atau menyingkirkan strukturstruktur tersebut. . mekanis. orang asing. melainkan untuk mendinskripsikannya kembali dengan cara lain. juga pada fenomenologi dan strukturalisme.terprogram oleh logosentrisme. tapi digunakan sebagai bricoleur atau alat-nya si pemikir alat yang positif. Cara mendinskripsikannya dengan memanfaatkan penanda bukan sebagai kunci transendental yang akan membuka pintu gerbang jalan kebenaran. bagi aporia adalah segala macam tempat makna akan terjejaki. Tuturan pada suatu saat akan menemui tindakan atau perkataan ambigu ketika penutur mengalami keraguan dengan apa yang dimaksudkan dalam tuturannya. Seperti yang Derrida (1976) katakan. Husserl mengklaim bahwa kehadiran diri ada dalam suara (phone). artifisial. medium yang tak memiliki rupa dan sosok (depersonalized). Tulisan yang ditangan-duakan. “Makna kehadiran” atau fenomenologi menamainya “kehadiran langsung” (living present) adalah kesadaran yang ditata dan mendapatkan makna yang berdimensi waktu. antara tuturan dan pemahaman. Namun demikian tugas dekonstruksi tidak semata-mata membongkar. karena ada kedekatan dengan kehadiran-diri yang memuat serangkaian makna di dalamnya. Dari semua tradisi filsafat Barat. di mana pusat tidak lagi dapat bekerja. tulisan selalu diberi tempat kedua dibandingkan tuturan. Derrida mengkritik bahwa mereka lupa men-sous rature-kan oposisi biner. semakin memperlihatkan oposisi biner dalam semua filsafat Barat. Ia berpredikat sebagai transkripsi fonetis. Husserl ingin menyodorkan fakta-fakta psikis yang diderivasi dari living present. Justru pada saat kebuntuan terjadi. … tugas dekonstruksi adalah …membongkar (deconstruire) struktur-struktur metafisis dan retoris yang bermain dalam teks. dalam tuturan ada hubungan langsung suara dan rasa (sense). Jika fenomenologi dan strukturalisme mencari kebenaran melalui pemusatan elemen-elemennya. teralienasi. tapi membuat plural makna dengan melepas pemisah oposisinya. Tulisan adalah ancaman bagi pandangan tradisional yang mengisolasi kebenaran dengan kehadiran-diri bahasa yang bisa mengekspresikan diri. Semua filsafat Barat. Berbeda dengan tulisan yang berlumuran segala macam ketertutupan makna. ia akan mampu mengubah diri lewat beragam cara yang rumit dan mereproduksi diri dalam setiap teks filsafat yang pada akhirnya siap menggerogoti program tersebut. Suara yang dimaksud adalah suara dalam kesendirian batin: “Ketika bicara saya mendengar diriku sendiri. Aporia menunjukkan bahwa pusat pada saatnya adalah jalan buntu bagi penafsiran.

Pertarungan penanda dan petanda bukanlah metode penguasaan dengan mencari kesatuan yang bermuara pada petandanya. Grammatologi juga merupakan cara kerja dekonstruksi yang ditujukan pada struktur dalam teks tulisan itu sendiri. Derrida mengingatkan berbagai pengertian . yang menghilangkan pusat teks melalui penjejakan (trace) makna. Usaha tersebut memerlukan desublimasi konseptual atau “keterjagaan” yang memiliki kekuatan menelanjangi sikap Barat terhadap pemikiran dan bahasa. Arti dari différance sendiri berada pada posisi menggantung. yang membalik hierarki dan orientasi teori bahasa yang bukan tuturan. Différance adalah manifestasi dari dekonstruksi penanda secara grafis. namun pada akhirnya tidak melahirkan definisi yang jelas. Dekonstruksi juga mereproduksi beragam pengertian yang menyertainya. Dekonstruksi adalah aktivitas pembacaan yang terikat dengan teks dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai sistem operasi konsep-konsep yang tertutup. Dekonstruksi bisa dijelaskan dengan cara lain melalui cara kerja différance. namun tidak menghasilkan kehadiran. (Fayadl. Différance seperti halnya tulisan adalah pelafalan anonim yang kebal terhadap segala bentuk reduksi. 2004: 110) Status makna kata yang menggantung ini adalah pembuktian tidak utuhnya kata différance itu sendiri. Pelafalan différance meskipun pada akhirnya melahirkan struktur diferensial dalam tulisan. Pembongkaran selubung makna yang menutupi teks adalah apa yang ingin dipentaskan dalam aksi-aksi grammatologis. bahkan dalam struktur grafis sekalipun (Fayadl : 110). Teks tulisan bagi grammatologi adalah suatu tanda (sign) yang berkontradiksi antara penanda dan petandanya. yakni “ilmu tentang tulisan”. ia pun akan menimbulkan ketidakstabilan. Ketika pusat tercerabut dari tempatnya. 1979: 158). ketidakpastian dan tertundanya makna terus-menerus adalah bagaimana grammatologi diterapkan secara grafis. Penghapusan oposisi tuturan/tulisan adalah praktek grammatologi. yang memberi petunjuk pada bahasa akan kebebasan permainan. Sekaligus membuktikan kelemahan Saussure. Derrida tidak ingin membuktikan bahwa tulisan adalah sesuatu yang lebih mendasar dari tuturan. baik dalam teks tuturan dan tulisan. Pembacaan teks di sini lebih berarti menunda makna kehadiran yang di anggap bersemayam di balik teks tersebut. namun dengan penjejakan (trace).dan tidak memperkarakan oposisi tersebut. yang menempatkan struktur sebagai pusat yang menyatukan perbedaan bahasa yang berisi oposisi dan mensuperior-kan tuturan dari pada tulisan. antara dua kata “to differ” (berbeda) dan “to defer” (menunda). tapi tulisan (Culler. Sehingga runtuhnya oposisi biner menempatkan teks menjadi polisemi dalam permainan ketidaktertangkapan makna secara terus-menerus atau diseminasi. dia dibentuk melalui rangkaian kesalahan pelafalan yang tak berujung. Status menggantung juga mempersilahkan grammatologi untuk bertindak. Huruf “a” dalam kata itu mengingatkan kita bahwa. Grammatologi awalnya adalah proklamasi kemenangan tulisan atas tuturan melalui pembalikan hierarki struktur dalam teks. kata yang dilafalkan secara sempurna selalu tidak hadir.

maka tidak ada superioritas pada salah satu termanya. 2001: 46). berpindah ke sembarang arah. pada akhirnya ketika dijangkiti virus dekonstruksi dengan sendirinya akan menghadapi kehancuran diri. ***** . Mereka harus saling dipertukarkan satu dengan lainnya secara acak. Semiologi sebagai ilmu pertandaan yang bekerja mengoposisikan penanda dan petanda dengan metode yang regorous. Dengan membalik struktur hierarki dalam hubungan pertandaan yang sekaligus menghilangkan oposisinya. Sehingga teks adalah permainan ketidakpastian polisemi bahasa yang diseminasif. Hubungan pertandaan tidak ditentukan oleh struktur sebagai pusat kekuatan makna yang bermuara pada petanda yang tunggal. bergeser. Demikianlah penanda akan senantiasa bergeser terus-menerus. Struktur yang selama ini menjamin adanya kehadiran makna dalam bahasa tidak lagi mendiami tempatnya. sehingga membentuk mata rantai-mata rantai kata.tersebut bukanlah kata dan konsep. Maka makna itu ditentukan oleh jejak (trace) penandanya. yang senantiasa berjejak. Sebab pusat sebagaimana yang dibaca Derrida atas LéviStrauss terhadap mitologi adalah laksana ilusi historis (Derrida. Penanda sebagai bentuk material dari tanda bukan lagi sebagai derivasi langsung dari petanda. Pengertian-pengertian tersebut adalah kata yang tidak utuh karena maknanya harus ditunda.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful