Medikasi Spesifik Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan intervensi obat-obatan seumur hidup terutama untuk mengelola penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Diabetes merupakan penyakit mahal. Data 2002 di Amerika Serikat sekitar 6,2% penduduk atau 18,2 juta orang mengidap diabetes. Stiap tahun, ongkos perawatan per kapita penderita diabetes tak kurang dari 13.243 dollar. Bandingkan dengan hanya 2.560 dolar bagi yang terbebas dari penyakit ini . Berikut beberapa jenis pengobatan spesifik untuk diabetes melitus tipe 2:

Sulfonylureas
Pertama kali disetujui FDA pada 1962 dengan label tolbutamide (Orinase), obat golongan sulfonylurea dengan cepat menjadi pengobatan utama diabetes tipe 2. Meski obat-obatan terbaru kemudian membanjiri pasar obat, sulfonylurea masih memegang peranan utama dalam farmakologi manajemen diabetes melitus tipe 2. Sulfonylurea menstimulasi sel-sel beta dalam pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Obat ini juga membantu sel-sel dalam tubuh menjadi lebih baik dalam mengelola insulin. Pasien yang paling baik merespon sulfonylurea adalah pasien DM tipe 2 berusia di bawah 40 tahun, dengan durasi penyakit kurang dari lima tahun sebelum pemberian obat pertama kali, dan kadar gula darah saat puasa kurang dari 300 mg/dL (16,7 mmol/L). Sekitar dua pertiga pasien yang memulai terapi dengan sulfonylurea menunjukkan respon meskipun lebih dari 20 persennya kemudian membutuhkan obat tambahan. Hanya sedikit pasien dengan diabetes tak terkontrol menerima manfaat klinis saat mengganti sulfonylureas dengan obat lain. Untuk mengontrol kadar gula darah secara adekuat, obat ini sebaiknya diberikan 20-30 menit sebelum makan. Beberapa jenis obat yang mengandung sulfonylurea antara lain chlorpropamide (Diabinese), tolazamide (Tolinase), acetohexamide, glipizide (Glucotrol), tolbutamide (Orinase), glimepiride (Amaryl), glyburide (DiaBeta, Micronase), glibenclamide, dan gliclazide. Kebanyakan pasien bisa menerima sulfonylurea dengan baik selama 7 hingga 10 tahun sebelum efektifitasnya menurun. Untuk meningkatkan manfaatnya, sulfonylureas bisa dikombinasikan dengan insulin dalam jumlah kecil atau dengan obat diabetes lain seperti metformin atau thiazolidinedione. Beberapa studi terhadap pasien diabetes melitus tipe 2 melaporkan, kombinasi insulin dengan dua jenis sulfonylurea yakni chlorpropamide atau glipizide, bisa mencapai kontrol glukosa yang lebih baik dalam jangka waktu lama dibandingkan hanya dengan insulin. Sulfonylurea sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil atau menyusui, dan pasien-pasien yang elergi terhadap obat golongan sulfa. Efek samping utama obat ini adalah kenaikan berat badan, dan retensi air. Meskipun sulfonylurea memiliki risiko hipoglikemia lebih rendah dibandingkan insulin, namun hipoglikemia yang diakibatkan sulfonylureas bisa berlangsung lama dan berbahaya. Sulfonylureas jenis baru seperti glimipiride, memperlihatkan risiko hipoglikemia hanya sepersepuluh dibandingkan sulfonylureas terdahulu. Beberapa pasien juga

Meglitinida Meglitinida juga termasuk jenis obat diebetes yang bekerja dengan menstimulasi sel-sel beta di pankreas untuk memproduksi insulin. Efek samping umum golongan meglinitide adalah diara dan sakit kepala. Jenis yang lebih baru. Metformin (Biguanida) Metformin merupakan obat yang cara kerjanya terutama menurunkan glukosa darah dengan menekan produksi glukosa yang diproduksi hati dan mengurangi resistensi insulin. Yang termasuk golongan Meglitinides adalah repaglinida (Prandin). repaglinida memilki risiko pada jantung. Mekanisme aksi dan profil efek samping repaglinida hampir sama dengan sulfonylurea. Obat ini juga pilihan pertama untuk anak-anak dan terbukti efektif untuk wanita yang menderita polikistik ovarium dan resistensi insulin. Kelebihan lain. sulfonylurea (16%). obat ini merupakan agen yang baik bagi pasien yang memiliki masalah ginjal. nateglinida (Starlix). dan mitiglinida. jadi sangat baik digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang menderita obesitas (pada beberapa studi bahkan pasien mengalami penurunan berat badan). seperti nateglinida. . Nateglinida cenderung bekerja lebih cepat dan aksinya lebih pendek dibandingkan repaglinida. Harus diberikan hati-hati pada pasien lansia dan pasien dengan gangguan hati dan ginjal.dilaporkan mendapat risiko-meski kecil²gangguan pada jantung. memiliki risiko sama namun lebih kecil. dan thiazolidinedione (14%). Repaglinida bisa sebagai pengganti bagi pasien yang menderita alergi obat golongan sulfa yang tidak direkomendasikan sulfonylurea. Obat-obat ini secara khusus efektif bila dikombinasikan dengan metformin atau obat diabetes lain. Metformin tidak menyebabkan hipoglikemia atau penambahan berat badan. dua hingga empat kali setiap hari. insulin-sensitizing. metformin menurunkan angka kematian hingga 85% dibandingkan insulin (28%). Agen ini memiliki onset yang cepat dan diberikan saat makan. Obat ini merupakan meglitinida non-sulfonylurea yang pertama dikenalkan pada 1998. Repaglinida merupakan derivat asam benzoat. Metformin bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinsikan dengan sulfonylurea. Metformin juga memiliki efek manfaat pada kadar lipid dan kolesterol dan bersifat protektif untuk jantung. Kombinasi dengan obat-obat sekresi insulin. Pada sebuah studi banding. Sama dengan sulfnylurea. Sulfonylureas berinteraksi dengan banyak sekali jenis obat. Obat ini bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan metformin. sehingga pasien perlu ditanya obat-obat apa saja yang mereka konsumsi termasuk obat-obatan OTC dan obat alternatif. atau insulin sendiri akan efektif.

Cimetidine (Tagamet) bisa mengurangi pembersihan ginjal oleh metformin dan bisa meningkatkan potensi metformin. yang dikenal sebagi kolesterol baik). Pada pasien-pasien ini.000 pasien setiap tahun). Namun analisis kesluruhan menyebutkan tidak ada risiko metformin yang lebih besar dibandingkan obat diabetes tipe 2 lain. Obat ini juga meredam molekul yang disebut 11Best HSK-1 yang berperan penting pada sindrom metabolik (kondisi pre diabetes. meskipun mereka seringkali diberikan secara kombinasi dengan sulfonylurea. masalah pada gastrointestinal termasuk neusa dan diare. insulin. yang sangat penting mencegah gangguan jantung. hematokrit. khususnya pada mereka yang memiliki faktor risiko. Misalnya rasa metalik. Indeks hemogloblin. Meski manfaatnya sudah terbukti. Namun yang lebih hati-hati lagi adalah penggunaan metformin pada gangguan hati berat dan hipoksemia (pada pulmonary obstruktif kronis atau gagal jantung kongenstif). namun Metformin juga tidak terlepas dari efek samping. Metformin juga mengurangi penyerapan vitamin B1 dan asam folat.5 mg/dL pada pria dan 1. dan pecandu alkohol berat maupun sedang. atau metformin. Salah satu studi meyakini rosiglitazone bisa memperbaiki fungsi sel beta . kondisi yang berpotensi mengncam jiwa. suatu kondisi yang pada 50 persen pasien bisa fatal (1 episode per 100. termasuk tekanan darah tinggi dan obesitas) dan diabetes melitus tipe 2. sel-sel darah merah. Thiazolidinedione tidak menyebabkan hipoglikemia jika digunakan sebagai terapi tunggal. Rosiglitazone (Avandia) dan pioglitazone (Actos) adalah obat dari golongan thiazolidinedione yang sudah disetujui. Thiazolidinedione Thiazolidinedione (sering juga disebut TZDs atau glitazone) berfungsi memperbaiki sensitivitas insulin dengan mengaktifkan gen-gen tertentu yang terlibat dalam sintesa lemak dan metabolisme karbohidrat. Ada laporan ditemukannya asidosis laktat. dan fungsi ginjal harus dimonitor setidaknya setiap tahun pada pasien yang menerima metformin. atau terdapat pembersihan kreatinin abnormal) atau asidosis metabolik akut maupun kronis.4 mg/dL pada wanita. termsuk penurunan tekanan darah dan peningkatan trigliserida dan kadar kolesterol (termasuk peningkatan kadar HDL. Pasien yang menerima obat-obat antikoagulan dan metformin kemungkinan memerlukan warfarin dosis tinggi untuk mecapai efek antitrombotik.Metformin memiliki kontraindikasi dengan pasien yang memiliki insufisiensi ginjal (misal: kadar kreatinin dalam serum 1. metformin bisa menyebabkan asidosis laktat. Beberapa studi menunjukkan thiazolidinediones mengakibatkan berbagai efek baik pada jantung.

namun studi lebih lanjut tetap diperlukan. atau napas pendek harus dipantau lebih ketat. gagal hati. termsuk di dalamnya acarbose (Precose. Alphaglucosidase inhibitor tidak seefektif obat lain bila digunakan sebagai terapi tunggal. sehingga uji fungsi hati harus dilakukan terutama pada pasien yang menerima dosis tinggi (lebih dari 50 mg tiga kali sehari). Obat ini juga kemungkinan mempengaruhi penyerapan zat besi. retensi cairan. Studi tahun 2002 juga menemukan bahwa obat ini kemungkinan bisa menunda datangnya diabetes tipe 2 pada orang risiko tinggi. misalnya dengan metformin. Tetapi thiazolidinedione saat ini tidak menunjukkan efek yang sama pada hati meskipun ada beberapa laporan liver injury. Obat jenis ini belum diteliti secara intensif dan para ahli meyakni seharusnya tidak digunakan secara rutin untuk manajemen diabetes melitus tipe 2. khususnya setelah konsumsi makanan tinggi kandungan karbohidrat yang menyebabkan sepertiga pasien berhenti menggunakan obat ini. bisa meningkatkan efektivitasnya. Faktanya. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah produksi gas dalam perut dan diare. insulin. dan kematian. Pasien yang mendapat thiazolidinedione harus dimonitor secara teratur menyusul studi tahun 2002 yang menemukan insiden cukup tinggi gagal jantung pada pasien yang menggunakan obat ini. Meski studi ini tidak dibuktikan dengan relasi penyebab dan ada dugaan temuan gagal jantung terjadi pada pasien yang memang sudah mengidapnya. Glucobay) dan miglitol (Glyset) memilki cara kerja mengurangi kadar glukosa dengan menginterfensi penyerapan sari pati dalam usus. yang merupakan keuntungan khusus obat ini. Hepatotoksisitas (tergantung dosis) juga dikaitkan dengan obat ini. Medikasi obat ini dilakukan saat makan.dan membantu mencegah progresivitas diabetes. Beberapa pasien yang mengalami kenaikan berat badan dengan cepat. agen pertama golongan ini ditarik dari pasaran setelah ditemukan laporan gagal jantung. Acarbose cenderung menurunkan kadar insulin setelah makan. hanya dalam konteks studi klinis. Namun bila digunakan secara kombinasi. Peningkatan enzim transaminase diakibatkan penghentian . Obat ini juga meningkatkan risiko peningkatan cairan yang akan memperburuk gagal jantung. troglitazone (Rezulin). Tetapi. di balik manfaatnya yang besar. karena kadar insulin yang tinggi setelah makan berkaitan dengan pengingkatan risiko penyakit jantung. Thiazolidinediones bisa menyebabkan anemia dan bersama obat diabetes oral lainnya bisa menaikkan berat badan meski masih dalam skala moderat. atau sulfonylurea. Alpha-Glucosidase Inhibitors Alpha-glucosidase inhibitor. efek samping obat golongan ini pun mengkhawatirkan.

tanpa meningkatkan risiko hipoglikemia atau penambahan berat badan. Obat-obat absorban dan preparat enzim digestif sebaiknya tidak diberikan bersama acarbose. misalnya selama kehamilan. Sepertinya obat ini membantu dalam memetabolisme glukosa dan mengurangi nafsu makan. Pramlintida (Symlin). Stud pada pasien diabetes melitus tipe 2. Namun studi pada tikus melaporkan adanya masalah pada hati dan meningkatnya kadar trigliserida. seharusnya diberikan dengan rentang pemberian dua atau empat jam dengan alpha-glucosidase inhibitor untuk menghindari interaksi obat. kombinasi insulin dan obat-obatan lain bisa sangat efektif. insulin lispro bisa memperbaiki kualitas hidup dan risiko hipoglikemia dibandingkan insulin reguler.obat yang kadangkala asimtomatik. pada psien dengan diabetes melitus tipe 2 yang memburuk. ultralente insulin) yang menstimulasi sekresi insulin alami. Glucagon-like insulinotropic peptide atau GLP-1 (Betatropin) merupakan jenis incretin yang tengah dalam penelitian. Studi awal melaporkan obat ini efektif dalam mengontrol kadar gula dan juga berat badan. Efek reaksi . y y y y NPH yang merupakan insulin standar. Beberapa studi mengindikasikan kombinasi pramlintida dengan insulin sendiri bisa mengontrol kadar gula darah. Para ahli banyak menganjurkan insulin jenis ini. Long-acting insulin (insulin glargine. dan aksi pendeknya mengurangi risiko hipoglikemia sesudahnya. Betatropin diberikan melalui suntikan. merupakan derivat hormon alami yang bertindak seirama dengan insulin di pankreas untuk mengontrol hiperglikemia. Insulin Untuk pasien yang tidak bisa mengontrol diabetes dengan diet atau pengobatan oral. Kadar transaminase dalam serum harus dicek setiap tiga bulan di tahun pertama pasien menerima obat dan selanjutnya tetap dilakukan secara periodeik. meski dalam hal kontrol gula darah tidak ada perbedaan. Insulin kadangkala dijadikan pilihan sementara. Hormon ini memperlambat pengosongan lambung dan menunda penyerapan nutrisi pada usus. Tablet transmukosal (ditempatkan di antara bibir dan gusi) yang masih dalam tahap penelitian juga terlihat efektif. terpenting sesudah makan. Obat ini bisa digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 1 maupun 2. Diberikan sebelum makan. Pemberian secara oral kemungkinan bisa mengurangi komplikasi jantung dibandingkan insulin injeksi. Insulin lispro dan insulin aspart yang merupakan fast-acting insulins. dikenal juga sebagai analog amylin. Namun. Ada beberapa bentuk insulin yang tersedia atau tengah dalam penelitian. Obat-obat yang mudah berikatan dengan obat lain seperti cholestyramine. Beberapa diberikan secara inhaler atau oral spray yang diserap di cheek lining (Oralin). maka penggantian insulin total menjadi suatu kebutuhan. Obat yang masih dalam penelitian Incretins merupakan hormon yang dibebaskan dari intestinal untuk meningkatkan sekresi insulin. Investigative oral insulin kini tengah mendapat perhatian sebagai pengganti insulin.

Obat ini meningkatkan sensitivitas insulin. D-chiro-inositol (INS-1) juga jenis obat yang masih dalam penelitian. Obat ini cukup menjanjikan dalam menangani pasien dengan diabetes yang tidak parah dan wanita dengan sindrom polikstik ovarium.yang mungkin timbul adalah kegagalan pengosongan lambung. Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Maret 2006 . Halaman: 30 (21258 hits) . yang kini menjadi komplikasi diabetes pada beberapa pasien neuropati.