PENGANTAR ILMU FIQH

Al Qur’an dan Al Hadits sebagai sumber syari'at Islam, di samping memberi keterangan tentang masalah-masalah pokok yang hanya dapat diketahui manusia melalui wahyu (aqidah), juga menyampaikan hukum-hukum amaliah untuk dipatuhi dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini kedua sumber syari'at tersebut tidak selalu memberi ketetapan yang rinci. Sayid Sabiq dalam bukunya ‘Fiqh Islam’ mengemukakan bahwa dalam hal-hal yang tidak berubah karena perbedaan waktu dan tempat, seperti tata upacara ritual kepada Allah (ibadah mahdhah), Al Qur’an dan Al Hadits menyampaikan penjabaran rinci dan komprehensif sehingga tidak memberi ruang untuk perubahan, penambahan dan pengurangan. Sedangkan dalam masalah yang akan berkembang dengan perubahan waktu dan tempat (mu’amalah), seperti masalah perdagangan dan politik, syari'at Islam hanya memberi ketentuan secara garis besar. Dalam hal ini orang boleh melakukan ijtihad dengan mengerahkan akal pikiran untuk menetapkan hukum secara dinamik di dalam kerangka ketentuan pokok yang sudah ada. Dalam kenyataannya, pemahaman tentang ketetapan-ketetapan yang sudah rinci pun berbeda-beda sehingga untuk memilih dan menetapkan hukum yang benar diperlukan pengerahan akal pikiran pula. Maka untuk memperoleh kepastian hukum, kaum Muslimin mengembangkan Fiqh, yaitu ilmu untuk mengetahui masalah-masalah hukum secara praktis. Al Jurjani merumuskan pengertian Fiqh sebagai ‘ilmu untuk memahami hukum-hukum syari'at dengan ketentuan-ketentuan yang rinci, yang diperoleh dengan akal pikiran melalui proses penalaran dan pengkajian’. Berbicara tentang hukum, kita perlu memahami bahwa ada perbedaan pengertian antara istilah ‘hukum’ di dalam Islam dengan ‘hukum’ sebagaimana yang diterangkan dalam ilmu-ilmu yang berasal dari Barat. Bila Apeldoorn (dalam bukunya: ‘Pengantar Ilmu Hukum’) menyatakan bahwa tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai,

baik individu maupun masyarakat. Pada masa Rasul dan masa-masa awal. it embraces in its orbit all human actions.. sedangkan fiqh adalah lingkaran kecil yang berkenaan dengan apa yang biasa kita pahami sebagai aspek-aspek hukum . para sahabat melakukan segala amal perbuatannya dengan mencontoh perbuatan beliau. . sedangkan bangunan Fiqh ditegakkan oleh upaya manusia). Tentang perbedaan antara Syari'ah dengan Fiqh. di samping hubungan antar manusia sendiri. Al Quran menggunakan kata Fiqh dalam arti umum yang mencakup semua aspek pengetahuan [QS At Taubah (9): 122]. Sesudah itu pengertiannya mulai menyempit sehingga akhirnya hanya digunakan khusus untuk masalah hukum. kata Fiqh sinonim dengan fahm. Pada waktu Rasulullah SAW masih hidup.maka berarti bahwa ruang lingkup hukum menurut pendapatnya hanya mencakup hubungan antar manusia. Fayzee dalam bukunya ‘Outlines of Muhammadan Law’ menyatakan: ‘Syari'at is the wider circle. maupun karena mereka bisa segera bertanya kepada Rasul..A.The path of syari'at is laid down by God and His Prophet. dan juga dengan syari'ah. 'ilm. Sampai dengan abad kedua Hijriyah. Arti sebenarnya dari perkataan Fiqh adalah pemahaman dan pengetahuan tentang sesuatu. Karena itu Fiqh mencakup aturan-aturan tentang ibadah mahdhah maupun masalah mu'amalah. and deals with what we are commonly understood as legal acts. dengan Allah SWT. Ini bisa dimaklumi karena pada waktu itu kaum Muslimin tidak disibukkan oleh usaha mencari ketentuan hukum yang spesifik serta rinci. yang didasari sikap patuh. the eddifice of fiqh is erected by human endeavour". Sedangkan hukum dalam Islam mengatur hubungan manusia. Jalan syari'at ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. istilah Fiqh masih mencakup masalah theologis maupun hukum... . baik karena orang lebih mementingkan unsur ketaatan penuh dan keikhlasan dibandingkan dengan cara mewujudkan ketaatan itu.. (Syari'at adalah lingkaran besar yang memasukkan ke dalam orbitnya semua perilaku manusia. Asaf A.. Meskipun mereka sering bertanya kepada Rasul. fiqh is the narrow one.

yang diminta oleh Khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) untuk menulis buku tentang sistem perpajakan menurut hukum Islam. Para ahli biasanya menganggap Abu Yusuf Ya'qub ibnu Ibrahim (732-798 M) sebagai penulis Fiqh yang pertama. Pada saat yang hampir bersamaan dengan Abu Hanifah. Kewenangan ijtihad diberikan oleh Rasul sendiri. yakni Anas Ibnu Malik. Hal itu merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah yang memberi keleluasaan kepada manusia untuk mengembangkan sendiri pemikirannya. Salah seorang tokoh penting dan yang terdahulu dalam hal ini adalah Abu Hanifah (699-767 M). Praktik penyelesaian masalah atau yurisprudensi para sahabat kemudian menjadi acuan bagi generasi yang kemudian. yang tinggal di Iraq dan kemudian melahirkan madzhab Hanafi. sebagaimana beliau sampaikan kepada Mu'az bin Jabbal. Buku tersebut merupakan susunan sistematik dan kodifikasi ilmu Fiqh yang banyak dicontoh oleh para ulama di kemudian hari. Pada suatu ketika sahabat menanyakan kepada beliau tentang sesuatu hal yang sifatnya sangat operasional. muncul seorang ahli Fiqh terkemuka di Madinah. dan seterusnya sehingga secara tidak langsung tersusunlah Fiqh. Tetapi ternyata Kitab Al-Kharaj yang ditulisnya itu memuat masalah yang jauh lebih luas dari perpajakan saja. Beliau murid Abu Hanifah. Mereka tidak banyak mempersoalkan hukum rinci tentang bagaimana melakukan sesuatu. . Apabila Abu Hanifah banyak menggunakan analogi (qiyas)dan pertimbangan kemashlahatan umum (istishlah). Beliau menulis buku tentang masalah hukum yang diberi judul AlMuwatha'. Dalam perkembangan masyarakat Muslimin ada 'ulama-'ulama yang menaruh perhatian lebih banyak kepada masalah hukum. Setelah Rasul wafat. maka Al Qur’an memerintahkan sahabat agar menghentikan kebiasaan itu [QS Al Anfal (8): 1]. ajaran Anas bin Malik yang kemudian berkembang menjadi madzhab Maliki merujuk kepada sunah Nabi dan para sahabat dekat beliau.tetapi hanya tentang hal-hal yang serius. para sahabat melakukan ijtihad dalam hal-hal yang tidak ada keterangan yang tegas dalam Al Qur’an maupun As Sunnah. apalagi tentang bagaimana seandainya terjadi sesuatu.

yaitu Abu Hanifah. tetapi dalam beberapa hal merembet juga dalam masalah hukum. Imam Malik. Perlu kita catat bahwa pada masa tersebut belum ada kodifikasi hadits Rasul. dan membangun teori yang sistematik dan rasional tentang itu. tetapi pengembangannya baru dilakukan oleh Al-Bukhari (wafat 870 M). yaitu Al-Quran. AsSyafi'i dan Ibnu Hambal di kemudian hari dipandang sebagai panutan di bidang Fiqh bagi kelompok Ahlus Sunnah wal Jama'ah. kelompok yang berkembang sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan kaum Mu'tazilah. yang dipelopori oleh Al-Washil ibnu Atha' (wafat 749 M). khususnya dalam masalah periwayatan hadits. Dengan demikian dalam pendirian As-Syafi'i diakui adanya empat dasar penetapan fiqh. meskipun tidak mengembangkan teori sendiri dalam masalah itu. Kaum Mu'tazilah.Salah seorang murid Anas bin Malik. Ajaran-ajaran beliau kemudian melahirkan madzhab baru yang dikenal sebagai madzhab Hanbali. Tokoh Fiqh ini kemudian dianggap sebagai pendiri madzhab Syafi'i. Perbedaan pokok kedua kelompok ini sebenarnya terletak di bidang ilmu Kalam (theologi). AsSyafi'i juga menerima pemikiran Abu Hanifah tentang qiyas. mengembangkan ajaran gurunya dan membangun teori yang andal untuk menguji kebenaran hadits. dipandang sangat mementingkan rasionalitas sehingga sering kali menolak Sunnah Rasul serta yurisprudensi para sahabat dan tabi’in (ulama sesudah generasi sahabat) kalau tidak sesuai dengan alur pikiran rasional mereka. madzhab yang paling banyak dianut oleh kaum muslimin di Asia Tenggara. Beliau menerima pula tradisi ijma' atau konsensus ulama sebagai sumber ketetapan hukum. termasuk Indonesia. yakni Muhammad bin Idris AsSyafi'i (wafat 820 M). Ijma' dan Qiyas. Usaha Bukhari . Empat ahli Fiqh terkemuka tadi. Meskipun As-Syafi'i sudah membangun teori tentang itu. As-Sunnah. Ahmad ibnu Hanbal (wafat 855 M) meneruskan paham Syafi'i lalu mengembangkan metodenya sendiri. seorang 'alim yang dengan ketekunan luar biasa meneliti dan menyaring ribuan hadits sehingga dapat diperoleh hadits-hadits yang dianggap benar-benar berasal dari Rasulullah SAW.

mandub atau sunnat (dianjurkan untuk dilakukan). Abu Daud. mempermudah orang yang merasa tidak mampu melaksanakan semua perintah atau tidak bisa meninggalkan semua larangan. Ilmu Fiqh yang dikembangkan oleh para 'ulama tadi melahirkan metodologi penetapan hukum. khususnya bagi kaum Sunni yang banyak menyandarkan pahamnya kepada keterangan Rasulullah SAW. Kodifikasi hadits memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan pemahaman Islam. Sekiranya beliau menetapkan hukum rinci secara kaku. karena yang dipentingkan nampaknya adalah nilai dan semangat melakukan perbuatan dan bukan bentuk perbuatan itu sendiri. dan mana yang adab atau sunnat. mana yang rukun (yang apabila ditinggalkan pekerjaan itu menjadi tidak sah). At-Turmudzi. dan haram (harus ditinggalkan). Tentang adanya perbedaan penetapan di antara para ahli Fiqh. dan An-Nasa'i. Fiqh mengelompokkan perintah dan larangan itu ke dalam lima kategori yaitu wajib (harus dilakukan). Al Hadits. tetapi umat dari berbagai generasi kemudian memang memerlukan kategorisasi tersebut. bagaimanapun. hal ini sudah dimulai pada zaman Rasul sendiri. Fiqh juga membagi-bagi untuk suatu pekerjaan ibadah. makruh(seyogyanya ditinggalkan). dan sekaligus melakukan penetapan hukum secara rinci beserta dengan alasannya. Meskipun para sahabat melaksanakan semua seruan Rasul dengan tidak memilih dan memilah ajaran. maka dinamika perkembangan hukum tidak akan terwujud dan di kemudian hari hukum Islam akan mengalami kesulitan tatkala dihadapkan dengan situasi yang .ini kemudian diteruskan oleh para ahli hadits lainnya seperti Muslim. dan praktek para sahabat serta ulama-ulama terdahulu. mana yang wajib (apabila ditinggalkan menyebabkan dosa tetapi pekerjaan itu sendiri tetap sah). Penggolongan ini merupakan pemikiran para ahli Fiqh yang didasarkan kepada pemahaman mereka terhadap Al Qur’an. Kategorisasi dan penggolongan itu. Beliau memberi kelonggaran untuk menetapkan hukum dengan akal pikiran. mubah (boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan). Ibnu Majah.

keturunan. Itulah yang seharusnya menjadi dasar bagi setiap Mukmin yang melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Siyasah Syar’iyyah atau hukum tatanegara. Talak. ulama mengelompokkannya ke dalam beberapa bidang kajian. > Yang kedua disebut Akhwalus Sakhsyiyyah. Puasa. Sebagai contoh. > Yang keenam.berkembang dengan cepat. yaitu hukum masalah keluarga seperti Nikah. > Yang kelimaAhkamul qadha atau hukum perdata. Sebagian melaksanakan shalat di perjalanan dengan alasan bahwa Rasul tidak akan senang apabila shalat dilambatkan. Tetapi karena perjalanan terhambat. Dengan demikian maka perbedaanperbedaan yang terjadi dalam Fiqh semestinya tidak akan menyebabkan perselisihan. timbul masalah. > Yang ketujuh ialah Huququd Dauliyah atau hukum internasional. Maka beliau memberi contoh dengan membiarkan dua orang melakukan hal yang berbeda pada situasi yang sama. dan bukan mencari kemenangan. tetapi memiliki semangat yang sama baik untuk melaksanakan perintah itu dengan benar. nafkah). Ternyata keduanya dipuji oleh Rasul. > Yang keempat adalah Jinayah atau hukum pidana. Zakat. > Yang pertama adalah Fiqh Ibadah. dan sebagian melaksanakan shalat di tempat tujuan dengan alasan mentaati perintah. [Sakib Machmud] . Haji. dan sebagainya). yaitu hukum yang berkenaan dengan ibadah ritual (Shalat. > Yang ketiga Fiqh Mu’amalah. > Yang kedelapan adalah ‘Adabyaitu hukum mengenai akhlak. yaitu hukumhukum masyarakat yang berkenaan dengan harta dan hak-hak sosial. membicarakan masalah baik dan buruk. karena masingmasing mempunyai persepsi sendiri terhadap perintah yang diberikan kepada mereka. Karena luasnya cakupan Ilmu Fiqh. selagi didasari oleh semangat mencari kebenaran. Rasul mengrimkan sejumlah orang ke suatu tempat dan menyuruh mereka shalat Ashar apabila sampai di tempat yang dituju.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful