PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA TENTANG IMUNISASI MUHAMMAD ALI Bagian

Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN

Imunisasi telah terbukti sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat penting.1 Program imunisasi telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah penyakit menular.2,3 Imunisasi juga telah berhasil menyelamatkan begitu banyak kehidupan dibandingkan dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya.4 Program ini merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif, yang berhasil meningkatkan angka harapan hidup.5 Sejak penetapan the Expanded Program on Immunisation (EPI) oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap tahunnya.Vaksinasi terhadap 7 penyakit telah direkomendasikan EPI sebagai imunisasi rutin di negara berkembang: BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.3 Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat.6 Banyak pula orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap risiko dari beberapa vaksin.4, Adapula media yang masih mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan risiko beberapa vaksin. Penelitian Davies mendapatkan bahwa 43% situs yang ada di internet merupakan situs anti vaksinasi.7 Semua keadaan ini pada akhirnya dapat menyebabkan rendahnya angka cakupan yang ingin dicapai.8,9 Pengembangan Program Imunisasi (PPI) di Indonesia yang dilaksanakan mulai tahun 1979 (awal PELITA III) menghadapi masalah yang sama dengan yang dijumpai di berbagai negara di dunia, yaitu rendahnya angka cakupan imunisasi dan tingginya angka drop-out kunjungan ulangan. Menurut Lubis, dari suatu penelitian yang dilakukan Gunawan didapatkan bahwa kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal ini disebabkan karena kurang informasi (60-75%), kurang motivasi (2-3%) serta hambatan lainnya (23-37%).10 Salah satu tujuan program ini adalah tercapainya cakupan seluas dan sebanyak mungkin. Kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi harus tetap terjaga, sebab bila tidak dapat mengakibatkan turunnya angka cakupan imunisasi. Perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memberikan pencegahan terhadap anak tersebut tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan tingkat imunitas secara umum di masyarakat.4 Oleh karena itu pandangan serta sikap setiap dokter atau orang tua sangat penting untuk dipahami tentang arti imunisasi.11 Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu, ras, pendidikan, dan status sosial ekonomi berhubungan dengan cakupan imunisasi 12, dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan status imunisasi anak mereka.13 Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan

1.1. Latar belakang

©2003 Digitized by USU digital library

1

karena adanya perbaikan pendidikan dan perhatian terhadap perempuan menyebabkan semakin meningkatnya tenaga kerja perempuan. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui pengetahuan.Pengetahuan . sikap dan perilaku tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. sikap dan perilaku ibu tentang imunisasi. apakah ada perbedaan pengetahuan. sehingga sebagian besar diantaranya akan terjun ke lapangan kerja informal. Dengan terjadinya peralihan itu. Hasilnya dapat dijadikan bahan pertimbangan terutama bagi perusahaan tempat ibu bekerja melalui poliklinik kesehatan untuk lebih memberikan perhatian. Hipotesis Tidak ada perbedaan pengetahuan. sikap.Sikap .2.1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut: perlu diketahui pengetahuan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan usia ibu dengan pengetahuan.5. mengakibatkan banyak tenaga kerja yang kemungkinan tidak akan tertampung di sektor industri. dan lebih banyak penjelasan tentang arti penting imunisasi. sikap dan perilaku ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang imunisasi. Kerangka konsep penelitian pengetahuan.kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. sikap dan perilaku ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang imunisasi. sikap dan perilaku tentang imunisasi pada kedua kelompok ini. sikap dan perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja tentang imunisasi. 1. 1. baik di sektor formal maupun informal. 1.3. Pada masa yang akan datang di Indonesia akan terjadi perubahan dari negara agraris menjadi negara industri.14 Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting.15 1. Kerangka konsep Ibu balita -Pendidikan -Usia Ibu bekerja Ibu tidak bekerja . ©2003 Digitized by USU digital library 2 .6. dan perilaku ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang imunisasi dan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mengenai hal tersebut pada kedua kelompok ini. Sementara itu.4.Perilaku Imunisasi Variabel Bebas Variabel Terikat Gbr.12 Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan yang memadai tentang hal itu diberikan. 1.

17 Jika suatu program intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja.20 Becker menuliskan pendapat Kasl dan Cobb yang mengatakan bahwa biasanya orang terlibat dengan kegiatan medis karena 3 alasan pokok . imunisasi.BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2. Sesuai dengan batasan ini. Bates mengemukakan hasil penelitian Becher yang mendapatkan bahwa ibu –ibu yang yang anaknya jarang terserang penyakit adalah mereka yang lebih sering memanfaatkan sarana-sarana kesehatan pencegahan. maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat sangat diperlukan. Karena itu tidaklah mengherankan bila banyak ahli ilmu perilaku yang mencoba menyampaikan konsep serta mengajukan bukti-bukti penelitian untuk menggambarkan. menerangkan. Banyak dokumentasi penelitian yang memperlihatkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan kesehatan.16 Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang. berpendapat. terutama di negara-negara berkembang pada dasarnya menyangkut dua aspek utama. anak mereka dapat terhindar dari sakit. namun hanya sedikit penelitian yang secara khusus mencari hubungan antara pengetahuan dan sikap orang tua dengan imunisasi anak. Peran Orang tua dalam Imunisasi Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi populer di berbagai negara.16 Cakupan imunisasi yang rendah merupakan persoalan yang kompleks.12 2. sikap dan tindakan.2. yaitu: (1) ©2003 Digitized by USU digital library 3 . Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir. perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya. yaitu fisik. serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan.orang yang memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi. dan meramalkan keputusan-keputusan orang yang berkaitan dengan kesehatan.18 Strobino mengatakan bahwa banyak literatur yang menghubungkan antara faktor orang tua dengan penggunaaan sarana kesehatan baik itu untuk tindakan pencegahan atau pengobatan penyakit. khususnya yang menyangkut pengetahuan. serta berbagai upaya pencegahan penyakit dan banyak pula yang tidak memanfaatkan pengobatan modern. karena ternyata vaksin gratis ternyata juga tidak menjadi jaminan bagi suksesnya imunisasi. dan sikap tentang kesehatan. dan non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan. Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan diimunisasi secara benar disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi. Mereka mengaku bahwa dengan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap sarana pencegahan dan melakukan usaha pencegahan yang teratur. Dengan kata lain. bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan).19 Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan. seperti misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit. Bukan hanya karena faktor biaya.1. Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.19 Keberhasilan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit tergantung pada kesediaan orang yang bersangkutan untuk melaksanakan dan menjaga perilaku sehat. Perilaku Kesehatan Masalah kesehatan masyarakat.

meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. yakni:21 1. Bahwa dalam tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga ©2003 Digitized by USU digital library 4 . Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata. dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. (2) untuk mendapatkan diagnosis penyakit dan tindakan yang diperlukan jika ada gejala penyakit yang dirasakan (perilaku sakit). factor–faktor yang mendukung (enabling factors) dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong ( reinforcing factors). si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi. Lewrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yakni: faktor-faktor predisposisi (predisposing factors). Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior) 2. agar sembuh dan sehat seperti sediakala.Untuk pencegahan penyakit atau pemeriksaan kesehatan pada saat gejala penyakit belum dirasakan (perilaku sehat). Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sebagai faktor usaha intervensi perilaku harus diarahkan kepada ketiga faktor pokok tersebut.2. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan.” 21 2. jika penyakit tertentu telah dipastikan. meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Bentuk Perilaku Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. atau agar penyakit tidak bertambah parah (peran sakit).2. Bentuk pasif adalah respon internal. kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku mempunyai andil nomor dua. Domain Perilaku Kesehatan Notoatmodjo berpendapat bahwa perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. pelayanan kesehatan dan keturunan mempunyai andil yang paling kecil terhadap status kesehatan. Respon ini berbentuk dua macam. tanggapan atau sikap batin. meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Bloom menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu. dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana. Benyamin Bloom seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu ke dalam 3 domain (ranah/kawasan). yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. misalnya berfikir.20 Menurut Notoatmodjo. Dari hasil penelitiannya di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang sudah maju. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi. Bagaimana proporsi pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap status kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia belum ada penelitian.21 2. Bentuk aktif. maka disebut “overt behavior. Ahli lain. Misalnya pada kedua contoh tersebut.1. dan pengetahuan. dan (3) untuk mengobati penyakit. yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain.2. Contoh lain adalah seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. semua ahli kesehatan masyarakat dalam membicarakan status kesehatan mengacu kepada Bloom.

tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas. Karena itu dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan ( attitude) c. Dari berbagai batasan tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Awareness (kesadaran). b. Ini selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap si subjek terhadap objek yang diketahui itu.21 Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior). yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice) Terbentuknya suatu perilaku baru. dan sikapnya terhadap stimulus. di dalam kenyataan stimulus yang diterima subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Trial. 21 Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut. b). 21 a. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi d. dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan. Artinya seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain tindakan (practice) seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap. ranah afektif (affective domain). Sikap secara nyata ©2003 Digitized by USU digital library 5 . Adoption. yang terdiri dari: a). Di sini sikap subjek sudah mulai terbentuk c. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. kesadaran. dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya. dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) b. Notoatmodjo mengungkapkan pendapat Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan. Interest ( merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif.domain perilaku tersebut. Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi. dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus e. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge) b. Namun demikian. ketiga domain ini diukur dari:21 a. yakni:21 a. ranah kognitif (cognitive domain). ranah psikomotor (psycomotor domain). dan c).

akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. seorang ibu telah mendengar penyakit polio (penyebabnya. tidak setuju. sangat tidak setuju)21 c. ide dan konsep terhadap suatu objek b. pengetahuan. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. akibatnya. Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai. setuju. 1. keyakinan. yakni:21 Menerima (Receiving) Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. dan emosi memegang peranan penting. Praktek atau Tindakan (Practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataanpernyataan hipotesis. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan. menurut Notoatmodjo. Dalam penentuan sikap ini. 3. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok. ©2003 Digitized by USU digital library 6 . dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. yakni:21 a. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek c.21 Tingkat-tingkat Praktek 21 1. Kecendrungan untuk bertindak Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). kemudian ditanyakan pendapat responden. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat akan mengimunisasikan anaknya untuk mencegah anaknya terkena polio. agar ibu tersebut dapat mengimunisasikan anaknya. Suatu contoh misalnya. pencegahannya. 21 Dalam bagian lain Allport. Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena polio. 4. antara lain fasilitas. Seperti halnya pengetahuan. Lepas jawaban dan pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut. dan sebagainya). Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu masalah Bertangguang jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya merupakan tingkat sikap yang paling tinggi. Secara langsung dapat ditanyakan bagaiamana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. 2. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil Respon Terpimpin (Guided Respons) Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh.(Sangat setuju. 2.menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Kepercayaan (keyakinan). berfikir.

Desain dan Sampel Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dilakukan secara sekat lintang. untuk mempengaruhinya. apakah imunisasi penting. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. mulai tanggal 18 Februari 2002 sampai dengan 23 Februari 2002. manfaat. apakah imunisasi dihentikan bila timbul reaksi. baik pewawancara maupun orang lain. apakah dilakukan hanya untuk mensukseskan program pemerintah. Sikap (Apakah ibu setuju mencari informasi imunisasi merupakan tugas orang tua. 4. tanpa seorangpun dibenarkan. apakah KMS terjaga baik. suatu pabrik penghasil mi instan. sudah lengkapkah imunisasi balita ibu. apakah penyakit yang ingin dicegah termasuk berat/serius. jumlah balita. teknik bertanya serta cara menilai dan mencatat jawaban responden. sikap. dan imunisasi ulangan). dan perilaku dibagi atas tiga tingkat yaitu baik. atau bulan yang lalu (recall). Populasi penelitian adalah wanita pekerja di pabrik mi instan Alhami dan istri karyawan pria yang tidak melakukan pekerjaan di luar rumah. imunisasi simultan. reaksi samping yang timbul. 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. tingkat pendidikan. jarak pemberian vaksin. Pewawancara adalah dokter-dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Haji Adam Malik Medan yang sebelumnya telah dilatih tentang maksud pertanyaan. ©2003 Digitized by USU digital library 7 . apakah mendapat imunisasi simultan. Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis. Setiap jawaban diberi tanda benar atau salah. berdasarkan jumlah jawaban benar pada masing-masing bidang. atau suatu ide sudah merupakan suatu kebiasaan. Pengetahuan tentang imunisasi (apakah ibu mengetahui pengertian imunisasi. maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga. Pengukuran langsung dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. apakah ada menyampaikan pentingnya imunisasi pada orang lain.2. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut. kurang. di kawasanTanjung Morawa. Responden diminta untuk menjawab semua pertanyaan secara jujur. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung. dan buruk. Adaptasi (Adaptation) Merupakan praktek yang sudah berkembang dengan baik. Pengetahuan. dan setujukah dengan pemberian beberapa vaksin bersamaan). Medan. hari. tempat pemberian imunisasi. penyakit yang ingin dicegah. yakni dengan wawancara terhadap kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam. Selanjutnya dilakukan uji coba untuk menyempurnakan bentuk kuisioner maupun pelaksanaan wawancara. sumber informasi imunisasi).1.Dilakukan wawancara dengan suatu kuisioner terancang. Hal-hal yang ditanyakan antara lain: Identitas/karakteristik ibu (usia. 3. Perilaku (Pernahkah mengikuti penyuluhan. jenis-jenis vaksin. berapa kali pemberian vaksin. dan apakah panik bila timbul reaksi).3. Olagafood Industri.

dan dipakai uji hipotesis 2 arah ( dua proporsi yang independen). namanama vaksin. Ibu Bekerja Adalah ibu – ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal. reaksi samping imunisasi. Usia Ibu Adalah umur ibu saat wawancara pengisian kuisioner berlangsung B. Berdasarkan rumus tersebut diperoleh besar sampel untuk masing-masing kelompok adalah sebesar 38 orang. Responden dieksklusikan bila tidak hadir saat wawancara berlangsung. 3. imunisasi hanya untuk 2 ©2003 Digitized by USU digital library 8 .π2) π1 – π2 n1 = jumlah subjek yang masuk dalam kelompok I n2 = jumlah subjek yang masuk dalam kelompok II π = proporsi = ½ (π1 + π2) π1= proporsi pengetahuan imunisasi kelompok I π2= proporsi pengetahuan imunisasi kelompok II Estimasi proporsi sebesar 50%. yang dilakukan secara reguler di luar rumah.Variabel Tergantung 1. Kurang ( menjawab tahu 3-5 dari 10 pertanyaan ) 3. Kategori: 1. Pengetahuan Yaitu pengetahuan tentang pengertian imunisasi. 3. imunisasi simultan. tetap meneruskan pemberian imunisasi meski terjadi reaksi yang merugikan. Defenisi Operasional dan Kategori A. Sikap Yaitu setuju tidaknya ibu mencari informasi tentang imunisasi sebagai tugas orang tua. setuju tidaknya ibu bahwa imunisasi program yang sangat penting. penyakit yang ingin dicegah adalah serius dan berbahaya. Ibu Tidak Bekerja Adalah ibu – ibu yang tidak melakukan pekerjaan mencari penghasilan dan hanya menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga saja.π1) + π2 (1. jarak pemberian imunisasi.96 √2π (1.π) + 1.4. Besar Sampel Perkiraan besar sampel ditetapkan berdasarkan rumus Uji Hipotesis terhadap 2 Proporsi.3.Variabel Penelitian. perbedaan yang dianggap berarti 30%. 2. tingkat kepercayaan 95%.645 √ π1 (1. manfaat imunisasi. dan imunisasi ulangan. dan kekuatan studi 90%. Baik ( menjawab tahu > 5 dari 10 pertanyaan ) 2. tempat imunisasi.Variabel Bebas 1. Tingkat Pendidikan Ibu Adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti oleh ibu: Pendidikan rendah : SD dan SLTP Pendidikan sedang : SLTA Pendidikan tinggi : PT/Akademi 4. Kriteria inklusi: responden harus memiliki anak berusia di bawah lima tahun. dalam wawancara dapat membawa atau menunjukkan Kartu Menuju Sehat (KMS) anak terkecilnya dan responden harus dapat menjawab seluruh pertanyaan secara lengkap.3. penyakit yang ingin dicegah. Buruk ( menjawab tahu ≤ 2 dari 10 pertanyaan ) 2.22 n1 = n2 = 1. jumlah kali pemberian polio.

apakah KMS terpelihara dengan baik. Kurang ( menjawab ya 3 . anak ibu pernah mendapat 2 jenis atau lebih imunisasi dalam satu kali kunjungan. Analisa ini dilakukan perangkat keras komputer program SPSS for Windows ver 10. Perilaku Yaitu apakah ibu pernah membaca atau mengikuti penyuluhan tentang imunisasi. Proporsi kelompok usia terbesar untuk kedua kelompok ini adalah kelompok usia 20-35 tahun (89%). Hasil Dari sampel yang diteliti didapati 38 orang ibu bekerja bekerja. SD 5. SD 5. Kategori: 1. Buruk ( menjawab ya ≤ 2 dari 6 pertanyaan ) 2.6 pertanyaan ) 3. Tabel 1. Baik ( menjawab ya 5 .05 p > 0.13).05 Karakteristik responden terlihat pada tabel 1.84. balita ibu sudah mendapat imunisasi secara lengkap.05 p > 0.Dari 38 orang ibu yang bekerja didapati distribusi usia 19-43 tahun ( mean 25.mensukseskan program pemerintah serta setuju tidaknya ibu pemberian beberapa jenis vaksin secara bersamaan/simultan. pernahkan menyampaikan pentingnya imunisasi pada orang lain serta apakah ibu panik dengan demam setelah suntikan DPT.1.82.82) dan pada ibu yang tidak bekerja distribusi usianya 20-42 tahun ( mean 26. Karakteristik responden Ibu bekerja Ibu tidak bekerja N % N % Usia 3 <20 tahun 8 0 0 36 95 20-35 tahun 32 84 2 5 >35 tahun 3 8 Tingkat pendidikan 13 SD 4 11 34 11 SLTP 11 29 29 SLTA 22 58 14 37 PT/Akademi 1 3 0 0 Umur balita 4 -11 bulan 17 45 14 37 12-59 bulan 21 55 24 63 dan 38 orang ibu tidak p p > 0. dikatakan bermakna apabila p < 0.6 pertanyaan ) 3. Kurang ( menjawab ya 3 .4 dari 6 pertanyaan ) 3. Buruk ( menjawab ya ≤ 2 dari 6 pertanyaan ) 2. Kategori: 1. ©2003 Digitized by USU digital library 9 .4 dari 6 pertanyaan ) 3.0 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.5 Analisa Data Analisa statistik yang digunakan untuk data kategorikal adalah dengan uji kai kuadrat .05. Baik ( menjawab ya 5 .

83%.” untuk imunisasi yang diberikan berulang seperti DPT dan polio berapa lama jarak pemberiannya.3107 18 24 x2 = 2. Jawaban untuk pertanyaan” menurut ibu apa manfaat imunisasi”.” apakah ibu mengetahui pengertian imunisasi.05). dan “ imunisasi apa saja yang memerlukan ulangan” . dan distribusi usia balita terbanyak untuk kedua kelompok usia 12-59 bulan (59%). Sikap Tabel 3. maka jawaban benar diberikan masing –masing sebesar 47% dan 50%. Pengetahuan tentang imunisasi Baik Kurang N % N Ibu bekerja Ibu tidak bekerja Jumlah 10 8 26 21 20 26 46 % 53 68 Buruk N 8 4 12 % 21 11 16 Jumlah 38 38 76 p = 0. 88%. Pengetahuan Tabel 2.834 37 d.1. dan 70%.2.05). dan “ di mana saja ibu dapat memperoleh imunisasi”. 83% dan 80%.f.Tingkat pendidikan terbanyak untuk kedua kelompok adalah SLTA (47%). “penyakit-penyakit apa saja yang ingin dicegah dengan imunisasi BCG dan Hepatitis”. maka didapati sebagian besar responden tidak dapat menjawab dengan benar berturut-turut sebesar 93%.1. Tidak dijumpai perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja ( p > 0. “berapa kali imunisasi polio diberikan pada imunisasi dasar”. = 2 Pengetahuan ibu tentang imunisasi terlihat pada tabel 2.007 ©2003 Digitized by USU digital library 10 . Untuk 2 pertanyaan lain. Tidak dijumpai perbedaan bermakna untuk distibusi usia responden. Pertanyaan-pertanyaan lain untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang imunisasi dapat dijawab dengan benar. 4.330 61 d. dan “ apakah ibu mengetahui nama-nama vaksin yang dapat dilayani di puskesmas/posyandu” maka responden yang menjawab benar berturut-turut sebesar 95%. dan usia anak pada kedua kelompok (p > 0. 84%. tingkat pendidikan. Untuk pertanyaan-pertanyaan berikut: “ reaksi samping apa saja yang mungkin timbul setelah suntikan DPT”. Dari 10 pertanyaan yang diajukan pada kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi ternyata didapati bahwa ada 5 pertanyaan yang secara umum tidak dapat dijawab secara benar oleh kedua kelompok responden. = 2 3 76 p = 0. “apakah boleh beberapa jenis vaksin diberikan sekaligus dalam satu kunjungan (simultan)”. Sikap tentang imunisasi Baik N Ibu bekerja 12 % 32 Kurang N % 24 63 Buruk N % 2 5 Jumlah 38 Ibu tidak bekerja Jumlah 25 66 49 13 34 49 0 2 0 38 37 x2 = 9.f. Pengetahuan baik tentang imunisasi pada ibu bekerja 26% dan pada ibu tidak bekerja 21%. 4.1.

sikap dan perilaku tentang imunisasi dengan tingkat pendidikan responden ( p > 0. ©2003 Digitized by USU digital library 11 .3. 63 (83%) tidak setuju untuk memberikan anaknya imunisasi secara simultan. 63%. 4. 34%. dan buruk tentang imunisasi pada ibu bekerja didapati berturut-turut 32%.05). dan 13% Tabel 5. dan 26%. 21%. dan buruk tentang imunisasi pada ibu bekerja didapati berturut-turut 32%. = 2 42 21 32 Buruk N 10 5 15 % 26 13 20 Jumlah 38 38 76 p = 0. sedang pada ibu tidak bekerja didapati 66%. kurang. Perilaku Tabel 4. 42%. sedang pada ibu tidak bekerja didapati 66%. dan 5%.05). sikap dan perilaku tentang imunisasi Pendidikan ibu Sekolah Dasar SLTP SLTA PT Jumlah p Pengetahuan Baik Kurang 0 13 5 13 0 18 12 20 1 46 p > 0. dan perilaku tentang imunisasi terlihat pada tabel 5.05 Penelitian ini mendapatkan tidak ada hubungan antara pengetahuan. Penggabungan kedua kelompok responden berdasarkan tingkat pendidikan dan hubungannya dengan pengetahuan. dan 0%. Sikap yang baik. Dijumpai perbedaan yang bermakna pada perilaku tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja ( p < 0.1. kurang. Dari 76 responden.Sikap ibu tentang imunisasi terlihat pada tabel 3. Perilaku tentang imunisasi Baik N Ibu bekerja Ibu tidak bekerja Jumlah 12 25 37 x2 = 8.0117 Perilaku ibu tentang imunisasi terlihat pada tabel 4.f. Ada 6 pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui tingkat sikap ibu terhadap imunisasi. Hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pengetahuan. Dari seluruh pertanyaan didapati jawaban yang tidak benar dominan pada pertanyaan ”apakah ibu setuju dengan pemberian beberapa jenis vaksin dalam waktu bersamaan (simultan). Perilaku baik. sikap.05).901 % 32 66 49 Kurang N % 16 8 24 d. Dijumpai perbedaan yang bermakna pada sikap tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja (p< 0.05 5 7 0 15 Buruk 4 5 3 0 12 p > 0.05 Sikap Perilaku Baik Kurang Buruk Baik Kurang Buruk 10 7 0 8 6 3 13 14 0 37 8 21 1 37 1 1 0 2 11 18 0 37 6 11 1 24 p > 0.

namun usia ibu tidak berhubungan dengan sikap terhadap imunisasi (p > 0. 68%.24 Pengetahuan tentang imunisasi yang kurang memadai juga dijumpai pada penelitian yang dilakukan oleh Suharsono.6% dari mereka tidak mengerti tentang imunisasi. dan buruk tentang imunisasi pada ibu bekerja didapati berturut-turut 26%. sama dengan hasil yang didapati oleh Masjkuri yang melakukan penelitian tentang pengetahuan ibu-ibu tentang imunisasi di Kemayoran Lama. Temuan kami memperlihatkan bahwa pada penggabungan semua responden. Hubungan ini terlihat pada tabel 6. sikap. Sayangnya hal ini tidak diikuti oleh peran dokter. pengetahuan mereka tentang imunisasi masih buruk. sayangnya tidak didasari oleh pengetahuan yang baik pula. dan 11%. Pengetahuan baik. sikap. puskesmas (8%). sedang pada ibu tidak bekerja didapati 21%. Terbukti bahwa walaupun mayoritas responden telah mengenyam tingkat pendidikan yang memadai (SLTA. Sikap dan perilaku tentang imunisasi yang baik pada ibu bekerja. ternyata 56. klinik (13%). bidan (12%). Proporsi ibu bekerja yang tidak tahu tentang imunisasi didapati sebesar 61%. Ia melakukan studi deskripsi tentang pengetahuan. Data ini menunjukkan bahwa peran posyandu masih sangat besar dalam penyebarluasan informasi tentang imunisasi .05 2 37 24 p < 0. 47%). dan 21%.003 12 37 37 p > 0. dokter (7%). Tidak dijumpainya perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja pada penelitian ini. kebanyakan ibu-ibu setuju bahwa imunisasi merupakan kesehatan masyarakat yang sangat penting. ©2003 Digitized by USU digital library 12 . namun perbedaan ini bermakna pada sikap dan perilaku. kurang.05). Mereka juga sadar bahwa imunisasi yang mereka berikan kepada anak-anaknya tidak semata dilakukan untuk mensukseskan program pemerintah. dan ini berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu-ibu tersebut.01 15 Sedangkan hubungan antara pengetahuan. padahal ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Hubungan usia ibu dengan pengetahuan. sikap dan perilaku tentang imunisasi Usia Pengetahuan Sikap Perilaku ibu Kurang Buruk Baik Kurang Buruk Baik Kurang Buruk Baik < 20 0 0 3 0 3 0 0 0 3 tahun 20-35 18 43 7 36 30 2 37 21 10 tahun > 35 0 3 2 1 4 0 0 3 2 tahun Jumlah p 18 46 p < 0. masyarakat (16%).2. dan perilaku ibu-ibu etnis Tionghua tentang imunisasi di 4. Penelitian ini juga mendapatkan bahwa dari 548 ibu yang memiliki balita. Pembahasan Sumber informasi mengenai imunisasi pada seluruh responden didapati berturut-turut posyandu (42%).23 Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. dan media massa (3%). 53%.Tabel 6. dan perilaku ibu tentang imunisasi dengan usia ternyata dari penelitian ini didapati bahwa usia ibu berhubungan dengan pengetahuan dan perilaku mereka terhadap imunisasi (p < 0.05). Satu penelitian mendapatkan 96% orang tua mengaku menerima nasihat dokter sebelum memutuskan imunisasi untuk anak mereka. Jakarta Selatan.

Penelitian Strobino menunjukkan 50% responden tidak ©2003 Digitized by USU digital library 13 . sikap. 42%. dan buruk tentang imunisasi pada ibu bekerja didapati berturut-turut 32%.20%. dan buruk tentang imunisasi pada ibu bekerja didapati berturut-turut 32%. Tidak diketahui alasan yang jelas mengapa ibu tidak bekerja memiliki sikap dan perilaku yang baik tentang imunisasi. Sikap baik.10 Namun penelitian lain mendapatkan tidak ada hubungan antara usia ibu dengan status imunisasi anak mereka. di samping kesempatan untuk membentuk sikap dan perilaku baik yang lebih luas dan besar dibanding dengan ibu bekerja. kurang. yaitu dijumpai hubungan bermakna antara pengetahuan. sedang pada ibu tidak bekerja didapati 66%. Hal ini mungkin karena kurangnya minat untuk mengetahui tentang imunisasi atau juga karena kurangnya penyuluhan yang mereka terima.50%) dan ibu-ibu yang memiliki pendidikan menengah (87. sikap. sikap. Hal ini berbeda dengan penelitian terdahulu oleh Lubis dan Masjkuri .16 Ada beberapa pertanyaan dalam menguji pengetahuan tentang imunisasi ini yang secara umum tidak dapat dijawab dengan benar oleh kedua kelompok responden. dan ruang rawat inap Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Pirngadi Medan.10. walaupun dasar pengetahuannya tidak memadai. sedang pada ibu tidak bekerja didapati 66%. meskipun kebanyakan responden mengaku memperoleh informasi tentang imunisasi dari posyandu. Pengetahuan baik ini kebanyakan didapati pada ibu-ibu berusia < 25 tahun (64. dan 13.24 Sedangkan hubungan antara pengetahuan.0%. Penelitian ini mendapatkan bahwa pengetahuan yang baik tentang imunisasi ternyata tidak menghasilkan sikap dan perilaku yang baik pula. Pertanyaan tentang reaksi samping apa saja yang mungkin timbul setelah penyuntikan DPT mungkin terlalu spesifik sehingga hampir seluruh responden (93%). Misalnya tentang pemberian beberapa jenis vaksin dalam waktu bersamaan (simultan). 21%. 60%. Tampaknya anggapan baik tentang imunisasi telah tertanam pada ibu-ibu ini. dan 13%. Walupun pada kedua kelompok tidak didapati perbedaan pengetahuan tentang imunisasi. 63%. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengetahuan baik tentang imunisasi pada etnis ini hanya 40. Strobino mendapatkan bahwa pengetahuan dan sikap yang baik dari orang tua tentang imunisasi ternyata tidak dapat menjelaskan status imunisasi anak mereka yang kurang baik. tidak dapat menjawab secara benar.10 Hampir sama dengan itu. penelitian ini menunjukkan hasil yang hampir sama dengan penelitian Lubis.Kecamatan Kelapa Kampit. Perilaku baik. dan 5%. dan perilaku ibu tentang imunisasi dengan usia ibu. dan perilaku ibu tentang imunisasi dengan tingkat pendidikan (tabel 5). Penelitian ini mendapatkan sebagian besar responden (82%) tidak setuju dengan pemberian vaksin secara simultan. sikap. pada tahun 1985. walaupun seluruh responden tetap beranggapan bahwa program kesehatan masyarakat ini sangat penting. sikap.12 Ada beberapa kesalahpahaman responden tentang program imunisasi yang diperoleh dari penelitian kami ini.25 Strobino mendapatkan 65% responden suatu penelitian ( 91% darinya ibu-ibu) ternyata tidak mengetahui jenis vaksin untuk penyakit yang ingin dicegah. Pada dua penelitian ini dijumpai hubungan yang bermakna antara pengetahuan. dan perilaku ibu tentang imunisasi dengan tingkat pendidikan. dan perilaku ibu tentang imunisasi dengan usia ibu (tabel 6). Penelitian ini mendapatkan pengetahuan baik tentang imunisasi di tiga tempat ini berturut-turut 60. dan perilaku orang tua tentang imunisasi di poliklinik anak sehat. kurang. Mereka melakukan penelitian tentang pengetahuan.10%).20%. Ini menunjukkan rendahnya pengetahuan ibu-ibu responden tentang imunisasi. dan 26%. poliklinik anak sakit. dan 0%. Namun untuk pertanyaanpertanyaan lain yang bersifat umumpun jawaban yang diberikan masih salah.16 Penelitian kami ini tidak mendapatkan hubungan antara pengetahuan. 34%. namun pada sikap dan perilaku dijumpai perbedaan yang bermakna. Kabupaten Belitung. Hal sebaliknya didapati pada penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan kawan-kawan.

23 Begitu banyak kesalahpahaman tentang imunisasi ini sehingga otoritas kesehatan di suatu negara maju merasa perlu untuk mendirikan klinik khusus menangani penjelasan dan anjuran tentang imunisasi. dan kawan-kawan.90%) orang tua masih beranggapan bahwa imunisasi merupakan program yang sangat penting. bahkan kekhawatiran seperti ini masih dijumpai di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Kesimpulan Dari penelitian ini dapat kami simpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja. Bagi perusahaan tempat ibu bekerja diharapkan dapat memfungsikan poliklinik kesehatan yang ada sebagai sarana penyampaian segala informasi tentang program imunisasi.27-29 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui rendahnya angka cakupan imunisasi mendapatkan bahwa ternyata 11% dokter mengaku tidak setuju dengan pemberian tiga jenis vaksin secara simultan. efikasi vaksin dan pandangan orang tua. Begitupun. Kesalahpahaman tentang imunisai sering kali mengkhawatirkan terhadap kelanjutan program ini. didasari atas kekhawatiran akan efek samping.5 Peningkatan cakupan imunisasi sangat penting tetapi satu penelitian mendapatkan bahwa banyak orang tua dan bebrapa dokter tetap memandang imunisasi sebagai bahaya potensial yang harus dihindari. walau tanpa dasar pengetahuan yang memadai ternyata di kalangan ibu tidak bekerja sikap dan perilaku mereka tentang imunisasi lebih baik dibanding ibu yang bekerja. tetapi juga untuk kalangan profesional kesehatan. Dua puluh lima persen responden beranggapan bahwa imunisasi yang banyak dan berulang-ulang dapat melemahkan daya tahan anaknya. ©2003 Digitized by USU digital library 14 .2. dan 23% responden percaya bahwa anak-anak mereka telah menerima imunisasi melebihi dari apa yang seharusnya mereka butuhkan. Beberapa kesalahpahaman tentang imunisasi masih saja dijumpai. Suatu penelitian dengan survei telepon untuk mengetahui pemahaman orang tua tentang imunisasi telah dilakukan oleh Gellin . Tidak hanya untuk populasi negara kita yang masih berkembang.percaya dengan keamanan imunisasi secara simultan. dimana tingkat pengetahuan tentang imunisasi ini masih sangat kurang. Dari penelitian tersebut mereka dapati bahwa sebagian besar (86. (immunisation advisory clinic).26 Kekhawatiran akan beberapa hal tentang imunisasi pada masyarakat masih dapat ditolerir dan merupakan suatu yang wajar. 5. tidak hanya untuk orang tua. Saran Diperlukan penyebarluasan informasi tentang imunisasi di kalangan ibu-ibu yang lebih intensif dan sungguh-sungguh.16 Bahkan di kalangan dokter sendiri ada keraguan tentang hal ini. sehingga diperlukan lebih banyak penjelasan dan pendekatan dengan cara-cara yang lebih baik dari sebelumnya. Begitupun kesalahpahaman tentang program ini didapati cukup besar.1.

43-92 Bedford H. 1997. Jones MHW. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1999. penyunting. Chapman S. 1073-5 Davies P. penyunting. 135-48 Bates AS.298:1687 Lewis T. 1-3 Rodewald L. 1990.1: 1-11 Masjkuri NM. Kliegman RM. 95-133 Peter G. Elliman D. Arch Dis Child 1988. 1995. 1-10 Polnay L. 103: 889-7 ©2003 Digitized by USU digital library 15 . Jakarta. JAMA 1994. Jenson HB. Jakarta. Pateman J. dan perilaku orang tua tentang imunisasi. Majalah Kedokteran Nusantara. IZ. 1081-9 Pokja KIPI Pusat. Br J Gen Pract 1992. Wokinsky FD. Sudarsono S. Dalam: Behrman E. Ibu-ibu yang tidak tahu tentang imunisasi: ciri-ciri dan kegiatannya yang dapat dipakai sebagai sarana pemberian informasi. 272:1105-10 Becker MH. 63: 1498-500 Hawe HP.292:937-40 Lubis. Nicoll A. Arch Dis Child 2002. Edisi ke-1. h. Marcuse EK. Influence of parental knowledge and opinions on 12-month diphteria. Besar sampel. Arch Dis Child 1985. 1-27 Gellin BG. Memperkenalkan sosiologi kesehatan. Model-model perilaku kesehatan. Dirjen PPM & PLP Depkes RI 1999. 318: 1578 Basuki B. Pengetahuan. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Morgan K.DAFTAR PUSTAKA Anderson P. Br Med J 1986. 1993. Concern about immunization. Br Med J 1989. Degeling DE. Medika 1985. Role of immunisation advisory clinic. Current practice in health promotion. BMJ 2000. Fitgerald JF. edisi ke-1. Petunjuk teknis reaksi samping imunisasi. Dalam: Tjokronegoro A. Osborn LM. Dalam: Muzaham F. 2001. Maes E. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. h. Another media scare about MMR vaccine hits Britain. Maibach EW. Lubis M. Cherry JD. Edisi ke-16. Immunisation for all? Arch Dis Child 1988. Miller CL. 60:1173-6 Kinder J. Myths in medicines: immunization. False contraindications to childhood immunization. tetanus and pertussis vaccination rates. h. 87:22-5 Dir Jen PPM&PLP DepKes RI. Special advisory service for immunisation. Pediatrics 2000. Standar operasional program imunisasi khusus . Maiman LA. Kurian A. Hall JP. Dalam: Buku imunisasi di Indonesia. Immunization practices. dkk. Ed. h. Parents’ beliefs about vaccination: the continuing propagation of false contraindications. Manoeroeng SM. Immunization performance measurement in a changing immunization environtment.AJDC 1988. Lewis K. Jakarta:UI-Press. Risk factors for underimmunization in poor urban infants. BMJ 1994. Stevenson J. Loebis MS. Moore AGT. h. Nelson textbook of pediatrics. sikap. Bridgmen G. h. 9: 842-4 Notoatmodjo S. Philadelphia: WB Saunders. Do parents understand immunization? A national telephon survey. 42:160-1 Klein N. Brockert J. Williams ALJ. Lubis CP. Edisi khusus. h. Rao M. 1081-9 Begg N. 2000. Bittus RS. Teare L. 106: 1097-102 Hall R. BMJ 1999.Jakarta: PT Rineka Cipta. Antivaccination activists on the world wide web. Leask J. Pediatrics 1999. Metodologi penelitian bidang kedokteran. Imunisasi upaya pencegahan primer. Jacobsen J. 142:283-6 Lingam S. 63:1507-8 Ranuh IGN.

152:208-9 ©2003 Digitized by USU digital library 16 . Mieczkowski TA. Parents’ Attitudes Toward Schoolbased Hepatitis B Vaccination of Their Children. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 1996. Medan. sikap.Sarwono S. 57-71 Suharsono. Pediatrics 1996. 98:410-3 Zimmerman RL. dan perilaku ibu-ibu keturunan Cina yang mempunyai bayi baru lahir tahun 1994 terhadap imunisasi bayi di Kecamatan Kelapa Kampit. h. h. Skripsi. Arch Pediatr Adolesc Med 1998. h. Parental attitudes do not explain underimmunization. Holt E. 68-73 Woodruff BA. Unti L. Schlesselman JJ. A national survey to understand why physician defer childhood immunization. Jakarta. Kabupaten Belitung Propinsi Sumatera Selatan tahun 1996. Coyle K. Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya Yokyakarta: Gadjah Mada University Press. Badan Pusat Statistik. 1-6 Strobino D. Keane V. Pediatrics 1996. 1997. Guyer B. Chuanroong LB. 98:1076-83 Subdirektorat Statistik Kesehatan dan Perumahan. Hughart N. Pengetahuan. Baird AL. Indikator sosial wanita Indonesia 1999. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful