P. 1
Peran Strategik MSDM

Peran Strategik MSDM

|Views: 1,655|Likes:
Published by chierasain
Perusahaan untuk memenangkan persaingan harus siap dengan barang, jasa dan sumber daya yang berkualitas. Sumber daya manusia merupakan aset strategis dalam menciptakan keunggulan bersaing secara berkelanjutan Queleh dalam M.Wahyudin, 2000: 42). Persaingan dalam pasar global dapat dimenangkan jika perusahaan selalu meyediakan pelayanan yang superior bagi konsumen, mengembangkan kapabilitas baru dan komitmen pada kualitas, mengembangkan inovasi, kreatifitas, inisiatif dan mengelola sumber daya manusia secara lebih efektif (Walker, 1992: 1). Pengelolaan sumber daya manusia secara efektif dapat meningkatkan komitmen sumber daya manusia pada kualitas. Tanpa komitmen pegawai terhadap kualitas, usaha perbaikan kualitas tidak akan berhasil. Suatu hal yang penting bahwa komitmen pegawai terhadap kualitas adalah komitmen pimpinan akan kualitas. Ketika pegawai menerima kenyataan bahwa manajemen memiliki komitmen terhadap kualitas, mereka cenderung untuk lebih berkomitmen pada kualitas (Howard & Foster 1999: 5). Komitmen terhadap kualitas sumber daya manusia paling penting dan menentukan, karena sumber daya manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki akal, perasaan, keinginan, kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dorongan, daya dan karya. Semua potensi sumber daya manusia tersebut sangat berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam mencapai tujuannya. Betapapun majunya teknologi, berkembangnya informasi, tersedianya modal dan memadainya bahan, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas maka akan sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Rendahnya kualitas karena kurangnya komitmen pimpinan pada kualitas dan pemberdayaan pegawai. Hal ini sejalan dengan hasil temuan Mc. Laughlin & Ka- luzni dalam Castle (1999: 5) yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas (quality improvement) Sebab itu top manajemen merupakan orang yang paling penting dalam menjelaskan peningkatan kualitas. Secara tradisional, tanggung jawab untuk memantau dan mempengaruhi sikap pegawai merupakan tanggung jawab manajer sumber daya manusia (Howard & foster, 1999: 6). Dengan demikian praktek MSDM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan komitmen pimpinan pada kualitas. Ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai praktek MSDM. Pada ward dan Foster (1999) dapat ditemukan pendapat beberapa ahli seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 di bawah ini.
Perusahaan untuk memenangkan persaingan harus siap dengan barang, jasa dan sumber daya yang berkualitas. Sumber daya manusia merupakan aset strategis dalam menciptakan keunggulan bersaing secara berkelanjutan Queleh dalam M.Wahyudin, 2000: 42). Persaingan dalam pasar global dapat dimenangkan jika perusahaan selalu meyediakan pelayanan yang superior bagi konsumen, mengembangkan kapabilitas baru dan komitmen pada kualitas, mengembangkan inovasi, kreatifitas, inisiatif dan mengelola sumber daya manusia secara lebih efektif (Walker, 1992: 1). Pengelolaan sumber daya manusia secara efektif dapat meningkatkan komitmen sumber daya manusia pada kualitas. Tanpa komitmen pegawai terhadap kualitas, usaha perbaikan kualitas tidak akan berhasil. Suatu hal yang penting bahwa komitmen pegawai terhadap kualitas adalah komitmen pimpinan akan kualitas. Ketika pegawai menerima kenyataan bahwa manajemen memiliki komitmen terhadap kualitas, mereka cenderung untuk lebih berkomitmen pada kualitas (Howard & Foster 1999: 5). Komitmen terhadap kualitas sumber daya manusia paling penting dan menentukan, karena sumber daya manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki akal, perasaan, keinginan, kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dorongan, daya dan karya. Semua potensi sumber daya manusia tersebut sangat berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam mencapai tujuannya. Betapapun majunya teknologi, berkembangnya informasi, tersedianya modal dan memadainya bahan, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas maka akan sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Rendahnya kualitas karena kurangnya komitmen pimpinan pada kualitas dan pemberdayaan pegawai. Hal ini sejalan dengan hasil temuan Mc. Laughlin & Ka- luzni dalam Castle (1999: 5) yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas (quality improvement) Sebab itu top manajemen merupakan orang yang paling penting dalam menjelaskan peningkatan kualitas. Secara tradisional, tanggung jawab untuk memantau dan mempengaruhi sikap pegawai merupakan tanggung jawab manajer sumber daya manusia (Howard & foster, 1999: 6). Dengan demikian praktek MSDM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan komitmen pimpinan pada kualitas. Ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai praktek MSDM. Pada ward dan Foster (1999) dapat ditemukan pendapat beberapa ahli seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 di bawah ini.

More info:

Published by: chierasain on Jan 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2013

pdf

text

original

1. Sejarah dan kultur organisasi

Budaya organisasi yang berorientsi pada sumber daya manusia yang kuat

mampu mengembangkan hubungan alamiah antara kegiatan sumber daya

manusia dengan perencanaan strategis.

2. Strategis

Strategi pemusatan pada satu jenis bisnis inti dapat memacu potensi bagi

terciptanya hubungan perencanaan strategis dengan sumber daya manusia

yang semakin integratis karena memungkinkan dikembangkannya dan

Manajemen organisasi, Personalia dan Kepemimpinan

Peran strategik MSDM Dalam Kepemimpinan

25

diterapkannya program dan sistem sumber daya manusia di seluruh perusahaan.

3. Struktur

Penempatan unit sumber daya manusia dalam struktur organisasi, senior

eksekutif sumber daya manusia di beri status sama seperti direktur fungsional

lainnya

4. Keterampilan dan Nilai yang dianut eksekutif : Sumber daya manusia

memiliki pengetahuan yang baik mengenai bisnis dan mampu memberikan

masukan kedalam proses perencanaan strategis.

5. Keterampilan dan Nilai yang dimiliki Karyawan : bantuan fungsi SDM

yang diterima manajemen untuk memecahkan masalah ketenagakerjaan akan

menguatkan pentingnya fungsi SDM.

6. Sistem Manajemen yang meliputi sistem imbalan, sistem komunikasi dan

informasi SDM sehingga SDM dan perencanaan strategi akan semakin

terintegrasi jika para senior eksekutifnya memiliki persentase yang substansial

konpensasi menanggung resiko.

7. Sistem Komunikasi yang memiliki tujuan membangun kesadaran manajer

terhadap tujaun strategis perusahaan dan mendorong mereka mendorong mereka

mengembangkan motivasi bawahannya didukdung dengan database SDM yang

dikembangkan dengan baik.

Menurut Nkomo (1980) evolusi manajemen SDM melewait tiga tahap, yaitu ;

1. Defenisi Stage : Yaitu ketika manajer personalia menyelenggarakan

program- progaram yang kurang memberikan manfaat untuk kengurangi

kekacauan karyawan dan kemungkinan perpecahan.

2. Perencanaan Manpower : dalam tahap ini digunakan kebutuhan pekerja

dan perekrutan seleksik, training untuk menjamin terpenuhinya target manpower.

3. Manajemen SDM Strategis Ketika manajer SDM seharusnya lebih proaktif

dalam memecahakan masalah manajemen perusahaan dan dalam memberikan

kontribusi efektivitas organisasional yang lebih besar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->