Ketimpangan pembangunan dan Kemiskinan

Oleh : Achmad Rozi El Eroy Pendahuluan Ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia secara makro dipengaruhi oleh adanya kesenjangan dalam alokasi sumber daya; sumberdaya manusia,, fisik, teknologi dan capital. Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda didalam menghadapi isu ketimpangan pembangunan. Indonesia bagian barat menjadi primadona pembangunan ekonomi Indonesia sejak pemerintahan orde baru dimulai, terlebih sebelum era desentralisasi diterapkan di Indonesia. Sementara sebaliknya, untuk wilayah Indonesia Timur, banyak mengalami ketertinggalan diberbagai sector pembangunan. Salah satu dampak sosial yang terjadi akibat kesenjangan atau ketimpangan pembangunan ekonomi dalah adanya kemiskinan diberbagai sektor. Kemiskinan menjadi problem kolektif bangsa Indonesia. Berbagai program dan strategi mengentaskan kemiskinan juga telah banyak dilakukan oleh pemerintah; mulai dari penguatan kualitas sumberdaya manusia, pembukaan lapangan pekerjaan, eksplorasi sumberdaya alam dan penyediaan program padat karya. Tulisan ini secara global akan memotret dua persoalan besar yang melanda dan menjadi problem bersama semua daerah. Dalam sebuah negara pasti tidak akan terlepas dari aktivitas-aktivitas perekonomian. Aktivitas perekonomian ini terjadi dalam setiap bentuk aktivitas kehidupan dan terjadi pada semua kalangan masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah maupun pada masyarakat kalangan atas. Dalam pelaksanaannya, perekonomian selalu menimbulkan permasalahan. Terlebih lagi dalam pelaksanaannya di sebuah negara yang sedang berkembang. Begitu juga dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Permasalahan perekonomian yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks karena letak antara pulau satu dengan pulau yang lainnya sangat berjauhan. Permasalahan ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia yang tetap terjadi hingga saat ini adalah terjadinya ketimpangan pembangunan perekonomian.. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah perekonomian pemerintah harus menyelesaikan permasalahan akarnya yaitu ketimpangan pembangunan dan perekonomian yang terjadi di wilayah Indonesia. Apabila permasalahan inti ini sudah terselesaikan atau paling tidak pembangunan perekonomian di Indonesia mulai terjadi pemerataan, maka permasalahan perekonomian lain yang timbul sebagai akibat dari ketimpangan pembangunan perekonomian akan terpecahkan satu per satu dari masalah yang terkecil. Setiap pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, setidaknya akan medapatkan apa yang namanya prestasi pembangunan, untuk mengetahui Prestasi pembangunan suatu negara atau daerah kita dapat menilainya dengan berbagai macam cara dan tolak ukur, baik dengan pendekatan ekonomi maupun dengan pendekatan non ekonomi. Penilaian dengan pendekatan ekonomi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan aspek pendapatan maupun aspek non pendapatan. Tolak ukur pendapatan perkapita, sebagaimana kita sadari belum cukup untuk menilain prestasi pembangunan. Karena baru merupakan konsep rata-rata, pendapatan perkapita tidak mencerminkan bagaimana pendapatan suatu daerah terbagi dikalangan

penyebabnya antara lain: 1. Distribusi pendapatan mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu daerah dikalangan penduduknya Dalam kontek untuk mengukur dan menilai kemerataan (parah atau lunaknya ketimpangan) distribusi pendapatan. lembaga non pemerintah. 5. Belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar daerah untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan Sementara pada aspek makro. Sedangkan sisi datarnya mewakili presentase kumulatif penduduk. menyatakan bahwa terdapat ada dua faktor yang layak dikemukakan untuk menerangkan mengapa ketimpangan pembangunan dan hasil- . input produksi. Keterbatasan informasi pasar dan informasi teknologi untuk pengembangan produk unggulan. Belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku pengembangan kawasan di daerah. 8. Masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha kecil terhadap modal pengembangan usaha. 3. dan petani. 6. maka ia mencerminkan keadaan yang semakin buruk. jika Kurva Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung). 2. Dilain pihak. Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan dikalangan lapisan-lapisan penduduk secara kumulatif pula. kita dapat melihatnya berdasarkan. Belum berkembangnya koordinasi. Semakin kecil (semakin mendekati nol) koefisiennya. Belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berorientasi pada pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian daerah. Dumairy (1996). Sebaliknya. Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi pendapatan yang semakin merata. Sementara pada pendekatan Indek atau Rasio Gini. serta antara pusat. distibusi pendapatan semakin timpang dan tidak merata. sehingga unsur kemerataan atau keadilan tidak terpantau. Belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang berpihak kepada petani dan pelaku swasta. 4. dan kerjasama. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan presentase kumulatif pendapatan. propinsi. pertama Kurva Lorenz dan Indek atau Rasio Gini. swasta.penduduknya. Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi di daerah dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah. pertanda semakin baik atau merata distribusi. dan jaringan pemasaran dalam upaya pengembangan peluang usaha dan kerjasama investasi. baik pemerintah. 7. Sebab Ketimpangan Pembangunan Menurut Sarjono HW (2006) pada kontek mikro.diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan. sinergitas. menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan. koefisien yang semakin besar (semakin mendakati 1) mengisyaratkan distribusi yang kian timpang atau senjang. yang menjadi penyebab terjadinya ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah pada umumnya. dan kabupaten atau kota dalam upaya peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan. dukungan teknologi. adalah suatu koefisien yang berkisar dari angka 0 hingga 1.

malah sebaliknya hanya memperkaya pelaku-pelaku ekonomi tertentu yang dekat dan mudah mendapatkan akses pembangunan secara gratis. sumberdaya alam. meskipun bentuk kemiskinan yang terjadi tidak sama di setiap era suatu pemerintahan. sektor wilayah/daerah/kawasan). begitu pula yang lain-lainnya seperti kapital. Ia dianggap sebagai penyakit sosial yang paling dahsyat dan menjadi musuh utama negara (Hairi Abdullah 1984:16). untuk dapat menghasilkan pembangunan ekonomi yang sebenar-benarnya dapat dirasakan oleh semua masyarakat. Akan tetapi juga berupa ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional. Kemiskinan adalah problem sosial. ketimpangan pembangunan. kapital. Sedangkan pelaku ekonomi adalah perorangan. sektor ekonomi. rendahnya kemampuan . Bukan saja ketimpangan hasil-hasilnya. Sejak bangsa Indonesia merdeka. misalnya dalam hal pendapatan perkapita. kemiskinan merupakan masalah yang cukup merisaukan. tentunya karena lebih disebabkan oleh aspek strategi pembangunan yang kurang tepat. yang selama ini berlangsung dan berwujud khsususnya pada Negara berkembang adalah dalam berbagai bentuk. tetapi juga sebagai masalah sosial dan politik (Syed Othman Alhabshi 1996). Faktor pertama ialah karena ketidaksetaraan anugerah awal (initial endowment) diantara pelaku-pelaku ekonomi. membasmi kemiskinan dianggap sebagai jihad (Anwar Ibrahim 1983/1984:25). yakni antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan. keahlian/keterampilan. bakat/potensi atau sarana dan prasarana. selalu menghadapi kenyataan ini. ternyata tidak mampu mengatasi persoalapersoalan yang terjadi di daerah. investasi dan pertumbuhan. Ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional misalnya. dapat dilihat berdasarkan perbedaan mencolok dalam aspek-aspek seperti penyerapan tenaga kerja. (pra)sarana ekonomi yang tersedia tidak sama antar daerah. Karena dirasakan dahsyatnya bahaya kemiskinan. atau dimensi.hasilnya dapat terjadi. Bagi kebanyakan orang. jangan sampai kue pembangunan hanya milik segelintir kelompok atau golongan tertentu saja yang dekat dengan kekuasan dan mudah mendapatkan akses pembangunan secara gratis. Kemiskinan bukan saja dilihat sebagai fenomena ekonomi semata-mata. Bukan pula sematamata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah. Kue-kue pembangunan harus dapat dinikmati dan dirasakan oleh semua masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. yaitu. Sumberdaya alam yang dimiliki tidak sama antar daerah. keahlian/keterampilan serta bakan atau potensi. aspek. (growth). tetapi juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. Kalau kita lihat secara objektif. Hampir setiap pemimpin di Indonesia. alokasi dana perbankan. Oleh karena itu. harus ada keberanian dari pemerintah daerah untuk mengubah cara pandang dan strategi pembangunan ekonominya kearah yang lebih sehat dan kompetitif. kemiskinan mempunyai empat dimensi pokok. Yang meliputi. Sedangkan faktor kedua karena strategi pembangunan yang tidak tepat_cenderung berorientasi pada pertumbuhan. Ketidaksetaraan anugerah awal yang dimaksud adalah adanya kesenjangan antara bekal resources yang dimiliki oleh para pelaku ekonomi. kurangnya kesempatan (lack of opportunity). menjadi cita-cita bangsa adalah mensejahterakan seluruh rakyat Karena kenyataan yang dihadapi adalah kemiskinan yang masih diderita oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan misalnya. Memutus benang kusut kemiskinan Masalah kemiskinan bukanlah masalah yang baru. Secara umum. Secara makro ketimpangan pembangunan yang terjadi di diberbagai daerah.

seperti Penjaja Sex Komersial (PSK). Mereka yang berada pada lapisan bawah dalam stratifikasi pendapatan nasional inilah yang dianggap miskin. sandang.(low of capabilities). dan ketidakberdayaan (low of capacity or empowerment). terpadu. Ukuran itu lazimnya berorientasi kebutuhan hidup dasar minimum anggota masyarakat (sandang. Mereka yang tidak mampu membeli kebutuhan pokok tertentu sesuai standar minimal dianggap berada pada posisi dibawah garis kemiskinan. Dan lazimnya kemiskinan diukur dengan garis kemiskinan (poverty line). Konsep yang kedua kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea of relative standart. kemiskinan dalam perspektif kultural (the cultural perspective) dan kemiskinan dalam perspektif struktural atau situasional (the situasional perspective). Dasar asumsinya adalah kemiskinan pada suatu daerah tertentu berbeda dengan pada daerah tertentu lainnya. sebab kebutuhan hidup dasar masyarakat yang dipergunakan sebagai acuan memang berlainan. Kemampuan untuk membeli kebutuhan pokok ini dieuivalenkan dengan daya belinya (nilai uang).Karena merupakan masalah pembangunan yang multidimensi. Konsep Kemiskinan Dari berbagai literatur yang mengupas tentang konsep kemiskinan. Konsep pertama kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkrit (a fixed yardstick). terarah dan berkesinambungan. Kemiskinan tidak saja mengakibatkan penyakit busung lapar (gizi buruk). kurang percaya diri bahkan gampang emosi. Konsep kemiskinan relatif lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan in term of judgment anggota masyarakat tertentu. papan. kurangnya jaminan (low-level of security). intinya kemiskinan memiliki keterkaitan cukup erat dengan stabilitas politik dan ekonomi sebuah daerah. (Edi Suandy Hamid 2000:14) Stigma Kemiskinan Sedikitnya ada dua macam perspektif yang lazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan. yaitu dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Perspektif kultural mendekati masalah kemiskinan pada . yaitu. yaitu pangan. dan kemiskinan pada waktu (saat) tertentu berbeda dengan waktu yang lain. pangan dan papan). kemiskinan juga mengakibatkan turunnya harga diri individu atau kelompok masyarakat. Kemiskiinan absolut juga dapat dilihat dari sejauhmana tingkat pendapatan penduduk miskin tersebut mampu mencukupi kebutuhan pokoknya (basic needs). Masingmasing perspektif tersebut memiliki tekanan. Karena ukurannya dipastikan. atau juga penyakit sosial. paling tidak ada dua macam konsep kemiskinan yang dapat kita terima sebagai rujukan. kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Secara psikologis orang miskin cenderung lebih sensitif. Masing-masing negara terlihat mempunyai batasan kemiskinan absolut yang berbeda-beda. gembel (pengemis) dan lain sebagainya. gampang tersinggung. kemiskinan relatif dilihat berdasarkan persentase pendapatan yang diterima oleh pendapatan lapisan bawah. acuan dan metodologi tersendiri yang berbeda dalam menganlisa masalah kemiskinan. kesehatan dan pendidikan. yaitu. maka pemecahan kemiskinan harus melalui strategis yang komperhensif. dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. sehingga kondisi ini rawan dengan berbagai upaya pemanfaat pihak ketiga yang menggunakannya sebagai kendaraa/alat untuk memancing kerusuhan di sebuah daerah. maka konsep kemiskinan semacam itu mengenal garis batas kemiskinan.

ekstensifikasi dan komersialisasi pertanian untuk menghasilkan pangan sebesar-besarnya guna memenuhi kebutuhan nasional dan eksport. terutama ditandai oleh tidak terintegrasinya secera efektif dengan insitusi-institusi masyarakat. sikap apatisme. fatalisme. maka jangan harap investasi akan datang. bagaimana menyelesaikan persoalan kemiskinan? strategi apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam memutus benang kusut kemiskinan diatas? Menurut penulis. pertama. yaitu mengembangkan budaya usaha yang lebih maju. Program ketenagakerjaan dilakukan untuk menyediakan lapangan kerja dan lapangan usaha bagi setiap angkatan kerja sehingga dapat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Edi Suandy Hamid (2000:19) mengatakan bahwa masalah kemiskinan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah pengangguran. Maka solusinya menurut penulis adalah harus political will dari pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi se rasional mungkin. Sebagaimana yang kita pahami bahwa investasi sekecil apapun jika regulasi dan iklim investasi tidak kondusif dan rasional. seperti. maupun regional dalam program pengentasan kemiskinan yaitu. . Pada masa krisis ekonomi ini. bukan saja laju pertambahan angkatan kerja baru tidak bisa diserap oleh pasar kerja. Pada level individual ditandai sifat yang lazim disebut a strong feeling of marginality.regional maupun nasional. Mereka sering kali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu digarap daripada sebagai subyek yang perlu diberi peluang berkembang. Kemudian perspektif struktural/situasional masalah kemiskinan sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. keluarga dan masyarakat. individual. tergantung dan inferior. sikap parochial. melainkan juga terjadi pemutusan hubungan kerja disektor formal yang berakibat bertambahnya angkatan kerja yang menganggur. baik lokal. Program peningkatan kualitas sumberdaya manusia dilakukan melalui pengembangan budaya usaha masyarakat miskin. Program-program tersebut antara lain berbentuk intensifikasi.tiga level analisis. baik ditingkat lokal. ada dua agenda besar yang mesti dilakukan oleh para pengambil kebijakan. Strategi Penanggulangan Kemiskinan Lantas. mengembangkan jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) dan meningkatkan keterampilan keluarga dan kelompok miskin untuk melakukan usaha ekonomi rakyat yang produktif atas dasar sikap demokratis dan mandiri. peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan keterampilan. dan kedua pembangunan ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja dan serangkaian program pembangunan padat karya. Penetrasi kapital antara lain mengejawantahkan dalam program-program pembangunan yang dinilai lebih mengutamakan pertumbuhan (growth) dan kurang memperhatikan pemerataan hasil-hasil pembangunan (development). atau pasrah pada nasib. Pada level keluarga ditandai oleh jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. boros. Formula yang dapat diterapkan adalah dengan membangun iklim investasi yang kondusif disemua tingkatan. baik itu yang menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja (open unemployment) maupun setengah menganggur atau bekerja dibawah jam kerja normal (under un employment). Kemudian pada level masyarakat.

Wallahu alaum Bishowaff . yang mereka butuhkan adalah aksi nyata bagaiamana kemiskinan bisa diatasi. rakyat tidak butuh diskusi dan debat. baik lokal maupun nasional untuk tidak secara terbuka berdebat dan berdikusi mengenai kemiskinan. ada baiknya mereka para tokoh-tokoh. pengangguran dapat dikurangi dan kesejahteraan masyarakat meningkat.Berangkat dari dua strategi memutus benang kusut kemiskinan diatas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful