P. 1
Bronchitis Makalah Adis

Bronchitis Makalah Adis

5.0

|Views: 2,083|Likes:

More info:

Published by: Fandy Faidhul Attamimi on Jan 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bronkitis adalah peradangan dari satu atau lebih bronkus sedangkan bronkitis akut adalah serangan bronkitis dengan perjalanan penyakit yang singkat dan berat, disebabkan oleh karena terkena dingin, penghirupan bahan-bahan iritan, atau oleh infeksi akut, dan ditandai dengan demam, nyeri dada (terutama batuk), dispnea, dan batuk (Dorland¶s pocket medical dictionary). Bronkitis akut didapatkan lebih banyak pada laki-laki dari pada wanita. Di Indonesia jumlah perokok menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga 1996 adalah 53% laki-laki dan 4% wanita. Diperkirakan didapatkan 30.000 kematian karena bronkitis setiap tahun (Soemantri dan Uyainah, 2001). Bronkitis adalah suatu penyebab utama dari kebanyakan keterbatasan aktifitas, kehilangan hari kerja, pensiun yang dini akibat kecacatan dan peningkatan angka kematian dimasyarakat. Karena itu penulis mengangkat judul ³Bronkitis Akut´ Masalah utama pada penderita bronkitis adalah timbunan sputum yang berlebihan, yang dapat menyebabkan penyempitan saluran napas yang akhirnya meningkatkan tahanan pada saluran napas dan terjadi gangguan ventilasi. Gangguan ventilasi akan meningkatkan beban kerja pernapasan sehingga terjadi sesak napas. Timbunan sputum yang berlebih juga bisa menjadi tempat berkembang biak bakteri, jika hal itu dibiarkan maka bisa terjadi infeksi pada paru-paru yang dapat memperberat keluhan pasien.

1.2 Tujuan Penulisan Tujuan yang ingin dicapai penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu : 1. Tujuan umum Mengetahui dan memahami tentang Bronkitis Akut.

1

2. Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui Bronkitis Akut. 2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya Bronkitis Akut. 3. Untuk mengetahui patofisiologi Bronkitis Akut. 4. Untuk mengetahui gejala klinis Bronkitis Akut 5. Untuk mengetahui diagnosa Bronkitis Akut. 6. Untuk mengetahui pemeriksaaan fisik Bronkitis Akut. 7. Untuk mengetahui komplikasi dan prognosa Bronkitis Akut. 8. Untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan Bronkitis Akut.

1.3 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian yang ingin dicapai penulis pada kondisi Bronkitis adalah sebagai berikut :

1 ) Ilmu Pengetahuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kesehatan yang memberikan gambaran mengenai bronkitis akut.

2 ) Institusi pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk institusi pendidikan sebagai sarana pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik dilingkungan pendidikan kesehatan

3 ) Bagi penulis Memperdalam dan memperluas wawasan mengenai hal ± hal yang berhubungan dengan bronkitis akut.

4 ) Bagi pembaca Menyebarluaskan informasi kepada pembaca maupun masyarakat tentang Bronkitis akut.

2

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme . a. Hidung Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk menghangatkan udara.

Gambar 1. Hidung

Gambar 2. Anatomi hidung

3

b. Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.

Gambar 3. Anatomi faring c. Laring Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.

Gambar 4. Anatomi laring
4

d. Trakea Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 ± 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.

Gambar 5. Anatomi trakea

e. Bronkus Bronkitis akut terjadi pada bronkus dan cabang ± cabangnya, oleh karena itu perlu diketahui terlebih dahulu anatomi dan fisiologi dari saluran pernapasan. Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. Bronkus mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 ± 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 ± 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveoli. Pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa cabang utama bronkus kanan dan kiri akan bercabang menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus5

menerus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu bronkiolus yang tidak mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis mempunyai diameter kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh kartilago tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi ( Wilson LM, 2006).

Gambar 6. Anatomi bronkus f. Paru-paru Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.

Gambar 6. Anatomi paru
6

2.2 Definisi Bronkitis adalah suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 ). Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran penapasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994). Bronkitis akut adalah proses inflamasi selintas yang mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi sebagai batuk, serta biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu (Mutius EV dan Morgan WJ, 1999). Bronkitis akut merupakan proses radang akut pada mukosa bronkus beserta cabang ± cabangnya yang disertai dengan gejala batuk dengan atau tanpa sputum yang dapat berlangsung sampai 3 minggu. Tidak dijumpai kelainan radiologi pada bronkitis akut. Gejala batuk pada bronkitis akut harus dipastikan tidak berasal dari penyakit saluran pernapasan lainnya. (Gonzales R, Sande M, 2008).

Gambar 7. Bronkitis akut (Sumber: www.usdrugstore.blogspot.com)

7

2.3 Etiologi bronkitis akut

Bronkitis akut dapat disebabkan oleh : y Infeksi virus seperti Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Influenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie dan lain-lain. y Infeksi bakteri (lebih sedikit/ jarang terjadi) disebabkan oleh : Bordatella pertussis, Bordatella parapertussis, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, atau bakteri atipik (Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumonia, Legionella) y y Jamur Noninfeksi : polusi udara, rokok, dan lain-lain.

Penyebab bronkitis akut yang paling sering adalah infeksi virus yakni sebanyak 90% sedangkan infeksi bakteri hanya sekitar < 10% (Jonsson J, Sigurdsson J, Kristonsson K, et al, 2008). Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.

2.4 Patofisiologi Virus (penyebab tersering infeksi) - Masuk saluran pernapasan - Sel mukosa dan sel silia - Berlanjut - Masuk saluran pernapasan(lanjutan) - Menginfeksi saluran pernapasan - Bronkitis - Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir - Pilek 3 ± 4 hari - Batuk (mula-mula kering kemudian berdahak) - Riak jernih - Purulent - Encer - Hilang - Batuk - Keluar - Suara ronchi basah atau suara napas kasar - Nyeri subsernal - Sesak napas - Jika tidak hilang setelah tiga minggu - Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama) (Sumber : dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981)

8

2.5 Patogenesa

Karena bronchitis akut biasanya merupakan kondisi yang tidak berat dan dapat membaik sendiri, maka proses patologis yang terjadi masih belum diketahui secara jelas. Yang diketahui adalah adanya peningkatan aktivitas kelenjar mukus dan terjadinya deskuamasi sel-sel epitel bersilia. Adanya infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding serta lumen saluran pernafasan menyebabkan sekresi tampak purulen. Akan tetapi, karena migrasi leukosit ini merupakan reaksi non spesifik terhadap kerusakan jalan nafas, maka sputum yang purulen tidak harus menunjukkan adanya superinfeksi bakteri. Jumlah bronchitis akut bakterial lebih sedikit daripada bronchitis akut viral. Invasi bakteri ke bronkus merupakan infeksi sekunder setelah terjadi kerusakan permukaan mukosa oleh infeksi virus sebelumnya.

2.6 Diagnosa/DD Biasanya para dokter menegakkan diagnosa bronkitis akut berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Adapun pemeriksaan dahak maupun rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. 2.6.1 Anamnesa: Masalah pernafasan: y y Pernahkah mengalami perubahan pola nafas seperti nafas pendek atau sulit bernafas? Dalam kegiatan atau keadaan apa gejala tersebut muncul? Riwayat pernafasan: y Apakah pernah mengalami masalah pernafasan sebelumnya seperti pilek, alergi atau asma? y Berapa lama keluhan tersebut muncul terakhir kali? y Apakah pernah terpapar benda polutan? Gaya hidup y Apakah anda merokok? Jika ³ya´ berapa banyaknya? Jika ³tidak´, apakah anda pernah merokok sebelumnya? Dan kapan anda berhenti merokok? y Adakah keluarga anda yang merokok? y Apakah di rumah atau di tempat kerja and abanyak terdapat polutan seperti debu atau asap?
9

Batuk y Seberapa sering dan bagaimana batuk anda? y Apakah batuk anda mengeluarkan dahak atau batuk kering? y Apakah batuk hanya terjadi pada saat tertentu? Pada saat apa? y Kapan batuk mulai mengeluarkan dahak? Apakah banyak? y Apa warna dari dahak dan bagaimana baunya? y Apakah dahak pernah bercampur dengan darah? Nyeri dada y Apakah anda pernah mengalami nyeri saat melakukan kerja atau bernafas? y Dimana lokasi nyeri? y Gambarkan nyeri yang anda rasakan! y Apakah nyeri terjadi saat menarik nafas atau saat menghembuskan nafas? y Berapa lama nyeri itu? Apakah nyeri memengaruhi nafas anda? y Apa kegiatan anda sebelum nyeri timbul? Sesak y Kapan sesak timbul? y Bagaimana sesak timbul? Terus menerus atau hilang timbul? y Dalam kondisi apa sesak timbul? Pada aktivitas apa sesak timbul? y Apakah ada batuk yang ditimbulkan? Faktor resiko y Apakah keluarga anda ada yang mempunyai riwayat masalah pernafasan?

2.6.2

Pemeriksaan fisik :

. Pada inspeksi, keadaan umum pasien terlihat baik. Pada pemeriksaan auskultasi paru, biasanya tidak khas pada stadium awal . Seiring perkembangan dan progresivitas batuk, dapat terdengar berbagai macam ronki, suara nafas yang berat dan kasar, wheezing, ataupun suatu kombinasi. Pada perkusi maupun palpasi tidak didapatkan kelainan. Dalam suatu penelitian terdapat metode untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia pada pasien dengan batuk disertai dengan produksi sputum yang dicurigai menderita bronkitis akut, yang antara lain bila tidak ditemukan keadaan sebagai berikut:

10

y y y y y

Denyut jantung > 100 kali per menit Frekuensi napas > 24 kali per menit Suhu > 38°C Pada pemeriksaan fisik paru tidak terdapat focal konsolidasi dan peningkatan suara napas.

Bila keadaan tersebut tidak ditemukan, kemungkinan pneumonia dapat disingkirkan dan dapat mengurangi kebutuhan untuk foto thorax (Sidney S.Braman, 2006).

2.6.3

Pemeriksaan laboratorium :

Pemeriksaan darah : Leukosit > 17.500 Pemeriksaan laboratorium patologi menunjukkan adanya infiltrasi mukosa oleh limfosit dan leukosit PMN

2.6.4 Pemeriksaan Penunjang: Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis kronis. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian besar penyebabnya adalah

virus.Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau tampak corakan bronkial meningkat. Pada beberapa penderita menunjukkan adanya penurunan ringan uji fungsi paru. Akan tetapi uji ini tidak perlu dilakukan pada penderita yang sebelumnya sehat. (Sidney S. Braman, 2006).

2.6.5 Diagnosa Banding Diagnosa Banding Bronkitis Akut adalah antara lain: y y y y Asma, Alergi dengan sinusitis, Tb paru dan benda asing di bronkus.

11

2.7 Manifestasi klinis

Gejala: y y Biasanya didahului ISNA (Infeksi Saluran Nafas Akut) atas oleh virus. Batuk mula- mula kering, setelah dua atau tiga hari, batuk mulai berdahak dan menimbulkan suara adanya lendir. y y y Dahak mungkin kental dan kuning tetapi bukan berarti ada infeksi bakteri sekunder. Batuk biasanya hilang setelah satu atau dua minggu. Wheezing mungkin saja terdapat pada penderita bronchitis tetapi perlu diingat kemungkinan manifestasi asma pada penderita.

Gambar 8. Sputum penderita bronkitis akut

Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan gejala yang ada yaitu : a. Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah b. Keadaan umum baik c. Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis d. Pada paru didapatkan suara napas yang kasar .

12

Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama, yaitu: a. Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan penderita kurang istirahat b. Daya tahan tubuh penderita yang menurun c. Anoreksia sehingga berat badan penderita sukar naik Umumnya, gejala akan menghilang dalam 10-14 hari. Bila tanda-tanda klinis menetap hingga 2-3 minggu, perlu dicurigai adanya proses kronis atau karena infeksi bakteri sekunder.

2.8 Penatalaksanaan Suatu studi penelitian menyebutkan bahwa beberapa pasien dengan bronkitis akut sering mendapatkan terapi yang tidak tepat dan gejala batuk yang mereka derita seringkali berasal dari asma akut, eksaserbasi akut bronkitis kronik atau common cold. Beberapa penelitian menyebutkan terapi untuk bronkitis akut hanya untuk meringankan gejala klinis saja dan tidak perlu pemberian antibiotik dikarenakan penyakit ini disebabkan oleh virus (Sidney S. Braman, 2006). Adapun penatalaksanaan terdiri dari tindakan perawatan dan tindakan medis. a. Tindakan Perawatan 1. Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarkan lendir. 2. Sering mengubah posisi 3. Banyak minum 4. Inhalasi 5. Nebulizer 6. Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu diberikan minum susu atau makanan lain.
13

b. Tindakan Medis Sebagian besar pengobatan bronkitis akut bersifat simptomatis (meredakan keluhan). Obat-obat yang lazim digunakan, yakni:
y

Antitusif (penekan batuk) seperti : DMP (dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3 kali sehari. Codein 10 mg, diminum 3 kali sehari. Doveri 100 mg, diminum 3 kali sehari. Obat-obat ini bekerja dengan menekan batuk pada pusat batuk di otak. Karenanya antitusif tidak dianjurkan pada kehamilan dan bagi ibu menyusui. Demikian pula pada anak-anak, para ahli berpendapat bahwa antitusif tidak dianjurkan, terutama pada anak usia 6 tahun ke bawah. Pada penderita bronkitis akut yang disertai sesak napas, penggunaan antitusif hendaknya dipertimbangkan dan diperlukan feed back dari penderita. Jika penderita merasa tambah sesak, maka antitusif dihentikan.

y

Ekspektorant: adalah obat batuk pengencer dahak agar dahak mudah dikeluarkan sehingga napas menjadi lega. Ekspektorant yang lazim digunakan diantaranya: GG (glyceryl guaiacolate), bromhexine, ambroxol, dan lain-lain.

y

Antipiretik (pereda panas): parasetamol (asetaminofen), dan sejenisnya., digunakan jika penderita demam.

y

Bronkodilator diantaranya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas. Penderita hendaknya memahami bahwa bronkodilator tidak hanya untuk obat asma, tapi dapat juga digunakan untuk melonggarkan napas pada bronkitis. Selain itu, penderita hendaknya mengetahui efek samping obat bronkodilator yang mungkin dialami oleh penderita, yakni: berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin. Andaikata mengalami efek samping tersebut, maka dosis obat diturunkan menjadi setengahnya. Jika masih berdebar, hendaknya memberitahu dokter agar diberikan obat bronkodilator jenis lain.

y

Antibiotika. Hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan dokter.

14

Hal yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan bronkitis akut antara lain: 1. Jangan beri obat antihistamin berlebih 2. Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bakterial 3. Dapat diberi efedrin 0,5 ± 1 mg/KgBB tiga kali sehari 4. Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif

2.9

komplikasi dan prognosa

Prognosa : Bila tidak ada komplikasi, prognosis umumnya baik. Pada bronkitis akut yang berulang dan disertai merokok terus-terusan secara teratur cenderung menjadi bronkitis kronik.

Adapun komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita bronkitis akut antara lain: a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik b. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis c. Gagal jantung kongestif d. Pneumonia e. Otitis media, f. Sinusitis.

15

Bab III PEMBAHASAN/DISKUSI

Trigger : ³Andi, anak umur 9 tahun, dibawa ibunya ke bagian paru dengan keluhan batuk sejak 3 hari yang lalu disertai nyeri dada dan sesak nafas. Batuk mula-mula kering kemudian setelah 2 hari batuk mulai berdahak dengan dahak yang kental dan bewarna kekuningan. Pada pemeriksaan auskultasi paru didapatkan suara ronki basah kasar dan suara nafas kasar. Dokter UGD memberikan perawatan dan pengobatan yang memadai. Apa yang sebenarnya dialami oleh Andi?

Anamnesa: 1. Identitas: y y y Nama : Andi Umur : 9 tahun Jenis kelamin: laki-laki

2. Keluhan utama : Batuk sejak 3 hari yang lalu. 3. Keluhan lain: batuk mula-mula kering lalu kemudian timbul dahak yang kental dan kekuningan, nyeri dada dan sesak nafas.

Pemeriksaan fisik: y y y y Pemeriksaan labor: y Pemeriksaan darah : Leukosit meningkat ( > 17.500), hematokrit dan Hb meningkat. Inspeksi : terlihat sedikit sesak dan nyeri dada. auskultasi :terdengar suara ronki basah kasar dan suara nafas kasar. perkusi : tidak didapatkan kelainan. palpasi tidak didapatkan kelainan.

16

Pemeriksaan penunjang: y Pada pemeriksaan Foto Thorax : tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia.
y y

Pada pemeriksaan radiologis : normal Kultur Sputum untuk menentukan adanya infeksi dan identifikasi pathogen. Analisa gas darah : adanya hipoksia dan hiperkapnia

y

Ditegakkan diagnosis : Bronkitis Akut Penanganan : Tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarkan lendir. Pemberian obat pada pasien bronkitis akut bersifat simptomatis seperti dekstromethorfan atau codein sebagai antitusif, ekspektorant (obat pengencer dahak) seperti GG atau ambroxol, antipiretik bila ditemukan demam dan pemberian bronkodilator untuk melonggarkan napas pada penderita bronkitis yang disertai rasa berat bernafas. Diskusi : Pada kasus ini, pasien didiagnosa menderita bronkitis akut yang umumnya disebabkan oleh virus seperti Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Influenza Virus, Para-influenza Virus, atau Adenovirus dengan manifestasi klinis berupa batuk yang biasanya didahului ISNA (Infeksi Saluran Nafas Akut) atas oleh virus dimana batuk mula- mula kering, setelah dua atau tiga hari, batuk mulai berdahak dan menimbulkan suara adanya lendir. Dahak mungkin kental dan kuning tetapi bukan berarti ada infeksi bakteri sekunder dan biasanya hilang setelah satu atau dua minggu. Wheezing mungkin saja terdapat pada penderita bronchitis tetapi perlu diingat kemungkinan manifestasi asma pada anak tersebut. Karena bronchitis akut biasanya merupakan kondisi yang tidak berat dan dapat membaik sendiri, maka proses patologis yang terjadi masih belum diketahui secara jelas. Yang diketahui adalah adanya peningkatan aktivitas kelenjar mukus dan terjadinya deskuamasi sel-sel epitel bersilia. Adanya infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding serta lumen saluran pernafasan menyebabkan sekresi tampak purulen. Akan tetapi, karena migrasi leukosit ini merupakan reaksi non spesifik terhadap kerusakan jalan nafas, maka sputum yang purulen tidak harus menunjukkan adanya superinfeksi bakteri.

17

Jumlah bronchitis akut bakterial lebih sedikit daripada bronchitis akut viral. Invasi bakteri ke bronkus merupakan infeksi sekunder setelah terjadi kerusakan permukaan mukosa oleh infeksi virus sebelumnya.

Biasanya para dokter menegakkan diagnosa bronkitis akut berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Adapun pemeriksaan dahak maupun rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis kronis. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian besar penyebabnya adalah virus. Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau tampak corakan bronkial meningkat. Pada beberapa penderita menunjukkan adanya penurunan ringan uji fungsi paru. Akan tetapi uji ini tidak perlu dilakukan pada penderita yang sebelumnya sehat. Pada pemeriksaan darah didapatkan leukosit, Hb dan hematokrit meningkat. Terapi untuk bronkitis akut hanya untuk meringankan gejala klinis saja dan tidak perlu diberi antibiotik dikarenakan penyakit ini disebabkan oleh virus. Yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarkan lendir. Antibiotika hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan dokter dan pemberian penggunaan antitusif sebagai terapi empiris untuk batuk pada bronkitis akut dapat digunakan.

18

Bab IV KESIMPULAN

Bronkitis akut adalah proses inflamasi selintas yang mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi sebagai batuk, serta biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu yang terutama disebabkan oleh virus dimana alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas juga dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut. Adapun gejala bronkitis akut berupa batuk yang mulanya kering, setelah dua atau tiga hari, mulai berdahak dan menimbulkan suara adanya lendir dengan dahak yang bewarna kekuningan. Pada pemeriksaan auskultasi didapatkan ronki. Diperlukan diagnosa yang tepat agar penatalaksanaan dan pengobatannya tepat dan benar.

19

Bab V SARAN

y

Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat dijadikan pembelajaran terhadap mahasiswa atau tenaga kesehatan lain mengenai penyakit bronkitis akut.

y

Dapat menjadi referensi dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah

mengenai penyakit

bronkitis akut khususnya. Serta dapat digunakan semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan mahasiswa kedokteran.

20

Bab VI DAFTAR PUSTAKA

y

Bickley, Lynn. 2009. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Jakarta : EGC

y y y

Hasan, Rusepno . 1981. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI Supriyatno, Bambang. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia Mangunnegoro. 1997. Infeksi Saluran Nafas Bawah di RSVP Persahabatan Pendekatan Terapi dan Permasalahannya. Jakarta ; Maj. Kedok. Indon.

y y y y

Taussig LM, Landau LI. 2000. Pediatric Respiratory Medicine. Mosby4:Missouri W.B . Saunders Company. 1995. Dorland¶s pocket medical dictionary. Jakarta: EGC Nelson, Stanton.2007. Textbook of pediatric. Pennsylvania :Sunders Elsevier Soemantri, Irman.2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta :Salemba Medika

y

Tamsuri, Anas.2008. Klien Gangguan Pernapasan : Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC

y y

Greenberg, Michael. 2004. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta Erlangga: Mukly, Abdul,dkk. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University Press

y y y y y

http://www.blogdokter.net/2007/06/05/bronkitis-akut/ http://cakmoki86.wordpress.com/2010/03/26/bronkitis-akut/ http://infokedokteran.wordpress.com/2008/09/12/bronkitis-akut/ http://www.emedicine.com/ped/topic288.htm www.usdrugstore.blogspot.com

21

y

Pasterkamp H, Kraman SS, Wodicka GR. 1997. Respiratory Sounds. American Journal of Respiratory and Critical Medicine3.

y y y

Andrews JL, Badger TL. 1979. Lung Sounds through Ages. JAMA.5. Cumming G, Semple SJ. 1973. Disorders of the Respiratory System. Blackwell Scientific Publication.6. Forgacs P. 1978. The Functional Basis of Pulmonary Sounds. Journal of Circulation, Respiration, and Related System7.

y

Sly PD, Hayden MJ. 1992. Applied Clinical Respiratory Physiology

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->