P. 1
Sistem Informasi Produksi Kakao (Theobroma cacao L.) di Kecamatan Lima Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman

Sistem Informasi Produksi Kakao (Theobroma cacao L.) di Kecamatan Lima Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman

4.62

|Views: 4,177|Likes:
Published by mazterijo
Please visit http://santosa764.blogspot.com
Please visit http://santosa764.blogspot.com

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: mazterijo on Nov 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2015

pdf

text

original

1.

Hama

a.

Penggerek cabang (Zeuzera coffeae)
Bagian yang diserang adalah cabang berdiameter 3 - 5 cm dengan gejalanya
cabang mati atau mudah patah. Pengendalian dilakukan dengan membuang
cabang yang terserang atau dengan predator alami menggunakan jamur Beauveria
bassiana
.
b.

Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.)
Bagian yang diserang buah, daun muda, dan kuncup bunga. Gejalanya
adalah bercak kakao kehitaman berbentuk cekung berukuran 3 - 4 mm.
Pengendalian dilakukan dengan membuang bagian yang terserang. Predator untuk
hama ini adalah belalang sembah dan kepik predator. Selain itu gunakan
insektisida Baytroid 50EC, Lannate 25 WP, Sumithion 50 EC, Leboycid 50 EC,
dan Orthene 75 SP.
c.

Penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella atau

Cocoa Mot.)

Bagian yang diserang adalah buah kakao dengan gejala daging buah busuk.
Pengendalian dilakukan dengan cara membuang dan mengubur buah sisa panen
dengan serempak, menutupi buah dengan kantung plastik dengan lubang di bagian
bawah.

17

d.

Kutu putih (Planococcus citri.)
Bagian yang diserang adalah tunas, bunga, dan calon buah. Gejala kakao
yang terkena hama ini adalah timbul tunas tumbuh tidak normal (bengkok). Selain
itu, terlihat pertumbuhan bunga dan calon buah tidak normal. Sedangkan
pengendaliannya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofas,
fosfamidon, dan karbaril.
e.

Ulat kantong (Clania sp., Mahasena sp.)
Bagian yang diserang adalah daun dan tunas dengan gejala tanaman gundul
dan kematian pucuk. Pengendalian dilakukan dengan parasit Exoresta
uadrimaculata
atau Tricholyga psychidarum. Selain itu gunakan insektisida racun
perut, Dipterex dan Thuricide.
f.

Kutu jengkal (Hyposidra talaca.)
Bagian yang diserang adalah daun (muda dan tua) dengan gejala habisnya
helaian daun, tinggal tulang daun saja. Pengendaliannya menggunakan insektisida
Ambush 2 EC, dan Sherpa 5 EC (0,15 - 0,2 %).
2.

Penyakit

a.

Busuk buah hitam
Penyebabnya adalah Phytopthora palmivora dan bagian yang diserang yaitu
buah. Gejala penyakit ini biasanya ada bercak kakao di titik pertemuan tangkai
buah dan buah atau ujung buah. Gejala pada serangan berat adalah buah diliputi
miselium abu-abu keputihan. Pengendalian dilakukan dengan cara buah yang sakit
diambil dan mengurangi kelembaban kebun dengan cara pemangkasan. Selain itu
gunakan insektisida dengan bahan aktif Cu: Cupravit 0,3 %, Cobox 0,3 % atau
insektisida bahan aktif Mankozeb: Dithane M-45 dan Manzate 200 0,3 % dengan
interval 2 minggu.
b.

Kanker batang
Penyebab penyakit ini adalah Phytopthora palmivora. Bagian yang diserang
adalah batang dengan gejala bercak basah berwarna tua pada kulit batang atau
cabang, keluarnya cairan dari batang atau cabang yang akan mengering dan

18

mengeras. Pengendalian dilakukan dengan cara buah yang sakit diambil,
mengurangi kelembaban kebun denga cara pemangkasan. Selain itu gunakan
fungisida dengan bahan aktif Cu: Cupravit 0,3 % atau Cobox 0,3 %, atau
fungisida bahan aktif Mankozeb: Dithane M-45 dan Manzate 200 0,3 % dengan
interval 2 minggu. Bagian yang sakit dikerok dan diolesi dengan fungisida.

19

c.

Busuk buah diplodia
Penyebab penyakit ini adalah Botrydiplodia theobramae (jamur). Gejalanya
yaitu bercak kekakaoan pada buah, lalu buah menghitam menyeluruh.
Pengendalian dilakukan dengan mencegah timbulnya luka serta buah yang sakit
dibuang. Kemudian gunakan fungisida dengan bahan aktif Cu: Vitigran Blue,
Trimiltox Forte, dan Cupravit OB pada konsentrasi 0,3 %.
d.

Vascular Steak Dieback (VSD)
Penyebab penyakit ini adalah Oncobasidium theobromae (jamur) dan
bagian yang diserang meliputi daun, ranting/cabang. Gejala penyakit ini adalah
bintik-bintik kecil hijau pada daun terinfeksi dan terbentuk tiga bintik kekakaoan,
kulit ranting/cabang kasar, pucuk mati (dieback). Pengendalian dilakukan dengan
menggunakan bibit bebas VSD, memperhatikan sanitasi tanaman, mengurangi
kelembaban, meningkatkan intensitas cahaya matahari dan memperbaiki drainase
dan pemupukan.
e.

Bercak daun, mati ranting, dan busuk buah
Penyebab penyakit ini adalah Colletorichum sp. (jamur). Bagian yang
diserang meliputi daun, ranting, dan buah. Gejala penyakit ini yaitu adanya bercak
nekrotik pada daun, daun gugur, pucuk mati, dan buah muda keriput kering
(busuk kering). Pengendalian dilakukan dengan cara peningkatan sanitasi,
memotong ranting dan buah yang terserang, pemupukan berimbang dan
memperbaiki drainase. Kemudian gunakan fungisida sistemik Karbendazim 0,5 %
dengan interval 10 hari.
f.

Busuk buah monilia
Penyebab penyakit ini adalah Monilia roreri (jamur). Bagian yang diserang
yaitu buah muda dengan gejala adanya benjolan dan warna belang pada buah
berukuran 8-10 cm, penumpukan lendir di dalam rongga buah, serta dinding buah
mengeras. Pengendalian dilakukan dengan menurunkan kelembaban udara dan
tanah dan membuang buah rusak. Kemudian gunakan fungisida dengan bahan
aktif Cu: Cobox 0,3 %, dan Cupravit 0,3 % selama 3 - 4 minggu.
g.

Penyakit akar

20

Penyebabnya adalah Rosellinia arcuata R bumnodes, Rigidoporus liginosus,
Ganoderma pseudoerrum,
dan Fomes lamaoensis (jamur). Bagian yang diserang
adalah akar dengan gejala daun menguning dan layu dan pada leher akar/pangkal
batang terdapat miselium. Pengendalian dilakukan dengan pembuatan parit isolasi
di sekitar tanaman terserang serta pemusnahan tanaman sakit. Kemudian
fungisida dioleskan pada permukaan akar yang lapisan miseliumnya telah
dibuang. Fungisida yang digunakan adalah dengan bahan aktif PNCB: Fomac 2,
Ingro Pasta, Shell Collar Protectant, dan Calixin Cp.

2.1.4

Pemanenan dan Pascapanen Kakao

Ada 3 perubahan warna kulit buah pada kakao yang telah mengalami
kematangan. Ketiga perubahan warna kulit itu juga menjadi kriteria kelas
kematangan buah di kebun-kebun yang menghasilkan kakao. Secara umum
perubahan warna dan kelas kematangan itu seperti dijelaskan oleh Siregar et al.
(2007) dalam Tabel 3.
Tabel 3. Perubahan Warna dan Pengelompokkan Kelas Kematangan Buah

Perubahan
Warna

Bagian kulit buah yang mengalami
perubahana warna

Kelas kematangan
buah

Kuning
Kuning
Kuning
Kuning tua

Pada alur buah
Pada alur buah dan punggung alur buah
Pada seluruh permukaan buah
Pada seluruh permukaan buah

C
B
A
A+

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->