P. 1
Makalah Storry Telling

Makalah Storry Telling

|Views: 100|Likes:
Published by purnawan_kristanto
Cara bercerita yang memikat anak.
Cara bercerita yang memikat anak.

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: purnawan_kristanto on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2015

pdf

Menyampaikan Cerita yang Menarik Oleh: Purnawan Kristanto Anda berdiri di depan kelas.

Seluruh mata anak-anak menatap wajah Anda dengan antusias. Mereka berharap sebentar lagi akan mendengar sebuah cerita yang menarik dari Anda. Pada mulanya, mereka memberi perhatian kepada cerita Anda. Namun ini tidak bisa bertahan lama. Jika mereka mendapatkan sesuatu yang lebih menarik, maka perhatian mereka bisa teralih ke tempat lain. Inilah tantangan terbesar pembawa cerita, yaitu supaya bisa tetap 'menyandera' perhatian khalayak (anak-anak) hingga cerita tersebut berakhir. Tidak itu saja, tugas pembawa cerita yang tidak kalah pentingnya adalah menabur benih nilainilai kehidupan yang terselip di balik cerita itu. Nilai-nilai itu disebut sebagai moral cerita. Jika Anda bisa melakukan kedua hal ini, maka Anda layak disebut sebagai pembawa cerita yang menarik dan efektif. Banyak orang yang ragu-ragu ketika diberi kesempatan untuk menyampaikan cerita. Mereka sebenarnya mempunyai kerinduan untuk menyampaikan kabar baik ini kepada anak-anak, tapi sayangnya sering terkendala oleh ketiadaan percaya diri. Banyak orang yang menganggap bahwa bercerita di hadapan anak-anak itu membutuhkan bakat khusus. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Memang, ada orang-orang tertentu yang secara alami sudah memiliki kemampuan bercerita secara efektif dan menarik. Akan tetapi, kemampuan seperti ini sesungguhnya bisa dipelajari dan dikuasai dengan mempraktikannya berulang-ulang. Sebagian besar tukang kayu pasti mampu membuat meja makan. Namun ada sekelompok tukang kayu yang mampu membuat meja makan yang tampak unik, menarik, tetapi tetap fungsional. Kemampuan seperti ini tidak didapatkan sejak dari lahir, tetapi diperoleh melalui penguasaan ketrampilan dan "jam kerja" yang tinggi. Hal yang sama berlaku juga pada seorang pembawa cerita. Anda bisa menguasai kemampuan bercerita yang menarik dan efektif. Kemampuan seperti ini tidak sulit untuk dipelajari karena sesungguhnya kita sudah terbiasa bercerita dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita bercakapcakap dengan orang lain. Kegiatan bercerita tidak jauh berbeda dengan percakapan sehari-hari. Jadi, jika Anda terbiasa bercakap-cakap atau mengobrol dengan orang lain, maka sebenarnya Anda bisa menjadi seorang pembawa cerita. Tulisan ini dibagi menjadi tuga bagian, sesuai dengan judul tulisan di atas yaitu: CERITA, MENARIK dan MENYAMPAIKAN, A. CERITA Dalam proses komunikasi, message atau pesan yang akan kita sampaikan itu dikemas dalam bentuk cerita. Cerita itu dapat diibaratkan dengan makanan. Seorang pencerita adalah seorang koki yang menyiapkan masakannya. Apa saja persiapan yang dilakukannya? 1. MEMILIH MENU Sebelum memasak, seorang koki harus menentukan menu masakannya lebih dulu. Demikian juga, seorang pencerita harus menetapkan “menu cerita” lebih dulu. Berikut ini langkah-langkahnya: a. Tema Cerita

1

Tema adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau dalam konteks bercerita dapat dikatakan bahwa tema adalah amanat umum yang hendak disampaikan dalam cerita tersebut. Banyak pencerita mengeluhkan bahwa kesulitan terbesar mereka adalah menentukan tema cerita. Bukan karena sedikitnya tema cerita, melainkan justru karena ada banyak pilihan tema. Setelah berhasil mendapatkan tema cerita, maka langkah lanjutannya adalah menguji kelayakan tema cerita itu. Caranya dengan menjawab tiga pertanyaan pokok ini: a.1. Apakah tema cerita tersebut menarik? Kriteria "menarik" ini sulit sekali ditetapkan dengan jelas. Menurut Slamet Soeseno, tema dikatakan menarik jika mengandung unsur: baru, aneh, terkenal, luar biasa atau kontroversial. Jika salah satu saja dari unsur itu terpenuhi, maka tema cerita itu layak diteruskan. a.2. Jika tema cerita itu sudah lulus ujian ke-menarikan-nya, ujian berikutnya adalah azas manfaatnya. Apakah kalau nanti jadi diceritakan akan memberi manfaat pada pendengarnya? Misalnya menambah pengetahuan pendengar, menambah ketrampilan, memecahkan masalah, menghibur, menggugah rasa estetis, atau menyentuh kepekaan etis? Kalau salah satu saja dari manfaat ini terpenuhi, maka cerita tersebut layak untuk disampaikan. a.3.Apakah cerita tersebut dapat mendorong terjadinya perubahan hidup di dalam diri pendengarnya. Seberapapun indah cerita itu, tetapi jika tidak dapat mendorong pendengarnya untuk semakin mengasihi Allah dan sesama, maka cerita itu tidak layak disampaikan. b. Premise/Intisari Berikutnya, kita menentukan premise intisari atau cerita. Premise berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan di dalam cerita atau sesuatu yang menentukan arah cerita. Premise biasanya berupa kalimat singkat yang menjelaskan tentang tujuan dari isi cerita. Tentang premise ini, prof. George Pierce Baker mengatakan, “Bagaimana Anda bisa memberi tahu jalan yang akan Anda ambil, jika Anda tidak jelas tujuannya? Premise akan menunjukkan jalan Anda!” Premise biasanya ditulis dalam satu kalimat, namun mewakili seluruh cerita. Contoh, “Mengalah untuk menang”, “Nafsu dendam, membinasakan diri sendiri”, “Mengerjakan tugas dengan bersukacita.” Dari mana Anda bisa menimba ilham untuk merumuskan premise? b. 1. Kitab Suci. Bagi seorang komunikator Kristen sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya untuk merumuskan premise adalah kitab suci. Dengan memiliki kebiasaan yang teratur dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan, maka kita mendapat kemudahan di dalam merumuskan premise: Apa yang hendak kita sampaikan dalam cerita. b.2. Beberapa gereja sudah memiliki kurikulum, kisi-kisi, buku petunjuk guru atau bahkan bahan pengajaran Sekolah Minggu secara lengkap. Dalam hal ini, kita lebih dipermudah dapat karena menemukan premise di dalam bagian tujuan pelajaran. b.3. Bisikan Roh Kudus. Dengan berbagai cara, Roh Kudus dapat membisikkan ide di kepala Anda. Ketika hati Anda merasa tergerak atau hati Anda seperti berkobar-kobar untuk bercerita tentang hal tertentu, maka

2

Anda sedang mendapat ilham dari Roh Kudus. Supaya bisa menangkap pesan ini, kita perlu mengasah kepekaan telinga rohani. b.4. Isu populer. Bacalah headline di surat kabar, dengarkan radio, lihatlah acara televisi, atau mengobrollah dengan tetangga sekitar Anda. Carilah tahu isu apa yang sedang menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat saat ini. Misalnya, saat ini masyarakat sedang membicarakan perilaku koruptor yang sama sekali tidak merasa malu dan menyesal atas perbuatannya itu. Maka dari sini kita bisa merumuskan premis: “Dalam bentuk apapun, mencuri dan menipu itu tetap dosa.”

2. BELANJA BAHAN Menu sudah dibuat. Maka tindakan berikutnya adalah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan yang diperlukan. Anda bisa berbelanja bahan-bahan cerita di pasar ide. Ada tiga jenis pasar ide, yaitu pasar ingatan, pengamatan dan riset. a. Ingatan Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori. Pengalaman dan masa lalu Anda merupakan sumber cerita yang tak ada habis-habisnya. Sejak kecil kita mengumpulkan banyak kenangan mengenai orang, tempat, peristiwa dan benda-benda lainnya. Ingatan ini seringkali muncul begitu saja tanda diduga, terutama ketika dipicu oleh keadaan tertentu. Mencium parfum tertentu, mengingatkan pada cinta pertama Anda. Suara sirine memunculkan memori tentang tragedi yang pernah dialami di masa lampau. Melihat album foto membawa angan-angan Anda kembali mengenang masa kecil. Namun ketika akan membuat cerita, ada kalanya pemicuan tersebut tidak terjadi sehingga kita kesulitan membangkitkan kenangan di masa lalu. Hal ini dapat disiasati dengan memakai empat metode berikut ini: • Kode Kata Curah Gagasan (Brainstorming) Menulis Bebas Pemetaan Pikiran


• •

b. Pengamatan Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi. Dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda lihat, dengar, cium dan rasa. Pergunakan semua

3

indera yang Anda miliki. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda. c. Riset Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka. Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain.

B. MENARIK DAN EFEKTIF
Ketika semua bahan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah mengolah, membumbui dan memasak bahan tersebut menjadi hidangan cerita yang menarik, lezat dan bermanfaat. Menarik artinya hidangan tersebut memiliki penampilan yang menarik. Cerita juga harus membangkitkan selera orang untuk mendengarkannya. Lezat artinya ketika disantap, hidangan tersebut memiliki rasa yang pas sehingga orang memakannya hingga tandas. Cerita harus memiliki bumbu-bumbu yang sedap sehingga orang melahapnya sampai selesai. Bermanfaat artinya sari-sari hidangan tersebut memberi kekuatan dan menyehatkan penyantapnya. Cerita juga harus memberikan khasiat pada pendengarnya, yaitu membimbing mereka semakin mengenal Kristus.

1. MEMASAK CERITA
Ada beberapa elemen-elemen dalam sastra yang dapat kita manfaatkan untuk membuat cerita kita menjadi menarik, lezat dan bermanfaat.

a. Kerangka Cerita
Jika pengumpulan bahan dirasa sudah cukup, selanjutnya kita bisa mulai menulis naskah kasar (outline). Pekerjaan merangkai sari informasi menjadi tulisan baru ini dikenal sebagai mengkompilasikan atau merangkum bahan cerita. Agar rangkuman itu enak dibaca, maka kumpulan informasi itu harus disusun berdasarkan urut-urutan tertentu. Ini perlu dilakukan supaya cerita mengalir secara sistematis, sehingga pendengar dapat mudah mengikuti jalan ceritanya. Ada beberapa cara pengurutan outline: a.1. Kronologis. Cerita ini disusun berdasarkan urutan waktu. Teknik ini sering digunakan untuk menulis (auto)biografi. Misalnya, menceritakan kehidupan nabi Samuel dari kelahirannya, pelayanannya, hingga kematiannya. Ada juga pengarang yang suka memutar-balikkan waktu. Teknik ini disebut flashback atau kilas balik. Caranya memulai urutan dari masa kini, kemudian melompat ke masa lalu. a.2. Lokalitas. Cerita disusun berdasarkan urutan ruang. Untuk menggambarkan suasana Kemah Suci, misalnya, pencerita memulainya dari pintu gerbang, halaman depan, ruang suci, hingga akhirnya ruang maha suci.

4

a.3. Klimaks. Cerita disusun berdasarkan jenjang kepentingannya. Mulai dari yang kurang penting, agak penting sampai yang paling penting. Mulai dari yang kurang rumit sampai yang paling kompleks. a.4. Familiaritas. Cerita disusun berdasarkan jenjang dikenal-tidaknya bahan cerita yang akan disampaikan kepada pendengar. Dimulai dari sesuatu yang paling dikenal dan diakrabi oleh pendengar, kemudian beralih ke sesuatu yang masih asing baginya. a.5. Akseptabilitas. Cerita disusun berdasarkan diterima-tidaknya informasi yang dikemukakan. Dimulai dengan mengemukakan hal-hal yang bisa diterima pembaca sampai hal-hal yang mungkin tidak bisa diterima bahkan ditolaknya. a.6. Kausal. Cerita disusun berdasarkan hukum sebab akibat. Penulis memulainya dengan sebab yang kemudian diuraikan akibat-akibatnya setelah itu. Susunannya dapat diubah dulu, dari akibat dulu baru kemudiab beralih ke penyebabnya. Contohnya, cerita dimulai dengan Gehazi yang sakit kusta (akibat), kemudian menceritakan penyebabnya (membohongi Elisa dan Naaman--2 Raja-raja 5:1-27). a.7. Logis. Cerita disusun berdasarkan aspek umum ke aspek khusus. Susunan ini dapat pula diubah dengan membicarakan masalah-masalah khusus dulu baru ke umum. a.8. Apresiatif. Cerita disusun berdasarkan pemilihan baik-buruk, untungrugi, salah-benar dst. Misalnya, cerita tentang orang-orang yang dikutuk Tuhan, kemudian beralih ke orang-orang yang diberkati Tuhan.

b. Elemen Dramatis
Dalam cerita harus ada elemen dramatis sehingga dapat “menyandera” perhatian orang untuk terus-menerus mengikuti cerita hingga selesai. Ibarat masakan, elemen ini adalah bumbu penyedap. Elemen yang disebut juga dramaturgi ini melahirkan gerak dramatik pada cerita dan pada pikiran pendengarya. b.1. Konflik Konflik adalah permasalahan yang kita ciptakan untuk menghasilkan pertentangan dalam sebuah keadaan sehingga menimbulkan dramatik yang menarik. Konflik biasanya terjadi jika seorang tokoh tidak berhasil mencapai apa yang diinginkannya. Konflik bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa berupa konflik fisik atau konflik batin. Contoh konflik Abraham dan Lot. Jumlah ternak Abraham dan Lot semakin banyak, sementara ladang penggembalaan terbatas. Akibatnya, penggembala mereka sering bertengkar untuk memperebutkan rumput hijau dan air segar. Bagaimanakah Abraham dan kemenakannya menyelesaikan konflik ini? Pertanyaan ini membuat penonton tertarik menyimak jalan ceritanya. b.2. Suspense Suspense adalah ketegangan. Yang dimaksud di sini bukan sekadar berkaitan dengan hal yang menakutkan, melainkan menanti sesuatu yang bakal terjadi. Penonton digiring agar merasa berdebar-debar menanti risiko yang bakal dihadapi oleh tokoh cerita. Hal ini biasanya sering menimpa tokoh

5

protagonis sehingga suspense pada penonton semakin tinggi, dibandingkan jika tokoh antagonis yang menghadapi hambatan. Contohnya, tokoh utama adalah seorang agen mata-mata. Dia mendapat tugas menyamar ke sarang musuh. Akan tetapi, tanpa disadarinya, pihak musuh sudah mengetahui rencana penyamaran. Di sini, penonton dibuat tegang dalam menantikan risiko apa yang bakal dihadapi tokoh ini ketika penyamarannya terungkap. Ketegangan penonton akan semakin terasa tinggi jika penonton tahu hambatan yang dihadapi tokoh ini cukup besar dan keberhasilannya semakin kecil. Contoh: Rahasia kekuatan Simson diketahui oleh Delilah. Delilah menceritakan rahasia ini kepada musuh Simson, tentara Filistin. Bagaimana nasib Simson? Apakah berhasil ditangkap oleh tentara Filistin? b.3..Curiosity Curiosity adalah rasa ingin tahu atau penasaran penonton terhadap jalannya cerita. Hal ini bisa ditimbulkan dengan cara menampilkan sesuatu yang aneh sehingga memancing keingintahuan pendengar. Atau bisa juga dengan berusaha mengulur informasi tentang sebuah masalah sehingga membuat pendengar merasa penasaran. Contoh: Di desa Sarfat ada seorang janda yang miskin. Ia hidup bersama dengan anak perempuannya. Harta bendanya sudah ludes. Yang tersisa hanyalah segenggam tepung dan sedikit minyak. Mereka bersiap untuk memasak bahan makanan yang terakhir. Setelah memakannya, mereka bersiap untuk mati kelaparan karena tidak ada yang tersisa. Matikah mereka? Ternyata tidak! Ternyata keesokan harinya mereka masih bisa makan lagi. Lusanya, mereka masih bisa makan lagi. Demikian juga pada hari-hari berikutnya. Darimana mereka mendapatkan bahan makanan? Dalam cerita yang diambil dari 1 Raja-raja 17:9-24 ini, kita tidak langsung memberitahukan bahwa terjadi suatu mukjizat melalui nabi Elisa. Informasi ini segaja ditahan supaya pendengar menjadi penasaran. Semakin kita mengulur informasi, semakin penasaran pendengar sehingga rela mengikuti cerita tersebut untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Namun penundaan informasi ini pun harus dengan perhitungan yang cermat, jangan sampai pendengar malah menjadi jenuh dan kesal lalu malah berhenti menyimak cerita Anda. b.4. Surprise Surprise adalah kejutan yang tercipta saat pendengar mendapatkan kenyataan yang di luar dugaannya semula. Untuk bisa menimbulkan efek surprise, kita harus membuat cerita yang tidak mudah ditebak oleh pendengar. Atau bisa juga dengan menampilkan problem sembari ‘mengganggu’ pikiran pendengar dengan tokoh-tokoh lain, yang ‘menyesatkan’ pendengar. Maksudnya, kita menggiring pendengar supaya menduga bahwa pelakunya adalah A. Ketika diungkapkan bahwa pelakunya ternyata tokoh B, hal ini sama sekali tak terduga dan membuat pendengar terkejut. Efek ini kurang cocok dimasukkan ke dalam cerita yang diambil dari Alkitab, karena pendengar besar kemungkinan pernah mendengar atau membaca dari

6

Alkitab. Dengan demikian, kekuatan kejutannya menjadi hilang karena mereka sudah lebih dulu tahu apa yang bakal terjadi. Efek surprise bisa membuat pendengar senang, bisa juga kecewa.Kita harus mengecoh pendengar selihai mungkin karena jika pendengar sudah bisa menebak sebelumnya, pendengar akan merasa dibodohi dan tidak surprise lagi. Bahkan mungkin mereka akan kecewa. Akan tetapi ketika pendengar semakin yakin pada dugaannya maka akan semakin tinggi rasa surprise-nya jika ternyata dugaannya salah. Meski dugaannya meleset, tapi dia merasa senang.

c. Alur Cerita atau Plot
Alur cerita sama dengan jalan cerita, atau sering kita sebut plot. Tidak ada cerita tanpa jalan cerita. Jadi plot adalah hal yang wajib dalam membuat cerita. Ada dua jenis plot: c.1. Plot Lurus Plot lurus adalah alur cerita yang terfokus pada konflik di seputar tokoh utama, tidak bisa lari ke tokoh lain yang tidak ada hubungannya dengan tokoh utama. Misalnya, tokoh utama berkonflik dengan orangtuanya. Cerita yang baik adalah cerita yang mudah diceritakan kembali oleh orang yang mendengarkannya. Plot lurus menyajikan alur cerita yang sederhana dan mudah dicerna oleh pikiran anak-anak. Contoh: perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-35). Jalan cerita dimulai dari seseorang yang dirampok, hingga akhirnya dia mendapat pertolongan dari orang Samaria. Di sini tidak ada konflik lain, selain yang dialami oleh korban perampokan itu. c.2. Plot Bercabang Plot bercabang biasa disebut multiplot. Plot ini lebih kompleks karena jalan ceritanya melebar ke tokoh-tokoh lain. Melebarnya ini tidak boleh terlalu jauh. Harus masih berhubungan dengan tokoh utama. Misalnya, tokoh sentral ini memiliki adik. Konflik bisa terjadi antara sang adik dengan teman bermain sang adik, yang tidak ada hubungan langsung dengan tokoh utama. Meski begitu, plot ini tetap berkaitan dengan tokoh utama. Misalnya pada akhirnya, tokoh utama berperan menasihati sang adik. Jika diibaratkan sebuah pohon, jangan sampai plot ini menjadi pohon yang bercabang banyak karena pendengar akan kesulitan mengikuti jalan cerita secara keseluruhan. Plot yang ideal adalah yang tidak bercabang banyak dan ujung-ujungnya bertemu kembali ke inti permasalahan utamanya. Plot semacam ini dijumpai dalam perumpamaan anak yang hilang. Alur cerita pertama menceritakan kehidupan anak bungsu (Lukas 15:11-24). Alur ini kemudian bercabang dengan menceritakan kekecewaan anak sulung (Lukas 15:15-28). Kedua cabang ini kemudian bertemu kembali ketika sang bapa bertemu dengan anak sulungnya (Lukas 15:28-32). Plot bercabang memang membuat cerita menjadi lebih menarik dan variatif, tapi juga menjadi lebih rumit. Pendengar dituntut untuk berkonsentrasi tinggi supaya dapat mengikuti dan mencerna ceritanya. Jika terlalu rumit, besar kemungkinan pendengar akan menyerah dan berhenti menyimak cerita itu.

7

d. Struktur/Grafik
Grafik cerita ibarat tangga nada dalam musik. Alunan musik akan tercipta hanya dengan mengatur posisi nada do s/d si (1-7), dibumbui dengan titik dan garis birama. Grafik cerita berkaitan dengan irama plot yang membangun konflik. Aristoteles menggambarkannya dalam bentuk grafik berikut ini:

Klimaks Penggawatan

Eksposisi

Penyelesaian

a. Eksposisi: Menggambarkan tokoh utama (sifat-sifatnya, pengalaman, dll) dan
situasi cerita (waktu dan tempat). Mulai diperkenalkan juga konflik yang dialami oleh tokoh utama. Contoh: dalam kisah nabi Yunus, mulai digambarkan siapa Yunus itu. Konflik muncul ketika Yunus diutus Allah pergi ke Niniwe, tapi malah melarikan diri ke Tarsis.

b. Penggawatan: Konflik mulai memanas Aksi-aksi semakin seru. dan bertambah
rumit. Tokoh-tokoh pendukung dimunculkan. Dalam kisah Yunus, cerita semakin ‘gawat’ ketika kapal yang ditumpangi Yunus diterpa angin ribut.

c. Klimaks: Konflik dan aksi yang terjadi mencapai puncaknya. Misalnya dalam
kisah kepahlawanan, sang pahlawan berduel dengan penjahat. Sedangkan dalam kisah Yunus, puncak cerita adalah ketika Yunus dilemparkan ke laut, kemudian dimakan ikan besar.

d. Penyelesaian: Semua konflik diselesaikan. Problem yang terjadi sebelumnya
mendapat jalan keluarnya. Di dalam perut ikan, Yunus menyesal. Ikan itu memuntahkan Yunus di pesisir Niniwe, sehingga Yunus kemudian pergi ke kota Niniwe sesuai perintah Tuhan.

Klimaks Teaser Eksposisi Penggawatan

8

Penyelesaian

Belakangan ini para penulis skenario film mengembangkan struktur cerita dengan menambahkan elemen teaser di awal cerita. Teaser adalah semacam penggoda penonton supaya tertarik menyimak cerita selanjutnya. Dalam film laga, biasanya pada awal film langsung ditampilkan adegan baku tembak atau baku hantam. Tapi hal ini tidak berlangsung lama, karena irama cerita kemudian menurun untuk memberikan kesempatan pengenalan tokoh dan konflik. Dalam bercerita, teaser dapat menjadi jurus yang ampuh untuk menarik minat pendengar. Teaser diibaratkan etalase indah yang dipajang di depan toko. Fungsinya adalah untuk menggoda orang-orang yang melintas untuk mampir dan masuk ke dalam toko. C. MENYAMPAIKAN Kini masakan Anda sudah matang dan sudah dihiasi. Langkah berikutnya adalah menyajikannya kepada audiens Anda. Bagian ini juga tidak kalah pentingnya. Sekalipun Anda memiliki cerita yang dahsyat, namun jika disampaikan dengan asal-asalan, maka hasilnya akan melempem. 1. Pembawaan Awal Sebelum bercerita, sebaiknya Anda memeriksa penampilan Anda. Pakailah baju yang pantas dan nyaman, merapikan rambut dan memakai kosmetik sewajarnya. Ada istilah “dress to success.” Penampilan tidak hanya untuk dilihat orang lain, tetapi juga untuk kepentingan Anda. Jika Anda merasa berpenampilan menarik, maka Anda akan memiliki kepercayaan diri untuk bercerita. Jika Anda banyak berkeringat, jangan lupa kantongi sapu tangan. Pikirkan juga cara Anda masuk. Pada beberapa Sekolah Minggu, biasanya ada pembagian tugas. Ada GSM yang bertugas memimpin pujian dan doa, ada juga GSM yang bertugas untuk bercerita. Sebaiknya Anda berkoordinasi dengan GSM yang bertugas sebelum Anda tampil untuk merancang cara masuk yang mengesankan anak. Tidak jarang pada permulaan cerita guru merasa gugup. Susunan kata yang sudah disiapkan dari rumah mendadak hilang dari kepala. Anda kehabisan katakata. Jangan panik! Saat Anda sudah berada di depan kelas, jangan buru-buru bicara. Tenangkanlah diri Anda selama 10-15 detik. Tarik napas pelan-pelan sambil menyapukan pandangan ke anak-anak. Setelah Anda menguasai diri, Anda dapat menjalin kontak dengan mengucapkan salam dengan sepenuh hati dan simpatik. “Selamat pagi adik-adik. Apa kabar?” Bangkitkan minat anak-anak dengan teaser atau kalimat penggoda. Hindari menyebutkan topik cerita. Misalnya, “Hari ini, kakak akan bercerita tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati.” Kalau ini dilakukan maka anakanak yang sudah pernah mendengar cerita itu akan kehilangan minat. Saat bercerita, gunakanlah jeda atau pause. Beberapa GSM pemula cenderung cepat-cepat menyampaikan cerita seperti orang yang sedang dikejar anjing. Akibatnya anak-anak mengalami kesulitan untuk mencerna cerita tersebut. Jeda dibutuhkan oleh anak-anak untuk menyerap dan merenungkan cerita itu ke dalam otaknya. Kita juga membutuhkan jeda ini untuk memberi tekanan pada pesan tertentu yang kita anggap penting. Misalnya, “Tuhan Yesus itu mengasihi semua orang berdosa....[jeda].”

9

Jeda juga dapat menjadi ancang-ancang atau persiapan untuk menegaskan sebuah pesan penting uang akan kita ucapkan. Misalnya, “Sekalipun dosa kita merah seperti kain kirmizi, tetapi Tuhan akan.....[jeda] mengampuni kita sehingga menjadi putih kembali.” 2. Kontak Mata Berkomunikasi dengan mata berarti menjalin hubungan dengan anak-anak melalui pandanga mata. Pandangan mata yang dibutuhkan bukan pandangan yang sekilas, dangkal dan acuh tak acuk, melainkan pandangan mata yang menembus hati anak-anak. Dengan kontak mata ini Anda mendapatkan umpan balik apakah anak-anak masih berminat dan berkonsentrasi atau sudah mulai bosan. Dalam bekomunikasi mata, wajah Anda harus menampilkan wajah yang cerah dan antusias karena ini akan menular pada anak-anak. “Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.” (Ams 15:30) 3. Mimik Mimik berkaitan dengan kontak mata. Mimik adalah ekspresi wajah sehubungan dengan perasaan yang dikandung. Seorang pencerita yang ingin mengambil hati anak-anak harus membuka diri terlebih dahulu. Agar dapat memikat hati anak-anak, maka kita berusaha: Menghindari mimik yang dingin, tegang atau datar. Menghindari mimik yang murahan, seperti cengengesan atau ekpresi lebay. Menampilkan mimik yang orisinil, tidak dibuat-buat. 4. Diksi

Diksi berarti pemilihan kata secara jelas, mudah dicerna dan sesuai usia anak. Bagi kanak-kanak, gunakan kata-kata yang sederhana. Hindari kata-kata yang bersifat abstrak. Sedangkan bagi anak-anak menjelang remaja tentu memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik sehingga Anda dapat menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. 5. Intonasi Intonasi meliputi cepat-lambat, tinggi-rendah suara, keras-lembut cara berbicara. Perlulah kita memvariasi intonasi kita. Variasi ini akan membuat cerita kita lebih enak didengar dan lebih mudah dipahami. Nada dan irama yang monoton akan membuat anak-anak menjadi bosan. 6. Solahbawa Solahbawa merupakan bentuk bahasa tanpa kata dalam berkomunikasi. Istilah asingnya adalah “non-verbal communication.” Solahbawa adalah gerakgerik anggota badan. Misalnya menganggukkan kepala, mengangkat bahu, menuding, bersedekap, menyilangkan kaki dll. Dalam banyak hal, kita melakukan solahbawa secara tidak sadar. Saat tidak paham ucapan orang lain, secara tidak sadar kita mengerutkan kening. Solahbawa ini dapat menguatkan atau malah melemahkan pesan yang kita sampaikan. Contohnya, kita mengucapkan “Wah bagus sekali” sambil mengacungkan ibu jari. Solahbawa mengacungkan ibu jari ini memperkuat pujian kita. Sebaliknya, saat kita mengatakan “masakanmu enak,” tapi dilakukan sambil ogah-ogahan menyuapkan makanan ke mulut telah menyampaikan pesan yang sebaliknya. Bagaimana caranya supaya kita dapat bersoalahbawa dengan baik?

10

Berdirilah dengan rileks. Tidak tegang atau kaku-kaku. Jangan bersandar pada meja atau dinding. Jangan takut-takut untuk bersolahbawa. Tampilkan solahbawa yang orisinil. Tidak dibuat. Pencerita yang tidak bersolahbawa akan tampak seperti batang pisang yang dingin dan kaku. Anak-anak akan jemu. Bersoalahbawa secara bervariasi. Tangan tidak terlalu rendah bila dipakai untuk bersolahbawa. Sebaiknya tangan bergerak di atas daerah sikut. Tangan tidak bersedekap atau dimasukkan ke dalam celana selama bercerita. Ini menimbulkan kesan angkuh. Blocking itu penting. Blocking adalah perpindahan tempat berdiri dari satu tempat ke tenpat lain. Lakukan secara bervariasi supaya anakanak yang duduk di tempat lain punya kesempatan untuk dekat secara fisik dengan anak. Tapi jangan berpindah-pindah secara hiperaktif. Anda bukan sedang berolahraga lari, Saat bercerita, bebaskan jari tangan Anda dari benda-benda kecil karena Anda akan tergoda untuk memainkannya. Misalnya menjentikjentikkan ballpoint, memutar-mutar uang logam, mengetuk-ketukkan pensil ke meja dll. Hal ini akan mengaburkan perhatian anak.

• • • •

7. Mengakhiri Cerita Yang tidak kalah penting adalah membawakan akhir cerita dengan baik. Saat bercerita, kadangkala kita terbawa dengan cerita kita sehingga tergoda untuk berlama-lama. Padahal daya tahan anak-anak itu terbatas. Kita perlu mengakhiri cerita saat anak-anak masih punya stamina dan minat. Mengapa? Karena di bagian ini, kita menyampaikan inti dari pesan kita. Kita perlu menutup cerita secara mengesankan dan mantap. Bagaimana caranya? Kita harus memiliki penguasaan diri. Artinya, jangan sampai kita larut dalam euforia bercerita sehingga lupa waktu. Saat cerita hampir mencapai akhir, siapkan momentum untuk mengakhiri cerita. Anda dapat merangkum kembali pokok-pokok pikiran penting yang perlu diingat. Lalu sampaikan premise atau intisari dari cerita Anda. Perhatikan reaksi anak-anak. Jika anak-anak terlihat belum paham, maka ulangilah penyampaian premise dengan kata-kata yang berbeda. Akhir cerita dengan semangat yang menyala. Medan Perang Kita Pada zaman sekarang, anak-anak dibombardir oleh berbagai rangsangan yang yang dapat menarik perhatiannya. Di dalam bercerita, kita sesungguhnya bersaing dengan berbagai rangsangan lain yang berusaha menarik perhatian anak-anak. Rangsangan itu bisa berupa godaan untuk bercanda di antara anakanak, suara musik dari penjual es krim di luar kelas, gangguan teman sebayanya dll. Di luar kelas, anak-anak juga mendapatkan berbagai media hiburan yang berjuang keras merebut atensi anak-anak. Pencerita pada zaman sekarang menghadapi situasi yang lebih berat. Dia harus berjuang merebut anak-anak dari cengkeraman televisi, DVD, play station, game online, internet, dan semacamnya. Karena itu, jika kita tetap menganggap bercerita di sekolah

11

minggu sebagai “business as usual”, jangan harap anak-anak akan memberikan perhatian pada Anda. Ini adalah medan perang kita. Perlengkapan perang yang lama sudah tidak memadai lagi. Kita harus mengenakan perlengkapan perang dan senjata yang lebih canggih. Kuasai teknik bercerita dengan baik, maka anak-anak akan ternganga di depan Anda.

Daftar Pustaka: Elisabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, Grasindo, 2004 Hadi Nafiah, "Anda Ingin Jadi Pengarang?" Usaha Nasional, Surabaya, 1981 James M., McCrimmon, "Writing With a Purpose", Houghton Mifflin Company, 1984 Purnawan Kristanto, “Menulis Buku yang Laris” Makalah, disampaikan dalam acara "Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan Buku", diselenggarakan oleh Komisi Media Sinode GITJ di Jepara, 3 April 2003. Xavier Quentin Pranata, Bagaimana Menulis Artikel Rohani?, makalah Rally Pelita http://www.sabda.org/pepak/ Widyamartaya, B.A, “Kreatif Berwicara”, Kanisius, 1980
Purnawan Kristanto adalah seorang penulis, guru Sekolah Minggu, aktivis dan trainer. Sebagai penulis, dia telah menghasilkan lebih dari 27 judul buku, ratusan tulisan di blog dan ribuan renungan. Sebagai guru Sekolah Minggu, mula-mula pria kelahiran Gunungkidul ini melayani di GKJ Wonosari, sekarang menjadi tukang cerita di GKI Klaten. Sebagai aktivis, dia bergabung di LSM sejak tahun 1994 dan sekarang menjadi relawan tanggap bencana. Sebagai trainer, dia banyak memberikan pelatihan penulisan untuk gereja dan lembaga kristen dalam wadah pelayanan ShowMe (School of Writing Ministry with Excellency). Bersama dengan beberapa teman, Purnawan Kristanto juga merintis Yayasan Sekolah Minggu Indonesia (YSMI), sebuah lembaga lintas-denominasi yang bertujuan: (1) Menjadi mitra bagi gerejagereja untuk memajukan pelayanan anak;(2) Menyediakan berbagai sarana bagi pelayan anak; (3) Melakukan pengembangan inovatif dalam pelayanan anak; (4) Menjalin sinergi di antara berbagai institusi dalam pelayanan anak; (5) Memperlengkapi dan memberdayakan orang-orang yang terlibat dalam pelayanan anak. Jika lembaga atau gereja Anda berminat menjalin kerjasama dengan YSMI, silakan kontak info@footprints-pub.com | HP: 08122731237 | Website: www.purnawan.web.id dan www.purnawankristanto.com. | Email pribadi: purnawank@gmail.com |

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->